Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba


Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba. Alhadulillah, dua jadwal yang baru direncanakan menjelang akhir tahun, jadwal serba mendadak dangdut, telah tunai. Yang pertama adalah menghadiri Festival Literasi Nagekeo 2019 pada 28 September 2019 di Lapangan Berdikari Kota Mbay. Yang kedua adalah menghadiri Festival Daging Domba 2019 pada 19 November 2019 di Bukit Weworowet. Kedua festival keren itu diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Bagaimana caranya kabupaten muda ini mampu menyelenggarakan dua event besar dalam tempo yang berdempetan, itu menjadi rahasia yang harus dicaritahu, sekaligus merupakan motivasi bagi kabupaten lainnya yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Yang jelas, dua event itu telah mendongkrak dunia literasi, budaya, serta pariwisata di Kabupaten Nagekeo.

Adalah jauh jarak antara Kota Ende sebagai Ibu Kota Kabupaten Ende, tempat saya tinggal, dengan Kota Mbay sebagai Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Biasanya saya selalu mampir mengaso sebentar di percabangan Aigela, menikmati jagung rebus dan segelas kopi, yang dijual di lapak-lapak oleh penduduk setempat, baru kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kota Mbay.


Bagi kalian yang bermukim di kota besar, jarak 90-an kilometer tidak menjadi persoalan, karena akses jalan raya yang luar biasa di kota besar sering membikin kami yang tinggal di Pulau Flores terpesona sekaligus iri. Jalanan lebar, lurus, mulus, trafic light di mana-mana, merupakan makanan kalian sehari-hari. Bukan persoalan mudah, memang, menghubungkan setiap kabupaten di Pulau Flores. Topografinya yang ekstrim membikin jalan penghubung antar kabupaten juga ekstrim. Meskipun demikian, saya bersyukur karena untuk menghubungkan setiap kabupaten di Pulau Flores, sudah ada mediatornya.

Mediator Itu Bernama Trans Flores


Trans Flores merupakan mediator/penghubung setiap kabupaten yang ada di Pulau Flores dari ujung Barat ke ujung Timur. Topografi Pulau Flores itu berbukit-bukit (ekstrim menurut sebagian orang), disertai jurang baik jurang dengan sungai atau batu karang dan ombak menunggu di bawah sana, membikin Trans Flores otomatis menjadi ekstrim. Bayangkan saja, selain jalanan itu mengitari bukit, ribuan kelokan, dan naik turun, pun ada bukit yang dibelah demi keberlanjutan Trans Flores ini.

Salah satu titik favorit, arah Barat dari Kota Ende, sebelum Kecamatan Nangapanda. Sisi perbukitannya nampak bak lukisan abstrak.

Trans Flores sudah ada sejak zaman dulu-dulu, dan terus diperbaiki demi kelancaran lini transportasi antar kabupaten. Bahkan, sampai saat ini pun Trans Flores masih terus diperbaiki, antara lain perbaikan titik-titik berlubang hingga pelebaran jalan. Apabila terjadi pengerjaan proyek pelebaran jalan maka para pengguna Trans Flores harus mempersiapkan diri dengan sangat baik, terutama para pengendara sepeda motor. Seperti saya. Hehe. Karena, proyek pelebaran jalan selalu berkaitan dengan pengerukan bukit, dan kombinasi keduanya pasti menimbulkan debu setiap ada kendaraan yang melintasi. Jangan pernah lupakan masker!


Proyek perbaikan dan/atau pelebaran jalan memang bakal membikin perjalanan lintas Pulau Flores menjadi sedikit terganggu karena harus saling mengalah saat melintasi jalan sempit terutama di kelokan yang sebagian badan jalan dikuasai material, serta debu yang berterbangan. Tapi jangan kuatir. Saya sudah pernah mengalaminya ratusan ribu kali. Proyek perbaikan dan/atau pengerjaan jalan ini tidak memakan waktu terlalu lama. Paling-paling tiga bulan ke depan, kalau ke luar kota lagi, kondisinya sudah semakin bagus. Bukankah perbaikan dan pelebaran jalan ini dilakukan demi kelancaran transportasi antar kabupaten? Jadi, mari kita rayakan!

Karena saya tinggal di Kota Ende, perjalanan ke arah Barat dan ke arah Timur Pulau Flores selalu memberi kesan tersendiri. Arah Barat, identik dengan tebing, hutan, jurang, dan laut, selalu menyuguhkan pemandangan seperti ini:




Sedangkan arah Timur yang identik dengan tebing, hutan, jurang, dan sungai, juga tak kalah, selalu punya pemandangan seperti ini:



Kondisi jalan yang baik antar kabupaten, suguhan pemandangan supa amazing sepanjang perjalanan, hingga menawannya keramahan masyarakat Pulau Flores, membikin wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara kini lebih suka mengendarai sendiri kendaraan sewaan terutama sepeda motor matic. Bila dulu sering bertemu mobil rental/travel atau bis pariwisata dipenuhi wisatawan mancanegara, maka sekarang saya lebih sering bertemu wisatawan mancanegara mengendarai sepeda motor matic. Ada yang sendiri, ada yang berkelompok. Sayangnya, dalam perjalanan menuju Kabupaten Nagekeo minggu kemarin, saya lupa memotret rombongan sepeda motor matic yang dikendarai oleh sekelompok wisatawan mancanegara.

Urusan sewa-menyewa sepeda motor matic ini sudah saya ketahui sejak lama. Sejak saya pergi ke Kota Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat, tahun 2014. Waktu itu dari Kota Labuan Bajo menuju Air Terjun Cunca Wulang, kami juga menyewa sepeda motor matic. Pun waktu sahabat saya Yunaidi Joepoet pergi ke Kabupaten Ngada mengabarkan dirinya menyewa sepeda motor matic. Jangan kuatir, sepeda motornya pasti halal: STNK pasti diberikan oleh pemilik penyewaan, plus dua helem standar nasional.

Menurut saya pribadi, apa yang terjadi di Pulau Flores, di lini transportasi yang turut mendongkrak dunia wisatanya, merupakan pencapaian yang luar biasa oleh Kementrian Perhubungan Republik Indonesia. Dirilis di sini, dikatakan bahwa Program Indonesia Sentris yang dicanangkan pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla telah membuka akses keterisolasian serta dapat meningkatkan perekonomian suatu daerah. Dalam kurun waktu lima tahun belakangan dilakukan pembangunan infrastruktur transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris untuk membuka keterisolasian yaitu dengan memberikan dukungan aksesibilitas terhadap daerah 3TP (Terluar, Terdepan, Tertinggal, dan Perbatasan).

Jadi kalau ditanya apa kaitan antara lini transportasi, lini pariwisata, dan lini ekonomi, siapapun pasti bisa menjawabnya. Lini transportasi jelas mendukung lini pariwisata yang berimbas pada lini ekonomi. Karena Trans Flores pula saya rajin wara-wiri se-Flores dan terakhir terdampar di kaki Bukit Weworowet mengikuti kegiatan Festival Daging Domba.

Festival Daging Domba


Awalnya saya menyangka Festival Daging Domba baru akan dilaksanakan Bulan November, sudah siapkan waktu cuti pun, tetapi saya salah. Festival Daging Domba dibuka dengan resmi oleh Bupati Nagekeo Bapak Don Bosco Do pada Senin, 15 Oktober 2019. Kabarnya baru saya tahu hari Rabu saat sedang mengobrol tentang sampah bersama Abang Umar Hamdan dan Cahyadi. Uh wow, saya harus ke sana! Itu adalah jadwal yang harus ditunaikan. Karena saya punya kewajiban pekerjaan utama, sehingga baru bisa berangkat ke Kota Mbay pada Sabtu, sepulang kerja.

Sebenarnya, Festival Daging Domba ini sudah dimulai pre-event-nya justru sebelum Festival Literasi Nagekeo 2019 diselenggarakan. Sudah dibuka restoran daging domba di sekitar Bukit Weworowet oleh masyarakat/pemuda dari Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Setelah selesai Festival Literasi Nagekeo 2019, barulah Festival Daging Domba benar-benar dimulai.

 Dalam perjalanan memasuki Kota Mbay, bertemu papan aturan ini. Wah, ini bagus sekali!

Sabtu, 19 Oktober 2019, berangkatlah saya ke Kota Mbay bersama Deni Wolo. Kami mengendarai sepeda motor masing-masing. Mampir sebentar di Aigela untuk istirahat, perjalanan dilanjutkan, dan tiba di Kota Mbay sekitar pukul 15.30 Wita. Mampir lagi di rumah Novi, blogger dan aktivis muda Kota Mbay, barulah kami ngegas menuju Towak. Towak? Iya, Towak. Towak merupakan sebuah wilayah di Kabupaten Nagekeo yang letaknya berada di jalan Trans Flores; Mbay - Riung. Untuk diketahui, Riung yang terkenal dengan Taman Laut 17 Pulau Riung itu, berada di wilayah Kabupaten Ngada bukan Kabupaten Nagekeo. Di Towak ada keponakan saya, Iwan, yang isterinya, Reni, bekerja di Pustu Towak sebagai bidan, serta dua cucu saya Andika dan Rayhan. Karena jembatan utama Trans Mbay - Riung sedang diperbaiki, kami harus melewati jalur darurat yang berdebu ini, haha.


Tiba di Towak, istirahat sebentar sambil mengobrol, saya dan Deni lantas pamit duluan pada Reni untuk bisa menangkap momen sunset di Bukit Weworowet. Bukit yang bentuknya unik dan menjadi lokasi Festival Daging Domba tersebut. Jarak antara Towak dan Bukit Weworowet sekitar 10 sampai 15 menit perjalanan saja.

Bukit Weworowet senja itu.

Sunset dari balik bukit yang berhadapan dengan Bukit Weworowet.

Kami lantas mencoba memesan sate domba, seporsi saja dulu, karena toh saya dan Deni belum terbiasa dengan daging domba. Resto ini terletak di samping panggung utama, sedangkan jejeran resto lainnya menghadap panggung utama. Selain daging domba, juga dijual jagung rebus, dan gorengan. Sayangnya sore itu jagung dan gorengan belum ada. Dalam bahasa Nagekeo, daging domba disebut nake lebu atau nakeng lebu.



Karena masih sore, suasana belum ramai. Itu yang membikin saya dan Deni merasakan sensasi ketenangan dan kenyamanan yang luar biasa. Menikati sate domba sambil menonton Bukit Weworowet yang tegak diam begitu, wuih, surga. Sampai-sampai Deni bilang: kalau saja bukit ini dekat Ende, setiap sore ke sini saja. Kami bertahan hingga matahari benar-benar menghilang. Akhirnya saya mengirim pesan WA pada Reni untuk menyusul ke lokasi ini. Ketimbang saya dan Deni harus pulang ke Towak, terus kembali lagi ke Bukit Weworowet. Malam itu kami makan malam dengan menu nasi (beras) merah, sate dan soto daging domba, serta ada gorengan pesanan yang dibawa Iwan dan Kota Mbay. Saya dan Deni memang memutuskan untuk tidak lagi menikmati daging domba karena punya alasan sendiri-sendiri haha.



Malam itu, selain menikmati daging domba, kami juga menonton pertunjukan seni oleh murid SD, SMP, dan SMA yang ada di Desa Nggolonio.


