Di SMK Tarbiyah Kami Berdoa Bersama


Sebelumnya, untuk teman-teman yang bertanya-tanya tentang pos yang super pendek sampai berpikir jangan-jangan halamannya tidak bekerja sempurna, mohon maaf sebesarnya. Hehe. Kalian baik sekali *terharu*. Sampai lewat tanggal 20 Februari 2019, jam kerja saya memang tidak teratur dengan menjadi bagian dari Tim Promosi Uniflor, seperti yang sudah saya tulis di pos-pos sebelumnya. Ngepos pun kadang tidak pakai laptop melainkan telepon genggam. Terima kasih untuk perhatian yang indah ini *kedipin satu satu*.

Hari ini saya bertugas di SMK Tarbiyah Ende yang beralamat di Jalan Perwira Ende. Membaca nama Tarbiyah, kalian pasti menduga-duga murid yang bersekolah di sana khusus yang beragama Islam saja. Awalnya saya juga berpikir begitu, karena dulunya lokasi sekolah ini merupakan lokasi Ponpes Walisanga sebelum pindah ke kaki Gunung Meja. Masa kecil saya pun pernah belajar Iqra di lokasi Ponpes lama ini. Ternyata saya salah. Di sekolah ini murid-murid terdiri dari yang beragama Islam dan Katolik. Sama rata sama rasa. Itu saya saksikan ketika guru yang mengantar saya ke Kelas XII menitah salah seorang murid membaca doa sebelum kegiatan sosialisasi dimulai.

"Marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing dan ijinkan saya mengangkat doa dalam Agama Katolik."

Yang Katolik langsung menggerakkan tangan "Atas Nama Bapa", yang Islam langsung menunduk dengan tangan posisi berdoa dalam Islam.

Ausam! 

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan dari SMK Tarbiyah. Sekolah ini sedang membangun, saya lihat beberapa tukang sedang menyelesaikan satu gedung baru. Gedung lainnya merupakan gedung lama yang kondisinya memang harus diperbaiki atau direnovasi. Beberapa guru merupakan alumni Uniflor, bahkan ada yang diwisuda sebagai angkatan ke-4 loh. Murid-muridnya semangat belajar dengan dua jurusan yaitu Perikanan dan TKJ.

Mungkin tahun depan bukan saya yang kembali ke sekolah ini untuk sosialisasi. Tapi jelas ada harapan tahun depan kondisi sekolah ini sudah direnovasi (lebih banyak perbaikan).

Demikian cerita saya dari SMK Tarbiyah Ende. Nantikan cerita dari sekolah lainnya! Hehe.

Cheers.

Suarane #4 – [Makan untuk Ngoceh] Jengkol

Di Thailand namanya Luk Neng, di Malaysia namanya Jering. Di Indonesia ada yang menyebutnya piring terbang, kancing Levi’s, hati macan dan lain-lain, tapi umumnya disebut jengkol! Seperti apa rasanya? Benarkah jengkol bau? Lewat segmen “Makan untuk Ngoceh” kali ini kita akan kupas habis serba-serbi jengkol lewat cerita seorang pengamat kuliner, dan seorang “praktisi” dunia perjengkolan :p

Tamu: Winny Soendaroe dan Kendri Ningsih

Silahkan dengar di player di bawah ini atau di link ini. Dengarkan juga di aplikasi podcast lain dengan kata kunci “Suarane”

 

Credits: 

  • Musik yang dipakai di episode ini adalah “Daily Beetle” karya Kevin MacLeod feat: Brett Van Donsel (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License
  • Image: Pixabay.com

English Day in SMAK Tarvid



Sejak dua Minggu lalu dicanangkan setiap Rabu sebagai English Day oleh Gubernur NTT, begitu banyak status pro - kontra bertebaran di lini media sosial. Facebook, terutama. Karena sebagian besar teman daring sama khusus Facebook itu berasal dari Kabupaten Ende dan sekitarnya. Antara setuju dan tidak, seimbang, sama seperti seimbangnya perasaankyu padamyu, hahahaha.

Rabu kemarin, sesuai tugas, saya pergi ke SMAK Taruna Vidya atau sering disingkat Tarvid. Langkah pertama turun dari Onif Harem, kami disambut seorang Ibu Guru berwajah manis nan ramah dengan bahasa Inggris!

"Hallo! Come in, please!"

Saya baru ngeh ternyata hari Rabu, harinya bahasa Inggris! Dengan patah-patah saya menjawab haha. Duh Tuhan, malu lah kalau sampai tidak bisa sekadar percakapan umum tentang kedatangan kami di SMAK Tarvid. Dan saya kaget juga karena Bapak Kepseknya pun berbicara bahasa Inggris. Kece badai, Pak. Yakin bisa, grammar yang salah tidak mengapa, yang penting maksudnya dipahami oleh lawan bicara. Saya pikir cukup lah.

