Sasmitha – Cahyo Taman Baca Tanjung

Cahyo Taman Baca Tanjung Tanjung Barat Jakarta Selatan
Cahyo dari Taman Baca Tanjung
Saya masih punya 1 lagi teks puisi yang mengisi acara Sekadar Syukuran 1 Tahun Perjalanan Perpustakaan Jalanan Bekasidi Kafe Nenen Nyok Sabtu 28/7/2018. Puisi ini dibacakan oleh Afiat Cahyo Wiwoho dari Taman Baca Tanjung yang terletak di Taman Tanjung 1 Jl. T.B. Simatupang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Ini kali kedua saya bertemu dan mendengarkannya membaca puisi, pertama kali yaitu saat gelaran perpusjal Bekasi #15 tanggal 17 Februari 2018 di Pasar Modern Tarumajaya. Saya sendiri belum pernah menyambangi Taman Baca Tanjung tempatnya beraktivitas sehingga belum dapat bercerita banyak mengenai salah satu sosok pengisi acara yang cukup berkesan bagi saya itu.

Berikut selengkapnya puisi berjudul Sasmitha.


"SASMITHA"

Setelah langit membekas biru
Ayu Sri rahayu, menyanyikan serumpun padi
Hidupnya nista abadi
Mengandung janji 
Harapan ibu pertiwi

Poerwadhi 
memakai nama samaran Sri Amiranti
Yang dipaksa untuk dewasa

Sri Amiranti ?
Pelaut tampan yang buta arus laut itu ?
Pendaki cerdas yang buta arah ?
Lelaki pemalu yang sedang belajar menari ?

Poerwadhi ?
Perempuan tangguh yang takut patah hati!
Apakah kau berani mati muda ?
Apakah kau mau hidup seterusnya ?

Sasmitha,
Ini bukan persoalan anak didikmu
Yang merendahkanmu dengan bom waktu
Tapi karakter itu sangat kuat memang bisa dipisahkan!
Tapi tidak bisa dipilah

Jenis karangan; kabar, berita, kisah
Sejarah, hikayat dan sebagainya
Sama, itu hanyalah dongeng!

Sastra adalah kaca benggala
Militer termasuk aku
Memang satu komando
Tapi manusiakan ? Lain
Pro kemerdekaan, pro integrasi
Gardapaksi, Mahidi, Tim Alfa, Saka

Hanya demi merah putih
Hanya demi anak didikku
Terlalu dini menyebut mati
Masih butuh unsur kebudayaan, 
Pendidikan
Ancaman represi ? Sasmitha.

Untuk Taman Baca Tanjung sendiri teman-teman bisa melihat dokumentasi kegiatan mereka di Instagram, cekidot https://www.instagram.com/tamanbacatanjung/

Sajak Diiringi Karinding Persembahan Langit Tjerah dan Perpustakaan Jalanan Atap Usang

Selain sajak dari Iwan Bonick, ada juga pembacaan sajak yang dibawakan oleh Vrandes dari komunitas literasi Langit Tjerah Cikarang berjudul "Sajak Jalanan Bertanya". Yang unik dari sesi pembacaan sajak ini adalah iringan suara Karinding, alat musik tradisional Jawa Barat yang dimainkan oleh Arif Rahman (Goden) dan Andy Nurwanto dari Perpustakaan Jalanan Atap Usang Cikarang Kabupaten Bekasi. 

Suara karinding yang bersahutan dengan bantuan sound system minimalis atau seadanya justru memberi nuansa berbeda pada sajak yang banyak menyisipkan tanya ini. Para hadirin sebagian besar khusuk duduk di lantai memperhatikan kolaborasi unik ini. 


Sajak Jalanan Bertanya

Selama di jalanan, kami membaca pesan-pesan yang ia katakan 
bahwa ia memberikan pilihan kepada semua orang

Mau berlanjut atau menyerah,
Mau jadi pengecut atau pencerah

Mau berbagi atau menjarah,
Mau berbakti atau berulah

Stagnasi, atau bergerak,
Partisipasi, atau sekedar sorak-sorak

Setiap orang bebas memilih,

Menjadi samudra yang menerima segala beda,
Atau menjadi kandang yang menolak siapa pun yang bukan ternak

Mau jadi begundal yang lihai membual,
Atau sedikit nakal namun banyak akal
Mau nakal demi sekedar julukan bad-boy kekinian,

Atau mau 'nakal' demi melawan pragmatisme kemapanan
Peduli atau pura-pura tuli,
Menyikut atau menyambut
Menindas atau melawan penindasan,
Menggilas atau menentang ketidakadilan
Mau beradu atau bersatu,
Klasifikasi atau aliansi

Jalanan menyodorkan pilihan,

Memburu 'happy' atau bersimpati,
Hidup bersama atau bersengketa
Mengambil peran atau keluyuran,
Membangun peradaban atau memuaskan kepentingan
Mencukupi penghidupan atau diperkuda tuntutan,
Menebar benih persaudaraan atau permusuhan

Jalanan membebaskanmu memilih,

Jadi pengendara atau kendaraan,
Knalpot bobokan atau knalpot yang tak menebar kebisingan
Rebutan atau berdampingan,
Berpadu atau berpacu
Rakus atau terurus,
Merampas sana-sini atau sadar porsi

Ikhlas bernyanyi atau pamer eksistensi,
Menyampaikan isi hati atau memuaskan birahi
Menguasai kendaraan atau dikuasai kendaraan,
Memakai etika atau hanya takut razia

Jalanan semakin banyak tanya, kawan!

Menjadi polutan atau menjadi angin yang diharapkan,
Menjadi deru bising atau penyejuk dikala panas kering
Akal bulus atau akal sehat,
Hati nurani atau kepentingan pribadi
Kesederhanaan pengasong atau penjual omong kosong,
Rambu dan Marka atau tukang razia
Abdi masyarakat atau penyebar tipu muslihat,
Pelayan kemanusiaan atau pemuja kekerasan

Jalanan terus berbicara

Dan jelasnya, jalanan bertanya dengan sedikit penekanan dan nada yang ditinggikan : 

MENJADI INSPIRASI KEHIDUPAN ATAU SEKEDAR RONGSOKAN PERADABAN?

Jalanan mempertanyakanmu, kawan!


Demikian sajak yang dibawakan secara sederhana, diiringi alunan karinding yang sayup-sayup, kadang suara knalpot motor di jalan KH Agus Salim tempat acara ini dilaksanakan juga masuk tanpa permisi, tapi itu justru membentuk sebuah kesatuan yang tidak mungkin lagi diulang. Seperti sebuah karya seni dari berbagai suara yang ada kemudian dibingkai dalam waktu sekian menit, "seni instalasi suara" mungkin :D

Syukuran 1 tahun perjuangan perpustakaan jalanan bekasi secara garis besar adalah acara yang cair tapi khidmat, suguhan penampilan yang sebagian besar merupakan partisipasi dari komunitas atau pun perorangan ini lebih bersifat spontanitas sehingga terasa alami dan mengajak semua hadirin berproses bersama untuk menciptakan suasana. 

Setiap yang hadir berperan untuk turut serta menciptakan kenangan yang menginspirasi, atau menjadikan malam itu hanya sebuah malam tak berarti dari sekian ribu malam lainnya, menjadi rongsokan ingatan. Semua berpulang kepada masing-masing, bukankah hidup ini memberikan kita pilihan-pilihan?

