5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor


5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor. Berapa tahun sudah saya menjadi bagian dari Universitas Flores (Uniflor)? Delapan tahun! Waktu yang lama untuk mencintai sampai ke sum-sum. Uhuk. Hahaha. Tahun 2020 Uniflor yang saya cintai ini akan berusia empat puluh. Panca Windu. Forty. The number that follows 39 and precedes 41. Usia yang matang, sesuai kata orang-orang, life begin at forty. Menuju empat puluh tahun usianya, Uniflor telah mulai mempersiapkan kepanitiaan dan rencana kegiatan seabrek. Uh wow sekali. Dan sebagai bagian dari kepanitiaan, saya merasa dialiri energi super sehingga akhirnya memutuskan perlu menulis ini. Meskipun, sebenarnya draf tulisan tentang dunia asmara sudah 90% rampung.

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Ada empat pilar utama dengan koordinator utama masing-masing yang ditetapkan sebagai dasar kegiatan-kegiatan menuju empat puluh tahun Uniflor. Empat pilar itu adalah Pilar A, Pilar B, Pilar C, dan Pilar D. Hahaha. Rincian nama pilar tidak dituliskan di sini. Setiap pilar punya daftar kegiatan/acara masing-masing. Misalnya Pilar A punya sepuluh kegiatan, Pilar B punya sebelas kegiatan, Pilar C punya delapan kegiatan, Pilar D punya dua kegiatan. Sementara saat ini saya cukup menulis lima kegiatan yang dirangkum dari kegiatan-kegiatan di bawah naungan empat pilar utama tersebut.

Sampai di sini kita sepemahaman kan ya.

Jadi, apa saja lima kegiatan, yang menurut saya keren, menuju empat puluh tahun Uniflor?

Cekidot!

1. Lomba Blog, Vlog, dan Foto


Ini dia kegiatan yang masuk dalam Pilar A. Kebetulan saya pula yang menjadi sub-koordinator Lomba Blog, Vlog, dan Foto. Begitu lomba-lomba ini di-mention dalam pertemuan pertama, rasanya seperti ditombak dari jarak sangat dekat. Tentu saya senang. Banget. Nge-blog sejak tahun 2002/2003, hiatus dan bangkit berkali-kali, menjadi pemateri blog bahkan hingga sekarang, membuka banyak Kelas Blogging Online bersama Om Bisot dan Kanaz, pernah membikin berbagai lomba blog waktu masih aktif di komunitas, kemudian dipercayakan mengkoordinir lomba seakbar ini ... supa amazing! Meskipun lomba-lomba ini baru akan dilaksanakan tahun depan tapi saya sudah selesai donk menyusun semua draf-nya. Saya memang gila. Kalau itu yang ingin kalian bilang. Haha. Selain lomba blog, vlog, dan foto, juga akan digelar lomba karya ilmiah dan lomba-lomba yang berhubungan dengan dunia akademik.

2. Seminar Nasional


Dunia universitas, dunia kampus, dunia akademik, harus bisa menyelenggarakan seminar baik yang tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Seminar tingkat lokal dan nasional memang sudah sering diselenggarakan di Uniflor. Saking seringnya, saya jadi punya banyak informasi baru karena harus meliput juga kan. Dan menuju empat puluh tahun Uniflor akan diselenggarakan seminar nasional, Insha Allah seminar internasional (ini masih wacana kalau internasional).

3. Edukasi Sampah dan Tentang Literasi


Dari Pilar B, ada banyak sekali kegiatan dan dua diantaranya saya gabungkan di sini yaitu edukasi sampah yang termasuk dalam baksos, serta literasi. Edukasi sampah nanti digabung dalam kegiatan bakti sosial: bersih-bersih sampah. Kenapa edukasi sampah ini penting? Karena selama ini banyak kegiatan membersihkan sampah tapi masih kurang eduksi tentang sampah: jenis sampah, pemilahan sampah, daur ulang sampah, sampah menjual barang hasil daur ulang sampah. Kalau rencana ini berjalan, saya bakal sangat happy. Sedangkan literasi itu wajib, karena mengingat mahasiswa KKN Uniflor 2019 telah membangun Rumah Baca Sao Moko Modhe di Kabupaten Nagekeo tepatnya di Desa Ngegedhawe. Artinya, literasi: pengumpulan dan penyumbangan buku untuk rumah baca, serta kegiatan pendukungnya nanti, merupakan kegiatan berkelanjutan. Kan bangga, Uniflor yang bermarkas di Kabupaten Ende membangun rumah baca di Kabupaten Nagekeo. Kan sayang, Kabupaten Ende belum melaksanakan Festival Literasi, sedangkan Kabupaten Nagekeo sudah melaksanakannya. Hiks.

4. Sunat Masal


Donor darah sudah sering dilakukan, dan memang akan dilakukan juga, tapi sunat masal? Ini yang juga supa amazing. Hehe. Waktu dicetus kegiatan kawin sunat masal saya terbengong-bengong. Hebat euy. Insha Allah kegiatan ini dapat terlaksana dan memberi berkah bagi banyak anak-anak (Muslim/Muslimah) di Kabupaten Ende. Amin.

5. Retret


Saya suka sekali ide yang satu ini. Perlu kalian ketahui, Uniflor punya kegiatan tahunan semacam Uniflor Family Day atau Tur Uniflor yang diikuti oleh dosen dan karyawan. Memang, kegiatan itu semacam kegiatan relaksasi dosen dan karyawan yang digabung pula dengan pengabdian kepada masyarakat di daerah tujuan. Biasanya bisa tiga hari kegiatan yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Tetapi kali ini diusulkan untuk dilaksanakan kegiatan retret lintas agama. Maksudnya, retret yang selama ini identik dengan Agama Katolik kemudian dibikin lebih universal, lintas agama, karena kita Indonesia! Yuhuuuuu.

⇜⇝

Lima kegiatan keren di atas memang tidak bisa mewakili semua kegiatan yang telah dirancang oleh panitia seperti kegiatan di bidang olah raga dan lain sebagainya. Yang jelas awal November 2019 bakal ada kegiatan akbar yang tujuannya me-launching dua perkara utama. Yang pertama: launching Ema Gadi Djou Memorial Cup. Yang kedua: launching Panitia 40 Tahun Uniflor. Kegiatan tersebut bakal diwujudkan dengan parade yang masif (saya melihat begitu banyak orang, termasuk mahasiswa, dilibatkan) dimana setiap program studi di Uniflor bakal tampil mewakili setiap kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ya, Uniflor memang mediator budaya!

Baca Juga: 5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat

Doakan semua kegiatan yang sudah direncanakan dapat berjalan dengan baik ya, kawan. Yang jelas awal November nanti, saat perhelatan sepak bola Ema Gadi Djou Memorial Cup digelar, akan ada bazaar di depan Stadion Marilonga. Marilah kita ramai-ramai ke sana. Nanti ... hehe.

Satukan langkah, bulatkan tekad, menuju Uniflor bermutu!

#KamisLima



Cheers.

Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp


Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp. Sebenarnya Senin ini di #SeninCerita dan #CeritaTuteh ada banyak yang ingin saya tulis, gado-gado, campur-campur, tapi sebagian sudah saya tulis di blog travel dalam pos berjudul Konsep Pecinta Alam dan Traveling di Kafe Hola dan pos berjudul Pemburu Sunset: Pantai Ndao - Ende. Alhamdulillah. Tersisa beberapa cerita saja dan dua diantaranya tertuang dalam pos hari ini tentang kegiatan Wisuda Uniflor 2019 dan kegiatan Iya Boleh Camp yang diselenggarakan pada hari yang sama. Sabtu! Makanya Sabtu yang harusnya diisi dengan #SabtuReview absen dulu. Hehe. Satu cerita lagi tentang IG: @info_flores bakal saya pos pada #SelasaTekno.

Baca Juga: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo

Dua kegiatan dalam satu hari ... sibuk donk? Lumayan sibuk sih. Tapi menyenangkan karena pada akhirnya saya menetapkan tanggal 12 Oktober sebagai Hari Kemerdekaan Negara Kuning. Kepo kan? Makanya, dibaca sampai selesai *kedib*.

Bangun Lebih Pagi Demi Dirias


Cerita ini bermula dari Sabtu subuh di mana saya bangun lebih pagi untuk mandi dan bersiap-siap sambil menunggu keponakan saya Kiki Abdullah datang. Iya, dia yang merias wajah saya. Sepanjang saya bekerja di Uniflor, baru Sabtu kemarin saya mau dirias untuk kegiatan wisuda. Biasanya sih wajah polos lugu seperti hari-hari biasa. Hehe. Entah. Saya juga masih berpikir kenapa pada tahun 2019 saya mau dirias seperti itu sama Kiki. Riasannya sederhana/ringan sesuai permintaan saya tapi Kiki tidak mau melewatkan bulu mata dan softlens.


