Nasehat dari Lois Lane dan Tony Stark

 “Darkness is not just the absence of light; it’s the conviction that the light will never return.” 

Darkness is not just the absence of light; it’s the conviction that the light will never return., quote ini saya kutip dari narasi Lois Lane (Amy Adams) di akhir film Justice League (2017). Narasi yang bagus, karena bisa mewakili inti dari cerita film berdurasi 110 menit ini. Selebihnya tentang film Justice League bisa baca review-nya di.... cari sendiri ajah.

Saya menerjemahkan kalimat di atas dengan bebas menjadi; Kegelapan terjadi bukan saja karena tidak adanya cahaya, tapi terkadang karena keputusasaan untuk berharap terang akan kembali, (berkeyakinan bahwa gelap adalah hal yang lumrah).

Lois Lane dan Superman

Terbiasa sangsi atau menyerah memimpikan sinar, menerima apa adanya hidup dalam kegelapan. Sebagian ada yang tidak siap memperlihatkan wujud asli yang selalu bersembunyi dalam gelap. Beberapa yang kuat menolak ternyata selama ini mengaku-aku bahwa dialah cahaya, hingga sekuat tenaga menutup akses cahaya yang sebenarnya... ngomong apa sih Sot? :D

Quote di atas mengajarkan kita agar tidak begitu saja menyerah pada nasib, karena belum tentu kegelapan itu nasib kita. Sedikit menyinggung masalah keyakinan juga, kalau kita tidak yakin bahwa akan ada "terang" di ujung mimpi kita, maka akan sulit bagi kita untuk dapat menerima ide-ide dan cita-cita apalagi berjuang untuk mengubah situasi. Minimal kalau tidak percaya akan adanya terang, jangan ganggu mereka yang percaya dan sedang memperjuangkan mimpinya.

Jika ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari situasi kegelapan maka pihak-pihak itu tentu tidak tinggal diam terhadap upaya-upaya mereka yang percaya akan terang saat berusaha mewujudkan cita-citanya. Banyak caranya, saya sering kok bertemu langsung atau tidak langsung orang-orang yang memperjuangkan kegelapan. Pihak-pihak begini dengan cepat dapat mengubah pihak-pihak yang netral menjadi pro status quo, menjadi bagian dari "pejuang kegelapan".

Tinggal kita menentukan pilihan, jika kita percaya akan cita-cita kita menggapai hak hidup di jalan yang terang maka tentu itu tak mudah. Namun demikian, jika kita yakin dan mau berjuang maka tidak ada satu pun rintangan yang dapat menghalangi, sebaliknya jika kita tidak percaya dan hanya menyerah pada keadaan maka tidak ada satu pun yang dapat membantu. Gak tau nyambung atau enggak deh penjabarannya :D

Kok jadi panjang? dalam menulis blog "kalau bisa panjang ngapain dipendekin?" :).

Sebelum nonton Justice League, saya nonton Spider-man Home Coming yang lumayan menghibur karena bercerita tentang Peter Parker/Spider-Man masa remaja sekitar 15-16 tahun, ya film ini menurut saya masuk dalam genre "film remaja". Di film ini saya tertarik dengan kata-kata Tony Stark (Robert Downey, Jr.) kepada Peter Parker (Tom Holland) saat menghukum dan mengambil kembali kostum Spider-man buatannya yang dianggap telah disalahgunakan oleh Parker.
"If you’re nothing without this suit, you shouldn't have it"

If you’re nothing without this suit, you shouldn't have it

"If you’re nothing without this suit, you shouldn't have it" kata Tony Stark. Artinya kurang lebih "Jika tanpa "pakaian" itu kamu bukan siapa-siapa, maka kamu tidak pantas memilikinya". Menurut saya ini lucu, coba kalimat itu dikembalikan kepada Tony Stark, jika tanpa pakaian tempur Iron Man memangnya siapa Tony Stark?

