Arsip Kategori: Techno

Inovasi Canggih dan Keren Cerita dari Serambil Uniflor


Inovasi Canggih dan Keren Cerita dari Serambil Uniflor. Menurut saya pribadi, inilah perpaduan jenius dari dua isu paling hot saat ini: Panca Windu Universitas Flores (Uniflor) dan pandemi Covid-19. Di antara puluhan kegiatan lainnya seperti lomba kebersihan antar unit, lomba taman antar gabungan unit, lomba masak nasi goreng peserta khusus laki-laki, hingga lomba video, Ketua Panitia Panca Windu Uniflor Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. yang sering kami sapa Mama Emmi, menggagas program keren bertajuk Cerita dari Serambi Uniflor. Lucunya, saat berdiskusi atau mengobrol santai tentang program ini kami sering salah menyeletuk Serambi Mekah dan Serambi Bung Karno. Maklum, kata serambi memang selalu disandingkan dengan Mekah. Sedangkan di Kota Ende sendiri telah lama dibangun Serambi Bung Karno yang kece badai itu. 

Baca Juga: Ngoblog Soal Digital Marketing Bareng Nunik Utami di Live IG

Mari cari tahu apa itu Cerita dari Serambi Uniflor.

Tujuan Cerita dari Serambi Uniflor


Cerita dari Serambi Uniflor dilatarbelakangi dari keinginan agar Uniflor lebih dikenal oleh masyarakat luas dan lebih dekat dengan masyarakat. Otomatis tujuannya ya agar latar belakang tersebut terwujud. Kata 'serambi' dipilih sebagai analogi tempat orang duduk dan mengobrol santai sambil bercerita ngalor-ngidul tentang banyak hal. Oleh karena itu, Cerita dari Serambil Uniflor merupakan tempat lalu-lalangnya cerita-cerita tentang Uniflor. Dari A sampai Z. Ini merupakan salah satu inovasi canggih dan keren mempromosikan Uniflor di tengah pandemi Covid-19.

Apakah Ada Narasumbernya?


Tentu saja, kawan! Kalau hanya sekadar bercerita semua orang bisa. Tapi tentang Uniflor haruslah datang dari narasumber yang berkompeten sehingga informasi yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan. Narasumber tentu tidak semerta-merta berbicara atau bercerita tetapi dipandu oleh seorang host. Jadi mirip talkshow begitu dong, Teh? Emberrrr. Hehehe.

Apakah Berkelanjutan?


Melihat begitu banyak cerita yang bisa kami bagi kepada masyarakat, diupayakan Cerita dari Serambi Uniflor berkelanjutan. Saat ini Cerita dari Serambi Uniflor direncanakan tayang setiap Sabtu, pukul 10.00 Wita, di channel Youtube: Official Universitas Flores. Tayang perdana Cerita dari Serambi Uniflor dilaksanakan pada Sabtu, 11 Juli 2020, dengan narasumber Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt. dan Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. Silahkan klik video berikut ini:



Iya, untuk edisi perdana ini saya yang menjadi host-nya. Tapi host nanti bakal berganti-ganti.

Bagaimana Mekanismenya?


Ini dia yang menjadi poin utama pos #SelasaTekno.

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa Uniflor dapat menghasilkan satu program keren yang tayang di Youtube. Seperti yang sudah saya tulis di atas, digagas oleh Mama Emmi, kemudian dipilihlah produser, dan dibentuklah dua tim. Produser Cerita dari Serambi Uniflor adalah Bapak Yohanes P. Luciany, S.E., M.Si. atau Pak Yance. Dua tim yang dibentuk adalah Tim Perumus dan Tim Kreatif. Tim Perumus bekerja merumuskan materi, narasumber, hingga term of reference, dan melapor kepada produser. Tim Kreatif bekerja untuk mewujudkan tayangan yang sesuai konsep/terarah sekaligus keren. Dipimpin oleh Bapak Harry Ndb, kalian sudah bisa melihat hasilnya pada video di atas.

Mekanismenya:
1. Setting lokasi.
2. Pemasangan perangkat.
3. Live Streaming.
4. Selesai.


Tapi tentu tidak sesederhana itu. Untuk tayangan live dibutuhkan insert video/gambar sebagai pendukung. Data pendukung ini dikumpulkan bersama dan diatur oleh Tim Kreatif. Karena sudah ada term of reference, Tim Kreatif lebih mudah mendata/menyusun list-nya untuk di-insert pada tayangan live di channel Youtube tersebut.


Apa saja perangkatnya? Banyak sekali perangkat yang dibutuhkan untuk durasi satu jam! Tapi memang seperti itulah pola kerjanya.
1. Komputer.
2. Laptop.
3. Dua televisi/monitor panduan.
4. Clip-on dan kawan-kawannya.
5. Mixer audio dan kawan-kawannya.
6. Program (ini yang saya kurang tahu namanya, haha).
7. Kamera/camcorder.
8. Whiteboard.
9. Koneksi internet yang mumpuni.
Dan printilan lain yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu termasuk kabel-kabel haha.


Foto-foto tersebut di atas sudah cukup mewakili bahwa dibutuhkan teknologi yang tinggi dan sumber daya manusia yang mumpuni untuk bisa menayangkan program Cerita dari Serambi Uniflor kepada masyarakat. Agar apa? Agar Uniflor lebih dikenal oleh masyarakat luas, dan lebih dekat dengan masyarakat.

Baca Juga: Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto

Setelah selesai tayangan perdana live Cerita dari Serambi Uniflor itu, saya sangat terharu sekaligus bangga. Ada begitu banyak orang hebat di Uniflor. Hebat pada bidangnya masing-masing. Dan ketika semua disatukan dalam kerabat kerja yang kompak dan insha Allah solid, hasilnya luar biasa. Kesalahan ini itu saat live merupakan hal yang lumrah. Jangankan yang live, yang melalui proses taping saja masih ada banyak salahnya (makanya dibutuhkan penyuntingan). Jika pada tayangan live bisa 90% sukses, itu sangat berarti. Artinya antara Tim Perumus, Tim Kreatif, dan Produser, bekerjasama dengan sangat sangat sangat baik. Ya kan? Kan ya!

Bagi kalian semua, jangan lewatkan Cerita dari Serambi Uniflor setiap Sabtu, pukul 10.00 Wita, di channel Youtube: Official Universitas Flores. Ada giveaway yang siap dibagikan loh.