Gosh! Wajah saya yang berminyak sungguh keterlaluan. Haha. Maaf ya, Ki. Janji deh saya akan lebih rajin merawat wajah berminyak ini. Dududud.


Setelah saya dirias, giliran Thika, karena dia juga bakal tampil di Iya Boleh Camp, menemani Syiva gantiin Bundanya emoh tampil dalam Lomba Parade Pakaian Nusantara. Selesai dirias, dengan perasaan berbunga-bunga berangkatlah saya ke kampus yang ternyata sudah cukup ramai. 

Wisuda Uniflor 2019


Beberapa hari terakhir saya sudah sering menulis tentang kegiatan wisuda Uniflor 2019 yang diselenggarakan pada tanggal 12 Oktober. Sejumlah 769 Wisudawan-Wisudawati boleh berbangga, pun orangtua mereka. Tahun 2019 panitia menetapkan tema yaitu Kabupaten Nagekeo. Oleh karena itu mulai dekorasi panggung, aneka booth foto, sampai pakaian baik pakaian panitia maupun dosen dan karyawan Uniflor harus bertema Kabupaten Nagekeo. Khusus pakaian lebih tepatnya pakaian tradisional Kabupaten Nagekeo.


Pakaian tradisional Kabupaten Nagekeo dapat dibagi sebagai berikut:

1. Perempuan

Perempuan Kabupaten Nagekeo memakai kain tenun ikat bernama Hoba Nage yang warnanya didominasi merah, dan baju bernama Kodo berbahan beludru yang berwarna hitam dengan aksen bordiran kuning/emas berpadu bordiran merah. Kalau bukan beludru, kain hitam apa saja pun boleh sebagai bahan Kodo ini. Tetapi, untuk perempuan yang menetap di Kota Mbay, umumnya memakai tenun ikat bernama Ragi Woi dipadu atasan warna putih, hitam, atau kuning. Kadang juga memakai Ragi Woi dipadu Kodo.


Hoba Nage dan Kodo itu seperti yang dipakai oleh Kakak Ully Nggaa (kanan dari pembaca) yang memakai ikat kepala itu.

2. Lelaki

Lelaki Kabupaten Nagekeo memakai kemeja putih lengan panjang, tenun ikat Ragi Woi, dipadu selendang yang dilipat sedemikan rupa melingkar dada dan bahu.



Sabtu kemarin saya senang sekali karena nuansa kuning ada di mana-mana, meskipun banyak juga yang memakai Hoba Nage. Bahkan para penari perempuan penyambut Wisudawan dan Wisudawati memakai Ragi Woi yang dibikin persis rok, dan atasan Kodo. Ausam!




Betul-betul harinya Negara Kuning. Dan sebagai Presiden Negara Kuning saya sampai menitikkan air mata haru. Hehe.


Dan yang tidak boleh dilupakan, anak-anak Resimen Mahasiswa (Menwa) juga turut ambil bagian dalam pengamanan kegiatan wisuda kemarin. Keren kan? Uniflor itu lokasinya boleh di kampung, tapi segala sesuatunya tidak kalah dengan universitas lain di kota besar. Kami punya segalanya, sombong sedikit boleh kan, terutama ragam fasilitas ini itu terkait dunia akademik dan fasilitas pendukungnya.

Iya boleh Camp


Adalah Rikyn Radja, koreografer kondang itu, menghubungi saya untuk menjadi juri Lomba Mewarnai kegiatan Iya Boleh Camp yang diselenggarakan oleh Nestle Dancow. Mengutip dari yang ditulis Kakak Mey Patty di status Facebooknya, Iya Boleh Camp merupakan Parenting Event yang sudah diselenggarakan di 94 kota di seluruh Indonesia dan Sabtu tanggal 12 Oktober 2019 kemarin dilaksanakan di Kota Ende. Iya, Kota Ende adalah kota yang ke-95. Sebagai Orang Ende, tentu saya bangga kegiatan berskala nasional ini bisa digelar di Kota Ende. Anak-anak di kota kami membutuhkan kegiatan serupa untuk lebih mengasah bakat dan kreatifitas mereka.

Iya Boleh Camp menggelar tiga lomba yaitu:
1. Lomba Aksi Cilik yang diikuti 21 anak.
2. Lomba Parade Pakaian Nusantara yang diikuti 33 pasang (anak dan mama/pendamping).
3. Lomba Mewarnai yang diikuti oleh 276 anak.
Dari total 400-an pendaftar.


Awalnya saya memang hanya dihubungi untuk menjadi juri Lomba Mewarnai saja, tetapi saat TM ternyata saya dan Kakak Mey bersama-sama menjuri tiga lomba yang digelar tersebut. Baiklah. Yang paling menarik dari Iya Boleh Camp adalah dress code-nya adalah kuning! Oh My God! Saya berbunga-bunga. Hehe.

Makanya, Sabtu kemarin setelah hadir di kegiatan wisuda, bersama-sama Kakak Rosa mengurus ini itu yang berkaitan dengan seksi kepanitiaan kami, saya pun ijin pergi ke Graha Ristela yang terletak di Jalan El Tari, Ende. Ini gedung baru serbaguna yang cukup besar-memanjang dan sering dipakai untuk acara pernikahan dan/atau kegiatan ini itu. Tiba di Graha Ristela, untungnya masih dapat space parkir sepeda motor, saya langsung melenggang ke dalam ruangan mencari meja juri. Hehe. Ketemu Kakak Mey, duduk santai sedikit, acara akhirnya dimulai. Alhamdulillah.


Acara dimulai dengan penampilan drum band cilik dari TK Al Hikmah Ende, ada juga penampilan dari TK lainnya dan diteruskan dengan Lomba Aksi Cilik. Aksi Cilik ini maksudnya anak dan Mama tampil di panggung, bergoyang mengikuti lagu yang diudarakan, dan dinilai oleh juri. Apa saja yang dinilai? Ya kekompakan anak dan Mama, bounding mereka, sampai dengan kesesuaian antara gerak dan lagu. Anak-anak yang tampil dalam Lomba Aksi Cilik ini masih di bawah lima tahun, dan tentu tidak sulit untuk menentukan siapa yang juara. Karena, begitu banyak anak yang malu-malu bahkan seperti ketakutan di panggung, dan beberapa anak yang begitu lincah di panggung beraksi bersama Mamanya. Kita bisa melihat betapa pentingnya peran Mama di rumah ya hahaha.

Setelah Lomba Aksi Cilik, Lomba Parade Pakaian Nusantara pun dimulai. Tiga puluh tiga pasangan Mama-anak berlenggak-lenggok di atas panggung bak peragawati kawakan. Hehe. Apa saja yang dinilai? Pertama kesesuaian busana Mama-anak, teknik catwalk dan kekompakan di atas panggung, penguasaan panggung, hingga nilai modifikasi busananya. Meskipun banyak yang tampil Mama dan anak perempuan, tetapi ada juga Mama dan anak lelaki. Asyik lah. Manapula busana tradisionalnya keren-keren: dimodifikasi dengan sangat baik. Namun tidak bisa dipungkiri ada Mama yang seolah tampil cetar sendiri sedangkan anaknya celingak-celinguk, ada yang betul-betul kompak kayak anak kembar, ada yang mandek memeluk Mamanya di panggung. Haha.


Yang terakhir, Lomba Mewarnai. Waktu Lomba Mewarnai selama empat puluh lima menit memberi waktu kepada saya dan Kakak Mey untuk menilai dua lomba sebelumnya. Ndilalah, penilaian kami sama! Ini yang dinamakan juri sama-sama obyektif sehingga tidak sulit menentukan juara-juaranya. Bayangkan kalau ada juri yang subyektif lantas perdebatan menjadi terlalu alot. Bagi saya, lomba manapun, baik yang diikuti remaja maupun anak-anak, juri harus obyektif. Tidak boleh ada kata kasihan di dalam penilaian karena itu akan merusak reputasi hahaha. Tidak boleh bilang: kasihan si anak sudah berusaha. Juri harus menilai berdasarkan poin penilaian yang sudah ditetapkan. Itu saja.

Menilai kertas-kertas hasil mewarnai pun tidak seberapa sulit. Saya sudah sering menjuri lomba mewarnai, selalu diajak sama juri kondang Om Beny Laka, jadi tahu bagaimana menjuri lomba mewarnai bahkan yang diikuti oleh ratusan anak. Sabtu kemarin, empat juara Lomba Mewarnai memang menghasilkan gambar yang baik: pilihan warna, kesesuaian warna dengan tema, kerapian, garis batas, gaya arsir, hingga daya kreatif-nya. Penilaian itu saya pelajari dari Om Beny Laka, sang maestro. Jadi saya juga bisa menjelaskan kenapa si A juara satu, kenapa si B juara dua, dan seterusnya. Sayangnya kemarin tidak diberi kesempatan menjelaskan. Hehe. Tapi saya sudah siap pelurunya lah.

