Teknologi Dasar yang Setidaknya Harus Dikuasai oleh Manusia


Saya pernah menulis tentang Teknologi Dasar. Inti dari pos itu adalah tentang bagaimana manusia zaman sekarang 'mereka-ulang' teknologi dan teknik dasar yang digunakan oleh manusia zaman purba untuk, misalnya, membangun rumah bahkan rumah bertingkat, membangun kolam renang dengan aliran air dari sumber mata air, membikin tempat pembakaran dan penyulingan tuak dari nangka dan beras, membikin api, memasak menggunakan batu dan bantuan panas matahari, dan lain sebagainya. Teknologi-teknologi dasar itulah yang menurut saya setidaknya memang harus dikuasai manusia. Terkhusus teknologi dan teknik membangun rumah.

Baca Juga: Re: Ease

Baru-baru ini dinding dapur belakang (dapur basah) rumah saya rubuh satu sisinya. Dinding itu tidak kuat menahan dorongan akar pohon yang tidak kami sangka terpeta diantara dinding dapur dengan tembok penyokong rumah tetangga sebelah atas. Tidak main-main akar pohon itu, setelah digali, besarnya bisa sepelukan tiga orang dewasa. Awwww. Pantas saja dinding rumah rubuh alias jebol. Tapi selalu ada hikmah dari setiap kejadian bukan? Alhamdulillah Mamasia yang saat itu sedang mencuci baju tidak tertimpa pecahan dinding. Alhamdulillah kami serumah jadi tahu teknologi dan teknik dasar membangun dinding.

Rumah Dua Musim


Pohon Tua, rumah induk keluarga Pharmantara, saya sebut sebagai rumah dua musim yang dikerjakan tidak secara bersamaan. Bagian belakang rumah terdiri atas ruang makan, ruang keluarga, dapur bersih, tiga kamar mandi (salah satunya kemudian berubah menjadi kamar), dua WC, dapur kotor, dan dua kamar tidur. Tembok bagian belakang ini dikerjakan sudah sangat lama oleh alm. Nene Linus (mertuanya Mamasia) tentu bersama alm. Bapa. Bentuknya temboknya 'bengkok' di mana-mana, dengan kayu-kayu penyangga yang simpang-siur serta tripleks-tripleks tua nan uzur. Sampai-sampai kami sering ngetawain rumah ini sambil guyon. Bagian belakang rumah dikerjakan pada 'Musim Harus Jadi' dengan lantai semen.

Bagian belakang: Musim Harus Jadi.

Bagian depan rumah, setelah direnovasi, terdiri atas teras, ruang tamu, dan dua kamar tidur. Bagian depan rumah ini dikerjakan juga masih oleh alm. Nene Linu dan dibantu (dimandori) oleh alm. Bapa, dengan tingkat kemiringan yang masih bisa mengelabui mata *ngakak guling-guling*. Bagian depan rumah ini dikerjakan pada 'Musim Jadilah Rumah yang Bagus' dengan lantai keramik dan atap yang lumayan tinggi.

Bagian depan: Musim Jadilah Rumah yang Bagus.

Jadi, kalau kalian datang ke Pohon Tua, akan menemukan rumah dua musim pengerjaan yang bentuknya secara estetika akan sangat jauh berbeda. Tapi, tetap saja rumah bagian belakang itu selalu menjadi tempat favorit untuk kumpul-kumpul karena rasanya hangat dan selalu penuh cinta *ditonjok dinosaurus*. Bukan berarti ruang tamu tidak nyaman dan hangat, tetapi kalian pasti tahu yang namanya ruang makan dan ruang keluarga selalu memberi perasaan nyaman yang 'lebih'.

12 Juni 2019


Pada tanggal keramat itu, saat saya sedang bekerja di kamar, terdengar suara gemuruh diiringi teriakan Mamasia yang kabur ke luar. Ternyata dinding dapur basah, paling belakang rumah, rubuh. Dinding yang rubuh itu hanya sekitar tujuh batako disusun sejajar saja tapi tetap lah membikin jantung kebat-kebit karena di sebelahnya ada dinding dengan bak air cuci piring menempel. Semua tenaga yang bisa diandalkan kemudian datang membantu memotong pohon ara yang berdiri, ternyata, diantara dinding dapur dan tembok penyokong tersebut.

Akar pohon ara ini sungguuuuh besar!

Keesokan hari, setelah dibersihkan, terlihatlah akar pohon yang super besar dan harus dipotong menggunakan mesin sensor. Parang biasa mah iwa negi, kata Orang Ende. Bisa kalian bayangkan, untuk memotong, membersihkan area pengerjaan, hingga sensor akar pohon membutuhkan waktu dua hari.

Kenapa Dikerjakan Sendiri?


