5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat


Musim Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2019. Musim meliput hingga ke luar Kota Ende. Musim bersenang-senang bersama Onif Harem. Musim paling rajin mengganti oli di bengkel sampai digodain sama mas-masnya: olinya diminum sebagian kan(?). Musim pamer foto jalan-jalan. Haha. Yang jelas, belum musim liburan, meskipun kesannya jalan-jalan terus. Ini kerja, bung! Bung ... kuuuussss.

Baca Juga: 5 Kegiatan Kece Menyongsong Dies Natalis 39 Uniflor

Sejak mulai diberikan tugas untuk meliput kegiatan peserta KKN di berbagai daerah di Pulau Flores, saya sudah mulai pula mengumpulkan satu per satu program kerja yang menurut saya keren. Program kerja ini, selain KKN reguler (disebut begitu sih biasanya), ada yang memang termasuk dalam KKN-Tematik, ada pula KKN-PPM. KKN-PPM baru terlaksana tahun 2019 ketika proposal-proposal yang diajukan oleh P3KKN Uniflor lolos di Kemenristek Dikti untuk menerima dana hibah. Dana hibah ini bukan dipakai untuk keperluan dan kepentingan mahasiswa loh yaaaa, melainkan dipakai untuk menjalankan program kerja yang telah disusun dan/atau diusulkan untuk keperluan dan kepentingan masyarakat itu sendiri.

Dalam bidikan saya, ada 5 program KKN Uniflor keren dalam pengabdian kepada masyarakat. Mari simak!

1. Bangun Rumah


Ingat program televisi tentang bedah rumah? Di KKN Uniflor ada yang namanya bangun rumah. Bangun rumah dilakukan oleh kelompok KKN kelas pekerja (mahasiswa yang sudah bekerja). Tahap awal adalah mencari satu rumah yang tidak lagi layak huni di lokasi yang termasuk dalam lokasi KKN tahun bersangkutan. Inisiasi dilakukan dengan petinggi wilayah setempat seperti kepala desa dan/atau lurah beserta tokoh masyarakat. Si pemilik rumah kemudian diberitahu dan saat KKN tiba, pembangunan rumah pun dilakukan. Saya pernah menyaksikan sendiri pembangunan rumah Mama Sisi di Kecamatan Lepembusu Kelisoke. Luar biasa. Sampai mata berkaca-kaca melihatnya.

2. Penyuluhan


Penyuluhan terdengar tidak asing dan pasti sering dilakukan bukan? Tapi penyuluhan yang dilakukan murni oleh mahasiswa, terutama mahasiswa hukum, adalah sesuatu yang sangat luar biasa menurut saya. Bagaimana masyarakat diedukasi tentang pentingnya memahami tentang dunia hukum, yang paling sederhana pun, itu sangat bagus. Saya pernah meliput kegiatan ini di SMP Muhammadiyah Ende oleh mahasiswa KKN 2018.

3. Belajar Pertanian


Ini penting, terutama bagi masyarakat pedesaan yang rata-rata mempunyai lahan pertanian baik itu sawah maupun kebun. Saya melihat bagaimana mahasiswa KKN-PPM melakukannya di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko. Rata-rata mahasiswa yang ditempatkan di lokasi ini pun berasal dari Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Uniflor. Demikian pula dengan Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Kegiatan mereka antara lain membuat pupuk bersama masyarakat hingga mengelola lahan. Ausam. Perlu diketahui, Uniflor mempunyai lahan luas sebagai kebun percontohan dan/atau tempat prakteknya mahasiswa Prodi Agroteknologi. Kita akan lihat hasil akhirnya nanti seperti apa. Yang jelas, pasti bakal saya pos.

4. Bangun Rumah Baca


Yang satu ini, juga poin nomor 3 dan 5, sama-sama KKN-PPM. Rumah baca tersebut dibangun di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Proses pembangunan rumah baca dimulai dengan ritual adat oleh tokoh masyarakat dan/atau tokoh adat, tentu bersama para petinggi desa yaitu Kepdes, Sekdes, hingga Ketua PBD-nya. Setelah ritual, dilakukan peletakan batu pertama, dan rumah baca tersebu sedang dalam proses pembangunan (saat saya menulis ini). Semoga saya bisa ke sana saat peresmiannya! Ada yang mau menyumbang buku anak-anak? Yuk sumbang ke rumah baca baru di Desa Ngegedhawe!

