Arsip Kategori: solilokui

Cerita Tentang Obat Paten Dan Obat Generik

 PATEN DAN STANDAR


Cerita Tentang Obat Paten Dan Obat Generik



Ruangan kasir rumah sakit itu terlihat sempit, mungkin tidak sampai 1 x 2 meter. Seperti loket untuk membeli karcis bioskop atau tiket kereta di stasiun. Kaca dengan lubang kecil berbentuk mulut gua menjadi satu-satunya celah untuk berkomunikasi dengan penghuni ruang sempit itu.


Seorang perempuan berusia sekitar 20 tahun sedang duduk di balik loket, menunduk, entah mengerjakan apa. Tak terlalu terlihat dari tempatku berdiri sebab terhalang penyekat tak tembus pandang.


"Permisi, Sus." Aku menyapanya dengan panggilan yang biasa dan umum ditujukan untuk pekerja rumah sakit yang perempuan selain dokter. 


Suster itu sedikit kaget, menoleh ke arahku. 


"Eh--Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?," katanya dengan gerakan sopan dan senyum khas sesuai standar pelayanan pelayan garis depan.


"Saya mau tanya, tentang tagihan sementara hingga saat ini untuk perawatan istri saya."


"Oh, baik. Siapa nama pasiennya, Pak?"


"Namanya sebut saja Melati."


"Ok. Ditunggu sebentar ya, Pak." 


Suster loket itu beranjak ke ruangan dalam, menuju meja komputer. Aku duduk di ruang tunggu itu sambil memandang sekeliling. Sepi, hanya ada beberapa orang saja di ruang tunggu yang dilengkapi pendingin ruangan ini. Rapih dan bersih juga. Lantai dan perabotannya terlihat rutin dibersihkan. Yah, lumayanlah untuk ukuran rumah sakit kecil seperti ini.


Tak beberapa lama, kepala suster loket itu muncul di balik jendela kaca. "Pak, ini tagihannya atas nama sebut saja Melati." katanya sambil menyodorkan selembar kertas print out tagihan.


Aku menghampiri loket dan kuambil kertas kecil yang bertuliskan angka-angka itu. 


"Whaatt!!?." Jumlahnya gede banget! Untuk ukuranku yang hanya tukang ojek, jumlah segitu bisa menguras tabungan hasil ojek selama 5 bulan,! kataku dalam hati. 


Masalahnya, aku gak sempet nabung. Penghasilan ojek hanya cukup untuk keperluan sehari-hari. Boro-boro untuk menabung atau membayar premi asuransi kesehatan.


Setelah berhasil menenangkan pikiran, kutatap suster yang diam saja melihat kekagetanku.


"Yang bikin mahal apa ya, Sus?," tanyaku penasaran.


"Oh, kalo dilihat dari daftarnya, yang bikin harga tinggi itu obat-obatan, saya juga kaget lihat harga obatnya yang mahal," kata Suster loket sambil memandangku, ada empati di sinar matanya.


"Maksudnya gimana, Sus?," kejarku yang benar-benar tidak dapat mencerna kata-kata suster muda ini.


"Sebaiknya, bapak tanya saja ke ruang perawatan kamar, biar lebih jelas. Kalo saya hanya kasir pak, hanya tahu jumlah tagihan," hindar suster muda ini. Sekilas sempat kubaca nama di bajunya.


Aku mengangguk, "Ok baik, saya akan tanya ke sana. Terima kasih ya, Sus."


"Sama-sama, Pak."


Aku berlalu dari bagian kasir, langsung menuju lantai dua tempat istriku di rawat. Ada Ruang Perawat di sana.


****


Ruangan para perawat jaga terletak di sudut gang tempat lalu lalang pasien/pengunjung. Di situ ada  4 orang perawat yang sedang duduk, berkutat dengan entah apa. 


"Permisi, Sus." Aku menyapa mereka. Keempatnya kompak mendongak, ada juga yang kaget sambil menyembunyikan ponselnya. 


Bruder, perawat yang laki-laki menyahut, "Ya, pak. Ada yang bisa dibantu?."


"Begini mas, tadi saya dari bagian kasir, menanyakan tagihan sementara untuk perawatan istri saya." Aku diam sejenak. Bruder dan tiga orang suster juga diam menyimak.


"Tagihannya ternyata lumayan besar, padahal istri saya baru masuk jam 11 siang kemaren, sampai hari ini jam 2 siang, hanya satu  hari lebih dikit, atau 26 jam saja."


Mereka masih diam tak menanggapi.


"Menurut kasir yang bikin mahal adalah tagihan obat-obatan, benarkah demikian?." Aku sengaja menekannya di bagian kata "obat-obatan" seperti yang disampaikan oleh kasir muda tadi.


"Oh, kalo boleh tau, pasien pake jaminan apa pak?," tanya si mas Bruder.


"Saya bayar mandiri, kartu BPJS saya gak bisa digunakan," kataku lemah.


"Oh gitu ya, Pak. Memang obat-obatan untuk pasien yang bayar mandiri, diberikan  yang bagus dan paten yang bikin cepat sembuh, jadinya mahal, sama dengan pasien peserta asuransi," Bruder itu menjelaskan dengan ringan. 


Penjelasan yang ringan itu terasa berat bagiku. Aku hanya terbengong-bengong mendengar itu. 


"Kalo ada pasien yang pake BPJS, dikasih obat yang sama?," tanyaku penasaran.


"Oh enggak pak, harga obat disesuaikan dengan tarif di BPJS, biasanya lebih murah." jawab si Bruder dengan entengnya.


"Berarti dikasih obat yang gak paten?."


"Iya, obatnya yang standar, obat generik."


Aku tambah pusing. Obat standar? Obat Generik? Obat paten? untuk orang sakit?.


Aku ngeloyor pergi sambil mengucapkan terima kasih. Setelah menghubungi sana-sini terkumpul dana sumbangan dari keluarga. Akhirnya diputuskan membawa pulang istriku yang belum sembuh benar. Di rawat di rumah. Sambil mencari celah untuk mendapatkan kartu sakti guna berobat gratis.


Beruntung punya kawan-kawan yang hebat-hebat, mereka mau membantu. Semoga berhasil.


****


Inget tetanggaku yang seorang kontraktor, pernah bilang saat nge-cor jalan perumaan. Cor yang mahal kualitas campuran dan obatnya lebih paten. Jadi kering lebih cepat dan awet puluhan tahun.


Beda dengan Cor-an yang murah, kering lebih lama, dan gampang hancur. 


Omaygat!



_________________
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik 
Selasa, 11 Februari 2020


Cerita Tentang Obat Paten Dan Obat Generik


*Catatan editor mengenai Obat Paten dan Obat Generik*

Obat generik adalah obat-obatan yang sudah habis masa patennya. Oleh sebab itulah jenis obat generik dapat di produksi oleh hampir seluruh perusahaan farmasi yang ada tanpa harus membayar royalti. 


Obat generik dapat dijual dengan harga yang jauh lebih murah karena ada dua faktor yang mempengaruhi hal tersebut, yakni karena memproduksi obat generik tidak membutuhkan biaya untuk riset atau penelitian (RND) serta tidak membutuhkan biaya untuk pematenan obat atau membayar royalti kepada pemilik atau pemegang hak paten. 


