1 Video, 3 Aplikasi



Sering bikin video? Tentu! Kalian, mereka, saya. Kita sering bikin video untuk berbagai keperluan, terutama zaman sekarang untuk vlog yang diunggah di Youtube. Aplikasi edit video yang dipakai pun beragam, baik aplikasi khusus untuk menyunting video di Android seperti KineMaster maupun di komputer dan/atau laptop seperti Adobe Premiere.

Baca Juga: Inovasi Joseph Joseph

Saya sendiri juga sering bikin video. Sayangnya, saya belum bisa memakai Adobe Premiere yang kesohor dan paling digemari teman-teman videografer di Ende. Alasannya sederhana: laptop yang saya pakai tidak mampu 'mengangkat' kalau pakai Adobe Premiere. Kalian tahu siput? Kira-kira kerja laptop saya jadi macam siput kalau pakai Adobe Premiere haha. Oleh karena itu harus ada solusi. Dan ... terima kasih Martozzo Hann, sampai saat ini saya masih memakai Sony Movie Studio Platinum (SMSP) versi 12 dan versi 13.

Sepanjang pengalaman saya membikin video, kalau memang mau hasilnya bagus, tidak bisa mengandalkan satu aplikasi saja. Terlebih jika video tersebut harus digabung dengan foto-foto pendukung lainnya. Agak kurang sedap dilihat apabila transisi dari gambar bergerak menuju gambar tidak bergerak Oleh karena itu untuk membikin foto itu terlihat 'hidup' harus pakai aplikasi lainnya sebelum digabung dalam time line pada aplikasi final.

Kali ini saya mau bercerita tentang tiga aplikasi yang selama ini senantiasa menemani kegiatan menyunting video di laptop. Laptop saya, bukan laptop tetangga. Mungkin menurut kalian tiga aplikasi ini sudah basi, tapi bagi saya tiga aplikasi ini sangat mendukung proses edit video. 

Aplikasi apa saja kah itu? Mari kita cek ...

1. Sony Movie Studio Platinum (SMSP)


Aplikasi yang satu ini boleh saya tulis sebagai aplikasi utama (aplikasi final). Yang terinstal di laptop saya ada dua versi yaitu 12 dan 13. Seringnya sih saya pakai yang versi 12 karena sejak awal sudah pakai versi itu sehingga sudah akrab sekali sama belantaranya. SMSP menyelamatkan saya dari aplikasi edit video sebelumnya. Aplikasi sebelum SMSP itu menurunkan kualitas video sehingga saya harus say good bye padanya. Maafkan ya.

Ini tampilan lembar kerja SMSP yang saat ini sedang saya kerjakan yaitu tentang potensi desa-desa di Kecamatan Ende.

Potongan video (beberapa foto) ini terlihat seperti barcode.


Proses mengedit ini sering saya sebut 'bikin pola' sedangkan proses render saya sebut 'menjahit'.

Kelemahan SMSP hanya satu yaitu transisi yang terbatas; yang itu-itu saja. Apapun transisi tambahan yang ditawarkan di internet pun berakhir pada kalimat: beli dooonk, yang gratisan sudah selesai masa pakai ini! Haha. Tapi tidak mengapa, karena jika saya mau lebih lelah sedikit, maka saya bisa membikin sendiri transisi yang diinginkan kayak punya Sam Kolder. 

2. ProShow Producer


Aplikasi kedua adalah ProShow Producer. Secara umum aplikasi ini juga bisa dipakai untuk menyunting video tetapi saya lebih suka memakainya untuk kebutuhan menyunting foto agar fotonya terlihat lebih hidup alias bergerak seperti sebuah video.


Pada gambar di atas, masih dari lembar kerja SMSP, kalian bisa melihat foto peta yang saya insert sebagai dukungan cut-to-cut video. Foto peta itu kalau dilihat sudah bergerak (saya pakai efek zoom dan pan begitu) sehingga transisi ke video berikutnya terlihat lebih sedap.

3. Photoscape


Ada apa antara saya dengan Photoscape!? Bukankah seharusnya saya melanjutkan belajar Photoshop? Hehe. Ah, dinosaurus manyun tuuuh gara-gara saya berhenti belajar Photoshop hanya karena otak saya sudah letih huhuhu. 


Photoscape membantu saya mengedit foto-foto mulai dari pencahayaan, warna, hingga untuk penggabungan beberapa foto sekaligus. Saya suka Photoscape karena memang menggunakannya super duper mudah! Selain Canva, saya juga mengandalkan Photoscape untuk foto-foto pendukung pos blog.

1 Video, 3 Aplikasi, itu yang saya gunakan demi membikin satu video ... siapa tahu kalian justru memakai lebih dari satu aplikasi.

Baca Juga: Living In A Camper

Biasanya saya akan membuat draf video terlebih dahulu. Setelah draf jadi, saya mengumpulkan materi-materinya. Materi ini terdiri dari video, foto, dan musik pendukung jika kita memang tidak memakai natural sound dari video yang bersangkutan. Supaya keren saja haha. Materi sudah lengkap atau 90% lengkap, saya buka lembar kerja di SMSP dan mulai membikin pola. Membikin pola sama lamanya dengan render. Hanya saja, lamanya membikin pola tergantung mood. Rata-rata video berdurasi 45 menit membutuhkan waktu dua hari atau tiga hari untuk pola-nya. Render-nya atau waktu jahitnya kan sudah ada rata-rata durasi. Terlama itu waktu saya bikin video untuk pernikahannya Om Nugie dan Tante Mercy, bisa memakan waktu satu minggu dan fokus terlama pada pola penari awalnya. Bisa dilihat pada video di bawah ini:


Okay, itu saja cerita hari ini tentang aplikasi-aplikasi yang saya gunakan untuk membikin atau edit video. Bagaimana dengan kalian? Jangan bilang kalian pakai Adobe Premiere huhuhu itu bikin iri to the max, tahuuuu.

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Inovasi Joseph Joseph

Gambar diambil dari Mahome.Com.


Saya bersyukur, dalam perjalanan mengarungi belantara Youtube, antara tiny house, motorhome, street food, channel keren Insider, kehidupan primitif, ajang pencarian bakat semacam X-Factor dan The Voice, hingga proyek do it yourself yang kebanyakan oleh 5 Minutes Craft, masih bisa kesasar juga ke video-video inovasi. Salah satunya inovasi peralatan dapur. Meskipun perbuatan itu hanya membikin saya ngiler-ngiler sedap, karena tidak mampu membelinya atau karena belum butuh, tapi jelas hal-hal baru mampir di otak saya, dan itu menyenangkan.

