Pembalasan Laut

Gambar diambil dari sini.

Ada lima perkara utama yang saya petik *semacam memetik buah naga di kebunnya dinosaurus begitu* usai menonton filem berjudul Aquaman dengan bintang utama mantan pacar saya. Tentu pendapat kita terhadap filem ini berbeda. Tapi berbeda itu indah bukan? Apalagi berbeda tetapi tetap satu ... Negara Kesatuan Republik Indonesia. Haha. Lima perkara yang saya maksudkan itu adalah:

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

1. Cinta Dua Dunia.
2. Pangeran Berdarah Campuran.
3. Perebutan Tahta.
4. Pembalasan Laut.
5. Kebaikan Selalu Menang.

Aquaman Starring By ...


Filem yang disutradarai oleh James Wan dan diproduseri oleh Peter Safran dan Rob Cowan ini diperankan oleh Jason Momoa sebagai Arthur Cury (si Aquaman), Amber Hard sebagai Mera dengan ciri khas rambut merahnya, Willem Dafoe sebagai Nuidis Vulko, Patrick Wilson sebagai Orm Marius, Yahya Abdul-Mateen II sebagai Black Manta, Temuera Morrison sebagai Thomas Cury, dan tentu saja Nicole Kidman sebagai Atlanna si Ratu Atlantis. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya bagaimana caranya Nicole Kidman menjaga keawetannya baik wajah maupun tubuh. Dududud.

Plot


Aquaman punya plot yang bercampur antara kronologis dengan flashback. Flashback ini terutama saat Arthur muda ditempa oleh Vulko melalui latihan-latihan fisik yang lumayan keras. Jujur, awal melihat wajah Willem Dafoe saya sudah berpikir dia adalah lawan Arthur sesungguhnya yang bersembunyi di belakang Orm, tapi ternyata ... dialah (bersama Mera) sejatinya pendukung Arthur. Karena mereka tahu Arthur adalah si Kakak, yang meskipun berdarah campuran, merupakan penguasa tahta Atlantis yang sebenarnya. Lagi pula secara watak dan perilaku, Arthur lebih unggul menjadi Raja Atlantis ketimbang Orm. Bayangkan jika sebuah kerajaan dipimpin oleh raja yang lalim, perang melulu jadinya.

Cinta Dua Dunia


Sejak awal, Aquaman sudah dibuka dengan kisah cinta dua dunia ketika Thomas Cury menyelamatkan Atlanna yang terdampar di tepi pantai pada malam badai, di dekat mercusuar tempat dia bekerja. Tak lama, hubungan mereka pun berakhir dengan kelahiran Arthur yang juga punya kemampuan hidup di laut warisan Ibunya. Demi keselamatan Thomas dan Arthur, Atlanna terpaksa kembali ke Atlantis, menikah dengan Komandan Angkatan Laut Atlantis, dan melahirkan anak bernama Tula dan Orm. Jika Arthur berdarah campuran, maka Tula dan Orm berdarah murni. Benar, kawan, kita jadi ingat sama Harry Potter. Haha. Apa yang dilakukan Atlanta merupakan bukti cinta yang sesungguhnya terhadap keluarga meskipun menyakitkan. Iya, menyakitkan melihat cara Thomas menanti Atlanna di ujung dermaga setiap harinya.

Pangeran Berdarah Campuran


Sepeninggalan Ibunya yang kembali ke Atlantis, dan kemudian dibuang di Trench (jarang ada yang selamat kalau sudah dibuang di tempat sadis ini), Arthur ditempa oleh Vulko sebagai bekalnya kelak untuk menjadi penguasan Atlantis. Si darah campuran ini juga menerima petuah-petuah bijak dari Ayahnya yang murni manusia. Dia tumbuh menjadi si ganteng yang jagoan. Sikapnya yang sering 'bermain gila' membikinnya sulit untuk menerima kenyataan bahwa dirinyalah Raja Atlantis yang harus merebut tahta dari Orm. Manapula untuk bisa menguasai lautan dia harus mencari Trisula milik Raja Atlan yang disembunyikan dengan cara misterius alias penuh teka-teki.

Perebutan Tahta


Merebut tahta bukan tujuan Arthur sejak awalnya, dia lebih suka menjadi pribadi yang bebas, bodo amat dengan kehidupan laut dan tahta yang menantinya. Tapi ketika Orm mulai mengumpulkan bala tentara serta menyerang daratan dengan hempasan tsunami yang membawa serta sampah ke daratan, mata Arthur terbuka. Bersama Mera dia sempat tertangkap dan menantang Orm yang bukan tandingannya saat itu dan kalah, lalu diselamatkan lagi oleh Mera. Lantas, bersama Mera pula dia mencari Trisula Raja Atlan.

Pembalasan Laut


Ini poin juara dari Aquaman. Pesan yang disampaikan pada poin ini sungguh membikin bulu kuduk merinding dan masuk akal, meskipun dilakukan oleh si antagonis Orm. Mungkin benar, mungkin loh ya, seseorang menjadi jahat karena sudah lebih dulu dijahatin. Hehe. Orm menjadi jahat karena lautnya sudah lebih dulu rusak dan penuh polusi sampah yang menghancurkan biota laut.

Bagaimana jika laut benar-benar marah pada manusia, penghuni daratan, yang seenaknya membuang sampah dengan laut sebagai muaranya? Ngeri! Sampah yang merusak laut dilempar kembali ke daratan pada serangan pertama Orm ini membikin saya berkata, "Rasa sudah! Kita buang sampah sembarang tuh!" hahaha. Sungguh ini poin juara dari Aquaman. Katakanlah setelah menonton filem ini kita kemudian mulai sadar; mengurangi sampah plastik, mengelola sampah, membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, dan lain sebagainya ... maka efek Aquaman benar-benar dahsyat terhadap para penontonnya dan dunia ini.

Kebaikan Selalu Menang


Ya, namanya juga filem superhero, kebaikan selalu menang. Apalagi kemudian Arthur dan Mera kembali bertemu dengan Atlanna di Trench.


Secara keseluruhan, Aquaman menyajikan kisah yang unik tentang seorang superhero. Biasanya kita melihat superhero di daratan. Tapi ini di dalam laut yang ... yang dalam sih ... hehe. Dan pemilihan tokohnya juga ngepas. Menurut pendapat pribadi saya: Jason Momoa melepas karakter Khal Drogo yang suram dengan mata penuh eyeshadow hitam, menjadi Arthur yang sering bercanda dan sorot mata yang lebih bersinar. Dan otot kekarnya itu membikin awwww sekali kan ya hahaha. 

Bagaimana pendapat kalian tentang filem ini, kawan? Bagi tahu yuk di papan komentar! Selamat menikmati akhir minggu yang bahagia :D



Cheers.

Timur Punya Cerita


Halo hola! Tidak terasa sudah tiga hari saya tidak nge-blog. Tidak menulis cerita. Tidak memperbarui konten blog. Pun lebih lama lagi; saya jarang blogwalking dan merusuh di blog kawan blogger sekalian. Sakau? Sedikit. Tapi lelah ini telah lebih dulu merenggut kesadaran sehingga perjalanan ke dunia mimpi menjadi begitu mulus tanpa jerawat. Saya bahkan tidak diijinkan untuk protes. Perjalanan ini, sesungguhnya, telah mengajarkan saya dan dinosaurus rasa rindu pada bantal dan guling. Haha. Maka hari ini, setelah 680an kilometer berkendara bersama Onif Harem, saya punya kesempatan yang begitu banyak untuk menulis, menulis, dan menulis.

