#PDL Blog Travel


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Dulu belum ada istilah niche blog. Tapi dulu saya sudah memilah tulisan untuk dipos di blog berbeda. Puluhan blog pun terdaftar dari akun yang sama. Hanya beberapa yang bertahan. Yang lain tidak dipublikasikan karena ceritanya sudah selesai. Misalnya blog soal Band Hulk yang gokil (ini band halu yang personilnya dari teman-teman Undernet mIRC dulu), atau blog serial-serial, atau blog puisi. Ah, gila ya ... saya dulu suka banget menulis puisi yang jeleknya minta ampun

Baca Juga : #PDL Ngojek Sepeda

Di #PDL kali ini, saya cuma pengen ngasih tahu bahwa dulu saya pernah bikin blog tentang perjalanan. Istilahnya blog travel


Blog itu di atas *tunjuk tautan* pernah mati lama banget. Lantas karena satu dan lain hal kembali saya isi dengan konten-konten tentang perjalanan ke sana sini. Kalau dulu banyak tulisan tentang perjalanan saya ke kota lain, tapi sekarang lebih banyak menulis tentang Kabupaten Ende tercinta. Sesuai jargonnya blog itu: traveling the world, start from your own hometown. Artinya? Cari sendiri hahaha *ditimpuk*

Baca Juga : I Can Sleep Everywhere

Jadi, kalau kalian pengen tahu perjalanan saya; tempat wisata dan/atau kuliner dan/atau sekadar cerita jalan-jalan, silahkan meluncur pakai penggorengan ke blog tersebut.

#UdahGituAja


Cheers.

#PDL Blog Travel


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Dulu belum ada istilah niche blog. Tapi dulu saya sudah memilah tulisan untuk dipos di blog berbeda. Puluhan blog pun terdaftar dari akun yang sama. Hanya beberapa yang bertahan. Yang lain tidak dipublikasikan karena ceritanya sudah selesai. Misalnya blog soal Band Hulk yang gokil (ini band halu yang personilnya dari teman-teman Undernet mIRC dulu), atau blog serial-serial, atau blog puisi. Ah, gila ya ... saya dulu suka banget menulis puisi yang jeleknya minta ampun

Baca Juga : #PDL Ngojek Sepeda

Di #PDL kali ini, saya cuma pengen ngasih tahu bahwa dulu saya pernah bikin blog tentang perjalanan. Istilahnya blog travel


Blog itu di atas *tunjuk tautan* pernah mati lama banget. Lantas karena satu dan lain hal kembali saya isi dengan konten-konten tentang perjalanan ke sana sini. Kalau dulu banyak tulisan tentang perjalanan saya ke kota lain, tapi sekarang lebih banyak menulis tentang Kabupaten Ende tercinta. Sesuai jargonnya blog itu: traveling the world, start from your own hometown. Artinya? Cari sendiri hahaha *ditimpuk*

Baca Juga : I Can Sleep Everywhere

Jadi, kalau kalian pengen tahu perjalanan saya; tempat wisata dan/atau kuliner dan/atau sekadar cerita jalan-jalan, silahkan meluncur pakai penggorengan ke blog tersebut.

#UdahGituAja


Cheers.

#PDL Harmonisasi Di Saung Angklung Udjo

Nemu foto ini di situs travelnya detik(dot)com.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; termasuk tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***

Rabu kemarin saya membaca komentar dari Himawan pada pos Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah tentang penduduk lokal yang kebingungan waktu kami bertanya lokasi sanggar dimaksud. Himawan (or Hino) mengandaikan penduduk lokal sekitar sanggar juga dilibatkan di dalam kegiatan-kegiatan sanggar sehingga bisa sespektakuler Saung Angklung Mang Udjo atau Saung Angklung Udjo. Penduduk memang terlibat, namun anak-anaknya saja yang dilibatkan ikutan sanggar tersebut, berlatih Tari Topeng bersama cucu Miras yaitu Aerli.


