Triplet ~ Part 25


Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.

***



Ceritakan padaku,
tentang orang-orang
yang pernah ...
cintamu memanah.

 


Part 25
 
 

~ Ende ~
31 Desember 2015


“Jika rasa cintamu terbalaskan, maka bersyukurlah karena Allah telah memberikan hidup lebih berharga dengan belas Kasih-Nya.” – Nabi Muhammad SAW.


Bekerja keras bukanlah perkara baru bagi Petrus. Selama hidup, laki-laki yang berasal dari Kecamatan Maurole ini terus menerima hadiah kemelaratan. Penghasilan Bapaknya, seorang guru sekolah dasar di Kecamatan Maurole, tidak cukup mengenyangkan perut delapan anak dengan jarak lahir terlalu rapat. Mamanya berusaha menopang perekonomian keluarga dengan menggarap tanah keluarga yang rata-rata ditanami pohon pisang. Petrus, anak ketiga, tidak pernah lari dari kondisi orangtuanya, apalagi menyalahkan Tuhan atas kemelaratan keluarganya. Susah payah dia berusaha mempertahankan perutnya (jangan sampai kelaparan) dengan bekerja. Tenaganya harus bermanfaat. Hasil yang dia peroleh dari membantu mengangkut batu untuk pengerjaan proyek jalan, atau berjualan es lilin punya tetangga, atau berjualan pisang hasil kebun dari pintu ke pintu, tidak hanya untuk mengenyangkan perutnya sendiri melainkan juga untuk semua anggota keluarga.
Ketika melanjutkan SMA di Kota Ende, Petrus mengorbankan biaya pendidikan dua orang adik perempuannya. Air mata bukan jawaban atas semua yang terjadi. Dia harus bersaing nilai dengan kawan-kawan agar tidak tahan kelas. Di sela-sela waktu luang antara usai sekolah dan les sore, dia bekerja di Toko & Bengkel Aurora. Uang memang dia peroleh (dari menambal ban, mengganti ban, mengganti busi, atau mengisi angin ban). Namun ilmu bengkelnya pun bertambah. Siapa sangka dia diajari menyetir mobil pula oleh anak pemilik bengkel?
Hidup Petrus memang berubah. Dia tidak lagi terbelenggu kemelaratan namun tidak juga dikepung Rupiah. Yang dia tahu, mencari uang itu susah sehingga janganlah memperlakukan uang dengan semena-mena. Hasil menabung telah mengantarnya ke pelaminan, mempersunting perempuan yang diincarnya sejak masih SMP. Lima tahun yang lalu Petrus dan istrinya, pindah ke Kota Ende. Mereka bekerja serabutan dan hidup sehemat mungkin. Suatu hari yang terik, kemudian, mengantar Petrus ke depan pintu Shadiba’s Corner. Ketika sekejap mata dia diterima menjadi sopir, yang bisa dia lakukan hanyalah menangis.
Dan hari ini, ketika melihat istrinya sibuk membantu Among di dapur, Petrus nyaris menangis ... lagi.
Meskipun bekerja keras bukanlah perkara baru bagi Petrus namun menjemput satuper satu tamu majikannya yang tiba dari beberapa kota di Indonesia agak melelahkan. Pekerjaannya hari ini adalah bolak-balik dari Shadiba’s Corner, Bandara H. Hasan Aroeboesman, dan hotel.
“Petrus!” panggil Diba dari pintu kafe. “Ah, kau ini saya cari ke mana-mana. Ini daftar tamu untuk siang sampai sore nanti,” ujar Diba sambil menyerahkan secarik kertas pada Petrus. “Aaah kau ini, jangan terlalu diperhatikan nanti istri kau salah tingkah dan tidak konsentrasi,” goda Diba.
Petrus tersipu. “Terima kasih ... Meri sudah boleh kerja di sini.”
“Sama-sama Petrus. Jangan lupa ... jemput mereka, langsung diantar ke hotel! Habis maghrib jemput lagi mereka, antar ke sini.”
“Siap!” jawab Petrus, lantas membaca tulisan pada kertas.
Jemput di bandara:
Pukul 13.00, Pram, Margaret, Karel.
Pukul 14.30, Mono, Bandit, Farid.
Pukul 15.00, Ampoi.

xxXXXxx

Adalah tugas Magda dan Azul untuk menyulap ruang kerja beraroma jeruk menjadi ruang ‘arisan’ yang penuh drama. Terakhir, setelah kekacauan besar yang terjadi pada tanggal 17 Agustus, tangis air mata majikannya dan dua saudari kembarnya pecah. Satu minggu berselang setelah tragedi 17 Agustus, Mira bangkit dari keterpurukan, menyadari semua kesalahan yang telah dia lakukan selama ini, dan meminta maaf. Air mata Magda mengalir deras ... dia terharu melihat tiga perempuan yang kemiripannya bak pinang dibelah tiga itu saling peluk penuh kasih.
“Mag,” panggil Diba. Dia berdiri di pintu ruang kerja sambil menggigit bibir.
“Kenapa?”
“Hmmm. Apa tidak sebaiknya kita pindakan ke halaman belakang?”
Magda menjentik jari. “Sebenarnya saya mau usulkan itu karena ruang kerja ini terlalu sempit untuk menampung begitu banyak orang!”
“Oke. Kau atur lah. Ajak si Azul.”
Dalam hati Magda bersyukur karena tidak perlu menggeser meja-meja kerja, sofa, dan lemari. Setidaknya setelah libur tahun baru usai dia tidak perlu bekerja sambil membaui bermacam aroma sisa pesta tahun baru di meja kerjanya.
G-Note Diba berdering.
Assalamu’alaikum.
Wa’alaikumsalam. Dek, kalau tambah seorang lagi boleh? Montir bengkel Abang, si Cipot, mendadak muncul di rumah. Dia mau rayakan tahun baru di sini.”
“Boleh Abang sayang ...”
“Oke. Setengah jam lagi Abang ke situ.”
Mendendam bukan pekerjaan manusia beriman. Diba malu pada Vasco da Gama dan Ibnu Bin Abi Thalib jika sampai mendendam apalagi mendendam pada laki-laki yang masih dicintainya. Tidak secepat kilat perasaannya kembali bergetar. Butuh waktu untuk memprosesnya. Tapi setidaknya dia tidak perlu membantah omongan Ucup, tuduhan Magda, juga kata hatinya sendiri. Ya, dia masih mencintai Elf ... selamanya perasaan ini akan hidup. Cinta pertama memang sulit binasa.
“Akhirnya!” seru Azul.
“Akhirnya apa, Zul?” tanya Diba. Dia menyimpan kembali G-Note ke dalam kantong celana.
“Akhirnya Kakak mengambil keputusan yang berkualitas. Pindah ke halaman belakang,” jawab Azul.
Magda terkikik mendengarnya. “Ayo, Zul, ajak Cahyadi ... kita harus pindahkan kursi-kursi malas itu, dan angkut beberapa kursi lagi,” ajaknya.
“Beres!”
Diba menghempas tubuh ke sofa memerhatikan punggung Magda dan Azul yang keluar dari ruang kerja. Malam ini mereka akan merayakan tahun baru bersama di Shadiba’s Corner, perayaan yang terlewati saat menyambut Tahun Baru 2015 karena bermacam masalah yang menimpa keluarga Pua Saleh.
Dalam hitungan jam Tahun 2016 akan tiba. Tahun 2016 adalah Tahun Monyet Api, yang dimulai dari tanggal 8 Februari (Tahun Baru Cina, Imlek) hingga 27 Januari 2017. Sepanjang 2016 api menjadi unsur paling dominan dan membawa enerji yang besar.
Diba berharap enerji yang besar itu beraura positif. Akan banyak kejadian-kejadian positif di masa depan yang mengobati kepahitan masa lalu. Dia akan mendorong Mira untuk menulis lebih banyak puisi yang nantinya akan dibukukan. Jika Kakek Ucup masih hidup dia akan menghadiahi seratus jempol untuk Ayah dari Babanya itu. Meskipun lama mengendap, bakat Mira merangkai kata tak pernah mati. Hanya butuh sedikit percikan untuk mengembalikannya ke permukaan. Siapa pula yang menyangka percikan itu terjadi seminggu setelah malapetaka di ruang kerjanya ini pada hari kemerdekaan Indonesia? Ya, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian.
Tidak apa-apa, Mira. Kau merdeka tujuh hari setelah tujuhpuluh tahun Indonesia merdeka.
Bibi Ani menghampiri Diba.
“...”
“...”
Mereka hanya saling memandang. Tanpa suarapun hati mereka tahu, bahwa masalah akan selesai dengan dua perkara. Pertama: dengan penyelesaian. Kedua: dengan waktu.[]

Tamat

Spy dan Melissa McCharthy yang Menginspirasi


Sudah weekend lagi, artinya kembali pada kegiatan mengulas filem, buku, dan musik. Baca pos yang satu ini agar tahu bahwa kalau kalian mencari filem, buku, dan musik baru di blog ini, kalian akan menemukan kegagalan. Jadi, kalau tidak baru berarti filem, buku, dan musik di blog ini syarat makna? Tidak juga. Filem, buku, dan musik yang di-review merupakan pilihan atas suka-sukanya penulis sekaligus pemilik blog.

Sesederhana itu *ngikik*

Baca Juga:

Kali ini saya mengajak kalian menonton sebuah filem lama berjudul Spy yang dirilis di Indonesia pada 20 Mei 2015. Sudah lama juga saya tonton tapi baru di-review sekarang. Spy berkisah tentang agen-agen CIA terbaik bersama para analis mereka. Agen bekerja di lapangan, analis bekerja di ruang bawah tanah yang digambarkan jorok karena ada saja tikus piknik dan kelelawar terbang. 

