Jaga Waka Nua


Event keren Triwarna Soccer Festival (TSF) 2019 telah berakhir 1 April kemarin. Meskipun demikian, gaungnya masih terdengar sampai hari ini. Masih banyak orang membicarakannya. Mulai dari kemenangan Ende Selatan FC (Kelurahan Ende Selatan), pagar tembok yang kini dipenuhi karya seni mural, keuntungan yang diraup khususnya oleh para pedagang asongan yang wara-wiri di dalam Stadion Marilonga, hingga UMKM dan komunitas yang diberi ruang stand/tenda pameran oleh panitia. Sungguh TSF dengan agenda utama laga sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati ini terpatri di lubuk hati masyarakat Kabupaten Ende, dan menjadi semacam pengantar acara Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Ende (kemenangan petahana) pada tanggal 7 April 2019.

Selamat, Bapak Marsel Petu (Bupati) dan Bapak Djafar Ahmad (Wakil Bupati). Selamat melanjutkan pekerjaan yang telah Bapak berdua mulai dan terus melakukan perubahan positif pada Kabupaten Ende. Kami bangga.

Baca Juga: Fair Play Flag

TSF yang telah menggeliatkan berbagai lini khususnya perekonomian di Kabupaten Ende, bisa kalian baca pada pos TSF 'Story, punya satu jargon keren yaitu Jaga Waka Nua. Jargon ini melekat pada kaos panitia, pada baliho-baliho, pun pada banyak bendera supporter. Ya, kami harus jaga waka nua! Jadi, tidak heran jika mendadak mendengar ada yang nyeletuk: ideeee ma'e pemata, jaga waka nua hekow (duh, jangan berantem, jaga martabat kampung kita).

Jaga Waka Nua


Jaga waka nua merupakan jargon paling tepat pilihan panitia/penyelenggara. Saya salut sama yang menetapkan jargon ini, hahaha. Dan bagi saya, jaga waka nua ini punya banyak makna, kalau diresapi dalam-dalam. Secara etimologi, jaga waka nua yang terdiri dari tiga suku kata berarti menjaga martabat kampung.


Jaga = menjaga.
Waka = martabat/harga diri.
Nua = kampung.

Martabat/harga diri yang seperti apa yang harus dijaga? Itu yang akan saya jelaskan pada pos ini. Tentu dari sudut pandang saya pribadi. Dan sudut pandang dinosaurus juga. Apabila kalian Orang Ende, membaca pos ini, dan merasa tidak setuju dengan pos ini, silahkan tulis sendiri pendapat kalian tentang jaga waka nua, dan bagi tautan blog-nya pada saya. Tentu bakal saya baca. Berbagi pendapat tidak pernah merugi bukan?

Bilah Pemerintah


Dari pandangan mata saya pribadi, Kabupaten Ende merupakan kabupaten yang identik dengan turnamen sepak bola. Sebut saja, Universitas Flores (Uniflor) punya Ema Gadi Djou Memorial Cup (EGDMC), lantas ada pula Muthmainah Cup, dan turnamen lainnya antara lain Suratin Cup. Tahun 2017, Kabupaten Ende boleh berbangga dengan menjadi tuan rumah dari turnamen besar bernama El Tari Memorial Cup 2017 (ETMC) yang melibatkan semua kabupaten se-Provinsi Nusa Tenggara Timur. Standar Kabupaten Ende dalam ETMC 2017 sungguh luar biasa; penjemputan setiap kontingen dengan tari-tarian dan bahasa adat, launching atribut yaitu Burung Gerugiwa dan bola raksasa dengan perhentian yang melibatkan adat-istiadat, pertandingan di Stadion Marilonga yang berumput hijau - bahkan dapat dilakukan malam hari, hingga live streaming! Standar itu, dalam skala Provinsi Nusa Tenggara Timur, sangat tinggi.

Waka nua kami saat ETMC 2017 benar-benar terangkat dan terjaga dengan sangat spektakuler. Bukannya melebih-lebihkan, namun memang demikian adanya.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

TSF 2019 harus mampu menandingi, atau harus melebihi, standar yang tercipta dari ETMC 2017 tersebut. Meskipun tanpa penjemputan kontingen setiap kecamatan dikarenakan ini adalah turnamen 'antar saudara kandung', namun kemeriahan dan pernak-pernik TSF 2019 mampu melebihi ETMC 2017. Kami harus menjaga waka nua ini. Jangan sampai malu-maluin bangsa dan negara haha. Oleh karena itu launching atribut TSF 2019 dilakukan sama persis pada saat ETMC 2017, yang dimulai dari Lapangan Perse (Kecamatan Ende Utara), diterusan dengan jalur yang telah diatur berikut perhentian setiap kecamatannya hingga berakhir di Stadion Marilonga. Sambutan dalam suasasa (bahasa adat) pun luar biasa.

Selain ajang sepak bola, TSF juga punya dua mata acara lain yaitu Lomba Mural dan Pameran dengan tema Bego Ga'i Night. Jujur, festival semacam ini memang hal yang baru bagi masyarakat Kabupaten Ende namun sekaligus merupakan sesuatu yang juga ditunggu-tunggu. Karena, kata orang, kami Orang Ende ini haus hiburan. Hahaha.

Jaga waka nua juga diwujudkan dalam bentuk kepanitiaan yang solid dan mampu bekerja dengan sangat baik sehingga tidak memalukan apa lagi sampai membanting harkat dan martabat. Maklum, saya melihat kebanyakan anggota panitia adalah orang-orang yang tahan banting dan pernah bekerja pada kepanitaan turnamen sepak bola juga. Jadi, urusan-urusan yang berhubungan dengan TSF 2019 ini bukan hal yang baru yang bikin kaget.

Bilah Pemain


Jaga waka nua tidak saja bermakna pada bilah pemerintah seperti yang tertulis di atas, tetapi juga bermakna untuk para pemain sepak bola dari setiap klub (kecamatan). Artinya ... my game is fair play! Iya, itu kesimpulan besarnya. Para pemain harus menjaga waka nua-nya melalui permainan-permainan yang ciamik alias tidak membikin malu. Kalah tidak mengapa, asal jangan sampai kalah total tanpa perlawanan yang imbang. 

Sekali dua memang terjadi ketegangan di tengah lapangan, hal-hal semacam itu acap tidak dapat dihindari, tetapi dapat diatasi oleh perangkat pertandingan. Kami yang berada di luar lapangan tidak punya kuasa kan hahaha. Pokoknya, para pesepakbola dari setiap klub pada TSF 2019 ini betul-betul jaga waka nua. Bayangkan jika pertandingan harus diperpanjang waktunya dan masih seri, sehingga harus dilakukan adu pinalti yang cukup panjang karena seri pula, sungguh terlalu. Hahaha. Saya yang akhirnya ikut menonton pun deg-degan.

Bilah Masyarakat


Dari bilah masyarakat, jaga waka nua berarti setiap orang harus mampu menjaga martabat/harga diri kampungnya. Kampung di sini berarti kecamatan asal maupun kecamatan domisili. Masyarakat yang dilingkupkan menjadi penonton dan supporter harus mampu bersikap kooperatif terhadap jalannya pertandingan dan hasilnya. Jangan sampai terjadi antara 'saudara kandung' saling kelahi haha. Jadi, sejauh saya menjadi panitia TSF 2019, tidak terjadi perkelahian yang berarti. Maksudnya, satu kali perkelahian terjadi di luar Stadion Marilonga hanya karena salah ucap dan ketersinggungan. Itu pun langsung diamankan oleh para aparat.

Secara umum, event Triwarna Soccer Festival menuai kritikan positif dari banyak orang, baik masyarakat Kabupaten Ende sendiri maupun yang dari luar.


Demikianlah tentang jaga waka nua yang selalu digaungkan saat event Triwarna Soccer Festival. Sebuah jargon dengan spirit dan makna yang sangat dalam. Dengan menjaga waka nua, maka kita niscaya mampu mewujudkan jargon Kabupaten Ende yaitu Ende Sare Lio Pawe. Dan saya pikir, kita semua sebaiknya menjadi orang yang bisa menjaga waka. Setuju? Yang setuju lekas komeeeen haha.

Baca Juga: Manis Akustik

Semangat Senin, kawan.


Cheers.

Fair Play Flag


Meskipun sering menjadi bagian dari panitia ajang sepak bola di Kabupaten Ende, namun sejatinya saya bukan pecinta olah raga sepak bola. Makanya saya terpaksa menolak ajakan Mas Chandra dari bagian Publikasi dan Dokumentasi, misalnya dalam Triwarna Soccer Festival, untuk turut menjadi komentator dalam video live streaming yang tayang di Youtube. Apa itu offside? Aduh, saya tidak paham. Makanya saya sangat kagum pada kaum perempuan yang fasih sama dunia sepak bola ini, terutama bagaimana cara mereka berkomentar tentang klub-klub favorit mereka. Lha sejak dulu cuma nama Maradona saja yang terpatri di kepala gara-gara euforia zaman SD ha ha ha.


Pada ajang Triwarna Soccer Festival, setiap kali usai pertandingan terakhir, pasti dilaksanakan briefing. Yang dibahas saat briefing ini umumnya evaluasi kegiatan pada hari tersebut, permasalahan dan solusi, laporan keuangan, pemilihan empat orang petugas pemegang bendera fair play, dan ditutup dengan do'a. Jika ada yang berulangtahun biasanya akan diramaikan dengan aksi menyiram air haha. Kocak memang. Hiburan saat diri sudah letih maksimal.

