5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang


5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang. Menulis Flores overland, jadi ingat sama blog bahasa Inggris saya yang satu itu. Haha. Tidak punya modal bahasa Inggris yang cukup, nekat membikin blog bahasa Inggris, jadinya keteteran. Mau terus-terusan meminta bantuan Cahyadi mengoreksi, malu hati, karena dia juga sibuk sama pekerjaannya sebagai guide. Nantilah baru saya jenguk lagi si blog bahasa Inggris yang satu itu (gas atau rem). Sekarang, saatnya saya membocorkan rahasia kenapa kalian harus melakukan Flores overland, sekarang. Kenapa sekarang? Seperti kata orang-orang: kalau bukan sekarang, kapan lagi? Haha.

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Flores overland, arti sederhananya adalah kita mengarungi Pulau Flores dari ujung Barat ke ujung Timur, ataupun sebaliknya. Mengarungi pulau yang juga dikenal dengan nama Nusa Bunga ini tidak bisa dilakukan menggunakan pesawat, meskipun ada, namun tidak bisa runut menyisirnya. Masa iya dari Labuan Bajo ke Ende, terus kembali lagi ke Kota Ruteng (arah Barat) yang bertetangga dengan Kota Labuan Bajo? Satu-satunya cara mengarungi Pulau Flores, runut dari ujung ke ujung, adalah menggunakan transportasi darat seperti kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat. Sepeda, termasuk kendaraan roda dua, tidak saya sarankan. Tapi kalau kalian mau mencoba mengarungi Pulau Flores menggunakan sepeda, ya silahkan. Siapkan minyak urat sebanyak-banyaknya. Hehe *dikeplak dinosaurus*.

Bagaimana dengan lima alasan yang saya tulis di judul?

Marilah kita cek satu per satu ...

1. Transportasi Masuk ke Pulau Flores yang Mudah


Pada zaman dahulu, transportasi masuk dan keluar Pulau Flores tidak semudah zaman sekarang. Saya ingat pesawatnya waktu itu yang masuk-keluar Kota Ende hanya milik maskapai Merpati Nusantara Airlines, itupun jenis pesawatnya Casa. Coba kalian crosscheck di Google foto pesawat Merpati Casa C-212. Baling-baling dua. Untung bukan baling-baling bambu. Hehe. Saya pernah merasakan Casa C-212 dari Kota Ende ke Kota Bima, berganti pesawat Foker 27 ke Kota Denpasar, lantas naik Boeing 737-200 milik Bouraq Indonesia Airlines ke Kota Surabaya (penerbangan malam hari). Saat ini, meskipun banyak penumpang pesawat mengeluh karena bagasinya tidak bisa banyak-banyak, tapi transportasi udara masuk ke Pulau Flores jauh lebih rajin.

Pada zaman dahulu, perjalanan menggunakan kapal laut pun jangan ditanya. Perjalanan di laut bisa memakan waktu hingga enam hari karena kapal milik P.T. Pelni seperti KM. Kelimutu punya jadwal mampir di banyak pelabuhan (hitung saja dari Kota Ende ke Kota Surabaya). Bayangkan saja betapa bosannya penumpang yang berangkat dari Papua menuju Surabaya! Tapi sekarang, transportasi laut menjadi lebih mudah. Terutama di Kabupaten Ende, sejak Pelabuhan Ippi diperbarui dan ditambah dermaganya. Pun Pelabuhan Bung Karno yang mengalami nasib serupa: diperbaiki, diperbarui, ditambah armada kapalnya, dan tentu saja memudahkan kebutuhan transportasi masyarakat yang hendak keluar maupun masuk Kabupaten Ende dan sekitarnya.

Bila kalian memilih untuk melakukan Flores overland dengan titik mula Kota Labuan Bajo sebagai kota wisata paling ujung Barat dari Pulau Flores, maka kalian bisa menyewa sepeda motor maupun mobil (travel) untuk mengarungi Pulau Flores hingga ke ujung Timur. Tanjung Bunga di Kabupaten Flores Timur. Demikian pula sebaliknya.

2. Transportasi Lokal yang Mudah


Ini tidak kalah penting. Transportasi lokal harus dipikirkan baik-baik oleh para traveler karena berkaitan dengan mobilitas mereka dari satu tempat ke tempat lain. Selain banyaknya jasa penyewaan mobil maupun mobil travel (tapi kalian akan ditemani oleh supirnya), bagi yang mabuk darat tapi punya kemampuan mengendarai sepeda motor, boleh menyewa sepeda motor. Harga cukup bersahabat, menurut pendapat pribadi saya, dan beberapa penyewaan mempunya cabang di kota-kota lain sehingga memudahkan kalian ketika ingin mengembalikan kendaraan sewaan tersebut.

3. Jalanan Yang Mulus


Uh wow sekali saat menulis jalanan yang mulus. Pengalaman saya mengarungi Pulau Flores baik ke Barat maupun ke Timur, jalanan sudah banyak yang diperbaiki. Selain diperbaiki, masing-masing pemerintah daerah juga memutuskan untuk melebarkan badan jalan. Sumpah, saya bahagia melihat kelokan-kelokan maut itu kemudian diperlebar badan jalannya. Jalan yang mulus dan lebar tentu sangat menolong para pejalan, memuluskan perjalanan mereka, menekan angka kecelakaan. Kalian pasti tahu, lubang sekecil apapun apabila pengemudi tidak awas, bisa terjadi kecelakaan fatal. Saya sendiri sering mengingatkan diri untuk tidak terlalu ngegas, soalnya jalanan mulus bisa bikin kalap.

4. Lokasi Cantik Sepanjang Jalan


Jelaaaas. Kalian bisa berhenti berkali-kali hanya untuk sekadar memotret panorama dan/atau pemandangan alamnya. Jangankan saat melakukan Flores overland, saat saya hanya melakukan perjalanan dari Kota Ende ke Kota Boawae, misalnya, bisa berhenti berkali-kali hanya untuk mengabadikan pemandangan indah Pulau Flores. Pantai-pantai dari ketinggian, perbukitan, aktivitas penduduk. Rugi rasanya jika mengabaikan semua itu. Melakukan Flores overland ibarat mengeksplor satu pulau tapi menawarkan miliaran kesenangan.

5. Relasi Lokal


Adalah sangat menguntungkan apabila kalian punya relasi orang lokal. Kenalan, teman, atau kekasih? Terserah. Haha. Yang jelas, sepengetahuan saya, Orang Flores adalah orang-orang yang terbuka. Internet dan pertemanan melalui internet (Facebook, Twitter, blog, kenalan lewat WA). Semakin ke sini, kalian bisa menjalin semakin banyak pertemanan dengan orang-orang lokal di Pulau Flores. Percayalah, Orang Flores itu ramah-ramah.


Sejujurnya, sebagai Orang Flores, Orang Ende, saya sendiri juga ingin bisa melakukan Flores overland, utuh. Awal tahun 2019 saya memang melakukan Flores overland, tapi alasannya adalah dikarenakan pekerjaan mempromosikan kampus. Itu pun tidak semua wilayah di Pulau Flores. Saya kebagian jatah Kabupaten Nagekeo terus ke arah Timur hingga Kabupaten Flores Timur. Tentu saya melewatkan kesempatan ke Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Barat. Semoga tahun 2020 kesempatan untuk pergi ke tiga kabupaten itu dapat terwujud.

Baca Juga: 5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa

Bagaimana? Tertarik kan? Ayolah main-main ke Pulau Flores dan ber-Flores overland! Kalian akan merasakan sensasi yang supa amazing, dan bakal bikin kalian pengen kembali ke pulau cantik ini. Seperti kata anak-anak zaman sekarang: bukan kaleng-kaleng. Haha.

Ditunggu!

#KamisLima



Cheers.

Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri


Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri. Masa kecil saya, kalau boleh mengklaim sendiri, merupakan masa kecil paling bahagia. Karena apa? Karena masa itu hanya ada telepon kabel, belum ada telepon genggam. Saya lebih banyak membaca buku dan bermain permainan tradisional bersama teman-teman dan kakak-kakak sepupu. Banyak permainan yang kami ciptakan sendiri. Betul sekali kalau orang bilang: keterbatasan mampu membikin manusia menjadi lebih kreatif. Bayangkan saja, bungkus bekas permen sugus adalah barang berharga yang bisa dijadikan duit mainan, dikumpulkan di dalam kotak mini, dan dibanggakan ke semua orang. 

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Kreatifitas masa kecil sebenarnya tidak selamanya karena keterbatasan. Waktu itu kami juga ingin bisa membikin sesuatu yang bisa dipamerkan pada orang lain, terutama orang dewasa. Selain bermain masak-betulan, di mana saya pernah mencuci beras sampai sepuluh kali sehingga rasa nasinya hancur-lebur, kami juga membikin sendiri gelang berbahan benang wol.

Melihat kakak sepupu membikin satu gelang berbahan benang wol, saya pun tak mau kalah. Bahannya cuma benang wol aneka warna saja! Karena benang wol nanti bakal dipintal (tiga utas) maka diperlukan tiga warna berbeda agar gelangnya nanti terlihat cantik. Benang wol yang dijual di Kota Ende kebanyakan benang wol untuk kerajinan tangan kristik, sehingga kami harus mendobel setiap warna. Satu warna bisa tiga sampai lima utas benang. Supaya apa? Supaya gelangnya lebih besar.


Membikin gelang berbahan benang wol ini super mudah (dan murah). Setelah akhir 2017 saya membikinnya untuk Jeki, Meli, Nabil, dan Cika, akhir tahun 2019 saya membikinnya lagi untuk Thika. Busyet, ponakan saya yang satu itu juga pengen pakai gelang berbahan benang wol. Haha.


Setelah menentukan berapa utas benang per warna, semua utas kemudian diikat bagian ujungnya, lalu dipintal (dicacing tiga). Supaya mantap, minta seseorang untuk menahan bagian ujung, atau bisa juga ditahan menggunakan pemberat (buku, seterika, atau jembatan). Setelah dipintal dan dirasa cukup, ukur terlebih dahulu lingkar gelang dengan tangan orang yang hendak memakainya. Kalau sudah pas, ikat lagi ujung satunya. Trada ... jadi deh. 

Baca Juga: Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca

Berbahan murah, mudah dibikin. Tunggu apa lagi? Bikin yuk gelang benang wol ini sebagai 'ikatan' di dalam keluarga. Meskipun tidak bisa dipakai terus-terusan, tetapi misalnya saat sedang traveling bareng keluarga, semua anggota keluarga memakai gelang ini, pasti seru dan membikin keluarga kalian menjadi pusat perhatian.

Selamat mencoba!

Semoga bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Aplikasi Super Keren Untuk Para Pejalan Itu Bernama Relive


Aplikasi Super Keren Untuk Para Pejalan Itu Bernama Relive. Relive, apa itu? Saya juga tidak bakal tahu Relive kalau tidak dikasih tahu sama seorang teman. Namanya Hari. Kami berkenalan lewat WA saat dia hendak datang ke Kota Ende. Iya, dia berdomisili di Bandung. Tahu nomor WA saya mungkin dari informasi profil di blog. Kalian juga bisa mengintip nomor WA ini di akhir semua pos pada blog ini. Apa urusan Hari di Kota Ende, saya tidak tahu. Yang jelas saya mengajaknya menikmati sup iga di Warung Damai sebelum keesokan harinya dia dan temannya bersepeda ke Kampung Kolibari, ditemani Bapak Heri Sutaban (Bhabinkamtibmas) yang punya hobi gowes. Saya sendiri sudah lamaaaa sekali tidak gowes. Sepeda di rumah pun ban-nya kempes berabad-abad.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Dari perjalanan ke Kampung Kolibari, dan puncak Kezimara, Hari mengirimkan video perjalanan kepada saya. Videonya sederhana: garis yang mengikuti (titik-titik) GPS disertai foto dari titik berangkat, sepanjang perjalanan (bebas mau berapa kali berhenti untuk mengambil foto), hingga tiba di lokasi tujuan. Langsung donk saya iri. Hari bilang video itu dibikin menggunakan aplikasi Relive. Saya langsung mencobanya! Eh, diunduh terlebih dahulu di PlayStore.

Relive


Mari kenalan lebih dekat dengan Relive. Relive merupakan aplikasi perekam aktivitas yang diproduksi oleh Relive B.V. Aplikasi ini pasti mengingatkan kalian pada aplikasi lain seperti Strava yang juga bisa diunduh di PlayStore. Relive ada yang gratisan, ada yang berbayar (untuk fitur-fitur tambahan). Kalian pasti tahu selalu ada keterbatasan pada lini gratisan. Dan saya, yang tampangnya gratisan ini, selalu memilih untuk tetap pada lini gratisan ketimbang membayar. Haha. Di Relive kita bisa merekam ragam aktivitas seperti berlari, berjalan, bersepeda, bahkan bersepeda motor! Rekaman perjalanan itu dapat diselingi dengan foto pada check point pilihan kita. Keluarannya Relive adalah video yang dapat disimpan atau dibagi ke berbagai media sosial.

Menarik bukan?

Cara Kerja Relive


Ini yang penting. Sebagai pengguna baru Relive saya perlu mengalami berkali-kali kegagalan dalam bercinta baru kemudian sukses. Pertama-tama kalian harus mengunduh terlebih dahulu aplikasi Relive di PlayStore. Logonya berwarna kuning, ya! Catet! Kuning! Terima kasih, Relive, sebagai Presiden Negara Kuning saya merasa sangat diapresiasi.


Halaaah. Hehe. Setelah diunduh, langsung pasang di telepon genggam. Jangan lupakan foto profil supaya lebih ketje.


Cara menggunakan Relive cukup mudah. Setelah Relive terpasang di telepon genggam, sudah pula memajang foto profil (ini sih tergantung kalian mau langsung memajang atau nanti-nanti), untuk memulai sebuah video perjalanan, cukup pencet tombol seperti pada gambar berikut:


Kalian akan diantar diantar ke halaman berikut ini:


Yang saya beri panah warna merah itu, silahkan diklik, karena itu berisi daftar aneka kegiatan/aktivitas yang hendak kalian rekam.


Saya memilih bersepeda motor karena memang aktivitas yang hendak saya rekam adalah perjalanan menggunakan sepeda motor dari Kota Ende ke Bukit Marsel / Watu Zaja.


Silahkan klik mulai. Asyiknya, perjalanan itu bisa dijeda setiap kali kita berhenti di titik-titik tertentu (mana-mana suka), dan bisa diselipi dengan foto pada titik perhentian tersebut.


Kalau perjalanan masih dilanjutkan, silahkan lanjutkan, kalau sudah tiba, silahkan klik selesai. Dan trada ... video Relive kalian sudah jadi.


Hasil videonya, bisa dibagikan di berbagai media sosial, seperti pada gambar di atas, bisa juga disimpan saja dulu di telepon genggam untuk nanti dipublikasikan.

Well done.

Sebagai pengguna baru Relive, saya merasa cukup puas karena aplikasi ini sangat mudah digunakan selama ada jaringan internet sepanjang perjalanan kita, karena untuk membikin video ini, Relive pun mengandalkan GPS yang harus dinyalakan. Iya, biar Relive tahu lokasi kita memulai perjalanan, titik-titik berhenti, hingga lokasi tujuan. Kalian juga bisa mengimpor aktivitas sebelumnya yang sudah disimpan di aplikasi tracker (formatnya .fix, .gpx, atau .tcx) ke Relive.

Baca Juga: Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial

Jujur, saya jadi tergila-gila pada Relive. Namun, waktu cuti yang lebih banyak di rumah saja menyebabkan saya tidak bisa sering-sering menggunakan aplikasi super keren untuk para pejalan ini. Semoga, nanti akan lebih banyak perjalanan yang bisa saya rekam bersama Relive dan membaginya dengan kalian semua.