Baca Juga: Living In A Camper

Video inovasi peralatan dapur itu sering menampilkan nama Joseph Joseph sebagai nama merek peralatan dapur yang ditampilkan. Agar kalian tidak penasaran, mari yuk kita kenalan. Jangan lupa siapkan cemilan dan minuman favorit supaya proses kenalan ini menjadi lebih menyenangkan *seruput jus kuku dinosaurus*.

Joseph Joseph


Dari channel Youtube ini, diketahui bahwa tersebutlah saudara kembar bernama Richard Joseph dan Antony Joseph yang mendirikan sebuah perusahaan bernama Joseph Joseph pada tahun 2003. Mereka menggabungkan pengalaman masing-masing dalam mendesain produk dan bisnis. Antony belajar desain di Central St Martins sementara Richard belajar bisnis di Universitas Cambridge. 

Penampakan si kembar, dari Pinterest.

Gantengnya bikin gagal fokus. Haha. Asyik ya punya saudara kembar kemudian berbisnis bareng. Siapa yang tidak mau, coba? 

"Innovation is at the heart of everything we do at Joseph Joseph, that’s why we make it our aim to identify everyday problems and solve them by designing functional solutions."
ANTONY & RICHARD JOSEPH


Mengkhususkan diri dalam peralatan dapur kontemporer, Joseph Joseph sekarang dikenal secara internasional karena memproduksi beberapa produk yang paling bergaya dan inovatif secara teknis, dan telah menjadi salah satu perusahaan dengan pertumbuhan tercepat di pasar peralatan rumah tangga di seluruh dunia. Kemampuan unik mereka untuk mencocokan bentuk dan fungsi telah membuat mereka mendapatkan pengakuan global.

Asesoris Dapur dan Kamar Mandi


Perusahaan Joseph Joseph mengkhususkan diri pada asesoris atau peralatan dapur dan rumah tangga. Hal tersebut tertera pada tagline situs mereka. Oleh karena itu, tidak heran video-video yang tayang di Youtube memang rata-rata video berjudul kitchen gadget atau bathroom. Mengapa mereka fokus pada peralatan dapur dan kamar mandi? Menurut analisa dinosaurus, itu karena mereka kesulitan mendesain pesawat luar angkasa.


Keplak dinosaurus!

Produk


Produk-produk inovasi dari perusahaan Joseph Joseph memadukan fungsi dan ketampanan sekaligus. Supaya kita sama-sama ngiler-ngiler sedap, yuk simak beberapa produk Joseph Joseph berikut ini:

Index Chopping Board


Punya papan iris atau talenan yang terindeks macam begini kan seru. Setiap papan diberi label/gambar sesuai peruntukannya. Supaya apa? Supaya tidak bercampur. Kan kurang seru aroma ikan menempel di keju yang dipotong apabila menggunakan papan iris yang sama. 

C-Pump

Ini dia penampakannya:


Asyik kan ya punya dispenser sabun cuci tangan macam begini sehingga tidak perlu pakai dua tangan hahaha. Tapi menggosok harus tetap dengan dua tangan dooonk, nanti tangan yang satu bingung.

Bathroom Flex (Steel Bundle)

Yang satu ini bagus sih, menurut saya, jadi ada dua barang sekali beli. Yang pertama sikat toilet. Yang kedua tempat sampah dua kotak; pemilahan sampah tergantung kebutuhan masing-masing orang.


Dan dari tiga barang yang tertera di pos ini, semuanya sudah ada harganya dalam Rupiah loh. Jadi, apabila kalian menginginkannya, cobalah mencari produk Joseph Joseph di market place yang ada. Atau cari saja Joseph Joseph cabang Indonesia.

Baca Juga: Gate: Rak Serbaguna

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang memang ingin mencari peralatan dapur dan kamar mandi, yang fungsinya bisa sama bisa juga lebih, tapi penampakkannya luar biasa bikin mata segar. Harganya pun saya pikir masih bersahabat dengan kantong kalian, kalau dengan kantong saya mungkin masih sangar hahaha.



Cheers.

Living In A Camper

Sumber Gambar: Telegraph.


Sudah lama saya tertarik dengan konsep rumah mini atau sering dikenal dengan istilah tiny house. Gara-gara dulu waktu masih rajin ketiduran di depan televisi saya paling rajin menonton George Clarke's Amazing Space di ... lupa ... kalau tidak salah di National Geographic. Correct me if I'm Wrong yaaa alias CMIIW. Acara si arsitek ganteng itu luar bisa menginspirasi. Bagaimana orang-orang mengubah mobil jadi rumah, bikin rumah mini dari peti kemas, sampai memanfaatkan pesawat rusak sebagai hunian asyik. Dari situ saya terus mencari konsep tiny house di internet, dan seringnya terdampar di Youtube. Kalian bisa menemukan jutaan video tentang tiny house di Youtube oleh akun-akun diantaranya Living Big In A Tiny House oleh Bryce Langston, atau video yang mengoprek tiny house oleh Kirsten Dirksen.

Baca Juga: Gate: Rak Serba Guna

Saya sendiri pernah mengulas tentang Lego Style Apartment yang videonya saya tunjukan ke Kakak Pacar dan dijawab dengan gelengan kepala. Katanya begini, "Kau pikir apartemen kecil begitu murah? Lihat saja kayunya, belum lagi sistem air dan gas, belum lagi kayu-kayu yang digunakan. Aduh eee Ine (panggilan untuk Mama dalam bahasa Ende) eee ... biar kita bikin rumah normal saja." Iya sih, kelihatannya minimalis begitu Lego Style Apartment tapi mahaaaal. Apartemen itu sudah dijual sama pemiliknya, Christian, dan dia kini punya hotel namanya Hotel Brummel.


Saya sudah bosan tinggal di rumah normal ... mana Pohon Tua juga gede begini. Sapunya bikin pegel seluruh persendian! Huhuhu ... padahal yang sapu rumah Mamasia. Psssttttt.

Dari melihat-lihat, dan ngiler, melihat begitu banyak tiny house, bertemulah saya dengan kumpulan video tentang camper. Macam-macam si camper ini. Ada campervan yang artinya sama dengan motor home (judulnya motor, tapi maksudnya mobil sejenis van, bis mini, dan lain sebagainya). Singkatnya, mobil modifikasi yang fungsinya seperti rumah dan bisa dibawa ke mana-mana kecuali ke Isla Nubar. Campervan ada pula yang terpisah dari mobilnya (pasang - lepas) sehingga kalau memang sedang tidak traveling atau tidak piknik, mobil bisa dipakai terpisah ke kantor, misalnya. Selain campervan ada pula bike camper. Sesuai namanya, bike camper ini terdiri dari camper dan sepeda dan/atau sepeda motor.

