LED for Camera


Meskipun setiap Selasa menulis pos blog bertema #SelasaTekno, bukan berarti saya paling tahu sama semua hal/barang baru di dunia teknologi, karena yang namanya teknologi sudah pasti akan terus berinovasi dan berkembang. Teknologi yang dibahas pun tidak selamanya harus yang canggih seperti Phone to Phone Charger. Toh saya juga menulis tentang hal-hal yang jaraknya cukup jauh dari teknologi kekinian. Pos tentang Teknologi Dasar, misalnya, sangat jauh dari kecanggihan teknologi zaman sekarang. 

Baca Juga: The Pause Pod

Baru-baru ini, saat sedang tidur-tiduran sambil menonton video di Youtube, saya melihat sebuah benda berbentuk lingkaran (bulat-ceper) berwarna biru muda. Itu pasti jepit rambut si Thika Pharmantara yang jalan-jalan keliling rumah lantas nyasar di kamar saya. Tapi yang namanya manusia, rasa penasaran itu pasti ada, dan ketika saya perhatikan baik-baik, detail si benda terlalu aneh untuk sebuah jepit rambut. Jadi, apakah sebenarnya benda itu? Jawabannya datang dari Meli, anak tetangga yang saban hari main di rumah, yang saat itu sedang daring menggunakan laptop saya.


"Encim tidak tahu kah ini apa? Aduuuuh ..." dengan mimik wajah dan nada suara menghina. Dasar ana lo o (anak kecil).

Lantas, masih dengan wajah menghina, dia memencet tombol dan ... TRADAAAA. Nyala! Saya terkejut.

LED Ring


Ternyata itu LED Ring. Oalah. Maklum, saya tidak seperti si Thika yang rajin cuci mata di toko daring. Ternyata rajin cuci mata di toko daring itu ada manfaatnya juga hahaha. Meli, yang sebelumnya sudah dicerahkan oleh Thika, lantas menjelaskan cara menggunakan LED Ring tersebut. Duh, betapa kampungannya saya. Sampai nganga begitu. Nganga karena gaya Meli menjelaskan itu mirip profesor hahaha.

LED Ring dipasang di telepon genggam demi keperluan memotret dan merekam video. Terutama memotret dan merekam video dalam kondisi minim cahaya. Saya pernah mencoba menggunakan LED Ring milik Thika ini waktu merekam video lucu-lucuan di bawah ini:


Hasilnya? Lumayan lah, kurang bersemut. Secara, penerangan di kamar saya kan tidak seterang-benderang di ruang tamu. Oh iya, pada akhirnya lampu di kamar saya wassalam dan saya menggantinya dengan yang baru. Lebih terang dari sebelumnya. Dan seandainya saya merekam video di kamar ditambah LED Ring ini, saya yakin hasilnya jauh lebih terang.

Baca Juga: Backpack Tuteh

Meskipun LED Ring yang dibeli Thika ini cuma semacam miniatur dari yang sesungguhnya, tapi saya pikir sudah cukup membantu buat acara foto-foto dan rekam video amatir (menggunakan telepon genggam). Entah kenapa akhir-akhir ini saya lebih suka merekam video menggunakan telepon genggam ketimbang kamera video maupun DSLR.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Sudah pernah coba juga?



Cheers.

Backpack Tuteh


Saya pernah menulis tentang Backpacks Impian di #SelasaTekno Kenapa? Karena bakpack, daypack, tas punggung, ransel, apa pun sebutannya, sudah menjadi barang yang menemani aktivitas harian kita. Ke kantor, sekadar piknik, traveling, pasti backpack ini nangkring di punggung. Dan inovasi backpack sungguh mengagumkan. Mempunyai lebih dari satu backpack pun bukan karena maruk, melainkan karena disesuaikan dengan kebutuhan, karena rempong kan harus gonta-ganti isi backpack; antara isi backpack saat dipakai ke kantor, dan isi backpack saat dipakai bersantai atau piknik dan/atau traveling.

Baca Juga: Cetak Saring

Saya termasuk pengguna aktif bakpack *tsah* ke mana pun pergi, kecuali untuk pergi-pergi yang cuma membutuhkan waktu satu atau dua jam pilihan tas yang dibaca bisa tas selempang mini. Kalau Bapa Sam sih setia sama tas selempang Alto-nya. Meskipun mempunyai banyak backpack tapi pasti ada backpack andalan kan. Ya, saya punya backpack andalan yang katanya mirip backpack yang dipakai oppa-oppa dari Korea sana. Haha. Belinya di Kakak Rosa Budiarti dari toko daring temannya.

Backpack Andalan dan Isinya


Backpack andalan saya bisa kalian lihat penampakannya pada awal pos, atau bisa juga pada gambar di bawah ini:


Kalau bepergiannya ke tempat yang jauh dan agak lama, pilihannya bisa Consina atau Eiger, tapi pun kadang saya memanggul si backpack hitam ini. Sayangnya backpack ini, meskipun andalan, tapi bagian dalamnya tidak se-compact yang kalian kira.


Tidak seperti backpack (kantoran) umumnya yang menyediakan tempat laptop, backpack ini mulus-mulus saja haha. Cuma dua kantong kecil tempat menyimpan handphone dan kartu nama (kalau ada), ya barang-barang kecil begitu. Sehingga untuk membuatnya dapat 'menyangga' saya menempatkan map keras di bagian belakang. Kalian bisa lihat isinya, botol minum dan payung tidak dapat berdiri gagah, apalagi dompet dan lain barang.

Pos Tentang Backpack Custom


Baru-baru ini, tepatnya tanggal 4 April 2019, saya membikin status Facebook tentang sebuah backpack custom:


Lalu teman saya Enchyz Manteiro menanggapinya, bukan di komentar, melainkan saat kami bertemu di kantin kampus. Enchyz menunjukkan foto backpack bayi/balita yang dibelinya dari toko daring. Wah, bukan main saya jadi mupeng! 

Yang ini dari Lazada.

 Yang ini dari Tokopedia.

Bayangkan, punya backpack model begini (eeeeh modelnya mirip backpack hitam andalan saya kan, hahaha). Tempat botolnya saja banyak (di bagian depan). Bagian dalamnya banyak laci sehingga barang-barang bisa tersimpan dengan compact-nya. Laci-laci itu memang untuk mengisi diaper dan bermacam kebutuhan bayi/balita, tapi bisa kita ganti dengan botol minum tambahan, payung, dompet alat tulis, dompet obat, dan lain sebagainya. Masih bisa juga sih buat menyimpan laptop, tergantung pengaturan.