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Peringatan: pos ini akan sangat panjang tapi penuh cerita menarik terutama #JalanJalanKerja memberikan saya kesempatan untuk mencapai beberapa lokasi wisata.

Mari kita mulai cerita panjang ini.

Menyisir Timur Pulau Flores dari Kota Ende Menuju Kota Maumere


Senin, 18 Februari 2019. Sepagi itu, pukul 04.00 Wita saya dan Thika sudah bersiap. Rencananya kami, tim sepeda motor, berangkat pukul 05.00 Wita dari Kota Ende menuju Ibu Kota Kabupaten Sikka yaitu Kota Maumere. Malam sebelumnya tim bis Uniflor sudah duluan berangkat. Tim motor ini terdiri dari: Pak Anno Kean, Pak Us Bate, Ibu Violin Kerong, Cesar Sarto, Rolland, dan saya yang ditemani Thika. Meskipun saya memanggil mereka dengan embel-embel 'Pak' dan 'Ibu' tapi sebenarnya usia mereka masih muda. Ndilalah kami malah baru ngegas pukul 05.45 Wita karena masih menunggu Pak Us yang pada WAG menulis otw tapi baru tiba  di check point satu jam setelahnya. Haha.

Sepagi itu speedometer masih bergerak normal antara 60km/jam sampai 80km/jam. Saya tahu, tiga sepeda motor yang dikendarai para lelaki itu memang sengaja menahan gas agar sepeda motor yang dikendarai dua perempuan (saya dan Viol) bisa seirama dengan mereka. Tiba di Kecamatan Wolowaru sekitar pukul 07.30 Wita kami beristirahat sejenak untuk ngopi-ngopi di sebuah warkop yang pemiliknya ramah sekali. Tidak marah meskipun kami ributnya bukan main. 


Jarak dari Kota Ende ke Kecamatan Wolowaru adalah 65 kilometer. Betul, menuju Kecamatan Wolowaru kami melewati Kecamatan Detusoko.

Kelokan Antara Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Watuneso yang Bikin Mabuk



Inilah titik perjalanan paling membosankan; Kecamatan Wolowaru - Kecamatan Watuneso yang berjarak 28,1 kilometer. Membelah hutan, sekali dua bertemu rumah penduduk, dan kelokan (kadang kelokan kanan-kiri itu tidak ada jedanya sama sekali) tiada akhir. Viol memimpin di depan. Kepemimpinan Viol dalam iring-iringan ini membikin para lelaki sadar bahwa tidak ada gunanya mereka menahan gas dan speedometer. Haha. Tapi kelokan jelas membikin saya pusing bukan main dan percaya bahwa menjadi seorang Valentino Rossi itu tidak mudah. Tiba di SMA pertama dalam perjalanan menyisir ini, saya dan Viol saling mengeluh pusing. Thika? Aduhai keponakan paling setia itu cuma bisa menelan lidah getir.


Sekolah pertama yang kami kunjungi, yang merupakan bagian tugas saya dan Viol adalah SMA Karitas Watuneso. Sayangnya kami tidak dapat bersosialisasi karena murid-murid sedang punya kegiatan. Hiks. Menitip pamflet setelah bertemu kepala sekolah kami pun pamit.


Setelah pamit, tim sepeda motor berpencar. Pak Anno dan Pak Us melanjutkan perjalanan ke kecamatan lain di Kabupaten Sikka, kami yang tersisa menuju Kecamatan Paga.

Kecamatan Paga dan Pantainya


Kecamatan Watuneso dan Kecamatan Paga adalah dua kecamatan yang membatasi wilayah Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka. Jaraknya hanya 14,6 kilometer. 


Di Kecamatan Paga, tim sepeda motor berpencar lagi. Cesar dan Rollan segera meluncur menuju sebuah SMK di Kecamatan Lela. Di Paga, saya dan Viol berhenti untuk mengunjungi SMA Alvarez Paga yang dipimpin oleh seorang Romo. Kami diberi kesempatan untuk melakukan sosialisasi di salah satu kelas dalam jeda tryout sesi satu. 


Kecamatan Paga terkenal akan garis pantainya yang memukau, berpasir putih, mempunyai pemecah ombak, serta dari kejauhan nampak ombak bergelung meskipun bukan ombak besar untuk surfing itu. Di tepi pantai juga terdapat saung dan bale-bale untuk beristirahat. Memesan kopi? Silahkan. Fotonya nanti dalam perjalanan pulang hehe.

Mencari SMA Negeri Nita


SMA Negeri Nita tidak terletak di jalan trans Pulau Flores sehingga saya dan Viol harus bertanya sana-sini terlebih dahulu. Tapi ... a-ha! Kembali Thika memainkan Google Map. Ketemu! Di SMA Negeri Nita kami diijinkan melakukan sosialisasi kepada murid-murid. Rasanya senang sekali ketika mereka sangat menghargai perjalanan jauh kami dari Kabupaten Ende hahaha.



Ke mana setelah SMA Negeri Nita? Kami meluncur ke Kota Maumere sebagai Ibu Kota Kabupaten Sikka. Masih ada tiga sekolah tujuan kami yaitu MAS Muhammadiyah, SMKN 2 Maumere, dan SMA Negeri Magepanda.

Ikan Hiu dan I Love You


Inilah sekolah yang pemandangan lautnya saya pos Senin kemarin; Laut Belakang Sekolah. MAS Muhammadiyah terletak di wilayah Nangahure (arah Utara) dari Kabupaten Sikka. Sayangnya kami tidak dapat melakukan sosialisasi di sekolah ini karena murid-murid sedang bersiap untuk Shalat Duhur. Yang lucunya, Thika malah digoda oleh seorang murid laki-laki yang dengan nekatnya datang ke ruang guru dan berkata: 

Assalamu'alaikum, Kakak. Ikan hiu (ada lanjutannya tapi tidak kedengaran jelas), I love you!

Saya dan Viol menahan ngakak. Tuhaaaaan. Thika oh Thika, masih dianggap anak SMP atau SMA saja dirimu itu. Padahal sudah tahun kedua kuliah hahaha. Gara-gara itu, akhirnya kami memanggil Thika dengan julukan IKAN HIU.



Sungguh kalau saya diijinkan sekolah lagi, saya mau sekali sekolah di MAS Muhammadiyah ini, biar tiap hari sepulang sekolah bisa nyebur dan bergabung dengan para nelayan.

Alumni Uniflor Ada Di Mana-Mana


Sebenarnya kami sudah ingin menyerah dan pergi ke hotel tempat semua anggota tim menginap di Hotel El Tari Indah. Tapi kok sayang, karena letak SMKN 2 Maumere ini sudah cukup dekat dari MAS Muhammadiyah, lebih ke arah Utara. Maka kami pun tiba di sekolah yang ternyata sekolah pelayaran ini. Meskipun tidak sempat memberikan sosialisasi, hanya menyerahkan surat dan pamflet, tapi kami beruntung bertemu alumni Uniflor yang mengajar di sana.


