Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor

Credit: Pak Yulius.

Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor. Saya pernah menulis tentang teknologi pertanian pada pos berjudul Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru. Bagaimana Petrogenol yang bahenol memikat lalat jantan dengan daya tarik seksualitasnya yang palsu, itu pengetahuan baru bagi saya pribadi. Sebagai institusi pendidikan tinggi, berbagai pengetahuan dan informasi bertebaran di Universitas Flores (Uniflor). Sebagai pegawai yang bertugas mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan-kegiatan di Uniflor, jelas saya adalah makhluk Tuhan paling beruntung. Otak saya betul-betul berfungsi sebagai spons yang menyerap semuanya dengan gilang-gemilang. Haha. Setiap hari saya belajar hal baru.

Baca Juga: Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Rabu kemarin, 18 Maret 2020, saat hendak pulang kantor saya mampir di Kantor Kemahasiswaan Uniflor. Tujuan saya hanya satu, stoples berisi kudapan kuping gajah di atas meja! Hahaha. Sumpah, mata ini sangat cepat kalau melihat makanan. Belum sampai tangan saya masuk ke dalam stoples, Pak Yulius yang sedang berada di situ berkata: Kak Tuteh tangannya dibersihkan dulu pakai ini. Melihat botol mini khas hand sanitizer tanpa merek/label itu saya membalas bahwa saya pun membawa hand sanitizer sendiri. Tapi oh la laaaaa itu hand sanitizer yang dibikin sendiri! Uh wow sekali. Mulailah saya bertanya-tanya pada Pak Yulius.

Ceritanya, hari itu pada mata kuliah Fisika Lingkungan di Prodi Pendidikan Fisika pada FKIP Uniflor, Pak Yulius bersama mahasiswa semester 6 praktek membikin hand sanitizer dan disinfektan. Bahan-bahan hand sanitizer adalah alkohol, lidah buaya (isi atau jel bagian dalamnya), dan essential oil. Kalau disinfektan tidak saya tanya lebih lanjut. Ketiga bahan hand sanitizer itu punya takaran khusus untuk menghasilkan hand sanitizer yang kuat, sekitar 80% mampu menghambat berkembangbiaknya dan/atau membunuh mikroorganisme seperti virus dan bakteri yang menempel pada tubuh manusia dan benda mati. Hand sanitizer merupakan antiseptik yang diaplikasikan pada tubuh manusia terutama tangan. Sedangkan disinfektan diaplikasikan pada benda mati seperti meja, pegangan pintu, komputer, wastafel, dan lain sebagainya.

Menurut Pak Yulius, membuat hand sanitizer dan disinfektan dilakukan mengingat virus Corona yang oleh WHO diresmikan dengan nama Covid-19 merupakan virus dengan penyebaran yang cukup mudah yaitu melalui kontak fisik, serta berkaitan dengan lingkungan karena keberadaan virus Corona mengganggu idealnya lingkungan di mana manusia hidup, sehingga berbagai antisipasi harus dilakukan. Selain itu, hal ini dilakukan untuk menanggulangi kelangkaan hand sanitizer dan disinfektan di pasaran. Saat ini Pak Yulius bersama mahasiswa Semester 6 Prodi Pendidikan Fisika baru membuat prototype dan tidak menutup kemungkinan untuk memproduksinya secara massal.

Kalian bisa membaca pos kemarin berjudul Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing untuk informasi lengkapnya.

Baca Juga: Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir

Kenapa perihal ini masuk di #SelasaTekno? Karena ini berhubungan dengan penelitian. Teknologi tepat guna. Menurut Pak Yulius, hand sanitizer dan disinfektan yang dibikin ini merupakan sebuah penelitian karena meskipun sudah banyak yang melakukannya, tapi menggunakan bahan yang berbeda, dengan tempat atau lokasi yang berbeda, serta perhitungan secara sains. Turunan perhitungan itu yang kemudian ditakar a la rumahan menggunakan gelas. Sumpah ya, penjelasan demi penjelasan di white board oleh Pak Yulius itu bikin kepala saya langsung oleng hahaha. Sangat ilmiah ... huhu. Berbahagialah kalian yang kuliah di Prodi Pendidikan Fisika.

Ya sudah deh, semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua.

#SelasaTekno



Cheers.

Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor

Credit: Pak Yulius.

Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor. Saya pernah menulis tentang teknologi pertanian pada pos berjudul Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru. Bagaimana Petrogenol yang bahenol memikat lalat jantan dengan daya tarik seksualitasnya yang palsu, itu pengetahuan baru bagi saya pribadi. Sebagai institusi pendidikan tinggi, berbagai pengetahuan dan informasi bertebaran di Universitas Flores (Uniflor). Sebagai pegawai yang bertugas mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan-kegiatan di Uniflor, jelas saya adalah makhluk Tuhan paling beruntung. Otak saya betul-betul berfungsi sebagai spons yang menyerap semuanya dengan gilang-gemilang. Haha. Setiap hari saya belajar hal baru.

Baca Juga: Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Rabu kemarin, 18 Maret 2020, saat hendak pulang kantor saya mampir di Kantor Kemahasiswaan Uniflor. Tujuan saya hanya satu, stoples berisi kudapan kuping gajah di atas meja! Hahaha. Sumpah, mata ini sangat cepat kalau melihat makanan. Belum sampai tangan saya masuk ke dalam stoples, Pak Yulius yang sedang berada di situ berkata: Kak Tuteh tangannya dibersihkan dulu pakai ini. Melihat botol mini khas hand sanitizer tanpa merek/label itu saya membalas bahwa saya pun membawa hand sanitizer sendiri. Tapi oh la laaaaa itu hand sanitizer yang dibikin sendiri! Uh wow sekali. Mulailah saya bertanya-tanya pada Pak Yulius.

Ceritanya, hari itu pada mata kuliah Fisika Lingkungan di Prodi Pendidikan Fisika pada FKIP Uniflor, Pak Yulius bersama mahasiswa semester 6 praktek membikin hand sanitizer dan disinfektan. Bahan-bahan hand sanitizer adalah alkohol, lidah buaya (isi atau jel bagian dalamnya), dan essential oil. Kalau disinfektan tidak saya tanya lebih lanjut. Ketiga bahan hand sanitizer itu punya takaran khusus untuk menghasilkan hand sanitizer yang kuat, sekitar 80% mampu menghambat berkembangbiaknya dan/atau membunuh mikroorganisme seperti virus dan bakteri yang menempel pada tubuh manusia dan benda mati. Hand sanitizer merupakan antiseptik yang diaplikasikan pada tubuh manusia terutama tangan. Sedangkan disinfektan diaplikasikan pada benda mati seperti meja, pegangan pintu, komputer, wastafel, dan lain sebagainya.

Menurut Pak Yulius, membuat hand sanitizer dan disinfektan dilakukan mengingat virus Corona yang oleh WHO diresmikan dengan nama Covid-19 merupakan virus dengan penyebaran yang cukup mudah yaitu melalui kontak fisik, serta berkaitan dengan lingkungan karena keberadaan virus Corona mengganggu idealnya lingkungan di mana manusia hidup, sehingga berbagai antisipasi harus dilakukan. Selain itu, hal ini dilakukan untuk menanggulangi kelangkaan hand sanitizer dan disinfektan di pasaran. Saat ini Pak Yulius bersama mahasiswa Semester 6 Prodi Pendidikan Fisika baru membuat prototype dan tidak menutup kemungkinan untuk memproduksinya secara massal.

Kalian bisa membaca pos kemarin berjudul Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing untuk informasi lengkapnya.

Baca Juga: Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir

Kenapa perihal ini masuk di #SelasaTekno? Karena ini berhubungan dengan penelitian. Teknologi tepat guna. Menurut Pak Yulius, hand sanitizer dan disinfektan yang dibikin ini merupakan sebuah penelitian karena meskipun sudah banyak yang melakukannya, tapi menggunakan bahan yang berbeda, dengan tempat atau lokasi yang berbeda, serta perhitungan secara sains. Turunan perhitungan itu yang kemudian ditakar a la rumahan menggunakan gelas. Sumpah ya, penjelasan demi penjelasan di white board oleh Pak Yulius itu bikin kepala saya langsung oleng hahaha. Sangat ilmiah ... huhu. Berbahagialah kalian yang kuliah di Prodi Pendidikan Fisika.

Ya sudah deh, semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua.

#SelasaTekno



Cheers.

500 Orang Menari Dendang Dikideng di Gedung Imaculata


500 Orang Menari Dendang Dikideng di Gedung Imaculata. Hari ini seharusnya #SelasaTekno tetapi maafkanlah saya karena tidak dapat menahan cerita ini hingga Senin depan. Haha haha haha. Pos insidental ini adalah tentang kegiatan yang diselenggarakan oleh Universitas Flores (Uniflor) pada Sabtu, 14 Maret 2020. Seru dan heboh sudah pasti. Namanya juga Uniflor, di mana kami menjalin relasi antara civitas akademika dengan penuh rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Yess, we are one big family. Secara pribadi, saya selalu merasa Uniflor sebagai rumah besar kedua tempat saya 'menemukan' opa, oma, bapak, mama, kakak, adik. Rumah besar pertama jelas tetap Pohon Tua. Pohon Tua yang sejuk, tenang, cozy, selalu bikin kangen untuk pulang. Pohon Tua yang mejadi rumah semua orang.

