Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling


Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling. Dalam rangka ulang tahun Universitas Flores (Uniflor) yang ke-39 (19 Juli 2019 kemarin), Fakultas Teknologi Informasi (FTI) menggelar lomba vlog dengan tema pariwisata, khususnya wisata alam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lomba vlog memang baru pertama kali digelar di Uniflor untuk memberi variasi dari lomba-lomba yang umum diselenggarakan seperti lomba di lini akademik, lini olah raga, maupun di lini seni tarik suara.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Saya memang tidak terlibat langsung dalam kepanitiaan tetapi turut membantu, meskipun tidak banyak, saat inisasi awal. Misalnya tentang kriteria vlog yang harus dipenuhi oleh para peserta. Karena saya diminta untuk turut menjadi juri lomba ini.


Selain saya, ada dua orang lainnya yang juga menjadi juri yaitu Alan dari Rafa Media Creative dan Ihsan Dato. Keduanya sehari-hari berkecimpung di dunia video, baik video kreatif yang dipos di Youtube, maupun video dokumentasi ragam kegiatan di Pulau Flores. Kualitasnya jangan ditanya lagi. Hehe. Lantas, bagaimana dengan saya? Bukankah orang mengenal saya sebagai blogger bukan vlogger? Ya saya memang lebih dikenal sebagai blogger karena semakin ke sini semakin jarang 'turun lapangan' karena sudah diwakili oleh videografer lain yaitu Cahyadi. Artinya? Artinya saya belum pensiun dari dunia videografi *kedip-kedip*.

6 Peserta Dengan 6 Video Kreatif


Kamis, 8 Agustus 2019, penjurian dilakukan di ruang dosen FTI. Ada enam peserta yang mendaftar. Enam peserta ini sudah lebih dari cukup mengingat lomba vlog baru pertama kali dilakukan di Uniflor untuk tingkat SMA dan Perguruan Tinggi, dan hadiahnya belum mencapai belasan hingga puluhan juta. Jangan dibandingkan dengan lomba vlog yang digelar oleh kementrian, misalnya. Tapi ini merupakan langkah awal yang bagus untuk kegiatan-kegiatan serupa di masa yang akan datang. Saya yakin, akan banyak lomba vlog yang digelar kelak oleh Uniflor.

Kriteria penilaian kami bukan dari device yang digunakan. Zaman sekarang device itu hanya penunjang. Peserta boleh memakai telepon genggam, camcorder, DSLR, hingga drone. Karena device ini terkait faktor kebiasaan saja. Ingat istilah the man behind the gun? Kriteria penilaian antara lain:

1. Memenuhi semua persyaratan yang diumumkan.
2. Kesesuaian vlog dengan tema.
3. Teknis: alur, penyuntingan, kesesuaian audio visual.
4. Pesan yang tersampaikan dengan jelas.

Enam peserta ini ada yang berasal dari SMA di Kota Ende seperti SMAK Syuradikara, ada pula mahasiswa dari Uniflor. Dari luar Kabupaten Ende juga ada antara lain dari Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Ngada termasuk mahasiswa dari UKI Ruteng. Video yang mereka kirimkan, menurut saya, bagus-bagus, kreatif, menarik, dan NTT banget. Hanya saja rata-rata banyak yang fokus pada video sehingga kurang memikirkan audio terlebihi balance antara natural sound, vlogger dan/atau narator, dan backsound. Padahal ini cukup penting agar pesan tersampaikan ke penonton. Karena vlog tidak hanya tentang gambar tetapi juga suara.

Ibarat Sedang Traveling


Ya, memang demikian adanya. Tempat-tempat yang disuguhkan dalam enam video tersebut bikin saya merasakan ibarat sedang traveling! Air Terjun Cunca Lega, air terjun dua tingkat di Kabupaten Manggarai membikin teringat Cunca Wulang di Kabupaten Manggarai Barat yang pernah saya kunjungi Mei 2014 silam. Air Panas So'a di Kabupaten Ngada membikin saya teringat Kolam Air Panas Ae Oka di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Bukit Zeda Zamba di Kota Ende yang membikin saya teringat Bukit Watunariwowo di Kabupaten Ngada. Pulau Sabu, membikin saya teringat pada traveling-list yang belum terpenuhi. Hehe.

Bukit Zeda Zamba ini unik. Ternyata, Abang Ooyi pernah menulisnya dalam pos Zeda Zamba Sebuah Kota yang Hilang (2). Silahkan dibaca. Banyak orang yang sudah tiba di puncaknya dan memamerkan foto-foto ciamik dari puncaknya. Kalau tidak salah bukit itu juga sering disebut Bukit Rodja. Dari Kota Ende, bukit itu memang semacam tidak terlihat karena terhalang Gunung Meja. Lokasinya berada diantara Gunung Meja dan Gunung Ia dengan medan yang cukup berat untuk didaki. Bagi orang-orang muda yang kuat, itu bukan masalah. Bagi saya ... itu masalah *ngakak*.

Menjuri lomba vlog tidak jauh beda juga dari menulis blog tentang wisata. Informatif itu hukumnya fadhu'ain. Nama tempat wisatanya, lokasinya, jarak tempuh dari kota terdekat, hingga transportasi yang digunakan. Informasi penting lainnya seperti jika ada biaya masuk berapakah harga tiketnya, musim/bulan apa yang baik datang ke lokasi tersebut, adakah pedagang makanan dan minuman, adakah pedagang cinderamata, dan lain sebagainya. Inilah informasi-informasi penting yang harus disampaikan selain obyek wisata itu sendiri.

Overall, saya menyukai semua video tersebut.

⇜⇝

Harapan saya, semakin banyak lomba vlog yang digelar. Karena apa? Karena vlog juga merupakan kekuatan Indonesia menawarkan pesona wisatanya kepada orang luar (buleeee). Vlog juga salah satu bentuk promosi gratis; terutama para travel vlogger yang mengunggah video mereka ke Youtube. Di satu sisi vlogger bisa memperoleh duit jajan dari me-monetize akun Youtube mereka, di sisi lain pariwisata Indonesia terpublikasikan/promosi gratis.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Yang jelas, siapapun pemenang lomba vlog ini, saya hanya bisa mengucapkan selamat! Pengumuman resmi akan dikeluarkan oleh panitia penyelenggara. Terus berkarya, selalu kreatif, dan terus sebarkan kebaikan kepada semua orang!



Cheers.

Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling


Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling. Dalam rangka ulang tahun Universitas Flores (Uniflor) yang ke-39 (19 Juli 2019 kemarin), Fakultas Teknologi Informasi (FTI) menggelar lomba vlog dengan tema pariwisata, khususnya wisata alam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lomba vlog memang baru pertama kali digelar di Uniflor untuk memberi variasi dari lomba-lomba yang umum diselenggarakan seperti lomba di lini akademik, lini olah raga, maupun di lini seni tarik suara.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Saya memang tidak terlibat langsung dalam kepanitiaan tetapi turut membantu, meskipun tidak banyak, saat inisasi awal. Misalnya tentang kriteria vlog yang harus dipenuhi oleh para peserta. Karena saya diminta untuk turut menjadi juri lomba ini.


Selain saya, ada dua orang lainnya yang juga menjadi juri yaitu Alan dari Rafa Media Creative dan Ihsan Dato. Keduanya sehari-hari berkecimpung di dunia video, baik video kreatif yang dipos di Youtube, maupun video dokumentasi ragam kegiatan di Pulau Flores. Kualitasnya jangan ditanya lagi. Hehe. Lantas, bagaimana dengan saya? Bukankah orang mengenal saya sebagai blogger bukan vlogger? Ya saya memang lebih dikenal sebagai blogger karena semakin ke sini semakin jarang 'turun lapangan' karena sudah diwakili oleh videografer lain yaitu Cahyadi. Artinya? Artinya saya belum pensiun dari dunia videografi *kedip-kedip*.

6 Peserta Dengan 6 Video Kreatif


Kamis, 8 Agustus 2019, penjurian dilakukan di ruang dosen FTI. Ada enam peserta yang mendaftar. Enam peserta ini sudah lebih dari cukup mengingat lomba vlog baru pertama kali dilakukan di Uniflor untuk tingkat SMA dan Perguruan Tinggi, dan hadiahnya belum mencapai belasan hingga puluhan juta. Jangan dibandingkan dengan lomba vlog yang digelar oleh kementrian, misalnya. Tapi ini merupakan langkah awal yang bagus untuk kegiatan-kegiatan serupa di masa yang akan datang. Saya yakin, akan banyak lomba vlog yang digelar kelak oleh Uniflor.

Kriteria penilaian kami bukan dari device yang digunakan. Zaman sekarang device itu hanya penunjang. Peserta boleh memakai telepon genggam, camcorder, DSLR, hingga drone. Karena device ini terkait faktor kebiasaan saja. Ingat istilah the man behind the gun? Kriteria penilaian antara lain:

1. Memenuhi semua persyaratan yang diumumkan.
2. Kesesuaian vlog dengan tema.
3. Teknis: alur, penyuntingan, kesesuaian audio visual.
4. Pesan yang tersampaikan dengan jelas.

Enam peserta ini ada yang berasal dari SMA di Kota Ende seperti SMAK Syuradikara, ada pula mahasiswa dari Uniflor. Dari luar Kabupaten Ende juga ada antara lain dari Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Ngada termasuk mahasiswa dari UKI Ruteng. Video yang mereka kirimkan, menurut saya, bagus-bagus, kreatif, menarik, dan NTT banget. Hanya saja rata-rata banyak yang fokus pada video sehingga kurang memikirkan audio terlebihi balance antara natural sound, vlogger dan/atau narator, dan backsound. Padahal ini cukup penting agar pesan tersampaikan ke penonton. Karena vlog tidak hanya tentang gambar tetapi juga suara.

Ibarat Sedang Traveling


Ya, memang demikian adanya. Tempat-tempat yang disuguhkan dalam enam video tersebut bikin saya merasakan ibarat sedang traveling! Air Terjun Cunca Lega, air terjun dua tingkat di Kabupaten Manggarai membikin teringat Cunca Wulang di Kabupaten Manggarai Barat yang pernah saya kunjungi Mei 2014 silam. Air Panas So'a di Kabupaten Ngada membikin saya teringat Kolam Air Panas Ae Oka di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Bukit Zeda Zamba di Kota Ende yang membikin saya teringat Bukit Watunariwowo di Kabupaten Ngada. Pulau Sabu, membikin saya teringat pada traveling-list yang belum terpenuhi. Hehe.

