English Day in SMAK Tarvid



Sejak dua Minggu lalu dicanangkan setiap Rabu sebagai English Day oleh Gubernur NTT, begitu banyak status pro - kontra bertebaran di lini media sosial. Facebook, terutama. Karena sebagian besar teman daring sama khusus Facebook itu berasal dari Kabupaten Ende dan sekitarnya. Antara setuju dan tidak, seimbang, sama seperti seimbangnya perasaankyu padamyu, hahahaha.

Rabu kemarin, sesuai tugas, saya pergi ke SMAK Taruna Vidya atau sering disingkat Tarvid. Langkah pertama turun dari Onif Harem, kami disambut seorang Ibu Guru berwajah manis nan ramah dengan bahasa Inggris!

"Hallo! Come in, please!"

Saya baru ngeh ternyata hari Rabu, harinya bahasa Inggris! Dengan patah-patah saya menjawab haha. Duh Tuhan, malu lah kalau sampai tidak bisa sekadar percakapan umum tentang kedatangan kami di SMAK Tarvid. Dan saya kaget juga karena Bapak Kepseknya pun berbicara bahasa Inggris. Kece badai, Pak. Yakin bisa, grammar yang salah tidak mengapa, yang penting maksudnya dipahami oleh lawan bicara. Saya pikir cukup lah.

Setelah saya menulis status di Facebook, ada yang menanggapi, nama Ibu ini adalah Ibu Deny. Orangnya memang terkenal ramah dan baik, serta smart. Tentu saja. Saya merasakannya saat beliau menyambut serta mengantar kami ke kelas XII. Saya pikir guru-guru muda nan gaul alias paham sama dunia anak muda inilah yang lebih banyak dibutuhkan hahaha.

Pulang ke rumah, sudah agak malam begitu, saya terkejut karena Mamatua berbicara dengan bahasa Inggris pun. Wuahahahaha. Silahkan lihat videonya di laman Facebook saya. Siapa tahu kalian terhibur 😁 qiqiqiq.


Cheers.

Ponpes Walisanga yang Penuh Warna


Setelah Senin mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) di Kabupaten Nagekeo, sekalian menikmati Jalan-Jalan Kerja yang cihuynya luar biasa itu, hari ini saya menjalankan tugas menuju SMA-SMA di wilayah Kabupaten Ende bagian kota. Bersama Om Ihsan dan Ibu Neneng, kami saling berbagi sekolah dan kasih sayang, hahaha. Masing-masing mendapat jatah enam SMA. Tidak perlu menunggu dinosaurus ngajak traveling ke Alaska, setelah logistik terpenuhi, saya (mengajak Thika) berangkaaaaaat!

Baca Juga: 5 Manfaat Teh Rossela

SMA Apa Saja?


Ada enam SMA dan/atau sederajat yang surat penunjukannya saya pegang. Daftar sekolah-sekolah itu antara lain:

1. MAS Ponpes (Pondok Pesantren) Walisanga Ende.
2. SMA Negeri 2 Ende.
3. SMK Perikanan Tarbiyah Ende.
4. SMA Swasta Adhyaksa Ende.
5. SMA Katolik Taruna Vidya Ende.
6. SMA Katolik St. Petrus Ende.

Melihat nama MAS Ponpes Walisanga tertera di salah satu amplop, saya langsung membayangkan wajah Kakak Noka Eka, pemilik dan pengurus yayasannya. Di tangan Kakak Noka inilah kondisi Ponpes Walisanga menjadi begitu hidup dan penuh warna. Jiwa membangunnya luar biasa. Kerja sama antara Ponpes Walisanga dengan pihak luar, termasuk bantuan dan hibah ini itu, pun terjalin dengan sangat baik dan manis. Saya mengikuti perkembangan Ponpes Walisanga dari Cahyadi, tukang syuting andalan, karena dia juga beraktivitas di Ponpes Walisanga. Sudah lama saya belum pergi ke Ponpes Walisanga.

Maka, saya memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke pondok pesantren sekaligus sekolah yang berdiri gagah di kaki Gunung Meja itu.

