Arsip Kategori: Tekno

Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir


Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir. Masker sudah menjadi salah satu kebutuhan umat manusia dalam beraktivitas sehari-hari. Dulu, saya hanya tahu praktisi medis adalah orang-orang yang sangat membutuhkan masker karena setiap hari mereka berhadapan dengan segala macam virus dan bakteri baik dari lingkungan sekitar maupun dari orang-orang sakit yang ditangani, karena mereka harus dalam kondisi clean a.k.a. higienis ketika sedang menangani orang-orang sakit. Demikian pula sebaliknya, agar orang sakit tidak menerima hal-hal baru dari praktisi medis yang menangani mereka (salah satunya melalui mulut). Sejak mulai rajin jalan ke sana sini, saya juga membutuhkan masker. Bedanya, saya tidak mau memakai masker yang biasa dibeli di apotik. Saya memakai masker kain yang dibeli online, bahkan kemudian saya memanfaatkan seledang dan alas jilbab. Hehe. Yang penting nyaman.

Baca Juga: I Really Need a Screen Recorder for My Blogging Videos

Terakhir membaca dan menonton berita, kebutuhan masyarakat Indonesia akan masker meningkat tajam, karena virus bernama Corona. Berjaga-jaga itu perlu. Mencegah lebih baik dari mengobati. Itu benar, gengs. Jangan dibantah lagi. Mencegah memang jauh lebih baik karena setidaknya kita sudah berupaya melakukan sesuatu untuk melindungi diri. Tapi, kalau kalian membaca ini karena ingin tahu lebih banyak tentang Corona, saya mohon maaf, bukan kapasitas saya untuk menulisnya. Kalian bisa bertanya kepada yang lebih ahli seperti dokter, perawat, bidan atau mantri. Atau, rajin-rajinlah membaca berbagai rilis dari praktisi medis maupun dari Pemerintah Indonesia. Saat ini saya hanya ingin menulis tentang sebuah masker keren bernama AusAir.

Penasaran kan?

Sama. Saya juga penasaran waktu pertama kali melihatnya di YankoDesign

Marilah dibaca ... di Yanko Design artikel tentang AusAir ditulis oleh Sarang Sheth.

AusAir


Artikel berjudul AUSAIR’S BOTANICAL FACE-MASKS HELP EFFECTIVELY FILTER SMOKE AS WELL AS TRAP VIRUSES langsung menyita perhatian saya. Masker-wajah botanik AusAir membantu menyaring dengan sangat efektif asap sebaik jebakan virus. AusAir dirancang selama tiga tahun terakhir bersama dengan University of Sydney oleh kakak-adik Isaac dan Elias Honor dan teman mereka Jack Graham. AusAir, nama untuk masker wajah yang dipersiapkan untuk global di mana masker akan menjadi seperti sun-block yang dipakai orang-orang sebelum keluar rumah. Yang membuat AusAir layak diperhatikan adalah pendekatannya yang bernuansa topeng, mengingat berbagai faktor eksternal dan berbasis pengguna. Sebagai bagian dari dunia yang berjuang dengan penurunan kualitas udara, bahaya lingkungan, dan bahkan merebaknya penyakit, AusAir melibatkan sesuatu yang efektif, dapat digunakan kembali, dan yang paling penting fashion-friendly.

Masker wajah AusAir merupakan bagian dari pasar yang muncul untuk masker konsumen 'premium'. Tidak seperti topeng kain-jala dasar yang dikenakan oleh pekerja pabrik atau yang sekali pakai yang dikenakan oleh dokter, AusAir melakukan pendekatan dengan mengatasi kebutuhan konsumen sehari-hari. Setiap topeng dilengkapi dengan desain 3D yang memungkinkan pernapasan yang mudah dan tanpa kabut. Daerah hidung dilengkapi dengan busa memori, dan diperkuat dengan klip hidung aluminium tersembunyi untuk memastikan keamanan, sementara kain topeng dilengkapi dengan beberapa lapisan (termasuk lapisan filter botani opsional) untuk memastikan pemakai memiliki aroma bebas dan bersih untuk bernafas. Hyuuuum.

Harganya dipatok; $37 $62 (diskon 40%). 

AusAir: Masker Anti-Polusi dan Penyaringan Viral dengan Botani


AusAir adalah masker yang dirancang, diresapi secara botani, sangat bernapas dan dapat digunakan kembali yang menghalangi lebih dari 97% PM2.5 dan mencegah penyebaran infeksi.

Masker Filtrasi AusAir Memberi Perlindungan


Perlindungan terhadap polusi udara termasuk PM2.5. AusAir menyaring lebih dari 97% dari polusi udara kecil (PM2.5), filter mereka efektif antara 2-4 minggu, tergantung pada penggunaan.

Perlindungan terhadap Virus. Masker AusAir telah diuji dengan virus yang berada dalam kisaran 0,1 hingga 0,5 mikron dan mampu memblokir 97% virus di udara yang direplikasi.

Perlindungan terhadap Bau & Uap Organik. Lapisan karbon tambahan menambahkan filtrasi tambahan terhadap uap dan bau organik yang tidak disukai.

Perlindungan terhadap Bush Fire Smoke. Filternya efektif mencegah partikel halus dari kebakaran semak dan membatasi penghirupan partikel asap dan debu.


Lebih lengkap tentang AusAir dapat kalian baca pada situsnya. Pertanyaannya sekarang, apakah kita harus memiliki AusAir? Melihat perlindungan yang diberikan oleh masker ini, tentu kita membutuhkannya. Apalah arti $37 hingga $62 untuk perlindungan diri? Tetapi harga segitu memang tergolong mahal untuk kantong saya yang missqueen ini. Empat ratus sampai delapan ratusan ribu bisa dipergunakan untuk membeli lauk-pauk semingguan dan dimakan orang serumah. Haha. Kesimpulannya, tergantung pada kebutuhan masing-masing dan kesediaan dompet agar kita bisa memilikinya. Karena, bisa dipakai ulang pun ada masa kadaluarsanya.

Rempong juga kan yaaaaa ...

Baca Juga: In Case You Didn't Know There's Already an e-Court in Indonesia

Jadi, apa yang harus saya lakukan? Ya tetap harus selalu memakai masker setiap kali keluar rumah terutama ke luar kota. Karena debu masih menjadi sahabat pejalan terutama yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua. Tapi, secara umum yang harus kita lakukan adalah tetap menjalankan pola hidup bersih. Memakai masker, perlu. Mencuci tangan, lebih perlu lagi. Hal-hal ini mungkin terlihat sepele, tetapi sebenarnya itu dasar dari segalanya. Hehe.

Semoga bermanfaat! Siapa tahu kalian mau membeli AusAir ini.

#SelasaTekno



Cheers.

I Really Need a Screen Recorder for My Blogging Videos


I Really Need a Screen Recorder for My Blogging Videos. Hai! Siapa yang masih aktif nge-blog? Angkat tangan! Cukup angkat tangan, jangan angkat kaki, nanti kalian malah hengkang dari sini. Jangan doooonk. Baca dulu sampai selesai. Hehe. Boleh cerita sedikit? Boleh, ya. Bukan sekali dua teman-teman blogger bertanya tentang dunia blogging. Noviea Azizah, Ny Sargaling, James Bisara, Intan, dan lain-lain, sering bertanya ini itu terkait aktivitas blogging. Apa saja yang ditanyakan oleh mereka? Masih yang dasar-dasar saja, belum sampai advance level. Karena pengetahuan saya tentang blogging pun masih di tingkat dasar *ngakak guling-guling*. Gara-gara itu saya kepikiran untuk membikin video blogging! Siapa tahu bisa membantu lebih banyak blogger atau siapa pun yang baru mau belajar nge-blog.