Jadi inget ketika Barry Allen (Flash) bertanya kepada Bruce Wayne  (Batman) mengenai kekuatan super yang dimiliki Batman, lalu Bruce Wayne menjawab "I'm rich". Kalau Bruce Wayne walaupun dengan intonasi humor menjawab kekuatan supernya adalah kekayaan, maka sebelas dua belas dengan Tony Stark, ya gak sih?

Kalau quote ini bisa diartikan banyak cara, bisa sebagai cermin agar kita jujur melihat diri kita sendiri sebelum menasehati orang lain, bisa juga sebagai motivasi agar kita memperpantas diri sebelum "menggunakan pakaian" yang akan menjadi identitas kita.

Kata "pakaian" ini banyak maknanya, dalam fim yang dimaksud pakaian ini adalah kostum Spider-Man yang serba canggih dengan berbagai tekhnologi mutakhir seperti milik Ironman. Tapi dalam kehidupan sehari-hari kata "pakaian" dapat kita asosiasikan dengan banyak hal, contohnya sebagai segala sesuatu yang kita gunakan untuk menegaskan identitas, termasuk di sini image branding, jabatan, gelar dst baik formal maupun informal.

spiderman suit technology

Jangan sampai "pakaian" itu kita gunakan sebelum kita pantas menggunakannya, selain hanya merendahkan arti dari pakaian itu, ini juga adalah kebohongan yang sedikit banyak akan berpengaruh pada pribadi dan karakter kita. Bagi saya, orang yang tidak sepantasnya menggunakan "pakaian" itu lucu, seperti badut, akan tetapi kalau badut memang sengaja menggunakannya untuk menghibur, nah kalau kita untuk apa? untuk membohongi diri sendiri dan orang lain?

Kalau kata saya sih, pencitraan semu akan lebih banyak mudharat-nya daripada manfaatnya. Kalau sekadar untuk gagah-gagahan atau demi sebuah maksud positif maka jujurlah, minimal pada diri sendiri, apa susahnya mengucapkan "saya sebenarnya belum pantas menggunakan "pakaian" ini, tapi bantu saya dan doakan saya agar dapat memantaskan diri dengan kualitas dan kapasitas yang sesuai dengan syarat-syarat menggunakan "pakaian" ini". Selayaknya lulus fit and proper test, karena kalau kita menggunakan pakaian yang tidak sepantasnya, maka tunggulah kehancuran.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya; 'bagaimana maksud amanat disia-siakan? ' Nabi menjawab; "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." Hadits Bukhari Nomor 6015.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq.
Sesungguhnya hanya Allah SWT yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya


Apalah Arti Sebuah Nama (Kampung)

Disadari ataupun tidak pembangunan perumahan yang masif oleh para pengembang di Bekasi ataupun di tempat lain akan menghadirkan sebuah nama baru untuk pemukiman tersebut. Penamaan-penamaan pemukiman yang populer kadang sama sekali tidak menyisakan ruang bagi pertimbangan ingatan kolektif, sejarah wilayah dan kearifan lokal setempat.

Nama kampung yang mungkin tidak "layak jual" untuk dilekatkan pada sebuah pemukiman baru hilang dari ingatan warga dan diganti dengan nama yang baru. Padahal seperti apapun nama wilayah sebuah kampung dahulunya menyimpan kearifan lokal penamaan lokasi atau setidaknya menjadi penunjuk sebuah kejadian penting di masa lalu.

Apalah Arti Sebuah Nama (Kampung)
Dalam sejarah, khususnya dalam perjalanan perkembangan Islam, terdapat sejarah yang cukup populer mengenai perubahan nama sebuah tempat. Tidak lain adalah nama Kota Madinah. Kota Madinah yang sekarang ini kita kenal dahulunya bernama Kota Yastrib, setelah Nabi Muhammad SAW hijrah kota tersebut diganti namanya menjadi Kota Madinah.

Apa maksud Nabi mengubah nama Kota Yastrib menjadi Kota Madinah? 

