Antara Dua Patung Pahlawan dan Kerja Logika Manusia

Credit: Flores Pos

Antara Dua Patung Pahlawan dan Kerja Logika Manusia. Sebelumnya, saya mohon maaf, tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan/menghina pihak mana pun. Saya juga manusia yang tidak luput dari kesalahan. Sebagai manusia, adalah wajar jika kita selalu menganalisa segala sesuatunya. Misalnya, dalam menyelesaikan suatu perkara melalui sidang pengadilan, hakim bisa saja putusan hakim sesuai betul dengan amanat undang-undang, bisa lebih berat, bisa lebih ringan, bahkan bisa juga hakim menentukan putusan hukuman penjara seumur hidup. Kenapa hakim melakukannya? Bukan karena alasan kekuasaan kehakiman saja, melainkan karena adanya pertimbangan-pertimbangan oleh hakim. Pertimbangan ini yang kemudian dianalisa.

Baca Juga: Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo

Hampir dua bulan terakhir Kabupaten Ende, khususnya Kota Ende sebagai Ibu Kota-nya, heboh dengan kemunculan dua patung pahlawan daerah. Yang pertama, patung Marilonga. Yang kedua, patung Baranoeri. Marilonga dan Baranoeri adalah dua pahlawan yang sangat kami hormati. Patung Marilonga berdiri gagah di entrance dari arah Timur menuju Kota Ende, tepatnya di tengah simpang empat: Jalan Gatot Soebroto, arah Ndona, arah Woloweku, dan arah Timur/Pasar Wolowona. Sedangkan patung Baranoeri berdiri gagah di entrance dari arah Barat menuju Kota Ende, tepatnya di antara Jalan Mahoni, arah Woloare, arah Kampung Kuraro, dan arah Timur/Pom Bensin Ndao. Kedua patung tersebut kemudian dirubuhkan karena hendak dibangun patung yang baru.

Berdasarkan informasi dari Pos Kupang, Dinas PU Kabupaten Ende mengalokasikan anggaran dari Dana Alokasi Umum (DAU) tahun 2019 sebesar Rp 227.482.000 untuk membangun patung Marilonga dan Baranoeri. Sebagai kontraktor pelaksana adalah CV. Elischa Jaya dengan jangka waktu kerja selama 128 hari. Informasi lebih lengkapnya, silahkan kalian baca pada tautan Pos Kupang di atas. Termasuk keterangan dari Kadis PU yaitu Bapak Frans Lewang.

Patung Marilonga kemudian selesai dibikin, dipasang pada tempatnya semula, dan dibuka penutupnya. Patung tersebut menjadi sorotan mata masyarakat Kabupaten Ende, terutama masyarakat Kota Ende. Media sosial, khususnya Facebook, kemudian heboh dengan keberadaan patung Marilonga yang baru ini. Heboh itu bisa terjadi karena dua sebab. Pertama: sesuai ekspetasi. Kedua: jauh dari ekspetasi. Ya, sebab kedua, yaitu jauh dari ekspetasi itulah yang menyebabkan masyarakat Kabupaten Ende heboh baik di media sosial maupun secara lisan. Protes itu ditujukan pada ukuran patung, bentuknya yang berbeda dari bentuk semula, hingga pakaian yang digunakan. Menurut masyarakat, Marilonga yang sebelumnya digambarkan sangat gagah melalui patung lama, kemudian menjadi sangat begitu itu pada patung baru.

Hal yang sama juga terjadi pada patung Baranoeri.

Ada kritikan.
Ada hujatan.
Ada hinaan.

Semua berbaur menjadi satu. 

Pemerintah kemudian mencabut, istilahnya sih memang begitu, patung Marilonga (yang baru) tersebut. Sedangkan patung Baranoeri (yang baru) masih terpasang/berdiri di tempatnya.

Menarik juga mengetahui perasaan masyarakat Kabupaten Ende yang diluapkan melalui Facebook baik status-status maupun komentar pada status-status tersebut. Kenapa menarik? Saya jadi tahu pemikiran banyak orang tentang Marilonga dan Baranoeri, dan betapa cintanya masyarakat Kabupaten Ende kepada dua pahlawan daerah tersebut. Saya pikir, sangat wajar jika masyarakat berkomentar pedas tentang patung pahlawan tersebut. Karena, pahlawan merupakan idola umat.

Hanya saja, saya kemudian otak saya menjadi sedikit eror ketika membaca tulisan bernada penghinaan terhadap pekerja seninya alias senimannya. Bagi saya pribadi, seniman tidak bisa disalahkan seratus persen atas kondisi yang terjadi ini. Secara logika, kita tahu bahwa pemberi order tentunya juga mempunyai konsep dasar bentuk patungnya, pakaiannya, ukurannya, dan lain sebagainya dari patung yang diorder. Secara logika, ketika seniman mengerjakan patung tersebut, dia pun tidak bisa berlari terlalu jauh dari konsep dasar yang disodorkan oleh pemberi order, termasuk anggaran biaya. Secara logika, masyarakat juga punya hak untuk memprotes. Jadi, kalau ditanya ini salah siapa? Bukan salah siapa-siapa.

Dari semua status dan komentar di Facebook, saya sangat tertarik dengan status Gusti Adi Tetiro tentang polemik patung para pahlawan daerah ini. Setidaknya apa yang ditulis Gusti membikin saya mengacung jempol. Inilah anggota masyarakat yang baik: mengkritik dan memberi saran sekaligus. Sama seperti Gusti, saya juga berpikir demikian.

Pertama: Kajian. Ini penting. Pahlawan, seperti yang saya tulis di atas, adalah idola umat. Lebih dari itu, pahlawan daerah melekat dengan budaya dan kebiasaannya pada masa mereka hidup. Sehingga, harusnya dilakukan kajiaan/telaah terlebih dahulu tentang fisik dari para pahlawan tersebut. Caranya? Kumpulkan keluarga/turunan dari kedua pahlawan baik Marilonga maupun Baranoeri, kumpulkan pula Sejarahwan dan Budayawan yang ada di Kabupaten Ende. Diskusikan. Rembug. Debat, bila perlu. Bagaimana rupa Marilonga dan Baranoeri? Bagaimana fisik mereka? Bagaimana pakaian mereka pada masa itu? Bagaimana seharusnya mereka digambarkan/diwujudkan pada sebuah patung? Kalau tahap kajian ini sudah dilewati, barulah bisa ditentukan wujud utuhnya kelak seperti apa.

Kedua: Penganggaran. Dalam hal ini, penganggaran harus dihitung sebaik-baiknya. Bukan saja menganggarkan bahan, tetapi senimannya. Kalian juga tentu tahu, profesional bekerja tanpa sekat untuk bisa menghasilkan mahakarya. 

Ketiga: Uji Kelayakan. Ini penting. Saya pernah menulis di Facebook, ketika kita membawa bahan kain ke penjahit tentu tubuh akan diukur terlebih dahulu oleh si penjahit, diskusi model bajunya, hingga jenis kancing yang mau dipakai. Ketika bajunya sudah jadi pun kita wajib mengetesnya terlebih dahulu, siapa tahu tubuh kita saat diukur dengan saat mengambil baju tersebut sudah berubah. Lebih kurus atau lebih gemuk, misalnya. Mengenai patung ini, tentu sebelum dipajang harus diuji/dilihat dulu oleh si pemberi order, apakah sudah sesuai atau belum. Kalau belum sesuai (pesanan), wajib memprotes dan meminta seniman mengubah ini itu.

Baca Juga: Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita

Menurut saya, tiga hal utama di atas yang perlu dilakukan terutama kajian. Untuk menghasilkan sesuatu sepenting patung pahlawan, kita memang harus melakukan kajian yang sangat mendalam. Ibarat melakukan penelitian untuk skripsi, tesis, dan disertasi. Butuh daftar pustaka sebanyak-banyaknya agar tulisan kita lebih bernas.

Apa yang saya tulis ini, sekali lagi, bukan bermaksud untuk mendiskreditkan pihak mana pun. Saya cuma ingin mengajak kita semua untuk lebih sedikit bijaksana dalam bersikap. Saya juga tidak ingin patung pahlawan kebanggaan saya diwujudkan seperti itu, tetapi setidaknya masih bisa menahan diri dan jempol untuk tidak menulis dengan terlalu keras dan pedas. Kita semua manusia, punya perasaan, sakit hati bisa timbul, terutama jika tulisan kita bernada menghina.

Semoga bermanfaat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo


Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo. Kamis, 9 Januari 2020, lagi-lagi saya tancap gas menuju Kabupaten Nagekeo. Sepertinya dari semua kabupaten yang ada di Pulau Flores khususnya dan Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya, Nagekeo merupakan kabupaten yang paling sering saya kunjungi baik untuk meliput kegiatan kampus maupun karena kepentingan pribadi. Keberangkatan saya kemarin itu karena hendak meliput kegiatan Uniflor Road Show 2020 oleh Panitia Panca Windu Uniflor 2020 yang diselenggarakan di Lapangan Berdikari, Kota Mbay. Uniflor Road Show 2020 diselenggarakan Sabtu, 11 Januari 2020, tapi saya memilih berangkat dua hari lebih awal karena diperbolehkan. Haha. Lagi pula saya juga harus pergi ke sekolah-sekolah untuk mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) bersama Kakak Shinta Degor dan Pak Anno Kean. Ya, kami masih menjadi bagian dari Tim Promosi Uniflor.

Baca Juga: Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita

Sebenarnya dari Ende saya hendak tancap gas sendirian ke Kota Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, tetapi setelah japri sama Kahar yang kebagian jadi anggota panitia seksi perlengkapan, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat bersama. Terpaksa meninggalkan rombongan pertama lainnya yang masih siap-siap. Tancap gas tanpa jeda sedikit pun terbayarkan ketika mulut sibuk mengunyah butir jagung pulut rebus di Aigela, sebagai check point tiga kabupaten: Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Nagekeo. Dari Aigela, perjalanan dilanjutkan ke Kota Mbay. Tiba Kamis sore menjelang maghrib, saya dan Kahar langsung menikmati mi ayam yang rasanya aduhai dan saya lupa nama warung kecil itu. Hehe. Lantas kami menuju rumah Novi Azizah di daerah Alorongga (masih daerah kota), alih-alih menginap di rumah keponakan saya di Towak.

Di Aigela.

Melepas lelah, ngopi, mengobrol, haha hihi, bersama Kahar dan Novi, rasanya sangat menyenangkan. Dari situ saya mendengar banyak cerita masa kecil mereka yang bahagia, karena Kahar juga pernah bersekolah (SD) di Kabupaten Nagekeo. Salah satunya: sarapan nasi disiram kopi-panas. Wow! Bagian ini bakal saya ceritakan di pos tersendiri. Haha. Bagi mereka kisah ini semacam aib, tapi bagi saya kisah ini merupakan sesuatu yang harus diceritakan karena unik.

Karena satu dan lain hal, beberapa teman panitia yang tiba Kamis malam, menginap pula di rumah Novi. Terima kasih yang luar biasa untuk Mama dan Novi yang sudah menerima kami semua. Hehe. Terkhusus empat teman lainnya itu: Om Evan, Sotter, Willy, Marten. Kalau Kahar sih menginap di rumah kakaknya yang memang berdomisili di Kota Mbay. Sedangkan saya sendiri memang sering menginap di rumah Novi atau di rumah keponakan. Meskipun baru keluar dari rumah sakit, tapi Mama begitu tulus menerima kedatangan teman-teman lain di rumah itu. Ah, serasa home sweet home.