Ini contoh camper yang bisa dilepas-pasang di mobil. Mungil kelihatannya tapi jangan salah, camper ini keren sangat. Sumber dari Must See Tech di Youtube.

Kalau yang ini model-model campervan.

Dan yang ini model-model bike camper. Bike camper ini sangat saya sarankan apabila digunakan untuk piknik sehari-dua.

Sebenarnya campervan ini memang khusus buat piknik atau berkemah sehari-dua, tapi kemudian dimodifikasi ini itu sehingga fungsinya jadi sama kayak motor home.

Living in a campervan, sesuai judul pos ini, memang tidak bisa dilakoni oleh semua orang terutama orang-orang yang punya pekerjaan tetap di suatu kota dengan keluarga (isteri dan anak-anak). Apalagi jika isteri juga bekerja dan anak-anak masih sekolah. Tapi bagi pasangan muda yang pekerjaannya paruh waktu terutama pekerjaan paruh waktu itu dapat dilakukan daring, dan tentu saja gemar traveling, maka tinggal di dalam campervan sungguh diidam-idamkan. Kalian tidak mengidamkannya? Saya saja deh. Qiqiqi.

Baca Juga: Phone to Phone Charger

Sebuah campervan sudah pasti punya tempat tidur dan dapur mini beserta perlengkapannya. Asupan listrik (asupan!?) diperoleh dari panel surya. Tapi, bagaimana dengan kamar mandi dan toilet? Banyak yang memodifikasi van atau yang sudah jadi campervan dilengkapi dengan kamar mandi (shower) dan toilet. 

Bakal lantai shower mini yang dipasang di samping toilet (yang juga mini).

Lengkap!

Khusus untuk toilet, yang digunakan rata-rata composting toilet dengan penampungan yang dapat dibersihkan. Kalau begini kan enak, bisa sekalian hemat air hahaha. Tapi harus sering-sering ngecek atau mengasumsi kapan penuhnya *mikir sampai bola mata muter-muter*. Juga harus sering ngecek sumber air untuk kamar mandi dan toilet ini, serta sumber air bersih.

Jadi, campervan itu dasarnya mempunyai:
1. Sumber listrik dari panel surya.
2. Dapur mini lengkap dengan sink hingga kulkas mini.
3. Tempat tidur (bongkar pasang).
4. Tempat penyimpanan (tidak boleh ada space nganggur).
5. Kamar mandi dan toilet (composting).
6. Stok air minum dan air bersih untuk kamar mandi dan toilet.


Bagaimana dengan kalian, kawan, mau kah tinggal di campervan? Bagi tahu yuk di papan komentar.

Menulis tentang living in a camper ini membikin saya punya ide menulis tentang 5 Keseruan Tinggal di Campervan. Haha. Bekal buat Kamis nanti.



Cheers.

Mantel Sepatu

Sumber Gambar: Bukalapak.


Musim hujan telah dan masih berlangsung. Bagi kalian yang punya mobil, musim hujan tidak menjadi masalah apabila hendak keluar rumah, kecuali mobilnya mobil mainan. Yang berjalan kaki masih bisa menggunakan payung. Bagi saya dan dinosaurus yang hanya punya mobil mainan, tentu mantel hujan menjadi jawaban sempurna untuk kondisi ini. Sayangnya mantel hanya mampu melindungi tubuh. Bagaimana dengan kaki saya yang kesepian di bawah sana? Kasihan kan dia kedinginan terkena hujan. Hiks.

Baca Juga: Mudahnya Memasang Indihome

Kalian pasti masih ingat cover sepatu saya dalam pos Perjalanan Rock'N'Rain kan? Untuk memudahkan ingatan kalian, lihatlah gambar di bawah ini:


Saya melakukannya karena sepatu yang saya pakai saat itu bukan sepatu boot, bukan sepatu plastik atau karet, sehingga air hujan bisa saja merembes hingga ke kaos kaki. Bayangkan ... betapa susahnya memasukkan baskom ke dalam sepatu untuk menampung air hujan yang bocor itu. Jalan satu-satunya adalah mampir di kios pinggir jalan untuk membeli kresek merah sebagai pelindung sepatu. 

Setelah dunia persilatan heboh dengan kresek merah itu, saya melihat di Brightside[Dot]Me, situs pengantar tidur, tentang Creativity Design. Salah satunya adalah tentang mantel sepatu yang bisa dibeli di Ali Express. Woilaaa ... ini dia penampakan mantel sepatunya:

Sumber Gambar: Brightside.

Keren kan? 

Ternyata setelah saya cek-ricek, mantel sepatu juga sudah dijual di Bukalapak. Silahkan melihat-lihat dan apabila berkenan bisa membelinya.

Gara-gara gambar di atas, saya kepikiran untuk membikin mantel sepatu berbahan bekas baliho. Abang Nanu Pharmantara kan punya usaha itu, nah baliho bekas atau yang rusak saat dicetak itu saya pesankan Thika Pharmantara untuk mengambilnya. Abang Nanu hanya bisa geleng-geleng kepala karena sudah tahu pasti ada saja yang bakal saya bikin dengan baliho ini. Bonus: Mbak Wati menitipkan kalender meja (lama) yang menumpuk dengan pesan, "Bilang ke Encim, kalender ini harus jadi suatu barang."

Wokeh!

Kalendernya sudah dipakai bikin boneka-boneka kertas pada Lomba Kandang Natal. Hyess, saya memenangkan tantangan dari Mbak Wati.

Lanjut ...

Dengan teknologi sederhana, sedikit percikan kreativitas, dan sedikit kegilaan, maka saya yakin bisa membikin mantel sepatu, bahkan mantel (jubah) hujan berbahan baliho bekas! Manapula bahan baliho itu kan cukup kuat. Tapi saya belum membikinnya. Nantilah, dalam minggu ini pas saya bikinkan sekalian dengan tutorialnya. Mohon maaf kalau tutorial saya (nanti) selalu berdasarkan feeling so strong, bukan berdasarkan hitungan pasti.

Nantikan ... 

Baca Juga: Komentar Disqus

Semoga bermanfaat bagi kalian! Ingat, musim hujan belum berlalu begitu pula hati yang didera rindu. Qiqiqi.





Cheers.