Mana saya tahu kalau yang juara Parade Pakaian Nusantara adalah sahabat saya Mei Ing dan anaknya yang bernama Rachel? Yang saya tahu cuma nomor tampilnya saja. Mana saya tahu kalau yang juara Lomba Mewarnai itu Andien, anaknya Ibu Nuraini? Ndilalah Andien adalah juara tiga lomba mewarnai sebelumnya yang tingkat kabupaten. Pokoknya saya jujur saja kalau dalam soal menilai. Hahahaha. Selamat kepada para juara, sampai ketemu di kegiatan berikutnya!



Yang pasti, saya terpukau sama empat hasil mewarnai seperti pada foto di atas. Mereka jelas tidak juara, tapi mereka unik, karena berani berkhayal dan bermain dengan warna-warna di luar warna yang seharusnya. Bahkan salah satunya, kiri atas, betul-betul abstrak! Haha.

Hari Kemerdekaan Negara Kuning


Negara Kuning bentukan saya dengan saya sendiri sebagai Presidennya sudah lama berdiri sejak tahun 2013-an. Tapi belum pernah saya menentukan Hari Kemerdekaannya. Boleh lah ya, karena suatu negara boleh dipersiapkan terlebih dahulu. Macam Indonesia, negaranya sudah lama ada, tapi belum punya pemimpin karena masih terkapling dalam wilayah-wilayah kecil (kerajaan salah satunya), lalu dijajah, lalu merdeka pada 17 Agustus 1945.

Baca Juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Sama juga dengan Negara Kuning!

Jadi, kalau ada yang tanya kapan Negara Kuning merdeka? Jawabannya 12 Oktober 2019, enam tahun setelah dibentuk *ngakak guling-guling*.

Demikianlah, kawan, cerita hari ini dari kegiatan Sabtu kemarin. Semoga menghibur kalian yang membacanya ya.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru


Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru. Hal itu saya saksikan sendiri saat meliput kegiatan mahasiswa KKN-PPM di Dusun Detubapa, Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Sungguh menyenangkan menjadi tukang liput kampus, karena selain  tidak diam di ruangan dan bisa jalan-jalan ke luar kota, tambah ilmu itu berhukum fardhu'ain. Ya memang tambah ilmu lah, karena saya harus turut menyaksikan dan mendengarkan seluruh proses kegiatan, baik itu seminar/workshop hingga pelatihan ini itu, bahkan bisa memperoleh data yang disusun dalam bentuk slide maupun hardcopy, untuk bisa menulis berita yang bakal dipos di ragam media sosial dan website-nya Universitas Flores (Uniflor). Berita adalah tentang fakta yang harus berimbang. Bukan begitu?

Baca Juga: Terminal Stopkontak Ini Bisa Berotasi dan Mengecas HP

Sebelum melanjutkan tulisan ini, kalian boleh membaca pos Senin kemarin.

Baiklah.

Dari dua puluh mahasiswa, sejumlah lima belas peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Wolofeo berasal dari Progi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Uniflor. Sebagian lagi yaitu lima mahasiswa berasal dari tiga program studi di Fakultas Ekonomi. Program kerja mereka di Desa Wolofeo pun tidak jauh-jauh dari dunia para petani yang mengelola lahan seperti sawah, kebun kopi, kebun kakao, kebun sayur, kebun cabai, dan lain sebagainya. Bahkan di Dusun Detubapa terpeta satu kebun contoh milik pemerintah daerah. Keren kan? Lebih keren lagi adalah Fakultas Pertanian juga punya satu perkebunan contoh di daerah Lokoboko! Makanya kuliah di Uniflor saja. Haha.

Kenapa saya menulis teknologi pertanian itu sangat menarik dan seru? Karena mendengar penjelasan mahasiswa maupun penjelasan Ibu Yus sebagai Dosen Pendamping Lapangan (DPL) dalam menjawabi pertanyaan warga Dusun Detubapa sangat luar biasa. Ibarat sedang menonton filem favorit. Ada dua hal paling menarik dan seru bagi saya. Yang pertama: menekan angka hama pada buah kakao. Yang kedua: cara memerangkap lalat pengganggu tanaman.

Anyhoo, sudah tahu filem favorit saya sekarang?

UPIN IPIN!

Menekan Angka Hama pada Buah Kakao


Saya tidak tahu nama hamanya. Bisa lalat, bisa juga yang lain. Yang jelas seorang bapak warga Dusun Detubapa, dengan topi kupluknya yang khas karena berposisi miring, bertanya tentang buah kakaonya yang rusak. Rusak di sini, si buah masih terlihat hijau sebagian pada bagian tangkai, dan kuning sebagian. Kadang buah kakaonya terlihat matang/masak tetapi ternyata busuk di dalam. Gara-gara itu, produksi kakaonya menurun dari tahun ke tahun. 

Menurut Ibu Yus, buah kakao yang terserang hama ini memang sulit karena induk melepas telur pada lekukan kulit buah kakao, lantas telur itu menjadi ulat, dan ulat itu yang bakal menggerogoti kulit buah hingga ke dalam. Ternyata teknologi yang digunakan untuk menekan angka hama dimaksud sangat sederhana. Oleh karena itu apabila pohon kakao berbuah dan buahnya hendak matang, buah tersebut dibungkus dengan plastik gula dan diikat pada bagian tangkai sedangkan bagian bawahnya tidak perlu diikat. Mengapa bagian bawah tidak perlu diikat? Melihat dari pola terbangnya induk yang sudah pasti menukik (ke bawah ya haha).

Dengan membungkus buah kakao dengan plastik gula tersebut, otomatis saat si induk sedang menukik hendak menyerang Negara Api langsung menabrak plastik. Hehe. 

Mengenai plastiknya, kami menyebut plastik gula, bisa dibeli di toko dalam bentuk roll dan dipakai sesuai kebutuhan (ukuran panjangnya). Harganya relatif murah. Murah tapi bisa membantu petani menekan angka hama pada buah kakao. 

Daya Tarik Seksualitas Palsu Lalat Betina


Ini menarik sekali. Saya sampai senyum-senyum sendiri. 

Ketika tanaman diserang hama lalat, terutama buah, memang sangat menjengkelkan para petani karena berpengaruh pada hasil panen. Oleh karena itu ketika ada warga Dusun Detubapa yang bertanya perihal lalat ini, seorang mahasiswa dibantu Ibu Yus menjelaskan cara membikin perangkap lalat jantan yang teknologinya super sederhana. Yang dibutuhkan hanyalah botol plastik bekas, sejumput kapas, kawat untuk mengikat botol plastik di tonggak, serta sebuah cairan bernama Petrogenol

Saya menyebutnya Petrogenol yang bahenol karena mampu memikat lalat jantan dengan daya seksualitas palsunya!

Botol plastik diberi lubang dua buah pada badannya, lalu diisi sedikit air, dan sejumput kapas tadi disuntik sekian cc (ukuran pastinya saya lupa, yang jelas sedikit saja) dan diletakkan di dalam botol, kemudian botol diikat dengan kawat di tonggak, horisontal. Posisi horisontalnya sedikiiiiit miring. Petrogenol inilah daya seksualitas palsu yang bakal menarik lalat jantan yang hendak menyerang Negara Tanah buah. Saat hendak menyerang buah, mencium aroma si betina palsu, langsung berbalik arah ke botol plastik dan masuk perangkap.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Amboiiii. Begitu sederhananya teknologi membikin perangkap lalat yang bisa membantu petani agar hasil panennya tetap berlimpah.

⇜⇝

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernahkah kalian berurusan langsung dengan dunia para petani? Pernahkah kalian juga menyaksikan betapa menarik dan serunya teknologi (sederhana) pertanian itu? Bagi tahu donk di komen hehehe :)


#SelasaTekno



Cheers.

Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga


Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga. Ketika menyaksikan kegiatan itu, saya langsung teringat sama lagu Kolam Susu yang dinyanyikan Koes Plus. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Jangan memandang lirik lagu itu secara harafiah karena mustahil tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Lirik yang pendek itu punya makna yang sangat dalam. Dan makna itu saya temui ketika meliput kegiatan peserta KKN-PPM di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, tepatnya di Dusun Detubapa.

Baca Juga: Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling

Selasa, 27 Agustus 2019, pukul 07.45 Wita saya dan Thika berangkat ke Dusun Detubapa karena kegiatan dimaksud dilaksanakan di rumah kepala dusun. Dusun ini terletak di pinggir jalan raya trans-Flores dan rumah kepala desa hanya sekitar tiga puluh meter dari jalan raya. Dari Kota Ende pun waktu tempuhnya hanya sekitar dua puluh lima menit. Akan tetapi perjuangan menuju rumah kepala dusun cukup berat karena begitu banyak guk-guk menggonggong. Haha. Lucunya, saya heboh teriak-teriak karena kuatir digigit guk-guk sedangkan Mama-Mama di situ dengan santai bilang: tenang, Ibu, anjingnya tidak gigit. Amboi, Mama, yang namanya guk-guk, meskipun super jinak, saya bakal menjauh kayak ketemu tukang kredit dinosaurus.