Menurut Iwan dan Reni, beberapa malam sebelumnya justru paling ramai wisatawan mancanegara di festival ini. Mereka bahkan memesan begitu banyak sate daging domba! Sampai-sampai para pengelola resto kewalahan. Hehe. Wisatawan itu kebanyakan datang dari Riung. Ya jelas, jalan Trans Flores Mbay - Riung kan mulus begitu, mana jaraknya dekat pula. Rugilah kalau sehabis snorkling di perairan Riung yang mempesona, terus tidak menikmati daging domba.

Yang tertangkap pandangan mata saya malam itu adalah Festival Daging Domba merupakan kegiatan yang sangat positif, karena selain memperkenalkan domba sebagai salah satu kuliner khas dari Kabupaten Nagekeo, kegiatan ini membuka ruang kepada masyarakat untuk memperoleh penghasilan tambahan, juga memberikan hiburan kepada masyarakat Desa Nggolonio dan sekitarnya pada khususnya, dan wisatawan pada umumnya. Kaum muda, khususnya anak sekolah, pun diberi ruang melalui panggung seni. Di sepanjang jalan saya juga melihat begitu banyak sepeda motor diparkir berjejer dan anak-anak muda sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Kata Iwan: sinyal terkuat adalah di kaki Bukit Weworowet sehingga siapapun yang ingin komunikasi digitalnya lancar, harus ke sini. Oh la la.

Sekitar pukul 22.00 Wita kami pun pulang kembali ke Towak dan mengobrol hingga pukul 03.00 Wita.

Ikan Bakar yang Dua Kali Gagal Disuguhkan


Dan ikan bakar itu baru disuguhkan pada waktu makan ketiga. Sebenarnya Reni sudah menyiapkan ikan untuk dibakar sebagai lauk makan malam kami pada Sabtu (malam Minggu). Tetapi karena malam itu kami sudah makan malam dengan menu sate dan soto daging domba di Festival Daging Domba, maka ikan ini kemudian dibakar pagi hari sebagai bekal sarapan. Sayangnya Deni Wolo masih pulas dan tak enak pula jika sarapan sendirian. Pada akhirnya ikan bakar yang dua kali gagal disuguhkan ini, sukses pada suguhan (waktu makan) ketiga yaitu makan siang di Hari Minggu! Amboiiii. Hehe.



Usai makan siang, berisirahat sebentar, saya dan Deni pun pamit pulang kembali ke Kota Ende. Karena, Senin telah menunggu dan kami harus bekerja! Kembali ke Kota Ende, kembali melewati jalur darurat ini:


Saya yakin, kunjungan berikutnya ke Kabupaten Nagekeo, sudah boleh melintasi jembatan yang menghubungkan Kota Mbay dengan Riung. Dan jalur darurat ini pasti sudah ditata sesuai peruntukkan utamanya yaitu sebagai lahan persawahan masyarakat. Semoga.

⇜⇝

Pada akhirnya, sebagai Orang Ende - Orang Flores, saya harus mengakui banyak perkara yang telah terjadi di pulau kami ini. Yang pertama: infrastruktur (sarana dan prasarana transportasi) yang semakin ke sini semakin membaik telah menolong saya dalam bekerja dan traveling keliling Pulau Flores. Ya, pekerjaan saya itu salah satunya ya keliling Pulau Flores. Yang kedua: infrastruktur (sarana dan prasarana transportasi) telah mendukung dan mendongkrak lini pariwisata. Karena, apalah artinya sebuah tempat wisata jika untuk menjangkaunya sulit sekali? Yang ketiga: dengan terdongkraknya lini pariwisata, tentu lini ekonomi rakyat lebih terbantu. Saya pikir, dengan membaca pos ini utuh dari awal sampai akhir, kalian pasti memahaminya.

Sampai jumpa di festival-festival berikutnya!




Cheers.

Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru


Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru. Sebenarnya untuk topik yang sama, plagiat, saya sudah menulis cukup panjang, tapi tulisan itu saya gantikan dengan tulisan yang ini. Tulisan yang lebih lembut dan halus seperti saya *dinosaurus muntah hijau*. Jelasnya kita semua; saya, kalian, mereka, pasti sama-sama darah mendidih berhadapan dengan plagiator yang melakukan plagiarisme terhadap karya, utuh maupun sebagian, seakan-akan yang terlihat itu adalah karya si plagiator sendiri. Di zaman internet, zaman digital, karya seperti tulisan, foto, lagu, dan video, menjadi mainan dan bulan-bulanan plagiator. Apabila orang bilang mudahnya jempol memencet tombol share, maka plagiator tulisan sangat mudah melakukan kopi-tempel.

Baca Juga: Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp

Bila-bila seseorang disebut plagiator? Bila dia mengkopi-tempel, dalam pokok perkara ini adalah tulisan, tanpa menyamtumkan sumber tulisan dan/atau credits. Agar kalian paham, saya mencoba menulis pos ini menggunakan metode proposal skripsi. Haha *dinosaurus julid*.

Latar Belakang Masalah


Adalah tulisan saya di blog travel yang berjudul Lawo Lambu | Zawo Zambu dikopi-tempel oleh salah seorang Facebooker. Hal itu saya ketahui dari bisik-bisik seorang kawan. Membaca tulisan Facebooker tersebut, baru paragraf pertama, langsung sudah tahu itu tulisan saya. Membaca sampai pertengahan, saya kaget karena tulisan yang selalu melekat pada pos blog seperti 'Keluarga Pharmantara', 'Mamatua', dan 'Mamasia', sama sekali tidak dihapus oleh yang bersangkutan. Tetapi, sampai akhir tulisan tersebut saya tidak menemukan sumber tulisan dan/atau credits. Dalam hati saya berkata: kena juga tulisan saya diplagiat utuh. Oleh karena itu, screenshoot pos Facebooker tersebut saya jadikan pula pos Facebook. Pos Facebook saya itu menuai banyak komentar, tentu saja, karena plagiarisme ada hukum yang mengaturnya. Itu terjadi pada Rabu, 16 Oktober 2019.

Rumusan Masalah


Agar pembahasan nanti tidak terlalu melebar, meskipun kebiasaan saya suka melebar sana sini, mari rumuskan dulu permasalahannya.

1. Mengapa tulisan saya dikopi-tempel?
2. Mengapa plagiarisme masih terjadi di tengah maraknya kampanye literasi digital?

Pembahasan


Saya membangun/membikin banyak blog, di banyak platform, dan jumlahnya puluhan. Ada dua blog yang betul-betul dikelola dengan sangat baik yaitu BlogPacker yang diisi dengan tulisan tema harian, dan I am BlogPacker yang merupakan blog travel dengan isi tentang perjalanan hingga ragam wisata termasuk tulisan berjudul Lawo Lambu | Zawo Zambu yang dikopi-tempel itu. Dari pengakuan, juga komentar yang tertoreh, tulisan saya dikopi-tempel karena yang bersangkutan menyukai tema yang diangakat yaitu tentang (wisata) budaya: pakaian tradisional perempuan Kabupaten Ende. Sayangnya, yang bersangkutan sama sekali tidak paham bahwa apa yang sudah dilakukannya merupakan salah satu bentuk plagiarisme (terparah).

Kesimpulan sementara: sebenarnya orang yang mengkopi-tempel tulisan saya tanpa menyantumkan sumber tulisan dan/atau credits tersebut bertujuan baik, karena suka pada tulisan tersebut, lantas membaginya di laman Facebooknya, agar lebih banyak orang tahu tentang pakaian adat/tradisional perempuan Kabupaten Ende. Akan tetapi, dia tidak sadar, bahwa apa yang diperbuatnya itu hanya berdampak nol koma sekian persen. Marilah kita lihat pada penjelasan-penjelasan berikut!

Pertama: Tulisan itu sudah saya pos di blog travel sejak tahun 2018, dengan pembaca sampai saat ini sebanyak 1136 orang. Semua entri pada blog tersebut, berdasarkan statistik penayangan menurut negara, terbanyk dibaca oleh orang-orang yang berada di Indonesia, dilanjutkan dengan Amerika Serikat, dan seterusnya, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:


Dengan statistik penayangan menurut peramban dan menurut sistem operasi seperti pada gambar di bawah ini:


Sedangkan pos terpopuler atau paling banyak dibaca dari blog travel saya itu seperti yang dijelaskan pada gambar di bawah ini:



Kedua: Dengan yang bersangkutan mengkopi-tempel/memplagiat tulisan saya tersebut ke laman Facebooknya, tanpa menyantumkan sumber dan/atau credits, jelas tidak membawa dampak dan/atau perubahan apapun pada blog travel, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:


Kalian lihat, baik URL Perujuk maupun Situs Perujuk masih dipegang kuat oleh Google. Bahkan pada URL Perujuk, Facebook menempati posisi nomor lima.

Ketiga: Setiap tulisan di blog, pasti ada tombol share/berbagi. Tombol ini ada di mana-mana! Lihat ikon berbagi yang saya lingkari warna merah pada dua gambar di bawah ini:



Penjelasan di atas bermaksud agar semua orang tahu dari mana para pengunjung dan/atau pembaca blog-nya datang. Salah seorang komentator status yang bersangkutan, pada status permohonan maaf, malah berkata: sudah untung blog itu diperkenalkan (melalui tulisan yang diplagiat itu). Salah! Blog saya tidak perlu diperkenalkan dengan cara tulisan saya diplagiat. Dan, pun di tulisan tersebut tidak merujuk pada blog travel saya sama sekali.

Sampai di sini, saya anggap kita semua sudah sepemahaman ya. Marilah kita lanjut.

Mengapa tulisan saya bisa dikopi-tempel? Karena saya tidak melindungi blog dan/atau tulisan dari perbuatan kopi-tempel dengan skrip tertentu. Pertanyaan lanjutan, kenapa saya tidak melindungi blog dan/atau tulisan dari perbuatan kopi-tempel? Karena saya percaya semua tulisan pada kedua blog pasti bermanfaat bagi orang lain yang membacanya, setidaknya menghibur. Saya pernah menulis paragraf berikut ini pada novel Tripelts:

Salah satu nasihat Ali Bin Abi Thalib—termasuk dalam golongan pertama pemeluk Islam, saudara sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yangmana dia menikahi Fatimah az-Zahra—berbunyi: “Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil dari pada seorang bakhil.” Penjelasan paling hakiki nasihat laki-laki yang pernah menjabat sebagai Khalifah pada tahun 656 – 661 tersebut tercantum di dalam Surat Ali ‘Imran 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ilmu dan informasi termasuk harta kekayaan. Jangan sampai kita menjadi orang yang bakhil. Tapi ingat, jangan sampai pula kita menjadi orang yang alpa dari mana ilmu dan informasi itu kita peroleh. Oleh karena itu, jika ada yang mengkopi-tempel tulisan saya, tidak masalah, selama menyantumkan sumber tulisan dan/atau credits. Karena, saat saya menulis di blog atau di mana pun, apabila ada sumber yang diperoleh dari orang lain atau situs lain, tetap harus menulis credits. Termasuk foto-foto unik yang sering pula saya pos di Facebook.

Sebenarnya, untuk mengantisipasi plagiarisme sudah ada hukum yang mengaturnya seperti Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta), serta Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Melihat perbuatan plagarisme terjadi di ranah digital/elektronik, maka peraturan yang paling tepat dipakai adalah UU ITE. Pos blog adalah dokumen elektronik yang sah sesuai muatan Pasal 5 ayat (1) UU ITE yaitu: Bahwa keberadaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik mengikat dan diakui sebagai alat bukti yang sah untuk memberikan kepastian hukum terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektronik dan Transaksi Elektronik, terutama dalam pembuktian dan hal yang berkaitan dengan perbuatan hukum yang dilakukan melalui Sistem Elektronik.