Baca Juga: Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu itu adalah Pelantikan Pimpinan Administrasi Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) dan Uniflor. Dimulai pukul 06.00 Wita dengan jalan sehat bertolak dari Lapangan Pancasila, yang nyaris batal karena hujan mengguyur Kota Ende, berakhir di Gedung Imaculata. Gedung Imaculata yang beralamat di Jalan Irianjaya - Kathedral (tepat menyiku di dua jalan ini) merupakan gedung bersejarah. Pada masa pengasingan di Kota Ende, Bung Karno memanfaatkan gedung ini untuk menampilkan tonil-tonilnya. Setelah direnovasi besar-besaran Gedung Imaculata memang seperti 'kehilangan' nilai sejarahnya. Tetapi bagi kami, itu tetap merupakan gedung kebanggaannya Orang Ende selain Situs Bung Karno, Taman Renungan Bung Karno, dan Serambi Soekarno.

500an orang terdiri dari dosen dan karyawan Uniflor wajib mengenakan kaos kuning, kaos ultah ke-39 Uniflor. Kami dihibur oleh Sombolando Voice di awal kegiatan. Usai membawakan lagu dangdut, Ketua Yapertif Bapak Lori Gadi Djou meminta semua orang menyimpan telepon genggam mereka. Semua wajib bergoyang! Haha. Kocak sekali. Sombolando Voice dengan organis Segno pun tepat memilih lagu. Lagu apa? Dendang Dikideng doooonk. Lagu yang ngetren dan selalu bergaung di semua acara di Kota Ende. Sumpah, lagu ini semacam punya magnet maha besar sehingga siapa pun pasti kakinya tidak tahan. Pengen tahu keseruannya? Nonton video berikut:


Hurayyyy!!!

Di situ kalian melihat ada pater, pendeta, ustadz. Beliau-beliau adalah pemuka agama yang bakal menemani saat pengambilan sumpah jabatan. Sebelumnya ... goyangkan badan dulu donk supaya sehat. Haha. Padahal sebelumnya juga sudah jalan sehat dari Lapangan Pancasila ke Gedung Imaculata. Tapi lelah pasti tidak terasa kalau segalanya dilakukan secara bersama-sama dan dalam suasana persaudaraan/kekeluargaan. Sayangnya kalian tidak berada di tengah-tengah kami sehingga tidak betul-betul bisa merasakan euforianya.

Anyhoo, dalam rangka ulang tahun ke-40 memang banyak kegiatan yang bakal diselenggarakan oleh Uniflor. Selain rentetan pelantikan-pelantikan sejumlah pejabat, berbagai lomba termasuk lomba blog dan vlog, kami juga menyelenggarakan road show. Januari lalu road show diselenggarakan di Kota Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Dalam waktu dekat, road show akan diselenggarakan, rencananya, di Kota Borong. Ya, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Timur. Mantap nih, kebetulan rencana cuti akhir tahun kemarin yang seharusnya ke Borong, batal. Insha Allah bisa tunai. Supaya lebih banyak cerita yang bisa saya bagi dengan kalian semua.

Baca Juga: Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir

Rasanya lucu juga menulis hal lain di #SelasaTekno. Tapi tidak mengapa deh. Yang penting jangan sampai idenya meluap apalagi ceritanya menjadi basi. Satu hal yang saya syukuri, bukan saja karena hari itu semua orang memakai kaos kuning, tetapi karena amanat pekerjaan yang diberikan kepada saya. Hehe. Dan sebagai Presiden Negara Kuning, saya mengucapkan terima kasih hahah hahahaaa. Sudah ah ... jangan lupa nonton videonya. Tidak perlu subscribe kalau itu menjengkelkan kalian, yang penting videonya menghibur.



Cheers.

Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya


Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya. Visi Universitas Flores (Uniflor) adalah menjadi mediator budaya. Artinya, sebagai rahim persemaian calon cendekia, Uniflor tidak hanya fokus pada dunia akademik yang mengutamakan Tri Dharma Perguruan Tinggi tetapi juga pada budaya/adat/tradisi. Semua orang tentu tahu bahwa kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencangkup pengetahuan, keyakinan, seni, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan. Salah satu kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan dan adat yang dilakukan setiap tahun oleh Uniflor adalah Pati Ka Embu Kajo di Tubu Nabe Uniflor. Memberi makan leluhur ini dipimpin oleh empat Mosalaki Godo Wutu Onekore Hendrikus Peso, Daniel Juma, Johanes D. Bosco Wajo, Yakobus Djae (April 2019), dan dilakukan secara bersama-sama dengan para petinggi Uniflor.

Baca Juga: Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam

Foto-foto kegiatan Pati Ka Embu Kajo di Tubu Nabe dapat dilihat berikut ini:



Pada Kamis, 27 Februari 2020, dilaksanakan kegiatan pelantikan 83 (delapan puluh tiga) pejabat struktural se-lingkup Uniflor. Ada yang berbeda dari kegiatan tersebut. Selain setiap orang (dosen, karyawan, dan pendamping pejabat yang dilantik) diwajibkan memakai pakaian adat (dari daerah mana pun), juga ada ritual meminum moke dan penyerahan sirih kepada pejabat yang dilantik. Melihat proses meminum moke, maka mungkin kata yang lebih tepat adalah mencicip moke. Kegiatan tersebut unik, menurut saya, karena semakin menunjukkan Uniflor sebagai mediator budaya yang merawat budaya.

Ulasan lengkapnya, silahkan baca sampai selesai. Haha.

Panggung Dengan Miniatur Rumah Adat


Panggung Auditorium H. J. Gadi Djou di Kampus I Uniflor disulap sedemikian rupa sehingga nuansa adatnya lebih kental terasa. Biasanya backdrop panggung berupa baliho dengan tambahan ornamen daerah tertentu. Tetapi pada kegiatan dimaksud, sebuah miniatur rumah adat berdiri gagah di tengah panggung. Di dalam miniatur rumah adat tanpa dinding itu diletakkan dua kursi sebagai tempat rehat Ketua Yapertif dan Rektor Uniflor saat jeda pelantikan.


Jujur, saya suka sekali melihat panggungnya. Tetapi hari itu saya tidak sempat foto-foto di situ karena lelah. Byuuuh. Haha. Iya, lari sana-sini mengabadikan momen dan mengumpulkan footage berita memang menyedot cukup banyak enerji. Kaki saya sakit, gengs. Harus segera pulang untuk merawat diri *dicibirin dinosaurus*.

Mencicip Moke dan Menerima Sirih


Moke merupakan minuman adat. Sejatinya begitu. Saat keluarga kami menyambangi makam nenek moyang di Desa Faipanda pun, kakak lelaki saya wajib mencicipnya walaupun seujung lidah (seharusnya meminum satu sloki yang diserahkan oleh tua keluarga). Sampai moke kemudian berkonotasi buruk adalah karena oknum-oknum tertentu yang meminumnya sekehendak hati sehingga berakibat pada hilangnya kontrol diri. Keributan bisa dipicu oleh oknum-oknum mabuk ini. Konon, kalau sudah berlebihan menegak moke, keberanian bakal meledak-ledak, bawaannya selalu benar dalam berkata, dan lain sebagainya.

Bapak Willy Lanamana mencicip moke usai pelantikan.

Setiap pejabat struktural, usai dilantik, khusus laki-laki diberikan moke dalam wadah cangkir/gelas tempurung. Khusus perempuan diberikan satu sirih. Saya termasuk orang yang sampai saat ini belum bisa mengunyah sirih-pinang-kapur. Sekali mencoba, langsung mabuk/pusing, belum mencoba lagi. Suatu saat saya harus bisa mengunyah sirih-pinang-kapur. Insha Allah.

Pakaian Adat dan Uniflor


Pati Ka Embu Kajo, dan kegiatan pelantikan pejabat struktural kemarin, hanya sebagian kecil contoh dari Uniflor sebagai mediator budaya yang tentunya turut merawat budaya. Setiap minggu kami, dosen dan karyawan Uniflor, selalu berhubungan dengan budaya. Setiap Hari Selasa, kami wajib memakai sarung tenun ikat Kabupaten Ende dengan atasan berwarna putih. Sedangkan setiap Hari Kamis, kami wajib mengaplikasikan kain daerah dari daerah mana pun di Indonesia dengan pakaian yang dikenakan. Rata-rata memakai tenun ikat, satu dua memakai batik. Ada yang melilitkan tenun ikat berbentuk selendang di pinggang, ada yang dijadikan syal, ada juga yang menjadikan sarung tenun ikat sebagai rok, dan lain sebagainya.

Dalam kegiatan-kegiata besar seperti wisuda, upacara 17an, hingga pelantikan-pelantikan, segenap civitas akademika Uniflor wajib memakai pakaian adat.


Baca Juga: Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik?

Uniflor adalah mediator budaya yang tentunya merawat budaya agar generasi selanjutnya tetap tahu jati diri mereka. Tetapi siapa pun dapat merawat budaya. Caranya, Teh? Banyak sih. Dengan memakai pakaian adat saat ke pesta-pesta, menulis tentang kekayaan budaya kita, membikin video ini itu yang berkaitan dengan budaya/adat/tradisi, sampai melakukan penelitian dan membukukannya. Yang jelas, di Kabupaten Ende, salah satu budaya yang terus dirawat oleh semua kalangan adalah tarian gawi. Hehe. Anyhoo riset kecil-kecilan saya soal gawi dan/atau naro ini belum selesai. Belum bisa saya tulis secara lengkap. Belum bisa dipublis. Nanti deh.

