Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog


Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog. Bulan lalu saya bertemu dengan Pak Stephen, dosen Prodi Pendidikan Ekonomi (PDU) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Uniflor). Pak Stephen bertanya apakah saya bisa memberikan pelatihan blog kepada mahasiswa/i PDU. Tentu! Kenapa tidak? Terakhir saya mengajarkan tentang blog pada mahasiswa/i Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pada pertemuan berikutnya, Pak Stephen menjelaskan bahwa mahasiswa/i PDU rata-rata sudah mempunyai blog tetapi belum pada tahap mengelola dengan baik. Selain itu, Pak Stephen juga meminta agar mereka bisa diajarkan membikin vlog. Setidaknya dasar-dasarnya. Saya menyetujuinya.

Baca Juga: Ini Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional

Maka kemudian saya membikin materi baru berjudul How to Manage Blog and Make Vlog. Masih mengambil beberapa poin dari materi lama berjudul Blogging is Fun and Easy. Materi baru tersebut memang cukup panjang karena memuat dua hal yaitu blog dan vlog, tetapi alhamdulillah tepat waktu sebelum hari H. Pada Pak Stephen juga saya meminta agar semua peserta sudah memasang aplikasi Filmorago di smartphone masing-masing. Oh ya, untuk keperluan kegiatan ini, PDU sendiri mempunyai jaringan wifi yang bisa diakses oleh para peserta baik menggunakan laptop maupun smartphone.

Peserta Yang Antusias


Mahasiswa/i PDU sejumlah tujuh puluhan dan dibagi dalam dua kelas. Kelas pertama mengikuti kegiatan pada Senin 18 November 2019 sedangkan kelas kedua pada Selasa 19 November 2019. Kelas pertama tentu harus mengikuti seremoni pembukaan terlebih dahulu dihadiri pula oleh Kaprodi PDU yaitu Pak Saiful, selain Pak Stephen. Usai seremoni pembukaan, kegiatan langsung dimulai dengan: bagaimana mengelola blog atau how to manage blog.


Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa rata-rata peserta sudah mempunyai blog dan blog tersebut didaftarkan pada platform Blogger dengan keluaran induk-semang Blogspot. Jadi, saya langsung pada flashback singkat tentang apa itu blog, kenapa orang nge-blog, apa keuntungan nge-blog, kenapa pakai Blogger alih-alih Wordpress, dan contoh blogger seperti Raditya Dika yang kini lebih dikenal sebagai sekorang Komika. Sayangnya saya lupa mencontohkan Mark Manson, seorang blogger yang menulis buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Setelah itu barulah dimulai dengan cara mengelola blog: mengenal panel-panel pada dashboard sebagai inti blog. Panel-panel itu antara lain postingan, statistik, tema, halaman, hingga pengaturan.


Dan mereka sangat antusias untuk tahu lebih detail, tahu lebih banyak, tentang dashboard. Sesuatu di balik tampilan blog yang ciamik. Meskipun yang membawa laptop hanya segelintir peserta, tetapi yang menggunakan smartphone ini juga super antusias! Kalian, para blogger, tentu tahu bahwa nge-blog menggunakan laptop itu memang jauh lebih mudah dari menggunakan smartphone, setidaknya saya mengalami itu. Tetapi, pada kesempatan itu saya melihat peserta yang menggunakan smartphone ini matanya berbinar-binar, jemari lincah di atas layar smartphone, bahkan bertanya apabila ada yang tidak mereka pahami.

Sebagai pemateri, ada perasaan bangga melihatnya. Puas juga. Untuk dua kelas pada dua hari yang berbeda itu.

Melihat betapa antusiasnya peserta, saya menyarankan pada mereka, apabila ada pertanyaan yang ingin ditanyakan di luar waktu kegiatan, silahkan mengirimkan pesan WA. Karena Insha Allah saya selalu online dan pasti dibalas. Saya juga katakan pada mereka bahwa pernah membuka kelas-kelas blogging melalui WAG, serta mengajarkan blog secara personal pada beberapa orang melalui WA. Dan, apabila mereka kesulitan akses internet, mereka boleh datang ke rumah saya untuk menggunakan wifi gratis. Mereka tertawa, saya juga tertawa. Tapi itu serius. Seserius kami kemudian membikin grup/WAG bernama Kelas Blogging PDU.

Usai memperkenalkan cara mengelola blog melalui panel-panel yang ada di dashboard, saya melanjutkan materi selanjutnya yaitu membikin vlog. Di sinilah saya melihat antusiasme yang lebih lagi dan lagi dan lagi dari para peserta. Sebelumnya, semua smartphone peserta sudah saya minta untuk dipasangkan aplikasi Filmorago. Ini bukannya tanpa alasan. Saya jelaskan pada mereka, bahwa dari semua aplikasi sunting video di smartphone yang sudah pernah saya coba, Filmorago lebih friendly baik interface-nya maupun penggunaannya. Sore itu peserta langsung praktek menyiapkan vlog mentah. Ramailah ruang kelas itu! Haha. Masing-masing bergaya a la vlogger.


Video mentah itu kemudian disunting menggunakan Filmorago. Satu per satu langkah menggunakan Filmorago tampil di layar, mereka memerhatikan layar, lantas memerhatikan dan mengutak-atik smartphone. Kenalanlah mereka dengan Filmorago dan fitur-fiturnya seperti fitur tema, transisi, musik, audio tambahan, memotong durasi, memotong gambar, mengisi judul, dan lain sebagainya. Kemudian, tentu keluaran Filmorago seperti langsung mempublis di berbagai media sosial dan aplikasi mengobrol, hingga menyimpannya saja dulu di smartphone. Dan ketika selesai, tidak mereka sangka bahwa membikin vlog semudah itu! Hehe.

Content is King


Content is King, Konten Adalah Raja. Itu yang saya jelaskan pada mereka. Blog dan vlog sama-sama membutuhkan konten (raja). Hal ini yang harus mereka pahami. Sehingga dalam kegiatan itu saya menampilkan slide dengan tiga hal utama: Konten, Konsistensi, dan Promosi.


Apa yang diinginkan netizen ketika berkunjung ke blog atau melihat video kita di Youtube, misalnya? Tentu kontennya. Konten yang terus diperbarui akan menarik rasa penasaran mereka, apa yang ditampilkan kali ini? Konten yang terus diperbarui akan memuaskan rasa ingintahu mereka dan membuktikan bahwa kegiatan mereka mengunjungi blog dan vlog di channel Youtube kita tidak sia-sia. Mereka memperoleh informasi baru, hal baru, cerita baru. Konten ini berkaitan dengan konsistensi serta trafik pengunjung.

Mengapa konsistensi menampilkan konten dan trafik itu penting?

Iseng saya bilang pada mereka: kalau kalian ingin memperoleh uang dari blog dan vlog, perkuat kontennya dan tingkatkan trafiknya. Pengunjung akan berhenti mengunjungi blog dan channel vlog di Youtube apabila setiap kali berkunjung mereka hanya bertemu konten lama, konten yang itu-itu saja.

Para peserta mengangguk paham. Setidaknya mereka tahu bahwa untuk memperoleh penghasilan dari internet, melalui blog dan vlog, tidak dilakukan dengan sekejap atau sekedip mata. Ada perjuangan yang juga cukup berat yang harus dilakukan oleh mereka. Bukannya sombong, saya mencontohkan diri sendiri yang nge-blog sejak tahun 2002, mengalami begitu banyak perubahan dalam hal menulis atau konten blog. Dari yang alay bikin malu diri sendiri sampai yang menurut saya cukup baik dan mudah dipahami oleh banyak orang. Jadi jelas, waktu dan latihan merupakan proses yang tidak dapat diabaikan untuk blog, demikian pula vlog.


Tidak ada yang instan di dunia ini. Bahkan untuk membikin mi instan saja kita membutuhkan proses seduhan pada air panas.

⇜⇝

Apresiasi tertinggi setiap kali saya menyampaikan materi blog atau mengajar blog adalah bagaimana tanggapan mereka terhadap proses belajar itu sendiri.

Baca Juga: Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone

Ketika mereka bertanya tentang proses kegiatan itu pada peserta, mereka menjawab: sangat menyenangkan dan mereka paham. Itu apresiasi tertinggi. Menurut saya pribadi. Karena, apalah artinya bicara berjam-jam di depan peserta, mulut berbusa, kadang muncrat, tapi peserta sendiri tidak paham dengan apa yang saya sampaikan?

Pada kegiatan bersama PDU ini saya juga katakan bahwa dalam rangka Panca Windu Uniflor nanti di tahun 2020 bakal ada Lomba Blog, Lomba Vlog, dan Lomba Foto. Saya berharap para peserta mampu mengelola blog mereka, setidaknya, dan mengikuti lomba dimaksud. Mereka mengangguk (setuju kan hahaha) dan saya melihat wajah-wajah penuh harapan di sana. Tidak perlu memusingkan menang atau kalah, yang penting adalah partisipasi dan pengalaman yang diperoleh. Itu jauh lebih berharga!


