Ubud Bali Weekend Gateways – Pilihan Tempat Wisata Unik Dan Terbaik


Tak bosan dan selalu menemukan sesuatu yang baru dari setiap perjalanan ke Bali. Kali ini Ubud menjerat hati untuk lebih mendekatkan diri pada alam. Dari gambaran teman, Ubud adalah hijau dan sunyi. Ribuan pohon menutup area ini membuat sejuk raga dan pikiran. Berkat film Eat, Travel and Love, Ubud seperti menyedot perhatian wisatawan asing untuk mampir dan sekedar menikmati alamnya. Memang kesan 'tua' selalu menyelimuti Ubud, namun daripada menambah kepenatan dengan hingar bingar kehidupan, lebih baik merentas sepi dan mendekatkan diri pada keabadian kehidupan. 

Beberapa kali menjelajah Ubud, sepertinya waktu selalu kurang saja. Ingin berlama-lama dan benar-benar menyatu dengan terasering sawah, hutan-hutan dan masyarakat lokal yang ramah dan menyambut saya bagaikan saudara sekandung. Bagi yang menyukai alam, pastinya tidak akan bosan, pun penikmat seni seperti lukisan, Ubud memiliki museum Seni yang unik dan menarik untuk dikunjungi. 

Memberi Makan 'Monyet' Di Monkey Forest 


"Kita mau memberi makan saudara ya di Ubud?", Sejenak saya mencerna apa saja yang diucapkan rekan kerja. Pikir saya, Saudara berhubungan dengan manusia dna mungkin saja Masyarakat Ubudlah yang akan kami kunjungi. Kemudian, saya hanya terdiam mengikuti perjalanan ke arah yang dituju.

Mobil yang membawa kami berhenti dengan sempurna. Sekeliling hanyalah hutan lumayan lebat. Ah, mungkin saja warganya tinggal didaerah hutan seperti ini. Masih belum tersadar, sampai pada saat kami melangkah masuk melewati gerbang dan kami disambut hangat sekawanan 'Saudara'. Saya tersenyum. Oh, jadi inilah 'Saudara' kami yang akan kami beri makan. Segerombolan monyet berlalu-lalang menyambangi makanan yang diberikan pengunjung dari berbagai macam negara. Kamera yang saya pegang lantas menjadi saksi kelucuan tingkah polah monyet yang sedang makan.

Monkey Forest menurut saya pilihan yang tepat pada saat berada di Ubud. Liburan bersama keluarga menjadi menyenangkan dengan cara mengenalkan dan mendekatkan anak-anak kepada hewan seperti monyet.

Akses menuju Monkey Forest cukup memenuhi standar karena sudah beraspal, namun jalanan di Ubud berukuran sedang, jadi sebaiknya mengunakan kendaraan berukuran sedang seperti mini bus.

Alamat Jalan Monkey Forest, Padangtegal, Ubud.

Belanja Di Pasar Seni Ubud


Memahami sebuah karya seni memang relatif gampang-gampang susah. Seni memiliki makna dan definisinya sendiri-sendiri. Tak semua orang menafsirkan hal yang sama tentang satu benda, bisa saja menurut saya bagus, belum tentu juga menurut yang lain bagus. Begitulah lika-liku seni, selalu menarik untuk diikuti.

Ubud memiliki Pasar Seni. Seperti yang kita ketahui, Bali merupakan surga bagi pengemar barang seni seperti lukisan, kerajian tangan dan benda-benda seni lainnya. So, it's time to Shopping guys. Oh iya, seperti kebanyakan pasar di Bali, pada saat memasuki gerbang, kita akan melihat sebuah gapura yang mirip dengan Pura. Selain itu, disetiap sudut tertentu terdapat sesajen berisi dupa, bunga dan makanan.

Selain barang seni, Pasar Seni Ubud juga menjual pakaian dan kain tradisional. Nah, bagi yang menyukai kain-kain tradisional dan kain pantai, bisa berburu disini. Mengenai harganya? Jangan Khawatir, dengan keahlian menawar, harga yang tadinya tinggi akan didapat dengan harga pas dan puas.