Bagaimana? Mau mencoba Relive? Pasang sekarang di telepon genggam kalian!

#SelasaTekno



Cheers.

Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita


Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita. Tahun 2019, karena satu dan lain hal, saya terlambat mengajukan cuti. Tapi cuti saya justru sangat panjang karena diselingi dengan libur panjang yang dimulai 23 Desember 2019 hingga 3 Januari 2020. Saya sendiri baru akan kembali beraktivitas di kantor pada tanggal 7 Januari 2020 setelah cuti yang dimulai tanggal 10 Desember 2019. Cuti yang seharusnya hanya 12 hari (dengan 2 hari minggu menjadi 14 hari), ditambah perpanjangan waktu libur akhir tahun, menjadi nyaris sebulan penuh. Uh wow sekali. Haha. Dan dinosaurus pun lantas ngetawain karena waktu cuti yang panjang itu justru tidak berjalan sesuai rencana: explore Kota Bajawa dan Kota Ruteng. Jika kalian juga mengalami apa yang saya alami, jangan mengeluh, karena hidup memang penuh warna dan cerita.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Cerita cuti saya dimulai dengan sakit. Pasti kalian langsung bilang: kasihan anak ini. Hehe. Sakit itu tidak lama. Saya percaya vitamin dan keinginan untuk sehat sangat membantu proses penyembuhan. Hanya saja, anomali cuaca Kota Ende membikin sakit saya sedikit menyimpang dari kebiasaan. Biasanya orang sakit meriang itu kedinginan, saya justru kepanasan. Beruntung, sakitnya tidak lama, dan saya kembali beraktivitas tidak seperti biasa. Kok tidak seperti biasa? Iya, karena kan saya cuti, sehingga tidak ada acara pasang alaram lalu bangun dan mandi serta bersiap-siap ke kantor, dan tidak ada acara nongkrong di kantin menguping informasi. Betul-betul aktivitas yang tidak seperti biasa. Pada hari-hari cuti saya bangun lebih terlambat dari biasanya, langsung merusuh di belakang, bermain Battle Realms, menulis blog, lantas memandikan Mamatua.

Tidak ada seorangpun yang menyukai sakit. Tapi sakit merupakan sinyal penting untuk manusia tahu bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Bersyukurlah ketika Allah SWT masih memberi kita sakit. Seperti sakitnya Mamatua.

30 November 2019 Mamatua kehilangan satu-satunya penglihatan yang tersisa (mata kiri). Praktis ratu kami itu tidak dapat melihat. Adalah tanggung jawab besar untuk merawatnya. Tetapi saya tidak memandang itu sekadar sebuah tanggung jawab saja, melainkan sebagai anugerah. Kawan, adalah perkara lumrah jika orangtua merawat anak-anak yang dilahirkan. Tetapi tidak semua anak diberi kesempatan untuk merawat orangtuanya. Saya memandang itu sebagai anugerah. Merawat orangtua. Sakitnya Mamatua memberikan begitu banyak waktu untuk kami bersama; Mamatua, saya, Thika, Indra, Mamasia, Mamalen, dan Meli. Kuantitas berbanding lurus dengan kualitas. Memandikan Mamatua selalu diselingi dengan gurauan dan godaan yang membikin kami terbahak-bahak. Menyuapi Mamatua makan sambil mengobrol itu se-su-a-tu. Peristiwa yang tidak dapat ditukar dengan Rupiah, Dollar, Euro.

Kalau begitu, cuti saya hanya begitu-begitu saja?

Tidak.

Saya selalu punya pemahaman sendiri tentang waktu (cuti): manfaatkan dengan sebaik-baiknya, bahkan untuk memainkan game favorit!

Kembali pada judul. Seberapa sering saya, kalian, mereka, mengeluh? Berapa kali dalam sehari kita mengeluh bahkan mengeluhkan hal-hal sederhana seperti: mau makan tapi nasi belum matang sempurna di magicom. Atau, ketika hendak meminum air dingin (air es) tapi semua botol di kulkas kosong-melompong. Atau, ketika ingin pergi ke pantai untuk bersenang-senang tetapi bensin sepeda motor malah sekarat. Dan kita mengeluh begitu hebatnya seakan-akan tidak angin menerbangkan semua seng di atap! Padahal menunggu sedikit waktu untuk nasi matang sempurna mengajarkan kesabaran luar biasa pada kita, meminum air tanpa embel-embel dingin/es mengajarkan kita untuk merasakan sensasi yang berbeda di kerongkongan, bensin yang sekarat di sepeda motor mengajarkan kita untuk sadar bahwa tidak semua keinginan dapat terpenuhi.

Sadarkah bahwa itulah sejatinya hidup yang penuh warna dan cerita?

Konsep hidup penuh warna dan cerita selalu saja identik dengan menikmati keindahan dan kebahagiaan. Membaca buku saat hujan ditemani secangkir kopi panas disebut hidup yang penuh warna dan cerita. Traveling ke tempat wisata idaman disebut hidup yang penuh warna dan cerita. Nongkrong bersama teman-teman di kafe favorit disebut hidup yang penuh warna dan cerita. Padahal, itu biasa-biasa saja. Karena, siapa sih yang tidak mau membaca buku bermanfaat, traveling, dan nongkrong di kafe dengan teman-teman? Kalau keinginan itu terwujud, ya biasa saja jadinya. Toh saya sendiri juga sudah sering melakukannya: membaca buku sambil ngopi, traveling, dan nongkrong di kafe. Ceritanya ya itu-itu saja.

Hidup akan menjadi lebih berwarna dan penuh cerita apabila ada pembedanya. Putih akan lebih memikat jika ada percikan hitam, merah, atau kuning di atasnya.

Sakit, mengurus orangtua yang sakit, menunggu nasi matang di magicom, menatap botol kosong di kulkas, hingga bensin sepeda motor yang sekarat, merupakan warna dan cerita hidup. Ijinkan saya menulis ilustrasi ini:

Rawam:
Bagaimana perjalanan kemarin ke Mbay?

Mawar:
Menjengkelkan! Antri di daerah Ndao nyaris satu jam! Kan kesal. Sudah tahu sedang antri, ada saja yang klakson-klakson. Mana debu ... betul-betul menjengkelkan.

Mawar tidak sadar, bahwa apa yang disampaikannya pada Rawam adalah warna hidupnya. Warna perjalanannya. Seandainya saja tidak ada proyek pelebaran jalan di daerah Ndao (arah Barat Kota Ende) bisa saja dia menjawab pertanyaan Rawam: lancar jaya sampai Mbay. Selesai. Tidak ada warna. Tidak ada cerita. Makanya ketika hujan mengguyur Aigela beberapa saat lalu saat kami berada di sana, saya bilang: biar ada cerita. Karena hujan menyebabkan kami harus lebih lama nongkrong di lapak jagung rebus dan menyebabkan kami lebih detail memerhatikan sekitar. Jadi, lebih banyak cerita yang bisa disampaikan pada orang lain.

Agak keliru apabila saya, kalian, mereka, selalu mengeluhkan hal-hal di luar ekspetasi dan/atau harapan. Karena seperti yang sudah saya tulis di atas, itulah sejatinya hidup yang penuh warna dan cerita. Rencana liburan explore Kota Bajawa dan Kota Ruteng saat cuti bukanlah perkara yang harus saya keluhkan. Kalau rencana itu berjalan, ceritanya ya biasa-biasa saja: traveling, jalan sana-sini, menulis. Lelah, jelas. Karena mengendarai sendiri sepeda motor. Rencana yang batal itu justru menghadirkan warna dan cerita tersendiri. Memangnya apa yang saya lakukan saat cuti selain terlambat bangun, mengurus Mamatua, bermain game? Banyak!