5. Psikoedukasi


Awalnya saya bingung dengan istilah ini, tapi internet menyediakan segalanya. Jadi ringkasnya, psikoedukasi adalah pola/cara mengajak masyarakat dan/atau bersama-sama masyarakat mengenali apa permasalahan yang dihadapi selama ini, kemudian dicarilah solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Ini dilakukan di Desa Anaraja, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Hasilnya pun nanti pasti saya  pos. Ingin tahu perubahan dan penguatan dalam tubuh masyarakat setelah KKN-PPM ini seperti apa.

⇜⇝

Yang juga keren adalah, para peserta KKN pasti terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan adat yang dilaksanakan di desa. Kapan lagi bisa merasakan dan terjun langsung? Saya sendiri pernah merasakan dan mengikuti ritual adat Goro Fata Joka Moka 2016, serta menyaksikan perlombaan Naro (tarian adat Suku Ende, kalau Suku Lio menyebutnya Gawi). Menjelang 17-an, bakal lebih banyak lagi kegiatan yang akan dilaksanakan/dilakukan masyarakat tentu bersama-sama dengan mahasiswa yang KKN di lokasi mereka.

Baca Juga: 5 Wisata Dalam Kota Ende

Bagaimana dengan daerah kalian, kawan? Sudah memasuki Bulan Agustus ... persiapannya sudah mulai kencang dooonk hehehe. Bagi tahu yuk!



Cheers.

Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe


Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe. Musim KKN 2019 sudah tiba. Artinya, saya yang biasanya bertugas sebagai Panitia KKN Seksi Publikasi dan Dokumentasi harus bersiap ke luar kota, ke daerah lokasi KKN, bahkan yang di luar Kabupaten Ende. Kali ini saya dan Anto Ngga'a dikoordinir oleh Kakak Rossa Budiarti, siap menjalankan tugas. Tahun lalu peserta KKN yang di luar daerah tidak diliput. Tapi tahun ini wajib diliput terutama tiga desa penerima dana hibah KKN-PPM dari Kemenristek Dikti. Keren kan? Untuk pertama kali proposal yang diajukan oleh P3KKN lolos!

Baca Juga: Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita

Ada tiga desa yang mendapat dana hibah PPM dan Kemenristek Dikti sesuai tiga proposal yang lolos diajukan oleh P3KKN. Tiga desa itu adalah Desa Nggedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Desa Anaraja di Kecamatan Nangapanda, Desa Wolofeo di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Sabtu kemarin, 27 Juli 2019, peserta KKN - PPM untuk Desa Ngegedhawe diberangkatkan.

Literasi Desa


Program utama di Desa Ngegedhawe adalah Literasi Desa yaitu pembangunan rumah baca: pembangunan, stok buku, dan pengelolaan. Sudah sering peserta KKN membangun rumah tinggal bagi penduduk desa yang kondisi rumahnya tidak layak huni lagi. Tapi rumah baca? Ini perdana dan seperti kata Kepala LP2M Uniflor saat acara pelepasan duapuluh peserta KKN-PPM di Desa Ngegedhawe, ini adalah pilot project! Pilot project itu memang kudu hati-hati, terutama yang bakal dimonitoring oleh L2Dikti, maksudnya adalah kesuksesan merupakan goal yang tidak bisa ditawar-tawar dengan kata 'setidaknya'. Tentu saja, Tuhan adalah penentu utama. Hehe.



Sekretaris Desa Ngegedhawe dan Ketua BPD Desa Ngegedhawe menyambut baik program pembangunan rumah baca ini. Ketua BPD misalnya, menurutnya rumah baca akan berdampak sangat positif pada anak-anak dan masyarakat desa. Salah seorang Dosen Penamping Lapangan (DPL) yaitu Pak Gusty Dadi mengatakan bahwa meskipun zaman sekarang banyak informasi yang bisa dibaca melalui lini digital (internet di telepon genggam) namun membaca buku sebenarnya merupakan salah satu cara untuk memajukan sebuah peradaban. Saya suka sekali kalimat ini. 