Malam itu, saat briefing, ketua panitia membaca nama-nama yang direkomendasikan untuk membawa bendera fair play. Terkejut ketika nama yang disebutkan adalah nama perempuan, bukan laki-laki (pada umumnya). Shinta Degor, Yudith Ngga'a, Narti, Tuteh.

What!? Haha. Bakal seruuuuu.

Fair Play Flag


Fair Play Flag merupakan bendera warna kuning, oh hyess kuning, yang pada bendera tersebut tertulis My Game is Fair Play. Bendera kebanggaan itu tidak terlepas dari FIFA (Federation Internationale de Football Association). My Game is Fair Play secara terjemahan bebas dan singkat a la saya berarti: junjung tinggi sportifitas. Hehe. Sportifitas di sini tidak saja bagi para pemainnya saja, tapi juga manajer dan coach, serta supporter. Bagi kalian yang sangat memahami dunia sepak bola, rasanya apa yang saya tulis tentang ini masih sangat miskin. Tapi tidak mengapa, itu adalah pemahaman dangkal saya tentang fair play.

Empat Perempuan Cantik


Kembali pada empat perempuan anggota panitia Triwarna Soccer Festival, maka pada hari yang ditentukan, kami pun bertugas membawa bendera fair play bertulis My Game is Fair Play. Jangan lupa pakai rompinya ya hehe.




Keberadaan kami sebagai pembawa bendera My Game is Fair Play tentu bikin heboh. Karena, lazimnya yang membawa bendera ini adalah laki-laki. Hal ini memang baru pertama kali terjadi di Kota Ende dalam ajang-ajang pertandingn sepak bola, tapi pernah terjadi di daerah lain seperti berita dari BolaDotCom dengan judul 6 Mojang Cantik Pembawa Bendera Fair Play Laga Persib. Senang banget waktu baca berita itu, artinya kami berempat tidak sendiri. Sama-sama cantik. Hahaha.

Siapa sangka, kemudian, banyak teman-teman yang membikin status tentang kami berempat? Salah satunya si penggila bola Sherif Montana:

Terima kasih Sherif.

Dan banyak yang memotret serta mengirimkan fotonya via WA dan inbox pada saya. Ah, terima kasih. Kami memang bikin heboh.


Kalau ditanya, mau lagi? Ya jelas saya mau lagi membawa bendera kebanggaan tersebut. Unik sih. Saya kan memang paling suka jadi pusat perhatian *digampar warga berjamaah*.

Baca Juga: Manis Akustik



Itu dia cerita hari ini, dari serba-serbi Triwarna Soccer Festival, dan menjadi pembawa bendera My Game is Fair Play merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya dan teman-teman lainnya. Masih banyak serba-serbi lainnya, kisah lainnya, yang bakal saya pos tapi tidak hari ini. Nanti ya, satuper satu. Semoga pos ini bisa menyuntik lebih banyak semangat Senin pada kalian semua. Hehe.



Cheers.

Manis Akustik


Boleh ngakak dulu?

Ha ha ha ...

Suatu malam di Stadion Marilonga, di sela-sela pertandingan sepak bola dari Triwarna Soccer Festival, kami berkumpul di ruangan media center. Di pojok ruangan yang juga dijadikan tempat penyimpanan segala barang yang berhubungan dengan event ini, berdiri gitar listrik bass, gitar listrik melodi, gitar akustik, dan sebuah gendang berdiri. Saya sendiri sering memainkan gitar akustik tersebut, melatih jari-jemari yang selalu kesulitan dengan kunci seperti F, B, dan Bm. Jangan tanya lah. Saya cuma bisa G, C, D, Dm, A, Am, E, Em *diketawain dinosaurus*.

Baca Juga: TSF 'Story

Kembali pada suatu malam di ruangan media center ...

Kebetulan malam itu si Tino Tiba, anggota Seksi Acara tetapi terkenal sebagai musisi keren Ende, duduk bersama saya. Kami menemani Rikyn Radja yang sedang makan malam. Kami sendiri sudah duluan makan. Kebetulan ada musisi ini, si Tino, saya memperdengarkan lagu 100 Times Better dari The Willis Clan. Harapannya dia bakal nemu chord termudah dari lagu itu. Eh ketemu! Jadilah saya menyanyikan lagu favorit itu sambil membayangkan bisa melakukan gerakan dance-nya, hihihi. Waktu saya nyanyikan lagu itu, Rikyn sudah selesai makan, lantas mendengungkan semacam back-vocal begitu. Seru lah.

Setelah 100 Times Better, kita nyanyiin Love Yourself dari Justin Bieber. Waaaah asyiknya. Sampai-sampai salah seorang anak pedagang asongan yang kebetulan meloi (mengintip) bertahan di meja tempat kami berkumpul. Dia sangat menikmati. Busyet, dek! Bayar sini! Haha. Kalau kalian membaca pos #PDL Default Perusuh Pengamen ini, kalian pasti tahu saya sangat suka bernyanyi meskipun suara pas-pasan nyaris sesak.

Rikyn kemudian me-request lagu Yesterday dari The Beatles. Ayok, siapa takut? Ndilalah, setelah satu kali menyanyikan Yesterday, ide-ide gila mulai bermunculan. Kami harus merekamnya. What? Saya cuma ngakak melihat Rikyn memindahkan gendang berdiri ke dekat kami. Saya semakin ngakak waktu Tino mengajak si anak pedagang asongan, sebut saja namanya Boy, memukul botol bekas UC1000 dengan batu. Koplak benar. Lebih koplak karena yang murni musisi hanyalah Tino sedangkan kami? No no no. Kehancuran terjadi saat Rikyn dengan bebasnya menepuk gendang sehingga Yesterday dari The Beatles itu terdengar seperti lagu melayu!

Ha ha ha ...

Ternyata, hasilnya asyik juga. Asyik untuk lucu-lucuan. Dan semakin lucu ketika Rikyn berkata: KEMBALI LAGI BERSAMA KAMI CABUL-CABULAN AKUSTIK.


Rikyyyyyn! Please, deh. Cabul semua donk kita. Walhasil, dengan spontanitas yang luar biasa, muncul nama MANIS AKUSTIK dari bibirnya. Terberkatilah saya bersahabat baik dengan orang-orang ini. Mereka luar biasa ... luar biasa bikin pengen jitak haha.

Ini dia hasilnya. BURAM. Ya, saudara-saudara, penerangan di ruangan itu sedang sangat manja. Sebenarnya ini lagu pertama, tapi yang pertama tidak direkam kan, hehehe.



Hasil yang buram itu memang saya sengaja tidak mempermanisnya (baca: gagal mempermanisnya) menggunakan tools pengeditan video di laptop. Saya hanya menyuntingnya menggunakan telepon genggam dengan aplikasi KineMaster gratisan. Saya pikir, mau apa lagi yang diubah? Toh kami hanya ingin bersenang-senang, hehe, tidak ada niat untuk membikin video terbaik dan terbagus sama sekali. Kalau mau bikin video terbaik dan terbagus mah, tidak bisa dadakan begini, kudu diniatin sungguh-sungguh.

Tak cukup satu lagu, kami kembali beraksi di lagu berikutnya. Gang Kelinci. Dan hasilnya pun masih, tentu saja, buram to the max


Tapi kami gembira melihat hasilnya seperti itu. Karena yang penting adalah melewatkan waktu bersama sahabat dengan melakukan hal-hal gila adalah intinya.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

Tidak ada obsesi apa pun dari Manis Akustik, sumpah menulis nama itu saya ngakak membahana, murni kami hanya ingin bersenang-senang di tengah kegiatan menjadi panitia TSF. Lagi pula, meskipun profesi kami berbeda-beda, kami punya kaki yang sama-sama tertanam di lini musik. Tino Tiba adalah musisi. Rikyn Radja adalah koreografer sekaligus anggota Spiritus Sanctus Choir. Saya? Aaaah saya cuma perusuh pengamen yang doyan nyanyi meskipun modal suara pas-pasan nyaris sesak. Yang penting senang-senangnya itu kan ya. Hehe.

Jangan lupa nonton video-video saya di Youtube ya, ingat subscribe, ingat like *halaaah*. Hahaha. Mohon maaf, tidak ada video yang bagus yang bisa saya tawarkan di akun Youtube saya *menunduk dalam*.



Cheers.

5 Komoditas TSF


Berbicara tentang Triwarna Soccer Festival memang tidak ada habisnya. Selalu ada cerita, selalu ada bahan bekal pos blog. Boleh saya bilang ini tempat berburu dengan konten terkaya. Kali ini saya menulis tentang komoditas andalan yang rajin wara-wiri di sekitar Stadion Marilonga tempat event ini berlangsung. Komoditas yang dijual baik oleh para papa lele (pedagang kaki lima), pedagang asongan, maupun UMKM. Tapi sebelumnya, mari kita simak apa itu komoditas?

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Menurut Wikipedia, komoditas adalah sesuatu benda nyata yang relatif mudah diperdagangkan, dapat diserahkan secara fisik, dapat disimpan untuk suatu jangka waktu tertentu dan dapat dipertukarkan dengan produk lainnya dengan jenis yang sama, yang biasanya dapat dibeli atau dijual oleh investor melalui bursa berjangka. Secara lebih umum, komoditas adalah suatu produk yang diperdagangkan, termasuk valuta asing, instrumen keuangan dan indeks.