#SelasaTekno



Cheers.

Ngoblog Soal Digital Marketing Bareng Nunik Utami di Live IG


Ngoblog Soal Digital Marketing Bareng Nunik Utami di Live IG. Silahkan baca dulu pos berjudul Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam di Live Instagram. Ya, reborn kali ini Blogger Family (Blogfam) betul-betul mantul karena diisi dengan kegiatan talkshow yang dijadwal secara berkala di live Instagram. Baik narasumber maupun host-nya sama-sama anggota Blogfam. Materinya pun luar biasa. Mulai dari kepenulisan buku anak, foto pakai telepon genggam, hingga podcast. Itu berarti anggota Blogfam memang luar biasa karena untuk talkshow bergengsi pun belum perlu mengundang narasumber dari luar Blogfam. Sombong? Tidak. Kenapa sombong? Ini kan kenyataan yang tidak bisa dihindari lagi. Hehe.

Baca Juga: Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online

Sebagai salah seorang anggota Blogfam, saya pun menjadi host pada edisi ke-empat talkshow ini. Sementara itu sampai dengan saat ini talkshow masih berjalan, menghadirkan narasumber-narasumber kece badai tralala yang rugi banget kalau sampai kalian tidak menonton dan berinteraksi. Soalnya selain berbagi informasi ada juga doorprize-nya. Anyhoo mungkin kalian bertanya-tanya apa kaitannya Ngoblog (Ngobrol Bareng Blogfam) sama #SelasaTekno. Sangat berkaitan, gengs. Pertama: Ngoblog dilakukan melalui sistem digital/internet. Kedua: Kak Nunik Utami bicara tentang atau temanya adalah Ditigal Marketing.

Ngoblog waktu itu agak molor karena ternyata di rumah Kak Nunik listrik padam. Sambil menunggu, sambil saya menyapa teman-teman yang sudah siap menunggu materi digital marketing itu.

Berdasarkan hasil talkshow, izinkan saya membikin rangkuman berikut ini.

Pada zaman dahulu kita menjual segala sesuatu secara konvensional/tradisional: di pasar, di toko, dari pintu ke pintu, juga dari mulut ke mulut. Tapi sejak ada internet, kemudian menjamurnya media sosial, tren berjualan pun mengikuti perkembangan zaman (internet). Para pedagang dapat memanfaatkan internet, dalam hal ini media sosial untuk menjual barang dagangan mereka. Media sosial itu antara lain blog, Youtube, Facebook, Instagram, Twitter, Tumblr, dan lain sebagainya. Tidak lupa aplikasi mengobrol seperti WhatsApp, Telegram, dan sebangsanya. Meskipun hanya menjangkau para pengguna internet, tetapi digital marketing sangat ampuh. Ada unsur efektif dan efisiennya. Secara waktu, tentu lebih hemat. Secara biaya, bisa sekalian dengan biaya pribadi menggunakan internet dan tidak perlu membangun toko/kios fisik.

Selain menggunakan media sosial pribadi, para pedagang juga bisa memanfaatkan market place (e-commerce) seperti Lazada, Tokopedia, Blibli, Shopee, hingga Buka Lapak. Caranya: secara umum cukup mendaftarkan toko di market place tersebut dan mengikuti semua syarat yang ditentukan. Kalau tidak salah, sebagai penjual, kita baru boleh menerima uang pembelian barang dari pengelola market place setelah barang yang dikirimkan tiba di tujuan atau diterima oleh pembeli. Kalau saya salah, mohon koreksi.

Digital marketing tidak selamanya bermakna kita/pedagang menjual barang dagangan melalui internet (media sosial). Digital marketing juga bermakna mem-branding diri. Bagi para blogger dan youtuber, branding diri ini penting. Karena sejatinya bagi blogger dan youtuber yang hendak meraih keuntungan dari blog dan channel Youtube, harus pandai 'menjual diri'. Pedagang memang bisa menjual barang dagangan melalui blog dan Youtube, tetapi mereka juga bisa memperoleh keuntungan lain apabila blog dan Youtube-nya dikelola dengan baik. Semua blogger dan youtuber pasti tahu tentang hal ini.

Apakah tren digital marketing akan mengalahkan atau melumpuhkan pasar konvensional? Tentu tidak. Meskipun arah ke digital marketing semakin kuat, seperti beberapa petani menjual hasil panen melalui internet (dikelola oleh Bumdes), tapi begitu banyak orang masih memilih pasar konvensional. Buktinya Pasar Mbongawani Ende masih ramai setiap hari, toko-toko pun demikian, bahkan pedagang buah pinggir jalan masih dikerubuti pembeli. Karena apa? Karena masih banyak pedagang yang tidak menggunakan internet bahkan sama sekali tidak tahu soal internet, dan banyak pembeli yang juga tidak menggunakan internet bahkan sama sekali tidak tahu soal internet. Kata Mamatua, ada seni tersendiri berinteraksi dengan para pedagang di pasar. Seni tawar-menawar! Hahaha.

Jadi itu dia rangkumannya, gengs.

Baca Juga: Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto

Kak Nunik Utami adalah contoh paling nyata yang sukses berkiprah melalui digital marketing. Sebagai penulis buku, ia juga memanfaatkan blog dan media sosial untuk mempromosikan buku-bukunya. Sebagai pedagang hijab, ia memanfaatkan berbagai lini agar hijab dagangannya diburu pembeli. Tetapi ada yang harus dipelajari di sini yaitu pandai melihat peluang dan keinginan pasar. Niscaya berkat doa dan usaha insha Allah sukses. Kapankah itu? Mulai dari sekarang. Karena Kak Nunik tidak menunggu harus sempurna untuk memulai. Saya, kalian, mereka, pun juga harus begitu. Mulailah terlebih dahulu. Segala sesuatunya akan kita ketahui dan pelajari seiring berjalannya usaha.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam di Live Instagram


Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam di Live Instagram. Saya sudah menulis tentang Blogfam Reborn, tetapi belum sempat dipublis. Nanti deh. Blogger Family (Blogfam) bukan nama baru di kancah komunitas blog Indonesia. Ada beberapa komunitas blogger yang terinspirasi dari Blogfam dan dibangun oleh anggota Blogfam itu sendiri. Meskipun sempat mengalami mati suri namun Blogfam tetap dan akan selalu ada. Kali ini Blogfam kembali dengan inovasi baru yang menurut saya ... sudah seharusnya dilakukan hehe. Karena apa? Karena anggota Blogfam itu hebat-hebat dan bolehlah berbagi cerita, informasi, ilmu, pengalaman, kepada orang lainnya.