Bicara soal Saung Angklung Udjo artinya bicara soal wisata budaya yang dijaga dan dilestarikan dengan kemasan sangat menarik. Saung Angklung Udjo terletak di Jalan Padasuka 118, Bandung, Jawa Barat. Lokasi ini dibagi-bagi menjadi tempat pertunjukan, toko souvenir, tempat makan, dan lain-lain yang tentu sekarang sudah jauh lebih berkembang. Tahun 2010 waktu ke Saung Angklung Udjo saya sangat menikmati cuci mata di toko souvenir-nya itu. Sebagai wanita imut dan beperasaan halus saya juga gemas donk melihat ragam benda mini-mini menggemaskan salah satunya gantungan kunci berbentuk angklung.


Hari itu saya dan Acie berkesempatan menonton Pertunjukan Bambu Petang. Seperti foto di awal pos ini kalian bisa melihat seorang perempuan berkebaya biru dan anak-anak kecil bermain angklung. Di sini lah proses pengenalan dan pelestariannya terjadi karena secara tidak langsung penonton dengan latar belakang beragam itu diedukasi tentang angklung; cara memegang, cara memainkannya, dan betapa angklung tidak dapat berdiri sendiri-sendiri alias memang harus dimainkan dalam kelompok, dengan anggota yang sudah tahu nada dasar yang mereka 'pegang'. Kira-kira begitulah.


Kemudian panitia/pengelola membagikan kami angklung masing-masing satu. Sudah tahu cara memegang dan memainkan alat musik ini, lantas perempuan berkebaya biru mengetes nada masing-masing kelompok, kira-kira sepuluh sampai limabelas orang per kelompok. Dia memberi instruksi pada kami. Kami, yang belum saling mengenal dan kebetulan sama-sama terdampar di suatu pertunjukan petang ini, hanya dengan melihat arah tangan si instruktur, bisa memainkan satu lagu dengan utuh yaitu lagu Ibu Kartini.


Aweeeesomeeee! Harmonisasi yang tercipta menggenapi kepuasan kami mengunjungi Saung Angklung Udjo. Terima kasih untuk pengalaman yang luar biasa ini.

Usai bermain angklung, kami menyaksikan pertunjukan wayang golek. Tapi saya lupa kisah tentang apakah yang ditampilkan hari itu.


Usai pertunjukan wayang golek, saya dan Acie masih sempat berlama-lama di toko souvenir, melihat sana-sini, cuci mata, gemas-gemasan sama penjaga lelaki, terus membeli beberapa souvenir, dan memutuskan untuk pulang. Kami masih punya tugas mencari lokasi pembuatan / pengrajin wayang golek. Untungnya saya masih menyimpan foto si bapak di bawah ini:


Situs yang memuat artikel tentang Golek; Bukan Boneka Biasa yang saya tulis untuk Detik, memang belum bisa dibuka, untungnya Om Bisot pernah membuat status tentangnya di Facebook. Hahaha. Sumpah, ngakak tiarap saya melihat foto yang satu ini:


Terima kasih, Om *jempol paling gede* berkat ini, tidak hilang jejak digitalnya *tsaaaah*.


Jadi kalau ditanya, pernahkah saya ke Saung Angklung Udjo? Pernah, saya pernah ke sana. Saya pernah bermain angklung dalam kelompok penonton dan kerja sama tim ini menghasilkan harmonisasi yang mengagumkan. Kita harus banyak belajar dari (filosofi) angklung ini. Dan pernah, saya juga pernah mengunjungi pengrajin wayang golek dan pura-pura memainkannya supaya difoto sama Acie. Ternyata saya pernah juga PERNAH SEBESAR ITU. Hahaha ...

Bagaimana dengan pengalaman kalian?


Cheers.

#PDL Datang, Makan, Ngerujak, Pulang

Mei dan Ocha di Saung Adat Kolibari.


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***
  

Rabu, 22 Agustus 2018, umat Muslim memperingati Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Saya juga menyebutnya Hari Kemenangan Atas Percaya dan Bakti serta pengorbanan pada Allah SWT yang waktu itu dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim AS terhadap anaknya yaitu Nabi Ismail AS. Percaya dan bakti Nabi Ibrahim AS ini lah yang wajib kita contohi. Sebagai gantinya, domba diberikan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS. Selain itu, saya juga menyebutnya Hari Raya Haji. Selamat kepada Bapak, Ibu, Saudara/i, semuanya yang telah menjalankan ibadah Haji. Insha Allah suatu saat nanti saya menyusul.

