[Klipping] Sebuah Radio, Kumatikan

Penulis: Wicak Hidayat
Kompas, 10  Mei 2016

Perjalanan panjang, baik di kendaraan pribadi atau umum, memang lebih asik kalau ditemani musik. Di kereta Commuterline Jabodetabek, bukan hal istimewa lagi melihat penumpang dengan kabel terjuntai dari telinga mereka.

Sedangkan mobil pribadi di Jabodetabek mungkin sekarang ini adalah habitat paling subur untuk radio siaran. Pagi dan sore, saat macet menggiring manusia menjadi sakit jiwa, siaran radio jadi pereda dendam.

Begitu juga saya, dalam perjalanan mengantar anak sekolah, siaran radio tadinya adalah hiburan yang cukup menyenangkan. Garisbawahi kata “tadinya”, karena belakangan ini radio kami lebih sering mati.

Radio siaran adalah rezim, ia mendikte pendengarnya untuk mengikuti selera tertentu. Jika penyiarnya tiba-tiba membicarakan sesuatu yang tak pantas didengar anak-anak? Saya cuma bisa tersedak dan buru-buru beralih ke frekuensi lain.

Maka sudah cukup lama saya merasa, rezim ini perlu digantikan. Sudah bisa diduga, gantinya adalah streaming musik digital.

Layanan streaming menjanjikan pengalaman yang berbeda, karena pendengar bisa memilih sendiri apa yang mau didengarkannya. Ya, dulu itu dilayani CD, kaset atau pemutar musik digital, tapi karena sekarang katalognya ada “di awan” maka pilihannya nyaris tak terbatas.

“Hei, ingat lagu yang kita suka dengar di warnet itu? Dulu, sambil mengerjakan tugas kuliah,” celetuk saya pada pasangan, ceritanya mau nostalgia gila masa-masa pacaran.

Tak perlu lama, aplikasi streaming musik bisa menghadirkan lagu itu langsung di saat itu juga. Harapannya, bersama dengan itu hadir pula kenangan manis kesibukan mengerjakan tugas kuliah bersama-sama (dan bukan kenangan pahit saat menunggu sendirian di warnet berjam-jam untuk seseorang yang akhirnya tidak jadi datang).

Maka sekarang, rutinitas pagi di mobil adalah memasang smartphoneke kabel charger, menyalakan bluetooth dan mendengarkan lagu dari Bluetooth speaker. Ah, ya, radio mobil kami memang masih bawaan pabrik, bukan dari jenis yang bisa ditautkan via Bluetooth.

Teringat judul puisi Dorothea Rosa Herliany: Sebuah radio, kumatikan.  Dengan permohonan maaf sebesar-besarnya, judul itu terngiang menjadi: sebuah radio kumatikan, streaming kunyalakan.

Discovery, Serendipity, Friendly

Tapi begini, meski rezim radio mendikte pendengarnya untuk mendengarkan lagu tertentu, ada satu hal dari radio yang diam-diam saya nikmati. Ada perasaan bahwa saya bisa tiba-tiba mendengar sebuah lagu yang enak, sebuah discovery atau bahkan semacam serendipity ketika lagu tertentu tiba-tiba dimainkan.

Apalagi kalau kebetulan lagu dari playlist  warnet yang dulu itu. Rasanya menyenangkan sekali, seperti tiba-tiba kembali ke masa lalu. Tahu kan? Seperti lagu klasik Yesterday Once More itu lho.

Ternyata oh ternyata, fungsi serendipity dan discovery  itu juga ada di layanan streaming. Walaupun tidak seratus persen sama, tapi cukup mirip-mirip lah, karena mereka juga punya fitur “radio” di dalam layanan streaming. Fitur yang memungkinkan pengguna untuk mendengarkan lagu-lagu tanpa memilih.

Lebih lucu lagi, layanan streaming musik bisa punya kumpulan playlistyang dicocok-cocokkan dengan tema tertentu. Mulai dari mood (galau, semangat, sedih, gembira?) hingga genre (pop, rock, cadas, kenangan?).

Tapi ada satu hal yang tidak dimiliki layanan itu: mereka tidak ada penyiarnya.