Bukit Zeda Zamba ini unik. Ternyata, Abang Ooyi pernah menulisnya dalam pos Zeda Zamba Sebuah Kota yang Hilang (2). Silahkan dibaca. Banyak orang yang sudah tiba di puncaknya dan memamerkan foto-foto ciamik dari puncaknya. Kalau tidak salah bukit itu juga sering disebut Bukit Rodja. Dari Kota Ende, bukit itu memang semacam tidak terlihat karena terhalang Gunung Meja. Lokasinya berada diantara Gunung Meja dan Gunung Ia dengan medan yang cukup berat untuk didaki. Bagi orang-orang muda yang kuat, itu bukan masalah. Bagi saya ... itu masalah *ngakak*.

Menjuri lomba vlog tidak jauh beda juga dari menulis blog tentang wisata. Informatif itu hukumnya fadhu'ain. Nama tempat wisatanya, lokasinya, jarak tempuh dari kota terdekat, hingga transportasi yang digunakan. Informasi penting lainnya seperti jika ada biaya masuk berapakah harga tiketnya, musim/bulan apa yang baik datang ke lokasi tersebut, adakah pedagang makanan dan minuman, adakah pedagang cinderamata, dan lain sebagainya. Inilah informasi-informasi penting yang harus disampaikan selain obyek wisata itu sendiri.

Overall, saya menyukai semua video tersebut.

⇜⇝

Harapan saya, semakin banyak lomba vlog yang digelar. Karena apa? Karena vlog juga merupakan kekuatan Indonesia menawarkan pesona wisatanya kepada orang luar (buleeee). Vlog juga salah satu bentuk promosi gratis; terutama para travel vlogger yang mengunggah video mereka ke Youtube. Di satu sisi vlogger bisa memperoleh duit jajan dari me-monetize akun Youtube mereka, di sisi lain pariwisata Indonesia terpublikasikan/promosi gratis.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe


Juara I ~ Veronika Raymond
SMAK Syuradikara Ende
Judul: Wisata Alam di Ende

Juara II ~ Irena Juniarti Veranda Rea
SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng
Judul: Air Terjun Cunca Lega Ruteng

Juara III ~ Chriakus Hendra Pola Nea
Fakultas Bahasa dan Sastra Uniflor
Judul: Pulau Raijua Anak Dara dari Selatan Indonesia

Yang jelas, siapapun pemenang lomba vlog ini, saya hanya bisa mengucapkan selamat! Kalian layak jadi jawara. Terus berkarya, selalu kreatif, dan terus sebarkan kebaikan kepada semua orang!



Cheers.

5 Lokasi Terdekat Untuk Berwisata Sekitar Kota Ende


Hola! Ketemu lagi di #KamisLima. Apakah lima hal yang bakal saya tulis kali ini? Yaaaa sudah ketahuan dari judulnya *dijitak dinosaurus*. Kali ini saya mau menulis tentang liima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende. Kenapa menulis ini? Karena ada beberapa tempat wisata ter-update, baik atraksi wisata alam maupun atraksi wisata buatan, yang wajib kalian ketahui jika hendak datang ke Ende. Atraksi utama, Danau Kelimutu, tentu tidak akan saya bahas di sini. Atraksi wisata sejarah di dalam kota pun tidak akan saya bahas karena sudah pernah ditulis di pos berjudul 5 Wisata di Dalam Kota Ende.

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

Jadi, apa saja lima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende? Mari kita cari tahu *suara gong guedeeee banget*. Semua ini gara-gara aksi jalan-jalan padahal belum musim liburan lagi. Haha.

1. Dapur Jadul, Pantai Raba


Pos tentang Dapur Jadul di Pantai Raba selengkapnya bisa kalian baca di blog travel pada pos berjudul Dapur Jadul, Bukan Dapur Biasa. Dapur Jadul menawarkan atraksi wisata alam yaitu pantai yang dipadu dengan atraksi wisata buatan yaitu spot-spot instagenic. Selain itu kalian juga bisa bersantai di beanbag-nya, menikmati suasana dan makanan serta minuman! Ingat, es tiramisu itu enaknya luar biasa bikin kangen. Cihuy!


Jaraknya hanya 10-an kilometer dari Kota Ende, arat Barat. Dekat lah :)

2. Embung Boelanboong, Wologai Tengah


Embung ini dulunya bernama Embung Resetlemen sesuai nama dusunnya. Namanya kemudian berubah menjadi Embung Boelanboong. Di sekitar embung ini dibangun saung-saung untuk bersantai, spot-spot instagenic, taman bunga dengan bibit-bibit bunga yang sedang tumbuh (waktu saya ke sana), serta kalian bisa memesan kopi, teh, dan jagung rebus! Suka sekali sunset-an di embung ini, meskipun yaaaa ... pulang ke Kota Ende pasti dingin banget dalam musim yang sedang sangat dingin ini. Jaraknya sekitar 45 kilometer dari Kota Ende.


Kalau kalian mau tahu lebih detail tentang embung ini, silahkan baca pos berjudul Sunset di Embung Boelanboong, Wologai Tengah.

3. Kampung Adat Saga


Kalau dari Kota Ende menuju cabang menuju Desa Adat Saga ini hanya sekitar 20 kilometer. Sayangnya saya belum ke sana. Jadi, belum bisa lah saya menulis sedikit panjang tentang kampung adat yang satu itu. Tapi tenang saja, rencananya baru Hari Minggu depan, atau depannya lagi. Tapi yang jelas saya pasti menulisnya di blog travel.

4. Jalur Trekking


Jalur trekking yang satu ini sebenarnya berada di dekatnya Embung Boelanboong juga, di sisi Barat. Ada gapura besar yang menandainya.


Jalur trekking dari Wologai Tengah menuju Danau Kelimutu. Kalau kalian masih kuat jalan, tidak seperti saya yang sudah uzur, boleh dicoba jalur yang satu ini. Selamat berjuang dan menikmati alam! Hehe. Jarak dari Kota Ende ke lokasi gapura ini hanya sekitar 45 kilometer saja.

5. Pantai Aeba'i


Kalau kalian rajin main ke blog travel saya, pasti sudah tidak asing lagi dengan Pantai Aeba'i, pantai favorit keluarga kami berpiknik! Encim and the gank wajib ke sini hehe.

Bersama Harry Kawanda, traveler of the century. Haha.

Piknik mah tidak perlu jauh. Apalagi piknik sekeluarga. Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Ende. Pantai, laut, Pulau Ende Kota Ende ... komplit pemandangannya.

⇝⇜

Itu dia lima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende. Tentunya selain atraksi utama yang selalu kami banggakan, Danau Kelimut, pun wisata sejarah jejak Bung Karno ketika diasingkan ke Kota Ende. Semoga suatu saat nanti kalian akan datang ke sini dan ikut menikmati semua yang sudah saya tulis di sini, termasuk di blog travel.

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

Ditunggu di Ende, ya!



Cheers.

Berburu Spot Foto Instagenic di Dapur Jadul di Raba


Saya sudah pernah menulis, bisa dicari di blog travel ini, tentang Ibu Kota Kabupaten Ende yaitu Kota Ende yang dikelilingi oleh gunung dan pantai. Ibarat asam di gunung, garam di laut, bertemu di mangkuk bernama Kota Ende. Alhamdulillah salah satu lokasi pantai di daerah Raba, sekitar sepuluh kilometer arah Barat Kota Ende, kemudian dimanfaatkan oleh pengurus dan pengelola Ponpes Panti Asuhan Wali Sanga, Kakak Nona Eka, sebagai tempat pelesir bernama Dapur Jadul.

Baca Juga: Seorang Kapten Kebanggaan yang Gugur Saat Bertugas

Dapur Jadul dibikin dengan konsep: tempat makan, tempat bersantai, dan tempat berburu foto. Seperti yang sudah sering saya bilang, suasana merupakan komoditi utama yang dijual, setidaknya demikian penilaian saya terhadap Dapur Jadul. Siapa sih yang tidak senang bersantai sekeluarga di tepi pantai, bisa main di pasir, makan-makan, bahkan bisa sambil tiduran karena disediakan pula beanbag. Karena, makanan bisa kita temukan di mana saja, termasuk di dalam Kota Ende yang dijamuri kafe kekinian, tapi suasana ... itu perkara lain.

Dari pintu masuk, pengunjung langsung disambut sama petugas parkir yang kadang membantu pengunjung memarkir kendaraan roda dua. Kalau roda empat, silahkan parkir di area roda empat lah. Setelah itu pengunjung disambut dua atau tiga petugas lagi yang mengenakan kain kotak-kotak, baik perempuan maupun laki-laki. Mereka ini yang bakal menyerahkan menu dan form pesanan. Dibawa saja dulu, nanti kalau sudah menentukan menu, boleh memanggil petugas yang lalu-lalang di sekitar. Jangan lupa menulis nama dan nomor meja. Meja-mejanya juga ada yang berbahan peti kayu/palet. Asyiklah!

Pusat Dapur Jadul, bagian dapur, terletak di sisi Timur, cukup luas, dengan bagian depan yang ditata apik pun menjadi spot foto seperti ranjang dengan aneka bunga, vespa jadul (seperti foto di atas), baliho besar yang keseluruhannya bergambar Bung Karno, latar kain-kain dengan pigura (kebesaran ini piguranya haha), hingga ornamen-ornamen unik.

Yang paling menarik, saya yakin ini magnet terbesar karena pertama di Kota Ende, adalah disediakannya motor ATV dengan track sepanjang pantai.  Ada dua motor ATV yang disediakan tapi tetap saja saya tidak kebagian. Antriannya panjang, woih. Semua orang harus 'menaikinya' dan mungkin mengendarai ATV merupakan cita-cita yang dibawa saar keluar rumah menuju Dapur Jadul. Saya harus ke sana lagi lah biar punya foto kekinian dengan motor ATV hahaha.

Karena saya sudah menulis tentang Dapur Jadul, lengkap pakai bonus kedipan mata, di blog travel, kalian bisa langsung membacanya di sana.

Baca Juga: PBSI Belajar Nge-blog

Yang jelas, Dapur Jadul yang terletak di pinggir Pantai Raba juga di pinggir Jalan Ende - Nangapanda (sekitar sepuluh kilometer ke arah Barat dari Kota Ende) itu sangat mempesona. Dapur Jadul memadukan atraksi wisata alam (pantai) dan wisata buatan (aneka spot foto instagenic). Tidak dikenakan biasa masuk, boleh membawa makanan dari luar, tapi tetap harus ada pesanan makanan ke dapurnya Dapur Jadul. Asyik kan?

