Hanya Lulusan SD, Tapi Nabungnya Rp100 Juta per Bulan

Udang Galah Hanya Lulusan SD, Tapi Nabungnya Rp100 Juta per Bulan

Karena hanya lulusan SD, Si Bapak tidak paham cara menghitung omzet. Tapi ia mengaku dapat menabung minimal Rp 100 juta per bulan dari usahanya. 

Saya baca informasi itu di Tabloid Kontan, tak lama setelah saya memutuskan tidak bergabung dengan Si Bapak pada tahun 2002 lalu, dan kemudian memilih menjadi pegawai negeri dengan gaji pokok pertama sebesar Rp 608 ribu per bulan.

Dengan gaji Rp 608 ribu per bulan, bisa menabung Rp 100 juta setelah kerja berapa bulan? Ratusan bulan! Hahaha...

Sebagai perantau dari Tasikmalaya, si Bapak orangnya ulet. Saat saya hendak bergabung di bisnis budidaya udang galahnya, beliau sudah beberapa tahun memulai usaha itu. 

Kolamnya ada beberapa. Jika tidak salah ingat, dalam satu hamparan terdapat 5 kolam ukuran besar dan beberapa kolam kecil-kecil. Bersama keluarganya, beliau mengontrak rumah sederhana tidak jauh dari kolamnya itu.

Skenarionya, dengan bimbingannya, saya akan mencari lokasi lain untuk membudidayakan udang galah. Setelah mensurvei beberapa lokasi, akhirnya dapat juga kolam seluas 1 hektar yang bisa disewa selama 5 tahun. 

Tempatnya di kiri jalan arah Gunung Kidul dari Kota Jogjakarta.

Uang sewa sudah ada. Bahkan modal buat 5 kali menebar benur pun sudah tersedia. Kebetulan ada penyandang dana yang bersedia memodali saya. Tetapi akhirnya, saya memutuskan mundur.

Si Bapak tentu saja kecewa. Karena dia bermaksud menjadikan saya konsumen benur pertama dari hatchery yang tengah dia rintis bersama partner bisnisnya yang lain, yaitu Pak Pur.

Pemodal saya, yang berhubungan baik dengan si Bapak, tetapi lebih mempercayai saya sepenuhnya untuk bisnis ini, juga penasaran. Saya sampaikan kepadanya, bahwa bisnis ini tidak cukup layak, bukan karena tingkat kesulitannya.

Bahkan saya mungkin bisa menghasilkan panen lebih besar, karena calon istri saya lulusan Biologi Lingkungan, yang mungkin akan menemukan inovasi enteng-entengan setelah beberapa kali penanaman benih.

Masalah terbesarnya justru pada pasar yang terbatas. Jika saya bergabung, niscaya hasil produksi akan bertambah signifikan dan berpengaruh buruk pada harga komoditas.

Permintaan pasar terbesar saat itu dari Pulau Bali. Dan sepertinya sedikit sulit mengembangkan pasar di luar pulau itu, karena harga udang galah pada saat itu yang relatif lebih tinggi dibandingkan udang jenis lainnya.

"Informasi intelijen" juga membenarkan bahwa Si Bapak sudah berutang ke supplier pakan selama berbulan-bulan. Jadi wajar banget kalo saya memutuskan mundur dan mengembalikan modal yang sudah sempat berpindah ke tangan saya.

Lalu Bom Bali jilid I meledak menjelang akhir tahun 2002. Pada waktu itu saya sedang mempersiapkan diri melepas beberapa usaha di Jogjakarta karena harus hijrah ke Jakarta pada bulan November.

Yang langsung terbayang di benak saya saat bom jahanam itu meledak adalah Si Bapak yang telah kehilangan pasar terbesarnya. Sungguh tidak terbayangkan kesulitan yang harus dihadapi Si Bapak dan usaha udang galahnya. Sedih banget rasanya hati ini. 

Meskipun tidak pernah lagi berbalas sapa secara langsung (pada 2003-an saya masih bolak-balik Jakarta-Jogjakarta), saya mendapat kabar bahwa ternyata Si Bapak berinovasi out of the box.

Alih-alih mencari pasar alternatif sebagai pengganti Pulau Bali, ia menciptakan pasarnya sendiri. Pasarnya yang hancur diterjang bom memberinya ide untuk menjual sendiri hasil budidayanya.

Di atas kolam-kolamnya dia bangun dangau-dangau yang dia sebut sebagai Gubug Makan. Menu utamanya, tentu saja udang galah yang ditangkap langsung dari kolam. Udang galah yang segar dipadu dengan keahlian istrinya memasak melengkapi keunikan Gubug Makan tersebut.

Orang-orang mulai berdatangan. Tertarik mencicipi, lalu mengajak orang-orang yang lain, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Si Bapak tidak lagi dipusingkan tentang ke mana dia harus menjual udang-udangnya.

Puncaknya, tentu saja saat Si Bapak mulai terkenal dan diwawancara media massa. Tabloid Kontan yang saya baca salah satunya.


Gubug Makan Danau UI

Menabung Rp 100 juta per bulan? Woouw....

Saya sendiri ikut bersenang hati membaca kesuksesan Si Bapak. Terbukti sudah, saya yang lulusan UGM kalah kreatif dengan Si Bapak yang hanya lulusan SD.

Dan, percaya atau tidak. Cabang pertama Gubug Makan Si Bapak di bagian barat pulau Jawa (sebelum puluhan cabangnya kemudian), dibuka di daerah yang disebut Danau UI. Iyaaa... Danaunya Universitas Indonesia.

Dari fakta ini saya bersyukur karena UGM tidak memiliki danau. Coba kalau UGM punya danau dan Si Bapak buka cabangnya di situ, waduh... 

Saya yang lulusan UGM, yang akhirnya “cuma” jadi pegawai negeri, pasti hanya bisa tersenyum pahit. 
Sepahit... pahit... pahit.. empedu!

Jakarta, 29 Juli 2019
Penulis: HERI WINARKO


TENTANG BULAN

TENTANG BULAN

 TENTANG BULAN 

 karya jadi2an Erik Priabollywood 


Lama rasanya aku tak menilik sosok bulan
setelah sekian lama, akhirnya ku mencoba melihatnya
kulihati dia begitu menggiurkan
bulat
putih
tapi aku tak tahu apakah dia tersenyum hangat
ataukah ada kemarahan yang tertutup kecantikan

aku berlari menuju padang rumput malam itu
mencari sahabat yang dapat memberitahuku
apakah bulan memang cantik
ataukah bulan sedang marah padaku

kutemui engkau sahabatku
di padang rumput
kau pun menatap khusyu bulan di langit malam ini
apa yang kau pikirkan sahabatku?
cantikkah bulan itu?

kami duduk berdua menatap lebih khusyu ke atas
kunikmati waktu yang berjalan lambat
kunikmati pula senyummu ketika menatap bulan
tak ada kata yang membuncah dari lisan kami berdua
begitu indah bulan itu
walau tetap tak ku dapatkan jawaban
apakah bulan cantik?
atau marah yang bersembunyi dalam kecantikan?

andai aku mempunyai toples istimewa
tentu aku ambil bulan itu
dan kumasukkan ke dalam toples istimewaku
dan kubawa pulang bersamamu sahabatku
dan akan kita temukan bersama 
jawaban tentang bulan...........
sampai pagi datang mengetuk



Pesan Misterius Si Lembing Hitam

Capung Raja Maling
Foto Capung Raja Maling - gembelmotret.blogspot.com 
Dari cerita nenek menjelang tidur, aku percaya kakek bisa berkomunikasi dengan segala jenis hewan rawa, dari buaya yang besar sampai kutu air yang tak tampak. Selain bapak, kakek adalah lelaki idola kedua dalam dunia kecilku.

