Nonton MotoGP Sepang Sekarang, Bayarnya Nanti Aja


Siapa yang menolak jika diajakin nonton MotoGP di Sepang, Malaysia? Termasuk saya pun akan menerima ajakan tersebut dengan senang hati. Malaysia memiliki arti dari sekedar negara kedua setelah Singapura yang pernah saya jejaki sebagai salah satu syarat menjadi seorang traveler sejati. Mungkin terlalu klise, tapi memang teman-teman traveler lain sangat menyarankan Malaysia sebagai negara yang perlu dikunjungi. 

2012, tepatnya untuk pertama kali saya menerima stempel kedatangan di bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Saya masih takjub dan tak percaya akhirnya saya bisa menikmati nasi lemak dan berfoto-foto di menara kembar yang sangat tersohor. Saat itu masih sangat jarang informasi mengenai SIM Card atau online maps karenanya saya hanya mengandalkan buku panduan dan maps yang selalu saya kumpulkan dari berbagai tempat seperti Tourism Information. Nyasar it sudah menjadi hal yang wajar dan sejata saya hanya bertanya dan bertanya kepada petugas dan penduduk sekitar. 


Selama di Kuala Lumpur, saya mencari informasi dan akhirnya memutuskan untuk ke Penang. Alasan saya adalah kota lama atau bangunan kunonya yang sangat terawat sama seperti di Malaka. Dan Penang adalah jalan menuju ke Hatyai, sebagai pintu gerbang menuju ke Thailand. Pengalaman yang selalu menyenangkan dan makanan yang sama dengan Indonesia membuat selera makan saya sama bahkan lebih. Kata teman, salah satu hal yang perlu diperhatikan pada saat traveling adalah makanan. Dan, menurut teman saya, sebelum menerima culure shock yang lebih extreme, saya harus menyesuaikan dengan negara tetangga terlebih dahulu. 

Beberapa kali ke Malaysia, saya sangat kangen dengan nasi lemaknya yang sangat enak. Nasi lemak kalau di Jakarta bisa disamakan dengan nasi uduk yang luar biasa sedapnya. Terakhir saya mengunjungi Sabah dan Sarawak di ujung utara Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara. Sedangkan edisi sebelumnya, saya mengunjungi Kuala Lumpur dengan segala keunikannya karena saya sempat menikmati kota dari atas city tour bus. 



Menyaksikan MotoGP di Sepang adalah impian yang belum tercapai dalam beberapa tahun belakangan ini. Salah satu yang membuat saya ingin menyaksikannya adalah karena Erlangga. Sahabat saya dari SMA yang kini juga sama-sama menetap di Jakarta. Dia pernah menonton F1 di Sepang. Saya sebetulnya iri, namun secara positif saya menjadikannya sebagai motivasi agar dapat menonton secara langsung. Bahkan, beberapa destinasi seperti Hongkong pun saya termotivasi dari foto-fotonya. Kami memang jarang bertemu, namun sekali bertemu banyak sekali cerita yang kita sharing dan mengalir seperti kita bertemu setiap harinya. 


MotoGP itu sebuah seni pertunjukan yang memukau seluruh indra termasuk mata. Bagi saya menyaksikan perlombaan itu memacu adrenaline dan membuat hidup menjadi lebih menyenangkan karena pengalaman ini bisa dibilang sekali seumur hidup. Mungkin lain waktu kita dapat ulang lagi, namun setiap masa merupakan sebuah kenangan yang manis dan tidak akan terulang lagi. Apalagi jika ini adalah momen pertama kali, mungkin saya tidak akan melupakannya seperti pertama kali ke Malaysia pada tahun 2012. 

Alasan lainnya adalah karena bisa dibayar nanti melalui cicilan. Loh, memangnya bisa ya traveling sekarang tapi bayarnya nanti aja? Bisa bangetlah karena ada program menarik berupa Maxi Travel dari Adira Finance. Dan, kebetulan juga MotoGP ini juga termasuk dalam Maxi Travel yang akan di laksanakan oleh Tx Travel sebagai salah satu tour travel terbaik di Indonesia. 


Maxi Travel ini memudahkan bagi siapa saja yang ingin traveling sekarang namun pengen menunda pengeluran karena banyak yang kebutuhan yang harus dipenuhi dalam beberapa bulan belakangan. Zaman now, memang banyak sekali alternatif yang dapat kita lakukan untuk traveling dan salah satu solusi bagi tidak memiliki dana lebih bisa melalui Maxi Travel. Program ini menawarkan bukan hanya paket perjalanan domestik baik dalam maupun luar negeri saja namun perjalanan Umroh, pemesanan tiket dan pemesanan hotel.

Lalu apa saja yang harus disiapkan untuk mendapatkan program Maxi Travel ini? Syaratnya hanya fotocopy KTP, Fotocopy STNK, BPKB Mobil atau Motor, KK dan NPWP. Nah, untuk paket wisata  bisa ditentukan sendiri oleh kita tanpa harus sesuai dengan brosur atau paketan yang telah ditentukan sebelumnya. 


Nah, yang ingin menyaksikan MotoGP di Sepang dapat mengakses Tx Travel secara langsung karena tour ini merupakan salah satu yang terpercaya menyelenggarakan paket Moto GP dengan banyak pilihan seperti tour 3D2N dan 4D3N. Sebagai informasi, program Moto GP Sepang ini akan diselenggarakan pada tanggal 3-5 November 2018 untuk paket tour 3D2N sedangkan paket 4D3N akan diberangkatkan pada 2-5 November 2018. Pemberangkatan bisa melalui 7 kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar. So, tidak ada lagi masalah bukan kalau berasal dari luar dari Jakarta. 

Nah yang penasaran dengan Itinerary, ini dia kegiatan selama 4 hari 3 malam yang akan dilakukan di Kuala Lumpur dan Sepang. 

Jum’at/02 : Penerbangan ke Kuala Lumpur

Kumpul di bandara 3 jam sebelum keberangkatan, bertemu Tour Leader untuk proses absen, bagasi dan boarding pass, lalu penerbangan ke Kuala Lumpur. Setiba di bandara KLIA-1, bertemu Local Guide, untuk group KLM langsung menuju ke hotel sedangkan group GA berkunjung ke Istana Merdeka, Tugu Negara, Mesjid Negara, Dataran Merdeka, City Gallery dan makan malam bersama lalu check-in hotel, istirahat.

Sabtu/03 > Qualifying

Sarapan pagi, mampir ke Twin Tower dan Berly’s Chocolate House, menuju sirkuit guna menyaksikan babak latihan dan kualifikasi dari Moto3 (12.35-13.15), MotoGP (14.10-14.50), Moto2 (15.05-15.50), makan malam dengan buffet menu “all u can eat” di restoran Kuala Lumpur, kembali ke hotel, istirahat.


Minggu/04 > Final Race Day

Sarapan pagi, menuju sirkuit guna menyaksikan babak pemanasan dan balapan final Moto3 (12.00-13.00), Moto2 (13.20-14.20), MotoGP (15.00-16.00), kembali ke bus semula di parkiran, mampir ke Mitsui Outlet Park KLIA Sepang untuk menghindari kemacetan di tol arah pusat kota, baru kemudian kembali ke hotel.

Hari-4/Senin/05 > City Tour

Sarapan pagi, check-out hotel, untuk group GA langsung menuju ke bandara sedangkan group KLM berkunjung ke Istana Merdeka, Tugu Negara, Mesjid Negara, Dataran Merdeka, City Gallery dan makan siang, kemudian menuju ke bandara KLIA-1 untuk proses bagasi dan boarding pass, lalu penerbangan ke Jakarta. Usailah sudah tur Nonton Bareng MotoGP Sepang bersama TX Travel, sampai jumpa di musim balap 2019.


Apa sih keunggulan dari Maxi Travel dibandingankan dengan program cicilan lainnya? Nah, ini dia beberapa keunggulannya. 

Prosesnya Mudah 

Customer datang langsung ke perusahaa tour & travel dan memilih paket yang telah ditentukan. Apabila perusahaan tour & travel bekerjasama dengan Adira Finance maka akan menghubungi petugas di cabang Adira Finance terdekat. Namun, apabila perusahaan tour & travel tersebut belum bekerjasama dengan Adira Finance maka customerlah yang mengajukan tour & travel tersebut. 

Syaratnya Mudah 

Syaratnya hanya fotocopy KTP, Fotocopy STNK, BPKB Mobil atau Motor, KK dan NPWP.

Jaminan Hanya BPKB 

Selain proses dan syaratnya yang mudah, jaminan yang disyaratkan oleh Adira Finance hanya berupaka BPKB saja tanpa embel-embel yang lain. 

Traveling Sekarang Bayarnya Nanti

Kaum milenial termasuk saya memang sangat menginginkan kebebasan financial dan ingin menikmati serta menjelajah negara lain tanpa khawatir dengan dana yang kurang mencukupi, oleh karenanya membutuhkan program Maxi Travel yang dapat jalan-jalan tanpa risau dan membayarnya nanti setelah liburan selesai. 