Hyuk main ke sini :)




Cheers.

Aman dan Nyaman Jalan-Jalan (Traveling) Keliling Solo Pakai GOJEK


Teng Teng Teng Teng, Teng Teng Teng Teng.

"Mohon perhatian, kereta api Jayakarta akan tiba di stasiun Solo Balapan. Bagi Anda yang akan mengakhiri perjalanan di stasiun Solo Balapan, kami persilahkan untuk mempersiapkan diri. Periksa dan teliti kembali barang bawaan anda jangan sampai ada yang tertinggal."

Sebetulnya saya masih menahan kantuk. Maklum saja jarum jam hampir bergeser sempurna di angka 12. Dan, selama perjalanan 9 jam dari stasiun Pasar Senen, saya hanya bisa tertidur kurang lebih satu jam. 

Selebihnya, saya tertarik dengan drama Jepang yang menceritakan tentang gadis bisu dan tuli yang pandai memainkan biola. Drama seri ini sebetulnya sudah sangat lama, mungkin keluaran tahun 2006. Tapi yang spesial adalah drama inilah yang membuat saya belajar bahasa Jepang lebih mendalam. 

"Gambarimasu."

Ungkapan penyemangat dalam bahasa Jepang yang selalu saya ingat ketika saya sedang dalam keadaan terpuruk dan tidak bersemangat.

"Yuk."

Saya tidak sendiri. Bersama beberapa orang teman dari Jakarta, kami kebetulan terlibat sebuah acara di Sragen. Namun, karena Sragen tidaklah terlalu jauh dari Solo, maka kami menginap di Solo. Dan, beruntungnya lagi kami memiliki waktu yang terbilang cukup untuk jalan-jalan keliling kota Solo. Walaupun sebetulnya waktu dua sampai tiga hari ini hampir dipastikan sangat kurang bagi saya. 

Tengah malam di Solo, bikin sedikit khawatir bagaimana cara menuju ke hotel di tengah kota Solo. Jarak dari stasiun ke hotel tak kurang dari 3 kilometer. Tapi gempor juga kalau kita jalan kaki dari stasiun. 

"Kita pesan GO-CAR aja ya. Nanti patungan aja."

Saya tersenyum dan mengangguk, tanda setuju. Lagian siapa yang akan protes kalau kekhawatiran sudah sirna. Maklum sudah tengah malam dan acara kami lumayan pagi. 

"Kita berempat duluan ya."

Kebetulan jumlah kami berdelapan, jadi pas banget dibagi dalam 2 rombongan.

"Eh, mas ini tasnya?"

Saya berpandangan dengan teman saya. Kayaknya bukan tas saya, tapi tas teman saya, Aris.

"Eh, kita kerjain aja. Bilang aja kita enggak bawa tasnya. "

Di tengah malam dan sudah terlalu capek ternyata ada saja hal yang bikin saya tersenyum.


Belum genap sepuluh menit, mobil yang membawa kami pun hampir sampai di hotel. Nada dering smartphone saya berbunyi. Ternyata Aris menelpon. Dari balik kaca mobil, saya sudah melihatnya panik dan terlihat sangat bingung.

"Iya, ada kok di gue."

Saya enggak tega melihat teman saya panik, akhirnya rencana untuk ngerjain Aris batal. Dan, kami pun langsung ke kamar dan istirahat. Esoknya kami pun ke acaranya.

Solo itu di tengah-tengah antara Semarang dan Yogyakarta. Dan, di Solo inilah saya selalu menikmati sajian kuliner dan tempat-tempat wisata baik yang mainstream maupun yang jarang dilirik dan sangat jauh dari Solo sekitar satu atau dua jam dari tengah kota. 

Pilihan yang paling sempurna adalah kuliner. Inilah yang menyatukan kami semua. Dari pada berantem gara-gara tidak bisa satu suara dalam menentukan tempat wisata mana saja yang harus kami kunjungi. 

Tapi ternyata tak semudah yang dibayangkan. Baru saja turun dari GO-CAR yang kami pesan tadi di hotel. Ternyata warungnya tutup. 

"Terus kita makan apa donk?"

Kami mencoba berjalan dari pasar, ternyata tak lama kemudian sampailah di warung ayam bakar. Sebuah warung yang tidak terlalu kami kenal. Namun, rupanya perut kami memanggil. Oke, kami putuskan untuk makan di warung ini. 

Kami saling pandang ketika melahap ayam dan nasi hangat. Lalu tak sadar, nasi yang saya makan tersisa hanya satu kepal tangan lagi. Artinya hanya sesuap lagi nasi ini akan habis.

"Mba, pesan nasi satu lagi. Eh, dua."


Ternyata bukan hanya saya saja yang merasakan kenikmatan melahap ayam bakar ini. Peruntungan kami memutuskan makan di sini tidaklah salah. Ayam bakar dan cap caynya memang the best. Kami puas dan kenyang malam itu. 

Setelah mampir di warung, ini ternyata kami belum puas dan memutuskan untuk mampir ke Solo Paragon, bebuah mall yang tak jauh dari hotel kami. Dan, lagi-lagi GO-CAR menyelamatkan kami. Kami tak harus menunggu waktu lama, karena hanya kurang dari lima menit, mobil berplat AD ini sudah di depan mata kami. 

"Siam Paragon ya Pak."

"Iya Mas."

Saya duduk paling depan sementara tiga orang lainnya berjejer di jok tengah. 

"Siam Paragon? Solo Paragon kali?"

Saya tersenyum mengetahui kesalahan saya menyebutkan mall terbesar di Solo ini. Maklum saya dan Rafel baru saja membahas Thailand. Rafel ini pandai berbicara mengunakan bahasa Thailand

"Sawadee Krab."

Saya hanya mampu mengucapkan itu saja, sementara Rafel sudah berbicara lancar dengan logat Thailand yang melengking, salah satu ciri khas logat negeri gajah putih.


Berkat GOJEK, saya dan teman-teman bisa menjangkau tempat-tempat strategis di Solo dalam hitungan menit. Oh iya, selain itu sekarang sudah ada fitur-fitur keamanan seperti Tombol Darurat di GO-CAR, Bagikan Perjalanan, dan sudah dilengkapi perlindungan asuransi. Jadi, semakin tidak khawatir lagi jika jalan-jalan atau traveling keliling kota Solo

Esok kami memiliki rencana mengunjungi Pura Mangkunegara dan Pasar Klewer serta kembali lagi ke Mall Solo Paragon

Seperti biasa, kami memesan GO-CAR. Dan, kali ini gilirannya jatuh pada Uwan dan Rafel. Seperti biasa kami memesan dua mobil karena jumlah kami yang bertujuh, karena satu orang sudah pulang terlebih dahulu. 

Saya tidak pernah meragukan kualitas Driver GO-CAR karena sudah sangat terlatih, bahkan sudah sangat mahir. Shut, mau tahu enggak kenapa bisa mahir sepert ini? Rupanya setelah melewati seleksi ketat, mereka juga diberikan modul pelatihan yang berisi informasi mengenai cara menggunakan aplikasi pengarah jalan, cara merawat kondisi kendaraan, patuh pada peraturan lalu lintas, dan cara memberikan pelayanan yang baik.

Untuk semakin meningkatkan kemampuan berkendara dengan aman, GOJEK bekerja sama dengan Rifat Drive Labs (RDL) dalam penyelenggaraan pelatihan bagi para driver.


Program RDL GOJEK ini diinisiasi Duta Keselamatan Berkendara, Rifat Sungkar. Melalui program ini, mitra driver diberikan pelatihan seperti pengetahuan tentang tanggung jawab, kesabaran, dan empati, defensive riding, keselamatan berkendara, pre trip inspection dan sesi praktek.

Dalam waktu 4 tahun lebih dari 300 ribu driver telah mengikuti program ini di 20 kota di Indonesia. Antusiasme pun tak menurun sampai sekarang, RDL GOJEK masih berjalan setiap bulannya dan diikuti sekitar 10 ribu driver.

GOJEK memberikan edukasi kepada mitra driver melalui #TrikNgetrip. Program ini memberikan edukasi kepada mitra dengan cara yang menyenangkan mengenai memberikan pelayanan terbaik, dan tips dalam berkendara serta perjalanan.

Tak hanya itu, GOJEK juga menyelenggarakan serangkaian workshop dalam upaya meningkatkan keterampilan mitra driver melalui Bengkel Belajar Mitra. Program ini rutin diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia dengan menggandeng para profesional di bidangnya masing-masing untuk memberi pembekalan kepada driver GOJEK dalam meningkatkan layanan dan mengasah pengetahuan di bidang lainnya.

Jadi, nggak ada alasan untuk takut driver nggak bisa mengatasi masalah yang terjadi saat melakukan trip. Mereka udah andal semua!

Untuk para mitra driver yang telah memberikan pelayanan prima dan memiliki kontribusi lebih di masyarakat, GOJEK turut mengapresiasi dengan memberikan sebuah penghargaan, bernama Driver Jempolan. Penghargaan ini diberikan GOJEK untuk memotivasi para mitra driver untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanan mereka. Penghargaan ini disematkan pada driver berupa pin pada jaket GOJEK mereka.

Lah kalau misalnya malam-malan sendirian dan pengen share perjalanan, ke keluarga atau teman bagaimana? Memang GOJEK sudah ada fitur ini? 

Tenang aja, GOJEK sudah memiliki fitur bagikan perjalanan. Bagikan Perjalanan ini adalah fitur yang memungkinkan pengguna membagikan tautan kepada keluarga atau kerabat melalui Whatsapp, LINE, SMS, atau aplikasi bertukar pesan lainnya.

Tautan berisi informasi berupa titik pick up dan drop off; informasi pengendara secara detail baik nama, nomor kendaraan, dan nomor pesanan; serta live location (lokasi saya sekarang). Dengan fitur ini, pengguna dapat merasakan keamanan karena perjalanannya dipantau oleh orang-orang terdekatnya. 

Ya, saya merasa aman dan nyaman. Dan, sudah merasakan namanya #UninstallKhawatir. Setiap saya berada di wilayah mana pun, saya selalu menanyakan, apakah kota ini sudah ada GOJEK-nya. Bahkan, di kota kelahiran saya, Pemalang pun sudah ada GOJEK. 