Obat generik sendiri ada 2 jenis. Yakni obat generik bermerk dan obat generik berlogo


Obat Generik Berlogo (OGB)

OGB atau obat generik berlogo adalah obat yang diberi nama sesuai dengan kandungan zat aktif yang dikandung. Sebagai contoh obat antibiotik seperti amoksisilin. Pada obat generik berlogo atau OGB, maka nama pada kemasannya adalah Amoksisilin tanpa ada nama lain di bagian belakang nama obat tersebut.


Obat Generik Bermerk

Sedangkan obat generik bermerk adalah obat generik yang dinamai sesuai dengan keinginan dari produsen farmasi yang memproduksinya. Contohnya pada obat antibiotik seperti amoksisilin di atas tadi. Misalnya sebuah perusahaan BP memproduksi obat tersebut, maka nama pada obat tersebut akan menjadi Amoksisilin BP pada kemasannya.


Obat generik bermerk lebih mahal karena menggunakan kemasan yang lebih baik sesuai dengan keinginan produsennya. Perbedaan lainnya dengan OGB juga pada beberapa zat tambahan serta zat pelarut yang digunakan pada racikan obat tersebut. Pada sebagian jenis obat generik bermerk, biasanya akan ditambahkan zat yang akan mengurangi aroma yang kurang sedap dari obat.



Pengertian Obat Paten

Berbeda dengan obat generik, obat paten adalah obat baru yang diproduksi serta dipasarkan oleh sebuah perusahaan farmasi yang sudah memiliki hak paten terhadap produksi obat baru tersebut. 


Hal tersebut tentu saja dilakukan menurut serangkaian uji klinis yang telah dilakukan oleh pihak perusahaan farmasi tersebut. Tentunya disesuaikan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan secara internasional. Sehingga obat yang telah diberikan hak paten tersebut tidak dapat diproduksi hingga dipasarkan oleh berbagai perusahaan farmasi lainnya tanpa seizin perusahaan farmasi yang memiliki hak paten. 


Izin produksi ataupun pemasaran akan diberikan kepada perusahaan farmasi lain dengan pembayaran royalti, besaran biaya royalti inilah yang membuat harga obat tersebut menjadi mahal.


Masa berlaku hak paten di Indonesia adalah 20 tahun. Dan saat masa hak paten tersebut habis, maka pihak perusahaan farmasi pemilik paten tersebut tidak dapat memperpanjangnya kembali. 


Jenis obat yang masa patennya telah habis tersebut dapat diproduksi kembali oleh perusahaan farmasi lain dalam bentuk obat generik bermerk atau obat generik berlogo.





Obrolan Menjelang Siang di Pelataran Ruko Kosong

Obrolan Menjelang Siang di Pelataran Ruko Kosong

Akhirnya, ada juga yang menanyakan hal menyeramkan itu. Padahal sudah gak mau dengar lagi masalah bangsat kayak gitu. Gini ceritanya.

Rehat di pelataran ruko kosong. Di situ sudah ada beberapa kawan ojol yang sedang duduk-duduk. Ada yang memejamkan mata sambil duduk bersandar ke dinding, berusaha tidur. 

Ada yang asyik memainkan hp, ane intip sekilas, ternyata sedang main game domino, game favorit ojol. Ada yang berkumpul bertiga mengelilingi ponsel sambil cekikik lirih. Ane tebak, pasti main Ludo.

Ane hampirin ojol yang di pojokan, sedang melamun dia. 

"Ramai?" tanya ane sambil mengajaknya bersalaman.

"Ramai bang.... Jalannya mah" jawabnya sambil nyengir sumbang menyambut uluran salam tangan.

Ane ikutan sumbang nyengir, basa-basi.

"Ngelamun bae ah, ntar kesambet jin ruko lho..." kata ane nyoba becanda.

Dia hanya mendengus lirih. Gak peduli Ama candaan ane. Garing kali ya?

"Kenapa sih? Galau amat? Order mah gak usah dipikirin, ntar ge kalo rezeki mah tuh hape bunyi sendiri. Minum?" nyerocos ane sambil nawarin air mineral yang tinggal separuh.

Dia menggeleng pelan. Ane tau diri. Mungkin ini ojol tipe pendiam. Ane diem aja, sambil sandaran di tembok. Setelah beberapa saat, mata ane mulai terbius hawa ngantuk. Tiba-tiba dia bertanya.

"Abang punya kartu BPJS?" tanyanya ngagetin.


Kayak petir di siang bolong mendengar pertanyaan itu, ane kaget bukan kepalang. Badan langsung meriang, kepala cekot-cekot, hawa tubuh mendadak panas 100° C, rasanya kayak iblis kepanasan yang akibat disembur ayat-ayat suci. Nafas ane memburu, tersengal. Setelah 7 kali ambil nafas panjang, yang sekali campur tanah, emangnya kena najis? akhirnya ane jawab.

"Punya sih, cuman gak aktif."

"Wah sama bang, punya ane juga udah 3 tahun gak aktif. Nunggak. Sampe sekarang belum sanggup bayar."

"Sama ane juga.. belum sanggup bayar."

"Gila ya bang, saya harus lunasin tagihan yang sampe 5 jutaan," kata dia, nadanya kesal. Dia meremas tangannya berkali-kali.

"Iya...emang gila," jawab ane sekenanya. Males ngomongin masalah bangsat kayak gini.

"Mana istri saya lagi sakit bang, gak tau parah atau enggaknya, semalam saya bawa ke dokter kampung, bayar 55 ribu buat beli obat sekalian. Untung bisa tidur setelah saya pijit dan usap-usap punggungnya," katanya sambil ikut bersandar di dinding, kakinya selonjoran.

"Sekarang kondisinya bagaimana? Baikkan kah?," tanya ane nyoba berempati.

"Tadi pagi panas banget, ane beliin bubur gak dimakan, nangis mulu nahan sakit. Ane bingung harus bagaimana. Tadi sebelum berangkat ane minta tolong tetangga buat jagain sampe ane pulang. Bocah kan harus sekolah bang. Abis anter bocah ane langsung mlipir, ini baru dapet 2 trip, jarak deket, sekarang malah anyep," jawabnya panjang lebar.

Ane terdiam. Melirik ke jam di hape, saat ini pukul 10.15. kalo dia berangkat jam 6.30 waktu anak sekolah, 2 trip jarak dekat berarti baru sekitar 20 ribuan dia dapat. 

"Saya mo bawa istri ke rumah sakit rencananya sore ini, makanya saya ngarepin dapet banyak hasil hari ini, cuman yaahhh...udah jam segini malah anyep," keluhnya sedih.

Ada rasa ngilu di hati ane dengerinnya. Kuping ane seperti denger suara kuku yang digaruk di lembaran seng, sresekkk....sresekkk...." seperti itu ngilunya.

"Sabar bang.... Jangan banyak ngeluh, ngeluh itu hanya berasal dari rayuan iblis lho.."  kata ane. Malah kaget sendiri ane, kenapa ngomong gituan. Hadeuhh...

