SUCEndenesia #1


Kenapa saya hitam seperti ini? Karena saya biar Orang Sabu tapi saya darahnya blasteran. Sombong sedikit, blasteran. Hasil kawin silang antara bunga desa cantik mempesona dari Pulau Raijua dengan seorang pejantan hitam keriting tidak tahu malu dari Nangaroro. Mungkin waktu saya punya bapa ketemu saya punya mama, ajak saya punya mama nikah tuh dengan satu tujuan supaya bisa merubah keturunan. Tapi sayang sekali di eskperimen pertamanya dia harus pasrah bahwa dia gagal karena hasilnya seperti ini. Tapi saya akui saya punya bapa itu orangnya semangat. Dia berjuang dalam segala hal, dia tidak pernah putus asa. Setelah saya, dia berjuang tiga kali lagi, eksperimen tiga kali lagi. Dan syukurlah akhirnya dia sadar bahwa dia tidak akan pernah bisa buat keturuanan yang baru. Tiga ke bawah itu tambah hancur ..."

Baca Juga: Buruh Migran

Itu sepenggal ocehan Hendra, Juara III Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1, yang diselenggarakan Sabtu 4 Mei 2019, berlokasi di Miau Miau Cafe - Ende. Ya, seperti yang sudah kalian baca di pos Lomba SUC Endenesia. Kegiatan yang berawal dari kelompok kecil; Udo Petuz, Andi Ginta, dan saya, akhirnya terlaksana. Dari sepuluh calon komika yang mendaftar, satu mengundurkan diri, setelah diganti lagi dengan pendaftar baru, dua lagi mengundurkan diri. Menjelang lomba, satu peserta tidak datang. Lomba berjalan dengan delapan peserta yang dengan penuh tekad dan semangat ingin menunjukkan kemampuan mereka memancing tawa para penonton. Bagi saya pribadi, lebih baik memancing ikan ketimbang memancing tawa penonton. Susahnya minta ampun. Makanya saya tidak ikut-ikutan melucu hahaha.

Peserta


Delapan peserta adalah King, Bocor, Fadil, Andara, Lino, Sultan, Tulen, Hendra. Mereka berdelapan, ada yang asli Orang Ende ada yang akarnya dari kabupaten tetangga, mempunyai karakteristik masing-masing dengan tema utama tentang Ende. Ya, banyak hal yang bisa digali dari Kabupaten Ende untuk dijadikan bahan stand up comedy. Para peserta itu, ada yang tanpa harus berusaha melucu namun pandai bermain diksi dan sudah bikin penonton terpingkal-pingkal. Ada berusaha melucu namun belum menemukan passion-nya. Tapi semuanya sangat kami hargai (kami: panitia, sesama peserta, penonton). Karena ... kami sedang sama-sama belajar dunia stand up comedy.

Menariknya, beberapa peserta tidak saja ber-stand up comedy tetapi juga menampilkan aksen dan impression. Seperti Bocor dan Fadil. Aksen, tentu aksen dari dua suku yang ada yaitu Suku Ende dan Suku Lio. Sedangkan impression macam-macam mulai dari suara derit pintu sampai terguling di lantai. Yang jelas, bagi saya pribadi, delapan peserta Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1 sungguh luar biasa. Mereka berani. Dan keberanian lah yang kelak akan mengantar manusia pada kesuksesan. Termasuk berani gagal. Hei, gagal adalah sumber kesuksesan. Percayalah.

Tema


Kami menentukan tema tentang Ende. Seperti yang sudah saya tulis di atas, banyak hal yang bisa digali dari Kabupaten Ende untuk dijadikan bahan ber-stand up comedy. Terbukti, para peserta membawa tema seperti jalanan berlubang di Kota Ende, dunia pendidikan, sampai dunia asmara. Huhuy! Jalanan berlubang ini memang paling banyak diangkat. Hehehe. Andaikan saya boleh membocorkan satu dua ide, tapi saya tidak sempat bertemu para peserta, banyak sekali yang bisa dijadikan bahan. Misalnya: Orang Ende itu kalau ada temannya sukses pasti bilang 'teman saya tuh!' tapi kalau orang yang sama gagal pasti bilang 'eeee siapa ya dia?'. Itu lelucon ... jangan baper.

Jawara


Dari delapan peserta, sejujurnya, memang mudah menentukan siapa yang menang. Karena, menurut saya pribadi, ada jarak yang agak jauh antara mereka meskipun sama-sama baru pertama kali ber-stand up comedy. Tapi saya dan Udo harus berembug cukup alot pula tentang tiga juara yang diumumkan usai lomba ini. Kami harus mempertimbangkan tema, set up hingga punch, dan lain sebagainya. Kami tidak bisa menilai dari tawa penonton saja. Karena, ada peserta yang leluconnya memang sudah akrab di suatu komunitas sehingga sudah pasti orang-orang dari komunitas tersebut terpingkal-pingkal sedangkan yang lain belum tentu. Selain itu, durasi juga cukup dipertimbangkan. Sepuluh menit adalah durasi yang ditetapkan. Artinya, bisa kurang sedikit atau lebih sedikit. Sedikit ... tidak boleh terlalu banyak.