Baca Juga: Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist

Awalnya saya berpikir untuk merekam kegiatan nge-blog menggunakan camcorder. Tapi pasti rempong. Karena saya harus menyesuaikan pencahayaan dan/atau pantulan cahaya dari laptop ke kamera, memantapkan posisi atau point of view agar videonya asyik ditonton, dan lain sebagainya. Belum lagi tangan saya yang kanga-ranga ini salah menyenggol tripod atau mug kopi susu di meja! Amboiiiii. Rempong memang. Karena, membikin video terutama yang pengen diunggah ke Youtube, memang susah. Tidak semudah membalik telapak tangan, gengs. 

Lantas saya ingat sama aplikasi Free Screen Video Recorder yang sudah lama terpasang di laptop. Tapi, aplikasi itu gratisan dan tanda airnya masih mejeng dengan riang gembira. Anyhoo, kenapa saya teringat sama aplikasi screen recorder? Karena dengan aplikasi itu proses membikin video tutorial blogging menjadi lebih mudah. Seperti yang saat ini saya lakukan. Kalian bisa menonton videonya di bawah:


Karena latar entri ini putih, maka tanda airnya tidak kelihatan.

Jadi semangat *senyum manis*.

Oleh karena itu saya pengen bisa memasang aplikasi screen recorder yang bagus. Kalau bisa tanpa tanda air. Tetapi kalau tanda airnya tidak mengganggu ya tidak apa-apa. Hahaha. Apakah kalian punya rekomendasi aplikasi dimaksud? Di internet tersebar banyak informasi, mulai dari Camtasia yang direkomendasikan oleh Oedin, DU Recorder, AZ Screen Recorder, Mobizen, Super Screen Recorder, dan lain sebagainya. I really need a screen recorder for my blogging videos, so saya meminta rekomendasi terbaik dari kalian. Boleh komen di bawah, boleh sampaikan via WA. 

Nah, hari ini saya bakal coba membikin video blogging pertama menggunakan Free Screen Recorder. Nanti bakal saya unggah ke Youtube dan silahkan berkomentar. Komentar apa pun, terutama yang memberikan solusi bakal saya terima dengan tangan terbuka. Hehe.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Apa yang saya harapkan dengan screen recorder ini? Banyak teman blogger, terutama yang sama-sama masih di tingkat dasar dengan saya, bisa memanfaatkannya. Dan tentunya channel Youtube saya tidak hanya berisi konten-konten saya bernyanyi dengan suara-setengah-nada itu. Hhahaha. Tetapi setidaknya ada konten yang bisa memberi manfaat untuk banyak orang.

#SelasaTekno



Cheers.

Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist


Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist. Menulis bullet journalist membikin perasaan saya hancur berkeping-keping. Pertama, sampai dengan saat ini saya masih belum bisa membikin bullet journal. Jelas, saya masih menyimpan rasa iri pada Mak Bowgel si Ewa Febri. Blogger super kreatif yang menciptakan banyak karakter ucul salah satunya bernama Bowgel. Tapi dia lebih dikenal sebagai bullet journalist Indonesia. Selain blog, channel Youtube-nya juga memuat banyak informasi tentang bullet journal. If you wannabe a bullet journalist, learn from her! Iya, karena dia dengan tabah sabar bakal ngasih tahu step by step. Apa pasal sampai saya belum bisa membikin bullet journal? Salah satunya karena buku khusus untuk itu tidak dijual di Ende. Ini memang alasan paling mengada-ada. Salah duanya karena saya tidak konsisten. Huhu.

Baca Juga: Mendesain Quote-Quote Menarik, Lucu, dan Unik di Canva

Saya tidak menulis dari sisi seorang bullet journalist, dikarenakan saya bukan seorang bullet journalist, tapi menulis dari sisi seorang yang punya Are Kune: buku catatan rencana harian. Buku itu T-Journal lah. Menulis T-Journal sudah saya lakukan sejak tahun-tahun kemarin, berganti-ganti buku, sampai kemudian mandek gara-gara sering kelupaan. Tuh kan ... pelupa. Tetapi pengalaman bersama Are Kune mengajarkan saya bahwa agar tulisan kita di buku menjadi lebih menarik tentu dibutuhkan begitu banyak alat tulis! Dan yaaaaa saya punya satu dompet khusus yang memuat alat-alat tulis tersebut. Sebut saja pinsil dan setip. aneka bolpoin, stabilo, sampai satu set spidol warna-warni. Uh wow sekali kan ... amunisi lumayan lengkap, malah sering mengabaikan Are Kune karena lupa.

Untuk seorang yang hanya menulis jurnal biasa saja punya amunisi seperti itu, bagaimana dengan bullet journalist? Tentu dibutuhkan lebih dari itu! Manapula Ewafebri itu kan juga menciptakan karakter-karakter uculnya sendiri. Sumpah saya iri sama bakatnya. Kalian bisa melihat sendiri di blog dan channel Youtube-nya, apa saja amunisi seorang bullet journalist itu. Sekarang saya mau melanjutkan tentang Pen Fan

It's funny.

Hyeeeep.

Gara-gara melihat-lihat di Yanko Design, jadi ingat bullet journal dan Ewafebri. Haha.

Dari situs Yanko Design dikatakan bahwa Pen Fan dikreasikan sebagai persilangan antara kartu pantone dan seperangkat/set alat tulis. Kalian tahu kartu pantone? Itu loh kartu warna yang mirip kipas. Makanya Pen Fan juga disebut menyerupai kipas a la Orang Jepang. Pen Fan merupakan spidol bertubuh pipih/tipis yang bagian ujungnya serupa ujungnya stabilo. Terdiri dari delapan warna berbeda yang bisa dipisah-pisah dan bisa disatukan seperti kipas mini. Nanti kalian bisa melihat pada gambar-gambar yang saya ambil dari Yanko Design di bawah. Pen Fan ini merupakan salah satu dari beberapa item yang dipilih sebagai Stationery Design to Kick Start Your Bullet Journaling Journey. Jadi bukan hanya Pen Fan, tetapi ada juga barang-barang lainnya untuk para bullet journalist.

Kenapa saya memilih menulis Pen Fan saja? Karena ini cukup unik dan dibutuhkan oleh hampir semua orang baik bullet journalist maupun cuma penulis diary seperti saya. Delapan warna yang dihadirkan oleh Pen Fan merupakan warna-warna yang cukup rajin dipakai oleh kita seperti merah, oranye, kuning, hijau, biru muda, biru tua, ungu tua, ungu muda. Apa ya nama yang tepat. Nanti deh kalau kalian melihat gambarnya, berikan komentar. Desain Pen Fan sangat unik. Meskipun kalian bukan tipe orang yang suka menulis atau mencoret-coret ini itu dengan spidol, tapi pasti pengen punya juga. Seperti saya. Pengen itu belum dikategorikan dosa. Haha. Tapi kalau pengen mencuri, ya jelas dosa.

Pen Fan dibikin oleh Arman Emami dari EMAMIDESIGN. Hebatnya lagi Pen Fan memenangkan Red Dot Design Concept Award for the year 2019. Tuh kan. Memang keren sih. 

Tidak perlu banyak cing-cong, silahkan ngiler sama gambar-gambar berikut ini.




Menggemaskan!
Yaaa siapa tahu Pen Fan sudah dijual di kota kalian, saya siap menerima kok seandainya kalian mau mengirimkannya ke Kota Ende. Haha. Maunyaaaa. Tapi benar loh ya, para bullet journalist pasti pengen punya Pen Fan. Bukan begitu, Mak Bowgel? Hehe.

Semoga bermanfaat, kawan.

#SelasaTekno



Cheers.