Oleh karena itu, tidak salah jika setiap kali kata komoditas melintas di kepala saya, yang terbayang adalah hasil bumi (pertanian/perkebunan), hasil laut, dan hasil peternakan. Dan, tentu saja, sesuai judul pos ini, ada lima komoditas yang paling rajin wara-wiri di sekitar Stadion Marilonga pada hari-hari TSF berlangsung. Apa sajakah komoditas itu?

Cekidot!

1. Kopi


Kopi adalah komoditas dari hasil bumi yang paling utama dibutuhkan oleh orang-orang baik Panitia TSF, pengunjung pameran, maupun penonton pertandingan sepak bola. Jadi yang namanya kopi ini tidak pernah kehabisan stok. Thika Pharmantara yang tidak biasa ngopi pun akhirnya doyan.


Penyajian kopi berbeda-beda, tergantung siapa penjualnya. Apabila penjualnya pedagang papa lele, maka kopi disajikan di gelas kaca, tapi pembeli dapat meminta mengganti gelas kaca dengan gelas plastik (lagi-lagi gelas plastik) untuk dibawa alias tidak minum di tempat. Apabila penjualnya dari Komunitas Kopi Sokoria atau Komunitas RMC Detusoko maka mereka menyajikan kopi menggunakan gelas kertas lengkap dengan tutupannya. Sama juga dengan gelas dari brand TOP (Kopi TOP) yang umumnya menggunakan gelas kertas (panitia dapat gratisan ini setiap harinya, hahaha).

Selain kopi yang telah diseduh, ada pula kopi kemasan yang siap dibeli (sudah dalam bentuk bubuk). Komunitas Kopi Sokoria dan Komunitas RMC Detusoko menyediakannya. Berjenis umumnya Arabika dengan macam-macam merek lokal. Tapi jangan salah, merek lokal ini sudah sampai ke daerah lain di Indonesia bahkan luar negeri. Menariknya, di tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria, pengunjung bisa turut menumbuk kopi cara manual, serta penjaga tendanya pada setiap Malam Minggu mengenakan pakaian adat Ende.

2. Jagung


Siapa yang tidak suka jagung? Di TSF jagung merupakan komoditas yang turut mewarnai proses penambalan perut hehe. Ada dua macam olahan jagung yaitu jagung rebus dan jagung bunga atau disebut brondong. Umumnya jagung rebus yang dijual itu kami sebut jagung manis. Karena rasanya maniiis banget! Namun, saya belum melihat penjual jagung rebus selama ini.


Seorang pedagang asongan dan keranjang dagangannya.

Entah berapa banyak kilogram jagung yang terjual setiap harinya. Yang jelas, tiada hari tanpa jagung baik rebus maupun brondong dan laris manis!

3. Telur Rebus


A-ha. Ini dia yang paling saya cari kalau lagi pengen makan Pop Mie. Sedap, tahu, Pop Mie ditambah telur rebus. Jadi, salah satu pala lele langganan saya itu hafal betul permintaan saya dari setiap event. Iya, kan kami nge-date terus dari El Tari Memorial Cup, EGDMC, sampai TSF ini. Makanya dia khusus siapkan Pop Mie dan telur rebus serta mencari saya untuk ngasih tahu kalau kesukaan saya itu sekarang ready stock di lapaknya.


Suatu kali dia bilang begini: Pop Mie telur tersedia, Ibu. Saya balas: Dangdut mie ada? Dia tergelak sambil geleng-geleng kepala.

4. Keripik


Di TSF keripik termasuk yang paling dicari. Orang Ende bilang: keripik enak untuk Oma Ami. Dan dua komoditas kripik utama yaitu keripik pisang dan keripik ubi/singkong. Khusus keripik ubi/singkong ada varian rasa. Balado? Ada! Keju? Ada juga dooonk. Eh, saya belum sempat memotret keripik. Nanti ya hahaha.

5. Kacang Ijo


Satu gelas (ya, plastik lagi) seharga lima ribu. Siapa sih yang tidak mau? Saya? Pasti mau lah! Tapi anehnya saya lebih suka kacang ijo yang isiannya lebih banyak mutiara ketimbang si kacang haha. Daaaan saya suka meminta es batu kepada penjualnya meskipun sedang hujan.


Ah sedapnya.

Baca Juga: 5 Mural Favorit

Berbicara tentang TSF memang tidak ada matinya! Selalu ada cerita, hehehe. Dan harapan saya, kalian tidak bosan membaca pos-pos di sini. Siapa tahu terhibur. Bahwa di kota kecil nun jauh di Timur, selalul ada hal-hal yang menarik untuk diketahui *halaaah* haha.

Oia, ada satu foto yang pengen saya pos juga kali ini. Ini fotonya waktu saya secara sengaja memotret Kakak Rikyn Radja yang sedang mengumumkan laga berikutnya serta aturan-aturan yang wajib diketahui oleh para supporter maupun penonton. Yang tidak disengaja adalah KILAT SAMBAR POHON KENARI yang muncul di jauh sana:


Momen yang pas, tapi tidak disengaja :D hehe.

Selamat mempersiapkan akhir minggu ya, kawan. Semoga apa yang kita lakukan setiap hari selalu bermanfaat.


Cheers.

TSF ‘Story


Saya pernah menulis tentang para pejuang ekonomi di pos berjudul Pejuang Ekonomi di EGDMC. Tentang sebuah event olahraga tahunan oleh organisasi Dokar (dosen dan karyawan) Universitas Flores yaitu Ema Gadi Djou Memorial Cup yang secara tidak langsung telah turut membantu para pejuang ekonomi. Para pejuang ekonomi yang saya maksudkan di sini adalah para pedagang yang menjual minuman dan makanan seperti kopi, teh, brondong, jagung rebus, telur rebus, aneka jajanan, hingga nasi limaribuan. Membaca pos Facebook Iskandar Awang Usman tentang event Triwarna Soccer Festival (TSF) membikin saya menyegerakan menulis ini. Karena, saya memang sudah merencanakan untuk menulis tentang kisah lain dari Triwarna Soccer Festival dalam TSF's Story.

Baca Juga: Es Gula Moke

Kutipan pos FB Abang Iskandar adalah sebagai berikut:


Pendapat blogger yang satu ini saya acungi jempol. Kami sama-sama melihat TSF sebagai suatu momen yang menggairahkan dan menggeliatkan, salah satunya, dunia perekonomian masyarakat Kabupaten Ende. Saya ingat, hari pertama TSF, saya dan Abang Iskandar sama-sama berkelana di tenda-tenda pameran berburu bahan bekal pos blog. Kalian juga bisa membaca salah satunya pada pos berjudul Be Art ini.

Triwarna Soccer Festival


Kembali menyegarkan ingatan kalian bahwa TSF merupakan pesta masyarakat Kabupaten Ende yang menggelar tiga mata acara sekaligus yaitu:


1. Pertandingan sepak bola yang memperebutkan Bupati Cup.
2. Pameran dengan tema Bego Ga'i Night.
3. Lomba Mural.

Pertandingan sepak bola dan pameran masih berlangsung dan akan sama-sama berakhir pada tanggal 31 Maret 2019, sedangkan Lomba Mural sudah kelar sejak tanggal 11 Maret 2019 kemarin dengan hadiah yang akan diterima saat malam final pertandingan sepak bola. Tentang para pemenang Lomba Mural ini bisa kalian baca di pos 5 Jawara Mural

Betul seperti yang ditulis Abang Iskandar bahwa TSF benar-benar telah mampu menggerakkan semua sektor, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan, usaha kecil dan mikro, serta semua sektor jasa usaha lainnya yang mendapat imbasnya (positif). Kalian tentu bertanya-tanya, memangnya betul semua sektor itu tergerakkan hanya dari sebuah event TSF? Inilah yang akan saya bahas kali ini.

UMKM, Papa Lele, dan Pedagang Asongan


Pada dasarnya event pertandingan sepak bola apapun; baik Ema Gadi Djou Memorial Cup, El Tari Memorial Cup, Bupati Cup, Suratin Cup, dan lain-lainnya yang diselenggarakan di Stadion Marilonga membawa dampak positif kepada para pejuang ekonomi seperti para papa lele (pedagang kaki lima) dan pedagang asongan. Papa lele yang lapaknya berderet rapi di depan Stadion Marilonga merupakan pemandangan khas setiap kali event pertandingan sepak bola digelar. Pedagang asongan yang diijinkan memasuki Stadion Marilonga kala pertandingan berlangsung, atas ijin dan mendapat ID Card dari pantia, pun bukan hal yang baru. Umumnya mereka adalah masyarakat yang berdomisili di sekitar Stadion Marilonga yang mempunyai kios/warung juga di sekitar Stadion Marilonga lantas membuka lapak, dan/atau masyarakat yang dadakan berjualan karena melihat peluang mengumpulkan tambahan Rupiah.

Ini bukan brondong loh, tapi SORGUM! Dari Komunitas RMC Detusoko.

