Komentar Disqus



Salah satu elemen penting dari dunia blogging adalah komentar. Ketika kita blogwalking, kadang hanya membaca, kadang juga meninggalkan komentar. Adalah penting bagi saya untuk membalas komentar dan sedapat mungkin tidak ada yang terlewatkan. Tombol reply pada komentar Blogger sangat membantu saya untuk tahu mana komentar yang sudah dibalas, mana yang belum. Karena, ketika tamu datang ke rumah kita dan menunjukan dirinya dengan santun, tentu kita berupaya menyediakan minum dan kudapan. Demikianlah kira-kira.

Baca Juga: Blog List dan Blogwalking

Tombol reply pada komentar Blogger mulai tidak berfungsi sejak dinosaurus kenal dunia internet beberapa minggu yang lalu. Tentu ini mengesalkan. Karena:

  • Kuatir ada komentar yang terlewat dibalas.
  • Penampakannya menjadi kurang menarik karena saya merapel per lima komentar untuk dibalas sekaligus.
  • Belum terpikirkan alasan ketiga.


Beberapa cara untuk mengatasinya lantas muncul di pos-pos blog. Untuk mengatasinya saya membaca di blog milik Kang Nata di Asikpedia. Lalu dibahas juga di blog milik Mas Bumi di Djangkarubumi. Tapi karena saya gaptek, sudah mencoba lantas muncul error yang lain yang mungkin disebabkan saling tabrakannya skrip entahlah, maka saya pun gagal untuk memperbaiki tombol reply yang eror tersebut. Ya sudah, saya pasrah saya. Namun ... rasa kesal di dasar hati diam tak mau pergi rasanya kok aneh nge-reply komentar tidak langsung pada komentar yang bersangkutan. Ini ibarat mengirim surat tapi nomor rumahnya meleset.

Akhirnya, mautak mau, saya pakai Disqus. Sudah lama tahu Disqus dari waktu dulu pernah menulis di Seword, dan sudah mendaftar akun di Disqus. Akun Disqus itu hanya saya gunakan apabila hendak berkomentar pada blog yang memakai sistem komentar tersebut. Lantas banyak juga blog yang memakai Disqus. Pikir punya pikir, ya sudah saya pakai Disqus saja deh. Tata cara pemasangannya di Blogger juga sangat mudah! Hanya memakan waktu sekitar lima menit, komentar Disqus sudah terpasang di blog sedang kalian baca ini.

Sayangnya, proses migrasi paus ke Australia komentar lama dari Blogger ke Disqus mengalami error demi error. Ya sudahlah, yang penting saya sudah usaha sebatas kemampuan hehe. Jadi, silahkan komentar *dijumroh*.

Baca Juga: Scootmatic

Kelemahan Disqus ini, berdasarkan beberapa hari memakainya adalah:

  • Apabila yang komentar itu tidak memasang tautan blog atau situsnya di Disqus, terlebih teman yang baru pertama kali berkomentar di sini, maka saya kesulitan melakukan kunjungan balik. Bila kalian tahu caranya, bagi tahu donk hehe.
  • Migrasi komentar lama (Blogger) ke Disqus yang masih terus gagal.


Bagi kalian yang main ke sini, jangan kuatir ... Insha Allah saya tetap blogwalking ke blog kalian *pasang senyum manis* karena cerita kalian di blog tidak akan saya dapatkan di ensiklopedia atau di majalah.

Selamat datang di dunia Disqusi dan mari kita berdiskusi.

FYI; dulu kala, ada salah satu sistem komentar yang kesohor dan pasti ada di banyak blog. Namanya Haloscan. Entah kenapa waktu itu Haloscan begitu kesohor padahal sistemnya sederhana saja, sama seperti komentar Blogger. Namun kemudian karena satu dan lain hal tidak dapat digunakan lagi dan saya juga pernah cukup lama tidak nge-blog sehingga kurang update informasi. Selain komentar, zaman dulu nge-blog ada istilah shoutbox. Salah satu yang paling ngetop adalah Doneeh. Shoutbox itu, istilah saya, quick coment. Komentar atau shout di shoutbox yang dipasang di side bar itu kadang tidak sesuai dengan pos blog. Seperti: hei hai, I'm here ...

Baiklah, demikian saja untuk hari ini. Mohon maaf apabila kalian merasa tidak nyaman atas penggantian sistem komentar karena sesungguhnya saya hanya ingin yang terbaik dalam dunia komen-komenan haha.

Baca Juga: Proyektor Ini Tidak Butuh Layar atau Dinding

Semoga bermanfaat!



Cheers.

Blog List dan Blogwalking



Salah satu perbuatan yang harus dilakukan seorang blogger bila ingin trafik blog-nya meningkat, selama dirinya bukan Jennifer Lopez atau Indominus Rex, adalah blogwalking. Andaikata blog kita sekelas Brightside yang kontennya sering dipakai sebagai rujukan dari situs-situs hiburan tanah air, atau blog kita sekelas situs National Geographic, no need to blogwalking. Konten dua situs itu dengan sendirinya bakal menarik banyak pengunjung. Tapi kalau konten blog seragam dengan konten blog lainnya, sedangkan jauh di dalam lubuh hati ada keinginan trafik pengunjung meningkat, blogwalking berhukum fardhu'ain. Terutama, apabila urusan trafik ini dikaitkan dengan penghasilan blog, urusannya lain lagi. Urusan lain itu berkaitan dengan mutu konten itu sendiri.

Baca Juga: Plastik Berkualitas dari Tupperware

Kemudian ada yang ngedumel: gua nge-blog bukan karena pengen punya trafik tinggi! Are you sure? Kalau begitu, seperti yang pernah saya tulis di pos lain, tulis saja di diary konvensional bersampul Elsa from Frozen atau bersampul Rambo. Maafkan Rambo, Mama. Atau blog-nya dikunci saja sehingga hanya dirimu yang bisa melihatnya. Hehe. Karena saya pikir bukan rahasia lagi setiap blogger ingin tulisannya dibaca dan, kalau bisa, bermanfaat bagi orang yang membacanya. Bukan demikian? Ada sensasi tersendiri ketika tulisan kita dibaca, dikomentari, dan bermanfaat bagi orang lain. Tanpa embel-embel penghasilan dari GA, misalnya.

Ah sudahlah ... 

Sekarang saya ingin berbagi tentang apa yang disebut blogwalking. Blogwalking merupakan kegiatan blogger mengunjungi satu blog ke blog lainnya. Apakah harus sesama blogger yang sudah saling kenal? Tidak juga. Semua bermula dari tidak saling kenal kan? Kecuali untuk orang-orang yang memang berangkat bersama menuju dunia blog ini alias sebelumnya sudah saling kenal di dunia fana. Makanya saya tidak peduli apakah sudah kenal atau belum, sepanjang sudah membaca pos blog-nya, pengen komentar ya komentar saja. Tidak kuatir dibilang sok kenal? Tidak. Saya itu kuatir kalau dinosaurus mendadak bangkit dan ngajak saya berdiskusi bahwa bumi ini datar. Kalau itu terjadi, dinosaurusnya duluan saya suntik lima galon obat bius biar dia pingsan manja.

