Arsip Kategori: Uniflor

Inovasi Canggih dan Keren Cerita dari Serambil Uniflor


Inovasi Canggih dan Keren Cerita dari Serambil Uniflor. Menurut saya pribadi, inilah perpaduan jenius dari dua isu paling hot saat ini: Panca Windu Universitas Flores (Uniflor) dan pandemi Covid-19. Di antara puluhan kegiatan lainnya seperti lomba kebersihan antar unit, lomba taman antar gabungan unit, lomba masak nasi goreng peserta khusus laki-laki, hingga lomba video, Ketua Panitia Panca Windu Uniflor Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. yang sering kami sapa Mama Emmi, menggagas program keren bertajuk Cerita dari Serambi Uniflor. Lucunya, saat berdiskusi atau mengobrol santai tentang program ini kami sering salah menyeletuk Serambi Mekah dan Serambi Bung Karno. Maklum, kata serambi memang selalu disandingkan dengan Mekah. Sedangkan di Kota Ende sendiri telah lama dibangun Serambi Bung Karno yang kece badai itu. 

Baca Juga: Ngoblog Soal Digital Marketing Bareng Nunik Utami di Live IG

Mari cari tahu apa itu Cerita dari Serambi Uniflor.

Tujuan Cerita dari Serambi Uniflor


Cerita dari Serambi Uniflor dilatarbelakangi dari keinginan agar Uniflor lebih dikenal oleh masyarakat luas dan lebih dekat dengan masyarakat. Otomatis tujuannya ya agar latar belakang tersebut terwujud. Kata 'serambi' dipilih sebagai analogi tempat orang duduk dan mengobrol santai sambil bercerita ngalor-ngidul tentang banyak hal. Oleh karena itu, Cerita dari Serambil Uniflor merupakan tempat lalu-lalangnya cerita-cerita tentang Uniflor. Dari A sampai Z. Ini merupakan salah satu inovasi canggih dan keren mempromosikan Uniflor di tengah pandemi Covid-19.

Apakah Ada Narasumbernya?


Tentu saja, kawan! Kalau hanya sekadar bercerita semua orang bisa. Tapi tentang Uniflor haruslah datang dari narasumber yang berkompeten sehingga informasi yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan. Narasumber tentu tidak semerta-merta berbicara atau bercerita tetapi dipandu oleh seorang host. Jadi mirip talkshow begitu dong, Teh? Emberrrr. Hehehe.

Apakah Berkelanjutan?


Melihat begitu banyak cerita yang bisa kami bagi kepada masyarakat, diupayakan Cerita dari Serambi Uniflor berkelanjutan. Saat ini Cerita dari Serambi Uniflor direncanakan tayang setiap Sabtu, pukul 10.00 Wita, di channel Youtube: Official Universitas Flores. Tayang perdana Cerita dari Serambi Uniflor dilaksanakan pada Sabtu, 11 Juli 2020, dengan narasumber Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt. dan Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. Silahkan klik video berikut ini:



Iya, untuk edisi perdana ini saya yang menjadi host-nya. Tapi host nanti bakal berganti-ganti.

Bagaimana Mekanismenya?


Ini dia yang menjadi poin utama pos #SelasaTekno.

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa Uniflor dapat menghasilkan satu program keren yang tayang di Youtube. Seperti yang sudah saya tulis di atas, digagas oleh Mama Emmi, kemudian dipilihlah produser, dan dibentuklah dua tim. Produser Cerita dari Serambi Uniflor adalah Bapak Yohanes P. Luciany, S.E., M.Si. atau Pak Yance. Dua tim yang dibentuk adalah Tim Perumus dan Tim Kreatif. Tim Perumus bekerja merumuskan materi, narasumber, hingga term of reference, dan melapor kepada produser. Tim Kreatif bekerja untuk mewujudkan tayangan yang sesuai konsep/terarah sekaligus keren. Dipimpin oleh Bapak Harry Ndb, kalian sudah bisa melihat hasilnya pada video di atas.

Mekanismenya:
1. Setting lokasi.
2. Pemasangan perangkat.
3. Live Streaming.
4. Selesai.


Tapi tentu tidak sesederhana itu. Untuk tayangan live dibutuhkan insert video/gambar sebagai pendukung. Data pendukung ini dikumpulkan bersama dan diatur oleh Tim Kreatif. Karena sudah ada term of reference, Tim Kreatif lebih mudah mendata/menyusun list-nya untuk di-insert pada tayangan live di channel Youtube tersebut.


Apa saja perangkatnya? Banyak sekali perangkat yang dibutuhkan untuk durasi satu jam! Tapi memang seperti itulah pola kerjanya.
1. Komputer.
2. Laptop.
3. Dua televisi/monitor panduan.
4. Clip-on dan kawan-kawannya.
5. Mixer audio dan kawan-kawannya.
6. Program (ini yang saya kurang tahu namanya, haha).
7. Kamera/camcorder.
8. Whiteboard.
9. Koneksi internet yang mumpuni.
Dan printilan lain yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu termasuk kabel-kabel haha.


Foto-foto tersebut di atas sudah cukup mewakili bahwa dibutuhkan teknologi yang tinggi dan sumber daya manusia yang mumpuni untuk bisa menayangkan program Cerita dari Serambi Uniflor kepada masyarakat. Agar apa? Agar Uniflor lebih dikenal oleh masyarakat luas, dan lebih dekat dengan masyarakat.

Baca Juga: Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto

Setelah selesai tayangan perdana live Cerita dari Serambi Uniflor itu, saya sangat terharu sekaligus bangga. Ada begitu banyak orang hebat di Uniflor. Hebat pada bidangnya masing-masing. Dan ketika semua disatukan dalam kerabat kerja yang kompak dan insha Allah solid, hasilnya luar biasa. Kesalahan ini itu saat live merupakan hal yang lumrah. Jangankan yang live, yang melalui proses taping saja masih ada banyak salahnya (makanya dibutuhkan penyuntingan). Jika pada tayangan live bisa 90% sukses, itu sangat berarti. Artinya antara Tim Perumus, Tim Kreatif, dan Produser, bekerjasama dengan sangat sangat sangat baik. Ya kan? Kan ya!

Bagi kalian semua, jangan lewatkan Cerita dari Serambi Uniflor setiap Sabtu, pukul 10.00 Wita, di channel Youtube: Official Universitas Flores. Ada giveaway yang siap dibagikan loh.

#SelasaTekno



Cheers.

Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores


Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores. 19 Juli 1980 merupakan tanggal lahirnya Universitas Flores (Uniflor). Founding father-nya, H. J. Gadi Djou, Drs.Ekon. yang karib kami sapa Opa Ema, berjuang begitu keras dan gigih agar pendidikan kaum muda di Pulau Flores tetap berjalan dan berlanjut saat Universitas Nusa Cendana (Undana) Cabang Ende ditutup atas regulasi pada saat itu. Dari buku Sang Visioner, dan tulisan-tulisan dari isteri Opa Ema yaitu Oma Mia Gadi Djou dalam buku-buku seri Cerita-Bercerita, saya pribadi patut mengucapkan terima kasih atas perjuangan Opa Ema mendirikan, membangun, dan mengembangkan Uniflor. Beliaulah sejatinya seorang visioner. Apa yang menjadi visi (dan misi) beliau saat itu, kini telah terwujud. Lulusan Uniflor terserap ke masyarakat: guru/pendidik, ASN, wakil rakyat, wirausahawan, advokat, petani, penyiar radio, kontraktor, orang-orang yang bekerja di belakang layar televisi, dan lain-lain yang tidak dapat saya mention satu per satu.