Baca Juga: Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay

Dimulai dari membikin kue kering untuk bekal Natal Mamasia dan Mamalen. Melihat wajah bahagia mereka, tentu saya juga bahagia. Rumah menjadi perhatian saya di masa cuti: membersihkan rumah, mengganti gorden, mengubah letak ini itu, termasuk menambah asesoris yaitu siput-siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Kabupaten Lembata. Kamar pun tidak kalah: temboknya dicat ulang warna kuning serta pindah-pindah lemari. Lagi-lagi Cahyadi membawa bibit sayur sehingga di dekat ruang makan ada lima polybag berisi bibit wortel, tomat, selada, selada merah, dan terong. Saya bahkan mulai menulis cerita (novel) berjudul Mai Ka! Apa yang harus dikeluhkan? Hehe. Hidup memang penuh warna dan cerita bukan?

Berhenti mengeluh.
Selalu mencoba-ikhlas.
Rasakan sendiri nikmatnya.

Semoga pos ini bermanfaat bagi saya, kalian, dan mereka.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Inilah Akibat Paling Fatal Dari Perkara Yang Dianggap Remeh


Inilah Akibat Paling Fatal Dari Perkara yang Dianggap Remeh. Joker merupakan filem terakhir yang saya tonton di tahun 2019 sebelum situs penyedia filem andalan saya, indoxxi, diblokir pemerintah. Seperti yang dilansir oleh Tekno Kompas dengan penulis Kevin Rizky Pratama, Menteri Kominfo, Johnny G. Plate, mengatakan telah memblokir situs streaming ilegal sebanyak lebih dari 1.000! Sebagai manusia yang pernah mempelajari sedikit ilmu hukum, situs penyedia filem (tentunya ilegal) memang mengabaikan dan melanggar HaKI yang dijunjung tinggi dalam dunia industri diantaranya industri musik dan filem. Tetapi sebagai manusia yang tinggal di Kota Ende, kota kecil tanpa bioskop, saya tentu membutuhkan situs penyedia filem tersebut. Tindakan pemerintah sudah benar, tetapi akibatnya ... saya dan dinosaurus harus gigit laptop.

Baca Juga: Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar

Kembali pada filem Joker. Filem terakhir yang saya tonton di tahun 2019. Filem yang membikin otak saya memikirkan begitu banyak perkara, termasuk perkara yang dianggap paling remeh: bercanda yang menjebak. I can feel his pain

Joker


Wikipedia menginfokan: Joker adalah film cerita seru psikologis Amerika Serikat tahun 2019 yang disutradarai oleh Todd Phillips dan diproduseri oleh Todd Philips, Bradley Cooper, dan Emma Tillinger Koskoff. Joker ditayangkan secara perdana di Festival Film Venesia pada tanggal 31 Agustus 2019 serta ditayangkan di Amerika Serikat pada 4 Oktober 2019 dan Indonesia dua hari sebelumnya. Joker adalah film laga hidup pertama Batman yang mendapatkan klasifikasi R dari Motion Picture Association of America karena kekerasan berdarah yang kuat, perilaku mengganggu, bahasa dan gambar seksual singkat.

Joker, dari DC Comics, diperankan oleh Joaquin Phoenix, Robert De Niro, Zazie Beetz, Frances Conroy. Termasuk box office karena biaya produksi hanya $55-70 juta saja tetapi pendapatan sementara mencapai $1,023 miliar. Kita harus sepemahaman dulu tentang box office ya.

Idntimes menulis: dahulu, istilah Box Office digunakan untuk pemutaran film yang sistem menontonnya mengedarkan box-box kepada penonton sebagai donasi atas pemutaran film tersebut. Karena pada saat itu belum ada pembelian tiket film lewat loket atau bahkan online seperti sekarang ini. Namun, saat ini istilah box office bergeser kepada film yang mendapatkan penghasilan melebihi biaya produksinya dan penghasilan itu berhasil didapatkan hanya dalam waktu tayang beberapa hari atau minggu pertama saja. Hampir mirip sebenarnya dengan pengertian saat zaman dulu, karena semakin film disukai maka penonton dari film tersebut semakin banyak.

Joaquin Phoenix, Jared Leto, Heath Ledger


Hadirnya Joaquin Phoenix sebagai Joker membikin saya mengingat dua aktor Joker lainnya yaitu Jared Leto dan Heath Ledger. Jared Leto memerankan Joker dalam filem Suicide Squad sedangkan Heath Ledger memerankan Joker dalam filem The Dark Knight. Joker a la Suicide Squad terkesan 'kekanak-kanakan' sesuai dengan warna filem tersebut. Berbeda dengan Joker dalam The Dark Knight yang dalam. Tapi, menjadi tidak bijak jika membandingkan akting ketiganya. Joaquin Phoenix, Jared Leto, dan Heath Ledger, masing-masing punya pesona tersendiri saat memerankan Joker. Kalau ditanya, Joker mana yang punya kelebihan natural? Menurut saya si Joaquin Phoenix, karena bekas luka di bawah hidungnya itu se-su-a-tu.

Jangan Pernah Menjebak Seseorang


Berbeda dari orang lain yang mungkin pernah me-review Joker, saya lebih memilih me-review filem psikologis ini dari sudut pandang lain, salah satunya penjebakan. Kita tahu Arthur Fleck, seorang laki-laki dewasa, masih harus tinggal bersama ibunya, Penny Fleck, karena si ibu sakit. Kebutuhan hidup sehari-hari dipenuhi oleh Arthur dengan bekerja sebagai badut penghibur. Hidup yang keras seakan-akan menjadi lebih bengis terhadap seorang Arthur. Dia akrab dengan kesialan (demi kesialan). Tidak cukup sampai di situ, keinginannya menjadi seorang Komika kandas karena sesungguhnya dia sama sekali tidak berbakat.

Ada tiga karakter yang menghancurkan Arthur hingga ke titik paling rendah.

1. Penny Fleck


Penny Fleck, what should I say about this woman? Dia sakit. Dialah salah satu sumber malapetaka dalam hidup Arthur. Gara-gara Penny, Arthur percaya Thomas Wayne adalah ayah kandungnya. Sadar atau tidak sadar, Penny menghancurkan Arthur dengan caranya sendiri. Mengekang kehidupan dewasa Arthur (karena harus mengurus si ibu), dan menipu Arthur dengan kepalsuan bahwa si Joker adalah putera kandung Thomas Wayne. Mungkin Penny menganggap itu hal yang remeh. Sudah, kau pergi saja ke Thomas Wayne, itu Bapakmu! Tetapi apa yang dilakukan Penny, melalui surat yang dibaca Arthur, lebih menyakitkan dari sayatan sembilu. Faktanya Arthur bukanlah putera kandung Thomas Wayne. Pengakuan Thomas Wayne mengantar Arthur pada kekelaman yang lebih dalam.

Ketika Arthur menekan bantal ke wajah Penny ... saya merasakan sesuatu pelepasan yang luar biasa.

2. Randall


Arthur tidak saja dibohongi oleh Penny; bahwa dirinya putera kandung Thomas Wayne, tetapi juga dijebak oleh teman kerjanya sendiri yaitu (si setengah-botak) Randall.

Randall adalah salah satu sumber malapetaka dalam hidup Arthur, selanjutnya, di dalam Joker. Awalnya saya berpikir Randall adalah sahabat terbaik di tempat kerja yang punya rasa simpati tinggi terhadap kondisi Arthur yang sering dikerjai orang-orang saat sedang bekerja sebagai badut. Tetapi, pikiran saya berubah ketika adegan Randall menyerahkan sebuah pistol pada Arthur. What the f*ck! Ketika kau tahu temanmu seperti itu, kau sengaja memberikannya sebuah pistol? Kota Gotham sedang kacau, saat bekerja pun Arthur sering diisengin-dihina-diolok, secara psikologis Arthur tidak sedang baik-baik saja, dan kau memberinya sebuah pistol?

Why don't you shoot yourself!?

Mungkin bagi Randall, menjebak Arthur adalah perkara remeh. Jebak dia. Biarkan dia melakukan kesalahan. Cuci tangan saat dia melakukan kesalahan. Tertawalah saat dia dipecat. Biarkan dia mencari pekerjaan lain, atau biarkan dia terpuruk bersama kehidupannya yang kelam.

