Yang Terdampar dan Yang Menyambungkan


Yang Terdampar dan Yang Menyambungkan

Konon tersebutlah sebuah kerajaan yang adil makmur, kerajaan itu sedang dirundung duka karena putri kerajaan terserang penyakit kulit menular. Sekian banyak tabib tidak ada yang dapat menyembuhkan putri cantik kesayangan negeri.

Tak tega menyaksikan putrinya terkurung karena penyakit, dengan berat hati sang raja dan ratu melepas putrinya ke tanah pengasingan dengan bekal keris pusaka kerajaan dan berbagai benda pusaka sebagai bukti identitas sang putri.

Sang putri dengan senang menukar karantina istana dengan kebebasan meski jauh, ia juga tidak ingin penyakitnya menular kepada kerabat istana dan rakyat negerinya.

Berperahu dan ditemani beberapa pengawal setia kerajaan dan keluarganya akhirnya sang putri dengan berat hati pergi meninggalkan negaranya menyusuri sungai dan kemudian menetap di pinggir hutan di mana mereka terdampar. "Orang terdampar", begitulah kemudian mereka menamakan diri dan tempat tinggal mereka sekarang.

Suatu saat kala sang putri mencuci di tepi danau, tanpa disadari datang seekor kerbau albino yang menjilat kulitnya. Awalnya ia merasa terganggu dan mencoba mengusir si kerbau, tapi menyadari penyakit kulitnya berangsur sembuh dan hilang dalam sekejap ia kemudian memerintahkan pengawalnya berhenti mengusir kerbau itu.

Bersyukur atas kesembuhannya, sang putri memerintahkan para pengawalnya untuk tidak mengganggu kerbau albino (kerbau bulan/kerbau bule). "Aku minta mulai saat ini jangan menyembelih kerbau bule, karena dia adalah kiriman dewata untuk menyembuhkanku".


***

Singkat cerita, serombongan pemburu bermalam di hutan karena tidak berani pulang. pangeran kerajaan yang ikut dalam rombongan berburu hilang, ia terlalu asik memburu binantang buruan hingga terpisah dari rombongan. 

"Kita tidak boleh pulang sebelum pangeran ditemukan. Jika sampai akhir hayat tidak ditemukan, biar kita semua terkubur di sini," ucap salah satu dari pemburu itu. Menyadari hukuman yang menanti jika mereka pulang tanpa pangeran, tidak ada seorang pun dari rombongan itu yang berani menyanggah kata-kata itu.

Tersesat dalam gelap hutan bukan hal yang menakutkan bagi pangeran namun ia juga tidak ingin dirinya celaka dari sergapan binatang buas. Tidak lama si pangeran memanjat pohon besar yang ia temui dan berniat istirahat di sana. Dari ketinggian di atas pohon ia melihat ada beberapa nyala cahaya di kejauhan, ia perhatikan dan yakin itu bukan halusinasi dan tipuan mambang hutan. Ya itu cahaya lampu dari rumah penduduk.

Berharap dapat tempat istirahat yang lebih layak akhirnya sang pangeran memutuskan untuk mendatangi sumber cahaya yang ia lihat. Tibalah ia di rumah sumber cahaya yang tidak lain adalah rumah sang putri.

Tidak mudah bagi sang pangeran untuk masuk ke rumah itu, para pengawal sang putri mempertaruhkan nyawanya demi menjaga keselamatan putri dari raja yang mereka hormati.

"Aku hanya ingin istirahat, mengapa tidak boleh? Sekarang pertemukan aku dengan siapapun yang memiliki kewenangan untuk memberiku izin beristirahat di sini".

Rasa heran pangeran belum habis saat ia terpaksa melawan para pengawal sang putri yang tetap mengusir dirinya.

Lelah karena berburu dan tersesat membuat sang pangeran tidak ingin berlama-lama, ia mengungkap identitasnya dan menyampaikan maksud hanya ingin menumpang beristirahat.

Sang pangeran telah curiga sejak awal, jika rumah itu dihuni warga biasa mengapa ia tidak diizinkan memasukinya padahal ia sudah meminta izin sebaik-baiknya. Dan mengapa ada pengawal-pengawal yang sulit ia taklukkan, kalaupun prajurit pastinya mereka prajurit pilihan yang pilih tanding.

Kecurigaan itu justru mengundang rasa penasaran dan memancing emosi jiwa mudanya sehingga terjadi pertarungan yang menambah lelah dirinya.


***

Sang putri sudah sejak awal memperhatikan keributan di halaman rumah tinggalnya, namun ia memilih untuk diam memperhatikan, karena baru kali ini ada tamu yang ia tidak kenal dan berhasil memaksa para pengawalnya mencabut pedang.

Mengetahui tamunya adalah salah satu putra kerajaan tetangga ia kemudian memerintahkan pengawalnya agar mengizinkan pangeran masuk menemuinya.

Setelah meminum hidangan yang dipersilahkan si pangeran bertanya sesopan mungkin sambil menahan gejolak rasa penasaran dalam hatinya.

"Boleh aku tahu siapakah pemilik rumah yang sudah berbaik hati memperbolehkan aku yang tersesat ini masuk dan menghidangkan minuman herbal hangat penghilang lelah ini?".

Sang pangeran akhirnya tidak dapat menahan diri untuk membalas tatapan tajam dari balik kerudung. Dari cara duduk, jenis kain selendang atau kerudung penutup wajah dan jenis kain sarung yang dikenakan lawan bicaranya sang pangeran tahu yang ia hadapi adalah seorang perempuan bangsawan.

Tergagap sang pangeran tidak menduga lawan bicaranya menjawab pertanyaan dengan menyodorkan senjata pusaka yang berbalut sulaman panji bendera khas kerajaan. Sadarlah ia sedang berhadapan dengan salah satu keluarga inti kerajaan yang termasyur karena memiliki raja yang adil dan bijaksana.

Tanpa panjang basa-basi ia kemudian mengungkapkan maksud untuk bisa menumpang beristirahat dan akan segera kembali mencari rombongannya pada esok pagi.

Lawan bicaranya hanya mengangguk lalu memanggil pengawal yang berjaga di pintu untuk mengiringi pangeran ke luar.

Singkat cerita sang pangeran mendapat jamuan makan dan tempat istirahat setelah membersihkan diri dan berganti pakaian yang cukup layak untuk dirinya. Lelah membuatnya cepat tertidur malam itu.

Saat pagi hari ia segera ia berpamitan untuk kembali mencari rombongannya. Tapi apa daya, tuan rumah telah menyiapkan sarapan dan kali ini putri sendiri yang menemaninya makan pagi.

Perkenalannya dengan putri yang terdampar itu membuat pangeran meminta ayahnya melamar sang putri. Niat ini ia sampaikan sepulangnya berburu bersama rombongan.

Sang raja menyambut gembira permintaan anaknya ini akan mempererat hubungan dua kerajaan, tapi ia juga khawatir jika keinginan putranya tersebut ditolak oleh pihak kerajaan tetangga, maka akan meretakkan hubungan antar dua kerajaan.

"Maksud baik tidak selamanya diterima baik anakku, temui kembali putri pujaan hatimu dan sampaikan maksudmu, jika ia menerimanya maka mudah-mudahan semua dilancarkan." 


***

Tidak ada jawaban dari sang putri, ia tahu tidak bijak menjawab pinangan itu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Iya atau tidak bukan jawaban sederhana, sang putri sangat sadar apapun jawabannya akan menentukan masa depan dua buah kerajaan dan rakyat yang ada di dalamnya.

Sang putri kemudian menyerahkan senjata pusaka titipan ayahnya dan berpesan.

"Sampaikan maksudmu kepada ayah ibuku dan berikan senjata pusaka ini kepada mereka, jika mereka menolak senjata ini, itu artinya kita tidak ditakdirkan bersatu, tapi jika mereka menerima dengan baik maka jemput aku untuk hidup bersamamu selamanya".

Mendengar jawaban itu sang pangeran langsung berangkat menuju pusat kerajaan di mana ayah dan ibu sang putri tinggal.

"Doakan agar alam merestui perjalananku, dan saksikan bahwa 'orang yang terdampar' akan kembali dengan sambutan cinta dari semua orang yang merindukannya, karena ia yang menyambungkan dan mengantarkan aku, orang dari seberang menuju masa depan" ucap sang pangeran.

Ternyata kedatangan sang pangeran diterima dengan baik oleh orang tua sang puteri.
Raja dan permaisuri gembira mendengar kabar putri mereka telah sembuh dan menerima senjata pusaka yang pernah mereka berikan.
"Ia mempercayakan dirimu untuk mengembalikan senjata pusaka ini kepada kami, artinya ia telah menemukan orang yang ia percaya untuk melindungi dirinya" ungkap permaisuri.

"Niat baikmu kami terima, kembalilah bersama perwakikan kami untuk menjemputnya pulang, sampaikan kepada rajamu, anaknya juga adalah anak kami" ungkap sang raja memeluk sang pangeran.

Demikianlah akhirnya mereka menikah dan merekatkan hubungan dua kerajaan. Mereka menetap dan beranak pinak di tempat mereka pertama berjumpa.

Walaupun mereka tidak menjadi raja di kerajaan masing-masing, kisah hidup mereka terus direkam dalam kenangan kolektif masyarakat dari 2 kerajaan dan dituturkan sebagai warisan dalam berbagai versi cerita.

----------------
Adaptasi dari kisah hikayat Putri We Tadampali.

"Orang Terdampar" disebut Tosora'e, nama tempat itu kemudian disebut Tosora ibukota kerajaan Wajo di Sulawesi Selatan dahulu kala.

