Belajar Sejarah dan Seni Budaya Mataram di Museum Ullen Sentalu Jogja

Museum Ullen Sentalu Jogja

"Dimohon untuk tidak memotret benda-benda koleksi museum."

Kata-kata dari pemandu tur saat awal memasuki Museum Ullen Sentalu ini sedikit mengganggu saya, tapi setelah tur museum selesai, saya memahami mengapa larangan memotret diberlakukan. Iya, saya memang melanggar peraturan dengan memotret beberapa obyek yang menarik saat pemandu sudah meninggalkan lokasi, seperti lukisan Dewi Rengganis yang cantik, Lukisan Tari Serimpi Sari Tunggal dan lain-lain, tapi kemudian saya menghapusnya saat meninggalkan museum :)
Jalan masuk Museum Ullen Sentalu Jogja
Pintu masuk ke Museum Ullen Sentallu Jogja
Museum Ullen Sentalu ini berada di utara kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Boyong KM 25, Kaliurang Barat, Sleman, Yogyakarta. Saat memasuki Ullen Sentalu, pemandu dengan lugas menerangkan bahwa nama Ullen Sentalu merupakan singkatan dari kalimat "Ullating blencong sejatine tataraning lumaku" yang bermakna "Pancaran cahaya lampu blencong menjadi petunjuk dalam melangkah dan meniti kehidupan". Kemudian ia menjelaskan bahwa lampu blencong adalah lampu untuk penerangan layar panggung saat pertunjukkan wayang kulit. 


Harga Tiket Museum Ullen Sentalu Jogja
Oh iya, tiket masuk Museum Ullen Sentalu di tahun 2019 sebesar Rp 40.000 untuk pengunjung domestik dewasa dan Rp 20.000 untuk anak. Untuk pengunjung mancanegara dewasa dikenakan biaya masuk sebesar Rp 100.000 sementara pengunjung mancanegara anak Rp 60.000. Museum Ullen Sentalu buka pada hari Selasa-Jumat pukul 08.30-16.00 WIB, Sabtu-Minggu pukul 08.30-17.00 WIB, dan tutup pada hari Senin.

Fasilitas di Museum Ullen Sentalu cukup lengkap. Berikut berbagai fasilitas Museum Ullen Sentalu:
  • Pemandu wisata yang sudah termasuk di harga tiket masuk;
  • Papan Informasi lengkap disetiap koleksi museum;
  • Denah komplek museum;
  • Toilet;
  • Ullen sentalu restaurant/Beukenhof Restaurant;
  • Toko suvenir MUSé Boutique;
Sepanjang tur museum, kata-kata ramah dan sopan terus saja mengalir menjelaskan dan menjawab pertanyaan pengunjung walau kadang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bernada tidak serius. Saya rasa pemandu ini mestinya seorang pemandu profesional yang benar-benar paham seluk beluk koleksi museum yang diresmikan pada 1 Maret 1997 ini. 

Pemandu tur wisata museum dapat menjelaskan dan menceritakan filosofi, sejarah dan menjawab sesuai konteks segala macam pertanyaan yang mencecarnya. Seperti saat pemandu menjawab pertanyaan, mengapa di dalam lukisan Tari Serimpi hanya dilakukan oleh satu orang penari saja, padahal Tari Serimpi selalu dimainkan oleh 4 penari?, yang kemudian dijawab bahwa lukisan Tari Serimpi Sari Tunggal itu melukiskan saat Gusti Nurul menari Tari Serimpi seorang diri (sehingga dinamai Tari Serimpi Sari Tunggal) dalam resepsi pernikahan Putri Juliana di Belanda pada tahun 1973. Pada saat itu Gusti Nurul pergi ke Belanda tanpa ditemani para pemain gamelan, sehingga beliau menari dengan diiringi musik gamelan yang dimainkan secara langsung dari istana Mangkunegaran, suara gamelan yang mengiringi Gusti Nurul menari di Belanda itu disiarkan oleh Solosche Radio Vereeniging lewat transmisi stasiun radio Malabar.

Namun kemudian pertanyaan lain muncul, mengapa dalam lukisan itu ada para pemain gamelan? Kalau tidak salah ingat, pemandu menjawab dengan jawaban diplomatis bahwa lukisan itu adalah karya seni interpretasi sang pelukis, bukan untuk memotret momen saat Gusti Nurul menari di Belanda yang diiringi suara gamelan dari Indonesia.

Saat keluar dari ruangan-ruangan museum, hawa pegunungan yang sejuk menggantikan hawa dingin dari pendingin ruangan (AC), sayup-sayup suara gamelan gending Jawa terdengar membuat suasana nyaman dan menenangkan. Berjalan menyusuri lorong sempit di antara dinding batu menuju ruangan berikutnya seperti memberi pengalaman melintas lorong rahasia dalam keraton, untuk memintas jalan biasa yang formal. 

Ruangan-ruangan lainnya berisikan koleksi batik khas keraton Yogya dan Solo, 3 ruangan dari 9 ruangan yang ada berisikan koleksi batik. Buat saya yang buta soal batik hanya mendengarkan penjelasan pemandu mengenai batik keraton Ratu Mas, batik pesisiran, peraturan penggunaannya, makna dari batik tersebut dan seterusnya. 
Museum Ullen Sentalu Jogja
Kolam teratai di dalam areal Museum Ullen Sentalu
Walaupun Museum Ullen Sentalu adalah museum khusus seni dan budaya Jawa yang menyimpan peninggalan dari zaman Kerajaan Mataram yang merupakan cikal-bakal Keraton Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta, tapi ada satu ruangan yang isinya adalah surat-surat yang ditulis oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam pada tahun 1939-1947. Ruang tersebut diberi nama Ruang Syair (Balai Sekar Kedaton). GRAj Koes Sapariyam konon dulunya lebih dikenal dengan sebutan Tineke, yang kisah cintanya tak direstui orang tua. Para kerabat serta sahabatnya banyak mengirim surat penyemangat untuknya, baik berbahasa Indonesia dan bahasa Belanda. Namun pada akhirnya, Putri Tineke ini melepas status ningratnya demi untuk mengejar cintanya. Mungkin sesuatu hal yang tidak lazim terjadi di masanya.

