5 Momen Paskah


Hari Raya Paskah jatuh pada hari Minggu, 21 April 2019. Berbeda dari Hari Raya Natal, suasana menjelang Paskah atau Pra Paskah sudah dimulai empat puluh hari sebelumnya, yang pada setiap Jum'at dikenakan puasa dan ritus Jalan Salib. Pra Paskah merupakan persiapan sebelum Minggu Suci atau Pekan Suci. Minggu Suci dimulai dari hari Minggu, 14 April 2019, yang dinamai Minggu Palma. Ada yang menyebutnya Minggu Daun-Daun. Minggu Suci ini berlanjut pada (Rabu Trewa - di Kota Larantuka), Kamis Putih, Jum'at Agung, Sabtu Santo, dan Minggu Paskah. Tanpa membaca dari sumber manapun saya tahu persis tentang hal ini karena saya tinggal di lingkungan dimana keluarga kami adalah satu-satunya Muslim. Bahkan jarak Gereja Kathedral Ende hanya tiga menit berjalan kaki dari rumah saya.

Baca Juga: 5 Patterns

Paskah merupakan hari tentang bangkitnya Yesus Kristus setelah disalib pada Jum'at Agung. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Paskah dirayakan secara akbar di semua daerah, terutama di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur dengan Semana Santa. Para peziarah datang dari penjuru dunia. Ada yang seorangan, ada yang berkelompok. Saya pernah menyaksikan Semana Santa di Kota Larantuka, pada tahun 2011, bersama seorang sahabat petualang bernama Acie. Kisah perjalanan itu bisa dibaca di pos Long Journey.

Entah dengan daerah lainnya, tapi kalau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, semua sekolah dan institusi libur sejak Kamis sebelum Jum'at Agung. Kemarin, liburnya sudah dimulai dari hari Rabu bertepatan dengan momen Pemilu. Libur, siapa yang tidak senang? Tapi, libur yang tidak sampai dua minggu itu membikin kami tidak mungkin pergi terlalu jauh sampai ke luar tata surya, kuatir masih belum tiba di rumah saat waktu liburan usai. Iya, liburnya hanya sampai tanggal 22 April 2019. Rekomendasi tempat menghabiskan waktu libur Paskah bisa dibaca di pos 5 Tempat Berlibur Paskah di Flores.

Hari ini saya mau berbagi cerita dengan kalian tentang 5 momen (menjelang dan saat) Paskah yang terjadi di Pulau Flores. Yuk baca ...

1. Latihan Paduan Suara


Sejak memasuki masa puasa menjelang Paskah, setiap Hari Jum'at dilaksanakan Jalan Salib, termasuk juga di kantor saya, diikuti oleh teman-teman yang merayakannya. Selain itu, hampir setiap malam saya mendengar tetangga kompleks yang tergabung dalam 'lingkungan' latihan paduan suara. Latihan paduan suara atau koor untuk Misa di Gereja.

Salah satu gereja yang ada di Kota Larantuka. Di dekat gereja ini, berseberangan jalan, berdiri Patung Mater Dolorosa (Bunda yang berduka).

Menariknya mendengar teman-teman dan/atau tetangga latihan koor adalah kita jadi tahu prosesnya. Dari mengenal sebuah lagu, proses, hingga betul-betul fasih menyanyikannya dalam harmonisasi paduan suara.

2. Going Back East


Kembali ke Timur, kembali ke Kota Larantuka, sebagai kota pusat perayaan akbar Paskah yaitu Semana Santa dilaksanakan. Momen perjalanan ke Kota Larantuka merupakan sesuatu yang menyenangkan. Jalan sendiri maupun bersama teman-teman, mana-mana suka. Tahun ini banyak teman saya yang berangkat ke Kota Larantuka.

Patung Mater Dolorosa di Taman Doa Mater Dolorosa.

Saya sih pengen ke sana lagi untuk menyaksikan kemeriahan dan khidmatnya Jum'at Agung di Kota Reinha itu, tapi sayang ... Februari kemarin kan saya baru saja ke Kota Larantuka. Hiks. Kasihan Onif Harem kalau diajak jalan jauh terus-terusan.

3. Mencium Jubah Tuan Ma


Di Kota Larantuka, tepatnya di Kapela Tuan Ma, tersimpan patung besar Bunda Maria yang disebut Tuan Ma. Setiap tahun, umat setempat dan peziarah, akan pergi ke Kapela Tuan Ma untuk mencium jubahnya. Ritus ini dilakukan pada Jum'at Agung (pagi hingga siang hari) sebelum Prosesi Laut. Usai prosesi laut, Tuan Ma akan diarak menuju Gereja Kathedral.

Ritual mengarak Patung Tuan Ma menuju Gereja Kathedral untuk persiapan malam Jum'at Agung (Jalan Salib).

 Prosesi Laut.

4. Tablo

Tablo adalah treatikal Jalan Salib yang dilakukan pada Jum'at Agung. Tidak semua gereja melaksanakan tablo, tapi setiap tahun pasti ada tablo. Melaksanakan Jalan Salib dengan betul-betul melakukan apa yang dulu dialami Yesus. Ada pemuda terpilih yang akan memikul Salib dan disiksa layaknya yang dialami dulu oleh Yesus. Inilah perayaan Jum'at Agung.

