3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan
Keraguan diri atau meragukan kemampuan diri sendiri dapat menjadi sebuah beban yang sulit untuk diatasi. Saat kita memiliki keraguan pada kemampuan diri sendiri, itu dapat menghalangi kita untuk melakukan banyak hal positif. Semoga catatan ini berguna saat kita menghadapi keraguan yang datang tanpa diundang.

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan

1. Berikan Waktu Kepada Diri Sendiri Untuk Berubah

Jika selama ini kita fokus pada kekurangan dan telah terbiasa dengan keraguan, maka perlu beberapa waktu dan usaha yang keras untuk meninggalkan kebiasaan itu. Bayangkan sebuah perahu yang dengan kecepatan tinggi mengarah ke tengah laut. Seketika kita ingin kembali ke pantai maka tentunya diperlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit untuk memutar haluan lalu berbalik arah. Perahu memerlukan waktu untuk memperlambat kecepatannya lalu kemudian memutar haluan secara perlahan agar tidak terbalik dan tenggelam karena manuver yang terlalu cepat.

Perumpamaan itu juga berlaku dengan diri kita. Hanya karena kita memahami bahwa keraguan diri adalah perasaan yang tidak baik dan tidak produktif lalu kita ingin mengubahnya tidak berarti perubahan itu akan terjadi saat itu juga secara instan. Tetapi jika kita dapat memperlambat momentum keraguan diri (mengerem) dan mulai mempraktikkan pikiran yang selaras dengan kepercayaan diri, cepat atau lambat perubahan pasti akan terjadi pada akhirnya.

Anda mungkin muak dengan rasa lelah dan ingin memiliki lebih banyak energi yang bersumber dari rasa percaya diri. Tapi cuma dengan membuat keputusan positif seperti itu tidak akan memberi Anda energi instan secara langsung walaupun keputusan itu adalah langkah awal yang sangat penting dalam proses ini. Anda tetap harus menggali lebih dalam dan membuat beberapa perubahan untuk memahami lebih banyak sumber energi dari dalam diri. Dari sana Anda juga akan mulai menemukan penyebab kelelahan Anda. Jangan menyerah terlalu cepat. Jangan biarkan pikiran negatif atau keraguan diri kembali menguasai dan menghentikan upaya Anda untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kebahagiaan Anda.

Anda adalah Seorang Pemikir, Bukan Hasil Dari Pikiran Negatif Anda

2. Anda adalah Pemikir, Bukan Hasil Pikiran Anda

Mulailah mengembangkan kesadaran dan jarak dari pikiran Anda, khususnya pikiran-pikiran negatif. Akan sangat membantu untuk menyadari bahwa ANDA BUKAN PIKIRAN ANDA. Hanya karena Anda memikirkan pikiran yang sesuai dengan keraguan diri tidak berarti pikiran ini benar atau fakta yang sesungguhnya. Pikiran itu hanya TERASA BENAR karena Anda telah terkondisikan demikian dengan cukup lama. Anda dapat mengubah ini dengan mulai memberi jarak dari pikiran Anda. Ini akan membantu Anda menjauhi dan terikat pada pikiran-pikiran negatif. Anda adalah pemikir BUKAN hasil pikiran ini berarti Anda memiliki kekuatan tertinggi dalam hidup Anda. Mulailah memperhatikan kata hati dan suara-suara positif dalam pikiran Anda. Pada akhirnya pikiran harusnya bekerja untuk Anda, bukan malah mengurung dan merusak kebahagiaan juga masa depan Anda.

3. Bedakan Antara Pengkritik Batin Anda dan Guru Batin Anda

Di dalam diri kita masing-masing ada seorang kritikus batin dan seorang guru batin. Ini adalah suara-suara berbeda yang kita dengar di dalam kepala kita jika kita meluangkan waktu untuk mengamati pembicaraan pada diri kita sendiri. Pengkritik batiniah Anda akan selalu datang dengan banyak alasan untuk memperkuat argumentasi "mengapa ini tidak akan berhasil”. Anda dapat mengenali suara kritik dalam diri Anda dengan kata-kata dan nada negatif yang mengkritik diri sendiri. Anda mungkin menemukan diri Anda mengatakan hal-hal seperti: "Ini tidak akan pernah berhasil untuk saya" atau "Orang lain mungkin bisa berhasil, tetapi semua yang saya coba untuk meningkatkan kebahagiaan saya telah gagal. Kali ini pasti akan gagal juga. "

Ketika Anda mengalami keraguan diri, biasanya itu berarti pengkritik batin Anda yang mengendalikan diri Anda. Setelah Anda menyadari pikiran kritis yang meragukan diri sendiri, saya ingin Anda memvisualisasikan tanda berhenti, berbendera merah!.

Ungkapkan terima kasih kepada pengkritik batin Anda karena berusaha melindungi Anda dengan keraguan diri. Tetapi biarkan pengkritik batin Anda tahu: "Tidak apa-apa gagal! Saya harus berani mencoba!."

Perhatikan, apakah Anda dapat menantang pikiran-pikiran negatif dalam diri Anda dan menggantinya dengan pikiran yang lebih realistis, seperti "Orang lain saja bisa, kenapa saya tidak bisa?".

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan

Dengarkan Guru Batin Anda

Anda dapat mengaktifkan dan mendengarkan guru batin Anda dengan mengajukan pertanyaan yang tepat. Guru batin Anda adalah suara yang mendorong, menyejukkan, dan penyemangat yang mendukung Anda ketika Anda membutuhkannya. Kadang-kadang Anda hanya perlu memperlambat  pikiran-pikiran Anda dan sedikit menenangkan si pengkritik batin untuk mendengar guru batin Anda.