Tourist Information Center Gunung Meja


Sebelum memasuki lokasi Ponpes Walisanga, sekitar limapuluh meter, ada satu bangunan berdiri. Sudah lama juga bangunan ini diresmikan tapi sayanya saja yang belum pernah datang ke sini. Iya, kan sudah saya tulis di atas, sudah lama saya tidak ke Ponpes Walisanga.


Saya belum tahu apa manfaat dibangunnya tempat ini. Karena, bagian dalam (mungkin perkantoran) sangat sepi alias tidak ada petugas sehingga saya tidak bisa bertanya-tanya untuk menggali lebih dalam informasi. Saya lihat, tempat ini seperti tidak dirawat karena rumput-rumput liar tumbuh subur dengan riang-gembira. Ya sudah, mari lanjutkan perjalanan ke tujuan utama ... urusan ini bisa dituntaskan lain waktu.

Ponpes Walisanga yang Penuh Warna


Sudah lama saya tidak ke Pondok Pesantren Walisanga yang terletak di kaki Gunung Meja ini. Sudah tiga kali menulis ini, haha. Begitu memasukinya, seperti gambaran di dalam kepala saya berdasarkan cerita dari Cahyadi dan foto-foto di Facebook, tempat ini sungguh luar biasa!

Lingkungan Ponpes Walisanga dari kejauhan.

Saya bertemu guru yang kemudian mendampingi saya mempromosikan Uniflor di kelas 12 MAS Ponpes Walisanga. Setelah promosi, saatnya mengeksplor sekitaran pondok pesantren, tetapi sayang tidak bisa semuanya meskipun ingin sekali pergi ke kebun-kebun mereka, karena waktu yang tidak mengijinkan. Masih ada SMA lain yang menanti.


Ponpes Walisanga, oleh Kakak Nona Eka, diubah menjadi sangat memikat dengan warna-warna cerah hampir setiap incinya, termasuk masjid. Belum lagi, sebagai orang yang saya tahu sangat kreatif, Kakak Nona Eka juga membikin banyak spot foto yang Instagramable menggoda iman. Salah satunya bisa kalian lihat pada foto di atas. Sore-sore duduk ngopi di situ ... sambil kerja ... suasana tenang ... huhuy!

Cahyadi kemudian mengajak saya ke tamannya. Menurut Cahyadi, salah seorang anak Kakak Nona Eka bakal bikin kafe di taman tersebut. Nah, ini yang keren. Selama ini kan si beliau punya angkringan di Jalan Soekarno - Ende. Kalau bikin kafe di taman ini kan bagus juga, tinggal mencari 'suguhan unik' lain apa yang mau ditawarkan ke pengunjung. Misalnya pengalaman berkebun, pengalaman berkreasi DIY, atau apalah. Boleh juga ada suguhan kesenian dari anak-anak pondok pesantren. Yang penting jangan hanya menu makan dan minum karena makan dan minum bisa diperoleh masyarakat di wilayah kota tanpa perlu harus pergi ke kaki Gunung Meja.



Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya tidak bisa berlama-lama di Ponpes Walisanga karena harus melanjutkan tugas ke SMA lainnya. Tapi saya bakal kembali ke sini. Pokoknya. Hehe *seret dinosaurus*.

Masa SMA yang Seru


Pergi ke empat sekolah lainnya, kemudian - setelah dari MAS Ponpes Walisanga, saya membayangkan masa SMA yang seru. Yaaaaa kan dulu saya juga pernah SMA haha di SMA Negeri 1 Ende. Menjadi anak putih - abu-abu itu super cool. Karena apa? Karena tiga tahun menjadi anak putih - biru. Cukup membosankan. Hahaha. Bukan ... bukan itu saja. Menjadi anak putih - abu-abu, waktu itu, membayangkan sudah diijinkan punya gebetan. Ternyata ... tidak. Orangtua saya tidak mengijinkannya. Manapula kakak lelaki saya pada suka melotot parah. Huhuhu.

Keseruan terutama saya peroleh saat mengunjungi SMA Katolik Tarvid. Karena ini Rabu, yang oleh Gubernur NTT dicanangkan sebagai English Day, maka kami disambut dengan bahasa Inggris oleh guru-guru di sana. Termasuk Bapak Kepseknya juga! Meskipun ada salah-salah kata, tapi Bapak Kepsek ini sungguh bikin kagum. Prinsip kami sama. Ini English Day, bukan Grammar Day. Jadi boleh saja berbicara bahasa Inggris meskipun patah-patah qiqiqiq. Toss dulu donk, Bapak. Yang penting kan tidak merugi. Toh hanya disuruh bicara bahasa Inggris, tidak mesti harus sesuai aturan baku. Ya kan ya kaaaan.