Tapi hari ini saya tidak membahas tentang hukum. Haha. Bisa lebih panjang nanti pos blog ini.

Mari lanjutkan pembahasan pada pertanyaan mengapa plagiarisme masih terjadi di tengah maraknya kampanye literasi digital. Ini menarik. Karena bersama #EndeBisa, kami terjun ke sekolah-sekolah dan salah satu poinnya adalah mengkampanyekan literasi digital dengan materi yang dikeluarkan oleh Internetsehat (ICT Watch). Tulisan saya yang diplagiat itu dilakukan oleh anak sekolah. Mungkin ini terjadi karena belum semua sekolah menerima informasi ini. Karena di dalam literasi digital saya juga dengan tegas menyampaikan tentang plagiarisme sebagai perbuatan yang melanggar hukum, antara lain mengambil foto orang lain dan mengaku itu fotonya, juga mengambil tulisan orang lain dan mengaku itu tulisannya. 

Nampaknya literasi digital harus lebih gencar dikampanyekan. Tidak hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga di komunitas, kumpulan remaja dan ibu-ibu, pokoknya di berbagai lini, agar terhindar dari yang namanya plagiarisme.

Pada pembahasan ini saya juga ingin menulis tentang teman-teman dari Facebooker yang melakukan plagiarisme tersebut. Sebagai teman, tidak peduli unsur apapun termasuk kedekatan, sudah selayaknya kita harus menegur apabila memang perbuatannya keliru. Dengan membela, apalagi memprovokasi, justru akan memperparah permasalahan yang seharusnya sudah selesai. Sayang sekali.

Kesimpulan dan Saran


Tulisan saya diplagiat, kemudian saya mengepos screenshoot posnya di Facebook, lantas menuai banyak komentar. Yang bersangkutan kemudian meminta maaf, juga di ruang publik. Saya maafkan dengan permohonan maaf pula. Siapalah saya ini, hanya penghuni semesta yang juga tidak lepas dari yang namanya tergelincir dan berbuat keliru.

Terima kasih Xxxx Xxxx, sudah saya tulis di status sebelumnya, permintaan maaf saya sambut dengan permohonan maaf juga. Karena semua manusia harus bisa saling memaafkan. Kelebihan dan kekurangan itu terjadi pada setiap manusia. Oleh karena itu, setiap yang kurang sama-sama ditambal sulam, yang lebih disedekahkan (kalau bisa).

Saya anggap permasalahan sudah selesai. Dan semoga tidak ada komentar macam-macam dari siapapun juga yang menganggap remeh plagiarisme, karena ada hukum yang mengaturnya. Tidak masalah mengambil tulisan orang lain, tapi sertakan juga sumbernya, itu pasti sangat bisa diterima. Alangkah baiknya gunakan tombol share/berbagi yang ada pada setiap tulisan.

Mari belajar literasi digital, agar sama-sama paham.

Sekali lagi, terima kasih.

Baca Juga: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo

Dengan demikian, saya anggap permasalahan ini sudah selesai sejak Kamis, 17 Oktober 2019. Komentar-komentar dari teman-temannya yang membikin kisruh saya anggap sebagai perbuatan dari orang yang tidak tahu pokok permasalahan, dan sama sekali buta akan hukum plagiat di Indonesia, juga buta akan dunia per-blog-an sehingga tidak terlalu saya pusingkan. Meskipun saya menerima ancaman dari salah seorangnya, dan itu yang membikin adik, keponakan, dan teman-teman tidak bisa menerima ancaman tersebut, tapi tidak mengapa. Hehe. Semoga, dengan membaca ini, jadi sama-sama paham bahwa memplagiat itu tidak boleh dilakukan. Untung kalau si pemilik karya tidak tahu, kalau pemilik karyanya tahu? Berabe.

Alangkah baiknya menulis sendiri, ketimbang memplagiat tulisan orang lain, karena seperti apapun sebuah tulisan sepanjang itu tulisan sendiri, betapa bangganya. Jangan takut untuk menulis, sepanjang tidak melanggar norma, hukum, dan adat, tulislah!

Semoga bermanfaat bagi semua kalian yang membacanya, pun bagi saya yang menulisnya, karena setiap manusia pasti tergelincir dan berbuat keliru.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Setelah Upin Ipin yang Mengedukasi Terbitlah Larva

Screenshoot dari videonya di Youtube.

Setelah Upin Ipin yang Mengedukasi Terbitlah Larva. Menulis ini dalam kondisi sedang sangat bersemangat setelah hampir dua bulan terakhir prolog tidur saya berganti-ganti antara Upin Ipin dan Larvadan epilog tidur saya disusupi perasaan tidak rela meninggalkan ranjang diiringi hidung kembang-kempis dan iler tumpah-ruah. Helooooooo, are you okay, Teh? Hehe. Saya masih rajin menonton video lainnya dari channel Brightside, TED, Kirsten Dirksen, Insider, 5 Minutes Crafts, dan lain sebagainya termasuk tentang tiny house, tapi pesona filem kartun/animasi memang masih menguasai sisi lain diri saya. Tsaaaaah. Sisi lain yang masih pengen dimanja dan disayang-sayang sama Abang *ditabok dinosaurus*. Waktu SMA saya tergila-gila sama Doraemon sampai dikata-katain sama Kakak Didi Pharmantara: cewek terlambat puber. Huhuhu. Apa salah dan dosa hambaaaaa.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Masih banyak orang yang menyangka filem kartun identik dengan bocah saja. Salah, bung. Bahkan ada filem kartun yang justru tidak boleh ditonton sama bocah, dan saya pernah menontonnya di Youtube, hanya saja lupa judulnya. Pokoknya yang tidak seberapa komersil lah. Oke, balik lagi ke Upin Ipin dan Larva. Upin Ipin jelas kalian sudah tahu kan ya. Manapula pernah saya tulis dua kali di blog dengan pos berjudul Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 1) dan pos berjudul Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2). Silahkan dibaca! Karena semua Orang Indonesia wajib tahu alasan saya menulis dua pos tentang Upin Ipin tersebut.

Hari ini saya mau membahas tentang Larva. Beberapa hal memang saya ketahui tentang filem kartun yang satu ini tapi alhamdulillah Wikipedia menyediakan informasinya.

Cekidot!

Tentang Larva


Larva adalah serial televisi komedi yang dulunya tayang di RCTI. Iya, saya juga tahu Larva dari stasiun televisi tersebut, waktu masih menonton televisi, kan sudah lamaaaa sekali say goodbye sama televisi. Serial komedi animasi komputer ini dibikin oleh Tuba Entertainment yang bermarkas di Seoul, Korea Selatan. Untung bukan bermarkas di Pyongyang, Korea Utara, bisa-bisa kisahnya tentang Larva yang setiap hari bertugas di pangkalan militer dan pangkalan nuklir. Haha. Kenapa judulnya sampai Larva, ya karena dua karakter utamanya adalah dua larva berbeda warna dan bentuk. Satunya berwarna kuning dan sedikit lebih besar, satunya berwarna merah imut mirip potongan sosis. Sosis adalah makanan kegemaran mereka berdua, selain ... errr ... semua sisa makanan yang bisa ditemukan di sekitar.

Setiap episode Larva hanya berdurasi satu sampai dua menit saja sehingga tidak membosankan penonton. Hebatnya lagi, filem kartun ini seperti Tom and Jerry, tanpa percakapan sama sekali, kecuali jika Yellow terpesona akan sesuatu maka satu kata yang diucapkan adalah WOW dengan nada rendah dan super berat. Meskipun tanpa percakapan, alurnya tetap mudah dan ringan untuk dipahami dengan pesan-pesan moral yang jelas alias tidak bertele-tele.

Karakter Larva


Ini yang seru. Di dalam Larva, dengan kehidupan kaum minoritas itu *ngikik*, ada banyak karakter yang ditampilkan selain karakter utama. Dan karakter-karakter ini jelas-jelas ... bikin saya geleng-geleng kepala, betapa cerdasnya orang-orang yang membikin Larva. Pun mereka tidak repot memikirkan nama. Nama setiap karakter melekat erat dengan warna maupun bentuknya.

Marilah kita kenalan sama karakter-karakternya.

1. Yellow

Larva kuning yang bentuknya sedikit lebih besar dengan dua lobang hidung yang juga besar sehingga bisa menghasilkan gelembung apabila menghirup sabun cair (nonton episode ini saya sampai terbanting dari kasur). Dia sering kehilangan kontrol atas dirinya sendiri apabila melihat makanan. Kalau saya lihat sih, Yellow dan Red memang sama-sama kehilangan kontrol apabila melihat makanan, mereka lupa diri, lupa segalanya, lupa persahabatan. Terakhir, baru menyesal. Haha.

2. Red

Bentuknya macam sosis atau potongan sosis. Si Red ini wataknya keras dan tidak sabaran. Sama seperti Yellow, keduanya iseng bin usil dan selalu dalam kasus perebutan makanan. Bagaimana Yellow dan Red kemudian selalu bersama, ada kisahnya dalam Once Upon a Time, dimana dikisahkan keduanya bertemu saat 'menetas' hehehe. Persahabatan keduanya kemudian berlanjut sampai dewasa. Oh ya, karena tidak punya kaki, Yellow dan Red berjalan menggunakan perut, namanya juga larva, dan melakukan segala sesuatunya menggunakan lidah. Inilah yang disebut the power of tongue.

3. Violet

Dalam episode berjudul Violet, kita akan melihat cacing raksasa misterius yang selalu bersemunyi di dalam tanah dan muncul pada saat-saat tertentu. Kekuatannya ada pada giginya yang taring dan tajam serta suara raungannya yang garang. Tetapi, suatu kali ketika gigi si pemilik rumah terlempar keluar dan menancap di gusi Violet, suaranya jadi ngik-ngik alias tidak garang lagi, dan itu sukses membikin saya ngakak tidak karuan.

4. Pink

Pink adalah satu-satunya larva betina dalam serial Larva, dan kalau boleh ditulis, dia adalah larva ketiga. Selain itu sudah tidak ada lagi larva lainnya. Dalam beberapa episode, saya melihat Pink ini lebih suka sama Yellow ketimbang Red. Mereka kemudian jadian. Meskipun Pink dan Yellow sudah jadian, jadiannya gara-gara Pink yang rendah diri karena kentutnya sendiri sadar bahwa kentut Yellow jauh lebih dahsyat, tetap saja Red berusaha menyusup agar Pink mau menerimnya. Hehe. Sungguh persaingan dalam ranah asmara ini terjadi di mana-mana.

5. Black

Black adalah kumbang perkasa yang garang. Kebiasaan Black cuma satu: meninju kepompong sebagai samsak. Meskipun perkasa dan garang, dalam episode tertentu, kompak saja para kaum minoritas ini.

6. Rainbow

Siput ini namanya Rainbow. Saya lebih suka kalau dia keluar dari cangkang karena tubuhnya mirip manusia serta bergerak jauh lebih cepat. Rainbow pernah melempar cairan hijau pada Yellow dan Red, gara-gara dua larva itu iseng mem-bully-nya, dan kedua larva itu menjadi lamban seperti Rainbow. Hehe.

7. Prism

Bunglon yang paling suka mengincar Yellow dan Red. 

8. Rat

Ini tikus yang juga sama kayak Prism, sukanya mengejar Yellow dan Red untuk dijadikan makanan tapi tentu selalu gagal.

9. Stik Insect

Ini dia karakter yang terlihat paling rapuh tapi juga punya peranan penting dalam dunia Larva.