Karena tukang yang seharusnya mengerjakannya ngambek dengan suatu alasan hahaha kemudian pulang ke rumahnya. Kata kakak ipar saya, Ka'e Dul, sudahlah kita kerjakan sendiri. Yang macam begini mudah saja asalkan tidak terburu-buru. Pasir, semen, batako, siap. Tenaga? Masa iya Ka'e Dul mengerjakannya seorang diri sedangkan Eda Tuke (suami Mamasia) sedang sakit? Maka hari Jum'atnya, tanggal 14 Juni 2019, kami serumah berganti profesi menjadi asisten tukang bangunan. Hahahaha.

Teknologi dan Teknik Dasar


Saya kira membangun dinding/tembok menggunakan batako itu mudah saja. Tinggal susun dan dilapisi campuran semen. Tidak begitu, kawan! Beruntunglah Ka'e Dul ini meskipun ASN tapi suka mengerjakan hal-hal semacam ini, yang sangat 'laki', jadi kami tidak susah hahaha. Mau memanggil tukang lainnya, dilarang Ka'e Dul, sudahlah dikerjakan sendiri saja. Aman saja. Ka'e Dul memang menguasai teknik menyusun dinding batako semacam ini, termasuk rumah mereka bagian belakang itu dikerjakan sendiri loh, hanya saja kondekturnya alias asisten yang tidak ada sehingga kami serumah bergotong-royong. Hyess, Encim and The Gank bahu-membahu dengan caranya masing-masing.

Misalnya pada hari pertama, Ka'e Dul dan Kakak Nani beserta calon anak mantu cs membantu membersihkan, termasuk Abang Nanu Pharmantara, Angga dan Mbak In, kemudian kami urunan untuk membeli material dan membayar biaya ini-itu. Have fun sekali.

Ayo, Thika!

Teknik dasar yang harus dilakukan adalah mengukur. Setelah mengukur, Ka'e Dulu mulai membikin mal dari kayu untuk menahan adonan awal/fondasi baru. Setelah itu baru diukur lagi rata atasnya, jangan sampai musim pertama terulang lagi hahaha. Tekniknya itu kadang kita yang awam tidak paham kenapa harus begini, kenapa harus begitu, kenapa ada selang pengukur, kenapa harus pakai besi, dan lain sebagainya. Pada akhirnya kami paham setelah dijelaskan oleh Ka'e Dul. Wah, sudah bisa nih kami jadi tukang bangunan.

Enu, si Serba Bisa.

Kerja bersama ini menjadi lebih ramai dan seru karena teman Thika yang tinggal bersama kami, namanya Enu, punya tingkah unik. Cewek bertubuh mungil ini ternyata ... luar biasa. Kerja apa saja bisa! Tapiiii posisi baju/atasan harus di dalam bawahan. RAPI JALI! Sumpah, saya ngakak guling-guling melihat tingkah si Enu yang serba bisa ini.

Tangan belepotan campuran semen, kaos tetap masuk dalam!

Urusan membangun dinding ini tidak terlepas dari campuran pasir dan semen yang takarannya sudah ditentukan oleh Ka'e Dul. Dan Kakak Nani tidak mau kalah membantu dengan kondisi tangan kirinya patah. Tangan kiri ini sudah dioperasi dengan memasang pen, tetapi harus dioperasi ulang karena pen-nya bergeser, tapi bergesernya bukan karena mencampur adonan semen ya hahaha.

Kakak Nani.

Dengan bangganya Kakak Nani bilang begini, "Biar saya yang campur adonan dengan air! Encim tugas siram-siram air saja. Untung saya bawa sekop mini andalan ini." Hahaha. Love you, Kak.

Dua cewek ini 'sudah tidak ada obatnya kalau ketemu kamera'.

Betul juga kata Ka'e Dul. Dikerjakan sendiri, pelan-pelan, jadi juga. Buktinya, meskipun asistennya rada-rada berotak miring semua, dinding itu berdiri juga dan sekarang hanya tinggal mengerjakan ini itu yang sedikit lebih detail.

Ini foto haru Jum'at kemarin sih. Sekarang sudah selesai.

Kerja bersama, ramai-ramai, memang selalu menyenangkan, apalagi bersama keluarga besar. Senangnya lagi, kami selalu ditemani dengan kopi/teh dan pisang-kapuk-mentah goreng dan sambal khas Enu! Yuhuuuu. Pisang mentah ini belum ada lawannya lah kalau sore hari duduk mengaso bersama keluarga. Selain itu, menu harian juga diatur bersama. Biasanya kan hanya saya dan Thika yang mengaturnya. Kali ini ditambah Kakak Nani. Misalnya hari ini sop buntut dan semur, besok ayam goreng tepung dan tumis sawi, besoknya ikan, dan seterusnya. Alhamdulillah ngidam saya pengen makan sayur nangka santan (gudeg tapi beda sedikit sih bumbunya) dicampur buntut sapi pun kesampaian. Hyess! Haha. Selama ini kan males banget masak yang repot begitu, seringnya lauk digoreng dan dibumbu sama sayur ditumis saja.