Saya sudah menyadarinya, tapi sungguh lebih menohok ketika membacanya sendiri dari “orang radio”. Dalam tulisan di blognya, Rane Hafidz — yang lebih akrab di kepala saya sebagai Rane Jaf — sangat apik menuturkan peran radio yang diambilalih oleh layanan streaming. Baca deh di: http://suarane.org/layanan-streaming-musik-quo-vadis-radio/

Nah, coba simak nasihat Rane untuk radio. Intinya, kalau boleh saya sok menyimpulkan: jika satu-satunya yang tak dimiliki layanan streaming adalah manusia alias penyiar radio, maka penyiar radio harus menjadi relevan dengan pendengarnya dan bisa menjadi teman.

Sampai Paket Data Penghabisan

Satu hal yang cukup memberatkan dari layanan streaming musik adalah biayanya. Bukan biaya langganan bulanannya lho, tapi biaya paket datanya. Mungkin Anda bertanya, “paket data apa, kan bisa disimpan dulu lagunya, saat terhubung ke Wifi?”

Begini, untuk bisa menikmatinya ala radio, saya harus rela mengaksesnya dengan paket data. Lagipula, saya tidak cukup rajin untuk mengunduh playlist untuk esok hari (apalagi untuk seminggu ke depan). Jadi ya, terpaksa lah menggunakan paket data.

Oh la la, pernah satu kali saya benar-benar mendengarkannya sampai paket data penghabisan. Setelah itu tiba-tiba termangu karena saya sadar kalau paket data itu masih dibutuhkan untuk komunikasi di perjalanan. Terpaksa beli “doping” paket data, yang dijamin bakal boros karena sebelum habis kuotanya sudah masuk lagi ke siklus berikutnya dari paket data langganan.

Tapi bicara biaya, sisi lain dari layanan streaming adalah biaya yang dibayarkan layanan streaming itu ke musisi. Entah skemanya seperti apa, tapi ini konon berpotensi jadi sumber dana. Ingat kan ketika ringbacktone merajalela, dan para musisi berpesta?

Tunggu dulu. Benarkah dananya mengalir ke musisi?

Taylor Swift kalau tidak salah pernah mengajukan keberatan atas aliran dana royalti dari layanan streaming tertentu. Ia merasa diperlakukan tidak adil, dan ujung-ujungnya mencabut seluruh lagunya dari layanan itu.

Ada juga Thom Yorke, vokalis Radiohead, yang pernah menganalogikan layanan streaming tertentu sebagai: this is like the last fart, the last desperate fart of a dying corpse. Lalu, entah ada hubungannya atau tidak, album terbaru Radiohead masih belum tersedia di layanan streaming itu.

Tentu saja ada teori konspirasi (tak terbukti, entah benar atau tidak) bahwa kedua musisi tadi sebenarnya mendukung layanan pesaing. Karena Swift, misalnya, masih memiliki katalog lengkap di layanan streaming lain. Album terbaru Radiohead juga disebut tersedia di layanan itu.

Ah, sudahlah, mungkin ada unsur persaingan bisnis di situ, mungkin ada idealisme atau mungkin juga tidak ada apa-apa. Apapun itu, layanan musik streaming memang pelan-pelan mulai merasuki keseharian kita.

Di mobil, setiap pagi, sebuah radio saya biarkan mati. Musik streamingdinyalakan, dan diam-diam sepertinya saya perlu buat playlist berisi lagu-lagu kenangan dari sebuah warnet. Siapa tahu, salah satu lagu dari playlist itu bisa membangkitkan senyuman. []

Suarane Episode 4 – Iqbal Hariadi

Laporan utama episode ke 4 ini ngobrol panjang lebar dengan seorang podcaster Indonesia, Iqbal Hariadi. Simak juga beberapa ulasan peristiwa yang lagi trend di media sosial kita dan satu rekomendasi keren untuk para pecinta podcast. Enjoy!

Music used in this episode:
Digital Lemonade, Pixelland, Carpe Diem by Kevin MacLeod (incompetech.com)
Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License
creativecommons.org/licenses/by/3.0/

