Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita


Ketika saya menerima pesan WA dari Kak Ev, pendiri - pengelola - pengurus Rumah Baca Sukacita (RBS), rasanya senang sekali. Saya diminta untuk berbagi pengalaman bersama adik-adik anggota RBS tentang dunia jurnalistik dan dunia blog dalam rangka merayakan Hari Literasi Sukacita. Yang paling pertama terlintas dalam benak saya adalah bagaimana menyampaikan dunia jurnalistik dan blog kepada adik-adik RBS yang rata-rata masih usia Sekolah Dasar (kelas 1 s.d. kelas 6)? Bahasa yang digunakan harus super sederhana untuk mengatasi jurang usia ini, dan saya harus menyusun tatanan kalimat bekal berbagi pengalaman ini khusus di program catatan Android.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup Dalam Tubuh Masyarakat

Setelah saya dan mungkin beberapa narasumber sudah meng-iya-kan alias setuju, maka e-pamflet di bawah ini pun diumumkan oleh RBS di laman Facebook mereka. Hwah, jadi terharu hahaha.


Sore itu Jumat, 12 Juli 2019, Taman Renungan Bung Karno Ende cukup ramai pengunjung. Banyak pula pengunjung dari luar kota yang ingin melihat lebih dekat Patung Bung Karno, Pohon Sukun bercabang lima serta prasastinya. Bagi kami, Orang Ende, Taman Renungan Bung Karno adalah kebanggaan, tempat hulu butir-butir Pancasila direnungkan oleh Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia tersebut. I love you, Bung! Hehe. Empat serangkai wisata sejarah, khusus Bung Karno, di Kota Ende adalah Situs Bung Karno - Taman Renungan Bung Karno - Gedung Imaculata - Serambi Bung Karno. Yang terakhir, Serambi Bung Karno, baru tahun ini diresmikan.

Sekitar tigapuluhan anak, ditambah dan ditemani oleh para pengurus RBS, kami dudul melingkar di panggung Taman Renungan Bung Karno. Bismillah. Dalam hati saya terus mengingatkan diri, ingat Teh, bahasanya! Karena, berbicara di depan ribuan anak muda atau orangtua itu sudah biasa, tapi di hadapan anak-anak itu luar biasa. Di sini kemampuan berkomunikasi (saya) sebenarnya diuji. Mampu atau tidak. Beruntung saya selalu membawa jimat, backpack emak-emak itu haha, yang memuat semua keperluan termasuk benda-benda yang bakal saya tunjukkan kepada peserta.

Jurnalistik dan Blog


Memulai tentang dunia jurnalistik, paling sederhana, adalah berbicara tentang profesi wartawan. Kasihan, mereka masih kecil, jangan terlalu tinggi istilah yang dipakai. Tapi, mau tidak mau saya tetap harus memperkenalkan kepada mereka tentang 5W1H. Hebatnya, meskipun masih sekecil itu, mereka bahkan tahu tentang W ini loh. What, Where, When, Why, Who. Sedangkan H-nya sudah pasti How. Menjelaskan kepada anak-anak tentang pentingnya 5W1H dalam sebuah berita itu susah-susah gampang. Artinya, berita adalah fakta yang tak terbantahkan karena berdasarkan peliputan lapangan serta hasil wawancara narasumber. Sebagian peserta yang sudah duduk di bangku kelas 4 ke atas rada-rada paham, tapi yang masih kici lo'o (istilah kami Orang Ende) hanya melihat ... semoga mereka juga bisa paham.


Dari jurnalistik, saya bergeser ke dunia blog. Apa itu blog, dan apa saja yang ditulis di blog. Sederhananya, karena mereka masih anak-anak, saya berkata bahwa kalau menulis untuk koran itu harus betul-betul perhatikan 5W1H dan tata bahasa baku, kalau di blog itu boleh curhat. Di sini, saya tidak mungkin menjelaskan lebih detail bahwa blog juga bisa menjadi koran online begitu dan bahkan jika dikelola secara profesional bisa menjadi pundi Rupiah. Saya juga tidak menjelaskan tentang para blogger yang bisa membikin blog di Blogger, Wordpress, sampai Tumblr. Nanti saja kalau mereka sudah SMP atau SMA. 

Nah, pada kesempatan berbicara tentang diary online ini, saya mengeluarkan T-Journal, si Arekune, yang memuat semua tulisan saya. Termasuk semua alat tulis yang saya gunakan. Maksudnya apa? Maksudnya, agar adik-adik termotivasi untuk juga menulis, selain membaca, apa saja di buku harian. Karena tulisan adalah harta warisan paling berharga.

Membaca dan Menulis


Dua hal ini saya tekankan kepada para peserta. Hubungan keduanya adalah, ketika seseorang ingin menulis dan mempunyai tulisan yang kaya raya, dia harus banyak tahu, dan untuk banyak tahu ... ya harus membaca. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dilepas bagaimanapun caranya. Sumpah. Menulis tanpa membaca itu ibarat pergi perang tanpa senjata dan amunisi. Ingat, senjata saja tidak cukup, harus siapkan amunisi. Karena, ketika peluru habis ditembak, masih ada stok amunisinya.

Kepada mereka saya katakan: makan makanan bergizi agar tubuh menjadi sehat dan kuat. Namanya menutrisi tubuh. Tapi untuk otak, harus ada nutrisi tambahan yaitu membaca.

Untuk memberikan contoh, saya mengeluarkan buku yang selalu saya bawa dalam backpack. Buku berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer. Ternyata, beberapa peserta juga ada yang membawa buku di dalam tas mereka. Awesome! Kita sama donk. Hehe.

Berbagi Ilmu, Nasihat Ali bin Abi Thalib


Saya sangat mencintai Ali bin Abi Thalib. Dalam sebuah novel online berjudul Triplet yang pernah saya pos di blog ini, bersambung setiap hari Minggu, saya menulis sebagai berikut:

Salah satu nasihat Ali Bin Abi Thalib—termasuk dalam golongan pertama pemeluk Islam, saudara sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yangmana dia menikahi Fatimah az-Zahra—berbunyi: “Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil dari pada seorang bakhil.”

Penjelasan paling hakiki nasihat laki-laki yang pernah menjabat sebagai Khalifah pada tahun 656 – 661 tersebut tercantum di dalam Surat Ali ‘Imran 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Terima kasih, Ali bin Abi Thalib. 

Kegiatan sore itu ditutup dengan foto bersama ... salam literasi! Dan perlu diketahui ini adalah Hari Literasi Sukacita, bukan Hari Literasi Nasional maupun Hari Literasi Internasional yang diperingati setiap September, ya. Jadi, jangan protes duluan. Hehe.

⇜⇝

Terima kasih, RBS, sudah memberikan saya kesempatan untuk berbagi dengan adik-adik RBS yang kece-kece dan cerdas-cerdas. Semoga berkah untuk kita semua. Terima kasih juga untuk foto-foto kirimannya. Bisa jadi pemanis pos yang satu ini. Giliran saya juga memberikan kesempatan kepada RBS, khusus pengurus, apabila ingin tahu lebih banyak tentang blog: membikin, mengelola, menulis, dan lain sebagainya, boleh hubungi saya. Kita bikin kelas blogging (lagi) haha.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

Bagaimana dengan kalian, kawan? Kalau kalian juga pernah berbagi informasi dan pengalaman dari dunia jurnalistik dan blog kepada mereka-mereka yang masih ana lo'o (anak kecil), bagi tahu yuk di papan komentar.



Cheers.

