Paper Bed

Sumber dari Yankodesign.

Saya termasuk spesies langka karena selalu merasa lebih nyaman tidur di lantai ketimbang di tempat tidur. Bukan berarti saya tidak suka tempat tidur atau tidak pernah tidur di tempat tidur. Tetapi, bagi saya pribadi, tidur di lantai memberikan kenikmatan terhakiki. Perkara ini sudah diketahui teman-teman terutama teman-teman seperjuangan Tim Promosi Uniflor 2019. Di Kota Maumere, misalnya, saya memilih tidur di lantai dan membiarkan Viol, Thika, dan Ocha tidur di kasur yang mantul-mantul hahaha.

Baca Juga: Adnow

Saat ini pun di kamar saya tidak ada tempat tidur. Hanya ada satu kasur busa tanpa pegas. Dan tentu bentuk kasur busa, setebal apapun, tidak bisa mempertahankan kondisi awalnya. Kasur saya itu sudah melengkung kayak busur karena mengikuti bagian terberat tubuh ketika rebah. Kasihan sekali, ya. Untunglah lantai kamar saya cukup luas dijadikan tempat untuk tidur, bisa leluasa guling sana sini, dan berakhir di pintu kamar mandi


Kalau sudah tidak sibuk rencananya pengen memesan alas kasur (custom) jadi pada alas kasur itu ada laci-laci buat menyimpan oro feko (segala benda kebutuhan). Kan asyik bisa memanfaatkan ruang. Ketimbang sekarang banyak ruang menganggur.

Sesuai dengan judul pos ini, kali ini saya menulis tentang paper bed. Terjemahan bebasnya: ranjang kertas. Memang ada? Ada donk. Tapi ini bukan ranjang kertas zaman dulu yang biasa saya bikin kalau main rumah-rumahan. Nama lengkapnya Extendable Flatpack Paper Bed. Hyess, kalian bisa melihat penampakannya di awal pos. Ada kata extendable ... artinya? Mari kita simak ...

Bergaya Akordion


Kalian pasti tahu akordion kan? Alat musik ini dimainkan oleh salah satu personil The Willis Clan. Ini dia bentuknya yang diambil dari sini:


Maka ranjang yang satu ini pun berbentuk seperi ini:


Ranjang ini seluruhnya terbuat dari kertas yang menggunakan mekanisme lipat bergaya akordion untuk memungkinkan ranjang ini dapat ditarik untuk dipanjangkan atau dipendekkan. Tata letak vertikal kertas memberikan kekuatan yang besar, hingga dapat memuat dua orang dewasa (hingga 300 kilogram) dalam posisi tidur maupun duduk. Kasur yang melengkapi ranjang ini juga dapat dilipat mengikuti bentuk ranjangnya. Konstruksi karton bergelombang ranjang ini hanya seberat 14,5 kilogram. Boleh jadi ranjang dan/atau sofa paling ringan yang pernah ada.

Ranjang dan Kursi


Dua kebutuhan kalian dapat dipenuhi dengan satu barang: paper bed. Karena bisa dipanjangkan dan dipendekkan, maka selain menjadi tempat tidur juga bisa menjadi sofa/kursi untuk duduk. Sudah disesuaikan pula dengan kasurnya yang bisa dilipat; menjadi alas dudukan maupun sandaran.


Khusus untuk yang tinggal di kos mungil atau punya rumah berkonsep tiny house, ranjang ini boleh dicoba. Tidak memakan banyak tempat dan punya dua fungsi. Siapa yang tidak mau? Saya saja mau, tapi harganya lumanyun 369 Poundsterling. Beli satu bisa dipakai sendiri, beli sepuluh ... bangkrut. Haahahaha.


Bagaimana? Kalian tertarik juga bukan? Apa pendapat kalian tentang ranjang seperti ini? Bagi tahu di papan komentar yuk :)



Cheers.

Paper Bed

Sumber dari Yankodesign.

Saya termasuk spesies langka karena selalu merasa lebih nyaman tidur di lantai ketimbang di tempat tidur. Bukan berarti saya tidak suka tempat tidur atau tidak pernah tidur di tempat tidur. Tetapi, bagi saya pribadi, tidur di lantai memberikan kenikmatan terhakiki. Perkara ini sudah diketahui teman-teman terutama teman-teman seperjuangan Tim Promosi Uniflor 2019. Di Kota Maumere, misalnya, saya memilih tidur di lantai dan membiarkan Viol, Thika, dan Ocha tidur di kasur yang mantul-mantul hahaha.

Baca Juga: Adnow

Saat ini pun di kamar saya tidak ada tempat tidur. Hanya ada satu kasur busa tanpa pegas. Dan tentu bentuk kasur busa, setebal apapun, tidak bisa mempertahankan kondisi awalnya. Kasur saya itu sudah melengkung kayak busur karena mengikuti bagian terberat tubuh ketika rebah. Kasihan sekali, ya. Untunglah lantai kamar saya cukup luas dijadikan tempat untuk tidur, bisa leluasa guling sana sini, dan berakhir di pintu kamar mandi


Kalau sudah tidak sibuk rencananya pengen memesan alas kasur (custom) jadi pada alas kasur itu ada laci-laci buat menyimpan oro feko (segala benda kebutuhan). Kan asyik bisa memanfaatkan ruang. Ketimbang sekarang banyak ruang menganggur.

Sesuai dengan judul pos ini, kali ini saya menulis tentang paper bed. Terjemahan bebasnya: ranjang kertas. Memang ada? Ada donk. Tapi ini bukan ranjang kertas zaman dulu yang biasa saya bikin kalau main rumah-rumahan. Nama lengkapnya Extendable Flatpack Paper Bed. Hyess, kalian bisa melihat penampakannya di awal pos. Ada kata extendable ... artinya? Mari kita simak ...

