5 Obat Alami Penyubur Rambut



Uhum ...

*garuk-garuk kepala*

Rambut saya tipis. Tidak dapat dipungkiri apabila suatu saat nanti saya mengalami kebotakan. Bukan salah Abu Nawas apabila rambut saya menipis. Bukan pula salah dinosaurus karena dinosaurus tidak ngemil helai rambut. Ini murni kesalahan saya sendiri. Pertama, pada zaman SMP tergoda sama rambut lurus, maka membeli obat pelurus rambut dan meluruskannya dengan seterika. Suer! Seterika. Hahaha. Waktu itu belum kenal alat catok lah kita. Yang kedua, karena jarang menyisir rambut. Sekalinya menyisir tercerabutlah satuper satu helai itu, terbang tertiup kipas angin, lantas terpeta di lantai. Thika Pharmantara hanya bisa tersenyum hina melihat rambut saya berguguran dengan mudahnya. Kalau rambut saya perang sama rambutnya Thika, sudah pasti rambut saya kalah sebelum berperang. Huhuhu.

Baca Juga: 5 Obat Wajib Perjalanan Jauh

Masalah kerontokan rambut ini bisa terjadi oleh berbagai sebab. Ada beberapa sebab yang tidak bisa saya tulis di sini selain saya pernah memakai obat pelurus rambut dan memang jarang menyisir rambut. Sedih kan? Hehe.

Sebenarnya ada banyak obat alami penyubur rambut yang bisa ditemui di sekitar lingkungan rumah. Tentu yang alami lumayan bagus ketimbang yang pabrikan. Karena yang alami, seperti namanya, alam dan i ... bebas bahan kimia. Atau, kalaupun ada bahan kimia, itu senyawa aslinya. Beugh. Beberapa obat penyubur rambut yang bakal saya tulis di sini sudah digunakan oleh saya dan para sepupu dari khayangan sejak kami masih unyu menggemaskan dan masih sering main bareng terus berantem berjamaah. Seringnya saya dipelototin kalau bermain masak-masakan berasnya saya cuci sepuluh kali. 

Saya: Kan biar genap, Kak!

Kak Teni: Huh!

Jadi *kebiasaan* apa sajakah obat alami penyubur rambut? 

1. Air Pisang


Waktu masih kecil, masih berantem berjamaah sama para sepupu, Kakek Arnoldus Bata (Bapaknya Mamatua) punya kebun luas di sekitar rumah. Rata-rata tanaman yang tumbuh subur adalah pohon pisang, ubi, dan pohon mangga. Yang paling bertahan itu pepohonan mangga hehe. Hampir setiap Hari Minggu pagi kami pergi ke kebun yang jaraknya hanya sepuluh meter dari rumah itu sambil membawa pisau dan mangkuk. Pisau untuk melukai perasaan dan mangkuk buat menadah air pisang yang mengucur keluar.

Air pisang ini akan kami bawa ke rumah Nene Rae (Nene Rae ini mama mertuanya asisten Mamatua yang kami panggil Mamasia). Nene Rae, sudah meninggal lama sekali, punya 'tangan dingin' yang dipercaya ampuh jika memijit serta meraba-raba kepala. Di rumah Nene Rae ada bangku panjang tempat kami tiduran, Nene Rae duduk di ujung tempat kepala berada, lantas Nene Rae mulai menyiram kepala dengan air pisang. Siramnya tidak sekaligus, tapi sedikit-sedikit. Jadi kayak sedang pakai cem-ceman yang bikin ca'em.

Baca Juga: 5 Manfaat Garam

Tapi saya belum menemukan kandungan apa di dalam air pisang sehingga sejak dulu kami rebutan mengambilnya dari pohon pisang. Tapi kalau buah pisang, ternyata ada loh manfaatnya untuk rambut. Padahal dulunya kami hanya memanfaatkan kulit buah pisang saja hahaha.

2. Buah Pisang


Saya belum pernah memakai buah pisang untuk memperbaiki rambut yang rusak (salah satunya rontok). Tapi ternyata dari situs Klink Kecantikan ini kalian bakal tahu manfaat baik buah pisang dan kandungan di dalamnya. Selain enak dimakan dan diolah menjadi panganan tingkat dua, buah pisang ternyata bermanfaat bagi rambut! Oh la la.

3. Santan Kelapa


Salah satu kekayaan Indonesia adalah pohon kelapa. Tanaman yang keseluruhan dirinya dapat dimanfaatkan oleh umat manusia ini tumbuh subur di kebun milik Kakak Pacar. Eh, tapi bukan itu sih intinya. Intinya, santan kelapa yang diperoleh dari pemerasan kelapa parut ini bermanfaat untuk menyuburkan rambut. Lagi-lagi rumah Nene Rae menjadi tempat kami ber-salon-ria dengan air santan kelapa ini. Pertama; gunakan santan kedua (yang tidak terlalu kental). Kedua; gunakan santan pertama (aseli, kental banget!).

Zaman dahulu itu kelapanya kami parut sendiri tapi istilahnya regu. Diparut pakai alat tradisional khusus, ada tempat buat duduk, ada tempat buat memarut kelapa langsung dari batoknya! Nanti saya cari deh gambar alat regu ini. Kesal memang kalau dudu regu (duduk sambil memarut begitu) tapi demi rambut ... apapun dijabanin.

Tangan Nene Rae luar biasa lembut di kepala kita ... jadi ngantuk dan ketiduran hahaha.

4. Lidah Buaya


Seperti yang sudah saya tulis di sini, lidah buaya punya banyak manfaat. Salah satunya menyuburkan rambut. Cara penggunaannya saya pikir sama saja dengan meminumnya untuk mengatasi kadar gula dalam darah. Dicuci bersih, dikupas (ambil isinya) dan dioleskan ke kulit kepala. Mudah sekali ya. Kalian pasti kaget kalau lihat cara saya meminum lidah buaya mentah ini. Thika saja melihat hampir setiap malam, memasang wajah geli-geli gimana gitu.

5. Madu


Saya pernah ngepos soal manfaat madu. Silahkan dibaca. Untuk perawatan rambut rontok, madu dapat dicampur dengan jojoba oil untuk hasil yang lebih memuaskan.

Sebenarnya alam sudah menyediakan semuanya, tinggal bagaimana manusia menggali dan memanfaatkannya. Tapi setelah menggali jangan lupa mengganti #Eh

Bagaimana? Dengan obat alami penyubur rambut yang sudah saya tulis di atas, semoga banyak masalah kerontokan rambut yang lekas teratasi ya. Termasuk saya sendiri dooonk hehehe. 

Semoga bermanfaat!



Cheers.

Blog List dan Blogwalking



Salah satu perbuatan yang harus dilakukan seorang blogger bila ingin trafik blog-nya meningkat, selama dirinya bukan Jennifer Lopez atau Indominus Rex, adalah blogwalking. Andaikata blog kita sekelas Brightside yang kontennya sering dipakai sebagai rujukan dari situs-situs hiburan tanah air, atau blog kita sekelas situs National Geographic, no need to blogwalking. Konten dua situs itu dengan sendirinya bakal menarik banyak pengunjung. Tapi kalau konten blog seragam dengan konten blog lainnya, sedangkan jauh di dalam lubuh hati ada keinginan trafik pengunjung meningkat, blogwalking berhukum fardhu'ain. Terutama, apabila urusan trafik ini dikaitkan dengan penghasilan blog, urusannya lain lagi. Urusan lain itu berkaitan dengan mutu konten itu sendiri.

Baca Juga: Plastik Berkualitas dari Tupperware

Kemudian ada yang ngedumel: gua nge-blog bukan karena pengen punya trafik tinggi! Are you sure? Kalau begitu, seperti yang pernah saya tulis di pos lain, tulis saja di diary konvensional bersampul Elsa from Frozen atau bersampul Rambo. Maafkan Rambo, Mama. Atau blog-nya dikunci saja sehingga hanya dirimu yang bisa melihatnya. Hehe. Karena saya pikir bukan rahasia lagi setiap blogger ingin tulisannya dibaca dan, kalau bisa, bermanfaat bagi orang yang membacanya. Bukan demikian? Ada sensasi tersendiri ketika tulisan kita dibaca, dikomentari, dan bermanfaat bagi orang lain. Tanpa embel-embel penghasilan dari GA, misalnya.

Ah sudahlah ... 

Sekarang saya ingin berbagi tentang apa yang disebut blogwalking. Blogwalking merupakan kegiatan blogger mengunjungi satu blog ke blog lainnya. Apakah harus sesama blogger yang sudah saling kenal? Tidak juga. Semua bermula dari tidak saling kenal kan? Kecuali untuk orang-orang yang memang berangkat bersama menuju dunia blog ini alias sebelumnya sudah saling kenal di dunia fana. Makanya saya tidak peduli apakah sudah kenal atau belum, sepanjang sudah membaca pos blog-nya, pengen komentar ya komentar saja. Tidak kuatir dibilang sok kenal? Tidak. Saya itu kuatir kalau dinosaurus mendadak bangkit dan ngajak saya berdiskusi bahwa bumi ini datar. Kalau itu terjadi, dinosaurusnya duluan saya suntik lima galon obat bius biar dia pingsan manja.