Baca Juga: #PDL 38 Tahun Uniflor dan Cerita Bersamanya

19 Juli 2020, Uniflor merayakan panca windu-nya. Di usia matang ini, eksistensi Uniflor dalam kancah dunia pendidikan di Indonesia sangat diperhitungkan. Mahasiswanya tidak saja datang dari Pulau Flores, tetapi juga dari Pulau Sumba, Pulau Adonara, Pulau Alor, Pulau Solor, Pulau Lembata, dan sekitarnya. Mahasiswanya bahkan datang dari daerah 3T melalui beasiswa afirmasi; anak Papua, hingga anak Malang yang orangtuanya tinggal di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Uniflor telah membuktikan visi-nya sebagai universitas unggul dan sebagai mediator budaya. Bagi saya, Uniflor telah menyatukan begitu banyak budaya menjadi satu budaya yaitu budaya Uniflor. Budaya Uniflor yang tetap memegang teguh budaya masing-masing individu tanpa mendiskreditkan yang lain; menyatukan semua perbedaan budaya tradisional itu bersama budaya moderen.

Saya memang tidak tumbuh bersama Uniflor, di mana Uniflor lahir ketika usia saya menginjak 7 (tujuh) bulan. Tapi saya tumbuh bersama Uniflor sejak tahun 2011 dan berkembang hingga saat ini, dan insha Allah seterusnya. Bertumbuh bersama Uniflor tidak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya, mengingat kebiasaan sering jenuh dengan satu pekerjaan. Nampaknya kali ini memang beda; situasi dunia kerja yang penuh rasa kekerabatan. Kali ini memang beda; saya menemukan renjana pada pekerkaan ini. Ketika menemukan renjana pada pekerjaan, semua orang pasti lebur bersamanya. Saya sudah melalui 4 (empat) kali pindah ruangan, 4 (empat) kali ganti Pimpinan UPT Publikasi dan Humas Uniflor, 5 (lima) kali ganti Kepala Tata Usaha, rekan kerja yang datang-pergi lantas meninggalkan saya dan Kakak Rossa berdua. Bekerja di satu bidang selama 9 (sembilan) tahun ternyata tidak semerta-merta bikin kenyang pengalaman, karena semakin banyak hal/ilmu baru yang saya pelajari, hingga akhirnya ditempatkan sebagai Kabag Dokumentasi dan Publikasi di UPT Publikasi dan Humas Uniflor.

Saya berkembang bersama Uniflor. Ya, itu benar. Melihat Uniflor dari tahun 2011 sampai dengan sekarang, rasanya ingin menitikkan air mata. Dosen-dosennya rata-rata Magister dan kini telah lebih banyak Doktor (dan yang sedang kuliah S3). Semua ruang kuliahnya dilengkapi komputer dan LCD termasuk ruangan micro-teaching, free Wi-Fi di mana-mana bahkan di kantin, perpustakaannya (perpustakaan utama, perpustakaan fakultas, dan perpustakaan program studi) menyediakan koleksi buku yang lengkap, klinik kesehatan dengan seorang dokter dan dua bidan, kampus ministry, fasilitas pusat komputer, fasilitas olah raga, ragam UKM yang mana prestasinya hingga ke tingkat provinsi dan nasional. Mahasiswa Uniflor juga melakukan penelitian membikin hand sanitizer dan disinfektan bersama dosennya. Tentu, mahasiswa Uniflor juga diberikan beasiswa untuk kategori-kategori tertentu antara lain mahasiswa berprestasi hingga mahasiswa kurang mampu.

Pada masa pandemi Covid-19, Uniflor bertindak sebagai orangtua yang sangat peduli pada anak-anaknya. Mahasiswa diberikan berbagai bantuan:
1. Pembagian sembako.
2. Pembagian pulsa data untuk e-learning
3. Pemotongan biaya registrasi.
4. Pembayaran SKS boleh dikredit.
5. Pemotongan biaya KKN.
dan bantuan-bantuan lainnya.
Oh ya, masih dalam masa pandemi Covid-19, Uniflor baru saja melaksanakan wisuda online pada tanggal 18 Juli 2020.

Baca Juga: Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya

Di usianya yang ke-40, tidak ada yang bisa saya berikan kepada Uniflor selain ucapan dan do'a. Semoga Uniflor tetap menjadi universitas unggul, terpercaya, dan terdepan. Semoga Uniflor tetap menjadi mediator budaya. Semoga Uniflor tetap menjadi rumah bagi banyak orang; suka duka kita hadapi dan lewati bersama. Eits, tapi dalam hal lomba antar unit, kita tidak bisa bersama, hahahaha, masing-masing unit pasti berupaya untuk menang. Saya pernah membaca tulisan: usia sangat berarti bagi sepotong keju. Harapan saya: demikian pula Uniflor.

40 and still counting ...

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

#PDL Mempromosikan Universitas Flores di Pulau Sumba


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Mempromosikan Universitas Flores di Pulau Sumba. Saat ini Universitas Flores (Uniflor) sedang dalam tahap mempromosikan kampus dan menerima pendaftaran calon mahasiswa baru. Pada saat seperti ini saya selalu teringat masa-masa menjadi tim promosi Uniflor. Salah satunya adalah pergi ke Pulau Sumba. Pulau sabana. Pulau berjuta kuda. Pulau dengan adat dan budaya yang sangat kental di setiap jengkalnya. Kalau ditanya apakah saya ingin kembali ke Pulau Sumba? Tentu! Tidak saja untuk menyaksikan kembali Pasola, tetapi juga untuk mengkesplor setiap sudutnya. Semoga.







Pernah, saya pernah melakukannya, dan ingin melakukannya lagi. Bekerja sambil #KakiKereta. Semoga Covid-19 lekas berlalu agar kita bisa jalan-jalan lagi. Amin YRA. Hehe.

#PDL



Cheers.

Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb. sedang membagi masker, tetap mengikuti protokol kesehatan yaitu menjaga jarak dan mencuci tangan usai kegiatan.

Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan. Sabtu kemarin saya meliput kegiatan yang dilakukan oleh Universitas Flores (Uniflor) dalam hal ini pihak Rektorat. Kegiatannya sangat keren yaitu membagi (ratusan) masker kepada masyarakat sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardikas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei, saya pikir kegiatan ini sangat tepat dengan kondisi sekarang di mana Covid-19 sedang merajalela. Membagi sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker merupakan salah satu upaya penting memutus penyebaran Covid-19.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Karena saya yang membikin beritanya, maka bolehlah saya mengkopi-tempel berita tersebut di sini. Cekidot.