Baca Juga: Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online

Meskipun bersifat daring, karena komunitas blogger pasti terjadi atau ada atau dibangun karena daring, tapi Blogfam sudah melaksanakan ratusan kegiatan luring. Itu dulu, ketika level kesibukan setiap anggota belum tiba di nirwana. Haha. Saat ini, setiap anggota super sibuk (termasuk saya, oih), ditambah lagi dengan Covid-19 yang mengharuskan kita lebih sering berada di rumah. Menyikapinya, maka bersingungan dengan Blogfam Reborn, dilakukan kegiatan keren yang tidak mengharuskan anggotanya keluar rumah. Cukup bermodalkan telepon genggam dan pulsa internet, voilaaaaa ...

Talkshow Live Instagram


Talkshow live Instagram dilakukan melalui aplikasi Instagram. Tajuk besar yang diambil adalah NGOBLOG: NGOBROL BARENG BLOGFAM. Kegiatan ini sudah berjalan? Sudah dong! Sudah dua kali malah.



Dan akan berlanjut pada yang berikut ini:



Jangan lewatkan, ya!

Teknisnya?


Nah ini dia, kita bicara tentang #SelasaTekno hehe. Awalnya saya juga bingung karena belum pernah melakukan live Instagram. Setelah saya cari tahu, ternyata mudah saja. Anyhoo, Instagram Live adalah fitur di Instagram Stories yang memungkinkan pengguna untuk mengalirkan video ke pengikut dan terlibat dengannya secara real time. Saat pengguna menyiarkan streaming video langsung di akun mereka, sebuah cincin menyoroti gambar profil mereka di Cerita Instagram untuk memperingatkan pengikut bahwa mereka dapat melihat siaran langsung. Selain itu, kita juga bisa mengundang pengguna Instagram lain bergabung ... makanya dapat tercipta talkshow.

Mudah saja:

Login pada akun Instagram yang akan melakukan live, kemudian setelah live kita bisa mengundang narasumber yang sudah disepakati (tentu sedang daring juga narasumbernya). Selesai.


Bagi kalian yang haus informasi-informasi keren, pastikan untuk mengikuti akun Blogfam di Instagram dan selalu memantau. Rugi lah kalau kalian melewatkan informasi-informasi keren itu. Hehe. Insha Allah akan bisa terus berjalan.

Baca Juga: Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Ingat selalu pada masa Covid-19 ini jagalah protokol kesehatan. Menjaga jarak (aman), memakai masker, mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan/atau mencuci tangan dengan hand sanitizer, menyemprot disinfektan. Salam semangat dan salam sehat untuk kita semua.

#SelasaTekno



Cheers.

Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online


Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online. Selain Universitas Flores (Uniflor), Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) juga menaungi dua lembaga pendidikan anak yaitu TK Uniflor dan Kober Yapertif. Lembaga pendidikan anak itu tidak hanya Taman Kanak-Kanak (TK) saja. Ada yang disebut Kelompok Bermain (Kober). Keduanya sama-sama lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bedanya, ada pada regulasi yang mengatur tentang TK dan Kober ini. Pasal 28 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berbunyi sebagai berikut:

Ayat (1):
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.

Ayat (2):
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

Ayat (3):
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Ayat (4):
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

Ayat (5):
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Ayat (6):
Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Baca Juga: Ternyata Bisa Juga Saya Membikin Video Tutorial Blogging

Rentang usia anak untuk Kober antara 2 s.d. 4 tahun. Rentang usia anak untuk TK antara 4 s.d. 6 tahun (sampai cukup usia memasuki bangku Sekolah Dasar). Sedangkan Taman Pendidikan Anak (TPA) biasanya untuk anak berusia 0 s.d. 2 tahun. Adanya TPA sangat membantu orangtua yang baik Bapak maupun Mama bekerja di luar rumah karena anak tidak saja mempunyai teman bermain tetapi juga diberikan pendidikan-pendidikan dasar oleh para pengelola TPA. Kalau begini saya jadi ingat dua buku yang ditulis oleh Mas Bukik Setiawan yang berjudul Anak Bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir.

Fast forward, saya dan Om Ihsan Dato ditugaskan untuk membikin video profil TK Uniflor dan Kober Yapertif. Tentu dalam masa pandemi Covid-19 akan sangat sulit mengumpulkan anak-anak, manapula anak-anak (dan lansia) kan sangat rentan. Alhamdulillah banyak footage video lama yang masih kami simpan dan bisa dipakai; anaknya Om Ihsan kan juga bersekolah di TK Uniflor. Selain itu kami juga ditugaskan untuk membikin video materi pembelajaran online. Ini yang asyik, karena inilah inti tulisan saya hari ini.

Senin kemarin, kebetulan jadwal piket saya menjaga gawang di kantor (Senin dan Selasa), saya bertugas merekam video pembelajaran online untuk murid TK Uniflor. Ketika sampai di lokasi, dua guru yang sudah siap direkam adalah Ibu Efi dan Ibu Gin. Maka, kami bertiga ditemani Kepala Sekolah Ibu Ross pergi ke ruang kelas untuk keperluan ini. Tentu menjaga protokol kesehatan yaitu menjaga jarak dan memakai masker. Tetapi ketika saya merekam, guru yang bersangkutan tidak memakai masker karena jarak antara saya (dan kamera) dengan guru yang sedang mengajar lebih dari satu meter. Lebih jauh dari jarak protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Sedangkan saya sendiri tetap memakai masker dan beberapa kali membasuh tangan dengan hand sanitizer. Hahaha.

Ibu Efi memulai terlebih dahulu. Pura-puranya di dalam kelas juga ada murid, sebenarnya tidak ada. Haha. Ini akting tapi based on true story. Kenapa harus pura-pura ada muridnya? Supaya Ibu Efi mengajarnya lebih rileks seperti hari-hari normal. Dimulai dari menyapa anak-anak, bernyanyi memuji dan berterima kasih pada Tuhan, dan berdo'a. Lalu Ibu Efi mulai mengajarkan materi/tema yaitu tentang angka, warna, dan bendera. Pindah ke kelas selanjutnya saya merekam Ibu Gin. Dengan pembuka yang hampir sama dan materi/tema yaitu tentang rumah adat, membikin mozaik rumah adat, bendera, Presiden dan Wakil Presiden, hingga daerah Ende. Meskipun perkiraan saya hasilnya nanti setiap video materi pembelajaran hanya berdurasi sekitar lima sampai delapan menit, tapi proses syutingnya memakan waktu lebih dari dua jam. Iya, karena selain ada yang harus diulang, beberapa hal juga harus dipersiapkan terlebih dahulu.

