Backpacks Impian


Backpack, backpack, packpack. Saya memang serakah. Sudah punya banyak backpack tapi masih suka cuci mata di toko online terutama bagian backpack/daypack/ransel dan sepatu. Menurut hikayat, mata saya bakal lebih segar dan sehat, bahkan angka silinder berkurang, hanya dengan melihat foto backpack dan sepatu. Kenyataannya, mata saya memang terhibur tapi perasaan tersakiti patah jadi dua gara-gara harus menahan segala godaan syaitan yang terkutuk. Jempol tak boleh berkehendak seenak perut mengklik tombol beli atau tombol masukkan ke keranjang. Perasaan ini lebih sakit dari pertanyaan: kapan kawin? A-ha!

Baca Juga : Pen Printer

Backpack sudah menjadi bagian kehidupan saya, kalian, mereka. Setiap hari pasti panggul backpack. Jangan harap kalian melihat saya membawa tas perempuan kecuali pada hari saya tidak ingin mebebani pundak. Sebisa mungkin semua benda masuk ke jok sepeda motor, hehe. Macam-macam backpack berukuran sedang (bukan carrier) yang sekarang memenuhi lemari tas termasuk backpack khusus perempuan dan drawstring bag. Macam-macam merek; Consiva, Eiger, Trekker, sampai yang tidak bermerek. Tapi toh sampai sekarang saya masih mencari backpack yang benar-benar nyaman dipakai dan mudah ketika hendak mengeluarkan barang.

Banyak jenis backpack yang sudah masuk list. List buat cuci mata alias buat dilihat lagi, lagi, dan lagi. Untuk membeli backpack, egeeeennn!?, saya harus menahan diri. Haha. Hidup harus ada skala prioritas, kata Mamatua. Harus bisa bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Beeeuuuh. Salah satu backpack yang paling saya sukai dari daftar cuci mata itu adalah backpack anti maling berikut ini:


Namanya Bobby. Harganya 89,95 Euro atau setara 106 Dollar. Harga segitu lumayan murah jika dibandingkan fasilitas si Bobby seperti: zipper dan kantong tersembunyi, anti air, anti cut, port pengisian USB terintegrasi, garis keselamatan, kompartemen shock-proof. Anti maling yang dimaksudkan di sini merujuk pada zipper dan kantong tersembunyi sehingga menyulitkan maling/copet merogoh karena bakal sulit mencari pintu masuk haha. Bahasanyaaa. Serta, anti cut alias tidak dapat disobek dengan benda tajam. Karena anti air, kita tidak perlu tambahan rain cover yang biasanya tersimpan di bagian bawah backpack. Ugh, ini backpack impian kita semua.


Selain Bobby, muncul begitu banyak pula backpack yang canggih nian. Yang bakal bikin kita geleng-geleng kepala saking canggihnya. Seperti SunPack dari FlexSolar berikut ini:


Didesain oleh Iris Liu dan Lilian Wang, harganya 59 Dollar. Apa keistimewaan SunPack? SunPack dilengkapi (terintegrasi) dengan panel surya Flextech! Jadi kalian tidak perlu repot membayar tambahan tagihan listrik karena ngecas ini itu terutama ngecas telepon genggam. SunPack juga bakal mempermudah kalian kalau berkegiatan di luar ruangan karena tidak perlu pusing mencari tempat colokan. Cihuy! Kebutuhan listrik untuk telepon genggam sudah disediakan oleh SunPack. Selain itu, SunPack dilengkapi fitur seperti penyimpanan terkotak, desain tahan air, penguncian anti-maling, kantong pemblokiran RFID untuk kartu, dan port USB dan headphone terpadu, tangguh dan fleksibel, panel tahan air, tahan debu, tahan cuaca. Dirancang dengan tekstur bergelombang, panel dapat menangkap tenaga matahari secara efisien kapan saja, di mana pun panel ini menghadap (tanpa perlu menghadap langsung ke matahari sebagai sumber listrik).

Awesome! Backpack impian kita semuaaaa *siul-siul*.