Dari kegiatan bersama PDU itu pula, insha Allah akan ada kegiatan-kegiatan serupa lainnya, karena lomba-lomba dalam rangka Panca Windu Uniflor itu pesertanya adalah mahasiswa/i Uniflor. Mantap jaya. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Kegiatan Keren Uniflor Go Clean Let’s Reduce Reuse Recycle


Kegiatan Keren Uniflor Go Clean Let's Reduce Reuse Recycle. Panitia Panca Windu Uniflor 2020 sudah di-launching. Kemeriahannya bisa kalian baca pada pos berjudul Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya. Rangkaian kegiatan Panca Windu Uniflor pun sudah terlaksana mulai dari sebelum panitia di-launching. Telah terlaksana beberapa kegiatan pre-event yaitu (1) Kuliah Umum bersama Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, S.H., M.H., LLM. dengan moderator Agus Adi Tetiro dengan tema Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya Mengawal Ideologi Melawan Radikalisme, Pancasila Dari Ende Untuk Nusantara telah diselenggarakan pada Sabtu (26/10/2019) di Auditorium H. J. Gadi Djou. (2) Misa, Shalat Jum'at, dan ziarah, dalam rangka launching Panitia Panca Windu Uniflor, Parade Budaya, opening ceremony, dan kegiatan olah raga EGDMC 2019 yang diselenggarakan pada Jum'at (1/11/2019).

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Usai di-launching, kegiatan pertama yang akan dilakukan oleh panitia keren ini adalah bakti sosial. Bakti sosial dilaksanakan di Kecamatan Ende Tengah dengan empat titik/kelurahan yaitu Kelurahan Onekore, Kelurahan Paupire, Kelurahan Potulando, dan Kelurahan Kelimutu. Tema yang diusung adalah Go Clean, Let's Reduce Reuse Recycle. Saya mendengar masih ada penambahan untuk menjadi 5R: Reduce, Reuse, Recycle, Redesign, Reimage. Kegiatan tersebut bakal dilaksanakan pada Jum'at, 8 November 2019, bertepatan dengan program Pemerintah Daerah Ende yaitu Jum'at bersih.

Bakti sosial itu nanti tidak saja berwujud aksi bersih-bersih tetapi juga mengajak masyarakat untuk mengurangi, memakai ulang, dan mendaur ulang sampah terutama sampah plastik. Untuk mengurangi, panitia bekerja sama dengan Dinas Koperasi untuk memperkenalkan rembi, tas/keranjang anyaman khas Ende kepada khalayak. Rembi ini terdiri atas dua, rembi untuk belanjaan kering dan rembi untuk belanjaan basah. Rembi merupakan produk DIY yang dibikin oleh para pengrajin yang ada di Kabupaten Ende. Untuk memakai ulang, tentu barang plastik seperti tas plastik dapat dipakai ulang, terutama tas plastik yang disediakan oleh supermarket. Kita bisa membawa tas plastik sendiri apabila pergi ke supermarket untuk berbelanja. Untuk daur ulang, itu yang akan menjadi bagian saya kelak, sedang menyusun draf-nya, dalam seminar dan workshop.

Pertanyaannya sekarang, apa hubungan antara kegiatan pada Jum'at lusa dengan tema blog hari ini yaitu #RabuDIY?

Marilah saya jelaskan.

Dalam perkara 3R kita tahu satu kata yang jelas merujuk pada konsep DIY yaitu recycle. Recycle atau mendaur ulang artinya kita mengolah sampah menjadi suatu barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Misalnya mendaur ulang koran menjadi keranjang seperti yang sudah sering saya lakukan. Kebetulan dalam kepanitiaan saya diberikan kepercayaan untuk beberapa tugas dan salah satunya adalah edukasi sampah. Sudah saya konsepkan tentang edukasi sampah ini. Tidak hanya seminar tentang sampah tetapi juga workshop. Rencana saya, setiap peserta nanti wajib membawa sampah plastik yang nantik bakal langsung dipraktekkan untuk membikin barang daur ulang saat workshop

Saya pikir penjelasan di atas sudah cukup jelas, hahaha.

Yang pasti, untuk edukasi sampah ini nanti saya bakal menggandeng Komunitas ACIL yang sudah terbukti telah mengedukasi masyarakat tentang sampah serta pengelolaannya.

Bagaimana menurut kalian, kawan?

#RabuDIY



Cheers.

Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya


Parade Akbar Ini Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya. Jum'at, mengawali Bulan November 2019, Universitas Flores (Uniflor) menggelar kegiatan launching Panitia Panca Windu Uniflor 2020 yang bertepatan dengan pembukaan turnamen sepak bola Ema Gadi Djou Memorial CUP (EGDMC) 2019. Rangkaian kegiatan Panca Windu Uniflor dibuka dengan Parade Budaya yang diselenggarakan besar-besaran dengan rute dimulai dari Kilometer 0 di Jalan Soekarno dan berakhir di Stadion Marilonga lokasi opening ceremony dan laga EGDMC dilaksanakan. Parade Budaya tersebut merupakan salah satu bukti dari visi dan/atau Uniflor menunjukkan dirinya sebagai mediator budaya. 

Baca Juga: Dari Kuliah Umum Sampai My Best Friend's Wedding

Seperti apa kemeriahannya? Cekidot!

16 Program Studi Menampilkan Yang Terbaik


Sesuai dengan namanya, Parade Budaya, maka enam belas program studi (prodi) yang ada di Uniflor telah berupaya menampilkan yang terbaik. Oleh panitia, setiap prodi diatur/dibagi berdasarkan etnis dan/atau kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pembagian ini tidak main-main, setiap prodi wajib menghiasi kendaraan yang rata-rata adalah pick up dengan ikon dari etnis yang sudah dibagi tersebut. Ada prodi yang mendapat jatah miniatur Gedung Rektorat Uniflor, ada pula yang mendapat jatah etnis dari seluruh Nusantara alias bukan dari etnis tertentu di Provinsi NTT. Selain pembagian jatah etnis, setiap prodi juga wajib mengikutsertakan mahasiswa/i sejumlah tujuh puluh lima, dosen, dan pegawai. Sebagian peserta mengenakan pakaian daerah dari etnis yang telah dijatahkan tersebut, sebagian lagi mengenakan kaos berwarna kuning.


Yaaaa sebagai Presiden Negara Kuning, saya akui bahwa tanggal 1 November 2019 menjadi moment pertama Hari Raya Kuningers. Hari Kemerdekaannya jatuh pada tanggal 12 Oktober. Haha.


Sungguh meriah Parade Budaya itu. Lihat saja, Prodi Ilmu Hukum dari Fakultas Hukum menampilkan ikon Kabupaten Manggarai Barat yaitu hewan komodo:

Komodonya yang di atas pick up, ya. Jangan salah fokus. Hahaha.

Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menampilkan ikon ikan paus dari Kabupaten Pulau Lembata:


Prodi Sastra Inggris dari Fakultas Bahasa dan Sastra menampilkan kuda dari Pulau Sumba:


Prodi Pendidikan Biologi dari FKIP menampilkan gading yang merupakan ikon dari Kabupaten Flores Timur dan tentu saja ada jagung titi yang saya embat juga:


Prodi lainnya seperti Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menampilkan Tarian Caci dari Kabupaten Manggarai, Prodi Agroteknologi selain menghias kendaraannya dengan berbagai hasil bumi pun menampilkan tarian modifikasi proses tanam pagi hingga panen, Prodi Teknik Arsitektur menampilkan miniatur Gedung Rektorat Uniflor, Prodi Teknik Sipil menampilkan topi Ti'i Langga khas dari Pulau Rote, dan lain sebagainya.


Pada beberapa titik penilaian yel-yel, yang dilombakan, beberapa prodi menampilkan atraksi tarian. Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menampilkan Tarian Caci di titik penilaian puncak Jalan Sudirman:


Prodi Agroteknologi, seperti yang sudah saya tulis di atas menampilkan tarian modifikasi:


Dan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan tarian berburu paus. Khusus tarian berburu paus ini, juga dijelaskan dengan bahasa adat dan bahasa Indonesia bahwa paus yang diburu itu ada klasifikasinya. Paus yang tidak boleh diburu antara lain paus biru dan paus yang sedang mengandung.

Saya lihat, apa yang sudah dilakukan oleh setiap prodi ini memang sungguh luar biasa. Bagi saya pribadi. Artinya, tidak ada yang main-main atau tidak ada yang ala kadarnya di Uniflor. Semua bertanggungjawab untuk bisa memberikan terbaik dan maksimal.


Belajar dari itu.

Percayalah, seperti nasihat Bapa Asmady: segala sesuatu yang setengah-setengah tidak akan membawa hasil kecuali karena keajaiban saja. Segala sesuatu yang dilakoni sungguh, membawa hasil yang supa amazing. Seperti kegiatan kemarin. Supa amazing.

Opening Ceremony Dengan 1.750 Penari


Pukul 18.30 Wita, kegiatan opening ceremony dimulai di Stadion Marilonga. Stadion kebanggaan kami Orang Ende. Berawal dari parade enam belas prodi beserta tim/klub yang ikut berlaga di turnamen EGDMC 2019 dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang bendera-bendera dijaga oleh Resimen Mahasiswa (Menwa) Uniflor. Dilanjutkan dengan masuknya empa kain raksasa sebagai simbol empat penujur mata angin dan Tarian Caci. Usai Tarian Caci, dilanjutkan dengan tarian oleh 1.750 penari yang adalah mahasiswa/i Uniflor.

Credits: Youtube Komik Ende.

Credits: Youtube Komik Ende.

Para penari ini sungguh luar biasa. Mereka memakai pakaian daerah dan selendang/sarung tenun ikat diaplikasikan untuk ragam. Mereka dipimpin langsung oleh koreografer kondang Kabupaten Ende, yang telah berkiprah sampai tingkat internasional Rikyn Radja. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia Panca Windu Uniflor 2020 dan penekanan bel oleh Bupati Ende Bapak Djafar Ahmad.

Saya sangat menyukai laporan panitia oleh Mama Emi Gadi Djou tersebut. Cekidot!

