Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik


Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik. Saya pernah menulis pos berjudul 1 Video, 3 Aplikasi. Tentang bagaimana cara saya menyunting video menggunakan Sony Movie  Studio Platinum sebagai rumah utama, tetapi masih menggunakan aplikasi lain sebagai pembantu. Aplikasi lainnya itu adalah Photoscape dan Proshow Producer (saya menulisnya Proshow saja). Photoscape untuk menyunting gambar, apabila video yang dikerjakan menyisipkan gambar, soalnya saya tidak fasih dengan Photoshop. Sedangkan Proshow untuk menyatukan gambar menjadi video, dengan template layer yang keren, banyak efek, serta banyak pilihan transisi. Tidak mudah memang untuk menghasilkan video yang, menurut saya, baik.

Baca Juga: Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone

Hari ini saya mau kembali mengingatkan kalian tentang Proshow. Kenapa? Karena, jarang saya mendengar orang bercerita tentang Proshow, padahal aplikasi yang satu ini cukup bagus dipakai apabila hendak membikin video slide gambar/foto. Proshow sering saya pakai apabila ada teman meminta bantuan membikin video slide foto-foto prewedding untuk ditampilkan saat acara resepsi.

Jadi, apa itu Proshow? Cekidot.

Proshow


Proshow (Producer) merupakan salah satu produksi Photodex. Antarmukanya rata-rata sama dengan aplikasi sunting foto/video pada umumnya. Sepanjang saya memakai Proshow, belum menemukan tingkat kerumitan yang terlalu tinggi, karena aplikasi ini dibikin untuk memudahkan penggunanya membikin video slide. Selain itu, pengguna juga bisa menambahkan musik/sound untuk memperindah video yang dibikin. 


Saya mengenal Proshow dari seorang teman yang sudah saya anggap adik sendiri, Akim Yuven. Dia bahkan menunjukkan pada saya video-video yang sudah pernah dibikin menggunakan Proshow. Tertarik, saya memasang Proshow di laptop, dan mulai menggunakannya sampai dengan saat ini.

Mengulik Cara Kerja Proshow


Saat membuka Proshow, biasanya pengguna akan disuruh menambah gambar - musik - template terlebih dahulu, tapi semua itu bisa dibatalkan dan akan nampak antarmuka seperti gambar berikut ini:


Ada empat kotak dialog utama pada antarmukanya. Bagian folder gambar/video, bagian isi folder (di bawahnya folder), bagian tampilan (di sampingnya folder), dan paling bawah time line-nya yaitu time line gambar/video dan musik. Pada gambar di atas saya mengeklik folder Geng Pharmantara, dengan foto-foto kegiatannya keluarga kami, salah satu yang saya klik adalah keponakan: Rama - Indri - Syiva. Bisa dilihat di atas ya. Cukup jelas.


Lingkar merah adalah foto yang hendak dibikin slide, di atas ada empat foto, sedangkan lingkar kuning adalah transisi. Apabila pengguna hendak menyunting foto agar terlihat bergerak dengan berbagai slide keren, cukup klik dua kali pada foto dimaksud, maka akan terbuka kotak dialog pilihan gaya slide yang begitu banyak.


Di sinilah pengguna bekerja. Ada pilihan slide, layers, effects, caption, dan sounds. Silahkan pilih slide pada bagian kiri, dan silahkan disunting pada bagian kanan. Hebatnya, pilihan slide ini beragam, karena ada slide dengan satu layer, dua layer, bahkan sembilan layer. Sehingga pengguna bisa membikin satu slide dengan banyak foto, atau satu slide dengan satu foto. Pengaturan lainnya adalah efek bergeraknya (hitungan x - y panning, dan lain sebagainya).



Apabila pengguna mengeklik transisi, lingkar kuning seperti gambar sebelumnya di atas, maka akan keluar kotak dialog transisi. Proshow kaya akan transisi, beda jauh sama Sony Movie Studio Platinum yang terbatas transisinya sehingga harus memakai transisi pihak lain. Kelompok transisi bisa kalian lihat pada gambar di atas, ada blocks, patterns, themed, wipes, dan lain-lain. Inilah yang membikin saya menyukai Proshow. Transisinya kaya raya!

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Foto sudah oke, transisi oke, sampai pada musik pun oke (saya jarang pakai musik di sini), maka pengguna tinggal menyimpan hasil suntingannya. 




Create output, dan pilih video file. Silahkan disimpan. Selesai. Jangan kuatir dengan kualitas. Sudah HD kok. Hehe. Meskipun sekarang zamannya 4K tapi HD masih jadi pilihan.

