Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo


Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo. Kabupaten Nagekeo. Lagi! Hehe. Rajin sekali menulis tentang Kabupaten Nagekeo! Ya mau bagaimana lagi. Saya memang sering ke Kabupaten Nagekeo, khususnya Ibu Kotanya yaitu Kota Mbay untuk beberapa urusan, baik urusan pribadi maupun urusan pekerjaan. Sehingga sayang sekali kalau tidak menulis tentang kabupaten tersebut terutama tempat wisata hingga ragam kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah sana. Terakhir, saya ke Kota Mbay untuk menyaksikan sendiri Festival Literasi Nagekeo 2019. Betul juga kata anak-anak sana: Nagekeo Gaga Ngeri!


Berkaitan dengan Universitas Flores a.k.a. Uniflor. Dalam Bulan Oktober tepatnya tanggal 12 nanti bakal ada kegiatan wisuda. Dan Uniflor memang selalu punya tema berbeda setiap tahunnya. Tema ini berkaitan dengan kabupaten yang ada di Pulau Flores dan sekitarnya. Mau tahu serunya? Yuk baca sampai selesai! Hehe.

Uniflor Sebagai Mediator Budaya


Uniflor, universitas pertama di Pulau Flores yang berdiri tahun 1980, punya visi besar yaitu Menjadi Universitas Unggul dan Terpercaya Sebagai Mediator Budaya. Kenapa mediator budaya? Menurut analisa saya pribadi, hal ini dikarenakan mahasiswa Uniflor berasal dari berbagai daerah di Pulau Flores dan sekitarnya, pun dari daerah lain di luar Pulau Flores. Uniflor harus bisa menyatukan mereka semua. Ini analisa pribadi ya, hehe. Karena sepanjang yang saya lihat, toleransi di Uniflor itu sangat tinggi. Toleransi ini tidak saja dari lini lintas agama: kalian bisa melihat Suster dan muslimah bercadar jalan bersamaan sambil berdiskusi, tapi juga lintas suku: kalian bisa melihat anak Manggarai berdebat ilmiah dengan anak asal Pulau Lembata.

Salah satu wujud Uniflor sebagai mediator budaya bisa dilihat pada saat kegiatan wisuda. Panitia wisuda akan dibentuk kira-kira satu bulan sebelumnya. Pada pertemuan pembentukan panitia itu, biasanya saya paling suka menunggu penyampaian soal tema. Setiap tahun Uniflor mengusung tema berbeda/kabupaten berbeda. Maka, pada wisuda tahun 2019 ini tema yang diusung adalah Kabupaten Nagekeo. Artinya, dekorasi dan panggung harus ada unsur Kabupaten Nagekeo. Pakaian panitianya harus pakaian adat Kabupaten Nagekeo. Sua sasa/penyambutan wisudawan di pintu masuk dan tarian pun harus tarian dari daerah Nagekeo. Sedangkan wisudawan, tidak pernah dipaksakan pakaian tradisional yang mau dipakai. Bebas. Lagi pula kan tertutup jubah. Hehe.

Pakaian Tradisional/Adat Kabupaten Nagekeo


Setelah tahu tentang tema kabupaten yang diusung, maka mulailah saya sibuk mencari informasi tentang pakaian tradisional Nagekeo. Setahu saya, Kabupaten Nagekeo hanya punya satu jenis/motif tenun ikat. Dan saya salah. Kedunguan tingkat tertinggi saya adalah itu. Hahaha. Saya pernah memakai sarung itu dalam suatu video klip seperti screen shoot di bawah ini:


Kain tenun ikat di atas biasa dipakai oleh Orang Mbay. Warna hitam dengan aksen warna kuning (hyess, my colour!).

Berdasarkan informasi dari Wikipedia, terima kasih Wikipedia, ada tiga jenis tenun ikat dari Kabupaten Nagekeo yaitu Hoba Nage, Ragi Woi, dan Dawo. Orang Keo Tengah menyebut ketiga jenis kain ini dengan Dawo Nangge, Duka Wo'i, dan Dawo Ende. Tapi tentu saya akan mengikut penamaan secara umum yaitu Hoba Nage, Ragi Woi, dan Dawo.