Latar belakang kegiatan ini adalah Pancasila yang perlu dipahami sebagai kesadaran kolektif bangsa dan ungkapan tentang nasionalisme. Untuk itu diperlukan perubahan mindset serta moral bangsa dalam memahami nilai-nilai budaya yang gayut dengan perkembangan. Hal ini selayaknya dapat dipahami sebagai jati diri bangsa untuk mengisi rumah kita di dalam kerangka Negara Kesatuan yang berdaulat, sejahtera, dan berkeadilan sosial. 

Dalam kaitan tersebut, kiranya perlu dilakukan kajian dari beberapa poin yaitu (1) Beragam budaya bangsa Indonesia harus dikenalkan kembali sebagai jati diri bangsa. (2) Pendidikan bangsa perlu diingatkan sebagai hakekat tujuan dari semangat Pancasila yakni mencerdaskan kehidupan bangsa untuk meningkatkan daya saing bangsa dan terwujudnya kesejahteraan bangsa tanpa melupakan kebudayaan yang dimiliki. (3) Peran serta Universitas Flores, masyarakat Kabupaten Ende, dan masyarakat pada umumnya serta para alumni sebagai kaum intelektual di dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan melestarikan budaya.

Untuk itulah dalam perayaan menyambut Panca Windu Uniflor diusung tema Rumah Kita Universitas Flores Membangun Kaum Intelektual Dalam Semangat Pancasila Merajut Persaudaraan Sebagai Mediator Budaya. 

Tujuan kegiatan ini antara lain (1) Mendapatkan berbagai konsep strategis yang berkaitan dengan pemaknaan kembali semangat Pancasila dan budaya dalam menjawab tantangan globalisasi para kaum intelektual. (2) Mempromosikan Uniflor. (3) Memupuk semangat kebersamaan di kalangan civitas akademika, alumni, masyarakat luas, dalam mempertahankan dan meningkatkan peran Uniflor sebagai mediator budaya. (4) Mendukung dan mengembangkan bakat dan kreativitas para kaum intelektual di wilayah Nusa Tenggara Timur.

*tepuk tangan paling meriah*

⇜⇝

Panitia Panca Windu Uniflor 2020 sudah di-launching. Selanjutnya, tugas berat menanti. Panca windu memang terjadi 19 Juli 2020 tetapi rangkaian kegiatannya sudah dimulai dari sekarang. Bahkan pre-event sebelum launching panitia tersebut.

Dalam menyambut Panca Windu Uniflor pada tanggal 19 Juli 2020 nanti telah terlaksana beberapa kegiatan serta agenda kegiatan antara lain (1) Kuliah Umum bersama Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, S.H., M.H., LLM. dengan moderator Agus Adi Tetiro dengan tema Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya Mengawal Ideologi Melawan Radikalisme, Pancasila Dari Ende Untuk Nusantara telah diselenggarakan pada Sabtu (26/10/2019) di Auditorium H. J. Gadi Djou. (2) Misa, Shalat Jum'at, dan ziarah, dalam rangka launching Panca Windu Uniflor, Parade Budaya, opening ceremony, dan kegiatan olah raga EGDMC 2019 yang diselenggarakan pada Jum'at (1/11/2019).

Baca Juga: Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp

Kerangka besar kegiatan menyambut Panca Windu Uniflor dibagi dalam empat pilar kegiatan yaitu Kerohanian, Pelanaran ilmiah, Olahraga dan Seni, dan Sosial Kemasyarakatan. Empat pilar kegiatan dengan sub-sub kegiatan tersebut telah dimulai sejak Oktober 2019 dan akan berakhir dengan Misa pada tanggal 19 Juli 2020.

Uh wow sekali kan?

Doakan semua rangkaian kegiatan kami sejak 2019 hingga 2020 dapat terlaksana dengan baik ya, kawan!

Satukan langkah, bulatkan tekad, menuju Uniflor bermutu.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende


Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende. Senin kemarin, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91, saya berkesempatan meliput kegiatan keren yang diselenggarakan atas kerjasama Pemerintah Daerah Ende, E.thical, Rikolto, Universitas Flores (Uniflor), dan RRI Ende. Kegiatan dengan spirit Hari Sumpah Pemuda ini mengusung tema Dengan Semangat Sumpah Pemuda Kita Dorong Peran Orang Muda dalam Ekonomi Berkelanjutan dari Desa untuk Ende. Berlangsung di dua lokasi: Aula Lantai II Kantor Bupati Ende dan di halaman samping Kantor Bupati Ende, kegiatan ini menjadi momen memperkenalkan wirausahawan/i muda Ende dalam berinovasi: memikirkan tema, membangun brand, membikin prototype, hingga memamerkan dan memasarkan.

Baca Juga: Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel

Sebelumnya, sekitar satu bulan, telah diselenggarakan kegiatan Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan kerja sama E.thical, Ricolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pesertanya berjumlah (24) dua puluh empat orang. 8 (delapan) peserta berasal dari Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor), 5 (lima) peserta berasal dari Fakultas Pertanian Uniflor, sedangkan 11 (sebelas) peserta lainnya merupakan anak muda kreatif dan berdaya juang tinggi yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ende. Satu bulan kegiatan dengan berbagai bekal ilmu tersebut telah membentuk karakter wirausaha di dalam diri mereka. Sesuatu yang menurut saya supa amazing, apabila melihat output-nya.

Pasar E.thical


Hasil penggemblengan dua puluh empat peserta tersebut kemudian digelar pada Hari Sumpah Pemuda dengan tiga mata acara yaitu Presentasi Proposal, Pasar E.thical, dan Talkshow. Presentasi Proposal dilaksanakan di Aula Lantai II Kantor Bupati Ende, dimulai pukul 13.00 Wita, dimana masing-masing peserta diberi waktu sekitar tiga hingga lima menit untuk memperkenalkan brand dan produk mereka. Pukul 16.00 Wita, kegiatan dilanjutkan dengan Pasar E.thical dan Talkshow yang disiarkan secara langsung oleh RRI Ende.


Ethical Market Day atau Pasar Ethical merupakan pasar yang memamerkan hasil karya dua puluh empat peserta Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan dalam sembilan belas brand, yang sebelumnya telah memperoleh ilmu dan bekal untuk berwirausaha oleh tim dari Ethical yang bekerjasama dengan Rikolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pada pasar itu berdiri stan-stan tempat peserta memperkenalkan usaha dan/atau brand, memamerkan produk, serta menjual produk mereka. Setiap stan dilengkapi dengan profil singkat wirausahawan/i muda tersebut serta nama serta penjelasan produk yang diproduksi. Selain itu juga hadir stan dari Lepa Lio Cafe asal Remaja Mandiri Community Detusoko.



Natalia Mudamakin, salah seorang mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi, merupakan wirausahawati muda yang mendirikan brand Palapa Rasa dengan motivasi kuat untuk menyediakan tempat bagi anak muda Ende untuk bekerja dan berdaya. Palapa Rasa merupakan brand snack buah organik khas pertama di Kabupaten Ende yang mengangkat cita rasa kuliner khas Flores. Natalia Mudamakin dengan brand Palapa Rasa meraih Juara 3 Ethical Entrepreneur Ende.


Credits: David Mossar. 

Elok merupakan brand yang dibikin oleh alumni Uniflor dari Fakultas Bahasa dan Sastra yaitu Cahyadi, yang melihat potensi dari lahan tidur terlantar di pekarangan rumah tangga-rumah tangga di Kota Ende. Melalui Elok, Cahyadi berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat lokal dan lahan tidur secara optimal demi terciptanya kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan. Sebagai bahan makanan alternatif rendah gula, Elok yang berbahan sorgum merupakan pilihan alternatif yang terjangkau, dan merupakan pilihan tepat penderita diabetes dan bagi siapa saja yang mencari alternatif karbohidrat sehat. Cahyadi dengan brand Elok meraih Juara 2 Ethical Entrepreneur Ende.



Ine Lawo merupakan brand usaha yang dibentuk oleh Karolina Dua Oga dan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Maria Yasinta Mau Rema dengan motivasi untuk mencegah punahnya keterampilan menenun. Visi Ine Lawo adalah melihat regenerasi pengrajin tenun muda di Kabupaten Ende. Fashion tenun moderen yang membangkitkan kecintaan pada budaya Ende, Ine Lawo memanfaatkan kain sisa tenun menjadi busana moderen untuk membangkitkan kembali kecintaan pada tradisi dan budaya menenun. Karolina Dua Oga dan Maria Yasinta Mau Rema dengan brand Ine Lawo meraih Juara 1 Ethical Entrepreneur Ende.

Pasar Ethical dikunjungi oleh masyarakat umum Kabupaten Ende yang tertarik dengan inovasi yang dilakukan oleh para wirausahawan/i muda Ende tersebut, salah satunya yang baru saja membuka usaha kafe Sahabat Kopi. Selain Elok, Ine Lawo, dan Palapa Rasa, brand lainnya antara lain Tamiimah, FloCo., Frame Culture, Famous De Flores, Poly Deli, Pemuda Berdikari, Teka Uta, Oster, Plastic Reduce Initiative, Daur Ulang Kreatif, Rae Chili Flores, Ende Creative Millenials, Able, Ecodes, Ecocamp, dan Briona Flower.


Pada acara Talkshow yang dimoderatori oleh Kakak Rossa Domingga dengan narasumber dua diantaranya Nando Watu dan Karolus Naga, saya mendengar kalimat inspirasi yaitu 3C: Content, Colaborate, Community. Artinya seorang wirausahawan/i harus mampu menyiapkan kontennya sendiri, tapi harus mampu pula berkolaborasi dan berkomunitas. Kolaborasi sebagai daya dongkrak brand, komunitas agar brand lebih banyak dikenal (seperti efek domino). Bahkan diberikan pula contoh dari ranah Youtube oleh para Youtuber.