Satu lagi backpack impian yang patut diulas yaitu Duffle Sport. Duffle terdiri dari tiga kompartemen terpisah yang dapat berfungsi sendiri dan/atau juga bisa disatukan untuk fungsi lebih. Untuk mempermudah, silahkan lihat gambar berikut ini:


Gambar di atas adalah tiga Duffle yang terpisah. Kalau cuma pengen ke kantor dan membawa laptop, buku, dompet, barang printilan lainnya, pakai yang ini saja karena tipis dan lebih masuk akal, kan tidak mungkin juga ke kantor bawa carrier tapi isinya cuma laptop:


Kalau urusannya lebih ke banyak barang, misalnya butuh bawa pakaian ganti, atau butuh bawa cobek, silahkan gabungkan dengan yang satu ini:


Sedangkan kalau ingin bepergian selama seminggu dengan bawaan jauh lebih banyak: pakaian, sepatu, kamera, buku, handuk, dan lainnya, silahkan gabungkan yang berikut ini:

 
Keren sekali kan? Apabila hendak bepergian selama seminggu, bawa saja yang terakhir. Sudah sampai hotel, tinggalkan yang besar, jalan-jalan keliling kota misalnya, cukup memanggul yang kecil. Aaaarrggggh. Suka sekali sama desainnya! Duffle didesain oleh Johnathan Webster dan dibanderol 259 Dollar. Terberkatilah kau, Webster! Dan tentu ini backpack impian kita semua *siul tambah kencang*.


Seandainya diijinkan oleh Yang Di Atas, saya bakal pilih ketiganya. Maruk? Biarin deh. Soalnya betul-betul memenuhi impian sih. Apakah kalian sudah punya salah satu backpack di atas? Bagi tahu donk bagaimana rasanya memakai salah satu backpack impian itu.

Dunia ini, kata Mamatua, semakin canggih. Haha.

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Memasak Jadi Lebih Mudah dengan The Cooking M3


Sudah lama saya tergila-gila pada kotak plastik entah itu Tupperware, Dus-dusan, atau kotak plastik tanpa merek. Fungsinya adalah untuk memilah bahan makanan mentah dan memaksimalkan ruang penyimpanan di dalam kulkas. Thanks God, kotak-kotak plastik ini memudahkan saya mengorganisir menu harian di rumah; apa saja yang bakal dimasak selama empat sampai lima hari ke depan. Tentu harus mendahulukan memasak ikan mentah dan ayam, misalnya, disusul tahu-tempe dan telur, serta yang terakhir nugget dan sosis. Dalam seminggu varian makan kami seperti itu urutannya. Kadang-kadang kalau malas masak, barulah membeli lauk di Amazy atau di Warung Damai.


Lauk? Iya, karena nasinya dimasak sendiri di magicjar dengan jangka waktu 30 (tiga puluh) menit. Kakak Pacar adalah orang yang paling malas makan nasi hasil dimasak pakai magicjar. Katanya, nasi yang dimasak di tungku atau di kompor jauh lebih enak dan gurih. Yah, mau bagaimana lagi? Sudah lama kami menggunakan magicjar, dulu magicom, jadi sudah terbiasa lidahnya.

Magicjar yang ada di rumah kami biasa-biasa saja, merek Yong Ma, dan terbukti tahan banting meskipun usianya sudah cukup lama. Hanya saja, alat itu cukup untuk memasak nasi, bukan untuk yang lain. YA IYA LAAAH! Hehe. Tapi ternyata, ada loh magicjar yang bisa dipakai sekaligus untuk memasak nasi dan dua lauk (sekaligus menghangatkannya). Haaa? Benarkah ada? Kok bisa?

Tidak percaya?

Perkenalkan ... The Cooking M3.

Namanya gitu banget siiiih, jadi ingat saingannya Telkomsel. Hahaha. The Cooking M3 didesain oleh Xiao Zhihua, Gao Junwu, Li Lei dan Xu Qinqin. Hasil desain mereka ini memenangkan Red Dot Design Concept Award tahun 2018. Ini dia penampakannya:

Penampakan saat sudah digunakan dapat dilihat di awal pos ini.


The Cooking M3 dibangun dengan kontrol memasak multi-unit (tiga unit), sehingga sangat memungkinkan untuk memasak tiga jenis masakan sekaligus. Struktur tiga kompartemennya yang inovatif memungkinkan untuk memasak hidangan terpisah dengan ukuran: dua berukuran kecil dan satu berukuran besar. Jadi bakal lebih hemat waktu dalam memasak terutama jika yang dimasak itu nasi, sup, dan/atau kare. Sedangkan untuk makanan yang sudah digoreng bisa terus dihangatkan di sini.

