Fajar Kristiono: Kalau Enggak Bisa Bokeh, Gue Main di Detail

Fajar Kristiono: Kalau Enggak Bisa Bokeh, Gue Main di Detail

Sabtu pagi 7 Desember 2019, saya berkesempatan menghadiri acara Marathon Workshop Fotografi yang digelar oleh Komunitas FOSE (Fotografi Secret) di Aeon Mall Cakung.  Dalam kesempatan ini saya menikmati banyak foto-foto anggota FOSE yang dipamerkan. Sayangnya saya hanya berkesempatan mengikuti workshop dari 1 pemateri dari 11 pemateri yang akan dihadirkan, yaitu materi "Lightning is easy" dari Kang Fajar Kristiono.
Pameran foto member FOSEdi Aeon Mall Cakung Desember 2019
Pameran foto member FOSE
Pada postingan sebelumnya: Marathon Workshop Fotografi Gratis Dari 11 Fotografer Kondang, saya sudah menyebutkan nama-nama ke-11 fotografer  yang menjadi pemateri dalam workshop fotografi tersebut. Beliau-beliau itu adalah Arbain Rambey, Hendra Lesmana, Ferry Ardianto, Rezki Sterneanto, Ully Zoelkarnain, Fajar Kristiono, WS Pramono, Dody S. Mawardi, Lateevhaq, Ridha Kusumabrata dan Darwis Triadi. 

Bagi yang belum kenal, Kang Fajar Kristiono ini adalah seorang fotografer profesional yang dikenal kerap mengabadikan karya fotografi portrait yang dramatis dan mengesankan. Prestasinya dalam bidang fotografi membuat salah satu merek kamera global memasukkannya dalam list "Sony Alpha Professional Photographer" bersama fotografer beken lain dari seluruh dunia. 

Pada hari kedua workshop yang akan digelar selama 3 hari ini, Kang Fajar bukan hanya memberikan workshop mengenai pencahayaan dalam fotografi, tapi juga berbagi cerita pengalaman untuk memotivasi fotografer pemula di antara para hadirin dan juga banyak berbagi tips memotret berdasarkan pengalamannya.

Kang Fajar Kristiono bercerita mengenai awal-awal ia belajar mengenal fotografi, bergabung dengan komunitas hingga akhirnya menjadi fulltime fotografer seperti sekarang ini. Awalnya ia terus mencoba memaksimalkan gear (peralatan memotret) yang dimilikinya, kemudian seiring perjalanan karir fotografinya yang makin berkembang, barulah ia meng-upgrade peralatan yang digunakan.

"Jangan terlalu terstigma dengan gear. Gue juga memulai dengan kamera dan lensa kit standar bawaan pabrik," ungkapnya memotivasi para hadirin. "kalau kamera gue enggak bisa bokeh, maka gue akan bermain detail".

Dimulailah eksplorasinya, bergabung dengan komunitas foto, mempelajari teknik-teknik fotografi secara otodidak hingga akhirnya memiliki style dan karakter yang ia rangkum dalam pelatihan-pelatihan fotografi dengan tema "Sense Of Color".

"Cari karakter foto yang berbeda lalu konsisten," ungkapnya ketika menjelaskan mengenai bagaimana ia membangun stylenya. "Harus berani egois sedikit dan berani mengajak model untuk berpose di lokasi yang berbeda, dan jangan ragu untuk mencetak hasilnya, agar kita tahu dan paham perbedaan tampilan di layar dan hasil cetaknya". Mengenai hasil cetakan itu menurutnya, juga bisa menjadi portofolio fisik yang bisa melengkapi portofolio online baik di media sosial atau di halaman-halaman internet.

Yang menarik dalam workshop ini Kang Fajar langsung mempraktekkan teori-teori yang telah ia sampaikan dan menjelaskan workflow yang sering ia terapkan. Baik memilih angle, mengukur kekuatan cahaya, setting-an kamera hingga di mana letak flash yang baik.
Praktek memotret dengan bantuan artificial lightning (flash)
Workflow atau langkah-langkah yang Kang Fajar lakukan dalam sesi pemotretan kalau tidak salah dengar, pertama-tama ia akan memotret landscape lokasi pemotretan tanpa model. 

"Kamera di-setting dengan ISO rendah agar foto tajam, dan angka aperture atau F yang besar agar foto lebih detail. Jika ISO dan F sudah dapat maka selebihnya untuk mendapatkan ambience yang sesuai cukup mainkan di shutter speed, jangan ubah setting-an ISO dan F."

Mendengar penjelasan lisan seperti itu, saya sebenarnya kurang paham apa yang dimaksud. Saya hanya mencatat dan menuangkannya kembali menjadi tulisan sambil meraba-raba apa sebenarnya yang dimaksud oleh Kang Fajar dengan penjelasan yang sangat teknis itu :)

"Kalau ada yang kurang jelas, materi-materi ini semua sudah ada di channel youtube gue," katanya. 

Ah, rupanya Kang Fajar sudah punya kunci cadangan untuk orang-orang awam yang baru belajar mengenal fotografi seperti saya.

Silakan berkunjung ke Youtube Kang Fajar, di sana ada 62 video yang bisa kita tonton untuk belajar lebih jauh mengenai materi-materi fotografi. Klik di SINI untuk berkunjung ke channel youtube beliau.

Setelah sesi materi selesai, Kang Fajar masih melayani pertanyaan-pertanyaan dari beberapa peserta yang memburunya hingga ke luar area acara. Dengan ramah beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan kembali memberikan tips-tipsnya. 

Yang sempat saya tangkap Kang Fajar bilang, "Hobi jangan terlalu pakai nafsu, musti dihitung benefitnya."  Nah, ini kena banget, saya yang baru kenal fotografi dan belajar motret rasanya mau beli ini itu, untung saja uang pas-pasan jadi gak kebeli deh gear yang mahal-mahal itu :D 
Kang Fajar Kristiono menjawab pertanyaan hadirin seusai materi
Kang Fajar Kristiono menjawab pertanyaan hadirin seusai materi
Terima kasih Kang Fajar atas pengetahuan dan tips-tipsnya. Terima kasih juga kepada Komunitas FOSE, APFI Bekasi sebagai pelaksana event dan juga para sponsor yang telah menjadikan workshop gratis ini terlaksana.

Salam


Kepo Buku #31: Season Finale (1/2)

31 episode selama tahun 2019 adalah sebuah pencapaian bagi kami di Kepo Buku. Di episode Season Finale bagian pertama dari dua episode ini kami menengok kembali perjalanan setahun terakhir yang tidak lepas dari peran teman-teman pendengar, alasan utama kami terus rajin kepo di tengah kesibukan masing-masing. Dua diantaranya kami hadirkan di episode kali ini lewat review buku masing-masing yang menarik sekali.

Selamat mendengarkan!


Episode ini bisa juga didengarkan di:

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

Tamu kali ini:

  • Lili Hasliana (Bogor)
  • Raudha Ilmi Farid (Depok)

Kepo Buku adalah:

Follow akun Instagram Kepo Buku di Instagram.com/KepoBuku

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku atau ke 087878505012
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

-rh-

 

 

Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK


Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK. Menulis VK rasanya seperti menulis CK, atau LV. Perasaan itu tidak salah, karena VK merupakan salah seorang artist yang sudah lama malang-melintang di dunia sketsa. VK, Violin Kerong. Saya pernah menulisnya di pos berjudul Violin Kerong Seorang Pelukis Sketsa Wajah Terbaik. Silahkan dibaca. Menulis VK sebagai pelukis sketsa terbaik bukan karena dia pernah mensketsa wajah saya gratis, haha, tapi karena ketika mendengar ceritanya berproses menghasilkan suatu sketsa, itu luar biasa. Hei ... ternyata bukan hanya make up artist saja yang membutuhkan beragam kuas, seorang sketch artist pun demikian adanya. Bahkan pelukis sketsa mempunya lebih banyak pensil alis ketimbang make up artist.

Baca Juga: Taman DIY di SMPSK Kota Goa di Kecamatan Boawae

Suatu hari Viol, atau lebih sering disapa Cio, bertanya tempat atau lokasi yang bisa dipakai untuk memajang hasil sketsanya. Kalian mungkin bertanya, bukankah Viol bisa memajang semua hasil sketsa itu di rumahnya sendiri? Ada kisah yang belum kalian ketahui, tentang kebakaran yang menghanguskan rumahnya, termasuk galeri mini miliknya. Trauma itu pasti. Tapi alhamdulillah Viol bangkit dan terus berkarya menghasilkan sketsa-sketsa terbaik. Dan sketsa wajah saya adalah sketsa pertama yang dia bikin setelah bangkit. Kalau tidak salah sih begitu. Hahahah.

Back to that question. Maka saya menawarkan ruang tamu Pohon Tua sebagai galeri mininya. Banyak dinding yang masih kosong dan bisa dimanfaatkan untuk memajang hasil sketsa Viol. Why not kan? Maka pada suatu sore muncullah Viol membawa sketsa-sketsa yang kebanyakan masih subyek wajahnya sendiri. Saya meminta bantuan Eda Tuke, suaminya Mamasia, untuk memasang paku-paku lantas memajang sketsa-sketsa itu.


Terakhir, yang saya tahu, selain pesanan sketsa wajah Mamanya Ross, teman kantor, untuk ultah Mamanya itu, Viol membikin sketsa Harley Quinn. Margot Robbie. Hwah! Betapa senangnya saya melihat itu. Artinya, my baby love Joker juga harus ada donk. Aduhai, tidak sabar. Haha. Mungkin setelah Joker, bolehlah Viol mengsketsa Lucifer dari filem Constantine, si Peter Stomare! Gila lu, Teh.