Gate: Rak Serbaguna



Meskipun tidak semua, tapi saya yakin banyak rumah yang dilengkapi dengan rak, baik rak buku maupun rak televisi. Buktinya rumah saya dan rumah tetangga semuanya mempunyai rak semodel ini. Rak buku dan/atau rak televisi sudah menjadi kebutuhan terutama bagi mereka-mereka yang menciptakan ruang keluarga istimewa dimana rak menjadi inti dari satelit di sekitarnya (karpet, sofa, bantal santai, bangku, dan lain sebagainya). Percayalah, ruang keluarga bakal jadi sangat istimewa jika replika dinosaurus berdiri di dekat-dekat situ. Apalagi kalau dinosaurusnya betulan! Istimewa ... istimewa takutnya. Hehe.

Baca Juga: Dine Tools that Can Be Folded

Contoh rak buku dan/atau rak televisi yang juga ada di rumah tetangga saya bisa dilihat pada gambar berikut ini:



Fungsi dari rak-rak tersebut tentu tidak berubah kecuali di rumah saya rak seperti ini bisa Mamatua jadikan tempat lilin dan korek, atau dijadikan tempat menyimpan orofeko (segala barang printilan penting miliknya seperti lilin, korek, tasbih, kotak biskuit, buku-buku kecil). Haha. Bagaimana jika ternyata ada rak multi fungsi yang bisa dipergunakan sesuai kebutuhan? Apakah ada? Ada donk. Fotonya sudah kalian lihat pada awal pos.

Ini dia GATE.



Gate didesain oleh Artem Zakharchenko. Dari situsnya, tertera keterangan bahwa Gate dirancang untuk menjadi lebih dari sekadar rak. Gate menggunakan batang kayu bergerak yang ditempatkan pada batang logam untuk menciptakan struktur yang mencolok dan dinamis. Perancang Gate mengidentifikasi bahwa unit rak kadang-kadang hanya menyimpan barang yang sama selama masa pakainya, lebih sering barang tersebut akan ditukar dari waktu ke waktu dan lingkungan tempat penyimpanannya akan berubah, oleh karena itu sebuah produk yang dia ciptakan harus dapat beradaptasi untuk mengatasi hal ini. 


Melihat foto-foto Gate, saya bisa menyimpulkan sendiri bahwa Gate dapat dipakai untuk berbagai kebutuhan ruangan antara lain:

1. Dapur.
2. Ruang Makan.
3. Ruang Keluarga.
4. Kamar tidur.
5. Ruang Tamu.

Baca Juga: #KepoBuku Cara Lain Nge-review Buku

Karena Gate ini dinamis alias dapat dilipat dan dibuka sesuai kebutuhan, tentu bakal seru banget kalau diletakkan di lima lokasi di atas. Di dapur misalnya, Gate bisa menyimpan stoples-stoples bumbu dapur serta kotak-kotak bumbu kering seperti kotak bawang dan kotak mie instan. Karena aktivitas di rumah saya paling ramai itu di ruang makan yang sudah menjadi ruang serbaguna juga, maka kalau saya punya Gate maka Gate akan saya letakkan di ruang makan tempat berbagai kebutuhan tersimpan seperti gelas, piring, sendok, stoples kopi, stoples gula, stoples susu, stoples tempat menyimpan susu - keju - margarin, tempat buah, hingga stoples cemilan Indra dan Thika haha. Beberapa botol minuman juga bisa disimpan di situ. Tentu Gate harus diletakkan berdampingan dengan kulkas dan dispenser. Sehingga, kalau sedang bersantai di ruang makan yang cukup luas itu tidak perlu meminta Thika mengambil sendok di dapur.

Mimpi.

Mimpi pun berlanjut ...

Bagaimana jika Gate diletakkan di dalam kamar? It's awesome! Saya jadi bisa menyimpan semua barang printilan alias orofeko yang terpisah antara sudut sana dan sudut sini. Korek kuping, tusuk gigi (ini tusuk gigi memang harus ada di kamar), minyak Varash, sampai celengan dan tempat alat tulis bakal lebih rapi, berdampingan dengan deodorant dan parfum haha. Bahkan buku pun bisa saya tata rapi di Gate. Ya ya ya, belum kesampaian membeli lemari buku baru.

Sudahlah. Mimpinya disudahi saja dulu.

Berapakah harga Gate? Sayang, saya belum menemukan informasi tentang harga rak multi fungsi ini. Mungkin kalian ada yang tahu? Bagi tahu donk di komentar. Siapa tahu justru Gate sudah berdiri manis di rumah dan bikin iri. Huhuhu.

Teknologi memang luar biasa. Para penemunya juga lebih luar biasa. Semakin ke sini, semakin banyak barang baru yang menggunakan teknologi sederhana maupun mutakhir. Ngiler? Pasti. Apalagi jika memilih untuk tidak membelinya. Tidak membeli bukan saja berarti tidak punya uang melainkan karena belum membutuhkannya. Tapi setidaknya hari ini saya dan kalian (yang belum tahu) akhirnya jadi tahu bahwa ada rak multi fungsi sekeren Gate.

Baca Juga: The Ninox Flatlay Hammock

Semoga bermanfaat!



Cheers.

Mudahnya Memasang Indihome



Selama ini saya sudah merasa sangat nyaman berinternet menggunakan paket data dari Telkomsel. Awalnya, tahun 2000, saya memakai Kartu Simpati Nusantara yang waktu itu dijual dengan sangat eksklusif alias masih menggunakan kotak hitam sama persis seperti gambar di bawah ini:

Sumber gambar: Bukalapak.


Adalah Kakak Toto Pharmantara (alm.) yang membelikannya untuk saya dan untuk dirinya (dua nomor terakhir kami pun kakak-adik). Harganya? Rp 250K! Mahalnya bikin ngeri hehe. Betapa bodohnya saya, karena ketika Kartu As diluncurkan ke pasaran, saya kemudian membeli Kartu As serharga Rp 25K. Kan bodoh! Kartu sebelas digit diganti dengan kartu duabelas digit. Zaman sekarang pakai kartu sebelas digit kan asyik *ditusuk batako*.

Saya juga pernah pakai Kartu Halo dan berakhir dengan kenyataan pahit kantong terkuras karena tidak mampu mengontrol pemakaian.

Baca Juga: Komentar Disqus

Semakin ke sini, saya semakin merugi, karena Kartu As lama itu sama sekali jauh dari jangkauan bonus-bonus yang ditawarkan oleh Telkomsel. Saya kemudian memutuskan untuk membeli Kartu Simpati baru untuk mengakomodir kebutuhan berinternet. Kartu As lama itu sudah saya daftarkan ke WA dan sekarang kartu itu entah ada di mana, tapi saya ingin tetap mempertahankannya, maka untuk urusan WA tetap nomor dari Kartu As itu sedangkan urusan telepon dan SMS menggunakan nomor baru.