Perubahan nama ini tidak terjadi ujug-ujug, yang sering saya baca adalah karena Nabi Muhammad SAW sedang membangun sebuah sistem peradaban baru (tamadun). Istilah tamadun dalam bahasa Indonesia berarti kebudayaan. Tapi apa sampai sebatas itu? Tidak, sejarah mencatat kelak Madinah menjadi pusat pemerintahan selama lebih 30 tahun hingga sampai pusat pemerintahan pindah ke Damaskus (Suriah) saat Dinasti Umayyah.

Kembali pada topik perubahan nama Yastrib menjadi Madinah, banyak pendapat soal ini, salah satunya adalah pendapat yang menyatakan bahwa perubahan nama itu adalah proses "upgrade" dari desa menjadi kota, "upgrade" kekuatan masyarakat dari yang awalnya berbasis suku menjadi umat yang satu. Dari yang tadinya dikenal ada suku Anshar (pribumi) dan suku Muhajirin (pendatang) kemudian menjadi satu umat yang bersaudara di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

Apa yang kini bisa kita petik dari perubahan nama Madinah? 

Bahwa perubahan nama menjadi pemersatu antara suku Anshar (pribumi) agar rela melepas ikatan batin terhadap nama Kota Yastrib untuk menerima saudaranya yang pendatang, dan agar suku Muhajirin (pendatang) juga memiliki rasa cinta pada Kota Madinah yang baru berdiri ini sebagai tanah air mereka sama seperti pribumi. Semua perbedaan ini disatukan menjadi satu kekuatan baru yang berhasil mengubah wajah peradaban dunia.

Mirisnya, hal yang terbalik justru sedang dan telah terjadi di Bekasi ini. Ujug-ujug nama-nama kampung dan desa diubah dengan nama-nama "bagus secara komersial" dan menjual. Ditambah lagi kaum pribumi dan pendatangnya seperti dipisahkan dengan sekat-sekat yang kelihatan maupun tidak.

Dengan berkaca pada sejarah Madinah, kira-kira masa depan seperti apa yang sedang dituju oleh Bekasi kelak?

Menamakan atau mengubah nama sebuah lokasi idealnya memperhatikan banyak aspek, terutama nama asli daerah tersebut yang tentunya memiliki sejarah dan memiliki keterkaitan emosional karena terkait identitas warga di sekitar lokasi tersebut. Jika tidak, maka identitas generasi selanjutnya akan diputus dengan identitas pendahulunya yang bisa berakibat dengan apatisnya pada kearifan lokal orang tuanya dan buta sejarah dan budaya daerahnya.


______________________
Posted on FB. 22 Juli 2017
Foto dari: http://yangpentingnyoba.blogspot.co.id

Bahas Santai 3 Quote Haruki Murakami

No matter how much suffering you went through, you never wanted to let go of those memories.
Pain is inevitable. Suffering is optional.
It's like Tolstoy said. Happiness is an allegory, unhappiness a story.

Haruki Murakami

Bahas Santai 3 Quote Haruki Murakami

Dari 3 quote Haruki Murakami yang saya pilih ini ada benang merah antara ketiganya. Kita bahas satu persatu yuk, kali aja apa yang saya tangkap dari kalimat ini berbeda dengan apa yang kamu pahami, jadi kita bisa berdiskusi dan menemukan perspektif baru dari kalimat-kalimat ini.

No matter how much suffering you went through, you never wanted to let go of those memories. 

Seberapapun pedihnya penderitaan yang telah kamu lewati, kamu tidak pernah ingin melepas ingatan itu.

Di sini Murakami tidak sedang menghakimi mana yang baik dan yang buruk, dia hanya bilang; kita tidak pernah mau melupakan atau melepas ingatan kita akan sebuah kejadian yang telah menyebabkan penderitaan di masa lalu. "Melepaskan" ini bukan bermaksud menghapus ingatan atau melupakan, itu seakan-akan tidak pernah terjadi, bukan, itu sepertinya mustahil, perhatikan kembali, Murakami menulisnya "...to let go..." bukan "...to FORGET...".

