Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo


Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo. Kamis, 9 Januari 2020, lagi-lagi saya tancap gas menuju Kabupaten Nagekeo. Sepertinya dari semua kabupaten yang ada di Pulau Flores khususnya dan Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya, Nagekeo merupakan kabupaten yang paling sering saya kunjungi baik untuk meliput kegiatan kampus maupun karena kepentingan pribadi. Keberangkatan saya kemarin itu karena hendak meliput kegiatan Uniflor Road Show 2020 oleh Panitia Panca Windu Uniflor 2020 yang diselenggarakan di Lapangan Berdikari, Kota Mbay. Uniflor Road Show 2020 diselenggarakan Sabtu, 11 Januari 2020, tapi saya memilih berangkat dua hari lebih awal karena diperbolehkan. Haha. Lagi pula saya juga harus pergi ke sekolah-sekolah untuk mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) bersama Kakak Shinta Degor dan Pak Anno Kean. Ya, kami masih menjadi bagian dari Tim Promosi Uniflor.

Baca Juga: Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita

Sebenarnya dari Ende saya hendak tancap gas sendirian ke Kota Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, tetapi setelah japri sama Kahar yang kebagian jadi anggota panitia seksi perlengkapan, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat bersama. Terpaksa meninggalkan rombongan pertama lainnya yang masih siap-siap. Tancap gas tanpa jeda sedikit pun terbayarkan ketika mulut sibuk mengunyah butir jagung pulut rebus di Aigela, sebagai check point tiga kabupaten: Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Nagekeo. Dari Aigela, perjalanan dilanjutkan ke Kota Mbay. Tiba Kamis sore menjelang maghrib, saya dan Kahar langsung menikmati mi ayam yang rasanya aduhai dan saya lupa nama warung kecil itu. Hehe. Lantas kami menuju rumah Novi Azizah di daerah Alorongga (masih daerah kota), alih-alih menginap di rumah keponakan saya di Towak.

Di Aigela.

Melepas lelah, ngopi, mengobrol, haha hihi, bersama Kahar dan Novi, rasanya sangat menyenangkan. Dari situ saya mendengar banyak cerita masa kecil mereka yang bahagia, karena Kahar juga pernah bersekolah (SD) di Kabupaten Nagekeo. Salah satunya: sarapan nasi disiram kopi-panas. Wow! Bagian ini bakal saya ceritakan di pos tersendiri. Haha. Bagi mereka kisah ini semacam aib, tapi bagi saya kisah ini merupakan sesuatu yang harus diceritakan karena unik.

Karena satu dan lain hal, beberapa teman panitia yang tiba Kamis malam, menginap pula di rumah Novi. Terima kasih yang luar biasa untuk Mama dan Novi yang sudah menerima kami semua. Hehe. Terkhusus empat teman lainnya itu: Om Evan, Sotter, Willy, Marten. Kalau Kahar sih menginap di rumah kakaknya yang memang berdomisili di Kota Mbay. Sedangkan saya sendiri memang sering menginap di rumah Novi atau di rumah keponakan. Meskipun baru keluar dari rumah sakit, tapi Mama begitu tulus menerima kedatangan teman-teman lain di rumah itu. Ah, serasa home sweet home.

Akhirnya saya punya banyak cerita dari perjalanan ini selain kegiatan Uniflor Road Show 2020!

Yuk mari kita cari tahu apa saja cerita menarik dari Kabupaten Nagekeo tercinta ini *kedip-kedip*.

Kebun Sayur


Jum'at, 10 Januari 2020, merupakan hari terbaik sekaligus tersibuk khusus untuk saya dan Novi. Hari itu saya dan Novi sudah punya rencana jalan-jalan. Jalan-jalan yang cukup panjang dan lama. Tapi, mengingat ada empat teman lain yang menginap di rumah Novi, kami kemudian memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke pasar dan memasak makan siang karena Mama belum kami ijinkan masuk dapur. Di pasar, kami hanya membeli ikan, tahu-tempe, dan bumbu, sedangkan sayurnya dibeli langsung di kebun sayur! Menurut Novi, lebih baik membeli sayur langsung di kebun karena bakal dapat banyak. Lha, saya pikir kebunnya itu jauuuuh banget. Karena kan judulnya 'kebun' begitu. Ternyata lokasi kebun sayur ini tidak sampai 500 meter dari rumah Novi. Uh lala. Manapula sepeda motor bisa langsung diparkir di depan rumah pemiliknya.


Namanya juga kebun sayur, areanya luas (sekitar satu hektar), dipergunakan oleh pemiliknya untuk menanam bermacam jenis sayuran seperti kangkung, sawi, terung, pucuk labu, bayam (juga bayam merah) dan lain sebagainya. Begitu tiba di depan rumah pemiliknya yang sepetak dua petak itu, Novi langsung bilang, "Beli sayur kangkung lima ribu, sayur sawi lima ribu, terung lima ribu." Saya pikir, dapatnya paling segitu-segitu juga, tidak super wow seperti yang dibilang Novi sebelumnya. Lantas mata saya mengekori si Mama yang mengambil parang dan pergi ke kebun. Seperti terhipnotis, saya menyusulinya. Ya ampun, cara si Mama menebas sayuran begitu semangat padahal kan kami hanya membeli 15K kalau ditotal!


