Traveloka Xperience: Keliling Pulau Flores Jadi Lebih Mudah


Traveloka Xperience: Keliling Pulau Flores Jadi Lebih Mudah. Sudah lama saya tidak bepergian ke luar Pulau Flores, makanya tulisan di blog travel kebanyakan perjalanan keliling Pulau Flores yang indah ini. Apakah saya berhenti traveling ke luar Pulau Flores? Tidak, doooonk. Belum saatnya saja sih untuk traveling lagi ke tempat lain di Indonesia. Saat ini saya lebih sering menjadi ata mera alias orang yang tinggal alias 'penerima tamu'. Tapi, bukan berarti saya kurang update sama dunia traveling, ya! Sebagai penerima tamu yang kepo, sering banget saya bertanya sama teman-teman yang datang ke Kota Ende: eh, beli tiketnya kemarin di mana? Dapat harga berapa? Mahal kah menurut kalian tiket pesawat ke Pulau Flores? Rata-rata mereka menjawab: Traveloka, donk. Murah, tahu! Dapat diskon!

Baca Juga: Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay

Nama Traveloka sudah seperti nama-baptis tengah para pejalan. Sumpah. Sedikit-sedikit Traveloka. Tidak heran, Traveloka memang menyediakan semua informasi yang dibutuhkan oleh para traveler. Mulai dari harga tiket ragam maskapai sampai dengan tempat menginap! Makanya nama Traveloka selalu tersebut dalam obrolan saya bersama teman-teman traveler yang datang ke Kota Ende maupun ke tempat lain di Pulau Flores.


Bayangkan saja, Harrison Hotel yang baru dibuka di Kota Ende, tepatnya di Jalan Kelimutu, sudah ada informasinya di Traveloka.

Ternyata, pada pertengahan tahun 2019 Traveloka yang terkenal dengan tiket pesawat, hotel, sampai transportasi lokal (kota tujuan) ini pun mengepakkan sayap jauh lebih lebar melalui Traveloka Xperience.

Apa itu Traveloka Xperience?

Marilah kita kenalan!

Traveloka Xperience


Kalau kalian sudah terbiasa mengidentikkan Traveloka hanya dengan tiket pesawat, tempat menginap, dan transportasi lokal saja, sekarang saatnya kalian kenal Traveloka Xperience. Traveloka Xperience dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup masyarakat yang semakin ke sini semakin meningkat. Sehingga, produk Traveloka yang satu ini tidak saja dikhususkan hanya untuk para pejalan yang pasti Alhamdulillah banget karena semakin dimudahkan, tetapi untuk siapapun! Bayangkan saja, kalian bisa peroleh informasi tentang event tertentu, festival misalnya, di tempat kalian berada hanya dengan sekali klik.

Traveloka Xperience mempunyai banyak layanan produk, aktivitas liburan, dan gaya hidup di sekitar Asia Tenggara. Apa saja jenis layanannya? Cekidot!


Ada dua belas layanan Traveloka Xperience seperti yang bisa kalian lihat pada gambar di atas: Attractions, Movies, Events, Entertainment, Sports, Beauty & Spa, Playgrounds, Transports, Tours, Travel Essentials, Food & Drink, Classes & Workshops. Jadi jelas kan, siapapun bisa memperoleh informasi dari dua belas layanan di atas.



Waktu saya membuka Traveloka Xperience, langsung disajikan Activities Near You. Eh, terpampang nyata informasi menjelajah Danau Kelimutu. Bayangkan jika per orang dipatok mulai dari Rp 340.000 saja (1 grup, 5 orang) dengan pengalaman luar biasa menjelajah danau tiga kawah dengan tiga warna yang menjadi ikon Kabupaten Ende itu.

Berlatar Danau Kelimutu.

Dakutatae, tugu mini tempat ritual Pati Ka Ata Mata.

Perlu kalian ketahui Danau Kelimutu berjarak sekitar 2,5 jam dari pusat Kota Ende. Selain menawarkan atraksi wisata utama yaitu tiga kawah Gunung Kelimutu dengan tiga warna berbeda yang sering berubah-ubah tergantung kerja mikro organisme di dalamnya, banyak atraksi wisata lainnya yang ditawarkan seperti ritual Pati Ka Ata Mata (memberi makan leluhur) yang diselenggarakan setiap Bulan Agustus.





Ini kan super sekali, sehingga apabila teman-teman traveler datang ke Kota Ende dan hendak pergi ke Danau Kelimutu tetapi sayanya sedang berada di luar kota alias sedang tidak berada di Kota Ende, mereka bisa langsung buka Traveloka Xperience dan mencari informasi di sana, sekaligus bisa memanfaatkan layanannya. Siapa yang tidak mau coba kalau mendapat kemudahan semacam ini? Zaman sekarang semua serba mudah. Keliling Pulau Flores pun jauh lebih mudah. Bye bye rempong! 

Keunggulan Traveloka Xperience


Selain #XperienceSeru, xperience jadi seru, banyak keunggulan Traveloka Xperience ini. Mau tahu? Marilah kita cek ...



Ribuan Pengalaman di Seluruh Dunia Disesuaikan dengan Gairah Penggunanya. Dari konser hingga film, hingga spa, juga taman hiburan, hingga tur dan berbagai kegiatan pengayaan lainnya. Pengguna dapat menemukan pengalaman yang sesuai dengan passion-nya dengan mudah.

Kebebasan untuk Memilih Metode Pembayaran. Cukup pilih salah satu opsi pembayaran kami sesuai dengan kebutuhan penggunanya untuk menikmati lebih banyak kebebasan dan fleksibilitas dengan travelokaPay!

Pemesanan Cepat dan Mudah Kapan Saja Di Mana Pun. Pengguna dapat menikmati lebih banyak momen bersama dengan konfirmasi instan. Tidak perlu antri di beberapa tempat wisata favorit dengan Traveloka Easy Access!

Tidak Perlu Kuatir. Layanan pelanggan dapat diakses 24/7!

⇜⇝

Setelah membaca informasi tentang Traveloka Xperience di atas, dengan dua belas jenis layanannya, apa yang ada di pikiran kalian? Kalau saya sih cuma satu: mudah. Satu aplikasi dengan banyak layanan. Satu aplikasi dengan banyak kemudahan. Satu aplikasi yang mudah dibawa karena sudah jelas pasti dipasang di smartphone yang juga kita bawa ke mana-mana. Kalau boleh saya tulis, Traveloka akhirnya seperti pisau wajib yang dibawa para traveler: Swiss Army Knife. Atau, Traveloka akhirnya seperti keril pada pendaki gunung yang memuat segala kebutuhan. Kalau sudah begini, jadi sulit pindah ke lain hati.

Yuk ah ...



Cheers.

Mengenali Toxic Workplace dan Cara Menghadapinya

Mengenali Tempat kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) dan Cara Menghadapinya

Jangan sampai lingkungan kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) merusak masa depan Anda.

Pada dasarnya semua pekerjaan memiliki tingkat stres. Namun, jika saat berangkat bekerja (atau hanya membayangkan berangkat) sudah membuat Anda lelah, tertekan, atau bahkan tidak enak badan atau sakit, sadarilah bahwa itu lebih dari sekadar tekanan kerja biasa; itu sudah merupakan gejala awal dan tanda-tanda lingkungan kerja yang tidak sehat.

Ciri-ciri lingkungan kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) 

Tempat kerja yang tidak sehat dapat diartikan sebagai lingkungan kerja apa pun di mana pekerjaan, suasana, atmosfer, orang-orang, atau kombinasinya itu menyebabkan gangguan serius pada kehidupan Anda.

Gangguan ini dapat muncul dalam sejumlah gejala fisik, menurut sebuah artikel baru - baru ini oleh pelatih dan profesor perilaku manusia Melody Wilding. Gejalanya termasuk "gangguan tidur, merasa selalu waspada, telapak tangan berkeringat, dan jantung yang berdetak cepat melebihi normal."

