#PDL Blog Travel


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Dulu belum ada istilah niche blog. Tapi dulu saya sudah memilah tulisan untuk dipos di blog berbeda. Puluhan blog pun terdaftar dari akun yang sama. Hanya beberapa yang bertahan. Yang lain tidak dipublikasikan karena ceritanya sudah selesai. Misalnya blog soal Band Hulk yang gokil (ini band halu yang personilnya dari teman-teman Undernet mIRC dulu), atau blog serial-serial, atau blog puisi. Ah, gila ya ... saya dulu suka banget menulis puisi yang jeleknya minta ampun

Baca Juga : #PDL Ngojek Sepeda

Di #PDL kali ini, saya cuma pengen ngasih tahu bahwa dulu saya pernah bikin blog tentang perjalanan. Istilahnya blog travel


Blog itu di atas *tunjuk tautan* pernah mati lama banget. Lantas karena satu dan lain hal kembali saya isi dengan konten-konten tentang perjalanan ke sana sini. Kalau dulu banyak tulisan tentang perjalanan saya ke kota lain, tapi sekarang lebih banyak menulis tentang Kabupaten Ende tercinta. Sesuai jargonnya blog itu: traveling the world, start from your own hometown. Artinya? Cari sendiri hahaha *ditimpuk*

Baca Juga : I Can Sleep Everywhere

Jadi, kalau kalian pengen tahu perjalanan saya; tempat wisata dan/atau kuliner dan/atau sekadar cerita jalan-jalan, silahkan meluncur pakai penggorengan ke blog tersebut.

#UdahGituAja


Cheers.

#PDL Blog Travel


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Dulu belum ada istilah niche blog. Tapi dulu saya sudah memilah tulisan untuk dipos di blog berbeda. Puluhan blog pun terdaftar dari akun yang sama. Hanya beberapa yang bertahan. Yang lain tidak dipublikasikan karena ceritanya sudah selesai. Misalnya blog soal Band Hulk yang gokil (ini band halu yang personilnya dari teman-teman Undernet mIRC dulu), atau blog serial-serial, atau blog puisi. Ah, gila ya ... saya dulu suka banget menulis puisi yang jeleknya minta ampun

Baca Juga : #PDL Ngojek Sepeda

Di #PDL kali ini, saya cuma pengen ngasih tahu bahwa dulu saya pernah bikin blog tentang perjalanan. Istilahnya blog travel


Blog itu di atas *tunjuk tautan* pernah mati lama banget. Lantas karena satu dan lain hal kembali saya isi dengan konten-konten tentang perjalanan ke sana sini. Kalau dulu banyak tulisan tentang perjalanan saya ke kota lain, tapi sekarang lebih banyak menulis tentang Kabupaten Ende tercinta. Sesuai jargonnya blog itu: traveling the world, start from your own hometown. Artinya? Cari sendiri hahaha *ditimpuk*

Baca Juga : I Can Sleep Everywhere

Jadi, kalau kalian pengen tahu perjalanan saya; tempat wisata dan/atau kuliner dan/atau sekadar cerita jalan-jalan, silahkan meluncur pakai penggorengan ke blog tersebut.

#UdahGituAja


Cheers.

Asuransi Perjalanan, Perlu Ngga Ya?

Indonesian Lifestyle Blogger - Salmanbiroe - Happy One ID

Korea Selatan itu jadi destinasi favorite semua orang, termasuk saya. Ya, walaupun nomor satu masih tetap Jepang, Korea ini bisa jadi nomor dua atau tigalah setelah Thailand. Bukan hanya karena K-Drama yang membuat korea wajib dikunjungi namun karena musimnya yang ngga kayak Indonesia yang hanya musim hujan dan panas saja, di Korea memiliki 4 musim yang selalu menarik untuk dikunjungi. 

Musim dingin, semi, panas dan gugur. Tinggal pilih aja mau ke Korea pada saat yang mana, tapi memang yang paling menarik adalah pada saat peralihan musim dingin ke musim semi. Suhu udara yang tidak terlalu dingin dan cenderung sejuk, bikin saya ngga sekalipun mengeluh akan cuaca. Tapi, memang cuaca ngga bisa ditebak, yang seharusnya musim semi alias musim sakura sudah datang, namun ternyata malah mundur. Jadilah saya harus merasakan dinginnya Korea selama 7 hari disana. 


Informasi detail termasuk cuaca dan suhu pada saat di Korea sangatlah penting. Jangan sampai salah kostum dan membuat perjalananmu ngga asik lagi gara-gara mengeluh tentang cuaca. Banyak sekali website yang menyediakan beragam info cuaca bahkan sampai detail harian dan jam. Jadi ngga ada lagi salah kostum dan salah membawa baju pada saat cuaca dingin seperti ini. Salah-salah bisa bikin badan meriang kena flu dan yang paling parah bisa kena sinus seperti saya. 

Walaupun sudah pakai jaket tebal dan long john (semacam dalaman hangat), namun tetap aja badan ini ngga mampu melawan suhu dibawah 10 derajat celcius. Cuaca di Korea jadi sangat ekstrim karena dipengaruhi cuca global. Jadi bukan hanya di Korea saja yang mengalami mundur musimnya melainkan banyak negara seperti Jepang juga. Dalam keadaan dingin, flu dan sinus mendera, maka obat-obatanlah yang sangat diperlukan. Untung aja bawa penghangat badan seperti jahe dan obat atau jamu kemasan. Setelah minum dan isirahat yang cukup, maka kondisi badan mulai membaik.


Oh iya, tempat favorite selama di Korea itu jatuh pada Nami Island. Nami ini terkenal gara-gara menjadi lokasi syuting Winter Sonata yang populer pada tahun 2000an. Di drama itu, pulau Nami benar-benar tertutup oleh salju, namun pada saat saya datang, hanya ada pohom-pohon tanpa daun. Walau tanpa salju, tetap saja dinginnya udara tidak dapat disembunyikan sama sekali. 