"Eh, ini kan hari Senin. Biasanya museum tutup semua."



Saya berusaha mengecek apakah betul Pura Mangkunegara ini termasuk yang meliburkan diri atau tidak. Ternyata saya salah, Pura ini merupakan kediaman keluarga keraton yang dikelola oleh pribadi sehingga dibuka setiap hari. 

Dan, kami keliling di dalam Pura Mangkunegara ditemai dengan seorang pemandu. Pemandu kami mungkin cukup sabar, karena tujuan saya dan teman-teman tak lain tak bukan adalah foto-foto. Bahkan setiap sudut Istana ini pun kami selalu berhenti.

"Ayo kita ke dalam."

Otomatis kami menghentikan aktivitas foto-foto dan segera masuk ke dalam. Dan, setelah dari singasana, kami masuk ke taman yang menyajikan ornamen perpaduan antara Jawa dan Eropa. 

Saya sebetulnya sangat kagum. Sampai-sampai saya menyimpulkan kalau pada ratusan tahun silam, antara Keraton dan Kerajaan lain di belahan dunia sudah menjalin sebuah kerjasama, jauh sebelum berdirinya Indonesia. 

Puas berputar-putar dan foto-foto di dalam Pura Mangkunegara, kami melanjutkan perjalanan ke pasar Klewer untuk mencari batik. Sebetulnya sebelum ke Mall Solo Paragon, kami singgah sebentar di Keraton Surakarta Hadiningrat. Namun sayang, Keraton sudah tutup beberapa menit lalu. Tapi seperti biasa, kami masih menyempatkan diri untuk berfoto disana. 

Lalu destinasi wisata mana lagi yang harus dijelajahi selain yang sudah disebutkan diatas? Tenang saja, saya masih memiliki rekomendasi wisata di kota Solo.


Kampung Batik Kauman

Kampung Batik Kauman merupakan kawasan di dekat pasar Kliwon. Konon, kawasan kauman ini merupakan kampung khusus sebagai pembuat batik dari keluarga Keraton. Selain pengrajin batik, kamu bisa juga berfoto-foto di sekitar berupa bangunan kuno yang bagus sebagai peghias feed instagram kamu.

Pasar Triwindu

Tak jauh dari Pura Mangkunegaran, berjalan sekitar 5-10 menit, kamu bisa menemukan pasar Triwindu. Pasar ini merupakan pasar barang unik dan antik yang sangat langka serta jarang ditemukan dipasar. Seperti aku kan, satu-satunya di dunia ini loh? Hahaha.

Agrowisata Sondokoro

Suasana alam yang rindang membuat banyak orang menyukai Agrowisata Sondokoro. Tempat ini buka dari 08.00 hingga 17.00. Di Agrowisata ini, kamu akan dimanjakan dengan terapi ikan, pijak refleksi, kuliner lezat, dan sebagainya. Kamu bisa bebas bermain sepuasnya, ada kolam renang dan flying fox.

Benteng Vastenburg

Benteng ini merupakan peninggalan Belanda yang dulunya digunakan untuk mengawasi Surakarta. Benteng ini dibangun sekitar tahun 1745 di kawasan Gladak. Benteng ini merupakan salah satu icon selain Keraton. Jadi jangan sampai tidak foto di benteng ini jika mengunjungi Solo. 


Saya tersenyum puas setelah sampai di Mall Solo Paragon. Setidaknya saya sudah keliling dan jalan-jalan di Solo berkat bantuan GOJEK. Salah satu kekhawatiran saya sudah hilang, bahkan sudah saya #UninstallKhawatir

"Beberapa fitur GOJEK ini bisa digunakan kalau update aplikasi."

Oh iya, saya jadi ingat kalau fitur-fitur keamanan seperti Tombol Darurat di GO-CAR dan bagikan perjalanan hanya terdapat di aplikasi GOJEK yang paling ter-update

Fitur Tombol Darurat ini memungkinkan pengguna mendapatkan rasa aman karena GOJEK menyediakan tombol yang dapat digunakan untuk keadaan atau situasi darurat. Tombol tersebut akan langsung terhubung pada Unit Darurat GOJEK yang siap melayani 24/7. Kabar baiknya nih, Tombol Darurat sudah bisa diakses customer GO-CAR se-Indonesia. Semoga bisa segera diakses di GO-RIDE ya. Tapi ya, semoga saja fitur ini nggak terpakai deh karena perjalanan kita aman-aman saja.

Selain fitur keamanan, apalagi yang sangat membantu para traveler atau pejalan khususnya di Indonesia?

Kini jika terjadi kecelakaan atau pencurian selama perjalanan, maka kita bisa memanfaatkan perlindungan asuransi. Tenang saja, perjalanan menggunakan layanan GO-RIDE kita dijamin kok dari titik penjemputan hingga lokasi tujuan.

Asuransi GO-RIDE ini merupakan hasil kerja sama GOJEK dan platform asuransi digital. Asuransi penumpang GO-RIDE ini otomatis aktif, berlaku se-Indonesia, dari waktu penjemputan hingga tiba di tujuan.


Solo memiliki kenangan, bahkan saya ingat betul ketika beberapa tahun lalu saya seorang diri menjelajah kota Liwet ini. Saya sangat terbantu dengan GOJEK. Sekitar 4 hari saya menjelajah Solo tanpa ada rasa khawatir dan merasa beruntung karena dapat menjelajah destinasi wisata yang tak biasa, atau anti-mainstream.

Tidak ada lagi rasa khawatir pada saat menjelajah setiap sudut Indonesia, karena saya merasakan keamanan dan kenyamanan di setiap perjalanan dengan GOJEK. 

Dan, sudah saatnya saya #UninstallKhawatir dengan menggunakan GOJEK. Oh iya jangan lupa untuk update aplikasi GOJEK sehingga bisa menggunakan fitur-fitur keamanan terbaru ini.

Yuk, sudah waktunya pakai GOJEK!

Destinasi Wisata Anti Mainstream Dan Instagramable Di Indonesia


Siapa yang pengen liburan dan bersenang-senang? Atau malah pengen mengabadikan setiap momen liburan dengan destinasi wisata yang anti mainstream dan instagramble. Mungkin karena pada setiap jalan-jalan atau liburan hanya fokus dengan hotel dan tiket saja tanpa sempat memikirkan apa saja destinasi yang unik dan cocok buat foto-foto. Yes,  Instagram itu sudah menjadi candu yang sulit dilepaskan karena setiap hari kita dimanjakan dengan foto-foto bagus yang wow dan menyenangkan mata kita, padahal dibalik itu dibutuhkan banyak waktu lagi untuk menghasilkan foto yang ngga itu-itu aja dan anti mainstream.

Sebetulnya di Indonesia itu banyak banget tempat-tempat yang sudah kita kenal dan memang menjadi salah satu magnet untuk datang ke sana. Sebut saja Bali dan Yogyakarta. Bali itu sudah menjadi icon wisata Indonesia. Bahkan setiap saya ke luar negeri,  pasti orang luar negeri sangat mengenal Bali jauh lebih banyak hal dibandingkan dengan saya yang asli dari Indonesia.

"Nasi Goreng."

Saat saya berada di Gala Yuzawa, salah satu tempat bermain ski di Jepang. Seorang petugasnya langsung menyebutkan kata nasi goreng.

"Oishii."

Saya langsung merespon dengan bahasa Jepang yang berarti enak. Kemudian dia tersenyum dan kemudian dia menyebutkan makanan lain lain seperti gado-gado. Saya sempat takjub dengan kecintaannya dengan masakan Indonesia.

"Bulan depan saya akan ke Bali."

Dia kemudian menerangkan dalam bahasa Inggris bahwa ia sering bolak-balik ke Bali.

"Kamu punya cowok orang Bali?"

Dia tertawa sementara antrian lainnya masih mengular dan membiarkan kami bercanda. Dia mengangguk dan sangat senang dengan orang Indonesia yang sangat baik dan ramah.

Saya bangga sekali dengan keramahan dan kebaikan yang sering kita sampaikan lewat senyum,  dan harusnya kita bangga juga dengan wisata Indonesia.

Nah,  saya akan membeberkan beberapa tempat yang sebetulnya sangat Instagramable dan Anti Mainstream di Indonesia.

Bali


Walaupun Bali sudah sangat ternama dan sering berkunjung ke sana,  tapi sebetulnya masih banyak yang belum dijelajahi. Salah satunya adalah Karang Asem. Di Karang Asem banyak sekali tempat yang masih sangat bagus dan jarang di kunjungi karena lumayan memakan waktu kalau kita menginap di area sekitar Denpasar. Kurang lebih sekitar 2 jam waktu perjalanan sehingga tidak menjadi wisata favorite.

Walaupun tidak menjadi tempat favorite,  tapi banyak sekali tempat yang harus dikunjugi salah satunya adalah Taman Bunga Kasna. Sangat jarang orang yang mau berkunjung ke sana,  padahal pemandangannya dan taman bunganya sangat bagus. Bahkan bunga yang ditanam ini pun sebetulnya untuk dijual. Karena itulah,  bunganya menjadi sangat terawat dan sangat rindang. Bukan hanya bunga saja, tapi ada beberapa tempat selfie yang cocok untuk koleksi foto di feed Instagram.

Selain taman bunga Kasna, Karang Asem memiliki Taman Air Tirta Gangga,  Istana Air Taman Ujung dan Pura Lempuyangan yang masih sangat hits.

Jakarta


Walaupun bukan tempat wisata yang favorite,  tapi Jakarta sebetulnya memiliki banyak tempat yang instagramable dan bisa dijumpai disekeliling kita. Bahkan sebagai penduduk Jakarta pun,  saya baru tahu kalau banyak tempat kece buat menambah koleksi feed Instagram. Pasti pada penasaran kan?

Sebut saja Gelora Bung Karno, salah satu kawasan olahraga yang beberapa waktu lalu menjadi buah bibir karena sukses menyelenggarakan Asian Games ini memiliki spot-spot yang jarang di ketahui oleh orang. Kalau yang sering olahraga disekitar komplek ini pasti sudah tahu spot-spot mana saja yang sering digunakan untuk foto-foto kece.

Istora Senayan sebetulnya gedung lama, namun setelah direnovasi dan dipercantik dengan banyak alang-alang membuat Istora semakin Insagramable banget. Bukan hanya alang-alang saja yang mempercantik,  tapi gedung-gedung pencakar langit pun mampu menghias foto kita menjadi sangat kece.