Tiba di rumah kepala dusun, sudah ada mahasiswa KKN-PPM yang sedang menyiapkan bahan ini itu. Sekalian sambil bertanya-tanya sambil menunggu Dosen Pendamping Lapangan (DPL) tiba. Sekitar pukul 10.00 Wita barulah kegiatan dilaksanakan.

Kegiatan apa sih?

Mari baca ...

Pembuatan Pupuk, Pestisida, dan MOL


KKN-PPM merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang tidak 100% hanya mengandalkan mahasiswa saja melainkan partisipasi dan keaktifan warga. Kalau KKN reguler itu umumnya semuanya berada di tangan mahasiswa, kalau KKN-PPM lebih kepada pemberdayaan masyarakat desanya sendiri. Oleh karena itu, warga Dusun Detubapa harus aktif dalam kegiatan pembuatan pupuk dan pestisida. Mahasiswa menyiapkan bahan, mengarahkan, memperhatikan, dan membantu. DPL akan mengoreksi bila ada kesilapan dari mahasiswa dalam menjelaskan dan hal itu biasa karena mahasiswa pun masih dalam proses belajar kan.


Menariknya, semua bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk cair, pupuk padat, pestisida nabati, dan MOL, berasal dari alam raya. Sebut saja daun sirsak, daun jagung, daun kirinyuh, lengkuas, tanah daerah perakaran, kotoran sapi (ternak lainnya), rumen (isi perut/usus) sapi, dedak, gula pasir, hingga air kelapa. Bahan lainnya hanya sabun colek dan terasi. Karena waktu itu MOL juga baru hendak dibikin secara alami, maka untuk pembuatan pupuk sementara masih memakai sedikit M4 yang dibeli di toko. Nanti kalau MOL yang dibikin sudah jadi, warga tidak perlu lagi memakai M4 tetapi memakai MOL yang mereka buat sendiri itu.


MOL itu singkatan dari atau Mikro Organisme Lokal. Ini merupakan larutan hasil proses fermentasi dari berbagai jenis bahan-bahan organik. Larutan MOL mengandung bakteri, perangsang pertumbuhan, unsur hara mikro dan makro, dan sebagai agens hayati pengendali hama dan penyakit tanaman.

Paham kan sekarang mengapa saya menulis judul memang betul orang bilang tanah kita tanah surga? Alam raya menyediakan, kita memanfaatkannya. Semoga dengan kegiatan ini warga Dusun Detubapa yang rata-rata adalah petani bisa menghemat biaya karena ketimbang membeli pupuk, pestisida, dan MOL di toko, mereka bisa membikinnya sendiri. Yang diperlukan adalah keuletan dan kesabaran karena untuk pupuk cair misalnya dibutuhkan waktu hingga empat minggu hingga dapat digunakan atau diaplikasikan ke tanaman.

Petani Cerdas


Kalau kalian masih memandang petani itu orang kampung, tolong singkirkan segera pikiran itu karena kalian salah dan kalian kampungan. Warga, bapak-bapak, para petani, yang saya lihat di Dusun Detubapa itu rata-rata cerdas dan trendi. Mereka punya segudang pertanyaan yang menuntut jawaban, serta tidak lagi tanpa alas kaki ke kebun tetapi memakai sepatu boot karet favorit saya kalau musim hujan tiba itu. Jadi waktu kegiatan, ada bapak-bapak yang segera balik dari kebun demi memperoleh ilmu dari mahasiswa KKN-PPM ini.



Tentu dengan kegiatan yang dilaksanakan itu, para petani bakal semakin cerdas dalam hal pengelolaan dan perawatan lahan mereka. Insha Allah.

Kudapan dan Makan Siang


Hari itu, saat proses pembuatan pupuk, pestisida, dan MOL, sedang berlangsung, tuan rumah menyuguhkan kudapan khas lokal yaitu pisang rebus, ubi jalar rebus, dan kopi/teh. Uh wow sekali ubi jalarnya manis dan bikin lidah menagih. Tentu, pisang dan ubi jalar ini bukan hasil membeli di pasar melainkan diperoleh dari kebun sendiri.



Makan siangnya pun tak kalah bikin lidah menagih. Terutama tumisan daun pepaya dan sambalnya! Ayam, ikan, tahu, sayur sawi, sudah sering saya makan. Tapi tumisan daun pepaya ini langka, manapula rasanya amboiiii. Memang betul orang bilang tanah kita tanah surga! Karena bahan-bahan tumisan sayur dan sambal itu diambil dari kebun sendiri. Mak, kapan kita bisa seperti orang desa ya ... punya lahan dan diolah sendiri.

⇜⇝

Kalau ditanya apakah saya mau tinggal di Dusun Detubapa? Ya mau saja lah haha. Terutama selama berada di sana saya tidak bisa menggunakan telepon genggam untuk berselancar di ragam media sosial karena sinyal 4G yang susaaaah sekali. Sinyal hanya bisa dipakai untuk menelpon dan mengirim pesan singkat. Ah, ternyata sumber internet masih jauh itu tak masalah ketimbang sumber air yang jauh. Haha. Hidup rasanya tenang sekali *ngikik*.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Yang pasti harus diingat ... tanah kita memang tanah surga!


#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat


Musim Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2019. Musim meliput hingga ke luar Kota Ende. Musim bersenang-senang bersama Onif Harem. Musim paling rajin mengganti oli di bengkel sampai digodain sama mas-masnya: olinya diminum sebagian kan(?). Musim pamer foto jalan-jalan. Haha. Yang jelas, belum musim liburan, meskipun kesannya jalan-jalan terus. Ini kerja, bung! Bung ... kuuuussss.

Baca Juga: 5 Kegiatan Kece Menyongsong Dies Natalis 39 Uniflor

Sejak mulai diberikan tugas untuk meliput kegiatan peserta KKN di berbagai daerah di Pulau Flores, saya sudah mulai pula mengumpulkan satu per satu program kerja yang menurut saya keren. Program kerja ini, selain KKN reguler (disebut begitu sih biasanya), ada yang memang termasuk dalam KKN-Tematik, ada pula KKN-PPM. KKN-PPM baru terlaksana tahun 2019 ketika proposal-proposal yang diajukan oleh P3KKN Uniflor lolos di Kemenristek Dikti untuk menerima dana hibah. Dana hibah ini bukan dipakai untuk keperluan dan kepentingan mahasiswa loh yaaaa, melainkan dipakai untuk menjalankan program kerja yang telah disusun dan/atau diusulkan untuk keperluan dan kepentingan masyarakat itu sendiri.

Dalam bidikan saya, ada 5 program KKN Uniflor keren dalam pengabdian kepada masyarakat. Mari simak!

1. Bangun Rumah


Ingat program televisi tentang bedah rumah? Di KKN Uniflor ada yang namanya bangun rumah. Bangun rumah dilakukan oleh kelompok KKN kelas pekerja (mahasiswa yang sudah bekerja). Tahap awal adalah mencari satu rumah yang tidak lagi layak huni di lokasi yang termasuk dalam lokasi KKN tahun bersangkutan. Inisiasi dilakukan dengan petinggi wilayah setempat seperti kepala desa dan/atau lurah beserta tokoh masyarakat. Si pemilik rumah kemudian diberitahu dan saat KKN tiba, pembangunan rumah pun dilakukan. Saya pernah menyaksikan sendiri pembangunan rumah Mama Sisi di Kecamatan Lepembusu Kelisoke. Luar biasa. Sampai mata berkaca-kaca melihatnya.

2. Penyuluhan


Penyuluhan terdengar tidak asing dan pasti sering dilakukan bukan? Tapi penyuluhan yang dilakukan murni oleh mahasiswa, terutama mahasiswa hukum, adalah sesuatu yang sangat luar biasa menurut saya. Bagaimana masyarakat diedukasi tentang pentingnya memahami tentang dunia hukum, yang paling sederhana pun, itu sangat bagus. Saya pernah meliput kegiatan ini di SMP Muhammadiyah Ende oleh mahasiswa KKN 2018.

3. Belajar Pertanian


Ini penting, terutama bagi masyarakat pedesaan yang rata-rata mempunyai lahan pertanian baik itu sawah maupun kebun. Saya melihat bagaimana mahasiswa KKN-PPM melakukannya di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko. Rata-rata mahasiswa yang ditempatkan di lokasi ini pun berasal dari Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Uniflor. Demikian pula dengan Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Kegiatan mereka antara lain membuat pupuk bersama masyarakat hingga mengelola lahan. Ausam. Perlu diketahui, Uniflor mempunyai lahan luas sebagai kebun percontohan dan/atau tempat prakteknya mahasiswa Prodi Agroteknologi. Kita akan lihat hasil akhirnya nanti seperti apa. Yang jelas, pasti bakal saya pos.