___

Nenek Nurlis dan Mas Beno

Seminggu terakhir ini saya kehilangan dua orang yang sudah bertahun-tahun berteman walau belum pernah bertemu muka. Kenapa bisa begitu? Keduanya adalah teman baik yang sering mendengarkan siaran saya semasa masih bekerja di radio. Pekan ini, hanya berselang beberapa hari, keduanya berpulang menghadap yang Maha Kuasa. Tulisan ini akan sangat bersifat pribadi, sekadar ingin mengabadikan kenangan tentang mereka, mewakili kenangan saya tentang teman-teman lain yang juga sudah mendahului kita.

~~~

Nenek Nurlis

Nenek Nurlis sudah cukup sepuh. Menurut sang cucu, usia beliau 90 tahun saat tutup usia di Payakumbuh, Sumatera Barat hari Selasa, 18 Juli 2017. Mungkin sejak awal 2000-an dia sudah setia di depan radio menemani saya siaran semasa masih di Radio Singapura Internasional (RSI).

Menurut cerita sang cucu dalam pesan Facebooknya beberapa tahun lalu, Nenek Nurlis tinggal sendirian karena anak cucunya menetap di kota lain. Sebelum cucunya datang menemani, sang nenek tinggal di rumah yang belum teraliri listrik, dan temannya saban malam adalah radio SW kecil bertenaga baterai ABC. Beliau juga hafal sekali nama-nama penyiar RSI dulu. Saya sangat senang dan terharu ketika suatu hari sang cucu mengirimkan video pendek di Instagram saat Nenek Nurlis sedang bercerita tentang penyiar-penyiar radio kesayangannya.

Senang sekali melihat video ini. Saya paling senang membayangkan sosok-sosok teman yang sedang mendengarkan kami siaran. Saya selalu membayangkan seperti apa mereka, sedang apa mereka, di mana mereka saat sedang mendengarkan. Nenek Nurlis adalah salah satunya. Rasanya senang sekali karena ada yang menemani di ujung gelombang radio nun jauh di sana. Sebuah perasaan yang tidak bisa dibayar dengan apapun.

Terima kasih kepada Cucu Nek Nurlis, Melissa Letyzia karena akhirnya mempertemukan kami di Facebook dan Instagram.

~~~

Mas Beno

Mas BenoLain cerita Nenek Nurlis, lain pula cerita Mas Beno. Kalau Nek Nurlis lebih mendengarkan radio secara pasif, sesekali titip salam lewat cucunya yang juga mendengarkan radio, maka Mas Beno ini sangat aktif. Nama lengkap beliau Harsubeno Lesmana. Saya memanggilnya Mas Beno. Di radio siaran internasional namanya cukup dikenal karena beliau sangat aktif mendengarkan dan berkorespondensi dengan berbagai siaran radio internasional, termasuk radio saya dulu.

Mas Beno ini DX-ers sejati (istilah untuk para pendengar radio siaran SW). Korespondensi dengan beliau yang masih saya simpan saya adalah dari pertengahan tahun 2009 ketika beliau tahu saya pindah ke Radio Jepang, NHK World. Tapi sebelumnya, sejak di Radio Singapura Internasional, kami sudah rajin berkomunikasi, entah untuk request lagu, berkirim salam, berkomentar tentang acara radio kami atau sekedar bertegur sapa.

Satu hal yang berkesan buat saya adalah beliau sering memberikan komentar dan masukan untuk acara-acara yang saya dan teman-teman bawakan. Beliau hafal sekali setiap detil acara yang menarik perhatiannya. Sesuatu yang membuat kami benar-benar merasa diapresiasi. Rasanya penyiar radio manapun akan tahu seperti apa rasanya jika pendengar tahu detil acara-acara yang kita udarakan.

Tapi yang lebih berkesan buat saya pribadi adalah karena beliau rajin sekali berkirim ucapan di hari ulang tahun saya, sementara saya sering sekali terlewati menyapa di hari jadinya. Beliau juga beberapa kali mengecek kondisi kami saat Jepang dilanda gempa besar di bulan Maret 2011 nun jauh dari kawasan Petojo, Jakarta sana.