Kakekku seorang petani sederhana yang serba bisa. Kadang ia memberiku sawo matang sepulang dari ladang, itu yang membuatku suka menginap di rumahnya walau sederhana, ada saja yang kakek bawa sepulang dari sawah ladang. Sore kemarin ia membawa cukup banyak ikan air tawar yang ia tangkap di rawa dekat sawahnya.

"Mengapa kakek menangkap ikan nek?" Tanyaku setelah kami usai makan malam bersama.
"Kamu ingat capung besar yang masuk ke rumah kemarin siang?" balas nenek.
"Ya, dia membuatku kaget karena terbang berputar-putar dalam rumah, dan cicak-cicak selalu mengejarnya saat ia hinggap sehingga dia terbang lagi dan lagi".

"Capung itu mencari kakek, dia bercerita tentang anak-anaknya yang ketakutan dengan ikan-ikan besar yang memakan anak capung yang belum bisa terbang" kata nenek.

"Kamu tahu kan anak-anak capung yang kecil itu hidupnya di bawah air, sampai dia besar bisa terbang?" sambung nenek memberi penjelasan padaku yang heran bagaimana bisa ikan-ikan di air dapat memakan capung yang terbang.

***

Kenangan itu datang begitu saja saat beberapa ekor lembing menempel dekat asbak rokokku. Seorang teman pernah berkelakar bahwa lembing adalah kunang-kunang yang dikutuk. Saya menyukai lelucon satirnya itu.

Kembali tersadar saat hidung mencium bau sangit khas binatang kecil ini mengisi malam sepi di pertengahan bulan Juli yang dingin. 

Mungkin angin malam yang membawa lembing ini jauh masuk ke pemukiman hingga ke rumah. Jarak sawah terdekat paling tidak 1-2 kilometer jauhnya di sekitaran Kampung Kelapa Tiga, Kebalen Kecamatan Babelan Bekasi. 

Namun yang penting saat ini bukan nalar dan logika mengapa lembing-lembing ini bisa sampai ke hadapanku, tetapi kemungkinan bahwa mereka sengaja datang membawa pesan, tapi pesan apa yang mereka bawa? 

***

Lembing hitam ini adalah momok yang dibenci oleh para petani. Baunya yang menyengat tidak kalah mengganggu dengan efek gatal dan perih jika racunnya terkena kulit. Mereka akan terbang ke pemukiman saat bulan purnama bersinar terang. Seperti laron, mereka akan mendatangi sumber-sumber penerangan.

Lembing ini datang tidak sendirian, di lantai juga merayap beberapa, sebagian lagi berterbangan mengelilingi lampu di teras depan rumah.

"Pesan apa yang kamu bawa, hai makhluk kecil yang keberadaannya dikeluhkan?".

Sebentar dulu, ia memang makhluk kecil jika dibandingkan dengan manusia. Tapi kalau dibandingkan makhluk lain semacam kutu air atau virus jelas ia adalah makhluk yang besar. Jadi, menyebutnya sebagai makhluk kecil sebenarnya tidak relevan.

Mengenai keberadaanya yang dikeluhkan juga masih relatif, kita manusia menerapkan sudut pandang dan standar untung rugi jika berhadapan dengan makhluk lain. Makhluk semacam lembing yang tidak memiliki nilai intrinsik yang menguntungkan secara ekonomi apalagi telah terbukti merugikan para petani pastinya akan dikeluhkan.

hama lembing di lantai rumah

Lembing tadi masih diam seperti pura-pura mati. Atau memang sudah mati? Apa yang bisa disampaikan oleh lembing yang mati? Apakah udara di Babelan ini sudah sangat beracun hingga lembing saja sudah tidak bisa hidup?

***

Suatu ketika saat aku sedang asik memanjat pohon sawo di kebun tiba-tiba kakek menyuruhku turun dari pohon. Aku segera turun dan berpikir akan mendapat marah karena memanjat pohon sawo yang tidak terlalu besar itu.

"Ayo kita pulang" kata kakek, lalu pergi. Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya dengan lega karena ternyata ia tidak memarahiku. Namun kehadiran kakek di kebun masih membuatku heran.

"Biasanya kakek pulang setelah adzan ashar, mengapa sekarang masih siang sudah pulang?" tanyaku dalam hati. 

Kami berjalan beriringan melalui jalan setapak di antara rimbun pohon penghujan yang membatasi kebun. Saat sampai rumah aku langsung membantu nenek yang sedang mengangkat jemuran, tidak lama setelahnya hujan gerimis mengguyur, kemudian semakin lama hujan semakin deras. Cuaca cepat sekali berubah, barusan tadi panas terik, sekarang berganti hujan deras. 

"Alam dan segenap isinya ini semua berkomunikasi, namun tidak dengan bahasa yang kamu pahami. Kadang perubahannya walau sedikit saja sudah menjelaskan, tinggal pintar-pintar kita menerjemahkan bahasa alam ini" suara kakek terngiang. 

***
Kebalen, Babelan 
Jumat, 19 Juli 2019. 
Kajeng Keliwon Uwudan

Kepada Hujan

solilokui Kepada Hujan

Love sometimes it makes us cry
Forgive me when I get it wrong
Sometimes it`s hard
To be that strong
And… I would do anything
For you I`d turn the stars around
I`d find the way somehow
This time you`ll see I`ll build
A bridge to you again
Love shines to sweep away the past
Were more than lovers more than friends
(Bad English)

Sosok dia sudah sangat merasuk dalam keseharianku. Aku tahu bahwa aku jauh dari sempurna baginya. Tuturku terkadang gagap, hatiku terkadang tak hangat, perilaku ku pun masih berhias duri dan kerikil. Namun rasa sayang ini sudah sedemikian menjalar dan benturan antara hati dan kekuranganku selalu berdenting, mengaum, memekik, dan gaduh.

Tapi aku begitu menikmati segala bentuk kebingungan itu. Ada sekelumit kesejukan ketika hatiku tercabik baik oleh keindahan maupun kekalutan. Seperti hujan yang membasahi tanah. Ada aroma yang khas, bukan harum tapi kesahajaan yang indah dan menyejukkan.

Aku dan dia jarang bertatap dan berhadapan dalam satu waktu kebersamaan. Sering kurindukan sosoknya ketika curahan hujan turun dan airnya memercik dibalik kaca. Dalam imajinasiku, indah dan sejuknya hujan tentu sebanding dengan sosok manisnya. 

Ada suara halus yang menyapa, ada sentuhan yang meraba, ada sejuk yang membalut. Akan kugandrungi dan kuelukan hujan, sama seperti begitu sayangnya aku pada sosok dia.

Pagi ini hujan mengguyur dan aku ingin sekali bergandengan dengan hujan agar kendala rentang jarak antara aku dan dia bisa terwakili olehmu, hujan. Gerimis perlahan menetes seperti sebuah kecupan yang membangkitkan semangat dan senyumku pagi ini.

Rinduku belum kunjung terpuaskan, kusampaikan hal itu pada hujan. Tapi hujan tak menjawab. Namun aku tahu bahwa dia tersenyum dan mengenggam tanganku, seperti ketika dia ada didekatku. 