Selain itu, saya tangkap dalam kalimat di atas adalah tentang memaafkan, menerima apapun yang terjadi di masa lalu sebagai sebuah pelajaran, meletakkan "rasa sakit" di bawah rasa syukur akan sebuah pelajaran (pengalaman) yang sangat berharga, seberapapun buruk dan pahitnya itu.

Proses berdamai dengan masa lalu ini juga buka sebuah proses instant seperti menginstall "plugins" atau "add-ons" yang otomatis menambahkan kemampuan atau kelebihan baru, tidak seperti itu. Demi berdamai dengan masa lalu banyak hal yang musti kita lalui. Proses internal dalam diri kita sendiri dan proses eksternal yang melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masa lalu kita. 

Dari dalam diri sendiri kita harus melalui proses-proses memikirkan kembali, merekonstruksi, mendefinisikan ulang dan mereview efek ingatan itu agar memiliki efek positif pada diri kita dan lingkungan. Sedangkan proses eksternal adalah bertanggungjawab, meminta maaf, melakukan kebaikan-kebaikan sebagai jalan untuk menjaga keseimbangan atau menebus kesalahan. Soal ini setiap orang tentunya berbeda tergantung sifat dan karakternya masing-masing.

Dari sudut pandang seperti ini maka kutipan "Pain is inevitable. Suffering is optional" memiliki makna yang mirip dengan penjelasan di atas, setidaknya menurut "im my sotoy opinion".

Pain is inevitable. Suffering is optional.

Rasa sakit itu tidak bisa dielakkan, penderitaan karena rasa sakit itu adalah pilihan.

Terlepas dengan kepada siapa quote di atas disandingkan, karena ada beberapa versi saya di sini hanya bahas maknanya menurut saya saja, gak mencoba mengkonfirmasi quote ini dari mana, yang saya tahu yah dari Haruki Murakami, kalau ada pendapat quote tersebut berasal dari tokoh lain yah silahkan :). Selain mirip dan senada dengan kutipan sebelumnya, "Pain is inevitable. Suffering is optional" menurut saya punya banyak makna, antara lain sebagai ungkapan bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dielakkan hadirnya, namun ada kebebasan bagi kita untuk memilih respon atas kejadian itu. 

Ada proses "pengolah data" atau penyaring untuk memberikan pilihan-pilihan yang dapat kita pilih berdasarkan kebebasan kita untuk memilihnya, apakah kita memilih yang terbaik atau terburuk itu akan tergantung dengan nilai diri kita sendiri, bukan tergantung pada pihak lainnya.

Kalau dikaitkan dengan quote "No matter how much suffering you went through, you never wanted to let go of those memories." maka ini tentang bagaimana melepas apa yang telah menjadi ingatan dan menyaring ingatan baru atas apa yang terjadi. Ibaratnya dengan melepas ingatan negatif masa lalu maka kita akan siap dengan pengalaman apapun, apapun yang terjadi hanya akan mengakibatkan respon yang positif bagi orang-orang proaktif karena mereka ini digerakkan oleh nilai-nilai, berbeda dengan orang reaksioner.

It's like Tolstoy said. Happiness is an allegory, unhappiness a story.

Seperti kata Tolstoy. Kebahagiaan adalah kiasan, kekecewaan adalah cerita.

Kutipan terakhir ini lebih luas lagi, Kebahagiaan adalah kiasan dan kekecewaan hanyalah sebuah cerita. Paling mudah memahami maksud kata alegori itu adalah dalam pelajaran Bahasa Indonesia dimana dikenal majas alegori, sebuah majas perumpamaan yang menggunakan kiasan, contoh: "Seorang bayi adalah kertas kosong yang masih bersih". Kata kertas kosong itu adalah alegori perumpamaan yang menggambarkan kesucian seorang bayi.

Lalu bagaimana memahami maksud dari Murakami dan Tolstoy yang menyatakan bahwa kebahagiaan itu adalah kiasan?