Semoga bermanfaat ;)

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo


Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo. Kamis, 9 Januari 2020, lagi-lagi saya tancap gas menuju Kabupaten Nagekeo. Sepertinya dari semua kabupaten yang ada di Pulau Flores khususnya dan Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya, Nagekeo merupakan kabupaten yang paling sering saya kunjungi baik untuk meliput kegiatan kampus maupun karena kepentingan pribadi. Keberangkatan saya kemarin itu karena hendak meliput kegiatan Uniflor Road Show 2020 oleh Panitia Panca Windu Uniflor 2020 yang diselenggarakan di Lapangan Berdikari, Kota Mbay. Uniflor Road Show 2020 diselenggarakan Sabtu, 11 Januari 2020, tapi saya memilih berangkat dua hari lebih awal karena diperbolehkan. Haha. Lagi pula saya juga harus pergi ke sekolah-sekolah untuk mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) bersama Kakak Shinta Degor dan Pak Anno Kean. Ya, kami masih menjadi bagian dari Tim Promosi Uniflor.

Baca Juga: Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita

Sebenarnya dari Ende saya hendak tancap gas sendirian ke Kota Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, tetapi setelah japri sama Kahar yang kebagian jadi anggota panitia seksi perlengkapan, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat bersama. Terpaksa meninggalkan rombongan pertama lainnya yang masih siap-siap. Tancap gas tanpa jeda sedikit pun terbayarkan ketika mulut sibuk mengunyah butir jagung pulut rebus di Aigela, sebagai check point tiga kabupaten: Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Nagekeo. Dari Aigela, perjalanan dilanjutkan ke Kota Mbay. Tiba Kamis sore menjelang maghrib, saya dan Kahar langsung menikmati mi ayam yang rasanya aduhai dan saya lupa nama warung kecil itu. Hehe. Lantas kami menuju rumah Novi Azizah di daerah Alorongga (masih daerah kota), alih-alih menginap di rumah keponakan saya di Towak.

Di Aigela.

Melepas lelah, ngopi, mengobrol, haha hihi, bersama Kahar dan Novi, rasanya sangat menyenangkan. Dari situ saya mendengar banyak cerita masa kecil mereka yang bahagia, karena Kahar juga pernah bersekolah (SD) di Kabupaten Nagekeo. Salah satunya: sarapan nasi disiram kopi-panas. Wow! Bagian ini bakal saya ceritakan di pos tersendiri. Haha. Bagi mereka kisah ini semacam aib, tapi bagi saya kisah ini merupakan sesuatu yang harus diceritakan karena unik.

Karena satu dan lain hal, beberapa teman panitia yang tiba Kamis malam, menginap pula di rumah Novi. Terima kasih yang luar biasa untuk Mama dan Novi yang sudah menerima kami semua. Hehe. Terkhusus empat teman lainnya itu: Om Evan, Sotter, Willy, Marten. Kalau Kahar sih menginap di rumah kakaknya yang memang berdomisili di Kota Mbay. Sedangkan saya sendiri memang sering menginap di rumah Novi atau di rumah keponakan. Meskipun baru keluar dari rumah sakit, tapi Mama begitu tulus menerima kedatangan teman-teman lain di rumah itu. Ah, serasa home sweet home.

Akhirnya saya punya banyak cerita dari perjalanan ini selain kegiatan Uniflor Road Show 2020!

Yuk mari kita cari tahu apa saja cerita menarik dari Kabupaten Nagekeo tercinta ini *kedip-kedip*.

Kebun Sayur


Jum'at, 10 Januari 2020, merupakan hari terbaik sekaligus tersibuk khusus untuk saya dan Novi. Hari itu saya dan Novi sudah punya rencana jalan-jalan. Jalan-jalan yang cukup panjang dan lama. Tapi, mengingat ada empat teman lain yang menginap di rumah Novi, kami kemudian memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke pasar dan memasak makan siang karena Mama belum kami ijinkan masuk dapur. Di pasar, kami hanya membeli ikan, tahu-tempe, dan bumbu, sedangkan sayurnya dibeli langsung di kebun sayur! Menurut Novi, lebih baik membeli sayur langsung di kebun karena bakal dapat banyak. Lha, saya pikir kebunnya itu jauuuuh banget. Karena kan judulnya 'kebun' begitu. Ternyata lokasi kebun sayur ini tidak sampai 500 meter dari rumah Novi. Uh lala. Manapula sepeda motor bisa langsung diparkir di depan rumah pemiliknya.


Namanya juga kebun sayur, areanya luas (sekitar satu hektar), dipergunakan oleh pemiliknya untuk menanam bermacam jenis sayuran seperti kangkung, sawi, terung, pucuk labu, bayam (juga bayam merah) dan lain sebagainya. Begitu tiba di depan rumah pemiliknya yang sepetak dua petak itu, Novi langsung bilang, "Beli sayur kangkung lima ribu, sayur sawi lima ribu, terung lima ribu." Saya pikir, dapatnya paling segitu-segitu juga, tidak super wow seperti yang dibilang Novi sebelumnya. Lantas mata saya mengekori si Mama yang mengambil parang dan pergi ke kebun. Seperti terhipnotis, saya menyusulinya. Ya ampun, cara si Mama menebas sayuran begitu semangat padahal kan kami hanya membeli 15K kalau ditotal!


Bagi saya pribadi yang tinggal di Kota Ende, melihat sayur seharga 15K dengan jumlah segitu banyaknya, sungguh di luar ekspetasi. Istilah orang pasar: kami membeli langsung dari tangan pertama. Ceritanya bakal beda kalau membelinya dari tangan kedua apalagi tangan ketiga. Noted.


Karena banyaknya sayuran itu, semua diletakkan di bagian depan motor matic saya. Dalam perjalanan pulang ke rumah saya merasa seperti pedagang sayur sungguhan ha ha ha. Tinggal teriak, "Sayur! Sayur!" Tiba di rumah, saya dan Novi langsung mengeksekusi segala bahan bekal makan siang: ikan, tempe-tahu, sayuran. Kami harus bergegas karena waktu semakin mepet. Jalan-jalan harus terlaksana! Saat sedang memasak, Oston dari kepanitiaan mengirim pesan WA pada saya, bersedia untuk bertemu band lokal yang bakal tampil sebagai band pembuka kegiatan Uniflor Road Show 2020. Nama band-nya Alf The Bond Band. Dan karena Novi yang merekomendasikan mereka, maka Novi pun meninggalkan saya untuk menemani anak-anak band bertemu Oston.


Begitu si Novi pulang kembali ke rumah, gantian saya yang ijin pergi bertemu para bedebah. Iya, saya menerima pesan WA dari Ruztam Effendi, sahabat masa SMA yang punya Nirvana Bungalow di Riung. Ajakan makan siang! Saya pamit pergi bertemu Ruztam di Rumah Makan Mini Indah. Masaknya gantian begitu ... ceritanya.

Bedebah Bertemu Para Bedebah


Adalah hal yang lumrah apabila saya sering memanggil teman-teman masa SMA dengan istilah bedebah. Hehe. Rasanya ada yang kurang apabila kata itu tidak terlontar. Dari rumahnya Novi menuju Rumah Makan Mini Indah, a la prasmanan, hanya memakan waktu sekitar lima menit. Ndilalah di sana sudah ada Ruztam, dan Bruno! Dua sahabat masa SMA yang masih ramai di WAG alumni ini sudah menanti dengan wajah sumringah. Ya Tuhan, saya kangen banget sama mereka. Terlebih Ruztam. Kalau Bruno kan pernah ketemu di akhir 2019, ditraktir sama dia di El Cafe - Mbay.


Makan siang kami diwarnai saling ngecap, saling mengumpat, saling menasihati (ini bagian paling sedikit), dan haha hihi gaje. Sebenarnya saya pengen mengajak mereka melanjutkan ngopi di rumah Novi (saya memang tamu kurang ajar, sudah menginap, bertingkah seakan rumah sendiri, hahaha), tetapi kedatangan Ruztam ke Kota Mbay adalah untuk berbelanja kebutuhan Nirvana Bungalow sehingga dia tidak bisa terlalu lama bersantai. Baiklah. Siang itu kami berpisah di depan Rumah Makan Mini Indah dengan janji bakal ketemu malam minggu di Lapangan Berdikari untuk menyaksikan Uniflor Road Show 2020, tetapi kemudian ... ya bisa kalian tebak ... kami tidak bertemu lagi karena kesibukan mereka juga berada di level galaksi.

Terima kasih, para bedebah!

Love youuuuu all!

Taman Wisata Hutan Mangrove


Balik ke rumah, Novi sudah selesai memasak dan bahkan empat teman kami sudah selesai makan siang. Beres semuanya, saya dan Novi melaksanakan rencana jalan-jalan. Sekitar pukul 14.00 Wita, kami meluncur ke Desa Marapokot yang selama ini dikenal karena adanya pelabuhan: Pelabuhan Marapokot. Waktu tempuh sekitar 15 sampai 20 menit dari pusat Kota Mbay. Tujuan kami ke Desa Marapokot tentu saja Taman Wisata Hutan Mangrove (bakau). Kalian mungkin bakal bertanya-tanya, apa sih menariknya hutan mangrove? Dan kenapa pula ada embel-embel 'taman wisata'? Makanya, baca sampai selesai. Haha. Jangan di-skip!