Baca Juga:

Sebenarnya hari libur Rabu kemarin itu saya tidak punya rencana ke mana-mana meskipun sudah diajak Kakak Pacar untuk makan siang di rumahnya. Permasalahan timbul setelah teman si Ocha yang bernama Mei datang ke rumah. Nampaknya mereka desperate karena dalam beberapa minggu belum pernah ke luar rumah untuk sekadar menikmati keindahan alam yang menakjubkan. Walhasil saya meminta Ocha menghubungi Akiem dan Effie; pasangan paling sering cek-cok se-dunia-kami. 

Pukul 14.00 Wita tiga motor matic berangkat menuju Kolibari. Mei memboceng Ocha, Akiem tentu dengan Effie, saya dan Thika. Sebelumnya saya sudah meminta Ocha menghubungi Kakak Pacar bahwa tawaran makan siang diterima dengan senang hati sekaligus membawa pasukan, hahaha.



Adalah sungkan yang tiada terkira ketika kami datang, kopi dan teh disuguhkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Inilah salah satu keistimewaan di Kolibari *tsah*. Lantas, tidak berapa lama, Kakak Pacar mengajak kami makan. Katanya, "Sudah dimasakin sama Kak Fitria tuh, sana gih kalian makan dulu sebelum dingin!" Hah? Jadi, mereka memasak hanya untuk kami berenam? Maluuuu *tutup muka tapi ngintip*



Makan siang yang kesorean itu disuguhi nasi merah dan aneka menu daging kambing. Ada semur, ada soto. Yang awalnya malu-malu, eh jadi kalap hahaha. Manapula dari rumah kakak ipar yang satu, mendadak kami mendapat kiriman sepiring semur lagi. Hah? Yang makan hanya enam orang tapi menunya untuk limabelas orang. Hehe. Pas lagi makan begitu, muncul makhluk bernama ngengat, berwarna kuning, hinggap di jari manis saya dan tak mau pergi.




Katanya sih itu pertanda. Pertanda apa saya tidak tahu. Mungkin pertanda bahwa ngengat juga butuh tempat untuk ngetem :D qiqiqiqi. Awalnya saya sudah pos di FB bahwa ini kupu-kupu, tapi Cahyadi mengoreksinya bahwa ini ngengat. Karena, sayap kupu-kupu akan terkatup apabila sedang hinggap/ngetem begitu.

Dan benar kata orang, membawa anak gadis itu adaaa saja ide dan kemauannya. Si Thika mengajak rujakan. Pepaya dan mangga pun langsung didatangkan dari kebun terdekat. Bahkan untuk cabe pun, di depan rumah kakak ipar ada pohon cabe lumayan gede:




Pengen angkut ini pohon cabe pulang ke rumah. Sore itu bermodal kacang, cabe, garam, dan gula sabu (gula kental asal Pulau Sabu), pepaya dan mangga dari kebun, maka jadilah rujaaaaak.




Habis ngerujak, eh si Kakak Pacar nawarin kelapa muda. Busyet dah. Anak-anak pada mau, tapi kelapanya masih dipetik sama si Arifin (adik si Arifin ini namanya Arif hahah), makanya mereka pada ngerusuh sama bocah setempat. Si Ocha main sepeda salah satu bocah. Thika, Mei, dan Effie malah main bulu tangkis. Sampai kemudian si Mei mengusulkan untuk mendaki ke bukit sebelah ke puncak Kezimara. Waaaa saya menyerah! Hiihi. Walhasil yang naik ke Kezimara cuma si Mei dan Ocha, Thika lanjut main bulu tangkis, saya dan Effie tidur, setelah saya menghabiskan satu kelapa muda nan segar.

Sekitar pukul 18.30 Wita kami pun pamit pulang. Ocha membawa oleh-oleh kelapa muda :D hehehe.