Sebenarnya bukan hanya di sekolah ini terdapat alumni Uniflor yang mengabdi sebagai guru, hampir di semua sekolah yang dikunjungi juga ada alumni Uniflor, hanya saja tidak bisa bertemu karena mereka sedang mengajar sedangkan kami terburu waktu.

Bertemu Ocepp Rewell


Dari SMKN 2 Maumere kami memutuskan untuk pergi ke Hotel El Tari Indah yang terletak di Jalan El Tari Kota Maumere. Hotel ini terletak tepat di pinggir jalan. Di bagian depannya terdapat restoran mini yang juga dimiliki oleh si pemiliki hotel.


Usai makan siang, soto ayam kampung, saya memutuskan untuk segera check in dan beristirahat. Saya ngorok, Viol ke rumah saudaranya, Thika pergi jalan-jalan bersama keponakan lain bernama Vil yang memang tinggal di Kota Maumere bersama orangtuanya. Sebenarnya ada banyak orang yang ingin saya temui di Kota Maumere baik sahabat maupun keluarga. Tapi ... sumpah, tubuh saya butuh dicas utuh haha. Senangnya adalah si Ocha alias Ocepp Rewell berjanji akan datang ke hotel. Hore!


Ocha datang ke hotel tak lama setelah Thika pulang dari mengunjungi rumah-rumah keluarga termasuk ke Kantor Telkom untuk bertemu keluarga yang bekerja di sana. Dari Tanta Ella (mamanya Vil) Thika membawa cumi, ikan, sambal, dan peyek kacang. Ocha membawa burger, sukun goreng, dan martabak manis. Oalaaaah ... diet saya hancur sehancur-hancurnya pada hari itu. Mengobrol bersama Ocha menuntaskan rindu pada bawelnya dia hahaha. Kami masih haha-hihi sampai selepas maghrib, saatnya kami harus ke Tobuk Gramedia untuk bisnis Triwarna Soccer Festival terutama bagian pameran dan membeli buku pesanan Meli.

MoF Art Gallery (and Cafe)


Urusan bisnis di Tobuk Gramedia Maumere, dengan supervisor-nya karena manajer sedang tidak di tempat, belanja-belenji termasuk membeli agenda cover kuning bekal lanjutan T-Journal, kami merapat ke MoF Art Gallery (and Cafe) yang terletak di Pasar Senja.




Usai makan malam, kembali ke hotel, dan saya pun tidur. Tidur kesorean, karena toh Ocha dan Thika masih kembali ke Tobuk Gramedia untuk membeli novel dan Viol masih kembali ke rumah saudaranya. Pokoknya saya butuh tidur!

Sekolah Di Negeri Dongeng


Selasa, 19 Februari 2019, masih satu sekolah yang harus saya dan Viol kunjungi yaitu SMA Negeri Magepanda. Perjalanan menuju Magepanda sekitar 34,4 kilometer (pergi-pulang 68 kilometer) dengan bertemu dua kali jalan putus yang tentu tidak akan bisa dilewati saat hujan. Untung ... cuaca cerah! Google Map membantu kami menemukan sekolah ini karena memang tidak terletak di pinggir jalan utama.


Inilah sekolah di negeri dongeng, terletak di kaki bukit-bukit hijau yang mirip Bukit Teletubbies. Saya juga mau ah sekolah lagi di SMA ini hahaha. Manapula Kepseknya ramah sekali, suka guyon, dan banyak bercerita ini itu. Kami juga bertemu alumni Uniflor yang sudah lamaaaaa sekali lulus, dan dua alumni lainnya yang lulus di atas tahun 2000.


Kata Kepsek, "Ibu ... kalau sekarang mendung, saya terpaksa ibu pulang ke Maumere karena kalau mulai hujan, saya jamin ibu terpaksa menginap di sini! Hahaha!"

Dan inilah kondisi salah satu ruas jalan yang putus (sangat dalam) sehingga kalau hujan, dialiri air yang meluap:


Harus hati-hati dan pelan-pelan jika tidak ingin mencium tanah kering berdebu serta bebatuannya. Tapi pemandangan jalan putus ini ibarat secuil halangan karena pemandangan sepanjang jalan dari Kota Maumere ke Magepanda itu ausam sekali! 





Menuju Kabupaten Flores Timur


Pulang dari SMA Negeri Magepanda kami kembali ke hotel untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan ke arah Timur (lagi) yaitu ke Kabupaten Flores Timur dengan jarak 128 kilometer. Ada banyak sekali SMA yang menanti kami di sana hahaha. Gayanya menulis ini.


Perjalanannya jauh. Memang. Kami lebih dulu berangkat dari tim bis. Sempat istirahat di Boru dan Puncak Konga di Titihena sebelum menuju Kota Larantuka sebagai Ibu Kota Kabupaten Flores Timur.




Pokoknya, nanti ya akan saya ulas satu-satu lebih detail. Pos ini secara garis besar saja ... garis besar yang lumayan panjang *senyum malu*.

Papi Mami di Puumbao


Sayangnya kami tidak berlama-lama di rumah Pak Anno di Waibalun karena Papi Mami sudah menunggu di Puumbao, di Kota Larantuka-nya. Saya, Viol, dan Thika memang tidak menginap di Hotel Lestari Larantuka karena memang ingin menginap di rumah Papi Nani Resi dan Mami Dete yang dulunya tinggal di Kota Ende. Kedua orangtua yang baik ini sudah menunggu kami dan menyiapkan makan malam. Tak lupa kopi! Yuhuuuu. Kisah tentang Papi Mami di lain pos ya.

Ini fotonya waktu mau pulang. Wajah si Mami sedih begitu karena rumahnya kembali sepi.

Malam itu, Cesar dan Rolland bergabung, kami mengobrol ramai di rumah Papi Mami yang sejuk dan nyaman itu. Papi mendengarkan dan terbahak-bahak mendengar celoteh kami. Mami lebih memilih duduk di teras sambil mengunyah sirih-pinang. Sepulang Cesar dan Rolland pun, kami masih mengobrol di teras sambil Mami memijit Viol dan Saya. Ikan Hiu? Eh, Thika? Ngorok!

3 SMA di Larantuka

Rabu, 20 Februari 2019, ada tiga SMA yang wajib kami kunjungi sementara tim bis menuju Tanjung Bunga. Cesar dan Rolland pun mendapat jatah tiga SMA. Okay, mari jalan! Setelah menegak kopi yang dibikin Mami, kami pun berangkat.

"Jalan bae-bae, Oa eeee. Jangan makan di luar, pulang makan di rumah!" pesan Mami.







Dan tentu saja kami pulang makan siang di rumah karena Mami sudah memasak ... ikan goreng segar yang manis dan sambalnya itu cihuy banget! Aduhai Papi Mami, kalian begitu luar biasa, hati kalian lapangnya luar biasa. Saya belajar banyak dari kalian. Sungguh ... saya pengen nangis. Terima kasih Papi Mami; kami datang, kami ribut, kami kotorkan rumah, kami pulang. Hehe.

