Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share


Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share. Sudah sering saya tulis, emoh alias berhenti untuk bergabung sama komunitas manapun juga. Saatnya solo karir. Komunitas terakhir yang saya ikuti, termasuk founder, adalah Stand Up Comedy Endenesia. Ternyata jiwa saya memang belum bisa sepenuhnya terurai dari komunitas. Terus, kapan membina komunitas bernama rumah tangga, Teh? Ketika diajak untuk membentuk komunitas baru, saya fine-fine saja, bahkan sangat antusias. Ya, selama tujuan komunitas itu baik, dan rata-rata semua komunitas bertujuan baik, kenapa tidak? Hari ini saya mau bercerita tentang komunitas baru yang satu ini. Namanya Exotic NTT Community. Jargonnya: Travel. Explore. Share.

Baca Juga: Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa saya mau bergabung bersama komunitas dengan fokus pada wisata? Bukannya saya sendiri sudah punya blog niche traveling/wisata? Kalian kepo kan? Marilah dibaca. Karena membaca adalah makanan intelektualitas. Ha ha ha ha *ditabok dinosaurus*.

House of Creative People


Suatu malam saya dihubungi David Mozzar. Konon David, Oedin, dan Arand bakal datang ke  Pohon Tua (rumah saya). Ada sesuatu yang harus dibahas. Ketika kami sedang saling tatap penuh cinta di ruang tamu, haha, tersampaikanlah maksud kedatangan mereka. Intinya: kami membentuk komunitas yang dapat mewadahi orang-orang kreatif baik orang-orang yang sedang berjuang maupun yang sebenarnya sudah expert di bidangnya masing-masing. Why not? Pikir saya. Ini bakal keren sekali. Ada satu wadah besar yang bakal menampung semuanya. Sub-sub yang bakal berada dalam wadah itu datang dari lini videografi, fotografi, mural dan sketsa, MC, media and digital issues, stand up comedy, dan lain sebagainya.

Nama yang dipilih, dan dirasa pantas, untuk komunitas tersebut adalah House of Creative People. Alasannya? Kalian tentu sudah tahu. Kami mulai merancang ini itu, termasuk orang-orang yang direkomendasikan untuk duduk pada sub-sub dimaksud. Tetapi dalam perjalanan nama itu kemudian harus diganti sesuai dengan fokus komunitas. Karena, House of Creative People itu too large. Eh, pokoknya begitulah. Sehingga diperkecil lah komunitas itu menjadi Exotic NTT Community. Sebuah komunitas dengan lokus pada wisata. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk bergerak di lini lainnya sesuai tujuan awal House of Creative People. Insha Allah.


Sampai di sini, kita sepemahaman ya, bahwa House of Creative People telah berganti menjadi Exotic NTT Community. Sebuah nama yang untuk menetapkannya membutuhkan waktu berjam-jam, diskusi dan debat ringan, termasuk untuk jargonnya. Travel. Explore. Share. Dan empat sub yang ditetapkan adalah Tim Kreatif, Videografi, Fotografi, dan Publikasi.

Exotic NTT Community


Exotic NTT Community baru berumur sekitar dua mingguan. Sambil menyelesaikan beberapa perkara, kami memulai geliat komunitas melalui berbagai media sosial. Youtube, IG, Twitter, dan Facebook. Tentu saja. Kami memulai dengan caption berikut ini:

Tergerak dari keinginan untuk mempromosikan lini pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta menggeliatnya Pemerintah Provinsi NTT dalam meningkatkan kualitas dan promosi pariwisata, sekelompok anak muda yang berbasis di Kabupaten Ende, Pulau Flores, membentuk komunitas. Komunitas tersebut bernama Exotic NTT Community. Geliat pariwisata ibarat birahi yang tak terbendung dan membutuhkan lebih banyak pelaku pariwisata, salah satunya Exotic NTT Community, dengan lokus memperkenalkan dan mempromosikannya pada dunia.

Semesta wisata NTT kaya raya. Wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, wisata rohani, wisata kuliner, wisata bahari, wisata buatan. Tak hanya dua ikon kesohor Danau Kelimutu dan Pulau Komodo saja, masih banyak yang harus diketahui dunia dari Provinsi NTT. Desa Nangadhero di Kabupaten Nagekeo yang terkenal dengan wisata kuliner (seafood), Neren Watotena di Pulau Adonara yang berpasir putih memesona, Bukit Wairinding di tanah Sumba, wisata religi Semana Santa di Kabupaten Flores Timur, padang sabana Gunung Mutis di Mollo Utara, hingga Alu Ndene kuliner khas Suku Ende yang legit.

Exotic NTT Community akan menghadirkan semuanya, dalam detail informasi yang dibutuhkan oleh penikmat wisata.

Ikuti Kami!

IG: @ExoticNTTCommunity
Twitter: @ExoticNTTCommunity

#ExoticNTTCommunity
#NTT
#Wisata
#Pariwisata

Selain itu kami memulai WAG yang menjadi semacam tempat diskusi untuk kegiatan-kegiatan komunitas selain di rumah saya atau di rumah member lainnya. Memangnya sudah ada kegiatannya? Iya dooonk. Mengunggah foto dan informasi ke media sosial merupakan kegiatan yang patut diapresiasi karena untuk melakukannya kami harus berdikusi panjang lebar terlebih dahulu tentang konten yang bersangkutan. Foto, tentu di luar video yang bakal tayang di Youtube.

Diskusi?

Iya.


Komunitas ini bukan dilandasi oleh keinginan untuk sekadar ikut-ikut ramai di lini pariwisata. Kami ingin lebih serius, bahkan bisa sampai detail akan sesuatu, misalnya detail ukiran pada rumah adat itu apa makna atau fisolofinya. Setiap kami juga gemar traveling dan mempunyai begitu banyak stok foto dari daerah pariwisata yang pernah dikunjungi. Oleh karena itu kami selalu melempar pertanyaan dasar: mau pos apa hari ini? See? Kami tidak asal-asalan, misalnya melihat foto bagus, langsung unggah ke media sosial. Pertanyaan dasar itu kemudian berlanjut pada sahutan: Ende, Nagekeo, TTS, Sumba, atau ...? Dari situ foto tentang daerah/kabupaten yang dipilih kemudian dilempar ke WAG. Tinggal pilih mau yang mana, diberi tanda air, dan caption disiapkan dengan, insha Allah, sebaik-baiknya.

Tidak ada yang main-main di Exotic NTT Community. Setiap orang punya perannya masing-masing dan berupaya semaksimal mungkin memberikan yang terbaik pada khalayak. Sehingga kami tidak terburu-buru, tidak ingin langsung besar, tetapi ingin melewati proses. Nikmat kan? Hehe.

Untuk saat ini kalian bisa menikmati foto dan informasi pariwisata NTT melalui akun IG, Twitter, dan Facebook. Youtube, terutama kontennya, sedang dipersiapkan, baru tampil video intro saja. Selain berlandaskan pada pengalaman traveling masing-masing member, kami juga telah membikin program kerja. Untuk program kerja, setiap sub yaitu Videografi, Fotografi, dan Publikasi, harus berkomunikasi dengan satu sub lagi yang bernama Tim Kreatif. Program kerja komunitas ini tidak melulu tentang apa yang bakal dipos di media sosial saja melainkan juga tentang mau ke mana kita dalam kaitannya memproduksi konten baru. Ah, membayangkannya saja sudah bikin saya bahagia. Haha.


Doakan, rencana-rencana ke depan, jauh lebih besar, dapat terwujud. Karena, komunitas ini sudah kami anggap sebagai investasi jangka panjang yang perlu dirawat. Semua member merupakan orang-orang hebat, kecuali saya. Saya tidak hebat, tapi biasa saja, hahaha. Dan orang-orang hebat dapat bersatu mewujudkan harapan apabila ego disingkirkan jauh-jauh. Saya pikir kalian juga setuju. Ego itu kadang mampu menghacurkan. Termasuk menghancurkan hubungan asmara. Eaaaaa. Haha.

Travel. Explore. Share.


Secara pribadi saya suka jargon yang satu ini. Sempat berpikir, kenapa dulu waktu saya membikin blog travel, tidak memakai jargon ini saja ya? Hihi. Ini jargon: singkat, padat, jelas, tersampaikan. Seperti veni, vidi, vici, dalam makna positif. Kita tahu kan veni, vidi, vici itu jargon perangnya Julius Caesar, jenderal dan konsul Romawi pada tahun 47 SM. Julius Caesar menggunakan kalimat ini dalam pesannya kepada senat Romawi menggambarkan kemenangannya atas Pharnaces II dari Pontus dalam pertempuran Zela. Tapi, waktu saya mencetus travel, explore, share, tidak ada keinginan untuk mengalahkan siapapun dalam konteks negatif dan/atau persaingan, tetapi murni hanya ingin mengalahkan rasa ingin tahu orang lain tentang pariwisata NTT.