Sebelum Talkshow pun saya sudah paham betul bahwa berbisnis butuh 3C itu. Dan perkara 3C saya temukan pada salah satu brand baru yaitu FloCo. Dua anak muda ini yaitu Petronela Ina dan Diana Segu memilih brand bernama FloCo. sebagai brand cokelat batang organik pertama di Ende yang menggunakan 100% bahan alami. Diolah dari biji cokelat pilihan, FloCo. adalah pilihan oleh-oleh yang tepat untuk para wisatawan baik domestik maupun internasional. Tujuan mereka mendirikan FloCo. adalah memutus tengkulak dengan meningkatkan kesejahteraan petani kakao.


Yang menarik dari FloCo. justru pada kemasannya yaitu sejenis wati yang cantik dengan tutupan. Kemasan ini dibikin oleh keluarga mereka. Ini salah satu contoh kolaborasi yang baik. Satu produk, tapi ada dua keuntungan yang diperoleh oleh pembeli kelak (karena yang dipamerkan kemarin masih prototype). Saya bilang pada mereka, "Cokelat itu biasa, di mana-mana ada, dan mungkin orang juga bakal memburu cokelat ini sebagai oleh-oleh. Tapi kalau melihat dari sisi oleh-olehnya, tentu kemasannya ini yang diburu." Iya, konten mereka adalah cokelat, kolaborasi mereka dengan pihak lain adalah kemasannya. Komunitas? Mereka sudah tergabung dalam komunitas wirausahawan muda tersebut, bersama 22 peserta lainnya. Supa amazing!

Konsep DIY


Ini keutamaan yang mau dibahas. Ketika tidak ada sesuatu yang memuaskan keinginan, maka harus bisa membikinnya sendiri. Pasar E.thical mengenyangkan jiwa DIY (Do It Yourself) saya. Rata-rata hampir semuanya memang berkonsep DIY.

Elok dari Cahyadi menggunakan wati serta kantong serut untuk mengisi sorgum sebagai produk andalannya. Saya sangat menyukai kantong serut yang dijahit sendiri oleh Cahyadi, atau oleh Mamanya. Terlihat unik karena tali serutnya menggunakan bahan goni. Kemudian, Cahyadi memberikan saya satu kantong serut ini:


Ine Lawo, saya setuju mereka jawara, membikin produk DIY dari kain tenun sisa. Kalau boleh saya bilang: Ine Lawo itu 100% DIY. Kain tenun sisa ini bisa diminta di penjahit. Tapi bisa juga sih meyiapkan kain tenun khusus untuk dikreasikan ini itu. Kain tenun sisa tidak saja diaplikasikan pada pakaian, seperti celana jin sobek yang ditambal tenunan atau kemeja, tapi mereka juga membikin aneka asesoris seperti bandana, anting-anting, kalung, dan lain sebagainya. Seperti foto di bawah ini, salah satu hasil DIY-nya Ine Lawo:


Dari brand Daur Ulang Kreatif (atau Plastic Reduce Initiative, saya lupa) saya menemukan tas daur ulang seperti pada foto di bawah ini:


Bagaimana tali rafia dibikin tas seperti foto di atas, itu adalah ketekunan, keuletan, dan daya kreativitas yang luar biasa!

Masih banyak barang DIY yang saya temui kemarin di Pasar E.thical. Selain wati sebagai kemasan cokelat FloCo., ada pula tas-tas kertas DIY yang ditempeli brand/logo, yang pastinya dibikin sendiri sama para wirausahawan muda Ende tersebut. Selain itu, kalau kalian melihat foto di awal pos, itu dari Frame Culture! Dia membikin frame dan aneka asesoris yang biasa dipakai orang-orang buat menghasilkan foto yang instagenic. Frame-nya jelas dibalut kain tenun ikat.

⇜⇝

Dari semua yang ditulis di atas, saya jadi ingat sama diri sendiri, yang meraup keuntungan belipat ganda hanya dengan mendaur ulang sampah. Brand saya waktu itu Rumah Kreatif Tuteh. Aneka produk sudah saya bikin, baik karena pengen bikin, maupun karena dipesan sama pelanggan *duhaaaiii, pelanggan* hehe. Tapi karena tuntutan pekerjaan lain yang membutuhkan skala prioritas, karena saya juga punya pekerjaan utama, usaha itu tidak saya teruskan. Padahal keuntungannya supa amazing. Karena kegemaran ber-DIY-ria itulah maka setiap Rabu tema pos ini adalah DIY. Hehe.


Credits: Ihsan Dato.

Bagaimana, kawan? Suka kan sama pos kali ini? Menambah informasi sekaligus cuci mata sama foto-fotonya *kedib*, karena saya sendiri juga suka sama foto-foto yang cuma dijepret menggunakan telepon genggam tersebut. Salah satu foto memang saya minta pada David Mossar, karena saya lupa memotret stan-nya Cahyadi. Dan satu foto dijepret oleh Om Ihsan Dato.

Semoga para peserta dapat melanjutkan apa yang sudah mereka rintis pada Hari Sumpah Pemuda tersebut.

Mari kita dukung!

#RabuDIY



Cheers.

5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor


5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor. Berapa tahun sudah saya menjadi bagian dari Universitas Flores (Uniflor)? Delapan tahun! Waktu yang lama untuk mencintai sampai ke sum-sum. Uhuk. Hahaha. Tahun 2020 Uniflor yang saya cintai ini akan berusia empat puluh. Panca Windu. Forty. The number that follows 39 and precedes 41. Usia yang matang, sesuai kata orang-orang, life begin at forty. Menuju empat puluh tahun usianya, Uniflor telah mulai mempersiapkan kepanitiaan dan rencana kegiatan seabrek. Uh wow sekali. Dan sebagai bagian dari kepanitiaan, saya merasa dialiri energi super sehingga akhirnya memutuskan perlu menulis ini. Meskipun, sebenarnya draf tulisan tentang dunia asmara sudah 90% rampung.

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Ada empat pilar utama dengan koordinator utama masing-masing yang ditetapkan sebagai dasar kegiatan-kegiatan menuju empat puluh tahun Uniflor. Empat pilar itu adalah Pilar A, Pilar B, Pilar C, dan Pilar D. Hahaha. Rincian nama pilar tidak dituliskan di sini. Setiap pilar punya daftar kegiatan/acara masing-masing. Misalnya Pilar A punya sepuluh kegiatan, Pilar B punya sebelas kegiatan, Pilar C punya delapan kegiatan, Pilar D punya dua kegiatan. Sementara saat ini saya cukup menulis lima kegiatan yang dirangkum dari kegiatan-kegiatan di bawah naungan empat pilar utama tersebut.

Sampai di sini kita sepemahaman kan ya.

Jadi, apa saja lima kegiatan, yang menurut saya keren, menuju empat puluh tahun Uniflor?

Cekidot!

1. Lomba Blog, Vlog, dan Foto


Ini dia kegiatan yang masuk dalam Pilar A. Kebetulan saya pula yang menjadi sub-koordinator Lomba Blog, Vlog, dan Foto. Begitu lomba-lomba ini di-mention dalam pertemuan pertama, rasanya seperti ditombak dari jarak sangat dekat. Tentu saya senang. Banget. Nge-blog sejak tahun 2002/2003, hiatus dan bangkit berkali-kali, menjadi pemateri blog bahkan hingga sekarang, membuka banyak Kelas Blogging Online bersama Om Bisot dan Kanaz, pernah membikin berbagai lomba blog waktu masih aktif di komunitas, kemudian dipercayakan mengkoordinir lomba seakbar ini ... supa amazing! Meskipun lomba-lomba ini baru akan dilaksanakan tahun depan tapi saya sudah selesai donk menyusun semua draf-nya. Saya memang gila. Kalau itu yang ingin kalian bilang. Haha. Selain lomba blog, vlog, dan foto, juga akan digelar lomba karya ilmiah dan lomba-lomba yang berhubungan dengan dunia akademik.

2. Seminar Nasional


Dunia universitas, dunia kampus, dunia akademik, harus bisa menyelenggarakan seminar baik yang tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Seminar tingkat lokal dan nasional memang sudah sering diselenggarakan di Uniflor. Saking seringnya, saya jadi punya banyak informasi baru karena harus meliput juga kan. Dan menuju empat puluh tahun Uniflor akan diselenggarakan seminar nasional, Insha Allah seminar internasional (ini masih wacana kalau internasional).

3. Edukasi Sampah dan Tentang Literasi


Dari Pilar B, ada banyak sekali kegiatan dan dua diantaranya saya gabungkan di sini yaitu edukasi sampah yang termasuk dalam baksos, serta literasi. Edukasi sampah nanti digabung dalam kegiatan bakti sosial: bersih-bersih sampah. Kenapa edukasi sampah ini penting? Karena selama ini banyak kegiatan membersihkan sampah tapi masih kurang eduksi tentang sampah: jenis sampah, pemilahan sampah, daur ulang sampah, sampah menjual barang hasil daur ulang sampah. Kalau rencana ini berjalan, saya bakal sangat happy. Sedangkan literasi itu wajib, karena mengingat mahasiswa KKN Uniflor 2019 telah membangun Rumah Baca Sao Moko Modhe di Kabupaten Nagekeo tepatnya di Desa Ngegedhawe. Artinya, literasi: pengumpulan dan penyumbangan buku untuk rumah baca, serta kegiatan pendukungnya nanti, merupakan kegiatan berkelanjutan. Kan bangga, Uniflor yang bermarkas di Kabupaten Ende membangun rumah baca di Kabupaten Nagekeo. Kan sayang, Kabupaten Ende belum melaksanakan Festival Literasi, sedangkan Kabupaten Nagekeo sudah melaksanakannya. Hiks.