Footage video pembelajaran itu sedang saya persiapkan untuk disunting dan nantinya akan diunggah di akun Youtube TK Uniflor dan Kober Yapertif untuk dipelajari oleh murid dari rumah mereka masing-masing.

Kawan, saya pernah membikin pernyataan: NGEMSI DI ACARA ULTAH ANAK-ANAK 1000 KALI LEBIH SULIT KETIMBANG NGEMSI DI ACARA ORANG DEWASA. Karena apa? Karena saya harus punya banyak trik agar anak-anak patuh dan mengikuti acara hingga selesai. Mereka dapat bersenang-senang bersama saya sebagai pembawa acara. Itulah sebabnya saya kagum sekali pada guru-guru TK dan Kober di mana pun mereka berada karena merekalah tumpuan awal pendidikan dan akhlak seorang anak! Memposisikan diri sebagai murid TK Uniflor saat merekam aksi dua guru tersebut di atas mengajar, saya terharu sekali. Membayangkan Mamatua dulu juga mengajar murid SD ... tentu harus punya trik, pun harus banyak gaya. Terberkatilah kalian wahai para guru. Saya sayang kalian semua.

Baca Juga: Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Mau tidak mau, Covid-19 mengubah banyak hal di dunia ini, termasuk belajar anak-anak. Bagi anak-anak yang orangtuanya mempunyai akses yang baik untuk internet, tentu ini perkara mudah, karena mereka dapat menonton materi pembelajaran online di Youtube bersama anak. Tetapi bagaimana dengan orangtua yang sulit dengan akses internet dan bahkan listrik di daerahnya pun belum tersedia? Apakah mereka juga menjalankan sistem pembelajaran online atau e-learning ini? Tentu tidak. Lantas, bagaimana caranya? Ini yang saya tidak tahu karena belum pernah berkomunikasi atau bertanya-tanya pada guru-guru di desa/kampung. Semoga ada kesempatan melakukannya.

Bagaimana dengan di daerah kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen.

#SelasaTekno



Cheers.

Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto


Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto. Aplikasi sunting foto mana yang kalian pakai? Tentu rata-rata bakal menjawab Photoshop. Selalu iri kalau melihat orang-orang pamer foto atau pamflet hasil sunting di Photoshop karena sampai saat ini saya belum bisa menggunakannya. Kata orang-orang yang mahir memakai Photoshop, aplikasi sunting foto yang satu itu sangat mudah digunakan dan hasilnya luar biasa oke. Tapi bagi saya yang gaptek, menggunakan Photoshop sering bikin puyeng. Pada akhirnya saya tetap dan betah menggunakan aplikasi sunting foto yang sejak dulu terpasang di laptop. Apa lagi kalau bukan PhotoScape! Lagi pula Google PlayStore menawarkan begitu banyak aplikasi sunting foto di Android. Tinggal unduh, pasang, pakai. Selesai. Jauh lebih mudah dan bisa dilakukan di mana pun tanpa harus menenteng laptop.

Baca Juga: Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Saya sudah pernah menulis sedikit tentang PhotoScape dalam pos berjudul 1 Video, 3 Aplikasi. Tapi pada pos itu saya menggabungkan tulisannya dengan dua aplikasi lain selain PhotoScape yaitu Sony Movie Studio Platinum (SMSP) dan ProShow Producer. Hari ini, marilah kenalan lebih jauh dengan PhotoScape. 

PhotoScape merupakan program pengeditan grafis yang dikembangkan oleh MOOII Tech, Korea Selatan. Kalian ingat Larva? Iya, animasi kocak itu diproduksi oleh Tuba Entertainment yang juga berbasis di Korea Selatan. Aplikasi ini dirilis tanggal 28 Mei 2008. Seperti yang dilansir oleh Wikipedia, Konsep dasar PhotoScape adalah 'mudah dan menyenangkan', memungkinkan pengguna untuk dengan mudah mengedit foto yang diambil dari kamera digital mereka atau bahkan ponsel. PhotoScape menyediakan antarmuka pengguna yang sederhana untuk melakukan peningkatan foto umum termasuk penyesuaian warna, memotong, mengubah ukuran, mencetak, dan animasi GIF. PhotoScape beroperasi pada sistem Microsoft Windows dan Mac, dan tidak tersedia di sistem Linux. Bahasa default adalah Bahasa Inggris dan Korea, dengan paket bahasa tambahan tersedia untuk diunduh. Untuk Windows 7 seperti yang saya pakai, bisa menggunakan yang versi 3.6.5.

Kalau kalian membuka situs PhotoScape maka tampilannya akan langsung menampilkan fitur-fitur yang ditawarkannya seperti berikut ini:


Banyak sekali fiturnya PhotoScape ini antara lain: Photo Viewer, Photo Editor, Photo Batch-Editor, Page Creator, GIF Animation, Featured Printer, Screen Capture, Color Picker, RAW Converter, Face Finder, hingga Screen Capture. 

Cara kerja PhotoScape sangat mudah. 

Pertama: buka aplikasinya seperti pada gambar berikut:


Kalian akan langsung diantar pada tampilan seperti berikut ini:


Mau meng'apa'kan foto kalian, silahkan lihat menu pada lingkaran menu layanan itu, atau pada bagian deretan menu bagian atas. Menu-menu utama antara lain PhotoScape, Penilik, Editor, Editor Tumpak, Halaman, Gabung, GIF Animasi, Cetak, Bantuan.

Pada bagian menyunting foto (Editor), kalian bisa memilih foto yang mau disunting melalui folder-folder pada sebelah kiri, dan bilah penyuntingan pada sebelah kanan. Menu menyunting foto ini menyediakan begitu banyak fitur seperti memotong, mengatur ulang ukuran, kontras, mempertajam warna, mempertajam gambar, tapis (foto bisa dibikin a la vintage hingga vignetting), menambah gambar dan objek (tulisan, baloon/quote, foto, ikon bawaan, dan lain sebagainya), clone stamp, dan lain sebagainya. Pada menu ini juga kalian bisa menempelkan sekalian menyunting hasil screenshoot yang di-paste ke situ dan menyimpannya.


