Arsip Kategori: Social Distancing

5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona

Credits: Canva.

5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona. Sekitar satu atau dua bulan lalu saya tidak pernah berpikir virus Corona akan touch down di Kabupaten Ende. Maklum, menurut saya pribadi, apa-apa yang terjadi di Ibu Kota Indonesia belum tentu dapat terjadi di Kabupaten Ende yang jaraknya jauh dari pusat kehidupan negara itu. Bahkan ketika Pulau Bali mulai dikabarkan terkena imbas dari virus Corona, saya masih melenggang santai. Kabar sejumlah lokasi di beberapa kota mulai di-lockdown dan himbauan social distancing pun belum membikin saya berjaga-jaga. Sampai kemudian kabar virus Corona touch down di Kabupaten Ende, otak saya mulai bekerja keras. From Wuhan to Ende in, about, two months! Oke, ini bikin ketar-ketir tapi tidak boleh panik, apalagi sepanik orang-orang pada berita-berita yang memburu masker dan hand sanitizer.

Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca

Pemerintah Kabupaten Ende mengeluarkan surat edaran. Rektor Uniflor pun kemudian mengeluarkan surat edaran. Mahasiswa Uniflor dirumahkan. Dosen dan karyawan Uniflor pun dirumahkan. Dan kami dihimbau untuk menaati semua yang telah diatur oleh pemerintah. Jadi, saya sendiri juga mulai menerapkan aturan ini itu baik untuk diri sendiri maupun untuk penghuni Pohon Tua (rumah kami) untuk melindungi diri. Tentu yang saya lakukan ini berdasar pada aturan dan/atau himbauan dan/atau perintah dari pemerintah.

1. Stay at Home


Stay at home atau di rumah saja menghasilkan hashtag #DiRumahSaja. Study from home yang dilakukan melalui e-learning diberlakukan pada semua peserta didik semua jenjang pendidikan di Indonesia. Ada banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk memfasilitasi kegiatan tersebut. Tetapi, bagaimana dengan murid-murid SD dan SMP di desa-desa terpencil? Jangankan telepon genggam, ke sekolah saja ada yang memakai sandal atau bahkan tidak memakai alas kaki. Bukan tugas saya untuk memikirkannya, tetapi mau tidak mau saya memikirkannya juga. Belajar dari rumah jelas berbeda dengan belajar di rumah. Semoga guru-guru di desa-desa terpencil punya solusi untuk mengatasi hal ini. Atau, jika kalian tahu satu dua informasi tentang hal ini, silahkan komen di bawah.

Credits: Canva.

Work from home juga mudah dilakukan oleh para pekerja di kota, terutama kota besar. Internet menjadi solusi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dan/atau berkomunikasi dengan sesama rekan kerja dan atasan terkait tupoksi yang masih bisa dikerjakan dari rumah. Tetapi, bagaimana dengan mereka-mereka yang pekerjaannya harus di luar rumah? Petani, pedagang di pasar, pedagang keliling, dan lain sebagainya. Kemarin, Thika Pharmantara membeli bahan makanan mentah pada pedagang keliling. Saya syok. Syok karena kuatir dia keluar rumah dan berinteraksi dengan pedagang yang berkeliling Kota Ende dengan sepeda motornya itu. Syok karena bagaimana jika bahan makanan itu sudah terpapar virus Corona? Bagaimana jika Thika tidak memakai masker saat membelinya? Bagaimana jika Thika lupa mencuci tangan lantas memegang mata, hidung, dan mulut?

Oh la la ... Tapi, kami butuh makan (lauk, pauk), dan si pedagang juga butuh mencari nafkah untuk makan anak isterinya. Sungguh ini dilema.

Seperti masih belum cukup, sepagi tadi Thika dan Melly menggedor pintu kamar saya untuk bertanya: Encim mau pentol goreng? Hah!? Mau donk! Setelah menghabiskan sepiring pentol goreng, masih di tempat tidur, baru saya sadar soal ... bagaimana jika pentol gorengnya sudah terpapar virus Corona? Ha ha ha. Koplaaaaak.

Di luar dari dua kejadian di atas, yang jelas kami lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Stay at home. Iya. 90% kegiatan kami semenjak dikeluarkan surat edaran dilakukan di dan/atau dari rumah. Serta, kami selalu menjaga jarak, karena Pohon Tua cukup luas untuk kami melakukan itu. Satu duduk di sana, satu duduk di sini, satu nangkring di atap, kami masih bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi dengan sangat baik. 