80 Juta Bisa Dapat Apa? 80 Juta Dari Mana?

80 Juta Bisa Dapat Apa? 80 Juta Dari Mana?
Sebentar lagi jagad dunia maya pasti akan diramaikan dengan debat capres. Entah kenapa buat saya jauh lebih menarik mengikuti diskusi mengenai fenomena Vanessa Angel (VA); mengapa ia harus minta maaf, mengapa pihak prianya gak terlalu terekspos, kenapa di masa ekonomi (yang katanya) sulit uang 80 juta seakan mudah dibelanjakan, mengapa ia dibebaskan penegak hukum dst dst.

Menarik mencermati berbagai pendapat yang mencerminkan cara berpikir orang-orang yang terlibat dalam diskusi tersebut, dan bagaimana orang secara beragam sudut memandang masalah yang sama, bagaimana mereka mengemukakan pendapat dan bagaimana mereka menarik kesimpulan.

Teman saya dengan geram menyorot ke pihak pria yang disebut-sebut sebagai salah satu pengusaha tambang pasir di Lumajang. Sebuah daerah di mana pernah ada seorang aktivis lingkungan bernama Salim Kancil yang tewas karena protesnya melawan penambangan pasir di sana.

Di antara kita, sampai sekarang masih ada yang bertanya, kenapa banyak orang membahas "80 juta" karena tidak tahu konteks dan muasalnya. Seandainya saya berada di barisan orang yang tidak tahu menahu ini, pasti hidup saya jauh lebih ringan.

Kenapa hidup menjadi lebih ringan jika kita tidak mengetahui sesuatu yang tidak penting?


Jadi begini, (pura-pura jadi psikolog dulu) segala informasi yang masuk disadari atau tidak akan diproses oleh otak, banyak informasi yang berhasil diabaikan dalam kategori "tidak penting" tapi ada juga informasi yang nyangkut dalam "folder" Memori Jangka Pendek (Short Term Memory). 

Agar informasi itu tersimpan sebagai ingatan yang berguna maka perlu pendekatan pemikiran positif, nah proses inilah yang membuat hidup saya menjadi tidak ringan, saya harus bisa mengelola informasi itu menjadi sebuah input yang positif agar kelak bermanfaat bagi kehidupan saya. Setidaknya mengurangi input negatif yang hanya akan memenuhi ingatan dan berakibat buruk untuk kesehatan jiwa raga saya.

Kata-kata "Siapa yang menanam, akan menuai hasilnya” juga berlaku dalam pikiran, jika kita menyimpan input-input emosi dan ingatan yang negatif, kelak akan tumbuh dan kita tuai entah jadi apa, mendingan kita menanam ingatan dan emosi yang positif sehingga bisa bermanfaat kelak.

Jadi menurut referensi, short-term memory adalah tempat menyimpan informasi yang saat ini sedang kita pikirkan. Jenis ingatan ini dikenal juga sebagai primary atau active memory. Kejadian terbaru dan data sensorik seperti suara disimpan pada short-term memory. Short-term memory biasanya mencakup kejadian yang berlangsung pada periode antara 30 detik hingga beberapa hari.

Karena short-term memory perlu dipanggil kembali dalam waktu lebih singkat dari long-term memory, kemampuan otak untuk menjaga ingatan di dalamnya menjadi lebih terbatas. Otak dapat menyimpan hanya sekitar lima hingga sembilan hal. Sayang banget kalau kemampuan yang terbatas itu hanya diisi dengan informasi-informasi negatif.

Selanjutnya tahapan berbeda dari short-term memory diatur oleh bagian berbeda dari otak. Short-term memory berawal dari bagian lobus frontal pada bagian korteks serebral, kemudian informasi singgah di bagian hippocampus dan dipindahkan ke wilayah korteks serebral yang melibatkan bahasa dan persepsi untuk disimpan secara permanen. 

Sementara long-term memory memiliki kapasitas lebih besar dan menyimpan berbagai hal seperti fakta, ingatan pribadi, dan informasi terkait orang-orang di sekitar kita.

So, jelas buat saya lebih baik tidak tahu daripada membebani otak dengan informasi-informasi yang tidak penting. Otak butuh sumber daya untuk bekerja, artinya butuh energi dan waktu, apa gak lebih baik memikirkan hal-hal yang penting? membuang-buang energi dan waktu adalah hal yang paling dibenci manajemen... #ehhh

***

Diskusi mengenai VA yang saya sempat baca di Twitter adalah bermula dari pertanyaan "mengapa ia harus minta maaf kepada publik?". Pertanyaan ini diajukan Deddy Corbuzier melalui chanel  media sosialnya dan berkembang menjadi topik pro dan kontra.

Pengacara VA, Zakir Rasyidin sudah menjelaskan alasan kliennya menyampaikan permohonan maaf.
"Permintaan maaf itu sifat personal karena sudah membuat gaduh. Jadi, (sebagai) warga negara, dia meminta maaf karena sudah ada yang menyampaikan isu Rp 80 juta," kata Zakir dalam jumpa pers di kawasan Jakarta Selatan, Senin (7/1/2019). Saya kutip dari berita "Kenapa Vanessa Angel Minta Maaf? Ini Penjelasan Pengacara" Detik Online - Senin 07 Januari 2019, 22:09 WIB.

"VA dg merek PF, yg terkena mereknya. Kalau dia tak bermerek, orang gak peduli. Pemakai apa salahnya? Dia sanggup bayar mereknya.....kalau barang dg kualitas jauh lebih bagus banyak. Tapi dia mau beli mereknya. Sederhana...,"  tulis sebuah akun di Twitter.

Beberapa akun di Twitter lebih menjelaskan bahwa VA sebagai Public Figure (PF) memiliki tanggung jawab moral untuk tidak melanggar hukum dan norma. "Kalau dia tidak minta maaf sama seperti mendukung hal tsb. Even if its her body herself her consent it is wrong to do something illegal," jelas salah satu akun.

"Yg pemesan beli adalah status si VA sebagai public figure. Kalau hanya sekedar gadis semlohay jauh di atas VA fisiknya, dg bayar sepersepuluhnya dia bisa dapatkan. Di mana letak salahnya?," lanjut akun lainnya.

Mengikuti diskusi ini mengajak saya memperluas sudut pandang, terlebih lagi saya tidak kenal siapa itu VA, jadi saya lebih tertarik pada respon pro dan kontra atas permohonan maaf VA. Diskusi mengenai hukum sudah selesai dengan dilepaskannya VA dan 2 orang ditetapkan sebagai TSK Mucikari oleh kepolisian, karenanya diskusi yang berlanjut adalah mengenai norma khususnya aksi permintaan maaf VA kepada publik.

Apapun pembahasannya, faktanya VA sudah meminta maaf kepada publik secara terbuka melalui media. Tentunya itu dia tujukan kepada pihak-pihak yang menganggap dia telah melakukan kesalahan, mungkin pihak keluarganya dan seterusnya. Saya bukan bagian dari publik tersebut. 

***

80 Juta Bisa Dapat Apa? 80 Juta Dari Mana?

Saya gak kenal VA, walaupun kata orang dia seorang PF. Saya bukan siapa-siapa dan bukan pihak yang dirugikan. VA dan pria berinisial R itu gak perlu minta maaf kepada saya atas apapun yang mereka lakukan itu. 

Masyarakat ada yang merasa VA memang perlu untuk meminta maaf yah wajar, dan wajar juga kalo sebagian menganggap tidak perlu. Yang gak wajar itu menjadi pihak yang mengambil keuntungan dari perbuatan mereka, seperti mucikari, media-media gossip, dst.

Yang saya lihat VA sebagai perempuan terus saja menjadi korban pola pikir maskulin, tergambar dari fokus media yang lebih banyak menyorotinya. Terlebih statusnya sebagai PF sehingga lebih menjual untuk dijadikan komoditas berita.

Konsep berpikir win/loose juga akhirnya ngambang dan menjadi guyonan "80 juta bisa buat apa?". Cara berpikir demikian memang membutuhkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Siapa menang siapa kalah. Nyatanya dalam kasus ini tidak ada yang menang dan kalah, bermain hakim dalam pikiran jadi menguap tanpa ada kambing hitam yang bisa dijadikan sasaran.

Apalah daya, kuatnya media membuat fenomena ini masuk dalam pikiran saya. Saya musti menyimpannya sebagai cermin, bahwa apapun yang kita lakukan maka akan selalu ada pihak yang merasa berhak menjadi hakim.

Akan selalu ada pihak yang menuntut maaf jika ada tindakan saya yang tidak sesuai dengan norma dan citra ideal yang mereka lekatkan kepada saya. 

Lebih baik berjalan apa adanya. Sebisa mungkin lepaskan pencitraan-pencitraan yang tidak sepantasnya kita emban. Yang begitu hanya menjadi beban dan membatasi kebebasan pribadi.

Nominal 80 juta bukan uang yang sedikit, memikirkannya hanya akan menyiksa batin. Saya gak siap menjawab pertanyaan "dari mana asalnya dan dipakai untuk apa?". Sedangkan untuk membeli motor seharga 20 jutaan saja sudah sekian bulan belum terwujud. 

Lah Kok malah curhat?




Catatan Akhir Tahun 2018 dan Impian di Tahun 2019

Festival Kali Piket sukatenang sukawangi bekasi
Tadi malam saat blogwalking, saya lihat tulisan salah satu bloger berjudul catatan akhir tahun 2018. Ide yang menarik, kenapa saya nggak kepikiran untuk membuat hal serupa :)

Bagi orang yang sudah mulai pikun seperti saya, catatan menjadi penting. Ya memang saya juga merekam apa yang terjadi melalui lini masa media sosial, catatan dan foto di media sosial akan cepat tenggelam dan sulit untuk menelusurinya kembali, karenanya saya memilih blog.