Setelah saya menulis status di Facebook, ada yang menanggapi, nama Ibu ini adalah Ibu Deny. Orangnya memang terkenal ramah dan baik, serta smart. Tentu saja. Saya merasakannya saat beliau menyambut serta mengantar kami ke kelas XII. Saya pikir guru-guru muda nan gaul alias paham sama dunia anak muda inilah yang lebih banyak dibutuhkan hahaha.

Pulang ke rumah, sudah agak malam begitu, saya terkejut karena Mamatua berbicara dengan bahasa Inggris pun. Wuahahahaha. Silahkan lihat videonya di laman Facebook saya. Siapa tahu kalian terhibur 😁 qiqiqiq.


Cheers.

Yang Terdampar dan Yang Menyambungkan


Yang Terdampar dan Yang Menyambungkan

Konon tersebutlah sebuah kerajaan yang adil makmur, kerajaan itu sedang dirundung duka karena putri kerajaan terserang penyakit kulit menular. Sekian banyak tabib tidak ada yang dapat menyembuhkan putri cantik kesayangan negeri.

Tak tega menyaksikan putrinya terkurung karena penyakit, dengan berat hati sang raja dan ratu melepas putrinya ke tanah pengasingan dengan bekal keris pusaka kerajaan dan berbagai benda pusaka sebagai bukti identitas sang putri.

Sang putri dengan senang menukar karantina istana dengan kebebasan meski jauh, ia juga tidak ingin penyakitnya menular kepada kerabat istana dan rakyat negerinya.

Berperahu dan ditemani beberapa pengawal setia kerajaan dan keluarganya akhirnya sang putri dengan berat hati pergi meninggalkan negaranya menyusuri sungai dan kemudian menetap di pinggir hutan di mana mereka terdampar. "Orang terdampar", begitulah kemudian mereka menamakan diri dan tempat tinggal mereka sekarang.

Suatu saat kala sang putri mencuci di tepi danau, tanpa disadari datang seekor kerbau albino yang menjilat kulitnya. Awalnya ia merasa terganggu dan mencoba mengusir si kerbau, tapi menyadari penyakit kulitnya berangsur sembuh dan hilang dalam sekejap ia kemudian memerintahkan pengawalnya berhenti mengusir kerbau itu.

Bersyukur atas kesembuhannya, sang putri memerintahkan para pengawalnya untuk tidak mengganggu kerbau albino (kerbau bulan/kerbau bule). "Aku minta mulai saat ini jangan menyembelih kerbau bule, karena dia adalah kiriman dewata untuk menyembuhkanku".


***

Singkat cerita, serombongan pemburu bermalam di hutan karena tidak berani pulang. pangeran kerajaan yang ikut dalam rombongan berburu hilang, ia terlalu asik memburu binantang buruan hingga terpisah dari rombongan. 

"Kita tidak boleh pulang sebelum pangeran ditemukan. Jika sampai akhir hayat tidak ditemukan, biar kita semua terkubur di sini," ucap salah satu dari pemburu itu. Menyadari hukuman yang menanti jika mereka pulang tanpa pangeran, tidak ada seorang pun dari rombongan itu yang berani menyanggah kata-kata itu.

Tersesat dalam gelap hutan bukan hal yang menakutkan bagi pangeran namun ia juga tidak ingin dirinya celaka dari sergapan binatang buas. Tidak lama si pangeran memanjat pohon besar yang ia temui dan berniat istirahat di sana. Dari ketinggian di atas pohon ia melihat ada beberapa nyala cahaya di kejauhan, ia perhatikan dan yakin itu bukan halusinasi dan tipuan mambang hutan. Ya itu cahaya lampu dari rumah penduduk.

Berharap dapat tempat istirahat yang lebih layak akhirnya sang pangeran memutuskan untuk mendatangi sumber cahaya yang ia lihat. Tibalah ia di rumah sumber cahaya yang tidak lain adalah rumah sang putri.

Tidak mudah bagi sang pangeran untuk masuk ke rumah itu, para pengawal sang putri mempertaruhkan nyawanya demi menjaga keselamatan putri dari raja yang mereka hormati.

"Aku hanya ingin istirahat, mengapa tidak boleh? Sekarang pertemukan aku dengan siapapun yang memiliki kewenangan untuk memberiku izin beristirahat di sini".

Rasa heran pangeran belum habis saat ia terpaksa melawan para pengawal sang putri yang tetap mengusir dirinya.

Lelah karena berburu dan tersesat membuat sang pangeran tidak ingin berlama-lama, ia mengungkap identitasnya dan menyampaikan maksud hanya ingin menumpang beristirahat.

Sang pangeran telah curiga sejak awal, jika rumah itu dihuni warga biasa mengapa ia tidak diizinkan memasukinya padahal ia sudah meminta izin sebaik-baiknya. Dan mengapa ada pengawal-pengawal yang sulit ia taklukkan, kalaupun prajurit pastinya mereka prajurit pilihan yang pilih tanding.

Kecurigaan itu justru mengundang rasa penasaran dan memancing emosi jiwa mudanya sehingga terjadi pertarungan yang menambah lelah dirinya.


***

Sang putri sudah sejak awal memperhatikan keributan di halaman rumah tinggalnya, namun ia memilih untuk diam memperhatikan, karena baru kali ini ada tamu yang ia tidak kenal dan berhasil memaksa para pengawalnya mencabut pedang.