Uniknya, tiga kompartemen itu dilengkapi dengan wadah siap induksi masing-masing yang dapat ditempatkan di M3. Alat ini memang menggunakan teknologi induksi seperti dalam magicjar, unuk memanaskan makanan juga.

Kalau magicjar biasanya punya panel buat memasak dan menghangatkan yang harus dilakukan dengan jari, hehe, maka The Cooking M3 punya kontrol suara. Kontrol suara! Jadi cukup bersuara saja, kalian bisa menginstruksi alat ini untuk mulai atau mengakhiri proses memasak, atau bahkan memanaskan makanan beberapa menit sebelum dimakan. Yuhuuuu yang macam begini ini yang membikin hidup menjadi lebih mudah.


Mungkin karena baru prototype, maka belum ada harga yang ditampilkan di situsnya. Tapi mungkin juga sudah ada di rumah kalian. Kalau kalian sudah memakainya, bagi tahu saya donk bagaimana rasanya memasak menggunakan The Cooking M3? 

Semoga bermanfaat.


Cheers.

#KepoBuku Cara Lain Nge-review Buku


Sejak awal nge-blog sekitar tahun 2003-an, saya sudah kenal yang namanya podcast. Dari mana saya tahu? Dari blog seorang lelaki kece blogger dan dedengkot Blogfam bernama Rane Hafied atau lebih sering dipanggil Pak Jaf. Daftar podcast-nya dulu kalau saya tidak salah terdiri dari potongan-potongan rekaman siaran radionya. Pak Jaf adalah produser sekaligus penyiar Radio Singapura Internasional (RSI). Busyet, saya masih simpan kartu Lebaran dari Pak Jaf dengan gambar orang-orang RSI. Dari beliau saya banyak belajar tentang dunia radio. Yuhuuu. Beliau ini baik banget dan tidak pelit ilmu. Bersama Pak Jaf, Uyet, dan Mbak Sa, cerita estafet kami pernah diterbitkan oleh Gramedia.


Pak Jaf dan dunia podcast tidak bisa dipisahkan. Kalau ingat Pak Jaf, pasti saya langsung ingat podcast. Seperti kalau ingat Deadpool pasti ingat Ryan Reynolds. Banyak sudah podcast yang bisa kalian dengarkan di blog-nya, dengan banyak bahasan. Diantaranya: Nyeduh Kopi Bareng Riyogarta, [Klipping] Podcast, Masa Depan Penyiaran yang Belum Pasaran di Indonesia, Episode Anchor: Cover-Coveran Ukulele Lagi, Tips Merekam Podcast Dengan Ponsel, dan yang satu ini Blog: Review Singkat Speaker Studio Buat Podcasting. Masih banyak podcast lainnya, silahkan meluncur ke blog beliau. Asyik banget dengerin podcast di sana. Nge-blog lewat suara! Kalian harus coba nge-blog lewat suara ini.


Saat ini Pak Jaf, yang konsisten dengan dunia podcast, punya seri podcast berjudul #KepoBuku. #KepoBuku ini merupakan review buku tapi dalam bentuk audio alias suara. Dalam #KepoBuku Pak Jaf tidak sendiri, ada temannya yang bernama Hertoto Eko, dan Steven Sitongan yang punya Ksatria Buku (silahkan cari di IG). Pak Jaf dan Om Totok sama-sama luwes, mungkin karena mereka sahabatan. Sedangkan Steven jauh lebih muda dari mereka berdua ... eh. Ampun Pak Jaf hahaha

Baca Juga : Proyektor Ini Tidak Perlu Layar Atau Dinding

Podcast #KepoBuku yang sudah sampai pada Epidose #11 itu bakal memuaskan kalian para pecinta buku, hanya dengan mendengarkan sambil tidur-tiduran atau sambil bajak sawah. Bahkan bisa jadi pilihan bagi kalian yang pengen nge-review tapi malas banget menulis.

Oh, really?

Yess, darling!

Karena, kalian juga bisa mengirimkan review singkat kalian tentang buku yang sedang dibaca ke mereka! Via WA voice salah satunya. Jadi, selain review buku bisa kalian pos di blog pribadi, juga bisa dikirim ke mereka dalam bentuk audio. Saya sendiri sudah mengirimkan buku yang sedang saya baca, kebetulan juga cocok sama tema mereka tentang buku sastra. Silahkan dengarkan suara saya yang cempreng hahaha.


Silahkan submit review kalian. Caranya? Lihat gambar di bawah ini *tunjuk-tunjuk*


Atau langsung saja ke blog-nya.