Seperti apa penampakannya? Mari kita lihat:

1. Hoba Nage


2. Ragi Woi


3. Dawo (Dawo Ende)


Terus, laki-lakinya biasa memakai apa? Biasanya laki-laki memakai kemeja putih dan Ragi Woi.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari teman-teman Orang Nagekeo, juga isteri keponakan yang asli Danga - Mbay - Nagekeo, ada dua jenis utama sarung tenun ikat yang sering dipakai oleh penduduk Kabupaten Nagekeo yaitu Hoba Nage dan Ragi Woi. Mereka menyebutnya tenun ikat Nage dan tenun ikat Mbay. Menurut sebagian orang Ragi Woi itu khusus dipakai oleh laki-laki sedangkan Hoba Nage khusus dipakai oleh perempuan. Tetapi di Kota Mbay, Ragi Woi dipakai oleh laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan. Sedangkan di daerah sekitar Kecamatan Boawae, laki-laki khusus memakai Ragi Woi dan perempuan khusus memakai Hoba Nage.

Makanya, saya sering melihat teman-teman perempuan dari Kota Mbay memakai Ragi Woi, dipadukan dengan atasan warna putih (tak selamanya warna hitam) seperti yang juga saya pakai pada foto di awal pos dan foto berikut ini:


Saya dan Deni Parera, penyanyi bersuara emas, sama-sama memakai Ragi Woi. Bagi masyarakat Kabupaten Nagekeo, itu bukan masalah. Bahkan menurut Abang yang aseli Orang Nagekeo khususnya Kecamatan Boawae, apa yang saya pakai itu sudah benar dan nanti kalau saat wisuda tinggal pakai begitu saja. Beres.

Tetapi sebenarnya atasan untuk perempuan itu seperti foto berikut ini:


Nama baju ini Kodo. Kodo ini dihiasi dengan bordiran tangan, bukan mesin loh! Keren dan sangat unik kan?

Berburu Hoba Nage


Dipikir-pikir, ketimbang menyewa lebih baik saya membeli saja Hoba Nage. Kata teman kerja, Mama Sedes, ada yang sedang jual murah dipatok tenun ikat Hoba Nage seharga Rp 550K saja. Tentu saja saya mau! Lagi pula ini bisa jadi inventaris, alias kalau nanti kembali dibutuhkan, sudah punya barangnya, tidak perlu pusing mencari. Hanya saja saya belum menerima tenun ikatnya, masih menerima fotonya saja hahaha. Nanti tenun ikat Hoba Nage dalam bentuk lembaran itu bakal saya jahitkan menjadi sarung.

Selain itu, saya juga bertanya-tanya pada teman yang bermukim di Kota Mbay yaitu Daniel Daki Disa. Nah padanya saya juga bisa meminta tolong untuk menyewakan Kodo dan Hoba Nage, dikirim ke Ende, kalau sudah selesai dipakai bisa dikembalikan. Doakan semoga tanggal 12 Oktober nanti saya sudah bisa memakai pakaian adat Kabupaten Nagekeo, ya!

⇜⇝

Pertanyaannya sekarang adalah kenapa saya sampai ngotot harus bisa memakai pakaian adat Kabupaten Nagekeo saat kegiatan wisuda nanti? Untuk menjawabnya, kita harus kembali pada Uniflor sebagai mediator budaya.

Kepanitiaan wisuda selalu terdiri atas dosen dan karyawan Uniflor. Dosen dan karyawan Uniflor datang dari berbagai daerah di Pulau Flores dan sekitarnya. Bisa kalian bayangkan, ketika tema wisuda jatuh pada Kabupaten Ende, semua dosen dan karyawan yang bukan Orang Ende harus berupaya untuk mencari dan memakai pakaian adat Kabupaten Ende. Khusus perempuan disebut Lawo Lambu / Zawo Zhambu. Khusus laki-laki memakai kemeja putih, destar (ikat kepala), dan sarung laki-laki bernama Ragi Mite.

Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Ketika tema jatuh pada kabupaten lain selain Kabupaten Ende, tentu kami harus menghormati dan menghargai keputusan tersebut dengan cara mengikuti ketentuan yang ditetapkan untuk panitia. Bagi saya pribadi ini adalah tantangan tersendiri: mencari pakaian tradisional/adat Kabupaten Nagekeo. Seandainya pun gagal membeli Hoba Nage, saya masih bisa memakai Ragi Woi dan atasan warna hitam (disesuaikan dengan Kodo). Lagi pula, adalah sesuatu yang sangat membahagiakan diri saya pribadi apabila bisa mengenakan pakaian tradisional/adat dari daerah lain di Pulau Flores. Sesuatu yang mengenyangkan sukma. Hehe.