Bagaimana kita bisa blogwalking? Pertama-tama, harus ada internet. Kedua, harus tahu tautan blog tujuan. Masalahnya adalah kadang kita lupa tautan blog tujuan tersebut, apalagi kalau terdiri dari ratusan blog. Tapi jangan kuatir, Blogger sudah menyediakan layanan Tambah Gadget pada Tata Letak. Kalau Wordpress? Cari sendiri, haha. Saya bukan pemakai Wordpress.




Zaman dulu, yang namanya blog list ini merupakan kebanggaan tersendiri. Baik ketika nama kita ada di blog list blogger lain maupun saat side bar blog kita menampilkan begitu banyak blogger pada blog list-nya. Artinya sudah sepuh *digampar warga*. Tapi zaman sekarang saya enggan menampilkan blog list di side bar apalagi menu/halaman. Tapi kenapa saya masih bisa dengan santainya blogwalking? Karena blog list itu tersimpan di Notepad! Haha. Panggil saya ndeso. It's okay. I don't care anyway. Selain itu, saya juga bisa langsung blogwalking ke blogger yang meninggalkan komentar di setiap pos. Fun and easy.

Baca Juga: Scootmatic

Kembali ke Notepad yang menyimpan blog list di atas, tentu letih juga kalau harus mengkopi lalu paste and go di peramban kan. Manapula saya melakukannya sambil duduk, berhadap-hadapan dengan laptop, pun tatapan penuh cinta. Sampai kemudian saya berpikir tetang blogwalking menggunakan Android sambil baring menunggu kantuk kala hendak tidur malam. Okay, kopikan saja blog list tadi dari Notepad ke bodi e-mail. Kirim! Dan ini yang kemudian memudahkan saya blogwalking sambil tiduran, tengkurep, nungking, dan lain pose.

Saya tinggal membuka e-mail, mengeklik salah satu tautan yang ada, membacanya, memberi komentar sesuai keinginan saya berkomentar, dan tinggal klik panah kembali, trada ... kembali ke bodi e-mail tadi. 


Kalian lihat kotak kuning pada gambar di atas? Kotak kuning itulah yang menolong saya dari mengeklik tombol kembali setelah berkomentar. Panah kembali pada gambar di atas mengantar kita kembali pada bodi e-mail meskipun sudah membuka banyak laman dari blog yang sama. Cihuy! Direct gitu istilahnya. Dengan demikian mudah banget blogwalking maaaaah, lebih mudah dari walking dead haha. Mau blogwalking kapan pun sesuka hati tanpa harus menghidupkan laptop, atau mencari/mengingat tautan blog tujuan, atau harus bikin blog list di side bar, atau blogwalking hanya karena membalas komentar dari blogger lain di pos blog kita.

Cara di atas betul-betul membantu dan membudahkan saya ber-social blog.

Mungkin kalian punya cara sendiri untuk blogwalking. Misalnya dengan mengikuti sebuah blog, dan mengetahui update-an blog tersebut, lalu blogwalking. Bisa juga dengan men-subscribe. Tapi kalau saya sih lebih memilih cara yang ini. Karena saya blogwalking bukan semata-mata karena blogger lain terlebih dahulu blogwalking ke blog saya lantas meninggalkan komen dan tautan, tapi karena saya memang suka meloncat dari satu blog ke blog lain. Haha. Pengen tahu cerita terbaru, menambah informasi dan wawasan, jadi tahu tips ini itu, dan lain sebagainya.

Fyi: karena tidak setiap blogger rajin meng-update tulisannya, jadi sekarang saya juga membaginya menjadi blogger ter-update, blogger butiran debu, blogger sarang laba-laba, dan terakhir blogger gelap gulita. Kalian tentu tahu maksud dari setiap kelompok. Qiqiqiq.

Baca Juga: The Ninox Flatlay Hammock

Apabila kalian ada yang setipe saya, silahkan pakai cara ini. Tergantung masing-masing kebutuhan dan gaya blogwalking-nya. Atau ada tips lain? Bagi tahu di komen :)



Cheers.

Perjalanan Rock’N’Rain


Sebagai kuli saya harus berupaya memenuhi panggilan tugas. Tugas meliput kegiatan kampus ini macam-macam. Kadang lokasi kegiatan hanya di sekitar areal kampus: Kampus I, Kampus II, Kampus III. Kadang lokasi kegiatan berada di luar kampus seperti di Planet Mars dan Cybertron liputan kegiatan mahasiswa KKN di SMPN Satap Koawena. Kadang waktunya pun tidak melulu pagi atau antara waktu kerja (pukul 08.00 sampai 14.00 Wita) seperti ketika harus meliput kegiatan mahasiswa KKN pada pukul dua pagi nan horor suatu sore di sebuah sekolah dasar di daerah Ndao. Ya, tidak tentu waktu dan lokasinya.

Baca Juga: Nggela Bangkit dan Membangun Kembali

Baru-baru ini, tempatnya Jum'at (23 November 2018) saya memenuhi panggilan tugas meliput kegiatan Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Flores. Kegiatan pengabdian masyarakat oleh dosen dan mahasiswa tersebut dilaksanakan di Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Jarak antara Ende menuju Kelurahan Bokasape ini sekitar 65 kilometer. Kelurahan Bokasape sendiri terletak tepat di jantung Kecamatan Wolowaru, terletak di pinggir jalan trans-Flores, tempat kendaraan lalu-lalang dan ngetem untuk beristirahat di warung-warung makan yang ada. Istilah saya: check point.

Perjalanan Rock'N'Rain


Baru kali ini saya mengalami perjalanan yang luar biasa kuyup. Sejak hendak meninggalkan Ende, saya dan dua pejalan tangguh, Mila dan Santy, harus melakukan persiapan ekstra. Kami harus memakai mantel sejak belum keluar rumah (dari rumahnya Mila). Saling pandang, saling mengejek, lantas terbahak-bahak melihat penampakan masing-masing dengan mantel hujan super lengkap begitu. Mirip astronot kesasar. Biasanya kan hanya memakai jas hujan. Kali ini saya dan Mila memakai jas + celana hujan sedangkan Santy memakai mantel hujan yang dipadukan dengan celana hujan. Sayangnya saya tidak memakai sandal-sepatu karet (Crocs) melainkan memakai sepatu kanvas.

Langit sebelah Barat agak cerah. Demikian batin saya. Artinya masih ada harapan kami bisa melepas mantel dalam perjalanan nanti. Maka, berangkatlah kami bertiga menuju arah Barat Kota Ende. Saya sendirian mengendarai Onif Harem, sedangkan Santy membonceng Mila.

Semakin jauh dari Kota Ende tidak sedikit pun pertanda hujan bakal berhenti, bahkan semakin deras, sedangkan kami harus berpacu dengan waktu karena rombongan tujuh bis kayu dan satu mini bis Uniflor sudah berangkat duluan. Melihat kondisi alam yang separuh bersahabat, karena untungnya tidak ada petir yang saling sambar, saya berniat untuk membeli kresek bakal membungkus kaki yang memakai sepatu kanvas itu! Haha. Sekitar sepuluh kilometer memasuki Kecamatan Detusoko, Mila dan Santy berhenti di sebuah kios pinggir jalan. Kesempatan itu memberi waktu pada saya untuk memakai kresek membungkus kaki.

Baca Juga : Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Santy histeris melihatnya dan ngotot ingin memotret tapi karena cuaca tidak memungkinkan kami tetap melanjutkan perjalanan hingga tiba di Lepa Lio Cafe di Kecamatan Detusoko.


Impian Santy akhirnya terwujud. Haha. Bergaya di depan Lepa Lio Cafe bikin orang-orang yang lalu-lalang pada melongo. Mereka melongo melihat cover sepatunya. Termasuk Nando Watu dan Eka Raja Kopo, dua pentolan RMC Detusoko yang mengelola Lepa Lio Cafe. Haha. 

Mengobrol sambil ngopi di Lepa Lio Cafe sangat menyenangkan. Banyak hal yang kami dapatkan dari hasil mengobrol bersama Nando dan Eka. Mereka sangat luar biasa. Ngopi di kala hujan itu memang tjakep sekali. Waktu yang sangat pas. Kisah tentang Lepa Lio Cafe dan RMC Detusoko dapat dibaca di blog travel saya.


Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di Lepa Lio Cafe. Perjalanan harus dilanjutkan. Ratusan orang menunggu kami di sana. Terimakasih Nando, Eka, dan Aram. Kalian baik.