Yang jelas saya bangga bisa mengenal seorang Viol yang penuh talenta. Oh ya, in case you didn't know, Viol merupakan dosen pada Prodi Arsitektur sehingga jelas nyeni kan ya dia. Dia juga dikenal sebagai penyanyi alto pada Spiritus Sanctus Choir yang kesohor itu. Viol juga dikenal sebagai orang yang begitu banyak menghasilkan kerajinan tangan. Lebih banyak dari saya! Bahkan, kerajinan tangannya itu kelasnya pro banget dibandingkan saya. Haha. Tempat tisu, aneka boneka gemesin (nanti saya ngepos soal boneka-boneka ini juga), bingkai, dan lain sebagainya. Bukan cuma Viol, kakaknya juga jago! Keluarga mereka memang keluarga nyeni.

Tadi di atas sudah tulis 'terakhir' ya haha, ya sudah ... semoga bermanfaat dan siapa tahu kalian mau disketsa juga. Per person 250K only.

#RabuDIY



Cheers.

Advan G3 Pro, Smartphone Harga 1 Jutaan Dengan Fitur Premium


Jakarta itu tempat segala sesuatu bermula. Tempat mencari apapun juga termasuk gaya hidup. Tapi ada satu hal yang sampai saat ini masih jadi pertanyaan dalam hidup, bisakah menggunakan kata cukup atau butuh ketika semua orang berlomba-lomba menunjukan sebuah kemapanan tanpa memiliki arti. 

"Gue harus nyicil buat beli hape yang harganya diatas 10 juta itu?"

"Terus hape lo yang satu lagi mau diapain?"

"Mau gue simpen aja. Buat koleksi."

"Terus, selama ini lo make hape buat apa aja?"

"Chat, maen games, telpon, IG."

"Ada sesuatu hal yang produktif ngga yang lo hasilin dari hape itu?"

"Ngga ada!"

Dengan ringannya dia menjawab bahwa hape hanyalah hape tidak memiliki fungsi selain yang dibutuhkan namun gaya hiduplah yang menjadikan kebutuhan itu harus tetap menjadi prioritas.



Sebetulnya banyak banget yang bisa dilakukan dengan hape jaman now, tapi tidak banyak orang yang memanfaatkannya, contoh simplenya untuk mengerjakan banyak pekerjaan misalnya membuat schedule, membuat presentasi, membuat catatan penting, dan masih banyak hal yang bisa dilakukan dengan smartphone tersebut. Bahkan untuk yang memiliki bisnis dan membutuhkan smartphone serba bisa, maka kamu harus membacanya sampai akhir.

Terus kalau kita mau memiliki smartphone yang murah tapi memiliki banyak fitur premium, apa ada ya hape kayak gitu? 

"Aku butuh banget smartphone dengan RAM 4GB dan penyimpanan internal 64GB?"

"Ada kok."

"Aku butuh smartphone dengan baterai yang awet dan tahan lama hingga seharian?"

"Ada kok."

"Aku butuh smartphone yang fiturnya lengkap tapi cuma punya budget 1 jutaan, ada smartphone seperti ini?"


Ini dia smartphone idaman kamu ADVAN G3 Pro dengan fitur-fitur premium dan membuat harga 1 jutaan itu sangatlah reasonable. Lalu apa saja sih keunggulan dari ADVAN G3 Pro ini? 

Desain Premium dan Stylish

Dari penampilan pertama saja, kita bisa menyimpulkan bahwa ADVAN G3 Pro ini merupakan handphone dengan desain yang sangat bagus. Tampil stylish dengan warna Jade Green dan Peacock Blue, Advan G3 Pro mengadopsi desain Pro WaterDrop Screen dengan notch berbentuk tetesan air yang masih trend hingga saat ini. Dengan bentang layar 6.3 inci beresolusi HD+ dan aspek rasio layar menyentuh 85%, Advan G3 Pro juga sangat nyaman digunakan untuk menonton video favorit, eksis di medsos, dan bermain game favorit.

Kamera Utama 12+2 MP & Selfie Camera 8 MP

Untuk kamu yang hobi fotografi, ADVAN G3 Pro juga bisa memberikanmu pengalaman berfoto yang cukup memuaskan. Sebab, dengan mengandalkan kekuatan dual kamera 12MP+2MP di bagian belakang kamu bisa mendapatkan hasil foto seperti kamera profesional.

Performa Tangguh

ADVAN G3 Pro dibekali dengan dapur pacu Super Speed yang mumpuni. Semua rutinitas mobile bisa dilakukan dengan cepat, termasuk multitasking dan bermain game tanpa macet. Advan G3 Pro dibekali dengan prosesor octa core A55 berkecepatan 1.6Ghz + 1.2GHz dengan New CPU SC9863A yang 3x lebih cepat.


Tampilan antarmuka juga ramah pengguna dengan bekal antarmuka IDOS 9S.12 berbasiskan OS Android 9.0 Pie, Advan G3 Pro juga dibesut dengan sensor keamanan Face ID yang bisa mengenali wajah penggunanya dengan cepat dan juga sensor fingerprint untuk membuka perangkat dengan menggunakan sidik jari.

Nah, kamu sudah semakin yakin kan, kalau sebetulnya hape dengan fitur premium dan desain stylish ini juga bisa didapat dengan harga yang murah namun sangat menunjang gaya hidup serta bisa dijadikan keperluan kamu untuk bisnis atau usaha lainnya sehingga tidak membutuhkan biaya yang lebih besar lagi. 

Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial


Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial. Mungkin saya salah menulis judul? Mungkinkah Edmodo memang berbasis media sosial seperti Facebook? Entah. Yang jelas hari ini saya bakal bercerita tentang aplikasi/layanan yang satu ini. Semua bermula saat saya meliput kegiatan knowledge service yang merupakan salah satu mata acara dari kegiatan English Week oleh Prodi Sastra Inggris pada Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Flores (Uniflor) di Kelurahan Natanage, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Secara umum saya sudah bercerita tentang kegiatan tersebut dan bisa kalian baca pada pos berjudul: Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae.

Baca Juga: Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog

Lalu, apa itu Edmodo dan mengapa Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra yaitu Bapak Marianus Roni, S.S., M.App.Ling. menyampaikan materi tentang Edmodo? Untuk itu kita harus mulai dengan e-learning.

E-Learning, Perlukah?


E-learning, menurut saya, merupakan terobosan dalam dunia pendidikan dimana jarak dan waktu dapat diakali oleh para pendidik terhadap peserta didik. Waktu masih Sekolah Dasar di SDI Ende 11, Kakak Toto Pharmantara (alm.) pernah berkata bahwa di masa depan saya tidak membutuhkan buku untuk mencatat pelajaran. Semua bisa dicatat di komputer menggunakan Lotus 123. Waktu itu memang belum ada MS Office dengan aplikasi pengolah kata semacam Word. Itu bagus! Menurut saya waktu itu, karena bakal mengurangi penggunaan kertas alias paperless. Artinya, pohon-pohon di hutan tidak terus-menerus menjadi obyek penderita. Masa demi masa, kemudian, setelah adanya internet, dunia mengenal e-learning ini.

Dalam pemahaman saya, e-learning artinya belajar secara elektronik. E adalah electronic atau elektronik, learning artinya (sedang) belajar. Apabila e-mail diterjemahkan sebagai surat elektronik (surel) maka e-learning dapat diterjemahkan sebagai berel (belajar elektronik). Itu menurut saya pribadi. Haha. Dalam pengertian yang lebih luas e-learning berarti belajar menggunakan media elektronik yang terhubung dengan internet. Artinya harus ada perangkatnya seperti laptop, komputer/desktop, atau telepon genggam. Dan harus ada koneksi internetnya. Tanpa internet e-learning tidak mungkin terjadi karena konsep dasar e-learning adalah belajar online.

Aplikasi pertama e-learning yang saya tahu itu bernama Google Classroom. Mengetahuinya dari kegiatan tentang belajar online dan bikin blog serta vlog oleh Fakultas Teknologi Informasi Uniflor kepada Prodi Sejarah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uniflor. Ternyata beberapa dosen Uniflor seperti Bapak Deni Wolo pun juga sudah menggunakan Google Classroom apabila beliau sedang bertugas di luar kota sementara ada mata kuliah yang harus dipenuhi. Lalu saya mendengar aplikasi Moodle. Saya tahu tentang Edmodo dari kegiatan knowledge service dari kegiatan English Week itu. Lucunya, paling akhir saya baru tahu soal SPADA yang dikeluarkan oleh Belmawa Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Haha.

Perlukah e-learning? Berdasarkan SPADA dan peraturan yang menjadi dasar hukumnya, maka e-learning yang disebut juga hybrid learning itu perlu. Melalui SPADA terjadi sistem dan/atau pemerataan pembelajaran secara nasional. Maksudnya dosen tidak saja mengajar mahasiswa pada perguruan tinggi/universitasnya saja tetapi juga mengajar mahasiswa dari perguruan tinggi/universitas lain dari seluruh Indonesia melalui materi kuliah yang diunggah di SPADA. Mengenai SPADA kalian bisa mencari tahu lebih lengkap di situs milik Belmawa Kemenristekdikti.

Well, apa dan bagaimana Edmodo itu?

Edmodo


Dari situs Edmodo dan Wikipedia saya menemukan banyak informasi. Edmodo adalah perusahaan teknologi pendidikan yang menawarkan alat komunikasi, kolaborasi, dan pembinaan untuk guru dan sekolah K-12. Jaringan Edmodo memungkinkan guru untuk berbagi konten, mendistribusikan kuis, tugas, dan mengelola komunitas dengan siswa, kolega, dan orangtua. Pada tahun 2013 Edmodo dimasukkan ke dalam daftar "Aplikasi Teratas Untuk Guru" oleh PC Magazine. Di tahun yang sama Edmodo mengakuisisi startup Root-1 dalam upaya untuk menjadi toko aplikasi untuk pendidikan. Vibhu Mittal, Co-founder dan CEL Root-1 menjadi CEO Edmodo pada tahun berikutnya.