So tunggu apa lagi, jangan sampai kamu keburu kerepotan dengan urusan anak atau sudah keburu tua untuk menikmati seluruh hal yang harusnya bisa kamu lakukan pada saat muda. Yuk, angkat telepon dan hubungi Dering Adira di 1500511 atau bisa menghubungi email customercare@adira.co,id dan website adira di www.adira.co.id. Sampai jumpa di MotoGP Sepang. 

Backpacks Impian


Backpack, backpack, packpack. Saya memang serakah. Sudah punya banyak backpack tapi masih suka cuci mata di toko online terutama bagian backpack/daypack/ransel dan sepatu. Menurut hikayat, mata saya bakal lebih segar dan sehat, bahkan angka silinder berkurang, hanya dengan melihat foto backpack dan sepatu. Kenyataannya, mata saya memang terhibur tapi perasaan tersakiti patah jadi dua gara-gara harus menahan segala godaan syaitan yang terkutuk. Jempol tak boleh berkehendak seenak perut mengklik tombol beli atau tombol masukkan ke keranjang. Perasaan ini lebih sakit dari pertanyaan: kapan kawin? A-ha!

Baca Juga : Pen Printer

Backpack sudah menjadi bagian kehidupan saya, kalian, mereka. Setiap hari pasti panggul backpack. Jangan harap kalian melihat saya membawa tas perempuan kecuali pada hari saya tidak ingin mebebani pundak. Sebisa mungkin semua benda masuk ke jok sepeda motor, hehe. Macam-macam backpack berukuran sedang (bukan carrier) yang sekarang memenuhi lemari tas termasuk backpack khusus perempuan dan drawstring bag. Macam-macam merek; Consiva, Eiger, Trekker, sampai yang tidak bermerek. Tapi toh sampai sekarang saya masih mencari backpack yang benar-benar nyaman dipakai dan mudah ketika hendak mengeluarkan barang.

Banyak jenis backpack yang sudah masuk list. List buat cuci mata alias buat dilihat lagi, lagi, dan lagi. Untuk membeli backpack, egeeeennn!?, saya harus menahan diri. Haha. Hidup harus ada skala prioritas, kata Mamatua. Harus bisa bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Beeeuuuh. Salah satu backpack yang paling saya sukai dari daftar cuci mata itu adalah backpack anti maling berikut ini:


Namanya Bobby. Harganya 89,95 Euro atau setara 106 Dollar. Harga segitu lumayan murah jika dibandingkan fasilitas si Bobby seperti: zipper dan kantong tersembunyi, anti air, anti cut, port pengisian USB terintegrasi, garis keselamatan, kompartemen shock-proof. Anti maling yang dimaksudkan di sini merujuk pada zipper dan kantong tersembunyi sehingga menyulitkan maling/copet merogoh karena bakal sulit mencari pintu masuk haha. Bahasanyaaa. Serta, anti cut alias tidak dapat disobek dengan benda tajam. Karena anti air, kita tidak perlu tambahan rain cover yang biasanya tersimpan di bagian bawah backpack. Ugh, ini backpack impian kita semua.


Selain Bobby, muncul begitu banyak pula backpack yang canggih nian. Yang bakal bikin kita geleng-geleng kepala saking canggihnya. Seperti SunPack dari FlexSolar berikut ini:


Didesain oleh Iris Liu dan Lilian Wang, harganya 59 Dollar. Apa keistimewaan SunPack? SunPack dilengkapi (terintegrasi) dengan panel surya Flextech! Jadi kalian tidak perlu repot membayar tambahan tagihan listrik karena ngecas ini itu terutama ngecas telepon genggam. SunPack juga bakal mempermudah kalian kalau berkegiatan di luar ruangan karena tidak perlu pusing mencari tempat colokan. Cihuy! Kebutuhan listrik untuk telepon genggam sudah disediakan oleh SunPack. Selain itu, SunPack dilengkapi fitur seperti penyimpanan terkotak, desain tahan air, penguncian anti-maling, kantong pemblokiran RFID untuk kartu, dan port USB dan headphone terpadu, tangguh dan fleksibel, panel tahan air, tahan debu, tahan cuaca. Dirancang dengan tekstur bergelombang, panel dapat menangkap tenaga matahari secara efisien kapan saja, di mana pun panel ini menghadap (tanpa perlu menghadap langsung ke matahari sebagai sumber listrik).

Awesome! Backpack impian kita semuaaaa *siul-siul*.

Satu lagi backpack impian yang patut diulas yaitu Duffle Sport. Duffle terdiri dari tiga kompartemen terpisah yang dapat berfungsi sendiri dan/atau juga bisa disatukan untuk fungsi lebih. Untuk mempermudah, silahkan lihat gambar berikut ini:


Gambar di atas adalah tiga Duffle yang terpisah. Kalau cuma pengen ke kantor dan membawa laptop, buku, dompet, barang printilan lainnya, pakai yang ini saja karena tipis dan lebih masuk akal, kan tidak mungkin juga ke kantor bawa carrier tapi isinya cuma laptop:


Kalau urusannya lebih ke banyak barang, misalnya butuh bawa pakaian ganti, atau butuh bawa cobek, silahkan gabungkan dengan yang satu ini:


Sedangkan kalau ingin bepergian selama seminggu dengan bawaan jauh lebih banyak: pakaian, sepatu, kamera, buku, handuk, dan lainnya, silahkan gabungkan yang berikut ini:

 
Keren sekali kan? Apabila hendak bepergian selama seminggu, bawa saja yang terakhir. Sudah sampai hotel, tinggalkan yang besar, jalan-jalan keliling kota misalnya, cukup memanggul yang kecil. Aaaarrggggh. Suka sekali sama desainnya! Duffle didesain oleh Johnathan Webster dan dibanderol 259 Dollar. Terberkatilah kau, Webster! Dan tentu ini backpack impian kita semua *siul tambah kencang*.


Seandainya diijinkan oleh Yang Di Atas, saya bakal pilih ketiganya. Maruk? Biarin deh. Soalnya betul-betul memenuhi impian sih. Apakah kalian sudah punya salah satu backpack di atas? Bagi tahu donk bagaimana rasanya memakai salah satu backpack impian itu.

Dunia ini, kata Mamatua, semakin canggih. Haha.

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Flores: Adventure Trails



Banyak buku yang bercerita tentang Indonesia dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, dari adat ke bahasa, dari budaya ke pakaian, dari gunung ke pantai, dari rumah adat ke kearifan lokal. Saya punya salah satu buku semacam itu, dikasih sama Ika Soewadji, dan masih sering saya baca sampai sekarang. Banyak juga buku yang bercerita panjang lebar tentang Pulau Flores (Flores overland). Saya sendiri pernah menulis materi siaran program Backpacker, pada tahun 2017, awal tentang Flores Overland. Biasanya orang menulis Flores Overland itu dari Barat ke arah Timur, tapi materi saya itu dari Timur ke arah Barat. Qiqiqiq. Sesekali kita membaliknya kan boleh-boleh saja.

Baca Juga : 5 Cozy Songs

Tentang si Buku

Buku yang saya bahas hari ini berjudul Flores: Adventure Trails. Buku ini ditulis (sekaligus sebagai koordinator penulis) oleh Meret L. Signer. Kontributor atau penulis lain diantaranya Heinz von Holzen, Rofinus Ndau, Unipala Maumere, idGuides. Publisher Flores: Adventure Trails adalah Swisscontact dan didukung oleh SECO (Swiss State Secretariat for Economic Affairs). Tahun terbit 2012. Wow banget, saya terkejut ketika membaca nama Unipala Maumere. Itu MAPALA-nya Universitas Nusa Nipa (Unipa). Oh ya, selain sambutan dari Bapak Sapta Nirwandar, juga ada sambutan Jurg Schneider dari SECO. Flores: Adventure Trails berbahasa Inggris tapi untuk ukuran saya yang bahasa Inggrisnya pas-pasan bisa yess atau no sudah bersyukur, isinya cukup mudah dipahami/dimengerti. 


Bagaimana dengan isinya?

Isinya dimulai dari perkenalan tentang Pulau Flores. Perkenalan yang sangat lengkap, menurut saya, karena memuat tentang kondisi geografis, iklim, Flores sebagai bagian dari ring of fire, flora dan fauna, kehidupan laut, zaman sebelum dan sesudah kolonial, manusia dan adat budayanya. Traveling directory sub bahasan berikutnya adalah tentang how to get there? (pesawat dan kapal laut) termasuk informasi kantor-kantor layanan tiket, akomodasi, tempat makan, komunikasi/alat komunikasi, keuangan, isu kesehatan, sampai etika.

Woman travellers:
Even thought Flores is predominantly Christian, woman dressing modestly is a cultural thing in Indonesia, rather than a religious one. Wear t-shirts that cover your shoulders and don't reveal too much of your legs. Wearing a bikini is fine at the beaches of Labuan Bajo and in designated hotel areas in other parts of Flores. Everywhere else, put on a t-shirt and shorts for swimming. (Meret L. Signer, 2012:23).


Sub berikutnya adalah persiapan yang harus dilakukan sebelum ke Flores. Menariknya adalah, dijelaskan tentang skala kesulitan trek, level kebugaran, barang bawaan dasar or basic check list sampai how to minimize your impact. Komplit kan ya. Basic check list ini umum saja seperti yang sering kita lakukan/bawa seperti kaca mata, head lamp, sun-block, first aid kit, kompas, pisau lipat, hingga tas plastik untuk menyimpan pakaian kotor dan/atau sampah. Puhlease, ke mana pun pergi jangan pernah membuang sampah sembarangan.