Bagi saya pribadi yang tinggal di Kota Ende, melihat sayur seharga 15K dengan jumlah segitu banyaknya, sungguh di luar ekspetasi. Istilah orang pasar: kami membeli langsung dari tangan pertama. Ceritanya bakal beda kalau membelinya dari tangan kedua apalagi tangan ketiga. Noted.


Karena banyaknya sayuran itu, semua diletakkan di bagian depan motor matic saya. Dalam perjalanan pulang ke rumah saya merasa seperti pedagang sayur sungguhan ha ha ha. Tinggal teriak, "Sayur! Sayur!" Tiba di rumah, saya dan Novi langsung mengeksekusi segala bahan bekal makan siang: ikan, tempe-tahu, sayuran. Kami harus bergegas karena waktu semakin mepet. Jalan-jalan harus terlaksana! Saat sedang memasak, Oston dari kepanitiaan mengirim pesan WA pada saya, bersedia untuk bertemu band lokal yang bakal tampil sebagai band pembuka kegiatan Uniflor Road Show 2020. Nama band-nya Alf The Bond Band. Dan karena Novi yang merekomendasikan mereka, maka Novi pun meninggalkan saya untuk menemani anak-anak band bertemu Oston.


Begitu si Novi pulang kembali ke rumah, gantian saya yang ijin pergi bertemu para bedebah. Iya, saya menerima pesan WA dari Ruztam Effendi, sahabat masa SMA yang punya Nirvana Bungalow di Riung. Ajakan makan siang! Saya pamit pergi bertemu Ruztam di Rumah Makan Mini Indah. Masaknya gantian begitu ... ceritanya.

Bedebah Bertemu Para Bedebah


Adalah hal yang lumrah apabila saya sering memanggil teman-teman masa SMA dengan istilah bedebah. Hehe. Rasanya ada yang kurang apabila kata itu tidak terlontar. Dari rumahnya Novi menuju Rumah Makan Mini Indah, a la prasmanan, hanya memakan waktu sekitar lima menit. Ndilalah di sana sudah ada Ruztam, dan Bruno! Dua sahabat masa SMA yang masih ramai di WAG alumni ini sudah menanti dengan wajah sumringah. Ya Tuhan, saya kangen banget sama mereka. Terlebih Ruztam. Kalau Bruno kan pernah ketemu di akhir 2019, ditraktir sama dia di El Cafe - Mbay.


Makan siang kami diwarnai saling ngecap, saling mengumpat, saling menasihati (ini bagian paling sedikit), dan haha hihi gaje. Sebenarnya saya pengen mengajak mereka melanjutkan ngopi di rumah Novi (saya memang tamu kurang ajar, sudah menginap, bertingkah seakan rumah sendiri, hahaha), tetapi kedatangan Ruztam ke Kota Mbay adalah untuk berbelanja kebutuhan Nirvana Bungalow sehingga dia tidak bisa terlalu lama bersantai. Baiklah. Siang itu kami berpisah di depan Rumah Makan Mini Indah dengan janji bakal ketemu malam minggu di Lapangan Berdikari untuk menyaksikan Uniflor Road Show 2020, tetapi kemudian ... ya bisa kalian tebak ... kami tidak bertemu lagi karena kesibukan mereka juga berada di level galaksi.

Terima kasih, para bedebah!

Love youuuuu all!

Taman Wisata Hutan Mangrove


Balik ke rumah, Novi sudah selesai memasak dan bahkan empat teman kami sudah selesai makan siang. Beres semuanya, saya dan Novi melaksanakan rencana jalan-jalan. Sekitar pukul 14.00 Wita, kami meluncur ke Desa Marapokot yang selama ini dikenal karena adanya pelabuhan: Pelabuhan Marapokot. Waktu tempuh sekitar 15 sampai 20 menit dari pusat Kota Mbay. Tujuan kami ke Desa Marapokot tentu saja Taman Wisata Hutan Mangrove (bakau). Kalian mungkin bakal bertanya-tanya, apa sih menariknya hutan mangrove? Dan kenapa pula ada embel-embel 'taman wisata'? Makanya, baca sampai selesai. Haha. Jangan di-skip!


Adalah sekelompok anak muda di Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, yang berupaya untuk menggali dan memanfaatkan potensi hutan mangrove yang ada di wilayah mereka, yaitu wilayah pantai, menjadi destinasi wisata. Mereka kemudian membangun spot-spot instagenic antara lain jembatan dan tempat bersantai. Jembatan-jembatan dibuat bermaterial bambu dan kayu, tidak lupa hiasan lampion-lampion di atas jembatan, dan tempat bersantai/duduk bermaterial ban bekas, spot-spot instagenic dengan tulisan-tulisan menarik/kekinian. Tidak lupa cat warna-warni semakin memikat mata.


Baca Juga: Ngana Ate Sebuah Blog (Puisi) Baru Yang (Terpaksa) Dibikin


Inilah yang saya sebut dengan perpaduan antara wisata alam dan wisata buatan. Salut sama anak muda Desa Marapokot! Kalian hebat!



