5 Desa 5 Potensi


Alhamdulillah awal tahun 2019 sudah banyak kegiatan yang saya lakukan baik kegiatan yang berhubungan dengan kampus, maupun kegiatan di luar kampus. Salah satu kegiatan di dalam kampus yang saya sukai adalah peliputan kegiatan Natal Bersama di Fakultas Ekonomi yaitu Misa Oikumene yang dipimpin oleh Pater John Ballan, SVD. dan Pendeta Ferluminggus Bako, Sth. Sedangkan kegiatan di luar kampus antara lain kegiatan #EndeBisa, ngemsi di acara ultah Ezra, ngumpulin batu bakal Stone Project (salah satu resolusi 2019), jalan-jalan awal tahun di Pantai Nangalala, hingga kerjaan tukang syuting di beberapa desa.

Baca Juga: 5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Sebenarnya sudah lama saya menolak tawaran atau permintaan menjadi tukang syuting semacam syuting acara pernikahan. Alasannya sederhana: Cahyadi, tukang syuting andalan saya itu, sedang ada kerjaan lain yang tidak memungkinkannya untuk bekerja di pagi hari (misalnya syuting proses make up hingga pemberkatan di Gereja atau akad nikah di Masjid). Masa iya saya cuma menerima proyek syuting khusus resepsi yang umumnya dilakukan malam hari saja? Mana ada calon pengantin yang mau! Jadi, saya menolak proyek-proyek syuting itu meskipun Rupiah-nya menggoda imannya dinosaurus. Tapi ketika saya dihubungi oleh dua kecamatan yaitu Kecamatan Ende dan Kecamatan Ende Utara untuk mendokumentasikan kegiatan di desa di bawah payung Program Inovasi Desa (PID), saya langsung menyetujuinya. Alasannya juga sederhana: waktu kerja yang fleksibel.

Untuk Kecamatan Ende, Cahyadi mendapat tugas paling berat, karena lokasi desa-desa 'jajahannya' itu sangat jauh dan medan menuju lokasi yang tergolong berat. Sampai suatu kali Cahyadi pulang dan bercerita bahwa dia jatuh dari sepeda motor karena bebatuan jalanan yang tidak bisa diajak kompromi. Sedangkan untuk Kecamatan Ende Utara saya masih bisa menanganinya karena selain waktunya yang fleksibel, juga lokasinya masih dekat-dekat Kota Ende.

Dari video-video yang kemudian saya sunting, saya melihat bahwa setiap desa mempunyai potensi yang luar biasa besar, yang seharusnya menjadi fokus pemerintah untuk mengembangkannya. Agar apa? Agar masyarakat berdikari. Tentu, sebagai tahap atau langkah awal diperlukan bantuan seperti bimbingan dan pendampingan hingga dana. Bimbingan dilakukan bertahap oleh Tim PID maupun instansi terkait, sedangkan dana masih diusulkan dari dana desa.

Bapak Drs. Kapitan Lingga, Camat Ende Utara, mengungkapkan bahwa dana desa dapat dipakai untuk keperluan kelompok-kelompok dari upaya pemberdayaan masyarakat desa ini, asalkan betul dimanfaatkan dengan baik. Maksudnya adalah adanya laporan keuangan yang transparan dari penggunaan dana-dana tersebut. Kita tahu, dana desa telah membantu begitu banyak masyarakat desa untuk menikmati fasilitas diantaranya jalan desa yang dibikin baik menjadi jalan rabat, pembangunan kantor desa dan faskes, pembangunan fasilitas olahraga, hingga bantuan untuk kelompok-kelompok pemberdayaan masyarakat desa. Dana desa dilaporkan penggunaan/pemanfaatannya dua kali setahun. Jadi, setengah dana desa digelontorkan, enam bulan pelaporan baru setengahnya lagi digelontorkan. Kira-kira begitu informasi yang saya baca dari buku Dana Desa keluaran Kementrian Keuangan.