Salam



Sajak Bang Iwan Bonick Saat Syukuran 1 Tahun Perpusjal Bekasi

Ada beberapa puisi dan sajak yang dibacakan saat Perpustakaan Jalanan Bekasi menghelat "Sekadar Syukuran 1 Tahun Pelaksanaan Perpustakaan Jalanan Bekasi", malam Minggu 28 Juli 2018 kemarin. 

Saya beruntung bisa mendapatkan 3 sajak atau puisi diantaranya,  dan akan saya arsipkan dalam blog ini. Salah satu dari 3 sajak itu adalah sajak dari Bang Iwan Bonick sang pelopor Perpustakaan Jalanan Bekasi.

Iwan Bonick yang saya kenal adalah seorang pencinta barang-barang tempoe doeloe, kalau sempat mampir di kios Asaldoe di Jl KH Agus Salim No 71A tempatnya sehari-sehari mangkal, maka kita akan menemukan jejeran barang-barang antik tempoe doeloe koleksinya. 

Apakah koleksi barang antik itu dijual? Gak semua untuk dijual, tapi kalau mahar sesuai, siapa pun bisa membawa pulang koleksi barang-barang kuno dan antik yang dia kumpulkan dari mana saja. Saya selalu menyempatkan mampir sekadar numpang ngopi atau istirahat di kiosnya yang seperti museum mini.

Selain itu Bang Bonick (sapaan akrabnya) juga dikenal sebagai aktivis kesejarahan dalam Komunitas Historika Bekasi, mulai dari sepeda ontel sampai foto-foto Bekasi lama miliknya sudah berkeliling Bekasi dipinjamkan kepada siapa pun yang memerlukan saat ada acara terkait kebekasian.
Iwan Bonick Saat Syukuran 1 Tahun Perjuangan Perpusjal Bekasi
Sajak ini ia posting di Facebook tanggal 30 Juli 2018, saya salin dan publish ulang sebagai arsip jika kelak kita mau kembali bernostalgia atau sekadar merenungi sajak yang ia lontarkan malam minggu lalu. Berikut selengkapnya sajak yang mungkin ia buat khusus untuk dipersembahkan dalam  acara ini.

Menyusun huruf
Merangkai kata
Membuat kalimat 
Walau mungkin tak bermakna

Kala saat tak disengaja
Tampaklah bentuk di sudut mata 
Terlihat wujud di kolong meja
Terkadang terselip di antara meja
Tempat mengasikkan tetaplah di atas meja

Bila dia sendiri tak ada teman 
Tak berarti rasanya diri 
Kawannya pun sendiri 
Hampa dan kosong

Suatu waktu dalam satu hari
Kita melihatnya 
Bergeraklah menghampirinya
Lalu sentuhlah 
Kita belai 
Kita rayu
Cumbulah dia 
Dengan rasa, karsa, cipta dan cinta

Kita bantu mencari temannya
Kita bimbing menemui temannya
Karena Mereka saling menanti 
Potlot dan kertas putih
Sudah lama mereka berteman
Sudah lama mereka berkawan

Maka
Menulislah apa yang bisa kita tulis
Menulislah apa yang ingin kau tulis
Menulislah selagi bisa menulis
Menulislah tentang apa saja

Tak peduli ada yang membaca atau pun tidak 
Tapi nanti akan menjadi yang dinanti
Setelah kita mati 
Dan mereka menjadi berarti

Kp Teluk Angsan Bekasi. Sabtu Wage 28 Juli 2018

Sajak Bang Iwan Bonick Saat Syukuran 1 Tahun Perpusjal Bekasi
Dalam banyak acara, Iwan Bonick memang telah sering melontarkan puisi-puisi, baik karya sendiri mau pun karya orang lain. Ekspresinya saat membacakan puisi bisa mengingatkan kita pada Rendra Sang Burung Merak. Kadang suaranya melembut, kadang berteriak lantang menjiwai setiap bait sajak.

Lanjutkan terus karya dan kreasinya Bang Bonick, kali aja nanti puisi-puisi dan sajak karyamu dapat dibukukan sebagai salah satu potret perjalanan Bekasi dari waktu ke waktu dalam bentuk puisi, sajak atau lainnya... amin.

Salam.

Sekadar Mengingat Episode Kecil Dalam Kenangan

Sekadar Mengingat Episode Kecil Dalam Kenangan
Ibu dari 3 orang anak ini bernama Wahyu Nursanty. Sekian tahun lalu, setahun setelah dia lulus dari SMAN 1 Makassar, kami (total berjumlah 203 orang) kemudian dipersatukan dalam bendera "Eksekusi 95" di Kampus Merah Tamalanrea. Singkat cerita, sekitar tahun 2002 saya dengannya berangkat (masing-masing) ke Jakarta dan memulai karir yang berbeda dengan teman-teman "Eksekutor" lainnya.
Kemarin saat menikmati macet di jalur Tol Japek (Jakarta - Cikampek) menuju Bekasi saya iseng menulis sedikit cerita tentangnya yang kini berdomisili di Bandung. Ide yang begitu saja muncul setelah statusnya melintas di lini masa Facebook. Hanya sekadar catatan ringan tentang kesan-kesan dan sedikit ingatan yang terlintas. Alhamdulillah dia senang menerimanya dan meminta untuk ditambahkan.
Gak ada pesan sponsor, dia bilang tulis saja, tambahkan lagi, lumayan buat kenang-kenangan saat masa "revolusi fisik".

Baiklah, here we go...
---
Saya memanggilnya Yayu' kadang juga Santi, tapi tidak pernah Wahyu. Sekitar akhir tahun 2002 lalu, kami berdua berada dalam daftar 11 nama yang harus ke Jakarta untuk meneruskan proses rekrutmen pekerjaan yang dianggap "keluar" dari habitat keilmuan yang sama-sama kami pelajari di Kampus Merah Tamalanrea.
Iya, cuma 11 orang yang dinyatakan lulus setelah melewati 4 kali ujian dengan jarak sekitar sekian hari sampai seminggu untuk setiap kali test-nya. Mulai dari TPA (Test Potensi Akademik), Psikotest yang alhamdulillah ada snack dan kopinya, lalu test kesehatan dan olah raga ditambah lagi ujian terakhir: wawancara. Sebenarnya ada juga ujian yang tidak tercantum, yaitu ujian kesabaran dan harap-harap cemas menunggu pengumuman hasil dari 4 test tersebut hahaha.