Ruang lainnya adalah Ruang Seni Tari dan Gamelan serta Ruang Putri Dambaan. Ruang Putri Dambaan menampilkan koleksi foto pribadi putri tunggal Mangkunegara VII, Gusti Nurul dari kecil hingga menikah. Semasa hidupnya, Gusti Nurul pernah hendak dipersunting oleh empat tokoh terkenal, yaitu Soekarno, Sultan Hamengkubuwono IX, Sutan Sjahrir dan Kolonel GPH Djatikusumo. Namun keempatnya ditolak, dan ia dengan yakin memilih sendiri jodohnya untuk menikah dengan seorang tentara berpangkat letnan kolonel yang bernama RM Soerjo Soejarso. Kisah ini juga mungkin hal yang tidak lazim di lingkungan kraton, sepertinya Gusti Nurul melawan tradisi perjodohan dan budaya nrimo seorang perempuan nigrat, entahlah...

Sebelum mengakhiri tur, di ruang terakhir setiap pengunjung akan disuguhkan wedang hangat khas keraton bernama Wedang Ratu Mas. Nama Ratu Mas diambil dari nama permaisuri Pakubuwono X yang dikenal cantik. Minuman ini mirip wedang jahe pada umumnya tapi dengan aroma pandan, konon wedang ini terbuat dari bahan-bahan seperti jahe, kayu manis, sereh, hingga pandan. Cukup untuk menghangatkan tubuh di tengah kesejukan hawa dataran tinggi Jogja.
Kalau generasi kini masih terus mengabaikan budaya, maka kelak relief Candi Borobudur itu bukan hanya miring... tapi ambruk.
Relief Candi Borobudur di Museum Ullen Sentalu Jogja
Relief miring Candi Borobudur simbol keprihatinan
Setelah mengakhiri tur yang kurang lebih memakan waktu 1 jam setengah, maka pengunjung akan tiba di sebuah area lapang yang pas untuk foto bersama dengan latar belakang replika relief candi Borobudur yang sengaja dipasang miring sebagai perlambang keprihatinan terhadap generasi sekarang yang abai terhadap budaya bangsanya. Pemandu menegaskan, kalau generasi kini masih terus mengabaikan budaya, maka kelak relief Candi Borobudur itu bukan hanya miring, tapi ambruk. Bagi saya itu lelucon satir yang menohok, entah kalau bagi Anda.

Ullen Sentalu benar-benar membuat saya "merasakan dan mengalami", pengalaman ini tidak akan bisa disampaikan melalui foto-foto yang secara sembunyi-sembunyi saya ambil. Akan lebih baik jika foto-foto itu saya hapus dan orang-orang melihat serta mendengarkan langsung penjelasan dari pemandu tur, sehingga pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh pengelola museum ini akan tersampaikan dengan lebih lengkap. 

Overall, dengan "pengalaman" seperti itu, maka kalau saya tidak menghapus foto-foto koleksi  Museum Ullen Sentalu lalu kemudian memamerkannya di sosial media, maka saya telah menyabotase tujuan mulia berdirinya museum ini, dan telah berperan serta merubuhkan replika relief Candi Borobudur yang sekarang sudah miringSaya tidak mau seperti itu, saya yakin Anda pun demikian jika benar-benar mencintai seni budaya negeri ini :)

Datanglah dan upgrade wawasan serta pengetahuan Anda secara langsung, jangan dari foto-foto yang tersebar di sosial media. Mungkin itulah tujuan pihak pengelola museum melarang pengunjung untuk merekam penjelasan pemandu dan alasan pelarangan memotret koleksi museum.
Patung di Museum Ullen Sentalu Jogja
Patung di pintu keluar Museum Ullen Sentalu Jogja
Dari museum ini saya belajar sedikit sejarah Mataram, perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi Keraton Solo dan Keraton Jogja saat ini, serta tokoh-tokoh dan kehidupan pribadinya. 

IMO, museum ini sepertinya lebih fokus pada tokoh-tokoh perempuan dari kedua keraton itu. Enggak heran kalau ada yang beranggapan museum ini seperti museum yang mengabadikan pergerakkan perempuan keraton. Tapi itu hanya opini pribadi saja, bisa jadi kesan yang Anda dapatkan akan berbeda saat mengunjungi museum yang dikelola oleh Yayasan Ulating Blencong ini. ☺️ 

Salam dari Jogja yang selalu istimewa.


PAK JI


PAK JI
Kebayang enggak sih, saat kita merasa enggak punya salah, lalu tiba-tiba kita dijebloskan ke penjara selama puluhan tahun tanpa proses pengadilan selayaknya (untuk mendedahkan pembelaan), padahal tuduhannya sangat serius, dan tidak berdasarkan bukti akurat?

Pak Ji mengalaminya. Tak hanya menghuni Pulau Buru sebagai tahanan politik bersama Pak Pramoedya Ananta, tetapi hingga akhir hayatnya harus menanggung stigma PKI. Bayangkan, 54 tahun!

Pak Ji meninggal tanggal 4 Agustus, dan baru pada tanggal 15 Agustus 2019 datang Surat dari Komnas HAM yang menyatakan beliau tidak terlibat G30S/PKI! 
Sungguh ironi yang pahit...

Tetapi hidup memang penuh ironi, dan selalu begitu.

Dulu, kami meminta tolong Pak Ji menjadi tukang kebon kami. Gajinya Rp200.000,00 per bulan. Minimalis sekali. Makanya kami hanya memintanya "ngrumat" kebon kami seminggu dua kali.

Tetapi Pak Ji datang hampir tiap hari. Katanya enggak apa-apa, karena di rumah pun tidak banyak yang bisa dikerjakan. Dan kantor kami kebetulan mengontrak rumah di Nitikan Baru yang memiliki halaman belakang seluas 1.000 meter persegi. Kami membangun saung bambu beratap jerami, kandang kelinci, dan bercocok tanam aneka rupa.

Ternyata Pak Ji hobby membaca, setiap kali jam istirahat, atau saat kami tinggal untuk salat Jumat, beliau pasti memanfaatkan waktunya untuk melahap buku-buku di perpustakaan kami. Perpustakaan kecil saja, tapi koleksinya lumayan.

Yang membuat saya senang adalah karena Pak Ji tidak rewel masalah uang. Dikasih kerjaan tambahan tidak pernah menolak. Pokoknya enggak bikin bangkrut kantor lah... Maklum saya yang tugasnya jadi bendahara.

Selain di kantor, Pak Ji juga menjadi andalan saya saat membuka toko buku, salon konseling, butik batik, kaos sablon, hingga warung gado-gado. Saat kostan pacar saya bocor, Pak Ji juga yang mbenerin.

"Itu mbak Nova tadi berani naik ke atap, engga seperti mas Heri yang biasanya hanya berani megangin tangga di bawah..."

Sssttt... jaga sebagai rahasia ya, Pak Ji!

Lima tahun kemudian ketika kami menikah dan bisa mencicil rumah mungil di Bekasi, Pak Ji sempat bertandang ke rumah kami. Menginspeksi dan memberi masukan agar aliran udara lebih lancar.