10. Baby Coco

Tunas (cokelat / hijau) yang tegas dan baik sama Yellow dan Red.

Itu karakter-karakter yang ada di Wikipedia. Pada saat menonton Larva dari berbagai musim, masih ada karakter-karakter lainnya seperti si anjing penunggu rumah yang entah siapa namanya, katak yang selalu mengincar Yellow dan Red untuk dijadiin makanan, burung peliharaan di dalam rumah yang ganas sama Yellow dan Red, dua burung lainnya sahabat Rat, kutu kelapa, dan lain sebagainya. Sayang, situs resmi Larva ini sedang down saat saya berusaha mencari informasi lebih banyak tentang Larva, jadi tidak bisa diakses. Ya sudahlah. Hehe.

Mari kita lanjut.

Hidup Harus Dinikmati dan Dirayakan


Seperti yang sudah saya tulis, bahkan filem kartun pun mengajarkan penontonnya banyak hal. Ada hikmah, pesan, pelajaran, yang disampaikan di setiap episodenya. Pelajaran paling utama yang saya tangkap dari Larva adalah hidup harus dinikmati dan dirayakan bahkan oleh perkara-perkara sepele. Bagi kaum minoritas yang tertindas, dua larva gokil juga teman-temannya, menjalani hari itu mau apa lai. Nikmati. Rayakan. Hari ini mau ngapain? Hari ini dapat makan atau tidak? Hari ini dikejar sama Rat atau tidak? Bagi mereka, bangun pagi keesokan hari dengan kondisi masih bernafas pun merupakan berkah. Ketemu makanan sisa yang dibuang merupakan surga yang dinanti. Oleh karena itu mereka sangat menikmati hidup dan selalu berupaya merayakannya. Tapi karena gokil dan berpikir dengan arus-pendek, maka seringnya dua larva itu ketiban sial.

Tentu, pelajaran yang berikutnya adalah tentang persahabatan yang kata Sindentosca: bagai kepompong. Yellow dan Red memulai persahabatan mereka sejak mengenal dunia, susah senang selalu bersama, isengnya pun kompak, kadang Yellow dan Red sama-sama saling iseng bin usil satu sama lain, berbagi makanan meskipun lebih sering khilaf (makanannya diembat sendiri), saling memanfaatkan tapi juga saling memaafkan, sampai urusan asmara dimana Pink mencintai Yellow sedangkan Red mencintai Pink. Sampai demam tinggi itu Red gara-gara kasih tak sampai. Haha. Persahabatan ini juga terjalin dengan kaum minoritas lain penghuni rumah dan penghuni selokan (saat di New York).

Dan pelajaran terakhir dari Larva, menurut saya, adalah hukum rimba. Yang lemah mengalah pada yang kuat. Meskipun, pada beberapa episode hukum rimba tidak berlaku, karena siapa sih yang mau terus-terusan ditindas? Balasannya adalah keisengan kedua larva tersebut.

Baca Juga: Karya Mereka Terlalu Eksklusif Untuk Tayang di Televisi

Bagaimana dengan kalian, kawan? Masihkah kalian menonton filem kartun/animasi? Apa saja filemnya? Yuk bagi tahu, siapa tahu bakal jadi referensi untuk saya hahaha. Yang jelas, setiap hari saya diisi dengan Upin Ipin dan Larva. Pertanyaannya sekarang, bukankah kalau terus ditonton, selesai juga itu semua episode dari setiap season? Bahkan Larva yang tidak sepanjang Upin Ipin season-nya? Ya nonton ulang doooonk hehehe. Karena sering menonton ulang ini makanya saya mulai hafal satu per satu kisahnya, baik Upin Ipin maupun Larva. Apakah saya kurang kerjaan? Justru karena terlalu banyak pekerjaan sehingga butuh hiburan, terutama sebagai pengantar tidur malam. Haha.

Selamat menikmati weekend!

#SabtuReview



Cheers.

5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor


5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor. Berapa tahun sudah saya menjadi bagian dari Universitas Flores (Uniflor)? Delapan tahun! Waktu yang lama untuk mencintai sampai ke sum-sum. Uhuk. Hahaha. Tahun 2020 Uniflor yang saya cintai ini akan berusia empat puluh. Panca Windu. Forty. The number that follows 39 and precedes 41. Usia yang matang, sesuai kata orang-orang, life begin at forty. Menuju empat puluh tahun usianya, Uniflor telah mulai mempersiapkan kepanitiaan dan rencana kegiatan seabrek. Uh wow sekali. Dan sebagai bagian dari kepanitiaan, saya merasa dialiri energi super sehingga akhirnya memutuskan perlu menulis ini. Meskipun, sebenarnya draf tulisan tentang dunia asmara sudah 90% rampung.

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Ada empat pilar utama dengan koordinator utama masing-masing yang ditetapkan sebagai dasar kegiatan-kegiatan menuju empat puluh tahun Uniflor. Empat pilar itu adalah Pilar A, Pilar B, Pilar C, dan Pilar D. Hahaha. Rincian nama pilar tidak dituliskan di sini. Setiap pilar punya daftar kegiatan/acara masing-masing. Misalnya Pilar A punya sepuluh kegiatan, Pilar B punya sebelas kegiatan, Pilar C punya delapan kegiatan, Pilar D punya dua kegiatan. Sementara saat ini saya cukup menulis lima kegiatan yang dirangkum dari kegiatan-kegiatan di bawah naungan empat pilar utama tersebut.

Sampai di sini kita sepemahaman kan ya.

Jadi, apa saja lima kegiatan, yang menurut saya keren, menuju empat puluh tahun Uniflor?

Cekidot!

1. Lomba Blog, Vlog, dan Foto


Ini dia kegiatan yang masuk dalam Pilar A. Kebetulan saya pula yang menjadi sub-koordinator Lomba Blog, Vlog, dan Foto. Begitu lomba-lomba ini di-mention dalam pertemuan pertama, rasanya seperti ditombak dari jarak sangat dekat. Tentu saya senang. Banget. Nge-blog sejak tahun 2002/2003, hiatus dan bangkit berkali-kali, menjadi pemateri blog bahkan hingga sekarang, membuka banyak Kelas Blogging Online bersama Om Bisot dan Kanaz, pernah membikin berbagai lomba blog waktu masih aktif di komunitas, kemudian dipercayakan mengkoordinir lomba seakbar ini ... supa amazing! Meskipun lomba-lomba ini baru akan dilaksanakan tahun depan tapi saya sudah selesai donk menyusun semua draf-nya. Saya memang gila. Kalau itu yang ingin kalian bilang. Haha. Selain lomba blog, vlog, dan foto, juga akan digelar lomba karya ilmiah dan lomba-lomba yang berhubungan dengan dunia akademik.

2. Seminar Nasional


Dunia universitas, dunia kampus, dunia akademik, harus bisa menyelenggarakan seminar baik yang tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Seminar tingkat lokal dan nasional memang sudah sering diselenggarakan di Uniflor. Saking seringnya, saya jadi punya banyak informasi baru karena harus meliput juga kan. Dan menuju empat puluh tahun Uniflor akan diselenggarakan seminar nasional, Insha Allah seminar internasional (ini masih wacana kalau internasional).

3. Edukasi Sampah dan Tentang Literasi


Dari Pilar B, ada banyak sekali kegiatan dan dua diantaranya saya gabungkan di sini yaitu edukasi sampah yang termasuk dalam baksos, serta literasi. Edukasi sampah nanti digabung dalam kegiatan bakti sosial: bersih-bersih sampah. Kenapa edukasi sampah ini penting? Karena selama ini banyak kegiatan membersihkan sampah tapi masih kurang eduksi tentang sampah: jenis sampah, pemilahan sampah, daur ulang sampah, sampah menjual barang hasil daur ulang sampah. Kalau rencana ini berjalan, saya bakal sangat happy. Sedangkan literasi itu wajib, karena mengingat mahasiswa KKN Uniflor 2019 telah membangun Rumah Baca Sao Moko Modhe di Kabupaten Nagekeo tepatnya di Desa Ngegedhawe. Artinya, literasi: pengumpulan dan penyumbangan buku untuk rumah baca, serta kegiatan pendukungnya nanti, merupakan kegiatan berkelanjutan. Kan bangga, Uniflor yang bermarkas di Kabupaten Ende membangun rumah baca di Kabupaten Nagekeo. Kan sayang, Kabupaten Ende belum melaksanakan Festival Literasi, sedangkan Kabupaten Nagekeo sudah melaksanakannya. Hiks.

4. Sunat Masal


Donor darah sudah sering dilakukan, dan memang akan dilakukan juga, tapi sunat masal? Ini yang juga supa amazing. Hehe. Waktu dicetus kegiatan kawin sunat masal saya terbengong-bengong. Hebat euy. Insha Allah kegiatan ini dapat terlaksana dan memberi berkah bagi banyak anak-anak (Muslim/Muslimah) di Kabupaten Ende. Amin.

5. Retret


Saya suka sekali ide yang satu ini. Perlu kalian ketahui, Uniflor punya kegiatan tahunan semacam Uniflor Family Day atau Tur Uniflor yang diikuti oleh dosen dan karyawan. Memang, kegiatan itu semacam kegiatan relaksasi dosen dan karyawan yang digabung pula dengan pengabdian kepada masyarakat di daerah tujuan. Biasanya bisa tiga hari kegiatan yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Tetapi kali ini diusulkan untuk dilaksanakan kegiatan retret lintas agama. Maksudnya, retret yang selama ini identik dengan Agama Katolik kemudian dibikin lebih universal, lintas agama, karena kita Indonesia! Yuhuuuuu.

⇜⇝

Lima kegiatan keren di atas memang tidak bisa mewakili semua kegiatan yang telah dirancang oleh panitia seperti kegiatan di bidang olah raga dan lain sebagainya. Yang jelas awal November 2019 bakal ada kegiatan akbar yang tujuannya me-launching dua perkara utama. Yang pertama: launching Ema Gadi Djou Memorial Cup. Yang kedua: launching Panitia 40 Tahun Uniflor. Kegiatan tersebut bakal diwujudkan dengan parade yang masif (saya melihat begitu banyak orang, termasuk mahasiswa, dilibatkan) dimana setiap program studi di Uniflor bakal tampil mewakili setiap kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ya, Uniflor memang mediator budaya!

Baca Juga: 5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat

Doakan semua kegiatan yang sudah direncanakan dapat berjalan dengan baik ya, kawan. Yang jelas awal November nanti, saat perhelatan sepak bola Ema Gadi Djou Memorial Cup digelar, akan ada bazaar di depan Stadion Marilonga. Marilah kita ramai-ramai ke sana. Nanti ... hehe.

Satukan langkah, bulatkan tekad, menuju Uniflor bermutu!

#KamisLima



Cheers.

Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel


Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel. Pos hari ini di #RabuDIY cukup singkat padat dan jelas. Karena apa? Karena saya bukan saya yang membikinnya melainkan teman kerja. Jadi, saya cuma pengen ngasih tahu ke kalian bahwa dari kain flanel yang biasanya dipakai untuk mempercantik stoples dan/atau tempat tisu bisa juga langsung diaplikasikan untuk dijadikan dompet. Seperti pada foto di awal pos. 