Kau adalah representasi dari dirinya, dia yang menggayut dalam benak dan hatiku. Tentu kau kenal dengannya, suaranya merdu sepertimu. Aku berkata pada hujan tentang sosok dia, seseorang di sana yang kuharap dekat.

Ini hari yang istimewa bagi kami, wahai hujan. Telah kuakrabi malam, kutembus dinginnya dini hari, kujalani kabut tebal yang ada, berlari, terseok, terjatuh, namun aku harus sampai pada titik itu. Hari istimewa baginya. Kupersembahkan sesuatu yang terbaik bagi hatinya.

Telah kurancang dalam hatiku pagi yang dihiasi oleh beberapa kupu-kupu yang beriringan menuju lembah padang rumput yang hijau dan luas. Di situ aku berharap bisa menemui dirinya dalam balutan kehangatan hati dan senyum mengembang, lalu akan kusodorkan rindu dan pelukan erat dari seorang yang sederhana sepertiku ini. Lalu kubiarkan beberapa tetes airmata menuruni pipi sebagai simbol dari pelepasan rindu yang indah dan bersahaja.

Namun apakah dia akan berdiri di sana, wahai hujan? 

Bisakah dalam segala keterbatasanku ini, aku dapat meraih hatinya di hari istimewanya? Aku bergumul terus dalam kekumalan hidup, namun ada satu ruang yang berusaha kubersihkan dari debu. Agar dia dapat melongok dan merasa betah untuk mengunjungi. Ya, hati inilah yang aku upayakan. Seperti kupersembahkannya hati yang bahagia ini ketika menyambut kedatanganmu, wahai hujan.

solilokui Kepada Hujan

Hujan terus memandangiku......

Ada perasaan kikuk yang kerap datang, ketika dia memandangku dengan tatapan seperti yang kau lakukan sekarang, hujan.

Apakah hati ini punya kesempatan untuk memberi warna yang indah dalam sosoknya, sedangkan duniaku terasa begitu sempit......apakah hati ini bisa mengupayakan terang yang tak menyilaukan diantara dunia sekelilingnya yang nampak hijau dan berkilau-berpendar mengagumkan?

Katakan wahai hujan, apakah hati ini cukup berharga untuk bisa merapat dalam sosok dia? Aku beranjak mendekat hujan. Kupeluk hujan dengan penuh harap. Kurasakan belaiannya menyapu seluruh tubuhku. Kubiarkan hujan untuk merasakan kebingungan yang hinggap dihatiku. 

Lalu hujan turun semakin deras dan terasa tubuhku terguncang-guncang, namun hatiku tak tersakiti oleh guncangan hujan.....kubiarkan diriku histeris seiring dengan suara derasnya air hujan yang turun.

Sesaat kemudian, aku mulai lemas dan aku mulai terduduk. Hujan pun sudah mulai beranjak pamit untuk datang lagi kemudian. Kuhirup aroma tanah yang ditinggalkan hujan. Begitu eksotis dan menenteramkan. 

Kulihat beberapa tangkai bunga tersenyum lebar dengan cantik. Kuingat senyum itu. Senyum yang sangat aku kenal. Senyum yang membuat kepercayaanku tumbuh dan kebahagiaanlu merangkak naik. Semoga senyum itu tak akan pernah punah dari sosok dia, seseorang yang sangat aku kagumi dan aku sayang. 

Semoga hati yang kupunya ini bisa membuat senyum itu makin arif, dewasa, ikhlas, dan kubungkus hati ini sebagai persembahanku. Semoga dia mendapat yang terbaik dalam kehidupannya. Kutunggu kabar cerita dari kupu-kupu di lembah itu, bunga warna-warni, rumput, tanah dan tentu saja hujan. 

Kutunggu berita yang menggembirakan: bahwa dia di sana selalu bahagia dan mempunyai hati yang kuat di hari istimewanya, di hidupnya, selamanya.......

SOLILOKUI karya erik priabollywood
Januari 2009


Pemilu, Nalar Publik, New Media dan Nurhadi Aldo

NALAR PUBLIK

Tadi baca judul berita ada istilah "NALAR PUBLIK",  saya sering mendengar istilah itu tapi masih samar-samar maksudnya. So saya tulis ini supaya saya lebih paham sedikit apa maksud istilah itu.

Public Reason (nalar publik) adalah istilah ungkapan atau frasa yang diperkenalkan oleh Immanuel Kant pada tahun 1784. Istilah ini juga digunakan oleh seorang filsuf Amerika, John Rawls, yang dapat diartikan sebagai "alasan seluruh warga negara di dalam masyarakat yang pluralis (majemuk)".

Nalar Publik dapat membenarkan aneka pendapat dalam aneka kasus dengan alasan yang dapat diterima oleh bermacam-macam orang. Untuk membentuk suatu Nalar Publik, menurut Rawls, seseorang harus dapat lepas dari apa yang ia sebut sebagai burdens of judgment (beban pikiran). Beban-beban ini termasuk penjabaran 'bukti' argumentasi yang tak sesuai satu sama lain (kontradiksi), lebih percaya pada satu pemikiran dibandingkan pemikiran yang lain tanpa alasan yang jelas (fanatisme), kegagalan dalam menentukan konsep, perbedaan nilai, dan perbedaan pengalaman.

Private Reason (nalar pribadi) bersifat sebaliknya, adalah hasil dari pemikiran pribadi individu, yang berupa reaksi terhadap norma-norma dan kepentingan publik. Private reason terpisah sama sekali dari public reason. Itu kata Wikipedia.

Menjadi masalah jika Nalar Pribadi dibawa ke tataran publik, sebab nilai-nilai dari Nalar Pribadi tidak akan otomatis diterima oleh publik yang majemuk sebagai Nalar Publik. Panjang prosesnya dan sepertinya bukan begitu cara yang elegan membawanya ke ranah publik yang heterogen dengan berbagai latar belakang nilai yang dianutnya. 

Contoh sederhana dalam hal ini adalah nilai-nilai terhadap minuman keras atau MIRAS. Pembatasan ataupun pelarangan miras di ruang publik tentu tidak didasarkan pada dalil wahyu yang menjadi basis Nalar Pribadi sebagian masyarakat, tetapi didasarkan pada berbagai dampak negatif atau argumentasi yang bersifat rasional sehingga dapat diterima oleh khalayak dan menjadi Nalar Publik yang menjadi dasar pelarangan miras oleh otoritas sehingga berdampak hukum jika tidak dipatuhi, baik itu diatur oleh pemda dalam bentuk Perda atau oleh pemerintah dalam bentuk undang-undang.

NEW MEDIA

Nalar Privat menemukan pintu untuk mengalir masuk ke publik melalui media sosial yang oleh banyak pihak disebut sebagai New Media. Saat setiap orang dapat menyajikan pandangan pribadinya berdasarkan Nalar Privat ke ranah publik melalui media sosial maka sejak itulah opini tersebut akan berinteraksi dengan Nalar Publik.

Perlu diingat bahwa lahirnya berbagai New Media itu sebagian besar dibidani oleh semangat menghindari sifat partisan media-media mainstream, New Media seharusnya sangat peduli dengan data dan fakta, dan menyadari bahwa ada greater good dibanding sekedar kepentingan golongan dan kelompok, tanpa itu New Media tidak ada bedanya dengan Media Mainstream yang dikendalikan kepentingan pemilik modal. 

