Suarane Episode 9 – Susu, Telur dan Bubur Kacang Hijau Sang Jenderal

Episode 9, masih segment IMSTO (In My Sok Tahu Opinion) kali ini gue punya cerita tentang satu sosok penting dalam sejarah TNI yang bank mewarnai masa kecil gue dan membentuk image gue tentang tentara. Ini kado gue buat HUT TNI ke 72 hari ini.

Versi teksnya ada di sini: www.facebook.com/notes/rane-hafie…155837237522853/

Music used in this episode:
Carpe Diem by Kevin MacLeod (incompetech.com)
Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

Cover image: Merdeka.com

Anak Gunung Krakatau Yang Legendaris



Rakata, Danan dan Perbuatan membentuk sebuah gugusan pada sebelum 1883 dan berdiri kokoh di perairan antara pulau Jawa dan Sumatra. Debu membumbung tinggi hingga menutupi sebagian Bumi, Ombak pun takalah ganas hingga memporak porandakan garis pantai Jawa dan Sumatra yang berbatasan langsung dengan Gugusan Krakatau. Dahsyatnya letusan membuat seluruh penerbangan di tunda dan mengacaukan jaringan radio di belahan Bumi lain.

Kini, hanya tinggal Rakata saja yang masih berdiri. Namun, berjalannya waktu, Gunung Krakatau mewariskan kedahsyatannya kepada sang penerus, Anak Gunung Krakatau.

____

Saya dan Hanum beserta Rombongan dari Badan Penghubung Provinsi Lampung berada dalam satu kapal. Suhu udara masih terlalu dingin untuk bersentuhan. Suara Ayam pun belum terdengar sepenuhnya. Malam kemarin, kami masih sempat menyaksikan perdebatan apakaha Anak Gunung Krakatau ini layak kami singgahi? Dan, dini hari inilah kami akan menjejakan kaki di sana. 

Saya masih menahan kantuk ketika beberapa orang masih lalu lalang mencari posisi yang enak untuk berada dengan mimpi kembali. Saya memilihi posisi di bagian belakang, menghadap mesin yang keras dan meraung-raung nanti. Nantinya keras suara akan berada dengan ombak dan mesin, jadi bicaralah melalui bahasa isyarat atau whatsapp jika menemukan sinyal. Dan, sinyal pun di sini bak permata yang sulit ditemukan.

Mesin menderu, tanda perjalanan selama beberapa jam ke depan dimulai. Saya tak dapat menahan kantuk dan langsung terlelap meski suara mesin lebih keras dari suara macam yang meraung. Dari Pulau Sebesi, Anak Gunung Krakatau dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Sedangkan dari Pelabuhan Bom, Pulau Sebesi berjarak 3-4 jam. Anak Gunung Krakatau memang sudah tampak dari pulau Sebesi walaupun hanya siluet saja. 

Sang Legenda memang menawan, mampu menarik ratusan bahkan ribuan orang untuk menatap keindahannya dari dekat. Namun, sudah layaknya sebagai pejalan yang baik, untuk terus menjaga dan melestarikan keberlangsungan Anak Gunung Krakatau. Saya pun termasuk satu di dalam keriaan, namun memang tak boleh terlalu berlebihan agar tidak terjadi hal-hal yang akan mendatangkan malapetaka. Alam akan merespon setiap perbuatan yang kita lakukan, sehingga sangat disarankan berbuat baik terhadap alam. Sebelum sampai, banyak sekali yang menyarankan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan merusak pohon. 

Saya jadi ingat kutipan "Jangan mengambil apapun selain gambar, jangan meninggalkan sesuatu selain jejak kaki dan ..... ". Kata-kata ini masih terngiang-ngiang dan akan terus tertanam di hati ini.

Suara teriakan membangungkan saya. Tubuh masih memerintahkan untuk tetap berada di kapal sampai kapal ini benar-benar berlabuh di bibir pantai Anak Gunung Krakatau. Saya menengok ke samping, matahari masih merah dan muncul perlahan-lahan. Nampaknya matahari tertahan oleh sekawanan awan yang dari kemarin gemar berbondong-bondong menutup langit.

" Mas, ayo naik, " Rupanya Hanum sudah berada diatas kapal dan siap untuk turun. Saya masih memegang kamera dan merekam setiap kejadian yang ada. Saya bilang untuk turun duluan dan saya akan menyusul kemudian. Ombak pantai pagi itu tak terlalu tinggi. Pasir berwarna hitam menyambut kami. Beberapa pantai di Lampung memang memiliki pasir putih, namun tidak dengan Anak Gunung Krakatau yang masih sering erupsi dan meluapkan lava sehingga pasirnya berwarna hitam. 