⇜⇝

Bagi kalian semua, bos-bos tercinta yang senantiasa membaca tulisan saya di blog ini, mari dukung Exotic NTT Community. Ikuti kami di Youtube, Instagram, Twitter, Facebook.


Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Terakhir, mari sama-sama dukung semua pihak yang mempromosikan pariwisata NTT dengan namanya masing-masing, dengan caranya masing-masing, karena semua itu bertujuan baik. Demi NTT tercinta.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa


5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa. Banyak orang tidak tahu tentang Ae Sale Mengeruda. Tapi kalau Air Panas Soa (baca: So'a) semua orang pasti tahu. Sejak dulu saya pengen bisa pergi ke obyek wisata yang satu ini. Selalu gagal. Selalu batal. Akhirnya keinginan untuk berendam kaki di lokasi wisata yang terletak di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada itu pun terwujud pada Minggu, 27 Oktober 2019. Sayangnya waktu pergi ke sana saya hanya merendam kaki, bukan seluruh badan. Sengaja sih ... tidak bawa pakaian ganti pun. Hehe. Yang penting saya sudah ke sana, memenuhi keinginan lama itu.

Ada banyak catatan penting dari perjalanan menuju Air Panas Soa hingga suasana di obyek wisata tersebut. Tapi, seperti biasa, di pos blog ini saya hanya merangkum lima saja. Mau tahu apa-apa saja? Marilah dibaca sampai selesai.

1. Jalur Dari Timur yang Bagus


Menuju Air Panas Soa ada dua jalur yang bisa ditempuh. Karena kami datang dari Timur, jalur yang ditempuh adalah Ende - Boawae - Soa. Untuk tiba di obyek wisata ini kami tidak perlu memutar dan/atau pergi terlebih dahulu ke Kota Bajawa yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Ngada. Cukup ke Kecamatan Boawae yang merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Nagekeo, lantas mengikuti jalur, jalan aspal selebar sekitar dua meter, menuju Desa Piga, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada.



Jalur Boawae - Soa ini sangat bagus: jalan aspal dan minim lubang. Tidak terlalu lebar, memang, tapi sepadan dengan kendaraan yang juga tidak seberapa ramai. Berasa seperti jalur/jalan privat. Akan sangat jauh berbeda jika mengikuti jalur utama Trans Flores: Boawae - Bajawa, silahkan berlomba-lomba dengan aneka kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil, truk, fuso, tanki minyak, dan lain sebagainya.

2. Entrance dan Parkiran yang Tertata Rapi


Saya suka entrance dan parkiran Air Panas Soa. Parkirannya tertata rapi, dengan pohon-pohon rindang menaungi pengunjung bersantai sejenak, disertai baliho dengan gambar informasi tentang obyek-obyek wisata yang ada di Kabupaten Ngada.



Rata-rata obyek wisata yang ada di baliho itu merupakan obyek wisata 'baru' sehingga jangan cari Kampung Adat Bena, kemungkinan tidak ada. Justru yang ada adalah Watunariwowo di Perbukitan Langa.

3. Jejeran Kios


Ini yang cukup penting dari suatu tempat wisata, terutama jika tempat wisatanya sangat jauh dari daerah perkotaan.


Jejeran kios ini sangat membantu pengunjung dari jauh, seperti kami, yang mengendarai sepeda motor. Maklum, cuaca sedang sangat panas-panasnya. Kalau melihat foto di atas, kalian akan melihat papan informasi karcis masuk. Tidak hanya di situ, di loket pembelian/pembayaran karcis pun ada kertas yang ditempel, kertas itu berisi informasi tentang karcis juga.

4. Pemetaan Lokasi di Dalam Air Panas Soa


Ini keren. Jadi, pemerintah tahu banget soal kebutuhan masyarakat atau pengunjung. Di dalam lokasi Air Panas Soa ada tiga pemetaan utama. Pertama: gazebo. Kedua: taman bunga dan taman buah. Tiga: tempat berendam/pemandian. Ketiganya dihubungkan dengan jalan setapak yang cukup rapi. Tetapi hari itu sedang ada pengerjaan/perbaikan sehingga kami harus memutar ke sana sini hehe.



Selain itu, disediakan pula kamar mandi tempat menyalin pakaian. Maklum, kami masih sangat teguh memegang adat ketimuran sehingga sangat sulit bagi kami memamerkan bodi dengan memakai bikini. Haha. Rata-rata orang yang berendam di Air Panas Soa, kalau lelaki mengenakan celana pendek, kalau perempuan mengenakan kaos dan celana pendek. Kalau yang berhijab tinggak disesuaikan saja. Yang jelas, semua masih sangat sopan untuk sebuah tempat pemandian umum seperti itu. Ingat, ngeres itu datangnya dari diri sendiri *ngikik*. Tempat menyalin baju di mana lagi kalau bukan di kamar mandi?

5. Memegang Adat


Di Air Panas Soa, bagian dekat loket penyerahan karcis masuk, berdiri gagah ngadu.


Ngadu merupakan simbol leluhur lelaki. Sedangkan simbol leluhur perempuan itu bernama bagha yang berbentuk rumah adat mini (ibu sebagai tempat penyimpanan makanan). Menariknya, ngadu yang ini berbeda dengan ngadu yang pernah saya potret di Kecamatan Aimere. Di Kecamatan Aimere, ngadu-nya tanpa tangan.

⇜⇝

Itu dia lima catatan penting saya saat berkunjung ke Ae Sale Mengeruda atau Air Panas Soa. Jelas ya, tempat wisata ini dikelola dengan sangat baik, semuanya serba teratur, jadi malu juga untuk buang sampah sembarangan. Hehe. Tempat sampah ada di mana-mana, makanya kesannya bersih sekali obyek wisata ini. Semua sama-sama menjaganya.
\

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Yang jelas, kalau kalian pergi ke Air Panas Soa melewati jalur dari Timur, jangan lupa untuk mampir foto-foto di perbukitannya yang ausam! Informasi lengkap tentang perjalanan saya, Thika, dan Yusti ke Air Panas Soa, bisa kalian baca di pos berjudul Merendam Kaki di Obyek Wisata Ae Sale Mengeruda.

Yuk ah ...

#KamisLima



Cheers.

Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling


Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling. Dalam rangka ulang tahun Universitas Flores (Uniflor) yang ke-39 (19 Juli 2019 kemarin), Fakultas Teknologi Informasi (FTI) menggelar lomba vlog dengan tema pariwisata, khususnya wisata alam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lomba vlog memang baru pertama kali digelar di Uniflor untuk memberi variasi dari lomba-lomba yang umum diselenggarakan seperti lomba di lini akademik, lini olah raga, maupun di lini seni tarik suara.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Saya memang tidak terlibat langsung dalam kepanitiaan tetapi turut membantu, meskipun tidak banyak, saat inisasi awal. Misalnya tentang kriteria vlog yang harus dipenuhi oleh para peserta. Karena saya diminta untuk turut menjadi juri lomba ini.


Selain saya, ada dua orang lainnya yang juga menjadi juri yaitu Alan dari Rafa Media Creative dan Ihsan Dato. Keduanya sehari-hari berkecimpung di dunia video, baik video kreatif yang dipos di Youtube, maupun video dokumentasi ragam kegiatan di Pulau Flores. Kualitasnya jangan ditanya lagi. Hehe. Lantas, bagaimana dengan saya? Bukankah orang mengenal saya sebagai blogger bukan vlogger? Ya saya memang lebih dikenal sebagai blogger karena semakin ke sini semakin jarang 'turun lapangan' karena sudah diwakili oleh videografer lain yaitu Cahyadi. Artinya? Artinya saya belum pensiun dari dunia videografi *kedip-kedip*.

6 Peserta Dengan 6 Video Kreatif


Kamis, 8 Agustus 2019, penjurian dilakukan di ruang dosen FTI. Ada enam peserta yang mendaftar. Enam peserta ini sudah lebih dari cukup mengingat lomba vlog baru pertama kali dilakukan di Uniflor untuk tingkat SMA dan Perguruan Tinggi, dan hadiahnya belum mencapai belasan hingga puluhan juta. Jangan dibandingkan dengan lomba vlog yang digelar oleh kementrian, misalnya. Tapi ini merupakan langkah awal yang bagus untuk kegiatan-kegiatan serupa di masa yang akan datang. Saya yakin, akan banyak lomba vlog yang digelar kelak oleh Uniflor.