Adalah sekelompok anak muda di Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, yang berupaya untuk menggali dan memanfaatkan potensi hutan mangrove yang ada di wilayah mereka, yaitu wilayah pantai, menjadi destinasi wisata. Mereka kemudian membangun spot-spot instagenic antara lain jembatan dan tempat bersantai. Jembatan-jembatan dibuat bermaterial bambu dan kayu, tidak lupa hiasan lampion-lampion di atas jembatan, dan tempat bersantai/duduk bermaterial ban bekas, spot-spot instagenic dengan tulisan-tulisan menarik/kekinian. Tidak lupa cat warna-warni semakin memikat mata.


Baca Juga: Ngana Ate Sebuah Blog (Puisi) Baru Yang (Terpaksa) Dibikin


Inilah yang saya sebut dengan perpaduan antara wisata alam dan wisata buatan. Salut sama anak muda Desa Marapokot! Kalian hebat!



Puas foto-foto, saya dan Novi duduk mengaso di jembatan paling ujung yang berhadapan dengan perairan luas, dan mengobrol. Jujur, tempat ini bisa menjadi tempat 'melarikan diri' dari segala kepenatan dunia. Hehe. Nyamaaaaan banget. Jujur, saya bukan tipe orang yang suka 'melarikan diri' dari segala problematika hidup, paling parah ya menulis dan nge-game. Tapi bagi saya lokasi ini bisa jadi tempat merenung mikirin jodoh yang belum tiba juga. Andai kata ada secangkir kopi menemani, pasti lebih betah, malas pulang ke rumah!


Oh ya, biaya masuk Taman Wisata Hutan Mangrove hanya sebesar 5K. Murah sekali untuk kesenangan yang bisa didapatkan di sana. Dan saat datang ke sana pun, pengunjungnya hanya saya dan Novi. Berasa berada di hutan pribadi.


Taman Wisata Hutan Mangrove ini mengingatkan saya pada perjalanan tahun 2010 di Cilacap, Provinsi Jawa Barat, menyusuri labirin mangrove. Waktu itu kami menyewa perahu untuk menyusuri labirin mangrove tersebut.



Semoga saya masih bisa kembali ke tempat ini untuk sesi foto pre-wedding ... ngimpi boleh ya. Haha. Bagi kalian yang hendak pergi ke Kabupaten Nagekeo, khususnya Kota Mbay, jangan sampai lupa berkunjung ke Taman Wisata Hutan Mangrove.

Rumah Pohon


Dari Taman Wisata Hutan Mangrove, kami tancap gas ke Pelabuhan Marapokot yang jaraknya hanya sekitar lima menit berkendara. Tujuan kami adalah Rumah Pohon yang sejak lama sudah dipromosikan Novi tapi belum kesampaian ke sana. Rumah Pohon berlokasi di Pelabuhan Marapokot sekitar 10 meter sebelum pintu masuk pelabuhan di sisi kiri. Saya tidak tahu nama pohon yang dipakai sebagai base rumah pohon ini, tetapi sangat menarik melihat rumah pohon karena belum pernah melihat yang seperti ini.


Kata Novi, Rumah Pohon ini milik pamannya, jadi kami mah bebas jungkir balik di situ. Hanya saja saat kami datang kondisinya sedang terkunci sehingga harus naik melewati balok yang uh wow bikin gagal ginjal. Hehe. Novi saja yang bisa memanjat, saya menyerah!


Di Rumah Pohon tidak seberapa lama, kami memutuskan untuk pulang kembali ke Kota Mbay. Mendadak mengantuk euy.

Oh ya, yang juga harus kalian tahu bahwa malam harinya kami semua diundang makan bebek panggang dan ikan panggang di Towak, di rumah keponakan saya Iwan dan Reni. Aduhai! Meskipun sempat tunggu-menunggu, gara-gara Kahar ini mah, akhirnya tiba juga di rumah dinas Pustu Towak tersebut.


Dari penampakannya saja menggoda iman. Bagaimana dengan rasanya? Ya jelas bikin iman runtuh. Hehe. Selain bebek panggang, ikan panggang, ada pula ikan goreng, sayur merungge, dan sambal jeruk. Sudah ya, jangan diteruskan, nanti kalian ngiler. Hehe. Yang jelas menu ini selalu disiapkan oleh keponakan saya kalau berkunjung. Berasa jadi ratu. Jangan lupa, saya kan Presiden Negara Kuning.

Uniflor Road Show 2020


Ini kegiatan utama pada Sabtu, 11 Januari 2020. Sebelumnya, pagi hari, saya dan Tim Promosi Uniflor pergi ke SMA-SMA di Kota Mbay dan sekitarnya, termasuk ke Desa Marapokot dan daerah Aeramo! Sedangkan malamnya, saya wajib meliput kegiatan Uniflor Road Show 2020 tersebut, yang juga dihadiri oleh Bupati Nagekeo yaitu Bapak Don. Untuk kegiatan tersebut, kalian bisa membaca berita yang sudah saya unggah ke media sosial. Berikut, salah satu tautannya:



Silahkan dibaca. Inilah salah satu wujud dari pekerjaan saya selama ini. In case kalau ada yang kepo kok sepertinya saya jalan-jalan terus. Hehe.


Saya yakin masih banyak cerita menarik lainnya dari Kabupaten Nagekeo yang bisa ditulis di blog, tapi tentu saya harus mengeksplornya terlebih dahulu. Kalian sabar menanti kan? Sama, saya juga sabar menanti, menanti saatnya jalan-jalan lagi. Hehe.

Baca Juga: Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share

Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada Mama, Mamanya Novi, yang meskipun dalam kondisi sakit, masih begitu perhatian dan peduli pada saya dan teman-teman lain yang menginap di rumah. Mama sudah kami anggap seperti Mama sendiri. May Allah SWT bless you always, Ma. Mama adalah yang terbaik bagi kami. Terima kasih juga untuk Novi, pada akhirnya niat jalan-jalan ke Taman Wisata Hutan Mangrove dan Rumah Pohon terlaksana juga minggu kemarin. Sungguh masih banyak hutang kita (saya) karena kita belum pergi ke Pulau Ri'i Taa dan pabrik garam itu ya, Nov. Insha Allah next time. Terima kasih, Nov. Terima kasih. Pun, terima kasih untuk keponakan saya: Iwan dan Reni, juga dua cucu saya: Andika dan Rayhan, atas segala pengertian kenapa saya belum bisa menginap di rumah kalian beberapa kali ke Kota Mbay. Nanti ya, Insha Allah.

Semoga saya masih bisa kembali ke Kabupaten Nagekeo untuk mengeksplor lebih banyak tempat wisatanya. Doakan! Kalian juga doooonk, main-mainlah ke Kabupaten Nagekeo, siapa tahu kita ketemu di jalan. Hehe.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog


Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog. Bulan lalu saya bertemu dengan Pak Stephen, dosen Prodi Pendidikan Ekonomi (PDU) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Uniflor). Pak Stephen bertanya apakah saya bisa memberikan pelatihan blog kepada mahasiswa/i PDU. Tentu! Kenapa tidak? Terakhir saya mengajarkan tentang blog pada mahasiswa/i Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pada pertemuan berikutnya, Pak Stephen menjelaskan bahwa mahasiswa/i PDU rata-rata sudah mempunyai blog tetapi belum pada tahap mengelola dengan baik. Selain itu, Pak Stephen juga meminta agar mereka bisa diajarkan membikin vlog. Setidaknya dasar-dasarnya. Saya menyetujuinya.

Baca Juga: Ini Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional

Maka kemudian saya membikin materi baru berjudul How to Manage Blog and Make Vlog. Masih mengambil beberapa poin dari materi lama berjudul Blogging is Fun and Easy. Materi baru tersebut memang cukup panjang karena memuat dua hal yaitu blog dan vlog, tetapi alhamdulillah tepat waktu sebelum hari H. Pada Pak Stephen juga saya meminta agar semua peserta sudah memasang aplikasi Filmorago di smartphone masing-masing. Oh ya, untuk keperluan kegiatan ini, PDU sendiri mempunyai jaringan wifi yang bisa diakses oleh para peserta baik menggunakan laptop maupun smartphone.

Peserta Yang Antusias


Mahasiswa/i PDU sejumlah tujuh puluhan dan dibagi dalam dua kelas. Kelas pertama mengikuti kegiatan pada Senin 18 November 2019 sedangkan kelas kedua pada Selasa 19 November 2019. Kelas pertama tentu harus mengikuti seremoni pembukaan terlebih dahulu dihadiri pula oleh Kaprodi PDU yaitu Pak Saiful, selain Pak Stephen. Usai seremoni pembukaan, kegiatan langsung dimulai dengan: bagaimana mengelola blog atau how to manage blog.


Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa rata-rata peserta sudah mempunyai blog dan blog tersebut didaftarkan pada platform Blogger dengan keluaran induk-semang Blogspot. Jadi, saya langsung pada flashback singkat tentang apa itu blog, kenapa orang nge-blog, apa keuntungan nge-blog, kenapa pakai Blogger alih-alih Wordpress, dan contoh blogger seperti Raditya Dika yang kini lebih dikenal sebagai sekorang Komika. Sayangnya saya lupa mencontohkan Mark Manson, seorang blogger yang menulis buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Setelah itu barulah dimulai dengan cara mengelola blog: mengenal panel-panel pada dashboard sebagai inti blog. Panel-panel itu antara lain postingan, statistik, tema, halaman, hingga pengaturan.