Menyucikan Diri Di Pemandian Suci Tirta Empul


Konon, Kawasan Tampak Siring merupakan hutan belantara tempat pelarian Raja Mayadewana. Raja menentang rakyat menyembah Dewa dan tidak mengikuti perintahnya. Sebagai bagian dari protesnya, Raja kemudian melarikan diri ke kawasan ini. Raja kemudian mengubah mata air menjadi beracun sehingga menyebabkan kekacauan. Dewa pun tidak menghancurkan mata air tersebut, melainkan merubahnya menjadi mata air suci sampai sekarang. Mata air tersebut mengalir sampai ke sungai-sungai disekitar Tampak Siring.

Tirta Empul berarti air suci dan di mata air inilah dilaksanakan Melukat untuk menyembah Dewa dibawah 13 pancuran suci. Tradisi ini masih dilaksanakan sampai sekarang dan merupakan ritual yang unik di Ubud. Bagi pengunjung yang ingin mengikuti ritual, siapkan segala perlengkapan untuk menikmati air suci.

Merentas Sepi Di Candi Tebing Gunung Kawi


Candi Tebing Gunung Kawi, saat pertama kali mendengar, saya mengiranya sebagai sebuah candi yang berada di Gunung Kawi. Namun, perkiraan saya sirna saat melihat gambar-gambar dalam instagram. Candi yang selama ini terbuat dari batu-batuan dan berdiri megah menjulang ke angkasa, seakan terpatahkan dengan adanya tempat perisirahatan abadi Raja-raja Dinasti Udayana ini.

Sekilas, bentuk Candi Tebing Gunung Kawi menyerupai Pura memuja para Dewa di Pulau Dewata. Namun, yang unik, Candi ini bukan dibangun diatas tanah melainkan dipahat di dinding perbukitan. Mungkin,inilah salah satu tempat terunik yang terdapat di Bali.

Menyelami Hati Di Goa Gajah 


Goa Gajah, bukanlah tempat tinggal sekawanan Gajah. Seperti kita ketahui, di Bali sangat sulit mendapatkan habitat Gajah, tidak seperti Sumatra sebagai pusat Gajah di Indonesia. Saat memasuki kawasan wisata, terdapat sumber mata air, Pura dan Goa. Tidak terdapat tanda-tanda kehadiran Gajah disini. Goa Gajah berasal dari sebuah kata 'Lwa Gajah', Kata Lwa berarti sungai. Secara keseluruhan, Lwa gajah merupakan tempat pertapaan yang berada di pinggir sungai.

Luas Goa Gajah sekitar 2 meter persegi dan berbentuk seperti huruf T. Masuk ke dalam Goa, rasa sunyi dan hening. Mungkin, ini alasan mengapa Goa ini dijadikan sebagai tempat pertapaan. Hiruk-pikuk Dunia luar tak terdengar sedikit pun. Rasa Damai sekaligus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta pun kemudian timbul secara perlahan-lahan.

Mengenal Seni Di Museum Antonio Blanco


Pengemar Seni terutama Lukisan, sangat wajib mengunjungi Museum satu ini. Museum Antonio Blanco, sebuah museum didedikasikan kepada Pelukis Keturunan Spanyol. Lukisannya mengambarkan keindahan wanita dan penari Bali. Pada tahun 1953, Antonio Blanco menikah dengan Penari Bali, dan pada akhirnya Istrinyalah merupakan Inspirasi utama untuk lukisan-lukisannya. 

Pemiliki Museum adalah seorang berwarga negara Filipina yang membangun rumah sekaligus museum diatas tanah pemberian Raja Ubud dari Puri Saren. Saat ini, Museum Antonio Blanco tak hanya memajang karya dari Antonio, namun juga karya Anaknya yang meneruskan bakat seni yang dimiliki oleh Ayahnya. 