Selain kawasan GBK,  Jembatan Penyebrangan Orang atau JPO di sekitaran GBK juga patut dicoba untuk menambah warna-warni Instagram kamu.

Solo


Siapa bilang Solo itu ngga menarik? Sebetulnya, Solo memiliki banyak tempat foto yang bagus seperti di Mangkunegaran. Salah satu Keraton di Solo ini memiliki sentuhan klasik dengan sentuhan Eropa pada beberapa bagian. Dahulu,  Sultan memiliki hubungan yang baik dengan Kerjaan lain di wilayah Eropa sehingga mendapatkan benda-benda yang menjadi bagian dari Keraton.

Seperti pada wilayah dalam yang sangat klasik dengan taman serta air mancur yang menambah Solo menjadi sangat Istimewa.

Masih Banyak Yang Lain

Sebetulnya masih banyak sekali tempat yang sangat Instagramable di Indonesia, bahkan disekitar kita pun banyak sekali yang kece-kece tapi tidak kita ketahui.

Nah salah satunya yang bisa kunjungi adalah Sumatera Barat. Provinsi dengan Ibu Kota Padang ini selalu memikat hati. Bukan hanya karena banyak warung nasi Padang saja namun karena keindahan alam yang mampu menyihir kita untuk tetap tinggal dan lama berlibur. Mau tahu apa saja destinasi yang mampu memikat hati kita? Penasaran? klik di sini aja .

Sebetulnya masih banyak yang lain yang bisa dijelajahi,  nah saya akan bahas tempat lainnya di postingan selanjutnya.

Selamat berlibur dan keliling Indonesia ya.



Destinasi Wisata Anti Mainstream Dan Instagramable Di Indonesia


Siapa yang pengen liburan dan bersenang-senang? Atau malah pengen mengabadikan setiap momen liburan dengan destinasi wisata yang anti mainstream dan instagramble. Mungkin karena pada setiap jalan-jalan atau liburan hanya fokus dengan hotel dan tiket saja tanpa sempat memikirkan apa saja destinasi yang unik dan cocok buat foto-foto. Yes,  Instagram itu sudah menjadi candu yang sulit dilepaskan karena setiap hari kita dimanjakan dengan foto-foto bagus yang wow dan menyenangkan mata kita, padahal dibalik itu dibutuhkan banyak waktu lagi untuk menghasilkan foto yang ngga itu-itu aja dan anti mainstream.

Sebetulnya di Indonesia itu banyak banget tempat-tempat yang sudah kita kenal dan memang menjadi salah satu magnet untuk datang ke sana. Sebut saja Bali dan Yogyakarta. Bali itu sudah menjadi icon wisata Indonesia. Bahkan setiap saya ke luar negeri,  pasti orang luar negeri sangat mengenal Bali jauh lebih banyak hal dibandingkan dengan saya yang asli dari Indonesia.

"Nasi Goreng."

Saat saya berada di Gala Yuzawa, salah satu tempat bermain ski di Jepang. Seorang petugasnya langsung menyebutkan kata nasi goreng.

"Oishii."

Saya langsung merespon dengan bahasa Jepang yang berarti enak. Kemudian dia tersenyum dan kemudian dia menyebutkan makanan lain lain seperti gado-gado. Saya sempat takjub dengan kecintaannya dengan masakan Indonesia.

"Bulan depan saya akan ke Bali."

Dia kemudian menerangkan dalam bahasa Inggris bahwa ia sering bolak-balik ke Bali.

"Kamu punya cowok orang Bali?"

Dia tertawa sementara antrian lainnya masih mengular dan membiarkan kami bercanda. Dia mengangguk dan sangat senang dengan orang Indonesia yang sangat baik dan ramah.

Saya bangga sekali dengan keramahan dan kebaikan yang sering kita sampaikan lewat senyum,  dan harusnya kita bangga juga dengan wisata Indonesia.

Nah,  saya akan membeberkan beberapa tempat yang sebetulnya sangat Instagramable dan Anti Mainstream di Indonesia.

Bali


Walaupun Bali sudah sangat ternama dan sering berkunjung ke sana,  tapi sebetulnya masih banyak yang belum dijelajahi. Salah satunya adalah Karang Asem. Di Karang Asem banyak sekali tempat yang masih sangat bagus dan jarang di kunjungi karena lumayan memakan waktu kalau kita menginap di area sekitar Denpasar. Kurang lebih sekitar 2 jam waktu perjalanan sehingga tidak menjadi wisata favorite.

Walaupun tidak menjadi tempat favorite,  tapi banyak sekali tempat yang harus dikunjugi salah satunya adalah Taman Bunga Kasna. Sangat jarang orang yang mau berkunjung ke sana,  padahal pemandangannya dan taman bunganya sangat bagus. Bahkan bunga yang ditanam ini pun sebetulnya untuk dijual. Karena itulah,  bunganya menjadi sangat terawat dan sangat rindang. Bukan hanya bunga saja, tapi ada beberapa tempat selfie yang cocok untuk koleksi foto di feed Instagram.

Selain taman bunga Kasna,  Karang Asem memiliki Taman Air Tirta Gangga,  Istana Air Taman Ujung dan Pura Lempuyangan yang masih sangat hits.

Jakarta


Walaupun bukan tempat wisata yang favorite,  tapi Jakarta sebetulnya memiliki banyak tempat yang instagramable dan bisa dijumpai disekeliling kita. Bahkan sebagai penduduk Jakarta pun,  saya baru tahu kalau banyak tempat kece buat menambah koleksi feed Instagram. Pasti pada penasaran kan?

Sebut saja Gelora Bung Karno, salah satu kawasan olahraga yang beberapa waktu lalu menjadi buah bibir karena sukses menyelenggarakan Asian Games ini memiliki spot-spot yang jarang di ketahui oleh orang. Kalau yang sering olahraga disekitar komplek ini pasti sudah tahu spot-spot mana saja yang sering digunakan untuk foto-foto kece.

Istora Senayan sebetulnya gedung lama, namun setelah direnovasi dan dipercantik dengan banyak alang-alang membuat Istora semakin Insagramable banget. Bukan hanya alang-alang saja yang mempercantik,  tapi gedung-gedung pencakar langit pun mampu menghias foto kita menjadi sangat kece.

Selain kawasan GBK,  Jembatan Penyebrangan Orang atau JPO di sekitaran GBK juga patut dicoba untuk menambah warna-warni Instagram kamu.

Solo


Siapa bilang Solo itu ngga menarik? Sebetulnya, Solo memiliki banyak tempat foto yang bagus seperti di Mangkunegaran. Salah satu Keraton di Solo ini memiliki sentuhan klasik dengan sentuhan Eropa pada beberapa bagian. Dahulu,  Sultan memiliki hubungan yang baik dengan Kerjaan lain di wilayah Eropa sehingga mendapatkan benda-benda yang menjadi bagian dari Keraton.

Seperti pada wilayah dalam yang sangat klasik dengan taman serta air mancur yang menambah Solo menjadi sangat Istimewa.

Masih Banyak Yang Lain

Sebetulnya masih banyak sekali tempat yang sangat Instagramable di Indonesia, bahkan disekitar kita pun banyak sekali yang kece-kece tapi tidak kita ketahui.

Nah salah satunya yang bisa kunjungi adalah Sumatera Barat. Provinsi dengan Ibu Kota Padang ini selalu memikat hati. Bukan hanya karena banyak warung nasi Padang saja namun karena keindahan alam yang mampu menyihir kita untuk tetap tinggal dan lama berlibur. Mau tahu apa saja destinasi yang mampu memikat hati kita? Penasaran? klik di sini aja .

Sebetulnya masih banyak yang lain yang bisa dijelajahi,  nah saya akan bahas tempat lainnya di postingan selanjutnya.

Selamat berlibur dan keliling Indonesia ya.






5 Yang Cantik


Tidak banyak foto pemandangan yang bisa saya abadikan dalam perjalanan ke sebagian Pulau Flores waktu kegiatan Tim Promosi Uniflor 2019 kemarin, baik ke Barat, Utara, dan Timur. Saya sendiri juga tidak membaca Canon Eos600D andalan karena berat lah di backpack dan cuaca sedang kurang bersahabat alias kuatir diguyur hujan tengah jalan. Lebih tepatnya saya tidak mau repot hahaha. Oleh karena itu saya hanya bisa merangkum lima yang cantik dari perjalanan kemarin-kemarin itu, dari perhentian demi perhentian yang bikin Violin rada bingung kok tiba-tiba sepeda motor di belakangnya menghilang. Haha.

Cekidot!

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

1. Memasuki Kota Mbay


Kota Mbay merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Termasuk kabupaten tetangga yang bersinggungan langsung dengan Kabupaten Ende. Perbatasannya adalah Nangamboa (Kabupaten Ende) dan Nangaroro (Kabupaten Nagekeo). Beda dari kota-kota lain di Pulau Flores, Kota Mbay bertopografi datar dengan pemandangan alam yang memikat terutama padang sabana di sekelilingnya; termasuk pada saat hendak memasuki kota ini.


Ini fotonya pagi hari sebelum memasuki Kota Mbay. Adem banget ya melihatnya. Saya suka sekali foto-foto di lokasi ini (sebelum memasuki Mbay). Seperti sebelum memasuki surga *dikeplak*.

2. Rumah Impian


Bukit Weworowet yang terletak di Desa Waikokak di Kabupaten Nagekeo ini memang merupakan salah satu titik terlama wisatawan berhenti untuk sekadar mengabadikan pemandangan alamnya yang luar biasa bikin betah. Tentang Bukit Weworowet bisa kalian lihat videonya di Youtube. Nah, yang satu ini adalah foto sebuah rumah berlatar Bukit Weworowet.


Apa yang kalian lihat? Iya, bukit dan rumah, itu jelas. Saya melihat impian di foto ini. Impian bocah SD zaman dulu setiap kali menggambar pemandangan; gunung, rumah, sawah. Kalau yang ini; bukit, rumah, ladang. Saya mau donk punya rumah ini, sayang sudah ada yang punya, lagian belum kuat lah saya buat beli rumah hahaha.

