Bye Triplet


Triplet, sebuah novel absurd yang telah kalian baca part demi part telah selesai dipos. Tidak banyak harapan dari saya, hanya ingin kalian mengenal beberapa tempat wisata yang turut menjadi latar ceritanya.

Triplet, tentang puteri kembar tiga :)

Terima kasih telah membaca Triplet.


Cheers.

Triplet ~ Part 25


Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.

***



Ceritakan padaku,
tentang orang-orang
yang pernah ...
cintamu memanah.

 


Part 25
 
 

~ Ende ~
31 Desember 2015


“Jika rasa cintamu terbalaskan, maka bersyukurlah karena Allah telah memberikan hidup lebih berharga dengan belas Kasih-Nya.” – Nabi Muhammad SAW.


Bekerja keras bukanlah perkara baru bagi Petrus. Selama hidup, laki-laki yang berasal dari Kecamatan Maurole ini terus menerima hadiah kemelaratan. Penghasilan Bapaknya, seorang guru sekolah dasar di Kecamatan Maurole, tidak cukup mengenyangkan perut delapan anak dengan jarak lahir terlalu rapat. Mamanya berusaha menopang perekonomian keluarga dengan menggarap tanah keluarga yang rata-rata ditanami pohon pisang. Petrus, anak ketiga, tidak pernah lari dari kondisi orangtuanya, apalagi menyalahkan Tuhan atas kemelaratan keluarganya. Susah payah dia berusaha mempertahankan perutnya (jangan sampai kelaparan) dengan bekerja. Tenaganya harus bermanfaat. Hasil yang dia peroleh dari membantu mengangkut batu untuk pengerjaan proyek jalan, atau berjualan es lilin punya tetangga, atau berjualan pisang hasil kebun dari pintu ke pintu, tidak hanya untuk mengenyangkan perutnya sendiri melainkan juga untuk semua anggota keluarga.
Ketika melanjutkan SMA di Kota Ende, Petrus mengorbankan biaya pendidikan dua orang adik perempuannya. Air mata bukan jawaban atas semua yang terjadi. Dia harus bersaing nilai dengan kawan-kawan agar tidak tahan kelas. Di sela-sela waktu luang antara usai sekolah dan les sore, dia bekerja di Toko & Bengkel Aurora. Uang memang dia peroleh (dari menambal ban, mengganti ban, mengganti busi, atau mengisi angin ban). Namun ilmu bengkelnya pun bertambah. Siapa sangka dia diajari menyetir mobil pula oleh anak pemilik bengkel?
Hidup Petrus memang berubah. Dia tidak lagi terbelenggu kemelaratan namun tidak juga dikepung Rupiah. Yang dia tahu, mencari uang itu susah sehingga janganlah memperlakukan uang dengan semena-mena. Hasil menabung telah mengantarnya ke pelaminan, mempersunting perempuan yang diincarnya sejak masih SMP. Lima tahun yang lalu Petrus dan istrinya, pindah ke Kota Ende. Mereka bekerja serabutan dan hidup sehemat mungkin. Suatu hari yang terik, kemudian, mengantar Petrus ke depan pintu Shadiba’s Corner. Ketika sekejap mata dia diterima menjadi sopir, yang bisa dia lakukan hanyalah menangis.
Dan hari ini, ketika melihat istrinya sibuk membantu Among di dapur, Petrus nyaris menangis ... lagi.
Meskipun bekerja keras bukanlah perkara baru bagi Petrus namun menjemput satuper satu tamu majikannya yang tiba dari beberapa kota di Indonesia agak melelahkan. Pekerjaannya hari ini adalah bolak-balik dari Shadiba’s Corner, Bandara H. Hasan Aroeboesman, dan hotel.
“Petrus!” panggil Diba dari pintu kafe. “Ah, kau ini saya cari ke mana-mana. Ini daftar tamu untuk siang sampai sore nanti,” ujar Diba sambil menyerahkan secarik kertas pada Petrus. “Aaah kau ini, jangan terlalu diperhatikan nanti istri kau salah tingkah dan tidak konsentrasi,” goda Diba.
Petrus tersipu. “Terima kasih ... Meri sudah boleh kerja di sini.”
“Sama-sama Petrus. Jangan lupa ... jemput mereka, langsung diantar ke hotel! Habis maghrib jemput lagi mereka, antar ke sini.”
“Siap!” jawab Petrus, lantas membaca tulisan pada kertas.
Jemput di bandara:
Pukul 13.00, Pram, Margaret, Karel.
Pukul 14.30, Mono, Bandit, Farid.
Pukul 15.00, Ampoi.

xxXXXxx

Adalah tugas Magda dan Azul untuk menyulap ruang kerja beraroma jeruk menjadi ruang ‘arisan’ yang penuh drama. Terakhir, setelah kekacauan besar yang terjadi pada tanggal 17 Agustus, tangis air mata majikannya dan dua saudari kembarnya pecah. Satu minggu berselang setelah tragedi 17 Agustus, Mira bangkit dari keterpurukan, menyadari semua kesalahan yang telah dia lakukan selama ini, dan meminta maaf. Air mata Magda mengalir deras ... dia terharu melihat tiga perempuan yang kemiripannya bak pinang dibelah tiga itu saling peluk penuh kasih.
“Mag,” panggil Diba. Dia berdiri di pintu ruang kerja sambil menggigit bibir.
“Kenapa?”
“Hmmm. Apa tidak sebaiknya kita pindakan ke halaman belakang?”
Magda menjentik jari. “Sebenarnya saya mau usulkan itu karena ruang kerja ini terlalu sempit untuk menampung begitu banyak orang!”
“Oke. Kau atur lah. Ajak si Azul.”
Dalam hati Magda bersyukur karena tidak perlu menggeser meja-meja kerja, sofa, dan lemari. Setidaknya setelah libur tahun baru usai dia tidak perlu bekerja sambil membaui bermacam aroma sisa pesta tahun baru di meja kerjanya.
G-Note Diba berdering.
Assalamu’alaikum.
Wa’alaikumsalam. Dek, kalau tambah seorang lagi boleh? Montir bengkel Abang, si Cipot, mendadak muncul di rumah. Dia mau rayakan tahun baru di sini.”
“Boleh Abang sayang ...”
“Oke. Setengah jam lagi Abang ke situ.”
Mendendam bukan pekerjaan manusia beriman. Diba malu pada Vasco da Gama dan Ibnu Bin Abi Thalib jika sampai mendendam apalagi mendendam pada laki-laki yang masih dicintainya. Tidak secepat kilat perasaannya kembali bergetar. Butuh waktu untuk memprosesnya. Tapi setidaknya dia tidak perlu membantah omongan Ucup, tuduhan Magda, juga kata hatinya sendiri. Ya, dia masih mencintai Elf ... selamanya perasaan ini akan hidup. Cinta pertama memang sulit binasa.
“Akhirnya!” seru Azul.
“Akhirnya apa, Zul?” tanya Diba. Dia menyimpan kembali G-Note ke dalam kantong celana.
“Akhirnya Kakak mengambil keputusan yang berkualitas. Pindah ke halaman belakang,” jawab Azul.
Magda terkikik mendengarnya. “Ayo, Zul, ajak Cahyadi ... kita harus pindahkan kursi-kursi malas itu, dan angkut beberapa kursi lagi,” ajaknya.
“Beres!”
Diba menghempas tubuh ke sofa memerhatikan punggung Magda dan Azul yang keluar dari ruang kerja. Malam ini mereka akan merayakan tahun baru bersama di Shadiba’s Corner, perayaan yang terlewati saat menyambut Tahun Baru 2015 karena bermacam masalah yang menimpa keluarga Pua Saleh.
Dalam hitungan jam Tahun 2016 akan tiba. Tahun 2016 adalah Tahun Monyet Api, yang dimulai dari tanggal 8 Februari (Tahun Baru Cina, Imlek) hingga 27 Januari 2017. Sepanjang 2016 api menjadi unsur paling dominan dan membawa enerji yang besar.
Diba berharap enerji yang besar itu beraura positif. Akan banyak kejadian-kejadian positif di masa depan yang mengobati kepahitan masa lalu. Dia akan mendorong Mira untuk menulis lebih banyak puisi yang nantinya akan dibukukan. Jika Kakek Ucup masih hidup dia akan menghadiahi seratus jempol untuk Ayah dari Babanya itu. Meskipun lama mengendap, bakat Mira merangkai kata tak pernah mati. Hanya butuh sedikit percikan untuk mengembalikannya ke permukaan. Siapa pula yang menyangka percikan itu terjadi seminggu setelah malapetaka di ruang kerjanya ini pada hari kemerdekaan Indonesia? Ya, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian.
Tidak apa-apa, Mira. Kau merdeka tujuh hari setelah tujuhpuluh tahun Indonesia merdeka.
Bibi Ani menghampiri Diba.
“...”
“...”
Mereka hanya saling memandang. Tanpa suarapun hati mereka tahu, bahwa masalah akan selesai dengan dua perkara. Pertama: dengan penyelesaian. Kedua: dengan waktu.[]

Tamat

Triplet ~ Part 24







 
 
Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.