Pada event TSF, tidak hanya papa lele dan pedagang asongan saja yang terlihat di Stadion Marilonga. Dengan adanya Pameran bertema Bego Ga'i Night, panitia telah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para pelaku usaha baik usaha kecil maupun mikro untuk berpartisipasi, melalui pendaftaran secara gratis. Tenda-tenda pameran ini diisi oleh para pelaku usaha kecil dan mikro serta komunitas. Jadi, apabila kalian pergi ke Stadion Marilonga, di bagian depannya, parkiran, kalian akan melihat tenda-tenda pameran berderet rapi, berhadapan dengan lapak-lapak papa lele yang juga berderet rapi. Diantara mereka adalah area terbuka tempat arus manusia, pengunjung maupun penonton, hilir-mudik.

Tim Mural sedang ngopi di depan tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria.

Kalian bisa melihat pengunjung menikmati kopi dari tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria, pun juga bisa melihat pengunjung memesan kopi dari para pedagang papa lele. Kalian bisa melihat pengunjung memesan gorengan dari salah satu tenda pameran, pun juga bisa melihat pengunjung berdiri di depan lapak papa lele untuk membeli sebotol air mineral atau sebutir telur rebus. Kalian bisa melihat penonton pertandindang sepak bola yang membeli sekantong brondong di lapak papa lele, pun bisa melihat pedagang asongan yang tertawa bahagia karena sekali masuk ke dalam stadion dagangannya ludes dibeli para penonton.

Rejeki tidak akan tertukar. Itulah yang saya perhatikan selama TSF berlangsung.

Pengusaha Jasa


Ada banyak pengusaha jasa yang meraih keuntungan dari TSF; jasa transportasi, jasa sablon, jasa parkir, jasa ini itu. Semuanya memperoleh dampak (positif) dari satu event TSF.

Kita mulai dari pengusaha jasa transportasi. Kabupaten Ende merupakan kabupaten dengan kecamatan-kecamatan yang letaknya tidak hanya di dalam Ibu Kota yaitu Kota Ende saja, tetapi juga kecamatan-kecamatan di luar Ibu Kota. Logisnya, jangankan luar kota, yang di dalam kota saja butuh jasa transportasi untuk mencapai Stadion Marilonga. Jalan kaki sejauh lima sampai delapan kilometer memang bisa dilakukan, tapi begitu sampai di Stadion Marilonga, klub andalan kecamatan mereka sudah kelar bertanding. Haha. Bayangkan saja jarak dari Moni (Kecamatan Kelimutu) ke Kota Ende saja bisa membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam. Oleh karena itu transportasi merupakan jasa yang sangat dibutuhkan; ojek, angkot, mini bis, bis, sampai truk kayu yang dimodifikasi dengan bangku-bangku untuk penumpang manusia. 

Baca Juga: Lomba Mural Lagi

Selain transportasi, pengusaha jasa lainnya adalah jasa sablon. Pengusaha jasa sablon ini sudah mulai bergerak bahkan sebelum TSF dimulai. Mereka menerima pesanan sablon kostum pemain, kostum suporter, kostum official, dan lain sebagainya. Coba kalian bayangkan, ada dua puluh satu kecamatan yang artinya ada dua puluh satu tim! Teman saya dari #EndeBisa yaitu Ampape Sablon bahkan sering mempos di FB tentang pesanan-pesanan kaos menjelang dan bahkan saat TSF berlangsung.

Bagaimana dengan jasa parkir? Panitia TSF memang menyediakan tempat parkir khusus yang dijaga oleh aparat Dishub, tetapi masih banyak pula masyarakat yang memilih parkir-cepat di seberang jalan, di depan rumah-rumah warga. Maka jasa parkir yang ini jelas menguntungkan warga meskipun tanpa karcis tapi tetap laris karena kemudahannya memarkir dan mengeluarkan sepeda motor. Saya salah seorang panitia yang pada suatu malam memilih jasa parkir warga ini.

Nah, kalau jasa yang berikut ini adalah jasa yang berkaitan dengan kreativitas. Al dari Be Art memang menjual gelang tenun ikat (barang) pada tenda pamerannya. Tapi jangan salah, Al juga menerima jasa membikin nama pada gelang tersebut. By request. Ini keren kan, jasa yang ditawarkan Al ini laris-manis. Banyak yang memesan, custom, gelang tenun ikat dibordir nama mereka atau nama pasangan mereka atau nama klub sepak bola favorit mereka.

Gelang tenun ikat dari Be Art.

Sayangnya, ada peluang usaha jasa yang terlewatkan oleh masyarakat. Hari-hari terakhir ini Kota Ende diguyur hujan (dan angin kencang). Saya belum melihat ada yang menawarkan jasa payung dan jas hujan. Hehe. Hujan dan angin kencang ini sering merobohkan beberapa tenda pameran, tetapi Seksi Perlengkapan dan Seksi Kelistrikan dengan sigap memperbaikinya. Tentu dibantu oleh anggota panitia lainnya.

Sektor Pertanian/Perkebunan dan Sektor Peternakan


Apakah sektor-sektor ini tergerakkan? Ya, kawan. Sangat. Sektor pertanian/perkebunan, misalnya, kalian bisa melihat para papa lele yang menjual buah-buahan seperti ata nona (lagi musim dan manisnya aduhai!) serta yang menjual kopi. Pada Komunitas RMC Detusoko kalian juga bisa melihat ragam hasil bumi yang dipamerkan dan dijual seperti sorgum dan olahannya, kripik ubi, nanas kering, hingga kacang-kacangan. Tapi, apabila kita mundur ke belakang, maka kita akan menemukan bahwa sektor-sektor ini jelas tergerakkan sejak semula jadi.

Kok bisa, Teh?

Pertama, kalian sudah tahu kan bahwa banyak pedagang papa lele yang berjualan nasi limaribuan, kacang hijau dan es buah dalan cup plastik (sedih ya, plastik lagi), hingga brondong. Mari kita lihat perhitungan ekonominya:


Itu baru satu pedagang papa lele yang saya tanyai. Belum yang lainnya; baik pedagang papa lele, pedagang asongan, maupun pengusaha kecil dan mikro. Perbedaan yang sangat signifikan antara hari biasa dan hari-hari TSF. Dari situ, kalian juga pasti bisa menghitung bahan baku yang dibutuhkan bukan? Mulai dari beras, sayur-mayur, ikan/daging, telur, jagung, kacang hijau, buah-buahan, kopi, gula, dan lain sebagainya. Meningkatnya permintaan 'pasar' dari event TSF sebagai konsumen, menyebabkan meningkat pula pembelanjaan yang dilakukan oleh produsen.

Ma Otu, salah seorang tetangga saya yang turut berjualan, dadakan, di depan Stadion Marilonga, mengaku TSF telah turut membantu perekonomian keluarganya. Berjualan pada event TSF terutama saat klub-klub dari luar kota berlaga, membikin nasi limaribuannya laris-manis terjual dalam sekali angkot menurunkan penumpang luar kota! Astaga! Oleh karena itu, untuk sementara ia memilih berjualan di depan Stadion Marilonga saat TSF dan berhenti membantu mengelola kantin di Kampus 3 Uniflor. Nah!

Memperkenalkan Komunitas


Di Kabupaten Ende ini banyak sekali komunitas. Ada komunitas yang sudah sangat dikenal, ada pula yang masih baru. Beberapa komunitas yang turut meramaikan tenda-tenda pameran TSF antara lain KaFE yaitu komunitas fotografer Ende, Komunitas Literasi Milenial FTI, Komunitas RMC Detusoko, Komunitas Kopi Sokoria, Komunitas Be Art, Komunitas Rumah Baca Suka Cita, dan lain sebagainya. Saya sendiri, misalnya, melalui TSF jadi tahu ada Komunitas Kopi Sokoria dan Komunitas Rumah Baca Suka Cita.






Awesome!

Sarana Bermain dan Belajar Para Bocah


TSF tidak saja menjadi daya tarik orang dewasa, para bocah pun demikian. Bukan, bukan saja para bocah yang merupakan anak-anak dari para pengisi tenda pameran maupun anak-anak papa lele dan pedagang asongan. Ini adalah para bocah pengunjung yang secara sengaja memang diajak orangtuanya untuk turut menikmati euforia TSF terkhusus di sebuah tenda pameran milik Komunitas Ruman Baca Suka Cita. Rumah Baca ini bahkan menempati dua tenda pameran; menyediakan buku-buku untuk dibaca di tempat oleh para bocah yang berkunjung, pun menyediakan kertas-kertas bergambar yang siap diwarnai.



Berbahagialah kalian, para bocah! Hehe. Kalian jadi punya sarana bermain dan belajar. Bahkan Rumah Baca Suka Cita juga menggelar perlombaan mewarnai dengan peserta yang sangat banyak. Meskipun pernah ditunda karena cuaca yang sangat buruk, perlombaan ini tetap digelar pun di tengah cuaca buruk, tetapi dipindah lokasinya ke Kantor PDAM yang terletak di samping Stadion Marilonga.

Baca Juga: Arekune

Luar biasa. Menunduk hormat untuk para pengelola Rumah Baca Suka Cita dan panitia TSF Seksi Pameran.

Hiburan


Tidak bisa dipungkiri TSF adalah hiburan untuk masyarakat Ende. Karena pada malam minggu diselenggarakan panggung hiburan yang menghadirkan musisi-musisi lokal. Dua malam minggu yang lalu, panggung mini di depan Stadion Marilonga, menampilkan sekelompok musisi asal Moni (Kecamatan Kelimutu) yang membawakan lagu-lagu bernuansa reggae. A-yeee! Ramai sangat! Penonton yang usai menonton pertandingan sepak bola pun berjubel di depan panggung.