Akhirnya saya punya banyak cerita dari perjalanan ini selain kegiatan Uniflor Road Show 2020!

Yuk mari kita cari tahu apa saja cerita menarik dari Kabupaten Nagekeo tercinta ini *kedip-kedip*.

Kebun Sayur


Jum'at, 10 Januari 2020, merupakan hari terbaik sekaligus tersibuk khusus untuk saya dan Novi. Hari itu saya dan Novi sudah punya rencana jalan-jalan. Jalan-jalan yang cukup panjang dan lama. Tapi, mengingat ada empat teman lain yang menginap di rumah Novi, kami kemudian memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke pasar dan memasak makan siang karena Mama belum kami ijinkan masuk dapur. Di pasar, kami hanya membeli ikan, tahu-tempe, dan bumbu, sedangkan sayurnya dibeli langsung di kebun sayur! Menurut Novi, lebih baik membeli sayur langsung di kebun karena bakal dapat banyak. Lha, saya pikir kebunnya itu jauuuuh banget. Karena kan judulnya 'kebun' begitu. Ternyata lokasi kebun sayur ini tidak sampai 500 meter dari rumah Novi. Uh lala. Manapula sepeda motor bisa langsung diparkir di depan rumah pemiliknya.


Namanya juga kebun sayur, areanya luas (sekitar satu hektar), dipergunakan oleh pemiliknya untuk menanam bermacam jenis sayuran seperti kangkung, sawi, terung, pucuk labu, bayam (juga bayam merah) dan lain sebagainya. Begitu tiba di depan rumah pemiliknya yang sepetak dua petak itu, Novi langsung bilang, "Beli sayur kangkung lima ribu, sayur sawi lima ribu, terung lima ribu." Saya pikir, dapatnya paling segitu-segitu juga, tidak super wow seperti yang dibilang Novi sebelumnya. Lantas mata saya mengekori si Mama yang mengambil parang dan pergi ke kebun. Seperti terhipnotis, saya menyusulinya. Ya ampun, cara si Mama menebas sayuran begitu semangat padahal kan kami hanya membeli 15K kalau ditotal!


Bagi saya pribadi yang tinggal di Kota Ende, melihat sayur seharga 15K dengan jumlah segitu banyaknya, sungguh di luar ekspetasi. Istilah orang pasar: kami membeli langsung dari tangan pertama. Ceritanya bakal beda kalau membelinya dari tangan kedua apalagi tangan ketiga. Noted.


Karena banyaknya sayuran itu, semua diletakkan di bagian depan motor matic saya. Dalam perjalanan pulang ke rumah saya merasa seperti pedagang sayur sungguhan ha ha ha. Tinggal teriak, "Sayur! Sayur!" Tiba di rumah, saya dan Novi langsung mengeksekusi segala bahan bekal makan siang: ikan, tempe-tahu, sayuran. Kami harus bergegas karena waktu semakin mepet. Jalan-jalan harus terlaksana! Saat sedang memasak, Oston dari kepanitiaan mengirim pesan WA pada saya, bersedia untuk bertemu band lokal yang bakal tampil sebagai band pembuka kegiatan Uniflor Road Show 2020. Nama band-nya Alf The Bond Band. Dan karena Novi yang merekomendasikan mereka, maka Novi pun meninggalkan saya untuk menemani anak-anak band bertemu Oston.


Begitu si Novi pulang kembali ke rumah, gantian saya yang ijin pergi bertemu para bedebah. Iya, saya menerima pesan WA dari Ruztam Effendi, sahabat masa SMA yang punya Nirvana Bungalow di Riung. Ajakan makan siang! Saya pamit pergi bertemu Ruztam di Rumah Makan Mini Indah. Masaknya gantian begitu ... ceritanya.

Bedebah Bertemu Para Bedebah


Adalah hal yang lumrah apabila saya sering memanggil teman-teman masa SMA dengan istilah bedebah. Hehe. Rasanya ada yang kurang apabila kata itu tidak terlontar. Dari rumahnya Novi menuju Rumah Makan Mini Indah, a la prasmanan, hanya memakan waktu sekitar lima menit. Ndilalah di sana sudah ada Ruztam, dan Bruno! Dua sahabat masa SMA yang masih ramai di WAG alumni ini sudah menanti dengan wajah sumringah. Ya Tuhan, saya kangen banget sama mereka. Terlebih Ruztam. Kalau Bruno kan pernah ketemu di akhir 2019, ditraktir sama dia di El Cafe - Mbay.


Makan siang kami diwarnai saling ngecap, saling mengumpat, saling menasihati (ini bagian paling sedikit), dan haha hihi gaje. Sebenarnya saya pengen mengajak mereka melanjutkan ngopi di rumah Novi (saya memang tamu kurang ajar, sudah menginap, bertingkah seakan rumah sendiri, hahaha), tetapi kedatangan Ruztam ke Kota Mbay adalah untuk berbelanja kebutuhan Nirvana Bungalow sehingga dia tidak bisa terlalu lama bersantai. Baiklah. Siang itu kami berpisah di depan Rumah Makan Mini Indah dengan janji bakal ketemu malam minggu di Lapangan Berdikari untuk menyaksikan Uniflor Road Show 2020, tetapi kemudian ... ya bisa kalian tebak ... kami tidak bertemu lagi karena kesibukan mereka juga berada di level galaksi.

Terima kasih, para bedebah!

Love youuuuu all!

Taman Wisata Hutan Mangrove


Balik ke rumah, Novi sudah selesai memasak dan bahkan empat teman kami sudah selesai makan siang. Beres semuanya, saya dan Novi melaksanakan rencana jalan-jalan. Sekitar pukul 14.00 Wita, kami meluncur ke Desa Marapokot yang selama ini dikenal karena adanya pelabuhan: Pelabuhan Marapokot. Waktu tempuh sekitar 15 sampai 20 menit dari pusat Kota Mbay. Tujuan kami ke Desa Marapokot tentu saja Taman Wisata Hutan Mangrove (bakau). Kalian mungkin bakal bertanya-tanya, apa sih menariknya hutan mangrove? Dan kenapa pula ada embel-embel 'taman wisata'? Makanya, baca sampai selesai. Haha. Jangan di-skip!


Adalah sekelompok anak muda di Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, yang berupaya untuk menggali dan memanfaatkan potensi hutan mangrove yang ada di wilayah mereka, yaitu wilayah pantai, menjadi destinasi wisata. Mereka kemudian membangun spot-spot instagenic antara lain jembatan dan tempat bersantai. Jembatan-jembatan dibuat bermaterial bambu dan kayu, tidak lupa hiasan lampion-lampion di atas jembatan, dan tempat bersantai/duduk bermaterial ban bekas, spot-spot instagenic dengan tulisan-tulisan menarik/kekinian. Tidak lupa cat warna-warni semakin memikat mata.


Baca Juga: Ngana Ate Sebuah Blog (Puisi) Baru Yang (Terpaksa) Dibikin


Inilah yang saya sebut dengan perpaduan antara wisata alam dan wisata buatan. Salut sama anak muda Desa Marapokot! Kalian hebat!



Puas foto-foto, saya dan Novi duduk mengaso di jembatan paling ujung yang berhadapan dengan perairan luas, dan mengobrol. Jujur, tempat ini bisa menjadi tempat 'melarikan diri' dari segala kepenatan dunia. Hehe. Nyamaaaaan banget. Jujur, saya bukan tipe orang yang suka 'melarikan diri' dari segala problematika hidup, paling parah ya menulis dan nge-game. Tapi bagi saya lokasi ini bisa jadi tempat merenung mikirin jodoh yang belum tiba juga. Andai kata ada secangkir kopi menemani, pasti lebih betah, malas pulang ke rumah!


Oh ya, biaya masuk Taman Wisata Hutan Mangrove hanya sebesar 5K. Murah sekali untuk kesenangan yang bisa didapatkan di sana. Dan saat datang ke sana pun, pengunjungnya hanya saya dan Novi. Berasa berada di hutan pribadi.


Taman Wisata Hutan Mangrove ini mengingatkan saya pada perjalanan tahun 2010 di Cilacap, Provinsi Jawa Barat, menyusuri labirin mangrove. Waktu itu kami menyewa perahu untuk menyusuri labirin mangrove tersebut.



Semoga saya masih bisa kembali ke tempat ini untuk sesi foto pre-wedding ... ngimpi boleh ya. Haha. Bagi kalian yang hendak pergi ke Kabupaten Nagekeo, khususnya Kota Mbay, jangan sampai lupa berkunjung ke Taman Wisata Hutan Mangrove.

Rumah Pohon


Dari Taman Wisata Hutan Mangrove, kami tancap gas ke Pelabuhan Marapokot yang jaraknya hanya sekitar lima menit berkendara. Tujuan kami adalah Rumah Pohon yang sejak lama sudah dipromosikan Novi tapi belum kesampaian ke sana. Rumah Pohon berlokasi di Pelabuhan Marapokot sekitar 10 meter sebelum pintu masuk pelabuhan di sisi kiri. Saya tidak tahu nama pohon yang dipakai sebagai base rumah pohon ini, tetapi sangat menarik melihat rumah pohon karena belum pernah melihat yang seperti ini.


Kata Novi, Rumah Pohon ini milik pamannya, jadi kami mah bebas jungkir balik di situ. Hanya saja saat kami datang kondisinya sedang terkunci sehingga harus naik melewati balok yang uh wow bikin gagal ginjal. Hehe. Novi saja yang bisa memanjat, saya menyerah!


Di Rumah Pohon tidak seberapa lama, kami memutuskan untuk pulang kembali ke Kota Mbay. Mendadak mengantuk euy.

Oh ya, yang juga harus kalian tahu bahwa malam harinya kami semua diundang makan bebek panggang dan ikan panggang di Towak, di rumah keponakan saya Iwan dan Reni. Aduhai! Meskipun sempat tunggu-menunggu, gara-gara Kahar ini mah, akhirnya tiba juga di rumah dinas Pustu Towak tersebut.


Dari penampakannya saja menggoda iman. Bagaimana dengan rasanya? Ya jelas bikin iman runtuh. Hehe. Selain bebek panggang, ikan panggang, ada pula ikan goreng, sayur merungge, dan sambal jeruk. Sudah ya, jangan diteruskan, nanti kalian ngiler. Hehe. Yang jelas menu ini selalu disiapkan oleh keponakan saya kalau berkunjung. Berasa jadi ratu. Jangan lupa, saya kan Presiden Negara Kuning.

Uniflor Road Show 2020


Ini kegiatan utama pada Sabtu, 11 Januari 2020. Sebelumnya, pagi hari, saya dan Tim Promosi Uniflor pergi ke SMA-SMA di Kota Mbay dan sekitarnya, termasuk ke Desa Marapokot dan daerah Aeramo! Sedangkan malamnya, saya wajib meliput kegiatan Uniflor Road Show 2020 tersebut, yang juga dihadiri oleh Bupati Nagekeo yaitu Bapak Don. Untuk kegiatan tersebut, kalian bisa membaca berita yang sudah saya unggah ke media sosial. Berikut, salah satu tautannya:



Silahkan dibaca. Inilah salah satu wujud dari pekerjaan saya selama ini. In case kalau ada yang kepo kok sepertinya saya jalan-jalan terus. Hehe.


