Arsip Kategori: solilokui

– BIDADARIKU – (Bagian 4)

-BIDADARIKU-

Part 4

(Sambungan dari - Bidadariku Bagian 3 -)


- BIDADARIKU - (Bagian 4)


"Laki-laki yang menganggap bahwa dirinya seorang raja maka ia akan menanggap istrinya adalah mahkota yang sangat berharga dan bagian dari pada harga dirinya.
Dan jika ada lelaki yang menganggap istrinya seperti sendal jepit yang dicari saat dibutuhkan saja, yang ketika rusak tinggal cari gantinya. Maka lelaki itu secara tidak langsung telah menganggap bahwa dirinya itu hanya sikil.."

KONTRAKAN


Lanjut cerita, Alhamdulillah kami dapat kontrakan yang tepat, tibalah saat pindahan Alhamdulillah orang tua kami, sanak saudara, Abang guru dan sahabat membantu kami untuk pindahan. Kami makan-makan dan canda tawa bersama saat itu, barakallah..

Di subuh pertama saat kami hidup mandiri masyaallah rasanya. Dia istriku seperti biasa bangun terlebih dahulu dengan ciri khasnya saat bangunkan saya. Dia selalu dalam keadaan cantik yang full, sudah mandi dan berdandan. Di waktu sebelum subuh itu ada sedikit dialog antara kami.

*Khumairahku : Aa.. bangun sayang udah mau subuh.. ( dengan nada lembut sambil cubit hidung dan pipinya ditempel ke pipi saya)
*Saya : Iyah khumairah Aa bangun sebentar lagi yah..
*Khumairahku : Aa.. iih.. Bangun katanya mau masak sarapan bareng..
*Saya : siapp bu bos bangun.. ( sambil cium kening )
*Khumairahku : mandii sana ih bauu..
*Saya : sayang.. Aa mau tanya dong, kenapa sih setiap pagi buta sebelum bangunin Aa kamu selalu berdandan dulu ?
*Khumairahku : A.. aku cuma mau berikan yang terbaik untuk suami aku, karena kecantikan aku hanya untuk suami aku.
*Saya : aahh.. jadii makin sayang... (sambil peluk)

Setelah subuh kami langsung masak berdua dan kami berbagi tugas, saya yang masak istri yang cicipi πŸ˜‚. 

Menu andalan di pagi hari.. Jadilah nasi goreng.. setelah cobain masakan saya dia langsung cemberut dan bilang.. "Sebel ah masa enakan masakan Aa daripada aku ".. 

"Iishh bagi Aa enakan masakan kamu beib, number one pokoknya.. lope-lope ama masakan kamu.." jawabku. Sambil tertawa dia suapi saya dan begitu sebaliknya. 

Selesai sarapan saya bersiap untuk berangkat bekerja yang saat itu saya sudah bekerja di salah satu perusahaan minuman softdrink sebagai seorang merchandiser lapangan. Pakaian saya sudah rapih dan sudah disiapkan olehnya. 

Sebelum berangkat ada ritual yang harus dan wajib saya jalani yaitu cium kening, pipi kanan kiri, dan calon buah hati kami.. dan dia cium tangan saya dengan hangat sambil bilang 
"Jaga diri dan jaga hati yah A.. nanti sore aku masak spesial jadi Aa langsung pulang yah.." 
"Siapp khumairahku." 
Sungguh indah nikmatmu yaa Robb.

Selesai bekerja sesuai janjiku, aku langsung pulang dengan perut lapar. 
"Assalamualaikum de," ucapku.. 
"Wa'alaikumussalam" sambil senyum dan dandanan yang maksimal cantiknya, dengan seketika lelah pun hilang melihat wajahnya. 

Dilanjutkan dengan ritual yang sama saat sebelum berangkat. 

bidadariku cium kening, pipi kanan kiri, dan calon buah hati kami


Ternyata masakan sudah siap dihidangkan. "Makan yuk A.. aku udah siapin sepesial buat Aa, sop ayam dan tempe-teri kecap. 

Saat saya makan dalam hati saya (harus tahan asin bismillah πŸ˜‚) tapii ternyata.. loh ko enak yah.. tapi ada yang aneh yah, ternyata ada beberapa wortel yang irisannya masih besar πŸ˜‚, wkwkwk dengan sengaja saya makan potongan terbesar nya. 
"Yaallah A.. itu apaan..?" sambil tertawa.. "Maaf A.. "
"Ga apa apa sayang Aa suka wortel ko" πŸ˜‚. 

Kami pun makan sepiring berdua sambil canda tawa dan saling cerita yang terjadi seharian. Selesai makan saya pun bersih-bersih dan kami langsung melaksanakan sholat magrib. 

Usai sholat saya simak bacaan Al-Qur'an istri dan dilanjutkan dengan membaca surah Yusuf dan Mariam, Lanjut ke isya. Setelah itu kami bersenda gurau sampai larut malam.

Sebelum tidur seperti biasa dia wudhu terlebih dahulu, dan istriku bilang.
*Khumairahku : A.. aku bahagia banget punya suami aa.
*Saya : begitupun Aa de bahagia banget punya bidadari seperti kmu.
*Khumairahku : A.. ridhoin aku yah, maafin semua kekhilafan aku yah a.. aku ga mau tidur dalam keadaan Aa kesel sama aku.
*Saya : khumairahku sayang.. ada ridho sayang.. i do love you my wife..
*Khumairahku : terimakasih yah Aa.. (sambil peluk)

Seperti biasa sebelum tidur kami mambaca dzikir, sholawat dan doa bersama. Sampai ketika suatu malam saya terbangun di tengah malam, ternyata istriku sedang sholat tahajud. 

"Masyaallah.. istriku.. terima kasih yaallah, telah memberikanku bidadari yang sholehah.."  (dalam hati)

Bersambung ke  - BIDADARIKU - (part 5)


_____________


Penulis: KHOIRUL UMAM
Selasa, 23 Maret 2021


– BIDADARIKU – (Bagian 3)

-BIDADARIKU-

Part 3

(Sambungan dari - Bidadariku Bagian 2 - )


"Istriku penyejuk di mata dan penawar di hati"

"Jalan hidup yang terjal akan terasa mudah jika bersama teman hidup yang tepat. Khumairahku yang tak pernah menuntut tentang dunia.."

 


"Istriku penyejuk di mata dan penawar di hati"

Khumairahku, begitulah panggilan saya untuk istri, panggilan yang ternyata sangat dia sukai. Memang benar menikah adalah obat untuk hati karena di setiap saatnya mampu menenangkan hati, ibadah pun terasa lebih nikmat, bekerja lebih semangat dan hari-hari pun terasa lebih menyenangkan. 

Pantaslah rosululloh bilang menikah akan menyempurnakan separuh dari agama dan setengahnya lagi digapai bersama. Tidak tanggung-tanggung separuh dari agama guys.. cuma dengan catatan pasangan yang tepat adalah kuncinya.

Usai menikah kami sementara tinggal di rumah orang tua saya. Keunikan Khumairaku itu salah satunya ia mampu membuat orang sekitarnya itu menaruh kasih sayang dan care kepadanya. 

Seketika orang rumah dibuatnya menjadi lebih sayang kepadanya terutama bapak dan ibu yang begitu sayang kepada menantu pertamanya. Bukan hanya orang rumah, bahkan satu kampung emak-emaknya bilang "Resep bangat ama bininya si Umam, ajer ama cakep orangah." 

Sebagai suami ada rasa bangga karena tepat memilih istri seperti Khumairah yang tak hanya cantik rupa namun juga cantik akhlak.

Kami mulai merancang masa depan bersama, mulai dari rencana khumairahku yang akan melanjutkan kuliahnya dan sambil bekerja. 

Sebagai suami apapun rencananya akan saya dukung asalkan tidak bertentangan dengan syariat dan tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri. Jadi kami memutuskan untuk menunda sementara untuk memiliki momongan. 

Seminggu setelah pernikahan kami pergi berlibur bersama ke salah satu daerah di Bogor selama 2 hari bersama teman-teman kerja saya dan keluarganya. 

Khumairahku begitu bahagia terlihat jelas di matanya karena ini kali pertama kita berlibur bersama setelah halal (sebelum nikah boro-boro  jalan-jalan, bisa ketemu aja syukur bangat πŸ˜‚). 


ISTRI BEKERJA

2 Minggu menikah Alhamdulilah khumairahku diterima untuk bekerja di salah satu rumah sakit sebagai admin di sana. Dia begitu bahagia dan sangat semangat karena salah satu rencananya tercapai. " A, walaupun aku kerja aku ngga akan lepas tanggung jawab aku sebagai istri, aa ridho yah sama aku.." begitu lah ucapnya, bidadariku yang selalu berharap dan meminta suaminya ridho terhadapnya. 

Hari pertama dia mulai masuk bekerja, seperti biasa saat sebelum subuh ia bangunkan saya, hanya saja kali ini saat dia bangunkan saya utk sholat subuh ternyata dia sudah selesai menyuci pakaian dan sudah menyiapkan sarapan. 

Masyaallah.. Sholehahku.. sambil kecup keningnya dan pipinya. "Bangun jam berapa kamu sayang?," tanya ku.. "Sekitar jam 03.20 A, hehe," sambil senyum manis. 