PERINGATI HARDIKNAS UNIFLOR MEMBAGI RATUSAN MASKER KEPADA MASYARAKAT

Peringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei, Universitas Flores (Uniflor) membagi ratusan masker kepada masyarakat. Dalam sambutannya sebelum pembagian masker dimulai Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. mengatakan bahwa kegiatan ini menunjukkan Uniflor peduli dengan pendidikan yang mana suasana Hardiknas pada tahun ini masih belum kondusif akibat pandemi Covid-19. Oleh karena itu selain pembagian masker juga dilakukan edukasi kepada masyarakat yang menerima masker tersebut tentang betapa pentingnya memakai masker dalam situasi sekarang. Pada masa yang akan datang Uniflor akan mengupayakan pembagian masker dalam skala yang lebih besar yaitu dengan melibatkan setiap program studi.

Sekretaris Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. mengucapkan terima kasih kepada Uniflor atas kegiatan ini. Lebih lanjut Ana Maria mengungkapkan bahwa murid lebih takut kepada guru ketimbang orangtua, atas pemikiran ini mudah-mudahan dapat membuat masyarakat lebih peduli, karena Covid-19 sangat berbahaya dan paling utama selain mencuci tangan adalah harus menggunakan masker.

Pembagian masker dilakukan di persimpangan Jalan Wirajaya, Jalan Melati, Jalan Uniflor, dan Jalan Prof. Dr. W. Z. Yohanes. Kegiatan pembagian masker dihadiri dan dilakukan oleh Rektor Uniflor, Wakil Rektor Bidang Akademik Uniflor Ferdinandus Lidang Witi, S.E., M.Kom., Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Uniflor Falentina Lucia Banda, S.E., M.Sc., Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Uniflor Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb., Sekretaris Eksekutif Uniflor Yohanes Laka Suku, S.T., M.T., Sekretaris Yapertif, Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA) Uniflor Christina Gabriela, S.Sos., Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan Emilia Contessa Sero, A.Md., dan dibantu sebagian dosen dan karyawan Uniflor. Selain masker untuk orang dewasa juga dibagi masker untuk anak-anak.(2teh).

Sebelumnya, Uniflor yaitu Prodi Akuntansi juga telah membagi masker kepada masyarakat terutama di daerah Pasar Wolowona, Pasar Mbongawani, dan Pasar Potulando. Sedangkan Prodi Pendidikan Fisika telah melakukan penelitian dan membikin hand sanitizer dan disinfektan serta dibagikan pula kepada masyarakat dan pihak Kelurahan Paupire tempat Uniflor berdomisili.

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Uniflor telah berupaya dan membuktikan kepeduliannya terhadap lingkungan yang sehat sebagai idealnya manusia tinggal. Tugas kita semua adalah mengikuti protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah antara lain mencuci tangan minimal dua puluh detik sebelum menyentuh wajah (mata, hidung, dan mulut), memakai masker, menjaga jarak, dan kalau bisa membersihkan rumah dan lingkungan dengan menyemprot cairan disinfektan. Disinfektan sangat mudah dibikin. Kakak Nani Pharmantara yang pada masa pensiunnya bersama suami membuka kios sembako juga menyediakan kran dan sabun untuk cuci tangan para pembeli serta menyemprot uang yang diserahkan menggunakan cairan disinfektan (lalu dijemur) hahaha.

Semoga bermanfaat.

Mari, saling menjaga!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor

Credit: Pak Yulius.

Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor. Saya pernah menulis tentang teknologi pertanian pada pos berjudul Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru. Bagaimana Petrogenol yang bahenol memikat lalat jantan dengan daya tarik seksualitasnya yang palsu, itu pengetahuan baru bagi saya pribadi. Sebagai institusi pendidikan tinggi, berbagai pengetahuan dan informasi bertebaran di Universitas Flores (Uniflor). Sebagai pegawai yang bertugas mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan-kegiatan di Uniflor, jelas saya adalah makhluk Tuhan paling beruntung. Otak saya betul-betul berfungsi sebagai spons yang menyerap semuanya dengan gilang-gemilang. Haha. Setiap hari saya belajar hal baru.

Baca Juga: Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Rabu kemarin, 18 Maret 2020, saat hendak pulang kantor saya mampir di Kantor Kemahasiswaan Uniflor. Tujuan saya hanya satu, stoples berisi kudapan kuping gajah di atas meja! Hahaha. Sumpah, mata ini sangat cepat kalau melihat makanan. Belum sampai tangan saya masuk ke dalam stoples, Pak Yulius yang sedang berada di situ berkata: Kak Tuteh tangannya dibersihkan dulu pakai ini. Melihat botol mini khas hand sanitizer tanpa merek/label itu saya membalas bahwa saya pun membawa hand sanitizer sendiri. Tapi oh la laaaaa itu hand sanitizer yang dibikin sendiri! Uh wow sekali. Mulailah saya bertanya-tanya pada Pak Yulius.

Ceritanya, hari itu pada mata kuliah Fisika Lingkungan di Prodi Pendidikan Fisika pada FKIP Uniflor, Pak Yulius bersama mahasiswa semester 6 praktek membikin hand sanitizer dan disinfektan. Bahan-bahan hand sanitizer adalah alkohol, lidah buaya (isi atau jel bagian dalamnya), dan essential oil. Kalau disinfektan tidak saya tanya lebih lanjut. Ketiga bahan hand sanitizer itu punya takaran khusus untuk menghasilkan hand sanitizer yang kuat, sekitar 80% mampu menghambat berkembangbiaknya dan/atau membunuh mikroorganisme seperti virus dan bakteri yang menempel pada tubuh manusia dan benda mati. Hand sanitizer merupakan antiseptik yang diaplikasikan pada tubuh manusia terutama tangan. Sedangkan disinfektan diaplikasikan pada benda mati seperti meja, pegangan pintu, komputer, wastafel, dan lain sebagainya.

Menurut Pak Yulius, membuat hand sanitizer dan disinfektan dilakukan mengingat virus Corona yang oleh WHO diresmikan dengan nama Covid-19 merupakan virus dengan penyebaran yang cukup mudah yaitu melalui kontak fisik, serta berkaitan dengan lingkungan karena keberadaan virus Corona mengganggu idealnya lingkungan di mana manusia hidup, sehingga berbagai antisipasi harus dilakukan. Selain itu, hal ini dilakukan untuk menanggulangi kelangkaan hand sanitizer dan disinfektan di pasaran. Saat ini Pak Yulius bersama mahasiswa Semester 6 Prodi Pendidikan Fisika baru membuat prototype dan tidak menutup kemungkinan untuk memproduksinya secara massal.

Kalian bisa membaca pos kemarin berjudul Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing untuk informasi lengkapnya.