Pada tahun 2014, Edmodo meluncurkan Snapshot, seperangkat alat penilaian untuk mengukur kemajuan siswa pada standar pendidikan. Edtech digest memberikan penghargaan untuk Edmodo Snapshot dalam Cool Tool Award sebagai Solusi Penilaian Terbaik. Perusahaan ini telah bermitra dengan dua penerbit besar di Inggris, Oxford University Press dan Cambridge University Press untuk menyediakan akses ke konten pendidikan di Edmodo Platform dan membawa Edmodo Snapshot ke Inggris.

Edmodo sendiri didirikan oleh Nic Borg dan Jeff O'Hara pada tahun 2008. Dan saya baru mengetahuinya pada tahun 2019. Pernah dengar, tapi tidak terlalu menanggapinya secara serius. Edmodo didukung oleh Index Ventures, Benchmark, Greylock Partners, Learn Capital, New Enterprise Associates, Union Square Ventures, Glynn Capital Management, Tenaya Capital, SingTel Innov8, dan KDDI. Pada Agustus 2016 Edmodo diklaim memiliki lebih dari 66.900.000 pengguna di seluruh dunia. It's a wow kan? Dan pada bulan Maret 2015, Noodle menyebut Edmodo sebagai salah satu dari "32 Alat Pendidikan Daring Paling Inovatif".

Oke, itu semua informasi yang berhasil saya kumpulkan/rangkum dari dua situs yaitu situs milik Edmodo sendiri dan dari Wikipedia.

Pada kegiatan knowledge service di English Week, Pak Roni menampilkan Edmodo melalui tayangan infocus. Pada layar itu jelas sekali saya melihat Edmodo yang mirip dengan tampilan Facebook. Makanya saya menulis judul seperti di atas, karena tampilannya yang mirip media sosial. Tapi, media sosial yang satu ini bersifat privat. Interaksi dalam sebuah status hanya terjadi antara pendidik dengan peserta didik yang telah terkoneksi.

Pada kesempatan itu Pak Roni tidak saja menyampaikan materi tentang Edmodo tetapi peserta langsung mempraktekkannya juga. Peserta yang terdiri dari perwakilan guru-guru dari SMP dan SMA di Kecamatan Boawae memasang aplikasi Edmodo pada telepon genggam mereka sedangkan mater dari Pak Roni terpampang jelas di layar infocus, dimana Pak Roni menggunakan Edmodo versi desktop. Belajar menggunakan Edmodo asyik juga. Pak Roni memberikan tugas atau pertanyaan dan peserta yang sudah terkoneksi dengan akunnya kemudian mengirimkan jawaban. Akan terlihat peserta yang sudah terkoneksi dalam 'kelas' Pak Roni tapi tidak mengerjakan tugas. Hwah, transparan sekali kan? Bahkan, Pak Roni dapat memberikan nilai dan komentar dari tugas yang dikerjakan/dijawab tersebut.

Jadi jelas, Edmodo telah menjadi sebuah 'ruang kelas' tempat pendidik dan peserta didik berinteraksi.

Kemudian, ada pertanyaan yang butuh jawaban langsung. Entah dengan guru, tetapi setiap dosen diwajibkan untuk mengisi daftar hadir peserta didik (mahasiswa) dalam BAD. BAD biasanya dicetak oleh prodi kemudian setelah diisi dikembalikan ke prodi. Bagaimana jika proses belajar mengajar terjadi di Edmodo?

Absensi / BAD


Ketika saya mewawancarai Dekan Fakultas Teknologi Informasi Bapak Ferdinandus Lidang Witi, S.E., M.Kom. tentang SPADA yang disosialisasikan pada dosen-dosen Uniflor, beliau mengatakan bahwa BAD dari sistem belajar atau kelas online dapat dilakukan dengan screenshoot. Dapat dicetak dan diserahkan kepada pihak prodi.

Ah, I see.

Dunia sudah semakin canggih, kenapa harus mempersulit segala sesuatunya? Kalian setuju? Komen di bawah. Hehe.

⇜⇝

Apa yang bisa saya simpulkan dari pos hari ini? Paling pertama: bahwa Kakak Toto (alm.) benar. Paperless memang telah terjadi meskipun belum pada semua lini kehidupan manusia. Kedua: bahwa e-learning merupakan sistem belajar yang baik diterapkan di sekolah maupun universitas; tidak saja karena dosen yang bersangkutan sedang berhalangan untuk hadir di kelas tetapi merupakan salah satu wujud nyata dari Industri 4.0. dimana peserta didik pun harus mampu mengenal tentang sistem pembelajaran seperti ini. Mahasiswa tidak boleh mengenal internet dengan Facebook saja sebagai tujuan utama *setelah menulis ini, dijumroh mahasiswa, hahahah*. Ketiga: dari sisi kepraktisan jelas e-learning itu se-su-a-tu.

Baca Juga: Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android

Tetapi, meskipun saya setuju dengan e-learning, dengan Edmodo misalnya, tetap saja tatap muka itu penting. Saya memang bukan guru apalagi dosen, saya hanyalah seorang manusia yang terlahir dari dua orang guru-besar-pribadi dan bergaul di tengah para pendidik (dosen). Tetapi, ijinkan saya menulis bahwa belajar konvensional, tatap muka di dalam kelas, merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan karena berhubungan dengan psikologi. Peserta didik datang dari ragam latar belakang. Pendidik perlu untuk tahu tentang psikologi peserta didik agar tahu bagaimana melakukan pendekatan (persuasif) bila terjadi sesuatu. Misalnya peserta didik mendadak malas belajar, jarang masuk kelas, atau peserta didik mungkin sedang depresi. Pendidik punya tugas besar, selain mengajar ilmu akademik, untuk memahami kondisi psikis peserta didik agar mampu menciptakan peserta didik yang berkarakter (baik).

Dan untuk mengenal peserta didik lebih dekat, Edmodo tidak bisa menjadi medianya. Ruang kelas lah medianya. Kalau kalian tidak setuju, komen di bawah, heheeh, tapi yang sopan ya!

Terakhir, semoga pos ini bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Belajar Sejarah dan Seni Budaya Mataram di Museum Ullen Sentalu Jogja

Museum Ullen Sentalu Jogja

"Dimohon untuk tidak memotret benda-benda koleksi museum."

Kata-kata dari pemandu tur saat awal memasuki Museum Ullen Sentalu ini sedikit mengganggu saya, tapi setelah tur museum selesai, saya memahami mengapa larangan memotret diberlakukan. Iya, saya memang melanggar peraturan dengan memotret beberapa obyek yang menarik saat pemandu sudah meninggalkan lokasi, seperti lukisan Dewi Rengganis yang cantik, Lukisan Tari Serimpi Sari Tunggal dan lain-lain, tapi kemudian saya menghapusnya saat meninggalkan museum :)
Jalan masuk Museum Ullen Sentalu Jogja
Pintu masuk ke Museum Ullen Sentallu Jogja
Museum Ullen Sentalu ini berada di utara kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Boyong KM 25, Kaliurang Barat, Sleman, Yogyakarta. Saat memasuki Ullen Sentalu, pemandu dengan lugas menerangkan bahwa nama Ullen Sentalu merupakan singkatan dari kalimat "Ullating blencong sejatine tataraning lumaku" yang bermakna "Pancaran cahaya lampu blencong menjadi petunjuk dalam melangkah dan meniti kehidupan". Kemudian ia menjelaskan bahwa lampu blencong adalah lampu untuk penerangan layar panggung saat pertunjukkan wayang kulit. 


Harga Tiket Museum Ullen Sentalu Jogja
Oh iya, tiket masuk Museum Ullen Sentalu di tahun 2019 sebesar Rp 40.000 untuk pengunjung domestik dewasa dan Rp 20.000 untuk anak. Untuk pengunjung mancanegara dewasa dikenakan biaya masuk sebesar Rp 100.000 sementara pengunjung mancanegara anak Rp 60.000. Museum Ullen Sentalu buka pada hari Selasa-Jumat pukul 08.30-16.00 WIB, Sabtu-Minggu pukul 08.30-17.00 WIB, dan tutup pada hari Senin.

Fasilitas di Museum Ullen Sentalu cukup lengkap. Berikut berbagai fasilitas Museum Ullen Sentalu:
  • Pemandu wisata yang sudah termasuk di harga tiket masuk;
  • Papan Informasi lengkap disetiap koleksi museum;
  • Denah komplek museum;
  • Toilet;
  • Ullen sentalu restaurant/Beukenhof Restaurant;
  • Toko suvenir MUSé Boutique;
Sepanjang tur museum, kata-kata ramah dan sopan terus saja mengalir menjelaskan dan menjawab pertanyaan pengunjung walau kadang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bernada tidak serius. Saya rasa pemandu ini mestinya seorang pemandu profesional yang benar-benar paham seluk beluk koleksi museum yang diresmikan pada 1 Maret 1997 ini. 

Pemandu tur wisata museum dapat menjelaskan dan menceritakan filosofi, sejarah dan menjawab sesuai konteks segala macam pertanyaan yang mencecarnya. Seperti saat pemandu menjawab pertanyaan, mengapa di dalam lukisan Tari Serimpi hanya dilakukan oleh satu orang penari saja, padahal Tari Serimpi selalu dimainkan oleh 4 penari?, yang kemudian dijawab bahwa lukisan Tari Serimpi Sari Tunggal itu melukiskan saat Gusti Nurul menari Tari Serimpi seorang diri (sehingga dinamai Tari Serimpi Sari Tunggal) dalam resepsi pernikahan Putri Juliana di Belanda pada tahun 1973. Pada saat itu Gusti Nurul pergi ke Belanda tanpa ditemani para pemain gamelan, sehingga beliau menari dengan diiringi musik gamelan yang dimainkan secara langsung dari istana Mangkunegaran, suara gamelan yang mengiringi Gusti Nurul menari di Belanda itu disiarkan oleh Solosche Radio Vereeniging lewat transmisi stasiun radio Malabar.

