Jaga Waka Nua


Event keren Triwarna Soccer Festival (TSF) 2019 telah berakhir 1 April kemarin. Meskipun demikian, gaungnya masih terdengar sampai hari ini. Masih banyak orang membicarakannya. Mulai dari kemenangan Ende Selatan FC (Kelurahan Ende Selatan), pagar tembok yang kini dipenuhi karya seni mural, keuntungan yang diraup khususnya oleh para pedagang asongan yang wara-wiri di dalam Stadion Marilonga, hingga UMKM dan komunitas yang diberi ruang stand/tenda pameran oleh panitia. Sungguh TSF dengan agenda utama laga sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati ini terpatri di lubuk hati masyarakat Kabupaten Ende, dan menjadi semacam pengantar acara Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Ende (kemenangan petahana) pada tanggal 7 April 2019.

Selamat, Bapak Marsel Petu (Bupati) dan Bapak Djafar Ahmad (Wakil Bupati). Selamat melanjutkan pekerjaan yang telah Bapak berdua mulai dan terus melakukan perubahan positif pada Kabupaten Ende. Kami bangga.

Baca Juga: Fair Play Flag

TSF yang telah menggeliatkan berbagai lini khususnya perekonomian di Kabupaten Ende, bisa kalian baca pada pos TSF 'Story, punya satu jargon keren yaitu Jaga Waka Nua. Jargon ini melekat pada kaos panitia, pada baliho-baliho, pun pada banyak bendera supporter. Ya, kami harus jaga waka nua! Jadi, tidak heran jika mendadak mendengar ada yang nyeletuk: ideeee ma'e pemata, jaga waka nua hekow (duh, jangan berantem, jaga martabat kampung kita).

Jaga Waka Nua


Jaga waka nua merupakan jargon paling tepat pilihan panitia/penyelenggara. Saya salut sama yang menetapkan jargon ini, hahaha. Dan bagi saya, jaga waka nua ini punya banyak makna, kalau diresapi dalam-dalam. Secara etimologi, jaga waka nua yang terdiri dari tiga suku kata berarti menjaga martabat kampung.


Jaga = menjaga.
Waka = martabat/harga diri.
Nua = kampung.

Martabat/harga diri yang seperti apa yang harus dijaga? Itu yang akan saya jelaskan pada pos ini. Tentu dari sudut pandang saya pribadi. Dan sudut pandang dinosaurus juga. Apabila kalian Orang Ende, membaca pos ini, dan merasa tidak setuju dengan pos ini, silahkan tulis sendiri pendapat kalian tentang jaga waka nua, dan bagi tautan blog-nya pada saya. Tentu bakal saya baca. Berbagi pendapat tidak pernah merugi bukan?

Bilah Pemerintah


Dari pandangan mata saya pribadi, Kabupaten Ende merupakan kabupaten yang identik dengan turnamen sepak bola. Sebut saja, Universitas Flores (Uniflor) punya Ema Gadi Djou Memorial Cup (EGDMC), lantas ada pula Muthmainah Cup, dan turnamen lainnya antara lain Suratin Cup. Tahun 2017, Kabupaten Ende boleh berbangga dengan menjadi tuan rumah dari turnamen besar bernama El Tari Memorial Cup 2017 (ETMC) yang melibatkan semua kabupaten se-Provinsi Nusa Tenggara Timur. Standar Kabupaten Ende dalam ETMC 2017 sungguh luar biasa; penjemputan setiap kontingen dengan tari-tarian dan bahasa adat, launching atribut yaitu Burung Gerugiwa dan bola raksasa dengan perhentian yang melibatkan adat-istiadat, pertandingan di Stadion Marilonga yang berumput hijau - bahkan dapat dilakukan malam hari, hingga live streaming! Standar itu, dalam skala Provinsi Nusa Tenggara Timur, sangat tinggi.

Waka nua kami saat ETMC 2017 benar-benar terangkat dan terjaga dengan sangat spektakuler. Bukannya melebih-lebihkan, namun memang demikian adanya.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

TSF 2019 harus mampu menandingi, atau harus melebihi, standar yang tercipta dari ETMC 2017 tersebut. Meskipun tanpa penjemputan kontingen setiap kecamatan dikarenakan ini adalah turnamen 'antar saudara kandung', namun kemeriahan dan pernak-pernik TSF 2019 mampu melebihi ETMC 2017. Kami harus menjaga waka nua ini. Jangan sampai malu-maluin bangsa dan negara haha. Oleh karena itu launching atribut TSF 2019 dilakukan sama persis pada saat ETMC 2017, yang dimulai dari Lapangan Perse (Kecamatan Ende Utara), diterusan dengan jalur yang telah diatur berikut perhentian setiap kecamatannya hingga berakhir di Stadion Marilonga. Sambutan dalam suasasa (bahasa adat) pun luar biasa.

Selain ajang sepak bola, TSF juga punya dua mata acara lain yaitu Lomba Mural dan Pameran dengan tema Bego Ga'i Night. Jujur, festival semacam ini memang hal yang baru bagi masyarakat Kabupaten Ende namun sekaligus merupakan sesuatu yang juga ditunggu-tunggu. Karena, kata orang, kami Orang Ende ini haus hiburan. Hahaha.

Jaga waka nua juga diwujudkan dalam bentuk kepanitiaan yang solid dan mampu bekerja dengan sangat baik sehingga tidak memalukan apa lagi sampai membanting harkat dan martabat. Maklum, saya melihat kebanyakan anggota panitia adalah orang-orang yang tahan banting dan pernah bekerja pada kepanitaan turnamen sepak bola juga. Jadi, urusan-urusan yang berhubungan dengan TSF 2019 ini bukan hal yang baru yang bikin kaget.