Mas Beno berpulang dengan tenang pada hari Minggu, 16 Juli 2017.

~~~

Teman

Ada yang menyebut sosok-sosok seperti Nek Nurlis dan Mas beno ini sebagai pendengar. Saya lebih suka memakai istilah teman. Sejak dulu saya selalu diajari oleh para senior bahwa seorang penyiar radio harus dan wajib menjadi teman pagi pendengarnya. Itu salah satu teori radio paling penting. Dengan selalu menanamkan pemikiran seperti itu, setiap pesan yang disampaikan lewat corong mikrofon akan lebih terasa akrab dan tidak terkesan dibuat-buat. Pemikiran seperti itu membuat kita lebih mudah memvisualkan siapa yang kita ajak bicara di udara dan tidak membuat kita merasa lebih tinggi dari siapapun.

Saya ingat sekali seorang penyiar senior pernah bilang: “Kalau lu udah merasa jadi artis, mendingan sana jadi pemain sinetron aja sekalian. Jangan jadi penyiar radio!” Saya yang ketika itu kedatangan seorang pendengar yang ingin minta foto dan tanda tangan, hanya terdiam malu.

Nah, lebih dari sekedar teori, saking seringnya kita berinteraksi, pada akhirnya hubungan kami dengan para pendengar berkembang menjadi teman yang sebenarnya. Nama-nama merekapun sangat akrab dengan keseharian kami.

Dan rasanya tidak ada pertemanan yang lebih erat lagi daripada pertemanan di kalangan penyiar dan pendengar radio SW. Meski kini jumlah stasiun radio internasional semakin berkurang, begitu juga dengan pendengarnya, namun semoga saja semakin guyub pertemanan kita.

Selamat jalan Nenek Nurlis, selamat jalan Mas Beno…

Selamat jalan juga untuk teman-teman radio lainnya yang juga sudah mendahului kita. Diantara yang saya ingat ada Mas Dick Himawan, Mas Nano Sukirno, Mas Mariadi Purnomo, Mas Rajab Pinem.

Semoga kalian tenang di sisiNya.

Terima kasih sudah menemani saya di udara.

.
Bangkok, 21 Juli 2017

Radio Internasional Masa Lalu dan Masa Kini

* Catatan: Saya baru menemukan artikel lama ini setelah sumber aslinya di viva.co.id tidak lagi bisa diakses. Terima kasih untuk pemilik blog “OnAir2016” yang ternyata mengarsipnya. Tulisan ini saya buat beberapa waktu silam di saat siaran bahasa Indonesia Voice of America dikabarkan terancam tutup dan memicu saya untuk kembali mempertanyakan relevansi radio siaran internasional di gelombang SW di masa kini. Semoga bermanfaat.

~~~

Kabar mengenai gugurnya satu persatu siaran radio Internasional berbahasa Indonesia pada akhirnya terdengar juga. Dewan Pengelola Penyiaran Voice of America (VOA) mengajukan proposal pengurangan sejumlah layanan siaran bahasa asing ke Kongres AS, termasuk siaran berbahasa Indonesia yang sudah mengudara selama 73 tahun.

Bagi pendengar radio siaran internasional, rasanya ini bukan kabar yang terlalu mengejutkan. Dalam kurun waktu sekitar 10 tahun terakhir, satu per satu siaran radio internasional memangkas siaran mereka atau malah turun sekaligus dari udara. Dari enam “raksasa” radio internasional siaran Bahasa Indonesia, tinggal Radio Jepang NHK World yang masih bertahan di udara.

Yang lainnya, seperti Radio Australia, Deutsche Welle, dan BBC sudah pamit dari gelombang SW dan menyisakan siaran internet serta kerjasama siaran dengan sejumlah radio lokal di Indonesia. Sementara Radio Nederland Siaran Indonesia (RANESI) tidak pakai basa basi lagi dan langsung menutup total siaran Indonesianya.

Isyarat itu memang sudah lama terdengar. Dalam setiap pertemuan rutin para punggawa radio internasional, kasak-kusuk selalu beredar.

Ketika tahun 2012 VOA mulai menutup sejumlah pemancar gelombang pendek (SW) nya, maka banyak yang memperkirakan ini hanya soal menghitung hari saja. Akankah rekomendasi Dewan Pengelola Penyiaran VOA akhirnya benar-benar mewujudkan kasak-kusuk itu?

Yang rasanya lebih patut menjadi pertanyaan adalah: Kenapa? Jawaban paling standar dari para pengelola radio itu adalah pudarnya pamor radio siaran internasional, serta kemajuan teknologi media yang pada akhirnya memberikan lebih banyak pilihan kepada para pendengar.

Padahal pernah ada masa jauh sebelum teknologi internet membuat dunia jadi tanpa batas, radio siaran internasional yang mengudara di gelombang pendek (SW) sudah lebih dulu mengajak pendengarnya mengglobal. Pendengar di berbagai pelosok Indonesia sekalipun bisa mengikuti perkembangan dunia, mulai dari informasi-informasi aktual sampai ke pelajaran-pelajaran bahasa asing gratis.