Baca Juga : Dine Tools That Can Be Folded

Berkaitan dengan podcast ini adalah layanan yang dipakai yaitu Anchor. Saya pernah membahasnya di sini. Namanya layanan podcast, semua hal yang berkaitan dengan audio bakal diterima dengan senang hati. Silahkan unggah audio pilihan kalian. 


Tapi, bagaimana caranya punya akun di Anchor?

Mudah, kawan. Buka browser, ketik alamat Anchor, lalu daftar seperti biasa / membuat akun. Silahkan memulai podcast kalian: rekam audio dan unggah. Enaknya di Anchor adalah kalian bisa memilih podcast kalian bakal di-publish di mana saja, termasuk Spotify, Apple Podcasts, dan Google Podcasts!


Apa saja yang bisa diunggah di Anchor? Rekaman seperti #KepoBuku, musik yang kalian buat sendiri, atau lagu yang kalian cover dari lagu orang lain. Dengarkan remakan saya dan Mas Yoyok Purnomor dalam episode susahnya merekam lagu (akustik) live berikut ini:



Atau lagu Terukir di Bintang milik Yuna yang saya cover dengan musik oleh Luis Thomas Ire berikut ini :



Jangan ragu untuk mulai membikin podcast. Karena apa, wahai sodara-sodara? Karena, dulu orang juga ragu nge-vlog kan? Tapi lihat sekarang ... begitu banyak vlogger di dunia ini. Bahkan yang kelasnya sudah pro! Mereka sukses bukan dalam sekedip mata tetapi karena ada proses panjang yang dilalui. Artinya adalah kita harus optimis. Segala sesuatu itu tidak langsung besar, kecuali planet-planet dan dinosaurus :p, semua dimulai dari yang kecil atau dari nol.

Lagi pula, #KepoBuku dapat menjadi inspirasi kita untuk membuat rekaman review buku sendiri. Why not?

Baca Juga : Instructables, How to Make Anything

Berani coba?

Harus!


Cheers.

Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone


Sumpah, saya termasuk blogger yang enggan menggunakan smartphone untuk nge-blog. Alasannya? Alasan pertama, nge-blog pakai smartphone itu rempongnya minta ampun. Rempong terkadang bikin darah tinggi, jadi saya harus menghindarinya dari pada nanti smartphone berakhir di lantai. Alasan kedua, Aplikasi Blogger yang diunduh dari Playstore ternyata tidak mampu memenuhi keinginan saya sehingga dua hari setelah diunduh, pada tahun 2013 itu, langsung hapus tanpa kompromi. Sudah bisa dipastikan saya selalu nge-blog menggunakan laptop/komputer. Nge-blog di sini artinya mengutak-atik dashboard (tulis pos, balas komen, cek statistik, ganti tema, dan lain-lain), bukan blogwalking. Kalau sekadar blogwalking sih smartphone sudah lebih dari cukup.


Sampai kemudian, baru-baru ini saya coba menggali lebih dalam informasi tentang nge-blog pakai smartphone gara-gara banyak pertanyaan tentang itu dari peserta Kelas Blogging NTT yang tidak semua nge-blog menggunakan laptop. Saya terdampar pada sebuah blog milik seorang blogger bernama Antung Apriana dengan judul pos: [Review] Aplikasi Blogger Pro untuk Ngeblog. Ternyata Antung Apriana juga sependapat dengan saya soal Aplikasi Blogger yang sangat tidak memuaskan, di luar ekspetasi:  

Di playstore sendiri ada beberapa aplikasi yang bisa digunakan untuk ngeblog. Yang pertama tentu saja aplikasi Blogger yang sayangnya sangat jelek. Lalu ada Blogit!, Blogger Pro dan Blogaway. Keempat aplikasi yang saya sebutkan di atas merupakan aplikasi untuk blog dengan platform Blogspot.

Dari kutipan di atas, kalian sudah langsung tahu bahwa ada beberapa pilihan untuk nge-blog pakai smartphone yaitu BlogIt!, Bloggr Pro dan Blogaway. Tanpa menunggu duit jatuh dari langit, saya langsung mencari BlogIt! di Playstore, mengunduh dan menginstalnya. Jadi kali ini saya hanya bisa bercerita tentang BlogIt! untuk kalian, hehe. Aplikasi lainnya silahkan dicoba sendiri. Ikon BlogIt! dapat dilihat pada gambar di awal pos ini.