5. Minggu Paskah


Dari pengamatan saya, Minggu Paskah merupakan perayaan kemuliaan atas bangkitnya Yesus. Di setiap kota di Kabupaten Ende, tidak ada yang terlalu istimewa dari Minggu Paskah, karena keistimewaanya terutama pada Jum'at Agung tadi. Tapi teteup lah di setiap rumah pasti ada acara makan-makan sekeluarga.


Menulis ini, bukan berarti saya yang paling tahu tentang momen-momen (menjelang dan saat) Paskah. Teman-teman yang beragama Katolik tentu lebih tahu. Saya menulisnya dari sudut pandang awam yang menyaksikan sendiri keadaan di sekitar tentang momen-momen Paskah ini.

Baca Juga: 5 Steps to Marriage

Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

5 Momen Paskah


Hari Raya Paskah jatuh pada hari Minggu, 21 April 2019. Berbeda dari Hari Raya Natal, suasana menjelang Paskah atau Pra Paskah sudah dimulai empat puluh hari sebelumnya, yang pada setiap Jum'at dikenakan puasa dan ritus Jalan Salib. Pra Paskah merupakan persiapan sebelum Minggu Suci atau Pekan Suci. Minggu Suci dimulai dari hari Minggu, 14 April 2019, yang dinamai Minggu Palma. Ada yang menyebutnya Minggu Daun-Daun. Minggu Suci ini berlanjut pada (Rabu Trewa - di Kota Larantuka), Kamis Putih, Jum'at Agung, Sabtu Santo, dan Minggu Paskah. Tanpa membaca dari sumber manapun saya tahu persis tentang hal ini karena saya tinggal di lingkungan dimana keluarga kami adalah satu-satunya Muslim. Bahkan jarak Gereja Kathedral Ende hanya tiga menit berjalan kaki dari rumah saya.

Baca Juga: 5 Patterns

Paskah merupakan hari tentang bangkitnya Yesus Kristus setelah disalib pada Jum'at Agung. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Paskah dirayakan secara akbar di semua daerah, terutama di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur dengan Semana Santa. Para peziarah datang dari penjuru dunia. Ada yang seorangan, ada yang berkelompok. Saya pernah menyaksikan Semana Santa di Kota Larantuka, pada tahun 2011, bersama seorang sahabat petualang bernama Acie. Kisah perjalanan itu bisa dibaca di pos Long Journey.

Entah dengan daerah lainnya, tapi kalau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, semua sekolah dan institusi libur sejak Kamis sebelum Jum'at Agung. Kemarin, liburnya sudah dimulai dari hari Rabu bertepatan dengan momen Pemilu. Libur, siapa yang tidak senang? Tapi, libur yang tidak sampai dua minggu itu membikin kami tidak mungkin pergi terlalu jauh sampai ke luar tata surya, kuatir masih belum tiba di rumah saat waktu liburan usai. Iya, liburnya hanya sampai tanggal 22 April 2019. Rekomendasi tempat menghabiskan waktu libur Paskah bisa dibaca di pos 5 Tempat Berlibur Paskah di Flores.

Hari ini saya mau berbagi cerita dengan kalian tentang 5 momen (menjelang dan saat) Paskah yang terjadi di Pulau Flores. Yuk baca ...

1. Latihan Paduan Suara


Sejak memasuki masa puasa menjelang Paskah, setiap Hari Jum'at dilaksanakan Jalan Salib, termasuk juga di kantor saya, diikuti oleh teman-teman yang merayakannya. Selain itu, hampir setiap malam saya mendengar tetangga kompleks yang tergabung dalam 'lingkungan' latihan paduan suara. Latihan paduan suara atau koor untuk Misa di Gereja.

Salah satu gereja yang ada di Kota Larantuka. Di dekat gereja ini, berseberangan jalan, berdiri Patung Mater Dolorosa (Bunda yang berduka).

Menariknya mendengar teman-teman dan/atau tetangga latihan koor adalah kita jadi tahu prosesnya. Dari mengenal sebuah lagu, proses, hingga betul-betul fasih menyanyikannya dalam harmonisasi paduan suara.

2. Going Back East


Kembali ke Timur, kembali ke Kota Larantuka, sebagai kota pusat perayaan akbar Paskah yaitu Semana Santa dilaksanakan. Momen perjalanan ke Kota Larantuka merupakan sesuatu yang menyenangkan. Jalan sendiri maupun bersama teman-teman, mana-mana suka. Tahun ini banyak teman saya yang berangkat ke Kota Larantuka.

Patung Mater Dolorosa di Taman Doa Mater Dolorosa.

Saya sih pengen ke sana lagi untuk menyaksikan kemeriahan dan khidmatnya Jum'at Agung di Kota Reinha itu, tapi sayang ... Februari kemarin kan saya baru saja ke Kota Larantuka. Hiks. Kasihan Onif Harem kalau diajak jalan jauh terus-terusan.

3. Mencium Jubah Tuan Ma


Di Kota Larantuka, tepatnya di Kapela Tuan Ma, tersimpan patung besar Bunda Maria yang disebut Tuan Ma. Setiap tahun, umat setempat dan peziarah, akan pergi ke Kapela Tuan Ma untuk mencium jubahnya. Ritus ini dilakukan pada Jum'at Agung (pagi hingga siang hari) sebelum Prosesi Laut. Usai prosesi laut, Tuan Ma akan diarak menuju Gereja Kathedral.