Kayaknya sudah cukup curhatnya. Si dinosaurus sudah mengantuk parah.

Hari Kamis, 13 Desember 2018, si Thika Pharmantara mulai melancarkan jurus rayuan maut agar kami memasang Indihome di rumah.

Thika:
Encim, kita pasang Indihome kah.

Saya:
Untuk?

Thika:
Internet toh, Encim. Lagi pula TV Encim ini kan sudah lama tidak nyala. TV-nya Oma juga. Kalau pasang Indihome, Oma bisa nonton TV.

Saya:
Sudah bagus tidak nonton TV. Banyak manfaatnya!

Thika:
Saya kan bisa nonton Upin Ipin sepuas-puasnya, Ncim. Pasang ya ya ya.

Setelah berembug cukup lama, memperhitungkan untung-rugi, ditambah rayuan pulau kelapa si Thika, akhirnya saya setuju memasang Indihome di rumah. Baru dua detik saya setuju, Thika langsung menelepon kakaknya, Indra Pharmantara, untuk meminta dipasangkan Indihome di rumah. Secara Indra bekerja di bidang itu. Wajah Thika langsung manyun setelah menelepon Indra.

Saya:
Kenapa?

Thika:
Mas Indra tuuuh Encim. Suruh saya daftar sendiri di Ibu Purnama di Telkom.

Saya:
Daftar to. Memangnya daftar juga kau tidak bisa? Pakai KTP kau.

Thika:
OKE!

Heeeeee? Anak ini ck ck ck.

Baca Juga: Blog List dan Blogwalking

Sabtu, para petugas yang adalah teman-temannya Indra sudah menarik kabel. Dan Minggu, Indihome sudah bisa kami nikmati di rumah. Pemasangannya gratis. Kami memilih paket 20 Mbps yang bayaran setiap bulannya Rp 450K. Cukup murah karena Indihome dapat dipakai bersamaan oleh kami bertiga. Lagi pula pemakaian internet kami hanya seputar video Upin Ipin, game si Indra, dan saya sendiri buat nge-blog atau nonton video tutorial. Dan Ocha pun sebal karena saat dia hendak pulang ke Kota Maumere setelah mengambil ijasah S1-nya, baru kami memasang Indihome. Hahaha. 

Dengan adanya Indihome di rumah bukan berarti saya berhenti membeli paket data. Karena untuk kebutuhan internet di luar rumah saya masih harus mengandalkan paket data tersebut. Kalau di rumah ... bebas *muka sombong, terus ditoyor*.

Mungkin karena para petugas juga mengejar banyak pemasangan baru Indihome, sebelum Hari Raya Natal, maka begitu mudah kami memasang Indihome di rumah. Entahlah. Yang jelas, kami mengalami betapa mudahnya memasang Indihome dan betapa senangnya Thika bisa menonton Upin Ipin sepuas hati.

Bagaimana dengan kalian? Pakai Indihome juga? Bagi tahu donk di papan komentar.



Cheers.

Komentar Disqus



Salah satu elemen penting dari dunia blogging adalah komentar. Ketika kita blogwalking, kadang hanya membaca, kadang juga meninggalkan komentar. Adalah penting bagi saya untuk membalas komentar dan sedapat mungkin tidak ada yang terlewatkan. Tombol reply pada komentar Blogger sangat membantu saya untuk tahu mana komentar yang sudah dibalas, mana yang belum. Karena, ketika tamu datang ke rumah kita dan menunjukan dirinya dengan santun, tentu kita berupaya menyediakan minum dan kudapan. Demikianlah kira-kira.

Baca Juga: Blog List dan Blogwalking

Tombol reply pada komentar Blogger mulai tidak berfungsi sejak dinosaurus kenal dunia internet beberapa minggu yang lalu. Tentu ini mengesalkan. Karena:

  • Kuatir ada komentar yang terlewat dibalas.
  • Penampakannya menjadi kurang menarik karena saya merapel per lima komentar untuk dibalas sekaligus.
  • Belum terpikirkan alasan ketiga.


Beberapa cara untuk mengatasinya lantas muncul di pos-pos blog. Untuk mengatasinya saya membaca di blog milik Kang Nata di Asikpedia. Lalu dibahas juga di blog milik Mas Bumi di Djangkarubumi. Tapi karena saya gaptek, sudah mencoba lantas muncul error yang lain yang mungkin disebabkan saling tabrakannya skrip entahlah, maka saya pun gagal untuk memperbaiki tombol reply yang eror tersebut. Ya sudah, saya pasrah saya. Namun ... rasa kesal di dasar hati diam tak mau pergi rasanya kok aneh nge-reply komentar tidak langsung pada komentar yang bersangkutan. Ini ibarat mengirim surat tapi nomor rumahnya meleset.

Akhirnya, mautak mau, saya pakai Disqus. Sudah lama tahu Disqus dari waktu dulu pernah menulis di Seword, dan sudah mendaftar akun di Disqus. Akun Disqus itu hanya saya gunakan apabila hendak berkomentar pada blog yang memakai sistem komentar tersebut. Lantas banyak juga blog yang memakai Disqus. Pikir punya pikir, ya sudah saya pakai Disqus saja deh. Tata cara pemasangannya di Blogger juga sangat mudah! Hanya memakan waktu sekitar lima menit, komentar Disqus sudah terpasang di blog sedang kalian baca ini.

Sayangnya, proses migrasi paus ke Australia komentar lama dari Blogger ke Disqus mengalami error demi error. Ya sudahlah, yang penting saya sudah usaha sebatas kemampuan hehe. Jadi, silahkan komentar *dijumroh*.

Baca Juga: Scootmatic

Kelemahan Disqus ini, berdasarkan beberapa hari memakainya adalah:

  • Apabila yang komentar itu tidak memasang tautan blog atau situsnya di Disqus, terlebih teman yang baru pertama kali berkomentar di sini, maka saya kesulitan melakukan kunjungan balik. Bila kalian tahu caranya, bagi tahu donk hehe.
  • Migrasi komentar lama (Blogger) ke Disqus yang masih terus gagal.


Bagi kalian yang main ke sini, jangan kuatir ... Insha Allah saya tetap blogwalking ke blog kalian *pasang senyum manis* karena cerita kalian di blog tidak akan saya dapatkan di ensiklopedia atau di majalah.

Selamat datang di dunia Disqusi dan mari kita berdiskusi.