Blog selain media untuk terus memelihara kebiasaan menulis juga berfungsi sebagai diari yang berisi opini, persepsi dan dumelan.

Tahun 2018 ini, blog ini hanya menyumbang artikel sebanyak 60 artikel, 4 diantaranya berupa content placement, artinya bukan saya yang nulis. Rerata dalam sebulan saya hanya menulis 4-5 artikel. Hanya bulan Desember 2018 blog ini sampai mempublish 10 artikel, efek cuti akhir tahun yang total hingga 2 minggu.

Tahun 2018 ditutup dengan seminar akhir Tahun dimana saya berbagi tentang literasi digital yang materinya saya ambil dari web internet sehat. Intinya hanya  mengurai tentang Kerangka literasi digital yang terdiri atas 3 (tiga) bagian utama, yaitu 1). proteksi (safeguard), 2). hak-hak (rights & obligations), dan 3). pemberdayaan (empowerment).

Kerangka literasi digital

Materi yang sebelumnya sudah saya paparkan saat menggantikan Kak Anazkia yang berhalangan dalam memberikan materi ini di kelas blog online melalui Grup WhatsApp. Oh iya, tahun 2018 saya terlibat dalam 2 kelas online tentang blogging yang diinisiasi oleh Tuteh dan Anazkia, 2 srikandi blogger yang sepak terjangnya banyak mempengaruhi saya :).

Secara offline saya 2 kali melakukan kunjungan ke Sungai Rindu di Sembilangan, wawancara dan ngobrol dengan para penggiat dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Alhamdulillah setidaknya ada 15 media online dan 1 media cetak yang bersedia menerbitkan artikel liputan ke Sungai Rindu, pas di saat momen liburan akhir tahun 2018. Semoga membantu publikasi apa yang teman-teman IRTRA Sembilangan sedang perjuangkan.

Bagaimana dengan tahun 2019? 

Saya rasa tidak ada yang banyak berubah. Kemungkinan besar, demisioner sebagai ketua KOSAGA (organisasi alumni SMA) yang banyak kegiatannya sudah saya tidak bisa ikuti lagi karena satu dan lain hal. Lebih intens lagi dalam pergerakan kepemudaan di Babelan dan sekitarnya, atau kegiatan baru yang sesuai passion dan minat.

Hari ini rencananya saya mau numpang ngopi sambil merekam apa yang akan dibahas dalam talkshow bertema "Kampung Inspirasi Peradaban" sebagai salah satu acara Festival Kali Piket yang digelar oleh Sekolah Alam (Salam) PRASASTI di Desa Sukatenang Sukawangi Kabupaten Bekasi ini.

Kampung saat ini diperlakukan tidak lebih sebagai objek properti yang puncaknya adalah alih fungsi lahan menjadi aset kapital, sasaran budaya pop dan konsumerisme, tempat penyebarluasan hoax melalui sosmed dan hal negatif lainnya.

Banyak sebab mengapa menjadi seperti itu, salah satunya adalah efek dari mindset pembangunan nasional warisan orde baru yang eksploitatif, yang menjadikan kampung sebagai lahan pengerukan sumberdaya alam, ekonomi, industri dan pembangunan terpusat dengan kapital sebagai titik orientasinya.

Lalu apa yang bisa masyarakat kampung lakukan? Semoga Festival Kali Piket dapat menyumbangkan ide dan inspirasi. Amiin.

Kegiatan awal tahun yang inspiratif, semoga bisa menjadi jiwa untuk kegiatan selanjutnya.

Impian di tahun 2019


Kalau agenda pribadi sepertinya tidak ada selain terus berbuat agar meninggalkan jejak-jejak positif. 2019 kemungkinan saya akan lebih fokus ke Cinong Bekasi dan beberapa komunitas pemuda di Babelan. Lebih banyak turun ke lapangan merealisasikan teori dan menikmati prosesnya.

Saya berharap tahun 2019 masih bisa memberikan sumbangsih dalam kelas-kelas online atau offline terkait literasi digital, pemanfaatan sosmed, internet marketing dan sejenisnya. Banyak topik baru yang terus berkembang, semoga masih bisa mencerna dan berbagi.

Masih mau belajar soal fotografi dan menulis feature news yang terus tertunda hingga sekarang. Kalau karir sepertinya sudah mentok :D berusaha bisa mengimbangi yang muda aja agar tidak kadaluarsa.

Bismillah saja, 2019 semoga menjadi ladang amal yang terbuka lebar bagi kita semua, amiin.

Masih panjang perjuangan, panjang umur perlawanan. 
Sabtu, 5 Januari 2019. 
Dumelan Kopi Pagi



Jangankan Makan Siang Gratis, Umroh Gratis Juga Ada

Ibadah Umroh dan Haji di Mekah

Belum lama ini saat sedang ngopi santai seorang teman bercerita tentang tetangganya yang berprofesi sebagai guru ngaji kampung mendapatkan rezeki berangkat umroh gratis tanpa dia tahu siapa yang telah membayar semua biayanya.

Fenomena seperti ini mungkin bukan hal yang aneh atau ajaib bagi sebagian orang, tapi bagi sang guru ngaji yang berekonomi pas-pasan tersebut, berangkat umroh gratis adalah sama dengan mendapatkan rezeki super nomplok yang tak terduga.

Namun teman tersebut juga menceritakan tentang bagaimana sang guru ngaji sederhana tersebut sempat kerepotan mengenai biaya untuk mengadakan acara sebelum keberangkatannya. Acara itu biasa disebut "walimatussafar", ada juga yang menyebutnya "walimah safar" atau "ratiban" saja, sebuah acara yang digelar saat orang akan berangkat haji dan umroh.

Acara walimatussafar ini menurut beberapa teman adalah semacam acara pamitan sebelum keberangkatan umroh/haji yang digelar si pemangku hajat.

Tapi menurut pandangan saya sebagai orang awam, kalau kita berpamitan yah seharusnya kita yang mendatangi orang-orang yang kita hormati untuk memohon pamit dan doanya sebelum berangkat, bukan mereka yang kita datangkan. Jadi kalau dalam pemikiran saya yah kurang pas kalau dikatakan sebagai pamitan :)

Dalam acara walimatussafar tersebut para undangan datang dan mendoakan keselamatan si pemilik acara, baik dalam perjalanan berangkat dan pulangnya. Nah kalau demikian saya paham. Sebuah tradisi yang baik-baik saja saya rasa.

Soal walimatussafar ini saya hanya berani menyatakan itu adalah sebuah tradisi dan memang tidak termasuk dalam sunah atau rukun haji dan umroh kan?.

Sebuah tradisi yang jika tidak memberatkan silahkan dilakukan, jika pun tidak dilaksanakan yah berpulang ke yang bersangkutan.

Soal dalil-dalil sholat sunah sebelum safar dan apa yang dilakukan nabi dan para sahabatnya sepulang bepergian jauh, sepertinya para ustad yang lebih paham daripada saya, jadi saya hanya memandang dari perasaan dan pemikiran awam saja,... sotoylogi detected.

guru ngaji kampung berangkat umroh gratis

Soal hadiah umroh gratis yang tidak diketahui siapa yang memberi ini keren loh. Itu sebuah cara halus untuk menjaga nama baik si penerima, untuk tetap memuliakan harga diri si penerima. Ini salah satu jurus tingkat tinggi, memberi tanpa membuat yang menerima pemberiannya merasa berhutang budi atau sejenisnya.

Bayangkan kalau guru ngaji tersebut tahu siapa yang membiayainya umroh. Walaupun si pemberi benar-benar ikhlas, tapi secara manusiawi sangat wajar kalau yang menerima pemberian akan sangat berterima kasih kepada yang memberi dan akan melakukan balas budi

Dari sisi pemberi, ia hanya ingin memberi secara ikhlas, sudah selesai. Ia tidak mau ada perubahan pandangan, perasaan dari pihak penerima. Bagi si pemberi, cukup Allah SWT yang tahu karena ia percaya bahwa sebaik-baiknya balasan adalah keridhoan Allah SWT.

Membuka identitas si pemberi juga saya kira kurang bijak, itu juga kayaknya akan mengurangi nilai pemberian karena akan menimbulkan risiko pergunjingan dan ghibah yang tertuju kepada si pemberi dan si penerima.

Coba deh cek ayat ini: 
"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu, menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)

Orang yang menampakkan sedekahnya itu baik sekali, karena dapat memberi contoh atau teladan yang baik dan pendidikan karakter bagi pihak yang terlibat. Bagi si pemberi akan menjadi ujian keikhlasan sedekahnya, bagi penerima akan terjalin hubungan silaturahim dan kelapangan hati menerima sedekah. Bagi yang mengetahui dapat menggugah keinginan untuk meneladani. Namun bersedekah secara rahasia ternyata lebih baik bagi si pemberi, bukan saya yang bilang begitu, Al-Quran yang menyatakan demikian.

Ayat tersebut mungkin juga tidak cocok, karena mungkin saja umroh untuk guru mengaji tersebut adalah hadiah bukan sedekah. Buat teman-teman yang mengerti perbedaan sedekah dan hadiah juga pasti paham mengapa nabi tidak ikut memakan roti sedekah tapi ikut makan dengan sahabatnya saat beliau tahu roti tersebut adalah hadiah.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan yang berlipat ganda kepada mereka yang telah memberangkatkan umroh sang guru ngaji sederhana tetangga teman saya itu. Dan untuk kita, semoga selalu ada hikmah pelajaran pada setiap kejadian jika saja kita mau menelitinya lebih jauh. 

Semoga kejadian ini menyadarkan kita bahwa ungkapan "tidak ada makan siang gratis" yang semakin sering didengar itu sebenarnya bukan berasal dari negeri ini, karena kalau di negeri ini, "jangankan makan siang, umroh gratis saja ada kok".