Setelah itu, pembaca memasuki inti sari buku ini. Yay! Dimulai dari  Labuan Bajo: Pulau Rinca, Pulau Komodo, Gunung Mbeliling, teruuuuus ke Timur sampai ketemu Gunung Kelimutu di Ende, Maumere dengan pantai-pantai dan Gunung Egon-nya, sampai Larantuka. Informasinya tidak sekadar ini looooh Gunung Mbeliling itu, tapi juga memuat tinggi gunung, luas daratan, flora dan faunanya, sampai tentang masyarakat tradisionalnya. 


Salah satu sub yang saya sukai adalah kisah tentang Rudolf von Reding:

In 1974, the elderly Count Rudolf von Reding from Biberegg, Switzerland, disappeared on the island of Komodo. For some unknown reason he got seperated from his group. When they realized he was missing, they immediately returned to the point where had last seen him - but they were too late. All they could find was the Count's backpack, camera, sunglasses, and stains of blood on the ground. Komodo dragons eat their prey whole, and von Reding's body was never found. Although it could neve be confirmed with 100% certainty, he was believed to have been eaten.

Sedih ya ... *ambil tissu*

Jadi ingat waktu ke Pulau Rinca, dimana salah seorang teman pejalan kami sedang datang bulan, dan si komodo berjalan ke arah teman tersebut. Horor-horor bergembira gimana gitu rasanya diikuti komodo, hehe.


Setelah Baca

Saya bahagia karena jadi banyak tahu tentang pulau sendiri. Sebagai pelahap buku, sekaligus blogger yang gemar menulis tentang perjalanan ke mana pun saya pergi, buku ini menjadi semacam panduan untuk menulis. Menulis tempat wisata itu tidak sekadar menggambarkan betapa indahnya; betapa menawannya; betapa mempesonanya, tetapi harus bisa lebih detail yaitu tentang letak lokasinya, jaraknya, transportasi dan akomodasi kalau bisa bisa dengan harganya, budaya masyarakat setempat (seperti harus memperhatikan etika berpakaian dan berbicara), hingga tingkat kesulitan perjalanan untuk mencapai lokasi tersebut. Sub buku juga penting untuk memilah atau mengklasifikasi tulisan agar tidak terkesan campur-aduk.

Saya sedang belajar untuk menulis seperti itu. Belajar terus tanpa henti. Istirahat sih boleh, berhenti jangan :)

Flores: Adventure Trails adalah buku yang super informatif meskipun tidak selengkap buku yang diterbitkan oleh Lonely Planet zaman dulu itu. Bahkan juga diceritakan tentang gempa yang pernah melanda Flores terutama Maumere dan Ende. Jika kalian punya waktu luang, jangan lupa untuk membacanya. Di mana bisa diperoleh, cobalah cari di toko buku terdekat, jika tidak, maka ini edisi terbatas yang dipublis oleh Swisscontact (yang selalu konsen dengan isu wisata).

Semoga bermanfaat, enjoy your weekend!


Cheers.

#PDL Harmonisasi Di Saung Angklung Udjo

Nemu foto ini di situs travelnya detik(dot)com.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; termasuk tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***

Rabu kemarin saya membaca komentar dari Himawan pada pos Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah tentang penduduk lokal yang kebingungan waktu kami bertanya lokasi sanggar dimaksud. Himawan (or Hino) mengandaikan penduduk lokal sekitar sanggar juga dilibatkan di dalam kegiatan-kegiatan sanggar sehingga bisa sespektakuler Saung Angklung Mang Udjo atau Saung Angklung Udjo. Penduduk memang terlibat, namun anak-anaknya saja yang dilibatkan ikutan sanggar tersebut, berlatih Tari Topeng bersama cucu Miras yaitu Aerli.


Bicara soal Saung Angklung Udjo artinya bicara soal wisata budaya yang dijaga dan dilestarikan dengan kemasan sangat menarik. Saung Angklung Udjo terletak di Jalan Padasuka 118, Bandung, Jawa Barat. Lokasi ini dibagi-bagi menjadi tempat pertunjukan, toko souvenir, tempat makan, dan lain-lain yang tentu sekarang sudah jauh lebih berkembang. Tahun 2010 waktu ke Saung Angklung Udjo saya sangat menikmati cuci mata di toko souvenir-nya itu. Sebagai wanita imut dan beperasaan halus saya juga gemas donk melihat ragam benda mini-mini menggemaskan salah satunya gantungan kunci berbentuk angklung.


Hari itu saya dan Acie berkesempatan menonton Pertunjukan Bambu Petang. Seperti foto di awal pos ini kalian bisa melihat seorang perempuan berkebaya biru dan anak-anak kecil bermain angklung. Di sini lah proses pengenalan dan pelestariannya terjadi karena secara tidak langsung penonton dengan latar belakang beragam itu diedukasi tentang angklung; cara memegang, cara memainkannya, dan betapa angklung tidak dapat berdiri sendiri-sendiri alias memang harus dimainkan dalam kelompok, dengan anggota yang sudah tahu nada dasar yang mereka 'pegang'. Kira-kira begitulah.


Kemudian panitia/pengelola membagikan kami angklung masing-masing satu. Sudah tahu cara memegang dan memainkan alat musik ini, lantas perempuan berkebaya biru mengetes nada masing-masing kelompok, kira-kira sepuluh sampai limabelas orang per kelompok. Dia memberi instruksi pada kami. Kami, yang belum saling mengenal dan kebetulan sama-sama terdampar di suatu pertunjukan petang ini, hanya dengan melihat arah tangan si instruktur, bisa memainkan satu lagu dengan utuh yaitu lagu Ibu Kartini.


Aweeeesomeeee! Harmonisasi yang tercipta menggenapi kepuasan kami mengunjungi Saung Angklung Udjo. Terima kasih untuk pengalaman yang luar biasa ini.

Usai bermain angklung, kami menyaksikan pertunjukan wayang golek. Tapi saya lupa kisah tentang apakah yang ditampilkan hari itu.


Usai pertunjukan wayang golek, saya dan Acie masih sempat berlama-lama di toko souvenir, melihat sana-sini, cuci mata, gemas-gemasan sama penjaga lelaki, terus membeli beberapa souvenir, dan memutuskan untuk pulang. Kami masih punya tugas mencari lokasi pembuatan / pengrajin wayang golek. Untungnya saya masih menyimpan foto si bapak di bawah ini:


Situs yang memuat artikel tentang Golek; Bukan Boneka Biasa yang saya tulis untuk Detik, memang belum bisa dibuka, untungnya Om Bisot pernah membuat status tentangnya di Facebook. Hahaha. Sumpah, ngakak tiarap saya melihat foto yang satu ini:


Terima kasih, Om *jempol paling gede* berkat ini, tidak hilang jejak digitalnya *tsaaaah*.


Jadi kalau ditanya, pernahkah saya ke Saung Angklung Udjo? Pernah, saya pernah ke sana. Saya pernah bermain angklung dalam kelompok penonton dan kerja sama tim ini menghasilkan harmonisasi yang mengagumkan. Kita harus banyak belajar dari (filosofi) angklung ini. Dan pernah, saya juga pernah mengunjungi pengrajin wayang golek dan pura-pura memainkannya supaya difoto sama Acie. Ternyata saya pernah juga PERNAH SEBESAR ITU. Hahaha ...

Bagaimana dengan pengalaman kalian?


Cheers.

5 Yang Unik dari Ende (Bagian 1)


Waktu jadi penyiar radio alias radio jockey di Radio Gomezone saya selalu menuntut diri sendiri untuk lebih kreatif. Urusan kreatif ini, (ceritanya) pernah sudah hampir lelap terus sesuatu yang horor disebut ide terlintas. Langsung saya meloncat dari ranjang lantas menghidupkan laptop. Demi apa? Demi berusaha menjadi yang unik dengan ide yang terlintas itu; agar mudah dikenang dan sulit dilupakan. Kreatifitas itu berhubungan dengan program-program yang menarik pendengar, dan isi program itu haruslah berbobot agar kita tidak terkesan menjual kucing dalam karung. Sialnya, ide selalu muncul pada saat yang tidak kita duga; sudah hampir lelap, atau saat sedang ngetem di kamar mandi, atau saat sedang rapat di ruangan big boss.

Baca Juga:
 
For wai ai, menjadi penyiar itu tidak semudah cuap-cuap di depan cermin, jika itu yang kalian bayangkan. Otak harus terus di-klik-kanan dan pencet tulisan refresh.

Saya menjadi penyiar Radio Gomezone sejak tahun 2004. Radio (FM) tersebut lantas mati (suri) pada tahun 2009 karena satu dan lain sebab. Tahun 2016 radio tersebut kembali mengudara tetapi lewat jalur online. Lagi, karena satu dan lain sebab Radio Gomezone kembali mati (entah suri atau tidak), dan itu yang belum saya ketahui sampai sekarang. Apakah ada rencana untuk kembali menggeliatkannya atau tidak. Entah. Tetapi, yang perlu diingat, Radio Gomezone merupakan radio anak muda yang paling populer pada masanya dengan kunjungan Gomezoner (julukan untuk pendengarnya) ke studio itu bisa ... ah ... entahlah berapa banyak. Saya selalu kekenyangan setiap kali ada Gomezoner yang berkunjung ha ha ha.