FYI; dulu kala, ada salah satu sistem komentar yang kesohor dan pasti ada di banyak blog. Namanya Haloscan. Entah kenapa waktu itu Haloscan begitu kesohor padahal sistemnya sederhana saja, sama seperti komentar Blogger. Namun kemudian karena satu dan lain hal tidak dapat digunakan lagi dan saya juga pernah cukup lama tidak nge-blog sehingga kurang update informasi. Selain komentar, zaman dulu nge-blog ada istilah shoutbox. Salah satu yang paling ngetop adalah Doneeh. Shoutbox itu, istilah saya, quick coment. Komentar atau shout di shoutbox yang dipasang di side bar itu kadang tidak sesuai dengan pos blog. Seperti: hei hai, I'm here ...

Baiklah, demikian saja untuk hari ini. Mohon maaf apabila kalian merasa tidak nyaman atas penggantian sistem komentar karena sesungguhnya saya hanya ingin yang terbaik dalam dunia komen-komenan haha.

Baca Juga: Proyektor Ini Tidak Butuh Layar atau Dinding

Semoga bermanfaat!



Cheers.

Blog List dan Blogwalking



Salah satu perbuatan yang harus dilakukan seorang blogger bila ingin trafik blog-nya meningkat, selama dirinya bukan Jennifer Lopez atau Indominus Rex, adalah blogwalking. Andaikata blog kita sekelas Brightside yang kontennya sering dipakai sebagai rujukan dari situs-situs hiburan tanah air, atau blog kita sekelas situs National Geographic, no need to blogwalking. Konten dua situs itu dengan sendirinya bakal menarik banyak pengunjung. Tapi kalau konten blog seragam dengan konten blog lainnya, sedangkan jauh di dalam lubuh hati ada keinginan trafik pengunjung meningkat, blogwalking berhukum fardhu'ain. Terutama, apabila urusan trafik ini dikaitkan dengan penghasilan blog, urusannya lain lagi. Urusan lain itu berkaitan dengan mutu konten itu sendiri.

Baca Juga: Plastik Berkualitas dari Tupperware

Kemudian ada yang ngedumel: gua nge-blog bukan karena pengen punya trafik tinggi! Are you sure? Kalau begitu, seperti yang pernah saya tulis di pos lain, tulis saja di diary konvensional bersampul Elsa from Frozen atau bersampul Rambo. Maafkan Rambo, Mama. Atau blog-nya dikunci saja sehingga hanya dirimu yang bisa melihatnya. Hehe. Karena saya pikir bukan rahasia lagi setiap blogger ingin tulisannya dibaca dan, kalau bisa, bermanfaat bagi orang yang membacanya. Bukan demikian? Ada sensasi tersendiri ketika tulisan kita dibaca, dikomentari, dan bermanfaat bagi orang lain. Tanpa embel-embel penghasilan dari GA, misalnya.

Ah sudahlah ... 

Sekarang saya ingin berbagi tentang apa yang disebut blogwalking. Blogwalking merupakan kegiatan blogger mengunjungi satu blog ke blog lainnya. Apakah harus sesama blogger yang sudah saling kenal? Tidak juga. Semua bermula dari tidak saling kenal kan? Kecuali untuk orang-orang yang memang berangkat bersama menuju dunia blog ini alias sebelumnya sudah saling kenal di dunia fana. Makanya saya tidak peduli apakah sudah kenal atau belum, sepanjang sudah membaca pos blog-nya, pengen komentar ya komentar saja. Tidak kuatir dibilang sok kenal? Tidak. Saya itu kuatir kalau dinosaurus mendadak bangkit dan ngajak saya berdiskusi bahwa bumi ini datar. Kalau itu terjadi, dinosaurusnya duluan saya suntik lima galon obat bius biar dia pingsan manja.

Bagaimana kita bisa blogwalking? Pertama-tama, harus ada internet. Kedua, harus tahu tautan blog tujuan. Masalahnya adalah kadang kita lupa tautan blog tujuan tersebut, apalagi kalau terdiri dari ratusan blog. Tapi jangan kuatir, Blogger sudah menyediakan layanan Tambah Gadget pada Tata Letak. Kalau Wordpress? Cari sendiri, haha. Saya bukan pemakai Wordpress.




Zaman dulu, yang namanya blog list ini merupakan kebanggaan tersendiri. Baik ketika nama kita ada di blog list blogger lain maupun saat side bar blog kita menampilkan begitu banyak blogger pada blog list-nya. Artinya sudah sepuh *digampar warga*. Tapi zaman sekarang saya enggan menampilkan blog list di side bar apalagi menu/halaman. Tapi kenapa saya masih bisa dengan santainya blogwalking? Karena blog list itu tersimpan di Notepad! Haha. Panggil saya ndeso. It's okay. I don't care anyway. Selain itu, saya juga bisa langsung blogwalking ke blogger yang meninggalkan komentar di setiap pos. Fun and easy.

Baca Juga: Scootmatic

Kembali ke Notepad yang menyimpan blog list di atas, tentu letih juga kalau harus mengkopi lalu paste and go di peramban kan. Manapula saya melakukannya sambil duduk, berhadap-hadapan dengan laptop, pun tatapan penuh cinta. Sampai kemudian saya berpikir tetang blogwalking menggunakan Android sambil baring menunggu kantuk kala hendak tidur malam. Okay, kopikan saja blog list tadi dari Notepad ke bodi e-mail. Kirim! Dan ini yang kemudian memudahkan saya blogwalking sambil tiduran, tengkurep, nungking, dan lain pose.

Saya tinggal membuka e-mail, mengeklik salah satu tautan yang ada, membacanya, memberi komentar sesuai keinginan saya berkomentar, dan tinggal klik panah kembali, trada ... kembali ke bodi e-mail tadi. 


Kalian lihat kotak kuning pada gambar di atas? Kotak kuning itulah yang menolong saya dari mengeklik tombol kembali setelah berkomentar. Panah kembali pada gambar di atas mengantar kita kembali pada bodi e-mail meskipun sudah membuka banyak laman dari blog yang sama. Cihuy! Direct gitu istilahnya. Dengan demikian mudah banget blogwalking maaaaah, lebih mudah dari walking dead haha. Mau blogwalking kapan pun sesuka hati tanpa harus menghidupkan laptop, atau mencari/mengingat tautan blog tujuan, atau harus bikin blog list di side bar, atau blogwalking hanya karena membalas komentar dari blogger lain di pos blog kita.

Cara di atas betul-betul membantu dan membudahkan saya ber-social blog.