Baca Juga : Proyektor Ini Tidak Butuh Layar atau Dinding

Setelah diinstal (ikuti petunjuk termasuk mengijinkan BlogIt! untuk menggunakan file yang ada di smartphone), maka tampilannya seperti berikut ini:



Tampilannya langsung seperti itu (gamblang). BlogPacker adalah nama blog-nya, disusul bagian bawah terdiri dari dua item yaitu Post dan Comments. Artinya BlogIt! memudahkan para penggunanya. Post merupakan tampilan daftar konten blog kita baik yang sudah di-publish, draft, maupun terjadwal. Sedangkan Comments adalah semua komentar dari para pembaca (tanpa menampilkan komentar balasan dari kita), seperti yang bisa dilihat di gambar berikut:




Bagaimanan untuk memulai pos baru? Silahkan klik tanda + pada item Post, sudut kanan bawah. Kalian akan langsung diantar pada form pos seperti pada gambar berikut:


Silahkan isi judul dan isi pos (Post Title dan Write Your Post Here!). Panel pos memang sedikit, seperlunya saja, seperti menebalkan, memiringkan, menggarisbawahi kata/kalimat, ada juga strikethrough, menambah tautan, menambah gambar, serta rata kanan - tengah - kiri (sayang ya tidak ada justify), juga menambah label/tag. Tapi saya pikir, inilah yang paling utama dibutuhkan untuk membuat atau menulis sebuah pos blog. Pada bagian kiri atas ada pilihan untuk mem-publish pos, menyimpannya, dan tiga titik dengan tiga pilihan yaitu Schedule (membuat jadwal pos), Delete (menghapus pos), dan Edit HTML.

Baca Juga : Foto Kreatif Untuk Pos Blog

Awal pos ini sampai satu paragraf saya menggunakan BlogIt!, yang kemudian dilanjutkan dengan laptop. Jadi, saya bisa mengatakan bahwa BlogIt! lumayan kece karena untuk menambahkan gambar, suka-suka saya memilih letak/posisi. Sedangkan waktu pakai Aplikasi Blogger, gambar tidak bisa diatur (selalu di bawah pos). Makanya dua hari saja langsung saya hapus hehe. Tapi kalau ditanya mau pakai BlogIt! atau nge-blog pakai laptop, sekarang saya pikir tergantung situasi. Apabila situasi tidak memungkinkan saya pakai laptop tetapi ide sedang melayang-layang, pasti buka BlogIt! lantas menyimpannya sebagai draft saja. Ide itu nanti bisa diedit saat sedang online menggunakan laptop.

Semakin banyak aplikasi nge-blog pakai smartphone, tentu semakin membantu para blogger memperbarui konten blog mereka. Yaaa pasti lebih semangat kan. 

Nge-blog pakai smartphone ini mungkin akan menjadi salah satu materi Kelas Blogging NTT. Mengingat, peserta sudah sering menanyakannya (dan kami menjawab soal Aplikasi Blogger yang jelek, lebih baik pakai browser saja). Semoga akan lebih banyak peserta yang rajin memperbarui konten. Se-mo-ga!

Baca Juga : Legitnya Xiaomi Redmi 5 Plus

Bagaimana dengan kalian? Lebih suka nge-blog pakai smartphone atau laptop


Cheers.

Belajar di Luar Ruangan Bukan Masalah Dengan Nika Chair


Tahun 1992 saat gempa melanda (Maumere, Ende, dan sekitarnya) imbasnya sangat terasa pada kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah yang bangunannya hancur menjadi butiran debu potongan-potongan kecil dan bahkan rata dengan tanah. Saya dan teman-teman tidak bisa belajar di dalam kelas karena kelasnya telah lenyap dalam hitungan detik pada siang hari 12 Desember 1992 itu. Untungnya sekolah kami dikelilingi oleh pohon-pohon rindang sehingga proses belajar-mengajar kemudian berlangsung di luar ruangan. Kami harus membawa tikar sebagai alas duduk, dan tentu saja harus memakai celana panjang (kemejanya tetap kemeja sekolah). Dulu saya juga pernah membawa dengklik (bangku plastik pendek).