Gotong Royong Itu Masih Hidup dalam Tubuh Masyarakat


Sabtu kemarin, 13 Juli 2019, saya kembali pergi ke Towak di Kabupaten Nagekeo. Ceritanya saya diundang oleh keponakan, Iwan dan Reni, untuk menghadiri ritual pembangunan fondasi rumah pribadi mereka yang lokasinya masih terbilang dekat dengan rumah dinas Pustu Towak. Berangkat dari Ende pukul 08.00 Wita. Saya sendirian, seperti biasa, dududud. Thika membonceng Enu. Perjalanan pagi itu adalah perjalanan saling kejar dengan bis antar kabupaten, truk ikan (kalau kami sebut oto ikan), mobil pribadi, mobil travel, hingga pegawai koperasi *auto ngakak*. Sabtu pagi, meskipun banyak yang libur, tapi masih banyak juga orang yang punya kepentingan di jalan raya dan/atau jalan trans-Flores.

Baca Juga: Belum Musim Liburan Tapi Jalan-Jalan Terus

Kami beristirahat cukup lama di Aigela untuk menikmati jagung rebus dan kopi panas. Sekitar tigapuluh menitan begitu. Pokoknya setelah bibir kepedisan gara-gara sambal maknyus a la salah satu lapak (langganan) jagung di Aigela, barulah kami tancap gas ke arah Kota Mbay

Fondasi Sudah Dibangun


Tiba di lokasi rumah Iwan dan Reni, sudah banyak orang di sana yang sedang beristirahat. Ternyata alat molen (untuk mengaduk campuran semen) sedang eror dan sedang diperbaiki sama yang punya (si pemilik akat). Tapi, fondasi sudah dibangun. Pengerjaan tertunda karena si molen eror. Kata Kakak Nani Pharmantara, orang-orang baru selesai sarapan dan mengajak kami sarapan. Tapi perut kami sudah penuh! Tidak bisa menampung apa-apa lagi.


Sekilas fondasi yang sudah dibangun, lalu molennya eror. Lokasi rumah ini menempati kaki bukit sehingga kaki bukit itu dikeruk dulu/diratakan. Tetapi tetap saja fondasi bagian depan lebih tinggi dari bagian belakang.

Gotong Royong Itu Masih Hidup


Di Kabupaten Ende, ketika ada yang hendak membangun rumah, pekerjaan kepala tukang dan tukang bangunan akan sangat ringan pada hari-hari pertama (terutama membangun fondasi) karena pasti dibantu oleh banyak orang, khususnya laki-laki. Hari membangun fondasi merupakan hari spesial karena ada sedikit ritual yang dilakukan: do'a pada malam sebelumnya, peletakan batu pertama, hingga elemen apa yang mau turut ditanam bersama fondasi tersebut (biasanya di empat sudut). Karena spesial, semua orang baik keluarga, teman, hingga tetangga, pasti turut membantu. Kadang-kadang, meskipun pada hari-hari berikut pengerjaan rumah sudah menjadi tugas si tukang bangunan dan anak buahnya, tetap saja masih ada yang datang untuk membantu.


Saya memperhatikan para lelaki yang bekerja. Mereka rata-rata keluarga (Reni, Orang Mbay), teman, dan tetangga. Bahu-membahu mereka mengikuti arahan kepala tukang bangunan. Mulai dari campuran semen, mengangkut campuran, mengakut batu, dan lain sebagainya. Yang letih, istirahat. Tidak ada paksaan. Yang haus, silahkan minum. Yang lapar, silahkan makan lagi (nasi maupun kudapan) karena meja makan tidak boleh dikosongkan. Luar biasa, menurut saya. Yang seperti ini yang harus terus dipelihara dan diwariskan pada anak cucu.

Menariknya, saya melihat ada dua laki-laki yang mengangkut batu menggunakan kayu yang dibikin mirip tangga. Penampakannya pada gambar berikut ini:


Teknologi sederhana yang mempermudah pekerjaan bukan? Hehehe. Bisa juga sih diangkut pakai karung, tapi mereka memilih memakai alat sederhana itu. Tidak bisa menggunakan gerobak sorong karena medannya tidak memungkinkan. Ada juga yang mengangkut batu menggunkan tangan. 

Kalau melihat foto-foto di atas, kalian pasti tahu bahwa cuaca memang sangat terik! Saya hanya bisa berdoa semoga para lelaki yang bekerja ini terus diberi kekuatan dan kebahagiaan untuk membantu keponakan saya hahaha. Orang lain mungkin tidak akan mau membantu dalam pekerjaan berat seperti itu. Mengangkut campuran semen, mengangkut batu, langsung di bawah sengatan sinar matahari. Tapi inilah yang menjadi kekayaan kita rakyat Indonesia. Gotong royong! Hidup dalam nuansa kekeluargaan yang kental.

Tidak hanya dalam urusan pekerjaan. Apabila ada keluarga yang membangun rumah, sekaya apapun keluarga itu, tetap saja ada saja yang datang membawa ini itu seperti kudapan, teh - kopi - gula, kambing, semen, dan tentu saja ada pula yang menyelip amplop berisi uang. Yang membangun rumah tidak meminta, tapi hukum tidak tertulis di dalam masyarakat memang seperti itu. Biar sedikit, yang penting ada. Demikianlah.


Gotong royong tidak saja berlaku untuk kaum lelaki, tetap juga kaum perempuan. Di halaman samping bakal tetangga Iwan dan Reni (masih keluarga juga sih) banyak kaum perempuan yang sedang memasak ini itu. Hebatnya adalah semua daging tersedia ... kecuali bebek dan domba ... hiks. Ikan, ayam, kambing, sapi ... harus ada! Uh wow sekali qiqiqiq.

Moke Putih


Moke/tuak merupakan minuma tradisional. Kalian bisa membaca tulisan saya tentang moke di sini. Moke adalah minuman tradisional yang wajib ada dalam upacara atau acara tertentu terkhusus yang berkaitan dengan adat. Makanya saya juga menyebutnya minuman adat. Moke adalah minuman persahabatan, katanya. Asalkan tidak diminum berlebihan karena bakal mabu dan efek mabuk sangat menjengkelkan orang lain.

Moke putih merupakan moke asli dari pohon lontar/nira yang belum disuling menjadi moke 'keras'. Rasanya enak sekali terutama dicampur es manis haha. Dulu ada yang menjual moke putih keliling kampung dengan memanggul dua tabung bambu gede-gede. Saya girang bukan main kalau melihat si penjual, langsung lari ke luar rumah, sambil teriak ... OM, BELI MOKE! Haha. 

Kemarin juga ada moke putih.


Saya mencobanya segelas. Warnanya tidak putih mirip susu, tapi ada kuning-kuningnya. Pasti sudah dicampur 'sesuatu'.

Saya:
Enak e, Om, moke putih ni. Campur apa?

Om:
Campur obat.

Saya:
*tampang nganu*

Om:
Obat bagus itu.

Saya:
ENAK!


Hahaha. Terus, setelah itu saya berkeliling lokasi rumah hingga ke atas bukit. Pemandangannya bagus sekali apalagi kalau terus sampai ke puncaknya. Rumah ini bakal keren sekali. Terutama kalau sore-sore menikmati kopi dari puncak bukit (bagian belakang rumah). Semoga ... suatu saat nanti.

⇜⇝

Gotong royong yang saya perhatikan hari Sabtu kemarin merupakan cerminan masyarakat Indonesia itu sendiri. Kita berbeda agama dan suku tapi akan tetap bersatu dalam gotong royong, dalam contoh paling sederhana: membangun rumah. Saya pasti akan kembali ke Towak, Nagekeo, karena pembangunan rumah ini akan memakan waktu beberapa minggu/bulan, sehingga masih ada waktu untuk melihat proses demi prosesnya. Doakan semoga lancar, ya, kawan!

Baca Juga: Berburu Spot Foto Instagenic di Dapur Jadul di Raba

Terus ... kalian kapan ke Flores? Hehe.



Cheers.

Belum Musim Liburan Tapi Jalan-Jalan Terus


Baca judulnya saja sudah bikin kesal kan ya. Belum musim liburan tapi jalan-jalan terus. Haha. Mohon maaf. Mohon maaf karena beberapa kali tidak update konten blog ini karena satu dan lain hal. Satu dan lain hal itu salah satunya jalan-jalan *ngakak guling-guling* demi menyenangkan diri sendiri. Memang betul, kadang otak saya terbolak-balik. Saatnya liburan  malah ngendon di kamar, saatnya bekerja malah jalan-jalan. Tapi toh jalan-jalannya bukan karena korupsi waktu kerja. Itu dilakukan setelah waktu kerja atau saat hari libur. Dosa, tahu, korupsi itu!