Terlebih lagi, tempat kerja yang tidak sehat atau bermusuhan memiliki dampak kesehatan negatif yang dapat memengaruhi kehidupan pribadi Anda dengan "merusak semuanya, mulai dari harga diri hingga kehidupan sosial Anda," kata Wilding.

Tubuh kita memiliki kecerdasan instingtif untuk memberi tahu bahwa ada gangguan atau "bahaya" yang mengganggu, kita perlu peka dan tidak mengabaikannya tanda-tanda yang dikrim oleh tubuh. Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri beberapa pertanyaan ini:

Bagaimana tidurmu? Apakah Anda secara teratur dapat tidur nyenyak atau setidaknya tidur yang cukup selama delapan jam?

Bagaimana kebiasaan makanmu? Apakah Anda sering terlalu stres atau tidak punya waktu untuk makan, atau apakah Anda cenderung makan berlebihan?

Apakah Anda merasa nyaman di rumah dan aman di tempat kerja?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu bersifat negatif, maka inilah saatnya untuk menilai lingkungan kerja Anda dan memeriksa lebih jauh apa yang sebenarnya menyebabkan kesehatan dan kesejahteraan Anda terganggu.
Mengenali Tempat kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) dan Cara Menghadapinya

Indikator lingkungan kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) 

Ini adalah beberapa indikator kuat bahwa Anda berada di lingkungan kerja yang tidak sehat:
  • Karyawan yang tidak sehat: Tempat kerja yang tidak sehat menyebabkan karyawan cepat kelelahan, keletihan, dan penyakit yang disebabkan oleh tingkat stres yang tinggi yang mendatangkan berbagai keluhan pada tubuh. 
  • Atasan Yang Narsis: Yaitu atasan yang selalu menuntut Anda agar selalu setuju dan menganggap bahwa mereka selalu benar, serta dapat mengabaikan aturan-aturan. Mereka mengharapkan karyawan menjadi taat dan sempurna sementara mereka dapat melanggarnya.
  • Rendah Bahkan Tidak Adanya Antusiasme: Lihatlah ke sekeliling kantor. Adakah dapat terlihat ekspresi kebahagiaan karyawan yang bekerja di sana? Adakah yang tersenyum? Apakah ada percakapan positif dan keceriaan? Adakah suasana yang menyenangkan? Jawaban "Tidak" atas pertanyaan-pertanyaan tadi patut diperhitungkan.
  • Komunikasi yang kurang atau Komunikasi Negatif: Anda dan orang lain tidak mendapatkan informasi yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan Anda. Anda bekerja keras tanpa umpan balik positif dan tanpa pengakuan atau pujian komplimen yang wajar, atau Anda bahkan mungkin sama sekali tidak dianggap?.
  • Sering Berganti Personil: Ketika seseorang masuk ke dalam lingkungan kerja yang tidak menawarkan apa-apa selain jalan buntu, moral kerja yang rendah, dan tidak menyehatkan, orang akan selalu berusaha keluar dan mencari yang lebih baik. Jika Anda melihat tingkat keluar masuk dan pergantian personil yang tinggi di perusahaan atau departemen Anda, anggap itu sebagai salah satu tanda tempat kerja yang tidak sehat.
  • Gank, Gosip, dan Rumor: Semua orang tampaknya hanya bekerja untuk diri mereka sendiri, tidak ada kerjasama dan persahabatan di antara para karyawan. Ada banyak pertikaian, persaingan kelompok serta gosip dan rumor.
Selain daftar di atas, percayalah pada insting dan perasaan Anda jika  merasakan ada sesuatu yang "tidak wajar" pada tempat kerja Anda
Setelah Anda tahu apa yang Anda hadapi, saatnya untuk mengembangkan strategi yang dapat membantu Anda tetap waras dari hari ke hari.
Mengenali Tempat kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) dan Cara Menghadapinya

Cara menangani lingkungan kerja yang tidak sehat

Karena butuh waktu untuk mencari pekerjaan yang baru dan Anda tidak bisa langsung meninggalkan situasi sulit ini begitu saja, ada baiknya Anda mengembangkan strategi untuk menangani lingkungan seperti itu hingga Anda mendapatkan pekerjaan yang baru di tempat lain:
  1. Temukan orang yang merasakan hal yang sama dengan Anda. Kembangkan persahabatan dengan orang-orang yang merasakan hal yang sama seperti Anda. Harapannya adalah Anda akan saling mengawasi dan akan berbagi berita apa pun dengan kelompok tersebut.
  2. Lakukan sesuatu setelah bekerja yang dapat membantu menghilangkan stres. Pergi ke kafe, olah raga di rumah, atau pelajari keterampilan baru. Kuncinya adalah memastikan Anda menjalani kehidupan yang memuaskan di luar pekerjaan untuk memerangi drama di tempat kerja Anda.
  3. Buat daftar untuk membuat diri Anda sibuk. Daftar kegiatan yang dapat membantu Anda tetap fokus pada tugas-tugas Anda alih-alih terlibat drama dalam lingkungan yangtidak menyehatkan sehingga dapat memberi Anda alasan untuk terus bekerja setiap hari.
  4. Dokumentasikan semua yang Anda lakukan. Simpan email dan tulis komentar dan keputusan dari rapat, panggilan telepon, dan setiap orang yang berinteraksi dengan Anda. Jika Anda perlu mengajukan keluhan, Anda perlu bukti untuk mendukung aksi Anda.
  5. Persiapkan strategi keluar Anda. Ada kemungkinan hal-hal akan membaik di lingkungan kerja Anda, jika demikian maka itu adalah alasan yang masuk akal untuk tetap bertahan. Namun, sambil menunggu, mulailah mencoba melihat-lihat lowongan dan mulai mencari pekerjaan baru. Ini akan membantu Anda tetap positif ketika segala sesuatunya menjadi lebih buruk. Jika Anda harus pergi secepatnya, pertimbangkan pekerjaan sambilan yang akan membuat Anda tetap aktif saat Anda belum menemukan pekerjaan baru yang sesuai dengan karier dan cita-cita Anda.
Cara paling praktis untuk tidak terjebak ke dalam lingkungan kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) ya jangan sekali-sekali masuk, kalau pun sudah terlanjur masuk maka segeralah keluar sebelum merusak segala yang baik di diri Anda. Apapun yang mengorbankan kedamaian hati, maka itu terlalu mahal, karena tidak ada yang lebih berharga dari kedamaian hati yang dapat membuat hidup bahagia. "Anything that costs you your peace is too expensive."


Anything that costs you your peace is too expensive

Mengenali tanda-tanda lingkungan kerja yang tidak sehat dan cara menanganinya akan memungkinkan Anda mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai situasi dan waktu Anda. Semoga pekerjaan Anda berikutnya adalah lingkungan yang benar-benar Anda idamkan untuk bekerja. 


-----------------------
Artikel ini adalah artikel terjemahan bebas dari: Signs You’re in a Toxic Work Environment and How to Handle It.



Rerun – Episode 5: Puty dan BuIbu Baca Buku Book Club

Kali ini kita rerun salah satu episode favorit kita. Gimana nggak favorit? Tamu kita ini pemenang Emmy Award loh. Dengerin aja. Dia akan cerita tentang pengalamannya sebagai ilustrator buku, tentang buku-buku karyanya dan juga tentang sebuah klub baca buku yang anggotanya ibu-ibu super kece dan keren 🙂 Makasih lagi ya buat Puty Puar dan @bbbookclub. Kapan kita rekaman bareng lagi?

Selamat mendengarkan!



Episode ini bisa juga didengarkan di:

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

 

Buku yang Dibahas di Episode ini:

Tentang Tamu kali ini:


Kepo Buku adalah:

Follow akun Instagram Kepo Buku di Instagram.com/KepoBuku

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku atau ke 087878505012
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

-rh-

 

 

Rerun – Episode 5: Puty dan BuIbu Baca Buku Book Club

Kali ini kita rerun salah satu episode favorit kita. Gimana nggak favorit? Tamu kita ini pemenang Emmy Award loh. Dengerin aja. Dia akan cerita tentang pengalamannya sebagai ilustrator buku, tentang buku-buku karyanya dan juga tentang sebuah klub baca buku yang anggotanya ibu-ibu super kece dan keren 🙂 Makasih lagi ya buat Puty Puar dan @bbbookclub. Kapan kita rekaman bareng lagi?