Bergaya Akordion


Kalian pasti tahu akordion kan? Alat musik ini dimainkan oleh salah satu personil The Willis Clan. Ini dia bentuknya yang diambil dari sini:


Maka ranjang yang satu ini pun berbentuk seperi ini:


Ranjang ini seluruhnya terbuat dari kertas yang menggunakan mekanisme lipat bergaya akordion untuk memungkinkan ranjang ini dapat ditarik untuk dipanjangkan atau dipendekkan. Tata letak vertikal kertas memberikan kekuatan yang besar, hingga dapat memuat dua orang dewasa (hingga 300 kilogram) dalam posisi tidur maupun duduk. Kasur yang melengkapi ranjang ini juga dapat dilipat mengikuti bentuk ranjangnya. Konstruksi karton bergelombang ranjang ini hanya seberat 14,5 kilogram. Boleh jadi ranjang dan/atau sofa paling ringan yang pernah ada.

Ranjang dan Kursi


Dua kebutuhan kalian dapat dipenuhi dengan satu barang: paper bed. Karena bisa dipanjangkan dan dipendekkan, maka selain menjadi tempat tidur juga bisa menjadi sofa/kursi untuk duduk. Sudah disesuaikan pula dengan kasurnya yang bisa dilipat; menjadi alas dudukan maupun sandaran.


Khusus untuk yang tinggal di kos mungil atau punya rumah berkonsep tiny house, ranjang ini boleh dicoba. Tidak memakan banyak tempat dan punya dua fungsi. Siapa yang tidak mau? Saya saja mau, tapi harganya lumanyun 369 Poundsterling. Beli satu bisa dipakai sendiri, beli sepuluh ... bangkrut. Haahahaha.


Bagaimana? Kalian tertarik juga bukan? Apa pendapat kalian tentang ranjang seperti ini? Bagi tahu di papan komentar yuk :)



Cheers.

Adnow


Pasti ada yang bilang: getol banget si Tuteh pasang-pasang iklan di blog-nya. Sudah ditolak lagi sama GA gara-gara ganti domain blog utama di pertengahan jalan, sekarang gaya banget dia ikutan pasang Adnow Native Advertising Network atau disingkat Adnow. Yakin berhasil? Haha. Silahkan ... hak siapa pun juga untuk berpikir demikian. Namanya juga blog yang diatur untuk bisa dibaca oleh semua orang, dikritik atau diomongin itu biasa, sekalian melatih diri sebelum menjadi artis skala internasional *apa iniiii kok ada batako nyasar di kepala saya!?*

Baca Juga: Prynt, The Print Pocket

Kenapa Getol?


Jawabannya sederhana. Setiap kali menjadi narasumber atau pemateri dalam kegiatan seminar dan/atau pelatihan blog, Insha Allah masih akan terus berjalan, salah satu elemen yang selalu saya katakan kepada peserta sebagai magnet agar mereka mau nge-blog pun lebih rajin nge-blog adalah memperoleh penghasilan dari blog. Saat bilang begitu, mata para peserta jadi berbinar-binar indah dan kemudian menjadi redup saat saya tambahkan, "Asaaaaaallll ... konsisten nge-blog dan mau mencari tahu cara-caranya."

Caranya macam-macam:

1. Memasang iklan sekelas GA dan Adnow.
2. Menerima content placement.
3. Menulis untuk pemberi order.
4. Menjual produk sendiri.
5. Dan lain sebagainya.

Jadi, saya ingin apa yang saya katakan kepada audiens itu bukan isapan jempol belaka. Bukan omong kosong. Bukan sekadar mimpi. Untuk memperkuat apa yang saya katakan itu, tentu harus disertai contoh misalnya: saya memang pernah dibayar mendekati sejuta untuk menulis tentang destinasi wisata (by request), pernah juga menerima tawaran content placement, dan pernah juga menjual buku tulisan sendiri lewat blog, tapi dari iklan seperti GA? Belum bisa saya buktikan kepada para peserta. Lhaaa bagaimana bisa saya buktikan? Belum apa-apa sudah tragedi hehe.

Bakal lama donk untuk bisa membuktikannya terlebih baru saja mendaftar di Adnow? Jelas itu pemirsa! Mana ada yang instan? Mi instan saja butuh proses mendidihkan air terlebih dahulu kan. Jadi, kita lihat saja nanti proses dan hasilnya. Kelak. Kalau mendadak GA kembali membuka gerbangnya untuk blog ini, ya itu nanti baru saya pikirkan bagaimana caranya hahaha. Eh, boleh kan ya memasang dua sumber iklan pada satu blog

Apakah Adnow Dapat Dipercaya?


Itu belum bisa saya katakan sekarang karena belum membuktikannya. Akan tetapi mencari tahu tentang ini ada untungnya juga. Karena saya toh jadi tahu kalau Adnow betul-betul membayar para publisher-nya. Proses pembayaran yang paling banyak dipilih melalui Paypal. Iya, saya sudah lama juga sih punya akun Paypal dan sudah ada pula isinya ... siapa tahu akun Paypal saya menjadi sedikit berisi. Kelak.

Sulitkah Mendaftar dan Memasang Adnow?


Saya boleh ketawa dulu? Kenapa ketawa? Karena memasang Adnow terbilang sangat mudah dan cepat. Pada situsnya ditulis paling lama sekitar dua kali duapuluh empat jam kan? Nah saya mengalami hanya beberapa jam saja sudah diterima alias blog ini sudah aktif dan boleh memasang widget-nya. Memasang widget pun mudah saja. Kecuali kalau kalian ingin dikhususkan di bawah pos atau di awal pos atau di tengah pos (silahkan cari di Google karena banyak yang sudah mengulasnya). Untuk sekarang sih saya memilih memasangnya di side bar saja.