4 Macam Ujian Yang Bikin Singit

Test pertama, TPA (Test Potensi Akademik) dilaksanakan di IKIP Petarani Makassar, atau yang sejak tahun 1999 berubah menjadi UNM (Universitas Negeri Makassar), saat itu UNM memang sering menjadi tempat berbagai ujian rekrutmen dll untuk umum.
Sepertinya sehari sebelum test, Yayu sempat datang dan ikut berkumpul sekadar "say hello" kepada saya dan teman-teman di sebuah rumah di Jalan Badak. Mungkin juga Yayu datang untuk memeriksa persiapan untuk ujian besoknya. Jadilah kami, kurang lebih sekitar 10 orang saat itu berkumpul belajar bersama membahas kira-kira soal apa yang akan keluar.
Menjelang sore kami bubar dengan alasan masing-masing. Yayu pulang atau pergi bersama sebagian teman untuk membeli perlengkapan untuk ujian, saya tidak ingat detailnya. Malamnya, saya tidur sekitar jam 3 malam di rumah itu, setelah asik bermain kartu bersama teman-teman sekadar pengisi ngobrol dan mengusir bosan. Malam itu saya tidak ke Pantai Losari untuk mengamen, bukan karena besok mau ujian, tapi karena ingin menghabiskan malam bersama teman-teman yang sudah jarang kumpul.
Rumah di Jalan Badak itu seperti "safe house" buat teman-teman dari daerah yang berkunjung ke Makassar. Saat itu saya menjadi penghuni tetap dan "care taker" sekaligus satpam di rumah tersebut. Rumah yang sering dijadikan alamat sekretariat segala macam kegiatan, rumah yang bersejarah dengan segala suka dukanya.
Pagi hari di UNM, sebelum mengikuti test TPA, saya dan teman-teman sepakat mengumpulkan uang lalu disimpan di sebuah tempat. "Siapa yang dapat menyelesaikan test terlebih dahulu dapat mengambil uang tersebut dan memilikinya." salah seorang dari kami mengajukan ide, seakan-akan ujian TPA belum cukup memacu adrenalin. Entah siapa, saya lupa pencetusnya, tapi sekarang saat mengingatnya kembali, saya suka dengan idenya itu. :D
Soal taruhan itu Yayu tidak terlibat, sepertinya pada hari itu saya tidak bertemu dengannya. Atau jangan-jangan dia datang ke Jalan Badak seusai ujian TPA? Ingatan saya tentang kedatangannya sehari sebelum ujian di Jalan Badak itu bisa jadi saya yang salah ingat jika ternyata ia datang justru setelah ujian TPA. Biar dia sendiri yang jawab, saya agak sulit menyusun ingatan lama ini :D


papan ujian clipboardKembali ke soal taruhan, siapa yang menang dan berhak mengambil semua uang yang telah kami kumpulkan? Soal ini saya juga lupa, seandainya saya yang menang mungkin saya akan mengingatnya. Yang saya ingat malahan bagaimana saya menghabiskan waktu agak lama karena tidak membawa alat pengalas kertas untuk ujian. Saat itu saya menggunakan kartu SIM untuk mengalasi kertas ujian agar tidak robek atau berlubang saat saya menghitamkan jawaban dengan pensil 2b. Gak modal banget sih, berapa sih harga papan ujian clipboard sot? -__-
Sekian hari berlalu hingga hari pengumuman hasil test TPA, saya dan teman-teman bersama-sama melihat pengumuman hasilnya di sebuah kantor di Jalan Ahmad Yani seberang kantor Walikota Makassar. Saya tidak terlalu berminat berdesakan mencari nama saya di papan pengumuman. Setelah salah seorang teman memberi tahu bahwa saya lulus, barulah kemudian saya mencoba memastikannya sendiri. Dari situ saya tahu, saya dan Yayu lulus untuk melanjutkan ujian berikutnya. Ok, gak menang taruhan, tapi lulus ujian, saya kira itu cukup menyenangkan yah :)
Dilanjut dengan psikotest, saat psikotest ada seorang peserta yang tertangkap oleh pengawas psikotes telah mengerjakan soal sebelum diperintahkan. Pengawas memberinya peringatan keras, entah kemudian memberinya lembar jawaban baru atau disuruh menghapus lembar jawabannya saya kurang tertarik karena sibuk memikirkan nasib, toh setelah insiden kecil itu ujian tetap dilanjutkan dengan beberapa kali coffe break.
Di kemudian hari saya mencoba mencarinya saat tes kesehatan, tapi sepertinya perempuan cantik yang tertangkap mengerjakan soal lebih dahulu itu tidak lulus dalam ujian psikotest beberapa hari lalu. Padahal ada yang mau saya tanyakan *ah alasan saja ini* :D
Yayu pastinya hadir dalam ujian psikotes ini, tapi entah kenapa saya gak ingat, atau mungkin otak saya sudah pingsan dihantam oleh beragam soal psikotest semacam Test Pauli, Wartegg Test, tes grafis/menggambar orang, Test Baum (menggambar pohon), DISC/Papikostik dan semacamnya.
Kemudian setelah itu, kami ikut test kesehatan dan olah raga di dalam kawasan pelabuhan. Bagaimana dengan Yayu? Saat sebelum lari keliling lapangan kontainer saya sempat dengar panitia memberi dia pesan agar tidak perlu memaksakan diri mengingat dia sedang hamil 4 bulan anak pertamanya. Sebelumnya saya sama sekali tidak tahu soal itu. Saya? Alhamdulillah masih singset, belum "hamil" seperti sekarang 😆

Beberapa hari kemudian, kami (13 orang yang tersisa) lanjut lagi mengikuti wawancara sebagai ujian terakhir. Yayu memberitahu saya apa saja yang ditanyakan saat wawancara, ia menekankan agar saya hapal dengan pasti tahun-tahun kelulusan dan menjawab dengan cepat setiap pertanyaan, jelas ia lebih siap dari saya dan tahu apa yang ia lakukan.
Hasil test wawancara tidak diumumkan secara lokal, tapi akan tercetak dalam surat kabar nasional. Saya lupa surat kabar apa, dan saya mendapatkannya sudah agak malam. Bersama partner mengamen saya, saya pergi ke penjual koran di sekitaran jalan Arief Rate, setelah meminta izin untuk sekadar membaca pengumuman dengan janji kalau ada nama saya maka surat kabar itu akan saya beli, kalau tidak ada saya akan beri uang sekadarnya untuk membaca 1 halaman. Akhirnya surat kabar itu saya beli karena saya menemukan nama saya dan Yayu dalam pengumuman itu.
Mengapa surat kabar nasional baru bisa didapatkan agak siang di Makassar? Konon saat itu hanya ada 1 penerbitan koran skala besar, dan penerbit itu akan mencetak surat kabar nasional setelah surat kabar lokal produknya, sebuah koran paling terkenal bahkan mungkin hingga sekarang di Sulawesi Selatan. Karenanya surat kabar nasional baru bisa didapatkan setelah agak siang. Mungkin itu masalah prioritas atau manajemen bisnis saja sih. Entah benar atau tidak, demikian lah yang saya percaya saat itu.
Internet memang sudah ada, tapi di tahun 2002 saya belum akrab dengan hal seperti itu. Handphone? Saya tidak punya, harganya lebih mahal dari gitar yang sering saya bawa.