Selamat mendengarkan!



Episode ini bisa juga didengarkan di:

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

 

Buku yang Dibahas di Episode ini:

Tentang Tamu kali ini:


Kepo Buku adalah:

Follow akun Instagram Kepo Buku di Instagram.com/KepoBuku

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku atau ke 087878505012
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

-rh-

 

 

5 Perkara Yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan


5 Perkara Yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan. Tumben menulis ini. Memang. Adalah sangat di luar kebiasaan. Saya sendiri juga kaget kenapa mendadak ide ini muncul di kepala pada saat listrik padam, sehingga terpaksa drafnya saya tulis di aplikasi catatan smartphone, karena kuatir idenya menguap. Mungkin karena akhir-akhir ini linimassa media sosial, terutama Facebook, selain dipenuhi status dan share artikel demo RKUHP juga dipenuhi status dan artikel tentang bagaimana seharusnya membina hubungan. Mungkin juga karena selama hampir tujuh bulan terakhir saya memperbaiki dan mengasingkan diri dari perkara-perkara yang mengganggu pikiran dan perasaan. Mungkin. Artinya, tidak pasti.

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo

Tulisan ini adalah tentang diri saya sendiri sebagai seorang perempuan. Perempuan lain mungkin juga butuh membacanya. Refleksi? Bukanlah. Curhat? Ah, Presiden Negara Kuning males curhat hahaha. Apa ya? Terserah kalian mengapresiasinya sebagai apa. Anyhoo, hubungan yang saya maksudnya di sini adalah hubungan asmara. Hubungan asmaranya pun antara lelaki dan perempuan. Kita sepemahaman dulu tentang ini.

Mari lah dimulai.

1. Hubungan Itu Tentang Chemistry


Saya sadari betul. Hubungan itu tentang chemistry. Tentang percikan kimiawi antara dua insan. Tanpanya, jangan coba dipaksakan. Dengannya, beranilah mencoba meskipun duri-duri melukai sampai berdarah-darah. Saya pernah berpikir bahwa lelaki yang bakal menciptakan percikan bersama saya itu harus setampan Orlando Bloom, sekharismatik Richard Gere, sekaya Bill Gates, atau yang jago sihir kayak Harry Potter. Ternyata ... Tidak. Karena chemistry itu sesuatu yang abstrak. Dia muncul bukan akibat dari fisik dan harta benda semata. Ada x-factor yang menyebabkan chemistry itu tercipta. Percayalah, saya sudah pernah melewatinya.

Bagi saya, chemistry itu tentang butterflies in my stomach. Tentang rindu yang tak terbantahkan. Tentang pertanyaan: who the hell are you? Tentang logika yang menguap. Tentang pandangan realistik yang tiba-tiba upside down sampai saya sepertinya tidak mengenal diri saya sendiri. Tentang rasa nyaman ketika bersamanya, face to face in real life maupun face to face by video call. Saya percaya, chemistry itu kekuatan paling dasar dari sebuah hubungan. Seperti lirik lagunya Babyface dan Des'ree. Fire. 

2. Hubungan Itu Tentang Kepastian


Ada lelaki yang tidak suka tentang hal ini. Menetapkan tanggal atau bulan jadian, misalnya. Tapi perempuan, terutama diri saya pribadi, harus punya tanggal jadian (oke, kita pacaran dan saling mengikatkan diri). Tanpanya, saya atau perempuan di luar sana bakal merasa oleng. Sepele memang, tapi percayalah, ini cukup penting. Ada teman yang bilang, pikiran ini muncul di benak saya gara-gara belajar hukum khususnya Hukum Perdata. Tidak juga ... sejak belum mengenal dunia hukum pun saya sudah punya pikiran seperti ini.

Bayangkan saja, jika ada pertanyaan: kapan kalian jadian? Lebih parah pertanyaan: kapan kalian menikah? Terus jawabnya: yaaa eeerrr ya itu tahun lalu entah kapan mendadak sudah jadian, pokoknya gitulah. Atau: mendadak saja kami sudah jadi suami isteri. Haha.

Kapan Indonesia merdeka?
Kapan pelantikan DPR?
Kapan WHO berdiri?

3. Hubungan Itu Tentang Komunikasi


Pentingkah komunikasi dalam sebuah hubungan? Bukankah saya milik kau, kau milik saya, sudah cukup? Bele (Om/Paman), saya bilang ya, komunikasi itu mahapenting meskipun tidak harus maharomantis. Komunikasi tidak perlu harus ada kata 'sayang' dan 'I love you' di dalamnya. Komunikasi, saling bercerita tentang kehidupan masing-masing, selera, warna favorit, kebiasaan, do and don't, keinginan masing-masing apabila hubungan ini diteruskan, bahkan keluarga. Perlulah ini dilakukan. Agar saling tahu baik buruknya. 

Kalau boleh saya tulis, komunikasi adalah jembatan penyeberangan perasaan dua insan yang sudah mau saling mengikatkan diri dalam suatu hubungan. Percayalah, dari komunikasi kita jadi tahu banyak tentang pasangan, yang selama ini mungkin hanya kita ketahui dari omongan dan bisik-bisik orang lain. Bukankah komunikasi juga merupakan elemen penting, secara umum, kehidupan umat manusia? Tanpanya, Upin Ipin takkan bisa belajar di Tadika Mesra. Haha.

Dan, tentu saja, komunikasi adalah penawar dari rindu yang tumpang tindih.

4. Hubungan Itu Tentang Saling Mengerti


Kata 'saling' ini harus diperhatikan. Karena, kadang lelaki mau dimengerti terapi tidak mau mengerti perempuan. Demikian pula sebaliknya, kadang perempuan hanya mau dimengerti tanpa mau mengerti si lelaki, gara-gara keseringan dengar lagunya Ada Band - Karena Wanita Ingin Dimengerti. Oleh karena itu, perhatikan kata 'saling'. Saling mengerti. Saat lelakinya sibuk, perempuan harus bisa mengerti. Demikian pula saat perempuanya sibuk, lelaki harus mengerti. Terutama jika keduanya sama-sama punya tingkat kesibukan super tinggi.

Tapi ingat, jangan pernah mengerti terhadap pasangan yang selingkuh. Itu kedunguan tingkat dewa. Oh saya sangat mengerti pasangan saya jadi saya ijinkan dia selingkuh. Mengertilah apabila dia tidak bisa menghubungi terus-menerus. Mengertilah apabila dia harus mementingkan keluarga dan teman-temannya terlebih dahulu. Mengertilah apabila dia harus tunduk pada atasannya karena di situlah sawah dan ladangnya.

Sebagai perempuan, tentu saya atau kalian ingin bisa mengerti si lelaki. Dan saya ingin semua orang mengerti bahwa apabila hubungan baru sampai tahap pacaran, janganlah meminta semua waktunya. Karena, sebelum mengenal kita dia sudah lebih dulu mengenal orangtuanya, kakak adiknya, keluarganya, tetangganya, teman-temannya. Apalah kita yang datang di pertengahan hidupnya? Makanya, saya paling anti sama pacar dan/atau isterinya teman yang suka menghalangi pertemanan atau persahabatan. Hei, kalau saya mau, sudah dari dulu saya kawin sama lakimu itu. Hahaha. Bercandaaaaa.

5. Hubungan Itu Tentang Harapan Bersama


Harapan sebuah perselingkuhan akan menimbulkan masalah besar. Pasangan si dia pasti tidak bisa menerimanya. Tapi harapan dua orang yang berpacaran dan/atau ta'aruf, dengan kondisi sama-sama bujang, itu pasti ada. Mana ada manusia yang maunya pacaran terus tanpa punya harapan duduk di pelaminan dan membina rumah tangga. Jadi tidak salah kalau saya menulis, hubungan itu tentang harapan bersama. Harapan ini dapat tercipta apabila telah lebih dulu tercipta chemistry, kepastian, komunikasi, dan saling mengerti.