Dalam hati bicara (barakallah gadis manja mampu berubah seperti ini) setelah sholat kita sama-sama untuk sarapan. Istriku membuatkan nasi goreng spesial katanya.. " A, nasi goreng spesial buatan aku, cuma kalo ga enak maafin aku yah a, perdana soalnya.." dan saat ku makan.. masyaallah.. Alhamdulillah saya ngga punya darah tinggi hehe.. gapapalah bukan soal rasa menurutku tapi soal menghargai, dengan melihat dia buatkan makan saja sudah luar biasa. 

Masakan yang enak bisa kita beli namun kasih sayang itu tak ternilai, karena bagi saya istri itu bukan tukang masak apalagi pembantu.  Suap demi suap saya makan dengan senyuman, "Gimana A rasanya..?" Tanya nya.. "Lah emang kamu ngga cobain khumairahku?" sambil tawa.. "Hehe ngga A.." yassalam.. pantesan aja.. dia ngga tau betapa nikmatnya nasi goreng cinta ini.. πŸ˜‚

"Yauddah sini aa suapin yaah.." hap.. seketika raut wajahnya berubah sedih dan air matanya jatuh.. ga kaget sih emang cetek air mata kalo kata orang muara mah hehe. 

*Saya : Loh kenapa de..  

*Khumairahku : "Aa.. maafin aku.. ga belum bisa jadi yang terbaik"

*Saya : iishh.. kamu udah jadi istri terbaik khumairahku. Karena kalo masakan kamu enak kamu bukan istri yang terbaik de.

*Khumairahku : loh.. ko gitu A..?

*Saya : Iyah.. kalo masakan kamu enak jadinya master chef.. πŸ˜‚

*Khumairahku : iih.. ga lucu.. (tapi sambil tawa)

*Saya : yauddah aa abisin dulu ini nasi goreng cintanya.

*Khumairahku : jangan a.. nanti suami aku kena darah tinggi..

*Saya : tinggal pendekin de.. 

*Khumairahku : iiisssshhh..

Selesai makan sebelum berangkat saya pergi ke kamar mandi, dan saya dapati pakaian yang telah dicuci istri. Ternyata belum bersih πŸ˜…  Sambil senyum dalam hati bilang "Melihat kamu sudah berusaha aja udah seneng aa de.." cuma demi menjaga perasaannya saya ngga komentar untuk ini.

Dan kami pun berangkat bersama. Sesampainya di tempat kerjanya ia cium tangan dan saya cium kening dia. Setiap ada waktu dia selalu memberi kabar. Dan ternyata hari itu saya pulang lebih cepat dari khumairah, langsung saya bergegas pulang ke rumah untuk mencuci lagi pakaian yang tadi pagi dia cuci dan langsung menjemurnya.

Alhamdulillah semua orang rumah mengertiin istriku dan semua tetap mencintai istriku. Selesai mencuci saya istirahat sebentar dan berangkat menjemput bidadari yang sudah menunggu. 

Di perjalanan pulang saya tanyakan bagaimana hari ini dan dia ceritain semua dari baru sampai sampai dengan pulangnya. 

*Khumairahku : Tadi aku benci banget sama laki-laki a, masa godain aku terus padahal aku jutek dan ga percaya aku udah nikah.. 

*Saya : terus kamu apain de..?

*Khumairahku : yauddah aku diemin A, ngapain aku jelaskan mendetail.

*Saya :Tampol de tadi mah.. (sambil bercanda)

*khumairahku : Iish aa mah..

Sesampainya di rumah setelah salim dengan ibu bapak dan seperti biasa dia juga cerita sama ibu bapak kejadian dia hari ini πŸ˜‚. Setelah selesai khumairahku langsung ambil pakaian yang ia jemur. Daaan dia kaget ko jemuran seharian ngga kering πŸ˜‚ orang rumah kompak bilang kalo tadi siang mendung dan dia percaya

Keesokan harinya berjalan seperti biasanya. Sampai ketika kita dia naik motor sendiri. Dan seperti biasa saya sampai rumah duluan. Dan tiba-tiba almarhumah pulang dan liat saya sedang mencuci pakaian. Seketika dia minta maaf dan menangis.. langsung saya peluk dan bilang ke dia, " 

Khumairahku.. Aa cari istri untuk sempurnakan separuh agama aa. Bukan mencari pembantu rumah tangga yang harus bisa masak dan mencuci, dengan liat kamu sudah berusaha saja sudah bahagia khumairahku.. " dia langsung tambah nangis dong.. πŸ˜‚ aduh ya udahlah peluk aja sampai diam. Sehabis puas menangis dia katakan.. "Ada ridho kan sama aku.. aku akan terus berbenah diri demi keluarga kecil kita A.. ". 

Terima kasih banyak yah sayang.. 

simak bacaan Al-Qur'an khumairahku sambil jelaskan makhroj dan tajwidnya


NGIDAM

Malam harinya seperti biasa saya simak bacaan Al-Qur'an khumairahku sambil jelaskan makhroj dan tajwidnya. 

*Saya : pakai 'ain de bukan alif.

*Khumairahku : ..an am ta..

*Saya : an 'am ta de.. (dengan nada sedikit menekan huruf 'ain )

*Khumairahku : ko aa gentak aku 😭😭

*Saya : yassalam πŸ˜‚ ngga gentak de.. (sambil peluk )

Keesokan harinya khumairahku bertingkah aneh, seperti sering muntah padahal ngga masuk angin dan sering enek liat orang makan mie instan, pas curiga hamil dia langsung tespek. Tabarokalloh.. 

Alhamdulillah.. ternyata Allah berkata lain, khumairahku hamil. Dan saat itu juga saya meminta dengan lembut untuk dia berhenti bekerja. Ternyata dia mengerti dan paham akhirnya dia berhenti demi sang calon buah hati.

Fase Masa-masa ngidam yang kudu diturutin πŸ˜‚

Mulai dari minta seblak yang buat harus suaminya sampe minta telur gulung dan cilor yang lagi dimakan adenya. 

"A, kita ngontrak yuk.. aku ga enak sama ibu bapak, manjain aku banget jadi rasanya aku ga bisa Mandiri.." walaupun sedikit berat karena keadaan dia sedang hamil karena liat dia bersikeras merayu akhirnya keinginannya saya turuti. 

Kita pun mulai mencari kontrakan, dan Alhamdulillah ketemu di daerah Babelan yang notabene dekat dengan guru-guru saya dan sahabat-sahabat saya. Dan itupun rekomendasi dari salah satu sahabat saya yang kebetulan istrinya kakak kelas khumairah. Jadi makin yakin dia untuk mengontrak.

Bersambung ... 

(Cila bangun ajak main, ribet ngetiknya πŸ˜‚)


Bersambung ke  - BIDADARIKU - (part 4)


_____________


Penulis: KHOIRUL UMAM
Sabtu, 20 Maret 2021



– BIDADARIKU – (Bagian 2)

- BIDADARIKU - Part 2


(Sambungan dari - Bidadariku - )

"Bangun cinta, bukan jatuh cinta, membangun cinta dalam bahtera rumah tangga, bukan jatuh cinta dalam fatamorgana"

BIDADARIKU kecup di kening


Sedikit mengulang saat sebelum pernikahan, tepatnya Hari Sabtu, tanggal 18 Agustus 2018. 


PALANG PINTU

Sehari sebelum acara, saya masih ingat betul saat itu acara sudah saya rencanakan dengan sedemikian rupa, seperti palang pintu (adat tradisi Betawi) yang seminggu sebelum acara sudah saya setting dengan Abang seperguruan supaya berjalan lancar, karena rencananya saya sendiri yang akan maju dan tampil untuk ujuk gigi bermain pencak silat melawan Abang seperguruan saya. πŸ˜‚

Kalo udah di-setting kan enak jadinya, saya kelihatan menang telak. Ya secara di depan calon mertua sendiri biar terlihat gagah wkwkwk. 

Namun apalah daya saat malam harinya sebelum acara, Abang tiba-tiba bilang tidak bisa hadir karena urusan pekerjaan.. ambyar.. dalam hati bilang dahlah ga usah tampil.. ( karena kalo ngga di-setting terlebih dahulu bisa fatal, ya kali masa manten kepukul beneran πŸ˜‚ malu lah.. ) dah lah tidur aja buat acara besok biar ijab kabulnya lancar. 

Tiba-tiba pasukan dari perguruan yang dipimpin langsung sama ketua Abang guru, nyampe ke rumah buat pastikan acara besok aman dan terkendali. "Gimana acara besok udah siap semua kan mam?" Tanya Abang guru. "πŸ˜“

Bang Ucok ngga bisa hadir bang, mana udah saya setting sama dia, udah lah saya ngga usah tampil. Spontan Abang guru tanya, "Emang settingan-nya bagaimana..? Coba sini peragain.." Langsunglah saya peragakan.

Setelah selesai dan Abang guru mau pamit dia bilang, "Besok Abang piket Mam, kalo sempet Abang usahakan abis absen dateng ya cuma ngga janji.." 

hemmmm.. ambyar bener dah niat mau terlihat beda dari nganten lain malah nihil. Udah pasrah sama Allah yang penting acara ijab besok lancar cuma itu harapan di hati saat itu.



Hari yang dinanti pun tiba. Setelah sholat subuh langsung bersiap-siap dengan penuh semangat. Maklum calon nganten πŸ˜‚. 

Sebelum berangkat bang Rusli sampai di rumah dan bertanya. "Lu naik mobil yang mana mam..?". "yang mana ajalah bang, naek motor sendiri juga gak masalah.." jawab saya. Dia langsung jawab "Lah jangan.. masa nganten naek motor, ya udah bentar.." Masyaallah saat itu juga mobilnya dihias buat bawa saya πŸ˜‚. 