Baca Juga: Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir

Kenapa perihal ini masuk di #SelasaTekno? Karena ini berhubungan dengan penelitian. Teknologi tepat guna. Menurut Pak Yulius, hand sanitizer dan disinfektan yang dibikin ini merupakan sebuah penelitian karena meskipun sudah banyak yang melakukannya, tapi menggunakan bahan yang berbeda, dengan tempat atau lokasi yang berbeda, serta perhitungan secara sains. Turunan perhitungan itu yang kemudian ditakar a la rumahan menggunakan gelas. Sumpah ya, penjelasan demi penjelasan di white board oleh Pak Yulius itu bikin kepala saya langsung oleng hahaha. Sangat ilmiah ... huhu. Berbahagialah kalian yang kuliah di Prodi Pendidikan Fisika.

Ya sudah deh, semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua.

#SelasaTekno



Cheers.

500 Orang Menari Dendang Dikideng di Gedung Imaculata


500 Orang Menari Dendang Dikideng di Gedung Imaculata. Hari ini seharusnya #SelasaTekno tetapi maafkanlah saya karena tidak dapat menahan cerita ini hingga Senin depan. Haha haha haha. Pos insidental ini adalah tentang kegiatan yang diselenggarakan oleh Universitas Flores (Uniflor) pada Sabtu, 14 Maret 2020. Seru dan heboh sudah pasti. Namanya juga Uniflor, di mana kami menjalin relasi antara civitas akademika dengan penuh rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Yess, we are one big family. Secara pribadi, saya selalu merasa Uniflor sebagai rumah besar kedua tempat saya 'menemukan' opa, oma, bapak, mama, kakak, adik. Rumah besar pertama jelas tetap Pohon Tua. Pohon Tua yang sejuk, tenang, cozy, selalu bikin kangen untuk pulang. Pohon Tua yang mejadi rumah semua orang.

Baca Juga: Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu itu adalah Pelantikan Pimpinan Administrasi Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) dan Uniflor. Dimulai pukul 06.00 Wita dengan jalan sehat bertolak dari Lapangan Pancasila, yang nyaris batal karena hujan mengguyur Kota Ende, berakhir di Gedung Imaculata. Gedung Imaculata yang beralamat di Jalan Irianjaya - Kathedral (tepat menyiku di dua jalan ini) merupakan gedung bersejarah. Pada masa pengasingan di Kota Ende, Bung Karno memanfaatkan gedung ini untuk menampilkan tonil-tonilnya. Setelah direnovasi besar-besaran Gedung Imaculata memang seperti 'kehilangan' nilai sejarahnya. Tetapi bagi kami, itu tetap merupakan gedung kebanggaannya Orang Ende selain Situs Bung Karno, Taman Renungan Bung Karno, dan Serambi Soekarno.

500an orang terdiri dari dosen dan karyawan Uniflor wajib mengenakan kaos kuning, kaos ultah ke-39 Uniflor. Kami dihibur oleh Sombolando Voice di awal kegiatan. Usai membawakan lagu dangdut, Ketua Yapertif Bapak Lori Gadi Djou meminta semua orang menyimpan telepon genggam mereka. Semua wajib bergoyang! Haha. Kocak sekali. Sombolando Voice dengan organis Segno pun tepat memilih lagu. Lagu apa? Dendang Dikideng doooonk. Lagu yang ngetren dan selalu bergaung di semua acara di Kota Ende. Sumpah, lagu ini semacam punya magnet maha besar sehingga siapa pun pasti kakinya tidak tahan. Pengen tahu keseruannya? Nonton video berikut:


Hurayyyy!!!

Di situ kalian melihat ada pater, pendeta, ustadz. Beliau-beliau adalah pemuka agama yang bakal menemani saat pengambilan sumpah jabatan. Sebelumnya ... goyangkan badan dulu donk supaya sehat. Haha. Padahal sebelumnya juga sudah jalan sehat dari Lapangan Pancasila ke Gedung Imaculata. Tapi lelah pasti tidak terasa kalau segalanya dilakukan secara bersama-sama dan dalam suasana persaudaraan/kekeluargaan. Sayangnya kalian tidak berada di tengah-tengah kami sehingga tidak betul-betul bisa merasakan euforianya.

Anyhoo, dalam rangka ulang tahun ke-40 memang banyak kegiatan yang bakal diselenggarakan oleh Uniflor. Selain rentetan pelantikan-pelantikan sejumlah pejabat, berbagai lomba termasuk lomba blog dan vlog, kami juga menyelenggarakan road show. Januari lalu road show diselenggarakan di Kota Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Dalam waktu dekat, road show akan diselenggarakan, rencananya, di Kota Borong. Ya, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Timur. Mantap nih, kebetulan rencana cuti akhir tahun kemarin yang seharusnya ke Borong, batal. Insha Allah bisa tunai. Supaya lebih banyak cerita yang bisa saya bagi dengan kalian semua.

Baca Juga: Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir

Rasanya lucu juga menulis hal lain di #SelasaTekno. Tapi tidak mengapa deh. Yang penting jangan sampai idenya meluap apalagi ceritanya menjadi basi. Satu hal yang saya syukuri, bukan saja karena hari itu semua orang memakai kaos kuning, tetapi karena amanat pekerjaan yang diberikan kepada saya. Hehe. Dan sebagai Presiden Negara Kuning, saya mengucapkan terima kasih hahah hahahaaa. Sudah ah ... jangan lupa nonton videonya. Tidak perlu subscribe kalau itu menjengkelkan kalian, yang penting videonya menghibur.



Cheers.

Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya


Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya. Visi Universitas Flores (Uniflor) adalah menjadi mediator budaya. Artinya, sebagai rahim persemaian calon cendekia, Uniflor tidak hanya fokus pada dunia akademik yang mengutamakan Tri Dharma Perguruan Tinggi tetapi juga pada budaya/adat/tradisi. Semua orang tentu tahu bahwa kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencangkup pengetahuan, keyakinan, seni, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan. Salah satu kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan dan adat yang dilakukan setiap tahun oleh Uniflor adalah Pati Ka Embu Kajo di Tubu Nabe Uniflor. Memberi makan leluhur ini dipimpin oleh empat Mosalaki Godo Wutu Onekore Hendrikus Peso, Daniel Juma, Johanes D. Bosco Wajo, Yakobus Djae (April 2019), dan dilakukan secara bersama-sama dengan para petinggi Uniflor.

Baca Juga: Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam

Foto-foto kegiatan Pati Ka Embu Kajo di Tubu Nabe dapat dilihat berikut ini:



Pada Kamis, 27 Februari 2020, dilaksanakan kegiatan pelantikan 83 (delapan puluh tiga) pejabat struktural se-lingkup Uniflor. Ada yang berbeda dari kegiatan tersebut. Selain setiap orang (dosen, karyawan, dan pendamping pejabat yang dilantik) diwajibkan memakai pakaian adat (dari daerah mana pun), juga ada ritual meminum moke dan penyerahan sirih kepada pejabat yang dilantik. Melihat proses meminum moke, maka mungkin kata yang lebih tepat adalah mencicip moke. Kegiatan tersebut unik, menurut saya, karena semakin menunjukkan Uniflor sebagai mediator budaya yang merawat budaya.

Ulasan lengkapnya, silahkan baca sampai selesai. Haha.