Wassalam.


Faktor U: Tiket Parkir Tertinggal Dalam Dompet

Faktor U: Tiket Parkir Tertinggal Dalam Dompet... Dompetnya Tertinggal Di Meja Komputer Kantor

Tiket Parkir Summarecon Bekasi Tertinggal Dalam Dompet
Tiket Parkir 
Karena hari Sabtu dan Minggu merupakan hari libur, maka saya termasuk orang yang menyambut datangnya hari Jumat dengan ceria. TGIF, Thanks God It's Friday kata orang sana, atau ALIF - Alhamdulillah It's Friday

Lalu saat Jumat sore sepulang dari kantor pusat, dengan menumpang bus yang melintas dari Jakarta Pusat menuju Bekasi maka pasti akan bertemu dengan yang namanya macet, itu sudah pasti!. Apalagi jika turun hujan... kalau tidak macet maka anggap saja bonus :) 

Tapi walaupun semua jalanan menuju Bekasi macet, setidaknya ada satu jalanan yang tidak pernah macet, yaitu "jalanan menuju kenangan" yang selalu lancar jaya :D. Tinggal pasang headset lalu pilih lagu kesukaan dari koleksi HP, duduk bersandar cari posisi wuenak sambil menyaksikan melalui jendela bus kelakuan pengendara mobil dan motor yang selap-selip berebut jalan.

Gerimis hujan yang mengalir di kaca bis tersapu angin membuat jalur-jalur  aliran yang memantulkan bias cahaya lampu kendaraan dan lampu jalan. Membuat saya membayangkan tubuh yang akan basah saat melanjutkan perjalanan pulang dengan motor yang saya titip di parkiran mall.

Mengingat motor di parkiran mall membuat saya gelisah. Segera saya periksa tas, dan dugaan saya benar, dompet TIDAK ADA. Artinya, saya akan melewati hari Sabtu dan Minggu tanpa KTP, SIM, STNK Motor, Kartu ATM dan lain-lain karena semua berada di dalam dompet.

Terbayang repotnya nanti saat mau ambil motor di parkiran, karena tiket parkir ada juga dalam dompet. Biasanya kalau tiket parkir hilang kita masih bisa mengambil motor kita dengan menunjukkan STNK, paling akan terkena denda karena menghilangkan tiket atau struk parkir. Lah ini, STNK motor juga ada dalam dompet yang tertinggal. -___-

Alhamdulillah saat saya telpon ke kantor masih ada Ridwan yang lembur. Saya kemudian memintanya untuk memeriksa laci meja komputer di mana saya biasa duduk. Apakah benar dompet saya tertinggal di sana, atau jangan-jangan tercecer entah di mana.

Tidak lama kemudian, Ridwan Kamil, sang Gubernur Jawa Barat menjawab chat saya. Kabar baiknya ternyata dompet saya memang tertinggal di sana. Setidaknya tidak hilang entah di mana. Saya minta rekan tersebut untuk memotret STNK dan tiket parkir dan mengirimkannya kepada saya melalui WhatsApp
Tiket Parkir Summarecon Bekasi Tertinggal Dalam Dompet
Tiket Parkir dan STNK Motor
Khusus foto tiket parkir saya minta foto dengan kualitas terbaik dengan harapan foto tiket itu nantinya bisa di-scan oleh penjaga gerbang parkir.

Saya gak mungkin juga kembali lagi ke kantor untuk mengambil dompet, akhirnya dengan bermodal foto STNK dan foto tiket parkir itu saya membesarkan hati dan berdoa agar semua dimudahkan.

Singkat cerita di lokasi parkiran motor hujannya hanya rintik-rintik, saya kemudian mengambil motor dan menuju gerbang parkir. Saat petugas pos di gerbang parkir meminta karcis dengan segera saya sodorkan HP yang menunjukkan foto tiket parkir dalam riwayat chat di Whatsapp.

Biasanya setelah menerima struk parkir, petugas parkir akan memindai (scan) barcode struk tiket itu dan otomatis muncul data berapa harga yang harus dibayar. Tapi karena yang saya serahkan foto tiket ia mulai mengetik setelah menerima HP saya.

Saya perhatikan dia mengetik manual kode yang hampir 20 digit random kombinasi angka dan huruf yang tertera dalam foto itu lalu mengisi kolom-kolom lainnya. Tidak lama muncul tarif parkir seperti biasanya, lalu sang petugas menyerahkan HP saya. Saya bayar dengan uang lebih dan menolak kembaliannya. Ini asli bukan sok dermawan atau bagaimana sih.

"Gapapa bang, ambil aja, saya kira saya kena denda. Terima kasih yah" ucap saya sambil berlalu setelah portal parkir terbuka.

Saya dengar pemuda berkemeja oranye alias petugas loket parkir itu membalas dengan ucapan terima kasih juga. Sikap yang baik, sayang saya tidak tahu nama petugas parkir itu, kapan-kapan saya cari tahu deh.

Oke, alhamdulillah masalah pengambilan motor di parkiran sudah selesai tanpa drama sama sekali. Masalah selanjutnya adalah saya gak akan berani kemana-mana dalam dua hari (Sabtu-Minggu) karena semua surat dan dokumen penting kartu identitas semua ada di dompet yang tertinggal.

Dan ini bukanlah kejadian yang pertama kali, saya sudah beberapa kali meninggalkan dompet lusuh itu nginap di mana-mana... faktor U kata orang mah 😁☕

Happy nice weekend.



Akeyla Naraya, Batik Bekasi dan Homeschooling

Diplomatic Spouses Association of Lebanon (DSAL) International Charity Bazaar dan Indonesian Days di Lebanon
Batik Bekasi di Indonesian Days, Antonine University Lebanon
"Pemuda adalah harapan bangsa" itu merupakan sebuah slogan yang sudah bosan saya dengar. Bosan karena semua orang juga sudah tahu dan menjadi hambar rasanya kalau terlalu sering digembar-gemborkan tanpa ada tindakan lanjutannya.

Pemuda itu siapa?

Organisasi Kesehatan Dunia WHO yang berkantor pusat di Jenewa, Swiss melalui studi tentang kualitas kesehatan dan harapan hidup rata-rata manusia di seluruh dunia menetapkan kriteria baru yang membagi kehidupan manusia ke dalam 5 kelompok usia.

Pertama, ‎ usia 0 – 17 tahun adalah anak-anak di bawah umur. Kedua, 18 – 65 tahun pemuda. Ketiga, 66 – 79 tahun setengah baya. Keempat, 80 – 99 tahun orang tua. Kelima, 100 tahun ke atas orang tua berusia panjang‎. 

Ini berbeda dengan definisi pemuda dalam Pasal 1 Ayat (1) UU Nomor 40 Tahun 2019 tentang Kepemudaan yang menyatakan batas usia muda dimulai dari 16-30 tahun. Di lain pihak UNESCNO dalam halaman web-nya yang berjudul What do we mean by “youth”? mengkategorikan pemuda dalam rentang usia 15 hingga 35 tahun.

Dari definisi pemuda itu setidaknya sudah jelas bahwa usia 9 tahun masih dalam kategori anak-anak di bawah umur. Nah ngomong-ngomong soal pemuda harapan bangsa, mari kita (yang masih masuk dalam kategori pemuda) mengenal seorang anak di bawah umur yang sudah memiliki berbagai prestasi gemilang. 

Mudah-mudahan bisa menjadi penyemangat yah :) Amiin
Akeyla Naraya, Desainer Cilik dari Bekasi di Libanon
Akeyla Naraya, Desainer Cilik dari Bekasi

Akeyla Naraya, Siapa dia?

Bernama lengkap Akeyla Naraya Aliandina, putri dari Ibu Ina Raya kelahiran 4 Februari 2010 ini bukan anak perempuan biasa. Di usianya yang belum genap berusia 9 tahun ini Akeyla Naraya sudah memiliki berbagai macam prestasi luar biasa dalam dunia fashion, baik dalam dan luar negeri. Soal prestasinya silahkan cari nama "Akeyla Naraya" di Google, akan panjang kalau saya catat semua di sini.

Menurut beberapa media, untuk menampung karyanya, desainer cilik yang tinggal di perumahan Wisma Asri Bekasi Utara ini memiliki sebuah butik di Gedung Smesco Jakarta Selatan. Jadi mau lihat butiknya nih, kapan-kapan deh yah :)

Nah teman-teman tahu gak? belum lama ini, Akeyla Naraya bersama sejumlah desainer asal Kota Bekasi, Jawa Barat, memperkenalkan batik khas Bekasi dalam kontes busana internasional di Beirut, Lebanon tanggal 2-4 Desember 2018.

Selain itu, Akeyla juga ikut berpartisipasi dalam misi budaya Indonesia di acara Diplomatic Spouses Association of Lebanon (DSAL) International Charity Bazaar dan Indonesian Days di Antonine University, Lebanon. DSAL International Charity Bazaar adalah kegiatan sosial yang berlangsung di Hotel Phoenicia, Beirut, Lebanon. 

