Sensasi Menginap Di Kontainer HAU Citumang, Pangandaran


How Are You Citumang? Apa kabar hari ini? Sepertinya Citumang ingin menyapa kembali melalui alam yang indah dan sungai-sungainya yang jernih. Saya pun merindu dari dalam kalbu. Anggap saja saya lebay atau apapun itu, namun tak sedikitpun kerinduan ini ditutupi oleh keraguan. Dan, dari sinilah kisah HAU Citumang dimulai. 

Rencanannya dari Jakarta kami langsung naik kereta api menuju Kota Banjar, Jawa Barat. Saya dan Raisa aka Astari telah memesan tiket yang sama. Pukul 09.00 tepat kereta kami berangkat. Seharusnya kami berempat, namun dua orang dari Bogor belum memberikan kabar apapun. Tiba-tiba dari kursi sebelah kami muncul sosok seperti Khaerul. Dan, ternyata benar dia berada satu gerbong dengan kami. Sayangnya Teh Nita tidak dapat bergabung dengan kami. Saudara Teh Nita meninggal dunia, kami harus kehilangan satu travelmate


Kereta sempat berhenti beberapa kali di stasiun-stasiun yang menjadi rutenya. Saya sempat mengabadikan gerbong-gerbong kereta yang ditumpuk menjadi satu. Mungkin gerbong ini sudah tidak digunakan atau bahkan akan digunakan. Saya hanya kagum dengan keunikan tumpukan gerbong ini. 

Perjalanan ke kota Banjar ditempuh sekitar 8-9 jam dengan kereta ekonomi Serayu jurusan Purwokerto. Saya sempat membeli nasi 4 bungkus beserta gorengan, sementara Raisa membawa rendang. Maka lengkaplah piknik di kereta ini dimulai dari makan bekal bawaan kami. Pemandangan di luar sana sangat menyejukan, banyak pepohonan dan gunung disertai langit yang amat cerah. Menjelang siang, saya berusaha untuk menutup mata. Ternyata sangat susah mata ini untuk terpejam sebentar saja. Lagu-lagu dalam handphone pun sudah diputar berulang kali. 

Seharusnya sekitar pukul 5 sore kereta kami sudah sampai di Kota Banjar, namun karena terdapat kendala teknis, barulah sekitar jam 6 kurang, kami semuanya sampai di Banjar. Sambil menunggu rombongan dari Yogyakarta, kami pun rehat sebentar. Tak berapa lama kemudian, rombongan Yogyakarta pun sampai. Satu Elf dan mobil city car telah berada di luar. Kami pun langsung menuju HAU Citumang

Sesampainya di Citumang, sinyal mulai meredup. Bahkan di dalam kontainer pun, tidak ada satupun balok sinyal yang ditemukan. Jika ingin sinyal, kami harus ke area parkiran yang berada di depan pintu masuk. Tidak ada sinyal, artinya kami harus menikmati setiap hari disini dengan aktivitas yang menantang seperti body rafting dan berenang di sungai yang jernih. 



Malam tadi setelah mandi, saya sudah tidak bisa menahan kantuk sehingga pulas tertidur. Beruntung saya tidak mimpi yang aneh-aneh. Suasana malam memang agak sunyi karena pinggir penginapan ini adalah sungai dan hutan. Lain halnya ketika pagi sudah datang. Warna-warni kontainer cukup menghidupkan suasana disini. Saya segera mandi dan mencharge batere kamera. Tadi malam, saya lupa untuk mengcharge batere kamera kesayangan. 

Sebelum beraktivitas di siang nanti, saya sempat mengelilingi penginapan dengan konsep ECO Friendly. Saya cukup terkejut karena pohon-pohon yang berada di setiap sudut penginapan ini cukup terawat, bahkan terkesan pohon-pohon ini tidak ditebang pada saat perakitan kontainer tersebut dimulai. Terbukti dengan jalan menuju kontainer yang dibuat mengikuti pepohonan. Selain itu, pengolahan air limbah pun sangat diperhatikan sehingga pada saat pembuangan ke sungai tidak menimbulkan dampak yang merugikan. 


Saat perut memanggil, ternyata sudah masuk waktu sarapan. Saya bergegas menuju ke kontainer di depan yang merupakan restoran. Letaknya persis berdampingan dengan resepsionis yang berada di depan setelah pintu masuk. Teman-teman lain sudah berada di restoran. Saya bergegas mengambil paket sarapan yang telah disediakan. Nasi kuning dengan telur mata sapi serta sayuran dan krupuk. Bagi saya, menu ini pas untuk perut saya yang lapar tapi tidak terlalu ingin penuh perut ini. 


Setelah kenyang, saya menuju ke tempat kumpul yang berada di tengah-tengah penginapan. Saya menyebutnya sebagai tempat bermalas-malasan hehehe. Disitu terdapat bantal-bantal manja yang bisa membuat siapa saja tersihir dan tertidur sesaat setelah sarapan. Setiap saat, ada saja yang berada ditempat ini. Karena memang tempatnya yang teduh dibawah pohon-pohon dan sering dijadikan sebagai tempat santai dan membawa inspirasi.  

Tempat favorite saya yang lain adalah Instagram-able spot. Oh iya, selain menyediakan penginapan, HAU Citumang juga menyediakan tempat foto dengan membayar tiket sekitar 50 ribu rupiah. Terdapat sungai dengan balon-balon pelampung yang unik dan spot untuk foto yang terdapat di atas. Biasanya memang setelah body rafting di sungai Citumang, orang-orang akan melintas di depan penginapan. Bagi yang penasaran di dalam, maka akan bertanya apa saja yang menarik dari HAU Citumang. 



Wanna escape from daily routine? HAU Eco Lodge Citumang is your answer. Setidaknya dibutuhkan waktu 3 hari 2 malam untuk menikmati penginapan, body rafting di sungai dan mengelilingi hutan yang masih sangat segar udaranya. Bisa jadi inilah petualangan terseru yang bisa didapatkan dari menginap disini.

So, tunggu apalagi. Yuk menginap dan berpetualang di Citumang yang sungainya sejernih hatiku. Hehehe. 



Fasilitas 

HAU Citumang menyediakan kamar dengan kapasitas sekitar 3 orang dengan harga kamar weekdays Rp 750.000 dan weekend Rp 1.000.000. Harganya lumayan mahal, namun jika dibagi dengan penghuni kamar maka tidak lebih dari Rp 333.333 setiap orangnya. Selain itu terdapat Coffee Shop dan restoran sehingga tidak perlu khawatir jika malam-malam kelaparan. Pada saat saya kesana belum terdapat Wifi, namun ternyata sekarang sudah di pasang wifi di dalam kamar. Oh iya harga kamar termasuk sarapan ya.