Mengajukan pertanyaan seperti: Seberapa jauh saya telah menempuh perjalanan ini, apa yang telah saya pelajari selama ini? Apa aktivitas positif yang dapat saya lakukan sekarang? Dan bagaimana saya bisa membuatnya lebih baik? pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu mengaktifkan suara guru batin Anda.


Salam.


Numpang Ngopi di Acara Silaturahmi dan Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni

Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Silaturahmi dan Tasyakuran. (Foto: Ocha Hermawan)  
Suasana kekeluargaan yang akrab dan hangat mengisi acara Silaturahmi dan Tasyakuran atas dilantiknya Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024, Sabtu 5 Oktober 2019. Banyak hadirin yang datang membawa keluarga dan anak-anak untuk sekalian menikmati suasana objek ekowisata Taman Limo yang asri. Saung-saung, spot permainan, warung-warung hingga tempat parkir penuh terisi.

Di sisi lain, Silaturahmi dan Tasyakuran ini juga menjadi ajang reuni para relawan dan Sobat Obon dari berbagai lokasi, baik dari Bekasi, Karawang dan Purwakarta. Dalam suasana santai, sebagian teman-teman relawan yang "menghilang" dan tidak bertemu lagi sejak event pilkada Bekasi Februari 2017 lalu dan juga disibukkan dengan pileg dan pilpres kemarin, kini kembali berkumpul.

Ya, bagi saya momen tasyakuran ini seperti oase yang menyejukkan dan menghidupkan kembali api harapan "Bekasi Yang Baik dan Benar" yang sempat redup. Gerakan politik rakyat dan Buruh Go Politik yang sempat patah semangat setelah menelan pil pahit kekalahan saat kontestasi pilkada, kini kembali bergairah. 

Mungkin terlalu dini kalau mau mengklaim bahwa ini adalah keberhasilan bersama gerakan buruh go politik dan gerakan partisipasi politik warga, tapi bagaimanapun keberhasil ini patut diapresiasi guna merawat semangat perjuangan buruh dan warga yang terikat dalam persaudaraan ini agar terus melanjutkan perjuangannya dalam bingkai demokrasi.

Obon Tabroni sadar akan kekuatan persaudaraan tersebut, dalam sambutannya ia menyampaikan agar semua tetap menjaga silaturahmi sebagai modal kekuatan untuk terus bergerak.

"Persaudaraan dan pertemanan kita terlalu mahal untuk disia-siakan dan diabaikan, jalinan ini jangan pernah putus. Persaudaraan dan pertemanan jangan hilang hanya karena persoalan-persoalan kecil, jika kita kuat kita dapat melakukan banyak perubahan kalau kita terus bersama-sama," ucap Bang Obon dari atas panggung.
Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Bang Obon dan Bunda Uun (Foto: DAF) 
Silaturahmi yang terjalin ini merupakan sinergi kekuatan relawan yang datang dengan berbagai latar belakangnya. Gotong royong dan kerjasama ini, memang idealnya mensyaratkan individu-individu yang berkualitas dalam bidangnya masing-masing sehingga mampu membuka pintu-pintu peluang dan memanfaatkan segala kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Namun Bang Obon tidak menutup pintu untuk siapapun yang ingin belajar dan bergerak bersamanya, karena pada dasarnya setiap orang memiliki potensi yang bisa dikembangkan.

Kita semua punya potensi yang luar biasa, namun karena rasa tidak percaya diri, kita bisa menjadi orang yang gagal

"Kita semua punya potensi yang luar biasa, namun karena rasa tidak percaya diri, kita bisa menjadi orang yang gagal. Mari kita jadikan keberhasilan hari ini menjadi inspirasi, kalau kita fokus, banyak belajar, memiliki keinginan yang kuat, giat bekerja keras dan terus bergerak, maka apa yang tidak mungkin akan menjadi mungkin," ucap Bang Obon Tabroni menyemangati hadirin.

Tidak ketinggalan, Uun Marpuah yang biasa disapa Bunda Uun juga menyemangati para hadirin untuk tetap berusaha dan pantang menyerah.

"Luar biasa, terima kasih teman-teman semua. Ini bukan karena saya atau suami saya (Obon Tabroni) tapi karena kerja keras teman-teman semua. Semua proses dan masalah sudah pernah kita hadapi bersama-sama, alhamdulillah hari ini kita semua berada di sini. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha dan mencoba insya Allah segala sesuatu akan terjadi, amiin. Karena musuh terberat kita adalah diri kita sendiri."

Kalau dari tulisan, kutipan-kutipan dari Bang Obon dan Bunda Uun itu seperti sambutan yang serius, tapi sebenarnya sambutan ini banyak diselingi canda yang membuat suasana tetap khidmat namun santai.
Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Ngopi bareng Bang Obon Tabroni (Foto: Fai) 
Malam seusai tasyakuran, Bang Obon masih sempat berkeliling mendatangi dan menemui hadirin yang belum pulang. Saat mendatangi kami yang sedang menikmati suasana malam minggu di salah satu saung, ia menyampaikan kembali apa-apa yang sudah ia pernah sampaikan sebelum-sebelumnya. Isu-isu terkini tentang Bekasi mengalir lancar, masalah kekeringan di sebagian wilayah Bekasi juga ia singgung agar menjadi perhatian.