Puas foto-foto, saya dan Novi duduk mengaso di jembatan paling ujung yang berhadapan dengan perairan luas, dan mengobrol. Jujur, tempat ini bisa menjadi tempat 'melarikan diri' dari segala kepenatan dunia. Hehe. Nyamaaaaan banget. Jujur, saya bukan tipe orang yang suka 'melarikan diri' dari segala problematika hidup, paling parah ya menulis dan nge-game. Tapi bagi saya lokasi ini bisa jadi tempat merenung mikirin jodoh yang belum tiba juga. Andai kata ada secangkir kopi menemani, pasti lebih betah, malas pulang ke rumah!


Oh ya, biaya masuk Taman Wisata Hutan Mangrove hanya sebesar 5K. Murah sekali untuk kesenangan yang bisa didapatkan di sana. Dan saat datang ke sana pun, pengunjungnya hanya saya dan Novi. Berasa berada di hutan pribadi.


Taman Wisata Hutan Mangrove ini mengingatkan saya pada perjalanan tahun 2010 di Cilacap, Provinsi Jawa Barat, menyusuri labirin mangrove. Waktu itu kami menyewa perahu untuk menyusuri labirin mangrove tersebut.



Semoga saya masih bisa kembali ke tempat ini untuk sesi foto pre-wedding ... ngimpi boleh ya. Haha. Bagi kalian yang hendak pergi ke Kabupaten Nagekeo, khususnya Kota Mbay, jangan sampai lupa berkunjung ke Taman Wisata Hutan Mangrove.

Rumah Pohon


Dari Taman Wisata Hutan Mangrove, kami tancap gas ke Pelabuhan Marapokot yang jaraknya hanya sekitar lima menit berkendara. Tujuan kami adalah Rumah Pohon yang sejak lama sudah dipromosikan Novi tapi belum kesampaian ke sana. Rumah Pohon berlokasi di Pelabuhan Marapokot sekitar 10 meter sebelum pintu masuk pelabuhan di sisi kiri. Saya tidak tahu nama pohon yang dipakai sebagai base rumah pohon ini, tetapi sangat menarik melihat rumah pohon karena belum pernah melihat yang seperti ini.


Kata Novi, Rumah Pohon ini milik pamannya, jadi kami mah bebas jungkir balik di situ. Hanya saja saat kami datang kondisinya sedang terkunci sehingga harus naik melewati balok yang uh wow bikin gagal ginjal. Hehe. Novi saja yang bisa memanjat, saya menyerah!


Di Rumah Pohon tidak seberapa lama, kami memutuskan untuk pulang kembali ke Kota Mbay. Mendadak mengantuk euy.

Oh ya, yang juga harus kalian tahu bahwa malam harinya kami semua diundang makan bebek panggang dan ikan panggang di Towak, di rumah keponakan saya Iwan dan Reni. Aduhai! Meskipun sempat tunggu-menunggu, gara-gara Kahar ini mah, akhirnya tiba juga di rumah dinas Pustu Towak tersebut.


Dari penampakannya saja menggoda iman. Bagaimana dengan rasanya? Ya jelas bikin iman runtuh. Hehe. Selain bebek panggang, ikan panggang, ada pula ikan goreng, sayur merungge, dan sambal jeruk. Sudah ya, jangan diteruskan, nanti kalian ngiler. Hehe. Yang jelas menu ini selalu disiapkan oleh keponakan saya kalau berkunjung. Berasa jadi ratu. Jangan lupa, saya kan Presiden Negara Kuning.

Uniflor Road Show 2020


Ini kegiatan utama pada Sabtu, 11 Januari 2020. Sebelumnya, pagi hari, saya dan Tim Promosi Uniflor pergi ke SMA-SMA di Kota Mbay dan sekitarnya, termasuk ke Desa Marapokot dan daerah Aeramo! Sedangkan malamnya, saya wajib meliput kegiatan Uniflor Road Show 2020 tersebut, yang juga dihadiri oleh Bupati Nagekeo yaitu Bapak Don. Untuk kegiatan tersebut, kalian bisa membaca berita yang sudah saya unggah ke media sosial. Berikut, salah satu tautannya:



Silahkan dibaca. Inilah salah satu wujud dari pekerjaan saya selama ini. In case kalau ada yang kepo kok sepertinya saya jalan-jalan terus. Hehe.


Saya yakin masih banyak cerita menarik lainnya dari Kabupaten Nagekeo yang bisa ditulis di blog, tapi tentu saya harus mengeksplornya terlebih dahulu. Kalian sabar menanti kan? Sama, saya juga sabar menanti, menanti saatnya jalan-jalan lagi. Hehe.

Baca Juga: Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share

Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada Mama, Mamanya Novi, yang meskipun dalam kondisi sakit, masih begitu perhatian dan peduli pada saya dan teman-teman lain yang menginap di rumah. Mama sudah kami anggap seperti Mama sendiri. May Allah SWT bless you always, Ma. Mama adalah yang terbaik bagi kami. Terima kasih juga untuk Novi, pada akhirnya niat jalan-jalan ke Taman Wisata Hutan Mangrove dan Rumah Pohon terlaksana juga minggu kemarin. Sungguh masih banyak hutang kita (saya) karena kita belum pergi ke Pulau Ri'i Taa dan pabrik garam itu ya, Nov. Insha Allah next time. Terima kasih, Nov. Terima kasih. Pun, terima kasih untuk keponakan saya: Iwan dan Reni, juga dua cucu saya: Andika dan Rayhan, atas segala pengertian kenapa saya belum bisa menginap di rumah kalian beberapa kali ke Kota Mbay. Nanti ya, Insha Allah.