***


PART 24









~ Ende ~
17 Agustus 2015
LEDAKAN


Angka 7 mempunyai tingkat keistimewaan tertinggi. Untuk menciptakan semesta Tuhan memilih angka 7. Al-Baqarah: 29 berbunyi, “Dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikannya tujuh langit.” Atom yang dianggap sebagai dasar pembentuk alam tersusun atas 7 tingkatan elektron dan tidak mungkin lebih dari itu. 7 hari dalam seminggu. 7 warna pelangi. Dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain.
Meskipun angka 7 mempunyai tingkat keistimewaan tertinggi namun angka 17 pun tak kalah istimewanya. Selain gerbang kedewasaan manusia ditandai dengan angka 17, angka tersebut pun merupakan angka keramat Republik Indonesia. Kemerdekaan dari negara yang menerima ekspansi Portugis dan dijajah Belanda dan Jepang ini jatuh pada tanggal 17. Dan, konon, taman wisata di Riung yang jumlah pulaunya lebih dari 30 diubah menjadi Taman Wisata 17 Pulau Riung.
Pukul 07.45. Lapangan Pancasila telah dipadati masyarakat Kota Ende, dan sekitarnya, yang ingin menyaksikan Upacara Bendera 17 Agustus 2015. Para orangtua, juga sanak keluarga, tentu tidak mau melewatkan momen penting anak mereka beraksi di Lapangan Pancasila sebagai anggota Paskibra. Anak-anak berseragam sekolah buru-buru pergi ke Lapangan Pancasila untuk menyaksikan teman-temannya beraksi: Paskibra, anggota koor, marching band, peserta lomba devile, atau panjat pinang. Penjaja makanan dadakan mencari spot paling strategis agar dagangannya mudah tertangkap pemilik mata-mata yang lapar, haus, dan lelah. 17-an semacam ajang bazar nasional. Semua pedagang mendadak jenius.
Mira turut berdesakkan bersama sekelompok ibu-ibu yang ribut bercerita tentang ini-itu. Topiknya masih juga batu akik. Dalam hati Mira mencemooh topik itu karena hari ini dia ditawari perjanjian damai oleh Baba dan kedua saudari kembarnya.
Dasar bodoh! Akhirnya warisan Baba jatuh pada saya!
Hari ini Wawan mengikuti lomba devile, mewakili instansinya. Mira akan menunggu sampai perlombaan selesai lantas mengajak Wawan pergi ke Shadiba’s Corner. Akhirnya untuk pertama kali setelah pulang ke Ende dia akan menginjak tempat usaha adiknya itu. Adik yang lahir paling buntut dari mereka bertiga, dan paling lama.
Berapa penghasilan perahu motor dalam sehari? Aaah ... hadiah ini ... kalau Mas Wawan tidak bisa belikan perabot rumah tangga, penghasilan tigabelas perahu motor lebih dari cukup untuk beli rumah!
Di tengah keramaian pikiran Mira meloncat pada hari-hari ketika mereka masih kecil. Diba, si Pecinta Bantal, selalu mencari cara untuk mematahkan ramalan Kakek Ucup. Atha, si Pecinta Hujan, selalu bersikap aneh—cenderung sinting. Dirinya, si Pecinta Senja, adalah pabrik puisi dan cerita romantis.
Dia tahu ada ‘sesuatu’ antara Elf dan Diba. Tidak terucap. Tidak terungkap. Namun perhatian Elf pada Diba nyata mempertontonkan betapa laki-laki itu sangat mencintai Diba. Cinta ... memang tidak selamanya harus diwakilkan dengan kata-kata.
Sayangnya ... Bang Elf harus jadi korban.
Ah ... masa lalu! Masa bodoh! Saya tidak pernah meminta dia menikahi saya!
Lantas wajah Firdaus membayang. Mira tersenyum sinis. Laki-laki itu telah merobek selaput dara-nya, lalu pergi begitu saja.
Suara perempuan dari pengeras suara mengumumkan bahwa Bupati Ende telah tiba di Lapangan Pancasila. Upacara segera dimulai. Tidak fokus Mira mengikuti jalannya upacara; kupingnya masih mendengar komentar ibu-ibu tentang pemimpin upacara yang bertubuh tegap, betapa rindunya mereka menyaksikan Paskibra yang digelar setahun sekali ini, dan ... batu akik. Sesekali kuping Mira mendengar celetukan, “gagah naaa ...” (bagusnya!) dari mereka.
Satuper satu acara bergulir hingga penyerahan hadiah kepada peserta lomba ini-itu. Masyarakat juga sudah tidak sabar menanti lomba panjat pinang.
Pukul 12.00 suara perempuan dari pengeras suara mengumumkan lomba devile akan segera dimulai. Mira bergegas berdiri, mencari tempat paling depan di Jalan Soekarno. Dia ingin menyaksikan Wawan beraksi. Setelah berpayah-payah dalam desakan manusia dengan bermacam aroma, dia akan bersantai sejenak di ruang kerja Diba yang menurut Ucup sangat nyaman—menunggu dua saudari kembarnya memberinya hadiah pra-nikah. Hidup sungguh indah.

xxXXXxx

Magda menghela nafas panjang-panjang. Ruang kerja yang biasanya hanya dihuni dua orang: dirinya dan Diba, mendadak berubah menjadi pasar malam. Suasana tenang dan nyaman yang selama ini tercipta berubah tegang dan ribut. Ribut karena sejak muncul di ruang kerja beraroma jeruk ini mulut Ucup tidak henti-hentinya mengomel, “semua Kakak saya ... sinting! Harusnya sekarang saya dan Dek Febri lagi asyik-asyikya menikmati es campur Warung Bangkalan yang cihuy itu!”
“Diam kau, Cup!” hardik Diba yang sedang membaca e-maildari Sheena. Perempuan asal Denmark itu menulis cara membuat bananaque: pisang bakar a la Orang Philipina.
“Arrgggh!”
Atha duduk manis di sofa. “Kira-kira dia mau datang ... atau tidak?”
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Atha.
Pukul 12.25 Margaret mengirim pesan pada Diba yang dibalas Diba dengan satu kata: belum.
Pukul 12.35 pintu ruang kerja membuka. Mira dan Wawan datang.
“Hei ... ayo duduk dulu,” sapa Atha. “Mag, siapkan minum lah ...”
“Hmmm. Nyaman sekali,” ujar Mira. “Berapa penghasilan kau sehari, Dib?” dia bertanya tanpa basa-basi.
“Ha?” Diba melongo, kaget ditanya begitu oleh Mira. “Eh ... ah saya tidak tahu. Tanya Magda saja. Dia yang mengurus segalanya.”
“Oh.” Angkuh, Mira duduk di sofa. Wawan menyusul, duduk di sampingnya.
Cekatan tangan Diba mengirim pesan untuk Margaret. Isinya: segera, sekarang.
“Jadi ... akhirnya Baba mau juga serahkan tigabelas perahu motornya untuk saya,” celetuk Mira.
Atha mengibas tangan. “Yaaa ... saya dan Diba juga tidak seberapa butuh. Pikir kami, kau dan Mas Wawan kan mau merit ... jadi apa salahnya kalau kami membujuk Baba untuk menyerahkan tigabelas perahu motornya untuk kau?” lantas tersenyum.
Ucup melirik kesal.
“Terima kasih,” seru Mira.
“Makanya kita minta kau dan Mas Wawan datang. Ada dokumen yang harus ditanda-tangani,” sambung Diba.
“Dan ... kau, Cup?” Mira menoleh pada adik bungsunya.
Ucup mengedik bahu. “Saya PNS, Kak. Tidak butuh.”
Mira tertawa. Sumbang dan palsu. “Terima kasih. Kalian begitu baik!”
“ ... ”
Diba bangkit, hendak mengambil kertas untuk mencetak sesuatu—sesuatu yang diharapkan Mira dokumen kepemilikan tigabelas perahu motor milik Baba. Gerakan Diba dihentikan oleh dering G-Note. Dia menerima panggilan itu. “Halo? Hah? Apaaaa? Kalian sudah tiba? Busyeeeet. Oke ... nanti saya suruh Petrus jemput. WHAT!? Astaga! Segera masuk!”
“Kenapa kau, Dib?” tanya Atha. “Macam orang linglung begitu!”
“Teman melancong saya ... sialan ... datang tidak kasih kabar duluan,” balas Diba anteng. “Mereka malah sudah di depan.”
“Oh ya? Suruh masuk saja, Dib,” sambar Mira.
Pintu ruang kerja Diba membuka.
Assalamu’alaikum!
“...”
“...”
Wa’alaikumsalam ...
Wawan mematung.
“Halo, Wira,” tegur Pram dan Prita bersamaan.
Wawan berharap saat ini juga Tuhan menghadiahi umatNya gempa bumi berskala 9,2 atau tsunami yang mampu menenggelamkan Pulau Flores. Dalam hitungan detik adrenalin Wawan memaksa jantungnya berdetak semakin cepat dan tak beraturan. Nafasnya memburu. Dia tidak siap. Dia tidak siap melihat orang yang pernah sangat dia cintai ...
“Ke mana saja kamu, Wira?” tanya Prita lembut. Dia duduk di samping Wawan, memegang lengan laki-laki itu.
“Hei!” hardik Mira. “Lepaskan dia!”
“Aku udah pernah melepaskan dia, Mira,” balas Prita.
“Dari mana kau tahu nama saya?” Mira didera penasaran. Dia dan Wawan adalah dua orang yang sama sekali tidak tahu-menahu rencana Atha dan Diba.
“Aku udah pernah ngerasain sakitnya ditinggal setelah dia ... dia ...” Prita terisak.
“Prit,” Pram mengajak Prita berdiri, memindahkan Prita ke kursi kerja Magda.
“Sebenarnya ada apa ini?” tanya Mira kebingungan. Bukan situasi ini yang dia harapkan ketika datang ke Shadiba’s Corner. Di dalam benaknya dia akan menandatangani perjanjian penyerahan usaha Baba, lantas menjadi perempuan kaya raya yang mewarisi tigabelas perahu motor, dan akan menikahi Wawan.
“Lihat, Wira. Inilah Prita yang pernah kamu cinta ... dulu ... kamu lihat dia sekarang? Tidak secantik dulu sebelum kamu tinggalkan dia kan?” serang Pram.
“Apa-apaan ini!?” hardik Mira.
Wawan tertunduk lemas. Hidupnya seakan telah tamat di ruangan beraroma jeruk ini.
“Mas Wawan!” raung Mira. “Jelaskan!”
“Nanti juga kau akan tahu, Mir,” ujar Diba.
“Tahu apa?” Mira menyerang Diba, “kau jangan macam-macam sama saya, Dib!”
“Kalian berdua! Diam!” hardik Atha.
Wawan mengangkat wajah. Dia menengadah, menatap langit-langit. “Aku cinta kamu,” ujarnya.
“Aku?” tanya Prita.
“Saya?” tanya Mira.
“Aku cinta kamu ... Pram,” lirih suara Wawan.
Hening tercipta di ruang kerja ini. Keheningan ini bak keheningan yang datang usai bom atom meledak di Nagakasi dan Hiroshima.
Mulut Ucup dan Diba bahkan tidak mampu terkatup.
“Aku?” Pram menatap Wawan lekat-lekat. Syok.
“Ya. Kamu.”
Prita merangsek, Pram memeluk pinggangnya. “LALU KENAPA KAMU HAMILIN AKU, HAH!!? KENAPAAAA!??”
“Karena nafsu, Prit,” jawab Wawan. Tubuhnya bergetar. “Karena nafsu. Tapi waktu kamu hamil, aku tahu aku nggak bisa selamanya bertopeng. Mana bisa aku menyiksa perasaanku sendiri?”
“DASAR PEMBOHOOOONG!” raung Mira. Kali ini Ucup bergerak cepat menarik Mira, menjauhi Wawan. “PEMBOHOOOONG!”
“Mas Wawan kenal Boy?” tanya Atha.
Wawan terperangah.
“Tidak cukup kah, Boy? Kenapa harus Ahmad? Kenapa harus Wati yang kemudian jadi korban, Mas?” serang Atha. Dia tahu dasar orientasi seksual Ahmad itu normal. Rayuan Wawan yang telah membengkokkannya.
Wawan menyerah. Tidak ada satu pun penjelasan yang sanggup dia berikan pada Atha.
“Boy? Jadi ... dia bukan adik angkat kau, Mas!?” kejar Mira, meronta-ronta dalam pelukan Ucup. “Pembohong! PEMBOHONG!”
Atha dan Diba saling pandang. Berkali-kali Diba menelan ludah.