Canggih! Tidak ada ceritanya botol minum jatuh tertidur di alas backpack hahaha.

Backpack Tuteh


Backpack impian saya pun menari-nari di kepala. Membeli atau membikin sendiri. Dan dengan lancangnya saya mulai menggambar si backpack Tuteh ini. Saya pikir, para penjahit sudah tahu apa mau-maunya saya kan hehe. Otak mereka super canggih lah.




Maaf, saya bukan tukang gambar, dan jelas tidak bisa menggambar, jadi cukup segini bisanya saya menggambar backpack Tuteh haha. Yang jelas backpack ini harus bisa berdiri gagah saat diletakkan di atas meja atau atas lantai. So compact pula.


Jadi itu dia backpack Tuteh, backpack yang saya cita-citakan. Setelah menulis Backpacks Impian, Indra Pharmantara memang membeli backpack Bobby yang canggih itu. Tapi kok saya rasanya kurang sreg saat memakainya. Makanya saya masih mencari backpack yang betul-betul memenuhi keinginan dan kebutuhan, sekaligus menggambarnya hahaha. 

Tapi ... kayaknya saya tergoda untuk membeli bakpack bayi/balita seperti yang dibeli sama Enchyz Manteiro deh. Dududud ...

Baca Juga: Re:Ease

Bagaimana dengan kalian, kawan? Seperti apakah backpack yang kalian senangi? Bagi tahu yuuuuk di komen!



Cheers.

Cetak Saring

Salah satu goals kegiatan keren #EndeBisa (di SMA Negeri 1 Ende) adalah Kewirausahaan yang waktu itu fokus pada cetak saring.

Hola! Dengan penuh semangat saya menyapa kalian semua pengunjung blog ini. Memangnya kemarin tidak semangat? Kemarin, hari ini, besok, harus tetap semangat, tapi hari ini lebih semangat karena pada akhirnya Triwarna Soccer Festival 2019 telah berakhir pada Senin kemarin (1 April 2019). Itu artinya, hari-hari di Stadion Marilonga pun telah berakhir dan saya kembali dapat menikmati waktu berkualitas bersama keluarga. Sumpah, saya merindukan mengobrol berlama-lama dengan Mamatua dan Mamasia, menanyakan ini itu pada Indra, menanyakan urusan kuliah pada Thika, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Re:Ease

Hari ini di #SelasaTekno saya mau membahas tentang cetak saring yang sering disebut sablon. Menulis ini karena saya teringat pada pos TSF 'Story, ttentang Triwarna Soccer Festival yang telah menggerakkan banyak lini di Kabupaten Ende terutama perekonomian; baik barang maupun jasa. Salah satu jasa tersebut adalah jasa sablon.

Cetak Saring atau Sablon


Menurut Wikipedia, cetak saring adalah salah satu teknik proses cetak yang menggunakan layar (screen) dengan kerapatan tertentu dan umumnya berbahan dasar nylon atau sutra (silk screen). Layar ini kemudian diberi pola yang berasal dari negatif desain yang dibuat sebelumnya di kertas HVS atau kalkir. Kain ini direntangkan dengan kuat agar menghasilkan layar dan hasil cetakan yang datar. Setelah diberi fotoresis dan disinari, maka harus disiram air agar pola terlihat lalu akan terbentuk bagian-bagian yang bisa dilalui tinta dan tidak. 

Kaos Relawan Bung Karno Ende; cetak saring menggunakan tinta emas-karet.

Proses pengerjaannya adalah dengan menuangkan tinta di atas layar dan kemudian disapu menggunakan palet atau rakel yang terbuat dari karet. Satu layar digunakan untuk satu warna. Sedangkan untuk membuat beberapa warna dalam satu desain harus menggunakan suatu alat agar presisi.

Sapta Indria


Pada pos tentang Mengetik 10 Jari Itu Biasa kalian akan menemukan cerita tentang sebuah Diklusemas (Pendidikan Luar Sekolah oleh Masyarakat) bernama Sapta Indria. Iya, itu milik (alm.) Bapa, dahulu kala. Selain kursus mengetik, kursus akuntansi, dan pernah juga kursus komputer, Sapta Indria juga menawarkan layanan jasa sablon. Oleh karena itu saya tidak asing dengan dunia sablon ini dan masih mengingat istilah:

1. Screen.
2. Negatif.
3. Kamar Gelap.
4. Rakel.

Kamar gelap itu betul-betul gelap haha.

Kalau pada Wikipedia tertulis HVS atau kalkir maka di Sapta Indria yang saya ingat sih kalkir dan pasti selalu ada alat tulis merek Boxy. 

Zaman itu, selain untuk keperluan seragam olah raga (kaos) sekolah dan institusi, (alm.) Bapa tidak pernah menerima pesanan cetak saring berdesain kreatif. Jadi desain untuk seragam olah raga itu ya begitu-begitu saja; hanya permainan jenis dan ukuran huruf, ditambah logo. Kemudian Abang Nanu juga membuka usaha tersebut dan mulai banyak yang memesan desain kreatif dengan bermunculannya komunitas anak muda. Salah satunya Speltranix. Ough yess, komunitas ini luar biasa bekennya di Kota Ende.

Baca Juga: Teknologi Dasar

Selain seragam kaos, Sapta Indria juga mencetak saring logo perusahaan/kantor (pada kertas HVS). Jadi tergantung pesanan.

Lesunya Cetak Saring


Cetak saring mulai lesu di Kabupaten Ende karena beberapa sebab. Sebagai pengamat *tsaaah* saya menganalisa alasannya, salah satunya adalah transportasi. Semakin mudahnya transportasi, kemudian, membikin sekolah dan institusi lebih mudah memesan seragam olah raga dalam jumlah besar langsung di Pulau Jawa. Otomatis banting harga.

Kembali Menggeliat


Cetak saring kembali menggeliat salah satunya, menurut saya, adalah berkiblat pada Dagadu dan Joger. Siapa yang tidak suka memakai kaos dengan tulisan dan desain kreatif? Lantas muncul usaha anak NTT, kaos: desain dan cetak saring bernama Rumpu Rampe Ink. Desain Rumpu Rampe Ink sangat saya sukai. Salah satunya pada gambar di bawah ini:


Cetak saring kembali 'menguasai' Kabupaten Ende. Bermunculan begitu banyak usaha anak muda (mereka benar-benar kreatif) di bidang layanan jasa yang satu ini. Kita tinggal membawa desain, memilih kaos (jenis, ukuran, warna) dan dicetak sama mereka. Kadang-kadang mereka juga membantu mendesain dan mengirimkan desainnya pada kita (via WA) untuk dipertimbangkan. Kalau setuju, tinggal naik cetak. Begitu mudahnya.