4. Bangun Rumah Baca


Yang satu ini, juga poin nomor 3 dan 5, sama-sama KKN-PPM. Rumah baca tersebut dibangun di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Proses pembangunan rumah baca dimulai dengan ritual adat oleh tokoh masyarakat dan/atau tokoh adat, tentu bersama para petinggi desa yaitu Kepdes, Sekdes, hingga Ketua PBD-nya. Setelah ritual, dilakukan peletakan batu pertama, dan rumah baca tersebu sedang dalam proses pembangunan (saat saya menulis ini). Semoga saya bisa ke sana saat peresmiannya! Ada yang mau menyumbang buku anak-anak? Yuk sumbang ke rumah baca baru di Desa Ngegedhawe!

5. Psikoedukasi


Awalnya saya bingung dengan istilah ini, tapi internet menyediakan segalanya. Jadi ringkasnya, psikoedukasi adalah pola/cara mengajak masyarakat dan/atau bersama-sama masyarakat mengenali apa permasalahan yang dihadapi selama ini, kemudian dicarilah solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Ini dilakukan di Desa Anaraja, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Hasilnya pun nanti pasti saya  pos. Ingin tahu perubahan dan penguatan dalam tubuh masyarakat setelah KKN-PPM ini seperti apa.

⇜⇝

Yang juga keren adalah, para peserta KKN pasti terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan adat yang dilaksanakan di desa. Kapan lagi bisa merasakan dan terjun langsung? Saya sendiri pernah merasakan dan mengikuti ritual adat Goro Fata Joka Moka 2016, serta menyaksikan perlombaan Naro (tarian adat Suku Ende, kalau Suku Lio menyebutnya Gawi). Menjelang 17-an, bakal lebih banyak lagi kegiatan yang akan dilaksanakan/dilakukan masyarakat tentu bersama-sama dengan mahasiswa yang KKN di lokasi mereka.

Baca Juga: 5 Wisata Dalam Kota Ende

Bagaimana dengan daerah kalian, kawan? Sudah memasuki Bulan Agustus ... persiapannya sudah mulai kencang dooonk hehehe. Bagi tahu yuk!



Cheers.

Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe


Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe. Musim KKN 2019 sudah tiba. Artinya, saya yang biasanya bertugas sebagai Panitia KKN Seksi Publikasi dan Dokumentasi harus bersiap ke luar kota, ke daerah lokasi KKN, bahkan yang di luar Kabupaten Ende. Kali ini saya dan Anto Ngga'a dikoordinir oleh Kakak Rossa Budiarti, siap menjalankan tugas. Tahun lalu peserta KKN yang di luar daerah tidak diliput. Tapi tahun ini wajib diliput terutama tiga desa penerima dana hibah KKN-PPM dari Kemenristek Dikti. Keren kan? Untuk pertama kali proposal yang diajukan oleh P3KKN lolos!

Baca Juga: Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita

Ada tiga desa yang mendapat dana hibah PPM dan Kemenristek Dikti sesuai tiga proposal yang lolos diajukan oleh P3KKN. Tiga desa itu adalah Desa Nggedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Desa Anaraja di Kecamatan Nangapanda, Desa Wolofeo di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Sabtu kemarin, 27 Juli 2019, peserta KKN - PPM untuk Desa Ngegedhawe diberangkatkan.

Literasi Desa


Program utama di Desa Ngegedhawe adalah Literasi Desa yaitu pembangunan rumah baca: pembangunan, stok buku, dan pengelolaan. Sudah sering peserta KKN membangun rumah tinggal bagi penduduk desa yang kondisi rumahnya tidak layak huni lagi. Tapi rumah baca? Ini perdana dan seperti kata Kepala LP2M Uniflor saat acara pelepasan duapuluh peserta KKN-PPM di Desa Ngegedhawe, ini adalah pilot project! Pilot project itu memang kudu hati-hati, terutama yang bakal dimonitoring oleh L2Dikti, maksudnya adalah kesuksesan merupakan goal yang tidak bisa ditawar-tawar dengan kata 'setidaknya'. Tentu saja, Tuhan adalah penentu utama. Hehe.



Sekretaris Desa Ngegedhawe dan Ketua BPD Desa Ngegedhawe menyambut baik program pembangunan rumah baca ini. Ketua BPD misalnya, menurutnya rumah baca akan berdampak sangat positif pada anak-anak dan masyarakat desa. Salah seorang Dosen Penamping Lapangan (DPL) yaitu Pak Gusty Dadi mengatakan bahwa meskipun zaman sekarang banyak informasi yang bisa dibaca melalui lini digital (internet di telepon genggam) namun membaca buku sebenarnya merupakan salah satu cara untuk memajukan sebuah peradaban. Saya suka sekali kalimat ini. 


Yang tidak saya duga adalah penyambutan yang luar biasa dari Sekdes dan jajarannya, semacam suatu harapan yang kemudian menjadi nyata. Baru saya tahu, tahun 2019 merupakan tahun kedua peserta KKN Uniflor ditempatkan di desa tersebut. Tentu, masih banyak harapan yang ingin diwujudkan oleh masyarakat Desa Ngegedhawe bersama peserta KKN yang ditempatkan di desa tersebut. Semoga.

Rumah Baca Harus Lebih Banyak Dibangun


Di Kota Ende, paling terakhir saya mengenal Rumah Baca Sukacita yang haru saja merayakan Hari Literasi Sukacita.


Saya diminta bercerita tentang dunia jurnalistik dan dunia blogger. Adalah kesenangan tersendiri jika bisa berbagi tentang kebiasaan-kebiasaan baik yaitu membaca dan menulis. Anak muda, sejak usia dini, memang harus ditanamkan nilai-nilai membaca dan menulis.

Rumah baca memang sudah seharusnya lebih banyak dibangun, sebagai tempat yang mengakomodir minat baca anak-anak bahkan orang dewasa. Apabila rumah baca memang ditujukan untuk suatu komunitas yang tidak memandang usia, maka tentu buku-buku yang disediakan pun harus beragam, untuk semua usia. Tetapi saya berpikir ada baiknya rumah baca dimulai dari kelas anak-anak terlebih dahulu, orang dewasa bisa menyusul. Karena anak-anak tidak saja membutuhkan buku tetapi juga bimbingan dari para pendamping atau kakak-kakak pengelola rumah baca.

Rumah baca dan pengelola adalah satu kesatuan. Bayangkan saja begini ... lima bocah balita dihadapkan pada sebuah granat. Apa yang akan mereka lakukan? Bisa saja diabaikan. Bisa saja salah seorang bocah balita menarik pemicu dan tamatlah riwayat orang-orang dalam radius ledakan. Tetapi, jika lima bocah balita itu dibimbing oleh orang dewasa yang waras dan bertanggungjawab, maka dia akan menjelaskan bahwa granat adalah benda yang harus dijauhi sejauh-jauhnya oleh anak-anak. Sama juga dengan buku. Pembimbing/pengelola merupakan mata angin yang akan mengarahkan dengan benar anak-anak tentang isi buku yang dibaca.

⇜⇝

Bagi saya pribadi, Literasi Desa merupakan program keren yang harus didukung oleh kita semua, tidak memandang orang tersebut merupakan bagian dari KKN-PPM Uniflor atau tidak. Karena literasi sangat dibutuhkan pada zaman sekarang ini, di tengah dunia digital yang serba praktis, di tengah dunia yangmana anak-anak lebih suka bermain tiktok ketimbang membaca dan menulis. Semoga harapan-harapan baik dapat terwujud. Amin.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup Dalam Tubuh Masyarakat

Bagaimana dengan di daerah kalian, kawan? Adakah rumah baca yang sungguh-sungguh dikelola? Bagi tahu yuk di ... di mana-mana hatiku senang ... hehe. Di komen, tentu saja!



Cheers.

5 Kegiatan Kece Menyongsong Dies Natalis 39 Uniflor


5 Kegiatan Kece Menyongsong Dies Natalis 39 Uniflor. Hyess! Tanggal 19 Juli merupakan tanggal keramat karena merupakan tanggal kelahiran Universitas Flores (Uniflor) tercinta. Bukan saja karena saya meraih gelar Sarjana Hukum dari universitas pertama di Pulau Flores ini, tetapi juga karena saya bekerja di tempat ini tepatnya di UPT Publikasi dan Dokumentasi. Mencintai Uniflor sudah default. Sejak tahun 2011 sampai sekarang saya masih bertahan di UPT yang sama alias belum pernah dipindah. Haha. Kadang saya bertanya-tanya kenapa belum dipindah juga(?). Mungkin karena saya belum diijinkan mengacau di unit lain *diketawain dinosaurus*.