Baca Juga: Berburu Spot Foto Instagenic di Dapur Jadul

Minggu kemarin setelah saya bertugas ke luar kota, again, yaitu di Desa Tanali, dan jalan-jalan ke dua lokasi wisata yaitu Dapur Jadul di Pantai Raba dan Bukit Wolobobo di Kabupaten Ngada dengan view Gunung Inerie (yang ini belum saya tulis di blog travel), lagi-lagi saya diajak sama teman-teman ke lokasi embung. Namanya Embung Boelanboong di Kecamatan Wologai Tengah. Berangkatnya pukul 14.00 Wita. Memang! Itu sudah kesiangan. Tapi mengingat kami harus menyesuaikan waktu kerja masing-masing. Tentang embung ini nanti akan saya tulis lengkap di blog travel. Nantikan.

Keesokan harinya, Minggu (7 Juli 2019), saya diajak Kakak Nani Pharmantara pergi ke Mbay, again! Mana bisa saya tolak diajak sama kakak? Halah haha. Rencananya si Iwan dan Reni, keponakan saya itu, bakal membangun rumah sendiri. Karena kan selama ini mereka masih tinggal di rumah dinas Pustu Towak tempat Reni bekerja. Senangnya adalah meskipun tidak disuguhi daging bebek dan daging domba, padahal pengen, ikannya itu manisssss banget. Segar! Ikan yang baru saja ditangkap begitu jadi rasanya segar dan manis. Kami tidak menginap di Mbay, tapi rencananya Minggu depan bakal ke sana lagi saat fondasi hendak dibangun. Insha Allah.

Jadi, itu dia. Belum musim liburan tapi sayanya jalan-jalan terus. Ke Desa Tanali untuk meliput kegiatan Fakultas Teknik khususnya Prodi Sipil, ke Dapur Jadul memuaskan hasrat bersantai, ke Bukit Wolobobo dengan view Gunung Inerie, ke Embung Boelanboong, dan ke Mbay. Capek? Iya lah, jarak tempuhnya kan lumayan jauh, luar kota, dengan kondisi jalan berkelok-kelok yang bisa bikin pengendara dan penumpang mabok. Tapi saya senang.

Ada satu lagi kesibukan yang membikin saya kemarin sempat absen menulis dan belum bisa blogwalking ke blog kalian semua. Mohon maaf ya. Kesibukan itu berkaitan dengan stik keju dan stik bawang! Loh? Kok bisa? Iya nih. Ternyata ketika saya mencoba menawarkan stik keju dan stik bawang ke teman-teman, malah laris manis dan permintaan meningkat *tsah, meningkat, haha*. Jadi, saya harus dengan rela hati memenuhi permintaan stik keju dan stik bawang demi tabungan bekal membeli berlian *digampar dinosaurus*. Ada pula rencana yang harus saya wujudkan, Insha Allah, dan itu membutuhkan lebih banyak Rupiah. Hehe.

Baca Juga: Lebih Baik Sakit Hari Dari Pada Sakit Gigi Ini

Cerita tentang jalan-jalannya nanti dibaca di blog travel, ya. Siapa tahu bakal jadi magnet kalian ke Pulau Flores. Dan mohon maaf apabila belum sempat blogwalking. Tapi teteup saya pasti blogwalking karena itu adalah hiburan menyenangkan soalnya sekaligus menutrisi otak *kedip*.




Cheers.

Berburu Spot Foto Instagenic di Dapur Jadul di Raba


Saya sudah pernah menulis, bisa dicari di blog travel ini, tentang Ibu Kota Kabupaten Ende yaitu Kota Ende yang dikelilingi oleh gunung dan pantai. Ibarat asam di gunung, garam di laut, bertemu di mangkuk bernama Kota Ende. Alhamdulillah salah satu lokasi pantai di daerah Raba, sekitar sepuluh kilometer arah Barat Kota Ende, kemudian dimanfaatkan oleh pengurus dan pengelola Ponpes Panti Asuhan Wali Sanga, Kakak Nona Eka, sebagai tempat pelesir bernama Dapur Jadul.

Baca Juga: Seorang Kapten Kebanggaan yang Gugur Saat Bertugas

Dapur Jadul dibikin dengan konsep: tempat makan, tempat bersantai, dan tempat berburu foto. Seperti yang sudah sering saya bilang, suasana merupakan komoditi utama yang dijual, setidaknya demikian penilaian saya terhadap Dapur Jadul. Siapa sih yang tidak senang bersantai sekeluarga di tepi pantai, bisa main di pasir, makan-makan, bahkan bisa sambil tiduran karena disediakan pula beanbag. Karena, makanan bisa kita temukan di mana saja, termasuk di dalam Kota Ende yang dijamuri kafe kekinian, tapi suasana ... itu perkara lain.

Dari pintu masuk, pengunjung langsung disambut sama petugas parkir yang kadang membantu pengunjung memarkir kendaraan roda dua. Kalau roda empat, silahkan parkir di area roda empat lah. Setelah itu pengunjung disambut dua atau tiga petugas lagi yang mengenakan kain kotak-kotak, baik perempuan maupun laki-laki. Mereka ini yang bakal menyerahkan menu dan form pesanan. Dibawa saja dulu, nanti kalau sudah menentukan menu, boleh memanggil petugas yang lalu-lalang di sekitar. Jangan lupa menulis nama dan nomor meja. Meja-mejanya juga ada yang berbahan peti kayu/palet. Asyiklah!

Pusat Dapur Jadul, bagian dapur, terletak di sisi Timur, cukup luas, dengan bagian depan yang ditata apik pun menjadi spot foto seperti ranjang dengan aneka bunga, vespa jadul (seperti foto di atas), baliho besar yang keseluruhannya bergambar Bung Karno, latar kain-kain dengan pigura (kebesaran ini piguranya haha), hingga ornamen-ornamen unik.

Yang paling menarik, saya yakin ini magnet terbesar karena pertama di Kota Ende, adalah disediakannya motor ATV dengan track sepanjang pantai.  Ada dua motor ATV yang disediakan tapi tetap saja saya tidak kebagian. Antriannya panjang, woih. Semua orang harus 'menaikinya' dan mungkin mengendarai ATV merupakan cita-cita yang dibawa saar keluar rumah menuju Dapur Jadul. Saya harus ke sana lagi lah biar punya foto kekinian dengan motor ATV hahaha.

Karena saya sudah menulis tentang Dapur Jadul, lengkap pakai bonus kedipan mata, di blog travel, kalian bisa langsung membacanya di sana.

Baca Juga: PBSI Belajar Nge-blog

Yang jelas, Dapur Jadul yang terletak di pinggir Pantai Raba juga di pinggir Jalan Ende - Nangapanda (sekitar sepuluh kilometer ke arah Barat dari Kota Ende) itu sangat mempesona. Dapur Jadul memadukan atraksi wisata alam (pantai) dan wisata buatan (aneka spot foto instagenic). Tidak dikenakan biasa masuk, boleh membawa makanan dari luar, tapi tetap harus ada pesanan makanan ke dapurnya Dapur Jadul. Asyik kan?

Hyuk main ke sini :)




Cheers.

Balada: Lebih Baik Sakit Hati Daripada Sakit Gigi Ini


Kalau kalian lupa, judul pos ini tentu bakal segera mengingatkan kalian pada Meggy Z, hanya beda kata yang saya balik. Iya, Meggy Z bilang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Kalau saya bilang, lebih baik sakit hati daripada sakit gigi! Sumpah, sakit hati masih bisa diredakan dengan jalan-jalan dan makan-makan. Biasa kan, supaya mantan tidak terlalu menguasai isi kepala kita. Kita? Hahaha. Sakit gigi tidak bisa diredakan begitu saja dengan jalan-jalan apalagi makan-makan. Saya mengalaminya saat pra-sedang-paska Idul Fitri kemarin. Sakitnya sudah tidak tertahankan dan sebaiknya dicabut saja. 