3. Memasuki Desa Niranusa


Kecamatan Maurole terkenal akan garis pantai berpasir putihnya. Ketika hendak memasuki Desa Niranusa di Kecamatan Maurole, di dataran tingginya, kalian akan disuguhi pemandangan ini:


Pemandangannya itu seakan mengajak kita: nyebuuuuur, yuk! Kalau tidak mengingat berkas-berkas ini itu, sudah pasti saya nyebur dan pulang dalam keadaan basah kuyup hahaha. 

Saya punya banyak foto laut dari lokasi yang sama. Ini foto terbaru dua minggu lalu waktu pergi ke Utara untuk sosialisasi Universitas Flores. Pasir putihnya terdiri dari pecahan koral bercampur pasir putih itu sendiri. Beberapa teman traveler yang datang ke Kabupaten Ende, tepatnya ke Danau Kelimutu, pulangnya pasti saya racuni untuk pergi ke sini hehe.

Tanjung Kajuwulu


Namanya Tanjung Kajuwulu, terletak di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Daerah Magepanda sendiri merupakan daerah di pesisir Pantai Utara yang pemandangannya bakal bikin kalian tercengang!


Di bukit dekat Tanjung Kajuwulu ini dibangun menara pandang. Sayang saya tidak foto dari menara pandangnya. Pun tak jauh dari situ ada Bukit Salib, iya ada salib besar warna putih berdiri gagah di sebuah bukit yang untuk menuju ke sana disediakan anak-anak tangga.

Nikong Gete


Dalam perjalanan pulang dari Kota Larantuka ke Kota Maumere, saya melihat pemandangan ini. Sulit untuk tidak mengerem Onif Harem. Lantas bertanya pada seorang anak di situ nama daerah ini. Dia menjawab, "Nikong Gete." Nah, mungkin kuping saya kurang baik pendengarannya, apabila salah nama ini mohon dikoreksi hahaha.


Sunset-nya itu, mana tahan eyke ...


Kesimpulannya? Mari yuk ke Pulau Flores dan nikmati sendiri keindahannya. Karena Pulau Flores tidak hanya tentang Labuan Bajo, Danau Kelimutu, Pantai Anabhara, Magepanda, atau Puncak Konga di Titihena. Masih banyak daerah menarik lainnya yang bisa dieksplor ... dan tentu bagi kami anak daerah ... harus bisa menceritakannya pada dunia.



Cheers

Timur Punya Cerita


Halo hola! Tidak terasa sudah tiga hari saya tidak nge-blog. Tidak menulis cerita. Tidak memperbarui konten blog. Pun lebih lama lagi; saya jarang blogwalking dan merusuh di blog kawan blogger sekalian. Sakau? Sedikit. Tapi lelah ini telah lebih dulu merenggut kesadaran sehingga perjalanan ke dunia mimpi menjadi begitu mulus tanpa jerawat. Saya bahkan tidak diijinkan untuk protes. Perjalanan ini, sesungguhnya, telah mengajarkan saya dan dinosaurus rasa rindu pada bantal dan guling. Haha. Maka hari ini, setelah 680an kilometer berkendara bersama Onif Harem, saya punya kesempatan yang begitu banyak untuk menulis, menulis, dan menulis.

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Peringatan: pos ini akan sangat panjang tapi penuh cerita menarik terutama #JalanJalanKerja memberikan saya kesempatan untuk mencapai beberapa lokasi wisata.

Mari kita mulai cerita panjang ini.

Menyisir Timur Pulau Flores dari Kota Ende Menuju Kota Maumere


Senin, 18 Februari 2019. Sepagi itu, pukul 04.00 Wita saya dan Thika sudah bersiap. Rencananya kami, tim sepeda motor, berangkat pukul 05.00 Wita dari Kota Ende menuju Ibu Kota Kabupaten Sikka yaitu Kota Maumere. Malam sebelumnya tim bis Uniflor sudah duluan berangkat. Tim motor ini terdiri dari: Pak Anno Kean, Pak Us Bate, Ibu Violin Kerong, Cesar Sarto, Rolland, dan saya yang ditemani Thika. Meskipun saya memanggil mereka dengan embel-embel 'Pak' dan 'Ibu' tapi sebenarnya usia mereka masih muda. Ndilalah kami malah baru ngegas pukul 05.45 Wita karena masih menunggu Pak Us yang pada WAG menulis otw tapi baru tiba  di check point satu jam setelahnya. Haha.

Sepagi itu speedometer masih bergerak normal antara 60km/jam sampai 80km/jam. Saya tahu, tiga sepeda motor yang dikendarai para lelaki itu memang sengaja menahan gas agar sepeda motor yang dikendarai dua perempuan (saya dan Viol) bisa seirama dengan mereka. Tiba di Kecamatan Wolowaru sekitar pukul 07.30 Wita kami beristirahat sejenak untuk ngopi-ngopi di sebuah warkop yang pemiliknya ramah sekali. Tidak marah meskipun kami ributnya bukan main. 


Jarak dari Kota Ende ke Kecamatan Wolowaru adalah 65 kilometer. Betul, menuju Kecamatan Wolowaru kami melewati Kecamatan Detusoko.

Kelokan Antara Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Watuneso yang Bikin Mabuk



Inilah titik perjalanan paling membosankan; Kecamatan Wolowaru - Kecamatan Watuneso yang berjarak 28,1 kilometer. Membelah hutan, sekali dua bertemu rumah penduduk, dan kelokan (kadang kelokan kanan-kiri itu tidak ada jedanya sama sekali) tiada akhir. Viol memimpin di depan. Kepemimpinan Viol dalam iring-iringan ini membikin para lelaki sadar bahwa tidak ada gunanya mereka menahan gas dan speedometer. Haha. Tapi kelokan jelas membikin saya pusing bukan main dan percaya bahwa menjadi seorang Valentino Rossi itu tidak mudah. Tiba di SMA pertama dalam perjalanan menyisir ini, saya dan Viol saling mengeluh pusing. Thika? Aduhai keponakan paling setia itu cuma bisa menelan lidah getir.


Sekolah pertama yang kami kunjungi, yang merupakan bagian tugas saya dan Viol adalah SMA Karitas Watuneso. Sayangnya kami tidak dapat bersosialisasi karena murid-murid sedang punya kegiatan. Hiks. Menitip pamflet setelah bertemu kepala sekolah kami pun pamit.


Setelah pamit, tim sepeda motor berpencar. Pak Anno dan Pak Us melanjutkan perjalanan ke kecamatan lain di Kabupaten Sikka, kami yang tersisa menuju Kecamatan Paga.

Kecamatan Paga dan Pantainya


Kecamatan Watuneso dan Kecamatan Paga adalah dua kecamatan yang membatasi wilayah Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka. Jaraknya hanya 14,6 kilometer. 


Di Kecamatan Paga, tim sepeda motor berpencar lagi. Cesar dan Rollan segera meluncur menuju sebuah SMK di Kecamatan Lela. Di Paga, saya dan Viol berhenti untuk mengunjungi SMA Alvarez Paga yang dipimpin oleh seorang Romo. Kami diberi kesempatan untuk melakukan sosialisasi di salah satu kelas dalam jeda tryout sesi satu. 


Kecamatan Paga terkenal akan garis pantainya yang memukau, berpasir putih, mempunyai pemecah ombak, serta dari kejauhan nampak ombak bergelung meskipun bukan ombak besar untuk surfing itu. Di tepi pantai juga terdapat saung dan bale-bale untuk beristirahat. Memesan kopi? Silahkan. Fotonya nanti dalam perjalanan pulang hehe.

Mencari SMA Negeri Nita


SMA Negeri Nita tidak terletak di jalan trans Pulau Flores sehingga saya dan Viol harus bertanya sana-sini terlebih dahulu. Tapi ... a-ha! Kembali Thika memainkan Google Map. Ketemu! Di SMA Negeri Nita kami diijinkan melakukan sosialisasi kepada murid-murid. Rasanya senang sekali ketika mereka sangat menghargai perjalanan jauh kami dari Kabupaten Ende hahaha.



Ke mana setelah SMA Negeri Nita? Kami meluncur ke Kota Maumere sebagai Ibu Kota Kabupaten Sikka. Masih ada tiga sekolah tujuan kami yaitu MAS Muhammadiyah, SMKN 2 Maumere, dan SMA Negeri Magepanda.

Ikan Hiu dan I Love You


Inilah sekolah yang pemandangan lautnya saya pos Senin kemarin; Laut Belakang Sekolah. MAS Muhammadiyah terletak di wilayah Nangahure (arah Utara) dari Kabupaten Sikka. Sayangnya kami tidak dapat melakukan sosialisasi di sekolah ini karena murid-murid sedang bersiap untuk Shalat Duhur. Yang lucunya, Thika malah digoda oleh seorang murid laki-laki yang dengan nekatnya datang ke ruang guru dan berkata: 

Assalamu'alaikum, Kakak. Ikan hiu (ada lanjutannya tapi tidak kedengaran jelas), I love you!

Saya dan Viol menahan ngakak. Tuhaaaaan. Thika oh Thika, masih dianggap anak SMP atau SMA saja dirimu itu. Padahal sudah tahun kedua kuliah hahaha. Gara-gara itu, akhirnya kami memanggil Thika dengan julukan IKAN HIU.



Sungguh kalau saya diijinkan sekolah lagi, saya mau sekali sekolah di MAS Muhammadiyah ini, biar tiap hari sepulang sekolah bisa nyebur dan bergabung dengan para nelayan.

Alumni Uniflor Ada Di Mana-Mana


Sebenarnya kami sudah ingin menyerah dan pergi ke hotel tempat semua anggota tim menginap di Hotel El Tari Indah. Tapi kok sayang, karena letak SMKN 2 Maumere ini sudah cukup dekat dari MAS Muhammadiyah, lebih ke arah Utara. Maka kami pun tiba di sekolah yang ternyata sekolah pelayaran ini. Meskipun tidak sempat memberikan sosialisasi, hanya menyerahkan surat dan pamflet, tapi kami beruntung bertemu alumni Uniflor yang mengajar di sana.


Sebenarnya bukan hanya di sekolah ini terdapat alumni Uniflor yang mengabdi sebagai guru, hampir di semua sekolah yang dikunjungi juga ada alumni Uniflor, hanya saja tidak bisa bertemu karena mereka sedang mengajar sedangkan kami terburu waktu.

Bertemu Ocepp Rewell


Dari SMKN 2 Maumere kami memutuskan untuk pergi ke Hotel El Tari Indah yang terletak di Jalan El Tari Kota Maumere. Hotel ini terletak tepat di pinggir jalan. Di bagian depannya terdapat restoran mini yang juga dimiliki oleh si pemiliki hotel.