Bilah Pemain


Jaga waka nua tidak saja bermakna pada bilah pemerintah seperti yang tertulis di atas, tetapi juga bermakna untuk para pemain sepak bola dari setiap klub (kecamatan). Artinya ... my game is fair play! Iya, itu kesimpulan besarnya. Para pemain harus menjaga waka nua-nya melalui permainan-permainan yang ciamik alias tidak membikin malu. Kalah tidak mengapa, asal jangan sampai kalah total tanpa perlawanan yang imbang. 

Sekali dua memang terjadi ketegangan di tengah lapangan, hal-hal semacam itu acap tidak dapat dihindari, tetapi dapat diatasi oleh perangkat pertandingan. Kami yang berada di luar lapangan tidak punya kuasa kan hahaha. Pokoknya, para pesepakbola dari setiap klub pada TSF 2019 ini betul-betul jaga waka nua. Bayangkan jika pertandingan harus diperpanjang waktunya dan masih seri, sehingga harus dilakukan adu pinalti yang cukup panjang karena seri pula, sungguh terlalu. Hahaha. Saya yang akhirnya ikut menonton pun deg-degan.

Bilah Masyarakat


Dari bilah masyarakat, jaga waka nua berarti setiap orang harus mampu menjaga martabat/harga diri kampungnya. Kampung di sini berarti kecamatan asal maupun kecamatan domisili. Masyarakat yang dilingkupkan menjadi penonton dan supporter harus mampu bersikap kooperatif terhadap jalannya pertandingan dan hasilnya. Jangan sampai terjadi antara 'saudara kandung' saling kelahi haha. Jadi, sejauh saya menjadi panitia TSF 2019, tidak terjadi perkelahian yang berarti. Maksudnya, satu kali perkelahian terjadi di luar Stadion Marilonga hanya karena salah ucap dan ketersinggungan. Itu pun langsung diamankan oleh para aparat.

Secara umum, event Triwarna Soccer Festival menuai kritikan positif dari banyak orang, baik masyarakat Kabupaten Ende sendiri maupun yang dari luar.


Demikianlah tentang jaga waka nua yang selalu digaungkan saat event Triwarna Soccer Festival. Sebuah jargon dengan spirit dan makna yang sangat dalam. Dengan menjaga waka nua, maka kita niscaya mampu mewujudkan jargon Kabupaten Ende yaitu Ende Sare Lio Pawe. Dan saya pikir, kita semua sebaiknya menjadi orang yang bisa menjaga waka. Setuju? Yang setuju lekas komeeeen haha.

Baca Juga: Manis Akustik

Semangat Senin, kawan.


Cheers.

Nostalgia Alanis


Tahun 90-an sampai awal tahun 2000 betul-betul merupakan tahun keemasan dunia musik baik nasional maupun internasional. Ini murni pendapat saya pribadi. Pada rentang tahun itu, selain bersahabat dengan Hilda dan Yusti, saya juga bersahabat dengan Music Television (MTV) dan Channel V. Betapa Bapa sampai pusing kepala karena saya menyambung televisi dengan speaker gede milik Jemiri Soundsystem. Selain punya band bernama Jemiri, kami juga punya unit-unit soundsystem yang disewakan. Bisa kalian bayangkan, itu yang sedang tidur sore, bisa kejengkang dari ranjang gara-gara suara yang menggelegar ha ha ha.

Pssstttt ... gara-gara iklan Durex yang waktu itu luar biasa rajin wara-wiri di MTV, Bapa mulai kesal dan akhirnya melarang saya menyambungkan soundsystem ke televisi gara-gara ada kata kondom. Sebagai gantinya Bapa membelikan saya speaker mini. Huhu. DUREX, THE INTERNATIONAL NAME FOR QUALITY CONDOM. Tanpa mencontek pun jargon ini masih melekat erat di otak saya *nyengir*.

Baca Juga: Double Ending

Tahun-tahun itu, internet belum menjajah Kota Ende, pun masih menjadi sesuatu yang langka. Jadi, kalau pengen menonton video musik favorit, ya akses Youtube cuma mengandalkan MTV dan Channel V meskipun lebih seringnya menonton MTV. Makanya, anak MTV tahun 90-an pasti tahu Mike Kaseem, Nadia Hutagalung, sampai Jammie Aditya, Alex Abbad, Donita, Sarah Sechan, dan lain sebagainya. Oh ya, salah satu acaranya adalah MTV Most Wanted, dan saya pernah me-request lagu atau video musik melalui mesin fax kantor! Dududud.

Karena tidak ada internet, untuk bisa menonton video musik favorit pun harus bisa memilah acaranya. Karena kan tidak bisa memilih seenak udel dan video musik favorit tidak tayang setiap jam. Kalau MTV Most Wanted, sudah pasti video favorit di-request juga sama orang lain dalam skala rata-rata. Biasanya, untuk lagu-lagu yang kurang saya suka, volume speaker dikurangi, tapi begitu intro video musik favorit terdengar, volume speaker langsung tancap gas! Ngeeeeng ngeng! Pernah dalam sehari saya pantengin MTV terus demi menonton lagi dan lagi video klipnya Celine Dion dari lagu berjudul That's The Way It Is. Aduhai apa kabar As Long As You Love Me dari Backstreet Boys, Radiohead dengan Creep-nya, Wild World-nya Mr. Big, Madonna dengan Frozen, sampai Ironic milik Alanis Morissette.

Nah, nama terakhir ini yang bakal saya bahas kali ini di #SabtuReview.

Alanis Morissette


Nama besar Alanis Morissette begitu terpatri di hati. Perempuan dengan kecantika alami, sangat enerjik, punya suara yang unik dan powerfull, penampilannya sporty-casual, rambut panjang bukan berarti tidak boleh tomboy, gelang-gelang yang dipakainya, sampai kecerdasan dan kepiawaiannya menulis lirik lagu. Selain Alanis, nama lain yang juga dikenal menulis sendiri lagu-lagunya adalah Jewel. Aaah waktu itu belum ada si Taylor Swift ya hahah.