Baca Juga: Seorang Kapten Kebanggaan yang Gugur Saat Bertugas

Tapi apa daya, tempat praktek dokter gigi masih tutup. Saya harus menunggu. Sehari setelah Idul Fitri ke-dua yaitu Jum'at (8/6/2019) saya pun mengajak Kakak Nani Pharmantara untuk pergi ke dokter Bambang yang beralamat di samping Apotik Gatsu, Jalan Gatot Soebroto, Ende. Usai pulang dari Pantai Aeba'i di hari ke-dua Idul Fitri gigi saya memang kurang nyut-nyutan karena dikasih ramuan kumur tradisional oleh Ka'e Dul, suaminya Kakak Nani. Tapi penyakit jangan disimpan kan ya. Maka saya memutuskan harus pergi ke dokter!

Untungnya Thika Pharmantara sudah mendaftarkan nama saya pagi harinya, sehingga sore hari saya tinggal mendaftar ulang. Untung benar, karena hari itu dokter hanya bisa menangani lima pasien saja karena ada keperluan begitu, menurut petugas jaganya. Alhamdulillah.

Dokter:
Ini giginya masih bagus. Ditambal saja ya? Daripada dicabut.

Saya dan Kakak Nani (kompak):
JANGAN, DOK! DICABUT SAJA!

Dokter (meringis):
Ya sudah. Saya kasih obat. Senin sore datang buat dicabut ya. Dia sudah ada pembengkakan ini, nanah mulai berkumpul, jadi Senin nanti masih bengkak atau tidak tetap saya cabut, asal obatnya diminum teratur.

Siap! Obat yang saya minum itu terdiri dari antibiotik, obat pereda bengkak, dan pereda nyeri. Kata dokter, saya boleh melanjutkan Mefinal yang selama ini ada di dompet obat. Tidak perlu membeli lagi Katflam serbuk begitu. Oke, dok. Terima kasih. Lumayan berhemat karena Kataflam serbuk itu mahalnya juga bikin ngeri hahaha. Oh iya, untuk pemeriksaan dan resep dokter saya dicas 150K.

Senin (10/6/2019) hari pertama masuk sekolah kantor, sore harinya saya dan Kakak Nani kembali pergi ke tempat praktek dokter Bambang. Tentu, sebelumnya sudah didaftarkan dulu salam Thika. Tiba di sana, sudah ramai saja itu antrian pasien. Maklum, tempat praktek ini bukan cuma dokter Bambang seorang, tetapi ada dokter lainnya yaitu dokter anak yang saya lupa namanya. Hahaha. Ingat sih, tapi takut salah. Pokoknya lapor ulang nama saya yang sudah didaftarkan Thika, dan menunggu nama dipanggil.

Ada perasaan deg-degan ini. Terutama ketika nama saya dipanggil dan duduk di kursi dokter gigi hidrolik itu. Terus saya diukur tekanan darahnya dulu donk. Alhamdulillah masih tetap 120/90. Dokter Bambang lantas mulai menyuntik obat bius lokal sekitar gusi. Dua kali suntik, dites begitu, masih terasa sakit. Dokter menambahkan obatnya.

Dokter:
Saya gemas sama gigi ini.

Saya:
(Pengen ketawa cuma hwkhwk saja).

Dokter:
Yuk kumur dulu beberapa kali. Airnya itu.

Saya:
(Kumur, melihat darah).
Sudah dicabut, dok?

Dokter:
(Tidak menjawab).

Singkat kata, singkat cerita, terhitung hanya sekitar 7 menitan saja saya berada di ruang dokter gigi! Lantas asistennya menyerahkan gigi saya yang sudah dimasukin plastik klip. What? Are you kidding me? Kok cepat? Ini pengalaman cabut gigi tercepat yang saya alami dan tanpa sakit! Sungguh, Kakak Nani saja sampai tidak percaya kalau gigi saya sudah tercerabut dari gusi. Uh wow sekali kan dokternya. Kirain mau dipakai linggis sama hamar dulu begitu hahaha. Untuk cabut gigi dan obat-obatan saya dicas 450K. 

Dokter:
Ingat ya. Sepulang ini, kapasnya dilepas. Terus langsung makan dan minum obatnya supaya tidak sakit meskipun efek biusnya sudah hilang. Ini saya kasih yang bagus obatnya supaya tidak perlu sakit-sakit lagi. Setelah minum obatnya, ini saya kasih satu kapas lagi, ditempel di gusinya. Satu jam saja, langsung dilepas lagi. Sudah begitu saja. Yang penting obatnya harus dihabiskan. Tapi kalau sudah tidak sakit, obat anti nyeri tidak perlu diteruskan, cukup antibiotik saja.

Yay! Terima kasih, dokter!

Dan sejak sore itu sampai sekarang saya bisa ngakak sepuasnya.

Sekarang ... siapa bilang lebih baik sakit hati daripada sakit gigi? Sini saya bantu tusuk giginya pakai jarum panas *sadis* ahahaha. Soalnya saya sudah berkali-kali merasakannya, kawan. Beberapa gigi saya memang sudah dicabut pun. Dan lebih baik sakit hati ketimbang sakit gigi. Sakit gigi itu, apa-apa serba salah. Orang ngomong, salah. Orang ngakak, salah. Kita mau makan, salah. Dan seterusnya! Dududud.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

Semoga kalian tidak mengalami seperti apa yang saya alami, ya. Serius ini.



Cheers.

Seorang Kapten Kebanggaan yang Gugur Saat Bertugas


Tahun 2014. Pilkada. Saya keluar dari kelompok yang disebut golongan putih. Masih sangat segar melintas di ingatan. Saya terjaga pukul 11.30 Wita. Terkejut! Dengan mata masih mengantuk parah alias setengah membuka, saya berlari ke kamar mandi, menabrak kipas angin, menabrak lemari pakaian, kepala menghantam kosen pintu kamar mandi, lalu mengumpat kenapa kuping saya tidak mendengar suara alaram. Saya mandi sekenanya, yang istilah alm. Bapa saya: itu mandi burung, lantas menggosok gigi. Saat menggosok gigi, mulut saya merasakan sesuatu yang aneh. Mata yang separuh membuka akhirnya membuka penuh. Tube itu bertulis: POND'S. Kampet! 

Baca Juga: Horeday #1: The Legend Cookies Choco & Cheese Stick

Tahun 2014 saya harus memilih karena saya yakin pada visi dan misi si calon Bupati dan Wakil Bupati pilihan, serta melihat track record mereka selama ini. Sesederhana itu. Visi, misi, dan track record calon pemimpin dapat mengubah saya yang awalnya termasuk dalam golongan putih dan bodo amat menjadi golongan pemilih. Tidak perlu menunggu sampai lima tahun untuk merasakan perubahan yang terjadi di Kabupaten Ende tercinta. Belum sampai satu tahun sudah banyak yang saya rasakan. Dimulai dari ragam festival bertema kebudayaan hingga nonton bareng Piala Dunia oleh masyarakat Kabupaten Ende di Lapangan Pancasila.

Saya tidak salah pilih.

Dwi-Tunggal


Dua yang satu. Bupati Ende Bapak Ir. Marsel Y. W. Petu, dan Wakil Bupati Ende Bapak Djafar H. Achmad. Satunya berasal dari Suku Lio. Satunya berasal dari Suku Ende. Satunya beragama Katolik. Satunya beragama Islam. Perbedaan itu justru membikin pasangan ini seperti mur dan baut. Mereka saling 'menemukan' dan bersatu. Semakin kuat dari hari ke hari bukan karena harta tetapi karena kerja. Rasanya saya tidak bisa membantah bahwa jiwa kerja keduanya demi Ende yang lebih baik sangat tinggi. Tapi, tidak adil jika saya hanya melihat dari sisi perbedaan saja. Ada kesamaannya? Ada. Keduanya ramah dan sangat murah senyum! Sikap mereka membikin masyarakat merasa tidak sedang berhadapan dengan pemimpin tertinggi kabupaten ini, melainkan dengan 'orangtua' yang mengayomi. Mereka adalah MJ. MJ yang saya kagumi!