Saya lupa dalam acara apa, tapi sebelum keberangkatan Yayu ke Jakarta saya dan teman-teman berkunjung ke rumah orangtuanya di Jalan Tinumbu memenuhi undangan. Samar dalam ingatan saat berkumpul di sana, ibunya Yayu memberi motivasi tentang merantau. Saya menghargai perhatian beliau sebagai perhatian seorang ibu kepada anaknya, sampai saat saya mengaku bahwa Jakarta bukan kota asing bagi saya, ke Jakarta saat itu bagi saya bukan merantau tapi pulang. Doa terbaik untuk beliau.
Yayu menanyakan banyak hal soal bagaimana nanti kehidupan di Jakarta, persiapan apa dan lain sebagainya. Tapi saya lebih sibuk dengan pikiran-pikiran seperti apa Jakarta setelah saya tinggal pergi sejak lulus SMA. Membayangkan kembali tinggal di Bekasi tempat kelahiran saya dan semacamnya.
---
Setelah di Jakarta kami ternyata langsung terpisah karena beda "sawah ladang" sehingga jarang sekali bertemu. Hingga terakhir Yayu bersama keluarganya datang ke rumah saya di Bekasi sekitar tahun 2016. Seingat saya, total hanya sekitar 2 atau 3 kali kami bertemu dalam jangka waktu 14-15 tahunan di Jakarta.
Cerita panjang mengalir, entah kenapa saya menangkap kesan seperti ada kesamaan pola. Yayu resign dan memilih jalan hidupnya bersama sang suami, meninggalkan begitu saja karir yang telah ia bangun sekitar 12 tahun di Jakarta. Begitu juga saya, sekitar tahun 2012 saya juga resign dari profesi yang menjadi jalan "kepulangan" saya ke Pulau Jawa ini 16 tahun lalu. Setelah sebelumnya mengira tidak akan pernah kembali lagi.
Langkah yang kami tempuh ini tampak seperti bunuh diri karir dalam pandangan orang lain. Masuk akal, karena saya dan Yayu saat itu sudah mencapai posisi "middle manager" dengan pendapatan yang lumayan. Buat kami? ada alasan yang kuat di balik keputusan itu.
Dalam percakapan kami, selain mengenang banyak hal juga terungkap prioritas-prioritas hidup yang sudah berubah, dan pada akhirnya mengantar kami berdua memilih jalan yang sama; resign dan memulai profesi baru yang lebih banyak memiliki waktu luang untuk keluarga.
Demikianlah, saat usia semakin dewasa, prioritas hidup akan berubah seiring perubahan situasi dan kondisi, semua memiliki alasan dan tujuan. Kami, (saya dan Yayu) sedikit beruntung karena memiliki kesempatan atau peluang untuk mengubah jalan cerita hidup kami, dan kami tidak ragu untuk mengambil peluang itu, walau mungkin dalam skala ekonomi apa yang kami lakukan sangat berpengaruh pada penurunan penghasilan, tapi bukan kah rezeki sudah ada yang mengatur?. :)
Memiliki waktu lebih banyak untuk berkumpul bersama keluarga bagi kami sebuah kemewahan, itulah alasan utama yang membuat kami mengambil keputusan untuk sedikit mengubah jalan cerita hidup ini. Semoga itu lah yang terbaik, setidaknya untuk keluarga kami masing-masing.

Salam :)

*Tulisan ini jadi panjang. Aslinya hanya 5 paragraf pendek yang saya tulis lalu saya kirim melalui WhatsApp Mesenger kepada Yayu, tapi dia meminta untuk diperpanjang semampu ingatan saya*

Lamunan Kopi Sore Dan Mata Indah Bola Pingpong

Lamunan Kopi Sore Dan Mata Indah Bola Pingpong

Mungkin kelak orang akan paham betapa mewahnya memiliki waktu untuk diri sendiri, dan kesendirian pun tidak selamanya berarti kesepian. Seperti sore ini, saat matahari mulai dipeluk langit jingga di ufuk barat. Surya semakin tenggelam menyisakan gelap di atas langit Tarumajaya Bekasi.
Entah berapa lama kesendirian ini bisa kunikmati, rona temaram lampu yang selalu menyala kini semakin  jelas, pertanda magrib akan segera tiba.

Sengaja aku datang lebih awal dari waktu yang disepakati agar bisa menikmati suasana sore lebih pribadi. Ternyata tidak selama yang kuduga. Seorang tukang pos dengan senyum ramah mendatangiku lalu duduk berhadapan di kursi besi kafe, dibuka tasnya lalu memberikan sebuah surat , "surat dari pujangga" katanya berusaha menjelaskan. Penjelasan yang tidak berarti, karena aku malah tambah bingung mendengar penjelasannya itu. Baiklah, sebut saja pujangga yang tidak kukenal.

"Aku tak lagi menemukan ibu-ibu yang mencari kutu di kepala" ujarnya putus asa. Kemudian ia memberikan pula 2 buah kantong plastik. Tatapan matanya begitu lekat dan tampak akrab, tapi aku gagal mengenali wajah tukang pos yang jelas lebih muda dari aku ini.

Aku tak tahu musti berkata apa, senyum ramah dari wajah lelah yang putus asa itu jelas telah berhasil mengunci logika untuk sekadar bertanya, siapa pengirim semua ini?. Kemudian tukang pos itu meninggalkanku tenggelam dalam banyak pertanyaan yang menggantung. Bergegas langkahnya pergi, postur tubuhnya tegap seperti seorang olahragawan itu berjalan menjauh dan hilang di keramaian sore.

Setelah kubuka, tas plastik kresek hitam berisikan kotak-kotak nasihat dan satu plastik lagi yang transparan berisikan naskah adegan-adegan sebuah drama atau sandiwara, setidaknya demikian yang aku duga. Dan telah berkali-kali aku baca surat berisi puisi itu tanpa paham apa yang dimaksudkannya. Mungkin aku sudah terlalu tua untuk dapat memecahkan rangkaian kode-kode berbentuk kalimat sastra yang pastinya berisikan makna, entah apapun itu. 
"Atau mungkin belum saatnya" batinku, seperti mewakili suara dari surat yang misterius ini.

"....Kalau kau sudah siap, kepakkan sayapmu
Aku menunggu di balik beribu awan itu
Meski tak sempat bicara rindu pada angin 
yang mungkin bisikkan cinta hanya sampai pada daun telingamu
Tak apa!
Belum saatnya kau tahu sayang."

Aku tersenyum kecil, "Yah antara belum saatnya atau sudah kadaluarsa" batinku. Kulipat kembali surat itu dan kumasukkan ke dalam tas. Dua plastik lusuh dan misterius itu kusimpan di bawah meja kafe agar tidak mengganggu pemandangan. Matahari sudah terbenam, lampu-lampu penerang jalan yang menghias berjajar mulai menyala mewarnai kanvas kehidupan yang tidak pernah beristirahat. Di lain sisi, lampu-lampu kendaraan dan sesekali bunyi klakson melontarkan berbagai cerita yang meramaikan sepiku. Yah aku sendirian, tapi bukankah semua juga sendirian?.

Pelayan kafe mendatangiku, kupesan kopi Arabika Java Preanger untuk menemaniku menyambut malam yang masih muda.
"Masih ada waktu menikmati kesendirian sebelum Ratna datang" gumamku sambil memeriksa jam di ponsel.

Sayup petikan gitar lagu Now and Forever - Richard Marx terdengar, seperti menambah kekuatan bagi kenangan-kenangan itu untuk mencoba menerobos pikiranku. Ini pasti konspirasi alam, lagu itu seperti sengaja diputar untuk menemaniku menunggunya.

Berbagai kenangan-kenangan mulai hadir, beberapa yang masih melekat kuat langsung hadir lengkap dengan senyum manis dan tatapan berbinar dari mata indah bola pingpongnya. Apalah dayaku, kenangan-kenangan itu adalah bagian kecil dari masa lalu yang paling menyenangkan untuk diingat kembali dari sebagian besar kenangan yang kurang menyenangkan.