Nah Lebanon itu di mana? Jauh lah, naik pesawat saja bisa 10 jam lebih, Lebanon itu sebuah negara dengan ibukota Beirut yang terletak di tepi pantai Laut Tengah - Timur Tengah, terletak di antara Palestina dan Suriah. Ok, pelajaran Geografinya cukup yah.
Akeyla Naraya, Batik Bekasi dan Homeschooling
Batik Bekasi dalam kreasi desainer cilik Akeyla Naraya
DSAL International Charity Bazaar sendiri diikuti 37 negara ditambah enam pegiat seni asal Lebanon. Indonesia sebagai salah satu sponsor DSAL International Charity Bazaar ini berkesempatan memamerkan produk-produk khas Indonesia, termasuk fashion berbahan batik Bekasi yang dirancang oleh tangan mungil Akeyla Naraya.
Akeyla Naraya menerima penghargaan dari rektor Universitas Antonine Lebanon
Akeyla Naraya menerima penghargaan dari rektor Universitas Antonine Lebanon
Bakat Akeyla Naraya jelas menurun dari ibunya, Ina Raya yang juga seorang desainer yang sudah sering melakukan acara fashion show di mana-mana. Salah satu karya Ibu Ina Raya adalah Batik Gotik yang bercirikan kreasi warna hitam pekat dengan motif batik.

Saya mendapatkan foto-foto Akeyla dari seorang warga Tarumajaya Kabupaten Bekasi yang sedang kuliah di Libanon. Menurutnya acara Indonesian Days dilaksanakan di Antonine University, Senin (3/12/2017). Dari informasi media, acara Indonesian Days semula direncanakan akan dilaksanakan di University of Beirut, berbeda lokasi dengan acara DSAL International Charity Bazaar yang dilaksanakan di Hotel Phoenicia.
Indonesian Days di Antonine University Lebanon
Batik Bekasi di Indonesian Days, Antonine University Lebanon


Kembali ke Akeyla Naraya, bagaimana anak seusia Akeyla dapat mengatur jadwalnya yang padat dengan kewajiban belajarnya?

Soal pendidikan Akeyla Naraya yang padat itu jawabannya adalah dengan Homeschooling atau Sekolah Rumah. Peraturan Homeschooling di Indonesia terdapat pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 129 Tahun 2014 tentang “Sekolah Rumah” (homeschooling). 

Pada Pasal 1 Ayat (4) disebutkan: yang dimaksud sekolah rumah adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar dan terencana dilakukan oleh orangtua/keluarga di rumah atau tempat-tempat lain. 

Sementara bisa dalam bentuk tunggal, majemuk, dan komunitas dimana proses pembelajaran dapat berlangsung dalam suasana kondusif. Ini bertujuan agar setiap potensi peserta didik yang unik dapat berkembang secara maksimal.

Kemudian pada Pasal 7 Ayat (1) disebutkan: kurikulum yang diterapkan dalam sekolah rumah mengacu pada Kurikulum Nasional. Berikutnya, Ayat (3): kurikulum yang dimaksud sebagaimana Ayat (1) yang digunakan dapat berupa kurikulum pendidikan formal atau kurikulum pendidikan kesetaraan, dengan memperhatikan secara lebih meluas atau mendalam bergantung pada minat potensi dan kebutuhan peserta didik

Saat ini saya hanya mencatat mengenai kedudukan homeschooling menurut peraturan, untuk lebih jauh saya belum pernah mendalami bagaimana praktek homeschooling ini.

Berkaca dari Akeyla yang masih belia ini, saya sebagai pemuda (berdasarkan kategori WHO) jelas banyak ketinggalan. Ini baru Akeyla, belum lagi adik-adik yang berprestasi di bidang lain, banyakkkk....

Huffttt walaupun masih mengaku muda, tetap saja saya tidak bisa kembali muda lagi untuk benar-benar memahami dunia ini dalam pandangan para pemuda saat ini. Jadi inget kutipan Oscar Wilde: ‘I am not young enough to know everything’,  saya tidak cukup muda untuk mengetahui semuanya... karena; mereka sebagai pemilik masa depan memiliki mimpi yang saya tidak mampu memimpikannya.

:) 

Sumber foto: Fahri Abidin, Mahasiswa Indonesia di Lebanon.


Jika Ingin Pelangi, Kau Harus Menerima Hujan

Jika Ingin Pelangi, Kau Harus Menerima Hujan
Orang memanggilku  Dean, lengkapnya Deandrea. Aku selalu takjub dengan proses terjadinya hujan. Bagaimana air pada jemuran yang terkena terik matahari berubah menjadi uap sehingga dapat terbang mengangkasa. Berkumpul dan menyatu dalam awan di langit lalu kemudian menjadi tetes air dan tercurah turun membasahi bumi kembali.

"Kalau nanti sore hujan, jangan pulang dulu sebelum aku datang menjemput kamu," ucapku sambil menatap matanya sungguh-sungguh.

Ia membalas tatapanku seperti biasa, lembut dan damai. Ia mengangguk sambil memberiku senyum tertahan, tanpa kata berbalik dan berjalan masuk ke gerbang sekolah, melewati lapangan basket lalu hilang di koridor kelas yang berjejer. 

Aku pun meninggalkan tempat itu setelah puas memandangi rambut hitam panjang kepang dua yang berjalan cepat tanpa pernah menengok. Satu-dua kali membalas sapaan dari teman-temannya yang kukenal, melewati tukang-tukang dagang dan obrolan anak-anak tongkrongan langkahku semakin menjauhi lokasi sekolahnya.


Aku suka dengan istilah "September Ceria" yang diambil dari judul lagu Vina Panduwinata, meski September sudah berlalu dan hampir setiap hari hujan datang, tapi hujan juga berarti ceria, yah Oktober, November, Desember kapan pun itu, hujan selalu berarti ceria

Ceria karena hujan adalah saat menjemput pujaan hati pulang sekolah dengan hanya berbekal payung seadanya, lalu menyusuri aspal basah bersamanya.

"Kamu tahu apa yang aku suka dari hujan?" tanyanya waktu itu.

"Suasana jadi gak panas?" jawabku.
"Bukan, kalau gak hujan pasti kamu gak menjemput aku kan?"
"Iya, kalau tidak hujan kamu kan bisa pulang bersama teman-teman kamu, gak perlu aku jemput kan?"
"Iya juga sih, tapi kenapa kalau hujan kamu menjemput aku?"
"......"
Pertanyaan yang tidak pernah aku jawab.

Ya benar, jika sedang tidak hujan, baik saat sedang sendirian atau sedang bersama teman, aku memilih mengawasinya dari jauh, menjadi secret admirer yang cukup merasa puas saat ia tahu aku ada, mengawasinya, mencoba hadir.. walau jauhEntah siapa yang memberi ide menjemputnya setiap hujan datang. 

Ada tatapan heran kala pertama, bukan tatapan marah sepertinya, ia seperti enggan menerima payungku. Atau mungkin ia ingin berbasah-basahan bersama?, kubuang kesimpulan prematur itu jauh-jauh.

"Bilang aja ojek payung" memberinya alibi agar ia tidak canggung menerima payung yang aku tawarkan.
"Maksudmu?" kudengar tanyanya di antara suara gemericik hujan.
"Ya bilang aja ojek payung langganan, kalau ada yang nanyain"
"Emang akan ada yang nanyain?"
"Kan aku bilang kalau ada yang nanyain hahaha" sambutku dengan tetap mengambil posisi di belakangnya.

Selanjutnya tidak ada lagi pertanyaan, aku hanya memantau cuaca. Jika mendung dan hujan maka aku hanya tahu untuk membawakannya payung. Apakah perlu alasan untuk hal sesederhana itu?.
_____

"Kamu lucu, basah-basahan padahal membawa payung," katamu suatu ketika sambil menerima payung yang aku sodorkan. 

Kata-katanya memecah hening saat aku tak bisa berbicara banyak, hanya mematung yang bisa aku lakukan menyadari ia sedang menatapi sekujur tubuhku yang basah dengan sedikit senyum simpul.

Aku pikir dia marah waktu itu, sepertinya dia perlu memikirkan beberapa saat skenario dadakan yang aku tawarkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Jika yang dia bayangkan kami akan satu payung berdua di tengah hujan dan disaksikan puluhan pasang mata yang berteduh saat itu... terlalu manis untuk menjadi kenyataan

Dengan cepat ia mengembangkan payung dan mulai melangkah anggun menerobos hujan yang tidak terlalu deras lagi.

Tak banyak kenangan yang tersimpan dari aksi konyol spontanitas seperti itu, situasi dan kondisi yang menentukan, waktu merupakan barang mahal. Terlambat mengambil tindakan karena terlalu lama berpikir hanya memberi angin kepada keraguan untuk mengambil alih keadaan. Lalu semua segera akan menjadi serba terlambat dan berubah menjadi prasasti penyesalan. Aku tidak akan izinkan itu terjadi, setiap detik bersamanya terlalu berharga.

Benar kata orang, hujan bukan hanya menyebabkan genangan tapi juga bisa menghadirkan kembali kenangan. Semua akan baik-baik saja asal kita tidak terlalu lama berendam dalam genangan kenangan itu 😊
Terlambat mengambil tindakan karena terlalu lama berpikir hanya memberi angin kepada keraguan untuk mengambil alih keadaan. Lalu semua segera akan menjadi serba terlambat dan berubah menjadi prasasti penyesalan. Aku tidak akan izinkan itu terjadi, setiap detik bersamanya terlalu berharga.
____________

Namaku Anandra, teman-teman memanggilku Ana. Aku tidak terlalu suka hujan tapi aku percaya hujan selalu membawa kebaikan, bukankah kita diajarkan membaca doa untuk menyambut turunnya hujan?.


Memasuki awal November hujan tidak terlalu sering, namun setelah pertengahan November hujan deras hampir setiap hari mengguyur. 


Aku selalu siap payung dan jas hujan serta kantung plastik untuk melindungi isi tas, tapi setiap kali bertemu Dean dengan payungnya aku dengan senang hati menerima payung yang ia sodorkan. Kadang ia mandi hujan, kadang juga kami berdua dalam satu payung ,walau akhirnya ia selalu basah kuyup karena mengalah untukku.