Nah pas berangkat setau saya nganten paling depan, dan iringan rombongan di belakang. Kalo saya beda, ngantennya ketinggalan paling belakang sementara rombongan sampe duluan. Kocak lah, gak apa-apa yang penting nikah.

Setibanya di tempat acara, eng ing eng.. Abang guru bang Jamal yang katanya ga bisa nyampe, tiba-tiba udah stand by di depan pintu masuk bersama paket lengkap palang pintu dan golok di pinggang. Di sini saya bingung harus seneng atau was-was pasti ini lawan dia. 

tradisi palang pintu pengantin betawi cinong bekasi
Tradisi Palang Pintu - PS Cinong Bekasi

Dimulailah acara palang pintu, sampe di tengah acara tiba-tiba bang Jamal maju samperin saya .. "Plakk..." πŸ˜‚ Tamparan cinta melayang di pipi saya. Wkwkwk belum pernah liat nganten ditabok kan?. Saya juga belum, cuma rasain doang. Tamparan cinta saya sebutnya udah jadi makanan selama pelatihan jadi ngga kaget πŸ˜‚.

"Lu yang nikah orang yang berantem, enak amat.. sini lu maju, pokoknya ngantennya yang kudu maju.." dengan nada khas Betawi bang Jamal lontarkan kata-kata ke saya. 

"Dari pada ngga jadi nikah, biarin dah lebah ini mah lawan guru ge" jawab saya. πŸ˜‚

Siat.. plak.. pluk.. sampe saya kodein biar dia ngalah.. tapi ga mau ngalah-ngalah juga.. πŸ˜‚ 

Cuma liat posisi napas yang sudah mulai Senin-Kamis, akhirnya saya menang dengan cara sang guru mengalah. Mana baju nganten putih, mana mau ijab Qabul, posisi napas masih ngos-ngosan. Tapi Alhamdulillah ijab qobul lancar dan tabarokalloh kami sah sebagai suami istri. 


Pengantin Baru

Setelah ijab qobul untuk yang pertama kalinya kami menunaikan sholat juhur untuk pertama kalinya berdua. Setelah salam dan dzikir Khumairahku langsung mencium tanganku dan saat itu juga saya ucapkan doa yang diajarkan Rosululloh sambil tangan kiri memegang kepalanya. 

"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa β€˜alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha β€˜alaih."

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.

Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya

Setelah baca doa, kukecup keningnya untuk yang pertama kali, masyaallah rasanya dunia milik saya berdua, yang laen ngontrak lah pokoknya. 

Ba'da ashar kami kembali duduk di pelaminan untuk menyambut semua tamu undangan. Rasa bahagia dan haru berkumpul menjadi satu. 

Doa-doa dan ucapan selamat datang silih berganti dari kerabat dan sahabat. 

tabarakallah.. yaallah sungguh indah nikmat-Mu.. sampai acara selesai. 

Tibalah saat subuh pertama yang biasanya saya terbangun seorang diri kini malah dibangunkan oleh bidadari. Dengan nada lembut sambil cubit hidung dengan manja, " Aa.. bangun.. udah mau subuh.. kita siap-siap sholat yuk.." Saya pun langsung bangun dan menuju kamar mandi, cuma Khumairahku langsung tahan tangan saya sambil kode tunjuk ke dahinya dengan raut wajah penuh manja.. 

"Subhanallah.. Aa lupa.. ya udah sini cium dulu dahinya.." πŸ˜‚ 

Please Kalimat ini mendingan di-skip buat yang masih jomblo. Karena menyebabkan halu yang berkepanjangan. 

Setelah sholat subuh dia aminkan setiap doa yang saya ucapkan.. masyaallah ini rasanya indah betul, biasanya amin kita tak serentak karena sujud di tempat yang berbeda dan pembatasan yang hak. Tapi kali ini kita sujud di ruangan yang sama dan dia ikuti gerakan saya serta aminkan doa saya. 

Ya Allah sungguh indah ketentuan Mu.. bersatu dengan bidadariku dalam ikatan halal setelah sekian lama saling menjaga iman adalah sesuatu yang indah yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata.

Bersambung lagi  πŸ˜‚

Bersambung ke  BIDADARIKU - (part 3)

_____________


Penulis: KHOIRUL UMAM
Kamis, 18 Maret 2021

Hantu dan Kuburan Yang Tidak Lagi Menyeramkan

Kuburan, makam, atau kober kalau bahasa Betawinya, dulu bisa jadi memiliki status menakutkan, angker atau menyeramkan. Tapi kini status itu sudah ex-comunicado, yang ngak paham ex-comunicado berarti belum pernah nonton John Wick wkwkwk.


Mengapa status hantu dan kuburan tidak menyeramkan lagi? 


Karena sejak negara api menyerang, dan kemajuan teknologi yang semakin pesat, sehingga membuat generasi milenials, zilenials mulai suka bermain TikTok, Youtube, dan layanan video semacamnya. Banyak konten-konten yang dapat dikatakan telah merendahkan status hantu, setan, atau memedi ke level "tidak seram lagi". 

Hantu dan Kuburan Yang Tidak Lagi Menyeramkan
 Hantu di Kota Tua Jakarta 
 Foto: jalanbarengriky.blogspot.com 


Kalau kita ke Kota Tua (Kotu) Jakarta, tidak sedikit kita temukan orang-orang yang berprofesi menjadi "hantu" untuk menghasilkan uang, tidak sedikit penduduk setempat yang menjadikan profesi itu sebagai mata pencaharian. 

Para wisatawan atau pengunjung KOTU sudah merasa tidak aneh dan takut lagi dengan berbagaia karakter hantu yang ada di Indonesia berkeliaran di Kotu, bahkan para pengunjung bisa berswafoto dengan tokoh-tokoh hantu yang ada di Kota Tua tersebut.

Di tempat lain, jangan heran jika ada TPU (Tempat Pemakaman Umum) yang disulap menjadi wisata digital alias menjadi taman rekreasi instagramable hingga hilang unsur menyeramkannya, seperti yang terjadi di propinsi Jawa timur baru-baru ini, TPU yang dicat warna-warni macam taman kanak-kanak menjadi spot yang cukup mengundang para jiwa muda untuk berpose. 

Kuburan Yang Tidak Lagi menyeramkan
 TPU Nguwot Tawangrejo, Kecamatan Kartoharjo, Madiun 
Foto: pawartanusantara.com


TPU Nguwot di Kelurahan Tawangrejo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun yang menghabiskan 50 liter cat ini banyak menarik perhatian pengunjung untuk melihat serta menikmati pemandangan kuburan yang dulunya itu menyeramkan tapi sekarang berubah menjadi tempat yang menyegarkan mata dan unik

Bahkan tidak sedikit pengunjung yang berswafoto di makam tersebut yang akan mereka upload ke kanal media sosial mereka untuk menambah konten foto yang ciamik agar menambah "like" dan follow dari pengunjung media sosial yang melihat foto tersebut.

Kita pikir saja, jika itu sebuah role model untuk masa yang akan datang, maka sosok hantu bisa saja jadi bahan perundungan (bullying) para manusia yang kurang membaca sejarah tentang perhantuan nantinya. Akan sangat mungkin terjadi, jika anak kecil keluar malam-malam dan melihat hantu bisa saja, ia akan mengintimidasi si hantu tersebut yang berpotensi banyak hantu akan merasa insecure dengan eksistensinya. 

Hal-hal seperti itu akan mengakibatkan banyak hantu yang mengalami gangguan jiwa, maka dibutuhkan peran praktisi psikiater dan psikolog untuk meredam gangguan psikologi tersebut, dan saya pun sebagai calon psikolog insyaallah wkwkwkwk, akan  bertambah kerjaan, jobs desc yang tadinya hanya menangani pasien dari jenis manusia, kemungkinan besar akan menangani pasien dari jenis hantu yang mulai mengalami gangguan kejiwaan, atau mental illness

Wah wah wah ngak kebayang yaa rasanya jadi seorang psikiater atau psikolog bagi mahluk halus, pasti melelahkan karena harus buka jam operasional menjadi 24 jam. 

Dan bukan tidak mungkin di masa yang akan datang, banyak undang-undang yang mengatur hak asasi hantu (HAH), kelak akan ada tokoh hantu yang menyuarakan keadilan atas eksistensinya di dunia ini, hantu juga memiliki hak sebagai penduduk bumi yang memiliki peranan dalam meramaikan ragam budaya multikultural yang ada di Indonesia, wkwkwk apesih?.

Yahhh begitulah sedikit bentuk empati saya terhadap nasib para hantu dan kuburan pada saat ini, yang mulai tidak di perhitungkan lagi eksistensinya dan sudah tidak seram lagi. 


-------------------

Semoga tulisan saya ini  bisa menjadi tulisan yang revolusioner serta visioner dan bisa menyadarkan manusia agar saling menghormati dan menghargai, bukan hanya pada sesama manusia, tapi melainkan juga kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa khususnya mahluk halus yang bersemayam di antara kita. 

Agar kita bisa hidup damai didunia ini, dengan menjalin hubungan erat antar sesama makhluk, sehingga tercapainya nilai nilai keluhuran yang ada di Indonesia bahkan dunia. 

