Arsip Kategori: Video

[Video] Tips Editing Bag.3

Di episode ini kita akan membahas tentang kualitas suara hasil rekaman. Ada dua bagian penting yang dibahas di sini. Pertama persiapan menjelang rekaman yang mencakup ambiance di lokasi rekaman, pengaturan mikrofon hingga menghindari suara-suara tidak enak dari mulut. Kedua, adalah memperbaiki kualitas rekaman dengan noise atau suara latar yang jelek.

Selengkapnya bisa dilihat di bawah ini atau langsung ke channel: Youtube.com/SUARANE.

Credits:

  • Musik yang dipakai di episode ini adalah “Protofunk” karya Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License
  • Ilustrasi: Pixabay.com

Pertanyaan dan komentar bisa dikirim ke suarane@gmail.com

[Video] Tips Editing Bag.2

Di episode ini kita akan belajar mixing berbagai unsur dalam sebuah podcast. Targetnya adalah bisa menyusun semua bagian dalam satu episode podcast, memasukkan unsur musik latar dan sound effect serta mengemasnya menjadi satu podcast yang siap tayang. Di akhir juga akan ada sesi menjawab beberapa pertanyaan dari teman-teman seputar editing.

Selengkapnya bisa dilihat di bawah ini atau langsung ke channel: Youtube.com/SUARANE.

Semoga bermanfaat 🙂

Credits:

  • Thanks to Neng Mput yang udah mau jadi “kelinci percobaan” di episode ini 🙂
  • Musik yang dipakai di episode ini adalah “Protofunk” karya Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

Pertanyaan dan komentar bisa dikirim ke suarane@gmail.com

[Video] Tips Editing Bag.1

Kali ini kita akan belajar tentang editing podcast dengan menggunakan Audacity, sebuah aplikasi editing suara open source. Pertama kita akan belajar dulu prinsip-prinsip editing mulai dari merekam, memotong, memindahkan bagian-bagian audio tertentu. Targetnya adalah bisa melakukan editing sederhana. Di akhir juga akan ada sesi menjawab beberapa pertanyaan dari teman-teman seputar editing.

Bisa dilihat di bawah ini atau langsung ke channel: Youtube.com/RANEHAFIED.

Semoga bermanfaat 🙂

Informasi terkait:

Pertanyaan dan komentar bisa dikirim ke suarane@gmail.com

Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Credit: Tokopedia.

Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian. Menulis tentang microphone jepit atau lebih sering dikenal dengan nama clip on bikin mupeng to the max. Karena saya sendiri memang tidak punya clip on. Dulu pernah pengen beli, tapi setelah dipikir-pikir memang belum sangat membutuhkannya. Kalian pasti setuju bahwa hidup itu berat, haha, kebutuhan hidup tidak sedikit, oleh karena itu harus pandai-pandai menahan diri. Salah satunya ya itu, menahan diri untuk tidak membeli clip on. Sekali dua syuting dokumenter yang butuh settingan saya mengakalinya dengan menggunakan microhpone standar. Microphone itu disembunyikan di balik laptop dan kabelnya disusup di balik taplak meja. Kalau ingat itu, duhaaaiiii jadi ngakak.

Baca Juga: Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir

Device perekam video memang dilengkapi dengan micrhopone bawaan. Namun microphone bawaan tersebut punya keterbatasan dalam hal menjangkau audio jarak jauh. Oleh karena itu orang-orang menggunakan clip on. Tetapi bagaimana jika tidak punya clip on sedangkan jarak kamera dengan sumber audio cukup jauh? Untuk aplikasi sunting Sony Movie Studio Platinum, atau aplikasi lainnya, audio bisa diakali dengan mem-boost-nya melalui track compressor. Namun otomatis natural sound di sekitarnya, yang rata-rata tidak penting, juga ikut jadi besar. Beda kalau proses syuting atau taping dilakukan di dalam studio kedap suara.



Lantas, bagaimana mengakalinya, Teh?