Klub-klub pendengar pun bermunculan dengan anggota dari berbagai daerah dan bahkan ikatan persaudaraan antar mereka dengan para penyiarnya yang masih sangat erat hingga kini.

Pernah ada masa ketika media-media di Indonesia tidak bisa bicara banyak menghadapi pemberangusan informasi oleh pemerintah berkuasa, kabar paling aktual tentang negara ini justru disiarkan dari radio-radio internasional ribuan kilometer di seberang laut seperti BBC atau Radio Australia. Disinilah muncul era legenda-legenda radio seperti Ebet Kadarusman dan Nuim Khaiyat yang tiada duanya.

Ah, mengenang masa-masa jaya radio itu memang indah. Namun perubahan adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dilawan dengan kenangan seindah apapun.

Pertanyaannya sekarang adalah maukah kita mengikuti perubahan itu? “Kita” di sini mengacu ke orang radio itu sendiri, bukan pendengar. Pendengar justru lebih cepat move-on di tengah maraknya berbagai pilihan media. Mereka hanyalah konsumen yang memilih mana yang lebih baik dari berbagai pilihan yang ada.

Teknologi Baru
Secara teknologi ada yang namanya Digital Radio Mondialle (DRM). Secara sederhana teknologi ini memungkinkan gelombang analog termasuk SW yang dianggap jadul itu bisa mengangkut sinyal-sinyal  digital termasuk sinyal suara dengan kualitas suara yang jernih.

Orang yang pernah mendengarkan radio SW yang kresek-kresek pasti amat bisa menghargai teknologi ini. Bayangkan gelombang SW dengan jangkauan sampai ribuan kilometer itu kualitasnya bisa digital. Ini mimpi yang jadi nyata! Tapi sayangnya teknologi ini belum berkembang pesat, meskipun sudah diujicobakan beberapa lembaga penyiaran termasuk BBC dan Deutsche Welle dan juga VOA sendiri.

Selain itu nyaris semua radio kini juga sudah mengadaptasi teknologi online yang semakin berkembang pesat. Rasanya sudah ketinggalan jaman sekali kalau ada radio yang tidak memiliki streaming online. Teknologi ini memungkinkan siaran radio kembali mengglobal seperti masa-masa siaran SW dulu bahkan jangkauannya bisa lebih luas lagi.

Ada pula teknologi yang disebut podcasting yang memungkinkan potongan-potongan audio siaran radio disimpan dan didengarkan kapanpun, ibarat menggunting  potongan artikel di koran untuk kemudian dibaca belakangan. Berbagai radio internasional itupun kini sudah memanfaatkan media sosial. Facebook VOA siaran Indonesia misalnya baru saja merayakan 2 juta pengikut.

Upaya menjangkau lebih banyak pendengar juga dilakukan radio-radio siaran internasional itu dengan menggandeng radio afiliasi di Indonesia untuk mengudarakan acara-acara mereka. VOA misalnya memiliki lebih dari 200 radio afiliasi di seluruh Indonesia. Begitu juga dengan BBC, Radio Australia, Deutsche Welle dan Radio Jepang NHK World.

Masalahnya kenapa semua upaya itu masih berujung pada penutupan berbagai radio siaran internasional? Kata kuncinya mungkin ada di satu hal yang paling penting dari semua hal diatas, satu hal yang paling prinsip dari media apapun. Kata kunci itu adalah “KONTEN!”

Bicara konten, ada satu contoh kisah paling menarik yang datang dari negara asal VOA sendiri. Di awal tahun 2006 Howard Stern, salah satu host radio paling kontroversial namun dengan jumlah pendengar yang tinggi, memulai siaran di salah satu penyedia radio satelit berlangganan. Fenomena Stern ini melabrak pemikiran konvensional tentang radio yang yang bersifat “free to air” alias gratis.

Bayangkan, untuk mendengarkan acaranya, pendengar harus membayar biaya langganan radio satelit dan punya perangkat penerima khusus yang jauh berbeda dari radio biasa. Toh pendengarnya tetap berbondong-bondong pindah walau harus membayar. Mengapa? Terlepas dari sosok Stern yang sangat kontroversial, ini adalah contoh betapa konten jauh lebih penting dari segala perkembangan teknologi itu.