Tidak semudah itu ...

Apa yang dilakukan Randall berakibat sangat fatal. Makanya saya menulis judul Inilah Akibat Paling Fatal Dari Perkara Yang Dianggap Remeh. Karena, sebuah pistol memicu kekacauan besar dalam hidup Arthur yang tidak baik-baik saja itu. Randall sengaja melakukannya. Pistol itu menjadi semacam 'kemampuan' tambahan Arthur. Rasa percaya dirinya meningkat ketika pistol ada bersamanya. Dan pistol ini pula yang dipakai Arthur untuk menembaki Murray Fraklin. Live show!

3. Murray Franklin


Ini dia sosok yang juga paling saya benci dari Joker. Murray Franklin digambarkan sebagai presenter paling kesohor di Kota Gotham. Murray merupakan idola Arthur. Bahkan Arthur pernah menyempatkan diri untuk menonton show si Murray. Bagi Murray, Arthur hanyalah remah roti yang remeh. Seorang penggemar yang datang di acaranya, yang menjadi cameo acaranya, yang kemudian dia tertawakan saat rekaman stand up comedy Arthur hinggap di kupingnya. Tapi manuver itu terjadi, Murray mengundang Arthur datang ke acaranya sebagai bintang tamu! Arthur datang sebagai Joker, memakai riasan badut, dengan setelan jas lengkap, tak lupa pistol yang diberikan Randall pun turut bersamanya. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa pistol itu pula yang kemudian digunakan Arthur untuk menembaki Murray.

Benar-benar pembalasan (dendam) yang sempurna.

Pernahkah Kita Melakukannya?


Pertanyaan ini mungkin remeh tapi tidak menjebak. Ini pertanyaan serius. Pernahkah kita berada di posisi Penny Fleck, Randall, atau Murray Franklin? Pernahkah kita, secara sengaja maupun tidak sengaja, menjebak teman sendiri? Pernahkah kita berpikir tentang perbuatan kita pada seseorang dapat berakibat fatal? Pertanyaan itu menjadikan Joker tidak saja sebagai filem yang syarat kekerasan berdarah yang kuat serta perilaku mengganggu, tetapi juga refleksi terhadap diri setiap orang yang menontonnya. Manusia, tentu tidak terlepas dari tindakan yang dilakukan oleh Penny Fleck, Randall, maupun Murray Franklin.

Baca Juga: Double Ending

Bagaimana menurut kalian, kawan? Saya yakin sebagian besar dari kalian sudah menonton Joker dan punya pendapat sendiri tentang filem ini. Pendapat saya, sudah tertulis dengan jelas di atas. Bahwa, apa yang kita anggap remeh dapat berakibat fatal (dilakukan oleh orang lain). Contoh paling nyata adalah ketika kalian menganggap remeh alaram yang meraung-raung, akibatnya kalian bisa saja ketinggalan pesawat.

Semoga bermanfaat.

#SabtuReview



Cheers.

#PDL Bertemu Pom Bensin yang Dijual di Kabupaten Nagekeo


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Bertemu Pom Bensin yang Dijual di Kabupaten Nagekeo. Sebelumnya saya ingin mengucapkan alhamdulillah karena pos bertema #PDL, Pernah DiLakukan, masih bertahan sampai hari ini, hari ketiga di tahun 2020. Memangnya ada tema yang berubah. Iya, ada. Tema #RabuLima berganti menjadi #RabuDIY. Tema #KamisLima memang tidak berganti sepenuhnya dengan #KamisLegit tetapi diselang-seling sekehendak hati. Haha. Yang pasti tema harian ini turut membantu saya menulis blog setiap hari, turut mewujudkan keinginan saya menjadikan blog sebagai majalah pribadi. Insha Allah tahun 2020 ini semangat nge-blog tetap menyala seperti tahun-tahun kemarin.

Baca Juga: #PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu

Banyak sudah kisah #PDL yang saya tulis. Hari ini saya mau bercerita tentang perjalanan di awal 2019 kemarin saat mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) ke SMA-SMA di Pulau Flores dan sekitarnya. 

Hari itu, bersama Thika, Cesar, dan Rolland, setelah mempromosikan Uniflor di tiga SMA dalam wilayah Kecamatan Aesesa, kami hendak memutar balik kembali ke Kota Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Tujuan kami hanya satu: rumah makan! Maklum, perut sudah mulai merintih sedih. Perjalanan kembali ke Kota Mbay ditingkahi dengan gerimis manis yang hampir saja membikin kami menyerah. Lantas pemandangan itu terlihat. Sebuah pom bensin yang terabaikan seperti perasaan yang terabaikan begitu menarik hati. Fotonya bisa kalian pada awal pos. Iya, pom bensin itu dijual. Entah sekarang, setahun kemudian, apakah sudah ada yang membelinya atau belum.

Thika, Cesar, dan Rolland cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah saya yang ngotot minta dipotret di depan pom bensin itu. Haha. Kapan lagi, coba? Foto itu, setelah diunggah ke media sosial, menuai komentar ini itu. Ada yang bilang: yang dijual itu yang sandaran kah? Hihi. Jelasnya saya bertanya-tanya kenapa sebuah pom bensin sampai dijual. Apakah karena merugi? Apakah karena proyeknya tidak berlanjut seperti pom bensin di Kabupaten Ende yang terletak di daerah Roworeke itu? Atau karena alasan lain? Padahal daerah tersebut cukup ramai dan jauh dari pom bensin yang ada di daerah Danga Kota Mbay. Entahlah.

Setelah foto di depan pom bensin yang dijual itu, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Mbay. Iya, masih rumah makan menjadi tujuan utama. Sepanjang jalan disuguhi pemandangan persawahan hijau sungguh anugerah terindah. Tapi, pemandangan persawahan hijau jelas tidak mampu menambal perut yang rintihannya semakin menjadi.


Di depan Pasar Mbay bertemulah kami dengan Rumah Makan Mini Indah. Rumah makan ini a la masakan Padang begitu.


Alhamdulillah, sebagai pembuka segelas es teh manis cukup memuaskan dahaga dan lelah seharian perjalanan dari Kota Ende ke Kota Mbay yang dilanjutkan dengan promosi Uniflor ke SMA-SMA. Makan beratnya? Ada dooong. Haha. Ayam goreng, karena saya pecinta Upin Ipin, tentu menjadi rebutan cacing-cacing perut yang sebelumnya khidmat konser lagu-lagunya Linkin Park.

Baca Juga: #PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu

Pernah, saya pernah begitu. Memanfaatkan momen perjalanan dengan sebaik-baiknya. Salah satunya dengan jeli memerhatikan keadaan sekitar dalam perjalanan itu, agar tidak kehilangan kesempatan mengabadikan segala sesuatu yang unik, aneh, ajaib, yang mungkin terlewatkan oleh orang lain. Atau, orang lain tidak berselera memotret sebuah pom bensin yang dijual karena menurut mereka tidak ada faedah. Tapi bagi saya, semua pasti berfaedah. Buktinya, foto itu menjadi bekal pos #PDL hari ini. Dan, kalian jadi tahu ceritanya.

Bagaimana dengan kalian? Pernah begitu juga? Bagi tahu yuk di komen!

#PDL



Cheers.

Ternyata Semua Khayalan Saya Dijawab Oleh Drama Korea


Ternyata Semua Khayalan Saya Dijawab Oleh Drama Korea. Pos kedua di tahun 2020 ini masih cubit-cubitan dengan drama Korea atau lebih sering disebut Drakor. Mungkin ada yang bakal bilang: tahun berapa ini, Teh, masih ngomongin Drakor saja. Sejujurnya saya bukan pecinta Drakor makanya tidak pernah memburu Drakor apalagi mengingat dan menghafal nama Oppa-Oppa gantengnya. Tapi itu bukan berarti saya tidak pernah menonton Drakor. Ada beberapa Drakor bagus yang saya tonton dan terus membekas dalam ingatan seperti Fated to Love You, Goblin, Oh My Venus, dan Full House. Judul terakhir adalah Drakor terakhir yang saya tonton pada Desember 2019 padahal dirilis tahun 2004. Entah mengapa waktu itu tidak ada keinginan menunggu Full House di televisi. Stasiun televisi yang menayangkannya pun saya tidak tahu.