Namun kenyataan saat ini kehadiran New Media justru bisa menjadi pemecah belah dengan narasi-narasi yang tidak berdasar bahkan cenderung bohong (HOAX), yang pada akhirnya menumpulkan nalar publik yang sangat penting dalam upaya untuk merawat dan menikmati demokrasi.

Efek negatif itulah yang menjadi alasan dasar mengapa otoritas pemerintahan sempat membatasi akses beberapa media sosial sejak Rabu 22 Mei 2019 hingga Sabtu 25 Mei 2019.

BERDIRI DI TENGAH

Sejak awal kampanye pilpres saya sudah menyatakan diri Netral tidak memihak, saya akan memilih salah satu kandidat namun menolak untuk memberikan opini apapun tentang kedua kandidat tersebut di media sosial. Sayangnya keputusan saya untuk tidak menunjukkan dukungan kepada salah satu kandidat banyak diartikan oleh teman-teman sebagai sikap GOLPUT.  Lagipula memangnya ada masalah apa kalau saya benar-benar GOLPUT?

Istilah GOLPUT sendiri mulai dikenal pada masa ORDE BARU setelah pengesahan UU Pemilu tahun 1969 yang memicu ketidakpuasan masyarakat karena mematikan kekuatan partai politik baru dan pemilu yang cenderung menguntungkan Golkar. Protes tersebut masif dikumandangkan para pemuda dan mahasiswa sebelum penyelenggaraan Pemilu 1971, pemilu pertama Orba saat itu. 

Tempo edisi 19 Juni 1971 melaporkan, Imam Walujo Sumali menulis artikel berjudul “Partai Kesebelas untuk Generasi Muda” di harian KAMI edisi 12 Mei 1971. Inti tulisan itu adalah gagasan memunculkan partai kesebelas, selain sembilan parpol dan satu Golkar yang akan bertarung di Pemilu 1971.

Partai tersebut dinamakan Imam sebagai Partai Putih, dengan gambar putih polos. Di dalam tulisannya itu, Imam pun memberikan anjuran bagi yang memilih Partai Putih dalam Pemilu 1971 agar menusuk bagian putih yang ada di sela-sela atau di antara kesepuluh tanda gambar parpol dan Golkar. Bisa dikatakan, pencetus istilah golongan putih adalah Imam.

NURHADI ALDO

Kontestasi Pilpres 2019 hanya memberikan dua pilihan, yaitu Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Perdebatan di antara kedua kubu menciptakan segmentasi perdebatan di mana saja, terutama di media sosial dengan istilah cebong dan kampretnya. Hal menggelitik pun muncul tatkala ada akun fiktif berbau kampanye yang mengaku sebagai Calon Presiden dan Wakil Presiden jalur prestasi, Nurhadi-Aldo nomor urut 10.

Akun Nurhadi-Aldo booming di masyarakat sebagai penyegar dari panasnya euforia kontestasi. Dengan candaan-candaan seksis dan akronim menggelitik, Nurhadi-Aldo mengasumsikan mereka merupakan pasangan alternatif dari kedua pasang calon resmi yang ada. Dalam acara Rosi yang diselenggarakan Kompas TV, Nurhadi mengatakan bahwa apa yang dilakukannya hanyalah sekedar penolakan terhadap fanatisme pada kedua pasang calon yang ia anggap sudah terlampau berlebihan sehingga menimbulkan perpecahan dalam masyarakat.

Ada yang melihat akun kampanye fiktif pasangan capres dan cawapres jalur prestasi Nurhadi-Aldo ini adalah bentukan PETAHANA, ada juga yang khawatir ini adalah salah satu bentuk kampanye GOLPUT. Saya memandangnya sebagai kritik sosial untuk peserta pemilu untuk melakukan kampanye politik yang lebih kreatif, tidak terpaku pada cara-cara yang konvensional dan tidak substantif.

Akun Nurhadi-Aldo tidak mengkampanyekan GOLPUT dan lebih sebagai bentuk aktualisasi dari kejenuhan masyarakat akan perdebatan-perdebatan tidak substansial. Sehingga penyegaran metode-metode kampanye perlu dilakukan tidak hanya untuk pasangan capres dan cawapres tetapi juga caleg-caleg yang bertarung di pemilu 2019.

Nurhadi Aldo adalah tokoh fiksi yang meledek Nalar Privat yang masuk ke ranah publik dalam bingkai canda. Di sisi lain juga mengolok-olok Nalar Publik dengan meme-meme atau shit post yang lebih akrab dengan generasi milenial. Semoga hadirnya Nurhadi Aldo ini menjadi jembatan dialog introspektif, bukan tembok yang memisahkan.
Salah satu contoh meme kampanye Nurhadi Aldo

Enough is Enough

Enough is Enough kalau dalam bahasa Indonesia artinya Begah atau bega, udah lebih daripada kenyang. Kerusuhan tanggal 22 Mei di sekitaran KPU Jakarta itu buat saya sih sudah cukup, imbasnya sudah cukup merugikan semua pihak. Apa masih belum cukup? Saya bisikin yah, siapapun pemenangnya presiden saya tetap NURHADI ALDO.

Saya memang bodoh, walaupun gak bangga tapi saya tidak merasa perlu untuk meminta maaf atas kebodohan saya ini. Menurut saya perhelatan pemilu yang katanya pesta demokrasi itu adalah hal rutin lima tahunan. Urusan kontestasi politik ini masih urusan perebutan kekuasaan dan soal kepentingan kantong, bukan hal yang akan menentukan masuk surga atau nerakanya seseorang. Setuju atau tidak yah terserah Anda :)

Oh iya, lima tahun nanti jangan ulangi lagi model pemilu yang digabung dengan pileg seperti pemilu 2019 ini. Hemat anggaran memang penting, tapi melihat ongkos sosial yang mesti ditanggung akibat pemilu 2019 kiranya patut untuk dipertimbangankan.

Mungkin berhubungan dengan dumelan saya sebelumnya yang berjudul:


Debat KMP vs PMK, Dari Penggelembungan Jumlah Hingga "Siluman"

Debat KMP vs PMK, Dari Penggelembungan Jumlah Hingga "Siluman"
Debat KMP vs PMK terkait Adanya Indikasi Pembeli Bakmie "Siluman" akhirnya terang-benderang juga. Sebagai penjual bakmie saya dituduh melakukan penggelembungan jumlah porsi bakmie terjual di lapak saya.

Datanya sebagai berikut:
Hari Minggu lalu, saya menjual 175 porsi bakmie, 6 hari kemudian (Hari Sabtu) terjadi peningkatan jumlah pembeli sehingga berhasil terjual 217 porsi.

"Tidak mungkin, hanya dalam waktu tak sampai seminggu terjadi peningkatan jumlah pembeli hingga menambah porsi bakmi terjual hingga 42 porsi!" demikian protes dari Komunitas Mie Pangsit (KMP). Saya dituduh melakukan penggelembungan jumlah porsi terjual. Minimal, terindikasi menjual bakmi kepada pembeli "siluman".

Baiklah, meskipun hanya dapat nilai C di mata kuliah "Filsafat Logika" di Akademi Bakmie Nusantara, sepertinya saya bisa menjelaskan tuduhan ini.

Buat saya sebagai penjual bakmie, terus terang tidak menjadi masalah apakah pembeli saya dari KMP (yang akan membeli bakmie pangsit) ataukah dari PMK (Pemggemar Mie Komplit, yang pasti akan memesan bakmie komplit). Makin banyak yang beli artinya makin sukses saya berjualan. Makin banyak keuntungan yang saya dapatkan.