"Sudah lama?" tanyanya membubarkan lamunanku.
"Eh, yah, baru, ini kopiku saja masih penuh" jawabku gugup.
"Maksudku sudah lama melamunkan aku?" tanyamu kembali.
"Hahahahaha" hanya tawa yang keluar setelah sempat sekian detik tertegun mendengarnya menanyakan itu. 
"Kamu sendiri sudah lama duduk di situ?" tanyaku berusaha mengendalikan perasaan.
"Yah, lumayan, gak tega merusak lamunanmu hehehe" jawabnya sambil memanggil pelayan dan kemudian memesan Thai Tea untuk menggantikan teh melati kesukaannya.

Aku lebih banyak diam mendengarkan, cerita-ceritanya yang mengalir tenang tanpa henti seperti ombak Pantai Indrayanti dan sebagian besar Pantai Utara Jawa lainnya. Ceritanya mulai dari bisnis rumah makan seafood yang ia rintis, penginapan, percetakan hingga rencana-rencana ke depan lancar terucap. Semua terencana dan tertata dengan rapih. Aku menyimak, hanya memberi komentar saat ditanyakan saja.

Teringat cerita dari adiknya tentang keinginannya untuk tinggal di pantai atau danau, di mana pun yang ada unsur air. Kini impian itu sudah mewujud menjadi kenyataan, hidup memang akan sangat baik pada beberapa orang namun juga dapat sangat kejam. Untuk Anna aku tidak bisa memberikan opini tentang jalan hidupnya, lebih 20 tahun kami terpisah dan kini skenario kehidupan kembali mempertemukan kami sebagaimana adanya saat ini. 

"Suamimu mana?" tanyaku ketika ia mulai bertanya tentangku.
"Sedang bertemu suplier onderdil jetski di Ancol, kalau cepat selesai dia akan menyusul kita" jawabnya sambil menikmati Thai Tea beraroma rempah.
"Kalau begitu aku akan pulang sebelum dia sampai hahaha" sahutku cepat.
"Loh kenapa? aku sudah sering kok cerita tentang kamu, gapapa kok".
"Aku gak akan bisa menyembunyikan cemburuku kalau bertemu suamimu, hahaha".
"Ah kamu itu, biasa saja kenapa sih" ketus  tanggapannya tapi tidak ada intonasi marah. 

Lalu aku ceritakan tentang apa yang terjadi sebelum ia datang. Mengenai puisi dan 2 kantong plastik misterius dari tukang pos yang juga tak kalah misteriusnya. Aku tahu, Anna bukanlah tipe kutu buku yang gemar membaca, tapi ia cukup akrab dengan berbagai jenis bacaan dan sepanjang yang kutahu, ia lebih suka film.
"Aku suka nasihat-nasihat ini, sudah ada gambaran tentang siapa yang membuatnya?" tanyanya sambil membaca satu-persatu kertas nasihat yang tersimpan dalam kotak-kotak terbuat dari triplek sebesar tempat tisu.
"Entahlah, aku belum mau memikirkannya saat ini". Jawabanku membuatnya mengangguk dan tersenyum simpul.
"Boleh buatku saja? Kamu sepertinya tidak butuh nasihat-nasihat ini deh" ucapnya tanpa mengalihkan pandangan ke kertas-kertas yang dengan cepat ia lihat sekilas satu per satu. 
"Hmmm boleh, tapi aku masih butuh nasihat kok, bagaimana kalau kamu yang membacanya lalu nanti kalau aku butuh nasihat aku akan menghubungi kamu dan kamu membacakannya untuk aku"
"Kok terdengar seperti modus yah? hehehe, yo wis ini buat aku saja" jawabnya lirih tanpa mengalihkan pandangan.

Malam semakin larut, kopiku yang sudah mulai dingin masih enggan kutuntaskan. Aroma kopi dan semua kenangan itu masih tersimpan rapih walau sudah sekian tahun berlalu. Lagu Doping dari Garux Band yang kerap kunyanyikan di ujung gang dekat rumahnya saat kami remaja sudah berganti lagu Selamat Tinggal Masa Lalu dari Five Minutes.

"Anna aku sedang butuh nasihat" tulisku melalui aplikasi perpesanan WhatsApp.
"Kalau butuh nasihat dari kotak nasihat aku akan fotokan, kalau mau dengar suaraku aku rekam voice chat, kalau ingin ngobrol nanti saja, aku masih sibuk urus catering, ba'da zuhur saja kita ngobrol :)"
"Siap ndan :) abis zuhur aku WA lagi yah".
"Ok, ttyl*".
Sejenak kupandangi foto profil WhatsApp-nya. Anna yang ayu dan suaminya yang gagah. Aku pernah melihat wajah itu... senyum ramah itu... aku tidak akan lupa tatapan akrab si tukang pos pengantar surat misterius itu. []

---

*ttyl - talk to you later
Inspired by: belantarakoma.blogspot.com
Foto: kak-dean.blogspot.com


Sedikit Catatan Tentang PUASA

Sedikit Catatan Tentang PUASA
Menurut beberapa sumber, kata puasa dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Pali dan Sansekerta yaitu Upawasa (Upavasa) atau Uposatha (Upavasatha). Upawasa atau  terdiri dari 2 kata, yaitu Upa dan Wasa (Vasa). Upa artinya dekat atau mendekat dan Wasa (Vasa) artinya Tuhan atau Yang Maha Kuasa. Jadi puasa atau Upawasa dalam pengertian bahasa bermakna mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Saudara-saudara kita yang memeluk agama Hindu masih menyebut puasa dengan upawasa hingga saat ini. Ok, sedikit saya bahas tentang upawasa dalam agama Hindu berdasarkan beberapa referensi. Kalau ada yang salah mohon dikoreksi :)

Dalam pemahaman pemeluk Hindu, upawasa bukan sekadar menahan rasa haus dan lapar, tidak hanya untuk merasakan miskin dan kelaparan, menurut yang saya baca juga bukan untuk mencari pahala dan janji surga. Tujuan utama upawasa adalah untuk mengendalikan nafsu indrawi, mengendalikan keinginan dan kebutuhan fisik. Panca indra harus berada di bawah kesempurnaan pikiran, dan pikiran berada di bawah kesadaran budi. Jika Panca indra terkendali dan pikiran terkendali maka hal itu dipercaya akan dekat dengan kesucian, mendekat dengan Tuhan.

Jika dalam Islam mengenal puasa sunah seperti puasa Senin Kamis dll, demikian pula dalam kepercayaan Hindu, upawasa juga ada yang tidak bersifat wajib. Menurut yang saya baca, upawasa yang tidak wajib ini diserahkan kepada masing-masing individu apakah akan ia lakukan pada siang hari saja ataukah sehari penuh.

Sedikit Catatan Tentang PUASA
Sedikit obrolan saya dengan teman mengenai puasa

Jika saat bulan Ramadan ini ada saudara-saudara kita umat Hindu ada juga yang berpuasa, kemungkinan besar mereka sedang melakukan upawasa bebas tidak wajib seperti yang disebut di atas. Mereka akan memulai upawasa sejak fajar sama seperti kita kaum muslimin, namun bisa jadi upawasa mereka hingga fajar keesokan harinya, karena menurut kepercayaan Hindu pergantian hari adalah fajar, namun bisa juga mereka melakukan ibadah upawasa setengah hari saja dan berbuka pada saat senja.