Jalan-Jalan Santai Di Campuhan Ridge Walk (Bukit Campuhan)


Saat matahari belum mulai nampak, saya mencoba menangkap momen sunrise. Bersama 3 orang teman di Ubud, saya naik motor mengejar matahari. Mulanya, saya urung ke Bukit Campuhan karena jalanan menanjak, namun setelah melewati beberapa tanjakan ternyata Campuhan sudah terlihat. Matahari rupanya masih malu-malu bersembunyi dibalik Pohon di sudut sebelah kanan. 

Disebelah kanan dan kiri, terdapat sungai yang membelah bukit sehingga posisi kami tepat diapit oleh dua sungai. Alam memang punya cara unik untuk kami nikmati seperti udara pagi yang segar dan pemandangan hijau yang tak habis kami pandang. Bagi pengemar jalan-jalan dan foto-foto cantik bersama teman-teman, tempat ini paling cocok.    


Foto-Foto Cantik Di Tegal Alang 


Penat dengan rutinitas, bolehlah sekali-kali menikmati pemandangan sawah nan hijau di Ubud. Yup, Tegalalang merupakan salah satu bukit persawahan dengan sistem pengairan terasering. Udara segar sangat terasa ketika menuruni persawahan. Banyak spot foto terbaik sehingga apabila tidak mau menuruni bukit, cukup diatas saja tinggal berpose. 

Warga Jakarta maupun wisatawan mancanegara pastinya akan sangat terhibur dengan tempat wisata satu ini. Selain area persawahan, dilokasi juga terdapat restoran dan penjual kerajinan seperti kain khas Bali, gantungan kunci, ukiran dan lainnya.

Ubud memiliki banyak sekali tempat wisata lain selain yang saya bahas diatas, so jangan khawatir kehabisan tempat wisata di Ubud. Oh iya, setidaknya dibutuhkan waktu satu bulan untuk mengunjungi seluruh wisata di Ubud dan Bali. Oh iya, jangan sampai lupa untuk menginap di Homestay Local warga Ubud yang memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh Hotel-Hotel Mewah lainnya. 

Sensasi Menginap Homestay Warga Lokal Ubud 


Pernah berinteraksi dengan Warga Lokal Ubud, Bali? Pastinya sangat jarang berinteraksi secara langsung kecuali pada saat di restoran, tempat wisata, pasar dan lainnya. Masak bersama warga lokal, kemudian belajar menari langsung dari masyarakatnya atau sekedar belajar bahasa Bali secara langsung, sangat dapat dilakukan jika menginap di Local Homestay. 

Beberapa waktu lalu, saya sempat menginap di dua Homestay di daerah Ubud, yaitu Tebasaya dan Jati Homestay. Keduanya memiliki kelebihannya masing-masing, seperti Tebasaya yang memiliki bangunan sangat luas dan fasilitas sangat lengkap, sedangkan Jati Homestay merupakan salah satu homestay dengan bangunan tradisional dengan material bambu. Mengenai fasilitas Homestay, tidak usah dirisaukan, seluruh fasilitas seperti peralatan mandi, televisi, AC, WIFI, breakfast dan lainnya sudah sangat terpenuhi disini. Oh iya, harganya ternyata bisa ditawar loh, jika menghubunginya melalui telepon. So, tunggu apa lagi, yuk menginap di Local Homestay. Informasi mengenai Ubud Local Homestay bisa diakses melalui website http://www.ubudlocalhomestay.com.

Rahasia Dan Tips Agar Tetap Sehat Di Lingkungan Kotor Dan Berdebu


Di suatu hari yang panas, saya mengunakan ojek online menuju salah satu tempat. Walau sudah tertutup rapat oleh masker, namun tetap saja udara siang itu bagaikan udara dari neraka. Panas, kotor dan berdebu. Sudah bukan rahasia lagi kalau di Jakarta inilah kendaraan bermotor baik motor dan mobil beranak pinak tak diimbangi pembangunan jalan. Selain polusi, saya harus melawan macet yang masih menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Jakarta. 