Yang tidak saya duga adalah penyambutan yang luar biasa dari Sekdes dan jajarannya, semacam suatu harapan yang kemudian menjadi nyata. Baru saya tahu, tahun 2019 merupakan tahun kedua peserta KKN Uniflor ditempatkan di desa tersebut. Tentu, masih banyak harapan yang ingin diwujudkan oleh masyarakat Desa Ngegedhawe bersama peserta KKN yang ditempatkan di desa tersebut. Semoga.

Rumah Baca Harus Lebih Banyak Dibangun


Di Kota Ende, paling terakhir saya mengenal Rumah Baca Sukacita yang haru saja merayakan Hari Literasi Sukacita.


Saya diminta bercerita tentang dunia jurnalistik dan dunia blogger. Adalah kesenangan tersendiri jika bisa berbagi tentang kebiasaan-kebiasaan baik yaitu membaca dan menulis. Anak muda, sejak usia dini, memang harus ditanamkan nilai-nilai membaca dan menulis.

Rumah baca memang sudah seharusnya lebih banyak dibangun, sebagai tempat yang mengakomodir minat baca anak-anak bahkan orang dewasa. Apabila rumah baca memang ditujukan untuk suatu komunitas yang tidak memandang usia, maka tentu buku-buku yang disediakan pun harus beragam, untuk semua usia. Tetapi saya berpikir ada baiknya rumah baca dimulai dari kelas anak-anak terlebih dahulu, orang dewasa bisa menyusul. Karena anak-anak tidak saja membutuhkan buku tetapi juga bimbingan dari para pendamping atau kakak-kakak pengelola rumah baca.

Rumah baca dan pengelola adalah satu kesatuan. Bayangkan saja begini ... lima bocah balita dihadapkan pada sebuah granat. Apa yang akan mereka lakukan? Bisa saja diabaikan. Bisa saja salah seorang bocah balita menarik pemicu dan tamatlah riwayat orang-orang dalam radius ledakan. Tetapi, jika lima bocah balita itu dibimbing oleh orang dewasa yang waras dan bertanggungjawab, maka dia akan menjelaskan bahwa granat adalah benda yang harus dijauhi sejauh-jauhnya oleh anak-anak. Sama juga dengan buku. Pembimbing/pengelola merupakan mata angin yang akan mengarahkan dengan benar anak-anak tentang isi buku yang dibaca.

⇜⇝

Bagi saya pribadi, Literasi Desa merupakan program keren yang harus didukung oleh kita semua, tidak memandang orang tersebut merupakan bagian dari KKN-PPM Uniflor atau tidak. Karena literasi sangat dibutuhkan pada zaman sekarang ini, di tengah dunia digital yang serba praktis, di tengah dunia yangmana anak-anak lebih suka bermain tiktok ketimbang membaca dan menulis. Semoga harapan-harapan baik dapat terwujud. Amin.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup Dalam Tubuh Masyarakat

Bagaimana dengan di daerah kalian, kawan? Adakah rumah baca yang sungguh-sungguh dikelola? Bagi tahu yuk di ... di mana-mana hatiku senang ... hehe. Di komen, tentu saja!



Cheers.

5 Kegiatan Kece Menyongsong Dies Natalis 39 Uniflor


5 Kegiatan Kece Menyongsong Dies Natalis 39 Uniflor. Hyess! Tanggal 19 Juli merupakan tanggal keramat karena merupakan tanggal kelahiran Universitas Flores (Uniflor) tercinta. Bukan saja karena saya meraih gelar Sarjana Hukum dari universitas pertama di Pulau Flores ini, tetapi juga karena saya bekerja di tempat ini tepatnya di UPT Publikasi dan Dokumentasi. Mencintai Uniflor sudah default. Sejak tahun 2011 sampai sekarang saya masih bertahan di UPT yang sama alias belum pernah dipindah. Haha. Kadang saya bertanya-tanya kenapa belum dipindah juga(?). Mungkin karena saya belum diijinkan mengacau di unit lain *diketawain dinosaurus*.

