Lirik, Chord dan Terjemahan Lagu Bima: Sapa Moti Malingi – La Hila Band

Intro :  Am ~ E ~ Dm ~ E ~         Am ~ E ~ Dm ~ E ~ Am        E             F        C Nahu ma lao aka rassa dou Ku kan pergi ke negeri orang Dm    Am           E        Am Lao sakolah lao ngupa ilmu Pergi sekolah pergi mencari ilmu Am               E           F       C Nggomi nde ari taka lembo ade Wahai adinda tabahkanlah hatimu Dm         Am             E          Am

Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang


Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang. Sabtu, 4 Januari 2020, saya dan teman-teman Rumah'97 melaksanakan niat yang sudah lama tertunda yaitu reuni. Sayangnya, dari puluhan teman yang ada di WAG alumni itu, hanya lima orang yang bisa ikutan. Saya, Hilda yang pada tanggal 6 Januari 2020 sudah kembali ke Depok, Yusti si pemilik Kafe Hola, Ryan, dan Abah Yudin. Teman-teman lain sudah kembali beraktivitas sehingga mereka belum bisa bergabung. Tidak masalah. Tujuan kami hari itu adalah Dapur Jadul (baru) yang terletak di daerah Nangaba. Menurut Kakak Nona Eka, pemiliknya, itu disebut River Beach. Dulunya, Dapur Jadul terletak di Pantai Raba, sekitar 300 meter ke arah Barat dari lokasi baru.


Apa yang paling saya sukai dari Dapur Jadul? Desainnya yang luar biasa memikat dan menghibur mata. Begitu banyak spot instagenic dipasang di sana. Selain itu, ragam asesoris warna-warni juga membikin pengunjung terpesona. Nampaknya kreativitas tanpa batas memang bermain-main di tempat ini. Salut to the max. Oh ya, waktu kami pergi ke sana, masih banyak tukang bangunan sedang bekerja. Dapur Jadul di lokasi baru ini memang belum sepenuhnya jadi. Tapi itu tidak menyurutkan niat masyarakat untuk menikmati hari besama teman, keluarga, atau kekasih *perasaan teriris-iris menulis kekasih, hahaha*. Buktinya, Dapur Jadul masih ramai dikunjungi masyarakat: tua dan muda, meskipun pembangunan masih sedang berjalan.

Saat pergi ke sana bareng teman-teman Rumah'97 itulah saya memotret begitu banyak asesoris/pajangan di Dapur Jadul. Pernak-pernik, boneka, brojong bulat (semacam tiang bulat) dengan batu yang unik, botol-botol kaca, hingga wadah berisi beras warna-warni. A-ha! Saya ingat, dulu pernah pengen bikin beras warna-warni ini tetapi batal. Ini dia penampakan pajangan beras warna-warni dari Dapur Jadul.



Bagaimana kalau saya coba membikinnya? Bukankah saya sendiri juga punya kulit kerang dan siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Pulau Lembata?

Kali ini tidak boleh batal! Mari berkreasi!

Bahan dan Alat:
1. Beras. 
2. Pewarna.
3. Air untuk larutan pewarna.
4. Wadah untuk beras warna.
5. Kulit kerang/siput.

Pertama:
Jumlah beras tergantung keinginan/kebutuhan kalian. Bisa segenggam, bisa sekilo. Karena pewarna yang ada di rumah tinggal tiga warna: oranye, kuning, hijau, saya memisahkan beras ke dalam tiga wadah ukuran kecil. Bisa dilihat pada gambar di bawah:


Kedua:
Setiap wadah beras diisi air secukupnya untuk merendam atau mencampurnya dengan pewarna. Beri pewarna secukupnya pada masing-masing wadah beras yang telah diisi air, diaduk perlahan agar semua beras tercampur rata dengan pewarna. Silahkan lihat gambarnya:


Ketiga:
INGAT! JANGAN TERLALU LAMA! Sekitar tiga menit, saring airnya, dan beras yang sudah berubah warna itu disisihkan atau dikeringkan. Proses pengeringan bisa dengan cara alami yaitu dijemur di bawah sinar matahari. Bisa didiamkan saja semalam. Bisa juga dihadapkan di kipas angin. Dan saya menggunakan cara ketiga yaitu dihadapkan di kipas angin. Hehe. Tidak sabaran sih.


Keempat:
TRADA ... sudah jadi. Pokoknya kalau beras berwarna itu sudah kering, ya sudah jadi.


Bagaimana menjadikannya pajangan? Bisa berasnya dipisah, bisa digabungkan seperti pajangan beras berwarna yang saya lihat di Dapur Jadul. Seperti gambar berikut ini.


Maka saya bikin seperti ini:



Beras berwarna bisa diaplikasikan sendiri, bisa juga diberi pajangan tambahan. Seperti yang sudah saya tulis di atas, kebetulan saya juga punya kulit kerang dan siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Pulau Lembata. Ukurannya tidak besar, tapi lumayan kalau dibikin pajangan bersanding dengan beras berwarna. Oh ya, ini penampakan semula kulit kerang dan siput-siput itu. Terpaksa satu stoples kaca dikorbankan. Hahaha.





Selesai! Gelas piala berisi beras berwarna dan kerang serta siput itu kini telah menjadi pajangan cantik di meja-meja ruang tamu. Cantik kan? Cantik doooong, seperti yang bikin. Hehe.

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Bagaimana menurut kalian? Mudah sekali membikin pajangan cantik berbahan beras dan kulit kerang serta siput ini. Saya membikinnya hanya dalam waktu semalam. Tidak sampai sehari semalam! Tentu, untuk mengeringkan beras yang direndam air warna itu membutuhkan ketekunan dan keseriusan kipas angin *ngikik*. Sebenarnya, selain gelas piala, bisa juga beras berwarna ini diisi dalam wadah berupa bohlam lampu bekas. Tetapi zaman sekarang susah mencari bohlam lampu bekas, karena rata-rata lampu rumah itu umumnya sekarang berbentuk jari dan/atau spiral. Semoga nanti bisa menemukan bohlam lampu, terkhusus yang bening itu.

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang gemar berkreasi. Sampai jumpa minggu depan!

#RabuDIY



Cheers.

KB0301: Bacaan Pertama di 2020

“Buku apa yang pertama kalian baca di tahun 2020?” Pertanyaan ini kami ajukan beberapa Minggu terakhir kepada teman-teman Kepo Buku dan beberapa diantaranya akan kami hadirkan di episode perdana 2020 ini bersama dengan buku-buku bacaan pertama para host Kepo Buku. Selamat tahun baru! Selamat mendengarkan.

Selamat mendengarkan!


