Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba


Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba. Alhadulillah, dua jadwal yang baru direncanakan menjelang akhir tahun, jadwal serba mendadak dangdut, telah tunai. Yang pertama adalah menghadiri Festival Literasi Nagekeo 2019 pada 28 September 2019 di Lapangan Berdikari Kota Mbay. Yang kedua adalah menghadiri Festival Daging Domba 2019 pada 19 November 2019 di Bukit Weworowet. Kedua festival keren itu diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Bagaimana caranya kabupaten muda ini mampu menyelenggarakan dua event besar dalam tempo yang berdempetan, itu menjadi rahasia yang harus dicaritahu, sekaligus merupakan motivasi bagi kabupaten lainnya yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Yang jelas, dua event itu telah mendongkrak dunia literasi, budaya, serta pariwisata di Kabupaten Nagekeo.

Adalah jauh jarak antara Kota Ende sebagai Ibu Kota Kabupaten Ende, tempat saya tinggal, dengan Kota Mbay sebagai Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Biasanya saya selalu mampir mengaso sebentar di percabangan Aigela, menikmati jagung rebus dan segelas kopi, yang dijual di lapak-lapak oleh penduduk setempat, baru kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kota Mbay.


Bagi kalian yang bermukim di kota besar, jarak 90-an kilometer tidak menjadi persoalan, karena akses jalan raya yang luar biasa di kota besar sering membikin kami yang tinggal di Pulau Flores terpesona sekaligus iri. Jalanan lebar, lurus, mulus, trafic light di mana-mana, merupakan makanan kalian sehari-hari. Bukan persoalan mudah, memang, menghubungkan setiap kabupaten di Pulau Flores. Topografinya yang ekstrim membikin jalan penghubung antar kabupaten juga ekstrim. Meskipun demikian, saya bersyukur karena untuk menghubungkan setiap kabupaten di Pulau Flores, sudah ada mediatornya.

Mediator Itu Bernama Trans Flores


Trans Flores merupakan mediator/penghubung setiap kabupaten yang ada di Pulau Flores dari ujung Barat ke ujung Timur. Topografi Pulau Flores itu berbukit-bukit (ekstrim menurut sebagian orang), disertai jurang baik jurang dengan sungai atau batu karang dan ombak menunggu di bawah sana, membikin Trans Flores otomatis menjadi ekstrim. Bayangkan saja, selain jalanan itu mengitari bukit, ribuan kelokan, dan naik turun, pun ada bukit yang dibelah demi keberlanjutan Trans Flores ini.

Salah satu titik favorit, arah Barat dari Kota Ende, sebelum Kecamatan Nangapanda. Sisi perbukitannya nampak bak lukisan abstrak.

Trans Flores sudah ada sejak zaman dulu-dulu, dan terus diperbaiki demi kelancaran lini transportasi antar kabupaten. Bahkan, sampai saat ini pun Trans Flores masih terus diperbaiki, antara lain perbaikan titik-titik berlubang hingga pelebaran jalan. Apabila terjadi pengerjaan proyek pelebaran jalan maka para pengguna Trans Flores harus mempersiapkan diri dengan sangat baik, terutama para pengendara sepeda motor. Seperti saya. Hehe. Karena, proyek pelebaran jalan selalu berkaitan dengan pengerukan bukit, dan kombinasi keduanya pasti menimbulkan debu setiap ada kendaraan yang melintasi. Jangan pernah lupakan masker!


Proyek perbaikan dan/atau pelebaran jalan memang bakal membikin perjalanan lintas Pulau Flores menjadi sedikit terganggu karena harus saling mengalah saat melintasi jalan sempit terutama di kelokan yang sebagian badan jalan dikuasai material, serta debu yang berterbangan. Tapi jangan kuatir. Saya sudah pernah mengalaminya ratusan ribu kali. Proyek perbaikan dan/atau pengerjaan jalan ini tidak memakan waktu terlalu lama. Paling-paling tiga bulan ke depan, kalau ke luar kota lagi, kondisinya sudah semakin bagus. Bukankah perbaikan dan pelebaran jalan ini dilakukan demi kelancaran transportasi antar kabupaten? Jadi, mari kita rayakan!

Karena saya tinggal di Kota Ende, perjalanan ke arah Barat dan ke arah Timur Pulau Flores selalu memberi kesan tersendiri. Arah Barat, identik dengan tebing, hutan, jurang, dan laut, selalu menyuguhkan pemandangan seperti ini:




Sedangkan arah Timur yang identik dengan tebing, hutan, jurang, dan sungai, juga tak kalah, selalu punya pemandangan seperti ini:



Kondisi jalan yang baik antar kabupaten, suguhan pemandangan supa amazing sepanjang perjalanan, hingga menawannya keramahan masyarakat Pulau Flores, membikin wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara kini lebih suka mengendarai sendiri kendaraan sewaan terutama sepeda motor matic. Bila dulu sering bertemu mobil rental/travel atau bis pariwisata dipenuhi wisatawan mancanegara, maka sekarang saya lebih sering bertemu wisatawan mancanegara mengendarai sepeda motor matic. Ada yang sendiri, ada yang berkelompok. Sayangnya, dalam perjalanan menuju Kabupaten Nagekeo minggu kemarin, saya lupa memotret rombongan sepeda motor matic yang dikendarai oleh sekelompok wisatawan mancanegara.

Urusan sewa-menyewa sepeda motor matic ini sudah saya ketahui sejak lama. Sejak saya pergi ke Kota Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat, tahun 2014. Waktu itu dari Kota Labuan Bajo menuju Air Terjun Cunca Wulang, kami juga menyewa sepeda motor matic. Pun waktu sahabat saya Yunaidi Joepoet pergi ke Kabupaten Ngada mengabarkan dirinya menyewa sepeda motor matic. Jangan kuatir, sepeda motornya pasti halal: STNK pasti diberikan oleh pemilik penyewaan, plus dua helem standar nasional.

Menurut saya pribadi, apa yang terjadi di Pulau Flores, di lini transportasi yang turut mendongkrak dunia wisatanya, merupakan pencapaian yang luar biasa oleh Kementrian Perhubungan Republik Indonesia. Dirilis di sini, dikatakan bahwa Program Indonesia Sentris yang dicanangkan pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla telah membuka akses keterisolasian serta dapat meningkatkan perekonomian suatu daerah. Dalam kurun waktu lima tahun belakangan dilakukan pembangunan infrastruktur transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris untuk membuka keterisolasian yaitu dengan memberikan dukungan aksesibilitas terhadap daerah 3TP (Terluar, Terdepan, Tertinggal, dan Perbatasan).

Jadi kalau ditanya apa kaitan antara lini transportasi, lini pariwisata, dan lini ekonomi, siapapun pasti bisa menjawabnya. Lini transportasi jelas mendukung lini pariwisata yang berimbas pada lini ekonomi. Karena Trans Flores pula saya rajin wara-wiri se-Flores dan terakhir terdampar di kaki Bukit Weworowet mengikuti kegiatan Festival Daging Domba.

Festival Daging Domba


Awalnya saya menyangka Festival Daging Domba baru akan dilaksanakan Bulan November, sudah siapkan waktu cuti pun, tetapi saya salah. Festival Daging Domba dibuka dengan resmi oleh Bupati Nagekeo Bapak Don Bosco Do pada Senin, 15 Oktober 2019. Kabarnya baru saya tahu hari Rabu saat sedang mengobrol tentang sampah bersama Abang Umar Hamdan dan Cahyadi. Uh wow, saya harus ke sana! Itu adalah jadwal yang harus ditunaikan. Karena saya punya kewajiban pekerjaan utama, sehingga baru bisa berangkat ke Kota Mbay pada Sabtu, sepulang kerja.

Sebenarnya, Festival Daging Domba ini sudah dimulai pre-event-nya justru sebelum Festival Literasi Nagekeo 2019 diselenggarakan. Sudah dibuka restoran daging domba di sekitar Bukit Weworowet oleh masyarakat/pemuda dari Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Setelah selesai Festival Literasi Nagekeo 2019, barulah Festival Daging Domba benar-benar dimulai.

 Dalam perjalanan memasuki Kota Mbay, bertemu papan aturan ini. Wah, ini bagus sekali!