Dan mereka sangat antusias untuk tahu lebih detail, tahu lebih banyak, tentang dashboard. Sesuatu di balik tampilan blog yang ciamik. Meskipun yang membawa laptop hanya segelintir peserta, tetapi yang menggunakan smartphone ini juga super antusias! Kalian, para blogger, tentu tahu bahwa nge-blog menggunakan laptop itu memang jauh lebih mudah dari menggunakan smartphone, setidaknya saya mengalami itu. Tetapi, pada kesempatan itu saya melihat peserta yang menggunakan smartphone ini matanya berbinar-binar, jemari lincah di atas layar smartphone, bahkan bertanya apabila ada yang tidak mereka pahami.

Sebagai pemateri, ada perasaan bangga melihatnya. Puas juga. Untuk dua kelas pada dua hari yang berbeda itu.

Melihat betapa antusiasnya peserta, saya menyarankan pada mereka, apabila ada pertanyaan yang ingin ditanyakan di luar waktu kegiatan, silahkan mengirimkan pesan WA. Karena Insha Allah saya selalu online dan pasti dibalas. Saya juga katakan pada mereka bahwa pernah membuka kelas-kelas blogging melalui WAG, serta mengajarkan blog secara personal pada beberapa orang melalui WA. Dan, apabila mereka kesulitan akses internet, mereka boleh datang ke rumah saya untuk menggunakan wifi gratis. Mereka tertawa, saya juga tertawa. Tapi itu serius. Seserius kami kemudian membikin grup/WAG bernama Kelas Blogging PDU.

Usai memperkenalkan cara mengelola blog melalui panel-panel yang ada di dashboard, saya melanjutkan materi selanjutnya yaitu membikin vlog. Di sinilah saya melihat antusiasme yang lebih lagi dan lagi dan lagi dari para peserta. Sebelumnya, semua smartphone peserta sudah saya minta untuk dipasangkan aplikasi Filmorago. Ini bukannya tanpa alasan. Saya jelaskan pada mereka, bahwa dari semua aplikasi sunting video di smartphone yang sudah pernah saya coba, Filmorago lebih friendly baik interface-nya maupun penggunaannya. Sore itu peserta langsung praktek menyiapkan vlog mentah. Ramailah ruang kelas itu! Haha. Masing-masing bergaya a la vlogger.


Video mentah itu kemudian disunting menggunakan Filmorago. Satu per satu langkah menggunakan Filmorago tampil di layar, mereka memerhatikan layar, lantas memerhatikan dan mengutak-atik smartphone. Kenalanlah mereka dengan Filmorago dan fitur-fiturnya seperti fitur tema, transisi, musik, audio tambahan, memotong durasi, memotong gambar, mengisi judul, dan lain sebagainya. Kemudian, tentu keluaran Filmorago seperti langsung mempublis di berbagai media sosial dan aplikasi mengobrol, hingga menyimpannya saja dulu di smartphone. Dan ketika selesai, tidak mereka sangka bahwa membikin vlog semudah itu! Hehe.

Content is King


Content is King, Konten Adalah Raja. Itu yang saya jelaskan pada mereka. Blog dan vlog sama-sama membutuhkan konten (raja). Hal ini yang harus mereka pahami. Sehingga dalam kegiatan itu saya menampilkan slide dengan tiga hal utama: Konten, Konsistensi, dan Promosi.


Apa yang diinginkan netizen ketika berkunjung ke blog atau melihat video kita di Youtube, misalnya? Tentu kontennya. Konten yang terus diperbarui akan menarik rasa penasaran mereka, apa yang ditampilkan kali ini? Konten yang terus diperbarui akan memuaskan rasa ingintahu mereka dan membuktikan bahwa kegiatan mereka mengunjungi blog dan vlog di channel Youtube kita tidak sia-sia. Mereka memperoleh informasi baru, hal baru, cerita baru. Konten ini berkaitan dengan konsistensi serta trafik pengunjung.

Mengapa konsistensi menampilkan konten dan trafik itu penting?

Iseng saya bilang pada mereka: kalau kalian ingin memperoleh uang dari blog dan vlog, perkuat kontennya dan tingkatkan trafiknya. Pengunjung akan berhenti mengunjungi blog dan channel vlog di Youtube apabila setiap kali berkunjung mereka hanya bertemu konten lama, konten yang itu-itu saja.

Para peserta mengangguk paham. Setidaknya mereka tahu bahwa untuk memperoleh penghasilan dari internet, melalui blog dan vlog, tidak dilakukan dengan sekejap atau sekedip mata. Ada perjuangan yang juga cukup berat yang harus dilakukan oleh mereka. Bukannya sombong, saya mencontohkan diri sendiri yang nge-blog sejak tahun 2002, mengalami begitu banyak perubahan dalam hal menulis atau konten blog. Dari yang alay bikin malu diri sendiri sampai yang menurut saya cukup baik dan mudah dipahami oleh banyak orang. Jadi jelas, waktu dan latihan merupakan proses yang tidak dapat diabaikan untuk blog, demikian pula vlog.


Tidak ada yang instan di dunia ini. Bahkan untuk membikin mi instan saja kita membutuhkan proses seduhan pada air panas.

⇜⇝

Apresiasi tertinggi setiap kali saya menyampaikan materi blog atau mengajar blog adalah bagaimana tanggapan mereka terhadap proses belajar itu sendiri.

Baca Juga: Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone

Ketika mereka bertanya tentang proses kegiatan itu pada peserta, mereka menjawab: sangat menyenangkan dan mereka paham. Itu apresiasi tertinggi. Menurut saya pribadi. Karena, apalah artinya bicara berjam-jam di depan peserta, mulut berbusa, kadang muncrat, tapi peserta sendiri tidak paham dengan apa yang saya sampaikan?

Pada kegiatan bersama PDU ini saya juga katakan bahwa dalam rangka Panca Windu Uniflor nanti di tahun 2020 bakal ada Lomba Blog, Lomba Vlog, dan Lomba Foto. Saya berharap para peserta mampu mengelola blog mereka, setidaknya, dan mengikuti lomba dimaksud. Mereka mengangguk (setuju kan hahaha) dan saya melihat wajah-wajah penuh harapan di sana. Tidak perlu memusingkan menang atau kalah, yang penting adalah partisipasi dan pengalaman yang diperoleh. Itu jauh lebih berharga!


Dari kegiatan bersama PDU itu pula, insha Allah akan ada kegiatan-kegiatan serupa lainnya, karena lomba-lomba dalam rangka Panca Windu Uniflor itu pesertanya adalah mahasiswa/i Uniflor. Mantap jaya. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Kegiatan Keren Uniflor Go Clean Let’s Reduce Reuse Recycle


Kegiatan Keren Uniflor Go Clean Let's Reduce Reuse Recycle. Panitia Panca Windu Uniflor 2020 sudah di-launching. Kemeriahannya bisa kalian baca pada pos berjudul Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya. Rangkaian kegiatan Panca Windu Uniflor pun sudah terlaksana mulai dari sebelum panitia di-launching. Telah terlaksana beberapa kegiatan pre-event yaitu (1) Kuliah Umum bersama Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, S.H., M.H., LLM. dengan moderator Agus Adi Tetiro dengan tema Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya Mengawal Ideologi Melawan Radikalisme, Pancasila Dari Ende Untuk Nusantara telah diselenggarakan pada Sabtu (26/10/2019) di Auditorium H. J. Gadi Djou. (2) Misa, Shalat Jum'at, dan ziarah, dalam rangka launching Panitia Panca Windu Uniflor, Parade Budaya, opening ceremony, dan kegiatan olah raga EGDMC 2019 yang diselenggarakan pada Jum'at (1/11/2019).

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Usai di-launching, kegiatan pertama yang akan dilakukan oleh panitia keren ini adalah bakti sosial. Bakti sosial dilaksanakan di Kecamatan Ende Tengah dengan empat titik/kelurahan yaitu Kelurahan Onekore, Kelurahan Paupire, Kelurahan Potulando, dan Kelurahan Kelimutu. Tema yang diusung adalah Go Clean, Let's Reduce Reuse Recycle. Saya mendengar masih ada penambahan untuk menjadi 5R: Reduce, Reuse, Recycle, Redesign, Reimage. Kegiatan tersebut bakal dilaksanakan pada Jum'at, 8 November 2019, bertepatan dengan program Pemerintah Daerah Ende yaitu Jum'at bersih.

Bakti sosial itu nanti tidak saja berwujud aksi bersih-bersih tetapi juga mengajak masyarakat untuk mengurangi, memakai ulang, dan mendaur ulang sampah terutama sampah plastik. Untuk mengurangi, panitia bekerja sama dengan Dinas Koperasi untuk memperkenalkan rembi, tas/keranjang anyaman khas Ende kepada khalayak. Rembi ini terdiri atas dua, rembi untuk belanjaan kering dan rembi untuk belanjaan basah. Rembi merupakan produk DIY yang dibikin oleh para pengrajin yang ada di Kabupaten Ende. Untuk memakai ulang, tentu barang plastik seperti tas plastik dapat dipakai ulang, terutama tas plastik yang disediakan oleh supermarket. Kita bisa membawa tas plastik sendiri apabila pergi ke supermarket untuk berbelanja. Untuk daur ulang, itu yang akan menjadi bagian saya kelak, sedang menyusun draf-nya, dalam seminar dan workshop.

Pertanyaannya sekarang, apa hubungan antara kegiatan pada Jum'at lusa dengan tema blog hari ini yaitu #RabuDIY?

Marilah saya jelaskan.