Sontak dia berpaling, natap ane, matanya tajam, terlihat gusar.

"Sabar udah jadi darah daging saya bang, jangan ngajarin masalah sabar ke orang seperti saya! Kalo saya gak sabar, sudah saya ambil parang di dapur, saya rampok bank di depan kita itu!!," ketusnya.

Wuaduhhh.....ane ingin narik ucapan barusan, nyesel juga, hanya bisa garuk-garuk kepala. Ane terdiam. Dia juga diam. Kami diam-diaman. Halahhh...

"Bang..." Dia membuka suara duluan.

"Hmmm...." Jawab ane. Deuh malah jadi kayak orang pacaran. Geli sendiri.

"BPJS itu bukan buat kita ternyata ya?" 

"Ehm..maksudnya?" tanya ane bingung. Kulirik dia masih meremas jarinya.

"Iya, BPJS bukan buat orang miskin kayak kita. Lihat saya, tunggakan BPJS belum terbayar, dianggap hutang. Lah kabarnya mulai tahun depan iuran BPJS dinaikkin...."

Ane diam sambil merem. Malas dengerin kata bangsat itu lagi.

"Itu artinya secara gak langsung kita disuruh mati bang! atau kita dilarang sakit! Dan kalo ane terpaksa sakit sedikit parah aja, mendingan bilang ama dokter minta disuntik mati aja, biar gak ngerepotin keluarga. Tinggal kubur. Beres. Itu maunya pemerintah kita kali ya bang? Biar yang idup orang kaya semua?!"

Glek!

Ane coba telan ludah. Gak bisa. Kerongkongan kering. Tiba-tiba bibir terasa pahit. Kepala berkunang-kunang. Ane hanya tutup kuping dengan kedua tangan keras-keras. 

Gak mau denger lagi !!!


_________________
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik 
Senin, 9 Desember 2019



Selamat Merayakan Tahun Baru, Abaikan Aku yang Tak Ikut Merayakan

Selamat Merayakan Tahun Baru, Abaikan Aku yang Tak Ikut Merayakan


Sore ini hujan. Gak lebat sih, tapi cukup bikin basah jalanan. Kuputuskan gak pake jas hujan saja. Toh jaket ojol ini sudah cukup lumayan untuk melindungi badan dari hujan kecil. 


Laju motor tak terlalu kencang, cenderung santai menikmati gerimis di sore yang teduh. Aplikasi ojol sudah kumatikan sejak awal hujan tadi. Pengalaman-pengalaman tidak enak membuatku malas mengambil penumpang atau mengantar makanan hujan-hujanan.


Sepanjang jalan, banyak motor menepi di beranda toko-toko. Beberapa kawan-kawan ojol nampak di situ. Bernaung dan sekadar berlindung dari air hujan agar tidak kebasahan.


"Woiii....sini bro, ujan! Ngopi dulu lah!!" Teriak salah satu kawan ojol, sambil mengangkat gelas plastik berisi kopi. Kawan yang lain juga melambaikan tangan mengajak bergabung.


Aku hanya menggeleng lemah. Membunyikan klakson sebagai balasan. Kuteruskan laju motor hasil kredit yang setahun lagi akan lunas. 


Langit nampak semakin gelap. Semakin lama semakin cepat air yang turun dari langit. Hujan mulai deras dan bertambah lebat.


Tanggung, aku tak jadi berhenti untuk berlindung. Kubiarkan saja hujan ini menerpa tubuh. Jaket ojol ini tak sanggup lagi menahan air hujan yang banyak. Merembes, menembus hingga kulit. Sekujur tubuhku akhirnya basah.


"Lampu merah! Huh sialan!." Kutukku dalam hati. Sebal juga terhambat oleh lampu aneh ini. Angka di lampu mulai menghitung mundur. Dari angka 30.  Deuh! 


Di ujung jalan, di dekat serambi Pos Polisi, tampak seorang lelaki tua penjual terompet berteduh. Wajahnya murung dan lusuh, romannya sedih. Plastik yang menutupi dagangannya gagal melindungi seluruh terompet yang memenuhi pikulannya. Sebagian terompet untuk perayaan tahun baru itu rusak dan basah. 


Kasihan juga, pikirku. Terbayang di benakku, saat ia pulang nanti, ia hanya membawa berita kegagalan. Mungkin istri dan anak-anaknya saat ini sedang di rumah menunggu hasil jualan yang ternyata hanya harapan hampa.

 

Bapak Penjual Terompet Tahun Baru
Sumber: https://lihatfoto.com


Ku teringat di salah satu broadcast grup Whatsapp, yang memberitahukan akan larangan bagi umat muslim untuk meniup terompet di tahun baru. Entahlah, walau aku sedikit mengerti esensi larangan itu, tapi tetap saja kalau melihat tukang jualan terompet, merembet ke para pembuatnya, ke keluarganya dan semua mereka yang mengharapkan rezeki dan penghasilan di malam pergantian tahun, hati kecilku menjadi gamang. 


Jelas mereka hanya rakyat kecil yang mengharapkan rezeki dan mencari penghasilan lebih memanfaatkan momen setahun sekali. Untuk sekadar bertahan hidup lebih lama di hari-hari berikutnya. Apa yang salah dengan hal itu?.


Entahlah... Hal-hal seperti ini memang sering membingungkanku. Hanya saja sebagai mahluk sosial, hati kecilku tak terima jika kesempatan atau pintu-pintu rezeki mereka ditutup begitu saja tanpa penjelasan yang masuk akal.


Lamunanku buyar oleh suara klakson mobil di belakang. Sudah hijau rupanya. Kulajukan motor hati-hati. Sebelahku motor jenis RX-King meraung-raung, melaju dengan kencang. Merebak membelah genangan air di depan, muncratan air yang ia sebabkan di kanan kirinya, indah juga. Lihat motor itu, aku teringat bung IM sekjen, yang hobby motor seperti itu.


Akibat lamunan di lampu merah tadi. Aku jadi sadar bahwa sekarang adalah malam menjelang tahun baru. Malam nanti pasti banyak yang melek. Menunggu detik-detik pergantian tahun. Macam-macam kegiatan sukacita untuk merayakan malam tahun baru. Entah merayakan apa. Bagiku sama saja. Hari-hari yang harus dilewati dengan kerja keras, jungkir balik memeras keringat.


Terngiang berita-berita di media, bahwa awal tahun baru ini pemerintah berniat menaikkan macam-macam harga. Iuran BPJS, tarif listrik, cukai rokok, tarif jalan tol, dan lain-lain, ku tak ingat lainnya. 


Sialan! Entah apa yang mereka rayakan dengan gegap gempita saat malam pergantian tahun. Apakah merayakan penderitaan yang semakin kelam untuk rakyat miskin seperti kami? 


Tak terasa air mataku malah mengalir. Membayangkan harga-harga yang harus kupenuhi. Membayangkan seringai para pembuat kebijakan di pemerintahan. Para pembuat kebijakan yang meremehkan untuk berpihak pada rakyat miskin.


Air mataku, air mata geram. 