Bertahun-tahun yang kita hirup udara polusi ini akan mengakibatkan beragam hal yang kita tidak tahu dan bahkan membuat kita akan kaget melihat dampaknya. Salah satunya adalah penyakit pernafasan, namun ternyata beberapa penyakit lain seperti Bronchitis, Ephysema, Radang paru-paru, Asma, Kanker paru-paru, Kanker lambung, Jantung, Darah Tinggi, Penurunan Kesuburan dan penyakit lainya seperti iritasi mata dan kulit. Dan, saya baru mengetahui bahwa lingkungan kotor dan berdebu ini dapat menyebabkan penyakit yang mematikan. 

Lalu bagaimanakah Cara Menjaga Kesehatan Tubuh dari lingkungan berdebu dan kotor ini? Tenang saja saya memiliki beberapa tips #Sehat365hari . 

Gunakan Masker Setiap Saat


Pada saat mengunakan ojek atau kendaraan roda dua sangat wajib mengunakan Masker sebagai bagian dari proteksi polusi dan lingkungan kotor dan berdebu. Saat berada di jalan raya yang penuh dengan polusi, sudah saatnya mengunakan masker, karena kita tidak tahu kondisi udara tersebut mengandung polusi atau tidak. Yang penting, kita telah memproteksi diri dari dampak penyakit yang mematikan. 

Makan Sayur Dan Buah 


Anti oksidan terbaik berasal dari buah-buahan dan sayuran. Untuk mencegah radikal bebas di lingkungan kotor dan berdebu, sudah saatnya kita mencegahnya dengan secara rutin mengkonsumsi buah dan sayuran. Terkadang kita lupa bahwa mengkonsumsi buah dan sayur bukanlah hal yang mahal namun bisa didapatkan lebih murah dibandingkan apabila mengalami penyakit yang disebabkan oleh polusi udara ini. 

Banyak Minum Air Putih 



Polusi akibat lingkungan berdebu dan kotor mengakibatkan tubuh menyerap semua zat-zat bahkan yang terberat seperti zat besi, asap dan lainnya. Setelah terserap di dalam tubuh, maka akan diendapkan dan diikat oleh darah dan dialirkan ke seluruh tubuh. Air memiliki sifat cair dan dapat membuang racun atau zat-zat yang tak berguna dalam tubuh ke dalam urine. So, minum air putih sangat penting. 

Olahraga Rutin 



Gak boleh sakit, yup betul sekali ini salah satu kata yang setiap hari kita ucapkan. Namun, setidaknya tubuh membutuhkan olahraga untuk mencegah sakit akibat lingkungan kotor dan berdebu. Manfaat olahraga bukan saja untuk saat ini, melainkan untuk seterusnya. Usahakan jalan kaki ke tempat yang dekat atau setidaknya ratusan meter dari rumah, ini salah satu cara untuk rutin melakukan olahraga ringan setiap hari.  

Istirahat Cukup 


Istirahat yang cukup merupakan hal yang wajib dilakukan. Tubuh memerlukan waktu untuk memulihkan diri setelah seharian beraktivitas. Apalagi setelah bermacet-macetan dan terkena debu dan polusi, tubuh memerlukan waktu recovery yang cukup. Manfaat tidur cukup bukan saja tubuh yang segar melainkan pikiran pun lebih fresh dan wajah pun tampak lebih muda. 

Minum Stimuno Forte




Kalau badan sudah dalam batas ambang yang kurang mengenakan sudah saatnya minum sesuatu yang berbeda. Pada saat saya browesing dan menemukan sebuah artikel di http://www.serbaherba.com/daya-tahan dan membicarakan Stimuno Forte. Stimuno Forte bukanlah obat atau Vitamin melainkan herbal yang terbuat dari meniran yang membantu sistem imun tubuh atau kekebalan tubuh agar lebih kuat. Selain makan buah dan sayuran, minum Stimuno setiap hari dapat membantu sistem imun tubuh bekerja dengan sempurna. Lalu bagaimana efek sampingnya? Stimuno merupakan herbal dan sudah teruji klinis tanpa efek samping.  

So, sudah saatnya menjaga diri dari lingkungan kotor dan berdebu dan menjaga kesehatan dengan selalu mengkonsumsi Stimuno. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. 