Waktu saya mengikuti rekam jejak Oe Din membikin konten video Ngobrol-Ngobrol Santai, dia menggunakan telepon genggam! Oke, mungkin kalian bertanya-tanya, bagaimana bisa? Bagaimana menyatukannya? Dan lain-lain pertanyaan. Tapi bagi tukang syuting, pasti paham betul bagaimana melakukannya, memprosesnya, hingga selesai. Proses ini dilakukan apabila kalian merasa bahwa sumber audio terlalu jauh dari letak kamera terkhusus kamera sedang merekam video dengan wide shoot atau full shoot

1. Posisikan kamera.
2. Posisikan subyek sebagai sumber audio.
3. Letakkan telepon genggam di dekat sumber audio.
4. Siapkan perekam suara di telepon genggam.
5. Rekam bersama-sama kamera dan perekam suara di telepon genggam.

Setelah proses syuting selesai, giliran menyuntingnya yang cukup ribet, hahaha, karena dibutuhkan lebih dari satu audio track. Itu pun kalau hanya menggunakan satu kamera. Jadi, satu video jika ditambahkan ke aplikasi sunting akan menghasilkan satu video track dan satu audio track. Kalau menggunakan empat kamera? Coba hitung sendiri! Saya pernah menyunting video yang menggunakan lima kamera dan itu bikin hidup jadi galau. Hahaha. Lihat gambar di bawah contoh satu video, perhatikan panahnya:


Audio itu adalah audio bawaan dari video yang bersangkutan (panah yang bawah). Penguatan audio yang direkam menggunakan telepon genggam ditambahkan di bagian bawah audio bawaan tersebut. Lihat gambar di bawah:


Panah tersebut menunjukkan audio hasil rekaman menggunakan telepon genggam. Saatnya mensinkronkan dan/atau menyesuaikan. Gunakan headset agar lebih teliti mendengarkan audio bawaan dari video, dan audio dari perekam suara di telepon genggam. Kalau videonya hanya satu, kira-kira seperti gambar di atas lah jadinya. Tapi kalau videonya lebih dari satu dan/atau menggunakan lebih dari satu kamera untuk video yang sama (beda sudut pengambilan)? 

Pertama-tama, tambahkan dulu video wide shoot atau full shoot di mana video itu adalah video itu semacam metronome-nya. Lalu tambahkan lagi video dari kamera lain. Sesuaikan terlebih dahulu audio-audio. Baru kalian boleh memotong/cut, khusus video ke-dua atau ke-tiga, mana yang dipakai, mana yang dibuang, mana yang dipakai untuk cut-to-cut. Setelah semua sudah oke, tambahkan audio dari perekam suara di telepon genggam. Sesuaikan. Selesai. Mudah bukan? Iya, mudah bagi yang sudah terbiasa menyunting video, tapi bagi awam bakal sangat sulit dilakukan. Sebenarnya semua tergantung faktor kebiasaan saja. Bisa karena biasa. Betul begitu? Begitu betul!

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang tidak punya clip-on, seperti saya, hahah. 

#SelasaTekno



Cheers.