Balik ke Alanis, karena saya tidak sempat mewawancarainya secara personal *dijumroh warga* jadi lagi-lagi Wikipedia menjadi sumber rujukan. 

Nama lengkapnya adalah Alanis Nadine Morissette, lahir 1 Juni 1974, kembaran sama Indra Pharmantara tanggal lahirnya haha. Dia dikenal sebagai penyanyi, penulis lagu, produser rekaman, dan aktris asal Kanada. Alanis dikenal karena suaranya yang lembut seperti mezzo-sporano. Alanis memulai karirnya di Kanada pada awal 1900-an dengan dua album dance-pop yang agak sukses. Setelah itu, sebagian dari kesepakatan rekaman, ia pindah ke Holmby Hills, Los Angeles dan pada tahun 1995 merilis Jagged Little Pill, album yang lebih berorientasi pada genre rock.

Jagged Little Pill ini termasuk album yang masih melekat di otak saya hahah. Album ini terjual lebih dari 33 juta kopi secara global dan merupakan karyanya yang paling diakui secara kritis. Pada tahun 1998, Alanis merilis album berikutnya yaitu Supposed Former Infatuation Junkie.

Di atas tahun 2000-an Alanis mengambil alih proses kreatif dan memproduksi album studio berikutnya diantaranya Under Rug Swept (2001), So-Called Chaos (2004), dan Flavours of Entanglement (2006). Album studio kedelapannya dan yang terbaru hingga saat ini, Havoc and Bright Lights, dirilis pada 2011. Alanis telah menjual lebih dari 75 juta rekaman di seluruh dunia dan dijuluki Queen of Alt-Rock Angst oleh Rolling Stone.

Pada 16 Maret 2018, Alanis menampilkan lagu yang disebut Ablaze selama tur-nya. Pada bulan Oktober 2018, Alanis mengungkapkan di media sosial bahwa ia telah menulis 23 lagu baru dan mengisyaratkan sebuah album baru yang bakal dirilis 2019 dengan taggar #alanismorissettenewrecord2019. 

Jagged Little Pill


Dari semua album Alannis, menurut pendapat saya, Jagged Little Pill lah master piece. Album ini mengandung lagu-lagu yang luar biasa kuat. Karena, Jagged Little Pill tidak menjual satu single andalan saja, melainkan keseluruhan yang dikandungnya! Hebatnya lagi, hampir semua lagu-lagu itu punya video musik yang rajin wara-wiri di MTV dan Channel V.

Song List Jagged Little Pill

All I Really Want
You Oughta Know
Perfect
Hand in My Pocket
Right Through You
Forgiven
You Learn
Head Over Feet
Mary Jane
Ironic
Not The Doctor
Wake Up

Pertama kenal Alanis Morissette, di MTV, melalui video musik Ironic. Kalau kalian belum nonton, coba deh ditonton. Atau ... tonton ulang saja di Youtube! Lirik Ironic mengisahkan tentang hal-hal ironi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dari penggalan liriknya: an old man turned ninety-eight, he won the lottery and died the next day. Kita semua pasti pernah mengalami hal-hal beraroma ironi seperti itu. Misalnya: di media sosial Facebook kita adalah orang yang sangat ramah dan suka memerhatikan status orang lain, tapi di kehidupan nyata kita ternyata orang yang sulit bergaul dan selalu menaruh curiga.

Video musik Ironic dikemas sangat apik. Sebuah mobil yang dikendarai oleh empat orang berbeda penampilan tapi semuanya diperankan oleh Alanis by her self. Silahkan lihat video musik di bawah ini untuk lebih jelasnya:


Selanjutnya saya jatuh cinta sama Alanis dan mulai rajin menunggu video musiknya tayang di MTV dan Channel V. Ah, Hand in My Pocket, Head Over Feet, All I Really Want ... dududu ... yuk langsung ke Youtube dan bernostalgia dengan Alanis Morissette!

Lagu-lagu Alanis Morissette merupakan lagu sepanjang masa yang tak lekang oleh waktu. Kalian tentu tidak asing pula dengan Thankyou dan Uninvited kan? Sama, saya juga. Dan masih suka mendengarnya. Tapi kalau ditanya, lagu Alanis yang paling sering saya nyanyikan, bahkan berusaha mengiringi diri sendiri dengan gitar, sudah pasti Hand in My Pocket. Kalau ada yang tidak suka sama lirik lagu ini, sungguh terrrrrr laaaa luuuuu. Penggalannya ini saja sudah bikin kita sadar untuk lebih menikmati hidup.

I'm broke but I'm happy, I'm poor but I'm kind
I'm short but I'm healthy, yeah
I'm high but I'm grounded, I'm sane but I'm overwhelmed
I'm lost but I'm hopeful, baby
What it all comes down to
Is that everything's gonna be fine, fine, fine
'Cause I've got one hand in my pocket
And the other one is giving a high five

Bagaimana, kawan? Dalam sekali kan makna lirik lagunya?

Baca Juga: Flores: Adventure Trails

Semoga kalian juga suka Alanis Morissette. So, let's high five! Because, even though we are poor. it doesn't matters, as long as we are happy.



Cheers.

Nokia 5300


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Hola! Singkat dan ringan saja. Saya pernah memakai HP jadul yang satu ini. Nokia 5300. Dan tadi, waktu membongkar map-map demi mencari KTP Mamatua yang entah ada di mana, eh ketemu CD program Nokia 5300! Busyet hahaha. Zaman sekarang sih tidak perlu lagi yang namanya CD program/software kan ya. Dan saya masih menyimpannya. Haha.



Cheers.