Baca Juga: Pemateri Blog

Selalu ada hikmah :D

Jadi demikian, kawan, pos #SelasaTekno sekalian curhat tentang dinding dapur belakang yang rubuh itu. Semoga tidak bikin kalian kesal ya hahaha. Setidaknya saya sudah paham betul tentang teknologi dan teknik dasar membangun dinding rumah. Jadi kepikiran membangun rumah mini ... lebih mini dari rumah tipe 36 yang mulai saya lirik meskipun harus mengangsur *dicipok dinosaurus*. 




Cheers.

Video Animasi


Selama berkecimpung di dunia video, mendapat banyak ilmu dari Mas Dhandy Laksono, pun pengalaman bekerjasama dengan videografer lain, saya tidak pernah memperdalam ilmu Adobe Premiere dan kawan-kawannya untuk urusan sunting-menyunting. Karena apa? Karena perangkat yang saya punyai, laptop, memang tidak mendukung alias kurang mumpuni. Tapi itu bukan masalah selama masih ada program lain seperti Sony Movie Studio Platinum (SMSP) yang ringan, renyah, dan ramah. Untuk mendukung pekerjaan menyunting video di SMSP saya menggunakan program lain yaitu ProShow Producer dan Photoscape (apabila video tersebut membutuhkan potongan foto).

Baca Juga: Google Photos

Kreativitas memang terkesan dibatasi dengan keterbatasan kemampuan laptop atas program-program seperti Adobe Premiere atau Adobe After Effect yang kece badai itu. Mungkin Adobe Audtion adalah satu-satunya produk Adobe yang bekerja dengan sangat lancar di laptop saya karena memang program itu digunakan untuk menyunting musik. Oleh karena keterbatasan itulah saya harus bisa putar otak agar bisa berkreasi sedikit lebih dari yang sebelum-sebelumnya. Misalnya, membikin video animasi untuk opening dan/atau wedding invitation.

Maka bergerilyalah saya di belantara internet mencari tahu ragam informasi tentang cara membikin video animasi online di pc. Ketemu informasinya? Iya, ketemu. Dan ternyata banyak sekali. Jadi, kalau pengen membikin poster, kartu, dan lain-lain secara daring, bisa menggunakan Canva, maka membikin video animasi bisa menggunakan beberapa situs yang juga dikerjakan secara daring. Maka terjadilah pertemuan saya dengan Sparkool Videosribe dan Powtoon. Khusus untuk Sparkol, kini sudah tidak bisa saya gunakan lagi karena sudah pernah saya gunakan (gratisan) dan harus membayar. Ya tak apa-apa ... masih ada Powtoon. Hehe.

Semua orang yang menggunakan program/produk gratisan pasti menemukan hal yang sama yaitu water mark alias tanda air alias logo dari program yang bersangkutan. Sama sih dengan saat kita menggunakan Blogger atau Wordpress, tentu induk semangnya turut serta dalam tautan blog yang didaftarkan. Dengan adanya tanda air atau logo dari program yang dipakai, jelas sangat menyulitkan ketika video animasinya mau digunakan bersamaan dengan video dan foto lainnya. Terutama, sangat tidak sedap dipandang mata. Yaaa namanya juga gratisan.

Tapi jangan kuatir ... saya memang jatuh cinta pada Powtoon dan saya menemukan cara agar video yang disunting di Powtoon menggunakan template Powtoon (juga) dapat diunduh dan kemudian disunting sesuka hati, termasuk menghilangkan logonya.

Langkah-langkahnya, Teh? Sabar ... *batuk dulu* Pos ini khusus bagi kalian yang memang membutuhkannya ya hahaha. Bagi yang sudah master ... mohon jangan diketawain.

1. Daftar di Powtoon


Urusan daftar di Powtoon ini tidak perlu saya bahas ya. Silahkan buka situsnya, kemudian mendaftar sesuai kelas yang kalian inginkan.

2. Memilih Template/Tema


Powtoon menyediakan banyak pilihan tema melalui kategori:



Milsanya saya memilih kategori All dan menggunakan tema Meet Jane. Tinggal klik preview (untuk melihat video animasi ini) lantas klik use kalau memang sreg.


Setelah memilih tema, saatnya menyunting!

3. Sunting Video Animasi


Saya tidak menjelaskan langkah demi langkah ya. Hanya saja memang sudah ada perubahan dari tema Meet Jane di atas, yang awalnya gratisan kemudian menjadi pro. Berbayar! Haha. Untunglah saya masih sempat menggunakan tema itu untuk opening semua video saya di Youtube.