Saya yakin masih banyak cerita menarik lainnya dari Kabupaten Nagekeo yang bisa ditulis di blog, tapi tentu saya harus mengeksplornya terlebih dahulu. Kalian sabar menanti kan? Sama, saya juga sabar menanti, menanti saatnya jalan-jalan lagi. Hehe.

Baca Juga: Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share

Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada Mama, Mamanya Novi, yang meskipun dalam kondisi sakit, masih begitu perhatian dan peduli pada saya dan teman-teman lain yang menginap di rumah. Mama sudah kami anggap seperti Mama sendiri. May Allah SWT bless you always, Ma. Mama adalah yang terbaik bagi kami. Terima kasih juga untuk Novi, pada akhirnya niat jalan-jalan ke Taman Wisata Hutan Mangrove dan Rumah Pohon terlaksana juga minggu kemarin. Sungguh masih banyak hutang kita (saya) karena kita belum pergi ke Pulau Ri'i Taa dan pabrik garam itu ya, Nov. Insha Allah next time. Terima kasih, Nov. Terima kasih. Pun, terima kasih untuk keponakan saya: Iwan dan Reni, juga dua cucu saya: Andika dan Rayhan, atas segala pengertian kenapa saya belum bisa menginap di rumah kalian beberapa kali ke Kota Mbay. Nanti ya, Insha Allah.

Semoga saya masih bisa kembali ke Kabupaten Nagekeo untuk mengeksplor lebih banyak tempat wisatanya. Doakan! Kalian juga doooonk, main-mainlah ke Kabupaten Nagekeo, siapa tahu kita ketemu di jalan. Hehe.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita


Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita. Tahun 2019, karena satu dan lain hal, saya terlambat mengajukan cuti. Tapi cuti saya justru sangat panjang karena diselingi dengan libur panjang yang dimulai 23 Desember 2019 hingga 3 Januari 2020. Saya sendiri baru akan kembali beraktivitas di kantor pada tanggal 7 Januari 2020 setelah cuti yang dimulai tanggal 10 Desember 2019. Cuti yang seharusnya hanya 12 hari (dengan 2 hari minggu menjadi 14 hari), ditambah perpanjangan waktu libur akhir tahun, menjadi nyaris sebulan penuh. Uh wow sekali. Haha. Dan dinosaurus pun lantas ngetawain karena waktu cuti yang panjang itu justru tidak berjalan sesuai rencana: explore Kota Bajawa dan Kota Ruteng. Jika kalian juga mengalami apa yang saya alami, jangan mengeluh, karena hidup memang penuh warna dan cerita.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Cerita cuti saya dimulai dengan sakit. Pasti kalian langsung bilang: kasihan anak ini. Hehe. Sakit itu tidak lama. Saya percaya vitamin dan keinginan untuk sehat sangat membantu proses penyembuhan. Hanya saja, anomali cuaca Kota Ende membikin sakit saya sedikit menyimpang dari kebiasaan. Biasanya orang sakit meriang itu kedinginan, saya justru kepanasan. Beruntung, sakitnya tidak lama, dan saya kembali beraktivitas tidak seperti biasa. Kok tidak seperti biasa? Iya, karena kan saya cuti, sehingga tidak ada acara pasang alaram lalu bangun dan mandi serta bersiap-siap ke kantor, dan tidak ada acara nongkrong di kantin menguping informasi. Betul-betul aktivitas yang tidak seperti biasa. Pada hari-hari cuti saya bangun lebih terlambat dari biasanya, langsung merusuh di belakang, bermain Battle Realms, menulis blog, lantas memandikan Mamatua.

Tidak ada seorangpun yang menyukai sakit. Tapi sakit merupakan sinyal penting untuk manusia tahu bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Bersyukurlah ketika Allah SWT masih memberi kita sakit. Seperti sakitnya Mamatua.

30 November 2019 Mamatua kehilangan satu-satunya penglihatan yang tersisa (mata kiri). Praktis ratu kami itu tidak dapat melihat. Adalah tanggung jawab besar untuk merawatnya. Tetapi saya tidak memandang itu sekadar sebuah tanggung jawab saja, melainkan sebagai anugerah. Kawan, adalah perkara lumrah jika orangtua merawat anak-anak yang dilahirkan. Tetapi tidak semua anak diberi kesempatan untuk merawat orangtuanya. Saya memandang itu sebagai anugerah. Merawat orangtua. Sakitnya Mamatua memberikan begitu banyak waktu untuk kami bersama; Mamatua, saya, Thika, Indra, Mamasia, Mamalen, dan Meli. Kuantitas berbanding lurus dengan kualitas. Memandikan Mamatua selalu diselingi dengan gurauan dan godaan yang membikin kami terbahak-bahak. Menyuapi Mamatua makan sambil mengobrol itu se-su-a-tu. Peristiwa yang tidak dapat ditukar dengan Rupiah, Dollar, Euro.

Kalau begitu, cuti saya hanya begitu-begitu saja?

Tidak.

Saya selalu punya pemahaman sendiri tentang waktu (cuti): manfaatkan dengan sebaik-baiknya, bahkan untuk memainkan game favorit!

Kembali pada judul. Seberapa sering saya, kalian, mereka, mengeluh? Berapa kali dalam sehari kita mengeluh bahkan mengeluhkan hal-hal sederhana seperti: mau makan tapi nasi belum matang sempurna di magicom. Atau, ketika hendak meminum air dingin (air es) tapi semua botol di kulkas kosong-melompong. Atau, ketika ingin pergi ke pantai untuk bersenang-senang tetapi bensin sepeda motor malah sekarat. Dan kita mengeluh begitu hebatnya seakan-akan tidak angin menerbangkan semua seng di atap! Padahal menunggu sedikit waktu untuk nasi matang sempurna mengajarkan kesabaran luar biasa pada kita, meminum air tanpa embel-embel dingin/es mengajarkan kita untuk merasakan sensasi yang berbeda di kerongkongan, bensin yang sekarat di sepeda motor mengajarkan kita untuk sadar bahwa tidak semua keinginan dapat terpenuhi.

Sadarkah bahwa itulah sejatinya hidup yang penuh warna dan cerita?

Konsep hidup penuh warna dan cerita selalu saja identik dengan menikmati keindahan dan kebahagiaan. Membaca buku saat hujan ditemani secangkir kopi panas disebut hidup yang penuh warna dan cerita. Traveling ke tempat wisata idaman disebut hidup yang penuh warna dan cerita. Nongkrong bersama teman-teman di kafe favorit disebut hidup yang penuh warna dan cerita. Padahal, itu biasa-biasa saja. Karena, siapa sih yang tidak mau membaca buku bermanfaat, traveling, dan nongkrong di kafe dengan teman-teman? Kalau keinginan itu terwujud, ya biasa saja jadinya. Toh saya sendiri juga sudah sering melakukannya: membaca buku sambil ngopi, traveling, dan nongkrong di kafe. Ceritanya ya itu-itu saja.

Hidup akan menjadi lebih berwarna dan penuh cerita apabila ada pembedanya. Putih akan lebih memikat jika ada percikan hitam, merah, atau kuning di atasnya.

Sakit, mengurus orangtua yang sakit, menunggu nasi matang di magicom, menatap botol kosong di kulkas, hingga bensin sepeda motor yang sekarat, merupakan warna dan cerita hidup. Ijinkan saya menulis ilustrasi ini:

Rawam:
Bagaimana perjalanan kemarin ke Mbay?

Mawar:
Menjengkelkan! Antri di daerah Ndao nyaris satu jam! Kan kesal. Sudah tahu sedang antri, ada saja yang klakson-klakson. Mana debu ... betul-betul menjengkelkan.

Mawar tidak sadar, bahwa apa yang disampaikannya pada Rawam adalah warna hidupnya. Warna perjalanannya. Seandainya saja tidak ada proyek pelebaran jalan di daerah Ndao (arah Barat Kota Ende) bisa saja dia menjawab pertanyaan Rawam: lancar jaya sampai Mbay. Selesai. Tidak ada warna. Tidak ada cerita. Makanya ketika hujan mengguyur Aigela beberapa saat lalu saat kami berada di sana, saya bilang: biar ada cerita. Karena hujan menyebabkan kami harus lebih lama nongkrong di lapak jagung rebus dan menyebabkan kami lebih detail memerhatikan sekitar. Jadi, lebih banyak cerita yang bisa disampaikan pada orang lain.

Agak keliru apabila saya, kalian, mereka, selalu mengeluhkan hal-hal di luar ekspetasi dan/atau harapan. Karena seperti yang sudah saya tulis di atas, itulah sejatinya hidup yang penuh warna dan cerita. Rencana liburan explore Kota Bajawa dan Kota Ruteng saat cuti bukanlah perkara yang harus saya keluhkan. Kalau rencana itu berjalan, ceritanya ya biasa-biasa saja: traveling, jalan sana-sini, menulis. Lelah, jelas. Karena mengendarai sendiri sepeda motor. Rencana yang batal itu justru menghadirkan warna dan cerita tersendiri. Memangnya apa yang saya lakukan saat cuti selain terlambat bangun, mengurus Mamatua, bermain game? Banyak!

Baca Juga: Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay

Dimulai dari membikin kue kering untuk bekal Natal Mamasia dan Mamalen. Melihat wajah bahagia mereka, tentu saya juga bahagia. Rumah menjadi perhatian saya di masa cuti: membersihkan rumah, mengganti gorden, mengubah letak ini itu, termasuk menambah asesoris yaitu siput-siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Kabupaten Lembata. Kamar pun tidak kalah: temboknya dicat ulang warna kuning serta pindah-pindah lemari. Lagi-lagi Cahyadi membawa bibit sayur sehingga di dekat ruang makan ada lima polybag berisi bibit wortel, tomat, selada, selada merah, dan terong. Saya bahkan mulai menulis cerita (novel) berjudul Mai Ka! Apa yang harus dikeluhkan? Hehe. Hidup memang penuh warna dan cerita bukan?

Berhenti mengeluh.
Selalu mencoba-ikhlas.
Rasakan sendiri nikmatnya.

Semoga pos ini bermanfaat bagi saya, kalian, dan mereka.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Ngana Ate Sebuah Blog (Puisi) Baru Yang (Terpaksa) Dibikin


Ngana Ate Sebuah Blog (Puisi) Baru Yang (Terpaksa) Dibikin. Kalau Jum'at kemarin kalian main-main ke sini, pasti tahu bahwa saya menulis tentang blog puisi yang itu. Yang judulnya Suara Hati. Adalah Eko Saputra Poceratu seorang Penyair dan/atau Sastrawan muda asal Maluku yang mengambil tempat begitu besar dalam suntikan inspirasi. Saya memang suka menulis puisi, tetapi puisi-puisi itu kebanyakan curhat dan seringkali hanya saya pribadi yang memahami. Padahal pakai Bahasa Indonesia! Bagaimana seorang Eko menulis dan menyuarakan puisi-puisinya yang kebanyakan menggunakan bahasa pergaulan sehari-hari Orang Maluku disisip bahasa daerah sana, dan dipahami secara universal, itu yang patut kita beri standing applause. Terima kasih, Eko, untuk karya-karyamu yang amazing.