Ingat, stay at home!

2. Social Distancing


Stay at home merujuk pada social distancing alias menjaga jarak. Tapi social distancing tidak sama dengan stay at home. Apabila saya terpaksa harus keluar rumah, maka saya harus bisa menjaga jarak setidaknya satu meter dari lawan bicara.

Credits: Canva.

Memang betul, salah satu cara menjaga jarak adalah dengan di rumah saja. Tetapi, seperti yang saya tulis di atas, bagaimana dengan mereka-mereka yang pekerjaannya harus dilakukan di luar rumah? Bagaimana dengan Thika dan Melly yang harus pergi ke mini market, pasar tradisional, atau membeli bahan makanan pada pedagang makanan keliling? Bagaimana dengan para wartawan yang harus mencari berita untuk kita? Harus menjaga jarak. Selain menjaga jarak, tentu harus memakai masker dan wajib mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer.

3. Mencuci Tangan


Saya sudah pernah menulis bahwa mencuci tangan merupakan kebiasaan sehari-hari yang kemudian menjadi kebiasaan 'baru'. Kebiasaan yang paling sering bergema di rumah kami. Tidak peduli siapa pun yang masuk ke rumah, orang itu harus mencuci tangan. Bagi penghuni dan/atau orang-orang yang biasa berada di Pohon Tua, setiap kali masuk rumah mereka meluncur ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Bagi tamu, mau tidak mau kami menyodorkan hand sanitizer.

Credits: Canva.

Si bocah, Yoan, awalnya bandel banget kalau disuruh mencuci tangan, padahal dia itu paling sering masuk-keluar Pohon Tua. Entah pergi ke rumahnya sendiri, entah pergi main, entah dari mana dia. Setelah diberi pengarahan, setelah terus diomeli oleh orang se-Pohon Tua, Yona patuh. Pada akhirnya setiap kali dia masuk rumah, tanpa banyak cing-cong si bocah meluncur ke kamar mandi, mencuci tangan menggunakan sabun. Sama juga dengan saya. Setiap beberapa jam sekali, meskipun di rumah saja, tetap pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kemudian membasuh wajah.

4. Memakai Masker dan Kaca Mata


Konon masker menjadi langka. Sama halnya dengan hand sanitizer. Beruntungnya saya punya banyak selendang mini yang sering dijadikan masker dan/atau alas jilbab. Hahaha. Dan si Thika, entah bagaimana caranya, masih bisa membeli masker kain yang bisa dicuci.

Credits: Canva.

Thika dan Melly, setiap kali keluar rumah, selalu memakai kaca mata dan masker. Fungsinya adalah agar mereka punya sekian detik kesadaran untuk menyentuh mata, hidung dan mulut secara langsung dengan tangan saat sedang berada di luar rumah dan/atau saat belum mencuci tangan ketika pulang ke Pohon Tua. Dan kepada mereka berdua saya sering mengingatkan: apa pun yang terjadi, jangan menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan, terutama jika kalian di luar rumah.

5. Membersihkan Pohon Tua


Jalur-jalur utama orang lalu-lalang di Pohon Tua menjadi perhatian khusus. Mama Sia bertugas untuk lebih rajin mengepel jalur-jalur tersebut, hahaha. Kalau sebelumnya sering banget bilang ke Mama Sia: sudah eeee Mama Sia tir usah terlalu rajin ngepel, ini rumah orang masuk keluar tiap hari. Tapi sekarang: Mama Sia eee jangan lupa ngepel.

Credits: Canva.

Kenapa begitu sih, Teh? Karena pengen saja melakukannya. Karena saya ingin setiap orang di dalam Pohon Tua punya kesadaran akan bahayanya virus Corona, betapa cepat penyebarannya, dan betapa sangat menyusahkannya ketika terpapar.


Keberadaan virus Corona mau tidak mau membikin manusia harus lebih aktif melindungi dirinya sendiri dengan cara-cara yang dianjurkan oleh pemerintah dan/atau WHO. Saya sampai berpikir bagaimana jika virus Corona adalah obat yang diminum Bumi untuk melawan virus keji dan paling bandel bernama Manusia? Haha. Setidaknya virus Corona membikin manusia yang bandel jadi lebih taat. 