Panggung Dengan Miniatur Rumah Adat


Panggung Auditorium H. J. Gadi Djou di Kampus I Uniflor disulap sedemikian rupa sehingga nuansa adatnya lebih kental terasa. Biasanya backdrop panggung berupa baliho dengan tambahan ornamen daerah tertentu. Tetapi pada kegiatan dimaksud, sebuah miniatur rumah adat berdiri gagah di tengah panggung. Di dalam miniatur rumah adat tanpa dinding itu diletakkan dua kursi sebagai tempat rehat Ketua Yapertif dan Rektor Uniflor saat jeda pelantikan.


Jujur, saya suka sekali melihat panggungnya. Tetapi hari itu saya tidak sempat foto-foto di situ karena lelah. Byuuuh. Haha. Iya, lari sana-sini mengabadikan momen dan mengumpulkan footage berita memang menyedot cukup banyak enerji. Kaki saya sakit, gengs. Harus segera pulang untuk merawat diri *dicibirin dinosaurus*.

Mencicip Moke dan Menerima Sirih


Moke merupakan minuman adat. Sejatinya begitu. Saat keluarga kami menyambangi makam nenek moyang di Desa Faipanda pun, kakak lelaki saya wajib mencicipnya walaupun seujung lidah (seharusnya meminum satu sloki yang diserahkan oleh tua keluarga). Sampai moke kemudian berkonotasi buruk adalah karena oknum-oknum tertentu yang meminumnya sekehendak hati sehingga berakibat pada hilangnya kontrol diri. Keributan bisa dipicu oleh oknum-oknum mabuk ini. Konon, kalau sudah berlebihan menegak moke, keberanian bakal meledak-ledak, bawaannya selalu benar dalam berkata, dan lain sebagainya.

Bapak Willy Lanamana mencicip moke usai pelantikan.

Setiap pejabat struktural, usai dilantik, khusus laki-laki diberikan moke dalam wadah cangkir/gelas tempurung. Khusus perempuan diberikan satu sirih. Saya termasuk orang yang sampai saat ini belum bisa mengunyah sirih-pinang-kapur. Sekali mencoba, langsung mabuk/pusing, belum mencoba lagi. Suatu saat saya harus bisa mengunyah sirih-pinang-kapur. Insha Allah.

Pakaian Adat dan Uniflor


Pati Ka Embu Kajo, dan kegiatan pelantikan pejabat struktural kemarin, hanya sebagian kecil contoh dari Uniflor sebagai mediator budaya yang tentunya turut merawat budaya. Setiap minggu kami, dosen dan karyawan Uniflor, selalu berhubungan dengan budaya. Setiap Hari Selasa, kami wajib memakai sarung tenun ikat Kabupaten Ende dengan atasan berwarna putih. Sedangkan setiap Hari Kamis, kami wajib mengaplikasikan kain daerah dari daerah mana pun di Indonesia dengan pakaian yang dikenakan. Rata-rata memakai tenun ikat, satu dua memakai batik. Ada yang melilitkan tenun ikat berbentuk selendang di pinggang, ada yang dijadikan syal, ada juga yang menjadikan sarung tenun ikat sebagai rok, dan lain sebagainya.

Dalam kegiatan-kegiata besar seperti wisuda, upacara 17an, hingga pelantikan-pelantikan, segenap civitas akademika Uniflor wajib memakai pakaian adat.


Baca Juga: Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik?

Uniflor adalah mediator budaya yang tentunya merawat budaya agar generasi selanjutnya tetap tahu jati diri mereka. Tetapi siapa pun dapat merawat budaya. Caranya, Teh? Banyak sih. Dengan memakai pakaian adat saat ke pesta-pesta, menulis tentang kekayaan budaya kita, membikin video ini itu yang berkaitan dengan budaya/adat/tradisi, sampai melakukan penelitian dan membukukannya. Yang jelas, di Kabupaten Ende, salah satu budaya yang terus dirawat oleh semua kalangan adalah tarian gawi. Hehe. Anyhoo riset kecil-kecilan saya soal gawi dan/atau naro ini belum selesai. Belum bisa saya tulis secara lengkap. Belum bisa dipublis. Nanti deh.

Semoga bermanfaat ;)

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial


Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial. Mungkin saya salah menulis judul? Mungkinkah Edmodo memang berbasis media sosial seperti Facebook? Entah. Yang jelas hari ini saya bakal bercerita tentang aplikasi/layanan yang satu ini. Semua bermula saat saya meliput kegiatan knowledge service yang merupakan salah satu mata acara dari kegiatan English Week oleh Prodi Sastra Inggris pada Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Flores (Uniflor) di Kelurahan Natanage, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Secara umum saya sudah bercerita tentang kegiatan tersebut dan bisa kalian baca pada pos berjudul: Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae.

Baca Juga: Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog

Lalu, apa itu Edmodo dan mengapa Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra yaitu Bapak Marianus Roni, S.S., M.App.Ling. menyampaikan materi tentang Edmodo? Untuk itu kita harus mulai dengan e-learning.

E-Learning, Perlukah?


E-learning, menurut saya, merupakan terobosan dalam dunia pendidikan dimana jarak dan waktu dapat diakali oleh para pendidik terhadap peserta didik. Waktu masih Sekolah Dasar di SDI Ende 11, Kakak Toto Pharmantara (alm.) pernah berkata bahwa di masa depan saya tidak membutuhkan buku untuk mencatat pelajaran. Semua bisa dicatat di komputer menggunakan Lotus 123. Waktu itu memang belum ada MS Office dengan aplikasi pengolah kata semacam Word. Itu bagus! Menurut saya waktu itu, karena bakal mengurangi penggunaan kertas alias paperless. Artinya, pohon-pohon di hutan tidak terus-menerus menjadi obyek penderita. Masa demi masa, kemudian, setelah adanya internet, dunia mengenal e-learning ini.

Dalam pemahaman saya, e-learning artinya belajar secara elektronik. E adalah electronic atau elektronik, learning artinya (sedang) belajar. Apabila e-mail diterjemahkan sebagai surat elektronik (surel) maka e-learning dapat diterjemahkan sebagai berel (belajar elektronik). Itu menurut saya pribadi. Haha. Dalam pengertian yang lebih luas e-learning berarti belajar menggunakan media elektronik yang terhubung dengan internet. Artinya harus ada perangkatnya seperti laptop, komputer/desktop, atau telepon genggam. Dan harus ada koneksi internetnya. Tanpa internet e-learning tidak mungkin terjadi karena konsep dasar e-learning adalah belajar online.

Aplikasi pertama e-learning yang saya tahu itu bernama Google Classroom. Mengetahuinya dari kegiatan tentang belajar online dan bikin blog serta vlog oleh Fakultas Teknologi Informasi Uniflor kepada Prodi Sejarah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uniflor. Ternyata beberapa dosen Uniflor seperti Bapak Deni Wolo pun juga sudah menggunakan Google Classroom apabila beliau sedang bertugas di luar kota sementara ada mata kuliah yang harus dipenuhi. Lalu saya mendengar aplikasi Moodle. Saya tahu tentang Edmodo dari kegiatan knowledge service dari kegiatan English Week itu. Lucunya, paling akhir saya baru tahu soal SPADA yang dikeluarkan oleh Belmawa Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Haha.