Sekian terima kasih atas perhatian bapak ibu sanak saudara dan teman teman yang berkenan memberi jempol atas tulisan gabut saya ini. Tulisan saat menunggu antrian bank yang cukup panjang, yang membuat saya lelah karena menunggu, bapak ibu tahukan bagaimana lelahnya menunggu hal yang tidak pasti?, yaah saat ini saya sedang mengalami hal tersebut, karena saya tahu kepastian hanya ada di tangan Tuhan.

Saya akhir tanpa basa basi, semoga kita selalu diberikan kesehatan yang sempurna oleh Allah SWT, agar kita bisa melakukan aktivitas dengan baik, serta menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan hidup sekitar kita, dan ikut andil dalam meningkatkan kualitas hidup di masyarakat. Aamiin Allahuma aamiin.

#makamunik #indonesiaku #viral #milenials #duniahiburan #duniatiputipu

Penulis: Zhukie Chand
Rabu, 17 Maret 2021


____________________

Catatan:

Di satu sisi, mewarnai kuburan semacam ini dilakukan dalam rangka lomba kebersihan. Itu bagus, setidaknya menjaga areal kuburan bersih dan menghilangkan aura klenik, seram dan angker namun di sisi lain kuburan akan kehilangan maknanya sebagai pengingat kematian.

Karena, kuburan yang dicat warna-warni seperti itu akan menghilangkan tujuan dan esensi ziarah kubur. Makam atau kuburan adalah tempat yang mengingatkan kita pada kematian dan kefanaan hidup manusia di dunia. Karena itu Nabi Muhammad S.A.W. menganjurkan umatnya untuk ziarah kubur untuk mengingat mati..

Jangan sampai tujuan untuk mengingat kematian ini hilang dan berganti dengan hitung-hitungan ekonomi  keduniawian.


Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 2)

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 1) 


Kurniawan, sang direktur, dengan agak kikuk mempersilahkan pengacara itu duduk di depannya. Dari sikapnya, terlihat ia agak segan, karena ia tahu kepiawaian orang di depannya ini.

Sang Pengacara duduk perlahan, terlihat bersahaja dan percaya diri. Wajahnya datar saja, namun sinar matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang pandai bersiasat.

Beberapa saat ruangan kantor itu hening, seakan terbius oleh keberadaan pengacara itu. 

"Pak ...." Ranto memecahkan keheningan ruangan, memanggil atasannya yang malah terdiam.

Kurniawan sedikit terhenyak. Namun ia segera memulihkan kesadarannya. Sikapnya menjadi biasa lagi, sebagai seorang direktur di sebuah perusahaan besar multinasional.

"Bagaimana perkembangan kasusnya, Pak? Apa hasil pertemuan kemaren dengan perangkat organisasi FSPGB?," tanyanya sopan.

"Ya, kemaren sudah saya sampaikan keberatan kita dengan sikap mereka." Pengacara itu menjawab santai.

"Lalu, bagaimana dengan somasi yang mereka berikan?."

"Ha ... Ha ... Somasi receh itu mudah saja. Kita somasi balik dengan isu pembohongan publik."

"Oh, begitu. Lalu bagaimana sikap perangkat organisasinya?. Bisakah mereka kita ajak kerjasama?."

"Sangat bisa!," jawab Pengacara itu sambil tersenyum. Kali ini senyumnya agak berbeda, ada kelicikan di sana.

"Bisa bagaimana?. Mereka kan serikat yang sangat militan!. Mana mungkin mereka bisa diajak kongkalikong dengan kita."

"Dah, itu urusan saya nanti. Yang penting adalah kondisi di dalam. Bagaimana sikap anggota mereka?. Bisakah dikondisikan?"

"Itu malah lebih gampang, Pak!," jawab Kurniawan sambil tersenyum lebar.

"Gampang bagaimana?." Pak Benarudinawisata, si Pengacara penasaran.

Kurniawan memandang  Ranto sambil mengisyaratkan dengan kepalanya agar Ranto yang berbicara.

"Begini, Pak Benarudin, kami sudah punya beberapa orang yang sudah kami brainwash, dan mempunyai pengaruh besar di kalangan karyawan. Kita bisa memanfaatkan mereka, untuk mempengaruhi anggota serikat itu," kata Ranto dengan lancar.

Benarudinawisata manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya yang panjang hingga mencapai perut dengan tangannya yang besar-besar. 

Ranto yang memperhatikan sikap Pengacara itu dan tak berkata apapun melanjutkan.

"Kami gak begitu khawatir kondisi dalam perusahaan, yang kami khawatirkan hanya kawan-kawan mereka diluar. Serikat FSPGB ini kan salah satu serikat besar yang radikal!. Mereka militan, beberapa tahun lalu mereka sering menggempur pabrik-pabrik sekitar sini dengan massanya yang banyak." Ranto berhenti sebentar, mengambil nafas panjang, terlihat sekali ia sangat geram.

"Ha ... Ha ... Ha ...!." Pengacara itu tertawa terbahak-bahak. Saking gelinya, seluruh tubuhnya yang besar itu berguncang, jenggotnya ikut meliuk kanan kiri mengikuti guncangan tubuhnya.

Kurniawan dan Ranto yang sekarang heran dengan sikap si Pengacara. Benarudin malah semakin geli, suara tawanya semakin keras, memenuhi ruangan itu, mungkin mengalahkan suara musik ajep-ajep di diskotik.

Setelah puas tertawa, Pengacara itu kembali biasa lagi. Wajahnya kembali datar, hanya senyumnya yang berubah menjadi senyum mengejek.

"Itu dulu!. Dulu sekali. Sekarang mereka sudah gak ada apa-apanya, ha ... ha ....!" 

Kurniawan dan Ranto saling berpandangan. "Gak ada apa-apanya bagaimana?." Hampir serempak mereka berkata itu.

Pengacara itu tersenyum. Namun sebelum ia menjawab pertanyaan kompak itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Narsih tergopoh-gopoh memasuki ruangan.

"Pak, maaf Pak, ini gawat!," serunya dengan nafas tersengal. Ia menghampiri meja pak Kurniawan, di mana ketiga orang tadi berkumpul.

"Ada apa Narsih?. Panik amat?," tanya Kurniawan heran dengan sikap bawahannya yang biasa santai.

"Ini, Boss! Lihat ini!." Narsih menyodorkan hapenya ke meja pak Kurniawan.

Kurniawan, Ranto dan si Pengacara serempak melihat ke arah layar hape.

++++++++

Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)

Judul asli: CERITA HALU
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi


– BIDADARIKU –


" Takdir, sesuatu yang tidak bisa untuk dihindari dan tak bisa untuk dipungkiri "


 - BIDADARIKU -


Berkenalan dengan Bidadariku

Maret 2016 masih segar dalam ingatan, Berawal dari pertemuan yang tidak disengaja antara konsumen dan pelayanan minimarket. Waktu itu saya bekerja seperti biasanya di sebuah toko minimarket yang terdapat di sebuah perumahan, hari-hari sama seperti biasanya bekerja dan bercanda dengan rekan-rekan kerja, sampai suatu hari saat saya sedang ngobrol berdua dengan rekan saya ( sebut saja si Amang πŸ˜‚)  tiba-tiba ada suara lembut yang memanggil.. "Permisi mas,.. " 


Seketika kami menoleh ke arah sumber suara tersebut sambil menjawab dengan serentak "Iya mba."


"Masyaallah manis emen ini cewe.." dalam hati bicara,  lalu disambung lagi tanya dia. "Mas ada popok bayi merk m*m*po*ko ukuran L ngga?.." dengan serentak lagi saya dan si Amang jawab "Ada mba.. sebentar saya ambilin di gudang." 


Seketika kami berdua berlari sambil saling dorong berlomba untuk ambilkan pesanan gadis manis itu. Beruntung sekali saya, karena popok itu saya yang menemukan πŸ˜‚. Saya tinggalkan si Amang dan langsung berlari ke arah gadis itu, "Ini mba popoknya, ada lagi yang dicari ngga mba biar saya ambilin lagi?." 


Sambil senyum gadis itu bilang,  "Alhamdulillah.. gak ada, terima kasih yah mas.." 


Masyaallah adem bener senyumnya, rasanya mata nggak mau berkedip melihat gadis itu sampai dia pergi dengan sepeda motornya.

Si Amang langsung bertanya "Bang, namanya siapa, kenalan ngga tadi..?" dengan rasa penasaran. 

"Subhanallah.. lupa gue πŸ˜‚" padahal emang ngga berani buat tanya nama. 

"Yah payah lah.." kata si si Amang. 

Entah dari mana rasa yakin itu tiba-tiba dalam hati berbisik, "Jodoh gue ini cewe." 


Keesokan harinya gadis itu mulai sering kelihatan di toko untuk membeli roti sandwich dan susu TPK, sampe semua anak toko hapal dia pasti beli itu. Dengan rasa yakin saya bilang ke kasir. "Neng kalo ada cewe yang sering beli roti ama susu yang sering digodain ama si Amang, tanyain namanya siapa dan pintain ya nomor Hp-nya.." 


Ah payahlah emang saya ngga berani buat kenalan apalagi minta nomor πŸ˜‚. kasir langsung bilang, "Gampang bang, namanya gue udah tau.. namanya LIA  dia anak blok H, nanti gue pintain nomornya cuma upahin ya..", dengan rasa senang langsung jawab.. "Bereess pokoknya.."


20 Maret 2016 saat masuk shift 2 tiba-tiba kasir samperin saya sambil senyam-senyum "Jadi ini mah di teraktir.. nih bang nomornya.. cuma dia pesen nomornya buat mas-mas yang pake motor Jupiter merah aja".  