Air mataku,  air mata tak berdaya.

Air mataku, air mata yang hanya penuh sumpah serapah.


Air mata itu semakin deras. Tanggung,  Kumenangis sekencang-kencangnya. Berharap hujan lebat menyamarkan tangisanku. Tak ada yang tahu.


Sementara rumahku semakin dekat. Langit semakin pekat, menjelang maghrib rupanya. Aku malu jika terlihat menangis, cengeng. 


Kubuka saja helm ojol ini. Kubiarkan air hujan menerpa kepala, membasahi seluruh wajah, agar istri dan anak-anak tak tahu kalau aku menangis.


Selamat Tahun baru.

Selamat apa ??!!!

Sialan!


_________________
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik 
Selasa, 31 Desember 2019


Jangkrik Yang Malang, Kalajengking Yang Kejam

 Jangkrik Yang Malang Kalajengking Yang Kejam


Jangkrik VS Kalajengking


Hari yang aneh. Sebentar hujan, sebentar panas. Bosan menunggu handphone yang sedang bisu, akhirnya nongkrong di pelataran ruko lagi.

Pas ada jangkrik yang sedang berkelahi dengan kalajengking. Sepertinya si jangkrik ini pemberani, padahal dia hanya bisa menyeruduk. Sedangkan kalajengking punya capit tajam dan sengatan ekor belakang yang berbisa. 

Seru juga melihatnya. Si jangkrik pantang mundur, sibuk berloncatan ke sana ke mari, menghindari capitan dan sengatan si kalajengking. Sesekali ia berhasil menyeruduk mengenai tubuh kalajengking yang tebal.

Kalajengking hanya tersenyum sinis. "Cuman segitu doang kemampuanmu,?" mungkin begitu yang ada di pikiran Kalajengking. 

Setelah berkali-kali ia mencapit, menyengat, tetapi tidak kena-kena, akhirnya kesal juga. Segera ia menggunakan strategi ampuh. Capitnya ia turunkan, ekor sengatnya ia sembunyikan. Seakan tak bersenjata, dia hanya berdiam, menunggu serudukan si Jangkrik.

Jangkrik, yang melihat kesempatan itu, langsung mengambil tindakan, dengan kuda-kuda yang kuat, ia melompat sambil menyeruduk dengan tenaga penuh. Yang tempo hari berhasil membuat raja jangkrik tak berdaya saat melawannya.

Huupp!
Krekkk!
Buk!

Tubuh si Jangkrik melayang lalu jatih ke tanah. Tubuhnya terbelah dua. Sebagian hangus tersengat racun.


Jangkrik yang malang, Kalajengking yang kejam.


"Huh! Curang! Ya jelas saja dia menang, senjatanya banyak! Capit, sengat! Curang!," kata orang yang ikut menonton di sebelahku.

"Yaelah! Jangkriknya aja yang gak tau diri! Gak punya senjata maen lawan kalajengking! Ya mati konyol, kan?" kata orang di sebelahnya.

Ramai orang-orang berbincang perkelahian yang tak seimbang itu. Sementara si Kalajengking berjalan menuju lubangnya dengan gagah, dada dibusungkan, bangga dengan kemenangannya. Aku hanya tertegun, melihat tubuh jangkrik terbelah dua. 

Pikirku, seandainya saja si Jangkrik dipinjami capit atau sengat, tetap tak akan mampu melawan kalajengking yang semasa hidupnya memang terlatih menggunakan senjata di tubuhnya itu.

Hanya saja, jika si Kalajengking punya rasa kebinatangan, melihat Jangkrik yang bukan lawan sepadan, pasti ia hanya menggunakan ekornya untuk mengibaskan Jangkrik agar pergi jauh-jauh sebagai peringatan.

Atau jika terdesak, ia bisa menggunakan capitnya untuk memotong kaki Jangkrik sebagai pelajaran agar tak melawannya lagi.

Tapi memang dasar binatang. Ia malah memilih untuk membunuhnya. Sadis.

Orang-orang yang tadi berkerumun, bubar sendiri-sendiri bergumam tak jelas. Beberapa orang tertawa terbahak-bahak melihat Jangkrik yang tewas mengenaskan. Mereka pikir Jangkrik itu sombong, berani melawan Kalajengking. "Rasakan akibatnya, biar kapok," mungkin begitu pikir mereka.

Geram dengan kejadian barusan. Aku memutuskan mlipir saja. Mumpung matahari sedang terang. Berpanas-panasan mandi matahari, agar virus sialan terbakar tanpa perlu vaksin.

Sadis.

_________________
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik 
Selasa, 8 Desember 2020

Kopi Sore Pembawa Kenangan

Kopi Sore Pembawa Kenangan

Berbeda dengan pagi, sore selalu saja membawa kenangan, kalau tanpa kopi sore, kenangan yang datang suka slonong boy dan suka keluar konteks. 

Salah satu kenangan yang melintas saat adalah saat-saat sore seperti ini diisi dengan kegiatan membuat es teh manis sambil menjaga ayunan agar penghuninya tetap lelap tertidur. 

Setelah selesai mengisi dan mengikatnya dengan karet gelang, puluhan es teh plastik tadi dimasukkan dengan rapi ke dalam freezer

Jika listrik tak padam, maka esok pagi es tersebut dapat dikirim ke sekolah-sekolah untuk dijajakan.

Sore yang lain, selain sering ke kebun memetik buah coklat, kadang diisi dengan mengupas puluhan kelapa tua di kolong rumah panggung nenek sambil tetap menjaga ayunan. Karena tak mahir menggunakan alat pencungkil isi kelapa, selain mengupasnya saya hanya membantu memeras santan. 

Santan itulah yang nantinya dimasak menjadi minyak kelapa. Jika kebutuhan minyak kelapa terpenuhi, kelebihannya dapat dijual.

Hasil penjualan es, minyak kelapa, hasil kebun dan segala macam penghasilan itulah yang nantinya menjadi ongkos saya ke Makassar. Tentunya juga untuk membeli rokok dan kopi saat saya berada di Bila Ugi Kecamatan Sabbangparu Kabupaten Wajo Sulsel.

Ingatan itu muncul karena bayi yang berada di dalam ayunan itu, kemarin datang ke rumah sekadar mengisi liburan kuliah, atau mungkin untuk memperingatkan, kalau saya sudah lama tidak menjenguk kuburan kakek dan nenek.

Kopi Sore Pembawa Kenangan

Ayah saya meninggalkan Sulawesi untuk mengikuti pendidikan Akabri, ia tidak pernah bercerita apa alasannya keluar lalu menjadi PNS di pemda DKI Jakarta. Sedangkan saya, setahun menganggur setelah lulus SMA justru "pulang" ke Sulawesi. 

Saya tidak percaya karma, toh setelah 6 tahun di Sulawesi saya kembali ke Bekasi. Kemudian sepupu saya ini setelah lulus SMA justru kuliah di Bandung dan Jakarta, kalau memang karma ada, karma siapa yang ia sedang jalankan?