Episode ini bisa juga didengarkan di:

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

Tamu kali ini:

  • Jati Purwanti (Palembang)
  • Muhammad Solihin (Medan)

Kepo Buku adalah:

Follow akun Instagram Kepo Buku di Instagram.com/KepoBuku

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku atau ke 087878505012
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

-rh-

 

 

Add Watermark Aplikasi Andalan Para Tukang Pamer Foto


Add Watermark Aplikasi Andalan Para Tukang Pamer Foto. Saya pernah membaca status seorang teman di Facebook, Mbak Yeyen, pemilik Kedai Nagih. Mbak Yeyen jengah sama ulah pedagang makanan lain yang menggunakan foto-foto makanan dagangan Kedai Nagih yang dipos di media sosial Facebook. Zaman sekarang masih ada orang yang mengambil foto makanan/dagangan orang lain dan mengakui foto itu sebagai miliknya. Iya, masih ada. Padahal, meskipun fotonya sama, rasa makanannya kan beda. Pada Mbak Yeyen, saya menyarankan untuk memasang watermark alias tanda air pada setiap foto makanannya. Karena bagi saya, seburuk apapun sebuah foto, kita wajib menyertakan tanda air di dalamnya untuk menghindari penyalahgunaan foto tersebut oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Baca Juga: Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog

Masalah foto yang diambil seenak udel di media sosial ini memang menjadi polemik tersendiri. Pihak yang mengambil dengan tanpa rasa bersalah berdalih: foto itu dipajang di media sosial, tanpa dikasih tanda air, artinya milik umum! Tapi, hei, di mana tanggung jawab moralnya? Masa iya kita mau menjadi pencuri foto? Tidak ada seorangpun yang mau disebut sebagai pencuri kan? 

Tapi, bukankah tanda air juga bisa dihapus? Tentu bisa. Ada banyak aplikasi penghapus tanda air. Sebut saja Remove Unwanted Object dari BG.Studio, Watermark Manager oleh Arsal Nazir, dan Unwanted Object Remover: Touch Retouch 2019 dari Flip Soft. Menurut pendapat saya pribadi, hanya orang-orang serius yang ingin menghapus tanda air dari sebuah foto dan/atau video. Rata-rata pengguna media sosial, termasuk yang awam teknologi, tentu malas mencari tahu dan melakukan proses penyuntingan. Sehingga, untuk kelas media sosial seperti Facebook, sedikit tidaknya tanda air akan sangat menolong para tukang pamer foto agar fotonya tidak dicuri seenak dengkul.

Adalah David Mossar, Ketua Exotic NTT Community, yang memperkenalkan saya pada sebuah aplikasi tanda air Android bernama Add Watermark. Sebelumnya saya hanya menggunakan tanda air dengan menambahkan tulisan http://tuteh.web.id saja pada setiap foto. Kayaknya boleh juga aplikasi Add Watermark ini. Langsung saya unduh dan pasang di telepon genggam. Xiaomi Redmi 5 Plus yang legit itu. Setelah unduh dan pasang, mari kita cek bagaimana cara menggunakan Add Watermark.

1. Buka Aplikasi Add Watermark


2. Tampilan Add Watermark


Pada tampilan Add Watermark ini kalian bisa memilih apply on images, apply on video, create watermark, dan your creation. Bagi yang baru mau bikin tanda air bisa terlebih dahulu memilih create watermark. Silahkan bikin tanda air kalian sendiri baik dari template yang sudah ada atau dikreasikan macam-macam suka.

3. Pilih Gambar


Di sini saya mencontohkan menambahkan tanda air pada foto, bukan video. Panah kuning pertama adalah foto pilihan, panah kuning kedua adalah notifikasi bahwa sudah ada foto yang dipilih).

4. Pilih Tanda Air


Pada menu ini, kalian masih diberi pilihan untuk membikin tanda air, atau memilihnya dari galeri. Karena saya sudah membikin beberapa, saya bisa langsung pilih seperti panah paling bawah yang ditunjukkan oleh gambar di atas.


5. Done!


6. Simpan


7. Mudah


Ah, selesai. Tidak pakai acara ribet. Makanya saya menulis judul, aplikasi andalan para tukang pamer foto karena prosesnya sangat cepat.

Baca Juga: Warna-Warni Text Background Color Ciri Khas Pos Blog

Selain Add Watermark, ada banyak pilihan mudah memberi tanda air. Seperti yang sudah saya tulis di atas paling mudah tinggal menambahkan tulisan pada foto tersebut. Tetapi, Add Watermark memberikan banyak pilihan baik jenis huruf, template logo, warna, dan lain sebagainya, sehingga para pengguna Add Watermark lebih leluasa berkreasi sepuas-puasnya. Sekali lagi, jangan pernah meremehkan sebuah foto dan/atau video, seburuk apapun, karena itu adalah hasil jepretan kalian, kawan. Sama seperti saya. Bahkan foto kakipun tidak mau saya biarkan lolos kecuali saya memang memilih membiarkan sebuah foto tanpa tanda air, dan membiarkan orang lain menggunakannya.

Tetapi, tanggung jawab moral saya pribadi juga berlaku di sini. Apabila ada foto milik orang lain yang menurut saya unik, tidak mungkin saya mengeposnya tanpa menyertakan kredit/sumber. Salah satunya foto-foto unik dari situs Brightside. Tidak ada seorangpun yang mau disebut pencuri, termasuk saya.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo


Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo. Kamis, 9 Januari 2020, lagi-lagi saya tancap gas menuju Kabupaten Nagekeo. Sepertinya dari semua kabupaten yang ada di Pulau Flores khususnya dan Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya, Nagekeo merupakan kabupaten yang paling sering saya kunjungi baik untuk meliput kegiatan kampus maupun karena kepentingan pribadi. Keberangkatan saya kemarin itu karena hendak meliput kegiatan Uniflor Road Show 2020 oleh Panitia Panca Windu Uniflor 2020 yang diselenggarakan di Lapangan Berdikari, Kota Mbay. Uniflor Road Show 2020 diselenggarakan Sabtu, 11 Januari 2020, tapi saya memilih berangkat dua hari lebih awal karena diperbolehkan. Haha. Lagi pula saya juga harus pergi ke sekolah-sekolah untuk mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) bersama Kakak Shinta Degor dan Pak Anno Kean. Ya, kami masih menjadi bagian dari Tim Promosi Uniflor.

Baca Juga: Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita

Sebenarnya dari Ende saya hendak tancap gas sendirian ke Kota Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, tetapi setelah japri sama Kahar yang kebagian jadi anggota panitia seksi perlengkapan, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat bersama. Terpaksa meninggalkan rombongan pertama lainnya yang masih siap-siap. Tancap gas tanpa jeda sedikit pun terbayarkan ketika mulut sibuk mengunyah butir jagung pulut rebus di Aigela, sebagai check point tiga kabupaten: Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Nagekeo. Dari Aigela, perjalanan dilanjutkan ke Kota Mbay. Tiba Kamis sore menjelang maghrib, saya dan Kahar langsung menikmati mi ayam yang rasanya aduhai dan saya lupa nama warung kecil itu. Hehe. Lantas kami menuju rumah Novi Azizah di daerah Alorongga (masih daerah kota), alih-alih menginap di rumah keponakan saya di Towak.

Di Aigela.

Melepas lelah, ngopi, mengobrol, haha hihi, bersama Kahar dan Novi, rasanya sangat menyenangkan. Dari situ saya mendengar banyak cerita masa kecil mereka yang bahagia, karena Kahar juga pernah bersekolah (SD) di Kabupaten Nagekeo. Salah satunya: sarapan nasi disiram kopi-panas. Wow! Bagian ini bakal saya ceritakan di pos tersendiri. Haha. Bagi mereka kisah ini semacam aib, tapi bagi saya kisah ini merupakan sesuatu yang harus diceritakan karena unik.