Ritual mengarak Patung Tuan Ma menuju Gereja Kathedral untuk persiapan malam Jum'at Agung (Jalan Salib).

 Prosesi Laut.

4. Tablo

Tablo adalah treatikal Jalan Salib yang dilakukan pada Jum'at Agung. Tidak semua gereja melaksanakan tablo, tapi setiap tahun pasti ada tablo. Melaksanakan Jalan Salib dengan betul-betul melakukan apa yang dulu dialami Yesus. Ada pemuda terpilih yang akan memikul Salib dan disiksa layaknya yang dialami dulu oleh Yesus. Inilah perayaan Jum'at Agung.

5. Minggu Paskah


Dari pengamatan saya, Minggu Paskah merupakan perayaan kemuliaan atas bangkitnya Yesus. Di setiap kota di Kabupaten Ende, tidak ada yang terlalu istimewa dari Minggu Paskah, karena keistimewaanya terutama pada Jum'at Agung tadi. Tapi teteup lah di setiap rumah pasti ada acara makan-makan sekeluarga.


Menulis ini, bukan berarti saya yang paling tahu tentang momen-momen (menjelang dan saat) Paskah. Teman-teman yang beragama Katolik tentu lebih tahu. Saya menulisnya dari sudut pandang awam yang menyaksikan sendiri keadaan di sekitar tentang momen-momen Paskah ini.

Baca Juga: 5 Steps to Marriage

Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

KEPO BUKU #12: REKOMENDASI BUKU UNTUK PRABOWO DAN JOKOWI (RE-RUN)

Ini adalah episode re-run dari bulan Agustus 2018 ketika para host Kepo Buku yang saat itu masih bertiga, nekat merekomendasikan buku-buku buat kedua calon presiden RI, Pak Prabowo dan Pak Jokowi. Pilihan bukunya beragam, beragam pula alasannya, dan rasanya masih sangat relevan ketika episode ini kami hadirkan kembali bertepatan dengan Pemilu 2019.

Selamat mendengarkan.



Di mana dengar podcast Kepo Buku?

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

 

Kepo Buku adalah:

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku atau ke 087878505012
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 LicenseCover:

 

-rh-

 

Lomba Selfie Pemilu


Karena hari ini momen Pemilu Presiden dan Legislatif, #RabuDIY ditiadakan. Haha. Ya, hari ini Rabu, 17 April 2019, Indonesia memilih. Siapa pun pilihan saya, kalian, mereka, semua tentu demi kebaikan negeri ini. Semoga yang terpilih kelak mampu membawa perubahan pada bangsa ini. Tentunya perubahan yang baik. Itu doa kita bersama. Dengan dilaksanakannya Pemilu, bukan berarti lini massa media sosial langsung sepi ... keriuhan antara kubu sana kubu sini masih akan terjadi sampai pelantikan. Percayalah. Hahaha. Banyak sabar yaaaaa.

Di Kabupaten Ende, KPUD menyelenggarakan lomba. Lomba Foto Selfie Pemilu 2019. Dengan persyaratan sebagai berikut:


Tidak disangka saya pun turut menjadi juri bersama dua fotografer lain yang sudah malang melintang di dunia fotografi dan terkenal sebagai fotografer andal: Om Edi Due dan Willy Zino. Sedangkan saya diminta menjadi juri mungkin karena ... errr ... suka foto saja haha. Malu sebenarnya saya menjadi juri begini, karena kemampuan fotografi saya di bawah standart, tapi karena sudah dipercayakan, ya harus bisa. Insha Allah.

Bagaimana dengan di daerah kalian? Ada lomba semacam ini kah? :)



Cheers.

LED for Camera


Meskipun setiap Selasa menulis pos blog bertema #SelasaTekno, bukan berarti saya paling tahu sama semua hal/barang baru di dunia teknologi, karena yang namanya teknologi sudah pasti akan terus berinovasi dan berkembang. Teknologi yang dibahas pun tidak selamanya harus yang canggih seperti Phone to Phone Charger. Toh saya juga menulis tentang hal-hal yang jaraknya cukup jauh dari teknologi kekinian. Pos tentang Teknologi Dasar, misalnya, sangat jauh dari kecanggihan teknologi zaman sekarang. 

Baca Juga: The Pause Pod

Baru-baru ini, saat sedang tidur-tiduran sambil menonton video di Youtube, saya melihat sebuah benda berbentuk lingkaran (bulat-ceper) berwarna biru muda. Itu pasti jepit rambut si Thika Pharmantara yang jalan-jalan keliling rumah lantas nyasar di kamar saya. Tapi yang namanya manusia, rasa penasaran itu pasti ada, dan ketika saya perhatikan baik-baik, detail si benda terlalu aneh untuk sebuah jepit rambut. Jadi, apakah sebenarnya benda itu? Jawabannya datang dari Meli, anak tetangga yang saban hari main di rumah, yang saat itu sedang daring menggunakan laptop saya.


"Encim tidak tahu kah ini apa? Aduuuuh ..." dengan mimik wajah dan nada suara menghina. Dasar ana lo o (anak kecil).

Lantas, masih dengan wajah menghina, dia memencet tombol dan ... TRADAAAA. Nyala! Saya terkejut.

