ScootMatic


Pada semula jadi *backsound suara alam, cuitan Twitter burung, air terjun, dan daun-daun oak yang terkibas angin* saya begitu iri melihat orang-orang mengendarai sepeda motor matic seperti Yamaha Nouvo. Saya yang waktu itu masih mengendarai Suzuki Bravo berpikir keras bagaimana cara kerja rem motor matic tersebut. Tepatnya, saya jadi mupeng kan melihat pemandangan seperti itu, motor matic melintas gesit dan anggun. Lebih iri lagi, setelah lulus SMA, ketika saya melihat guru SMA mengendarai Vespa Corsa warna merah. Itu guru laki-laki, kendarai Corsa! Lha saya? Bravo! Dududu. Dasar saya ini anak tidak tahu diuntung.

Baca Juga : The Pause Pod

Suatu kali saya melihat salah seorang pemilik toko di Kota Ende mengendarai motor matic mungiiiillll banget. Ternyata kata orang-orang itu motor matic listrik. Lengkaplah sudah penderitaan saya.

Pada akhirnya saya bisa kendarai motor matic yang dibeli sendiri dengan susah payah. Yamaha Mio Sporty keluaran pertama! Dia saya baptis bernama Oim Hitup. Sumpah nih ya, sampai sekarang si lelaki yang jagoannya matic dari bengkel Anu, yang oleh orang-orang disebut dokter matic, masih mau membeli si Oim Hitup. Sebel kali ya si dia setiap kali saya lewat depan bengkelnya sama Oim Hitup sambil senyum-senyum. Maaf, Oim Hitupnya sudah diwariskan ke Thika Pharmantara. Gantinya, masih dari kelas Mio juga. Mio Fino yang saya baptis bernama Onif Harem.

Dunia motor matic ini luar biasa. Inovasinya melahirkan satuper satu motor matic tangguh idaman. Tapi bagi kalian yang tinggal di wilayah perkotaan dengan topografi 90% datar (tidak berbukit-bukit), motor matic tidak harus yang paling tangguh ya. Beda sama di Kota Ende. Kalau mau beli sepeda motor, harus yang tangguh, karena setiap hari bakal diajak hiking di jalanan tanjakan. Nah, untuk itu kalian yang tinggal di daerah minus perbukitan, perlu kenalan sama motor matic yang satu ini.

Namanya: SCOOTMATIC.


Tahun 2016 ScootMatic masih dalam tahap pengembangan (fund raised). Entah dengan sekarang. Saya belum berhasil menemukan informasinya. Akan tetapi pada artikel yang satu ini, dikatakan bahwa ScootMatic dibanderol seharga 1.799 Dollar. Kalau kalian tahu informasinya, boleh bagi tahu di kolom komentar.

Baca Juga : The Ninox Flatlay Hammock

ScootMatic diklaim sebagai combo sepeda atau skuter paling inovatif yang pernah ada. Berkat sistem brushless-nya, ScootMatic menjadi kendaraan yang ringan dengan berat 265 LBS. Apa saja yang ditawarkan oleh ScootMatic? Mesin 500W, konsep lipat unik, speaker bluetoothpengisi daya USB, remote control starterlayar LED, rem cakram hidraulik, suspensi depan dan belakang, baterai Samsung lithium, motor iInti Jerman, tahan air, sadel kulit, lampu depan LED, dibuat dengan aluminium penerbangan, sistem alaram seperti alaram mobil, dan lain sebagainya.


Dari Indiegogo ditulis bahwa ScootMatic telah memperluas jangkauan untuk gaya hidup perkotaan atau pinggiran kota. Dapat digunakan sebagai pengganti atau dengan transportasi umum, dan dapat membantu pengendara mencapai tujuan dengan kendaraan yang menyenangkan dan menarik! Menarik karena ringkas setelah dilipat, jarak 28 mil dengan sekali di-cas (setara 45 Kilometer) dan kecepatan 16 MPH. 

Khusus untuk paket telepon, ScootMatic disediakan asesoris yang sempurna seperti dudukan telepon (cocok untuk semua jenis ponsel: iPhone 5, 6, 6+, dan Ponsel Samsung), kemampuan untuk mengaktifkan GPS untuk arah saat dikendarai, kantong untuk membawa barang-barang berharga, terbuat dari PU berkualitas tinggi.


Di luar dari fitur-fitur di atas, yang jelas desain ScootMatic memang luar biasa. Sederhana dan ramping. ScootMatic memiliki tampilan ultra-modern. Semua fungsi ScootMatic terintegrasi dengan mulus dalam bentuk murni dan bekerja selaras bersama. Iya, itu yang ditulis di situs Indiegogo. Haha.

Baca Juga : Freestate, Sepatu Idaman Traveler

Nah, sekarang saatnya saya bertanya pada kalian ... maukah kalian mengendarai ScootMatic? Pertanyaan macam apa itu, Teh? Maaf, maaf. Bukan itu. Pertanyaan saya adalah, apabila kalian punya informasi lebih tentang ScootMatic, seperti apakah sudah dijual di Indonesia dan berapa harga pastinya, maukah kalian berbagi informasi itu pada saya? Hehe. Gemas to the max soalnya melihat penampakannya.

Selamat bermupeng-ria!


Cheers.

The Pause Pod


Saya dan tenda seperti dua kutub yang aneh. Saya begitu ingin punya satuuuu saja tenda pribadi yang bisa dipakai kapan dan di mana saja; misalnya saat sedang berada di kampung halaman Kakak Pacar, terus berkemah di Bukit Pandang Kolibari. Sedangkan tenda begitu enggan untuk saya miliki karena belum cukup penting untuk dibeli. Dan, mungkin si tenda merasa tanda-tanda penganiayaan apabila saya berhasil memilikinya. Menyedihkan, tapi nyata. Mengingat keinginan saya yang selalu tidak normal, si tenda pasti kuatir setiap siang saya ajak ke pantai buat tidur siang!


Maka saya berpikir tentang pergi berkemah tanpa harus menenteng tenda. Tapi berkemah tanpa tenda artinya mimpi di siang bolong karena sebagai orang awam saya tidak punya kemampuan membikin shelter menggunakan bahan yang disediakan oleh alam, pun membikin shelter sederhana berbahan selimut, kayu, dan tali, misalnya. Siap-siap tidur ditemani hewan-hewan mini, Teh. Lantas saya membaca, kemudian menulis, tentang tenda otomatis ini. Praktis memang si tenda otomatis. Tinggal buka ... trada ... silahkan dipakai. Hanya menulis, bukan membeli. Tapi ternyata, masih ada yang lebih praktis dari tenda otomatis! Heeee? Yakin itu? Yakin sekali, kawan. Praktis dan bahkan bisa dipakai di dalam ruang kantor yang sempit!