Semoga saya masih bisa kembali ke Kabupaten Nagekeo untuk mengeksplor lebih banyak tempat wisatanya. Doakan! Kalian juga doooonk, main-mainlah ke Kabupaten Nagekeo, siapa tahu kita ketemu di jalan. Hehe.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa


5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa. Banyak orang tidak tahu tentang Ae Sale Mengeruda. Tapi kalau Air Panas Soa (baca: So'a) semua orang pasti tahu. Sejak dulu saya pengen bisa pergi ke obyek wisata yang satu ini. Selalu gagal. Selalu batal. Akhirnya keinginan untuk berendam kaki di lokasi wisata yang terletak di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada itu pun terwujud pada Minggu, 27 Oktober 2019. Sayangnya waktu pergi ke sana saya hanya merendam kaki, bukan seluruh badan. Sengaja sih ... tidak bawa pakaian ganti pun. Hehe. Yang penting saya sudah ke sana, memenuhi keinginan lama itu.

Ada banyak catatan penting dari perjalanan menuju Air Panas Soa hingga suasana di obyek wisata tersebut. Tapi, seperti biasa, di pos blog ini saya hanya merangkum lima saja. Mau tahu apa-apa saja? Marilah dibaca sampai selesai.

1. Jalur Dari Timur yang Bagus


Menuju Air Panas Soa ada dua jalur yang bisa ditempuh. Karena kami datang dari Timur, jalur yang ditempuh adalah Ende - Boawae - Soa. Untuk tiba di obyek wisata ini kami tidak perlu memutar dan/atau pergi terlebih dahulu ke Kota Bajawa yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Ngada. Cukup ke Kecamatan Boawae yang merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Nagekeo, lantas mengikuti jalur, jalan aspal selebar sekitar dua meter, menuju Desa Piga, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada.



Jalur Boawae - Soa ini sangat bagus: jalan aspal dan minim lubang. Tidak terlalu lebar, memang, tapi sepadan dengan kendaraan yang juga tidak seberapa ramai. Berasa seperti jalur/jalan privat. Akan sangat jauh berbeda jika mengikuti jalur utama Trans Flores: Boawae - Bajawa, silahkan berlomba-lomba dengan aneka kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil, truk, fuso, tanki minyak, dan lain sebagainya.

2. Entrance dan Parkiran yang Tertata Rapi


Saya suka entrance dan parkiran Air Panas Soa. Parkirannya tertata rapi, dengan pohon-pohon rindang menaungi pengunjung bersantai sejenak, disertai baliho dengan gambar informasi tentang obyek-obyek wisata yang ada di Kabupaten Ngada.



Rata-rata obyek wisata yang ada di baliho itu merupakan obyek wisata 'baru' sehingga jangan cari Kampung Adat Bena, kemungkinan tidak ada. Justru yang ada adalah Watunariwowo di Perbukitan Langa.

3. Jejeran Kios


Ini yang cukup penting dari suatu tempat wisata, terutama jika tempat wisatanya sangat jauh dari daerah perkotaan.


Jejeran kios ini sangat membantu pengunjung dari jauh, seperti kami, yang mengendarai sepeda motor. Maklum, cuaca sedang sangat panas-panasnya. Kalau melihat foto di atas, kalian akan melihat papan informasi karcis masuk. Tidak hanya di situ, di loket pembelian/pembayaran karcis pun ada kertas yang ditempel, kertas itu berisi informasi tentang karcis juga.

4. Pemetaan Lokasi di Dalam Air Panas Soa


Ini keren. Jadi, pemerintah tahu banget soal kebutuhan masyarakat atau pengunjung. Di dalam lokasi Air Panas Soa ada tiga pemetaan utama. Pertama: gazebo. Kedua: taman bunga dan taman buah. Tiga: tempat berendam/pemandian. Ketiganya dihubungkan dengan jalan setapak yang cukup rapi. Tetapi hari itu sedang ada pengerjaan/perbaikan sehingga kami harus memutar ke sana sini hehe.



Selain itu, disediakan pula kamar mandi tempat menyalin pakaian. Maklum, kami masih sangat teguh memegang adat ketimuran sehingga sangat sulit bagi kami memamerkan bodi dengan memakai bikini. Haha. Rata-rata orang yang berendam di Air Panas Soa, kalau lelaki mengenakan celana pendek, kalau perempuan mengenakan kaos dan celana pendek. Kalau yang berhijab tinggak disesuaikan saja. Yang jelas, semua masih sangat sopan untuk sebuah tempat pemandian umum seperti itu. Ingat, ngeres itu datangnya dari diri sendiri *ngikik*. Tempat menyalin baju di mana lagi kalau bukan di kamar mandi?

5. Memegang Adat


Di Air Panas Soa, bagian dekat loket penyerahan karcis masuk, berdiri gagah ngadu.


Ngadu merupakan simbol leluhur lelaki. Sedangkan simbol leluhur perempuan itu bernama bagha yang berbentuk rumah adat mini (ibu sebagai tempat penyimpanan makanan). Menariknya, ngadu yang ini berbeda dengan ngadu yang pernah saya potret di Kecamatan Aimere. Di Kecamatan Aimere, ngadu-nya tanpa tangan.