Kabut Yang Turun


Lepas dari Kecamatan Detusoko, hingga memasuki daerah Ndu'aria, suasana menjadi sangat gelap. Kabut turun hingga ke aspal dan menyebabkan jarak pandang hanya sekitar lima sampai sepuluh meter saja. Lampu kendaraan dan lampu sein langsung kami nyalakan untuk memberi peringatan pada kendaraan dari depan bahwa kami latu, haha. Kecepatan pun dikurangi. Kendaraan jadi kayak merayap meraba dalam gulita begitu. Salah satu tebing sedang dalam tahap pengerjaan sehingga tanah-tanah yang memenuhi aspal ditambah air hujan bikin jalanan menjadi super licin. Tuhan, derita pejalan yang mabuk kendaraan roda empat ya begini. Harus siap segala cuaca.

Tiba di Kelurahan Bokasape


Tiba di Kelurahan Bokasape, kegiatan sudah dimulai, yaitu penyambutan oleh pihak Kelurahan Bokasape di halaman samping kantor. Segera lepaskan mantel, meskipun cuaca masih gerimis, lantas meliput. Untung yaaa masih sempat haha. Kegiatan di Kelurahan Bokasape diselenggarakan hingga Sabtu, dan Minggunya peserta pengabdian masyarakat pun pulang ke Kota Ende.



Salah satu bangunan di samping Kantor Kelurahan Bokasape yang bikin hati tidak tahan untuk dipotret! Tentang kegiatan-kegiatan lainnya di Kelurahan Bokasape, bakal saya tulis terpisah.

Pulang Pun Kami Rock'N'Rain


Kami bertiga pulang ke Kota Ende pada Minggu pagi yang lumayan cerah. Yakin cuaca akan sangat bersahabat. Dari Kelurahan Bokasape kami mampir dulu ke Lepembusu tepatnya di Puskesmas Peibenga untuk bertemu Om Ludger. Niatnya untuk menyerahkan hadiah dari lomba/PR di Kelas Blogging NTT, eh kami justru terpikat sama pemandangannya. Dududu itu bukit-bukit di belakang puskesmas konon bakal mirip bukit dalam Teletubbies! Makanya disebut juga dengan nama itu. Mila bahkan mendapat bibit/anakan bunga bakung dari Om Ludger. Terima kasih, Om.


Semoga suatu saat kami dapat kembali ke sini, dan Om Ludger bakal memenuhi janjinya untuk mengantar kami ke puncak tertinggi Lepembusu. Huhuy!



Dalam perjalanan pulang dari Puskesmas Peibenga menuju Kota Ende inilah hujan kembali mengguyur. Fiuh. Berhenti sesaat di lapak di Detukeli untuk memakai mantel/jas hujan, dan kebut ke arah Kota Ende. 

Baca Juga : Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Perjalanan ini memang perjalanan yang Rock'N'Rain karena perjalanan kami melintasi trans-Flores 65 kilometer pergi-pulang itu ditemani hujan, hujan, dan hujan. Bagi kalian mungkin 65 kilometer itu tidak seberapa, tapi bagi kami itu luar biasa terutama saat hujan. Jalanan berliku penuh kelokan khas trans-Flores itu licin, ditambah kubangan air yang terciprat jika berpapasan dengan kendaraan lain yang sama-sama tidak mau pelan (kami juga tidak mau pelan donk haha), serta lokasi proyek yang penuh tanah basah, dus kabut yang turun ke aspal menyebabkan jarak pandang menjadi lebih pendek ... amazing kami masih bisa terbahak-bahak sepanjang jalan.

I will always remember ...

Bagaimana dengan kalian? Pernahkah punya pengalaman seperti ini juga? 

***

Tulisan serupa juga bisa dibaca di Rock'N'Rain Sepanjang Ende Menuju Wolowaru.



Cheers.

Perjalanan Rock’N’Rain


Sebagai kuli saya harus berupaya memenuhi panggilan tugas. Tugas meliput kegiatan kampus ini macam-macam. Kadang lokasi kegiatan hanya di sekitar areal kampus: Kampus I, Kampus II, Kampus III. Kadang lokasi kegiatan berada di luar kampus seperti di Planet Mars dan Cybertron liputan kegiatan mahasiswa KKN di SMPN Satap Koawena. Kadang waktunya pun tidak melulu pagi atau antara waktu kerja (pukul 08.00 sampai 14.00 Wita) seperti ketika harus meliput kegiatan mahasiswa KKN pada pukul dua pagi nan horor suatu sore di sebuah sekolah dasar di daerah Ndao. Ya, tidak tentu waktu dan lokasinya.

Baca Juga: Nggela Bangkit dan Membangun Kembali

Baru-baru ini, tempatnya Jum'at (23 November 2018) saya memenuhi panggilan tugas meliput kegiatan Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Flores. Kegiatan pengabdian masyarakat oleh dosen dan mahasiswa tersebut dilaksanakan di Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Jarak antara Ende menuju Kelurahan Bokasape ini sekitar 65 kilometer. Kelurahan Bokasape sendiri terletak tepat di jantung Kecamatan Wolowaru, terletak di pinggir jalan trans-Flores, tempat kendaraan lalu-lalang dan ngetem untuk beristirahat di warung-warung makan yang ada. Istilah saya: check point.

Perjalanan Rock'N'Rain


Baru kali ini saya mengalami perjalanan yang luar biasa kuyup. Sejak hendak meninggalkan Ende, saya dan dua pejalan tangguh, Mila dan Santy, harus melakukan persiapan ekstra. Kami harus memakai mantel sejak belum keluar rumah (dari rumahnya Mila). Saling pandang, saling mengejek, lantas terbahak-bahak melihat penampakan masing-masing dengan mantel hujan super lengkap begitu. Mirip astronot kesasar. Biasanya kan hanya memakai jas hujan. Kali ini saya dan Mila memakai jas + celana hujan sedangkan Santy memakai mantel hujan yang dipadukan dengan celana hujan. Sayangnya saya tidak memakai sandal-sepatu karet (Crocs) melainkan memakai sepatu kanvas.

Langit sebelah Barat agak cerah. Demikian batin saya. Artinya masih ada harapan kami bisa melepas mantel dalam perjalanan nanti. Maka, berangkatlah kami bertiga menuju arah Barat Kota Ende. Saya sendirian mengendarai Onif Harem, sedangkan Santy membonceng Mila.

Semakin jauh dari Kota Ende tidak sedikit pun pertanda hujan bakal berhenti, bahkan semakin deras, sedangkan kami harus berpacu dengan waktu karena rombongan tujuh bis kayu dan satu mini bis Uniflor sudah berangkat duluan. Melihat kondisi alam yang separuh bersahabat, karena untungnya tidak ada petir yang saling sambar, saya berniat untuk membeli kresek bakal membungkus kaki yang memakai sepatu kanvas itu! Haha. Sekitar sepuluh kilometer memasuki Kecamatan Detusoko, Mila dan Santy berhenti di sebuah kios pinggir jalan. Kesempatan itu memberi waktu pada saya untuk memakai kresek membungkus kaki.

Baca Juga : Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Santy histeris melihatnya dan ngotot ingin memotret tapi karena cuaca tidak memungkinkan kami tetap melanjutkan perjalanan hingga tiba di Lepa Lio Cafe di Kecamatan Detusoko.


Impian Santy akhirnya terwujud. Haha. Bergaya di depan Lepa Lio Cafe bikin orang-orang yang lalu-lalang pada melongo. Mereka melongo melihat cover sepatunya. Termasuk Nando Watu dan Eka Raja Kopo, dua pentolan RMC Detusoko yang mengelola Lepa Lio Cafe. Haha. 

Mengobrol sambil ngopi di Lepa Lio Cafe sangat menyenangkan. Banyak hal yang kami dapatkan dari hasil mengobrol bersama Nando dan Eka. Mereka sangat luar biasa. Ngopi di kala hujan itu memang tjakep sekali. Waktu yang sangat pas. Kisah tentang Lepa Lio Cafe dan RMC Detusoko dapat dibaca di blog travel saya.


Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di Lepa Lio Cafe. Perjalanan harus dilanjutkan. Ratusan orang menunggu kami di sana. Terimakasih Nando, Eka, dan Aram. Kalian baik.


Kabut Yang Turun


Lepas dari Kecamatan Detusoko, hingga memasuki daerah Ndu'aria, suasana menjadi sangat gelap. Kabut turun hingga ke aspal dan menyebabkan jarak pandang hanya sekitar lima sampai sepuluh meter saja. Lampu kendaraan dan lampu sein langsung kami nyalakan untuk memberi peringatan pada kendaraan dari depan bahwa kami latu, haha. Kecepatan pun dikurangi. Kendaraan jadi kayak merayap meraba dalam gulita begitu. Salah satu tebing sedang dalam tahap pengerjaan sehingga tanah-tanah yang memenuhi aspal ditambah air hujan bikin jalanan menjadi super licin. Tuhan, derita pejalan yang mabuk kendaraan roda empat ya begini. Harus siap segala cuaca.