Sebagai manajer operasional dan produser, salah satu tugas saya adalah membikin program. Tahun 2004-an, membikin program tidak sesulit tahun 2016, saya mengalami itu. Tahun 2016, harus putar otak kanan-kiri memikirkan bakal program (kece) untuk diudarakan di radio ini. Saya sendiri kemudian memegang program Variety Show yang mengudara setiap Senin - Sabtu, pukul 19.30 - 21.30 Wita, diantaranya Repeater, Review, Focus, Ngobras, Backpacker, sampai Tuwan Saturday Night Show.

Dibikin oleh Yoyok Purnomo.

Backpacker itu program yang menurut saya keren sekali. Kalau sudah mau mengudara Backpacker, sel-sel di tubuh saya seakan sedang menari rokatenda hahaha. Mengapa demikian? Karena saya dan Iwan Aditya (partner siaran) sama-sama tukang jalan. Selain itu, saya dan Martozzo Hann (partner videografer) sering jalan-jalan dan membikin video singkat tentang lokasi kita jalan-jalan itu (zigizeo). Ada saja yang selalu bisa kita bahas di program Backpacker. Salah satunya berjudul Yang Unik dari Ende!

Ide tentang yang unik dari Ende ini sebenarnya berasal dari tulisan di bakal buku saya yang berjudul Endelicious. 


Mungkin tulisan ini bakal dipos di blog atau harus dicarikan penerbit, nantilah. Yang jelas di dalam naskah itu saya menulis tentang hal-hal unik dari Ende yang ternyata ... banyak! Akhirnya yang unik dari Ende ini menjadi salah satu tema/bahasan di program Backpacker.

Oleh karena itu, kali ini saya ingin mengajak kalian untuk mengenal lima hal yang unik dari Ende (bagian 1, akan ada bagian 2, dan seterusnya kalau memang masih ada hahah).

Apa saja sih yang unik dari Ende?

Mari kita simak.

1. Nama Unik

Ende sudah ketahuan unik dari namanya saja. Kalian sering membaca SBY (Surabaya) atau DPS (Denpasar) kan? SBY dibaca Es Be Ye. Sama juga, DPS dibaca De Pe Es. Tetapi ND dibaca En De. Itulah keunikan terhakiki dari Ende. hehe. Jangan heran kalau kalian melihat anak muda memakai kaos yang tulisannya hanya dua huruf: ND. Dia pasti berasal dari Ende, our beautiful city.

2. Ende si 'Anak' Tengah

Kabupaten Ende berada di Pulau Flores. Tahukah kalian, titik tengah Pulau Flores berada di Kabupaten Ende? Titik tengah itu berada di KM 17 arat Timur dari Kabupaten Ende. Ada sebuah batu yang ditempeli prasasti bertulis Floresweg Geopend dengan tahun yang tertera 1925. Karena keberadaannya di tengah Pulau Flores ini lah maka mempermudah siapa pun yang hendak ke Barat maupun ke Timur. Asyik kan?

3. Dua Suku, Dua Bahasa

Di Ende mentap dua suku yaitu Suku Ende dan Suku Lio. Suku Ende ini di bagian pesisir Kota Ende sampai Nuabosi dan Nangapanda. Suku Lio di bagian Timur hingga perbatasan dengan Kabupaten Sikka (pemetaan secara garis besarnya seperti itu). Dua suku ini punya bahasa dan dialek yang berbeda yaitu bahasa Ende dan bahasa Lio. Jangan harap kalian yang bisa bahasa Ende sudah pasti bisa bahasa Lio ... belajar, bung :) qiqiqiqi. Pernah ada wacana menambahkan satu etnis yaitu Etnis Nage karena bahasa dan dialeknya agak berbeda, tapi saya belum tahu sampai di mana proses naskah akademik soal itu sekarang.

4. Kami Penyingkat Kata

Sudah tahu sahabat blogger saya, bang @indobrad yang sampai pernah membikin nama situsnya "Kopi Mana?". Kata bang Indobrad nama blog itu terinspirasi dari kami Orang Ende, yang suka menyingkat kata. Orang Ende ini penyingkat kata, perlu diulang. Kau pergi ke mana menjadi kopi mana, saya pergi ke pasar menjadi sa pi pasar, sudah biasa menjadi su biasa, dan lain sebagainya hehe. Kopi Mana di situs bang Indobrad itu merujuk pada dunia traveling-nya yang dimuat di situs tersebut. Cocok!

5. Lima Menit itu Memang Ada

Kalian sering membaca atau mendengar orang bilang, "tunggu lima menit"? Yang seperti itu memang terjadi di Ende, bukan kiasan semata. Kota Ende (Ibu Kota Kabupaten Ende) ini kecil. Panjang kotanya kalau boleh saya bilang hanya sekitar sepuluh kilometer saja. Jadi, tidak ada alasan jika sampai saya terlambat upacara Senin pagi, kecuali memang terlambat bangun. Hehe. Ke sana dekat, ke sini juga dekat.

***
 
Saya percaya daerah kalian juga pasti banyak hal-hal yang unik. Kenapa tidak coba menulisnya? Pasti bakal disukai karena yang unik-unik ini biasanya tidak tertulis di buku panduan wisata. Sama juga dengan pengalaman traveling tidak mungkin muncul di buku panduan wisata, oleh karena itu blog traveling pasti laris manis dikunjungi. Orang bakal lebih suka membaca pengalaman pribadi si traveler.

Bagaimana dengan kalian? Apa saja yang unik dari daerah kalian? Yuk berbagi di kolom komentar!


Cheers.

#PDL Datang, Makan, Ngerujak, Pulang

Mei dan Ocha di Saung Adat Kolibari.


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***
  

Rabu, 22 Agustus 2018, umat Muslim memperingati Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Saya juga menyebutnya Hari Kemenangan Atas Percaya dan Bakti serta pengorbanan pada Allah SWT yang waktu itu dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim AS terhadap anaknya yaitu Nabi Ismail AS. Percaya dan bakti Nabi Ibrahim AS ini lah yang wajib kita contohi. Sebagai gantinya, domba diberikan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS. Selain itu, saya juga menyebutnya Hari Raya Haji. Selamat kepada Bapak, Ibu, Saudara/i, semuanya yang telah menjalankan ibadah Haji. Insha Allah suatu saat nanti saya menyusul.

Baca Juga:

Sebenarnya hari libur Rabu kemarin itu saya tidak punya rencana ke mana-mana meskipun sudah diajak Kakak Pacar untuk makan siang di rumahnya. Permasalahan timbul setelah teman si Ocha yang bernama Mei datang ke rumah. Nampaknya mereka desperate karena dalam beberapa minggu belum pernah ke luar rumah untuk sekadar menikmati keindahan alam yang menakjubkan. Walhasil saya meminta Ocha menghubungi Akiem dan Effie; pasangan paling sering cek-cok se-dunia-kami. 

Pukul 14.00 Wita tiga motor matic berangkat menuju Kolibari. Mei memboceng Ocha, Akiem tentu dengan Effie, saya dan Thika. Sebelumnya saya sudah meminta Ocha menghubungi Kakak Pacar bahwa tawaran makan siang diterima dengan senang hati sekaligus membawa pasukan, hahaha.



Adalah sungkan yang tiada terkira ketika kami datang, kopi dan teh disuguhkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Inilah salah satu keistimewaan di Kolibari *tsah*. Lantas, tidak berapa lama, Kakak Pacar mengajak kami makan. Katanya, "Sudah dimasakin sama Kak Fitria tuh, sana gih kalian makan dulu sebelum dingin!" Hah? Jadi, mereka memasak hanya untuk kami berenam? Maluuuu *tutup muka tapi ngintip*



Makan siang yang kesorean itu disuguhi nasi merah dan aneka menu daging kambing. Ada semur, ada soto. Yang awalnya malu-malu, eh jadi kalap hahaha. Manapula dari rumah kakak ipar yang satu, mendadak kami mendapat kiriman sepiring semur lagi. Hah? Yang makan hanya enam orang tapi menunya untuk limabelas orang. Hehe. Pas lagi makan begitu, muncul makhluk bernama ngengat, berwarna kuning, hinggap di jari manis saya dan tak mau pergi.




Katanya sih itu pertanda. Pertanda apa saya tidak tahu. Mungkin pertanda bahwa ngengat juga butuh tempat untuk ngetem :D qiqiqiqi. Awalnya saya sudah pos di FB bahwa ini kupu-kupu, tapi Cahyadi mengoreksinya bahwa ini ngengat. Karena, sayap kupu-kupu akan terkatup apabila sedang hinggap/ngetem begitu.

Dan benar kata orang, membawa anak gadis itu adaaa saja ide dan kemauannya. Si Thika mengajak rujakan. Pepaya dan mangga pun langsung didatangkan dari kebun terdekat. Bahkan untuk cabe pun, di depan rumah kakak ipar ada pohon cabe lumayan gede:




Pengen angkut ini pohon cabe pulang ke rumah. Sore itu bermodal kacang, cabe, garam, dan gula sabu (gula kental asal Pulau Sabu), pepaya dan mangga dari kebun, maka jadilah rujaaaaak.