Teknologi Cetak Saring


Menariknya, di tengah maraknya digital printing, cetak saring masih digandrungi baik oleh pelaku wirausaha maupun pelaku konsumen. Teknologi cetak saring memang tidak semudah digital printing. Peralatan untuk cetak saring antara lain:

1. Screen

Screen berpigura, kata saya. Pigura ini semacam pemida yang fungsinya menarik screen agar tidak kusut dan mudah memindai negatif.

2. Rakel

Kayu dengan satu atau kedua sisi berbahan karet untuk menarik cat di atas screen.

3. Negatif Desain

Bisa pada kalkir, yang ditempel di screen dengan teknik khusus (di kamar gelap).

4. Desain

Zaman dulu desainnya susah. Zaman sekarang desainnya lebih mudah dilakukan di komputer.

5. Tinta

Tentu tinta khusus yang digunakan untuk bermacam media untuk dicetak saring.



Bangga Memakai Kaos Cetak Saring


Sejak H&R, Ossela, dan sejenisnya, semacam menghilang dari peredaran/pasaran Kota Ende, saya mulai memakai kaos cetak saring. Ada yang dulu dicetak sama (alm.) Bapa, semakin ke sini ya tinggal pesan saja. Hanya saja, saya sering mendapat kaos gratisan sehingga itu menambah kebanggaan saya memakainya, hahaha. Seperti kaos #EndeBisa yang diberikan oleh Ampape Sablon, atau kaos-kaos komunitas lainnya.


Kaos-kaos cetak saring ini semacam menjadi identitas kita. Cukup pakai kaosnya, orang sudah pasti tahu, ooooh itu Tuteh dari #EndeBisa. Atau, oooooh itu Tuteh dari Relawan Bung Karno Ende.


Cetak saring dapat menjadi salah satu usaha yang patut diperhitungkan oleh anak muda dalam dunia wirausaha. Intinya, menurut saya, adalah bagaimana kita mencintai suatu pekerjaan baik pekerjaan kantoran maupun pekerjaan wirausaha. Wirausaha butuh banyak riset tentang perkembangan usaha kita sendiri dan keinginan pasar. Bila keinginan pasar belum dapat kita penuhi sekarang, artinya kita yang harus lebih giat belajar dan berusaha untuk bisa memenuhinya di masa datang. Saya sendiri memang tidak punya bakat di dunia cetak saring, tapi saya suka bermain kata, bisa jadi saya menggandeng teman yang punya usaha cetak saring dengan menjual desain kata. Itu salah satu contoh sederhana. Apabila ada yang memang jago desain, tentu dengan usaha yang cukup, dia dapat menjual desainnya pada orang-orang yang berkecimpung di dunia cetak saring.

Relasi ... relasi ... relasi. Jagalah. Itu penting.

Kreatif ... kreatif ... kreatif. Tidak hanya menjaga, tapi harus terus bisa berkembang dan mengasah kreativitasnya.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Bagaimana dengan kalian, kawan? Apakah ada yang punya usaha cetak saring? Bagi tahu donk hehehe.



Cheers.

Re:Ease

Sumber gambar: Yanko Design.

Bagi saya, meja kerja, di kantor maupun di rumah, harus selalu rapi. Kenapa harus rapi? Karena kalau berantakan bakal bikin mood kerja kendor. Oleh karena itu, hasil craft dari Proyek #DIY saya salah satunya adalah desk-organizer. Desk-organizer buatan saya berbahan karton yang ditutup dengan kertas-kertas majalah bekas. Warna-warni dan penuh gambar. Iya. Tapi saya juga sering bikin yang bertema. Flora Wodangange bahkan pernah membawakan saya majalah yang beberapa halaman sudah dia tandai untuk dipakai menutup desk-organizer pesanannya; tema alam.

Baca Juga: Teknologi Dasar

Contoh desk-organizer buatan saya. Ini bukan hasil yang paling pertama sih. Yang paling pertama itu sampai sekarang masih duduk manis di meja kerja Kakak Shinta Degor. Sedangkan yang ini masih duduk manis di meja kerja Kakak Ully Ngga'a:


Pesanannya memang begitu, ada kotak untuk meletakkan amplop (memanjang), kotak alat tulis, kotak staples/hekter, dan lain sebagainya. Mereka bahkan suka kalau penutupnya menggunakan kertas/halaman majalah bekas. Bangga dan bahagian setiap kali melihat barang-barang kerajinan tangan ini masih dipakai oleh pemesan. Semakin ke sini desk-organizer tidak menggunakan halaman majalah bekas saja. Ada yang yang di-cat, ada yang saya padukan dengan keranjang mini, ada pula yang menggunakan kertas khusus (kertas kado) bertema. Suka-suka yang memesan.

Sebenarnya saya ingin sekali memotret meja kerja saya, namun desk-organizer di meja kerja saya entah hilang ke mana. Mungkin saat pindahan ruang kerja dari lantai dasar ke lantai tiga. Yang tersisa di meja kerja saya adalah komputer, tumpukan buku, map holder, dan foto keramat: Mamatua, saya, dan Rara. Itu foto tak boleh hilang! Tuh kaaaan, jadi kepingin bikin lagi desk-organizer untuk meja kerja sendiri. Supaya rapi dan cantik seperti pemilik meja kerjanya. Hihihi.

Karena hari ini bukan saatnya #RabuDIY melainkan #SelasaTekno, jadi saya tidak menulis tentang produk #DIY atau craft hasil buatan sendiri, melainkan tentang sebuah terobosan desk-organizer yang ciamik sekali. Seperti biasa, semua sumber baik informasi dan foto saya peroleh dari Yanko Design, saya tidak perlu menulis terus-menerus sumber gambarnya. Noted, ya.

Re:Ease


Sesuai judul pos ini, inilah teknologi yang bakal bikin meja kerja menjadi jauh lebih rapi dan terlihat sangat clean. Ini dia, Re:Ease.


Terlihat sangat menawan. 

Re:Ease dibikin oleh Marc Stueber dan Laurent Hartmann. Re:Ease merupakan desk-organizer yang cerdas yang terdiri dari enam modul yang berdiri sendiri namun juga dapat digandeng karena dilengkapi dengan magnet. Didesain sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan para pekerja dengan warna putih yang membikinnya terlihat so clean. Kalian lihat foto di atas ... siapa sih yang tidak ingin punya desk-organizer macam itu? Saya saja ngiler to the max *dicibirin dinosaurus*.