Kembali pada judul pos ini, 5 Desa 5 Potensi, saya ingin menulis tentang potensi lima desa yang telah kami dokumentasikan.

Apa saja potensi desa-desa tersebut?

1. Keripik Ubi dan Pisang


Desa Mbomba merupakan desa yang berada di bawah pemerintahan Kecamatan Ende Utara. Dua jenis hasil bumi unggulan dari desa ini adalah ubi (singkong) dan pisang. Oleh Tim PID, masyarakat desa khususnya kaum ibu dibentukkan kelompok kemudian diberdayakan untuk mengolah hasil bumi unggulan tersebut menjadi panganan tingkat dua berupa keripik ubi dan pisang.



Saya sudah merasakan hasil olahannya dan lidah saya jatuh cinta sama keripik ubinya, terutama yang belum dicampur bumbu tabur. Renyah dan gurih sekali, kawan. Rasanya mirip keripik ubi berbahan ubi Nuabosi. Untuk ubi Nuabosi, silahkan baca pos Puskesmas Cantik di Tanah Ubi Roti ini, ya.

2. Tenun Ikat


Sama dengan Desa Mbomba, Desa Gheoghoma juga terletak di wilayah Kecamatan Ende Utara. Kekayaan sumber daya dari desa ini yang diangkat oleh Tim PID adalah tenun ikatnya. Ada tiga kelompok penenun dari tiga dusun di Desa Gheoghoma yang telah dibentuk sejak tahun 2018. Mereka juga mendapatkan pendampingan dari instansi terkait salah satunya Perindustrian, serta menurut Kepala Desa, hasil tenun ikat dijual di Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Kita harapkan bersama tenun ikat dapat semakin naik nilainya di mata dunia karena proses pembuatannya cukup panjang dan melelahkan. Mereka, pada penenun itu jenius ya ... membikin motif itu! Sungguh jenius.


Pos lengkap tentang proses menenun di Desa Gheoghoma dapat kalian baca pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat ini.

Baca Juga: 5 Workshop Blogging & Social Media

3. Air Terjun Tonggo Papa


Sudah lama Air Terjun Tonggo Papa dikenal khalayak. Banyak yang ke sana loh termasuk teman-teman saya. Saya dan Kakak Pacar sepasukan pernah ke sana juga, tapi karena sayanya tidak kuat, karena kaki yang uzur, berhenti di tengah jalan. Mereka yang kuat, tapi karena solidaritas, justru ikutan berhenti menemani saya menikmati aroma dedaunan. Huhuhu.


Air terjun merupakan wisata alam yang paling banyak dijumpai di Kabupaten Ende. Di dekat Kota Ende saja ada Air Terjun Kedebodu. Air Terjun Tonggo Papa terletak di Desa Tonggo Papa, masih dalam wilayah Kecamatan Ende. Cahyadi yang mendokumentasikan ini. Yang saya suka adalah adanya wisata / atraksi wisata buatan seperti sayap kupu-kupu yang satu ini:


Artinya, baik pemerintah desa maupun masyarakat desa sama-sama sadar bahwa wisata alam akan lebih menarik dengan adanya wisata buatan sebagai pendukung (wisata utamanya). Haha. Itu analisa asal-asalan saya saja. Saya masih punya mimpi untuk 'harus' bisa turun-naik pergi-pulang Air Terjun Tonggo Papa. Doakan yaaaa *elus-elus kaki*.

4. Kemiri


Tidak disangka, berdasarkan pengakuan dari Kepala Desa Wologai, dinyatakan bahwa Desa Wologai sanggup memenuhi permintaan kemiri berapa ton pun. Tapi kalau minyak kemiri ... tunggu dulu. Karena itu masih merupakan rencana ke depan untuk menopang perekonomian masyarakat Desa Wologai - Kecamatan Ende.



Coba informasi ini saya peroleh dari dulu. Dulu itu ... saya dan Sisi, sahabat tergila, punya perusahaan kecil pembuatan minyak kemiri perawan haha. Maksudnya kami memproduksi minyal kemiri asli yang dikirim ke perusahaan teman di Belgia sana. Kemudian mandeg. Sebenarnya mandeg bukan karena kehabisan stok kemiri, yang adalah tidak mungkin, tapi karena satu dan lain hal *senyum manis*.