Baca Juga:

Belajar di bawah ruangan tidak menyurutkan semangat saya dan teman-teman untuk menimba ilmu, akan tetapi angin sepoi-sepoi yang berhembus membikin mata menjadi mudah mengantuk, ditambah lagi tidur malam selalu terganggu karena selalu terjadi gempa-gempa susulan. Gempa-gempa susulan itu meskipun terbilang kecil tapi selalu sukses menarik saya dari alam mimpi. Ngorok yang sudah berirama pun jadi tak beraturan. Hehe. Mengerikan memang bencana alam gempa, tetapi selalu ada hikmah yang bisa dipetik.

Sampai saat ini, masih ada ribuan anak yang belum bisa menikmati duduk di ruang kelas yang nyaman untuk menyerap ilmu dari guru mereka. Di SDI Daleng, misalnya, yang masih butuh pembangunan sekolah termasuk ruang kelas yang memadai. Anak-anak di SDI Daleng terpaksa belajar di luar ruangan. Itu baru di sekolahnya, belum lagi di rumah. Apabila rumahnya belum dipasang listrik, tentu mereka harus tetap belajar tapi hanya dengan penerangan nyala lampu pelita. Lilin? Mahal. Ada pula anak sekolah yang harus menempuh jarak yang sangat jauh untuk tiba di sekolah. Tapi mereka menjalaninya dengan wajah penuh senyum.

Makanya saya heran kalau ada anak kota, yang hidupnya baik, orangtua punya pekerjaan oke, tetapi malas belajar.

Kembali pada kegiatan belajar-mengajar di luar ruangan sampai beralas tikar, ada teknologi yang diciptakan oleh Fraser Leid. Teknologi ini bernama Nika Chair. Penampakannya seperti pada gambar di bawah ini:


Itu penampakan apabila telah dipasangi kaki. Kaki Nika Chair (dua buah seperti yang nampak pada gambar) itu dapat dileps dan disimpan di dalam alas duduknya yang nampak seperti tas laptop. Ruang di dalam tas tersebut, selain untuk menyimpan kaki Nika Chair, juga dapat dipakai untuk menyimpan satu dua buku dan alat tulis. Seperti gambar (nomor 3) berikut ini:


Selain itu, Nika Chair juga dilengkapi dengan tali (selempang). Jadi, kalau berangkat ke sekolah, anak-anak dapat menyelempangkannya di pundak:


Makanya Nika Chair disebut go anywhere chair :


Sedih ya melihat anak-anak pada gambar di atas. Mereka harus membawa kursi sendiri ke sekolah karena ketiadaan kursi di sekolah mereka. Untungnya yang mereka bawa itu Nika Chair. Andaikata semua anak-anak sekolah diberikan kursi begini, bagus sekali ... demi pendidikan ... demi masa depan mereka kelak. Meskipun ruang kelasnya belum seberapa memadai, setidaknya mereka tidak perlu belajar sambil duduk di tanah/lantai.

Melihat Nika Chair, saya pikir kursi ini juga dapat dipakai di rumah tangga. Kalau mau ruang tamunya unik, tinggal pasang lima Nika Chair; empat menjadi kursi, satu menjadi meja. Atau bisa juga dipakai untuk meletakkan pot/vas di sudut ruang tamu. Selain itu, Nika Chair juga dapat dijadikan meja. Duduk mengaso, buka laptop, laptop-nya diletakkan di atas Nika Chair. Boleh juga. Siapa tahu kalian berminat.

Berapa harga Nika Chair?

Ini informasi yang belum saya peroleh karena di situsnya pun belum tertera harganya. Dan belum tahu juga apakah sudah ada di Indonesia. Kalau sudah ada, beritahu saya ya :)

Demikian #SelasaTekno hari ini, semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang membacanya. Mungkin akan muncul ide untuk membuat kursi serupa untuk anak Indonesia yang belum dapat menikmati belajar di ruang kelas yang super nyaman. Bagaimanapun, pendidikan itu penting. Dan, penunjang pendidikan juga penting.


Cheers.

Proyektor Ini Tidak Butuh Layar atau Dinding



Hampir setiap hari kita berurusan sama yang namanya proyektor. Meeting, seminar & workshop, penyusunan rencana kerja dan RAB, menonton filem, main game (oh saya pernah melakukannya sampai proyektor berasap :p), dan lain sebagainya. Di Universitas Flores, selain ruang kelas yang nyaman dan selalu bersih, dapat dipastikan setiap ruang kelasnya juga difasilitasi komputer dan proyektor untuk memperlancar proses belajar-mengajar. Apabila ada kerusakan, teknisi langsung menjalankan tugas mereka memperbaiki. Jadi kangen kaaaan sama papan hitam dan kapur tulis? Hihihi.