Pernah, saya pernah begitu, pergi ke rumah Kakak Pacar cuma untuk makan, ngerujak, pulang. Senang-senang di rumah orang belum ada hukum yang melarang. Boleh-boleh saja, sah-sah saja. Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

#PDL Snorkeling di Perairan Pulau Tiga




#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***
  

Saya tidak bisa berenang. It is funny! Indeed. Mengingat saya tinggal di Kota Ende yang dikelilingi laut (dan gunung). Bahkan jarak dari rumah saya ke Pantai Ende hanya membutuhkan waktu sepuluh menit berjalan kaki. Tapi saya tergila-gila sama laut. Untuk mengatasinya, setiap kali ke pantai/laut pasti membawa binen alias ban dalam mobil yang telah digelembungkan (dan/atau jerigen kosong). Lebih sering membawa binen karena satu binen bisa dipakai beberapa anak sekaligus. Hampir setiap rumah punya binen yang dikeluarkan setiap Hari Minggu saat anak-anak memutuskan untuk mandi laut ketimbang bermain masak-masakan atau main wayang.


Baca Juga:


Setelah besar (besar, bukan tua, hahaha), binen diganti lifejacket yang lebih sering kami sebut pelampung, itu pun milik Kakak Ilham Himawan, hahaha.

Bertentangan kan ya? Tergila-gila pada laut tetapi tidak bisa berenang. Padahal laut itu punya kadar garam yang bakal lebih memudahkan kita belajar berenang. Tapi, tetap saja sejak dulu sampai sekarang saya tidak sukses belajar berenang dengan mentor Pak Christian sekalipun di kolam renang Wailiti - Maumere. Yang ada, saya malah terpukau sama sesuatu berbentuk putih di dasar kolam, mencoba meraihnya, dan ternyata itu ... kaporit. Gua kira batu bertuah!

Mau ketawa ... ketawa saja ... :D

Tidak bisa berenang bukan aib, kawan. Tidak bisa berenang bukan obstacle yang meluruhkan semangat untuk cebar-cebur di laut. Kan ada pelampungnya Kak Ilham, hehe. 




Suatu kali kami, anak-anak Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT) Chapte Ende, pergi ke Taman Laut 17 Pulau Riung atau biasa disebut Taman Laut Riung. Tujuannnya ada dua yaitu untuk bersenang-senang setelah dirundung aktivitas yang malang *halah* dan untuk menulis hasil perjalanan tersebut di blog sebagai salah satu cara mempromosikan wisata di NTT. Seperti biasa kami menginap di rumah Rustam, salah seorang sahabat masa SMA yang memiliki penginapan bernama Nirvana Bungalow. Setiap kali ke sana kami memang lebih sering tidur di rumah besar di bagian depan jejeran kamar-kamar bungalow. Sekalian berhemat. Sekalian bikin Rustam keki karena dapurnya otomatis dikuasai oleh kami. Haha.


Oskar, sahabat multi-talent!


Perahu motor sewaan yang membawa kami hari itu mengikuti rute umum yaitu dari Pelabuhan Riung ke Pulau Kelelawar terlebih dahulu ke arah Barat, baru kembali ke arah Timur melewati Pulau Rutong, Pulau Meja, daaaan sampailah ke Pulau Tiga. Rustam berkata bahwa jika ingin snorkeling, lakukan di perairan Pulau Tiga saja. Selain terumbu karangnya memukau, arusnya juga ramah jantung. Dan kami memang selalu ngetem di Pulau Tiga.


Ini namanya Pulau Kelelawar atau Pulau Ontoloe.


Sontak pelampung Kak Ilham menjadi primadona dan rebutan. Masalahnya, saat itu di Dermaga Riung belum ada tempat penyewaan pelampung. Walhasil, dengan sedikit lirikan Ibu Suri saya pun memperoleh kesempatan pertama *menulis ini rasanya lucu sekali*. Setelah pelampung dipakai, masker snorkel juga dipakai, meloncatlah saya ke laut menyusul si Rustam. Aksi meloncat ini meninggalkan perahu yang oleng di belakang akibat bobot saya memang tidak sedikit.