Mungkin kalian punya cara sendiri untuk blogwalking. Misalnya dengan mengikuti sebuah blog, dan mengetahui update-an blog tersebut, lalu blogwalking. Bisa juga dengan men-subscribe. Tapi kalau saya sih lebih memilih cara yang ini. Karena saya blogwalking bukan semata-mata karena blogger lain terlebih dahulu blogwalking ke blog saya lantas meninggalkan komen dan tautan, tapi karena saya memang suka meloncat dari satu blog ke blog lain. Haha. Pengen tahu cerita terbaru, menambah informasi dan wawasan, jadi tahu tips ini itu, dan lain sebagainya.

Fyi: karena tidak setiap blogger rajin meng-update tulisannya, jadi sekarang saya juga membaginya menjadi blogger ter-update, blogger butiran debu, blogger sarang laba-laba, dan terakhir blogger gelap gulita. Kalian tentu tahu maksud dari setiap kelompok. Qiqiqiq.

Baca Juga: The Ninox Flatlay Hammock

Apabila kalian ada yang setipe saya, silahkan pakai cara ini. Tergantung masing-masing kebutuhan dan gaya blogwalking-nya. Atau ada tips lain? Bagi tahu di komen :)



Cheers.

Plastik Berkualitas dari Tupperware


Selasa adalah #SelasaTekno. Tapi tidak selamanya Selasa harus semata-mata teknologi yang berhubungan dengan teknologi telepon genggam. Karena saya pernah menulis teknologi inovasi seperti tentang tenda lipat otomatis ini, atau proyektor keren ini, atau tentang situs tempat kita dapat membikin segala barang berbasis teknologi. Dan, bahkan saya pernah menulis tentang teknologi wadah makanan dan minuman yang bisa dilipat. Oleh karena itu, ijinkan saya menulis tentang Tupperware!

Baca Juga : Scootmatic

Kalian, terutama perempuan, pasti sering dengar tentang Tupperware. Tupperware sebagai wadah makanan di kulkas, Tupperware sebagai wadah bekal makanan dan minum ke kantor, Tupperware sebagai wadah saji prasmanan kala hari raya dan perayaan tertentu, Tupperware sebagai botol minum yang praktis dan bergaya dibawa saat berkegiatan, dan lain sebagainya. Apakah saya juga memakai Tupperware? Ya, tentu. Kenapa pakai Tupperware? Itu pertanyaan lain yang bakal saya jawab pada pos Kamis, nanti-nanti, hahaha. Hari ini saya pengen menulis tentang Tupperware yang kesohor yang mampu bikin kaum ibu tersenyum bangga apabila memakainya. Termasuk saya, meskipun saya belum jadi ibu qiqiqi. 

Perkenalan saya dengan Tupperware sudah sangat lama, sejak kakak ipar saya mulai membeli aneka wadah Tupperware yang biasa diajak piknik di era 90-an. Sejarah Tupperware sendiri jauh lebih lama dari itu. Tupperware pertama kali dibuat pada tahun 1946 oleh Earl Tupper di Amerika. Tupper membuat suatu wadah plastik yang dipergunakan untuk rumah tangga; untuk menyimpan makanan dan membuatnya kedap udara. Salah satu paten penting dari produk ini, menurut yang tertulis di Wikipedia, adalah seal penyekatnya yang dikenal dengan burping seal yang merupakan ciri khusus terkenal dari produk-produk Tupperware. Inilah yang membuatnya berbeda dari produk-produk sejenis.


Tapi apa yang membikin Tupperware ini begitu digandrungi adalah istilah 'aman' yang mengikutinya. 

Produk Tupperware terbuat dari bahan plastik berkualitas terbaik, tidak mengandung zat beracun, dan sudah memenuhi standard dari beberapa badan dunia seperti FDA (Food and Drug Administration) Amerika, European Food Safety Authority (Eropa), Japan Food Safety Commision (Jepang), sehingga selain aman digunakan berkali-kali untuk makanan dan minuman (food grade) juga ramah lingkungan. Kalau seperti ini adanya, tidak heran Tupperware menjadi merek nomor satu di dunia untuk barang-barang rumah tangga plastik.

Menurut saya, apa yang membikin Tupperware digandrungi bukan saja karena aman, tapi karena banyak faktor seperti misalnya pilihan jenis dan model produknya. Tupperware punya begitu banyak jenis produk seperti stoples, tempat bekal makanan, botol minum, hingga gelas. Uniknya, khusus untuk bekal makanan pasti dilengkapi dengan cover berupa tas mini. Pengalaman berkegiatan di Kecamatan Wolowaru hari Jum'at kemarin (sampai Minggu), saat saya membawa bekal nasi dari rumah sampai sore, makanannya masih segar karena tutupan tempat makannya punya lobang-lobang kecil agar uap makanan panas bisa keluar.

Baca Juga : The Pause Pod

Selain banyak pilihan jenis dan model, Tupperware ini selalu penuh warna. Contohnya stoples buat gula dan kawan-kawan berikut ini:


Pilihannya dan perpaduan warnanya selalu bikin mata segar. Yang macam begini juga pernah saya beli dahulu kala dalam bentuk kotak segi empat aneka warna (dan pastinya ada warna kuning), yang kini salah satu kotak itu dipakai Mamatua untuk mengisi barang-barang printilannya. Hayaaah hahaha.


Kotak biru di atas sering saya bawa ke kantor dalam kondisi kosong, di jalan kalau memang pengen beli cemilan, tinggal dikondisikan dengan kotak ini sehingga membelinya tidak terlalu banyak. 

Selain wadah makanan dan/atau kotak bekal makan, saya juga punya banyak botol minum Tupperware:


Yang ini dikasih sama Edwin Firmansyah hehe. Senang banget kalau bawa ini, bisa minum sepuasnya karena ukurannya cukup besar.


Jangan salah fokus ke sepatunya hahaha. Botol minum Tupperware yang satu itu memang paling sering ditemui baik yang asli Tupperware maupun yang kawe-kawean. Salah satu botol minum Tupperware sejenis itu tapi berukuran super besar hilang di Danau Kelimutu hiks. Waktu itu karena sibuk mengurus kamera dan tetek bengek lainnya, saya melupakan si botol dan si jaket anti air :( biarlah. Ikhlaskan saja. Semoga berguna bagi yang menemukannya. Lagipula sudah diganti, meski beda model, dengan pemberian Edwin Firmansyah di atas.

