Arsip Penulis: rane

S0604: Menculik Sang Penculik

Dia salah satu pemenang Challenge #30HariBersuara dari Komunitas ThePodcasters Indonesia lewat salah satu kreasinya yakni Podcast Penculikan. Ide podcast ini sederhana sekali sebenarnya yaitu wawancara dengan berbagai macam nara sumber. Yang berbeda adalah karena ia menggunakan konsep seperti proses interogasi di film-film kriminal. Jadilah sebuah kemasan yang sekilas seperti crime-story, tapi sebenarnya adalah wawancara. Ide inilah yang membuat para juri #30HariBersuara tertarik.

Dengarkan saja sendiri obrolan di balik layar Podcast Penculikan bersama  Dodi “Bang Odi” Susetiadi, si pelaku penculik.

WASPADALAH! 😀

Tentang Suarane Podcast Podcast:

Suarane Podcast adalah podcast yang berbagi informasi seputar dunia Podcast dan dibawakan oleh Rane Hafied dari Bangkok, Thailand. Podcast ini bisa didengarkan di berbagai aplikasi podcast atau langsung ke website https://suarane.org. Kontak: suarane@gmail.com atau Instagram @SuaranePodcast. Mau ikut bersuara di podcast ini dalam bentuk pertanyaan atau komentar, kirim voice note via Whatsapp ke 08 7878 5050 12.

Credits: Musik yang dipakai di episode ini adalah:

Loopster by Kevin MacLeod
Link: https://incompetech.filmmusic.io/song/4991-loopster
License: https://filmmusic.io/standard-license

Send in a voice message: https://anchor.fm/suarane/message

5 Alasan Mengapa Podcast (Cocok/Tidak Cocok*) Buat Para Blogger

*Coret yang tidak perlu

Artikel blog ini saya persembahkan untuk Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB) yang tahun ini menyambut usianya yang ke 9. Selamat ulang tahun ya, Mak! 🙂 Sukses terus!!

Tidak semua orang cocok dengan podcast! Karena itu alih-alih mempromosikan podcast, di kesempatan ini saya akan memaparkan 5 alasan mengapa podcast mungkin saja cocok atau tidak cocok buat para blogger.

Pada akhirnya teman-teman blogger sendiri yang nanti akan bisa memutuskan setelah menyimak ke lima poin berikut ini! 🙂

~~~

1. PODCAST ITU PERLU SUARA

Suara saya jelek, suara saya cempreng kayak Donald Bebek. Ih, geli denger suara sendiri! Amit-amit deh!

Terlalu sering saya mendengar komentar-komentar seperti ini, dan tanggapan saya selalu sama: MEMANG!

..eh gimana? gimana?

Ya memang aneh! Tapi ada alasannya. Alasan paling sederhana adalah karena kita jarang sekali mendengarkan rekaman suara kita sendiri. Jangankan suara, buat yang hobi selfie, coba lihat kamera ponsel sendiri dan perhatikan seberapa banyak kita mengambil foto kita sendiri dari berbagai sudut, karena merasa ada yang kurang pas. Padahal kita sudah monyongin mulut sana sini, mata dipelotot-pelototin! Kenapa terasa tidak pas, karena foto tidak pernah seindah aslinya. Foto akan selalu dipengaruhi oleh sudut pengambilan, cahaya, sudut pandang dan itu semua sering menipu mata kita sendiri

Alasan kedua, dan ini ilmiah sekali! Suara kita terdengar lewat dua cara. Pertama lewat gelombang suara yang ditangkap gendang telinga yang cenderung memiliki nada tinggi. Kedua lewat getaran di dalam tempurung kepala yang ditangkap dengan nada yang cenderung terdengar rendah atau ngebas! Tapi ketika kita mendengar rekaman suara kita sendiri, yang terdengar hanya suara nada tinggi itu dan itu sering ditafsirkan sebagai cempreng!

Seorang teman yang kebetulan adalah Komunitas Voice Over, Dubber dan Announcer Indonesia (KVDAI) pernah bilang begini:

Tidak ada suara yang jelek! Yang ada hanyalah suara yang tidak terlatih!

Arief Budiman, Presiden KVDAI

Bagaimana melatih suara? Paling sederhana adalah dua hal berikut ini:

a. Intonasi: Nada suara tinggi atau rendah, pelan atau cepat.
b. Artikulasi: Pengucapan kalimat yang harus jelas.

Kedua hal tersebut sebenarnya sudah sering kita latih di keseharian. Wahai para emak, mari kita coba praktekkan kedua hal itu, misalnya saat bicara kepada anak yang malas makan atau kepada si babeh yang baru beli Play Station 5 🙂 Rasanya otomatis langsung intonasi dan artikulasi akan terbentuk sendiri, karena kita ingin pesan kita ditangkap.

“Adek, ingat ya. Kalau kamu malas makan, nanti sakit loh. Kalau sakit, nggak bisa jalan-jalan ke Dufan, kan?”

“Oh gitu ya.. Harga Play Station 5 cuma satu juta ya. Dipikirnya Mamah gak tau harga, apa?”