Protes KMP beberapa waktu sebelumnya, terkait harga jual yang dinilai tidak adil sudah saya klarifikasi juga. Intinya, saya tidak mengambil keuntungan berlebihan atas bakmie yang saya jual. Bakmie pangsit Rp 13.000/porsi. Bakmi komplit Rp 15.000/porsi. Bedanya pada 2 butir bakso saja seharga Rp 1.500/butir.

KMP minta harga bakmie komplit Rp 16.000 agar terjadi keadilan. Tentu saja saya tidak dapat memenuhinya. Penentuan harga merupakan hak prerogatif saya sebagai penjual. Bukan berarti saya pro-PMK lho... Meskipun seolah-olah ada keistimewaan karena ada diskon Rp 1.000.

Kepada KMP saya berikan solusi, silakan menambah menu 2 butir bakso di pesanan bankmie pangsit mereka, dan akan saya kasih harga total khusus Rp 15.000/porsi. Tetapi mereka menolak mentah-mentah.

"Menambahkan 2 butir bakso akan merubah bakmi pangsit kami menjadi bakmie komplit. Kami tidak mungkin melakukan hal absurd yang akan mengurangi jumlah porsi terjual bakmie kesukaan kami!"

Ya sudah. Lagipula sebagai penjual saya tidak berhak mengatur-ngatur selera pembeli seperti itu. Persis yang saya katakan sebelumnya. Saya hanya peduli dengan jumlah bakmie yang terjual, tidak masalah buat saya bakmie mana yang lebih banyak terjual. Silakan memesan sebanyak-banyaknya. Pasti saya layani karena stok selalu tersedia. Manajer stok saya mumpuni, lulusan S3 dari Aussie, lho...

Sampai di sini, paham kan?
jualan bakmi

Jika belum paham, saya coba pakai ilustrasi yang populer saja deh.... Pilpres 2019.
Penjual bakmi = Komisi Pemilihan Umum.
KMP (komunitas mie pangsit) = Pendukung Pak Prabowo, dan 
PMK (penggemar mie komplit) = Pendukung Pak Jokowi.
Jumlah bakmi terjual = jumlah surat suara sah
Jumlah bakmie terjual hari Minggu = jumlah surat suara sah Pilkada 2018
Jumlah bakmie terjual hari Sabtu = jumlah surat suara sah Pilpres 2019.

Jadi, seperti bakmi yang lebih banyak terjual di Hari Sabtu, jumlah surat suara sah yang lebih banyak di Pilpres 2019 lebih tepat dibaca sebagai kenaikan animo masyarakat untuk mengikuti Pemilu. Masyarakat lebih antusias nyoblos di Pilpres 2019 dibandingkan saat Pilkada 2018.

Tentu saja banyak faktor penyebabnya. Gencarnya pemberitaan tentang Pilpres, emosi yang teraduk-aduk karena pertarungan yang sedemikian brutal di media massa dan media sosial, serta polarisasi Islam Tradisional vs Islam Puritan barangkali bisa disebut sebagai contohnya.

Sama dengan bakmie saya yang lebih banyak terjual di Hari Sabtu, mungkin karena cuaca yang dingin-dingin-embun di antara hujan yang malu-malu. Mungkin juga karena banyak yang bermalam minggu di Hari Sabtu. Mungkin juga karena ada pertandingan sepak bola di Hari Sabtu.

Untuk penjual bakmi, makin banyak porsi yang terjual makin besar keuntungan yang dapat diraup. Untuk KPU, makin tinggi partisipasi masyarakat justru menunjukkan semakin berhasil sosialisasi yang telah dilakukan. 

Harusnya diacungi jempol atas kerja kerasnya tersebut dan bukan malahan dituduh mencurangi Pilpres karena tingkat partisipasi masyarakat yang meningkat.

Lagipula kenapa yang dijadikan sampel Jawa Tengah, bukan Aceh atau Sumatera Barat? Kenapa yang dijadikan dasar perbandingan kok jumlah surat suara sah dan bukannya DPT?

Wah, sepertinya saya punya bakat terpendam jadi komisioner KPU, selain bakat jualan bakmie...
Hihihi...

Heri Winarko. Bogor, 14 Mei 2019.


Puasa Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Puasa Menumbuhkan Rasa Percaya Diri
Puasa tentunya banyak sekali manfaatnya bagi jiwa dan raga. Beberapa manfaat puasa ada yang dibuat-buat seperti cocoklogi atau juga rasionalisasi subyektif dari pengalaman pribadi si penutur. Apapun itu semakin banyak manfaat puasa yang diperkuat dengan hasil-hasil penelitian. Sementara itu bagi penganut Agama Islam, puasa adalah soal iman. Bagi umat Islam, puasa merupakan kewajiban agama yang harus dikerjakan, menjalankannya didasari oleh keyakinan menjalankan perintah Tuhan yang tertuang dalam kitab suci al-Quran dan ditujukan kepada mereka yang beriman (ya ayyuha alladziina aamanuu). Selesai sudah, tidak ada lagi pembahasan jika menyangkut iman. Sebagai manusia, tentunya kita selalu mencari manfaat dari segala yang kita lakukan, termasuk manfaat dari apa-apa yang kita lakukan karena kewajiban, dalam hal ini puasa. Salah satu manfaat puasa yang ingin saya garis bawahi saat ini adalah manfaat puasa dalam menumbuhkan rasa percaya diri. Mengalahkan rasa lapar dan dahaga serta larangan lainnya tentu saja bukan perkara mudah. Apabila ujian tersebut dapat diselesaikan dengan baik selama satu bulan penuh, maka pastinya hal itu akan membuat kita semakin yakin bahwa ada kekuatan di dalam diri yang dapat melepaskan kita dari rantai keinginan-keinginan yang berlebih dari sekadar memenuhi kebutuhan.

Rasa percaya diri yang mantap akan menjadikan seseorang mampu menghadapi rasa takut dan menggantinya dengan keberanian untuk menghadapi tantangan yang ada di depan mata. Itulah manfaat percaya diri yang akan didapatkan.
Rasa percaya diri ini yang diharapkan dapat memperkuat karakter dan sikap kita menghadapi tantangan kehidupan selanjutnya. Sikap mental percaya diri inilah yang membuat seseorang dapat lebih elegan berinteraksi dengan risiko. Mungkin ini bentuk paling sederhana dari manajemen risiko :) Risiko adalah fenomena yang harus dilalui sebagaimana fenomena-fenomena alam lainnya. Mereka menyadari bahwa risiko dapat diatur sedemikian rupa dengan kemampuan yang mereka miliki sehingga risiko tersebut akhirnya menjadi sesuatu yang tidak menakutkan. Dalam pikiran orang yang memiliki sikap mental percaya diri, risiko telah dijinakkan dan dibagi-bagi menjadi sub-sub risiko sehingga dampak negatif dari resiko tersebut bisa diantisipasi dan lebih bisa diprediksi. Rasa takut tidak akan pernah menguasai jiwa seseorang yang memiliki sikap mental percaya diri. Takut bagi mereka hanyalah kondisi pikiran yang lebih menginginkan untuk terus berada pada kondisi zona nyaman. Mereka yang memiliki sikap mental percaya diri mampu mengolah rasa takut yang biasanya lebih mengarah ke hal negatif menjadi hal yang positif. Mereka mampu menghilangkan takut yang mengarah ke hal negatif dan hanya menyisakan takut yang mengarah ke hal positif saja.
Puasa Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Dari sekian manfaat rasa percaya diri, yang menurut saya paling penting adalah pencapaian harga diri (self-esteem). Harga diri di sini adalah penilaian diri pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya. Dapat diartikan bahwa harga diri menggambarkan sejauh mana seseorang menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga dan kompeten

Memahami konsep harga diri ini penting untuk bisa menghargai diri sendiri yang selaras dengan sikap menghargai orang lain. Jangan harap kita bisa menghargai orang lain kalau kita tidak bisa menghargai kita sendiri.