Tapi Nami memang menarik walaupun pohonnya tanpa daun sekalipun, jutsru itulah yang membuat Nami dijadikan tempat untuk berfoto dengan latar pohon-pohon besar yang berderetan rapi dan mungkin inilah satu-satunya pulau yang sangat bagus untuk difoto dalam keadaan apapun seperti musim dingin dan salju sekalipun.


Pada saat ke Korea, beruntung saya hanya flu dan sinus saja. Beda cerita pada saat saya di Jepang, pada bulan Oktober, pada saat musim gugur. Sebetulnya, peralihan antara musim panas ke musim gugur. Cuacanya banyak hujan dengan suhu belasan derajat celcius. Ini pertama kalinya saya sakit herpes dan sangat kesulitan mencari obat-obatan karena regulasi di Jepang sangat berbeda. Jadi obat yang saya butuhkan ternyata tidak dijual di apotek-apotek, hanya ada obat pereda nyeri yang akhirnya saya beli untuk menahan radang dan nyeri. 

Beruntung, saya bisa melewati kondisi tersebut dan pada saat di Jakarta, saya segera membeli obat-obatan yang ternyata juga sangat sulit didapatkan di Jakarta. Pengalaman yang luar biasa pada saat di Jepang, karena saya  pun shock ketika mendapati tubuh saya bentol-bentol seperti cacar air dan semakin menjalar disekitar bentolan itu. Intinya, hal-hal tak terduga seperti ini bisa terjadi pada siapapun di negara orang dan kita ngga akan bisa menolaknya. 


Selain prepare obat-obatan dan pakaian yang sesuai dengan cuaca, saya menganggap bahwa asuransi perjalanan merupakan sebuah keharusan. Apalagi kita hanya perlu membayar seharga makan siang di sebuah restoran saja sekitar dibawah 50 ribu per sekali perjalanan. Jika terjadi banyak hal tidak diinginkan, maka asuransi perjalanan bisa membuat kita tenang dan bisa melakukan perjalanan kembali.

Lalu apa asuransi yang bisa menjamin kita dalam perjalanan? 


Happhy One ID, sebuah asuransi yang menawarkan 4 macam yaitu happy me, happy edu, happy home dan happy trip. Happy Trip memberikan keamanan dan perlindungan atas resiko sebelum dan selama perjalanan luar negeri. Beberapa keunggulan asuransi perjalanan happyTrip Internasional:

Perlindungan Pembatalan Perjalanan

Penggantian biaya perjalanan yang telah dibayar di muka bila adanya pembatalan perjalanan karena hal-hal di luar kuasa tertanggung.

Perlindungan Terhadap Bagasi dan Barang Pribadi

Perlindungan atas kehilangan dan kerusakan bagasi termasuk barang-barang di dalamnya serta barang yang dipakai atau dibawa selama melakukan perjalanan

Biaya Medis Akibat Kecelakaan dan Sakit

Penggantian biaya medis yang diperlukan akibat kecelakaan atau sakit selama perjalanan Anda.

Perlindungan Keterlambatan Penerbangan

Santunan untuk setiap 6 jam keterlambatan pada pesawat, kereta api atau kapal laut (sampai batas maksimum yang tertera dalam sertifikat polis) akibat kejadian di luar kuasa tertanggung serta pertanggungan atas biaya pembatalan, biaya akomodasi, dan biaya tambahan lainnya yang muncul akibat adanya perubahan jadwal.

Selengkapnya mengenai happy trip di https://www.happyone.id/happy-trip/product-info

Perjalanan Menuju Pantai Di Belitung Dari Pangkal Pinang, Bumi Laskar Pelangi



Perjalanan saya berlanjut ke Belitung dari Pangkal Pinang, Bangka. Pilihan saya jatuh kepada pesawat kecil yang sering disebut ATR. Jangan bayangkan pesawat besar seperti boeing ataupun air bus yang sering membawa dari Jakarta menuju Denpasar, penumpangnya saja tak sampai seratus. Tentu saja jantung ini dibawa dalam situasi yang tak nyaman seperti sedang mengucapkan Ijab Qabul dalam pernikahan saja. Untung saja Hendrik sangat berpengalaman dalam hal pesawat-pesawatan. Maklum saja, pacar yang tak kunjung dinikahinya itu berprofesi sebagai pramugari salah satu maskapai besar di Indonesia.

“Ndrik, ini bener ngga apa-apa?”

Wajah saya setengah pucat ketika saya duduk dan mengenakan sabuk pengaman.

“Biasanya sih banyak turbulence, Man.”

Hendrik bukan malah meredakan sport jantung ini namun menambah ketakutan saya.

Sebetulnya, selain jalur udara kami bias naik jalur laut dengan durasi sekitar 4 jam perjalanan, namun Tuhan Maha Baik dan jadilah kami naik pesawat yang tengah tinggal landas ini. Saya memejamkan mata tanda berdoa dengan konsentrasi penuh. Sementara Hendrik hanya tersenyum puas sambal sesekali menghujat betapa lemahnya seorang traveller yang sering mengunakan berbagai moda transportasi ini.







Drama di dalam pesawat tak berlangsung lama, hanya sekitar 45 menit. Pramugari tengah mengecek sabuk pengaman kami sebelum mendarat di Bandar Udara H. AS. Hanand Joeddin, Tanjung Pandan, Belitung.

Suara deru pesawat telah berhenti dan kami semuanya turun menuju bandara. Diluar kami berdua telah dijemput oleh supir dari kebun tempat kami melakukan pekerjaan. Sesuai rencana, sebelum menuju penginapan, kami berkeliling terlebih dahulu di pantai Laskar Pelangi dan restoran seafood untuk makan malam. 




Beruntung supir kami dengan senang hati mengantarkan kami ke Pantai Tajung Tinggi dan lebih ternama dengan sebutan Pantai Laskar Pelangi. Sebelum setenar sekarang, pantai ini hanya dinikmati warga sekitar wilayah Sumatra. Semenjak dijadikan sebagai salah satu tempat syuting Laskar Pelangi, maka nama film garapan Riri Reza ini melekat dan dijadikan sebagai ikon wisata. Hasilnya, pantai sangat booming. Bahkan warga menyebut jika tidak menginjakan kaki di pantai ini, tidak disebut ke Belitung.