"Saya terus memantau pergerakkan teman-teman semua, yang di Jamkeswatch, yang di OTC dan lain-lain, teruslah bergerak untuk membantu masyarakat sebisa mungkin, masih banyak PR dan masih banyak yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk Bekasi ini."

Malam semakin larut, setelah Bang Obon dengan gayanya yang non formal menyampaikan harapan-harapan dan menguatkan tekad teman-teman agar dapat berpartisipasi positif, ia pamitan, lelah jelas terlihat dari wajahnya. Saat melangkah meninggalkan kami, saya teringat kata-kata yang tertulis dalam poster di status salah satu akun halaman facebook.

"Perjalanan baru siap ditempuh. Tugas baru siap diemban. Medan berbeda, tapi untuk perjuangan yang sama. Tolong ingatkan saya jika saya lupa, tegur saya jika saya melenceng dan topang saya jika saya terseok." - Obon Tabroni

Istirahat bang, jaga kesehatan, semoga kami bisa mengimbangi semangat dan kerja keras abang untuk mengabdi, khususnya untuk Bekasi ini.

Sabtu, 5 Oktober 2019 @ Taman Limo Jatiwangi Bekasi.


Berteduh di Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta
"Secangkir kopi bisa menjadi "jembatan rasa" yang mempertemukan, kita bisa mengenal kepribadian seseorang dari kopi yang dinikmatinya."
Lalu-lintas Kalimalang menuju Bekasi pada hari Minggu sore itu sedang tidak padat. Rintik hujan yang semakin deras memaksa para pemotor sejenak menepi untuk mengenakan jas hujan sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Hujan tidak juga reda, jarak pandang terganggu dan hawa dingin menyergap. Di persimpangan Jatiwaringin saya belok haluan dan mengarahkan motor ke Kedai Kopi Hainam yang terletak di Jl. Masjid Al-Wustho Pondok Bambu, Kec. Duren Sawit, Jakarta Timur. 

Aroma kopi yang khas dan menjanjikan kehangatan menyambut kedatangan saya. Yah, memutuskan untuk berteduh di sini sambil menunggu hujan reda adalah pilihan terbaik, sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Kedai Kopi Hainam

Kedai yang biasanya dipenuhi oleh anak muda ini sedang lengang. Meja dan kursi di teras basah terkena tampias hujan. Di ruang depan yang diterangi lampu temaram ada dua orang sedang asik berbincang, Itonk, sang pemilik kedai dan pegawainya. Mengenakan t-shirt dan jeans belel membuat ibu dua anak ini tampak lebih muda 10 tahun dari usia sebenarnya.

Bukan kali pertama saya mampir, kali ini selain untuk berteduh, saya juga ingin kembali menikmati kopi racikan teman sekolah yang kini serius menekuni bisnis kopi. Sebuah bisnis yang berangkat dari kesukaannya menikmati kopi tanpa kenal waktu.

Semua berawal pada Mei 2015 lalu, saat ia ikut event Festival Lapangan Banteng dan mencoba menjual kopi bubuk yang didapatkan dari seorang teman. Sejak itu ia mulai sering membuka gerai dadakan di acara-acara musiman seperti bazar, reuni, dll. 

Ia juga pernah mencoba menggabungkan usahanya dengan gerai makanan, namun usahanya itu bubar di tengah jalan. Tidak berhenti di sana, dengan memanfaatkan jejaring pertemanan, ia mulai merintis penjualan produk kopi dingin botolan racikannya secara gerilya. 

Semua pengalaman yang telah ia lalui sekian tahun itu berpuncak pada bulan Agustus 2018, ia nekad memanfaatkan ruko milik orang tuanya menjadi Kedai Kopi Hainam.  Tampaknya kali ini usahanya lebih berhasil dengan semakin banyaknya permintaan produk kopi dingin botolan dari gerai-gerai makanan dan langganan tetapnya. Kedai Kopi Hainam buka setiap hari dari pukul 2 siang hingga 10 malam.

Kedai kopi yang luas ini banyak dihiasi ornamen ukiran dan pahatan khas tradisional Jawa. Penataan meja yang jauh satu sama lain menjadikan setiap meja berkesan privat dan eksklusif, berbeda dengan penataan meja yang rapat pada teras depan. Dilengkapi dengan mushola dan pojok lesehan di bagian belakang bar menjadikan kedai ini tempat yang asik untuk hangout
Berteduh di Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Motif Terjun Ke Bisnis Kopi

"Keuntungannya lumayan, tapi yang lebih penting aku bisa lebih berhemat, tidak perlu lagi nongkrong di kafe meninggalkan keluarga, karena aku sekarang sudah punya kafe sendiri" ungkap ibu muda yang sedang memperjuangkan gelar master di bidang arsitektur.

Sudah sejak lama ia yakin, coffeeshop atau kedai kopi yang menjamur di mana-mana itu membuktikan bahwa bisnis kopi bukan hanya tren sementara, tapi sudah menjadi budaya bagi generasi muda dan kaum urban perkotaan. 

Di balik budaya itu, ia melihat peluang bisnis yang cukup menjanjikan terbuka lebar bagi yang paham memanfaatkan celah pasar dan berani mengambil peluang. Karenanya ia memberanikan diri terjun ke dunia persilatan eh ke dunia perkopian.

"Kalau aku yah mendirikan Kedai Kopi Hainam ini learning by doing, semua ini hasil dari pengalaman, jualan eceran, gerilya, hasil ngobrol dengan teman-teman dan belajar dari banyak orang. Cukup memakan waktu, tapi aku menikmati prosesnya" ungkapnya santai sambil memilih playlist lagu di smartphone-nya.