Dalam perkara 3R kita tahu satu kata yang jelas merujuk pada konsep DIY yaitu recycle. Recycle atau mendaur ulang artinya kita mengolah sampah menjadi suatu barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Misalnya mendaur ulang koran menjadi keranjang seperti yang sudah sering saya lakukan. Kebetulan dalam kepanitiaan saya diberikan kepercayaan untuk beberapa tugas dan salah satunya adalah edukasi sampah. Sudah saya konsepkan tentang edukasi sampah ini. Tidak hanya seminar tentang sampah tetapi juga workshop. Rencana saya, setiap peserta nanti wajib membawa sampah plastik yang nantik bakal langsung dipraktekkan untuk membikin barang daur ulang saat workshop

Saya pikir penjelasan di atas sudah cukup jelas, hahaha.

Yang pasti, untuk edukasi sampah ini nanti saya bakal menggandeng Komunitas ACIL yang sudah terbukti telah mengedukasi masyarakat tentang sampah serta pengelolaannya.

Bagaimana menurut kalian, kawan?

#RabuDIY



Cheers.

Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya


Parade Akbar Ini Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya. Jum'at, mengawali Bulan November 2019, Universitas Flores (Uniflor) menggelar kegiatan launching Panitia Panca Windu Uniflor 2020 yang bertepatan dengan pembukaan turnamen sepak bola Ema Gadi Djou Memorial CUP (EGDMC) 2019. Rangkaian kegiatan Panca Windu Uniflor dibuka dengan Parade Budaya yang diselenggarakan besar-besaran dengan rute dimulai dari Kilometer 0 di Jalan Soekarno dan berakhir di Stadion Marilonga lokasi opening ceremony dan laga EGDMC dilaksanakan. Parade Budaya tersebut merupakan salah satu bukti dari visi dan/atau Uniflor menunjukkan dirinya sebagai mediator budaya. 

Baca Juga: Dari Kuliah Umum Sampai My Best Friend's Wedding

Seperti apa kemeriahannya? Cekidot!

16 Program Studi Menampilkan Yang Terbaik


Sesuai dengan namanya, Parade Budaya, maka enam belas program studi (prodi) yang ada di Uniflor telah berupaya menampilkan yang terbaik. Oleh panitia, setiap prodi diatur/dibagi berdasarkan etnis dan/atau kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pembagian ini tidak main-main, setiap prodi wajib menghiasi kendaraan yang rata-rata adalah pick up dengan ikon dari etnis yang sudah dibagi tersebut. Ada prodi yang mendapat jatah miniatur Gedung Rektorat Uniflor, ada pula yang mendapat jatah etnis dari seluruh Nusantara alias bukan dari etnis tertentu di Provinsi NTT. Selain pembagian jatah etnis, setiap prodi juga wajib mengikutsertakan mahasiswa/i sejumlah tujuh puluh lima, dosen, dan pegawai. Sebagian peserta mengenakan pakaian daerah dari etnis yang telah dijatahkan tersebut, sebagian lagi mengenakan kaos berwarna kuning.


Yaaaa sebagai Presiden Negara Kuning, saya akui bahwa tanggal 1 November 2019 menjadi moment pertama Hari Raya Kuningers. Hari Kemerdekaannya jatuh pada tanggal 12 Oktober. Haha.


Sungguh meriah Parade Budaya itu. Lihat saja, Prodi Ilmu Hukum dari Fakultas Hukum menampilkan ikon Kabupaten Manggarai Barat yaitu hewan komodo:

Komodonya yang di atas pick up, ya. Jangan salah fokus. Hahaha.

Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menampilkan ikon ikan paus dari Kabupaten Pulau Lembata:


Prodi Sastra Inggris dari Fakultas Bahasa dan Sastra menampilkan kuda dari Pulau Sumba:


Prodi Pendidikan Biologi dari FKIP menampilkan gading yang merupakan ikon dari Kabupaten Flores Timur dan tentu saja ada jagung titi yang saya embat juga:


Prodi lainnya seperti Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menampilkan Tarian Caci dari Kabupaten Manggarai, Prodi Agroteknologi selain menghias kendaraannya dengan berbagai hasil bumi pun menampilkan tarian modifikasi proses tanam pagi hingga panen, Prodi Teknik Arsitektur menampilkan miniatur Gedung Rektorat Uniflor, Prodi Teknik Sipil menampilkan topi Ti'i Langga khas dari Pulau Rote, dan lain sebagainya.


Pada beberapa titik penilaian yel-yel, yang dilombakan, beberapa prodi menampilkan atraksi tarian. Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menampilkan Tarian Caci di titik penilaian puncak Jalan Sudirman:


Prodi Agroteknologi, seperti yang sudah saya tulis di atas menampilkan tarian modifikasi:


Dan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan tarian berburu paus. Khusus tarian berburu paus ini, juga dijelaskan dengan bahasa adat dan bahasa Indonesia bahwa paus yang diburu itu ada klasifikasinya. Paus yang tidak boleh diburu antara lain paus biru dan paus yang sedang mengandung.

Saya lihat, apa yang sudah dilakukan oleh setiap prodi ini memang sungguh luar biasa. Bagi saya pribadi. Artinya, tidak ada yang main-main atau tidak ada yang ala kadarnya di Uniflor. Semua bertanggungjawab untuk bisa memberikan terbaik dan maksimal.


Belajar dari itu.

Percayalah, seperti nasihat Bapa Asmady: segala sesuatu yang setengah-setengah tidak akan membawa hasil kecuali karena keajaiban saja. Segala sesuatu yang dilakoni sungguh, membawa hasil yang supa amazing. Seperti kegiatan kemarin. Supa amazing.

Opening Ceremony Dengan 1.750 Penari


Pukul 18.30 Wita, kegiatan opening ceremony dimulai di Stadion Marilonga. Stadion kebanggaan kami Orang Ende. Berawal dari parade enam belas prodi beserta tim/klub yang ikut berlaga di turnamen EGDMC 2019 dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang bendera-bendera dijaga oleh Resimen Mahasiswa (Menwa) Uniflor. Dilanjutkan dengan masuknya empa kain raksasa sebagai simbol empat penujur mata angin dan Tarian Caci. Usai Tarian Caci, dilanjutkan dengan tarian oleh 1.750 penari yang adalah mahasiswa/i Uniflor.

Credits: Youtube Komik Ende.

Credits: Youtube Komik Ende.

Para penari ini sungguh luar biasa. Mereka memakai pakaian daerah dan selendang/sarung tenun ikat diaplikasikan untuk ragam. Mereka dipimpin langsung oleh koreografer kondang Kabupaten Ende, yang telah berkiprah sampai tingkat internasional Rikyn Radja. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia Panca Windu Uniflor 2020 dan penekanan bel oleh Bupati Ende Bapak Djafar Ahmad.

Saya sangat menyukai laporan panitia oleh Mama Emi Gadi Djou tersebut. Cekidot!

Latar belakang kegiatan ini adalah Pancasila yang perlu dipahami sebagai kesadaran kolektif bangsa dan ungkapan tentang nasionalisme. Untuk itu diperlukan perubahan mindset serta moral bangsa dalam memahami nilai-nilai budaya yang gayut dengan perkembangan. Hal ini selayaknya dapat dipahami sebagai jati diri bangsa untuk mengisi rumah kita di dalam kerangka Negara Kesatuan yang berdaulat, sejahtera, dan berkeadilan sosial. 

Dalam kaitan tersebut, kiranya perlu dilakukan kajian dari beberapa poin yaitu (1) Beragam budaya bangsa Indonesia harus dikenalkan kembali sebagai jati diri bangsa. (2) Pendidikan bangsa perlu diingatkan sebagai hakekat tujuan dari semangat Pancasila yakni mencerdaskan kehidupan bangsa untuk meningkatkan daya saing bangsa dan terwujudnya kesejahteraan bangsa tanpa melupakan kebudayaan yang dimiliki. (3) Peran serta Universitas Flores, masyarakat Kabupaten Ende, dan masyarakat pada umumnya serta para alumni sebagai kaum intelektual di dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan melestarikan budaya.

Untuk itulah dalam perayaan menyambut Panca Windu Uniflor diusung tema Rumah Kita Universitas Flores Membangun Kaum Intelektual Dalam Semangat Pancasila Merajut Persaudaraan Sebagai Mediator Budaya. 

Tujuan kegiatan ini antara lain (1) Mendapatkan berbagai konsep strategis yang berkaitan dengan pemaknaan kembali semangat Pancasila dan budaya dalam menjawab tantangan globalisasi para kaum intelektual. (2) Mempromosikan Uniflor. (3) Memupuk semangat kebersamaan di kalangan civitas akademika, alumni, masyarakat luas, dalam mempertahankan dan meningkatkan peran Uniflor sebagai mediator budaya. (4) Mendukung dan mengembangkan bakat dan kreativitas para kaum intelektual di wilayah Nusa Tenggara Timur.

*tepuk tangan paling meriah*

⇜⇝

Panitia Panca Windu Uniflor 2020 sudah di-launching. Selanjutnya, tugas berat menanti. Panca windu memang terjadi 19 Juli 2020 tetapi rangkaian kegiatannya sudah dimulai dari sekarang. Bahkan pre-event sebelum launching panitia tersebut.

Dalam menyambut Panca Windu Uniflor pada tanggal 19 Juli 2020 nanti telah terlaksana beberapa kegiatan serta agenda kegiatan antara lain (1) Kuliah Umum bersama Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, S.H., M.H., LLM. dengan moderator Agus Adi Tetiro dengan tema Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya Mengawal Ideologi Melawan Radikalisme, Pancasila Dari Ende Untuk Nusantara telah diselenggarakan pada Sabtu (26/10/2019) di Auditorium H. J. Gadi Djou. (2) Misa, Shalat Jum'at, dan ziarah, dalam rangka launching Panca Windu Uniflor, Parade Budaya, opening ceremony, dan kegiatan olah raga EGDMC 2019 yang diselenggarakan pada Jum'at (1/11/2019).