Sabtu, 19 Oktober 2019, berangkatlah saya ke Kota Mbay bersama Deni Wolo. Kami mengendarai sepeda motor masing-masing. Mampir sebentar di Aigela untuk istirahat, perjalanan dilanjutkan, dan tiba di Kota Mbay sekitar pukul 15.30 Wita. Mampir lagi di rumah Novi, blogger dan aktivis muda Kota Mbay, barulah kami ngegas menuju Towak. Towak? Iya, Towak. Towak merupakan sebuah wilayah di Kabupaten Nagekeo yang letaknya berada di jalan Trans Flores; Mbay - Riung. Untuk diketahui, Riung yang terkenal dengan Taman Laut 17 Pulau Riung itu, berada di wilayah Kabupaten Ngada bukan Kabupaten Nagekeo. Di Towak ada keponakan saya, Iwan, yang isterinya, Reni, bekerja di Pustu Towak sebagai bidan, serta dua cucu saya Andika dan Rayhan. Karena jembatan utama Trans Mbay - Riung sedang diperbaiki, kami harus melewati jalur darurat yang berdebu ini, haha.


Tiba di Towak, istirahat sebentar sambil mengobrol, saya dan Deni lantas pamit duluan pada Reni untuk bisa menangkap momen sunset di Bukit Weworowet. Bukit yang bentuknya unik dan menjadi lokasi Festival Daging Domba tersebut. Jarak antara Towak dan Bukit Weworowet sekitar 10 sampai 15 menit perjalanan saja.

Bukit Weworowet senja itu.

Sunset dari balik bukit yang berhadapan dengan Bukit Weworowet.

Kami lantas mencoba memesan sate domba, seporsi saja dulu, karena toh saya dan Deni belum terbiasa dengan daging domba. Resto ini terletak di samping panggung utama, sedangkan jejeran resto lainnya menghadap panggung utama. Selain daging domba, juga dijual jagung rebus, dan gorengan. Sayangnya sore itu jagung dan gorengan belum ada. Dalam bahasa Nagekeo, daging domba disebut nake lebu atau nakeng lebu.



Karena masih sore, suasana belum ramai. Itu yang membikin saya dan Deni merasakan sensasi ketenangan dan kenyamanan yang luar biasa. Menikati sate domba sambil menonton Bukit Weworowet yang tegak diam begitu, wuih, surga. Sampai-sampai Deni bilang: kalau saja bukit ini dekat Ende, setiap sore ke sini saja. Kami bertahan hingga matahari benar-benar menghilang. Akhirnya saya mengirim pesan WA pada Reni untuk menyusul ke lokasi ini. Ketimbang saya dan Deni harus pulang ke Towak, terus kembali lagi ke Bukit Weworowet. Malam itu kami makan malam dengan menu nasi (beras) merah, sate dan soto daging domba, serta ada gorengan pesanan yang dibawa Iwan dan Kota Mbay. Saya dan Deni memang memutuskan untuk tidak lagi menikmati daging domba karena punya alasan sendiri-sendiri haha.



Malam itu, selain menikmati daging domba, kami juga menonton pertunjukan seni oleh murid SD, SMP, dan SMA yang ada di Desa Nggolonio.


Menurut Iwan dan Reni, beberapa malam sebelumnya justru paling ramai wisatawan mancanegara di festival ini. Mereka bahkan memesan begitu banyak sate daging domba! Sampai-sampai para pengelola resto kewalahan. Hehe. Wisatawan itu kebanyakan datang dari Riung. Ya jelas, jalan Trans Flores Mbay - Riung kan mulus begitu, mana jaraknya dekat pula. Rugilah kalau sehabis snorkling di perairan Riung yang mempesona, terus tidak menikmati daging domba.

Yang tertangkap pandangan mata saya malam itu adalah Festival Daging Domba merupakan kegiatan yang sangat positif, karena selain memperkenalkan domba sebagai salah satu kuliner khas dari Kabupaten Nagekeo, kegiatan ini membuka ruang kepada masyarakat untuk memperoleh penghasilan tambahan, juga memberikan hiburan kepada masyarakat Desa Nggolonio dan sekitarnya pada khususnya, dan wisatawan pada umumnya. Kaum muda, khususnya anak sekolah, pun diberi ruang melalui panggung seni. Di sepanjang jalan saya juga melihat begitu banyak sepeda motor diparkir berjejer dan anak-anak muda sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Kata Iwan: sinyal terkuat adalah di kaki Bukit Weworowet sehingga siapapun yang ingin komunikasi digitalnya lancar, harus ke sini. Oh la la.

Sekitar pukul 22.00 Wita kami pun pulang kembali ke Towak dan mengobrol hingga pukul 03.00 Wita.

Ikan Bakar yang Dua Kali Gagal Disuguhkan


Dan ikan bakar itu baru disuguhkan pada waktu makan ketiga. Sebenarnya Reni sudah menyiapkan ikan untuk dibakar sebagai lauk makan malam kami pada Sabtu (malam Minggu). Tetapi karena malam itu kami sudah makan malam dengan menu sate dan soto daging domba di Festival Daging Domba, maka ikan ini kemudian dibakar pagi hari sebagai bekal sarapan. Sayangnya Deni Wolo masih pulas dan tak enak pula jika sarapan sendirian. Pada akhirnya ikan bakar yang dua kali gagal disuguhkan ini, sukses pada suguhan (waktu makan) ketiga yaitu makan siang di Hari Minggu! Amboiiii. Hehe.



Usai makan siang, berisirahat sebentar, saya dan Deni pun pamit pulang kembali ke Kota Ende. Karena, Senin telah menunggu dan kami harus bekerja! Kembali ke Kota Ende, kembali melewati jalur darurat ini:


Saya yakin, kunjungan berikutnya ke Kabupaten Nagekeo, sudah boleh melintasi jembatan yang menghubungkan Kota Mbay dengan Riung. Dan jalur darurat ini pasti sudah ditata sesuai peruntukkan utamanya yaitu sebagai lahan persawahan masyarakat. Semoga.

⇜⇝

Pada akhirnya, sebagai Orang Ende - Orang Flores, saya harus mengakui banyak perkara yang telah terjadi di pulau kami ini. Yang pertama: infrastruktur (sarana dan prasarana transportasi) yang semakin ke sini semakin membaik telah menolong saya dalam bekerja dan traveling keliling Pulau Flores. Ya, pekerjaan saya itu salah satunya ya keliling Pulau Flores. Yang kedua: infrastruktur (sarana dan prasarana transportasi) telah mendukung dan mendongkrak lini pariwisata. Karena, apalah artinya sebuah tempat wisata jika untuk menjangkaunya sulit sekali? Yang ketiga: dengan terdongkraknya lini pariwisata, tentu lini ekonomi rakyat lebih terbantu. Saya pikir, dengan membaca pos ini utuh dari awal sampai akhir, kalian pasti memahaminya.

Sampai jumpa di festival-festival berikutnya!




Cheers.

Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru


Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru. Sebenarnya untuk topik yang sama, plagiat, saya sudah menulis cukup panjang, tapi tulisan itu saya gantikan dengan tulisan yang ini. Tulisan yang lebih lembut dan halus seperti saya *dinosaurus muntah hijau*. Jelasnya kita semua; saya, kalian, mereka, pasti sama-sama darah mendidih berhadapan dengan plagiator yang melakukan plagiarisme terhadap karya, utuh maupun sebagian, seakan-akan yang terlihat itu adalah karya si plagiator sendiri. Di zaman internet, zaman digital, karya seperti tulisan, foto, lagu, dan video, menjadi mainan dan bulan-bulanan plagiator. Apabila orang bilang mudahnya jempol memencet tombol share, maka plagiator tulisan sangat mudah melakukan kopi-tempel.

Baca Juga: Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp

Bila-bila seseorang disebut plagiator? Bila dia mengkopi-tempel, dalam pokok perkara ini adalah tulisan, tanpa menyamtumkan sumber tulisan dan/atau credits. Agar kalian paham, saya mencoba menulis pos ini menggunakan metode proposal skripsi. Haha *dinosaurus julid*.