Karena satu dan lain hal, beberapa teman panitia yang tiba Kamis malam, menginap pula di rumah Novi. Terima kasih yang luar biasa untuk Mama dan Novi yang sudah menerima kami semua. Hehe. Terkhusus empat teman lainnya itu: Om Evan, Sotter, Willy, Marten. Kalau Kahar sih menginap di rumah kakaknya yang memang berdomisili di Kota Mbay. Sedangkan saya sendiri memang sering menginap di rumah Novi atau di rumah keponakan. Meskipun baru keluar dari rumah sakit, tapi Mama begitu tulus menerima kedatangan teman-teman lain di rumah itu. Ah, serasa home sweet home.

Akhirnya saya punya banyak cerita dari perjalanan ini selain kegiatan Uniflor Road Show 2020!

Yuk mari kita cari tahu apa saja cerita menarik dari Kabupaten Nagekeo tercinta ini *kedip-kedip*.

Kebun Sayur


Jum'at, 10 Januari 2020, merupakan hari terbaik sekaligus tersibuk khusus untuk saya dan Novi. Hari itu saya dan Novi sudah punya rencana jalan-jalan. Jalan-jalan yang cukup panjang dan lama. Tapi, mengingat ada empat teman lain yang menginap di rumah Novi, kami kemudian memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke pasar dan memasak makan siang karena Mama belum kami ijinkan masuk dapur. Di pasar, kami hanya membeli ikan, tahu-tempe, dan bumbu, sedangkan sayurnya dibeli langsung di kebun sayur! Menurut Novi, lebih baik membeli sayur langsung di kebun karena bakal dapat banyak. Lha, saya pikir kebunnya itu jauuuuh banget. Karena kan judulnya 'kebun' begitu. Ternyata lokasi kebun sayur ini tidak sampai 500 meter dari rumah Novi. Uh lala. Manapula sepeda motor bisa langsung diparkir di depan rumah pemiliknya.


Namanya juga kebun sayur, areanya luas (sekitar satu hektar), dipergunakan oleh pemiliknya untuk menanam bermacam jenis sayuran seperti kangkung, sawi, terung, pucuk labu, bayam (juga bayam merah) dan lain sebagainya. Begitu tiba di depan rumah pemiliknya yang sepetak dua petak itu, Novi langsung bilang, "Beli sayur kangkung lima ribu, sayur sawi lima ribu, terung lima ribu." Saya pikir, dapatnya paling segitu-segitu juga, tidak super wow seperti yang dibilang Novi sebelumnya. Lantas mata saya mengekori si Mama yang mengambil parang dan pergi ke kebun. Seperti terhipnotis, saya menyusulinya. Ya ampun, cara si Mama menebas sayuran begitu semangat padahal kan kami hanya membeli 15K kalau ditotal!


Bagi saya pribadi yang tinggal di Kota Ende, melihat sayur seharga 15K dengan jumlah segitu banyaknya, sungguh di luar ekspetasi. Istilah orang pasar: kami membeli langsung dari tangan pertama. Ceritanya bakal beda kalau membelinya dari tangan kedua apalagi tangan ketiga. Noted.


Karena banyaknya sayuran itu, semua diletakkan di bagian depan motor matic saya. Dalam perjalanan pulang ke rumah saya merasa seperti pedagang sayur sungguhan ha ha ha. Tinggal teriak, "Sayur! Sayur!" Tiba di rumah, saya dan Novi langsung mengeksekusi segala bahan bekal makan siang: ikan, tempe-tahu, sayuran. Kami harus bergegas karena waktu semakin mepet. Jalan-jalan harus terlaksana! Saat sedang memasak, Oston dari kepanitiaan mengirim pesan WA pada saya, bersedia untuk bertemu band lokal yang bakal tampil sebagai band pembuka kegiatan Uniflor Road Show 2020. Nama band-nya Alf The Bond Band. Dan karena Novi yang merekomendasikan mereka, maka Novi pun meninggalkan saya untuk menemani anak-anak band bertemu Oston.


Begitu si Novi pulang kembali ke rumah, gantian saya yang ijin pergi bertemu para bedebah. Iya, saya menerima pesan WA dari Ruztam Effendi, sahabat masa SMA yang punya Nirvana Bungalow di Riung. Ajakan makan siang! Saya pamit pergi bertemu Ruztam di Rumah Makan Mini Indah. Masaknya gantian begitu ... ceritanya.

Bedebah Bertemu Para Bedebah


Adalah hal yang lumrah apabila saya sering memanggil teman-teman masa SMA dengan istilah bedebah. Hehe. Rasanya ada yang kurang apabila kata itu tidak terlontar. Dari rumahnya Novi menuju Rumah Makan Mini Indah, a la prasmanan, hanya memakan waktu sekitar lima menit. Ndilalah di sana sudah ada Ruztam, dan Bruno! Dua sahabat masa SMA yang masih ramai di WAG alumni ini sudah menanti dengan wajah sumringah. Ya Tuhan, saya kangen banget sama mereka. Terlebih Ruztam. Kalau Bruno kan pernah ketemu di akhir 2019, ditraktir sama dia di El Cafe - Mbay.


Makan siang kami diwarnai saling ngecap, saling mengumpat, saling menasihati (ini bagian paling sedikit), dan haha hihi gaje. Sebenarnya saya pengen mengajak mereka melanjutkan ngopi di rumah Novi (saya memang tamu kurang ajar, sudah menginap, bertingkah seakan rumah sendiri, hahaha), tetapi kedatangan Ruztam ke Kota Mbay adalah untuk berbelanja kebutuhan Nirvana Bungalow sehingga dia tidak bisa terlalu lama bersantai. Baiklah. Siang itu kami berpisah di depan Rumah Makan Mini Indah dengan janji bakal ketemu malam minggu di Lapangan Berdikari untuk menyaksikan Uniflor Road Show 2020, tetapi kemudian ... ya bisa kalian tebak ... kami tidak bertemu lagi karena kesibukan mereka juga berada di level galaksi.

Terima kasih, para bedebah!

Love youuuuu all!

Taman Wisata Hutan Mangrove


Balik ke rumah, Novi sudah selesai memasak dan bahkan empat teman kami sudah selesai makan siang. Beres semuanya, saya dan Novi melaksanakan rencana jalan-jalan. Sekitar pukul 14.00 Wita, kami meluncur ke Desa Marapokot yang selama ini dikenal karena adanya pelabuhan: Pelabuhan Marapokot. Waktu tempuh sekitar 15 sampai 20 menit dari pusat Kota Mbay. Tujuan kami ke Desa Marapokot tentu saja Taman Wisata Hutan Mangrove (bakau). Kalian mungkin bakal bertanya-tanya, apa sih menariknya hutan mangrove? Dan kenapa pula ada embel-embel 'taman wisata'? Makanya, baca sampai selesai. Haha. Jangan di-skip!


Adalah sekelompok anak muda di Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, yang berupaya untuk menggali dan memanfaatkan potensi hutan mangrove yang ada di wilayah mereka, yaitu wilayah pantai, menjadi destinasi wisata. Mereka kemudian membangun spot-spot instagenic antara lain jembatan dan tempat bersantai. Jembatan-jembatan dibuat bermaterial bambu dan kayu, tidak lupa hiasan lampion-lampion di atas jembatan, dan tempat bersantai/duduk bermaterial ban bekas, spot-spot instagenic dengan tulisan-tulisan menarik/kekinian. Tidak lupa cat warna-warni semakin memikat mata.