Catatan Penting
  • Dari Jakarta dapat ditempuh melalui kereta dari Stasiun Pasar Senen dengan mengunakan KA Serayu tujuan Purwokerto kemudian turun di Stasiun Banjar dengan harga Rp 67.000. Kemudian dengan mobil carteran sekitar Rp 500.000 akan diantar menuju ke HAU Citumang. 
  • Sangat disarankan untuk ke sana beramai-ramai karena akses yang membutuhkan mobil carteran 
  • Body rafting dapat ditanyakan kepada pihak HAU Citumang, terdapat paket lengkap dengan body rafting
  • Dari pangandaran dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar 1 jam kurang
Credit foto to Astari www.ivegotago.com 

Informasi HAU Eco Lodge Citumang 

Alamat 

Sukamanah RT 1/Rw 6, Bojong, Parigi, Pangandaran, Jawa Barat 46393

Website 


Reservasi 

0265-639380 / 081316987988

Rate 

Weekdays : Rp 750.000
Weekend : Rp 1.000.000 

Instagram 

Maps 

Siniawan Old Town Night Market, Kuching


Sebetulnya malam ini malam terakhir di Kuching. Namun, saya tidak mau berakhir begitu saja tanpa merasakan suasana Siniawan. Julukan Kota Tua atau Old Town yang melekat membuat saya terpikat. Menurut banyak orang yang telah bertandang ke sana, Siniawan sangat mempesona. Kesan oriental memang sangat terasa, karena lampion bertebaran di setiap sudut sehingga mempercantik malam di Siniawan.

Perjalanan dari Kota Kuching ditempuh sekitar kurang lebih satu jam. Datanglah pada saat Weekend karena Siniawan memang hanya buka pada saat Jumat, Sabtu dan Minggu. Sebelum sampai, saya sebetulnya membayangkan seperti apakah Siniawan tersebut, karena memang saya tidak mencari informasi apapun dari Mbah google. Setelah siang hari beradu panas dan jalan-jalan mengelilingi Bako National Park, sore ini kami diajak Aunty Ana, guide kami, mengunjungi Siniawan. 


Sesampai di Siniawan, awan pun masih putih disertai matahari yang enggan muncul karena tertutup awan. Cuaca memang agak gerimis dan mendung. Namun, kami tetap mengunjungi tempat terbuka ini. Layaknya pasar malam, memang sepanjang jalan disediakan meja dan kursi untuk menikmati setiap kuliner yang dijajakan.

Sebagian besar bangunan terbuat dari kayu. Entah berapa usia kayu yang kami lihat, namun yang pasti Siniawan merupakan Kota Tua yang didirikan oleh saudagar asal Tiongkok yang melarikan diri dari kejaran James Brooke pada tahun 1921. Jadi bisa jadi usia kayu yang masih terlihat kuat tersebut hampir mendekati 100 tahun. 

Mata saya tertuju pada bambu-bambu yang dibakar. Di dalam bambu biasanya berisi beras ketan atau beras lainnya. Saya mengenal makanan ini di Pontianak dengan nama Nasi Lemang. Mungkin karena masih satu pulau dan satu tradisi, nasi ini pun masih bisa kita jumpai di Siniawan. 



Segala jenis makanan tersedia disini. Mulai dari rasa lokal sampai internasional seperti Jepang dan India. Harga makanan pun terbilang sama dengan Indonesia sekitar 5-20 Ringgit tergantung porsi dan jenis makanan yang dibeli. Kalau dikurskan ke Indonesia, harga makananya berkisar dibawah 100 ribu rupiah. So, masih masuk di budget apabila makan di pasar malam ini. 


Takoyaki pun menjadi jajanan yang patut di coba disini. Antrian untuk mencoba takoyaki pun jadi tantangan tersendiri, karena ternyata banyak juga yang mencoba makanan asal Jepang yang telah mendunia. Saya sebetulnya pengen mencoba, namun karena teman-teman sudah memanggil untuk berburu makanan lain. Akhirnya saya harus gigit jari. 

Beruntung di ujung jalan, kami menemukan makanan yang lumayan untuk menganjal perut kami yang agak kelaparan. Coba tebak makanan apa ini? 


Di dalam bungkusan kantung semar terdapat ketan dicampur dengan kacang merah. Namanya Cong Thien Ang, cukup khas di Borneo karena di Singkawang dan Pontianak pun terdapat jajanan seperti ini. Setelah digigit campuran antara ketan dan kacang merah sangat terasa namun belum cukup membuat perut saya terisi secara penuh. 


Kami pun kembali berkeliling mencari makanan apa yang cocok bagi kami. Saya sebetulnya tidak terlalu mempermasalahkan makanan apa, namun memang karena kami harus mencari makanan halal. So, sebagian kami harus ekstra hati-hati dengan makanan yang mengandung babi. Untungnya beberapa restoran memang menyajikan makanan halal seperti sate ayam dan kambing serta ikan. 



Hujan rupanya turun juga. Kami yang tadinya duduk di luar pun segera berpindah tempat ke dalam sebuah restoran yang tutup. Sembari hujan kami menanti pesanan yaitu nasi lemak, sate ayam, sate kambing dan ikan masak. Saya dan Ero memesan sate ayam dan kambing, sementara Mba Evi dan Indra memesan ikan masak serta cah kangkung. Sementrara sisanya memesan nasi lemak. 

Yes, pesanan kami pun tiba. Tidak perlu menunggu lama, kemudian saya melahapnya dengan penuh nafsu karena perut telah lama merontak-ronta. Hanya 10 menit kemudian, lontong pun telah raib sementara satenya masih tersisa. Saya dan Ero kemudian menambah lontong untuk menghabiskan sate yang masih tersisa. 


Sebetulnya kalau kami tidak memberikan informasi sedikitpun tentang tempat ini, maka tidak akan pernah menyangka bahwa ini Siniawan. Orang-orang pasti mengira ini adalah Hongkong atau Macau. Benar-benar sangat terasa sekali orientalnya karena lampion. Makin malam, lampu-lampu lampion yang berwarna merah pun makin cantik. Apalagi dengan berhias langit yang telah hujan dan segera berganti menjadi langit terang, semakin menambah hasrat untuk berfoto-foto disini. Dan, hasilnya sangat kece loh, ini dia beberapa foto saya. Jangan ngiri ya.


Malam makin larut. Sudah saatnya kami pulang membawa kenangan yang tidak akan pernah dilupakan selama beberapa hari di Kuching. Terima kasih kepada Sarawak Tourism Board dan Air Asia yang telah mewujudkan destinasi yang menarik di Sawarak ini. 


One Day Trip Itinerary In Kuching, Sarawak


Kuching, kali ini perjumpaan pertama. Bukan sebuah kebetulan, saya sangat suka kucing. Namun, apakah Kuching ini memang benar memiliki arti yang sama. Saya cukup penasaran. Apalagi ini kali pertama mengunjungi sebuah negara bagian Malaysia yang berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Jika ditempuh dengan jalur darat, maka Kuching ini menghabiskan sepanjang siang dan akan sampai pada malam hari. Namun dengan Air Asia, segalanya menjadi mudah dan tak sampai satu jam kami sudah sampai di Kuching International Airport dari Supadio International Airport.

Setelah dari Sabah, perjalanan kami berlanjut ke Sarawak. Kedua Negara Bagian ini merupakan wilayah Malaysia yang berada di Borneo atau Pulau Kalimantan. Kalau di Sabah ada Kota Kinabalu, di Sarawak inilah Kota Kuching berada. 