Baca Juga: 5 Alasan Saya Menyebut Nuabosi Adalah Tanah Surga

Menulis ini bukan berarti saya sudah pasti kebal dari virus Corona karena kita tidak pernah tahu apa yang menunggu di depan sana. Tetapi sebagai manusia, layaklah saya berbagi pengalaman berdasarkan apa yang diperintahkan oleh pemerintah dan pengalaman di dalam Pohon Tua kepada kalian, bos-bos pembaca blog ini. Hehe. Sebagai manusia, Tuhan sudah melindungi kita dengan akal. Akal itu yang harus dimanfaatkan dalam situasi seperti sekarang ini, salah satunya adalah dengan menaati semua peraturan pemerintah, serta semua peraturan dari pimpinan/pemuka agama. Jadi, jangan pernah beralasan, ini kan kegiatan agama, Tuhan pasti melindungi kita. Iya, Tuhan melindungi kita dengan memberikan akal untuk berpikir dan mencerna, gunakanlah akal itu. Tetap berdo'a pada Tuhan, jelas! Tapi kalau dilarang berkumpul, patuhilah.

Credits: Canva.

See? Sederhana bukan melindungi diri dari virus Corona? Yang penting adalah bagaimana cara kita mengaplikasikan semua perintah/aturan pemerintah untuk kita dalam mengatasi/melindungi diri dari virus Corona. Dan, semua itu harus diimbangi dengan do'a kepada Tuhan.Di dunia ini, ikhtiar harus diimbangi dengan do'a. Kalau kita hanya melakukan salah satunya saja tanpa diimbangi dengan yang lain, entah mau jadi apa. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing


Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing. Seperti yang sudah saya tulis pada pos berjudul Mengurai Makna Karantina Diri Sendiri dan Liburan, virus Corona telah menjadi kosakata baru masyarakat global. Virus yang oleh World Health Organization (WHO) dinamai Covid-19 telah menjadi pandemi. Artinya, virus Corona telah menjadi wabah global dan harus disikapi dengan serius, lekas, dan bijak. Di Indonesia telah diberlakukan lockdown pada sejumlah lokasi seperti kantor, kampus, dan daerah wisata. Tentu lockdown tidak akan berhasil jika masyarakat tidak melakukan social distancing. Di Kabupaten Ende, telah keluar Surat Edaran dari Bupati Ende agar sekolah-sekolah dan kampus di-lockdown. Selama empat belas hari terhitung sejak tanggal 23 Maret 2020 sampai 4 April 2020, kegiatan belajar mengajar bisa dilakukan secara daring, atau para murid dan mahasiswa diberikan tugas-tugas.

Baca Juga: Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya 

Betapa cepatnya penyebaran virus Corona, serta antisipasi yang harus dilakukan masyarakat, menyebabkan dua benda berikut kemudian menjadi langka. Yang pertama: masker. Yang ke-dua: hand sanitizer. Terakhir, saya sempat membeli hand sanitizer sebanyak dua botol besar pada agennya. Terima kasih, Nijho, telah mengantar hand sanitizer tersebut ke rumah. Setelah itu, hand sanitizer seperti ditelan bumi. Ludes. Menyikapi kelangkaan tersebut, Dosen Pengampu Mata Kuliah Fisika Lingkungan Prodi Pendidikan Fisika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Uniflor) Bapak Yulius Dala Ngapa, S.Si., M.Si. berinisiatif melakukan penelitian bersama mahasiswa Semester 6 untuk membuat hand sanitizer dan disinfektan.

Seperti apa ceritanya?

Baca yuk ...

Sebuah Penelitian


Hari itu Rabu, 11 Maret 2020, saya hendak pulang ke rumah setelah sebelumnya batal meliput kegiatan kuliah tamu di Prodi Manajemen akibat pemateri tidak boleh datang ke Kota Ende akibat, secara gamblang, virus Corona. Melewati Kantor Kemahasiswaan, mata saya menumbuk stoples berisi kudapan kuping gajah. Ooooh, tidak mungkin kudapan itu saya lewatkan. Di situ ada Rossa, Pak Yulius, dan Oncu Emmi. Sesaat sebelum tangan saya masuk ke dalam stoples, Pak Yulius berkata: Kak, tangannya dibersihkan dulu dong pakai hand sanitizer. Saya membalas: oh ya, saya bawa kok hand sanitizer. Pak Yulius mengangkat botol kecil tanpa label dan bilang: ini hand sanitizer yang tadi dibuat sendiri sama mahasiswa. Saya syok. Mahasiswa Uniflor membikin hand sanitizer sendiri? Ah, yang benar!