4. Sunat Masal


Donor darah sudah sering dilakukan, dan memang akan dilakukan juga, tapi sunat masal? Ini yang juga supa amazing. Hehe. Waktu dicetus kegiatan kawin sunat masal saya terbengong-bengong. Hebat euy. Insha Allah kegiatan ini dapat terlaksana dan memberi berkah bagi banyak anak-anak (Muslim/Muslimah) di Kabupaten Ende. Amin.

5. Retret


Saya suka sekali ide yang satu ini. Perlu kalian ketahui, Uniflor punya kegiatan tahunan semacam Uniflor Family Day atau Tur Uniflor yang diikuti oleh dosen dan karyawan. Memang, kegiatan itu semacam kegiatan relaksasi dosen dan karyawan yang digabung pula dengan pengabdian kepada masyarakat di daerah tujuan. Biasanya bisa tiga hari kegiatan yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Tetapi kali ini diusulkan untuk dilaksanakan kegiatan retret lintas agama. Maksudnya, retret yang selama ini identik dengan Agama Katolik kemudian dibikin lebih universal, lintas agama, karena kita Indonesia! Yuhuuuuu.

⇜⇝

Lima kegiatan keren di atas memang tidak bisa mewakili semua kegiatan yang telah dirancang oleh panitia seperti kegiatan di bidang olah raga dan lain sebagainya. Yang jelas awal November 2019 bakal ada kegiatan akbar yang tujuannya me-launching dua perkara utama. Yang pertama: launching Ema Gadi Djou Memorial Cup. Yang kedua: launching Panitia 40 Tahun Uniflor. Kegiatan tersebut bakal diwujudkan dengan parade yang masif (saya melihat begitu banyak orang, termasuk mahasiswa, dilibatkan) dimana setiap program studi di Uniflor bakal tampil mewakili setiap kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ya, Uniflor memang mediator budaya!

Baca Juga: 5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat

Doakan semua kegiatan yang sudah direncanakan dapat berjalan dengan baik ya, kawan. Yang jelas awal November nanti, saat perhelatan sepak bola Ema Gadi Djou Memorial Cup digelar, akan ada bazaar di depan Stadion Marilonga. Marilah kita ramai-ramai ke sana. Nanti ... hehe.

Satukan langkah, bulatkan tekad, menuju Uniflor bermutu!

#KamisLima



Cheers.

Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp


Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp. Sebenarnya Senin ini di #SeninCerita dan #CeritaTuteh ada banyak yang ingin saya tulis, gado-gado, campur-campur, tapi sebagian sudah saya tulis di blog travel dalam pos berjudul Konsep Pecinta Alam dan Traveling di Kafe Hola dan pos berjudul Pemburu Sunset: Pantai Ndao - Ende. Alhamdulillah. Tersisa beberapa cerita saja dan dua diantaranya tertuang dalam pos hari ini tentang kegiatan Wisuda Uniflor 2019 dan kegiatan Iya Boleh Camp yang diselenggarakan pada hari yang sama. Sabtu! Makanya Sabtu yang harusnya diisi dengan #SabtuReview absen dulu. Hehe. Satu cerita lagi tentang IG: @info_flores bakal saya pos pada #SelasaTekno.

Baca Juga: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo

Dua kegiatan dalam satu hari ... sibuk donk? Lumayan sibuk sih. Tapi menyenangkan karena pada akhirnya saya menetapkan tanggal 12 Oktober sebagai Hari Kemerdekaan Negara Kuning. Kepo kan? Makanya, dibaca sampai selesai *kedib*.

Bangun Lebih Pagi Demi Dirias


Cerita ini bermula dari Sabtu subuh di mana saya bangun lebih pagi untuk mandi dan bersiap-siap sambil menunggu keponakan saya Kiki Abdullah datang. Iya, dia yang merias wajah saya. Sepanjang saya bekerja di Uniflor, baru Sabtu kemarin saya mau dirias untuk kegiatan wisuda. Biasanya sih wajah polos lugu seperti hari-hari biasa. Hehe. Entah. Saya juga masih berpikir kenapa pada tahun 2019 saya mau dirias seperti itu sama Kiki. Riasannya sederhana/ringan sesuai permintaan saya tapi Kiki tidak mau melewatkan bulu mata dan softlens.


Gosh! Wajah saya yang berminyak sungguh keterlaluan. Haha. Maaf ya, Ki. Janji deh saya akan lebih rajin merawat wajah berminyak ini. Dududud.


Setelah saya dirias, giliran Thika, karena dia juga bakal tampil di Iya Boleh Camp, menemani Syiva gantiin Bundanya emoh tampil dalam Lomba Parade Pakaian Nusantara. Selesai dirias, dengan perasaan berbunga-bunga berangkatlah saya ke kampus yang ternyata sudah cukup ramai. 

Wisuda Uniflor 2019


Beberapa hari terakhir saya sudah sering menulis tentang kegiatan wisuda Uniflor 2019 yang diselenggarakan pada tanggal 12 Oktober. Sejumlah 769 Wisudawan-Wisudawati boleh berbangga, pun orangtua mereka. Tahun 2019 panitia menetapkan tema yaitu Kabupaten Nagekeo. Oleh karena itu mulai dekorasi panggung, aneka booth foto, sampai pakaian baik pakaian panitia maupun dosen dan karyawan Uniflor harus bertema Kabupaten Nagekeo. Khusus pakaian lebih tepatnya pakaian tradisional Kabupaten Nagekeo.


Pakaian tradisional Kabupaten Nagekeo dapat dibagi sebagai berikut:

1. Perempuan

Perempuan Kabupaten Nagekeo memakai kain tenun ikat bernama Hoba Nage yang warnanya didominasi merah, dan baju bernama Kodo berbahan beludru yang berwarna hitam dengan aksen bordiran kuning/emas berpadu bordiran merah. Kalau bukan beludru, kain hitam apa saja pun boleh sebagai bahan Kodo ini. Tetapi, untuk perempuan yang menetap di Kota Mbay, umumnya memakai tenun ikat bernama Ragi Woi dipadu atasan warna putih, hitam, atau kuning. Kadang juga memakai Ragi Woi dipadu Kodo.


Hoba Nage dan Kodo itu seperti yang dipakai oleh Kakak Ully Nggaa (kanan dari pembaca) yang memakai ikat kepala itu.

2. Lelaki

Lelaki Kabupaten Nagekeo memakai kemeja putih lengan panjang, tenun ikat Ragi Woi, dipadu selendang yang dilipat sedemikan rupa melingkar dada dan bahu.



Sabtu kemarin saya senang sekali karena nuansa kuning ada di mana-mana, meskipun banyak juga yang memakai Hoba Nage. Bahkan para penari perempuan penyambut Wisudawan dan Wisudawati memakai Ragi Woi yang dibikin persis rok, dan atasan Kodo. Ausam!




Betul-betul harinya Negara Kuning. Dan sebagai Presiden Negara Kuning saya sampai menitikkan air mata haru. Hehe.


Dan yang tidak boleh dilupakan, anak-anak Resimen Mahasiswa (Menwa) juga turut ambil bagian dalam pengamanan kegiatan wisuda kemarin. Keren kan? Uniflor itu lokasinya boleh di kampung, tapi segala sesuatunya tidak kalah dengan universitas lain di kota besar. Kami punya segalanya, sombong sedikit boleh kan, terutama ragam fasilitas ini itu terkait dunia akademik dan fasilitas pendukungnya.

Iya boleh Camp


Adalah Rikyn Radja, koreografer kondang itu, menghubungi saya untuk menjadi juri Lomba Mewarnai kegiatan Iya Boleh Camp yang diselenggarakan oleh Nestle Dancow. Mengutip dari yang ditulis Kakak Mey Patty di status Facebooknya, Iya Boleh Camp merupakan Parenting Event yang sudah diselenggarakan di 94 kota di seluruh Indonesia dan Sabtu tanggal 12 Oktober 2019 kemarin dilaksanakan di Kota Ende. Iya, Kota Ende adalah kota yang ke-95. Sebagai Orang Ende, tentu saya bangga kegiatan berskala nasional ini bisa digelar di Kota Ende. Anak-anak di kota kami membutuhkan kegiatan serupa untuk lebih mengasah bakat dan kreatifitas mereka.

Iya Boleh Camp menggelar tiga lomba yaitu:
1. Lomba Aksi Cilik yang diikuti 21 anak.
2. Lomba Parade Pakaian Nusantara yang diikuti 33 pasang (anak dan mama/pendamping).
3. Lomba Mewarnai yang diikuti oleh 276 anak.
Dari total 400-an pendaftar.


Awalnya saya memang hanya dihubungi untuk menjadi juri Lomba Mewarnai saja, tetapi saat TM ternyata saya dan Kakak Mey bersama-sama menjuri tiga lomba yang digelar tersebut. Baiklah. Yang paling menarik dari Iya Boleh Camp adalah dress code-nya adalah kuning! Oh My God! Saya berbunga-bunga. Hehe.

Makanya, Sabtu kemarin setelah hadir di kegiatan wisuda, bersama-sama Kakak Rosa mengurus ini itu yang berkaitan dengan seksi kepanitiaan kami, saya pun ijin pergi ke Graha Ristela yang terletak di Jalan El Tari, Ende. Ini gedung baru serbaguna yang cukup besar-memanjang dan sering dipakai untuk acara pernikahan dan/atau kegiatan ini itu. Tiba di Graha Ristela, untungnya masih dapat space parkir sepeda motor, saya langsung melenggang ke dalam ruangan mencari meja juri. Hehe. Ketemu Kakak Mey, duduk santai sedikit, acara akhirnya dimulai. Alhamdulillah.