***
Bersambung

Triplet ~ Part 23




Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.


***


PART 23


 
~ Ende ~

15 Agustus 2015
 


You don’t choose your family. They are God’s gift to you, as you are to them.” – Desmond Tutu.


Orangtua selalu mendo’akan kehidupan paling baik untuk anak-anak mereka. Masa depan yang baik: menikah, mempunyai anak, mampu membentuk kehidupan berkeluarga yang sesuai standar keluarga idaman Indonesia. Punya dua anak, cukup. Belum mampu beli mobil, harus lebih keras berusaha agar tidak kalah dengan tetangga. Meskipun Islam mengajarkan tanggungjawab orangtua berbatas pada saat anak memasuki ranah rumah tangga namun tidak dapat dipungkiri kenyataan yang terjadi orangtua selalu ada untuk anak. Dan jangan heran jika masih ditemui orangtua yang lebih bahagia melihat anak dan cucu tinggal serumah bersama mereka dalam kemewahan ketimbang hidup mandiri-namun-pas-pasan.
Ketika anak-anaknya lahir Him meng-adzan-kan mereka. Bersama lantunan adzan dia mendaraskan do’a-do’a kelak anak-anaknya mampu menghadapi sepahit apapun perjalanan hidup. Bukan sembarang nama pun diberikan kepada anak pertamanya. Shamira. Si pekerja keras yang akan menjadi tauladan bagi adik-adiknya. Rupanya nama tersebut terlalu berat disandang. Harapannya akan Mira telah kandas bahkan sebelum ujian kelulusan SMU. Sharastha dan Shadiba, dua nama yang serabutan Him comot dan tanpa arti, justru membuatnya bangga dengan caranya masing-masing. Yang satu dengan kemampuan luar biasa pemberian Tuhan, yang satu membuka lapangan kerja untuk banyak orang. Dan inti dari itu semua, Atha dan Diba mampu memberi manfaat tidak hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang lain.
Duduk di kursi plastik di dekat sampan mungil milik Rulah, Him memikirkan Mira dan permintaan-permintaannya. Minggu-minggu terakhir ini Mira lebih sering menemuinya di beranda belakang atau di meja makan. Topiknya hanya satu: tigabelas perahu motor. Jawaban Him pun tetap sama; boleh saja Mira mengelolanya atas nama keluarga, jika menginginkannya atas nama Mira seorang maka dia harus pandai bernegosiasi dengan tiga anak yang lain. Di satu sisi Him iba melihat Mira yang begitu itu; menikah karena hamil duluan, laki-laki yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya, hidup tanpa perencanaan, tidak berpendidikan tinggi (setidaknya sarjana) seperti adik-adiknya, dan sekarang malah jadi pengangguran. Laki-laki yang sekarang, katanya, mencintai Mira, tidak disukai Him. Bukan karena alasan perbedaan suku melainkan karena nalurinya sebagai orangtua mengatakan bahwa ada yang salah dengan calon mantunya itu. 
Dalam hati Him bertanya-tanya, kenapa Mira tidak meminta modal saja untuk bakal usaha? Lagi pula bukankah laki-laki itu pegawai negeri? Mira tidak perlu berpayah-payah apabila menikahinya kelak.
“Paman ...” Rullah menghampiri Him.
“Apa katanya?” tanya Him.
“Terima kasih, Paman. Dia mau menelepon Paman tapi kehabisan pulsa. Dia bilang meskipun Paman tidak mau diganti, Insya Allah jika ada rejeki akan dia ganti.”
“Ah, gaya sekali Kemal itu!” hardik Him. “Bagaimana mau dia ganti kalau tubuhnya tidak sehat? Bagaimana bisa sehat kalau tidak ke dokter? Bagaimana mau ke dokter kalau dia lebih percaya dukun? Aneh sekali dia itu ... macam hidup di jaman suanggi saja!”
Rulah terkekeh. “Berkali-kali saya suruh pergi ke dokter tapi selalu dia tolak. Alasannya banyak macam, Juragan. Siapa tahu dengan cara Juragan memberinya uang, dia mau pergi ke dokter.”
“Harus ke dokter. Mana bisa sembuh kalau sakitnya malaria malah disembur pakai air daun sirih? Teori dari mana itu?” sungut Him. “Kalau saya tidak percaya dokter dan rumah sakit, tiga anak pertama saya belum tentu selamat waktu dilahirkan.”
“Betul, Juragan.”
“Pusing kepala saya, Rul.”
“Soal si Mira lagi?”
Him mengangguk. Baginya Rulah bukan sekadar petugas administrasi saja melainkan tempat berbagi cerita. Tidak ada orang lain dari lingkungan keluarga yang dia percayai selain Rulah, Said, dan Kemal. “Anak itu minta tigabelas perahu motor ini diwariskan atas namanya seorang. Aneh ...”
Rulah tidak berani terlalu mencampuri urusan rumah tangga Him. Dia hanya mampu memberi saran dalam ranah aman. “Coba Juragan rundingkan dengan Atha, Diba, dan Ucup. Apa pendapat mereka, bagaimana mau mereka. Mereka semua cerdas, Juragan. Mereka juga tidak kikir. Saya yakin mereka mampu berpikir jernih. Mereka juga pasti mau yang terbaik untuk Mira.”
“Kau betul, Rul,” balas Him. “Saya punya janji pergi ke tempat usahanya Diba. Enaknya begini nih Rul kalau anak kita punya usaha tempat makan ...”
“Kafe, Juragan.”
“Ya apalah namanya!”
Him bangkit. “Saya pamit, Rul.”
“Iya.” Rulah mengekori hingga Him berada dibalik kemudi. “Hati-hati di jalan, Juragan!” seru Rulah seraya menutup pintu X-Trail.
“Kau, jangan lupa, suruh si Kemal pergi ke dokter. Jangan percaya dukun. Bisa timbul fitnah,” anjur Him, lantas menghidupkan mesin X-Trail. “Kalau timbul fitnah urusannya jadi panjang.”
“Baik, Juragan.”
X-Trail yang dikemudikan Him melintasi jalan beton lantas keluar dari areal pasar ikan yang terletak di bagian belakang Pasar Mbongawani. Hati-hati dia mengemudi menuju Jalan Kelimutu. Hari ini dia diajak Diba untuk makan siang di Shadiba’s Corner.
Tidak sampai duapuluh menit, Him sudah memarkir X-Trail di parkiran Shadiba’s Corner. Menatap rumah yang kini berubah menjadi tempat usaha Diba menghadirkan perasaan haru. Dulu dia nyaris percaya ramalan Ayahnya perihal Diba—Pecinta Bantal.
Melewati galeri tenun ikat, lantas membalas sapaan para pekerja, Him tiba di ruang kerja. Nampak istrinya, Mae, dan dua putri kembarnya.
Assalamu’alaikum,” sapa Him. “Kau sudah dari tadi Mae?”
Wa’alaikumsalam,” jawab Mae, Diba dan Atha. “Saya sudah dua jam tunggu Abang,” lanjut Mae. “Cukup lama untuk dengar cerita dari Abang punya anak-anak ini.”
“Ada apa ...” Him duduk di sofa.
“Mereka ...” belum selesai Mae bicara, Diba sudah memangkas, mulai bercerita perihal kakak-beradik Pram dan Prita, juga tentang si calon anak mantu: Wawan. Meski cara Diba bercerita berapi-api dan satu dua kata tertelan di tenggorokan, Him mengerti maksudnya. Sudah lama dia menaruh rasa tidak suka pada Wawan. Kecurigaannya terbukti. Hanya saja dia tidak menunjukkan pada Mae, Atha, dan Diba perasaannya sekarang, bahwa, akhirnya kalian sadar juga!
“Baba, Ine, bantulah mereka,” pinta Diba.
“Mereka ... orang asing, Diba. Tidak pantas kau membantu mereka jika tujuannya untuk menghancurkan kakak kau sendiri!” hardik Mae. Untuk alasan yang mengambang, dia hanya bisa melontarkan kalimat itu. Betapa buruknya Mira mempermalukan nama besar keluarga, Mira tetaplah anaknya. Anak yang pertama keluar dari rahimnya.
“Tapi, Ine,” sanggah Atha, “sebenarnya apa yang kita lakukan ini demi kebaikan Mira juga. Apakah Ine tega melihat Mira menikah dengan Mas Wawan?”
“Padahal Ine sudah tahu Mas Wawan itu ... busuk,” sambung Diba.
Him membuka kopiahnya, mengusap ubun-ubun seakan dengan melakukan tindakan itu dia boleh terlepas dari belenggu masalah yang seakan tiada habisnya ini. “Ya sudah ... jalankan saja rencana kalian itu,” katanya.
Mae melotot. “Tidak bisa, Bang!”
“Kenapa tidak bisa, Mae?” tantang Him. “Sejak awal saya tidak suka sama hubungan mereka. Kau ... jangan terlalu manjakan Mira. Harusnya tegur dia waktu tahu dia mulai main gila sama Wawan. Harusnya kita bisa jaga perasaan Elf. Meskipun dia tidak cinta Elf, tapi hargailah pengorbanan Elf ... tunggulah barang dua atau tiga tahun baru lengket sama laki-laki lain!”
“Tapi, Abang ... nanti Mira ...”
“Ine,” tukas Atha. “Ine harus percaya. Semua ini demi kebaikan Mira.”
“...”
“...”
“Heh, Diba, panggil Magda,” titah Him.
“Kenapa, Baba?” tanya Diba.
“Baba lapar sekali!”
“...”
“...”
 