Mendesain Quote-Quote Menarik, Lucu, dan Unik di Canva


Mendesain Quote-Quote Menarik, Lucu, dan Unik di Canva. Semua pos blog saya terutama beberapa tahun terakhir selalu dilengkapi gambar/foto sebagai pelengkap atau pendukung. Minimal satu gambar sebagai cover. Karena cover, selalu diletakkan paling atas. Tidak semuanya foto diri saya sendiri atau foto hasil jepretan. Ada gambar/foto milik orang lain; tentu saja harus dilengkapi dengan sumbernya karena saya bukan plagiator atau orang yang suka mengaku-ngaku hasil karya orang lain sebagai karya sendiri. Ada juga gambar yang saya desain di sebuah layanan gratisan online bernama Canva. Kalau kalian penasaran, coba baca pos berjudul 5 Keistimewaan Canva. Canva memang sangat istimewa. Bagi saya pribadi, Canva itu ibarat dewa penolong.

Baca Juga: In Case You Didn't Know There's Already an e-Court in Indonesia

Canva menyediakan begitu banyak desain yang bisa langsung kita pakai. Manfaatkan talenta menyunting kalian. Haha. Apa saja yang bisa kalian desain di Canva? Banyak! Infographic, card, poster, travel Instagram post, Pinterest pin, Facebook cover, photo book, logo, resume, brochure, invitation, newsletter, dan lain sebagainya. Semuanya ada. Lengkap. Komplit. Kalian tinggal pilih mau mendesain apa, terus tinggal pilih template yang disediakan, dab sunting. It's fun and easy. Tapi bagaimana dengan penyimpanannya atau output-nya? Karena saya memakai yang gratisan, harus bisa memutar otak lebih sering *nyengir*. Psssttt ... itu rahasia. Haha.

Hampir setiap hari saya bermain-main di Canva. Melihat desain ini itu. Desain-desain yang disedaiakan di sana memang menarik! Salah satunya bisa kalian lihat di awal pos/cover.


Ceritanya, meskipun tidak setiap hari, selalu ada saja ide bermain dengan kata-kata, ide menyambung kata-kata sehingga menjadi quote. Biasanya ini muncul dari obrolan sehari-hari dengan teman-teman, atau karena keseringan mengkhayal. Quote-nya tidak lucu melulu. Kebanyakan malah aneh. Serunya, ketika saya menggunakan Canva untuk mendesai quote tersebut, sedang pilih-pilih desain unik, justru saya terpikat pada desain lainnya. Itu seru, karena desain lainnya itu yang justru menghasilkan quote baru! Kalian paham maksud saya kan? Misalnya saya pengen desain quote dengan desain A, eh ketika melihat desain B justru muncul quote baru. Yang awalnya cuma ingin mendesain satu quote di Canva, jadinya Canva turut menyumbang ide. Hehe. Kocak.

Misalnya seperti desain berikut ini, saya tidak menyangkan bakal menemukannya di Canva. Melihatnya, otak saya langsung bekerja membikin quote baru:


Terpikat sama desain tangan memegang mug kopi (kopi atau cokelat ya itu?). Terus kepikiran untuk memakainya. Jadi deh kalimat itu: Melihatmu, memantik birahiku. Mengecupmu di ujung bibir hanyalah awal. Tancapan efekmu di labirin otak adalah akhir yang tak terganti apapun. Waktu gambar ini saya pasang di status WA, banyak yang mengirim pesan protes, karena menurut mereka kalimat yang digunakan itu terlalu vulgar. Aaaah, masa iya? Menurut kalian apakah kalimatnya vulgar? Bagi tahu di komen.


Meskipun Canva menyediakan segalanya dalam ranah desain ini, kalian harus ingat bahwa kekuatannya tidak saja pada desainnya tetapi quote itu sendiri. Boleh dibilang quote itu adalah modal awalnya sendiri. Selebihnya terserah situasi dan kondisi (bisa jadi quote muncul saat melihat desainnya).

Pertanyaannya sekarang adalah apakah harus quote milik kita sendiri? Tidak juga sih. saya pernah mendesain di Canva quote dari Robert Gabriel Mugabe seperti yang berikut ini:


Ada juga quote-nya milik teman. Salah seorang pahlawan intelektual saya, namanya Rosalin Togo tapi saya memanggilnya Mami Ocha, yang selalu mengirimkan buku-buku self improvement ke Kota Ende. Iya, saat ini dia masih mengenyam pendidikan S2 di Kota Surabaya. Kami acap berdiskusi ringan tentang ini itu, dan saya suka berdiskusi dengannya, karena dia adalah perempuan cerdas dan tangguh. Pemikiran-pemikirannya jenius. Dan dalam obrolan kami melalui WA dia sering menyeletuk atau menulis quote-quote unik dan lucu. Saya lantas mendesainnya di Canva.




Asyik kan?

Baca juga: Begini Cara Mengambil Foto/Video Status WA Teman Kita

Canva memang jitu! Layanan online yang satu itu menjawab semua hal yang kita butuhkan terutama dunia desain. Modal dasar sudah ada, hanya tambahan sedikit percikan kreativitas maka jadilah quote-quote menarik, lucu, dan unik. Saya yakin kalian sendiri juga punya banyak quote kan? Ayo kreasikan di Canva, biarkan Canva membantu kalian mendesain quote tersebut agar terlihat lebih menarik. Sekalian, bisa dijadikan status baik status WA, status Facebook, maupun pos di IG. Berbagi tidak pernah merugi.

Semoga pos ini bermanfaat :)

#SelasaTekno



Cheers.

In Case You Didn’t Know There’s Already an e-Court in Indonesia


In Case You Didn't Know There's Already an e-Court in Indonesia. Waktu saya masih sekitar SMP atau SMA, Kakak Toto Pharmantara (alm.) pernah bilang bahwa suatu saat nanti dunia pendidikan bakal canggih banget dimana paper bakal menjadi less, hahaha, karena semua bakal pakai komputer. Catatan pelajaran pun bisa disimpan ke komputer, PR atau tugas juga bisa dikumpulkan dalam bentuk soft file melalui disket, dan lain-lain aktivitas. Dan itu memang terjadi meskipun tidak 100% paperless. Tapi kita tahu bahwa telah ada begitu banyak aplikasi dan bantuan digital untuk dunia pendidikan. Sebut saja adanya Edmodo, adanya Ruang Guru, tugas-tugas dikumpulkan melalui e-mail dan/atau pos blog, serta ada pula yang mengumpulkan tugas yang soft file-nya disimpan di flashdisk. Ya, karena zaman sekarang disket sudah wassalam.

Baca Juga: Antara Dua Patung Pahlawan dan Kerja Logika Manusia

Lantas apa korelasi paragraf di atas dengan e-Court? Teknologi. Kekinian. Memangkas jarak dan waktu(?). Mari simak sama-sama yang berikut ini.

e-Court


Kalian tentu tahu, apa saja yang ada huruf e di depannya pasti berhubungan dengan dunia digital atau fokusnya ke dunia internet. E-court merupakan singkatan dari electronic court yang berarti pengadilan elektronik. Di Indonesia, pengaturan tentang e-court dituangkan dalam Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2018 tentang Administrasi Perkara di Pengadilan Secara Elektronik. Peraturan ini dikeluarkan menimbang tuntutan dan perkembangan zaman yang mengharuskan adanya pelayanan administrasi perkara di pengadilan secara lebih efektif dan efisien demi terwujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menurut Buku Panduan E-Court yang diterbitkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia, pengertian e-court adalah:

E-Court adalah sebuah instrumen Pengadilan sebagai bentuk pelayanan terhadap masyarakat dalam hal Pendaftaran perkara secara online, Taksiran Panjar Biaya secara elektronik, Pembayaran Panjar Biaya secara online, Pemanggilan secara online dan Persidangan secara online mengirimkan dokumen persidangan (Replik, Duplik, Kesimpulan, Jawaban). Aplikasi e-court perkara diharapkan mampu meningkatkan pelayanan dalam fungsinya menerima pendaftaran perkara secara online dimana masyarakat akan menghemat waktu dan biaya saat melakukan pendaftaran perkara. (Tim Penyusun Buku Panduan E-Court, 2019:7).