Booking Local Homestay Dan Nikmati Sensasi Tinggal Bersama Penduduk Lokal Ubud, Bali


Bali menawarkan sejuta pesonanya. Tak hanya Nusa Dua,  Kuta atau Sanur,  Ubud pun tak luput dari kedatangan wisatawan dalam negeri dan mancanegara. Kata orang,  Bali adalah pulau dewata,  tapi menurut saya Bali adalah surga dan Ubud adalah surga tertinggi dalam kastanya.

Ubud memang berbeda. Apabila ingin menikmati indahnya pedesaan Bali atau sekedar yoga dengan pemandangan sawah,  Ubud adalah tempat yang cocok. Saya setuju apabila ada orang yang menyatakan kalau Ubud itu tempat paling sunyi. Sunyi bukan dalam arti sepi,  tapi tempat mendekatkan diri dengan alam. Sunyi bukan mati,  melainkan melampui hidup dan dekat dengan Yang Maha Kuasa. 

Destinasi Wisata Ubud pun tak kalah bila dibanding dengan pantai-pantai dipesisir Selatan dan Timur Bali. Sebut saja Goa Gajah, Puri Saraswati,  Istana Ubud,  Museum Blanco dan beragam destinasi yang terlalu panjang untuk disebutkan. Namun,  sudah pernahkah menikmati destinasi sekaligus berinteraksi layaknya penduduk lokal tanpa ada batasan dan dinding hotel sebagai pemisah.


Menikmati Ubud Dari Sisi Lain

Selain destinasinya, kadang melakukan hal-hal kecil seperti memasak makanan khas Bali,  belajar tari Pendet dan beraktivitas bersama masyarakat Ubud membuat memori tersebut tertanam kuat dalam diri. Bisa dibilang inilah aktivitas anti mainstream yang dapat dilakukan di Ubud. 

Percayalah,  aktivitas anti mainstream ini akan berujung pada kepuasan yang selama ini dicari-cari. Bahkan,  tanpa sadar akan teralin ikatan batin antara penduduk lokal dengan wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegeri.


Booking Ubud 'Local' Homestay 

Selama beberapa kali ke Bali,  mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali saya menginap dihomestay. Bukan merasa tak nyaman atau anti dengan homestay,  namun karena beberapa kali yang muncul dalam mesin pencarian didominasi oleh website booking online yang mendaratkan pilihan hotel-hotel berbintang. Karena terbiasa inilah,  akhirnya tak satupun homestay termemori dibenak saya.

Namun,  satu hal membuat semuanya berubah. Berawal dari sebuah percakapan kemudian ajakan,  berakhir di sebuah homestay di Ubud. 

Kesan pertama Homestay menurut saya adalah sesuatu yang kurang terorganisir secara manajemen. Namun,  kesan itu sirna begitu saya tahu bahwa Homestay di Ubud memiliki website yang secara khusus menerima pesanan dan melihat secara visual homestay tersebut.

Masalah kedua adalah fasilitas. Yup,  anggapan saya, homestay kurang memiliki fasilitas layaknya hotel berbintang,  namun siapa sangka homestay memiliki televisi,  ruangan AC,  WIFI,  peralatan mandi,  dan semua fasilitas yang bisa didapatkan dihotel berbintang 2 keatas.

Masalah ketiga adalah lingkungan. Homestay lebih menawarkan lingkungan tenang dengan keramahan penduduk Ubud sebagai sebuah keuntungan yang tak dapat disediakan hotel manapun.

Masalah keempat adalah Harga. Harga hotel adalah fixed price yang tidak dapat diubah tetapi malah cenderung naik. Namun,  homestay menawarkan kemudahan seperti tawar menawar harga dan cenderung murah. 

Tebasaya Homestay 


Begitu saya sampai,  disebuah gang sempit,  saya hanya bisa menduga-duga, apakah betul ini jalan menuju Tebasaya Homestay. Namun setelah memasuki pintu gerbang,  dugaan saya mendadak berubah menjadi raut bahagia. Ternyata homestaynya memang masuk gang sempit,  namun bangunan dua lantai dengan luas kamar yang cukup besar besar.