Baca Juga: 5 Lokasi Terdekat Untuk Berwisata Sekitar Kota Ende

19 Juli 2019 Uniflor akan mencapai usia 39. Bayangkan! 39 tahun! Kalau manusia, itu mungkin sudah menikah dan dikaruniai dua anak super lutjuuuu. Akan ada perayaan besar-besaran saat ulang tahun ke-40 nanti. Tapi itu nanti, sekarang saya mau cerita-cerita tentang kegiatan ulang tahun ke-39 dulu ya. Seru-seru loh!

Perlu diketahui, ada dua panitia yang menyelenggarakan aneka lomba menyongsong ulang tahun Uniflor ke-39. Yang pertama: panitia besar yang terdiri dari dosen dan karyawan. Yang kedua: Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uniflor yang juga selenggarakan berbagai lomba. Jadi, bisa kalian bayangkan betapa ramainya kampus kami di hari-hari terakhir ini. Meskipun masih ada prodi yang menyelenggarakan UAS tapi keseruan dan kehebohannya tetap saja ... wajib!

Apa saja sih kegiatan kece menyongsong dies natalis ini? Cekidot!

1. Jalan Sehat


Jalan sehat sudah dilakukan sejak Sabtu, 6 Juli 2019. Jalan sehat ini diikuti oleh segenap civitas akademika Uniflor termasuk siswa-siswi SMK yang praktek. Ramai dan sangat seru! Dimulai dari Kilometer Nol di Lapangan Pancasila, berakhir di Lapangan Futsal - Kampus III - Uniflor. Ada kacang ijo dan kudapan yang disiapkan oleh panitia. Dan serunya kami berjoged gembira dipimpin Kakak Shinta Degor.



Kakak Shinta (sepatu kuning), seng ada lawan! Hehe.

2. Lomba Futsal


Lomba futsal sudah dimulai usai upacara pembukaan. Upacara pembukaan ini dilaksanakan di Lapangan Futsal dan Pembinanya adalah Rektor Uniflor Bapak Dr. Simon Sira Padji, M.A.


Serunya lomba futsal ini terlebih dahulu dimulai oleh tim puteri. Bisa dibayangkan kan teman-teman yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terjun di dunia futsal kemudian harus mewakili fakultasnya untuk bermain futsal?



Seru dan kocaaaaak.

3. Lomba Voli


Ini nih yang saya syukaaa haha. Apalagi kalau nonton tim putera bermain. Karena kan di dalam satu tim itu harus ada satu dosen dan/atau satu karyawan yang turut masuk dalam tim selain mahasiswa. Coba kalian bayangkan, mahasiswa yang biasanya sudah solid satu tim itu, dikurangi satu atau dua anggota untuk digantikan oleh dosen dan/atau karyawan.


Tapi asyik ya. Kali ini saya tidak mengikuti lomba futsal dan lomba voli. Serahkan pada yang lebih jago saja, ya adik-adik mahasiswa. Karena, kalau dulu sistem lombanya itu per kampus, sekarang per prodi. Sehingga kami-kami yang bekerja di unit-unit dibagi ke setiap prodi. Saya kebagian di Prodi Pendidikan Matematika (ProMat). Otomatis karena mahasiswa dilibatkan jadi kan asyik ... mereka lebih jago bermain voli dan futsal. Sumpah, mereka kompak dan tangguh-tangguh!

4. Lomba Debat


Yang satu ini lomba yang melibatkan perwakilan mahasiswa dari 16 (enambelas) program studi. Asyik sekali meliput lomba yang satu ini. Gemas juga sama pendapat-pendapat mereka saat debat antara pro dan kontra akan tema yang diundi.


Gemas karena kalau tidak sesuai dengan pendapat saya pribadi hahahaha. Saya pikir, anak hukum harusnya bisa menang karena kan banyak regulasi yang mengatur tentang tema-tema tersebut. Yang penting, melalui lomba debat ini jelas akan terasah pola berpikir, menganalisa, dan bagaimana menyampaikan pendapat dalam sebuah debat.

