5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja


5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja. Hai semua bos-bosque. Pada hari-hari aktif bekerja acapkali saya diserang insomnia, sulit bangun pagi bahkan kesiangan, diganggu sama keinginan untuk liburan atau setidaknya di rumah saja untuk leyeh-leyeh; menonton Upin Ipin dan Larva sambil tiduran di lantai ubin yang dingin. Tapi ketika dirumahkan, tidur lebih lekas, bangun cukup pagi untuk skala universe saya, melakukan banyak kegiatan, dan merindukan hari-hari aktif bekerja. Pertanyaan besarnya adalah apakah saya saja atau kalian juga mengalaminya? Semoga kalian juga mengalaminya agar saya tidak merasa sendiri. Byuuuh. Hehe. Violin Kerong pernah bilang kalau dia dilanda kebosanan tingkat tinggi. Soalnya dirumahkan tidak sama dengan liburan, mau keluar rumah pun kita diwanti-wanti sama orang rumah, manapula traveling. Sama seperti saya mewanti-wanti Thika dan Melly setiap kali mereka keluar rumah.

Baca Juga: 5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona

Empat belas hari #DiRumahSaja berakhir minggu ini. Senin depan, jika belum ada Surat Edaran yang baru dari Rektor Uniflor tentang perubahan waktu dan/atau perpanjangan waktu dirumahkan, maka saya sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Kembali mengikuti upacara bendera, kembali mencari berita, kembali mempublikasikan segala aktivitas yang terjadi di lingkungan Uniflor. Oleh karena itu saya ingin berbagi cerita dengan kalian semua tentang lima kegiatan yang saya lakukan selama di rumah saja.

Yuk, intip!

1. Nge-blog


Jelas ini yang utama meskipun masih belum bisa sepenuhnya blogwalking. Kenapa utama? Karena, jangankan di rumah saja, pada hari-hari aktif pun setiap hari saya nge-blog. Enaknya punya blog bertema harian ya begini. Ada saja yang bisa ditulis. Mulai dari teknologi sampai review. Mulai dari kegiatan sehari-hari sampai dunia Do It Yourself (DIY). Mulai dari kamu sampai ke dia. Haha. Nge-blog ibarat sekolah private. Karena, nge-blog bukan asal menulis saja tetapi juga harus bisa mencari informasi dan/atau referensi akan sesuatu yang hendak ditulis. Contohnya, menulis tentang situasi Itali saat virus Corona mulai tersebar di sana, saya tidak bisa asal menulis. Syukurnya sahabat masa SMA yang kini saya panggil Suster, bertugas di Roma, bisa menjadi narasumber tentang denda yang dikenakan kepada warga yang berkeliaran di taman dan jalanan, serta drone yang dimanfaatkan oleh pihak berwenang untuk memantau warganya. Terima kasih, Suster Marta Soge!


Video di atas adalah video wawancara dari channel si Oedin tentang blogger yang bisa keliling Indonesia. Gratis! Memang tidak semua titik di Indonesia, tetapi cukup menjadi pengalaman terfantastikapharmantara bagi saya pribadi. Insha Allah dapat menjadi inspirasi bagi penontonnya. Mengantongi tiket gratis ke Jakarta, Denpasar, hingga Makassar itu luar biasa. Siapa yang mau memberi kita tiket gratis? Haha. Tapi saat ini, dikasih tiket gratis pun saya tidak mau, kecuali tiket gratisnya boleh disimpan sampai badai ini berlalu.

2. Membikin Konten Youtube


Kegiatan yang baru tiga minggu belakangan saya geluti. Kondisi di rumah saja mendukung saya melakukannya! Hehe. Karena saya punya tiga tema konten Youtube yaitu Blogging, Podcastuteh, dan BlogPacker, maka saya harus pandai-pandai memanfaatkan waktu. Jangan sampai ada celah untuk bengong karena pasti merugi.



Video di atas merupakan salah satu konten dari channel Youtube saya dari tema Blogging. Iya, ada tiga tema yang secara kontinyu dapat kalian lihat selain Blogging, dua lainnya adalah Podcastuteh dan BlogPacker. Selain tiga tema tersebut, ada juga sih video lain yang saya unggah yang bersifat situasional *halaaaah*. Hahahaha.

3. Membaca Buku


Banyak buku yang belum sempat saya baca, satu per satu mulai dikeluarkan dari lemari. Mumpung banyak waktu ini.


Salah satu buku tersebut berjudul Bicara Itu Ada Seninya. Saya sering menulis tentang para penulis yang mengajarkan banyak hal baik pada pembacanya tanpa terkesan menggurui. Tetapi sebenarnya kalau penulis itu memang menggurui ya tidak masalah sepanjang mereka punya kapabilitas untuk melakukannya. Di dalam Bicara Itu Ada Seninya, pembaca diajak untuk mengetahui alasan takut berbicara. Salah satunya karena trauma salah ucap. Saya sering mengalami salah ucap. Tapi untuk sampai pada tahap trauma, belum. Karena toh saya pribadi tidak mengalami kendalam saat berbicara di muka publik. Itu saya. Tapi pasti beda dengan orang lain yang bahkan untuk berdiri di muka publik saja bergetar seluruh tubuh. Intinya adalah harus membuang rasa takut tersebut. Itu yang diungkapkan oleh Oh Su Hyang.

4. Proyek DIY


Huray!! Alhamdulillah, selama dirumahkan saya bisa mewujudkan salah satu keinginan yang sudah lama terpendam. Cie. Haha. Pada akhirnya saya, Thika Pharmantara, dan Melly, membikin lilin berbentuk telur. Proses membikin lilin berbentuk telur ini bisa kalian lihat pada video berikut:



Awalnya mungkin terlihat sulit, tetapi setelah memulai ... ternyata mudah. Yang dibutuhkan adalah ketekunan dan keseriusan saja. Tapi jangan lupa, harus bersenang-senang pula.

5. Berkebun


Dulu, saya sukses berkebun. Jangan berpikir tentang kebun dengan lahan super luas ya. Berkebun di sini artinya memanfaatkan space yang ada di rumah untuk diletakkan polybag yang sudah diisi tanah. Karena di rumah saya kesulitan mendapatkan tanah yang baik/berkualitas, saya perlu meminta tanah pada Abang Umar Hamdan si pentolan Anak Cinta Lingkungan (ACIL), serta meminta aneka bibit dari Cahyadi.


Bagian belakang rumah punya cukup space untuk berkebun haha. Selain empat tanaman sorgum yang sudah tumbuh besar dan sebentar lagi dapat dipanen, cieeee dipanen, juga ada tanaman merungge/marungge yang juga sudah bisa dipetik dan diolah atau ditumis sebagai teman nasi. Sedangkan tanaman lainnya baru saja ditanam bibitnya antara lain cabe, tomat, terung, sayur sawi, dan bengkoang. Ada dua bibit yang baru saya coba tanam yaitu kacang dan bunga matahari. Sementara besok lusa saya hendak menanam kentang dan ubi tatas. Semoga.


Asyik juga ... hehe. Di rumah saja tidak selamanya makan, tidur, pengen balik kantor, dan lain sebagainya. Di rumah saja malah memberi kesempatan saya melakukan banyak kegiatan, seperti lima kegiatan di atas.

Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca

Bagaimana dengan kalian, kawan? Apa sajakah kegiatan yang kalian lakukan saat di rumah saja? Komen di bawah. Saya berharap pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Setidaknya, setelah membaca ini kalian langsung pergi ke belakang rumah dan mulai menanam tanaman-tanaman yang bermanfaat. Yuk!

#KamisLima



Cheers.

Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah


Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah. Setiap menjelang Hari Raya Paskah, ada teman-teman yang menjual lilin Paskah dalam kemasan gelas mini di mana bagian luar gelas dicetak tulisan Paskah begitu. Sudah lama saya juga pengen bikin lilin semacam itu tapi bentuknya beda. Berbentuk telur! Kita semua tentu tahu bahwa Paskah identik dengan telur. Easter Egg. Keinginan yang lama terpendam itu baru bisa dilaksanakan Selasa kemarin. Maklum #DiRumahSaja harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Banyak yang mengeluh di rumah saja bikin mati gaya. Ah, siapa bilang? Hehe. Bagi saya, di rumah saja berarti bisa melakukan banyak hal, termasuk membenahi belakang rumah bekal berkebun! 

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Tapi hari ini saya belum bercerita tentang belakang rumah yang proyek DIY-nya sudah sudah dimulai itu. Hari ini saya akan menghadirkan cara membikin lilin berbentuk telur yang sebenarnya sangat mudah. Mari tengok bahan-bahannya:

1. Lilin.
2. Cangkang telur.
3. Crayon jika ingin lilinnya berwarna.
4. Suntikan (bekas tinta printer).

Untuk proses membikinnya, bisa kalian tengok pada video di bawah ini:


Selalu ada cerita menarik dari pengalaman pertama. Sama juga, kemarin itu untuk percobaan pertama, saya rasa cukup sukses menghasilkan lilin-lilin berbentuk telur. Kemarin itu bikinnya memang belum pakai crayon (untuk warna). Kami malah mencoba memakai pewarna makanan! Haha. Mana bisa. Yang ada di pewarna lari ke tempat lain si lilin lari ke tempat lain. Mereka tidak bisa kawin *ngakak*.

Bagaimana ... jika kalian masih #DiRumahSaja, yuk dicoba.

#RabuDIY



Cheers.

Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i


Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i. Sebenarnya saya membutuhkan kamera baru yang legit untuk keperluan pekerjaan. Tetapi, setelah dipikir-pikir, banyak telepon genggam dilengkapi dengan kamera yang mumpuni. Pekerjaan saya itu mobile, liputan ke sana sini, dan sejak lama saya memang lebih suka memakai kamera Xiaomi Redmi 5 Plus ketimbang Canon Eos600D untuk urusan pekerjaan ini. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memiliki sebuah telepon genggam yang sudah lama bikin mupeng. Meskipun kata orang-orang hasil fotonya tidak realistis karena tone warna sepertinya ditingkatkan, tapi saya suka karena bukankah saya sendiri juga acap meningkatkan tone warna foto? Selain itu, konon telepon genggam yang satu ini punya mode wide, dan juga asyik banget kalau dipakai foto malam hari.

Baca Juga: Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor

Eng ing eng ...

Namanya Realme 5i. Versi ekonomis dari Realme 5. Hehe.

Seperti apa sih Realme 5i ini? Sudah banyak artikel yang mengulas tentang Realme 5i. Saya bahkan sudah menonton ulasannya oleh David pada channel Gadgetin. Rencananya sih kemarin pengen bikin video unboxing tapi saya tidak berbakat. Hahahaha. Meskipun tidak bikin videonya, tapi mari kita unboxing Realme 5i.

Unboxing Realme 5i


Kotak Realme 5i berwarna kuning! Sebagai Presiden Negara Kuning, saya bangga. Haha. Di bagian depan seperti biasa ada tulisan 5i dan Realme. Di bagian belakang kotak ada keterangan: Massive Battery 5.000mAh, Ultra-Wide Quad Camera, Snapdragon 665 AIE, sama 6,5" (16,5cm) Mini-drop Display.


Waktu unboxing di dalam kotak tersebut terdapat: 1 telepon genggam Realme 5i, adaptor dan kabel (charger), kotak berisi kunci slot dan petunjuk pemakaian. Slot kartu bisa mengisi dua kartu nano dan satu kartu memori. Bagian belakang telepon genggam ini terdapat satu finger print, satu flash, dan empat kamera. Satu kamera lagi di bagian depan. Empat kamera di belakang itu terdiri dari: 12 MP kamera utama, 8 MP Wide, 2 MP Portrait, dan 2 MP makro. Sementara itu untuk fasilitas aplikasi kamera ini ada macam-macam: Video, Foto, Potret, terus ada pilihan foto Bentang Malam, Pano, Mode Pakar, Selang Waktu, Slo-Mo, dan Ultra Macro. Mode Wide sampai Penguat Kroma ada pada bagian atas layarnya.

Hasil Foto


Dan berikut hasil fotonya. Ini hasil foto kamera utama:


Yang ini hasil foto portrait (bokehnya itu):


Wide? Iya, ini hasil kamera wide-nya:


Dan yang berikut-berikut ini saya lupa mode apa hahaha.




Sementara saya belum mencoba foto di malam hari, di luar rumah, nanti deh bakal saya coba hehehe. Anyhoo, foto-foto di atas difoto tanpa harus mengatur ini itu dulu, jadi saya belum tahu seberapa bagusnya lagi hasil foto dan video dari Realme 5i.


Saya tidak membahas terlalu panjang tentang Realme 5i ini. Intinya telepon genggam ini asyik banget diajak foto dan merekam video. Hasilnya jauh lebih oke dari telepon genggam sebelumnya yaitu Xiaomi Redmi 5 Plus. Bagaimana jika dibandingkan dengan Redmi Note 8? Aaaaa, kata David, beda paling mendasar adalah pada kamera utama karena hasil kamera utama Redmi Note 8 punya resolusi 48 MP untuk kamera utama. Tapi hasilnya juga tidak berbeda jauh. Beda paling utama adalah warna hahaha. Seperti yang saya bilang, tone warna dari Realme 5i rada lebih tinggi dari tone sebenarnya.

Baca Juga: Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Menurut saya, untuk ukuran kantong missqueen seperti saya, ditambah kebutuhan untuk pekerjaan dan hobi, saya pikir Realme 5i sudah bagus sekali. Bagaimana menurut kalian? Komen di bawah. Hehe.

#SelasaTekno



Cheers.

[Video] Tips Editing Bag.1

Kali ini kita akan belajar tentang editing podcast dengan menggunakan Audacity, sebuah aplikasi editing suara open source. Pertama kita akan belajar dulu prinsip-prinsip editing mulai dari merekam, memotong, memindahkan bagian-bagian audio tertentu. Targetnya adalah bisa melakukan editing sederhana. Di akhir juga akan ada sesi menjawab beberapa pertanyaan dari teman-teman seputar editing.

Bisa dilihat di bawah ini atau langsung ke channel: Youtube.com/RANEHAFIED.