Adalah Bradley Fine (Jude Law) seorang agen CIA ganteng dan sangat diandalkan. Dalam pekerjaannya, Bradley mempunyai 'mata dan telinga' yaitu agen CIA lain yang ditugaskan menjadi analis bernama Susan Cooper (Melissa McCharty). Suatu saat Bradley secara tidak sengaja membunuh penjual senjata yaitu Tihomir Boyanov (Raad Rawi) gara-gara bersin yang tidak dapat ditahan lagi. Ebusyet! Jadi ingat filem Inferno yang diangkat dari novel Dan Brown yang gara-gara dekuk burung tembakan si assasin meleset. 

Akibat kematian Tihomir, Bradley tidak sempat mengambil koper berisi bom nuklir yang diincar CIA karena suara tembakan memicu datangnya orang-orang Tihomir. Dari bukti yang ada, Bradley pun pergi ke rumah anaknya Tihomir Boyanov yang bernama Rayna Boyanov (Rose Byrne). Di sana lah kemudian Bradley 'digambarkan' dibunuh oleh Rayna. Kematian Bradley disaksikan oleh Susan (melalui kamera kontak lens yang dipakai Bradley). Kematian Bradley meninggalkan kesedihan yang mendalam. Susan kan jatuh cinta sama Fine. Susan hanya bisa mengenang Bradley melalui kalung mainan yang diberikan Bradley pada makan malam mereka sebelumnya.

Lantas, siapa yang akan meneruskan pekerjaan memburu koper bertuah itu setelah Bradley tewas? Adalah Rick Ford (Jason Statham), agen CIA bertemperamen emosional, pengen banget bisa menyelesaikan kasus ini. Alih-alih memilih agen lapangan, Susan lah yang dipilih untuk, bukan menyelesaikan, menjadi mata-mata dan menginformasikan semua temuan di lapangan pada analis lain bernama Nancy B. Artingstall (Miranda Hart). Dan kekocakan pun terus mewarnai filem ini sampai akhir.

Susan, dengan obsesi membalaskan dendam atas kematian Bradley yang dicintainya, kemudian keluar dari jalur. Dia tidak saja menjadi mata-mata tapi melibatkan dirinya di dalam kasus tersebut. Jelas dia melanggar aturan karena tugas utamanya hanya menjadi mata-mata dengan tampilan emak-emak beranak lima dan emak-emak gendut pecinta kucing. Haha. Perbuatan Susan ini membikin Nancy kelimpungan. 

Tapi pada akhirnya Susan berhasil menyelamatkan nyawa Rayna dan berhasil mengikuti Rayna untuk mengetahui perihal keberadaan koper bertuah, hingga orang-orang yang akan membeli koper bertuah tersebut. Terjadi begitu banyak aksi tembak-tembakan, kejar-kejaran, dan kocak-konyol, yang pasti bikin kalian ngakak. Belum lagi tingkah Aldo (Peter Serafinowicz) yang tergila-gila pada Susan. Belum lagi tingkah Nancy yang absurd. Belum lagi tingkah Ford yang terlalu percaya diri dan temperamental. Belum lagi pada akhirnya Susan tahu bahwa ternyata Bradley masih hidup dan memalsukan kematiannya demi menyelesaikan kasus tersebut.

A-ha!

Kalian bisa membaca sinopsis lengkapnya di sini.

Ada beberapa catatan setelah menonton filem ini, di luar kekocakannya.

1. Sepatu Susan Cooper

Dalam salah satu scene terjadi kejar-kejaran antara Susan Cooper dengan penembak salah seorang bodyguard Rayna yang setelah berhasil dikejar Susan, ketahuan ternyata agen CIA juga (yang kemudian dibunuh pula oleh penembak siluman - guess who? Yess, Bradley). Di scene itu, Susan memakai jas hitam dan sepatu heels. Tetapi pada aksi kejar-kejaran itu, salah satu scene menampilkan Susan bermanuver dengan motor matic, mengenakan sepatu flat.

Hal-hal semacam ini sering terjadi dalam filem-filem keluaran Hollywood sekalipun dan akan saya ulas di lain kesempatan. Misalnya pada satu scene si tokoh tidak memakai kalung tapi pada scene yang sama mendadak sudah ada kalung di leher si tokoh. Atau mendadak terjadi kebocoran the other cameraman muncul di scene.

2. Bawel Cerdas

Susan adalah agen yang cerdas dan punya nilai baik dalam ujian-ujian masuk menjadi agen CIA. Di dalam Spy, Susan adalah agen paling bawel yang pernah ada, yang menjadi lengkap dengan absurd-nya Nancy. Selalu ada saja yang dia komentari dan selalu bisa berkelit setiap hendak ketangkap basah, terutama ketangkap basah oleh Rayna. Celetukan-celetukannya pun cerdas dan selalu bikin ngakak.

3. Sahabat itu Saling Melengkapi

Kalian akan menangkap nilai persahabatan antara Susan dan Nancy. Susan yang cerdas harus tabah menghadapi Nancy yang absurd. Dan mereka saling melengkapi meskipun Nancy itu memang keterlaluan absurd-nya.

4. Jangan Menilai Orang dari Luarnya Saja

Yess! Don't judge a book by its cover. Jangan menilai Susan dari penampilan luarnya saja; gendut dan bekerja di dalam ruangan sebagai analis alias 'mata dan telinga' agen lapangan. Pada akhirnya lewat filem Spy kita kembali diajarkan tentang hal ini; bahwa Susan yang dianggap 'tidak mampu' membuktikan bahwa dirinya sangat mumpuni. Manapula bila bekerja dalam tim.

Berikutnya, mari simak Melissa McCharty yang menginspirasi.

Ini catatan pribadi saya tentang Melissa McCharty. Melalui Spy kalian bakal tahu orang-orang yang big size belum tentu lambat. Kalian pasti pernah mendengar julukan 'si gendut lincah' atau 'bocah lincah' yang ditujukan untuk para big size yang tidak kesulitan bergerak itu. Tahun 2015 Melissa McCharty memang masih terlihat sangat sangat sangat besar! Tapi di filem Spy kalian akan melihat betapa orang yang besar itu sangat sangat sangat lincah! Yang lincah tidak saja gerak-geriknya tetapi juga mulutnya. Hehe.

Dan pada tahun 2016 kalian akan terkejut mengetahui bawa si big size berhasil mengurangi berat badannya seperti yang terlihat pada gambar berikut:


Melissaaaa ... aaa ... ke mana kah lemak-lemak itu berada sekarang? You nailed it! Ini jelas sangat menginspirasi kan? Mungkin orang-orang berpikir kesuksesannya di dunia per-filem-an dengan tubuh super bongsor akan membuat dia bertahan dengan kondisi itu. Karena, big size adalah ciri khasnya. Tapi dia keluar dari ciri khas itu. Hehe. Yang saya harapkan untuk filem-filem berikut dia akan tetap menjadi tokoh filem bermulut lincah! 

Wah, lumayan panjang juga review hari ini. Semoga kalian yang belum menontonnya terhibur (apabila memutuskan untuk menonton), dan bagi yang sudah menonton, silahkan ditonton ulang!

Informasi yang saya peroleh, Melissa McCharty juga sudah memulai blog-nya sendiri.

Selamat berakhir minggu!


Cheers.

#PDL Membuat Flyer Menggunakan Power Point



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; termasuk tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***

Saya bukan desainer flyer, pamflet, brosur, dan sejenisnya. Kelas saya masih sangat sangat sangat jauh dari julukan desainer. Mana bisa disebut desainer apabila belajar Photoshop hanya sekenanya, kemudian pelajaran itu terhenti karena malas, dan terlantarlah ilmu Photoshop yang baru sedikit saya pelajari itu. Sejauh ini, untuk mengedit foto saya masih memakai Photoscape, itupun dengan pilihan kreatifitas yang teramat sedikit. Tapi lumayanlah untuk orang setipe saya yang tidak terlalu tekun dengan Photoshop, Photoscape bisa memenuhi kebutuhan dasar seperti resize, crop, insert text and image, bikin halaman, mengatur kecerahan, memberi efek ini-itu, dan lain sebagainya.

Baca Juga:

Makanya saya tidak ngeke/ngoyo belajar mendesain apapun yang berkaitan dengan flyer, brosur, dan sejenisnya. Tapi belajar video itu mutlak karena saya bekerja juga di bidang itu. Meskipun videonya tidak seberapa bagus, setidaknya bisa lah yaaaa *sombong sedikit*.

Dalam beberapa kesempatan, saya harus memaksakan diri membikin flyer. Bingung mau pakai apa. Photoshop saya buta knob (Orang Ende bilang). Photoscape tidak bisa memenuhi keinginan saya berkreasi lebih tinggi. Akhirnya saya coba menggunakan Power Point. Wah? Power Point? Yakin lu, Teh? Iya! Power Point! Sudah berapa kali Power Point tertulis di paragraf ini, masa iya kalian masih tidak percaya?

Adalah kreatifitas sebagai dasar untuk bisa bikin flyer pakai Power Point. Tanpa itu, rasanya sulit. Yeeekan (menjiplak Bang Ragil Duta ini yeeekan). Dan ternyata setelah brosing di internet, saya bukan satu-satunya makhluk di Planet Bumi yang mendesain flyer menggunakan Power Point. Bahkan, saya termasuk yang paling telat! Hah! Saya telat, Mas! Kamu telat berapa bulan, Teh!? Orang lain sudah lama kalik bikin flyer pakai Power Point. Dan Office 10 memang  menyediakan template flyer di Power Point-nya! Makjang! Selama ini saya sembunyi di gua mana kah?