Zaman terus berjalan dengan logikanya sendiri, manusia menerjemahkan kemudian berbagi ingatan kolektif yang diwariskan sampai ke beberapa generasi, seleksi alam yang akan menguji petuah-petuah itu akan tetap lestari atau tergantikan kearifan baru.

Palettu' Sengereng (Pengantar Kenangan) - 5 September 2019.

MEMBANGKITKAN POTENSI NABI – Review Buku Ada Nabi dalam Diri

Ada Nabi dalam Diri (Melesatkan Kecerdasan Batin Lewat Zikir dan Meditasi)

Judul: Ada Nabi dalam Diri (Melesatkan Kecerdasan Batin Lewat Zikir dan Meditasi)
Penulis: Soraya Susan Behbehani
Penerjemah: Cecep Ramli Bihar Anwar
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2003
Tebal: 280 halaman
ODOB#034


Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. (Yahya bin Muadz Ar-Razi)

Setelah tren meditasi yang dimotori spiritualis Anand Krishna mulai surut gelegaknya, belakangan muncul pula tren zikir dan manajemen hati yang dimotori oleh Arifin Ilham dan Abdullah Gymnastiar.

Buku yang aslinya berjudul The Messenger Within (1990) ini mengusung semangat yang hampir serupa dengan kedua tren yang telah melanda kita itu.

Lewat pergulatan dan pencarian panjang terus-menerus selama lebih dari lima belas tahun, penulis buku ini makin percaya bahwa setelah berakhirnya dinasti kenabian di tangan Nabi Muhammad ibn Abdullah pada abad ke-6 Masehi, setiap manusia sesungguhnya sudah mampu menjadi "nabi" bagi dirinya sendiri.

Tetapi sayangnya, tidak semua orang menyadari hal ini, atau bahkan tidak pernah memiliki cukup waktu untuk berpikir dan menyadarinya.

Padahal, jika kita melihat ke belakang, akan jelas terlihat bahwa pesan semua nabi adalah sama, yakni mencapai Tuhan dengan mengenali diri sendiri, sebagaimana ucapan Socrates: kenalilah dirimu sendiri!

Semua nabi mendakwahkan penjelajahan diri. Pesan ini abadi dan tidak hanya dimiliki tradisi, sekte, atau agama tertentu saja. Setiap utusan Tuhan --Zoroaster, Buddha, Musa, Yesus, dan Muhammad SAW -- mewakili tahap-tahap yang berbeda dari penjelajahan diri tersebut.

Alasan mengapa pendapat dan interpretasi agama dan kepercayaan itu berbeda-beda adalah karena raibnya "pengalaman aktual tentang kebenaran". Sebuah pengalaman yang dikenal sebagai meditasi.

Agama pada dekade belakangan tampaknya cenderung terjebak dalam ritual formal dan simbolisasi eksklusif kelompoknya belaka. Jajak pendapat pada 1988 oleh John Naisbitt dan Patricia Aburdene menunjukkan bahwa 59% responden mengeluhkan gereja atau sinagoge mereka terlalu memperhatikan masalah organisasi ketimbang masalah-masalah teologi atau spiritual.

Teologi adalah sistem pemikiran spekulatif tentang hal-hal gaib, sedangkan spiritualitas adalah hati/jantung (heart) dari agama, yang berupa pengalaman religius. Meditasi adalah pengalaman religius yang ada dalam sejarah dan tradisi semua agama.


Penulis: Heri Winarko


MEMBANGKITKAN POTENSI NABI - Review Buku Ada Nabi dalam Diri
------------

Menurut buku ini, sekali jiwa terbebas dari berbagai perubahan yang konstan, ia akan bebas dari belenggu-belenggu duniawi dan memahami keabadian; sehingga kematian tidak lagi mengancam. Ini adalah kebangkitan jiwa yang melahirkan kekuatan. 

Kekuatan itu bukan terletak pada menghindari godaan-godaan material dunia, melainkan pada memahami dan tabah menghadapi semua itu. 

Perlindungan sejati manusia ada dalam hatinya, semestinya pada hatilah manusia mencari perlindungan. Karena itu, penyendirian (khalwat) bukan berarti bahwa kita harus memisahkan diri dari masyarakat, tetapi hidup bersama masyarakat namun tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruk mereka.

Otak kita adalah gudang terbuka yang mampu menerima dan menyimpan hampir segala sesuatu yang datang, sayangnya tak pernah dibersihkan dan disusun rapi. Kapankah kita menyempatkan diri untuk merenung?, memikirkan bagaimana membersihkan hati dan mental.

Perbedaan antara agama dan teologi adalah bahwa teologi tak lebih dari sekadar sistem pemikiran spekulatif tentang hal-hal gaib, sedangkan agama adalah pengalaman. Cita-cita seniman adalah keindahan, ilmuwan adalah kebenaran, dan moralis adalah kebaikan. Agama menggabungkan semua itu dan ia ingin menyadarkan kita akan kesatuan.

Jalan menuju ketenangan dan kebahagiaan tersimpan di dalam batin kita masing-masing. Jenis bantuan apa pun yang diperoleh dari luar, bahkan yang terbaik dan yang paling tidak berisiko sekalipun, hanyalah bersifat sementara. Luka harus mulai diobati dari dalam. Jadi, pengobatan medis diterapkan untuk menghindari infeksi, tetapi tumbuhnya kembali jaringan otot baru adalah proses penyembuahn yang terjadi dari dalam (batin).

Sumber energi paling penting dalam tubuh adalah hati. Para sufi menyebutnya "sumber kehidupan". Hati dikenal sebagai manajer yang bijak dan perkasa. Ia memiliki kecerdasan, dan yang paling penting, ia terkait dengan seluruh sumber magnetik.

Soraya juga mengajak kita untuk kembali kepada praktik meditasi yang sebenarnya. Lebih dari sekadar untuk mengencangkan otot, meraih kesaktian, melatih konsentrasi, atau menyembuhkan stres dan AIDS—sebagaimana dipraktikkan di dunia modern— meditasi bertujuan untuk mempertinggi pengalaman, menyempurnakan kesadaran, pertumbuhan, dan evolusi batin agar potensi diri dapat berfungsi sepenuhnya. Dan, menurutnya, tanpa dikembalikan ke akar religiusitasnya, meditasi akan tumpul. Bahkan, bagi kepentingan penyembuhan dan konsentrasi sekalipun, ia tak akan banyak membantu. Sebab, sumber meditasi adalah hati. Melalui sumber energi hatilah kesehatan yang utuh akan tercapai.

Sumber: lapak-buku.com


Judul buku asli: The Messenger Within: Discovering Love and Wholeness Through Meditation 
Penulis: Soraya Susan Behbehani

Menjelaskan dasar dan sifat sejati tasawuf (Sufisme) dan konsep sifat kenabian di dalam diri manusia, buku ini berusaha untuk melampaui ideologi ke arah metodologi meditasi. Buku Ada Nabi dalam Diri menekankan meditasi sufi praktis yang tujuannya adalah untuk mencapai kehidupan cinta, keindahan, dan harapan.