LED Ring


Ternyata itu LED Ring. Oalah. Maklum, saya tidak seperti si Thika yang rajin cuci mata di toko daring. Ternyata rajin cuci mata di toko daring itu ada manfaatnya juga hahaha. Meli, yang sebelumnya sudah dicerahkan oleh Thika, lantas menjelaskan cara menggunakan LED Ring tersebut. Duh, betapa kampungannya saya. Sampai nganga begitu. Nganga karena gaya Meli menjelaskan itu mirip profesor hahaha.

LED Ring dipasang di telepon genggam demi keperluan memotret dan merekam video. Terutama memotret dan merekam video dalam kondisi minim cahaya. Saya pernah mencoba menggunakan LED Ring milik Thika ini waktu merekam video lucu-lucuan di bawah ini:


Hasilnya? Lumayan lah, kurang bersemut. Secara, penerangan di kamar saya kan tidak seterang-benderang di ruang tamu. Oh iya, pada akhirnya lampu di kamar saya wassalam dan saya menggantinya dengan yang baru. Lebih terang dari sebelumnya. Dan seandainya saya merekam video di kamar ditambah LED Ring ini, saya yakin hasilnya jauh lebih terang.

Baca Juga: Backpack Tuteh

Meskipun LED Ring yang dibeli Thika ini cuma semacam miniatur dari yang sesungguhnya, tapi saya pikir sudah cukup membantu buat acara foto-foto dan rekam video amatir (menggunakan telepon genggam). Entah kenapa akhir-akhir ini saya lebih suka merekam video menggunakan telepon genggam ketimbang kamera video maupun DSLR.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Sudah pernah coba juga?



Cheers.

Jaga Waka Nua


Event keren Triwarna Soccer Festival (TSF) 2019 telah berakhir 1 April kemarin. Meskipun demikian, gaungnya masih terdengar sampai hari ini. Masih banyak orang membicarakannya. Mulai dari kemenangan Ende Selatan FC (Kelurahan Ende Selatan), pagar tembok yang kini dipenuhi karya seni mural, keuntungan yang diraup khususnya oleh para pedagang asongan yang wara-wiri di dalam Stadion Marilonga, hingga UMKM dan komunitas yang diberi ruang stand/tenda pameran oleh panitia. Sungguh TSF dengan agenda utama laga sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati ini terpatri di lubuk hati masyarakat Kabupaten Ende, dan menjadi semacam pengantar acara Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Ende (kemenangan petahana) pada tanggal 7 April 2019.

Selamat, Bapak Marsel Petu (Bupati) dan Bapak Djafar Ahmad (Wakil Bupati). Selamat melanjutkan pekerjaan yang telah Bapak berdua mulai dan terus melakukan perubahan positif pada Kabupaten Ende. Kami bangga.

Baca Juga: Fair Play Flag

TSF yang telah menggeliatkan berbagai lini khususnya perekonomian di Kabupaten Ende, bisa kalian baca pada pos TSF 'Story, punya satu jargon keren yaitu Jaga Waka Nua. Jargon ini melekat pada kaos panitia, pada baliho-baliho, pun pada banyak bendera supporter. Ya, kami harus jaga waka nua! Jadi, tidak heran jika mendadak mendengar ada yang nyeletuk: ideeee ma'e pemata, jaga waka nua hekow (duh, jangan berantem, jaga martabat kampung kita).

Jaga Waka Nua


Jaga waka nua merupakan jargon paling tepat pilihan panitia/penyelenggara. Saya salut sama yang menetapkan jargon ini, hahaha. Dan bagi saya, jaga waka nua ini punya banyak makna, kalau diresapi dalam-dalam. Secara etimologi, jaga waka nua yang terdiri dari tiga suku kata berarti menjaga martabat kampung.


Jaga = menjaga.
Waka = martabat/harga diri.
Nua = kampung.

Martabat/harga diri yang seperti apa yang harus dijaga? Itu yang akan saya jelaskan pada pos ini. Tentu dari sudut pandang saya pribadi. Dan sudut pandang dinosaurus juga. Apabila kalian Orang Ende, membaca pos ini, dan merasa tidak setuju dengan pos ini, silahkan tulis sendiri pendapat kalian tentang jaga waka nua, dan bagi tautan blog-nya pada saya. Tentu bakal saya baca. Berbagi pendapat tidak pernah merugi bukan?

Bilah Pemerintah


Dari pandangan mata saya pribadi, Kabupaten Ende merupakan kabupaten yang identik dengan turnamen sepak bola. Sebut saja, Universitas Flores (Uniflor) punya Ema Gadi Djou Memorial Cup (EGDMC), lantas ada pula Muthmainah Cup, dan turnamen lainnya antara lain Suratin Cup. Tahun 2017, Kabupaten Ende boleh berbangga dengan menjadi tuan rumah dari turnamen besar bernama El Tari Memorial Cup 2017 (ETMC) yang melibatkan semua kabupaten se-Provinsi Nusa Tenggara Timur. Standar Kabupaten Ende dalam ETMC 2017 sungguh luar biasa; penjemputan setiap kontingen dengan tari-tarian dan bahasa adat, launching atribut yaitu Burung Gerugiwa dan bola raksasa dengan perhentian yang melibatkan adat-istiadat, pertandingan di Stadion Marilonga yang berumput hijau - bahkan dapat dilakukan malam hari, hingga live streaming! Standar itu, dalam skala Provinsi Nusa Tenggara Timur, sangat tinggi.