Dalam pengertian saya alegori adalah sebuah kiasan atau perumpamaan dari sebuah kenyataan yang ada, sedangkan sebuah cerita adalah sebuah kisah fiksi atau khayalan. Kiasan adalah sebuah perumpamaan yang dengannya diharap orang akan dapat memahami dengan cara atau sudut pandang lain, sedangkan cerita adalah sebuah khayalan atau fiksi, yang mungkin berdasarkan kenyataan namun sebenarnya tidak pernah ada sebagai kenyataan, intinya, cerita sebagus apapun adalah hasil imajinasi.

Perlu pembahasan lebih panjang kalo yang dibahas adalah soal kebahagiaan dan kekecewaan. Padahal yang saya bahas saat ini adalah kutipan populer dari  seorang Haruki Murakami. Dia lebih tahu apa yang ia maksud dalam kata-katanya, saya hanya memahami sebatas apa yang saya bisa pahami, kalaupun pemahasaman saya salah semoga Anda dapat belajar darei kesalahan saya dan tidak mencontohnya :)

Salam

Tulisan awal di tahun 2018 kenapa jadi receh begini yah? 
Ya karena saya suka yang receh-receh, dangkal dan sekilas ajah biar yang baca gak pusing, yang nulis juga santai-santai ajah :)










Sedikit Tentang Mappacci

Upacara Adat Korongtigi Mappacci
Mappacci
Kalau saya sebut ritual budaya "siraman" sebelum "midodareni" itu sebagai "ritual menghias badan mempelai dengan mengguyur air ke seluruh badan"  kamu yang berasal dari Jawa akan menganggap saya lucu atau sotoy?

Jadi tadi saya membaca di sebuah website lumayan terkenal, tertulis "...Mappacci, ritual menghias tangan calon mempelai wanita dengan memberi daun pacar tumbuk atau daun inai ke tangan calon pengantin wanita...". Hah....? kalimat itu bikin saya bengong.

Buat saya yang sedikit paham apa arti Mappacci jadi merasa lucu membacanya. Asumsi saya ini penulisnya mungkin rancu dengan adat "Malam Berinai" dari budaya Melayu yang memang pada malam sebelum akad nikah akan ada ritual menghias kuku tangan dan kaki dengan inai/pacar.

Mappacci ini mirip maknanya dengan "siraman" yang bermakna membersihkan diri. Benar juga pada acara itu digunakan inai/pacar yang dalam bahasa Bugis Makassar disebut pacci. Pacci sendiri secara makna selain berarti daun pacar/inai juga bisa bermakna bersih, karenanya malam sebelum akad nikah bagi keturunan Suku Bugis Makassar akan melaksanakan upacara "mapacci" yang bisa diartikan membersihkan diri.

Mappacci ini akan berlangsung hikmat dan haru sebab di acara ini orang tua, keluarga dan sanak saudara sang mempelai sedang mempersiapkan si mempelai untuk mandiri, membina rumah tangganya sendiri, jadi jangan heran kalau di acara ini akan sering berisi isak tangis dari pihak keluarga, tangis haru dan bahagia tentunya.

Upacara Adat Korongtigi Mappacci
Mempelai pria memohon restu saat mappacci
Prosesi mappacci juga kental dengan nuansa Islami dan sarat dengan pemberian doa restu segenap anggota keluarga dan handai taulan kepada mempelai. Rangkaian acara adat calon mempelai diwajibkan mengikuti prosesi menamatkan Al Quran atau mappatamma', selanjutnya dilakukan prosesi siraman atau mappasili yang dilakukan oleh sanak keluarga yang telah menikah dengan mengguyurkan air ke calon pengantin. Semua ini adalah rangkaian prosesi adat menjelang pernikahan ala adat Bugis/Makassar.