Orang mendengarkan siaran radio karena isinya, karena kontennya, bukan karena teknologi. Konten lah yang mendatangkan jumlah pendengar atau audience. Jadi memutuskan mengakhiri siaran karena alasan survei  jumlah pendengar yang menurun sama saja dengan mempertanyakan apakah SDM-SDM nya cukup segar untuk menyajikan konten-konten bermutu, atau malah tengah terjebak dalam kerumitan rutinitas-rutinitas pekerjaan sehingga tidak sempat melihat dan mengikuti berbagai perkembangan baru di luar sana?

Atau jangan-jangan SDM dan manajemennya masih asik hidup di masa kejayaan radio di masa lalu?

Banyak memang yang mengaitkan siaran radio internasional dengan mesin propaganda di masa perang, mulai dari era perang dunia pertama sampai ke era perang dingin. Namun era itu sudah lama berlalu. Saat ini adalah masa-masanya soft diplomacy dan justru disitulah radio-radio internasional ini menjadi semakin relevan keberadaannya, dan rasanya tidak ada orang yang lebih paham tentang soft diplomacy selain Barack Obama.

Rane Hafied – mantan penyiar Radio Singapura Internasional dan Radio Jepang NHK World

**Keterangan tambahan:

Rujukan asli artikel ini ada di: http://ceritaanda.viva.co.id/news/read/606105-radio-siaran-internasional-antara-masa-lalu-dan-masa-kini (sudah tidak bisa diakses)

Terimakasih kepada pemilik blog OnAir2016 yang sudah mengarsipnya di sini: http://onair2016.blogspot.com/2016/06/radio-internasional-masa-lalu-dan-masa.html

 

 

Alat Podcasting Terbaik?

“Kamera paling bagus itu ya yang ada di tanganmu sekarang ini. Yang penting itu momennya, mas!” Jawaban itu saya dapat dari seorang fotografer senior saat masih kuliah dulu, ketika saya minta rekomendasi kamera yang bagus.

Saat itu saya tidak akan pernah menyangka kalau sarannya justru bisa saya sampaikan ke teman-teman yang bertanya soal alat untuk membuat podcast. Ya, terlepas dari berbagai alat rekaman canggih, menurut saya perangkat podcasting paling bagus itu justru ada di tangan Anda.

Nggak percaya? Coba buka handphone yang bisa jadi saat Anda baca artikel ini ada tidak jauh dari Anda, atau malah sedang dipakai untuk membaca artikel ini. Pandangi ia baik-baik. Itulah alat podcasting anda! hehe

Begini, rata-rata setiap ponsel punya aplikasi perekam suara standar. Sebagai contoh, saya sehari-hari lebih sering memakai Xiaomi Redmi Note 4 yang memiliki aplikasi perekam standar yang disebut “Recorder“.

IMG_0776-01

Aplikasi recorder ini lumayan bagus. Format filenya MP3 (dengan pilihan setting low, standard, medium) dan kualitas suara lumayan bagus meski tentu tidak sejernih kalau menggunakan alat rekam canggih, apalagi dilakukan di studio.

Punya iPhone? Wah apalagi ini. Alat rekam standarnya yang bernama “Voice Memo” malah bisa dipakai untuk editing sederhana.

Coba deh cek fitur aplikasi perekam suara di ponsel Anda. Coba juga cari di Playstore atau Appstore karena ada banyak sekali aplikasi perekam suara lainnya. Ini satu rekomendasi bagus.

Mau mulai podcasting? Tinggal rekam suara Anda dengan aplikasi itu dan tinggal upload ke layanan hosting audio seperti Soundcloud. Jadi deh podcasting.

Mau lebih keren lagi? Install software editing suara gratisan seperti Audacity, edit hasil rekaman Anda dan kalau mau masukkan musik pembuka dan penutup.

Mau contoh hasilnya? Selama bulan ramadhan saya pernah membuat podcast pendek hampir setiap hari yang semua direkam dengan ponsel. Silahkan dengar di sini.  Ada lagi seorang teman podcaster Indonesia, Iqbal Hariadi, yang juga sering menggunakan alat perekam suara di ponsel untuk podcastnya. Dengarkan podcast Iqbal di sini.

Oya, Iqbal juga akan jadi tamu episode 4 podcast Suarane. Dia akan ngobrol tentang podcastnya termasuk juga menyinggung soal soal alat-alat yang dipakainya.