Baca Juga:  Politik Itu Abu-Abu

Pada akhirnya saya dan Udo mengantongi tiga nama:
Juara I - Fadil.
Juara II - Sultan.
Juara III - Hendra.

Selamat kepada para juara. Jangan lupa setiap Jum'at malam kita ketemu di Miau Miau Cafe.

Terima Kasih


Lagi, saya tertampar dan malu. Seperti yang sudah saya tulis pada pos tentang lomba ini, saya tertampar dan malu karena Andi Ginta sebagai penyandang dana kegiatan ini bukanlah Orang Ende tetapi Orang Manggarai. Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Mendukung dengan berbagai cara agar kegiatan ini terselenggara; menjadi panitia, menjadi penonton, menjadi orang yang menyebarkan informasinya. Itu bentuk-bentuk dukungan yang bisa kita lakukan.

Terima kasih Andi Ginta untuk semuanya; dana kegiatan, ini itu, sampai makan malam panitia dan peserta! Uh wow sekali ya. Saya tidak menyangka dan semakin malu dibuatnya hahaha. Saya sampai terkejut saat selama rembug juri, Andi memberikan kompensasi pada penonton yang berani maju dan ber-stand up comedy di panggung ... instan. Ada? Adaaaa! Tiga pula! Hahaha. Kocak.

Terima kasih Udo Petuz untuk semuanya; membangun Stand Up Comedy Endenesia, inisiasi awal, sampai akhirnya kegiatan ini terselenggara.

Kalau saya bilang kita bertiga hebat. Tidak. KITA BERTIGA HEBAT SEKALI. Ha ha ha. Sombong sedikit kan boleh. Mungkin karena ditempa oleh pengalaman dari banyak komunitas, mengenal banyak karakter, berusaha untuk lebih bisa mengendalikan diri, dan punya jiwa kerja dan membangun, akhirnya lomba ini dapat terselenggara. Terselenggara dari sebuah kelompok kecil beranggotakan tiga orang. Dan kita siap untuk membesarkannya ... kita sudah punya tambahan anggota delapan orang. Semakin kuat, semakin baik, asal kekuatan itu dibarengi dengan cinta kasih. Ibarat ilmu ... ilmu tanpa guru bisa jadi sesat.

Kelanjutan dari Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1 adalah open mic setiap Jum'at malam di Miau Miau Cafe dan lomba per tiga bulan yang sudah kami canangkan untuk menggali lebih banyak potensi calon komika Kabupaten Ende dan sekitarnya. Selain itu, Andi Ginta sudah berbicara tentang lomba dari lini musik ... akustikan begitu. Uh wow sekali hehehe. Bagaimana dan seperti apa, nanti baru didiskusikan bersama. 


Demikian kawan cerita dari Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1. Untuk sementara video-videonya masih saya unggah ke akun Youtube saya. Sampai saat ini saya belum membikin akun Youtube khusus Stand Up Comedy Endenesia hehehe, nanti ya. Kalau mau menonton, silahkan. Sederhana. Mungkin ada yang bilang lucu, ada pula yang bilang tidak lucu. Tapi kami menerima semua kritik dengan tangan terbuka. Karena hanya orang sombong saja yang tidak menerima kritikan. Tapi, lagi, harus bisa membedakan antara kritikan dan hinaan ya hahaha soalnya kritik dan hinaan dibatasi selembar kertas super tipis.

Terima kasih untuk doa dan dukungannya. Demi Ende tercinta.

Life is good. It must be.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Selamat menjalankan ibadah puasa untuk saya dan kalian semua yang menjalankannya. Semoga puasa kita lancar.



Cheers.

Lomba SUC Endenesia


Stand up comedy (SUC) bukan hal baru di Indonesia. Mulai dari zamannya Ernest Prakasa, Panji Pragiwaksono, Raditya Dika, Abdur, Fico, sampai Ridwan Remin dan Dana. Saya selalu suka menonton SUC. Siapa sih yang tidak suka? Satu orang di panggung bisa bikin satu Indonesia tertawa itu luar biasa. Karena, satu orang di dunia politik bikin satu Indonesia berantem itu sudah biasa. Oleh karena itu, ketika tahu bahwa salah seorang pemuda Ende begitu pandai membikin joke-joke segar dengan muatan lokal, saya pikir itu luar biasa. 

Baca Juga: Politik Itu Abu-Abu

Sudah lama saya mengenal Udo, Facebook: Udo Jee Petruz, mahasiswa Prodi Sastra Inggris Universitas Flores. Minatnya pada dunia stand up comedy didukung bakat ngelucunya yang selalu bisa menghidupkan suasana. Saya dan Iwan Aditya pernah mengundang Udo sebagai bintang tamu dalam program Tuwan Show di Radio Gomezone Flores tahun 2016 dan suasana malam itu pecah sepecah-pecahnya. Saya memang sering melempar joke dan pasti tertawa setiap kali mengudara, tapi malam itu otot perut saya kram maksimal. Baik joke dari Udo, joke dari saya, maupun joke typo bibir ciri khas Iwan. Haha.