⇜⇝

Setelah menulis semua di atas, lalu membacanya kembali, saya merasa lucu. Betul-betul ini sebuah ide yang tidak biasa untuk pos blog ini, tapi ide yang biasa untuk catatan pribadi di T-Journal. Meskipun tulisan ini adalah tentang saya pribadi, sebagai seorang perempuan yang belum menikah, namun ini berlaku untuk semua orang: lelaki dan perempuan. 

Baca Juga: 5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat

Kadang-kadang, ketika menjalani sebuah hubungan, kita berkata dalam hati: jalani saja dulu, biarkan mengalir, nanti juga mentok. Saya bertemu dan belajar dari seseorang yang menolak mentah-mentah kalimat 'jalani saja dulu'. Baginya, tidak ada kata jalani saja dulu. Apabila chemistry sudah tercipta, maka dia akan sungguh-sungguh melakoninya. Setelah lama saya pikir-pikir, ada benarnya. Jalani saja dulu itu semacam keputusasaan tanpa usaha untuk menjadikannya jadi. Atau, jalani saja dulu itu semacam ketidakpastian. Jalani saja dulu ... nanti kalau cek-cok pisah saja. Amboi, perasaan itu kalau bisa bicara dia bakal memaki kita hahaha.

Sekian dulu ya. Feel free kalau mau komentar.

Semoga bermanfaat :)

#KamisLima




Cheers.

Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah


Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah. Sudah berapa lama saya mengenal komunitas bernama Anak Cinta Lingkungan (ACIL)? Sudah sangat lama. Sebenarnya maksud hati ingin turut terlibat di dalamnya tetapi kesibukan pekerjaan dan urusan ini itu memang sangat tidak bisa mentolerir. Sedih? Iya. Makanya saya memutuskan untuk solo karir, maksudnya saya tidak terlalu terlibat dalam komunitas manapun, kecuali Stand Up Comedy Endenesia. Kenapa? Karena Stand Up Comedy Endenesia merupakan komunitas dengan konsep yang benar-benar beda dari banyak komunitas yang pernah saya ikuti selama ini. Selain itu tingkat kegiatannya pun tidak terlalu padat, selain lomba setiap Jum'at ada open mic, sehingga tidak terlalu dipermasalahkan apabila saya absen, kan saya bukan komika. Hehe.

Baca Juga: Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa

Kembali ke ACIL. Karena hari ini #RabuDIY, maka tidak ada salahnya saya menulis tentang Komunitas ACIL Ende, atau ACIL (saja). Apa dan bagaimana ACIL? Silahkan dibaca sampai selesai, siapa tahu bisa membawa inspirasi bagi kalian. 

A C I L


Sudah lama tahu ACIL, tapi alangkah lebih bagus informasi tentang ACIL saya peroleh langsung dari salah seorang pengurusnya. Dari blog-nya Abang Iskandar Awang Usman, saya peroleh informasi tentang ACIL. Komunitas yang berkonsentrasi pada anak dan lingkungan ini didirikan pada Rabu, 4 Desember 2013 dengan basecamp di Jalan Adi Sucipto RT/RW 02/08, Ippi, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende. Sayangnya tidak ditulis memang siapa-siapa pendiri dan pengurusnya. Tetapi jelas saya tahu sebagiannya, seperti Abang Umar Hamdan sang ketua, Abang Iskandar, Abang Antho, Filzha, dan lain-lain yang namanya tidak saya tulis karena kuatir salah.


Foto di atas, waktu penyerahan bantuan mantel hujan anak-anak dari Relawan Taman Bung Karno Ende kepada ACIL. Dari saya belum berhijab sampai berhijab, sudah melekat sama ACIL. Haha.


Sampai saya sudah berhijab, main ke markas ACIL, waktu itu kita dari Komunitas SOSMED Ende memang pengen berbagi, bermain, dan belajar bersama anggota ACIL yang rata-rata anak-anak usia TK sampai SMP. Kalau sudah SMA dan/atau lewat dari itu, boleh donk jadi pengasuh juga (silahkan daftar).

Mari cerita-cerita dulu tentang ACIL. Dulu saya pernah ikut kegiatan ACIL di halaman belakang rumah Wakil Bupati Ende, Bapak Djafar, di Jalan Soekarno. Dari situ saya jadi tahu bahwa ACIL yang beranggotakan anak-anak itu punya kegiatan rutin setiap hari Minggu, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Markas mereka di Ippi itu merupakan rumah yang dihuni oleh Abang Umar Hamdan sekeluarga yang pada bagian halamannya didirikan saung kreatif. Saung ini berisi rak-rak buku, dan aneka barang kebutuhan belajar bersama. Dari situ ragam kegiatan ACIL lainnya berlangsung.


Kegiatan-kegiatan ACIL yang saya rangkum dari pandangan mata *cieee* antara lain belajar -  membaca - bermain edukatif di saung baca mereka, penanaman bibit atau pembibitan pohon dan tanaman lainnya, penghijauan, bersih-bersih sampah di titik-titik yang ditentukan, pemilahan sampah, hingga daur ulang sampah. Bukan cerita baru, kemudian, apabila Abang Umar dan kawan-kawan sebagai pengurus dan pengasuh ACIL diminta menjadi narasumber dengan materi utama sampah dan pengelolaannya. Kami pernah pula sama-sama menjadi pemateri dalam kegiatan #EndeBisa dengan goal utama #EndeKreativitas, #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, #EndeSocMed4SocGood, #EndeBerwirausaha.


Rasanya pengen kembali ke aula SMKN 1 Ende dengan ribuan pesertanya itu. Hahaha.

ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah


Komunitas yang berkonsentrasi pada masalah sampah ada banyak. Tapi yang betul-betul tuntas dengan masalah sampah ini saya baru melihatnya dalam tubuh ACIL. Mereka tidak saja memberi contoh lewat aksi bersih-bersih sampah, tetapi juga mengedukasi masyarakat, serta melaksanakan kewajiban moril untuk mendaur ulang sampah. Waktu berkunjung ke markas ACIL saya tahu bahwa proses daur ulang ini dilakukan oleh semua anggota ACIL baik anak-anak maupun pengasuh/pengurus, serta pendamping hidup mereka. Seperti isterinya Abang Umar. 

Sampah yang didaur ulang terjadi setelah proses pemilahan. Umumnya sampah plastik akan dikumpulkan dan dibersihkan agar dapat didaur ulang. Waktu berkunjung ke sana saya sempat fotoin barang-barang daur ulang yang bejibun itu tetapi saya file fotonya entah di mana. Untung saya masih bisa mendapatkan foto-foto yang dulu dipos Abang Nurdin di Facebook.




Sampah plastik, juga kertas, didaur ulang menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi dari bentuk semula. Apa saja hasil daur ulang itu? Pada gambar di atas kalian bisa melihat ada miniatur rumah adat, tempat penyimpanan file, dan tas selempang. Selain itu masih banyak produk lainnya seperti tempat sepatu gantung, dompet, keranjang, hingga tudung saji. Apa saja yang bisa didaur ulang, ditambah percikan kreativitas, maka produk daur ulang pun tercipta. Produk-produk itu pun dijual, hasilnya ditabung di tabungan ACIL, dan bakal digunakan untuk keperluan kegiatan ACIL itu sendiri. Ini kan keren.


Foto di atas, Abang Umar tidak sadar saya potret dari belakang saat kegiatan penghijauan di Pantai Anaraja. Dia memakai tas selempang daur ulang. Tas yang sama juga dia pakai saat menghadiri Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay Sabtu lalu. Konsisten! Mereka selalu memberi contoh, tidak hanya sekadar bicara. Si Filza juga sering banget pakai tas ini. Kan saya jadi pengen punya juga. Hahaha.


Sedangkan foto di atas, saya sedang mencoba alat pungut sampah #DIY yang dibikin oleh Abang Iskandar. Ah, mereka sangat kreatif. 