Lantas bagaimana dengan alat-alat rekam canggih lengkap dengan mixer dan studionya sekalian?

Kenapa tidak? Tapi sebelum kita bicara itu, coba ajukan pertanyaan ini dulu kepada diri Anda: podcastnya mau bicara tentang apa? Buat apa?

Kalau bisa menjawabnya, baru deh kita bicara lebih lanjut tentang peralatan.

Percayalah, alat itu nomor sekian.

“Mau dipakai buat apa?” Itu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada “Mau pakai alat apa?”.

Tertarik? Mari kita bicara. Saya dengan senang hati siap membantu 🙂

 

Salam,

RH

Suarane Episode 3 – Bangkok Rasa Lokal

Episode ketiga ini dibagi tiga babak.

Babak Pertama, ulasan tentang apa yang lagi ramai di media sosial kita satu atau dua pekan terakhir ini. Mulai dari kasus anaknya Pak Jokowi yang dilaporkan ke polisi karena dianggap melakukan ujaran kebencian dalam salah satu vlognya; kasus Julianto Sudrajat yang tiba-tiba menerima pesanan Go-Food yang tidak dia pesan, konon dikirim oleh cewek yang sakit hati padanya; sampai ibu istri Jenderal yang nampar petugas bandara.

Babak Kedua, rekomendasi podcast. Kali ini saya rekomendasikan satu lagi podcast Indonesia yang keren banget. Harus dengar episode ini untuk tahu apa rekomendasi saya. 🙂

Babak Ketiga, babak utama, adalah ngobrol-ngobrol dengan dua dari tiga penulis buku berjudul “Bangkok Rasa Lokal” yang baru-baru ini diluncurkan di Bangkok. Ini buku traveling yang menarik yang mengambil sudut pandang penduduk lokal, bukan sudut pandang turis.

Episode ini bisa didengar di Soundcloud di sini (bisa juga didownload dalam format mp3) atau dengarkan di bawah ini:


Catatan behind the scene:

  1. Wawancara dengan dua penulis “Bangkok Rasa Lokal” dilakukan secara spontan saat datang ke peluncuran bukunya di Bangkok Arts and Cultural Centre. Saya rekam dengan aplikasi sound recorder standar di ponsel Xiaomi Redmi Note 4 saya. Sangat bisa diandalkan untuk wawancara dadakan. Kualitasnya pun bisa pilih yang low (mp3, 75kbit/s), standard (mp3, 100kbit/s) dan high (mp3, 192kbit/s). Saya pakai setting high. (Siapa bilang podcast ribet hehe)
  2. Voice Over direkam menggunakan mikrofon Blue Snowball dan perangkat lunak andalan: Audacity. Catatan: Ini pertama kali saya merekam dengan Blue Snowball di laptop berbasis Windows. Biasanya di iMac. Entah, rasanya kualitasnya agak rendah. Kurang puas juga dengan atmosfir suaranya yang agak menggema karena direkam di ruang tamu yang luas.
  3. Editing, sudah pasti menggunakan Audacity, perangkat lunak open source yang dapat diandalkan.
  4. Musik latar, saya menggunakan tiga musik karya Kevin MacLeod di Incompetech.com: Digital Lemonade, Pixelland, Carpe Diem by Kevin MacLeod (incompetech.com).

    Lisensi musik:
    Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License creativecommons.org/licenses/by/3.0/

 

Playlist Lengkap Podcast Suarane Extra

Selama 30 hari di bulan Ramadhan saya membuat podcast singkat hampir setiap hari yang isinya pengalaman saat melakukan “puasa media sosial.” Ini semacam eksperimen pribadi untuk melakukan detox media sosial selama satu bulan. Kebetulan ini juga ini bertepatan dengan kepindahan kerja ke Bangkok, Thailand. Jadi sekaligus juga cerita-cerita tentang proses kepindahan tersebut. Podcast ini murni hanya ocehan spontan yang saya rekam dalam keseharian menggunakan sound recorder di ponsel. Hasilnya saya rangkum dalam playlist di bawah ini (atau bisa langsung akses ke playlistnya di soundcloud):

June 2017


~~~

Previous months:

2017 | Jan Feb Mar | Apr | May | Jun | Jul | Aug | Sep | Oct | Nov | Dec |

2016 | Apr May Jun | Jul | Aug Sep Oct Nov | Dec  |

Contact me here.