Baca Juga: Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp

Kerangka besar kegiatan menyambut Panca Windu Uniflor dibagi dalam empat pilar kegiatan yaitu Kerohanian, Pelanaran ilmiah, Olahraga dan Seni, dan Sosial Kemasyarakatan. Empat pilar kegiatan dengan sub-sub kegiatan tersebut telah dimulai sejak Oktober 2019 dan akan berakhir dengan Misa pada tanggal 19 Juli 2020.

Uh wow sekali kan?

Doakan semua rangkaian kegiatan kami sejak 2019 hingga 2020 dapat terlaksana dengan baik ya, kawan!

Satukan langkah, bulatkan tekad, menuju Uniflor bermutu.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende


Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende. Senin kemarin, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91, saya berkesempatan meliput kegiatan keren yang diselenggarakan atas kerjasama Pemerintah Daerah Ende, E.thical, Rikolto, Universitas Flores (Uniflor), dan RRI Ende. Kegiatan dengan spirit Hari Sumpah Pemuda ini mengusung tema Dengan Semangat Sumpah Pemuda Kita Dorong Peran Orang Muda dalam Ekonomi Berkelanjutan dari Desa untuk Ende. Berlangsung di dua lokasi: Aula Lantai II Kantor Bupati Ende dan di halaman samping Kantor Bupati Ende, kegiatan ini menjadi momen memperkenalkan wirausahawan/i muda Ende dalam berinovasi: memikirkan tema, membangun brand, membikin prototype, hingga memamerkan dan memasarkan.

Baca Juga: Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel

Sebelumnya, sekitar satu bulan, telah diselenggarakan kegiatan Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan kerja sama E.thical, Ricolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pesertanya berjumlah (24) dua puluh empat orang. 8 (delapan) peserta berasal dari Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor), 5 (lima) peserta berasal dari Fakultas Pertanian Uniflor, sedangkan 11 (sebelas) peserta lainnya merupakan anak muda kreatif dan berdaya juang tinggi yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ende. Satu bulan kegiatan dengan berbagai bekal ilmu tersebut telah membentuk karakter wirausaha di dalam diri mereka. Sesuatu yang menurut saya supa amazing, apabila melihat output-nya.

Pasar E.thical


Hasil penggemblengan dua puluh empat peserta tersebut kemudian digelar pada Hari Sumpah Pemuda dengan tiga mata acara yaitu Presentasi Proposal, Pasar E.thical, dan Talkshow. Presentasi Proposal dilaksanakan di Aula Lantai II Kantor Bupati Ende, dimulai pukul 13.00 Wita, dimana masing-masing peserta diberi waktu sekitar tiga hingga lima menit untuk memperkenalkan brand dan produk mereka. Pukul 16.00 Wita, kegiatan dilanjutkan dengan Pasar E.thical dan Talkshow yang disiarkan secara langsung oleh RRI Ende.


Ethical Market Day atau Pasar Ethical merupakan pasar yang memamerkan hasil karya dua puluh empat peserta Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan dalam sembilan belas brand, yang sebelumnya telah memperoleh ilmu dan bekal untuk berwirausaha oleh tim dari Ethical yang bekerjasama dengan Rikolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pada pasar itu berdiri stan-stan tempat peserta memperkenalkan usaha dan/atau brand, memamerkan produk, serta menjual produk mereka. Setiap stan dilengkapi dengan profil singkat wirausahawan/i muda tersebut serta nama serta penjelasan produk yang diproduksi. Selain itu juga hadir stan dari Lepa Lio Cafe asal Remaja Mandiri Community Detusoko.



Natalia Mudamakin, salah seorang mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi, merupakan wirausahawati muda yang mendirikan brand Palapa Rasa dengan motivasi kuat untuk menyediakan tempat bagi anak muda Ende untuk bekerja dan berdaya. Palapa Rasa merupakan brand snack buah organik khas pertama di Kabupaten Ende yang mengangkat cita rasa kuliner khas Flores. Natalia Mudamakin dengan brand Palapa Rasa meraih Juara 3 Ethical Entrepreneur Ende.


Credits: David Mossar. 

Elok merupakan brand yang dibikin oleh alumni Uniflor dari Fakultas Bahasa dan Sastra yaitu Cahyadi, yang melihat potensi dari lahan tidur terlantar di pekarangan rumah tangga-rumah tangga di Kota Ende. Melalui Elok, Cahyadi berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat lokal dan lahan tidur secara optimal demi terciptanya kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan. Sebagai bahan makanan alternatif rendah gula, Elok yang berbahan sorgum merupakan pilihan alternatif yang terjangkau, dan merupakan pilihan tepat penderita diabetes dan bagi siapa saja yang mencari alternatif karbohidrat sehat. Cahyadi dengan brand Elok meraih Juara 2 Ethical Entrepreneur Ende.



Ine Lawo merupakan brand usaha yang dibentuk oleh Karolina Dua Oga dan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Maria Yasinta Mau Rema dengan motivasi untuk mencegah punahnya keterampilan menenun. Visi Ine Lawo adalah melihat regenerasi pengrajin tenun muda di Kabupaten Ende. Fashion tenun moderen yang membangkitkan kecintaan pada budaya Ende, Ine Lawo memanfaatkan kain sisa tenun menjadi busana moderen untuk membangkitkan kembali kecintaan pada tradisi dan budaya menenun. Karolina Dua Oga dan Maria Yasinta Mau Rema dengan brand Ine Lawo meraih Juara 1 Ethical Entrepreneur Ende.

Pasar Ethical dikunjungi oleh masyarakat umum Kabupaten Ende yang tertarik dengan inovasi yang dilakukan oleh para wirausahawan/i muda Ende tersebut, salah satunya yang baru saja membuka usaha kafe Sahabat Kopi. Selain Elok, Ine Lawo, dan Palapa Rasa, brand lainnya antara lain Tamiimah, FloCo., Frame Culture, Famous De Flores, Poly Deli, Pemuda Berdikari, Teka Uta, Oster, Plastic Reduce Initiative, Daur Ulang Kreatif, Rae Chili Flores, Ende Creative Millenials, Able, Ecodes, Ecocamp, dan Briona Flower.


Pada acara Talkshow yang dimoderatori oleh Kakak Rossa Domingga dengan narasumber dua diantaranya Nando Watu dan Karolus Naga, saya mendengar kalimat inspirasi yaitu 3C: Content, Colaborate, Community. Artinya seorang wirausahawan/i harus mampu menyiapkan kontennya sendiri, tapi harus mampu pula berkolaborasi dan berkomunitas. Kolaborasi sebagai daya dongkrak brand, komunitas agar brand lebih banyak dikenal (seperti efek domino). Bahkan diberikan pula contoh dari ranah Youtube oleh para Youtuber.


Sebelum Talkshow pun saya sudah paham betul bahwa berbisnis butuh 3C itu. Dan perkara 3C saya temukan pada salah satu brand baru yaitu FloCo. Dua anak muda ini yaitu Petronela Ina dan Diana Segu memilih brand bernama FloCo. sebagai brand cokelat batang organik pertama di Ende yang menggunakan 100% bahan alami. Diolah dari biji cokelat pilihan, FloCo. adalah pilihan oleh-oleh yang tepat untuk para wisatawan baik domestik maupun internasional. Tujuan mereka mendirikan FloCo. adalah memutus tengkulak dengan meningkatkan kesejahteraan petani kakao.


Yang menarik dari FloCo. justru pada kemasannya yaitu sejenis wati yang cantik dengan tutupan. Kemasan ini dibikin oleh keluarga mereka. Ini salah satu contoh kolaborasi yang baik. Satu produk, tapi ada dua keuntungan yang diperoleh oleh pembeli kelak (karena yang dipamerkan kemarin masih prototype). Saya bilang pada mereka, "Cokelat itu biasa, di mana-mana ada, dan mungkin orang juga bakal memburu cokelat ini sebagai oleh-oleh. Tapi kalau melihat dari sisi oleh-olehnya, tentu kemasannya ini yang diburu." Iya, konten mereka adalah cokelat, kolaborasi mereka dengan pihak lain adalah kemasannya. Komunitas? Mereka sudah tergabung dalam komunitas wirausahawan muda tersebut, bersama 22 peserta lainnya. Supa amazing!

Konsep DIY


Ini keutamaan yang mau dibahas. Ketika tidak ada sesuatu yang memuaskan keinginan, maka harus bisa membikinnya sendiri. Pasar E.thical mengenyangkan jiwa DIY (Do It Yourself) saya. Rata-rata hampir semuanya memang berkonsep DIY.

Elok dari Cahyadi menggunakan wati serta kantong serut untuk mengisi sorgum sebagai produk andalannya. Saya sangat menyukai kantong serut yang dijahit sendiri oleh Cahyadi, atau oleh Mamanya. Terlihat unik karena tali serutnya menggunakan bahan goni. Kemudian, Cahyadi memberikan saya satu kantong serut ini:


Ine Lawo, saya setuju mereka jawara, membikin produk DIY dari kain tenun sisa. Kalau boleh saya bilang: Ine Lawo itu 100% DIY. Kain tenun sisa ini bisa diminta di penjahit. Tapi bisa juga sih meyiapkan kain tenun khusus untuk dikreasikan ini itu. Kain tenun sisa tidak saja diaplikasikan pada pakaian, seperti celana jin sobek yang ditambal tenunan atau kemeja, tapi mereka juga membikin aneka asesoris seperti bandana, anting-anting, kalung, dan lain sebagainya. Seperti foto di bawah ini, salah satu hasil DIY-nya Ine Lawo:


Dari brand Daur Ulang Kreatif (atau Plastic Reduce Initiative, saya lupa) saya menemukan tas daur ulang seperti pada foto di bawah ini:


Bagaimana tali rafia dibikin tas seperti foto di atas, itu adalah ketekunan, keuletan, dan daya kreativitas yang luar biasa!