Fitur Re:Ease


Re:Ease mempunyai enam modul berbentuk geometris dengan fitur-fitur antara lain: 

1. Pelubang kertas.
2. Rautan.
3. Stapler.
4. Dispenser selotip.
5. Planter.
6. Dok pengisian daya untuk smartphone.
7. Dudukan pena untuk: pensil, stabilo, dan catatan.

Keenamnya dalam slot/unit individual, alias berdiri sendiri, namun dapat pula digandeng satu sama lain karena setiap unit mempunyai basis magnet untuk saling tarik-menarik. Haha! Uh wow sekali kan? Untuk lebih jelasnya, coba lihat gambar berikut ini:




Bisa dipisah, bisa disatukan. Sungguh fleksibel.

Untuk desk-organizer sekeren ini dibanderol harga sekitar 1,6 Juta. Entah kalau masuk ke Indonesia berapa harganya. Pasti lebih mahal.

Eits!

Jangan-jangan ada dari kalian yang sudah memakainya? Ih, bikin iri.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Jadi itu dia Re:Ease yang saya bahas hari ini. Desk-organizer yang bikin meja kerja kita menjadi jauh lebih rapi dan tentu cantik!



Cheers.

Teknologi Dasar

Sumber: Youtube.

Kehidupan umat manusia melaju pesat. Dalam kehidupan sehari-hari kita telah melupakan caranya membikin api menggunakan gesekan kayu atau batu karena bermodalkan Rp 500 kita sudah dapat membawa pulang korek api dari kios/warung. Lebih praktis lagi, tinggal membeli pemantik seharga Rp 1.000! Kita juga tidak perlu pusing memikirkan cara menyuling air besih dari air yang disediakan alam karena sudah ada PDAM yang menyediakannya. Listrik? Mana perlu kita repot berpikir membikin obor karena sejumlah uang telah membikin token listrik kita terpenuhi daya.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Tapi, akan sangat menyenangkan apabila kita menonton video tentang teknologi dari dunia lampau yang ditulis primitif. Lalu tanpa sadar kita menyeletuk: oooh begitu ternyata caranya. Menarik sekali menonton video-video tentang kehidupan primitif yang beredar di Youtube. Tentu orang-orang di dalam video tersebut adalah orang-orang zaman sekarang. Hehe. Mereka punya daya kreativitas yang tinggi: memikirkan konsep dengan kembali pada teknologi dasar, membikin video, dan membagikannya dengan kita semua.

Ada beberapa video tentang teknologi primitif yang saya sukai. Diantaranya membangun gubuk berbahan tanah liat, membikin api, membikin anggur dari nangka, menyuling air, hingga memasak ikan/daging dengan mengandalkan batu ceper. 

Mari kita simak beberapa teknologi dasar yang terlupakan ini ... yang utama, yang kita butuhkan sehari-hari.

1. Membikin Api


Di dalam filem Castaway, betapa putus asanya Chuck Noland (Tom Hanks) saat membikin api. Api tidak kunjung menyala, tangannya terluka parah. Tapi niatnya sungguh genap. Atas dorongan Wilson (sahabat halu; sebuah bola yang tercap darah dari tangannya), Chuck berhasil membikin api melalui gesekan kayu pada kayu lainnya. Salah satu rahasianya adalah beri ruang pada angin! Video membikin api bisa dilihat pada video karya Primitive Technology Idea yang satu ini. Yang jelas, seperti kata Chuck dalam Castaway, jangan lupakan angin! Berilah ruang pada angin untuk menghasilkan api.

2. Menyaring Air


Pada video milik Survival Skills Primitive kalian akan tahu bagaimana caranya menyaring air (kotor/alam) menjadi air bersih. Ada beberapa lapisan yang dibutuhkan untuk menyaring air ini: ranting, batu, pasir, yang ditumpuk. Silahkan lihat sendiri videonya. Nah, air ini bisa dimasak menggunakan api yang dibikin sendiri seperti pada poin nomor satu di atas. Tapi, bagaimana dengan panci memasak? Untuk memasak air, orang zaman baheula menggunakan pot tanah liat. Bagaimana membikinnya? Mudah saja ... mudah bagi mereka ... sulit bagi saya. Haha.

3. Membikin Pot Tanah Liat


Membikin pot tanah liat atau clay pot membutuhkan bahan dasar tanah liat itu sendiri. Pada video milik Primitive Skills ini kalian akan melihat teknologi membikin pot tanah liat dengan teknologi yang lebih canggih. Mereka sudah bisa membikin pot tanah liat menggunakan alat putar yang juga dibikin sendiri menggunakan kayu. Pot tanah liat pada zaman baheula punya banyak manfaat. Kalau zaman sekarang sih setiap masakan ada alatnya masing-masing: panci kukus, panci rebus, wajan dalam, wajan dangkal (Teflon sangat ternama).

4. Membikin Gubuk


Ada banyak macam gubuk yang dibikin. Ada yang berbahan kayu ada pula berbahan batu dan tanah liat. Salah satu channel yang sangat saya sukai adalah Tube Unique Wilderness. Video membikin rumah dari bambu dan tanah liat dapat dilihat di sini. Gubuk adalah kebutuhan papan manusia, tempat berlindung dari hujan, badai, panas. Yang paling saya sukai dari Tube Unique Wilderness adalah tokoh yang bekerja di dalam video itu. Terlihat sangat primitive dan penuh kebisuan kecuali natural sound. Indah sekali hidup mereka; banyak aksi, nyaris tidak bicara.


Zaman sekarang, masih adakah kita yang menggunakan teknologi dasar? Tentu tidak. Sesekali, mungkin, teman-teman yang berkemah di alam bebas melakukannya. Tapi rasa-rasanya untuk memasak pun sudah dibawa kompor portabel dari rumah. Mengetahui teknologi dasar yang dilakukan para leluhur kita, adalah pengalaman jiwa yang luar biasa, bahwa betapa beruntungnya kita yang hidup pada zaman sekarang. Semua serba mudah.

Baca Juga: Paper Bed

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernahkah menonton video-video seperti tersebut di atas? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

Teknik Airbrush


Akhirnya Lomba Mural Triwarna Soccer Festival 2019 telah selesai. Tadi siang, pukul 14.00 Wita, empat belas peserta telah mempresentasikan hasil karya masing-masing di hadapan Dewan Juri, tamu undangan, dan masyarakat umum yang menonton. Salah satu peserta yang meraih Juara III adalah Bimo Crew. Mereka menggunakan teknik campuran dalam berkreasi di bidang yang telah disediakan pada tembok pagar Stadion Marilonga. Teknik tersebut adalah menggunakan kuas dan airbrush.