Membikin halaman merupakan menu yang juga sering saya gunakan. Klik menu Halaman, silahkan pilih template dan ukuran serta warna latarnya, dan tambahkan foto-foto yang kalian inginkan.


Mudah sekali memakainya!

Untuk penyimpanan ada JPEG, BMP, PNG, GIF, dan TIFF.

Baca Juga: Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik

Saya sangat menyukai PhotoScape karena kemudahan menggunakannya atau memakainya. Tidak perlu harus menjadi seorang profesional. Hahaha. Dulu, saya paling sering mengutak-atik foto menggunakan PhotoScape, sekarang sih juga sering tapi hanya untuk keperluan nge-blog dan nge-Youtube saja. Alkisah, hasil sunting di Canva versi laptop sering saya screenshoot lantas ditempel di PhotoScape dan menyuntingnya, baru kemudian disimpan untuk keperluan nge-blog dan nge-Youtube. Nanti deh saya bikinkan video tata caranya hehehe.

Semoga pos ini bermanfaat terutama bagi kalian yang sama gaptek-nya dengan saya. Percayalah, memakai PhotoScape itu super mudah!

#SelasaTekno



Cheers.

Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Credits: Yanko Design.

Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh. Sampai kapan kita akan terus menulis dan/atau berbicara tentang virus Corona atau Covid-19? Sampai badai virus ini benar-benar berlalu. Atau, sampai telah ditemukan anti virusnya di mana anti virus itu mudah diperoleh masyarakat semudah memperoleh parasetamol. Kapankah badai virus ini berlalu? Itu yang tidak kita ketahui dan sulit untuk diprediksi karena tergantung pada kepatuhan masyarakat terhadap berbagai himbauan dari pemerintah. Himbauan yang dikeluarkan itu bukan untuk kepentingan pemerintah semata, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat itu sendiri. Covid-19 tidak saja membikin pola hidup manusia berubah tetapi juga membikin manusia berinovasi.

Baca Juga: Pengalaman Menggunakan Camtasia Screen Recorder

Salah satu inovasinya bisa kalian baca pada pos berjudul Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir. Salah dua inovasinya, mau saya bahas hari ini di #SelasaTekno.

Self-Sanitizing Door Handle


Seperti biasa, situs rujukan pos ini adalah Yanko Design. Seperti namanya, Self-Sanitizing Door Handle berarti pegangan pintu yang membersihkan (tangan yang memegangnya secara otomatis. Self-Sanitizing Door Handle didesain oleh Sum Ming Wong dan Kin Pong Li. Keduanya merupakan siswa di Hongkong. Mereka berdua selangkah lebih maju dalam hal mensterilkan tangan. Kalau kita masih memakai, bahkan masih berburu, hand sanitizer, maka mereka mendesain gagang pintu sanitizer. Gagang pintu dan/atau pegangan pintu itu menggunakan cahaya agar selalu disterilkan. Pada tahun 2020, ini diklasifikasikan sebagai objek pintar dan setara dengan seseorang yang mengetahui pentingnya mencuci tangan.

Para siswa terinspirasi oleh wabah SARS pada tahun 2000-an dan membayangkan bahwa pegangan pintu self-sanitizing lebih efektif daripada proses pembersihan berbasis bahan kimia yang kita gunakan saat ini. Pegangan terbuat dari tabung kaca dengan tutup aluminium di setiap ujung dan seluruh pegangan ditutupi dengan lapisan fotokatalitik bubuk yang terbuat dari mineral yang disebut titanium dioksida. Bakteri terurai melalui reaksi kimia yang diaktifkan oleh sinar UV yang bereaksi dengan lapisan tipis pada tabung gelas. Didukung oleh generator internal, pegangan mengubah energi kinetik dari gerakan pembukaan / penutupan pintu menjadi energi cahaya dan begitulah cara lampu UV selalu melakukan tugasnya. Produk pembunuh kuman ini benar-benar menghancurkan 99,8% mikroba selama tes laboratorium dan itu lebih dari apa yang dilakukan Thanos dengan batu infinity-nya.

CreditsYanko Design.

Selain menjadi pahlawan pegangan, Self-Sanitizing Door Handle memiliki estetika visual modern dan bentuk yang ramping. Lampu latar hampir membuatnya tampak seperti lampu lava! Bayangkan jika menyala hijau atau merah untuk menunjukkan apakah pegangannya aman untuk disentuh atau tidak. Para siswa dipengaruhi oleh jumlah orang yang terinfeksi dan dibunuh selama SARS dan ingin melakukan sesuatu untuk mengubah gambaran kesehatan masyarakat melalui desain inovatif. Mengingat bahwa pegangan pintu publik adalah titik panas bagi bakteri, ini bisa menjadi awal dalam membuat infrastruktur yang lebih aman untuk dunia yang lebih siap untuk menangani pandemi.

Self-Sanitizing Door Handle adalah salah satu entri pemenang untuk James Dyson Awards 2019.

Apakah Kita Membutuhkannya?


Jelas! Semua umat manusia membutuhkannya. Dengan Self-Sanitizing Door Handle ini maka setiap orang tidak perlu mencuci tangan setiap hendak memasuki rumah dan/atau ruangan karena otomatis tangan sudah dibersihkan saat memegang gagang pintu. Penggunaan hand sanitizer pun bisa ditekan. Tetapi skala prioritas belum mengijinkan kita memperolehnya. Karena, skala prioritas saat ini tentulah bagaimana tim medis di seluruh dunia, terkhusus di Indonesia, bisa memperoleh Alat Pelindung Diri (APD) atau Personal Protective Equipment. Agar mereka tidak perlu terlalu was-was setiap menangani pasien Covid-19. Berikutnya, bisa ditemukan anti virusnya atau obat yang betul-betul ampuh. Berikutnya, masyarakat terdampak Covid-19 dapat terbantu. Ya, sebagian masyarakat Indonesia harus betul-betul dibantu perekonomiannya. Tidak perlu banyak, tetapi mencukupi dan/atau bersifat menambah.