Baca Juga: Music From Youtube


Gunakan daya kreativitas kalian untuk menyunting. Untuk tema Meet Jane ada beberapa slide, kita bisa menghapus slide yang tidak dibutuhkan. Dalam hal ini saya memang memakai satu slide saja. Klik latar belakang hingga semua ikon, tapi satu satu ya diklik, lalu pilih swap untuk mengganti ikon/gambar, pilih roda gigi untuk mengubah ini itu termasuk pose dari ikon (saya pilih: mengetik). Alhamdulillah Powtoon menyediakan ikon perempuan berjibab. Nah, waktu itu saya berhasil membikinnya dan hasilnya sebagai berikut (screen shoot dari videonya):


Kalian lihat panah kuning? Itu logo Powtoon ada di sudut kanan bawah video. Oleh karena itu, karena video ini bakal saya sunting lagi di laptop, luring, maka memang dengan penuh kesengajaan semua ikon/gambar di video ini saya bikin agak ke bagian atas layar.

4. Preview and Export


Ini dia yang jadi masalah. Karena sebagai pengguna gratis saya tidak dapat menyimpannya dalam format mp4 seperti yang saya butuhkan.




Satu-satunya pilihan yang saya pilih adalah ekspor ke Youtube. Tapi, nanti dilihat orang donk? Sementara video tersebut belum ready. Ini yang harus kalian lakukan:

1. Buka Youtube.
2. Ekspor video dari Powtoon ke Youtube.
3. Buka situs pengunggah video dari Youtube.
4. Powtoon sukses mengirim video ke Youtube.
5. Unduh video dari Youtube menggunakan situs pengunggah.
6. Setelah sukses, segera hapus video dari Youtube.

Nah, video hasil dari Powtoon (masih video mentah) sudah tersimpan di laptop. Sekarang saatnya menyuntingnya menggunakan SMSP.

5. Menyunting di SMSP

Saya memakai SMSP yang 13. Di SMSP saya menggunakan fitur crop untuk menyesuaian agar logo Powtoon keluar dari frame. Itulah gunakan semua gambar/ikon saya bikin agak ke atas layar supaya ketika kita croping, hasilnya simetris alias komposisi di frame-nya itu bagus. Hasil video pendek ini bisa kalian lihat berikut ini:


Hasilnya? Lumayan lah, kurang bersemut. Secara, penerangan di kamar saya kan tidak seterang-benderang di ruang tamu. Oh iya, pada akhirnya lampu di kamar saya wassalam dan saya menggantinya dengan yang baru. Lebih terang dari sebelumnya. Dan seandainya saya merekam video di kamar ditambah LED Ring ini, saya yakin hasilnya jauh lebih terang.

Baca Juga: Backpack Tuteh

Meskipun LED Ring yang dibeli Thika ini cuma semacam miniatur dari yang sesungguhnya, tapi saya pikir sudah cukup membantu buat acara foto-foto dan rekam video amatir (menggunakan telepon genggam). Entah kenapa akhir-akhir ini saya lebih suka merekam video menggunakan telepon genggam ketimbang kamera video maupun DSLR.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Sudah pernah coba juga?



Cheers.

Backpack Tuteh


Saya pernah menulis tentang Backpacks Impian di #SelasaTekno Kenapa? Karena bakpack, daypack, tas punggung, ransel, apa pun sebutannya, sudah menjadi barang yang menemani aktivitas harian kita. Ke kantor, sekadar piknik, traveling, pasti backpack ini nangkring di punggung. Dan inovasi backpack sungguh mengagumkan. Mempunyai lebih dari satu backpack pun bukan karena maruk, melainkan karena disesuaikan dengan kebutuhan, karena rempong kan harus gonta-ganti isi backpack; antara isi backpack saat dipakai ke kantor, dan isi backpack saat dipakai bersantai atau piknik dan/atau traveling.

Baca Juga: Cetak Saring

Saya termasuk pengguna aktif bakpack *tsah* ke mana pun pergi, kecuali untuk pergi-pergi yang cuma membutuhkan waktu satu atau dua jam pilihan tas yang dibaca bisa tas selempang mini. Kalau Bapa Sam sih setia sama tas selempang Alto-nya. Meskipun mempunyai banyak backpack tapi pasti ada backpack andalan kan. Ya, saya punya backpack andalan yang katanya mirip backpack yang dipakai oppa-oppa dari Korea sana. Haha. Belinya di Kakak Rosa Budiarti dari toko daring temannya.

Backpack Andalan dan Isinya


Backpack andalan saya bisa kalian lihat penampakannya pada awal pos, atau bisa juga pada gambar di bawah ini:


Kalau bepergiannya ke tempat yang jauh dan agak lama, pilihannya bisa Consina atau Eiger, tapi pun kadang saya memanggul si backpack hitam ini. Sayangnya backpack ini, meskipun andalan, tapi bagian dalamnya tidak se-compact yang kalian kira.


Tidak seperti backpack (kantoran) umumnya yang menyediakan tempat laptop, backpack ini mulus-mulus saja haha. Cuma dua kantong kecil tempat menyimpan handphone dan kartu nama (kalau ada), ya barang-barang kecil begitu. Sehingga untuk membuatnya dapat 'menyangga' saya menempatkan map keras di bagian belakang. Kalian bisa lihat isinya, botol minum dan payung tidak dapat berdiri gagah, apalagi dompet dan lain barang.