Jarak tempuh dari Bandara ke pantai tak lebih dari satu jam. Jalanan di Belitung lumayan bersahabat namun memang kurang lebar karena belum dilakukan pelebaran. Namun karena sangat jarang mobil yang melintas tak membuat kenyamanan kami berdua berkurang.


Finally, kami sampai di Pantai Laskar Pelangi. Cuaca saat itu cukup berawan sehingga warna biru lautnya terlihat sangat pucat. Walaupun sempat kecewa, namun akhirnya dinikmati sebagai bagian dari liburan yang singkat, tidak lebih dari beberapa jam ini. Kata orang, aji mumpung namun kapan lagi kan?

Laskar Pelangi merupakan sebuah Novel yang diangkat ke layer lebar. Melalui tangan dingin Riri Reza dan Mira Lesmana, Laskar Pelangi mampu menghipnotis penonton Indonesia dengan film tentang mimpi seorang anak dari sekolah yang tak layak disebut sekolah. Namun siapa sangka, muridnya mampu berprestasi dan membungkam dunia yang selama ini memandang sebelah mata.

Sebelum betul-betul menginjakan kaki di pantai, saya mengabadikan tulisan Laskar Pelangi yang berada tak jauh dari bibir pantai. Seperti biasa, setelah saya, kini giliran Hendrik yang saya foto. Rambut plontos dan senyum yang membuat siapapun yang melihat terpingkal-pingkal membuat saya pun ikut tertawa. 





Karena waktu kami tak banyak, kami langsung menuju ke Pantai. Sore itu tak begitu banyak orang, maklum saja hari ini masih weekdays belum menginjak weekend. Entah kalau hari jumat, sabtu dan minggu tentu aja akan sangat berbeda.

Pose, jepret, pose, jepret, pose, jepret, begitulah yang kami lakukan untuk mengejar momen yang sebentar lagi sunset namun mendung. Sementara, kami pun telah ditunggu dan ditelpon oleh pemilik penginapan yang lumayan jauh dari pantai. Dan sebelum sampai di penginapan, kami mampir di sebuah restoran seafood yang lumayan ternama di Belitung.

Selain jelajah pantai, jika masih memiliki waktu yang cukup panjang bisa menambahkan Pulau Lengkuas, Pulau Basir, Pulau Pelayar dan Pulau Burong sebagai tambahan destinasi. Selain jelajah pulau, kota 1001 kopi yang terletak di timur pulau Belitung ini bisa dijadikan alternatif kunjungan di hari lain.



Selain pantai, Belitung pun memiliki Museum Kata Andrea Hirata dan Museum Tanjung Pandan. Museum Andrea Hirata ini merupakan museum yang menyimpan karya-karya Andrea Hirata mulai dari novel yang pertama sampai yang terakhir. Selain karya Andrea, museum ini menyiman foto lawas Belitung dari masa ke masa. Museum Tanjung Pandan merupakan museum rekam jejak sejarah dalam bentuk pakaian, peninggalan hingga sisa kapal karam.




Tips Traveling Ke Luar Negeri Dengan Murah, Mudah Dan Bahagia


Siapa sih yang tidak ingin menikmati traveling dengan kebahagiaan? Semua orang pasti ingin jalan-jalan dan merasakan liburan dengan bahagia tanpa adanya permasalahan. Saya sangat suka jalan-jalan dan mungkin dalam satu tahun bisa beberapa kali ke luar negeri untuk merasakan atmosfir negara lain sambil merasakan kuliner dan lainnya. 

Jepang menjadi salah satu negara yang paling banyak saya kunjungi, terhitung lebih dari 3 kali saya mengunjunginya dalam kurun waktu 6 tahun terakhir. Terakhir saya memenuhi wishlist saya untuk mengunjungi Osaka dan Kyoto. Selain Tokyo, kedua kota inilah yang sangat menarik untuk dikunjungi. 

Selain Jepang, saya ingin sekali mengunjungi India. Menurut teman saya, India sangatlah murah dan menyenangkan karena banyak sekali tempat-tempat bahkan transportasi yang murah. Dan, Nepal pun menjadi wishtlist selanjutnya yang harus saya kunjungi dalam waktu dekat. 


Korea Selatan menjadi negara kedua setelah jepang yang paling banyak saya kunjungi di Asia Timur selain Jepang. Malaysia menjadi negara di Asia Tenggara yang paling banyak saya kunjungi. Namun, sekali lagi bukan seberapa banyak negara yang sudah kamu kunjungi, melainkan momen yang dinikmati pada saat traveling. 

Lalu bagaimana sih tipsnya agar traveling menjadi murah, mudah dan bahagia? Caranya menurut saya hanya ada beberapa saja.


Persiapan adalah Kunci

Mulailah dengan menyiapkan passpor dan visa serta dokumen yang dibutuhkan selama di negara tersebut. Korea Selatan misalnya membutuhkan visa single dengan waktu tinggal selama 30 hari, sedangkan Jepang dapat menggunakan visa waiver apabila telah mempunyai e-passport. Setiap negara memiliki regulasi visanya masing-masing, oleh karena itu siapkan dokumen yang diminta secara lengkap.

Booking Pesawat Lebih Awal

Persiapkan traveling dengan booking pesawat terlebih dahulu, selain murah juga dapat merencakan itinerary lebih lanjut sehingga persiapan lainnya pun akan lebih matang lagi. Booking tiket pesawat lebih awal kadang kala bisa mendapatkan banyak diskon. 


Booking Hotel Lebih Awal 

Sama dengan tiket pesawat, hotel pun harus di booking lebih awal agar lebih aman dan biasanya sekarang ini terdapat fasilitas cancel sehingga apabila tidak jadi pergi ke negara tersebut maka tidak terlalu rugi. 

Buatlah Itinerary dan Budget

Itinerary dan budget adalah hal yang wajib dibuat sebelum melakukan perjalanan agar memudahkan kita menghitung pengeluaran sekaligus membuat rute kita jadi lebih efisien dan lebih mendalami lagi mengenai negara tersebut. Biasanya informasi mengenai budget dan harga-harga dapat dilihat melalui website resmi pada setiap tujuan wisata yang akan kita kunjungi. 