Masih banyak barang DIY yang saya temui kemarin di Pasar E.thical. Selain wati sebagai kemasan cokelat FloCo., ada pula tas-tas kertas DIY yang ditempeli brand/logo, yang pastinya dibikin sendiri sama para wirausahawan muda Ende tersebut. Selain itu, kalau kalian melihat foto di awal pos, itu dari Frame Culture! Dia membikin frame dan aneka asesoris yang biasa dipakai orang-orang buat menghasilkan foto yang instagenic. Frame-nya jelas dibalut kain tenun ikat.

⇜⇝

Dari semua yang ditulis di atas, saya jadi ingat sama diri sendiri, yang meraup keuntungan belipat ganda hanya dengan mendaur ulang sampah. Brand saya waktu itu Rumah Kreatif Tuteh. Aneka produk sudah saya bikin, baik karena pengen bikin, maupun karena dipesan sama pelanggan *duhaaaiii, pelanggan* hehe. Tapi karena tuntutan pekerjaan lain yang membutuhkan skala prioritas, karena saya juga punya pekerjaan utama, usaha itu tidak saya teruskan. Padahal keuntungannya supa amazing. Karena kegemaran ber-DIY-ria itulah maka setiap Rabu tema pos ini adalah DIY. Hehe.


Credits: Ihsan Dato.

Bagaimana, kawan? Suka kan sama pos kali ini? Menambah informasi sekaligus cuci mata sama foto-fotonya *kedib*, karena saya sendiri juga suka sama foto-foto yang cuma dijepret menggunakan telepon genggam tersebut. Salah satu foto memang saya minta pada David Mossar, karena saya lupa memotret stan-nya Cahyadi. Dan satu foto dijepret oleh Om Ihsan Dato.

Semoga para peserta dapat melanjutkan apa yang sudah mereka rintis pada Hari Sumpah Pemuda tersebut.

Mari kita dukung!

#RabuDIY



Cheers.

5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor


5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor. Berapa tahun sudah saya menjadi bagian dari Universitas Flores (Uniflor)? Delapan tahun! Waktu yang lama untuk mencintai sampai ke sum-sum. Uhuk. Hahaha. Tahun 2020 Uniflor yang saya cintai ini akan berusia empat puluh. Panca Windu. Forty. The number that follows 39 and precedes 41. Usia yang matang, sesuai kata orang-orang, life begin at forty. Menuju empat puluh tahun usianya, Uniflor telah mulai mempersiapkan kepanitiaan dan rencana kegiatan seabrek. Uh wow sekali. Dan sebagai bagian dari kepanitiaan, saya merasa dialiri energi super sehingga akhirnya memutuskan perlu menulis ini. Meskipun, sebenarnya draf tulisan tentang dunia asmara sudah 90% rampung.

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Ada empat pilar utama dengan koordinator utama masing-masing yang ditetapkan sebagai dasar kegiatan-kegiatan menuju empat puluh tahun Uniflor. Empat pilar itu adalah Pilar A, Pilar B, Pilar C, dan Pilar D. Hahaha. Rincian nama pilar tidak dituliskan di sini. Setiap pilar punya daftar kegiatan/acara masing-masing. Misalnya Pilar A punya sepuluh kegiatan, Pilar B punya sebelas kegiatan, Pilar C punya delapan kegiatan, Pilar D punya dua kegiatan. Sementara saat ini saya cukup menulis lima kegiatan yang dirangkum dari kegiatan-kegiatan di bawah naungan empat pilar utama tersebut.

Sampai di sini kita sepemahaman kan ya.

Jadi, apa saja lima kegiatan, yang menurut saya keren, menuju empat puluh tahun Uniflor?

Cekidot!

1. Lomba Blog, Vlog, dan Foto


Ini dia kegiatan yang masuk dalam Pilar A. Kebetulan saya pula yang menjadi sub-koordinator Lomba Blog, Vlog, dan Foto. Begitu lomba-lomba ini di-mention dalam pertemuan pertama, rasanya seperti ditombak dari jarak sangat dekat. Tentu saya senang. Banget. Nge-blog sejak tahun 2002/2003, hiatus dan bangkit berkali-kali, menjadi pemateri blog bahkan hingga sekarang, membuka banyak Kelas Blogging Online bersama Om Bisot dan Kanaz, pernah membikin berbagai lomba blog waktu masih aktif di komunitas, kemudian dipercayakan mengkoordinir lomba seakbar ini ... supa amazing! Meskipun lomba-lomba ini baru akan dilaksanakan tahun depan tapi saya sudah selesai donk menyusun semua draf-nya. Saya memang gila. Kalau itu yang ingin kalian bilang. Haha. Selain lomba blog, vlog, dan foto, juga akan digelar lomba karya ilmiah dan lomba-lomba yang berhubungan dengan dunia akademik.

2. Seminar Nasional


Dunia universitas, dunia kampus, dunia akademik, harus bisa menyelenggarakan seminar baik yang tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Seminar tingkat lokal dan nasional memang sudah sering diselenggarakan di Uniflor. Saking seringnya, saya jadi punya banyak informasi baru karena harus meliput juga kan. Dan menuju empat puluh tahun Uniflor akan diselenggarakan seminar nasional, Insha Allah seminar internasional (ini masih wacana kalau internasional).

3. Edukasi Sampah dan Tentang Literasi


Dari Pilar B, ada banyak sekali kegiatan dan dua diantaranya saya gabungkan di sini yaitu edukasi sampah yang termasuk dalam baksos, serta literasi. Edukasi sampah nanti digabung dalam kegiatan bakti sosial: bersih-bersih sampah. Kenapa edukasi sampah ini penting? Karena selama ini banyak kegiatan membersihkan sampah tapi masih kurang eduksi tentang sampah: jenis sampah, pemilahan sampah, daur ulang sampah, sampah menjual barang hasil daur ulang sampah. Kalau rencana ini berjalan, saya bakal sangat happy. Sedangkan literasi itu wajib, karena mengingat mahasiswa KKN Uniflor 2019 telah membangun Rumah Baca Sao Moko Modhe di Kabupaten Nagekeo tepatnya di Desa Ngegedhawe. Artinya, literasi: pengumpulan dan penyumbangan buku untuk rumah baca, serta kegiatan pendukungnya nanti, merupakan kegiatan berkelanjutan. Kan bangga, Uniflor yang bermarkas di Kabupaten Ende membangun rumah baca di Kabupaten Nagekeo. Kan sayang, Kabupaten Ende belum melaksanakan Festival Literasi, sedangkan Kabupaten Nagekeo sudah melaksanakannya. Hiks.

4. Sunat Masal


Donor darah sudah sering dilakukan, dan memang akan dilakukan juga, tapi sunat masal? Ini yang juga supa amazing. Hehe. Waktu dicetus kegiatan kawin sunat masal saya terbengong-bengong. Hebat euy. Insha Allah kegiatan ini dapat terlaksana dan memberi berkah bagi banyak anak-anak (Muslim/Muslimah) di Kabupaten Ende. Amin.

5. Retret


Saya suka sekali ide yang satu ini. Perlu kalian ketahui, Uniflor punya kegiatan tahunan semacam Uniflor Family Day atau Tur Uniflor yang diikuti oleh dosen dan karyawan. Memang, kegiatan itu semacam kegiatan relaksasi dosen dan karyawan yang digabung pula dengan pengabdian kepada masyarakat di daerah tujuan. Biasanya bisa tiga hari kegiatan yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Tetapi kali ini diusulkan untuk dilaksanakan kegiatan retret lintas agama. Maksudnya, retret yang selama ini identik dengan Agama Katolik kemudian dibikin lebih universal, lintas agama, karena kita Indonesia! Yuhuuuuu.

⇜⇝

Lima kegiatan keren di atas memang tidak bisa mewakili semua kegiatan yang telah dirancang oleh panitia seperti kegiatan di bidang olah raga dan lain sebagainya. Yang jelas awal November 2019 bakal ada kegiatan akbar yang tujuannya me-launching dua perkara utama. Yang pertama: launching Ema Gadi Djou Memorial Cup. Yang kedua: launching Panitia 40 Tahun Uniflor. Kegiatan tersebut bakal diwujudkan dengan parade yang masif (saya melihat begitu banyak orang, termasuk mahasiswa, dilibatkan) dimana setiap program studi di Uniflor bakal tampil mewakili setiap kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ya, Uniflor memang mediator budaya!

Baca Juga: 5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat

Doakan semua kegiatan yang sudah direncanakan dapat berjalan dengan baik ya, kawan. Yang jelas awal November nanti, saat perhelatan sepak bola Ema Gadi Djou Memorial Cup digelar, akan ada bazaar di depan Stadion Marilonga. Marilah kita ramai-ramai ke sana. Nanti ... hehe.

Satukan langkah, bulatkan tekad, menuju Uniflor bermutu!

#KamisLima



Cheers.