Perkenalkan si hitam mini yang bikin saya dan kalian ngiler sejadi-jadinya ... 

The Pause Pod


Your private pop up space. Demikian yang tertulis di situsnya. The Pause Pod merupakan tenda mini dengan berat 2,5 kilogram saja! Saat tidak digunakan, The Pause Pod dengan mudah dilipat (berbentuk bundar seperti gambar di awal pos) dan dapat disimpan di lemari atau di samping lemari. Membawanya ke lokasi tujuan seperti kantor dan/atau tempat wisata pun mudah, hanya disampirkan di pundak. Karena ringan, saya yakin siapapun yang pernah memikul galon air minum tidak akan merasa kesulitan. Termasuk si Thika Pharmantara. Hahahaha.

The Pause Pod dirancang sebagai private pop up space saat sedang berada di kantor, berada di rumah, maupun digunakan saat bepergian, tanpa merepotnya pemiliknya. Private pop up space artinya The Pause Pod merupakan ruang pribadi yang dapat kita gunakan di mana saja ketika menginginkannya. Misalnya saat jam istirahat siang di kantor; untuk relaksasi, membaca, atau tidur siang. Saat ingin membaca tanpa diganggu penghuni rumah lainnya. Atau saat sedang berada di tempat wisata kemudian mendadak pengen istirahat.

Memangnya The Pause Pod bisa dipakai buat tidur? Bisaaa. Karena benda ini dilengkapi dengan ekstra ruang untuk kaki dalam posisi tidur seperti pada gambar di bawah ini:


Mak! Sahdu sekali. Eh, nyaman sekali! Ngiknguk lah! Kalau pengen full privacy, kancing saja pintu masuknya! Bahkan pintu masuk tenda bisa dibuka setengah saja sebagai jendela tambahan.


Jadi apa saja keuntungan memiliki The Pause Pod?

1. Mudah dibuka dan dilipat.
2. Double zipper di luar dan di dalam.
3. Ada jendela mini untuk masuk keluar udara.
4. Ringan (2,5 kilogram).
5. Ekstra ruang untuk kaki (posisi tidur).

Kenyamanan seperti ini bisa didapat dengan harga:


Kalau di Indonesia, cuaca selalu menjadi sandungan saat berkemah apalagi menggunakan tenda sekecil ini. Jangan kuatir. Saran saya kalau kalian memiliki tenda ini:

1. Waktu
The Pause Pod digunakan untuk berkemah sehari dua hari karena ruangnya tidak seberapa lega untuk menyimpan barang bawaan dan perbekalan.

2. Cuaca
Usahakan untuk menggunakan The Pause Pod saat cuaca sedang cerah. Hujan terlalu lebat ditambah angin kencang juga bisa bahaya, menurut saya. Kalau terlalu terik? Carilah lokasi di bawah pohon atau di dekat sungai. Perlu tambahan membawa kipas angin portabel yang bisa disambung ke power bank. Lebih bagus lagi kalau kalian membawa panel surya mini seperti yang dimiliki oleh backpack yang satu ini.


Baca Juga : BlogIt! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone

Saya tahu ini masih mimpi. Tapi suatu saat saya bakal punya The Pause Pod. Yakin :) Kalau camping area pakai The Pause Pod boleh juga kan ya hahaha.

Semoga.



Cheers.

The Ninox Flatlay Hammock


Apa yang paling saya suka dari seorang Kiki Arubone? Cewek cakep Sarjana Pendidikan yang pada hari wisudanya tahun lalu justru terbang ke Jakarta? Apa ya ... hmm ... Actually, I like everything about her. Bila kalian berhadapan dengannya, jangan pernah menilai dirinya hanya dari perawakannya yang mungil, karena kalian bakal terkecoh! Cewek tangguh ini adalah founder FLOPALA (Mapala-nya Universitas Flores). FLOPALA itu singkatan dari Flores Pecinta Alam. Dia sudah menaklukkan banyak gunung di Pulau Flores; kalau di luar Pulau Flores saya harus bertanya lagi pada cewek yang dijuluki Edelweiss Flopala ini. Tapi dari semua hal tentang Kiki, saya sangat suka foto-foto perjalannya, terutama kalau dia lagi asyik di atas hammock. Seperti pada foto di awal pos ini! Tuuuh kaaan dia sukses bikin saya terkapar iri. Hiks.


Kami, saya dan Kiki, sama-sama suka jalan. Sama-sama suka #KakiKereta. Tapi dia jalannya lebih keren karena pasti selalu berhubungan dengan alam liar salah satunya mendaki gunung sambil pikul carrier yang besarnya hampir sama dengan tubuhnya. Sedangkan saya cukup jalan di alam bawah sadar saja. Qiqiqiqi ;)) 

Jadi, apa itu hammock?

Mengintip Wikipedia; hammock disebut buaian atau tempat tidur gantung. Hammock adalah jenis tempat tidur berupa kain seperti ayunan yang digantung pada kedua ujungnya. Umumnya tempat tidur jenis ini digunakan oleh orang yang tinggal di daerah tropis. Hammock diproduksi di banyak negara antara lain Mexico, Perancis, India, Kanada, dan Indonesia. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat hammock misalnya kain katun, kain ikat, nilon parasut, tali, hock (pengait) dan lainn-lain. Namun, hammock nilon parasut lebih disukai karena mudah didapat, cepat kering, ringan, dan sederhana. Ada beberapa jenis hammock diantaranya chair hammock (hammock kursi), sleeping hammock (hammock tidur), net hammock (hammock jaring).