Menyikapi kelangkaan hand sanitizer di pasaran, hari itu Pak Yulius mengajak mahasiswa yang diampunya dalam Mata Kuliah Fisika Lingkungan, untuk membikin sendiri hand sanitizer dan disinfektan. Bahan-bahan yang digunakan bisa ditemui di sekitar. Untuk hand sanitizer, bahan-bahan yang dibutuhkan adalah alkohol 95%, lidah buaya, dan essential oil. Untuk disinfektan, bahan-bahan yang dibutuhkan hanyalah air dan cairan pemutih. You name it; Byclean atau So Klin Pemutih. Menurut saya, hal seperti ini harus diinformasikan pada khayalak. Ibarat wartawan kelas kakap, menurut saya ini berita Straight sekaligus Hard. Kalau dalam dunia Stand Up Comedy, berita ini punya premis dan punchline yang 'mematikan'. Makanya, meskipun hari itu batal menulis berita kuliah tamu, saya memutuskan menulis berita tentang kegiatan Pak Yulius dan mahasiswanya.


Keesokan harinya pihak Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) memutuskan, Pak Yulius dan mahasiswanya membuat hand sanitizer dan disinfektan. Dalam hal ini, Prodi Pendidikan Fisika bekerjasama dengan Prodi Agroteknologi pada Fakultas Pertanian. Pembuatan hand sanitizer dan disinfektan dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian dan dimulai sejak siang hingga malam hari. Dari kegiatan itu diperoleh 100 botol sampel hand sanitizer dan cukup banyak disinfektan. Dan pada Jum'at, 20 Maret 2020, pukul 09.00 Wita, 100 sampel hand sanitizer itu kemudian dibagikan kepada masyarakat Kota Ende yang sedang mengurus berkas di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ende. Masyarakat yang berada di kantor tersebut sangat antusias menerima botol-botol berisi hand sanitizer.



Setelah itu kegiatan dilanjutkan di lobby Gedung Rektorat yaitu penyerahan bantuan hand sanitizer dan disinfektan kepada Lurah dari Kelurahan Paupire tempat Uniflor bernaung, serta penyemprotan disinfektan di semua ruangan kantor pada tiga kampus Uniflor.


Ketua Yapertif Bapak Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt. kepada wartawan yang meliput kegiatan tersebut mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud dari kepedulian Uniflor terhadap situasi genting yang terjadi saat ini. Selain itu kegiatan ini juga merupakan gerakan moral. Artinya, masyarakat harus tahu bahwa kita dapat membikin sendiri hand sanitizer dan disinfektan. Pengobatan merupakan tugas pemerintah, tetapi pencegahan dapat dilakukan oleh masyarakat. Ini merupakan langkah awal di mana pemerintah dari tingkat RW, RT, hingga kelurahan dan desa, dapat berembug dan secara bersama-sama membikinnya untuk kepentingan bersama. Tentu, Uniflor juga dapat membantu apabila dihubungi dan/atau dikoordinasikan. Menurut beliau, masyarakat jangan bersikap masa bodoh. Apapun himbauan dan keputusan oleh pemerintah, harus diikuti, termasuk social distancing.

Dirumahkan, Bukan Diliburkan


Akhirnya Uniflor pun di-lockdown. Tetapi memang sedikit sulit untuk me-lockdown lokasi pendidikan. Kebijakan yang dilakukan oleh pihak Rektorat Uniflor adalah dengan merumahkan mahasiswa di mana kegiatan belajar-mengajar dapat terus dilakukan melalui daring. Ada banyak aplikasi yang bisa mengakomodir kegiatan tersebut seperti Google Classroom dan Edmodo. Ada juga SPADA yang waktu itu dikeluarkan oleh Belmawa Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti). Saya tidak tahu apakah SPADA juga bisa digunakan untuk mengajar jarak jauh atau a la daring karena cakupan SPADA lebih luas dan sekarang Kemenristekdikti sudah menjadi Kemenristek saja. Kalau kalian tahu lebih dalam soal SPADA, komen di bawah. Hehe.