Acara dimulai dengan penampilan drum band cilik dari TK Al Hikmah Ende, ada juga penampilan dari TK lainnya dan diteruskan dengan Lomba Aksi Cilik. Aksi Cilik ini maksudnya anak dan Mama tampil di panggung, bergoyang mengikuti lagu yang diudarakan, dan dinilai oleh juri. Apa saja yang dinilai? Ya kekompakan anak dan Mama, bounding mereka, sampai dengan kesesuaian antara gerak dan lagu. Anak-anak yang tampil dalam Lomba Aksi Cilik ini masih di bawah lima tahun, dan tentu tidak sulit untuk menentukan siapa yang juara. Karena, begitu banyak anak yang malu-malu bahkan seperti ketakutan di panggung, dan beberapa anak yang begitu lincah di panggung beraksi bersama Mamanya. Kita bisa melihat betapa pentingnya peran Mama di rumah ya hahaha.

Setelah Lomba Aksi Cilik, Lomba Parade Pakaian Nusantara pun dimulai. Tiga puluh tiga pasangan Mama-anak berlenggak-lenggok di atas panggung bak peragawati kawakan. Hehe. Apa saja yang dinilai? Pertama kesesuaian busana Mama-anak, teknik catwalk dan kekompakan di atas panggung, penguasaan panggung, hingga nilai modifikasi busananya. Meskipun banyak yang tampil Mama dan anak perempuan, tetapi ada juga Mama dan anak lelaki. Asyik lah. Manapula busana tradisionalnya keren-keren: dimodifikasi dengan sangat baik. Namun tidak bisa dipungkiri ada Mama yang seolah tampil cetar sendiri sedangkan anaknya celingak-celinguk, ada yang betul-betul kompak kayak anak kembar, ada yang mandek memeluk Mamanya di panggung. Haha.


Yang terakhir, Lomba Mewarnai. Waktu Lomba Mewarnai selama empat puluh lima menit memberi waktu kepada saya dan Kakak Mey untuk menilai dua lomba sebelumnya. Ndilalah, penilaian kami sama! Ini yang dinamakan juri sama-sama obyektif sehingga tidak sulit menentukan juara-juaranya. Bayangkan kalau ada juri yang subyektif lantas perdebatan menjadi terlalu alot. Bagi saya, lomba manapun, baik yang diikuti remaja maupun anak-anak, juri harus obyektif. Tidak boleh ada kata kasihan di dalam penilaian karena itu akan merusak reputasi hahaha. Tidak boleh bilang: kasihan si anak sudah berusaha. Juri harus menilai berdasarkan poin penilaian yang sudah ditetapkan. Itu saja.

Menilai kertas-kertas hasil mewarnai pun tidak seberapa sulit. Saya sudah sering menjuri lomba mewarnai, selalu diajak sama juri kondang Om Beny Laka, jadi tahu bagaimana menjuri lomba mewarnai bahkan yang diikuti oleh ratusan anak. Sabtu kemarin, empat juara Lomba Mewarnai memang menghasilkan gambar yang baik: pilihan warna, kesesuaian warna dengan tema, kerapian, garis batas, gaya arsir, hingga daya kreatif-nya. Penilaian itu saya pelajari dari Om Beny Laka, sang maestro. Jadi saya juga bisa menjelaskan kenapa si A juara satu, kenapa si B juara dua, dan seterusnya. Sayangnya kemarin tidak diberi kesempatan menjelaskan. Hehe. Tapi saya sudah siap pelurunya lah.

Mana saya tahu kalau yang juara Parade Pakaian Nusantara adalah sahabat saya Mei Ing dan anaknya yang bernama Rachel? Yang saya tahu cuma nomor tampilnya saja. Mana saya tahu kalau yang juara Lomba Mewarnai itu Andien, anaknya Ibu Nuraini? Ndilalah Andien adalah juara tiga lomba mewarnai sebelumnya yang tingkat kabupaten. Pokoknya saya jujur saja kalau dalam soal menilai. Hahahaha. Selamat kepada para juara, sampai ketemu di kegiatan berikutnya!



Yang pasti, saya terpukau sama empat hasil mewarnai seperti pada foto di atas. Mereka jelas tidak juara, tapi mereka unik, karena berani berkhayal dan bermain dengan warna-warna di luar warna yang seharusnya. Bahkan salah satunya, kiri atas, betul-betul abstrak! Haha.

Hari Kemerdekaan Negara Kuning


Negara Kuning bentukan saya dengan saya sendiri sebagai Presidennya sudah lama berdiri sejak tahun 2013-an. Tapi belum pernah saya menentukan Hari Kemerdekaannya. Boleh lah ya, karena suatu negara boleh dipersiapkan terlebih dahulu. Macam Indonesia, negaranya sudah lama ada, tapi belum punya pemimpin karena masih terkapling dalam wilayah-wilayah kecil (kerajaan salah satunya), lalu dijajah, lalu merdeka pada 17 Agustus 1945.

Baca Juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Sama juga dengan Negara Kuning!

Jadi, kalau ada yang tanya kapan Negara Kuning merdeka? Jawabannya 12 Oktober 2019, enam tahun setelah dibentuk *ngakak guling-guling*.

Demikianlah, kawan, cerita hari ini dari kegiatan Sabtu kemarin. Semoga menghibur kalian yang membacanya ya.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru


Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru. Hal itu saya saksikan sendiri saat meliput kegiatan mahasiswa KKN-PPM di Dusun Detubapa, Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Sungguh menyenangkan menjadi tukang liput kampus, karena selain  tidak diam di ruangan dan bisa jalan-jalan ke luar kota, tambah ilmu itu berhukum fardhu'ain. Ya memang tambah ilmu lah, karena saya harus turut menyaksikan dan mendengarkan seluruh proses kegiatan, baik itu seminar/workshop hingga pelatihan ini itu, bahkan bisa memperoleh data yang disusun dalam bentuk slide maupun hardcopy, untuk bisa menulis berita yang bakal dipos di ragam media sosial dan website-nya Universitas Flores (Uniflor). Berita adalah tentang fakta yang harus berimbang. Bukan begitu?

Baca Juga: Terminal Stopkontak Ini Bisa Berotasi dan Mengecas HP

Sebelum melanjutkan tulisan ini, kalian boleh membaca pos Senin kemarin.

Baiklah.

Dari dua puluh mahasiswa, sejumlah lima belas peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Wolofeo berasal dari Progi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Uniflor. Sebagian lagi yaitu lima mahasiswa berasal dari tiga program studi di Fakultas Ekonomi. Program kerja mereka di Desa Wolofeo pun tidak jauh-jauh dari dunia para petani yang mengelola lahan seperti sawah, kebun kopi, kebun kakao, kebun sayur, kebun cabai, dan lain sebagainya. Bahkan di Dusun Detubapa terpeta satu kebun contoh milik pemerintah daerah. Keren kan? Lebih keren lagi adalah Fakultas Pertanian juga punya satu perkebunan contoh di daerah Lokoboko! Makanya kuliah di Uniflor saja. Haha.

Kenapa saya menulis teknologi pertanian itu sangat menarik dan seru? Karena mendengar penjelasan mahasiswa maupun penjelasan Ibu Yus sebagai Dosen Pendamping Lapangan (DPL) dalam menjawabi pertanyaan warga Dusun Detubapa sangat luar biasa. Ibarat sedang menonton filem favorit. Ada dua hal paling menarik dan seru bagi saya. Yang pertama: menekan angka hama pada buah kakao. Yang kedua: cara memerangkap lalat pengganggu tanaman.

Anyhoo, sudah tahu filem favorit saya sekarang?

UPIN IPIN!

Menekan Angka Hama pada Buah Kakao


Saya tidak tahu nama hamanya. Bisa lalat, bisa juga yang lain. Yang jelas seorang bapak warga Dusun Detubapa, dengan topi kupluknya yang khas karena berposisi miring, bertanya tentang buah kakaonya yang rusak. Rusak di sini, si buah masih terlihat hijau sebagian pada bagian tangkai, dan kuning sebagian. Kadang buah kakaonya terlihat matang/masak tetapi ternyata busuk di dalam. Gara-gara itu, produksi kakaonya menurun dari tahun ke tahun. 

Menurut Ibu Yus, buah kakao yang terserang hama ini memang sulit karena induk melepas telur pada lekukan kulit buah kakao, lantas telur itu menjadi ulat, dan ulat itu yang bakal menggerogoti kulit buah hingga ke dalam. Ternyata teknologi yang digunakan untuk menekan angka hama dimaksud sangat sederhana. Oleh karena itu apabila pohon kakao berbuah dan buahnya hendak matang, buah tersebut dibungkus dengan plastik gula dan diikat pada bagian tangkai sedangkan bagian bawahnya tidak perlu diikat. Mengapa bagian bawah tidak perlu diikat? Melihat dari pola terbangnya induk yang sudah pasti menukik (ke bawah ya haha).

Dengan membungkus buah kakao dengan plastik gula tersebut, otomatis saat si induk sedang menukik hendak menyerang Negara Api langsung menabrak plastik. Hehe. 

Mengenai plastiknya, kami menyebut plastik gula, bisa dibeli di toko dalam bentuk roll dan dipakai sesuai kebutuhan (ukuran panjangnya). Harganya relatif murah. Murah tapi bisa membantu petani menekan angka hama pada buah kakao. 

Daya Tarik Seksualitas Palsu Lalat Betina


Ini menarik sekali. Saya sampai senyum-senyum sendiri. 