Hammock itu ibarat tenda; orang-orang yang gemar berkegiatan di luar ruangan seperti pendaki gunung pasti membawa salah satunya dan/atau membawa keduanya. Namun hammock punya satu kekurangan yaitu ruang tidurnya yang tidak mengijinkan tubuh untuk rebah lurus karena stukturnya yang melengkung. Oleh karena itu, Richard Rhett dari Sierra Madre Research menciptakan, eh, membikin sebuah hammock trendi bernama:


Hammock yang dibikin sama Richard ini punya banyak kelebihan yang membedakannya dari hammock lain:



Baca Juga : Backpacks Impian


Apa yang membuat Ninox Flatlay Hammock ini berbeda dari hammock lainnya? Kalian bisa melihat pada gambar ketiga di atas; wave shaped patterns, knotless design, serta comfy flatness. Luar biasa! Tidur di hammock tapi rasanya kayak tidur di kasur? Ninox Flatlay Hammock solusinya. Ninox Flatlay Hammock juga dilengkapi dengan kelambu anti serangga (kalau kita sebut kelambu pengantin anti nyamuk) dengan zipper. Bagian bawahnya terdapat satu ruang lagi untuk menyimpan beberapa barang penting. Selengkapnya bisa kalian lihat pada gambar-gambar di atas dan di bawah ini:

Berasa tidur di kamar pengantin.

Seperti di surga :D

Ngiknguuukkk banget kaaan ini bikin mupeng!


Bagi kalian yang ingin memilikinya, Ninox Flatlay Hammock dibanderol 159 Dollar. Belinya di mana? Di sini

Saya yakin, Kiki Arubone pasti mupeng juga kan ngelihat si Ninox Flatlay ini. Tapi dia kan sudah punya. Etapi kalau Kiki mau ngebeli lagi, yang lama hibahkan saja buat saya. Lumayan kan, Ki, jelong-jelong ke Hutan Pinus Wisata Kebesani terus gantung hammock diantara pohonnya, terus ketiduran sampai malam. Bangun-bangun sudah di Maurole hahahaha. Dipindahin.


Menurut saya informasinya sudah cukup jelas. Jadi kalau kalian pengen beli hammock yang kuat dan nge-flat kalau diajak tidur, yuk monggo ...



Cheers.

Inovasi Aldebaran, Listrik Gratis Untuk Masa Depan Indonesia


Kalau kita menggunakan sumber daya alam secara boros dan tidak terkontrol, lalu apa yang akan ditinggalkan untuk generasi yang akan datang? Secara egois, manusia membutuhkan banyak sumber daya untuk menghasilkan listrik dan kebutuhan lainnya di masa ini. Sedangkan, anak cucu bahkan cicit kita nantinya, akan terkena imbas dari borosnya pemakaian sumber daya pada saat ini. Memang secara logika, sumber daya masih melimpah ruah dan diprediksi tidak akan habis, namun alangkah bijaknya kita menggunakan segalanya dengan bijak dan tidak melampaui batas. 

Masa depan dan sumber daya adalah hal yang akan sangat terkait. Listrik adalah salah satu hal yang membuat kita semua merasakan teknologi. Lagi-lagi saya dan kita semua dihadapkan pilihan yang semakin sulit. Harga listrik bukannya semakin menurun, malah naik tiap tahunnya. Bayangkan jika listrik terus-menerus naik, maka akan berimbas bukan hanya pada kita, namun pengusaha dan pelaku industri yang akan semakin menjerit karena biaya listrik pun semakin membengkak. 


We need the new innovation. Banyak hal yang harus kita lakukan untuk masa depan, salah satunya inovasi dalam listrik. Kita tidak mungkin terus menerus menggunakan energi dari fosil yang tidak dapat terbarukan lagi. Membutuhkan beberapa ribu tahun lagi untuk mendapatkan sumber daya tersebut. Sedangkan kebutuhan akan listrik terus menerus dan akan terus meningkat. Kita membutuhkan hal baru yang ramah lingkungan dan bisa dinikmati siapapun di Indonesia bahkan Dunia. 

Solar Panel, kita tahu bahwa teknologi ini mampu mengatasi permasalahan kekurangan listrik dengan menyerap energi matahari secara gratis dan tidak akan membayar apapun kecuali di depan kita membayar solar panel tersebut. Masalahnya, solar panel hanya mampu menyalurkan tanpa bisa menampungnya. Tidak cukup rupanya sebuah solar panel tersebut, kita membutuhkan sebuah medium untuk menampungnya dan dapat menyimpan untuk jangka waktu yang lumayan lama. 


Rumah masa depan yang hemat energi serta ramah lingkungan adalah sebuah impian yang akan semakin nyata. Aldebaran, sebuah perusahaan Indonesia siap membuat konsep baru yang dapat menampung listrik dan dapat digunakan setelahnya. Inovasi tersebut berupa Baran Power Wall, Baran EV dan Baran Cube. 

Baran Power Wall itu digunakan dalam skala rumah dan home industri, sedangkan Baran Cube diperuntukan untuk skala industri besar. Baran EV (Electric Vehicle) bisa disebut mobil listrik masa depan yang tidak memerlukan bahan bakar seperti bensin.  



Bangga memiliki sosok Victor Wirawan  yang merupakan CEO sekaligus Owner dari PT Aldebaran Rekayasa Cipta dan Dihar Dakir selaku Corporate Secretary dari PT Aldebaran Rekayasa Cipta. Pak Victor memiliki gagasan yang sangat inovatif dan sangat layak diterapkan di Indonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama. 

Muda dan berinovasi, seperti inilah gambaran Aldebaran yang mampu melakukan inovasi dalam menghemat energi dan sangat ramah lingkungan. Selama ini kita membayangkan bahwa konsumsi listrik akan terus meningkat, namun tidak sampai pada pemikiran bagaimana merancang sebuah inovasi yang bisa membuat listrik itu gratis dikonsumsi dengan bantuan sebuah alat yaitu Baran Power Wall. 


Saya cukup surprise dengan teknologi ini. Baran Power Wall mampu menampung 8.800 Wh dengan durasi charge atau pengisian selama 4 jam tergantung dari cuaca pada hari itu. Baran Power Wall didesain sangat simple namun tidak mengesampingkan lifestyle dari pemiliknya karena sangat menyatu dengan hunian. 

Selama ini kita mendambakan sebuah rumah yang sangat ramah lingkungan, simple, tidak meninggalkan lifestyle dan sangat powerfull. 


Lalu bagaimana dengan cara pemakaian dan pemasangannya? Baran Power Wall sangat mudah digunakan dan mudah dipasang. Konsumsi listrik per hari pun pasti tidak akan melebihi dari kapasitas yang disediakan. Kalau memiliki rumah yang sangat luas, bisa dipasang beberapa Baran Power Wall. Karena dirancang untuk menampung energi listrik, maka dimensinya sangat pas dan menempel di dinding dengan sangat cantiknya.