Kembali ke Kota Maumere


Ya, setelah makan siang dan dibekali pula pisang goreng dan sambal maknyus a la Mami, kami pun pamit pulang ke Kota Maumere, pamitan sama tim bus dan sebagian tim motor yang masih menginap semalam di Waibalun, di rumah orangtuanya Pak Anno. Perjalanan siang itu mengantar kami tiba di daerah Kabupaten Sikka pada senja hari. Tentu, kami mampir sebentar di Boru untuk ngopi dan menikmati pisang goreng serta sambal maknyus itu.




Kaki saya sungguh lelah karena mengendarai Onif Harem yang matic, kaki jarang diluruskan.

Tiba di Kota Maumere sudah gelap. Kami langsung ke rumah kakaknya Viol. Saya sudah tidak bisa bergerak lagi. Langsung tepat setelah mandi dan keramas (aduh ini kepala guatalnya tak tahan hahaha). Sampai keesokan harinya, pagi-pagi hari, saya dan Thika pergi ke rumah Tanta Ella di daerah Misir Kota Maumere, yang disusul Cesar dan Rolland.

Keluarga Adalah Segalanya


Kamis, 21 Februari 2019, di rumah Tanta Ella kami disuguhi kopi dan tentu ditahan untuk makan terlebih dahulu sebelum ngegas ke Kota Ende.


Sungguh, keluarga adalah segalanya. Berhubungan darah atau tidak, mereka akan selalu menanti kedatangan keluarga lainnya dengan wajah berseri-seri dan kelapangan hati yang luar biasa. Mereka tidak akan rela keluarga lainnya terkena hujan apalagi lapar! Tidak akan pernah terjadi hal semacam itu. Mereka, bahkan, akan mengomelimu kalau tidak mampir. Sungguh ... keluarga adalah segalanya.

Terimakasih Tanta Ella, Bapatua, dan Vil. Terima kasih.

Ngopi di Paga dan Persawahan di Detusoko


Mari pulang kampung. Perjalanan pulang ini berformasi: saya, Thika, Cesar, Rolland, dan Rudi. Viol masih bertahan di Kota Maumere mengurusi pekerjaannya sehingga sepeda motornya dibawa pulang oleh Rudi. Dalam perjalanan pulang ini, mungkin karena setelah makan siang, saya didera kantuk yang luar biasa hebat. Akhirnya menyerah dan berhenti di saung pinggir jalan di Paga (dan pinggir pantai) untuk ngopi sejenak.


Anak pemilik saung, namanya Cici. Dia begitu cantik dan membikin saya harus memotretnya saat itu juga hehe. Sedangkan Thika memilih pergi ke pantai untuk foto-foto di sana. Nanti deh hasilnya saya pamerkan di lain pos. Kuatir kalian iri hahahah.

Setelah ngopi-ngopi di sini, kami terus ngegas ke Ende tanpa berhenti karena saya sudah sangat merindukan Mamatua. Satu kali berhenti di daerah Detusoko untuk memotret pemandangan ini:


Terima kasih Allah SWT atas alam yang indah ini.


Senin - Kamis. Perjalanan panjang ke arah Timur Pulau Flores di dua kabupaten. Lelah tapi menyenangkan. Saya selalu suka #JalanJalanKerja begini. Karena ketika urusan pekerjaan sudah selesai, bisa sekalian jalan-jalan kan hehe. Pos yang panjang ini pun belum sempurna. Masih banyak yang ingin saya ceritakan terpisah ... karena memang harus dipisah. Semoga mata kalian tidak eror setelah membaca pos yang panjang ini hahaha *cubit dinosaurus*.

Perjalanan setotal 680an kilometer. Done!

Well, selamat berakhir pekan, kawan! 



Cheers.

Dream Big, Dream Bigger With JNE Loyalty Card (JLC) Award 2019


Apa mimpi kamu yang belum terjadi di kehidupan kamu saat ini? Apapun mimpimu, jangan menyerah dan lanjutkan perjuangan. Percaya atau tidak, mimpi yang selalu diingat dan berusaha untuk mencapainya, maka mimpi itu akan menjadi nyata. Begitu juga dengan pebinis dengan skala kecil yang terus tumbuh, termasuk yang berjualan online dengan aplikasi online shop dan social media. Dan, untuk mengapresiasi perjuangan pelangganya yang kebanyakan dari online shop, JNE memberikan penghargaan melalui JLC (JNE Loyalty Card) Award 2019. Apa saja sih yang didapatkan oleh pelanggan JNE? Ternyata bukan hanya satu atau dua hadiah saja melainkan banyak hadiah mulai dari paket wisata ke New Zealand, Korea Selatan, Mobil, Motor, Gadget dan banyak lainnya. 

Kembali lagi ke mimpi, saya termasuk yang ngga percaya begitu saja dengan mimpi. Dulu saya memang pemimpi, tapi karena kembali ke dunia kerja yang penuh dengan perhitungan rasional dan matematis, maka mimpi itu terlanjur saya abaikan. Ya, memang saya harus rasional, namun kadang saya juga punya mimpi-mimpi yang menjadi target dan sebagai bagian dari reward. Siapa sih yang ngga kepengen dapat reward seperti jalan-jalan atau sekedar refreshing dari jenuh pekerjaan yang sudah kita geluti beberapa tahun belakangan ini? Tentunya semua orang memiliki mimpi dan angan-angan. 


Memori saya selalu membawa kembali ke tahun 2012, dimana saya bisa menginjakan kaki pertama kali di Jepang. Pada saat itu saya hanya mengandalkan buku traveling ke Jepang hanya 2 jutaan karya Claudia Kaunang dan maps offline. Kalau sekarang sudah banyak sim card atau wifi sehingga memudahkan mencari sebuah alamat atau bahkan aplikasi transportasi yang memudahkan kita untuk kemana-mana. Jadi setengah nekat dan berdasarkan informasi buku serta maps offline , saya menjelajah Tokyo, Hakone, Yokohama dan Kamakura. Awalnya saya pengen melihat Gunung Fuji di daerah Kawaguchiko. Namun, karena salah informasi malah membawa saya ke Hakone. Hakone juga meruapakan salah satu spot untuk melihat Gunung Fuji dari sisi yang lain. Alhamdulillah, malah saya menemukan pengalaman lainnya salah satunya adalah naik kapal pesiar dan mengelilingi danau indah dengan pemandangan Fuji, sayangnya tidak nampak karena tertutup awan.

Pengalaman pertama kali ke Jepang ini membuat saya selalu ingin menjelajah negara lain dan membuaat memori yang tidak terlupakan. Dengan traveling saya belajar banyak hal terutama budaya negara lain serta memberikan motivasi lebih untuk lebih baik dari hari ke hari.



Sama dengan mimpi keliling dunia, pelanggan JNE pun memiliki banyak sekali mimpi yang ingin diwujudkan misalnya handphone baru, motor, mobil atau pengen jalan-jalan ke tempat yang belum dijelajahi sama sekali. Jangan khawatir karena JNE ingin sekali mewujudkan mimpi-mimpi yang belum terealisasi dalam waktu yang tidak sebentar.

JNE Loyalty Card (JLC) memberikan banyak hal seperti pengumpulan poin untuk undian dan juga resi atau bukti pengiriman yang membuat semakin besar kesempatan untuk memenangkan hadiah-hadiah yang telah disebutkan seperti paket wisata (traveling), mobil, motor, gadget dan banyak lainnya. Dan, bukan hanya satu atau dua saja melain banyak sekali kesempatannya.