Plastik berkualitas dari Tupperware ini memang belum tergantikan dengan plastik dari produk lain. Teknologi dan inovasinya terus berkembang dari tahun ke tahun. Kebanggaan memilikinya bikin banyak orang bikin meme soal ibu-ibu dan Tupperware. Saya sendiri punya banyak wadah plastik, aneka rupa, macam merek, tapi memang harus diakui belum bisa menyamai Tupperware yang bahkan aman-aman saja jika saya membawa bekal makanan yang masih panas.

Baca Juga : Freestate, Sepatu Idaman Traveler

Bagaimana dengan kalian? Bagaimana status kepuasan kalian menggunakan/memakai wadah-wadah Tupperware? Yuk share :) *sambil saya becanda sama dinosaurus* haha.


Cheers.

Plastik Berkualitas dari Tupperware


Selasa adalah #SelasaTekno. Tapi tidak selamanya Selasa harus semata-mata teknologi yang berhubungan dengan teknologi telepon genggam. Karena saya pernah menulis teknologi inovasi seperti tentang tenda lipat otomatis ini, atau proyektor keren ini, atau tentang situs tempat kita dapat membikin segala barang berbasis teknologi. Dan, bahkan saya pernah menulis tentang teknologi wadah makanan dan minuman yang bisa dilipat. Oleh karena itu, ijinkan saya menulis tentang Tupperware!

Baca Juga : Scootmatic

Kalian, terutama perempuan, pasti sering dengar tentang Tupperware. Tupperware sebagai wadah makanan di kulkas, Tupperware sebagai wadah bekal makanan dan minum ke kantor, Tupperware sebagai wadah saji prasmanan kala hari raya dan perayaan tertentu, Tupperware sebagai botol minum yang praktis dan bergaya dibawa saat berkegiatan, dan lain sebagainya. Apakah saya juga memakai Tupperware? Ya, tentu. Kenapa pakai Tupperware? Itu pertanyaan lain yang bakal saya jawab pada pos Kamis, nanti-nanti, hahaha. Hari ini saya pengen menulis tentang Tupperware yang kesohor yang mampu bikin kaum ibu tersenyum bangga apabila memakainya. Termasuk saya, meskipun saya belum jadi ibu qiqiqi. 

Perkenalan saya dengan Tupperware sudah sangat lama, sejak kakak ipar saya mulai membeli aneka wadah Tupperware yang biasa diajak piknik di era 90-an. Sejarah Tupperware sendiri jauh lebih lama dari itu. Tupperware pertama kali dibuat pada tahun 1946 oleh Earl Tupper di Amerika. Tupper membuat suatu wadah plastik yang dipergunakan untuk rumah tangga; untuk menyimpan makanan dan membuatnya kedap udara. Salah satu paten penting dari produk ini, menurut yang tertulis di Wikipedia, adalah seal penyekatnya yang dikenal dengan burping seal yang merupakan ciri khusus terkenal dari produk-produk Tupperware. Inilah yang membuatnya berbeda dari produk-produk sejenis.


Tapi apa yang membikin Tupperware ini begitu digandrungi adalah istilah 'aman' yang mengikutinya. 

Produk Tupperware terbuat dari bahan plastik berkualitas terbaik, tidak mengandung zat beracun, dan sudah memenuhi standard dari beberapa badan dunia seperti FDA (Food and Drug Administration) Amerika, European Food Safety Authority (Eropa), Japan Food Safety Commision (Jepang), sehingga selain aman digunakan berkali-kali untuk makanan dan minuman (food grade) juga ramah lingkungan. Kalau seperti ini adanya, tidak heran Tupperware menjadi merek nomor satu di dunia untuk barang-barang rumah tangga plastik.

Menurut saya, apa yang membikin Tupperware digandrungi bukan saja karena aman, tapi karena banyak faktor seperti misalnya pilihan jenis dan model produknya. Tupperware punya begitu banyak jenis produk seperti stoples, tempat bekal makanan, botol minum, hingga gelas. Uniknya, khusus untuk bekal makanan pasti dilengkapi dengan cover berupa tas mini. Pengalaman berkegiatan di Kecamatan Wolowaru hari Jum'at kemarin (sampai Minggu), saat saya membawa bekal nasi dari rumah sampai sore, makanannya masih segar karena tutupan tempat makannya punya lobang-lobang kecil agar uap makanan panas bisa keluar.

Baca Juga : The Pause Pod

Selain banyak pilihan jenis dan model, Tupperware ini selalu penuh warna. Contohnya stoples buat gula dan kawan-kawan berikut ini:


Pilihannya dan perpaduan warnanya selalu bikin mata segar. Yang macam begini juga pernah saya beli dahulu kala dalam bentuk kotak segi empat aneka warna (dan pastinya ada warna kuning), yang kini salah satu kotak itu dipakai Mamatua untuk mengisi barang-barang printilannya. Hayaaah hahaha.


Kotak biru di atas sering saya bawa ke kantor dalam kondisi kosong, di jalan kalau memang pengen beli cemilan, tinggal dikondisikan dengan kotak ini sehingga membelinya tidak terlalu banyak. 

Selain wadah makanan dan/atau kotak bekal makan, saya juga punya banyak botol minum Tupperware:


Yang ini dikasih sama Edwin Firmansyah hehe. Senang banget kalau bawa ini, bisa minum sepuasnya karena ukurannya cukup besar.


Jangan salah fokus ke sepatunya hahaha. Botol minum Tupperware yang satu itu memang paling sering ditemui baik yang asli Tupperware maupun yang kawe-kawean. Salah satu botol minum Tupperware sejenis itu tapi berukuran super besar hilang di Danau Kelimutu hiks. Waktu itu karena sibuk mengurus kamera dan tetek bengek lainnya, saya melupakan si botol dan si jaket anti air :( biarlah. Ikhlaskan saja. Semoga berguna bagi yang menemukannya. Lagipula sudah diganti, meski beda model, dengan pemberian Edwin Firmansyah di atas.

Plastik berkualitas dari Tupperware ini memang belum tergantikan dengan plastik dari produk lain. Teknologi dan inovasinya terus berkembang dari tahun ke tahun. Kebanggaan memilikinya bikin banyak orang bikin meme soal ibu-ibu dan Tupperware. Saya sendiri punya banyak wadah plastik, aneka rupa, macam merek, tapi memang harus diakui belum bisa menyamai Tupperware yang bahkan aman-aman saja jika saya membawa bekal makanan yang masih panas.

Baca Juga : Freestate, Sepatu Idaman Traveler

Bagaimana dengan kalian? Bagaimana status kepuasan kalian menggunakan/memakai wadah-wadah Tupperware? Yuk share :) *sambil saya becanda sama dinosaurus* haha.


Cheers.