Memasuki kamar,  segala perlengkapan mandi,  AC,  Televisi, WIFI dan segala rupa yang dibutuhkan termasuk air minum pun tersedia dan tertata apik. Saya cukup terkesandengan homestay ini. Bangunan bergaya Bali sangat terasa apalagi homestay ini dikelilingi oleh perumahan warga yang menampilkan suasana Bali.

Jati Homestay




Berbeda dengan Tebasaya Homestay,  Jati lebih menampilkan sisi klasik dengan dinding yang terbuat dari bambu. 

Fasilitas pun tak diragukan lagi,  sesuai dengan standar hotel,  homestay ini menawarkan faslitas yang sama. 

So,  kapan kamu ke Ubud dan menginap di Homestay untuk merasakan keeratan emosional dengan penduduk lokal. 

Selamat Datang Di Kerajaan Kera Hutan Nepa, Madura


Bukan manusia yang menyambut saya dan rombongan blogger dari seluruh penjuru Indonesia, ketika memasuki Hutan Nepa. Beberapa ekor keralah yang menyambut sore ini. Cuaca sedikit mendung tak menyurutkan niat mengelilingi Hutan Nepa. Mungkin karena tak panas inilah, puluhan kera berkeliaran mengikuti langkah kami ke dalam hutan.

Nepa disebut demikian karena di daerah ini banyak tumbuh tumbuhan 'Nipah'. Penyebutan masyarakat di Kabupaten Sampang ini membuatnya bergeser menjadi Nepa. Sebelum masuk ke Hutan, terlebih dahulu melewati bibir pantai yang disebut pantai Nepa sesuai dengan nama Hutan. Kegunaan pohon Nipah ini sangat banyak, Salah satunya bisa digunakan sebagai atap rumah pada dahulu sebelum mengunakan genting. Selain itu, Nipah berfungsi sama dengan bakau, menahan pengikisan tanah dari gelombang air laut.     


Kera-kera ini bukanlah perwujudan dari hewan sesungguhnya. Masyarakat percaya bahwa kera-kera ini adalah prajurit-prajurit Raden Segoro. Raden Segoro adalah putra dari Putri Kerajaan Gilingwesi. Prajurit ini melawan Prajurit dari negeri asing hingga sekarang, kera-kera ini pun terbagi dalam dua kubu besar. Peraturan dalam kerajaan kera ini adalah barang siapa yang memasuki wilayah kerajaan kera lain, maka tak ada jalan lain kecuali harus mati, kecuali pada saat kedua kerajaan diserang oleh pihak-pihak luar. 

Peraturan tidak tertulis inilah yang membuat saya cukup terperangah dan penasaran dengan kehidupan kera secara lebih dekat. Namun, semakin kaki melangkah, kera-kera tidak mau menampakan diri, hanya beberapa kera saja yang antusias dengan kami. 

    

Sore ini nampak sepi, sepertinya hanya rombongan kami saja yang melintas sampai ke tengah Hutan dan melihat petilasan Kyai Poleng. Kyai Polong merupakan penjaga Puteri kerajaan Gilingwesi dan Raden Segoro. Merekalah yang dipercaya sebagai nenek moyang di Pulau Madura ini.


Melihat tingkah polah kera seperti mereka memiliki dunia mereka sendiri dan sangat kocak. Beruntung kera yang kami temui tidak agresif dan cenderung kooperatif dengan manusia. Ini juga yang masyarakat percaya bahwa kera-kera ini masih memiliki sifat manusia yang dibawa pada saat menjadi prajurit Raden Segoro. 

Kisah nenek moyang Pulau Madura memang sangat menarik, dari mulut ke mulut dan turun temurun cerita ini digaungkan sehingga telah tertanam di alam bawah sadar. 