Mengurangi, Bukan Menghilangkan


Ini yang juga penting dibahas. Melalui kegiatan-kegiatannya, termasuk menjadi pemateri/pembicara dalam seminar tentang sampah, sudah jelas Abang Umar dan kawan-kawan berusaha menanamkan konsep Reuse, Reduce, Recycle atau 3R. Kalau di-Indonesiakan menjadi pakai ulang, kurangi, daur ulang. Konsep itu merupakan konsep global yang digaungkan di mana-mana. Karena, manusia sebagai penikmat semesta tidak bisa menutup satu pintu. Menutup satu pintu sama dengan menghancurkan pintu lainnya.

Bingung?

Mari saya jelaskan.

Plastik tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan manusia alias manusia tidak bisa berhenti begitu saja dari yang namanya plastik. Bila itu terjadi, hutan yang menjadi korban. Itu pasti. Contoh paling sederhana saya lihat dari sumpit yang ada di rumah. Sumpit itu terbuat dari plastik dan dipakai berulang-ulang. Bayangkan bila sumpit semata-mata terbuat dari kayu. Coba kalian bayangkan sendiri. Mautak mau kita harus sepakat bahwa plastik masih memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat Indonesia. Sama juga dengan contoh sebuah rumah makan yang menyiapkan sarung tangan plastik kepada pelanggannya dengan alasan hemat air. Air memang hemat, sampah plastik tambah banyak.

Di Indonesia, rata-rata produk yang kita konsumsi menggunakan wadah plastik. Air galon, air minum kemasan, botol sampo, produk sasetan, produk isi ulang, taplak meja, baliho, barang rumah tangga, sampai karpeg pun berbahan plastik. Ada pula yang menggunakan kertas seperti bungkus sabun. Hal ini berbeda dari beberapa supermarket di luar negeri yang sudah menyediakan beberapa produk tanpa kemasan. Iya kah? Iya donk. Itu manfaatnya membaca. Hahaha. Jadi, pengelola supermarket menyediakan produk, misalnya minyak goreng dan/atau sampo, yang disimpan di dispenser khususnya. Pelanggan harus membawa botolnya sendiri dari rumah dan tinggal menakar sesuai kebutuhan. Asyik kan?

Jelas, plastik memang tidak bisa semerta-merta hilang dari kehidupan kita. Bayangkan saja kalau mantel hujan terbuat dari koran. Hehe. Bijaknya adalah 3R tadi. 

Mengurangi sampah plastik sudah saya lakukan. Mungkin juga sudah kalian lakukan. Ya, saya selalu membawa botol minum ke mana pun pergi karena enggan membeli air minum kemasan. Selain berhemat, saya mengurangi sumbangan sampah plastik. Bahkan membeli barang di kios pun, kalau barang itu bisa masuk ransel, saya menolak diberikan kresek oleh penjualnya. Sederhana, memang. Dan saya bahagia menjalaninya. 

Mendaur ulang sudah saya lakukan. Kalian tahu kan kalau pos #RabuDIY berawal dari kegemaran saya ber-DIY-ria. Mendaur ulang! Apa saja. Plastik termasuk di dalamnya. Pot-pot bunga, celengan, dompet receh, dan hiasan dinding merupakan beberapa barang daur ulang yang saya bikin. 



Memakai kembali produk plastik juga sudah saya lakukan. Meskipun sering menolak kresek dari para penjual, tetapi berbelanja di supermarket membikin ransel saya kepenuhan untuk diisi barang kebutuhan satu bulan. Oleh karena itu, plastik-plastik dari supermarket itu selalu kami simpan, bahkan ada kotak khusus, untuk nanti dipakai kembali. Memakai kembali barang plastik ini juga bisa dilihat dari pot bunga yang sebelumnya merupakan baskom kebutuhan dapur (yang kemudian retak/pecah).

⇜⇝

Kita semua bisa melakukannya: 3R. Asal ada kemauan. Mulai dari yang paling sederhana saja: membawa botol minum dan menolak kresek apabila barangnya bisa masuk ransel/tas yang kita pakai. Dari satu orang menjadi seratus orang ... bagus sekali ... sudah mengurangi begitu banyak sampah plastik di semesta ini. 

Baca Juga: Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca

Kembali ke ACIL. Saya salut sama pengurus/pengelolanya. Bagaimana mereka konsisten mendaur ulang sampah, itu patut diacungi jempol dan diberikan apresiasi tersendiri. Apabila kalian tidak bisa mendaur ulang sendiri, kumpulkan dan serahkan sampah plastik (tapi yang sudah dibersihkan ya) kepada ACIL, agar mereka yang mendaur ulang. Apabila kalian mau mendukung ACIL, boleh juga dengan membeli produk-produk DIY hasil daur ulang yang telah mereka bikin. Kenapa tidak?

Yuk, kurangi sampah plastik!

#RabuDIY



Cheers.

Teknik, Koreo, dan Seni Pada Sesi Foto Prewedding


Teknik, Koreo, dan Seni Pada Sesi Foto Preweding. Sudah lama sahabat yang sudah saya anggap adik sendiri, Mila Wolo, meminta bantuan untuk foto prewedding. Prewedding-nya Mila dan kekasihnya yaitu Aram Ismail, bukan saya. Kita sepemahaman dulu dalam hal ini. Hahaha. Adalah sesuatu yang sulit menyatukan waktu begitu banyak orang. Menyatukan waktu Mila dan Aram saja harus mundur dari minggu ke minggu. Maklum, Mila menetap dan bekerja di Kota Ende, Aram yang asli Ende menetap dan bekerja di Kecamatan Pulau Ende. Mereka dipisahkan air garam. Hehe. Sedangkan kami yang membantu terwujudnya sesi foto prewedding itu juga punya aktivitas dan kesibukan sendiri.

Baca Juga: Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik

Pada akhirnya kesepakatan itu tiba. Sabtu, 21 September 2019, kami melakukannya. Sesi foto prewedding, bukan melakukan yang lain. Siapa-siapa yang terlibat dalam kegiatan ini selain saya?


1. Anto Ngga'a.
2. Kiki Abdullah.
3. Thika Pharmantara.
4. Solihin.

Sebenarnya ada seorang lagi yang saya ajak tapi dianya tidak bisa. Atau tidak mau? Ah, entahlah. Pokoknya dia tidak ikut. Eh? Kok jadi ngotot menulis si dia ini? Ah, sudahlah. Saya dan Anto Ngga'a harus minta ijin di kantor, keponakan saya Kiki pun harus mengurus tiga ibu hamil terlebih dahulu di puskesmas, Solihin (calon suaminya Kiki) sedang free time, Thika sedang tidak kuliah. Mari berangkat! Ada beberapa lokasi yang disepakati, termasuk dengan wardrobe yang sudah saya susun dan sebarkan ke para anggota huru-hara ini.

Lokasi Andalan yang Tutup


Merupakan kebanggaan kami, Orang Ende, bisa foto prewedding mengenakan pakaian adat dan difoto di rumah adat (manapun). Pukul 10.30 Wita sepakat berkumpul di depan Museum Tenun Ikat yang berbentuk rumah adat/panggung itu. Ndilalah area Taman Renungan Bung Karno (yang bertetangga dengan) dan Museum Tenun Ikat ditutup total. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan masuk. Siapalah kami, rakyat jelata yang cuma sedang mencari lokasi foto prewedding. Lokasi andalan yang tutup ini mengantar kami ke Pantai Mbu'u. Sebuah pantai dalam perjalanan menuju Wolotopo. Cuuuuum!

Matahari Tengah Kepala


Sangat sulit bagi Anto mencari spot dan titik bidik terbaik. Pukul 11.00 seharusnya sudah mulai sesi foto, tetapi Kiki dan Solihin malah baru tiba di Pantai Mbu'u. Dan, Kiki tidak mau kedatangannya sia-sia. Dia harus merias si Mila terlebih dahulu. Pokokny! Apalah daya ... kami pun menunggu dengan tabah ... sambil meminta Thika menulis papan ini. Oh ya, papan mini ini saya pesan di Melky, mahasiswa yang KKN-PPM di Desa Ngegedhawe. Sebenarnya papan tulis (hitam) tapi dia sudah terlanjur membikin warna cokelat. Hajar saja.