Nantikan cerita dan foto-fotonya, ya!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Gotong Royong Itu Masih Hidup dalam Tubuh Masyarakat


Gotong Royong Itu Masih Hidup dalam Tubuh Masyarakat. Sabtu kemarin, 13 Juli 2019, saya kembali pergi ke Towak di Kabupaten Nagekeo. Ceritanya saya diundang oleh keponakan, Iwan dan Reni, untuk menghadiri ritual pembangunan fondasi rumah pribadi mereka yang lokasinya masih terbilang dekat dengan rumah dinas Pustu Towak. Berangkat dari Ende pukul 08.00 Wita. Saya sendirian, seperti biasa, dududud. Thika membonceng Enu. Perjalanan pagi itu adalah perjalanan saling kejar dengan bis antar kabupaten, truk ikan (kalau kami sebut oto ikan), mobil pribadi, mobil travel, hingga pegawai koperasi *auto ngakak*. Sabtu pagi, meskipun banyak yang libur, tapi masih banyak juga orang yang punya kepentingan di jalan raya dan/atau jalan trans-Flores.

Baca Juga: Belum Musim Liburan Tapi Jalan-Jalan Terus

Kami beristirahat cukup lama di Aigela untuk menikmati jagung rebus dan kopi panas. Sekitar tigapuluh menitan begitu. Pokoknya setelah bibir kepedisan gara-gara sambal maknyus a la salah satu lapak (langganan) jagung di Aigela, barulah kami tancap gas ke arah Kota Mbay

Fondasi Sudah Dibangun


Tiba di lokasi rumah Iwan dan Reni, sudah banyak orang di sana yang sedang beristirahat. Ternyata alat molen (untuk mengaduk campuran semen) sedang eror dan sedang diperbaiki sama yang punya (si pemilik akat). Tapi, fondasi sudah dibangun. Pengerjaan tertunda karena si molen eror. Kata Kakak Nani Pharmantara, orang-orang baru selesai sarapan dan mengajak kami sarapan. Tapi perut kami sudah penuh! Tidak bisa menampung apa-apa lagi.


Sekilas fondasi yang sudah dibangun, lalu molennya eror. Lokasi rumah ini menempati kaki bukit sehingga kaki bukit itu dikeruk dulu/diratakan. Tetapi tetap saja fondasi bagian depan lebih tinggi dari bagian belakang.

Gotong Royong Itu Masih Hidup


Di Kabupaten Ende, ketika ada yang hendak membangun rumah, pekerjaan kepala tukang dan tukang bangunan akan sangat ringan pada hari-hari pertama (terutama membangun fondasi) karena pasti dibantu oleh banyak orang, khususnya laki-laki. Hari membangun fondasi merupakan hari spesial karena ada sedikit ritual yang dilakukan: do'a pada malam sebelumnya, peletakan batu pertama, hingga elemen apa yang mau turut ditanam bersama fondasi tersebut (biasanya di empat sudut). Karena spesial, semua orang baik keluarga, teman, hingga tetangga, pasti turut membantu. Kadang-kadang, meskipun pada hari-hari berikut pengerjaan rumah sudah menjadi tugas si tukang bangunan dan anak buahnya, tetap saja masih ada yang datang untuk membantu.


Saya memperhatikan para lelaki yang bekerja. Mereka rata-rata keluarga (Reni, Orang Mbay), teman, dan tetangga. Bahu-membahu mereka mengikuti arahan kepala tukang bangunan. Mulai dari campuran semen, mengangkut campuran, mengakut batu, dan lain sebagainya. Yang letih, istirahat. Tidak ada paksaan. Yang haus, silahkan minum. Yang lapar, silahkan makan lagi (nasi maupun kudapan) karena meja makan tidak boleh dikosongkan. Luar biasa, menurut saya. Yang seperti ini yang harus terus dipelihara dan diwariskan pada anak cucu.