~~~

2. PODCAST ITU PERLU ALAT

“Podcast itu perlu alat. Mahal, tau! Mikrofon aja udah berapa? Belum mixer. Belum studio kedap suara!”

Ini betul sekali! Sangat betul! Ada yang pernah dengar atau nonton podcastnya Om Deddy Corbuzier? Mari kita lihat harga alat yang kelihatan di gambar ini saja ya

Headphone yang dipakai itu adalah Audio Technica ATH-M50x yang harganya Rp.2 juta. Mikrofonnya adalah Shure SM7B yang rata-rata harganya mencapai Rp. 7 juta. Mic-standnya sepertinya adalah Rode PSA1 yang harganya Rp.1.5 juta. Jadi total yang kelihatan di gambar itu saja sudah 10.5 juta. Kalikan dengan jumlah tamunya. Itu belum termasuk audio mixer dan komputernya ya.

Masih mau bikin podcast?

Tunggu! Jangan langsung mengambil kesimpulan sebelum kita lanjut dengan yang satu ini.

Oke, sekarang mari kita lihat satu contoh podcaster lain. Dia ini salah satu podcaster ekslusif dari Spotify, salah satu platform streaming musik dan podcast terbesar di dunia.

Podcast Rintik Sedu Selalu ada di peringkat-peringkat atas podcast yang paling banyak pendengarnya di Spotify. Nah, alat apa yang dia pakai? Kalau didengarkan dari ciri suara dan musik yang dia pakai, Mbak Rintik Sedu ini modalnya cuma ponsel dan aplikasi yang namanya Anchor! Berapa sih harga ponsel sekarang? Silakan hitung sendiri deh. Yang di kisaran sedang saja harganya bisa jadi belum menyamai harga satu mikrofonnya Om Deddy 🙂

Masih mau bikin podcast?

~~~

3. PODCAST ITU RIBET!

“Podcast itu kan ribet. Harus direkam di ruang kedap suara, terus edit, masukin wawancara, masukin musik, sound effect… Ah, pokoknya ribet! Enakan nulis deh. Tinggal ketik, publish, beres!”

Betul sekali!!! Idealnya podcast memang harus punya semua unsur itu. Ada musik pembuka, di edit yang rapi, kalau perlu ada sound effect dll. Biar lebih menarik, toh?

Tapi coba lihat lagi poin kedua tadi, yang cerita tentang Mbak Rintik sedu, podcaster top Indonesia sekarang. Dia rekamnya pakai ponsel dan aplikasi kok. Ada musik pembuka dan musik latarnya juga, kan?

Begini saja. Coba ambil ponsel yang rasanya nyaris selalu ada di tangan kita itu, download dan install aplikasi yang namanya Anchor** di PlayStore atau AppStore, registrasi terus langsung coba rekam dan upload.

**Disclaimer: saya bukan promosi aplikasi Anchor atau Spotify. Tapi rasanya belum ada aplikasi yang selengkap itu saat ini. Jadi, mau gimana lagi? 🙂

~~~

4. PODCAST ITU BELUM BISA DIDUITIN!

“Podcast itu belum bisa diduitin, dicuanin! Kalau blog kan bisa jadi buzzer atau influencer, dapat duit kan?”

Betul!

Ambil contoh podcast di Anchor atau Spotify yang rasanya masih merupakan platform podcast nomor satu di Indonesia saat ini! Di Indonesia mereka belum punya sistem monetisasi seperti halnya Youtube. Namun sistem itu sudah ada di tempat kelahirannya di Amerika. Melihat jumlah channel podcast Anchor di Indonesia yang terbanyak ke 3 di dunia, bukan tidak mungkin suatu saat sistem itu akan masuk. Sabarlah! 🙂

Masih mau punya podcast?

