5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo


5 Alasan Kenapa Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Sebelumnya, pos ini sudah saya tayangkan di Blog Travel. Beberapa minggu terakhir saya sering berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Alasannya macam-macam. Mulai dari kunjungan pribadi, sampai dengan kunjungan kenegaraan liputan kegiatan mahasiswa yang melaksanakan KKN-PPM di Kabupaten Nagekeo. Kabupaten yang diresmikan tahun 2007 ini merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Ngada. Berbeda dari kabupaten pemekaran lain yang pernah saya kunjungi yang mana terkesan dipaksakan, Kabupaten Nagekeo memang layak berdiri sendiri melihat berbagai potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

Juga Asyik Dibaca: Tahap-Tahap Menuju Pelaminan Dalam Adat Suku Ende


Ada banyak hal menarik bak magnet yang memanggil-manggil saya untuk terus ber-KakiKereta ke Kabupaten Nagekeo, soalnya keponakan saya juga sedang membangun rumah di daerah Towak. Tapi seperti biasa, karena saya tertarik dengan angka lima, kali ini saya menulis lima alasan kenapa kalian harus berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Kalau ada lagi alasan lainnya ... menyusul! Hehe.

1. Pesona Bukit-Bukit Sabana


Tidak dapat dipungkiri Kabupaten Nagekeo itu identik dengan perbukitan sabananya. Dan pemandangan itu mengingatkan saya pada Pulau Sumba. Perbukitan sabana ini mulai lebih banyak nampak sekitar sepuluh kilometer sebelum memasuki Ibu Kota Kabupaten Nagekeo yaitu Kota Mbay. Bahkan di daerah Penginanga, berdiri jejeran pohon gamal yang bisa jadi lokasi spot foto terkeceeeee. 


Saya pernah menulis tentang perbukitan ini dalam pos Bukit Sabana di Nagekeo. Pos lainnya berjudul The Gold and The Geautiful. Silahkan dibaca kedua pos itu untuk tahu dan ngiler sama foto-fotonya. Perbukitan sabana ini berubah-ubah warnanya tergantung musim. Ada tiga warna yang bisa kalian temui yaitu warna hijau, kuning keemasan, dan hitam (saat penduduk membakar lahan agar menyuburkan tanah).

2. Bukit Weworowet dan Festival Daging Domba


Kalian harus berkunjung ke Bukit Weworowet! Bukit unik ini terletak di Desa Waekokak pada jalan trans-Flores antara Kabupaten Nagekeo dengan daerah Riung.


Baru-baru ini saya menerima kiriman foto via WA dari Novi Azizah yang tinggal di Kota Mbay. Di foto itu jelas nampak keramaian di sekitar Bukit Weworowet. Ternyata sedang dibuka Restoran Daging Domba di sana, cikal bakal Festival Daging Domba yang bakal diselenggarakan pada Bulan Oktober 2019 nanti. Yuk ramai-ramai berkunjung saat Festival Daging Domba digelar. Tetapi informasi lebih jelas tanggalnya nanti ya. Ini baru informasi awal dari Novi Azizah, salah seoang aktivis muda di Kabupaten Nagekeo. Termasuk informasi tentang Festival Literasi oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Ausam!

3. Hasil Bumi, Hasil Laut, dan Peternakan


Orang bilang tanah kita tanah surga. Hehe. Itu ungkapan lirik lagu Koes Plus yang memang betul. Faktanya memang begitu. Kabupaten Nagekeo terkenal akan kuliner daging domba dan daging bebeknya. Ikan-ikan segar pun tak mau kalah. Dan pastinya hasil pertanian dan perkebunan. Kalian sudah tahu kalau Kabupaten Nagekeo dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil beras terbaik dari Pulau Flores?


Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo, pun ke Kota Mbay, kita akan merasakan dua suasana sekaligus. Suasana kota dan suasana pedesaan. Petak-petak sawah juga ada di daerah kota. Ini keren. Saya pernah melihat hal semacam ini waktu dulu pergi ke rumah Bapak Nadus dan Mama Mia (Kakaknya Mamatua) yang tinggal di Perumnas Monang-Maning, Denpasar, Bali.

Juga Asyik Dibaca: Dudo Bacarita Rame di Larantuka


Menariknya, masyarakat Kabupaten Nagekeo telah diingatkan oleh Bupati mereka sendiri yaitu Bapak Don, bahwa setiap kunjungan Bupati ke kecamatan/kelurahan/desa, tidak boleh disuguhkan makanan yang mewah. Bapak Don lebih suka hasil bumi yang disuguhkan seperti pisang dan ubi rebus beserta sambal.


Pisang dan ubi rebus serta sambal seperti gambar di atas saya nikmati saat Bapak Don meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe yang dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Bapak Don sendiri juga menikmatinya, bersama segelas kopi yang rasanya bikin lidah bergoyang salsa. Hehe.

4. Keramahan Masyarakat


Rata-rata Orang Indonesia itu ramah. Melihat dari cakupan masyarakat Pulau Flores, khususnya, keramahan itu sudah seperti nama tengah mereka. Tidak ada Orang Flores yang judes, kecuali kalau sedang PMS *ngakak*. Semuanya ramah. Apabila kalian bertamu, dan kalian disuguhi segelas kopi, maka kalian adalah keluarga mereka. Termasuk, masyarakat di Kabupaten Nagekeo.


Foto di atas, setelah makan siang di rumahnya Novi Azizah. Terima kasih Mamanya Novi (jilbab biru tua) sudah menjamu kami. Bukan makan siangnya saja, tetapi keramahan dan betapa Mama sudah menganggap kami seperti anak sendiri. Salam hormat!

5. Budaya yang Lestari


Alangkah ruginya saya ketika tahun 2018 tidak sempat menyaksikan acara Tinju Adat yang digelar di Kabupaten Nagekeo. Semoga acara Tinju Adat 2019 bisa saya saksikan sendiri. Selama ini hanya dikirimi video oleh teman-teman. Bahkan teman saya Sintus, seorang polisi yang bertugas di Ende tetapi berasal dari Kota Mbay, pernah melaksanakan acara adat potong gigi. Hwah, asyik ya.


Kalian tas yang dipakai oleh para lelaki di atas? Namanya tas Bere. Sama juga yang dipakai oleh lekaki dari Kabupaten Ngada. Ya namanya Kabupaten Nagekeo merupakan pemekaran dari Kabupaten Ngada, hehe. Hasil kebudayaan ini selalu pasti dipakai oleh kaum lelaki ketika menghadiri berbagai kegiatan, terutama kegiatan yang berhubungan dengan adat. Bupati Nagekeo, Bapak Don, bahkan pernah menyarankan kios-kios menyediakan Bere sebagai pengganti tas plastik.