Jadi, apa langkah-langkah yang harus ditempuh untuk bisa membikin flyer menggunakan Power Point? Ituuuu akan menjadi satu pos terpisah, kawan. Jangan buru-buru. I promise you. Pada pos ini, saya hanya mau bilang; manfaatkan free background (picture) yang bisa kalian unduh bebas di internet karena atas seijin yang punya, dan berkreasilah.

Hanya itu yang saya bisa ...

Pertama coba desan pakai Power Point itu ketika Prodi Pendidikan Biologi dibuka. UPT Publikasi dan Humas bertugas mempromosikan program studi baru ini melalui iklan-iklan di koran, baliho, dan iklan radio. Untuk iklan radio sih mudah, saya bikin iklan radionya hanya beberapa jam saja. Tinggal rekam suara, cari backsound yang kece, edit di Adobe Audition, mix all. Tradaaa jadilah iklan itu. Tapi iklan untuk koran dan baliho ini yang susah. Maka saya membuka Power Point dan mulai berkreasi. Ini dia hasil pertamanya:


Tidak sebagus yang kalian bayangkan, tapi saya merasa cukup puas dengan desain ini karena latar belakangnya menggunakan gambar yang tersebar bebas di internet. Desain yang sama juga dicetak untuk baliho.

Seperti yang orang bilang; sekali membikinnya bakal ketagihan, maka bikinlah lagi saya flyer berikut ini:


Flyer-nya disukai, bahkan diambil untuk dijadikan bahan backdrop kegiatan tersebut. Sel-sel di jari saya seperti kesetrum melihatnya *lebay*. Ternyata saya masih bisa bermanfaat juga untuk dunia flyer-flyer-an ini. Diantara flyer yang saya buat itu ada yang memang diminta oleh panitia acara (herannya percaya sama saya), ada pula atas inisiatif sendiri karena ketimbang pengumuman bagus hanya ber-teks mending dibikin JPEG saja. Sedikit kegiatan mengunduh dan kreatifitas, jadilah flyer.

Untuk flyer ini, kegiatannya ditunda, diganti dengan kegiatan Dialog Nasional 24 Indonesia Maju oleh Kementrian Sosial, LPP Edukasi, Dirjen Dikti, dan Uniflor. Oh iya, pada tautan itu (tunjuk kiri) kalian bisa mendapatkan tiga materi pada kegiatan dialog tersebut. Silahkan diunduh bagi yang membutuhkan.

Bagi saya, inti sebuah flyer adalah pesannya tersampaikan. 

Apakah dengan demikian saya akan belajar lagi Photoshop? Tunggu dulu, kawan. Belajar Photoshop itu susah loh (menurut saya), dan saya belum punya niat tulus untuk kembali mempelajari layer, masking, dan lain istilah di aplikasi itu. Berilah saya kesempatan bahagia bersama Power Point hingga saatnya nanti belajar Photoshop.

Pernah, saya pernah begitu. Bagaimana, apakah kalian juga punya pengalaman mendesain flyer menggunakan Power Point? Atau kalian belajar desain di Canva?


Cheers.

Memahami Selisih 1 Hari di Kalender Saka Jawa dan Hijriyah

Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma dan kalender saka jawa

Misteri Malam 1 Suro setelah mengikuti Kirab Agung Pusaka Tarumanagara membawa saya pada jejak Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma yang telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975 sehingga menjadi Pahlawan Nasional ke-12 dari Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Mengapa malam 1 Suro terkait dengan Sultan Agung Mataram?

Perhitungan kalender Saka Jawa adalah karya dari Sunan Agung Hanyakrakusuma. Sebelumnya kalender saka Jawa dihitung berdasarkan peredaran matahari atau mengikuti sistem syamsiyah, yaitu perhitungan perjalanan bumi mengitari matahari. Sedangkan kalender Sultan Agung mengikuti sistem qomariyah, yakni perjalanan bulan mengitari bumi seperti pada kalender Hijriah.

Walaupun tahun Saka menggunakan peredaran bulan sebagaimana kalender Hijriah, dalam kalender Jawa ini terdapat perputaran waktu khusus (siklus) yaitu Windu, Pasaran, Selapan dan Wuku.

Pada waktu itu kalender Saka sudah berjalan sampai akhir tahun 1554. Angka tahun 1554 itu diteruskan dalam kalender Sultan Agung dengan angka tahun 1555, sekalipun dasar perhitungannya sama sekali berlainan. Perubahan kalender di Jawa itu dimulai hari Jum’at Legi, tanggal 1 Sura tahun Alip 1555 bertepatan dengan tanggal 1 Muharam tahun 1043 Hijriah, atau tanggal 8 Juli 1633. Kalender ini dikenal pula dengan Kalender Jawa Sultan Agungan atau Penanggalan Jawa (Anno Javanico).

1 Muharram 1440 berbeda hari dengan 1 Suro 1952 

Menetapkan tanggal merah jelas merupakan kewenangan pemerintah yang menggunakan Kalender Gregorian Masehi. Pemerintah RI telah menetapkan hari Senin tanggal 11 September 2018 sebagai tanggal merah untuk memperingati 1 Muharram yang berarti menurut pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, 1 Muharram jatuh pada hari Selasa tanggal 11 September 2018. 

Sedangkan menurut penanggalan Saka/Jawa Kalender Jawa Sultan Agungan tanggal 1 Suro Tahun Be 1952 atau tahun Dal 1952 jhe adalah tanggal 12 September 2018. Karena perbedaan sistem penanggalan tersebut maka tanggal 1 Suro 1952 dan 1 Muharram 1440 H berbeda 1 hari.  Inilah penyebab ada kalender yang mencetak tanggal 12 September 2018 sebagai tanggal merah. Kemungkinan besar pencetak mengikuti penanggalan kalender Saka/Jawa dalam menentukan tanggal 1 Suro atau beranggapan bahwa tanggal 1 Suro tahun ini berbarengan dengan 1 Muharram 1440 H seperti tahun-tahun sebelumnya, atau mungkin alasan lainnya.

Untuk di Bekasi, perbedaan tanggal merah ini mungkin tidak terlalu penting, paling hanya perbedaan tanggal merah yang tercetak di kalender. Tapi untuk warga di wilayah Surakarta Solo, perbedaan waktu antara 1 Muharam dan 1 Suro terlihat pada perbedaan pelaksanaan acara menyambut malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran dan Keraton Surakarta Solo Jawa Tengah. 

Pura Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah menggelar kirab budaya menyambut malam satu suro pada Senin malam (10/9/2018), karena menurut kalender hijriyah 1 Muharram 1440 H atau 1 Suro jatuh pada hari Selasa tanggal 11 September 2018. 

Sedangkan Keraton Surakarta Hadiningrat mengadakan kirab 1 Suro pada Selasa malam (11/9/2018) karena berdasarkan perhitungan Kalender Jawa Sultan Agungan atau penanggalan Jawa (Anno Javanico) tanggal 1 Suro Keraton Solo tahun Dal 1952 jhe jatuh pada hari Rabu tanggal 12 September 2018.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Jogja seperti juga Keraton Surakarta Hadiningrat di Solo, mengadakan Hajad Kawula Dalem Mubeng Benteng pada Selasa malam (11/9/2018) karena Keraton Ngayogyakarta juga menggunakan Kalender Jawa Sultan Agungan sebagaimana Keraton Surakarta Hadiningrat Solo.

Penjelasan Perbedaan penetapan 1 Muharram 1440 dengan 1 Suro 1952 

Dari laporan Almira Nindya di media online Rakyat Merdeka (RMOL) Jateng, mengutip pernyataan Pangageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Dipokusumo menjelaskan, selama ini Keraton Surakarta mengacu pada kalender Jawa karya Sultan Agung yang juga mengadopsi penanggalan Islam yang berbasis pada perputaran Bulan dan menetapkan tanggal 1 Suro 1952 jatuh pada tanggal 12 September 2018 sehingga kirab 1 Suro diselenggarakan pada Selasa malam tanggal 11 September 2018.

"Untuk penyelenggaraan kirab 1 Suro pada tahun ini, keraton mendasarkan pada perhitungan Kalender Sultan Agung, yang jatuh pada Selasa (11/9). Maka dengan perhitungan tersebut kadang bisa bareng dengan Masehi namun bisa juga selisih sehari," kata Gusti Dipo, menjelang kirab pusaka malam 1 Suro di Keraton Surakarta. 

Terpisah, pendapat dari Sejarahwan UNS Solo, Tundjung W. Sutirto mengatakan, perbedaan waktu 1 suro atau 1 Muharam terjadi karena Keraton Surakarta menggunakan pendekatan penanggalan Aboge, sedangkan Pura Mangkunegaran menggunakan penanggalan Asapon.

Perbedaan itu terkait adanya pendekatan penanggalan Asapon yang digunakan Mangkunegaran dan penanggalan Aboge yang digunakan Keraton Surakarta, kedua penanggalan itu ada selisih perhitungan, biasanya selisih satu hari," kata Tundjung. 

Dikutip dari Tugu Jogja pada halaman Kumparan, Pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melaksanakan tradisi Mubeng Beteng pada hari Selasa (11/9) malam. Puteri Raja Keraton Yogyakarta, Gusti Condro Kirono mengungkapkan, pelaksanaan laku Mubeng Beteng tersebut baru akan dilaksanakan pada hari Selasa (11/9). Sebab, berdasarkan kalender Sultan Agung, 1 Suro jatuh pada hari Rabu tanggal 12 September 2018.