Memasuki salah satu kelas 12, saya teringat masa SMA dulu, karena masih jeda pelajaran ... ribut dan saling goda itu pasti terjadi. Ya ampuuun! Jadi kangen sama teman-teman SMA Kelas 3 Bahasa dulu! Kelas paling eror! Hahaha. Ada murid yang suka godain temannya, ada murid yang (tadi duduk paling depan) sibuk membaca, ada yang mengobrol riuh. Pokoknya seru memang masa SMA. Duhai, adik-adik tercinta, suatu saat nanti kalian akan merindukan kekonyolan masa SMA ini. Sumpah. Percayalah sama Presiden Negara Kuning.


Dari enam SMA, masih ada satu SMA lagi yang belum sempat saya datangi yaitu SMA Katolik St. Petrus yang bertetangga sama Bandara H. Hasan Aroeboesman. Insha Allah ... besok.

Baca Juga: 5 Manfaat Buah Mengkudu

Dan bagi kalian yang baru hari ini membaca blog ini lagi, pasti bingung kenapa Rabu tidak ada tips kesehatan? Baca pos ini: Uniflor Goes to School untuk tahu mengapa kebiasaan selama ini berubah (tanpa tema harian). Tenang saja, ini tidak selamanya kok, setelah 20 Februari nanti saya Insha Allah bakal kembali dengan pos-pos bertema. Hehe.

Selamat beraktivitas, kawan!



Cheers.

Di Nagekeo Hati Saya Tertambat



Kemarin, Senin 4 Februari 2019, sekitar pukul 06.10 Wita, Onif Harem saya pacu menuju arah Barat Pulau Flores. Di belakang saya Thika Pharmantara, keponakan cantik itu huhuhu, duduk manis di boncengan dengan tenang sambil berharap Encimnya tidak mendadak diserang kantuk. Perjalanan ini adalah perjalanan dinas, pekerjaan khusus mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) kepada murid kelas 12 atau Kelas 3 di SMA-SMA se-Pulau Flores dan sekitarnya. 

Baca Juga: 1 Video, 3 Aplikasi


Sarapan Jagung Pulut Rebus


Tiba di Aigela sekitar pukul 07.00 Wita, percabangan menuju Kabupaten Ngada dan menuju Ibu Kota Kabupaten Nagekeo (Kota Mbay), kami memutuskan untuk beristirahat sejenak demi menghangatkan perut yang terasa dingin dan kesepian. Sebenarnya Thika membawa bekal nasi dan nugget, tapi entah dia lebih memilih jagung pulut rebus. Saya sendiri lebih membutuhkan secangkir kopi panas. Beruntung satu lapak sudah dibuka sehingga bisa menikmati jagung pulut rebus dan secangkir kopi yang rasanya ... tidak ada lawan. Sambalnya ini yang bikin Thika tidak nyenyak tidur, terbayang-bayang di lidah. Haha.


Rombongan yang menggunakan bis Tim Promosi Uniflor 2019 telah tiba di Kota Mbay. Artinya kami harus bergegas. Jalanan dari cabang Aigela menuju Kota Mbay telah jauuuuh lebih bagus. Ngebut? Pasti. Tapi hati-hati hewan seperti anjing dan kambing yang piknik pagi di jalanan. Kalau mendekati Kota Mbay (sampai menuju Riung) itu lebih banyak kambing dan sapi.



Memasuki Ibu Kota Nagekeo ini sekitar pukul 07.45, dari ketinggian tempat bukit-bukit sabana terlihat menawan, Kota Mbay yang bertopografi datar terlihat jelas. Kami hampir saja ditilang di dekat Kantor Bupati Nagekeo, untung mata saya masih bisa awas, lantas mencari jalur belakang yang memutar. Haha.