Baca Juga: Sinyal Itu Sudah Ada Namun Awam Tak Pandai Membacanya

Memperbarui konten blog puisi itu sungguh mengasyikkan. Terutama jika memang ingin mengikuti jejak Eko. Menjadi seperti Eko jelas tidak mungkin. Namun, tanpa harus malu-malu, mengikuti jejak Eko itu se-su-a-tu yang mengasyikkan! Sumpah. Gara-gara itu, timbul pula keinginan untuk sekalian mengganti template lama yang dibikin khusus oleh Om Bisot itu, yang dikustom dengan tampilan wajah saya. Hehe. Alamaknya, karena memang sudah menyimpan begitu banyak template hasil unduhan, bertubi-tubi saya mengganti template, ibarat membombardir perasaan dengan luka. Tsaaaah. Haha haha haha. Dan pada akhirnya saya harus gigit jari. Blog puisi itu kemudian rusak parah. Semua posnya tidak terbaca.

What the...?

Konsultasi sama Om Bisot, coba cari solusinya di sana sini, pada akhirnya diputuskan untuk membikin blog puisi baru. Terpaksa harus dilakukan karena otak saya sudah penuh sama diksi-diksi itu alias diksi-diksi itu harus segera keluar dari otak saya (menjadi tulisan). Saran Om Bisot, bikin dulu blog puisi baru, ekspor semua konten dari blog puisi lama ke blog puisi baru, barulah blog puisi lama dihapus. 

Okay, noted!

Maka saya mulai membikin blog (puisi) lagi. Lagi-lagi karena kata 'sekalian', kenapa tidak sekalian saya bikin blog puisi yang syarat bahasa daerah Ende atau Lio? Bertanyalah saya pada Om Ihsan, Achul, dan Kiki Arubone. Apa bahasa Ende, atau Bahasa Lio, dari kalimat: menyulam rasa? Kiki menjawab pesan WA dengan sangat lekas. Tetapi kemudian dia perlu berpikir agak lama untuk mencari padanan kata/kalimat yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan saya itu. Tentu saya menunggu. Karena, saya juga tidak mau salah menggunakan bahasa daerah pada blog. Lantas, jawaban dari Kiki itu datang bersamaan dengan suara Albus Dumbledore "good luck, Harry Potter" yang jadi ringtone pesan WA.

Ngana Ate!

Done. Judul blog Ngana Ate. Tautannya pun nganaate

http://nganaate.blogspot.com


Pertama-tama yang saya lakukan setelah Ngana Ate jadi, atau terdaftar di Blogger, adalah mengisinya dengan satu puisi baru dan mengambil tiga puisi dari blog puisi lama. Lantas, saya membikin semacam ilustrasi atau gambar untuk setiap puisi di Canva. Ini hampir tidak pernah saya lakukan di blog puisi lama. Biasanya cuma puisi saja tanpa gambar apapun. Berikutnya, saya coba mengganti template bernama Elegance. Aslinya, Elegance yang dibikin sama Way2Themes dan didistribusikan sama Gooyabi ini khusus untuk blog kecantikan. Tapi ketika saya melihat Elegance, rasanya cocok banget untuk jadi tampilannya Ngana Ate.

Angkut!

Alhamdulillah Elegance bisa dipakai di Ngana Ate. 

Langkah berikutnya, seperti biasa, mulai mengutak-atik tata letak dan elemen-elemen pendukung lainnya termasuk logo atau header. Canva sangat membantu saya pada proses kreatif membikin header (dan ilustrasi-ilustrasi setiap puisi). Voila! Begitu lekas publik dapat mengakses Ngana Ate. Memang saya promosikan hahaha. Tapi ... bagaimana dengan puisi-puisi di blog puisi lama? Apakah jadi saya mengekspor semuanya ke blog puisi baru?

Tidak. 

Saya tidak mengekspor semuanya. Saya hanya mengambil beberapa saja yang menurut saya bagus, dan tidak murni curhatan perasaan yang teraniaya *ditonjok dinosaurus*. Proses mengambil puisi lama itu memang cepat, tinggal kopi tempel, tapi proses mencari gambar yang cocok (di Canva) untuk dijadikan ilustrasi itu yang lama. Makanya kalau sekarang kalian berkunjung ke Ngana Ate, paling baru ada tiga puisi baru dan tiga puisi lama. Semoga kalian bisa menikmatinya.

Baca Juga: Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share

Pada akhirnya, saya harus kembali mengucapkan terima kasih pada Eko Saputra Poceratu, sang inspirator muda. Silahkan kalian nikmati juga karya-karyanya, agar jangan hanya saya saja yang terinspirasi, tapi kalian juga. Semoga blog puisi saya yang baru, Ngana Ate, pun dapat bertahan dan bisa terus saya perbarui seperti blog ini dan blog travel. Amin. Karena, berbagi itu tidak pernah merugi, dan berbagi itu indah. Hehe. Ayok, tuangkan diksi-diksi indah kalian dalam puisi! Ditunggu karyanya.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Ngana Ate Sebuah Blog (Puisi) Baru Yang (Terpaksa) Dibikin


Ngana Ate Sebuah Blog (Puisi) Baru Yang (Terpaksa) Dibikin. Kalau Jum'at kemarin kalian main-main ke sini, pasti tahu bahwa saya menulis tentang blog puisi yang itu. Yang judulnya Suara Hati. Adalah Eko Saputra Poceratu seorang Penyair dan/atau Sastrawan muda asal Maluku yang mengambil tempat begitu besar dalam suntikan inspirasi. Saya memang suka menulis puisi, tetapi puisi-puisi itu kebanyakan curhat dan seringkali hanya saya pribadi yang memahami. Padahal pakai Bahasa Indonesia! Bagaimana seorang Eko menulis dan menyuarakan puisi-puisinya yang kebanyakan menggunakan bahasa pergaulan sehari-hari Orang Maluku disisip bahasa daerah sana, dan dipahami secara universal, itu yang patut kita beri standing applause. Terima kasih, Eko, untuk karya-karyamu yang amazing.

Baca Juga: Sinyal Itu Sudah Ada Namun Awam Tak Pandai Membacanya

Memperbarui konten blog puisi itu sungguh mengasyikkan. Terutama jika memang ingin mengikuti jejak Eko. Menjadi seperti Eko jelas tidak mungkin. Namun, tanpa harus malu-malu, mengikuti jejak Eko itu se-su-a-tu yang mengasyikkan! Sumpah. Gara-gara itu, timbul pula keinginan untuk sekalian mengganti template lama yang dibikin khusus oleh Om Bisot itu, yang dikustom dengan tampilan wajah saya. Hehe. Alamaknya, karena memang sudah menyimpan begitu banyak template hasil unduhan, bertubi-tubi saya mengganti template, ibarat membombardir perasaan dengan luka. Tsaaaah. Haha haha haha. Dan pada akhirnya saya harus gigit jari. Blog puisi itu kemudian rusak parah. Semua posnya tidak terbaca.

What the...?

Konsultasi sama Om Bisot, coba cari solusinya di sana sini, pada akhirnya diputuskan untuk membikin blog puisi baru. Terpaksa harus dilakukan karena otak saya sudah penuh sama diksi-diksi itu alias diksi-diksi itu harus segera keluar dari otak saya (menjadi tulisan). Saran Om Bisot, bikin dulu blog puisi baru, ekspor semua konten dari blog puisi lama ke blog puisi baru, barulah blog puisi lama dihapus. 

Okay, noted!

Maka saya mulai membikin blog (puisi) lagi. Lagi-lagi karena kata 'sekalian', kenapa tidak sekalian saya bikin blog puisi yang syarat bahasa daerah Ende atau Lio? Bertanyalah saya pada Om Ihsan, Achul, dan Kiki Arubone. Apa bahasa Ende, atau Bahasa Lio, dari kalimat: menyulam rasa? Kiki menjawab pesan WA dengan sangat lekas. Tetapi kemudian dia perlu berpikir agak lama untuk mencari padanan kata/kalimat yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan saya itu. Tentu saya menunggu. Karena, saya juga tidak mau salah menggunakan bahasa daerah pada blog. Lantas, jawaban dari Kiki itu datang bersamaan dengan suara Albus Dumbledore "good luck, Harry Potter" yang jadi ringtone pesan WA.

Ngana Ate!

Done. Judul blog Ngana Ate. Tautannya pun nganaate

http://nganaate.blogspot.com


Pertama-tama yang saya lakukan setelah Ngana Ate jadi, atau terdaftar di Blogger, adalah mengisinya dengan satu puisi baru dan mengambil tiga puisi dari blog puisi lama. Lantas, saya membikin semacam ilustrasi atau gambar untuk setiap puisi di Canva. Ini hampir tidak pernah saya lakukan di blog puisi lama. Biasanya cuma puisi saja tanpa gambar apapun. Berikutnya, saya coba mengganti template bernama Elegance. Aslinya, Elegance yang dibikin sama Way2Themes dan didistribusikan sama Gooyabi ini khusus untuk blog kecantikan. Tapi ketika saya melihat Elegance, rasanya cocok banget untuk jadi tampilannya Ngana Ate.

Angkut!

Alhamdulillah Elegance bisa dipakai di Ngana Ate. 

Langkah berikutnya, seperti biasa, mulai mengutak-atik tata letak dan elemen-elemen pendukung lainnya termasuk logo atau header. Canva sangat membantu saya pada proses kreatif membikin header (dan ilustrasi-ilustrasi setiap puisi). Voila! Begitu lekas publik dapat mengakses Ngana Ate. Memang saya promosikan hahaha. Tapi ... bagaimana dengan puisi-puisi di blog puisi lama? Apakah jadi saya mengekspor semuanya ke blog puisi baru?

Tidak. 

Saya tidak mengekspor semuanya. Saya hanya mengambil beberapa saja yang menurut saya bagus, dan tidak murni curhatan perasaan yang teraniaya *ditonjok dinosaurus*. Proses mengambil puisi lama itu memang cepat, tinggal kopi tempel, tapi proses mencari gambar yang cocok (di Canva) untuk dijadikan ilustrasi itu yang lama. Makanya kalau sekarang kalian berkunjung ke Ngana Ate, paling baru ada tiga puisi baru dan tiga puisi lama. Semoga kalian bisa menikmatinya.

Baca Juga: Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share

Pada akhirnya, saya harus kembali mengucapkan terima kasih pada Eko Saputra Poceratu, sang inspirator muda. Silahkan kalian nikmati juga karya-karyanya, agar jangan hanya saya saja yang terinspirasi, tapi kalian juga. Semoga blog puisi saya yang baru, Ngana Ate, pun dapat bertahan dan bisa terus saya perbarui seperti blog ini dan blog travel. Amin. Karena, berbagi itu tidak pernah merugi, dan berbagi itu indah. Hehe. Ayok, tuangkan diksi-diksi indah kalian dalam puisi! Ditunggu karyanya.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Sinyal Itu Sudah Ada Namun Awam Tak Pandai Membacanya


Sinyal Itu Sudah Ada Namun Awam Tak Pandai Membacanya. Suatu saat mendadak saya menulis pos berjudul Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita. Meskipun tujuan utama tulisan itu terpanah pada ranah asmara namun ternyata tulisan itu berbentur dengan semua ranah kehidupan umat manusia. Saya sendiri terkejut ketika paragraf pertama mulai tertera kata 'bunga'. Bunga yang dicuri berikut wadahnya, tapi kemudian diganti dengan bunga lainnya. Bagian akhir dari tulisan itu adalah tentang mencoba-ikhlas alih-alih menulis tentang keihlasan. Karena, ikhlas merupakan ilmu paling tinggi dan saya masih belum bisa disebut ikhlas. Mencoba iklhas itu mudah dilakukan. Percayalah. Jauh lebih mudah dari ikhlas.