'Rumah Besar' Sunting Video


Rumah besar sunting video saya adalah Sony Movie Studio Platinum. Saya memakai yang versi 13. Jadi, biasanya saya menyiapkan dulu elemen-elemen pembantu yang sudah dikerjakan di Proshow dan di Photoscape, lantas menyatukan semuanya di Sony Movie Studio Platinum. 


Gambar di atas, adalah gambar time line kerjaan sunting video di Sony Movie Studio Platinum 13. Bisalah kalian bayangkan betapa pusingnya otak saya menyatukan semua keperluan sebuah video. Berbeda dengan video dokumenter yang keseluruhannya terdiri atas video/gambar bergerak. Kalau foto, itu kita harus bisa menyesuaikan frame, menyesuaikan warna dan kecerahan, hingga durasi foto itu sendiri. Yang biasa sunting video pasti tahulah. Hehe.

Makanya, kalau biaya videografer agak mahal itu bukan saja karena kamera yang dipakai mahal, tetapi biaya menyunting yang mahal. Kalian bisalah tahu tentang ongkos listrik, ongkos kopi, ongkos cemilan (ini utama hahaha), sampai ongkos obat sakit pinggang kalau terlalu lama duduk di kursi pelototin layar laptop. Sampai sekarang saya masih mengandalkan Acer, belum punya rencana membeli komputer, rakitan, khusus untuk keperluan bekerja sunting video.

Baca Juga: Shapire OFX

Jadi itulah cara kerja Proshow yang masih asyik dipakai sampai sekarang. Tidak semua saya jelaskan, tidak sampai detail, karena feel dan sense itu harus dari penggunanya sendiri. Percayalah, ketika kalian sudah menggunakan suatu aplikasi sunting video, kalian bakal punya feel dan sense sendiri ketika proses kreatif berjalan. Semua itu sudah saya rasakan dan alami. Sayangnya, saya bukan Youtuber yang super aktif. Saya tidak pernah serius menjadi Youtuber, kalau untuk senang-senang, bolehlah. Haha.

Bagaimana dengan kalian? Pernahkah memakai Proshow?

#SelasaTekno



Cheers.

5 Keseruan Jadi Tukang Syuting



Sejak memperoleh ilmu tukang syuting dari Mas Dandhy Laksono dari WatchcDoc, saat menang menjadi salah seorang sutradara filem dokumenter Linimassa 3, saya terus berupaya mengasah kemampuan membikin video dalam tiga hal:

1. Proses syuting.
2. Proses sunting.
3. Suara (narasi, musik, dan natural sound).

Baca Juga: 5 Kegiatan Pertama di 2019

Ketiganya merupakan modal dasar sebuah video terutama video dokumenter. Modal tersiernya sih tergantung masing-masing tukang syuting. Meskipun teman-teman videografer lain di Ende sudah fasih memakai Adobe Premiere, saya masih betah memakai Sony Movie Studio Platino 12 (dan 13). Padahal saya pernah memakai Adobe Premiere dan merasakan keasyikannya terutama transisi yang kece-kece tapi satu dan lain hal membikin saya terpaksa meninggalkannya. Sebelumnya saya menggunakan perkakas sunting bernama Ulead dengan output video yang jatuh hingga titik nadir: jangankan 4K, HD saja tidak.

Baru-baru ini (saya tidak dapat menyebut harinya tapi yang jelas tidak lebih dari tiga hari, haha) saya menerima pekerjaan membikin video dokumenter tentang pengolahan keripik ubi dan pisang di Desa Mbomba, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende. Jarak dari Kota Ende ke Desa Mbomba sekitar delapan kilometer saja. Dari jalan utama Ende - Nuabosi belok masuk ke jalan rabat, kondisinya lumayan baik meskipun tanjakan dan turunannya cukup bikin Thika Pharmantara yang saya bonceng sesekali memekik kuatir. Iya, dia kuatir kami masuk berita di koran dengan judul berita: Tante dan Keponakan Terperosok di Kebun Warga Mbomba.

Terus foto selfie. Haha.


Seharusnya ini tugas Cahyadi sebagai tukang syuting andalan saya, tetapi karena dia sedang berada di Kota Maumere, saya terpaksa turun tangan. Akhir-akhir ini saya lebih sering duduk di depan laptop untuk menyunting saja. Terakhir saya turut turun ke lapangan untuk video dokumenter adalah proyek dari Kak John Ire dengan video bertajuk Desa Siaga, yang kemudian berubah menjadi Paroki Siaga.