Tiba di rumah Pak Selis, salah seorang dosen Uniflor, koordinator lapangan yaitu Ibu Juwita mulai membagi tugas. Siapa yang ke sekolah A, siapa yang ke sekolah B, dan seterusnya. Tetapi karena minimnya kendaraan, tim tidak bisa dipecah begitu saja. Hitung-hitung, hanya ada dua kendaraan yaitu bis Tim Promosi Uniflor 2019 dan Onif Harem milik saya. Akhirnya saya (ditemani Thika) yang adalah penyusup untuk Tim Barat ini mendapat jatah tiga sekolah di luar Kota Mbay yaitu di Kecamatan Aesesa dan Marpokot, sedangkan anggota tim yang lain mendapat jatah tiga sekolah di wilayah Kota Mbay.

Okay. Mari berangkat!

SPBU Yang Dijual


Di Tengah jalan saya bertemu dengan Tim Kreatif, Cesar dan Roland, yang akhirnya mereka berdua mengikuti saya ke Aesesa dan Marpokot.


Usai kunjungan ke tiga sekolah yaitu SMKN 1 Aesesa, SMAS Katolik Stella Maris, dan MAS, kami kembali ke rombongan untuk makan siang. Padahal kami sudah duluan makan sih, soalnya Cesar dan Roland benar-benar sakau kopi. Karena rombongan  masih menunggu makan siangnya, saya pergi ke rumah keponakan di wilayah Towak (arah menuju Riung). Oia, foto SPBU yang dijual di atas, membikin saya memaksa Cesar dan Roland untuk mengekori hahaha, pengen difoto di situ pokoknya! Unik sih hehe, karena kan biasanya yang dijual itu bensin dan solar, bukan SPBU. Sayang ya SPBU ini dijual. Entah kenapa.

Pustu Towak


Towak merupakan wilayah Kabupaten Nagekeo yang letaknya berada di jalan Trans Mbay - Riung. Untuk diketahui, Riung yang terkenal dengan Taman Laut 17 Pulau Riung itu, berada di wilayah Kabupaten Ngada bukan Kabupaten Nagekeo. Rumah keponakan saya Iwan, dan istrinya Reni, merupakan rumah dinas dari Pustu Towak karena Reni adalah bidan yang bertugas di situ. Di sana sudah menanti pula dua cucu saya yang luar biasa bikin kangen Andika dan Rayhan *peluk-peluk*. Begitu melihat saya dan Thika mereka langsung teriak, "Oma Enciiiimmm!!!!" Haha.

Rumah ini berada di tengah ladang milik masyarakat dengan jarak rumah lumayan jauh-jauhan. Mulailah kami mengobrol ngalor-ngidul, saya terkaget-kaget waktu ada tetangganya yang datang mengantar ikan segar hasil memancing di laut, terpikat sama rasa kopinya, dan direcoki sama dua penjahat cilik Andika dan Rayhan. Saat sedang mengobrol (obrolan yang super lama dari pukul 13.00 Wita sampai sekitar pukul 15.00 Wita), Iwan pamit membantu tetangganya yang sedang mengumpulkan kembali padi (yang dijemur) untuk disimpan di gudang. Maklum, cuaca sedang mendung. Dari Iwan pula saya peroleh banyak cerita tentang dirinya yang tidak pernah kesulitan beras karena selalu dibagi sama tetangga yang punya sawah berhektar-hektar. Kata Reni, "Encim, kami tidak pernah susah beras dan sayur. Ikan pun sering dapat murah."


Di atas, foto saat nyaris selesai menyimpan padi (tepat di depan rumah Iwan dan Reni). Untung masih sempat fotoin hehe. Saya pergi ke tempat ini setelah Cesar dan Roland menyusuli kami ke Towak karena mereka bosan di hotel; penginapan tim kami yaitu Hotel Pepita.


Ada yang tahu nama tanaman ini? Saya pernah memotretnya di Ende, di wilayah Nangaba. Kalau di sekitar rumah Iwan dan Reni, tanaman ini tumbuh subuuuurrrrr dan super banyaaaaak. Selain itu, pohon marungge/kelor pun jangan ditanya, di belakang rumah juga tumbuh pohon marungge. Makanya Reni bilang beras dan sayur tidak pernah kesusahan. Jadi iri maksimal! Sayangnya Reni tidak sempat memasak sayur marungge untuk kami.