Saya percaya orang yang percaya diri dan memiliki harga diri yang benar tidak akan mudah terombang-ambing menentukan sikap sehingga akan terjaga dari hal yang akan merendahkan dirinya dan orang lain. Hal ini paling mudah dilihat dari cara orang tersebut menerima pendapat orang lain.
Sebagaimana ia mengungkapkan pendapatnya tanpa merasa perlu merendahkan orang lain, ia pun akan menerima pendapat-pendapat orang lain dengan lebih obyektif.
Sebaliknya, orang yang kurang percaya diri, yang tidak menghargai dirinya sendiri akan rentan menerima perbedaan pendapat. Kebutuhannya akan rasa aman membuatnya membangun benteng yang tebal, tidak ada keterbukaan dan cenderung mencari aman dengan sikap defensif dan selalu siap untuk menyerang apapun yang ia rasa mengganggu.

Kalau demikian, bagaimana mau menghargai?, untuk berpendapat pun ia takut, ia dengan sadar menyerahkan wewenang untuk berpendapat kepada orang lain sehingga pendapatnya itu yang akan kita perjuangkan tanpa merasa bertanggungjawab atas pemikiran yang menjadi dasar pendapat itu.

Jika hal yang demikian itu terjadi pada diri kita, mungkin kelak kita akan terlalu rendah diri untuk berpikir dan menyatakan hasil pemikiran kita menjadi sebuah pendapat untuk disampaikan kepada orang lain. 

Terlepas benar atau salah, keberanian orang menyatakan pendapatnya patut dihargai, jika kita membenci orang lain karena memiliki keberanian itu, maka cukup bagi kita mengerti bahwa ada penyakit kronis dalam hati yang seharusnya menjadi perhatian untuk disembuhkan daripada sibuk menghukum orang lain.

Atau lebih parah lagi, mungkin kita akan membenci orang yang berani mengemukakan pendapatnya, terlebih jika pendapat itu salah maka seakan kita punya hak untuk menyerang dan menghukum orang lain karena berani mengungkapkan pendapatnya.

Demikianlah puasa menjadi sebentuk terapi untuk menyembuhkan penyakit kronis dalam hati yang berawal dari tidak adanya rasa percaya diri, berkembang menjadi rasa rendah diri, tidak menghargai diri sendiri dan seterusnya. Kurang tersiksa apalagi jika itu kita alami? Hidup serasa beban berat yang menjadi neraka dunia. 

Parahnya lagi kita tidak bisa membuka diri untuk mencari pertolongan karena kita sulit untuk menghargai orang lain. Hidup menjadi tidak bermanfaat atau bahkan menjadi ancaman bagi orang lain. Naudzubillahimindzalik.

Salam


Frontliner Indomaret Gak Punya Tugas Memberi Sumbangan

Frontliner Indomaret Gak Punya Tugas Memberi Sumbangan
Belum lama ini ada sebuah video yang viral berisikan rekaman sekelompok orang pengurus masjid yang meminta sumbangan di gerai minimarket Indomaret di Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara. 

"Seribu ini kalian kasih pelecehan ini. Ini pelecehan ini, seribu kalian kasih sedekah bukan untuk kami," ujar seorang pria dalam video yang viral di media sosial. Pria itu tidak sendirian. Ia masuk minimarket dengan sejumlah orang, beberapa botol soft drink berserakan dan seorang pria lain juga mendekati kasir dan menggebrak-gebrak meja kasir.  Karena videonya masih beredar di media sosial, silakan nonton dulu.

Seorang kasir berseragam Indomaret terlihat salah tingkah dan hanya sesekali menjawab berusaha menghadapi pria tersebut. Kemudian tidak lama tampak seorang pria muda berseragam Indomaret memasuki gerai melewati sekitar 5-6 orang. Kemungkinan besar pria tersebut adalah seorang Frontliner Pramuniaga. Tampak pula beberapa anak remaja di dalam gerai menyaksikan kejadian itu, yah mungkin hanya anak-anak yang berada di waktu dan tempat yang salah.

Sepertinya kita perlu mengenal lebih jauh tentang Indomaret secara umum sebelum lanjut membahas yang lainnya. Indomaret atau PT Indomarco Prismatama adalah jaringan ritel waralaba di Indonesia. Indomaret merupakan salah satu anak perusahaan Salim Group. Indomaret merupakan jaringan minimarket yang menyediakan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari. Demikian penjelasan dari Wikipedia :)

Dalam menjalankan operasionalnya, sebuah gerai Indomaret minimal dikelola oleh beberapa pegawai yang terbagi dalam jabatan dan wewenang tugasnya masing-masing, antara lain Manager Toko, Supervisor Toko, Kepala Toko (Head Store), Wakil Kepala Toko (asisten), Merchandiser, Kasir, dan Pramuniaga. 

2 pegawai Indomaret yang ada dalam video itu menurut saya adalah seorang kasir atau General Cashier dan seorang Pramuniaga. Kasir, dan Pramuniaga ini adalah ujung tombak atau frontliner gerai Indomaret yang masing-masing memiliki deskripsi kerja yang ketat. Nah apa saja tugas dan fungsi mereka, yah kurang lebih seperti diuraikan di bawah ini.

Tugas Pramuniaga di Indomaret;

  • Menyambut Pelanggan yang datang
  • Membantu pelanggan  mencari barang yang diinginkan
  • Merapikan barang  jualan
  • Membantu SPV jika dibutuhkan.
  • Mencapai target penjualan yang diinginkan
  • Menjaga barang  dan penjagaan
  • Menjaga kebersihan toko (teras, halaman, kamar mandi, ruang utama, gudang)
  • Kelengkapan alat promosi (memasang baliho-baliho atau papan promosi di depan toko)
  • Menukarkan uang recehan untuk kembalian kasir
  • Kebersihan rak-rak produk yang ada di dalam
  • Membantu kasir saat pembeli membludak
  • Mengawasi pembeli (pencegahan pencurian)
  • Melayani pembeli
  • Mengecek produk-produk yang expired atau kadaluarsa, dst.

Frontliner Indomaret Gak Punya Tugas Memberi Sumbangan

Sedangkan Tugas Kasir Indomaret kurang lebih adalah:

  • Menawarkan promosi yang berlangsung kepada pembeli ( wajib )
  • Menjaga kebersihan area kasir
  • Meneliti uang untuk mencegah uang palsu masuk
  • Bertanggung jawab atas selisih uang
  • Rokok biasanya juga diserahkan ke kasir tanggung jawabnya
  • Harus ramah kepada pembeli
Posisi Kasir mayoritas didominasi perempuan memang terlihat ringan.Tapi tanggung jawab mereka sebenarnya cukup berat, khususnya perihal selisih uang yang terjadi saat perhitungan di akhir shift.