Kalau belum punya JLC bagaimana cara membuatnya? Caranya sangat mudah, bisa membuat JLC di agen-agen JNE terdekat dari rumahmu. Informasi lebih lengkap bisa ke https://jlc.jne.co.id/.



Online Shop dan Social Media membuka banyak kesempatan masyarakat untuk membuka bisnis terutama menjual barang atau produk baik lokal maupun barang populer yang menarik dan laku dijual. Sangat terbuka bagi siapapun yang memiliki passion atau jiwa dagang yang tinggi dan bukan banyak dominasi dari pemodal besar namun juga pemodal kecil atau UKM pun punya kesemapatan yang sama untuk menjadi besar. Dream Big, Dream Bigger. Mimpi menjadi pengusaha sukses itu sudah didepan mata jika kita memiliki kemauan dan kerja keras untuk mewujudkannya. Memang tidak mudah tapi tidak ada yang tidak mungkin.

Lihat saja Atta Halilintar dan Ria Ricis, mereka berdua membuktikan bahwa 10 juta subscriber di youtube bukanlah hal yang mungkin jika disertai dengan kerja keras. Yuk, mulai dari sekarang dan menjadi seorang yang bermimpi besar dan selalu menginspirasi.




Kepo Buku #6: Dari Little Wisdom, Panda Amerika, sampai Pensiun Gaul

Episode 6 ini kita mengulas sejumlah buku rekomendasi para host Kepo Buku serta satu review kiriman dari seorang teman dari Pontianak. Buku yang dibahas kali ini cukup beragam, mulai dari buku yang isinya tentang parenting tapi dari sudut pandang anak; sebuah novel tentang budaya, keluarga dan menjadi diri sendiri; novel grafis tentang seorang anak pelaku pembunuhan berantai, kumpulan cerpen karya penulis legendaris Amerika hingga ke satu buku tentang persiapan pensiun.
Tamu: Rudy Hartono di Pontianak yang mengirimkan satu review bukunya. Makasih Bang Rudy.


Di mana dengar podcast Kepo Buku?

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

Buku yang Dibahas di Episode ini:

  • Little Wisdom (Reti Oktania, Penerbit ByPass)
  • Si Panda Amerika (Gloria Chao, Penerbit Gramedia)
  • What We Talk About When We Talk About Love (Raymond Carver, Penerbit Alfred A. Knopf)
  • My Friend Dahmer (John ‘Derf’ Backderf)
  • Pensiun Gaul (Tessie Setiabudi, Penerbit Gramedia) – Review dikirim oleh Rudy Hartono di Pontianak

Kepo Buku adalah:

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 LicenseCover:

 

-rh-

 

Wisata Imlek ‘Anti Mainstream’ Selain Petak Sembilan Di Jakarta


Biasanya setelah Imlek (Tahun Baru China), sekitar 15 hari setelahnya terdapat perayaan lain yang disebut Cap Go Meh. Singkawang, Kalimantan Barat, merupakan salah satu tempat spesial yang merayakan Cap Go Meh dengan meriah. Sayang, tahun ini tidak kesampaian ke Singkawang namun bisa merasakan momennya di Jakarta. Selain Petak Sembilan, ternyata banyak sekali tempat wisata bernuansa imlek yang anti mainstream dan biasanya sangat tersembuyi. Makanya setiap tahun biasanya saya menyempatkan diri untuk menjelajah tempat-tempat tersebut. Oh iya, selain kawasan glodok, kita bisa mampir juga ke Kota Tua, pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari dan kawasan lainnya yang jaraknya tidak terlalu jauh. 

Bagi saya, merasakan nuansa imlek itu sungguh mengangumkan. Dari kecil saya hanya melihat masjid dan gereja saja, jarang sekali mendapati vihara atau klenteng. Di Jakartalah, saya mulai mengenal tempat-tempat unik seperti Petak Sembilan. Kata orang, saya lebih tertarik dengan klenteng dibandingkan dengan masjid. Mungkin karena telat terbiasa ke masjid, saya sudah tidak penasaran dengan bentuk atau ornamennya, kecuali masjid dengan arsitektur yang sangat unik. Saya tidak menolak jika dijuluki "Pemburu Klenteng". 


"Man, mau kemana hari ini?"

Saya ditanya Halim, waktu itu saya berada di Solo.

"Aku mau jajan di pasar sekalian cari klenteng."

"Kebetulan banget di depan pasar ada klenteng pertama di Solo."

"Oke, kita janjian di klenteng itu ya."

Jadi bukan hanya satu atau dua kali saja saya selalu menyempatkan diri untuk ke klenteng, selain masjid tentunya, bahkan setiap ke kota-kota lainnya klenteng adalah hal wajib saya kunjungi. Rasa penasaran saya itu seakan bertambah ketika menemukan sebuah klenteng yang biasanya tak jauh dari sebuah pasar. Konon katanya, pasar dan klenteng itu sudah seperti alun-alun dan masjid, selalu berdampingan dan menjadi sebuah simbol karena rata-rata pedagang itu berasal dari Tionghoa. 


Selain Petak Sembilan, ternyata banyak tempat bernuansa imlek yang jarang atau bahkan sama sekali di dengar oleh masyarakat Jakarta. Yup, sebut saja Candra Naya, Gereja Santa Maria de Fatima dan Vihara Dharma Jaya Toasebio. 

Candra Naya


Rumah yang disebut Candra Naya tersebut adalah rumah terakhir Mayor China di Batavia. Zaman Hindia Belanda dulu, diangkat seseorang untuk mewakili etnisnya.

Ialah Mayor Khouw Kim An yang lahir di Batavia 5 Juni 1879. Kariernya termasuk cemerlang di pemerintahan Batavia. Pada 1905 diangkat menjadi Leutenant, 1908 dipromosikan menjadi Kapitan, dan 1910 naik pangkat lagi menjadi Mayor.

Rumah ini memang terletak diantara gedung tinggi di kawasan jalan Gajah Mada di Jakarta, sehingga tidak banyak yang tahu bahwa disinilah sejarah penting pernah terjadi dan menjadi saksi bisu banyak peristiwa pada masa Batavia. 


Gereja Santa Maria de Fatima


Gereja Santa Maria de Fatima adalah sebuah Gereja Katolik di Jakarta. Gedung ini dibangun dengan arsitektur Tionghoa. Setelah adanya tugas pelayanan dan pewartaan dari Vikaris Apostolik Jakarta, Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ kepada Pater Wilhelmus Krause Van Eeden SJ, maka didirikanlah gereja, sekolah, dan asrama bagi orang-orang Hoakiau (Cina Perantau). Sebagai awal, dipilihlah Pater Antonius Loew SJ dari Austria sebagai kepala paroki dan Pater Leitenbauer sebagai pengelola sekolah yang pertama. Sekolah itu dinamakan Sekolah Ricci, berasal dari nama imam missionaries Yesuit, Matteo Ricci.

Usaha Pater Leitenbauer, yang dibantu oleh Pater Braunmandl, Pater Loew, dan Pater Tcheng, berjalan dengan lancar, dan mereka juga membuka kursus bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin, yang dikenal dengan sebutan Ricci Evening School, dan asrama yang dikelola oleh Pater Tcheng diberi nama Ricci Youth Center.