Baran EV ini memang dirancang hemat bahan bakar karena seratus persen menggunakan tenaga listrik sebagai penggeraknya. Secara pribadi saya sangat bangga dengan karya ini, karena tidak banyak pemuda Indonesia yang memiliki ide dan inovasi yang brilian mampu merealisasikan ditengah regulasi yang kurang mendukung untuk Industri kreatif anak bangsa. 

Ke depannya, saya berharap banyak sekali rancangan dan inovasi dari anak bangsa yang mampu menciptkan karya yang luar biasa dan tentunya ramah lingkungan. Informasi lengkap mengenai Aldebaran ini bisa diakses melalui https://www.baran-energy.com/ dan Instagram di https://www.instagram.com/baranenergy/ .

Saya tunggu karya-karya selanjutnya dari anak muda harapan bangsa. Kalau bukan kita yang berperan bagi Indonesia, siapa lagi? 

Mostheme From Indra Bagus


Hari Sabtu kemarin, ternyata setelah Hari Jum'at, dan ternyata sebelum Hari Minggu.

*dikeplak berjamaah*


Seriusnya, Hari Sabtu kemarin saya dihubungi seorang blogger perempuan cantik multi talenta bernama Ajeng. Lebih dikenal Ajengveran. Multi talenta karena sebagai seorang blogger dia tentu jago menulis, dia juga seorang travel blogger, dia bisa main alat musik macam gitar dan piano (atau orgen?) apalah namanya itu, dan bisa bernyanyi dengan sangat baik. Kalian sudah subscribe channel Youtube si Ajeng? Kalau belum, buruan subscribe! Jangan lupa untuk juga men-subscribe Himawan Sant, yess.

Apa pasal Ajeng menghubungi saya via WA (chat only!) itu? Ceritanya Ajeng menawarkan bantuan Iwan Indra Bagus buat masang tema di blog saya. Temanya: Most Theme yang penampakannya bisa kalian lihat di awal pos. Wah, mau lah saya! Tidak sampai 350 tahun kayak Indonesia dijajah Belanda, Indra membalas chat WA itu dan dari situ mulailah perburuan dinosaurus langka penggantian tema. Untung Indra ini baik banget, saya yang kesulitan dengan ini itu soal HTML karena kemampuan otak yang terbatas dengan RAM dan ROM 1GB, dibantu dengan senang hati.


Hasilnya ... TRA-DA ...

Akhirnya tema Most Theme-nya Bung Frangki sudah jadi wajah baru blog saya :D

Saya suka! Saya suka! Menjadi lebih rapi, lebih responsive, lebih cepat loading baik di laptop maupun gadget. Banyak hal lain yang tidak bisa saya tulis di sini, yang juga diperbaiki sama Indra. Kan luar biasa dunia blogger ini. Teknologi, indeed, mempermudah hidup umat manusia. Coba bayangkan kalau tidak ada aplikasi WA, misalnya, proses penggantian tema atau template blog ini bisa memakan waktu berbulan-bulan karena saya harus naik perahu ke rumah Ajeng, lalu ke rumah Indra, lalu balik ke rumah saya, eeeh ada yang lupa, kirim surat beserta pesan eror-nya (kalau pakai perahu kan lebih sopan secara saya penerima hibah haha) ke Indra, dibalas, terus saya balas lagi.

Guuuuubrak ... itu aneh *tunjuk kalimat terakhir di atas*

What's next?

Tetap menulis. Berusaha agar semangat menulis tetap menyala. Meskipun saking menyalanya itu semangat, banyak juga pos yang saya tulis lebih dulu dan dijadwal untuk terbit qiqiqiqi. Soalnya saya kuatir kalau terlalu lama mengendap ide menulisnya, lantas menguap. Alhamdulillah semangat menulis ini masih (terus) ada. Karena menulis merupakan salah satu cara paling elegan menyimpan sejarah. Tsaaaah.

Baiklah, sebelum saya mengakhiri pos ini, ada satu informasi penting yang harus di-share. Cekidot!

SOLIDARITAS UNTUK KAMPUNG ADAT NGGELA (NUA NGGELA)

Dua puluh dua  sa'o atau rumah adat di Nua NGGELA, sebuah kampung tua di Kecamatan Wolojita, kabupaten Ende, Flores terbakar ludes siang ini, Senin 29 Oktober 2018. Cuaca panas dan berangin menyebabkan api yang bermula dari  atap Sa'o Labo rumah adat keempat  dari arah Utara, dengan sangat cepat menyambar sa'o-sa'o di sekitarnya.

Semuanya bangunan kayu, bambu dan beratap ilalang. Hanya berselang satu setengah jam dari pukul 13.00 waktu setempat api sudah menghanguskan ke 22 sa'o beserta 1 balai pertemuan adat (Keda) dan 10 rumah warga rata dengan tanah. Saat ini tidak kurang dari 32 keluarga sangat membutuhkan solidaritas kita untuk membantu mengatasi situasi darurat.

Atas bantuan anda kami warga NUA NGGELA mengucapkan banyak terima kasih.

DONASI berupa barang dapat diantar ke Posko Ende di Dasi Guest House (Didi Dasi Muda) - Jalan Durian Ende.

DONASI berupa uang bisa ditransfer ke no.rekening bank BNI : 0759972495 Atas nama IBU FRANSISKA FILOMENA WEKI BHERI.

NARAHUBUNG:
1. IBU SERE (081353522308)
2. IBU SISKA (081337200351)
3. ANTONIA NONA (082342112116)
4. IBU ERTA PORA (08129548790)

Nggela, Kampung/Desa Adat yang baru saja hendak saya tulis untuk blog travel tentang upacara adat Joka Ju (tolak bala) setelah menulis tentang Joka Ingga, terbakar habis. Padahal Kampung Adat Nggela dengan Joka Ju-nya itu terkenal sampai ke mana-mana. Membangun rumah adat pun tidak sekedip mata. Mengembalikan trauma korba pun tidak sekedip mata. Mari berdo'a untuk saudara-saudara kita di Kampung Adat Nggela. Semoga kejadian kampung adat terbakar (seperti yang terjadi di Gurusina) pun tidak terulang kembali. Manusia hanya merencanakan, Tuhan menentukan.

Semoga.

Anyhoo, ada yang bisa ngasih tahu saya, kenapa saya tidak bisa membalas komentar kalian?


Cheers.

Freestate, Sepatu Idaman Traveler

Gambar ini dan gambar lainnya diambil dari sini.