Bukit Weworowet


Noviea Azizah adalah puteri Mbay yang adalah lulusan Prodi Sastra Inggris Uniflor tahun 2018. Novi tiba di rumah Iwan dan Reni sekitar pukul 16.30. Kami lantas pamit pada Iwan, karena Reni sedang pergi ke Posyandu, untuk pergi ke Bukit Weworowet. Ini memang sudah niat. Jarak tempuh menuju Bukit Weworowet ini hanya sekitar duapuluh menit dari Towak. Bukit Weworowet terletak di Desa Waekakok, masih wilayah Kabupaten Nagekeo.


Dulunya bukit ini saya tulis Bukit Robert ternyata saya salah ha ha ha. Anggap saja kesalahan telah diperbaiki ya.




Saya sering foto-foto di sini, zaman dahulu, waktu masih rajin ke Riung buat mengantar teman-teman traveler. Weworowet semacam ikon antara Mbay - Riung yang sulit diabaikan karena keindahannya. Dulu, dari sudut tertentu bukit ini nampak seperti lelaki yang sedang tidur. Dan kalau beruntung, kalian bisa menikmati bunga-bunga kuning yang tumbuh di kaki bukit.

Silahkan nonton video berikut ini:


Dari sudut lain, Bukit Weworowet akan terlihat seperti gambar di bawah ini:

Ini sih rumah impian!

Ausam sekali, kawan. Tak terbantahkan! Kata Novi, dia dan komunitas kreatifnya memang hendak membangun kafe di spot tempat kami memotret si bukit. Aduuuuh saya bakal jadi orang pertama yang ngopi-ngopi di situ!

Dari Bukit Weworowet kami diajak ke sebuah embung yang saya lupa namanya haha.


Puas melihat-lihat, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Soalnya matahari juga sudah mulai tenggelam. Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang, bersama-sama ...

Bebek dan Ikan Panggang


Tiba di Towak saya melihat Iwan sedang mengangkat kayu-kayu ... ternyata di belakang rumah sedang terjadi pembakaran haha. Reni sedang meracik bumbu. Mari membantu supaya lekas selesai. Diiringi dengan listrik padam (sekitar setengah jam), dan Iwan menjemput Deni di Hotel Pepita, jadilah malam itu kami menikmati suguhan yang luar biasa memikat lidah. Orang Flores memang luar biasa kalau sama tamu, apalagi kalau tamunya itu masih berpangkat Encim hahaha.


Wah, lupa foto bebek panggangnya (kelihatan paling sudut tuh). Tak apalah. Oia, kata Iwan, "Encim, untung sekarang belum musim domba, kalau tidak ... Encim harus rasakan daging domba sini ... wuih!" Tenang saja, anak ... ke Towak saya akan kembali! Haha *ketawa raksasa*.

Selesai makan malam kami masih mengobrol tentang yang horor-horor bikin ngeri karena sekitar rumah Iwan kan gelap gulita (ladang), terus balik ke Hotel Pepita, sekitar pukul 23.00 Wita. Tapi di Kota Mbay masih lumayan ramai karena sedang ada pasar malam. Sayang saya tidak mampir ke pasar malam padahal sudah diajak Novi. Lelah cuy!

Hotel Pepita


Nanti ya baru saya menulis tentang hotel ini. Yang jelas hotel ini bagus, pelayanan bagus, sarapan enak ... dan nyaman lah.






Saatnya pulang ke Ende!

Sebenarnya, sebagai anggota susupan di Tim Barat, saya diperbantukan dari Kabupaten Nagekeo hingga Kabupaten Ngada tepatnya di Mataloko. Tapi karena mengingat SMA-SMA di Kota Ende sendiri sangat banyak (apalagi Kabupaten Ende -  kecamatan di luar kota), saya harus segera pulang ke Ende supaya Rabu bisa melaksanakan tugas utama. Kan tidak lucu, tugas bantuan terselesaikan dengan baik, tugas utama malah keteteran. Dududud.

Selasa, 5 Februari 2019, Hari Raya Imlek, saya dan Thika kembali ke Ende sedangkan bis Tim Promosi Uniflor 2019 berangkat ke Mataloko untuk meneruskan tugas hingga ke Labuan Bajo. Sepulang mereka dari Labuan Bajo nanti, kami akan sama-sama pergi ke Kota Maumere dan Kota Larantuka bersama Tim Timur (jika berkenan) sedang tim yang 'menjelajah' Pulau Lembata dan Pulau Adonara telah melaksanakan tugas pada hari yang sama.