Baca Juga: Ngana Ate Sebuah Blog (Puisi) Baru Yang (Terpaksa) Dibikin


Inilah yang saya sebut dengan perpaduan antara wisata alam dan wisata buatan. Salut sama anak muda Desa Marapokot! Kalian hebat!



Puas foto-foto, saya dan Novi duduk mengaso di jembatan paling ujung yang berhadapan dengan perairan luas, dan mengobrol. Jujur, tempat ini bisa menjadi tempat 'melarikan diri' dari segala kepenatan dunia. Hehe. Nyamaaaaan banget. Jujur, saya bukan tipe orang yang suka 'melarikan diri' dari segala problematika hidup, paling parah ya menulis dan nge-game. Tapi bagi saya lokasi ini bisa jadi tempat merenung mikirin jodoh yang belum tiba juga. Andai kata ada secangkir kopi menemani, pasti lebih betah, malas pulang ke rumah!


Oh ya, biaya masuk Taman Wisata Hutan Mangrove hanya sebesar 5K. Murah sekali untuk kesenangan yang bisa didapatkan di sana. Dan saat datang ke sana pun, pengunjungnya hanya saya dan Novi. Berasa berada di hutan pribadi.


Taman Wisata Hutan Mangrove ini mengingatkan saya pada perjalanan tahun 2010 di Cilacap, Provinsi Jawa Barat, menyusuri labirin mangrove. Waktu itu kami menyewa perahu untuk menyusuri labirin mangrove tersebut.



Semoga saya masih bisa kembali ke tempat ini untuk sesi foto pre-wedding ... ngimpi boleh ya. Haha. Bagi kalian yang hendak pergi ke Kabupaten Nagekeo, khususnya Kota Mbay, jangan sampai lupa berkunjung ke Taman Wisata Hutan Mangrove.

Rumah Pohon


Dari Taman Wisata Hutan Mangrove, kami tancap gas ke Pelabuhan Marapokot yang jaraknya hanya sekitar lima menit berkendara. Tujuan kami adalah Rumah Pohon yang sejak lama sudah dipromosikan Novi tapi belum kesampaian ke sana. Rumah Pohon berlokasi di Pelabuhan Marapokot sekitar 10 meter sebelum pintu masuk pelabuhan di sisi kiri. Saya tidak tahu nama pohon yang dipakai sebagai base rumah pohon ini, tetapi sangat menarik melihat rumah pohon karena belum pernah melihat yang seperti ini.


Kata Novi, Rumah Pohon ini milik pamannya, jadi kami mah bebas jungkir balik di situ. Hanya saja saat kami datang kondisinya sedang terkunci sehingga harus naik melewati balok yang uh wow bikin gagal ginjal. Hehe. Novi saja yang bisa memanjat, saya menyerah!


Di Rumah Pohon tidak seberapa lama, kami memutuskan untuk pulang kembali ke Kota Mbay. Mendadak mengantuk euy.

Oh ya, yang juga harus kalian tahu bahwa malam harinya kami semua diundang makan bebek panggang dan ikan panggang di Towak, di rumah keponakan saya Iwan dan Reni. Aduhai! Meskipun sempat tunggu-menunggu, gara-gara Kahar ini mah, akhirnya tiba juga di rumah dinas Pustu Towak tersebut.


Dari penampakannya saja menggoda iman. Bagaimana dengan rasanya? Ya jelas bikin iman runtuh. Hehe. Selain bebek panggang, ikan panggang, ada pula ikan goreng, sayur merungge, dan sambal jeruk. Sudah ya, jangan diteruskan, nanti kalian ngiler. Hehe. Yang jelas menu ini selalu disiapkan oleh keponakan saya kalau berkunjung. Berasa jadi ratu. Jangan lupa, saya kan Presiden Negara Kuning.

Uniflor Road Show 2020


Ini kegiatan utama pada Sabtu, 11 Januari 2020. Sebelumnya, pagi hari, saya dan Tim Promosi Uniflor pergi ke SMA-SMA di Kota Mbay dan sekitarnya, termasuk ke Desa Marapokot dan daerah Aeramo! Sedangkan malamnya, saya wajib meliput kegiatan Uniflor Road Show 2020 tersebut, yang juga dihadiri oleh Bupati Nagekeo yaitu Bapak Don. Untuk kegiatan tersebut, kalian bisa membaca berita yang sudah saya unggah ke media sosial. Berikut, salah satu tautannya:



Silahkan dibaca. Inilah salah satu wujud dari pekerjaan saya selama ini. In case kalau ada yang kepo kok sepertinya saya jalan-jalan terus. Hehe.


Saya yakin masih banyak cerita menarik lainnya dari Kabupaten Nagekeo yang bisa ditulis di blog, tapi tentu saya harus mengeksplornya terlebih dahulu. Kalian sabar menanti kan? Sama, saya juga sabar menanti, menanti saatnya jalan-jalan lagi. Hehe.

Baca Juga: Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share

Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada Mama, Mamanya Novi, yang meskipun dalam kondisi sakit, masih begitu perhatian dan peduli pada saya dan teman-teman lain yang menginap di rumah. Mama sudah kami anggap seperti Mama sendiri. May Allah SWT bless you always, Ma. Mama adalah yang terbaik bagi kami. Terima kasih juga untuk Novi, pada akhirnya niat jalan-jalan ke Taman Wisata Hutan Mangrove dan Rumah Pohon terlaksana juga minggu kemarin. Sungguh masih banyak hutang kita (saya) karena kita belum pergi ke Pulau Ri'i Taa dan pabrik garam itu ya, Nov. Insha Allah next time. Terima kasih, Nov. Terima kasih. Pun, terima kasih untuk keponakan saya: Iwan dan Reni, juga dua cucu saya: Andika dan Rayhan, atas segala pengertian kenapa saya belum bisa menginap di rumah kalian beberapa kali ke Kota Mbay. Nanti ya, Insha Allah.

Semoga saya masih bisa kembali ke Kabupaten Nagekeo untuk mengeksplor lebih banyak tempat wisatanya. Doakan! Kalian juga doooonk, main-mainlah ke Kabupaten Nagekeo, siapa tahu kita ketemu di jalan. Hehe.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Menariknya Lagu-Lagu Lawas yang Tak Lekang Oleh Waktu


Menariknya Lagu-Lagu Lawas yang Tak Lekang Oleh Waktu. Busyet! Ini judulnya begini banget, yak. Haha. Hyess, salah satu perbuatan yang saya lakukan mengisi waktu cuti sekalian waktu liburan panjang adalah karaoke. Biasanya saya merekam, menggunakan telepon genggam, aksi bernyanyi dengan suara sumbang ini. Tapi lebih sering melakukannya sambil tiduran. Tidak lupa speaker JBL mini, melalui sambungan bluetooth, menemani supaya suara musiknya lebih krenyes. Biasanya aksi karaoke ini dimulai dengan lagu-lagu favorit seperti Flashlight-nya Jessie J, Memories milik Maroon 5, Mirror-nya Justin Timberlake, lantas bergeser pada Ironic milik Alanis Morissette. Dan bisa ditebak, lagu-lagu karaoke itu terus bergeser ke masa lampau. Pada akhirnya yang awalnya karaoke, justru jadinya bernostalgia karena banyak lagu-lagu lawas yang tidak tersedia versi karaokenya di Youtube.