Di blog memang banyak kan cara untuk mendatangkan cuan? Bisa pasang ad-sense di blog, atau jadi buzzer dan influencer yang rajin memberikan testimoni produk dan lain sebagainya.

Namun di podcast pun banyak cara untuk mendatangkan cuan. Berikut ini contoh hasil survei tahun lalu di Amerika terhadap sejumlah cara yang dipakai para podcaster untuk menghasilkan uang.

Saat ini di Indonesia sendiri sudah banyak podcaster yang mendapatkan penghasilan dari podcastnya, baik dengan mengiklankan produk dari brand atau sekadar menjadikan podcastnya sebagai portfolio keahliannya yang secara tidak langsung menghasilkan juga.

Masih mau jadi podcaster?

~~~

5. SAYA KAN BLOGGER!

Sori deh. Saya kan sudah lama jadi blogger. Sudah tahunan, loh. Ngapain pindah jadi podcaster? Lagian saya lebih nyaman menulis. Blog saya juga sudah mendatangkan penghasilan juga kok”

Bagus dong! Konsistensi itu penting bagi para konten kreator!

Tapi bagaimana kalau saya bilang podcast itu bisa melengkapi blog kalian?

Nah, sekarang bayangkan artikel-artikel blog kalian bukan hanya berisikan tulisan-tulisan yang memang sudah keren itu, tapi juga ada versi audionya. Jadi orang yang tidak sempat membaca artikel-artikel blognya, bisa mendengarkan audionya, kan? Pembaca blog kita bisa tetap mengkonsumsi tulisan-tulisan kita sambil beraktifitas, entah sedang mengemudi, sedang kerja, sedang berolahraga, atau sedang masak. Bukankah itu menjadi nilai tambah bagi blog kalian?

Mau nilai tambah lain? Yang paling sederhana begini saja. Coba download aplikasi podcast di ponsel, lalu cari artikel-artikel blog lama kalian, rekam dan bacakan, lalu publish. Setelah itu tinggal pasang di bawah artikel kalian, lengkap dengan playernya. Keuntungannya, blog kalian jadi lebih kaya fitur dan artikel-artikel lama itu bisa kembali terekspose ke audience.

Come on. Coba aja dulu. Kalau nggak nyaman tinggal hapus. Gratis ini kok.

Oya, buat yang sedang mengakses tulisan ini di website, tidak sempat melanjutkan baca artikel ini karena terlalu panjang dan karena terpotong kesibukan pekerjaan, atau lagi di jalan, atau anak minta ditemani tidur, atau sudah waktunya masak, artikel di blog ini juga tersedia dalam bentuk audio kok. Tinggal pasang headphone dan klik player di bawah ya lalu lanjutkan beraktifitas. 🙂

~~~

Nah, dari 5 poin yang saya ceritakan tadi, silakan teman-teman memutuskan sendiri apakah podcast memang cocok untuk kalian atau tidak.

Kalau tertarik, mari kita bicara! 🙂

.

Bangkok, 16 Januari 2021

Rane

Breaker+Twitter=Masa Depan Podcast?

Masa depan podcast di 2021 bakal makin seru nih! Breaker, salah satu platform distribusi podcast dengan fungsi jejariang sosial kemarin mengumumkan bergabung dengan Twitter. Serius, lo gak salah dengar: Twitter!

Menurut founder dari Breaker, Leah Culver dan Erik Berlin, langkah itu diambil karena mereka percaya pada masa depan komunikasi audio. Apa ini berarti Twitter bakal punya fitur baru setelah memperkenalkan fitur Voice Tweet untuk pengguna iOS di bulan Juni 2020 lalu? Hmmm…

Usut punya usut, Twitter sejak Desember lalu sudah memberikan sedikit bocoran tentang fitur yang disebut sebagai Spaces!

Sumber: @TwitterSpaces

~~~

Nasib Breaker

Sedihnya, seiring pengumuman ini aplikasi Breaker malah bakal ditutup per 15 Januari 2021 ini juga. Padahal Breaker adalah salah satu aplikasi podcast yang keren, karena mereka menggabungkan fitur jejaring sosial. Mereka menyebut diri sebagai Social Podcast. Jadi sambil mendengarkan podcast lewat Breaker, pendengar juga bisa berinteraksi antar sesama mereka. Malah Breaker sendiri ternyata juga sudah punya fitur hosting podcast yang gratis, mirip Soundcloud dan Anchor!

Jadi kalau kalian pengguna Breaker, segera export subscription podcast kalian atau kalau sudah menggunakan Breaker untuk hosting, buruan ekspor audinya. Breaker malah menyarankan untuk pakai Anchor haha.

Eits! Jangan nyengir senang dulu, Anchor! Ide Spacesnya Twitter ini bisa jadi mirip dengan kalian di masa-masa awal, loh.