⇜⇝

Itu dia lima alasan kenapa kalian harus berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Tentu masih banyak alasan lainnya tapi kali ini, sesuka hati saya menulisnya, lima terlebih dahulu. Kalau ada lagi, Insha Allah bakal saya tulis lagi. Setidaknya gambaran kalian tentang Kabupaten Nagekeo bertambah kan ya dengan membaca berbagai pos di blog ini. Siapa tahu Bulan Oktober nanti kita ketemu di Bukit Weworowet dalam Festival Daging Domba.

Juga Asyik Dibaca: Spot Instagenic di Hotel Pepita Mbay


Happy Traveling!

#KamisLima



Cheers.

5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo


5 Alasan Kenapa Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Sebelumnya, pos ini sudah saya tayangkan di Blog Travel. Beberapa minggu terakhir saya sering berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Alasannya macam-macam. Mulai dari kunjungan pribadi, sampai dengan kunjungan kenegaraan liputan kegiatan mahasiswa yang melaksanakan KKN-PPM di Kabupaten Nagekeo. Kabupaten yang diresmikan tahun 2007 ini merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Ngada. Berbeda dari kabupaten pemekaran lain yang pernah saya kunjungi yang mana terkesan dipaksakan, Kabupaten Nagekeo memang layak berdiri sendiri melihat berbagai potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

Juga Asyik Dibaca: Tahap-Tahap Menuju Pelaminan Dalam Adat Suku Ende


Ada banyak hal menarik bak magnet yang memanggil-manggil saya untuk terus ber-KakiKereta ke Kabupaten Nagekeo, soalnya keponakan saya juga sedang membangun rumah di daerah Towak. Tapi seperti biasa, karena saya tertarik dengan angka lima, kali ini saya menulis lima alasan kenapa kalian harus berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Kalau ada lagi alasan lainnya ... menyusul! Hehe.

1. Pesona Bukit-Bukit Sabana


Tidak dapat dipungkiri Kabupaten Nagekeo itu identik dengan perbukitan sabananya. Dan pemandangan itu mengingatkan saya pada Pulau Sumba. Perbukitan sabana ini mulai lebih banyak nampak sekitar sepuluh kilometer sebelum memasuki Ibu Kota Kabupaten Nagekeo yaitu Kota Mbay. Bahkan di daerah Penginanga, berdiri jejeran pohon gamal yang bisa jadi lokasi spot foto terkeceeeee. 


Saya pernah menulis tentang perbukitan ini dalam pos Bukit Sabana di Nagekeo. Pos lainnya berjudul The Gold and The Geautiful. Silahkan dibaca kedua pos itu untuk tahu dan ngiler sama foto-fotonya. Perbukitan sabana ini berubah-ubah warnanya tergantung musim. Ada tiga warna yang bisa kalian temui yaitu warna hijau, kuning keemasan, dan hitam (saat penduduk membakar lahan agar menyuburkan tanah).

2. Bukit Weworowet dan Festival Daging Domba


Kalian harus berkunjung ke Bukit Weworowet! Bukit unik ini terletak di Desa Waekokak pada jalan trans-Flores antara Kabupaten Nagekeo dengan daerah Riung.


Baru-baru ini saya menerima kiriman foto via WA dari Novi Azizah yang tinggal di Kota Mbay. Di foto itu jelas nampak keramaian di sekitar Bukit Weworowet. Ternyata sedang dibuka Restoran Daging Domba di sana, cikal bakal Festival Daging Domba yang bakal diselenggarakan pada Bulan Oktober 2019 nanti. Yuk ramai-ramai berkunjung saat Festival Daging Domba digelar. Tetapi informasi lebih jelas tanggalnya nanti ya. Ini baru informasi awal dari Novi Azizah, salah seoang aktivis muda di Kabupaten Nagekeo. Termasuk informasi tentang Festival Literasi oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Ausam!

3. Hasil Bumi, Hasil Laut, dan Peternakan


Orang bilang tanah kita tanah surga. Hehe. Itu ungkapan lirik lagu Koes Plus yang memang betul. Faktanya memang begitu. Kabupaten Nagekeo terkenal akan kuliner daging domba dan daging bebeknya. Ikan-ikan segar pun tak mau kalah. Dan pastinya hasil pertanian dan perkebunan. Kalian sudah tahu kalau Kabupaten Nagekeo dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil beras terbaik dari Pulau Flores?


Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo, pun ke Kota Mbay, kita akan merasakan dua suasana sekaligus. Suasana kota dan suasana pedesaan. Petak-petak sawah juga ada di daerah kota. Ini keren. Saya pernah melihat hal semacam ini waktu dulu pergi ke rumah Bapak Nadus dan Mama Mia (Kakaknya Mamatua) yang tinggal di Perumnas Monang-Maning, Denpasar, Bali.

Juga Asyik Dibaca: Dudo Bacarita Rame di Larantuka


Menariknya, masyarakat Kabupaten Nagekeo telah diingatkan oleh Bupati mereka sendiri yaitu Bapak Don, bahwa setiap kunjungan Bupati ke kecamatan/kelurahan/desa, tidak boleh disuguhkan makanan yang mewah. Bapak Don lebih suka hasil bumi yang disuguhkan seperti pisang dan ubi rebus beserta sambal.


Pisang dan ubi rebus serta sambal seperti gambar di atas saya nikmati saat Bapak Don meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe yang dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Bapak Don sendiri juga menikmatinya, bersama segelas kopi yang rasanya bikin lidah bergoyang salsa. Hehe.

4. Keramahan Masyarakat


Rata-rata Orang Indonesia itu ramah. Melihat dari cakupan masyarakat Pulau Flores, khususnya, keramahan itu sudah seperti nama tengah mereka. Tidak ada Orang Flores yang judes, kecuali kalau sedang PMS *ngakak*. Semuanya ramah. Apabila kalian bertamu, dan kalian disuguhi segelas kopi, maka kalian adalah keluarga mereka. Termasuk, masyarakat di Kabupaten Nagekeo.


Foto di atas, setelah makan siang di rumahnya Novi Azizah. Terima kasih Mamanya Novi (jilbab biru tua) sudah menjamu kami. Bukan makan siangnya saja, tetapi keramahan dan betapa Mama sudah menganggap kami seperti anak sendiri. Salam hormat!