Mengetahui tamunya adalah salah satu putra kerajaan tetangga ia kemudian memerintahkan pengawalnya agar mengizinkan pangeran masuk menemuinya.

Setelah meminum hidangan yang dipersilahkan si pangeran bertanya sesopan mungkin sambil menahan gejolak rasa penasaran dalam hatinya.

"Boleh aku tahu siapakah pemilik rumah yang sudah berbaik hati memperbolehkan aku yang tersesat ini masuk dan menghidangkan minuman herbal hangat penghilang lelah ini?".

Sang pangeran akhirnya tidak dapat menahan diri untuk membalas tatapan tajam dari balik kerudung. Dari cara duduk, jenis kain selendang atau kerudung penutup wajah dan jenis kain sarung yang dikenakan lawan bicaranya sang pangeran tahu yang ia hadapi adalah seorang perempuan bangsawan.

Tergagap sang pangeran tidak menduga lawan bicaranya menjawab pertanyaan dengan menyodorkan senjata pusaka yang berbalut sulaman panji bendera khas kerajaan. Sadarlah ia sedang berhadapan dengan salah satu keluarga inti kerajaan yang termasyur karena memiliki raja yang adil dan bijaksana.

Tanpa panjang basa-basi ia kemudian mengungkapkan maksud untuk bisa menumpang beristirahat dan akan segera kembali mencari rombongannya pada esok pagi.

Lawan bicaranya hanya mengangguk lalu memanggil pengawal yang berjaga di pintu untuk mengiringi pangeran ke luar.

Singkat cerita sang pangeran mendapat jamuan makan dan tempat istirahat setelah membersihkan diri dan berganti pakaian yang cukup layak untuk dirinya. Lelah membuatnya cepat tertidur malam itu.

Saat pagi hari ia segera ia berpamitan untuk kembali mencari rombongannya. Tapi apa daya, tuan rumah telah menyiapkan sarapan dan kali ini putri sendiri yang menemaninya makan pagi.

Perkenalannya dengan putri yang terdampar itu membuat pangeran meminta ayahnya melamar sang putri. Niat ini ia sampaikan sepulangnya berburu bersama rombongan.

Sang raja menyambut gembira permintaan anaknya ini akan mempererat hubungan dua kerajaan, tapi ia juga khawatir jika keinginan putranya tersebut ditolak oleh pihak kerajaan tetangga, maka akan meretakkan hubungan antar dua kerajaan.

"Maksud baik tidak selamanya diterima baik anakku, temui kembali putri pujaan hatimu dan sampaikan maksudmu, jika ia menerimanya maka mudah-mudahan semua dilancarkan." 


***

Tidak ada jawaban dari sang putri, ia tahu tidak bijak menjawab pinangan itu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Iya atau tidak bukan jawaban sederhana, sang putri sangat sadar apapun jawabannya akan menentukan masa depan dua buah kerajaan dan rakyat yang ada di dalamnya.

Sang putri kemudian menyerahkan senjata pusaka titipan ayahnya dan berpesan.

"Sampaikan maksudmu kepada ayah ibuku dan berikan senjata pusaka ini kepada mereka, jika mereka menolak senjata ini, itu artinya kita tidak ditakdirkan bersatu, tapi jika mereka menerima dengan baik maka jemput aku untuk hidup bersamamu selamanya".

Mendengar jawaban itu sang pangeran langsung berangkat menuju pusat kerajaan di mana ayah dan ibu sang putri tinggal.

"Doakan agar alam merestui perjalananku, dan saksikan bahwa 'orang yang terdampar' akan kembali dengan sambutan cinta dari semua orang yang merindukannya, karena ia yang menyambungkan dan mengantarkan aku, orang dari seberang menuju masa depan" ucap sang pangeran.

Ternyata kedatangan sang pangeran diterima dengan baik oleh orang tua sang puteri.
Raja dan permaisuri gembira mendengar kabar putri mereka telah sembuh dan menerima senjata pusaka yang pernah mereka berikan.
"Ia mempercayakan dirimu untuk mengembalikan senjata pusaka ini kepada kami, artinya ia telah menemukan orang yang ia percaya untuk melindungi dirinya" ungkap permaisuri.

"Niat baikmu kami terima, kembalilah bersama perwakikan kami untuk menjemputnya pulang, sampaikan kepada rajamu, anaknya juga adalah anak kami" ungkap sang raja memeluk sang pangeran.

Demikianlah akhirnya mereka menikah dan merekatkan hubungan dua kerajaan. Mereka menetap dan beranak pinak di tempat mereka pertama berjumpa.

Walaupun mereka tidak menjadi raja di kerajaan masing-masing, kisah hidup mereka terus direkam dalam kenangan kolektif masyarakat dari 2 kerajaan dan dituturkan sebagai warisan dalam berbagai versi cerita.

----------------
Adaptasi dari kisah hikayat Putri We Tadampali.