Latar Belakang Masalah


Adalah tulisan saya di blog travel yang berjudul Lawo Lambu | Zawo Zambu dikopi-tempel oleh salah seorang Facebooker. Hal itu saya ketahui dari bisik-bisik seorang kawan. Membaca tulisan Facebooker tersebut, baru paragraf pertama, langsung sudah tahu itu tulisan saya. Membaca sampai pertengahan, saya kaget karena tulisan yang selalu melekat pada pos blog seperti 'Keluarga Pharmantara', 'Mamatua', dan 'Mamasia', sama sekali tidak dihapus oleh yang bersangkutan. Tetapi, sampai akhir tulisan tersebut saya tidak menemukan sumber tulisan dan/atau credits. Dalam hati saya berkata: kena juga tulisan saya diplagiat utuh. Oleh karena itu, screenshoot pos Facebooker tersebut saya jadikan pula pos Facebook. Pos Facebook saya itu menuai banyak komentar, tentu saja, karena plagiarisme ada hukum yang mengaturnya. Itu terjadi pada Rabu, 16 Oktober 2019.

Rumusan Masalah


Agar pembahasan nanti tidak terlalu melebar, meskipun kebiasaan saya suka melebar sana sini, mari rumuskan dulu permasalahannya.

1. Mengapa tulisan saya dikopi-tempel?
2. Mengapa plagiarisme masih terjadi di tengah maraknya kampanye literasi digital?

Pembahasan


Saya membangun/membikin banyak blog, di banyak platform, dan jumlahnya puluhan. Ada dua blog yang betul-betul dikelola dengan sangat baik yaitu BlogPacker yang diisi dengan tulisan tema harian, dan I am BlogPacker yang merupakan blog travel dengan isi tentang perjalanan hingga ragam wisata termasuk tulisan berjudul Lawo Lambu | Zawo Zambu yang dikopi-tempel itu. Dari pengakuan, juga komentar yang tertoreh, tulisan saya dikopi-tempel karena yang bersangkutan menyukai tema yang diangakat yaitu tentang (wisata) budaya: pakaian tradisional perempuan Kabupaten Ende. Sayangnya, yang bersangkutan sama sekali tidak paham bahwa apa yang sudah dilakukannya merupakan salah satu bentuk plagiarisme (terparah).

Kesimpulan sementara: sebenarnya orang yang mengkopi-tempel tulisan saya tanpa menyantumkan sumber tulisan dan/atau credits tersebut bertujuan baik, karena suka pada tulisan tersebut, lantas membaginya di laman Facebooknya, agar lebih banyak orang tahu tentang pakaian adat/tradisional perempuan Kabupaten Ende. Akan tetapi, dia tidak sadar, bahwa apa yang diperbuatnya itu hanya berdampak nol koma sekian persen. Marilah kita lihat pada penjelasan-penjelasan berikut!

Pertama: Tulisan itu sudah saya pos di blog travel sejak tahun 2018, dengan pembaca sampai saat ini sebanyak 1136 orang. Semua entri pada blog tersebut, berdasarkan statistik penayangan menurut negara, terbanyk dibaca oleh orang-orang yang berada di Indonesia, dilanjutkan dengan Amerika Serikat, dan seterusnya, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:


Dengan statistik penayangan menurut peramban dan menurut sistem operasi seperti pada gambar di bawah ini:


Sedangkan pos terpopuler atau paling banyak dibaca dari blog travel saya itu seperti yang dijelaskan pada gambar di bawah ini:



Kedua: Dengan yang bersangkutan mengkopi-tempel/memplagiat tulisan saya tersebut ke laman Facebooknya, tanpa menyantumkan sumber dan/atau credits, jelas tidak membawa dampak dan/atau perubahan apapun pada blog travel, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:


Kalian lihat, baik URL Perujuk maupun Situs Perujuk masih dipegang kuat oleh Google. Bahkan pada URL Perujuk, Facebook menempati posisi nomor lima.

Ketiga: Setiap tulisan di blog, pasti ada tombol share/berbagi. Tombol ini ada di mana-mana! Lihat ikon berbagi yang saya lingkari warna merah pada dua gambar di bawah ini:



Penjelasan di atas bermaksud agar semua orang tahu dari mana para pengunjung dan/atau pembaca blog-nya datang. Salah seorang komentator status yang bersangkutan, pada status permohonan maaf, malah berkata: sudah untung blog itu diperkenalkan (melalui tulisan yang diplagiat itu). Salah! Blog saya tidak perlu diperkenalkan dengan cara tulisan saya diplagiat. Dan, pun di tulisan tersebut tidak merujuk pada blog travel saya sama sekali.

Sampai di sini, saya anggap kita semua sudah sepemahaman ya. Marilah kita lanjut.

Mengapa tulisan saya bisa dikopi-tempel? Karena saya tidak melindungi blog dan/atau tulisan dari perbuatan kopi-tempel dengan skrip tertentu. Pertanyaan lanjutan, kenapa saya tidak melindungi blog dan/atau tulisan dari perbuatan kopi-tempel? Karena saya percaya semua tulisan pada kedua blog pasti bermanfaat bagi orang lain yang membacanya, setidaknya menghibur. Saya pernah menulis paragraf berikut ini pada novel Tripelts:

Salah satu nasihat Ali Bin Abi Thalib—termasuk dalam golongan pertama pemeluk Islam, saudara sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yangmana dia menikahi Fatimah az-Zahra—berbunyi: “Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil dari pada seorang bakhil.” Penjelasan paling hakiki nasihat laki-laki yang pernah menjabat sebagai Khalifah pada tahun 656 – 661 tersebut tercantum di dalam Surat Ali ‘Imran 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ilmu dan informasi termasuk harta kekayaan. Jangan sampai kita menjadi orang yang bakhil. Tapi ingat, jangan sampai pula kita menjadi orang yang alpa dari mana ilmu dan informasi itu kita peroleh. Oleh karena itu, jika ada yang mengkopi-tempel tulisan saya, tidak masalah, selama menyantumkan sumber tulisan dan/atau credits. Karena, saat saya menulis di blog atau di mana pun, apabila ada sumber yang diperoleh dari orang lain atau situs lain, tetap harus menulis credits. Termasuk foto-foto unik yang sering pula saya pos di Facebook.

Sebenarnya, untuk mengantisipasi plagiarisme sudah ada hukum yang mengaturnya seperti Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta), serta Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Melihat perbuatan plagarisme terjadi di ranah digital/elektronik, maka peraturan yang paling tepat dipakai adalah UU ITE. Pos blog adalah dokumen elektronik yang sah sesuai muatan Pasal 5 ayat (1) UU ITE yaitu: Bahwa keberadaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik mengikat dan diakui sebagai alat bukti yang sah untuk memberikan kepastian hukum terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektronik dan Transaksi Elektronik, terutama dalam pembuktian dan hal yang berkaitan dengan perbuatan hukum yang dilakukan melalui Sistem Elektronik.

Tapi hari ini saya tidak membahas tentang hukum. Haha. Bisa lebih panjang nanti pos blog ini.

Mari lanjutkan pembahasan pada pertanyaan mengapa plagiarisme masih terjadi di tengah maraknya kampanye literasi digital. Ini menarik. Karena bersama #EndeBisa, kami terjun ke sekolah-sekolah dan salah satu poinnya adalah mengkampanyekan literasi digital dengan materi yang dikeluarkan oleh Internetsehat (ICT Watch). Tulisan saya yang diplagiat itu dilakukan oleh anak sekolah. Mungkin ini terjadi karena belum semua sekolah menerima informasi ini. Karena di dalam literasi digital saya juga dengan tegas menyampaikan tentang plagiarisme sebagai perbuatan yang melanggar hukum, antara lain mengambil foto orang lain dan mengaku itu fotonya, juga mengambil tulisan orang lain dan mengaku itu tulisannya. 

Nampaknya literasi digital harus lebih gencar dikampanyekan. Tidak hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga di komunitas, kumpulan remaja dan ibu-ibu, pokoknya di berbagai lini, agar terhindar dari yang namanya plagiarisme.