Lama-kelamaan mendengarkan lagu lawas menjadi semacam hobi temporari yang saya lakukan kala bosan bermain Battle Realms di waktu cuti dan libur panjang. Habis mandi yang kemalaman, dibuai angin dari kipas angin, tiduran di karpet, mulai membuka Youtube sekalian membuka memori tentang penyanyi dan lagu-lagu lawas yang pernah ngetop di zamannya. Perasaan jadi ikut terbawa arus sungai hingga ke laut. Saya sendiri terkejut melihat bagaimana cara kerja Youtube menyarankan satu per satu video-video musik itu. 

Kalian masih ingat Dina Mariana? A-ha! Harusnya masih ingat, donk. Saat masih siaran di Radio Gomezone dulu, saya masih sering mengudarakan lagu-lagu milik Dina Mariana seperti Si Dia atau Ingat Kamu. Sambil mendengarkan Si Dia dari Dina Mariana, saya teringat pada lirik lagu berikut ini: kutunggu kamu di gerbang sekolah, maukah kamu mengantarku pulang. Sebagai anak era 80-an dan 90-an, saya tidak bisa melupakan lirik lagu yang satu ini. Langsung mencarinya di Youtube. Kata kuncinya? Ya itu tadi: kutunggu kamu di gerbang sekolah, maukah kamu mengantarku pulang. Ketemu? Ketemu! Nama penyanyinya Tommy Soemarni and Co. Judul lagunya Ranking Pertama. Hayo kalian, tidak semua tahu penyanyi dan judul lagu kesohor ini kan? Haha. Saya merasa sangat bahagia.

Bicara soal lagu lawas rasanya tidak adil kalau tidak menulis tentang Rumpies. Salah satu, atau satu-satunya?, lagu mereka yang ngetop waktu itu berjudul Nurlela. Rumpies ini seharusnya bisa menjadi kelompok vokal perempuan yang sangat kuat di Indonesia. Mereka bahkan sudah lebih dulu ada sebelum Spice Girls merajai tangga lagu dunia dan disebut sebagai girlband pertama di dunia. Kenapa Rumpies saya tulis seharusnya bisa menjadi kelompok vokal perempuan yang sangat kuat di Indonesia? Lihat dulu donk personelnya. Atiek CB, Trie Utami, Malyda, dan Vina Panduwinata! Mereka adalah penyanyi-penyanyi perempuan Indonesia yang berkarakter dan rasa-rasanya semua Orang Indonesia saat itu mengenal mereka lewat acara seperti Album Minggu Kita atau Selekta Pop. Saya juga masih suka menonton video Atiek CB yang berjudul Benci Sendiri.

Ternyata pengetahuan saya tentang lagu lawas berikut penyanyinya ... boleh diadu. Haha.

Mari kita lanjutkan. 

Dari para lelaki, saya selalu memilih terlebih dahulu Trio Libels. Roni Sianturi adalah lelaki yang selalu mengisi khayalan masa kecil saya tentang lelaki idaman. Di manakah dia sekarang? Entah. Sama juga dengan entah-di-mana Edwin Manansang. Sementara itu Yanni Airlangga, setahu saya, telah meninggal dunia tahun 2015. Mbakyu, salah satu lagu Yanni yang dinyanyikan solo-karir, merupakan salah satu yang paling saya ingat hingga saat ini. Eh, balik lagi ke Trio Libels, jangan pernah kalian pura-pura tidak mau mendengar Aku Suka Kamu dan Oh Gadisku. Oh gadisku sa sa sa sayaaaaaaang. Iya, Abang sayang kapan lamar?

Era 80-an/90-an selalu juga mengingatkan saya pada Gita Remaja. Kuis musik di TVRI yang dibawakan oleh Tantowi Yahya dengan salah satu band pengiring: Halmahera Band! Nah, gara-gara Halmahera Band dan gaya Tohpati yang cool itu, wajah Roni Sianturi dalam khayalan saya pun berganti dengan wajah Tohpati. Siapa sih perempuan yang bisa tahan melihat gaya si Tohpati? Gara-gara itu saya jadi pernah menunggu album Halmahera dan tergila-gila sama Lukisan Pagi-nya Tohpati bersama Shakila

Perjalanan saya bernostalgia sama lagu-lagu lawas mempertemukan saya dengan begitu banyak penyanyi zaman doeloe. Sebut saja Twin Sister, masih ada yang ingat mereka dengan gaya menyanyinya di panggung?, Ria Rizky Fauzi yang ngetop dengan lirik: kututup layar cintakuuuu, tentu ada cintaku di Barcelonaaaa oleh Fariz RM, Duo D yang terdiri dari Dian Pramana Putra dan Deddy Dhukun dengan lirik: aku yakin di antara kita masih ada cinta yang membara. Amboiii, perasaan siapa yang tidak uhuk ehek ahak? Duh, jadi pengen nyanyi, haha. Oddie Agam hadir dengan nuansa musik yang kece dalam Kesempatan bareng Dewi Yull. Eh, masih ada yang ingat Dewi Yull kah? Semoga masih ada yang mengingatnya. Beliau punya warna suara yang unik.

Lalu, mata saya menangkap tulisan Kirey. Begitu melihatnya yang terlintas di benak saya bukan Terlalu melainkan Jangan Kau Samakan. Hyuk kita nyanyi bareng-bareng ...

Kurasakan dan kumengerti
Ketika ada kata terucap
Tanpa kau sadari

Kegagalan kisah cintamu
Begitu lekat erat mengikat
Trauma hidupmu

Aku bukanlah, jangan kau samakan
Dan kau pun pasti mengerti
Kekurangan kelebihanku

Terserah dirimu, kasih
Semua t'lah kuungkapkan
Sikap dan pribadiku
Mungkin kau pun t'lah tahu

Sepenggal saja, ya. Jangan semuanya. Nanti kalian baper kayak saya. Hihihi. 

Baca Juga: Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar

Bagaimana, kawan? Lagu lawas itu asyik kan? Saya berharap sambil membaca ini kalian juga sambil mencari video musiknya di Youtube. Sekalian mendengarkan, sekalian bernostalgia, sekalian baper, sekalian ... ah, telepon mantan sekarang! *ngakak guling-guling*. Tentu saya tidak menulis semua penyanyi berikut lagu lawas mereka! Masih ada Ita Purnamasari, Kla Project, Elfa's Singer dengan pentolannya yaitu Yana Julio, Slank, Dewa19, hingga Jamal Mirdad! Nanti ya, kalau sedang in the good mood, saya pasti bakal menulis bagian keduanya. Hehe.

Bernostalgia itu asyik juga ...

Mari bernostalgia ...

#SabtuReview



Cheers.

#PDL BAT Dan Kelas-Kelas Blogging Yang Mereka Bangun


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL BAT Dan Kelas-Kelas Blogging Yang Mereka Bangun. Tepiiiii ... tepiiiii ... BAT(man) mau terbang! Whuuuzzzz. Hehe. Apa sih BAT itu? Eh, siapa sajakah BAT itu? BAT merupakan singkatan dari tiga nama yaitu Bisot, Anazkia, Tuteh. Kami bertiga adalah blogger yang awalnya bertemu di dunia maya, lantas berlanjut ke dunia fana. Sekarang, kami memang lebih sering bertemu di dunia maya karena jarak yang memisahkan sejak semula jadi. Hihi. Yaelah, menulis ini, kangen sama dua sesepuh itu semakin menjadi-jadi.