"Orang Terdampar" disebut Tosora'e, nama tempat itu kemudian disebut Tosora ibukota kerajaan Wajo di Sulawesi Selatan dahulu kala.

Ponpes Walisanga yang Penuh Warna


Setelah Senin mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) di Kabupaten Nagekeo, sekalian menikmati Jalan-Jalan Kerja yang cihuynya luar biasa itu, hari ini saya menjalankan tugas menuju SMA-SMA di wilayah Kabupaten Ende bagian kota. Bersama Om Ihsan dan Ibu Neneng, kami saling berbagi sekolah dan kasih sayang, hahaha. Masing-masing mendapat jatah enam SMA. Tidak perlu menunggu dinosaurus ngajak traveling ke Alaska, setelah logistik terpenuhi, saya (mengajak Thika) berangkaaaaaat!

Baca Juga: 5 Manfaat Teh Rossela

SMA Apa Saja?


Ada enam SMA dan/atau sederajat yang surat penunjukannya saya pegang. Daftar sekolah-sekolah itu antara lain:

1. MAS Ponpes (Pondok Pesantren) Walisanga Ende.
2. SMA Negeri 2 Ende.
3. SMK Perikanan Tarbiyah Ende.
4. SMA Swasta Adhyaksa Ende.
5. SMA Katolik Taruna Vidya Ende.
6. SMA Katolik St. Petrus Ende.

Melihat nama MAS Ponpes Walisanga tertera di salah satu amplop, saya langsung membayangkan wajah Kakak Noka Eka, pemilik dan pengurus yayasannya. Di tangan Kakak Noka inilah kondisi Ponpes Walisanga menjadi begitu hidup dan penuh warna. Jiwa membangunnya luar biasa. Kerja sama antara Ponpes Walisanga dengan pihak luar, termasuk bantuan dan hibah ini itu, pun terjalin dengan sangat baik dan manis. Saya mengikuti perkembangan Ponpes Walisanga dari Cahyadi, tukang syuting andalan, karena dia juga beraktivitas di Ponpes Walisanga. Sudah lama saya belum pergi ke Ponpes Walisanga.

Maka, saya memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke pondok pesantren sekaligus sekolah yang berdiri gagah di kaki Gunung Meja itu.

Tourist Information Center Gunung Meja


Sebelum memasuki lokasi Ponpes Walisanga, sekitar limapuluh meter, ada satu bangunan berdiri. Sudah lama juga bangunan ini diresmikan tapi sayanya saja yang belum pernah datang ke sini. Iya, kan sudah saya tulis di atas, sudah lama saya tidak ke Ponpes Walisanga.


Saya belum tahu apa manfaat dibangunnya tempat ini. Karena, bagian dalam (mungkin perkantoran) sangat sepi alias tidak ada petugas sehingga saya tidak bisa bertanya-tanya untuk menggali lebih dalam informasi. Saya lihat, tempat ini seperti tidak dirawat karena rumput-rumput liar tumbuh subur dengan riang-gembira. Ya sudah, mari lanjutkan perjalanan ke tujuan utama ... urusan ini bisa dituntaskan lain waktu.

Ponpes Walisanga yang Penuh Warna


Sudah lama saya tidak ke Pondok Pesantren Walisanga yang terletak di kaki Gunung Meja ini. Sudah tiga kali menulis ini, haha. Begitu memasukinya, seperti gambaran di dalam kepala saya berdasarkan cerita dari Cahyadi dan foto-foto di Facebook, tempat ini sungguh luar biasa!

Lingkungan Ponpes Walisanga dari kejauhan.

Saya bertemu guru yang kemudian mendampingi saya mempromosikan Uniflor di kelas 12 MAS Ponpes Walisanga. Setelah promosi, saatnya mengeksplor sekitaran pondok pesantren, tetapi sayang tidak bisa semuanya meskipun ingin sekali pergi ke kebun-kebun mereka, karena waktu yang tidak mengijinkan. Masih ada SMA lain yang menanti.


Ponpes Walisanga, oleh Kakak Nona Eka, diubah menjadi sangat memikat dengan warna-warna cerah hampir setiap incinya, termasuk masjid. Belum lagi, sebagai orang yang saya tahu sangat kreatif, Kakak Nona Eka juga membikin banyak spot foto yang Instagramable menggoda iman. Salah satunya bisa kalian lihat pada foto di atas. Sore-sore duduk ngopi di situ ... sambil kerja ... suasana tenang ... huhuy!

Cahyadi kemudian mengajak saya ke tamannya. Menurut Cahyadi, salah seorang anak Kakak Nona Eka bakal bikin kafe di taman tersebut. Nah, ini yang keren. Selama ini kan si beliau punya angkringan di Jalan Soekarno - Ende. Kalau bikin kafe di taman ini kan bagus juga, tinggal mencari 'suguhan unik' lain apa yang mau ditawarkan ke pengunjung. Misalnya pengalaman berkebun, pengalaman berkreasi DIY, atau apalah. Boleh juga ada suguhan kesenian dari anak-anak pondok pesantren. Yang penting jangan hanya menu makan dan minum karena makan dan minum bisa diperoleh masyarakat di wilayah kota tanpa perlu harus pergi ke kaki Gunung Meja.



Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya tidak bisa berlama-lama di Ponpes Walisanga karena harus melanjutkan tugas ke SMA lainnya. Tapi saya bakal kembali ke sini. Pokoknya. Hehe *seret dinosaurus*.

Masa SMA yang Seru


Pergi ke empat sekolah lainnya, kemudian - setelah dari MAS Ponpes Walisanga, saya membayangkan masa SMA yang seru. Yaaaaa kan dulu saya juga pernah SMA haha di SMA Negeri 1 Ende. Menjadi anak putih - abu-abu itu super cool. Karena apa? Karena tiga tahun menjadi anak putih - biru. Cukup membosankan. Hahaha. Bukan ... bukan itu saja. Menjadi anak putih - abu-abu, waktu itu, membayangkan sudah diijinkan punya gebetan. Ternyata ... tidak. Orangtua saya tidak mengijinkannya. Manapula kakak lelaki saya pada suka melotot parah. Huhuhu.

Keseruan terutama saya peroleh saat mengunjungi SMA Katolik Tarvid. Karena ini Rabu, yang oleh Gubernur NTT dicanangkan sebagai English Day, maka kami disambut dengan bahasa Inggris oleh guru-guru di sana. Termasuk Bapak Kepseknya juga! Meskipun ada salah-salah kata, tapi Bapak Kepsek ini sungguh bikin kagum. Prinsip kami sama. Ini English Day, bukan Grammar Day. Jadi boleh saja berbicara bahasa Inggris meskipun patah-patah qiqiqiq. Toss dulu donk, Bapak. Yang penting kan tidak merugi. Toh hanya disuruh bicara bahasa Inggris, tidak mesti harus sesuai aturan baku. Ya kan ya kaaaan.

Memasuki salah satu kelas 12, saya teringat masa SMA dulu, karena masih jeda pelajaran ... ribut dan saling goda itu pasti terjadi. Ya ampuuun! Jadi kangen sama teman-teman SMA Kelas 3 Bahasa dulu! Kelas paling eror! Hahaha. Ada murid yang suka godain temannya, ada murid yang (tadi duduk paling depan) sibuk membaca, ada yang mengobrol riuh. Pokoknya seru memang masa SMA. Duhai, adik-adik tercinta, suatu saat nanti kalian akan merindukan kekonyolan masa SMA ini. Sumpah. Percayalah sama Presiden Negara Kuning.


Dari enam SMA, masih ada satu SMA lagi yang belum sempat saya datangi yaitu SMA Katolik St. Petrus yang bertetangga sama Bandara H. Hasan Aroeboesman. Insha Allah ... besok.

Baca Juga: 5 Manfaat Buah Mengkudu

Dan bagi kalian yang baru hari ini membaca blog ini lagi, pasti bingung kenapa Rabu tidak ada tips kesehatan? Baca pos ini: Uniflor Goes to School untuk tahu mengapa kebiasaan selama ini berubah (tanpa tema harian). Tenang saja, ini tidak selamanya kok, setelah 20 Februari nanti saya Insha Allah bakal kembali dengan pos-pos bertema. Hehe.

Selamat beraktivitas, kawan!



Cheers.

Kepo Buku #5: @ByPuty dan Buibu Baca Buku Book Club

Kepo Buku kedatangan tamu spesial. Seorang ilustrator, penulis dan juga salah satu pemenang Emmy Awards dari Bekasi (catat: BE.KA.SI !) 🙂 Dia akan ngobrol tentang profesinya sebagai ilustrator, tentang dua buku ilustrasi dan komiknya dan juga tentang sebuah klub baca yang beranggotakan ibu-ibu keren! Oya, adalah sebuah kehormatan juga karena cover art episode ini dibuatkan oleh sang tamu kita. Makassiiihh..
Tamu: Puty Puar (http://byputy.com)


Di mana dengar podcast Kepo Buku?

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

Buku yang Dibahas di Episode ini:

Tentang Tamu kali ini:

Kepo Buku adalah:

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License
  • Cover: @ByPuty (Thank you Puty)

 

-rh-

 

Di Nagekeo Hati Saya Tertambat



Kemarin, Senin 4 Februari 2019, sekitar pukul 06.10 Wita, Onif Harem saya pacu menuju arah Barat Pulau Flores. Di belakang saya Thika Pharmantara, keponakan cantik itu huhuhu, duduk manis di boncengan dengan tenang sambil berharap Encimnya tidak mendadak diserang kantuk. Perjalanan ini adalah perjalanan dinas, pekerjaan khusus mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) kepada murid kelas 12 atau Kelas 3 di SMA-SMA se-Pulau Flores dan sekitarnya. 