Kalian tahu ... batas antara dunia atas dan dunia bawah itu hanya gerakan mengangkat dan menenggelamkan kepala. Apa? Kalian sudah tahu? :p

Rustam memandu saya snorkeling selama kurang lebih tigapuluh menit. Bagi saya tidak ada satu pun yang dapat mengurangi kebahagiaan bisa menyaksikan pemandangan bawah laut yang memukau. Ikan-ikan hias aneka jenis dan bentuk berenang bebas, terumbu karang aneka bentuk dan warna yang cantik, mawar laut, bintang laut, semuanya ada. Andaikan di rumah saya ada kolam air laut yang luaaaas, saya bakal menjadikannya seperti taman laut di Riung ini. Tigapuluh menit, kayak lagunya Zamrud, sangat kurang. Saya masih mau terus skin dive. Tapi ... yang lain juga pengen snorkeling dan sama-sama tidak bisa berenang *ngakak tiarap*.


Dokter Said, sahabat sejak masa SMA sampai sekarang.


Saya sampai bilang: pengen ke Riung lagi tapi hanya untuk snorkeling. Tidak melakukan aktivitas lainnya! Dan benar. Pada kesempatan berikut-berikutnya setiap kali ke Riung yang paling pertama saya lakukan adalah snorkeling selama mungkin dan sepuas-puasnya, baru lah menikmati ikan dan cumi bakar di pantai Pulau Tiga. Snorkeling itu ibarat obat kehidupan saya *halah*. Hehe.

Pernah, saya pernah begitu :)

Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

#PDL Pondok Batu Biru Penggajawa

Thika Pharmantara in action di Pondok Batu Biru.

Pulau Flores yang membentang dari Labuan Bajo (Barat) sampai ke Larantuka (Timur) punya titik tengah. Titik tengah Pulau Flores terletak di Kabupaten Ende tepatnya di KM 17 arah Timur Kota Ende, di pinggir jalan raya antar kabupaten se-Pulau-Flores. Titik tengah Pulau Flores ini ditandai dengan sebuah batu mirip menhir bernama Watu Gamba yang oleh penduduk setempat digambarkan sebagai seorang perempuan. Kembaran batu ini bernama Rera Nganggo yang digambarkan sebagai seorang laki-laki. Pada Watu Gamba menempel sebuah prasasti bertulis: Floresweg Geopend. Dapat dilihat pada foto si Regina, adik sepupu saya, di bawah ini:
 
Regina, adik sepupu saya yang menetap di Kota Maumere.

Baca Juga:

Lahir dan besar di Kota Ende, Ibu Kota Kabupaten Ende, membikin saya mudah mengeksplor tempat-tempat wisata yang ada di kabupaten tetangga seperti Taman Laut 17 Pulau Riung dan Kampung Adat Bena di Kabupaten Ngada, hamparan sabana di Kabupaten Nagekeo, pantai-pantai pasir putih di Kabupaten Sikka, mengikuti Semana Santa di Kabupaten Flores Timur, ke Pulau Rinca bertemu sahabat lama si komodo di Kabupaten Manggarai Barat, sampai keliling Pulau Adonara. Tapi, lahir dan besar di Kota Ende bukan jaminan saya sudah mengeksplor semua tempat wisata di Kabupaten Ende meskipun sebagian besarnya sudah saya jejaki seperti:

1. Danau Kelimutu.
2. Mata Air Ae Oka - Detusoko.
3. Pantai Anabhara (pasir putih).
4. Hutan Wisata Kebesani.
5. Pantai Batu Hijau Penggajawa.
6. Kampung Rumah Adat Wologai.
7. Pantai Mauwaru - Arubara.
8. Mendaki Gunung Meja dan Gunung Kengo.
9. Air Terjun Murundao - Moni.
10. Kolibari (bukit pandang) dan Kezimara.

Sepuluh dulu ya, nanti kalian ngiler hahaha. Sepuluh itu pun belum termasuk pantai-pantai di dalam Kota Ende sendiri, Situs Bung Karno, Taman Renungan Bung Karno, Gedung Imaculata, sampai Desa Adat dengan rumah adatnya di Wolotopo.