Kriteria penilaian kami bukan dari device yang digunakan. Zaman sekarang device itu hanya penunjang. Peserta boleh memakai telepon genggam, camcorder, DSLR, hingga drone. Karena device ini terkait faktor kebiasaan saja. Ingat istilah the man behind the gun? Kriteria penilaian antara lain:

1. Memenuhi semua persyaratan yang diumumkan.
2. Kesesuaian vlog dengan tema.
3. Teknis: alur, penyuntingan, kesesuaian audio visual.
4. Pesan yang tersampaikan dengan jelas.

Enam peserta ini ada yang berasal dari SMA di Kota Ende seperti SMAK Syuradikara, ada pula mahasiswa dari Uniflor. Dari luar Kabupaten Ende juga ada antara lain dari Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Ngada termasuk mahasiswa dari UKI Ruteng. Video yang mereka kirimkan, menurut saya, bagus-bagus, kreatif, menarik, dan NTT banget. Hanya saja rata-rata banyak yang fokus pada video sehingga kurang memikirkan audio terlebihi balance antara natural sound, vlogger dan/atau narator, dan backsound. Padahal ini cukup penting agar pesan tersampaikan ke penonton. Karena vlog tidak hanya tentang gambar tetapi juga suara.

Ibarat Sedang Traveling


Ya, memang demikian adanya. Tempat-tempat yang disuguhkan dalam enam video tersebut bikin saya merasakan ibarat sedang traveling! Air Terjun Cunca Lega, air terjun dua tingkat di Kabupaten Manggarai membikin teringat Cunca Wulang di Kabupaten Manggarai Barat yang pernah saya kunjungi Mei 2014 silam. Air Panas So'a di Kabupaten Ngada membikin saya teringat Kolam Air Panas Ae Oka di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Bukit Zeda Zamba di Kota Ende yang membikin saya teringat Bukit Watunariwowo di Kabupaten Ngada. Pulau Sabu, membikin saya teringat pada traveling-list yang belum terpenuhi. Hehe.

Bukit Zeda Zamba ini unik. Ternyata, Abang Ooyi pernah menulisnya dalam pos Zeda Zamba Sebuah Kota yang Hilang (2). Silahkan dibaca. Banyak orang yang sudah tiba di puncaknya dan memamerkan foto-foto ciamik dari puncaknya. Kalau tidak salah bukit itu juga sering disebut Bukit Rodja. Dari Kota Ende, bukit itu memang semacam tidak terlihat karena terhalang Gunung Meja. Lokasinya berada diantara Gunung Meja dan Gunung Ia dengan medan yang cukup berat untuk didaki. Bagi orang-orang muda yang kuat, itu bukan masalah. Bagi saya ... itu masalah *ngakak*.

Menjuri lomba vlog tidak jauh beda juga dari menulis blog tentang wisata. Informatif itu hukumnya fadhu'ain. Nama tempat wisatanya, lokasinya, jarak tempuh dari kota terdekat, hingga transportasi yang digunakan. Informasi penting lainnya seperti jika ada biaya masuk berapakah harga tiketnya, musim/bulan apa yang baik datang ke lokasi tersebut, adakah pedagang makanan dan minuman, adakah pedagang cinderamata, dan lain sebagainya. Inilah informasi-informasi penting yang harus disampaikan selain obyek wisata itu sendiri.

Overall, saya menyukai semua video tersebut.

⇜⇝

Harapan saya, semakin banyak lomba vlog yang digelar. Karena apa? Karena vlog juga merupakan kekuatan Indonesia menawarkan pesona wisatanya kepada orang luar (buleeee). Vlog juga salah satu bentuk promosi gratis; terutama para travel vlogger yang mengunggah video mereka ke Youtube. Di satu sisi vlogger bisa memperoleh duit jajan dari me-monetize akun Youtube mereka, di sisi lain pariwisata Indonesia terpublikasikan/promosi gratis.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Yang jelas, siapapun pemenang lomba vlog ini, saya hanya bisa mengucapkan selamat! Pengumuman resmi akan dikeluarkan oleh panitia penyelenggara. Terus berkarya, selalu kreatif, dan terus sebarkan kebaikan kepada semua orang!



Cheers.

Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling


Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling. Dalam rangka ulang tahun Universitas Flores (Uniflor) yang ke-39 (19 Juli 2019 kemarin), Fakultas Teknologi Informasi (FTI) menggelar lomba vlog dengan tema pariwisata, khususnya wisata alam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lomba vlog memang baru pertama kali digelar di Uniflor untuk memberi variasi dari lomba-lomba yang umum diselenggarakan seperti lomba di lini akademik, lini olah raga, maupun di lini seni tarik suara.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Saya memang tidak terlibat langsung dalam kepanitiaan tetapi turut membantu, meskipun tidak banyak, saat inisasi awal. Misalnya tentang kriteria vlog yang harus dipenuhi oleh para peserta. Karena saya diminta untuk turut menjadi juri lomba ini.


Selain saya, ada dua orang lainnya yang juga menjadi juri yaitu Alan dari Rafa Media Creative dan Ihsan Dato. Keduanya sehari-hari berkecimpung di dunia video, baik video kreatif yang dipos di Youtube, maupun video dokumentasi ragam kegiatan di Pulau Flores. Kualitasnya jangan ditanya lagi. Hehe. Lantas, bagaimana dengan saya? Bukankah orang mengenal saya sebagai blogger bukan vlogger? Ya saya memang lebih dikenal sebagai blogger karena semakin ke sini semakin jarang 'turun lapangan' karena sudah diwakili oleh videografer lain yaitu Cahyadi. Artinya? Artinya saya belum pensiun dari dunia videografi *kedip-kedip*.

6 Peserta Dengan 6 Video Kreatif


Kamis, 8 Agustus 2019, penjurian dilakukan di ruang dosen FTI. Ada enam peserta yang mendaftar. Enam peserta ini sudah lebih dari cukup mengingat lomba vlog baru pertama kali dilakukan di Uniflor untuk tingkat SMA dan Perguruan Tinggi, dan hadiahnya belum mencapai belasan hingga puluhan juta. Jangan dibandingkan dengan lomba vlog yang digelar oleh kementrian, misalnya. Tapi ini merupakan langkah awal yang bagus untuk kegiatan-kegiatan serupa di masa yang akan datang. Saya yakin, akan banyak lomba vlog yang digelar kelak oleh Uniflor.

Kriteria penilaian kami bukan dari device yang digunakan. Zaman sekarang device itu hanya penunjang. Peserta boleh memakai telepon genggam, camcorder, DSLR, hingga drone. Karena device ini terkait faktor kebiasaan saja. Ingat istilah the man behind the gun? Kriteria penilaian antara lain:

1. Memenuhi semua persyaratan yang diumumkan.
2. Kesesuaian vlog dengan tema.
3. Teknis: alur, penyuntingan, kesesuaian audio visual.
4. Pesan yang tersampaikan dengan jelas.

Enam peserta ini ada yang berasal dari SMA di Kota Ende seperti SMAK Syuradikara, ada pula mahasiswa dari Uniflor. Dari luar Kabupaten Ende juga ada antara lain dari Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Ngada termasuk mahasiswa dari UKI Ruteng. Video yang mereka kirimkan, menurut saya, bagus-bagus, kreatif, menarik, dan NTT banget. Hanya saja rata-rata banyak yang fokus pada video sehingga kurang memikirkan audio terlebihi balance antara natural sound, vlogger dan/atau narator, dan backsound. Padahal ini cukup penting agar pesan tersampaikan ke penonton. Karena vlog tidak hanya tentang gambar tetapi juga suara.

Ibarat Sedang Traveling


Ya, memang demikian adanya. Tempat-tempat yang disuguhkan dalam enam video tersebut bikin saya merasakan ibarat sedang traveling! Air Terjun Cunca Lega, air terjun dua tingkat di Kabupaten Manggarai membikin teringat Cunca Wulang di Kabupaten Manggarai Barat yang pernah saya kunjungi Mei 2014 silam. Air Panas So'a di Kabupaten Ngada membikin saya teringat Kolam Air Panas Ae Oka di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Bukit Zeda Zamba di Kota Ende yang membikin saya teringat Bukit Watunariwowo di Kabupaten Ngada. Pulau Sabu, membikin saya teringat pada traveling-list yang belum terpenuhi. Hehe.

Bukit Zeda Zamba ini unik. Ternyata, Abang Ooyi pernah menulisnya dalam pos Zeda Zamba Sebuah Kota yang Hilang (2). Silahkan dibaca. Banyak orang yang sudah tiba di puncaknya dan memamerkan foto-foto ciamik dari puncaknya. Kalau tidak salah bukit itu juga sering disebut Bukit Rodja. Dari Kota Ende, bukit itu memang semacam tidak terlihat karena terhalang Gunung Meja. Lokasinya berada diantara Gunung Meja dan Gunung Ia dengan medan yang cukup berat untuk didaki. Bagi orang-orang muda yang kuat, itu bukan masalah. Bagi saya ... itu masalah *ngakak*.