Terima kasih kepada #BPWS dan Plat-M yang telah mengundang saya dan blogger-blogger nusantara dalam acara #MenduniakanMadura

Menyusuri Lorong Waktu Jawa Kuno Di Museum Ullen Sentalu


Di lereng Gunung Merapi yang terkenal dengan wedus gembel saat mengeluarkan lava panasnya, terdapat satu harta karun. Bukan karena kekayaan atau berlian emas semata, namun lebih berharga untuk dikenalkan pada anak cucu kita nanti, supaya mereka bangga akan salah satu identitas budaya yang memgalir dalam darah kita. Ullen Sentalu, satu kawasan seluas hampir dua hektare dan menyimpan seluruh identitas Mataram kuno atau lahirnya budaya Jawa yang melahirkan Solo dan Yogyakarta sebagai dua kerajaan Jawa yang tersohor.

Trip Advisory menempatkan Museum Ullen Sentalu sebagai museum terbaik dan harus di kunjungi pada saat mengunjungi Yogyakarta. Beruntung, airport.id dalam Explore Indonesia Jogja 2016 memasukan museum ini dalam listnya. Sebagai orang yang lahir dan besar bersama budaya Jawa, tentunya tempat ini mengingatkan memori masa lampau. Dahulu, di sekolah secara tak langsung, saya mengenal dan belajar bahasa serta budaya Jawa, namun sejalan dengan waktu, hanya sebagai kecil yang masih melekat di ingatan. Dan mengujungi museum ini, mengusik saya untuk lebih mendalami lagi sejarah dan kejayaan kerajaan Jawa tempo dulu.

Tempat Menyepi Dan Mendekatkan Diri Dengan Alam



Masa lampau, begitu masuk ke bangunan kedua setelah bangunan utama penyambut tamu, sangat terasa sekali. Gaya bangunan indies dengan mengacu arsitektur Eropa yang cenderung kokoh dan berkelas. Pepohonan menghias disekitar bangunan membuat museum ini terasa seperti rumah surga atau nDalem Kaswargan. Seperti labirin, kaki-kaki kami melangkah melewati sekat-sekat bangunan demi bangunan hingga akhirnya disajikan peninggalan budaya Jawa. Raut wajah kami yang semula lelah berubah menjadi serius mendengarkan guide kami menceritkan dibalik lukisan dan benda peninggalan seperti batik, keris dan beragam lainnya.

Baru kali ini saya merasakan aura museum yang sangat menarik dan misterius. Bahkan, tempat ini sangat cocok untuk menyembuhkan luka-luka hati karena kegalauan dan menemukan kebahagian dengan bersemedi. Pecinta yoga pun tak akan melewatkan lokasi seperti ini untuk bermeditasi dan melakukan yoga bersama teman-teman. Hawa sejuk pun turut mendukung tempat dengan luas sekitar hampir 2 hektare ini.


Tentu saja, museum ini menjadi favorite karena lokasinya yang menyatu sekali dengan alam dan akan menjadi tempat pelarian dari rutinitas yang sangat ampuh.

Lorong Waktu Jawa Kuno



Sebelum memasuki Labirin dan berakhir di gedung bergaya indies, sebuah gedung utama menyambut kami. Untuk semetara tidak ada yang istimewa karena hanya menyajikan kebudayaan seni topeng Jawa dan beberapa bongkahan peninggalan dari Candi di sekitar Yogyakarta. Namun, begitu masuk kedalam lorong, suasana berubah drastis.

"Tidak boleh mengambil gambar atau merekam dengan alat apapun," Mba pemandu kemudian melarang kami mengabadikan koleksi Museum.

Mba pemandu secara tegas melarang kami mengambil gambar atau merekam suara. Selain menganggu konsentrasi pemandu dalam menjelaskan, flash dari kamera tentunya akan merusak keaslian koleksi dan ada kepercayaan bahwa setiap koleksi memiliki nyawanya sendiri. Antara nyata dan khayalan, kami dibawa menyusuti lorong waktu menuju masa-masa kejayaan Jawa kuno.


Tidak adanya aktivitas lain membuat kami mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Mba Pemandu. Bahkan, menariknya kami menjadi sangat antusias dan menanyakan hal-hal menarik saat melihat beberapa lukisan Raja, Ratu, Putri atau Pangeran beberapa kerajaan Yogyakarta dan Solo. Saya memang belajar sejarah dari buku di bangku sekolah, namun belum pernah begitu tertarik dengan cerita yang disampaikan Mba Pamandu.