***
Bersambung

There Is No Nanny Like Nanny Fran

Gambar diambil dari Google.

Terimakasih Hooq, sudah membikin saya ngakak tiap malam gara-gara menonton serial lama yang ngetop di era 90-an: The Nanny. Menonton The Nanny mengobati rindu pada serial era 90-an seperti Friends, Xena, Ally McBeal, Charmed, Baywatch, Dawson's Creek (yang ini saya sampai kejar themsong-nya harus sampai dapat!), The X-Files, Buffy The Vampire Slayer, Hercules, Melrose Place, dan lain sebagainya. Apa serial 90-an favorit kalian?

Baca Juga:

Serial lama sekelas The Nanny masih punya kekuatan yang luar biasa untuk menghibur penontonnya, ditambah dengan tokoh seorang kepala pelayan yang sarkasnya level dewa. He's a legend! Mari kenalan dulu dengan para tokoh The Nanny, agar saat kalian menonton serial ini nanti gara-gara penasaran, siapa tahu kan?, sudah ada gambar tentang mereka hehehe. Spoiler!

1. Fran Fine 

Ini dia si nanny yang bernama lengkap Fran Fine. Fran atau Miss Fine diperankan oleh Fran Drescher, seorang aktris Amerika yang super seksi. Miss Fine adalah Jewish-American (Orang Israel, beragama Yahudi, dan tinggal di Flushing - Queens - Amerika). Bapaknya yang bernama Morty tidak pernah diperlihatkan di dalam serial ini, sedangkan Ibunya yang bernama Sylvia dan neneknya yang bernama Yetta digambarkan sangat eksentrik dan hebring.  
Gambar diambil dari Google.

Awalnya Miss Fine bekerja di toko pernikahan milik pacarnya yang bernama Danny Imperialli. Tapi Miss Fine kemudian dipecat, alasannya adalah Danny memilih perempuan lain yang saya lupa namanya hahaha. Nama itu pernah muncul di satu dua episode The Nanny. Setelah dipecat, Miss Fine kemudian memilih untuk menjual kosmetik. Profesi baru mengantarkannya ke rumah seorang produser broadway ternama yakni Maxwell Sheffield. Di sini lah kisah si nanny bermula.
 
2. Maxwell Sheffield

Duda tiga anak, seorang produser broadway sukses, kharismatik, dan berasal dari Inggris. Dialah bosnya Miss Fine. Si orang kaya beraksen super british ini menyerahkan urusan ketiga anaknya kepada Miss Fine. Karakter Maxwell Sheffield diperankan oleh Charles Shaughnessy.

Gambar diambil dari sini.

Kharismatik kan? Sangat kental sisi seorang duda yang sibuk bekerja demi anak-anaknya.

3. Niles si Kepala Pelayan

Peran Niles (Daniel Davis) selain sebagai butler atau kepala pelayan paling setia, adalah penyela dan pencela. Dia suka menyela omongan Mr. Sheffield sekaligus mencela partner kerja Mr. Sheffield yaitu Miss Babcock atau CC yang tergila-gila pada Mr. Sheffield. Dia gemar menguping yang membikin saya ingat sama tokoh tukang nguping dalam Triplet bernama Azul, hahaha.

Niles dan kemoceng andalan.

Niles juga digambarkan beraksen british dan SARKASnya level dewa! Sumpah, saya pernah terbahak-bahak gara-gara menonton obrolan Niles yang sarkas dan Mr. Sheffield yang menangkap sarkas itu dengan sangat polos. Kocak!


4. Maggie - Brighton - Grace

Tiga anak Mr. Sheffield adalah Margareth Sheffield-Brolin atau Maggie (Nicholle Tom). Seorang remaja yang digambarkan sangat membutuhkan sosok ibu untuk membimbingnnya melewati masa remaja dan memberikan masukan-masukan untuk penampilannya sampai urusan asmara! Pada musim pertama Maggie digambarkan sedang dalam tahap pencarian jati diri.


Brighton Milhouse Sheffield (diperankan oleh Benjamin Salisbury) atau B adalah anak kedua, putera semata wayang pewaris tahta, yang sedang memasuki dunia remaja dengan segala tingkah polahnya. 


Yang paling unik adalah si Grace Sheffield, anak ketiga. Bocah ini digambarkan 'aneh' karena pola pikirnya sangat dewasa. Seperti orang dewasa yang terperangkap di tubuh bocah. Dia satu-satunya yang harus rajin mengunjungi dokter untuk terapi, hehe (apalagi saat muncul teman imajinernya itu).

Si Madeline Zima yang cantik!

5. CC Babcock

Dialah tokoh partner kerja Mr. Sheffield yang paling bahagia kalau Miss Fine dirundung malang, sekaligus tokoh yang paling sering dikerjain sama Niles. CC, demikian nama panggilannya dalam The Nanny, diperankan oleh Lauren Lane.


Psssttt, CC demen banget sama Mr. Sheffield loh. Meskipun, kalian tahu lah, Mr. Sheffield hanya menganggapnya sebagai partner kerja yang patut diperhitungkan dan diandalkan.

6. Valerie Toriello

Sahabat baik Miss Fine, Val (diperankan oleh Rachel Chagall). Val, Sylvia, dan Yetta, berganti-ganti muncul dalam episode-episode The Nanny.


7. Sylvia Fine and Grandma Yetta

Mamanya Miss Fine ini diperankan oleh Renee Taylor. Nyentrik, hebring, absurd, dan lain sebagainya. 

Hebringnya Sylvia dan Miss Fine memang turunan dari Grandma Yetta seperti di bawah ini:

I love Grandma Yetta. Rest In Peace.

Mengenal tokoh-tokoh di dalam The Nanny saja kalian pasti sudah tertawa. Tokoh-tokoh yang memerankan karakter di atas rasanya sulit untuk digantikan.
Jadi bagaimana The Nanny sendiri? Ya, Miss Fine bekerja sebagai pengasuh anak, atau nanny, dalam keluarga Mr. Seffield. Keberadaannya membawa angin segar dan nafas baru di dalam rumah tangga tersebut. Penampilannya selalu fantastis dengan tubuh seksi, balutan pakaian yang nempel di tubuh seksinya itu, warna-warna baju yang selalu ngejreng, rambut mekar, suara sengau, serta gaya bicara yang ceplas-ceplos tapi logis. Logis adalah kata yang paling tepat menggambarkan seorang Fran Fine. Dia selalu punya cerita, dia selalu punya alasan, dia juga selalu berkencan dengan pria-pria tampan yang kadang membikin Mr. Sheffield cemburu-tapi-enggan-mengakui.

Keberadaan Miss Fine selain membawa perubahan di dalam rumah Mr. Sheffield serta perkembangan anak-anaknya yang baik (tapi kadang break the rules), juga menjadi ancaman bagi CC, karena partner kerja Mr. Sheffield itu sangat menginginkan Mr. Sheffield menjadi suaminya. Haha. Dan tingkah CC itu seringkali menjadi bahan ejekan Niles. Ya, dalam hal ini Niles suka jika Miss Fine kemudian jadian sama Mr. Sheffield. Niles suka banget menebar gosip terutama jika tensi asmara antara Mr. Sheffield dan Miss Fine muncul. CC bisa muntah darah mendengarnya. Haha!

Apakah mereka menikah?

Siapa!?

Mr. Sheffield dan Miss Fine ...