Dengan memanfaatkan bluetooth yang terhubung ke sistem pengeras suara, lagu-lagu slow rock 90an pilihannya kini menggantikan suara rintik hujan, mengisi ruangan kafe yang bernuansa vintage dan tradisional. 
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Sambil menikmati Kopi Robusta Bengkulu andalan kedai ini, obrolan santai malam itu melebar ke mana-mana. Kembali serius saat ia kembali bercerita tentang pengalamannya di bisnis kopi.

"Tidak ada yang instan, cara paling cepat untuk mengenal bisnis kopi yah ikut pelatihan seperti yang sudah mulai banyak digelar, atau membeli franchise" ucap Arsitektur Lansekap lulusan Universitas Tri Sakti ini.

Menurutnya pelatihan-pelatihan terkait bisnis kopi itu seperti investasi, sebagaimana ia menginvestasikan waktu yang lama untuk menjadi seperti sekarang ini.
"Menginvestasikan uang untuk mempersingkat waktu belajar aku kira itu sepadan" tegasnya.

Ia menjawab semua pertanyaan dengan santai, sambil menikmati kopi pahit dan sesekali memainkan asap rokok menthol yang ia hembuskan ke arah lampu di atas meja kami.

Di akhir perbincangan ia kembali menegaskan, bahwa pada akhirnya untuk membuka kedai kopi itu bukan masalah serius atau tidak, tapi lebih terkait kepada passion

"Dari yang aku jalani, Aku lebih percaya bahwa membuka usaha kedai kopi lebih dominan ke hasrat kesenangan kita terhadap sesuatu, skill memang diperlukan akan tetapi hasrat lebih utama, maka jika hasrat itu ada, skill akan menjadi prioritas nomor dua."

"Secangkir kopi yang diseduh dengan hati lebih mampu menjadi "jembatan rasa" menyambungkan hati dari pada yang dibuat dengan teknik-teknik trendi yang dipelajari dari pelatihan".

"Secangkir kopi bisa menjadi "jembatan rasa" yang mempertemukan, kita bisa mengenal kepribadian seseorang dari kopi yang dinikmatinya. Tapi kalau tidak dapat "klik-nya" pelanggan tidak akan kembali lagi untuk meminum kopi itu."

Menikmati segelas kopi panas saat hujan begini memang waktu yang pas, apalagi diisi dengan obrolan yang berkualitas. Jarang ada kedai kopi yang owner-nya mau menemani ngobrol tamunya. Ya memang kadang ada juga pelanggan yang hanya ingin menikmati kopinya sendirian.

Tanpa terasa kopi pahit sudah tandas dan waktu bergulir dengan cepat. Saat hujan mulai reda, saya meninggalkan kedai itu. Masih sempat memesan produk kopi dingin botolan untuk bekal di jalan.

Harganya produk kopi yang ditawarkan lebih murah dari gerai kopi terkenal yang ada di mall. Ditambah suasana kedai yang asik dan luas ini jelas kemewahan yang tidak bisa didapatkan pada gerai kopi di mall, seterkenal apapun merek kopinya.

Namun demikian saya jadi ingat kembali kata-katanya, "Berbicara tentang kopi, sama saja berbicara mengenai selera, setiap individu memiliki selera yang gak akan pernah sama setiap orangnya".


Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta

@ Kedai Kopi Hainam - Jumat, 19 April 2019.
Kontak: (021) 86609673 | 0817-6306-976




Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?


Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Dengan langsung dipandu Hye Sin dan Yusuf Prakasa, praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?


Gula-Gula Batavia En Ommelanden

Gula-Gula Batavia En Ommelanden
"Pengalaman adalah sesuatu yang tidak akan pernah Anda dapatkan, sampai Anda benar-benar membutuhkannya" kata seorang komedian. 

Berbicara soal pengalaman sama saja dengan membicarakan apa-apa yang sudah kita lalui di masa lalu. Ketika pengalaman pribadi saja sering dikunci dalam kotak masa lalu dan diabaikan, apalagi pengalaman sosial dalam ingatan kolektif. Karena ingatan kolektif lebih sering diabaikan, disadari atau tidak kita seperti orang-orang yang menderita amnesia sejarah. 

Ibarat pohon kita lupa siapa yang menanam, di mana kita tumbuh, akar tidak menyentuh tanah dan seperti tumbuhan air yang ikut ke mana arus diarahkan.

Seperti remaja tanpa pengalaman yang disodorkan narasi-narasi indah, tanpa perlu paksaan, secara sukarela kita akan melakukan apa saja atas nama "pengalaman". Peringatan dari yang sudah paham dianggap angin, kalaupun terdengar, lebih seperti larangan seorang ibu ketika anaknya membeli permen. Walau dengan penuh cinta dan logika sudah diperingatkan permen itu tidak baik untuk gigi dan lain-lain, si anak tetap saja membeli dan memakannya. Orang tua mana paham enaknya gula-gula masa kini?.

"Gula-gula" itu sekarang bentuknya bermacam-macam. Dikemas dengan narasi mutakhir dan imajinasi yang dapat menyelesaikan semua masalah dengan instan. Ditawarkan 24 jam melalui semua indera, selama otak bisa bekerja, selama itu pula plasebo yang bisa menyembuhkan segala jenis penyakit itu disodorkan. Kunci surga yang sedang menanti untuk diambil.