Habis ngerujak, eh si Kakak Pacar nawarin kelapa muda. Busyet dah. Anak-anak pada mau, tapi kelapanya masih dipetik sama si Arifin (adik si Arifin ini namanya Arif hahah), makanya mereka pada ngerusuh sama bocah setempat. Si Ocha main sepeda salah satu bocah. Thika, Mei, dan Effie malah main bulu tangkis. Sampai kemudian si Mei mengusulkan untuk mendaki ke bukit sebelah ke puncak Kezimara. Waaaa saya menyerah! Hiihi. Walhasil yang naik ke Kezimara cuma si Mei dan Ocha, Thika lanjut main bulu tangkis, saya dan Effie tidur, setelah saya menghabiskan satu kelapa muda nan segar.

Sekitar pukul 18.30 Wita kami pun pamit pulang. Ocha membawa oleh-oleh kelapa muda :D hehehe.

Pernah, saya pernah begitu, pergi ke rumah Kakak Pacar cuma untuk makan, ngerujak, pulang. Senang-senang di rumah orang belum ada hukum yang melarang. Boleh-boleh saja, sah-sah saja. Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

#PDL Snorkeling di Perairan Pulau Tiga




#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***
  

Saya tidak bisa berenang. It is funny! Indeed. Mengingat saya tinggal di Kota Ende yang dikelilingi laut (dan gunung). Bahkan jarak dari rumah saya ke Pantai Ende hanya membutuhkan waktu sepuluh menit berjalan kaki. Tapi saya tergila-gila sama laut. Untuk mengatasinya, setiap kali ke pantai/laut pasti membawa binen alias ban dalam mobil yang telah digelembungkan (dan/atau jerigen kosong). Lebih sering membawa binen karena satu binen bisa dipakai beberapa anak sekaligus. Hampir setiap rumah punya binen yang dikeluarkan setiap Hari Minggu saat anak-anak memutuskan untuk mandi laut ketimbang bermain masak-masakan atau main wayang.


Baca Juga:


Setelah besar (besar, bukan tua, hahaha), binen diganti lifejacket yang lebih sering kami sebut pelampung, itu pun milik Kakak Ilham Himawan, hahaha.

Bertentangan kan ya? Tergila-gila pada laut tetapi tidak bisa berenang. Padahal laut itu punya kadar garam yang bakal lebih memudahkan kita belajar berenang. Tapi, tetap saja sejak dulu sampai sekarang saya tidak sukses belajar berenang dengan mentor Pak Christian sekalipun di kolam renang Wailiti - Maumere. Yang ada, saya malah terpukau sama sesuatu berbentuk putih di dasar kolam, mencoba meraihnya, dan ternyata itu ... kaporit. Gua kira batu bertuah!

Mau ketawa ... ketawa saja ... :D

Tidak bisa berenang bukan aib, kawan. Tidak bisa berenang bukan obstacle yang meluruhkan semangat untuk cebar-cebur di laut. Kan ada pelampungnya Kak Ilham, hehe. 




Suatu kali kami, anak-anak Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT) Chapte Ende, pergi ke Taman Laut 17 Pulau Riung atau biasa disebut Taman Laut Riung. Tujuannnya ada dua yaitu untuk bersenang-senang setelah dirundung aktivitas yang malang *halah* dan untuk menulis hasil perjalanan tersebut di blog sebagai salah satu cara mempromosikan wisata di NTT. Seperti biasa kami menginap di rumah Rustam, salah seorang sahabat masa SMA yang memiliki penginapan bernama Nirvana Bungalow. Setiap kali ke sana kami memang lebih sering tidur di rumah besar di bagian depan jejeran kamar-kamar bungalow. Sekalian berhemat. Sekalian bikin Rustam keki karena dapurnya otomatis dikuasai oleh kami. Haha.


Oskar, sahabat multi-talent!


Perahu motor sewaan yang membawa kami hari itu mengikuti rute umum yaitu dari Pelabuhan Riung ke Pulau Kelelawar terlebih dahulu ke arah Barat, baru kembali ke arah Timur melewati Pulau Rutong, Pulau Meja, daaaan sampailah ke Pulau Tiga. Rustam berkata bahwa jika ingin snorkeling, lakukan di perairan Pulau Tiga saja. Selain terumbu karangnya memukau, arusnya juga ramah jantung. Dan kami memang selalu ngetem di Pulau Tiga.


Ini namanya Pulau Kelelawar atau Pulau Ontoloe.


Sontak pelampung Kak Ilham menjadi primadona dan rebutan. Masalahnya, saat itu di Dermaga Riung belum ada tempat penyewaan pelampung. Walhasil, dengan sedikit lirikan Ibu Suri saya pun memperoleh kesempatan pertama *menulis ini rasanya lucu sekali*. Setelah pelampung dipakai, masker snorkel juga dipakai, meloncatlah saya ke laut menyusul si Rustam. Aksi meloncat ini meninggalkan perahu yang oleng di belakang akibat bobot saya memang tidak sedikit.

Kalian tahu ... batas antara dunia atas dan dunia bawah itu hanya gerakan mengangkat dan menenggelamkan kepala. Apa? Kalian sudah tahu? :p

Rustam memandu saya snorkeling selama kurang lebih tigapuluh menit. Bagi saya tidak ada satu pun yang dapat mengurangi kebahagiaan bisa menyaksikan pemandangan bawah laut yang memukau. Ikan-ikan hias aneka jenis dan bentuk berenang bebas, terumbu karang aneka bentuk dan warna yang cantik, mawar laut, bintang laut, semuanya ada. Andaikan di rumah saya ada kolam air laut yang luaaaas, saya bakal menjadikannya seperti taman laut di Riung ini. Tigapuluh menit, kayak lagunya Zamrud, sangat kurang. Saya masih mau terus skin dive. Tapi ... yang lain juga pengen snorkeling dan sama-sama tidak bisa berenang *ngakak tiarap*.


Dokter Said, sahabat sejak masa SMA sampai sekarang.


Saya sampai bilang: pengen ke Riung lagi tapi hanya untuk snorkeling. Tidak melakukan aktivitas lainnya! Dan benar. Pada kesempatan berikut-berikutnya setiap kali ke Riung yang paling pertama saya lakukan adalah snorkeling selama mungkin dan sepuas-puasnya, baru lah menikmati ikan dan cumi bakar di pantai Pulau Tiga. Snorkeling itu ibarat obat kehidupan saya *halah*. Hehe.

Pernah, saya pernah begitu :)

Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

#PDL Pondok Batu Biru Penggajawa

Thika Pharmantara in action di Pondok Batu Biru.

Pulau Flores yang membentang dari Labuan Bajo (Barat) sampai ke Larantuka (Timur) punya titik tengah. Titik tengah Pulau Flores terletak di Kabupaten Ende tepatnya di KM 17 arah Timur Kota Ende, di pinggir jalan raya antar kabupaten se-Pulau-Flores. Titik tengah Pulau Flores ini ditandai dengan sebuah batu mirip menhir bernama Watu Gamba yang oleh penduduk setempat digambarkan sebagai seorang perempuan. Kembaran batu ini bernama Rera Nganggo yang digambarkan sebagai seorang laki-laki. Pada Watu Gamba menempel sebuah prasasti bertulis: Floresweg Geopend. Dapat dilihat pada foto si Regina, adik sepupu saya, di bawah ini:
 
Regina, adik sepupu saya yang menetap di Kota Maumere.

Baca Juga:

Lahir dan besar di Kota Ende, Ibu Kota Kabupaten Ende, membikin saya mudah mengeksplor tempat-tempat wisata yang ada di kabupaten tetangga seperti Taman Laut 17 Pulau Riung dan Kampung Adat Bena di Kabupaten Ngada, hamparan sabana di Kabupaten Nagekeo, pantai-pantai pasir putih di Kabupaten Sikka, mengikuti Semana Santa di Kabupaten Flores Timur, ke Pulau Rinca bertemu sahabat lama si komodo di Kabupaten Manggarai Barat, sampai keliling Pulau Adonara. Tapi, lahir dan besar di Kota Ende bukan jaminan saya sudah mengeksplor semua tempat wisata di Kabupaten Ende meskipun sebagian besarnya sudah saya jejaki seperti:

1. Danau Kelimutu.
2. Mata Air Ae Oka - Detusoko.
3. Pantai Anabhara (pasir putih).
4. Hutan Wisata Kebesani.
5. Pantai Batu Hijau Penggajawa.
6. Kampung Rumah Adat Wologai.
7. Pantai Mauwaru - Arubara.
8. Mendaki Gunung Meja dan Gunung Kengo.
9. Air Terjun Murundao - Moni.
10. Kolibari (bukit pandang) dan Kezimara.

Sepuluh dulu ya, nanti kalian ngiler hahaha. Sepuluh itu pun belum termasuk pantai-pantai di dalam Kota Ende sendiri, Situs Bung Karno, Taman Renungan Bung Karno, Gedung Imaculata, sampai Desa Adat dengan rumah adatnya di Wolotopo.