⇜⇝

Itu dia lima catatan penting saya saat berkunjung ke Ae Sale Mengeruda atau Air Panas Soa. Jelas ya, tempat wisata ini dikelola dengan sangat baik, semuanya serba teratur, jadi malu juga untuk buang sampah sembarangan. Hehe. Tempat sampah ada di mana-mana, makanya kesannya bersih sekali obyek wisata ini. Semua sama-sama menjaganya.
\

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Yang jelas, kalau kalian pergi ke Air Panas Soa melewati jalur dari Timur, jangan lupa untuk mampir foto-foto di perbukitannya yang ausam! Informasi lengkap tentang perjalanan saya, Thika, dan Yusti ke Air Panas Soa, bisa kalian baca di pos berjudul Merendam Kaki di Obyek Wisata Ae Sale Mengeruda.

Yuk ah ...

#KamisLima



Cheers.

Di Nagekeo Hati Saya Tertambat



Kemarin, Senin 4 Februari 2019, sekitar pukul 06.10 Wita, Onif Harem saya pacu menuju arah Barat Pulau Flores. Di belakang saya Thika Pharmantara, keponakan cantik itu huhuhu, duduk manis di boncengan dengan tenang sambil berharap Encimnya tidak mendadak diserang kantuk. Perjalanan ini adalah perjalanan dinas, pekerjaan khusus mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) kepada murid kelas 12 atau Kelas 3 di SMA-SMA se-Pulau Flores dan sekitarnya. 

Baca Juga: 1 Video, 3 Aplikasi


Sarapan Jagung Pulut Rebus


Tiba di Aigela sekitar pukul 07.00 Wita, percabangan menuju Kabupaten Ngada dan menuju Ibu Kota Kabupaten Nagekeo (Kota Mbay), kami memutuskan untuk beristirahat sejenak demi menghangatkan perut yang terasa dingin dan kesepian. Sebenarnya Thika membawa bekal nasi dan nugget, tapi entah dia lebih memilih jagung pulut rebus. Saya sendiri lebih membutuhkan secangkir kopi panas. Beruntung satu lapak sudah dibuka sehingga bisa menikmati jagung pulut rebus dan secangkir kopi yang rasanya ... tidak ada lawan. Sambalnya ini yang bikin Thika tidak nyenyak tidur, terbayang-bayang di lidah. Haha.


Rombongan yang menggunakan bis Tim Promosi Uniflor 2019 telah tiba di Kota Mbay. Artinya kami harus bergegas. Jalanan dari cabang Aigela menuju Kota Mbay telah jauuuuh lebih bagus. Ngebut? Pasti. Tapi hati-hati hewan seperti anjing dan kambing yang piknik pagi di jalanan. Kalau mendekati Kota Mbay (sampai menuju Riung) itu lebih banyak kambing dan sapi.



Memasuki Ibu Kota Nagekeo ini sekitar pukul 07.45, dari ketinggian tempat bukit-bukit sabana terlihat menawan, Kota Mbay yang bertopografi datar terlihat jelas. Kami hampir saja ditilang di dekat Kantor Bupati Nagekeo, untung mata saya masih bisa awas, lantas mencari jalur belakang yang memutar. Haha.

Tiba di rumah Pak Selis, salah seorang dosen Uniflor, koordinator lapangan yaitu Ibu Juwita mulai membagi tugas. Siapa yang ke sekolah A, siapa yang ke sekolah B, dan seterusnya. Tetapi karena minimnya kendaraan, tim tidak bisa dipecah begitu saja. Hitung-hitung, hanya ada dua kendaraan yaitu bis Tim Promosi Uniflor 2019 dan Onif Harem milik saya. Akhirnya saya (ditemani Thika) yang adalah penyusup untuk Tim Barat ini mendapat jatah tiga sekolah di luar Kota Mbay yaitu di Kecamatan Aesesa dan Marpokot, sedangkan anggota tim yang lain mendapat jatah tiga sekolah di wilayah Kota Mbay.

Okay. Mari berangkat!

SPBU Yang Dijual


Di Tengah jalan saya bertemu dengan Tim Kreatif, Cesar dan Roland, yang akhirnya mereka berdua mengikuti saya ke Aesesa dan Marpokot.


Usai kunjungan ke tiga sekolah yaitu SMKN 1 Aesesa, SMAS Katolik Stella Maris, dan MAS, kami kembali ke rombongan untuk makan siang. Padahal kami sudah duluan makan sih, soalnya Cesar dan Roland benar-benar sakau kopi. Karena rombongan  masih menunggu makan siangnya, saya pergi ke rumah keponakan di wilayah Towak (arah menuju Riung). Oia, foto SPBU yang dijual di atas, membikin saya memaksa Cesar dan Roland untuk mengekori hahaha, pengen difoto di situ pokoknya! Unik sih hehe, karena kan biasanya yang dijual itu bensin dan solar, bukan SPBU. Sayang ya SPBU ini dijual. Entah kenapa.

Pustu Towak


Towak merupakan wilayah Kabupaten Nagekeo yang letaknya berada di jalan Trans Mbay - Riung. Untuk diketahui, Riung yang terkenal dengan Taman Laut 17 Pulau Riung itu, berada di wilayah Kabupaten Ngada bukan Kabupaten Nagekeo. Rumah keponakan saya Iwan, dan istrinya Reni, merupakan rumah dinas dari Pustu Towak karena Reni adalah bidan yang bertugas di situ. Di sana sudah menanti pula dua cucu saya yang luar biasa bikin kangen Andika dan Rayhan *peluk-peluk*. Begitu melihat saya dan Thika mereka langsung teriak, "Oma Enciiiimmm!!!!" Haha.