Yang menarik dari tempat wisata adalah tumbuh subur wisata buatan yang memadukan wisata alam dan kuliner. Salah satunya terletak di Pantai Penggajawa (arah Barat Kota Ende). Tempat ini bernama Pondok Batu Biru - Penggajawa. Kalau ada yang belum tahu, Penggajawa adalah nama desa dan nama pantai, tentu di pinggir laut / pantai tempat batu-batu berwarna hijau, biru, dan lainnya, berserak. Oleh para petani batu, batu-batu ini dikumpulkan dan diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan warna. Batu-batu Penggajawa sudah sampai diekspor ke luar negeri diantaranya ke Eropa.

Salah seorang petani batu.

Batu-batunya unik!

Pondok Batu Biru berkonsep saung pinggir laut/pantai yang dibangun berbagai ukuran (untuk kelompok kecil dan/atau keluarga besar). Pemandangan utamanya jelas laut selatan Pulau Flores, bebatuan Pantai Penggajawa, dan Gunung Meja di arah Timurnya. Pengelola tempat ini tidak saja membangun tempat makan yang bagus tetapi juga spot-spot yang instagramable yang jadi buruan pengunjung, ruang shalat, kamar mandi yang selalu bersih dan stok air bersih yang tidak terbatas, serta menu-menu yang menggigit lidah.

Tangga menuju ayunan pinggir laut.

Ayunan sederhana tapi jadi salah satu magnet terpopuler. 

Ocha dan Stanis.

Setiap kali ke Pondok Batu Biru saya selalu diserang kantuk. Bagaimana tidak? Suasannya yang cozy benar-benar bikin pengen tidurrrrrr. Manapula makanan dan minuman yang dipesan sedang dipersiapkan, jadi sambil ngobrol - sambil tidur-tidur ayam, hehe.

Ini waktu perginya bareng Abah Yudin dan Ryan.

Karena ini pos tentang PDL (Pernah DiLakukan) jadi saya mau cerita bahwa saya sering pergi ke tempat makan Pondok Batu Biru ini baik sama teman-teman DMBC maupun sama teman-teman lainnya atau sama keluarga besar Pharmantara. Saya pernah pergi ke Pondok Batu Biru buat sesi foto-foto. Waktu itu berdua sama si Ocha saya pengen fotoin barang dagangan dengan lokasi berbeda. Si Ocha jadi modelnya *tsaaah*. Maka pergilah kami ke sana, eh si Stanis juga ikut. 
 
Sebelum foto-foto, kita pesan makanannya terlebih dahulu; ikan bakar, ikan kuah asam, tumis kangkung, dan es kelapa.


Ocha dan lembaran Sarung Mangga.

Ocha dan selendang tenun ikat.

Pas banget, usai foto-foto, makanannya pun disajikan di salah satu saung terbesar pilihan kami. Hanya bertiga dan memilih saung terbesar ukuran keluarga besar itu bikin keki, pastinya, hahaha. Makan sambil ngobrol, kuping dibuai debur ombak di pantai, mengasyikkan sekali. Kalau ada yang kurang, kita bakal minta tambah ke pelayannya, "Tambah seporsi ikan bakar donk!" dan lain sebagainya. Selesai makan tidak perlu ke kamar mandi, karena di sekitar saung tersedia tempat mencuci tangan lengkap dengan sabun dan kain lap tangannya.

Pernah, saya pernah begitu, pergi ke tempat wisata untuk foto-foto barang dagangan sambil menikmati wisata alam dan wisata kuliner sekaligus! Kata pepatah: sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Why not?

Sudah beberapa bulan ini tidak ke Pondok Batu Biru, nanti mau ke sana lagi ah :) Kalau kalian sempat ke Ende, coba mampir ke Pondok Batu Biru dan buktikan apa yang sudah saya ceritakan kali ini, tapi awas ketiduran sampai malam! Hahaha. Suasananya bikin ngantuk!



Cheers.