Namun kemudian pertanyaan lain muncul, mengapa dalam lukisan itu ada para pemain gamelan? Kalau tidak salah ingat, pemandu menjawab dengan jawaban diplomatis bahwa lukisan itu adalah karya seni interpretasi sang pelukis, bukan untuk memotret momen saat Gusti Nurul menari di Belanda yang diiringi suara gamelan dari Indonesia.

Saat keluar dari ruangan-ruangan museum, hawa pegunungan yang sejuk menggantikan hawa dingin dari pendingin ruangan (AC), sayup-sayup suara gamelan gending Jawa terdengar membuat suasana nyaman dan menenangkan. Berjalan menyusuri lorong sempit di antara dinding batu menuju ruangan berikutnya seperti memberi pengalaman melintas lorong rahasia dalam keraton, untuk memintas jalan biasa yang formal. 

Ruangan-ruangan lainnya berisikan koleksi batik khas keraton Yogya dan Solo, 3 ruangan dari 9 ruangan yang ada berisikan koleksi batik. Buat saya yang buta soal batik hanya mendengarkan penjelasan pemandu mengenai batik keraton Ratu Mas, batik pesisiran, peraturan penggunaannya, makna dari batik tersebut dan seterusnya. 
Museum Ullen Sentalu Jogja
Kolam teratai di dalam areal Museum Ullen Sentalu
Walaupun Museum Ullen Sentalu adalah museum khusus seni dan budaya Jawa yang menyimpan peninggalan dari zaman Kerajaan Mataram yang merupakan cikal-bakal Keraton Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta, tapi ada satu ruangan yang isinya adalah surat-surat yang ditulis oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam pada tahun 1939-1947. Ruang tersebut diberi nama Ruang Syair (Balai Sekar Kedaton). GRAj Koes Sapariyam konon dulunya lebih dikenal dengan sebutan Tineke, yang kisah cintanya tak direstui orang tua. Para kerabat serta sahabatnya banyak mengirim surat penyemangat untuknya, baik berbahasa Indonesia dan bahasa Belanda. Namun pada akhirnya, Putri Tineke ini melepas status ningratnya demi untuk mengejar cintanya. Mungkin sesuatu hal yang tidak lazim terjadi di masanya.

Ruang lainnya adalah Ruang Seni Tari dan Gamelan serta Ruang Putri Dambaan. Ruang Putri Dambaan menampilkan koleksi foto pribadi putri tunggal Mangkunegara VII, Gusti Nurul dari kecil hingga menikah. Semasa hidupnya, Gusti Nurul pernah hendak dipersunting oleh empat tokoh terkenal, yaitu Soekarno, Sultan Hamengkubuwono IX, Sutan Sjahrir dan Kolonel GPH Djatikusumo. Namun keempatnya ditolak, dan ia dengan yakin memilih sendiri jodohnya untuk menikah dengan seorang tentara berpangkat letnan kolonel yang bernama RM Soerjo Soejarso. Kisah ini juga mungkin hal yang tidak lazim di lingkungan kraton, sepertinya Gusti Nurul melawan tradisi perjodohan dan budaya nrimo seorang perempuan nigrat, entahlah...

Sebelum mengakhiri tur, di ruang terakhir setiap pengunjung akan disuguhkan wedang hangat khas keraton bernama Wedang Ratu Mas. Nama Ratu Mas diambil dari nama permaisuri Pakubuwono X yang dikenal cantik. Minuman ini mirip wedang jahe pada umumnya tapi dengan aroma pandan, konon wedang ini terbuat dari bahan-bahan seperti jahe, kayu manis, sereh, hingga pandan. Cukup untuk menghangatkan tubuh di tengah kesejukan hawa dataran tinggi Jogja.
Kalau generasi kini masih terus mengabaikan budaya, maka kelak relief Candi Borobudur itu bukan hanya miring... tapi ambruk.
Relief Candi Borobudur di Museum Ullen Sentalu Jogja
Relief miring Candi Borobudur simbol keprihatinan
Setelah mengakhiri tur yang kurang lebih memakan waktu 1 jam setengah, maka pengunjung akan tiba di sebuah area lapang yang pas untuk foto bersama dengan latar belakang replika relief candi Borobudur yang sengaja dipasang miring sebagai perlambang keprihatinan terhadap generasi sekarang yang abai terhadap budaya bangsanya. Pemandu menegaskan, kalau generasi kini masih terus mengabaikan budaya, maka kelak relief Candi Borobudur itu bukan hanya miring, tapi ambruk. Bagi saya itu lelucon satir yang menohok, entah kalau bagi Anda.

Ullen Sentalu benar-benar membuat saya "merasakan dan mengalami", pengalaman ini tidak akan bisa disampaikan melalui foto-foto yang secara sembunyi-sembunyi saya ambil. Akan lebih baik jika foto-foto itu saya hapus dan orang-orang melihat serta mendengarkan langsung penjelasan dari pemandu tur, sehingga pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh pengelola museum ini akan tersampaikan dengan lebih lengkap. 

Overall, dengan "pengalaman" seperti itu, maka kalau saya tidak menghapus foto-foto koleksi  Museum Ullen Sentalu lalu kemudian memamerkannya di sosial media, maka saya telah menyabotase tujuan mulia berdirinya museum ini, dan telah berperan serta merubuhkan replika relief Candi Borobudur yang sekarang sudah miringSaya tidak mau seperti itu, saya yakin Anda pun demikian jika benar-benar mencintai seni budaya negeri ini :)

Datanglah dan upgrade wawasan serta pengetahuan Anda secara langsung, jangan dari foto-foto yang tersebar di sosial media. Mungkin itulah tujuan pihak pengelola museum melarang pengunjung untuk merekam penjelasan pemandu dan alasan pelarangan memotret koleksi museum.
Patung di Museum Ullen Sentalu Jogja
Patung di pintu keluar Museum Ullen Sentalu Jogja
Dari museum ini saya belajar sedikit sejarah Mataram, perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi Keraton Solo dan Keraton Jogja saat ini, serta tokoh-tokoh dan kehidupan pribadinya. 

IMO, museum ini sepertinya lebih fokus pada tokoh-tokoh perempuan dari kedua keraton itu. Enggak heran kalau ada yang beranggapan museum ini seperti museum yang mengabadikan pergerakkan perempuan keraton. Tapi itu hanya opini pribadi saja, bisa jadi kesan yang Anda dapatkan akan berbeda saat mengunjungi museum yang dikelola oleh Yayasan Ulating Blencong ini. ☺️ 

Salam dari Jogja yang selalu istimewa.


Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share


Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share. Sudah sering saya tulis, emoh alias berhenti untuk bergabung sama komunitas manapun juga. Saatnya solo karir. Komunitas terakhir yang saya ikuti, termasuk founder, adalah Stand Up Comedy Endenesia. Ternyata jiwa saya memang belum bisa sepenuhnya terurai dari komunitas. Terus, kapan membina komunitas bernama rumah tangga, Teh? Ketika diajak untuk membentuk komunitas baru, saya fine-fine saja, bahkan sangat antusias. Ya, selama tujuan komunitas itu baik, dan rata-rata semua komunitas bertujuan baik, kenapa tidak? Hari ini saya mau bercerita tentang komunitas baru yang satu ini. Namanya Exotic NTT Community. Jargonnya: Travel. Explore. Share.

Baca Juga: Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa saya mau bergabung bersama komunitas dengan fokus pada wisata? Bukannya saya sendiri sudah punya blog niche traveling/wisata? Kalian kepo kan? Marilah dibaca. Karena membaca adalah makanan intelektualitas. Ha ha ha ha *ditabok dinosaurus*.

House of Creative People


Suatu malam saya dihubungi David Mozzar. Konon David, Oedin, dan Arand bakal datang ke  Pohon Tua (rumah saya). Ada sesuatu yang harus dibahas. Ketika kami sedang saling tatap penuh cinta di ruang tamu, haha, tersampaikanlah maksud kedatangan mereka. Intinya: kami membentuk komunitas yang dapat mewadahi orang-orang kreatif baik orang-orang yang sedang berjuang maupun yang sebenarnya sudah expert di bidangnya masing-masing. Why not? Pikir saya. Ini bakal keren sekali. Ada satu wadah besar yang bakal menampung semuanya. Sub-sub yang bakal berada dalam wadah itu datang dari lini videografi, fotografi, mural dan sketsa, MC, media and digital issues, stand up comedy, dan lain sebagainya.

Nama yang dipilih, dan dirasa pantas, untuk komunitas tersebut adalah House of Creative People. Alasannya? Kalian tentu sudah tahu. Kami mulai merancang ini itu, termasuk orang-orang yang direkomendasikan untuk duduk pada sub-sub dimaksud. Tetapi dalam perjalanan nama itu kemudian harus diganti sesuai dengan fokus komunitas. Karena, House of Creative People itu too large. Eh, pokoknya begitulah. Sehingga diperkecil lah komunitas itu menjadi Exotic NTT Community. Sebuah komunitas dengan lokus pada wisata. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk bergerak di lini lainnya sesuai tujuan awal House of Creative People. Insha Allah.


Sampai di sini, kita sepemahaman ya, bahwa House of Creative People telah berganti menjadi Exotic NTT Community. Sebuah nama yang untuk menetapkannya membutuhkan waktu berjam-jam, diskusi dan debat ringan, termasuk untuk jargonnya. Travel. Explore. Share. Dan empat sub yang ditetapkan adalah Tim Kreatif, Videografi, Fotografi, dan Publikasi.