Pos Tentang Backpack Custom


Baru-baru ini, tepatnya tanggal 4 April 2019, saya membikin status Facebook tentang sebuah backpack custom:


Lalu teman saya Enchyz Manteiro menanggapinya, bukan di komentar, melainkan saat kami bertemu di kantin kampus. Enchyz menunjukkan foto backpack bayi/balita yang dibelinya dari toko daring. Wah, bukan main saya jadi mupeng! 

Yang ini dari Lazada.

 Yang ini dari Tokopedia.

Bayangkan, punya backpack model begini (eeeeh modelnya mirip backpack hitam andalan saya kan, hahaha). Tempat botolnya saja banyak (di bagian depan). Bagian dalamnya banyak laci sehingga barang-barang bisa tersimpan dengan compact-nya. Laci-laci itu memang untuk mengisi diaper dan bermacam kebutuhan bayi/balita, tapi bisa kita ganti dengan botol minum tambahan, payung, dompet alat tulis, dompet obat, dan lain sebagainya. Masih bisa juga sih buat menyimpan laptop, tergantung pengaturan.

Canggih! Tidak ada ceritanya botol minum jatuh tertidur di alas backpack hahaha.

Backpack Tuteh


Backpack impian saya pun menari-nari di kepala. Membeli atau membikin sendiri. Dan dengan lancangnya saya mulai menggambar si backpack Tuteh ini. Saya pikir, para penjahit sudah tahu apa mau-maunya saya kan hehe. Otak mereka super canggih lah.




Maaf, saya bukan tukang gambar, dan jelas tidak bisa menggambar, jadi cukup segini bisanya saya menggambar backpack Tuteh haha. Yang jelas backpack ini harus bisa berdiri gagah saat diletakkan di atas meja atau atas lantai. So compact pula.


Jadi itu dia backpack Tuteh, backpack yang saya cita-citakan. Setelah menulis Backpacks Impian, Indra Pharmantara memang membeli backpack Bobby yang canggih itu. Tapi kok saya rasanya kurang sreg saat memakainya. Makanya saya masih mencari backpack yang betul-betul memenuhi keinginan dan kebutuhan, sekaligus menggambarnya hahaha. 

Tapi ... kayaknya saya tergoda untuk membeli bakpack bayi/balita seperti yang dibeli sama Enchyz Manteiro deh. Dududud ...

Baca Juga: Re:Ease

Bagaimana dengan kalian, kawan? Seperti apakah backpack yang kalian senangi? Bagi tahu yuuuuk di komen!



Cheers.

Cetak Saring

Salah satu goals kegiatan keren #EndeBisa (di SMA Negeri 1 Ende) adalah Kewirausahaan yang waktu itu fokus pada cetak saring.

Hola! Dengan penuh semangat saya menyapa kalian semua pengunjung blog ini. Memangnya kemarin tidak semangat? Kemarin, hari ini, besok, harus tetap semangat, tapi hari ini lebih semangat karena pada akhirnya Triwarna Soccer Festival 2019 telah berakhir pada Senin kemarin (1 April 2019). Itu artinya, hari-hari di Stadion Marilonga pun telah berakhir dan saya kembali dapat menikmati waktu berkualitas bersama keluarga. Sumpah, saya merindukan mengobrol berlama-lama dengan Mamatua dan Mamasia, menanyakan ini itu pada Indra, menanyakan urusan kuliah pada Thika, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Re:Ease

Hari ini di #SelasaTekno saya mau membahas tentang cetak saring yang sering disebut sablon. Menulis ini karena saya teringat pada pos TSF 'Story, ttentang Triwarna Soccer Festival yang telah menggerakkan banyak lini di Kabupaten Ende terutama perekonomian; baik barang maupun jasa. Salah satu jasa tersebut adalah jasa sablon.

Cetak Saring atau Sablon


Menurut Wikipedia, cetak saring adalah salah satu teknik proses cetak yang menggunakan layar (screen) dengan kerapatan tertentu dan umumnya berbahan dasar nylon atau sutra (silk screen). Layar ini kemudian diberi pola yang berasal dari negatif desain yang dibuat sebelumnya di kertas HVS atau kalkir. Kain ini direntangkan dengan kuat agar menghasilkan layar dan hasil cetakan yang datar. Setelah diberi fotoresis dan disinari, maka harus disiram air agar pola terlihat lalu akan terbentuk bagian-bagian yang bisa dilalui tinta dan tidak. 

Kaos Relawan Bung Karno Ende; cetak saring menggunakan tinta emas-karet.

Proses pengerjaannya adalah dengan menuangkan tinta di atas layar dan kemudian disapu menggunakan palet atau rakel yang terbuat dari karet. Satu layar digunakan untuk satu warna. Sedangkan untuk membuat beberapa warna dalam satu desain harus menggunakan suatu alat agar presisi.