Aplikasi Traveling

Maps dan transportasi itu wajib kita instal selama dalam perjalanan. Apalagi jika kita tidak membeli sim card atau sangat bergantung dengan buku atau catatan, maka sudah seharusnya menginstal aplikasi seperti maps dan moda tranportasi yang ada di negara tersebut. 



Asuransi Happy Trip 

Tidak bahagia rasanya jika kita tidak memberikan perlindungan pada saat jalan-jalan ke luar negeri. Melalui happyone.id, kita diberikan banyak benefit dalam satu asuransi karena telah mencakup semuanya termasuk asuransi perjalanan. Nah, info lengkapnya bisa akses www.happyone.id.

Sudah saatnya kita traveling dengan murah, mudah dan bahagia. Karena bahagia itu sejatinya kita yang ciptakaan melalui cara-cara yang sederhana, sesederhana melindungi diri dengan sebuah perlindungan yang semuanya tercover. 




Ingin Ke Korea Tapi Minim Budget? Inilah 7 Penginapan di Bawah Rp 500 Ribu di Korea



Setiap pelancong pasti mengimpikan sebuar perjalanan on-budget atau mungkin jauh lebih murah dibandingkan dengan harga perjalanan pada umumnya. Namun ada berbagai hal yang mungkin membuat perjalanan Anda memakan banyak sekali biaya, salah satunya ialah akomodasi yakni penginapan. Biaya penginapan dapat membuat biaya perjalanan Anda melonjak tinggi, dan itu bisa saja membuat Anda lebih baik menunda untuk jalan-jalan ke Korea. 

Namun sekarang, sepertinya Anda perlu mengurungkan niat untuk menunda karena lewat artikel ini Anda akan disajikan berbagai informasi mengenai hotel murah yang dapat dijadikan sebagai pilihan Anda ketika melancong ke Negeri Ginseng ini. Awali perjalanan Anda dengan Qantas Airlines, lalu Anda dapat membaca artikel ini untuk mendapatkan rekomendasi tujuh penginapan murah di Korea. 



Trick Art Hostel

Melihat dari namanya Anda pasti sudah dapat menebak bahwa hotel satu ini diperindah dengan karya-karya seni yang akan menghibur mata Anda selama bermalam di sini. Trick Art Hostel memang memiliki banyak sekali karya seni yang menghiasi setiap sudut dindingnya. Penginapan yang terletak di Hongdae ini merupakan kawasan yang sangat ramai. Anda tak perlu khawatir akan kesulitan akses, karena hostel ini juga dikelilingi oleh berbagai fasilitas umum. Hanya dengan merogoh kocek sekitar Rp 200-270 ribu saja, Anda sudah dapat menikmati satu malam beristirahat di hostel ini. 

The House Hostel

Penginapan murah lainnya berada di Sokcho, Korea Selatan, yakni The House Hostel. Penginapan ini merupakan salah satu penginapan murah terbaik yang patut Anda sambangi untuk bermalam. Terletak di pedesaan Abai, The House Hostel merupakan tempat yang tepat untuk Anda merelaksasi diri hanya dengan mengocek harga sekitar Rp 250 ribu saja. 


Nearest Guesthouse

Bila Anda tengah ingin berlibur ke Jeonju Hanok Village, mungkin penginapa satu ini dapat menjadi pilihan Anda untuk bermalam, tentu saja dengan harga yang sangat ‘miring’ yakni Rp 300 ribu-an saja. Bila penginapan murah tidak mendapatkan fasilitas sarapan gratis, lain hal dengan penginapa satu ini. Anda akan disediakan semangkuk sereal, sepotong roti beserta selainya untuk amunisi Anda di pagi hari. 

NAMU Guesthouse

Bicara mengenai dunia per-jajan-an, bagi Anda yang pecinta kulineran mungkin NAMU Guesthouse dapat menjadi pilihan tepat bagi Anda. Bagaimana tidak, penginapan satu ini dikelilingi oleh berbagai pedagang yang menjajakan makanan. Selain banyak jajanan, penginapan ini dikocek sekitar Rp 300 ribu saja, oleh karena itu Anda dapat mengalokasikan sebagaian budget Anda untuk berkulineran di wilayah ini. 

Slow Citi Hostel

Bagi Anda yang tengah berada di Seogwipo, penginapan unik satu ini tidak terlalu jauh dari sana dan hanya memakan waktu sekitar lima menit ke halte bus. Penginapan terbaik di Pulau Jeju ini dapat menjadi pilihan terbaik karena fasilitasnya sangat lengkap seperti Wi-Fi dan sarapan gratis untuk setiap tamunya. Dengan hanya merogoh kocek sekitar Rp 270 ribu, Anda sudah dapat menikmati indahnya Pulau Jeju di hotel hostel ini. 


Love in Busan Guesthouse

Tidak, Anda tidak akan menemukan zombie seperti yang ada dalam film Train to Busan di sini. Anda justru akan mendapatkan kenyamanan ketika bermalam di Love in Busan. Di sini Anda akan dikelilingi oleh berbagai fasilitas yang menyokong kenyamanan Anda seperti Wi-Fi gratis, kelengkapan produk kecantikan, bahkan makanan yang selalu tersedia selama 24 jam (ini sangat penting bagi Anda yang memiliki minim budget pada perjalanan). Hanya dengan Rp 260 ribu, Anda sudah dapat merasakan kenyamanan bermalam di sini. 

Coolzaam Guesthouse

Bagi Anda yang sedang berada di kawasan Gyeongju, Anda dapat mengunjungi hostel satu ini untuk bermalam. Hostel ini dikelilingi oleh banyak transportasi umum seperti bus dan stasiun kereta sehingga sangat mudah untuk menjangkau penginapan ini. Selain itu, Coolzaam Guesthouse juga dikelilingi oleh berbagai lokasi wisata terdekat. Bila Anda bingung, para staf penginapan ini siap untuk memberikan arah kepada Anda. Kenyamanan ini bisa Anda dapatkan hanya dengan mengocek Rp 300 ribu saja. 