Saya tidak akan mengulas tentang tata cara mendaftar di Adnow serta memasang kodenya di blog. Sudah banyak blog yang mengulasnya dan bisa kalian cari sendiri lewat Google. Saya hanya ingin sampaikan bahwa memasang Adnow di blog ini bukan semata-mata karena ingin memperoleh penghasilan yangmana gaji bulanan saya jauh lebih besar dan tentunya pasti, sama dengan waktu memasang GA, saya juga ingin membuktikan (contoh) kepada para peserta seminar tentang membuat dan mengelola blog. Tentang salah satu cara memperoleh penghasilan dari blog.

Baca Juga: The Pause Pod

Seperti tadi siang di Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Flores saat saya mengulas dashboard blog pada mahasiswa di sana, tentang penghasilan ini juga saya bahas. Jelas, mereka yang sudah punya blog jadi lebih bersemangat. Ya, semoga masih diundang ke FTI untuk lebih meracuni mahasiswa dengan virus blog ini.

Itu dari saya ... bagaimana dengan kalian?


Cheers.

Adnow


Pasti ada yang bilang: getol banget si Tuteh pasang-pasang iklan di blog-nya. Sudah ditolak lagi sama GA gara-gara ganti domain blog utama di pertengahan jalan, sekarang gaya banget dia ikutan pasang Adnow Native Advertising Network atau disingkat Adnow. Yakin berhasil? Haha. Silahkan ... hak siapa pun juga untuk berpikir demikian. Namanya juga blog yang diatur untuk bisa dibaca oleh semua orang, dikritik atau diomongin itu biasa, sekalian melatih diri sebelum menjadi artis skala internasional *apa iniiii kok ada batako nyasar di kepala saya!?*

Baca Juga: Prynt, The Print Pocket

Kenapa Getol?


Jawabannya sederhana. Setiap kali menjadi narasumber atau pemateri dalam kegiatan seminar dan/atau pelatihan blog, Insha Allah masih akan terus berjalan, salah satu elemen yang selalu saya katakan kepada peserta sebagai magnet agar mereka mau nge-blog pun lebih rajin nge-blog adalah memperoleh penghasilan dari blog. Saat bilang begitu, mata para peserta jadi berbinar-binar indah dan kemudian menjadi redup saat saya tambahkan, "Asaaaaaallll ... konsisten nge-blog dan mau mencari tahu cara-caranya."

Caranya macam-macam:

1. Memasang iklan sekelas GA dan Adnow.
2. Menerima content placement.
3. Menulis untuk pemberi order.
4. Menjual produk sendiri.
5. Dan lain sebagainya.

Jadi, saya ingin apa yang saya katakan kepada audiens itu bukan isapan jempol belaka. Bukan omong kosong. Bukan sekadar mimpi. Untuk memperkuat apa yang saya katakan itu, tentu harus disertai contoh misalnya: saya memang pernah dibayar mendekati sejuta untuk menulis tentang destinasi wisata (by request), pernah juga menerima tawaran content placement, dan pernah juga menjual buku tulisan sendiri lewat blog, tapi dari iklan seperti GA? Belum bisa saya buktikan kepada para peserta. Lhaaa bagaimana bisa saya buktikan? Belum apa-apa sudah tragedi hehe.

Bakal lama donk untuk bisa membuktikannya terlebih baru saja mendaftar di Adnow? Jelas itu pemirsa! Mana ada yang instan? Mi instan saja butuh proses mendidihkan air terlebih dahulu kan. Jadi, kita lihat saja nanti proses dan hasilnya. Kelak. Kalau mendadak GA kembali membuka gerbangnya untuk blog ini, ya itu nanti baru saya pikirkan bagaimana caranya hahaha. Eh, boleh kan ya memasang dua sumber iklan pada satu blog

Apakah Adnow Dapat Dipercaya?


Itu belum bisa saya katakan sekarang karena belum membuktikannya. Akan tetapi mencari tahu tentang ini ada untungnya juga. Karena saya toh jadi tahu kalau Adnow betul-betul membayar para publisher-nya. Proses pembayaran yang paling banyak dipilih melalui Paypal. Iya, saya sudah lama juga sih punya akun Paypal dan sudah ada pula isinya ... siapa tahu akun Paypal saya menjadi sedikit berisi. Kelak.

Sulitkah Mendaftar dan Memasang Adnow?


Saya boleh ketawa dulu? Kenapa ketawa? Karena memasang Adnow terbilang sangat mudah dan cepat. Pada situsnya ditulis paling lama sekitar dua kali duapuluh empat jam kan? Nah saya mengalami hanya beberapa jam saja sudah diterima alias blog ini sudah aktif dan boleh memasang widget-nya. Memasang widget pun mudah saja. Kecuali kalau kalian ingin dikhususkan di bawah pos atau di awal pos atau di tengah pos (silahkan cari di Google karena banyak yang sudah mengulasnya). Untuk sekarang sih saya memilih memasangnya di side bar saja.


Saya tidak akan mengulas tentang tata cara mendaftar di Adnow serta memasang kodenya di blog. Sudah banyak blog yang mengulasnya dan bisa kalian cari sendiri lewat Google. Saya hanya ingin sampaikan bahwa memasang Adnow di blog ini bukan semata-mata karena ingin memperoleh penghasilan yangmana gaji bulanan saya jauh lebih besar dan tentunya pasti, sama dengan waktu memasang GA, saya juga ingin membuktikan (contoh) kepada para peserta seminar tentang membuat dan mengelola blog. Tentang salah satu cara memperoleh penghasilan dari blog.

Baca Juga: The Pause Pod

Seperti tadi siang di Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Flores saat saya mengulas dashboard blog pada mahasiswa di sana, tentang penghasilan ini juga saya bahas. Jelas, mereka yang sudah punya blog jadi lebih bersemangat. Ya, semoga masih diundang ke FTI untuk lebih meracuni mahasiswa dengan virus blog ini.

Itu dari saya ... bagaimana dengan kalian?


Cheers.