Kemudian tahun 1953 dibelilah sebidang tanah seluas 1 hektare, untuk digunakan sebagai kompleks gereja dan sekolah, dari seorang kapitan (lurah keturunan Tionghoa pada Zaman Penjajahan Belanda) bermarga Tjioe, dan pada tahun 1954, tanah dan bangunan itu resmi menjadi milik Gereja. Di atas tanah itu berdiri sebuah bangunan utama dengan 2 bangunan mengapit bangunan utama, yang memiliki 2 buah patung singa yang merupakan lambang kemegahan bangsawan Cina.

Vihara Dharma Jaya Toasebio


Kelenteng Toasebio adalah salah satu dari klenteng tua yang masih berdiri di Jakarta. Toasebio sendiri adalah gabungan dari dua kata yakni Toase yang berarti pesan dan Bio adalah kelenteng. Kelenteng yang dibangun di tahun 1755 ini menyembah dewa Qing Yuan Zhen Jun (Tjeng Gwan Tjeng Kun).

Kelenteng Toasebio sudah berdiri di tempatnya yang sekarang sejak semula didirikan pada sekitar menjelang pertengahan abad ke-18 oleh komunitas Tionghoa asal Kabupaten Tiothoa/Changtai di Keresidenan Ciangciu/Zhangzhou dan¯dengan sendirinya¯tidak pernah dipindahkan dari tempat lain. 


Nama resmi kelenteng ini¯sebagaimana tertera pada papan nama di gerbang kelenteng¯adalah Hong-san Bio/Fengshan Miao (`Kelenteng Gunung Burung Hong'). Akan tetapi, karena Cheng-goan Cin-kun / Qingyuan Zhenjun, dewata pelindung masyarakat Kabupaten Tio-thoa/Changtai, juga dikenal sebagai Toa-sai Kong / Dashi Gong (`Paduka Duta Besar'), maka kelenteng ini juga dikenal sebagai kelenteng Toa-sai Bio/Dashi Miao (`Kelenteng Duta Besar'). Nama Toa-sai Bio di lidah penduduk lama-kelamaan berubah lafal menjadi Toa-se Bio dan menjadi nama jalan dimana kelenteng ini berada dan juga nama lingkungan sekitarnya. Nama Toasebio ini sampai sekarang masih dipakai, dari sinilah nama paroki di lingkungan ini, Paroki Toasebio.

Menginap Di Hotel Jalan Gajahmada, Jakarta

Setelah keliling Glodok dan sekitarnya, jika berasal dari luar kota, maka yang paling tepat untuk menginap adalah hotel di jalan Gajahmada. Hotel di Jakarta ini memang sangat unik karena sangat tinggi tingkat huniannya dan lokasinya sangat beragam hingga sangat dekat dengan obyek wisata. Jadi tak perlu khawatir dengan transportasi karena dengan jalan kaki pun bisa menjangkau tempat ini. Oh iya, selain itu bagi yang tidak memiliki budget tipis tapi mengharapkan hotel bintang 5,4, atau 3, bisa saja mendapatkan harga murah atau harga promo



Bagaimana memesannya? Gampang sekali karena tinggal akses website/aplikasi pegipegi dan pesan sesuai dengan lokasi yang diinginkan misalnya Gajahmada, Jakarta. Kemudian pilih tanggal dan berapa lama akan tinggal. Setelah itu selesaikan transaksi, bayar dan hotel pun sudah siap ketika sampai di lokasi. 

Wah, memang sangat mudah banget tinggal klik, pesan, bayar dan siap digunakan deh. Ngga perlu repot telpon dan email hotelnya segala macem ya. 


Wisata Imlek ‘Anti Mainstream’ Selain Petak Sembilan Di Jakarta


Biasanya setelah Imlek (Tahun Baru China), sekitar 15 hari setelahnya terdapat perayaan lain yang disebut Cap Go Meh. Singkawang, Kalimantan Barat, merupakan salah satu tempat spesial yang merayakan Cap Go Meh dengan meriah. Sayang, tahun ini tidak kesampaian ke Singkawang namun bisa merasakan momennya di Jakarta. Selain Petak Sembilan, ternyata banyak sekali tempat wisata bernuansa imlek yang anti mainstream dan biasanya sangat tersembuyi. Makanya setiap tahun biasanya saya menyempatkan diri untuk menjelajah tempat-tempat tersebut. Oh iya, selain kawasan glodok, kita bisa mampir juga ke Kota Tua, pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari dan kawasan lainnya yang jaraknya tidak terlalu jauh. 

Bagi saya, merasakan nuansa imlek itu sungguh mengangumkan. Dari kecil saya hanya melihat masjid dan gereja saja, jarang sekali mendapati vihara atau klenteng. Di Jakartalah, saya mulai mengenal tempat-tempat unik seperti Petak Sembilan. Kata orang, saya lebih tertarik dengan klenteng dibandingkan dengan masjid. Mungkin karena telat terbiasa ke masjid, saya sudah tidak penasaran dengan bentuk atau ornamennya, kecuali masjid dengan arsitektur yang sangat unik. Saya tidak menolak jika dijuluki "Pemburu Klenteng". 


"Man, mau kemana hari ini?"

Saya ditanya Halim, waktu itu saya berada di Solo.

"Aku mau jajan di pasar sekalian cari klenteng."

"Kebetulan banget di depan pasar ada klenteng pertama di Solo."

"Oke, kita janjian di klenteng itu ya."

Jadi bukan hanya satu atau dua kali saja saya selalu menyempatkan diri untuk ke klenteng, selain masjid tentunya, bahkan setiap ke kota-kota lainnya klenteng adalah hal wajib saya kunjungi. Rasa penasaran saya itu seakan bertambah ketika menemukan sebuah klenteng yang biasanya tak jauh dari sebuah pasar. Konon katanya, pasar dan klenteng itu sudah seperti alun-alun dan masjid, selalu berdampingan dan menjadi sebuah simbol karena rata-rata pedagang itu berasal dari Tionghoa. 


Selain Petak Sembilan, ternyata banyak tempat bernuansa imlek yang jarang atau bahkan sama sekali di dengar oleh masyarakat Jakarta. Yup, sebut saja Candra Naya, Gereja Santa Maria de Fatima dan Vihara Dharma Jaya Toasebio. 

Candra Naya


Rumah yang disebut Candra Naya tersebut adalah rumah terakhir Mayor China di Batavia. Zaman Hindia Belanda dulu, diangkat seseorang untuk mewakili etnisnya.

Ialah Mayor Khouw Kim An yang lahir di Batavia 5 Juni 1879. Kariernya termasuk cemerlang di pemerintahan Batavia. Pada 1905 diangkat menjadi Leutenant, 1908 dipromosikan menjadi Kapitan, dan 1910 naik pangkat lagi menjadi Mayor.

Rumah ini memang terletak diantara gedung tinggi di kawasan jalan Gajah Mada di Jakarta, sehingga tidak banyak yang tahu bahwa disinilah sejarah penting pernah terjadi dan menjadi saksi bisu banyak peristiwa pada masa Batavia. 