Bagaimana kita bisa blogwalking? Pertama-tama, harus ada internet. Kedua, harus tahu tautan blog tujuan. Masalahnya adalah kadang kita lupa tautan blog tujuan tersebut, apalagi kalau terdiri dari ratusan blog. Tapi jangan kuatir, Blogger sudah menyediakan layanan Tambah Gadget pada Tata Letak. Kalau Wordpress? Cari sendiri, haha. Saya bukan pemakai Wordpress.




Zaman dulu, yang namanya blog list ini merupakan kebanggaan tersendiri. Baik ketika nama kita ada di blog list blogger lain maupun saat side bar blog kita menampilkan begitu banyak blogger pada blog list-nya. Artinya sudah sepuh *digampar warga*. Tapi zaman sekarang saya enggan menampilkan blog list di side bar apalagi menu/halaman. Tapi kenapa saya masih bisa dengan santainya blogwalking? Karena blog list itu tersimpan di Notepad! Haha. Panggil saya ndeso. It's okay. I don't care anyway. Selain itu, saya juga bisa langsung blogwalking ke blogger yang meninggalkan komentar di setiap pos. Fun and easy.

Baca Juga: Scootmatic

Kembali ke Notepad yang menyimpan blog list di atas, tentu letih juga kalau harus mengkopi lalu paste and go di peramban kan. Manapula saya melakukannya sambil duduk, berhadap-hadapan dengan laptop, pun tatapan penuh cinta. Sampai kemudian saya berpikir tetang blogwalking menggunakan Android sambil baring menunggu kantuk kala hendak tidur malam. Okay, kopikan saja blog list tadi dari Notepad ke bodi e-mail. Kirim! Dan ini yang kemudian memudahkan saya blogwalking sambil tiduran, tengkurep, nungking, dan lain pose.

Saya tinggal membuka e-mail, mengeklik salah satu tautan yang ada, membacanya, memberi komentar sesuai keinginan saya berkomentar, dan tinggal klik panah kembali, trada ... kembali ke bodi e-mail tadi. 


Kalian lihat kotak kuning pada gambar di atas? Kotak kuning itulah yang menolong saya dari mengeklik tombol kembali setelah berkomentar. Panah kembali pada gambar di atas mengantar kita kembali pada bodi e-mail meskipun sudah membuka banyak laman dari blog yang sama. Cihuy! Direct gitu istilahnya. Dengan demikian mudah banget blogwalking maaaaah, lebih mudah dari walking dead haha. Mau blogwalking kapan pun sesuka hati tanpa harus menghidupkan laptop, atau mencari/mengingat tautan blog tujuan, atau harus bikin blog list di side bar, atau blogwalking hanya karena membalas komentar dari blogger lain di pos blog kita.

Cara di atas betul-betul membantu dan membudahkan saya ber-social blog.

Mungkin kalian punya cara sendiri untuk blogwalking. Misalnya dengan mengikuti sebuah blog, dan mengetahui update-an blog tersebut, lalu blogwalking. Bisa juga dengan men-subscribe. Tapi kalau saya sih lebih memilih cara yang ini. Karena saya blogwalking bukan semata-mata karena blogger lain terlebih dahulu blogwalking ke blog saya lantas meninggalkan komen dan tautan, tapi karena saya memang suka meloncat dari satu blog ke blog lain. Haha. Pengen tahu cerita terbaru, menambah informasi dan wawasan, jadi tahu tips ini itu, dan lain sebagainya.

Fyi: karena tidak setiap blogger rajin meng-update tulisannya, jadi sekarang saya juga membaginya menjadi blogger ter-update, blogger butiran debu, blogger sarang laba-laba, dan terakhir blogger gelap gulita. Kalian tentu tahu maksud dari setiap kelompok. Qiqiqiq.

Baca Juga: The Ninox Flatlay Hammock

Apabila kalian ada yang setipe saya, silahkan pakai cara ini. Tergantung masing-masing kebutuhan dan gaya blogwalking-nya. Atau ada tips lain? Bagi tahu di komen :)



Cheers.

Plastik Berkualitas dari Tupperware


Selasa adalah #SelasaTekno. Tapi tidak selamanya Selasa harus semata-mata teknologi yang berhubungan dengan teknologi telepon genggam. Karena saya pernah menulis teknologi inovasi seperti tentang tenda lipat otomatis ini, atau proyektor keren ini, atau tentang situs tempat kita dapat membikin segala barang berbasis teknologi. Dan, bahkan saya pernah menulis tentang teknologi wadah makanan dan minuman yang bisa dilipat. Oleh karena itu, ijinkan saya menulis tentang Tupperware!

Baca Juga : Scootmatic

Kalian, terutama perempuan, pasti sering dengar tentang Tupperware. Tupperware sebagai wadah makanan di kulkas, Tupperware sebagai wadah bekal makanan dan minum ke kantor, Tupperware sebagai wadah saji prasmanan kala hari raya dan perayaan tertentu, Tupperware sebagai botol minum yang praktis dan bergaya dibawa saat berkegiatan, dan lain sebagainya. Apakah saya juga memakai Tupperware? Ya, tentu. Kenapa pakai Tupperware? Itu pertanyaan lain yang bakal saya jawab pada pos Kamis, nanti-nanti, hahaha. Hari ini saya pengen menulis tentang Tupperware yang kesohor yang mampu bikin kaum ibu tersenyum bangga apabila memakainya. Termasuk saya, meskipun saya belum jadi ibu qiqiqi. 

Perkenalan saya dengan Tupperware sudah sangat lama, sejak kakak ipar saya mulai membeli aneka wadah Tupperware yang biasa diajak piknik di era 90-an. Sejarah Tupperware sendiri jauh lebih lama dari itu. Tupperware pertama kali dibuat pada tahun 1946 oleh Earl Tupper di Amerika. Tupper membuat suatu wadah plastik yang dipergunakan untuk rumah tangga; untuk menyimpan makanan dan membuatnya kedap udara. Salah satu paten penting dari produk ini, menurut yang tertulis di Wikipedia, adalah seal penyekatnya yang dikenal dengan burping seal yang merupakan ciri khusus terkenal dari produk-produk Tupperware. Inilah yang membuatnya berbeda dari produk-produk sejenis.


Tapi apa yang membikin Tupperware ini begitu digandrungi adalah istilah 'aman' yang mengikutinya. 