Mereka Mengubah Ende


Saya tidak salah pilih.

Paslon Bupati dan Wakil Bupati yang saya pilih waktu itu benar-benar telah mengubah wajah Kabupaten Ende dari hari ke hari; wajah Kabupaten Ende yang terlihat oleh saya yang tinggal di Kota Ende. Mari kita mulai dari Pelabuhan Bung Karno yang dulunya bernama Pelabuhan Ende, dan Pelabuhan Ippi. Setelah KM Nusa Damai, sebuah kapal roro (roll in-roll out) tenggelam di Pelabuhan Ippi, roda perekonomian menjadi lumpuh. Lantas, setelah tahun 2014, armada-armada laut yang bertujuan Pelabuhan El Say (Kota Maumere, Kabupaten Sikka) setelah tenggelamnya KM Nusa Damai, mulai muncul satuper satu. Tidak saja kapal penumpang yang semakin lancar, tetapi juga kapal roro yang sangat mendukung roda perekonomian di Kabupaten Ende. Sirkulasi barang menjadi lebih lekas. Masyarakat senang.

Di masa jabatan MJ, dimulailah satu perhelatan akbar menjelang 1 Juni yaitu Parade Kebangsaan. Parade akbar yang diikuti hampir oleh seluruh masyarakat Kabupaten Ende. Dimulai dari perarakan laut (kapal-kapal) dari Pulau Ende ke Pelabuhan Bung Karno, lantas parade/pawai keliling Kota Ende dengan penghentian di titik-titik yang telah ditentukan, masyarakat mengenakan pakaian adatnya masing-masing (terkhusus pakaian adat Ende). Siapa yang tidak bangga? Di sini lah benih butir-butir Pancasila lahir. Di sini lah rahim Pancasila. Dan kami memaknainya dengan semakin khidmat!

Ritual pati ka ata mata (memberi makan leluhur di Danau Kelimutu) setiap Bulan Agustus dan festival kebudayaan dan bazaar yang dilaksanakan di Lapangan Pancasila merupakan salah satu bentuk penghormatan tertinggi terhadap adat dan budaya. Jujur, saya paling senang kalau mendengar Bapak Marsel berbicara menggunakan bahasa adat dalam perayaan-perayaan tertentu. Fasih, berkelas, dan berkharisma.

Salah satu yang harus juga saya akui dalam tulisan ini adalah tentang Stadion Marilonga. Stadion yang dulu diakui sebagai stadion kebanggaan itu sempat mengalami kondisi kritis. Hidup enggan. Mati kok sayang, yaaaa. Ketika Kabupaten Ende menjadi tuan rumah El Tari Memorial Cup, Stadion Marilonga disiapkan dengan sangat baik dan detail. Kabupaten Ende kemudian disebut-sebut telah membuat standar yang sangat tinggi untuk stadion sekelas kabupaten. Stadion itu diperbarui keseluruhannya; mulai rumput hingga ... lampu sorot stadion di empat sudutnya! Dengan adanya lampu ini, pertandingan sepak bola dapat dilakukan di malam hari. Daaaan tentu, kami sebagai Orang Ende sangat bangga.

Masih banyak perubahan yang saya rasakan sendiri. Ada nonton bareng Piala Dunia di Lapangan Pancasila (dulunya bernama lapangan Perse) serta berbagai hiburan, renovasi Situs Bung Karno, renovasi Taman Renungan Bung Karno, Renovasi Gedung Imaculata (lima langkah dari rumah saya), hingga pawai kendaraan dinas yang dihias. Terima kasih, MJ. Ini luar biasa.

Semua yang saya tulis di atas merupakan perubahan demi perubahan yang saya rasakan dan alami sendiri. Peristiwa perubahan lainnya saya baca dari ragam media seperti VoxNTT, misalnya, adalah peningkatan PAD dari Rp 800 Miliar naik menjadi Rp 1,3 Triliun, dan Ende menghasilkan produk beras dengan merek dagang Mautenda.

Mereka Semakin Mesra


MJ  adalah pasangan yang semakin ke sini semakin mesra. Keduanya kemudian menang (petahana) dalam Pilkada 2018 yang lalu. Otomatis MJ menjabat dua periode! Hyess! Kemenangan ini bukanlah milik mereka semata, tetapi milik semua masyarakat Kabupaten Ende baik masyarakat yang memilih mereka maupun masyarakat yang tidak memilih mereka. Karena, MJ jelas bekerja untuk seluruh masyarakatnya, bukan untuk kelompok pemilihnya saja bukan?

Kemenangan sudah di tangan. Siap melanjutkan perjuangan membangun Kabupaten Ende. Namun, Sang Kapten kemudian gugur ...

Kapten Ende yang Gugur Saat Bertugas


Minggu, 26 Mei 2019, kaki tangan saya lemas mendengar kabar Bapak Marsel Petu berpulang ke pangkuan Illahi. Sebenarnya itu belum disebut kabar, melainkan pertanyaan yang dikirimkan Kakak Nani Pharmantara melalui pesan WA, saat sahur. Benarkah? Kebetulan saya bekerja satu ruangan dengan adik ipar beliau yaitu Kakak Rossa. 

Ah ...

Saya semakin lemas.

Kapten! Ini terlalu cepat!

Bagaimana dengan mimpi-mimpi 'kita semua'?

Bagaimana dengan cita-cita 'kita semua'?

Tapi Tuhan lebih sayang padamu, Kapten.

Picture by David Mossar.

Di dalam peti kayu putih itu terbujur kaku jasadmu, yang telah sangat berjasa pada Kabupaten Ende, yang harus mengalah pada takdir usia saat hendak melanjutkan lima tahun perjuanganmu kemarin bersama Bapak Djafar. Syok dan sedih ini menusuk dalam hingga berhari-hari masih terus bertanya-tanya: benarkah? Dan berhari-hari masih terus berkata: terlalu cepat! Syok dan sedih ini mengiris-iris semua harapan yang tumbuh ... tapi irisan itu harus saya hentikan karena kehidupan akan terus berjalan, pembangunan akan terus berlanjut, dan saya yakin 'kekasihmu' yaitu Bapak Djafar mampu mengemban itu semua.

Kapten, hanya doa yang bisa saya panjatkan untukmu. Untuk Mama Nona agar diberi ketabahan dan kesabaran menghadapi ujian yang, sangat-super-terlalu, berat ini. Semoga dosa-dosamu luruh bersama doa-doa yang kami panjatkan, dan semoga Tuhan menerima semua amal kebaikanmu semasa hidup, dan menerimamu di sisiNya.

Baca Juga: Selamat, MJ!

Seorang Kapten Kebanggaan yang Gugur Saat Bertugas, Bapak Marsel Petu, saya mencintaimu hingga kapanpun. Terima kasih.




Hormat.

Horeday #1: The Legend Cookies Choco & Cheese Stick



Hola! Meskipun terlambat hampir satu minggu dari Hari Raya Idul Fitri nan suci, ijinkan saya mengucapkan:


Well ...

I'm back (because hell is full and Lucifer doesn't like me). Haha. Itu sih istilah dari buku My Stupid Boss. Akhirnya kembali nge-blog setelah meliburkan diri selama hampir dua minggu. Sakau sih tidak, tapi rasanya ada yang kurang.