~~~

Menebak-nebak Wujud Twitter Spaces

Tidak banyak yang bisa kita tahu saat ini tentang seperti apa wujud mahluk bernama Spaces. Hingga kini mereka baru memberi akses uji coba ke beberapa orang terpilih, sekaligus untuk menjaring masukan.

Tapi kalau kita kepoin akun Twitternya Spaces, sepertinya ini akan jadi fitur ngobrol via audio. Kabarnya fitur ini akan memungkinkan siapapun menjadi host untuk ngobrol live dengan follower mereka yang sudah diberi akses, sementara follower yang lain bisa nguping. Eh tunggu.. jadi ingat sama apa ya? Hmm.. Aha! Podcast! Tapi ini lebih mengingatkan lagi pada Anchor, aplikasi hosting podcast sejuta umat saat ini.

Di tahun 2015, sekitar 4 tahun sebelum dibeli oleh Spotify, Anchor muncul memperkenalkan diri sebagai aplikasi obrolan shortform via audio. Dalam waktu setahun Anchor bisa dibilang berhasil menjaring pengguna setia dari seluruh dunia yang rutin berinteraksi, ngobrol-ngobrol santai tentang berbagai hal.

Tahun 2017 ketika saya mulai kenal Anchor, saya langsung nimbrung dan punya teman banyak dari berbagai belahan dunia, mulai dari Inggris, Amerika, Israel, Italia, Jepang dll. Kami rajin ngobrol sana-sini, cerita tentang keseharian, cerita tentang negara tempat kita tinggal, cerita tentang musik, dan siapapun boleh ikut nimbrung, sementara yang lain boleh nguping. Ini salah satu contoh interaksi dengan seorang teman dari Jepang, kalau tidak salah di penghujung 2018 lalu.

Nah, kalau dugaan ini benar, bahwa Spaces bakal jadi aplikasi ngobrol via audio, wah ini bakal gila!

~~~

Social Podcast

Kalau harus menunjuk satu hal yang masih kurang dari podcast saat ini adalah kemampuannya untuk bisa berinteraksi dengan pendengar, baik melalui fitur comment box ataupun fitur membalas dengan audio. Podcast perlu fitur jejaring sosial untuk menjadikannya lebih interaktif. Mungkin meminjam istilah Breaker, perlu ada fitur Social Podcast yang memang dimungkinkan lewat aplikasi yang sebentar lagi akan “rest in peace” itu.

Saat ini untuk berinterksi dengan para podcaster kebanyakan harus beralih ke media jejaring sosial seperti Twitter, Facebook dan –yang paling populer di kalangan podcaster di Indonesia saat ini- Instagram!

Anchor sebagai aplikasi “sejuta umat” di kalangan Podcaster di Indonesia saat ini, bukannya tidak mencoba. Mereka memperkenalkan fitur untuk meninggalkan pesan lewat audio yang bisa dipasang di setiap audio. Sayangnya fitur ini masih belum cukup populer, entah kenapa. Come on, Anchor. You can do better! Kalian kan pernah melakukannya di 2015-2017 an. Come on..

Nah, akankah Twitter Spaces mengisi ceruk Social Podcast ini? Inovasi apa yang akan mereka perkenalkan? Seperti apa “jawaban” platform podcast lainnya? Hmm….

~~~

Twitter Kembali ke Sarang

Terakhir, ada satu fakta sejarah yang sering terlupakan dari Twitter. Mereka ini bukan anak ingusan di dunia audio! Tidak banyak yang tahu bahwa cikal bakal Twitter sebermulanya adalah sebuah start-up bisnis podcast yang namanya Odeo.

Singkat ceritanya begini -cerita panjangnya silakan baca di tautan di bawah-. Di tahun 2005 Odeo lahir sebagai sebuah layanan di mana siapapun bisa menghubungi sebuah nomor telepon, bicara dan otomatis akan tersimpan menjadi file audio yang bisa didengarkan oleh siapapun. Yes, Odeo ingin menjadi sebuah bisnis podcast. Ini terjadi saat podcast sudah mulai marak setahun setelah podcast pertama muncul, namun pembuatannya masih rumit. Odeo adalah jawaban atas kerumitan ini.