Yang menarik dari tempat wisata adalah tumbuh subur wisata buatan yang memadukan wisata alam dan kuliner. Salah satunya terletak di Pantai Penggajawa (arah Barat Kota Ende). Tempat ini bernama Pondok Batu Biru - Penggajawa. Kalau ada yang belum tahu, Penggajawa adalah nama desa dan nama pantai, tentu di pinggir laut / pantai tempat batu-batu berwarna hijau, biru, dan lainnya, berserak. Oleh para petani batu, batu-batu ini dikumpulkan dan diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan warna. Batu-batu Penggajawa sudah sampai diekspor ke luar negeri diantaranya ke Eropa.

Salah seorang petani batu.

Batu-batunya unik!

Pondok Batu Biru berkonsep saung pinggir laut/pantai yang dibangun berbagai ukuran (untuk kelompok kecil dan/atau keluarga besar). Pemandangan utamanya jelas laut selatan Pulau Flores, bebatuan Pantai Penggajawa, dan Gunung Meja di arah Timurnya. Pengelola tempat ini tidak saja membangun tempat makan yang bagus tetapi juga spot-spot yang instagramable yang jadi buruan pengunjung, ruang shalat, kamar mandi yang selalu bersih dan stok air bersih yang tidak terbatas, serta menu-menu yang menggigit lidah.

Tangga menuju ayunan pinggir laut.

Ayunan sederhana tapi jadi salah satu magnet terpopuler. 

Ocha dan Stanis.

Setiap kali ke Pondok Batu Biru saya selalu diserang kantuk. Bagaimana tidak? Suasannya yang cozy benar-benar bikin pengen tidurrrrrr. Manapula makanan dan minuman yang dipesan sedang dipersiapkan, jadi sambil ngobrol - sambil tidur-tidur ayam, hehe.

Ini waktu perginya bareng Abah Yudin dan Ryan.

Karena ini pos tentang PDL (Pernah DiLakukan) jadi saya mau cerita bahwa saya sering pergi ke tempat makan Pondok Batu Biru ini baik sama teman-teman DMBC maupun sama teman-teman lainnya atau sama keluarga besar Pharmantara. Saya pernah pergi ke Pondok Batu Biru buat sesi foto-foto. Waktu itu berdua sama si Ocha saya pengen fotoin barang dagangan dengan lokasi berbeda. Si Ocha jadi modelnya *tsaaah*. Maka pergilah kami ke sana, eh si Stanis juga ikut. 
 
Sebelum foto-foto, kita pesan makanannya terlebih dahulu; ikan bakar, ikan kuah asam, tumis kangkung, dan es kelapa.


Ocha dan lembaran Sarung Mangga.

Ocha dan selendang tenun ikat.

Pas banget, usai foto-foto, makanannya pun disajikan di salah satu saung terbesar pilihan kami. Hanya bertiga dan memilih saung terbesar ukuran keluarga besar itu bikin keki, pastinya, hahaha. Makan sambil ngobrol, kuping dibuai debur ombak di pantai, mengasyikkan sekali. Kalau ada yang kurang, kita bakal minta tambah ke pelayannya, "Tambah seporsi ikan bakar donk!" dan lain sebagainya. Selesai makan tidak perlu ke kamar mandi, karena di sekitar saung tersedia tempat mencuci tangan lengkap dengan sabun dan kain lap tangannya.

Pernah, saya pernah begitu, pergi ke tempat wisata untuk foto-foto barang dagangan sambil menikmati wisata alam dan wisata kuliner sekaligus! Kata pepatah: sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Why not?

Sudah beberapa bulan ini tidak ke Pondok Batu Biru, nanti mau ke sana lagi ah :) Kalau kalian sempat ke Ende, coba mampir ke Pondok Batu Biru dan buktikan apa yang sudah saya ceritakan kali ini, tapi awas ketiduran sampai malam! Hahaha. Suasananya bikin ngantuk!



Cheers.

Menghirup Udara Petung Kriyono, Paru-Paru Tanah Jawa


Mata kantuk sirna ketika bis berhenti di Doro, sebuah Kecamatan di Kabupaten Pekalongan. Tujuan kami adalah Petung Kriyono, salah satu hutan penyangga di Pulau Jawa. Konon, Petung Kriyono tak hanya sebagai hutan saja melainkan tempat menyepi dan menemukan kedamaian. Kedamaian hakiki yang hilang pada generasi saat ini. Alam yang mempesona dihiasi keanekaragaman flora fauna cukup membersihkan hati dari Duniawi. Dan, perjalanan mencari sebuah kedamaian, kini dimulai.


Anggun Paris berbaris rapi di depan Kecamatan. Bentuknya memang tak secantik model dan iklan shampo, namun daya tahan dan kekuatan tak terkalahkan. Anggun Paris ini akan membawa kami menyusuri setiap sudut alam termasuk Curug Bajing. Anggun Paris penuh dengan besi beratapkan terpal. Suara mesin menderu, tangan saya berpegangan tiang penyanga yang terhubung dengan terpal. 

Matahari cukup kuat sinarnya, hingga saya harus memicingkan saat mulai meihat tumbuhan hijau di sisi kanan dan kiri. Jalanan aspal masih terlihat ketika jarak sudah mulai menjauh dari Doro dan memasuki kecamatan Petung Kriyono. Jika supir melintas tanpa mampir, dipastikan kami akan sampai di Dataran Tinggi Dieng yang berjarak puluhan kilometer di arah selatan. Kami hanya menjumpai hutan sebagai sumber mata pencarian masyarakat. Masyarakat mengenal bercocok tanam dari nenek moyang dari beradab-abad lampau. Tak hanya sayuran, namun kopi robusta pun sebgai salah satu yang tersohor di tanah Jawa.


“Kami senang menyambut tamu dari luar,” ujar Mas Anto, pemandu kami yang bersama-sama duduk di deratan belakang. Semenjak Petung Kriyono dikenal luas, pemuda-pemuda berlomba menawarkan jasa termasuk mendampingi tamu berkeliling destinasi unik di Petung Kriyono. Dan berkah itu pun datang kembali ketika rombongan berjumlah sekitar 70 orang menjelajah kawasan ini. Kami menyebut petualangan ini sebagai Amazing Petung National Explore 2017

Anggun Paris masih meraung-raung menaiki beberapa jalanan terjal walau belum terlalu extreme. Setelah melewati hutan pinus, kami pun sampai di pintu gerbang. Inilah Petung Kriyono dimana alam, budaya dan legenda menyatu dan tak terpisahkan.


Dua Penari meliuk-liuk mempesona puluhan pasang mata. Rempak nada sunda menjadi pembuka. Kemudian dilanjutkan dengan tarian selamat datang. Rentak tabuhan nada membuat nadi kami bergejolak dan bersemangat menjelajah beberapa destinasi wisata salah satunya Curug Sibedug. 

Selain dua penari, kami dihidangkan kopi khas Petung. Bagi penikmati kopi, dari aromanya saja sudah bisa membedakan kopi arabica atau robusta. Namun, saya membutuhkan waktu lama dan harus bertanya untuk memastikan kopi apakah ini. Setelah sampai dilidah, segala pertanyaan itu sirna, saya hanya menikmati setiap tegukan dan merasakan setiap aromanya.


Tiba-tiba di angkasa kami disambut dua benda terbang. Bukan Drone atau mahluk asing melainkan Elang Jawa yang langka. Menurut kepercayaan, Elang Jawa pantas disebut raja udara yang gagah dalam memangsa anak ayam atau hewan lainnya. Konon, dipercaya bahwa ketika elang berada diangkasa, artinya terdapat bangkai atau mangsa di bawahnya. Malang populasi terancam karena makin tergerusnya habitat asli di hutan hujan ini. Berlawanan dengan kepercayaan nenek moyang, kami percaya bahwa kemunculan dua elang ini adalah keberuntungan.Iya, kami beruntung dapat menikmati kekayaan alam seperti tempat ini. Anggun Paris memanggil, itu artinya kami harus segera melanjutkan perjalanan.


Debu dari jalan berbatuan dan aspal berhamburan. Memang atap Anggun Paris tertutup terpal namun tidak sepenuhnya melindungi kami dari debu. Setelah beberapa menit, air tejun persis di sebelah jalan terlihat jelas. Curug Sibedug berhias dengan merah putih. Airnya tak cukup deras karena kami datang pada saat musim kemarau melanda. Jarak dari pintu masuk menuju air terjun cukup dekat, tak lebih dari satu kilometer. Saya hanya masuk sampai ke tengah saja tanpa menaiki bebatuan ke arah tumpahan air terjun. Rupanya aliran air mengucur dari atas bukit bukan hanya satu melainkan dua sekaligus. Ketajuban saya bukan pada debit air maupun keindahan air terjunya, namun jarak dari jalan raya menuju ke air terjun sangatlah dekat. Jarang sekali menemukan air terjun seperti ini, beruntung sekali saya menemukannya di Petung Kriyono.



Siang mulai beradu dengan awan yang menghitam. Lagi-lagi rombongan kami diliputi keberuntungan, awan hitam dan biru saling berganti namun tidak ada satu pun air yang turun dari langit. Saya menelan ludah tanda kehausan, untung saja masih ada stok air mineral yang tadi dibagikan di Doro. Saya kembali melanjutkan perbincangan dengan Mas Anto yang sudah berada disamping. 