5. Virgin Coconut Oil


Kalau yang satu ini juga masih dari kelompok minyak perawan. Virgin coconut oil dari Desa Emburia - Kecamatan Ende. 


Tidak disangka di Desa Murundai yang letaknya super jauh dari Kota Ende itu sudah ada usaha pengolahan kepala menjadi virgin coconut oil dan bahkan telah diberi label! Mereka mengandalkan potensi pohon kelapa yang tumbuh subur di desa tersebut.


Prosesnya masih sederhana dan tentu masih membutuhkan bimbingan dan tambahan modal/dana. Tapi melihat hasil yang sudah dicapai sejauh ini, saya pikir dana harus digelontorkan untuk mereka. Baik dari dana desa maupun dari dana lainnya.

Setiap desa punya potensinya masing-masing. Tugas kita bersama adalah untuk melihat, menggali, mengembangkannya, hingga memperkenalkannya, demi masyarakat desa berdikari.


Di Kabupaten Ende ini banyak sekali desa (dan kelurahan) yang bisa terus digali potensinya baik potensi wisata maupun potensi hasil bumi. Semuanya masih dapat dikembangkan, terus-menerus, agar menjadi 'besar'. Tapi tentu harus ada upaya lain untuk mendukung itu semua. Desa Wologai misalnya. Desa yang jalannya luar biasa bikin jantung kebat-kebit dan bikin Cahyadi jatuh dari sepeda motor ini, akses jalannya itulah yang harus diperhatikan untuk mendukung proses jual-beli kemiri yang bisa dilayani berton-ton tersebut. Kan sayang kalau calon pembeli malas ke sana (untuk melihat kualitas kemiri misalnya) hanya gara-gara kondisi akses jalan.

Salah satu potensi desa yang pernah juga saya bahas di blog travel adalah Desa Manulondo. Di sana ada Ritual Goro Fata Joka Moka. Ini ritual tolak bala yang dilakukan bisa sampai tiga hari lamanya. Unik sekali ritual tersebut, silahkan baca kalau penasaran, dan itu merupakan potensi wisata budaya yang harus terus ada/berkelanjutan. Entah sekarang, apakah ritual tersebut masih terus dilaksanakan atau tidak. Belum lagi potensi di desa-desa lain seperti desa-desa penyangga Danau Kelimutu hingga desa-desa di wilayah pantai bagian Utara Kabupaten Ende (saya pernah peroleh informasi tentang hutan bakaunya). Luar biasa memang ... kita harus keep digging.

Baca Juga: 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Well, semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua. Siapa tahu kalian juga ingin menggali dan menceritakan lebih banyak potensi yang ada di desa kalian. Ya kan ... bagi tahu saja di papan komentar, nanti saya kunjungi blog-nya. Hehe.

Semoga bermanfaat!



Cheers.

Proses Pembuatan Tenun Ikat


Karena pos ini (cukup) bermanfaat bagi siapapun yang ingin tahu tentang proses pembuatan tenun ikat, menurut saya sih bermanfaat, saya mengunggah tulisan yang sama di dua blog secara bersamaan, blog yang ini dan blog yang itu. Supaya adil, merata, dan makmur. Saya paling tidak enak perasaan loh kalau dibilang tidak adil sama blog sendiri, terutama jika dinosaurus mendukung aksi protes blog-blog itu *digampar*. 