Jika ada teman yang menganut agama Hindu tanyalah mereka soal upawasa, mereka seringkali melakukannya. Begitu juga dengan teman Kristiani, mereka juga kerap melakukan puasa, mulai dari puasa 8 jam, 1 hari, 1 hari 1 malam, 3 hari puasa total dan seterusnya, ada yang tidak berpantang dengan air putih, ada pula yang tidak makan dan minum. Tujuan puasa bagi kristiani mungkin dapat dijelaskan dalam potongan ayat "... kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa." Imamat 16:29.

Agama Buddha juga mengenal puasa, mereka menyebutnya Uposatha (Upavasatha). Rangkaian pelaksanaan ibadah uposatha dimulai pada pagi hari dengan berniat akan melatih diri dengan menjalankan praktik atthasila (delapan sila) baik dalam bimbingan seorang bhiksu atau tidak. Sebelum memasuki tengah hari (jam 12 siang) masih diperbolehkan untuk makan dan minum, kemudian mulai tidak makan dan minum sejak dari jam 12 siang sampai fajar di esok harinya.

Puasa Ramadan dalam pandangan Islam sebagaimana dipahami adalah sebuah kewajiban kecuali bagi yang sakit, sedang berpergian jauh dan suci dari nifas dan haid (bagi perempuan). Di balik kewajiban ini tentu banyak hal yang patut kita pelajari, baik dari Al Quran dan hadis-hadis untuk dapat lebih memahami apa tujuan puasa. Sedikit tentang tujuan puasa sependek yang saya pahami pernah saya catat di postingan di bawah ini berjudul: Lapar mengajarmu rendah hati selalu.

Baca juga: Lapar mengajarmu rendah hati selalu 

Dari catatan ini kita sama-sama pahami bahwa puasa bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Lebih jauh lagi merunut asal muasal agama-agama yang dianutnya maka baik agama-agama dari timur dan barat mengenal puasa sebagai salah satu syariat atau ajarannya. Meski berbeda dalam pelaksanaannya, jika diselidiki lebih jauh tujuannya tidak jauh berbeda, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. []

“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung”. [HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu].

7 Ramadan 1439 H
23 Mei 2018


Belajar Puasa Dari Pemburu Yang Kemalaman Di Hutan

Belajar Puasa Dari Pemburu Yang Kemalaman Di Hutan

Konon ada seorang pemburu yang sedang kurang beruntung. Sejak pagi benar ia meninggalkan rumah, namun demikian ia tak berhasil mendapatkan hewan buruan hingga sore saat matahari terbenam. Menyadari hari akan gelap, secepatnya ia berbalik mencoba pulang ke kampungnya. Namun sayang ia terlalu jauh masuk ke dalam hutan. Tanpa perbekalan yang memadai ia terus mencoba menyusuri jalan yang ia yakini menuju kampungnya dengan penerangan yang semakin redup. 

Putus asa melanjutkan perjalanan akhirnya ia berhenti, ingatannya tertuju pada pohon besar yang memiliki batang menjorok ke telaga, pohon yang sering ia gunakan untuk mengintai hewan buruan dan juga memancing ikan. Berdasarkan ingatan, lokasinya tidak jauh dari ia berada kini. Ia yakin akan dapat berada di atas pohon itu sebelum obor darurat yang ia buat padam dan gelap benar-benar akan membutakan pandangannya. 

"Tak ada waktu lagi, aku harus cepat naik ke atas pohon itu dan bermalam di sana." Tekadnya sudah bulat, pohon besar itu hanya satu-satunya solusi terbaik yang dapat ia pikirkan di antara suara-suara hewan malam yang semakin ramai mengisi gelap. Dengan nafas teesengal-sengal akhirnya ia berhasil memanjat pohon dan mencoba mencari dahan yang nyaman untuk beristirahat. Malam semakin rapat menyelimuti  hutan, pantulan bulan di permukaan telaga yang tenang sedikit bisa menghiburnya.

Kesiagaannya tidak menurun, ia sadar mungkin saja akan ada ular yang dapat mengganggunya, atau jika ia sampai tertidur ia dapat terjatuh lalu menjadi mangsa hewan-hewan buas. Mengingat itu dia mencoba mencari dahan yang lebih menjorok ke telaga, agar jika ia terjatuh setidaknya ia akan terjatuh ke air.

Gendewa panahnya dikaitkan ke dahan pohon, pedang tetap ia sandang, endong anak panah dan pisau ia atur agar selalu dalam jangkauan. Jika ini malam terakhir ia hidup, maka ia akan pastikan perlawanan yang sengit akan ia lakukan demi bertahan hidup.

Sebagai seorang pemburu, ia merasa kali ini dialah yang menjadi obyek buruan, di balik gelap pepohonan dan semak di bawah pohon yang ia tempati, ia menduga sekian pasang mata hewan buas tengah mengintai. Ia tidak boleh lengah atau tertidur walau sekejap. 

Dari tempatnya berlindung, dengan kewaspadaan tinggi ia merasakan dedaunan yang tua berguguran, jatuh ke telaga dan menimbulkan riak gelombang. Gelombang-gelombang kecil yang mengingatkannya pada anak istrinya di rumah.

"Maafkan aku yang pasti telah membuat kalian gelisah karena tidak pulang malam ini" gumamnya dalam hati.

Tiap kali kantuk menyerang ia mengusap wajahnya yang lembab terkena embun. Setelah yakin suasana aman ia memetik daun dan menjatuhkannya ke telaga. Daun itu meluncur perlahan, kadang tertiup angin sebelum jatuh ke telaga dan menimbulkan riak gelombang kecil. Setiap daun yang ia jatuhkan seakan melucuti berbagai pikiran-pikiran yang membelenggunya saat itu.

Tidak ada bekal makanan, tak ada teman bicara, sendirian dalam hutan gelap, tidak dapat tertidur walau lelah musti ia tahan. Ketakutan-ketakutan sedikit demi sedikit berhasil ia tundukkan, walau secara pasti ia tidak dapat menjamin keamanan dan keselamatan dirinya entah sampai kapan. Lapar haus, lelah ia tanggung dalam diam, terjaga ia semalaman menundukkan semua kebutuhan lahiriah demi sebuah kesadaran dalam kewaspadaan yang tinggi.

Beberapa daun kembali ia petik dan ia lepaskan perlahan. Air telaga menyambut dedaunan yang jatuh dengan lembut, gelombang-gelombang air yang diciptakan dengan cepat tersapu riak akibat angin atau hewan air. Seperti gelombang kehidupan yang fana, hilang tidak berbekas di permukaan zaman yang terus berubah.

"Daun-daun yang gugur sebelum waktunya" ucapnya dalam hati. Setiap helai daun mengantarnya pada perenungan akan jalan hidup. Paradoks hidup yang kurang lebih sama dengan jalan hidupnya. Seorang pemburu yang hidup dengan membunuh binatang buruan, yang sebenarnya adalah makhluk hidup lain, namun terpaksa ia lakukan untuk menyambung hidup keluarganya.