"Keraton memang menganut Kalender Sultan Agung,"ujar Gusti Condro Kirono di Kompleks Kepatihan Yogyakarta.
Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng 1 Suro Jogjakarta
Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng 1 Suro Jogjakarta 2018
Hal tersebut mengonfirmasi infromasi dari akun Twitter Kraton Jogja @kratonjogja tanggal 6 September 2018 yang menginformasikan: "Sahabat, kami informasikan bahwa Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng untuk memperingati tahun baru Jawa, 1 Sura Tahun Be 1952 akan digelar Selasa (11/9) malam. Acara dimulai pukul 20.00 WIB dengan pembacaan macapat di Bangsal Pancaniti  Kraton Jogja." #kratonjogja.

Kalender Sultan Agung berbeda dengan kalender Hijriah yang awal dan akhir bulannya ditentukan dengan fenomena hilal atau penampakan bulan sedangkan Kalender jawa sistem perhitungan yang menggunakan hisab urfi (rata-rata), sehingga tak jarang di jumpai perbedaan antara kalender Jawa Islam dengan kalender Hijriyyah. Karena bersifat urfi maka kalender Jawa Islam ini tidak bisa digunakan sebagai acuan dalam kegiatan Ibadah umat Islam khususnya penentuan 1 Ramadhan.

Sistem perhitungan kalender Sultan Agung rata-rata lebih panjang sebanyak 1 hari setiap 120 tahun, agar kalender Sultan Agung tetap sesuai dengan kalender Hijriyah, maka dalam kurun 120 tahun kalender Sultan Agung selalu dihilangkan satu hari. Peristiwa menghilangkan tanggal 1 Sura pada awal permulaan kurup tahun Alip ini disebut ganti kurup atau salin kurup.

Siklus 120 tahun yang disebut dengan kurup ini baru diketahui setelah 72 tahun kalender Jawa berjalan. Sejauh ini sudah terdapat 3 kurup. Pertama, 1 Sura 1627 (Alip) jatuh pada Kamis Kliwon. Kedua, 120 tahun kemudian, 1 Sura 1747 (Alip) jatuh pada Rabu Wage atau dikenal sebagai kalender Aboge. Ketiga, kurup Aboge itu berakhir dengan datangnya kurup baru, yaitu 1 Sura 1867 (Alip) yang jatuh Selasa Pon atau disebut Asapon. Kurup Asapon itulah yang saat ini berlaku, mulai 24 Maret 1936-25 Agustus 2052 M.

Sebuah Karya Agung Nusantara

Menurut peneliti, pembuatan sistem kalender ini dilakukan oleh Raja Mataram Sultan Agung Anyakrakusuma saat itu bertujuan untuk menyatukan sistem penanggalan masyarakat kejawen dan santri. Saat itu, masyarakat kejawen menggunakan kalender Saka, sedangkan kaum santri menggunakan kalender Hijriah.

Kalender Saka merupakan sistem penanggalan yang didasarkan pergerakan bumi mengelilingi matahari. Kalender tersebut telah digunakan oleh masyarakat Hindu di India sejak tahun 78 masehi dan masih digunakan oleh masyarakat Hindu di Jawa dan Bali hingga kini. 

Untuk merangkum semua kepentingan masyarakat yang berbeda, maka sistem penanggalan baru dibuat dengan menggabungkan kalender Saka dengan kalender Hijriah. Nama bulan dan jumlah hari didasarkan degan sistem kalender Hijriah. Sedangkan angka tahun Saka dipertahankan. Ini membuat kalender pertama Jawa bukan 1 Sura tahun 1 Jawa, melainkan 1 Sura tahun 1555 Jawa.

Dari sini saya kira kita dapat membayangkan kearifan Sultan Agung selaku raja Mataram kala itu. Kalender Sultan Agung ini juga memiliki keistimewaan karena memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian (perhitungan kalender Julius Caesar Romawi Kuno) yang merupakan bagian budaya Barat. Sistem penanggalan ini cukup rumit dengan perhitungan astronomi yang cukup detail dan masih digunakan oleh banyak orang hingga sekarang. 

Kesimpulan saya, jika kalender yang ada di rumah Anda mencetak tanggal 12 September 2018 sebagai tanggal merah, maka besar kemungkinan percetakan tersebut mengadopsi kalender Jawa Sultan Agungan atau Penanggalan Jawa (Anno Javanico) yang menetapkan tanggal 1 Suro jatuh pada tanggal 12 September 2018.

Salam.

*dirangkum dari berbagai sumber



Memahami Selisih 1 Hari di Kalender Saka Jawa dan Hijriyah

Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma dan kalender saka jawa

Misteri Malam 1 Suro setelah mengikuti Kirab Agung Pusaka Tarumanagara membawa saya pada jejak Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma yang telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975 sehingga menjadi Pahlawan Nasional ke-12 dari Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Mengapa malam 1 Suro terkait dengan Sultan Agung Mataram?

Perhitungan kalender Saka Jawa adalah karya dari Sunan Agung Hanyakrakusuma. Sebelumnya kalender saka Jawa dihitung berdasarkan peredaran matahari atau mengikuti sistem syamsiyah, yaitu perhitungan perjalanan bumi mengitari matahari. Sedangkan kalender Sultan Agung mengikuti sistem qomariyah, yakni perjalanan bulan mengitari bumi seperti pada kalender Hijriah.

Walaupun tahun Saka menggunakan peredaran bulan sebagaimana kalender Hijriah, dalam kalender Jawa ini terdapat perputaran waktu khusus (siklus) yaitu Windu, Pasaran, Selapan dan Wuku.

Pada waktu itu kalender Saka sudah berjalan sampai akhir tahun 1554. Angka tahun 1554 itu diteruskan dalam kalender Sultan Agung dengan angka tahun 1555, sekalipun dasar perhitungannya sama sekali berlainan. Perubahan kalender di Jawa itu dimulai hari Jum’at Legi, tanggal 1 Sura tahun Alip 1555 bertepatan dengan tanggal 1 Muharam tahun 1043 Hijriah, atau tanggal 8 Juli 1633. Kalender ini dikenal pula dengan Kalender Jawa Sultan Agungan atau Penanggalan Jawa (Anno Javanico).

1 Muharram 1440 berbeda hari dengan 1 Suro 1952 

Menetapkan tanggal merah jelas merupakan kewenangan pemerintah yang menggunakan Kalender Gregorian Masehi. Pemerintah RI telah menetapkan hari Senin tanggal 11 September 2018 sebagai tanggal merah untuk memperingati 1 Muharram yang berarti menurut pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, 1 Muharram jatuh pada hari Selasa tanggal 11 September 2018. 

Sedangkan menurut penanggalan Saka/Jawa Kalender Jawa Sultan Agungan tanggal 1 Suro Tahun Be 1952 atau tahun Dal 1952 jhe adalah tanggal 12 September 2018. Karena perbedaan sistem penanggalan tersebut maka tanggal 1 Suro 1952 dan 1 Muharram 1440 H berbeda 1 hari.  Inilah penyebab ada kalender yang mencetak tanggal 12 September 2018 sebagai tanggal merah. Kemungkinan besar pencetak mengikuti penanggalan kalender Saka/Jawa dalam menentukan tanggal 1 Suro atau beranggapan bahwa tanggal 1 Suro tahun ini berbarengan dengan 1 Muharram 1440 H, atau mungkin alasan lainnya.

Untuk di Bekasi perbedaan tanggal merah ini mungkin tidak terlalu penting, paling hanya perbedaan tanggal merah yang tercetak di kalender, tapi untuk warga di wilayah Surakarta perbedaan waktu antara 1 Muharam dan 1 Suro terlihat pada acara di Pura Mangkunegaran dan Keraton Surakarta Solo Jawa Tengah. 

Pura Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah menggelar kirab budaya menyambut malam satu suro pada Senin malam (10/9/2018), karena menurut kalender hijriyah 1 Muharram 1440 H atau 1 Suro jatuh pada hari Selasa tanggal 11 September 2018. 

Sedangkan Keraton Surakarta Hadiningrat mengadakan kirab 1 Suro pada Selasa malam (11/9/2018) karena berdasarkan perhitungan Kalender Jawa Sultan Agungan atau penanggalan Jawa (Anno Javanico) tanggal 1 Suro Keraton Solo tahun Dal 1952 jhe jatuh pada hari Rabu tanggal 12 September 2018.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Jogja seperti juga Keraton Surakarta Hadiningrat di Solo, mengadakan Hajad Kawula Dalem Mubeng Benteng pada Selasa malam (11/9/2018) karena Keraton Ngayogyakarta juga menggunakan Kalender Jawa Sultan Agungan sebagaimana Keraton Surakarta Hadiningrat Solo.

Penjelasan Perbedaan penetapan 1 Muharram 1440 dengan 1 Suro 1952 

Dari laporan Almira Nindya di media online Rakyat Merdeka (RMOL) Jateng, mengutip pernyataan Pangageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Dipokusumo menjelaskan, selama ini Keraton Surakarta mengacu pada kalender Jawa karya Sultan Agung yang juga mengadopsi penanggalan Islam yang berbasis pada perputaran Bulan dan menetapkan tanggal 1 Suro 1952 jatuh pada tanggal 12 September 2018 sehingga kirab 1 Suro diselenggarakan pada Selasa malam tanggal 11 September 2018.

"Untuk penyelenggaraan kirab 1 Suro pada tahun ini, keraton mendasarkan pada perhitungan Kalender Sultan Agung, yang jatuh pada Selasa (11/9). Maka dengan perhitungan tersebut kadang bisa bareng dengan Masehi namun bisa juga selisih sehari," kata Gusti Dipo, menjelang kirab pusaka malam 1 Suro di Keraton Surakarta. 

Terpisah, pendapat dari Sejarahwan UNS Solo, Tundjung W. Sutirto mengatakan, perbedaan waktu 1 suro atau 1 Muharam terjadi karena Keraton Surakarta menggunakan pendekatan penanggalan Aboge, sedangkan Pura Mangkunegaran menggunakan penanggalan Asapon.