Kalau Kalian Pemberani Coba Nonton Nerorrist by Nessie


Kalau Kalian Pemberani Coba Nonton Nerorrist by Nessie. Hola! Sabtu lagi. Review lagi. Setiap Sabtu blog ini akan membahas banyak hal mulai dari buku, filem, musik, tokoh, kafe, makanan, dan lain sebagainya. Tidak semua yang saya tulis merupakan sesuatu yang baru. Bisa saja filem yang dibahas justru sudah booming sepuluh tahun lalu dan telah di-review banyak blogger. Namanya juga me-review (mengulas), sah-sah saja meskipun bukan sesuatu yang baru. Hehe. Bukan membela diri, tapi setidaknya sebagai penikmat karya, kita juga punya hak untuk memberikan komentar dan kritikan. Tetapi perlu diingat, mengkritik bukan berarti menghina. Karena sebagai orang yang juga punya karya, meskipun tidak banyak, saya juga siap menerima komentar dan kritikan.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Baru-baru ini Indonesia dan jagad per-Youtube-an dihebohkan dengan salah satu channel yang ditutup oleh Youtube. Hyup, Calon Sarjana. Berdasarkan berbagai berita yang saya baca, alasan Youtube menghapus channel tersebut adalah karena HaKI. Adalah channel JT yang sudah tiga kali melaporkan kepada Youtube bahwa video-video mereka ditiru oleh Calon Sarjana. Setelah mendapat tiga kali laporan copyright strike, maka Youtube bakal menutup/menghapus channel yang dilaporkan tersebut. Bayangkan, subscriber Calon Sarjana itu sudah mencapai 13 (tiga belas) juta! Terus channel-nya dihapus. Ini ibarat sedang mengunyah makanan favorit tapi dilarang menelan. Lepeeeeh sana! Kabarnya Calon Sarjana sudah meminta maaf dan kemudian mengganti salah satu channel dari dunianya para 'Calon' ini yaitu Calon Ilmuwan dengan Calon Sarjana.

Banyak channel setipe Calon Sarjana yang ritmenya sama yaitu mengambil video sana-sini, digabungin, disunting, dikasih suara/narator, ditambah sedikit animasi, terus diunggah ke Youtube. Saya pikir kalian juga tentu tahu channel-channel tersebut. Meskipun kita jelas menerima informasi (baru) dari video mereka, tapi pihak lain yang merasa dirugikan tentu tidak terima. Oleh karena itu saya justru lebih suka sama channel-channel yang bekerja keras melakukan riset, menyusun kontennya, dan pemiliknya berbicara langsung di depan kamera. Seperti Nessie Judge, Yuvi Phan, dan Detektif Aldo. Atau seperti Deddy Corbuzier, Raditya Dika, dan Anji dalam Dunia Manji.

Salah satunya yang bakal saya ulas hari ini adalah Nessie Judge.

Nessie Judge


Beberapa informasi yang saya peroleh dari Wikipedia menyebutkan bahwa Nessie Judge punya nama lengkap Nasreen Anisputri Judge. Dia lahir di Solo, 30 Oktober 1993. Nessie dikenal sebagai konten kreator dan social media influencer berketurunan Pakistan-Belanda-Tionghoa. Urusan isi kepala, jelas dia cerdas banget, bahkan bahasa Inggris-nya itu bikin iri. Hyup, Nessie merupakan lulusan Fakultas Bisnis dengan gelar Bachelor of Business Administration (BBA) di IPMI International Business School angkatan 2012, dan lulus dengan predikat Magna cum laude pada tahun 2016. Yeaaayyyy *tepuk tangan a la Nessie*.

Sebelum lanjut, apa sih yang membikin saya begitu menyukai Nessie?

1. Wajahnya cantik. Haha.
2. Percaya diri saat bicara di depan kamera.
3. Smart dan bahasa Inggris-nya wow.
4. Apa adanya.
5. Eyeliner!
6. Set untuk taping yang menawan.

Cara Nessie berbicara di depan kamera juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para bos-bos-nya dia. Iya, dia memanggil penontonnya dengan bos. Hebatnya, di setiap video Nessie selalu ada kontak/interaksi antara Nessie dengan siapa pun yang menonton. Komen di bawah merupakan salah satu kalimat pamungkas yang saya suka. Dan tentu saja Nessie dan tim-nya akan membaca semua komentar yang bertaburan. Ada video-video khusus yang membahas komentar-komentar (dari salah satu video, misalnya) tersebut. Salah satu yang pernah saya nonton adalah tentang kopi bersianida yang menewaskan Wayan Mirna Salihin. Seru lah ya ketika Nessie dan Rutfy (kalau tidak salah nama temannya/tim-nya) membacakan komentar/pendapat orang-orang tentang kasus tersebut.