Baca Juga: Paper Bed

Sebelum saya mengulas tentang para pemenang Lomba Mural ini, mari kita simak dulu, apa sih teknik airbrush itu?

Airbrush


Menurut Wikipedia, airbrush adalah teknik seni rupa yang menggunakan tekanan udara untuk menyemprotkan cat atau pewarna pada bidang kerja. Dalam catatan sejarah seni lukis moderen, airbrush baru berkembang pada akhir abad ke-19. Tahun 1879 dikenal sebagai tahun penemuan teknik melukis dengan memanfaatkan tekanan angin yang dikenal dengan teknik airbrush ini. Alat yang digunakan untuk mentransfer cat ke media lukis awalnya disebut paint distributor. Orang yang berjasa menemukan alat ini adalah Abner Peeler, seorang penemu profesional yang sepanjang hidupnya melakukan berbagai percobaan. Kemudian Peeler menjual patennya pada Lyberty Walkup dari perusahaan Walkup Brothers pada Agustus 1883.

Charles L. Burdick, seorang seniman Amerika yang tinggal di Chicago menemukan pen bertipe internal mix airbrush. Setelah penemuan ini, pada tahun 1893 ia pindah ke Inggris untuk mendirikan Fountain Brush Company. Burdick orang yang berjasa dalam memodifikasi alat ciptaan Peeler sehingga menjadi alat yang mudah digunakan karena bentuknya menyerupai pena. Ia memperkenalkan sekaligus mematenkan temuannya yakni needle control system atau sistem kontrol pengeluaran cat dengan sebatang jarum.

Menurut salah seorang Dewan Juri yaitu Om Konk yang juga dikenal sebarai Ketua Komunitas Mural Ende, kuas atau airbrush ini adalah perkara kebiasaan. Tidak ada yang lebih menonjol antara keduanya. Semua kembali pada kebiasaan si seniman dan skill-nya. 

PMI Kab Sikka & Bimo Crew


Ada dua tim dari Lomba Mural Triwarna Soccer Festival yang menggunakan teknik campuran; kuas dan airbrush yaitu PMI Kab Sikka dan Bimo Crew. PMI Kab Sikka menyabet Juara Favorit sedangkan Bimo Crew meraih Juara III.

Mural Syarat Filosofi


Ijinkan saya bercerita tentang mural yang syarat filosofi. Silhkan dibaca, untuk pahami makna mural yang bersangkutan. Sudah saya pos juga di Facebook:


Mural tema (burung) Gerugiwa ini dibikin oleh Bimo Crew dengan Ketua Tim Anggi Mukin asal Ndona. Mural ini meraih Juara III. Waktu Bimo Crew menjelaskan filosofinya, saya agak merinding. Imajinasi mereka sungguh 'liar'. Dan dalam seni, semakin 'liar' semakin uh wow hehe. Itu menurut saya. Kalau kalian tidak setuju, bodo amat!

Mural Gerugiwa ini syarat filosofi. Sekali merengkuh dayung, dua tiga makna terungkap.

1. GERUGIWA DAN DANAU KELIMUTU

Gerugiwa adalah satwa/burung khas yang habitatnya di Taman Nasional Kelimutu: Danau Kelimutu. Kaitan Gerugiwa dan Danau Kelimutu, cek poin nomor dua di bawah 👇

2. DANAU KELIMUTU

Danau Kelimutu digambarkan dalam tiga rupa. Dari kanan ke kiri arah mural yang bersangkutan: 
a. Ata Bupu (bintang-1)
b. Ko'o Fai Nua Muri (bintang-2).
c. Ata Polo (bintang-3).

Ata Bupu digambarkan sebagai orangtua yang mulutnya membuka dan ada elemen pegunungan dan air terjun, Ko'o Fai Nua Muri digambarkan sebagai wanita, dan Ata Polo digambarkan sebagai iblis(api) membara. Tapi, dobel makna dari mural itu, silahkan baca poin tiga di bawah 👇

3. ELEMEN KEHIDUPAN

Elemen kehidupan adalah dobel filosofi. Dengan kata lain, mural ini bermakna ganda:
Yang pertama: UDARA dari si Gerugiwa sendiri (kepakan sayap di udara).
Yang kedua: TANAH dari si Ata Bupu. Saya mendefenisikannya sebagai orangtua (ata Bupu), bumi, tempat kita berpijak.
Yang ketiga: AIR dari si Ko'o Fai Nua Muri. Saya memaknai air sebagai simbol kehidupan. Perempuan (ibu) adalah air kehidupan kita. Dan, berwarna biru. Ibu adalah kedamaian.
Yang keempat: API dari si Ata Polo. Mau apa lagi? Kalian pasti bisa mendefenisikannya juga kan?

4. DUA SUKU

Dua sayap yang melebar dari si Gerugiwa merupakan simbol dua suku yang hidup di Kabupaten Ende yaitu Suku Ende dan Suku Lio.

5. SI MATA SATU

Ko'o Fai Nua Muri ini digambarkan satu matanya tertutup ekor Gerugiwa. Filosofinya adalah bahwa masih banyak kaum muda Ende yang tidak tahu tentang Gerugiwa sebagai satwa khas milik kita yang boleh dibanggakan dan wajib dilestarikan bersama. Cocok kan dengan Tiwu Ko'o Fai Nua Muri yang digambarkan sebagai danau muda-mudi?

Saya trekdung banget waktu mendengarnya. Itu benar, kawan.

Sungguh keliaran imajinasi yang bikin saya pribadi kagum dan merinding. Dan saya harus menulisnya saat ini juga, agar kalian juga tahu. Agar filosofi Gerugiwa dari Bimo Crew ini kita nikmati dan resapi bersama. 

Ada yang tidak setuju?

Bodo amat 😁

Terima kasih semua peserta, empat belas, yang telah memberi warna baru pada tembok pagar Stadion Marilonga. Sampai jumpa di lomba berikutnya. Kalian semua hebat. Kita Ata Ende sangat bangga, termasuk juga untuk kawan PMI Kab Sikka yang meraih juara Favorit. Saya menunduk hormat atas semua karya kalian.

#LifeIsGood
#LombaMural
#TriwarnaSoccerFestival

Ya, perlu kita akui, mereka semua hebat!


Saya ingin sekali mengulas para jawara Lomba Mural ini, tapi kayaknya pos ini bakal panjang banget. Jadi, untuk lima pemenangnya bakal saya tulis pada pos #KamisLima. Sekalian memenuhi rasa penasarannya Himawan Sant. Hehehe. Mohon bersabar yaaaa. 