Adalah Kanaz (saya biasa memanggil Anazkia dengan Kanaz; Kak Anazkia) yang mengompori saya dan Om Bisot untuk mengajar blog. Lagi. Tapi ngajarnya beda, bukan langsung di depan audiens, seperti yang selama ini kami lakukan, melainkan melalui sebuah WAG (WhatsApp Group). Ajakan itu bersambut manis. Maka dibukalah sebuah kelas blogging bernama Kelas Blogging NTT. Peserta Kelas Blogging NTT adalah teman-teman dari seluruh Provinsi Nusa Tenggara Timur baik yang sudah punya blog maupun baru mau belajar/mengenal blog. Kelas ini ditujukan semula untuk teman-teman yang sama sekali tidak tahu tentang blog (from zero, Insha Allah, to hero), teman-teman yang sudah nge-blog tapi ingin tahu lebih dalam tentang seluk-beluk dunia per-blogger-an, dan teman-teman yang ingin berbagi pengalaman nge-blog. Bagi yang sudah nge-blog, mengikuti kelas sejak kelas pertama pasti membosankan. Bagaimana tidak bosan? Materi yang diberikan itu sudah mereka lakukan (kan sudah punya blog). Tapi di sini lah hebatnya Orang Indonesia. Toleransi harus dijunjung tinggi. Mereka bertahan mengikuti kelas dari minggu ke minggu tanpa protes.

Dari Kelas Blogging NTT, yang boleh dibilang sukses, berlanjut pada Kelas Blogging NTT Angkatan II. Karena semakin banyaknya permintaan teman-teman lain untuk mengikuti Kelas Blogging NTT maka kami memutuskan untuk memulai Angkatan II. Setelah melalui japri mereka menyetujui persyaratan untuk menjadi peserta Kelas Blogging NTT, termasuk waktu yaitu setiap Rabu malam, satuper satu peserta ditambahkan ke dalam WAG. Jumlahnya lumayan banyak: duabelas peserta. Itu pun satu pesertanya bakal ditambahkan kemudian karena kekhilafan saya. Iya, saya khilaf ... lupa menambahkannya, padahal dia adalah orang pertama yang daftar untuk Angkatan II. Haha. Untung orangnya tidak mengamuk.

Angkatan I - Senin - 21.00 Wita.
Angkatan II - Rabu - 21.00 Wita.

Lantas, apa saja kemajuan yang telah dicapai oleh para peserta Kelas Blogging NTT? Mari kita simak.

1. Membikin akun Gmail.
2. Membikin blog di Blogger.
3. Membuat tulisan/pos blog.
4. Mengenal dashboard.
5. Tata cara menggunggah foto/video.
6. Membuat halaman.
7. Mengelola komentar.
8. Mengelola side bar.
9. Menulis Kreatif (Blog).

Belum berhenti sampai di situ, lagi-lagi BAT beraksi membuka Kelas Blogging Online. Kelas Blogging Online, seperti namanya yang tidak ada embel-embel NTT, pesertanya berasal dari seluruh Indonesia. Tidak usah ditanya bagaimana serunya kelas tersebut. Rasanya selalu rindu menanti hari yang ditetapkan untuk kelas dimulai.

Setelah kelas-kelas blogging di atas, saya masih membuka kelas blogging yang isinya mahasiswa Universitas Flores (Uniflor). Bisa ditebak, mahasiswa-mahasiswa tersebut sebelumnya telah mengikkuti pelatihan blog bersama saya.  Namanya Kelas Blogging Tuteh. Di situ ada mahasiswa dari berbagai program studi seperti Prodi Pendidikan Sejarah, Prodi Pendidikan Fisika, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, juga Prodi Pendidikan Ekonomi. Semuanya saya gabung jadi satu. Mereka boleh bertanya apa saja tentang dunia blog di WAG tersebut. Salah satu keinginan saya adalah agar mahasiswa lebih rajin menulis karena menulis merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat, terutama untuk mahasiswa itu sendiri.

Selain membuka kelas blogging, saya pribadi juga menerima pesan WA pribadi dari orang per orang yang meminta bantuan membikin dan/atau ketika mereka mengalami kendala saat mengelola blog. Saya suka melakukannya, dan tentu apa yang disukai pasti dilakukan dengan ikhlas.

Baca Juga: #PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu

Salah seorang peserta Kelas Blogging NTT, Noviea Azizah, pada akhirnya melesat ke angkasa. Aktivis muda asal Kabupaten Nagekeo itu kemudian mengikuti berbagai kegiatan para blogger di Pulau Jawa. Ini menarik dan menyenangkan, bahkan sangat menyenangkan bagi saya pribadi yang mengikuti perkembangannya sejak awal. Selamat ya, Nov, pada akhirnya semakin banyak teman blogger yang dikenal, semakin rajin nge-blog, semakin menjadi bermanfaat bagi siapapun. Karena, apalah lagi yang bisa kita lakukan di dunia ini selain bisa bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain? Tetap semangat!

Pernah, BAT pernah melakukan itu semua ... membuka dan membangun kelas-kelas blogging lewat WAG. Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu yuk di komen.

#PDL



Cheers.

S0501 – Survei Podcast Indonesia 2019

Episode pertama di 2020 ini mengulas soal Survei Podcast di Indonesia 2019 yang dilakukan sepanjang Desember lalu dalam upaya mendapatkan gambaran tentang seperti apa sih perkembangan terkini podcast di Indonesia. Semoga ini bermanfaat untuk para podcaster yang ingin meningkatkan kualitas kontennya di 2020 dan juga buat mereka yang ingin sekali terjun ke dunia podcast tahun ini. Versi lengkap survei ini bisa dilihat dibawah atau diunduh di sini.

Selamat mendengarkan



Suarane Podcast episode ini juga bisa didengarkan di berbagai aplikasi podcast lainnya seperti Spotify, Apple Podcast, Google Podcast, Breaker, Castbox, Aplikasi Dengar Radio dll. dengan kata kunci pencarian: “suarane.”

 

Dukung Suarane Podcast di Karyakarsa

http://karyakarsa.com/suarane

 

Credits: 

  • Musik yang dipakai di episode ini adalah “Profunk” karya Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang


5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang. Menulis Flores overland, jadi ingat sama blog bahasa Inggris saya yang satu itu. Haha. Tidak punya modal bahasa Inggris yang cukup, nekat membikin blog bahasa Inggris, jadinya keteteran. Mau terus-terusan meminta bantuan Cahyadi mengoreksi, malu hati, karena dia juga sibuk sama pekerjaannya sebagai guide. Nantilah baru saya jenguk lagi si blog bahasa Inggris yang satu itu (gas atau rem). Sekarang, saatnya saya membocorkan rahasia kenapa kalian harus melakukan Flores overland, sekarang. Kenapa sekarang? Seperti kata orang-orang: kalau bukan sekarang, kapan lagi? Haha.