"Beruntung sekali hari ini tidak turun hujan, biasanya dari pagi sudah rintik-rintik," Mas Anto kembali menegaskan cuaca hari ini karena saya sempat menanyakannya. Ya saya dapat merasakan angin sepoi-sepoi dan terbukti beberapa teman mulai menahan kantuknya. Sementara itu, tak berapa lama kami telah sampai di Jembatan Sipinggit.


Kalau orang Jawa Barat memiliki Green Canyon, Petung Kriyono pun memiliki Black Canyon. Meskipun hitam, namun pesonanya tak kalah dengan Canyon-canyon lain. Bahkan, batu-batuan yang berada disekitar sungai dapat memacu adrenalin ketika melakukan rafting. Dipastikan, 2 jam tidak terasa dan ingin mengulang keseruannya. Sayang kami hanya berada disekitar jembatan Sipinggit saja, tidak melakukan rafting. Walaupun sebentar, kami dapat mengabadikan keelokan sungai dan bebatuan.


Selain rafting, sungai dimanfaatkan penduduk sebagai turbin dan mengaliri beberapa puluh rumah di desa Kayu Puring. Bayangkan jika malam tiba bisa dipastikan akan gelap tanpa adanya listrik jika tidak ada turbin pembangkit listrik ini. 

Lima menit setelah kami naik mobil, tiba-tiba saja kami berhenti. Ternyata alam memanggil kami. Di hadapan sudah terhampar sawah-sawah indah dan membentuk terasering. Letaknya persis disebelah jalan, jadi kami hanya turun dan mengeluarkan seluruh gadget yang ada.



Seorang putri turun dari kayangan. Dua sayap itu seperti terbang ketika tertiup angin. Dia melenggok mengikuti irama alam dan kemudian berjalan satu dua langkah mengerakan tangan seperti modal. Dia bukanlah putri kayangan sesungguhnya, hanya seorang penari yang menirukan pesona seorang putri kayangan. Kami membutuhkan seorang model agar bisa membuat pemandangan dalam lensa ini menjadi lebih hidup dan tidak kosong ataupun hampa.  

"Jarak ke Welo Asri hanya beberapa puluh menit saja, sudah dekat. " 

Benar kata Mas Anto, Anggun Paris ternyata sudah memasuki kawasan parkir Welo Asri. Mesin pun mati. Teman-teman yang berada di bak belakang langsung turun. Kami harus berburu dengan waktu, sebab masih ada dua destinasi lain yang harus kami datangi setelah ini. Mata saya langsung menatap jembatan bambu yang menghubungkan dua lokasi berbeda. Sontak teman-teman langsung berfoto di atas jembatan dengan tanda love di belakangnya. Seperti inilah cara kawasan Welo Asri menyambut kami, dengan cinta.



Petung Kriyono layak berjuluk Paru-Paru Tanah Jawa. Hutan alam ini ditetapkan sebagai Kawasan Hutan Tujuan Khusus (KHTK) dan satu-satunya hutan alam yang masih tersisa di pulau Jawa. Tak heran banyak satwa langka yang masih bertahan di sini, selain Elang Jawa, terdapat Owa-owa. Selain satwa, tumbuhan langka pun banyak ditemukan. Inilah laboratorium alam paling komplit yang melingkari sisi utara sabuk pengunungan Dieng. 

Setelah melawati jembatan bambu, sandal raksasa pun terlihat dengan jelas sebelum turunan ke bawah ke area sungai dan rumah pohon. Selain sungai terdapat curug kedunggede yang berada di bawah area ini. Airnya sangat jernih jika dilihat dari atas. Bahkan kadang-kadang berwarna kebiruan atau tosca. Di area sungai banyak bebatuan besar sampai kecil. Dari atas bisa melihat sungai dengan jelas.




Jika ke rumah pohon seharusnya hanya lurus saja dan melewati jembatan bambu hanya beberapa meter saja. Kemudian, pepohanan dengan ketinggian diatas dua meter akan sering kita lihat. Di pohon tertinggi itulah terdapat rumah pohon. Pantas saja disebut paru-paru, karena segala rupa bentuk pepohonan terdapat disekitar rumah pohon. Saya melihatnya seperti di Afrika karena memiliki sulur-sulur ranting yang tidak memanjang ke atas tidak seperti pohon di Indonesia yang biasanya tumbuh disetiap batang. Sungguh luar biasa saya bangga menjadi warga Jawa Tengah. 

Pemberhentian selanjutnya Curug Bajing. Konon, di kawasan ini terdapat banyak perampok yang sering menjarah semua harta warga. Hasil semua jarahan disembunyikan di balik bukit dan bersebelahan dengan air terjun. Warga pun tak dapat mengatasi perampok tersebut kemudian pindah ke desa di bawahnya. Lama-kelamaan akhirnya perampok tersebut tertangkap. Dari kejadian tersebut, tempat ini disebut sebagai Curug Bajing. Bajing diartikan sebagai perampok.



Kini, Curug Bajing tak seseram dahulu. Sebelum pintu masuk kami disambut warga yang berjualan mulai dari makanan sampai kopi khas Petung. Selanjutnya, kami dihadapkan dua pilihan antara Pohon Selfie atau Curug Bajing. Sebetulnya rasa penasaran ini ingin melihat pohon selfie setelah tadi di Welo Asri mendapati rumah pohon, namun kami diarahkan ke Curug terlebih dahulu.    

Jarak menuju curug harus ditempuh sekitar 15 menit dari pintu masuk. Kemudian untuk sampai di bawah air terjun, kami diharuskan untuk menambah sepuluh menit lagi perjalanan kebawah. Sebetulnya diposisi ini pun curug sudah terlihat dengan indah. Bahkan tempat terindah menikmati curug bukan dari jarak dekat namun jarak sedang seperti ini. Ini menurut saya yang malas menuju bawah karena pada saat pulang jalanan naik telah menanti.



Walau tak sampai ke bawah, udara sore itu cukup segar. Berbeda dengan polusi udara yang terjadi setiap sore di kota-kota besar termasuk Jakarta. Inilah surga, menikmati air terjun yang berada di perbukitan dengan pepohonan. It's perfect holiday. Andai saja saya bisa seharian disini, pastinya satu buah novel ditambah kopi hangat ataupun teh sudah menemani. Sayangnya matahari sudah mulai turun, meski sinarnya masih remang-remang.




Di Curug Bajing, banyak sekali spot untuk berfoto-foto, termasuk spot berbentuk gambar hati ataupun yang berbentuk kupu-kupu. Disamping itu, rumah diatas pohon walau tak setinggi di Welo Asri cukup memuaskan untuk berfoto ala-ala kekinian.

"Banyak sekali adat budaya yang masih kami laksanakan, salah satunya pada saat satu Suro."

Saya sudah berada di Anggun Paris dan meninggalkan Curug Bajing menuju Curug Lawe ketika salah satu pemandu menceritakan adat budaya yang masih dilaksanakan pada saat satu Suro. Kambing Kenditan dan Sedekah Telaga.

Kambing Kenditan bukanlah sembarang kambing. Kambing berwarna hitam ini memiliki garis putih yang melingkar diperutnya. Menurut keyakinan warga, kambing ini sangat spesial dan akan dipersembahkan ke bumi. Kepala kambing akan dipotong dan dikuburkan di tanah warisan para leluhur. Kemudian daging kambing akan dijadikan selamatan seluruh warga.

Berbeda lagi Sedekah Telaga. Telagan Mangunan di Petung Kriyono mempercayai kisah ular besar bernama Baru Klinting dan Putri Raja. Sampai saat ini, kisah itu masih dipercayai dan untuk menghormati kisah tersebut dan memberikan persembahan kepada telaga, digelarlah Sedekah Telaga. Satu kepala kerbau akan diarak dan kemudian dimasukan kedalam telaga pada satu Suro.



Udara sore sudah mulai terasa dingin. Dua cerita tadi cukup sebagai pengantar kami ke Curug Lawe. Setelah memasuki hutan pinus, kami pun sampai. Setelah turun, kami disambut puluhan anak sekolah dengan mengenakan pakaian gelap. Tak berapa lama kemudian, mereka menari dan menyanyikan lagu selamat datang. Meskipun ini akhir dari perjalana, namun saya yakin masih banyak lagi kesempatan untuk datang kembali di Paru-Paru Tanah Jawa. Dan, saya pasti akan kembali lagi. Saya berjanji.

Perlengkapan Penting Yang Wajib Dibawa Saat Traveling Ke Luar Negeri – Smartphone Samsung Salah Satunya


Tokyo, Seoul, London, New York ... 

Sepenggal bait pertama lagu Mister Taxi dari Girl's Generation ini mengingatkan saya pada list-list kota-kota di Dunia, baik yang sudah pernah saya singgahi maupun yang masih menjadi impian. Semoga semuanya akan terwujud dalam waktu yang tak lama lagi, amin.

Traveling dalam beragam keperluan baik itu untuk liburan bersama keluarga, bisnis, backpacking, solo traveling dan lainnya sudah menjadi hal yang lumrah. Jika bepergiannya masih di dalam negeri, persiapannya pun tak sesemrawut dan seheboh yang dibayangkan, namun jika ke luar negeri, persiapannya pun lebih banyak dari yang kita bayangkan. 