Siniawan Old Town Night Market 


Pecinta Kuliner, datanglah ke Siniawan Night Market. Pasar malam ini dapat ditempuh sekitar 45 menit sampai satu jam dari pusat Kota Kuching. Siniawan sering disebut sebagai Pecinanan Kuching, namun sebetulnya Siniawan merupakan bagian dari kota Bau. Ratusan tahun lalu, Siniawan sudah terbentuk dari harmoni suku Bidayuh, China dan Melayu. Oranamen oriental sangat kental dengan hiasan lampion dan rumah-rumah tradisional yang masih mengunakan kayu. Pasar ini dibuka pada saat weekend yaitu Jumat, Sabtu dan Minggu. Kuliner yang disajikan mulai dari lokal sampai mancanegara seperti Jepang, India dan lainnya. 


Bako National Park


Bako merupakan sebutan untuk Bakau di Indonesia. Sarawak memiliki taman nasional bakau yang sangat terawat dengan sebutan Bako National Park. Untuk menempuh, Bako National Park diperlukan waktu kurang lebih 1 jam jalur darat dan 30 menit jalur laut. Iya, kami harus menempuh dua jalur transportasi sekaligus. Apa yang unik dari Bako National Park? Ragam Flora dan Fauna sangat banyak. Disamping itu, udara segar dan alam yang indah pun sudah sangat cukup untuk menghibur kegalauan jika ditinggal pacar atau putus cinta.

Orang Belanda dan Babi Berjenggot merupakan dua hewan yang cukup menyita perhatian seluruh orang. Orang Belanda bukanlah sebutan untuk orang yang berasal dari Belanda melainkan sejenis primata yang hidup di hutan seperti monyet dan sejenisnya. Sedangkan babi berjenggot merupakan babi hutan namun memiliki bulu-bulu lebat pada bagian bawah mulut.


Kuching WaterFront 


Setiap sore, Kuching Waterfront ramai orang-orang yang bercengkrama dengan teman maupun keluarga. Warung tenda berjejer sepanjang pinggiran sungai dan live music menambah kemeriahan sepanjang malam. Malam minggu pun menjadi puncak karena sampai dini hari, keramaian masih terasa. Waterfront sebetulnya merupakan kawasan terbuka dan taman umum yang dapat dinikmati siapa saja. Bagi pecinta nongkrong, maka tempat inilah yang saya rekomendasikan selama di Kuching. Mau makan dan minum? Harga makanan dan minuman pun cukup terjangkau sekitar 3-10 Ringgit, jadi tidak semahal yang dibayangkan. 

Kampung Melayu Boyan 


Jakarta memiliki daerah Kampung Melayu, begitu pula dengan Kuching. Kampung Boyan, begitulah Kampung Melayu ini disebut dalam peta. Kampung Melayu ini berada tak jauh dari Kuching Waterfront. Cukup menyebrang dengan mengunakan kapal kecil dan membayar 1 Ringgit.  Seperti halnya Waterfront yang banyak kuliner khas, Kampung Boyan pun tak kalah unik bahkan kuliner yang disajikan lebih menarik berupa jajanan dan oleh-oleh seperti ikan, kue dan jajanan yang nikmat jika dimakan ditempat. 


Kota Sejuta Klenteng 


Sepanjang perjalanan dari Kuching International Airport, saya melihat betapa banyaknya Klenteng. Pantas saja sebutan Kota Sejuta Klenteng melekat erat di Kuching. Setidaknya lebih dari satu klenteng yang terlihat di sekitar jalan Wayang yaitu Klenteng Hong San Si dan Klenteng China Jalan Wayang. 


Makan Malam Di Top Spot 


Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Kuching tidak ke Top Spot. Top Spot bukanlah sebutan bagi sebuah tempat yang kece, tapi lebih dari itu karena menyajikan banyak sekali makanan yang nikmat dan sangat lezat. Setidaknya puluhan restoran berjajar memanjang dengan kursi dan meja yang sangat banyak. Sebetulnya mirip dengan food court jika di Indonesia, namun Top Spot berbeda karena sangat luas dan sangat banyak pengunjungnya. Pada saat kesana, banyak sekali pengunjung, padahal bukan weekend, apalagi pada saat weekend ya. Coba bayangkan betapa membludaknya pemburu kuliner di Kuching ini.


Begitulah One Day Trip Itinerary yang bisa dishare pada postingan kali ini. Sebetulnya masih banyak tempat-tempat lain yang bisa di kunjungi di Kuching, namun setidaknya bisa menjadi referensi yang menarik untuk dikunjungi selama di Kuching.  

Film Anak Muda Jaman Now (Remaja Milenial)


Anak Muda Jaman Now atau Remaja Milenial itu penuh problematika banget. Yes, ibarat mangga muda yang asam dan penuh kejutan rasanya bahkan kalau di rujak bisa jadi nano-nano rasanya. Beberapa tahun lalu, di usia lulus SMA dan menjelang kuliah biasanya dipenuhi dengan gejolak untuk mencoba sesuatu hal yang baru. Rasanya pengen melakukan sesuatu yang baru dan mencobanya. Terbukti, saya pun melakukan banyak hal seperti ikut UKM Paduan Suara, Jurnalis, Sastra, Radio, BEM dan lain-lain. 

Walhasil , IPK saya drop karena tersita dengan seluruh kegiatan UKM yang seabrek-abrek. Setahun berlalu, kemudian saya lebih selektif memilih UKM mana saja yang dilanjutkan dan ditinggalkan, akhirnya pilihan saya jatuh pada UKM Paduan Suara dan Kegiatan Mahasiswa Pemalang, Kota Kelahiran saya. Semester 3, IPK saya mulai naik karena kondisi yang nyaman dengan kegiatan diluar kuliah. Dan tren positif ini pun berlanjut hingga lulus kuliah. 

Pernah melakukan kegiatan yang tak berguna atau cenderung merugikan? Tentu saja pernah. Bolos kuliah karena kegiatan di UKM lebih menarik ataupun lupa mengerjakan tugas gara-gara main games. Kenakalan-kenakalan ini sebetulnya tidak disengaja, tapi memang saya termasuk mahasiswa patuh aturan kecuali dengan dosen killer. 

Wah, seru juga ya membahas kelakukan Anak Muda Jaman Now. Sebetulnya, anak membutuhkan pengertian dari orang tua dan begitu sebaliknya orang tua pun butuh dimengerti oleh anaknya. Kuncinya adalah masalah komunikasi agar semuanya berjalan mulus tanpa ada yang salah paham. Beruntung, kini ada film yang related dengan kegalauan dan permasalahan anak muda jaman now yaitu My Generation.

Yang kepengen lihat trailernya, yuk lihat youtubenya.


Sinopsis My Generation

Film ini akan menceritakan tentang persahabatan dari empat orang siswa SMU, yaitu Zeke, Suki, Konji dan Orly. Yang mana kisah mereka di awali oleh gagalnya pergi liburan, dikarenakan video buatan mereka yang mengkritik guru, sekolah dan juga orang tua, telah menjadi viral di sekolahan mereka.