Boomm.. pecah rasanya rasa senang di hati.. ternyata gadis itu juga penasaran dengan saya, senang campur nggak percaya. Si Amang dan rekan yang lain langsung nyeletuk.


"Buset pake pelet ini dia.." πŸ˜‚ wkwkwk ga ada akhlak emang pada masa di bilang pake pelet, emang saya jelek bangat apa?. 


Dengan mengucap bismillah mulai chat dengan SMS, maklum hp masih jadul πŸ˜‚. Dengan gaya chat yang sudah pasaran, ".. assalamualaikum mba, ini saya mas-mas ind*ma**ret.." ternyata langsung di bales, "wa'alaikumussalam mas iya mas, ada yang bisa dibantu.." 


Mulai saat itu kami mulai dekat dengan SMS, sekitar 3 bulan saling chat, singkat cerita saya mulai minder dengan dalih dia anak rumahan kayanya ngga pantes sama saya, dan puncaknya saat saya liat dia berbocengan dengan lelaki seumuran saya dengan motor trail, padahal usut punya usut itu adalah kakak kandungnya. Jadi perlahan saya mulai menjauh sampai kami bener-bener lost kontak. Dan tidak lama kemudian,saya dimutasi untuk pindah toko.



Perempuan Lain

Sampai saat saya mengenal perempuan lain dan mulai mengenalnya lebih jauh. Dua tahun kurang lebih saya menjalin hubungan dan berkomitmen untuk menikah. Ketika rencana itu sudah matang dan sudah diperkirakan tahun untuk menikah. 


Saat itu yang ada di pikiran saya ternyata ini jodoh saya. Saat itu saya lupa takdir Allah itu rahasia Allah segala kemungkinan bisa saja terjadi. Benar saja saat tinggal selangkah lagi menikah ternyata gagal karena ada satu dua hal. 


Pelajaran yang saya ambil. Sungguh Allah itu maha tahu apa-apa yang terbaik untuk hambanya dan sedetik ke depan sekalipun kita tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi.


Saat rasa hampa dan kosongnya hati setelah kejadian itu, males rasanya kenal perempuan jika cuma hanya pacaran atau saling kenal saja. Berasa jagain jodoh orang lain.πŸ˜‚



CLBK

Maret 2018, Saat itu tiba-tiba ada konsumen yang sepertinya saya kenal cuma ragu takut salah orang. Namun sepontan saya hampiri sambil bilang " mba ada yang bisa saya bantu.." saat dia menoleh ke arah saya.. kaget, seneng, campur aduk. " Lia..? " 


Dia langsung pergi tanpa sepatah kata pun. Seketika ambyar hati rasanya. 


Keesokan harinya ada DM yang berisikan " Assalamualaikum mas, ini aku Lia.. maaf ganggu mas, selamat ya mas udah mau nikah.." seketika GEGANA (gelisah, galau, merana) pun musnah. 


"Wa'alaikumussalam de, siapa yang nikah de, mas ngga jadi nikah.. " 


Singkat cerita setelah saling berbalas DM sampai minta nomor WA-nya kami mulai saling berbagi cerita lagi dan mulai dekat lagi. Dan saat itu saya kaget bukan kepalang. Gadis manja yang dulu saya kenal sekarang masyaallah berubah drastis menjadi lebih dewasa dan cara berpakaiannya yang saya lihat di IG nya masyaallah syar'i banget. 


Sambil bilang dalam hati.. Alhamdulillah.. padahal belum tau perasaan dia gimana ke saya πŸ˜‚. 


Juni 2018 setelah istikharah, minta pendapat orang tua, guru-guru dan sahabat saya mulai beranikan diri untuk mengutarakan perasaan saya kepada dia, jawaban dia simpel.. 


"kalo mas suka saya, ke rumah aja bilang ayah sama ibu terus minta ijin buat lamar terus nikahin saya.." tanpa pikir lagi.. langsung bilang akhir "bulan ini saya ke rumah kamu..", "okey mas aku tunggu.."


Sampai saatnya saya datang ke rumahnya menghadap orang tuanya untuk utarakan maksud dan tujuan saya, " sebelumnya mohon maaf pak, Bu.. saya KHOIRUL UMAM, saya suka sama anak bapak ibu, saya ingin menikahi anak bapak ibu, cuma begini lah saya apa adanya,"  


Tabarokalloh.. ternyata ayahnya paham tentang agama dan tau betul tentang hadis nabi yang menganjurkan untuk cepat menikahkan anak gadisnya untuk menghindari zinah dan segala fitnah.. ayahnya langsung bilang.


 "Kapan nak Umam mau bawa rombongan ke rumah..? ".. 


Alhamdulillah dalam hati rasanya ingin loncat-loncat karena saking senangnya.. "Insyaallah bulan Juli saya ke sini bawa rombongan untuk melamar anak bapak.."


"Baik nak Umam kami tunggu kedatangan nya.." jawab ayahnya. Singkat cerita 1 Juli 2018 kami lamaran dan sampai pada 19 AGUSTUS 2018. Saya jabat tangan ayahnya dengan penuh yakin mengucapkan kalimat paling romantis "Saya terima nikahnya dan kawinnya Lia Amalia Muchlisa binti Rahmat abadi Sahati dengan mas kawinnya tersebut di bayar tunai.." 


Sah.. Alhamdulillah.. Saat paling membahagiakan dalam hidup saya setelah perjalanan berliku ternyata sampai di pelaminan juga.


Bersambung.. πŸ˜‚


Bersambung ke  - BIDADARIKU - (part 2)


_____________


Penulis: KHOIRUL UMAM
Rabu, 17 Maret 2021



NYEPI – catatan kecil, kenangan dan refleksi saat Nyepi di Bali

NYEPI

Sebuah catatan kecil, kenangan dan refleksi pribadi saya saat Nyepi di Bali.


NYEPI - catatan kecil, kenangan dan refleksi saat Nyepi di Bali


Om Swastiyastu πŸ™πŸ™πŸ™

Tahun 1998, waktu itu saya diajak oleh beberapa sahabat Bali untuk ikut menjadi Pecalang di Banjar Gemeh, Jl. Mayjend Sutoyo Denpasar. Saya menikmati betul keheningan Nyepi. 

Sebelumnya saya gabung di malam Pengerupukan mengangkat Ogoh Ogoh mengelilingi lapangan Puputan Badung di depan Kodam Udayana. Saya dan teman teman seperti Wayan Panca, Osta, Wayan Bero, Gung Was, Gung De, Oli dan masih banyak lagi yang tak bisa saya sebutkan satu per satu) berbaring di jalanan menghadap langit cerah penuh bintang sambil bercerita (tentunya setengah berbisik) tentang hidup kami dan hal hal lucu. 

Beberapa orang mengantar Chawi, drummer Siluet Band ke Rumah Sakit karena malam itulah anak keduanya, seorang puteri, lahir dan di beri nama Anugerah Saka Puteri. Saya berterima kasih atas moment itu. 

NYEPI - catatan kecil, kenangan dan refleksi saat Nyepi di Bali


Tahun 1999, saya diajak lagi untuk ikut Pecalang di Banjar Wijaya Kusuma, Jalan Wijaya Kusuma Denpasar. Waktu itu saya di rumah musisi Bali "Triple XXX". (Rah Ming, Rahtut, Rahde, Rahtu, Rah Man). Mereka memang sudah seperti keluarga saya dan sahabat seperjuangan. Saya berjalan bersama teman-teman di sana seperti Rah De, Rahtut dan beberapa orang lainnya sampai di Jl. WR. Supratman lalu kembali. Saya berterima kasih untuk semua itu. 

Kecuali saya ada job di luar negeri, di luar daerah, atau ada schedule di Hard Rock Hotel (Di Hard Rock Hotel kami disediakan kamar di hari Nyepi jika on schedule ) saya di rumah saja melewati Nyepi. 

Saya suka sekali Nyepi. Nyepi itu sehat dan moment satu-satunya di dunia. Di moment itu saya beristirahat lahir bathin sambil baca buku koleksi saya (buku koleksi saya ada 6 kardus ukuran jumbo hehehhee). 

Saya mengenangnya dan merindukan Nyepi dengan segala totalitas riuh rendahnya, macetnya, kesibukannya, kecepatan mempersiapkan hal-hal sebelum, dan waktu heningnya tiba, dan Pagelaran Ogoh-Ogoh yang euphoria-nya begitu powerful dan sensasional, beberapa jam sebelum akhirnya semua hening di waktu Nyepi yang telah ditentukan. 

Sebuah prosesi religius yang ber 'Taksu', dinamis dan kuat. Kuat dalam eksplorasi energi luar: Angkat ogoh-ogoh dan berjalan kiloan kilometer, teriakan lepas membahana khas masyarakat Bali di saat Ogoh-Ogoh diputar di persimpangan jalan dan sebagainya; maupun eksplorasi energi dalam: Menahan diri untuk hening dan diam!.

Selamat melaksanakan Catur Brata Penyepian buat semua sahabat di Bali. Selamat memperjuangkan Dharma dari Adharma. Selamat melebur jiwa dengan spirit murni bumi selama 24 jam. Selamat menikmati indahnya kolaborasi keheningan alam dan manusianya yang cuma sekali dalam setahun dan di dunia ini hanya ada di Pulau Bali.