Dean yang kutahu hanya lulusan SMA dan tidak mempunyai pekerjaan tetap, banyak yang tidak ku tahu tentangnya selain kelakuannya yang aneh: selalu muncul membawa payung saat hujan
Kalau tidak hujan ia tidak tampak, tapi pernah kupergoki ia mengawasi dari jauh. Berbaur dengan geng yang sebagian besar berasal dari sekolah yang sama denganku.

"Na, tadi itu siapa yang nganterin elo?" tanya Wati memecah lamunan.
"Biasa ojek payung, ada apa yah?" jawabku mencoba tenang.
"Ojek payung khusus buat elo kali? soalnya gue lihat setelah ngantar elo dia langsung pulang kok, gak seperti ojek payung lain, lagi pula kayaknya gue kenal deh"
"Elo kenal di mana?"
Sebuah pertanyaan percuma setelah aku tak dapat menjawab rentetan pertanyaan teman sekelasku ini. Wati pasti tau aku sedang mengelak.
"Hei, udah ngelamunnya!, disambung nanti saja, tuh Bu Guru sudah masuk kelas" ujar Wati mengagetkanku.

Tidak mengherankan sebenarnya kalau Wati dan beberapa teman mengenalnya. Selain adiknya juga bersekolah di sekolah ini, beberapa teman juga berasal dari wilayah yang sama. Paling tidak rumah kami masih 1 kelurahan walau beda RW apalagi dia cukup luas pergaulannya dengan banyak orang.

Ah aku masih saja melamunkannya walau setelah beberapa mata pelajaran silih berganti.

_____________

"Ana, ngapain lo ngeliat-ngeliatin mereka Na? Itu anak-anak bandel, cuekin aja!" kata Yeni menyadari aku yang agak tertinggal.

"Ah enggak tadi kayaknya ada yang manggil, gue kira mereka" jawabku menghindar.
"Ya mungkin aja sih, mereka emang suka usil, di sekolah juga suka bikin masalah, udah yuk ah, cuekin aja" timpal Sofi sambil menarik lengan Yeni. Kami bertiga kembali berjalan bersama sambil bercerita apa saja.

"Itu di sana ada Ivan, dulu waktu SD gak nakal kayak sekarang, suka bolos dan gak pernah rangking kelas lagi" Sofi mulai bercerita.

"Kok elo tau si Ivan suka bolos? Kalian kan gak sekelas, yang sekelas sama Ivan kan Ana" tanya Yeni.
"Rumahnya Ivan kan dekat rumah gue, ibunya suka nanya-nanya kalau gue lewat depan rumahnya" jelas Sofi dengan santai.

"Oh kirain elo suka sama Ivan hehehe" ledek Yeni, aku juga ikut tersenyum.
"Dulu sih iya, sekarang sih enggak lah" jawab Sofi sambil tersenyum. Kami bertiga masih terus bercanda.

"Ivan di kelas baik-baik aja kok, nanti gue salamin deh" godaku.

"Ih Ana jangan dong, gue kan malu" jawab Sofi dengan memasang mimik muka memelas yang disengaja sehingga mengundang tawa.

Saat kami tertawa bertiga Ivan dengan sepeda motornya menghampiri kami.

"Hai Sofi, hai Yeni, hai Ana, oh iya Ana elu dapet salam dari Dean". Setelah mengucapkan itu Ivan meninggalkan kami yang bingung.

"Idih apaan sih? Gue kirain mau nawarin gue pulang bareng" ucap Sofi ketus. Yeni dan aku tertawa mendengar ucapan Sofi. Sepertinya Sofi tidak serius, karena ia kemudian tertawa juga.


"Tumben banget tuh si Ivan lewat paket negor kita-kita, biasanya nyelonong aja kayak gak kenal" ucap Yeni. 

"Terus Dean itu siapa Na?" tanya Yeni.
"Gak tau" jawabku sambil tertawa, kemudian Yeni dan Sofi juga tertawa mendapat jawaban seadanya.

Kelak aku tahu Ivan ternyata memang mendapat pesan untuk menyampaikan salam kepadaku. Entah maksudnya apa tapi saat itu aku senang, tapi juga grogi menjawab pertanyaan Yeni.

_________

Bel istirahat berbunyi, aku keluar kelas bukan mau ke kantin atau lainnya, hanya ingin menghanti suasana saja agar tidak jenuh. 

"Hai Ana, salam dari Dean" ucap Ivan yang baru keluar dari ruang kelas.
"Terima kasih" jawabku.
"Elo emang udah jadian yah sama Dean?" tanya Ivan datar.
"Kalo iya emang kenapa?" jawabku memancing
"Yah gapapa sih, cuman heran ajah"
"Heran kenapa?" cecarku.
"Eh enggak deh, udah yah aku mau ke kantin dulu" jawab ivan meninggalkan aku yang kesal. 
Bagaimana tidak kesal, dia yang memulai pembicaraan lalu sekarang pergi begitu saja.

"Tumben elo ngobrol sama Ivan" tanya Wati mendekatiku.
"Elo gak apa-apa kan?" lanjutnya.
"Eh gapapa kok, gak tau, iseng aja kali" jawabku.
"Iya sih dia emang suka iseng, ayo bareng kalau mau ke kantin" ajak Wati.
"Gak deh, makasih, gue cuma mau cari angin aja kok" jawabku.
"Ok deh" jawab Wati sambil berlalu.


sunset di pantai indrayanti jogja

Hujan mulai reda, seiring kesadaran yang mulai hadir dan mengusir kenangan dalam lamunan.

"Asik bener ngelamunnya Na" sapa Mas Iwan yang kemudian duduk di dekatku.
"Hujan yang tidak terlalu deras, angin yang sejuk ini bikin lamunan kemana-mana mas." jawabku meraih gelas kopi yang sudah dingin.
"Kopi sudah dingin begitu kok diminum, ini masih hangat" Mas Iwan mengambil gelas kopiku dan menyodorkan kopi hangatnya. 

Aku terima mug putih bertuliskan "Jika Ingin Pelangi, Kau Harus Menerima Hujan" berisi kopi hangat yang menebar aroma bunga. Kesegaran mengalir mengusir suasana dingin dan menggantikan kenangan yang dingin dengan obrolan hangat kami. Mataku menangkap kilatan sisa sinar matahari senja memantul dari ombak yang berkejaran menepi di pantai. Semakin redup hingga benar-benar hilang tenggelam tanpa jejak.


BUNGA DAN TEMBOK

Seumpama bunga
Kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh
Seumpama bunga
Kami adalah yang tak kau kehendaki adanya

Engkau lebih suka membangun kota dan merampas tanah
Engkau lebih suka membangun jalan layang membangun tembok besi

Seumpama bunga
Kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh
Seumpama bunga
Kamilah yang rontok di bumi kami sendiri

Engkau lebih suka menanam rumah dan merampas sawah
Engkau lebih suka membangun jalan layang membangun tembok besi

Jika kami bunga
Engkaulah tembok itu
Telah kami tanam biji-biji di tubuhmu
Kelak suatu nanti kami kan tumbuh 
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Engkau harus hancur!
Engkau harus hancur!
Engkau harus hancur!


_____________
Musikalisasi Fajar Merah
Video by Muhsin Ali Mabrur

Dibawakan dengan ancur-ancuran saat Perpustakaan Jalanan Bekasi turut meramaikan perhelatan Hari Puisi Indonesia - GAUNG PUISI DI TAPAL BATAS UTARA di Sekolah ALam Prasasti, Kp Piket Desa Sukatenang Sukawangi Bekasi. Minggu, 12 Agustus 2018.



Memahami Selisih 1 Hari di Kalender Saka Jawa dan Hijriyah

Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma dan kalender saka jawa

Misteri Malam 1 Suro setelah mengikuti Kirab Agung Pusaka Tarumanagara membawa saya pada jejak Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma yang telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975 sehingga menjadi Pahlawan Nasional ke-12 dari Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Mengapa malam 1 Suro terkait dengan Sultan Agung Mataram?

Perhitungan kalender Saka Jawa adalah karya dari Sunan Agung Hanyakrakusuma. Sebelumnya kalender saka Jawa dihitung berdasarkan peredaran matahari atau mengikuti sistem syamsiyah, yaitu perhitungan perjalanan bumi mengitari matahari. Sedangkan kalender Sultan Agung mengikuti sistem qomariyah, yakni perjalanan bulan mengitari bumi seperti pada kalender Hijriah.

Walaupun tahun Saka menggunakan peredaran bulan sebagaimana kalender Hijriah, dalam kalender Jawa ini terdapat perputaran waktu khusus (siklus) yaitu Windu, Pasaran, Selapan dan Wuku.

Pada waktu itu kalender Saka sudah berjalan sampai akhir tahun 1554. Angka tahun 1554 itu diteruskan dalam kalender Sultan Agung dengan angka tahun 1555, sekalipun dasar perhitungannya sama sekali berlainan. Perubahan kalender di Jawa itu dimulai hari Jum’at Legi, tanggal 1 Sura tahun Alip 1555 bertepatan dengan tanggal 1 Muharam tahun 1043 Hijriah, atau tanggal 8 Juli 1633. Kalender ini dikenal pula dengan Kalender Jawa Sultan Agungan atau Penanggalan Jawa (Anno Javanico).

1 Muharram 1440 berbeda hari dengan 1 Suro 1952 

Menetapkan tanggal merah jelas merupakan kewenangan pemerintah yang menggunakan Kalender Gregorian Masehi. Pemerintah RI telah menetapkan hari Senin tanggal 11 September 2018 sebagai tanggal merah untuk memperingati 1 Muharram yang berarti menurut pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, 1 Muharram jatuh pada hari Selasa tanggal 11 September 2018. 

