Susu Kental Manis Tidak Mengandung Susu, Tidak Cocok Dikonsumsi Bayi dan Balita


Belakangan ini para ibu-ibu gempar mengenai Susu Kental Manis yang beredar di pasar ternyata tidak mengandung SUSU, bahkan kandungan susu yang terdapat di Susu Kental Manis pun tak lebih dari 10 persen. Lalu, apakah yang harus ibu-ibu lakukan karena tidak mengandung susu sama sekali? Bahkan tidak baik dikonsumsi oleh Bayi dan Balita. 

Pengalaman saya dengan Susu Kental Manis memang sangat manis. Saya tumbuh dengan pemahaman bahwa Susu Kental Manis adalah susu, bukan seperti pemahaman sekarang. Sayangnya orang tua saya tidak membaca dengan teliti kandungan gizi yang terdapat di Susu Kental Manis sehingga menjadikan SKM adalah minuman wajib tiap hari. Saya suka rasa cokelat karena sangat manis dan bisa ditambahkan dengan apapun termasuk roti. 

Sumber detik.news.com
Komersial yang beredar di televisi mungkin saja berpengaruh dengan pilihan orang tua jaman dahulu. Bahkan, tetangga ataupun saudara pun menyarankan minum Susu Kental Manis sebagai pilihan yang tepat pada saat itu. Tanpa memandang kandungan gizinya, anak-anak tumbuh dengan gizi yang kurang seimbang dan menyebabkan pertumbuhan kurang maksimal. Memang tidak secara langsung terlihat pada tumbuh kembang anak. Dan, banyak pula faktor yang menyebabkan kurang baiknya tumbuh kembang anak. 

Pengalaman adalah guru yang paling berharga, saya memang mengalami penglaman pahit bersama Susu Kental Manis dan jangan sampai cerita ini berlanjut ke anak cucu kita nantinya. Cukup kita saja yang merasakan pahit dan manisnya Susu Kental Manis. 



Beruntung sekali saya mendapatkan pengetahuan tambahan ketika menghadiri talkshow yang diadakan oleh PP Muslimat NU di Gedung A, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 

Sebelum talshow dilaksanakan, dilakukan perjanjian kerjasama antara YAICI (Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia) dengan PP Muslimat NU mengenai Buku Panduan Ibu Indonesia dengan tajuk Menuju Generasi Emas 2045 : " Stop Konsumsi Pangan Garam dan Lemak Tinggi". 

Masih dalam memperingati Hari Anak Nasional di bulan Juli lalu, talkshow kali ini membahas mengenai "Mewujudkan Indonesia Emas 2045 : Bijak Menggunakan SKM" . Kali ini selain PP Muslimat, juga menghadirkan pembicara dai Kementrian Kesehatan dan BPOM. 



Dalam Talkshow kali ini, sedikit banyak pembicara menegaskan bahwa Susu Kental Manis adalah Bukan SUSU, dan tidak baik dikonsumsi oleh Bayi dan Balita sebagai pengganti Air Susu Ibu (ASI) karena kandungan gizi yang tidak sesuai dan tidak seimbang. Nah, sebetulnya apa saja yang terkandung dalam Susu Kental Manis. 

Berikut fakta seputar Susu Kental Manis : 

1. SKM mengandung ula sebesar 40-50 persen.
2. Kadar gula yang tinggi pada SKM menigkatkan resiko diabetes dan obesitas pada anak-anak.
3. Asupan gula yang berlebihan, akan merusak gigi anak.
4. Kandungan gizi SKM lebih rendah dibandingkan jenis susu lainnya.
5. Kalsium dan protein SKM lebih rendah daripada susu bubuk atau susu segar.


Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan surat edaran tentang label dan ilkan pada produk susu kental dan analognya (Kategori pangan 01.3) pada Mei 2018.

1. Dilarang menampilkan anak-anak berusai di bawah lima tahun dalam bentuk apapun.
2. Dilarang menggunakan visualiasai bahwa produk tersebut Susu Kental dan Anaolgnya disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap gizi.
3. Dilarang menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman.
4. Khusus Iklan, dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.



Resiko yang didapat ketika mengkonsumsi gula, garam dan lemak secara berlebihan adalah obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit jantung dan stress. Sedangkan pada anak, kelebihan gula dapat mempengaruhi pola makan yang berubah, obesitas, mal nutrisi, diabetes dan karies gigi. 

Kini saatnya menjadi ibu-ibu dan masyarakat yang pandai dengan mengetahui apa saja yang dikonsumsi oleh anak-anak, jangan sampai terjadi mal nutrisi atau obesitas sehingga tumbuh kembang anak tidak semestinya. 


Anak kita adalah masa depan Indonesia, jangan sampai menjadi generasi yang tidak sehat sehingga tidak mampu bersaing secara teknologi, olahraga dan bidang-bidang sains serta lainnya. Ayo kita menuju generasi emas tahun 2045 Indonesia yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di Dunia. 