5. Lomba Vlog


Ini dia lomba kece yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Uniflor, karena sebelumnya diumumkan bahwa setiap prodi/fakultas harus selenggarakan lomba masing-masing. Tapi kemudian kemudi agak berubah tetapi FTI telah menyusun segala sesuatunya sehingga lomba ini tetap dilaksanakan.


Semoga banyak yang ikutan ya. Sebagai wujud dari FTI sebagai fakultas yang bergerak di dunia teknologi informasi serta sebagai wujud kecintaan peserta terhadap dunia pariwisata di NTT. Kalau bukan kita, siapa lagi?

⇜⇝

Lima kegiata kece di atas belum mewakili semua kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka ulang tahun Uniflor yang ke-39, apalagi kegiatan-kegiatan yang mulai disusun dalam rangka Panca Windu (40 tahun). Masih banyak yang lainnya, seperti futsal putera, lomba paduan suara, lomba karya tulis ilmiah, lomba pop singing, dan seterusnya. Harapan saya sebagai bagian dari Uniflor adalah kegiatan-kegiatan ini akan semakin mempererat rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang memang sudah ada dan semakin pekat di Uniflor. Kami semua bersaudara.

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

Saya sendiri memang tidak seberapa aktif dalam berbagai lomba, kecuali menjadi penonton aktif yang teriak-teriak meskipun sedang radang tenggorokan, karena juga sibuk dengan berbagai kegiatan menjelang Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sebagai panitia KKN di bagian publikasi dan dokumentasi pun harus ke sana sini meliput kegiatan pertemuan dengan DPL, misalnya, hingga nanti peliputan saat mahasiswa KKN berangkat ke lokasi KKN.

Cukup letih kan? Hahahha.

Bagaimana dengan di tempat kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen!



Cheers.

Pemateri Blog


Sudah baca pos tentang Menyiapkan Materi? Kalau sudah baca, kalian pasti tahu bahwa Sabtu 4 Mei 2019 kemarin saya diundang oleh Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Flores (Uniflor) untuk menjadi pemateri bertema blog. Materi ini disampaikan dalam kegiatan Pelatihan "Menyiapkan Media Pembelajaran Berbasis Digital" yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Sejarah dan Program Studi Pendidikan Fisika dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Uniflor bekerjasama dengan FTI. Boleh dibilang pos ini adalah pembuktian dari pos yang itu. Hehe. Zaman sekarang segala sesuatunya butuh bukti/data, kalau tidak ada bukti/data, bisa disangka hoaks.

Baca Juga: Menyiapkan Materi

Menjadi pemateri tentang blog di hadapan peserta yang rata-rata masih belia seperti saya *dinosaurus ngambek, haha* mengingatkan saya pada kegiatan-kegiatan serupa. Antara lain: Workshop Blog SMUN 1 Ende yang merupakan pelatihan blog kedua karena sebelumnya di Kota Maumere saat launching Komunitas Blogger NTT, Pelatihan Blog, Nobar & Diskusi oleh Komunitas Blogger NTT dan Akademi Merdeka Ende, Kembali ke Fitrah Kembali ke Blogsphere yang banyak bercerita tentang kegiatan-kegiatan selama ini, Documenting Your Journey bersama Flores Pecinta Alam, Pelatihan Internet, Blog, SocMed, Untuk LSM dan Petani bekerjasama dengan LSM Veco dan Mas Antonemus dari Bali Blogger, Sarasehan di SMPN Satap Koawena bekerjasama dengan FTI Uniflor, #EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende yang merupakan kerjasama banyak pihak, Kode Etik Online dan Sosialisasi Blog, dan lain sebagainya yang tidak bisa saya tulis semuanya di sini.

Semua kegiatan itu menambah pengalaman, tentu saja, dan membikin saya harus bisa mengendalikan diri antara berbicara di depan peserta yang rata-rata anak muda, atau di depan peserta yang didominasi orang tua.