Baca Juga: 5 Lokasi Terdekat Untuk Berwisata Sekitar Kota Ende

19 Juli 2019 Uniflor akan mencapai usia 39. Bayangkan! 39 tahun! Kalau manusia, itu mungkin sudah menikah dan dikaruniai dua anak super lutjuuuu. Akan ada perayaan besar-besaran saat ulang tahun ke-40 nanti. Tapi itu nanti, sekarang saya mau cerita-cerita tentang kegiatan ulang tahun ke-39 dulu ya. Seru-seru loh!

Perlu diketahui, ada dua panitia yang menyelenggarakan aneka lomba menyongsong ulang tahun Uniflor ke-39. Yang pertama: panitia besar yang terdiri dari dosen dan karyawan. Yang kedua: Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uniflor yang juga selenggarakan berbagai lomba. Jadi, bisa kalian bayangkan betapa ramainya kampus kami di hari-hari terakhir ini. Meskipun masih ada prodi yang menyelenggarakan UAS tapi keseruan dan kehebohannya tetap saja ... wajib!

Apa saja sih kegiatan kece menyongsong dies natalis ini? Cekidot!

1. Jalan Sehat


Jalan sehat sudah dilakukan sejak Sabtu, 6 Juli 2019. Jalan sehat ini diikuti oleh segenap civitas akademika Uniflor termasuk siswa-siswi SMK yang praktek. Ramai dan sangat seru! Dimulai dari Kilometer Nol di Lapangan Pancasila, berakhir di Lapangan Futsal - Kampus III - Uniflor. Ada kacang ijo dan kudapan yang disiapkan oleh panitia. Dan serunya kami berjoged gembira dipimpin Kakak Shinta Degor.



Kakak Shinta (sepatu kuning), seng ada lawan! Hehe.

2. Lomba Futsal


Lomba futsal sudah dimulai usai upacara pembukaan. Upacara pembukaan ini dilaksanakan di Lapangan Futsal dan Pembinanya adalah Rektor Uniflor Bapak Dr. Simon Sira Padji, M.A.


Serunya lomba futsal ini terlebih dahulu dimulai oleh tim puteri. Bisa dibayangkan kan teman-teman yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terjun di dunia futsal kemudian harus mewakili fakultasnya untuk bermain futsal?



Seru dan kocaaaaak.

3. Lomba Voli


Ini nih yang saya syukaaa haha. Apalagi kalau nonton tim putera bermain. Karena kan di dalam satu tim itu harus ada satu dosen dan/atau satu karyawan yang turut masuk dalam tim selain mahasiswa. Coba kalian bayangkan, mahasiswa yang biasanya sudah solid satu tim itu, dikurangi satu atau dua anggota untuk digantikan oleh dosen dan/atau karyawan.


Tapi asyik ya. Kali ini saya tidak mengikuti lomba futsal dan lomba voli. Serahkan pada yang lebih jago saja, ya adik-adik mahasiswa. Karena, kalau dulu sistem lombanya itu per kampus, sekarang per prodi. Sehingga kami-kami yang bekerja di unit-unit dibagi ke setiap prodi. Saya kebagian di Prodi Pendidikan Matematika (ProMat). Otomatis karena mahasiswa dilibatkan jadi kan asyik ... mereka lebih jago bermain voli dan futsal. Sumpah, mereka kompak dan tangguh-tangguh!

4. Lomba Debat


Yang satu ini lomba yang melibatkan perwakilan mahasiswa dari 16 (enambelas) program studi. Asyik sekali meliput lomba yang satu ini. Gemas juga sama pendapat-pendapat mereka saat debat antara pro dan kontra akan tema yang diundi.


Gemas karena kalau tidak sesuai dengan pendapat saya pribadi hahahaha. Saya pikir, anak hukum harusnya bisa menang karena kan banyak regulasi yang mengatur tentang tema-tema tersebut. Yang penting, melalui lomba debat ini jelas akan terasah pola berpikir, menganalisa, dan bagaimana menyampaikan pendapat dalam sebuah debat.

5. Lomba Vlog


Ini dia lomba kece yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Uniflor, karena sebelumnya diumumkan bahwa setiap prodi/fakultas harus selenggarakan lomba masing-masing. Tapi kemudian kemudi agak berubah tetapi FTI telah menyusun segala sesuatunya sehingga lomba ini tetap dilaksanakan.


Semoga banyak yang ikutan ya. Sebagai wujud dari FTI sebagai fakultas yang bergerak di dunia teknologi informasi serta sebagai wujud kecintaan peserta terhadap dunia pariwisata di NTT. Kalau bukan kita, siapa lagi?

⇜⇝

Lima kegiata kece di atas belum mewakili semua kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka ulang tahun Uniflor yang ke-39, apalagi kegiatan-kegiatan yang mulai disusun dalam rangka Panca Windu (40 tahun). Masih banyak yang lainnya, seperti futsal putera, lomba paduan suara, lomba karya tulis ilmiah, lomba pop singing, dan seterusnya. Harapan saya sebagai bagian dari Uniflor adalah kegiatan-kegiatan ini akan semakin mempererat rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang memang sudah ada dan semakin pekat di Uniflor. Kami semua bersaudara.

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

Saya sendiri memang tidak seberapa aktif dalam berbagai lomba, kecuali menjadi penonton aktif yang teriak-teriak meskipun sedang radang tenggorokan, karena juga sibuk dengan berbagai kegiatan menjelang Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sebagai panitia KKN di bagian publikasi dan dokumentasi pun harus ke sana sini meliput kegiatan pertemuan dengan DPL, misalnya, hingga nanti peliputan saat mahasiswa KKN berangkat ke lokasi KKN.

Cukup letih kan? Hahahha.

Bagaimana dengan di tempat kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen!



Cheers.

Timur Punya Cerita


Halo hola! Tidak terasa sudah tiga hari saya tidak nge-blog. Tidak menulis cerita. Tidak memperbarui konten blog. Pun lebih lama lagi; saya jarang blogwalking dan merusuh di blog kawan blogger sekalian. Sakau? Sedikit. Tapi lelah ini telah lebih dulu merenggut kesadaran sehingga perjalanan ke dunia mimpi menjadi begitu mulus tanpa jerawat. Saya bahkan tidak diijinkan untuk protes. Perjalanan ini, sesungguhnya, telah mengajarkan saya dan dinosaurus rasa rindu pada bantal dan guling. Haha. Maka hari ini, setelah 680an kilometer berkendara bersama Onif Harem, saya punya kesempatan yang begitu banyak untuk menulis, menulis, dan menulis.

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Peringatan: pos ini akan sangat panjang tapi penuh cerita menarik terutama #JalanJalanKerja memberikan saya kesempatan untuk mencapai beberapa lokasi wisata.

Mari kita mulai cerita panjang ini.

Menyisir Timur Pulau Flores dari Kota Ende Menuju Kota Maumere


Senin, 18 Februari 2019. Sepagi itu, pukul 04.00 Wita saya dan Thika sudah bersiap. Rencananya kami, tim sepeda motor, berangkat pukul 05.00 Wita dari Kota Ende menuju Ibu Kota Kabupaten Sikka yaitu Kota Maumere. Malam sebelumnya tim bis Uniflor sudah duluan berangkat. Tim motor ini terdiri dari: Pak Anno Kean, Pak Us Bate, Ibu Violin Kerong, Cesar Sarto, Rolland, dan saya yang ditemani Thika. Meskipun saya memanggil mereka dengan embel-embel 'Pak' dan 'Ibu' tapi sebenarnya usia mereka masih muda. Ndilalah kami malah baru ngegas pukul 05.45 Wita karena masih menunggu Pak Us yang pada WAG menulis otw tapi baru tiba  di check point satu jam setelahnya. Haha.

Sepagi itu speedometer masih bergerak normal antara 60km/jam sampai 80km/jam. Saya tahu, tiga sepeda motor yang dikendarai para lelaki itu memang sengaja menahan gas agar sepeda motor yang dikendarai dua perempuan (saya dan Viol) bisa seirama dengan mereka. Tiba di Kecamatan Wolowaru sekitar pukul 07.30 Wita kami beristirahat sejenak untuk ngopi-ngopi di sebuah warkop yang pemiliknya ramah sekali. Tidak marah meskipun kami ributnya bukan main. 


Jarak dari Kota Ende ke Kecamatan Wolowaru adalah 65 kilometer. Betul, menuju Kecamatan Wolowaru kami melewati Kecamatan Detusoko.

Kelokan Antara Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Watuneso yang Bikin Mabuk



Inilah titik perjalanan paling membosankan; Kecamatan Wolowaru - Kecamatan Watuneso yang berjarak 28,1 kilometer. Membelah hutan, sekali dua bertemu rumah penduduk, dan kelokan (kadang kelokan kanan-kiri itu tidak ada jedanya sama sekali) tiada akhir. Viol memimpin di depan. Kepemimpinan Viol dalam iring-iringan ini membikin para lelaki sadar bahwa tidak ada gunanya mereka menahan gas dan speedometer. Haha. Tapi kelokan jelas membikin saya pusing bukan main dan percaya bahwa menjadi seorang Valentino Rossi itu tidak mudah. Tiba di SMA pertama dalam perjalanan menyisir ini, saya dan Viol saling mengeluh pusing. Thika? Aduhai keponakan paling setia itu cuma bisa menelan lidah getir.