Baca Juga: 1 Video, 3 Aplikasi


Sarapan Jagung Pulut Rebus


Tiba di Aigela sekitar pukul 07.00 Wita, percabangan menuju Kabupaten Ngada dan menuju Ibu Kota Kabupaten Nagekeo (Kota Mbay), kami memutuskan untuk beristirahat sejenak demi menghangatkan perut yang terasa dingin dan kesepian. Sebenarnya Thika membawa bekal nasi dan nugget, tapi entah dia lebih memilih jagung pulut rebus. Saya sendiri lebih membutuhkan secangkir kopi panas. Beruntung satu lapak sudah dibuka sehingga bisa menikmati jagung pulut rebus dan secangkir kopi yang rasanya ... tidak ada lawan. Sambalnya ini yang bikin Thika tidak nyenyak tidur, terbayang-bayang di lidah. Haha.


Rombongan yang menggunakan bis Tim Promosi Uniflor 2019 telah tiba di Kota Mbay. Artinya kami harus bergegas. Jalanan dari cabang Aigela menuju Kota Mbay telah jauuuuh lebih bagus. Ngebut? Pasti. Tapi hati-hati hewan seperti anjing dan kambing yang piknik pagi di jalanan. Kalau mendekati Kota Mbay (sampai menuju Riung) itu lebih banyak kambing dan sapi.



Memasuki Ibu Kota Nagekeo ini sekitar pukul 07.45, dari ketinggian tempat bukit-bukit sabana terlihat menawan, Kota Mbay yang bertopografi datar terlihat jelas. Kami hampir saja ditilang di dekat Kantor Bupati Nagekeo, untung mata saya masih bisa awas, lantas mencari jalur belakang yang memutar. Haha.

Tiba di rumah Pak Selis, salah seorang dosen Uniflor, koordinator lapangan yaitu Ibu Juwita mulai membagi tugas. Siapa yang ke sekolah A, siapa yang ke sekolah B, dan seterusnya. Tetapi karena minimnya kendaraan, tim tidak bisa dipecah begitu saja. Hitung-hitung, hanya ada dua kendaraan yaitu bis Tim Promosi Uniflor 2019 dan Onif Harem milik saya. Akhirnya saya (ditemani Thika) yang adalah penyusup untuk Tim Barat ini mendapat jatah tiga sekolah di luar Kota Mbay yaitu di Kecamatan Aesesa dan Marpokot, sedangkan anggota tim yang lain mendapat jatah tiga sekolah di wilayah Kota Mbay.

Okay. Mari berangkat!

SPBU Yang Dijual


Di Tengah jalan saya bertemu dengan Tim Kreatif, Cesar dan Roland, yang akhirnya mereka berdua mengikuti saya ke Aesesa dan Marpokot.


Usai kunjungan ke tiga sekolah yaitu SMKN 1 Aesesa, SMAS Katolik Stella Maris, dan MAS, kami kembali ke rombongan untuk makan siang. Padahal kami sudah duluan makan sih, soalnya Cesar dan Roland benar-benar sakau kopi. Karena rombongan  masih menunggu makan siangnya, saya pergi ke rumah keponakan di wilayah Towak (arah menuju Riung). Oia, foto SPBU yang dijual di atas, membikin saya memaksa Cesar dan Roland untuk mengekori hahaha, pengen difoto di situ pokoknya! Unik sih hehe, karena kan biasanya yang dijual itu bensin dan solar, bukan SPBU. Sayang ya SPBU ini dijual. Entah kenapa.

Pustu Towak


Towak merupakan wilayah Kabupaten Nagekeo yang letaknya berada di jalan Trans Mbay - Riung. Untuk diketahui, Riung yang terkenal dengan Taman Laut 17 Pulau Riung itu, berada di wilayah Kabupaten Ngada bukan Kabupaten Nagekeo. Rumah keponakan saya Iwan, dan istrinya Reni, merupakan rumah dinas dari Pustu Towak karena Reni adalah bidan yang bertugas di situ. Di sana sudah menanti pula dua cucu saya yang luar biasa bikin kangen Andika dan Rayhan *peluk-peluk*. Begitu melihat saya dan Thika mereka langsung teriak, "Oma Enciiiimmm!!!!" Haha.

Rumah ini berada di tengah ladang milik masyarakat dengan jarak rumah lumayan jauh-jauhan. Mulailah kami mengobrol ngalor-ngidul, saya terkaget-kaget waktu ada tetangganya yang datang mengantar ikan segar hasil memancing di laut, terpikat sama rasa kopinya, dan direcoki sama dua penjahat cilik Andika dan Rayhan. Saat sedang mengobrol (obrolan yang super lama dari pukul 13.00 Wita sampai sekitar pukul 15.00 Wita), Iwan pamit membantu tetangganya yang sedang mengumpulkan kembali padi (yang dijemur) untuk disimpan di gudang. Maklum, cuaca sedang mendung. Dari Iwan pula saya peroleh banyak cerita tentang dirinya yang tidak pernah kesulitan beras karena selalu dibagi sama tetangga yang punya sawah berhektar-hektar. Kata Reni, "Encim, kami tidak pernah susah beras dan sayur. Ikan pun sering dapat murah."


Di atas, foto saat nyaris selesai menyimpan padi (tepat di depan rumah Iwan dan Reni). Untung masih sempat fotoin hehe. Saya pergi ke tempat ini setelah Cesar dan Roland menyusuli kami ke Towak karena mereka bosan di hotel; penginapan tim kami yaitu Hotel Pepita.