5. Budaya yang Lestari


Alangkah ruginya saya ketika tahun 2018 tidak sempat menyaksikan acara Tinju Adat yang digelar di Kabupaten Nagekeo. Semoga acara Tinju Adat 2019 bisa saya saksikan sendiri. Selama ini hanya dikirimi video oleh teman-teman. Bahkan teman saya Sintus, seorang polisi yang bertugas di Ende tetapi berasal dari Kota Mbay, pernah melaksanakan acara adat potong gigi. Hwah, asyik ya.


Kalian tas yang dipakai oleh para lelaki di atas? Namanya tas Bere. Sama juga yang dipakai oleh lekaki dari Kabupaten Ngada. Ya namanya Kabupaten Nagekeo merupakan pemekaran dari Kabupaten Ngada, hehe. Hasil kebudayaan ini selalu pasti dipakai oleh kaum lelaki ketika menghadiri berbagai kegiatan, terutama kegiatan yang berhubungan dengan adat. Bupati Nagekeo, Bapak Don, bahkan pernah menyarankan kios-kios menyediakan Bere sebagai pengganti tas plastik.

⇜⇝

Itu dia lima alasan kenapa kalian harus berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Tentu masih banyak alasan lainnya tapi kali ini, sesuka hati saya menulisnya, lima terlebih dahulu. Kalau ada lagi, Insha Allah bakal saya tulis lagi. Setidaknya gambaran kalian tentang Kabupaten Nagekeo bertambah kan ya dengan membaca berbagai pos di blog ini. Siapa tahu Bulan Oktober nanti kita ketemu di Bukit Weworowet dalam Festival Daging Domba.

Juga Asyik Dibaca: Spot Instagenic di Hotel Pepita Mbay


Happy Traveling!

#KamisLima



Cheers.

5 Lokasi Terdekat Untuk Berwisata Sekitar Kota Ende


Hola! Ketemu lagi di #KamisLima. Apakah lima hal yang bakal saya tulis kali ini? Yaaaa sudah ketahuan dari judulnya *dijitak dinosaurus*. Kali ini saya mau menulis tentang liima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende. Kenapa menulis ini? Karena ada beberapa tempat wisata ter-update, baik atraksi wisata alam maupun atraksi wisata buatan, yang wajib kalian ketahui jika hendak datang ke Ende. Atraksi utama, Danau Kelimutu, tentu tidak akan saya bahas di sini. Atraksi wisata sejarah di dalam kota pun tidak akan saya bahas karena sudah pernah ditulis di pos berjudul 5 Wisata di Dalam Kota Ende.

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

Jadi, apa saja lima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende? Mari kita cari tahu *suara gong guedeeee banget*. Semua ini gara-gara aksi jalan-jalan padahal belum musim liburan lagi. Haha.

1. Dapur Jadul, Pantai Raba


Pos tentang Dapur Jadul di Pantai Raba selengkapnya bisa kalian baca di blog travel pada pos berjudul Dapur Jadul, Bukan Dapur Biasa. Dapur Jadul menawarkan atraksi wisata alam yaitu pantai yang dipadu dengan atraksi wisata buatan yaitu spot-spot instagenic. Selain itu kalian juga bisa bersantai di beanbag-nya, menikmati suasana dan makanan serta minuman! Ingat, es tiramisu itu enaknya luar biasa bikin kangen. Cihuy!


Jaraknya hanya 10-an kilometer dari Kota Ende, arat Barat. Dekat lah :)

2. Embung Boelanboong, Wologai Tengah


Embung ini dulunya bernama Embung Resetlemen sesuai nama dusunnya. Namanya kemudian berubah menjadi Embung Boelanboong. Di sekitar embung ini dibangun saung-saung untuk bersantai, spot-spot instagenic, taman bunga dengan bibit-bibit bunga yang sedang tumbuh (waktu saya ke sana), serta kalian bisa memesan kopi, teh, dan jagung rebus! Suka sekali sunset-an di embung ini, meskipun yaaaa ... pulang ke Kota Ende pasti dingin banget dalam musim yang sedang sangat dingin ini. Jaraknya sekitar 45 kilometer dari Kota Ende.


Kalau kalian mau tahu lebih detail tentang embung ini, silahkan baca pos berjudul Sunset di Embung Boelanboong, Wologai Tengah.

3. Kampung Adat Saga


Kalau dari Kota Ende menuju cabang menuju Desa Adat Saga ini hanya sekitar 20 kilometer. Sayangnya saya belum ke sana. Jadi, belum bisa lah saya menulis sedikit panjang tentang kampung adat yang satu itu. Tapi tenang saja, rencananya baru Hari Minggu depan, atau depannya lagi. Tapi yang jelas saya pasti menulisnya di blog travel.

4. Jalur Trekking


Jalur trekking yang satu ini sebenarnya berada di dekatnya Embung Boelanboong juga, di sisi Barat. Ada gapura besar yang menandainya.


Jalur trekking dari Wologai Tengah menuju Danau Kelimutu. Kalau kalian masih kuat jalan, tidak seperti saya yang sudah uzur, boleh dicoba jalur yang satu ini. Selamat berjuang dan menikmati alam! Hehe. Jarak dari Kota Ende ke lokasi gapura ini hanya sekitar 45 kilometer saja.

5. Pantai Aeba'i


Kalau kalian rajin main ke blog travel saya, pasti sudah tidak asing lagi dengan Pantai Aeba'i, pantai favorit keluarga kami berpiknik! Encim and the gank wajib ke sini hehe.

Bersama Harry Kawanda, traveler of the century. Haha.

Piknik mah tidak perlu jauh. Apalagi piknik sekeluarga. Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Ende. Pantai, laut, Pulau Ende Kota Ende ... komplit pemandangannya.

⇝⇜

Itu dia lima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende. Tentunya selain atraksi utama yang selalu kami banggakan, Danau Kelimut, pun wisata sejarah jejak Bung Karno ketika diasingkan ke Kota Ende. Semoga suatu saat nanti kalian akan datang ke sini dan ikut menikmati semua yang sudah saya tulis di sini, termasuk di blog travel.

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

Ditunggu di Ende, ya!



Cheers.

Belum Musim Liburan Tapi Jalan-Jalan Terus


Baca judulnya saja sudah bikin kesal kan ya. Belum musim liburan tapi jalan-jalan terus. Haha. Mohon maaf. Mohon maaf karena beberapa kali tidak update konten blog ini karena satu dan lain hal. Satu dan lain hal itu salah satunya jalan-jalan *ngakak guling-guling* demi menyenangkan diri sendiri. Memang betul, kadang otak saya terbolak-balik. Saatnya liburan  malah ngendon di kamar, saatnya bekerja malah jalan-jalan. Tapi toh jalan-jalannya bukan karena korupsi waktu kerja. Itu dilakukan setelah waktu kerja atau saat hari libur. Dosa, tahu, korupsi itu!