Susu Kental Manis Tidak Mengandung Susu, Tidak Cocok Dikonsumsi Bayi dan Balita


Belakangan ini para ibu-ibu gempar mengenai Susu Kental Manis yang beredar di pasar ternyata tidak mengandung SUSU, bahkan kandungan susu yang terdapat di Susu Kental Manis pun tak lebih dari 10 persen. Lalu, apakah yang harus ibu-ibu lakukan karena tidak mengandung susu sama sekali? Bahkan tidak baik dikonsumsi oleh Bayi dan Balita. 

Pengalaman saya dengan Susu Kental Manis memang sangat manis. Saya tumbuh dengan pemahaman bahwa Susu Kental Manis adalah susu, bukan seperti pemahaman sekarang. Sayangnya orang tua saya tidak membaca dengan teliti kandungan gizi yang terdapat di Susu Kental Manis sehingga menjadikan SKM adalah minuman wajib tiap hari. Saya suka rasa cokelat karena sangat manis dan bisa ditambahkan dengan apapun termasuk roti. 

Sumber detik.news.com
Komersial yang beredar di televisi mungkin saja berpengaruh dengan pilihan orang tua jaman dahulu. Bahkan, tetangga ataupun saudara pun menyarankan minum Susu Kental Manis sebagai pilihan yang tepat pada saat itu. Tanpa memandang kandungan gizinya, anak-anak tumbuh dengan gizi yang kurang seimbang dan menyebabkan pertumbuhan kurang maksimal. Memang tidak secara langsung terlihat pada tumbuh kembang anak. Dan, banyak pula faktor yang menyebabkan kurang baiknya tumbuh kembang anak. 

Pengalaman adalah guru yang paling berharga, saya memang mengalami penglaman pahit bersama Susu Kental Manis dan jangan sampai cerita ini berlanjut ke anak cucu kita nantinya. Cukup kita saja yang merasakan pahit dan manisnya Susu Kental Manis. 



Beruntung sekali saya mendapatkan pengetahuan tambahan ketika menghadiri talkshow yang diadakan oleh PP Muslimat NU di Gedung A, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 

Sebelum talshow dilaksanakan, dilakukan perjanjian kerjasama antara YAICI (Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia) dengan PP Muslimat NU mengenai Buku Panduan Ibu Indonesia dengan tajuk Menuju Generasi Emas 2045 : " Stop Konsumsi Pangan Garam dan Lemak Tinggi". 

Masih dalam memperingati Hari Anak Nasional di bulan Juli lalu, talkshow kali ini membahas mengenai "Mewujudkan Indonesia Emas 2045 : Bijak Menggunakan SKM" . Kali ini selain PP Muslimat, juga menghadirkan pembicara dai Kementrian Kesehatan dan BPOM. 



Dalam Talkshow kali ini, sedikit banyak pembicara menegaskan bahwa Susu Kental Manis adalah Bukan SUSU, dan tidak baik dikonsumsi oleh Bayi dan Balita sebagai pengganti Air Susu Ibu (ASI) karena kandungan gizi yang tidak sesuai dan tidak seimbang. Nah, sebetulnya apa saja yang terkandung dalam Susu Kental Manis. 

Berikut fakta seputar Susu Kental Manis : 

1. SKM mengandung gula sebesar 40-50 persen.
2. Kadar gula yang tinggi pada SKM menigkatkan resiko diabetes dan obesitas pada anak-anak.
3. Asupan gula yang berlebihan, akan merusak gigi anak.
4. Kandungan gizi SKM lebih rendah dibandingkan jenis susu lainnya.
5. Kalsium dan protein SKM lebih rendah daripada susu bubuk atau susu segar.


Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan surat edaran tentang label dan ilkan pada produk susu kental dan analognya (Kategori pangan 01.3) pada Mei 2018.

1. Dilarang menampilkan anak-anak berusai di bawah lima tahun dalam bentuk apapun.
2. Dilarang menggunakan visualiasai bahwa produk tersebut Susu Kental dan Anaolgnya disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap gizi.
3. Dilarang menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman.
4. Khusus Iklan, dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.



Resiko yang didapat ketika mengkonsumsi gula, garam dan lemak secara berlebihan adalah obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit jantung dan stress. Sedangkan pada anak, kelebihan gula dapat mempengaruhi pola makan yang berubah, obesitas, mal nutrisi, diabetes dan karies gigi. 

Kini saatnya menjadi ibu-ibu dan masyarakat yang pandai dengan mengetahui apa saja yang dikonsumsi oleh anak-anak, jangan sampai terjadi mal nutrisi atau obesitas sehingga tumbuh kembang anak tidak semestinya. 


Anak kita adalah masa depan Indonesia, jangan sampai menjadi generasi yang tidak sehat sehingga tidak mampu bersaing secara teknologi, olahraga dan bidang-bidang sains serta lainnya. Ayo kita menuju generasi emas tahun 2045 Indonesia yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di Dunia.