Saat itu, kantor lama kami sudah bubar. Saya memutuskan jadi PNS. Dua orang teman mengambil S2 lanjut S3 di Inggris. Satu orang ambil S2 ke Belanda. Ada juga yang ambil S2 ke Malaysia. Dan beberapa orang memilih terjun ke politik praktis.

Setelah sekian lama, pertemuan dengan Pak Ji terasa canggung. Pak Ji sepertinya belum sepenuhnya mengerti mengapa anak muda idealis seperti saya kok bisa-bisanya mengabdikan diri menjadi PNS. Yang citranya tidak begitu baik. Dan, berseragam (yang ini tentu subjektif beliau, karena seragam mungkin diasosiasikan dengan kesewenangan).

Tapi Pak Ji memahami setelah saya sampaikan 2 alasan. Satu alasan tidak mungkin saya ungkap di sini, dan satu alasan lainnya, karena instansi yang saya masuki ini adalah instansi istimewa yang sepertinya serius dengan reformasi birokrasinya. Justru di sini saya punya kesempatan membuktikan bahwa stigma yang selama ini melekat bahwa PNS itu malas, berintegritas rendah, dan sifat negatif lainnya adalah keliru.

Pak Ji senang dan percaya bahwa saya akan berjuang untuk alasan kedua itu.

Dan itu adalah saat terakhir kami bertemu beliau.

PAK JI

Sebelum kabar duka itu, sebenarnya pernah pula saya dengar 2 kabar gembira. Bahwa beliau akan mengucapkan syahadat dan akan menikah.

Kabar pertama memang terjadi, tetapi kabar yang kedua sepertinya batal karena suatu alasan.

Hari ini tepat 3 bulan beliau berpulang. Semoga jiwamu tenang di sana, Pak Ji. Semoga di sana ada jawaban atas semua ketidakadilan yang terjadi di dunia ini...

Dan ya, meskipun hanya sebentar mengenalmu, kisahmu telah menguatkanku. Seperti saat ini, saat aku merasa dunia tak adil kepadaku.

Pak Ji sudah membuktikan bahwa guncangan luar biasa kaleng Khong Guan tidak menghancurkan rengginang di dalamnya.

Yang aku hadapi hanya guncangan kecil semata. Yang hanya akan merontokkan beberapa butir rengginang.

Dan aku akan menjadi rengginang yang kuat. Bukan rengginang rapuh, apalagi remah-remahnya.

Terima kasih, Pak Ji!
I love you full!

-----------
Penulis: Heri Winarko. 
Selasa, 4 November 2019.


Tentang Cita-cita dan Angan-angan

Tentang Cita-cita dan Angan-angan
Foto: Hepi Andi Bastoni 
Berbahagialah dengan apa yang kamu miliki, bersemangatlah dengan apa yang kamu cita-citakan. Begitu kira-kira kalimat motivasi yang pernah menyadarkan saya sedikit banyak makna "cita-cita".

Sementara ada yang masih memperdebatkan perbedaan angan-angan dan cita-cita dengan segala aspeknya mari kita menghindari perdebatan yang hanya membahas kulitnya saja. Pastinya kita paham inti perbedaan antara cita-cita dan khayalan atau angan-angan kosong yang dihasilkan oleh hawa nafsu sementara. Sulit mendefinisikan dan membedakan secara mutlak dengan kata-kata, tapi saya yakin semua orang paham bedanya cita-cita dan khayalan tanpa perlu berpanjang lebar mendefinisikan bahwa cita-cita adalah bla bla bla.

Ada yang bilang angan-angan khayalan tidak baik bagi perkembangan daya pikir dan pribadi karena biasanya selain tidak berdasar, angan-angan tidak mengajak kita berpikir logis tentang bagaimana cara untuk mewujudkan angan-angan itu. Itulah tidak baiknya berpanjang angan yang biasa dikenal dengan melamun.

Sebaliknya, cita-cita adalah pandangan jauh ke depan yang memiliki tahapan-tahapan sesuai logika tentang bagaimana cara mewujudkannya. Dari visi itulah dapat disusun misi dan hal-hal yang harus kita lakukan dan penuhi untuk mewujudkan visi atau cita-cita kita.

Ambil contoh jika kita bercita-cita ingin menjadi Pramugari. Maka untuk mewujudkan cita-cita itu kita setidaknya harus banyak memiliki informasi mengenai keterampilan-keterampilan dan skil apa yang wajib dimiliki oleh setiap Pramugari. Kita harus mulai memahami tugas-tugas dan tanggungjawab seorang pramugari dan mulai memanfaatkan waktu kita untuk diinvestasikan dalam mempelajari keterampilan-keterampilan yang akan mendukung tugas seorang pramugari. Demikian juga jika kita bercita-cita ingin menjadi Pilot, Dokter dan berbagai profesi lainnya.

Singkat kata, cta-cita membutuhkan kesadaran akan kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita dan menggunakan apa yang kita miliki saat ini untuk mengejar segala kekurangan-kekurangan itu bagaimanapun caranya.

"Berbahagialah dengan apa yang kita miliki, bersemangatlah dengan apa yang kita cita-citakan."

Berbahagia dengan yang kita miliki saat ini merupakan sebuah sikap positif yang jujur mengenai keadaan kita saat ini dan dari situlah kita inginkan perubahan. Perubahan ini harus muncul dari dalam diri kita, kita harus berubah agar dapat memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan untuk mengubah keadaan di luar diri kita. Perubahan dari dalam ke luar ini  wajib dan prosesnya tidak bisa dibalik. 

Apa yang kita miliki saat ini? Minimal kita memiliki waktu dan pikiran. Jangan remehkan pikiran kita sebagai sumber tenaga yang bisa mendorong perubahan dan memperkuat mental kita saat berjuang dalam memperjuangkan sebuah cita-cita.

Ibn Al-Jauzi dalam kitabnya “Shaidul Khatir” menyampaikan pesan yang kurang lebih bermakna, “Barangsiapa yang menggunakan pikirannya yang jernih, niscaya pikirannya itu akan mengantarnya pada kedudukan yang mulia, dan mencegahnya dari sikap ridha terhadap kekurangan dalam segala hal.”

Pikiran yang jernih adalah modal yang sangat penting untuk kita dalam perjuangan menghadapi kehidupan. Pikiran yang jernih ini jauh dari pikiran-pikiran negatif yang memandang sempit kehidupan. Asah pikiran dan gunakanlah untuk kebaikan, minimal untuk kebaikan diri sendiri sehingga dapat bermanfaat bagi alam bagaimanapun caranya. Dengan berpikir jernih, manusia akan terbebas dari bergantung kepada selain Allah. 