Semoga bermanfaat 🙂

Informasi terkait:

Pertanyaan dan komentar bisa dikirim ke suarane@gmail.com

Penjelasan Paling Masuk Akal Dari Kematian Elisa Lam


Penjelasan Paling Masuk Akal Dari Kematian Elisa Lam. Sampai sebelum kami memasang IndiHome di Pohon Tua, internet masih menjadi barang yang cukup mahal bagi saya, apalagi jika ingin menonton video di Youtube. Mengatasi masalah susah tidur, yang saat ini lumayan teratasi dengan menonton Upin Ipin dan Larva, saya sering membaca artikel-artikel aneh. Seaneh kata/kalimat pencarian di Google yaitu kejadian aneh dunia, misteri dunia yang belum terpecahkan, daerah terangker di dunia, penampakan hantu, hingga teori-teori konspirasi oleh kelompok yang kita sebut Illuminati. Kalian boleh menyebut saya aneh dan menjengkelkan. Tapi yang jelas, kalau membaca artikel teori konspirasi apa pun, jangan mudah terbawa arus apalagi mempercayainya. Itu tidak bagus bagi kesehatan akal dan mental.

Baca Juga: Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing

Salah satu pencarian aneh di Google itu mempertemukan saya dengan Cecil Hotel, sebuah hotel yang disebut angker, berhantu, dan sering terjadi hal-hal mengerikan. Dari situlah saya tahu tentang kasus kematian seorang perempuan muda bernama Elisa Lam. Penasaran dengan kasus kematiannya, saya mengganti kata/kalimat pencarian di Google sebagai berikut: kematian Elisa Lam. Ternyata banyak situs baik Bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang membahas tentang perempuan tersebut. Sampai, kemudian setelah berfoya-foya dengan internet - haha, saya menemukan video yang membahas tentang misteri kematiannya. Bertahun-tahun mencari dan memperoleh informasi tentang Elisa Lam, konklusionnya hanya satu: berkaitan dengan misteri dan makhluk astral. Manapula dari rekaman CCTV di lift hotel tersebut, perilaku Elisa Lam begitu aneh. Membikin kita yang menonton ikut merasakan kengerian yang sedang dia hadapi.

Sabtu malam kemarin merupakan hari bersejarah karena pada akhirnya saya menemukan video dari channel The Chapter dengan host bernama Mike, yang membahas tuntas kematian Elisa Lam. Saya harus berterima kasih pada Yuvi Phan yang menyebut nama Jodi Arias, dan pencarian Jodi Arias mengantar saya pada The Chapter. Kalian harus menonton video Jodi Arias, perempuan tersadis, pembunuh berdarah dingin, seorang manipulator.

Anyhoo, mari kembali pada Elisa Lam.

Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya ingin mengingatkan pada kalian bahwa tulisan ini merupakan tulisan yang sangat panjang dengan banyak penjelasan. Bersabarlah dan membacalah dengan runut. Haha *dijumroh warga*.

Elisa Lam


Dari video The Chapter tentang Elisa Lam, juga informasi lain yang saya rangkum dari intenet, diketahui Elisa Lam lahir pada tahun 1991 di Vancouver, Canada. Orangtuanya adalah imigran asal Hongkong. Di Vancouver, orangtuanya membuka sebuah restoran bernama Paul's. Elisa mempunyai seorang adik perempuan bernama Sarah dan hubungan kakak-beradik ini sangat dekat. Ketika tumbuh besar, Elisa mempunyai lingkaran pertemanan yang baik dan sangat dekat dengan keluarganya. Dia digambarkan sebagai orang muda yang supel dan banyak bicara. Buku favoritnya berjudul The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald.

Pada tahun 2010 Elisa mulai nge-blog dengan judul blog Ether Fields, yang sepertinya blog tersebut memakai platform Tumblr. Saya juga punya blog di Tumblr loh, haha. Ether Fields membahas ketertarikan Elisa terhadap dunia fashion. Banyak foto-foto dirinya dengan berbagai gaya/fashion. Tetapi, pada blog itu juga ditemui banyak tulisan tentang sisi instropektif dirinya. Salah satu tulisan yang diangkat oleh The Chapter adalah sebagai berikut: 

Quotation marks:
"Loneliness is the human condition. Cultivate it. The it tunnels into you allows your soul room to grow. Never expect to ougrow loneliness. Never hope to find people who will understand ou, someone fo fill that space. And intelligent, sensitive person the exception, the very great exception. If you expect to find people who will understand you, you will grow murderous with disappointment. The best you'll ever do is to understand yourself, know what it is that you want, and not let the cattle stand in your way." - Jane Fitch (White Oleander).

Salah satu pos blog-nya, Elisa menjelaskan tentang masalah kesehatan dirinya:

Dizzy

I've been having headaches for the past two days and my vision shakes when I stand. I'm not sure if it's vertigo but definitely do not feel stable even when sitting. It also gets hard to focus at time. I can't seem to process the whole scene, almost like tunnel-vision on a hand-held camera.

If only family doctors worked on Sunday. I don't see why a few can't decide to work weekends and closer on other days of the week. Sickness doesn't take a day off and even pharmacists are available 7 days a week. Oh well, nothing I can do unless I feel like going to the hospital (no way). 

Sekitar waktu itulah Elisa didiagnosis menderita gangguan bipolar dan depresi. Situs Alodokter menjelaskan gangguan bipolar sebagai berikut: 

Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis. Seseorang yang menderita bipolar dapat merasakan gejala mania (sangat senang) dan depresif (sangat terpuruk).

Gangguan bipolar umumnya ditandai dengan perubahan emosi yang drastis, seperti:

Dari sangat bahagia menjadi sangat sedih.
Dari percaya diri menjadi pesimis.
Dari bersemangat menjadi malas beraktivitas.

Setelah lulus SMA, Elisa terdaftar di University of British Columbia. Namun saat kuliah itu masalah kesehatan mentalnya memburuk. Merujuk pada informasi dari situs Alodokter di atas, yaitu perubahan menjadi malas beraktivitas, sesuai dengan tulisan blog Elisa yang ditulis pada Januari 2012 berikut ini:

I feel I am wasting my time compared to my fellow peers. I had a repalse at the start of the term and had to drop 2 or the 3 courses I was taking. Now I am down to one course and I have missed 3 weeks of classes since my sleeping pattern is completely reversed. I'm bit defeated for I have far too much free time and no one to spend time with. I'm checking emails, bloglovin', facebook and tumblr all the time and even jumped into the twitter today. I have a short attention span and I'm avoiding writing the 3 papers I owe this course (it's two terms) I can text friends who are busy with either school or work but I have neither of these things going for me.

Elisa, berubah dari aktif menjadi pasif. Malas melakukan ini itu. Beberapa kursusnya berhenti. Dia melewatkan kelas-kelas yang harusnya dihadiri. Dia juga tidak mengerjakan makalah/tugas. Mager? Ya, begitulah. Dia lebih sering menghabiskan waktu untuk online baik di media sosial, nge-blog, maupun e-mail.

Beberapa bulan kemudian di blog-nya dia menulis:

Worries of a twenty something

I spent about two days in bed hating myself.

Pos terakhir di blog-nya pada Juli 2012:

Tumblr

I am much more activ on tumblr. This is going to stay as a reminder of what I was thinking.

Best,
L.L.