Dalam pelaksanaan mappacci sendiri disiapkan perlengkapan yang kesemuanya mengandung arti makna simbolis seperti:
  • Bantal atau pengalas kepala yang diletakkan di depan calon pengantin, yang memiliki makna kesejahteraan, penghormatan, martabat, atau kemuliaan. Dalam bahasa bugis berarti mappakalebbi.
  • Sarung sutera yang tersusun di atas bantal yang mengandung arti harga diri dll.
  • Di atas bantal diletakkan juga pucuk pisang muda (pucuk pisang) yang melambangkan kehidupan yang berkesinambungan dan lestari.
  • Di atas pucuk daun pisang diletakkan pula daun nangka (biasanya 7 atau 9 lembar) sebagai permakna harapan atau menasa.
  • Sebuah wadah yang berisi wenno yaitu beras yang disangrai hingga mengembang sebagai simbol harapan perkembangan yang baik.
  • Patti atau lilin, yang bermakna sebagai suluh penerang. Juga diartikan sebagai simbol kehidupan lebah yang senantiasa rukun dan tidak saling menganggu.
  • Daun pacar atau pacci, sebagai simbol dari kebersihan dan kesucian.
Penggunaan pacci ini menandakan bahwa calon mempelai telah bersih dan suci hatinya untuk menempuh akad nikah keesokan harinya dan kehidupan selanjutnya sebagai sepasang suami istri hingga ajal menjemput. Daun pacar atau pacci yang telah dihaluskan ini disimpan dalam wadah bekkeng sebagai permaknaan dari kesatuan jiwa atau kerukunan dalam kehidupan keluarga dan kehidupan masyarakat.

Kalau bukan karena membaca artikel online itu mungkin saya gak akan menulis soal ini, karena banyak makna-makna yang tersirat yang saya sendiri belum tentu mampu memahami dan menjelaskannya. Seperti susunan sarung, lokasi atau tempat yang berjenjang antara keluarga inti, sanak keluarga, saudara jauh dan tamu undangan, lokasi acara mappacci digelar dalam rumah juga tidak sembarang tempat, semua itu memiliki makna simbolis yang tersembunyi dan juga halus sehingga sulit untuk dipahami bagi orang awam. Pendeknya, mappacci itu jelas bukan ritual menghias tangan pengantin, dan mappacci bukan hanya acara untuk mempelai wanita tapi juga berlaku untuk mempelai pria.

Salam

----

Foto dari  blog
http://zatagirlythings.blogspot.co.id 
http://syafri-alaskah.blogspot.co.id

Betet dan Bolot Di Warung Nasi Uduk Al Bhakasi

Nasi Uduk dan Kisah Ojek Ceria

Waktu menunjukkan pukul 11:50. Adzan Dzuhur sayup mengumandang, terik matahari tidak sedikit pun melunak, sepanjang jalan Narogong seakan jadi pembuktian kekuatan teriknya membakar aspal

Sedikit angin yang datang meniup selasar musollah kecil ini seperti meniup mata, mengajak istirahat sejenak setelah menunaikan kewajiban.

Tidak lama terjebak bimbang antara merebahkan badan atau mencari makan siang, saya semakin sulit lepas dari pelukan dinginnya lantai musholah.

"Waktunya ashar bang," jawab marbot dengan ramah menjawab pertanyaan saya antara sadar dan tidak saat ia bangunkan.

Segera saya rapihkan diri dan bergegas ke tempat wudhu.
"Ini pasti karena karomah sang wakif (pemberi wakaf) musholah ini, perasaan cuman tidur sebentar tau-tau sudah ashar" pikir saya dalam hati.

Antara perasaan malu karena tertidur di musholah dan lapar yang sudah masuk stadium berat saya meninggalkan Bang Ilham, marbot musholah yang sepertinya berusia beberapa tahun lebih muda dari saya.

Jalanan masih ramai, seramai penduduk di dalam perut saya yang mulai melantunkan lagu-lagu rock menuntut haknya. Satu dua saya melihat teman-teman ojek online melintas memberi salam klakson membawa penumpang.



Tidak jauh menyusuri Rawa Lumbu sekitaran Jalan Melati Bojong Menteng saya menemukan warung nasi uduk. Tanpa basa-basi langsung memesan 1 porsi nasi uduk dan teh hangat manis.

