Cara Membikin Wadah Berbahan Semen dan Kaktus Batu


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY. Pada seri Horeday saya sudah menulis tentang Horeday #6: Well Done! I Finished My Stone Project. Rasanya kurang afdol bila di hari khusus proyek Do It Yourself (DIY) saya tidak menulis tentang cara membikinnya haha. Jadi, mari kita simak apa saja bahan dan tata cara membikin hiasan meja kaktus batu yang masuk dalam Stone Project, salah satu resolusi saya di tahun 2019.

Baca Juga: Tempat Alat Tulis

Membikinnya memang mudah. Siapkan dulu alat dan bahan yang bakal digunakan untuk proyek DIY yang satu ini.

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang harus disiapkan adalah sebagai berikut.

Alat:
1. Gunting.
2. Pisau/cutter.
3. Lakban.


Bahan:
1. Semen.
2. Air secukupnya.
3. Wadah bakal proyek semen.
4. Batu pilihan.
5. Cat.
6. Tipeks bolpoin. 

Cara Membikin


Pertama-tama harus dibikin terlebih dahulu wadah berbahan semennya ya, kawan. Karena wadah itu yang bakal jadi tempat berdirinya si kaktus batu. 

Wadah semen:
Silahkan pilih dan siapkan wadah atau mal bakal wadah semen ini. Saya mengguakan tiga wadah yaitu kotak bekas teh kotak, botol plastik bekas Coca Cola yang bagian bawahnya berbentuk unik itu, dan tentu saja sarung tangan karet atau sering disebut handscoon. Kalian juga bisa menggunakan wadah seperti kain segi empat yang dicelupkan di adonan semen kemudian ditutup di gelas kertas/plastik. Tapi saya belum membikin wadah/pot yang seperti itu. Baru tiga bentuk saja seperti yang sudah ditulis di atas.

Langkah berikutnya: campurkan semen, saya memakai semen biasa yang bisa dibeli per-kilogram, dengan air secukupnya. Tanpa pasir! Karena kan kita tidak ingin membangun rumah tangga. Adonan semen ini tidak boleh terlalu encer karena bakal merusak hasilnya. Percaya lah, saya sudah mengalaminya jadi bisa menulis begitu. Haha. Setelah campuran semen dirasa oke, tidak terlalu encer, dan tidak terlalu padat. Semen sebanyak satu kilogram bisa menghasilkan enam wadah/pot loh.

Untuk kotak bekas teh kotak, setelah adonan semen dimasukkan ke kotaknya, bagian tengahnya diletakkan dua bungkus rokok yang sudah saya rekatkan (yang makan menghasilkan lubang). Karena rada susah kalau ditahan pakai batu, saya menahannya dengan lakban agar posisinya pas di tengah alias tidak miring.

Ini hasilnya yang sudah jadi.

Untuk botol plastik bekas Coca Cola, saya potong dulu setengah bagian botol plasti, lalu memakai bagian bawahnya yang diisi semen, dan untuk tengahnya saya tahan menggunakan gelas kertas atau gelas plastik. Untuk menahan gelas plastik di bagian tengah ini boleh dipakai pemberat batu atau barang lain yang bisa menstabilkan si gelas di tengah adonan semen di dalam botol.
Untuk sarung tangan karet, pertama-tama isi adonan di sarung tangan, kemudian diikat/tutup bagian atasnya. Agar hasilnya nanti si tangan dalam bentuk membuka begitu, letakkan di mangkuk kaca seukuran dan tetap ditahan dengan batu agar bentuknya bagus.

Setelah adonan dimasukkan ke dalam wadah/mol, diamkan seharian. Misalnya dibikin hari ini, besok baru boleh dibuka. Ditaksir saja adonan sudah kering begitu. Hehe. Membuka wadah tidak sulit. Pelan-pelan saja. Paling mudah memang membuka/melepaskan wadah kotak bekas teh kotak. Tinggal cabut bungkus rokoknya, terus sobek kotaknya, tradaaaa. Yang harus hati-hati yang botol dan sarung tangan karet. Ekstra hati-hati ya, jangan sampai pecah donk hasil kerja kita.

Kaktus batu:
Ini sih paling mudah bikinnya. Setelah batu dibersihkan, yang ukurannya kita sudah tahu pasti bakal muat di wadah/pot semen, lalu di-cat. Saya memakai cat minyak dua warna: hijau tua dan hijau muda. Cat salah satu sisinya dulu, lantas keringkan. Kalau sudah kering, cat lagi sisi satunya lagi. Kalau sudah kering semuanya, tinggal dibikin bunga kaktus menggunakan tipeks.

Kaktus Batu yang Menawan


Kaktus batu ini memang menawan dan saya letakkan di ruang tamu (tiga meja) satunya lagi saya letakkan di meja ruang keluarga.




TRADAAAAA ... Mudah bukan? Dua hari membikinnya, langsung jadi seperti ini, siapa yang tidak senang? Senang lah!

Baca Juga: Travel Booth

Ayo bikin! Kalian juga pasti bisa bikin. Asalkan jangan lupa memakai masker saat mencampur adonan semen supaya kalian tidak menghirup debu semen yang bertebangan di udara haha. Waktu itu saya lupa memakai masker jadinya ya bersin-bersin tak karuan. 

Selamat berkreativitas, kawan!



Cheers.

Kepo Buku #15: Mengapresiasi Sel-sel Kelabu Agatha Christie

Meskipun karya-karya Agatha Christie sejak tahun 80-an sudah beredar di Indonesia namun penggemarnya hingga kini masih terus menjangkau sampai berbagai generasi. Apa sebenarnya daya tarik karya penulis kelahiran 1890 ini? Episode ini mencoba mengapresiasi karya sang “Ratu Cerita Misteri” bersama Dion dari Komunitas Penggemar Agatha Christie Indonesia yang dikenal juga dengan “Sel-sel Kelabu.”

Selamat mendengarkan.



Di mana dengar podcast Kepo Buku?

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

Tautan Terkait:

 

Kepo Buku adalah:

Follow akun Instagram Kepo Buku di Instagram.com/KepoBuku

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku atau ke 087878505012
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License
  • Cuplikan soundtrack Murder on The Orient Express diambil dari trailer film tersebut
  • Ilustrasi cover: Wikipedia dan Pixabay.com

 

-rh-

 

 

Teknologi Dasar yang Setidaknya Harus Dikuasai oleh Manusia


Saya pernah menulis tentang Teknologi Dasar. Inti dari pos itu adalah tentang bagaimana manusia zaman sekarang 'mereka-ulang' teknologi dan teknik dasar yang digunakan oleh manusia zaman purba untuk, misalnya, membangun rumah bahkan rumah bertingkat, membangun kolam renang dengan aliran air dari sumber mata air, membikin tempat pembakaran dan penyulingan tuak dari nangka dan beras, membikin api, memasak menggunakan batu dan bantuan panas matahari, dan lain sebagainya. Teknologi-teknologi dasar itulah yang menurut saya setidaknya memang harus dikuasai manusia. Terkhusus teknologi dan teknik membangun rumah.