Yang jelas, para peserta Lomba Mural telah membuktikan bahwa di Kabupaten Ende, dan kabupaten tetangga, ada talenta-talenta luar biasa di bidang seni lukis/mural ini. Dan talenta-talenta ini harus terus dibina dan dirangkul. Karena ke depannya kita tentu ingin akan ada lagi lomba-lomba mural bukan? Entah dengan kalian, kalau saya sih hyess.

Terima kasih Triwarna Soccer Festival. Upaya dan pencapaian yang luar biasa.


Cheers.

BRImo, Mobile Banking, Internet Banking Dan Uang Elektronik Dalam Satu Aplikasi


Bayangin ribetnya kalau misalnya Mobile Banking, Internet Banking dan Uang Elektronik itu harus didownload terpisah dalam 3 aplikasi? Iya pastinya ribet banget mesti log in sana sini dan mesti banyak memori yang dibutuhkan untuk beberapa aplikasi ini. Belum lagi kalau misalnya harus memasukan banyak data ini dan itu, waktu kita abis hanya untuk 3 aplikasi ini. Beruntungnya BRI kini memiliki satu aplikasi yang menggabungkan mobile banking, internet banking dan uang elektronik dalam satu aplikasi, BRImo. Wow, sebuah kejutan manis yang menanti semua nasabah BRI dan kaum millenials dan wanita yang ngga suka ribet. 

Saya mengenal BRI itu sudah sangat lama, bahkan semenjak bangku sekolah dasar. Dulu saya belajar menabung dari Simpedes, atau lebih dikenal dengan simpanan pedesaan. Karena tidak harus menabung dalam jumlah yang banyak, dulu kalau ngga salah hanya menyetor 2000 rupiah saja. Waktu itu nominal 2000 itu mungkin setara dengan 20.000. Setiap hari kamis, BRI cabang desa saya buka dan memberikan pelayanan. Mungkin salah satu bank dengan cabang yang menjangkau seluruh desa di seluruh Indonesia, bahkan untuk saat ini sudah mencapai pulau terpencil dengan ATMnya. Satu kata buat BRI itu sangat Wow sekali. 

Tentu saja memori masa kecil akan sangat melekat sampai saat ini. Biar saya sampaikan kepada anak cucu saya nanti bahwa dulu saya pernah memiliki kenangan manis bersama BRI. Apalagi jaman sekarang, menabung itu hal yang membutuhkan keteguhan hati diantara godaan online shop dan mall atau pusat perbelanjaan yang kian sangat mudah. Salah-salah tabungan kita hanya numpang lewat saja. 



BRImo memberikan kemudahan bagi nasabah atau non nasabah yang ingin menabung dengan banyak kelebihan salah satunya aplikasi dengan user interface yang sangat menyenangkan apalagi Log In hanya melalui finger print dan face id recognition. Jadi ngga perlu repot-repot lagi memasukan password berulang kali. 

Oh iya, pada waktu lalu, saya berkesempatan membuka tabungan langsung di Wisma BRI. Kebetulan saya sudah lama ingin membuka rekening BRI, apalagi sudah ada aplikasi yang bisa didownload secara langsung di playstore dengan kata kunci "BRImo BRI" dan "BRImo" di appstore. Banyak sekali yang ingin membuka rekening karena prosesnya sangat mudah sekali. Dan, sebagai bocoran nih, BRI juga memberikan banyak hadiah bagi pelanggan yang mengunduh aplikasi BRImo dan memiliki rekening. 


Bagaimana Cara Memiliki Rekening Melalui BRImo ?

Caranya sebetulnya sangat mudah, apalagi yang sudah memiliki rekening maka tinggal memasukan informasi rekening kedalam aplikasi. Bagi yang belum memiliki rekening dan pengen mendapatkan hadiah seperti 3 Mobil Mitsubishi Xpander dan 20 Motor Yamaha Lexi. Wow kece banget kan hadiahnya? 

Nah cara memiliki rekening BRI melalui aplikasi BRImo, caranya adalah sebagai berikut :

Download Aplikasi BRImo

Silahkan download terlebih dahulu aplikasinya secara langsung. BRImo bisa didownload secara langsung di playstore dengan kata kunci "BRImo BRI" dan "BRImo" di appstore. 

Registrasi Dan Isi data

Setelah download, lakukan pengisian data seperti nama lengkap, tanggal lahir, alamat email dan lain-lainnya. 

Kode Verifikasi

Setelah selesai mengisi biodata dan registrasi, maka kita akan menerima kode verifikasi dan setelah itu bisa melakukan log in.

Siapkan KTP dan NPWP

Setelah log in, silahkan melakukan pembukaan rekening Britama Muda melalu aplikasi. Jangaan lupa untuk menyiapkan KTP dan NPWP karena kita harus memasukan data-data sesuai KTP dan juga memerlukan bukti upload ID tersebut. 

Dan setelah semuanya selesai, akan mendapatkan kode yang harus bawa ke cabang BRI terdekat untuk membuka rekening tersebut. Apabila ingin memiliki uang elektronik saja maka BRImo dapat di top up melalui bank lain. 



Sebagai bank yang memiliki banyak pengguna aplikasi mobile sekitar 13 juta pelanggan dengan jumlah transaksi 575 juta sepanjang tahun 2018 lalu, maka tidak heran apabila BRI meluncurkan BRImo ini untuk menunjang fleksibilitas dan mobilitas penggunanya. Saya salah satu yang kepengen praktis dan ngga ribet. kalau misalnya disuruh instal banyak aplikasi maka saya akan berfikir sampai 3 kali untuk melakukannya. Kalau cuma satu dan lengkap, maka saya dengan senang hati melakukannya. 

Promo Menarik Dan Hadiah Menarik 


Banyak sekali yang menanyakan apa saja sih keuntungan menggunakan BRImo? Setiap bulan, atau peridoe tertentu, BRI memberikan banyak promo belanja yang menarik dan banyak diskon yang bisa dinikmati dan membayar menggunakan aplikasi BRImo tersebut. Iya kan BRImo ini sama saja dengan uang elektronik yang ada dihandphone sehingga bisa digunakan dimana saja dan kapan saja. 

Lalu apa kelebihan lainnya yang bisa membuat saya mau mendownload dan bertransaksi melalui BRImo? Tenang saja selain promo yang menarik, kita juga berkesempatan memenangkan hadiah utama berupa 3 Mobil Mitsubishi Xpander dan 20 Motor Yamaha Lexi untuk periode 17 Februari sampai dengan 31 Agustus 2019. So, bagi yang belum download memiliki rekeningnya, silahkan bergegas dan menangkaan hadiah dan belanja pun sangat menyenangkan dengan aplikasi BRImo. 