Baca Juga: Sebuah Catatan Akhir Tahun Untuk Saya, Kalian, Mereka

Setelah menonton Full House, dan sempat menangis!, saya baru sadar bahwa Drakor menjawab semua khayalan saya. Manusia mana sih yang tidak pernah mengkhayalkan sesuatu? Kalian juga pasti pernah berkhayal hujan duit kan? Kalian juga pasti pernah berkhayal tidak perlu bekerja tetapi saldo di rekening terus membuncit kan? Kalau pernah, kalian tidak sendiri, ada saya menemani. Haha. 

Kembali pada Drakor yang menjawab semua khayalan saya...

Saya bukan penulis novel tapi tetap ngotot berusaha menulis novel. Kenapa? Karena khayalan saya, terutama tentang ranah asmara, sungguh membabi-buta dan merongrong. Jadi, harus ditulis. Terpaksa saya bocorkan bahwa di laptop tersimpan begitu banyak draf novel pada folder Ja'o Tulis yang tidak ingin saya terbitkan karena ceritanya tidak masuk akal. Semua ini gara-gara khayalan! Setiap malam sebelum tidur saya selalu menonton Upin Ipin, Larva, atau video-video inspirasi lain di Youtube sebagai prolog tidur. Saat Negara Kantuk mulai menyerang, biasanya saya membelakangi layar telepon genggam yang terus menayangkan video, sementara mata terpejam dan otak mengembara ke dunia lain. Dunia khayalan ... sampai kemudian saya jatuh tidur.

Apa isi khayalan saya?

Drakor?

Bukan!

Kisah-kisah percintaan absurd!

Laki-Lakinya Ganteng


Ini penting. Laki-laki dalam khayalan saya itu harus ganteng. Namanya juga mengkhayal. Mana mungkin saya mengkhayal pacaran dan menikah sama laki-laki yang wajahnya mirip juru bicaranya Sauron dari Lord of the Rings? Wajah gantengnyanya berubah-ubah sesuka saya. Bisa wajahnya Richard Gere, bisa juga wajahnya Orlando Bloom. Tapi akhir-akhir ini wajah seseorang di arah Barat Pulau Flores *ditampar dinosaurus*. Haha. Si laki-laki tidak boleh cerewet, jadi di dalam khayalan saya laki-laki itu pendiam tapi punya hujan perhatian. Perhatian ini kadang ditunjukkan lewat perbuatan dan perilaku, tapi bisa juga perhatian ini disembunyikan. Kalian bingung kan? Mana ada perhatian tapi disembunyikan? Pokoknya laki-laki itu harus begitu!

Selain ganteng, karena kegantengan tidak bisa bikin manusia kenyang, maka dia juga harus punya pekerjaan. Minimal punya bengkel tambal ban yang cabangnya ada di seluruh Indonesia. Haha. Saya pikir banyak perempuan juga mengkhayal tentang hal ini.

Perempuannya Berwajah Dongo


Haha. Gitu banget sih, Teh, sama khayalan sendiri. Dongo itu maksudnya si perempuan ini memang cantik, hanya saja rada bloon untuk keadaan tertentu. Ya, karena kalau laki-laki terpesona dan jatuh cinta pada perempuan cantik dan smart, itu terlalu mainstream. Perempuan yang dongo-dongo sedap bisa dilihat pada Goblin. Ha ha ha. Anyhoo, perempuannya cuma berwajah dongo ya, tapi dia harus cukup smart untuk bermanuver menghadapi sikap laki-laki ganteng itu.

Kisah (Cinta) Ajaib


Seperti layaknya Drakor, kisah cinta dalam khayalan saya itu supa ajaib. Dalam cerita berjudul Triplet, misalnya, salah satu dari tiga perempuan kembar itu punya kemampuan psikometri. Dalam dunia nyata, psikometri sulit diterima, tetapi dalam dunia khayal psikometri belum apa-apa dibandingkan para superhero. Kisah cinta di dalam Triplet bukanlah kisah cinta segi tiga melainkan bagaimana seorang perempuan harus mengalah ketika saudari kembarnya berulah hingga menyusul pula tanggung jawab besar yang harus dipikul. Termasuk perasaan. Amboi. Haha. Kalian boleh membaca Triplet yang saya bagi menjadi puluhan part. Cari saja di blog ini.

Ja'o Fonga Ne'e Kau lebih ajaib lagi. Khayalan saya menghasilkan satu draf utuh sebuah kisah cinta antara lelaki dan perempuan yang lama terpisah waktu. Naga-naganya ini juga akan menjadi latar belakang cerita baru yang sedang saya tulis berjudul Mai Ka. Ja'o Fonga Ne'e Kau diisi dengan cinta, penolakan, harga diri, egosi, cinta lagi, penolakan lagi, harga diri lagi, egois lagi, begitu seterusnya berputar-putar sampai yang baca (kalau nanti ada yang baca) merasa mual, kembung, pusing, lantas pingsan. Hehe. Ja'o Fonga Ne'e Kau tidak saya publikasikan di blog ini maupun blog manapun. Tidak juga berani saya tawarkan ke penerbit karena ceritanya terlalu absurd untuk diterima akal sehat.

Tapi, ada hal yang perlu kalian tahu tentang khayalan dan cerita-cerita yang saya tulis itu. Cinta yang sangat kuat bermain-main di sana. Iya, semuanya punya cinta yang sangat kuat sehingga saya sendiri merasa aneh. Apakah karena saya sendiri juga selalu punya cinta yang sangat kuat, yang sulit diganggu bahkan oleh lelaki paling ganteng sekalipun? Huhuy. Saya pikir, mungkin itu karena saya termasuk adalah Capricorn yang setia *keselek rambutan*. Dududu.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Sampai sekarang, meskipun tidak berbakat menulis novel, tapi saya masih ngotot menulis. Karena khayalan. Sekali lagi, karena khayalan. Sejujurnya saya ingin Mai Ka, cerita yang sedang saya tulis itu, setidaknya nanti dapat dibaca oleh lebih banyak orang. Diterbitkan sendiri maupun diterbitkan oleh penerbit. Karena Mai Ka merupakan oase yang menjawab banyak hal tentang dunia wisata di Pulau Flores. Loh? Bukan kisah cinta? Cinta selalu ada dooonk. Cinta yang kuat. Haha. Tapi dunia wisata pun memainkan peranan yang sangat kuat di dalamnya. Termasuk, nama-nama karakter yang saya pakai datang dari dunia nyata/kehidupan sehari-hari. Karena, memikirkan nama karakter sebuah cerita/novel itu juga butuh waktu yang lama untuk memikirkannya.

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernahkah khayalan kalian dijawab dengan lugas oleh Drakor? Kalau pernah, bagi tahu di komen!

#KamisLegit



Cheers.