Tenun ikat merupakan salah satu ciri khas Indonesia bagian Timur. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sendiri setiap daerahnya mempunyai kekhasan motif-nya masing-masing. Jadi, kalau kalian bilang, "Ini tenun ikat NTT loh!" maka pasti ada yang bertanya, "NTT wilayah mana?" Hehe. Saya jamin kalian tidak bisa mengoleksi semua jenis tenun ikat asal NTT, kecuali:

1. Kalian jutawan yang duitnya bikin dinosarus mupeng. 
2. Kalian membelinya bertahap.

Baru-baru ini saya mendapat kesempatan super istimewa karena diperbolehkan meliput dan mendokumentasikan kegiatan proses pembuatan tenun ikat. Lokasinya di Desa Gheogoma, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende. Hanya sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Ende. Kegiatan ini merupakan kegiatan dari PID Kecamatan Ende Utara; pemberdayaan masyarakat desa dengan menggali potensi desa, memberi pelatihan dan dana, mengembangkannya, hingga memasarkannya. Berkaitan dengan ini, kalian bisa membaca pos tentang 5 Keseruan Jadi Tukang Syuting.

Oia, sebelumnya kalian sudah harus tahu kalau di Kabupaten Ende tinggal dua suku besar yaitu Suku Ende dan Suku Lio, sehingga beberapa kata/istilah dalam proses ini memang berbeda dari bahasa dua suku tersebut.


Proses pembuatan tenun ikat di Desa Gheoghoma saat proses syuting kemarin diikuti oleh tiga kelompok yang telah dibentuk sejak tahun 2018 yaitu Kelompok Bunga Mawar dari Dusun Mau'munda, Kelompok Naganai dari Dusun Naganai, dan Kelompok Bunga Melati dari Dusun Nuarenggo.

Sekarang, mari kita simak satuper satu prosesnya:

1. Woe


Woe adalah proses menggulung benang sehingga berbentuk bola. Jadi, zaman dulu itu woe dilakukan dari bentuk kapas menjadi bentuk benang ke alat woe, lalu dari alat woe digulung lagi sehingga berbentuk gulungan benang (bola benang). Tapi sekarang, benang bakal tenun ikat ini dibeli di toko khusus yang menjualnya sehingga mempercepat proses awal ini. Bye bye pohon kapuk. Haha.


2. Meka


Setelah woe, proses berikutnya adalah meka. Meka merupakan proses mengurai gulungan benang ke alat meka seperti pada gambar berikut:



3. Go'a


Meskipun terlihat hampir sama dengan meka, go'a berbeda (merupakan proses selanjutnya) dan dilakukan di alat ndoa go'a. Proses ini bermaksud menentukan ukuran sarung tenun ikat nanti. Misalnya sarung Mangga milik saya yang dibikin oleh kakak ipar itu dibikin ukurannya lebih besar sesuai bodi dinosaurus hahaha. Ukuran normalnya sih tidak begitu.


4. Pete


Pete atau ikat/mengikat merupakan proses penentu motif yang diinginkan. Dari yang saya amati, pete terbagi atas dua. Yang pertama adalah proses memilah urat benang sehingga dikelompokkan dan diikat berdasarkan jumlah urat benang seperti pada gambar berikut:


Kemudian dilanjutkan dengan pete motif seperti pada gambar berikut:


Waktu saya tanya, motif apa yang dibuat, si Mama menjawab motif Labu. Dari hasil wawancara dengan perwakilan kelompok yaitu Gaudensia Titi, motif yang dihasilkan memang macam-macam, diantaranya motif Mangga, motif Nggaja, hingga motif yang dimodifikasi yaitu motif Burung Garuda seperti yang dipakai oleh Mama berikut ini:


Coba lihat lebih dekat/teliti, sarung yang dipakai oleh Mama ber-zambu (baju Ende) biru pencampur obat pewarna itu bermotif burung garuda. Keren ya.

Nah, nama daun yang dipakai untuk pete ini saya lupa hahaha. Sejenis daun kelapa tapi kata si Mama bukan daun kelapa.

5. Celup


Celup atau pencelupan atau pewarnaan dilakukan beberapa kali. Setelah benang tenun ikat di-pete, maka dilakukan pencelupan. Pada zaman dahulu bahan pewarna untuk pencelupan ini adalah bahan-bahan alami seperti akar mengkudu (kembo) dan daun taru tapi sekarang bahan-bahannya bisa dibeli di toko khusus yang menjualnya. Tapi jangan salah, beberapa penenun masih membikin tenun ikat dengan pewarna alami untuk menghasilkan sarung berjenis kembo yang super sekali dan harganya pun jutaan Rupiah.