Tiba di Kelurahan Bokasape


Tiba di Kelurahan Bokasape, kegiatan sudah dimulai, yaitu penyambutan oleh pihak Kelurahan Bokasape di halaman samping kantor. Segera lepaskan mantel, meskipun cuaca masih gerimis, lantas meliput. Untung yaaa masih sempat haha. Kegiatan di Kelurahan Bokasape diselenggarakan hingga Sabtu, dan Minggunya peserta pengabdian masyarakat pun pulang ke Kota Ende.



Salah satu bangunan di samping Kantor Kelurahan Bokasape yang bikin hati tidak tahan untuk dipotret! Tentang kegiatan-kegiatan lainnya di Kelurahan Bokasape, bakal saya tulis terpisah.

Pulang Pun Kami Rock'N'Rain


Kami bertiga pulang ke Kota Ende pada Minggu pagi yang lumayan cerah. Yakin cuaca akan sangat bersahabat. Dari Kelurahan Bokasape kami mampir dulu ke Lepembusu tepatnya di Puskesmas Peibenga untuk bertemu Om Ludger. Niatnya untuk menyerahkan hadiah dari lomba/PR di Kelas Blogging NTT, eh kami justru terpikat sama pemandangannya. Dududu itu bukit-bukit di belakang puskesmas konon bakal mirip bukit dalam Teletubbies! Makanya disebut juga dengan nama itu. Mila bahkan mendapat bibit/anakan bunga bakung dari Om Ludger. Terima kasih, Om.


Semoga suatu saat kami dapat kembali ke sini, dan Om Ludger bakal memenuhi janjinya untuk mengantar kami ke puncak tertinggi Lepembusu. Huhuy!



Dalam perjalanan pulang dari Puskesmas Peibenga menuju Kota Ende inilah hujan kembali mengguyur. Fiuh. Berhenti sesaat di lapak di Detukeli untuk memakai mantel/jas hujan, dan kebut ke arah Kota Ende. 

Baca Juga : Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Perjalanan ini memang perjalanan yang Rock'N'Rain karena perjalanan kami melintasi trans-Flores 65 kilometer pergi-pulang itu ditemani hujan, hujan, dan hujan. Bagi kalian mungkin 65 kilometer itu tidak seberapa, tapi bagi kami itu luar biasa terutama saat hujan. Jalanan berliku penuh kelokan khas trans-Flores itu licin, ditambah kubangan air yang terciprat jika berpapasan dengan kendaraan lain yang sama-sama tidak mau pelan (kami juga tidak mau pelan donk haha), serta lokasi proyek yang penuh tanah basah, dus kabut yang turun ke aspal menyebabkan jarak pandang menjadi lebih pendek ... amazing kami masih bisa terbahak-bahak sepanjang jalan.

I will always remember ...

Bagaimana dengan kalian? Pernahkah punya pengalaman seperti ini juga? 

***

Tulisan serupa juga bisa dibaca di Rock'N'Rain Sepanjang Ende Menuju Wolowaru.



Cheers.

Blogger Perempuan


#SabtuReview, artinya pada Sabtu selalu hadir pos soal filem, buku, maupun lagu. Kalian pasti sudah terpingkal-pingkal membaca tentang Tikil, jadi ikut deg-degan membaca tentang A Quiet Place, atau terbuai dengerin lagunya Kings of Convenience. Tapi hari ini, spesial beud, saya ingin menulis tentang sesuatu di luar filem, buku, dan lagu. Ini tentang sebuah komunitas perempuan yang kece badai. Komunitas yang baru saya ikuti, menjadi member, tapi langsung bikin saya punya banyak teman. As simple as that. Begitu cepat blog ini dikunjungi pula oleh member komunitas lainnya! Jadi terharu *peluk monitor, terus kesetrum dan berubah jadi lebih cantik*.

Baca Juga : Lagu-Lagu Ini Punya Kembaran

Nama komunitas ini adalah Blogger Perempuan. Jaringan Blogger Perempuan Terbesar di Indonesia. Salah satu komunitas blogger khusus perempuan yang saya ikuti. Lebih jelasnya, silahkan baca kutipan di bawah ini: 

Blogger Perempuan Network adalah tempat yang nyaman bagi blogger wanita Indonesia untuk belajar, berbagi, dan menginspirasi satu sama lain melalui konten. Sejak 2015, komunitas kami telah berkembang pesat dan menjadi komunitas blogger wanita terbesar di Indonesia. Kami menciptakan platform di mana blogger wanita dapat berbagi konten mereka dengan niche tertentu, mengirimkan blog mereka di direktori, dan bergaul dengan orang lain. Kami juga mendukung aktivitas digital komunitas dengan melakukan acara offline dan online dengan pengetahuan tentang blogging.

Gabung sama Blogger Perempuan gara-gara blogwalking ke blog-nya ... saya lupa *dilempar batako*. Yang jelas, saat itu juga saya meluncur ke situs Blogger Perempuan, mendaftar, memenuhi persyaratan seperti memasang banner Blogger Perempuan di blog ini dan follow akun media sosialnya, menunggu proses diterima, dan voila ... jadilah saya member Blogger Perempuan termuda dan tercantik. Beberapa hari kemudian, trafik blog saya semakin meningkat. Yang saya ingat, blog pertama dari member Blogger Perempuan yang saya kunjungi itu blog milik Kakak Uphiet Kamila yang waktu itu masih pakai Blogspot belum domain sendiri.

Apa saja keuntungan menjadi member Blogger Perempuan? Banyak! Diantaranya: punya banyak teman yang artinya network kita semakin luas, setiap pos blog boleh di-publish di situs Komunitas Blogger Perempuan yang artinya Blogger Perempuan secara tidak langsung turut mempromosikan blog kita - gratis, diperbolehkan untuk berkontribusi dengan cara menulis artikel untuk Blogger Perempuan, dan mengikuti ragam lomba dan/atau kompetisi dan/atau kesempatan me-review produk ini itu yang pasti selalu diinformasikan di sana yang artinya kesempatan untuk mengisi pundi-pundi Rupiah terbuka lebar. Satu lagi nih, kalian boleh mengunduh dan memanfaatkan Freebie.

Bagi saya, mengikuti atau menjadi member komunitas blogger tidak pernah merugi.

Baru-baru ini Blogger Perempuan menantang member-nya melalui BPN 30 Days Blog Challenge. Member ditantang untuk ngepos konten blog tanpa jeda selama tiga puluh hari dimulai 20 November 2018 sampai 20 Desember 2018.


Bagi blogger yang tidak terbiasa nge-blog setiap hari pasti sulit memikirkan ide konten blog kan. Tapi jangan kuatir! BPN 30 Days Blog Challenge sudah menyediakan tema untuk setiap harinya. Adalah Ewafebri, member keren yang blog-nya punya ciri khas ilustrasi yang dia bikin sendiri, telah membikin jadwal atau daftar tersebut sebagai berikut:


Membaca task tantangan selama tiga puluh hari di atas, ada perasaan meletup-letup dalam diri saya. Tapi sayang, saya tidak mengikuti BPN 30 Days Blog Challenge tersebut. Padahal asyik sekali kan hahaha. Melalui tantangan ini, selain untuk membantu target trafik, secara tidak langsung Blogger Perempuan membantu blogger yang, katanya, sering kehabisan ide untuk menulis konten blog. Lihat saja tiga puluh tema tantangan menulis di atas; mulai dari kenapa menulis blog, tema blog yang disukai, 5 fakta soal diri sendiri, hal yang disesali saat ini, sampai target blogging tahun 2019.

Baca Juga : Flores, Adventure Trails

Kalau dilihat, saya sudah menulis hampir sebagian tema di atas karena saya memang menantang diri sendiri untuk meng-update konten blog setiap hari. Hampir, jadi belum semua tema. Kalau kemarin-kemarin setiap Hari Minggu selalu ada Triplet, novel itu, karena sudah selesai jadi slot hari Minggu dikosongkan saja. Haha. Lagi pula Hari Minggu kita nikmati saja libur mingguan itu. 

Kalau Blogger Perempuan punya tiga puluh tema untuk BPN 30 Days Blog Challenge ini, maka saya sendiri juga punya tema untuk blog ini dari Senin sampai Sabtu. Alhamdulillah sampai sekarang saya masih bisa menjawab tantangan diri sendiri itu. #SeninCerita, #SelasaTekno, #RabuLima (Kesehatan), #KamisLima (Macam-macam), #PDL pada Jum'at tentang hal-hal remeh yang pernah dilakukan, dan #SabtuReview. See? Jadi tidak ada lagi alasan saya kehabisan ide menulis blog karena selalu ada hal yang bisa ditulis setiap harinya. Sudah cukup hiatus zaman dulu, sudah cukup malas-malasan, saatnya lebih giat menggali potensi diri karena dengan rajin menulis lama-kelamaan tulisan kita niscaya lebih bagus. Kalau saya sih tulisannya semakin hancur haha.