Sebuah Catatan Akhir Tahun Untuk Saya, Kalian, Mereka


Sebuah Catatan Akhir Tahun Untuk Saya, Kalian, Mereka. Sebelumnya, ijinkan saya mengucapkan Selamat Natal untuk semua saudara/i yang merayakannya. Semoga damai Natal senantiasa memberikan kedamaian dan bersemayam pula dalam hati. Bagi teman-teman yang sudah menerima kiriman video ucapan Natal dari saya, perlu diketahui, foto kandang Natal di dalam video itu merupakan kandang Natal yang saya bikin tahun 2018 saat mengikuti Lomba Kandang Natal di Universitas Flores (Uniflor). Sayangnya tahun 2019 tidak ada lomba apapun yang diselenggarakan oleh Uniflor. Padahal sudah banyak ide berkeliaran dalam kepala saya. Haha. Gemas, pengen bisa jadi juara lagi seperti tahun 2017. Tidak adanya lomba ini dikarenakan sepanjang tahun 2019 hingga Juli 2020 nanti, Uniflor sudah mempunyai seabrek kegiatan menyongsong Panca Windu-nya.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Sebentar lagi kita bakal say goodbye sama tahun 2019. Kalian sudah bikin resolusi? Saya sendiri belum bisa membikin resolusi karena sepertinya resolusinya tidak jauh berbeda dengan resolusi yang saya bikin tahun lalu. Terutama, masih tetap nge-blog! Ya, ya, ya, meskipun tidak banyak bolongnya, tapi saya akui aktivitas nge-blog saya di tahun 2019 ada bolongnya sehari dua. Maklumi, kesibukan itu ternyata memang terlalu banyak mengambil waktu saya dalam sehari. Terutama kesibukan mengalahkan clan Lotus, Serphent, dan Wolf, karena saya pemakai Dragon. Haha. Cuma anak Battle Realms yang paham *ngakak guling-guling*. Jangan terlalu serius membaca tulisan saya, banyak jumpscare dan twist-plot-nya.

Mari kita mulai catatan akhir tahun ini ...

Revolution


Pada tahun 2018 saya menulis resolusi. Pada tahun 2019 resolusi itu dijalankan dengan bumbu revolusi. It's like make a resolution, do revolution, then. Dalam arti yang sesungguhnya, revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Dalam kehidupan saya sepanjang 2019, revolusi terjadi dengan satu cara saja yaitu tanpa kekerasan. Saya menyebutnya revolusi hidup. Saya pikir semua orang pasti punya revolusi hidup. 

Revolusi hidup yang saya maksudkan ini adalah menjadi seseorang yang bisa menerima. Apapun yang terjadi, saya harus berusaha untuk bisa menerimanya. Terima kasih, hidup. Telah mengajarkan saya untuk lebih mengenali diri sendiri, untuk lebih tahu diri, untuk lebih bisa menerima apapun yang digariskan Tuhan untuk saya. Kalau kata Sheila On 7, Terima Kasih Bijaksana.

Responsibility 


Seiring dengan bertambahnya usia (ini tulisan ikut orang-orang, biar kelihatan bijak) maka mengikuti pula tanggung jawab besar yang harus dipikul. Tanggung jawab ini tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan utama, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan sekitar, pergaulan, dan perasaan.

Di awal tahun saya diberikan tugas dan tanggung jawab mempromosikan Uniflor di semua SMA sedaratan Flores dan sekitarnya (ada anggota Tim Promosi Uniflor yang bahkan ke Pulau Lembata, Pulau Adonara, dan Pulau Solor). Senang? Tentu. Bekerja sekaligus jalan-jalan, pun mengumpulkan materi untuk blog travel I am BlogPacker. Menyusulinya, masih banyak tanggung jawab lain yang alhamdulillah mampu dikerjakan-diselesaikan dengan baik, baik itu tanggung jawab pekerjaan di sekitar kampus maupun pekerjaan kantor yang mengharuskan saya ke luar kota. Bagi saya pekerjaan adalah hobby. Dan, tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak menyukai hobby-nya sendiri kan? Saya pikir kalian juga sependapat dengan hal ini. Insha Allah masih terus bisa melakukannya di tahun-tahun yang akan datang.

Dari dunia komunitas, dimana saya sendiri sudah berjanji untuk tidak mau berkomunitas lagi, saya menyeret diri sendiri untuk turut membangun dua komunitas. Ada kata 'turut' sehingga kalian salah kalau berpikir saya sendiri yang membangunnya. Yang pertama, Stand Up Comedy Endenesia. Yang kedua, Exotic NTT Community. Keduanya punya gaya yang berbeda. Berbeda dari lini komunitas yang sebelumnya saya bangun dan/atau ikuti. Bukan komunitas blog, bukan komunitas self improvement, bukan komunitas charity, dan lain sebagainya. Stand Up Comedy Endenesia dan Exotic NTT Community mengantar warna baru dalam hidup saya yang ringih ini. Sayangnya, karena kesibukan yang lagi-lagi menyita begitu banyak waktu, saya agak abai dengan Stand Up Comedy Endenesia. Tidak mengapa, yang pasti masih tetap bersama mereka semua. Sementara itu, Exotic NTT Community yang baru seumur jagung, lebih mudah bersamanya karena base camp sementara masih di rumah saya. Haha.

Bagaimana dengan ranah asmara? Banyak yang menulis resolusi #2019GantiStatus (dari belum kawin menjadi kawin) sementara saya menulis #2019TetapNge-blog. Mungkin karena feeling saya mengatakan bahwa 2019 status KTP masih akan sama (itu KTP seumur hidup, hiks). Saya bukan tipe manusia yang suka memburai-burai kehidupan pribadi terutama asmara di muka publik. Yang jelas, saya cukup bertanggungjawab terhadap perasaan sendiri sehingga tidak perlu terjadi silang-sengketa dengan pihak manapun. Termasuk mantan. Ahaaayyy!

Lingkungan keluarga besar Pharmantara juga semakin mendewasakan saya sebagai bungsu dari pasangan kesohor *ngikik* Asmady Pharmantara dan Regina Bata. Meskipun di dalam keluarga kami harus ada yang berpisah tetapi banyak yang semakin erat. Di akhir tahun 2019, tepatnya 30 November, my Mom lost her sight. But it's okay. Believe or not, I'm much better prepared for this condition than 2009 when stroke attacked her. Kami semua mencintainya. Tentu. Dan sebagai bungsu yang masih belum mandiri, karena masih tinggal bersamanya di Pohon Tua, saya benar-benar siap melayaninya. Dia adalah ratu. Kalau dipikir-pikir, ini juga sekalian latihan. Latihan mengurus baby seandainya Allah SWT menganugerahkannya pada saya. Haha. Laki saja belum punya, malah memikirkan baby. Psssttt! Mengkhayal itu perlu kan yaaaaa.

Reborn


Tahun 2020, bagi saya pribadi, akan menjadi tahun dimana saya (merasa) terlahir kembali. Terlahir kembali setelah begitu banyak tempaan pengalaman hidup di tahun 2019. Kalau tidak ada tempaan, tidak ada cerita. Bukan begitu? Ya, begitu! Hehe. Konsep terlahir kembali merupakan konsep paling sederhana; mencerminkan aura positif. Tidak ada orang yang mau terlahir kembali sebagai penjahat. Kira-kira begitu. Sama juga, terlahir kembali tanpa harus mati terlebih dahulu, bermakna kita ingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Menjadi lebih baik berarti harus mengubah apa yang selama ini dalam pandangan kita: tidak baik. Sederhana memang. Tapi, mungkin untuk mewujudkannya butuh langkah-langkah yang besar.

Terlahir kembali menjadi manusia yang sabar.
Terlahir kembali menjadi manusia yang bisa menekan ego.
Terlahir kembali menjadi manusia yang lebih penyayang.
Dan lain sebagainya.

Ah, menulis tentang ego. Saya memang masih belum sepenuhnya mampu mengendalikannya. Egobender wannabe. Hahaha. Makanya tahun 2020 harus bisa menekan ego sedapat-dapatnya. Karena apa? Karena seorang bungsu terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkan. Kalau kalian bilang tidak, saya bilang iya. Karena saya adalah bungsu. Ingin dimanja? Iya. Ingin diperhatikan? Apalagi! Dan satu keinginan yang paling absurd dari seorang bungsu bercampur Capricorn adalah ingin orang lain tahu apa yang diinginkannya tanpa dia harus meminta atau bicara. Itu kan koplak. Hehe. Iya, saya harus mengakui bahwa saya ego dan koplak sekaligus. Padahal orang lain bukan dewa yang punya kemampuan membaca perasaan. Dududu.