Menjuri lomba vlog tidak jauh beda juga dari menulis blog tentang wisata. Informatif itu hukumnya fadhu'ain. Nama tempat wisatanya, lokasinya, jarak tempuh dari kota terdekat, hingga transportasi yang digunakan. Informasi penting lainnya seperti jika ada biaya masuk berapakah harga tiketnya, musim/bulan apa yang baik datang ke lokasi tersebut, adakah pedagang makanan dan minuman, adakah pedagang cinderamata, dan lain sebagainya. Inilah informasi-informasi penting yang harus disampaikan selain obyek wisata itu sendiri.

Overall, saya menyukai semua video tersebut.

⇜⇝

Harapan saya, semakin banyak lomba vlog yang digelar. Karena apa? Karena vlog juga merupakan kekuatan Indonesia menawarkan pesona wisatanya kepada orang luar (buleeee). Vlog juga salah satu bentuk promosi gratis; terutama para travel vlogger yang mengunggah video mereka ke Youtube. Di satu sisi vlogger bisa memperoleh duit jajan dari me-monetize akun Youtube mereka, di sisi lain pariwisata Indonesia terpublikasikan/promosi gratis.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe


Juara I ~ Veronika Raymond
SMAK Syuradikara Ende
Judul: Wisata Alam di Ende

Juara II ~ Irena Juniarti Veranda Rea
SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng
Judul: Air Terjun Cunca Lega Ruteng

Juara III ~ Chriakus Hendra Pola Nea
Fakultas Bahasa dan Sastra Uniflor
Judul: Pulau Raijua Anak Dara dari Selatan Indonesia

Yang jelas, siapapun pemenang lomba vlog ini, saya hanya bisa mengucapkan selamat! Kalian layak jadi jawara. Terus berkarya, selalu kreatif, dan terus sebarkan kebaikan kepada semua orang!



Cheers.

5 Lokasi Terdekat Untuk Berwisata Sekitar Kota Ende


Hola! Ketemu lagi di #KamisLima. Apakah lima hal yang bakal saya tulis kali ini? Yaaaa sudah ketahuan dari judulnya *dijitak dinosaurus*. Kali ini saya mau menulis tentang liima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende. Kenapa menulis ini? Karena ada beberapa tempat wisata ter-update, baik atraksi wisata alam maupun atraksi wisata buatan, yang wajib kalian ketahui jika hendak datang ke Ende. Atraksi utama, Danau Kelimutu, tentu tidak akan saya bahas di sini. Atraksi wisata sejarah di dalam kota pun tidak akan saya bahas karena sudah pernah ditulis di pos berjudul 5 Wisata di Dalam Kota Ende.

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

Jadi, apa saja lima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende? Mari kita cari tahu *suara gong guedeeee banget*. Semua ini gara-gara aksi jalan-jalan padahal belum musim liburan lagi. Haha.

1. Dapur Jadul, Pantai Raba


Pos tentang Dapur Jadul di Pantai Raba selengkapnya bisa kalian baca di blog travel pada pos berjudul Dapur Jadul, Bukan Dapur Biasa. Dapur Jadul menawarkan atraksi wisata alam yaitu pantai yang dipadu dengan atraksi wisata buatan yaitu spot-spot instagenic. Selain itu kalian juga bisa bersantai di beanbag-nya, menikmati suasana dan makanan serta minuman! Ingat, es tiramisu itu enaknya luar biasa bikin kangen. Cihuy!


Jaraknya hanya 10-an kilometer dari Kota Ende, arat Barat. Dekat lah :)

2. Embung Boelanboong, Wologai Tengah


Embung ini dulunya bernama Embung Resetlemen sesuai nama dusunnya. Namanya kemudian berubah menjadi Embung Boelanboong. Di sekitar embung ini dibangun saung-saung untuk bersantai, spot-spot instagenic, taman bunga dengan bibit-bibit bunga yang sedang tumbuh (waktu saya ke sana), serta kalian bisa memesan kopi, teh, dan jagung rebus! Suka sekali sunset-an di embung ini, meskipun yaaaa ... pulang ke Kota Ende pasti dingin banget dalam musim yang sedang sangat dingin ini. Jaraknya sekitar 45 kilometer dari Kota Ende.


Kalau kalian mau tahu lebih detail tentang embung ini, silahkan baca pos berjudul Sunset di Embung Boelanboong, Wologai Tengah.

3. Kampung Adat Saga


Kalau dari Kota Ende menuju cabang menuju Desa Adat Saga ini hanya sekitar 20 kilometer. Sayangnya saya belum ke sana. Jadi, belum bisa lah saya menulis sedikit panjang tentang kampung adat yang satu itu. Tapi tenang saja, rencananya baru Hari Minggu depan, atau depannya lagi. Tapi yang jelas saya pasti menulisnya di blog travel.

4. Jalur Trekking


Jalur trekking yang satu ini sebenarnya berada di dekatnya Embung Boelanboong juga, di sisi Barat. Ada gapura besar yang menandainya.


Jalur trekking dari Wologai Tengah menuju Danau Kelimutu. Kalau kalian masih kuat jalan, tidak seperti saya yang sudah uzur, boleh dicoba jalur yang satu ini. Selamat berjuang dan menikmati alam! Hehe. Jarak dari Kota Ende ke lokasi gapura ini hanya sekitar 45 kilometer saja.

5. Pantai Aeba'i


Kalau kalian rajin main ke blog travel saya, pasti sudah tidak asing lagi dengan Pantai Aeba'i, pantai favorit keluarga kami berpiknik! Encim and the gank wajib ke sini hehe.

Bersama Harry Kawanda, traveler of the century. Haha.

Piknik mah tidak perlu jauh. Apalagi piknik sekeluarga. Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Ende. Pantai, laut, Pulau Ende Kota Ende ... komplit pemandangannya.

⇝⇜

Itu dia lima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende. Tentunya selain atraksi utama yang selalu kami banggakan, Danau Kelimut, pun wisata sejarah jejak Bung Karno ketika diasingkan ke Kota Ende. Semoga suatu saat nanti kalian akan datang ke sini dan ikut menikmati semua yang sudah saya tulis di sini, termasuk di blog travel.

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

Ditunggu di Ende, ya!



Cheers.

Berburu Spot Foto Instagenic di Dapur Jadul di Raba


Saya sudah pernah menulis, bisa dicari di blog travel ini, tentang Ibu Kota Kabupaten Ende yaitu Kota Ende yang dikelilingi oleh gunung dan pantai. Ibarat asam di gunung, garam di laut, bertemu di mangkuk bernama Kota Ende. Alhamdulillah salah satu lokasi pantai di daerah Raba, sekitar sepuluh kilometer arah Barat Kota Ende, kemudian dimanfaatkan oleh pengurus dan pengelola Ponpes Panti Asuhan Wali Sanga, Kakak Nona Eka, sebagai tempat pelesir bernama Dapur Jadul.

Baca Juga: Seorang Kapten Kebanggaan yang Gugur Saat Bertugas

Dapur Jadul dibikin dengan konsep: tempat makan, tempat bersantai, dan tempat berburu foto. Seperti yang sudah sering saya bilang, suasana merupakan komoditi utama yang dijual, setidaknya demikian penilaian saya terhadap Dapur Jadul. Siapa sih yang tidak senang bersantai sekeluarga di tepi pantai, bisa main di pasir, makan-makan, bahkan bisa sambil tiduran karena disediakan pula beanbag. Karena, makanan bisa kita temukan di mana saja, termasuk di dalam Kota Ende yang dijamuri kafe kekinian, tapi suasana ... itu perkara lain.

Dari pintu masuk, pengunjung langsung disambut sama petugas parkir yang kadang membantu pengunjung memarkir kendaraan roda dua. Kalau roda empat, silahkan parkir di area roda empat lah. Setelah itu pengunjung disambut dua atau tiga petugas lagi yang mengenakan kain kotak-kotak, baik perempuan maupun laki-laki. Mereka ini yang bakal menyerahkan menu dan form pesanan. Dibawa saja dulu, nanti kalau sudah menentukan menu, boleh memanggil petugas yang lalu-lalang di sekitar. Jangan lupa menulis nama dan nomor meja. Meja-mejanya juga ada yang berbahan peti kayu/palet. Asyiklah!