Ada 4 (empat) pelayanan e-court yang dijelaskan di dalam Buku Panduan E-Court yaitu:

1. Pendaftaran Perkara Online (e-Filling)


Pendaftaran Perkara Online dalam aplikasi e-court untuk saat ini baru dibuka jenis pendaftaran untuk perkara gugatan, bantahan, gugatan sederhana, dan permohonan. Pendaftaran Perkara ini adalah jenis perkara yang didaftarkan di Peradilan Umum, Peradilan Agama dan Peradilan TUN yang dalam pendaftarannya memerlukan effort atau usaha yang lebih, dan hal ini yang menjadi alasan untuk membuat e-court salah satunya adalah kemudahan berusaha.

Keuntungan Pendaftaran Perkara secara online melalui Aplikasi e-court yang bisa diperoleh dari aplikasi ini adalah:

a. Menghemat Waktu dan Biaya dalam proses pendaftaran perkara.
b. Pembayaran Biaya Panjar yang dapat dilakukan dalam saluran multi chanel atau dari berbagai metode pembayaran dan bank.
c. Dokumen terarsip secara baik dan dapat diakses dari berbagai lokasi dan media.
d. Proses Temu Kembali Data yang lebih cepat.

2. Pembayaran Panjar Biaya Online (e-Payment)


Dalam pendaftaran perkara, pengguna terdaftar akan langsung mendapatkan SKUM yang di-generate secara elektronik oleh aplikasi e-court. Dalam proses generate tersebut sudah akan dihitung berdasarkan Komponen Biaya apa saja yang telah ditetapkan dan dikonfigurasi oleh Pengadilan, dan Besaran Biaya Radius yang juga ditetapkan oleh Ketua Pengadilan sehingga perhitungan taksiran biaya panjar sudah diperhitungkan sedemikian rupa dan menghasilkan elektronik SKUM atau e-SKUM.

3. Pemanggilan Elektronik (e-Summons)


Sesuai dengan Perma Nomor 3 Tahun 2018 bahwa Pemanggilan yang pendaftarannya dilakukan dengan menggunakan e-Court, maka pemanggilan kepada Pengguna Terdaftar dilakukan dilakukan secara elektronik yang dikirimkan ke alamat domisili elektronik pengguna terdaftar. Akan tetapi untuk pihak tergugat untuk pemanggilan pertama dilakukan dengan manual dan pada saat tergugat hadir pada persidangan yang pertama akan diminta persetujuan apakah setuju dipanggilan secara elektronik atau tidak, jika setuju maka akan pihak tergugat akan dipanggil secara elektronik sesuai dengan domisili elektronik yang diberikan dan apabila tidak setuju pemanggilan dilakukan secara manual seperti biasa.

4. Persidangan Elektronik (e-Litigasi)


Aplikasi e-court juga mendukung dalam hal persidangan secara elektronik sehingga dapat dilakukan pengiriman dokumen persidangan seperti Replik, Duplik, Kesimpulan dan atau Jawaban secara elektronik yang dapat diakses oleh Pengadilan dan para pihak. Pasal 2 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2018 tentang Administrasi Perkara di Pengadilan Secara Elektronik mengemukakan: Peraturan ini dimaksudkan sebagai landasan hukum penyelenggaraan administrasi perkara di pengadilan secara elektronik untuk mendukung terwujudnya tertib administrasi perkara yang profesional, transparan, akuntabel, efektif, efisien dan modern.

Kendala?


Iya, ada kendalanya. Yang mendaftar perkara melalui aplikasi dan/atau layanan e-court adalah advokat yang sudah disumpah. Kenapa? Karena advokat tersebut harus mengisi nomor Berita Acara pengambilan sumpah pada kolom yang disediakan. Sementara itu, masih banyak advokat yang belum disumpah, tetapi sudah bisa praktek, sehingga ini menjadi kendala tersendiri untuk bisa mendaftarkan perkara melalui e-court. Itu kendala pertama, kendala kedua ya tentu pihak yang berperkara, apabila memang mau memakai advokat yang pendaftaran perkaranya melalui e-court tentu tidak bisa memakai sembarang advokat (harus advokat yang sudah disumpah). Sementara itu, kita tahu bahwa kadang-kadang pihak yang berperkara membutuhkan advokat yang ada hubungan emosionalnya, atau setidaknya advokat favorit.


Saya belum melakukan riset yang lebih dalam tentang e-court ini. Tetapi setidaknya melalui pos ini, saya dan juga kalian, tahu bahwa di Indonesia sudah ada e-court. Hanya saja kalau untuk skala Kota Ende, menurut hemat saya, kurang efektif karena kan Kota Ende ini kecil jadi urusan waktu dan jarak bukan masalah. Advokat pun banyak berada di Pengadilan Negeri Ende. Kalau mau mendaftarkan perkara, hanya dua langkah. Haha. Tapi, kalau untuk tertib administrasi advokat, boleh juga, sehingga mau tidak mau semua advokat harus mengambil sumpah advokat (Nomor Berita Acara).

Bagaimana pendapat kalian tentang e-court ini? Bagi tahu donk di komen!

Semoga bermanfaat.

#SelasaTekno



Cheers.

Begini Cara Mengambil Foto/Video Status WA Teman Kita


Begini Cara Mengambil Foto/Video Status WA Teman Kita. WhatsApp (WA) merupakan salah satu aplikasi chat (mengobrol) yang paling saya andalkan saat ini baik untuk pekerjaan, berkomunitas, berteman, maupun pedekate. Berapa kali dalam sehari kita membuka aplikasi WhatsApp (WA)? Pasti sering! Saya pribadi tidak dapat menghitungnya. Karena, WA tidak saja dimanfaatkan untuk sekadar mengobrol melalui pesan teks tetapi juga dimanfaatkan untuk panggilan telepon dan video call. Bahkan, nomor regular saya khusus telepon dan SMS nyaris tidak berfungsi kecuali untuk mengisi paket data internet. Kebutuhan internet di luar rumah tentu saya tidak bisa mengandalkan We Land Before Time, nama jaringan Wi-Fi di rumah kami. Haha. Untuk keperluan sebulan, saya tetap mengisi paket data internet antara 50K sampai 100K.


Salah satu kegiatan yang paling sering saya lakukan ketika membuka WA adalah melihat status teman-teman: tulisan, foto, dan video. Tulisan dan foto tidak seberapa menarik perhatian saya karena biasa-biasa saja. Tetapi video, terutama video lucu, selalu membikin saya gemas pengen memasangnya juga di status WA. Video berdurasi 30 detik, sesuai kapasitas muatan status video di status WA, mampu membikin banyak orang tertawa. Bukankah itu baik? Hidup sudah susah, mari tertawa. Tertawa memang tidak mampu melunasi semua hutang, namun tertawa mampu menghibur perasaan bahwa hutang bisa dilupakan sejenak.

Cerita sedikit ... boleh?

Adalah Muksin, salah seorang teman WA, yang sering memasang video-video lucu di statusnya. Dan tentu, video-video itu membikin saya gemas. Pengen juga. Sekali dua saya meminta padanya. Iya, dia mengirimkan. Tetapi karena dia juga sibuk, tidak semua permintaan saya terpenuhi. Ya iyalah, siapa elu, Teh? Presiden? Kadang-kadang saya memburu video yang sama di Youtube, tapi tidak semua video lucu apalagi video lucu/kocak khas dari berbagai daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur diunggah ke Youtube oleh pemilik aslinya. Gigit jari.