Produk Tupperware terbuat dari bahan plastik berkualitas terbaik, tidak mengandung zat beracun, dan sudah memenuhi standard dari beberapa badan dunia seperti FDA (Food and Drug Administration) Amerika, European Food Safety Authority (Eropa), Japan Food Safety Commision (Jepang), sehingga selain aman digunakan berkali-kali untuk makanan dan minuman (food grade) juga ramah lingkungan. Kalau seperti ini adanya, tidak heran Tupperware menjadi merek nomor satu di dunia untuk barang-barang rumah tangga plastik.

Menurut saya, apa yang membikin Tupperware digandrungi bukan saja karena aman, tapi karena banyak faktor seperti misalnya pilihan jenis dan model produknya. Tupperware punya begitu banyak jenis produk seperti stoples, tempat bekal makanan, botol minum, hingga gelas. Uniknya, khusus untuk bekal makanan pasti dilengkapi dengan cover berupa tas mini. Pengalaman berkegiatan di Kecamatan Wolowaru hari Jum'at kemarin (sampai Minggu), saat saya membawa bekal nasi dari rumah sampai sore, makanannya masih segar karena tutupan tempat makannya punya lobang-lobang kecil agar uap makanan panas bisa keluar.

Baca Juga : The Pause Pod

Selain banyak pilihan jenis dan model, Tupperware ini selalu penuh warna. Contohnya stoples buat gula dan kawan-kawan berikut ini:


Pilihannya dan perpaduan warnanya selalu bikin mata segar. Yang macam begini juga pernah saya beli dahulu kala dalam bentuk kotak segi empat aneka warna (dan pastinya ada warna kuning), yang kini salah satu kotak itu dipakai Mamatua untuk mengisi barang-barang printilannya. Hayaaah hahaha.


Kotak biru di atas sering saya bawa ke kantor dalam kondisi kosong, di jalan kalau memang pengen beli cemilan, tinggal dikondisikan dengan kotak ini sehingga membelinya tidak terlalu banyak. 

Selain wadah makanan dan/atau kotak bekal makan, saya juga punya banyak botol minum Tupperware:


Yang ini dikasih sama Edwin Firmansyah hehe. Senang banget kalau bawa ini, bisa minum sepuasnya karena ukurannya cukup besar.


Jangan salah fokus ke sepatunya hahaha. Botol minum Tupperware yang satu itu memang paling sering ditemui baik yang asli Tupperware maupun yang kawe-kawean. Salah satu botol minum Tupperware sejenis itu tapi berukuran super besar hilang di Danau Kelimutu hiks. Waktu itu karena sibuk mengurus kamera dan tetek bengek lainnya, saya melupakan si botol dan si jaket anti air :( biarlah. Ikhlaskan saja. Semoga berguna bagi yang menemukannya. Lagipula sudah diganti, meski beda model, dengan pemberian Edwin Firmansyah di atas.

Plastik berkualitas dari Tupperware ini memang belum tergantikan dengan plastik dari produk lain. Teknologi dan inovasinya terus berkembang dari tahun ke tahun. Kebanggaan memilikinya bikin banyak orang bikin meme soal ibu-ibu dan Tupperware. Saya sendiri punya banyak wadah plastik, aneka rupa, macam merek, tapi memang harus diakui belum bisa menyamai Tupperware yang bahkan aman-aman saja jika saya membawa bekal makanan yang masih panas.

Baca Juga : Freestate, Sepatu Idaman Traveler

Bagaimana dengan kalian? Bagaimana status kepuasan kalian menggunakan/memakai wadah-wadah Tupperware? Yuk share :) *sambil saya becanda sama dinosaurus* haha.


Cheers.

Plastik Berkualitas dari Tupperware


Selasa adalah #SelasaTekno. Tapi tidak selamanya Selasa harus semata-mata teknologi yang berhubungan dengan teknologi telepon genggam. Karena saya pernah menulis teknologi inovasi seperti tentang tenda lipat otomatis ini, atau proyektor keren ini, atau tentang situs tempat kita dapat membikin segala barang berbasis teknologi. Dan, bahkan saya pernah menulis tentang teknologi wadah makanan dan minuman yang bisa dilipat. Oleh karena itu, ijinkan saya menulis tentang Tupperware!

Baca Juga : Scootmatic

Kalian, terutama perempuan, pasti sering dengar tentang Tupperware. Tupperware sebagai wadah makanan di kulkas, Tupperware sebagai wadah bekal makanan dan minum ke kantor, Tupperware sebagai wadah saji prasmanan kala hari raya dan perayaan tertentu, Tupperware sebagai botol minum yang praktis dan bergaya dibawa saat berkegiatan, dan lain sebagainya. Apakah saya juga memakai Tupperware? Ya, tentu. Kenapa pakai Tupperware? Itu pertanyaan lain yang bakal saya jawab pada pos Kamis, nanti-nanti, hahaha. Hari ini saya pengen menulis tentang Tupperware yang kesohor yang mampu bikin kaum ibu tersenyum bangga apabila memakainya. Termasuk saya, meskipun saya belum jadi ibu qiqiqi. 

Perkenalan saya dengan Tupperware sudah sangat lama, sejak kakak ipar saya mulai membeli aneka wadah Tupperware yang biasa diajak piknik di era 90-an. Sejarah Tupperware sendiri jauh lebih lama dari itu. Tupperware pertama kali dibuat pada tahun 1946 oleh Earl Tupper di Amerika. Tupper membuat suatu wadah plastik yang dipergunakan untuk rumah tangga; untuk menyimpan makanan dan membuatnya kedap udara. Salah satu paten penting dari produk ini, menurut yang tertulis di Wikipedia, adalah seal penyekatnya yang dikenal dengan burping seal yang merupakan ciri khusus terkenal dari produk-produk Tupperware. Inilah yang membuatnya berbeda dari produk-produk sejenis.


Tapi apa yang membikin Tupperware ini begitu digandrungi adalah istilah 'aman' yang mengikutinya. 

Produk Tupperware terbuat dari bahan plastik berkualitas terbaik, tidak mengandung zat beracun, dan sudah memenuhi standard dari beberapa badan dunia seperti FDA (Food and Drug Administration) Amerika, European Food Safety Authority (Eropa), Japan Food Safety Commision (Jepang), sehingga selain aman digunakan berkali-kali untuk makanan dan minuman (food grade) juga ramah lingkungan. Kalau seperti ini adanya, tidak heran Tupperware menjadi merek nomor satu di dunia untuk barang-barang rumah tangga plastik.