Baca Juga: Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah

Kuning? Iyess! Waktu ditanya saya jelas meminta dompet berwarna kuning dengan nama saya tertera di salah satu sisinya. Yang membikin ini teman kerja tetapi lebih dikenal sebagai dosen FKIP, namanya Ibu Purnama. Orangnya super kreatif! Sama seperti Violin Kerong hehe. Selain membikin dompet alat tulis berbahan kain flanel, Ibu Pur juga membikin ragam dompet rajutan, yang bahannya tidak saja benang/tali tetapi juga plastik kresek. Ada beberapa dompet lain yang dibikin menggunakan plastik bekas bungkus Nescafe.

Uh wow! Kreatif sekali.

Terbukti mantan sampah tidak selamanya harus dibuang kan? Masih bisa digunakan kembali setelah didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh banyak orang. Saya, kalian, mereka.

Semoga menjadi inspirasi ...

#RabuDIY



Cheers.

Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android


Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android. Sering lihat teman punya lebih dari satu akun Facebook. Alasan yang pertama: karena quota perteman sudah penuh, alasan yang kedua: lupa username dan password sehingga perlu bikin akun baru, alasan yang ketiga: akun diretas. Saya hanya punya satu akun Facebook, the one and only, dan belum kepikiran untuk membikin akun tambahan. Tetapi saya mengelola banyak akun Facebook dari akun utama tersebut khususnya akun grup dan fanpage khususnya yang berkaitan dengan kampus. Sama juga dengan Twitter, saya mengelola lebih dari satu akun di luar akun pribadi alias akun utama, karena berbagai sebab antara lain komunitas dan kampus. Tapi khusus Instagram (IG) saya benar-benar hanya mengelola satu akun pribadi! Tidak ada akun lain yang saya kelola.

Baca Juga: Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru

Adalah satu kemudahan ketika kita mendaftar satu akun, khususnya media sosial, tetapi bisa mengelola akun lainnya yang ditambahkan. Sehingga untuk berpindah akun tidak perlu melakukan log out dan log in yang tentunya rempong sekali, tetapi cukup klik akun mana yang ingin diaktifkan/dipakai untuk pos sesuatu. Sangat mudah terutama untuk para pengguna Android.

Seperti yang sudah saya tulis, berbeda dengan Facebook dan Twitter yang mana saya mengelola banyak akun tanpa harus log out dan log in kembali, menambah akun di IG adalah perkara yang benar-benar baru bagi saya karena mengepos di IG pun tidak serajin mengepos di Facebook dan Twitter. Orang lain tentu sudah tahu tentang perkara yang satu ini karena ada pengguna yang ingin memisahkan antara akun Instagram (IG) pribadi dengan akun IG khusus bisnis. Sedangkan saya harus belajar dan mencari tahu sana sini agar bisa melakukannya.

Apa pasal sampai saya ngotot menambahkan akun IG? Cekidot.

Bertemu Abhi Ray


Sudah saya bilang kalau saya jarang mengepos di IG, otomatis jarang pula memerhatikan DM-nya. Sampai kemudian Kakak Rohyati Sofyan mengajak ikutan Indonesia Saling Follow di IG. Baru saya ngeh ternyata ada banyak DM dari teman-teman dan salah satunya dari Abhi Ray. Abhi Ray adalah sahabat blog sejak zaman dulu kala, sekitar tahun 2003 atau 2004-an yang dikenal sebagai salah seorang founder Segelas Air Putih. Segelas Air Putih awalnya melalui sebuah mailing-list, tempat berbagi cerita inspiratif yang membangun dan memotivasi, kemudian pakai .org, dan sangat membantu saya dalam mengelola program radio yang berhubungan dengan kisah-kisah inspirasi. Tentu, membaca kisah-kisah inspirasi di Radio Gomezone waktu itu atas ijin Abhi Ray dan kawan-kawan juga.

DM Abhi Ray itu bertanya tentang nomor WA. Selanjutnya kami mengobrol lewat WA. Inilah yang membikin saya terharu. Saya baru sekali bertemu Abhi Ray saat ke Jakarta dulu, tahu persis orangnya super baik. Sifatnya yang menginspirasi dan memotivasi tidak bisa hilang, pun saat kami mengobrol via WA. Abhi Ray menyarankan saya untuk membikin akun IG yang berkaitan dengan informasi wisata dan/atau suatu daerah. Beliau bahkan menyarankan nama-nama akunnya. Awalnya saya berkata pada beliau bahwa untuk perkara-perkara informasi berkaitan dengan wisata atau daerah itu sudah tersedia di I am Blocpacker, blog travel milik saya. Tapi kata Abhi Ray, zaman berubah, blog mungkin masih tapi IG lebih.

Ide tentang IG ini menarik juga. Maka malam itu saya mencoba mencari tahu caranya menambah akun baru di IG. Karena, oh yaaaa saya tidak tahu. Uh lala syekali kan. Hehe. Ternyata caranya sangat mudah, hampir sama dengan menambah akun di Twitter.

Dua Akun IG Dalam Satu Aplikasi


Caranya ternyata lumayan mudah. Berdasarkan pengalaman saya, pakailah nomor telepon genggam yang dipasang di perangkat smartphone, lagi pula e-mail saya sudah dipakai untuk mendaftar akun IG pertama kali dulu. Setelah nomor teleponnya ready, mari mendaftar. Pertama-tama tentu harus membuka aplikasi IG terlebih dahulu *ngikik*.


Klik beranda / akun IG kita di pojok kanan bawah samping kanannya ikon hati. Kalau sudah di beranda akun kita, lihat pojok kanan atas, itu nama akunnya @tutehpharmantara. Lihat yang saya lingkari merah? Klik di situ.


Maka akan terbuka halaman seperti pada gambar di atas. Lihat, ada tulisan Tambahkan Akun seperti yang saya lingkari merah di atas. Itu saya screenshoot dalam posisi sudah mendaftar/menambah akun @info_flores (sudah daftar ini ceritanya). Klik tambah akun, maka pengguna akan diantar pada halaman pendaftaran awal, seperti kita mendaftar pertama kali. Ikuti langkah-langkahnya sampai selesai. Dan, akhirnya akun @info_flores pun sudah jadi. Saya tidak menampilkan screenshoot langkah-langkahnya di sini hahaha. Soalnya akunnya sudah jadi dan tidak kepikiran untuk membikin lagi. Pokoknya tidak susah dan tidak rempong kok menambah akun di IG ini.


Akun @info_flores baru ada satu pos, dengan delapan pengikut. Jangan lupa untuk ikuti ya, pasti bakal diikuti balik!

Ternyata semudah itu menambah akun pada satu aplikasi IG di Android.

Baca Juga: Teknik, Koreo, dan Seni Pada Sesi Foto Prewedding

Saat ini saya sedang mengumpulkan materi untuk akun IG: @info_flores. Materinya juga ada yang diusulkan oleh Abhi Ray, dan memang saya punya banyak sekali materi untuk akun tersebut. Bisa diambil dari blog travel, bisa juga mengubek foto-foto yang masih tersimpan rapi di Google Photos, tinggal ditambah satu dua caption (paragraf) sebagai keterangan. Manapula saya bakal kembali keliling Pulau Flores sehingga bisa sekalian menambah isi @info_flores. Yang jelas foto-foto dan video (kalau mau video) bakal saya kasih tanda air dulu hehehe.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Berapa akun yang kalian punya di IG? Bagaimana dengan mengelolanya, susah atau mudah? Karena, konsisten merupakan hal yang cukup sulit untuk dijalani oleh saya dan/atau kalian.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp


Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp. Sebenarnya Senin ini di #SeninCerita dan #CeritaTuteh ada banyak yang ingin saya tulis, gado-gado, campur-campur, tapi sebagian sudah saya tulis di blog travel dalam pos berjudul Konsep Pecinta Alam dan Traveling di Kafe Hola dan pos berjudul Pemburu Sunset: Pantai Ndao - Ende. Alhamdulillah. Tersisa beberapa cerita saja dan dua diantaranya tertuang dalam pos hari ini tentang kegiatan Wisuda Uniflor 2019 dan kegiatan Iya Boleh Camp yang diselenggarakan pada hari yang sama. Sabtu! Makanya Sabtu yang harusnya diisi dengan #SabtuReview absen dulu. Hehe. Satu cerita lagi tentang IG: @info_flores bakal saya pos pada #SelasaTekno.

Baca Juga: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo

Dua kegiatan dalam satu hari ... sibuk donk? Lumayan sibuk sih. Tapi menyenangkan karena pada akhirnya saya menetapkan tanggal 12 Oktober sebagai Hari Kemerdekaan Negara Kuning. Kepo kan? Makanya, dibaca sampai selesai *kedib*.

Bangun Lebih Pagi Demi Dirias


Cerita ini bermula dari Sabtu subuh di mana saya bangun lebih pagi untuk mandi dan bersiap-siap sambil menunggu keponakan saya Kiki Abdullah datang. Iya, dia yang merias wajah saya. Sepanjang saya bekerja di Uniflor, baru Sabtu kemarin saya mau dirias untuk kegiatan wisuda. Biasanya sih wajah polos lugu seperti hari-hari biasa. Hehe. Entah. Saya juga masih berpikir kenapa pada tahun 2019 saya mau dirias seperti itu sama Kiki. Riasannya sederhana/ringan sesuai permintaan saya tapi Kiki tidak mau melewatkan bulu mata dan softlens.


Gosh! Wajah saya yang berminyak sungguh keterlaluan. Haha. Maaf ya, Ki. Janji deh saya akan lebih rajin merawat wajah berminyak ini. Dududud.


Setelah saya dirias, giliran Thika, karena dia juga bakal tampil di Iya Boleh Camp, menemani Syiva gantiin Bundanya emoh tampil dalam Lomba Parade Pakaian Nusantara. Selesai dirias, dengan perasaan berbunga-bunga berangkatlah saya ke kampus yang ternyata sudah cukup ramai. 

Wisuda Uniflor 2019


Beberapa hari terakhir saya sudah sering menulis tentang kegiatan wisuda Uniflor 2019 yang diselenggarakan pada tanggal 12 Oktober. Sejumlah 769 Wisudawan-Wisudawati boleh berbangga, pun orangtua mereka. Tahun 2019 panitia menetapkan tema yaitu Kabupaten Nagekeo. Oleh karena itu mulai dekorasi panggung, aneka booth foto, sampai pakaian baik pakaian panitia maupun dosen dan karyawan Uniflor harus bertema Kabupaten Nagekeo. Khusus pakaian lebih tepatnya pakaian tradisional Kabupaten Nagekeo.


Pakaian tradisional Kabupaten Nagekeo dapat dibagi sebagai berikut:

1. Perempuan

Perempuan Kabupaten Nagekeo memakai kain tenun ikat bernama Hoba Nage yang warnanya didominasi merah, dan baju bernama Kodo berbahan beludru yang berwarna hitam dengan aksen bordiran kuning/emas berpadu bordiran merah. Kalau bukan beludru, kain hitam apa saja pun boleh sebagai bahan Kodo ini. Tetapi, untuk perempuan yang menetap di Kota Mbay, umumnya memakai tenun ikat bernama Ragi Woi dipadu atasan warna putih, hitam, atau kuning. Kadang juga memakai Ragi Woi dipadu Kodo.


Hoba Nage dan Kodo itu seperti yang dipakai oleh Kakak Ully Nggaa (kanan dari pembaca) yang memakai ikat kepala itu.

2. Lelaki

Lelaki Kabupaten Nagekeo memakai kemeja putih lengan panjang, tenun ikat Ragi Woi, dipadu selendang yang dilipat sedemikan rupa melingkar dada dan bahu.