Teruntuk Pulau Bali dan seisi alamnya, TERIMA KASIH sebesar besarnya atas pemberianmu. 
Terima kasih atas cinta dan rejekimu. Terima kasih atas apapun yang pernah kulalui di sana; pahit, manis, hitam dan putih, suka duka, persahabatan, seni dan cinta kasih; yang menjadi salah satu bagian kehidupan yang indah dan besar dalam perjalanan waktuku.

Sekali lagi, Terima kasih!.

Om Chanti Chanti Chanti Om... πŸ™πŸ™πŸ™ ❀❀❀


_________________
Penulis: Zul Saja

Sabtu, 13 Maret 2021.


Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 1)

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


"Sial! Anak itu semakin menjadi-jadi saja!," kata seorang pria di sebuah ruangan kantor berpendingin. Di hadapannya ada dua orang staff kepercayaannya. 

"Maklum, Pak. Dia kan aktif di luar pabrik. Lumayan terkenal, sih!," kata Ranto, salah satu staff HRD di depannya.

"Tapi, Boss pengennya serikat yang satu ini dibelenggu! Kalo perlu dihancurkan! Kemarin, Ketua mereka sudah kita habisin! Dan dia kooperatif tuh, mau nerima duit pesangon. Kenapa yang ini bebal sekali?."

Kedua orang di hadapannya hanya terdiam menunduk. Narsih, staff wanitanya sibuk memilin ujung baju kerjanya. Dia mahfum, karena kenal baik dengan Fatur, karyawan yang dimaksud oleh atasannya itu.

Fatur, yang ia tahu, punya idealisme tinggi terhadap organisasinya. Bahkan ia sering mendengar jika Fatur sering berbeda pandangan dengan kawan-kawannya di dalam pabrik, meski mereka masih satu wadah organisasi.

"Kok, kalian diam saja?. Bantu saya memecahkan masalah orang satu ini, dong!," kata pria itu lagi.

"Kita main di absensi saja, pak! Kan kemarin dia keluar pabrik dengan teman-teman serikatnya. Kita tuduh saja dia sebagai pembohong! Berbohong pada perusahaan kan termasuk dosa besar lho pak! Bisa masuk neraka!," kata Ranto menggebu-gebu.

"Hah!? Masuk neraka?." Terheran pria itu dengernya. Penulis juga ikut heran.

"Iya, Pak!. Masuk neraka!. Makanya daripada merugikan perusahaan, mending langsung saja dikeluarin surat PHK-nya!." Ranto semakin bersemangat. 

"Bagus!. Kamu benar-benar jenius!. Kita pakai saja cara itu!." Pria itu ikut semangat, matanya berbinar-binar mendengar ide cemerlang dari staffnya.

"Narsih! Langsung kamu buat surat PHKnya, panggil si Fatur, minta tanda tangan!. Kalo dia gak mau, kirim saja lewat email!." Perintah si Pria dengan gagah.

Giliran Narsih yang bingung. Neraka?. Absen?. Apa hubungannya?. Cuman karena ia hanya bawahan, ia hanya mengangguk,. " Baik, Pak. Saya bikin sekarang."

Kemudian Narsih meninggalkan ruangan itu dan segera mengerjakan tugasnya.

"Dan kamu Ranto, segera hubungin pengacara kita, bikin statement di media massa, bahwa si Fatur itu membuat berita palsu!. Bikin somasi!. Kalo perlu sebelum di kirim ke neraka, kita kirim dulu ke penjara!," dengan geram si Pria membuat instruksi.

"Dan kamu coba cari tahu, kawan-kawan pengurus serikat di pabrik, ada yang bisa kita ajak kerjasama, gak? Kalo perlu kita iming-imingi mereka dengan bonus tambahan, bagi yang mau bekerja sama dengan kita!," lanjutnya.

Ranto mengangguk, lalu dengan tergopoh-gopoh ia meninggalkan ruangan. Di luar, ia membayangkan kenaikkan jabatan jika berhasil dalam misi ini. Tak sadar, lidahnya menjulur keluar, liurnya menetes, bayangan bonus besar yang bakal ia dapatkan nanti terbayang di matanya.

--------------------

 "Tuk ... Tuk ... Tuk ...!" Ranto tergesa mengetuk pintu kantor atasannya.

"Masuk!." Terdengar suara dari dalam.

Bergegas Ranto memasuki ruangan, senyumnya mengembang, matanya berbinar-binar.

"Ada apa, To? Seneng banget nampaknya?," tanya Pria atasannya heran.

Dengan gesit, Ranto mengambil posisi duduk berhadapan dengan atasannya.

"Ternyata gampang sekali, Pak!," katanya dengan senyum yang belum hilang dari wajahnya, sehingga suaranya terdengar sengau.

"Gampang apanya?."

"Untuk mengeliminasi si Fatur itu lho!."

"Eliminasi?."

"Iya, Pak. Eliminasi!."

"Lah, emang si Fatur ikut Indonesia Idol?."

Duh! Ranto garuk-garuk kepala. Tak ia sangka, atasannya yang berperawakan seperti Ladusing di serial kartun tv itu ternyata tololnya bukan main.

"Bukan Indonesia Idol, Pak!. Di-eliminasi dari perusahaan, gitu lho!. Dikeluarkan!. Di-PHK!. Ngarti?"

"Lho, kok kamu marah-marah ke saya?." 

"Abis, bapaknya ngeseβ€”". Tak ia selesaikan ucapannya, saat melihat mata pak Ladus... Eh, atasannya melotot sangar.

"Begini, Pak." Akhirnya Ranto mulai berbicara dengan tenang.

"Ternyata, kondisi serikat di sini gak solid-solid amat, lho!."

Atasannya hanya diam, menyimak. Melihat sikap atasannya, Ranto melanjutkan.

"Para pengurus serikat yang lain, banyak yang ragu-ragu. Demikian juga anggota mereka. Mereka gamang. Lagian, rata-rata sudah pada berumur, dengan masa kerja belasan tahun. Pasti mereka akan berpikir untuk diri sendiri, dong!."

"Hmm, kamu tahu dari mana kalo pengurus yang lain gak solid?."

"Tau lah, Pak! Kan, saya banyak punya mata-mata!," kata Ranto sambil nyengir nyebelin.

"Apa mata-matamu bilang?."

"Info mereka, tempo hari saat ada rapat pengurus, dari sebelas hanya setengahnya yang hadir, itu menunjukkan tanda-tanda ke-tidak solid-an mereka."

"Ya, belum tentu! Siapa tau yang lain ada acara lain."

"Wah, Pak, sepenting-pentingnya acara mereka, jika solid, pasti mengusahakan untuk datang, tapi ini enggak, jadi bisa dipastikan mereka gak solid!."

Pria atasan Ranto itu manggut-manggut. "Kemungkinan itu masuk akal, terus apalagi infonya?"

"Lalu, jumlah anggota mereka juga tak terlalu banyak, dibandingkan seluruh karyawan yang kita punya, belum lagi Serikat Pekerja yang kita bina sendiri juga tak merespon apapun atas kasus si Fatur ini."

"Memangnya, apa nama serikat pekerja si Fatur ini?"

"Bapak gimana, sih! Masa lupa!." Ranto menggerutu.

"Lah!. Mana ingat aku!. Saking banyaknya serikat pekerja aneh-aneh!. Dan kamu jangan menggerutu seperti itu!. Ingat! Aku ini Kurniawan!. Atasanmu!." Teriak Pria yang ternyata bernama Kurniawan itu, marah dia.

Ranto membenarkan sikapnya, lalu ia berkata dengan hati-hati.
"Di perusahaan kita ada dua kubu, Pak. Yang satu namanya FSPGB, tempat si Fatur bernaung. Satu lagi SPBP, gitu Pak."

"FSPGB? Apaan tuh?."

"Federasi Serikat Pekerja Gokil Banget, cukup terkenal kok, mereka kabarnya sangat militan, solidaritas tinggi, dan reaksioner. Cuman di perusahaan kita, hal itu gak terlalu pengaruh."

"Hmm... Agak aneh juga nama serikatnya ... Terus, SPBP?. Apaan lagi?."

"Serikat Pekerja Binaan Pengusaha, di kita jumlah mereka lumayan banyak lho pak, lebih banyak dari FSPGB, dan anggota mereka itu hanya anak-anak manis semua, lho!."

Kurniawan kembali manggut-manggut, puas nampaknya.

"Terus, gimana kabar lawyer kita?. Apa sarannya?." tanyanya setelah berdiam beberapa saat.

"Oh, pak Benarudinawisata? Beliau ada di luar pak, menunggu giliran ketemu bapak," jawab Ranto santai.

"Oh, ada di luar? Suruh masuk saja, kita diskusi sekarang untuk kelanjutan kasus ini," kata Kurniawan sambil memberi isyarat ke arah pintu dengan tangannya.

"Baik, Pak." Ratno dengan sigap langsung ke luar ruangan. Beberapa saat kemudian ia kembali masuk. Di belakangnya mengikuti seseorang, yang berperawakan besar seperti binaragawan Ade Rai, dengan jenggot panjang melambai mencapai perut.

Sang Pengacara!


----------


Judul asli: CERITA HALU
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi


Roller Coaster Kehidupan Bikin Lupa Piknik

Roller Coaster Kehidupan Bikin Lupa Piknik

"Maaf ya Mak. Pasiennya sudah dibawa ke Sukabumi. Berobat alternatif." 