Hingga berakibat mereka dihukum dan tak boleh pergi berlibur. Liburan sekolah yang mereka sangka terkesan tak istimewa tersebut, akhirnya malah membawa mereka pada kejadian-kejadian serta petualangan, yang memberikan mereka pelajaran yang sangat berarti dalam kehidupan mereka. Semenjak saat itu kehidupan mereka tak lagi sama. Seperti apakah kisah lengkapnya? Tonton Full Movie-nya untuk mengetahui jawabannya.


Kisah Persahabatan dan ...


Remaja Milenial jaman now sangat dekat dengan social media dan smartphone. Kejadian apapun langsung di upload ke socmed. Termasuk Zeke, Suki, Konji dan Orly, yang merekam video dan curhat segala hal mulai dari sekolah hingga orang tua. Dan, ternyata viral di sekolah. Bukannya menjadi yang positif, malah menghancurkan liburan dan hubungan dengan orang tua mereka. 

Upi mengangkat kisah remaja dengan pendekatan persahabatan dan bukan dari kisah cinta yang sudah banyak diangkat oleh film lain. Upi merupakan sutradara dari film 30 hari mencari cinta dan realita, cinta dan rock n roll. Upi mengharapkan dari film ini, remaja dan orang tua dapat memahami satu sama lain. Sudah saatnya label yang diberikan kepada anak misalnya si anak bandel, si anak kutu buku dan lainnya dihilangkan dan mendukung seluruh bakat dan minat anaknya. So cool adviced both for parent and children

It's time for you to have me time with your childs. Kerjaan yang banyak dan waktu yang kurang biasanya menjadi hal yang akumulatif bagi keluarga. Saatnya menonton film ini dengan keluarga dan bangunlah hubungan yang sangat komunikatif. Anak butuh support bukan judgement yang hanya sepihak saja. Sekecil apapun komunikasi kepada anak, peliharalah komunikasi tersebut. Jangan sampai anak mencari orang lain untuk mencurahkan isi hati dan problemnya. Jangan sampai anak salah arah di tangan orang lain. 

Selamat menonton film yang luar biasa untuk keluarga anda. Jangan lupa tanggal 9 November 2017 di bioskop-bioskop terdekat di kota kamu. 

Cast Film 


Sutradara Film: Upi
Rumah Produksi Film: IFI Sinema
Distributor Film: -
Penulis Naskah skenario / Novel Film: Upi
Produser Film: Adi Sumarjono
Tanggal Rilis / Tayang Film: 9 November 2017 (Indonesia)
Pemain : Surya Saputra, Arya Vasco, Alexandra Kosasie, Joko Anwar, Aida Nurmala, Indah Kalalo, Karina Suwandhi, Bryan Langelo, Lutesha, Tyo Pakusadewo, Ira wibowo. 


Sunlife EduFair 2017 : Tips Memilih Sekolah Berkualitas Untuk Anak

Picture by www.ivegotago.com
Menjadi orang tua bukanlah sebuah perkara mudah. It is complicated. Mulai dari usia di bawah lima tahun, anak tumbuh dan membutuhkan perhatian. Setelah menginjak usia diatas  lima tahun, mulailah bingung dengan pendidikan anak. Sangat wajar apabila perencanaan pendidikan yang benar memberikan kontribusi terhadap perkembangan prestasi anak nantinya. Kita tidak mau kalau anak menjadi tidak terkontrol karena salah memilih perencanaan pendidikan. 

Kebetulan saya belum menikah, namun adik saya sudah memiliki anak bernama Safira. Usianya menginjak tiga tahun. Memang terlalu dini membahas sekolah apa yang cocok untuk keponakan saya, Safira. Namun, sebagai paman yang baik, saya pun harus mengusulkan pendidikan terbaik kepada Adik saya. Dahulu, saya sekolah di sebuah kota kecil, Pemalang. Mulai dari SD sampai SMA, saya mengenyam pendidikan di Sekolah Negeri yang memiliki kualitas baik. Kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi di Semarang dan Jakarta.


Seperti semuanya berjalan dengan mulus, namun sebetulnya menentukan IPA atau IPS pada saat SMA pun memiliki polemik tersendiri. Sebelumnya, saya harus berjuang di bangku Les khusus IPA. Setiap pulang sekolah, saya harus les. Hasilnya bisa ditebak, nilai IPA saya tidak cukup membawa saya masuk kelas IPA yang diidam-idamkan. Saya cukup terpukul. Ayah saya yang mengharapkan saya masuk IPA pun sebetulnya kecewa dengan hasil ini. Waktu berjalan dan akhirnya, saya masuk kuliah jurusan Akuntansi. Alhamdulillah, prestasi saya di kuliah sangat memuaskan.

Kini saya bukan menjadi Auditor ataupun Accounting di sebuah perusahaan, sesuai dengan pendidikan yang saya tempuh. Saya menjadi seorang blogger dan travel guide dan suatu saat nanti saya akan menjadi business owner dalam bidang traveling atau restoran. Pendidikan sangat penting, namun yang sangat penting lagi adalah bakat dan minat anak. Jangan sampai orang tua memaksakan kehendaknya dan menjadikan anak menjadi hilang arah. Bukan tidak mungkin jika bekerja tidak sesuai dengan minat atau hobinya, sulit untuk bersaing dan menjadi seseorang yang membanggakan.

Picture by www.ivegotago.com
Beruntung saya hadir dalam Sunlife EduFair 2017 di Kota Kasablanka, beberapa hari lalu. Pada saat di venue acara, Kak Seto bersiaap memberikan materi untuk orang tua dan anak-anak. Kak Seto merupakan Guru sepanjang masa. Dahulu, Kak Seto sering muncul menghibur saya dengan tokoh Sikomo, seekor dinosaurus lucu yang cerdas dan baik hati. Seperti yang dibayangkan, Kak Seto memang sangat interaktif. Satu kata yang masih membekas sampai sekarang adalah Rudi Habibie, Rudi Hadisuwarno, Rudi Choirudin dan Rudi lainnya memiliki kecerdasan dalam bidangnya. Rudi Habibie kita kenal sebagai pembuat pesawat terbang, sedangkan Rudi Hadisuwarno memiliki salon serta Rudi Choirudin yang kita kenal sebagai chef ternama. Begitu pula anak pun memiliki kercerdasannya masing-masing. Anak pertama tidak bisa disamakan dengan anak kedua atau ketiga, mereka memiliki kecerdasan yang berbeda. Sebagai orang tua, tugas kita cukup mengarahkan dengan baik apa yang mereka butuhkan.

Bagaimana Cara Memilih Sekolah Berkualitas ?


Kebetulan sekali, Sunlife EduFair juga menampilkan sekitar 20 Sekolah terbaik di Jakarta dan sekitarnya untuk memberikan input kepada orang tua sekolah mana yang cocok bagi anak-anaknya. Masing-masing sekolah pun menampilkan secara ringkas apa yang menjadi keunggulan sehingga anak tertarik masuk ke sekolah tersebut.

Lalu sebetulnya apa saja sih yang perlu diperhatiakn dalam memilih sekolah bagi anak terutama usia dini? Saya merangkum beberapa tips sebagai berikut :

Visi Misi Sekolah 

Kadang kala kita melupakan visi misi sekolah karena bukan merupakan hal pokok, namun ternyata visi misi inilah yang akan menentukan kurikulum yang diberikan untuk anak kita.