Nokia 5300


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Hola! Singkat dan ringan saja. Saya pernah memakai HP jadul yang satu ini. Nokia 5300. Dan tadi, waktu membongkar map-map demi mencari KTP Mamatua yang entah ada di mana, eh ketemu CD program Nokia 5300! Busyet hahaha. Zaman sekarang sih tidak perlu lagi yang namanya CD program/software kan ya. Dan saya masih menyimpannya. Haha.



Cheers.

5 Patterns


Saya suka memotret, tapi saya bukan fotografer. Oleh karena itu saya sampai punya blog khusus foto yang sampai sekarang tidak lagi saya perbarui. Sangat sulit menerima kenyataan ketika ada yang datang ke rumah atau lewat SMS dan WA, meminta saya menjadi fotografer suatu acara. Perkawinan, misalnya. Dengan sangat ringan hati saya menolak, karena meskipun sering memegang kamera dan memotret, saya bukan fotografer profesional yang itu, yang dimaksudkan oleh orang-orang dengan fotografer (profesional). Saya kuatir momen penting perkawinan lolos, tidak terdokumentasikan. Bisa-bisa saya dicekik dinosaurus kalau sampai hal itu terjadi. 

Baca Juga: 5 Steps to Marriage

Saya suka memotret (pengulangan ini perlu), memotret apa saja, yang menurut saya harus dipotret. Jangan sampai terlewatkan! Waktu tahu soal Google Photos dan penyimpanan otomatis serta abadi itu, kegilaan memotret ini semakin menjadi, biarin ah, yang penting bisa disimpan di Google Photos. Saat saring-menyaring nanti kan bisa dihapus kalau dirasa foto tersebut tidak berfaedah *pasang muka polos tanpa dosa*. Selain kaki dan tangan sendiri, saya paling suka melihat pola-pola tertentu, yang disebut pattern. Pattern yang nampak mata ini bisa berdiri sendiri, bisa pula menjadi latar belakang dari suatu obyek misalnya kaki dan tangan saya. Haha. Teteup.

Pattern


Wikipedia mengatakan bahwa, pattern adalah pola desain atau pola rancangan (bahasa Inggris: design pattern). Ini adalah sebuah istilah di dalam rekayasa perangkat lunak yang mengacu pada solusi umum yang bisa dipergunakan kembali atau berulang-ulang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang umum terjadi dalam konteks tertentu atau khusus yang ditemui pada desain perangkat lunak. Sebuah pola desain yang sudah terbentuk bukan berarti desain tersebut dapat langsung digunakan untuk menulis program.

Itu kata Wikipedia.

Menurut pengertian dangkal saya, pattern adalah pola desain. Itu saja. Sesuatu pola desain yang menurut saya unik. 

Pattern dan Kaki


Dua hal yang sulit dipisahkan, terutama pattern yang bagus itu terletak di bawah, alias buat diinjak (lantai/tanah/bebatuan). Sejauh ini ada beberapa foto yang saya sukai, dan menjadi inspirasi. Siapa tahu kelak bakal bikin yang macam begitu juga.

1. Batu Kotak di Taman Panti Asuhan Ponpes Wali Sanga

Waktu itu tujuan ke Panti Asuhan Ponpes Wali Sanga adalah untuk mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) pada murid-murid MAS yang ada di sana. Kalian bisa membaca pos lengkapnya di Ponpes Walisanga yang Penuh Warna.


Ini adalah pattern dari pecahan bebatuan (persegi) alias batu kotak yang dicat warna-warni. Melihat pemandangan ini, koleksi foto pattern dan kaki pun bertambah satu.

2. Lantai di Hotel Pepita Mbay

Tentang Hotel Pepita Mbay, kalian bisa membacanya di pos Spot Instagenic di Hotel Pepita Mbay. Iya, itu di blog travel yang sana.


Lantai ini bukan lantai keseluruhan hotel loh ya, melainkan hanya ada pada bagian yang tanpa atap saja, misalnya area outdoor yang berseberangan dengan ruang makan. Membikin lantai seperti ini tentu membutuhkan ketelatenan tingkat tinggi. Idenya cemerlang sekali ini.

3. Setapak Menuju Fakultas Bahasa dan Sastra

Di Universitas Flores, ada satu setapak yang saat saya melintasinya, langsung bikin langkah saya terhenti.


Ini semacam pola yang tanpa sengaja dibikin sama tukang bangunan kampus (iya, kampus punya tukang bangunan langganan loh). Setelah setapaknya dibikin, terus saat semen masih basah, ditarik zigzag menggunakan kuas begitu. Dari hasilnya, saya membayangkan proses pembuatannya. Mungkin para tukang bangunan itu tidak sengaja, tapi justru menghasilkan sesuatu yang unik untuk dipotret dengan obyek kaki saya ha ha ha.

Pattern Lainnya


Saya menjanjikan lima pattern kan ya. Nah, dua pattern tersisa ini sebenarnya pilihan dari begitu banyak pattern yang saya potret; makanan, dinding, lantai, dan lain sebagainya. Tapi karena quota sudah penuh *halah* jadi hanya dua yang terpilih.

4. Tenda Perkawinan (Terop)

Hari itu, masih pagi sekali, saya sudah berada di rumah Ibu Ayu Sulaeman untuk mendokumentasikan acara akad nikahnya bersama Pak Yayan. Luangnya waktu membikin mata saya mulai liar memerhatikan sekitar. Dan tradaaaa ...


Kain-kain yang dipakai untuk menjadi, semacam, plafon tenda perkawinan ini begitu unik. Pilihan warnanya juga cerdas. Tidak menunggu lama. Jegreg!

5. Tebing Menuju Nangapanda

Saya tidak tahu nama daerah ini, yang jelas tebing ini terletak di pinggir jalan Trans-Flores, dari Ende menuju Nangapanda (demikian pula sebaliknya).


Made by nature. Dulunya, pattern di tebing ini lebih kentara/nampak (bold) ketimbang sekarang. Untungnya saya masih sempat dipotret di tempat ini.