Baca Juga: Re: Ease

Baru-baru ini dinding dapur belakang (dapur basah) rumah saya rubuh satu sisinya. Dinding itu tidak kuat menahan dorongan akar pohon yang tidak kami sangka terpeta diantara dinding dapur dengan tembok penyokong rumah tetangga sebelah atas. Tidak main-main akar pohon itu, setelah digali, besarnya bisa sepelukan tiga orang dewasa. Awwww. Pantas saja dinding rumah rubuh alias jebol. Tapi selalu ada hikmah dari setiap kejadian bukan? Alhamdulillah Mamasia yang saat itu sedang mencuci baju tidak tertimpa pecahan dinding. Alhamdulillah kami serumah jadi tahu teknologi dan teknik dasar membangun dinding.

Rumah Dua Musim


Pohon Tua, rumah induk keluarga Pharmantara, saya sebut sebagai rumah dua musim yang dikerjakan tidak secara bersamaan. Bagian belakang rumah terdiri atas ruang makan, ruang keluarga, dapur bersih, tiga kamar mandi (salah satunya kemudian berubah menjadi kamar), dua WC, dapur kotor, dan dua kamar tidur. Tembok bagian belakang ini dikerjakan sudah sangat lama oleh alm. Nene Linus (mertuanya Mamasia) tentu bersama alm. Bapa. Bentuknya temboknya 'bengkok' di mana-mana, dengan kayu-kayu penyangga yang simpang-siur serta tripleks-tripleks tua nan uzur. Sampai-sampai kami sering ngetawain rumah ini sambil guyon. Bagian belakang rumah dikerjakan pada 'Musim Harus Jadi' dengan lantai semen.

Bagian belakang: Musim Harus Jadi.

Bagian depan rumah, setelah direnovasi, terdiri atas teras, ruang tamu, dan dua kamar tidur. Bagian depan rumah ini dikerjakan juga masih oleh alm. Nene Linu dan dibantu (dimandori) oleh alm. Bapa, dengan tingkat kemiringan yang masih bisa mengelabui mata *ngakak guling-guling*. Bagian depan rumah ini dikerjakan pada 'Musim Jadilah Rumah yang Bagus' dengan lantai keramik dan atap yang lumayan tinggi.

Bagian depan: Musim Jadilah Rumah yang Bagus.

Jadi, kalau kalian datang ke Pohon Tua, akan menemukan rumah dua musim pengerjaan yang bentuknya secara estetika akan sangat jauh berbeda. Tapi, tetap saja rumah bagian belakang itu selalu menjadi tempat favorit untuk kumpul-kumpul karena rasanya hangat dan selalu penuh cinta *ditonjok dinosaurus*. Bukan berarti ruang tamu tidak nyaman dan hangat, tetapi kalian pasti tahu yang namanya ruang makan dan ruang keluarga selalu memberi perasaan nyaman yang 'lebih'.

12 Juni 2019


Pada tanggal keramat itu, saat saya sedang bekerja di kamar, terdengar suara gemuruh diiringi teriakan Mamasia yang kabur ke luar. Ternyata dinding dapur basah, paling belakang rumah, rubuh. Dinding yang rubuh itu hanya sekitar tujuh batako disusun sejajar saja tapi tetap lah membikin jantung kebat-kebit karena di sebelahnya ada dinding dengan bak air cuci piring menempel. Semua tenaga yang bisa diandalkan kemudian datang membantu memotong pohon ara yang berdiri, ternyata, diantara dinding dapur dan tembok penyokong tersebut.

Akar pohon ara ini sungguuuuh besar!

Keesokan hari, setelah dibersihkan, terlihatlah akar pohon yang super besar dan harus dipotong menggunakan mesin sensor. Parang biasa mah iwa negi, kata Orang Ende. Bisa kalian bayangkan, untuk memotong, membersihkan area pengerjaan, hingga sensor akar pohon membutuhkan waktu dua hari.

Kenapa Dikerjakan Sendiri?


Karena tukang yang seharusnya mengerjakannya ngambek dengan suatu alasan hahaha kemudian pulang ke rumahnya. Kata kakak ipar saya, Ka'e Dul, sudahlah kita kerjakan sendiri. Yang macam begini mudah saja asalkan tidak terburu-buru. Pasir, semen, batako, siap. Tenaga? Masa iya Ka'e Dul mengerjakannya seorang diri sedangkan Eda Tuke (suami Mamasia) sedang sakit? Maka hari Jum'atnya, tanggal 14 Juni 2019, kami serumah berganti profesi menjadi asisten tukang bangunan. Hahahaha.

Teknologi dan Teknik Dasar


Saya kira membangun dinding/tembok menggunakan batako itu mudah saja. Tinggal susun dan dilapisi campuran semen. Tidak begitu, kawan! Beruntunglah Ka'e Dul ini meskipun ASN tapi suka mengerjakan hal-hal semacam ini, yang sangat 'laki', jadi kami tidak susah hahaha. Mau memanggil tukang lainnya, dilarang Ka'e Dul, sudahlah dikerjakan sendiri saja. Aman saja. Ka'e Dul memang menguasai teknik menyusun dinding batako semacam ini, termasuk rumah mereka bagian belakang itu dikerjakan sendiri loh, hanya saja kondekturnya alias asisten yang tidak ada sehingga kami serumah bergotong-royong. Hyess, Encim and The Gank bahu-membahu dengan caranya masing-masing.

Misalnya pada hari pertama, Ka'e Dul dan Kakak Nani beserta calon anak mantu cs membantu membersihkan, termasuk Abang Nanu Pharmantara, Angga dan Mbak In, kemudian kami urunan untuk membeli material dan membayar biaya ini-itu. Have fun sekali.

Ayo, Thika!

Teknik dasar yang harus dilakukan adalah mengukur. Setelah mengukur, Ka'e Dulu mulai membikin mal dari kayu untuk menahan adonan awal/fondasi baru. Setelah itu baru diukur lagi rata atasnya, jangan sampai musim pertama terulang lagi hahaha. Tekniknya itu kadang kita yang awam tidak paham kenapa harus begini, kenapa harus begitu, kenapa ada selang pengukur, kenapa harus pakai besi, dan lain sebagainya. Pada akhirnya kami paham setelah dijelaskan oleh Ka'e Dul. Wah, sudah bisa nih kami jadi tukang bangunan.

Enu, si Serba Bisa.

Kerja bersama ini menjadi lebih ramai dan seru karena teman Thika yang tinggal bersama kami, namanya Enu, punya tingkah unik. Cewek bertubuh mungil ini ternyata ... luar biasa. Kerja apa saja bisa! Tapiiii posisi baju/atasan harus di dalam bawahan. RAPI JALI! Sumpah, saya ngakak guling-guling melihat tingkah si Enu yang serba bisa ini.

Tangan belepotan campuran semen, kaos tetap masuk dalam!

Urusan membangun dinding ini tidak terlepas dari campuran pasir dan semen yang takarannya sudah ditentukan oleh Ka'e Dul. Dan Kakak Nani tidak mau kalah membantu dengan kondisi tangan kirinya patah. Tangan kiri ini sudah dioperasi dengan memasang pen, tetapi harus dioperasi ulang karena pen-nya bergeser, tapi bergesernya bukan karena mencampur adonan semen ya hahaha.

Kakak Nani.