Sabtu kemarin saya senang sekali karena nuansa kuning ada di mana-mana, meskipun banyak juga yang memakai Hoba Nage. Bahkan para penari perempuan penyambut Wisudawan dan Wisudawati memakai Ragi Woi yang dibikin persis rok, dan atasan Kodo. Ausam!




Betul-betul harinya Negara Kuning. Dan sebagai Presiden Negara Kuning saya sampai menitikkan air mata haru. Hehe.


Dan yang tidak boleh dilupakan, anak-anak Resimen Mahasiswa (Menwa) juga turut ambil bagian dalam pengamanan kegiatan wisuda kemarin. Keren kan? Uniflor itu lokasinya boleh di kampung, tapi segala sesuatunya tidak kalah dengan universitas lain di kota besar. Kami punya segalanya, sombong sedikit boleh kan, terutama ragam fasilitas ini itu terkait dunia akademik dan fasilitas pendukungnya.

Iya boleh Camp


Adalah Rikyn Radja, koreografer kondang itu, menghubungi saya untuk menjadi juri Lomba Mewarnai kegiatan Iya Boleh Camp yang diselenggarakan oleh Nestle Dancow. Mengutip dari yang ditulis Kakak Mey Patty di status Facebooknya, Iya Boleh Camp merupakan Parenting Event yang sudah diselenggarakan di 94 kota di seluruh Indonesia dan Sabtu tanggal 12 Oktober 2019 kemarin dilaksanakan di Kota Ende. Iya, Kota Ende adalah kota yang ke-95. Sebagai Orang Ende, tentu saya bangga kegiatan berskala nasional ini bisa digelar di Kota Ende. Anak-anak di kota kami membutuhkan kegiatan serupa untuk lebih mengasah bakat dan kreatifitas mereka.

Iya Boleh Camp menggelar tiga lomba yaitu:
1. Lomba Aksi Cilik yang diikuti 21 anak.
2. Lomba Parade Pakaian Nusantara yang diikuti 33 pasang (anak dan mama/pendamping).
3. Lomba Mewarnai yang diikuti oleh 276 anak.
Dari total 400-an pendaftar.


Awalnya saya memang hanya dihubungi untuk menjadi juri Lomba Mewarnai saja, tetapi saat TM ternyata saya dan Kakak Mey bersama-sama menjuri tiga lomba yang digelar tersebut. Baiklah. Yang paling menarik dari Iya Boleh Camp adalah dress code-nya adalah kuning! Oh My God! Saya berbunga-bunga. Hehe.

Makanya, Sabtu kemarin setelah hadir di kegiatan wisuda, bersama-sama Kakak Rosa mengurus ini itu yang berkaitan dengan seksi kepanitiaan kami, saya pun ijin pergi ke Graha Ristela yang terletak di Jalan El Tari, Ende. Ini gedung baru serbaguna yang cukup besar-memanjang dan sering dipakai untuk acara pernikahan dan/atau kegiatan ini itu. Tiba di Graha Ristela, untungnya masih dapat space parkir sepeda motor, saya langsung melenggang ke dalam ruangan mencari meja juri. Hehe. Ketemu Kakak Mey, duduk santai sedikit, acara akhirnya dimulai. Alhamdulillah.


Acara dimulai dengan penampilan drum band cilik dari TK Al Hikmah Ende, ada juga penampilan dari TK lainnya dan diteruskan dengan Lomba Aksi Cilik. Aksi Cilik ini maksudnya anak dan Mama tampil di panggung, bergoyang mengikuti lagu yang diudarakan, dan dinilai oleh juri. Apa saja yang dinilai? Ya kekompakan anak dan Mama, bounding mereka, sampai dengan kesesuaian antara gerak dan lagu. Anak-anak yang tampil dalam Lomba Aksi Cilik ini masih di bawah lima tahun, dan tentu tidak sulit untuk menentukan siapa yang juara. Karena, begitu banyak anak yang malu-malu bahkan seperti ketakutan di panggung, dan beberapa anak yang begitu lincah di panggung beraksi bersama Mamanya. Kita bisa melihat betapa pentingnya peran Mama di rumah ya hahaha.

Setelah Lomba Aksi Cilik, Lomba Parade Pakaian Nusantara pun dimulai. Tiga puluh tiga pasangan Mama-anak berlenggak-lenggok di atas panggung bak peragawati kawakan. Hehe. Apa saja yang dinilai? Pertama kesesuaian busana Mama-anak, teknik catwalk dan kekompakan di atas panggung, penguasaan panggung, hingga nilai modifikasi busananya. Meskipun banyak yang tampil Mama dan anak perempuan, tetapi ada juga Mama dan anak lelaki. Asyik lah. Manapula busana tradisionalnya keren-keren: dimodifikasi dengan sangat baik. Namun tidak bisa dipungkiri ada Mama yang seolah tampil cetar sendiri sedangkan anaknya celingak-celinguk, ada yang betul-betul kompak kayak anak kembar, ada yang mandek memeluk Mamanya di panggung. Haha.


Yang terakhir, Lomba Mewarnai. Waktu Lomba Mewarnai selama empat puluh lima menit memberi waktu kepada saya dan Kakak Mey untuk menilai dua lomba sebelumnya. Ndilalah, penilaian kami sama! Ini yang dinamakan juri sama-sama obyektif sehingga tidak sulit menentukan juara-juaranya. Bayangkan kalau ada juri yang subyektif lantas perdebatan menjadi terlalu alot. Bagi saya, lomba manapun, baik yang diikuti remaja maupun anak-anak, juri harus obyektif. Tidak boleh ada kata kasihan di dalam penilaian karena itu akan merusak reputasi hahaha. Tidak boleh bilang: kasihan si anak sudah berusaha. Juri harus menilai berdasarkan poin penilaian yang sudah ditetapkan. Itu saja.

Menilai kertas-kertas hasil mewarnai pun tidak seberapa sulit. Saya sudah sering menjuri lomba mewarnai, selalu diajak sama juri kondang Om Beny Laka, jadi tahu bagaimana menjuri lomba mewarnai bahkan yang diikuti oleh ratusan anak. Sabtu kemarin, empat juara Lomba Mewarnai memang menghasilkan gambar yang baik: pilihan warna, kesesuaian warna dengan tema, kerapian, garis batas, gaya arsir, hingga daya kreatif-nya. Penilaian itu saya pelajari dari Om Beny Laka, sang maestro. Jadi saya juga bisa menjelaskan kenapa si A juara satu, kenapa si B juara dua, dan seterusnya. Sayangnya kemarin tidak diberi kesempatan menjelaskan. Hehe. Tapi saya sudah siap pelurunya lah.

Mana saya tahu kalau yang juara Parade Pakaian Nusantara adalah sahabat saya Mei Ing dan anaknya yang bernama Rachel? Yang saya tahu cuma nomor tampilnya saja. Mana saya tahu kalau yang juara Lomba Mewarnai itu Andien, anaknya Ibu Nuraini? Ndilalah Andien adalah juara tiga lomba mewarnai sebelumnya yang tingkat kabupaten. Pokoknya saya jujur saja kalau dalam soal menilai. Hahahaha. Selamat kepada para juara, sampai ketemu di kegiatan berikutnya!



Yang pasti, saya terpukau sama empat hasil mewarnai seperti pada foto di atas. Mereka jelas tidak juara, tapi mereka unik, karena berani berkhayal dan bermain dengan warna-warna di luar warna yang seharusnya. Bahkan salah satunya, kiri atas, betul-betul abstrak! Haha.

Hari Kemerdekaan Negara Kuning


Negara Kuning bentukan saya dengan saya sendiri sebagai Presidennya sudah lama berdiri sejak tahun 2013-an. Tapi belum pernah saya menentukan Hari Kemerdekaannya. Boleh lah ya, karena suatu negara boleh dipersiapkan terlebih dahulu. Macam Indonesia, negaranya sudah lama ada, tapi belum punya pemimpin karena masih terkapling dalam wilayah-wilayah kecil (kerajaan salah satunya), lalu dijajah, lalu merdeka pada 17 Agustus 1945.

Baca Juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Sama juga dengan Negara Kuning!

Jadi, kalau ada yang tanya kapan Negara Kuning merdeka? Jawabannya 12 Oktober 2019, enam tahun setelah dibentuk *ngakak guling-guling*.

Demikianlah, kawan, cerita hari ini dari kegiatan Sabtu kemarin. Semoga menghibur kalian yang membacanya ya.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur


5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak saja kaya akan suku, tetapi juga kaya akan bahasa, adat istiadat, serta budaya. Salah satu hasil kebudayaan masyarakat Provinsi NTT adalah tenun ikat. Tenun ikat dari NTT dibikin secara manual oleh tangan-tangan bersahaja para penenun, dibumbu cinta kasih, dan melalui proses panjang yang memakan waktu hingga berbulan-bulan. Alat menenunnya pun masih menggunakan alat tenun tradisional. Selain menggunakan pewarna buatan pada tenun ikat, para penenun juga masih mempertahankan pewarna alami seperti akar mengkudu dan daun taru(m). Khusus di Kabupaten Ende, tenun ikat yang masih menggunakan pewarna alami ini terutama pada tenun ikat berjenis Kembo. Tidak heran harga Kembo sangat mahal. Bisa mencapai jutaan Rupiah.

Baca Juga: 5 Perkara yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan

Sebagai masyarakat Kabupaten Ende, Pulau Flores, tentu saya wajib memiliki tenun ikat, yang masih dalam bentuk lembaran maupun sudah menjadi sarung, untuk dipakai ke acara-acara tertentu, acara keluarga maupun acara kantor. Setidaknya satu perempuan Kabupaten Ende, baik Suku Ende maupun Suku Lio, harus punya satu sarung tenun ikat jenis manapun. Kebanyakan, perempuan Kabupaten Ende mempunyai dua sarung tenun ikat dan salah satunya pasti berjenis Kembo.

Sejak satu bulan lalu Universitas Flores (Uniflor) memberlakukan tata tertib berpakaian baru. Sebagai karyawati yang patuh *uhuk*, tentu saya harus mengikuti peraturan tersebut. Saya jadi gemar mencari tahu tenun ikat selain dari Kabupaten Ende. Peraturan berpakaian itu adalah setiap Hari Selasa memakai kemeja putih dan sarung tenun ikat khas Kabupaten Ende, setiap Hari Kamis memakai kemeja rapi dan kain dari daerah manapun di Nusantara. Tidak masalah, karena setelah membongkar lemari, saya punya beberapa tenun ikat Kabupaten Ende (berbagai jenis) juga tenun ikat dari kabupaten lain di Provinsi NTT. Tidak hanya itu, saya juga punya kain batik hadiah dari teman-teman: batik Bali, batik Madura, batik Jawa.

Menulis LIMA pada judul pos ini tentu bukan berarti di Provinsi NTT cuma ada lima jenis tenun ikat. Jangankan satu provinsi, satu kabupaten saja tidak bisa diwakili dengan lima jenis tenun ikat saja. Tapi, lima merupakan angka Kamis di blog ini, sehingga kali ini saya ingin menulis tentang lima jenis tenun ikat yang sudah berhasil saya kumpulkan. Hehe. Sombong sedikit tak masalah kan ya.

Marilah kita cek.

1. Sarung Mangga


Nama tenun ikatnya adalah Mangga, kalau sudah dijahit sarung, ya jadinya sarung Mangga. Sarung Mangga identik dengan warna hitam dipadu corak putih dan merah. Coraknya kecil-kecil dengan ikatan yang rapi. 