Nerorrist


Dari video yang biasa-biasa saja, misalnya bercerita ini itu, Nessie kemudian membikin konten dengn tema khusus yang bernama Nerorrist. Nerorrist merupakan video-video bertema horor yang dikemas super menarik oleh Nessie dan tim-nya. Kadang tema Nerorrist ditentukan sendiri oleh Nessie, kadang tema Nerorrist diambil dari usulan para penonton/subscriber-nya. Nerorrist memuaskan keinginan banyak orang tentang hal-hal yang masih menjadi misteri, masih menjadi pertanyaan, masih membikin penasaran. Tentu yang horor atau yang sifatnya neror begitu. Misalnya tentang teori-teori konspirasi dunia. Dari menonton begitu banyak video Nerorrist saya bisa mengambil alur pola kerja Nessie dan tim.

1. Menentukan tema.
2. Melakukan riset mendalam.
3. Menyusun naskah/narasi.
4. Taping.
5. Sunting.
6. Unggah.

Mari ambil contoh video berjudul REKAMAN telefon 911 TERAKHIR sebelum MAUT. Banyak penontonnya yang me-request tentang rekaman 911 ini. Jadi, setelah temanya ditentukan, Nessie dan tim bakal melakukan riset, mencari tahu, menggali lebih dalam, tentang rekaman telepon 911 terakhir sebelum maut. Bayangkan saja, bagaimana perasaan operator 911 berbicara dengan orang sebelum orang tersebut meninggal (entah karena dibunuh atau apalah). Materi sambungan telepon 911 terakhir sebelum maut tentu saja ada banyak! Tetapi Nessie dan tim akan memilih yang paling serem. Tebakan saya, mereka pasti bakal terlibat dalam diskusi yang super alot. Setelah itu disusun, dibikin naskah/narasi, dan dilakukanlah taping alias rekaman.

Video Nerorrist itu sudah serem, tetapi lebih serem karena adanya backsound samar yang horor banget. Perlu dicatat, backsound-nya sungguh samar sehingga penonton tidak merasa terganggu sama sekali. Ditambah lagi dengan cara/gaya Nessie berbicara di depan kamera. Gimana ya ... cara Nessie berbicara itu betul-betul diatur sedemikian rupa sehingga sangat mendukung tema Nerrorist. Kalian tidak percaya? Nonton saja sendiri. Hahaha. Jangan sampai kalian seperti saya yang sampai tidak bisa tidur gara-gara menonton video tentang chat-chat terseram. Uh wow. Sampai pas lagi tidur mendadak ngelihat ke pintu kamar mandi kuatir ada makhluk astral berdiri di situ. Hahaha.

Sebagai makhluk Tuhan yang cukup aneh, saya begitu penasaran sama teori-teori konspirasi. Baik teori konspirasi tentang Atlantis, Segitiga Bermuda, hingga Iluminati. Masa lalu saya diisi dengan rasa penasaran tingkat tinggi pada hal-hal tersebut. Kalau kalian juga sama seperti saya, jangan kuatir, Nessie sudah membahas sebagian besar dari teori-teori tersebut. Dan namanya teori, yang dikumpulkan dari berbagai sumber, belum tentu ada satu pun yang benar. Tetapi meskipun belum tentu ada yang benar, cukup masuk akal lah teori tersebut. Termasuk teori tentang kejadian 9/11 saat gedung kembar itu ditabrak pesawat (atau dibom dari bawah/dalam gedung?).

Serem.