Sol sol do mi la la si laaaaa

*mata merem ngetes suara cempreng*

Nyanyi dulu yuk lagu Sepatu dari Tulus. Udah. Hah? Kok cepat? Karena kalau disuruh nyanyi saya bisa melantunkan dua album berturut-turut tanpa jeda. Sebaiknya kita akhiri urusan nyanyi sampai di sini sebelum kuping kalian tumbuh jamur tiram gara-gara suara saya.

Baca Juga : Backpacks Impian

Zaman dulu sepatu hanya boleh dipakai oleh raja-raja dan/atau bangsawan. Sepatu menunjukkan kasta atau kelas dari si pemakai. Terimakasih untuk perkembangan zaman serta penyamarataan hak-hak terutama hak asasi manusia, sehingga sepatu bukan lagi barang mewah yang hanya boleh dipakai oleh tuanku yang terhormat. Sepatu boleh dipakai oleh siapa saja. Bahkan bayi-bayi imut pun pasti pakai sepatu. Sepatu rajut si bayi itu kece badai tralala apalagi yang berwarna kuning. Bagi kita yang hidup di zaman canggih ini, sepatu sudah menjadi benda wajib, yang harus dipakai ketika keluar rumah.

Bagi traveler, sepatu termasuk benda wajib angkut meskipun ada juga traveler yang lebih nyaman memakai sandal jepit atau sandal gunung. Tentu saja sepatu yang dipilih haruslah yang nyaman dan ringan. Karena, aktivitas di luar ruangan bakal sangat sulit apabila memakai high heels duabelas senti. Naik ke puncak Gunung Kelimutu memakai high heels tidak saya anjurkan. Rempong, jeung! Selain nyaman, sepatu itu harus pula kuat alias tahan banting. Banyak orang bilang barang bagus itu tidak perlu bermerek dan mahal. Tapi, barang yang bermerek dan mahal itu oleh produsennya diusahakan haruslah tahan banting. Ada kualitas ada harga. Kita pasti tidak mau sepatu yang sekali pakai langsung bikin jempol kaki nongol menyapa dunia.

Salah satu sepatu yang saya rekomendasikan kali ini, termasuk sepatu yang sukses bikin iler saya tumpah ruah, adalah Freestate.

Freestate, best travel partner for your sole and soul.

Freestate didesain oleh Nicola Marshall-Jones dari Ten Thousand Island. Dibanderol 134 Dollar. Harga segitu terbilang murah untuk desain dan manfaat yang dirasakan oleh pemakainya. 


Apabila ada yang bilang tidak ada sepatu perjalanan multi tujuan terbaik, maka itu adalah klaim yang sangat berani. Itu yang tertulis di situs ini oleh Sarang Seth. Dalam industri yang menghabiskan miliaran Dollar dalam penelitian materialnya, akhirnya jadilah sepatu yang diklaim sebagai sepatu terbaik di seluruh dunia. Freestate; sepatu yang nyaman, fleksibel, bergaya, murah, tahan lama, dan cocok baik untuk kerja dan kegiatan di luar ruangan. Seth menulisnya: sepatu hibrida yang terlihat dan terasa nyaman.



Konstruksi elastis pada bagian tumit yang mengembang dan menyesuaikan dengan lekuk tumit memungkinkan Freestate dipakai dengan nyaman dengan kaus kaki maupun tanpa kaus kaki dan rasanya seperti kulit kedua yang membungkus kaki. Didesain dengan neoprene yang dapat bernapas dan TPU yang fleksibel, Freestate dapat dipakai kapan saja. Freestate yang dirancang tahan air hadir dengan lapisan dalam yang terbuat dari material eksklusif yang disebut Freelow, yang membantunya cepat kering. Konstruksi TPU, neoprene, dan karet, tidak terpengaruh oleh air sehingga pemakainya dapat menggunakan sepatu ini pun untuk berenang. Selain itu berkat kemampuan non-slip phylon pemakai dapat menekuk dan melenturkan kaki secara alami.


Freestate yang asyik dipakai di luar ruangan juga lebih ringan dari sepatu biasa karena dibuat menggunakan teknik jahit strobel yang canggih. Sepatu ini tahan lama, fleksibel, dan jauh lebih ringan dari sepatu lain. Freestate juga diklaim ramah terhadap mesin cuci, dan lapisan dalam Freeflow itu membantu proses pengeringan dengan seketika. Jadi, tak perlu menunggu lama atau nyalah-nyalahin cuaca.

Ngiler kan kan kan?


Bagaimana, kalian mau memilikinya? Silahkan siapkan 134 Dollar. Jangan tanya saya. Saya cukup bagian ngilernya saja. Karena, rak sepatu sudah cukup kesal dengan tingkah saya dan Thika hahaha. Tapi bagi kalian yang sering berkegiatan di luar ruangan, saya sangat menyarankan kalian membeli Freestate. Sekali beli, bisa dipakai lama dan bisa dipakai dalam kegiatan apapun.

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Backpacks Impian


Backpack, backpack, packpack. Saya memang serakah. Sudah punya banyak backpack tapi masih suka cuci mata di toko online terutama bagian backpack/daypack/ransel dan sepatu. Menurut hikayat, mata saya bakal lebih segar dan sehat, bahkan angka silinder berkurang, hanya dengan melihat foto backpack dan sepatu. Kenyataannya, mata saya memang terhibur tapi perasaan tersakiti patah jadi dua gara-gara harus menahan segala godaan syaitan yang terkutuk. Jempol tak boleh berkehendak seenak perut mengklik tombol beli atau tombol masukkan ke keranjang. Perasaan ini lebih sakit dari pertanyaan: kapan kawin? A-ha!

Baca Juga : Pen Printer

Backpack sudah menjadi bagian kehidupan saya, kalian, mereka. Setiap hari pasti panggul backpack. Jangan harap kalian melihat saya membawa tas perempuan kecuali pada hari saya tidak ingin mebebani pundak. Sebisa mungkin semua benda masuk ke jok sepeda motor, hehe. Macam-macam backpack berukuran sedang (bukan carrier) yang sekarang memenuhi lemari tas termasuk backpack khusus perempuan dan drawstring bag. Macam-macam merek; Consiva, Eiger, Trekker, sampai yang tidak bermerek. Tapi toh sampai sekarang saya masih mencari backpack yang benar-benar nyaman dipakai dan mudah ketika hendak mengeluarkan barang.