Gula-Gula Batavia En Ommelanden

15 Agustus 1950 itu belum lama, masih ada orang-orang yang paham mengapa Bekasi memisahkan diri dari Kabupaten Jatinegara, yang berarti lepas dari Jakarta dan masuk ke Provinsi Jawa Barat sebagai kabupaten yang setara dengan Kabupaten Jatinegara walau beda provinsi. 

Latar belakang perpisahan ini juga bukan hanya persoalan administratif naiknya status dari kewedanan menjadi kabupaten dan kotamadya (Kota) seperti sekarang, tapi soal pernyataan sikap dan semangat kemandirian para pejuang di Bekasi yang bertekad untuk menentukan nasib daerahnya sendiri sebagaimana dikenal sebagai Resolusi Rakyat Bekasi yang disampaikan dalam rapat raksasa sekitar 25.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Januari 1950 di alun-alun Bekasi.  [Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini hal. 403]
Resolusi Rakyat Bekasi yang disampaikan dalam rapat raksasa sekitar 25.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Januari 1950 di alun-alun Bekasi
Harian umum Pemandangan 1 Februari 1950, memuat berita peristiwa di alun-alun Bekasi tentang rapat raksasa
Semangat kemandirian yang harusnya terpatri dalam jiwa para pemimpin dan masyarakat Bekasi sampai kapan pun. Tapi kalau pengalaman dan sejarah itu tidak bermanfaat, silakan masukkan ke dalam kotak masa lalu dan abaikan.

Kalau sekarang Bekasi dianggap tertinggal dari daerah tetangga-tetangganya, menurut saya itu lebih karena faktor pengelolaan yang belum profesional yang bisa disebabkan banyak faktor, mungkin salah satunya masalah anggaran yang sering dijadikan alasan pamungkas, tapi apapun itu, saya kira bergabung kembali ke DKI bukan solusinya

Ya tentu saja kalau Bekasi bergabung dengan Jakarta maka Bekasi menjadi tidak relevan lagi dibandingkan-bandingkan dengan Jakarta. Bekasi tidak bisa lagi dikatakan lebih tertinggal dari Jakarta karena Bekasi sudah bagian dari Jakarta itu sendiri, tapi apa gunanya status itu untuk kesejahteraan warganya?.

Perbincangan mengenai perpindahan Kota Bekasi menjadi Jakarta Tenggara ini pada akhirnya menjadi kewenangan penuh pemerintah pusat untuk menentukan, namun narasi yang berkembang di masyarakat rupanya tidak selesai sampai di situ. 

Polarisasi setuju dan tidak bukan hanya sebatas pro dan kontra, tapi sudah berkembang ke mana-mana. Pro dan kontra pada dasarnya bagus selama masih dalam koridor konstruktif, lain daripada itu sebaiknya dikembalikan ke forum silaturahmi dan persaudaraan.

Bekasi sudah mengalami banyak macam perpindahan administrasi daerah, kalau tidak ada nilai lebihnya bagi masyarakat lalu untuk apa pengalaman seperti itu diulangi lagi? jangan sampai menjadi petualangan yang buang-buang waktu dan biaya. 

Saya saat ini masih melihat-lihat saja, tidak mendukung dan cenderung menolak, tapi apalah gunanya? saya hanya warga kabupaten Bekasi yang keadaanya tidak sebaik Kota Bekasi. Jelas saya tidak akan pernah setuju kalau Kabupaten Bekasi ikut-ikutan latah ingin menjadi bagian dari DKI :)

Terlepas dari itu semua, diskusi kita sebagai masyarakat tentang perpindahan administrasi Kota Bekasi yang akan kembali menjadi Batavia En Ommelanden ini cukupkan di "setuju atau tidak saja". Apapun alasannya patut dihargai. Selebihnya serahkan hal seperti ini kepada para wakil rakyat dan pimpinan daerah, mereka memang digaji untuk memikirkan hal-hal seperti ini, ya kan?.


Menjawab Pertanyaan "Penting Atau Tidak Penting?"

Kopi Hainam Jakarta
 Kopi Hainam Jakarta 
Perbincangan santai saat ngopi sore ini seperti biasa, mengalir tanpa pola, sambung menyambung sampai akhirnya waktu menjelang magrib datang.

Istilah "zaman susah" atau "zaman sulit" sudah lama saya tidak dengar. Kembali terdengar ketika salah satu kawan sedang flashback masa lalunya dengan kalimat "dulu saat di zaman susah".

Saya paham istilah itu dimaksudkan atau hanya ungkapan saat-saat ybs sedang menjalani masa-masa mudanya yang tampaknya tidak lebih buruk dari yang saya alami. 

Siklusnya mirip, lulus sekolah (SMA), menganggur, kuliah, menganggur lagi lalu keluar masuk pekerjaan hingga akhirnya bertahan pada profesi yang sampai sekarang masih dijalani.

Saya sendiri saat flashback masa-masa itu lebih suka menyebut dengan istilah "masa revolusi fisik" atau "zaman perjuangan", karena keadaan situasi dan kondisi saat itu mengharuskan saya menjalani hidup dengan sederhana dan prihatin.

Tapi apakah tepat menyebut masa-masa itu adalah "zaman susah?". Bagi saya tidak ada zaman susah atau zaman senang, semua sama saja dan punya tantangannya sendiri.

Dulu kita berjuang melamar pekerjaan sana-sini, keluar masuk dan mencoba berbagai profesi hingga akhirnya bisa kredit rumah, kredit kendaraan dan lain sebagainya. 

Sekarang pun belum selesai perjuangan, anak-anak semakin besar sehingga semakin banyak kebutuhannya. Kesehatan sudah semakin menurun sehingga mulai sering bolak-balik klinik atau rumah sakit dan seterusnya.