Seperti yang sudah saya tulis di pos sebelumnya, karena kondisi sedang dalam masa tugas, saya tidak mengepos seperti biasanya (tema harian). Supaya ide dan cerita tidak menguap dari benak. Dan tentu saja akan lebih banyak foto hahaha. Namanya juga Jalan-Jalan Kerja *ngikik*. 

Baca Juga: Inovasi Joseph Joseph

Semua yang saya tulis hari ini masih general saja, belum bisa mengulas satu-satu, belum mengulas lebih detail, tentu juga tentang Presiden Kuning yang 'menemukan' kerajaannya. Nanti deh kalau sudah punya lebih banyak waktu. Yang jelas, hati saya tertambat di Nagekeo, sejak dulu dan belum berubah sampai hari ini. Kabupaten ini menawarkan sejuta pesona ... dan saya terpesona sungguh.

Terima kasih masih menyempatkan diri main-main ke blog ini :D



Cheers.

Uniflor Goes to School


Menjadi anggota Tim Promosi Universitas Flores (Uniflor) bukan sesuatu yang baru bagi saya dan dinosaurus. Selain mempromosikan Uniflor melalui tim khusus yang dibentuk setiap awal tahun dimana pada tahun 2015 saya ditugaskan mempromosikan Uniflor ke Pulau Sumba, tugas utama saya memang untuk mempublikasikan semua kegiatan Uniflor kepala khalayak karena saya bertugas di UPT Publikasi dan Humas Uniflor misalnya melalui koran lokal melalui rubrik kerja sama, saya juga menjadi admin dari beberapa akun media sosial, dan bersama Kakak Rossa Budiarti kami menjadi penulis berita di website Uniflor. Pekerjaan mempublikasikan sesuatu memang sudah mendarah-daging dan sulit dipisahkan. Haha.

Baca Juga: Mamatua Project

Surat tugas dan SK sudah dikeluarkan dengan jangka waktu tugas 31 Januari 2019 s.d. 20 Februari 2019. Jangan dipikir itu waktu yang lama karena melihat daftar sekolah, misalnya yang di Kabupaten Ende saja, sudah membikin nafas ngos-ngosan. Lebay but almost true haha. Sabtu kemarin, untuk mengisi kekosongan kegiatan meskipun aslinya daftar recana di T-Journal lumayan padat, usai kegatan Millenial Road Safety di Jalan El Tari, saya memutuskan untuk mengantar surat ke beberapa sekolah. Lumayan jika bisa memasuki dua tiga sekolah. Pak Yance, Ketua Panitia Tim Promosi Uniflor 2019, lantas menyarankan saya dan beberapa teman yang ikut untuk memakai bis Tim Promosi Uniflor saja. Kebetulan bis tersebut baru saja memasuki area kampus saat kami berdiskusi di kantin Kampus III. Wah! Boleh tuh! Perdana! Karena kan bis tersebut digunakan hari ini, Senin 4 Februari 2019, untuk mengantar Tim Promosi Uniflor ke kabupaten lain (arah Barat).

Pak Yance, saya, Ibu Neneng, Ibu Happy, Ibu Shinta.

Ngomong-ngomong, eh, nulis-nulis, penampakan bis ini mirip motorhome ya. Duh, seru sekali membayangkan bis itu beneran motorhome.


Sabtu memang cenderung identik dengan sekolah yang jauh lebih santai. Manapula beberapa sekolah menerapkan lima hari sekolah. Tapi lumayanlah kami masih sempat bertemu beberapa guru dan menyampaikan maksud kunjungan. Rata-rata murid kelas 3 SMA sedang sangat pada kegiatan menjelang UN. Beruntung kami diberi kesempatan untuk mempromosikan Uniflor, bukan pada hari itu juga, melalui janji. 


Okay, itu saja cerita hari ini tentang aplikasi-aplikasi yang saya gunakan untuk membikin atau edit video. Bagaimana dengan kalian? Jangan bilang kalian pakai Adobe Premiere huhuhu itu bikin iri to the max, tahuuuu.

Semoga bermanfaat!


Cheers.