Sepele dan kecil kadang memmbuat kita melupakannya, padahal jika dilihat dari urgensinya, barang perlengkapan ini adalah hal yang harus selalu ada dimanapun. Kadang kala hal-hal diluar dugaan seperti kehilangan tas, dompet atau bahkan uang dan kartu kredit membuat perjalanan yang harusnya menyenangkan berubah menjadi dramatis dan runyam. So, ada baiknya persiapkan perlengkapan yang wajib dibawa saat traveling ke luar negeri. 

Apa saja kira-kira perlengkapan yang wajib dibawa, oke mari kita lihat satu per satu perlengkapannya. 

Dokumen penting seperti paspor dan uang cadangan untuk keperluan tak terduga


Dokumen penting seperti paspor, print out tiket perjalanan dan dokumen penting lainnya sering kali terlupakan pada saat hendak traveling. Kesibukan kantor atau kesibukan mengurus perlengkapan traveling lain contohnya, akan membuat dokumen penting terabaikan. Dan, akumulasinya pada saat di counter cek in, ternyata paspor tidak dibawa sama sekali. Atau, paspor hilang pada saat perjalanan diluar negeri, oh no, hal-hal inilah yang membuat liburan jadi hambar bahkan cenderung dramatis.

Agar tidak terjadi hal-hal ini, siapkan paspor atau visa jika negara yang kita tuju membutuhkan visa dan dokumen penting lainnya, kemudian simpan dalam tempat yang aman. Sebelum traveling, fotocopy atau scan dokumen penting tersebut, sehingga terjadi kehilangan atau apapun kita masih memiliki back up dokumen.

Uang cadangan mungkin sangat sepele, namun setelah terjadi peristiwa yang tidak kita sangka misalnya dompet hilang atau masuk rumah sakit. Uang cadangan biasanya disimpan pada tempat tersembunyi misalnya disisipkan di backpack, tas selepang kecil atau sabuk (Money Belt).

Backpack, Daypack dan Money Belt


Setelah membawa carrier atau koper besar, tidak mungkin mengelilingi kota dengan beban berat di punggung. So, bawalah backpack atau daypack yang kecil dan ringkas untuk menampung kamera, notes, air minum, charger dan perlengkapan yang mendukung selama berkeliling menikmati destinasi wisata. Sedangkan fungsi money belt adalah untuk menaruh uang cadangan atau uang emergency yang sewaktu-waktu dibutuhkan.

Universal Adapter dan Charger 



Satu negara dengan negara lainnya memiliki colokan listrik yang berbeda, seperti Singapura dan Malaysia tentu saja berbeda dengan colokan listri yang di Indonesia. Bahkan ketika kita ke Korea Selatan dan Jepang pun memiliki colokan yang berbeda. Universal Adapter adalah solusi terbaik ketika traveling ke negara lain dengan beragam sistem colokan listrik.

Selain universal adapter, jangan lupakan charger smartphone dan kamera. Traveling tanpa mengabadikannya bagiakan makan nasi tanpa lauk, terasa plain dan begitu-begitu saja. So, jangan samapi lupa ya benda kecil yang selalu membuat kerepotkan ketika traveling.  

Kamera Digital dan Action Cam 




Bagi sebagian orang mengabadikan momen pada saat traveling adalah sebuah keharusan. Saat kesebuah negara favorite, tentu saja ini momen sekali seumur hidup, anggap saja kita tidak akan pernah mengujungi negara tersebut untuk kedua kalinnya. Maka, kamera digital dan action cam menjadi list yang harus dibawa. 

Smartphone dan Selfie Stick (Tongsis)


Biasanya selain kamera digital, smartphone pun cukup ringkas dan praktis digunakan pada saat traveling. Apalagi smartphone saat ini sudah dilengkapi dengan kamera yang bagus dan aplikasi pendukung sehingga gambar yang dihasikan cukup memuaskan. Namun, bagi traveler smartphone ini berfungsi sebagai backup data atau sebagai kamera cadangan apabila kamera ditigal habis baterenya. Salah satu kamera yang direkomendasikan untuk traveling adalah Samsung Galaxy A7. Smartphone ini kamera bagus dan spesifikasinya pun telah mendukung untuk digunakan dalam segala situasi.

Apa saja sih spesifikasi Samsung Galaxy A7 yang bisa membantu di dalam traveling ke luar negeri? Galaxy A7 didesain sangat mewah karena terbuat dari bahan dasar kaca dan berwarna gold sehingga sangat elegan. Kameranya beresolusi 16 MP sehingga bisa digunakan sebagai back up dari kamera utama.

Dengan RAM 3GB, Galaxy A7 ini sudah mampu mengoperasikan aplikasi-aplikasi yang sangat berat terutama games yang membutuhkan kinerja smartphone yang cepat. Disamping itu baterenya dirancang sangat tahan lama dengan kapasitas 3.600 mAh sehingga tidak perlu khawatir kehabisan batere pada saat berkunjung ke destinasi wisata favorite. Kamera dengan desian, kamera, kapasitas memori dan batere tahan lama inilah yang membuat saya rekomendasikan Samsung Galaxy A7 untuk menemani perjalanan ke luar negeri.


Selfie Stick atau Tongsis wajib hukumnya dibawa, namun memang ada bebearapa bandara yang melarangnya terutama pada saat dibawa ke kabin. Tongsis lebih aman apabila dimasukan dalam bagasi pada saat cek in. 

Barang satu ini memang wajib dibawa karena membantu kita dalam melakukan swafoto atau selfie. Kalau jalan bersama  dengan keluarga, selfie stick membantu foto bersama tanpa bantuan orang disekitar, nah apalagi kita jalan seorang diri, maka barang satu ini wajib hukumnya. 

Laptop yang ringkas 


Kita tidak tahu betapa pentingnya barang yang satu ini sampai pada suatu ketika semua data foto kita hilang karena terhapus begitu saja. Mimpi buruk dan semuanya jadi runyam. Ini terjadi ketika saya traveling ke Korea beberapa tahun silam, tepatnya 2014. Saat itu saya tidak membawa laptop, pikir saya memori yang banyak, sekitar 32 Giga, sangatlah cukup. Namun kenyataannya, baru dipakai 3 hari saja, memori sudah full. Bukan hanya foto, saya merekam setiap momen dan destinasi yang ada. 

Kemudian, saya minta tolong kepada pemilik hostel untuk mentransfer sebagian foto kedalam flash disk berukuran 16 Giga. Pada saat proses transfer nampaknya akan baik-baik saja, namun setelah dilihat, sebagian data terakhir sudah hilang atau corrupt. Saya shock dan sedih. Masalahnya, belum tentu tahun depan saya ke nami Island. Ini pengalaman pribadi yang saya ingat, dan sekarang saya selalu menyediakan back up minimal membawa laptop yang ringkas dan external hardsik. 

Travel Vacuum Bag

Sumber : easysource
Carrier atau koper penuh dengan pakaian padahal beberapa baang belum masuk kedalamnya? Nah, salah satu solusinya adalah Vacuum Bag. Vacuum bag bisa meringkas pakaian sehingga space dalam carrier atau koper menjadi lebih luas dan barang-barang lain atau bahkan oleh-oleh bisa masuk kedalamnya. Cara pengunanya pun sangat mudah, cukup masukan pakaian yang sudah terlipat kemudian tekan vacuum bag sampai udara yang ada di plastik tersebut keluar dan tutup. Cukup mudah bukan. Selamat mencoba. 

Dry Bag


Dry Bag tentunya menjadi satu benda yang wajib dibawa pada saat traveling. Bukan saja ketika cuaca hujan mendominasi, namun pada saat ke suatu tempat yang didominasi oleh air. Salah satu fungsi dry bag adalah melindungi benda-benda eletronik dari air. Kehilangan data foto sudah mimpi buruk, apalagi kehilangan kamera kesayangan yang dibeli dari hasil menabung selama ini. 

Perlengkapan mencuci dan handuk kecil 

Ketika laundry menjadi hal yang menjadi budget tambahan atau diluar budget, maka salah satu solusinya adalah mencuci. Bawalah sabun cuci kemasan kecil yang praktis dibawa kemana-mana. Apabila sering mengunakan softener, kini kemasan kecil pun sudah banyak ditemukan di mini market atau supermarket. 

Handuk kecil cepat kering biasanya berbahan khusus dan sangat cepat kering karena berbahan dasar fiber. Tentu saja handuk ini wajib dibawa kemana-mana, apalagi jika kamu tidak memiliki waktu untuk mengeringkan handuk karena harus pindah dari satu hostel ke hostel lainnya. So, ini salah satu solusinya. 

Sarung 

Sarung sangat praktis dan ringkas jika dibawa kemana pun. Selain itu, banyak kegunaannya bisa untuk selimut, sholat untuk yang muslim dan bergaya. Sarung pun bisa dipilih mulai dari bahan yang berat samai yang ringan. Boleh juga membawa semacam syal atau kerudung besar seperti sarung. 


Nah, mungkin ini perlengkapan penting yang harus dan wajib dibawa pada saat traveling ke luar negeri. Oh iya jangan sampai lupa membawa notes, maps, payung kecil, jaket dan benda-benda penting lainnya ya. Have nice traveling.