Perlukah e-learning? Berdasarkan SPADA dan peraturan yang menjadi dasar hukumnya, maka e-learning yang disebut juga hybrid learning itu perlu. Melalui SPADA terjadi sistem dan/atau pemerataan pembelajaran secara nasional. Maksudnya dosen tidak saja mengajar mahasiswa pada perguruan tinggi/universitasnya saja tetapi juga mengajar mahasiswa dari perguruan tinggi/universitas lain dari seluruh Indonesia melalui materi kuliah yang diunggah di SPADA. Mengenai SPADA kalian bisa mencari tahu lebih lengkap di situs milik Belmawa Kemenristekdikti.

Well, apa dan bagaimana Edmodo itu?

Edmodo


Dari situs Edmodo dan Wikipedia saya menemukan banyak informasi. Edmodo adalah perusahaan teknologi pendidikan yang menawarkan alat komunikasi, kolaborasi, dan pembinaan untuk guru dan sekolah K-12. Jaringan Edmodo memungkinkan guru untuk berbagi konten, mendistribusikan kuis, tugas, dan mengelola komunitas dengan siswa, kolega, dan orangtua. Pada tahun 2013 Edmodo dimasukkan ke dalam daftar "Aplikasi Teratas Untuk Guru" oleh PC Magazine. Di tahun yang sama Edmodo mengakuisisi startup Root-1 dalam upaya untuk menjadi toko aplikasi untuk pendidikan. Vibhu Mittal, Co-founder dan CEL Root-1 menjadi CEO Edmodo pada tahun berikutnya.

Pada tahun 2014, Edmodo meluncurkan Snapshot, seperangkat alat penilaian untuk mengukur kemajuan siswa pada standar pendidikan. Edtech digest memberikan penghargaan untuk Edmodo Snapshot dalam Cool Tool Award sebagai Solusi Penilaian Terbaik. Perusahaan ini telah bermitra dengan dua penerbit besar di Inggris, Oxford University Press dan Cambridge University Press untuk menyediakan akses ke konten pendidikan di Edmodo Platform dan membawa Edmodo Snapshot ke Inggris.

Edmodo sendiri didirikan oleh Nic Borg dan Jeff O'Hara pada tahun 2008. Dan saya baru mengetahuinya pada tahun 2019. Pernah dengar, tapi tidak terlalu menanggapinya secara serius. Edmodo didukung oleh Index Ventures, Benchmark, Greylock Partners, Learn Capital, New Enterprise Associates, Union Square Ventures, Glynn Capital Management, Tenaya Capital, SingTel Innov8, dan KDDI. Pada Agustus 2016 Edmodo diklaim memiliki lebih dari 66.900.000 pengguna di seluruh dunia. It's a wow kan? Dan pada bulan Maret 2015, Noodle menyebut Edmodo sebagai salah satu dari "32 Alat Pendidikan Daring Paling Inovatif".

Oke, itu semua informasi yang berhasil saya kumpulkan/rangkum dari dua situs yaitu situs milik Edmodo sendiri dan dari Wikipedia.

Pada kegiatan knowledge service di English Week, Pak Roni menampilkan Edmodo melalui tayangan infocus. Pada layar itu jelas sekali saya melihat Edmodo yang mirip dengan tampilan Facebook. Makanya saya menulis judul seperti di atas, karena tampilannya yang mirip media sosial. Tapi, media sosial yang satu ini bersifat privat. Interaksi dalam sebuah status hanya terjadi antara pendidik dengan peserta didik yang telah terkoneksi.

Pada kesempatan itu Pak Roni tidak saja menyampaikan materi tentang Edmodo tetapi peserta langsung mempraktekkannya juga. Peserta yang terdiri dari perwakilan guru-guru dari SMP dan SMA di Kecamatan Boawae memasang aplikasi Edmodo pada telepon genggam mereka sedangkan mater dari Pak Roni terpampang jelas di layar infocus, dimana Pak Roni menggunakan Edmodo versi desktop. Belajar menggunakan Edmodo asyik juga. Pak Roni memberikan tugas atau pertanyaan dan peserta yang sudah terkoneksi dengan akunnya kemudian mengirimkan jawaban. Akan terlihat peserta yang sudah terkoneksi dalam 'kelas' Pak Roni tapi tidak mengerjakan tugas. Hwah, transparan sekali kan? Bahkan, Pak Roni dapat memberikan nilai dan komentar dari tugas yang dikerjakan/dijawab tersebut.

Jadi jelas, Edmodo telah menjadi sebuah 'ruang kelas' tempat pendidik dan peserta didik berinteraksi.

Kemudian, ada pertanyaan yang butuh jawaban langsung. Entah dengan guru, tetapi setiap dosen diwajibkan untuk mengisi daftar hadir peserta didik (mahasiswa) dalam BAD. BAD biasanya dicetak oleh prodi kemudian setelah diisi dikembalikan ke prodi. Bagaimana jika proses belajar mengajar terjadi di Edmodo?

Absensi / BAD


Ketika saya mewawancarai Dekan Fakultas Teknologi Informasi Bapak Ferdinandus Lidang Witi, S.E., M.Kom. tentang SPADA yang disosialisasikan pada dosen-dosen Uniflor, beliau mengatakan bahwa BAD dari sistem belajar atau kelas online dapat dilakukan dengan screenshoot. Dapat dicetak dan diserahkan kepada pihak prodi.

Ah, I see.

Dunia sudah semakin canggih, kenapa harus mempersulit segala sesuatunya? Kalian setuju? Komen di bawah. Hehe.

⇜⇝

Apa yang bisa saya simpulkan dari pos hari ini? Paling pertama: bahwa Kakak Toto (alm.) benar. Paperless memang telah terjadi meskipun belum pada semua lini kehidupan manusia. Kedua: bahwa e-learning merupakan sistem belajar yang baik diterapkan di sekolah maupun universitas; tidak saja karena dosen yang bersangkutan sedang berhalangan untuk hadir di kelas tetapi merupakan salah satu wujud nyata dari Industri 4.0. dimana peserta didik pun harus mampu mengenal tentang sistem pembelajaran seperti ini. Mahasiswa tidak boleh mengenal internet dengan Facebook saja sebagai tujuan utama *setelah menulis ini, dijumroh mahasiswa, hahahah*. Ketiga: dari sisi kepraktisan jelas e-learning itu se-su-a-tu.

Baca Juga: Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android

Tetapi, meskipun saya setuju dengan e-learning, dengan Edmodo misalnya, tetap saja tatap muka itu penting. Saya memang bukan guru apalagi dosen, saya hanyalah seorang manusia yang terlahir dari dua orang guru-besar-pribadi dan bergaul di tengah para pendidik (dosen). Tetapi, ijinkan saya menulis bahwa belajar konvensional, tatap muka di dalam kelas, merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan karena berhubungan dengan psikologi. Peserta didik datang dari ragam latar belakang. Pendidik perlu untuk tahu tentang psikologi peserta didik agar tahu bagaimana melakukan pendekatan (persuasif) bila terjadi sesuatu. Misalnya peserta didik mendadak malas belajar, jarang masuk kelas, atau peserta didik mungkin sedang depresi. Pendidik punya tugas besar, selain mengajar ilmu akademik, untuk memahami kondisi psikis peserta didik agar mampu menciptakan peserta didik yang berkarakter (baik).