Ibn Al-Jauzi memberikan tips agar kita dapat berpikir jernih, yaitu hanya memohon kepada Allah SWT, pencipta segala macam sebab. “Kembalilah pada asal mula yang pertama. Mintalah dari Dzat yang menciptakan sebab. Duhai… betapa beruntung dirimu bila engkau berpikir dan bisa mengetahuinya! Karena mengetahui hal itu berarti (mengerti) hakikat dunia dan akhirat.”

Btw buku Shaidul Khatir karya Ibn Al-Jauzi ini saya rekomendasikan buat teman-teman yang membutuhkan asupan teknik-teknik "self help" dan memperkaya wawasan sari kebijaksanaan pemikiran-pemikiran cendekiawan muslim klasik.

Begitu saja catatan sore ini, semangat selalu buat kalian yang masih berjuang dalam mengejar cita-cita, jangan pernah menyerah hingga berhasil.

Lelah boleh, menyerah jangan :)




Tentang Cita-cita dan Angan-angan

Berbahagialah dengan apa yang kamu miliki, bersemangatlah dengan apa yang kamu cita-citakan. Begitu kira-kira kalimat motivasi yang pernah menyadarkan saya sedikit banyak makna "cita-cita".

Sementara ada yang masih memperdebatkan perbedaan angan-angan dan cita-cita dengan segala aspeknya mari kita menghindari perdebatan yang hanya membahas kulitnya saja. Pastinya kita paham inti perbedaan antara cita-cita dan khayalan atau angan-angan kosong yang dihasilkan oleh hawa nafsu sementara. Sulit mendefinisikan dan membedakan secara mutlak dengan kata-kata, tapi saya yakin semua orang paham bedanya cita-cita dan khayalan tanpa perlu berpanjang lebar mendefinisikan bahwa cita-cita adalah bla bla bla.


Tentang Cita-cita dan Angan-angan
Foto: Hepi Andi Bastoni 
Ada yang bilang angan-angan khayalan tidak baik bagi perkembangan daya pikir dan pribadi karena biasanya selain tidak berdasar, angan-angan tidak mengajak kita berpikir logis tentang bagaimana cara untuk mewujudkan angan-angan itu. Itulah tidak baiknya berpanjang angan yang biasa dikenal dengan melamun.

Sebaliknya, cita-cita adalah pandangan jauh ke depan yang memiliki tahapan-tahapan sesuai logika tentang bagaimana cara mewujudkannya. Dari visi itulah dapat disusun misi dan hal-hal yang harus kita lakukan dan penuhi untuk mewujudkan visi atau cita-cita kita.

Ambil contoh jika kita bercita-cita ingin menjadi Pramugari. Maka untuk mewujudkan cita-cita itu kita setidaknya harus banyak memiliki informasi mengenai keterampilan-keterampilan dan skil apa yang wajib dimiliki oleh setiap Pramugari. Kita harus mulai memahami tugas-tugas dan tanggungjawab seorang pramugari dan mulai memanfaatkan waktu kita untuk diinvestasikan dalam mempelajari keterampilan-keterampilan yang akan mendukung tugas seorang pramugari. Demikian juga jika kita bercita-cita ingin menjadi Pilot, Dokter dan berbagai profesi lainnya.

Singkat kata, cta-cita membutuhkan kesadaran akan kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita dan menggunakan apa yang kita miliki saat ini untuk mengejar segala kekurangan-kekurangan itu bagaimanapun caranya.

"Berbahagialah dengan apa yang kita miliki, bersemangatlah dengan apa yang kita cita-citakan."

Berbahagia dengan yang kita miliki saat ini merupakan sebuah sikap positif yang jujur mengenai keadaan kita saat ini dan dari situlah kita inginkan perubahan. Perubahan ini harus muncul dari dalam diri kita, kita harus berubah agar dapat memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan untuk mengubah keadaan di luar diri kita. Perubahan dari dalam ke luar ini  wajib dan prosesnya tidak bisa dibalik. 

Apa yang kita miliki saat ini? Minimal kita memiliki waktu dan pikiran. Jangan remehkan pikiran kita sebagai sumber tenaga yang bisa mendorong perubahan dan memperkuat mental kita saat berjuang dalam memperjuangkan sebuah cita-cita.

Ibn Al-Jauzi dalam kitabnya “Shaidul Khatir” menyampaikan pesan yang kurang lebih bermakna, “Barangsiapa yang menggunakan pikirannya yang jernih, niscaya pikirannya itu akan mengantarnya pada kedudukan yang mulia, dan mencegahnya dari sikap ridha terhadap kekurangan dalam segala hal.”

Pikiran yang jernih adalah modal yang sangat penting untuk kita dalam perjuangan menghadapi kehidupan. Pikiran yang jernih ini jauh dari pikiran-pikiran negatif yang memandang sempit kehidupan. Asah pikiran dan gunakanlah untuk kebaikan, minimal untuk kebaikan diri sendiri sehingga dapat bermanfaat bagi alam bagaimanapun caranya. Dengan berpikir jernih, manusia akan terbebas dari bergantung kepada selain Allah. 

Ibn Al-Jauzi memberikan tips agar kita dapat berpikir jernih, yaitu hanya memohon kepada Allah SWT, pencipta segala macam sebab. “Kembalilah pada asal mula yang pertama. Mintalah dari Dzat yang menciptakan sebab. Duhai… betapa beruntung dirimu bila engkau berpikir dan bisa mengetahuinya! Karena mengetahui hal itu berarti (mengerti) hakikat dunia dan akhirat.”

Btw buku Shaidul Khatir karya Ibn Al-Jauzi ini saya rekomendasikan buat teman-teman yang membutuhkan asupan teknik-teknik "self help" dan memperkaya wawasan sari kebijaksanaan pemikiran-pemikiran cendekiawan muslim klasik.

Begitu saja catatan sore ini, semangat selalu buat kalian yang masih berjuang dalam mengejar cita-cita, jangan pernah menyerah hingga berhasil.

Lelah boleh, menyerah jangan :)




Sotoy Soal Isu Pengaturan Parkir Di Kota Bekasi

Demo Aliansi Ormas Soal Pengaturan Parkir Di Kota Bekasi
Demo Aliansi Ormas di Kota Bekasi terkait parkir  
Seminggu ini berita-berita yang hangat di Kota Bekasi salah satunya berita mengenai parkir di Minimarket. Mulai dari demo menutup jalan oleh Aliansi Ormas hingga viral video saat unjuk rasa 23 Oktober 2019 yang menghadirkan kepala Bapenda Kota Bekasi.