Kita tahu, kita para wanitaaaaah, bahwa di dunia ini ada laki-laki yang sulit menunjukkan perasaannya. Setelah terombang-ambing selama lima musim, pada musim ke-lima, Mr. Sheffield dan Miss Fine pun tunangan dan menikah. Yay! Pertunangan mereka mengirimkan CC ke rumah sakit gangguan mental. Bahkan setelah mereka menikah, CC selalu mencari cara untuk memisahkan mereka. Poor CC. Yang lucu itu di musi ke-empat, tatkala Mr. Sheffield berusaha menarik kembali ungkapan cintanya pada Miss Fine. Kocak ajegile.

Setelah menikah, Miss Fine ... eh Mrs. Sheffield melahirkan bayi kembar yaitu Jonah Samuel dan Eve Catherine Sheffield. Setelah kelahiran si kembar, keluarga itu kemudian pindah ke California dimana Maxwell kemudian menjadi produser sebuah TV Show di Los Angeles.

Keluarga kocak. Yang tua seperti Grandma Yetta, misalnya, sudah meninggal. Yang imut-imut sekarang tumbuh dewasa dan ... tua :D

There is no nanny like nanny Fran. Dia memukau dengan kecepatan berbicaranya yang logis.

Apa yang saya pelajari dari serial jadul ini? Banyak! Tentang rumah tangga, tentang perkembangan anak-anak, tentang asmara, tentang betapa sulitnya perasaan seorang duda (tsah), tentang sarkas yang perlu saya pelajari jika ingin menjadi seperti Niles, tentang keluarga yang selalu menjadi tempat kita kembali. Serial ini layak tonton ... bagi yang lima belas tahun ke atas. Meskipun tidak ada adegan ranjang tetapi adegan ciuman saya pikir tidak layak tonton bagi anak-anak di bawah lima belas tahun.

Sekadar catatan: Fran Drescher menikah dengan seorang laki-laki bernama Peter Marc Jacobson selama 21 (DUA PULUH SATU) tahun. Jacobson adalah rekan produser Drescher. Pada tahun 1999, Jacobson mengaku pada Drescher bahwa ia gay. Tidak ada yang salah dengan gay, itu hak-nya, tapi menikah dan menjalani kehidupan pernikahan seakan-akan  normal, itu masalah. Haha. Berdasarkan kehidupan pribadinya ini, Drescher kemudian membikin satu serial lagi berjudul Happily Divorced.


Gambar diambil dari sini.

Saat ini Drescher telah menikah dengan seorang dokter dari India; Shiva Ayyadurai.

Well ...

Bagaimana akhir minggu ini mau nonton The Nanny? Tonton sajaaaa! Kalian bakal terpingkal-pingkal.


Cheers.

Triplet ~ Part 22



Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.


***


PART 22


 
~ Ende ~
14 Agustus 2015


Karena alasan topografis, hampir semua ruas jalan negara yang menghubungkan kabupaten atau kota di Pulau Flores sangat sempit dan berkelok-kelok (mengitari bukit). Kondisi tersebut diperparah oleh letak jalan yang hanya semeter-dua dari tebing dan jurang. Jika pengendara kendaraan bermotor tidak tangkas dan jeli, pilihannya hanya dua: menabrak tebing atau meluncur bebas ke jurang. Sisi positifnya, pemandangan alam sepanjang jalan negara di Pulau Flores selalu menimbulkan decak kagum pada siapapun yang baru pertama kali melihatnya. Petak-petak sawah, air terjun, juga pantai, menjadi daya tarik tersendiri sehingga seringkali terlihat mobil sewaan atau bis berhenti di pinggir jalan untuk memberi kesempatan kepada wisatawan mengabadikan panorama alam Pulau Flores. Kadang-kadang satu-dua wisatawan lupa waktu karena terlalu asyik mengajak penduduk setempat yang kebetulan sedang melintas, sambil mengusung kayu bakar, berbincang menggunakan Bahasa Indonesia yang patah-patah.
Mobil travel yang ditumpangi Atha dari Kota Maumere memasuki Kecamatann Detusoko. Mereka beristirahat sejenak di depan Terminal Detusoko.
Sejak berangkat ke Maumere beberapa hari lalu, mengantar Wati pulang ke rumah orangtuanya, Atha terus diserang pusing kepala. Meski tidak berlangsung lama, paling lama dua menit, namun jelas sangat mengganggu. Belum lagi dalam perjalanan pulang ke Ende dentuman musik yang disetel Hepe, sopir mobil travel langganan Atha, ingar-bingar menganiaya kuping.
Tak lama beristirahat di Detusoko, Hepe kembali melanjutkan perjalanan.
OPPO R1011 Atha berbunyi. Dia mengeluarkan gadget-nya dari dalam tas. Panggilan dari Diba.
Assalamu’alaikum,” sapa Atha. “Ada apa, Dib?”
Wa’alaikumsalam. Masih lama kau di Maumere?” tanya Diba dari seberang.
On the way home.”
“Bagus. Kau ditungguin tamu dari Jakarta.”
“Ha?”
“Sudah, jangan nganga begitu!” hardik Diba.
“Tamu ... siapa, Dib?”
“Hati-hati di jalan!”
~ KLIK ~
“Dasar,” umpat Atha. Dia menyimpan kembali gadget-nya ke dalam tas.
Siapa yang menunggu saya?
Tamu? Tamu siapa?
Ndoriwoi? Ah, Ndoriwoi kan dari Pulau Ende.
Atha tersenyum membayangkan Ndoriwoi berani mendatanginya. Pertemuan terakhirnya dengan Embu Rembotu telah menegaskan satu perkara: Ndoriwoi tidak akan pernah muncul di hadapan Atha lagi untuk jangka waktu yang sangat lama.
Hebat juga Ndoriwoi ... bisa membuat Embu keluar dari sarangnya yang nyaman untuk bertemu saya ...
OPPO R1011 kembali berdering. Lagi, panggilan dari Diba.
Assalamu’alaikum.”
Wa’alaikumsalam. Langsung ke Shadiba’s Corner, Tha.”
“Oke.”
Atha membayangkan Toothless. Seandainya saja dia memelihara naga, mungkin saat ini dia sedang berada di atas naga yang terbang di atas petak-petak sawah, atap rumah penduduk, dan menyisir tebing.