Adalah saya, sebagai makhluk Tuhan yang paling seksi orang awam, benar-benar tidak tahu atau tidak pernah mau mencari tahu berbagai hal tentang WA. Sampai akhir November 2019 saya masih berusaha segera memencet tombol 'balas' dari status WA yang dilihat agar tidak lekas hilang. Yang baru saya tahu, kemudian, adalah bahwa status WA yang sudah kita lihat dari list status teman-teman, masih tetap bisa dilihat tetapi letaknya berpindah ke urutan paling bawah. Jadi, status itu tidak hilang sampai batas yang ditetapkan WA yaitu 24 jam. Koplak kan? Sayanya yang koplak. Tapi saya tidak malu, karena rasa-rasanya bukan hanya saja yang begini. Hihi *membela diri*.

Lantas, bagaimana caranya sehingga saya tahu cara mengambil foto/video status WA tanpa harus meminta pada yang memasangnya (di status mereka)?

Begini ...

Ehem ... *berdehem manja*.

Saya selalu punya kebiasaan membersihkan telepon genggam pakai deterjen, Xiaomi Redmi 5 Plus, agar media penyimpanan bisa lebih lega setiap kali saya hendak beraktivitas di luar rumah. Pertama: menghapus semua foto dan video di galeri yang sudah di-backup oleh Google Photos. Kedua: membersihkan segala sesuatunya menggunakan aplikasi Keamanan (pembersih, pindai virus, menghapus sampah, hingga meningkatkan kerja telepon genggam). Ketiga: mengintip File Manager untuk menghapus apa saja yang tidak penting diantaranya foto yang sudah terkirim ke teman (WA) hingga thumbnail. Dan ternyata, semua foto dan video status WA teman yang pernah saya lihat itu tersangkut di File Manager! Dan saya ... bisa menggunakannya, terutama video, untuk dipasang di status WA.

Kalau kalian bingung, coba lihat gambar-gambar berikut. Dengan catatan, ini adalah screen shoot dari telepon genggam saya sendiri, Xiaomi Redmi 5 Plus.

1. Buka File Manager


2. Pilih Mode Daftar/List


3. Pilih Folder WhatsApp


4. Pilih Media


5. Pilih Statuses


6. Daftar Status WA Milik Teman Yang Sudah Kita Lihat!


7. Contoh Saya Pilih Status Teman Yang Ini


8. Bagikan ke WA


10. Trada ...


Yang saya contohkan di atas adalah status berupa foto. Tapi cara yang sama berlaku juga untuk video. Pokoknya, untuk semua status WA teman yang sudah kita lihat, tersangkut di File Manager, menunggu untuk dibersihkan. Dengan cara ini, saya tidak perlu lagi menganggu aktivitas teman-teman dengan rengekan: minta videonya, boleh? Hehe.


Bagaimana dengan kalian kawan? Apakah kalian seawam saya, atau kalian justru sudah lebih dulu tahu, bagi tahu di komen. Bagi saya, berbagi itu tidak ada ruginya. Terutama tentang hal-hal yang sebelumnya tidak saya ketahui, kemudian saya tahu, rasanya gimanaaa begitu. Hehe. Dan ya, pada akhirnya saya tidak perlu merepotkan para pemilik status dengan rengekan meminta video mereka. Saya sudah tahu caranya *melet*.

#SelasaTekno



Cheers.

Add Watermark Aplikasi Andalan Para Tukang Pamer Foto


Add Watermark Aplikasi Andalan Para Tukang Pamer Foto. Saya pernah membaca status seorang teman di Facebook, Mbak Yeyen, pemilik Kedai Nagih. Mbak Yeyen jengah sama ulah pedagang makanan lain yang menggunakan foto-foto makanan dagangan Kedai Nagih yang dipos di media sosial Facebook. Zaman sekarang masih ada orang yang mengambil foto makanan/dagangan orang lain dan mengakui foto itu sebagai miliknya. Iya, masih ada. Padahal, meskipun fotonya sama, rasa makanannya kan beda. Pada Mbak Yeyen, saya menyarankan untuk memasang watermark alias tanda air pada setiap foto makanannya. Karena bagi saya, seburuk apapun sebuah foto, kita wajib menyertakan tanda air di dalamnya untuk menghindari penyalahgunaan foto tersebut oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Baca Juga: Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog

Masalah foto yang diambil seenak udel di media sosial ini memang menjadi polemik tersendiri. Pihak yang mengambil dengan tanpa rasa bersalah berdalih: foto itu dipajang di media sosial, tanpa dikasih tanda air, artinya milik umum! Tapi, hei, di mana tanggung jawab moralnya? Masa iya kita mau menjadi pencuri foto? Tidak ada seorangpun yang mau disebut sebagai pencuri kan? 

Tapi, bukankah tanda air juga bisa dihapus? Tentu bisa. Ada banyak aplikasi penghapus tanda air. Sebut saja Remove Unwanted Object dari BG.Studio, Watermark Manager oleh Arsal Nazir, dan Unwanted Object Remover: Touch Retouch 2019 dari Flip Soft. Menurut pendapat saya pribadi, hanya orang-orang serius yang ingin menghapus tanda air dari sebuah foto dan/atau video. Rata-rata pengguna media sosial, termasuk yang awam teknologi, tentu malas mencari tahu dan melakukan proses penyuntingan. Sehingga, untuk kelas media sosial seperti Facebook, sedikit tidaknya tanda air akan sangat menolong para tukang pamer foto agar fotonya tidak dicuri seenak dengkul.

Adalah David Mossar, Ketua Exotic NTT Community, yang memperkenalkan saya pada sebuah aplikasi tanda air Android bernama Add Watermark. Sebelumnya saya hanya menggunakan tanda air dengan menambahkan tulisan http://tuteh.web.id saja pada setiap foto. Kayaknya boleh juga aplikasi Add Watermark ini. Langsung saya unduh dan pasang di telepon genggam. Xiaomi Redmi 5 Plus yang legit itu. Setelah unduh dan pasang, mari kita cek bagaimana cara menggunakan Add Watermark.

1. Buka Aplikasi Add Watermark


2. Tampilan Add Watermark


Pada tampilan Add Watermark ini kalian bisa memilih apply on images, apply on video, create watermark, dan your creation. Bagi yang baru mau bikin tanda air bisa terlebih dahulu memilih create watermark. Silahkan bikin tanda air kalian sendiri baik dari template yang sudah ada atau dikreasikan macam-macam suka.

3. Pilih Gambar


Di sini saya mencontohkan menambahkan tanda air pada foto, bukan video. Panah kuning pertama adalah foto pilihan, panah kuning kedua adalah notifikasi bahwa sudah ada foto yang dipilih).

4. Pilih Tanda Air


Pada menu ini, kalian masih diberi pilihan untuk membikin tanda air, atau memilihnya dari galeri. Karena saya sudah membikin beberapa, saya bisa langsung pilih seperti panah paling bawah yang ditunjukkan oleh gambar di atas.


5. Done!


6. Simpan


7. Mudah


Ah, selesai. Tidak pakai acara ribet. Makanya saya menulis judul, aplikasi andalan para tukang pamer foto karena prosesnya sangat cepat.

Baca Juga: Warna-Warni Text Background Color Ciri Khas Pos Blog

Selain Add Watermark, ada banyak pilihan mudah memberi tanda air. Seperti yang sudah saya tulis di atas paling mudah tinggal menambahkan tulisan pada foto tersebut. Tetapi, Add Watermark memberikan banyak pilihan baik jenis huruf, template logo, warna, dan lain sebagainya, sehingga para pengguna Add Watermark lebih leluasa berkreasi sepuas-puasnya. Sekali lagi, jangan pernah meremehkan sebuah foto dan/atau video, seburuk apapun, karena itu adalah hasil jepretan kalian, kawan. Sama seperti saya. Bahkan foto kakipun tidak mau saya biarkan lolos kecuali saya memang memilih membiarkan sebuah foto tanpa tanda air, dan membiarkan orang lain menggunakannya.