Kalau mau berpikir tentang zaman susah, yah menurut saya baik dulu maupun sekarang tidak ada bedanya, sama-sama zaman susah, hanya beda tantangan yang dihadapi. Begitu juga kalau kita bicara "zaman senang", baik dulu dan sekarang kita bisa menikmati semua dan bersenang-senang.

Berbicara soal kesenangan hidup itu benar-benar sulit mencari standar bakunya. Semua berpulang kepada pribadi masing-masing, kepada standar kebutuhan, gaya hidup, persepsi masing-masing dll.

Ada yang memiliki standar hidup sederhana dengan kebutuhan hidup yang sederhana pula, mereka akan senang jika kebutuhan mereka yang sederhana itu sudah terpenuhi, lebih dan kurangnya itu sudah menjadi rahasia Ilahi. 

Demikian juga ada yang punya standar hidup yang tinggi, dia akan senang jika keinginannya tersebut terpenuhi. Selama dia bisa mengukur kemampuan diri sendiri dan dapat memenuhinya sah-sah saja memiliki target-target hidup yang mungkin bagi orang lain berlebihan.

Buat saya semua kembali ke prioritas, dulu waktu belum paham teori SWOT, 4 Kuadran waktu Penting dan genting hidup saya mengalir bukan dengan tanpa beban. Prioritas-prioritas tetap ada sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ekonomi.

4 Kuadran waktu Penting dan genting

Menjadi pengamen dan tukang bangunan saya lakukan karena pada saat itu, situasi dan kondisi yang memungkinkan hanya itu. Pastinya mau kerja kantoran atau jualan, tapi belum ada kesempatan seperti itu.

Tapi ternyata setelah dijalani, mengamen itu membuka peluang saya untuk mengenal banyak karakter orang, belajar membaca bahasa tubuh dan yang lebih penting belajar mengenal dunia entertainment kecil-kecilan.

Dari pengalaman sebagai tukang bangunan juga saya belajar yang namanya teamwork, sedikit teknik sipil, jadi tau pentingnya profesi arsitek dst.
Penting nggak penting, buat saya pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman seperti itu membuat saya lebih tertarik lagi untuk mengembangkan wawasan dan pengetahuan tentang segala hal. Tapi kalau ditanya, apa semua itu penting? 
Kalau menurut saya, pertanyaan "penting atau tidak" adalah pertanyaan relatif yang akan berpulang ke prioritas, nilai-nilai, situasi dan kondisi masing-masing, sehingga jawabannya bisa berubah seiring berubahnya prioritas hidup seseorang.

Soal prioritas ada baiknya kita mengenal tentang Teori Hierarki Kebutuhan dari Abraham Maslow seperti yang saya bahas di tulisan puasa sebagai vaksinasi virus akal budi.
Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow
Namun begitu kalau pertanyaan "penting atau tidak" perlu di jawab maka jawaban saya adalan PENTING tapi TIDAK GENTING. Penting tapi tidak genting berarti masuk ke kuadran 2. 

Aktivitas di kuadran 2 memiliki ciri: pencegahan, aktivitas kapasitas produksi, pengembangan hubungan, pengenalan peluang baru, perencanaan, rekreasi dst. Hasil dari kegiatan di kuadran dua antara lain: visi, perspektif, keseimbangan, disiplin, kontrol, beberapa krisis. Demikian menurut teorinya, prakteknya silakan resapi masing-masing.

Kalau orang lain menganggap itu tidak penting, maka anggapan seperti itu boleh dipertimbangkan tapi bukan untuk diperdebatkan. :)

Begitu saja dulu catatan akhir pekan ini.

Salam



Hanya Lulusan SD, Tapi Nabungnya Rp100 Juta per Bulan

Udang Galah Hanya Lulusan SD, Tapi Nabungnya Rp100 Juta per Bulan

Karena hanya lulusan SD, Si Bapak tidak paham cara menghitung omzet. Tapi ia mengaku dapat menabung minimal Rp 100 juta per bulan dari usahanya. 

Saya baca informasi itu di Tabloid Kontan, tak lama setelah saya memutuskan tidak bergabung dengan Si Bapak pada tahun 2002 lalu, dan kemudian memilih menjadi pegawai negeri dengan gaji pokok pertama sebesar Rp 608 ribu per bulan.

Dengan gaji Rp 608 ribu per bulan, bisa menabung Rp 100 juta setelah kerja berapa bulan? Ratusan bulan! Hahaha...

Sebagai perantau dari Tasikmalaya, si Bapak orangnya ulet. Saat saya hendak bergabung di bisnis budidaya udang galahnya, beliau sudah beberapa tahun memulai usaha itu. 

Kolamnya ada beberapa. Jika tidak salah ingat, dalam satu hamparan terdapat 5 kolam ukuran besar dan beberapa kolam kecil-kecil. Bersama keluarganya, beliau mengontrak rumah sederhana tidak jauh dari kolamnya itu.

Skenarionya, dengan bimbingannya, saya akan mencari lokasi lain untuk membudidayakan udang galah. Setelah mensurvei beberapa lokasi, akhirnya dapat juga kolam seluas 1 hektar yang bisa disewa selama 5 tahun. 

Tempatnya di kiri jalan arah Gunung Kidul dari Kota Jogjakarta.

Uang sewa sudah ada. Bahkan modal buat 5 kali menebar benur pun sudah tersedia. Kebetulan ada penyandang dana yang bersedia memodali saya. Tetapi akhirnya, saya memutuskan mundur.