Seandainya blog saya suatu saat nanti tidak ter-update, itu bukan karena kehabisan ide, melainkan karena (1) Malas dan (2) Belum punya waktu untuk menuangkan pikiran-pikiran un-jenius ke blog.

Membaca tulisan teman-teman yang sudah mengikuti BPN 30 Days Blog Challenge ini, seperti Ewafebri, Ajengveran, atau Dinilint, begitu banyak ide menulis ter-big-bang di kepala saya. Ide-ide itu antara lain tentang: nama blog, blogger perempuan favorit (bagian 1, bagian 2, dan seterusnya), blogger unik, tempat makan favorit, dan lain sebagainya. Luar biasa, secara tidak langsung Blogger Perempuan telah menyiram avtur bergalon-galon pada saya. Dan saya patut berterima kasih pada Uphiet Kamila juga nih, soalnya dalam pos blog salah satu tantangan dari Blogger Perempuan, saya ditulis sebagai salah satu travel blogger perempuan favorit di sana haha. Horeeee!

Terima kasih Blogger Perempuan.

Kalian yang membaca pos ini, terkhusus perempuan, tunggu apa lagi? Jangan tunggu dinosaurus bangkit. Gabung yuk sama Blogger Perempuan dan rasakan manfaatnya yang luar biasa. 



Cheers.

#PDL Ngopi Tjakep


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Saya tinggal di kampung, meskipun namanya Kota Ende, yang tidak mengenal istilah V60 atau Aeropress. Yang saya tahu seduhan kopi terenak yang juga disukai (alm.) Bapa adalah takarannya yaitu 2:1. Dua butir gula, satu jumput kopi. Dua sendok gula dan satu sendok kopi. Karena bubuk kopi yang bakal kami minum itu disangrai sendiri di rumah sampai ketek basah dan digiling di pasar dengan biaya antara 5K-an sampai 15K-an, jadi urusan seduh-menyeduh kopi ini selalu dengan takaran yang sama 2:1. Kadang saya meminum kopi tanpa tambahan gula. Rasanya? Ya rasa kopi, masa iya berubah jadi rasa yang pernah ada? Hehe.

Baca Juga : #PDL Tas DIY Celana Jin

Dulu saya pecinta kopi hitam. Kopi memang hitam sih pada umumnya. Maksud dari kopi hitam ini adalah kopi tanpa campuran apa-apa. Tanpa susu, tanpa krim, tanpa kamu. Tapi masih pakai gula. Lama-kelamaan mulai kenal Nescafe. Terus balik lagi ke kopi hitam. Sekarang, setiap pagi saya selalu meminum kopi dicampur susu bubuk. Gara-gara kadar gula dalam darah drop sampai angka 50, saya kemudian kembali meminum kopi susu + gula. Tapi? Kok? Iya, nasinya yang dikurangi atau bahkan di-skip dalam sehari, dengan olahraga maksimal tiga puluh menit setiap hari diantaranya jalan kaki dan menari sendiri dalam kamar kayak orang teler habis negak anggur satu tong. 

Tentang ngopi tjakep ini, adalah istilah saya untuk ngopi yang tidak perlu di kafe tapi sensasi kenikmatannya tiada tara.

Ceritanya ...

Mamatua adalah seorang mualaf. Tidak heran keluarga kami terdiri dari dua kelompok agama besar yaitu agama Islam dari pihak (alm.) Bapa dan agama Katolik dari pihak Mamatua. Kondisi ini membikin kami kaya raya. Adalah setiap hari raya kami saling bersilaturahmi. Manapula open house itu fardhu'ain setiap kali hari raya. Setiap Hari Raya Natal saya pasti punya jadwal tetap bersilaturahmi ke rumah adik-adiknya Mamatua dan semua saudara/i sepupu! Haha. Perjalanannya panjang banget. Belum lagi ke rumah tetangga dan teman kantor. Beda kalau Hari Raya Idul Fitri, giliran saya yang jaga gawang.

Di Kota Ende setiap hari raya adalah milik semua umat beragama. Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Natal, dan Hari Raya lainnya dirayakan bersama tanpa sekat, tanpa dogma tentang surga dan neraka.

Suatu kali, pada Hari Raya Natal yang tahunnya saya lupa, kondisi tubuh sudah super letih. Setiap Natal jadwal terakhir perjalanan kami memang di rumah Kak Selvy Bata. Nah, hari itu tibalah kami di rumah terakhir perjalanan silaturahmi, di rumah Kak Selvy yang saat itu sedang direnovasi. Tidak ada yang bisa memulihkan tenaga saya ... saya pikir ... sampai mata saya menumbuk stoples kacang mente atau kacang mede. Perlahan mata redup mulai menyala. Dengan santainya saya bertanya: Kak, ada kopi Bajawa kah? Jawabannya membikin mata saya semakin menyala.


Tjakep bener kan!?

Mari ngopi tjakep! Ngopi pada saat paling tepat, versi saya, ketika tubuh sudah tidak sanggup menampung segala macam ketupat dan lauk-pauk, es sirup, minuman bersoda, dan kukis manis semanis saya. Hihi. Seperti penangkal racun lah ini. Melihatnya, Kakak Selvy dan Kakak Marsel (suaminya Kakak Selvy yang asli Orang Bajawa - Ngada) hanya bisa terkekeh sambil geleng kepala.

Baca Juga : #PDL Menjadi Hakim Anggota

Tahun lalu saya bahkan mengajak Susan untuk bersilaturahmi bersama hahah. Dia akhirnya merasakan perayaan Hari Raya Natal di Kota Ende.

Susan, paling kiri dari kalian (kelihatan dari wajahnya donk ya) entah mengapa mendadak minta dipakaikan pashmina sama si Thika (paling kanan). Si pemilik rumah, Kakak Selvy, yang pakai baju kuning tanpa jilbab. Hehe.

Pernah, saya pernah begitu. Ngopi tjakep di rumah kakak, maupun ngopi tjakep di kantor saat sedang suntuk sama pekerjaan yang menumpuk alias banyak liputan yang belum diberitakan di media sosial dan website kampus.


Yihaaaa! Nikmatnya hidup. Ngopi tjakep di kantor saat suasana sepi dan dengerin lagu-lagunya Kitaro. Eh, dengerin lagu-lagunya John Mayer, Fastball, Norah Jones, atau lagu-lagu yang di-vintage lembut. Kata Abdur, aduh Mama sayang eee eeeeh. Meskipun saya bukan penikmat kopi di kafe, tapi urusan ngopi ini ... kita sama :D

Baca Juga : Mengumpulkan Si Kuning

Soooo ... bagaimana dengan ngopi tjakep kalian?



Cheers.

5 Peserta Favorit Kelas Blogging

Membuka kelas blogging, gratis, baik bersama Kanaz dan Om Bisot maupun sendirian membenturkan saya dengan banyak karakter (peserta kelas). Ada yang semangat belajarnya luar biasa membikin para mentornya jadi lebih bersemangat berbagi ilmu, ada pula yang duduk termenung di WAG sampai-sampai terpaksa dikeluarkan oleh Kanaz. No hard feeling. Karena aturan kelas blogging kita, termasuk yang terakhir yaitu Kelas Blogging Online, merupakan kelas tempat saling belajar dan berinteraksi. Harus ada proses yang bisa terlihat nyata lewat tampilan blog masing-masing. Jika tidak, terpaksa dikeluarkan. Saya rasa ini cukup adil. Bukan begitu? Begitu bukan?

Baca Juga : 5 Workshop Blogging & Social Media

Dari kelas-kelas blogging yang sudah berjalan melalui WAG, saya punya peserta favorit; kaitannya ya sama kalimat 'membenturkan saya dengan banyak karakter' seperti pada paragraf awal di atas. Yang menjadi favorit saya belum tentu menjadi favorit Om Bisot dan Kanaz. Vice versa. Apa syarat, haaaa? Syarat?, atau indikasi sehingga mereka berlima saya jadikan peserta terfavorit? Tentu saya tidak sembarang menentukan lah hehe. Setidaknya ada hal-hal yang membuat mereka terlihat lebih unggul dari yang lain. Thika Pharmantara dan Ocha, misalnya, tidak mungkin mereka menjadi favorit saya karena menulis saja masih celup-celupan. Mereka harus memotivasi diri sendiri kan, karena tugas kami sebagai mentor untuk kelas mereka yaitu Kelas Blogging NTT sudah selesai.

Baiklah ... jadi, selalu saya menulis jadi padahal tidak ada angin, dinosaurus, dan hujan siapa saja kah peserta favorit saya dari semua kelas blogging yang sudah berjalan dan/bahkan ada yang sudah selesai itu?