Usai makan siang, soto ayam kampung, saya memutuskan untuk segera check in dan beristirahat. Saya ngorok, Viol ke rumah saudaranya, Thika pergi jalan-jalan bersama keponakan lain bernama Vil yang memang tinggal di Kota Maumere bersama orangtuanya. Sebenarnya ada banyak orang yang ingin saya temui di Kota Maumere baik sahabat maupun keluarga. Tapi ... sumpah, tubuh saya butuh dicas utuh haha. Senangnya adalah si Ocha alias Ocepp Rewell berjanji akan datang ke hotel. Hore!


Ocha datang ke hotel tak lama setelah Thika pulang dari mengunjungi rumah-rumah keluarga termasuk ke Kantor Telkom untuk bertemu keluarga yang bekerja di sana. Dari Tanta Ella (mamanya Vil) Thika membawa cumi, ikan, sambal, dan peyek kacang. Ocha membawa burger, sukun goreng, dan martabak manis. Oalaaaah ... diet saya hancur sehancur-hancurnya pada hari itu. Mengobrol bersama Ocha menuntaskan rindu pada bawelnya dia hahaha. Kami masih haha-hihi sampai selepas maghrib, saatnya kami harus ke Tobuk Gramedia untuk bisnis Triwarna Soccer Festival terutama bagian pameran dan membeli buku pesanan Meli.

MoF Art Gallery (and Cafe)


Urusan bisnis di Tobuk Gramedia Maumere, dengan supervisor-nya karena manajer sedang tidak di tempat, belanja-belenji termasuk membeli agenda cover kuning bekal lanjutan T-Journal, kami merapat ke MoF Art Gallery (and Cafe) yang terletak di Pasar Senja.




Usai makan malam, kembali ke hotel, dan saya pun tidur. Tidur kesorean, karena toh Ocha dan Thika masih kembali ke Tobuk Gramedia untuk membeli novel dan Viol masih kembali ke rumah saudaranya. Pokoknya saya butuh tidur!

Sekolah Di Negeri Dongeng


Selasa, 19 Februari 2019, masih satu sekolah yang harus saya dan Viol kunjungi yaitu SMA Negeri Magepanda. Perjalanan menuju Magepanda sekitar 34,4 kilometer (pergi-pulang 68 kilometer) dengan bertemu dua kali jalan putus yang tentu tidak akan bisa dilewati saat hujan. Untung ... cuaca cerah! Google Map membantu kami menemukan sekolah ini karena memang tidak terletak di pinggir jalan utama.


Inilah sekolah di negeri dongeng, terletak di kaki bukit-bukit hijau yang mirip Bukit Teletubbies. Saya juga mau ah sekolah lagi di SMA ini hahaha. Manapula Kepseknya ramah sekali, suka guyon, dan banyak bercerita ini itu. Kami juga bertemu alumni Uniflor yang sudah lamaaaaa sekali lulus, dan dua alumni lainnya yang lulus di atas tahun 2000.


Kata Kepsek, "Ibu ... kalau sekarang mendung, saya terpaksa ibu pulang ke Maumere karena kalau mulai hujan, saya jamin ibu terpaksa menginap di sini! Hahaha!"

Dan inilah kondisi salah satu ruas jalan yang putus (sangat dalam) sehingga kalau hujan, dialiri air yang meluap:


Harus hati-hati dan pelan-pelan jika tidak ingin mencium tanah kering berdebu serta bebatuannya. Tapi pemandangan jalan putus ini ibarat secuil halangan karena pemandangan sepanjang jalan dari Kota Maumere ke Magepanda itu ausam sekali! 





Menuju Kabupaten Flores Timur


Pulang dari SMA Negeri Magepanda kami kembali ke hotel untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan ke arah Timur (lagi) yaitu ke Kabupaten Flores Timur dengan jarak 128 kilometer. Ada banyak sekali SMA yang menanti kami di sana hahaha. Gayanya menulis ini.


Perjalanannya jauh. Memang. Kami lebih dulu berangkat dari tim bis. Sempat istirahat di Boru dan Puncak Konga di Titihena sebelum menuju Kota Larantuka sebagai Ibu Kota Kabupaten Flores Timur.




Pokoknya, nanti ya akan saya ulas satu-satu lebih detail. Pos ini secara garis besar saja ... garis besar yang lumayan panjang *senyum malu*.

Papi Mami di Puumbao


Sayangnya kami tidak berlama-lama di rumah Pak Anno di Waibalun karena Papi Mami sudah menunggu di Puumbao, di Kota Larantuka-nya. Saya, Viol, dan Thika memang tidak menginap di Hotel Lestari Larantuka karena memang ingin menginap di rumah Papi Nani Resi dan Mami Dete yang dulunya tinggal di Kota Ende. Kedua orangtua yang baik ini sudah menunggu kami dan menyiapkan makan malam. Tak lupa kopi! Yuhuuuu. Kisah tentang Papi Mami di lain pos ya.

Ini fotonya waktu mau pulang. Wajah si Mami sedih begitu karena rumahnya kembali sepi.

Malam itu, Cesar dan Rolland bergabung, kami mengobrol ramai di rumah Papi Mami yang sejuk dan nyaman itu. Papi mendengarkan dan terbahak-bahak mendengar celoteh kami. Mami lebih memilih duduk di teras sambil mengunyah sirih-pinang. Sepulang Cesar dan Rolland pun, kami masih mengobrol di teras sambil Mami memijit Viol dan Saya. Ikan Hiu? Eh, Thika? Ngorok!

3 SMA di Larantuka

Rabu, 20 Februari 2019, ada tiga SMA yang wajib kami kunjungi sementara tim bis menuju Tanjung Bunga. Cesar dan Rolland pun mendapat jatah tiga SMA. Okay, mari jalan! Setelah menegak kopi yang dibikin Mami, kami pun berangkat.

"Jalan bae-bae, Oa eeee. Jangan makan di luar, pulang makan di rumah!" pesan Mami.







Dan tentu saja kami pulang makan siang di rumah karena Mami sudah memasak ... ikan goreng segar yang manis dan sambalnya itu cihuy banget! Aduhai Papi Mami, kalian begitu luar biasa, hati kalian lapangnya luar biasa. Saya belajar banyak dari kalian. Sungguh ... saya pengen nangis. Terima kasih Papi Mami; kami datang, kami ribut, kami kotorkan rumah, kami pulang. Hehe.

Kembali ke Kota Maumere


Ya, setelah makan siang dan dibekali pula pisang goreng dan sambal maknyus a la Mami, kami pun pamit pulang ke Kota Maumere, pamitan sama tim bus dan sebagian tim motor yang masih menginap semalam di Waibalun, di rumah orangtuanya Pak Anno. Perjalanan siang itu mengantar kami tiba di daerah Kabupaten Sikka pada senja hari. Tentu, kami mampir sebentar di Boru untuk ngopi dan menikmati pisang goreng serta sambal maknyus itu.




Kaki saya sungguh lelah karena mengendarai Onif Harem yang matic, kaki jarang diluruskan.

Tiba di Kota Maumere sudah gelap. Kami langsung ke rumah kakaknya Viol. Saya sudah tidak bisa bergerak lagi. Langsung tepat setelah mandi dan keramas (aduh ini kepala guatalnya tak tahan hahaha). Sampai keesokan harinya, pagi-pagi hari, saya dan Thika pergi ke rumah Tanta Ella di daerah Misir Kota Maumere, yang disusul Cesar dan Rolland.

Keluarga Adalah Segalanya


Kamis, 21 Februari 2019, di rumah Tanta Ella kami disuguhi kopi dan tentu ditahan untuk makan terlebih dahulu sebelum ngegas ke Kota Ende.


Sungguh, keluarga adalah segalanya. Berhubungan darah atau tidak, mereka akan selalu menanti kedatangan keluarga lainnya dengan wajah berseri-seri dan kelapangan hati yang luar biasa. Mereka tidak akan rela keluarga lainnya terkena hujan apalagi lapar! Tidak akan pernah terjadi hal semacam itu. Mereka, bahkan, akan mengomelimu kalau tidak mampir. Sungguh ... keluarga adalah segalanya.

Terimakasih Tanta Ella, Bapatua, dan Vil. Terima kasih.

Ngopi di Paga dan Persawahan di Detusoko


Mari pulang kampung. Perjalanan pulang ini berformasi: saya, Thika, Cesar, Rolland, dan Rudi. Viol masih bertahan di Kota Maumere mengurusi pekerjaannya sehingga sepeda motornya dibawa pulang oleh Rudi. Dalam perjalanan pulang ini, mungkin karena setelah makan siang, saya didera kantuk yang luar biasa hebat. Akhirnya menyerah dan berhenti di saung pinggir jalan di Paga (dan pinggir pantai) untuk ngopi sejenak.


Anak pemilik saung, namanya Cici. Dia begitu cantik dan membikin saya harus memotretnya saat itu juga hehe. Sedangkan Thika memilih pergi ke pantai untuk foto-foto di sana. Nanti deh hasilnya saya pamerkan di lain pos. Kuatir kalian iri hahahah.

Setelah ngopi-ngopi di sini, kami terus ngegas ke Ende tanpa berhenti karena saya sudah sangat merindukan Mamatua. Satu kali berhenti di daerah Detusoko untuk memotret pemandangan ini:


Terima kasih Allah SWT atas alam yang indah ini.


Senin - Kamis. Perjalanan panjang ke arah Timur Pulau Flores di dua kabupaten. Lelah tapi menyenangkan. Saya selalu suka #JalanJalanKerja begini. Karena ketika urusan pekerjaan sudah selesai, bisa sekalian jalan-jalan kan hehe. Pos yang panjang ini pun belum sempurna. Masih banyak yang ingin saya ceritakan terpisah ... karena memang harus dipisah. Semoga mata kalian tidak eror setelah membaca pos yang panjang ini hahaha *cubit dinosaurus*.

Perjalanan setotal 680an kilometer. Done!

Well, selamat berakhir pekan, kawan! 



Cheers.