Menurut saya, apa yang membikin Tupperware digandrungi bukan saja karena aman, tapi karena banyak faktor seperti misalnya pilihan jenis dan model produknya. Tupperware punya begitu banyak jenis produk seperti stoples, tempat bekal makanan, botol minum, hingga gelas. Uniknya, khusus untuk bekal makanan pasti dilengkapi dengan cover berupa tas mini. Pengalaman berkegiatan di Kecamatan Wolowaru hari Jum'at kemarin (sampai Minggu), saat saya membawa bekal nasi dari rumah sampai sore, makanannya masih segar karena tutupan tempat makannya punya lobang-lobang kecil agar uap makanan panas bisa keluar.

Baca Juga : The Pause Pod

Selain banyak pilihan jenis dan model, Tupperware ini selalu penuh warna. Contohnya stoples buat gula dan kawan-kawan berikut ini:


Pilihannya dan perpaduan warnanya selalu bikin mata segar. Yang macam begini juga pernah saya beli dahulu kala dalam bentuk kotak segi empat aneka warna (dan pastinya ada warna kuning), yang kini salah satu kotak itu dipakai Mamatua untuk mengisi barang-barang printilannya. Hayaaah hahaha.


Kotak biru di atas sering saya bawa ke kantor dalam kondisi kosong, di jalan kalau memang pengen beli cemilan, tinggal dikondisikan dengan kotak ini sehingga membelinya tidak terlalu banyak. 

Selain wadah makanan dan/atau kotak bekal makan, saya juga punya banyak botol minum Tupperware:


Yang ini dikasih sama Edwin Firmansyah hehe. Senang banget kalau bawa ini, bisa minum sepuasnya karena ukurannya cukup besar.


Jangan salah fokus ke sepatunya hahaha. Botol minum Tupperware yang satu itu memang paling sering ditemui baik yang asli Tupperware maupun yang kawe-kawean. Salah satu botol minum Tupperware sejenis itu tapi berukuran super besar hilang di Danau Kelimutu hiks. Waktu itu karena sibuk mengurus kamera dan tetek bengek lainnya, saya melupakan si botol dan si jaket anti air :( biarlah. Ikhlaskan saja. Semoga berguna bagi yang menemukannya. Lagipula sudah diganti, meski beda model, dengan pemberian Edwin Firmansyah di atas.

Plastik berkualitas dari Tupperware ini memang belum tergantikan dengan plastik dari produk lain. Teknologi dan inovasinya terus berkembang dari tahun ke tahun. Kebanggaan memilikinya bikin banyak orang bikin meme soal ibu-ibu dan Tupperware. Saya sendiri punya banyak wadah plastik, aneka rupa, macam merek, tapi memang harus diakui belum bisa menyamai Tupperware yang bahkan aman-aman saja jika saya membawa bekal makanan yang masih panas.

Baca Juga : Freestate, Sepatu Idaman Traveler

Bagaimana dengan kalian? Bagaimana status kepuasan kalian menggunakan/memakai wadah-wadah Tupperware? Yuk share :) *sambil saya becanda sama dinosaurus* haha.


Cheers.

ScootMatic


Pada semula jadi *backsound suara alam, cuitan Twitter burung, air terjun, dan daun-daun oak yang terkibas angin* saya begitu iri melihat orang-orang mengendarai sepeda motor matic seperti Yamaha Nouvo. Saya yang waktu itu masih mengendarai Suzuki Bravo berpikir keras bagaimana cara kerja rem motor matic tersebut. Tepatnya, saya jadi mupeng kan melihat pemandangan seperti itu, motor matic melintas gesit dan anggun. Lebih iri lagi, setelah lulus SMA, ketika saya melihat guru SMA mengendarai Vespa Corsa warna merah. Itu guru laki-laki, kendarai Corsa! Lha saya? Bravo! Dududu. Dasar saya ini anak tidak tahu diuntung.

Baca Juga : The Pause Pod

Suatu kali saya melihat salah seorang pemilik toko di Kota Ende mengendarai motor matic mungiiiillll banget. Ternyata kata orang-orang itu motor matic listrik. Lengkaplah sudah penderitaan saya.

Pada akhirnya saya bisa kendarai motor matic yang dibeli sendiri dengan susah payah. Yamaha Mio Sporty keluaran pertama! Dia saya baptis bernama Oim Hitup. Sumpah nih ya, sampai sekarang si lelaki yang jagoannya matic dari bengkel Anu, yang oleh orang-orang disebut dokter matic, masih mau membeli si Oim Hitup. Sebel kali ya si dia setiap kali saya lewat depan bengkelnya sama Oim Hitup sambil senyum-senyum. Maaf, Oim Hitupnya sudah diwariskan ke Thika Pharmantara. Gantinya, masih dari kelas Mio juga. Mio Fino yang saya baptis bernama Onif Harem.

Dunia motor matic ini luar biasa. Inovasinya melahirkan satuper satu motor matic tangguh idaman. Tapi bagi kalian yang tinggal di wilayah perkotaan dengan topografi 90% datar (tidak berbukit-bukit), motor matic tidak harus yang paling tangguh ya. Beda sama di Kota Ende. Kalau mau beli sepeda motor, harus yang tangguh, karena setiap hari bakal diajak hiking di jalanan tanjakan. Nah, untuk itu kalian yang tinggal di daerah minus perbukitan, perlu kenalan sama motor matic yang satu ini.

Namanya: SCOOTMATIC.


Tahun 2016 ScootMatic masih dalam tahap pengembangan (fund raised). Entah dengan sekarang. Saya belum berhasil menemukan informasinya. Akan tetapi pada artikel yang satu ini, dikatakan bahwa ScootMatic dibanderol seharga 1.799 Dollar. Kalau kalian tahu informasinya, boleh bagi tahu di kolom komentar.

Baca Juga : The Ninox Flatlay Hammock

ScootMatic diklaim sebagai combo sepeda atau skuter paling inovatif yang pernah ada. Berkat sistem brushless-nya, ScootMatic menjadi kendaraan yang ringan dengan berat 265 LBS. Apa saja yang ditawarkan oleh ScootMatic? Mesin 500W, konsep lipat unik, speaker bluetoothpengisi daya USB, remote control starterlayar LED, rem cakram hidraulik, suspensi depan dan belakang, baterai Samsung lithium, motor iInti Jerman, tahan air, sadel kulit, lampu depan LED, dibuat dengan aluminium penerbangan, sistem alaram seperti alaram mobil, dan lain sebagainya.


Dari Indiegogo ditulis bahwa ScootMatic telah memperluas jangkauan untuk gaya hidup perkotaan atau pinggiran kota. Dapat digunakan sebagai pengganti atau dengan transportasi umum, dan dapat membantu pengendara mencapai tujuan dengan kendaraan yang menyenangkan dan menarik! Menarik karena ringkas setelah dilipat, jarak 28 mil dengan sekali di-cas (setara 45 Kilometer) dan kecepatan 16 MPH. 