Ada yang tahu nama tanaman ini? Saya pernah memotretnya di Ende, di wilayah Nangaba. Kalau di sekitar rumah Iwan dan Reni, tanaman ini tumbuh subuuuurrrrr dan super banyaaaaak. Selain itu, pohon marungge/kelor pun jangan ditanya, di belakang rumah juga tumbuh pohon marungge. Makanya Reni bilang beras dan sayur tidak pernah kesusahan. Jadi iri maksimal! Sayangnya Reni tidak sempat memasak sayur marungge untuk kami.

Bukit Weworowet


Noviea Azizah adalah puteri Mbay yang adalah lulusan Prodi Sastra Inggris Uniflor tahun 2018. Novi tiba di rumah Iwan dan Reni sekitar pukul 16.30. Kami lantas pamit pada Iwan, karena Reni sedang pergi ke Posyandu, untuk pergi ke Bukit Weworowet. Ini memang sudah niat. Jarak tempuh menuju Bukit Weworowet ini hanya sekitar duapuluh menit dari Towak. Bukit Weworowet terletak di Desa Waekakok, masih wilayah Kabupaten Nagekeo.


Dulunya bukit ini saya tulis Bukit Robert ternyata saya salah ha ha ha. Anggap saja kesalahan telah diperbaiki ya.




Saya sering foto-foto di sini, zaman dahulu, waktu masih rajin ke Riung buat mengantar teman-teman traveler. Weworowet semacam ikon antara Mbay - Riung yang sulit diabaikan karena keindahannya. Dulu, dari sudut tertentu bukit ini nampak seperti lelaki yang sedang tidur. Dan kalau beruntung, kalian bisa menikmati bunga-bunga kuning yang tumbuh di kaki bukit.

Silahkan nonton video berikut ini:


Dari sudut lain, Bukit Weworowet akan terlihat seperti gambar di bawah ini:

Ini sih rumah impian!

Ausam sekali, kawan. Tak terbantahkan! Kata Novi, dia dan komunitas kreatifnya memang hendak membangun kafe di spot tempat kami memotret si bukit. Aduuuuh saya bakal jadi orang pertama yang ngopi-ngopi di situ!

Dari Bukit Weworowet kami diajak ke sebuah embung yang saya lupa namanya haha.


Puas melihat-lihat, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Soalnya matahari juga sudah mulai tenggelam. Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang, bersama-sama ...

Bebek dan Ikan Panggang


Tiba di Towak saya melihat Iwan sedang mengangkat kayu-kayu ... ternyata di belakang rumah sedang terjadi pembakaran haha. Reni sedang meracik bumbu. Mari membantu supaya lekas selesai. Diiringi dengan listrik padam (sekitar setengah jam), dan Iwan menjemput Deni di Hotel Pepita, jadilah malam itu kami menikmati suguhan yang luar biasa memikat lidah. Orang Flores memang luar biasa kalau sama tamu, apalagi kalau tamunya itu masih berpangkat Encim hahaha.


Wah, lupa foto bebek panggangnya (kelihatan paling sudut tuh). Tak apalah. Oia, kata Iwan, "Encim, untung sekarang belum musim domba, kalau tidak ... Encim harus rasakan daging domba sini ... wuih!" Tenang saja, anak ... ke Towak saya akan kembali! Haha *ketawa raksasa*.

Selesai makan malam kami masih mengobrol tentang yang horor-horor bikin ngeri karena sekitar rumah Iwan kan gelap gulita (ladang), terus balik ke Hotel Pepita, sekitar pukul 23.00 Wita. Tapi di Kota Mbay masih lumayan ramai karena sedang ada pasar malam. Sayang saya tidak mampir ke pasar malam padahal sudah diajak Novi. Lelah cuy!

Hotel Pepita


Nanti ya baru saya menulis tentang hotel ini. Yang jelas hotel ini bagus, pelayanan bagus, sarapan enak ... dan nyaman lah.






Saatnya pulang ke Ende!

Sebenarnya, sebagai anggota susupan di Tim Barat, saya diperbantukan dari Kabupaten Nagekeo hingga Kabupaten Ngada tepatnya di Mataloko. Tapi karena mengingat SMA-SMA di Kota Ende sendiri sangat banyak (apalagi Kabupaten Ende -  kecamatan di luar kota), saya harus segera pulang ke Ende supaya Rabu bisa melaksanakan tugas utama. Kan tidak lucu, tugas bantuan terselesaikan dengan baik, tugas utama malah keteteran. Dududud.

Selasa, 5 Februari 2019, Hari Raya Imlek, saya dan Thika kembali ke Ende sedangkan bis Tim Promosi Uniflor 2019 berangkat ke Mataloko untuk meneruskan tugas hingga ke Labuan Bajo. Sepulang mereka dari Labuan Bajo nanti, kami akan sama-sama pergi ke Kota Maumere dan Kota Larantuka bersama Tim Timur (jika berkenan) sedang tim yang 'menjelajah' Pulau Lembata dan Pulau Adonara telah melaksanakan tugas pada hari yang sama.


