Ponpes Walisanga yang Penuh Warna


Setelah Senin mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) di Kabupaten Nagekeo, sekalian menikmati Jalan-Jalan Kerja yang cihuynya luar biasa itu, hari ini saya menjalankan tugas menuju SMA-SMA di wilayah Kabupaten Ende bagian kota. Bersama Om Ihsan dan Ibu Neneng, kami saling berbagi sekolah dan kasih sayang, hahaha. Masing-masing mendapat jatah enam SMA. Tidak perlu menunggu dinosaurus ngajak traveling ke Alaska, setelah logistik terpenuhi, saya (mengajak Thika) berangkaaaaaat!

Baca Juga: 5 Manfaat Teh Rossela

SMA Apa Saja?


Ada enam SMA dan/atau sederajat yang surat penunjukannya saya pegang. Daftar sekolah-sekolah itu antara lain:

1. MAS Ponpes (Pondok Pesantren) Walisanga Ende.
2. SMA Negeri 2 Ende.
3. SMK Perikanan Tarbiyah Ende.
4. SMA Swasta Adhyaksa Ende.
5. SMA Katolik Taruna Vidya Ende.
6. SMA Katolik St. Petrus Ende.

Melihat nama MAS Ponpes Walisanga tertera di salah satu amplop, saya langsung membayangkan wajah Kakak Noka Eka, pemilik dan pengurus yayasannya. Di tangan Kakak Noka inilah kondisi Ponpes Walisanga menjadi begitu hidup dan penuh warna. Jiwa membangunnya luar biasa. Kerja sama antara Ponpes Walisanga dengan pihak luar, termasuk bantuan dan hibah ini itu, pun terjalin dengan sangat baik dan manis. Saya mengikuti perkembangan Ponpes Walisanga dari Cahyadi, tukang syuting andalan, karena dia juga beraktivitas di Ponpes Walisanga. Sudah lama saya belum pergi ke Ponpes Walisanga.

Maka, saya memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke pondok pesantren sekaligus sekolah yang berdiri gagah di kaki Gunung Meja itu.

Tourist Information Center Gunung Meja


Sebelum memasuki lokasi Ponpes Walisanga, sekitar limapuluh meter, ada satu bangunan berdiri. Sudah lama juga bangunan ini diresmikan tapi sayanya saja yang belum pernah datang ke sini. Iya, kan sudah saya tulis di atas, sudah lama saya tidak ke Ponpes Walisanga.


Saya belum tahu apa manfaat dibangunnya tempat ini. Karena, bagian dalam (mungkin perkantoran) sangat sepi alias tidak ada petugas sehingga saya tidak bisa bertanya-tanya untuk menggali lebih dalam informasi. Saya lihat, tempat ini seperti tidak dirawat karena rumput-rumput liar tumbuh subur dengan riang-gembira. Ya sudah, mari lanjutkan perjalanan ke tujuan utama ... urusan ini bisa dituntaskan lain waktu.

Ponpes Walisanga yang Penuh Warna


Sudah lama saya tidak ke Pondok Pesantren Walisanga yang terletak di kaki Gunung Meja ini. Sudah tiga kali menulis ini, haha. Begitu memasukinya, seperti gambaran di dalam kepala saya berdasarkan cerita dari Cahyadi dan foto-foto di Facebook, tempat ini sungguh luar biasa!

Lingkungan Ponpes Walisanga dari kejauhan.

Saya bertemu guru yang kemudian mendampingi saya mempromosikan Uniflor di kelas 12 MAS Ponpes Walisanga. Setelah promosi, saatnya mengeksplor sekitaran pondok pesantren, tetapi sayang tidak bisa semuanya meskipun ingin sekali pergi ke kebun-kebun mereka, karena waktu yang tidak mengijinkan. Masih ada SMA lain yang menanti.


Ponpes Walisanga, oleh Kakak Nona Eka, diubah menjadi sangat memikat dengan warna-warna cerah hampir setiap incinya, termasuk masjid. Belum lagi, sebagai orang yang saya tahu sangat kreatif, Kakak Nona Eka juga membikin banyak spot foto yang Instagramable menggoda iman. Salah satunya bisa kalian lihat pada foto di atas. Sore-sore duduk ngopi di situ ... sambil kerja ... suasana tenang ... huhuy!

Cahyadi kemudian mengajak saya ke tamannya. Menurut Cahyadi, salah seorang anak Kakak Nona Eka bakal bikin kafe di taman tersebut. Nah, ini yang keren. Selama ini kan si beliau punya angkringan di Jalan Soekarno - Ende. Kalau bikin kafe di taman ini kan bagus juga, tinggal mencari 'suguhan unik' lain apa yang mau ditawarkan ke pengunjung. Misalnya pengalaman berkebun, pengalaman berkreasi DIY, atau apalah. Boleh juga ada suguhan kesenian dari anak-anak pondok pesantren. Yang penting jangan hanya menu makan dan minum karena makan dan minum bisa diperoleh masyarakat di wilayah kota tanpa perlu harus pergi ke kaki Gunung Meja.



Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya tidak bisa berlama-lama di Ponpes Walisanga karena harus melanjutkan tugas ke SMA lainnya. Tapi saya bakal kembali ke sini. Pokoknya. Hehe *seret dinosaurus*.