Baca Juga: Berburu Spot Foto Instagenic di Dapur Jadul

Minggu kemarin setelah saya bertugas ke luar kota, again, yaitu di Desa Tanali, dan jalan-jalan ke dua lokasi wisata yaitu Dapur Jadul di Pantai Raba dan Bukit Wolobobo di Kabupaten Ngada dengan view Gunung Inerie (yang ini belum saya tulis di blog travel), lagi-lagi saya diajak sama teman-teman ke lokasi embung. Namanya Embung Boelanboong di Kecamatan Wologai Tengah. Berangkatnya pukul 14.00 Wita. Memang! Itu sudah kesiangan. Tapi mengingat kami harus menyesuaikan waktu kerja masing-masing. Tentang embung ini nanti akan saya tulis lengkap di blog travel. Nantikan.

Keesokan harinya, Minggu (7 Juli 2019), saya diajak Kakak Nani Pharmantara pergi ke Mbay, again! Mana bisa saya tolak diajak sama kakak? Halah haha. Rencananya si Iwan dan Reni, keponakan saya itu, bakal membangun rumah sendiri. Karena kan selama ini mereka masih tinggal di rumah dinas Pustu Towak tempat Reni bekerja. Senangnya adalah meskipun tidak disuguhi daging bebek dan daging domba, padahal pengen, ikannya itu manisssss banget. Segar! Ikan yang baru saja ditangkap begitu jadi rasanya segar dan manis. Kami tidak menginap di Mbay, tapi rencananya Minggu depan bakal ke sana lagi saat fondasi hendak dibangun. Insha Allah.

Jadi, itu dia. Belum musim liburan tapi sayanya jalan-jalan terus. Ke Desa Tanali untuk meliput kegiatan Fakultas Teknik khususnya Prodi Sipil, ke Dapur Jadul memuaskan hasrat bersantai, ke Bukit Wolobobo dengan view Gunung Inerie, ke Embung Boelanboong, dan ke Mbay. Capek? Iya lah, jarak tempuhnya kan lumayan jauh, luar kota, dengan kondisi jalan berkelok-kelok yang bisa bikin pengendara dan penumpang mabok. Tapi saya senang.

Ada satu lagi kesibukan yang membikin saya kemarin sempat absen menulis dan belum bisa blogwalking ke blog kalian semua. Mohon maaf ya. Kesibukan itu berkaitan dengan stik keju dan stik bawang! Loh? Kok bisa? Iya nih. Ternyata ketika saya mencoba menawarkan stik keju dan stik bawang ke teman-teman, malah laris manis dan permintaan meningkat *tsah, meningkat, haha*. Jadi, saya harus dengan rela hati memenuhi permintaan stik keju dan stik bawang demi tabungan bekal membeli berlian *digampar dinosaurus*. Ada pula rencana yang harus saya wujudkan, Insha Allah, dan itu membutuhkan lebih banyak Rupiah. Hehe.

Baca Juga: Lebih Baik Sakit Hari Dari Pada Sakit Gigi Ini

Cerita tentang jalan-jalannya nanti dibaca di blog travel, ya. Siapa tahu bakal jadi magnet kalian ke Pulau Flores. Dan mohon maaf apabila belum sempat blogwalking. Tapi teteup saya pasti blogwalking karena itu adalah hiburan menyenangkan soalnya sekaligus menutrisi otak *kedip*.




Cheers.

5 Yang Cantik


Tidak banyak foto pemandangan yang bisa saya abadikan dalam perjalanan ke sebagian Pulau Flores waktu kegiatan Tim Promosi Uniflor 2019 kemarin, baik ke Barat, Utara, dan Timur. Saya sendiri juga tidak membaca Canon Eos600D andalan karena berat lah di backpack dan cuaca sedang kurang bersahabat alias kuatir diguyur hujan tengah jalan. Lebih tepatnya saya tidak mau repot hahaha. Oleh karena itu saya hanya bisa merangkum lima yang cantik dari perjalanan kemarin-kemarin itu, dari perhentian demi perhentian yang bikin Violin rada bingung kok tiba-tiba sepeda motor di belakangnya menghilang. Haha.

Cekidot!

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

1. Memasuki Kota Mbay


Kota Mbay merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Termasuk kabupaten tetangga yang bersinggungan langsung dengan Kabupaten Ende. Perbatasannya adalah Nangamboa (Kabupaten Ende) dan Nangaroro (Kabupaten Nagekeo). Beda dari kota-kota lain di Pulau Flores, Kota Mbay bertopografi datar dengan pemandangan alam yang memikat terutama padang sabana di sekelilingnya; termasuk pada saat hendak memasuki kota ini.


Ini fotonya pagi hari sebelum memasuki Kota Mbay. Adem banget ya melihatnya. Saya suka sekali foto-foto di lokasi ini (sebelum memasuki Mbay). Seperti sebelum memasuki surga *dikeplak*.

2. Rumah Impian


Bukit Weworowet yang terletak di Desa Waikokak di Kabupaten Nagekeo ini memang merupakan salah satu titik terlama wisatawan berhenti untuk sekadar mengabadikan pemandangan alamnya yang luar biasa bikin betah. Tentang Bukit Weworowet bisa kalian lihat videonya di Youtube. Nah, yang satu ini adalah foto sebuah rumah berlatar Bukit Weworowet.


Apa yang kalian lihat? Iya, bukit dan rumah, itu jelas. Saya melihat impian di foto ini. Impian bocah SD zaman dulu setiap kali menggambar pemandangan; gunung, rumah, sawah. Kalau yang ini; bukit, rumah, ladang. Saya mau donk punya rumah ini, sayang sudah ada yang punya, lagian belum kuat lah saya buat beli rumah hahaha.

3. Memasuki Desa Niranusa


Kecamatan Maurole terkenal akan garis pantai berpasir putihnya. Ketika hendak memasuki Desa Niranusa di Kecamatan Maurole, di dataran tingginya, kalian akan disuguhi pemandangan ini:


Pemandangannya itu seakan mengajak kita: nyebuuuuur, yuk! Kalau tidak mengingat berkas-berkas ini itu, sudah pasti saya nyebur dan pulang dalam keadaan basah kuyup hahaha. 

Saya punya banyak foto laut dari lokasi yang sama. Ini foto terbaru dua minggu lalu waktu pergi ke Utara untuk sosialisasi Universitas Flores. Pasir putihnya terdiri dari pecahan koral bercampur pasir putih itu sendiri. Beberapa teman traveler yang datang ke Kabupaten Ende, tepatnya ke Danau Kelimutu, pulangnya pasti saya racuni untuk pergi ke sini hehe.