Sapta Indria


Pada pos tentang Mengetik 10 Jari Itu Biasa kalian akan menemukan cerita tentang sebuah Diklusemas (Pendidikan Luar Sekolah oleh Masyarakat) bernama Sapta Indria. Iya, itu milik (alm.) Bapa, dahulu kala. Selain kursus mengetik, kursus akuntansi, dan pernah juga kursus komputer, Sapta Indria juga menawarkan layanan jasa sablon. Oleh karena itu saya tidak asing dengan dunia sablon ini dan masih mengingat istilah:

1. Screen.
2. Negatif.
3. Kamar Gelap.
4. Rakel.

Kamar gelap itu betul-betul gelap haha.

Kalau pada Wikipedia tertulis HVS atau kalkir maka di Sapta Indria yang saya ingat sih kalkir dan pasti selalu ada alat tulis merek Boxy. 

Zaman itu, selain untuk keperluan seragam olah raga (kaos) sekolah dan institusi, (alm.) Bapa tidak pernah menerima pesanan cetak saring berdesain kreatif. Jadi desain untuk seragam olah raga itu ya begitu-begitu saja; hanya permainan jenis dan ukuran huruf, ditambah logo. Kemudian Abang Nanu juga membuka usaha tersebut dan mulai banyak yang memesan desain kreatif dengan bermunculannya komunitas anak muda. Salah satunya Speltranix. Ough yess, komunitas ini luar biasa bekennya di Kota Ende.

Baca Juga: Teknologi Dasar

Selain seragam kaos, Sapta Indria juga mencetak saring logo perusahaan/kantor (pada kertas HVS). Jadi tergantung pesanan.

Lesunya Cetak Saring


Cetak saring mulai lesu di Kabupaten Ende karena beberapa sebab. Sebagai pengamat *tsaaah* saya menganalisa alasannya, salah satunya adalah transportasi. Semakin mudahnya transportasi, kemudian, membikin sekolah dan institusi lebih mudah memesan seragam olah raga dalam jumlah besar langsung di Pulau Jawa. Otomatis banting harga.

Kembali Menggeliat


Cetak saring kembali menggeliat salah satunya, menurut saya, adalah berkiblat pada Dagadu dan Joger. Siapa yang tidak suka memakai kaos dengan tulisan dan desain kreatif? Lantas muncul usaha anak NTT, kaos: desain dan cetak saring bernama Rumpu Rampe Ink. Desain Rumpu Rampe Ink sangat saya sukai. Salah satunya pada gambar di bawah ini:


Cetak saring kembali 'menguasai' Kabupaten Ende. Bermunculan begitu banyak usaha anak muda (mereka benar-benar kreatif) di bidang layanan jasa yang satu ini. Kita tinggal membawa desain, memilih kaos (jenis, ukuran, warna) dan dicetak sama mereka. Kadang-kadang mereka juga membantu mendesain dan mengirimkan desainnya pada kita (via WA) untuk dipertimbangkan. Kalau setuju, tinggal naik cetak. Begitu mudahnya.

Teknologi Cetak Saring


Menariknya, di tengah maraknya digital printing, cetak saring masih digandrungi baik oleh pelaku wirausaha maupun pelaku konsumen. Teknologi cetak saring memang tidak semudah digital printing. Peralatan untuk cetak saring antara lain:

1. Screen

Screen berpigura, kata saya. Pigura ini semacam pemida yang fungsinya menarik screen agar tidak kusut dan mudah memindai negatif.

2. Rakel

Kayu dengan satu atau kedua sisi berbahan karet untuk menarik cat di atas screen.

3. Negatif Desain

Bisa pada kalkir, yang ditempel di screen dengan teknik khusus (di kamar gelap).

4. Desain

Zaman dulu desainnya susah. Zaman sekarang desainnya lebih mudah dilakukan di komputer.

5. Tinta

Tentu tinta khusus yang digunakan untuk bermacam media untuk dicetak saring.



Bangga Memakai Kaos Cetak Saring


Sejak H&R, Ossela, dan sejenisnya, semacam menghilang dari peredaran/pasaran Kota Ende, saya mulai memakai kaos cetak saring. Ada yang dulu dicetak sama (alm.) Bapa, semakin ke sini ya tinggal pesan saja. Hanya saja, saya sering mendapat kaos gratisan sehingga itu menambah kebanggaan saya memakainya, hahaha. Seperti kaos #EndeBisa yang diberikan oleh Ampape Sablon, atau kaos-kaos komunitas lainnya.


Kaos-kaos cetak saring ini semacam menjadi identitas kita. Cukup pakai kaosnya, orang sudah pasti tahu, ooooh itu Tuteh dari #EndeBisa. Atau, oooooh itu Tuteh dari Relawan Bung Karno Ende.