Baca Juga:
Mesin Cuci Portabel Ini Keren Banget
Foto Kreatif Untuk Pos Blog
Dine Tools That Can Be Folded



Semakin ke sini, semakin canggihnya teknologi, proyektornya tidak saja yang ukuran standar tetapi mulai nongol si mini seksi proyektor berukuran mungil menggemaskan. Ada yang seukuran kardus smartphone, ada yang seukuran telapak tangan, ada juga yang tipis banget sampai-sampai mirip talenan. 


Asyik kan kalau diundang mengisi materi, salah satunya materi Mendokumentasikan Perjalanan pada para anggota baru Flopala (Mapala-nya Uniflor), misalnya, mereka tidak perlu repot menyiapkan proyektor karena pasti saya membawanya. Enteng! Apalagi kalau kegiatannya diselenggarakan di luar ruangan.

Eh ...

Tunggu dulu ...

Itu saya menghayal. Menghayal punya proyektor mini yang bisa dibawa ke mana-mana tanpa menghabiskan banyak space di ransel. Ha ha ha. Kalau sudah tidak membedakan antara kenyataan dan hayalan, ke dokter, Teh!

Seperti apapun bentuknya, mini sekalipun, tipis sekalipun, proyektor-proyektor itu punya ciri khas yang sama yaitu masih membutuhkan layar dan/atau dinding sebagai media proyeksi. Tanpa layar dan/atau dinding, bahan/materi entah bakal dipantulkan di mana. Wajah saya juga boleh, wajah saya cukup lebar kok dijadikan media proyeksi. Hihihi. Jadi, kalau workshop-nya di alam bebas, pasti sulit untuk menyampaikan materi yang sudah disusun di Power Point, misalnya, tanpa layar dan/atau dinding.

Tapi, sekarang sudah ada proyektor yang tidak butuh layar atau dinding.

Serius?

Serius. Sudah lama pula benda ini dibikin prototype-nya. 

Perkenalkan: RAY.




Ray, disebut unrestricted projector, dibikin oleh Taekwon Yeon. Masih saudaranya taekwon do. Dari situsnya, informasi tentang Ray memang tidak diulas selengkap-lengkapnya. Namun, dari informasi yang ada di situs itu, kita sudah pasti paham konsep Ray.

Ray merupakan proyektor yang bakal memenuhi harapan kalian untuk bikin workshop di alam bebas, menonton filem di luar ruangan, atau memberi kejutan pada kekasih (oh, mau!). Karena apa? Karena Ray tidak membutuhkan media seperti layar atau dinding karena Ray adalah proyektor ultra-pendek yang menampilkan layar-sendiri yang dihasilkan oleh cahaya. Menggunakan Ray menciptakan tontonan/tampilan futuristik dan sureal yang terlihat seperti di filem-filem fiksi ilmiah itu loh.

Kelebihan Ray yang lain selain tidak membutuhkan layar atau dinding adalah terintegrasinya speaker sehingga kalian tidak perlu meneteng speaker lain atau mempertajam kuping karena suara yang dikeluarkan oleh laptop tidak seberapa kencang. Awesome!

Panitia: Maaf, Kak, nobar Linimassa 3 besok, kami masih cari pinjaman proyektor.

Saya: *wajah sombong* Oh, saya ada Ray, kok!

Panitia: Baik, Kak. Kami tinggal mencari speaker-nya saja.

Saya: *wajah sombong+* Oh, tidak perlu. Ray punya speaker kok!

Hayalan yang bikin kalian emosi. Haha. Tapi mungkin kalian juga berhayal memiliki si Ray ini. Praktis sekali. Apalagi jika macam abang di bawah ini, yang nonton filem pakai Ray:


Nah, kawan, kalian ingin memilikinya juga? Atauuuu jangan-jangan kalian sudah memilikinya? Oooh ingin kumilikiiiii. Bagi tahu donk pengalaman kalian dengan proyektor di komentar di bawah *tunjuk-tunjuk*

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Mesin Cuci Portabel Ini Keren Banget

Gambar diambil dari sini.