Gereja Santa Maria de Fatima


Gereja Santa Maria de Fatima adalah sebuah Gereja Katolik di Jakarta. Gedung ini dibangun dengan arsitektur Tionghoa. Setelah adanya tugas pelayanan dan pewartaan dari Vikaris Apostolik Jakarta, Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ kepada Pater Wilhelmus Krause Van Eeden SJ, maka didirikanlah gereja, sekolah, dan asrama bagi orang-orang Hoakiau (Cina Perantau). Sebagai awal, dipilihlah Pater Antonius Loew SJ dari Austria sebagai kepala paroki dan Pater Leitenbauer sebagai pengelola sekolah yang pertama. Sekolah itu dinamakan Sekolah Ricci, berasal dari nama imam missionaries Yesuit, Matteo Ricci.

Usaha Pater Leitenbauer, yang dibantu oleh Pater Braunmandl, Pater Loew, dan Pater Tcheng, berjalan dengan lancar, dan mereka juga membuka kursus bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin, yang dikenal dengan sebutan Ricci Evening School, dan asrama yang dikelola oleh Pater Tcheng diberi nama Ricci Youth Center.


Kemudian tahun 1953 dibelilah sebidang tanah seluas 1 hektare, untuk digunakan sebagai kompleks gereja dan sekolah, dari seorang kapitan (lurah keturunan Tionghoa pada Zaman Penjajahan Belanda) bermarga Tjioe, dan pada tahun 1954, tanah dan bangunan itu resmi menjadi milik Gereja. Di atas tanah itu berdiri sebuah bangunan utama dengan 2 bangunan mengapit bangunan utama, yang memiliki 2 buah patung singa yang merupakan lambang kemegahan bangsawan Cina.

Vihara Dharma Jaya Toasebio


Kelenteng Toasebio adalah salah satu dari klenteng tua yang masih berdiri di Jakarta. Toasebio sendiri adalah gabungan dari dua kata yakni Toase yang berarti pesan dan Bio adalah kelenteng. Kelenteng yang dibangun di tahun 1755 ini menyembah dewa Qing Yuan Zhen Jun (Tjeng Gwan Tjeng Kun).

Kelenteng Toasebio sudah berdiri di tempatnya yang sekarang sejak semula didirikan pada sekitar menjelang pertengahan abad ke-18 oleh komunitas Tionghoa asal Kabupaten Tiothoa/Changtai di Keresidenan Ciangciu/Zhangzhou dan¯dengan sendirinya¯tidak pernah dipindahkan dari tempat lain. 


Nama resmi kelenteng ini¯sebagaimana tertera pada papan nama di gerbang kelenteng¯adalah Hong-san Bio/Fengshan Miao (`Kelenteng Gunung Burung Hong'). Akan tetapi, karena Cheng-goan Cin-kun / Qingyuan Zhenjun, dewata pelindung masyarakat Kabupaten Tio-thoa/Changtai, juga dikenal sebagai Toa-sai Kong / Dashi Gong (`Paduka Duta Besar'), maka kelenteng ini juga dikenal sebagai kelenteng Toa-sai Bio/Dashi Miao (`Kelenteng Duta Besar'). Nama Toa-sai Bio di lidah penduduk lama-kelamaan berubah lafal menjadi Toa-se Bio dan menjadi nama jalan dimana kelenteng ini berada dan juga nama lingkungan sekitarnya. Nama Toasebio ini sampai sekarang masih dipakai, dari sinilah nama paroki di lingkungan ini, Paroki Toasebio.

Menginap Di Hotel Jalan Gajahmada, Jakarta

Setelah keliling Glodok dan sekitarnya, jika berasal dari luar kota, maka yang paling tepat untuk menginap adalah hotel di jalan Gajahmada. Hotel di Jakarta ini memang sangat unik karena sangat tinggi tingkat huniannya dan lokasinya sangat beragam hingga sangat dekat dengan obyek wisata. Jadi tak perlu khawatir dengan transportasi karena dengan jalan kaki pun bisa menjangkau tempat ini. Oh iya, selain itu bagi yang tidak memiliki budget tipis tapi mengharapkan hotel bintang 5,4, atau 3, bisa saja mendapatkan harga murah atau harga promo



Bagaimana memesannya? Gampang sekali karena tinggal akses website/aplikasi pegipegi dan pesan sesuai dengan lokasi yang diinginkan misalnya Gajahmada, Jakarta. Kemudian pilih tanggal dan berapa lama akan tinggal. Setelah itu selesaikan transaksi, bayar dan hotel pun sudah siap ketika sampai di lokasi. 

Wah, memang sangat mudah banget tinggal klik, pesan, bayar dan siap digunakan deh. Ngga perlu repot telpon dan email hotelnya segala macem ya. 


Konsisten Nge-blog Setahun


Mulai nge-blog sejak tahun 2003, klaim nama blog di banyak platform, melayang-layang antara rajin dan sering hiatus, gonta-ganti template, ditolak GA berkali-kali, dan tetap tidak bisa menentukan niche blog sendiri makanya pada tagline header tertulis I Write My All, akhirnya saya memutuskan untuk konsisten nge-blog pada Februari 2018. Alasannya? Sudah terlalu lama saya mengabaikan blog ini dan sesungguhnya perasaan terabaikan itu sangat tidak menyenangkan. Bukan begitu, din ... dinosaurus? Lagi pula saya sangat menyayangkan apabila ada artikel bagus hanya dipos di media sosial seperti Facebook, yang kemudian tenggelam, karena tidak terarsip dengan baik. Blog memang jawaban jitu kalau kita ingin tulisan-tulisan terarsip. Oke sip.

Baca Juga: Di SMK Tarbiyah Kami Berdoa Bersama

Dihitung-hitung sudah setahun saya konsisten nge-blog alias sudah setahun blog ini selalu dirawat; mengisinya dengan konten-konten baru (hampir) setiap hari. Pos pertama Februari 2018 berjudul Februari, Halo! setelah pos terakhir sebelumnya pada Februari 2017 yang berjudul Seword. Saya memutuskan untuk melanjutkan tali silaturahmi antara saya dengan blog pribadi ini. Pos-pos selanjutnya masih bertema random, mana-mana suka, tanpa tema. Seperti pos Korupsi Karena Miskin dan The Power of Cium Tangan. Mungkin bagi orang lain pos-pos itu tidak bermanfaat, tapi bagi saya pemikiran harus bisa diungkapkan dan pengalaman positif harus bisa diceritakan pada orang lain. Siapa tahu berfaedah bagi yang membacanya. Lebih penting lagi, saya ini narsis, jadi pengen orang lain tahu juga apa yang saya lakukan. Halaaaah.

Mulai Menentukan Tema


Sebenarnya sejak lama setiap Sabtu blog ini punya tema yaitu Review. Antara filem dan buku. Lalu pada 13 Februari 2018 saya mulai membikin satu tema baru yaitu #PDL alias Pernah Dilakukan. Awalnya #PDL hanya bertujuan untuk pos tentang foto-foto jadul yang berkaitan dengan dunia traveling kala masih muda dan bergaya dulu. Tidak melulu harus traveling ke luar daerah, karena jalan-jalan sekitar Kota Ende, bagi saya, adalah traveling. Haha. Pos #PDL pertama berjudul #PDL Has Just Begun. Lama-kelamaan satuper satu tema mulai bermunculan.