Perbedaan itu terkait adanya pendekatan penanggalan Asapon yang digunakan Mangkunegaran dan penanggalan Aboge yang digunakan Keraton Surakarta, kedua penanggalan itu ada selisih perhitungan, biasanya selisih satu hari," kata Tundjung. 

Dikutip dari Tugu Jogja pada halaman Kumparan, Pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melaksanakan tradisi Mubeng Beteng pada hari Selasa (11/9) malam. Puteri Raja Keraton Yogyakarta, Gusti Condro Kirono mengungkapkan, pelaksanaan laku Mubeng Beteng tersebut baru akan dilaksanakan pada hari Selasa (11/9). Sebab, berdasarkan kalender Sultan Agung, 1 Suro jatuh pada hari Rabu tanggal 12 September 2018.

"Keraton memang menganut Kalender Sultan Agung,"ujar Gusti Condro Kirono di Kompleks Kepatihan Yogyakarta.

Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng 1 Suro Jogjakarta
Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng 1 Suro Jogjakarta 2018
Hal tersebut mengonfirmasi infromasi dari akun Twitter Kraton Jogja @kratonjogja tanggal 6 September 2018 yang menginformasikan: "Sahabat, kami informasikan bahwa Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng untuk memperingati tahun baru Jawa, 1 Sura Tahun Be 1952 akan digelar Selasa (11/9) malam. Acara dimulai pukul 20.00 WIB dengan pembacaan macapat di Bangsal Pancaniti  Kraton Jogja." #kratonjogja.

Kalender Sultan Agung berbeda dengan kalender Hijriah yang awal dan akhir bulannya ditentukan dengan fenomena hilal atau penampakan bulan sedangkan Kalender jawa sistem perhitungan yang menggunakan hisab urfi (rata-rata), sehingga tak jarang di jumpai perbedaan antara kalender Jawa Islam dengan kalender Hijriyyah. Karena bersifat urfi maka kalender Jawa Islam ini tidak bisa digunakan sebagai acuan dalam kegiatan Ibadah umat Islam khususnya penentuan 1 Ramadhan.

Sistem perhitungan kalender Sultan Agung rata-rata lebih panjang sebanyak 1 hari setiap 120 tahun, agar kalender Sultan Agung tetap sesuai dengan kalender Hijriyah, maka dalam kurun 120 tahun kalender Sultan Agung selalu dihilangkan satu hari. Peristiwa menghilangkan tanggal 1 Sura pada awal permulaan kurup tahun Alip ini disebut ganti kurup atau salin kurup.

Siklus 120 tahun yang disebut dengan kurup ini baru diketahui setelah 72 tahun kalender Jawa berjalan. Sejauh ini sudah terdapat 3 kurup. Pertama, 1 Sura 1627 (Alip) jatuh pada Kamis Kliwon. Kedua, 120 tahun kemudian, 1 Sura 1747 (Alip) jatuh pada Rabu Wage atau dikenal sebagai kalender Aboge. Ketiga, kurup Aboge itu berakhir dengan datangnya kurup baru, yaitu 1 Sura 1867 (Alip) yang jatuh Selasa Pon atau disebut Asapon. Kurup Asapon itulah yang saat ini berlaku, mulai 24 Maret 1936-25 Agustus 2052 M.

Sebuah Karya Agung Nusantara

Menurut peneliti, pembuatan sistem kalender ini dilakukan oleh Raja Mataram Sultan Agung Anyakrakusuma saat itu bertujuan untuk menyatukan sistem penanggalan masyarakat kejawen dan santri. Saat itu, masyarakat kejawen menggunakan kalender Saka, sedangkan kaum santri menggunakan kalender Hijriah.

Kalender Saka merupakan sistem penanggalan yang didasarkan pergerakan bumi mengelilingi matahari. Kalender tersebut telah digunakan oleh masyarakat Hindu di India sejak tahun 78 masehi dan masih digunakan oleh masyarakat Hindu di Jawa dan Bali hingga kini. 

Untuk merangkum semua kepentingan masyarakat yang berbeda, maka sistem penanggalan baru dibuat dengan menggabungkan kalender Saka dengan kalender Hijriah. Nama bulan dan jumlah hari didasarkan degan sistem kalender Hijriah. Sedangkan angka tahun Saka dipertahankan. Ini membuat kalender pertama Jawa bukan 1 Sura tahun 1 Jawa, melainkan 1 Sura tahun 1555 Jawa.

Dari sini saya kira kita dapat membayangkan kearifan Sultan Agung selaku raja Mataram kala itu. Kalender Sultan Agung ini juga memiliki keistimewaan karena memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian (perhitungan kalender lunar Julius Caesar Romawi Kuno) yang merupakan bagian budaya Barat. Sistem penanggalan ini cukup rumit dengan perhitungan astronomi yang cukup detail dan masih digunakan oleh banyak orang hingga sekarang. 

Jika kalender yang ada di rumah Anda mencetak tanggal 12 September 2018 sebagai merah, maka besar kemungkinan percetakan tersebut mengadopsi kalender Jawa Sultan Agungan atau Penanggalan Jawa (Anno Javanico).

Salam.

*dirangkum dari berbagai sumber



5 Manfaat Bergabung di Grup WhatsApp


Yang sering kesal sama suara notifikasi grup WhatsApp (WA) mana suaranyaaaaa *todong microphone ke ribuan penonton* hehe. Sering sekali saya mendengar omelan teman tentang waktu tidurnya yang terganggu hanya karena suara notifikasi grup WA, apalagi grup kantor. Ketika dibuka, isinya hanya guyonan tidak penting dalam bentuk teks, foto, dan video. Itu yang saya herankan. Bukan, bukan heran soal isengnya anggota grup mengirim pesan yang tidak seberapa penting, melainkan heran sama omelan itu. Karena, kita dapat mematikan suara notifikasi bukan? Oleh karena itu, saya masih aman menikmati dua puluh tiga grup WA. Sepuluh diantaranya punya kadar ramai, riuh, yang sangat pekat.

Baca Juga:

Sebenarnya ada banyak manfaat yang bisa diperoleh jika kita bergabung dalam grup WA. Itu yang akan saya bahas kali ini. Tentu, berdasarkan pengalaman pribadi. Yang perlu digarisbawahi adalah eh ... maaf. Yang perlu digarisbawahi adalah kalian bisa menonaktifkan suara notifikasi (senyap mode on) dalam kurun waktu tertentu agar tidur malam tidak terganggu. Saya pribadi justru menonaktifkan suara notifikasi semua grup WA tanpa kehilangan informasi satu pun karena saya pengguna WA aktif yang lebih sering dihubungi melalui WA ketimbang SMS. Ketika membuka WA, otomatis saya bisa sekalian membaca pesan-pesan di grup WA yang angkanya kadang mencapai seribuan (belum terbaca). Kalian bisa memilih grup mana yang suara notifikasinya dinonaktifkan. Tidak perlu semua, jika tidak ingin.

Jadi, berdasarkan pengalaman pribadi, apa saja manfaat bergabung di grup WA?

1. Tidak Kehilangan Kontak

Aman memang menyimpan kontak di sim card. Tapi berapa kapasitas sim card? Kira-kira dua ratusan kontak. Ketika sim card penuh, maka kalian akan diberi pilihan menyimpan kontak di smartphone-nya atau di handphone-nya. Ini yang bermasalah. Karena, ketika kalian mengganti smartphone, atau smartphone rusak, atau smartphone di-flash, maka semua kontak yang tersimpan di smartphone lenyap. 

Hal serupa bisa terjadi juga apabila sim card yang rusak.

Memang benar, kalian dapat mengekspor kontak ke akun Gmail agar tidak hilang selamanya, akan tetapi adalah sifat dasar manusia (baca: sifat dasar saya) selalu lupa. Sudah kejadian smartphone rusak, baru ingat. Begitu beli smartphone baru, lupa lagi. Hahaha. Yang lebih parah kalau lupa password akun Gmail. Paraaaah banget itu ah.

Pengalaman saya, ketika smartphone rusak dan saya belum mem-back up kontak ke akun Gmail, saya kehilangan semua kontak yang tersimpan di smartphone. Tapi dengan log in kembali ke WA, maka histori percakapan akan terlihat termasuk grup-grup itu. Horeee! Tinggal masuk grup, lihat info, simpan kembali kontak yang ada di daftar anggota grup. Profil anggota tidak ada foto, bisa lihat nama. Tidak ada nama, bisa lihat foto. Terus disimpanlah nama dan nomor mereka ke kontak. Tapi bagaimana jika foto profilnya adalah foto anak (dan saya tidak tahu itu anak sapope) dan tidak ada nama yang dipakai? Tanya saja ke grup. Hehe.

2. Selalu Tahu Informasi Terkini

Selalu tahu informasi terkini ini terutama untuk grup kantor. Kenapa grup? Karena broadcast sudah usang, menurut saya. Satu dua orang memang tidak memakai smartphone, tapi itu tidak masalah. Admin atau pihak pemberi informasi/pengumuman tinggal mengirim informasi ke grup WA, dan mengirim informasi ke satu atau dua orang yang tidak memakai smartphone atau tidak menjadi anggota grup tersebut. 

Saya paling suka sama grup WA kantor karena informasi Upacara Bendera Senin pagi, seragam yang dipakai dalam acara tertentu, atau informasi liburan, pasti langsung dipos di grup Wa kantor tersebut.

3. Media Reuni

Saya pernah menulis di grup WA Alumnus SMP Negeri 2 Ende Angkatan Rahasia. Tulisannya kira-kira begini:

Ini nih kalau dulu kita beli diary untuk tulis bio-data. Saya punya kebanyakan bio-data kakak kelas. Kalau dulu kamu punya bio-data tertulis di diary saya, sudah pasti kita masih bisa kasih masuk teman-teman lain.