Pattern yang termuat di pos ini tentu dapat menjadi inspirasi kita bersama. Misalnya, rumah kalian mempunyai halaman depan yang luas. Selain bisa ditanami TOGA (Tanaman Obat Keluarga) atau pepohonan, bisa juga space kosongnya dibikin seperti taman Panti Asuhan Ponpes Wali Sanga di atas; batu kotak di-cat warna-warni, sebagai pengganti paving taman. Kalau saya sih lebih mudahnya: membeli batuan hijau di Pantai Penggajawa (berbagai ukuran) dan dituangkan saja di situ hahaha.

Baca Juga: 5 Komoditas TSF

Bagaimana dengan kalian? Terutama kalian yang tinggal di kota besar, tentu lebih sering menemukan pattern-pattern unik nan memikat kan? Bagi tahu yuuuuk :)



Cheers.

Enchyz’s Desk Organizer


Barang-barang kerajinan tangan (craft) yang dibikin sendiri (do it yourself a.k.a. DIY) memang membutuhkan kesabaran dan waktu. Setelah belajar dan sukses menguasai langkah-langkah membikin desk organizer aneka ukuran, serta menggunakan sampul dari halaman-halaman majalah lama dan katalog, saya mulai menerima pesanan desk organizer custom. Pemberi order menyampaikan keinginan dan kebutuhan mereka, saya berusaha memenuhinya. Mudah? Tidak juga. Tapi kalau dikerjakan dengan hati yang riang gembira, akhirnya justru ketagihan.

Baca Juga: Coin Storage

Enchyz Manteiro adalah salah seorang teman kantor yang kemudian memesan desk organizer dan tempat tisu. Custom. Dia menginginkan desk organizer yang cukup besar sehingga bisa menyimpan amplop dan kertas-format disposisi, serta barang-barang lainnya semacam gunting, stapler, dan alat tulis. Khusus untuk desk organizer dan tempat tisu ini harus satu tema yang sama dan didominasi warna merah dan hitam. Ya, dia penyuka warna merah.

Enchyz's Desk Organizer


Putar otak. Saya mulai mengukur lebar kertas berukuran A4 karena kertas format disposisi itu berukuran setengah dari lembar A4. Biasanya. Dari ukuran dasar lebar A4 yang sekitar 8,5 sentimeter itu (saya genapkan menjadi 10 sentimeter, saya mulai membikin alas bakal desk organizer-nya. Otomatis panjang dan lebarnya harus menyesuaikan dengan kotak-kotak lain yang bakal mengisi desk organizer tersebut. Karena bikinnya sudah lama saya tidak bisa memotret langkah demi langkah, tapi saya pikir, dengan membaca cara membikin di bawah ini, kalian pasti sudah bisa membayangkannya ya.

Bahan:
1. Karton dari kardus.
2. Gulungan dalam bekas tisu-roll.
3. Kertas kado/sampul.
4. Cat warna merah, hitam, putih.
5. Lem PVA dan lem tembak (hot glue).

Alat:
1. Gunting.
2. Cutter.
3. Mistar.
4. Pistol hot glue.

Cara Membikin:
Pertama, bikin alas desk organizer menggunakan karton dari kardus bekas. Ukurannya, sekitar 18 sentimeter (karena sudah lama, dan waktu itu saya lebih sering memakai feeling ketimbang ukuran haha). Alas ini kemudian disampul kertas. Karena saya hendak mengecat alas ini, sehingga saya memakai kertas polos/HVS, bukan kertas koran. 

Kedua, cat alas tersebut dengan cat dasar warna merah, lantas digambar atau dicat tambahan warna hitam dan diberi titik-titik putih, terutama pada bagian pinggirnya.


Lihat pada panah dan lingkaran. Itu yang saya maksudkan dengan gambar seperti itu. Cuma setengah lingkaran warna hitam dan titik-titik putih. Kenapa harus di pinggir? Karena bagian tengahnya kan bakal diisi. Di pinggir supaya pasti terlihat mata hahaha.

Ketiga, bikin kotak-kotak bakal tempat penyimpanan: amplop, kertas format disposisi, alat tulis, dan barang-barang lainnya. Saya juga menggunakan gulungan dalam dari tisu roll atau tisu toilet. Kotak-kotak bakal penyimpanan ini tidak perlu ditutup salah satu sisinya, karena toh otomatis kalau ditempel di alas desk organizer dia bakal tertutup dengan sendirinya (bagian bawah). Jangan lupa ditutup sampul kertas kado/sampul yang sudah dipilih. Jadi temanya seiring sejalan dengan alasnya.

Keempat, rekatkan semua kotak penyimpanan pada alas desk organizer. Trada ... jadi deh.

Dan, adalah suatu kebanggaan setiap kali ke ruangannya Enchyz, saya masih melihat desk organizer ini berdiri gagah di meja kerjanya, berdampingan dengan tempat tisu.



Dua gambar di atas, merupakan penampakan desk organizer di meja kerja Enchyz. Senang sekali melihatnya haha. Isinya macam-macam, seperti yang kalian lihat pada gambar di atas, bantal stempel dan pelubang kertas, sayangnya, tidak bisa disimpan di desk organizer ini. Haha. Tapi tidak mengapa, yang penting bermanfaat.

Selain desk organizer, Enchyz juga memesan tempat tisu bertema sama. Penampakan tempat tisunya adalah sebagai berikut:


Cara membikinnya? Nah, saya belum pernah menulis #RabuDIY tentang membikin tempat tisu andalan ini kan ya. Jadi proses membikinnya bakal saya pos sendiri, dengan sedikit reka ulang haha. Sabarlah menanti.

Baca Juga: Travel Booth

Demikian #RabuDIY kali ini, semoga bermanfaat. Silahkan dicoba!