Sejak mesin cuci kami rusak, ritual mencuci dilakukan dengan mesin manual pemberian Allah SWT (baca: dua tangan) hehe. Karena tidak kuat, harus menyewa orang untuk mencucinya. Yang saya tahu, tidak semua orang puas memakai mesin cuci, karena mereka dengan terang-terangan berkata, "Cuci baju pakai mesin tidak bersih!" Oh, ya, mungkin untuk baju-baju tertentu seperti baju bocah usia aktif yang masih mau bermain permainan tradisional. Waktu masih kecil saya sering diomeli karena setiap sore pulang dari bermain kondisi baju saya (terutama celana pendek) kayak habis berendam di lumpur.

Baca Juga:

Sekarang di rumah saya sudah tidak ada lagi bocah. Otomatis sudah tidak ada lagi pakaian yang kotornya terhakiki di dunia. Baju-baju yang kotornya tidak seberapa, lebih didominasi keringat, tidak membutuhkan gerakan mengucak dan menyikat memakai tenaga Hulk. Mamasia tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengucak dan menyikat pakaian; kecuali celana jin yang memang kudu disikaaaat sampai puas.

Tapi bagi siapapun di luar sana, kondisi tidak adanya bocah di rumah bukan berarti tidak membutuhkan mesin cuci (bocah sekarang pun mainnya serba bersih dan resikonya bukan baju yang kotor tapi kesetrum :p). Beberapa rumah tangga masih sangat membutuhkan mesin cuci, terlebih jika semua anggota keluarga berkarir di luar rumah. Bukannya sombong, tapi mereka tentu sangat menghargai waktu. Jika mencuci manual membutuhkan waktu dan tenaga ekstra, maka mencuci menggunakan mesin cuci tentu menghemat waktu dan tenaga. Waktu berkualitas menjadi lebih banyak dengan anak-anak bila mencuci menggunakan mesin cuci. Tinggal setel, masukkan baju, pergi bermain dengan anak, beberapa jam kemudian baju tinggal dijemur. I am so fvckin crazy with that automatic machine wash!

Kira-kira demikian.

Kalau hidupnya masih ... errr ... single, Teh? Boleh juga pakai mesin cuci. Tapi kalau masih belum menemukan jodoh (ini lebih sopan kan bahasanya) dan/atau anak kos, kenapa tidak coba menggunakan mesin cuci portabel? Harganya lumayan mahal, bentuknya imut (banyak yang mirip droid), dan ukurannya kecil. Cukup untuk keperluan mencuci pakaian sehari-hari.


Yang pertama ada The EchoWash dari Avalon Bay. Sering lihat mesin cuci portabel yang pengoperasiannya menggunakan kaki? The EchoWash dioperasikan dengan tangan loh. Kayak mol daging begitu hehe. Waktu yang dibutuhkan untuk mencuci menggunakan The EchoWash hanya dua menit. Informasi lebih lengkap tentang mesin cuci yang satu ini, termasuk jumlah/berat pakaian serta takaran air dan cairan pencuci, silahkan kunjungi situsnya.


Kembali lagi ke mesin cuci portabel yang pengoperasiannya menggunakan kaki. Oke, ini yang kedua dalam pos ini, yaitu Drumi. Kenapa namanya Drumi? Menurut analisa ngawur saya; karena bentuknya mirip drom dan droid haha. Tata caranya sama dengan The EchoWash, hanya saja pengoperasiannya menggunakan kaki. Mirip ... mirip ... saat kita mengayuh pedal sepeda. Untuk dua kilogram pakaian (pakaian yang bahannya ringan/tipis) membutuhkan waktu mencuci hanya lima menit saja.

Dan yang berikut, oke yang ketiga, adalah Scrubba Wash Bag. Namanya saja tas mencuci, bentuk awalnya itu kecil banget:


Kalau dibutuhkan baru dibuka. Jadi Scrubba Wash Bag ini juga bagus untuk dibawa bepergian. 


Pilih mana: membawa banyak baju untuk dua minggu perjalanan atau membawa baju seperlunya untuk dua minggu perjalanan ditambah Scrubba Wash Bag? Pasti pilih yang kedua donk hehe. Praktis! 

Dari ketiga mesin cuci portabel di atas, saya lebih memilih Scrubba Wash Bag (meskipun tidak harus membelinya) karena sangat bermanfaat baik di rumah maupun saat bepergian. Terutama bepergian, ya itu tadi, dapat menghemat space karena tidak perlu membawa teralu banyak baju. Ya ya ya, kalau cuaca di tempat tujuan kita selalu cerah. Kalau mendung sih ... ke laundry saja cepat keringnya haha.

Semoga bermanfaat, kawan!


Cheers.