Exotic NTT Community


Exotic NTT Community baru berumur sekitar dua mingguan. Sambil menyelesaikan beberapa perkara, kami memulai geliat komunitas melalui berbagai media sosial. Youtube, IG, Twitter, dan Facebook. Tentu saja. Kami memulai dengan caption berikut ini:

Tergerak dari keinginan untuk mempromosikan lini pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta menggeliatnya Pemerintah Provinsi NTT dalam meningkatkan kualitas dan promosi pariwisata, sekelompok anak muda yang berbasis di Kabupaten Ende, Pulau Flores, membentuk komunitas. Komunitas tersebut bernama Exotic NTT Community. Geliat pariwisata ibarat birahi yang tak terbendung dan membutuhkan lebih banyak pelaku pariwisata, salah satunya Exotic NTT Community, dengan lokus memperkenalkan dan mempromosikannya pada dunia.

Semesta wisata NTT kaya raya. Wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, wisata rohani, wisata kuliner, wisata bahari, wisata buatan. Tak hanya dua ikon kesohor Danau Kelimutu dan Pulau Komodo saja, masih banyak yang harus diketahui dunia dari Provinsi NTT. Desa Nangadhero di Kabupaten Nagekeo yang terkenal dengan wisata kuliner (seafood), Neren Watotena di Pulau Adonara yang berpasir putih memesona, Bukit Wairinding di tanah Sumba, wisata religi Semana Santa di Kabupaten Flores Timur, padang sabana Gunung Mutis di Mollo Utara, hingga Alu Ndene kuliner khas Suku Ende yang legit.

Exotic NTT Community akan menghadirkan semuanya, dalam detail informasi yang dibutuhkan oleh penikmat wisata.

Ikuti Kami!

IG: @ExoticNTTCommunity
Twitter: @ExoticNTTCommunity

#ExoticNTTCommunity
#NTT
#Wisata
#Pariwisata

Selain itu kami memulai WAG yang menjadi semacam tempat diskusi untuk kegiatan-kegiatan komunitas selain di rumah saya atau di rumah member lainnya. Memangnya sudah ada kegiatannya? Iya dooonk. Mengunggah foto dan informasi ke media sosial merupakan kegiatan yang patut diapresiasi karena untuk melakukannya kami harus berdikusi panjang lebar terlebih dahulu tentang konten yang bersangkutan. Foto, tentu di luar video yang bakal tayang di Youtube.

Diskusi?

Iya.


Komunitas ini bukan dilandasi oleh keinginan untuk sekadar ikut-ikut ramai di lini pariwisata. Kami ingin lebih serius, bahkan bisa sampai detail akan sesuatu, misalnya detail ukiran pada rumah adat itu apa makna atau fisolofinya. Setiap kami juga gemar traveling dan mempunyai begitu banyak stok foto dari daerah pariwisata yang pernah dikunjungi. Oleh karena itu kami selalu melempar pertanyaan dasar: mau pos apa hari ini? See? Kami tidak asal-asalan, misalnya melihat foto bagus, langsung unggah ke media sosial. Pertanyaan dasar itu kemudian berlanjut pada sahutan: Ende, Nagekeo, TTS, Sumba, atau ...? Dari situ foto tentang daerah/kabupaten yang dipilih kemudian dilempar ke WAG. Tinggal pilih mau yang mana, diberi tanda air, dan caption disiapkan dengan, insha Allah, sebaik-baiknya.

Tidak ada yang main-main di Exotic NTT Community. Setiap orang punya perannya masing-masing dan berupaya semaksimal mungkin memberikan yang terbaik pada khalayak. Sehingga kami tidak terburu-buru, tidak ingin langsung besar, tetapi ingin melewati proses. Nikmat kan? Hehe.

Untuk saat ini kalian bisa menikmati foto dan informasi pariwisata NTT melalui akun IG, Twitter, dan Facebook. Youtube, terutama kontennya, sedang dipersiapkan, baru tampil video intro saja. Selain berlandaskan pada pengalaman traveling masing-masing member, kami juga telah membikin program kerja. Untuk program kerja, setiap sub yaitu Videografi, Fotografi, dan Publikasi, harus berkomunikasi dengan satu sub lagi yang bernama Tim Kreatif. Program kerja komunitas ini tidak melulu tentang apa yang bakal dipos di media sosial saja melainkan juga tentang mau ke mana kita dalam kaitannya memproduksi konten baru. Ah, membayangkannya saja sudah bikin saya bahagia. Haha.


Doakan, rencana-rencana ke depan, jauh lebih besar, dapat terwujud. Karena, komunitas ini sudah kami anggap sebagai investasi jangka panjang yang perlu dirawat. Semua member merupakan orang-orang hebat, kecuali saya. Saya tidak hebat, tapi biasa saja, hahaha. Dan orang-orang hebat dapat bersatu mewujudkan harapan apabila ego disingkirkan jauh-jauh. Saya pikir kalian juga setuju. Ego itu kadang mampu menghacurkan. Termasuk menghancurkan hubungan asmara. Eaaaaa. Haha.

Travel. Explore. Share.


Secara pribadi saya suka jargon yang satu ini. Sempat berpikir, kenapa dulu waktu saya membikin blog travel, tidak memakai jargon ini saja ya? Hihi. Ini jargon: singkat, padat, jelas, tersampaikan. Seperti veni, vidi, vici, dalam makna positif. Kita tahu kan veni, vidi, vici itu jargon perangnya Julius Caesar, jenderal dan konsul Romawi pada tahun 47 SM. Julius Caesar menggunakan kalimat ini dalam pesannya kepada senat Romawi menggambarkan kemenangannya atas Pharnaces II dari Pontus dalam pertempuran Zela. Tapi, waktu saya mencetus travel, explore, share, tidak ada keinginan untuk mengalahkan siapapun dalam konteks negatif dan/atau persaingan, tetapi murni hanya ingin mengalahkan rasa ingin tahu orang lain tentang pariwisata NTT.

⇜⇝

Bagi kalian semua, bos-bos tercinta yang senantiasa membaca tulisan saya di blog ini, mari dukung Exotic NTT Community. Ikuti kami di Youtube, Instagram, Twitter, Facebook.


Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Terakhir, mari sama-sama dukung semua pihak yang mempromosikan pariwisata NTT dengan namanya masing-masing, dengan caranya masing-masing, karena semua itu bertujuan baik. Demi NTT tercinta.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar


Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar. Pada pos Sabtu berjudul Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa saya sudah berjanji untuk menyelesaikan proses membaca buku-buku itu. Belum semuanya tuntas terbaca, pasal pekerjaan bertubi-tubi tidak dapat ditunda, datang lagi satu buku berjudul Filosofi Teras. Demi tekad menuntaskan tiga buku self improvement, para nutrisi otak dan makanan jiwa, saya tidak berani menyobek plastik pelindung Filosofi Teras meskipun hasrat terus meronta. Buka! Ayo, buka! Saya harus patuh pada komitmen sendiri. Alhamdulillah, salah satu buku self improvement itu selesai dibaca, then. Meskipun tulisan tentang Firebender sudah siap dipublis lebih dahulu, saya justru mempublis salah satu buku itu terlebih dahulu. Hari ini.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Tiga buku self improvement itu berjudul: 

1. Mendaki Tangga Yang Salah.
2. Bicara Itu Ada Seninya.
3. Seni Hidup Minimalis.

Saya memulai dari Seni Hidup Minimalis, tetapi justru menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah. Seni Hidup Minimalis lantas dipinjam teman. Mendaki Tangga Yang Salah merupakan buku yang membikin saya tidak bisa berhenti sejak halaman pertama. Berbeda dari buku self improvement lainnya, buku ini tidak menggurui secara langsung, tetapi mendidik secara tidak langsung melalui kisah-kisah inspiratif lainnya hingga beragam teori, penelitian dan hasil penelitian tersebut. Bahkan banyak hal-hal konyol pula di dalamnya.

Mendaki Tangga Yang Salah


Sekilas, sampul buku ini mirip dengan Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Mirip, tapi tidak sama. Mendaki Tangga Yang Salah bersampul merah dengan tulisan besar warna hitam dan siluet/gambar tangga sederhana dan tagline(?) Barking Up The Wrong Tree. Correct me if I'm wrong. Atau tulisan di atas judul yang jadi tagline-nya? Oh ya, tulisan lain di atas judul itu adalah Sebagian Besar Hal yang anda Ketahui tentang Kesuksesan Adalah Salah Besar. Tulisan itu seperti bom yang meledak di dalam kepala orang-orang patuh seperti Chatur 'Silencer' Ramalingam (Omi Waidya) ketika tahu bahwa big boss-nya adalah Rancho (Aamir Khan) alias Phunsuk Wangdu. Dalam filem 3 Idiots kita tahu Chatur adalah si cerdas yang mengikuti sistem sekaligus penjilat yang selalu membenci Rancho saat masih kuliah.

Di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah pun kalian akan membaca kata 'penjilat' dalam lingkungan pekerjaan. Kita memang tidak bisa terlepas dari para penjilat, di manapun berada, termasuk di lingkungan pekerjaan. Mereka itu seperti makhluk astral. Tidak terlihat mata tetapi ada.


Well, buku ini ditulis oleh Eric Barker dan diterbitkan oleh P.T. Gramedia Pustama Utama pada tahun 2019. Sebanyak 360 halaman mengajarkan pembacanya tentang banyak hal untuk lebih mengenali diri sendiri. Istilahnya: mau jadi apa kita kelak? Kenali diri sendiri! Dan, ah ya, saya tidak bisa untuk melewatkan yang satu ini: buku Mendaki Tangga Yang Salah diberikan oleh Ibu Rosalin Togo atau lebih dikenal dengan panggilan Mami Ocha yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Kota Surabaya. Terima kasih, Mami ... Pahlawan Intelektual saya! Hehe.