Stay On Main Hotel a.k.a. Cecil Hotel


Awal tahun 2013 Elisa mengambil keputusan untuk berhenti (sementara?) kuliah dan traveling ke California, sendirian. Selama traveling dia akan menghubungi orangtuanya beberapa kali sehari, bercerita pada mereka rencana-rencananya. Dia juga traveling ke San Diego. Pada Hotel Stay On Main di pusat kota Los Angeles, yang dulunya bernama Cecil Hotel, dia memesan kamar untuk tiga malam yaitu untuk tanggal 28 Januari 2013 sampai 31 Januari 2013. 

Seperti yang saya tulis di awal, Hotel Stay On Main a.k.a. Cecil Hotel ini disebut angker, berhantu, dan sering terjadi hal-hal mengerikan. Sejak dibangun tahun 1927, banyak terjadi hal-hal 'gelap' di sana. Pembunuh berantai Richard Ramirez dan Jack Unterweger tinggal di sana untuk waktu yang lama. Ada banyak pembunuhan menakjubkan yang terjadi di hotel ini. Pada era 50-an dan 60-an, hote; ini menjadi, semacam, hotspot bunuh diri. Bahkan yang paling baru, pada tahun 2014, pada sebuah foto jendela hotel ini ada penampakan hantu. Tampaknya sih seperti hantu, tapi entahlah. Selain foto hantu, hotel ini terletak di Skid Row. Daerah ini bukan bagian terbaik di Los Angeles. 

Di Hotel Stay On Main, Elisa berbagi kamar dengan dua orang lainnya (shared room). Tapi, teman sekamarnya komplain sama sikap dan/atau perilaku Elisa yang aneh. Oleh karena itu dia kemudian dipindahkan ke kamar sendiri supaya tidak mengganggu orang lain. Pada saat itu dia masih menghubungi orangtuanya, dan mereka bilang saat menelepon si Elisa ini baik-baik saja.

31 Januari 2013, Elisa dijadwalkan untuk check out dari hotel. Tapi ... dia tidak melakukannya. Pada hari itu juga, dia juga tidak menelpon ke rumahnya/orangtua. Ini pertama kali terjadi, dia tidak menghubungi orangtuanya, selama seluruh perjalanannya. Saat dia tidak menelepon, orangtuanya kuatir dan tidak bisa menghubunginya balik, mereka menelepon Los Angeles Police Department (LAPD). Atas laporan tersebut, pada tanggal 1 Februari 2013, polisi pergi ke Hotel Stay On Main. Orangtuanya dan Sarah turut mencari dari kamarnya hingga ke atap hotel. Hasilnya nihil. Bahkan anjing pelacak juga tidak menemukan apa-apa.

Pada saat itu orangtua Elisa tidak mengatakan atau memberitahu polisi tentang masalah kesehatan mentalnya. 

Teori Konspirasi


Pada akhirnya jasad Elisa Lam ditemukan di tangki air pada atap Hotel Stay On Main. Hal ini dipicu oleh komplain tamu hotel atas rasa, aroma, dan warna air hotel yang mendadak aneh. Ya tentu lah, ada jasad Elisa di dalam sumber air hotel! Penemuan jasad Elisa menimbulkan lebih banyak teori konspirasi.

1. Elisa dihantui.
2. Elisa dikuntit sama pembunuh.
3. Elisa dijadikan tumbal hotel.

Dan lain-lain teori, terutama jika merujuk pada rekaman CCTV di lift. Jangan-jangan Elisa diajak main petak-umpet sama hantu. Jangan-jangan ada pembunuh berdarah dingin yang sedang mengincarnya. Jangan-jangan ada stalker dari daerah Skid Row yang pengen banget 'ngerjain' dia. Jangan-jangan dia justru dikerjai sama orang hotel. Byuuuuuh.

Penjelasan Paling Masuk Akal Dari Kematian Elisa Lam


Dari semua informasi yang saya peroleh selama mencaritahu tentang kematian Elisa Lam, pada akhirnya semua terjawab oleh The Chapter. Saya sangat-sangat senang saat menonton video tersebut. Bukan, bukan senang atas kematian Elisa Lam, tetapi senang karena pada akhirnya ada penjelasan paling masuk akal dari kematiannya yang selama ini masih menjadi misteri dalam benak saya pribadi. Bertahun-tahun mencari dan memperoleh informasi tentang Elisa Lam, konklusionnya hanya satu: berkaitan dengan misteri dan makhluk astral. Tapi ternyata gangguan bipolar dan depresi yang menjadi penyebab kematiannya.

Pertama:
Rekaman CCTV yang menggambarkan sebuah lift di mana Elisa Lam nampak seperti orang kebingungan, orang ketakutan, orang dengan tingkat panik tinggi, gelisah tidak karuan, meloncat masuk-keluar lift, di luar lift dia melihat ke sana-sini, masuk lift dia memencet tombol-tombol, sesungguhnya menjelaskan dengan sangat akurat bahwa pada saat itu Elisa Lam sedang mengalami dan/atau kambuh gangguan bipolar yang sangat parah. Secara perilaku, orang yang sedang mengalaminya akan melakukan perilaku beresiko, agresif, agitasi, gelisah, menyakiti diri sendiri, perilaku hiperaktif atau perilaku impulsif. Secara kognitif, orang yang sedang mengalaminya dipengaruhi oleh pikiran yang tidak diinginkan, delusi, kehilangan konsentrasi, sampai perubahan pola pikir. Secara psikologis, orang yang sedang mengalaminya pasti depresi, episode manik, hingga paranoid. Paranoid adalah gangguan mental yang diderita seseorang yang meyakini bahwa orang lain ingin membahayakan dirinya. Dikatakan sebagai bentuk gangguan bila perilaku tersebut sifatnya irasional, menetap, mengganggu, dan membuat stres. Gangguan bipolar Elisa kambuh karena tidak meminum obat.

Kedua:
Banyak pertanyaan dari pihak yang mempertahankan kemisteriusan, kehororan, kehantuan, keastralan, hingga pembunuh berantai, mengatakan bahwa bagaimana caranya Elisa Lam bisa berada di dalam tangki air hotel yang sulit dijangkau dan untuk membukanya saja butuh tenaga yang kuat? Lantas, bila dia memang masuk ke tangki air by herself, bagaimana caranya dia menutup tangki air tersebut? Mike dari The Chapter menjelaskan bahwa tidak sulit mencapai tangki air Hotel Stay On Main tersebut karena ada semacam bangunan mini di atap yaitu storage room, tepat di samping tangki air. Dari atap bangunan mini ini, siapa pun bisa menjangkau tangki air dan masuk ke dalamnya. Perihal pernyataan membuka dan menutup tangki air yang membutuhkan tenaga super kuat, bisa jadi sebenarnya saat itu posisi salah satu tangki air (ada empat tangki air di atas atap ini) sedang terbuka saat Elisa tidak sengaja (atau sengaja, who knows?) meloncat dan/atau masuk ke dalamnya, dan petugas hotel yang tidak tahu ada seorang perempuan di dalamnya datang dan menutup tangki air bersangkutan.

Dan itu, menurut saya, sangat masuk akal.