Sabtu pagi pukul 08.00 Wita saya sudah tiba di Aula Lantai III FTI. Sekalian meliput kegiatan pembukaannya. Sedangkan jatah saya menyampaikan materi adalah pukul 14.00 Wita. Lama sekali menunggunya. Memang! Tapi saya sudah niat untuk ikut mengikuti kegiatan ini dari awal, tidak pulang ke rumah untuk melanjutkan tidur sebelum kembali lagi ke lokasi kegiatan, sekalian menambah ilmu. Banyak ilmu baru yang saya dapatkan dari para pemateri. Portal Dosen dan Mahasiswa oleh Ferdinandus Lidang Witi, S.E., M.Kom. E-mail (Gmail) dan Youtube oleh Maria Adelvin Londa, S.Kom, M.T. Google Classroom oleh Kristina Sara, S.Kom., M.Pd., Kristianus Jago Tuteh. S.Kom., M.Pd., dan Anastasia Mude, S.Kom., M.Kom. Blog oleh P.D. Indriastuty Pharmantara, S.H., dan Vlog oleh Ihsan Dato, S.Sos. Sayangnya saya harus lebih dulu pulang karena harus menghadiri acara lain yaitu Lomba SUC Endenesia, jadi tidak sempat mengikuti materi terakhir dari Om Ihsan tentang vlog.

Antusiasme


Peserta yang terdiri dari mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah dan Prodi Pendidikan Fisika ternyata masih semangat walaupun materi blog baru dimulai pukul 14.00 Wita usai makan siang. Awalnya saya pikir mereka bakal ribut sendiri mengobrol karena bosan dan kangen pacar, atau ada yang tertidur karena perut sudah kenyang dan dilanda kantuk akibat ulah karbohidrat. Tapi tidak. Mereka dengan tertib menyimak materi yang saya sampaikan, bahkan ada yang merekam karena mungkin ingin belajar sendiri nanti di rumah, sekaligus mempraktekannya! Untuk praktek ini peserta dibantu oleh beberapa mahasiswa FTI yang memang sudah punya blog. Asyik sekali.


Materi yang saya sampaikan bermula dari mengenal blog, membikin blog, mengenal dashboard, dan jenis-jenis konten yang saya ambil dari blog Mak Bowgel si Evvafebri. Beberapa materi memang sama dengan materi dari Kelas Blogging NTT dan Kelas Blogging Online. Karena kan materi yang dipelajari adalah materi yang sama. Ibarat Matematika, tidak mungkin di lokasi A saya bilang 1+1=2 sedangkan di lokasi B saya bilang 1+1=9. Mengenal blog, misalnya, saya mulai dengan deskripsi blog, blog ber-niche dan gado-gado, sampai blog gratisan dan berbayar. Sedangkan setelah membikin blog, saya memperkenalkan dashboard pada mereka serta panel-panelnya.


Di akhir kegiatan saya meminta peserta yang telah berhasil membikin blog untuk mengirimkan tautan blog mereka ke nomor WA. Tidak semua peserta langsung punya blog pada hari itu juga, karena tidak semua peserta punya laptop. Tapi saya menyarankan mereka membikinnya menggunakan Android, karena toh sama saja meskipun mata bakal lebih teraniaya kalau bikin blog pakai Android.

Kelas Blogging Tuteh


Karena masih harus bersiap-siap untuk menjuri Lomba Stand Up Comedy Endenesia, saya terpaksa pulang duluan. Setiba di rumah, saya menerima begitu banyak pesan WA dari peserta yang telah sukses membikin blog. Sebagai mentor, saya senang sekali. Atas dasar keinginan agar mereka kelak dapat mengelola blog dengan baik, dapat menulis konten terutama konten lokal, dan lain sebagainya, saya menyarankan untuk membikin WAG. Gayung bersambut. Maka saya membikin WAG bernama Kelas Blogging Tuteh. Karena apa? Karena ini bukan Kelas Blogging NTT dan Kelas Blogging Online yang ada Om Bisot dan Kanaz di dalamnya. Jadi tak apa lah pakai nama itu, sekalian sombong ha ha ha.

Karena di rumah kami ada Wi-Fi, saya juga menawarkan kepada para peserta nanti kelas luring (di luar WAG) bisa langsung di rumah saya saja ketimbang pusing memikirkan koneksi. Mereka setuju. Tentu, untuk urusan ini saya dibantu oleh Natalia Mudamakin, mahasiswa FTI yang rumahnya dekat banget sama rumah saya. Nanti saya bakal pos tentang blog-blog para peserta Kelas Blogging Tuteh. Siapa tahu bisa menjalin lebih banyak pertemanan.