Bagi tenaga pendidik dan kependidikan alias dosen dan karyawan Uniflor diberlakukan social distancing. Kami tidak dirumahkan secara utuh selama empat belas hari terhitung sejak tanggal 23 Maret 2020 sampai 4 April 2020, melainkan diberikan jadwal piket. Misalnya saya sendiri mendapat jatah piket setiap Hari Senin dan Hari Kamis selama dua minggu ke depan, jadi hanya empat hari kerja saja. Tidak dirumahkan secara utuh karena, seperti yang saya tulis di atas, memang sedikit sulit untuk skala sebuah universitas. Karena, dosen juga harus mengurus berkas-berkas mereka terkait ini itu di kantor-kantor dan/atau dilayani oleh pegawai kan. Jadi, kalau dibilang Uniflor di-lockdown, memang di-lockdown penuh untuk mahasiswa, sedangkan dosen dan karyawan wajib melakukan social distancing melalui aturan-aturan yang telah ditetapkan. 

Saya pikir kebijakan ini sangat baik sekali. Dengan aturan piket satu orang per ruangan setiap harinya jelas mendukung upaya social distancing tersebut. Meskipun tidak 100% tetapi kegiatan pelayanan masih bisa terlaksana.

UPDATE: 24 MARET 2020

Segenap dosen dan karyawan Uniflor melakukan work from home.

Mencuci Tangan


Pohon Tua, rumah saya, memang hanya dihuni oleh empat orang, tetapi selalu banyak orang di rumah. Selain Mamatua, saya, Indra, dan Thika, juga ada Mama Sia, Mama Len, Meli, dan Yoan. Yoan, si bocah SD itu yang paling sering kena sasaran kami semua hahaha. Karena, dia kan sering banget masuk keluar Pohon Tua. Setiap masuk rumah sebelum menyentuh apa-apa, dia wajib pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya dengan sabun. Sampai-sampai dia protes: apa eee, tiap kali datang saya harus pergi cuci tangan ni kah?

Dasar bocah. Haha. Tapi itu wajib dia lakukan. Meskipun mengomel ini itu, Yoan tetap pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan.

Bukannya paranoid, tetapi saya memang harus memberlakukan banyak hal terhadap para penghuni Pohon Tua. Thika dan Meli adalah dua penghuni yang paling sering keluar rumah karena tugas mereka memang berbelanja ini itu. Mereka sudah mempersiapkan masker, kaca mata, dan hand sanitizer setiap kali keluar rumah. Setiap kali pulang, tujuan mereka paling pertama adalah kamar mandi. Setelah itu barulah kami berinteraksi seperti biasa. Tetapi karena Pohon Tua ini besar, tanpa sengaja jarak kami selalu lebih dari satu meter. Kecuali, saat kami harus mengurus Mamatua. Hehe. Tapi kalau dipikir-pikir, asyik juga. Ada kebiasaan baru yang keren ... dan semoga kebiasaan baik ini terus kami lakukan: rajin mencuci tangan!

Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Dalam agama Islam, kebiasaan membersihkan diri ini sebenarnya sudah dilakukan oleh umat Muslim. Shalat lima waktu sama dengan ber-wudu sebanyak lima kali. Wudu dilakukan dengan membersihkan bagian-bagian tertentu yang telah ditetapkan. Bagi teman-teman non-Muslim, mungkin kalian tidak tahu bahwa kegiatan wudu pertama kali adalah membasuh kedua tangan masing-masing tiga kali. Tentu bagi yang tayamum cerita beda karena tayamum tidak menggunakan air. Bukannya wudu itu tanpa sabun? Benar! Tanpa sabun! Hanya saja, banyak orang yang selalu mandi terlebih dahulu sebelum ber-wudu lalu melaksanakan shalat. Kalau mandi pasti pakai sabun kan? Hehe. Dulu saya selalu melihat kakak ipar saya, (almh.) Mbak Ati, selalu mandi terlebih dahulu sebelum ber-wudu dan shalat. Perlu kita coba. Setiap pulang ke rumah, mandi saja sekalian ketimbang mencuci tangan saja. Hehe.

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua. Mari, jaga diri kita. Mari, berusaha sambil berdo'a. Insha Allah selalu dilindungi oleh Tuhan. Semoga Tuhan menjaga niat, upaya, dan do'a kita untuk terhindar dari virus Corona.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.