Ya, mengumpulkan teman-teman SMP di grup WA jauh lebih sulit dari teman-teman SMA. Karena, teman SMA itu masih terus keep contact sampai sekarang dan ada pula teman SMP yang juga teman SMA. Tapi teman SMP? Terlalu jauh rentang waktunya dan sulit untuk bisa menggali informasinya. Jadi, kalau jumlah anggota grup WA Alumnus SMA Negeri 1 Ende Angkatan Rahasia ini jumlahnya sudah ratusan maka yang SMP masih tigapuluhan.

Saat meng-screen shoot, ada enam grup WA nampang teratas. Warbiyasah.

Perihal diary bio-data di atas, nanti akan saya ulas di lain waktu sekalian nostalgia.

4.  Media Promosi

Bayangkan kalian bisa mempromosikan apa saja di grup WA! Promosi dagangan, promosi bisnis rental mobil, promosi blog hahaha. Promosi di grup WA lebih bagus dan lebih ... apa ya ... ter-segmented. Misalnya kalian jualan obat herbal yang harganya ratusan ribu. Tidak semua teman di Facebook adalah orang kantoran atau orang berduit karena masih ada teman Facebook yang anak SMA bahkan anak SMP. Mereka mungkin tidak paham apa yang kalian coba jual. Tapi di grup WA kalian tahu kan bahwa itu teman-teman masa SMP atau SMA atau teman kantor yang rata-rata seumuran dan paham apa yang kalian coba jual.

Kira-kira seperti itulah yang ingin saya jelaskan.

Ini terbukti loh. Di grup WA teman SMA, jadi tahu kalau nanti mau pakai mobil bisa sewa mobilnya siapa, dan lain sebagainya. Informasi di grup WA ini memang paling yahud.

5. Entertain Yourself

Grup WA dapat menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Membaca celetukan dan guyonan mereka itu bisa bikin saya terpingkal-pingkal tengah malam. Kalau ada yang mengirim video atau gambar lucu, yang bikin ngakak bukan video atau gambarnya, tapi justru komentar anggota grupnya! Suerrr. 

Ternyata bergabung di grup WA punya banyak manfaat positif. Asal sejak awal dibikin admin grup sudah bikin aturan: NO SARA, NO POLITIC!

Betul. Waktu saya bikin grup WA untuk teman-teman SMA, sejak awal sudah saya tulis bahwa SARA dan politik dilarang dikumandangkan di grup. Itu hanya bakal bikin sakit kepala dan berantem. Pada akhirnya grup yang seharusnya mempererat persaudaraan malah bikin pecah hubungan silaturahmi hanya karena beda pandangan politik, misalnya. Kalian kan tahu suhu politik memang mulai terbakar pelan-pelan dan entah mendidihnya kapan ... tahun depan mungkin. Hehehe.

Kalau ada yang menambahkan kalian ke grup WA, cek baik-baik grup-nya. Teman, rekan, bisnis, jangan keluar dari grup tersebut karena meskipun kalian pasif masih tetap banyak informasi yang bisa diperoleh. Kalau ternyata isinya tidak jelas dan kebanyakan ngomong politik ... tinggalkan saja. Saran saya sih. Karena bakal bikin kepala sakittttttt.

Semoga bermanfaat.


Cheers.

Pantai Papuma Memanggilku Kembali Ke Jember


Saya ingat betul ketika saya harus menjadwal ulang pesawat yang harusnya akan saya naiki sore itu. Masalahnya saya harus menempuh perjalanan yang tidak bisa diprediksi kapan sampai di bandara Juanda, Sidoarjo. Kalaupun nekat dengan menggunakan kendaraan apapun, maka tidak akan terkejar. Untung saja pesawat bisa dijadwalkan besok siang. Ituplah sepenggal kisah ketika saya dan teman kerja yang mengunjungi Gunung Bromo dari Malang dan sebelumnya dari Jember. Peristiwa ini memang menjadi pelajaran bagi saya untuk betul-betul mempersiapkan diri jauh-jauh hari segala hal yang berhubungan dengan traveling atau jalan-jalan. 

Ada bagian pahit yang saya alami setelah manis yang sebelumnya dicicipi. Hidup memang berputar dan itulah yang menjadi keseruan tersendiri. Namun, ternyata bagian manis itu selalu terjadi di Jember, sebelah barat dari Malang. Beruntung saya selalu kembali ke Jember dalam beberapa kali tugas kerja dengan beberapa orang yang berbeda. 


"Kita 2 kali ke Jember bareng ya Bang."

Kata Bom-Bom, panggilan rekan kerja, ketika sudah berada di mobil travel yang membawa kami dari Bandara Juanda. Saya tersenyum, dan mulai ngobrol ngalor ngidul tentang rencana yang akan kami lakukan di hotel ataupun kulineran di sekitar Jember. 

Saya selalu senang berada di Jember karena satu hal, yaitu harga makanan yang selalu membuat saya bertanya-tanya. Memang benar ya harganya segini? Sambil bertanya dan terheran-heran ketika saya dan Bom-bom menghabiskan 2 mangkok dengan harga 6 ribu saja. Selain makanan, saya menyukai wisata alamnya yang begitu indah. Kami pernah diajak keliling ke Rembangan dengan pemandangan bukit yang sangat indah dan banyak produk pertanian yang dijual salah satunya susu murni segar. 


Setahun berlalu, saya berganti partner. Kali ini saya bersama bos, namun masih sangat muda. Sama dengan Bom-bom, dia pun berencana untuk mengexplore Surabaya setelah dari Jember. Dan, pada tahun inilah saya berkesempatan mengunjungi pantai dengan pasir putih di Jember, Pantai Papuma. 

"Saya kira pantainya berpasir hitam."

Saya sedikit terperangah melihat pasirnya yang begitu putih. Saya membandingkan dengan pantai Parangtritis di Yogyakarta yang pasirnya hitam dan kecokelatan. 

Beberapa tahun berlalu, kini saya kembali lagi ke Jember. Sepertinya ada panggilan yang mengharuskan saya ke Jember. Sepertinya Papuma ingin memperlihatkan kembali kecantikannya setelah lama tak bersua. Pantai Papuma memanggilku kembali ke Jember. Disinilah perjalanan menyenangkan dimulai. 



Kami bertiga, saya bersama Aris dan Doel harus menempuh perjalanan 12 jam dari Jakarta menuju Surabaya sebelum ke Jember. Di Stasiun Gubeng inilah akhirnya kami rombongan blogger berkumpul setelah melakukan perjalanan dari daerah masing-masing. Bukan hanya dari Jakarta, beberapa diantaranya dari Surabaya, Bojonegoro, Pemalang, Bandung, dan daerah lainnya. Rasanya sangat lama kami tidak bersua, senang sekali dapat melepas rindu pada saat yang lain sedang terlelap pada dini hari. Dan, pukul 4 lebih kami harus masuk ke Peron dan melanjutkan kembali perjalanan ke Jember.

Tiba di Jember, Pritha dan Kang Nana serta beberapa orang dari Blogger Jember menyambut kami dan tak lupa sarapan di sebuah warung gudeg pecel yang ternama di Jember. Setelah puas makan, akhirnya kami melepas penat dan lelah di Hotel Lestari, salah satu hotel pertama di Jember.



Keesokan harinya, kami mengunjungi kebun Tembakau. Disinilah kami belajar mengenai Tembakau mulai dari menanam, merawat, memupuk, dan memanen. Setelah memanen, kemudian masuk ke tahap selanjutnya mulai dari dipilih daunya, dirangkai dan dikeringkan. Ternyata tidak cukup sampai pengeringan saja, masih banyak tah selanjutnya di Pabrik pengolahan dan penyimpanan. Dan, akhirnya siap untuk diracik menjadi cerutu atau Cigar terbaik di BIN (Boss Image Nusantara).

Selain ke kebun dan pabrik tembakau, kami juga mengunjungi Museum Tembakau satu-satunya di Jawa Timur, bahkan di Indonesia. Setelah berlelah dengan Tembakau berakhir di Taman Botani Sukorambi. Dihari berikutnya, selain ke pantai papuma, kami juga mengunjungi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, satu-satunya di Indonesia. Bagian ini akan saya tulis terpisah nantinya. 



Melepas rindu dengan pasir putih Papuma, saya makin takjub dengan perubahan yang terjadi disini. Selepas kami turun dari Bus, kami berjalan menyusuri sepanjang pantai. Dulu, tidak seramai ini dan sedikit sekali bangunan permanen seperti villa atau penginapan seperti yang saya lihat saat ini.  

Tak hanya pantai yang menarik perhatian saya, deretan perahu yang bersandar itu sempat menarik perhatian saya sebelum berlalu menjadi pasir putih kembali. Sepanjang jalan menuju Sitihingil memang sudah beraspal. Dulu, saya tidak terlalu jelas melihatnya hanya saja setiap mobil atau motor yang melintas selalu berbenturan dengan batu. 

Jalan menuju Sitihinggil memang tidak terlalu menanjak, namun cukup menguras keringat karena cuaca Jember sedang sangat panas dan teriknya. Tidak ada yang tidak mungkin, iya saya selalu menyemangati diri ketika bertemu dengan medan yang menanjak naik atau beranak tangga seperti jalan menuju bukit tinggi di kawasan pantai Papuma. 


"Ayo Man, kamu bisa. Ayo Man!" 

Ternyata tidak ada orang lain yang tersisa selain saya yang masih menaiki anak tangga. Saya mengatur nafas agar dapat naik dengan cepat. Sebelum anak tangga terakhir, saya sempat mengambil foto dan hasilnya memang sangat bagus. 