Tetapi, tanggung jawab moral saya pribadi juga berlaku di sini. Apabila ada foto milik orang lain yang menurut saya unik, tidak mungkin saya mengeposnya tanpa menyertakan kredit/sumber. Salah satunya foto-foto unik dari situs Brightside. Tidak ada seorangpun yang mau disebut pencuri, termasuk saya.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Aplikasi Super Keren Untuk Para Pejalan Itu Bernama Relive


Aplikasi Super Keren Untuk Para Pejalan Itu Bernama Relive. Relive, apa itu? Saya juga tidak bakal tahu Relive kalau tidak dikasih tahu sama seorang teman. Namanya Hari. Kami berkenalan lewat WA saat dia hendak datang ke Kota Ende. Iya, dia berdomisili di Bandung. Tahu nomor WA saya mungkin dari informasi profil di blog. Kalian juga bisa mengintip nomor WA ini di akhir semua pos pada blog ini. Apa urusan Hari di Kota Ende, saya tidak tahu. Yang jelas saya mengajaknya menikmati sup iga di Warung Damai sebelum keesokan harinya dia dan temannya bersepeda ke Kampung Kolibari, ditemani Bapak Heri Sutaban (Bhabinkamtibmas) yang punya hobi gowes. Saya sendiri sudah lamaaaa sekali tidak gowes. Sepeda di rumah pun ban-nya kempes berabad-abad.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Dari perjalanan ke Kampung Kolibari, dan puncak Kezimara, Hari mengirimkan video perjalanan kepada saya. Videonya sederhana: garis yang mengikuti (titik-titik) GPS disertai foto dari titik berangkat, sepanjang perjalanan (bebas mau berapa kali berhenti untuk mengambil foto), hingga tiba di lokasi tujuan. Langsung donk saya iri. Hari bilang video itu dibikin menggunakan aplikasi Relive. Saya langsung mencobanya! Eh, diunduh terlebih dahulu di PlayStore.

Relive


Mari kenalan lebih dekat dengan Relive. Relive merupakan aplikasi perekam aktivitas yang diproduksi oleh Relive B.V. Aplikasi ini pasti mengingatkan kalian pada aplikasi lain seperti Strava yang juga bisa diunduh di PlayStore. Relive ada yang gratisan, ada yang berbayar (untuk fitur-fitur tambahan). Kalian pasti tahu selalu ada keterbatasan pada lini gratisan. Dan saya, yang tampangnya gratisan ini, selalu memilih untuk tetap pada lini gratisan ketimbang membayar. Haha. Di Relive kita bisa merekam ragam aktivitas seperti berlari, berjalan, bersepeda, bahkan bersepeda motor! Rekaman perjalanan itu dapat diselingi dengan foto pada check point pilihan kita. Keluarannya Relive adalah video yang dapat disimpan atau dibagi ke berbagai media sosial.

Menarik bukan?

Cara Kerja Relive


Ini yang penting. Sebagai pengguna baru Relive saya perlu mengalami berkali-kali kegagalan dalam bercinta baru kemudian sukses. Pertama-tama kalian harus mengunduh terlebih dahulu aplikasi Relive di PlayStore. Logonya berwarna kuning, ya! Catet! Kuning! Terima kasih, Relive, sebagai Presiden Negara Kuning saya merasa sangat diapresiasi.


Halaaah. Hehe. Setelah diunduh, langsung pasang di telepon genggam. Jangan lupakan foto profil supaya lebih ketje.


Cara menggunakan Relive cukup mudah. Setelah Relive terpasang di telepon genggam, sudah pula memajang foto profil (ini sih tergantung kalian mau langsung memajang atau nanti-nanti), untuk memulai sebuah video perjalanan, cukup pencet tombol seperti pada gambar berikut:


Kalian akan diantar diantar ke halaman berikut ini:


Yang saya beri panah warna merah itu, silahkan diklik, karena itu berisi daftar aneka kegiatan/aktivitas yang hendak kalian rekam.


Saya memilih bersepeda motor karena memang aktivitas yang hendak saya rekam adalah perjalanan menggunakan sepeda motor dari Kota Ende ke Bukit Marsel / Watu Zaja.


Silahkan klik mulai. Asyiknya, perjalanan itu bisa dijeda setiap kali kita berhenti di titik-titik tertentu (mana-mana suka), dan bisa diselipi dengan foto pada titik perhentian tersebut.


Kalau perjalanan masih dilanjutkan, silahkan lanjutkan, kalau sudah tiba, silahkan klik selesai. Dan trada ... video Relive kalian sudah jadi.


Hasil videonya, bisa dibagikan di berbagai media sosial, seperti pada gambar di atas, bisa juga disimpan saja dulu di telepon genggam untuk nanti dipublikasikan.

Well done.

Sebagai pengguna baru Relive, saya merasa cukup puas karena aplikasi ini sangat mudah digunakan selama ada jaringan internet sepanjang perjalanan kita, karena untuk membikin video ini, Relive pun mengandalkan GPS yang harus dinyalakan. Iya, biar Relive tahu lokasi kita memulai perjalanan, titik-titik berhenti, hingga lokasi tujuan. Kalian juga bisa mengimpor aktivitas sebelumnya yang sudah disimpan di aplikasi tracker (formatnya .fix, .gpx, atau .tcx) ke Relive.

Baca Juga: Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial

Jujur, saya jadi tergila-gila pada Relive. Namun, waktu cuti yang lebih banyak di rumah saja menyebabkan saya tidak bisa sering-sering menggunakan aplikasi super keren untuk para pejalan ini. Semoga, nanti akan lebih banyak perjalanan yang bisa saya rekam bersama Relive dan membaginya dengan kalian semua.

Bagaimana? Mau mencoba Relive? Pasang sekarang di telepon genggam kalian!

#SelasaTekno



Cheers.

Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial


Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial. Mungkin saya salah menulis judul? Mungkinkah Edmodo memang berbasis media sosial seperti Facebook? Entah. Yang jelas hari ini saya bakal bercerita tentang aplikasi/layanan yang satu ini. Semua bermula saat saya meliput kegiatan knowledge service yang merupakan salah satu mata acara dari kegiatan English Week oleh Prodi Sastra Inggris pada Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Flores (Uniflor) di Kelurahan Natanage, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Secara umum saya sudah bercerita tentang kegiatan tersebut dan bisa kalian baca pada pos berjudul: Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae.

Baca Juga: Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog

Lalu, apa itu Edmodo dan mengapa Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra yaitu Bapak Marianus Roni, S.S., M.App.Ling. menyampaikan materi tentang Edmodo? Untuk itu kita harus mulai dengan e-learning.

E-Learning, Perlukah?


E-learning, menurut saya, merupakan terobosan dalam dunia pendidikan dimana jarak dan waktu dapat diakali oleh para pendidik terhadap peserta didik. Waktu masih Sekolah Dasar di SDI Ende 11, Kakak Toto Pharmantara (alm.) pernah berkata bahwa di masa depan saya tidak membutuhkan buku untuk mencatat pelajaran. Semua bisa dicatat di komputer menggunakan Lotus 123. Waktu itu memang belum ada MS Office dengan aplikasi pengolah kata semacam Word. Itu bagus! Menurut saya waktu itu, karena bakal mengurangi penggunaan kertas alias paperless. Artinya, pohon-pohon di hutan tidak terus-menerus menjadi obyek penderita. Masa demi masa, kemudian, setelah adanya internet, dunia mengenal e-learning ini.

Dalam pemahaman saya, e-learning artinya belajar secara elektronik. E adalah electronic atau elektronik, learning artinya (sedang) belajar. Apabila e-mail diterjemahkan sebagai surat elektronik (surel) maka e-learning dapat diterjemahkan sebagai berel (belajar elektronik). Itu menurut saya pribadi. Haha. Dalam pengertian yang lebih luas e-learning berarti belajar menggunakan media elektronik yang terhubung dengan internet. Artinya harus ada perangkatnya seperti laptop, komputer/desktop, atau telepon genggam. Dan harus ada koneksi internetnya. Tanpa internet e-learning tidak mungkin terjadi karena konsep dasar e-learning adalah belajar online.