Waka nua kami saat ETMC 2017 benar-benar terangkat dan terjaga dengan sangat spektakuler. Bukannya melebih-lebihkan, namun memang demikian adanya.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

TSF 2019 harus mampu menandingi, atau harus melebihi, standar yang tercipta dari ETMC 2017 tersebut. Meskipun tanpa penjemputan kontingen setiap kecamatan dikarenakan ini adalah turnamen 'antar saudara kandung', namun kemeriahan dan pernak-pernik TSF 2019 mampu melebihi ETMC 2017. Kami harus menjaga waka nua ini. Jangan sampai malu-maluin bangsa dan negara haha. Oleh karena itu launching atribut TSF 2019 dilakukan sama persis pada saat ETMC 2017, yang dimulai dari Lapangan Perse (Kecamatan Ende Utara), diterusan dengan jalur yang telah diatur berikut perhentian setiap kecamatannya hingga berakhir di Stadion Marilonga. Sambutan dalam suasasa (bahasa adat) pun luar biasa.

Selain ajang sepak bola, TSF juga punya dua mata acara lain yaitu Lomba Mural dan Pameran dengan tema Bego Ga'i Night. Jujur, festival semacam ini memang hal yang baru bagi masyarakat Kabupaten Ende namun sekaligus merupakan sesuatu yang juga ditunggu-tunggu. Karena, kata orang, kami Orang Ende ini haus hiburan. Hahaha.

Jaga waka nua juga diwujudkan dalam bentuk kepanitiaan yang solid dan mampu bekerja dengan sangat baik sehingga tidak memalukan apa lagi sampai membanting harkat dan martabat. Maklum, saya melihat kebanyakan anggota panitia adalah orang-orang yang tahan banting dan pernah bekerja pada kepanitaan turnamen sepak bola juga. Jadi, urusan-urusan yang berhubungan dengan TSF 2019 ini bukan hal yang baru yang bikin kaget.

Bilah Pemain


Jaga waka nua tidak saja bermakna pada bilah pemerintah seperti yang tertulis di atas, tetapi juga bermakna untuk para pemain sepak bola dari setiap klub (kecamatan). Artinya ... my game is fair play! Iya, itu kesimpulan besarnya. Para pemain harus menjaga waka nua-nya melalui permainan-permainan yang ciamik alias tidak membikin malu. Kalah tidak mengapa, asal jangan sampai kalah total tanpa perlawanan yang imbang. 

Sekali dua memang terjadi ketegangan di tengah lapangan, hal-hal semacam itu acap tidak dapat dihindari, tetapi dapat diatasi oleh perangkat pertandingan. Kami yang berada di luar lapangan tidak punya kuasa kan hahaha. Pokoknya, para pesepakbola dari setiap klub pada TSF 2019 ini betul-betul jaga waka nua. Bayangkan jika pertandingan harus diperpanjang waktunya dan masih seri, sehingga harus dilakukan adu pinalti yang cukup panjang karena seri pula, sungguh terlalu. Hahaha. Saya yang akhirnya ikut menonton pun deg-degan.

Bilah Masyarakat


Dari bilah masyarakat, jaga waka nua berarti setiap orang harus mampu menjaga martabat/harga diri kampungnya. Kampung di sini berarti kecamatan asal maupun kecamatan domisili. Masyarakat yang dilingkupkan menjadi penonton dan supporter harus mampu bersikap kooperatif terhadap jalannya pertandingan dan hasilnya. Jangan sampai terjadi antara 'saudara kandung' saling kelahi haha. Jadi, sejauh saya menjadi panitia TSF 2019, tidak terjadi perkelahian yang berarti. Maksudnya, satu kali perkelahian terjadi di luar Stadion Marilonga hanya karena salah ucap dan ketersinggungan. Itu pun langsung diamankan oleh para aparat.

Secara umum, event Triwarna Soccer Festival menuai kritikan positif dari banyak orang, baik masyarakat Kabupaten Ende sendiri maupun yang dari luar.


Demikianlah tentang jaga waka nua yang selalu digaungkan saat event Triwarna Soccer Festival. Sebuah jargon dengan spirit dan makna yang sangat dalam. Dengan menjaga waka nua, maka kita niscaya mampu mewujudkan jargon Kabupaten Ende yaitu Ende Sare Lio Pawe. Dan saya pikir, kita semua sebaiknya menjadi orang yang bisa menjaga waka. Setuju? Yang setuju lekas komeeeen haha.

Baca Juga: Manis Akustik

Semangat Senin, kawan.


Cheers.

Sedikit Tentang Kesenian Ujungan dan Tari Uncul di Bekasi

Kesenian Ujungan dan Tari Uncul di Bekasi

Alhamdulillah, kemarin (Sabtu, 13 April 2019) saya berkesempatan mendengarkan wawancara seorang mahasiswi UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung yang sedang melakukan penelitian terkait Seni Tari Silat Uncul yang hanya ada saat berlangsung aksi Ujungan.

Narasumber yang diwawancarai adalah Kong Mitra, Baba Rahman, Bang Jamal dan lain-lain dari Perguruan Silat Cinong Bekasi, sedangkan yang mewawancarai adalah Chika, mahasiswi UPI yang juga aktif di Sanggar Tari Chyka di Kebalen Babelan Kabupaten Bekasi.