Baiklah. Karena pengalaman ini masih segar dan hampir sama dengan pengalaman tempo dulu waktu masih aktif di lapangan, jadi tidak ada salahnya saya menulis tentang lima keseruan si tukang syuting. Mari kita cek:

1. Melempar Ide


Menjadi tukang syuting bukan berarti menerima bersih semua yang disiapkan oleh si pemberi job. Kalau hanya sekadar job mendokumentasikan pernikahan, khitanan, aqiqah, ulangtahun, dan sambut baru, misalnya, tinggal mengikuti draft yang sudah disiapkan oleh mereka saja. Membikin video dokumenter yang terencana memang butuh ide, usul, dan saran, dari semua pihak, baik si pemberi job maupun si tukang syuting. Saya pribadi merasa senang-senang saja turut melempar ide dalam diskusi sebelum syuting dimulai. Biasanya saya memberi contoh video dokumenter yang pernah saya bikin, sampai menawarkan shootlist. Di dalam shootlist sudah memuat waktu, time, scene, keterangan sound (natural, musik, atau narator), pakaian, dan lain sebagainya.

Kalau begitu video dokumenternya tidak asli? Asli donk. Shootlist dibikin berdasarkan apa yang mau ditampilkan (dirapikan) dan hanya menjadi panduan. Urusan percakapan, boleh bahasa sehari-hari atau bahasa daerah. Urusan narasumber pun silahkan menggunakan gaya bicaranya sendiri.

2. Perjalanan ke Desa-Desa


Kondisi alam dan jalanan Pulau Flores terutama ke desa dan dusun tidak semulus jalan trans Flores. Khusus perjalanan ke Desa Mbomba, kami harus melintasi daerah tambang batu yaitu Samba yang kondisi jalannya tidak mulus sama sekali. Kalau wajah, itu jerawatnya jerawat batu! Hehe. Termasuk juga akses jalan menuju desa yang memang jalan rabat tetapi tanjakan dan turunannya lumayan lah membikin Thika Pharmantara merinding qiqiqiq. 

Tapi, bagi saya, perjalanan ke desa itu ibarat piknik, jadi dijalani dengan senang hati. Pemandangannya bikin lupa kalau punya banyak tanggungan hidup. Tsaaah! Haha!

3. Mengarahkan Narasumber


Fotografer pasti sering menemukan model yang susah sekali diarahkan. Sama juga dengan videografer. Saya pernah membikin video klip untuk sebuah lagu berjudul Putera Puteri Matahari. Mengarahkan penyaninya dan/atau modelnya memang susah-susah gampang. Nah, narasumber pun demikian. Ada narasumber yang memang sejak dari lahir gaya bicaranya lugas. Ada narasumber yang harus diarahkan berkali-kali, bahkan proses syutingnya harus diulang terus-menerus untuk memperoleh hasil yang baik.

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

4. Menjadi Model Contoh


Ini kaitannya sama nomor tiga di atas. Kalau aktor (cie) dan/atau narasumber belum maksimal, maka tukang syuting yang harus jadi model contoh seperti gambar berikut ini:


Apa yang saya inginkan, harus bisa saya contohkan. Atau seperti kemarin saat saya harus mencontohkan kalimat narasi untuk salah seorang narasumber (Ketua Kelompok Pengolahan Keripik Ubi dan Pisang) tanpa meninggalkan ciri khas seperti dialek.

5. Segelas Kopi Untuk Persaudaraan


Di mana pun saya bekerja sebagai tukang syuting; dalam kota maupun luar kota, segelas kopi merupakan ciri khas yang sulit dilepaskan. Angkat gelasmu, kawan, mari kita toss persaudaraan. Manapula kopinya adalah kopi olahan sendiri yang hmmmm.

Menjadi tukang syuting memang dikelilingi kisah seru, tapi pernah juga sedih karena dianggap remeh gara-gara kameranya berukuran kecil. Padahal harganya sama dengan yang berukuran besar itu. Huhuhu. Kualitas masih dilihat dari ukuran *ngikik*.

Saat ini Cahyadi sendiri masih menyelesaikan syuting di beberapa desa. Turunnya saya kemari ke Desa Mbomba pun hanya karena dia memang sedang tidak berada di tempat kan. Alhamdulillah dia sudah kembali ke Ende jadi saya bisa fokus pada sunting ini itu saja. Hasil syuting yang di Desa Mbomba pun sudah bisa dinikmati tetapi belum final. Pihak pemberi job harus menonton terlebih dahulu, meminta penyuntingan lagi, baru deh kelar. 

Baca Juga: 5 Workshop Blogging & Social Media

Dalam hati berdoa semoga mereka tidak meminta disunting lagi hahaha.



Cheers.