Oleh pihak berwenang, Elisa Lam dikatakan mengalami kecelakaan hingga tenggelam dan tewas. Semua yang saya tulis merupakan penjelasan yang menurut saya pribadi paling masuk akal atas kematian Elisa Lam: mengalami gangguan bipolar dan gangguan tersebut menyebabkan delusi hingga mendorongnya melakukan hal-hal di luar nalar. Terima kasih The Chapter. Meskipun sepertinya di dalam video The Chapter masih ada keragu-raguan dari penjelasannya sendiri. Dan, mungkin kalian akan mengatakan bahwa saya terlambat menulis tentang ini, tapi ini merupakan ujung dari sesuatu yang saya anggap 'masuk akal' setelah sekian tahun bertanya-tanya.

Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Yang jelas, siapa pun kalian, apabila mengetahui salah satu anggota keluarga mengalami gangguan bipolar, tolonglah dia jangan diijinkan untuk melakukan perjalanan sendirian. Apa pun yang terjadi, orang sakit harus didampingi. Kalian pasti pernah bertemu orang sakit yang malas minum obat karena merasa tidak terjadi perubahan dalam dirinya meskipun telah rajin meminum obat kan? Kalian juga pasti pernah bertemu orang sakit yang berkata: lebih baik saya mati daripada hidup sengsara, kan? Orang sakit fisik saja harus didampingi, apalagi orang sakit mental. Setidaknya, ini menurut pendapat saya pribadi, orang awam.

Terima kasih sudah membaca.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya


Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya. Hai kalian bos-bos pembaca blog! Di rumah saja akibat penyebaran virus Corona di Indonesia memberi kesempatan pada kita untuk melakukan banyak kegiatan. Salah satunya: membaca buku. Coba kalian ingat-ingat lagi, sudah berapa banyak buku yang dibaca sepanjang tahun 2020 yang baru berjalan tiga bulan ini? Lima? Atau bahkan sudah enam belas buku? Tentu dua minggu dirumahkan bukan berarti saya semata-mata membaca buku. Banyak kegiatan lain yang juga dilakukan antara lain nge-blog dan membikin video: Blogging, BlogPacker, dan Podcastuteh untuk diunggah di Youtube. Yuhuuuuu. By the way, salah satu buku yang saya baca setelah buku berjudul The Secret of Ikigai adalah Bicara Itu Ada Seninya. Artinya, jangan suka nyablak! Haha.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Seperti apa sih buku berjudul Bicara Itu Ada Seninya?

Cekidot!

Bicara Itu Ada Seninya


Bicara Itu Ada Seninya ditulis oleh Oh Su Hyang. Oh Su Hyang adalah seorang dosen dan pakar telekomunikasi di Korea Selatan. Jadi, kalian jangan hanya tahu K-Pop, Drama Korea, atau Tuba Entertainment yang memproduksi Larva, tetapi juga harus tahu bahwa dari negara unik itu juga ada seorang pakar telekomunikasi. Diterjemahkan oleh Asti Ningsih, buku terbitan Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP) yang merupakan Kelompok Gramedia ini bersampul hitam dengan tulisan berhuruf besar berwarna putih. Tagline-nya: The Secret Habits to Master Your Art of Speaking (Rahasia Komunikasi yang Efektif)Sebanyak 238 kita akan diajarkan secara tidak langsung tentang seni berbicara. Tahukah kalian, ternyata storytelling merupakan plot yang kokoh?

Saya tertarik dengan narasi pada sambul belakang buku ini:

Ketika komunikasi menjadi hal yang penting untuk bersaing, pakar komunikasi Oh Su Hyang mengeluarkan buku yang sangat berarti. Selain berisi tentang pengalaman pengembangan diri, buku ini juga membahas tentang teknik komunikasi, persuasi, dan negosiasi.

Lalu bagaimana cara berbicara yang baik? Apakah berbicara dengan artikulasi yang jelas? Atau berbicara tanpa mengambil napas? Tidak! Sebuah ucapan yang bisa disebut baik adalah yang bisa menggetarkan hati. Ucapan seorang juara memililki daya tarik tersendiri. Ucapan pemandu acara memiliki kemampuan untuk menghidupkan suasana. Anda harus pandai berbicara untuk menunjukkan diri Anda kepada lawan bicara dalam kehidupan sosial. Orang yang berbicara dengan mahir akan menjadi lebih maju daripada yang lainnya. Untuk mencapai tujuan komunikasi, persuasi, dan negosiasi, Anda harus mengetahui metode komunikasi yang efisien.


Berisi bab-bab dengan bahasa yang ringan, pengalaman-pengalaman, ragam tips dan trik, saya pikir kalian wajib membaca buku yang satu ini.

Mengajarkan Tanpa Harus Menggurui


Saya sering menulis tentang para penulis yang mengajarkan banyak hal baik pada pembacanya tanpa terkesan menggurui. Tetapi sebenarnya kalau penulis itu memang menggurui ya tidak masalah sepanjang mereka punya kapabilitas untuk melakukannya. Di dalam Bicara Itu Ada Seninya, pembaca diajak untuk mengetahui alasan takut berbicara. Salah satunya karena trauma salah ucap. Saya sering mengalami salah ucap. Tapi untuk sampai pada tahap trauma, belum. Karena toh saya pribadi tidak mengalami kendalam saat berbicara di muka publik. Itu saya. Tapi pasti beda dengan orang lain yang bahkan untuk berdiri di muka publik saja bergetar seluruh tubuh. Intinya adalah harus membuang rasa takut tersebut. Itu yang diungkapkan oleh Oh Su Hyang.

Mengubah cara bicara, mengubah cara hidup, juga tertuang di dalam buku ini. Mengubah cara bicara tidak terjadi sekedip mata. Oh Su Hyang mengajarkan tentang latihan di balik panggung gelap, dengan contoh (alm.) Steve Jobs. Membaca bagian ini saya ingat diri sendiri. Jujur, saya seringkali berbicara dengan nada yang cukup tinggi, kecepatan cahaya, sehingga sering belepotan. Diimbuh suara yang cempreng. Oh lala, yang mendengar saya bicara pasti langsung sakit kepala. Tetapi setelah menjadi penyiar radio, saya harus bisa menjadi orang lain yang mendengarkan diri sendiri berbicara. Ah, ternyata memang benar, bicara itu ada seninya. Hahaha.

Perkara yang juga diajarkan Oh Su Hyang dalam Bicara Itu Ada Seninya adalah tentang Sepuluh Aturan Komunikasi:

1. Kata-kata yang tidak bisa diucapkan di "depan", jangan dikatakan di "belakang". Gunjingan sangatlah buruk.

2. Memonopoli pembicaraan akan memperbanyak musuh. Sedikit berbicara dan perbanyak mendengar. Semakin banyak mendengar akan semakin baik.

3.Semakin tinggi intonasi suara, makna dari ucapan akan semakin terdistorsi. Jangan menggebu-gebu. Suara yang rendah justru memiliki daya.

4. Berkata yang menyenangkan hati, buka sekadar enak didengar.

5. Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. Berbicara yang mudah dimengerti, bukan yang mudah diucapkan.

6. Berbicaralah dengan menutupi aib dan sering memuji.

7. Berbicara hal-hal yang menyenangkan, bukan yang menyebalkan.

8. Jangan hanya berkata dengan lidah, tetapi juga dengan mata dan ekspresi. Unsur non-verbal lebih kuat daripada unsur verbal.

9. Tiga puluh detik di bibir sama dengan tiga puluh tahun di hati. Sepatah kata yang kita ucapkan mungkin saja akan mengubah kehidupan seseorang.