Nonton MotoGP Sepang Sekarang, Bayarnya Nanti Aja


Siapa yang menolak jika diajakin nonton MotoGP di Sepang, Malaysia? Termasuk saya pun akan menerima ajakan tersebut dengan senang hati. Malaysia memiliki arti dari sekedar negara kedua setelah Singapura yang pernah saya jejaki sebagai salah satu syarat menjadi seorang traveler sejati. Mungkin terlalu klise, tapi memang teman-teman traveler lain sangat menyarankan Malaysia sebagai negara yang perlu dikunjungi. 

2012, tepatnya untuk pertama kali saya menerima stempel kedatangan di bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Saya masih takjub dan tak percaya akhirnya saya bisa menikmati nasi lemak dan berfoto-foto di menara kembar yang sangat tersohor. Saat itu masih sangat jarang informasi mengenai SIM Card atau online maps karenanya saya hanya mengandalkan buku panduan dan maps yang selalu saya kumpulkan dari berbagai tempat seperti Tourism Information. Nyasar it sudah menjadi hal yang wajar dan sejata saya hanya bertanya dan bertanya kepada petugas dan penduduk sekitar. 


Selama di Kuala Lumpur, saya mencari informasi dan akhirnya memutuskan untuk ke Penang. Alasan saya adalah kota lama atau bangunan kunonya yang sangat terawat sama seperti di Malaka. Dan Penang adalah jalan menuju ke Hatyai, sebagai pintu gerbang menuju ke Thailand. Pengalaman yang selalu menyenangkan dan makanan yang sama dengan Indonesia membuat selera makan saya sama bahkan lebih. Kata teman, salah satu hal yang perlu diperhatikan pada saat traveling adalah makanan. Dan, menurut teman saya, sebelum menerima culure shock yang lebih extreme, saya harus menyesuaikan dengan negara tetangga terlebih dahulu. 

Beberapa kali ke Malaysia, saya sangat kangen dengan nasi lemaknya yang sangat enak. Nasi lemak kalau di Jakarta bisa disamakan dengan nasi uduk yang luar biasa sedapnya. Terakhir saya mengunjungi Sabah dan Sarawak di ujung utara Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara. Sedangkan edisi sebelumnya, saya mengunjungi Kuala Lumpur dengan segala keunikannya karena saya sempat menikmati kota dari atas city tour bus. 



Menyaksikan MotoGP di Sepang adalah impian yang belum tercapai dalam beberapa tahun belakangan ini. Salah satu yang membuat saya ingin menyaksikannya adalah karena Erlangga. Sahabat saya dari SMA yang kini juga sama-sama menetap di Jakarta. Dia pernah menonton F1 di Sepang. Saya sebetulnya iri, namun secara positif saya menjadikannya sebagai motivasi agar dapat menonton secara langsung. Bahkan, beberapa destinasi seperti Hongkong pun saya termotivasi dari foto-fotonya. Kami memang jarang bertemu, namun sekali bertemu banyak sekali cerita yang kita sharing dan mengalir seperti kita bertemu setiap harinya. 


MotoGP itu sebuah seni pertunjukan yang memukau seluruh indra termasuk mata. Bagi saya menyaksikan perlombaan itu memacu adrenaline dan membuat hidup menjadi lebih menyenangkan karena pengalaman ini bisa dibilang sekali seumur hidup. Mungkin lain waktu kita dapat ulang lagi, namun setiap masa merupakan sebuah kenangan yang manis dan tidak akan terulang lagi. Apalagi jika ini adalah momen pertama kali, mungkin saya tidak akan melupakannya seperti pertama kali ke Malaysia pada tahun 2012. 

Alasan lainnya adalah karena bisa dibayar nanti melalui cicilan. Loh, memangnya bisa ya traveling sekarang tapi bayarnya nanti aja? Bisa bangetlah karena ada program menarik berupa Maxi Travel dari Adira Finance. Dan, kebetulan juga MotoGP ini juga termasuk dalam Maxi Travel yang akan di laksanakan oleh Tx Travel sebagai salah satu tour travel terbaik di Indonesia. 


Maxi Travel ini memudahkan bagi siapa saja yang ingin traveling sekarang namun pengen menunda pengeluran karena banyak yang kebutuhan yang harus dipenuhi dalam beberapa bulan belakangan. Zaman now, memang banyak sekali alternatif yang dapat kita lakukan untuk traveling dan salah satu solusi bagi tidak memiliki dana lebih bisa melalui Maxi Travel. Program ini menawarkan bukan hanya paket perjalanan domestik baik dalam maupun luar negeri saja namun perjalanan Umroh, pemesanan tiket dan pemesanan hotel.

Lalu apa saja yang harus disiapkan untuk mendapatkan program Maxi Travel ini? Syaratnya hanya fotocopy KTP, Fotocopy STNK, BPKB Mobil atau Motor, KK dan NPWP. Nah, untuk paket wisata  bisa ditentukan sendiri oleh kita tanpa harus sesuai dengan brosur atau paketan yang telah ditentukan sebelumnya. 


Nah, yang ingin menyaksikan MotoGP di Sepang dapat mengakses Tx Travel secara langsung karena tour ini merupakan salah satu yang terpercaya menyelenggarakan paket Moto GP dengan banyak pilihan seperti tour 3D2N dan 4D3N. Sebagai informasi, program Moto GP Sepang ini akan diselenggarakan pada tanggal 3-5 November 2018 untuk paket tour 3D2N sedangkan paket 4D3N akan diberangkatkan pada 2-5 November 2018. Pemberangkatan bisa melalui 7 kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar. So, tidak ada lagi masalah bukan kalau berasal dari luar dari Jakarta. 

Nah yang penasaran dengan Itinerary, ini dia kegiatan selama 4 hari 3 malam yang akan dilakukan di Kuala Lumpur dan Sepang. 