Pusat Dapur Jadul, bagian dapur, terletak di sisi Timur, cukup luas, dengan bagian depan yang ditata apik pun menjadi spot foto seperti ranjang dengan aneka bunga, vespa jadul (seperti foto di atas), baliho besar yang keseluruhannya bergambar Bung Karno, latar kain-kain dengan pigura (kebesaran ini piguranya haha), hingga ornamen-ornamen unik.

Yang paling menarik, saya yakin ini magnet terbesar karena pertama di Kota Ende, adalah disediakannya motor ATV dengan track sepanjang pantai.  Ada dua motor ATV yang disediakan tapi tetap saja saya tidak kebagian. Antriannya panjang, woih. Semua orang harus 'menaikinya' dan mungkin mengendarai ATV merupakan cita-cita yang dibawa saar keluar rumah menuju Dapur Jadul. Saya harus ke sana lagi lah biar punya foto kekinian dengan motor ATV hahaha.

Karena saya sudah menulis tentang Dapur Jadul, lengkap pakai bonus kedipan mata, di blog travel, kalian bisa langsung membacanya di sana.

Baca Juga: PBSI Belajar Nge-blog

Yang jelas, Dapur Jadul yang terletak di pinggir Pantai Raba juga di pinggir Jalan Ende - Nangapanda (sekitar sepuluh kilometer ke arah Barat dari Kota Ende) itu sangat mempesona. Dapur Jadul memadukan atraksi wisata alam (pantai) dan wisata buatan (aneka spot foto instagenic). Tidak dikenakan biasa masuk, boleh membawa makanan dari luar, tapi tetap harus ada pesanan makanan ke dapurnya Dapur Jadul. Asyik kan?

Hyuk main ke sini :)




Cheers.

Aman dan Nyaman Jalan-Jalan (Traveling) Keliling Solo Pakai GOJEK


Teng Teng Teng Teng, Teng Teng Teng Teng.

"Mohon perhatian, kereta api Jayakarta akan tiba di stasiun Solo Balapan. Bagi Anda yang akan mengakhiri perjalanan di stasiun Solo Balapan, kami persilahkan untuk mempersiapkan diri. Periksa dan teliti kembali barang bawaan anda jangan sampai ada yang tertinggal."

Sebetulnya saya masih menahan kantuk. Maklum saja jarum jam hampir bergeser sempurna di angka 12. Dan, selama perjalanan 9 jam dari stasiun Pasar Senen, saya hanya bisa tertidur kurang lebih satu jam. 

Selebihnya, saya tertarik dengan drama Jepang yang menceritakan tentang gadis bisu dan tuli yang pandai memainkan biola. Drama seri ini sebetulnya sudah sangat lama, mungkin keluaran tahun 2006. Tapi yang spesial adalah drama inilah yang membuat saya belajar bahasa Jepang lebih mendalam. 

"Gambarimasu."

Ungkapan penyemangat dalam bahasa Jepang yang selalu saya ingat ketika saya sedang dalam keadaan terpuruk dan tidak bersemangat.

"Yuk."

Saya tidak sendiri. Bersama beberapa orang teman dari Jakarta, kami kebetulan terlibat sebuah acara di Sragen. Namun, karena Sragen tidaklah terlalu jauh dari Solo, maka kami menginap di Solo. Dan, beruntungnya lagi kami memiliki waktu yang terbilang cukup untuk jalan-jalan keliling kota Solo. Walaupun sebetulnya waktu dua sampai tiga hari ini hampir dipastikan sangat kurang bagi saya. 

Tengah malam di Solo, bikin sedikit khawatir bagaimana cara menuju ke hotel di tengah kota Solo. Jarak dari stasiun ke hotel tak kurang dari 3 kilometer. Tapi gempor juga kalau kita jalan kaki dari stasiun. 

"Kita pesan GO-CAR aja ya. Nanti patungan aja."

Saya tersenyum dan mengangguk, tanda setuju. Lagian siapa yang akan protes kalau kekhawatiran sudah sirna. Maklum sudah tengah malam dan acara kami lumayan pagi. 

"Kita berempat duluan ya."

Kebetulan jumlah kami berdelapan, jadi pas banget dibagi dalam 2 rombongan.

"Eh, mas ini tasnya?"

Saya berpandangan dengan teman saya. Kayaknya bukan tas saya, tapi tas teman saya, Aris.

"Eh, kita kerjain aja. Bilang aja kita enggak bawa tasnya. "

Di tengah malam dan sudah terlalu capek ternyata ada saja hal yang bikin saya tersenyum.


Belum genap sepuluh menit, mobil yang membawa kami pun hampir sampai di hotel. Nada dering smartphone saya berbunyi. Ternyata Aris menelpon. Dari balik kaca mobil, saya sudah melihatnya panik dan terlihat sangat bingung.

"Iya, ada kok di gue."

Saya enggak tega melihat teman saya panik, akhirnya rencana untuk ngerjain Aris batal. Dan, kami pun langsung ke kamar dan istirahat. Esoknya kami pun ke acaranya.

Solo itu di tengah-tengah antara Semarang dan Yogyakarta. Dan, di Solo inilah saya selalu menikmati sajian kuliner dan tempat-tempat wisata baik yang mainstream maupun yang jarang dilirik dan sangat jauh dari Solo sekitar satu atau dua jam dari tengah kota. 

Pilihan yang paling sempurna adalah kuliner. Inilah yang menyatukan kami semua. Dari pada berantem gara-gara tidak bisa satu suara dalam menentukan tempat wisata mana saja yang harus kami kunjungi. 

Tapi ternyata tak semudah yang dibayangkan. Baru saja turun dari GO-CAR yang kami pesan tadi di hotel. Ternyata warungnya tutup. 

"Terus kita makan apa donk?"

Kami mencoba berjalan dari pasar, ternyata tak lama kemudian sampailah di warung ayam bakar. Sebuah warung yang tidak terlalu kami kenal. Namun, rupanya perut kami memanggil. Oke, kami putuskan untuk makan di warung ini. 

Kami saling pandang ketika melahap ayam dan nasi hangat. Lalu tak sadar, nasi yang saya makan tersisa hanya satu kepal tangan lagi. Artinya hanya sesuap lagi nasi ini akan habis.

"Mba, pesan nasi satu lagi. Eh, dua."


Ternyata bukan hanya saya saja yang merasakan kenikmatan melahap ayam bakar ini. Peruntungan kami memutuskan makan di sini tidaklah salah. Ayam bakar dan cap caynya memang the best. Kami puas dan kenyang malam itu. 

Setelah mampir di warung, ini ternyata kami belum puas dan memutuskan untuk mampir ke Solo Paragon, bebuah mall yang tak jauh dari hotel kami. Dan, lagi-lagi GO-CAR menyelamatkan kami. Kami tak harus menunggu waktu lama, karena hanya kurang dari lima menit, mobil berplat AD ini sudah di depan mata kami. 

"Siam Paragon ya Pak."

"Iya Mas."

Saya duduk paling depan sementara tiga orang lainnya berjejer di jok tengah. 

"Siam Paragon? Solo Paragon kali?"

Saya tersenyum mengetahui kesalahan saya menyebutkan mall terbesar di Solo ini. Maklum saya dan Rafel baru saja membahas Thailand. Rafel ini pandai berbicara mengunakan bahasa Thailand

"Sawadee Krab."

Saya hanya mampu mengucapkan itu saja, sementara Rafel sudah berbicara lancar dengan logat Thailand yang melengking, salah satu ciri khas logat negeri gajah putih.


Berkat GOJEK, saya dan teman-teman bisa menjangkau tempat-tempat strategis di Solo dalam hitungan menit. Oh iya, selain itu sekarang sudah ada fitur-fitur keamanan seperti Tombol Darurat di GO-CAR, Bagikan Perjalanan, dan sudah dilengkapi perlindungan asuransi. Jadi, semakin tidak khawatir lagi jika jalan-jalan atau traveling keliling kota Solo

Esok kami memiliki rencana mengunjungi Pura Mangkunegara dan Pasar Klewer serta kembali lagi ke Mall Solo Paragon

Seperti biasa, kami memesan GO-CAR. Dan, kali ini gilirannya jatuh pada Uwan dan Rafel. Seperti biasa kami memesan dua mobil karena jumlah kami yang bertujuh, karena satu orang sudah pulang terlebih dahulu. 

Saya tidak pernah meragukan kualitas Driver GO-CAR karena sudah sangat terlatih, bahkan sudah sangat mahir. Shut, mau tahu enggak kenapa bisa mahir sepert ini? Rupanya setelah melewati seleksi ketat, mereka juga diberikan modul pelatihan yang berisi informasi mengenai cara menggunakan aplikasi pengarah jalan, cara merawat kondisi kendaraan, patuh pada peraturan lalu lintas, dan cara memberikan pelayanan yang baik.