Seperti yang sudah saya tulis di pos sebelumnya, karena kondisi sedang dalam masa tugas, saya tidak mengepos seperti biasanya (tema harian). Supaya ide dan cerita tidak menguap dari benak. Dan tentu saja akan lebih banyak foto hahaha. Namanya juga Jalan-Jalan Kerja *ngikik*. 

Baca Juga: Inovasi Joseph Joseph

Semua yang saya tulis hari ini masih general saja, belum bisa mengulas satu-satu, belum mengulas lebih detail, tentu juga tentang Presiden Kuning yang 'menemukan' kerajaannya. Nanti deh kalau sudah punya lebih banyak waktu. Yang jelas, hati saya tertambat di Nagekeo, sejak dulu dan belum berubah sampai hari ini. Kabupaten ini menawarkan sejuta pesona ... dan saya terpesona sungguh.

Terima kasih masih menyempatkan diri main-main ke blog ini :D



Cheers.

Melawan Hoax Bersama AtmaGo

"Media sosial itu seperti dua sisi mata pisau, kalau kita bisa memanfaatkannya dengan positif maka akan bermanfaat buat pengguna dan lingkungannya, tapi kalau tidak maka media sosial bisa merugikan dan membuat kita berurusan dengan hukum," ungkap pak Jamhuri ZH selaku Kepala Sekolah MI Al-Hikmah Kp. Babakan Mustikasari, Kecamatan Mustika Jaya Kota Bekasi. Minggu, 27 Januari 2019.

Pada Minggu pagi itu ada sekitar 110 peserta dari 10 sekolah menengah atas di Bekasi yang mengikuti seminar literasi digital dengan tema "Melawan Hoax Bersama AtmaGo".
Melawan Hoax Bersama AtmaGo
Yasin menjelaskan mengenai AtmaGo
Dalam seminar kecil-kecilan ini saya mengangkat hasil survey Daily Social tahun 2018 tentang distribusi hoax. Menurut survey tersebut hanya 25 % responden yang bisa mengenali hoax, selebihnya sebesar 75% menyatakan tidak dapat mengenali dan sulit mendeteksi berita hoax di social media.

Jika media sosial yang seharusnya bisa bermanfaat bagi kehidupan sosial banyak berisi hoax dan sebagian besar dari kita tidak bisa mengenalinya maka larangan penggunaan media sosial akan saya dukung.

Lalu apakah ada cara lain agar para pengguna media sosial dapat selamat dari jebakan hoax?

Ada banyak, tapi yang saya lakukan adalah menyibukkan diri dengan konten positif dan kabar di lingkungan terdekat yang dapat dikonfirmasi lokasi dan sumbernya.

Karena itu, perlu rasanya kita mengenal 7 macam disinformasi dan bagaimana cara mengenali ciri-ciri berita hoax sambil terus membuat konten positif yang lebih bermanfaat.
Melawan Hoax Bersama AtmaGo

Selain dihadiri oleh pelajar, acara ini juga dihadiri oleh beberapa pengurus karang taruna kelurahan Mekarsari dan juga Bhabinkamtibmas kecamatan Mustika Jaya, bapak Aiptu Sarjono.

Agak sulit bagi saya mendeliver materi kepada publik yang heterogen latar belakang dan beda usia ini. Saya memilih target audience kepada hadirin dari sekolah karena mereka mayoritas.

Dengan memutar film kartun Juki tentang hoax saya kira peserta akan paham apa yang saya bahas selanjutnya.

Alhamdulillah setelah saya selesai memberikan materi, Aiptu Sarjono selaku Bhabinkamtibmas Kel. Mustikasari kembali menekankan bahayanya Hoaks dan mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh AtmaGo dan MI Al-Hikmah.
Melawan Hoax Bersama AtmaGo
Aiptu Sarjono menyampaikan sambutan
"Kegiatan seperti ini seharusnya dilakukan bukan hanya untuk pelajar sekolah tapi juga untuk masyarakat, semoga AtmaGo bisa melakukan penyuluhan bahaya Hoax sampai ke tingkat RW dan RT."

Acara hari itu diakhiri dengan materi dari Muhammad Yasin yang memperkenalkan aplikasi AtmaGo dan bagaimana memanfaatkan AtmaGo serta media sosial lainnya agar lebih bermanfaat, baik untuk diri pengguna sendiri hingga masyarakat di lingkungannya.

AtmaGo adalah situs web dan aplikasi Android gratis yang dapat digunakan untuk melaporkan masalah, berbagi solusi, mencari pekerjaan, dan memposting berita mengenai lingkungan pengguna. 

"AtmaGo dibuat dengan ide dan semangat “warga bantu warga” untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik dari bawah melalui komunikasi dan informasi lokal di lingkungan penggunanya," tutur Yasin. Tentang AtmaGo saya pernah menulisnya di tulisan ini: Gotong Royong di Internet dengan AtmaGo.
Melawan Hoax Bersama AtmaGo