Rumah ini berada di tengah ladang milik masyarakat dengan jarak rumah lumayan jauh-jauhan. Mulailah kami mengobrol ngalor-ngidul, saya terkaget-kaget waktu ada tetangganya yang datang mengantar ikan segar hasil memancing di laut, terpikat sama rasa kopinya, dan direcoki sama dua penjahat cilik Andika dan Rayhan. Saat sedang mengobrol (obrolan yang super lama dari pukul 13.00 Wita sampai sekitar pukul 15.00 Wita), Iwan pamit membantu tetangganya yang sedang mengumpulkan kembali padi (yang dijemur) untuk disimpan di gudang. Maklum, cuaca sedang mendung. Dari Iwan pula saya peroleh banyak cerita tentang dirinya yang tidak pernah kesulitan beras karena selalu dibagi sama tetangga yang punya sawah berhektar-hektar. Kata Reni, "Encim, kami tidak pernah susah beras dan sayur. Ikan pun sering dapat murah."


Di atas, foto saat nyaris selesai menyimpan padi (tepat di depan rumah Iwan dan Reni). Untung masih sempat fotoin hehe. Saya pergi ke tempat ini setelah Cesar dan Roland menyusuli kami ke Towak karena mereka bosan di hotel; penginapan tim kami yaitu Hotel Pepita.


Ada yang tahu nama tanaman ini? Saya pernah memotretnya di Ende, di wilayah Nangaba. Kalau di sekitar rumah Iwan dan Reni, tanaman ini tumbuh subuuuurrrrr dan super banyaaaaak. Selain itu, pohon marungge/kelor pun jangan ditanya, di belakang rumah juga tumbuh pohon marungge. Makanya Reni bilang beras dan sayur tidak pernah kesusahan. Jadi iri maksimal! Sayangnya Reni tidak sempat memasak sayur marungge untuk kami.

Bukit Weworowet


Noviea Azizah adalah puteri Mbay yang adalah lulusan Prodi Sastra Inggris Uniflor tahun 2018. Novi tiba di rumah Iwan dan Reni sekitar pukul 16.30. Kami lantas pamit pada Iwan, karena Reni sedang pergi ke Posyandu, untuk pergi ke Bukit Weworowet. Ini memang sudah niat. Jarak tempuh menuju Bukit Weworowet ini hanya sekitar duapuluh menit dari Towak. Bukit Weworowet terletak di Desa Waekakok, masih wilayah Kabupaten Nagekeo.


Dulunya bukit ini saya tulis Bukit Robert ternyata saya salah ha ha ha. Anggap saja kesalahan telah diperbaiki ya.




Saya sering foto-foto di sini, zaman dahulu, waktu masih rajin ke Riung buat mengantar teman-teman traveler. Weworowet semacam ikon antara Mbay - Riung yang sulit diabaikan karena keindahannya. Dulu, dari sudut tertentu bukit ini nampak seperti lelaki yang sedang tidur. Dan kalau beruntung, kalian bisa menikmati bunga-bunga kuning yang tumbuh di kaki bukit.

Silahkan nonton video berikut ini:


Dari sudut lain, Bukit Weworowet akan terlihat seperti gambar di bawah ini:

Ini sih rumah impian!

Ausam sekali, kawan. Tak terbantahkan! Kata Novi, dia dan komunitas kreatifnya memang hendak membangun kafe di spot tempat kami memotret si bukit. Aduuuuh saya bakal jadi orang pertama yang ngopi-ngopi di situ!

Dari Bukit Weworowet kami diajak ke sebuah embung yang saya lupa namanya haha.


Puas melihat-lihat, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Soalnya matahari juga sudah mulai tenggelam. Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang, bersama-sama ...

Bebek dan Ikan Panggang


Tiba di Towak saya melihat Iwan sedang mengangkat kayu-kayu ... ternyata di belakang rumah sedang terjadi pembakaran haha. Reni sedang meracik bumbu. Mari membantu supaya lekas selesai. Diiringi dengan listrik padam (sekitar setengah jam), dan Iwan menjemput Deni di Hotel Pepita, jadilah malam itu kami menikmati suguhan yang luar biasa memikat lidah. Orang Flores memang luar biasa kalau sama tamu, apalagi kalau tamunya itu masih berpangkat Encim hahaha.


Wah, lupa foto bebek panggangnya (kelihatan paling sudut tuh). Tak apalah. Oia, kata Iwan, "Encim, untung sekarang belum musim domba, kalau tidak ... Encim harus rasakan daging domba sini ... wuih!" Tenang saja, anak ... ke Towak saya akan kembali! Haha *ketawa raksasa*.

Selesai makan malam kami masih mengobrol tentang yang horor-horor bikin ngeri karena sekitar rumah Iwan kan gelap gulita (ladang), terus balik ke Hotel Pepita, sekitar pukul 23.00 Wita. Tapi di Kota Mbay masih lumayan ramai karena sedang ada pasar malam. Sayang saya tidak mampir ke pasar malam padahal sudah diajak Novi. Lelah cuy!