Gue kaget. Ada penyesalan yang tiba-tiba merangsek nonjok batin gue. Kesibukan gue yang gak bisa gue tolerir, bahkan menyisakan dua jam waktu saja menempuh perjalanan Taman Rahayu - Rawa Banteng Cikarang pun gak bisa gue lakukan. Terlebih pas inget motor butut gue yang sebulan ini mogok total minta jajan. Hih...! 

"Anaknya ada gak?," ujar gue akhirnya, getir. Nginget gue sebelom ke mari sengaja belanja sekadar jajan. Susu kotak, snack, roti isi yang semuanya berjumlah 5, sebab menurut info, target pasien kali ini punya anak 5 orang. Pikiran gue simpel, bocah gak ada yang gak doyan jajan.

" Anaknya dibawa semua ke Sukabumi, Mak." 

"Lah, emang gak pada sekolah?."

"Ntu die Mak, anaknya gak ada yang sekolah." 

"Heh!, Kok bisa?." 

"Nah emang gitu Mak." 

"Rumahnya kosong berarti?." 

"Ada suaminya. Sendiri, kan die kerja."

"Waduh, jadi istrinya sakit, katanya suruh berobat tapi tetap sambil bawa anak 5?," tensi gue mulai naek. 

"Anaknya 6 Mak."

"Grrrr......"

Roller Coaster Kehidupan Bikin Lupa Piknik
Pening pala gue. Asli. Lambe julid gue gak nahan banget buat berkomentar, "Suami, alesannya kerja buat anak-bini, tapi pas bininya sakit parah begitu ampe gak keurusan. Nanggung separuh beban saja kagak. Mending kalau hasil dari kerjanya lebih?, nyukupin aja engga, boro-boro nyenengin." 

Tambah lagi info kalau di sekitar rumah pasien ini ternyata bertebaran saudara-saudara dari pihak suami. Tambah panjang lagi kejulidan gue, "Lah sodara ampar-amparan tapi ketitipan ponakan aja gak mau, biar emaknya fokus berobat. Ntar kalau tuh emak-emak "lewat", ketitipan bocah 6 seumur-umur, lu!." 
Asli gemes.

Manusia, banyak yang menjalani hidupnya kayak lagi duduk di atas roller coaster. 

Tau roller coaster? Ntu, kereta luncur amat sangat cepat yang ada di taman-taman hiburan. Melesat, meliuk-liuk sesuai settingan rel. Yang naik? Kerjaannya pegangan kenceng sambil terus teriak-teriak. Gak ada di pikiran selain ketegangan. Muka pucat tapi tetawaan, jantung berdegup kencang bahkan melorot ke bawah permukaan tanah, lalu seketika meloncat ke atas kepala. 

Makanya buat orang-orang tua, dan penderita "sakit istimewa" dilarang keras naek ini wahana. Bisa semaput bahkan modar saat itu juga. 

Roller Coaster Kehidupan Bikin Lupa Piknik

Bayangin kalau seperti itu cara hidup kita. Pergi pagi pulang petang bahkan larut malam. Banyak pula yang tetap kerja saat harusnya badan terpenuhi haknya untuk beristirahat.  

Demi apa? Sesuap nasi, atau bayar cicilan atau bayar deretan panjang tanggungan. Belum lagi kalau ada keperluan dadakan. Jungkir balik jumpalitan pun seringnya yang didapat masih saja kurang. 

Yang di rumah juga tak kalah menegangkan. Dari melek mata sampai pengen merem lagi itu kerjaan gak kelar-kelar. Seolah beranak pinak gak putus sepanjang zaman. Urusan dapur, cucian, beres-beres, anak-anak dengan segala polahnya yang rupa-rupa. 

Belum lagi urusan kreditan panci, cicilan jilbab, arisan, sumbangan maulid RT-RW sampai kelurahan, silih berganti dengan ulah tetangga usil nan menjengkelkan.

Tahu gak?, efek gak bisa "nikmatin hidup" dan lupa piknik ini yang menjadi pemicu aneka kanker, jantung, ginjal, paru-paru sampai radang selaput otak kalau gak buru-buru sadar untuk kembali bersandar pada Allah Sang Penguasa Kehidupan. 

Rasa sedih, kecewa, kesal, lelah dengan segala rupa kehidupan membuat kita jadi hanya terfokus pada yang ada di depan mata. Persis seperti lagi naik roller coaster. 

Dalam satu materinya Ust. Nashrullah Magnet Rezeki mengutip ayat Al Quran Surat Al Baqarah ayat 35, "Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai..." 

Dalam ayat itu, Ustadz Nashrullah mengatakan bahwa Allah SWT menciptakan manusia itu untuk bersenang-senang. Allah SWT sudah memberi fasilitasnya. Istri (bahkan boleh lebih dari 1, #uhhuk), makanan yang banyak rupa dan jenisnya di tempat yang indah-indah dan menyenangkan yang kita sukai. 

Lah enak orang kaya yang banyak duit dan bisa piknik, dong?. 

Pala lu. Piknik gak perlu nunggu kaya! orang missqueen juga bisa. Jalan-jalan pagi di sekitar rumah kalau libur, beli gorengan ceban (10 ribu rupiah) di tempat layar tancep, atau ikut gue lah jadi relawan ke tempat orang gak waras. Itu piknik luar biasa yang bikin kita bersyukur menyadari masih terlalu banyak orang di luar sana yang hidupnya jauh lebih susah dari pada kita!. #ngos-ngosan.

Cobalah turun dari roller coaster, naiklah kereta kelinci kayak bocah balita. Saksikan di kanan kiri kita. Ada bunga beserta kupu-kupunya, kolam ikan yang penuh anak cebong #ehh, ada nenek tua yang ngarep dikasih air minum karena tinggal seorang diri lagi lumpuh dan buta. 

Nikmati hidup. Allah gak nyuruh kita sedekah banyak. Peduli. Karena sungai gak cuman berisi tokay kanyut. Tapi ada ikan betik lucu yang gurih banget karena dia tinggal di air asin, otomatis terbumbui. 

Ahh, ayolah. Jangan kira orang kaya yang kita pikir banyak harta bisa sepenuhnya bahagia seperti perkiraan kita. Mereka juga kalau hidupnya di roller coaster, akan dibuat sibuk pusing memikirkan bagaimana menjaga dan menambah hartanya. 

Padahal sunatullahnya harta yang bermanfaat bagi pemiliknya adalah harta yang dihabiskan untuk menolong agama-Nya dan menolong sesama. Bahagia dengan berbagi kepada sesama.

Roller Coaster Kehidupan Bikin Lupa Piknik

"Kenapa siy udah parah gitu masih weh gak mau ke dokter?." 

"Iya Mak, katanya trauma kalau ke dokter, di IGD disuruh buka baju biar dokter bisa liat benjolan-benjolan yang ada di seluruh badannya."

"Lah aneh. Kalau dokter menyuruh buka bajunya di lobi atau salasar rumah sakit mah dia boleh marah dan gak terima. Lah ini dokter nyuruhnya kan di dalam ruang IGD?." 
Sewot lagi! 
#ceritaRelawan
#KamisSoreKemaren


Penulis: Sri Suharni Maks
Sabtu, 30 November 2019


KOTA YANG ANEH DAN MENYERAMKAN

KOTA YANG ANEH DAN MENYERAMKAN

KOTA LAMTORO

Seperti yang sudah-sudah, akhir tahun ini aku mendapatkan libur panjang sehingga rencana pulang kampung bisa terlaksana. Dan mudik ini terjadi lima tahun sekali, sejak aku mulai ikut berlayar di sebuah kapal pesiar asal Finlandia.

Ini berarti kepulanganku yang ke-tiga, semenjak lima belas tahun lalu. Rindu bertemu keluarga sudah hampir tak terbendung. Aku pun hanya membawa tas ransel dan bungkusan plastik berisi cokelat Swiss untuk oleh-oleh anak-anakku.

Aku memang sengaja berjalan kaki sejak turun dari bus yang mengantarkan hingga tiba di propinsi ini. Sudah lebih dari setengah hari aku berjalan, melewati beberapa kota dan desa.

Di depan, adalah kota terakhir yang biasa  kulewati jika pulang ke rumah. Namun, setibanya di gerbang kota, pintu masuk itu dipalang oleh banyak sekali kayu, hingga nyaris tertutup rapat. Beberapa orang terlihat sigap berjaga di situ. 

Dengan perasaan heran, aku bergegas menghampiri para penjaga berpakaian dan dibekali peralatan lengkap itu, dan bertanya pada salah seorang yang juga langsung berjalan mendekat ketika melihatku datang.

"Ada apa, Kang? Kok gerbang ditutup?" tanyaku sopan.
"Iya, Mas. Emangnya Mas dari mana mau ke mana?," orang itu bertanya balik.
"Saya baru pulang berlayar, mau ke kota Lamtoro. Itu seberang kota ini," jawabku sambil menunjuk jauh ke depan.
"Oh, mau ke Lamtoro. Ini sudah seminggu jalan ke kota ini ditutup, Mas. Sedang ada wabah mematikan di dalam kota. Sebaiknya si Mas ambil jalur lain saja."
"Wah, jalur lain cuman ada dua, ya?. Yang satu harus memutar tiga gunung dulu baru tiba di Lamtoro, bisa makan waktu dua hari perjalanan!," gumamku kecewa.
Orang di depanku hanya mengangguk.
"Atau lewat kota sebelah itu?," kataku ragu. Mataku memandang ke kanan, ke arah jalan setapak yang tak jauh menuju kota persis di sebelah kota ini.
"Tapi, Mas, kota sebelah itu kan ...." tak selesai ia mengucapkan kata-katanya. Ia ikut memandang ke arah jalan setapak itu takut-takut.