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Flores overland, arti sederhananya adalah kita mengarungi Pulau Flores dari ujung Barat ke ujung Timur, ataupun sebaliknya. Mengarungi pulau yang juga dikenal dengan nama Nusa Bunga ini tidak bisa dilakukan menggunakan pesawat, meskipun ada, namun tidak bisa runut menyisirnya. Masa iya dari Labuan Bajo ke Ende, terus kembali lagi ke Kota Ruteng (arah Barat) yang bertetangga dengan Kota Labuan Bajo? Satu-satunya cara mengarungi Pulau Flores, runut dari ujung ke ujung, adalah menggunakan transportasi darat seperti kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat. Sepeda, termasuk kendaraan roda dua, tidak saya sarankan. Tapi kalau kalian mau mencoba mengarungi Pulau Flores menggunakan sepeda, ya silahkan. Siapkan minyak urat sebanyak-banyaknya. Hehe *dikeplak dinosaurus*.

Bagaimana dengan lima alasan yang saya tulis di judul?

Marilah kita cek satu per satu ...

1. Transportasi Masuk ke Pulau Flores yang Mudah


Pada zaman dahulu, transportasi masuk dan keluar Pulau Flores tidak semudah zaman sekarang. Saya ingat pesawatnya waktu itu yang masuk-keluar Kota Ende hanya milik maskapai Merpati Nusantara Airlines, itupun jenis pesawatnya Casa. Coba kalian crosscheck di Google foto pesawat Merpati Casa C-212. Baling-baling dua. Untung bukan baling-baling bambu. Hehe. Saya pernah merasakan Casa C-212 dari Kota Ende ke Kota Bima, berganti pesawat Foker 27 ke Kota Denpasar, lantas naik Boeing 737-200 milik Bouraq Indonesia Airlines ke Kota Surabaya (penerbangan malam hari). Saat ini, meskipun banyak penumpang pesawat mengeluh karena bagasinya tidak bisa banyak-banyak, tapi transportasi udara masuk ke Pulau Flores jauh lebih rajin.

Pada zaman dahulu, perjalanan menggunakan kapal laut pun jangan ditanya. Perjalanan di laut bisa memakan waktu hingga enam hari karena kapal milik P.T. Pelni seperti KM. Kelimutu punya jadwal mampir di banyak pelabuhan (hitung saja dari Kota Ende ke Kota Surabaya). Bayangkan saja betapa bosannya penumpang yang berangkat dari Papua menuju Surabaya! Tapi sekarang, transportasi laut menjadi lebih mudah. Terutama di Kabupaten Ende, sejak Pelabuhan Ippi diperbarui dan ditambah dermaganya. Pun Pelabuhan Bung Karno yang mengalami nasib serupa: diperbaiki, diperbarui, ditambah armada kapalnya, dan tentu saja memudahkan kebutuhan transportasi masyarakat yang hendak keluar maupun masuk Kabupaten Ende dan sekitarnya.

Bila kalian memilih untuk melakukan Flores overland dengan titik mula Kota Labuan Bajo sebagai kota wisata paling ujung Barat dari Pulau Flores, maka kalian bisa menyewa sepeda motor maupun mobil (travel) untuk mengarungi Pulau Flores hingga ke ujung Timur. Tanjung Bunga di Kabupaten Flores Timur. Demikian pula sebaliknya.

2. Transportasi Lokal yang Mudah


Ini tidak kalah penting. Transportasi lokal harus dipikirkan baik-baik oleh para traveler karena berkaitan dengan mobilitas mereka dari satu tempat ke tempat lain. Selain banyaknya jasa penyewaan mobil maupun mobil travel (tapi kalian akan ditemani oleh supirnya), bagi yang mabuk darat tapi punya kemampuan mengendarai sepeda motor, boleh menyewa sepeda motor. Harga cukup bersahabat, menurut pendapat pribadi saya, dan beberapa penyewaan mempunya cabang di kota-kota lain sehingga memudahkan kalian ketika ingin mengembalikan kendaraan sewaan tersebut.

3. Jalanan Yang Mulus


Uh wow sekali saat menulis jalanan yang mulus. Pengalaman saya mengarungi Pulau Flores baik ke Barat maupun ke Timur, jalanan sudah banyak yang diperbaiki. Selain diperbaiki, masing-masing pemerintah daerah juga memutuskan untuk melebarkan badan jalan. Sumpah, saya bahagia melihat kelokan-kelokan maut itu kemudian diperlebar badan jalannya. Jalan yang mulus dan lebar tentu sangat menolong para pejalan, memuluskan perjalanan mereka, menekan angka kecelakaan. Kalian pasti tahu, lubang sekecil apapun apabila pengemudi tidak awas, bisa terjadi kecelakaan fatal. Saya sendiri sering mengingatkan diri untuk tidak terlalu ngegas, soalnya jalanan mulus bisa bikin kalap.

4. Lokasi Cantik Sepanjang Jalan


Jelaaaas. Kalian bisa berhenti berkali-kali hanya untuk sekadar memotret panorama dan/atau pemandangan alamnya. Jangankan saat melakukan Flores overland, saat saya hanya melakukan perjalanan dari Kota Ende ke Kota Boawae, misalnya, bisa berhenti berkali-kali hanya untuk mengabadikan pemandangan indah Pulau Flores. Pantai-pantai dari ketinggian, perbukitan, aktivitas penduduk. Rugi rasanya jika mengabaikan semua itu. Melakukan Flores overland ibarat mengeksplor satu pulau tapi menawarkan miliaran kesenangan.

5. Relasi Lokal


Adalah sangat menguntungkan apabila kalian punya relasi orang lokal. Kenalan, teman, atau kekasih? Terserah. Haha. Yang jelas, sepengetahuan saya, Orang Flores adalah orang-orang yang terbuka. Internet dan pertemanan melalui internet (Facebook, Twitter, blog, kenalan lewat WA). Semakin ke sini, kalian bisa menjalin semakin banyak pertemanan dengan orang-orang lokal di Pulau Flores. Percayalah, Orang Flores itu ramah-ramah.


Sejujurnya, sebagai Orang Flores, Orang Ende, saya sendiri juga ingin bisa melakukan Flores overland, utuh. Awal tahun 2019 saya memang melakukan Flores overland, tapi alasannya adalah dikarenakan pekerjaan mempromosikan kampus. Itu pun tidak semua wilayah di Pulau Flores. Saya kebagian jatah Kabupaten Nagekeo terus ke arah Timur hingga Kabupaten Flores Timur. Tentu saya melewatkan kesempatan ke Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Barat. Semoga tahun 2020 kesempatan untuk pergi ke tiga kabupaten itu dapat terwujud.

Baca Juga: 5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa

Bagaimana? Tertarik kan? Ayolah main-main ke Pulau Flores dan ber-Flores overland! Kalian akan merasakan sensasi yang supa amazing, dan bakal bikin kalian pengen kembali ke pulau cantik ini. Seperti kata anak-anak zaman sekarang: bukan kaleng-kaleng. Haha.

Ditunggu!

#KamisLima



Cheers.

5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang


5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang. Menulis Flores overland, jadi ingat sama blog bahasa Inggris saya yang satu itu. Haha. Tidak punya modal bahasa Inggris yang cukup, nekat membikin blog bahasa Inggris, jadinya keteteran. Mau terus-terusan meminta bantuan Cahyadi mengoreksi, malu hati, karena dia juga sibuk sama pekerjaannya sebagai guide. Nantilah baru saya jenguk lagi si blog bahasa Inggris yang satu itu (gas atau rem). Sekarang, saatnya saya membocorkan rahasia kenapa kalian harus melakukan Flores overland, sekarang. Kenapa sekarang? Seperti kata orang-orang: kalau bukan sekarang, kapan lagi? Haha.