Gara-gara Nessie, saya jadi pengen bikin video tentang BlogPacker, tentang perjalanan-perjalanan di Pulau Flores. Tapi karena saya ini termasuk orang yang malas menyunting video, rencana tersebut batal melulu. Nah, ini menjadi catatan penting bagi saya, kalian, mereka, siapa pun yang mau menjadi Youtuber seperti Nessie. Singkirkan rasa malas. Bayangkan saja, Nessie dan tim membikin video yang diunggah setiap minggu! Membayangkan bagaimana mereka menentukan tema, riset, taping, sunting, saja sudah bikin kepala saya pusing tujuh keliling. Saya sendiri memang berkecimpung dengan dunia video, makanya saya tahu betapa ribetnya menghasilkan satu konten video, apalagi yang melalui proses taping begitu. Manapula set untuk taping-nya itu menawan banget. Kadang di sofa, kadang di ruang kerja, tapi ditata artistik.

Baca Juga: Kedai Bunga Yang Unik dalam Berjalan di Atas Cahaya

Bagaimana, kawan? Apakah tulisan ini menarik minat kalian untuk segera meluncur ke channel-nya Nessie Judge? Kalau iya, artinya saya sukses meracuni kalian. Ha ha! Karena, menjomblo itu sudah biasa, saya tidak mau sendirian merasa serem gara-gara Nerorrist. Kalian juga doooonk *dikeplak dinosaurus*.

Semoga akhir minggu kalian menyenangkan!

#SabtuReview



Cheers.

Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik


Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik. Saya pernah menulis pos berjudul 1 Video, 3 Aplikasi. Tentang bagaimana cara saya menyunting video menggunakan Sony Movie  Studio Platinum sebagai rumah utama, tetapi masih menggunakan aplikasi lain sebagai pembantu. Aplikasi lainnya itu adalah Photoscape dan Proshow Producer (saya menulisnya Proshow saja). Photoscape untuk menyunting gambar, apabila video yang dikerjakan menyisipkan gambar, soalnya saya tidak fasih dengan Photoshop. Sedangkan Proshow untuk menyatukan gambar menjadi video, dengan template layer yang keren, banyak efek, serta banyak pilihan transisi. Tidak mudah memang untuk menghasilkan video yang, menurut saya, baik.

Baca Juga: Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone

Hari ini saya mau kembali mengingatkan kalian tentang Proshow. Kenapa? Karena, jarang saya mendengar orang bercerita tentang Proshow, padahal aplikasi yang satu ini cukup bagus dipakai apabila hendak membikin video slide gambar/foto. Proshow sering saya pakai apabila ada teman meminta bantuan membikin video slide foto-foto prewedding untuk ditampilkan saat acara resepsi.

Jadi, apa itu Proshow? Cekidot.

Proshow


Proshow (Producer) merupakan salah satu produksi Photodex. Antarmukanya rata-rata sama dengan aplikasi sunting foto/video pada umumnya. Sepanjang saya memakai Proshow, belum menemukan tingkat kerumitan yang terlalu tinggi, karena aplikasi ini dibikin untuk memudahkan penggunanya membikin video slide. Selain itu, pengguna juga bisa menambahkan musik/sound untuk memperindah video yang dibikin. 


Saya mengenal Proshow dari seorang teman yang sudah saya anggap adik sendiri, Akim Yuven. Dia bahkan menunjukkan pada saya video-video yang sudah pernah dibikin menggunakan Proshow. Tertarik, saya memasang Proshow di laptop, dan mulai menggunakannya sampai dengan saat ini.

Mengulik Cara Kerja Proshow


Saat membuka Proshow, biasanya pengguna akan disuruh menambah gambar - musik - template terlebih dahulu, tapi semua itu bisa dibatalkan dan akan nampak antarmuka seperti gambar berikut ini:


Ada empat kotak dialog utama pada antarmukanya. Bagian folder gambar/video, bagian isi folder (di bawahnya folder), bagian tampilan (di sampingnya folder), dan paling bawah time line-nya yaitu time line gambar/video dan musik. Pada gambar di atas saya mengeklik folder Geng Pharmantara, dengan foto-foto kegiatannya keluarga kami, salah satu yang saya klik adalah keponakan: Rama - Indri - Syiva. Bisa dilihat di atas ya. Cukup jelas.