10. Kita mengendalikan lidah, tapi ucapan yang keluar akan mengendalikan kita. Jangan berbicara sembarangan dan bertanggungjawablah terhadap apa yang sudah Anda ucapkan.


Sehingga, kalau kalian menyimpulkan buku ini tidak hanya menuangkan 'ilmu' berbicara di muka publik tetapi juga terhadap teman ... betul sekali. Tentunya masih banyak pelajaran lain yang bisa kalian ambil dari buku ini demi kelancaran komunikasi baik dengan orangtua, saudara, kawan, tetangga, kekasih, maupun musuh! Hehe.

Mengaplikasikannya Dalam Kehidupan Sehari-Hari


Beberapa teman-teman yang hendak mengikuti ujian skripsi sering bertanya pada saya, bagaimana bersikap di dalam ruang sidang skripsi. Saran saya pada mereka:

Pertama:
Harus menguasai penelitian yang sudah diubah dalam bentuk skripsi tersebut! Bagaimana bisa berbicara kalau materinya tidak dikuasai? Kuasai permasalahannya, kuasai undang-undang yang dipakai, kuasai pemecahan masalahnya.

Kedua:
Berbicara tanpa 'eee', tanpa 'anu'. Berbicaralah dengan tegas, lugas, tanpa keraguan sedikit pun, namun tidak berkesan sombong. Karena biarpun kalian menguasai 100% materi tetapi tidak didukung dengan kemampuan berbicara yang baik ... Wassalam. Oleh karena itu, harus berlatih berbicara dimulai dengan "Selamat pagi, nama saya Abcefg, NIM sekian, judul penelitian saya adalah Ini Itu Adalah Ini Itu".

Ketiga:
Menatap wajah dosen dengan tatapan pasti. Percaya diri.

Keempat:
Bawa selalu Tuhan dalam setiap perkataan.


Jadi, kawan, jangan pernah menganggap remeh para pewara alias master of ceremony. Apa pun acara kalian, tanpa pewara, bakal garing. Merekalah yang membawa acara kalian menjadi terarah dan meriah. Pewara bukan sekadar pewara, tetapi mereka harus menguasai pula inti acara yang dibawakan tersebut. Otak mereka harus menerima informasi-informasi baru, mengolahnya, untuk melengkapi pekerjaan membawa acara. Saya sering sedih kalau mendengar orang-orang berkata: apa eeee omong begitu saja bayar sampai jutaan. Kadang saya langsung membalas: mau yang murah? MC sendiri, jangan minta jasa MC kondang. Meskipun bukan pewara tapi saya sangat tahu persis betapa susahnya jadi pewara, terutama pewara perempuan yang selain mengandalkan otak dan seni berbicara, juga harus memerhatikan penampilan.

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua.

Selamat menikmati akhir minggu. Dan setidaknya saya cukup senang mendengar berita dari RRI Ende yang mengabarkan ODP di Ende dari 22 turun hingga 3. Dari 3 ODP, 2 sudah dirumahkan (karantina diri sendiri), 1 masih dirawat di ruang karantina RSUD Ende karena masih balita. Semoga badai ini lekas berlalu ...

#SabtuReview



Cheers.

#PDL Pernah Menikmati Masa Indah Bersama Walkman


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Pernah Menikmati Masa Indah Bersama Walkman. Saya sedang di rumah saja, dan suasana sedang hujan. Hujan kadang membawa saya pada memori masa lalu. Jadi ingat dulu sering sumbatin lobang hidung pakai tisu, sering banget nongkrong dan ngopi di kafe, sering sakit kepala kalau melihat Pohon Tua berantakan, sering jalan ke luar daerah tanpa perencanaan, sering melakukan hal-hal gila. Eh, sekarang sih masih sering melakukan hal-hal gila meskipun frekuensinya berkurang drastis. Maklum, sudah uzur. Haha.

Baca Juga: #PDL Komputer Pentium II Andalan yang Dimuseumkan

Dan hari ini saya terbawa pada masa SMP dulu saat pertama kali berkenalan dengan sebuah benda bernama Walkman. Anak-anak zaman sekarang belum tentu tahu soal walkman ini. Haha. Alhamdulillah saya pernah menikmati masa indah bersamanya.

Menurut Wikipedia, Walkman adalah pemutar audio kaset sebagai pemutar audio dan video portabel. Walkman mengubah kebiasaan mendengarkan musik, sehingga seseorang dapat mendengarkan musik di mana saja. Walkman dirilis pada tahun 1979 dengan nama Walkman di Jepang, dan disebut Soundabout di negara seperti Amerika Serikat, Freestyle di Swedia dan Stowaway di Inggris Raya. Peralatan ini dibuat pada tahun 1978 oleh enjiner audio Nobutoshi Kihara untuk mantan ketua Sony Akio Morita, yang ingin mendengarkan musik ketika perjalanan dengan pesawat terbang. Morita tidak menyukai nama "Walkman" dan meminta untuk mengantinya, tetapi dibatalkan ketika pelaksana yuniornya telah memulai penjualannya dengan nama Walkman, sehingga akan mahal ketika diganti.

Mengapa disebut Walkman, mungkin karena orang-orang yang sedang berjalan tetap dapat mendengarkan musik kegemaran mereka. Haha. Asli, itu cuma terjemahan lurus, menurut saya. Yang jelas saya punya Walkman pertama bermerek Sanyo, bukan Sony. Mendengarkan Walkman ini pun harus pakai headset. Kemudian saya dibelikan Walkman yang bisa didengarkan tanpa harus menggunakan headset. Masa SMP saya begitu indah. Hehe. Kaset pita di rumah kami itu diletakkan dalam peti kayu super besar dan kebanyakan memuat musisi kegemaran (alm.) Kakak Toto Pharmantara seperti Iwan Fals, Doel Sumbang, Koes Plus, Fariz RM, Def Lepard, dan lain sebagainya. Setelah itu, saya mulai membeli sendiri kaset pita penyanyi favorit seperti, Trio Libels, Cool Colours, Oppie Andaresta, Java Jive, Slank, Imanez, sampai kompilasi kayak Pesta Rap.

Coba bayangkan:

1. Suasana hujan.
2. Ngemil es puter + alpukat.
3. Pisang mentah digoreng.
4. Dengerin Walkman.
5. Baca Wiro Sableng.

Surganya anak SMP waktu itu!

Baca Juga: #PDL Merawat Bumi Merupakan Bagian dari Merawat Akal

Zaman Walkman kemudian memudar dengan adanya Discman. Pelan-pelan kaset pita sudah tidak ditemukan lagi di toko kaset, berganti CD dan VCD. Padahal saya paling senang sama sampul kaset pita karena pasti memuat semua lirik lagu dalam album tersebut! zaman CD, kemudian VCD, kemudian DVD, menyebabkan pembajakan terjadi tanpa ampun dan menyebabkan begitu banyak musisi merugi. Tapi, yang namanya zaman ... semakin canggih ... ya begitu itu.

Tapi yang jelas, saya pernah menikmati masa indah bersama Walkman. Bagaimana dengan kalian? Komen di bawah. Hehe.

#PDL
#Jum'at



Cheers.