Ketika tanaman diserang hama lalat, terutama buah, memang sangat menjengkelkan para petani karena berpengaruh pada hasil panen. Oleh karena itu ketika ada warga Dusun Detubapa yang bertanya perihal lalat ini, seorang mahasiswa dibantu Ibu Yus menjelaskan cara membikin perangkap lalat jantan yang teknologinya super sederhana. Yang dibutuhkan hanyalah botol plastik bekas, sejumput kapas, kawat untuk mengikat botol plastik di tonggak, serta sebuah cairan bernama Petrogenol

Saya menyebutnya Petrogenol yang bahenol karena mampu memikat lalat jantan dengan daya seksualitas palsunya!

Botol plastik diberi lubang dua buah pada badannya, lalu diisi sedikit air, dan sejumput kapas tadi disuntik sekian cc (ukuran pastinya saya lupa, yang jelas sedikit saja) dan diletakkan di dalam botol, kemudian botol diikat dengan kawat di tonggak, horisontal. Posisi horisontalnya sedikiiiiit miring. Petrogenol inilah daya seksualitas palsu yang bakal menarik lalat jantan yang hendak menyerang Negara Tanah buah. Saat hendak menyerang buah, mencium aroma si betina palsu, langsung berbalik arah ke botol plastik dan masuk perangkap.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Amboiiii. Begitu sederhananya teknologi membikin perangkap lalat yang bisa membantu petani agar hasil panennya tetap berlimpah.

⇜⇝

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernahkah kalian berurusan langsung dengan dunia para petani? Pernahkah kalian juga menyaksikan betapa menarik dan serunya teknologi (sederhana) pertanian itu? Bagi tahu donk di komen hehehe :)


#SelasaTekno



Cheers.

Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga


Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga. Ketika menyaksikan kegiatan itu, saya langsung teringat sama lagu Kolam Susu yang dinyanyikan Koes Plus. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Jangan memandang lirik lagu itu secara harafiah karena mustahil tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Lirik yang pendek itu punya makna yang sangat dalam. Dan makna itu saya temui ketika meliput kegiatan peserta KKN-PPM di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, tepatnya di Dusun Detubapa.

Baca Juga: Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling

Selasa, 27 Agustus 2019, pukul 07.45 Wita saya dan Thika berangkat ke Dusun Detubapa karena kegiatan dimaksud dilaksanakan di rumah kepala dusun. Dusun ini terletak di pinggir jalan raya trans-Flores dan rumah kepala desa hanya sekitar tiga puluh meter dari jalan raya. Dari Kota Ende pun waktu tempuhnya hanya sekitar dua puluh lima menit. Akan tetapi perjuangan menuju rumah kepala dusun cukup berat karena begitu banyak guk-guk menggonggong. Haha. Lucunya, saya heboh teriak-teriak karena kuatir digigit guk-guk sedangkan Mama-Mama di situ dengan santai bilang: tenang, Ibu, anjingnya tidak gigit. Amboi, Mama, yang namanya guk-guk, meskipun super jinak, saya bakal menjauh kayak ketemu tukang kredit dinosaurus.


Tiba di rumah kepala dusun, sudah ada mahasiswa KKN-PPM yang sedang menyiapkan bahan ini itu. Sekalian sambil bertanya-tanya sambil menunggu Dosen Pendamping Lapangan (DPL) tiba. Sekitar pukul 10.00 Wita barulah kegiatan dilaksanakan.

Kegiatan apa sih?

Mari baca ...

Pembuatan Pupuk, Pestisida, dan MOL


KKN-PPM merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang tidak 100% hanya mengandalkan mahasiswa saja melainkan partisipasi dan keaktifan warga. Kalau KKN reguler itu umumnya semuanya berada di tangan mahasiswa, kalau KKN-PPM lebih kepada pemberdayaan masyarakat desanya sendiri. Oleh karena itu, warga Dusun Detubapa harus aktif dalam kegiatan pembuatan pupuk dan pestisida. Mahasiswa menyiapkan bahan, mengarahkan, memperhatikan, dan membantu. DPL akan mengoreksi bila ada kesilapan dari mahasiswa dalam menjelaskan dan hal itu biasa karena mahasiswa pun masih dalam proses belajar kan.


Menariknya, semua bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk cair, pupuk padat, pestisida nabati, dan MOL, berasal dari alam raya. Sebut saja daun sirsak, daun jagung, daun kirinyuh, lengkuas, tanah daerah perakaran, kotoran sapi (ternak lainnya), rumen (isi perut/usus) sapi, dedak, gula pasir, hingga air kelapa. Bahan lainnya hanya sabun colek dan terasi. Karena waktu itu MOL juga baru hendak dibikin secara alami, maka untuk pembuatan pupuk sementara masih memakai sedikit M4 yang dibeli di toko. Nanti kalau MOL yang dibikin sudah jadi, warga tidak perlu lagi memakai M4 tetapi memakai MOL yang mereka buat sendiri itu.


MOL itu singkatan dari atau Mikro Organisme Lokal. Ini merupakan larutan hasil proses fermentasi dari berbagai jenis bahan-bahan organik. Larutan MOL mengandung bakteri, perangsang pertumbuhan, unsur hara mikro dan makro, dan sebagai agens hayati pengendali hama dan penyakit tanaman.

Paham kan sekarang mengapa saya menulis judul memang betul orang bilang tanah kita tanah surga? Alam raya menyediakan, kita memanfaatkannya. Semoga dengan kegiatan ini warga Dusun Detubapa yang rata-rata adalah petani bisa menghemat biaya karena ketimbang membeli pupuk, pestisida, dan MOL di toko, mereka bisa membikinnya sendiri. Yang diperlukan adalah keuletan dan kesabaran karena untuk pupuk cair misalnya dibutuhkan waktu hingga empat minggu hingga dapat digunakan atau diaplikasikan ke tanaman.

Petani Cerdas


Kalau kalian masih memandang petani itu orang kampung, tolong singkirkan segera pikiran itu karena kalian salah dan kalian kampungan. Warga, bapak-bapak, para petani, yang saya lihat di Dusun Detubapa itu rata-rata cerdas dan trendi. Mereka punya segudang pertanyaan yang menuntut jawaban, serta tidak lagi tanpa alas kaki ke kebun tetapi memakai sepatu boot karet favorit saya kalau musim hujan tiba itu. Jadi waktu kegiatan, ada bapak-bapak yang segera balik dari kebun demi memperoleh ilmu dari mahasiswa KKN-PPM ini.



Tentu dengan kegiatan yang dilaksanakan itu, para petani bakal semakin cerdas dalam hal pengelolaan dan perawatan lahan mereka. Insha Allah.

Kudapan dan Makan Siang


Hari itu, saat proses pembuatan pupuk, pestisida, dan MOL, sedang berlangsung, tuan rumah menyuguhkan kudapan khas lokal yaitu pisang rebus, ubi jalar rebus, dan kopi/teh. Uh wow sekali ubi jalarnya manis dan bikin lidah menagih. Tentu, pisang dan ubi jalar ini bukan hasil membeli di pasar melainkan diperoleh dari kebun sendiri.



Makan siangnya pun tak kalah bikin lidah menagih. Terutama tumisan daun pepaya dan sambalnya! Ayam, ikan, tahu, sayur sawi, sudah sering saya makan. Tapi tumisan daun pepaya ini langka, manapula rasanya amboiiii. Memang betul orang bilang tanah kita tanah surga! Karena bahan-bahan tumisan sayur dan sambal itu diambil dari kebun sendiri. Mak, kapan kita bisa seperti orang desa ya ... punya lahan dan diolah sendiri.

⇜⇝

Kalau ditanya apakah saya mau tinggal di Dusun Detubapa? Ya mau saja lah haha. Terutama selama berada di sana saya tidak bisa menggunakan telepon genggam untuk berselancar di ragam media sosial karena sinyal 4G yang susaaaah sekali. Sinyal hanya bisa dipakai untuk menelpon dan mengirim pesan singkat. Ah, ternyata sumber internet masih jauh itu tak masalah ketimbang sumber air yang jauh. Haha. Hidup rasanya tenang sekali *ngikik*.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Yang pasti harus diingat ... tanah kita memang tanah surga!


#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat


Musim Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2019. Musim meliput hingga ke luar Kota Ende. Musim bersenang-senang bersama Onif Harem. Musim paling rajin mengganti oli di bengkel sampai digodain sama mas-masnya: olinya diminum sebagian kan(?). Musim pamer foto jalan-jalan. Haha. Yang jelas, belum musim liburan, meskipun kesannya jalan-jalan terus. Ini kerja, bung! Bung ... kuuuussss.

Baca Juga: 5 Kegiatan Kece Menyongsong Dies Natalis 39 Uniflor

Sejak mulai diberikan tugas untuk meliput kegiatan peserta KKN di berbagai daerah di Pulau Flores, saya sudah mulai pula mengumpulkan satu per satu program kerja yang menurut saya keren. Program kerja ini, selain KKN reguler (disebut begitu sih biasanya), ada yang memang termasuk dalam KKN-Tematik, ada pula KKN-PPM. KKN-PPM baru terlaksana tahun 2019 ketika proposal-proposal yang diajukan oleh P3KKN Uniflor lolos di Kemenristek Dikti untuk menerima dana hibah. Dana hibah ini bukan dipakai untuk keperluan dan kepentingan mahasiswa loh yaaaa, melainkan dipakai untuk menjalankan program kerja yang telah disusun dan/atau diusulkan untuk keperluan dan kepentingan masyarakat itu sendiri.

Dalam bidikan saya, ada 5 program KKN Uniflor keren dalam pengabdian kepada masyarakat. Mari simak!