Semua yang ditulis di atas semata-mata tentang saya, sedangkan judulnya adalah Sebuah Catatan Akhir Tahun Untuk Saya, Kalian, Mereka. Di mana kolerasinya? Kolerasinya terletak pada pembelajaran. Apa yang saya alami selama tahun 2019, bisa menjadi pembelajaran untuk diri saya sendiri, kalian, dan mereka. Karena, sebagai penghuni semesta kita akan terus belajar terutama dari pengalaman masing-masing, dan tentu belajar dari pengalaman orang lain. Kenapa kita harus belajar dari pengalaman? Karena pengalaman akan membikin kita melakukan revolution yang responsibility dan menjadikan kita manusian yang reborn.

Punchline-nya asyik juga. Hahahaha.

Baca Juga: Bisakah Saya Berhenti Berpikir dan Bersikap Konyol?

Terakhir, untuk kalian semua yang membaca tulisan ini. Marilah kita terus menjaga tali silaturahmi, apapun kondisinya, karena itu salah satu hal yang ingin terus saya upayakan di tahun-tahun yang akan datang. Termasuk, memperbaiki tali silaturahmi yang rusak. Ijinkan saya menutup tulisan ini dengan mengucapkan: selamat menikmati akhir tahun yang legit bersama keluarga, teman-teman, tetangga, orang-orang tersayang. Jangan lupa berdoa agar tahun depan kita masih dapat menikmati akhir tahun yang sama legitnya.

Selamat tinggal 2019.
Terima kasih 2019.

Dan ya, #2020TetapNge-blog!



Cheers.

Bisakah Saya Berhenti Berpikir dan Bersikap Konyol?


Bisakah Saya Berhenti Berpikir dan Bersikap Konyol? Suatu kali ada seseorang, entah siapa saya lupa, yang bilang ke saya: sudah, stop diet, kamu itu jelek banget kalau kurus! Omongan itu semacam kalimat ampuh yang terlontar dari bibir pengacara kondang. A-ha! Mari makan, mari ngemil, karena kalau kurus saya jelek *digampar dinosaurus*. Tapi bukan karena omongan itu kemudian tubuh saya menjadi sulit mengempes. Mengempes atau mengempis? Dasarnya tulang saya yang gemuk. Haha. Yang jelas, porsi makan saya normal seperti rakyat jelata pada umumnya, porsinya sedikit tapi tambah terus *muka serius*. Hei kamuuuu yang mau pedekate jangan mundur doooonk. Seriusnya, yang jelas porsi normal atau sedikit lebih banyak, tubuh saya begini-begini saja.

Baca Juga: 5 Perkara yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan

Ketika suatu kali saya memasang wajah super serius, ada yang menyeletuk: tidak cocok! Haha. Mau tidak mau saya tertawa mendengarnya. Nampaknya wajah saya ini dari keluaran pabrik memang tidak digariskan untuk menjadi terlalu serius. Sama seperti otak saya yang sering sekali keluar dari jalur. Maksudnya sering banget otak saya ini mendadak mengalami jalur sibuk dimana orang lain sedang ngomong serius ke saya tetapi otak saya fokus memikirkan hal lainnya yang bisa jadi penting bisa jadi sangat remeh. Jadi, tidak ada salahnya kalau sedang mengobrol dengan saya kalian bertanya: lu dengerin nggak, Teh!? Sumpah, saya tidak akan tersinggung kalau kalian bertanya begitu, karena saya sendiri juga tidak kuasa menahan otak saya memasuki jalur sibuk.

Sama juga, untuk peristiwa-peristiwa penting lainnya, seringkali saya berulah konyol sampai pernah dikeplak sama Kakak. Tapi sebenarnya konyol ini bukan disengaja. Lhaaaa bemana lagi ... saat sedang Yassin-an sekeluarga besar mendadak saya tertidur begitu saja. Duhai, entah apa yang merasuki saya saat itu. Kepala saya dikeplak *ngakak guling-guling*. Atau, saat sedang santai bersama teman-teman, saya menyumpal kedua lobang hidung dengan tisu sampai yang melihat terkejut. Untungnya mereka sudah tahu perihal kekonyolan ini sehingga tidak sampai lah mereka mengeplak kepala saya.

Ternyata, urusan berpikir dan bersikap konyol ini merembet ke ranah nyaris-asmara. Pasti kalian bakal bilang: kok bisa? Ya, bisa. Jangan diikuti jejak konyol ini, karena kalau iman kalian tidak kuat, resiko silahkan tanggung sendiri.

Pada dasarnya saya suka berkhayal. Menulis fiksi memang butuh khayalan tingkat tinggi. Konyolnya, kalau sedang berkhayal saya tidak mengenal tempat. Kakak ipar saya, Mbak Wati, cuma bisa mengelus dada waktu melihat saya menyapu rumah sambil mulut komat-kamit. Dikiranya saya sedang membaca mantera, ternyata saya sedang bercerita. Coba kalian bayangkan, sambil menyapu rumah saja otak saya menyusun cerita asmara (fiksi)! Paling parah, saya menyusun fiksi saat sedang kendarai sepeda motor, terutama ke luar kota. Makanya, kalau hendak ke luar kota mengendarai sepeda motor sejak dari rumah sudah saya mulai Ayat Qursi agar keterusan dan otak saya tidak liar ke arah jalur sibuk.

Balik lagi ke urusan berpikir dan bersikap konyol yang merembet ke ranah nyaris-asmara. Otak saya itu sering banget ngelantur ke mana-mana. Waktu ada yang pedekate, baru pedekate nih, otak saya sudah menampilkan seseorang (lelaki dong) datang ke rumah secara mendadak, bawa batako buat lemparin kepala saya terus bilang pengen ngelamar. Tidak berhenti di situ! Cerita fiksi itu mulai dirangkai satu per satu. Mulai dari pedekate, pacaran, proses lamaran, menikah, punya anak, cek-cok, sampai manajemen emosi saya dan dia. Ya ampuuuun! Itu konyol sekali kan, kawan? Belum berhenti sampai di situ! Saat si dia berhenti pedekate alias menghilang pun otak saya masih melanjutkan cerita fiksi itu. Berulang-ulang.

Konyol to the max.

Nampaknya berpikir dan bersikap konyol sulit sekali terurai dari pribadi saya. Entah mengapa, otak saya begitu saja bermain liar, berkhayal, mengarang cerita fiksi. Untungnya, saya tidak terbawa pada kerja otak yang seperti itu. Maksudnya, saya tidak sampai berhalusinasi apalagi mengalami delusi. Hahaha. Bisa dibayangkan kalau itu terjadi? Tingkat konyolnya di atas pencapaian maksimum standar hidup manusia *ngakak guling-guling*.

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Apakah kalian juga mengalaminya? Kalau iya, artinya saya tidak sendiri. Tapi berpikir dan bersikap konyol ini ada manfaat positifnya. Misalnya, saat ini saya harus lebih intens merawat Mamatua karena kedua matanya kehilangan penglihatan. Pola berpikir dan sikap yang konyol ternyata sangat membantu menghibur beliau yang sangat kami sayangi itu. Misalnya selalu bertanya tentang biodata-nya beliau sendiri, mengajaknya bernyanyi, mencoba menggodanya dengan kalimat-kalimat konyol, dan lain sebagainya. Bagi saya, orang sakit tidak butuh dikasihani. Orang sakit butuh dihibur, terutama dengan hal-hal konyol-positif, agar semangat mereka tetap membara untuk menjalani hidup. Setidaknya, meskipun saat ini Mamatua praktis harus diurus a to z, tapi otak dan bibirnya tidak berhenti bekerja. Mamatua masih bisa bercerita tentang masa lalu, masih bisa meraba-raba kami yang duduk di dekatnya, masih bisa bercerita, berkomentar ini itu, bahkan menggoda Mamasia dan Mamalen yang senantiasa membantu kami mengurusinya.

Hati yang gembira adalah obat ~ H. J. Gadi Djou.

Life is good!

Kembali ke judul; bisakah saya berhenti berpikir dan bersikap konyol untuk semua lini kehidupan saya? Belum bisa. Kalau saya berhenti berpikir dan bersikap konyol ... bukan saya namanya. Haha.

Semoga bermanfaat!

#KamisLegit



Cheers.