Jum’at/02 : Penerbangan ke Kuala Lumpur

Kumpul di bandara 3 jam sebelum keberangkatan, bertemu Tour Leader untuk proses absen, bagasi dan boarding pass, lalu penerbangan ke Kuala Lumpur. Setiba di bandara KLIA-1, bertemu Local Guide, untuk group KLM langsung menuju ke hotel sedangkan group GA berkunjung ke Istana Merdeka, Tugu Negara, Mesjid Negara, Dataran Merdeka, City Gallery dan makan malam bersama lalu check-in hotel, istirahat.

Sabtu/03 > Qualifying

Sarapan pagi, mampir ke Twin Tower dan Berly’s Chocolate House, menuju sirkuit guna menyaksikan babak latihan dan kualifikasi dari Moto3 (12.35-13.15), MotoGP (14.10-14.50), Moto2 (15.05-15.50), makan malam dengan buffet menu “all u can eat” di restoran Kuala Lumpur, kembali ke hotel, istirahat.


Minggu/04 > Final Race Day

Sarapan pagi, menuju sirkuit guna menyaksikan babak pemanasan dan balapan final Moto3 (12.00-13.00), Moto2 (13.20-14.20), MotoGP (15.00-16.00), kembali ke bus semula di parkiran, mampir ke Mitsui Outlet Park KLIA Sepang untuk menghindari kemacetan di tol arah pusat kota, baru kemudian kembali ke hotel.

Hari-4/Senin/05 > City Tour

Sarapan pagi, check-out hotel, untuk group GA langsung menuju ke bandara sedangkan group KLM berkunjung ke Istana Merdeka, Tugu Negara, Mesjid Negara, Dataran Merdeka, City Gallery dan makan siang, kemudian menuju ke bandara KLIA-1 untuk proses bagasi dan boarding pass, lalu penerbangan ke Jakarta. Usailah sudah tur Nonton Bareng MotoGP Sepang bersama TX Travel, sampai jumpa di musim balap 2019.


Apa sih keunggulan dari Maxi Travel dibandingankan dengan program cicilan lainnya? Nah, ini dia beberapa keunggulannya. 

Prosesnya Mudah 

Customer datang langsung ke perusahaa tour & travel dan memilih paket yang telah ditentukan. Apabila perusahaan tour & travel bekerjasama dengan Adira Finance maka akan menghubungi petugas di cabang Adira Finance terdekat. Namun, apabila perusahaan tour & travel tersebut belum bekerjasama dengan Adira Finance maka customerlah yang mengajukan tour & travel tersebut. 

Syaratnya Mudah 

Syaratnya hanya fotocopy KTP, Fotocopy STNK, BPKB Mobil atau Motor, KK dan NPWP.

Jaminan Hanya BPKB 

Selain proses dan syaratnya yang mudah, jaminan yang disyaratkan oleh Adira Finance hanya berupaka BPKB saja tanpa embel-embel yang lain. 

Traveling Sekarang Bayarnya Nanti

Kaum milenial termasuk saya memang sangat menginginkan kebebasan financial dan ingin menikmati serta menjelajah negara lain tanpa khawatir dengan dana yang kurang mencukupi, oleh karenanya membutuhkan program Maxi Travel yang dapat jalan-jalan tanpa risau dan membayarnya nanti setelah liburan selesai. 


So tunggu apa lagi, jangan sampai kamu keburu kerepotan dengan urusan anak atau sudah keburu tua untuk menikmati seluruh hal yang harusnya bisa kamu lakukan pada saat muda. Yuk, angkat telepon dan hubungi Dering Adira di 1500511 atau bisa menghubungi email customercare@adira.co,id dan website adira di www.adira.co.id. Sampai jumpa di MotoGP Sepang. 

#PDL Harmonisasi Di Saung Angklung Udjo

Nemu foto ini di situs travelnya detik(dot)com.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; termasuk tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***

Rabu kemarin saya membaca komentar dari Himawan pada pos Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah tentang penduduk lokal yang kebingungan waktu kami bertanya lokasi sanggar dimaksud. Himawan (or Hino) mengandaikan penduduk lokal sekitar sanggar juga dilibatkan di dalam kegiatan-kegiatan sanggar sehingga bisa sespektakuler Saung Angklung Mang Udjo atau Saung Angklung Udjo. Penduduk memang terlibat, namun anak-anaknya saja yang dilibatkan ikutan sanggar tersebut, berlatih Tari Topeng bersama cucu Miras yaitu Aerli.


Bicara soal Saung Angklung Udjo artinya bicara soal wisata budaya yang dijaga dan dilestarikan dengan kemasan sangat menarik. Saung Angklung Udjo terletak di Jalan Padasuka 118, Bandung, Jawa Barat. Lokasi ini dibagi-bagi menjadi tempat pertunjukan, toko souvenir, tempat makan, dan lain-lain yang tentu sekarang sudah jauh lebih berkembang. Tahun 2010 waktu ke Saung Angklung Udjo saya sangat menikmati cuci mata di toko souvenir-nya itu. Sebagai wanita imut dan beperasaan halus saya juga gemas donk melihat ragam benda mini-mini menggemaskan salah satunya gantungan kunci berbentuk angklung.


Hari itu saya dan Acie berkesempatan menonton Pertunjukan Bambu Petang. Seperti foto di awal pos ini kalian bisa melihat seorang perempuan berkebaya biru dan anak-anak kecil bermain angklung. Di sini lah proses pengenalan dan pelestariannya terjadi karena secara tidak langsung penonton dengan latar belakang beragam itu diedukasi tentang angklung; cara memegang, cara memainkannya, dan betapa angklung tidak dapat berdiri sendiri-sendiri alias memang harus dimainkan dalam kelompok, dengan anggota yang sudah tahu nada dasar yang mereka 'pegang'. Kira-kira begitulah.


Kemudian panitia/pengelola membagikan kami angklung masing-masing satu. Sudah tahu cara memegang dan memainkan alat musik ini, lantas perempuan berkebaya biru mengetes nada masing-masing kelompok, kira-kira sepuluh sampai limabelas orang per kelompok. Dia memberi instruksi pada kami. Kami, yang belum saling mengenal dan kebetulan sama-sama terdampar di suatu pertunjukan petang ini, hanya dengan melihat arah tangan si instruktur, bisa memainkan satu lagu dengan utuh yaitu lagu Ibu Kartini.