Abu Tebel Ampe Endebel [Kenangan Bocah 80an]

Abu Tebel Ampe Endebel 

Abu Tebel Ampe Endebel
Gambar dari: seputarberitakecantikan.blogspot.com 

Angin bertiup dari sebeleh timur.., geburan ombak di kaki gili-gili empang membahu membuat buih-buih berterbangan di angkasa, alunan suara dari pita kaset tape yang rusak yang dipasang saling melintang menambah cerianya suasana sore di Kampung Sembilangan pesisir Kabupaten Bekasi tahun 80-an.

Suara adzan ashar menunjukan waktu jam 3 petang, suara riuh latap-latap terdengar dari sekelompok anak-anak yang mulai berdatangan. Mereka terlihat membawa mobil-mobilan yang terbuat dari bekas botol air mineral dengan ban terbuat dari sandal emaknye yang udah putus alias gak kepake.

mobil-mobilan bambu anak tahun 80
ilustrasi 

Ade juga yang membawa motor-motoran trail yang terbuat dari sebatang bambu yang di ujung bambunya dipakaikan roda yang terbuat dari papan berbentuk lingkaran dengan stang di tengah-tengah bambu. Cara menggunakannya cukup sederhana, batang bambu diletakan di pundak dengan kedua tangan memegang setang yang terletak di tengah-tengah batang bambu, didorong sambil mulut membunyikan suara knalpot motor sebagai imitasi suara mesinnya, lucu juga sih!!!

Suasana hari itu semakin seru tak kala ada seorang anak yang rajin mendusur abu yang tebal dengan papan membuat jalur yang  katanya sirkuit untuk arena balap mobil-mobilan dan motor-motoran. Abu yang didusur terlihat seperti sirkuit lengkap dengan bendera-bendera kecil yang terbuat dari bungkus-bungkus permen yang menambah warna tepian sirkuit abu. 

Suasana semakin ramai dengan bunyi-bunyian mesin yang keluar dari mulut si joki.

Nampak di sebelah sisi lainnya ada beberapa anak sedang membuat gunung yang  terbuat dari abu, mereka membuat gunung sebesar yang mereka inginkan, selah gunung itu jadi mereka hancurkan dengan menendang gunung abu agar abu melayang ke udara dan terlihat seperti hujan salju, hmmm ada-ada aja yah..!! 

Terkadang ada yang jail gunung itu diisi dengan air kencing mereka dan menyuruh temannya untuk menendangnya dan akhirnya pecahlah suasana menjadi tawa yang gembira.

Hari semakin sore matahari yang mulai tenggelam seakan menjadi Alarm sudah waktunya untuk pulang, mulailah mencari kantong-kantong plastik yang akan digunakan menjadi wadah untuk mengambil air di empang dan mulailah menyiram sirkuit dan sisa hancuran gunung abu dengan air  seketika ABU yang  tebel menjadi ENDEBEL.


Penulis: Heriyansyah (Mandor)

Keluh Kesah Sepulang Ziarah


"Sebel deh." 

Indira sejenak berpaling dari gawainya. Memandang sebentar ke arah suara dua meter di sebelahnya. Lalu kembali asyik dengan layar 10 centinya. 

"Ngapa, Lu?," tanyanya ngasal dengan mata tetap memandang layar gawainya. 

"Gue abis dari kuburan, ziarah makam mbari ngomel-ngomelin laki gue," sahut suara di sebelahnya itu. 

Indira ngakak. Tubuhnya berputar 90° menghadap perempuan di sebelahnya. 

"Kuburan diomelin, sarap lu, ya? Kurang piknik?." 

Perempuan itu mendengus sambil merengutkan bibirnya. Diraihnya segelas es teh milik Indira, lalu menenggaknya sampai tandas. 

"Orang gila bisa aus juga, yak?," Goda Indira. 

"Stress nih gue. Dia enak-enakan di tanah. Gak mikirin anak 4 tinggalannye dia. Sue!," ucapnya penuh kekesalan. Matanya terlihat berkaca-kaca. 

"Elu kan stress-an dari dulu, May. Kalo lu kagak stress malah gue nyang heran," Indira tersenyum memandang sahabatnya itu. 

"Hape gue cuman satu, anak 4 daring semua. Gue ngisi pulsa 100 ribu dua minggu doang, In." 

"Ehh, Malih, lu pan kagak sendirian. Lu tau gak, ada janda dhuafa di kampung sebelah, anak 2 daring kagak punya hape. Tiap kelar nyuci ama nggosok di rumah majikannya, dia ke rumah guru masing-masing anak. Pulang maghrib, sambil bawa fotokopian soal dan materi belajar. Pagi anaknya yang anterin ke gurunya. Gue liat dia kagak stress-stress amat kek elo," tutur Indira santai. 

Tangis si perempuan pecah. Sesenggukan sambil menelungkupkan wajahnya di pangkuan Indira. 

"Gue kesel In. Dia mati masih muda. Anak masih kecil-kecil, gak ninggalin tabungan malah ninggalin utang. Mana ibu ama adek-adeknya serakah. Gue suruh jual rumah, duitnya suruh dipake buat usaha," katanya sesunggukan.

"Kalo rumah satu-satunya ntu kejual, gue ama anak-anak gue mau tinggal di mana? Lagian rumah jelek gitu emang laku banyak apah?. Mau usaha apah lagian zaman susah kayak gini?," sambungnya masih dalam pangkuan Indira.

Indira beku. Bersahabat 10 tahun buatnya cukup memahami gimana kondisi rumah tangga sahabatnya ini. Terlebih saat sang suami sahabatnya wafat 2 tahun lalu, kehidupan mereka tidak menjadi lebih baik. 

Indira tau, sahabatnya ini perempuan kuat luar biasa, dia tak butuh banyak nasehat, cukup didengarkan saja keluh kesahnya, isak tangisnya, bila sudah reda, buatnya cukup lega, dia akan tenang kembali. Begitu biasanya. 

Perempuan itu mengangkat wajahnya. 

"Daster lu bau, In..!." 
"Tuh kaann..."

Indira mlengos. "Iyalahhh, gue kan belom mandi, abis ngedeprok bawah puun mangga tadi siang. Makan nasi padang bareng ama emak-emak di gang. Salah lu sendiri main nemplok ajah," 

Mereka berdua tertawa ceria. 

"Kadang gue suka berpikir kalo laki gue itu kok egois dari idup ampe mati tetep aje egois. Maunya enak sendiri. Dari dia idup segala urusan anak ampe rumah gue yang ngurus. Dia pulang kerja maen hape, kelayapan ama temen-temennya. Sabtu minggu jalan-jalan ama adek en emaknya. Gajian dia ngasih ngepas doang. Kurang malahan sampe gue kudu prihatin, bantu ngajar TPA ama les di rumah. "

"Anehnya, pas mati dia kagak punya tabungan. Yang ada malah utang kartu kreditnya numpuk dan cicilan utang koperasi kantor. Udehlah gue jadi janda dikejar-kejar debt kolektor. Dia kan enak aje tidur di tanah noh. Ampe jual motor gue buat nyambung idup," ungkap perempuan itu, datar tanpa ekspresi. Indira tahu persis kisah yang tak pernah jemu diulang dan diulang lagi oleh sahabatnya itu. 