Masa SMA yang Seru


Pergi ke empat sekolah lainnya, kemudian - setelah dari MAS Ponpes Walisanga, saya membayangkan masa SMA yang seru. Yaaaaa kan dulu saya juga pernah SMA haha di SMA Negeri 1 Ende. Menjadi anak putih - abu-abu itu super cool. Karena apa? Karena tiga tahun menjadi anak putih - biru. Cukup membosankan. Hahaha. Bukan ... bukan itu saja. Menjadi anak putih - abu-abu, waktu itu, membayangkan sudah diijinkan punya gebetan. Ternyata ... tidak. Orangtua saya tidak mengijinkannya. Manapula kakak lelaki saya pada suka melotot parah. Huhuhu.

Keseruan terutama saya peroleh saat mengunjungi SMA Katolik Tarvid. Karena ini Rabu, yang oleh Gubernur NTT dicanangkan sebagai English Day, maka kami disambut dengan bahasa Inggris oleh guru-guru di sana. Termasuk Bapak Kepseknya juga! Meskipun ada salah-salah kata, tapi Bapak Kepsek ini sungguh bikin kagum. Prinsip kami sama. Ini English Day, bukan Grammar Day. Jadi boleh saja berbicara bahasa Inggris meskipun patah-patah qiqiqiq. Toss dulu donk, Bapak. Yang penting kan tidak merugi. Toh hanya disuruh bicara bahasa Inggris, tidak mesti harus sesuai aturan baku. Ya kan ya kaaaan.

Memasuki salah satu kelas 12, saya teringat masa SMA dulu, karena masih jeda pelajaran ... ribut dan saling goda itu pasti terjadi. Ya ampuuun! Jadi kangen sama teman-teman SMA Kelas 3 Bahasa dulu! Kelas paling eror! Hahaha. Ada murid yang suka godain temannya, ada murid yang (tadi duduk paling depan) sibuk membaca, ada yang mengobrol riuh. Pokoknya seru memang masa SMA. Duhai, adik-adik tercinta, suatu saat nanti kalian akan merindukan kekonyolan masa SMA ini. Sumpah. Percayalah sama Presiden Negara Kuning.


Dari enam SMA, masih ada satu SMA lagi yang belum sempat saya datangi yaitu SMA Katolik St. Petrus yang bertetangga sama Bandara H. Hasan Aroeboesman. Insha Allah ... besok.

Baca Juga: 5 Manfaat Buah Mengkudu

Dan bagi kalian yang baru hari ini membaca blog ini lagi, pasti bingung kenapa Rabu tidak ada tips kesehatan? Baca pos ini: Uniflor Goes to School untuk tahu mengapa kebiasaan selama ini berubah (tanpa tema harian). Tenang saja, ini tidak selamanya kok, setelah 20 Februari nanti saya Insha Allah bakal kembali dengan pos-pos bertema. Hehe.

Selamat beraktivitas, kawan!



Cheers.

Uniflor Goes to School


Menjadi anggota Tim Promosi Universitas Flores (Uniflor) bukan sesuatu yang baru bagi saya dan dinosaurus. Selain mempromosikan Uniflor melalui tim khusus yang dibentuk setiap awal tahun dimana pada tahun 2015 saya ditugaskan mempromosikan Uniflor ke Pulau Sumba, tugas utama saya memang untuk mempublikasikan semua kegiatan Uniflor kepala khalayak karena saya bertugas di UPT Publikasi dan Humas Uniflor misalnya melalui koran lokal melalui rubrik kerja sama, saya juga menjadi admin dari beberapa akun media sosial, dan bersama Kakak Rossa Budiarti kami menjadi penulis berita di website Uniflor. Pekerjaan mempublikasikan sesuatu memang sudah mendarah-daging dan sulit dipisahkan. Haha.

Baca Juga: Mamatua Project

Surat tugas dan SK sudah dikeluarkan dengan jangka waktu tugas 31 Januari 2019 s.d. 20 Februari 2019. Jangan dipikir itu waktu yang lama karena melihat daftar sekolah, misalnya yang di Kabupaten Ende saja, sudah membikin nafas ngos-ngosan. Lebay but almost true haha. Sabtu kemarin, untuk mengisi kekosongan kegiatan meskipun aslinya daftar recana di T-Journal lumayan padat, usai kegatan Millenial Road Safety di Jalan El Tari, saya memutuskan untuk mengantar surat ke beberapa sekolah. Lumayan jika bisa memasuki dua tiga sekolah. Pak Yance, Ketua Panitia Tim Promosi Uniflor 2019, lantas menyarankan saya dan beberapa teman yang ikut untuk memakai bis Tim Promosi Uniflor saja. Kebetulan bis tersebut baru saja memasuki area kampus saat kami berdiskusi di kantin Kampus III. Wah! Boleh tuh! Perdana! Karena kan bis tersebut digunakan hari ini, Senin 4 Februari 2019, untuk mengantar Tim Promosi Uniflor ke kabupaten lain (arah Barat).

Pak Yance, saya, Ibu Neneng, Ibu Happy, Ibu Shinta.

Ngomong-ngomong, eh, nulis-nulis, penampakan bis ini mirip motorhome ya. Duh, seru sekali membayangkan bis itu beneran motorhome.


Sabtu memang cenderung identik dengan sekolah yang jauh lebih santai. Manapula beberapa sekolah menerapkan lima hari sekolah. Tapi lumayanlah kami masih sempat bertemu beberapa guru dan menyampaikan maksud kunjungan. Rata-rata murid kelas 3 SMA sedang sangat pada kegiatan menjelang UN. Beruntung kami diberi kesempatan untuk mempromosikan Uniflor, bukan pada hari itu juga, melalui janji.