Dengan bangganya Kakak Nani bilang begini, "Biar saya yang campur adonan dengan air! Encim tugas siram-siram air saja. Untung saya bawa sekop mini andalan ini." Hahaha. Love you, Kak.

Dua cewek ini 'sudah tidak ada obatnya kalau ketemu kamera'.

Betul juga kata Ka'e Dul. Dikerjakan sendiri, pelan-pelan, jadi juga. Buktinya, meskipun asistennya rada-rada berotak miring semua, dinding itu berdiri juga dan sekarang hanya tinggal mengerjakan ini itu yang sedikit lebih detail.

Ini foto haru Jum'at kemarin sih. Sekarang sudah selesai.

Kerja bersama, ramai-ramai, memang selalu menyenangkan, apalagi bersama keluarga besar. Senangnya lagi, kami selalu ditemani dengan kopi/teh dan pisang-kapuk-mentah goreng dan sambal khas Enu! Yuhuuuu. Pisang mentah ini belum ada lawannya lah kalau sore hari duduk mengaso bersama keluarga. Selain itu, menu harian juga diatur bersama. Biasanya kan hanya saya dan Thika yang mengaturnya. Kali ini ditambah Kakak Nani. Misalnya hari ini sop buntut dan semur, besok ayam goreng tepung dan tumis sawi, besoknya ikan, dan seterusnya. Alhamdulillah ngidam saya pengen makan sayur nangka santan (gudeg tapi beda sedikit sih bumbunya) dicampur buntut sapi pun kesampaian. Hyess! Haha. Selama ini kan males banget masak yang repot begitu, seringnya lauk digoreng dan dibumbu sama sayur ditumis saja.

Baca Juga: Pemateri Blog

Selalu ada hikmah :D

Jadi demikian, kawan, pos #SelasaTekno sekalian curhat tentang dinding dapur belakang yang rubuh itu. Semoga tidak bikin kalian kesal ya hahaha. Setidaknya saya sudah paham betul tentang teknologi dan teknik dasar membangun dinding rumah. Jadi kepikiran membangun rumah mini ... lebih mini dari rumah tipe 36 yang mulai saya lirik meskipun harus mengangsur *dicipok dinosaurus*. 




Cheers.

Seorang Kapten Kebanggaan yang Gugur Saat Bertugas


Tahun 2014. Pilkada. Saya keluar dari kelompok yang disebut golongan putih. Masih sangat segar melintas di ingatan. Saya terjaga pukul 11.30 Wita. Terkejut! Dengan mata masih mengantuk parah alias setengah membuka, saya berlari ke kamar mandi, menabrak kipas angin, menabrak lemari pakaian, kepala menghantam kosen pintu kamar mandi, lalu mengumpat kenapa kuping saya tidak mendengar suara alaram. Saya mandi sekenanya, yang istilah alm. Bapa saya: itu mandi burung, lantas menggosok gigi. Saat menggosok gigi, mulut saya merasakan sesuatu yang aneh. Mata yang separuh membuka akhirnya membuka penuh. Tube itu bertulis: POND'S. Kampet! 

Baca Juga: Horeday #1: The Legend Cookies Choco & Cheese Stick

Tahun 2014 saya harus memilih karena saya yakin pada visi dan misi si calon Bupati dan Wakil Bupati pilihan, serta melihat track record mereka selama ini. Sesederhana itu. Visi, misi, dan track record calon pemimpin dapat mengubah saya yang awalnya termasuk dalam golongan putih dan bodo amat menjadi golongan pemilih. Tidak perlu menunggu sampai lima tahun untuk merasakan perubahan yang terjadi di Kabupaten Ende tercinta. Belum sampai satu tahun sudah banyak yang saya rasakan. Dimulai dari ragam festival bertema kebudayaan hingga nonton bareng Piala Dunia oleh masyarakat Kabupaten Ende di Lapangan Pancasila.

Saya tidak salah pilih.

Dwi-Tunggal


Dua yang satu. Bupati Ende Bapak Ir. Marsel Y. W. Petu, dan Wakil Bupati Ende Bapak Djafar H. Achmad. Satunya berasal dari Suku Lio. Satunya berasal dari Suku Ende. Satunya beragama Katolik. Satunya beragama Islam. Perbedaan itu justru membikin pasangan ini seperti mur dan baut. Mereka saling 'menemukan' dan bersatu. Semakin kuat dari hari ke hari bukan karena harta tetapi karena kerja. Rasanya saya tidak bisa membantah bahwa jiwa kerja keduanya demi Ende yang lebih baik sangat tinggi. Tapi, tidak adil jika saya hanya melihat dari sisi perbedaan saja. Ada kesamaannya? Ada. Keduanya ramah dan sangat murah senyum! Sikap mereka membikin masyarakat merasa tidak sedang berhadapan dengan pemimpin tertinggi kabupaten ini, melainkan dengan 'orangtua' yang mengayomi. Mereka adalah MJ. MJ yang saya kagumi!

Mereka Mengubah Ende


Saya tidak salah pilih.

Paslon Bupati dan Wakil Bupati yang saya pilih waktu itu benar-benar telah mengubah wajah Kabupaten Ende dari hari ke hari; wajah Kabupaten Ende yang terlihat oleh saya yang tinggal di Kota Ende. Mari kita mulai dari Pelabuhan Bung Karno yang dulunya bernama Pelabuhan Ende, dan Pelabuhan Ippi. Setelah KM Nusa Damai, sebuah kapal roro (roll in-roll out) tenggelam di Pelabuhan Ippi, roda perekonomian menjadi lumpuh. Lantas, setelah tahun 2014, armada-armada laut yang bertujuan Pelabuhan El Say (Kota Maumere, Kabupaten Sikka) setelah tenggelamnya KM Nusa Damai, mulai muncul satuper satu. Tidak saja kapal penumpang yang semakin lancar, tetapi juga kapal roro yang sangat mendukung roda perekonomian di Kabupaten Ende. Sirkulasi barang menjadi lebih lekas. Masyarakat senang.

Di masa jabatan MJ, dimulailah satu perhelatan akbar menjelang 1 Juni yaitu Parade Kebangsaan. Parade akbar yang diikuti hampir oleh seluruh masyarakat Kabupaten Ende. Dimulai dari perarakan laut (kapal-kapal) dari Pulau Ende ke Pelabuhan Bung Karno, lantas parade/pawai keliling Kota Ende dengan penghentian di titik-titik yang telah ditentukan, masyarakat mengenakan pakaian adatnya masing-masing (terkhusus pakaian adat Ende). Siapa yang tidak bangga? Di sini lah benih butir-butir Pancasila lahir. Di sini lah rahim Pancasila. Dan kami memaknainya dengan semakin khidmat!

Ritual pati ka ata mata (memberi makan leluhur di Danau Kelimutu) setiap Bulan Agustus dan festival kebudayaan dan bazaar yang dilaksanakan di Lapangan Pancasila merupakan salah satu bentuk penghormatan tertinggi terhadap adat dan budaya. Jujur, saya paling senang kalau mendengar Bapak Marsel berbicara menggunakan bahasa adat dalam perayaan-perayaan tertentu. Fasih, berkelas, dan berkharisma.