Lingkar merah adalah foto yang hendak dibikin slide, di atas ada empat foto, sedangkan lingkar kuning adalah transisi. Apabila pengguna hendak menyunting foto agar terlihat bergerak dengan berbagai slide keren, cukup klik dua kali pada foto dimaksud, maka akan terbuka kotak dialog pilihan gaya slide yang begitu banyak.


Di sinilah pengguna bekerja. Ada pilihan slide, layers, effects, caption, dan sounds. Silahkan pilih slide pada bagian kiri, dan silahkan disunting pada bagian kanan. Hebatnya, pilihan slide ini beragam, karena ada slide dengan satu layer, dua layer, bahkan sembilan layer. Sehingga pengguna bisa membikin satu slide dengan banyak foto, atau satu slide dengan satu foto. Pengaturan lainnya adalah efek bergeraknya (hitungan x - y panning, dan lain sebagainya).



Apabila pengguna mengeklik transisi, lingkar kuning seperti gambar sebelumnya di atas, maka akan keluar kotak dialog transisi. Proshow kaya akan transisi, beda jauh sama Sony Movie Studio Platinum yang terbatas transisinya sehingga harus memakai transisi pihak lain. Kelompok transisi bisa kalian lihat pada gambar di atas, ada blocks, patterns, themed, wipes, dan lain-lain. Inilah yang membikin saya menyukai Proshow. Transisinya kaya raya!

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Foto sudah oke, transisi oke, sampai pada musik pun oke (saya jarang pakai musik di sini), maka pengguna tinggal menyimpan hasil suntingannya. 




Create output, dan pilih video file. Silahkan disimpan. Selesai. Jangan kuatir dengan kualitas. Sudah HD kok. Hehe. Meskipun sekarang zamannya 4K tapi HD masih jadi pilihan.

'Rumah Besar' Sunting Video


Rumah besar sunting video saya adalah Sony Movie Studio Platinum. Saya memakai yang versi 13. Jadi, biasanya saya menyiapkan dulu elemen-elemen pembantu yang sudah dikerjakan di Proshow dan di Photoscape, lantas menyatukan semuanya di Sony Movie Studio Platinum. 


Gambar di atas, adalah gambar time line kerjaan sunting video di Sony Movie Studio Platinum 13. Bisalah kalian bayangkan betapa pusingnya otak saya menyatukan semua keperluan sebuah video. Berbeda dengan video dokumenter yang keseluruhannya terdiri atas video/gambar bergerak. Kalau foto, itu kita harus bisa menyesuaikan frame, menyesuaikan warna dan kecerahan, hingga durasi foto itu sendiri. Yang biasa sunting video pasti tahulah. Hehe.

Makanya, kalau biaya videografer agak mahal itu bukan saja karena kamera yang dipakai mahal, tetapi biaya menyunting yang mahal. Kalian bisalah tahu tentang ongkos listrik, ongkos kopi, ongkos cemilan (ini utama hahaha), sampai ongkos obat sakit pinggang kalau terlalu lama duduk di kursi pelototin layar laptop. Sampai sekarang saya masih mengandalkan Acer, belum punya rencana membeli komputer, rakitan, khusus untuk keperluan bekerja sunting video.

Baca Juga: Shapire OFX

Jadi itulah cara kerja Proshow yang masih asyik dipakai sampai sekarang. Tidak semua saya jelaskan, tidak sampai detail, karena feel dan sense itu harus dari penggunanya sendiri. Percayalah, ketika kalian sudah menggunakan suatu aplikasi sunting video, kalian bakal punya feel dan sense sendiri ketika proses kreatif berjalan. Semua itu sudah saya rasakan dan alami. Sayangnya, saya bukan Youtuber yang super aktif. Saya tidak pernah serius menjadi Youtuber, kalau untuk senang-senang, bolehlah. Haha.

Bagaimana dengan kalian? Pernahkah memakai Proshow?

#SelasaTekno



Cheers.