So, kapan kamu ajak saya keliling kota Jakarta sambil mengendarai Xpander dan traktir belanja dengan BRImo?

Informasi lengkap mengenai BRImo bisa akses ke  https://promo.bri.co.id/main/hotoffers/detail/download_brimo_sekarang___loginkeseruanmu atau humas@bri.co.id, telepon 021-5751966. 

Paper Bed

Sumber dari Yankodesign.

Saya termasuk spesies langka karena selalu merasa lebih nyaman tidur di lantai ketimbang di tempat tidur. Bukan berarti saya tidak suka tempat tidur atau tidak pernah tidur di tempat tidur. Tetapi, bagi saya pribadi, tidur di lantai memberikan kenikmatan terhakiki. Perkara ini sudah diketahui teman-teman terutama teman-teman seperjuangan Tim Promosi Uniflor 2019. Di Kota Maumere, misalnya, saya memilih tidur di lantai dan membiarkan Viol, Thika, dan Ocha tidur di kasur yang mantul-mantul hahaha.

Baca Juga: Adnow

Saat ini pun di kamar saya tidak ada tempat tidur. Hanya ada satu kasur busa tanpa pegas. Dan tentu bentuk kasur busa, setebal apapun, tidak bisa mempertahankan kondisi awalnya. Kasur saya itu sudah melengkung kayak busur karena mengikuti bagian terberat tubuh ketika rebah. Kasihan sekali, ya. Untunglah lantai kamar saya cukup luas dijadikan tempat untuk tidur, bisa leluasa guling sana sini, dan berakhir di pintu kamar mandi


Kalau sudah tidak sibuk rencananya pengen memesan alas kasur (custom) jadi pada alas kasur itu ada laci-laci buat menyimpan oro feko (segala benda kebutuhan). Kan asyik bisa memanfaatkan ruang. Ketimbang sekarang banyak ruang menganggur.

Sesuai dengan judul pos ini, kali ini saya menulis tentang paper bed. Terjemahan bebasnya: ranjang kertas. Memang ada? Ada donk. Tapi ini bukan ranjang kertas zaman dulu yang biasa saya bikin kalau main rumah-rumahan. Nama lengkapnya Extendable Flatpack Paper Bed. Hyess, kalian bisa melihat penampakannya di awal pos. Ada kata extendable ... artinya? Mari kita simak ...

Bergaya Akordion


Kalian pasti tahu akordion kan? Alat musik ini dimainkan oleh salah satu personil The Willis Clan. Ini dia bentuknya yang diambil dari sini:


Maka ranjang yang satu ini pun berbentuk seperi ini:


Ranjang ini seluruhnya terbuat dari kertas yang menggunakan mekanisme lipat bergaya akordion untuk memungkinkan ranjang ini dapat ditarik untuk dipanjangkan atau dipendekkan. Tata letak vertikal kertas memberikan kekuatan yang besar, hingga dapat memuat dua orang dewasa (hingga 300 kilogram) dalam posisi tidur maupun duduk. Kasur yang melengkapi ranjang ini juga dapat dilipat mengikuti bentuk ranjangnya. Konstruksi karton bergelombang ranjang ini hanya seberat 14,5 kilogram. Boleh jadi ranjang dan/atau sofa paling ringan yang pernah ada.

Ranjang dan Kursi


Dua kebutuhan kalian dapat dipenuhi dengan satu barang: paper bed. Karena bisa dipanjangkan dan dipendekkan, maka selain menjadi tempat tidur juga bisa menjadi sofa/kursi untuk duduk. Sudah disesuaikan pula dengan kasurnya yang bisa dilipat; menjadi alas dudukan maupun sandaran.


Khusus untuk yang tinggal di kos mungil atau punya rumah berkonsep tiny house, ranjang ini boleh dicoba. Tidak memakan banyak tempat dan punya dua fungsi. Siapa yang tidak mau? Saya saja mau, tapi harganya lumanyun 369 Poundsterling. Beli satu bisa dipakai sendiri, beli sepuluh ... bangkrut. Haahahaha.


Bagaimana? Kalian tertarik juga bukan? Apa pendapat kalian tentang ranjang seperti ini? Bagi tahu di papan komentar yuk :)



Cheers.

Paper Bed

Sumber dari Yankodesign.

Saya termasuk spesies langka karena selalu merasa lebih nyaman tidur di lantai ketimbang di tempat tidur. Bukan berarti saya tidak suka tempat tidur atau tidak pernah tidur di tempat tidur. Tetapi, bagi saya pribadi, tidur di lantai memberikan kenikmatan terhakiki. Perkara ini sudah diketahui teman-teman terutama teman-teman seperjuangan Tim Promosi Uniflor 2019. Di Kota Maumere, misalnya, saya memilih tidur di lantai dan membiarkan Viol, Thika, dan Ocha tidur di kasur yang mantul-mantul hahaha.

Baca Juga: Adnow

Saat ini pun di kamar saya tidak ada tempat tidur. Hanya ada satu kasur busa tanpa pegas. Dan tentu bentuk kasur busa, setebal apapun, tidak bisa mempertahankan kondisi awalnya. Kasur saya itu sudah melengkung kayak busur karena mengikuti bagian terberat tubuh ketika rebah. Kasihan sekali, ya. Untunglah lantai kamar saya cukup luas dijadikan tempat untuk tidur, bisa leluasa guling sana sini, dan berakhir di pintu kamar mandi


Kalau sudah tidak sibuk rencananya pengen memesan alas kasur (custom) jadi pada alas kasur itu ada laci-laci buat menyimpan oro feko (segala benda kebutuhan). Kan asyik bisa memanfaatkan ruang. Ketimbang sekarang banyak ruang menganggur.

Sesuai dengan judul pos ini, kali ini saya menulis tentang paper bed. Terjemahan bebasnya: ranjang kertas. Memang ada? Ada donk. Tapi ini bukan ranjang kertas zaman dulu yang biasa saya bikin kalau main rumah-rumahan. Nama lengkapnya Extendable Flatpack Paper Bed. Hyess, kalian bisa melihat penampakannya di awal pos. Ada kata extendable ... artinya? Mari kita simak ...