Setelah menunggu sekitar setengah abad, Mila pun sudah selesai dirias. Mari kita memulai! Dan Anto semakin pusing kepala karena matahari sudah berada di tengah kepala alias sulit mendapatkan titik untuk membidik karena kami juga tidak membawa reflektor. Aslinya sih memang tidak punya reflektor, tapi kan kami bisa meminjam pada teman-teman fotografer. Ya sudahlah, semangat tidak boleh kendor. Mari kita abadikan!



Dari lokasi Pantai Mbu'u kami meluncur ke bakal kafe yang masih sedang dipersiapkan untuk dibuka. Lokasinya tidak jauh-jauh dari Pantai Mbu'u. Untungnya diijinkan untuk foto-foto di sana sama pemiliknya, cus kami menambal perut dengan menu-menu yang disiapkan sama yang punya gawe. Hahaha. Sambil makan, gantian mengarahkan gaya / koreo untuk Aram dan Mila. Gantian sama si Kiki.

Gedung Imaculata dan Pohon Tua


Gedung Imaculata, gedung bersejarah tempat Bung Karno mementaskan tonil-tonilnya, merupakan lokasi berikutnya. Lokasinya hanya lima langkah dari Pohon Tua (rumah saya). Tapi hari itu kami tidak mampir ke Pohon Tua terlebih dahulu melainkan langsung ke gedung tersebut. Dulu saya memang termasuk orang yang tidak setuju Gedung Imaculata dipugar 100% sampai kehilangan bentuk aslinya. Aaaah, siapalah saya. Haha. Yang penting sekarang bisa dinikmati oleh siapa saja.

Dan yang punya gawe malah sakit perut! Menunggulah kami *ngikik*.


Untuk sesi foto di Gedung Imaculata, make up harus diganti sama yang lebih tebal hahaha. Kiki kembali beraksi dan kami yang lain menunggu dengan sabar dan tabah. Huhuhu. Kasihan Anto belum makan ini, pikiran saya, tapi anaknya memang tidak rewel jadi santai saja. Kalau kata lagu, kasih sloooooow.


Lepas dari Gedung Imaculata barulah kami pulang ke Pohon Tua, sekalian makan siang, istirahat, untuk sesi berikutnya.


Lelah? Pasti. Sejak pukul 10.00 Wita hingga menjelang maghrib. Makanya foto di atas itu bukan di dalam ruangan sebenarnya melainkan di teras rumah saya haha.

Tekni, Koreo, dan Seni


Ini yang mau saya bahas di pos hari ini. Saya pernah memang foto prewedding orang lain. Tapi waktu itu fotonya tidak dengan pasukan lengkap dan harus menggunakan metode tertentu *tsah*. Manapula masih susah untuk mengkoreo (bahasanyaaaaa) yang punya gawe. Pada sesi foto yang ini, saya belajar banyak teknik, koreo, dan seni sebuah sesi foto prewedding. Lagi pula saya kan bukan fotografer. Apalaaaah saya ini.


Terbiasa mengabadikan momen pernikahan, misalnya, bukan berarti langsung bisa untuk melakukannya saat sesi foto prewedding. Teknik yang saya pelajari dari Anto sangat banyak: pencahayaan, komposisi ini itu, sampai ratio dan sudut pengambilan.

Dari teknik, kita bergeser ke koreo dan seni. Keduanya melekat erat. Mengarahkan calon pengantin dalam sesi foto prewedding tidak semudah saat membidik akad nikah, misalnya. Sesi foto prewedding membutuhkan sedikit drama pengarahan. Mungkin ada yang bakal bilang mudah saja, kan tinggal lihat di internet, lalu dicontohkan. Tidak semudah itu. Kita harus memperhatikan kondisi si calon pengantin juga. Apakah mereka siap untuk koreo ini itu? Kalau mereka siap, hajar saja, kalau tidak ... ya terpaksa diganti.

Di situ seninya. Lebih seni lagi kalau calon pengantinnya usil macam Aram, sering mencolek Mila, terus ngakak, terus diulang lagi. Begitu seterusnya.

Baca Juga: Jangan Hanya Tahu 2D Karena Animasi Itu Banyak Jenisnya

Ternyata, dari sebuah sesi foto prewedding saya belajar banyak hal. Komponen-komponen yang harus disiapkan sebelum sesi foto itu pun banyak: ragam properti pendukung, wardrobe, make up, lokasi, tukang bidik dengan skill mumpuni dan pandai membaca situasi, dan tentu yang punya gawe. Tanpa kehadiran si calon pengantin, apalah artinya sesi foto prewedding ini. Hahaha.

Bagaimana dengan kalian, pernahkah memotret prewedding teman juga? Bagi tahu yuk di komen.

#SelasaTekno



Cheers.

Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay


Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay. Dua minggu yang lalu saya menerima pesan WA dari seseorang yang nomornya belum tersimpan di telepon genggam. Sumpah, mau bertanya: ini siapa(?) saya sungkan, kuatir dibilang sombong. Lagi pula profile picture-nya bukan foto diri melainkan gambar Bunda Maria yang kemudian diganti dengan gambar Yesus. So I have no idea who is he/she. Isi pesan WA itu adalah lampiran draf kegiatan Festival Literasi Nagekeo 2019. Sampai orang itu mengiriman revisi draf kegiatan dimaksud pun saya masih sungkan bertanya, lantas hanya bisa mengucapkan terima kasih serta janji bakal hadir pada malam Minggu.

Baca Juga: Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2)

Apa itu Festival Literasi Nagekeo 2019? Kenapa pula saya berjanji untuk hadir saat malam Minggu? Kalian kepo kah? Hahaha. Kalau kepo, hyuk dibaca sampai selesai!

Hari Literasi Internasional


Mari pukul mundur ke tahun 1965. Sumber Wikipedia menjelaskan bahwa Hari Literasi Internasional (International Literacy Day/ILD) atau Hari Aksara Internasional/Sedunia atau Hari Melek Huruf Internasional, yang diperingati setiap tanggal 8 September, merupakan hari yang diumumkan oleh UNESCO pada 17 November 1965 sebagai peringatan untuk menjaga pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas, dan masyarakat. Setiap tahun, UNESCO mengingatkan komunitas internasional untuk selalu dalam kegiatan belajar. Hari Melek Huruf Internasional ini diperingati oleh seluruh negara di dunia.

Nagekeo, Kabupaten Literasi.

Sedangkan dari Kompas, begini informasi yang saya peroleh: Melansir dari situs resmi UNESCO, tahun 2019 ini UNESCO akan memberikan penghargaan kepada program dan individu yang berjasa terkait literasi di seluruh dunia dalam tema "Literasi dan Multilinguaisme". Sejak tahun 1967, UNESCO telah memberikan rekognisi dan bantuan bagi lebih dari 490 proyek dan program di bidang literasi yang dijalankan baik oleh pemerintah, Organisasi Non-Pemerintah (LSM), maupun individu di seluruh dunia.

Tahun ini, UNESCO International Literacy Prizes terbagi menjadi dua jenis penghargaan yang akan diberikan kepada lima penerima, yakni: UNESCO King Sejong Literacy Prize, dimana penghargan ini diberikan untuk dua pemenang dengan program yang berfokus pada pengembangan dan pengunaan pendidikan dan pelatihan literasi bahasa ibu. UNESCO Confucius Prize for Literacy, penghargaan tersebut terbentuk pada 2005 atas dukungan Pemerintah Cina. Penghargaan ini diberikan kepada tiga pemenang dengan program yang mempromosikan literasi orang dewasa terutama yang berada di daerah pedesaan dan untuk remaja putus sekolah utamanya kaum perempuan Masing-masing pemenang akan mendapatkan medali, piagam penghargaan dan uang sejumlah 20.000 dolar Amerika Serikat.