Khusus untuk paket telepon, ScootMatic disediakan asesoris yang sempurna seperti dudukan telepon (cocok untuk semua jenis ponsel: iPhone 5, 6, 6+, dan Ponsel Samsung), kemampuan untuk mengaktifkan GPS untuk arah saat dikendarai, kantong untuk membawa barang-barang berharga, terbuat dari PU berkualitas tinggi.


Di luar dari fitur-fitur di atas, yang jelas desain ScootMatic memang luar biasa. Sederhana dan ramping. ScootMatic memiliki tampilan ultra-modern. Semua fungsi ScootMatic terintegrasi dengan mulus dalam bentuk murni dan bekerja selaras bersama. Iya, itu yang ditulis di situs Indiegogo. Haha.

Baca Juga : Freestate, Sepatu Idaman Traveler

Nah, sekarang saatnya saya bertanya pada kalian ... maukah kalian mengendarai ScootMatic? Pertanyaan macam apa itu, Teh? Maaf, maaf. Bukan itu. Pertanyaan saya adalah, apabila kalian punya informasi lebih tentang ScootMatic, seperti apakah sudah dijual di Indonesia dan berapa harga pastinya, maukah kalian berbagi informasi itu pada saya? Hehe. Gemas to the max soalnya melihat penampakannya.

Selamat bermupeng-ria!


Cheers.

The Pause Pod


Saya dan tenda seperti dua kutub yang aneh. Saya begitu ingin punya satuuuu saja tenda pribadi yang bisa dipakai kapan dan di mana saja; misalnya saat sedang berada di kampung halaman Kakak Pacar, terus berkemah di Bukit Pandang Kolibari. Sedangkan tenda begitu enggan untuk saya miliki karena belum cukup penting untuk dibeli. Dan, mungkin si tenda merasa tanda-tanda penganiayaan apabila saya berhasil memilikinya. Menyedihkan, tapi nyata. Mengingat keinginan saya yang selalu tidak normal, si tenda pasti kuatir setiap siang saya ajak ke pantai buat tidur siang!


Maka saya berpikir tentang pergi berkemah tanpa harus menenteng tenda. Tapi berkemah tanpa tenda artinya mimpi di siang bolong karena sebagai orang awam saya tidak punya kemampuan membikin shelter menggunakan bahan yang disediakan oleh alam, pun membikin shelter sederhana berbahan selimut, kayu, dan tali, misalnya. Siap-siap tidur ditemani hewan-hewan mini, Teh. Lantas saya membaca, kemudian menulis, tentang tenda otomatis ini. Praktis memang si tenda otomatis. Tinggal buka ... trada ... silahkan dipakai. Hanya menulis, bukan membeli. Tapi ternyata, masih ada yang lebih praktis dari tenda otomatis! Heeee? Yakin itu? Yakin sekali, kawan. Praktis dan bahkan bisa dipakai di dalam ruang kantor yang sempit!

Perkenalkan si hitam mini yang bikin saya dan kalian ngiler sejadi-jadinya ... 

The Pause Pod


Your private pop up space. Demikian yang tertulis di situsnya. The Pause Pod merupakan tenda mini dengan berat 2,5 kilogram saja! Saat tidak digunakan, The Pause Pod dengan mudah dilipat (berbentuk bundar seperti gambar di awal pos) dan dapat disimpan di lemari atau di samping lemari. Membawanya ke lokasi tujuan seperti kantor dan/atau tempat wisata pun mudah, hanya disampirkan di pundak. Karena ringan, saya yakin siapapun yang pernah memikul galon air minum tidak akan merasa kesulitan. Termasuk si Thika Pharmantara. Hahahaha.

The Pause Pod dirancang sebagai private pop up space saat sedang berada di kantor, berada di rumah, maupun digunakan saat bepergian, tanpa merepotnya pemiliknya. Private pop up space artinya The Pause Pod merupakan ruang pribadi yang dapat kita gunakan di mana saja ketika menginginkannya. Misalnya saat jam istirahat siang di kantor; untuk relaksasi, membaca, atau tidur siang. Saat ingin membaca tanpa diganggu penghuni rumah lainnya. Atau saat sedang berada di tempat wisata kemudian mendadak pengen istirahat.

Memangnya The Pause Pod bisa dipakai buat tidur? Bisaaa. Karena benda ini dilengkapi dengan ekstra ruang untuk kaki dalam posisi tidur seperti pada gambar di bawah ini:


Mak! Sahdu sekali. Eh, nyaman sekali! Ngiknguk lah! Kalau pengen full privacy, kancing saja pintu masuknya! Bahkan pintu masuk tenda bisa dibuka setengah saja sebagai jendela tambahan.


Jadi apa saja keuntungan memiliki The Pause Pod?

1. Mudah dibuka dan dilipat.
2. Double zipper di luar dan di dalam.
3. Ada jendela mini untuk masuk keluar udara.
4. Ringan (2,5 kilogram).
5. Ekstra ruang untuk kaki (posisi tidur).

Kenyamanan seperti ini bisa didapat dengan harga:


Kalau di Indonesia, cuaca selalu menjadi sandungan saat berkemah apalagi menggunakan tenda sekecil ini. Jangan kuatir. Saran saya kalau kalian memiliki tenda ini:

1. Waktu
The Pause Pod digunakan untuk berkemah sehari dua hari karena ruangnya tidak seberapa lega untuk menyimpan barang bawaan dan perbekalan.

2. Cuaca
Usahakan untuk menggunakan The Pause Pod saat cuaca sedang cerah. Hujan terlalu lebat ditambah angin kencang juga bisa bahaya, menurut saya. Kalau terlalu terik? Carilah lokasi di bawah pohon atau di dekat sungai. Perlu tambahan membawa kipas angin portabel yang bisa disambung ke power bank. Lebih bagus lagi kalau kalian membawa panel surya mini seperti yang dimiliki oleh backpack yang satu ini.


Baca Juga : BlogIt! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone

Saya tahu ini masih mimpi. Tapi suatu saat saya bakal punya The Pause Pod. Yakin :) Kalau camping area pakai The Pause Pod boleh juga kan ya hahaha.

Semoga.



Cheers.

The Ninox Flatlay Hammock


Apa yang paling saya suka dari seorang Kiki Arubone? Cewek cakep Sarjana Pendidikan yang pada hari wisudanya tahun lalu justru terbang ke Jakarta? Apa ya ... hmm ... Actually, I like everything about her. Bila kalian berhadapan dengannya, jangan pernah menilai dirinya hanya dari perawakannya yang mungil, karena kalian bakal terkecoh! Cewek tangguh ini adalah founder FLOPALA (Mapala-nya Universitas Flores). FLOPALA itu singkatan dari Flores Pecinta Alam. Dia sudah menaklukkan banyak gunung di Pulau Flores; kalau di luar Pulau Flores saya harus bertanya lagi pada cewek yang dijuluki Edelweiss Flopala ini. Tapi dari semua hal tentang Kiki, saya sangat suka foto-foto perjalannya, terutama kalau dia lagi asyik di atas hammock. Seperti pada foto di awal pos ini! Tuuuh kaaan dia sukses bikin saya terkapar iri. Hiks.