Lagi asik nunggu nasi uduk HP berdering. Si Bolot, temen seperjuangan satu tim wara-wiri ajag-ijig kagak pugu lagu.
"Sebentar yak, gue lagi mampir makan siang dulu, kalo elo belom makan nyusul aja ke sini" jawab saya ogah-ogahan sambil menikmati aroma nasi uduk dan sambel goreng sudah mulai menggoda.

"Gak jauh dari jalan gede. Masuk ajah ke Jalan Melati Bojong Menteng, cari dah Nasi Uduk Al-Bhakasi atau Sanggar Melati" jawab saya sekenanya sambil membaca-baca keterangan di sekitar warung yang bisa dipakai sebagai petunjuk.

"Lu gaptek amat sih Tet, share location ajah atau kasih gue point Google Map biar gampang nyarinya" jawab Bolot.

Iya sih, gak kepikiran buat share location. Ini berguna banget buat banyak orang yang malas bertanya-tanya dan takut mendapat jawaban sesat. Padahal kalau saya sih lebih suka bertanya sekadar basa-basi, walaupun sudah tau arah yang mau dituju.

Nasi Uduk Bekasi

Tanpa menunggu Bolot tiba, saya sudah khusuk menyelesaikan 1 porsi nasi uduk dengan lauk gulai ayam balado dan tempe orek kecap.
"Pedesnya kinyis-kinyis mungkin pakai cabe yang masih imut-imut" batin saya.

"Neng, sayah mesen kopi ajah, gak pake lama" ujar Bolot saat tiba di warung saat saya sedang santai "menurunkan nasi".

"Gak sopan banget sih, kasih salam dulu kek" ketus saya menyambut lelaki muda yang periang ini.

"Neng, kopinya jangan dikasih salam, salamnya buat sayah ajah" tambah Bolot sambil cengengesan.
"Kopi manis apa pait bang?" Tanya pemilik warung.
"Bikin 2 Mpok kopi pahit, manisnya buat empok ajah" jawab saya memotong.
Lalu kami larut dalam percakapan tentang hasil keliling hari ini dan apa saja obrolan tanpa arah.

"Kecapi kedondong, kopinya buruan dong" ucap Bolot gak sabar.
"Kecapi mangga udang, kupinya udah dateng bang" jawab pemilik warung tersenyum ramah.

"Alhamdulillah Tet, ni hari ojekan banyak" kata Bolot.
"Alhamdulillah dah, pulang bisa beli oleh-oleh dong?" Pancing saya.
"Maksudnya banyak yang lewat depan gue, gue mah narik sekali-sekali doang yang nyangkut" jawabnya tertawa menikmati kopi.

-----


Di warung Nasi Uduk Al-Bhakasi kami menikmati kopi sambil menunggu sore. Warung nasi yang buka sejak pukul 16:00 ini ramai dikunjungi warga saat menjelang malam.

"Neng nasi uduknya bisa dipesan gak?" Tanya Bolot serius sebelum kami berpamitan.
"Bisa bang, kontak aja ke WA aye atau Baba di nomor 0822 9922 8686 atau 0813 1045 2599, buat acara apaan nih bang?"

"Gak... buat saya ajah sih, abisnya ini udah mampir tapi sempetnya ngopi doang, belom sempet nyobain nasi uduknya nih, kali aja bisa delivery order" jawab Bolot pamer senyum.

"Yah Lot kalo cuman 1 porsi mah mending elu aja yang mampir ke sini lagi, udah ah yuk kita kemon." potong saya sambil menyeret si Bolot.

Sebelum pamitan saya sudah mencatat nomor WA buat persiapan kalau-kalau ada hajatan. :)

 Lokasi Nasi Uduk Al-Bhakasi

------
[Catatan: tokoh dan kisah di atas adalah fiksi, nama tempat dan nomor HP adalah benar]

Selamat Datang Musim Hujan

Musim hujan telah kembali datang. Apasih yang langsung terlintas dalam pikiran ketika mendengar kata musim hujan? Dalam benak saya langsung terkenang keceriaan bermain di bawah derasnya air hujan,...

[[ This is a content summary only. Visit my website for full links, other content, and more! ]]