Dan untuk mengenal peserta didik lebih dekat, Edmodo tidak bisa menjadi medianya. Ruang kelas lah medianya. Kalau kalian tidak setuju, komen di bawah, heheeh, tapi yang sopan ya!

Terakhir, semoga pos ini bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog


Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog. Bulan lalu saya bertemu dengan Pak Stephen, dosen Prodi Pendidikan Ekonomi (PDU) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Uniflor). Pak Stephen bertanya apakah saya bisa memberikan pelatihan blog kepada mahasiswa/i PDU. Tentu! Kenapa tidak? Terakhir saya mengajarkan tentang blog pada mahasiswa/i Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pada pertemuan berikutnya, Pak Stephen menjelaskan bahwa mahasiswa/i PDU rata-rata sudah mempunyai blog tetapi belum pada tahap mengelola dengan baik. Selain itu, Pak Stephen juga meminta agar mereka bisa diajarkan membikin vlog. Setidaknya dasar-dasarnya. Saya menyetujuinya.

Baca Juga: Ini Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional

Maka kemudian saya membikin materi baru berjudul How to Manage Blog and Make Vlog. Masih mengambil beberapa poin dari materi lama berjudul Blogging is Fun and Easy. Materi baru tersebut memang cukup panjang karena memuat dua hal yaitu blog dan vlog, tetapi alhamdulillah tepat waktu sebelum hari H. Pada Pak Stephen juga saya meminta agar semua peserta sudah memasang aplikasi Filmorago di smartphone masing-masing. Oh ya, untuk keperluan kegiatan ini, PDU sendiri mempunyai jaringan wifi yang bisa diakses oleh para peserta baik menggunakan laptop maupun smartphone.

Peserta Yang Antusias


Mahasiswa/i PDU sejumlah tujuh puluhan dan dibagi dalam dua kelas. Kelas pertama mengikuti kegiatan pada Senin 18 November 2019 sedangkan kelas kedua pada Selasa 19 November 2019. Kelas pertama tentu harus mengikuti seremoni pembukaan terlebih dahulu dihadiri pula oleh Kaprodi PDU yaitu Pak Saiful, selain Pak Stephen. Usai seremoni pembukaan, kegiatan langsung dimulai dengan: bagaimana mengelola blog atau how to manage blog.


Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa rata-rata peserta sudah mempunyai blog dan blog tersebut didaftarkan pada platform Blogger dengan keluaran induk-semang Blogspot. Jadi, saya langsung pada flashback singkat tentang apa itu blog, kenapa orang nge-blog, apa keuntungan nge-blog, kenapa pakai Blogger alih-alih Wordpress, dan contoh blogger seperti Raditya Dika yang kini lebih dikenal sebagai sekorang Komika. Sayangnya saya lupa mencontohkan Mark Manson, seorang blogger yang menulis buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Setelah itu barulah dimulai dengan cara mengelola blog: mengenal panel-panel pada dashboard sebagai inti blog. Panel-panel itu antara lain postingan, statistik, tema, halaman, hingga pengaturan.


Dan mereka sangat antusias untuk tahu lebih detail, tahu lebih banyak, tentang dashboard. Sesuatu di balik tampilan blog yang ciamik. Meskipun yang membawa laptop hanya segelintir peserta, tetapi yang menggunakan smartphone ini juga super antusias! Kalian, para blogger, tentu tahu bahwa nge-blog menggunakan laptop itu memang jauh lebih mudah dari menggunakan smartphone, setidaknya saya mengalami itu. Tetapi, pada kesempatan itu saya melihat peserta yang menggunakan smartphone ini matanya berbinar-binar, jemari lincah di atas layar smartphone, bahkan bertanya apabila ada yang tidak mereka pahami.

Sebagai pemateri, ada perasaan bangga melihatnya. Puas juga. Untuk dua kelas pada dua hari yang berbeda itu.

Melihat betapa antusiasnya peserta, saya menyarankan pada mereka, apabila ada pertanyaan yang ingin ditanyakan di luar waktu kegiatan, silahkan mengirimkan pesan WA. Karena Insha Allah saya selalu online dan pasti dibalas. Saya juga katakan pada mereka bahwa pernah membuka kelas-kelas blogging melalui WAG, serta mengajarkan blog secara personal pada beberapa orang melalui WA. Dan, apabila mereka kesulitan akses internet, mereka boleh datang ke rumah saya untuk menggunakan wifi gratis. Mereka tertawa, saya juga tertawa. Tapi itu serius. Seserius kami kemudian membikin grup/WAG bernama Kelas Blogging PDU.

Usai memperkenalkan cara mengelola blog melalui panel-panel yang ada di dashboard, saya melanjutkan materi selanjutnya yaitu membikin vlog. Di sinilah saya melihat antusiasme yang lebih lagi dan lagi dan lagi dari para peserta. Sebelumnya, semua smartphone peserta sudah saya minta untuk dipasangkan aplikasi Filmorago. Ini bukannya tanpa alasan. Saya jelaskan pada mereka, bahwa dari semua aplikasi sunting video di smartphone yang sudah pernah saya coba, Filmorago lebih friendly baik interface-nya maupun penggunaannya. Sore itu peserta langsung praktek menyiapkan vlog mentah. Ramailah ruang kelas itu! Haha. Masing-masing bergaya a la vlogger.


Video mentah itu kemudian disunting menggunakan Filmorago. Satu per satu langkah menggunakan Filmorago tampil di layar, mereka memerhatikan layar, lantas memerhatikan dan mengutak-atik smartphone. Kenalanlah mereka dengan Filmorago dan fitur-fiturnya seperti fitur tema, transisi, musik, audio tambahan, memotong durasi, memotong gambar, mengisi judul, dan lain sebagainya. Kemudian, tentu keluaran Filmorago seperti langsung mempublis di berbagai media sosial dan aplikasi mengobrol, hingga menyimpannya saja dulu di smartphone. Dan ketika selesai, tidak mereka sangka bahwa membikin vlog semudah itu! Hehe.

Content is King


Content is King, Konten Adalah Raja. Itu yang saya jelaskan pada mereka. Blog dan vlog sama-sama membutuhkan konten (raja). Hal ini yang harus mereka pahami. Sehingga dalam kegiatan itu saya menampilkan slide dengan tiga hal utama: Konten, Konsistensi, dan Promosi.


Apa yang diinginkan netizen ketika berkunjung ke blog atau melihat video kita di Youtube, misalnya? Tentu kontennya. Konten yang terus diperbarui akan menarik rasa penasaran mereka, apa yang ditampilkan kali ini? Konten yang terus diperbarui akan memuaskan rasa ingintahu mereka dan membuktikan bahwa kegiatan mereka mengunjungi blog dan vlog di channel Youtube kita tidak sia-sia. Mereka memperoleh informasi baru, hal baru, cerita baru. Konten ini berkaitan dengan konsistensi serta trafik pengunjung.