Tenaga Pengajar 

Guru merupakan sosok penting bagi perkembangan anak terutama usia sekolah dasar. Tidak ada salahnya orang tua menanyakan kualitas tenaga pengajar serta sepak terjang dalam melakukan terobosan dalam bidang pendidikan.

Sarana dan Prasarana

Sekolah yang memiliki laboratorium, lapangan olahraga dan sarana prasarana lain tentunya membuat orang tua terkesan. Anak pun akan terbantu untuk mengembangkan minat dan bakatnya.


Kenali Bakat Minat Anak

Faktor terpenting sebetulnya bakat dan minat anak. Apakah sekolah tersebut bisa mengakomodir bakat dan minat anak? Contohnya sekarang banyak bermunculan sekolah alam dan home schooling yang membantu anak mengasah bakat dan minatnya secara maksimal.

Jarak Sekolah 

Kelihatannya jarak rumah ke sekolah bukan menjadi prioritas utama namun setelah dipikirkan kembali, jarak rumah ke sekolah pun harus di perhitungkan. Jangan sampai anak merasa terbebani jika harus menempuh jarak yang cukup jauh dari rumah.

Kemampuan Finansial

Pikirkan secara matang kemampuan finansial untuk membiaya sekolah beberapa tahun kedepan. Jangan sampai terjadi anak drop out atau pindah sekolah dikarenakan tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup. Perencanaan keuangan sangat dibutuhkan, apalagi sekarang terdapat perusahaan yang membantu mengatur keuangan tersebut yaitu Sunlife.



Sunlife Edufair 2017 juga menampung bakat anak-anak dalam sebuah lomba bertajuk Brighter Talent. Beberapa sekolah menampilkan bakat yang dimiliki oleh perwakilan. Benar saja, tidak ada satupun bakat yang sama antara satu sekolah dengan sekolah lain. Ada yang menampilkan balet, kaulintang band, drumer, penyanyi, paduan suara, tari dan lain-lainnya.


Benar saja, tiga orang juri yang bertugas menilai penampilan bakat dari beberapa sekolah sangat kebingungan dengan seluruh penampilan yang sangat luar biasa dari masing-masing sekolah. Keluar sebagai juara pertama adalah kaulintang band. Selamat buat yang telah mengangkat kaulintang sehingga bisa naik kelas. 

Dinner Mewah dan Sunset Indah Di North Borneo Cruises, Sabah


Makan malam biasanya di warteg atau tukang bakso keliling di depan kosan. Tidak pernah melebihi mewahnya itu, kecuali kalau di undang ke hotel atau dinner bersama petinggi dari perusahaan, namun tidak pernah terbayangkan untuk Dinner di Cruises yang mewah dan penuh dengan hiburan. 

Pagi hari, sesuai dengan jadwal kami mengunjungi Pasar Nabalu, Cattle Farm dan Kinabalu Park yang berjarak kurang dari satu jam dari Kota Kinabalu, Ibukota Sabah. Keceriaan pagi dan siang hari rupanya berlanjut ke sore harinya. Semangat masih membara karena kami akan melihat sunset sekaligus menikmati Dinner di kapal pesiar mewah seharga kurang lebih 800 ribu jika di kurskan ke Rupiah (RM 235). Tentu saja makan malam ini akan sangat menarik karena saya baru pertama kali Dinner di Cruises. Kalau Dinner di hotel sudah pasti pernah, namun tentu saja sensasinya akan sangat berbeda.

Tidaklah cukup dengan berdiam saja ketika kami sampai lebih cepat dari yang diperkirakan. Ada-ada saja tingkah yang dilakukan oleh kesepuluh teman saya. Ada yang mengambil foto, ada yang bersantai, ada yang berjoget dan ada yang merekam kehebohan kami berjoget. Musik yang entah dari mana sumbernya membuat kami bergoyang tanpa disadari, apalagi musiknya sangat familiar dan up beat. 

Dimulai dengan Kak Irene dan saya, kemudian mereka beramai-ramai mengikuti kami berdua. Malu, tentu saja kami mengubur dalam kata-kata itu. Malahan ada bule yang mengambil video ata kehebohan kami di bibir pantai dan dermaga, tempat bersadar kapal pesiar kami. Kami tak berhenti pada satu lagu saja, bahkan kami bergoyang sampai berganti genre dari up beat ke mellow. Semuanya kami babat dengan keriaan. Setelah selesai, rupanya pak Jun, guide kami, belum memanggil untuk masuk. Kami pun pindah lokasi beberapa meter untuk kembali berjoget bersama. 


Hanya Multi dan Mba Levi yang malu-malu dan tidak bergabung dengan kami. Jadilah 9 orang yang tidak tahu malu ini merekam semua kehebohan dan tarian tak bergaya apapun di dalam kamera saya. Setelah memutar ulang pun, saya masih tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. Next, akan saya upload keseruan joget ini di youtube channel saya di www.youtube.com/user/salmanbiroe

Sebelum pak Jun memanggil, tak lupa kami berfoto-foto di bawah temaran sinar matahari yang kian merudep karena memang sudah sore. Rupanya awan tebal masih mewarnai sore ini, bahkan ketika saya berfoto pun awan itu masih menghias dan membentuk foto yang eksotis karan awan dan matahari saling menutupi satu sama lain.

Pak Jun memanggil kami, sementara kami sudah setengah siap tinggal membawa tas-tas yang kami bawa. Dinner kali ini memang semi formal, namun pakaian yang saya kenakan hanya kaos dan jeans dengan sepatu kesukaan berwarna biru. Setelah dilihat memang Dinner kali ini tak seformal yang dirasakan, hanya saja memang kesan mewah yang menjadikan permasalahan pakaian pun serasa harus mengikutinya. Namun, yang lain pun ada yang sangat formal dan berpakaian seperti saya. Jadi, saya tidak salah kostum kali ini.


Kami memasuki pintu yang dijaga beberapa petugas. Sebelum masuk, tangan kami digelangkan tanda masuk berwarna ungu seperti tanda masuk ke Dufan atau wahana permainan. Langkah saya bergerak menuju ke sebuah kapal pesiar berwarna putih. Dari luar tampak tidak ada yang istimewa, namun setelah saya masuk, rasanya berada di Surga karena disambut banyak orang. Selain itu, makanan sudah rapi dan tersedia untuk kami semua. Tak lama setelah duduk, kami pun mengintari meja saji yang berada di tengah. 

Terus terang saya tak cukup lapar sore itu, karena sempat makan banyak dengan komposisi yang cukup mengenyangkan. Namun, untuk sekedar mengisi perut, saya mengambil makanan yang ringan-ringan saja seperti sayuran dan mie serta buah. Tidak ada nasi ataupun daging yang biasa selalu lahap saya makan. Saya sebetulnya sedang menghindari nasi, karena sudah lama mengidamkan berat badan dibawah 100 kg (Mohon untuk percaya saja dengan pernyataan saya ini), hahaha.