Sedangkan menurut penanggalan Saka/Jawa Kalender Jawa Sultan Agungan tanggal 1 Suro Tahun Be 1952 atau tahun Dal 1952 jhe adalah tanggal 12 September 2018. Karena perbedaan sistem penanggalan tersebut maka tanggal 1 Suro 1952 dan 1 Muharram 1440 H berbeda 1 hari.  Inilah penyebab ada kalender yang mencetak tanggal 12 September 2018 sebagai tanggal merah. Kemungkinan besar pencetak mengikuti penanggalan kalender Saka/Jawa dalam menentukan tanggal 1 Suro atau beranggapan bahwa tanggal 1 Suro tahun ini berbarengan dengan 1 Muharram 1440 H seperti tahun-tahun sebelumnya, atau mungkin alasan lainnya.

Untuk di Bekasi, perbedaan tanggal merah ini mungkin tidak terlalu penting, paling hanya perbedaan tanggal merah yang tercetak di kalender. Tapi untuk warga di wilayah Surakarta Solo, perbedaan waktu antara 1 Muharam dan 1 Suro terlihat pada perbedaan pelaksanaan acara menyambut malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran dan Keraton Surakarta Solo Jawa Tengah. 

Pura Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah menggelar kirab budaya menyambut malam satu suro pada Senin malam (10/9/2018), karena menurut kalender hijriyah 1 Muharram 1440 H atau 1 Suro jatuh pada hari Selasa tanggal 11 September 2018. 

Sedangkan Keraton Surakarta Hadiningrat mengadakan kirab 1 Suro pada Selasa malam (11/9/2018) karena berdasarkan perhitungan Kalender Jawa Sultan Agungan atau penanggalan Jawa (Anno Javanico) tanggal 1 Suro Keraton Solo tahun Dal 1952 jhe jatuh pada hari Rabu tanggal 12 September 2018.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Jogja seperti juga Keraton Surakarta Hadiningrat di Solo, mengadakan Hajad Kawula Dalem Mubeng Benteng pada Selasa malam (11/9/2018) karena Keraton Ngayogyakarta juga menggunakan Kalender Jawa Sultan Agungan sebagaimana Keraton Surakarta Hadiningrat Solo.

Penjelasan Perbedaan penetapan 1 Muharram 1440 dengan 1 Suro 1952 

Dari laporan Almira Nindya di media online Rakyat Merdeka (RMOL) Jateng, mengutip pernyataan Pangageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Dipokusumo menjelaskan, selama ini Keraton Surakarta mengacu pada kalender Jawa karya Sultan Agung yang juga mengadopsi penanggalan Islam yang berbasis pada perputaran Bulan dan menetapkan tanggal 1 Suro 1952 jatuh pada tanggal 12 September 2018 sehingga kirab 1 Suro diselenggarakan pada Selasa malam tanggal 11 September 2018.

"Untuk penyelenggaraan kirab 1 Suro pada tahun ini, keraton mendasarkan pada perhitungan Kalender Sultan Agung, yang jatuh pada Selasa (11/9). Maka dengan perhitungan tersebut kadang bisa bareng dengan Masehi namun bisa juga selisih sehari," kata Gusti Dipo, menjelang kirab pusaka malam 1 Suro di Keraton Surakarta. 

Terpisah, pendapat dari Sejarahwan UNS Solo, Tundjung W. Sutirto mengatakan, perbedaan waktu 1 suro atau 1 Muharam terjadi karena Keraton Surakarta menggunakan pendekatan penanggalan Aboge, sedangkan Pura Mangkunegaran menggunakan penanggalan Asapon.

Perbedaan itu terkait adanya pendekatan penanggalan Asapon yang digunakan Mangkunegaran dan penanggalan Aboge yang digunakan Keraton Surakarta, kedua penanggalan itu ada selisih perhitungan, biasanya selisih satu hari," kata Tundjung. 

Dikutip dari Tugu Jogja pada halaman Kumparan, Pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melaksanakan tradisi Mubeng Beteng pada hari Selasa (11/9) malam. Puteri Raja Keraton Yogyakarta, Gusti Condro Kirono mengungkapkan, pelaksanaan laku Mubeng Beteng tersebut baru akan dilaksanakan pada hari Selasa (11/9). Sebab, berdasarkan kalender Sultan Agung, 1 Suro jatuh pada hari Rabu tanggal 12 September 2018.

"Keraton memang menganut Kalender Sultan Agung,"ujar Gusti Condro Kirono di Kompleks Kepatihan Yogyakarta.
Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng 1 Suro Jogjakarta
Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng 1 Suro Jogjakarta 2018
Hal tersebut mengonfirmasi infromasi dari akun Twitter Kraton Jogja @kratonjogja tanggal 6 September 2018 yang menginformasikan: "Sahabat, kami informasikan bahwa Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng untuk memperingati tahun baru Jawa, 1 Sura Tahun Be 1952 akan digelar Selasa (11/9) malam. Acara dimulai pukul 20.00 WIB dengan pembacaan macapat di Bangsal Pancaniti  Kraton Jogja." #kratonjogja.

Kalender Sultan Agung berbeda dengan kalender Hijriah yang awal dan akhir bulannya ditentukan dengan fenomena hilal atau penampakan bulan sedangkan Kalender jawa sistem perhitungan yang menggunakan hisab urfi (rata-rata), sehingga tak jarang di jumpai perbedaan antara kalender Jawa Islam dengan kalender Hijriyyah. Karena bersifat urfi maka kalender Jawa Islam ini tidak bisa digunakan sebagai acuan dalam kegiatan Ibadah umat Islam khususnya penentuan 1 Ramadhan.

Sistem perhitungan kalender Sultan Agung rata-rata lebih panjang sebanyak 1 hari setiap 120 tahun, agar kalender Sultan Agung tetap sesuai dengan kalender Hijriyah, maka dalam kurun 120 tahun kalender Sultan Agung selalu dihilangkan satu hari. Peristiwa menghilangkan tanggal 1 Sura pada awal permulaan kurup tahun Alip ini disebut ganti kurup atau salin kurup.

Siklus 120 tahun yang disebut dengan kurup ini baru diketahui setelah 72 tahun kalender Jawa berjalan. Sejauh ini sudah terdapat 3 kurup. Pertama, 1 Sura 1627 (Alip) jatuh pada Kamis Kliwon. Kedua, 120 tahun kemudian, 1 Sura 1747 (Alip) jatuh pada Rabu Wage atau dikenal sebagai kalender Aboge. Ketiga, kurup Aboge itu berakhir dengan datangnya kurup baru, yaitu 1 Sura 1867 (Alip) yang jatuh Selasa Pon atau disebut Asapon. Kurup Asapon itulah yang saat ini berlaku, mulai 24 Maret 1936-25 Agustus 2052 M.

Sebuah Karya Agung Nusantara

Menurut peneliti, pembuatan sistem kalender ini dilakukan oleh Raja Mataram Sultan Agung Anyakrakusuma saat itu bertujuan untuk menyatukan sistem penanggalan masyarakat kejawen dan santri. Saat itu, masyarakat kejawen menggunakan kalender Saka, sedangkan kaum santri menggunakan kalender Hijriah.

Kalender Saka merupakan sistem penanggalan yang didasarkan pergerakan bumi mengelilingi matahari. Kalender tersebut telah digunakan oleh masyarakat Hindu di India sejak tahun 78 masehi dan masih digunakan oleh masyarakat Hindu di Jawa dan Bali hingga kini. 

Untuk merangkum semua kepentingan masyarakat yang berbeda, maka sistem penanggalan baru dibuat dengan menggabungkan kalender Saka dengan kalender Hijriah. Nama bulan dan jumlah hari didasarkan degan sistem kalender Hijriah. Sedangkan angka tahun Saka dipertahankan. Ini membuat kalender pertama Jawa bukan 1 Sura tahun 1 Jawa, melainkan 1 Sura tahun 1555 Jawa.

Dari sini saya kira kita dapat membayangkan kearifan Sultan Agung selaku raja Mataram kala itu. Kalender Sultan Agung ini juga memiliki keistimewaan karena memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian (perhitungan kalender Julius Caesar Romawi Kuno) yang merupakan bagian budaya Barat. Sistem penanggalan ini cukup rumit dengan perhitungan astronomi yang cukup detail dan masih digunakan oleh banyak orang hingga sekarang. 

Kesimpulan saya, jika kalender yang ada di rumah Anda mencetak tanggal 12 September 2018 sebagai tanggal merah, maka besar kemungkinan percetakan tersebut mengadopsi kalender Jawa Sultan Agungan atau Penanggalan Jawa (Anno Javanico) yang menetapkan tanggal 1 Suro jatuh pada tanggal 12 September 2018.

Salam.

*dirangkum dari berbagai sumber



Memahami Selisih 1 Hari di Kalender Saka Jawa dan Hijriyah

Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma dan kalender saka jawa

Misteri Malam 1 Suro setelah mengikuti Kirab Agung Pusaka Tarumanagara membawa saya pada jejak Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma yang telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975 sehingga menjadi Pahlawan Nasional ke-12 dari Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Mengapa malam 1 Suro terkait dengan Sultan Agung Mataram?

Perhitungan kalender Saka Jawa adalah karya dari Sunan Agung Hanyakrakusuma. Sebelumnya kalender saka Jawa dihitung berdasarkan peredaran matahari atau mengikuti sistem syamsiyah, yaitu perhitungan perjalanan bumi mengitari matahari. Sedangkan kalender Sultan Agung mengikuti sistem qomariyah, yakni perjalanan bulan mengitari bumi seperti pada kalender Hijriah.

Walaupun tahun Saka menggunakan peredaran bulan sebagaimana kalender Hijriah, dalam kalender Jawa ini terdapat perputaran waktu khusus (siklus) yaitu Windu, Pasaran, Selapan dan Wuku.