1. Bangun Rumah


Ingat program televisi tentang bedah rumah? Di KKN Uniflor ada yang namanya bangun rumah. Bangun rumah dilakukan oleh kelompok KKN kelas pekerja (mahasiswa yang sudah bekerja). Tahap awal adalah mencari satu rumah yang tidak lagi layak huni di lokasi yang termasuk dalam lokasi KKN tahun bersangkutan. Inisiasi dilakukan dengan petinggi wilayah setempat seperti kepala desa dan/atau lurah beserta tokoh masyarakat. Si pemilik rumah kemudian diberitahu dan saat KKN tiba, pembangunan rumah pun dilakukan. Saya pernah menyaksikan sendiri pembangunan rumah Mama Sisi di Kecamatan Lepembusu Kelisoke. Luar biasa. Sampai mata berkaca-kaca melihatnya.

2. Penyuluhan


Penyuluhan terdengar tidak asing dan pasti sering dilakukan bukan? Tapi penyuluhan yang dilakukan murni oleh mahasiswa, terutama mahasiswa hukum, adalah sesuatu yang sangat luar biasa menurut saya. Bagaimana masyarakat diedukasi tentang pentingnya memahami tentang dunia hukum, yang paling sederhana pun, itu sangat bagus. Saya pernah meliput kegiatan ini di SMP Muhammadiyah Ende oleh mahasiswa KKN 2018.

3. Belajar Pertanian


Ini penting, terutama bagi masyarakat pedesaan yang rata-rata mempunyai lahan pertanian baik itu sawah maupun kebun. Saya melihat bagaimana mahasiswa KKN-PPM melakukannya di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko. Rata-rata mahasiswa yang ditempatkan di lokasi ini pun berasal dari Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Uniflor. Demikian pula dengan Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Kegiatan mereka antara lain membuat pupuk bersama masyarakat hingga mengelola lahan. Ausam. Perlu diketahui, Uniflor mempunyai lahan luas sebagai kebun percontohan dan/atau tempat prakteknya mahasiswa Prodi Agroteknologi. Kita akan lihat hasil akhirnya nanti seperti apa. Yang jelas, pasti bakal saya pos.

4. Bangun Rumah Baca


Yang satu ini, juga poin nomor 3 dan 5, sama-sama KKN-PPM. Rumah baca tersebut dibangun di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Proses pembangunan rumah baca dimulai dengan ritual adat oleh tokoh masyarakat dan/atau tokoh adat, tentu bersama para petinggi desa yaitu Kepdes, Sekdes, hingga Ketua PBD-nya. Setelah ritual, dilakukan peletakan batu pertama, dan rumah baca tersebu sedang dalam proses pembangunan (saat saya menulis ini). Semoga saya bisa ke sana saat peresmiannya! Ada yang mau menyumbang buku anak-anak? Yuk sumbang ke rumah baca baru di Desa Ngegedhawe!

5. Psikoedukasi


Awalnya saya bingung dengan istilah ini, tapi internet menyediakan segalanya. Jadi ringkasnya, psikoedukasi adalah pola/cara mengajak masyarakat dan/atau bersama-sama masyarakat mengenali apa permasalahan yang dihadapi selama ini, kemudian dicarilah solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Ini dilakukan di Desa Anaraja, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Hasilnya pun nanti pasti saya  pos. Ingin tahu perubahan dan penguatan dalam tubuh masyarakat setelah KKN-PPM ini seperti apa.

⇜⇝

Yang juga keren adalah, para peserta KKN pasti terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan adat yang dilaksanakan di desa. Kapan lagi bisa merasakan dan terjun langsung? Saya sendiri pernah merasakan dan mengikuti ritual adat Goro Fata Joka Moka 2016, serta menyaksikan perlombaan Naro (tarian adat Suku Ende, kalau Suku Lio menyebutnya Gawi). Menjelang 17-an, bakal lebih banyak lagi kegiatan yang akan dilaksanakan/dilakukan masyarakat tentu bersama-sama dengan mahasiswa yang KKN di lokasi mereka.

Baca Juga: 5 Wisata Dalam Kota Ende

Bagaimana dengan daerah kalian, kawan? Sudah memasuki Bulan Agustus ... persiapannya sudah mulai kencang dooonk hehehe. Bagi tahu yuk!



Cheers.

Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe


Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe. Musim KKN 2019 sudah tiba. Artinya, saya yang biasanya bertugas sebagai Panitia KKN Seksi Publikasi dan Dokumentasi harus bersiap ke luar kota, ke daerah lokasi KKN, bahkan yang di luar Kabupaten Ende. Kali ini saya dan Anto Ngga'a dikoordinir oleh Kakak Rossa Budiarti, siap menjalankan tugas. Tahun lalu peserta KKN yang di luar daerah tidak diliput. Tapi tahun ini wajib diliput terutama tiga desa penerima dana hibah KKN-PPM dari Kemenristek Dikti. Keren kan? Untuk pertama kali proposal yang diajukan oleh P3KKN lolos!

Baca Juga: Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita

Ada tiga desa yang mendapat dana hibah PPM dan Kemenristek Dikti sesuai tiga proposal yang lolos diajukan oleh P3KKN. Tiga desa itu adalah Desa Nggedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Desa Anaraja di Kecamatan Nangapanda, Desa Wolofeo di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Sabtu kemarin, 27 Juli 2019, peserta KKN - PPM untuk Desa Ngegedhawe diberangkatkan.

Literasi Desa


Program utama di Desa Ngegedhawe adalah Literasi Desa yaitu pembangunan rumah baca: pembangunan, stok buku, dan pengelolaan. Sudah sering peserta KKN membangun rumah tinggal bagi penduduk desa yang kondisi rumahnya tidak layak huni lagi. Tapi rumah baca? Ini perdana dan seperti kata Kepala LP2M Uniflor saat acara pelepasan duapuluh peserta KKN-PPM di Desa Ngegedhawe, ini adalah pilot project! Pilot project itu memang kudu hati-hati, terutama yang bakal dimonitoring oleh L2Dikti, maksudnya adalah kesuksesan merupakan goal yang tidak bisa ditawar-tawar dengan kata 'setidaknya'. Tentu saja, Tuhan adalah penentu utama. Hehe.



Sekretaris Desa Ngegedhawe dan Ketua BPD Desa Ngegedhawe menyambut baik program pembangunan rumah baca ini. Ketua BPD misalnya, menurutnya rumah baca akan berdampak sangat positif pada anak-anak dan masyarakat desa. Salah seorang Dosen Penamping Lapangan (DPL) yaitu Pak Gusty Dadi mengatakan bahwa meskipun zaman sekarang banyak informasi yang bisa dibaca melalui lini digital (internet di telepon genggam) namun membaca buku sebenarnya merupakan salah satu cara untuk memajukan sebuah peradaban. Saya suka sekali kalimat ini. 


Yang tidak saya duga adalah penyambutan yang luar biasa dari Sekdes dan jajarannya, semacam suatu harapan yang kemudian menjadi nyata. Baru saya tahu, tahun 2019 merupakan tahun kedua peserta KKN Uniflor ditempatkan di desa tersebut. Tentu, masih banyak harapan yang ingin diwujudkan oleh masyarakat Desa Ngegedhawe bersama peserta KKN yang ditempatkan di desa tersebut. Semoga.

Rumah Baca Harus Lebih Banyak Dibangun


Di Kota Ende, paling terakhir saya mengenal Rumah Baca Sukacita yang haru saja merayakan Hari Literasi Sukacita.


Saya diminta bercerita tentang dunia jurnalistik dan dunia blogger. Adalah kesenangan tersendiri jika bisa berbagi tentang kebiasaan-kebiasaan baik yaitu membaca dan menulis. Anak muda, sejak usia dini, memang harus ditanamkan nilai-nilai membaca dan menulis.

Rumah baca memang sudah seharusnya lebih banyak dibangun, sebagai tempat yang mengakomodir minat baca anak-anak bahkan orang dewasa. Apabila rumah baca memang ditujukan untuk suatu komunitas yang tidak memandang usia, maka tentu buku-buku yang disediakan pun harus beragam, untuk semua usia. Tetapi saya berpikir ada baiknya rumah baca dimulai dari kelas anak-anak terlebih dahulu, orang dewasa bisa menyusul. Karena anak-anak tidak saja membutuhkan buku tetapi juga bimbingan dari para pendamping atau kakak-kakak pengelola rumah baca.

Rumah baca dan pengelola adalah satu kesatuan. Bayangkan saja begini ... lima bocah balita dihadapkan pada sebuah granat. Apa yang akan mereka lakukan? Bisa saja diabaikan. Bisa saja salah seorang bocah balita menarik pemicu dan tamatlah riwayat orang-orang dalam radius ledakan. Tetapi, jika lima bocah balita itu dibimbing oleh orang dewasa yang waras dan bertanggungjawab, maka dia akan menjelaskan bahwa granat adalah benda yang harus dijauhi sejauh-jauhnya oleh anak-anak. Sama juga dengan buku. Pembimbing/pengelola merupakan mata angin yang akan mengarahkan dengan benar anak-anak tentang isi buku yang dibaca.

⇜⇝

Bagi saya pribadi, Literasi Desa merupakan program keren yang harus didukung oleh kita semua, tidak memandang orang tersebut merupakan bagian dari KKN-PPM Uniflor atau tidak. Karena literasi sangat dibutuhkan pada zaman sekarang ini, di tengah dunia digital yang serba praktis, di tengah dunia yangmana anak-anak lebih suka bermain tiktok ketimbang membaca dan menulis. Semoga harapan-harapan baik dapat terwujud. Amin.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup Dalam Tubuh Masyarakat

Bagaimana dengan di daerah kalian, kawan? Adakah rumah baca yang sungguh-sungguh dikelola? Bagi tahu yuk di ... di mana-mana hatiku senang ... hehe. Di komen, tentu saja!



Cheers.