Pro dan kontra pastinya ada, tapi kabar yang saya baca dan saya terima dari beberapa sumber ini bisa dikatakan hampir semuanya kontra mengenai isu parkir yang akan dikelola oleh ormas. Mohon maaf, kalau mau dipetakan secara kasar, maka yang berhadapan adalah pengelola Minimarket vs Aliansi Ormas. Dari asumsi dangkal seperti itu saja saya sudah dapat memetakan siapa yang akan menguasai ruang narasi di media.

Kubu Minimarket tidak akan kesulitan menguasai kanal-kanal media yang mendukungnya untuk menyebarkan wacana yang menguntungkan pihaknya, dalam hal ini narasi yang menolak pengelolaan parkir oleh ormas. Di sisi lain justru sebaliknya, Aliansi Ormas tidak memiliki akses untuk menyuarakan narasi yang memihak, baik yang mereka produksi sendiri atau pihak lain. Membaca peta kekuatan pro dan kontra di media yang tidak seimbang seperti ini sudah barang tentu hasil akhirnya dapat diramalkan akan seperti apa.

POSISI PEMKOT SOAL PARKIR

Kabar mengenai Pemkot Bekasi yang sedang mengalami kesulitan anggaran sudah terdengar sejak tahun lalu. Dengan potensi defisit anggaran senilai Rp 300 miliar, berbagai jurus untuk memaksimalkan PAD sudah dicoba sejak awal tahun 2019, termasuk pemasukan dari pengelolaan parkir.

Tahun 2019 ini, Pemkot Bekasi sendiri dari yang terekam media mengaku menargetkan pendapatan dari sektor parkir sebesar 1 miliar. Padahal belum lama ini sebuah media online di Bekasi memperkirakan uang parkir bisa mencapai sekitar Rp1,8 miliar per bulan atau sekitar Rp 21 miliar per tahun dengan rincian perhitungannya.

Terlintas pemikiran, mungkin rencana Pemkot Bekasi ingin bergabung dengan Provinsi DKI juga sepertinya tidak lepas dari upaya Pemkot mencari sumber pendapatan untuk menambal defisit anggarannya.

Kembali ke masalah parkir, kalau saya pejabat di Pemkot, ide pengelolaan parkir oleh pihak ketiga dengan sistem bagi hasil pastinya lebih masuk akal. Sebab kalau mempertimbangkan gaji Juru Parkir di DKI, ada risiko lebih besar pengeluaran daripada pendapatan yang masuk ke kas daerah. Soal besaran gajinya saya gak tahu persis, hanya saja salah satu capres saat pilpres kemarin sempat menyatakan "...banyak dokter kita gajinya lebih kecil dari tukang jaga parkir mobil", wallahu a’lam bis-shawab.

Oleh karena itu, jika parkir Minimarket dikelola oleh pihak ketiga secara profesional seperti sistem parkir di areal parkir resmi atau manajemen parkir di mal-mal besar, tinggal diadaptasi sistemnya sehingga bisa juga mengakomodir usulan-usulan yang diajukan oleh Aliansi Ormas. Mungkin harus menggandeng Perkumpulan Pengelola Perparkiran Indonesia (PPPI) untuk mencari sistem parkir yang paling memungkinkan untuk diterapkan.

Jangan lagi sampai terulang kejadian seperti pembakaran gardu parkir di sebuah gerai makanan akibat perselisihan pengelolaan parkir di Kecamatan Medan Satria pada pertengahan tahun 2016 lalu, karena itu hanya merugikan semua pihak.

Pengaturan Parkir Di Kota Bekasi
Ilustrasi Juru Parkir -  www.wajibbaca.com  

POSISI MASYARAKAT TENTANG PARKIR

Saat parkir di mal-mal atau pasar yang memiliki manajemen parkir yang baik, saya tidak terlalu memperhatikan siapa pengelola parkirnya, selama saya yakin kendaraan yang saya titipkan itu aman, maka membayar uang parkir adalah harga yang sepadan. Tapi untuk Minimarket atau gerai makanan, yang saya ketahui parkir masih dikelola secara swadaya dan manual, tidak ada sistem tiket, kadang tukang parkir hanya muncul saat pengendara akan meninggalkan lokasi.

Belum lagi kalau kendaraan rusak atau hilang dalam areal parkir, kepada siapa masyarakat meminta pertanggungjawaban?.

Kalau kualitas pelayanan manajemen parkir masih seperti itu tanpa ada pengembangan layanan, maka saya gak heran kalau pengutipan jasa parkir akan terus menuai kontra bukan saja dari pihak pemilik lahan tapi juga dari masyarakat umum.

Sah-sah saja Pemkot mau menggenjot pendapatan mereka dari sektor jasa parkir, toh pada akhirnya itu akan digunakan untuk menjalankan pelayanan kepada masyarakat juga. Sah-sah saja Pemkot mau menggunakan jasa pihak ketiga baik swasta atau ormas, tapi bisnis parkir tetap saja merupakan bisnis jasa yang tidak bisa lepas dari hukum ekonomi. 

Tanpa kualitas layanan yang baik kepada konsumen jasa parkir, tanpa adanya manfaat yang dirasakan oleh pemilik bisnis yang lahan usahanya dijadikan areal parkir, mengutip uang parkir akan dirasakan sebagai keterpaksaan yang akan memberatkan masyarakat dan sedikit banyak akan mengganggu proses bisnis pengusaha. Inilah yang menjadi kekhawatiran pelaku bisnis di bidang ritel seperti minimarket dan lainnya untuk menerapkan sistem parkir. 

Tapi kalau sektor parkir dikelola dengan modern, saya kira masyarakat atau konsumen jasa parkir tidak akan peduli siapa pengelola parkirnya. Dan pihak pengusaha tentu tidak lagi keberatan dengan hal itu. Mengenai siapa pengelolanya, mau pihak swasta atau ormas tidak akan lagi menjadi masalah. 

Idealnya masyarakat menerima manfaat dari jasa parkir dan Pemkot menerima pemasukan untuk kas daerah. Lalu ketika semua berjalan dengan baik, semoga saja tidak ada lagi parkir sembarangan di bahu jalan akibat menghindari juru parkir dan parkir liar yang tidak jelas siapa pengelolanya.  Iya, mungkin saya sedang bermimpi, tapi mudah-mudahan saja mimpi ini bisa menjadi kenyataan demi Kota Bekasi yang lebih baik, amiin.