1 Video, 3 Aplikasi



Sering bikin video? Tentu! Kalian, mereka, saya. Kita sering bikin video untuk berbagai keperluan, terutama zaman sekarang untuk vlog yang diunggah di Youtube. Aplikasi edit video yang dipakai pun beragam, baik aplikasi khusus untuk menyunting video di Android seperti KineMaster maupun di komputer dan/atau laptop seperti Adobe Premiere.

Baca Juga: Inovasi Joseph Joseph

Saya sendiri juga sering bikin video. Sayangnya, saya belum bisa memakai Adobe Premiere yang kesohor dan paling digemari teman-teman videografer di Ende. Alasannya sederhana: laptop yang saya pakai tidak mampu 'mengangkat' kalau pakai Adobe Premiere. Kalian tahu siput? Kira-kira kerja laptop saya jadi macam siput kalau pakai Adobe Premiere haha. Oleh karena itu harus ada solusi. Dan ... terima kasih Martozzo Hann, sampai saat ini saya masih memakai Sony Movie Studio Platinum (SMSP) versi 12 dan versi 13.

Sepanjang pengalaman saya membikin video, kalau memang mau hasilnya bagus, tidak bisa mengandalkan satu aplikasi saja. Terlebih jika video tersebut harus digabung dengan foto-foto pendukung lainnya. Agak kurang sedap dilihat apabila transisi dari gambar bergerak menuju gambar tidak bergerak Oleh karena itu untuk membikin foto itu terlihat 'hidup' harus pakai aplikasi lainnya sebelum digabung dalam time line pada aplikasi final.

Kali ini saya mau bercerita tentang tiga aplikasi yang selama ini senantiasa menemani kegiatan menyunting video di laptop. Laptop saya, bukan laptop tetangga. Mungkin menurut kalian tiga aplikasi ini sudah basi, tapi bagi saya tiga aplikasi ini sangat mendukung proses edit video. 

Aplikasi apa saja kah itu? Mari kita cek ...

1. Sony Movie Studio Platinum (SMSP)


Aplikasi yang satu ini boleh saya tulis sebagai aplikasi utama (aplikasi final). Yang terinstal di laptop saya ada dua versi yaitu 12 dan 13. Seringnya sih saya pakai yang versi 12 karena sejak awal sudah pakai versi itu sehingga sudah akrab sekali sama belantaranya. SMSP menyelamatkan saya dari aplikasi edit video sebelumnya. Aplikasi sebelum SMSP itu menurunkan kualitas video sehingga saya harus say good bye padanya. Maafkan ya.

Ini tampilan lembar kerja SMSP yang saat ini sedang saya kerjakan yaitu tentang potensi desa-desa di Kecamatan Ende.

Potongan video (beberapa foto) ini terlihat seperti barcode.


Proses mengedit ini sering saya sebut 'bikin pola' sedangkan proses render saya sebut 'menjahit'.

Kelemahan SMSP hanya satu yaitu transisi yang terbatas; yang itu-itu saja. Apapun transisi tambahan yang ditawarkan di internet pun berakhir pada kalimat: beli dooonk, yang gratisan sudah selesai masa pakai ini! Haha. Tapi tidak mengapa, karena jika saya mau lebih lelah sedikit, maka saya bisa membikin sendiri transisi yang diinginkan kayak punya Sam Kolder. 

2. ProShow Producer


Aplikasi kedua adalah ProShow Producer. Secara umum aplikasi ini juga bisa dipakai untuk menyunting video tetapi saya lebih suka memakainya untuk kebutuhan menyunting foto agar fotonya terlihat lebih hidup alias bergerak seperti sebuah video.


Pada gambar di atas, masih dari lembar kerja SMSP, kalian bisa melihat foto peta yang saya insert sebagai dukungan cut-to-cut video. Foto peta itu kalau dilihat sudah bergerak (saya pakai efek zoom dan pan begitu) sehingga transisi ke video berikutnya terlihat lebih sedap.

3. Photoscape


Ada apa antara saya dengan Photoscape!? Bukankah seharusnya saya melanjutkan belajar Photoshop? Hehe. Ah, dinosaurus manyun tuuuh gara-gara saya berhenti belajar Photoshop hanya karena otak saya sudah letih huhuhu. 


Photoscape membantu saya mengedit foto-foto mulai dari pencahayaan, warna, hingga untuk penggabungan beberapa foto sekaligus. Saya suka Photoscape karena memang menggunakannya super duper mudah! Selain Canva, saya juga mengandalkan Photoscape untuk foto-foto pendukung pos blog.

1 Video, 3 Aplikasi, itu yang saya gunakan demi membikin satu video ... siapa tahu kalian justru memakai lebih dari satu aplikasi.

Baca Juga: Living In A Camper

Biasanya saya akan membuat draf video terlebih dahulu. Setelah draf jadi, saya mengumpulkan materi-materinya. Materi ini terdiri dari video, foto, dan musik pendukung jika kita memang tidak memakai natural sound dari video yang bersangkutan. Supaya keren saja haha. Materi sudah lengkap atau 90% lengkap, saya buka lembar kerja di SMSP dan mulai membikin pola. Membikin pola sama lamanya dengan render. Hanya saja, lamanya membikin pola tergantung mood. Rata-rata video berdurasi 45 menit membutuhkan waktu dua hari atau tiga hari untuk pola-nya. Render-nya atau waktu jahitnya kan sudah ada rata-rata durasi. Terlama itu waktu saya bikin video untuk pernikahannya Om Nugie dan Tante Mercy, bisa memakan waktu satu minggu dan fokus terlama pada pola penari awalnya. Bisa dilihat pada video di bawah ini:


Okay, itu saja cerita hari ini tentang aplikasi-aplikasi yang saya gunakan untuk membikin atau edit video. Bagaimana dengan kalian? Jangan bilang kalian pakai Adobe Premiere huhuhu itu bikin iri to the max, tahuuuu.