Ia petik lagi beberapa daun, ia remas dedaunan itu menjadi satu kemudian ia lempar ke telaga di bawahnya. . 
"Mungkinkah daun-daun yang lain saat ini sedang ketakutan sepertiku? Takut untuk dipetik? Seperti hewan buruan yang masih mencoba berlari walau beberapa anak panah sudah melukainya? Mungkin daun-daun inipun merasakan sakit saat aku petik dan kuremas... Aku seharusnya tidak boleh menebar ketakutan, sehingga aku disiksa oleh ketakutan yang sama seperti saat ini". 

Malam semakin tua saat ia menggigil kedinginan karena angin berkabut lembab telah membasahi pakaiannya. Ufuk timur telah merona merah, tanda matahari yang telah semalaman ia nanti akhirnya datang.

"Istriku, jika aku pulang dengan selamat, maaf aku tidak membawa hasil buruan, hari ini adalah hari terakhir aku menjadi pemburu. Daun-daun dan pohon ini telah melindungi nyawaku malam ini. Aku ingin menjadi petani saja" kerinduannya mengusir segala kantuk dan penat yang tersisa. 

Seiring matahari terbit, ia telah menjadi pribadi baru yang terlahirkan kembali, setelah berhasil mengalahkan semua rasa takutnya. Ia pulang dengan membawa endong panah yang masih penuh. Hewan-hewan yang biasanya berlari melihatnya kini seakan mengucapkan selamat dan mengantarnya pulang ke kampung di mana anak istrinya bahkan kerabat desanya telah gelisah menanti kepulangannya.

4 Ramadan 1439 H
20 Mei 2018


Keutamaan Sahur, Walaupun Hanya Dengan Seteguk Air Putih

Keutamaan Sahur, Walaupun Hanya Dengan Seteguk Air Putih

“Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun hanya minum seteguk air...” (HR. Ahmad dan dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 3683).

Hadis di atas sudah cukup menjelaskan betapa Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan sahur. Ya, walaupun hanya dengan seteguk air, terpenuhi sudah syarat minimal bagi kita untuk melaksanakan sunah sahur sebelum puasa. 

Kita tak pernah tahu berapa banyak orang yang memang hanya sahur dengan seteguk air. Entah karena kefakiran hingga hanya seteguk air yang ia miliki, atau hanya segelas air yang ia butuhkan untuk memenuhi anjuran sunah dari Nabi yang ia cintai, ia tidak punya kebutuhan dan alasan lain dari sahur kecuali memenuhi anjuran dari Nabi Muhammad SAW.

Teman saya pernah bilang, bangun sahur itu juga berarti sebagai penguat niat berpuasa Ramadan. Bagi yang belum sempat niat berpuasa sebelumnya maka saat sahur itulah kesempatan dia untuk menyatakan niatnya serta memantapkannya. Karena menurutnya tidak sah puasa Ramadan jika tidak diniatkan pada malam hari sebelum puasa.

Dari 4 imam mazhab, hanya Mazhab Hanafiyah yang menyatakan tetap sah puasa Ramadan seseorang jika niatnya diucapkan walau setelah matahari terbit, tapi maksimal sebelum zuhur (tergelincirnya matahari) selama ia belum melakukan  hal-hal  yang  membatalkan puasa. 

Selain itu, Mazhab Syafi'i, sebagai mazhab utama yang dijadikan rujukan bagi kebanyakan warga Indonesia juga menetapkan bahwa niat puasa sebulan penuh hanya berlaku untuk puasa hari pertama, seseorang harus meniatkan kembali setiap malamnya sebagai salah satu syarat sahnya puasa.

Nah, jika malam hari setelah berbuka atau tarawih belum meniatkan puasa, untuk amannya bisa dilakukan saat sahur. Mengingat kedudukan penting dari sebuah niat dalam ibadah, maka mungkin ini pula yang membuat kegiatan sahur menjadi begitu dianjurkan.

Kalau dari sudut pandang ilmu kesehatan, soal sahur dengan seteguk air putih ada khasiatnya atau tidak saya belum tau. Mungkin teman-teman yang paham ilmu gizi dan kedokteran nanti yang akan jelaskan :)  Intinya sih secara awam, makan sahur pastinya berguna untuk memberikan energi yang cukup bagi tubuh saat menunaikan ibadah puasa Ramadan pada siang harinya. 

Air jelas merupakan salah satu elemen yang sangat penting bagi tubuh manusia. Air berperan besar dalam menjaga semua fungsi di dalam tubuh agar tetap berjalan dengan semestinya. Karenanya untuk mencegah dehidrasi tubuh saat puasa saya kira sahur minimal seteguk air putih adalah anjuran atau sunah yang sangat baik untuk dilaksanakan.

Wallahu a’lam bish-shawabi
3 Ramadan 1439 H
Sabtu 19 Mei 2018






Bahas Santai Soal Istilah Ifthor dan Takjil

Bahas Santai Soal Istilah Ifthor dan Takjil

Istilah ifthor atau ifthar dan takjil atau ta'jil sudah terasa umum di telinga, padahal seingat saya sekitar akhir 90an zaman saya SMA istilah ini belum pernah saya dengar. Dari pemahaman umum yang saya tangkap makna ifthor dan takjil ini ada yang menganggapnya sama, ada yang menjelaskan bahwa keduanya berbeda makna tapi berhubungan.
Nah bagaimana sih sebenarnya makna istilah ifthor dan takjil ini? Saya hanya membatasi pembahasan ini hanya soal makna dan artinya dari segi bahasa saja yah bukan soal lainnya.

Ifthor / Ifthar


Mari sejenak perhatikan salah satu varian doa berbuka puasa yang cukup populer ini: "Allahumma laka shumtu,... wa ‘ala rizqika AFTHORTU" ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa ...dan dengan rezeki-Mu aku BERBUKA.

Kata afthortu dalam doa di atas diterjemahkan sebagai "aku berbuka puasa", kata Afthor(tu) dan ifthor memiliki makna yang sama yaitu berbuka puasa dengan makan atau minum yang merupakan rezeki dari-Nya. Jadi ifthor itu kegiatan membatalkan puasa, dalam hal ini berbuka puasa. Jika ditelusuri lebih jauh kata afthor(tu) dan ifthor berasal dari kata yang sama dengan fitri dalam kata IdulFitri. (Saya sudah pernah bahas soal sila baca di Perbedaan Fitri dan Fitrah ).

Jadi arti kata atau istilah ifthor atau iftar atau ifthar itu adalah lebih dimaksudkan pada kegiatan berbuka seperti dalam doa berbuka puasa di atas, bukan istilah pengganti pada jenis makanan seperti pemahaman saya sebelum mencoba memahami lebih jauh istilah ini.

Untuk lebih mudahnya ada istilah yang juga sudah populer di kalangan teman-teman pengajian yang disebut "Ifthor jama'i".  Ifthor jama'i sama artinya dengan "berbuka puasa bersama" atau yang sering disingkat "bukber". Penggunaan kata ifthor di sini sudah tepat karena berarti "kegiatan berbuka puasa" di tambah kata "jamai" yang berarti "berjamaah atau bersama-sama" sehingga dapat memperjelas pemahaman kita akan makna kata ifthor dengan lebih mudah.