Mari kita cek.


Awal mengenal Om Ludger ini via Twitter. Saling sahut-sahutan dan akhirnya saya mengajaknya mengikuti Kelas Blogging NTT Angkatan II. Semangatnya mengikuti kelas dengan kondisi sinyal celup-celupan naik-turun bikin nelangsa patut diacungi jempol dinosaurus. Maklum, meskipun berasal dari Wologai namun lokasi kerjanya berada di Lepembusu. Iya, Puskesmas Lepembusu namanya. Tentang puskesmas ini bakal saya bahas di lain pos dan di lain blog haha.

Om Ludger waktu kami kunjungi hahaha.

Yang menarik adalah konten blog-nya selalu membahas tentang budaya Wologai, daerah yang terkenal dengan kampung adatnya itu. Konten-konten orisinil seperti itu, apalagi tentang budaya, sudah jarang kita temui. Kebanyakan sih hasil kopas sana-sini yang bahkan tanpa merujuk penulis aslinya.

Terakhir PR/tantangan dari Kelas Blogging NTT yang diikuti oleh Om Ludger, berhadiah kaos. Demi penyerahan kaos ini saya pergi ke tempatnya bekerja hahaha.

Terakhir setelah saya, Mila, dan Santy mengunjungi Om Ludger di Puskesmas Peibenga dan berhasil mengacau di sana, saya baru tahu kalau dia sudah memakai domain sendiri. Selamat ya, Om. Semakin serius nampaknya. Insha Allah dapat menjadi blogger yang amanah demi terkenalnya daerah kita khususnya Wologai. Huhuy!


Saat menulis ini saya baru tahu kalau Aram, Kelas Blogging NTT Angkatan II, sudah memakai domain sendiri. Mentor macam apa saya ini hahaha. Selamat, selamat, selamat.


Mengenal Aram sudah lama saat dia masih menjadi mahasiswa Uniflor. Yang saya tahu dia adalah aktivis dengan segudang kegiatan. Kegiatannya yang padat jaya itu selalu bermanfaat bagi orang lain. Kenapa dia menjadi peserta favorit saya adalah semangat belajarnya yang sama tinggi seperti Om Ludger dan memang punya passion di dunia blog. Tinggal lebih rajin menulis konten, mantap jiwa.


Abang Iskandar saya memanggilnya. Orang baru di kelas blogging yang masuk dalam Kelas Blogging Online. Tapi kalau dalam dunia aktivis sampah, jangan ditanya lagi, dia sudah kesohor bareng Abang Umar Hamdan dalam komunitas bernama ACIL. ACIL adalah Anak Cinta Lingkungan yang sudah melakukan seabrek kegiatan demi pelestarian lingkungan termasuk salah satunya mendaur ulang sampah dan pembibitan ribuan tanaman. Kegiatan lainnya silahkan baca blog Abang Iskandar.


Paling senang baca WAG Kelas Blogging Online setiap Senin malam menjelang pukul 21.00 Wita. Pasti Abang Iskandar ini sudah mulai menulis: sebentar lagi kelas mulai. Hahaha. Semangatnya belajar nge-blog itu bikin saya terkejut-kejut. Kan sama sekali tidak menyangka dia bakal sesemangat itu. Abang Iskandar ini, saya jamin, setelah lebih dari lima kali pertemuan kelas, bakal jago banget nge-blog-nya. Ayo, Abang, harus bisa!


Tidak semua yang saya favoritkan datang dari Kabupaten Ende haha. Betul, tiga nama di atas memang Orang Ende. Mari cek yang berikutnya ... eng ing eng ini nggak perlu kan ya soalnya namanya sudah tertera di poin empat di atas ...


Seorang guru yang mulai nge-blog. Keberadaannya membikin saya teringat pada Pak Martin. Adalah pencapaian yang luar biasa apabila guru juga nge-blog dan memanfaatkan blog dalam pengajaran. Kakak Maya baru mulai, dan di tengah padatnya aktivitas beliau sebagai guru, semoga suatu saat nanti bakal lebih mengembangkan dunia ajar-mengajar melalui blog. Maju terus, Kak!


Kak Dian adalah peserta Kelas Blogging Online yang ternyata sudah lama nge-blog. Tujuannya untuk mengikuti kelas ini adalah agar semangat untuk nge-blog tetap terjaga. Kan asyik punya banyak teman, saling berbagi ilmu, saling bercanda ... jadi lebih semangat nge-blog kan? Sama juga, ketika saya dan kalian saling berinteraksi lewat komentar baik komentar di blog saya maupun di blog kalian, kita jadi lebih semangat nge-blog. Percaya lah.

Sayang, saya tidak menemukan foto Kak Dian. Nanti deh.

Karena ini #KamisLima, jadi itulah dia lima peserta favorit kelas blogging versi saya. Kayak On The Spot gitu haha.

Masih banyak peserta lain dari kelas-kelas blogging loh. Mari kita kenal, setidaknya, mengunjungi blog mereka satuper satu. Siapa saja kah mereka?


Tentu termasuk Thika dan Ocha yang sudah saya tulis di atas dan lima favoritnya.


Baca Juga : 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Saya kaum sama semangat mereka belajar nge-blog, berkecimpung di dunia blog, hingga suatu saat nanti mereka tahu nikmatnya mengelola blog hingga ke tahap pro. Wuih. Artinya adalah mereka tidak saja belajar tentang blog tapi juga belajar tentang bagaimana menulis yang baik; setidaknya tanda baca dan preposisi bisa ditulis dengan baik. Kalau tulisannya enak dibaca seperti pos Om Bisot yang membahas bagaimana membuat tulisan artikel atau konten yang enak dibaca, kan asyik kalau tulisan kita enak dibaca dan scannable. Orang bakal betah banget berlama-lama di blog kita untuk mengulik satu pos ke pos lainnya.

Semoga teman-teman yang baru belajar nge-blog ini dapat memicu lebih banyak semangat pada kita, saya, kalian, mereka, yang mengaku telah lama nge-blog.


Cheers.

5 Obat Wajib Perjalanan Jauh


Jum'at, 23 November 2018 kemarin saya menjalankan tugas liputan ke luar negeri kota tepatnya di Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Meskipun masih dalam wilayah Kabupaten Ende tapi jaraknya lumayan jauh yaitu sekitar 65 (enam puluh lima) kilometer dari Kota Ende. Bagi kalian yang hidup di kota besar sebesar dinosaurus seperti Jakarta misalnya, jarak segitu mah tidak ada artinya. Tapi bagi kami yang tinggal di Pulau Flores, jarak segitu sangat berarti terutama karena kami harus melintasi jalan trans-Flores yang berliku seumpana kisah asmara Siti Nurbaya, melintasi hutan, perumahan penduduk lokal, daerah persawahan, tebing yang pada musim hujan melongsorkan batu-batu cadas, hingga harus mengalah sama hewan-hewan yang piknik di badan jalan. Pada titik tertinggi, kami harus memelankan laju kendaraan (sepeda motor) karena kabut yang turun hingga ke aspal menyempitkan jarak pandang yang tinggal satu sampai dua meter saja.

Baca Juga : 5 Manfaat Garam

Bersama Mila dan Santy, siang itu saya membelah jalanan trans-Flores dalam kondisi hujan tanpa henti. Itu perjalanan yang Rock'n'Rain selama hampir empat jam dengan jeda sekitar empat puluh lima menit ngopi cantik di Lepa Lio Cafe, di Kecamatan Detusoko. Baru kali ini saya melakukan perjalanan luar kota dengan kendaraan roda dua, Onif Harem, tanpa punya kesempatan melepas mantel dan kawan-kawan. Aduhai!


Kalian iri sama sepatunya? Beli sendiri doooonk. Murah kok, hanya empat ribu Rupiah! Haha.

Perjalanan jauh itu membikin saya tahu, sejak dari Kota Ende hingga pada saat kami telah ditempatkan di rumah salah seorang penduduk Kelurahan Bokasape, bahwa ternyata kami bertiga punya kebutuhan yang nyaris sama untuk urusan perjalanan luar kota ini. Minyak, obat, minyak, obat. Bahkan malam hari pertama, kami harus pergi mencari fresh care yang tanpanya Mila tidak dapat tidur lelap sambil ngorok dan ngiler. Dan karenanya indera penciuman saya rusak sesaat hahaha. Aromanya sungguh luar biasa aroma fresh care yang satu itu. Tobat seribu tobat. Saya sampai bingung jangan-jangan ada yang berubah dengan struktur penciuman saya haha.