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Inovasi Joseph Joseph

Gambar diambil dari Mahome.Com.


Saya bersyukur, dalam perjalanan mengarungi belantara Youtube, antara tiny house, motorhome, street food, channel keren Insider, kehidupan primitif, ajang pencarian bakat semacam X-Factor dan The Voice, hingga proyek do it yourself yang kebanyakan oleh 5 Minutes Craft, masih bisa kesasar juga ke video-video inovasi. Salah satunya inovasi peralatan dapur. Meskipun perbuatan itu hanya membikin saya ngiler-ngiler sedap, karena tidak mampu membelinya atau karena belum butuh, tapi jelas hal-hal baru mampir di otak saya, dan itu menyenangkan.

Baca Juga: Living In A Camper

Video inovasi peralatan dapur itu sering menampilkan nama Joseph Joseph sebagai nama merek peralatan dapur yang ditampilkan. Agar kalian tidak penasaran, mari yuk kita kenalan. Jangan lupa siapkan cemilan dan minuman favorit supaya proses kenalan ini menjadi lebih menyenangkan *seruput jus kuku dinosaurus*.

Joseph Joseph


Dari channel Youtube ini, diketahui bahwa tersebutlah saudara kembar bernama Richard Joseph dan Antony Joseph yang mendirikan sebuah perusahaan bernama Joseph Joseph pada tahun 2003. Mereka menggabungkan pengalaman masing-masing dalam mendesain produk dan bisnis. Antony belajar desain di Central St Martins sementara Richard belajar bisnis di Universitas Cambridge. 

Penampakan si kembar, dari Pinterest.

Gantengnya bikin gagal fokus. Haha. Asyik ya punya saudara kembar kemudian berbisnis bareng. Siapa yang tidak mau, coba? 

"Innovation is at the heart of everything we do at Joseph Joseph, that’s why we make it our aim to identify everyday problems and solve them by designing functional solutions."
ANTONY & RICHARD JOSEPH


Mengkhususkan diri dalam peralatan dapur kontemporer, Joseph Joseph sekarang dikenal secara internasional karena memproduksi beberapa produk yang paling bergaya dan inovatif secara teknis, dan telah menjadi salah satu perusahaan dengan pertumbuhan tercepat di pasar peralatan rumah tangga di seluruh dunia. Kemampuan unik mereka untuk mencocokan bentuk dan fungsi telah membuat mereka mendapatkan pengakuan global.

Asesoris Dapur dan Kamar Mandi


Perusahaan Joseph Joseph mengkhususkan diri pada asesoris atau peralatan dapur dan rumah tangga. Hal tersebut tertera pada tagline situs mereka. Oleh karena itu, tidak heran video-video yang tayang di Youtube memang rata-rata video berjudul kitchen gadget atau bathroom. Mengapa mereka fokus pada peralatan dapur dan kamar mandi? Menurut analisa dinosaurus, itu karena mereka kesulitan mendesain pesawat luar angkasa.


Keplak dinosaurus!

Produk


Produk-produk inovasi dari perusahaan Joseph Joseph memadukan fungsi dan ketampanan sekaligus. Supaya kita sama-sama ngiler-ngiler sedap, yuk simak beberapa produk Joseph Joseph berikut ini:

Index Chopping Board


Punya papan iris atau talenan yang terindeks macam begini kan seru. Setiap papan diberi label/gambar sesuai peruntukannya. Supaya apa? Supaya tidak bercampur. Kan kurang seru aroma ikan menempel di keju yang dipotong apabila menggunakan papan iris yang sama. 

C-Pump

Ini dia penampakannya:


Asyik kan ya punya dispenser sabun cuci tangan macam begini sehingga tidak perlu pakai dua tangan hahaha. Tapi menggosok harus tetap dengan dua tangan dooonk, nanti tangan yang satu bingung.

Bathroom Flex (Steel Bundle)

Yang satu ini bagus sih, menurut saya, jadi ada dua barang sekali beli. Yang pertama sikat toilet. Yang kedua tempat sampah dua kotak; pemilahan sampah tergantung kebutuhan masing-masing orang.


Dan dari tiga barang yang tertera di pos ini, semuanya sudah ada harganya dalam Rupiah loh. Jadi, apabila kalian menginginkannya, cobalah mencari produk Joseph Joseph di market place yang ada. Atau cari saja Joseph Joseph cabang Indonesia.

Baca Juga: Gate: Rak Serbaguna

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang memang ingin mencari peralatan dapur dan kamar mandi, yang fungsinya bisa sama bisa juga lebih, tapi penampakkannya luar biasa bikin mata segar. Harganya pun saya pikir masih bersahabat dengan kantong kalian, kalau dengan kantong saya mungkin masih sangar hahaha.



Cheers.

Living In A Camper

Sumber Gambar: Telegraph.


Sudah lama saya tertarik dengan konsep rumah mini atau sering dikenal dengan istilah tiny house. Gara-gara dulu waktu masih rajin ketiduran di depan televisi saya paling rajin menonton George Clarke's Amazing Space di ... lupa ... kalau tidak salah di National Geographic. Correct me if I'm Wrong yaaa alias CMIIW. Acara si arsitek ganteng itu luar bisa menginspirasi. Bagaimana orang-orang mengubah mobil jadi rumah, bikin rumah mini dari peti kemas, sampai memanfaatkan pesawat rusak sebagai hunian asyik. Dari situ saya terus mencari konsep tiny house di internet, dan seringnya terdampar di Youtube. Kalian bisa menemukan jutaan video tentang tiny house di Youtube oleh akun-akun diantaranya Living Big In A Tiny House oleh Bryce Langston, atau video yang mengoprek tiny house oleh Kirsten Dirksen.