Salah satu yang harus juga saya akui dalam tulisan ini adalah tentang Stadion Marilonga. Stadion yang dulu diakui sebagai stadion kebanggaan itu sempat mengalami kondisi kritis. Hidup enggan. Mati kok sayang, yaaaa. Ketika Kabupaten Ende menjadi tuan rumah El Tari Memorial Cup, Stadion Marilonga disiapkan dengan sangat baik dan detail. Kabupaten Ende kemudian disebut-sebut telah membuat standar yang sangat tinggi untuk stadion sekelas kabupaten. Stadion itu diperbarui keseluruhannya; mulai rumput hingga ... lampu sorot stadion di empat sudutnya! Dengan adanya lampu ini, pertandingan sepak bola dapat dilakukan di malam hari. Daaaan tentu, kami sebagai Orang Ende sangat bangga.

Masih banyak perubahan yang saya rasakan sendiri. Ada nonton bareng Piala Dunia di Lapangan Pancasila (dulunya bernama lapangan Perse) serta berbagai hiburan, renovasi Situs Bung Karno, renovasi Taman Renungan Bung Karno, Renovasi Gedung Imaculata (lima langkah dari rumah saya), hingga pawai kendaraan dinas yang dihias. Terima kasih, MJ. Ini luar biasa.

Semua yang saya tulis di atas merupakan perubahan demi perubahan yang saya rasakan dan alami sendiri. Peristiwa perubahan lainnya saya baca dari ragam media seperti VoxNTT, misalnya, adalah peningkatan PAD dari Rp 800 Miliar naik menjadi Rp 1,3 Triliun, dan Ende menghasilkan produk beras dengan merek dagang Mautenda.

Mereka Semakin Mesra


MJ  adalah pasangan yang semakin ke sini semakin mesra. Keduanya kemudian menang (petahana) dalam Pilkada 2018 yang lalu. Otomatis MJ menjabat dua periode! Hyess! Kemenangan ini bukanlah milik mereka semata, tetapi milik semua masyarakat Kabupaten Ende baik masyarakat yang memilih mereka maupun masyarakat yang tidak memilih mereka. Karena, MJ jelas bekerja untuk seluruh masyarakatnya, bukan untuk kelompok pemilihnya saja bukan?

Kemenangan sudah di tangan. Siap melanjutkan perjuangan membangun Kabupaten Ende. Namun, Sang Kapten kemudian gugur ...

Kapten Ende yang Gugur Saat Bertugas


Minggu, 26 Mei 2019, kaki tangan saya lemas mendengar kabar Bapak Marsel Petu berpulang ke pangkuan Illahi. Sebenarnya itu belum disebut kabar, melainkan pertanyaan yang dikirimkan Kakak Nani Pharmantara melalui pesan WA, saat sahur. Benarkah? Kebetulan saya bekerja satu ruangan dengan adik ipar beliau yaitu Kakak Rossa. 

Ah ...

Saya semakin lemas.

Kapten! Ini terlalu cepat!

Bagaimana dengan mimpi-mimpi 'kita semua'?

Bagaimana dengan cita-cita 'kita semua'?

Tapi Tuhan lebih sayang padamu, Kapten.

Picture by David Mossar.

Di dalam peti kayu putih itu terbujur kaku jasadmu, yang telah sangat berjasa pada Kabupaten Ende, yang harus mengalah pada takdir usia saat hendak melanjutkan lima tahun perjuanganmu kemarin bersama Bapak Djafar. Syok dan sedih ini menusuk dalam hingga berhari-hari masih terus bertanya-tanya: benarkah? Dan berhari-hari masih terus berkata: terlalu cepat! Syok dan sedih ini mengiris-iris semua harapan yang tumbuh ... tapi irisan itu harus saya hentikan karena kehidupan akan terus berjalan, pembangunan akan terus berlanjut, dan saya yakin 'kekasihmu' yaitu Bapak Djafar mampu mengemban itu semua.

Kapten, hanya doa yang bisa saya panjatkan untukmu. Untuk Mama Nona agar diberi ketabahan dan kesabaran menghadapi ujian yang, sangat-super-terlalu, berat ini. Semoga dosa-dosamu luruh bersama doa-doa yang kami panjatkan, dan semoga Tuhan menerima semua amal kebaikanmu semasa hidup, dan menerimamu di sisiNya.

Baca Juga: Selamat, MJ!

Seorang Kapten Kebanggaan yang Gugur Saat Bertugas, Bapak Marsel Petu, saya mencintaimu hingga kapanpun. Terima kasih.




Hormat.

Horeday #7: Rejeki Anak Solehah dari Makassar


Waktu dia mengirimkan foto kardus yang sudah di-pack rapi dan berkata hendak mengirimkan kompor gas agar saya lebih rajin masak, karena dia tahu dulu itu saya paling sering membeli lauk-pauk di warung, saya langsung ingat kompor gas Rinai yang dulu dihibahkan pada orang-orang yang membantu membersihkan dan membereskan dapur. Sebut saya kampungan. Tidak mengapa. Asalkan saya tidak memakai kompor gas di rumah. Lain perkara jika ditawari kompor listrik. Haha. Ada sih kompor listrik tapi tidak cukup besar memuat penggorengan (teflon) ukuran normal. Oleh karena itu di dapur Pohon Tua masih berdiri kompor Hock bersumbu yang selalu dirawat oleh Mamasia. 

Siapakah dia? 

Namanya Ilham Himawan. 'Adik' yang saya panggil Epin karena dia acap memanggil saya Kak Ross. Mungkin karena saya galak haha. Sahabat DMBC dan teman jalan yang satu ini dulunya berdomisili di Kota Maumere, lantas pindah ke Kota Ende, dan kemudian kembali ke Makassar. Lucunya, Ilham lebih dulu mengenal kakak saya, Toto Pharmantara, sebagai rekan kerja. Setelah itu baru lah kami berkenalan melalui Forum Blogger Family. Pada tahun 2009, bersama Ilham, Pak Deddy Suhendry, dan Dedy Isnandar, kami mendirikan Komunitas Blogger NTT yang dikenal dengan nama Flobamora Community. 

Nostalgia


Empat belas tahun yang lalu kami berkenalan lewat forum Blogfam (Blogger Family). Siapa sangka, tiga tahun kemudian, bersama dua founder lainnya, kami membentuk Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT). Tentu berkiblat pada dua komunitas besar yaitu Blogfam dan Angingmammiri. Dia sering memanggil saya Kak Ross, sedangkan saya memanggilnya Epin (kembaran ketiga Upin Ipin) haha.

Momen terbaik pertama kami adalah ketika kami sedang mengobrol berdua karena aturan mengobrol kami adalah tidak boleh ada cerita yang berulang. Coba hitung, sudah berapa banyak cerita kami selama ini? Topik boleh sama tapi cerita harus beda-beda. Mulai dari hidup, hidup di perantuan, hidup anak kos, hidup anak bungsu, dunia sekolah dan pendidikan, komunitas ini itu beserta lika-likunya, makanan (sampai mencoba resep-resep baru), traveling, buku-buku, blog, dunia tulis-menulis, filem, One Day One Juz, dan lain sebagainya.

Momen terbaik kedua adalah ketika dia sedang iseng. Semua omongan akan disambarnya dengan sangat sangat sangat iseng dan konyol. Dan tentu saja saat ramai-ramai di ruang karaoke!