Bagai mendapat durian runtuh, saya terpesona dengan pemandangan dari atas bukit Sitihinggil. Seluruh pantai dan kawasan sekitar pantai cukup mengobati perjuangan menuju ke atas tadi. Selain menikmati pemdangan, kami juga disugguhkan es kelapa muda yang sangat segar. Inilah kombinasi yang sangat menyenangkan pemandangan indah dan es kelapa muda. Seperti surga dan kenikmatan dunia, itulah yang bisa saya gambarkan dari balik penglihatan saya. 


Rasanya saya ingin berlama-lama di Tanjung Papuma ini, namun ternyata kami harus kembali melanjutkan perjalanan guna mengakhiri perjalanan selama 3 hari di Jember. Rasanya sangat kurang sekali untuk menikmati wisata unik di Jember. Semoga Tuhan mengabulkan permintaan saya untuk kembali lagi ke Jember suatu hari nanti. Namun, tenang saja, tulisan tentang keindahan dan keunikan Jember akan saya sharing beberapa minggu kedepan. 

Terima kasih kepada Blogger Jember dan Taman Botani Sukorambi serta pihak-pihak sponsor seperti BIN Cigar, Bedhag Kopi, Fondre - Oleh-oleh Jember, Repri (Penyewaan alat camping), Nyonya Ama Catering, Hotel Lestari, Pengelola Tanjung Papuma, dan Warung Kembang.



5 Manfaat Lidah Buaya Ini Perlu Kalian Tahu


Garis silsilah lidah buaya atau aloe vera sangat panjang. Lidah buaya berasal dari Kerajaan Plantae, Klad Angiosperma, Clade Monocots, Ordo Asparagales, Keluarga Xanthorrhoeaceae dengan Sub Keluarga Asphodeloideae, Genusnya Aloe, Spesies A. Vera. Sampai di sini, apakah lidah kalian sudah terbelit antara buaya geraham? Haha. Demikianlah informasi dari Wikipedia tentang tanaman yang punya banyak manfaat ini.

Baca Juga:

Dulu, waktu masih kecil, saya sering salah mengidentifikasi antara tanaman cocor bebek dengan lidah buaya. Sekarang saya punya berpuluh pot tanaman cocor bebek, dan tentu saja, tanaman lidah buaya! Karena lidah buaya dan cocor bebek termasuk tanaman yang sangat mudah dan cepat tumbuh, saya harus sering membagi anakannya ke pot yang berbeda/baru. Biarkan mereka beranak-pinak.

Menanam lidah buaya bukan karena kebetulan, tetapi saya memang suka menanam tanaman yang punya fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja cabe, tomat dan bayam merah (yang terserang hama hiks), bawang Dayak (bawang merah) yang konon juga dikenal bawang obat, daun pandan, dan stroberi (yang masih dalam tahap uji coba datu pot). Tapi bukan berarti saya tidak menanam tanaman yang berbunga seperti mawar dan kamboja. Horor kalik tanam kamboja


Minggu kemarin, karena tanaman lidah buayanya sudah lumayan dewasa dan sudah juga dipindah anakannya ke pot baru, maka saya memberanikan diri dan dengan berurai air mata memenggal salah satu batang lidah buaya ini. Untuk apa kah? Untuk ... mari kita simak manfaat lidah buaya ini.

Cekidot!

1. Menyembuhkan Luka

Luka tidak memandang orang dewasa atau bocah. Tapi soal hati, orang dewasa lebih mudah terluka apabila berkaitan dengan asmara. Haha. Kulit orang dewasa juga bisa terluka meskipun tidak jatuh dari sepeda atau tidak menginjak beling saat kejar layangan. Menggaruk kulit yang gatal akibat gigitan nyamuk atau kepinding pun bisa menyebabkan luka. Oleh karena itu, apabila ada luka nampak di kulit, oleskan saja kalpanax lidah buaya.

Menurut Wahyono E dan Kusnandar (2002), lidah buaya berkhasiat sebagai anti inflamasi, sehingga mempercepat proses penyembuhan luka. 

2. Menghilangkan Bekas Luka

Bekas luka (umumnya berwarna cokelat sampai hitam) memang tidak sedap dipandang. Jangankan di wajah, di kaki saja rasanya risih meskipun tidak semua orang dapat melihatnya (iya, saya sendiri risih juga sama bekas luka di kaki). Kata si Thika, ada jenis krim yang dapat menghilangkan bekas luka tapi saya pikir apabila bisa menggunakan yang alami kenapa harus yang mengandung bahan kimia? Halaah. Maka saya menggunakan lidah buaya yang tumbuh subur di teras rumah.

Ini penampakan potongan lidah buaya setelah isinya saya pakai mengoles bekas luka.


Menurut Wahyono E dan Kusnandar (2002), lidah buaya mengandung anti bakteri dan membantu proses regenerasi sel. Mau kulit kembali mulus? Pakai lidah buaya!

3. Menurunkan Kadar Gula Darah

Saya belum mencoba lidah buaya sebagai obat alami menurunkan kadar gula dalam darah karena masih diet DEBM yang terbukti menurukan kadar gula dalam darah saya dari 450-an menjadi 50-an (nyaris di-ICU) haha, selama dua bulan diet teratur. Jadi turunnya bertahap. Tapi, masih menurut Wahyono E dan Kusnandar (2002), lidah buaya berkhasiat menurunkan kadar gula dalam darah. Caranya? Dibikin jus! Ocha pernah menyarankan saya meminum ini, tapi saya belum punya keinginan untuk minum jus lidah buaya. Kalian mau mencobanya?

Salah satu zat yang terkandung dalam lidah buaya adalah aloe emodin, sebuah senyawa organik dari golongan antrokuinon yang mengaktivasi jenjang sinyal insulin seperti pencerap insulin-beta dan -substrat1, fosfatidil inositol-3 kinase dan meningkatkan laju sintesis glikogen dengan menghambat glikogen sintase kinase 3beta, sehingga sangat berguna untuk mengurangi rasio gula darah. 

Selain menurunkan kadar gula dalam darah, lidah buaya juga bermanfaat mengontrol tekanan darah, menstimulasi kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker. Wow.

4. Mencerahkan Kulit Dari Dalam

Banyak krim/obat pencerah kulit di jual bebas di toko/apotik. Apabila kalian ingin mencerahkan kulit, cobalah meminum jus lidah buaya. Ocha punya resep yang mungkin kalian suka. Dia pernah menyarankan saya meminum susu cokelat (sejenis Indomilk) dicampur lidah buaya. Rasanya enak! Itu kata Ocha, karena dia yang sudah pernah meminumnya. Resep itu belum saya coba karena susu kental manis tidak boleh masuk ke tubuh saya *halah* hehehe.

5. Menyuburkan Rambut

Dulu, waktu kompleks perumahan kami belum ramai dan sekitaran dipenuhi pohon pisang yang tumbuh subur, hampir setiap hari kami melukai pohon pisang dan menadah airnya. Konon air dari batang pohon pisang itu dapat menyuburkan rambut. Selain air pohon pisang kami juga memakai lidah buaya dan santan kelapa. Haha. Sekarang sudah hampir tidak pernah memanfaatkan lidah buaya untuk menyuburkan rambut. Ah, nanti bisa habis donk tanaman lidah buaya saya di teras rumah. Hiks.

Lidah buaya memang sangat bermanfaat untuk kesehatan manusia.

Bagaimana setelah membaca pos ini? Jujur, saya menulisnya karena sedang dalam tahap penyembuhan bekas luka di kaki. Dan lidah buayanya pun tinggal diambil dari teras rumah. Apabila rajin, niscaya banyak sakit yang dapat disembuhkan hanya dengan lidah buaya. Tidak mengeluarkan uang sepeserpun, bahkan!

Tahukah kalian? Saya sering bilang, penyakit utama manusia adalah malas. Segala yang ada di bumi ini diberikan Tuhan pada manusia, ada yang gratis itu, hanya saja kemalasan menyebabkan manusia selalu mau yang instan. Padahal, misalnya, untuk lidah buaya ini kan mudah sekali. Tanam di pot, cukup disiram sekali sehari, dan bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka dan menghilangkan bekas luka, menurunkan kadar gula dalam darah, dan masih banyak manfaat lainnya.

Jadi ... bagaimana? Apakah kalian mau mencobanya? Saya sih jelas sudah mencobanya untuk kulit. Level yang lebih tinggi, akan saya coba untuk menurunkan kadar gula dalam darah. Tidak dijus, tapi mungkin dimasukkan dalam kapsul kosong sebelum ditelan, hahahaha.

Ayo, kawan! Lebih rajin menanam tanaman obat, manfaatkan, dan rasakan bedanya :)

Semoga bermanfaat.


Cheers.

Proyektor Ini Tidak Butuh Layar atau Dinding



Hampir setiap hari kita berurusan sama yang namanya proyektor. Meeting, seminar & workshop, penyusunan rencana kerja dan RAB, menonton filem, main game (oh saya pernah melakukannya sampai proyektor berasap :p), dan lain sebagainya. Di Universitas Flores, selain ruang kelas yang nyaman dan selalu bersih, dapat dipastikan setiap ruang kelasnya juga difasilitasi komputer dan proyektor untuk memperlancar proses belajar-mengajar. Apabila ada kerusakan, teknisi langsung menjalankan tugas mereka memperbaiki. Jadi kangen kaaaan sama papan hitam dan kapur tulis? Hihihi.

Baca Juga:
Mesin Cuci Portabel Ini Keren Banget
Foto Kreatif Untuk Pos Blog
Dine Tools That Can Be Folded



Semakin ke sini, semakin canggihnya teknologi, proyektornya tidak saja yang ukuran standar tetapi mulai nongol si mini seksi proyektor berukuran mungil menggemaskan. Ada yang seukuran kardus smartphone, ada yang seukuran telapak tangan, ada juga yang tipis banget sampai-sampai mirip talenan. 