Baca Juga: Gate: Rak Serba Guna

Saya sendiri pernah mengulas tentang Lego Style Apartment yang videonya saya tunjukan ke Kakak Pacar dan dijawab dengan gelengan kepala. Katanya begini, "Kau pikir apartemen kecil begitu murah? Lihat saja kayunya, belum lagi sistem air dan gas, belum lagi kayu-kayu yang digunakan. Aduh eee Ine (panggilan untuk Mama dalam bahasa Ende) eee ... biar kita bikin rumah normal saja." Iya sih, kelihatannya minimalis begitu Lego Style Apartment tapi mahaaaal. Apartemen itu sudah dijual sama pemiliknya, Christian, dan dia kini punya hotel namanya Hotel Brummel.


Saya sudah bosan tinggal di rumah normal ... mana Pohon Tua juga gede begini. Sapunya bikin pegel seluruh persendian! Huhuhu ... padahal yang sapu rumah Mamasia. Psssttttt.

Dari melihat-lihat, dan ngiler, melihat begitu banyak tiny house, bertemulah saya dengan kumpulan video tentang camper. Macam-macam si camper ini. Ada campervan yang artinya sama dengan motor home (judulnya motor, tapi maksudnya mobil sejenis van, bis mini, dan lain sebagainya). Singkatnya, mobil modifikasi yang fungsinya seperti rumah dan bisa dibawa ke mana-mana kecuali ke Isla Nubar. Campervan ada pula yang terpisah dari mobilnya (pasang - lepas) sehingga kalau memang sedang tidak traveling atau tidak piknik, mobil bisa dipakai terpisah ke kantor, misalnya. Selain campervan ada pula bike camper. Sesuai namanya, bike camper ini terdiri dari camper dan sepeda dan/atau sepeda motor.

Ini contoh camper yang bisa dilepas-pasang di mobil. Mungil kelihatannya tapi jangan salah, camper ini keren sangat. Sumber dari Must See Tech di Youtube.

Kalau yang ini model-model campervan.

Dan yang ini model-model bike camper. Bike camper ini sangat saya sarankan apabila digunakan untuk piknik sehari-dua.

Sebenarnya campervan ini memang khusus buat piknik atau berkemah sehari-dua, tapi kemudian dimodifikasi ini itu sehingga fungsinya jadi sama kayak motor home.

Living in a campervan, sesuai judul pos ini, memang tidak bisa dilakoni oleh semua orang terutama orang-orang yang punya pekerjaan tetap di suatu kota dengan keluarga (isteri dan anak-anak). Apalagi jika isteri juga bekerja dan anak-anak masih sekolah. Tapi bagi pasangan muda yang pekerjaannya paruh waktu terutama pekerjaan paruh waktu itu dapat dilakukan daring, dan tentu saja gemar traveling, maka tinggal di dalam campervan sungguh diidam-idamkan. Kalian tidak mengidamkannya? Saya saja deh. Qiqiqi.

Baca Juga: Phone to Phone Charger

Sebuah campervan sudah pasti punya tempat tidur dan dapur mini beserta perlengkapannya. Asupan listrik (asupan!?) diperoleh dari panel surya. Tapi, bagaimana dengan kamar mandi dan toilet? Banyak yang memodifikasi van atau yang sudah jadi campervan dilengkapi dengan kamar mandi (shower) dan toilet. 

Bakal lantai shower mini yang dipasang di samping toilet (yang juga mini).

Lengkap!

Khusus untuk toilet, yang digunakan rata-rata composting toilet dengan penampungan yang dapat dibersihkan. Kalau begini kan enak, bisa sekalian hemat air hahaha. Tapi harus sering-sering ngecek atau mengasumsi kapan penuhnya *mikir sampai bola mata muter-muter*. Juga harus sering ngecek sumber air untuk kamar mandi dan toilet ini, serta sumber air bersih.

Jadi, campervan itu dasarnya mempunyai:
1. Sumber listrik dari panel surya.
2. Dapur mini lengkap dengan sink hingga kulkas mini.
3. Tempat tidur (bongkar pasang).
4. Tempat penyimpanan (tidak boleh ada space nganggur).
5. Kamar mandi dan toilet (composting).
6. Stok air minum dan air bersih untuk kamar mandi dan toilet.


Bagaimana dengan kalian, kawan, mau kah tinggal di campervan? Bagi tahu yuk di papan komentar.

Menulis tentang living in a camper ini membikin saya punya ide menulis tentang 5 Keseruan Tinggal di Campervan. Haha. Bekal buat Kamis nanti.



Cheers.

Mantel Sepatu

Sumber Gambar: Bukalapak.


Musim hujan telah dan masih berlangsung. Bagi kalian yang punya mobil, musim hujan tidak menjadi masalah apabila hendak keluar rumah, kecuali mobilnya mobil mainan. Yang berjalan kaki masih bisa menggunakan payung. Bagi saya dan dinosaurus yang hanya punya mobil mainan, tentu mantel hujan menjadi jawaban sempurna untuk kondisi ini. Sayangnya mantel hanya mampu melindungi tubuh. Bagaimana dengan kaki saya yang kesepian di bawah sana? Kasihan kan dia kedinginan terkena hujan. Hiks.

Baca Juga: Mudahnya Memasang Indihome

Kalian pasti masih ingat cover sepatu saya dalam pos Perjalanan Rock'N'Rain kan? Untuk memudahkan ingatan kalian, lihatlah gambar di bawah ini:


Saya melakukannya karena sepatu yang saya pakai saat itu bukan sepatu boot, bukan sepatu plastik atau karet, sehingga air hujan bisa saja merembes hingga ke kaos kaki. Bayangkan ... betapa susahnya memasukkan baskom ke dalam sepatu untuk menampung air hujan yang bocor itu. Jalan satu-satunya adalah mampir di kios pinggir jalan untuk membeli kresek merah sebagai pelindung sepatu. 

Setelah dunia persilatan heboh dengan kresek merah itu, saya melihat di Brightside[Dot]Me, situs pengantar tidur, tentang Creativity Design. Salah satunya adalah tentang mantel sepatu yang bisa dibeli di Ali Express. Woilaaa ... ini dia penampakan mantel sepatunya:

Sumber Gambar: Brightside.