Namun, tidak lama ketika itu juragan Apple, Steve Jobs, mengumumkan bahwa iTunes akan memasang fitur podcast di iPod sehingga semua orang bisa mendengarkan podcast dari alat itu. Rupanya ini menciutkan nyali orang-orang di balik Odeo. Pada saat yang sama, muncullah sosok Jack Dorsey di Odeo yang kemudian berperan besar memperkenalkan fitur micro-blogging yang kemudian dikenal dengan nama Twitter, and the rest is history.

Akankah si burung biru kembali ke sarangnya?

Ah, bakal seru nih dunia audio dan podcasting!

.

Bangkok, 6 January 2021

Rane

*TAUTAN TERKAIT:

S0603: Pelajaran dari #30HariBersuara

Setelah sebulan penuh ikutan Challenge #30HariBersuara yang digagas oleh Komunitas The Podcasters Indonesia, banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa didapat. Di episode ini gue mencoba melihat kembali sebulan ke belakang dari 31 episode podcast yang sudah gue bikin setiap hari serta pelajaran apa yang bisa didapat. Semoga ini bermanfaat ya buat teman-teman podcasters lainnya.

Dengarkan seluruh episode #30HariBersuara di: https://suarane.org/30haribersuara/ atau di https://sptfy.com/babelo

Tentang Suarane Podcast Podcast:

Suarane Podcast adalah podcast yang berbagi informasi seputar dunia Podcast dan dibawakan oleh Rane Hafied dari Bangkok, Thailand. Podcast ini bisa didengarkan di berbagai aplikasi podcast atau langsung ke website https://suarane.org. Kontak: suarane@gmail.com atau Instagram @SuaranePodcast. Mau ikut bersuara di podcast ini dalam bentuk pertanyaan atau komentar, kirim voice note via Whatsapp ke 08 7878 5050 12.

Credits: Musik yang dipakai di episode ini adalah “Daily Beetle” by Kevin MacLeod – License: http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/

Send in a voice message: https://anchor.fm/suarane/message

Indonesia dalam Radar Podcast Global

Dunia podcast Indonesia menutup tahun 2020 dengan masuk dalam radar podcast global, paling tidak ini menurut versi Spotify, sebuah platform streaming musik dan juga podcast besar.

Lewat blognya belum lama ini, Anchor (yang dibeli oleh Spotify di tahun 2019) menyebutkan 80% podcast baru di Spotify pada tahun 2020 berasal dari Anchor dan itu berarti lebih dari 1 juta podcast baru.

Yang menarik menurut Spotify, Indonesia masuk dalam peringkat ke 3 dalam jumlah channel baru di Anchor setelah Amerika Serikat, Brazil, Indonesia, Meksiko dan Inggris. Sementara pasar podcast dengan pertumbuhan terepat adalah India, Meksiko, Brazil, Argentina dan Indonesia.

Anchor’s top five markets in 2020 were the US, Brazil, Indonesia, Mexico, and Great Britain—while the fastest-growing markets were India, Mexico, Brazil, Argentina, and Indonesia.

Anchor Blog

Data ini sangat menarik karena menunjukkan pesatnya minat masyarakat Indonesia terhadap podcast sejak beberapa tahun terakhir. Satu contoh menarik adalah ketika di pertengahan 2020 saja saya dan teman-teman dari Paberik Soeara Rakjat bekerjasama dengan Kominfo dan Gerakan Literasi Digital Siberkreasi menggelar kelas podcast online. Hampir 10 ribu orang dari seluruh Indonesia tercatat mendaftarkan diri dan dari serangkaian kelas yang digelar, ada hampir 2 ribu podcast baru yang dihasilkan.

Tantangannya kini, ketika semakin banyak channel podcast bermunculan di Indonesia, adalah bagaimana meningkatkan kualitas podcast-podcast tersebut. Rasanya tahun 2021 akan menjadi tahun yang menyenangkan sekaligus menantang!

Bakal seru nih! 🙂

Tautan Terkait:

Ngobrol Podcast bareng @PodcastCampus

Di penghujung 2020 saya diajak untuk ngobrol bareng di Instagram Live teman-teman @PodcastCampus untuk bicara tentang podcast dan dunia siaran. IG Live yang seru, terutama karena hostnya Gresita Siahaan yang pandai sekali menghidupkan obrolan. Thanks Gres dan teman-teman Podcast Campus. Sukses selalu buat kalian!