Jadi ketika pergantian shift, personil pada shift sebelumnya akan menghitung jumlah uang yang ada dan dicocokan dengan jumlah barang yang terjual. Jika terjadi selisih dan uang kurang maka kasir lah yang bertanggung jawab untuk menggantinya (tapi biasanya mereka patungan) sebagai bentuk kerjasama.

Dari uraian kerja Kasir dan Pramuniaga ini tidak ada satupun tugas terkait memberikan sumbangan, wajar saja Kasir dalam video itu berusaha menjawab dengan sopan "Kita nggak tahu Pak," karena memang itu sudah di luar tanggung jawab profesional mereka.

Membandingkan karyawan Indomaret dengan tukang sayur dan ikan yang menyumbang lebih besar juga tidak tepat dan kurang sepadan. Banyak penjual sayur dan ikan adalah penjual dengan mandiri yang berkuasa atas barang-barang jualannya, sebagian lagi para penjual itu adalah pemilik langsung dari barang yang dijual, sehingga laba dan rugi mereka sendiri yang mengatur pergerakan dan peruntukannya. Sedangkan pegawai di Indomaret terlebih frontliner ini bisa jadi statusnya masih pegawai kontrak atau magang yang hanya terikat perjanjian kerja selama 3 bulan, jika pun mereka sudah berstatus pegawai kebijakan besaran memberi sedekah itu sudah di luar tanggung jawab profesi mereka. 

Apa yang frontliner berikan, baik berupa sumbangan, donasi dan segala macamnya itu adalah pemberian yang bersifat pribadi dan tidak bisa dikaitkan dengan Indomaret sebagai sebuah badan hukum, karena pemberian itu bukan kebijakan Indomaret.

Sebaiknya, lain kali untuk meminta kerjasama, sumbangan, sponsorship dan lain-lain, disarankan untuk ditujukan kepada level manajer, mulai dari wakil kepala toko sampai ke manajer toko sebagai pejabat tertinggi yang ada di sana. 

Dalam kacamata organisasi, Kasir dan Pramuniaga tidak memiliki tugas dan kewenangan untuk bekerjasama dengan pihak lain, termasuk urusan memberi sumbangan seperti yang terjadi dalam video itu.

Jelas yah? Tidak ada dalam kamus tugas dan fungsi pegawai frontliner Indomaret untuk memberi sumbangan, kalaupun ada mungkin itu hanya kebijakan pribadi pegawai. Untuk urusan sumbangan dan lainnya sebaiknya langsung dikomunikasikan kepada manajer, bukan kepada frontliner

Frontliner Indomaret Gak Punya Tugas Memberi Sumbangan

Saya punya beberapa teman yang bekerja di Indomaret, untuk yang baru diterima dan masih status magang itu adalah pertaruhan mereka untuk dapat perpanjangan kontrak atau diterima sebagai pegawai. Sistem rekrutmen di Indomaret adalah kesempatan sekali seumur hidup, jika Anda gagal maka tidak akan pernah lagi dapat mencoba melamar kembali. Kalau teman-teman mau ngobrol dengan mereka saya punya teman yang mantan pegawai Indomaret ataupun yang masih aktif bekerja di sana. Kita bisa lebih paham posisi mereka dan mungkin akan lebih bisa berempati kepada mereka.

Adakalanya pertanyaan-pertanyaan kasir terasa menjengkelkan, adakalanya petugas pramuniaga tidak tahu letak barang yang kita cari, itu mungkin karena pegawai Indomaret yang masih baru dan kurang pengalaman. Tapi untuk gerai Indomaret di Mall atau yang besar-besar, kejadian seperti itu akan jarang ditemui. 

Mengingat saya juga pernah mengalami yang namanya magang dan susahnya mencari kerja, saya memilih untuk memaklumi dan sebisa mungkin memberi mereka motivasi agar mereka bisa menjadi pegawai yang lebih profesional dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. (Tsahhh sotoy bet dah ah)


***

Seorang teman, Heri Winarko membuat status facebook yang saya kira cukup bagus untuk dibaca berjudul Rp 1.000.

Rp 1.000

Seribu rupiah itu banyak atau sedikit?

Untuk orang-orang seperti saya yang duitnya banyak (KPR dan KTAnya juga banyak 😝), jawabnya "sedikit". Keterlaluan banget deh, kalo saya nyumbang cuma Rp 1.000.

Tapi untuk Saudara-saudara kita, yang mungkin setiap bulan hanya bisa menabung Rp 100.000, nyumbang Rp 1.000 itu adalah "banyak".

Sungguh tidak elok mengukur baju sendiri di badan orang lain.

Pedagang di pasar, mungkin bisa nyumbang Rp 100.000. Anda mungkin bisa menyumbang Rp 1.000.000. Tetapi memaksa semua orang menyumbang di kisaran itu tidak boleh. Kecuali, tentu saja, apabila sebelumnya Anda kasih persyaratannya di depan: tidak menerima sumbangan di bawah Rp 100.000!

Berapa sih, gaji kasir minimarket saat ini? Mungkinkah dia bisa menabung Rp 1.000.000 tiap bulannya, sehingga dia tidak merasa "terbebani" ketika saya mintai sumbangan Rp 100.000 untuk saudara saya di Palestina?

Jika info mendasar seperti ini saja saya tidak tahu, artinya saya tidak memiliki kepedulian yang layak kepada orang yang sering berinteraksi dengan saya.

Menurut saya, peduli saudara di Palestina itu baik. Peduli kepada saudara yang dekat dengan kita juga sama baiknya.


Salam

[Dirangkum dari berbagai sumber]

Kebahagiaan Orang Puasa

Kebahagiaan Orang Puasa

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika saat berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.” (muttafaq ‘alaihi)

Demikian sebuah hadis yang disampaikan oleh Ust Toha setelah pembacaan Surah Yasin bersama yang saya tidak sempat ikuti. Karena saya baru bergabung setelah acara yasinan selesai, sekitar pukul 9.00 malam di majlis Rumah Cerdas atau Majlis Taklim Al-Mubarok di Kp. Blendung Desa Kedung Pengawas Kec. Babelan tadi malam.

Jadi menurut hadis tersebut ada dua kebahagiaan yang didapat oleh orang-orang yang berpuasa, pertama kebahagiaan ketika saat berbuka, dan kedua kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.

1. Kebahagiaan saat berbuka puasa

Kebahagiaan waktu berbuka puasa adalah waktu di mana ujian telah selesai, larangan telah dicabut dan perintah telah dilaksanakan. Kebahagiaan yang lahir karena diberikan kemampuan untuk menundukkan hawa nafsu di bawah niat beribadah menjalankan syariat-Nya.

Kebahagiaan saat berbuka puasa adalah rasa bahagia yang lahir karena telah lulus godaan untuk memenuhi keinginan dan menunda pemenuhan kebutuhan yang secukupnya. Bahagia yang lahir karena telah memahami bahwa kebahagiaan semu yang selalu menggoda dan menyambut saat kita berhasil memenuhi keinginan-keinginan nafsu hanya mengantar kita pada pusaran keinginan lain yang tidak akan pernah habis menyeret jiwa manusia pada budaya konsumtif yang tidak akan pernah selesai dan akan terus menyiksa untuk dipenuhi. 

Dengan berpuasa kita diingatkan kembali akan makna kata "cukup" sehingga kita dapat lebih fokus mengemban amanah kita yang sebenarnya dan menggapai kebahagiaan yang sesungguhnya. 