Lagu-lagu dari pengeras suara menghanyutkan suasana karena beberapa lagu memang sangat romantis. Dua sejoli atau suami istri pasti akan terhanyut dan menikmati makan malam yang mewah ini. Lagu romantis memang everlasting, apalagi rata-rata yang datang sudah berusia 20 tahun ke atas, jadi telah tahu lagu-lagu dari tahun 1990-an. Seperti lagu my valentine atau lagu Titanic yang sangat fenomenal pada tahun 1997. 

Sementara lagu terus berputar dan menikmati makanan, dari luar pun sunset memanggil kami dengan penuh kehangatan. Saya dan kawan-kawan pun akhirnya menuju ke atas kapal. Dan, ternyata sunset yang kami tunggu-tunggu pun muncul dengan sangat jelas meski agak tertutup oleh awan, namun masih tetap terlihat dengan jelas.


Setelah naik keatas kapal, saatnya kini bergaya ala-ala foto model. Kami tak menyia-yiakan kesempatan untuk berfoto dengan latar lautan di atas kapal. Hasilnya memang sungguh mengagumkan karena benar-benar terlihat seperti foto model. Foto diatas adalah salah satu yang bisa saya banggakan. 

Setelah puas dengan berfoto-foto, kami pun mengikuti live music yang berada dibawah. Suara live muc bisa terdengar sampai dek kapal yang paling atas, sehingga kami masih bisa bernyanyi-nyanyi dan berjoget bersama. Seperti biasa, kalau ada satu yang mengawali maka selanjutnya akan ada orang yang mengikuti jogetan ini. Kak Irene yang biasanya mengawalinya kali ini berjoget bersama dengan lagu-lagu dari live music.Dan, inilah keseruan kami pada sore itu. Walaupun banyak sekali yang melihat kearah kami, tapi kami tetap berjoget bersama dan tidak menghiraukan apapun disekliling kami. We have fun.


Setelah kami berada diatas cukup lama, kemudian kami masuk kembali karena sunset sudah breganti malam dan Dinner masih kami lanjutkan. Di dalam, live music sepertinya mampu menyihir kam dengan lagu-lagu yang danceable sehingga kami pun tetap berdiri dan mengikuti irama setiap lagu. Seperti layaknya pemadu sorak, kami berjingkrak-jingkrak setiap ada lagu yang menarik. Selain kami, terdapat Pak Joshua dan Bu Nur dari Air Asia, sayang sekali Pak Bobby dari Sabah Tourism Board tidak dapat hadir karena ada event yang harus dihadiri.

Indra menyanyikan dua buah lagu. Tentu saja semua orang terpana melihat pancaran aura sang MC dan Penyanyi yang sering menghibur masyarakat di Lampung ini. Setelah penampilan selesai, lagu Gangnam Style pun menghipnotis kami dan membuat kami harus tampil di depan para tamu lain. Jadilah pertunjukan ini milik kami, Blogger Indonesia yang menjelajah Sabah beberapa hari ini. 

Keseruan kami belum berakhir karena ada sebuah lagu berjudul Sayang Kinabalu yang dinyanyiakan oleh penyanyi dati North Borneo Cruises sebagai penutupnya. Semua tamu pun diajak untuk berjoget bersama sebagai penutup keriaan malam itu. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan menikmati dinner mewah dan sunset indah di North Borneo Cruises, Sabah.

Serunya Rafting Berlatar Pemandangan Gunung Kinabalu, Sabah


Belud, seperti nama binatang yang ada di Indonesia, tapi sebetulnya nama itu juga merupakan salah satu kota di Sabah, Malaysia. Butuh sekitar satu jam lebih dari Kota Kinabalu untuk menjelajah kota ini. Kesan pertama ketika sampai di tengah kotanya adalah kota kecil dengan kesan klasik namun sangat bersih dan nyaman. Belud mengingatkan Jakarta pada tahun 1990-an dengan pasar dan toko-toko klasik, yang membedakan adalah terdapat huruf kanji atau aksara mandarin, etnis Tionghoa. 

Sejauh mata memandang dari dalam Bas Pesiar (Bus Pariwisata), hanya sedikit saja masyarakat yang lalu lalang. Dan setiap pinggir jalan, tidak terlihat tumpukan sampah ataupun pedagang yang menjajakan dagangannya seperti di Indonesia. Itulah perbedaan yang sangat mendasar tentang membuang sampah di manapun.

Duo Desah kembali menghibur kami dengan suara nyanyian ala mereka. Entah kapan Duo Desah ini di resmikan, namun kehadiran Indra dan Teguh mampu menghapus keletihan kami di beberapa hari perjalanan kemanapun. Sampai-sampai Pak Bobby (Sabah Tourism Board) dan Pak Joshua (Air Asia), pun merasa terhibur dengan kelucuannya. Sebetulnya lagu yang dibawakan adalah lagu biasa, hanya saja terdapat sentuhan desahan yang tak dimiliki oleh penyanyi papan atas manapun.

Inilah Pemandangan Kinabalu yang Legendaris
Kami ke Belud bukan menepi atau mencari kedamaian, kami datang untuk bersenang-senang dan melakukan olahraga air yang sangat saya gemari selain berenang tentunya. Namun, rafting jauh menyenangkan dibandingkan dengan hanya sekedar berenang saja, inilah yang dinamakan memacu adrenaline. Rafting bagi saya bukan hal yang baru, saya mulai mengenalnya beberapa tahun silam. Pada outbound kantor lama, saya sering diajak untuk mencoba rafting, dan Alhamdulillah ketagihan, hehehe.

Bagi Indra dan Kak Irene, rafting merupakan hal baru. Wah, untuk pertama kali rafting saja harus jauh-jauh ke Sabah ya. Sebenarnya saya tidak percaya, tapi karena Indra menceritakan dengan sangat meyakinkan, jadi saya mengangguk-angguk saja, tanda percaya. Lain hal dengan Kak Irene, ia tak pernah sekalipun mencoba rafting karena tidak pernah diberi kesempatan. So, inilah rafting pertama mereka berdua. Dan, tak disangka-sangka, inilah Rafting paling berkesan karena sesuatu hal terjadi. Saya harus berhenti dulu untuk menahan gejolak antara rasa jengkel dan tertawa yang beradu dalam diri saya.

Tak terasa bus kami berhenti pada sebuah pinggiran sungai. Setelah pintu dibuka barisan depan dan kedua langsung turun tanpa menunggu aba-aba. Sementara yang lain terlihat melepaskan celana dan kaos serta berganti dengan baju untuk rafting. Saya yang berada di bangku paling belakang harus menunggu beberapa waktu, dan yes akhirnya saya bisa berjalan menuju tempat ganti. Saya terpaksa melepas jeans panjang dan baju yang masih bersih dengan baju dan celana pendek. And, I am ready to rafting in Kelud.

Sebelum rafting, seperti biasa harus dibrief terlebih dahulu apa yang harus dilakukan seperti pakaian pengaman, dayung dan pengaman kepala atau helm. Sebelum itu pula kami dijelaksan instruksi apa saja yang harus dilakukan dalam berbagai situasi. Dan, jangan sampai lupa semuanya karena akan fatal jadinya. Trust me, it is important while you in the river.