Bagi saya, hiburan lainnya adalah cuci mata hehehe. Senang sekali begitu melihat orang-orang hilir-mudik, kayak menonton fashion show. Ini memang pertandingan sepak bola, tapi penontonnya harus modis doooonk.

Yang Terlewatkan


Dari apa yang sudah saya ulas panjang-lebar di atas, kalian jadi paham bahwa apa yang dipos Abang Iskandar di FB-nya itu memang benar. TSF adalah pesta masyarakat Kabupaten Ende! Tapi, selain yang betul-betul tertangkap mata, hasil mengamati, serta wawancara, ada hal-hal yang terlewatkan. Masih, dari lini ekonomi. Yang pertama adalah supporter.


Suppoter cilik yang gembira karena tim andalannya menang.

Supporter tentu turut meningkatkan perekonomian dengan memesan kaos supporter kan. Tapi perlu kalian ketahui bahwa wajah dan, kadang, tubuh yang di-cat itu membikin para pemilik toko cat tersenyum senang hahaha. Belum lagi tenore (alat drumband) yang pasti disewa. Amboi ... betul-betul semua lini lah ini TSF membawa dampak positif.

Apresiasi


Saya, pribadi, sangat mengapresiasi Triwarna Soccer Festival. Hanya dari satu event, begitu banyak lini yang merasakan imbasnya, baik langsung maupun tidak langsung. Saya sangat mengapresiasi semua anggota panitia yang betul-betul memerhatikan masalah sampah. Sampah di dalam Stadion Marilonga maupun sampah di luar Stadion Marilonga. Seksi Perlengkapan sigap menyediakan karung-karung sampah yang setiap pagi langsung diangkut ke tempang pembuangan sampah. Sampah yang bisa dibakar, pasti langsung dibakar. Jika ada yang protes: ah, masa sih? Itu sampahnya setiap hari ada. Ya kan karena event ini masih berlangsung dan mungkin saat melintas di depan Stadion Marilonga pada saat panitia belum membersihkannya. Tapi percayalah, urusan sampah ini selalu dibahas setiap briefing malam usai pertandingan terakhir sebelum kami pulang.

Saya berharap event tahunan dengan menu utama pertandingan sepak bola ini bakal lebih baik dari tahun ke tahun, dengan menambahkan mata acara baru. Tak hanya Pameran dan Lomba Mural, dan hiburan, bisa pula ditambah dengan Lomba Fashion Show Tenun Ikat, atau lomba-lomba lainnya.

Baca Juga: Laut Belakang Sekolah

Demikianlah TSF's Story. Kisah yang luar biasa dari Triwarna Soccer Festival. Kami, masyarakat Ende bangga punya event sekeren ini. Karena ... Ende jadi lebih ramai! Hehe.

Semangat Senin, kawan, dan semoga hari-hari kalian menyenangkan.



Cheers.

5 Jawara Mural


Nampaknya saya masih akan terus menulis tentang event keren di Kabupaten Ende yaitu Triwarna Soccer Festival yang punya tiga mata acara yaitu event utama Bupati Cup, Pameran dengan tema Bego Ga'i Night, dan Lomba Mural. Sebagai anggota Tim Lomba Mural, saya tentu fokus pada lomba yang satu ini, yang telah berakhir tanggal 11 Maret 2019 kemarin (penambahan waktu satu hari). Dan kali ini ijinkan saya memamerkan lima jawara mural dari Lomba Mural Triwarna Soccer Festival.

Baca Juga: 5 Mural Favorit

Lima jawara mural ini murni keputusan juri yang mutlak alias tidak dapat diganggu-gugat; yang telah disetujui peserta melalui surat pernyataan. Saya menyaksikan sendiri betapa dewan juri harus bekerja keras untuk bisa menghasilkan keputusan tersebut. Awalnya hanya empat jawara yang ditentukan oleh panitia Triwarna Soccer Festival yaitu Juara I, Juara II, Juara III, dan Juara Favorit. Tetapi dewan juri yang baik hati itu kemudian memberikan satu hadiah khusus juri yaitu Juara Pilihan Juri yang hadiahnya pun dari para dewan juri. Uh wow sekali kan ya juri-juri kita ini. Mereka orang seni dan mereka tahu betapa seni sebenarnya tidak dapat diukur dengan Rupiah, tetapi mereka ingin bisa menyumbangkan rasa kagum mereka meskipun hanya untuk satu perserta.

Lomba Tanpa Biaya Pendaftaran


Saya pikir hal ini perlu kalian ketahui. Lomba Mural ini tidak dikenakan biaya pendaftaran sepeserpun oleh panitia alias gratis. Selain itu, panitia menyediakan cat dasar untuk para peserta loh yaitu masing-masing tim/peserta memperoleh cat hitam 2kg, cat putih 2kg, cat biru 1kg, cat merah 1kg, dan cat kuning 1kg. Apabila terjadi kekurangan cat, itu menjadi tanggungan peserta, serta tentunya peralatan melukis ditanggung sendiri oleh peserta. Panita juga menyediakan skafolding dua unit per tim/peserta.

Saya pikir, panitia sudah sangat baik ya hehehe. Tidak ada biaya pendaftaran, cat dasar ditanggung, menyiapkan skafolding, dan waktu lomba selama tujuh hari. Yang lebih penting, piala untuk Juara I, Juara II, Juara III, dan Juara Favorit ditiadakan. Kok itu menjadi penting? Karena, dengan meniadakan piala, panitia menawarkan biaya (bukan kompensasi tetapi apresiasi) kepada peserta yang tidak mendapat posisi juara. Dengan kata lain, semua peserta mendapat hadiah uang pembinaan meskipun uang pembinaan yang diperoleh tim/peserta yang tidak juara ini tidak sebesar yang diperoleh para juara. Dan setelah pertemuan kembali dengan para peserta, semuanya menyetujui. Ah, luar biasa.

Tema yang Unik


Berbeda dari lomba mural yang pernah diselenggarakan tahun 2014, kali ini temanya unik, menurut saya. Karena tema-tema yang ditentukan oleh Tim Lomba Mural, dibantu dewan juri, merupakan tema yang mungkin tidak terpikirkan oleh para peserta sebelumnya. Tema lebih kayak dan nyaris mengambil semua perkara dari Kabupaten Ende seperti tokoh atau pahlawan lokal, hasil bumi dan hasil laut khas Kabupaten Ende, properti adat, simbol adat, rumah adat, aktivitas harian masyarakat lokal, hingga tarian-tarian adat. Saya suka sama tema-temanya. Saat technical meeting, penarikan lot tema dan nomor bidang mural, dewan juri pun telah menjelaskan bahwa tim/peserta yang mendapat properti adat, misalnya, dapat mengeksplor seluas-luasnya hal-hal yang berkaitan dengan properti adat. Demikian kira-kira; silahkan berkreasi sebebas-bebasnya tanpa mengimbuh unsur-unsur politik dan menyinggung SARA.

Nah, saatnya sekarang saya membahas tentang para jawara Lomba Mural Triwarna Soccer Festival. Cekidoooot ...

Juara I: Sindu dan Wati


Sindu dan Wati sama-sama berarti wadah anyaman berbahan daun (daun lontar sih kebanyakan). Ini merupakan salah satu properti adat. Tema ini ditentukan oleh dewan juri dan dipilih peserta saat technical meeting (penarikan lot: tema dan bidang). Tim yang mendapat tema sindu dan wati adalah B13 Pu'u Zeze. Ini dia hasilnya:


Pergerakan tim ini memang lambat, menurut saya, tapi ternyata itu karena mereka sangat memerhatikan detail, yang menjadi salah satu unsur penilaian dewan juri. Lihat betapa detailnya mereka melukis sindu dan wati, biji kopi, sirih dan pinang, sarung tenun ikat yang dilipat dan diletakkan di atas wati, hingga bingkai motif tenun ikatnya. Juri sempat bertanya sangat lama soal pencahayaan serta memberi saran lipatan selendang bingkai yang seharusnya tidak terang pada lipatan tersebut (lebih gelap, harusnya).

Selamat ya! Kalian keren!

Juara II: Feko dan Lamba


Feko dan lamba merupakan alat musik tradisional dari Kabupaten Ende. Yang mendapat tema ini adalah Kelor Crew. Mereka betul-betul mengikuti arahan dewan juri tentang tema utama dengan unsur-unsur pendukungnya. Bisa kalian lihat pada gambar di bawah ini:


Saat presentasi, Kelor Crew menjelaskan tentang alat musik ini, termasuk tentang mengapa wajah salah seorang pemain alat musik berwarna kemerahan. Karena kebiasaan kita, kalau ada acara-acara adat, pasti minum satu sloki dua sloki moke. Ha ha ha. Orang Ende bilang: kena telak. Dari semua aliran realistik, Kelor Crew adalah tim yang paling mendekati.

Selamat, ya! Kalian keren!

Juara III: Gerugiwa


Yang satu ini sudah saya bahas di pos Teknik Airbrush. Mural tema (burung) Gerugiwa ini dibikin oleh Bimo Crew dengan Ketua Tim Anggi Mukin asal Ndona. Waktu Bimo Crew menjelaskan filosofinya, saya agak merinding. Imajinasi mereka sungguh 'liar'. Dan dalam seni, semakin 'liar' semakin uh wow hehe. Itu menurut saya. Kalau kalian tidak setuju, bodo amat!