Kembali pada persoalan sesuatu yang bukan milik kita, yang kesemuanya adalah milik Allah SWT, manusia bisa apa? Manusia hanyalah penghuni semesta raya, bagian kecil dari ciptaanNya, yang bahkan menembus galaksi lain pun masih sulit dilakukan, kecuali di dalam filem. Kadang-kadang jadi kangen alien, haha. Manusia bahkan kadang sulit membaca sinyal kehidupannya sendiri. Setelah kejadian baru ngeh bahwa oooh ternyata kejadian ini pertandanya itu. Kalian sering bilang begitu? Selamat, kalian tidak sendirian. Ada saya juga haha.

Kalau saya menceritakan sinyal yang satu ini, kalian pasti bakal bilang, ah cuma mengaitkan saja lu, Teh. Tapi kalau saya pikir-pikir, sinyal ini memang merupakan sesuatu yang harusnya bisa saya baca sejak September 2019 kemarin, hanya saja karena saya ini awam, mana bisa mengejawantahkannya. Beuuuugh bahasanya. Andai saya punya indera ke-enam macam Cecilia Theresiana atau Naomi, kan asyik.

Sinyal yang saya maksudkan ini berkaitan dengan tugas. Percayakah kalian bahwa setiap manusia yang mengembara di dunia ini diberikan tugasnya masing-masing oleh Allah SWT? Tugas setiap manusia itu ibarat DNA, tidak sama pada setiap manusia. Misalnya tugas Claudio Valentino Dandut, adik angkat saya itu, adalah menjadi musuh bebuyutan saya. Setiap hari kerjaan kami di WA itu berantem melulu, curhat melulu, bagi permen melulu (saya), minta di-download-in video melulu (saya), bangunin saya setiap Senin pukul 05.30 Wita (dia), dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Ada pula Mas Yoyok Purnomo, yang tugasnya adalah menelan kejengkelan demi kejengkelan gara-gara tingkah resek saya.

Sama juga, sebagai manusia saya juga diberikan tugas oleh Allah SWT. Kalian tahu konsep sebuah tugas kan? Melaksanakan tugas artinya meninggalkan hal-hal lain yang bakal mengganggu tugas itu. Saya percaya bahwa tugas saya di dunia saat ini adalah untuk menjaga Mama dan dua keponakan yang tinggal bersama kami di Pohon Tua. Tugas itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya apabila ingin mendapat nilai menuju-sempurna. Tugas itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Oleh karena itu, ijinkan saya membagi catatan ini. Catatan yang saya bikin dengan segenap jiwa (ini bahasanya kayak orang bakal pergi perang).

Catatan 8 Desember 2019

Tumpeng nasi kuning dengan potongan-potongan ayam bakar, telur, tahu tempe, jumputan urap, dan aneka topping yang mengitari tumpeng itu, sudah terbayang di depan mata saya sejak Bulan November 2019. Pun sudah terbayang pula betapa lebar tawanya kalau cake ulang tahun berbentuk Ka'bah atau Silverqueen itu muncul dengan lilin menyala minta ditiup. Ah, beliau juga pasti bakal memeluk hadiah daster (pakaian kesukaannya) sambil mengelus si daster dengan gembira. Tapi saya tahu, kebahagiaan terbesarnya adalah dikelilingi oleh anak, cucu, dan cece. Mana pula dua cecenya, si Rara dan Syiva, pasti berulah konyol memantik tawa sekeluarga besar.

Bahkan, saya pernah menulis status, butuh pacar sewaan sehari saja pada tanggal 8 Desember 2019 untuk menghindari pertanyaan 'itu' dari keluarga besar yang Insha Allah selalu kumpul di Pohon Tua (nama rumah kami) pada tanggal kelahiran beliau. Saya ingin 8 Desember 2019 menjadi momen terbaik kami semua.

Baru-baru ini saya menulis tentang Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita. Tulisan yang saya ingat, saat 30 November 2019 beliau kehilangan satu-satunya indera penglihatan, setelah indera penglihatan yang lain direnggut pada tahun 2016 silam. Tulisan yang baru saya sadari bahwa sudah sejauh itu saya paham konsep semesta. Kita tidak bisa mempertahankan apapun yang bukan milik kita. Karena semuanya adalah milik Allah SWT. Termasuk penglihatan.

30 November 2019 beliau kehilangan penglihatannya. Sedih, iya. Tapi kami sekeluarga harus bisa menerimanya. Saya pribadi memandang ini sebagai apa yang bukan hak milik. Pasrah? Tidak. Kami sekeluarga tentu berupaya demi beliau yang kami panggil Mama, Amak, Mamatua, Oma. Sekecil apapun kemungkinan pulih, manusia tidak boleh berhenti berikhtiar dan berdoa.

Beliau memang kehilangan penglihatannya. Namun, beliau dianugerahi begitu banyak mata: anak, cucu, cece. Bahkan orang-orang lainnya. Saya menulis: she can't see us. Tapi adek saya Tino menulis: she can't see you all with her eyes, but heart do. Demikian pula ... Beliau mampu merasakan 'mata' itu lewat sentuhan dan elusan pada pundaknya. Juga suara yang bergema saat berbicara.

Melangkahkan terus, Ma. Bahkan seratus ribu langkah lagi. Jangan pernah takut jatuh. Karena, Mama punya banyak mata yang menuntun. Karena, Mama punya banyak tangan yang menopang. Melangkahlah terus, Ma. Meskipun tidak akan sama persis dengan saat Mama melatih kami berjalan dulu, tapi kami akan selalu ada untuk Mama. Menuntun dan menopang. Dan, Allah SWT tentu akan selalu melindungi Mama.

Life is good.

Isn't it?

Baca Juga: Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae

Catatan di atas juga sudah saya pos di Facebook dan share di WAG keluarga. Keponakan saya Mbak In, dan sahabat rasa saudari saya si Mila Wolo, bahkan sudah lebih dulu mengeposnya di media sosial mereka. Ya, di Facebook. Mungkin banyak yang bakal bilang saya lebay. Tapi percayalah, menjauhnya sekian banyak prince-not-charming dalam waktu berdekatan, tsaaaaaah, saya anggap sebagai sinyal yang tidak mampu dibaca oleh saya sebagai awam. Saya percaya, tugas saya masihlah yang saat ini diberikan oleh Allah SWT dan itu merupakan anugerah. Jadi, itu tidak saya anggap sebagai tugas saja, melainkan sebagai anugerah.

Semoga kalian paham hahaha.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share


Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share. Sudah sering saya tulis, emoh alias berhenti untuk bergabung sama komunitas manapun juga. Saatnya solo karir. Komunitas terakhir yang saya ikuti, termasuk founder, adalah Stand Up Comedy Endenesia. Ternyata jiwa saya memang belum bisa sepenuhnya terurai dari komunitas. Terus, kapan membina komunitas bernama rumah tangga, Teh? Ketika diajak untuk membentuk komunitas baru, saya fine-fine saja, bahkan sangat antusias. Ya, selama tujuan komunitas itu baik, dan rata-rata semua komunitas bertujuan baik, kenapa tidak? Hari ini saya mau bercerita tentang komunitas baru yang satu ini. Namanya Exotic NTT Community. Jargonnya: Travel. Explore. Share.

Baca Juga: Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa saya mau bergabung bersama komunitas dengan fokus pada wisata? Bukannya saya sendiri sudah punya blog niche traveling/wisata? Kalian kepo kan? Marilah dibaca. Karena membaca adalah makanan intelektualitas. Ha ha ha ha *ditabok dinosaurus*.

House of Creative People


Suatu malam saya dihubungi David Mozzar. Konon David, Oedin, dan Arand bakal datang ke  Pohon Tua (rumah saya). Ada sesuatu yang harus dibahas. Ketika kami sedang saling tatap penuh cinta di ruang tamu, haha, tersampaikanlah maksud kedatangan mereka. Intinya: kami membentuk komunitas yang dapat mewadahi orang-orang kreatif baik orang-orang yang sedang berjuang maupun yang sebenarnya sudah expert di bidangnya masing-masing. Why not? Pikir saya. Ini bakal keren sekali. Ada satu wadah besar yang bakal menampung semuanya. Sub-sub yang bakal berada dalam wadah itu datang dari lini videografi, fotografi, mural dan sketsa, MC, media and digital issues, stand up comedy, dan lain sebagainya.

Nama yang dipilih, dan dirasa pantas, untuk komunitas tersebut adalah House of Creative People. Alasannya? Kalian tentu sudah tahu. Kami mulai merancang ini itu, termasuk orang-orang yang direkomendasikan untuk duduk pada sub-sub dimaksud. Tetapi dalam perjalanan nama itu kemudian harus diganti sesuai dengan fokus komunitas. Karena, House of Creative People itu too large. Eh, pokoknya begitulah. Sehingga diperkecil lah komunitas itu menjadi Exotic NTT Community. Sebuah komunitas dengan lokus pada wisata. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk bergerak di lini lainnya sesuai tujuan awal House of Creative People. Insha Allah.


Sampai di sini, kita sepemahaman ya, bahwa House of Creative People telah berganti menjadi Exotic NTT Community. Sebuah nama yang untuk menetapkannya membutuhkan waktu berjam-jam, diskusi dan debat ringan, termasuk untuk jargonnya. Travel. Explore. Share. Dan empat sub yang ditetapkan adalah Tim Kreatif, Videografi, Fotografi, dan Publikasi.

Exotic NTT Community


Exotic NTT Community baru berumur sekitar dua mingguan. Sambil menyelesaikan beberapa perkara, kami memulai geliat komunitas melalui berbagai media sosial. Youtube, IG, Twitter, dan Facebook. Tentu saja. Kami memulai dengan caption berikut ini:

Tergerak dari keinginan untuk mempromosikan lini pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta menggeliatnya Pemerintah Provinsi NTT dalam meningkatkan kualitas dan promosi pariwisata, sekelompok anak muda yang berbasis di Kabupaten Ende, Pulau Flores, membentuk komunitas. Komunitas tersebut bernama Exotic NTT Community. Geliat pariwisata ibarat birahi yang tak terbendung dan membutuhkan lebih banyak pelaku pariwisata, salah satunya Exotic NTT Community, dengan lokus memperkenalkan dan mempromosikannya pada dunia.

Semesta wisata NTT kaya raya. Wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, wisata rohani, wisata kuliner, wisata bahari, wisata buatan. Tak hanya dua ikon kesohor Danau Kelimutu dan Pulau Komodo saja, masih banyak yang harus diketahui dunia dari Provinsi NTT. Desa Nangadhero di Kabupaten Nagekeo yang terkenal dengan wisata kuliner (seafood), Neren Watotena di Pulau Adonara yang berpasir putih memesona, Bukit Wairinding di tanah Sumba, wisata religi Semana Santa di Kabupaten Flores Timur, padang sabana Gunung Mutis di Mollo Utara, hingga Alu Ndene kuliner khas Suku Ende yang legit.

Exotic NTT Community akan menghadirkan semuanya, dalam detail informasi yang dibutuhkan oleh penikmat wisata.

Ikuti Kami!