3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan
Keraguan diri atau meragukan kemampuan diri sendiri dapat menjadi sebuah beban yang sulit untuk diatasi. Saat kita memiliki keraguan pada kemampuan diri sendiri, itu dapat menghalangi kita untuk melakukan banyak hal positif. Semoga catatan ini berguna saat kita menghadapi keraguan yang datang tanpa diundang.

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan

1. Berikan Waktu Kepada Diri Sendiri Untuk Berubah

Jika selama ini kita fokus pada kekurangan dan telah terbiasa dengan keraguan, maka perlu beberapa waktu dan usaha yang keras untuk meninggalkan kebiasaan itu. Bayangkan sebuah perahu yang dengan kecepatan tinggi mengarah ke tengah laut. Seketika kita ingin kembali ke pantai maka tentunya diperlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit untuk memutar haluan lalu berbalik arah. Perahu memerlukan waktu untuk memperlambat kecepatannya lalu kemudian memutar haluan secara perlahan agar tidak terbalik dan tenggelam karena manuver yang terlalu cepat.

Perumpamaan itu juga berlaku dengan diri kita. Hanya karena kita memahami bahwa keraguan diri adalah perasaan yang tidak baik dan tidak produktif lalu kita ingin mengubahnya tidak berarti perubahan itu akan terjadi saat itu juga secara instan. Tetapi jika kita dapat memperlambat momentum keraguan diri (mengerem) dan mulai mempraktikkan pikiran yang selaras dengan kepercayaan diri, cepat atau lambat perubahan pasti akan terjadi pada akhirnya.

Anda mungkin muak dengan rasa lelah dan ingin memiliki lebih banyak energi yang bersumber dari rasa percaya diri. Tapi cuma dengan membuat keputusan positif seperti itu tidak akan memberi Anda energi instan secara langsung walaupun keputusan itu adalah langkah awal yang sangat penting dalam proses ini. Anda tetap harus menggali lebih dalam dan membuat beberapa perubahan untuk memahami lebih banyak sumber energi dari dalam diri. Dari sana Anda juga akan mulai menemukan penyebab kelelahan Anda. Jangan menyerah terlalu cepat. Jangan biarkan pikiran negatif atau keraguan diri kembali menguasai dan menghentikan upaya Anda untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kebahagiaan Anda.

Anda adalah Seorang Pemikir, Bukan Hasil Dari Pikiran Negatif Anda

2. Anda adalah Pemikir, Bukan Hasil Pikiran Anda

Mulailah mengembangkan kesadaran dan jarak dari pikiran Anda, khususnya pikiran-pikiran negatif. Akan sangat membantu untuk menyadari bahwa ANDA BUKAN PIKIRAN ANDA. Hanya karena Anda memikirkan pikiran yang sesuai dengan keraguan diri tidak berarti pikiran ini benar atau fakta yang sesungguhnya. Pikiran itu hanya TERASA BENAR karena Anda telah terkondisikan demikian dengan cukup lama. Anda dapat mengubah ini dengan mulai memberi jarak dari pikiran Anda. Ini akan membantu Anda menjauhi dan terikat pada pikiran-pikiran negatif. Anda adalah pemikir BUKAN hasil pikiran ini berarti Anda memiliki kekuatan tertinggi dalam hidup Anda. Mulailah memperhatikan kata hati dan suara-suara positif dalam pikiran Anda. Pada akhirnya pikiran harusnya bekerja untuk Anda, bukan malah mengurung dan merusak kebahagiaan juga masa depan Anda.

3. Bedakan Antara Pengkritik Batin Anda dan Guru Batin Anda

Di dalam diri kita masing-masing ada seorang kritikus batin dan seorang guru batin. Ini adalah suara-suara berbeda yang kita dengar di dalam kepala kita jika kita meluangkan waktu untuk mengamati pembicaraan pada diri kita sendiri. Pengkritik batiniah Anda akan selalu datang dengan banyak alasan untuk memperkuat argumentasi "mengapa ini tidak akan berhasil”. Anda dapat mengenali suara kritik dalam diri Anda dengan kata-kata dan nada negatif yang mengkritik diri sendiri. Anda mungkin menemukan diri Anda mengatakan hal-hal seperti: "Ini tidak akan pernah berhasil untuk saya" atau "Orang lain mungkin bisa berhasil, tetapi semua yang saya coba untuk meningkatkan kebahagiaan saya telah gagal. Kali ini pasti akan gagal juga. "

Ketika Anda mengalami keraguan diri, biasanya itu berarti pengkritik batin Anda yang mengendalikan diri Anda. Setelah Anda menyadari pikiran kritis yang meragukan diri sendiri, saya ingin Anda memvisualisasikan tanda berhenti, berbendera merah!.

Ungkapkan terima kasih kepada pengkritik batin Anda karena berusaha melindungi Anda dengan keraguan diri. Tetapi biarkan pengkritik batin Anda tahu: "Tidak apa-apa gagal! Saya harus berani mencoba!."

Perhatikan, apakah Anda dapat menantang pikiran-pikiran negatif dalam diri Anda dan menggantinya dengan pikiran yang lebih realistis, seperti "Orang lain saja bisa, kenapa saya tidak bisa?".

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan

Dengarkan Guru Batin Anda

Anda dapat mengaktifkan dan mendengarkan guru batin Anda dengan mengajukan pertanyaan yang tepat. Guru batin Anda adalah suara yang mendorong, menyejukkan, dan penyemangat yang mendukung Anda ketika Anda membutuhkannya. Kadang-kadang Anda hanya perlu memperlambat  pikiran-pikiran Anda dan sedikit menenangkan si pengkritik batin untuk mendengar guru batin Anda.

Mengajukan pertanyaan seperti: Seberapa jauh saya telah menempuh perjalanan ini, apa yang telah saya pelajari selama ini? Apa aktivitas positif yang dapat saya lakukan sekarang? Dan bagaimana saya bisa membuatnya lebih baik? pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu mengaktifkan suara guru batin Anda.


Salam.


Numpang Ngopi di Acara Silaturahmi dan Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni

Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Silaturahmi dan Tasyakuran. (Foto: Ocha Hermawan)  
Suasana kekeluargaan yang akrab dan hangat mengisi acara Silaturahmi dan Tasyakuran atas dilantiknya Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024, Sabtu 5 Oktober 2019. Banyak hadirin yang datang membawa keluarga dan anak-anak untuk sekalian menikmati suasana objek ekowisata Taman Limo yang asri. Saung-saung, spot permainan, warung-warung hingga tempat parkir penuh terisi.