Aweeeesomeeee! Harmonisasi yang tercipta menggenapi kepuasan kami mengunjungi Saung Angklung Udjo. Terima kasih untuk pengalaman yang luar biasa ini.

Usai bermain angklung, kami menyaksikan pertunjukan wayang golek. Tapi saya lupa kisah tentang apakah yang ditampilkan hari itu.


Usai pertunjukan wayang golek, saya dan Acie masih sempat berlama-lama di toko souvenir, melihat sana-sini, cuci mata, gemas-gemasan sama penjaga lelaki, terus membeli beberapa souvenir, dan memutuskan untuk pulang. Kami masih punya tugas mencari lokasi pembuatan / pengrajin wayang golek. Untungnya saya masih menyimpan foto si bapak di bawah ini:


Situs yang memuat artikel tentang Golek; Bukan Boneka Biasa yang saya tulis untuk Detik, memang belum bisa dibuka, untungnya Om Bisot pernah membuat status tentangnya di Facebook. Hahaha. Sumpah, ngakak tiarap saya melihat foto yang satu ini:


Terima kasih, Om *jempol paling gede* berkat ini, tidak hilang jejak digitalnya *tsaaaah*.


Jadi kalau ditanya, pernahkah saya ke Saung Angklung Udjo? Pernah, saya pernah ke sana. Saya pernah bermain angklung dalam kelompok penonton dan kerja sama tim ini menghasilkan harmonisasi yang mengagumkan. Kita harus banyak belajar dari (filosofi) angklung ini. Dan pernah, saya juga pernah mengunjungi pengrajin wayang golek dan pura-pura memainkannya supaya difoto sama Acie. Ternyata saya pernah juga PERNAH SEBESAR ITU. Hahaha ...

Bagaimana dengan pengalaman kalian?


Cheers.

#PDL Datang, Makan, Ngerujak, Pulang

Mei dan Ocha di Saung Adat Kolibari.


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***
  

Rabu, 22 Agustus 2018, umat Muslim memperingati Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Saya juga menyebutnya Hari Kemenangan Atas Percaya dan Bakti serta pengorbanan pada Allah SWT yang waktu itu dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim AS terhadap anaknya yaitu Nabi Ismail AS. Percaya dan bakti Nabi Ibrahim AS ini lah yang wajib kita contohi. Sebagai gantinya, domba diberikan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS. Selain itu, saya juga menyebutnya Hari Raya Haji. Selamat kepada Bapak, Ibu, Saudara/i, semuanya yang telah menjalankan ibadah Haji. Insha Allah suatu saat nanti saya menyusul.

Baca Juga:

Sebenarnya hari libur Rabu kemarin itu saya tidak punya rencana ke mana-mana meskipun sudah diajak Kakak Pacar untuk makan siang di rumahnya. Permasalahan timbul setelah teman si Ocha yang bernama Mei datang ke rumah. Nampaknya mereka desperate karena dalam beberapa minggu belum pernah ke luar rumah untuk sekadar menikmati keindahan alam yang menakjubkan. Walhasil saya meminta Ocha menghubungi Akiem dan Effie; pasangan paling sering cek-cok se-dunia-kami. 

Pukul 14.00 Wita tiga motor matic berangkat menuju Kolibari. Mei memboceng Ocha, Akiem tentu dengan Effie, saya dan Thika. Sebelumnya saya sudah meminta Ocha menghubungi Kakak Pacar bahwa tawaran makan siang diterima dengan senang hati sekaligus membawa pasukan, hahaha.



Adalah sungkan yang tiada terkira ketika kami datang, kopi dan teh disuguhkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Inilah salah satu keistimewaan di Kolibari *tsah*. Lantas, tidak berapa lama, Kakak Pacar mengajak kami makan. Katanya, "Sudah dimasakin sama Kak Fitria tuh, sana gih kalian makan dulu sebelum dingin!" Hah? Jadi, mereka memasak hanya untuk kami berenam? Maluuuu *tutup muka tapi ngintip*



Makan siang yang kesorean itu disuguhi nasi merah dan aneka menu daging kambing. Ada semur, ada soto. Yang awalnya malu-malu, eh jadi kalap hahaha. Manapula dari rumah kakak ipar yang satu, mendadak kami mendapat kiriman sepiring semur lagi. Hah? Yang makan hanya enam orang tapi menunya untuk limabelas orang. Hehe. Pas lagi makan begitu, muncul makhluk bernama ngengat, berwarna kuning, hinggap di jari manis saya dan tak mau pergi.




Katanya sih itu pertanda. Pertanda apa saya tidak tahu. Mungkin pertanda bahwa ngengat juga butuh tempat untuk ngetem :D qiqiqiqi. Awalnya saya sudah pos di FB bahwa ini kupu-kupu, tapi Cahyadi mengoreksinya bahwa ini ngengat. Karena, sayap kupu-kupu akan terkatup apabila sedang hinggap/ngetem begitu.

Dan benar kata orang, membawa anak gadis itu adaaa saja ide dan kemauannya. Si Thika mengajak rujakan. Pepaya dan mangga pun langsung didatangkan dari kebun terdekat. Bahkan untuk cabe pun, di depan rumah kakak ipar ada pohon cabe lumayan gede:




Pengen angkut ini pohon cabe pulang ke rumah. Sore itu bermodal kacang, cabe, garam, dan gula sabu (gula kental asal Pulau Sabu), pepaya dan mangga dari kebun, maka jadilah rujaaaaak.




Habis ngerujak, eh si Kakak Pacar nawarin kelapa muda. Busyet dah. Anak-anak pada mau, tapi kelapanya masih dipetik sama si Arifin (adik si Arifin ini namanya Arif hahah), makanya mereka pada ngerusuh sama bocah setempat. Si Ocha main sepeda salah satu bocah. Thika, Mei, dan Effie malah main bulu tangkis. Sampai kemudian si Mei mengusulkan untuk mendaki ke bukit sebelah ke puncak Kezimara. Waaaa saya menyerah! Hiihi. Walhasil yang naik ke Kezimara cuma si Mei dan Ocha, Thika lanjut main bulu tangkis, saya dan Effie tidur, setelah saya menghabiskan satu kelapa muda nan segar.