Cetak saring dapat menjadi salah satu usaha yang patut diperhitungkan oleh anak muda dalam dunia wirausaha. Intinya, menurut saya, adalah bagaimana kita mencintai suatu pekerjaan baik pekerjaan kantoran maupun pekerjaan wirausaha. Wirausaha butuh banyak riset tentang perkembangan usaha kita sendiri dan keinginan pasar. Bila keinginan pasar belum dapat kita penuhi sekarang, artinya kita yang harus lebih giat belajar dan berusaha untuk bisa memenuhinya di masa datang. Saya sendiri memang tidak punya bakat di dunia cetak saring, tapi saya suka bermain kata, bisa jadi saya menggandeng teman yang punya usaha cetak saring dengan menjual desain kata. Itu salah satu contoh sederhana. Apabila ada yang memang jago desain, tentu dengan usaha yang cukup, dia dapat menjual desainnya pada orang-orang yang berkecimpung di dunia cetak saring.

Relasi ... relasi ... relasi. Jagalah. Itu penting.

Kreatif ... kreatif ... kreatif. Tidak hanya menjaga, tapi harus terus bisa berkembang dan mengasah kreativitasnya.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Bagaimana dengan kalian, kawan? Apakah ada yang punya usaha cetak saring? Bagi tahu donk hehehe.



Cheers.

Re:Ease

Sumber gambar: Yanko Design.

Bagi saya, meja kerja, di kantor maupun di rumah, harus selalu rapi. Kenapa harus rapi? Karena kalau berantakan bakal bikin mood kerja kendor. Oleh karena itu, hasil craft dari Proyek #DIY saya salah satunya adalah desk-organizer. Desk-organizer buatan saya berbahan karton yang ditutup dengan kertas-kertas majalah bekas. Warna-warni dan penuh gambar. Iya. Tapi saya juga sering bikin yang bertema. Flora Wodangange bahkan pernah membawakan saya majalah yang beberapa halaman sudah dia tandai untuk dipakai menutup desk-organizer pesanannya; tema alam.

Baca Juga: Teknologi Dasar

Contoh desk-organizer buatan saya. Ini bukan hasil yang paling pertama sih. Yang paling pertama itu sampai sekarang masih duduk manis di meja kerja Kakak Shinta Degor. Sedangkan yang ini masih duduk manis di meja kerja Kakak Ully Ngga'a:


Pesanannya memang begitu, ada kotak untuk meletakkan amplop (memanjang), kotak alat tulis, kotak staples/hekter, dan lain sebagainya. Mereka bahkan suka kalau penutupnya menggunakan kertas/halaman majalah bekas. Bangga dan bahagian setiap kali melihat barang-barang kerajinan tangan ini masih dipakai oleh pemesan. Semakin ke sini desk-organizer tidak menggunakan halaman majalah bekas saja. Ada yang yang di-cat, ada yang saya padukan dengan keranjang mini, ada pula yang menggunakan kertas khusus (kertas kado) bertema. Suka-suka yang memesan.

Sebenarnya saya ingin sekali memotret meja kerja saya, namun desk-organizer di meja kerja saya entah hilang ke mana. Mungkin saat pindahan ruang kerja dari lantai dasar ke lantai tiga. Yang tersisa di meja kerja saya adalah komputer, tumpukan buku, map holder, dan foto keramat: Mamatua, saya, dan Rara. Itu foto tak boleh hilang! Tuh kaaaan, jadi kepingin bikin lagi desk-organizer untuk meja kerja sendiri. Supaya rapi dan cantik seperti pemilik meja kerjanya. Hihihi.

Karena hari ini bukan saatnya #RabuDIY melainkan #SelasaTekno, jadi saya tidak menulis tentang produk #DIY atau craft hasil buatan sendiri, melainkan tentang sebuah terobosan desk-organizer yang ciamik sekali. Seperti biasa, semua sumber baik informasi dan foto saya peroleh dari Yanko Design, saya tidak perlu menulis terus-menerus sumber gambarnya. Noted, ya.

Re:Ease


Sesuai judul pos ini, inilah teknologi yang bakal bikin meja kerja menjadi jauh lebih rapi dan terlihat sangat clean. Ini dia, Re:Ease.


Terlihat sangat menawan. 

Re:Ease dibikin oleh Marc Stueber dan Laurent Hartmann. Re:Ease merupakan desk-organizer yang cerdas yang terdiri dari enam modul yang berdiri sendiri namun juga dapat digandeng karena dilengkapi dengan magnet. Didesain sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan para pekerja dengan warna putih yang membikinnya terlihat so clean. Kalian lihat foto di atas ... siapa sih yang tidak ingin punya desk-organizer macam itu? Saya saja ngiler to the max *dicibirin dinosaurus*.