Vorstenlanden, begitulah julukan kawasan yang berada dibawah otoritas Dinasti Matarm Islam yaitu Kasunan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualam. Dahulu sebelum Perang Diponegoro, kawasan Vorstenlanden mencakup wilayah Gunung Slamet sampai ke Gunung Kelud, namun setelah perang terjadi, wilayahnya semakin menciut dan hanya menyisakan wilayah Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta sekarang ini.


Dan yang paling terkenal dari sejarah Jawa Kuno adalah perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang membagi Dinasti Mataram menjadi dua bagian yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Momentum inilah yang membuat Mataram tidak memiliki kekuasaan yang tunggal dan terpecah belah. Semenjak Giyanti, Mataram tidak memiliki wewenang yang strategis dan cenderung lemah.

Meninggalkan bayang-bayang kejayaan Mataram, lorong lain pun menanti dengan cerita yang lain. Kali ini, koleksi batik dan pakaian adat terpampang nyata dihadapan kami. Kain batik yang sering kami gunakan ternyata memiliki makna yang berbeda. Parang melambangkan senjata yang siap untuk berperang. Kain batik lainnya pun memiliki makna kesucian dan keanggunan yang biasa digunakan dalam adat pernikahan. Selama ini, saya hanya mengenakan saja baju batik tanpa tahu arti dan makna yang terkandung didalam motifnya.


Gusti Nurul Dan Julia Perez 


Salah satu yang paling menarik dalam lorong selanjutnya adalah ruang Gusti Nurul. Gusti Nurul merupakan putri tunggal dari Kanjeng Gusti Pangeran Mangkunegoro VII dengan permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer. Gusti Nurul muda sangatlah mirip dengan artis Indonesia, Julia Perez. Paras mereka sangatlah mirip dengan struktur dan karakter wajah yang hampir sama. Apakah mungkin Julia Perez adalah keturunan dari salah satu raja-raja Jawa ? Atau ini hanya kebetulan belaka? Hanya Tuhan yang dapat menjawab misteri ini.

Pagelaran Seni Budaya Di Ullen Sentalu


Selain menyajikan koleksi unik budaya Jawa, Ullen Sentalu pun mengelar pertunjukan seni dan budaya. Pada Oktober lalu, International Mask Festival telah sukses digelar di museum ini. Pagelaran ini menyajikan sajian tari-tarian topeng khas Jawa. Bukan hanya tarian, namun Magic Mask dan Masterpiece Mask pun turut memeriahkan acara tersebut.

Bagi yang belum mengunjungi Museum Ullen Sentalu ada baiknya untuk melihat videonya terlebih dahulu.


Terima kasih airport.id dan para sponsor yang telah menyelengarakan Explore Indonesia Jogja 2016.


Informasi Museum Ullen Sentalu

Alamat 
Jalan Boyong KM 25, Kaliurang Barat
Sleman, Yogyakarta

Telepon 
+62274 895161 

Website 

Jam Buka
Selasa- Jumat : 08.30 - 16.00 WIB
Sabtu - Minggu : 08.30 - 17.00 WIB
Senin Tutup

Harga Tiket Masuk 
Pengunjung Domestik 
Dewasa : Rp 30.000
Anak (Usia 5-16) : Rp 15.000
Pengunjung Mancanegara
Dewasa : Rp 50.000
Anak (Usia 5-16) : Rp 30.000

Email 
ullensentalu@gmail.com

Social Media 
Facebook : Museum Ullen Sentalu
Twitter : @ullensentalu 

Petunjuk Jalan 
Sekitar dua kilometer setelah Gerbang Kaliurang tiba di pertigaan Patung Udang, silahkan mengambil jalan lurus ke Utara dan 500 meter kemudian akan tiba di pertigaan berikutnya, silahkan mengambil jalan kekanan dan 700 meter kemudian akan tiba di lokasi museum.

Maps