Inspirasi Dalam Balutan Konyol


Eric Barker tidak berusaha menggurui, sudah saya tulis di atas, dia lebih condong pada memberikan contoh perilaku, kesuksesan orang-orang besar dunia, hingga beragam teori, serta penelitian dan hasil penelitian para profesor dan/atau para pakar. Garis besar, benang merah, Mendaki Tangga Yang Salah adalah kenali diri sendiri. Kalau kita tidak sependapat, biarkanlah ketidaksependapatan itu menjadi nilai demokrasi dalam me-review buku. Haha. Apabila manusia mengenali diri sendiri maka dia akan tahu tangga mana yang harus dinaiki. Bukan begitu poinnya? Bayangkan saja jika kita tahu, tidak pandai, atau tidak berbakat membikin sketsa tetapi terus-terusan memaksakan diri hingga akhir hayat. Apa yang kita capai? Nothing.

Sebanyak 6 bab disuguhkan oleh Mendaki Tangga Yang Salah. Setiap bab mempunyai keunikannya masing-masing tentang bagaimana cara orang-orang bisa sukses. Ambil contoh pada bab 1.

Bab 1 Mendaki Tangga Yang Salah memoroskan kalimat judul Jika Ingin Sukses, Haruskah Kita Bermain Aman dan Melakukan Apa Yang Diperintahkan Kepada Kita? Dalam ranah agama, ya harus donk. Hehe. Eric menulis tentang orang-orang tersaring dan orang-orang yang tidak tersaring. Orang-orang tersaring selalu mengikuti sistem, juara kelas atau setidaknya punya nilai akademis di atas rata-rata, dan kemudian masuk pada jaringan birokrasi atau bekerja mengikuti sistem yang ada, mungkin juga menjadi pemimpin. Orang-orang tidak tersaring cenderung eksentrik dan melakukan segalanya sekehendak hati, kadang pula dikenal bodoh, tapi mereka sangat terkenal di dunia ini. Eric Barker mengambil contoh William Churchill yang eksentrik dan selalu beranggapan Hitler sebagai ancaman. Dan paranoid Churchill dan sikapnya yang nyaris menghancurkan karirnya pada awal mula telah 'menyelamatkan' rakyat Inggris.

Kalau boleh saya tulis, pembangkang sangat tidak disukai dalam lingkungan kerja, tapi atasan yang bijak harus mampu merangkul si pembangkang dan memanfaatkan enerji berlimpahnya untuk kemajuan perusahaan. Pembangkang identik dengan orang-orang kreatif yang tidak puas pada sistem dan memandang sistem sebagai borgol kreativitas. Apabila kalian adalah atasan, janganlah mendepak para pembangkang begitu saja. Mungkin saja pembangkang itu berada pada unit yang salah sehingga dia merasa bosan dan terus-terusan membikin Anda emosi jiwa. Hehe.

Churchill memang telah menyelamatkan Inggris dari NAZI, tapi sikap eksentrik dan fanatisme Churchill tidak bisa diaplikasikan pada perkara-perkara lain bukan? Oleh karena itu Eric Barker tidak saja menulis tentang keberhasilan atau sisi positif segala sesuatu tetapi juga sisi negatifnya. Seperti sisi negatifnya manusia dengan gen SCN9A.

Semua orang tentu ingin menjadi seperti Ashlyn Blocker yang tidak pernah merasa nyeri. Ashlyn memiliki gen SCN9A dimana sinyal-sinyal nyeri tidak bisa mencapai otaknya. Super hero! Tentu. Siapa sih yang tidak mau seperti Ashlyn? Dane Inouye menulis bahwa pasien Congenital Insensitivity to Pain with Anhidrosis (CIPA) bisa dianggap Superman karena mereka tidak merasakan nyeri ragawi, tetapi ironisnya, apa yang memberi 'kekuatan super' kepada mereka juga merupakan kryptonite mereka. Pasti kalian bertanya: kok bisa? Ya bisa. Tidak merasakan nyeri dapat menghancurkan karena bayangkan saja kalau tulang kaki atau tulang tangannya patah tanpa dia rasakan dan kerusakan tulang itu kemudian merusak ke jaringan sehat lainnya? 

It's like ... BHOOOMMM!

Ternyata Ashlyn tidak baik-baik saja bukan?

Salah satu orang hebat yang sangat menarik perhatian saya dari Mendaki Tangga Yang Salah adalah tentang pidato Steve Jobs. Inti pidatonya adalah apa yang ingin kita capai dalam hidup ini bisa dilakukan dengan memikirkan kematian. Apakah saat mati nanti kita ingin dikenang sebagai pecundang, pemenang, orang baik, atau tukang fitnah? Kita yang pilih. Apabila menginginkan kematian kita menjadi momen bertemunya banyak manusia hidup yang mengenang kebaikan, jasa, perbuatan kita selama hidup, maka jalanilah hidup yang seperti itu. Seperti yang kita inginkan yaitu dikenang orang (tentang kebaikan) saat kita mati. Saya terbahak-bahak membacanya. Logika yang luar biasa nancap dalam kepala.

Masih banyak hal lainnya yang perlu kalian ketahui dari Mendaki Tangga Yang Salah tetapi tentu saya tidak boleh menulis semuanya di pos ini. Ketahuilah, Churchill, Ashlyn, dan Steve Jobs hanyalah tiga contoh kecil dari contoh lain, kisah inspiratif lain, di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah. Contoh-contoh itu, kisah orang-orang di dalam buku itu, tidak saja mendidik pembacanya tetapi secara tidak langsung sekaligus menghibur. Kapan lagi kita tahu sejarah orang-orang hebat, atau kisah inspiratif orang-orang yang tidak pernah menyerah?

Kalau begitu ... apakah kita harus mendaki tangga yang benar?

Mendaki Tangga Yang Benar


Membaca buku Mendaki Tangga Yang Salah mengarahkan pikiran saya pada mendaki tangga yang benar tetapi tidak selamanya harus selalu tangga yang benar dari awal. Kita bisa berpindah tangga apabila tahu bahwa tangga pertama itu salah. Oleh karena itu sampul buku Mendaki Tangga Yang Salah disertai gambar/siluet dua tangga kayak tangga lapangannya karyawan PLN atau P.T. Telkom. Tangga dua kaki, tangga teleskopik, atau apapun namanya. Kalau bukan tangga yang kanan, berarti tangga yang kiri. Kira-kira seperti itulah yang ingin disampaikan Eric Barker. Jangan terus-terusan memaksakan diri pada sesuatu pekerjaan yang tidak akan membawa kita pada kesuksesan.


Saya mencerna tentang tangga yang benar ini.

Pertama, jangan sampai salah memilih tangga. Tetapi, apabila tangga itu salah, kita masih bisa bermanuver mengganti tangga yang lain. Ini berkaitan dengan bakat dan hasrat. Apakah ada yang mau selamanya berada dalam lingkaran setan yang membosankan? Tentu tidak. Kenali tangga yang sedang kalian, atau saya, naiki saat ini. Kalau tangganya sudah benar, berusahalah semaksimal mungkin mencurahkan segala daya upaya untuk menaiki tangga itu hingga puncak. Mencapai puncak, tidak harus menjadi penjilat, tetapi jadilah yang paling bersinar.

Kedua, kenali diri sendiri untuk mencapai sesuatu. Jangan sampai kita menjadi orang yang tidak mengenali siapa dan apa diri kita sendiri sehingga sulit untuk menentukan arah. Kalau kata Bapa saya, maju satu langkah mundur dua kali. Itu filosofinya sangat dalam. Dan saya sadari, filosofi itu mirip dengan apa yang disampaikan Eric Barker dalam Mendaki Tangga Yang Salah. Hal serupa juga pernah diaktakan oleh Esty Durahsanty dari Konsulat Jenderal AS di Talkshow Pameran Wirausaha Berkelanjutan oleh E.thical yaitu Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Orang-orang yang mendengarnya dan menangkapnya secara lurus akan menertawai. Maklumi saja, mereka tidak membiarkan logika bekerja.

Ketiga, bekerja keras itu wajib. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Bahkan seorang ahli matematika pun bekerja keras sepanjang hidupnya meskipun telah meraih begitu banyak penghargaan dan menghasilkan ahli matematika lainnya. Bekerja keras harus dibarengi dengan optimisme yang kuat. Perpaduan keduanya akan membikin kalian terkejut.

Satu pesan yang juga menarik dari Mendaki Tangga Yang Salah, untuk kita bisa mendaki tangga yang benar adalah tentang kemampuan mengelola. Mengelola sesuatu yang membosankan menjadi permainan yang menyenangkan. Mengelola sesuatu yang kita benci menjadi, tetap, permainan yang menyenangkan. Kita yang pilih, seperti yang dikatakan oleh Steve Jobs bukan? Dengan menjadikan segala sesuatu sebagai permainan yang menyenangkan kita akan membikin target dan berupaya memenuhi target dimaksud. Bukankah permainan adalah tentang target dan pencapaian (kemenangan)? Bukankah permainan dipenuhi tantangan yang membikin kita geregetan kalau tidak bisa melewatinya dengan gemilang? Cobain deh mengubah sesuatu yang menjengkelkan menjadi permainan (otak) yang menyenangkan.

⇜⇝

Alhamdulillah sudah menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah dan sudah berbagi dengan kalian. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Setelah Upin Ipin Yang Mengedukasi Terbitlah Larva

Saya yakin kita semua ingin mendaki tangga yang benar untuk mencapai tujuan (hidup). Tapi jangan pernah merasa menjadi orang yang kalah ketika kalian (atau saya) sadar bahwa ternyata kita sudah mendaki tangga yang salah. Gantilah segera tangga itu secepatnya setelah tersadar. Karena, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali? Yang setuju, komen di bawah. Hehe.

#SabtuReview



Cheers.

Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar


Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar. Pada pos Sabtu berjudul Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa saya sudah berjanji untuk menyelesaikan proses membaca buku-buku itu. Belum semuanya tuntas terbaca, pasal pekerjaan bertubi-tubi tidak dapat ditunda, datang lagi satu buku berjudul Filosofi Teras. Demi tekad menuntaskan tiga buku self improvement, para nutrisi otak dan makanan jiwa, saya tidak berani menyobek plastik pelindung Filosofi Teras meskipun hasrat terus meronta. Buka! Ayo, buka! Saya harus patuh pada komitmen sendiri. Alhamdulillah, salah satu buku self improvement itu selesai dibaca, then. Meskipun tulisan tentang Firebender sudah siap dipublis lebih dahulu, saya justru mempublis salah satu buku itu terlebih dahulu. Hari ini.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Tiga buku self improvement itu berjudul: 

1. Mendaki Tangga Yang Salah.
2. Bicara Itu Ada Seninya.
3. Seni Hidup Minimalis.

Saya memulai dari Seni Hidup Minimalis, tetapi justru menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah. Seni Hidup Minimalis lantas dipinjam teman. Mendaki Tangga Yang Salah merupakan buku yang membikin saya tidak bisa berhenti sejak halaman pertama. Berbeda dari buku self improvement lainnya, buku ini tidak menggurui secara langsung, tetapi mendidik secara tidak langsung melalui kisah-kisah inspiratif lainnya hingga beragam teori, penelitian dan hasil penelitian tersebut. Bahkan banyak hal-hal konyol pula di dalamnya.

Mendaki Tangga Yang Salah


Sekilas, sampul buku ini mirip dengan Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Mirip, tapi tidak sama. Mendaki Tangga Yang Salah bersampul merah dengan tulisan besar warna hitam dan siluet/gambar tangga sederhana dan tagline(?) Barking Up The Wrong Tree. Correct me if I'm wrong. Atau tulisan di atas judul yang jadi tagline-nya? Oh ya, tulisan lain di atas judul itu adalah Sebagian Besar Hal yang anda Ketahui tentang Kesuksesan Adalah Salah Besar. Tulisan itu seperti bom yang meledak di dalam kepala orang-orang patuh seperti Chatur 'Silencer' Ramalingam (Omi Waidya) ketika tahu bahwa big boss-nya adalah Rancho (Aamir Khan) alias Phunsuk Wangdu. Dalam filem 3 Idiots kita tahu Chatur adalah si cerdas yang mengikuti sistem sekaligus penjilat yang selalu membenci Rancho saat masih kuliah.

Di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah pun kalian akan membaca kata 'penjilat' dalam lingkungan pekerjaan. Kita memang tidak bisa terlepas dari para penjilat, di manapun berada, termasuk di lingkungan pekerjaan. Mereka itu seperti makhluk astral. Tidak terlihat mata tetapi ada.


Well, buku ini ditulis oleh Eric Barker dan diterbitkan oleh P.T. Gramedia Pustama Utama pada tahun 2019. Sebanyak 360 halaman mengajarkan pembacanya tentang banyak hal untuk lebih mengenali diri sendiri. Istilahnya: mau jadi apa kita kelak? Kenali diri sendiri! Dan, ah ya, saya tidak bisa untuk melewatkan yang satu ini: buku Mendaki Tangga Yang Salah diberikan oleh Ibu Rosalin Togo atau lebih dikenal dengan panggilan Mami Ocha yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Kota Surabaya. Terima kasih, Mami ... Pahlawan Intelektual saya! Hehe.

Inspirasi Dalam Balutan Konyol


Eric Barker tidak berusaha menggurui, sudah saya tulis di atas, dia lebih condong pada memberikan contoh perilaku, kesuksesan orang-orang besar dunia, hingga beragam teori, serta penelitian dan hasil penelitian para profesor dan/atau para pakar. Garis besar, benang merah, Mendaki Tangga Yang Salah adalah kenali diri sendiri. Kalau kita tidak sependapat, biarkanlah ketidaksependapatan itu menjadi nilai demokrasi dalam me-review buku. Haha. Apabila manusia mengenali diri sendiri maka dia akan tahu tangga mana yang harus dinaiki. Bukan begitu poinnya? Bayangkan saja jika kita tahu, tidak pandai, atau tidak berbakat membikin sketsa tetapi terus-terusan memaksakan diri hingga akhir hayat. Apa yang kita capai? Nothing.

Sebanyak 6 bab disuguhkan oleh Mendaki Tangga Yang Salah. Setiap bab mempunyai keunikannya masing-masing tentang bagaimana cara orang-orang bisa sukses. Ambil contoh pada bab 1.

Bab 1 Mendaki Tangga Yang Salah memoroskan kalimat judul Jika Ingin Sukses, Haruskah Kita Bermain Aman dan Melakukan Apa Yang Diperintahkan Kepada Kita? Dalam ranah agama, ya harus donk. Hehe. Eric menulis tentang orang-orang tersaring dan orang-orang yang tidak tersaring. Orang-orang tersaring selalu mengikuti sistem, juara kelas atau setidaknya punya nilai akademis di atas rata-rata, dan kemudian masuk pada jaringan birokrasi atau bekerja mengikuti sistem yang ada, mungkin juga menjadi pemimpin. Orang-orang tidak tersaring cenderung eksentrik dan melakukan segalanya sekehendak hati, kadang pula dikenal bodoh, tapi mereka sangat terkenal di dunia ini. Eric Barker mengambil contoh William Churchill yang eksentrik dan selalu beranggapan Hitler sebagai ancaman. Dan paranoid Churchill dan sikapnya yang nyaris menghancurkan karirnya pada awal mula telah 'menyelamatkan' rakyat Inggris.

Kalau boleh saya tulis, pembangkang sangat tidak disukai dalam lingkungan kerja, tapi atasan yang bijak harus mampu merangkul si pembangkang dan memanfaatkan enerji berlimpahnya untuk kemajuan perusahaan. Pembangkang identik dengan orang-orang kreatif yang tidak puas pada sistem dan memandang sistem sebagai borgol kreativitas. Apabila kalian adalah atasan, janganlah mendepak para pembangkang begitu saja. Mungkin saja pembangkang itu berada pada unit yang salah sehingga dia merasa bosan dan terus-terusan membikin Anda emosi jiwa. Hehe.

Churchill memang telah menyelamatkan Inggris dari NAZI, tapi sikap eksentrik dan fanatisme Churchill tidak bisa diaplikasikan pada perkara-perkara lain bukan? Oleh karena itu Eric Barker tidak saja menulis tentang keberhasilan atau sisi positif segala sesuatu tetapi juga sisi negatifnya. Seperti sisi negatifnya manusia dengan gen SCN9A.

Semua orang tentu ingin menjadi seperti Ashlyn Blocker yang tidak pernah merasa nyeri. Ashlyn memiliki gen SCN9A dimana sinyal-sinyal nyeri tidak bisa mencapai otaknya. Super hero! Tentu. Siapa sih yang tidak mau seperti Ashlyn? Dane Inouye menulis bahwa pasien Congenital Insensitivity to Pain with Anhidrosis (CIPA) bisa dianggap Superman karena mereka tidak merasakan nyeri ragawi, tetapi ironisnya, apa yang memberi 'kekuatan super' kepada mereka juga merupakan kryptonite mereka. Pasti kalian bertanya: kok bisa? Ya bisa. Tidak merasakan nyeri dapat menghancurkan karena bayangkan saja kalau tulang kaki atau tulang tangannya patah tanpa dia rasakan dan kerusakan tulang itu kemudian merusak ke jaringan sehat lainnya? 

It's like ... BHOOOMMM!

Ternyata Ashlyn tidak baik-baik saja bukan?

Salah satu orang hebat yang sangat menarik perhatian saya dari Mendaki Tangga Yang Salah adalah tentang pidato Steve Jobs. Inti pidatonya adalah apa yang ingin kita capai dalam hidup ini bisa dilakukan dengan memikirkan kematian. Apakah saat mati nanti kita ingin dikenang sebagai pecundang, pemenang, orang baik, atau tukang fitnah? Kita yang pilih. Apabila menginginkan kematian kita menjadi momen bertemunya banyak manusia hidup yang mengenang kebaikan, jasa, perbuatan kita selama hidup, maka jalanilah hidup yang seperti itu. Seperti yang kita inginkan yaitu dikenang orang (tentang kebaikan) saat kita mati. Saya terbahak-bahak membacanya. Logika yang luar biasa nancap dalam kepala.

Masih banyak hal lainnya yang perlu kalian ketahui dari Mendaki Tangga Yang Salah tetapi tentu saya tidak boleh menulis semuanya di pos ini. Ketahuilah, Churchill, Ashlyn, dan Steve Jobs hanyalah tiga contoh kecil dari contoh lain, kisah inspiratif lain, di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah. Contoh-contoh itu, kisah orang-orang di dalam buku itu, tidak saja mendidik pembacanya tetapi secara tidak langsung sekaligus menghibur. Kapan lagi kita tahu sejarah orang-orang hebat, atau kisah inspiratif orang-orang yang tidak pernah menyerah?

Kalau begitu ... apakah kita harus mendaki tangga yang benar?

Mendaki Tangga Yang Benar


Membaca buku Mendaki Tangga Yang Salah mengarahkan pikiran saya pada mendaki tangga yang benar tetapi tidak selamanya harus selalu tangga yang benar dari awal. Kita bisa berpindah tangga apabila tahu bahwa tangga pertama itu salah. Oleh karena itu sampul buku Mendaki Tangga Yang Salah disertai gambar/siluet dua tangga kayak tangga lapangannya karyawan PLN atau P.T. Telkom. Tangga dua kaki, tangga teleskopik, atau apapun namanya. Kalau bukan tangga yang kanan, berarti tangga yang kiri. Kira-kira seperti itulah yang ingin disampaikan Eric Barker. Jangan terus-terusan memaksakan diri pada sesuatu pekerjaan yang tidak akan membawa kita pada kesuksesan.


Saya mencerna tentang tangga yang benar ini.