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Flores overland, arti sederhananya adalah kita mengarungi Pulau Flores dari ujung Barat ke ujung Timur, ataupun sebaliknya. Mengarungi pulau yang juga dikenal dengan nama Nusa Bunga ini tidak bisa dilakukan menggunakan pesawat, meskipun ada, namun tidak bisa runut menyisirnya. Masa iya dari Labuan Bajo ke Ende, terus kembali lagi ke Kota Ruteng (arah Barat) yang bertetangga dengan Kota Labuan Bajo? Satu-satunya cara mengarungi Pulau Flores, runut dari ujung ke ujung, adalah menggunakan transportasi darat seperti kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat. Sepeda, termasuk kendaraan roda dua, tidak saya sarankan. Tapi kalau kalian mau mencoba mengarungi Pulau Flores menggunakan sepeda, ya silahkan. Siapkan minyak urat sebanyak-banyaknya. Hehe *dikeplak dinosaurus*.

Bagaimana dengan lima alasan yang saya tulis di judul?

Marilah kita cek satu per satu ...

1. Transportasi Masuk ke Pulau Flores yang Mudah


Pada zaman dahulu, transportasi masuk dan keluar Pulau Flores tidak semudah zaman sekarang. Saya ingat pesawatnya waktu itu yang masuk-keluar Kota Ende hanya milik maskapai Merpati Nusantara Airlines, itupun jenis pesawatnya Casa. Coba kalian crosscheck di Google foto pesawat Merpati Casa C-212. Baling-baling dua. Untung bukan baling-baling bambu. Hehe. Saya pernah merasakan Casa C-212 dari Kota Ende ke Kota Bima, berganti pesawat Foker 27 ke Kota Denpasar, lantas naik Boeing 737-200 milik Bouraq Indonesia Airlines ke Kota Surabaya (penerbangan malam hari). Saat ini, meskipun banyak penumpang pesawat mengeluh karena bagasinya tidak bisa banyak-banyak, tapi transportasi udara masuk ke Pulau Flores jauh lebih rajin.

Pada zaman dahulu, perjalanan menggunakan kapal laut pun jangan ditanya. Perjalanan di laut bisa memakan waktu hingga enam hari karena kapal milik P.T. Pelni seperti KM. Kelimutu punya jadwal mampir di banyak pelabuhan (hitung saja dari Kota Ende ke Kota Surabaya). Bayangkan saja betapa bosannya penumpang yang berangkat dari Papua menuju Surabaya! Tapi sekarang, transportasi laut menjadi lebih mudah. Terutama di Kabupaten Ende, sejak Pelabuhan Ippi diperbarui dan ditambah dermaganya. Pun Pelabuhan Bung Karno yang mengalami nasib serupa: diperbaiki, diperbarui, ditambah armada kapalnya, dan tentu saja memudahkan kebutuhan transportasi masyarakat yang hendak keluar maupun masuk Kabupaten Ende dan sekitarnya.

Bila kalian memilih untuk melakukan Flores overland dengan titik mula Kota Labuan Bajo sebagai kota wisata paling ujung Barat dari Pulau Flores, maka kalian bisa menyewa sepeda motor maupun mobil (travel) untuk mengarungi Pulau Flores hingga ke ujung Timur. Tanjung Bunga di Kabupaten Flores Timur. Demikian pula sebaliknya.

2. Transportasi Lokal yang Mudah


Ini tidak kalah penting. Transportasi lokal harus dipikirkan baik-baik oleh para traveler karena berkaitan dengan mobilitas mereka dari satu tempat ke tempat lain. Selain banyaknya jasa penyewaan mobil maupun mobil travel (tapi kalian akan ditemani oleh supirnya), bagi yang mabuk darat tapi punya kemampuan mengendarai sepeda motor, boleh menyewa sepeda motor. Harga cukup bersahabat, menurut pendapat pribadi saya, dan beberapa penyewaan mempunya cabang di kota-kota lain sehingga memudahkan kalian ketika ingin mengembalikan kendaraan sewaan tersebut.

3. Jalanan Yang Mulus


Uh wow sekali saat menulis jalanan yang mulus. Pengalaman saya mengarungi Pulau Flores baik ke Barat maupun ke Timur, jalanan sudah banyak yang diperbaiki. Selain diperbaiki, masing-masing pemerintah daerah juga memutuskan untuk melebarkan badan jalan. Sumpah, saya bahagia melihat kelokan-kelokan maut itu kemudian diperlebar badan jalannya. Jalan yang mulus dan lebar tentu sangat menolong para pejalan, memuluskan perjalanan mereka, menekan angka kecelakaan. Kalian pasti tahu, lubang sekecil apapun apabila pengemudi tidak awas, bisa terjadi kecelakaan fatal. Saya sendiri sering mengingatkan diri untuk tidak terlalu ngegas, soalnya jalanan mulus bisa bikin kalap.

4. Lokasi Cantik Sepanjang Jalan


Jelaaaas. Kalian bisa berhenti berkali-kali hanya untuk sekadar memotret panorama dan/atau pemandangan alamnya. Jangankan saat melakukan Flores overland, saat saya hanya melakukan perjalanan dari Kota Ende ke Kota Boawae, misalnya, bisa berhenti berkali-kali hanya untuk mengabadikan pemandangan indah Pulau Flores. Pantai-pantai dari ketinggian, perbukitan, aktivitas penduduk. Rugi rasanya jika mengabaikan semua itu. Melakukan Flores overland ibarat mengeksplor satu pulau tapi menawarkan miliaran kesenangan.

5. Relasi Lokal


Adalah sangat menguntungkan apabila kalian punya relasi orang lokal. Kenalan, teman, atau kekasih? Terserah. Haha. Yang jelas, sepengetahuan saya, Orang Flores adalah orang-orang yang terbuka. Internet dan pertemanan melalui internet (Facebook, Twitter, blog, kenalan lewat WA). Semakin ke sini, kalian bisa menjalin semakin banyak pertemanan dengan orang-orang lokal di Pulau Flores. Percayalah, Orang Flores itu ramah-ramah.


Sejujurnya, sebagai Orang Flores, Orang Ende, saya sendiri juga ingin bisa melakukan Flores overland, utuh. Awal tahun 2019 saya memang melakukan Flores overland, tapi alasannya adalah dikarenakan pekerjaan mempromosikan kampus. Itu pun tidak semua wilayah di Pulau Flores. Saya kebagian jatah Kabupaten Nagekeo terus ke arah Timur hingga Kabupaten Flores Timur. Tentu saya melewatkan kesempatan ke Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Barat. Semoga tahun 2020 kesempatan untuk pergi ke tiga kabupaten itu dapat terwujud.

Baca Juga: 5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa

Bagaimana? Tertarik kan? Ayolah main-main ke Pulau Flores dan ber-Flores overland! Kalian akan merasakan sensasi yang supa amazing, dan bakal bikin kalian pengen kembali ke pulau cantik ini. Seperti kata anak-anak zaman sekarang: bukan kaleng-kaleng. Haha.

Ditunggu!

#KamisLima



Cheers.