Aku mengangguk maklum. Penduduk  sini semua tahu persis kota sebelah. Aku pun tahu. Sebuah kota yang aneh dan menyeramkan. Sudah bertahun-tahun tak ada yang berani melewati kota itu. Bahkan semenjak aku masih kecil.


Aku berpikir, jika aku melewati jalur gunung-gunung dan menghabiskan waktu dua hari untuk itu, berarti mengurangi jatah liburku.  Padahal rasa rindu ini sudah tak tertahan. Akhirnya aku nekad saja sambil berharap keberadaan di kota sebelah itu hanya mitos. Keberanianku pun muncul.

"Baiklah, saya lewat kota sebelah saja," kataku sambil mengangguk pasti.

Orang itu hanya memandangku dengan pucat. Mulutnya terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun keputusanku sudah bulat, dengan melambaikan tangan aku meninggalkannya.

"Tidak apa-apa. Saya harus cepat sampai di Lamtoro, karena waktunya tak banyak, Kang." Aku memotongnya.

Dan tanpa menunggu ia mengatakan apapun, aku langsung berbalik dan berjalan ke arah setapak yang akan menuju ke kota sebelah.

Sekilas kulihat kawan-kawannya yang lain menghampirinya. Mereka saling berbisik. Entah apa yang mereka bisikkan, aku tak peduli lagi. Tujuanku sekarang hanya ingin cepat sampai menemui istri dan dua orang anakku.


KOTA SEBELAH


Gapura di jalan masuk kota ini berstruktur kuno dan tampak tak terawat termakan usia, retak-retak dan dihiasi lumut kering serta tumbuhan liar, namun terkesan ada wibawa kemewahan di situ. Mewah tapi angker. 

Jalan masuk itu lengang. Entah untuk kali keberapa aku memantapkan hati dan mulai berjalan menyusuri kota sebelah. Jantung ini berdegup kencang, menantikan keanehan apa yang bakal terjadi.

Tak seperti yang kusangka, ternyata pemandangan dalam kota ini lumayan indah. Rumah-rumah tersusun rapi di kiri kanan jalan. Gedung-gedung bertingkat pun nampak di antaranya.

Beberapa orang nampak berjalan hilir mudik. Pakaian mereka rapih. Para pria menggunakan Jas yang terkesan mahal. Dan wanitanya menggunakan pakaian sopan seperti karyawan kantoran.

Keanehan mulai terasa di sini. Mereka yang berpapasan denganku, pasti memandang ke bawah, ke arah bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss yang kubawa.

Dan mereka tersenyum-senyum. Semakin banyak yang berpapasan, semakin banyak orang yang tersenyum ke arah bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss. Beberapa wanita bahkan sempat tertawa lebar sambil menunjuk-nunjuk bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss.

Aku heran apa yang mereka lihat dan tertawakan. Tapi aku tak ambil perduli. Kuteruskan langkahku.

Semakin ke dalam kota. Pemandangan kota semakin aneh. Jalan-jalan becek berkilat memantulkan cahaya, seperti habis terkena hujan karena banyak genangan air di sana-sini. Itu yang kukira. Tapi setelah melihat dari dekat genangan itu, ternyata genangan darah!.

Jantungku semakin berdegup kencang. Hati mulai tak karuan. Kuteruskan melangkah sambil mempererat pegangan ke bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss.

Di depanku nampak dua orang setengah baya sedang bertengkar. Mereka berpakaian jas mahal. Sepertinya para petinggi. Saling tunjuk dan berbicara keras yang tak kumengerti. Tiba-tiba saja salah seorang mengambil parang dari balik jasnya, lalu menebas kepala lawannya. 

"Crasshh!"

Darah muncrat menyembur dengan liar dari ujung leher yang tak berkepala lagi. Bau amis menyebar. Perutku mual, kutahan sekuat tenaga agar tak muntah. Orang berparang itu tertawa sambil mengacungkan parangnya tinggi-tinggi ke atas. Kepala yang ditebas menggelinding ke arahku yang sedang berusaha untuk terus berjalan perlahan walau dengan kaki bergetar.

Kepala itu berhenti persis di depanku. Matanya masih melotot, bergerak berputar lalu berhenti dan langsung memandangku. Kepala itu masih hidup! Mulutnya tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Orang berparang ikut menghampiriku, lalu juga tertawa terbahak sambil menunjuk bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss yang kubawa.

Aku cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Semakin ke jauh masuk ke dalam kota, gedung-gedung bertingkat semakin banyak. Gedung perkantoran. Yang mewah seperti istana. Orang-orang bertambah banyak. 

Sampai aku tak heran lagi, saking seringnya orang yang berpapasan denganku langsung tertawa melihat bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss di tanganku.

Di persimpangan jalan, seorang anak berlari menghampiri sambil tertawa riang. Terkekeh-kekeh menunjuk ke arahku. Sebuah motor berlampu kerlap kerlip melaju kencang ke arah anak itu. 

"Brakkk!"

"Prakkk!"

Suara benturan keras sekali. Dua suara terdengar di sela raungan motor. Aku tak sempat memejamkan mata, hanya tertegun melihat tubuh si anak terlempar ke udara, lalu jatuh terbanting dengan kepala lebih dulu dan hancur berantakan. Tubuhnya masih bergerak-gerak, suara tawanya masih terdengar riang. Mulutnya masih utuh menyeringai walau bagian kepalanya hancur. Tangannya masih menunjuk ke bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss. Aku mempercepat langkahku, bergegas meninggalkan lokasi itu.

Nampaknya sekarang aku tiba di pusat kota. Ada taman dengan kolam berair mancur dengan patung di atasnya. Banyak orang di situ, semua berpakaian jas mahal. Sepasang orang muda terlihat di pinggir kolam. Pria dan wanita. 

Mereka sedang bercanda nampaknya.  Lalu si wanita memasukkan tangannya ke mulut si pria. Terus ke dalam, ke arah dada. Pria itu berkelojotan kesulitan bernapas. Saat tangan wanita itu keluar, dari siku ke arah jari menjadi berlumuran darah. Nampak jantung si pria digenggam erat. Masih berdegup. 

Lalu sambil tersenyum manis, si wanita memasukkan jantung pria itu ke mulutnya sendiri, lalu mengunyahnya. Darah menetes membasahi pakaian kantornya. Pria itu tertawa gembira. 
"Canda" yang aneh, pikirku.

Seperti bisa mendengar kata dalam hatiku, tiba-tiba pasangan itu menoleh ke arahku. Langsung saja mereka tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss yang kubawa.

Orang-orang di taman serempak ikut menoleh ke arahku. Dan seperti paduan suara, mereka ikut tertawa  terbahak-bahak, sambil menunjuk-nunjuk bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss yang kubawa.

Saking gelinya, mereka mengeluarkan parang dan saling menebas orang di sebelahnya. Suara tawa semakin membahana dari banyak kepala yang menggelinding ke arahku. Kolam air mancur sudah berwarna merah terkena banyak cipratan darah.

Aku mempercepat langkah meninggalkan taman kota itu. Setengah berlari ke arah gerbang ke luar kota. Suara tawa seakan masih mengikuti jelas sekali. Aku menoleh ke belakang, dan kulihat kepala-kepala itu menggelinding mengikutiku dari jauh. Sialan! Dan badan yang jauh tertinggal masih saja tangan mereka menunjuk ke arah bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss.

Penasaran dengan yang mereka lihat, aku menghampiri gedung terakhir di ujung jalan. Gedung yang banyak kacanya. Aku berdiri tepat di depan kaca yang paling terang dan memantulkan bayangan. Langsung terlihat diriku di kaca itu.

Dan aku terkejut bukan main. Kulihat tanganku erat menjambak rambut sebuah kepala, darah masih menetes di bagian leher. Bungkusan yang kubawa, yang kukira berisi oleh-oleh cokelat Swiss, ternyata adalah kepalaku sendiri!.


TIBA DI RUMAH 


Aku berlari sekuat tenaga meninggalkan kota aneh itu. Tanpa berhenti, hingga memasuki kotaku sendiri. Kota Lamtoro. 

Aku terus berlari menuju rumah. Tak ku indahkan tetangga yang memanggil. Hingga tiba di depan rumah. Istri dan kedua anakku sudah menunggu di situ. 

Melihatku datang. Mereka berteriak senang. Anak-anakku berlarian menghampiri. Istriku yang semakin cantik tersenyum manis. Aku tertegun, memandang mereka. Cemas. Ragu-ragu dengan penglihatan mereka terhadapku. Tapi sikap mereka tak ada yang aneh.  Anak-anak langsung mengambil kepa--- eh bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss. 

Dengan riang anak-anak mulai membuka  dan sibuk mengunyah oleh-oleh lezat itu.

Tas ransel kuberikan pada istriku. Tas yang berisi uang tabungan selama lima tahun, sehingga kami bisa merayakan tahun baru bersama. Aku bersyukur walau masih bergidik mengingat pengalaman di kota sebelumnya. Kota yang aneh dan menyeramkan.

Aku dan istri berpelukan mesra. Sekilasku lirik kedua anakku, membuatku hampir pingsan saking kagetnya. Karena kedua tangan mereka berlumuran darah!

+++++

Tamat.

Selamat Tahun Baru
.....yang berlumuran darah....



Penulis: Yous Asdiyanto Siddik
Kamis, 31 Desember 2020