Hotel Pepita


Nanti ya baru saya menulis tentang hotel ini. Yang jelas hotel ini bagus, pelayanan bagus, sarapan enak ... dan nyaman lah.






Saatnya pulang ke Ende!

Sebenarnya, sebagai anggota susupan di Tim Barat, saya diperbantukan dari Kabupaten Nagekeo hingga Kabupaten Ngada tepatnya di Mataloko. Tapi karena mengingat SMA-SMA di Kota Ende sendiri sangat banyak (apalagi Kabupaten Ende -  kecamatan di luar kota), saya harus segera pulang ke Ende supaya Rabu bisa melaksanakan tugas utama. Kan tidak lucu, tugas bantuan terselesaikan dengan baik, tugas utama malah keteteran. Dududud.

Selasa, 5 Februari 2019, Hari Raya Imlek, saya dan Thika kembali ke Ende sedangkan bis Tim Promosi Uniflor 2019 berangkat ke Mataloko untuk meneruskan tugas hingga ke Labuan Bajo. Sepulang mereka dari Labuan Bajo nanti, kami akan sama-sama pergi ke Kota Maumere dan Kota Larantuka bersama Tim Timur (jika berkenan) sedang tim yang 'menjelajah' Pulau Lembata dan Pulau Adonara telah melaksanakan tugas pada hari yang sama.


Seperti yang sudah saya tulis di pos sebelumnya, karena kondisi sedang dalam masa tugas, saya tidak mengepos seperti biasanya (tema harian). Supaya ide dan cerita tidak menguap dari benak. Dan tentu saja akan lebih banyak foto hahaha. Namanya juga Jalan-Jalan Kerja *ngikik*. 

Baca Juga: Inovasi Joseph Joseph

Semua yang saya tulis hari ini masih general saja, belum bisa mengulas satu-satu, belum mengulas lebih detail, tentu juga tentang Presiden Kuning yang 'menemukan' kerajaannya. Nanti deh kalau sudah punya lebih banyak waktu. Yang jelas, hati saya tertambat di Nagekeo, sejak dulu dan belum berubah sampai hari ini. Kabupaten ini menawarkan sejuta pesona ... dan saya terpesona sungguh.

Terima kasih masih menyempatkan diri main-main ke blog ini :D



Cheers.

Perjalanan Rock’N’Rain


Sebagai kuli saya harus berupaya memenuhi panggilan tugas. Tugas meliput kegiatan kampus ini macam-macam. Kadang lokasi kegiatan hanya di sekitar areal kampus: Kampus I, Kampus II, Kampus III. Kadang lokasi kegiatan berada di luar kampus seperti di Planet Mars dan Cybertron liputan kegiatan mahasiswa KKN di SMPN Satap Koawena. Kadang waktunya pun tidak melulu pagi atau antara waktu kerja (pukul 08.00 sampai 14.00 Wita) seperti ketika harus meliput kegiatan mahasiswa KKN pada pukul dua pagi nan horor suatu sore di sebuah sekolah dasar di daerah Ndao. Ya, tidak tentu waktu dan lokasinya.

Baca Juga: Nggela Bangkit dan Membangun Kembali

Baru-baru ini, tempatnya Jum'at (23 November 2018) saya memenuhi panggilan tugas meliput kegiatan Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Flores. Kegiatan pengabdian masyarakat oleh dosen dan mahasiswa tersebut dilaksanakan di Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Jarak antara Ende menuju Kelurahan Bokasape ini sekitar 65 kilometer. Kelurahan Bokasape sendiri terletak tepat di jantung Kecamatan Wolowaru, terletak di pinggir jalan trans-Flores, tempat kendaraan lalu-lalang dan ngetem untuk beristirahat di warung-warung makan yang ada. Istilah saya: check point.

Perjalanan Rock'N'Rain


Baru kali ini saya mengalami perjalanan yang luar biasa kuyup. Sejak hendak meninggalkan Ende, saya dan dua pejalan tangguh, Mila dan Santy, harus melakukan persiapan ekstra. Kami harus memakai mantel sejak belum keluar rumah (dari rumahnya Mila). Saling pandang, saling mengejek, lantas terbahak-bahak melihat penampakan masing-masing dengan mantel hujan super lengkap begitu. Mirip astronot kesasar. Biasanya kan hanya memakai jas hujan. Kali ini saya dan Mila memakai jas + celana hujan sedangkan Santy memakai mantel hujan yang dipadukan dengan celana hujan. Sayangnya saya tidak memakai sandal-sepatu karet (Crocs) melainkan memakai sepatu kanvas.

Langit sebelah Barat agak cerah. Demikian batin saya. Artinya masih ada harapan kami bisa melepas mantel dalam perjalanan nanti. Maka, berangkatlah kami bertiga menuju arah Barat Kota Ende. Saya sendirian mengendarai Onif Harem, sedangkan Santy membonceng Mila.

Semakin jauh dari Kota Ende tidak sedikit pun pertanda hujan bakal berhenti, bahkan semakin deras, sedangkan kami harus berpacu dengan waktu karena rombongan tujuh bis kayu dan satu mini bis Uniflor sudah berangkat duluan. Melihat kondisi alam yang separuh bersahabat, karena untungnya tidak ada petir yang saling sambar, saya berniat untuk membeli kresek bakal membungkus kaki yang memakai sepatu kanvas itu! Haha. Sekitar sepuluh kilometer memasuki Kecamatan Detusoko, Mila dan Santy berhenti di sebuah kios pinggir jalan. Kesempatan itu memberi waktu pada saya untuk memakai kresek membungkus kaki.