Keren kan? 

Ternyata setelah saya cek-ricek, mantel sepatu juga sudah dijual di Bukalapak. Silahkan melihat-lihat dan apabila berkenan bisa membelinya.

Gara-gara gambar di atas, saya kepikiran untuk membikin mantel sepatu berbahan bekas baliho. Abang Nanu Pharmantara kan punya usaha itu, nah baliho bekas atau yang rusak saat dicetak itu saya pesankan Thika Pharmantara untuk mengambilnya. Abang Nanu hanya bisa geleng-geleng kepala karena sudah tahu pasti ada saja yang bakal saya bikin dengan baliho ini. Bonus: Mbak Wati menitipkan kalender meja (lama) yang menumpuk dengan pesan, "Bilang ke Encim, kalender ini harus jadi suatu barang."

Wokeh!

Kalendernya sudah dipakai bikin boneka-boneka kertas pada Lomba Kandang Natal. Hyess, saya memenangkan tantangan dari Mbak Wati.

Lanjut ...

Dengan teknologi sederhana, sedikit percikan kreativitas, dan sedikit kegilaan, maka saya yakin bisa membikin mantel sepatu, bahkan mantel (jubah) hujan berbahan baliho bekas! Manapula bahan baliho itu kan cukup kuat. Tapi saya belum membikinnya. Nantilah, dalam minggu ini pas saya bikinkan sekalian dengan tutorialnya. Mohon maaf kalau tutorial saya (nanti) selalu berdasarkan feeling so strong, bukan berdasarkan hitungan pasti.

Nantikan ... 

Baca Juga: Komentar Disqus

Semoga bermanfaat bagi kalian! Ingat, musim hujan belum berlalu begitu pula hati yang didera rindu. Qiqiqi.





Cheers.

Gate: Rak Serbaguna



Meskipun tidak semua, tapi saya yakin banyak rumah yang dilengkapi dengan rak, baik rak buku maupun rak televisi. Buktinya rumah saya dan rumah tetangga semuanya mempunyai rak semodel ini. Rak buku dan/atau rak televisi sudah menjadi kebutuhan terutama bagi mereka-mereka yang menciptakan ruang keluarga istimewa dimana rak menjadi inti dari satelit di sekitarnya (karpet, sofa, bantal santai, bangku, dan lain sebagainya). Percayalah, ruang keluarga bakal jadi sangat istimewa jika replika dinosaurus berdiri di dekat-dekat situ. Apalagi kalau dinosaurusnya betulan! Istimewa ... istimewa takutnya. Hehe.

Baca Juga: Dine Tools that Can Be Folded

Contoh rak buku dan/atau rak televisi yang juga ada di rumah tetangga saya bisa dilihat pada gambar berikut ini:



Fungsi dari rak-rak tersebut tentu tidak berubah kecuali di rumah saya rak seperti ini bisa Mamatua jadikan tempat lilin dan korek, atau dijadikan tempat menyimpan orofeko (segala barang printilan penting miliknya seperti lilin, korek, tasbih, kotak biskuit, buku-buku kecil). Haha. Bagaimana jika ternyata ada rak multi fungsi yang bisa dipergunakan sesuai kebutuhan? Apakah ada? Ada donk. Fotonya sudah kalian lihat pada awal pos.

Ini dia GATE.



Gate didesain oleh Artem Zakharchenko. Dari situsnya, tertera keterangan bahwa Gate dirancang untuk menjadi lebih dari sekadar rak. Gate menggunakan batang kayu bergerak yang ditempatkan pada batang logam untuk menciptakan struktur yang mencolok dan dinamis. Perancang Gate mengidentifikasi bahwa unit rak kadang-kadang hanya menyimpan barang yang sama selama masa pakainya, lebih sering barang tersebut akan ditukar dari waktu ke waktu dan lingkungan tempat penyimpanannya akan berubah, oleh karena itu sebuah produk yang dia ciptakan harus dapat beradaptasi untuk mengatasi hal ini. 


Melihat foto-foto Gate, saya bisa menyimpulkan sendiri bahwa Gate dapat dipakai untuk berbagai kebutuhan ruangan antara lain:

1. Dapur.
2. Ruang Makan.
3. Ruang Keluarga.
4. Kamar tidur.
5. Ruang Tamu.

Baca Juga: #KepoBuku Cara Lain Nge-review Buku

Karena Gate ini dinamis alias dapat dilipat dan dibuka sesuai kebutuhan, tentu bakal seru banget kalau diletakkan di lima lokasi di atas. Di dapur misalnya, Gate bisa menyimpan stoples-stoples bumbu dapur serta kotak-kotak bumbu kering seperti kotak bawang dan kotak mie instan. Karena aktivitas di rumah saya paling ramai itu di ruang makan yang sudah menjadi ruang serbaguna juga, maka kalau saya punya Gate maka Gate akan saya letakkan di ruang makan tempat berbagai kebutuhan tersimpan seperti gelas, piring, sendok, stoples kopi, stoples gula, stoples susu, stoples tempat menyimpan susu - keju - margarin, tempat buah, hingga stoples cemilan Indra dan Thika haha. Beberapa botol minuman juga bisa disimpan di situ. Tentu Gate harus diletakkan berdampingan dengan kulkas dan dispenser. Sehingga, kalau sedang bersantai di ruang makan yang cukup luas itu tidak perlu meminta Thika mengambil sendok di dapur.

Mimpi.

Mimpi pun berlanjut ...

Bagaimana jika Gate diletakkan di dalam kamar? It's awesome! Saya jadi bisa menyimpan semua barang printilan alias orofeko yang terpisah antara sudut sana dan sudut sini. Korek kuping, tusuk gigi (ini tusuk gigi memang harus ada di kamar), minyak Varash, sampai celengan dan tempat alat tulis bakal lebih rapi, berdampingan dengan deodorant dan parfum haha. Bahkan buku pun bisa saya tata rapi di Gate. Ya ya ya, belum kesampaian membeli lemari buku baru.