Aplikasi pertama e-learning yang saya tahu itu bernama Google Classroom. Mengetahuinya dari kegiatan tentang belajar online dan bikin blog serta vlog oleh Fakultas Teknologi Informasi Uniflor kepada Prodi Sejarah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uniflor. Ternyata beberapa dosen Uniflor seperti Bapak Deni Wolo pun juga sudah menggunakan Google Classroom apabila beliau sedang bertugas di luar kota sementara ada mata kuliah yang harus dipenuhi. Lalu saya mendengar aplikasi Moodle. Saya tahu tentang Edmodo dari kegiatan knowledge service dari kegiatan English Week itu. Lucunya, paling akhir saya baru tahu soal SPADA yang dikeluarkan oleh Belmawa Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Haha.

Perlukah e-learning? Berdasarkan SPADA dan peraturan yang menjadi dasar hukumnya, maka e-learning yang disebut juga hybrid learning itu perlu. Melalui SPADA terjadi sistem dan/atau pemerataan pembelajaran secara nasional. Maksudnya dosen tidak saja mengajar mahasiswa pada perguruan tinggi/universitasnya saja tetapi juga mengajar mahasiswa dari perguruan tinggi/universitas lain dari seluruh Indonesia melalui materi kuliah yang diunggah di SPADA. Mengenai SPADA kalian bisa mencari tahu lebih lengkap di situs milik Belmawa Kemenristekdikti.

Well, apa dan bagaimana Edmodo itu?

Edmodo


Dari situs Edmodo dan Wikipedia saya menemukan banyak informasi. Edmodo adalah perusahaan teknologi pendidikan yang menawarkan alat komunikasi, kolaborasi, dan pembinaan untuk guru dan sekolah K-12. Jaringan Edmodo memungkinkan guru untuk berbagi konten, mendistribusikan kuis, tugas, dan mengelola komunitas dengan siswa, kolega, dan orangtua. Pada tahun 2013 Edmodo dimasukkan ke dalam daftar "Aplikasi Teratas Untuk Guru" oleh PC Magazine. Di tahun yang sama Edmodo mengakuisisi startup Root-1 dalam upaya untuk menjadi toko aplikasi untuk pendidikan. Vibhu Mittal, Co-founder dan CEL Root-1 menjadi CEO Edmodo pada tahun berikutnya.

Pada tahun 2014, Edmodo meluncurkan Snapshot, seperangkat alat penilaian untuk mengukur kemajuan siswa pada standar pendidikan. Edtech digest memberikan penghargaan untuk Edmodo Snapshot dalam Cool Tool Award sebagai Solusi Penilaian Terbaik. Perusahaan ini telah bermitra dengan dua penerbit besar di Inggris, Oxford University Press dan Cambridge University Press untuk menyediakan akses ke konten pendidikan di Edmodo Platform dan membawa Edmodo Snapshot ke Inggris.

Edmodo sendiri didirikan oleh Nic Borg dan Jeff O'Hara pada tahun 2008. Dan saya baru mengetahuinya pada tahun 2019. Pernah dengar, tapi tidak terlalu menanggapinya secara serius. Edmodo didukung oleh Index Ventures, Benchmark, Greylock Partners, Learn Capital, New Enterprise Associates, Union Square Ventures, Glynn Capital Management, Tenaya Capital, SingTel Innov8, dan KDDI. Pada Agustus 2016 Edmodo diklaim memiliki lebih dari 66.900.000 pengguna di seluruh dunia. It's a wow kan? Dan pada bulan Maret 2015, Noodle menyebut Edmodo sebagai salah satu dari "32 Alat Pendidikan Daring Paling Inovatif".

Oke, itu semua informasi yang berhasil saya kumpulkan/rangkum dari dua situs yaitu situs milik Edmodo sendiri dan dari Wikipedia.

Pada kegiatan knowledge service di English Week, Pak Roni menampilkan Edmodo melalui tayangan infocus. Pada layar itu jelas sekali saya melihat Edmodo yang mirip dengan tampilan Facebook. Makanya saya menulis judul seperti di atas, karena tampilannya yang mirip media sosial. Tapi, media sosial yang satu ini bersifat privat. Interaksi dalam sebuah status hanya terjadi antara pendidik dengan peserta didik yang telah terkoneksi.

Pada kesempatan itu Pak Roni tidak saja menyampaikan materi tentang Edmodo tetapi peserta langsung mempraktekkannya juga. Peserta yang terdiri dari perwakilan guru-guru dari SMP dan SMA di Kecamatan Boawae memasang aplikasi Edmodo pada telepon genggam mereka sedangkan mater dari Pak Roni terpampang jelas di layar infocus, dimana Pak Roni menggunakan Edmodo versi desktop. Belajar menggunakan Edmodo asyik juga. Pak Roni memberikan tugas atau pertanyaan dan peserta yang sudah terkoneksi dengan akunnya kemudian mengirimkan jawaban. Akan terlihat peserta yang sudah terkoneksi dalam 'kelas' Pak Roni tapi tidak mengerjakan tugas. Hwah, transparan sekali kan? Bahkan, Pak Roni dapat memberikan nilai dan komentar dari tugas yang dikerjakan/dijawab tersebut.

Jadi jelas, Edmodo telah menjadi sebuah 'ruang kelas' tempat pendidik dan peserta didik berinteraksi.

Kemudian, ada pertanyaan yang butuh jawaban langsung. Entah dengan guru, tetapi setiap dosen diwajibkan untuk mengisi daftar hadir peserta didik (mahasiswa) dalam BAD. BAD biasanya dicetak oleh prodi kemudian setelah diisi dikembalikan ke prodi. Bagaimana jika proses belajar mengajar terjadi di Edmodo?

Absensi / BAD


Ketika saya mewawancarai Dekan Fakultas Teknologi Informasi Bapak Ferdinandus Lidang Witi, S.E., M.Kom. tentang SPADA yang disosialisasikan pada dosen-dosen Uniflor, beliau mengatakan bahwa BAD dari sistem belajar atau kelas online dapat dilakukan dengan screenshoot. Dapat dicetak dan diserahkan kepada pihak prodi.

Ah, I see.

Dunia sudah semakin canggih, kenapa harus mempersulit segala sesuatunya? Kalian setuju? Komen di bawah. Hehe.

⇜⇝

Apa yang bisa saya simpulkan dari pos hari ini? Paling pertama: bahwa Kakak Toto (alm.) benar. Paperless memang telah terjadi meskipun belum pada semua lini kehidupan manusia. Kedua: bahwa e-learning merupakan sistem belajar yang baik diterapkan di sekolah maupun universitas; tidak saja karena dosen yang bersangkutan sedang berhalangan untuk hadir di kelas tetapi merupakan salah satu wujud nyata dari Industri 4.0. dimana peserta didik pun harus mampu mengenal tentang sistem pembelajaran seperti ini. Mahasiswa tidak boleh mengenal internet dengan Facebook saja sebagai tujuan utama *setelah menulis ini, dijumroh mahasiswa, hahahah*. Ketiga: dari sisi kepraktisan jelas e-learning itu se-su-a-tu.