#PDL Pernah Menikmati Masa Indah Bersama Walkman


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Pernah Menikmati Masa Indah Bersama Walkman. Saya sedang di rumah saja, dan suasana sedang hujan. Hujan kadang membawa saya pada memori masa lalu. Jadi ingat dulu sering sumbatin lobang hidung pakai tisu, sering banget nongkrong dan ngopi di kafe, sering sakit kepala kalau melihat Pohon Tua berantakan, sering jalan ke luar daerah tanpa perencanaan, sering melakukan hal-hal gila. Eh, sekarang sih masih sering melakukan hal-hal gila meskipun frekuensinya berkurang drastis. Maklum, sudah uzur. Haha.

Baca Juga: #PDL Komputer Pentium II Andalan yang Dimuseumkan

Dan hari ini saya terbawa pada masa SMP dulu saat pertama kali berkenalan dengan sebuah benda bernama Walkman. Anak-anak zaman sekarang belum tentu tahu soal walkman ini. Haha. Alhamdulillah saya pernah menikmati masa indah bersamanya.

Menurut Wikipedia, Walkman adalah pemutar audio kaset sebagai pemutar audio dan video portabel. Walkman mengubah kebiasaan mendengarkan musik, sehingga seseorang dapat mendengarkan musik di mana saja. Walkman dirilis pada tahun 1979 dengan nama Walkman di Jepang, dan disebut Soundabout di negara seperti Amerika Serikat, Freestyle di Swedia dan Stowaway di Inggris Raya. Peralatan ini dibuat pada tahun 1978 oleh enjiner audio Nobutoshi Kihara untuk mantan ketua Sony Akio Morita, yang ingin mendengarkan musik ketika perjalanan dengan pesawat terbang. Morita tidak menyukai nama "Walkman" dan meminta untuk mengantinya, tetapi dibatalkan ketika pelaksana yuniornya telah memulai penjualannya dengan nama Walkman, sehingga akan mahal ketika diganti.

Mengapa disebut Walkman, mungkin karena orang-orang yang sedang berjalan tetap dapat mendengarkan musik kegemaran mereka. Haha. Asli, itu cuma terjemahan lurus, menurut saya. Yang jelas saya punya Walkman pertama bermerek Sanyo, bukan Sony. Mendengarkan Walkman ini pun harus pakai headset. Kemudian saya dibelikan Walkman yang bisa didengarkan tanpa harus menggunakan headset. Masa SMP saya begitu indah. Hehe. Kaset pita di rumah kami itu diletakkan dalam peti kayu super besar dan kebanyakan memuat musisi kegemaran (alm.) Kakak Toto Pharmantara seperti Iwan Fals, Doel Sumbang, Koes Plus, Fariz RM, Def Lepard, dan lain sebagainya. Setelah itu, saya mulai membeli sendiri kaset pita penyanyi favorit seperti, Trio Libels, Cool Colours, Oppie Andaresta, Java Jive, Slank, Imanez, sampai kompilasi kayak Pesta Rap.

Coba bayangkan:

1. Suasana hujan.
2. Ngemil es puter + alpukat.
3. Pisang mentah digoreng.
4. Dengerin Walkman.
5. Baca Wiro Sableng.

Surganya anak SMP waktu itu!

Baca Juga: #PDL Merawat Bumi Merupakan Bagian dari Merawat Akal

Zaman Walkman kemudian memudar dengan adanya Discman. Pelan-pelan kaset pita sudah tidak ditemukan lagi di toko kaset, berganti CD dan VCD. Padahal saya paling senang sama sampul kaset pita karena pasti memuat semua lirik lagu dalam album tersebut! zaman CD, kemudian VCD, kemudian DVD, menyebabkan pembajakan terjadi tanpa ampun dan menyebabkan begitu banyak musisi merugi. Tapi, yang namanya zaman ... semakin canggih ... ya begitu itu.

Tapi yang jelas, saya pernah menikmati masa indah bersama Walkman. Bagaimana dengan kalian? Komen di bawah. Hehe.

#PDL
#Jum'at



Cheers.

ANTIK

Matahari sudah hampir di atas kepala, pembeli mulai berkurang dan penjual juga sudah mulai bisa beristirahat merapikan barang dagangan sambil menunggu saat zuhur. Di salah satu sudut lorong pasar tampak tiga orang yang sedang berbincang serius. "Kami tahu abang yang layak, bang. Bukan dia," ucap Saman berapi-api. Keringat menjagung di dahi pedagang mainan Pasar Sompor itu. Diliriknya

5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona

Credits: Canva.

5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona. Sekitar satu atau dua bulan lalu saya tidak pernah berpikir virus Corona akan touch down di Kabupaten Ende. Maklum, menurut saya pribadi, apa-apa yang terjadi di Ibu Kota Indonesia belum tentu dapat terjadi di Kabupaten Ende yang jaraknya jauh dari pusat kehidupan negara itu. Bahkan ketika Pulau Bali mulai dikabarkan terkena imbas dari virus Corona, saya masih melenggang santai. Kabar sejumlah lokasi di beberapa kota mulai di-lockdown dan himbauan social distancing pun belum membikin saya berjaga-jaga. Sampai kemudian kabar virus Corona touch down di Kabupaten Ende, otak saya mulai bekerja keras. From Wuhan to Ende in, about, two months! Oke, ini bikin ketar-ketir tapi tidak boleh panik, apalagi sepanik orang-orang pada berita-berita yang memburu masker dan hand sanitizer.

Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca

Pemerintah Kabupaten Ende mengeluarkan surat edaran. Rektor Uniflor pun kemudian mengeluarkan surat edaran. Mahasiswa Uniflor dirumahkan. Dosen dan karyawan Uniflor pun dirumahkan. Dan kami dihimbau untuk menaati semua yang telah diatur oleh pemerintah. Jadi, saya sendiri juga mulai menerapkan aturan ini itu baik untuk diri sendiri maupun untuk penghuni Pohon Tua (rumah kami) untuk melindungi diri. Tentu yang saya lakukan ini berdasar pada aturan dan/atau himbauan dan/atau perintah dari pemerintah.

1. Stay at Home


Stay at home atau di rumah saja menghasilkan hashtag #DiRumahSaja. Study from home yang dilakukan melalui e-learning diberlakukan pada semua peserta didik semua jenjang pendidikan di Indonesia. Ada banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk memfasilitasi kegiatan tersebut. Tetapi, bagaimana dengan murid-murid SD dan SMP di desa-desa terpencil? Jangankan telepon genggam, ke sekolah saja ada yang memakai sandal atau bahkan tidak memakai alas kaki. Bukan tugas saya untuk memikirkannya, tetapi mau tidak mau saya memikirkannya juga. Belajar dari rumah jelas berbeda dengan belajar di rumah. Semoga guru-guru di desa-desa terpencil punya solusi untuk mengatasi hal ini. Atau, jika kalian tahu satu dua informasi tentang hal ini, silahkan komen di bawah.

Credits: Canva.