Banyak jenis backpack yang sudah masuk list. List buat cuci mata alias buat dilihat lagi, lagi, dan lagi. Untuk membeli backpack, egeeeennn!?, saya harus menahan diri. Haha. Hidup harus ada skala prioritas, kata Mamatua. Harus bisa bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Beeeuuuh. Salah satu backpack yang paling saya sukai dari daftar cuci mata itu adalah backpack anti maling berikut ini:


Namanya Bobby. Harganya 89,95 Euro atau setara 106 Dollar. Harga segitu lumayan murah jika dibandingkan fasilitas si Bobby seperti: zipper dan kantong tersembunyi, anti air, anti cut, port pengisian USB terintegrasi, garis keselamatan, kompartemen shock-proof. Anti maling yang dimaksudkan di sini merujuk pada zipper dan kantong tersembunyi sehingga menyulitkan maling/copet merogoh karena bakal sulit mencari pintu masuk haha. Bahasanyaaa. Serta, anti cut alias tidak dapat disobek dengan benda tajam. Karena anti air, kita tidak perlu tambahan rain cover yang biasanya tersimpan di bagian bawah backpack. Ugh, ini backpack impian kita semua.


Selain Bobby, muncul begitu banyak pula backpack yang canggih nian. Yang bakal bikin kita geleng-geleng kepala saking canggihnya. Seperti SunPack dari FlexSolar berikut ini:


Didesain oleh Iris Liu dan Lilian Wang, harganya 59 Dollar. Apa keistimewaan SunPack? SunPack dilengkapi (terintegrasi) dengan panel surya Flextech! Jadi kalian tidak perlu repot membayar tambahan tagihan listrik karena ngecas ini itu terutama ngecas telepon genggam. SunPack juga bakal mempermudah kalian kalau berkegiatan di luar ruangan karena tidak perlu pusing mencari tempat colokan. Cihuy! Kebutuhan listrik untuk telepon genggam sudah disediakan oleh SunPack. Selain itu, SunPack dilengkapi fitur seperti penyimpanan terkotak, desain tahan air, penguncian anti-maling, kantong pemblokiran RFID untuk kartu, dan port USB dan headphone terpadu, tangguh dan fleksibel, panel tahan air, tahan debu, tahan cuaca. Dirancang dengan tekstur bergelombang, panel dapat menangkap tenaga matahari secara efisien kapan saja, di mana pun panel ini menghadap (tanpa perlu menghadap langsung ke matahari sebagai sumber listrik).

Awesome! Backpack impian kita semuaaaa *siul-siul*.

Satu lagi backpack impian yang patut diulas yaitu Duffle Sport. Duffle terdiri dari tiga kompartemen terpisah yang dapat berfungsi sendiri dan/atau juga bisa disatukan untuk fungsi lebih. Untuk mempermudah, silahkan lihat gambar berikut ini:


Gambar di atas adalah tiga Duffle yang terpisah. Kalau cuma pengen ke kantor dan membawa laptop, buku, dompet, barang printilan lainnya, pakai yang ini saja karena tipis dan lebih masuk akal, kan tidak mungkin juga ke kantor bawa carrier tapi isinya cuma laptop:


Kalau urusannya lebih ke banyak barang, misalnya butuh bawa pakaian ganti, atau butuh bawa cobek, silahkan gabungkan dengan yang satu ini:


Sedangkan kalau ingin bepergian selama seminggu dengan bawaan jauh lebih banyak: pakaian, sepatu, kamera, buku, handuk, dan lainnya, silahkan gabungkan yang berikut ini:

 
Keren sekali kan? Apabila hendak bepergian selama seminggu, bawa saja yang terakhir. Sudah sampai hotel, tinggalkan yang besar, jalan-jalan keliling kota misalnya, cukup memanggul yang kecil. Aaaarrggggh. Suka sekali sama desainnya! Duffle didesain oleh Johnathan Webster dan dibanderol 259 Dollar. Terberkatilah kau, Webster! Dan tentu ini backpack impian kita semua *siul tambah kencang*.


Seandainya diijinkan oleh Yang Di Atas, saya bakal pilih ketiganya. Maruk? Biarin deh. Soalnya betul-betul memenuhi impian sih. Apakah kalian sudah punya salah satu backpack di atas? Bagi tahu donk bagaimana rasanya memakai salah satu backpack impian itu.

Dunia ini, kata Mamatua, semakin canggih. Haha.

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Memasak Jadi Lebih Mudah dengan The Cooking M3


Sudah lama saya tergila-gila pada kotak plastik entah itu Tupperware, Dus-dusan, atau kotak plastik tanpa merek. Fungsinya adalah untuk memilah bahan makanan mentah dan memaksimalkan ruang penyimpanan di dalam kulkas. Thanks God, kotak-kotak plastik ini memudahkan saya mengorganisir menu harian di rumah; apa saja yang bakal dimasak selama empat sampai lima hari ke depan. Tentu harus mendahulukan memasak ikan mentah dan ayam, misalnya, disusul tahu-tempe dan telur, serta yang terakhir nugget dan sosis. Dalam seminggu varian makan kami seperti itu urutannya. Kadang-kadang kalau malas masak, barulah membeli lauk di Amazy atau di Warung Damai.


Lauk? Iya, karena nasinya dimasak sendiri di magicjar dengan jangka waktu 30 (tiga puluh) menit. Kakak Pacar adalah orang yang paling malas makan nasi hasil dimasak pakai magicjar. Katanya, nasi yang dimasak di tungku atau di kompor jauh lebih enak dan gurih. Yah, mau bagaimana lagi? Sudah lama kami menggunakan magicjar, dulu magicom, jadi sudah terbiasa lidahnya.

Magicjar yang ada di rumah kami biasa-biasa saja, merek Yong Ma, dan terbukti tahan banting meskipun usianya sudah cukup lama. Hanya saja, alat itu cukup untuk memasak nasi, bukan untuk yang lain. YA IYA LAAAH! Hehe. Tapi ternyata, ada loh magicjar yang bisa dipakai sekaligus untuk memasak nasi dan dua lauk (sekaligus menghangatkannya). Haaa? Benarkah ada? Kok bisa?

Tidak percaya?

Perkenalkan ... The Cooking M3.

Namanya gitu banget siiiih, jadi ingat saingannya Telkomsel. Hahaha. The Cooking M3 didesain oleh Xiao Zhihua, Gao Junwu, Li Lei dan Xu Qinqin. Hasil desain mereka ini memenangkan Red Dot Design Concept Award tahun 2018. Ini dia penampakannya:

Penampakan saat sudah digunakan dapat dilihat di awal pos ini.