5 Desa 5 Potensi


Alhamdulillah awal tahun 2019 sudah banyak kegiatan yang saya lakukan baik kegiatan yang berhubungan dengan kampus, maupun kegiatan di luar kampus. Salah satu kegiatan di dalam kampus yang saya sukai adalah peliputan kegiatan Natal Bersama di Fakultas Ekonomi yaitu Misa Oikumene yang dipimpin oleh Pater John Ballan, SVD. dan Pendeta Ferluminggus Bako, Sth. Sedangkan kegiatan di luar kampus antara lain kegiatan #EndeBisa, ngemsi di acara ultah Ezra, ngumpulin batu bakal Stone Project (salah satu resolusi 2019), jalan-jalan awal tahun di Pantai Nangalala, hingga kerjaan tukang syuting di beberapa desa.

Baca Juga: 5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Sebenarnya sudah lama saya menolak tawaran atau permintaan menjadi tukang syuting semacam syuting acara pernikahan. Alasannya sederhana: Cahyadi, tukang syuting andalan saya itu, sedang ada kerjaan lain yang tidak memungkinkannya untuk bekerja di pagi hari (misalnya syuting proses make up hingga pemberkatan di Gereja atau akad nikah di Masjid). Masa iya saya cuma menerima proyek syuting khusus resepsi yang umumnya dilakukan malam hari saja? Mana ada calon pengantin yang mau! Jadi, saya menolak proyek-proyek syuting itu meskipun Rupiah-nya menggoda imannya dinosaurus. Tapi ketika saya dihubungi oleh dua kecamatan yaitu Kecamatan Ende dan Kecamatan Ende Utara untuk mendokumentasikan kegiatan di desa di bawah payung Program Inovasi Desa (PID), saya langsung menyetujuinya. Alasannya juga sederhana: waktu kerja yang fleksibel.

Untuk Kecamatan Ende, Cahyadi mendapat tugas paling berat, karena lokasi desa-desa 'jajahannya' itu sangat jauh dan medan menuju lokasi yang tergolong berat. Sampai suatu kali Cahyadi pulang dan bercerita bahwa dia jatuh dari sepeda motor karena bebatuan jalanan yang tidak bisa diajak kompromi. Sedangkan untuk Kecamatan Ende Utara saya masih bisa menanganinya karena selain waktunya yang fleksibel, juga lokasinya masih dekat-dekat Kota Ende.

Dari video-video yang kemudian saya sunting, saya melihat bahwa setiap desa mempunyai potensi yang luar biasa besar, yang seharusnya menjadi fokus pemerintah untuk mengembangkannya. Agar apa? Agar masyarakat berdikari. Tentu, sebagai tahap atau langkah awal diperlukan bantuan seperti bimbingan dan pendampingan hingga dana. Bimbingan dilakukan bertahap oleh Tim PID maupun instansi terkait, sedangkan dana masih diusulkan dari dana desa.

Bapak Drs. Kapitan Lingga, Camat Ende Utara, mengungkapkan bahwa dana desa dapat dipakai untuk keperluan kelompok-kelompok dari upaya pemberdayaan masyarakat desa ini, asalkan betul dimanfaatkan dengan baik. Maksudnya adalah adanya laporan keuangan yang transparan dari penggunaan dana-dana tersebut. Kita tahu, dana desa telah membantu begitu banyak masyarakat desa untuk menikmati fasilitas diantaranya jalan desa yang dibikin baik menjadi jalan rabat, pembangunan kantor desa dan faskes, pembangunan fasilitas olahraga, hingga bantuan untuk kelompok-kelompok pemberdayaan masyarakat desa. Dana desa dilaporkan penggunaan/pemanfaatannya dua kali setahun. Jadi, setengah dana desa digelontorkan, enam bulan pelaporan baru setengahnya lagi digelontorkan. Kira-kira begitu informasi yang saya baca dari buku Dana Desa keluaran Kementrian Keuangan.

Kembali pada judul pos ini, 5 Desa 5 Potensi, saya ingin menulis tentang potensi lima desa yang telah kami dokumentasikan.

Apa saja potensi desa-desa tersebut?

1. Keripik Ubi dan Pisang


Desa Mbomba merupakan desa yang berada di bawah pemerintahan Kecamatan Ende Utara. Dua jenis hasil bumi unggulan dari desa ini adalah ubi (singkong) dan pisang. Oleh Tim PID, masyarakat desa khususnya kaum ibu dibentukkan kelompok kemudian diberdayakan untuk mengolah hasil bumi unggulan tersebut menjadi panganan tingkat dua berupa keripik ubi dan pisang.



Saya sudah merasakan hasil olahannya dan lidah saya jatuh cinta sama keripik ubinya, terutama yang belum dicampur bumbu tabur. Renyah dan gurih sekali, kawan. Rasanya mirip keripik ubi berbahan ubi Nuabosi. Untuk ubi Nuabosi, silahkan baca pos Puskesmas Cantik di Tanah Ubi Roti ini, ya.

2. Tenun Ikat


Sama dengan Desa Mbomba, Desa Gheoghoma juga terletak di wilayah Kecamatan Ende Utara. Kekayaan sumber daya dari desa ini yang diangkat oleh Tim PID adalah tenun ikatnya. Ada tiga kelompok penenun dari tiga dusun di Desa Gheoghoma yang telah dibentuk sejak tahun 2018. Mereka juga mendapatkan pendampingan dari instansi terkait salah satunya Perindustrian, serta menurut Kepala Desa, hasil tenun ikat dijual di Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Kita harapkan bersama tenun ikat dapat semakin naik nilainya di mata dunia karena proses pembuatannya cukup panjang dan melelahkan. Mereka, pada penenun itu jenius ya ... membikin motif itu! Sungguh jenius.


Pos lengkap tentang proses menenun di Desa Gheoghoma dapat kalian baca pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat ini.

Baca Juga: 5 Workshop Blogging & Social Media

3. Air Terjun Tonggo Papa


Sudah lama Air Terjun Tonggo Papa dikenal khalayak. Banyak yang ke sana loh termasuk teman-teman saya. Saya dan Kakak Pacar sepasukan pernah ke sana juga, tapi karena sayanya tidak kuat, karena kaki yang uzur, berhenti di tengah jalan. Mereka yang kuat, tapi karena solidaritas, justru ikutan berhenti menemani saya menikmati aroma dedaunan. Huhuhu.


Air terjun merupakan wisata alam yang paling banyak dijumpai di Kabupaten Ende. Di dekat Kota Ende saja ada Air Terjun Kedebodu. Air Terjun Tonggo Papa terletak di Desa Tonggo Papa, masih dalam wilayah Kecamatan Ende. Cahyadi yang mendokumentasikan ini. Yang saya suka adalah adanya wisata / atraksi wisata buatan seperti sayap kupu-kupu yang satu ini:


Artinya, baik pemerintah desa maupun masyarakat desa sama-sama sadar bahwa wisata alam akan lebih menarik dengan adanya wisata buatan sebagai pendukung (wisata utamanya). Haha. Itu analisa asal-asalan saya saja. Saya masih punya mimpi untuk 'harus' bisa turun-naik pergi-pulang Air Terjun Tonggo Papa. Doakan yaaaa *elus-elus kaki*.

4. Kemiri


Tidak disangka, berdasarkan pengakuan dari Kepala Desa Wologai, dinyatakan bahwa Desa Wologai sanggup memenuhi permintaan kemiri berapa ton pun. Tapi kalau minyak kemiri ... tunggu dulu. Karena itu masih merupakan rencana ke depan untuk menopang perekonomian masyarakat Desa Wologai - Kecamatan Ende.



Coba informasi ini saya peroleh dari dulu. Dulu itu ... saya dan Sisi, sahabat tergila, punya perusahaan kecil pembuatan minyak kemiri perawan haha. Maksudnya kami memproduksi minyal kemiri asli yang dikirim ke perusahaan teman di Belgia sana. Kemudian mandeg. Sebenarnya mandeg bukan karena kehabisan stok kemiri, yang adalah tidak mungkin, tapi karena satu dan lain hal *senyum manis*.

5. Virgin Coconut Oil


Kalau yang satu ini juga masih dari kelompok minyak perawan. Virgin coconut oil dari Desa Emburia - Kecamatan Ende. 


Tidak disangka di Desa Murundai yang letaknya super jauh dari Kota Ende itu sudah ada usaha pengolahan kepala menjadi virgin coconut oil dan bahkan telah diberi label! Mereka mengandalkan potensi pohon kelapa yang tumbuh subur di desa tersebut.


Prosesnya masih sederhana dan tentu masih membutuhkan bimbingan dan tambahan modal/dana. Tapi melihat hasil yang sudah dicapai sejauh ini, saya pikir dana harus digelontorkan untuk mereka. Baik dari dana desa maupun dari dana lainnya.

Setiap desa punya potensinya masing-masing. Tugas kita bersama adalah untuk melihat, menggali, mengembangkannya, hingga memperkenalkannya, demi masyarakat desa berdikari.


Di Kabupaten Ende ini banyak sekali desa (dan kelurahan) yang bisa terus digali potensinya baik potensi wisata maupun potensi hasil bumi. Semuanya masih dapat dikembangkan, terus-menerus, agar menjadi 'besar'. Tapi tentu harus ada upaya lain untuk mendukung itu semua. Desa Wologai misalnya. Desa yang jalannya luar biasa bikin jantung kebat-kebit dan bikin Cahyadi jatuh dari sepeda motor ini, akses jalannya itulah yang harus diperhatikan untuk mendukung proses jual-beli kemiri yang bisa dilayani berton-ton tersebut. Kan sayang kalau calon pembeli malas ke sana (untuk melihat kualitas kemiri misalnya) hanya gara-gara kondisi akses jalan.

Salah satu potensi desa yang pernah juga saya bahas di blog travel adalah Desa Manulondo. Di sana ada Ritual Goro Fata Joka Moka. Ini ritual tolak bala yang dilakukan bisa sampai tiga hari lamanya. Unik sekali ritual tersebut, silahkan baca kalau penasaran, dan itu merupakan potensi wisata budaya yang harus terus ada/berkelanjutan. Entah sekarang, apakah ritual tersebut masih terus dilaksanakan atau tidak. Belum lagi potensi di desa-desa lain seperti desa-desa penyangga Danau Kelimutu hingga desa-desa di wilayah pantai bagian Utara Kabupaten Ende (saya pernah peroleh informasi tentang hutan bakaunya). Luar biasa memang ... kita harus keep digging.

Baca Juga: 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Well, semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua. Siapa tahu kalian juga ingin menggali dan menceritakan lebih banyak potensi yang ada di desa kalian. Ya kan ... bagi tahu saja di papan komentar, nanti saya kunjungi blog-nya. Hehe.

Semoga bermanfaat!



Cheers.