Mural Gerugiwa ini punya begitu banyak filosofi (dari satu mural!). Nah, kalian harus membaca filosofinya di Pos Teknik Airbrush. Rugi kalau tidak membacanya hehehe. 

Selamat, ya! Kalian keren!

Juara Favorit: Sato dan Gambus


Sato dan gambus merupakan alat musik tradisional Kabupaten Ende. Konon, untuk tahu betul soal sato dan gambus, pesertanya yaitu PMI Kabupaten Sikka, berburu informasi hingga ke Desa Waturaka. Ya, mereka adalah satu-satunya tim/peserta dari luar Kabupaten Ende. Seharusnya ada satu lagi sih peserta dari Kabupaten Sikka, tapi Jenick mengundurkan diri. Ini dia hasilnya:


Keren ya. Digambarkan seorang lelaki bersarung ragi mite sedang memainkan alat musik. Dengan latar belakang Danau Kelimutu sebagai ikon wisata utama Kabupaten Ende. Menurut dewan juri, kelemahan gambar ini adalah pada pewarnaan dari si lelaki dengan warna-warna (alam) di sekitarnya. 

Selamat, ya! Kalian keren!

Juara Pilihan Juri: Rumah Adat


Di Kabupaten Ende ada banyak kampung adat yang terdiri dari rumah adat dan unsur-unsurnya. Di dalam murla karya Niporell Art ini kalian dapat melihat gambaran Kampung Adat Nggela (saya ingat betul kuburan berbentuk perahu tersebut). 


Ah, mereka membikin saya jadi pengen pergi ke Nggela lagi hehe. Saya memang selalu suka kampung adat serta simbol-simbolnya yang berfilosofi dalam.

Itu dia lima jawara mural dari Lomba Mural Triwarna Soccer Festival. Yang juara maupun belum juara, semua sama-sama hebat dan keren. Saya menunduk hormat untuk mereka semua.

Marilonga


Marilonga merupakan tema tokoh/pahlawan lokal yang diperoleh Win Art Tim. Meskipun belum juara, tapi saya suka bagaimana tim ini menggambarkan Marilonga yang sangat kami cintai itu:


Luar biasa!


Demikianlah lima jawara Lomba Mural Triwarna Soccer Festival. Melihat hasil karya mereka yang luar biasa membikin Ketua Panitia dalam acara penutupan kemarin mengatakan bahwa masih ada kesempatan untuk yang belum juara, untuk berkarya di lomba-lomba mural yang akan datang. Yipieeee! Artinya, akan ada lagi donk lomba mural. Iya sih, kan belum semua bidang di tembok pagar Stadion Marilonga terpenuhi.

Semoga.

Baca Juga: 5 Yang Cantik

Bagaimana, Himawan? Sudah terpenuhi juga rasa penasarannya kan? Hehehe. Semoga suka sama hasil karya para peserta ya. Next time saya akan ulas tentang mural-mural lain yang belum meraih juara dalam lomba kali ini. Dan, maafkan apabila belum bisa blogwalking haha. Maklum.



Cheers.

Teknik Airbrush


Akhirnya Lomba Mural Triwarna Soccer Festival 2019 telah selesai. Tadi siang, pukul 14.00 Wita, empat belas peserta telah mempresentasikan hasil karya masing-masing di hadapan Dewan Juri, tamu undangan, dan masyarakat umum yang menonton. Salah satu peserta yang meraih Juara III adalah Bimo Crew. Mereka menggunakan teknik campuran dalam berkreasi di bidang yang telah disediakan pada tembok pagar Stadion Marilonga. Teknik tersebut adalah menggunakan kuas dan airbrush.

Baca Juga: Paper Bed

Sebelum saya mengulas tentang para pemenang Lomba Mural ini, mari kita simak dulu, apa sih teknik airbrush itu?

Airbrush


Menurut Wikipedia, airbrush adalah teknik seni rupa yang menggunakan tekanan udara untuk menyemprotkan cat atau pewarna pada bidang kerja. Dalam catatan sejarah seni lukis moderen, airbrush baru berkembang pada akhir abad ke-19. Tahun 1879 dikenal sebagai tahun penemuan teknik melukis dengan memanfaatkan tekanan angin yang dikenal dengan teknik airbrush ini. Alat yang digunakan untuk mentransfer cat ke media lukis awalnya disebut paint distributor. Orang yang berjasa menemukan alat ini adalah Abner Peeler, seorang penemu profesional yang sepanjang hidupnya melakukan berbagai percobaan. Kemudian Peeler menjual patennya pada Lyberty Walkup dari perusahaan Walkup Brothers pada Agustus 1883.

Charles L. Burdick, seorang seniman Amerika yang tinggal di Chicago menemukan pen bertipe internal mix airbrush. Setelah penemuan ini, pada tahun 1893 ia pindah ke Inggris untuk mendirikan Fountain Brush Company. Burdick orang yang berjasa dalam memodifikasi alat ciptaan Peeler sehingga menjadi alat yang mudah digunakan karena bentuknya menyerupai pena. Ia memperkenalkan sekaligus mematenkan temuannya yakni needle control system atau sistem kontrol pengeluaran cat dengan sebatang jarum.

Menurut salah seorang Dewan Juri yaitu Om Konk yang juga dikenal sebarai Ketua Komunitas Mural Ende, kuas atau airbrush ini adalah perkara kebiasaan. Tidak ada yang lebih menonjol antara keduanya. Semua kembali pada kebiasaan si seniman dan skill-nya. 

PMI Kab Sikka & Bimo Crew


Ada dua tim dari Lomba Mural Triwarna Soccer Festival yang menggunakan teknik campuran; kuas dan airbrush yaitu PMI Kab Sikka dan Bimo Crew. PMI Kab Sikka menyabet Juara Favorit sedangkan Bimo Crew meraih Juara III.

Mural Syarat Filosofi


Ijinkan saya bercerita tentang mural yang syarat filosofi. Silhkan dibaca, untuk pahami makna mural yang bersangkutan. Sudah saya pos juga di Facebook:


Mural tema (burung) Gerugiwa ini dibikin oleh Bimo Crew dengan Ketua Tim Anggi Mukin asal Ndona. Mural ini meraih Juara III. Waktu Bimo Crew menjelaskan filosofinya, saya agak merinding. Imajinasi mereka sungguh 'liar'. Dan dalam seni, semakin 'liar' semakin uh wow hehe. Itu menurut saya. Kalau kalian tidak setuju, bodo amat!

Mural Gerugiwa ini syarat filosofi. Sekali merengkuh dayung, dua tiga makna terungkap.

1. GERUGIWA DAN DANAU KELIMUTU

Gerugiwa adalah satwa/burung khas yang habitatnya di Taman Nasional Kelimutu: Danau Kelimutu. Kaitan Gerugiwa dan Danau Kelimutu, cek poin nomor dua di bawah 👇

2. DANAU KELIMUTU

Danau Kelimutu digambarkan dalam tiga rupa. Dari kanan ke kiri arah mural yang bersangkutan: 
a. Ata Bupu (bintang-1)
b. Ko'o Fai Nua Muri (bintang-2).
c. Ata Polo (bintang-3).

Ata Bupu digambarkan sebagai orangtua yang mulutnya membuka dan ada elemen pegunungan dan air terjun, Ko'o Fai Nua Muri digambarkan sebagai wanita, dan Ata Polo digambarkan sebagai iblis(api) membara. Tapi, dobel makna dari mural itu, silahkan baca poin tiga di bawah 👇

3. ELEMEN KEHIDUPAN

Elemen kehidupan adalah dobel filosofi. Dengan kata lain, mural ini bermakna ganda:
Yang pertama: UDARA dari si Gerugiwa sendiri (kepakan sayap di udara).
Yang kedua: TANAH dari si Ata Bupu. Saya mendefenisikannya sebagai orangtua (ata Bupu), bumi, tempat kita berpijak.
Yang ketiga: AIR dari si Ko'o Fai Nua Muri. Saya memaknai air sebagai simbol kehidupan. Perempuan (ibu) adalah air kehidupan kita. Dan, berwarna biru. Ibu adalah kedamaian.
Yang keempat: API dari si Ata Polo. Mau apa lagi? Kalian pasti bisa mendefenisikannya juga kan?

4. DUA SUKU

Dua sayap yang melebar dari si Gerugiwa merupakan simbol dua suku yang hidup di Kabupaten Ende yaitu Suku Ende dan Suku Lio.

5. SI MATA SATU

Ko'o Fai Nua Muri ini digambarkan satu matanya tertutup ekor Gerugiwa. Filosofinya adalah bahwa masih banyak kaum muda Ende yang tidak tahu tentang Gerugiwa sebagai satwa khas milik kita yang boleh dibanggakan dan wajib dilestarikan bersama. Cocok kan dengan Tiwu Ko'o Fai Nua Muri yang digambarkan sebagai danau muda-mudi?

Saya trekdung banget waktu mendengarnya. Itu benar, kawan.

Sungguh keliaran imajinasi yang bikin saya pribadi kagum dan merinding. Dan saya harus menulisnya saat ini juga, agar kalian juga tahu. Agar filosofi Gerugiwa dari Bimo Crew ini kita nikmati dan resapi bersama. 