Kesenian Ujungan


Mengenai Kesenian Ujungan sebelumnya perlu dibahas sedikit bahwa selain di Bekasi, beberapa daerah juga mengenal Kesenian Ujungan dengan masing-masing variasinya, seperti Banyumas, Majalengka, Cirebon, Tegal, Jombang, Probolinggo dan  lainnya. Khusus untuk Banyumas dan Majalengka Kesenian Ujungan konon dikaitkan dengan ritual meminta hujan.

Dari Memoar Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat atau Herinneringen van Pangeran aria Achmad Djajadiningrat (Balai Poestaka, Kolff-Buning, Jakarta, 1936) juga mengisahkan dirinya yang belajar Ujungan dan Pencak Silat saat ia dikirim ke pesantren di Karundang, Serang Banten sekitar tahun 1883, 136 tahun yang lalu.

Berikut catatan terjemahan dari Memoar  Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat yang saya capture dari buku "Indonesia: Selected Documents on Colonialism and Nationalism 1830-1942", Penders, Chr.L.M. (Editor and Translator) 1977. University of Queensland Press, St Lucia. © Copyright, Dr Chris Penders, 1977, 2005.
Kesenian Ujungan dan Tari Uncul di Bekasi
Kesenian Ujungan juga tercatat dalam buku berbahasa Sunda berjudul "Rasiah Priangan" karya Mas Kartadinata, terbitan Balai Poestaka tahun 1921. Buku Rasiah Priangan ini mencatat bahwa kesenian ujungan merupakan permainan yang biasa diselenggarakan di Garoet untuk memeriahkan pesta atau hajatan daerah yang dilaksanakan di alun-alun Garoet. Tapi disebutkan pula bahwa ujungan tidak khas Garoet. Ujungan yang sama diselenggarakan pula di Soemedang dan Soekapoera, tetapi di Bandoeng dan Tjiandjoer tidak ada.

Kembali ke penuturan Kong Mitra, Baba Rahman dan lain-lain, saya simpulkan Kesenian Ujungan ini pada intinya sama, dua orang berlaga dengan menggunakan alat pemukul berupa batang rotan, sasaran pukulan adalah bagian kaki. Untuk di Bekasi khususnya Babelan, Kesenian Ujungan membatasi area anggota badan yang boleh dipukul hanya bagian dengkul ke bawah. Sedangkan daerah lain ada yang memperbolehkan daerah pusar ke bawah.

Dalam aksi Ujungan yang resmi ada yang disebut Bobotoh yang bertindak layaknya wasit dan sebagai pemimpin jalannya aksi Ujungan. Ujungan biasanya dilaksanakan malam hari saat terang cahaya bulan mencukupi dan dilakukan di lapangan terbuka atau area persawahan saat panen padi atau acara lain.

Kong Mitra sebagai salah satu pemain Ujungan di Babelan Kota, kemudian menjelaskan bahwa Kesenian Ujungan dimulai saat bobotoh sebagai wasit mempersilahkan salah satu pemain memasuki gelanggang. Pemain ini kemudian menari Uncul yang mirip ibing silat mengikuti irama musik dari alat musik perkusi yang disebut Samyong semacam Gambang sederhana yang terdiri dari 7 bilah kayu, toktok atau kentongan dari bambu dan kecrek yang terbuat dari logam.

Tari Uncul


Tari Uncul ini adalah gerakan-gerakan pemain yang mengikuti irama musik yang dimaksudkan sebagai undangan terbuka buat pemain lain untuk turun ke gelanggang untuk menjadi lawan tanding dalam seni Ujungan. Pemain yang ingin melawan akan muncul masuk ke gelanggang dan ikut menari Uncul dengan tetap menjaga jarak dan mencoba mengukur kekuatan pemain yang akan ia lawan dari gerakan dan irama tarian Uncul yang diperagakan.

Bobotoh akan memanggil kedua pemain yang sedang menari Uncul untuk mendekatinya dan menerangkan peraturan-peraturan yang berlaku. Jika kedua pemain sudah siap maka kemudian Bobotoh menyerahkan rotan atau kayu kepada masing-masing pemain dan memberi isyarat yang menyatakan Ujungan dimulai. 

Soal kesamaan kata "uncul" dan "muncul" ini juga menarik, mungkin berkaitan mungkin juga tidak, saya tidak punya referensi tapi dugaan saya kata "uncul" adalah dasar dari kata "muncul".
Tari Uncul ini seperti juga Ibing Silat, adalah gerakan-gerakan mengikuti irama musik yang menyerupai tarian tapi lebih menonjolkan sisi maskulin dan bersifat tantangan. 
Munculnya pemain lain adalah jawaban tantangan. Selama Ujungan berlangsung musik samyong terus terdengar dan para pemain Ujungan tetap mengikuti irama musik sampai terlibat adu fisik jarak dekat.

Berbeda dengan beberapa tempat yang menggunakan pengikat di ujung rotan, Kong Mitra menjelaskan kalau kesenian Ujungan di Babelan rotan dipegang sekuat-kuatnya karena kalau sampai rotan terlepas dari tangan pemain maka ia akan dinyatakan kalah, baik terlepas karena pukulan lawan atau lainnya.
Kesenian Ujungan dan Tari Uncul di Bekasi
Saat ini Kesenian Ujungan bukan lagi untuk kompetisi, unsur membahayakan tubuh yang menjadi alasan pelarangannya sudah ditiadakan. Kesenian Ujungan dilestarikan dengan kemasan atraksi hiburan yang masih terus berkembang mencari format agar dapat diterima masyarakat sekarang.