Baca Juga: Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i

Bagaimana menurut kalian, kawan? Bagus kan Self-Sanitizing Door Handle ini? Karena sangat membantu aktivitas kita sehari-hari apalagi bagi siapa pun yang lupa mencuci tangan. Saya tidak berharap Self-Sanitizing Door Handle terpasang di Pohon Tua, toh pintu Pohon Tua rata-rata memakai gerendel karena menghindari pergeseran daun pintu saat gempa. Zadul kan? Hahaha. Tapi yang jelas, dalam kondisi terdesak, wabah (SARS, Covid-19) dapat menjadi daya dorong bagi manusia untuk berinovasi, dan mengubah pola hidup.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno.



Cheers.

Pengalaman Menggunakan Camtasia Screen Recorder

Credits: TechSmith.

Pengalaman Menggunakan Camtasia Screen Recorder. Saya pernah menulis pos berjudul I Really Need a Screen Recorder for My Blogging Videos. Memang, saya sangat membutuhkan aplikasi screen recorder atau perekam layar agar lancar membikin video-video tutorial tema Blogging yang tayang di channel Youtube. Tentu yang bebas dari tanda air. Karena, aplikasi Free Screen Video Recorder yang telah terpasang di laptop ternyata menyertakan tanda air. Akhirnya saya diberikan aplikasi bernama Camtasia oleh Oedin. Kemudian, Camtasia menjadi teman sehari-hari dalam proses kreatif membikin video tutorial nge-blog mulai dari mendaftar akun blog pertama kali di platform Blogger, mengenal dashboard-nya, sampai yang paling baru tentang dapur entri blog. Tentu masih banyak video tema Blogging yang bakal tayang secara berkelanjutan di Youtube setiap Senin.

Baca Juga: Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i

Bagaimana pengalaman saya menggunakan Camtasia?
Perlukah kalian mengetahuinya?
Hmmm ... perlu tahu atau tidak, bukan masalah, yang jelas saya ingin berbagi pengalaman saya. Jadi, marilah kita cari tahu!

Camtasia


Kenalan dulu yuk sama Camtasia. Wikipedia menulis sebagai berikut: Camtasia (/ kæmˈteɪʒə /) (sebelumnya Camtasia Studio) adalah rangkaian perangkat lunak, dibuat dan diterbitkan oleh TechSmith, untuk membuat tutorial dan presentasi video langsung melalui screencast, atau melalui plug-in rekaman langsung ke Microsoft PowerPoint. Area layar yang akan direkam dapat dipilih secara bebas, dan audio atau rekaman multimedia lainnya dapat direkam pada waktu yang sama atau ditambahkan secara terpisah dari sumber lain dan diintegrasikan dalam komponen Camtasia produk. Kedua versi Camtasia dimulai sebagai program tangkapan layar yang disempurnakan dan telah berevolusi untuk mengintegrasikan tangkapan layar dan alat pasca-pemrosesan yang ditargetkan pada pasar pengembangan multimedia informasi dan pendidikan.

Camtasia terdiri dari dua komponen utama:

Camtasia Recorder - alat terpisah untuk menangkap audio layar dan video
Editor Camtasia - komponen yang seluruh produk dinamai, yang kini menjadi alat pembuat multimedia dengan antarmuka "timeline" standar industri untuk mengelola beberapa klip dalam bentuk trek yang ditumpuk ditambah perangkat tambahan yang dirangkum di bawah ini.

Itu katanya Wikipedia yang saya terjemahkan menggunakan Google Translate! Hahahaha. 

Tapi memang betul, seperti itulah Camtasia. Tiga langkah utama yang tertera di situsnya adalah sebagai berikut:




Jujur, saya belum pernah memakai Camtasia untuk urusan yang berkaitan dengan Power Point. Saya memakai Camtasia semata-mata untuk merekam layar saja demi kepentingan video tutorial tema Blogging tersebut.

Bekerja Bersama Camtasia


Bagaimana cara menggunakannya? Mudah. 

1. Buka aplikasi Camtasia.
2. Pilih rekam layar.
3. Silahkan beraktivitas selama layar direkam.
4. Stop.
5. Preview.
6. Save menggunakan format Video File (*.avi).

Camtasia yang saya pakai itu Camtasia Studio 6. Hanya punya dua format penyimpanan, format pertama ya penyimpanan Camtasia, format kedua ya Audio Video Interleaved (AVI). Sayangnya, format AVI tersebut ditolak mentah-mentah oleh Sony Movie Studio Platinum 13. Oh Tuhan, apa salah dan dosa hambaaaaa. Hehe. Saya mencoba membuka file berformat AVI di aplikasi Proshow, ternyata bisa. Disimpan kembali dalam format MPEG (*.mpg). Alhamdulillah, format keluaran dari Proshow itu diterima dengan tangan terbuka oleh Sony Movie Studio Platinum 13. Lancar jaya! Tinggal mempercepat, menambah musik dan/atau audio, render, selesai. Kalian bisa melihat video-videonya di Youtube.


Menggunakan Camtasia tentu menyenangkan, terutama untuk kepentingan video tutorial tema Blogging, karena memang itulah yang saya cari. Meskipun untuk itu saya harus berputar-putar terlebih dahulu menggunakan Proshow, but it's okay

Baca Juga: Aplikasi Super Keren Untuk Para Pejalan Itu Bernama Relive

Bagaimana, kawan? Pengalaman saya ini cukup menggairahkan bukan? Hahaha. Apanya yang menggairahkan? Hahaha. Maksud saya, pasti kalian setidaknya juga kepikiran untuk menggunakan Camtasia, mungkin untuk keperluan lainnya. Tidak melulu harus untuk video tutorial bertema Blogging. Mungkin kalian pengen bikin tutorial tentang cara menggunakan Clan Lotus pada game Battle Realms? Boleh juga. Atau ... bagaimana membikin persentasi Power Point yang kece, silahkan. Yang jelas Camtasia sangat membantu saya. Insha Allah, kalian pun demikian.

Semoga bermanfaat.

#SelasaTekno



Cheers.

Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i


Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i. Sebenarnya saya membutuhkan kamera baru yang legit untuk keperluan pekerjaan. Tetapi, setelah dipikir-pikir, banyak telepon genggam dilengkapi dengan kamera yang mumpuni. Pekerjaan saya itu mobile, liputan ke sana sini, dan sejak lama saya memang lebih suka memakai kamera Xiaomi Redmi 5 Plus ketimbang Canon Eos600D untuk urusan pekerjaan ini. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memiliki sebuah telepon genggam yang sudah lama bikin mupeng. Meskipun kata orang-orang hasil fotonya tidak realistis karena tone warna sepertinya ditingkatkan, tapi saya suka karena bukankah saya sendiri juga acap meningkatkan tone warna foto? Selain itu, konon telepon genggam yang satu ini punya mode wide, dan juga asyik banget kalau dipakai foto malam hari.

Baca Juga: Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor

Eng ing eng ...

Namanya Realme 5i. Versi ekonomis dari Realme 5. Hehe.

Seperti apa sih Realme 5i ini? Sudah banyak artikel yang mengulas tentang Realme 5i. Saya bahkan sudah menonton ulasannya oleh David pada channel Gadgetin. Rencananya sih kemarin pengen bikin video unboxing tapi saya tidak berbakat. Hahahaha. Meskipun tidak bikin videonya, tapi mari kita unboxing Realme 5i.

Unboxing Realme 5i


Kotak Realme 5i berwarna kuning! Sebagai Presiden Negara Kuning, saya bangga. Haha. Di bagian depan seperti biasa ada tulisan 5i dan Realme. Di bagian belakang kotak ada keterangan: Massive Battery 5.000mAh, Ultra-Wide Quad Camera, Snapdragon 665 AIE, sama 6,5" (16,5cm) Mini-drop Display.


Waktu unboxing di dalam kotak tersebut terdapat: 1 telepon genggam Realme 5i, adaptor dan kabel (charger), kotak berisi kunci slot dan petunjuk pemakaian. Slot kartu bisa mengisi dua kartu nano dan satu kartu memori. Bagian belakang telepon genggam ini terdapat satu finger print, satu flash, dan empat kamera. Satu kamera lagi di bagian depan. Empat kamera di belakang itu terdiri dari: 12 MP kamera utama, 8 MP Wide, 2 MP Portrait, dan 2 MP makro. Sementara itu untuk fasilitas aplikasi kamera ini ada macam-macam: Video, Foto, Potret, terus ada pilihan foto Bentang Malam, Pano, Mode Pakar, Selang Waktu, Slo-Mo, dan Ultra Macro. Mode Wide sampai Penguat Kroma ada pada bagian atas layarnya.

Hasil Foto


Dan berikut hasil fotonya. Ini hasil foto kamera utama:


Yang ini hasil foto portrait (bokehnya itu):


Wide? Iya, ini hasil kamera wide-nya:


Dan yang berikut-berikut ini saya lupa mode apa hahaha.




Sementara saya belum mencoba foto di malam hari, di luar rumah, nanti deh bakal saya coba hehehe. Anyhoo, foto-foto di atas difoto tanpa harus mengatur ini itu dulu, jadi saya belum tahu seberapa bagusnya lagi hasil foto dan video dari Realme 5i.


Saya tidak membahas terlalu panjang tentang Realme 5i ini. Intinya telepon genggam ini asyik banget diajak foto dan merekam video. Hasilnya jauh lebih oke dari telepon genggam sebelumnya yaitu Xiaomi Redmi 5 Plus. Bagaimana jika dibandingkan dengan Redmi Note 8? Aaaaa, kata David, beda paling mendasar adalah pada kamera utama karena hasil kamera utama Redmi Note 8 punya resolusi 48 MP untuk kamera utama. Tapi hasilnya juga tidak berbeda jauh. Beda paling utama adalah warna hahaha. Seperti yang saya bilang, tone warna dari Realme 5i rada lebih tinggi dari tone sebenarnya.

Baca Juga: Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Menurut saya, untuk ukuran kantong missqueen seperti saya, ditambah kebutuhan untuk pekerjaan dan hobi, saya pikir Realme 5i sudah bagus sekali. Bagaimana menurut kalian? Komen di bawah. Hehe.

#SelasaTekno



Cheers.

Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor

Credit: Pak Yulius.

Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor. Saya pernah menulis tentang teknologi pertanian pada pos berjudul Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru. Bagaimana Petrogenol yang bahenol memikat lalat jantan dengan daya tarik seksualitasnya yang palsu, itu pengetahuan baru bagi saya pribadi. Sebagai institusi pendidikan tinggi, berbagai pengetahuan dan informasi bertebaran di Universitas Flores (Uniflor). Sebagai pegawai yang bertugas mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan-kegiatan di Uniflor, jelas saya adalah makhluk Tuhan paling beruntung. Otak saya betul-betul berfungsi sebagai spons yang menyerap semuanya dengan gilang-gemilang. Haha. Setiap hari saya belajar hal baru.

Baca Juga: Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Rabu kemarin, 18 Maret 2020, saat hendak pulang kantor saya mampir di Kantor Kemahasiswaan Uniflor. Tujuan saya hanya satu, stoples berisi kudapan kuping gajah di atas meja! Hahaha. Sumpah, mata ini sangat cepat kalau melihat makanan. Belum sampai tangan saya masuk ke dalam stoples, Pak Yulius yang sedang berada di situ berkata: Kak Tuteh tangannya dibersihkan dulu pakai ini. Melihat botol mini khas hand sanitizer tanpa merek/label itu saya membalas bahwa saya pun membawa hand sanitizer sendiri. Tapi oh la laaaaa itu hand sanitizer yang dibikin sendiri! Uh wow sekali. Mulailah saya bertanya-tanya pada Pak Yulius.

Ceritanya, hari itu pada mata kuliah Fisika Lingkungan di Prodi Pendidikan Fisika pada FKIP Uniflor, Pak Yulius bersama mahasiswa semester 6 praktek membikin hand sanitizer dan disinfektan. Bahan-bahan hand sanitizer adalah alkohol, lidah buaya (isi atau jel bagian dalamnya), dan essential oil. Kalau disinfektan tidak saya tanya lebih lanjut. Ketiga bahan hand sanitizer itu punya takaran khusus untuk menghasilkan hand sanitizer yang kuat, sekitar 80% mampu menghambat berkembangbiaknya dan/atau membunuh mikroorganisme seperti virus dan bakteri yang menempel pada tubuh manusia dan benda mati. Hand sanitizer merupakan antiseptik yang diaplikasikan pada tubuh manusia terutama tangan. Sedangkan disinfektan diaplikasikan pada benda mati seperti meja, pegangan pintu, komputer, wastafel, dan lain sebagainya.