Cheers.

Backpack Tuteh


Saya pernah menulis tentang Backpacks Impian di #SelasaTekno Kenapa? Karena bakpack, daypack, tas punggung, ransel, apa pun sebutannya, sudah menjadi barang yang menemani aktivitas harian kita. Ke kantor, sekadar piknik, traveling, pasti backpack ini nangkring di punggung. Dan inovasi backpack sungguh mengagumkan. Mempunyai lebih dari satu backpack pun bukan karena maruk, melainkan karena disesuaikan dengan kebutuhan, karena rempong kan harus gonta-ganti isi backpack; antara isi backpack saat dipakai ke kantor, dan isi backpack saat dipakai bersantai atau piknik dan/atau traveling.

Baca Juga: Cetak Saring

Saya termasuk pengguna aktif bakpack *tsah* ke mana pun pergi, kecuali untuk pergi-pergi yang cuma membutuhkan waktu satu atau dua jam pilihan tas yang dibaca bisa tas selempang mini. Kalau Bapa Sam sih setia sama tas selempang Alto-nya. Meskipun mempunyai banyak backpack tapi pasti ada backpack andalan kan. Ya, saya punya backpack andalan yang katanya mirip backpack yang dipakai oppa-oppa dari Korea sana. Haha. Belinya di Kakak Rosa Budiarti dari toko daring temannya.

Backpack Andalan dan Isinya


Backpack andalan saya bisa kalian lihat penampakannya pada awal pos, atau bisa juga pada gambar di bawah ini:


Kalau bepergiannya ke tempat yang jauh dan agak lama, pilihannya bisa Consina atau Eiger, tapi pun kadang saya memanggul si backpack hitam ini. Sayangnya backpack ini, meskipun andalan, tapi bagian dalamnya tidak se-compact yang kalian kira.


Tidak seperti backpack (kantoran) umumnya yang menyediakan tempat laptop, backpack ini mulus-mulus saja haha. Cuma dua kantong kecil tempat menyimpan handphone dan kartu nama (kalau ada), ya barang-barang kecil begitu. Sehingga untuk membuatnya dapat 'menyangga' saya menempatkan map keras di bagian belakang. Kalian bisa lihat isinya, botol minum dan payung tidak dapat berdiri gagah, apalagi dompet dan lain barang.

Pos Tentang Backpack Custom


Baru-baru ini, tepatnya tanggal 4 April 2019, saya membikin status Facebook tentang sebuah backpack custom:


Lalu teman saya Enchyz Manteiro menanggapinya, bukan di komentar, melainkan saat kami bertemu di kantin kampus. Enchyz menunjukkan foto backpack bayi/balita yang dibelinya dari toko daring. Wah, bukan main saya jadi mupeng! 

Yang ini dari Lazada.

 Yang ini dari Tokopedia.

Bayangkan, punya backpack model begini (eeeeh modelnya mirip backpack hitam andalan saya kan, hahaha). Tempat botolnya saja banyak (di bagian depan). Bagian dalamnya banyak laci sehingga barang-barang bisa tersimpan dengan compact-nya. Laci-laci itu memang untuk mengisi diaper dan bermacam kebutuhan bayi/balita, tapi bisa kita ganti dengan botol minum tambahan, payung, dompet alat tulis, dompet obat, dan lain sebagainya. Masih bisa juga sih buat menyimpan laptop, tergantung pengaturan.

Canggih! Tidak ada ceritanya botol minum jatuh tertidur di alas backpack hahaha.

Backpack Tuteh


Backpack impian saya pun menari-nari di kepala. Membeli atau membikin sendiri. Dan dengan lancangnya saya mulai menggambar si backpack Tuteh ini. Saya pikir, para penjahit sudah tahu apa mau-maunya saya kan hehe. Otak mereka super canggih lah.




Maaf, saya bukan tukang gambar, dan jelas tidak bisa menggambar, jadi cukup segini bisanya saya menggambar backpack Tuteh haha. Yang jelas backpack ini harus bisa berdiri gagah saat diletakkan di atas meja atau atas lantai. So compact pula.


Jadi itu dia backpack Tuteh, backpack yang saya cita-citakan. Setelah menulis Backpacks Impian, Indra Pharmantara memang membeli backpack Bobby yang canggih itu. Tapi kok saya rasanya kurang sreg saat memakainya. Makanya saya masih mencari backpack yang betul-betul memenuhi keinginan dan kebutuhan, sekaligus menggambarnya hahaha. 

Tapi ... kayaknya saya tergoda untuk membeli bakpack bayi/balita seperti yang dibeli sama Enchyz Manteiro deh. Dududud ...

Baca Juga: Re:Ease

Bagaimana dengan kalian, kawan? Seperti apakah backpack yang kalian senangi? Bagi tahu yuuuuk di komen!



Cheers.

Fair Play Flag


Meskipun sering menjadi bagian dari panitia ajang sepak bola di Kabupaten Ende, namun sejatinya saya bukan pecinta olah raga sepak bola. Makanya saya terpaksa menolak ajakan Mas Chandra dari bagian Publikasi dan Dokumentasi, misalnya dalam Triwarna Soccer Festival, untuk turut menjadi komentator dalam video live streaming yang tayang di Youtube. Apa itu offside? Aduh, saya tidak paham. Makanya saya sangat kagum pada kaum perempuan yang fasih sama dunia sepak bola ini, terutama bagaimana cara mereka berkomentar tentang klub-klub favorit mereka. Lha sejak dulu cuma nama Maradona saja yang terpatri di kepala gara-gara euforia zaman SD ha ha ha.