Forward adalah kata yang akan sering di dengar karena berarti kita akan harus mengayuhkan dayung ke depan secepat mungkin untuk maju dan melawan arus. Sedangkan sebaliknya, maka mengayuhlah ke belakang dan mengahalau arus.


Saya sebetulnya kurang memperhatikan seluruh penjelasan karena saya sibuk merekam dan mengambil gambar setiap momennya. Entah apa momennya yang penting dapat membuat dokumentasi saya lengkap terutama video. Dan, yang lain saya dengan meyakinkan mengangguk-angguk sebagai tanda bahwa mereka mengerti yang di jelaskan. Saya benar-benar tenang. 

Setelah semua penjelasan yang panjang dan dengan peragaan yang cukup jelas, akhirnya kami akan memulai rafting hari itu. Waktu menunjukan pukul 4 sore lebih, sedangkan saya tidak tahu berapa lama yang dibutuhkan sampai ke finish nantinya. Saya pasarh saja.

"Ayo kita berempat saja yuk."

Indra merangkul saya, mba Evi dan Kak Irene. Dan dengan ini terbentuklah, kwartet rafting untuk beberapa waktu kedepan. Saya dengan senyum puas mengatakan inilah Dream Team. Kami memiliki penyanyi, vlogger, pemilik Go Pro dan Pengayuh dengan tenaga kuat seperti saya, hahaha. Dengan dalih merekam semua aktivitas rafting ini, malah menjadikan boomerang nantinya. 

Dengan alat dayung, kami sudah siap dan naik ke boat. Sebetulnya kami dibantu dengan 3 orang penjaga kami yang berada di belakang Mba Evi dan Kak Irene. Dua orang bule dan satu orang Malaysia. Saya tambah makin lega dengan komposisi ini. Sementara boat lainnya diisi oleh tim Cewek dan Cowok, sementara kami Mix. 

Mulanya bule berteriak semangat dan mengatakan "Forward" yang merupakan tanda kami harus maju ke depan. Dan, inilah pertaruhan antara drama dan lawak dimulai.   


Sungai ini merupakan salah satu tempat tercantik dengan pemandangan Gunung Kinbalu yang anggun disepanjang jalur rafting. Seperti layaknya film Cowboy dengan sungai yang landai dan hutan-hutan seperti pinus dan pohon lain yang menyebar rata hampir disetiap jalur rafting membuat saya menikmatinya.

Mulanya kapal boat berpenumpang 7 orang itu tak mengalami gangguan, namun ketika memasuki arus yang seikit deras, Indra terhempas. Sementara dayung yang kami pakai ada satu yang terlepas. Si Bule berusaha menolong kami dengan ocehan yang tiada henti tanpa saya dan lainnya mengerti. Indra berhasil naik ke boat. Drama babak pertama dimulai. Bule yang tadinya kalem berubah sedikit tempramen. Setiap perintah yang ia tunjukan kepada saya dan 3 orang lainnya di keraskan dengan volume yang tak biasa.

Saya terus terang kaget dengan perubahan volume suaranya. Sementara boat lain terlihat begitu bersemangat dan menikmati setiap kayuhan, tidak demikan dengan kami, bagai daun kecil diatas sungai, kami siap untuk hanyut dan tenggelam. Padahal kayuhan saya sudah benar dan sekuat tenaga, namun tak berdampak apapun juga. What should I do?

Saya dan Indra saling pandang, dan kami tertawa. Dan diarus berikutnya, saya, Indra dan Mba Evi bukannya mengayuh, kami membentuk satu formasi saling berpelukan seperti teletubis di depan. Saya kembali tertawa. Sementara Bule sudah menyerah dan memelankan suaranya. Seperti tidak ada gairah dalam boat yang kami tumpangi.

Entah berapa kilometer lagi kami harus tempuh untuk sampai di finish. Seperti sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk mengayuhkan alat dayung ini. Dan, air semakin deras, arus pun kembali mengombang-ambing boat. Saya sudah pasrah, sementara suara bule sudah memerintahkan apapun yang bisa diperintah.

Boat kami akhirnya terhempas dan terbalik. Bule tetap meracau dengan kata-kata yang kami tidak ketahui lagi. Yang ada dalam pikiran saya adalah meyelamatkan diri sendiri dan boat. Alhamdulillah, boat dan seluruh penumpang tidak mengalami apapun.


Mba Evi sempat berfikir untuk menyelamatkan Indra terlebih dahulu dan membiarkan saja Go Pronya, namun Mba Evi merekam semua kejadian yang melanda kami. Hahaha, kami sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Sebagai hiburan, Indra sempat bermain Drama dengan berperan sebagai Jack, sementara saya harus berperan sebagai Rose dalam Film Titanic.

"I Told you Rose to go to school, Rose. Because you stupid, Rose."

Saya, Mba Evi dan Kak Irene sontak saja tertawa mendengar perkataan Indra yang spontan itu. Tak hanya sampai disini saja, Indra kemudian bernyanyi lagu Contry Road yang sama sekali tidak saya ketahui. Untungnya, si Bule tahu lagu ini dan bernyanyi bersama-sama dengan kami. Jadilah boat kami dipenuhi nyanyian dan bercandaan yang melepaskan ketegangan diantara kami.

Baru setelah kami berhenti di Finish, belakangan kami tahu bahwa cewek bule yang bersama kami di boat bernama Rose juga, hahaha, saya dan Indra sontak saja tertawa.

Iniliah keseruan kami menikmati rafting berlatar Gunung Kinabalu di Kota Belud, Sabah. Sampai jumpa di putalangan selanjutnya.

Welcome To Sabah, Borneo


Saya percaya pada kekuatan doa dan keinginan serta mimpi. Dan, salah satunya dengan mitos di Pontianak,  Kalimantan Barat. Barang siapa yang meneguk atau minum air sungai Kapuas,  maka dia akan kembali lagi ke Pontianak. Saya memegang teguh doa-doa dari masa lalu yang ingin agar Pontianak di kunjungi oleh pendatang yang memiliki niat mulia.

Percaya tidak percaya,  setelah 2014 terakhir ke Pontianak, akhirnya tahun ini saya kembali menjejakan kaki di Bumi Khatulistiwa. Dan,  perjalanan panjang menjelajah beberapa negeri di pulau Borneo pun harus di mulai di kota yang memiliki keberagaman yang telah dibukti bukan isapan jempol atau teks book semata.

Supadio Internatinal Airport membuka mata saya lebar-lebar ketika saya mendarat sekitar pukul 09.00. Dahulu,  Supadio sangat kecil dengan satu bangunan lawas,  kini sangat luas dan sudah menjadi International Airport. Bahkan,  Supadio lebih bagus dari Bandara Ahmad Yani di Pulau Jawa. Sungguh luar biasa perkembangan bandara ini, sehingga maskapai dari dalam maupun luar pun memperbanyak rute dari dan ke Pontianak,  salah satunya Air Asia yang memiliki rute Pontianak - Kuching -Kota Kinabalu.