Momen terbaik ketiga adalah ketika tingkahnya mengingatkan saya akan keponakan saya Indra Pharmantara. Gerak-gerik hingga ekspresinya itu loh ha ha ha.


Tapi jangan dikira kami tidak pernah berantem loh. Kami pernah saling diem-dieman begitu lama. Namun justru itu yang semakin mendewasakan dan mendekatkan kami *cieee* haha. 

Tentu saja satu dua paragraf tidak dapat mewakili semua hal yang pernah kami lakukan bersama (juga bersama teman-teman), makan-makan, jalan-jalan, diskusi, karaokean, pelatihan blog, bakti sosial, nongkrong sampai larut malam, tuker-tukeran buku (saya masih ngutang dua buku yang dibelinya hahaha), dia sering berbagi makanan hasil eksperimennya di dapur kos (enak loh soalnya gratis), ngetawain diri sendiri, nganterin dia ke dokter, dan masih buanyaaak lagi!

Tahukah kalian? Istilah WOW a la FC yang kesohor itu, yang dibahas berbulan-bulan kemudian bahkan menular, dicetus oleh dia loh. Dia juga pernah jatuh di tempat yang sama dengan tempat saya jatuh hingga dia harus patuh pada ramuan kunyit panas *ngakak guling-guling*. Bedanya saya jatuh dengan sepeda motor di tempat itu dan bermanuver 180 derajat saat berangkat, tengah malam, menuju Riung. Sedangkan dia jatuh di tempat yang sama saat kami jalan-jalan dari Riung ke bukit-bukit berhampar rumput hijau. Dan, dia selalu punya ide brilian pada last hour ketika acara hendak dimulai. 

Kiriman Itu Tiba


Usai Idul Fitri 2019 kemarin, saya menerima kiriman yang fotonya sudah duluan dikirim Ilham melalui pesan WA. Ketika ditimbang-timbang beratnya ... tidak mungking ini kompor gas! Haha. Sesuai pesannya, ada tiga paket untuk tiga karyawan tempat dia bekerja dulu di Kota Ende. Alhamdulillah amanatnya sudah tersampaikan. Selebihnya dikirimkan untuk saya ... yuhuuuu!






Betul-betul ini namanya rejeki anak solehah dari Makassar. Terima kasih Kakak Ilham, maaf apabila belum sempat membalas apapun, Insha Allah I will. Bagi saya intinya adalah bukan dari benda-benda mati ini, tetapi bagaimana silaturahmi itu tetap terjaga, dan kita tetap saling berkomunikasi melalui dunia internet, terutama WA.

Sepertinya harus 'merapatkan barisan' untuk bisa pergi ke Makassar bareng #5akiKereta!



Cheers.

Horeday #6: Well Done! I Finished My Stone Project


HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday merupakan seri Horeday yang saya tulis untuk minggu pertama setelah kembali dari libur nge-blog (libur Idul Fitri). Liburan kali ini sangat bermanfaat karena banyak kegiatan positif yang dilakukan selain beberes rumah dan menyiapkan kudapan. Rugi rasanya kalau tidak ditulis dalam seri/tema khusus Horeday. Oleh karena itu, bagi kalian yang sering main ke blog ini, jangan kaget kalau tema-tema harian seperti #SelasaTekno atau #RabuDIY atau #PDL khas Jum'at belum muncul. Mohon bersabar. Orang sabar disayang Tuteh ... dan dinosaurus! Hehe. 

Sebelumnya, silahkan baca seri Horeday lainnya tentang Eid Raya:

Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya 

Atau tentang tamu-tamu spesial berikut ini:

Horeday #4: Tamu-Tamu Spesial di Hari Super Spesial

Tulisan ke-enam Horeday adalah tentang satu proyek yang masuk daftar resolusi Tahun 2019 dan sudah tertulis di T-Journal sejak awal Januari 2019. Namanya: Stone Project. Sering melihat video tutorial proyek Do It Your-self (DIY) tentang kaktus hias yang terbuat dari batu, atau tempat lilin, atau hiasan batu berbentuk rumah. Saya sangat terinspirasi olehnya. Seperti biasa, untuk setiap hal yang beraroma DIY, selalu kalimat yang sama terucap: kalau orang lain bisa membikinnya, Insha Allah saya juga bisa bikin!

Menyiapkan Bahan Dasar


Bahan dasar dari stone project ini tentulah batu. Tapi batunya bukan sembarang batu. Batu yang saya pakai adalah batu yang dibeli di Pantai Penggajawa. Harganya cukup murah. Awal Januari 2019 membeli batu itu, saya mendapat dua kantung plastik merah dengan harga Rp 40.000 loh. Batu-batu itu bahkan boleh dipilih; ukuran dan warna. Asyiiiik. Dua kantung plastik berisi batu diletakkan begitu saja di sudut ruang makan, terus dipindah ke area tempat makan kucing, terus ditumpuk, dan saya curiga bakal dibuang sama Mamasia kalau tidak segera ditindaklanjuti. Alhamdulillah liburan pun datang. Stone project pun jalan.

Cement Project ... First


Saya sudah pernah membikin barang-barang DIY berbahan semen. Dua buah pot bunga berbahan semen itu mal-nya adalah botol plastik Coca-Cola yang punya bentuk unik bagian dasarnya. Untuk stone project ini pertama-tama saya harus membikin alas bakal tempat kaktus batu tersebut. Untuk satu kilogram semen saya bisa membikin enam pot unik berbeda bentuk (berbeda mal) dan ukuran.


Ada tiga bentuk yang saya pakai yaitu: botol plastik, kotak bekas teh kotak, dan handscoon atau sarung tangan karet. Ini dia bentuknya ketika sudah jadi.


Sayangnya percobaan pertama pada sarung tangan gagal karena adonan semen terlalu encer sehingga bentuk tangannya cacat begitu. Haha. Tapi tidak mengapa. Bukankah sebelum sukses memang umumnya harus gagal terlebih dahulu? Menyenangkan hati nih. Yang penting percobaan kedua sukses dan bikin happy. Ternyata saya juga bisa membikinnya!

Stone Project


Setelah pot-pot semen jadi, saatnya membikin kaktus batunya. Caranya cukup mudah. Batu-batu pilihan kemudian di-cat: hijau tua dan hijau muda. Setelah kering satu sisi, di-cat lagi sisi lainnya. Lantas, jika semua sudah kering, diberi bunga menggunakan tip-ex. Kalau sudah selesai, letakkan kaktus batu pada pot-pot semen. Hasilnya ... tradaaaaaa!




Tiga pot kaktus batu menghiasi tiga meja di ruang tamu sedangkan satunya lagi di meja ruang keluarga (di belakang). Sangat sedap dilihat bukan? Kaktus batu dari my stone project ini unik memang. Terlihat sangat manis di meja ruang tamu. Saya pikir kalian juga bilang manis kan? Makasih, saya memang manis *dikeplak*. Haha.

⇜⇝

Jadi demikian Horeday kali ini ... sangat menyenangkan. Pada akhirnya stone project, salah satu resolusi di tahun 2019 well done! Kalau saya yang tidak terlalu telaten ini bisa membikinnya, saya yakin kalian juga pasti bisa. Lagian, mudah ini kok. Siapa tahu tahun depan kalian pengen mengubah suasana ruang tamu. Silahkan dicoba stone project begini.