Baca Juga : Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Santy histeris melihatnya dan ngotot ingin memotret tapi karena cuaca tidak memungkinkan kami tetap melanjutkan perjalanan hingga tiba di Lepa Lio Cafe di Kecamatan Detusoko.


Impian Santy akhirnya terwujud. Haha. Bergaya di depan Lepa Lio Cafe bikin orang-orang yang lalu-lalang pada melongo. Mereka melongo melihat cover sepatunya. Termasuk Nando Watu dan Eka Raja Kopo, dua pentolan RMC Detusoko yang mengelola Lepa Lio Cafe. Haha. 

Mengobrol sambil ngopi di Lepa Lio Cafe sangat menyenangkan. Banyak hal yang kami dapatkan dari hasil mengobrol bersama Nando dan Eka. Mereka sangat luar biasa. Ngopi di kala hujan itu memang tjakep sekali. Waktu yang sangat pas. Kisah tentang Lepa Lio Cafe dan RMC Detusoko dapat dibaca di blog travel saya.


Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di Lepa Lio Cafe. Perjalanan harus dilanjutkan. Ratusan orang menunggu kami di sana. Terimakasih Nando, Eka, dan Aram. Kalian baik.


Kabut Yang Turun


Lepas dari Kecamatan Detusoko, hingga memasuki daerah Ndu'aria, suasana menjadi sangat gelap. Kabut turun hingga ke aspal dan menyebabkan jarak pandang hanya sekitar lima sampai sepuluh meter saja. Lampu kendaraan dan lampu sein langsung kami nyalakan untuk memberi peringatan pada kendaraan dari depan bahwa kami latu, haha. Kecepatan pun dikurangi. Kendaraan jadi kayak merayap meraba dalam gulita begitu. Salah satu tebing sedang dalam tahap pengerjaan sehingga tanah-tanah yang memenuhi aspal ditambah air hujan bikin jalanan menjadi super licin. Tuhan, derita pejalan yang mabuk kendaraan roda empat ya begini. Harus siap segala cuaca.

Tiba di Kelurahan Bokasape


Tiba di Kelurahan Bokasape, kegiatan sudah dimulai, yaitu penyambutan oleh pihak Kelurahan Bokasape di halaman samping kantor. Segera lepaskan mantel, meskipun cuaca masih gerimis, lantas meliput. Untung yaaa masih sempat haha. Kegiatan di Kelurahan Bokasape diselenggarakan hingga Sabtu, dan Minggunya peserta pengabdian masyarakat pun pulang ke Kota Ende.



Salah satu bangunan di samping Kantor Kelurahan Bokasape yang bikin hati tidak tahan untuk dipotret! Tentang kegiatan-kegiatan lainnya di Kelurahan Bokasape, bakal saya tulis terpisah.

Pulang Pun Kami Rock'N'Rain


Kami bertiga pulang ke Kota Ende pada Minggu pagi yang lumayan cerah. Yakin cuaca akan sangat bersahabat. Dari Kelurahan Bokasape kami mampir dulu ke Lepembusu tepatnya di Puskesmas Peibenga untuk bertemu Om Ludger. Niatnya untuk menyerahkan hadiah dari lomba/PR di Kelas Blogging NTT, eh kami justru terpikat sama pemandangannya. Dududu itu bukit-bukit di belakang puskesmas konon bakal mirip bukit dalam Teletubbies! Makanya disebut juga dengan nama itu. Mila bahkan mendapat bibit/anakan bunga bakung dari Om Ludger. Terima kasih, Om.


Semoga suatu saat kami dapat kembali ke sini, dan Om Ludger bakal memenuhi janjinya untuk mengantar kami ke puncak tertinggi Lepembusu. Huhuy!



Dalam perjalanan pulang dari Puskesmas Peibenga menuju Kota Ende inilah hujan kembali mengguyur. Fiuh. Berhenti sesaat di lapak di Detukeli untuk memakai mantel/jas hujan, dan kebut ke arah Kota Ende. 

Baca Juga : Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Perjalanan ini memang perjalanan yang Rock'N'Rain karena perjalanan kami melintasi trans-Flores 65 kilometer pergi-pulang itu ditemani hujan, hujan, dan hujan. Bagi kalian mungkin 65 kilometer itu tidak seberapa, tapi bagi kami itu luar biasa terutama saat hujan. Jalanan berliku penuh kelokan khas trans-Flores itu licin, ditambah kubangan air yang terciprat jika berpapasan dengan kendaraan lain yang sama-sama tidak mau pelan (kami juga tidak mau pelan donk haha), serta lokasi proyek yang penuh tanah basah, dus kabut yang turun ke aspal menyebabkan jarak pandang menjadi lebih pendek ... amazing kami masih bisa terbahak-bahak sepanjang jalan.

I will always remember ...

Bagaimana dengan kalian? Pernahkah punya pengalaman seperti ini juga? 

***

Tulisan serupa juga bisa dibaca di Rock'N'Rain Sepanjang Ende Menuju Wolowaru.



Cheers.