Ada yang tidak setuju?

Bodo amat 😁

Terima kasih semua peserta, empat belas, yang telah memberi warna baru pada tembok pagar Stadion Marilonga. Sampai jumpa di lomba berikutnya. Kalian semua hebat. Kita Ata Ende sangat bangga, termasuk juga untuk kawan PMI Kab Sikka yang meraih juara Favorit. Saya menunduk hormat atas semua karya kalian.

#LifeIsGood
#LombaMural
#TriwarnaSoccerFestival

Ya, perlu kita akui, mereka semua hebat!


Saya ingin sekali mengulas para jawara Lomba Mural ini, tapi kayaknya pos ini bakal panjang banget. Jadi, untuk lima pemenangnya bakal saya tulis pada pos #KamisLima. Sekalian memenuhi rasa penasarannya Himawan Sant. Hehehe. Mohon bersabar yaaaa. 

Yang jelas, para peserta Lomba Mural telah membuktikan bahwa di Kabupaten Ende, dan kabupaten tetangga, ada talenta-talenta luar biasa di bidang seni lukis/mural ini. Dan talenta-talenta ini harus terus dibina dan dirangkul. Karena ke depannya kita tentu ingin akan ada lagi lomba-lomba mural bukan? Entah dengan kalian, kalau saya sih hyess.

Terima kasih Triwarna Soccer Festival. Upaya dan pencapaian yang luar biasa.


Cheers.

Es Gula Moke


"Kakak Ibu Tuteh, mau minum kopi?" tawar Ferdianus Rega, founder Komunitas Sokoria Kopi, semalam, saat saya sedang duduk di mejanya mengecek T-Journal dan daftar peserta Lomba Mural di meja depan tenda pamerannya. Iya, ceritanya ini masih dari Triwarna Soccer Festival

"Sudah dua gelas kopi susu. Cukup kopi untuk hari ini. Kalau ada yang dingin, boleh," jawab saya sambil membayangkan sedikit informasi tentang Komunitas Sokoria Kopi pada pos tentang Be Art ini.

"Ada es gula moke," tawarnya dengan wajah ramah. "Gratis untuk Kakak Ibu."

"Boleh!"

Baca Juga: Arekune

Tampang gratisan saya langsung menyala begitu mendengar kata gratis. Hahaha. 

Apa Itu Moke?


Untuk tahu tentang moke, silahkan baca pos Aimere, Tak Hanya Moke atau pos Moke, Aimere. Tapi sekadar informasi, moke merupakan minuman keras tradisional khas Provinsi Nusa Tenggara Timur yang diolah dari nira pohon lontar. Moke juga disebut minuman yang menyehatkan, sebenarnya, apabila diminum secukupnya, terutama bila telah direndam dengan ginseng. Dari lini adat-istiadat, moke merupakan minuman wajib dari Suku Lio (menulis dari sudut Kabupaten Ende). Membangun rumah, upacara adat, pernikahan, dan lain sebagainya, moke selalu ada. Satu atau dua sloki itu wajar, berlebihan bakal bikin mabuk dan lupa diri.

Es Gula Moke


Secangkir es gula moke hadir di hadapan saya. Wah, harus segera saya coba. Yakin ini bukan kopi-moke yang pernah diminum teman. Bagaimana rasanya? Dingin ... haha. Ada rasa gula merah cair atau seperti rasa gula Sabu, dan sedikit sekali rasa moke-nya. Great! Ini minuman segar yang pasti dicari kalau siang hari. Betul, sangat cocok diminum siang hari saat tubuh sedang letih. Karena kandungan gula cair itu baik untuk tubuh, kata Mamatua.

Kalau kalian belum tahu, gula Sabu merupakan gula khas yang diproduksi di Pulau Sabu. Bagaimana pembuatannya? Belum saya tahu pasti karena belum lengkap informasi tentang gula Sabu ini, harus bertanya lebih lanjut kepada teman-teman Orang Sabu. Semoga saya bisa menulis tentang gula Sabu ini ya, kawan. Karena gula Sabu yang diseduh dengan air panas itu dulu pernah menjadi minuman saya setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah.


By the way, saya menulis pos ini pagi buta setelah balik dari Stadion Marilonga. Jadi, saya belum bisa menulis keputusan siapakah pemenang Lomba Mural yang harusnya berakhir kemarin. Ya, atas pertimbangan dewan juri, pengumuman akan dilaksanakan Senin, 11 Maret 2019, pukul 14.00 Wita. Nantilah saya bakal pos tentang para pemenang Lomba Mural. Tapi, boleh donk saya foto duluan di salah satu bidang yang dilombakan:


Berlatar hasil mural salah seorang peserta bernama Anggi, bertema burung Gerugiwa. Gerugiwa merupakan burung khas yang ada di Taman Nasional Kelimutu. Dan, termasuk satwa yang dilindungi. Inilah burung kebanggaan kami.

Baca Juga: Laut Belakang Sekolah

Bagaimana dengan cerita kalian, kawan?



Cheers.

5 Mural Favorit


Lomba Mural yang merupakan salah satu mata acara dari Triwarna Soccer Festival telah dibuka dengan resmi oleh Ketua Panitia yaitu Bapak Lori Gadi Djou pada Senin, 4 Maret 2019. Sejumlah limabelas peserta/kelompok mulai berkreasi di bidang pagar tembok stadion kebanggan kami Orang Ende, Stadion Marilonga. Terhitung telah empat hari lomba berjalan dan masih tersisa tiga hari lagi sebelum penjurian final dan pengumuman pemenang. Siapakah yang akan menjadi pemenang? Itu masih tanda tanya seperti pada gambar awal pos ini. Hehe.

Baca Juga: 5 Yang Cantik

Selama empat hari berjalan, sambil nongkrong dan ngopi di tenda pameran Komunitas Kopi Detusoko, tugas saya adalah memotret prosesnya. Karena ada dua skafolding yang ditumpuk agar peserta dapat mencapai bidang paling atas, saya kesulitan bisa memotret semuanya. Tapi setidaknya ada lima mural-sedang-proses yang menjadi favorit saya. Yuk kita cek ...

1. Perempuan Menenun


Salah satu tema mural adalah perempuan sedang menenun. Tema ini dipilih oleh panitia karena menenun merupakan salah satu aktivitas perempuan di Kabupaten Ende baik pada Suku Ende maupun pada Suku Lio. Tentang proses pembuatan tenun ikat dapat dilihat pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat. Salah satu pos kebanggaan saya hahaha.


Gambarannya seperti pada gambar di atas. Proses kelompok ini termasuk cepat karena pada hari pertama bidang ini masih kosong. Saya suka melihatnya.

2. Tokek


Tokek merupakan salah satu simbol yang melekat pada rumah-rumah adat dalam bentuk ukiran pada kayu-kayunya. Selain tokek saya pernah melihat simbol hewan seperti ayam. 


Peserta ini datang dari kelompok/komunitas difabel. Menariknya, mereka mengikuti arahan juri dimana tokek dapat dipasangkan pada benda-benda lain yang memang dapat dilekatkan. Jadi, di mana kah gambar tokeknya? Ada pada perisai yang dipegang oleh si pahlawan saat pulang berperang. Wah, mendengar penjelasan singkat dari pesertanya saja saya sudah bisa membayangkan bagaimana nanti hasilnya.

3. Feko dan Lamba


Feko dan lamba merupakan alat musik tradisional. Sama dengan penggambaran tokek di atas, feko dan lamba merupakan tema utama yang didukung oleh unsur-unsur lain yang mengikat seperti para pemainnya yang menggunakan pakaian adat.


Wajah salah seorang pemainnya realistis sekali ya. Hehehe. Duh kok saya jadi dagdigdug ya? Para peserta ini hebat-hebat semuanya. Mereka paham betul pengarahan dari dewan juri dan mereka sangat kreatif!

4. Marilonga


Marilonga adalah nama pahlawan lokal yang sangat kami banggakan dan patungnya dapat dilihat di daerah Wolowona sebagai pintu masuk Kota Ende bagian Timur. Stadionnya saja bernama Stadion Marilonga hehehe.


Gambaran umum Marilonga sudah bisa kalian lihat juga kan. Saya suka penambahan pahlawan lokal di bagian kanan atas sosok Marilonga.

5. Tarian Wanda Pa'u


Ini dia tarian kebanggaan kami. Tarian ini pasti ada di setiap acara baik tradisional maupun moderen. Sama seperti tarian Gawi. Tarian yang pasti menggunakan selendang ini sudah terlihat penarinya di bidang yang ditentukan.


Terima kasih yaaaa kalian semua kece badai!

Memang banyak yang realistik, tidak abstrak, tapi setidaknya lomba ini telah menjadi wadah dan alat penambang. Bahwa buktinya di Kabupaten Ende (serta peserta kabupaten sekitar yang juga ikutan), ada begitu banyak anak muda yang berbakat di dunia seni khususnya mural ini. 


Sebagai 'ibunya anak-anak' saya harus bisa untuk selalu ada untuk mereka, para peserta. Harus bisa mendengar dan memenuhi kebutuhan mereka. Tentu bukan saya pribadi, tapi oleh sub panitia lain. Misalnya ketersediaan skafolding hingga urusan tempat sampah setiap kelompok dipenuhi oleh Seksi Perlengkapan. Ketersediaan listrik untuk yang menggunakan teknik airbrush dipenuhi oleh Seksi Listrik dan Soundsystem. Ketersediaan air minum dipenuhi oleh Seksi Konsumsi. Saya dan teman-teman seperti Om Konk, Cesar, dan Rolland, hanya mengkoordinir saja.