xxXXXxx

Pukul 17.00 Hepe menghentikan mobil travel di depan Shadiba’s Corner. Ketika Atha menyebut Shadiba’s Corner saat melewati Pasar Wolowona tadi, Hepe tahu siapa yang akan dia antar paling akhir. Laki-laki yang telah belasan tahun menjadi sopir mobil travel dan kenyang dengan segala medan lintas Pulau Flores ini akan bersantai sejenak; ngopi-ngopi di kafe.
“Om Hepe, kalau mau minum kopi, nanti bilang ke kasir saya yang bayar, ya ...”
“Wah! Terima kasih!”
“Oh ya ... sekalian kalau mau makan ...”
“Iya, Atha. Terima kasih.”
Santai Atha berjalan melintasi galeri, menyapa Laila dan Imar yang sedang merapikan pajangan tenun ikat, menyapa kasir galeri Jenni, lantas membuka pintu ruang kerja Diba.
Assalamu’alaikum.” Selain aroma jeruk menyerang indera penciumannya, Atha juga diserang tatapan dua pasang mata yang seakan-akan hendak meloncat keluar dari rongganya, atau seakan-akan sedang melihat Malaikat Izrail. Melihat salah satu dari dua ‘tamu dari Jakarta’ itu, Atha tercekat.
Seketika suasana berubah hening.
Dejavu.
Wa’alaikumsalam,” jawab Diba dan Pram.
Senyum Atha mengembang. “Kau ...”
“Sharastha ...” bibir Pram bergetar. Bahkan tangannya pun bergetar saat bersalaman dengan Atha. Bertemu Atha, face to face, ternyata tidak berbeda jauh dari mimpinya. Atha: cantik, anggun, dan penuh misteri. Aroma tubuhnya pun seakan menyampaikan sesuatu yang terlampau dalam untuk dipahami oleh logika.
“Ini Pram,” Diba menjelaskan. “Dan ini ... Margaret! Margaret yang saya ceritakan itu, Tha.”
Atha melepas tangan Pram yang, masih, bergetar. Dia menyambut uluran tangan Margaret. “Halo, Margaret ...”
Pusaran menyedot Atha. Dia nyaris limbung jika tidak segera melepas tangan Margaret. Tanpa sadar dia berkata, “cinta bukan permainan. Cinta bukan sekadar kisah perjalanan ke tempat-tempat paling menawan di muka bumi ...”
Margaret tersentak. “... cinta adalah payung ...” ujarnya. “Bagaimana kamu tahu?”
Diba tergelak. “Karena dia dukun beranak, Margaret. Ha ha ha. Coba kau tanya sudah berapa orok yang dia tarik ke luar dari rahim?”
“Ha? Dukun beranak juga?” tanya Margaret.
“Bercanda, Margaret ... bercanda!” bentak Diba.
“Mau minum apa, Kak Atha?” Magda menawarkan minum untuk Atha.
“Air putih,” jawab Atha, lantas duduk di sofa.
Suasana hening sesaat membuat Diba tidak tahan. Bagaimana dia bisa tahan? Pram dan Margaret bertingkah mirip zombie insaf. Yang satu menatap Atha seakan-akan saudari kembar Diba itu baru saja selamat dari kecelakaan pesawat paling mematikan di atas udara Jerman. Yang satu lagi begitu terpana setelah melanjutkan kalimat Atha; cinta adalah payung ...
“Oke!” Diba menepuk tangan sekali, memberi efek ‘sadar’ pada Pram dan Margaret. “Ini dia Sharastha Pua Saleh. Kau sudah tanyakan dia sejak kalian masih di Jakarta,” katanya sambil menunjuk Margaret. “Dan kau,” dia menunjuk Pram “memang mencari dia untuk tujuan-tujuan mistik ... hik hik hik ... horor banget kan?”
“Hush!” Atha mengibas tangan.
Begitu banyak misteri tersebar di dunia ini yang membingungkan para ahli dan belum terungkap. Sebut saja Manuskrip Voynich, Patung Moai di Pulau Paskah, The Taos Hum di New Mexico, Segitiga Bermuda di Kepulauan Bermuda, Kapal SS Ourang Medan, bahkan senyum Monalisa pada lukisan karya Leonardo da Vinci. Semua misteri yang belum terungkap mengindikasi satu perkara dasar yakni keterbatasan manusia.
Begitu banyak misteri yang ditelusuri Atha, kemudian terungkap. Dia yakin hal ini mengindikasi satu perkara dasar pula yakni kekuasaan Allah SWT. Hanya Allah satu-satunya zat paling berkuasa yang menguasai keseluruhan jagad raya hingga sel makhluk hidup.
“Ada yang mau kau tanyakan, Pram?” tanya Atha.
“Kamu pasti sudah tahu apa yang mau aku tanyakan,” balas Pram.
Atha menggeleng. “Kau pikir setiap saat saya bisa melakukannya?”
“Tidak?”
“Tidak.”
“Tidak?” Diba nimbrung. “Bohong ...”
Atha tertawa kecil. “Kau itu, Dib.”
Pram mengusap wajah. “Kalau kamu punya kemampuan psikometri, tentu ada sesuatu yang membawa kamu pada aku, pada mimpiku,” tuduh Pram. Ketika tahu kemampuan Atha, dia memburu semua informasi tentang indigo, yang memperkuat pencariannya adalah cerita Diba soal kemampuan utama Atha. Psikometri.
Atha menghela nafas panjang. “Saya pikir tidak secepat ini karena belum tentu kau mau percaya. Hanya orang gila yang bertindak nekat memenuhi panggilan mimpi.”
Pram mendesah. “Sebenarnya ...”
“Ya, saya sudah tahu,” pangkas Atha.
Margaret cemberut. “Katanya tadi kamu nggak tahu.”
“Saya tahu ... bukan karena saya tahu. Saya juga bisa menggunakan kemampuan menganalisa, kok. Antara benda, mimpi, dan kenyataan,” balas Atha. “Tapi saya tidak yakin apakah kita harus membahasnya sekarang atau nanti. Apakah waktu bisa menunggu? Atau ... Apakah alam mampu men ...
“Jangan baca puisi, Tha,” pangkas Diba.
Refleks Atha mengeluarkan saputangan warna biru dari dalam tas. Benda ini selalu dia bawa ke mana pun dirinya pergi. “Kau kenal sapu tangan ini?”
Bagi Diba dan Margaret, saputangan yang dilambaikan Atha di depan Pram hanyalah secarik kain, tersedia hampir di semua toko pakaian, dan bukan benda penting. Setidaknya Situs Bung Karno yang terletak di Jalan Perwira, Ende, jauh lebih penting dari saputangan ini.
Bagi Pram, secarik kain yang dilambaikan Atha bermakna dalam. Paru-paru Pram sedang menuju ledakan paling dahsyat. “Itu sapu tanganku!”
Diba dan Margaret terjungkal.
“Yang kau berikan pada ...?” tanya Atha.
“Prita!” Pram menerima saputangan dari Atha. “Prita pasti ...” nafasnya memburu.
“Mas Wawan,” ujar Atha seakan dua kata itu merupakan kata ‘Amin’ dari semua do’a yang didaraskan manusia kepada Tuhan.
“Mas ... Wawan?” tanya Pram.
“Mas Wawan?” Diba mengerut kening.
“Aku kok nggak tahu siapa Mas Wawan ini ...” desis Margaret.
Semerta-merta Diba bangkit dari kursi di hadapan meja kerjanya. “Saya tahu! Saya tahu sekarang! Itu saputangan Pram yang dikasih pada Prita ... dan Prita memberinya pada Mas Wawan! Lantas ... hei, Tha, untuk apa Mas Wawan kasih kau saputangan itu?”
“Jatuh di ruang makan,” jawab Atha.
Diba menggaruk kepala. “Lantas, apa hubungan Prita dengan Mas Wawan?”
Astaghfirullah,” gumam Pram. Dia terbangun dari mimpi—nampaknya. “Wira itu ... Wawan?”
“Wirawan Susanto,” ujar Atha.
“Wirawan Siswanto,” ujar Pram.
“Dia membaptis dirinya sendiri!” seru Margaret. “Dia ganti identitas.”
Pram menutup mulut seakan hendak menahan arus darah hasil ledakan di dalam paru-parunya. “Kita tinggal selangkah lagi. Kita hanya tinggal mencari di mana si Wawan ini ...”
“Kok mencari?” tanya Diba.
Pram menoleh. “Kenapa kamu nanya begitu, Diba? Tujuan aku mengajak Margaret ke Ende memang itu. Mencari laki-laki yang udah bikin hidup Prita menderita! Ya, selain memenuhi panggilan mimpi.”
Diba terkekeh. Atha tergelak.
“Wawan itu calon IPAR kami!” balas Diba dengan volume suara dua tingkat lebih tinggi dari teriakan Ahmad Albar.
Pram dan Margaret saling pandang. “Maksud kamu, dia calon suami dari mantan istrinya Bang Elf?” tanya Margaret.
“Sayangnya ... kau benar.” Diba mengaminkan.
Perjalanan hidup manusia benar-benar misteri. Pram tahu apa yang diajarkan Tuhan padanya dalam pencariannya ini. Bahwa kata ‘nyaris’ itu benar-benar ada. Nyaris bertemu Wira—Wawan saat mereka berada di rumah Ibrahim Pua Saleh si Juragan Tigabelas.
Pintu ruang kerja membuka. Magda berdiri di situ. Di belakang Magda nampak seorang perempuan berwajah cantik (namun lusuh).
Laprita Bachtiar.
Margaret buru-buru bangkit, hendak pergi ke kamar mandi. Pram menahan tangan Margaret agar mantan kekasihnya ini tidak menghindari Prita.
“Lepaskan,” bisik Margaret.
Pram pura-pura tidak mendengar. Dia ingin Margaret tidak lari.
Assalamu’alaikum,” sapa Prita. “Maaf, apakah aku mengganggu kalian?” santun, dia bertanya.
Melihat Prita, Atha segera bangkit. “Hai, Prita. Maaf kalau kalimat yang bisa saya katakan pada kau hanya tigabelas Maret duaribu tigabelas,” katanya, seakan mereka adalah kawan lama.
Prita limbung. Dia menarik tangan Atha. “Kamu  perempuan yang datang dalam ...” nafasnya terengah.
“Dalam mimpi. Ya. Itu saya,” jawab Atha. Belum sempat dia melanjutkan omongannya, dirinya tersedot. Darah dan kegelapan bak dwi tunggal. Dia melepaskan tangan Prita. “Maaf ... saya tahu itu menyakitkan.”
Oleh Pram, Prita diajak duduk diantara dirinya dan Margaret. Jelas, perbuatan ini kembali membangkitkan kemarahan singa yang sedang tidur.
“Halo, Margaret. Apa kabar?” sapa Prita. Lembut.
Margaret melongo. Baru kali ini Prita kembali menyapanya dengan normal, dan ... lembut ... setelah Paman Igi memutuskan hubungan mereka. Ke mana kah si pretty high class woman yang angkuh itu?
“Eh ... kabar baik,” jawab Margaret canggung.
Dari balik punggung Prita, Pram menatap Margaret. Tatapannya seolah berkata: lihat, apa aku bilang? Prita nggak sejahat yang kamu sangka kan?
Diba, sekali lagi, menepuk tangan. “Karena kalian semua sudah berkumpul, dan kita sudah tahu siapa yang harus diburu ... sudah saatnya kita susun rencana.”
“...”
“...”

“Andai saya diijinkan memelihara naga, rasanya semua masalah boleh teratasi.” – Sharastha Pua Saleh.
 


***
Bersambung

Triplet ~ Part 21



Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.


***


PART 21


~ Ende ~
13 Agustus 2015
“Salurkanlah semangat pemuda ke tempat yang membangun bangsa, jika tidak, ia akan tersalurkan ke tempat yang merugikan bangsa.” – Anonim.