Sekolah pertama yang kami kunjungi, yang merupakan bagian tugas saya dan Viol adalah SMA Karitas Watuneso. Sayangnya kami tidak dapat bersosialisasi karena murid-murid sedang punya kegiatan. Hiks. Menitip pamflet setelah bertemu kepala sekolah kami pun pamit.


Setelah pamit, tim sepeda motor berpencar. Pak Anno dan Pak Us melanjutkan perjalanan ke kecamatan lain di Kabupaten Sikka, kami yang tersisa menuju Kecamatan Paga.

Kecamatan Paga dan Pantainya


Kecamatan Watuneso dan Kecamatan Paga adalah dua kecamatan yang membatasi wilayah Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka. Jaraknya hanya 14,6 kilometer. 


Di Kecamatan Paga, tim sepeda motor berpencar lagi. Cesar dan Rollan segera meluncur menuju sebuah SMK di Kecamatan Lela. Di Paga, saya dan Viol berhenti untuk mengunjungi SMA Alvarez Paga yang dipimpin oleh seorang Romo. Kami diberi kesempatan untuk melakukan sosialisasi di salah satu kelas dalam jeda tryout sesi satu. 


Kecamatan Paga terkenal akan garis pantainya yang memukau, berpasir putih, mempunyai pemecah ombak, serta dari kejauhan nampak ombak bergelung meskipun bukan ombak besar untuk surfing itu. Di tepi pantai juga terdapat saung dan bale-bale untuk beristirahat. Memesan kopi? Silahkan. Fotonya nanti dalam perjalanan pulang hehe.

Mencari SMA Negeri Nita


SMA Negeri Nita tidak terletak di jalan trans Pulau Flores sehingga saya dan Viol harus bertanya sana-sini terlebih dahulu. Tapi ... a-ha! Kembali Thika memainkan Google Map. Ketemu! Di SMA Negeri Nita kami diijinkan melakukan sosialisasi kepada murid-murid. Rasanya senang sekali ketika mereka sangat menghargai perjalanan jauh kami dari Kabupaten Ende hahaha.



Ke mana setelah SMA Negeri Nita? Kami meluncur ke Kota Maumere sebagai Ibu Kota Kabupaten Sikka. Masih ada tiga sekolah tujuan kami yaitu MAS Muhammadiyah, SMKN 2 Maumere, dan SMA Negeri Magepanda.

Ikan Hiu dan I Love You


Inilah sekolah yang pemandangan lautnya saya pos Senin kemarin; Laut Belakang Sekolah. MAS Muhammadiyah terletak di wilayah Nangahure (arah Utara) dari Kabupaten Sikka. Sayangnya kami tidak dapat melakukan sosialisasi di sekolah ini karena murid-murid sedang bersiap untuk Shalat Duhur. Yang lucunya, Thika malah digoda oleh seorang murid laki-laki yang dengan nekatnya datang ke ruang guru dan berkata: 

Assalamu'alaikum, Kakak. Ikan hiu (ada lanjutannya tapi tidak kedengaran jelas), I love you!

Saya dan Viol menahan ngakak. Tuhaaaaan. Thika oh Thika, masih dianggap anak SMP atau SMA saja dirimu itu. Padahal sudah tahun kedua kuliah hahaha. Gara-gara itu, akhirnya kami memanggil Thika dengan julukan IKAN HIU.



Sungguh kalau saya diijinkan sekolah lagi, saya mau sekali sekolah di MAS Muhammadiyah ini, biar tiap hari sepulang sekolah bisa nyebur dan bergabung dengan para nelayan.

Alumni Uniflor Ada Di Mana-Mana


Sebenarnya kami sudah ingin menyerah dan pergi ke hotel tempat semua anggota tim menginap di Hotel El Tari Indah. Tapi kok sayang, karena letak SMKN 2 Maumere ini sudah cukup dekat dari MAS Muhammadiyah, lebih ke arah Utara. Maka kami pun tiba di sekolah yang ternyata sekolah pelayaran ini. Meskipun tidak sempat memberikan sosialisasi, hanya menyerahkan surat dan pamflet, tapi kami beruntung bertemu alumni Uniflor yang mengajar di sana.


Sebenarnya bukan hanya di sekolah ini terdapat alumni Uniflor yang mengabdi sebagai guru, hampir di semua sekolah yang dikunjungi juga ada alumni Uniflor, hanya saja tidak bisa bertemu karena mereka sedang mengajar sedangkan kami terburu waktu.

Bertemu Ocepp Rewell


Dari SMKN 2 Maumere kami memutuskan untuk pergi ke Hotel El Tari Indah yang terletak di Jalan El Tari Kota Maumere. Hotel ini terletak tepat di pinggir jalan. Di bagian depannya terdapat restoran mini yang juga dimiliki oleh si pemiliki hotel.


Usai makan siang, soto ayam kampung, saya memutuskan untuk segera check in dan beristirahat. Saya ngorok, Viol ke rumah saudaranya, Thika pergi jalan-jalan bersama keponakan lain bernama Vil yang memang tinggal di Kota Maumere bersama orangtuanya. Sebenarnya ada banyak orang yang ingin saya temui di Kota Maumere baik sahabat maupun keluarga. Tapi ... sumpah, tubuh saya butuh dicas utuh haha. Senangnya adalah si Ocha alias Ocepp Rewell berjanji akan datang ke hotel. Hore!


Ocha datang ke hotel tak lama setelah Thika pulang dari mengunjungi rumah-rumah keluarga termasuk ke Kantor Telkom untuk bertemu keluarga yang bekerja di sana. Dari Tanta Ella (mamanya Vil) Thika membawa cumi, ikan, sambal, dan peyek kacang. Ocha membawa burger, sukun goreng, dan martabak manis. Oalaaaah ... diet saya hancur sehancur-hancurnya pada hari itu. Mengobrol bersama Ocha menuntaskan rindu pada bawelnya dia hahaha. Kami masih haha-hihi sampai selepas maghrib, saatnya kami harus ke Tobuk Gramedia untuk bisnis Triwarna Soccer Festival terutama bagian pameran dan membeli buku pesanan Meli.

MoF Art Gallery (and Cafe)


Urusan bisnis di Tobuk Gramedia Maumere, dengan supervisor-nya karena manajer sedang tidak di tempat, belanja-belenji termasuk membeli agenda cover kuning bekal lanjutan T-Journal, kami merapat ke MoF Art Gallery (and Cafe) yang terletak di Pasar Senja.




Usai makan malam, kembali ke hotel, dan saya pun tidur. Tidur kesorean, karena toh Ocha dan Thika masih kembali ke Tobuk Gramedia untuk membeli novel dan Viol masih kembali ke rumah saudaranya. Pokoknya saya butuh tidur!

Sekolah Di Negeri Dongeng


Selasa, 19 Februari 2019, masih satu sekolah yang harus saya dan Viol kunjungi yaitu SMA Negeri Magepanda. Perjalanan menuju Magepanda sekitar 34,4 kilometer (pergi-pulang 68 kilometer) dengan bertemu dua kali jalan putus yang tentu tidak akan bisa dilewati saat hujan. Untung ... cuaca cerah! Google Map membantu kami menemukan sekolah ini karena memang tidak terletak di pinggir jalan utama.


Inilah sekolah di negeri dongeng, terletak di kaki bukit-bukit hijau yang mirip Bukit Teletubbies. Saya juga mau ah sekolah lagi di SMA ini hahaha. Manapula Kepseknya ramah sekali, suka guyon, dan banyak bercerita ini itu. Kami juga bertemu alumni Uniflor yang sudah lamaaaaa sekali lulus, dan dua alumni lainnya yang lulus di atas tahun 2000.


Kata Kepsek, "Ibu ... kalau sekarang mendung, saya terpaksa ibu pulang ke Maumere karena kalau mulai hujan, saya jamin ibu terpaksa menginap di sini! Hahaha!"

Dan inilah kondisi salah satu ruas jalan yang putus (sangat dalam) sehingga kalau hujan, dialiri air yang meluap:


Harus hati-hati dan pelan-pelan jika tidak ingin mencium tanah kering berdebu serta bebatuannya. Tapi pemandangan jalan putus ini ibarat secuil halangan karena pemandangan sepanjang jalan dari Kota Maumere ke Magepanda itu ausam sekali! 





Menuju Kabupaten Flores Timur


Pulang dari SMA Negeri Magepanda kami kembali ke hotel untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan ke arah Timur (lagi) yaitu ke Kabupaten Flores Timur dengan jarak 128 kilometer. Ada banyak sekali SMA yang menanti kami di sana hahaha. Gayanya menulis ini.