Saya yakin kabar kalian semua bebaek saja, jadi tidak perlu menanyakan kabar. Saya yakin bobot kalian juga sedikit menanjak, jadi tidak perlu menyarankan banyak makan karena otomatis itu akan terjadi, karena setelah puasa boleh lah ya menyenangkan lidah dan biarkan mulut berpesta pora sejenak. Saya yakin banyak dari kalian yang sudah kembali mengisi blog sejak kemarin-kemarin, saat saya masih bercengkerama dan terkadang saling cakar dengan gigi yang memilih sakit di saat yang tidak tepat. Anggota WAG Kelas Blogging Tuteh malah pasti sudah banyak yang mengisi blog tentang Ramadhan dan Idul Fitri.

Seminggu ke depan, blog ini bakal saya isi dengan HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday. Karena ini Senin, mari kita mulai Horeday #1 dengan The Legend Cookies and Cheese Stick.

Hari libur tiba tanggal 31 Mei 2019 tetapi tanggal merah menyelamatkan saya di tanggal 30 Mei 2019. Hyess! Tapi sebenarnya beberapa hari sebelumnya saya sudah mulai merobek-robek bungkus terigu bakal cemilan. Ada tiga cemilan ya saya bikin sendiri yaitu:

1. Cookies Choco.
2. Cheese Stick.
3. Kastengel.

Sedangkan Kacang Telur dibikin oleh Enu, sahabatnya Thika yang tinggal di rumah.

Kalau kalian membaca pos 5 Kudapan Lebaran pasti sudah tahu lima kudapan yang selalu ada di rumah saat hari raya tiba. Lagi-lagi kami membikin tiga kudapan di atas, ditambah kacang telur. Sedangkan kudapan lainnya dipesan di Tante Lili Lamury; kue Talam Bone, Wingko Babat, dan Tart. Beberapa kudapan lagi diantar oleh Kakak Nani Pharmantara. What a life! Ya, khusus Idul Fitri kali ini saya memang sengaja ingin menyajikan kudapan tradisional seperti Talam Bone dan Wingko Babat. Tahun depan bisa jadi roll-tart bahkan hilang sama sekali.



Menariknya itu ada dua. Pertama, bikin kudapannya bersama-sama dengan keponakan dan ditemani lelucon segar dari Cak Lontong (Youtube!). Duh, kapan saya bisa seperti Cak Lontong yang otaknya luar biasa cerdas itu ya. Kedua, khusus Kastengel dibikin tidak berbentuk kotak tetapi bundar mirip kukis hahaha. Apalah arti sebuah bentuk. Yang penting rasanya tetap rasa Kastengel ... yang kebanyakan keju. Kebanyakan keju tapi disukai sama Kakak Nani hehe.


Khusus untuk stik keju alias cheese stick ini, saya bikinnya banyak sekali, sampai tiga adonan (tiga wadah) dengan rentang waktu per tiga puluh menit (supaya pas waktu menunggu dia berkembang-biak haha dan proses menggiling). Kenapa banyak sekali, sampai sembilan kilogram tepung yang digunakan? Karena stik keju juga dipesan oleh Sony dan Mila Wolo. Memenuhi permintaan, terutama mereka langsung menitipkan uang dan/atau bahan, saya harus memburu waktu, menggorengnya bukan perkara sekedip mata kan. Biasanya saya baru mulai membikin adonan stik keju ini sore hari, tapi pada hari itu saya memulainya sejak pukul 10.00 Wita. Alhamdulillah tidak sampai waktu Ashar sudah kelar semuanya.

The legend cookies choco and cheese stick nampaknya bakal terus menjadi kudapan favorit di rumah kami entah sampai kapan. Yang penting, selama banyak yang suka, kami bakal terus menyuguhkannya kepada tamu-tamu yang datang.

Dan karena Horeday, libur nge-blog, saya menghabiskan waktu luang dengan menonton Youtube dan bermain game. Haha. Kapan lagi ... coba?

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komentar!



Cheers.

Horeday #1: The Legend Cookies Choco & Cheese Stick



Hola! Meskipun terlambat hampir satu minggu dari Hari Raya Idul Fitri nan suci, ijinkan saya mengucapkan:


Well ...

I'm back (because hell is full and Lucifer doesn't like me). Haha. Itu sih istilah dari buku My Stupid Boss. Akhirnya kembali nge-blog setelah meliburkan diri selama hampir dua minggu. Sakau sih tidak, tapi rasanya ada yang kurang.

Saya yakin kabar kalian semua bebaek saja, jadi tidak perlu menanyakan kabar. Saya yakin bobot kalian juga sedikit menanjak, jadi tidak perlu menyarankan banyak makan karena otomatis itu akan terjadi, karena setelah puasa boleh lah ya menyenangkan lidah dan biarkan mulut berpesta pora sejenak. Saya yakin banyak dari kalian yang sudah kembali mengisi blog sejak kemarin-kemarin, saat saya masih bercengkerama dan terkadang saling cakar dengan gigi yang memilih sakit di saat yang tidak tepat. Anggota WAG Kelas Blogging Tuteh malah pasti sudah banyak yang mengisi blog tentang Ramadhan dan Idul Fitri.

Seminggu ke depan, blog ini bakal saya isi dengan HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday. Karena ini Senin, mari kita mulai Horeday #1 dengan The Legend Cookies and Cheese Stick.

Hari libur tiba tanggal 31 Mei 2019 tetapi tanggal merah menyelamatkan saya di tanggal 30 Mei 2019. Hyess! Tapi sebenarnya beberapa hari sebelumnya saya sudah mulai merobek-robek bungkus terigu bakal cemilan. Ada tiga cemilan ya saya bikin sendiri yaitu:

1. Cookies Choco.
2. Cheese Stick.
3. Kastengel.

Sedangkan Kacang Telur dibikin oleh Enu, sahabatnya Thika yang tinggal di rumah.

Kalau kalian membaca pos 5 Kudapan Lebaran pasti sudah tahu lima kudapan yang selalu ada di rumah saat hari raya tiba. Lagi-lagi kami membikin tiga kudapan di atas, ditambah kacang telur. Sedangkan kudapan lainnya dipesan di Tante Lili Lamury; kue Talam Bone, Wingko Babat, dan Tart. Beberapa kudapan lagi diantar oleh Kakak Nani Pharmantara. What a life! Ya, khusus Idul Fitri kali ini saya memang sengaja ingin menyajikan kudapan tradisional seperti Talam Bone dan Wingko Babat. Tahun depan bisa jadi roll-tart bahkan hilang sama sekali.



Menariknya itu ada dua. Pertama, bikin kudapannya bersama-sama dengan keponakan dan ditemani lelucon segar dari Cak Lontong (Youtube!). Duh, kapan saya bisa seperti Cak Lontong yang otaknya luar biasa cerdas itu ya. Kedua, khusus Kastengel dibikin tidak berbentuk kotak tetapi bundar mirip kukis hahaha. Apalah arti sebuah bentuk. Yang penting rasanya tetap rasa Kastengel ... yang kebanyakan keju. Kebanyakan keju tapi disukai sama Kakak Nani hehe.


Khusus untuk stik keju alias cheese stick ini, saya bikinnya banyak sekali, sampai tiga adonan (tiga wadah) dengan rentang waktu per tiga puluh menit (supaya pas waktu menunggu dia berkembang-biak haha dan proses menggiling). Kenapa banyak sekali, sampai sembilan kilogram tepung yang digunakan? Karena stik keju juga dipesan oleh Sony dan Mila Wolo. Memenuhi permintaan, terutama mereka langsung menitipkan uang dan/atau bahan, saya harus memburu waktu, menggorengnya bukan perkara sekedip mata kan. Biasanya saya baru mulai membikin adonan stik keju ini sore hari, tapi pada hari itu saya memulainya sejak pukul 10.00 Wita. Alhamdulillah tidak sampai waktu Ashar sudah kelar semuanya.

The legend cookies choco and cheese stick nampaknya bakal terus menjadi kudapan favorit di rumah kami entah sampai kapan. Yang penting, selama banyak yang suka, kami bakal terus menyuguhkannya kepada tamu-tamu yang datang.