Sampai ketemu di Horeday berikutnya!



Cheers.

Horeday #5: Piknik Encim and The Gank di Pantai Aeba’i


Hari kedua Idul Fitri masih diiringi lagu-lagu sendu dari email gigi yang rusak hingga ke pusat syarafnya (kata dokter Bambang setelah saya pergi ke tempat prakteknya di samping Apotik Gatsu). Kataflam serbuk yang dicampur air itu hanya mampu bertahan sekitar enam hingga tujuh jam. Setelah itu pilihan hanya dua: berusaha tidur dengan gigi yang konser non-stop atau kembali makan dan menegak pain killer itu lagi. Sumpah, apabila kalian mengalami sakit gigi, segeralah ke dokter dan mengobatinya. Waktu itu tempat-tempat praktek dokter gigi masih pada libur sehingga saya harus menunggu. Sangat menyiksa dan membosankan karena Idul Fitri tahun ini pun saya memilih untuk berdiam diri di rumah, tidak ke rumah teman-teman, apalagi traveling.

Hari kedua Idul Fitri. Duduk di sofa setelah makan bubur dan menegak Kataflam berharap keajaiban datang. Saya juga sedang menunggu pesan WA dari Stanis karena hari kedua Idul Fitri kita punya jadwal mengantar Harry dan Rojer ke pangkalan mobil travel. Mereka hendak bertolak ke Kota Bajawa. Tepatnya, kembali ke Manulalu, penginapan kece milik Jane Kambey dan suaminya yang letaknya berdekatan dengan Kampung Adat Bena. Lantas, mendadak pesan masuk di WAG Encim and The Gank. Ajakan piknik dari Kakak Nani Pharmantara! Ikan bakal dibakar sudah tersedia. Hwah. Saya tidak bisa menolak kalau piknik. Ajakan berubah menjadi ajakan. Saya lantas mengajak Stanis, Harry, dan Rojer untuk piknik bersama sambil, nanti, mencari mobil travel arah Kota Bajawa.

Tim Pemakaran. Hahaha.

Segera, Thika dan Enu meracik sambal, menyiapkan kotak-kotak berisi kudapan, dan mengeluarkan beberapa botol Coca Cola dari kulkas. Tak lupa baliho bekas bakal alas duduk. Pick up milik pacarnya Kiki, Solihin, tiba. Barang-barang dimuat duluan. Kloter pertama berangkat duluan ke Pantai Aeba'i. Dua puluh menit kemudian Thika dan Enu berangkat. Hampir satu jam kemudian baru lah saya berangkat setelah dijemput Stanis, Harry, dan Rojer. Saya sampaikan pada Harry bahwa 6 Juni merupakan hari ulangtahunnya Indah Abdullah yang saat ini masih duduk di bangku SMA (SMAK Syuradikara).

Feliz Cumpleaños


Maaf kalau salah. Intinya ya happy birthday. Begitu kami berempat tiba di pantai yang sudah ramai itu, termasuk Ka'e Dul dan Solihin yang sedang bakar ikan, langsung saja kami menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk Indah. Hwah, Rojer dan Harry lantas lanjut menyanyikannya dalam bahasa Spanyol. O-le! Haha. Betapa senangnya Indah. Kapan lagi coba ... untung dia video-kan, kalau tidak ... bisa-bisa dia minta Harry dan Rojer mengulangnya itu *ngakak tebanting*.

Cieee yang ultah (pegang piring) happy tuh!

Selamat ulang tahun ya, Indah. Semoga cita-citanya menyusul Kak Ical (jadi Polwan, bukan Polki, haha) tercapai, Amin. Yang penting latihan fisiknya pelan-pelan dari sekarang *petuah nih*.

Lepet dan Ikan Bakar


Menu utama piknik kali ini adalah ikan bakar. Teman menu utama ada beberapa sih seperti lepet (semacam ketupat), nasi, dan pisang bakar. Ada juga ubi bakar tetapi si ubi datangnya setelah Harry dan Rojer bertolak ke Kota Bajawa. Mungkin pisang bakar dan ikan bakar merupakan perpaduan yang baru pertama kali dirasakan Harry dan Rojer. Mungkin. Namanya juga bergabung dengan keluarga kocak, ya harus siap-siap kocak juga, termasuk lidah. Hehe.

Mari makan!

Usai makan kami mengobrol tentang banyak hal. Didominasi tentang Kabupaten Ende. Salah satunya adalah tentang legenda cinta antara Gunung Ia, Gunung Meja, dan Gunung Wongge. Kenapa jadi bercerita tentang legenda itu, ya karena Harry bertanya tentang perbukitan di samping Gunung Meja (berpuncak datar). Itu Gunung Ia, masih aktif, dan menurut legenda, Ia adalah perempuan yang terus menangis karena leher kekasihnya yang bernama Meja ditebas oleh Wongge. Sayangnya dari Pantai Aeba'i tidak kelihatan Gunung Wonggenya.

"Jadi ... kepala Meja terpelanting ke arah Timur dan jadilah Pulau Koa, dan parang yang dipakai Wongge dibuang ke arah Barat dan jadilah Pulau Ende."

Wow kan.

Lumayanlah masih bisa cerita-cerita disela-sela gigi yang nyut-nyutan.

Acara selanjutnya ya foto-foto donk. Soalnya jarum jam terus bergerak dan saya kuatir Harry dan Rojer ketinggalan mobil travel.

Ini dia Harry Kawanda yang saya sebut sebagai traveler of the century. Soalnya kerjanya keliling dunia teruuuuus. Huhu jadi iri.

Ini dia Rojer, teman Harry asal Chile. Sampai jumpa, Roj!

Three of us.

Saya dan Thika mengantar Harry dan Rojer ke pangkalan mobil travel. Alhamdulillah, mobilnya siap berangkat karena tinggal menunggu dua penumpang lagi. Pas mantap kan. Dadagh Harry dan Rojer. Selamat bergabung bersama keluarga Pharmantara. Ditunggu kunjungan berikutnya di Kota Ende. Sekalian tinggal di sini juga boleh. Asalkan lidah kalian dapat terbiasa dengan nasi dan garam *LOL!*. Terima kasih, ya, sudah menjadi tamu spesial keluarga kami.

Terima kasih, Harry. Candid saat bibir mencong haha.

Piknik hari itu masih berlanjut hingga sore, dimana saya tertidur cukup nyenyak di pantai, dengan kepala beralas helem milik Angga. Saatnya pulang ke rumahnya Ka'e Dul dan Kakak Nani. Loh? Iya, soalnya mau dikasih ramuan buat berkumur untuk mengurangi ngilunya gigi ini. Haha. Dan lagu-lagu sendu dari email gigi kembali terdengar. Dudududu ...

⇜⇝

Bagaimana dengan kalian, kawan? Liburannya di rumah saja atau sempat piknik/wisata bareng keluarga? Bagi tahu yuk di papan komentar. Dan nantikan saya bertamu ke blog kalian hahaha. Siapkan kudapan dan air hangat buat minum obat!



Cheers.