Pada pembahasan ini saya juga ingin menulis tentang teman-teman dari Facebooker yang melakukan plagiarisme tersebut. Sebagai teman, tidak peduli unsur apapun termasuk kedekatan, sudah selayaknya kita harus menegur apabila memang perbuatannya keliru. Dengan membela, apalagi memprovokasi, justru akan memperparah permasalahan yang seharusnya sudah selesai. Sayang sekali.

Kesimpulan dan Saran


Tulisan saya diplagiat, kemudian saya mengepos screenshoot posnya di Facebook, lantas menuai banyak komentar. Yang bersangkutan kemudian meminta maaf, juga di ruang publik. Saya maafkan dengan permohonan maaf pula. Siapalah saya ini, hanya penghuni semesta yang juga tidak lepas dari yang namanya tergelincir dan berbuat keliru.

Terima kasih Xxxx Xxxx, sudah saya tulis di status sebelumnya, permintaan maaf saya sambut dengan permohonan maaf juga. Karena semua manusia harus bisa saling memaafkan. Kelebihan dan kekurangan itu terjadi pada setiap manusia. Oleh karena itu, setiap yang kurang sama-sama ditambal sulam, yang lebih disedekahkan (kalau bisa).

Saya anggap permasalahan sudah selesai. Dan semoga tidak ada komentar macam-macam dari siapapun juga yang menganggap remeh plagiarisme, karena ada hukum yang mengaturnya. Tidak masalah mengambil tulisan orang lain, tapi sertakan juga sumbernya, itu pasti sangat bisa diterima. Alangkah baiknya gunakan tombol share/berbagi yang ada pada setiap tulisan.

Mari belajar literasi digital, agar sama-sama paham.

Sekali lagi, terima kasih.

Baca Juga: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo

Dengan demikian, saya anggap permasalahan ini sudah selesai sejak Kamis, 17 Oktober 2019. Komentar-komentar dari teman-temannya yang membikin kisruh saya anggap sebagai perbuatan dari orang yang tidak tahu pokok permasalahan, dan sama sekali buta akan hukum plagiat di Indonesia, juga buta akan dunia per-blog-an sehingga tidak terlalu saya pusingkan. Meskipun saya menerima ancaman dari salah seorangnya, dan itu yang membikin adik, keponakan, dan teman-teman tidak bisa menerima ancaman tersebut, tapi tidak mengapa. Hehe. Semoga, dengan membaca ini, jadi sama-sama paham bahwa memplagiat itu tidak boleh dilakukan. Untung kalau si pemilik karya tidak tahu, kalau pemilik karyanya tahu? Berabe.

Alangkah baiknya menulis sendiri, ketimbang memplagiat tulisan orang lain, karena seperti apapun sebuah tulisan sepanjang itu tulisan sendiri, betapa bangganya. Jangan takut untuk menulis, sepanjang tidak melanggar norma, hukum, dan adat, tulislah!

Semoga bermanfaat bagi semua kalian yang membacanya, pun bagi saya yang menulisnya, karena setiap manusia pasti tergelincir dan berbuat keliru.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Bermalam Minggu di Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan

Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan
Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan 
Dengan ditemani kue cucur yang masih hangat, menikmati kopi malam Minggu ini semakin seru. Di teras depan rumah sederhana yang asri dengan bermacam tanaman ini, Mas Agus Dwi Oetomo (28) dengan antusias menceritakan mengenai aksi kreativitas pemuda Kampung Pondok Soga Pantai Hurip Babelan melukis jalan lingkungan yang mereka namakan Gang 3D Pintu Air Wa Kanih.

Di sepanjang gang depan rumah berpagar bambu ini, Agus bersama pemuda dan Karang Taruna Desa Pantai Hurip sudah sejak awal Oktober 2019 telah menggambar 10 lukisan yang menghampar dan menghiasi Gang 3D Pintu Air Wa Kanih di Kampung Pondok Soga RT 005/003 Desa Pantai Hurip. Ke depan mereka akan terus menggambar dan menghias gang 3D ini agar semakin menarik.
Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan
Mas Agus Ketua Karang Taruna Desa Pantai Hurip Kecamatan Babelan  
"Saya ingin gang yang ramai dilalui para pemancing ini memiliki ciri khas dan identitas yang berkesan kepada pengguna jalan yang melewati gang ini" kata Agus yang juga merupakan ketua Karang Taruna Desa Pantai Hurip. Sabtu malam, 19 Oktober 2019.

Sebagai tokoh pemuda di Kampung Pondok Soga dan Desa Pantai Hurip, ia dan teman-temannya ingin kampungnya memiliki citra positif dan kreatif, salah satu caranya adalah dengan mewujudkan Gang 3D.

"Kami menggunakan cat minyak kiloan, lalu bersama-sama melukis sesuai konsep yang telah ditentukan. Mengenai ide lukisannya kami cari dari hasil pencarian di internet" jelas Agus yang sehari-hari berprofesi sebagai guru honorer sekolah dasar sejak tahun 2011 lalu .

Dengan senang hati ia mengajak kami melihat lukisan-lukisan dan menjelaskan maksud dan proses pembuatannya. Karena kami berkunjung saat malam hari, gambar-gambar tersebut agak sulit diabadikan dengan kamera saya.

Ilusi optik yang dihasilkan dari lukisan 3D ini memang menarik, dan membuat saya ingin kembali lagi untuk melihat gambar-gambar tersebut di siang hari. Namun menurut Agus masih banyak kekurangan atas karya-karya tersebut. Sayangnya kekurangan itu disadarinya setelah gambar selesai mereka buat. 
Foto salah satu gambar di gang 3d saat malam hari 
Ia menunjukkan kekurangan-kekurangan dalam beberapa gambar yang masih perlu penyempurnaan, seperti bayangan permadani perlu ditambah, dan warna beberapa gambar juga masih kurang memuaskan dirinya dan berencana memperbaikinya lagi bersama rekan-rekannya jika sudah ada bahan cat.

Mengenai pengadaan cat, pria yang akrab disapa Jackjhon ini menyebut biaya melukis gang 3D bermodalkan dana swadaya yang berasal dari patungan rekan-rekan, donasi warga dan kas karang taruna. Mereka juga terbuka jika ada komunitas, organisasi, mahasiswa atau warga yang ingin berperan serta dalam kegiatan ini, hanya saja perlu koordinasi untuk mengatasi permasalahan keterbatasan cat dan alat.
Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan
Salah satu lukisan ketika dipotret saat siang hari 
Ketika saya tanyakan mengenai kemungkinan untuk menjadikan gang 3D sebagai destinasi wisata yang dapat menghasilkan pemasukan, ia optimis namun belum terlalu memikirkan hal itu.

"Kalo untuk menjadi destinasi wisata yang ada pemasukan dan efek ekonomi mungkin itu masih jauh, saat ini kami masih fokus untuk memperindah gang ini agar warga Pondok Soga memiliki kebanggan tambahan atas kampungnya" jelas Agus yang masih bujangan ini.

Ia kemudian menceritakan keinginan-keinginannya yang lain termasuk gagasan-gagasan pemberdayaan pemuda untuk menciptakan kreasi yang bisa menjadi sumber penghasilan, namun ia menjelaskan itu masih cita-cita jangka panjang yang memerlukan persiapan matang dan tentunya soal permodalan serta investasi.

Agus mengaku kegiatannya ini mendapat dukungan moril dari warga dan pemerintah desa setempat. Sebagai penutup, ia berharap agar ada bantuan cat dan alat lukis agar kegiatan ini dapat cepat diselesaikan sehingga Desa Pantai Hurip memiliki ikon kreativitas yang menjadi daya tarik dan kebanggaan warga Kampung Pondok Soga. Amiin.


Catatan Materi Belajar Fotografi Menggunakan Kamera Handphone

Tunas Muda Babelan Belajar Fotografi Dengan Kamera Handphone
Mengenal Literasi Digital bersama Komunitas Tunas Muda Babelan 
Jika kamu aktif dalam berbagai kegiatan, suka bepergian ke berbagai tempat, atau kamu gemar memotret tapi tidak memiliki kamera, maka kamu dapat memanfaatkan kamera handphone (ponsel) yang kamu miliki dengan sebaik mungkin untuk memaksimalkan kualitas hasil foto kamera ponsel kamu.