Work from home juga mudah dilakukan oleh para pekerja di kota, terutama kota besar. Internet menjadi solusi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dan/atau berkomunikasi dengan sesama rekan kerja dan atasan terkait tupoksi yang masih bisa dikerjakan dari rumah. Tetapi, bagaimana dengan mereka-mereka yang pekerjaannya harus di luar rumah? Petani, pedagang di pasar, pedagang keliling, dan lain sebagainya. Kemarin, Thika Pharmantara membeli bahan makanan mentah pada pedagang keliling. Saya syok. Syok karena kuatir dia keluar rumah dan berinteraksi dengan pedagang yang berkeliling Kota Ende dengan sepeda motornya itu. Syok karena bagaimana jika bahan makanan itu sudah terpapar virus Corona? Bagaimana jika Thika tidak memakai masker saat membelinya? Bagaimana jika Thika lupa mencuci tangan lantas memegang mata, hidung, dan mulut?

Oh la la ... Tapi, kami butuh makan (lauk, pauk), dan si pedagang juga butuh mencari nafkah untuk makan anak isterinya. Sungguh ini dilema.

Seperti masih belum cukup, sepagi tadi Thika dan Melly menggedor pintu kamar saya untuk bertanya: Encim mau pentol goreng? Hah!? Mau donk! Setelah menghabiskan sepiring pentol goreng, masih di tempat tidur, baru saya sadar soal ... bagaimana jika pentol gorengnya sudah terpapar virus Corona? Ha ha ha. Koplaaaaak.

Di luar dari dua kejadian di atas, yang jelas kami lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Stay at home. Iya. 90% kegiatan kami semenjak dikeluarkan surat edaran dilakukan di dan/atau dari rumah. Serta, kami selalu menjaga jarak, karena Pohon Tua cukup luas untuk kami melakukan itu. Satu duduk di sana, satu duduk di sini, satu nangkring di atap, kami masih bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi dengan sangat baik. 

Ingat, stay at home!

2. Social Distancing


Stay at home merujuk pada social distancing alias menjaga jarak. Tapi social distancing tidak sama dengan stay at home. Apabila saya terpaksa harus keluar rumah, maka saya harus bisa menjaga jarak setidaknya satu meter dari lawan bicara.

Credits: Canva.

Memang betul, salah satu cara menjaga jarak adalah dengan di rumah saja. Tetapi, seperti yang saya tulis di atas, bagaimana dengan mereka-mereka yang pekerjaannya harus dilakukan di luar rumah? Bagaimana dengan Thika dan Melly yang harus pergi ke mini market, pasar tradisional, atau membeli bahan makanan pada pedagang makanan keliling? Bagaimana dengan para wartawan yang harus mencari berita untuk kita? Harus menjaga jarak. Selain menjaga jarak, tentu harus memakai masker dan wajib mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer.

3. Mencuci Tangan


Saya sudah pernah menulis bahwa mencuci tangan merupakan kebiasaan sehari-hari yang kemudian menjadi kebiasaan 'baru'. Kebiasaan yang paling sering bergema di rumah kami. Tidak peduli siapa pun yang masuk ke rumah, orang itu harus mencuci tangan. Bagi penghuni dan/atau orang-orang yang biasa berada di Pohon Tua, setiap kali masuk rumah mereka meluncur ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Bagi tamu, mau tidak mau kami menyodorkan hand sanitizer.

Credits: Canva.

Si bocah, Yoan, awalnya bandel banget kalau disuruh mencuci tangan, padahal dia itu paling sering masuk-keluar Pohon Tua. Entah pergi ke rumahnya sendiri, entah pergi main, entah dari mana dia. Setelah diberi pengarahan, setelah terus diomeli oleh orang se-Pohon Tua, Yona patuh. Pada akhirnya setiap kali dia masuk rumah, tanpa banyak cing-cong si bocah meluncur ke kamar mandi, mencuci tangan menggunakan sabun. Sama juga dengan saya. Setiap beberapa jam sekali, meskipun di rumah saja, tetap pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kemudian membasuh wajah.

4. Memakai Masker dan Kaca Mata


Konon masker menjadi langka. Sama halnya dengan hand sanitizer. Beruntungnya saya punya banyak selendang mini yang sering dijadikan masker dan/atau alas jilbab. Hahaha. Dan si Thika, entah bagaimana caranya, masih bisa membeli masker kain yang bisa dicuci.

Credits: Canva.

Thika dan Melly, setiap kali keluar rumah, selalu memakai kaca mata dan masker. Fungsinya adalah agar mereka punya sekian detik kesadaran untuk menyentuh mata, hidung dan mulut secara langsung dengan tangan saat sedang berada di luar rumah dan/atau saat belum mencuci tangan ketika pulang ke Pohon Tua. Dan kepada mereka berdua saya sering mengingatkan: apa pun yang terjadi, jangan menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan, terutama jika kalian di luar rumah.

5. Membersihkan Pohon Tua


Jalur-jalur utama orang lalu-lalang di Pohon Tua menjadi perhatian khusus. Mama Sia bertugas untuk lebih rajin mengepel jalur-jalur tersebut, hahaha. Kalau sebelumnya sering banget bilang ke Mama Sia: sudah eeee Mama Sia tir usah terlalu rajin ngepel, ini rumah orang masuk keluar tiap hari. Tapi sekarang: Mama Sia eee jangan lupa ngepel.

Credits: Canva.

Kenapa begitu sih, Teh? Karena pengen saja melakukannya. Karena saya ingin setiap orang di dalam Pohon Tua punya kesadaran akan bahayanya virus Corona, betapa cepat penyebarannya, dan betapa sangat menyusahkannya ketika terpapar.


Keberadaan virus Corona mau tidak mau membikin manusia harus lebih aktif melindungi dirinya sendiri dengan cara-cara yang dianjurkan oleh pemerintah dan/atau WHO. Saya sampai berpikir bagaimana jika virus Corona adalah obat yang diminum Bumi untuk melawan virus keji dan paling bandel bernama Manusia? Haha. Setidaknya virus Corona membikin manusia yang bandel jadi lebih taat. 

Baca Juga: 5 Alasan Saya Menyebut Nuabosi Adalah Tanah Surga

Menulis ini bukan berarti saya sudah pasti kebal dari virus Corona karena kita tidak pernah tahu apa yang menunggu di depan sana. Tetapi sebagai manusia, layaklah saya berbagi pengalaman berdasarkan apa yang diperintahkan oleh pemerintah dan pengalaman di dalam Pohon Tua kepada kalian, bos-bos pembaca blog ini. Hehe. Sebagai manusia, Tuhan sudah melindungi kita dengan akal. Akal itu yang harus dimanfaatkan dalam situasi seperti sekarang ini, salah satunya adalah dengan menaati semua peraturan pemerintah, serta semua peraturan dari pimpinan/pemuka agama. Jadi, jangan pernah beralasan, ini kan kegiatan agama, Tuhan pasti melindungi kita. Iya, Tuhan melindungi kita dengan memberikan akal untuk berpikir dan mencerna, gunakanlah akal itu. Tetap berdo'a pada Tuhan, jelas! Tapi kalau dilarang berkumpul, patuhilah.

Credits: Canva.

See? Sederhana bukan melindungi diri dari virus Corona? Yang penting adalah bagaimana cara kita mengaplikasikan semua perintah/aturan pemerintah untuk kita dalam mengatasi/melindungi diri dari virus Corona. Dan, semua itu harus diimbangi dengan do'a kepada Tuhan.Di dunia ini, ikhtiar harus diimbangi dengan do'a. Kalau kita hanya melakukan salah satunya saja tanpa diimbangi dengan yang lain, entah mau jadi apa. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.