Dan karena Horeday, libur nge-blog, saya menghabiskan waktu luang dengan menonton Youtube dan bermain game. Haha. Kapan lagi ... coba?

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komentar!



Cheers.

Bukber Hebring


Sebelum memasuki Bulan Ramadhan, sudah tertulis di Arekune (T-Journal) tentang agenda buka puasa Keluarga Besar Pharmantara. Atau, kami lebih suka menulis: Encim and The Gank. Karena selain Keluarga Besar Pharmantara, di dalamnya juga ada Keluarga Abdullah Achmad, suami dari Kakak Nani Pharmantara yang lebih sering saya panggil Ka'e (Kakak) Dul. Kegiatan bukber ini tidak kami lakukan pada tahun kemarin. Saya pikir, bukber keluarga harus berjalan, karena sudah lama pula kami jarang ngumpul akibat pekerjaan dan kesibukan masing-masing orang. Maklum, semua keponakan saya sudah tidak bisa dijewer lagi kupingnya kan, sudah pada dewasa dan punya dunianya sendiri. Hehe.

Baca Juga: PBSI Belajar Ngeblog

Oleh karena itu, meskipun ada undangan bukber lain, saya harus tetap mengutamakan bukber keluarga besar kami, karena saya yang menggagasnya. Seperti Sabtu, 25 Mei 2019, ada tiga agenda bukber. Pertama: Pembubaran Panitia Triwarna Soccer Festival sekaligus bukber di Rumah Jabatan Wakil Bupati Ende Bapak Djafar Ahmad. Kedua: Pembubaran Panitia Bukber Alumni Spendu 94 Ende di Paradise Cafe. Ketiga: Bukber Pharmantara yang Hebring haha. Jelas saya harus merelakan dua agenda lainnya demi keluarga *tsaaaah* terbaca seperti cinta dan bela negara banget kan.

Minggu pertama Ramadhan, tepatnya Sabtu, 11 Mei 2019, bukber dilaksanakan di Pohon Tua. Rumah saya. Bukannya sebagai adik bungsu seharusnya saya mendapat jatah minggu terakhir Ramadhan? Itu kalau hitungnya ber-kakak-adek tapi karena di Pohon Tua masih ada Mamatua jadi Pohon Tua harus di'tua'kan. 

Minggu Pertama Ramadhan


Pohon Tua yang biasanya sepi dan lebih sering terdengar suara ana eda congklak serta sesekali suara Mamatua memanggil penghuni lainnya, kemudian menjadi ramai. Anak, cucu, dan cecenya Mamatua berkumpul sekitar pukul 17.30 Wita. Meskipun tidak semua, rasanya rumah kami yang biasanya terasa lapang mendadak sempit! Haha. Maklum, semua aktivitas ramai-ramai itu memang lebih menyenangkan dilakukan di bagian belakang (ruang keluarga) ketimbang ruang tamu. Sudah saya bilang, ruang tamu rumah saya itu semacam pajangan saja. Padahal ruang belakang itu tidak sebersih ruang tamu manapula lantainya itu lantai semen. Tapi tetap saja orang-orang pada suka ... lebih 'hangat' mungkin ya. Hehe.



Karena saat waktu berbuka tiba sebagian menu masih dimasak (supaya makanannya hangat saat disantap) saya tidak sempat memotret lagi menu-menu buka puasanya. Ya sudahlah. Next time.

Minggu Kedua Ramadhan


Minggu kedua, tepatnya Sabtu, 18 Mei 2019 bukber dilaksanakan di rumah kakak pertama Abang Nanu Pharmantara. Lagi-lagi, meskipun tidak anggota lengkap yang berkumpul, tetap saja suasana riuh dan hebring tercipta. Keluarga kami ini memang begini. Selalu ramai di setiap kesempatan yang diimbuh tingkah laku dua cecenya Mamatua Rara dan Syiva. Tidak bisa saya bayangkan keriuhannya jika Iwan dan Reny serta dua anak mereka Andika dan Rayhan datang ke Ende (karena mereka menetap di Kota Mbay - Kabupaten Nagekeo).




Hari itu saya tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Rara, Indi, dan Syiva, meniru tariannya Black Pink (CMIIW). Kami masih bertahan hingga para lelaki pulang shalat Tarawih dari masjid loh! Dan kehebringan itu masih berlangsung hingga bukber ketiga Sabtu kemarin. 

Minggu Ketiga Ramadhan


Minggu ketiga Ramadhan, Sabtu, 25 Mei 2019, bukber dilaksanakan di rumah Ka'e Dul dan Kakak Nani Pharmantara. Undangan sudah disebar via WAG Encim and The Gank. Saatnya ngumpul lagi! Horeeee! Saya terpaksa meninggalkan dua agenda lain seperti yang sudah ditulis di atas. Ya gimana lagi doooonk. Ngumpul bareng keluarga itu terasa jauh lebih apa ya ... lebih gimana gitu. Hehe. Pokoknya kalau ada agenda ngumpul bareng keluarga, itu wajib!




Tetap ya, menu ikan bakar itu berhukum fardhu 'ain. Habis bukber kemarin, saya masih bertahan cukup lama juga di rumah Kakak Nani karena biasa ... sister punya urusan ... hehe.

Seharusnya masih ada cerita bukber minggu keempat di rumah Babe Didi Pharmantara, tapi sepertinya minggu keempat kami telah sibuk dengan kegiatan menjelang Idul Fitri sehingga ... lihat saja nanti. Soalnya keluarga Abang Nanu semuanya berlibur ke Kupang. Pengen juga sih Idul Fitri tidak ada di rumah, jalan-jalan, tapi Pohon Tua adalah 'pusat' dan orang-orang pasti datang ke rumah. Jaga kandang? Masih menjadi kewajiban saya hahaha.

Hiburan Rara dan Syiva


Rara dan Syiva ini memang selalu penghangat makanan suasana. Sayangnya saya belum mengkompilasi semua video mereka berdua, belum juga mengeditnya, dan belum mengunggahnya di Youtube. Mohon bersabar ya. Tapi kalau kita berteman di WA, sudah pasti kalian bisa melihat video dengan tingkah dua krucil itu di Status WA. Pokoknya, kedua krucil ini lah yang selalu hebring! Tanpa penampilan keduanya, suasana pasti hanya ramai-riuh saja, tidak sampai sehebring itu. Saya pasti ngakak parah setiap kali merekam (video) mereka berdua. Tingkah mereka sudah macam orang kesurupan begitu ... LOL!


Cerita tentang keluarga kami memang tidak ada habisnya, saya rasa demikian pula keluarga kalian. Bersama keluarga selalu ada suasana hebring yang tercipta, selalu saja menghangatkan jiwa, selalu saja bikin bahagia. Berantem antara kakak-adek itu biasa, yang tidak biasa adalah kembali saling merangkul karena darah tidak akan terputus begitu saja. Dan saya sudah mengalaminya ... pasang surut ... seperti itu. Tapi terpenting ... kita menikmatinya dengan ikhlas.

Baca Juga: Encim and The Gank

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu donk suasana bukber keluarga kalian!



Cheers.

PBSI Belajar Nge-blog


Sabtu, tepatnya tanggal 18 Mei 2019, saya terjaga setelah berdamai dengan hasrat untuk terus menggumuli ranjang. Pukul 07.30 Wita saya baru selesai mandi, untungnya tidak lupa menggosok gigi, sedangkan puluhan mahasiswa sudah menunggu sejak pukul 07.00 Wita di Aula Lantai III Gedung Rektorat Universitas Flores (Uniflor). Buru-buru selesaikan dandanan *halaaah* maksudnya bergegas memakai jilbab dan sepatu. Lantas Onci membantu saya menyiapkan laptop, charger, mouse, serta mengeluarkan sepeda motor ke teras. Berangkat! Tentu sambil berdoa agar saya masih bisa menjaga keseimbangan mengingat waktu tidur yang kurang. Hanya dua jam. Payahnya saya lupa gawai di sofa ruang tamu. Ya harus kembali mengambilnya karena sayur tanpa garam itu biasa tapi hidup tanpa gawai seharian itu luar biasa ha ha ha.