Simak rekamannya di bawah ini atau langsung ke channel Instagram mereka di: https://www.instagram.com/p/CJbDui8plKL/

Podcast Panas Indonesia

Me and Yori, we go back a long way. Pertama kali kenal dengan Mbak Psikolog yang satu ini beberapa tahun silam ketika podcast mulai ramai di Indonesia. Dia ketika itu memulai channel podcast bernama Celoteh Yori dengan tema seks, love and relationship. Gue malah pernah mengundang Yori di salah satu episode Suarane Podcast untuk “konsultasi seks.” 😀 Gue pribadi suka podcastnya karena memang mengambil sudut pandang edukasi, sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Selain podcast audio, Yori kini juga merambah dunia podcast video di Youtube. Dia sempat mengajak gue untuk ngobrol soal tema “Podcast Panas Indonesia” yang menyoroti fenomena kemunculan podcast bertema seks di Indonesia. Hasilnya jadi dua episode podcast yang bisa dilihat di bawah ini, atau langsung saja ke channel podcast Celoteh Yori di sini.

PART 1

PART 2

Mainlah juga ke website Yori di CelotehYori.com, atau ke channel podcastnya di Spotify.

~~~

Beberapa waktu terakhir ini gue sering diundang teman-teman untuk ngobrol soal podcast di Youtube. Beberapa videonya bisa dilihat di playlist ini.

Semoga bermanfaat.

Salam

Rane

Mencintai Buku Dengan Podcast

Di awal 2017 tiga orang teman di tiga negara, Rane Hafied di Bangkok, Steven Sitongan di Ambon, Indonesia dan Hertoto Eko di Singapura menggagas sebuah podcast bertema buku. Idenya adalah bagaimana membicarakan soal buku dengan lebih santai tanpa harus bikin dahi berkerut. Tanpa terasa podcast ini terus bertahan karena banyak teman-teman baik pendengar kami yang ternyata menyukai ide ini.

Perjalanan Kepo Buku ini kami ceritakan dalam sebuah sesi Instagram Live di channel Intrans Publishing, salah satu pemain lama dalam dunia penerbitan di Indonesia. Terima kasih Mas Yogi dan teman-teman Intrans Publishing untuk undangannya. Sukses terus ya!

Obrolan selengkapnya bisa disimak di bawah ini atau langsung ke channel Instagram mereka di: https://www.instagram.com/p/CIpt_RgFlfx/

Gen-B dan #30HariBersuara

It’s official! Gue punya podcast baru lagi dan langsung dipakai untuk challenge #30HariBersuara.

Pertama soal podcast barunya dulu. Jadi ceritanya sudah lama merencanakan bikin podcast ini. Sebuah podcast yang lebih bersifat audio journal dari seseorang berasal dari generasi di masa lalu dan bagaimana dia melihat generasi sekarang dan dunianya.

Podcast ini semula namanya Babe Lo, tapi biar agak catchy diganti menjadi Gen-B. Generasi Babe Lo! haha

Kebetulan ini bertepatan dengan dimulainya challenge #30HariBersuara dari Komunitas The Podcasters Indonesia. Jadilah Podcast Gen-B ini diawali dengan konten-konten #30HariBersuara.

Hasilnya bisa dilihat di sini:

Suarane.org/30haribersuara

atau langsung ke Spotify di:

https://sptfy.com/gen-b

Dengerin ya 🙂

R.

Gen-B dan #30HariBersuara

It’s official! Gue punya podcast baru lagi dan langsung dipakai untuk challenge #30HariBersuara.

Pertama soal podcast barunya dulu. Jadi ceritanya sudah lama merencanakan bikin podcast ini. Sebuah podcast yang lebih bersifat audio journal dari seseorang berasal dari generasi di masa lalu dan bagaimana dia melihat generasi sekarang dan dunianya.

Podcast ini semula namanya Babe Lo, tapi biar agak catchy diganti menjadi Gen-B. Generasi Babe Lo! haha

Kebetulan ini bertepatan dengan dimulainya challenge #30HariBersuara dari Komunitas The Podcasters Indonesia. Jadilah Podcast Gen-B ini diawali dengan konten-konten #30HariBersuara.

Hasilnya bisa dilihat di sini:

Suarane.org/30haribersuara

atau langsung ke Spotify di:

https://sptfy.com/gen-b

Dengerin ya 🙂

R.