Tanjung Kajuwulu


Namanya Tanjung Kajuwulu, terletak di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Daerah Magepanda sendiri merupakan daerah di pesisir Pantai Utara yang pemandangannya bakal bikin kalian tercengang!


Di bukit dekat Tanjung Kajuwulu ini dibangun menara pandang. Sayang saya tidak foto dari menara pandangnya. Pun tak jauh dari situ ada Bukit Salib, iya ada salib besar warna putih berdiri gagah di sebuah bukit yang untuk menuju ke sana disediakan anak-anak tangga.

Nikong Gete


Dalam perjalanan pulang dari Kota Larantuka ke Kota Maumere, saya melihat pemandangan ini. Sulit untuk tidak mengerem Onif Harem. Lantas bertanya pada seorang anak di situ nama daerah ini. Dia menjawab, "Nikong Gete." Nah, mungkin kuping saya kurang baik pendengarannya, apabila salah nama ini mohon dikoreksi hahaha.


Sunset-nya itu, mana tahan eyke ...


Kesimpulannya? Mari yuk ke Pulau Flores dan nikmati sendiri keindahannya. Karena Pulau Flores tidak hanya tentang Labuan Bajo, Danau Kelimutu, Pantai Anabhara, Magepanda, atau Puncak Konga di Titihena. Masih banyak daerah menarik lainnya yang bisa dieksplor ... dan tentu bagi kami anak daerah ... harus bisa menceritakannya pada dunia.



Cheers

#PDL Blog Travel


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Dulu belum ada istilah niche blog. Tapi dulu saya sudah memilah tulisan untuk dipos di blog berbeda. Puluhan blog pun terdaftar dari akun yang sama. Hanya beberapa yang bertahan. Yang lain tidak dipublikasikan karena ceritanya sudah selesai. Misalnya blog soal Band Hulk yang gokil (ini band halu yang personilnya dari teman-teman Undernet mIRC dulu), atau blog serial-serial, atau blog puisi. Ah, gila ya ... saya dulu suka banget menulis puisi yang jeleknya minta ampun

Baca Juga : #PDL Ngojek Sepeda

Di #PDL kali ini, saya cuma pengen ngasih tahu bahwa dulu saya pernah bikin blog tentang perjalanan. Istilahnya blog travel


Blog itu di atas *tunjuk tautan* pernah mati lama banget. Lantas karena satu dan lain hal kembali saya isi dengan konten-konten tentang perjalanan ke sana sini. Kalau dulu banyak tulisan tentang perjalanan saya ke kota lain, tapi sekarang lebih banyak menulis tentang Kabupaten Ende tercinta. Sesuai jargonnya blog itu: traveling the world, start from your own hometown. Artinya? Cari sendiri hahaha *ditimpuk*

Baca Juga : I Can Sleep Everywhere

Jadi, kalau kalian pengen tahu perjalanan saya; tempat wisata dan/atau kuliner dan/atau sekadar cerita jalan-jalan, silahkan meluncur pakai penggorengan ke blog tersebut.

#UdahGituAja


Cheers.

#PDL Blog Travel


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Dulu belum ada istilah niche blog. Tapi dulu saya sudah memilah tulisan untuk dipos di blog berbeda. Puluhan blog pun terdaftar dari akun yang sama. Hanya beberapa yang bertahan. Yang lain tidak dipublikasikan karena ceritanya sudah selesai. Misalnya blog soal Band Hulk yang gokil (ini band halu yang personilnya dari teman-teman Undernet mIRC dulu), atau blog serial-serial, atau blog puisi. Ah, gila ya ... saya dulu suka banget menulis puisi yang jeleknya minta ampun

Baca Juga : #PDL Ngojek Sepeda

Di #PDL kali ini, saya cuma pengen ngasih tahu bahwa dulu saya pernah bikin blog tentang perjalanan. Istilahnya blog travel


Blog itu di atas *tunjuk tautan* pernah mati lama banget. Lantas karena satu dan lain hal kembali saya isi dengan konten-konten tentang perjalanan ke sana sini. Kalau dulu banyak tulisan tentang perjalanan saya ke kota lain, tapi sekarang lebih banyak menulis tentang Kabupaten Ende tercinta. Sesuai jargonnya blog itu: traveling the world, start from your own hometown. Artinya? Cari sendiri hahaha *ditimpuk*

Baca Juga : I Can Sleep Everywhere

Jadi, kalau kalian pengen tahu perjalanan saya; tempat wisata dan/atau kuliner dan/atau sekadar cerita jalan-jalan, silahkan meluncur pakai penggorengan ke blog tersebut.

#UdahGituAja


Cheers.

Nonton MotoGP Sepang Sekarang, Bayarnya Nanti Aja


Siapa yang menolak jika diajakin nonton MotoGP di Sepang, Malaysia? Termasuk saya pun akan menerima ajakan tersebut dengan senang hati. Malaysia memiliki arti dari sekedar negara kedua setelah Singapura yang pernah saya jejaki sebagai salah satu syarat menjadi seorang traveler sejati. Mungkin terlalu klise, tapi memang teman-teman traveler lain sangat menyarankan Malaysia sebagai negara yang perlu dikunjungi. 

2012, tepatnya untuk pertama kali saya menerima stempel kedatangan di bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Saya masih takjub dan tak percaya akhirnya saya bisa menikmati nasi lemak dan berfoto-foto di menara kembar yang sangat tersohor. Saat itu masih sangat jarang informasi mengenai SIM Card atau online maps karenanya saya hanya mengandalkan buku panduan dan maps yang selalu saya kumpulkan dari berbagai tempat seperti Tourism Information. Nyasar it sudah menjadi hal yang wajar dan sejata saya hanya bertanya dan bertanya kepada petugas dan penduduk sekitar. 


Selama di Kuala Lumpur, saya mencari informasi dan akhirnya memutuskan untuk ke Penang. Alasan saya adalah kota lama atau bangunan kunonya yang sangat terawat sama seperti di Malaka. Dan Penang adalah jalan menuju ke Hatyai, sebagai pintu gerbang menuju ke Thailand. Pengalaman yang selalu menyenangkan dan makanan yang sama dengan Indonesia membuat selera makan saya sama bahkan lebih. Kata teman, salah satu hal yang perlu diperhatikan pada saat traveling adalah makanan. Dan, menurut teman saya, sebelum menerima culure shock yang lebih extreme, saya harus menyesuaikan dengan negara tetangga terlebih dahulu. 