Menariknya, saya melihat ada dua laki-laki yang mengangkut batu menggunakan kayu yang dibikin mirip tangga. Penampakannya pada gambar berikut ini:


Teknologi sederhana yang mempermudah pekerjaan bukan? Hehehe. Bisa juga sih diangkut pakai karung, tapi mereka memilih memakai alat sederhana itu. Tidak bisa menggunakan gerobak sorong karena medannya tidak memungkinkan. Ada juga yang mengangkut batu menggunkan tangan. 

Kalau melihat foto-foto di atas, kalian pasti tahu bahwa cuaca memang sangat terik! Saya hanya bisa berdoa semoga para lelaki yang bekerja ini terus diberi kekuatan dan kebahagiaan untuk membantu keponakan saya hahaha. Orang lain mungkin tidak akan mau membantu dalam pekerjaan berat seperti itu. Mengangkut campuran semen, mengangkut batu, langsung di bawah sengatan sinar matahari. Tapi inilah yang menjadi kekayaan kita rakyat Indonesia. Gotong royong! Hidup dalam nuansa kekeluargaan yang kental.

Tidak hanya dalam urusan pekerjaan. Apabila ada keluarga yang membangun rumah, sekaya apapun keluarga itu, tetap saja ada saja yang datang membawa ini itu seperti kudapan, teh - kopi - gula, kambing, semen, dan tentu saja ada pula yang menyelip amplop berisi uang. Yang membangun rumah tidak meminta, tapi hukum tidak tertulis di dalam masyarakat memang seperti itu. Biar sedikit, yang penting ada. Demikianlah.


Gotong royong tidak saja berlaku untuk kaum lelaki, tetap juga kaum perempuan. Di halaman samping bakal tetangga Iwan dan Reni (masih keluarga juga sih) banyak kaum perempuan yang sedang memasak ini itu. Hebatnya adalah semua daging tersedia ... kecuali bebek dan domba ... hiks. Ikan, ayam, kambing, sapi ... harus ada! Uh wow sekali qiqiqiq.

Moke Putih


Moke/tuak merupakan minuma tradisional. Kalian bisa membaca tulisan saya tentang moke di sini. Moke adalah minuman tradisional yang wajib ada dalam upacara atau acara tertentu terkhusus yang berkaitan dengan adat. Makanya saya juga menyebutnya minuman adat. Moke adalah minuman persahabatan, katanya. Asalkan tidak diminum berlebihan karena bakal mabu dan efek mabuk sangat menjengkelkan orang lain.

Moke putih merupakan moke asli dari pohon lontar/nira yang belum disuling menjadi moke 'keras'. Rasanya enak sekali terutama dicampur es manis haha. Dulu ada yang menjual moke putih keliling kampung dengan memanggul dua tabung bambu gede-gede. Saya girang bukan main kalau melihat si penjual, langsung lari ke luar rumah, sambil teriak ... OM, BELI MOKE! Haha. 

Kemarin juga ada moke putih.


Saya mencobanya segelas. Warnanya tidak putih mirip susu, tapi ada kuning-kuningnya. Pasti sudah dicampur 'sesuatu'.

Saya:
Enak e, Om, moke putih ni. Campur apa?

Om:
Campur obat.

Saya:
*tampang nganu*

Om:
Obat bagus itu.

Saya:
ENAK!


Hahaha. Terus, setelah itu saya berkeliling lokasi rumah hingga ke atas bukit. Pemandangannya bagus sekali apalagi kalau terus sampai ke puncaknya. Rumah ini bakal keren sekali. Terutama kalau sore-sore menikmati kopi dari puncak bukit (bagian belakang rumah). Semoga ... suatu saat nanti.

⇜⇝

Gotong royong yang saya perhatikan hari Sabtu kemarin merupakan cerminan masyarakat Indonesia itu sendiri. Kita berbeda agama dan suku tapi akan tetap bersatu dalam gotong royong, dalam contoh paling sederhana: membangun rumah. Saya pasti akan kembali ke Towak, Nagekeo, karena pembangunan rumah ini akan memakan waktu beberapa minggu/bulan, sehingga masih ada waktu untuk melihat proses demi prosesnya. Doakan semoga lancar, ya, kawan!

Baca Juga: Berburu Spot Foto Instagenic di Dapur Jadul di Raba

Terus ... kalian kapan ke Flores? Hehe.



Cheers.