Fitur Re:Ease


Re:Ease mempunyai enam modul berbentuk geometris dengan fitur-fitur antara lain: 

1. Pelubang kertas.
2. Rautan.
3. Stapler.
4. Dispenser selotip.
5. Planter.
6. Dok pengisian daya untuk smartphone.
7. Dudukan pena untuk: pensil, stabilo, dan catatan.

Keenamnya dalam slot/unit individual, alias berdiri sendiri, namun dapat pula digandeng satu sama lain karena setiap unit mempunyai basis magnet untuk saling tarik-menarik. Haha! Uh wow sekali kan? Untuk lebih jelasnya, coba lihat gambar berikut ini:




Bisa dipisah, bisa disatukan. Sungguh fleksibel.

Untuk desk-organizer sekeren ini dibanderol harga sekitar 1,6 Juta. Entah kalau masuk ke Indonesia berapa harganya. Pasti lebih mahal.

Eits!

Jangan-jangan ada dari kalian yang sudah memakainya? Ih, bikin iri.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Jadi itu dia Re:Ease yang saya bahas hari ini. Desk-organizer yang bikin meja kerja kita menjadi jauh lebih rapi dan tentu cantik!



Cheers.

Paper Bed

Sumber dari Yankodesign.

Saya termasuk spesies langka karena selalu merasa lebih nyaman tidur di lantai ketimbang di tempat tidur. Bukan berarti saya tidak suka tempat tidur atau tidak pernah tidur di tempat tidur. Tetapi, bagi saya pribadi, tidur di lantai memberikan kenikmatan terhakiki. Perkara ini sudah diketahui teman-teman terutama teman-teman seperjuangan Tim Promosi Uniflor 2019. Di Kota Maumere, misalnya, saya memilih tidur di lantai dan membiarkan Viol, Thika, dan Ocha tidur di kasur yang mantul-mantul hahaha.

Baca Juga: Adnow

Saat ini pun di kamar saya tidak ada tempat tidur. Hanya ada satu kasur busa tanpa pegas. Dan tentu bentuk kasur busa, setebal apapun, tidak bisa mempertahankan kondisi awalnya. Kasur saya itu sudah melengkung kayak busur karena mengikuti bagian terberat tubuh ketika rebah. Kasihan sekali, ya. Untunglah lantai kamar saya cukup luas dijadikan tempat untuk tidur, bisa leluasa guling sana sini, dan berakhir di pintu kamar mandi


Kalau sudah tidak sibuk rencananya pengen memesan alas kasur (custom) jadi pada alas kasur itu ada laci-laci buat menyimpan oro feko (segala benda kebutuhan). Kan asyik bisa memanfaatkan ruang. Ketimbang sekarang banyak ruang menganggur.

Sesuai dengan judul pos ini, kali ini saya menulis tentang paper bed. Terjemahan bebasnya: ranjang kertas. Memang ada? Ada donk. Tapi ini bukan ranjang kertas zaman dulu yang biasa saya bikin kalau main rumah-rumahan. Nama lengkapnya Extendable Flatpack Paper Bed. Hyess, kalian bisa melihat penampakannya di awal pos. Ada kata extendable ... artinya? Mari kita simak ...

Bergaya Akordion


Kalian pasti tahu akordion kan? Alat musik ini dimainkan oleh salah satu personil The Willis Clan. Ini dia bentuknya yang diambil dari sini:


Maka ranjang yang satu ini pun berbentuk seperi ini:


Ranjang ini seluruhnya terbuat dari kertas yang menggunakan mekanisme lipat bergaya akordion untuk memungkinkan ranjang ini dapat ditarik untuk dipanjangkan atau dipendekkan. Tata letak vertikal kertas memberikan kekuatan yang besar, hingga dapat memuat dua orang dewasa (hingga 300 kilogram) dalam posisi tidur maupun duduk. Kasur yang melengkapi ranjang ini juga dapat dilipat mengikuti bentuk ranjangnya. Konstruksi karton bergelombang ranjang ini hanya seberat 14,5 kilogram. Boleh jadi ranjang dan/atau sofa paling ringan yang pernah ada.

Ranjang dan Kursi


Dua kebutuhan kalian dapat dipenuhi dengan satu barang: paper bed. Karena bisa dipanjangkan dan dipendekkan, maka selain menjadi tempat tidur juga bisa menjadi sofa/kursi untuk duduk. Sudah disesuaikan pula dengan kasurnya yang bisa dilipat; menjadi alas dudukan maupun sandaran.


Khusus untuk yang tinggal di kos mungil atau punya rumah berkonsep tiny house, ranjang ini boleh dicoba. Tidak memakan banyak tempat dan punya dua fungsi. Siapa yang tidak mau? Saya saja mau, tapi harganya lumanyun 369 Poundsterling. Beli satu bisa dipakai sendiri, beli sepuluh ... bangkrut. Haahahaha.


Bagaimana? Kalian tertarik juga bukan? Apa pendapat kalian tentang ranjang seperti ini? Bagi tahu di papan komentar yuk :)



Cheers.