Pos Hobi Fotografi Berpotensi Dollar dan Merawat Laptop Itu Sederhana adalah cikal bakal tema #SelasaTekno. Tulisan saya tentang Diet Enak Bahagia Menyenangkan dan Manfaat Telur Bagi Tubuh adalah cikal bakal tema #RabuLima. Dari situ saya mulai berpikir tentang melengkapi satu minggu dengan tema-tema harian sehingga blog ini terkesan sebagai BLOG PRIBADI YANG MAGAZINE BANGET. Hahaha *ditimpuk dinosaurus*. Maka setiap Senin saya memberi tema #SeninOpini atau #SeninThought yang lantas berganti menjadi #SeninCerita, dan Kamis menjadi #KamisLima. Memangnya yakin punya waktu untuk itu semua? Yakin, apabila waktu nge-game dipangkas, saya bisa menghasilkan begitu banyak artikel / tulisan bekal pos blog. Slot Minggu pernah juga saya isi dengan novel berjudul Triplet.

Februari 2019, masih dalam masa sibuk mempromosikan Uniflor dan mulai sibuk dengan Lomba Mural dari Triwarna Soccer Festival, saya berpikir untuk mengganti tema harian menjadi:

#SeninCerita
#SelasaTekno
#RabuDIY
#KamisLima
#PDL
#SabtuReview

#RabuDIY? Hyess. Saya siap mengepos tentang dunia DIY baik yang saya bikin sendiri maupun yang dibikin oleh orang lain. Yang sudah lama saya bikin dan diberi sentuhan ulang, maupun yang baru saja saya bikin. Nantikan saja ketika tema harian kembali memulai rodanya di blog ini.

Kemenangan Melawan Rasa Malas


Musuh terbesar umat manusia adalah rasa malas. Malas bekerja, malas mencari tahu, malas meminta maaf dan malas memaafkan, malas berdoa pun juga terjadi, malas menyiram bunga, malas menulis blog termasuk di dalamnya. Setahun kemarin, 2018, saya berjuang melawan rasa malas untuk menulis konten blog. Setiap menghidupkan laptop saya berusaha mengalihkan dulu perhatian mata pada ikon Age of Empires. Langsung daring, membuka Chrome, dan mengetik alamat Blogger. Mau menulis apa hari ini? Oh, sudah ada tema. Let's do it! Merangkai kata yang isi posnya di-blender antara tema utama pos dengan guyonan khas dinosaurus haha.

Baca Juga: Uniflor Goes to School

Sepanjang tahun 2018 saya telah menang melawan rasa malas ... tahun 2019 ... semoga demikian pula. Karena, salah satu resolusinya adalah tetap nge-blog! Hyess, #2019TetapNgeblog meskipun GA kembali hilang/ditolak gara-gara mengganti domain blog menjati http://tuteh.web.id hahaha.


Meskipun sempat berpikir dimusuhi oleh GA ketika GA hilang dari blog, tidak masalah lah. Rejeki masih bisa dikais di lini lainnya. Yang penting semangat menulis dan mengisi (konten) blog setiap hari tidak sirna. Karena, percayakah kalian?, hanya dengan menulis dan menulis blog, kemampuan menulis terasah dari hari ke hari. Saya pikir ini tidak perlu dijelaskan, kalian pasti sudah merasakannya. Bukan begitu?

Kalau saya bisa melawan rasa malas, Insha Allah kalian juga bisa.

Draf dan Jadwal


Kadang-kadang tubuh saya terasa fully charged; otak mendadak cemerlang padahal aslinya kalah sama Matematika; mata sepet jadi bersahabat dengan layar laptop. Pada saat-saat seperti itu saya bisa menulis lebih dari satu konten/pos per hari. Percayalah, saya sendiri heran dengan konten yang dihasilkan dalam sehari itu. Konten-konten yang bisa saya tulis tanpa memikirkan waktu itu seperti konten untuk #SelasaTekno, #RabuLima yang bakal berganti dengan #RabuDIY, Kamis Lima, #PDL, hingga #SabtuReview. Senin, harus disesuaikan dengan kejadian apa yang paling unggul pada minggu sebelumnya yang ingin saya jadikan #SeninCerita sehingga tidak bisa didraf atau dijadwalkan. Konten yang sudah saya tulis itu ada yang tersimpan sebagai draf, ada pula yang terjadwal. Inilah manfaat platform Blogger, atau platform blog lainnya, menyediakan fasilitas draf dan jadwal. Manfaatkan itu! Agar apa? Agar ide tidak menguap. Hehe.

Draf jika konten belum lengkap alias masih ada yang harus ditambal-sulam.
Jadwalkan jika konten sudah oke dan siap dipublikasikan pada hari penentuan.

Apakah ini bukan kebohongan publik?

What?

Kebohongan publik itu kalau kalian menulis Tuteh Pharmantara itu perempuan cantik yang akhirnya disunting oleh Brad Pitt. Nah, itu kebohongan publik yang terhakiki. Perlu kalian ketahui juga bahwa konten/pos yang ini pun saya tulis bukan pada hari Senin, 18 Februari 2019, melainkan pada 17 Februari 2019. Haha.

Insha Allah


Insha Allah akan terus berlanjut. Pada akhirnya jika kelas blogging online kembali dibuka untuk angkatan berikutnya, saya dengan bangga bakal bilang bahwa menulis konten blog itu mudah! Mulailah dari menggali potesi kehidupan sendiri dan pengalaman pribadi, membikin tema harian, dan melawan rasa malas. Buktinya, tahun 2018 saya sudah melakukannya dan Insha Allah berlanjut tahun 2019 dan seterusnya.

Baca Juga: Mamatua Project

Terakhir, perlu saya ucapkan pada diri sendiri: selamat satu tahun konsisten nge-blog, Tuteh.



Cheers.

[Podcast] Ngefot! Cara Mengarahkan Model

Episode perdana dari podcast Ngecuprus di awal tahun 2019 ini mencoba menjawab pertanyaan di IG dari @christian.sutheja tentang bagaimana cara mengarahkan model dan tips seputar pose. Semoga bisa berguna juga bagi yang sedang belajar fotografi atau yang kepingin tahu pose apa yang kira-kira bisa membuat terlihat lebih kurus 😀

Kalau ada tips tambahan, silakan tinggalkan komentar supaya saya juga makin bertambah ilmunya. Kalau isi podcastnya berguna, boleh tuh dibagikan ke yang lain. Thank you lho sebelumnya 😉

[Podcast] Ngefot! Cara Mengarahkan Model

Episode perdana dari podcast Ngecuprus di awal tahun 2019 ini mencoba menjawab pertanyaan di IG dari @christian.sutheja tentang bagaimana cara mengarahkan model dan tips seputar pose. Semoga bisa berguna juga bagi yang sedang belajar fotografi atau yang kepingin tahu pose apa yang kira-kira bisa membuat terlihat lebih kurus 😀

Kalau ada tips tambahan, silakan tinggalkan komentar supaya saya juga makin bertambah ilmunya. Kalau isi podcastnya berguna, boleh tuh dibagikan ke yang lain. Thank you lho sebelumnya 😉