Kebahagiaan saat berbuka puasa juga bisa dimaksudkan sebagai kebahagian jasmaniah karena larangan-larangan pemenuhan kebutuhan jasmani telah selesai. 

Setelah berhasil melewati ujian saat puasa, idealnya pelajaran saat berpuasa tersebut masih membekas dalam diri sehingga setelah saat berbuka kita tidak lantas berfoya-foya memenuhi semua keinginan seakan membalas dendam setelah seharian nafsu terbelenggu. Jika demikian, maka kita telah kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya telah kita capai saat berbuka puasa.

2. Kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya

Kalau kebahagiaan saat berbuka puasa adalah kebahagian jasmani maka kebahagiaan kedua orang berpuasa adalah kebahagiaan rohani yaitu ketika bertemu dengan Rabb-nya. 

Soal ini saya tidak bisa menjelaskan lebih banyak karena keterbatasan dan masih sangat awam mengenai hal ini. 

Mohon maaf, dalam bahasan ini saya lebih memilih mendengarkan sebanyak-banyaknya dan belum berani beropini apa-apa. Ini sudah membahas Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah, dalam soal ini saya masih awam dan masih belajar.

***

Potongan hadis yang tercatat dalam Shahih Bukhari (7492) dan Muslim (1151) juga diriwayatkan oleh Imam Nasa'i  dan lain-lain ini pada intinya menjelaskan bahwa “Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan; yaitu kebahagiaan jasmani dan kebahagiaan rohani". 

Tugas kitalah menggapai kebahagiaan itu dan jangan sampai puasa hanya menghasilkan haus dan lapar saja dan tidak ada kebahagiaan yang didapat.

Semoga dengan hadis tersebut puasa tidak lagi menjadi beban yang membuat kita terbebani, karena kebahagiaan dunia akhirat, kebahagiaan jasmani rohani yang dicari oleh semua orang sedang menanti kita.

Salam :) 
Jumat, 10 Mei 2019
5 Ramadhan 1440 Hijriyah


Ramadan Kok Malah Tawuran?

tawuran sahur on the road bekasi

POLRES Metro Bekasi Kota meminta kepada masyarakat Kota Bekasi agar tidak melaksanakan kegiatan sahur bersama di luar rumah atau dikenal dengan sahur on the road. Demikian disampaikan oleh Kasubbag Humas Polres Metro Bekasi Kota Komisaris Erna Ruswing.

Bukan tak punya alasan, kepolisian khawatir kegiatan tersebut dapat menimbulkan gangguan ketertiban masyarakat. - (Laman Web Berita bekasi.pojoksatu.id Senin, 6 Mei 2019)
***

Kedatangan bulan Ramadan yang telah dinantikan selalu disambut dengan berbagai kegiatan yang merupakan wujud kegembiraan, dari mulai pawai obor, kegiatan buka bersama bahkan sampai sahur bersama, sahur on the road dan lain-lain.

Dari banyak kegiatan itu, mungkin hanya kegiatan sahur on the road yang masih menjadi pro kontra. Dari banyak kegiatan sahur on the road yang dilakukan, beberapa menjadi pemicu terjadinya tawuran yang tidak jarang menimbulkan korban.

Di sisi lain sahur on the road juga merupakan kegiatan ladang amal bagi yang melaksanakan, setidaknya berbagi makanan sahur memiliki tujuan yang sama dengan berbagi makanan saat menjelang berbuka puasa.

Tawuran

Tawuran bukan hal yang hanya ada pada saat Ramadan, mengidentikan sahur on the road dengan tawuran juga lebih merupakan kesimpulan yang kebablasan, tawuran itu bisa terjadi kapan saja kalau situasi dan kondisi memungkinkan, mau pagi, siang, sore maupun malam.

Tawuran adalah fenomena sosial dan kolektif, karenanya sering ditemui pribadi-pribadi pelaku tawuran adalah pribadi yang biasa-biasa saja, tapi menjadi agresif saat bersama dengan kelompoknya.

Ada proses de-individualisasi, solidaritas kelompok dan emosi massa di sana. Sederhananya, situasi dan lingkungan yang mengubah seseorang dari pribadi yang biasa-biasa saja menjadi kelompok agresif sehingga memungkinkan terjadinya tawuran.

Ada teori yang menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pencari kenikmatan (Pleasure Principle) sehingga segala bentuk perilakunya dilandasi dorongan insting melakukan apa-apa yang disukainya dan mengulangi kenikmatan tersebut. Efek kenikmatan ini yang perlu dicari hingga motifnya agar solusi yang dilakukan benar-benar menyelesaikan persoalan.

Kalau para pelaku mendapatkan efek kesenangan dan kenikmatan saat melakukan tawuran maka akan sulit memberantas tawuran jika kegiatan penggantinya tidak memiliki level kesenangan yang setara. 

Pendekatan moral dengan penyuluhan dan himbauan tentunya tidak dapat mengurangi tawuran kecuali dibarengi pendekatan penghargaan dan hukuman (reward & punishment).
sel penjara
Jika alternatif kegiatan dalam ajang kreativitas baik berupa kompetisi atau tidak sudah disediakan tidak bisa juga meredam tawuran maka tidak ada cara lain kecuali pendekatan hukum demi ketertiban sipil wajib ditegakkan. Pengenaan pasal-pasal pidana dan penyertaan pidana harus bisa memutus aksi tawuran yang di beberapa lokasi sudah dianggap sebagai tradisi. Dengan bijak mestinya pendekatan hukum ini juga konsisten sekalipun dilakukan oleh mereka yang masih di bawah umur (anak-anak).

Sebagai masyarakat saya kira tidak ada salahnya jika kita berinisiatif mencegah situasi-situasi yang memungkinkan terjadinya tawuran seperti menjadikan lokasi-lokasi tempat berkumpulnya massa menjadi tidak kondusif untuk berkumpul, dan bila perlu menangkap pelaku untuk kemudian diserahkan kepada yang berwajib. Jangan sampai sudah ada korban baru kemudian bertindak.
belajar bisnis entrepreneur
Saya tidak yakin tawuran benar-benar dapat diberantas. Dibutuhkan kegiatan-kegiatan lain yang benar-benar dirasakan manfaatnya sebagai kegiatan pengalihan. Namun demikian sulit untuk mengajak masyarakat dalam kegiatan yang benar-benar mereka rasakan manfaatnya kalau wadahnya saja tidak ada, karenanya organisasi-organisasi kemasyarakatan memiliki peran yang cukup penting untuk meminimalisir risiko tawuran dengan terus melakukan kegiatan-kegiatan positif yang melibatkan masyarakat.

Teorinya seperti itu, memang tidak mudah tapi tidak mustahil dilakukan jika ada kemauan dan dukungan yang jelas dari segenap unsur masyarakat.

Mulailah aktif dalam kegiatan-kegiatan kolektif kemasyarakatan apapun itu, jika sudah bisa berkontribusi positif maka kita bisa menarik keterlibatan semakin banyak masyarakat khususnya pemuda dalam kegiatan positif. Kegiatan positif tentu saja sangat luas, diutamakan kegiatan yang bisa menjadi sumber penghasilan ataupun kegiatan yang sesuai passion dan minat yang manfaatnya tidak terlihat atau tidak ternilai.

Semoga Ramadan ini benar-benar wujud dari kerinduan kita selama ini, Marhaban Ya Ramadan, dan jangan sampai malah menjadi Marhaban Ya Tawuran.
Salam.