Untuk semakin meningkatkan kemampuan berkendara dengan aman, GOJEK bekerja sama dengan Rifat Drive Labs (RDL) dalam penyelenggaraan pelatihan bagi para driver.


Program RDL GOJEK ini diinisiasi Duta Keselamatan Berkendara, Rifat Sungkar. Melalui program ini, mitra driver diberikan pelatihan seperti pengetahuan tentang tanggung jawab, kesabaran, dan empati, defensive riding, keselamatan berkendara, pre trip inspection dan sesi praktek.

Dalam waktu 4 tahun lebih dari 300 ribu driver telah mengikuti program ini di 20 kota di Indonesia. Antusiasme pun tak menurun sampai sekarang, RDL GOJEK masih berjalan setiap bulannya dan diikuti sekitar 10 ribu driver.

GOJEK memberikan edukasi kepada mitra driver melalui #TrikNgetrip. Program ini memberikan edukasi kepada mitra dengan cara yang menyenangkan mengenai memberikan pelayanan terbaik, dan tips dalam berkendara serta perjalanan.

Tak hanya itu, GOJEK juga menyelenggarakan serangkaian workshop dalam upaya meningkatkan keterampilan mitra driver melalui Bengkel Belajar Mitra. Program ini rutin diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia dengan menggandeng para profesional di bidangnya masing-masing untuk memberi pembekalan kepada driver GOJEK dalam meningkatkan layanan dan mengasah pengetahuan di bidang lainnya.

Jadi, nggak ada alasan untuk takut driver nggak bisa mengatasi masalah yang terjadi saat melakukan trip. Mereka udah andal semua!

Untuk para mitra driver yang telah memberikan pelayanan prima dan memiliki kontribusi lebih di masyarakat, GOJEK turut mengapresiasi dengan memberikan sebuah penghargaan, bernama Driver Jempolan. Penghargaan ini diberikan GOJEK untuk memotivasi para mitra driver untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanan mereka. Penghargaan ini disematkan pada driver berupa pin pada jaket GOJEK mereka.

Lah kalau misalnya malam-malan sendirian dan pengen share perjalanan, ke keluarga atau teman bagaimana? Memang GOJEK sudah ada fitur ini? 

Tenang aja, GOJEK sudah memiliki fitur bagikan perjalanan. Bagikan Perjalanan ini adalah fitur yang memungkinkan pengguna membagikan tautan kepada keluarga atau kerabat melalui Whatsapp, LINE, SMS, atau aplikasi bertukar pesan lainnya.

Tautan berisi informasi berupa titik pick up dan drop off; informasi pengendara secara detail baik nama, nomor kendaraan, dan nomor pesanan; serta live location (lokasi saya sekarang). Dengan fitur ini, pengguna dapat merasakan keamanan karena perjalanannya dipantau oleh orang-orang terdekatnya. 

Ya, saya merasa aman dan nyaman. Dan, sudah merasakan namanya #UninstallKhawatir. Setiap saya berada di wilayah mana pun, saya selalu menanyakan, apakah kota ini sudah ada GOJEK-nya. Bahkan, di kota kelahiran saya, Pemalang pun sudah ada GOJEK. 

"Eh, ini kan hari Senin. Biasanya museum tutup semua."



Saya berusaha mengecek apakah betul Pura Mangkunegara ini termasuk yang meliburkan diri atau tidak. Ternyata saya salah, Pura ini merupakan kediaman keluarga keraton yang dikelola oleh pribadi sehingga dibuka setiap hari. 

Dan, kami keliling di dalam Pura Mangkunegara ditemai dengan seorang pemandu. Pemandu kami mungkin cukup sabar, karena tujuan saya dan teman-teman tak lain tak bukan adalah foto-foto. Bahkan setiap sudut Istana ini pun kami selalu berhenti.

"Ayo kita ke dalam."

Otomatis kami menghentikan aktivitas foto-foto dan segera masuk ke dalam. Dan, setelah dari singasana, kami masuk ke taman yang menyajikan ornamen perpaduan antara Jawa dan Eropa. 

Saya sebetulnya sangat kagum. Sampai-sampai saya menyimpulkan kalau pada ratusan tahun silam, antara Keraton dan Kerajaan lain di belahan dunia sudah menjalin sebuah kerjasama, jauh sebelum berdirinya Indonesia. 

Puas berputar-putar dan foto-foto di dalam Pura Mangkunegara, kami melanjutkan perjalanan ke pasar Klewer untuk mencari batik. Sebetulnya sebelum ke Mall Solo Paragon, kami singgah sebentar di Keraton Surakarta Hadiningrat. Namun sayang, Keraton sudah tutup beberapa menit lalu. Tapi seperti biasa, kami masih menyempatkan diri untuk berfoto disana. 

Lalu destinasi wisata mana lagi yang harus dijelajahi selain yang sudah disebutkan diatas? Tenang saja, saya masih memiliki rekomendasi wisata di kota Solo.


Kampung Batik Kauman

Kampung Batik Kauman merupakan kawasan di dekat pasar Kliwon. Konon, kawasan kauman ini merupakan kampung khusus sebagai pembuat batik dari keluarga Keraton. Selain pengrajin batik, kamu bisa juga berfoto-foto di sekitar berupa bangunan kuno yang bagus sebagai peghias feed instagram kamu.

Pasar Triwindu

Tak jauh dari Pura Mangkunegaran, berjalan sekitar 5-10 menit, kamu bisa menemukan pasar Triwindu. Pasar ini merupakan pasar barang unik dan antik yang sangat langka serta jarang ditemukan dipasar. Seperti aku kan, satu-satunya di dunia ini loh? Hahaha.

Agrowisata Sondokoro

Suasana alam yang rindang membuat banyak orang menyukai Agrowisata Sondokoro. Tempat ini buka dari 08.00 hingga 17.00. Di Agrowisata ini, kamu akan dimanjakan dengan terapi ikan, pijak refleksi, kuliner lezat, dan sebagainya. Kamu bisa bebas bermain sepuasnya, ada kolam renang dan flying fox.

Benteng Vastenburg

Benteng ini merupakan peninggalan Belanda yang dulunya digunakan untuk mengawasi Surakarta. Benteng ini dibangun sekitar tahun 1745 di kawasan Gladak. Benteng ini merupakan salah satu icon selain Keraton. Jadi jangan sampai tidak foto di benteng ini jika mengunjungi Solo. 


Saya tersenyum puas setelah sampai di Mall Solo Paragon. Setidaknya saya sudah keliling dan jalan-jalan di Solo berkat bantuan GOJEK. Salah satu kekhawatiran saya sudah hilang, bahkan sudah saya #UninstallKhawatir

"Beberapa fitur GOJEK ini bisa digunakan kalau update aplikasi."

Oh iya, saya jadi ingat kalau fitur-fitur keamanan seperti Tombol Darurat di GO-CAR dan bagikan perjalanan hanya terdapat di aplikasi GOJEK yang paling ter-update

Fitur Tombol Darurat ini memungkinkan pengguna mendapatkan rasa aman karena GOJEK menyediakan tombol yang dapat digunakan untuk keadaan atau situasi darurat. Tombol tersebut akan langsung terhubung pada Unit Darurat GOJEK yang siap melayani 24/7. Kabar baiknya nih, Tombol Darurat sudah bisa diakses customer GO-CAR se-Indonesia. Semoga bisa segera diakses di GO-RIDE ya. Tapi ya, semoga saja fitur ini nggak terpakai deh karena perjalanan kita aman-aman saja.

Selain fitur keamanan, apalagi yang sangat membantu para traveler atau pejalan khususnya di Indonesia?

Kini jika terjadi kecelakaan atau pencurian selama perjalanan, maka kita bisa memanfaatkan perlindungan asuransi. Tenang saja, perjalanan menggunakan layanan GO-RIDE kita dijamin kok dari titik penjemputan hingga lokasi tujuan.

Asuransi GO-RIDE ini merupakan hasil kerja sama GOJEK dan platform asuransi digital. Asuransi penumpang GO-RIDE ini otomatis aktif, berlaku se-Indonesia, dari waktu penjemputan hingga tiba di tujuan.


Solo memiliki kenangan, bahkan saya ingat betul ketika beberapa tahun lalu saya seorang diri menjelajah kota Liwet ini. Saya sangat terbantu dengan GOJEK. Sekitar 4 hari saya menjelajah Solo tanpa ada rasa khawatir dan merasa beruntung karena dapat menjelajah destinasi wisata yang tak biasa, atau anti-mainstream.

Tidak ada lagi rasa khawatir pada saat menjelajah setiap sudut Indonesia, karena saya merasakan keamanan dan kenyamanan di setiap perjalanan dengan GOJEK. 