Jadi, selama Lomba Mural ini panggilan saya macam-macam. Ada yang memanggil Kakak, ada yang memanggil Kakak Ibu, ada yang memanggil Ibu Negara, ada yang memanggil Ibu Yang Baik, dan lain sebagainya. Mana-mana suka. Saya asyik saja. Hahaha. Manapula bergaul sama seniman itu memang bikin hepi berlapis. 

Menariknya dari Triwarna Soccer Festival dengan pertandingan yang memperebutkan Bupati Cup, Bego Ga'i Night, hingga Lomba Mural, adalah diskusi demi diskusi. Setiap hari saya berdiskusi dengan banyak orang; sesama panitia, bareng peserta Lomba Mural, sama para pengisi tenda pameran, hingga pengunjung. Diskusi ini melahirkn ide-ide baru hingga memperbaiki beberapa hal. Kemarin malam misalnya, bersama Bapa Harry, Mas Chandra, dan Om Konk, kami berdiskusi tentang penambahan Aksara Lotta yang merupakan aksaranya Orang Ende pada mural yang dilombakan. Bersama Ferdianus Rega, misalnya, kami berdiskusi tentang kopi sebagai komoditas unggulan kami Orang Ende, Orang Flores, serta pengelolaannya. Jadi diskusi ini yang, menurut saya, semakin membuka wawasan.

Kembali pada Lomba Mural. 5 Mural Favorit bukan berarti mereka sudah pasti menang. Tidak, kawan. Saya tidak punya hak untuk menentukan, karena itu hak dewan juri yang mutlak, nanti, dan tidak bisa diganggu oleh siapapun. Bisa jadi yang favorit hari ini dapat berubah hehehe. Karena kan ini masih sedang dalam proses, bukan hasil akhir.

Baca Juga: Di Nagekeo Hati Saya Tertambat

Oh ya, di setiap bidang diwajibkan untuk dilengkapi dengan bingkai. Bingkai ini haruslah motif daerah. Motif tenun ikat. Kece lah.

Bagaimana dengan kalian? Apa cerita kalian hari ini, kawan?



Cheers.

Be Art


Bego Ga'i Night merupakan konsep: duduk-duduk sambil mengobrol. Tentu mengobrol ditemani minuman seperti kopi dan teh, serta kudapan seperti lemet atau onde yang terbuat dari ubi/singkong. Itulah konsep dari Pameran Triwarna Soccer Festival yang sudah berlangsung sejak tanggal 27 Februari 2019 kemarin bertepatan dengan launching atribut Triwarna Soccer Festival. Pada pameran ini tenda-tenda besi khas pameran berdiri di depan pagar tembok Stadion Marilonga, menghadirkan hasil karya UKM dan Komunitas. Jadi di Bego Ga'i Night, masyarakat tidak hanya dapat melihat barang-barang yang dipamerkan oleh komunitas, termasuk ada Komunitas Fotografi, tapi juga dapat membeli ragam minuman dan makanan yang rasanya aduhai menggiling lidah.

Baca Juga: Monotuteh

Salah satu komunitas yang mengisi tenda pameran adalah Komunitas Be Art. Nur Ali atau Al adalah salah seorang mahasiswa Prodi Arsitek Universitas Flores yang turut mengisi tenda Be Art ini. Sudah lama Al dikenal sebagai pembuat gelang berbahan tenun ikat. Salah satu penampakannya, yang dipesan khusus oleh Violin Kerong, seperti pada gambar berikut ini:


Penjelasan gambar di atas:

1. Sukun goreng itu, sukunnya dibawa sama Bapa Sam alias Kakak Pacar.
2. Sambalnya itu Koro Degelai dari RMC Detusoko.
3. Nah, yang dikasih panah itu gelangnya.

Hahaha ... dan gelang itu menjadi milik saya.

Be Art


Be Art ini sebenarnya merupakan komunitas yang terdiri dari banyak orang. Ada Violin Kerong, ada Nur Ali, ada saya. Violin, karena musibah kebakaran rumahnya, otomatis tidak bisa mengisi tenda Be Art. Semua hasil kerajinan tangannya dan sketsa hasil goresan tangannya hangus terbakar, termasuk sketsa wajah saya yang rencananya juga bakal dipajang di tenda Be Art. Karya-karya Violin, saya ambil dari Facebook, dapat dilihat di bawah ini:



Lalu ada Al. Al ini mahasiswanya Violin (Kaprodi Arsitektur). Karya-karyanya sangat banyak. Salah satunya bisa dilihat pada awal pos; tas bambu yang saya pakai itu. Karya-karyanya yang lain ada agenda dengan sampul terbuat dari kayu, lampu dinding, tas botol, hingga aneka gelang:




Pada malam pertama pameran saja, Al telah menjual puluhan gelang tenun ikat, ditambah yang dipesan oleh pengunjung. Anak ini memang luar biasa. Pada akhirnya dia memberikan saya sebuah buku tentang pengelolaan sampah desa. Masih saya baca beberapa lembar hehe. Nanti bakal saya ulas buku dari Rumah Intaran Bali ini.

Bagaimana dengan saya sendiri? Iya, saya juga mengisi, sekadar untuk memenuhi quota, karena saya toh sudah lama libur ber-DIY. Jadi, hasil DIY yang saya sertakan itu sebenarnya yang tersisa dari pesanan kemarin-kemarin tapi belum saya kasih ke orangnya. Sayang ya, padahal banyak yang tertarik dengan keranjang berbahan koran itu. Sampai ada yang tidak percaya bahannya koran. Makanya saya sertakan juga keranjang yang belum di-cat.


Cuma segitu, yang lainnya kan sudah diambil sama yang memesan hehehe. Beberapa hari ini saya sudah kembali membikin keranjang, tempat pinsil, dan kreasi dari semen. Cuma ya itu ... waktunya tidak bisa saya paksakan harus jadi dalam waktu dekat, karena pekerjaan utama dan pekerjaan menjadi panitia ini juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Tapi yang jelas, banyak yang bertanya-tanya tentang keranjang-keranjang ini. Padahal saya tidak khusus membikin keranjang saja. Kalian pasti sudah tahu, tempat tisu adalah mega proyek hahaha.

Komunitas Lain


Banyak komunitas yang mengisi tenda pameran Bego Ga'i Night. Tapi ada dua yang betul-betul saya sukai yaitu RMC Detusoko dengan Lepa Lio-nya, dan Komunitas Kopi Sokoria yang dipimpin oleh Ferdianus Rega. Salah seorang putera daerah yang kembali ke desa untuk mengangkat kopi daerahnya agar dikenal khalayak. Ada dua desa yang saat ini memasok kopi untuk komunitas ini yaitu Desa Sokoria dan Desa Demulaka. Ke depannya mereka bakal mengajak lebih banyak desa untuk bergabung.


Inilah cara kami menumbuk kopi sebelum mesin penggiling kopi masuk ke Kabupaten Ende. Pakai lesung kayu dan alu. Menumbuk kopi jangan sampai sehalus saat menggiling pakai mesin. Karena di situ letak seninya ... cieee ... hahaha. Proses seduhnya masih memakai V60.



Kopinya arabika. Yang robusta habis stok. Okay. Rasanya enak, menurut saya, ada sedikit citarasa brown sugar begitu. Menurut saya, lagi, semua yang ada di komunitas ini dikemas dengan sangat profesional. Sayangnya mereka tidak buka kafe di Kota Ende. Mungkin mereka buka kafe di Sokoria? Semoga. Supaya saya bisa mainnya agak jauh begitu kalau pengen ngopi hehehe. Abang Ferdianus Rega ini juga sangat ramah dan komunikatif. Saat mengobrol bersamanya, saya tahu inilah orang yang akan membangun desanya dan desa-desa sekitar, yang mengenal betul keunggulan desanya, dan mengangkatnya, termasuk remaja-remajanya. Dia luar biasa. Sama seperti pendapat saya tentang Nando Watu dengan RMC Detusokonya. 

Kalau di Lepa Lio, dari RMC Detusoko, ada juga proses menggiling kopi hingga pembuatannya. Selain itu berbagai olahan seperti sorgum, kacang, nanas kering, aneka kopi, hingga Koro Degelai pun tersedia di tenda pameran mereka. Jadi, kira-kira samalah dengan Komunitas Kopi Sokoria ini, bahwa ada edukasi ke pengunjung tentang kopi, jenis-jenis, cita rasa, pengolahan, sampai penyajian kepada pengunjung. Kan tumben di Kota Ende ada sedotan a la kopi Starbucks begitu. Katrok ya saya hihihi.


Kalau kalian sedang berada di Kota Ende, jangan lupa untuk mampir di Stadion Marilonga. Karena, selain ajang sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati, juga ada Bego Ga'i Night, dan Lomba Mural. Oh ya, Lomba Mural hari kedua ini beberapa bidang/peserta sudah nampak hasilnya meskipun masih gambaran umum belum sampai pada pendetailan. Insha Allah besok saya bakal hadirkan lima peserta Lomba Mural yang hasilnya sudah mulai terlihat. I promise.



Cheers.