Di sisi lain, Silaturahmi dan Tasyakuran ini juga menjadi ajang reuni para relawan dan Sobat Obon dari berbagai lokasi, baik dari Bekasi, Karawang dan Purwakarta. Dalam suasana santai, sebagian teman-teman relawan yang "menghilang" dan tidak bertemu lagi sejak event pilkada Bekasi Februari 2017 lalu dan juga disibukkan dengan pileg dan pilpres kemarin, kini kembali berkumpul.

Ya, bagi saya momen tasyakuran ini seperti oase yang menyejukkan dan menghidupkan kembali api harapan "Bekasi Yang Baik dan Benar" yang sempat redup. Gerakan politik rakyat dan Buruh Go Politik yang sempat patah semangat setelah menelan pil pahit kekalahan saat kontestasi pilkada, kini kembali bergairah. 

Mungkin terlalu dini kalau mau mengklaim bahwa ini adalah keberhasilan bersama gerakan buruh go politik dan gerakan partisipasi politik warga, tapi bagaimanapun keberhasil ini patut diapresiasi guna merawat semangat perjuangan buruh dan warga yang terikat dalam persaudaraan ini agar terus melanjutkan perjuangannya dalam bingkai demokrasi.

Obon Tabroni sadar akan kekuatan persaudaraan tersebut, dalam sambutannya ia menyampaikan agar semua tetap menjaga silaturahmi sebagai modal kekuatan untuk terus bergerak.

"Persaudaraan dan pertemanan kita terlalu mahal untuk disia-siakan dan diabaikan, jalinan ini jangan pernah putus. Persaudaraan dan pertemanan jangan hilang hanya karena persoalan-persoalan kecil, jika kita kuat kita dapat melakukan banyak perubahan kalau kita terus bersama-sama," ucap Bang Obon dari atas panggung.
Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Bang Obon dan Bunda Uun (Foto: DAF) 
Silaturahmi yang terjalin ini merupakan sinergi kekuatan relawan yang datang dengan berbagai latar belakangnya. Gotong royong dan kerjasama ini, memang idealnya mensyaratkan individu-individu yang berkualitas dalam bidangnya masing-masing sehingga mampu membuka pintu-pintu peluang dan memanfaatkan segala kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Namun Bang Obon tidak menutup pintu untuk siapapun yang ingin belajar dan bergerak bersamanya, karena pada dasarnya setiap orang memiliki potensi yang bisa dikembangkan.

Kita semua punya potensi yang luar biasa, namun karena rasa tidak percaya diri, kita bisa menjadi orang yang gagal

"Kita semua punya potensi yang luar biasa, namun karena rasa tidak percaya diri, kita bisa menjadi orang yang gagal. Mari kita jadikan keberhasilan hari ini menjadi inspirasi, kalau kita fokus, banyak belajar, memiliki keinginan yang kuat, giat bekerja keras dan terus bergerak, maka apa yang tidak mungkin akan menjadi mungkin," ucap Bang Obon Tabroni menyemangati hadirin.

Tidak ketinggalan, Uun Marpuah yang biasa disapa Bunda Uun juga menyemangati para hadirin untuk tetap berusaha dan pantang menyerah.

"Luar biasa, terima kasih teman-teman semua. Ini bukan karena saya atau suami saya (Obon Tabroni) tapi karena kerja keras teman-teman semua. Semua proses dan masalah sudah pernah kita hadapi bersama-sama, alhamdulillah hari ini kita semua berada di sini. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha dan mencoba insya Allah segala sesuatu akan terjadi, amiin. Karena musuh terberat kita adalah diri kita sendiri."

Kalau dari tulisan, kutipan-kutipan dari Bang Obon dan Bunda Uun itu seperti sambutan yang serius, tapi sebenarnya sambutan ini banyak diselingi canda yang membuat suasana tetap khidmat namun santai.
Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Ngopi bareng Bang Obon Tabroni (Foto: Fai) 
Malam seusai tasyakuran, Bang Obon masih sempat berkeliling mendatangi dan menemui hadirin yang belum pulang. Saat mendatangi kami yang sedang menikmati suasana malam minggu di salah satu saung, ia menyampaikan kembali apa-apa yang sudah ia pernah sampaikan sebelum-sebelumnya. Isu-isu terkini tentang Bekasi mengalir lancar, masalah kekeringan di sebagian wilayah Bekasi juga ia singgung agar menjadi perhatian.

"Saya terus memantau pergerakkan teman-teman semua, yang di Jamkeswatch, yang di OTC dan lain-lain, teruslah bergerak untuk membantu masyarakat sebisa mungkin, masih banyak PR dan masih banyak yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk Bekasi ini."

Malam semakin larut, setelah Bang Obon dengan gayanya yang non formal menyampaikan harapan-harapan dan menguatkan tekad teman-teman agar dapat berpartisipasi positif, ia pamitan, lelah jelas terlihat dari wajahnya. Saat melangkah meninggalkan kami, saya teringat kata-kata yang tertulis dalam poster di status salah satu akun halaman facebook.

"Perjalanan baru siap ditempuh. Tugas baru siap diemban. Medan berbeda, tapi untuk perjuangan yang sama. Tolong ingatkan saya jika saya lupa, tegur saya jika saya melenceng dan topang saya jika saya terseok." - Obon Tabroni

Istirahat bang, jaga kesehatan, semoga kami bisa mengimbangi semangat dan kerja keras abang untuk mengabdi, khususnya untuk Bekasi ini.

Sabtu, 5 Oktober 2019 @ Taman Limo Jatiwangi Bekasi.


Berteduh di Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta
"Secangkir kopi bisa menjadi "jembatan rasa" yang mempertemukan, kita bisa mengenal kepribadian seseorang dari kopi yang dinikmatinya."
Lalu-lintas Kalimalang menuju Bekasi pada hari Minggu sore itu sedang tidak padat. Rintik hujan yang semakin deras memaksa para pemotor sejenak menepi untuk mengenakan jas hujan sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Hujan tidak juga reda, jarak pandang terganggu dan hawa dingin menyergap. Di persimpangan Jatiwaringin saya belok haluan dan mengarahkan motor ke Kedai Kopi Hainam yang terletak di Jl. Masjid Al-Wustho Pondok Bambu, Kec. Duren Sawit, Jakarta Timur. 

Aroma kopi yang khas dan menjanjikan kehangatan menyambut kedatangan saya. Yah, memutuskan untuk berteduh di sini sambil menunggu hujan reda adalah pilihan terbaik, sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Kedai Kopi Hainam

Kedai yang biasanya dipenuhi oleh anak muda ini sedang lengang. Meja dan kursi di teras basah terkena tampias hujan. Di ruang depan yang diterangi lampu temaram ada dua orang sedang asik berbincang, Itonk, sang pemilik kedai dan pegawainya. Mengenakan t-shirt dan jeans belel membuat ibu dua anak ini tampak lebih muda 10 tahun dari usia sebenarnya.