Beberapa kali ke Malaysia, saya sangat kangen dengan nasi lemaknya yang sangat enak. Nasi lemak kalau di Jakarta bisa disamakan dengan nasi uduk yang luar biasa sedapnya. Terakhir saya mengunjungi Sabah dan Sarawak di ujung utara Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara. Sedangkan edisi sebelumnya, saya mengunjungi Kuala Lumpur dengan segala keunikannya karena saya sempat menikmati kota dari atas city tour bus. 



Menyaksikan MotoGP di Sepang adalah impian yang belum tercapai dalam beberapa tahun belakangan ini. Salah satu yang membuat saya ingin menyaksikannya adalah karena Erlangga. Sahabat saya dari SMA yang kini juga sama-sama menetap di Jakarta. Dia pernah menonton F1 di Sepang. Saya sebetulnya iri, namun secara positif saya menjadikannya sebagai motivasi agar dapat menonton secara langsung. Bahkan, beberapa destinasi seperti Hongkong pun saya termotivasi dari foto-fotonya. Kami memang jarang bertemu, namun sekali bertemu banyak sekali cerita yang kita sharing dan mengalir seperti kita bertemu setiap harinya. 


MotoGP itu sebuah seni pertunjukan yang memukau seluruh indra termasuk mata. Bagi saya menyaksikan perlombaan itu memacu adrenaline dan membuat hidup menjadi lebih menyenangkan karena pengalaman ini bisa dibilang sekali seumur hidup. Mungkin lain waktu kita dapat ulang lagi, namun setiap masa merupakan sebuah kenangan yang manis dan tidak akan terulang lagi. Apalagi jika ini adalah momen pertama kali, mungkin saya tidak akan melupakannya seperti pertama kali ke Malaysia pada tahun 2012. 

Alasan lainnya adalah karena bisa dibayar nanti melalui cicilan. Loh, memangnya bisa ya traveling sekarang tapi bayarnya nanti aja? Bisa bangetlah karena ada program menarik berupa Maxi Travel dari Adira Finance. Dan, kebetulan juga MotoGP ini juga termasuk dalam Maxi Travel yang akan di laksanakan oleh Tx Travel sebagai salah satu tour travel terbaik di Indonesia. 


Maxi Travel ini memudahkan bagi siapa saja yang ingin traveling sekarang namun pengen menunda pengeluran karena banyak yang kebutuhan yang harus dipenuhi dalam beberapa bulan belakangan. Zaman now, memang banyak sekali alternatif yang dapat kita lakukan untuk traveling dan salah satu solusi bagi tidak memiliki dana lebih bisa melalui Maxi Travel. Program ini menawarkan bukan hanya paket perjalanan domestik baik dalam maupun luar negeri saja namun perjalanan Umroh, pemesanan tiket dan pemesanan hotel.

Lalu apa saja yang harus disiapkan untuk mendapatkan program Maxi Travel ini? Syaratnya hanya fotocopy KTP, Fotocopy STNK, BPKB Mobil atau Motor, KK dan NPWP. Nah, untuk paket wisata  bisa ditentukan sendiri oleh kita tanpa harus sesuai dengan brosur atau paketan yang telah ditentukan sebelumnya. 


Nah, yang ingin menyaksikan MotoGP di Sepang dapat mengakses Tx Travel secara langsung karena tour ini merupakan salah satu yang terpercaya menyelenggarakan paket Moto GP dengan banyak pilihan seperti tour 3D2N dan 4D3N. Sebagai informasi, program Moto GP Sepang ini akan diselenggarakan pada tanggal 3-5 November 2018 untuk paket tour 3D2N sedangkan paket 4D3N akan diberangkatkan pada 2-5 November 2018. Pemberangkatan bisa melalui 7 kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar. So, tidak ada lagi masalah bukan kalau berasal dari luar dari Jakarta. 

Nah yang penasaran dengan Itinerary, ini dia kegiatan selama 4 hari 3 malam yang akan dilakukan di Kuala Lumpur dan Sepang. 

Jum’at/02 : Penerbangan ke Kuala Lumpur

Kumpul di bandara 3 jam sebelum keberangkatan, bertemu Tour Leader untuk proses absen, bagasi dan boarding pass, lalu penerbangan ke Kuala Lumpur. Setiba di bandara KLIA-1, bertemu Local Guide, untuk group KLM langsung menuju ke hotel sedangkan group GA berkunjung ke Istana Merdeka, Tugu Negara, Mesjid Negara, Dataran Merdeka, City Gallery dan makan malam bersama lalu check-in hotel, istirahat.

Sabtu/03 > Qualifying

Sarapan pagi, mampir ke Twin Tower dan Berly’s Chocolate House, menuju sirkuit guna menyaksikan babak latihan dan kualifikasi dari Moto3 (12.35-13.15), MotoGP (14.10-14.50), Moto2 (15.05-15.50), makan malam dengan buffet menu “all u can eat” di restoran Kuala Lumpur, kembali ke hotel, istirahat.


Minggu/04 > Final Race Day

Sarapan pagi, menuju sirkuit guna menyaksikan babak pemanasan dan balapan final Moto3 (12.00-13.00), Moto2 (13.20-14.20), MotoGP (15.00-16.00), kembali ke bus semula di parkiran, mampir ke Mitsui Outlet Park KLIA Sepang untuk menghindari kemacetan di tol arah pusat kota, baru kemudian kembali ke hotel.

Hari-4/Senin/05 > City Tour

Sarapan pagi, check-out hotel, untuk group GA langsung menuju ke bandara sedangkan group KLM berkunjung ke Istana Merdeka, Tugu Negara, Mesjid Negara, Dataran Merdeka, City Gallery dan makan siang, kemudian menuju ke bandara KLIA-1 untuk proses bagasi dan boarding pass, lalu penerbangan ke Jakarta. Usailah sudah tur Nonton Bareng MotoGP Sepang bersama TX Travel, sampai jumpa di musim balap 2019.


Apa sih keunggulan dari Maxi Travel dibandingankan dengan program cicilan lainnya? Nah, ini dia beberapa keunggulannya. 

Prosesnya Mudah 

Customer datang langsung ke perusahaa tour & travel dan memilih paket yang telah ditentukan. Apabila perusahaan tour & travel bekerjasama dengan Adira Finance maka akan menghubungi petugas di cabang Adira Finance terdekat. Namun, apabila perusahaan tour & travel tersebut belum bekerjasama dengan Adira Finance maka customerlah yang mengajukan tour & travel tersebut. 

Syaratnya Mudah 

Syaratnya hanya fotocopy KTP, Fotocopy STNK, BPKB Mobil atau Motor, KK dan NPWP.