Dengan terus berkembangnya spesifikasi dan teknologi yang ada pada kamera ponsel, jika digunakan dengan teknik dan pemahaman yang baik akan dasar-dasar fotografi, maka saya yakin hasil foto kamera ponsel pun tidak akan mengecewakan.

MEMANFAATKAN CAHAYA

Pertama yang mesti kita pahami adalah pengertian dasar istilah fotografi yang berarti melukis dengan cahaya, maka sesuai maknanya, unsur terpenting dalam fotografi adalah cahaya. Semakin baik pencahayaan pada objek foto, maka semakin jelaslah foto yang akan dihasilkan. Memotret di ruang yang pencahayaannya kurang terang maka akan menghasilkan foto yang tidak maksimal atau gelap.

Untuk memotret di dalam ruangan maka perlu dipastikan adanya pencahayaan yang cukup, baik dari sinar matahari ataupun sumber cahaya lainnya (blitz, lampu, senter dll). Tapi perlu diperhatikan, cahaya tambahan tersebut tidak berlebihan, karena cahaya yang berlebihan bisa menyilaukan hasil foto. Jika hal itu terjadi, pertimbangkanlah untuk bereksperimen dengan white balance dalam memanipulasi jumlah cahaya yang muncul pada foto anda.

Mengenali cahaya akan melatih kita peka terhadap intensitas cahaya  apakah berlebihan atau kurang, dari mana cahaya datang, ke mana bayangan jatuh dan apakah perlu sumber cahaya pembantu, dan seterusnya.
Kemah Silaturahmi Pramuka Tunas Muda Babelan
Kemah Silaturahmi Komunitas Tunas Muda Babelan 

MANFAATKAN GARIS BANTU

Setiap handphone memiliki "Garis Bantu" yang akan membagi layar menjadi beberapa bagian, ada yang menamakannya grid, garis kisi dan lain-lain. Aktifkan fitur garis bantu melalui menu setelan (setting) kamera sesuai dengan menu bawaan kamera masing-masing. 

Garis bantu paling sederhana adalah garis bantu 3x3 dimana layar tampilan kamera akan dibagi menjadi 9 ruang, 3 vertikal dan 3 horizontal. Manfaat garis bantu adalah untuk memudahkan kita memastikan bahwa gambar yang sedang kita bidik lurus dan rata baik secara vertikal ataupun horizontal. 

Kita dapat menggunakan garis-garis imajiner yang tertangkap layar saat membidik objek, baik itu garis pembatas jalan, tiang listrik, sudut dinding, garis-garis petak lantai dan lain-lain.

Selain itu kita akan belajar komposisi fotografi yang dikenal dengan istilah Rule Of Third di mana setiap foto akan terbagi menjadi 3 bagian yang memperjelas posisi objek.  3 bagian sesuai garis bantu itu adalah: latar depan (fore ground), tengah (middle) dan latar belakang (background). Kemudian secara horizontal garis bantu akan membagi foto menjadi 3 bagian pula, kanan, tengah dan kiri. Dengan pembagian ini kita akan lebih mudah menentukan  atau memposisikan objek foto kita saat membidik kamera.

2 point itu saja yang saya sampaikan pada saat diundang sharing dalam grup WhatsApp mengenai pengenalan dasar fotografi oleh Komunitas Pramuka Tunas Muda Kwartir Ranting Babelan. Grup yang hanya direncanakan untuk berumur seminggu ini (4 s/d 11 Oktober 2019) diikuti sekitar 30an anggota Tunas Muda dengan intensitas diskusi yang sedang.

Grup WhatsApp ini juga kelanjutan dari materi yang saya berikan sebelumnya pada saat Kemah Silaturahmi 3 pada perayaan ulang tahun ke-2 Komunitas Tunas Muda dimana saya menyampaikan materi literasi digital kepada anggota dan calon anggota Tunas Muda. Saya sempat menyinggung filterisasi konten di sosial media dan mendorong anggota Tunas Muda memproduksi konten positif berupa dokumentasi dan informasi seputar kegiatan-kegiatan yang banyak mereka lakukan.

Dalam grup WhatsApp itu, selain materi pencahayaan dan garis bantu, dari sesi tanya jawab sebenarnya sudah membahas materi dan juga tips-tips memotret dengan kamera ponsel lainnya. Diantaranya, gunakan resolusi tertinggi yang disediakan, selalu bersihkan lensa kamera sebelum dipakai, sebisa mungkin tidak menggunakan zoom, dekati objek, manfaatkan menu shutter/raya di layar ponsel agar tetap fokus dan tidak goyang saat memotret dan sebagainya. 

Tujuan sharing ini adalah memberikan wawasan kepada teman-teman di Komunitas Tunas Muda agar lebih sering lagi dalam mendokumentasikan kegiatan-kegiatan mereka melalui foto yang mereka ambil dari kamera handphone lalu membagikannya sebagai konten positif di media sosial. Semoga bermanfaat.

Salam.


Setelah Upin Ipin yang Mengedukasi Terbitlah Larva

Screenshoot dari videonya di Youtube.

Setelah Upin Ipin yang Mengedukasi Terbitlah Larva. Menulis ini dalam kondisi sedang sangat bersemangat setelah hampir dua bulan terakhir prolog tidur saya berganti-ganti antara Upin Ipin dan Larvadan epilog tidur saya disusupi perasaan tidak rela meninggalkan ranjang diiringi hidung kembang-kempis dan iler tumpah-ruah. Helooooooo, are you okay, Teh? Hehe. Saya masih rajin menonton video lainnya dari channel Brightside, TED, Kirsten Dirksen, Insider, 5 Minutes Crafts, dan lain sebagainya termasuk tentang tiny house, tapi pesona filem kartun/animasi memang masih menguasai sisi lain diri saya. Tsaaaaah. Sisi lain yang masih pengen dimanja dan disayang-sayang sama Abang *ditabok dinosaurus*. Waktu SMA saya tergila-gila sama Doraemon sampai dikata-katain sama Kakak Didi Pharmantara: cewek terlambat puber. Huhuhu. Apa salah dan dosa hambaaaaa.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Masih banyak orang yang menyangka filem kartun identik dengan bocah saja. Salah, bung. Bahkan ada filem kartun yang justru tidak boleh ditonton sama bocah, dan saya pernah menontonnya di Youtube, hanya saja lupa judulnya. Pokoknya yang tidak seberapa komersil lah. Oke, balik lagi ke Upin Ipin dan Larva. Upin Ipin jelas kalian sudah tahu kan ya. Manapula pernah saya tulis dua kali di blog dengan pos berjudul Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 1) dan pos berjudul Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2). Silahkan dibaca! Karena semua Orang Indonesia wajib tahu alasan saya menulis dua pos tentang Upin Ipin tersebut.

Hari ini saya mau membahas tentang Larva. Beberapa hal memang saya ketahui tentang filem kartun yang satu ini tapi alhamdulillah Wikipedia menyediakan informasinya.

Cekidot!

Tentang Larva


Larva adalah serial televisi komedi yang dulunya tayang di RCTI. Iya, saya juga tahu Larva dari stasiun televisi tersebut, waktu masih menonton televisi, kan sudah lamaaaa sekali say goodbye sama televisi. Serial komedi animasi komputer ini dibikin oleh Tuba Entertainment yang bermarkas di Seoul, Korea Selatan. Untung bukan bermarkas di Pyongyang, Korea Utara, bisa-bisa kisahnya tentang Larva yang setiap hari bertugas di pangkalan militer dan pangkalan nuklir. Haha. Kenapa judulnya sampai Larva, ya karena dua karakter utamanya adalah dua larva berbeda warna dan bentuk. Satunya berwarna kuning dan sedikit lebih besar, satunya berwarna merah imut mirip potongan sosis. Sosis adalah makanan kegemaran mereka berdua, selain ... errr ... semua sisa makanan yang bisa ditemukan di sekitar.

Setiap episode Larva hanya berdurasi satu sampai dua menit saja sehingga tidak membosankan penonton. Hebatnya lagi, filem kartun ini seperti Tom and Jerry, tanpa percakapan sama sekali, kecuali jika Yellow terpesona akan sesuatu maka satu kata yang diucapkan adalah WOW dengan nada rendah dan super berat. Meskipun tanpa percakapan, alurnya tetap mudah dan ringan untuk dipahami dengan pesan-pesan moral yang jelas alias tidak bertele-tele.