IG: @ExoticNTTCommunity
Twitter: @ExoticNTTCommunity

#ExoticNTTCommunity
#NTT
#Wisata
#Pariwisata

Selain itu kami memulai WAG yang menjadi semacam tempat diskusi untuk kegiatan-kegiatan komunitas selain di rumah saya atau di rumah member lainnya. Memangnya sudah ada kegiatannya? Iya dooonk. Mengunggah foto dan informasi ke media sosial merupakan kegiatan yang patut diapresiasi karena untuk melakukannya kami harus berdikusi panjang lebar terlebih dahulu tentang konten yang bersangkutan. Foto, tentu di luar video yang bakal tayang di Youtube.

Diskusi?

Iya.


Komunitas ini bukan dilandasi oleh keinginan untuk sekadar ikut-ikut ramai di lini pariwisata. Kami ingin lebih serius, bahkan bisa sampai detail akan sesuatu, misalnya detail ukiran pada rumah adat itu apa makna atau fisolofinya. Setiap kami juga gemar traveling dan mempunyai begitu banyak stok foto dari daerah pariwisata yang pernah dikunjungi. Oleh karena itu kami selalu melempar pertanyaan dasar: mau pos apa hari ini? See? Kami tidak asal-asalan, misalnya melihat foto bagus, langsung unggah ke media sosial. Pertanyaan dasar itu kemudian berlanjut pada sahutan: Ende, Nagekeo, TTS, Sumba, atau ...? Dari situ foto tentang daerah/kabupaten yang dipilih kemudian dilempar ke WAG. Tinggal pilih mau yang mana, diberi tanda air, dan caption disiapkan dengan, insha Allah, sebaik-baiknya.

Tidak ada yang main-main di Exotic NTT Community. Setiap orang punya perannya masing-masing dan berupaya semaksimal mungkin memberikan yang terbaik pada khalayak. Sehingga kami tidak terburu-buru, tidak ingin langsung besar, tetapi ingin melewati proses. Nikmat kan? Hehe.

Untuk saat ini kalian bisa menikmati foto dan informasi pariwisata NTT melalui akun IG, Twitter, dan Facebook. Youtube, terutama kontennya, sedang dipersiapkan, baru tampil video intro saja. Selain berlandaskan pada pengalaman traveling masing-masing member, kami juga telah membikin program kerja. Untuk program kerja, setiap sub yaitu Videografi, Fotografi, dan Publikasi, harus berkomunikasi dengan satu sub lagi yang bernama Tim Kreatif. Program kerja komunitas ini tidak melulu tentang apa yang bakal dipos di media sosial saja melainkan juga tentang mau ke mana kita dalam kaitannya memproduksi konten baru. Ah, membayangkannya saja sudah bikin saya bahagia. Haha.


Doakan, rencana-rencana ke depan, jauh lebih besar, dapat terwujud. Karena, komunitas ini sudah kami anggap sebagai investasi jangka panjang yang perlu dirawat. Semua member merupakan orang-orang hebat, kecuali saya. Saya tidak hebat, tapi biasa saja, hahaha. Dan orang-orang hebat dapat bersatu mewujudkan harapan apabila ego disingkirkan jauh-jauh. Saya pikir kalian juga setuju. Ego itu kadang mampu menghacurkan. Termasuk menghancurkan hubungan asmara. Eaaaaa. Haha.

Travel. Explore. Share.


Secara pribadi saya suka jargon yang satu ini. Sempat berpikir, kenapa dulu waktu saya membikin blog travel, tidak memakai jargon ini saja ya? Hihi. Ini jargon: singkat, padat, jelas, tersampaikan. Seperti veni, vidi, vici, dalam makna positif. Kita tahu kan veni, vidi, vici itu jargon perangnya Julius Caesar, jenderal dan konsul Romawi pada tahun 47 SM. Julius Caesar menggunakan kalimat ini dalam pesannya kepada senat Romawi menggambarkan kemenangannya atas Pharnaces II dari Pontus dalam pertempuran Zela. Tapi, waktu saya mencetus travel, explore, share, tidak ada keinginan untuk mengalahkan siapapun dalam konteks negatif dan/atau persaingan, tetapi murni hanya ingin mengalahkan rasa ingin tahu orang lain tentang pariwisata NTT.

⇜⇝

Bagi kalian semua, bos-bos tercinta yang senantiasa membaca tulisan saya di blog ini, mari dukung Exotic NTT Community. Ikuti kami di Youtube, Instagram, Twitter, Facebook.


Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Terakhir, mari sama-sama dukung semua pihak yang mempromosikan pariwisata NTT dengan namanya masing-masing, dengan caranya masing-masing, karena semua itu bertujuan baik. Demi NTT tercinta.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae


Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae. Kamis, 21 November 2019, saya bertemu Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Flores (Uniflor) yaitu Pak Roni di depan pintu ruang kerja Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif). Baru saya tahu kalau Prodi Sastra Inggris pada fakultas yang beliau pimpin hendak melakukan kegiatan English Week di Kelurahan Natanage, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Pak Roni bertanya apakah permintaan meliput harus mengirimkan surat kepada UPT Publikasi dan Humas? Untuk situasi yang mendesak, karena rombongan akan berangkat dua jam lagi, saya bilang surat boleh menyusul dan saya akan berangkat ke sana namun beda waktu alias menyusul.

Baca Juga: Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik?

Hari itu saya masih harus menyelesaikan dua berita untuk dipublis, menyelesaikan satu dua pragraf proposal yang hendak diambil, serta menyimpan beberapa foto. Tapi sebelumnya, saya sudah selesaikan packing pakaian dan keperluan lainnya, dan Thika Pharmantara sudah membantu saya mengganti oli serta mengisi bensin Onif Harem. Pukul 14.35 barulah saya berangkat ke arah Barat Pulau Flores. 

English Week


English Week merupakan kegiatan rutin Prodi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Sastra, Uniflor. Ini merupakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pada fakultas lain, kegiatan PKM rutin ini punya nama berbeda, misalnya Fakultas Hukum menamai kegiatan PKM dengan Study Tour. Meskipun judulnya week (minggu atau seminggu) tapi kegiatannya tidak penuh seminggu alias tujuh hari. English Week dimulai Kamis dan berakhir Minggu. Dan baru kali ini saya meliput langsung kegiatan English Week. Alasan paling utama adalah kegiatan ini ditetapkan sebagai bagaian dari kegiatan menyongsong Panca Windu Uniflor di tahun 2020 nanti.


Setelah perjalanan yang mulus, karena sebagaian besar ruas jalan yang kemarin-kemarin diperbaiki sudah selesai, saya tiba di Kantor Kelurahan Natanage pukul 16.30 Wita. Iya, perjalanan saya tempuh sekitar dua jam. Penyambutan dan pembagian tempat tinggal peserta English Week dilakukan di Aula Lantai II Kantor Kelurahan Natanage. Setiap mahasiswa dibagi per Rukun Tetangga (RT) beserta dosen dan karyawan. Setiap RT menampung enam hingga sembilan peserta. Sedangkan saya memilih untuk menginap di Wisma Nusa Bunga yang letaknya sangat dekat dengan Kantor Kelurahan Natanage, tepat di depan Kantor BRI.


Kegiatan-kegiatan English Week antara lain: diskusi, kerja bakti, knowledge service, pentas seni, dan berbagai lomba lainnya. Saya sangat menyukai kegiatan-kegiatan English Week tersebut. Inilah yang dinamakan bekerja dan bersenang-senang sekaligus. Haha. Terutama pada kegiatan knowledge service itu, selingan antara satu materi dengan materi lainnya diisi dengan nyanyian oleh murid-murid SMPSK Kota Goa. Dan mereka sungguh mengejutkan saya!

Kejutan #1: Sistem Belajar Outdoor


Jum'at, 22 November 2019, saya meliput kegiatan seminar dan workshop atau disebut knowledge service yang diselenggarakan di SMP Swasta Katolik (SMPSK) Kota Goa, tepatnya di ruang perpustakaan. Letak sekolah ini sekitar dua kilometer dari Kantor Kelurahan Natanage. Oh ya, peserta kegiatan knowledge service adalah perwakilan guru SMP dan SMA yang ada di Kecamatan Boawae dengan pemateri salah satunya Rektor Uniflor Bapak Dr. Simon Sira Padji, M.A. Yang mengejutkan saya saat berjalan dari parkiran menuju perpustakaan adalah sekelompok murid dan guru yang sedang melakukan kegiatan belajar-mengajar di bawah pohon rindang yang dilengkapi dengan bangku-bangku taman. Ausam!


Ini mengejutkan saya, pribadi. Sungguh. Murid-murid, meskipun belajar di luar ruangan, terlihat tetap serius mendengarkan informasi yang disampaikan oleh guru mereka. Tertib! Saya memang belum menggali lebih dalam informasi tentang SMPSK Kota Goa. Tetapi kalau boleh saya simpulkan, sekolah ini semacam sekolah favorit, sekolah contoh, dengan sistem pembelajaran yang luar biasa, serta didikan kedisiplinan yang sangat tinggi terhadap peserta didik.

Kejutan #2: Penyanyi Bersuara Berlian


Mana pernah saya sangka bahwa di daerah seperti Kecamatan Boawae tersimpan talenta dalam dunia tarik suara. Usai materi dari Rektor Uniflor, dua murid perempuan tampil di hadapan peserta knowledge transfer membawakan dua lagu keren. Saya sangat terkejut karena lagu yang dinyanyikan itu bukan lagu-lagu yang sering dipilih oleh murid SMP dan SMA yang umumnya lagu-lagu Indonesia yang rata-rata mudah dinyanyikan a la akustik. Banyangkan saja betapa senangnya saya ketika mereka dengan sempurna menyanyikan Something Just Like This dari The Chainsmokers! Disusul Mahadewi dari Padi.


Suara mereka, kata saya, kalau saya juri The Voice, langsung pencet tombol biar kursinya langsung berputar! Hehe. Sayangnya saya tidak sempat memotret waktu mereka bernyanyi, adanya cuma video, hehehe.

Lagu berikutnya, setelah materi tentang Edmodo yang disampaikan oleh Pak Roni, adalah ... 2002 dari Anne Marie, Brave-nya Sara Bareilles, dan satu lagu lama milik Obbie Mesakh berjudul Kisah Kasih di Sekolah. Saya, sekali lagi, terkejut pada pilihan lagu mereka yang tidak biasa. Mereka tidak memilih lagu-lagu yang sendang hits saat ini dan menampilkannya dengan sempurna. Siang itu saya bersyukur karena telah melakukan pilihan tepat: meliput kegiatan English Week! Meskipun jauh dari Kota Ende, tapi sepadan dengan apa yang saya alami.


Boleh saya simpulkan, selain sistem pembelajaran yang luar biasa bagus, murid-murid juga digembleng melalui ekstrakurikuler, tentu sesuai minat dan bakat, dengan super serius sehingga menghasilkan penampilan yang supa amazing

Kejutan #3: R-Musth


Kejutan yang satu ini memang tidak berasal dari kegiatan English Week melainkan kegiatan pribadi saya hahaha. Di Kecamatan Boawae, di depan Kantor Kelurahan Natanage, saya bertemu Raiz Muhammad yang aslinya berdomisili di Kota Mbay. Heran juga, kenapa Raiz berada di Boawae? Ternyata Raiz sedang membantu kakaknya mengelola usaha si kakak, karena si kakak sedang ke luar kota. Sedangkan usaha Raiz yang berada di Kota Mbay dijagain oleh adiknya. Wah, keluarga mereka sungguh menerapkan sistem tolong-menolong. Hahaha. Dari situ kami janjian untuk nongkrong di sebuah kafe, rekomendasinya Raiz. Nongkrongnya malam hari donk, setelah kegiatan liputan selesai dilakukan. 