Si Bapak tentu saja kecewa. Karena dia bermaksud menjadikan saya konsumen benur pertama dari hatchery yang tengah dia rintis bersama partner bisnisnya yang lain, yaitu Pak Pur.

Pemodal saya, yang berhubungan baik dengan si Bapak, tetapi lebih mempercayai saya sepenuhnya untuk bisnis ini, juga penasaran. Saya sampaikan kepadanya, bahwa bisnis ini tidak cukup layak, bukan karena tingkat kesulitannya.

Bahkan saya mungkin bisa menghasilkan panen lebih besar, karena calon istri saya lulusan Biologi Lingkungan, yang mungkin akan menemukan inovasi enteng-entengan setelah beberapa kali penanaman benih.

Masalah terbesarnya justru pada pasar yang terbatas. Jika saya bergabung, niscaya hasil produksi akan bertambah signifikan dan berpengaruh buruk pada harga komoditas.

Permintaan pasar terbesar saat itu dari Pulau Bali. Dan sepertinya sedikit sulit mengembangkan pasar di luar pulau itu, karena harga udang galah pada saat itu yang relatif lebih tinggi dibandingkan udang jenis lainnya.

"Informasi intelijen" juga membenarkan bahwa Si Bapak sudah berutang ke supplier pakan selama berbulan-bulan. Jadi wajar banget kalo saya memutuskan mundur dan mengembalikan modal yang sudah sempat berpindah ke tangan saya.

Lalu Bom Bali jilid I meledak menjelang akhir tahun 2002. Pada waktu itu saya sedang mempersiapkan diri melepas beberapa usaha di Jogjakarta karena harus hijrah ke Jakarta pada bulan November.

Yang langsung terbayang di benak saya saat bom jahanam itu meledak adalah Si Bapak yang telah kehilangan pasar terbesarnya. Sungguh tidak terbayangkan kesulitan yang harus dihadapi Si Bapak dan usaha udang galahnya. Sedih banget rasanya hati ini. 

Meskipun tidak pernah lagi berbalas sapa secara langsung (pada 2003-an saya masih bolak-balik Jakarta-Jogjakarta), saya mendapat kabar bahwa ternyata Si Bapak berinovasi out of the box.

Alih-alih mencari pasar alternatif sebagai pengganti Pulau Bali, ia menciptakan pasarnya sendiri. Pasarnya yang hancur diterjang bom memberinya ide untuk menjual sendiri hasil budidayanya.

Di atas kolam-kolamnya dia bangun dangau-dangau yang dia sebut sebagai Gubug Makan. Menu utamanya, tentu saja udang galah yang ditangkap langsung dari kolam. Udang galah yang segar dipadu dengan keahlian istrinya memasak melengkapi keunikan Gubug Makan tersebut.

Orang-orang mulai berdatangan. Tertarik mencicipi, lalu mengajak orang-orang yang lain, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Si Bapak tidak lagi dipusingkan tentang ke mana dia harus menjual udang-udangnya.

Puncaknya, tentu saja saat Si Bapak mulai terkenal dan diwawancara media massa. Tabloid Kontan yang saya baca salah satunya.


Gubug Makan Danau UI

Menabung Rp 100 juta per bulan? Woouw....

Saya sendiri ikut bersenang hati membaca kesuksesan Si Bapak. Terbukti sudah, saya yang lulusan UGM kalah kreatif dengan Si Bapak yang hanya lulusan SD.

Dan, percaya atau tidak. Cabang pertama Gubug Makan Si Bapak di bagian barat pulau Jawa (sebelum puluhan cabangnya kemudian), dibuka di daerah yang disebut Danau UI. Iyaaa... Danaunya Universitas Indonesia.

Dari fakta ini saya bersyukur karena UGM tidak memiliki danau. Coba kalau UGM punya danau dan Si Bapak buka cabangnya di situ, waduh... 

Saya yang lulusan UGM, yang akhirnya “cuma” jadi pegawai negeri, pasti hanya bisa tersenyum pahit. 
Sepahit... pahit... pahit.. empedu!

Jakarta, 29 Juli 2019
Penulis: HERI WINARKO


TENTANG BULAN

TENTANG BULAN

 TENTANG BULAN 

 karya jadi2an Erik Priabollywood 


Lama rasanya aku tak menilik sosok bulan
setelah sekian lama, akhirnya ku mencoba melihatnya
kulihati dia begitu menggiurkan
bulat
putih
tapi aku tak tahu apakah dia tersenyum hangat
ataukah ada kemarahan yang tertutup kecantikan

aku berlari menuju padang rumput malam itu
mencari sahabat yang dapat memberitahuku
apakah bulan memang cantik
ataukah bulan sedang marah padaku

kutemui engkau sahabatku
di padang rumput
kau pun menatap khusyu bulan di langit malam ini
apa yang kau pikirkan sahabatku?
cantikkah bulan itu?

kami duduk berdua menatap lebih khusyu ke atas
kunikmati waktu yang berjalan lambat
kunikmati pula senyummu ketika menatap bulan
tak ada kata yang membuncah dari lisan kami berdua
begitu indah bulan itu
walau tetap tak ku dapatkan jawaban
apakah bulan cantik?
atau marah yang bersembunyi dalam kecantikan?

andai aku mempunyai toples istimewa
tentu aku ambil bulan itu
dan kumasukkan ke dalam toples istimewaku
dan kubawa pulang bersamamu sahabatku
dan akan kita temukan bersama 
jawaban tentang bulan...........
sampai pagi datang mengetuk



Pesan Misterius Si Lembing Hitam

Capung Raja Maling
Foto Capung Raja Maling - gembelmotret.blogspot.com 
Dari cerita nenek menjelang tidur, aku percaya kakek bisa berkomunikasi dengan segala jenis hewan rawa, dari buaya yang besar sampai kutu air yang tak tampak. Selain bapak, kakek adalah lelaki idola kedua dalam dunia kecilku.