Untuk mendaki Anak Gunung Krakatau memang dibutuhkan waktu sekitar 1 jam, tergantung siapa yang naik dan seberapa sering melakukan aktivitas di Gunung. Dan, sayalah orang yang paling newbie dalam urus pendakian. Mungkin dari postur saja bisa ditebak bahwa saya bukanlah orang yang sanggup naik ke atas sana. Namun, pagi itu dengan bekal semangat dan tekat, saya pun mengusir semua keraguan. Yes, saya bisa. 

Sebelum melakukan aktivitas, kami telah disuguhkan sarapan. Dengan segera kami makan untuk menambah tenaga dan agar tak terjadi sesuatu apapun diatas sana. Setelah selesai, bungkus dan box makanan kami kumpulkan agar petugas mudah membereskannya. 

----

Satu per satu membentuk barisan mengikuti petugas yang berada di depan. Jalur pendakian memang tak serumit yang dibayangkan. Pohon-pohon rambat dan pinus sangat mendominasi saat melewati rute pertama. Jalannya masih landai dan belum menanjak. Barulah pada saat kami menemukan pohon pinus yang besar dan sudah mulai jarang tumbuhan, jalannya pun mulai terjal, menanjak dan berpasir. Kontur tanahnya memang hanya pasir yang tak padat sehingga memang harus berhati-hati untuk memanjat sampai di atas. 

Sebetulnya terdapat 2 jalur yaitu jalur kanan dan jalur kiri. Jalur kanan sangat menanjak namun tak begitu jauh sedangkan jalur kiri lebih landai dan lumayan jauh. 

Karena ketidaktahuan, saya hanya mengikuti rombongan lain yang telah sampai di puncak dengan begitu cepat. Saya dan Mba Evi masih menapaki satu per satu bebatuan yang membantu kami berpijak. Bisa di bayangkan betapa terengah-engahnya nafas ketika baru setengah perjalanan. Namun, pemandangan dibawah serta laut yang indah membantu saya cooling down dan melanjutkan langkah demi langkah.

Saya salut dengan pendaki Gunung. Mereka memiliki endurance dan semangat yang kuat untuk melewati ribuan kilometer untuk mencapai puncak Gunung. Mungkin, suatu saat saya pun akan mendaki Gunung apapun termasuk Gunung yang tak terduga sebelumnya seperti Puncak Jaya Wijaya, Amin.

Arief Pokto dan rombongan lain telah menyisakan saya dan Mba Evi saja yang masih berkutat dengan langkah menuju puncak. Sambil bergaya dan difoto, itulah yang membuat nafas kami menjadi kuat. Sementara rombongan blogger telah mengabadikan keindahan Anak Gunung Krakatau, kami pun terpacu untuk sampai sesegera mungkin. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan langkah terakhir sebelum mencapai puncak. 

Yes, Alhamdulillah akhirnya saya telah menaklukan Anak Gunung Krakatau. Walau tingginya tak mencapai 1.000 mdpl, namun pencapaian ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Setidaknya ceklist saya sudah berkurang dan ceklist lain telah menanti.

 ---

Sambil memegang Merah Putih dengan background puncak Anak Gunung Krakatau, nasionalisme saya seolah bertambah tebal. Alam dan budaya kita yang tak ternilai harganya harus di jaga dan dilestarikan. Kalau bukan oleh kita, lalu siapa lagi? 