Harga sarung Mangga berkisar Rp 500K s.d. Rp 700K. Tidak semahal sarung Kembo. Sudah saya tulis di atas, Kembo itu mahal karena pewarnanya pewarna alami serta proses membikinnya yang super lama. Bisa mencapai enam bulanan. Makanya, memakai Kembo itu selalu membikin perempuan merasa jauh lebih bangga. Hehe. Mahal coy. Beda dengan perempuan Suku Ende yang umumnya memakai sarung Kembo dan/atau sarung yang katanya: tidak bernama, perempuan Suku Lio lebih banyak pilihan jenis sarungnya seperti sarung Kelimara, sarung Jara (ada cora kuda),  sarung Lepa, sarung Pundi, sarung Luka, dan lain-lainnya.

Untuk mengumpulkan semua jenis sarung dari Kabupaten Ende saja saya harus menunggu uangnya terkumpul, haha.

2. Tenun Ikat Sikku


Kalau kalian beranggapan tenun ikat asal Pulau Sumba itu hanya seperti yang diperdebatkan dengan tenun ikat Troso - Jepara, kalian salah. Pulau Sumba terbagi atas empat kabupaten yaitu Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat, dan Kabupaten Sumba Barat Daya. Setiap kabupaten punya jenis tenun ikatnya masing-masing. Yang berbentuk fauna itu umumnya dari Kabupaten Sumba Timur. Sedangkan yang satu ini berasal dari Kabupaten Sumba Barat, saya beli waktu mempromosikan Uniflor beberapa tahun lalu:


Namanya Sikku. Berasal dari Kabupaten Sumba Barat di Pulau Sumba. Informasi tentang Sikku ini saya peroleh dari sahabat saya yang asli sana dan menetap di sana, Marten Bira. Saya punya dua tenun Sikku ini, satunya sudah dibikinkan gaun saat wisuda tahun 2018 lalu. Hehe. Yang satu ini masih saya pertahankan karena memang pengen memakainya dalam bentuk lembaran begini alias tidak perlu dijahitkan baju. Tahun 2015 saya membelinya seharga ... lupa ... sekitar Rp 300K sampai Rp 400K.

3. Sarung Kewatek 


Dari deskripsi yang saya peroleh dari berbagai sumber, maka sarung yang gambarnya di bawah ini bernama Kewatek, berasal dari Pulau Adonara. Kebetulan ada teman yang menjualnya dengan harga murah, langsung angkut, hanya Rp 400K. 


Satu-satunya yang tersisa alias sudah tidak ada pilihan lagi hahaha. Kenapa saya ngotot harus memilikinya? Karena ... kapan lagi? Pertama: masih bisa saya pakai setiap Hari Kamis sesuai aturan berpakaian di kantor. Kedua: koleksi. Perlahan-lahan. Saya masih pengen punya tenun ikat dari wilayah lain di Pulau Flores dan sekitarnya.

4. Hoba Nage


Tentang Hoba Nage dan bagaimana cara saya memburunya, itu perkara yang berkaitan dengan tema wisuda Uniflor 2019. Kalian bisa membaca ulasannya pada pos berjudul: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo


Umumnya Hoba Nage dipakai oleh kaum perempuan dari Kabupaten Nagekeo. Sedangkan untuk laki-lakinya memakai Ragi Woi. Tapi di Kota Mbay, perempuan juga menggunakan Ragi Woi, tidak hanya laki-laki.

5. Ragi Woi


Ini dia si Ragi Woi. Saya mendapatkannya dari keponakan setelah mereka menikah. Iwan (keponakan saya) menikah dengan Reni (asal Danga, Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo).


Kuningnya itu yang sangat khas, dan rasa-rasanya sangat cocok dipakai oleh Presiden Negara Kuning (sayaaaaa hahaha).

⇜⇝

Mempunyai lima jenis tenun ikat pada daftar di atas saja sudah membikin saya senang bukan kepalang. Akhirnya punya Kewatek! Akhirnya punya Hoba Nage! Meskipun memilikinya tidak pada satu masa bersamaan, tapi yang jelas sebagai masyarakat Provinsi NTT saya boleh berbangga pada orang luar. Pun, setidaknya saya masih bisa menjelaskan pada orang luar tentang asal daerah tenun ikat bersangkutan, nama/jenisnya, serta dipakai oleh laki-laki atau perempuan(?). Kan malu kalau ditanya sama orang luar, eeeeh tidak mampu menjawabnya, padahal informasinya bisa diperoleh dari mana saja, terutama dari penduduk/orang yang memang tahu benar.

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo

Apakah saya masih mau mengumpulkan tenun ikat dari daerah lain di Pulau Flores dan/atau Provinsi NTT? Oh, tentu! Saya harus punya sarung/tenun ikat dari Kabupaten Manggarai (Kabupaten Manggarai Barat atau Kabupaten Manggarai Timur, mana-mana suka), Kabupaten Sikka, Kabupaten Pulau Lembata, bahkan dari Pulau Sabu. Dulu, saya punya selendang/syal asal Pulau Sabu tapi sudah saya berikan ke teman. Nanti cari lagi. Hehe.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi saya, mengumpulkan tenun ikat aneka jenis dari berbagai daerah merupakan perbuatan kecil demi melestarikan budaya dan membantu para penenun. Cuma perbuatan kecil, tapi kalau dilakukan oleh banyak orang, akan menjadi perbuatan besar. Bukan demikian? Demikian ... hehe.

#KamisLima



Cheers.

Ini Dia Fakta Sejarah Candi Borobudur yang Harus Kalian Tahu

Foto tahun 2006, baru dipamer tahun 2019.

Ini Dia Fakta Sejarah Candi Borobudur yang Harus Kalian Tahu. Tahun 2006, dalam perjalanan panjang Ende - Surabaya - Jakarta - Yogyakarta - Surabaya - Ende, saya berkesempatan pergi ke Candi Borobudur. Waktu itu saya mengendarai sepeda motor sewaan dengan angka speedometer tinggi, haha hihi sepanjang perjalanan, tahu-tahu sudah tiba. Itu adalah salah satu cita-cita lama yang baru terwujud tahun 2006! Cita-cita lama lainnya adalah menumpang andong di Jalan Malioboro terus teriak kencang-kencang: Jogjaaaaa, saya naik andoooong! Sampai dilihatin orang-orang dan teman-teman saya menutup wajah saking malunya. Haha. Sayangnya waktu itu saya belum membikin blog Tuteh Travel sehingga cerita tentang kampungannya saya saat naik andong belum pernah dipublikasikan di blog khusus wisata itu.

Tahun 2006, kamera yang dipakai untuk foto-foto pun masih kamera saku dan negatif filemnya dicuci-cetak di tempat khusus. Saya belum pakai DSLR pun telepon genggamnya masih seperti yang dipakai Sanchai dalam Meteor Garden itu. Alhamdulillah saya termasuk orang yang menghargai perjalanan sendiri sehingga ketika membongkar album lama, tradaaaa masih ketemu foto waktu ke Candi Borobudur, seperti yang kalian lihat di awal pos (foto di atas foto, hehe). Tahun 2006, untuk masuk ke Candi Borobudur belum diberlakukan memakai kain batik yang disediakan oleh pengelola.

Ternyata banyak fakta sejarah Candi Borobudur yang belum diketahui masyarakat Indonesia. Kalian pasti kepo pengen tahu juga kan? Makanya, baca sampai selesai. Tapi sebelumnya, marilah kita kenalan (lagi) dengan candi yang satu ini.

Candi Borobudur


Siapa yang tidak kenal Candi Borobudur? Yuk, segarkan kembali ingatan tentang candi yang satu ini. Candi Borobudur merupakan bangunan candi Buddha yang hingga saat ini masih menjadi pusat beribadahan umat Buddha di dunia. Meskipun diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 825 Masehi, hingga saat ini Candi Borobudur masih menjadi daya tarik yang spektakuler bagi berbagai kalangan. Mulai dari wisatawan mancanegara dan domestik, penggiat studi sejarah dan budaya, arkeolog, dan lain-lain. Hingga sekarang candi yang juga terkenal dengan stupa-nya itu tidak hanya menjadi obyek wisata saja, melainkan juga berkembang menjadi pusat budaya bagi masyarakat setempat.

Zaman itu disuruh pose begini, manut saja, hahaha.

Berapa harga tiket masuk Candi Borobudur? Murah! Hanya Rp 35.000! Saya tidak membandingkan harga tiket masuk ini dengan harga tiket masuk obyek wisata lainnya karena setiap obyek wisata tentu punya manajemennya masing-masing termasuk dalam perkara menentukan biaya tiket masuk.

7 Fakta Sejarah Candi Borobudur


Di balik keelokan Candi Borobudur, ada fakta sejarah yang mungkin belum diketahui oleh sebagian masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, hari ini ijinkan saya *tsah* menulis tentang 7 fakta sejarah Candi Borobudur. Mari kita mulai.

1. Situs Warisan Dunia UNESCO


Candi Borobudur dinobatkan sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia. Perlu kalian ketahui, bahwa hingga saat ini memiliki status sebagai Situs Warisan Dunia. Pengabsahan ini telah ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1991. Dengan demikian diharapkan Candi Borobudur bisa mendapatkan perawatan, pengamanan, dan pelestarian, agar dapat diteruskan kepada generasi-generasi mendatang. Sebagai Orang Indonesia, saya bangga dengan pengakuan yang luar biasa ini.

2. Kuil Buddha Terbesar


Guinness World Record mencatat nama Borobudur sebagai kuil Agama Budha terbesar dunia. Dengan luas mencapai 15.129 meter persegi, catatan volume candi ini memiliki panjang 1000 meter dan tinggi 42 meter. Borobudur juga memiliki 10 tingkat serta 72 stupa. Catatan ini menjadikan Candi Borobudur sebagai pusat ibadah umat Buddha terbesar di dunia. Tidak heran ketika Hari Raya Waisak, Borobudur akan dipenuhi oleh umat Buddha dari berbagai penjuru dunia.

3. Sir Thomas Stamford Raffles


Orang Inggris yang pernah menjadi Gubernur di Hindia Belanda ini ternyata memiliki peran penting dalam menggaungkan nama Candi Borobudur. Sejak situs candi ditemukan di bawah gundukan pasir, H.C. Cornelius diutus untuk mencari kebenaran akan adanya candi tersebut. Raffles sendiri memiliki peran penting melalui bukunya “History of Java” dimana nama Bore-Budur tertulis di buku tersebut. Raffles juga menceritakan bagaimana proses-proses yang dilakukan oleh Cornelius dan para prajuritnya dalam menangani situs candi ini ketika pertama kali ditemukan. Buku legendaris ini menjadi salah satu tahap awal Borobudur dikenal oleh dunia.

4. Jam Matahari Raksasa


Ternyata bentuk melingkar di bagian atas candi, serta susunan stupa di bawah stupa induk memiliki fungsi lain selain pusat ibadah. Pada masa kerajaan dahulu, susunan stupa ini menjadi jam matahari yang berguna untuk menentukan waktu. Petunjuk waktu ini mengandalkan arah putar matahari dan bayangan dari stupa akan menunjukan waktu tertentu. Jadi, sejak zaman itu teknologi sederhana penunjuk waktu sudah dipakai. Hebat, ya.