Pada ajang Triwarna Soccer Festival, setiap kali usai pertandingan terakhir, pasti dilaksanakan briefing. Yang dibahas saat briefing ini umumnya evaluasi kegiatan pada hari tersebut, permasalahan dan solusi, laporan keuangan, pemilihan empat orang petugas pemegang bendera fair play, dan ditutup dengan do'a. Jika ada yang berulangtahun biasanya akan diramaikan dengan aksi menyiram air haha. Kocak memang. Hiburan saat diri sudah letih maksimal.

Malam itu, saat briefing, ketua panitia membaca nama-nama yang direkomendasikan untuk membawa bendera fair play. Terkejut ketika nama yang disebutkan adalah nama perempuan, bukan laki-laki (pada umumnya). Shinta Degor, Yudith Ngga'a, Narti, Tuteh.

What!? Haha. Bakal seruuuuu.

Fair Play Flag


Fair Play Flag merupakan bendera warna kuning, oh hyess kuning, yang pada bendera tersebut tertulis My Game is Fair Play. Bendera kebanggaan itu tidak terlepas dari FIFA (Federation Internationale de Football Association). My Game is Fair Play secara terjemahan bebas dan singkat a la saya berarti: junjung tinggi sportifitas. Hehe. Sportifitas di sini tidak saja bagi para pemainnya saja, tapi juga manajer dan coach, serta supporter. Bagi kalian yang sangat memahami dunia sepak bola, rasanya apa yang saya tulis tentang ini masih sangat miskin. Tapi tidak mengapa, itu adalah pemahaman dangkal saya tentang fair play.

Empat Perempuan Cantik


Kembali pada empat perempuan anggota panitia Triwarna Soccer Festival, maka pada hari yang ditentukan, kami pun bertugas membawa bendera fair play bertulis My Game is Fair Play. Jangan lupa pakai rompinya ya hehe.




Keberadaan kami sebagai pembawa bendera My Game is Fair Play tentu bikin heboh. Karena, lazimnya yang membawa bendera ini adalah laki-laki. Hal ini memang baru pertama kali terjadi di Kota Ende dalam ajang-ajang pertandingn sepak bola, tapi pernah terjadi di daerah lain seperti berita dari BolaDotCom dengan judul 6 Mojang Cantik Pembawa Bendera Fair Play Laga Persib. Senang banget waktu baca berita itu, artinya kami berempat tidak sendiri. Sama-sama cantik. Hahaha.

Siapa sangka, kemudian, banyak teman-teman yang membikin status tentang kami berempat? Salah satunya si penggila bola Sherif Montana:

Terima kasih Sherif.

Dan banyak yang memotret serta mengirimkan fotonya via WA dan inbox pada saya. Ah, terima kasih. Kami memang bikin heboh.


Kalau ditanya, mau lagi? Ya jelas saya mau lagi membawa bendera kebanggaan tersebut. Unik sih. Saya kan memang paling suka jadi pusat perhatian *digampar warga berjamaah*.

Baca Juga: Manis Akustik



Itu dia cerita hari ini, dari serba-serbi Triwarna Soccer Festival, dan menjadi pembawa bendera My Game is Fair Play merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya dan teman-teman lainnya. Masih banyak serba-serbi lainnya, kisah lainnya, yang bakal saya pos tapi tidak hari ini. Nanti ya, satuper satu. Semoga pos ini bisa menyuntik lebih banyak semangat Senin pada kalian semua. Hehe.



Cheers.

Double Ending


Bagi para penikmat filem, menonton filem merupakan proses otak turut bekerja untuk terlebih dahulu menyelesaikan kisah dari filem yang ditonton. Menebak. Itu kata sederhananya. Selama kita belum menonton trailer dan membaca review-nya terlebih dahulu. Menonton Fight Club, misalnya, otak saya bekerja keras menebak akhir filem tersebut, yang kemudian ditampar twist ending yang bikin melongo. Atau, saat saya menonton The Sixth Sense, sama rasanya saat ditampar dari twist ending Fight Club. Ah, ya, sama dengan menit-menit pertama menonton Split.

Baca Juga: Relikui Kematian #2

Kadang-kadang kita bakal bilang: tuuuuh kaaaan benar kah tebakan saya, ketika tebakan kita sama dengan adegan berikutnya dan/atau akhir filem yang bersangkutan. Pernahkah tebakan kalian diamini oleh akhir sebuah filem? Saya pernah. Tapi seringnya gagal. Haha. Saat menonton Train to Bussan dan Ia am Legend, misalnya, tebakan saya tentang pemeran utama yang selalu selamat alias tidak mati ... salah total. Duh, stigma pemeran utama selalu selamat nampaknya memang harus dihapuskan dari otak saya.

Filem-filem twist ending memang harus diakui super keren. Angkat jempol. Benar-benar menguras otak saat menontonnya dan membikin melongo pada ending-nya.

Tapi ... bagaimana perasaan kita ketika tahu bahwa filem favorit kita ternyata double ending? Lantas muncul pertanyaan, kenapa filem yang ditonton sebelumnya (bioskop) berbeda ending dengan yang ditonton ulang lewat DVD? Atau, bagaimana bisa filem yang sama, yang disedot gratisan tapi beda waktu dan sumber penyedotan, kemudian berbeda ending?

Double Ending


Double ending di sini dimaksudkan untuk filem-filem yang ternyata punya alternatif lain sebagai penutup cerita. Pertama kali tahu soal ini dari sebuah perdebatan panjang bersama teman sekolah saya Penny Kamadjaja. Penny bercerita tentang akhir sebuah filem yang dia tonton di bioskop. Jelas saya membantah karena akhir dari filem yang sama, yang saya tonton di DVD, berbeda dari yang dia ceritakan. Perdebatan panjang tidak dapat dihindari. Kami nyaris menggunakan ilmu silat demi membela harga diri. 

Ternyata, kami sama-sama benar.

Memang Ada!