Menurut Pak Yulius, membuat hand sanitizer dan disinfektan dilakukan mengingat virus Corona yang oleh WHO diresmikan dengan nama Covid-19 merupakan virus dengan penyebaran yang cukup mudah yaitu melalui kontak fisik, serta berkaitan dengan lingkungan karena keberadaan virus Corona mengganggu idealnya lingkungan di mana manusia hidup, sehingga berbagai antisipasi harus dilakukan. Selain itu, hal ini dilakukan untuk menanggulangi kelangkaan hand sanitizer dan disinfektan di pasaran. Saat ini Pak Yulius bersama mahasiswa Semester 6 Prodi Pendidikan Fisika baru membuat prototype dan tidak menutup kemungkinan untuk memproduksinya secara massal.

Kalian bisa membaca pos kemarin berjudul Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing untuk informasi lengkapnya.

Baca Juga: Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir

Kenapa perihal ini masuk di #SelasaTekno? Karena ini berhubungan dengan penelitian. Teknologi tepat guna. Menurut Pak Yulius, hand sanitizer dan disinfektan yang dibikin ini merupakan sebuah penelitian karena meskipun sudah banyak yang melakukannya, tapi menggunakan bahan yang berbeda, dengan tempat atau lokasi yang berbeda, serta perhitungan secara sains. Turunan perhitungan itu yang kemudian ditakar a la rumahan menggunakan gelas. Sumpah ya, penjelasan demi penjelasan di white board oleh Pak Yulius itu bikin kepala saya langsung oleng hahaha. Sangat ilmiah ... huhu. Berbahagialah kalian yang kuliah di Prodi Pendidikan Fisika.

Ya sudah deh, semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua.

#SelasaTekno



Cheers.

Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Credit: Tokopedia.

Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian. Menulis tentang microphone jepit atau lebih sering dikenal dengan nama clip on bikin mupeng to the max. Karena saya sendiri memang tidak punya clip on. Dulu pernah pengen beli, tapi setelah dipikir-pikir memang belum sangat membutuhkannya. Kalian pasti setuju bahwa hidup itu berat, haha, kebutuhan hidup tidak sedikit, oleh karena itu harus pandai-pandai menahan diri. Salah satunya ya itu, menahan diri untuk tidak membeli clip on. Sekali dua syuting dokumenter yang butuh settingan saya mengakalinya dengan menggunakan microhpone standar. Microphone itu disembunyikan di balik laptop dan kabelnya disusup di balik taplak meja. Kalau ingat itu, duhaaaiiii jadi ngakak.

Baca Juga: Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir

Device perekam video memang dilengkapi dengan micrhopone bawaan. Namun microphone bawaan tersebut punya keterbatasan dalam hal menjangkau audio jarak jauh. Oleh karena itu orang-orang menggunakan clip on. Tetapi bagaimana jika tidak punya clip on sedangkan jarak kamera dengan sumber audio cukup jauh? Untuk aplikasi sunting Sony Movie Studio Platinum, atau aplikasi lainnya, audio bisa diakali dengan mem-boost-nya melalui track compressor. Namun otomatis natural sound di sekitarnya, yang rata-rata tidak penting, juga ikut jadi besar. Beda kalau proses syuting atau taping dilakukan di dalam studio kedap suara.



Lantas, bagaimana mengakalinya, Teh?

Waktu saya mengikuti rekam jejak Oe Din membikin konten video Ngobrol-Ngobrol Santai, dia menggunakan telepon genggam! Oke, mungkin kalian bertanya-tanya, bagaimana bisa? Bagaimana menyatukannya? Dan lain-lain pertanyaan. Tapi bagi tukang syuting, pasti paham betul bagaimana melakukannya, memprosesnya, hingga selesai. Proses ini dilakukan apabila kalian merasa bahwa sumber audio terlalu jauh dari letak kamera terkhusus kamera sedang merekam video dengan wide shoot atau full shoot

1. Posisikan kamera.
2. Posisikan subyek sebagai sumber audio.
3. Letakkan telepon genggam di dekat sumber audio.
4. Siapkan perekam suara di telepon genggam.
5. Rekam bersama-sama kamera dan perekam suara di telepon genggam.

Setelah proses syuting selesai, giliran menyuntingnya yang cukup ribet, hahaha, karena dibutuhkan lebih dari satu audio track. Itu pun kalau hanya menggunakan satu kamera. Jadi, satu video jika ditambahkan ke aplikasi sunting akan menghasilkan satu video track dan satu audio track. Kalau menggunakan empat kamera? Coba hitung sendiri! Saya pernah menyunting video yang menggunakan lima kamera dan itu bikin hidup jadi galau. Hahaha. Lihat gambar di bawah contoh satu video, perhatikan panahnya:


Audio itu adalah audio bawaan dari video yang bersangkutan (panah yang bawah). Penguatan audio yang direkam menggunakan telepon genggam ditambahkan di bagian bawah audio bawaan tersebut. Lihat gambar di bawah:


Panah tersebut menunjukkan audio hasil rekaman menggunakan telepon genggam. Saatnya mensinkronkan dan/atau menyesuaikan. Gunakan headset agar lebih teliti mendengarkan audio bawaan dari video, dan audio dari perekam suara di telepon genggam. Kalau videonya hanya satu, kira-kira seperti gambar di atas lah jadinya. Tapi kalau videonya lebih dari satu dan/atau menggunakan lebih dari satu kamera untuk video yang sama (beda sudut pengambilan)? 

Pertama-tama, tambahkan dulu video wide shoot atau full shoot di mana video itu adalah video itu semacam metronome-nya. Lalu tambahkan lagi video dari kamera lain. Sesuaikan terlebih dahulu audio-audio. Baru kalian boleh memotong/cut, khusus video ke-dua atau ke-tiga, mana yang dipakai, mana yang dibuang, mana yang dipakai untuk cut-to-cut. Setelah semua sudah oke, tambahkan audio dari perekam suara di telepon genggam. Sesuaikan. Selesai. Mudah bukan? Iya, mudah bagi yang sudah terbiasa menyunting video, tapi bagi awam bakal sangat sulit dilakukan. Sebenarnya semua tergantung faktor kebiasaan saja. Bisa karena biasa. Betul begitu? Begitu betul!

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang tidak punya clip-on, seperti saya, hahah. 

#SelasaTekno



Cheers.