Karakter Larva


Ini yang seru. Di dalam Larva, dengan kehidupan kaum minoritas itu *ngikik*, ada banyak karakter yang ditampilkan selain karakter utama. Dan karakter-karakter ini jelas-jelas ... bikin saya geleng-geleng kepala, betapa cerdasnya orang-orang yang membikin Larva. Pun mereka tidak repot memikirkan nama. Nama setiap karakter melekat erat dengan warna maupun bentuknya.

Marilah kita kenalan sama karakter-karakternya.

1. Yellow

Larva kuning yang bentuknya sedikit lebih besar dengan dua lobang hidung yang juga besar sehingga bisa menghasilkan gelembung apabila menghirup sabun cair (nonton episode ini saya sampai terbanting dari kasur). Dia sering kehilangan kontrol atas dirinya sendiri apabila melihat makanan. Kalau saya lihat sih, Yellow dan Red memang sama-sama kehilangan kontrol apabila melihat makanan, mereka lupa diri, lupa segalanya, lupa persahabatan. Terakhir, baru menyesal. Haha.

2. Red

Bentuknya macam sosis atau potongan sosis. Si Red ini wataknya keras dan tidak sabaran. Sama seperti Yellow, keduanya iseng bin usil dan selalu dalam kasus perebutan makanan. Bagaimana Yellow dan Red kemudian selalu bersama, ada kisahnya dalam Once Upon a Time, dimana dikisahkan keduanya bertemu saat 'menetas' hehehe. Persahabatan keduanya kemudian berlanjut sampai dewasa. Oh ya, karena tidak punya kaki, Yellow dan Red berjalan menggunakan perut, namanya juga larva, dan melakukan segala sesuatunya menggunakan lidah. Inilah yang disebut the power of tongue.

3. Violet

Dalam episode berjudul Violet, kita akan melihat cacing raksasa misterius yang selalu bersemunyi di dalam tanah dan muncul pada saat-saat tertentu. Kekuatannya ada pada giginya yang taring dan tajam serta suara raungannya yang garang. Tetapi, suatu kali ketika gigi si pemilik rumah terlempar keluar dan menancap di gusi Violet, suaranya jadi ngik-ngik alias tidak garang lagi, dan itu sukses membikin saya ngakak tidak karuan.

4. Pink

Pink adalah satu-satunya larva betina dalam serial Larva, dan kalau boleh ditulis, dia adalah larva ketiga. Selain itu sudah tidak ada lagi larva lainnya. Dalam beberapa episode, saya melihat Pink ini lebih suka sama Yellow ketimbang Red. Mereka kemudian jadian. Meskipun Pink dan Yellow sudah jadian, jadiannya gara-gara Pink yang rendah diri karena kentutnya sendiri sadar bahwa kentut Yellow jauh lebih dahsyat, tetap saja Red berusaha menyusup agar Pink mau menerimnya. Hehe. Sungguh persaingan dalam ranah asmara ini terjadi di mana-mana.

5. Black

Black adalah kumbang perkasa yang garang. Kebiasaan Black cuma satu: meninju kepompong sebagai samsak. Meskipun perkasa dan garang, dalam episode tertentu, kompak saja para kaum minoritas ini.

6. Rainbow

Siput ini namanya Rainbow. Saya lebih suka kalau dia keluar dari cangkang karena tubuhnya mirip manusia serta bergerak jauh lebih cepat. Rainbow pernah melempar cairan hijau pada Yellow dan Red, gara-gara dua larva itu iseng mem-bully-nya, dan kedua larva itu menjadi lamban seperti Rainbow. Hehe.

7. Prism

Bunglon yang paling suka mengincar Yellow dan Red. 

8. Rat

Ini tikus yang juga sama kayak Prism, sukanya mengejar Yellow dan Red untuk dijadikan makanan tapi tentu selalu gagal.

9. Stik Insect

Ini dia karakter yang terlihat paling rapuh tapi juga punya peranan penting dalam dunia Larva.

10. Baby Coco

Tunas (cokelat / hijau) yang tegas dan baik sama Yellow dan Red.

Itu karakter-karakter yang ada di Wikipedia. Pada saat menonton Larva dari berbagai musim, masih ada karakter-karakter lainnya seperti si anjing penunggu rumah yang entah siapa namanya, katak yang selalu mengincar Yellow dan Red untuk dijadiin makanan, burung peliharaan di dalam rumah yang ganas sama Yellow dan Red, dua burung lainnya sahabat Rat, kutu kelapa, dan lain sebagainya. Sayang, situs resmi Larva ini sedang down saat saya berusaha mencari informasi lebih banyak tentang Larva, jadi tidak bisa diakses. Ya sudahlah. Hehe.

Mari kita lanjut.

Hidup Harus Dinikmati dan Dirayakan


Seperti yang sudah saya tulis, bahkan filem kartun pun mengajarkan penontonnya banyak hal. Ada hikmah, pesan, pelajaran, yang disampaikan di setiap episodenya. Pelajaran paling utama yang saya tangkap dari Larva adalah hidup harus dinikmati dan dirayakan bahkan oleh perkara-perkara sepele. Bagi kaum minoritas yang tertindas, dua larva gokil juga teman-temannya, menjalani hari itu mau apa lai. Nikmati. Rayakan. Hari ini mau ngapain? Hari ini dapat makan atau tidak? Hari ini dikejar sama Rat atau tidak? Bagi mereka, bangun pagi keesokan hari dengan kondisi masih bernafas pun merupakan berkah. Ketemu makanan sisa yang dibuang merupakan surga yang dinanti. Oleh karena itu mereka sangat menikmati hidup dan selalu berupaya merayakannya. Tapi karena gokil dan berpikir dengan arus-pendek, maka seringnya dua larva itu ketiban sial.

Tentu, pelajaran yang berikutnya adalah tentang persahabatan yang kata Sindentosca: bagai kepompong. Yellow dan Red memulai persahabatan mereka sejak mengenal dunia, susah senang selalu bersama, isengnya pun kompak, kadang Yellow dan Red sama-sama saling iseng bin usil satu sama lain, berbagi makanan meskipun lebih sering khilaf (makanannya diembat sendiri), saling memanfaatkan tapi juga saling memaafkan, sampai urusan asmara dimana Pink mencintai Yellow sedangkan Red mencintai Pink. Sampai demam tinggi itu Red gara-gara kasih tak sampai. Haha. Persahabatan ini juga terjalin dengan kaum minoritas lain penghuni rumah dan penghuni selokan (saat di New York).

Dan pelajaran terakhir dari Larva, menurut saya, adalah hukum rimba. Yang lemah mengalah pada yang kuat. Meskipun, pada beberapa episode hukum rimba tidak berlaku, karena siapa sih yang mau terus-terusan ditindas? Balasannya adalah keisengan kedua larva tersebut.

Baca Juga: Karya Mereka Terlalu Eksklusif Untuk Tayang di Televisi

Bagaimana dengan kalian, kawan? Masihkah kalian menonton filem kartun/animasi? Apa saja filemnya? Yuk bagi tahu, siapa tahu bakal jadi referensi untuk saya hahaha. Yang jelas, setiap hari saya diisi dengan Upin Ipin dan Larva. Pertanyaannya sekarang, bukankah kalau terus ditonton, selesai juga itu semua episode dari setiap season? Bahkan Larva yang tidak sepanjang Upin Ipin season-nya? Ya nonton ulang doooonk hehehe. Karena sering menonton ulang ini makanya saya mulai hafal satu per satu kisahnya, baik Upin Ipin maupun Larva. Apakah saya kurang kerjaan? Justru karena terlalu banyak pekerjaan sehingga butuh hiburan, terutama sebagai pengantar tidur malam. Haha.

Selamat menikmati weekend!

#SabtuReview



Cheers.