Sudahlah. Mimpinya disudahi saja dulu.

Berapakah harga Gate? Sayang, saya belum menemukan informasi tentang harga rak multi fungsi ini. Mungkin kalian ada yang tahu? Bagi tahu donk di komentar. Siapa tahu justru Gate sudah berdiri manis di rumah dan bikin iri. Huhuhu.

Teknologi memang luar biasa. Para penemunya juga lebih luar biasa. Semakin ke sini, semakin banyak barang baru yang menggunakan teknologi sederhana maupun mutakhir. Ngiler? Pasti. Apalagi jika memilih untuk tidak membelinya. Tidak membeli bukan saja berarti tidak punya uang melainkan karena belum membutuhkannya. Tapi setidaknya hari ini saya dan kalian (yang belum tahu) akhirnya jadi tahu bahwa ada rak multi fungsi sekeren Gate.

Baca Juga: The Ninox Flatlay Hammock

Semoga bermanfaat!



Cheers.

Mudahnya Memasang Indihome



Selama ini saya sudah merasa sangat nyaman berinternet menggunakan paket data dari Telkomsel. Awalnya, tahun 2000, saya memakai Kartu Simpati Nusantara yang waktu itu dijual dengan sangat eksklusif alias masih menggunakan kotak hitam sama persis seperti gambar di bawah ini:

Sumber gambar: Bukalapak.


Adalah Kakak Toto Pharmantara (alm.) yang membelikannya untuk saya dan untuk dirinya (dua nomor terakhir kami pun kakak-adik). Harganya? Rp 250K! Mahalnya bikin ngeri hehe. Betapa bodohnya saya, karena ketika Kartu As diluncurkan ke pasaran, saya kemudian membeli Kartu As serharga Rp 25K. Kan bodoh! Kartu sebelas digit diganti dengan kartu duabelas digit. Zaman sekarang pakai kartu sebelas digit kan asyik *ditusuk batako*.

Saya juga pernah pakai Kartu Halo dan berakhir dengan kenyataan pahit kantong terkuras karena tidak mampu mengontrol pemakaian.

Baca Juga: Komentar Disqus

Semakin ke sini, saya semakin merugi, karena Kartu As lama itu sama sekali jauh dari jangkauan bonus-bonus yang ditawarkan oleh Telkomsel. Saya kemudian memutuskan untuk membeli Kartu Simpati baru untuk mengakomodir kebutuhan berinternet. Kartu As lama itu sudah saya daftarkan ke WA dan sekarang kartu itu entah ada di mana, tapi saya ingin tetap mempertahankannya, maka untuk urusan WA tetap nomor dari Kartu As itu sedangkan urusan telepon dan SMS menggunakan nomor baru.

Kayaknya sudah cukup curhatnya. Si dinosaurus sudah mengantuk parah.

Hari Kamis, 13 Desember 2018, si Thika Pharmantara mulai melancarkan jurus rayuan maut agar kami memasang Indihome di rumah.

Thika:
Encim, kita pasang Indihome kah.

Saya:
Untuk?

Thika:
Internet toh, Encim. Lagi pula TV Encim ini kan sudah lama tidak nyala. TV-nya Oma juga. Kalau pasang Indihome, Oma bisa nonton TV.

Saya:
Sudah bagus tidak nonton TV. Banyak manfaatnya!

Thika:
Saya kan bisa nonton Upin Ipin sepuas-puasnya, Ncim. Pasang ya ya ya.

Setelah berembug cukup lama, memperhitungkan untung-rugi, ditambah rayuan pulau kelapa si Thika, akhirnya saya setuju memasang Indihome di rumah. Baru dua detik saya setuju, Thika langsung menelepon kakaknya, Indra Pharmantara, untuk meminta dipasangkan Indihome di rumah. Secara Indra bekerja di bidang itu. Wajah Thika langsung manyun setelah menelepon Indra.

Saya:
Kenapa?

Thika:
Mas Indra tuuuh Encim. Suruh saya daftar sendiri di Ibu Purnama di Telkom.

Saya:
Daftar to. Memangnya daftar juga kau tidak bisa? Pakai KTP kau.

Thika:
OKE!

Heeeeee? Anak ini ck ck ck.

Baca Juga: Blog List dan Blogwalking

Sabtu, para petugas yang adalah teman-temannya Indra sudah menarik kabel. Dan Minggu, Indihome sudah bisa kami nikmati di rumah. Pemasangannya gratis. Kami memilih paket 20 Mbps yang bayaran setiap bulannya Rp 450K. Cukup murah karena Indihome dapat dipakai bersamaan oleh kami bertiga. Lagi pula pemakaian internet kami hanya seputar video Upin Ipin, game si Indra, dan saya sendiri buat nge-blog atau nonton video tutorial. Dan Ocha pun sebal karena saat dia hendak pulang ke Kota Maumere setelah mengambil ijasah S1-nya, baru kami memasang Indihome. Hahaha. 

Dengan adanya Indihome di rumah bukan berarti saya berhenti membeli paket data. Karena untuk kebutuhan internet di luar rumah saya masih harus mengandalkan paket data tersebut. Kalau di rumah ... bebas *muka sombong, terus ditoyor*.

Mungkin karena para petugas juga mengejar banyak pemasangan baru Indihome, sebelum Hari Raya Natal, maka begitu mudah kami memasang Indihome di rumah. Entahlah. Yang jelas, kami mengalami betapa mudahnya memasang Indihome dan betapa senangnya Thika bisa menonton Upin Ipin sepuas hati.

Bagaimana dengan kalian? Pakai Indihome juga? Bagi tahu donk di papan komentar.



Cheers.