Asyik kan kalau diundang mengisi materi, salah satunya materi Mendokumentasikan Perjalanan pada para anggota baru Flopala (Mapala-nya Uniflor), misalnya, mereka tidak perlu repot menyiapkan proyektor karena pasti saya membawanya. Enteng! Apalagi kalau kegiatannya diselenggarakan di luar ruangan.

Eh ...

Tunggu dulu ...

Itu saya menghayal. Menghayal punya proyektor mini yang bisa dibawa ke mana-mana tanpa menghabiskan banyak space di ransel. Ha ha ha. Kalau sudah tidak membedakan antara kenyataan dan hayalan, ke dokter, Teh!

Seperti apapun bentuknya, mini sekalipun, tipis sekalipun, proyektor-proyektor itu punya ciri khas yang sama yaitu masih membutuhkan layar dan/atau dinding sebagai media proyeksi. Tanpa layar dan/atau dinding, bahan/materi entah bakal dipantulkan di mana. Wajah saya juga boleh, wajah saya cukup lebar kok dijadikan media proyeksi. Hihihi. Jadi, kalau workshop-nya di alam bebas, pasti sulit untuk menyampaikan materi yang sudah disusun di Power Point, misalnya, tanpa layar dan/atau dinding.

Tapi, sekarang sudah ada proyektor yang tidak butuh layar atau dinding.

Serius?

Serius. Sudah lama pula benda ini dibikin prototype-nya. 

Perkenalkan: RAY.




Ray, disebut unrestricted projector, dibikin oleh Taekwon Yeon. Masih saudaranya taekwon do. Dari situsnya, informasi tentang Ray memang tidak diulas selengkap-lengkapnya. Namun, dari informasi yang ada di situs itu, kita sudah pasti paham konsep Ray.

Ray merupakan proyektor yang bakal memenuhi harapan kalian untuk bikin workshop di alam bebas, menonton filem di luar ruangan, atau memberi kejutan pada kekasih (oh, mau!). Karena apa? Karena Ray tidak membutuhkan media seperti layar atau dinding karena Ray adalah proyektor ultra-pendek yang menampilkan layar-sendiri yang dihasilkan oleh cahaya. Menggunakan Ray menciptakan tontonan/tampilan futuristik dan sureal yang terlihat seperti di filem-filem fiksi ilmiah itu loh.

Kelebihan Ray yang lain selain tidak membutuhkan layar atau dinding adalah terintegrasinya speaker sehingga kalian tidak perlu meneteng speaker lain atau mempertajam kuping karena suara yang dikeluarkan oleh laptop tidak seberapa kencang. Awesome!

Panitia: Maaf, Kak, nobar Linimassa 3 besok, kami masih cari pinjaman proyektor.

Saya: *wajah sombong* Oh, saya ada Ray, kok!

Panitia: Baik, Kak. Kami tinggal mencari speaker-nya saja.

Saya: *wajah sombong+* Oh, tidak perlu. Ray punya speaker kok!

Hayalan yang bikin kalian emosi. Haha. Tapi mungkin kalian juga berhayal memiliki si Ray ini. Praktis sekali. Apalagi jika macam abang di bawah ini, yang nonton filem pakai Ray:


Nah, kawan, kalian ingin memilikinya juga? Atauuuu jangan-jangan kalian sudah memilikinya? Oooh ingin kumilikiiiii. Bagi tahu donk pengalaman kalian dengan proyektor di komentar di bawah *tunjuk-tunjuk*

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Numpang Ngopi di Acara Kirab Agung Pusaka Tarumanagara

Numpang Ngopi di Acara Kirab Agung Pusaka Tarumanagara
Seumur hidup, baru kali ini saya menghadiri acara budaya yang lebih dikenal dengan istilah "Malam 1 Suro". Kepada ketua panitia yang mengundang saya sudah menyampaikan sebelumnya kemungkinan saya tidak bisa hadir karena dilaksanakan pada hari kerja, yaitu Senin 10 September 2018. Soal lokasi acara di kawasan wisata Rumah Joglo Puri Wedari Mutiara Gading City, Desa Babelan Kota, Kec Babelan Kab Bekasi ini tidak masalah karena tidak terlalu jauh dari rumah saya. 

Setelah melihat kembali undangannya, ternyata acara Kirab Agung Pusaka Tarumanagara diselenggarakan pada malam hari, dan hari Senin saya ambil cuti karena selain harpitnas, rasa-rasanya sakit pinggang saya belum sembuh benar. Sepertinya saya memang harus hadir, karena acara ini secara waktu dan tempat memungkinkan untuk didatangi, akhirnya bersama teman-teman dari Cinong Bekasi saya berangkat ke lokasi, selain menjaga silaturahim, kiranya mudah-mudahan akan ada hikmah yang dapat saya ambil dari acara ini.

Tadi malam saat berlangsungnya Kirab Agung Pusaka Tarumanagara di kawasan wisata Rumah Joglo Puri Wedari Mutiara Gading City salah seorang pembicara menyampaikan, malam 1 Suro itu bertepatan dengan 1 Muharram, diperingati sebagai peringatan hijrahnya Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa sejarah hijrah meninggalkan Mekah menuju Madinah ini banyak memiliki arti yang sudah digali oleh pendahulu kita, salah satunya hijrah menuju keselamatan. Doa-doa keselamatan dan syukur kemudian dibacakan dalam bahasa Arab, Indonesia dan Sunda. Semoga ke depan semua akan menjadi lebih baik dengan memasuki tahun 1440 H, 1952 Saka/Jawa, Pabaru Sunda 1955 Caka.

Sebelum ditutup dengan pemotongan tumpeng, acara diisi dengan pencucian benda-benda pusaka dengan air "Tirta Kencana" yang menurut panitia bersumber dari 7 sumber mata air se-nusantara. Saya baru paham, dalam pandangan budaya, keris ataupun benda pusaka itu adalah perlambang diri pribadi pemiliknya, karenanya pencucian keris dengan segala prosesi puasa, 7 sumber mata air hingga pencuciannya adalah perlambang membersihkan jiwa raga agar kembali bersih dan menjadi lebih baik dari waktu sebelumnya


Semangat yang diwariskan oleh para orang tua dalam memperingati peristiwa hijrah ataupun tahun baru ternyata lebih filosofis dari sekadar memasang petasan yang buang-buang uang. Sayangnya prosesi pencucian benda pusaka saat malam 1 Suro lebih diperkenalkan pada generasi sekarang sebagai hal yang mistis ataupun klenik. Saya kira ini menjadi "PR" buat para penggiat budaya untuk memperkenalkan dan mengemas acara seperti ini agar lebih menarik buat kalangan umum, setidaknya agar generasi sekarang dapat mengenal makna filofofis dan melestarikannya dalam kehidupan sesuai pemahamannya. 

Soal mistis dan klenik itu menurut saya tergantung pribadi masing-masing pelakunya, saya tidak paham soal itu dan tidak mau berkomentar mengenai itu... tapi secara umum, setidaknya saya jadi tahu kalau prosesi pencucian benda pusaka juga memiliki semangat yang baik dan makna yang lebih masuk akal (buat saya). 

Nuansa acara ini menurut saya pribadi lebih kental dengan unsur-unsur budaya Sunda, bukan hal yang aneh buat saya dan mungkin juga warga Bekasi pada umumnya. Bekasi secara keseluruhan selain masih termasuk wilayah Provinsi Jawa Barat, Bekasi secara kultural juga memang dipengaruhi dua budaya dominan yaitu Betawi dan Sunda. Sesuatu yang dengan indah menyatu di Bekasi dan tidak perlu dijadikan bahan perdebatan.
Sambut 1 Suro, Komunitas Budaya Bekasi Gelar Kirab Agung Pusaka Tarumanagara
Foto Bang Iwan Bonick
Semoga acara ini dan juga acara kebudayaan lainnya dapat terus dilaksanakan oleh semua pihak agar terus memperkaya wawasan kebudayaan dan dapat menarik bagi para generasi muda Bekasi khususnya. Soal Tarumanagara saya kira memang sudah seharusnya digali terus dan disosialisasikan 

Terima kasih kepada Padepokan Pusaka Parahyangan, ISPI Group, MGC, Karang Taruna Babelan Kota, dan seluruh pihak panitia penyelenggara yang saya tidak tahu sehingga tidak saya sebutkan.

Duduk bersila menikmati hidangan kopi, ubi dan kacang rebus serta suasana lokasi yang jauh dari keramaian membuat saya dapat lebih akrab dengan para hadirin lainnya. Sayang tidak bisa memotret lebih banyak karena terhalang tembok dan saya juga tidak mau menginjak rumput untuk sekadar mencari posisi yang bagus di belakang para fotografer dan wartawan yang sedang bekerja.

Soal letak Rumah Joglo Puri Wedari secara administrasi masuk ke dalam wilayah Desa Babelan Kota atau Desa Kedung Jaya Kecamatan Babelan atau Desa Setia Asih Kecamatan Tarumajaya saya  belum tahu pastinya karena memang letaknya yang berada di perbatasan Kecamatan Babelan dan Kecamatan Tarumajaya. Pada acara Kirab Agung Pusaka Tarumanagara ini hadir Sekretaris Desa Babelan Kota, Anggota Karang Taruna dan Destana Babelan Kota sehingga membuat saya berasumsi bahwa lokasi Rumah Joglo Puri Wedari ini masuk ke dalam wilayah administrasi Desa Babelan Kota. Kalau salah yah nanti saya perbaiki :)

Lebih dan kurangnya atas opini saya di atas mohon dimaafkan. Salam.