Baca Juga: SUC Endenesia #1

Puluhan mahasiswa yang sudah menunggu di Aula Lantai III Gedung Rektorat Uniflor dengan mengenakan jas almamater biru itu seakan menampakkan wajah lega setelah melihat kedatangan saya, pun Ibu Sherly dan Ibu Sekretaris Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Maaf, itu kata pertama saya saat membuka kegiatan, karena bukan kesengajaan saya terlambat hampir satu jam dari kesepakatan. 

Ya, Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 18 Mei 2019, saya diminta untuk memberikan pelatihan blog kepada mahasiswa Prodi PBSI - FKIP - Uniflor. Sebelumnya, Sabtu 4 Mei 2019, saya diminta menjadi pemateri blog oleh Fakultas Teknologi Informasi (FTI) kepada mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah (dan Prodi Pendidikan Fisika) yang ceritanya bisa dibaca di pos berjudul Pemateri Blog. Karena target atau pesertanya masih dari lini mahasiswa, saya tidak perlu membikin lagi materi baru, cukup dengan materi yang sudah dipakai Sabtu 4 Mei 2019 itu. Kalau dengan Prodi PBSI saya diminta langsung oleh pihak prodi (personal), maka dengan Prodi Pendidikan Sejarah saya diminta melalui FTI atas kerja sama antara Prodi Pendidikan Sejarah dengan FTI (saya bagian dari FTI).

Blogging is Fun and Easy


Masih materi yang sama: Blogging is Fun and Easy. Blogging memang fun and easy, termasuk gaya menyampaikan materi tersebut, harus fun and easy. Alhamdulillah waktu yang diberikan itu empat jam, waktu yang cukup panjang untuk mengenal blog - membikin blog - mengelola dashboard, sehingga proses penyampaian materi jauh lebih pelan, santai, dan lebih sabar menunggu proses. Tidak perlu terburu-buru. Diselingi dengan jokes ringan supaya peserta tidak bosan. Beberapa peserta saya panggil ke depan, temani saya di depan, menggunakan jaringan hotspot pribadi saya haha. Internet yang disediakan sudah sangat mumpuni, memang, tapi dipakai oleh terlalu banyak gawai.


Seperti biasa saya selalu menampilkan blogger yang kini lebih dikenal sebagai komika; Raditya Dika. Apa kesamaan saya dan Raditya Dika? Sama-sama blogger; kemudian Raditya Dika menjadi komika dan saya menjadi karatan. Haha. Pembukaan seperti itu memang disengaja untuk syok terapi bagi peserta. Dilanjutkan dengan pengenalan blog; apa itu blog, blog ber-niche dan blog gado-gado serta contohnya, blog gratisan dan blog berbayar beserta contohnya, sampai ragam platform blog yang dikenal luas dan dimanfaatkan oleh penghuni Planet Bumi. Dan ya, saya memberikan pelatihan membikin blog di Blogger. Platform untuk semua blog saya.

Tidak semua peserta membawa laptop tapi semua membawa gawai sehingga ada peserta yang membikin blog menggunakan laptop dan ada yang menggunakan gawai. Antusias belajar peserta sungguh luar biasa. Setelah blog dibikin, tugas peserta adalah mengisinya dengan satu pos tentang pelatihan blog bersangkutan. Saya memberi mereka waktu dua puluh menit mengingat sebagian besar peserta menggunakan gawai sehingga kecepatan menulis pasti tidak secepat menggunakan laptop. Dua puluh menit cukup lah menurut saya.


Yang tidak saya sangka kegiatan pelatihan blog itu dihadiri oleh Bapak Drs. Yohanes Sehandi, M.Si. Atasan saya dulu di UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Beliau yang mengajarkan saya cara membikin berita baik berita panjang, feature, hingga flash news. Dan saya adalah orang yang mengajarkan beliau blog. Tidak disangka blog beliau masih terkelola dengan baik hingga sekarang dengan pembaca yang sangat banyak! Tulisan-tulisannya itu memang 'berat' tapi banyak pengunjung setianya. Yang paling saya ingat dari Pak Yan setelah beliau nge-blog adalah beliau selalu berkata bahwa blog adalah koran pribadi dan tempat menyimpan data-data tulisan (draf) sehingga tidak perlu kuatir kalau flashdisk-nya eror lagi. Mantap sekali Pak Yan ini kan ya. 



Setelah pos pertama para peserta dipublikasikan, tugas peserta adalah mengirimkan tautan blog ke nomor WA saya. Gunanya adalah saya bisa mencatat tautan blog mereka tersebut sekaligus menawarkan Kelas Blogging Tuteh untuk pelajaran lanjutan apabila mereka berminat. Alhamdulillah semakin banyak mahasiswa yang tahu blog dan antusias sekali bertanya, karena saya tanamkan pada mereka, bahwa modal untuk menulis sudah ada secara mereka adalah anak sastra! Jadi, mereka bisa mengisi blog dengan puisi, kritik cerpen/novel, dan lain sebagainya. Saya bilang: menulis adalah kekuatan terbesar mahasiswa PBSI, manfaatkan itu dengan sebaik-baiknya melalui blog.

Bagi kalian, mungkin blog bukanlah sesuatu yang baru lagi, tapi bagi sebagian orang lainnya, blog merupakan sesuatu yang benar-benar baru. Mereka bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa informasi yang dibaca di internet itu bersumber dari sebuah blog personal, dan mereka mungkin tidak pernah tahu bahwa mereka bisa menjadi si pemberi informasi pula. Tentu, melalui blog personal pula.

Selingan Oleh SUC Endenesia


Inilah yang sejak dulu ingin saya lakukan. Kegiatan mahasiswa, santai dan menyenangkan, pun ada hiburannya. Hiburan musik sudah biasa tapi hiburan stand up comedy itu baru pertama kali terjadi di Uniflor. Atas kerja sama dengan SUC Endenesia ada lima komika yang tampil pukul 11.30 Wita. Mereka adalah Udo, Sultan, Tulen, Adara, dan Willy. Hendra, karena masih ada kuliah, akhirnya hanya bisa menonton dari bagian belakang aula. 


Menariknya, dua komika adalah jebolan Prodi PBSI Uniflor yaitu Sultan dan Willy. Tentu ini membikin peserta pelatihan blog semakin riuh bertepuk tangan. Ada kebanggaan doooonk. Riuh sekali pokoknya. Awalnya ada ketakutan dalam diri saya ... apakah nanti para peserta ini tertawa dengan stand up comedy dari komika SUC Endenesia? Terus terang, ini adalah penjajalan kami terhadap penonton di luar penonton tetap di Miau Miau Cafe. Ternyata kekuatiran saya tersapu ... Pak Yan saja sampai tertawa sambil geleng-geleng kepala.

Nantikan semua videonya di Youtube ya :)


Bagi saya, menjadi pemateri blog merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan. Kapan pun saya diminta, dan jika waktunya tepat, mari yuk! 

Terimakasih kepada Bapak Kaprodi PBSI Dr. Yosep Demon, M.Hum. yang telah meminta saya menjadi mentor untuk pelatihan blog kepada para mahasiswa PBSI Semester 2 dan Semester 4. Terimakasih Ibu Sekpro PBSI dan Ibu Sherly yang telah menghubungi saya untuk inisiasi awal, menentukan tempat, hingga estimasi waktu. Sehingga akhirnya kegiatan ini terlaksana dengan baik. Pun terima kasih kepada SUC Endenesia yang telah menghibur kami semua hari itu. Dan tentu saja, terima kasih kepada semua peserta pelatihan blog yang dengan setia menunggu sejak pukul 07.00 Wita hingga kegiatan berakhir pukul 12.30 Wita. Love you all!

Baca Juga: Pola Timbal Balik

Semoga bermanfaat!



Cheers.