Unsur seni dalam kesenian Ujungan setidaknya ada 3, yaitu seni musik (samyong), seni tari-silat (uncul), dan seni bela diri tongkat (ujungan). Kesenian yang saat ini hanya menjadi pertunjukkan tetap dipelihara dengan mengajarkan sikap menjunjung tinggi nilai sportivitas dan ketangkasan, pelestarian seni dan budaya, persaudaraan, rasa nasionalisme, dan semangat patriotisme sebagai generasi penerus bangsa.

Sudah lama saya mendengar tentang Kesenian Ujungan, sudah melihat beberapa penampilan Ujungan dari beberapa komunitas berbeda tapi baru kali ini saya mendengar banyak langsung dari penuturan Kong Mitra dan Baba Rahman sebagai pemain Ujungan Tempoe Doeloe.

Catatan ini ditulis dari hasil mendengar wawancara dan beberapa sumber referensi, lebih dan kurangnya mohon dikoreksi.

Salam

Nostalgia Alanis


Tahun 90-an sampai awal tahun 2000 betul-betul merupakan tahun keemasan dunia musik baik nasional maupun internasional. Ini murni pendapat saya pribadi. Pada rentang tahun itu, selain bersahabat dengan Hilda dan Yusti, saya juga bersahabat dengan Music Television (MTV) dan Channel V. Betapa Bapa sampai pusing kepala karena saya menyambung televisi dengan speaker gede milik Jemiri Soundsystem. Selain punya band bernama Jemiri, kami juga punya unit-unit soundsystem yang disewakan. Bisa kalian bayangkan, itu yang sedang tidur sore, bisa kejengkang dari ranjang gara-gara suara yang menggelegar ha ha ha.

Pssstttt ... gara-gara iklan Durex yang waktu itu luar biasa rajin wara-wiri di MTV, Bapa mulai kesal dan akhirnya melarang saya menyambungkan soundsystem ke televisi gara-gara ada kata kondom. Sebagai gantinya Bapa membelikan saya speaker mini. Huhu. DUREX, THE INTERNATIONAL NAME FOR QUALITY CONDOM. Tanpa mencontek pun jargon ini masih melekat erat di otak saya *nyengir*.

Baca Juga: Double Ending

Tahun-tahun itu, internet belum menjajah Kota Ende, pun masih menjadi sesuatu yang langka. Jadi, kalau pengen menonton video musik favorit, ya akses Youtube cuma mengandalkan MTV dan Channel V meskipun lebih seringnya menonton MTV. Makanya, anak MTV tahun 90-an pasti tahu Mike Kaseem, Nadia Hutagalung, sampai Jammie Aditya, Alex Abbad, Donita, Sarah Sechan, dan lain sebagainya. Oh ya, salah satu acaranya adalah MTV Most Wanted, dan saya pernah me-request lagu atau video musik melalui mesin fax kantor! Dududud.

Karena tidak ada internet, untuk bisa menonton video musik favorit pun harus bisa memilah acaranya. Karena kan tidak bisa memilih seenak udel dan video musik favorit tidak tayang setiap jam. Kalau MTV Most Wanted, sudah pasti video favorit di-request juga sama orang lain dalam skala rata-rata. Biasanya, untuk lagu-lagu yang kurang saya suka, volume speaker dikurangi, tapi begitu intro video musik favorit terdengar, volume speaker langsung tancap gas! Ngeeeeng ngeng! Pernah dalam sehari saya pantengin MTV terus demi menonton lagi dan lagi video klipnya Celine Dion dari lagu berjudul That's The Way It Is. Aduhai apa kabar As Long As You Love Me dari Backstreet Boys, Radiohead dengan Creep-nya, Wild World-nya Mr. Big, Madonna dengan Frozen, sampai Ironic milik Alanis Morissette.

Nah, nama terakhir ini yang bakal saya bahas kali ini di #SabtuReview.

Alanis Morissette


Nama besar Alanis Morissette begitu terpatri di hati. Perempuan dengan kecantika alami, sangat enerjik, punya suara yang unik dan powerfull, penampilannya sporty-casual, rambut panjang bukan berarti tidak boleh tomboy, gelang-gelang yang dipakainya, sampai kecerdasan dan kepiawaiannya menulis lirik lagu. Selain Alanis, nama lain yang juga dikenal menulis sendiri lagu-lagunya adalah Jewel. Aaah waktu itu belum ada si Taylor Swift ya hahah.


Balik ke Alanis, karena saya tidak sempat mewawancarainya secara personal *dijumroh warga* jadi lagi-lagi Wikipedia menjadi sumber rujukan. 

Nama lengkapnya adalah Alanis Nadine Morissette, lahir 1 Juni 1974, kembaran sama Indra Pharmantara tanggal lahirnya haha. Dia dikenal sebagai penyanyi, penulis lagu, produser rekaman, dan aktris asal Kanada. Alanis dikenal karena suaranya yang lembut seperti mezzo-sporano. Alanis memulai karirnya di Kanada pada awal 1900-an dengan dua album dance-pop yang agak sukses. Setelah itu, sebagian dari kesepakatan rekaman, ia pindah ke Holmby Hills, Los Angeles dan pada tahun 1995 merilis Jagged Little Pill, album yang lebih berorientasi pada genre rock.