5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor


5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor. Berapa tahun sudah saya menjadi bagian dari Universitas Flores (Uniflor)? Delapan tahun! Waktu yang lama untuk mencintai sampai ke sum-sum. Uhuk. Hahaha. Tahun 2020 Uniflor yang saya cintai ini akan berusia empat puluh. Panca Windu. Forty. The number that follows 39 and precedes 41. Usia yang matang, sesuai kata orang-orang, life begin at forty. Menuju empat puluh tahun usianya, Uniflor telah mulai mempersiapkan kepanitiaan dan rencana kegiatan seabrek. Uh wow sekali. Dan sebagai bagian dari kepanitiaan, saya merasa dialiri energi super sehingga akhirnya memutuskan perlu menulis ini. Meskipun, sebenarnya draf tulisan tentang dunia asmara sudah 90% rampung.

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Ada empat pilar utama dengan koordinator utama masing-masing yang ditetapkan sebagai dasar kegiatan-kegiatan menuju empat puluh tahun Uniflor. Empat pilar itu adalah Pilar A, Pilar B, Pilar C, dan Pilar D. Hahaha. Rincian nama pilar tidak dituliskan di sini. Setiap pilar punya daftar kegiatan/acara masing-masing. Misalnya Pilar A punya sepuluh kegiatan, Pilar B punya sebelas kegiatan, Pilar C punya delapan kegiatan, Pilar D punya dua kegiatan. Sementara saat ini saya cukup menulis lima kegiatan yang dirangkum dari kegiatan-kegiatan di bawah naungan empat pilar utama tersebut.

Sampai di sini kita sepemahaman kan ya.

Jadi, apa saja lima kegiatan, yang menurut saya keren, menuju empat puluh tahun Uniflor?

Cekidot!

1. Lomba Blog, Vlog, dan Foto


Ini dia kegiatan yang masuk dalam Pilar A. Kebetulan saya pula yang menjadi sub-koordinator Lomba Blog, Vlog, dan Foto. Begitu lomba-lomba ini di-mention dalam pertemuan pertama, rasanya seperti ditombak dari jarak sangat dekat. Tentu saya senang. Banget. Nge-blog sejak tahun 2002/2003, hiatus dan bangkit berkali-kali, menjadi pemateri blog bahkan hingga sekarang, membuka banyak Kelas Blogging Online bersama Om Bisot dan Kanaz, pernah membikin berbagai lomba blog waktu masih aktif di komunitas, kemudian dipercayakan mengkoordinir lomba seakbar ini ... supa amazing! Meskipun lomba-lomba ini baru akan dilaksanakan tahun depan tapi saya sudah selesai donk menyusun semua draf-nya. Saya memang gila. Kalau itu yang ingin kalian bilang. Haha. Selain lomba blog, vlog, dan foto, juga akan digelar lomba karya ilmiah dan lomba-lomba yang berhubungan dengan dunia akademik.

2. Seminar Nasional


Dunia universitas, dunia kampus, dunia akademik, harus bisa menyelenggarakan seminar baik yang tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Seminar tingkat lokal dan nasional memang sudah sering diselenggarakan di Uniflor. Saking seringnya, saya jadi punya banyak informasi baru karena harus meliput juga kan. Dan menuju empat puluh tahun Uniflor akan diselenggarakan seminar nasional, Insha Allah seminar internasional (ini masih wacana kalau internasional).

3. Edukasi Sampah dan Tentang Literasi


Dari Pilar B, ada banyak sekali kegiatan dan dua diantaranya saya gabungkan di sini yaitu edukasi sampah yang termasuk dalam baksos, serta literasi. Edukasi sampah nanti digabung dalam kegiatan bakti sosial: bersih-bersih sampah. Kenapa edukasi sampah ini penting? Karena selama ini banyak kegiatan membersihkan sampah tapi masih kurang eduksi tentang sampah: jenis sampah, pemilahan sampah, daur ulang sampah, sampah menjual barang hasil daur ulang sampah. Kalau rencana ini berjalan, saya bakal sangat happy. Sedangkan literasi itu wajib, karena mengingat mahasiswa KKN Uniflor 2019 telah membangun Rumah Baca Sao Moko Modhe di Kabupaten Nagekeo tepatnya di Desa Ngegedhawe. Artinya, literasi: pengumpulan dan penyumbangan buku untuk rumah baca, serta kegiatan pendukungnya nanti, merupakan kegiatan berkelanjutan. Kan bangga, Uniflor yang bermarkas di Kabupaten Ende membangun rumah baca di Kabupaten Nagekeo. Kan sayang, Kabupaten Ende belum melaksanakan Festival Literasi, sedangkan Kabupaten Nagekeo sudah melaksanakannya. Hiks.

4. Sunat Masal


Donor darah sudah sering dilakukan, dan memang akan dilakukan juga, tapi sunat masal? Ini yang juga supa amazing. Hehe. Waktu dicetus kegiatan kawin sunat masal saya terbengong-bengong. Hebat euy. Insha Allah kegiatan ini dapat terlaksana dan memberi berkah bagi banyak anak-anak (Muslim/Muslimah) di Kabupaten Ende. Amin.

5. Retret


Saya suka sekali ide yang satu ini. Perlu kalian ketahui, Uniflor punya kegiatan tahunan semacam Uniflor Family Day atau Tur Uniflor yang diikuti oleh dosen dan karyawan. Memang, kegiatan itu semacam kegiatan relaksasi dosen dan karyawan yang digabung pula dengan pengabdian kepada masyarakat di daerah tujuan. Biasanya bisa tiga hari kegiatan yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Tetapi kali ini diusulkan untuk dilaksanakan kegiatan retret lintas agama. Maksudnya, retret yang selama ini identik dengan Agama Katolik kemudian dibikin lebih universal, lintas agama, karena kita Indonesia! Yuhuuuuu.

⇜⇝

Lima kegiatan keren di atas memang tidak bisa mewakili semua kegiatan yang telah dirancang oleh panitia seperti kegiatan di bidang olah raga dan lain sebagainya. Yang jelas awal November 2019 bakal ada kegiatan akbar yang tujuannya me-launching dua perkara utama. Yang pertama: launching Ema Gadi Djou Memorial Cup. Yang kedua: launching Panitia 40 Tahun Uniflor. Kegiatan tersebut bakal diwujudkan dengan parade yang masif (saya melihat begitu banyak orang, termasuk mahasiswa, dilibatkan) dimana setiap program studi di Uniflor bakal tampil mewakili setiap kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ya, Uniflor memang mediator budaya!

Baca Juga: 5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat

Doakan semua kegiatan yang sudah direncanakan dapat berjalan dengan baik ya, kawan. Yang jelas awal November nanti, saat perhelatan sepak bola Ema Gadi Djou Memorial Cup digelar, akan ada bazaar di depan Stadion Marilonga. Marilah kita ramai-ramai ke sana. Nanti ... hehe.

Satukan langkah, bulatkan tekad, menuju Uniflor bermutu!

#KamisLima



Cheers.

Kepo Buku #27: Jiwa Sehat, Negara Kuat

Bertepatan dengan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Kepo Buku mengundang penyunting buku yang berisikan tulisan 46 yang yang menyoroti masalah layanan kesehatan jiwa di Indonesia. Sebuah buku yang sangat patut membuka mata bukan hanya untuk penyelenggara negara, tapi juga kita masyarakat biasa.

Tamu: Imelda Bachtiar

Selamat mendengarkan!



Episode ini bisa juga didengarkan di:

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

Buku yang dibahas di episode ini:


Kepo Buku adalah:

Follow akun Instagram Kepo Buku di Instagram.com/KepoBuku

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku atau ke 087878505012
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

-rh-

 

 

Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel


Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel. Pos hari ini di #RabuDIY cukup singkat padat dan jelas. Karena apa? Karena saya bukan saya yang membikinnya melainkan teman kerja. Jadi, saya cuma pengen ngasih tahu ke kalian bahwa dari kain flanel yang biasanya dipakai untuk mempercantik stoples dan/atau tempat tisu bisa juga langsung diaplikasikan untuk dijadikan dompet. Seperti pada foto di awal pos. 

Baca Juga: Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah

Kuning? Iyess! Waktu ditanya saya jelas meminta dompet berwarna kuning dengan nama saya tertera di salah satu sisinya. Yang membikin ini teman kerja tetapi lebih dikenal sebagai dosen FKIP, namanya Ibu Purnama. Orangnya super kreatif! Sama seperti Violin Kerong hehe. Selain membikin dompet alat tulis berbahan kain flanel, Ibu Pur juga membikin ragam dompet rajutan, yang bahannya tidak saja benang/tali tetapi juga plastik kresek. Ada beberapa dompet lain yang dibikin menggunakan plastik bekas bungkus Nescafe.