Oh ya, salah satu peserta ternyata masih satu WAG dengan saya di Grup Pekerja Teks Komersial. Saya menyarankannya untuk mempublikasikan pula puisi-puisinya di blog. Why not? Saya sendiri kan juga pernah punya blog khusus puisi. Bukan pernah dink, tapi masih ada sampai sekarang, hanya saja sudah tidak pernah di-update.


Pribadi, saya sangat senang dengan kegiatan tersebut karena seperti kata Dekan FKIP Drs. Yosef Tomi Roe, M.A., kegiatan ini memberi nilai tambah kepada mahasiswa FKIP. Sehingga mereka tidak saja belajar ilmu akademik yang berhubungan dengan program studi mereka saja tapi juga hal-hal yang berkaitan dengan IT. Kenapa? Karena ketika terjun ke masyarakat, mahasiswa pun dituntut untuk tahu tentang dunia IT (yang berhubungan dengan komputer), di mana pun mereka bekerja baik di sekolah, kantor desa, maupun LSM.

Semoga apa yang saya sampaikan itu bermanfaat untuk semua peserta. Amin.



Cheers.

Uniflor Goes to School


Menjadi anggota Tim Promosi Universitas Flores (Uniflor) bukan sesuatu yang baru bagi saya dan dinosaurus. Selain mempromosikan Uniflor melalui tim khusus yang dibentuk setiap awal tahun dimana pada tahun 2015 saya ditugaskan mempromosikan Uniflor ke Pulau Sumba, tugas utama saya memang untuk mempublikasikan semua kegiatan Uniflor kepala khalayak karena saya bertugas di UPT Publikasi dan Humas Uniflor misalnya melalui koran lokal melalui rubrik kerja sama, saya juga menjadi admin dari beberapa akun media sosial, dan bersama Kakak Rossa Budiarti kami menjadi penulis berita di website Uniflor. Pekerjaan mempublikasikan sesuatu memang sudah mendarah-daging dan sulit dipisahkan. Haha.

Baca Juga: Mamatua Project

Surat tugas dan SK sudah dikeluarkan dengan jangka waktu tugas 31 Januari 2019 s.d. 20 Februari 2019. Jangan dipikir itu waktu yang lama karena melihat daftar sekolah, misalnya yang di Kabupaten Ende saja, sudah membikin nafas ngos-ngosan. Lebay but almost true haha. Sabtu kemarin, untuk mengisi kekosongan kegiatan meskipun aslinya daftar recana di T-Journal lumayan padat, usai kegatan Millenial Road Safety di Jalan El Tari, saya memutuskan untuk mengantar surat ke beberapa sekolah. Lumayan jika bisa memasuki dua tiga sekolah. Pak Yance, Ketua Panitia Tim Promosi Uniflor 2019, lantas menyarankan saya dan beberapa teman yang ikut untuk memakai bis Tim Promosi Uniflor saja. Kebetulan bis tersebut baru saja memasuki area kampus saat kami berdiskusi di kantin Kampus III. Wah! Boleh tuh! Perdana! Karena kan bis tersebut digunakan hari ini, Senin 4 Februari 2019, untuk mengantar Tim Promosi Uniflor ke kabupaten lain (arah Barat).

Pak Yance, saya, Ibu Neneng, Ibu Happy, Ibu Shinta.

Ngomong-ngomong, eh, nulis-nulis, penampakan bis ini mirip motorhome ya. Duh, seru sekali membayangkan bis itu beneran motorhome.


Sabtu memang cenderung identik dengan sekolah yang jauh lebih santai. Manapula beberapa sekolah menerapkan lima hari sekolah. Tapi lumayanlah kami masih sempat bertemu beberapa guru dan menyampaikan maksud kunjungan. Rata-rata murid kelas 3 SMA sedang sangat pada kegiatan menjelang UN. Beruntung kami diberi kesempatan untuk mempromosikan Uniflor, bukan pada hari itu juga, melalui janji.