Cerita dibalik ini adalah bagai mendapat durian runtuh,  saya berjodoh dengan Doni Prayudi dan Blogger dari berbagai daerah Kalimantan,  Sumatera dan Jawa. Saya dan teman-teman menjelajah Sabah selama beberapa hari yang tak terlupakan. What a lucky me. Saya juga tak menyangka karena proses seleksi dan pengumuman pun berlangsung dalam waktu beberapa bulan lalu. Namun,  memang kalau sudah rejeki tidak akan kemana-mana.


Saya dan Mba Evi berangkat dari Jakarta pagi itu berangkat bersama, sementara sang artis seantero Lampung harus naik beberapa jam setelah kami karena malam harinya harus ngamen terlebih dahulu. Andre yang berdomisili di Jakarta telah berada di Pontianak dari kemarin,  jadi saya dan mba Evi hanya menunggu Indra.

Karena boarding masih beberapa jam lagi,  kami berjalan sangat santai dan berhenti di tempat duduk yang telah disediakan di luar gedung terminal keberangkatan. Kami memilih bangku tersebut karena dekat dengan toilet dan charger station. Setengah jam kemudian,  satu per satu teman dari Kalimantan pun datang,  Ada Ero,  Dyah,  Teguh dan Multi. Tak lama kemudian Andre pun datang. Sementara Mba Levi telah berada di Pintu Keberangkatan. Sementara Dodon,  Kak Irene dan Indra masih dalam perjalanan masing-masing.


Tepat setelah kami masuk ke pintu keberangkatan,  Dodon,  Kak Irene dan Indra pun telah berada di Imigrasi. Artinya sebentar lagi kami akan lengkap bersebelas dan akan melakukan penerbangan ke Kuching sebelum melanjutkan perjalanan ke Kinabalu.

Mari kita memulai perjalanan yang menyenangkan dengan senyuman. Kinabalu , we coming to you. This is the truly Happiness. Kalau bisa di ungkapkan dengan kata-kata bisa dikasih judul "Petualangan 11 orang kocak di Kinabalu".


Pertama kali melihat masing-masing karakter memang tidak ada yang bocor atau melenceng dari garis-garis ketentuan, namun judgement saya haruslah salah,  tentunya makin hari kebocoran dan kekocakan pasti akan terjadi,  apalagi ada Raja Dangdut yang siap menghibur seantero jagat raya,  Dunia Indra. Kalau Indra, Mba Evi dan Andre,  saya pernah bertemu sebelumnya,  sehingga tahu karakter masing-masing. Nah,  sisa 7 orang inilah yang masih misterius adanya. Tapi yakinlah,  beberapa jam kemudian atau sehari berikutnya,  perjalanan ini akan sangat menyenangkan.

Berhubung pastinya penasaran dengan mereka dan saya maka saya akan perkenalkan satu per satu.

1. Doni Prayudi

Postur tubuh yang hampir mirip dengan saya ini membuat hobi makannya memang tak bisa dihindari,  apalagi blognya berisi tentang traveling dan makanan turut andil dalam membentuk postur seperti sekarang. Blognya dapat dijumpai di www.tukangjalanjajan.com

2. Evi Indrawanto

Siapa yang tak kenal dengan Mba Evi yang merupakan co founder Indonesia Corners. Hobinya jelas jalan-jalan baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebelum perjalanan ini,  saya bertemu dengan Mba Evi di Festival Krakatau di Lampung. Blognya dapat dijumpai di www.eviindrawanto.com.

3. Indra Pradya (Dunia Indra)

Kocak dan cair, itulah kesan yang pertama saat saya bertemu dengan Indra pada saat perjalanan ke Pulau Pisang, Lampung,  beberapa bulan lalu. Sangat aktif dalam berbagai bidang terutama pariwisata dan kebudayaan serta kepemudaan, bahkan diluar pekerjaan utamanya,  dia sering didaulat sebagai master ceremony (MC). Blognya dapat dijumpai di www.duniaindra.com.

4. Andre

Pertama kali bertemu pada saat di Bandung dalam sebuah acara bank. Kami mengexplore bandung sambil diberikan tantangan. Acara yang sangat menarik pada saat itu. Kedua kalinya pun kami bertemu di Bandung.

5. Aseanty Palevi

Dari namanya tersimpan kata Asean karena lahir di salah satu negaranya,  Indonesia. Mungkin dibalik nama tersebut tersimpan doa untuk selalu ingat dengan Asean dan menjelajahi setiap negaranya suatu saat. Mba Levi,  panggilan saya kepadanya,  seorang jurnalis dengan segenap ilmunya.

6. Irene

Bagi Kak Irene,  setiap momen merupakan hal yang harus di masukan kedalam channel youtubenya. Iya,  Kak Irene ini adalah youtuber yang sering merekam kejadian setiap hari dan pada saat traveling ke manapun, termasuk perjalanan 3 negara yaitu Indonesia,  Malaysia dan Brunai Darusaalam beberapa waktu yang lalu.

7. Dyah

Dare Pontianak atau Gadis Pontianak ini pengemar EXO dan Drama Korea. Jadi maklum kalau setiap melihat orang yang mirip Opa Korea,  dia tidak segan untuk berfoto bersama dan menirukan gaya-gaya khas Korea.

8. Ero

Design,  Video dan Foto. 3 hal ini yang tak lepas dari dirinya. Dalam setiap waktu,  kamera tidak lepas darinya. Bahkan momen-momen yang langka sekalipun dapat tertangkap olehnya. Video yang dibuatnya tak kalah indahnya, apalagi memang selama ini ia bergelut dengan pembuatan produksi wedding video sehingga sangat tahu angel mana yang sangat bagus.

9. Multi

Sesuai namanya,  Multi,  ia memiliki beberapa keahlian antara lain youtuber dan blogger. Video yang diunggah ke youtube tak jarang memiliki view lebih dari ribuan. Video yang diunggah sering mengambil sudut kota Singkawang sebagai kota asalnya.

10. Teguh

Fotogenik. Begitu kira-kira yang pertama kali saya lihat dalam dirinya. Dalam Instagram, parasnya sangat apik dan sangat menjiwai sebagai model. Namun kenyataanya sangat jauh berbeda,  ia tidak bisa diam dan selalu mengolah kata agar kami tidak lupa untuk tersenyum hari itu.


Sebagai bocoran,  kami memiliki waktu yang sangat panjang di Kota Kinabalu, Sabah. Tidak hanya darat saja, tapi kami akan menjelajahi lautnya karena disini terdapat Island Hoping seperti Manukan dan Sapi. Selain aktivitas laut seperti snorkling, kami juga melakukan Scuba Walk dan Coral Flyers Zipline. Sedangkan malamnya kami di ajak ke Mari-mari Cultural Village.


Besoknya, kami diajak ke Pasar Nabalu dengan view Gunung Kinabalu. Setelah itu kami ketemu dengan Sapi dan Kambing di cattle farm. Dan,  makan siang serta jalan-jalan di Kinabalu Park. Hari ketiga kami akan ke Medical Tourism di KJP Specialist dan Gleneagles.

Berikutnya kami mengunjungi Jesselton Medical Centre kemudian Rafting di Kota Belud dan Dinner di The Crab House. Besoknya kami diajak untuk makan siang di Imago Mall yang terkenal di KK,  Sabah.