Bergaya Akordion


Kalian pasti tahu akordion kan? Alat musik ini dimainkan oleh salah satu personil The Willis Clan. Ini dia bentuknya yang diambil dari sini:


Maka ranjang yang satu ini pun berbentuk seperi ini:


Ranjang ini seluruhnya terbuat dari kertas yang menggunakan mekanisme lipat bergaya akordion untuk memungkinkan ranjang ini dapat ditarik untuk dipanjangkan atau dipendekkan. Tata letak vertikal kertas memberikan kekuatan yang besar, hingga dapat memuat dua orang dewasa (hingga 300 kilogram) dalam posisi tidur maupun duduk. Kasur yang melengkapi ranjang ini juga dapat dilipat mengikuti bentuk ranjangnya. Konstruksi karton bergelombang ranjang ini hanya seberat 14,5 kilogram. Boleh jadi ranjang dan/atau sofa paling ringan yang pernah ada.

Ranjang dan Kursi


Dua kebutuhan kalian dapat dipenuhi dengan satu barang: paper bed. Karena bisa dipanjangkan dan dipendekkan, maka selain menjadi tempat tidur juga bisa menjadi sofa/kursi untuk duduk. Sudah disesuaikan pula dengan kasurnya yang bisa dilipat; menjadi alas dudukan maupun sandaran.


Khusus untuk yang tinggal di kos mungil atau punya rumah berkonsep tiny house, ranjang ini boleh dicoba. Tidak memakan banyak tempat dan punya dua fungsi. Siapa yang tidak mau? Saya saja mau, tapi harganya lumanyun 369 Poundsterling. Beli satu bisa dipakai sendiri, beli sepuluh ... bangkrut. Haahahaha.


Bagaimana? Kalian tertarik juga bukan? Apa pendapat kalian tentang ranjang seperti ini? Bagi tahu di papan komentar yuk :)



Cheers.

Adnow


Pasti ada yang bilang: getol banget si Tuteh pasang-pasang iklan di blog-nya. Sudah ditolak lagi sama GA gara-gara ganti domain blog utama di pertengahan jalan, sekarang gaya banget dia ikutan pasang Adnow Native Advertising Network atau disingkat Adnow. Yakin berhasil? Haha. Silahkan ... hak siapa pun juga untuk berpikir demikian. Namanya juga blog yang diatur untuk bisa dibaca oleh semua orang, dikritik atau diomongin itu biasa, sekalian melatih diri sebelum menjadi artis skala internasional *apa iniiii kok ada batako nyasar di kepala saya!?*

Baca Juga: Prynt, The Print Pocket

Kenapa Getol?


Jawabannya sederhana. Setiap kali menjadi narasumber atau pemateri dalam kegiatan seminar dan/atau pelatihan blog, Insha Allah masih akan terus berjalan, salah satu elemen yang selalu saya katakan kepada peserta sebagai magnet agar mereka mau nge-blog pun lebih rajin nge-blog adalah memperoleh penghasilan dari blog. Saat bilang begitu, mata para peserta jadi berbinar-binar indah dan kemudian menjadi redup saat saya tambahkan, "Asaaaaaallll ... konsisten nge-blog dan mau mencari tahu cara-caranya."

Caranya macam-macam:

1. Memasang iklan sekelas GA dan Adnow.
2. Menerima content placement.
3. Menulis untuk pemberi order.
4. Menjual produk sendiri.
5. Dan lain sebagainya.

Jadi, saya ingin apa yang saya katakan kepada audiens itu bukan isapan jempol belaka. Bukan omong kosong. Bukan sekadar mimpi. Untuk memperkuat apa yang saya katakan itu, tentu harus disertai contoh misalnya: saya memang pernah dibayar mendekati sejuta untuk menulis tentang destinasi wisata (by request), pernah juga menerima tawaran content placement, dan pernah juga menjual buku tulisan sendiri lewat blog, tapi dari iklan seperti GA? Belum bisa saya buktikan kepada para peserta. Lhaaa bagaimana bisa saya buktikan? Belum apa-apa sudah tragedi hehe.

Bakal lama donk untuk bisa membuktikannya terlebih baru saja mendaftar di Adnow? Jelas itu pemirsa! Mana ada yang instan? Mi instan saja butuh proses mendidihkan air terlebih dahulu kan. Jadi, kita lihat saja nanti proses dan hasilnya. Kelak. Kalau mendadak GA kembali membuka gerbangnya untuk blog ini, ya itu nanti baru saya pikirkan bagaimana caranya hahaha. Eh, boleh kan ya memasang dua sumber iklan pada satu blog

Apakah Adnow Dapat Dipercaya?


Itu belum bisa saya katakan sekarang karena belum membuktikannya. Akan tetapi mencari tahu tentang ini ada untungnya juga. Karena saya toh jadi tahu kalau Adnow betul-betul membayar para publisher-nya. Proses pembayaran yang paling banyak dipilih melalui Paypal. Iya, saya sudah lama juga sih punya akun Paypal dan sudah ada pula isinya ... siapa tahu akun Paypal saya menjadi sedikit berisi. Kelak.

Sulitkah Mendaftar dan Memasang Adnow?


Saya boleh ketawa dulu? Kenapa ketawa? Karena memasang Adnow terbilang sangat mudah dan cepat. Pada situsnya ditulis paling lama sekitar dua kali duapuluh empat jam kan? Nah saya mengalami hanya beberapa jam saja sudah diterima alias blog ini sudah aktif dan boleh memasang widget-nya. Memasang widget pun mudah saja. Kecuali kalau kalian ingin dikhususkan di bawah pos atau di awal pos atau di tengah pos (silahkan cari di Google karena banyak yang sudah mengulasnya). Untuk sekarang sih saya memilih memasangnya di side bar saja.


Saya tidak akan mengulas tentang tata cara mendaftar di Adnow serta memasang kodenya di blog. Sudah banyak blog yang mengulasnya dan bisa kalian cari sendiri lewat Google. Saya hanya ingin sampaikan bahwa memasang Adnow di blog ini bukan semata-mata karena ingin memperoleh penghasilan yangmana gaji bulanan saya jauh lebih besar dan tentunya pasti, sama dengan waktu memasang GA, saya juga ingin membuktikan (contoh) kepada para peserta seminar tentang membuat dan mengelola blog. Tentang salah satu cara memperoleh penghasilan dari blog.

Baca Juga: The Pause Pod

Seperti tadi siang di Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Flores saat saya mengulas dashboard blog pada mahasiswa di sana, tentang penghasilan ini juga saya bahas. Jelas, mereka yang sudah punya blog jadi lebih bersemangat. Ya, semoga masih diundang ke FTI untuk lebih meracuni mahasiswa dengan virus blog ini.

Itu dari saya ... bagaimana dengan kalian?


Cheers.