Pertama, jangan sampai salah memilih tangga. Tetapi, apabila tangga itu salah, kita masih bisa bermanuver mengganti tangga yang lain. Ini berkaitan dengan bakat dan hasrat. Apakah ada yang mau selamanya berada dalam lingkaran setan yang membosankan? Tentu tidak. Kenali tangga yang sedang kalian, atau saya, naiki saat ini. Kalau tangganya sudah benar, berusahalah semaksimal mungkin mencurahkan segala daya upaya untuk menaiki tangga itu hingga puncak. Mencapai puncak, tidak harus menjadi penjilat, tetapi jadilah yang paling bersinar.

Kedua, kenali diri sendiri untuk mencapai sesuatu. Jangan sampai kita menjadi orang yang tidak mengenali siapa dan apa diri kita sendiri sehingga sulit untuk menentukan arah. Kalau kata Bapa saya, maju satu langkah mundur dua kali. Itu filosofinya sangat dalam. Dan saya sadari, filosofi itu mirip dengan apa yang disampaikan Eric Barker dalam Mendaki Tangga Yang Salah. Hal serupa juga pernah diaktakan oleh Esty Durahsanty dari Konsulat Jenderal AS di Talkshow Pameran Wirausaha Berkelanjutan oleh E.thical yaitu Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Orang-orang yang mendengarnya dan menangkapnya secara lurus akan menertawai. Maklumi saja, mereka tidak membiarkan logika bekerja.

Ketiga, bekerja keras itu wajib. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Bahkan seorang ahli matematika pun bekerja keras sepanjang hidupnya meskipun telah meraih begitu banyak penghargaan dan menghasilkan ahli matematika lainnya. Bekerja keras harus dibarengi dengan optimisme yang kuat. Perpaduan keduanya akan membikin kalian terkejut.

Satu pesan yang juga menarik dari Mendaki Tangga Yang Salah, untuk kita bisa mendaki tangga yang benar adalah tentang kemampuan mengelola. Mengelola sesuatu yang membosankan menjadi permainan yang menyenangkan. Mengelola sesuatu yang kita benci menjadi, tetap, permainan yang menyenangkan. Kita yang pilih, seperti yang dikatakan oleh Steve Jobs bukan? Dengan menjadikan segala sesuatu sebagai permainan yang menyenangkan kita akan membikin target dan berupaya memenuhi target dimaksud. Bukankah permainan adalah tentang target dan pencapaian (kemenangan)? Bukankah permainan dipenuhi tantangan yang membikin kita geregetan kalau tidak bisa melewatinya dengan gemilang? Cobain deh mengubah sesuatu yang menjengkelkan menjadi permainan (otak) yang menyenangkan.

⇜⇝

Alhamdulillah sudah menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah dan sudah berbagi dengan kalian. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Setelah Upin Ipin Yang Mengedukasi Terbitlah Larva

Saya yakin kita semua ingin mendaki tangga yang benar untuk mencapai tujuan (hidup). Tapi jangan pernah merasa menjadi orang yang kalah ketika kalian (atau saya) sadar bahwa ternyata kita sudah mendaki tangga yang salah. Gantilah segera tangga itu secepatnya setelah tersadar. Karena, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali? Yang setuju, komen di bawah. Hehe.

#SabtuReview



Cheers.

Tak Hanya Saat Umroh, Vaksin Flu Juga Penting Saat Traveling Ke Luar Negeri


Penting ngga sih Vaksin Flu (Influenza) pada saat Traveling ke Luar Negeri? Jawaban itu saya temukan pada saat hadir dalam acara "Bebas Flu Saat Traveling" bersama Program Kenapa Harus Vaksin dari Sanofi Indonesia. Selama ini saya bertanya-tanya, apakah harus melakukan vaksin padahal negara tersebut tidak sedang musim dingin? Atau, apakah hanya pada saat Umroh saja harus melakukan vaksin flu selain vaksin meningitis? Banyak sekali hal yang menganjal selama ini mengenai vaksin dan penyakit influenza itu sendiri. 

"Kamu bersin mulu deh."

"Iya nih aku lagi flu."

"Kayaknya kamu harus istirahat dan minum obat deh."

"Ngga usah, besok juga palingan udah sembuh."

"Eh, jangan sampai meremehkan flu loh."

"Emang flu bahaya banget?"

"Ini nih yang ngga banyak nonton berita, nontonnya darkor mulu."

"Seriusan deh, apa bahaya?"


"Pada tahun   1918 terkenal sebagai wabah flu paling mematikan sepanjang sejarah manusia. Seratus tahun yang lalu, wabah flu melanda negara-negara Eropa. Wabah flu di Spanyol diklaim memakan korban hingga 100 juta jiwa. "

"Wah, udah ratusan juta ya yang jadi korban." 

"Yes, beberapa tahun belakangan ini virus flu juga terus berkembang dan mengalami mutasi ke bentuk yang lebih berbahaya tentunya."

"Oke, aku mau vaksin ah karena bulan depan aku mau ke Jepang dan disana musim dingin."


Ada ratusan jenis virus flu dan terus berkembang belakangan ini. Dan, kita tidak boleh meremehkan atau menganggap itu tidak penting sama sekali. Masih ingat dengan virus flu burung atau virus flu babi yang menyerang mahluk hidup termasuk manusia, tentu saja ini sangat berbahaya. Apalagi pada saat kita ke negara lain, kita tidak pernah tahu ketahanan tubuh kita, cuaca yang terjadi di negara tersebut serta virus apa yang sedang mengancam negara tersebut. So, beberapa tindakan yang preventif itu sangat dibutuhkan. 

Virus influenza terus bermutasi dan menyebar ke area lain. Influenza menular dengan sangat cepat dan mudah lewat udara. Saat perjalanan adalah momen paling rentan tersebarnya virus influenza. Dampak buruknya, influenza dapat menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi yang dapat berujung pada kematian.


Lalu, hal apa saja sih yang perlu diperhatikan untuk mencegah penyakit flu datang dan menghindari berkembangnya virus tersebut. Nah, ini daia beberapa cara terbebas dari virus flu diambil dari alodokter.com.

  • Rajin mencuci tangan dengan air dan sabun, atau hand-sanitizer berbahan dasar alkohol.
  • Tidak menyentuh mulut, hidung, dan mata, sebelum mencuci tangan.
  • Membersihkan permukaan benda yang sering disentuh, dengan cairan disinfektan.
  • Tidak berbagi makanan atau penggunaan benda pribadi, seperti gelas atau botol minum.

Bila sudah terserang flu, Anda dapat meminimalkan penularan ke orang lain dengan melakukan beberapa hal berikut ini:

  • Menjauhkan diri dulu dari orang lain, hingga setidaknya 24 jam setelah demam turun.
  • Memakai masker bila ke luar rumah.
  • Menutup mulut dan hidung dengan tisu, saat bersin atau batuk. Buanglah tisu dan cuci tangan



Saya akan membagikan pengalaman yang sangat berharga menghadapi Musim Dingin (Winter) di Jepang. Tahun 2019 ini, terhitung saya telah menginjakan kaki sebanyak 7 kali. Hampir separuhnya dilakukan pada saat musim dingin, dan yang paling spesial adalah ketika Musim Sakura. Walaupun sudah mengalami kenaikan suhu udara dan tidak terlalu dingin, namun saya masih saja udara dingin menyelimuti Jepang ketika bulan Maret akhir dan April awal. 

Hal-hal yang bisa dipersiapkan pada saat sebelum traveling ke Jepang pada saat musim dingin adalah sebagai berikut : 

Persiapkan Jaket Winter

Jangan melakukan hal konyol dan meremehkan musim dingin di negara dengan  musim seperti Jepang. Pertama kali menjumpai musim dingin, saya mencoba menggunakan jaket yang dapat menahan suhu dingin sampai belasan derajat. Ternyata jaket tersebut pun tidak bisa menahan dinginnya suhu yang mencapai satu digit bahkan sampai minus. 

Jangan Lupakan Lapisan Dalam 

Selain jaket winter, jangan lupakan lapisan dalam seperti pakaian dalam heattech atau longjhon, sweater dan lapisan lain sebelum menggunakan jaket. 

Scraft Dan Top Kupluk Serta Sarung Tangan 

Jika jaket tak kuat menahan dinginnya angin, maka kita perlu scraft, topi kupluk dan sarung tangan untuk menahan dingin. Dijamin, tubuh kita sedikit terasa hangat dengan ketiga benda tersebut.

Bawalah Obat Dan Minuman Penghangat

Jangan lupakan obat-obatan, apalagi jika menderita asma atau penyakit yang berhubungan dengan alergi di musim dingin atau cuaca dingin. Minuman seperti jahe dan lainnya pun sangat membantu menghangatkan dikala musim dingin.

Persiapkan Diri Sebelum Traveling Dengan Vaksin Flu 

Percaya atau tidak, virus flu akan terus menghantui kita. Salah satu yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya penyakit itu adalah dengan Vaksin Flu. Kenapa harus Vaksin? Apa sih Keuntungan dari Vaksin? 

Seperti kita ketahui bahwa Virus flu bisa disebut 'virus pintar' karena bisa berubah setiap tahun untuk menyerang sistem kekebalan Anda. 


Dan, faktanya vaksin flu hanya dilakukan setahun sekali atau tergantung dari perkembangan penyakit flu di negara tersebut. Selain itu harga yang ditawarkan untuk sekali vaksin pun sangatlah terjangkau hanya sekitar 200 ribu - 300 ribu. Nah, salah satu vaksin yang paling terrekomendasi adalah Sanofi Indonesia. Informasi lengkap mengenai Sanofi Indonesia bisa diakses melalui website resminya disini.  

Nah, sudah saatnya melakukan vaksin flu untuk mencegah penyakit tersebut berevolusi dan menyebabkan banyak komplikasi yang tidak dibayangankan sebelumnya. 

Happy Traveling !