Bukan kali pertama saya mampir, kali ini selain untuk berteduh, saya juga ingin kembali menikmati kopi racikan teman sekolah yang kini serius menekuni bisnis kopi. Sebuah bisnis yang berangkat dari kesukaannya menikmati kopi tanpa kenal waktu.

Semua berawal pada Mei 2015 lalu, saat ia ikut event Festival Lapangan Banteng dan mencoba menjual kopi bubuk yang didapatkan dari seorang teman. Sejak itu ia mulai sering membuka gerai dadakan di acara-acara musiman seperti bazar, reuni, dll. 

Ia juga pernah mencoba menggabungkan usahanya dengan gerai makanan, namun usahanya itu bubar di tengah jalan. Tidak berhenti di sana, dengan memanfaatkan jejaring pertemanan, ia mulai merintis penjualan produk kopi dingin botolan racikannya secara gerilya. 

Semua pengalaman yang telah ia lalui sekian tahun itu berpuncak pada bulan Agustus 2018, ia nekad memanfaatkan ruko milik orang tuanya menjadi Kedai Kopi Hainam.  Tampaknya kali ini usahanya lebih berhasil dengan semakin banyaknya permintaan produk kopi dingin botolan dari gerai-gerai makanan dan langganan tetapnya. Kedai Kopi Hainam buka setiap hari dari pukul 2 siang hingga 10 malam.

Kedai kopi yang luas ini banyak dihiasi ornamen ukiran dan pahatan khas tradisional Jawa. Penataan meja yang jauh satu sama lain menjadikan setiap meja berkesan privat dan eksklusif, berbeda dengan penataan meja yang rapat pada teras depan. Dilengkapi dengan mushola dan pojok lesehan di bagian belakang bar menjadikan kedai ini tempat yang asik untuk hangout
Berteduh di Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Motif Terjun Ke Bisnis Kopi

"Keuntungannya lumayan, tapi yang lebih penting aku bisa lebih berhemat, tidak perlu lagi nongkrong di kafe meninggalkan keluarga, karena aku sekarang sudah punya kafe sendiri" ungkap ibu muda yang sedang memperjuangkan gelar master di bidang arsitektur.

Sudah sejak lama ia yakin, coffeeshop atau kedai kopi yang menjamur di mana-mana itu membuktikan bahwa bisnis kopi bukan hanya tren sementara, tapi sudah menjadi budaya bagi generasi muda dan kaum urban perkotaan. 

Di balik budaya itu, ia melihat peluang bisnis yang cukup menjanjikan terbuka lebar bagi yang paham memanfaatkan celah pasar dan berani mengambil peluang. Karenanya ia memberanikan diri terjun ke dunia persilatan eh ke dunia perkopian.

"Kalau aku yah mendirikan Kedai Kopi Hainam ini learning by doing, semua ini hasil dari pengalaman, jualan eceran, gerilya, hasil ngobrol dengan teman-teman dan belajar dari banyak orang. Cukup memakan waktu, tapi aku menikmati prosesnya" ungkapnya santai sambil memilih playlist lagu di smartphone-nya.

Dengan memanfaatkan bluetooth yang terhubung ke sistem pengeras suara, lagu-lagu slow rock 90an pilihannya kini menggantikan suara rintik hujan, mengisi ruangan kafe yang bernuansa vintage dan tradisional. 
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Sambil menikmati Kopi Robusta Bengkulu andalan kedai ini, obrolan santai malam itu melebar ke mana-mana. Kembali serius saat ia kembali bercerita tentang pengalamannya di bisnis kopi.

"Tidak ada yang instan, cara paling cepat untuk mengenal bisnis kopi yah ikut pelatihan seperti yang sudah mulai banyak digelar, atau membeli franchise" ucap Arsitektur Lansekap lulusan Universitas Tri Sakti ini.

Menurutnya pelatihan-pelatihan terkait bisnis kopi itu seperti investasi, sebagaimana ia menginvestasikan waktu yang lama untuk menjadi seperti sekarang ini.
"Menginvestasikan uang untuk mempersingkat waktu belajar aku kira itu sepadan" tegasnya.

Ia menjawab semua pertanyaan dengan santai, sambil menikmati kopi pahit dan sesekali memainkan asap rokok menthol yang ia hembuskan ke arah lampu di atas meja kami.

Di akhir perbincangan ia kembali menegaskan, bahwa pada akhirnya untuk membuka kedai kopi itu bukan masalah serius atau tidak, tapi lebih terkait kepada passion

"Dari yang aku jalani, Aku lebih percaya bahwa membuka usaha kedai kopi lebih dominan ke hasrat kesenangan kita terhadap sesuatu, skill memang diperlukan akan tetapi hasrat lebih utama, maka jika hasrat itu ada, skill akan menjadi prioritas nomor dua."

"Secangkir kopi yang diseduh dengan hati lebih mampu menjadi "jembatan rasa" menyambungkan hati dari pada yang dibuat dengan teknik-teknik trendi yang dipelajari dari pelatihan".

"Secangkir kopi bisa menjadi "jembatan rasa" yang mempertemukan, kita bisa mengenal kepribadian seseorang dari kopi yang dinikmatinya. Tapi kalau tidak dapat "klik-nya" pelanggan tidak akan kembali lagi untuk meminum kopi itu."

Menikmati segelas kopi panas saat hujan begini memang waktu yang pas, apalagi diisi dengan obrolan yang berkualitas. Jarang ada kedai kopi yang owner-nya mau menemani ngobrol tamunya. Ya memang kadang ada juga pelanggan yang hanya ingin menikmati kopinya sendirian.

Tanpa terasa kopi pahit sudah tandas dan waktu bergulir dengan cepat. Saat hujan mulai reda, saya meninggalkan kedai itu. Masih sempat memesan produk kopi dingin botolan untuk bekal di jalan.

Harganya produk kopi yang ditawarkan lebih murah dari gerai kopi terkenal yang ada di mall. Ditambah suasana kedai yang asik dan luas ini jelas kemewahan yang tidak bisa didapatkan pada gerai kopi di mall, seterkenal apapun merek kopinya.

Namun demikian saya jadi ingat kembali kata-katanya, "Berbicara tentang kopi, sama saja berbicara mengenai selera, setiap individu memiliki selera yang gak akan pernah sama setiap orangnya".


Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta

@ Kedai Kopi Hainam - Jumat, 19 April 2019.
Kontak: (021) 86609673 | 0817-6306-976




Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?


Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Dengan langsung dipandu Hye Sin dan Yusuf Prakasa, praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?