Perjalanannya jauh. Memang. Kami lebih dulu berangkat dari tim bis. Sempat istirahat di Boru dan Puncak Konga di Titihena sebelum menuju Kota Larantuka sebagai Ibu Kota Kabupaten Flores Timur.




Pokoknya, nanti ya akan saya ulas satu-satu lebih detail. Pos ini secara garis besar saja ... garis besar yang lumayan panjang *senyum malu*.

Papi Mami di Puumbao


Sayangnya kami tidak berlama-lama di rumah Pak Anno di Waibalun karena Papi Mami sudah menunggu di Puumbao, di Kota Larantuka-nya. Saya, Viol, dan Thika memang tidak menginap di Hotel Lestari Larantuka karena memang ingin menginap di rumah Papi Nani Resi dan Mami Dete yang dulunya tinggal di Kota Ende. Kedua orangtua yang baik ini sudah menunggu kami dan menyiapkan makan malam. Tak lupa kopi! Yuhuuuu. Kisah tentang Papi Mami di lain pos ya.

Ini fotonya waktu mau pulang. Wajah si Mami sedih begitu karena rumahnya kembali sepi.

Malam itu, Cesar dan Rolland bergabung, kami mengobrol ramai di rumah Papi Mami yang sejuk dan nyaman itu. Papi mendengarkan dan terbahak-bahak mendengar celoteh kami. Mami lebih memilih duduk di teras sambil mengunyah sirih-pinang. Sepulang Cesar dan Rolland pun, kami masih mengobrol di teras sambil Mami memijit Viol dan Saya. Ikan Hiu? Eh, Thika? Ngorok!

3 SMA di Larantuka

Rabu, 20 Februari 2019, ada tiga SMA yang wajib kami kunjungi sementara tim bis menuju Tanjung Bunga. Cesar dan Rolland pun mendapat jatah tiga SMA. Okay, mari jalan! Setelah menegak kopi yang dibikin Mami, kami pun berangkat.

"Jalan bae-bae, Oa eeee. Jangan makan di luar, pulang makan di rumah!" pesan Mami.







Dan tentu saja kami pulang makan siang di rumah karena Mami sudah memasak ... ikan goreng segar yang manis dan sambalnya itu cihuy banget! Aduhai Papi Mami, kalian begitu luar biasa, hati kalian lapangnya luar biasa. Saya belajar banyak dari kalian. Sungguh ... saya pengen nangis. Terima kasih Papi Mami; kami datang, kami ribut, kami kotorkan rumah, kami pulang. Hehe.

Kembali ke Kota Maumere


Ya, setelah makan siang dan dibekali pula pisang goreng dan sambal maknyus a la Mami, kami pun pamit pulang ke Kota Maumere, pamitan sama tim bus dan sebagian tim motor yang masih menginap semalam di Waibalun, di rumah orangtuanya Pak Anno. Perjalanan siang itu mengantar kami tiba di daerah Kabupaten Sikka pada senja hari. Tentu, kami mampir sebentar di Boru untuk ngopi dan menikmati pisang goreng serta sambal maknyus itu.




Kaki saya sungguh lelah karena mengendarai Onif Harem yang matic, kaki jarang diluruskan.

Tiba di Kota Maumere sudah gelap. Kami langsung ke rumah kakaknya Viol. Saya sudah tidak bisa bergerak lagi. Langsung tepat setelah mandi dan keramas (aduh ini kepala guatalnya tak tahan hahaha). Sampai keesokan harinya, pagi-pagi hari, saya dan Thika pergi ke rumah Tanta Ella di daerah Misir Kota Maumere, yang disusul Cesar dan Rolland.

Keluarga Adalah Segalanya


Kamis, 21 Februari 2019, di rumah Tanta Ella kami disuguhi kopi dan tentu ditahan untuk makan terlebih dahulu sebelum ngegas ke Kota Ende.


Sungguh, keluarga adalah segalanya. Berhubungan darah atau tidak, mereka akan selalu menanti kedatangan keluarga lainnya dengan wajah berseri-seri dan kelapangan hati yang luar biasa. Mereka tidak akan rela keluarga lainnya terkena hujan apalagi lapar! Tidak akan pernah terjadi hal semacam itu. Mereka, bahkan, akan mengomelimu kalau tidak mampir. Sungguh ... keluarga adalah segalanya.

Terimakasih Tanta Ella, Bapatua, dan Vil. Terima kasih.

Ngopi di Paga dan Persawahan di Detusoko


Mari pulang kampung. Perjalanan pulang ini berformasi: saya, Thika, Cesar, Rolland, dan Rudi. Viol masih bertahan di Kota Maumere mengurusi pekerjaannya sehingga sepeda motornya dibawa pulang oleh Rudi. Dalam perjalanan pulang ini, mungkin karena setelah makan siang, saya didera kantuk yang luar biasa hebat. Akhirnya menyerah dan berhenti di saung pinggir jalan di Paga (dan pinggir pantai) untuk ngopi sejenak.


Anak pemilik saung, namanya Cici. Dia begitu cantik dan membikin saya harus memotretnya saat itu juga hehe. Sedangkan Thika memilih pergi ke pantai untuk foto-foto di sana. Nanti deh hasilnya saya pamerkan di lain pos. Kuatir kalian iri hahahah.

Setelah ngopi-ngopi di sini, kami terus ngegas ke Ende tanpa berhenti karena saya sudah sangat merindukan Mamatua. Satu kali berhenti di daerah Detusoko untuk memotret pemandangan ini:


Terima kasih Allah SWT atas alam yang indah ini.


Senin - Kamis. Perjalanan panjang ke arah Timur Pulau Flores di dua kabupaten. Lelah tapi menyenangkan. Saya selalu suka #JalanJalanKerja begini. Karena ketika urusan pekerjaan sudah selesai, bisa sekalian jalan-jalan kan hehe. Pos yang panjang ini pun belum sempurna. Masih banyak yang ingin saya ceritakan terpisah ... karena memang harus dipisah. Semoga mata kalian tidak eror setelah membaca pos yang panjang ini hahaha *cubit dinosaurus*.

Perjalanan setotal 680an kilometer. Done!

Well, selamat berakhir pekan, kawan! 



Cheers.

Uniflor Goes to School


Menjadi anggota Tim Promosi Universitas Flores (Uniflor) bukan sesuatu yang baru bagi saya dan dinosaurus. Selain mempromosikan Uniflor melalui tim khusus yang dibentuk setiap awal tahun dimana pada tahun 2015 saya ditugaskan mempromosikan Uniflor ke Pulau Sumba, tugas utama saya memang untuk mempublikasikan semua kegiatan Uniflor kepala khalayak karena saya bertugas di UPT Publikasi dan Humas Uniflor misalnya melalui koran lokal melalui rubrik kerja sama, saya juga menjadi admin dari beberapa akun media sosial, dan bersama Kakak Rossa Budiarti kami menjadi penulis berita di website Uniflor. Pekerjaan mempublikasikan sesuatu memang sudah mendarah-daging dan sulit dipisahkan. Haha.

Baca Juga: Mamatua Project

Surat tugas dan SK sudah dikeluarkan dengan jangka waktu tugas 31 Januari 2019 s.d. 20 Februari 2019. Jangan dipikir itu waktu yang lama karena melihat daftar sekolah, misalnya yang di Kabupaten Ende saja, sudah membikin nafas ngos-ngosan. Lebay but almost true haha. Sabtu kemarin, untuk mengisi kekosongan kegiatan meskipun aslinya daftar recana di T-Journal lumayan padat, usai kegatan Millenial Road Safety di Jalan El Tari, saya memutuskan untuk mengantar surat ke beberapa sekolah. Lumayan jika bisa memasuki dua tiga sekolah. Pak Yance, Ketua Panitia Tim Promosi Uniflor 2019, lantas menyarankan saya dan beberapa teman yang ikut untuk memakai bis Tim Promosi Uniflor saja. Kebetulan bis tersebut baru saja memasuki area kampus saat kami berdiskusi di kantin Kampus III. Wah! Boleh tuh! Perdana! Karena kan bis tersebut digunakan hari ini, Senin 4 Februari 2019, untuk mengantar Tim Promosi Uniflor ke kabupaten lain (arah Barat).

Pak Yance, saya, Ibu Neneng, Ibu Happy, Ibu Shinta.

Ngomong-ngomong, eh, nulis-nulis, penampakan bis ini mirip motorhome ya. Duh, seru sekali membayangkan bis itu beneran motorhome.


Sabtu memang cenderung identik dengan sekolah yang jauh lebih santai. Manapula beberapa sekolah menerapkan lima hari sekolah. Tapi lumayanlah kami masih sempat bertemu beberapa guru dan menyampaikan maksud kunjungan. Rata-rata murid kelas 3 SMA sedang sangat pada kegiatan menjelang UN. Beruntung kami diberi kesempatan untuk mempromosikan Uniflor, bukan pada hari itu juga, melalui janji.