September 2017

  • 25/09 – Mengenang Yun Hap – Sebuah feature radio dari 18 tahun lalu yang mengulas tentang gugurnya seorang mahasiswa UI dalam Tragedi Semanggi II tanggal 24 September 2017. RIP Yun Hap.
  • 23/09 – UNBUNGKUSIN – Kali ini kita unbungkusin tiga macam cemilan favorit. Episode lainnya ada di playlist YouTube: http://bit.ly/unbungkusin
  • 21/09 – Ngeliat pola gue update blog belakangan ini, kok jadi mikir ya untuk bikin blog ini hanya buat sekedar update-update singkat kayak gini, dan ngelink ke posting-posting media sosial gue yang lainnya. Hmmm… Jadi irit hosting sih.. Hm….
  • 21/09 – “InkTober” – Nggak kerasa sebentar lagi bulan Oktober dan setiap bulan gue ini (yes I’m an October guy) gue selalu ikutan tantangan gambar 30 hari Inktober. Ini official prompt list untuk tahun ini. Ada versi bahasa Indonesianya juga. Hmm.. tahun ini ikut lagi gak ya..
  • 21/09 – “Alone in Bangkok” – Akhirnya kelar juga tantangan 30 hari bikin proyek foto hitam putih “Alone in Bangkok” di Instagram. Hasil lengkapnya bisa dilihat di sini atau di link ini bit.ly/aloneinbangkok. Hmm.. bikin project apalagi ya?
  • 20/09 – Suarane Edisi 7 – Udah lama pengen bikin podcast bareng Om Hertoto Eko, sesama mantan penyiar yang tinggal di Singapura. Baru kesempatan sekarang. Kita ngobrolin soal rekomendasi podcast keren dari dia. Check it out!
  • 16/09 – “Un-Bungkusin” – Udah dua minggu ini setiap wiken gue sama Neng Mput bikin video yang kita sebut “Un-Bungkusin” yang intinya adalah unboxing bungkusan macam-macam makanan. hehehe.. Hasilnya bisa dilihat di sini.
  • 15/09 – Rumah Susun Bu Presiden Negeri Tetangga – Sebuah cerita yang tercecer dari pelantikan Halimah Yacob sebagai presiden ke 8 Singapura dan bagaimana dia tetap ingin tinggal di rumah HDBnya.
  • 12/09 – “Wakil Rakyat Yang Terhormat” – Kadang gue mikir kenapa ya akhir-akhir ini makin banyak hal absurd yang muncul dari gedung rakyat di Senayan sana? Kali ini dalam rapat dengan KPK, tiba-tiba ada salah satu anggota DPR yang menegur pimpinan KPK karena tidak menggunakan panggilan “Yang Terhormat” kepada mereka. What the f***k?
  • 12/09 – Suarane Edisi 6 – Ngasih tugas ke Neng Mput buat belajar wawancara. Hasilnya jadi podcast Suarane edisi 6 ini. 😀 >br>
  • 11/09 – “Jokowi dan Pernikahan Raisa” – Dikirimi foto lucu dari pidato Pakdhe Presiden di UNPAD. Di situ dia cerita bagaimana banyak yang mengadu kepadanya tentang aset negara yang diambil oleh pihak asing hahaha
  • 08/09 – Selfie Dengan Jokowi – Ada yang bikin Facebook Frame yang membuat kita seolah bisa selfie dengan Pak Jokowi. Harusnya istana nih yang bikin Facebook Frame resmi model begini. Kasihan soalnya Pak Jokowi ke mana-mana orang berebut selfie.
  • 06/09 – Ketemu harta karun yang luar biasa berharga. Rekaman suara Bang Nuim Khaiyath di salah satu acara “SAMBA” Radio Australia tahun 2010. Ada beberapa rekaman klasik lainnya di Soundcloud RLC di sini.
  • 04/09 – Suarane Edisi 5 – “Bang Memet,” Sebuah edisi podcast soal media sosial, hoax dan tragedi Rohingya. Jangan diklik kalau nggak suka dengerin orang nggerundel hehe
  • 01/09 – “After the rain, the sun will reappear. There is life. After the pain, the joy will still be here.”- Walt Disney (Gue kutip di foto Facebook Cover  baru bulan September ini)

~~~

Previous months:

2017 | Jan Feb Mar | Apr | May Jun | Jul Aug | Sep | Oct | Nov | Dec |

2016 | Apr May Jun | Jul | Aug Sep Oct Nov | Dec  |

Contact me here.

Suarane Episode 8 – “Master Yoda, Raja Faisal dan Blues for Allah”

Episode ke 8 kembali ke segmen IMSTO (In My Sok Tau Opinion). Ini gue rekam outdoor hari Jumat dalam perjalanan pulang kantor. Isinya “dongeng” sok tau berjudul Master Yoda, Raja Faisal dan Blues for Allah. Enjoy..

Siapa bilang bikin podcast ribet? Pake handphone aja udah jadi kok. Masalah alat nomor dua. Nomor satu itu mau dipakai buat apa 🙂

Music used in this episode:
Carpe Diem by Kevin MacLeod (incompetech.com)
Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

Kenapa Kamu Belum Serius?

"Tidak ada orang gagal dalam dunia ini, yang ada adalah orang yang TIDAK SERIUS merencanakan kesuksesannya". Kenapa Kamu Belum Serius?Karya Della Fauziyah. Dari judulnya saya mengira ini buku...

[[ This is a content summary only. Visit my website for full links, other content, and more! ]]

Selamat Datang Musim Hujan

Musim hujan telah kembali datang. Apasih yang langsung terlintas dalam pikiran ketika mendengar kata musim hujan? Dalam benak saya langsung terkenang keceriaan bermain di bawah derasnya air hujan,...

[[ This is a content summary only. Visit my website for full links, other content, and more! ]]

Cara Membuat Foto Panning. Nomer 3 Mungkin agak Sulit

“Pan” dalam bahasa fotografi adalah istilah ketika kita menggerakkan kamera pada satu poros dari kanan ke kiri, atau sebaliknya. Terlalu teknis ya bahasanya? Hmm, kalau bahasa yang gampang, pan ini gerakannya sama seperti saat kita menoleh. Masih bingung? Itu lho, kalau misal ada cewek cantik atau cowok ganteng (tergantung referensi seksual masing-masing), lewat di depan… Read More Cara Membuat Foto Panning. Nomer 3 Mungkin agak Sulit