Buka Puasa Ramadan Bahas Santai Soal Istilah Ifthor dan Takjil
Buka Bersama KABASA Ramadhan 1435/2014


Takjil / Ta'jil

Kata takjil atau ta'jil ini agak lebih sulit bagi saya untuk menjelaskannya dengan mudah. Alhamdulillah kata Takjil atau Ta'jil sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata Takjil dalam KBBI dijelaskan sebagai sebuah kata kerja yang berarti mempercepat (dalam berbuka puasa) silakan cek di https://kbbi.web.id/takjil

Penjelasan KBBI ini juga sesuai dengan hadis masyhur tentang menyegerakan berbuka puasa yang di riwayatkan oleh beberapa ulama hadis seperti Bukhari, Muslim, Ad Darimi Hadis No 1637, Hadits Malik No.562 dst dengan redaksi yang kurang lebih sama: “Laa yazaalu an-naasu bikhairin maa ‘ajjaluu al-fithra”, yang artinya “Terus-menerus manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” Kata di akhir hadis itu berbunyi ‘ajjaluu al-fithra yang diartikan menyegerakan atau memprioritaskan berbuka puasa.

Kata ‘ajjaluu dalam hadis itu bermakna sama dengan takjil yang berarti menyegerakan, kata al-fithra sudah kita bahas sebelumnya bahwa maknanya sama dengan ifthor, ifthar yaitu berbuka puasa, semakna dengan maksud kata fitri/fithri dalam kata aidulfithri yang ditulis dalam Bahasa Indonesia menjadi IdulFitri.

Jadi sudah jelas yah? Makna dari kata Takjil adalah menyegerakan atau memprioritaskan sedangkan arti kata ifthor adalah berbuka puasa. Dua kata ini akan sering ditemui bergandengan dalam banyak hadis karena merupakan keutamaan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Arti Istilah Ifthor dan Takjil sesungguhnya

Apapun istilahnya selama kita paham maksudnya saya kira tridak ada masalah dalam komunikasi :)
Selamat berbuka puasa dan berbagi kebahagian dengan berbagi makanan untuk berbuka puasa.

Wallahu a’lam bish-shawabi
2 Ramadan 1439 H
18 Mei 2018

Soal Ziarah Atau Nyekar Sebelum Ramadan

Soal Nyekar alias Ziarah Sebelum Ramadan
Makam Kakek Nenek di Bila Ugi Sabbang Paru Wajo Sulsel
Kenapa para orang tua dahulu menganjurkan kita sebelum berpuasa untuk ziarah atau nyekar ke makam keluarga?

Sependek yang saya pahami, kegiatan ziarah sebelum memasuki bulan Ramadan itu bukan untuk mengistimewakan waktu berziarah, tapi adalah bagian tidak terpisahkan dari rangkaian persiapan menyambut ramadannya. Nabi Muhammad SAW tidak mengatur secara khusus kapan waktu ziarah. Karenanya kita bebas mengatur sesuai kebutuhan, misalnya hari sabtu berziarah maka hari minggunya dapat digunakan untuk bersilaturahim kepada kerabat yang masih hidup. Demikian menurut saya hikmah mengapa tidak ada pengaturan kapan waktu yang dianjurkan untuk berziarah.

Tujuan dari ziarah utamanya adalah untuk mengingatkan kita bahwa dunia ini hanya sementara, segalanya akan ditinggalkan pada waktunya. Tegasnya "untuk mengingatkan pada akhirat" seperti dijelaskan dalam sebuah hadis tentang tujuan dari ziarah kubur. 

Ziarah itu selain bisa kapan saja dilakukan juga dapat dilakukan ke makam siapa saja,  namun jika dilakukan kepada makam keluarga atau orang-orang yang kita kenal saat hidupnya diharap akan dapat mengingatkan kita bagaimana saat almarhum hidup dan bagaimana saat ini, setelah akhirnya dikuburkan. Dengan begitu pelajaran yang kita dapatkan akan lebih mengenai sasaran. 

Sebagian orang tua juga menjelaskan tujuan berziarah juga untuk memohon maaf atas kesalahan-kesalahan kita dan mendoakan ahli kubur. Idealnya, sebelum memasuki bulan puasa kita disarankan untuk saling berma'afan, baik kepada keluarga yg masih hidup ataupun yang sudah tiada. Jika kepada yang masih hidup kita dapat saling meminta ma'af atau berma'af-ma'afan, namun jika kerabat tersebut sudah meninggal, menurut saya kita hanya bisa mengakui kesalahan-kesalahan kita dan mengikhlaskan segala apa yang telah terjadi antara kita dengan almarhum.

Berziarah seperti itu sebelum puasa, selain bertujuan membersihkan kuburan, mencabuti rumput liar dll,  idealnya diharapkan juga dapat membersihkan dan meluruskan niat kita sebelum benar-benar memasuki bulan Ramadan. Amiin.
Soal Nyekar alias Ziarah Sebelum Ramadan
Makam Kakek Nenek di Bila Ugi Sabbang Paru Wajo Sulsel
Soal istilah nyekar sendiri katanya berasal dari kata Bahasa Jawa "Sekar" yang berarti bunga. Tradisi nyekar ini dari kebiasaan menabur bunga (jenis bunga yang biasa digunakan kanthil, kenanga, dan mawar atau melati) ke kuburan kerabat yang didatangi. Tradisi ini terkait dengan tradisi dan budaya masyarakat yang tujuannya adalah semacam penghormatan dengan memberikan bunga dan agar ada aroma wewangian  untuk mengisi suasana. Soal tradisi ini saya kurang paham, selama tradisi ini tidak dimaknai macam-macam dan bermanfaat saya kira boleh-boleh saja dilakukan.

Mengenai adab saat berziarah sudah banyak yang mengulasnya, saya hanya sedikit mengulangnya agar saya sendiri ingat kembali. Antara lain:

Niat yang benar: Semua hadits tentang ziarah kubur menjelaskan hikmah dari ziarah kubur, yakni untuk mengambil pelajaran seperti di dalam hadits Ibnu Mas’ud : “Karena di dalam ziarah terdapat pelajaran dan peringatan terhadap akhirat dan membuat zuhud terhadap dunia”.

Untuk itu, berziarah kubur idealnya membuat kita dapat mengambil pelajaran bahwa terbatasnya usia atau umur manusia dan saat dikuburkan tidak ada harta ataupun apa yang dimiliki di dunia ini yang dibawa ke dalam kubur. Semuanya akan kembali sebagaimana terlahir tidak membawa apa-pun. Jasad terurai dan ruh akan dimintai pertanggungjawaban. Segala amalan ibadah sudah terputus kecuali 3 hal yang masih dapat terus mengalirkan pahala.

Mengucapkan salam dan doa sebagaimana diajarkan: “Salam keselamatan pada kalian para ahli kubur kaum mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang mendahului kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian, kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian”. [HR. Muslim 2301].

Tidak menginjak atau duduk-duduk di atas kuburan: “Sungguh, sekiranya salah seorang diantara kalian duduk di atas bara api hingga membakar pakaiannya lalu sampai ke kulitnya, adalah lebih baik baginya daripada ia duduk di atas kuburan.” [HR. Abu Dawud nomor 2809 dan dishahihkan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani dalam shahih Abu Dawud].

Wallahu a’lam bish-shawabi
1 Ramadhan 1439 H (2018)