Kepo Buku #14: Berbagi Bacaan Selama Break Rekaman

WE’RE BACK!! Setelah break rekaman selama bulan puasa kemarin, para host Kepo Buku (Steven, Opat, Toto dan Rane) kembali bertemu, bermaaf-maafan dan berbagi cerita setelah sebulan nggak ketemu. Apalagi yang jadi bahan obrolan kepo kalau bukan soal buku, khususnya yang kami baca selama sebulan break rekaman. Tentu saja dibawakan khas Kepo Buku yang mengajak siapapun untuk ngobrolin buku dengan santai dan tidak bikin kening berkerut.
Selamat mendengarkan.


Di mana dengar podcast Kepo Buku?

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

 

Terima kasih buat Hasta di Surabaya yang sudah berpartisipasi dan memicu obrolan untuk tema ini.

 

 

Kepo Buku adalah:

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku atau ke 087878505012
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 LicenseCover:

 

-rh-

 


Di mana dengar podcast Kepo Buku?

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

 

Terima kasih buat Hasta di Surabaya yang sudah berpartisipasi dan memicu obrolan untuk tema ini.

 

 

Kepo Buku adalah:

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku atau ke 087878505012
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 LicenseCover:

 

-rh-

 

Horeday #4: Tamu-Tamu Spesial di Hari Super Spesial


Saya jadi kuatir ... menulis HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday bakal membikin saya keasyikan dan lupa sama tema harian blog ini. Haha. Terlalu banyak cerita liburan yang ingin saya tulis dan bagi dengan kalian semua. It's personal, mungkin pun tidak memberi manfaat pada kalian, tapi saya suka melakukannya. Ijinkan seminggu ini Horeday memenuhi hari-hari kalian nge-blog. Setelahnya, #SeninCerita hingga #SabtuReview akan kembali hadir. Insha Allah. Silahkan baca kisah Horeday lainnya di bawah ini:


⇜⇝

Menjelang Idul Fitri kemarin, saya mendapat banyak rejeki, yaitu tamu-tamu spesial. Sungguh luar biasa Idul Fitri kali ini. Tamu yang pertama adalah seorang sastrawan NTT yang salah satu bukunya pernah saya ulas di blog ini. Namanya Bara Patty Radja. Tamu kedua, dua orang, yang salah satunya saya sebut sebagai traveler of the century. Nama traveler of the century ini adalah Harry Kawanda asal Makassar, dan Rojer asal Chile.

Bara Patty Radja


Mengenal Bara sudah lama sekali. Waktu itu duluan kenal namanya, kemudian bertemu orangnya di Kantin Uniflor, lalu bergelung bersama puisi-puisinya dalam buku Samudera Cinta Ikan Paus yang dihadiahkan oleh dosen Arsitektur Muklis A. Mukhtar saat pulang dari kegiatan kampus di Pulau Adonara. Buku itu memberikan energi positif yang dahsyat pada saya pribadi. Puisi-puisi di dalamnya tidak akan pernah bosan dibaca, bahkan jika kau membacanya setiap hari, dan terus menghadirkan pertanyaan demi pertanyaan: dari mana seorang Bara menemukan ilham mempertemukan diksi-diksi ini?


Maka, beberapa hari sebelum Idul Fitri kemarin, Mukhlis datang ke rumah, kabarnya Bara sedang liburan di Ende dan mungkinkah kita bisa kumpul-kumpul di rumah sebelum Idul Fitri. Tentu saya meng-iya-kan. Inilah saatnya untuk bisa berlama-lama mengobrol dengan seorang Bara! Tidak lupa saya mengirimkan pesan kepada teman-teman lain yang ingin mengobrol dan menggali lebih dalam dunia sastra, khususnya puisi, untuk datang. Beberapa teman memang datang, seperti Cahyadi, Deni, dan Habibi, sebagian lagi masih sibuk mengecat rumah.


Mengobrol bersama Bara membikin saya berada dalam dunia puisi itu sendiri karena pilihan katanya saat mengobrol pun terdengar puitis. Jago dan berkualitas benar orang ini, kata saya dalam hati. Jujur, mengobrol dengannya membikin pengetahuan saya menjadi lebih dan lebih, serta otak saya yang seakan terkunci itu mendadak membuka dengan sendirinya. Semua itu menjadi lebih lengkap dengan sikapnya yang low profile

Malam itu Bara membawakan buku terbarunya, dua buah, yang kemudian menjadi milik Cahyadi dan milik saya. Haha. Judulnya Geser Dikit Halaman Hatimu. Ini bukan sekadar buku kumpulan puisi biasa. Geser Dikit Halaman Hatimu, berdasarkan kutipan dari buku itu sendiri, dilengkapi dengan QR Code Audio Version Poetry Reading sehingga pembaca dapat langsung mendengarkan puisi-puisi itu. Tidak main-main, puisinya dibacakan oleh Olivia Zallianty, pegiat sastra Azizah Zubaer, dan oleh Bara sendiri. Saya belum mendengarkan suara-suara mereka saat membaca puisi-puisi dari Geser Dikit Halaman Hatimu. Tapi waktu saya membacanya ... saya larut ... lalu membacanya lagi dan lagi. Tidak bosan? Tidak!!! Ini keren!


Terima kasih, Bara ... sudah berbagi banyak cerita dengan kami, termasuk tentang 'mengundang' Najwa Sihab datang ke Pulau Lembata! Semoga suatu saat nanti bisa terwujud di Uniflor, ya. Insha Allah. Tamu saya memang spesial kan? Hehe.

Harry Kawanda dan Rojer


Tahun 2010 waktu saya lolos menjadi salah satu Petualang ACI Detik Com, masuk kloter 2, saya tidak bertemu Harry Kawanda. Karena dia masuk ke pemberangkatan kloter 4. Tapi kami yang rata-rata tidak bertemu antar kloter ini disatukan melalui milis, kemudian WAG, dan tentu kopdar-kopdar. Yang di Ende diam-diam saja deh ... kopdarnya rata-rata di Jakarta dan Denpasar. Yang saya tahu, Harry adalah petualang yang paling rajin keliling dunia, oleh karena itu saya menyebutnya sebagai traveler of the century. To Harry: kalau kau ngobrol sama Mamatua, bisa dicap Mamatua sebagai Jarum Super ⇻ jarang di rumah suka pergi-pergi. Haha.

Bertemu Harry sebelum dia dan Rojer berangkat ke Moni dan Danau Kelimutu.

Malam itu, saat sedang ada kegiatan sharing materi public speaking dan dunia SUC di Pohon Tua, saya ditelepon Harry. Intinya Harry sedang ada di Pulau Flores, hendak mengunjungi sahabat kami pemilik Manulalu di dekat Kampung Adat Bena yaitu Jane Kambey, lalu bakal ke Kelimutu, dan kalau bisa stay semalam di Kota Ende. Saya nyaris histeris tapi harus jaga image sebagai emak-emak rempong baik dan sopan hahaha. 

Malam perayaan Idul Fitri (hari pertama), setelah menegak Kataflam yang disarankan Stanis, Harry mengirim pesan WA bahwa dirinya dan Rojer sudah tiba di Kota Ende, diturunkan tepat di cabang menuju Ponpes Walisanga. Karena gigi ini sudah rada mendingan, berangkatlah saya, Stanis, Thika, dan Ical menjemput mereka untuk diantar ke rumah Stanis. Iya, karena rumah saya tidak ada kamar yang ready untuk tamu jadi Harry dan Rojer menginap di rumah Stanis si anak bujang yang rumahnya baru saja kelar dikerjakan *ngikik*.