Nge-blog merupakan salah satu cara berliterasi.

Jadi kita sepemahaman ya, bahwa Hari Literasi Internasional diperingati setiap tanggal 8 September. Kita juga harus sepemahaman bahwa, also from Wikipedia, bahwa Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. Sedangkan, menurut data dari Literasi Digital keluaran Internetsehat, secara umum yang dimaksud dengan literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten/informasi, dengan kecakapan kognitif maupun teknikal. 

Jadi, kalau bisa saya simpulkan, kegiatan literasi adalah kegiatan membaca, menggali informasi, mengelola/mengolah informasi, serta menyebarkan kembali informasi tersebut. Salah satunya dengan nge-blog. Salah duanya dengan mendongeng. Sala(h)tiga-nya di Pulau Jawa. Hehe.

Hari Literasi Nagekeo 2019


Kabupaten Nagekeo, dengan Ibu Kota bernama Kota Mbay, merupakan kabupaten yang sedang sangat getol membangun diantaranya membangun di ranah literasi. Bupati Nagekeo, Bapak Don, saat meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe berkata bahwa awalnya beliau kurang perhatian dengan urusan literasi ini, sampai kemudian beliau mengunjungi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Salemba - Jakarta, beliau menjadi sangat paham pentingnya literasi untuk pembangunan. Artinya, mencerdaskan masyarakat tidak hanya berkonsentrasi pada pendidikan akademik saja, tetapi harus diimbuh dengan berliterasi yang diperoleh/dilakukan di luar bangku sekolah/kuliah.

Oleh karena itu, kesimpulan saya, sampailah pada titik Kabupaten Nagekeo kemudian menggelar kegiatan akbar Festival Literasi Nagekeo 2019 selama empat hari, dimulai Jum'at (27 September 2019) sampai dengan Senin (30 September 2019. Dan saya, menyesuaikan dengan waktu kerja, baru bisa dan hanya bisa hadir pada malam Minggu (Sabtu, 28 September 2019).


Meskipun tiba di Kota Mbay pukul 12.00-an Wita, tapi saya baru bisa menuju Lapangan Berdikari, tempat kegiatan ini digelar, pukul 20.30 Wita. Alasannya karena masih menunggu keponakan saya, si Iwan. Tiba di depan Lapangan Berdikari, kendaraan baik roda empat maupun roda dua penuh di sisi kanan dan kiri jalan. Sementara itu dari panggung di dalam lapangan terdengar bunyi-bunyian dari alat musik tradisional, ada sekelompok penari sedang pentas. Bergegaslah kami berlima: saya, Iwan, Reni (isterinya Iwan), Andika dan Rayhan (anaknya mereka berdua).


Suasana di dalam Lapangan Berdikari mengingatkan saya pada Pameran Pembangunan yang dulu rajin banget dilaksanakan di Stadion Marilonga, Kota Ende. Itu, saat saya masih SD lah. Ada panggung hiburan/pentas seni sekaligus panggung perlombaan, ada stan-stan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Nagekeo juga stan dari kabupaten lainnya termasuk Kabupaten Ende, ada banyak pedagang mainan anak-anak dan balon hias, ada pula warung-warung dadakan dengan menu khusus daging domba, dan lain sebagainya. Pada stan-stan itu juga ada yang memamerkan sekaligus menjual tenun ikat khas Kabupaten Nagekeo baik lembaran besar maupun selendang mini/syal serta hasil kerajinan tangan lainnya.

Banyak Hal Menarik dan Tidak Terduga


Sangat tidak terduga karena saya bertemu mereka. Siapakah mereka?

Penggemar


Penggemar nih ye! Haha. Sampai disenyum-senyumin sama Iwan dan Reni. Kami memulai senang-senang malam itu dengan berkeliling stan yang ada di tepi Lapangan Berdikari. Saat kami tiba di stan Pariwisata Nagekeo, mendadak seorang ibu yang juga berdiri di situ meminta foto bareng saya.



Terima kasih, ibu, sudah mau foto bareng saya. Siapa pun ibu, saya tidak bermaksud apa-apa menulis penggemar, hanya bercanda. Hehe.

Mer Mola Neu


Ini keren. Tidak terduga, bisa bertemu Mer Mola Neu. Mer Mola Neu adalah young (woman) entrepreneur asal Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Provinsi NTT, dengan brand Sehelai & Renjana. Produknya banyak, antara lain tas berbahan tenun ikat, buku/notes dengan cover bergaya kedaerahan dari beberapa daerah di Pulau Flores, gantungan kunci, stiker, bahkan ada pula kripik. Stan mereka sangat menarik dengan baliho warna kuning bertulis Sehelai & Renjana. Tapi, dari semua produknya, saya paling demen sama buku/notes tersebut.


Sebagai Presiden Negara Kuning, sudah lama saya memesan buku / notes bersampul kuning dengan empat kosa kata bahasa daerah Nagekeo ini. Sudah dikirim ke Ende dan saya tinggal mengambil (dan bayar) di tempat drop. Tapi saya lupa alias kelupaan terus! Sampai-sampai saya memarahi diri sendiri yang terlalu sering lupa. Saat keliling stan di Festival Literasi Nagekeo 2019, bertemulah saya dengan stan milik anak muda kreatif ini. Meskipun Insha Allah saya akan kembali ke Kabupaten Nagekeo (Kota Mbay) untuk beberapa urusan, tapi saya tidak mau kehilangan kesempatan lagi untuk memiliki buku ini. Harus beli! Dibanderol Rp 40K sudah dapat tambahan satu gantungan kunci. Aye!

Tidak mungkin pula melewatkan kesempatan untuk berfoto bersamanya. Adalah kebanggaan bagi saya pribadi bisa bertemu dengan orang-orang muda hebat yang kreatif dan terus berkarya, menemukan inovasi-inovasi baru dengan menyertakan budaya dan kearifan lokal. Dari mereka pula budaya kita tetap lestari. Keren benar Mer dan Wilfrid ini. Tasnya juga keren, Mer *muka memelas, hahaha*.

Kalau kalian tanya, apa yang paling memuaskan saya sebagai si tukang jalan, jelas human interest-nya. Karena dari penduduk lokal kita pun BERLITERASI (membaca, mencari informasi, mengolah informasi, dan membagi informasi). Informasi yang kadang tidak terlampir di buku pariwisata paketan. Sama juga, kalau kalian membaca blog saya, seperti itulah informasi yang kalian dapat *sombong sikit sekalian promosi*. Jangan lupa kalian bertanya dengan nada sinis, emang penting saya ngegas dari Ende ke Mbay untuk bersileweran di Festival Literasi Nagekeo 2019? Tidak penting untuk kalian, tidak penting untuk saya. Tapi ... bermakna dan menambah khasanah hidup saya pribadi. Sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan Rupiah (kecuali Euro boleh lah) hahaha.

Abang Umar Hamdan dan Abang Iskandar Awang Usman


Waktu saya melihat pos Abang Umar Hamdan di Facebook bahwa dia sedang berada di lokasi Festival Literasi Nagekeo 2019, siang-siang begitu, pengen ngegas dari Towak ke Lapangan Berdikari, tapi masih pengen menikmati obrolan bersama keponakan. Janji ketemu malam saja sekalian.



Kami anak kembar yang kalau sedang berdiskusi macam orang sedang berantem. Sering pula kami bentrok. Tapi kami tidak pernah musuhan. Hahaha. Dewasa sekali dua orang ini kan? Oh ya, Abang Umar Hamdan bersama tim dari Anak Cinta Lingkungan (ACIL) tergabung dalam Forum Giat Literasi Kabupaten Ende (FGL). FGL digandeng oleh Perpusda Ende untuk bersama-sama mengisi stand mereka. Oleh karena itu tidak heran stan ini termasuk yang paling ramai terutama saat Kakak Ev dari Rumah Baca Sukacita berdongeng. Uh wow sekali. Sayang saya tidak sempat mengabadikan aksi Kakak Ev mendongeng.