Mengapa konsistensi menampilkan konten dan trafik itu penting?

Iseng saya bilang pada mereka: kalau kalian ingin memperoleh uang dari blog dan vlog, perkuat kontennya dan tingkatkan trafiknya. Pengunjung akan berhenti mengunjungi blog dan channel vlog di Youtube apabila setiap kali berkunjung mereka hanya bertemu konten lama, konten yang itu-itu saja.

Para peserta mengangguk paham. Setidaknya mereka tahu bahwa untuk memperoleh penghasilan dari internet, melalui blog dan vlog, tidak dilakukan dengan sekejap atau sekedip mata. Ada perjuangan yang juga cukup berat yang harus dilakukan oleh mereka. Bukannya sombong, saya mencontohkan diri sendiri yang nge-blog sejak tahun 2002, mengalami begitu banyak perubahan dalam hal menulis atau konten blog. Dari yang alay bikin malu diri sendiri sampai yang menurut saya cukup baik dan mudah dipahami oleh banyak orang. Jadi jelas, waktu dan latihan merupakan proses yang tidak dapat diabaikan untuk blog, demikian pula vlog.


Tidak ada yang instan di dunia ini. Bahkan untuk membikin mi instan saja kita membutuhkan proses seduhan pada air panas.

⇜⇝

Apresiasi tertinggi setiap kali saya menyampaikan materi blog atau mengajar blog adalah bagaimana tanggapan mereka terhadap proses belajar itu sendiri.

Baca Juga: Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone

Ketika mereka bertanya tentang proses kegiatan itu pada peserta, mereka menjawab: sangat menyenangkan dan mereka paham. Itu apresiasi tertinggi. Menurut saya pribadi. Karena, apalah artinya bicara berjam-jam di depan peserta, mulut berbusa, kadang muncrat, tapi peserta sendiri tidak paham dengan apa yang saya sampaikan?

Pada kegiatan bersama PDU ini saya juga katakan bahwa dalam rangka Panca Windu Uniflor nanti di tahun 2020 bakal ada Lomba Blog, Lomba Vlog, dan Lomba Foto. Saya berharap para peserta mampu mengelola blog mereka, setidaknya, dan mengikuti lomba dimaksud. Mereka mengangguk (setuju kan hahaha) dan saya melihat wajah-wajah penuh harapan di sana. Tidak perlu memusingkan menang atau kalah, yang penting adalah partisipasi dan pengalaman yang diperoleh. Itu jauh lebih berharga!


Dari kegiatan bersama PDU itu pula, insha Allah akan ada kegiatan-kegiatan serupa lainnya, karena lomba-lomba dalam rangka Panca Windu Uniflor itu pesertanya adalah mahasiswa/i Uniflor. Mantap jaya. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Kegiatan Keren Uniflor Go Clean Let’s Reduce Reuse Recycle


Kegiatan Keren Uniflor Go Clean Let's Reduce Reuse Recycle. Panitia Panca Windu Uniflor 2020 sudah di-launching. Kemeriahannya bisa kalian baca pada pos berjudul Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya. Rangkaian kegiatan Panca Windu Uniflor pun sudah terlaksana mulai dari sebelum panitia di-launching. Telah terlaksana beberapa kegiatan pre-event yaitu (1) Kuliah Umum bersama Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, S.H., M.H., LLM. dengan moderator Agus Adi Tetiro dengan tema Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya Mengawal Ideologi Melawan Radikalisme, Pancasila Dari Ende Untuk Nusantara telah diselenggarakan pada Sabtu (26/10/2019) di Auditorium H. J. Gadi Djou. (2) Misa, Shalat Jum'at, dan ziarah, dalam rangka launching Panitia Panca Windu Uniflor, Parade Budaya, opening ceremony, dan kegiatan olah raga EGDMC 2019 yang diselenggarakan pada Jum'at (1/11/2019).

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Usai di-launching, kegiatan pertama yang akan dilakukan oleh panitia keren ini adalah bakti sosial. Bakti sosial dilaksanakan di Kecamatan Ende Tengah dengan empat titik/kelurahan yaitu Kelurahan Onekore, Kelurahan Paupire, Kelurahan Potulando, dan Kelurahan Kelimutu. Tema yang diusung adalah Go Clean, Let's Reduce Reuse Recycle. Saya mendengar masih ada penambahan untuk menjadi 5R: Reduce, Reuse, Recycle, Redesign, Reimage. Kegiatan tersebut bakal dilaksanakan pada Jum'at, 8 November 2019, bertepatan dengan program Pemerintah Daerah Ende yaitu Jum'at bersih.

Bakti sosial itu nanti tidak saja berwujud aksi bersih-bersih tetapi juga mengajak masyarakat untuk mengurangi, memakai ulang, dan mendaur ulang sampah terutama sampah plastik. Untuk mengurangi, panitia bekerja sama dengan Dinas Koperasi untuk memperkenalkan rembi, tas/keranjang anyaman khas Ende kepada khalayak. Rembi ini terdiri atas dua, rembi untuk belanjaan kering dan rembi untuk belanjaan basah. Rembi merupakan produk DIY yang dibikin oleh para pengrajin yang ada di Kabupaten Ende. Untuk memakai ulang, tentu barang plastik seperti tas plastik dapat dipakai ulang, terutama tas plastik yang disediakan oleh supermarket. Kita bisa membawa tas plastik sendiri apabila pergi ke supermarket untuk berbelanja. Untuk daur ulang, itu yang akan menjadi bagian saya kelak, sedang menyusun draf-nya, dalam seminar dan workshop.

Pertanyaannya sekarang, apa hubungan antara kegiatan pada Jum'at lusa dengan tema blog hari ini yaitu #RabuDIY?

Marilah saya jelaskan.

Dalam perkara 3R kita tahu satu kata yang jelas merujuk pada konsep DIY yaitu recycle. Recycle atau mendaur ulang artinya kita mengolah sampah menjadi suatu barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Misalnya mendaur ulang koran menjadi keranjang seperti yang sudah sering saya lakukan. Kebetulan dalam kepanitiaan saya diberikan kepercayaan untuk beberapa tugas dan salah satunya adalah edukasi sampah. Sudah saya konsepkan tentang edukasi sampah ini. Tidak hanya seminar tentang sampah tetapi juga workshop. Rencana saya, setiap peserta nanti wajib membawa sampah plastik yang nantik bakal langsung dipraktekkan untuk membikin barang daur ulang saat workshop

Saya pikir penjelasan di atas sudah cukup jelas, hahaha.

Yang pasti, untuk edukasi sampah ini nanti saya bakal menggandeng Komunitas ACIL yang sudah terbukti telah mengedukasi masyarakat tentang sampah serta pengelolaannya.

Bagaimana menurut kalian, kawan?

#RabuDIY



Cheers.