Tamu-tamu spesial ini memberi warna baru dalam kehidupan kami hahaha. Terutama Harry dan Rojer yang kemudian saya ajak piknik bersama keluarga besar Pharmantara dan Abdullah di Pantai Aebai, pantai langganan kami piknik! Ceritanya ... besok! Hehe.

⇜⇝

Demikian Horeday #4. Tentang mereka, tamu-tamu spesial di hari super spesial, Idul Fitri, yang mau bergabung dengan keluarga kami yang ada apanya. Eh ... yang apa adanya. Hehe. Semoga mereka tidak jera ya bergabung dengan keluarga kami yang kocak ini.

Liburan saya memang istimewa. Bagaimana dengan liburan kalian, kawan?



Cheers.

Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya


Hari ketiga HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday. Saya memang mengkhususkan seminggu ini untuk bercerita hari-hari liburan seru, tak selamanya tentang Hari Raya Idul Fitri itu sendiri, yang saya alami baik bersama keluarga maupun bersama teman-teman. Kisah lainnya bisa kalian baca (di bawah ini):


⇜⇝

Idul Fitri. Hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim. Hari kemenangan setelah sebulan penuh, terutama laki-laki, menjalankan puasa mengalahkan segala hawa nafsu. Hari yang mempertemukan semua anggota keluarga Pharmantara! Asyik! Hehe. Seperti yang sudah sering saya tulis, kami memang tinggal di Kota Ende yang kecil, tapi masing-masing punya kesibukan dan aktivitas harian/rutin. Otomatis tidak setiap hari kami bisa berkumpul haha hihi. Selain piknik setiap dua minggu sekali, Idul Fitri merupakan momen yang mempertemukan kami semua. Sayangnya Idul Fitri tahun ini keluarga Abang Nanu Pharmantara liburan ke Kota Kupang. Yah ... kurang ramai karena tidak ada Syiva haha.

Idul Fitri dimulai dengan sakit gigi. Ya, salah satu geraham atas gigi saya itu bermasalah. Pertama, berlubang. Kedua, sejak kepentok sikat gigi, jadi sering eror. Tapi meskipun malam sebelum Idul Fitri saya hanya tidur satu jam, pergi ke Lapangan Pancasila untuk Shalat Eid itu tetap dijalani. Alasannya? Ketimbang berusaha tidur dengan gigi nyut-nyutan, lebih baik tetap shalat dengan gigi nyut-nyutan. Setidaknya khusyuk selama sekitar sepuluh menit itu jauh lebih baik. Menurut saya. Haha. Gigi ini sungguh terlalu.

Sebagian dari kami, usai Shalat Eid.

Usai Shalat Eid kami mulai saling mencari-cari anggota lainnya untuk sama-sama berangkat ke pemakaman umum di Jalan Perwira. Sudah menjadi rutinitas setiap kali Idul Fitri; shalat ↠ ke makam Bapa, Kakak Toto, dan Wawan ↠ pulang ke Pohon Tua ↠ sungkem dan makan bersama ↠ pergi ke rumah Paman dan Bibi. 

Empat penghuni utama Pohon Tua.

Meskipun gigi sedang nyut-nyutan saya tetap menikmati makanan khas Idul Fitri yang kali ini agak berbeda. Tidak ada opor dan ketupat! Haha. Kami menyiapkan nasi, sup ayam, ayam tomat, sayur tumis, kering tempe, kerupuk, dan sambal. Betul-betul di luar kebiasaan. Memang sengajaaaa. Hal yang sama juga terjadi dengan beberapa kudapan; dua kudapan adalah kudapan tradisional.


Encim and The Gank, assshiaaap, yang memang hebring dan heboh ini membikin Pohon Tua yang biasanya sepi menjadi supeerrrrr ramai! Mengobrol, haha hihi, makan minum, saling ejek, tingkah para cucu, sampai yang pedekate *uhuk*, pokoknya momen itu selalu bikin kangen. Keluarga besar ini memang kocak, terutama saat sungkeman ke Mamatua. Banyak kali itu wejangan dan doa-doa serta tiupan-tiupan ke ubun-ubun *LOL!*. 

Shalat, sudah.
Nyekar, sudah.
Sungkeman, sudah.
Makan-makan, sudah.
Saatnya silaturahmi ke rumah Paman Bibi!

Di rumah Bibi Hawa dan anaknya Rudi Pua Ndawa (dan Aynun).

Kalian lihat tawa saya yang lebar itu? Itu palsu. Karena sesungguhnya gigi saya sedang berada di puncak tertinggi rasa sakit.

Mengunjungi rumah Paman dan Bibi diteruskan ke rumah orangtua anggota keluarga baru, yaitu orangtuanya Titin (isterinya Angga). Luar biasa di rumah orang para cucu membikin acara sendiri yang super heboh sampai semacam terjadi ledakan bom nuklir di rumah itu hahahahaha. Sumpah, saya hanya bisa tertawa sambil menahan sakit gigi. Sakit gigi yang luar biasa ini mengantar saya tidur di sofa ruang tamu rumah calon mertuanya Kakak Nani Pharmantara. Qiiqiqiqi. Sampai tuan rumah cukup repot pula melihat saya. Ah ... penuh cerita Idul Fitri kali ini.

Pulang ke Pohon Tua, setelah menegak salah satu pain killer, saya tepar sampai malam hari. Alhamdulillah Kakak Didi Pharmantara mau berlama-lama di Pohon Tua untuk menemani tamu. Katanya saya kerjain dia hahaha. Maklum lah, ketimbang saya memaksakan diri duduk bersama tamu dengan kondisi begini? 

Clue, salah seorang tamu: traveler of the century! Haha.

Keajaiban terjadi ketika Stanis datang ke rumah dan menyarankan Kataflam bubuk sekaligus dua sachet. Ini namanya kebetulan yang manis. Karena ... saya punya dua orang tamu, traveler, yang baru tiba dari Moni. Nah, mereka bakal menginap semalam di Ende (Stanis menyiapkan rumahnya, dan terima kasih banget untuk itu). Ketika mereka tiba, saya baru selesai menegak Kataflam bubuk itu (dicampur air donk) ... dan efeknya cukup cepat! Nyeri hilang. Sekitar pukul 21.00 Wita akhirnya saya dan Stanis menjemput sang tamu dan mengantar mereka beristirahat di rumah Stanis. Tentang tamu-tamu ini, nantikan kisahnya besok!

⇜⇝

Keluarga kami, Pharmantara beserta  keluarga lain akibat dari kawin-mawin yaitu keluarga Abdullah (suami Kakak Nani Pharmantara) memang selalu heboh dan kocak di setiap kesempatan. Bukan berarti kami tidak mengalami susah dan sulitnya hidup. Kami mengalaminya juga, termasuk berantem dan saling diam! Tapi darah yang kental ini tidak dapat encer hanya karena berantem kan ya. Dan saya bahagia memiliki mereka semua dalam hidup ini. Love them all.




Cheers.