"Tapi kadang gue kasian juga ama dia, dia gak bisa ngeliat dunia lagi, yaa In. Gelap aje di bawah tanah. Gak liat si Dinda anak gue dapet penghargaan siswa terbaik, gak bisa liat Rian keren banget jadi gitaris band SMP tempat dia sekolah. Padahal almarhum yang pengen banget anaknya ada yang jadi musisi," ungkapnya lagi sambil menerawang, terlihat senyum samar di wajah pias perempuan itu. 

"May..." sapa Indira sambil menghela nafas. 

"Laki lu gak cuman tidur-tiduran doang di dalem tanah. Dia lagi nunggu hari saat dia akan dibangkitkan di hadapan Allah nanti. Dia akan ditanya sama Allah, tentang anak-anaknya, gimana dia mendidiknya. 

Dia akan ditanya tentang elu, istrinya, gimana dia memperlakukannya. Siapa yang tau, kalo saat ini, di dalam tanah itu dia sedang merasakan penderitaan jauh lebih susah daripada yang elu rasakan sekarang?." 

Perempuan itu terpana, menatap Indira seolah baru mendengar kata-kata mengejutkan yang tak pernah ia dengar sebelumnya. 

"Udah. Makanya lu jangan ziarah kubur cuman buat ngomel-ngomelin dia. Diketawain kuntilanak lu ntar. Doain dia. Maafkan seluruh kesalahan-kesalahannya, ajak anak-anak lu doain bapaknya. Moga Allah ampunin dia. Dia butuh banget doa kalian semua, May. Ikhlasin aja napah. Apan kata lu, dia laki yang nyusahin doang," papar Indira. 

"Iya, yaa In. Lagian, gegara dia mati, anak-anak gue banyak yang ngasih duit. Apalagi kalo bulan puasa, Lebaran ama pas Muharam. Banyak banget yang ngasih duit, baju ama sembako," kata si perempuan. 

"Tauk, ahh!." 

Indira bangun dan bergegas meninggalkan perempuan itu, masuk ke dalam rumah. 

"Lah, lu mau ke mana, In?."

"Mandi!."



Penulis Sri Suharni Maks

Rihanna, Lingerie, Lagu Doom dan Potongan Suara Syaikh Mishari Rasyid Al-‘Afasi Saat Menuturkan Hadis

Rihanna, Lingerie, Lagu Doom dan Potongan Suara Syaikh Mishari Rasyid Al-'Afasi Saat Menuturkan Hadis
 Rihanna Savage X Fenty Beauty Show 

Lagu berjudul Doom yang diciptakan oleh Coucou Chloe pada tahun 2016 silam menjadi perbincangan di dunia maya. Pasalnya lagu yang berisi potongan suara Syaikh Mishari Rasyid Al-'Afasi ini masuk dalam list lagu-lagu yang diputar saat Rihanna mengadakan fashion show produk lingerie produksi terbaru miliknya yaitu Savage X Fenty Beauty pada hari Jumat, 2 Oktober 2020. 

Acara Savage X Fenty Beauty sukses digelar secara virtual mengingat masih berada di tengah pandemi Covid-19. Acara fashion show virtual ini mengundang banyak artis ternama Hollywood dan menjadi perbincangan publik.

Rihanna telah meminta maaf atas kejadian tersebut, di Instagram Story-nya ia menulis: 

"Saya ingin berterima kasih kepada masyarakat Muslim yang telah menunjukkan pengawasan besar, terhadap sesuatu yang secara tidak sengaja menyinggung dalam pertunjukan Savage x Fenty kami. 

Lebih penting lagi, saya ingin meminta maaf kepada kalian atas kecerobohan ini. Kami sadar kami telah menyakiti banyak saudara dan saudari Muslim kami, dan saya sangat kecewa dengan hal ini! Saya tidak main-main dengan perbuatan apa pun yang tidak menghargai Tuhan atau agama mana pun, oleh karena itu penggunaan lagu tersebut dalam proyek kami benar-benar tidak bertanggung jawab! 

Ke depannya, kami akan memastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Terima kasih atas pengampunan dan pengertiannya, Rih."

Rihanna, Lingerie, Lagu Doom dan Potongan Suara Syaikh Mishari Rasyid Al-'Afasi Saat Menuturkan Hadis
 Permintaan maaf dari Rihanna 


Beberapa sumber mengatakan bahwa hadis yang digunakan dalam lagu tersebut adalah penjelasan Nabi Muhammad SAW soal hari kiamat. 


Sebagai pencipta lagu, Chloe Erika Jane Olivie kelahiran 15 Juli 1996 yang juga seorang DJ di London ini telah meminta maaf dan mengatakan akan segera menghapus lagu tersebut dari semua platform musik online miliknya. Pada media sosial Twitter, tertanggal 5 Oktober 2020, Coucou Chloe menyampaikan:


"Saya ingin minta maaf yang sebesar-besarnya atas pelanggaran yang disebabkan oleh sampel vokal yang digunakan dalam lagu saya berjudul Doom. Lagu itu dibuat menggunakan sampel dari trek Baile Funk yang saya temukan secara online. Saat itu, saya tidak tahu jika sampel ini menggunakan teks dari sebuah Hadist Islam."


"Saya bertanggung jawab penuh atas fakta saya tidak meneliti kata-kata ini dengan benar, dan ingin berterima kasih kepada Anda yang telah meluangkan waktu untuk menjelaskan hal ini kepada saya. Kami sedang dalam proses untuk segera menghapus lagu tersebut dari semua platform streaming."


Coucou Chloe Rihanna, Lingerie, Lagu Doom dan Potongan Suara Syaikh Mishari Rasyid Al-'Afasi Saat Menuturkan Hadis
 Coucou Chloe 



Hadis manakah yang terkait dengan lagu Doom?

Dari salah satu akun Twitter yang membahas masalah ini awalnya mengaitkan lagu ini dengan hadis Bukhari (RA), beberapa chanel Youtube mancanegara sepertinya mengutip akun twitter ini sehingga sama-sama mengaitkan kagu Doom dengan hadis:


“Tidak akan terjadi kiamat, sampai ilmu itu diangkat, waktu semakin pendek, banyak gempa bumi, fitnah meraja lela, dan banyak terjadi al-haraj.” Sahabat bertanya, apa itu al-haraj? Beliau menjawab: “Pembunuhan, pembunuhan. ” (HR. Bukhari).


Lalu beberapa media lebih jauh mengaitkan dengan hadis Imam Muslim (RA) sebagai berikut:


“Ada tiga hal yang apabila telah muncul maka keimanan seseorang tidak lagi berguna baginya jika sebelumnya dia tidak beriman, atau tidak beramal kebajikan selama beriman, yaitu: terbitnya matahari dari arah barat, Dajjal, dan hewan melata." (HR. Muslim dan At-Tirmidzi).


Saya gak tau apa reporter atau editornya mendengarkan lagu Doom tersebut atau tidak, sehingga mengaitkan dengan hadis-hadis tersebut. Dua hadis tersebut memang membahas tentang hari kiamat, tapi setelah saya teliti ulang potongan hadis dalam lagu Doom dan mencocokkannya dengan suara asli Syaikh Mishari Rasyid Al-'Afasi, maka sebenarnya hadis tersebut bukan kedua hadis di atas, tapi hadis lain yang dibukukan dalam kitab hadis Ibnu Majah (RA). 