Baca Juga: Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android

Tetapi, meskipun saya setuju dengan e-learning, dengan Edmodo misalnya, tetap saja tatap muka itu penting. Saya memang bukan guru apalagi dosen, saya hanyalah seorang manusia yang terlahir dari dua orang guru-besar-pribadi dan bergaul di tengah para pendidik (dosen). Tetapi, ijinkan saya menulis bahwa belajar konvensional, tatap muka di dalam kelas, merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan karena berhubungan dengan psikologi. Peserta didik datang dari ragam latar belakang. Pendidik perlu untuk tahu tentang psikologi peserta didik agar tahu bagaimana melakukan pendekatan (persuasif) bila terjadi sesuatu. Misalnya peserta didik mendadak malas belajar, jarang masuk kelas, atau peserta didik mungkin sedang depresi. Pendidik punya tugas besar, selain mengajar ilmu akademik, untuk memahami kondisi psikis peserta didik agar mampu menciptakan peserta didik yang berkarakter (baik).

Dan untuk mengenal peserta didik lebih dekat, Edmodo tidak bisa menjadi medianya. Ruang kelas lah medianya. Kalau kalian tidak setuju, komen di bawah, heheeh, tapi yang sopan ya!

Terakhir, semoga pos ini bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Inilah Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional


Inilah Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional. Setiap tahun Hari Blogger Nasional dirayakan pada tanggal 27 Oktober. Tahun 2019 Hari Blogger Nasional jatuh pada Hari Minggu. Kalian tahu kan, Hari Minggu merupakan hari liburnya BlogPacker. Bertepatan dengan Hari Blogger Nasional pada hari Minggu kemarin saya malah pergi traveling ke lokasi wisata yang sudah lama bikin saya mupeng: Obyek Wisata Ae Sale Mengeruda atau lebih dikenal dengan nama Air Panas Soa (dibaca So'a) yang terletak di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada. Tapi itu bukan berarti saya melupakan hari keramat ini. Karena, setiba di rumah, saya justru langsung mengajari seorang adik mengenal dan membikin blog! Hebat kan saya *dikeplak dinosaurus*.

Baca Juga: Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android

Adalah Ny Sargaling, salah seorang lulusan Universitas Flores (Uniflor) yang baru diwisuda kemarin dan meraih IPK tertinggi dari Prodi Pendidikan Fisika. Tidak main-main 3,91 adalah IPKnya. Tetapi atas pertimbangan ini itu, maka Teresia Wali yang juga meraih IPK 3,91 lah yang maju sebagai lulusan terbaik, sedangkan Ny diberi kehormatan memberikan sambutan mewakili wisudawan/i.

Ny - Teresia - JLo, eh, saya.

Tanggal 22 Oktober 2019 kami terlibat obrolan awal melalui inbox Facebook. Itu karena saya rasanya gatal banget waktu melihat foto-foto yang dia pos di Facebook tentang event Tarian Caci di Kabupaten Manggarai sana. Sejak lama saya pengen bisa menghadiri event semacam itu tetapi selalu terkendala dengan waktu. Begitu ambil cuti, malah event-nya sudah lewat. Padahal bagus kan kalau ditulis di blog agar lebih banyak orang bisa membacanya. Kegatalan saya itu berlanjut sampai hari Minggu kemarin saat saya tiba di rumah setelah ratusan kilometer, pergi-pulang, antara Kota Ende dan Soa. Bukannya mandi dan istirahat, saya malah melanjutkan obrolan melalui inbox Facebook tersebut. Ny pun berhasil saya racuni! Haha. Obrolan kami lantas pindah dari inbox Facebook ke WA.

Kenapa harus pindah ke WA? Karena saya lebih familiar dengan WA terkhusus untuk mengirim foto dan lain sebagainya. Ini hanya soal kebiasaan saja. Teknologi memang canggih kan.

Mengenal dan Membikin Blog


Bukan barang baru bagi saya memperkenalkan dan mengajar orang membikin blog melalui WA. Bersama Om Bisot dan Kak Anazkia, sudah banyak grup kelas blogging yang dibuka. Sebut saja Kelas Blogging NTT Angkatan I dan Angkatan II dan Kelas Blogging Online. Selain itu saya juga membuka Kelas Blogging Tuteh yang berisikan mahasiswa yang pernah mengikuti workshop blog dimana saya menjadi pematerinya. Tentu materi saya tetap berjudul Blogging is Fun and Easy. Alasan membuka kelas blogging di grup WA, bisa kalian baca pada pos berjudul 5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT.

Balik lagi ke Ny.

Ny sudah punya modal awal sebagai blogger yaitu suka menulis. Sayang banget kalau dia menulis di layanan catatan Facebook. Saya jelaskan padanya bahwa menulis di blog itu jauh lebih baik karena semua tulisan terarsip dengan sangat baik, kita bisa mencarinya kembali dengan memasukkan kata kunci di blog, dan tentu tautannya bisa dibagi ke berbagai media sosial sebagai aksi promosi blog. Maka melalui pesan WA kami berdua berusaha yang memberi pengajaran (saya) dan memahami pengajaran (Ny). Hanya dalam waktu sepuluh menit saya sudah memperkenalkan pada Ny tentang konsep awal blog, ragam platform blog, contoh blog gratisan dan berbayar, hingga kenapa membikin blog di platform Blogger.

Dua menit kemudian, Ny sudah mendaftarkan blog di Blogger menggunakan nama keluarganya yaitu Sargaling. Saya bilang padanya bahwa nama Sargaling itu unik, pasti langsung jadi begitu didaftarkan ke Blogger, dan ternyata benar adanya. Blog Ny sudah jadi tetapi belum ada isinya karena dia harus menulis pos (pertama) terlebih dahulu. Selamat nge-blog ya, Ny! Terus menulis dan berbagi ragam kisah, terutama tentang Kabupaten Manggarai, di blog. Saya yakin akan banyak pembaca karena tulisan tentang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT): adat, wisata, budaya, kehidupan beragama yang harmonis, jadi buruan para pembaca.

Sebenarnya selain Ny, ada Facebooker lain yang juga menghubungi saya lewat inbox Facebook dan sangat tertarik untuk punya blog juga. Namanya Salsabila Salsa. Saya sudah memberikan nomor WA sih, tinggal menunggu dia menghubungi. Dan Insha Allah akan hadir blog baru lagi di dunia ini. Dududud. Terbukti teknologi memang memudahkan banyak hal, termasuk memudahkan orang-orang yang ingin belajar blog.

Hari Blogger Nasional


Siapa sangka apa yang saya dan Ny lakukan, mengajar dan mempelajari, merupakan cara keren (saya akui itu keren, hahaha) untuk merayakan Hari Blogger Nasional. Ternyata, sepanjang saya nge-blog, hanya ada satu pos tentang Hari Blogger Nasional. Padahal sudah tujuh belas tahun lebih saya nge-blog. Ditambah dengan pos ini, jadi dua.

Sebenarnya, sebelum berangkat ke Soa saya sudah memikirkan apakah hari Minggu (malamnya) akan menulis tentang Hari Blogger Nasional atau tidak? Karena Minggu adalah hari libur nge-blog dan hari bershanthaaaiii. Namanya juga blogger, sebagai blogger saya kan harus bisa membikin sesuatu yang beda berhubungan dengan Hari Blogger Nasional ini. Apakah pos di blog, atau status di media sosial, dan lain sebagainya. Ndilalah, gara-gara Ny yang pengen belajar blog, akhirnya saya bisa merayakan Hari Blogger Nasional dengan sangat keren. 

Merayakan Hari Blogger Nasional dengan Mengajar Blog!

Baca Juga: Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik

Sebagai blogger, belum banyak yang bisa saya perbuat untuk Indonesia *tsah* tetapi melalui kampanye terselubung maupun terbuka di media sosial tentang manfaat blog yang luar biasa, alias supa amazing, saya berharap akan semakin banyak pula orang-orang khususnya masyarakat NTT yang membikin blog. Karena, ada begitu banyak perkara tentang Provinsi NTT yang dapat digali, diolah, ditulis, dan dibaca oleh orang lain. Blog merupakan salah media promosi wisata juga. Kalian harus percayai itu, dan Ny ... juga harus percaya itu.

Salam Hari Blogger Nasional!

#SelasaTekno



Cheers.