Beberapa kali Udo menghubungi saya dan mengutarakan rencananya untuk menggelar acara stand up night. Acara itu bakal menghadirkan para komika asal Kota Ende dan Kota Maumere. Belum tahu perkembangan tanggapan dari komika asal kota lainnya. Tapi tentu stand up night membutuhkan waktu, tenaga, juga dana, yang lumayan besar. Ya kan? Lagi pula stand up comedy merupakan sesuatu yang masih baru di Kota Ende. Bagaimana cara menarik perhatian sponsor, itu yang harus dipikirkan, karena rata-rata sponsor selalu tertarik dengan event musik yang massa-nya ugh wow.

Lalu, suatu hari di awal April 2019 saya dihubungi Udo. Dia meminta bertemu di Miau-Miau Cafe milik Andi Ginta. Oh ya, saya pernah mengajari blog kepada mahasiswa yang memilih lokasi di kafe ini karena akses internetnya kencang. Siang itu kami membicarakan tentang rencana membikin Lomba Stand Up Comedy Endenesia yang super sederhana karena dananya hanyalah modal pribadi Andi seorang. 

Modal Pribadi


Andi Ginta, yang selain memiliki Miau-Miau Cafe juga Hotel Satar Mese, menyediakan dana pribadi untuk menggelar lomba tahap awal ini. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukuplah untuk memulai sesuatu yang sudah seharusnya berjalan sejak lama. Saya pikir, kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kapaaaan dunia stand up comedy ini bergerak di kota kecil kami? Apakah cuma Udo saja yang tampil di acara-acara untuk open mic? Andi sendiri meminta lomba ini diselenggarakan setiap bulan atau setiap tiga bulan. Dia bakal tetap menanggung dananya meskipun kelak, kalau sukses, sudah ada sponsor.

Saya terkesiap.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Andi Ginta loh, darah asli yang mengalir di tubuhnya adalah Manggarai, tetapi dia mau berbuat untuk kota ini, Kota Ende. Itu kan seperti ditampar halus bolak-balik hahaha. I'm in! Saya setuju. Apa yang harus kami pikirkan? Dana (untuk hadiah) ada, lokasi gratis di Miau-Miau Cafe, soundsystem secukupnya, juri saya dan Udo, dokumentasi si Cahyadi sudah oke untuk merekamnya menggunakan kamera saya. Bukankah sudah siap tancap gas? Maka bermodal Canva saya pun membikin e-pamflet.


Bahkan, setelah e-pamflet ini beredar di media sosial, banyak juga mau terlibat. Misalnya Armando, sahabat saya yang adalah penyiar RRI bersedia menjadi MC, dan Kiss dan Ampape Sablon pun bertanya-tanya apakah dia bisa ikut berpartisipasi dengan menyumbangkan kaos, dan Habibie dari SUC Jogja (anak Ende yang kuliah di sana) pun bersedia berpartisipasi. Lhaaaa tidak disangka kan? Dari ide dan langkah kecil kemudian, Insha Allah, menjadi besar.

Quota Yang Terpenuhi


Kami optimis meskipun hadiahnya kecil. Kalau tidak optimis ... ya tidak jalan lah. Untuk kegiatan perdana ini, dibuka slot untuk sepuluh pendaftar pertama saja. Kalau masih ada yang mau mendaftar, kami simpan untuk kegiatan berikutnya (tiga bulan berikutnya). Tidak disangka, sejak dikeluarkan e-pamflet itu, menerima banyak inbox dan pesan WA, pada akhirnya pada Jum'at, 26 April 2019, quota-nya terpenuhi. What!? Are you kidding me?

SEPULUH PENDAFTAR!
7 LAKI-LAKI, 3 PEREMPUAN.

Mata saya berkaca-kaca. Terbukti para calon komika ini membutuhkan wadah, bukan hadiah. Dan Alhamdulillah wadah itu sudah terbentuk dan tinggal diisi saja.


Menjadi juri Lomba Stand Up Comedy Endenesia, kalau boleh disebut Episode 1, membikin saya belajar untuk melucu hahaha. Kalian bisa lihat video di Youtube saya, tentang hal-hal absurd. Tapi baru tiga video saja. Selain itu saya pun harus membekali diri dengan apa-apa yang berkaitan dengan dunia stand up comedy. Misalnya apa itu premis, punchline, blue material, timming, ripping, act-out, artikulasi, sampai mic-ing. Ya, bagaimana seorang komika mampu menampilkan komedi yang lucu bagi semua orang yang menontonnya. Mama eee sa pikir mudah ternyata uzu roooo.

Satu yang saya pinta dari kalian. Bukan suara, karena saya tidak nyaleg dan Pemilu sudah berakhir. Yang saya minta hanyalah doa dan dukungan agar kegiatan ini berjalan dengan baik dan lebih berkembang ke depannya.

Baca Juga: Fair Play Flag

Salam ngakak :p



Cheers.