Kami, saya dan Kiki, sama-sama suka jalan. Sama-sama suka #KakiKereta. Tapi dia jalannya lebih keren karena pasti selalu berhubungan dengan alam liar salah satunya mendaki gunung sambil pikul carrier yang besarnya hampir sama dengan tubuhnya. Sedangkan saya cukup jalan di alam bawah sadar saja. Qiqiqiqi ;)) 

Jadi, apa itu hammock?

Mengintip Wikipedia; hammock disebut buaian atau tempat tidur gantung. Hammock adalah jenis tempat tidur berupa kain seperti ayunan yang digantung pada kedua ujungnya. Umumnya tempat tidur jenis ini digunakan oleh orang yang tinggal di daerah tropis. Hammock diproduksi di banyak negara antara lain Mexico, Perancis, India, Kanada, dan Indonesia. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat hammock misalnya kain katun, kain ikat, nilon parasut, tali, hock (pengait) dan lainn-lain. Namun, hammock nilon parasut lebih disukai karena mudah didapat, cepat kering, ringan, dan sederhana. Ada beberapa jenis hammock diantaranya chair hammock (hammock kursi), sleeping hammock (hammock tidur), net hammock (hammock jaring).

Hammock itu ibarat tenda; orang-orang yang gemar berkegiatan di luar ruangan seperti pendaki gunung pasti membawa salah satunya dan/atau membawa keduanya. Namun hammock punya satu kekurangan yaitu ruang tidurnya yang tidak mengijinkan tubuh untuk rebah lurus karena stukturnya yang melengkung. Oleh karena itu, Richard Rhett dari Sierra Madre Research menciptakan, eh, membikin sebuah hammock trendi bernama:


Hammock yang dibikin sama Richard ini punya banyak kelebihan yang membedakannya dari hammock lain:



Baca Juga : Backpacks Impian


Apa yang membuat Ninox Flatlay Hammock ini berbeda dari hammock lainnya? Kalian bisa melihat pada gambar ketiga di atas; wave shaped patterns, knotless design, serta comfy flatness. Luar biasa! Tidur di hammock tapi rasanya kayak tidur di kasur? Ninox Flatlay Hammock solusinya. Ninox Flatlay Hammock juga dilengkapi dengan kelambu anti serangga (kalau kita sebut kelambu pengantin anti nyamuk) dengan zipper. Bagian bawahnya terdapat satu ruang lagi untuk menyimpan beberapa barang penting. Selengkapnya bisa kalian lihat pada gambar-gambar di atas dan di bawah ini:

Berasa tidur di kamar pengantin.

Seperti di surga :D

Ngiknguuukkk banget kaaan ini bikin mupeng!


Bagi kalian yang ingin memilikinya, Ninox Flatlay Hammock dibanderol 159 Dollar. Belinya di mana? Di sini

Saya yakin, Kiki Arubone pasti mupeng juga kan ngelihat si Ninox Flatlay ini. Tapi dia kan sudah punya. Etapi kalau Kiki mau ngebeli lagi, yang lama hibahkan saja buat saya. Lumayan kan, Ki, jelong-jelong ke Hutan Pinus Wisata Kebesani terus gantung hammock diantara pohonnya, terus ketiduran sampai malam. Bangun-bangun sudah di Maurole hahahaha. Dipindahin.


Menurut saya informasinya sudah cukup jelas. Jadi kalau kalian pengen beli hammock yang kuat dan nge-flat kalau diajak tidur, yuk monggo ...



Cheers.

Mostheme From Indra Bagus


Hari Sabtu kemarin, ternyata setelah Hari Jum'at, dan ternyata sebelum Hari Minggu.

*dikeplak berjamaah*


Seriusnya, Hari Sabtu kemarin saya dihubungi seorang blogger perempuan cantik multi talenta bernama Ajeng. Lebih dikenal Ajengveran. Multi talenta karena sebagai seorang blogger dia tentu jago menulis, dia juga seorang travel blogger, dia bisa main alat musik macam gitar dan piano (atau orgen?) apalah namanya itu, dan bisa bernyanyi dengan sangat baik. Kalian sudah subscribe channel Youtube si Ajeng? Kalau belum, buruan subscribe! Jangan lupa untuk juga men-subscribe Himawan Sant, yess.

Apa pasal Ajeng menghubungi saya via WA (chat only!) itu? Ceritanya Ajeng menawarkan bantuan Iwan Indra Bagus buat masang tema di blog saya. Temanya: Most Theme yang penampakannya bisa kalian lihat di awal pos. Wah, mau lah saya! Tidak sampai 350 tahun kayak Indonesia dijajah Belanda, Indra membalas chat WA itu dan dari situ mulailah perburuan dinosaurus langka penggantian tema. Untung Indra ini baik banget, saya yang kesulitan dengan ini itu soal HTML karena kemampuan otak yang terbatas dengan RAM dan ROM 1GB, dibantu dengan senang hati.


Hasilnya ... TRA-DA ...

Akhirnya tema Most Theme-nya Bung Frangki sudah jadi wajah baru blog saya :D

Saya suka! Saya suka! Menjadi lebih rapi, lebih responsive, lebih cepat loading baik di laptop maupun gadget. Banyak hal lain yang tidak bisa saya tulis di sini, yang juga diperbaiki sama Indra. Kan luar biasa dunia blogger ini. Teknologi, indeed, mempermudah hidup umat manusia. Coba bayangkan kalau tidak ada aplikasi WA, misalnya, proses penggantian tema atau template blog ini bisa memakan waktu berbulan-bulan karena saya harus naik perahu ke rumah Ajeng, lalu ke rumah Indra, lalu balik ke rumah saya, eeeh ada yang lupa, kirim surat beserta pesan eror-nya (kalau pakai perahu kan lebih sopan secara saya penerima hibah haha) ke Indra, dibalas, terus saya balas lagi.

Guuuuubrak ... itu aneh *tunjuk kalimat terakhir di atas*

What's next?

Tetap menulis. Berusaha agar semangat menulis tetap menyala. Meskipun saking menyalanya itu semangat, banyak juga pos yang saya tulis lebih dulu dan dijadwal untuk terbit qiqiqiqi. Soalnya saya kuatir kalau terlalu lama mengendap ide menulisnya, lantas menguap. Alhamdulillah semangat menulis ini masih (terus) ada. Karena menulis merupakan salah satu cara paling elegan menyimpan sejarah. Tsaaaah.