Anak-anak adalah masa depan negeri ini. Sejak dini mereka sudah harus mengenal literasi itu seperti apa. Jauhkan mereka dari gadget, berikan kesempatan pada mereka menikmati dunia anak-anak yang sesungguhnya. Terima kasih teman-teman FGL Kabupaten Ende, terima kasih Perpusda Kabupaten Ende, kalian semua hebat dan bergaya!

Rossa


Di dalam WAG Alumni Smansa Ende, saya sempat bilang kalau ada teman yang sedang berada di Kota Mbay, ketemuan yuk di Lapangan Berdikari. Ndilalah saat sedang berkeliling saya dicolek seseorang. Haaaah???? Rossa!


Sahabat masa SMA. Tidak disangka ya, setelah haha hihi di WAG, malah ketemuan di Festival Literasi Nagekeo 2019.

Kegiatan Bermanfaat Yang Harus Berkelanjutan


Kita sering terbawa euforia pada suatu kegiatan, tapi kemudian kegiatan itu selesai. Tidak ada lanjutannya. Tapi saya berharap agar festival semacam ini harus terus berkelanjutan karena selama manusia berkembang biak, selama itu pula tunas-tunas muda manusia ada di muka bumi. Festival Literasi Nagekeo 2019 harus jadi entrance untuk kegiatan serupa di masa datang.

Kegiatan ini bermanfaat karena tidak saja berfokus pada dunia literasi itu sendiri tetapi banyak lini yang terlibat. Lihat saja, pada stan Kecamatan Boawae saya melihat ragam kerajinan tangan dipamerkan:



Kerajinan tangan ini salah satu dari kerajinan tangan jenis lain seperti tenun ikat, selendang, gantungan kunci tenun ikat, dan lain sebagainya. Selain itu, di dalam stan ini juga ada yang jualan minuman semacam kacang hijau dan es buah begitu.

Di atas saya sudah menulis bahwa ada para pedagang mainan anak-anak dan balon hias dan kuliner atau makanan lokal khas Kabupaten Nagekeo yang paling sering diburu yaitu daging domba. Dalam bahasa Nagekeo daging domba disebut nake lebu. Nake itu bahasa daerah untuk daging. Lebu ya domba. Ternyata sama juga dengan Orang Ende yang menyebut daging dengan nake.


Sayangnya, akibat trauma sama aroma daging domba beberapa saat lalu, saya tidak jadi makan malam di warung dadakan daging domba ini. Tapi tetaplah saya mau menyaksikan Festival Daging Domba pada Bulan November nanti!

⇜⇝

Jadi jelas, Festival Literasi Nagekeo 2019 telah mampu mengangkat dan mendukung banyak lini. Tidak hanya dunia literasi, tetapi juga menggeliatkan perekonomian masyarakat. Ada buku, ada dongeng, ada mewarnai, ada informasi tentang pengelolaan sampah dan hasilnya, ada hasil kerajinan tangan, ada yang jualan kopi Bajawa (dari Kabupaten Ngada), ada pula pedagang kaki lima, dan tentu saja warung dengan menu utama daging domba. Sekali lagi, kegiatan ini harus berkelanjutan.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

Malam itu kami menikmati makan malam di warung ayam lalapan, berdampingan sama tempat sablonnya Raiz Muhammad. Malam itu, saya juga tidak bertemu teman-teman lain seperti Novi Azizah dan Jane Wa'u (MC-nya). Tidak masalah. Yang jelas saya sudah menyaksikan sendiri Festival Literasi Nagekeo 2019. Saya sudah bersenang-senang dan menambah ilmu. Saya sudah bertemu banyak orang dan hal-hal yang tidak terduga. Saya sudah sayang kamu. Eh, saya sudah menambah khasanah untuk diri pribadi.

Sampai jumpa di festival-festival berikutnya!

Info:
Stan - berasal dari bahasa Inggris stand, tempat pamer/menjual barang.
Renjana - passion, hasrat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

#PDL Pernah Punya Asisten Gila Seperti Ocha dan Thika

#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***


#PDL Pernah Punya Asisten Gila Seperti Ocha dan Thika. Tahun 2018, saya diminta oleh Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra, Pak Roni Wolo, untuk memotret beliau bersama calon isterinya (sekarang sudah jadi isteri donk) alias foto prewed. Demi memuluskan aksi foto prewed itu, saya mengajak Ocha dan Thika Pharmantara menjadi asisten, buat bantuin ngangkut barang. Tidak disangka, saya melihat pemandangan ini. Ampun, Ocha, itu sisir nangkring manis di rambut. Haha. Ini namanya asisten setulus hati sepenuh jiwa.

Baca Juga: Ngumpulin Foto Kaki Sendiri Entah Mau Ngapain

#PDL



Cheers.

Coba deh pakai Ecolink, Lampu LED Ramah Lingkungan Paling Murah Di Indonesia


Bagi seorang yang hobi membuat Vlog alias youtuber,  saya kadang ingin mendapatkan hasil maksimal dengan menggunakan beberapa lampu LED yang terang. Namun,  beberapa lampu LED kadang sangat mahal dan tidak ramah dengan lingkungan. Menjawab keresahan saya,  kini hadir sebuah merek LED yang sangat ramah terhadap lingkungan yaitu ECOLINK.

"Kalau mau bikin studio yang bagus itu kayak apa sih?"

"Bikin yang sederhana aja sih di dalam kamar atau ruangan yang kosong."

"Kalau ruangan sih bisa pakai kamar aja sih tinggal setting dan kasih pernak pernik."

"Udah cukup kok kalau pakai kamar."

"Terus gimana sih caranya biar penerangan dalam ruangan itu bagus saat syuting Vlog?"

"Ya ampun bro itu mah gampang banget."

"Gampang?"

"Iya kamu tinggal pakai lampu LED deh,  pasti hasilnya cakep banget."

"Ya ampun, kok selama ini aku ngga kepikiran. Makasih ya bro."


Selama ini saya selalu berpikiran kalau untuk menghasilkan vlog yang bagus maka budget yang dikeluarkan untuk membuat studio itu bakalan cukup banyak banget. Ternyata itu sangat keliru,  saya tidak harus mengeluarkan banyak uang untuk menghasilkan studio. Salah satu caranya adalah menggantikan lampu studio yang sangat mahal dengan Lampu LED yang sangat murah.

Beruntung banget saya bisa hadir dalam launching Ecolink,  sebuah produk LED ramah lingkungan dan ramah bagi kantong anak muda atau bahkan ibu rumah tangga yang memiliki kebutuhan banyak lampu untuk usaha atau karena penerangan di luar rumah sangat kurang misalnya.


Signify Indonesia memperkenalkan produk lampu light-emitting diode (LED) dengan merek Ecolink yang ramah lingkungan. Lampu LED Ecolink sangat pas untuk sekmen rumah tangga menengah ke bawah dengan masa pakai hingga 15.000 jam.

Saat ini, Ecolink menawarkan rangkaian bohlam LED dan lampu downlight yang nantinya akan disusul oleh berbagai tipe lampu lainnya. Lampu LED Ecolink tersedia dalam dua varian warna: cool daylight (6500K) yang menyerupai warna sinar matahari, dan warm white (3000K).

Harga eceran untuk bohlam LED Ecolink berkisar dari Rp 15.000 hingga Rp 38.000, sedangkan downlight dipasarkan dengan harga Rp 43.000- Rp97.000, bergantung pada besaran wattnya. Produk-produk Ecolink hadir dengan garansi satu tahun dan tersedia di toko ritel tertentu.



Dengan munculnya produk Ecolink Lampu LED ini banyak banget yang mengharapkan distribusinya bisa sampai ke pelosok negeri yang membutuhkan lampu murah dan ramah lingkungan serta menjadi solusi apabila memiliki usaha kecil menengah yang membutuhkan banyak sekali konsumsi lampu LED.

Selain itu diharapkan banyak produk LED lain dengan teknologi canggih namun harganya sangat terjangkau.

Selamat membuat karya dan membantu pekerjaan kamu dengan ECOLINK yang ramah lingkungan.