The Cooking M3 dibangun dengan kontrol memasak multi-unit (tiga unit), sehingga sangat memungkinkan untuk memasak tiga jenis masakan sekaligus. Struktur tiga kompartemennya yang inovatif memungkinkan untuk memasak hidangan terpisah dengan ukuran: dua berukuran kecil dan satu berukuran besar. Jadi bakal lebih hemat waktu dalam memasak terutama jika yang dimasak itu nasi, sup, dan/atau kare. Sedangkan untuk makanan yang sudah digoreng bisa terus dihangatkan di sini.

Uniknya, tiga kompartemen itu dilengkapi dengan wadah siap induksi masing-masing yang dapat ditempatkan di M3. Alat ini memang menggunakan teknologi induksi seperti dalam magicjar, unuk memanaskan makanan juga.

Kalau magicjar biasanya punya panel buat memasak dan menghangatkan yang harus dilakukan dengan jari, hehe, maka The Cooking M3 punya kontrol suara. Kontrol suara! Jadi cukup bersuara saja, kalian bisa menginstruksi alat ini untuk mulai atau mengakhiri proses memasak, atau bahkan memanaskan makanan beberapa menit sebelum dimakan. Yuhuuuu yang macam begini ini yang membikin hidup menjadi lebih mudah.


Mungkin karena baru prototype, maka belum ada harga yang ditampilkan di situsnya. Tapi mungkin juga sudah ada di rumah kalian. Kalau kalian sudah memakainya, bagi tahu saya donk bagaimana rasanya memasak menggunakan The Cooking M3? 

Semoga bermanfaat.


Cheers.

#KepoBuku Cara Lain Nge-review Buku


Sejak awal nge-blog sekitar tahun 2003-an, saya sudah kenal yang namanya podcast. Dari mana saya tahu? Dari blog seorang lelaki kece blogger dan dedengkot Blogfam bernama Rane Hafied atau lebih sering dipanggil Pak Jaf. Daftar podcast-nya dulu kalau saya tidak salah terdiri dari potongan-potongan rekaman siaran radionya. Pak Jaf adalah produser sekaligus penyiar Radio Singapura Internasional (RSI). Busyet, saya masih simpan kartu Lebaran dari Pak Jaf dengan gambar orang-orang RSI. Dari beliau saya banyak belajar tentang dunia radio. Yuhuuu. Beliau ini baik banget dan tidak pelit ilmu. Bersama Pak Jaf, Uyet, dan Mbak Sa, cerita estafet kami pernah diterbitkan oleh Gramedia.


Pak Jaf dan dunia podcast tidak bisa dipisahkan. Kalau ingat Pak Jaf, pasti saya langsung ingat podcast. Seperti kalau ingat Deadpool pasti ingat Ryan Reynolds. Banyak sudah podcast yang bisa kalian dengarkan di blog-nya, dengan banyak bahasan. Diantaranya: Nyeduh Kopi Bareng Riyogarta, [Klipping] Podcast, Masa Depan Penyiaran yang Belum Pasaran di Indonesia, Episode Anchor: Cover-Coveran Ukulele Lagi, Tips Merekam Podcast Dengan Ponsel, dan yang satu ini Blog: Review Singkat Speaker Studio Buat Podcasting. Masih banyak podcast lainnya, silahkan meluncur ke blog beliau. Asyik banget dengerin podcast di sana. Nge-blog lewat suara! Kalian harus coba nge-blog lewat suara ini.


Saat ini Pak Jaf, yang konsisten dengan dunia podcast, punya seri podcast berjudul #KepoBuku. #KepoBuku ini merupakan review buku tapi dalam bentuk audio alias suara. Dalam #KepoBuku Pak Jaf tidak sendiri, ada temannya yang bernama Hertoto Eko, dan Steven Sitongan yang punya Ksatria Buku (silahkan cari di IG). Pak Jaf dan Om Totok sama-sama luwes, mungkin karena mereka sahabatan. Sedangkan Steven jauh lebih muda dari mereka berdua ... eh. Ampun Pak Jaf hahaha

Baca Juga : Proyektor Ini Tidak Perlu Layar Atau Dinding

Podcast #KepoBuku yang sudah sampai pada Epidose #11 itu bakal memuaskan kalian para pecinta buku, hanya dengan mendengarkan sambil tidur-tiduran atau sambil bajak sawah. Bahkan bisa jadi pilihan bagi kalian yang pengen nge-review tapi malas banget menulis.

Oh, really?

Yess, darling!

Karena, kalian juga bisa mengirimkan review singkat kalian tentang buku yang sedang dibaca ke mereka! Via WA voice salah satunya. Jadi, selain review buku bisa kalian pos di blog pribadi, juga bisa dikirim ke mereka dalam bentuk audio. Saya sendiri sudah mengirimkan buku yang sedang saya baca, kebetulan juga cocok sama tema mereka tentang buku sastra. Silahkan dengarkan suara saya yang cempreng hahaha.


Silahkan submit review kalian. Caranya? Lihat gambar di bawah ini *tunjuk-tunjuk*


Atau langsung saja ke blog-nya.

Baca Juga : Dine Tools That Can Be Folded

Berkaitan dengan podcast ini adalah layanan yang dipakai yaitu Anchor. Saya pernah membahasnya di sini. Namanya layanan podcast, semua hal yang berkaitan dengan audio bakal diterima dengan senang hati. Silahkan unggah audio pilihan kalian. 


Tapi, bagaimana caranya punya akun di Anchor?

Mudah, kawan. Buka browser, ketik alamat Anchor, lalu daftar seperti biasa / membuat akun. Silahkan memulai podcast kalian: rekam audio dan unggah. Enaknya di Anchor adalah kalian bisa memilih podcast kalian bakal di-publish di mana saja, termasuk Spotify, Apple Podcasts, dan Google Podcasts!