Baiklah, sebelum saya mengakhiri pos ini, ada satu informasi penting yang harus di-share. Cekidot!

SOLIDARITAS UNTUK KAMPUNG ADAT NGGELA (NUA NGGELA)

Dua puluh dua  sa'o atau rumah adat di Nua NGGELA, sebuah kampung tua di Kecamatan Wolojita, kabupaten Ende, Flores terbakar ludes siang ini, Senin 29 Oktober 2018. Cuaca panas dan berangin menyebabkan api yang bermula dari  atap Sa'o Labo rumah adat keempat  dari arah Utara, dengan sangat cepat menyambar sa'o-sa'o di sekitarnya.

Semuanya bangunan kayu, bambu dan beratap ilalang. Hanya berselang satu setengah jam dari pukul 13.00 waktu setempat api sudah menghanguskan ke 22 sa'o beserta 1 balai pertemuan adat (Keda) dan 10 rumah warga rata dengan tanah. Saat ini tidak kurang dari 32 keluarga sangat membutuhkan solidaritas kita untuk membantu mengatasi situasi darurat.

Atas bantuan anda kami warga NUA NGGELA mengucapkan banyak terima kasih.

DONASI berupa barang dapat diantar ke Posko Ende di Dasi Guest House (Didi Dasi Muda) - Jalan Durian Ende.

DONASI berupa uang bisa ditransfer ke no.rekening bank BNI : 0759972495 Atas nama IBU FRANSISKA FILOMENA WEKI BHERI.

NARAHUBUNG:
1. IBU SERE (081353522308)
2. IBU SISKA (081337200351)
3. ANTONIA NONA (082342112116)
4. IBU ERTA PORA (08129548790)

Nggela, Kampung/Desa Adat yang baru saja hendak saya tulis untuk blog travel tentang upacara adat Joka Ju (tolak bala) setelah menulis tentang Joka Ingga, terbakar habis. Padahal Kampung Adat Nggela dengan Joka Ju-nya itu terkenal sampai ke mana-mana. Membangun rumah adat pun tidak sekedip mata. Mengembalikan trauma korba pun tidak sekedip mata. Mari berdo'a untuk saudara-saudara kita di Kampung Adat Nggela. Semoga kejadian kampung adat terbakar (seperti yang terjadi di Gurusina) pun tidak terulang kembali. Manusia hanya merencanakan, Tuhan menentukan.

Semoga.

Anyhoo, ada yang bisa ngasih tahu saya, kenapa saya tidak bisa membalas komentar kalian?


Cheers.

Freestate, Sepatu Idaman Traveler

Gambar ini dan gambar lainnya diambil dari sini.


Sol sol do mi la la si laaaaa

*mata merem ngetes suara cempreng*

Nyanyi dulu yuk lagu Sepatu dari Tulus. Udah. Hah? Kok cepat? Karena kalau disuruh nyanyi saya bisa melantunkan dua album berturut-turut tanpa jeda. Sebaiknya kita akhiri urusan nyanyi sampai di sini sebelum kuping kalian tumbuh jamur tiram gara-gara suara saya.

Baca Juga : Backpacks Impian

Zaman dulu sepatu hanya boleh dipakai oleh raja-raja dan/atau bangsawan. Sepatu menunjukkan kasta atau kelas dari si pemakai. Terimakasih untuk perkembangan zaman serta penyamarataan hak-hak terutama hak asasi manusia, sehingga sepatu bukan lagi barang mewah yang hanya boleh dipakai oleh tuanku yang terhormat. Sepatu boleh dipakai oleh siapa saja. Bahkan bayi-bayi imut pun pasti pakai sepatu. Sepatu rajut si bayi itu kece badai tralala apalagi yang berwarna kuning. Bagi kita yang hidup di zaman canggih ini, sepatu sudah menjadi benda wajib, yang harus dipakai ketika keluar rumah.

Bagi traveler, sepatu termasuk benda wajib angkut meskipun ada juga traveler yang lebih nyaman memakai sandal jepit atau sandal gunung. Tentu saja sepatu yang dipilih haruslah yang nyaman dan ringan. Karena, aktivitas di luar ruangan bakal sangat sulit apabila memakai high heels duabelas senti. Naik ke puncak Gunung Kelimutu memakai high heels tidak saya anjurkan. Rempong, jeung! Selain nyaman, sepatu itu harus pula kuat alias tahan banting. Banyak orang bilang barang bagus itu tidak perlu bermerek dan mahal. Tapi, barang yang bermerek dan mahal itu oleh produsennya diusahakan haruslah tahan banting. Ada kualitas ada harga. Kita pasti tidak mau sepatu yang sekali pakai langsung bikin jempol kaki nongol menyapa dunia.

Salah satu sepatu yang saya rekomendasikan kali ini, termasuk sepatu yang sukses bikin iler saya tumpah ruah, adalah Freestate.

Freestate, best travel partner for your sole and soul.

Freestate didesain oleh Nicola Marshall-Jones dari Ten Thousand Island. Dibanderol 134 Dollar. Harga segitu terbilang murah untuk desain dan manfaat yang dirasakan oleh pemakainya. 


Apabila ada yang bilang tidak ada sepatu perjalanan multi tujuan terbaik, maka itu adalah klaim yang sangat berani. Itu yang tertulis di situs ini oleh Sarang Seth. Dalam industri yang menghabiskan miliaran Dollar dalam penelitian materialnya, akhirnya jadilah sepatu yang diklaim sebagai sepatu terbaik di seluruh dunia. Freestate; sepatu yang nyaman, fleksibel, bergaya, murah, tahan lama, dan cocok baik untuk kerja dan kegiatan di luar ruangan. Seth menulisnya: sepatu hibrida yang terlihat dan terasa nyaman.



Konstruksi elastis pada bagian tumit yang mengembang dan menyesuaikan dengan lekuk tumit memungkinkan Freestate dipakai dengan nyaman dengan kaus kaki maupun tanpa kaus kaki dan rasanya seperti kulit kedua yang membungkus kaki. Didesain dengan neoprene yang dapat bernapas dan TPU yang fleksibel, Freestate dapat dipakai kapan saja. Freestate yang dirancang tahan air hadir dengan lapisan dalam yang terbuat dari material eksklusif yang disebut Freelow, yang membantunya cepat kering. Konstruksi TPU, neoprene, dan karet, tidak terpengaruh oleh air sehingga pemakainya dapat menggunakan sepatu ini pun untuk berenang. Selain itu berkat kemampuan non-slip phylon pemakai dapat menekuk dan melenturkan kaki secara alami.