Kamis malam, iya malam Jum'at, saya dibonceng Viktor mengekori Raiz menuju kafe bernama R-Musth. R-Musth terletak di pinggir jalan utama, Trans-Flores, dengan papan nama yang memudahkan kalian jika ingin pergi ke sana juga, serta berkonsep setengah dinding. Karena berkonsep setengah dinding, tidak dibutuhkan jendela apapun. Hehe. Pemilik R-Musth bernama Mustofa/Mustafa, lelaki berwajah Jawa dengan ciri khas topi fedora atau bowler begitu. Orangnya ramah pun. Kata Raiz, meskipun berdarah Jawa tapi Mustafa dan keluarganya sudah dianggap sebagai Orang Boawae. Mustafa sendiri lahir dan besar di situ.


R-Musth menawarkan aneka kopi, khas kafe a la anak muda, tetapi tidak lupa makanannya juga. Salah satu makanannya adalah nasi goreng. Favoritnya Raiz nih! Hehe. Saya dan Raiz memesan cappucino (espresso dengan susu dan busa susu yang tebal), sedangkan Viktor memesan susu panas. Penambal perut, kami memesan nasi goreng. Yuuuuhhhh nasi gorengnya enak sekali sampai saya bilang: kalau si Thika Pharmantara menetap di Boawae, setiap malam dia pasti makan di R-Musth! Haha. 



Kejutan ke-tiga ini masih berlanjut ketika setelah Raiz pamit pergi membeli rokok dan kembali bersama seorang lelaki bernama Sam (Sampeth). Ndilalah, Sam adalah adik kandungnya Ruztam, sahabat karib saya sejak zaman SMA, si pemilik Nirvana Bungalow di Riung! Sepertinya dunia memang sangat sempit. Dan malam itu kami mengobrol dan mendiskusikan banyak hal. Saya selalu suka berdiskusi, dengan siapapun, terutama dengan anak muda yang 'bergerak' demi kemajuan, baik kemajuan diri sendiri maupun kemajuan lingkungannya. Dan saya sangat bersyukur malam itu bisa melakukannya bersama Raiz, Viktor, dan Sam. Anyhoo, terima kasih Raiz atas traktirannya!

⇜⇝

Kegiatan English Week masih berlanjut hingga Sabtu, 23 November 2019. Hari Minggu, 24 November 2019, peserta berwisata ke Ae Sale Mengeruda atau dikenal dengan nama Air Panas Soa (baca: So'a). Sedangkan saya sendiri pada Jum'at sore sudah ngegas ke Kota Mbay untuk suatu urusan dan kembali ke Kota Ende pada Sabtu pagi. Tentu, di Kota Mbay saya bertemu Bruno Rae, sahabat karib masa SMA (sama kayak Ruztam) dan ditraktir di El Cafe.

Well, ini perjalanan pekerjaan yang menyenangkan bukan? Termasuk yang penuh kejutan.

Mau lagi?

Mau donk ... akhir November! Haha.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik?


Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik? Jum'at, 8 September 2019, Panitia Panca Windu Universitas Flores (Uniflor) kembali menggelar kegiatan menjelang hari baik di tahun 2020 nanti. Bakti sosial yang turut mendukung program Jum’at Bersih oleh Pemerintah Kabupaten Ende tersebut dilaksanakan di empat kelurahan pada wilayah Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, yaitu Kelurahan Potulando, Kelurahan Kelimutu, Kelurahan Paupire, dan Kelurahan Onekore. Sejumlah dua ribu peserta bakti sosial yang dibagi lima ratus peserta per kelurahan diperkuat oleh dosen, karyawan, mahasiswa, perwakilan komunitas, dan masyarakat setempat. Untuk itulah saya harus bangun sedini mungkin sehingga gayung kamar mandi pun mengerut kening dan bertanya: benarkah kau bangun jam segini? Hehe.

Baca Juga: Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya

Seremoni pembukaan kegiatan tersebut dilaksanakan di Perempatan Wolowona (sisi Timur) pada pukul 07.00 Wita, dihadiri oleh Bupati Ende Drs. Djafar Achmad, Sekretaris Daerah Kabupaten Ende Dr. dr. Agustinus G. Ngasu, Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. beserta jajaran Wakil Rektor, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt., Ketua Panitia Panca Windu Uniflor Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum., Dekan se-lingkup Uniflor, Unsur Forkompinda, perwakilan ASN, POLRI dari Polres Ende, serta tamu undangan. Pada lokasi seremoni pembukaan juga dipajang beraneka rembi (tas/keranjang anyaman) yang diperkenalkan selain sebagai hasil karya kerajinan tangan juga sebagai wadah belanjaan yang harus mampu menggantikan tas belanjaan plastik atau tas kresek alias kalau diubek-ubek tas plastik ini menimbulkan suara: kresek.

Bapak Bupati Kabupaten Ende, Bapak Djafar, membeli tikar anyaman dan sebuah rembi mini, usai seremoni pembukaan.

Bapak Bupati Kabupaten Ende, Bapak Djafar, memakai rembi mini.

Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Rektor Uniflor dan Bupati Ende, dilanjutkan dengan penekanan tombol sirine sebagai tanda launching. Tema yang diangkat adalah Go Clean: Reduce, Reuse, Recycle, Re-Design, Re-Imagine.

Apa itu rembi? Dan mengapa benda ini dipercaya mampu menggantikan peran tas belanjaan plastik?

Marilah ... dibaca.

Rembi


Rembi merupakan nama dari wadah anyaman berbahan alami yang merujuk pada tas/keranjang. Abang Oir Rodja pernah menulis tentang Seni Anyam Ende Lio yang khusus membahas ... ya membahas seni anyaman Ende Lio donk. Hehe. Rembi merupakan salah satu dari seni anyaman tersebut. Bahan-bahan yang dipakai untuk membikin rembi dari yang saya lihat pada Jum'at kemarin itu antara lain daun lontar dan bilah bambu tipis (khusus untuk keranjag berukuran raksasa). Tapi dari blog Abang Oir saya membaca nama bahan lain yaitu kulit bambu muda, wunu re’a/daun pandan hutan; wunu koli/daun lontar; kulit bhoka ino; ngidho; ua; taga; tali eko



Selain rembi, seni anyaman ini banyak jenisnya dan yang saya tahu sejak dulu itu bernama wati sebagai wadah yang sering dipakai para ine/mama menyimpan sirih, pinang, dan lain-lain keperluan. Bahkan saya punya donk sejenis wati, tapi tanpa tutupan, buat menyimpan barang-barang kecil. Jenis lainnya yang saya baca dari blog Abang Oir antara lain mbola-mbola, kadhengga, kidhe, kadho, kopa, mboka wati, lepo, kiko, raga, wuwu, ola bau, kata, dan lain sebagainya. Saya pernah tahu kidhe ini, ketika kidhe menjadi salah satu tema yang diangkat dalam Lomba Mural Triwarna Soccer Festival awal tahun 2019. 

Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Pastik?


Ini pertanyaan penting karena punya tujuan majemuk. Pertama: rembi akan mengurangi sampah plastik di negeri ini. Kedua: rembi akan mendongkrak perekonomian masyarakat khususnya para pengrajin. Ketiga: rembi menjadi salah satu ikon (wisata) budaya yang diburu oleh wisatawan selain tenun ikat yang kesohor hingga penjuru dunia. Tapi, kembali ke pertanyaan awal tadi: mampukah?

Orang pesimis pasti akan bilang: tidak! Tapi orang optimis pasti akan bilang: ya, mampu!

Rembi Mengurangi Sampah Plastik


Jujur saja, sebelum kegiatan baksos dengan salah satu agenda mengangkat rembi sebagai tas/keranjang belanjaan pengganti tas belanjaan plastik, awal September 2019 saya sudah mendengar terlebih dahulu dari Bapak Bupati Nagekeo, Bapak Don, tentang kearifan lokal yaitu penggunaan tas anyaman alih-alih menggunakan tas plastik sebagai media untuk membawa barang belanjaan. Rembi, jika betul dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Ende khususnya para mama saat berbelanja di pasar, niscaya mampu mengurangi sampah plastik. Lagi pula rembi dibikin untuk dua jenis belanjaan. Ada rembi khusus belanjaan basah seperti ikan dan/atau daging, hingga sayuran. Ada rembi khusus belanjaan kering seperti aneka bumbu dapur. Tapi, tentunya para mama lebih suka membeli rembi khusus belanjaan basah karena bisa disatukan dengan belanjaan kering: bawang, cabai, lengkuas, merica, yang umumnya dibungkus ... plastik. Hiks.


Lagi, jujur saja, sebelum kegiatan baksos dengan salah satu agenda mengangkat rembi sebagai tas/keranjang belanjaan pengganti tas belanjaan plastik, menurut pengamatan saya, sudah banyak mama yang menggunakan keranjang plastik reuse yang kuat dan tahan banting sekaligus mengurangi pemborosan membeli tas belanjaan plastik. Artinya tas belanjaan plastik tidak terlalu banyak digunakan di pasar-pasar tradisional bukan? Lantas di mana? Di supermarket! Oleh karena itu, kampanye menggunakan rembi ini harus dilakukan di semua lapisan perbelanjaan baik yang tradisional maupun yang moderen. Suatu saat, pasti ada yang ke supermarket membawa rembi, dititip di tempat penitipan barang, kemudian saat selesai belanja semua belanjaan akan dimasukkan ke rembi alih-alih tas belanjaan plastik berlogo supermaret tersebut.

Salah seorang mama, baru pulang berbelanja dari Pasar Wolowona, melintas di lokasi seremoni pembukaan, menenteng keranjang belanjaan plastik.

Bisa?

Bisa donk. Saya sudah melakukannya. Bukan rembi, melainkan backpack. Kecuali belanjanya untuk keperluan satu bulan, itu memang butuh kardus. Haha.

Yang perlu diingat adalah, tas belanjaan plastik bukan satu-satunya penghasil sampah plastik di semesta raya. Masih ada botol dan gelas bekas minuman. Itu yang paling nyata terlihat saat hujan turun dan aliran air menghantar sampah hingga ke tepi pantai. Bagaimana untuk mengatasinya? Bawalah tumbler atau botol air minum sendiri dari rumah alih-alih membeli air minum kemasan. Selain keren sekaligus berhemat.

Rembi Mendongkrak Perekonomian


Keterkaitan ini jelas tidak bisa dibantah. Umumnya rembi dibikin oleh pengrajin yang tergabung dalam kelompok tertentu. Jum'at kemarin, rembi-rembi yang dipajang merupakan hasil kerajinan tangan dari Kelompok Karya Ibu. Kelompok ini juga sudah digandeng Dinas Koperasi Kabupaten Ende.


Apabila rembi betul mampu mengganti tas belanjaan plastik, otomatis perekonomian para pengrajin pun terdongkrak. Ini akan sangat bagus! Meskipun untuk mewujudkannya, memang, dibutuhkan kesadaran awal yaitu penggunaan plastik harus dikurangi meskipun plastik memang jauh lebih praktis.