Jagged Little Pill ini termasuk album yang masih melekat di otak saya hahah. Album ini terjual lebih dari 33 juta kopi secara global dan merupakan karyanya yang paling diakui secara kritis. Pada tahun 1998, Alanis merilis album berikutnya yaitu Supposed Former Infatuation Junkie.

Di atas tahun 2000-an Alanis mengambil alih proses kreatif dan memproduksi album studio berikutnya diantaranya Under Rug Swept (2001), So-Called Chaos (2004), dan Flavours of Entanglement (2006). Album studio kedelapannya dan yang terbaru hingga saat ini, Havoc and Bright Lights, dirilis pada 2011. Alanis telah menjual lebih dari 75 juta rekaman di seluruh dunia dan dijuluki Queen of Alt-Rock Angst oleh Rolling Stone.

Pada 16 Maret 2018, Alanis menampilkan lagu yang disebut Ablaze selama tur-nya. Pada bulan Oktober 2018, Alanis mengungkapkan di media sosial bahwa ia telah menulis 23 lagu baru dan mengisyaratkan sebuah album baru yang bakal dirilis 2019 dengan taggar #alanismorissettenewrecord2019. 

Jagged Little Pill


Dari semua album Alannis, menurut pendapat saya, Jagged Little Pill lah master piece. Album ini mengandung lagu-lagu yang luar biasa kuat. Karena, Jagged Little Pill tidak menjual satu single andalan saja, melainkan keseluruhan yang dikandungnya! Hebatnya lagi, hampir semua lagu-lagu itu punya video musik yang rajin wara-wiri di MTV dan Channel V.

Song List Jagged Little Pill

All I Really Want
You Oughta Know
Perfect
Hand in My Pocket
Right Through You
Forgiven
You Learn
Head Over Feet
Mary Jane
Ironic
Not The Doctor
Wake Up

Pertama kenal Alanis Morissette, di MTV, melalui video musik Ironic. Kalau kalian belum nonton, coba deh ditonton. Atau ... tonton ulang saja di Youtube! Lirik Ironic mengisahkan tentang hal-hal ironi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dari penggalan liriknya: an old man turned ninety-eight, he won the lottery and died the next day. Kita semua pasti pernah mengalami hal-hal beraroma ironi seperti itu. Misalnya: di media sosial Facebook kita adalah orang yang sangat ramah dan suka memerhatikan status orang lain, tapi di kehidupan nyata kita ternyata orang yang sulit bergaul dan selalu menaruh curiga.

Video musik Ironic dikemas sangat apik. Sebuah mobil yang dikendarai oleh empat orang berbeda penampilan tapi semuanya diperankan oleh Alanis by her self. Silahkan lihat video musik di bawah ini untuk lebih jelasnya:


Selanjutnya saya jatuh cinta sama Alanis dan mulai rajin menunggu video musiknya tayang di MTV dan Channel V. Ah, Hand in My Pocket, Head Over Feet, All I Really Want ... dududu ... yuk langsung ke Youtube dan bernostalgia dengan Alanis Morissette!

Lagu-lagu Alanis Morissette merupakan lagu sepanjang masa yang tak lekang oleh waktu. Kalian tentu tidak asing pula dengan Thankyou dan Uninvited kan? Sama, saya juga. Dan masih suka mendengarnya. Tapi kalau ditanya, lagu Alanis yang paling sering saya nyanyikan, bahkan berusaha mengiringi diri sendiri dengan gitar, sudah pasti Hand in My Pocket. Kalau ada yang tidak suka sama lirik lagu ini, sungguh terrrrrr laaaa luuuuu. Penggalannya ini saja sudah bikin kita sadar untuk lebih menikmati hidup.

I'm broke but I'm happy, I'm poor but I'm kind
I'm short but I'm healthy, yeah
I'm high but I'm grounded, I'm sane but I'm overwhelmed
I'm lost but I'm hopeful, baby
What it all comes down to
Is that everything's gonna be fine, fine, fine
'Cause I've got one hand in my pocket
And the other one is giving a high five

Bagaimana, kawan? Dalam sekali kan makna lirik lagunya?

Baca Juga: Flores: Adventure Trails

Semoga kalian juga suka Alanis Morissette. So, let's high five! Because, even though we are poor. it doesn't matters, as long as we are happy.



Cheers.

Nokia 5300


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Hola! Singkat dan ringan saja. Saya pernah memakai HP jadul yang satu ini. Nokia 5300. Dan tadi, waktu membongkar map-map demi mencari KTP Mamatua yang entah ada di mana, eh ketemu CD program Nokia 5300! Busyet hahaha. Zaman sekarang sih tidak perlu lagi yang namanya CD program/software kan ya. Dan saya masih menyimpannya. Haha.



Cheers.

Nokia 5300


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Hola! Singkat dan ringan saja. Saya pernah memakai HP jadul yang satu ini. Nokia 5300. Dan tadi, waktu membongkar map-map demi mencari KTP Mamatua yang entah ada di mana, eh ketemu CD program Nokia 5300! Busyet hahaha. Zaman sekarang sih tidak perlu lagi yang namanya CD program/software kan ya. Dan saya masih menyimpannya. Haha.



Cheers.