Dan, sudah saatnya saya #UninstallKhawatir dengan menggunakan GOJEK. Oh iya jangan lupa untuk update aplikasi GOJEK sehingga bisa menggunakan fitur-fitur keamanan terbaru ini.

Yuk, sudah waktunya pakai GOJEK!

Destinasi Wisata Anti Mainstream Dan Instagramable Di Indonesia


Siapa yang pengen liburan dan bersenang-senang? Atau malah pengen mengabadikan setiap momen liburan dengan destinasi wisata yang anti mainstream dan instagramble. Mungkin karena pada setiap jalan-jalan atau liburan hanya fokus dengan hotel dan tiket saja tanpa sempat memikirkan apa saja destinasi yang unik dan cocok buat foto-foto. Yes,  Instagram itu sudah menjadi candu yang sulit dilepaskan karena setiap hari kita dimanjakan dengan foto-foto bagus yang wow dan menyenangkan mata kita, padahal dibalik itu dibutuhkan banyak waktu lagi untuk menghasilkan foto yang ngga itu-itu aja dan anti mainstream.

Sebetulnya di Indonesia itu banyak banget tempat-tempat yang sudah kita kenal dan memang menjadi salah satu magnet untuk datang ke sana. Sebut saja Bali dan Yogyakarta. Bali itu sudah menjadi icon wisata Indonesia. Bahkan setiap saya ke luar negeri,  pasti orang luar negeri sangat mengenal Bali jauh lebih banyak hal dibandingkan dengan saya yang asli dari Indonesia.

"Nasi Goreng."

Saat saya berada di Gala Yuzawa, salah satu tempat bermain ski di Jepang. Seorang petugasnya langsung menyebutkan kata nasi goreng.

"Oishii."

Saya langsung merespon dengan bahasa Jepang yang berarti enak. Kemudian dia tersenyum dan kemudian dia menyebutkan makanan lain lain seperti gado-gado. Saya sempat takjub dengan kecintaannya dengan masakan Indonesia.

"Bulan depan saya akan ke Bali."

Dia kemudian menerangkan dalam bahasa Inggris bahwa ia sering bolak-balik ke Bali.

"Kamu punya cowok orang Bali?"

Dia tertawa sementara antrian lainnya masih mengular dan membiarkan kami bercanda. Dia mengangguk dan sangat senang dengan orang Indonesia yang sangat baik dan ramah.

Saya bangga sekali dengan keramahan dan kebaikan yang sering kita sampaikan lewat senyum,  dan harusnya kita bangga juga dengan wisata Indonesia.

Nah,  saya akan membeberkan beberapa tempat yang sebetulnya sangat Instagramable dan Anti Mainstream di Indonesia.

Bali


Walaupun Bali sudah sangat ternama dan sering berkunjung ke sana,  tapi sebetulnya masih banyak yang belum dijelajahi. Salah satunya adalah Karang Asem. Di Karang Asem banyak sekali tempat yang masih sangat bagus dan jarang di kunjungi karena lumayan memakan waktu kalau kita menginap di area sekitar Denpasar. Kurang lebih sekitar 2 jam waktu perjalanan sehingga tidak menjadi wisata favorite.

Walaupun tidak menjadi tempat favorite,  tapi banyak sekali tempat yang harus dikunjugi salah satunya adalah Taman Bunga Kasna. Sangat jarang orang yang mau berkunjung ke sana,  padahal pemandangannya dan taman bunganya sangat bagus. Bahkan bunga yang ditanam ini pun sebetulnya untuk dijual. Karena itulah,  bunganya menjadi sangat terawat dan sangat rindang. Bukan hanya bunga saja, tapi ada beberapa tempat selfie yang cocok untuk koleksi foto di feed Instagram.

Selain taman bunga Kasna, Karang Asem memiliki Taman Air Tirta Gangga,  Istana Air Taman Ujung dan Pura Lempuyangan yang masih sangat hits.

Jakarta


Walaupun bukan tempat wisata yang favorite,  tapi Jakarta sebetulnya memiliki banyak tempat yang instagramable dan bisa dijumpai disekeliling kita. Bahkan sebagai penduduk Jakarta pun,  saya baru tahu kalau banyak tempat kece buat menambah koleksi feed Instagram. Pasti pada penasaran kan?

Sebut saja Gelora Bung Karno, salah satu kawasan olahraga yang beberapa waktu lalu menjadi buah bibir karena sukses menyelenggarakan Asian Games ini memiliki spot-spot yang jarang di ketahui oleh orang. Kalau yang sering olahraga disekitar komplek ini pasti sudah tahu spot-spot mana saja yang sering digunakan untuk foto-foto kece.

Istora Senayan sebetulnya gedung lama, namun setelah direnovasi dan dipercantik dengan banyak alang-alang membuat Istora semakin Insagramable banget. Bukan hanya alang-alang saja yang mempercantik,  tapi gedung-gedung pencakar langit pun mampu menghias foto kita menjadi sangat kece.

Selain kawasan GBK,  Jembatan Penyebrangan Orang atau JPO di sekitaran GBK juga patut dicoba untuk menambah warna-warni Instagram kamu.

Solo


Siapa bilang Solo itu ngga menarik? Sebetulnya, Solo memiliki banyak tempat foto yang bagus seperti di Mangkunegaran. Salah satu Keraton di Solo ini memiliki sentuhan klasik dengan sentuhan Eropa pada beberapa bagian. Dahulu,  Sultan memiliki hubungan yang baik dengan Kerjaan lain di wilayah Eropa sehingga mendapatkan benda-benda yang menjadi bagian dari Keraton.

Seperti pada wilayah dalam yang sangat klasik dengan taman serta air mancur yang menambah Solo menjadi sangat Istimewa.

Masih Banyak Yang Lain

Sebetulnya masih banyak sekali tempat yang sangat Instagramable di Indonesia, bahkan disekitar kita pun banyak sekali yang kece-kece tapi tidak kita ketahui.

Nah salah satunya yang bisa kunjungi adalah Sumatera Barat. Provinsi dengan Ibu Kota Padang ini selalu memikat hati. Bukan hanya karena banyak warung nasi Padang saja namun karena keindahan alam yang mampu menyihir kita untuk tetap tinggal dan lama berlibur. Mau tahu apa saja destinasi yang mampu memikat hati kita? Penasaran? klik di sini aja .

Sebetulnya masih banyak yang lain yang bisa dijelajahi,  nah saya akan bahas tempat lainnya di postingan selanjutnya.

Selamat berlibur dan keliling Indonesia ya.



Destinasi Wisata Anti Mainstream Dan Instagramable Di Indonesia


Siapa yang pengen liburan dan bersenang-senang? Atau malah pengen mengabadikan setiap momen liburan dengan destinasi wisata yang anti mainstream dan instagramble. Mungkin karena pada setiap jalan-jalan atau liburan hanya fokus dengan hotel dan tiket saja tanpa sempat memikirkan apa saja destinasi yang unik dan cocok buat foto-foto. Yes,  Instagram itu sudah menjadi candu yang sulit dilepaskan karena setiap hari kita dimanjakan dengan foto-foto bagus yang wow dan menyenangkan mata kita, padahal dibalik itu dibutuhkan banyak waktu lagi untuk menghasilkan foto yang ngga itu-itu aja dan anti mainstream.

Sebetulnya di Indonesia itu banyak banget tempat-tempat yang sudah kita kenal dan memang menjadi salah satu magnet untuk datang ke sana. Sebut saja Bali dan Yogyakarta. Bali itu sudah menjadi icon wisata Indonesia. Bahkan setiap saya ke luar negeri,  pasti orang luar negeri sangat mengenal Bali jauh lebih banyak hal dibandingkan dengan saya yang asli dari Indonesia.

"Nasi Goreng."

Saat saya berada di Gala Yuzawa, salah satu tempat bermain ski di Jepang. Seorang petugasnya langsung menyebutkan kata nasi goreng.

"Oishii."

Saya langsung merespon dengan bahasa Jepang yang berarti enak. Kemudian dia tersenyum dan kemudian dia menyebutkan makanan lain lain seperti gado-gado. Saya sempat takjub dengan kecintaannya dengan masakan Indonesia.

"Bulan depan saya akan ke Bali."

Dia kemudian menerangkan dalam bahasa Inggris bahwa ia sering bolak-balik ke Bali.

"Kamu punya cowok orang Bali?"

Dia tertawa sementara antrian lainnya masih mengular dan membiarkan kami bercanda. Dia mengangguk dan sangat senang dengan orang Indonesia yang sangat baik dan ramah.

Saya bangga sekali dengan keramahan dan kebaikan yang sering kita sampaikan lewat senyum,  dan harusnya kita bangga juga dengan wisata Indonesia.