Rembi Sebagai Ikon (Wisata) Budaya


Dari hasil status saya tentang rembi di Facebook, ada teman-teman yang bertanya tentang rembi, pengen punya juga. Soalnya kan selain disediakan rembi untuk belanjaan di pasar, ada pula rembi dengan model kekinian yang imut dan lucu bikin gemas siapapun yang melihatnya. Seperti yang dipakai Bapak Bupati Kabupaten Ende. Saya punya satu rembi yang dikasih sama pengungsi korban erupsi Gunung Rokatenda dari Pulau Palu'e.

Rembi hadiah dari pengungsi. Hehe.

Kalau yang ini wadah anyaman dari Pulau Sumba.

Rembi niscaya mampu menjadi ikon (wisata) budaya dari Kabupaten Ende karena siapa sih yang tidak mau punya oleh-oleh khas suatu daerah berharga murah, dapat dimanfaatkan sehari-hari, dan membikin pemakainya terlihat beda dan bergaya? Semua orang juga pasti mau! Termasuk saya. Sayangnya Jum'at kemarin saya tidak sempat membeli rembi karena sudah terlalu banyak orang berkerumun ingin membeli juga, dan saya toh sudah punya rembi sendiri hadiah dari pengungsi. Hehe. Oh ya, harga rembi bervariasi sesuai ukuran, model, dan tingkat kesulitan modifikasinya. Dipatok mulai dari Rp 50K hingga ratusan ribu.

⇜⇝

Baca Juga: Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba

Menjawab pertanyaan besar di tulisan ini, mampukah rembi menggantikan peran tas belanjaan plastik? Insha Allah mampu. Asalkan ada kesadaran dari kita semua, ada daya juang dari kita semua, untuk bersama-sama bertekad mengurangi sampah plastik yang secara masif sudah semakin menghancurkan bumi kita. 

Bagaimana menurut kalian, kawan?

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya


Parade Akbar Ini Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya. Jum'at, mengawali Bulan November 2019, Universitas Flores (Uniflor) menggelar kegiatan launching Panitia Panca Windu Uniflor 2020 yang bertepatan dengan pembukaan turnamen sepak bola Ema Gadi Djou Memorial CUP (EGDMC) 2019. Rangkaian kegiatan Panca Windu Uniflor dibuka dengan Parade Budaya yang diselenggarakan besar-besaran dengan rute dimulai dari Kilometer 0 di Jalan Soekarno dan berakhir di Stadion Marilonga lokasi opening ceremony dan laga EGDMC dilaksanakan. Parade Budaya tersebut merupakan salah satu bukti dari visi dan/atau Uniflor menunjukkan dirinya sebagai mediator budaya. 

Baca Juga: Dari Kuliah Umum Sampai My Best Friend's Wedding

Seperti apa kemeriahannya? Cekidot!

16 Program Studi Menampilkan Yang Terbaik


Sesuai dengan namanya, Parade Budaya, maka enam belas program studi (prodi) yang ada di Uniflor telah berupaya menampilkan yang terbaik. Oleh panitia, setiap prodi diatur/dibagi berdasarkan etnis dan/atau kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pembagian ini tidak main-main, setiap prodi wajib menghiasi kendaraan yang rata-rata adalah pick up dengan ikon dari etnis yang sudah dibagi tersebut. Ada prodi yang mendapat jatah miniatur Gedung Rektorat Uniflor, ada pula yang mendapat jatah etnis dari seluruh Nusantara alias bukan dari etnis tertentu di Provinsi NTT. Selain pembagian jatah etnis, setiap prodi juga wajib mengikutsertakan mahasiswa/i sejumlah tujuh puluh lima, dosen, dan pegawai. Sebagian peserta mengenakan pakaian daerah dari etnis yang telah dijatahkan tersebut, sebagian lagi mengenakan kaos berwarna kuning.


Yaaaa sebagai Presiden Negara Kuning, saya akui bahwa tanggal 1 November 2019 menjadi moment pertama Hari Raya Kuningers. Hari Kemerdekaannya jatuh pada tanggal 12 Oktober. Haha.


Sungguh meriah Parade Budaya itu. Lihat saja, Prodi Ilmu Hukum dari Fakultas Hukum menampilkan ikon Kabupaten Manggarai Barat yaitu hewan komodo:

Komodonya yang di atas pick up, ya. Jangan salah fokus. Hahaha.

Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menampilkan ikon ikan paus dari Kabupaten Pulau Lembata:


Prodi Sastra Inggris dari Fakultas Bahasa dan Sastra menampilkan kuda dari Pulau Sumba:


Prodi Pendidikan Biologi dari FKIP menampilkan gading yang merupakan ikon dari Kabupaten Flores Timur dan tentu saja ada jagung titi yang saya embat juga:


Prodi lainnya seperti Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menampilkan Tarian Caci dari Kabupaten Manggarai, Prodi Agroteknologi selain menghias kendaraannya dengan berbagai hasil bumi pun menampilkan tarian modifikasi proses tanam pagi hingga panen, Prodi Teknik Arsitektur menampilkan miniatur Gedung Rektorat Uniflor, Prodi Teknik Sipil menampilkan topi Ti'i Langga khas dari Pulau Rote, dan lain sebagainya.


Pada beberapa titik penilaian yel-yel, yang dilombakan, beberapa prodi menampilkan atraksi tarian. Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menampilkan Tarian Caci di titik penilaian puncak Jalan Sudirman:


Prodi Agroteknologi, seperti yang sudah saya tulis di atas menampilkan tarian modifikasi:


Dan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan tarian berburu paus. Khusus tarian berburu paus ini, juga dijelaskan dengan bahasa adat dan bahasa Indonesia bahwa paus yang diburu itu ada klasifikasinya. Paus yang tidak boleh diburu antara lain paus biru dan paus yang sedang mengandung.

Saya lihat, apa yang sudah dilakukan oleh setiap prodi ini memang sungguh luar biasa. Bagi saya pribadi. Artinya, tidak ada yang main-main atau tidak ada yang ala kadarnya di Uniflor. Semua bertanggungjawab untuk bisa memberikan terbaik dan maksimal.


Belajar dari itu.

Percayalah, seperti nasihat Bapa Asmady: segala sesuatu yang setengah-setengah tidak akan membawa hasil kecuali karena keajaiban saja. Segala sesuatu yang dilakoni sungguh, membawa hasil yang supa amazing. Seperti kegiatan kemarin. Supa amazing.

Opening Ceremony Dengan 1.750 Penari


Pukul 18.30 Wita, kegiatan opening ceremony dimulai di Stadion Marilonga. Stadion kebanggaan kami Orang Ende. Berawal dari parade enam belas prodi beserta tim/klub yang ikut berlaga di turnamen EGDMC 2019 dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang bendera-bendera dijaga oleh Resimen Mahasiswa (Menwa) Uniflor. Dilanjutkan dengan masuknya empa kain raksasa sebagai simbol empat penujur mata angin dan Tarian Caci. Usai Tarian Caci, dilanjutkan dengan tarian oleh 1.750 penari yang adalah mahasiswa/i Uniflor.

Credits: Youtube Komik Ende.

Credits: Youtube Komik Ende.

Para penari ini sungguh luar biasa. Mereka memakai pakaian daerah dan selendang/sarung tenun ikat diaplikasikan untuk ragam. Mereka dipimpin langsung oleh koreografer kondang Kabupaten Ende, yang telah berkiprah sampai tingkat internasional Rikyn Radja. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia Panca Windu Uniflor 2020 dan penekanan bel oleh Bupati Ende Bapak Djafar Ahmad.

Saya sangat menyukai laporan panitia oleh Mama Emi Gadi Djou tersebut. Cekidot!

Latar belakang kegiatan ini adalah Pancasila yang perlu dipahami sebagai kesadaran kolektif bangsa dan ungkapan tentang nasionalisme. Untuk itu diperlukan perubahan mindset serta moral bangsa dalam memahami nilai-nilai budaya yang gayut dengan perkembangan. Hal ini selayaknya dapat dipahami sebagai jati diri bangsa untuk mengisi rumah kita di dalam kerangka Negara Kesatuan yang berdaulat, sejahtera, dan berkeadilan sosial. 

Dalam kaitan tersebut, kiranya perlu dilakukan kajian dari beberapa poin yaitu (1) Beragam budaya bangsa Indonesia harus dikenalkan kembali sebagai jati diri bangsa. (2) Pendidikan bangsa perlu diingatkan sebagai hakekat tujuan dari semangat Pancasila yakni mencerdaskan kehidupan bangsa untuk meningkatkan daya saing bangsa dan terwujudnya kesejahteraan bangsa tanpa melupakan kebudayaan yang dimiliki. (3) Peran serta Universitas Flores, masyarakat Kabupaten Ende, dan masyarakat pada umumnya serta para alumni sebagai kaum intelektual di dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan melestarikan budaya.

Untuk itulah dalam perayaan menyambut Panca Windu Uniflor diusung tema Rumah Kita Universitas Flores Membangun Kaum Intelektual Dalam Semangat Pancasila Merajut Persaudaraan Sebagai Mediator Budaya. 

Tujuan kegiatan ini antara lain (1) Mendapatkan berbagai konsep strategis yang berkaitan dengan pemaknaan kembali semangat Pancasila dan budaya dalam menjawab tantangan globalisasi para kaum intelektual. (2) Mempromosikan Uniflor. (3) Memupuk semangat kebersamaan di kalangan civitas akademika, alumni, masyarakat luas, dalam mempertahankan dan meningkatkan peran Uniflor sebagai mediator budaya. (4) Mendukung dan mengembangkan bakat dan kreativitas para kaum intelektual di wilayah Nusa Tenggara Timur.

*tepuk tangan paling meriah*

⇜⇝

Panitia Panca Windu Uniflor 2020 sudah di-launching. Selanjutnya, tugas berat menanti. Panca windu memang terjadi 19 Juli 2020 tetapi rangkaian kegiatannya sudah dimulai dari sekarang. Bahkan pre-event sebelum launching panitia tersebut.

Dalam menyambut Panca Windu Uniflor pada tanggal 19 Juli 2020 nanti telah terlaksana beberapa kegiatan serta agenda kegiatan antara lain (1) Kuliah Umum bersama Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, S.H., M.H., LLM. dengan moderator Agus Adi Tetiro dengan tema Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya Mengawal Ideologi Melawan Radikalisme, Pancasila Dari Ende Untuk Nusantara telah diselenggarakan pada Sabtu (26/10/2019) di Auditorium H. J. Gadi Djou. (2) Misa, Shalat Jum'at, dan ziarah, dalam rangka launching Panca Windu Uniflor, Parade Budaya, opening ceremony, dan kegiatan olah raga EGDMC 2019 yang diselenggarakan pada Jum'at (1/11/2019).

Baca Juga: Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp

Kerangka besar kegiatan menyambut Panca Windu Uniflor dibagi dalam empat pilar kegiatan yaitu Kerohanian, Pelanaran ilmiah, Olahraga dan Seni, dan Sosial Kemasyarakatan. Empat pilar kegiatan dengan sub-sub kegiatan tersebut telah dimulai sejak Oktober 2019 dan akan berakhir dengan Misa pada tanggal 19 Juli 2020.

Uh wow sekali kan?

Doakan semua rangkaian kegiatan kami sejak 2019 hingga 2020 dapat terlaksana dengan baik ya, kawan!

Satukan langkah, bulatkan tekad, menuju Uniflor bermutu.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.