Suara Syaikh Mishari Rasyid Al-'Afasi terkait masalah ini bisa ditemukan di Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=vjc1OV-PMvQ memang sedang membacakan hadis dari Ibnu Majah (RA) yang membahas tentang "al-haraj" sebagai salah satu tanda kiamat.


Selengkapnya mengenai Hadits Sunan Ibnu Majah (RA) No. 3949 itu adalah:


إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لَهَرْجًا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا الْهَرْجُ قَالَ الْقَتْلُ فَقَالَ بَعْضُ الْمُسْلِمِيْنَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا نَقْتُلُ الْآنَ فِي الْعَامِ الْوَاحِدِ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ كَذَا وَكَذَا فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بِقَتْلِ الْمُشْرِكِيْنَ وَلٰكِنْ يَقْتُلُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا حَتَّى يَقْتُلَ الرَّجُلُ جَارَهُ وَابْنَ عَمِّهِ وَذَا قَرَابَتِهِ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَعَنَا عُقُوْلُنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُنْزَعُ عُقُوْلُ أَكْثَرِ ذَلِكَ الزَّمَانِ وَيَخْلُفُ لَهُ هَبَاءٌ مِنَ النَّاسِ لَا عُقُوْلَ لَهُمْ


"Sesungguhnya di antara (tanda-tanda) hari Kiamat adalah terjadinya al-haraj (kekacauan)." Abu Musa berkata, saya bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan kekacauan?" beliau menjawab: "Pembunuhan." Sebagian kaum muslimin lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, dalam satu tahun ini kami telah membunuh kaum musyrikin begini dan begini." Maka Rasulullah saw. bersabda: "Bukannya membunuh kaum musyrikin, akan tetapi kalianlah yang akan saling bunuh sesama kalian, sehingga seseorang membunuh tetangganya, anak pamannya, dan kerabat dekatnya sendiri." Sebagian yang lain lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, meskipun saat itu para ulama masih bersama kami!” Rasulullah saw. menjawab: "Tidak, para ulama akan diwafatkan lalu diganti dengan orang-orang yang hina dan bodoh." (HR. Ibnu Majah)


Lagu Doom karya Coucou Chloe yang diputar oleh Rihanna itu terbukti memotong, mengubah dan menggunakan kalimat "نَقْتُلُ الْآنَ فِي الْعَامِ الْوَاحِدِ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ" yang diucapkan Syaikh Mishari Rasyid Al-'Afasi secara berulang-ulang dan mencampurnya (remix) dengan musik electronic bergenre Grime, Latin, Experimental. Hal ini saja sudah merupakan pelanggaran hak cipta yang seharusnya menjadi masalah serius yang bisa merusak reputasinya sebagai seorang musisi.


Dengan meminta maaf secara terbuka kepada muslimin seperti itu, saya memaafkan kekhilafan Rihanna dan Coucou Chloe soal lagu ini. Hikmahnya, saya jadi belajar lagi mengenai hadis mengenai "al-haraj" atau kekacauan sebelum kiamat.


Salam





Kenangan Masa Kecil Yang Lekat Dalam Ingatan

Yayasan Pendidikan Islam Al-Mahmudiyah Sembilangan

Kalo lagi bengong di pinggir empang inget Sembilangan taon sono-sonoan (zaman dulu sekitar tahun 80 sampai awal 90-an).

Bangun tidur langsung telanjang bulet lari ke jerambe (tempat mencuci pinggir kali) nible (terjun) ke kali depan rumeh, emeng-emeng (awal pagi) udah ngebak di kali. Biar kate aernye asin badan kerase seger, naek dari ngebak gak pake bilasan, campur bau bau lumpur dikit, cepet-cepet pake baju berangkat ngaji pagi, pake peci item, kaos oblong celane pendek.

Jem 8 jem 9 pagi ngaji kelar, langsung balik lempar songkok lempar kantong alip-alipan (Buku Juz Amma metode Bagdadiyah) buka baju buka celane lanjutin lagi ngebak di kali ampe pade berkumis lumpur ame bejenggot. Jem setengeh 12 siang naek lagi sama kaye pagi, langsung pake baju ambil songkok kantongin buku di kantong celane belakang berangkat ke sekoleh, kite kan sekolenye siang di madroseh (madrasah).

Buku Juz Amma metode Bagdadiyah
Buku Juz Amma (Alip-alipan) metode Bagdadiyah

Sampe di sekolaan jajanannye kojek (Jajanan dari sagu berbentuk bulat ditusuk lidi dengan bumbu dan sambel kacang), mureh uman  Rp. 25 - 50 (jigo - gocap). Abis jajan sembahyang johor, pas jem 12.30 siang mulain pade masuk kelas.

Rp 25 rupiah jigo emisi tahun 1971
Uang Rp. 25 emisi tahun 1971

Ooooops jangan mikir kelasnye kaye sekolaan sekarang ye, yang kelasnye miseh-miseh, dulu sekolaan dari kelas 1 sampe kelas 6 ya uman satu ruangan dan uman 1 guru, yang bedain cuma barisan bangku ame mejenye dan papan tulisnye.

Kebayanng bangat deh gimane sabarnye guru ngajar sendirian nanganin 6 kelas, ratusan anak dalem satu ruangan, padahal itu ruangan umresnye (berisik) kaye hamuk (tak terkendali). Anak-anak memanggil guru itu Kong MAMU, nama lengkapnya Al Maghfurullah. Ust Mahmud.

Balik sekoleh  jem 3 sore, naro buku maen bentaran sambil pake songkok ider-ideran di lataran. Jem setengeh 4 balik ke rumeh ambil kantong alip-alipan dari kantong terigu yang boleh dijaitin ame enyak, langsung berangkat ngaji sore. 

Sampe pengajian enderes (melancarkan bacaan) deh yang udah nalar bace Qur'an yang masih alip-alipan juga enderes, nah yang ngajar ngaji juga kong MAMU  yang tadi siang udah ngajar 6 kelas.

Kalo gue, kebanyakan enderes doang karena pas embace (membaca) ngadep ke guru dapet tugas dari guru angkutin aer mbari nyari kayu rencekan (ranting kayu bakar) ampe waktu ngaji kelar balik sekitaran jam 5 lewat dah.

Sampe di rumeh kaye ari-ari biase, kalo sore nyiapin lampu lampu dari patromak, pelite tempel, pelite gembreng sampe pelite konteng, sosotin (mengelap) kaca-kaca lampu yang item arengan sise di pasang malem kemaren, nambain minyak taneh sampe beresin sumbu-sumbunye, maklum belum masuk listrik PLN kampung Sembilangan waktu itu. (Listrtik masuk diperkirakan sekitar tahun 1993)

Penulis: Ahmad Sahil Ibrohim (Warga Sembilangan, Desa Huripjaya, Babelan, Bekasi)
Edited dan kata atau kalimat dalam kurung dari saya.