Singa yang sedang mengamuk karena lapar tidak akan kenyang memakan ketidaktahuan. Naluri kanibal singa menuntunnya pada sumber makanan. Dia menuntut pada dirinya sendiri untuk melakukan ritual mencabik daging mentah, lantas melahapnya penuh nafsu. Kenyang hanyalah istilah untuk memberi kesempatan lambung menggiling makanan ... dan lapar akan kembali mengaum.
Kedatangan Prita dan Karel ke Ende telah membangkitkan singa yang sedang tertidur, lantas didera rasa lapar. Dan Pram, yang berada dalam posisi serba-tidak-tahu, merelakan dirinya dicabik-cabik.
Why are your pretty high class sister come to Ende? Dia mau nguntit kita!?” raung Margaret. “Atau jangan-jangan selama ini dia tahu kalau kamu nggak pernah berhenti memburu si Wira?”
Bom nuklir telah tiba.
Pagi ini, alih-alih membicarakan proses pencarian dan rencana bertemu Mukhlis dari Relawan Pecinta Taman Bung Karno Ende, Pram dan Margaret malah bertengkar hebat di beranda belakang Shadiba’s Corner. Diba cukup tahu diri untuk minggat dari beranda belakang, kembali ke ruang kerja, lantas menghubungi Mukhlis untuk mengabarkan bahwa pertemuan mereka ditunda nanti siang.
“Demi Tuhan, Margaret ... aku nggak tahu. Sejak Wira pergi, Prita nggak pernah keluar dari kamarnya. Kalaupun aku temui dia di kamar, dia nggak pernah membalas satu pun omonganku. Jadi ... mana mungkin dia tahu aku nggak pernah berhenti memburu Wira? Mana mungkin dia tahu rencana kita ke Ende?”
“Kamu bohong!” ujung jari telunjuk Margaret menyentuh ujung hidung Pram. “Jangan jadi tukang ngibul ya, kamu!”
Pelan, Pram menyingkirkan telunjuk Margaret. Dia mengusap wajah. Gundah. “Aku sama sekali nggak tahu rencana Prita datang ke Ende, Mar. Demi Tuhan! Ngapain aku bohong sama kamu? I really have no idea ... why she ...
“...”
“Margaret ... dengar ... aku sama sekali nggak tahu rencana Prita, dan apa tujuannya, datang ke Ende. Kemarin waktu Karel ngabarin kalau mereka sudah di Ende, aku ... rasanya kepalaku mau pecah. Karena aku tahu kamu pasti bakal protes ... kamu ...”
“Aku ...”
“Aku jamin, Margaret. Prita ... Prita nggak kayak dirinya yang dulu. Aku jamin dia nggak akan sindir kamu, atau sinis, atau nyinyirin kamu ... atau ...”
“Jangan kebanyakan janji!”
“...”

xxXXXxx

“Jangan marah, ya, Khlis. Kita ketemuannya nanti siang saja,” ujar Diba. “Ada urusan mendesak yang tidak bisa saya tinggalkan,” lanjutnya—berbohong. Tentu adegan perang antara Pram dan Margaret hanya boleh jadi tontotan gratis orang-orang Shadiba’s Corner. Diba tidak bisa melarang Azul, misalnya, jika laki-laki ‘berkualitas’ itu menguping. Atau petrus, misalnya, yang terpaksa mendengar perang mulut itu dalam perjalanan ke gudang mengambil kardus untuk membantu Azul mengepak barang karena si packer boy sibuk menguping.
“Nanti siang saya dan teman-teman relawan ada pertemuan, Dib. Di Taman Bung Karno.”
“Hmmm. Sekalian kita ketemu di taman saja?”
“Boleh ... tapi jam satu siang ya. Kami mulai pertemuannya jam dua.”
“Oke. Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Diba meletakkan G-Note ke atas meja. Magda memerhatikannya dengan tatapan ingin tahu.
What?
“Itu Bang Pram dan Kak Margaret ...”
“Bising.”
“Gara-gara tamu yang ...”
Diba menggaruk hidung. “Yang saya tahu hubungan Margaret dan Prita itu kacau. Apa alasannya ... saya tidak tahu.”
“Kita harus tanya Azul.”
“Heh?”
“Kuping Azul itu semacam kuping kelinci, Kak. Jarum jatuh di Denpasar saja dia dengar!”
Diba terkekeh. “Kuping Azul kan berkualitas, Mag.”
Magda terbahak.

xxXXXxx

Ada berapa banyak anak muda Indonesia yang mau bekerja tanpa imbalan? Ada berapa banyak anak muda Indonesia yang mau melakukan perubahan tanpa mendaraskan kritik pedas—cenderung menghina pada pemerintah? Ada berapa banyak anak muda Indonesia yang sadar bahwa perubahan tidak akan terjadi hanya dengan caci-maki? Ada berapa banyak anak muda Indonesia yang mau menjadikan dirinya bermanfaat untuk orang lain?
Pasti ada. Namun ... bisa dihitung ...
Mukhlis, salah seorang penggagas Relawan Taman Bung Karno Ende, duduk mengaso di bangku-bangku semen yang melingkari pohon besar di dekat Patung Bung Karno. Siang ini dia dan teman-teman relawan, berikut beberapa perwakilan komunitas, berkumpul di Taman Bung Karno untuk membicarakan agenda kegiatan pengantaran bantuan untuk SD Ratenggoji. Dia sengaja datang lebih awal satu jam karena hendak punya janji lain: bertemu Diba dan dua tamu asal Jakarta yang-entah-siapa.
Seperti janjinya, tepat pukul 13.00 Diba muncul di Taman Bung Karno.
“Kenalan, Khlis, ini Pram dan Margaret,” ujar Diba. Dia duduk di bangku semen, memerhatikan taman yang mendapat bantuan perbaikan dan perawatan dari Yayasan Ende Flores ini.
“Sudah lama di Ende?” tanya Mukhlis.
“Baru berapa hari,” jawab Pram. Sementara itu Margaret, dengan wajah bertekuk sepuluh, memilih duduk berjauhan dari Pram.
Bertemu orang-orang muda dari Relawan Pecinta Taman Bung Karno, Ende, mengingatkan Margaret pada bencana alam meletusnya Gunung Merapi pada tahun 2006. Bersama teman-teman pelancong dari KeluaRumah dia pergi ke Yogyakarta untuk membawa bantuan materi yang terkumpul. Secara fisik, sepuluh pelancong asal Jakarta terjun langsung ke lapangan untuk membagi bantuan, pun sekejap melakukan stress healing kepada korban erupsi.
“Kau bilang ada yang penting, Dib?” tanya Mukhlis.
“Saya lagi cari orang,” jawab Diba.
“Cari orang?” kening Mukhlis mengerut.
Suara Pram terdengar. “Mungkin kamu pernah dengar nama Wirawan Siswanto?” dia bertanya.
“Hmmm. Wirawan Siswanto ...” Mukhlis memaksa otaknya menggali nama itu. Dia menggeleng. “Belum pernah dengar. Memangnya ada apa dengan orang itu?”
Family bussines,” jawab Diba. “Kalau nanti kau sempat, tolong tanyakan pada teman-teman relawan atau teman-teman dari komunitas lain, ya. Siapa tahu ada yang pernah dengar namanya.”
“Oke,” jawab Mukhlis. “Sudah coba tanya sama teman-teman Flobamora Community?”
Diba mengangguk. “Tidak ada yang tahu nama itu,” jawabnya. “Makanya si Ilham sarankan saya tanya pada kau. Soalnya teman-teman relawan kan juga berasal dari komunitas yang berbeda-beda. Siapa tahu ada yang pernah dengar nama itu, atau kenal orangnya.”
“Hhhh. Nanti saya coba tanyakan,” janji Mukhlis.
“Bagaimana rencana ke Ratenggoji?” tanya Diba.
“Sembilanpuluh persen kursi, meja, dan papan tulis, sudah selesai. Saya baru saja dari bengkel. Semoga September nanti semuanya sudah selesai supaya kami bisa mengantar bantuannya ke sana,” jawab Mukhlis.
“Paket perlengkapan sekolahnya bagaimana? Ada seragam juga?”
Mukhlis menggeleng. “Rencana seragam dan sepatu bisa ditunda tahun depan sampai dananya cukup. Seratus delapanpuluh lima murid, Dib ... kami hanya bisa beli buku tulis, alat tulis, mistar, dan kotak pensil.”
“Itu sudah luar biasa, Khlis.”
Alhamdulillah ...”
Diba dan Mukhlis masih membahas beberapa rencana Relawan Pecinta Taman Bung Karno dan kondisi taman, sedangkan Pram dan Margaret tenggelam dalam kebisuan. Margaret masih marah perihal kedatangan Prita ke Ende, Pram kebingungan dan mereka-reka alasan Prita datang ke Ende. Karel, yang diduga Pram membocorkan rencananya, sumpah mati tidak pernah membicarakan rencana Pram pada Prita—pada siapa pun.
“Demi Tuhan, Bang Pram,” Karel melakukan gerakan tanda salib sambil berucap, “Atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Saya juga bingung!”
Sepertinya rencana Pram untuk meraih kembali hati Margaret terancam gagal.
 


***
Bersambung

Triplet ~ Part 20



Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.


***


PART 20



~ Ende ~
12 Agustus 2015

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno.