Freestate yang asyik dipakai di luar ruangan juga lebih ringan dari sepatu biasa karena dibuat menggunakan teknik jahit strobel yang canggih. Sepatu ini tahan lama, fleksibel, dan jauh lebih ringan dari sepatu lain. Freestate juga diklaim ramah terhadap mesin cuci, dan lapisan dalam Freeflow itu membantu proses pengeringan dengan seketika. Jadi, tak perlu menunggu lama atau nyalah-nyalahin cuaca.

Ngiler kan kan kan?


Bagaimana, kalian mau memilikinya? Silahkan siapkan 134 Dollar. Jangan tanya saya. Saya cukup bagian ngilernya saja. Karena, rak sepatu sudah cukup kesal dengan tingkah saya dan Thika hahaha. Tapi bagi kalian yang sering berkegiatan di luar ruangan, saya sangat menyarankan kalian membeli Freestate. Sekali beli, bisa dipakai lama dan bisa dipakai dalam kegiatan apapun.

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Backpacks Impian


Backpack, backpack, packpack. Saya memang serakah. Sudah punya banyak backpack tapi masih suka cuci mata di toko online terutama bagian backpack/daypack/ransel dan sepatu. Menurut hikayat, mata saya bakal lebih segar dan sehat, bahkan angka silinder berkurang, hanya dengan melihat foto backpack dan sepatu. Kenyataannya, mata saya memang terhibur tapi perasaan tersakiti patah jadi dua gara-gara harus menahan segala godaan syaitan yang terkutuk. Jempol tak boleh berkehendak seenak perut mengklik tombol beli atau tombol masukkan ke keranjang. Perasaan ini lebih sakit dari pertanyaan: kapan kawin? A-ha!

Baca Juga : Pen Printer

Backpack sudah menjadi bagian kehidupan saya, kalian, mereka. Setiap hari pasti panggul backpack. Jangan harap kalian melihat saya membawa tas perempuan kecuali pada hari saya tidak ingin mebebani pundak. Sebisa mungkin semua benda masuk ke jok sepeda motor, hehe. Macam-macam backpack berukuran sedang (bukan carrier) yang sekarang memenuhi lemari tas termasuk backpack khusus perempuan dan drawstring bag. Macam-macam merek; Consiva, Eiger, Trekker, sampai yang tidak bermerek. Tapi toh sampai sekarang saya masih mencari backpack yang benar-benar nyaman dipakai dan mudah ketika hendak mengeluarkan barang.

Banyak jenis backpack yang sudah masuk list. List buat cuci mata alias buat dilihat lagi, lagi, dan lagi. Untuk membeli backpack, egeeeennn!?, saya harus menahan diri. Haha. Hidup harus ada skala prioritas, kata Mamatua. Harus bisa bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Beeeuuuh. Salah satu backpack yang paling saya sukai dari daftar cuci mata itu adalah backpack anti maling berikut ini:


Namanya Bobby. Harganya 89,95 Euro atau setara 106 Dollar. Harga segitu lumayan murah jika dibandingkan fasilitas si Bobby seperti: zipper dan kantong tersembunyi, anti air, anti cut, port pengisian USB terintegrasi, garis keselamatan, kompartemen shock-proof. Anti maling yang dimaksudkan di sini merujuk pada zipper dan kantong tersembunyi sehingga menyulitkan maling/copet merogoh karena bakal sulit mencari pintu masuk haha. Bahasanyaaa. Serta, anti cut alias tidak dapat disobek dengan benda tajam. Karena anti air, kita tidak perlu tambahan rain cover yang biasanya tersimpan di bagian bawah backpack. Ugh, ini backpack impian kita semua.


Selain Bobby, muncul begitu banyak pula backpack yang canggih nian. Yang bakal bikin kita geleng-geleng kepala saking canggihnya. Seperti SunPack dari FlexSolar berikut ini:


Didesain oleh Iris Liu dan Lilian Wang, harganya 59 Dollar. Apa keistimewaan SunPack? SunPack dilengkapi (terintegrasi) dengan panel surya Flextech! Jadi kalian tidak perlu repot membayar tambahan tagihan listrik karena ngecas ini itu terutama ngecas telepon genggam. SunPack juga bakal mempermudah kalian kalau berkegiatan di luar ruangan karena tidak perlu pusing mencari tempat colokan. Cihuy! Kebutuhan listrik untuk telepon genggam sudah disediakan oleh SunPack. Selain itu, SunPack dilengkapi fitur seperti penyimpanan terkotak, desain tahan air, penguncian anti-maling, kantong pemblokiran RFID untuk kartu, dan port USB dan headphone terpadu, tangguh dan fleksibel, panel tahan air, tahan debu, tahan cuaca. Dirancang dengan tekstur bergelombang, panel dapat menangkap tenaga matahari secara efisien kapan saja, di mana pun panel ini menghadap (tanpa perlu menghadap langsung ke matahari sebagai sumber listrik).

Awesome! Backpack impian kita semuaaaa *siul-siul*.

Satu lagi backpack impian yang patut diulas yaitu Duffle Sport. Duffle terdiri dari tiga kompartemen terpisah yang dapat berfungsi sendiri dan/atau juga bisa disatukan untuk fungsi lebih. Untuk mempermudah, silahkan lihat gambar berikut ini:


Gambar di atas adalah tiga Duffle yang terpisah. Kalau cuma pengen ke kantor dan membawa laptop, buku, dompet, barang printilan lainnya, pakai yang ini saja karena tipis dan lebih masuk akal, kan tidak mungkin juga ke kantor bawa carrier tapi isinya cuma laptop:


Kalau urusannya lebih ke banyak barang, misalnya butuh bawa pakaian ganti, atau butuh bawa cobek, silahkan gabungkan dengan yang satu ini:


Sedangkan kalau ingin bepergian selama seminggu dengan bawaan jauh lebih banyak: pakaian, sepatu, kamera, buku, handuk, dan lainnya, silahkan gabungkan yang berikut ini:

 
Keren sekali kan? Apabila hendak bepergian selama seminggu, bawa saja yang terakhir. Sudah sampai hotel, tinggalkan yang besar, jalan-jalan keliling kota misalnya, cukup memanggul yang kecil. Aaaarrggggh. Suka sekali sama desainnya! Duffle didesain oleh Johnathan Webster dan dibanderol 259 Dollar. Terberkatilah kau, Webster! Dan tentu ini backpack impian kita semua *siul tambah kencang*.


Seandainya diijinkan oleh Yang Di Atas, saya bakal pilih ketiganya. Maruk? Biarin deh. Soalnya betul-betul memenuhi impian sih. Apakah kalian sudah punya salah satu backpack di atas? Bagi tahu donk bagaimana rasanya memakai salah satu backpack impian itu.

Dunia ini, kata Mamatua, semakin canggih. Haha.

Semoga bermanfaat!


Cheers.