Uh wow! Kreatif sekali.

Terbukti mantan sampah tidak selamanya harus dibuang kan? Masih bisa digunakan kembali setelah didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh banyak orang. Saya, kalian, mereka.

Semoga menjadi inspirasi ...

#RabuDIY



Cheers.

Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android


Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android. Sering lihat teman punya lebih dari satu akun Facebook. Alasan yang pertama: karena quota perteman sudah penuh, alasan yang kedua: lupa username dan password sehingga perlu bikin akun baru, alasan yang ketiga: akun diretas. Saya hanya punya satu akun Facebook, the one and only, dan belum kepikiran untuk membikin akun tambahan. Tetapi saya mengelola banyak akun Facebook dari akun utama tersebut khususnya akun grup dan fanpage khususnya yang berkaitan dengan kampus. Sama juga dengan Twitter, saya mengelola lebih dari satu akun di luar akun pribadi alias akun utama, karena berbagai sebab antara lain komunitas dan kampus. Tapi khusus Instagram (IG) saya benar-benar hanya mengelola satu akun pribadi! Tidak ada akun lain yang saya kelola.

Baca Juga: Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru

Adalah satu kemudahan ketika kita mendaftar satu akun, khususnya media sosial, tetapi bisa mengelola akun lainnya yang ditambahkan. Sehingga untuk berpindah akun tidak perlu melakukan log out dan log in yang tentunya rempong sekali, tetapi cukup klik akun mana yang ingin diaktifkan/dipakai untuk pos sesuatu. Sangat mudah terutama untuk para pengguna Android.

Seperti yang sudah saya tulis, berbeda dengan Facebook dan Twitter yang mana saya mengelola banyak akun tanpa harus log out dan log in kembali, menambah akun di IG adalah perkara yang benar-benar baru bagi saya karena mengepos di IG pun tidak serajin mengepos di Facebook dan Twitter. Orang lain tentu sudah tahu tentang perkara yang satu ini karena ada pengguna yang ingin memisahkan antara akun Instagram (IG) pribadi dengan akun IG khusus bisnis. Sedangkan saya harus belajar dan mencari tahu sana sini agar bisa melakukannya.

Apa pasal sampai saya ngotot menambahkan akun IG? Cekidot.

Bertemu Abhi Ray


Sudah saya bilang kalau saya jarang mengepos di IG, otomatis jarang pula memerhatikan DM-nya. Sampai kemudian Kakak Rohyati Sofyan mengajak ikutan Indonesia Saling Follow di IG. Baru saya ngeh ternyata ada banyak DM dari teman-teman dan salah satunya dari Abhi Ray. Abhi Ray adalah sahabat blog sejak zaman dulu kala, sekitar tahun 2003 atau 2004-an yang dikenal sebagai salah seorang founder Segelas Air Putih. Segelas Air Putih awalnya melalui sebuah mailing-list, tempat berbagi cerita inspiratif yang membangun dan memotivasi, kemudian pakai .org, dan sangat membantu saya dalam mengelola program radio yang berhubungan dengan kisah-kisah inspirasi. Tentu, membaca kisah-kisah inspirasi di Radio Gomezone waktu itu atas ijin Abhi Ray dan kawan-kawan juga.

DM Abhi Ray itu bertanya tentang nomor WA. Selanjutnya kami mengobrol lewat WA. Inilah yang membikin saya terharu. Saya baru sekali bertemu Abhi Ray saat ke Jakarta dulu, tahu persis orangnya super baik. Sifatnya yang menginspirasi dan memotivasi tidak bisa hilang, pun saat kami mengobrol via WA. Abhi Ray menyarankan saya untuk membikin akun IG yang berkaitan dengan informasi wisata dan/atau suatu daerah. Beliau bahkan menyarankan nama-nama akunnya. Awalnya saya berkata pada beliau bahwa untuk perkara-perkara informasi berkaitan dengan wisata atau daerah itu sudah tersedia di I am Blocpacker, blog travel milik saya. Tapi kata Abhi Ray, zaman berubah, blog mungkin masih tapi IG lebih.

Ide tentang IG ini menarik juga. Maka malam itu saya mencoba mencari tahu caranya menambah akun baru di IG. Karena, oh yaaaa saya tidak tahu. Uh lala syekali kan. Hehe. Ternyata caranya sangat mudah, hampir sama dengan menambah akun di Twitter.

Dua Akun IG Dalam Satu Aplikasi


Caranya ternyata lumayan mudah. Berdasarkan pengalaman saya, pakailah nomor telepon genggam yang dipasang di perangkat smartphone, lagi pula e-mail saya sudah dipakai untuk mendaftar akun IG pertama kali dulu. Setelah nomor teleponnya ready, mari mendaftar. Pertama-tama tentu harus membuka aplikasi IG terlebih dahulu *ngikik*.


Klik beranda / akun IG kita di pojok kanan bawah samping kanannya ikon hati. Kalau sudah di beranda akun kita, lihat pojok kanan atas, itu nama akunnya @tutehpharmantara. Lihat yang saya lingkari merah? Klik di situ.


Maka akan terbuka halaman seperti pada gambar di atas. Lihat, ada tulisan Tambahkan Akun seperti yang saya lingkari merah di atas. Itu saya screenshoot dalam posisi sudah mendaftar/menambah akun @info_flores (sudah daftar ini ceritanya). Klik tambah akun, maka pengguna akan diantar pada halaman pendaftaran awal, seperti kita mendaftar pertama kali. Ikuti langkah-langkahnya sampai selesai. Dan, akhirnya akun @info_flores pun sudah jadi. Saya tidak menampilkan screenshoot langkah-langkahnya di sini hahaha. Soalnya akunnya sudah jadi dan tidak kepikiran untuk membikin lagi. Pokoknya tidak susah dan tidak rempong kok menambah akun di IG ini.


Akun @info_flores baru ada satu pos, dengan delapan pengikut. Jangan lupa untuk ikuti ya, pasti bakal diikuti balik!

Ternyata semudah itu menambah akun pada satu aplikasi IG di Android.

Baca Juga: Teknik, Koreo, dan Seni Pada Sesi Foto Prewedding

Saat ini saya sedang mengumpulkan materi untuk akun IG: @info_flores. Materinya juga ada yang diusulkan oleh Abhi Ray, dan memang saya punya banyak sekali materi untuk akun tersebut. Bisa diambil dari blog travel, bisa juga mengubek foto-foto yang masih tersimpan rapi di Google Photos, tinggal ditambah satu dua caption (paragraf) sebagai keterangan. Manapula saya bakal kembali keliling Pulau Flores sehingga bisa sekalian menambah isi @info_flores. Yang jelas foto-foto dan video (kalau mau video) bakal saya kasih tanda air dulu hehehe.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Berapa akun yang kalian punya di IG? Bagaimana dengan mengelolanya, susah atau mudah? Karena, konsisten merupakan hal yang cukup sulit untuk dijalani oleh saya dan/atau kalian.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

S0401 – Penyakit itu Bernama Rutinitas

Ada satu penyakit yang cepat atau lambat mungkin saja dirasakan oleh para podcaster saat mereka sudah mulai rutin mengunggah podcastnya, sudah mulai banyak pendengar, sudah mulai dikenal. Episode ini membahas soal itu yang berangkat dari pengalaman pribadi 🙂 Oya ini sekaligus menandai dimulainya season baru Suarane Podcast di penghujung tahun 2019 ini.

Semoga bermanfaat.

 



Suarane Podcast episode ini juga bisa didengarkan di Soundcloud atau bisa dicari di berbagai aplikasi podcast lainnya seperti Spotify, Apple Podcast, Google Podcast, Breaker, Castbox, Aplikasi Dengar Radio dll. dengan kata kunci pencarian: “suarane.”

CATATAN TEKNIS:

Episode ini direkam live di pinggir pantai dengan peralatan sebagai berikut:

s0401

 

Credits: 

  • Musik yang dipakai di episode ini adalah “Loopster” karya Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License