5. Pernah Jadi Korban Terorisme


Terorisme ternyata pernah merambah situs Candi Borobudur, jauh sebelum era terorisme modern saat ini. Pada tahun 1985, situs candi Borobudur pernah diguncang bom yang merusak setidaknya 9 stupa secara permanen. Serangan ini jelas merusak peninggalan sejarah meskipun dalang kejadian ini telah mendapat hukuman. Ya namanya juga peninggalan sejarah, harus dijaga, bukan dirusak dengan cara-cara tidak terpuji seperti itu. Ini harus menjadi perhatian bersama dalam hal pelestarian situs sejarah dan budaya agar kelak menjadi bekal untuk generasi masa depan.

6. Relik Borobudur di 6 Museum Dunia


Potongan bagian atau relik dari candi Borobudur ternyata tersebar di setidaknya 6 museum besar di dunia. Sebut saja Museum Louvre di Paris, Perancis dan Museum Nasional Bangkok, di Thailand. Bagian-bagian candi ini dahulu sering dijadikan cinderamata bagi pemimpin-pemimpin dunia.

7. Arca Stupa Induk


Stupa induk Candi Borobudur yang menjadi pusat bangunan ini memiliki ukuran terbesar pada struktur candi yang tampak sepenuhnya tertutup tanpa rongga. Ternyata di dalam stupa induk ini dahulu ditemukan arca Buddha yang tertimbun material stupa induk. Patung yang saat ini dikenal sebagai “The Unfinished Buddha” karena banyak yang meyakini patung ini memang tidak diselesaikan namun memiliki bentuk Buddha yang sangat jelas. Saat ini wisatawan bisa menemukan patung ini berada di bagian luar Museum Karmawibhangga. 

⇜⇝

7 fakta sejarah Candi Borobudur di atas sebaiknya memang harus diketahui oleh lebih banyak orang, khususnya Orang Indonesia. Agar apa? Agar Orang Indonesia semakin bangga dan menanamkan rasa cinta serta memiliki. Ketika sudah tumbuh rasa cinta, apapun akan dilakukan untuk mempertahankannya. Bukan begitu? Ya begitu dooonk. Ternyata urusan cinta memang jatuhnya sama juga. Harus bisa menjaga, memelihara, melestarikan.


Kalau ditanya: apakah masih mau ke Candi Borobudur lagi? Ya, jelas donk. Tentu banyak perubahan yang terjadi sejak tahun 2006 itu. Bila kalian penasaran dengan misteri yang ada dibalik kemegahan Candi Borobudur, marilah datang ke situs Buddha yang berlokasi di Magelang, Jawa Tengah. Jangan ragu membayar harga tiket masuk candi borobudur, karena harganya yang terjangkau bisa mengantar kalian menjelajahi sudut-sudut situs bersejarah yang terkenal di dunia ini. Pun, di dalam kompleks candi ini juga kalian bisa belajar banyak hal terkait sejarah dan perkembangan adat budaya. 

Tunggu apa lagi? Yang di luar Pulau Jawa, buru tiket pesawat diskonannya mulai dari sekarang! Hehe.



Cheers.

Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo


Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo. Kabupaten Nagekeo. Lagi! Hehe. Rajin sekali menulis tentang Kabupaten Nagekeo! Ya mau bagaimana lagi. Saya memang sering ke Kabupaten Nagekeo, khususnya Ibu Kotanya yaitu Kota Mbay untuk beberapa urusan, baik urusan pribadi maupun urusan pekerjaan. Sehingga sayang sekali kalau tidak menulis tentang kabupaten tersebut terutama tempat wisata hingga ragam kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah sana. Terakhir, saya ke Kota Mbay untuk menyaksikan sendiri Festival Literasi Nagekeo 2019. Betul juga kata anak-anak sana: Nagekeo Gaga Ngeri!


Berkaitan dengan Universitas Flores a.k.a. Uniflor. Dalam Bulan Oktober tepatnya tanggal 12 nanti bakal ada kegiatan wisuda. Dan Uniflor memang selalu punya tema berbeda setiap tahunnya. Tema ini berkaitan dengan kabupaten yang ada di Pulau Flores dan sekitarnya. Mau tahu serunya? Yuk baca sampai selesai! Hehe.

Uniflor Sebagai Mediator Budaya


Uniflor, universitas pertama di Pulau Flores yang berdiri tahun 1980, punya visi besar yaitu Menjadi Universitas Unggul dan Terpercaya Sebagai Mediator Budaya. Kenapa mediator budaya? Menurut analisa saya pribadi, hal ini dikarenakan mahasiswa Uniflor berasal dari berbagai daerah di Pulau Flores dan sekitarnya, pun dari daerah lain di luar Pulau Flores. Uniflor harus bisa menyatukan mereka semua. Ini analisa pribadi ya, hehe. Karena sepanjang yang saya lihat, toleransi di Uniflor itu sangat tinggi. Toleransi ini tidak saja dari lini lintas agama: kalian bisa melihat Suster dan muslimah bercadar jalan bersamaan sambil berdiskusi, tapi juga lintas suku: kalian bisa melihat anak Manggarai berdebat ilmiah dengan anak asal Pulau Lembata.

Salah satu wujud Uniflor sebagai mediator budaya bisa dilihat pada saat kegiatan wisuda. Panitia wisuda akan dibentuk kira-kira satu bulan sebelumnya. Pada pertemuan pembentukan panitia itu, biasanya saya paling suka menunggu penyampaian soal tema. Setiap tahun Uniflor mengusung tema berbeda/kabupaten berbeda. Maka, pada wisuda tahun 2019 ini tema yang diusung adalah Kabupaten Nagekeo. Artinya, dekorasi dan panggung harus ada unsur Kabupaten Nagekeo. Pakaian panitianya harus pakaian adat Kabupaten Nagekeo. Sua sasa/penyambutan wisudawan di pintu masuk dan tarian pun harus tarian dari daerah Nagekeo. Sedangkan wisudawan, tidak pernah dipaksakan pakaian tradisional yang mau dipakai. Bebas. Lagi pula kan tertutup jubah. Hehe.

Pakaian Tradisional/Adat Kabupaten Nagekeo


Setelah tahu tentang tema kabupaten yang diusung, maka mulailah saya sibuk mencari informasi tentang pakaian tradisional Nagekeo. Setahu saya, Kabupaten Nagekeo hanya punya satu jenis/motif tenun ikat. Dan saya salah. Kedunguan tingkat tertinggi saya adalah itu. Hahaha. Saya pernah memakai sarung itu dalam suatu video klip seperti screen shoot di bawah ini:


Kain tenun ikat di atas biasa dipakai oleh Orang Mbay. Warna hitam dengan aksen warna kuning (hyess, my colour!).

Berdasarkan informasi dari Wikipedia, terima kasih Wikipedia, ada tiga jenis tenun ikat dari Kabupaten Nagekeo yaitu Hoba Nage, Ragi Woi, dan Dawo. Orang Keo Tengah menyebut ketiga jenis kain ini dengan Dawo Nangge, Duka Wo'i, dan Dawo Ende. Tapi tentu saya akan mengikut penamaan secara umum yaitu Hoba Nage, Ragi Woi, dan Dawo.

Seperti apa penampakannya? Mari kita lihat:

1. Hoba Nage


2. Ragi Woi


3. Dawo (Dawo Ende)


Terus, laki-lakinya biasa memakai apa? Biasanya laki-laki memakai kemeja putih dan Ragi Woi.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari teman-teman Orang Nagekeo, juga isteri keponakan yang asli Danga - Mbay - Nagekeo, ada dua jenis utama sarung tenun ikat yang sering dipakai oleh penduduk Kabupaten Nagekeo yaitu Hoba Nage dan Ragi Woi. Mereka menyebutnya tenun ikat Nage dan tenun ikat Mbay. Menurut sebagian orang Ragi Woi itu khusus dipakai oleh laki-laki sedangkan Hoba Nage khusus dipakai oleh perempuan. Tetapi di Kota Mbay, Ragi Woi dipakai oleh laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan. Sedangkan di daerah sekitar Kecamatan Boawae, laki-laki khusus memakai Ragi Woi dan perempuan khusus memakai Hoba Nage.

Makanya, saya sering melihat teman-teman perempuan dari Kota Mbay memakai Ragi Woi, dipadukan dengan atasan warna putih (tak selamanya warna hitam) seperti yang juga saya pakai pada foto di awal pos dan foto berikut ini:


Saya dan Deni Parera, penyanyi bersuara emas, sama-sama memakai Ragi Woi. Bagi masyarakat Kabupaten Nagekeo, itu bukan masalah. Bahkan menurut Abang yang aseli Orang Nagekeo khususnya Kecamatan Boawae, apa yang saya pakai itu sudah benar dan nanti kalau saat wisuda tinggal pakai begitu saja. Beres.

Tetapi sebenarnya atasan untuk perempuan itu seperti foto berikut ini:


Nama baju ini Kodo. Kodo ini dihiasi dengan bordiran tangan, bukan mesin loh! Keren dan sangat unik kan?

Berburu Hoba Nage


Dipikir-pikir, ketimbang menyewa lebih baik saya membeli saja Hoba Nage. Kata teman kerja, Mama Sedes, ada yang sedang jual murah dipatok tenun ikat Hoba Nage seharga Rp 550K saja. Tentu saja saya mau! Lagi pula ini bisa jadi inventaris, alias kalau nanti kembali dibutuhkan, sudah punya barangnya, tidak perlu pusing mencari. Hanya saja saya belum menerima tenun ikatnya, masih menerima fotonya saja hahaha. Nanti tenun ikat Hoba Nage dalam bentuk lembaran itu bakal saya jahitkan menjadi sarung.

Selain itu, saya juga bertanya-tanya pada teman yang bermukim di Kota Mbay yaitu Daniel Daki Disa. Nah padanya saya juga bisa meminta tolong untuk menyewakan Kodo dan Hoba Nage, dikirim ke Ende, kalau sudah selesai dipakai bisa dikembalikan. Doakan semoga tanggal 12 Oktober nanti saya sudah bisa memakai pakaian adat Kabupaten Nagekeo, ya!

⇜⇝

Pertanyaannya sekarang adalah kenapa saya sampai ngotot harus bisa memakai pakaian adat Kabupaten Nagekeo saat kegiatan wisuda nanti? Untuk menjawabnya, kita harus kembali pada Uniflor sebagai mediator budaya.

Kepanitiaan wisuda selalu terdiri atas dosen dan karyawan Uniflor. Dosen dan karyawan Uniflor datang dari berbagai daerah di Pulau Flores dan sekitarnya. Bisa kalian bayangkan, ketika tema wisuda jatuh pada Kabupaten Ende, semua dosen dan karyawan yang bukan Orang Ende harus berupaya untuk mencari dan memakai pakaian adat Kabupaten Ende. Khusus perempuan disebut Lawo Lambu / Zawo Zhambu. Khusus laki-laki memakai kemeja putih, destar (ikat kepala), dan sarung laki-laki bernama Ragi Mite.

Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Ketika tema jatuh pada kabupaten lain selain Kabupaten Ende, tentu kami harus menghormati dan menghargai keputusan tersebut dengan cara mengikuti ketentuan yang ditetapkan untuk panitia. Bagi saya pribadi ini adalah tantangan tersendiri: mencari pakaian tradisional/adat Kabupaten Nagekeo. Seandainya pun gagal membeli Hoba Nage, saya masih bisa memakai Ragi Woi dan atasan warna hitam (disesuaikan dengan Kodo). Lagi pula, adalah sesuatu yang sangat membahagiakan diri saya pribadi apabila bisa mengenakan pakaian tradisional/adat dari daerah lain di Pulau Flores. Sesuatu yang mengenyangkan sukma. Hehe.

Nantikan cerita dan foto-fotonya, ya!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.