For your information, Kelurahan Bokasape terletak di jantung Kecamatan Wolowaru, yaitu pusat lalu lintas trans-Flores sehingga banyak toko kelontong yang berdiri gagah di sekitarnya. Tidak sulit untuk sekadar mencari fresh care meskipun harus mengalah karena sudah tidak pilihan aroma lain. Huhuhu. Sayangnya, meskipun termasuk wilayah kecamatan tapi tidak ada pom-bensin di sana. Padahal Kecamatan Boawae di Kabupaten Nagekeo sana, punya satu pom-bensin yang selalu ramai. Kebutuhan bensin di Kecamatan Wolowaru ini disediakan oleh para penjual eceran yang dengan mudah ditemui sepanjang jalan.

Dari pengalaman perjalanan itu, tentu juga perjalanan lainnya ke wilayah lain di Indonesia, saya merangkum lima obat perjalanan jauh yang wajib dibawa oleh kalian, saya, mereka, siapa saja yang melakukan perjalanan jauh. Terlihat sepele, tapi pada kondisi tertentu akan sangat membantu meringankan beban ekonomi keluarga gejala dan/atau sakit yang dirasakan. Iya, tidak perlu harus langsung pergi ke dokter, atau dalam hal ini ke Puskesmas Wolowaru.

Baca Juga : 5 Manfaat Tertawa

Apa saja sih yang wajib dibawa?

Yuk kita intip ...

1. Minyak

Minyak ini ibarat nama internasional yang ampuh untuk perjalanan jauh. Sejak dulu Mamatua pun sering membawa minyak tawon ke mana pun pergi. Selain saya yang membawa minyak Varash, Santy membawa sebotol besar minyak kayu putih, Mila pun wajib mencari fresh care yang masih termasuk dalam kelompok minyak juga kan ya hahah *maksa*. Untung kita masih di jantung Kecamatan Wolowaru yang banyak toko kelontongnya. Kalau tidak? Bisa-bisa Mila menghantui kami setiap malam karena tidak bisa tidur. 

Kenapa saya memakai Varash? Untuk melindungi dan membikin kaki terasa lebih enak saat diajak tidur. Jadi hanya dioles ke telapak kaki dan kaki saja. Karena, ketika pergi ke tempat orang seperti itu kan belum tentu saya juga bisa JMKK. Varash juga membantu Mila dan Santy; dioles ke perut sebelum tidur. Sampai-sampai, pada malam terakhir tidur di Kelurahan Bokasape saya bilang begini pada mereka: lama-lama saya goreng kalian berdua. Seluruh badan diminyakin!

2. Pereda Nyeri

Pereda nyeri merupakan obat yang wajib dibawa oleh para pejalan karena kalian tidak akan pernah tahu kapan merasakan nyeri/sakit kepala atau perut. Pereda nyeri ini macam-macam. Bisa dimulai dari Menfentan / Asam Mefenamat sampai ranitidin (lambung). Tergantung kalian nyamannya pakai obat yang mana. Kalau saya sih untuk melekaskan hilangnya sakit kepala, sakit gigi, atau nyeri lambung, saya minum Menfentan. Ada baiknya kenali dulu pula alasan kepala kalian sakit, misalnya, karena alasan sakit kepala kan banyak banget, diantaranya karena terlambat makan. Kalau saya sih pasti sakit kepala kalau dompet menipis. Haha.

3. Penetral Asam Lambung

Obat yang satu ini wajib dibawa oleh kalian yang mengalami maag akut. Salah satunya bernama Antacid. Jadi, kalau perut/lambung sudah nyeri banget, langsung mengunyah satu Antacid, menunggu beberapa saat, lalu makanlah sepiring nasi (disertai lauk pauk penggugah selera seperti semur jengkol misalnya, atau sup sari kuku dinosaurus), dan lantas minum obat Ranitidine. Dua obat yang saya tulis ini; Antacid dan Ranitidine, adalah anjuran dari keponakan saya yang apoteker saat saya sudah nyerah sama nyeri/perih yang terasa di ulu hati. Jadi, menulis ini karena pernah mengalaminya. Tapi mungkin tidak sama berlaku pada setiap orang. Yang jelas, konsultasikan dulu lah sama dokter kalian sebelum menyiapkan obat-obat seperti pereda nyeri dan penetral asam lambung untuk perjalanan jauh.

4. Obat Luka/Antiseptik

Semua orang pasti tidak mau tubuhnya terluka apalagi hati yang terluka dan teraniaya. Tapi luka bisa terjadi kapan saja. Misalnya, kalau tidak hati-hati dengan jalanan yang licin, bisa tergelincir, terjatuh, dan menyebabkan luka pada kulit. Obat luka antiseptik yang umum dipakai antara lain Betadine dan Rivanol. Bawalah sebotol untuk jaga-jaga.

5. Obat Diare

Ini saya alami ketika berada di Kelurahan Bokasape. Entah mengapa. Padahal semua yang saya konsumsi normal. Kemungkinan perut saya tidak cocok dengan air minum yang ada di sana sehingga menyebabkan saya mengalami diare pada pagi hari terakhir pulang. Sayangnya saya tidak membawa obat diare jadi hanya bisa mengoles perut dengan Varash. Varash lagiiiii. Hehe. Mau minum air hangat tapi kuatir malah semakin menjadi diarenya karena kecurigaan saya ada pada air minumnya. Menggosok perut dengan minyak Varash sangat membantu menahan sampai saya tiba di Ende (rumah) ... parkir motor ... lari ke kamar ... masuk kamar mandi ... tamat.

Tempat tujuan perjalanan kita pasti punya puskemas, apotik, atau tempat praktek dokter, tapi menyiapkan obat-obat ini di dalam backpack rasanya wajib dilakukan untuk penanganan super cepat.


Setelah membaca lima obat wajib perjalanan jauh versi saya di atas, bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga pasti membawa obat-obat itu? Atau ada obat lain yang wajib dibawa? Bagi tahu donk di komen hehehe.

Semoga pengalaman saya juga dapat bermanfaat bagi kalian.



Cheers.

Plastik Berkualitas dari Tupperware


Selasa adalah #SelasaTekno. Tapi tidak selamanya Selasa harus semata-mata teknologi yang berhubungan dengan teknologi telepon genggam. Karena saya pernah menulis teknologi inovasi seperti tentang tenda lipat otomatis ini, atau proyektor keren ini, atau tentang situs tempat kita dapat membikin segala barang berbasis teknologi. Dan, bahkan saya pernah menulis tentang teknologi wadah makanan dan minuman yang bisa dilipat. Oleh karena itu, ijinkan saya menulis tentang Tupperware!

Baca Juga : Scootmatic

Kalian, terutama perempuan, pasti sering dengar tentang Tupperware. Tupperware sebagai wadah makanan di kulkas, Tupperware sebagai wadah bekal makanan dan minum ke kantor, Tupperware sebagai wadah saji prasmanan kala hari raya dan perayaan tertentu, Tupperware sebagai botol minum yang praktis dan bergaya dibawa saat berkegiatan, dan lain sebagainya. Apakah saya juga memakai Tupperware? Ya, tentu. Kenapa pakai Tupperware? Itu pertanyaan lain yang bakal saya jawab pada pos Kamis, nanti-nanti, hahaha. Hari ini saya pengen menulis tentang Tupperware yang kesohor yang mampu bikin kaum ibu tersenyum bangga apabila memakainya. Termasuk saya, meskipun saya belum jadi ibu qiqiqi. 

Perkenalan saya dengan Tupperware sudah sangat lama, sejak kakak ipar saya mulai membeli aneka wadah Tupperware yang biasa diajak piknik di era 90-an. Sejarah Tupperware sendiri jauh lebih lama dari itu. Tupperware pertama kali dibuat pada tahun 1946 oleh Earl Tupper di Amerika. Tupper membuat suatu wadah plastik yang dipergunakan untuk rumah tangga; untuk menyimpan makanan dan membuatnya kedap udara. Salah satu paten penting dari produk ini, menurut yang tertulis di Wikipedia, adalah seal penyekatnya yang dikenal dengan burping seal yang merupakan ciri khusus terkenal dari produk-produk Tupperware. Inilah yang membuatnya berbeda dari produk-produk sejenis.


Tapi apa yang membikin Tupperware ini begitu digandrungi adalah istilah 'aman' yang mengikutinya. 

Produk Tupperware terbuat dari bahan plastik berkualitas terbaik, tidak mengandung zat beracun, dan sudah memenuhi standard dari beberapa badan dunia seperti FDA (Food and Drug Administration) Amerika, European Food Safety Authority (Eropa), Japan Food Safety Commision (Jepang), sehingga selain aman digunakan berkali-kali untuk makanan dan minuman (food grade) juga ramah lingkungan. Kalau seperti ini adanya, tidak heran Tupperware menjadi merek nomor satu di dunia untuk barang-barang rumah tangga plastik.