Kakekku seorang petani sederhana yang serba bisa. Kadang ia memberiku sawo matang sepulang dari ladang, itu yang membuatku suka menginap di rumahnya walau sederhana, ada saja yang kakek bawa sepulang dari sawah ladang. Sore kemarin ia membawa cukup banyak ikan air tawar yang ia tangkap di rawa dekat sawahnya.

"Mengapa kakek menangkap ikan nek?" Tanyaku setelah kami usai makan malam bersama.
"Kamu ingat capung besar yang masuk ke rumah kemarin siang?" balas nenek.
"Ya, dia membuatku kaget karena terbang berputar-putar dalam rumah, dan cicak-cicak selalu mengejarnya saat ia hinggap sehingga dia terbang lagi dan lagi".

"Capung itu mencari kakek, dia bercerita tentang anak-anaknya yang ketakutan dengan ikan-ikan besar yang memakan anak capung yang belum bisa terbang" kata nenek.

"Kamu tahu kan anak-anak capung yang kecil itu hidupnya di bawah air, sampai dia besar bisa terbang?" sambung nenek memberi penjelasan padaku yang heran bagaimana bisa ikan-ikan di air dapat memakan capung yang terbang.

***

Kenangan itu datang begitu saja saat beberapa ekor lembing menempel dekat asbak rokokku. Seorang teman pernah berkelakar bahwa lembing adalah kunang-kunang yang dikutuk. Saya menyukai lelucon satirnya itu.

Kembali tersadar saat hidung mencium bau sangit khas binatang kecil ini mengisi malam sepi di pertengahan bulan Juli yang dingin. 

Mungkin angin malam yang membawa lembing ini jauh masuk ke pemukiman hingga ke rumah. Jarak sawah terdekat paling tidak 1-2 kilometer jauhnya di sekitaran Kampung Kelapa Tiga, Kebalen Kecamatan Babelan Bekasi. 

Namun yang penting saat ini bukan nalar dan logika mengapa lembing-lembing ini bisa sampai ke hadapanku, tetapi kemungkinan bahwa mereka sengaja datang membawa pesan, tapi pesan apa yang mereka bawa? 

***

Lembing hitam ini adalah momok yang dibenci oleh para petani. Baunya yang menyengat tidak kalah mengganggu dengan efek gatal dan perih jika racunnya terkena kulit. Mereka akan terbang ke pemukiman saat bulan purnama bersinar terang. Seperti laron, mereka akan mendatangi sumber-sumber penerangan.

Lembing ini datang tidak sendirian, di lantai juga merayap beberapa, sebagian lagi berterbangan mengelilingi lampu di teras depan rumah.

"Pesan apa yang kamu bawa, hai makhluk kecil yang keberadaannya dikeluhkan?".

Sebentar dulu, ia memang makhluk kecil jika dibandingkan dengan manusia. Tapi kalau dibandingkan makhluk lain semacam kutu air atau virus jelas ia adalah makhluk yang besar. Jadi, menyebutnya sebagai makhluk kecil sebenarnya tidak relevan.

Mengenai keberadaanya yang dikeluhkan juga masih relatif, kita manusia menerapkan sudut pandang dan standar untung rugi jika berhadapan dengan makhluk lain. Makhluk semacam lembing yang tidak memiliki nilai intrinsik yang menguntungkan secara ekonomi apalagi telah terbukti merugikan para petani pastinya akan dikeluhkan.

hama lembing di lantai rumah

Lembing tadi masih diam seperti pura-pura mati. Atau memang sudah mati? Apa yang bisa disampaikan oleh lembing yang mati? Apakah udara di Babelan ini sudah sangat beracun hingga lembing saja sudah tidak bisa hidup?

***

Suatu ketika saat aku sedang asik memanjat pohon sawo di kebun tiba-tiba kakek menyuruhku turun dari pohon. Aku segera turun dan berpikir akan mendapat marah karena memanjat pohon sawo yang tidak terlalu besar itu.

"Ayo kita pulang" kata kakek, lalu pergi. Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya dengan lega karena ternyata ia tidak memarahiku. Namun kehadiran kakek di kebun masih membuatku heran.

"Biasanya kakek pulang setelah adzan ashar, mengapa sekarang masih siang sudah pulang?" tanyaku dalam hati. 

Kami berjalan beriringan melalui jalan setapak di antara rimbun pohon penghujan yang membatasi kebun. Saat sampai rumah aku langsung membantu nenek yang sedang mengangkat jemuran, tidak lama setelahnya hujan gerimis mengguyur, kemudian semakin lama hujan semakin deras. Cuaca cepat sekali berubah, barusan tadi panas terik, sekarang berganti hujan deras. 

"Alam dan segenap isinya ini semua berkomunikasi, namun tidak dengan bahasa yang kamu pahami. Kadang perubahannya walau sedikit saja sudah menjelaskan, tinggal pintar-pintar kita menerjemahkan bahasa alam ini" suara kakek terngiang. 

***
Kebalen, Babelan 
Jumat, 19 Juli 2019. 
Kajeng Keliwon Uwudan