Kota Ende dan sejarah bangsa Indonesia berhubungan sangat erat. Tahun 1934 – 1939 presiden pertama Indonesia, Soekarno atau lebih akrab disebut Bung Karno, diasingkan ke Kota Ende. Salah satu kegiatan Bung Karno ketika berada di Ende adalah mengunjungi sebuah taman, kini bernama Taman Renungan Bung Karno, untuk merenungkan masa depan bangsa ini. Tempatnya merenung adalah di bawah pohon sukun bercabang lima. Lima cabang pohon sukun ini lah yang menjadi cikal bakal lima sila di dalam Pancasila. Ya, renungkan Bung Karno di bawah pohon suku tersebut kemudian dikenal dengan nama Pancasila—wajib diucapkan setiap upacara bendera berlangsung.

xxXXXxx

Sengaja atau tidak sengaja, pura-pura atau memang benar tidak tahu, Diba tetap membenci keberadaan Elf di Situs Bung Karno. Semangatnya berceloteh tentang Bung Karno; tentang perjalanan dan kehidupannya di Ende, tentang benih butir-butir Pancasila yang  direnungkan oleh Bung Karno, naskah tonil-tonilnya yang dipentaskan di Gedung Imaculata, hingga sumur keramat di bagian belakang situs ... surut seketika. Wajah Diba langsung cemberut ketika memasuki pintu rumah, nampak Elf sedang memotret piring makan Bung Karno yang dipajang di etalase. Diba bahkan tidak membalas sapaan penjaga situs.
“Bang Elf!” panggil Pram. “Nggak nyangka kita ketemu di sini.”
“Oh! Hei! Iya ... sudah lama saya tidak ke sini. Perubahannya lumayan banyak,” balas Elf. “Bagaimana? Sudah dapat informasi?”
Pram mengangguk, lantas menggeleng. “Avila coba cari tahu nama lengkap si Wira itu. Wirawan Siswanto. Kata si Diba sejak semalam Ucup udah coba caritahu PNS di sini yang namanya Wirawan Siswanto, tapi belum ketemu,” jawab Pram. “Jangan berhenti bantuin kami, Bang.”
Insya Allah.
Diba menyeret Margaret ke kamar tidur Bung Karno.
“Pssh. Orang itu ...” Diba memonyongkan bibir.
Margaret tersenyum. Sedikitnya dia sudah tahu apa yang terjadi antara Diba dan Elf. “Kamu itu, Dib. Kalau masih cinta mbok ya jangan dilarang perasaannya itu ...” tegurnya.
“Hah? Masih cinta? Jangan mimpi! Saya tidak pernah cinta dia,” bisik Diba.
“Bang Elf sendiri cerita sama Pram.”
Mata Diba melotot. “Cerita apa?”
“Dia masih cinta sama kamu. Dia pengen bisa nikahi kamu,” jawab Margaret, sedikit menambah bumbu. Rasanya bukan tambah sedap, malahan tambah hambar.
Rewo—ngawur! Dia pikir saya Bantar Gebang!?”
Lagi, Diba menyeret Margaret ke bagian belakang rumah. Mereka berhenti di pinggir sumur.
“Aku kasihan sama Bang Elf,” ujar Margaret. Kali ini dia sengaja memanas-manasi Diba.
“Untuk apa kau kasihan sama Abang!?”
“Kasihan kok untuk apa?” balas Margaret. “Pokoknya aku kasihan sama dia.”
“Karena?”
“Nah, itu baru pertanyaan yang tepat,” Margareth mengacung jempol. Dia merasa puas bisa isengi Diba.
“Jangan putar sana-sini, kau.” Padahal dalam hatinya Diba pun turut kasihan pada Elf. Pengorbanan laki-laki itu dibalas air tuba oleh Mira.
“Ha ha ha,” Margaret tertawa puas. “Coba pikir, Dib. Kalau kamu yang berada di posisinya. Setengah mati cinta sama Bang Elf, tapi terpaksa nikah sama ... sama Petrus.”
“Kau tidak tahu apa-apa, jangan pernah ambil kesimpulan Bang Elf cinta setengah mati sama saya.”
“Mau bukti?”
“Apa!?”
“Nggak ada di dunia ini laki-laki yang baru kenal sama laki-laki lainnya berani cerita urusan paling pribadi. Waktu kamu ngajak aku ke rumah, ingat pertama kali kami tiba?, Pram dan Bang Elf masih berlama-lama di ruang kerja ... waktu itu sengaja atau nggak sengaja Bang Elf bilang begini ... cinta sama adiknya tapi nikah sama kakaknya ... begitu ceritanya,” jelas Margaret panjang lebar. “Berani beberkan kisah paling pribadi itu artinya dia beneran cinta kamu.”
Diba terdiam. Sesuatu yang setiap hari menyentuh dadanya, dan terasa dingin, mengingatkannya pada semua perhatian Elf. Dia menggigit bibir. Namun rasa sakit hatinya masih membayang.
Sementara itu, masih di ruang tamu, telepon genggam Pram berdering. Nama Karel berkedip-kedip.
“Hei, Karel!” sapa Pram. “Gimana kabar Jakarta? Heheh ...” sesaat Pram terdiam. Kepalanya berdenyut. “Astaghrifullah ... kok?”
Pram yakin bom nuklir sedang menghampirinya.
“Ya sudah, Karel ... sekarang kamu dan Prita pergi ke Shadiba’s Corner. Pakai taksi bandara. Tunggu aku di sana.”
Setelahnya secepat kilat Pram mengetik SMS untuk Diba. Penjelasannya singkatnya berbunyi: tolong jangan sampai Margaret tahu. Kakakku dr Jkt tiba Ende, sdh di bandara. Tlng hubungi Magda, mereka diamankan di Shadiba’s Corner dulu. Thx.

xxXXXxx

Belum pernah Karel setakut ini. Dulu waktu masih kecil dia paling takut pada suanggi—istilah untuk pemegang ilmu hitam, hasil perjanjian antara manusia sesat dengan setan. Waktu kecil dia pernah melihat seorang perempuan menari telanjang sambil menunduk, mengintip lewat celah selangkangan, dengan rambut terurai horor. Seiring bertambahnya usia dia paham untuk tujuan apa ritual menari telanjang tersebut dilakoni. Waktu SMA, bersama teman-teman sekampung, dia pernah mengejar suanggi kesiangan: roh si pemilik ilmu hitam yang gentayangan pada malam hari untuk mencari mangsa dan terlambat pulang ke tubuh. Kini dia, yang mengaku tidak gentar pada apa pun—apalagi preman Jakarta dan begal, takut setengah mati pada Prita.
Seperti arwah gentayangan. Demikian Karel membatin ketika dua hari yang lalu untuk pertama kalinya, setelah bertahun-tahun mengurung diri di kamar, Prita menampakkan diri di ruang makan keluarga Bachtiar. Kalimat pertama yang dia ucapkan di hadapan kedua orangtuanya, dan Karel, adalah “Karel, antar saya ke Danau Kelimutu.”
Belum sampai keterkejutan pertama pada perasaan lega, Karel dihadiahi kejutan kedua. Dia menoleh pada majikannya, Ubanda Bachtiar dan Sri Bachtiar, yang dibalas dengan tatapan sama terkejut dan bingungnya. Untuk tujuan apa Prita meminta Karel mengantarnya ke Danau Kelimutu? Dalam hati dia bertanya-tanya; apakah Mbak Prita tahu kepergian Bang Pram ke Ende? Mungkinkah mengurung diri di dalam kamar bisa mengubah manusia biasa menjadi luar biasa? Kalau begitu saya juga mau.
Sadar akan kehadiran putrinya yang ibarat pertapa turun gunung, Sri bangkit lantas memeluk Prita erat-erat. “Prita ...”
“Boleh kan, Mi? Aku mau ke danau itu ...” rengek Prita.
“Di mana letak danau itu, Nak ... Mami nggak tahu. Kalau terlalu jauh ... Mami kuatir kamu kenapa-napa, Nak,” ujar Sri. Airmatanya berderai.
“Pi,” panggil Prita. “Boleh aku ke sana?”
Ubanda menghela nafas panjang. “Asal kamu dan Pram nggak hilang di sana ... boleh.”
“Pram di sana?” Bergantian Prita menatap Ubanda, Sri, dan Karel. Sri menatap Ubanda tajam.
Karel ingin menepuk keningnya namun urung. Dia membayangkan keterkejutan Pram mendengar berita ini, termasuk kemarahan Margaret. Dia tahu persis apa yang pernah terjadi antara Prita dan Margaret. Dan bencana besar bisa terjadi jika Margaret tahu rencana kedatangan Prita ke Ende.
“Pram di sana?” ulang Prita. Keningnya mengerut. “Untuk apa?”
“Iya, Mbak Prita,” sahut Karel. “Bang Pram di Ende. Ada ... eh ... ada urusan bisnis sama temannya. Katanya sih begitu.” Dia berbohong.
“Bagus,” Prita tersenyum. Dia membayangkan wajah perempuan yang pernah datang di dalam mimpinya itu. Perempuan itu meneriaki tanggal pernikahannya yang batal. Ketika dia berpaling pada arah embusan angin yang semakin lama semakin kencang, yang dia lihat hanyalah tulisan: Welcome toDanau Kelimutu.
Memeluk Prita dan membaui aroma tubuhnya yang tidak seharum dulu, tangis Sri semakin menjadi. Prita adalah perempuan yang selalu mengutamakan penampilan termasuk aroma tubuh—tentu saja.
“Aku mau besok sudah tiba di Ende, Pi ... bantu aku, Pi.” Prita menghiba. Sampai saat ini dia tahu Papinya dapat melakukan keajaiban.
Ubanda mengangguk. Mencari tiket bukan urusan pelik. Yang dia tanyakan sekarang adalah kenapa dua anaknya mendadak menaruh minat yang tinggi pada Kota Ende?
“Karel,” panggil Sri “bantu kami berkemas. Setelah itu kamu juga berkemas.”
“Baik, Bu.”
Dan di sini lah mereka sekarang. Di ruang kerja beraroma jeruk milik perempuan yang pada bulan ini mengisi profil Tabloit OnlinePerempuan Hebat Kita: Shadiba Pua Saleh.
Prita merebahkan punggung di sandaran sofa. Oleh Magda, mereka disuguhi teh panas beraroma melati dan sepiring kue rambut—khas Ende. Berbeda dengan kue rambut dari Flores Timur yang berukuran besar dan kenyal. Kue rambut ini mungil dan renyah.
Telepon genggam Karel berdering. Tak lama dia menyerahkan telepon genggamnya pada Prita. “Mbak, telepon dari Ibu.”
Prita menerima telepon genggam milik Karel. “Iya, Mi?”
“Kamu baik-baik saja di situ?”
“Baik, Mi.”
“Sudah ketemu Pram?”
“Katanya dia masih pergi dengan ... Margaret, Mi. Masih ke Situs Bung Karno.”
“Kalau kamu butuh apa-apa, segera kabari Papi dan Mami, ya.”
“Iya, Mi.”


***
Bersambung