Jaminan Hanya BPKB 

Selain proses dan syaratnya yang mudah, jaminan yang disyaratkan oleh Adira Finance hanya berupaka BPKB saja tanpa embel-embel yang lain. 

Traveling Sekarang Bayarnya Nanti

Kaum milenial termasuk saya memang sangat menginginkan kebebasan financial dan ingin menikmati serta menjelajah negara lain tanpa khawatir dengan dana yang kurang mencukupi, oleh karenanya membutuhkan program Maxi Travel yang dapat jalan-jalan tanpa risau dan membayarnya nanti setelah liburan selesai. 


So tunggu apa lagi, jangan sampai kamu keburu kerepotan dengan urusan anak atau sudah keburu tua untuk menikmati seluruh hal yang harusnya bisa kamu lakukan pada saat muda. Yuk, angkat telepon dan hubungi Dering Adira di 1500511 atau bisa menghubungi email customercare@adira.co,id dan website adira di www.adira.co.id. Sampai jumpa di MotoGP Sepang. 

Backpacks Impian


Backpack, backpack, packpack. Saya memang serakah. Sudah punya banyak backpack tapi masih suka cuci mata di toko online terutama bagian backpack/daypack/ransel dan sepatu. Menurut hikayat, mata saya bakal lebih segar dan sehat, bahkan angka silinder berkurang, hanya dengan melihat foto backpack dan sepatu. Kenyataannya, mata saya memang terhibur tapi perasaan tersakiti patah jadi dua gara-gara harus menahan segala godaan syaitan yang terkutuk. Jempol tak boleh berkehendak seenak perut mengklik tombol beli atau tombol masukkan ke keranjang. Perasaan ini lebih sakit dari pertanyaan: kapan kawin? A-ha!

Baca Juga : Pen Printer

Backpack sudah menjadi bagian kehidupan saya, kalian, mereka. Setiap hari pasti panggul backpack. Jangan harap kalian melihat saya membawa tas perempuan kecuali pada hari saya tidak ingin mebebani pundak. Sebisa mungkin semua benda masuk ke jok sepeda motor, hehe. Macam-macam backpack berukuran sedang (bukan carrier) yang sekarang memenuhi lemari tas termasuk backpack khusus perempuan dan drawstring bag. Macam-macam merek; Consiva, Eiger, Trekker, sampai yang tidak bermerek. Tapi toh sampai sekarang saya masih mencari backpack yang benar-benar nyaman dipakai dan mudah ketika hendak mengeluarkan barang.

Banyak jenis backpack yang sudah masuk list. List buat cuci mata alias buat dilihat lagi, lagi, dan lagi. Untuk membeli backpack, egeeeennn!?, saya harus menahan diri. Haha. Hidup harus ada skala prioritas, kata Mamatua. Harus bisa bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Beeeuuuh. Salah satu backpack yang paling saya sukai dari daftar cuci mata itu adalah backpack anti maling berikut ini:


Namanya Bobby. Harganya 89,95 Euro atau setara 106 Dollar. Harga segitu lumayan murah jika dibandingkan fasilitas si Bobby seperti: zipper dan kantong tersembunyi, anti air, anti cut, port pengisian USB terintegrasi, garis keselamatan, kompartemen shock-proof. Anti maling yang dimaksudkan di sini merujuk pada zipper dan kantong tersembunyi sehingga menyulitkan maling/copet merogoh karena bakal sulit mencari pintu masuk haha. Bahasanyaaa. Serta, anti cut alias tidak dapat disobek dengan benda tajam. Karena anti air, kita tidak perlu tambahan rain cover yang biasanya tersimpan di bagian bawah backpack. Ugh, ini backpack impian kita semua.


Selain Bobby, muncul begitu banyak pula backpack yang canggih nian. Yang bakal bikin kita geleng-geleng kepala saking canggihnya. Seperti SunPack dari FlexSolar berikut ini:


Didesain oleh Iris Liu dan Lilian Wang, harganya 59 Dollar. Apa keistimewaan SunPack? SunPack dilengkapi (terintegrasi) dengan panel surya Flextech! Jadi kalian tidak perlu repot membayar tambahan tagihan listrik karena ngecas ini itu terutama ngecas telepon genggam. SunPack juga bakal mempermudah kalian kalau berkegiatan di luar ruangan karena tidak perlu pusing mencari tempat colokan. Cihuy! Kebutuhan listrik untuk telepon genggam sudah disediakan oleh SunPack. Selain itu, SunPack dilengkapi fitur seperti penyimpanan terkotak, desain tahan air, penguncian anti-maling, kantong pemblokiran RFID untuk kartu, dan port USB dan headphone terpadu, tangguh dan fleksibel, panel tahan air, tahan debu, tahan cuaca. Dirancang dengan tekstur bergelombang, panel dapat menangkap tenaga matahari secara efisien kapan saja, di mana pun panel ini menghadap (tanpa perlu menghadap langsung ke matahari sebagai sumber listrik).

Awesome! Backpack impian kita semuaaaa *siul-siul*.

Satu lagi backpack impian yang patut diulas yaitu Duffle Sport. Duffle terdiri dari tiga kompartemen terpisah yang dapat berfungsi sendiri dan/atau juga bisa disatukan untuk fungsi lebih. Untuk mempermudah, silahkan lihat gambar berikut ini:


Gambar di atas adalah tiga Duffle yang terpisah. Kalau cuma pengen ke kantor dan membawa laptop, buku, dompet, barang printilan lainnya, pakai yang ini saja karena tipis dan lebih masuk akal, kan tidak mungkin juga ke kantor bawa carrier tapi isinya cuma laptop:


Kalau urusannya lebih ke banyak barang, misalnya butuh bawa pakaian ganti, atau butuh bawa cobek, silahkan gabungkan dengan yang satu ini:


Sedangkan kalau ingin bepergian selama seminggu dengan bawaan jauh lebih banyak: pakaian, sepatu, kamera, buku, handuk, dan lainnya, silahkan gabungkan yang berikut ini:

 
Keren sekali kan? Apabila hendak bepergian selama seminggu, bawa saja yang terakhir. Sudah sampai hotel, tinggalkan yang besar, jalan-jalan keliling kota misalnya, cukup memanggul yang kecil. Aaaarrggggh. Suka sekali sama desainnya! Duffle didesain oleh Johnathan Webster dan dibanderol 259 Dollar. Terberkatilah kau, Webster! Dan tentu ini backpack impian kita semua *siul tambah kencang*.