Pada waktu itu kalender Saka sudah berjalan sampai akhir tahun 1554. Angka tahun 1554 itu diteruskan dalam kalender Sultan Agung dengan angka tahun 1555, sekalipun dasar perhitungannya sama sekali berlainan. Perubahan kalender di Jawa itu dimulai hari Jum’at Legi, tanggal 1 Sura tahun Alip 1555 bertepatan dengan tanggal 1 Muharam tahun 1043 Hijriah, atau tanggal 8 Juli 1633. Kalender ini dikenal pula dengan Kalender Jawa Sultan Agungan atau Penanggalan Jawa (Anno Javanico).

1 Muharram 1440 berbeda hari dengan 1 Suro 1952 

Menetapkan tanggal merah jelas merupakan kewenangan pemerintah yang menggunakan Kalender Gregorian Masehi. Pemerintah RI telah menetapkan hari Senin tanggal 11 September 2018 sebagai tanggal merah untuk memperingati 1 Muharram yang berarti menurut pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, 1 Muharram jatuh pada hari Selasa tanggal 11 September 2018. 

Sedangkan menurut penanggalan Saka/Jawa Kalender Jawa Sultan Agungan tanggal 1 Suro Tahun Be 1952 atau tahun Dal 1952 jhe adalah tanggal 12 September 2018. Karena perbedaan sistem penanggalan tersebut maka tanggal 1 Suro 1952 dan 1 Muharram 1440 H berbeda 1 hari.  Inilah penyebab ada kalender yang mencetak tanggal 12 September 2018 sebagai tanggal merah. Kemungkinan besar pencetak mengikuti penanggalan kalender Saka/Jawa dalam menentukan tanggal 1 Suro atau beranggapan bahwa tanggal 1 Suro tahun ini berbarengan dengan 1 Muharram 1440 H, atau mungkin alasan lainnya.

Untuk di Bekasi perbedaan tanggal merah ini mungkin tidak terlalu penting, paling hanya perbedaan tanggal merah yang tercetak di kalender, tapi untuk warga di wilayah Surakarta perbedaan waktu antara 1 Muharam dan 1 Suro terlihat pada acara di Pura Mangkunegaran dan Keraton Surakarta Solo Jawa Tengah. 

Pura Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah menggelar kirab budaya menyambut malam satu suro pada Senin malam (10/9/2018), karena menurut kalender hijriyah 1 Muharram 1440 H atau 1 Suro jatuh pada hari Selasa tanggal 11 September 2018. 

Sedangkan Keraton Surakarta Hadiningrat mengadakan kirab 1 Suro pada Selasa malam (11/9/2018) karena berdasarkan perhitungan Kalender Jawa Sultan Agungan atau penanggalan Jawa (Anno Javanico) tanggal 1 Suro Keraton Solo tahun Dal 1952 jhe jatuh pada hari Rabu tanggal 12 September 2018.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Jogja seperti juga Keraton Surakarta Hadiningrat di Solo, mengadakan Hajad Kawula Dalem Mubeng Benteng pada Selasa malam (11/9/2018) karena Keraton Ngayogyakarta juga menggunakan Kalender Jawa Sultan Agungan sebagaimana Keraton Surakarta Hadiningrat Solo.

Penjelasan Perbedaan penetapan 1 Muharram 1440 dengan 1 Suro 1952 

Dari laporan Almira Nindya di media online Rakyat Merdeka (RMOL) Jateng, mengutip pernyataan Pangageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Dipokusumo menjelaskan, selama ini Keraton Surakarta mengacu pada kalender Jawa karya Sultan Agung yang juga mengadopsi penanggalan Islam yang berbasis pada perputaran Bulan dan menetapkan tanggal 1 Suro 1952 jatuh pada tanggal 12 September 2018 sehingga kirab 1 Suro diselenggarakan pada Selasa malam tanggal 11 September 2018.

"Untuk penyelenggaraan kirab 1 Suro pada tahun ini, keraton mendasarkan pada perhitungan Kalender Sultan Agung, yang jatuh pada Selasa (11/9). Maka dengan perhitungan tersebut kadang bisa bareng dengan Masehi namun bisa juga selisih sehari," kata Gusti Dipo, menjelang kirab pusaka malam 1 Suro di Keraton Surakarta. 

Terpisah, pendapat dari Sejarahwan UNS Solo, Tundjung W. Sutirto mengatakan, perbedaan waktu 1 suro atau 1 Muharam terjadi karena Keraton Surakarta menggunakan pendekatan penanggalan Aboge, sedangkan Pura Mangkunegaran menggunakan penanggalan Asapon.

Perbedaan itu terkait adanya pendekatan penanggalan Asapon yang digunakan Mangkunegaran dan penanggalan Aboge yang digunakan Keraton Surakarta, kedua penanggalan itu ada selisih perhitungan, biasanya selisih satu hari," kata Tundjung. 

Dikutip dari Tugu Jogja pada halaman Kumparan, Pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melaksanakan tradisi Mubeng Beteng pada hari Selasa (11/9) malam. Puteri Raja Keraton Yogyakarta, Gusti Condro Kirono mengungkapkan, pelaksanaan laku Mubeng Beteng tersebut baru akan dilaksanakan pada hari Selasa (11/9). Sebab, berdasarkan kalender Sultan Agung, 1 Suro jatuh pada hari Rabu tanggal 12 September 2018.

"Keraton memang menganut Kalender Sultan Agung,"ujar Gusti Condro Kirono di Kompleks Kepatihan Yogyakarta.

Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng 1 Suro Jogjakarta
Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng 1 Suro Jogjakarta 2018
Hal tersebut mengonfirmasi infromasi dari akun Twitter Kraton Jogja @kratonjogja tanggal 6 September 2018 yang menginformasikan: "Sahabat, kami informasikan bahwa Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng untuk memperingati tahun baru Jawa, 1 Sura Tahun Be 1952 akan digelar Selasa (11/9) malam. Acara dimulai pukul 20.00 WIB dengan pembacaan macapat di Bangsal Pancaniti  Kraton Jogja." #kratonjogja.

Kalender Sultan Agung berbeda dengan kalender Hijriah yang awal dan akhir bulannya ditentukan dengan fenomena hilal atau penampakan bulan sedangkan Kalender jawa sistem perhitungan yang menggunakan hisab urfi (rata-rata), sehingga tak jarang di jumpai perbedaan antara kalender Jawa Islam dengan kalender Hijriyyah. Karena bersifat urfi maka kalender Jawa Islam ini tidak bisa digunakan sebagai acuan dalam kegiatan Ibadah umat Islam khususnya penentuan 1 Ramadhan.

Sistem perhitungan kalender Sultan Agung rata-rata lebih panjang sebanyak 1 hari setiap 120 tahun, agar kalender Sultan Agung tetap sesuai dengan kalender Hijriyah, maka dalam kurun 120 tahun kalender Sultan Agung selalu dihilangkan satu hari. Peristiwa menghilangkan tanggal 1 Sura pada awal permulaan kurup tahun Alip ini disebut ganti kurup atau salin kurup.

Siklus 120 tahun yang disebut dengan kurup ini baru diketahui setelah 72 tahun kalender Jawa berjalan. Sejauh ini sudah terdapat 3 kurup. Pertama, 1 Sura 1627 (Alip) jatuh pada Kamis Kliwon. Kedua, 120 tahun kemudian, 1 Sura 1747 (Alip) jatuh pada Rabu Wage atau dikenal sebagai kalender Aboge. Ketiga, kurup Aboge itu berakhir dengan datangnya kurup baru, yaitu 1 Sura 1867 (Alip) yang jatuh Selasa Pon atau disebut Asapon. Kurup Asapon itulah yang saat ini berlaku, mulai 24 Maret 1936-25 Agustus 2052 M.

Sebuah Karya Agung Nusantara

Menurut peneliti, pembuatan sistem kalender ini dilakukan oleh Raja Mataram Sultan Agung Anyakrakusuma saat itu bertujuan untuk menyatukan sistem penanggalan masyarakat kejawen dan santri. Saat itu, masyarakat kejawen menggunakan kalender Saka, sedangkan kaum santri menggunakan kalender Hijriah.

Kalender Saka merupakan sistem penanggalan yang didasarkan pergerakan bumi mengelilingi matahari. Kalender tersebut telah digunakan oleh masyarakat Hindu di India sejak tahun 78 masehi dan masih digunakan oleh masyarakat Hindu di Jawa dan Bali hingga kini. 

Untuk merangkum semua kepentingan masyarakat yang berbeda, maka sistem penanggalan baru dibuat dengan menggabungkan kalender Saka dengan kalender Hijriah. Nama bulan dan jumlah hari didasarkan degan sistem kalender Hijriah. Sedangkan angka tahun Saka dipertahankan. Ini membuat kalender pertama Jawa bukan 1 Sura tahun 1 Jawa, melainkan 1 Sura tahun 1555 Jawa.

Dari sini saya kira kita dapat membayangkan kearifan Sultan Agung selaku raja Mataram kala itu. Kalender Sultan Agung ini juga memiliki keistimewaan karena memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian (perhitungan kalender lunar Julius Caesar Romawi Kuno) yang merupakan bagian budaya Barat. Sistem penanggalan ini cukup rumit dengan perhitungan astronomi yang cukup detail dan masih digunakan oleh banyak orang hingga sekarang. 

Jika kalender yang ada di rumah Anda mencetak tanggal 12 September 2018 sebagai merah, maka besar kemungkinan percetakan tersebut mengadopsi kalender Jawa Sultan Agungan atau Penanggalan Jawa (Anno Javanico).

Salam.

*dirangkum dari berbagai sumber