Saat syuting kemarin, karena untuk kebutuhan video dokumenter saja, proses pencelupan dilakukan dua kali yaitu pertama pencelupan warna hitam:


Proses pencelupan pertama selalu warna hitam sebagai warna dasar. Campuran obat pencelupan warna hitam pertama harus pakai air panas. Apakah itu sebabnya para Mama ini memakai sarung tangan? Tidak juga. Mereka memakai sarung tangan selain karena panas juga agar tangan mereka tidak ikut berubah warna hahaha. Setelah pencelupan pertama untuk warna hitam ini, lagi-lagi mereka mencelup dengan warna hitam juga tapi campuran obatnya sudah pakai air dingin/biasa. Warna bakal tenun ikat ini dari oranye langsung berubah jadi hitam pekat (lebih hitam dari pencelupan hitam pertama).

Setelah itu dilakukan pencelupan warna kedua, warna yang diinginkan adalah merah:


Obat pewarnanya keren euy hehehe.

6. Mengurai


Setelah kering rangkaian benang yang dicelup, lantas dibuka ikatannya dan diurai seperti nampak pada gambar berikut ini:


Setelah diurai, lalu direntangkan untuk dipasang di alat tenun. Biasanya, menurut para Mama, dalam proses pencelupan setelahnya rangkaian benang diberi kanji agar kaku. Kenapa begitu? Supaya lebih mudah saat ditenun dooonk hehehe.


7. Senda


Senda artinya menenun. Selain bekal rangkaian benang yang sudah melalui tahap pencelupan dan penguraian di atas, juga menggunakan gulungan benang lain (berwarna hitam) yang diistilahkan dengan poke. Poke ini ya untuk menenun itu:


Kalian lihat Mama ber-zambu putih yang berhadapan wajah dengan si penenun? Dia sedang menggulung benang poke yang diletakkan di dalam semacam pipa paralon. Caranya dengan menggosok benang poke di betisnya (bisa muluuuuus tuh betis tak perlu dicukur hahaha) lalu digulung di kayu yang nanti diletakkan di dalam pipa itu. Poke atau lempar; maksudnya pipa dilempar diantara gugusan serat kain lalu ditenun, dipisah lagi serat kain berikutnya dalam satu gugusan lalu di-poke dan ditenun lagi. Sampai selesai. Bayangkan berapa banyak benang poke yang dipakai?


Nanti, agar lebih jelasnya, saya akan coba mempersingkat video proses pembuatan tenun ikat ini khusus di bagian senda dengan poke-nya itu.

Membikin tenun ikat tidak semudah yang dipikirkan orang lain, apalagi dengan cara tradisional seperti ini. Oleh karena itu saya sendiri sangat menyayangkan jika tenun ikat, karya jenius ini, kemudian dijual dengan harga murah.


Setelah selesai ditenun, kain tenun ikat dijahit berbentuk sarung. Saya sendiri punya tenun ikat motif Mangga yang masih bentuk lembaran alias belum dijahit menjadi sarung Mangga. Biasaaaa dikasih kakak ipar hahaha.

Akhirnya ... senang juga bisa menulis ini. Dulu pernah menulis tapi tidak selengkap sekarang. Senang sekali kan saya mendapat kesempatan emas meliput semua prosesnya dalam beberapa jam saja? Kalau hari biasa ... mana bisaaaaa. Kita harus menunggu. Misalnya satu penenun itu dia woe satu hari, terus meka dua hari, terus go'a berapa hari, celup berapa hari, lalu senda bisa tiga bulanan. Malah, kalau membikin sarung tenun ikat menggunakan pewarna alami, prosesnya bisa menahun.



Baca Juga: #EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende

Demikian pemirsa, saya akhiri dulu pos ini. Semoga kalian suka!



Cheers.