Nah,  saya akan membeberkan beberapa tempat yang sebetulnya sangat Instagramable dan Anti Mainstream di Indonesia.

Bali


Walaupun Bali sudah sangat ternama dan sering berkunjung ke sana,  tapi sebetulnya masih banyak yang belum dijelajahi. Salah satunya adalah Karang Asem. Di Karang Asem banyak sekali tempat yang masih sangat bagus dan jarang di kunjungi karena lumayan memakan waktu kalau kita menginap di area sekitar Denpasar. Kurang lebih sekitar 2 jam waktu perjalanan sehingga tidak menjadi wisata favorite.

Walaupun tidak menjadi tempat favorite,  tapi banyak sekali tempat yang harus dikunjugi salah satunya adalah Taman Bunga Kasna. Sangat jarang orang yang mau berkunjung ke sana,  padahal pemandangannya dan taman bunganya sangat bagus. Bahkan bunga yang ditanam ini pun sebetulnya untuk dijual. Karena itulah,  bunganya menjadi sangat terawat dan sangat rindang. Bukan hanya bunga saja, tapi ada beberapa tempat selfie yang cocok untuk koleksi foto di feed Instagram.

Selain taman bunga Kasna,  Karang Asem memiliki Taman Air Tirta Gangga,  Istana Air Taman Ujung dan Pura Lempuyangan yang masih sangat hits.

Jakarta


Walaupun bukan tempat wisata yang favorite,  tapi Jakarta sebetulnya memiliki banyak tempat yang instagramable dan bisa dijumpai disekeliling kita. Bahkan sebagai penduduk Jakarta pun,  saya baru tahu kalau banyak tempat kece buat menambah koleksi feed Instagram. Pasti pada penasaran kan?

Sebut saja Gelora Bung Karno, salah satu kawasan olahraga yang beberapa waktu lalu menjadi buah bibir karena sukses menyelenggarakan Asian Games ini memiliki spot-spot yang jarang di ketahui oleh orang. Kalau yang sering olahraga disekitar komplek ini pasti sudah tahu spot-spot mana saja yang sering digunakan untuk foto-foto kece.

Istora Senayan sebetulnya gedung lama, namun setelah direnovasi dan dipercantik dengan banyak alang-alang membuat Istora semakin Insagramable banget. Bukan hanya alang-alang saja yang mempercantik,  tapi gedung-gedung pencakar langit pun mampu menghias foto kita menjadi sangat kece.

Selain kawasan GBK,  Jembatan Penyebrangan Orang atau JPO di sekitaran GBK juga patut dicoba untuk menambah warna-warni Instagram kamu.

Solo


Siapa bilang Solo itu ngga menarik? Sebetulnya, Solo memiliki banyak tempat foto yang bagus seperti di Mangkunegaran. Salah satu Keraton di Solo ini memiliki sentuhan klasik dengan sentuhan Eropa pada beberapa bagian. Dahulu,  Sultan memiliki hubungan yang baik dengan Kerjaan lain di wilayah Eropa sehingga mendapatkan benda-benda yang menjadi bagian dari Keraton.

Seperti pada wilayah dalam yang sangat klasik dengan taman serta air mancur yang menambah Solo menjadi sangat Istimewa.

Masih Banyak Yang Lain

Sebetulnya masih banyak sekali tempat yang sangat Instagramable di Indonesia, bahkan disekitar kita pun banyak sekali yang kece-kece tapi tidak kita ketahui.

Nah salah satunya yang bisa kunjungi adalah Sumatera Barat. Provinsi dengan Ibu Kota Padang ini selalu memikat hati. Bukan hanya karena banyak warung nasi Padang saja namun karena keindahan alam yang mampu menyihir kita untuk tetap tinggal dan lama berlibur. Mau tahu apa saja destinasi yang mampu memikat hati kita? Penasaran? klik di sini aja .

Sebetulnya masih banyak yang lain yang bisa dijelajahi,  nah saya akan bahas tempat lainnya di postingan selanjutnya.

Selamat berlibur dan keliling Indonesia ya.






5 Yang Cantik


Tidak banyak foto pemandangan yang bisa saya abadikan dalam perjalanan ke sebagian Pulau Flores waktu kegiatan Tim Promosi Uniflor 2019 kemarin, baik ke Barat, Utara, dan Timur. Saya sendiri juga tidak membaca Canon Eos600D andalan karena berat lah di backpack dan cuaca sedang kurang bersahabat alias kuatir diguyur hujan tengah jalan. Lebih tepatnya saya tidak mau repot hahaha. Oleh karena itu saya hanya bisa merangkum lima yang cantik dari perjalanan kemarin-kemarin itu, dari perhentian demi perhentian yang bikin Violin rada bingung kok tiba-tiba sepeda motor di belakangnya menghilang. Haha.

Cekidot!

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

1. Memasuki Kota Mbay


Kota Mbay merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Termasuk kabupaten tetangga yang bersinggungan langsung dengan Kabupaten Ende. Perbatasannya adalah Nangamboa (Kabupaten Ende) dan Nangaroro (Kabupaten Nagekeo). Beda dari kota-kota lain di Pulau Flores, Kota Mbay bertopografi datar dengan pemandangan alam yang memikat terutama padang sabana di sekelilingnya; termasuk pada saat hendak memasuki kota ini.


Ini fotonya pagi hari sebelum memasuki Kota Mbay. Adem banget ya melihatnya. Saya suka sekali foto-foto di lokasi ini (sebelum memasuki Mbay). Seperti sebelum memasuki surga *dikeplak*.

2. Rumah Impian


Bukit Weworowet yang terletak di Desa Waikokak di Kabupaten Nagekeo ini memang merupakan salah satu titik terlama wisatawan berhenti untuk sekadar mengabadikan pemandangan alamnya yang luar biasa bikin betah. Tentang Bukit Weworowet bisa kalian lihat videonya di Youtube. Nah, yang satu ini adalah foto sebuah rumah berlatar Bukit Weworowet.


Apa yang kalian lihat? Iya, bukit dan rumah, itu jelas. Saya melihat impian di foto ini. Impian bocah SD zaman dulu setiap kali menggambar pemandangan; gunung, rumah, sawah. Kalau yang ini; bukit, rumah, ladang. Saya mau donk punya rumah ini, sayang sudah ada yang punya, lagian belum kuat lah saya buat beli rumah hahaha.

3. Memasuki Desa Niranusa


Kecamatan Maurole terkenal akan garis pantai berpasir putihnya. Ketika hendak memasuki Desa Niranusa di Kecamatan Maurole, di dataran tingginya, kalian akan disuguhi pemandangan ini:


Pemandangannya itu seakan mengajak kita: nyebuuuuur, yuk! Kalau tidak mengingat berkas-berkas ini itu, sudah pasti saya nyebur dan pulang dalam keadaan basah kuyup hahaha. 

Saya punya banyak foto laut dari lokasi yang sama. Ini foto terbaru dua minggu lalu waktu pergi ke Utara untuk sosialisasi Universitas Flores. Pasir putihnya terdiri dari pecahan koral bercampur pasir putih itu sendiri. Beberapa teman traveler yang datang ke Kabupaten Ende, tepatnya ke Danau Kelimutu, pulangnya pasti saya racuni untuk pergi ke sini hehe.

Tanjung Kajuwulu


Namanya Tanjung Kajuwulu, terletak di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Daerah Magepanda sendiri merupakan daerah di pesisir Pantai Utara yang pemandangannya bakal bikin kalian tercengang!


Di bukit dekat Tanjung Kajuwulu ini dibangun menara pandang. Sayang saya tidak foto dari menara pandangnya. Pun tak jauh dari situ ada Bukit Salib, iya ada salib besar warna putih berdiri gagah di sebuah bukit yang untuk menuju ke sana disediakan anak-anak tangga.

Nikong Gete


Dalam perjalanan pulang dari Kota Larantuka ke Kota Maumere, saya melihat pemandangan ini. Sulit untuk tidak mengerem Onif Harem. Lantas bertanya pada seorang anak di situ nama daerah ini. Dia menjawab, "Nikong Gete." Nah, mungkin kuping saya kurang baik pendengarannya, apabila salah nama ini mohon dikoreksi hahaha.


Sunset-nya itu, mana tahan eyke ...


Kesimpulannya? Mari yuk ke Pulau Flores dan nikmati sendiri keindahannya. Karena Pulau Flores tidak hanya tentang Labuan Bajo, Danau Kelimutu, Pantai Anabhara, Magepanda, atau Puncak Konga di Titihena. Masih banyak daerah menarik lainnya yang bisa dieksplor ... dan tentu bagi kami anak daerah ... harus bisa menceritakannya pada dunia.



Cheers