Seandainya diijinkan oleh Yang Di Atas, saya bakal pilih ketiganya. Maruk? Biarin deh. Soalnya betul-betul memenuhi impian sih. Apakah kalian sudah punya salah satu backpack di atas? Bagi tahu donk bagaimana rasanya memakai salah satu backpack impian itu.

Dunia ini, kata Mamatua, semakin canggih. Haha.

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Flores: Adventure Trails



Banyak buku yang bercerita tentang Indonesia dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, dari adat ke bahasa, dari budaya ke pakaian, dari gunung ke pantai, dari rumah adat ke kearifan lokal. Saya punya salah satu buku semacam itu, dikasih sama Ika Soewadji, dan masih sering saya baca sampai sekarang. Banyak juga buku yang bercerita panjang lebar tentang Pulau Flores (Flores overland). Saya sendiri pernah menulis materi siaran program Backpacker, pada tahun 2017, awal tentang Flores Overland. Biasanya orang menulis Flores Overland itu dari Barat ke arah Timur, tapi materi saya itu dari Timur ke arah Barat. Qiqiqiq. Sesekali kita membaliknya kan boleh-boleh saja.

Baca Juga : 5 Cozy Songs

Tentang si Buku

Buku yang saya bahas hari ini berjudul Flores: Adventure Trails. Buku ini ditulis (sekaligus sebagai koordinator penulis) oleh Meret L. Signer. Kontributor atau penulis lain diantaranya Heinz von Holzen, Rofinus Ndau, Unipala Maumere, idGuides. Publisher Flores: Adventure Trails adalah Swisscontact dan didukung oleh SECO (Swiss State Secretariat for Economic Affairs). Tahun terbit 2012. Wow banget, saya terkejut ketika membaca nama Unipala Maumere. Itu MAPALA-nya Universitas Nusa Nipa (Unipa). Oh ya, selain sambutan dari Bapak Sapta Nirwandar, juga ada sambutan Jurg Schneider dari SECO. Flores: Adventure Trails berbahasa Inggris tapi untuk ukuran saya yang bahasa Inggrisnya pas-pasan bisa yess atau no sudah bersyukur, isinya cukup mudah dipahami/dimengerti. 


Bagaimana dengan isinya?

Isinya dimulai dari perkenalan tentang Pulau Flores. Perkenalan yang sangat lengkap, menurut saya, karena memuat tentang kondisi geografis, iklim, Flores sebagai bagian dari ring of fire, flora dan fauna, kehidupan laut, zaman sebelum dan sesudah kolonial, manusia dan adat budayanya. Traveling directory sub bahasan berikutnya adalah tentang how to get there? (pesawat dan kapal laut) termasuk informasi kantor-kantor layanan tiket, akomodasi, tempat makan, komunikasi/alat komunikasi, keuangan, isu kesehatan, sampai etika.

Woman travellers:
Even thought Flores is predominantly Christian, woman dressing modestly is a cultural thing in Indonesia, rather than a religious one. Wear t-shirts that cover your shoulders and don't reveal too much of your legs. Wearing a bikini is fine at the beaches of Labuan Bajo and in designated hotel areas in other parts of Flores. Everywhere else, put on a t-shirt and shorts for swimming. (Meret L. Signer, 2012:23).


Sub berikutnya adalah persiapan yang harus dilakukan sebelum ke Flores. Menariknya adalah, dijelaskan tentang skala kesulitan trek, level kebugaran, barang bawaan dasar or basic check list sampai how to minimize your impact. Komplit kan ya. Basic check list ini umum saja seperti yang sering kita lakukan/bawa seperti kaca mata, head lamp, sun-block, first aid kit, kompas, pisau lipat, hingga tas plastik untuk menyimpan pakaian kotor dan/atau sampah. Puhlease, ke mana pun pergi jangan pernah membuang sampah sembarangan.


Setelah itu, pembaca memasuki inti sari buku ini. Yay! Dimulai dari  Labuan Bajo: Pulau Rinca, Pulau Komodo, Gunung Mbeliling, teruuuuus ke Timur sampai ketemu Gunung Kelimutu di Ende, Maumere dengan pantai-pantai dan Gunung Egon-nya, sampai Larantuka. Informasinya tidak sekadar ini looooh Gunung Mbeliling itu, tapi juga memuat tinggi gunung, luas daratan, flora dan faunanya, sampai tentang masyarakat tradisionalnya. 


Salah satu sub yang saya sukai adalah kisah tentang Rudolf von Reding:

In 1974, the elderly Count Rudolf von Reding from Biberegg, Switzerland, disappeared on the island of Komodo. For some unknown reason he got seperated from his group. When they realized he was missing, they immediately returned to the point where had last seen him - but they were too late. All they could find was the Count's backpack, camera, sunglasses, and stains of blood on the ground. Komodo dragons eat their prey whole, and von Reding's body was never found. Although it could neve be confirmed with 100% certainty, he was believed to have been eaten.

Sedih ya ... *ambil tissu*

Jadi ingat waktu ke Pulau Rinca, dimana salah seorang teman pejalan kami sedang datang bulan, dan si komodo berjalan ke arah teman tersebut. Horor-horor bergembira gimana gitu rasanya diikuti komodo, hehe.


Setelah Baca

Saya bahagia karena jadi banyak tahu tentang pulau sendiri. Sebagai pelahap buku, sekaligus blogger yang gemar menulis tentang perjalanan ke mana pun saya pergi, buku ini menjadi semacam panduan untuk menulis. Menulis tempat wisata itu tidak sekadar menggambarkan betapa indahnya; betapa menawannya; betapa mempesonanya, tetapi harus bisa lebih detail yaitu tentang letak lokasinya, jaraknya, transportasi dan akomodasi kalau bisa bisa dengan harganya, budaya masyarakat setempat (seperti harus memperhatikan etika berpakaian dan berbicara), hingga tingkat kesulitan perjalanan untuk mencapai lokasi tersebut. Sub buku juga penting untuk memilah atau mengklasifikasi tulisan agar tidak terkesan campur-aduk.

Saya sedang belajar untuk menulis seperti itu. Belajar terus tanpa henti. Istirahat sih boleh, berhenti jangan :)

Flores: Adventure Trails adalah buku yang super informatif meskipun tidak selengkap buku yang diterbitkan oleh Lonely Planet zaman dulu itu. Bahkan juga diceritakan tentang gempa yang pernah melanda Flores terutama Maumere dan Ende. Jika kalian punya waktu luang, jangan lupa untuk membacanya. Di mana bisa diperoleh, cobalah cari di toko buku terdekat, jika tidak, maka ini edisi terbatas yang dipublis oleh Swisscontact (yang selalu konsen dengan isu wisata).

Semoga bermanfaat, enjoy your weekend!


Cheers.