Double ending memang ada. Alternatif yang sengaja disediakan oleh pembuat filemnya. Alternatif ini umumnya hanya satu (jadi ada dua jenis ending saja) tapi kadang-kadang tiga. Kenapa ada double ending ini tidak terlepas dari penonton-responden. Semacam uji coba dari sebuah filem. Tanggapan responden inilah yang menjadi acuan apakah ending perlu diubah atau tidak. Asyik banget kalau begitu jadi responden ya haha.

Baca Juga: Survival Movies

Kali ini saya hanya akan membahas satu filem yang pernah saya tonton, yang punya double ending atau punya lebih dari satu alternatif ending. Filem itu berjudul I am Legend.

Mari kita cek.

I am Legend


Pertama menonton I am Legend yang diperankan oleh Will Smith ini jelas bukan di bioskop. Karena kalau kalian membaca pos Mereview Filem (dan Buku), sudah dijelaskan mengapa saya sering me-review filem lama. Pertama kali menonton I am Legend itu sekitar tahun 2009 atau 2011. Kemudian, tahun 2018 kemarin saya mengulas tentang filem-filem bertema zombie pada pos 5 Filem Zombie Favorit. I am Legend termasuk di dalamnya, meskipun musuh Robert Neville (Will Smith) tidak disebut zombie melainkan Darkseeker. Bedanya? Darkseeker ini makhluk yang cerdas sedangkan otak zombie itu sudah gagal total.

Pada pos itu kalian bakal membaca review saya tentang kematian Robert Neville di akhir cerita. 

Terakhir, Robert memang menemukan anti virusnya, tapi dia harus mati di dalam tempat persembunyiannya demi menyelamatkan seorang perempuan dan anak kecil yang dia percaya akan membawa anti virus itu ke tempat perlindungan.

Baru-baru ini saya menonton ulang I am Legend karena memang suka sama ceritanya. Dan pada akhir cerita saya dibikin melongo. Dalam hati saya berkata: lagi-lagi double ending. Dan teringat perdebatan panjang antara saya dan Penny pada masa lampau. Alternatif lain akhir kisah I am Legend adalah Robert Neville selamat alias tidak meninggal dunia dalam ledakan. Karena, dia mempelajari ternyata Darkseeker ini punya perasaan pula (dan tentu otaknya juga cerdas). Robert, si wanita, dan anak kecil itu pun selamat dan bersama-sama menuju tempat perlindungan.

Dari kedua ending tersebut, yang mana yang kalian suka?

Namun, sebenarnya responden tidak menyukai akhir yang bahagia, haha. Makanya dibikin akhir cerita Robert meninggal dunia.

Masih banyak filem-filem lain yang juga punya double ending. Dan mungkin kalian juga sudah menonton semua versi/alternatif ending-nya. Sebut saja filem The Butterfly Effect dan Titanic. Saya sih sudah menonton filem-filem lama tersebut, tapi belum menonton versi lain dari akhir filemnya jadi belum bisa menulisnya di sini. Kalau I am Legend sih jelas sudah saya tonton kedua versi ending-nya jadi bisa menulisnya.

Baca Juga: The Willis Clan

Well, selamat berakhir pekan, kawan. Silahkan cari ending alternatif dari filem favorit kalian!


Cheers.

Pengumpul Pin


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

Dalam dunia blogging, identitas blogger dan/atau komunitas blogger diwakilkan dalam bentuk berbagai barang antara lain kaos, backpack, drawing bag, buku catatan, alat tulis, mug, hingga pin. Setiap acara blogger mulai dari Pesta Blogger, Blogger Nusantara, Asean Blogger, dan kegiatan lainnya seperti FGD yang melibatkan blogger, setiap peserta pasti mendapat barang-barang identitas ini. Zaman dulu, waktu masih sangat aktif dalam berbagai kegiatan luring blogging, dan kegiatan-kegiatan serupa masih ramai digelar, saya pasti memperoleh barang-barang ini. 

Baca Juga: Memen

Di bawah ini adalah beberapa barang identitas yang tempat penyimpanannya masih terjangkau tangan, saat menulis ini bisa sempat memotretnya, barang lainnya kudu dicari di lemari-lemari haha.

Kaos Pesta Blogger 2008 yang dikirimkan oleh Om Bisot

Kopdar Blogger Nusantara 2011 dibawain sama Yudith Ngga'a. 

Kopdar Blogger Nusantara 2012 di Makassar.

Salah satu barang identitas ini adalah pin bros. Pin bros atau disingkat pin, merupakan barang identitas yang paling ringan dan paling hemat tempat. Jadi, banyak juga blogger yang membawanya sebagai wakil dari komunitas blogger-nya atau komunitas lainnya. Saking banyaknya pin yang saya peroleh, saya sampai memasangnya di bagian depan backpack atau di tali tas selempang. Selain dari komunitas dan perorangan, saya juga mendapat pin-pin cantik dari taman nasional salah satunya Taman Nasional Kelimutu.

Penampakan pin-pin itu dapat kalian lihat pada foto di awal pos, sisanya bisa dilihat di bawah ini:


Tapi itu baru sebagian saja. Sebagian lainnya entah ada di mana haha. 

Sampai sekarang saya masih suka mengumpulkan pin, lumayan dipakai di jilbab wkwkwkw, karena saya tipenya sederhana. Cukup jilbab segi empat yang dilipat menjadi segitiga, peniti (saya tidak terbiasa memakai pentul) dan pin sebagai penyambung. Pin-pin lainnya seperti pin Relawan Taman Bung Karno, pin Ratenggoji, dan lain sebagainya.


Jadi, pernah ... saya pernah melakukannya. Mengumpulkan pin dari banyak komunitas blogger, blogger, hingga institusi lainnya. Bangga memakainya (di tas/backpack). Kalau kalian ingin mengirimkan saya pin, boleh juga lah hahaha.

Baca Juga: Masak di Kantor

Bagaimana dengan kalian, kawan?


Cheers.