Apa saja yang bisa diunggah di Anchor? Rekaman seperti #KepoBuku, musik yang kalian buat sendiri, atau lagu yang kalian cover dari lagu orang lain. Dengarkan remakan saya dan Mas Yoyok Purnomor dalam episode susahnya merekam lagu (akustik) live berikut ini:



Atau lagu Terukir di Bintang milik Yuna yang saya cover dengan musik oleh Luis Thomas Ire berikut ini :



Jangan ragu untuk mulai membikin podcast. Karena apa, wahai sodara-sodara? Karena, dulu orang juga ragu nge-vlog kan? Tapi lihat sekarang ... begitu banyak vlogger di dunia ini. Bahkan yang kelasnya sudah pro! Mereka sukses bukan dalam sekedip mata tetapi karena ada proses panjang yang dilalui. Artinya adalah kita harus optimis. Segala sesuatu itu tidak langsung besar, kecuali planet-planet dan dinosaurus :p, semua dimulai dari yang kecil atau dari nol.

Lagi pula, #KepoBuku dapat menjadi inspirasi kita untuk membuat rekaman review buku sendiri. Why not?

Baca Juga : Instructables, How to Make Anything

Berani coba?

Harus!


Cheers.

Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone


Sumpah, saya termasuk blogger yang enggan menggunakan smartphone untuk nge-blog. Alasannya? Alasan pertama, nge-blog pakai smartphone itu rempongnya minta ampun. Rempong terkadang bikin darah tinggi, jadi saya harus menghindarinya dari pada nanti smartphone berakhir di lantai. Alasan kedua, Aplikasi Blogger yang diunduh dari Playstore ternyata tidak mampu memenuhi keinginan saya sehingga dua hari setelah diunduh, pada tahun 2013 itu, langsung hapus tanpa kompromi. Sudah bisa dipastikan saya selalu nge-blog menggunakan laptop/komputer. Nge-blog di sini artinya mengutak-atik dashboard (tulis pos, balas komen, cek statistik, ganti tema, dan lain-lain), bukan blogwalking. Kalau sekadar blogwalking sih smartphone sudah lebih dari cukup.


Sampai kemudian, baru-baru ini saya coba menggali lebih dalam informasi tentang nge-blog pakai smartphone gara-gara banyak pertanyaan tentang itu dari peserta Kelas Blogging NTT yang tidak semua nge-blog menggunakan laptop. Saya terdampar pada sebuah blog milik seorang blogger bernama Antung Apriana dengan judul pos: [Review] Aplikasi Blogger Pro untuk Ngeblog. Ternyata Antung Apriana juga sependapat dengan saya soal Aplikasi Blogger yang sangat tidak memuaskan, di luar ekspetasi:  

Di playstore sendiri ada beberapa aplikasi yang bisa digunakan untuk ngeblog. Yang pertama tentu saja aplikasi Blogger yang sayangnya sangat jelek. Lalu ada Blogit!, Blogger Pro dan Blogaway. Keempat aplikasi yang saya sebutkan di atas merupakan aplikasi untuk blog dengan platform Blogspot.

Dari kutipan di atas, kalian sudah langsung tahu bahwa ada beberapa pilihan untuk nge-blog pakai smartphone yaitu BlogIt!, Bloggr Pro dan Blogaway. Tanpa menunggu duit jatuh dari langit, saya langsung mencari BlogIt! di Playstore, mengunduh dan menginstalnya. Jadi kali ini saya hanya bisa bercerita tentang BlogIt! untuk kalian, hehe. Aplikasi lainnya silahkan dicoba sendiri. Ikon BlogIt! dapat dilihat pada gambar di awal pos ini.

Baca Juga : Proyektor Ini Tidak Butuh Layar atau Dinding

Setelah diinstal (ikuti petunjuk termasuk mengijinkan BlogIt! untuk menggunakan file yang ada di smartphone), maka tampilannya seperti berikut ini:



Tampilannya langsung seperti itu (gamblang). BlogPacker adalah nama blog-nya, disusul bagian bawah terdiri dari dua item yaitu Post dan Comments. Artinya BlogIt! memudahkan para penggunanya. Post merupakan tampilan daftar konten blog kita baik yang sudah di-publish, draft, maupun terjadwal. Sedangkan Comments adalah semua komentar dari para pembaca (tanpa menampilkan komentar balasan dari kita), seperti yang bisa dilihat di gambar berikut:




Bagaimanan untuk memulai pos baru? Silahkan klik tanda + pada item Post, sudut kanan bawah. Kalian akan langsung diantar pada form pos seperti pada gambar berikut:


Silahkan isi judul dan isi pos (Post Title dan Write Your Post Here!). Panel pos memang sedikit, seperlunya saja, seperti menebalkan, memiringkan, menggarisbawahi kata/kalimat, ada juga strikethrough, menambah tautan, menambah gambar, serta rata kanan - tengah - kiri (sayang ya tidak ada justify), juga menambah label/tag. Tapi saya pikir, inilah yang paling utama dibutuhkan untuk membuat atau menulis sebuah pos blog. Pada bagian kiri atas ada pilihan untuk mem-publish pos, menyimpannya, dan tiga titik dengan tiga pilihan yaitu Schedule (membuat jadwal pos), Delete (menghapus pos), dan Edit HTML.

Baca Juga : Foto Kreatif Untuk Pos Blog

Awal pos ini sampai satu paragraf saya menggunakan BlogIt!, yang kemudian dilanjutkan dengan laptop. Jadi, saya bisa mengatakan bahwa BlogIt! lumayan kece karena untuk menambahkan gambar, suka-suka saya memilih letak/posisi. Sedangkan waktu pakai Aplikasi Blogger, gambar tidak bisa diatur (selalu di bawah pos). Makanya dua hari saja langsung saya hapus hehe. Tapi kalau ditanya mau pakai BlogIt! atau nge-blog pakai laptop, sekarang saya pikir tergantung situasi. Apabila situasi tidak memungkinkan saya pakai laptop tetapi ide sedang melayang-layang, pasti buka BlogIt! lantas menyimpannya sebagai draft saja. Ide itu nanti bisa diedit saat sedang online menggunakan laptop.

Semakin banyak aplikasi nge-blog pakai smartphone, tentu semakin membantu para blogger memperbarui konten blog mereka. Yaaa pasti lebih semangat kan. 

Nge-blog pakai smartphone ini mungkin akan menjadi salah satu materi Kelas Blogging NTT. Mengingat, peserta sudah sering menanyakannya (dan kami menjawab soal Aplikasi Blogger yang jelek, lebih baik pakai browser saja). Semoga akan lebih banyak peserta yang rajin memperbarui konten. Se-mo-ga!

Baca Juga : Legitnya Xiaomi Redmi 5 Plus

Bagaimana dengan kalian? Lebih suka nge-blog pakai smartphone atau laptop


Cheers.