Sekitar pukul 18.30 Wita kami pun pamit pulang. Ocha membawa oleh-oleh kelapa muda :D hehehe.

Pernah, saya pernah begitu, pergi ke rumah Kakak Pacar cuma untuk makan, ngerujak, pulang. Senang-senang di rumah orang belum ada hukum yang melarang. Boleh-boleh saja, sah-sah saja. Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

#PDL Snorkeling di Perairan Pulau Tiga




#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***
  

Saya tidak bisa berenang. It is funny! Indeed. Mengingat saya tinggal di Kota Ende yang dikelilingi laut (dan gunung). Bahkan jarak dari rumah saya ke Pantai Ende hanya membutuhkan waktu sepuluh menit berjalan kaki. Tapi saya tergila-gila sama laut. Untuk mengatasinya, setiap kali ke pantai/laut pasti membawa binen alias ban dalam mobil yang telah digelembungkan (dan/atau jerigen kosong). Lebih sering membawa binen karena satu binen bisa dipakai beberapa anak sekaligus. Hampir setiap rumah punya binen yang dikeluarkan setiap Hari Minggu saat anak-anak memutuskan untuk mandi laut ketimbang bermain masak-masakan atau main wayang.


Baca Juga:


Setelah besar (besar, bukan tua, hahaha), binen diganti lifejacket yang lebih sering kami sebut pelampung, itu pun milik Kakak Ilham Himawan, hahaha.

Bertentangan kan ya? Tergila-gila pada laut tetapi tidak bisa berenang. Padahal laut itu punya kadar garam yang bakal lebih memudahkan kita belajar berenang. Tapi, tetap saja sejak dulu sampai sekarang saya tidak sukses belajar berenang dengan mentor Pak Christian sekalipun di kolam renang Wailiti - Maumere. Yang ada, saya malah terpukau sama sesuatu berbentuk putih di dasar kolam, mencoba meraihnya, dan ternyata itu ... kaporit. Gua kira batu bertuah!

Mau ketawa ... ketawa saja ... :D

Tidak bisa berenang bukan aib, kawan. Tidak bisa berenang bukan obstacle yang meluruhkan semangat untuk cebar-cebur di laut. Kan ada pelampungnya Kak Ilham, hehe. 




Suatu kali kami, anak-anak Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT) Chapte Ende, pergi ke Taman Laut 17 Pulau Riung atau biasa disebut Taman Laut Riung. Tujuannnya ada dua yaitu untuk bersenang-senang setelah dirundung aktivitas yang malang *halah* dan untuk menulis hasil perjalanan tersebut di blog sebagai salah satu cara mempromosikan wisata di NTT. Seperti biasa kami menginap di rumah Rustam, salah seorang sahabat masa SMA yang memiliki penginapan bernama Nirvana Bungalow. Setiap kali ke sana kami memang lebih sering tidur di rumah besar di bagian depan jejeran kamar-kamar bungalow. Sekalian berhemat. Sekalian bikin Rustam keki karena dapurnya otomatis dikuasai oleh kami. Haha.


Oskar, sahabat multi-talent!


Perahu motor sewaan yang membawa kami hari itu mengikuti rute umum yaitu dari Pelabuhan Riung ke Pulau Kelelawar terlebih dahulu ke arah Barat, baru kembali ke arah Timur melewati Pulau Rutong, Pulau Meja, daaaan sampailah ke Pulau Tiga. Rustam berkata bahwa jika ingin snorkeling, lakukan di perairan Pulau Tiga saja. Selain terumbu karangnya memukau, arusnya juga ramah jantung. Dan kami memang selalu ngetem di Pulau Tiga.


Ini namanya Pulau Kelelawar atau Pulau Ontoloe.


Sontak pelampung Kak Ilham menjadi primadona dan rebutan. Masalahnya, saat itu di Dermaga Riung belum ada tempat penyewaan pelampung. Walhasil, dengan sedikit lirikan Ibu Suri saya pun memperoleh kesempatan pertama *menulis ini rasanya lucu sekali*. Setelah pelampung dipakai, masker snorkel juga dipakai, meloncatlah saya ke laut menyusul si Rustam. Aksi meloncat ini meninggalkan perahu yang oleng di belakang akibat bobot saya memang tidak sedikit.

Kalian tahu ... batas antara dunia atas dan dunia bawah itu hanya gerakan mengangkat dan menenggelamkan kepala. Apa? Kalian sudah tahu? :p

Rustam memandu saya snorkeling selama kurang lebih tigapuluh menit. Bagi saya tidak ada satu pun yang dapat mengurangi kebahagiaan bisa menyaksikan pemandangan bawah laut yang memukau. Ikan-ikan hias aneka jenis dan bentuk berenang bebas, terumbu karang aneka bentuk dan warna yang cantik, mawar laut, bintang laut, semuanya ada. Andaikan di rumah saya ada kolam air laut yang luaaaas, saya bakal menjadikannya seperti taman laut di Riung ini. Tigapuluh menit, kayak lagunya Zamrud, sangat kurang. Saya masih mau terus skin dive. Tapi ... yang lain juga pengen snorkeling dan sama-sama tidak bisa berenang *ngakak tiarap*.


Dokter Said, sahabat sejak masa SMA sampai sekarang.


Saya sampai bilang: pengen ke Riung lagi tapi hanya untuk snorkeling. Tidak melakukan aktivitas lainnya! Dan benar. Pada kesempatan berikut-berikutnya setiap kali ke Riung yang paling pertama saya lakukan adalah snorkeling selama mungkin dan sepuas-puasnya, baru lah menikmati ikan dan cumi bakar di pantai Pulau Tiga. Snorkeling itu ibarat obat kehidupan saya *halah*. Hehe.

Pernah, saya pernah begitu :)

Bagaimana dengan kalian?


Cheers.