Menurut saya, apa yang membikin Tupperware digandrungi bukan saja karena aman, tapi karena banyak faktor seperti misalnya pilihan jenis dan model produknya. Tupperware punya begitu banyak jenis produk seperti stoples, tempat bekal makanan, botol minum, hingga gelas. Uniknya, khusus untuk bekal makanan pasti dilengkapi dengan cover berupa tas mini. Pengalaman berkegiatan di Kecamatan Wolowaru hari Jum'at kemarin (sampai Minggu), saat saya membawa bekal nasi dari rumah sampai sore, makanannya masih segar karena tutupan tempat makannya punya lobang-lobang kecil agar uap makanan panas bisa keluar.

Baca Juga : The Pause Pod

Selain banyak pilihan jenis dan model, Tupperware ini selalu penuh warna. Contohnya stoples buat gula dan kawan-kawan berikut ini:


Pilihannya dan perpaduan warnanya selalu bikin mata segar. Yang macam begini juga pernah saya beli dahulu kala dalam bentuk kotak segi empat aneka warna (dan pastinya ada warna kuning), yang kini salah satu kotak itu dipakai Mamatua untuk mengisi barang-barang printilannya. Hayaaah hahaha.


Kotak biru di atas sering saya bawa ke kantor dalam kondisi kosong, di jalan kalau memang pengen beli cemilan, tinggal dikondisikan dengan kotak ini sehingga membelinya tidak terlalu banyak. 

Selain wadah makanan dan/atau kotak bekal makan, saya juga punya banyak botol minum Tupperware:


Yang ini dikasih sama Edwin Firmansyah hehe. Senang banget kalau bawa ini, bisa minum sepuasnya karena ukurannya cukup besar.


Jangan salah fokus ke sepatunya hahaha. Botol minum Tupperware yang satu itu memang paling sering ditemui baik yang asli Tupperware maupun yang kawe-kawean. Salah satu botol minum Tupperware sejenis itu tapi berukuran super besar hilang di Danau Kelimutu hiks. Waktu itu karena sibuk mengurus kamera dan tetek bengek lainnya, saya melupakan si botol dan si jaket anti air :( biarlah. Ikhlaskan saja. Semoga berguna bagi yang menemukannya. Lagipula sudah diganti, meski beda model, dengan pemberian Edwin Firmansyah di atas.

Plastik berkualitas dari Tupperware ini memang belum tergantikan dengan plastik dari produk lain. Teknologi dan inovasinya terus berkembang dari tahun ke tahun. Kebanggaan memilikinya bikin banyak orang bikin meme soal ibu-ibu dan Tupperware. Saya sendiri punya banyak wadah plastik, aneka rupa, macam merek, tapi memang harus diakui belum bisa menyamai Tupperware yang bahkan aman-aman saja jika saya membawa bekal makanan yang masih panas.

Baca Juga : Freestate, Sepatu Idaman Traveler

Bagaimana dengan kalian? Bagaimana status kepuasan kalian menggunakan/memakai wadah-wadah Tupperware? Yuk share :) *sambil saya becanda sama dinosaurus* haha.


Cheers.

Plastik Berkualitas dari Tupperware


Selasa adalah #SelasaTekno. Tapi tidak selamanya Selasa harus semata-mata teknologi yang berhubungan dengan teknologi telepon genggam. Karena saya pernah menulis teknologi inovasi seperti tentang tenda lipat otomatis ini, atau proyektor keren ini, atau tentang situs tempat kita dapat membikin segala barang berbasis teknologi. Dan, bahkan saya pernah menulis tentang teknologi wadah makanan dan minuman yang bisa dilipat. Oleh karena itu, ijinkan saya menulis tentang Tupperware!

Baca Juga : Scootmatic

Kalian, terutama perempuan, pasti sering dengar tentang Tupperware. Tupperware sebagai wadah makanan di kulkas, Tupperware sebagai wadah bekal makanan dan minum ke kantor, Tupperware sebagai wadah saji prasmanan kala hari raya dan perayaan tertentu, Tupperware sebagai botol minum yang praktis dan bergaya dibawa saat berkegiatan, dan lain sebagainya. Apakah saya juga memakai Tupperware? Ya, tentu. Kenapa pakai Tupperware? Itu pertanyaan lain yang bakal saya jawab pada pos Kamis, nanti-nanti, hahaha. Hari ini saya pengen menulis tentang Tupperware yang kesohor yang mampu bikin kaum ibu tersenyum bangga apabila memakainya. Termasuk saya, meskipun saya belum jadi ibu qiqiqi. 

Perkenalan saya dengan Tupperware sudah sangat lama, sejak kakak ipar saya mulai membeli aneka wadah Tupperware yang biasa diajak piknik di era 90-an. Sejarah Tupperware sendiri jauh lebih lama dari itu. Tupperware pertama kali dibuat pada tahun 1946 oleh Earl Tupper di Amerika. Tupper membuat suatu wadah plastik yang dipergunakan untuk rumah tangga; untuk menyimpan makanan dan membuatnya kedap udara. Salah satu paten penting dari produk ini, menurut yang tertulis di Wikipedia, adalah seal penyekatnya yang dikenal dengan burping seal yang merupakan ciri khusus terkenal dari produk-produk Tupperware. Inilah yang membuatnya berbeda dari produk-produk sejenis.


Tapi apa yang membikin Tupperware ini begitu digandrungi adalah istilah 'aman' yang mengikutinya. 

Produk Tupperware terbuat dari bahan plastik berkualitas terbaik, tidak mengandung zat beracun, dan sudah memenuhi standard dari beberapa badan dunia seperti FDA (Food and Drug Administration) Amerika, European Food Safety Authority (Eropa), Japan Food Safety Commision (Jepang), sehingga selain aman digunakan berkali-kali untuk makanan dan minuman (food grade) juga ramah lingkungan. Kalau seperti ini adanya, tidak heran Tupperware menjadi merek nomor satu di dunia untuk barang-barang rumah tangga plastik.

Menurut saya, apa yang membikin Tupperware digandrungi bukan saja karena aman, tapi karena banyak faktor seperti misalnya pilihan jenis dan model produknya. Tupperware punya begitu banyak jenis produk seperti stoples, tempat bekal makanan, botol minum, hingga gelas. Uniknya, khusus untuk bekal makanan pasti dilengkapi dengan cover berupa tas mini. Pengalaman berkegiatan di Kecamatan Wolowaru hari Jum'at kemarin (sampai Minggu), saat saya membawa bekal nasi dari rumah sampai sore, makanannya masih segar karena tutupan tempat makannya punya lobang-lobang kecil agar uap makanan panas bisa keluar.

Baca Juga : The Pause Pod

Selain banyak pilihan jenis dan model, Tupperware ini selalu penuh warna. Contohnya stoples buat gula dan kawan-kawan berikut ini:


Pilihannya dan perpaduan warnanya selalu bikin mata segar. Yang macam begini juga pernah saya beli dahulu kala dalam bentuk kotak segi empat aneka warna (dan pastinya ada warna kuning), yang kini salah satu kotak itu dipakai Mamatua untuk mengisi barang-barang printilannya. Hayaaah hahaha.


Kotak biru di atas sering saya bawa ke kantor dalam kondisi kosong, di jalan kalau memang pengen beli cemilan, tinggal dikondisikan dengan kotak ini sehingga membelinya tidak terlalu banyak. 

Selain wadah makanan dan/atau kotak bekal makan, saya juga punya banyak botol minum Tupperware:


Yang ini dikasih sama Edwin Firmansyah hehe. Senang banget kalau bawa ini, bisa minum sepuasnya karena ukurannya cukup besar.


Jangan salah fokus ke sepatunya hahaha. Botol minum Tupperware yang satu itu memang paling sering ditemui baik yang asli Tupperware maupun yang kawe-kawean. Salah satu botol minum Tupperware sejenis itu tapi berukuran super besar hilang di Danau Kelimutu hiks. Waktu itu karena sibuk mengurus kamera dan tetek bengek lainnya, saya melupakan si botol dan si jaket anti air :( biarlah. Ikhlaskan saja. Semoga berguna bagi yang menemukannya. Lagipula sudah diganti, meski beda model, dengan pemberian Edwin Firmansyah di atas.

Plastik berkualitas dari Tupperware ini memang belum tergantikan dengan plastik dari produk lain. Teknologi dan inovasinya terus berkembang dari tahun ke tahun. Kebanggaan memilikinya bikin banyak orang bikin meme soal ibu-ibu dan Tupperware. Saya sendiri punya banyak wadah plastik, aneka rupa, macam merek, tapi memang harus diakui belum bisa menyamai Tupperware yang bahkan aman-aman saja jika saya membawa bekal makanan yang masih panas.

Baca Juga : Freestate, Sepatu Idaman Traveler

Bagaimana dengan kalian? Bagaimana status kepuasan kalian menggunakan/memakai wadah-wadah Tupperware? Yuk share :) *sambil saya becanda sama dinosaurus* haha.


Cheers.