PBSI Belajar Nge-blog


Sabtu, tepatnya tanggal 18 Mei 2019, saya terjaga setelah berdamai dengan hasrat untuk terus menggumuli ranjang. Pukul 07.30 Wita saya baru selesai mandi, untungnya tidak lupa menggosok gigi, sedangkan puluhan mahasiswa sudah menunggu sejak pukul 07.00 Wita di Aula Lantai III Gedung Rektorat Universitas Flores (Uniflor). Buru-buru selesaikan dandanan *halaaah* maksudnya bergegas memakai jilbab dan sepatu. Lantas Onci membantu saya menyiapkan laptop, charger, mouse, serta mengeluarkan sepeda motor ke teras. Berangkat! Tentu sambil berdoa agar saya masih bisa menjaga keseimbangan mengingat waktu tidur yang kurang. Hanya dua jam. Payahnya saya lupa gawai di sofa ruang tamu. Ya harus kembali mengambilnya karena sayur tanpa garam itu biasa tapi hidup tanpa gawai seharian itu luar biasa ha ha ha.

Baca Juga: SUC Endenesia #1

Puluhan mahasiswa yang sudah menunggu di Aula Lantai III Gedung Rektorat Uniflor dengan mengenakan jas almamater biru itu seakan menampakkan wajah lega setelah melihat kedatangan saya, pun Ibu Sherly dan Ibu Sekretaris Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Maaf, itu kata pertama saya saat membuka kegiatan, karena bukan kesengajaan saya terlambat hampir satu jam dari kesepakatan. 

Ya, Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 18 Mei 2019, saya diminta untuk memberikan pelatihan blog kepada mahasiswa Prodi PBSI - FKIP - Uniflor. Sebelumnya, Sabtu 4 Mei 2019, saya diminta menjadi pemateri blog oleh Fakultas Teknologi Informasi (FTI) kepada mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah (dan Prodi Pendidikan Fisika) yang ceritanya bisa dibaca di pos berjudul Pemateri Blog. Karena target atau pesertanya masih dari lini mahasiswa, saya tidak perlu membikin lagi materi baru, cukup dengan materi yang sudah dipakai Sabtu 4 Mei 2019 itu. Kalau dengan Prodi PBSI saya diminta langsung oleh pihak prodi (personal), maka dengan Prodi Pendidikan Sejarah saya diminta melalui FTI atas kerja sama antara Prodi Pendidikan Sejarah dengan FTI (saya bagian dari FTI).

Blogging is Fun and Easy


Masih materi yang sama: Blogging is Fun and Easy. Blogging memang fun and easy, termasuk gaya menyampaikan materi tersebut, harus fun and easy. Alhamdulillah waktu yang diberikan itu empat jam, waktu yang cukup panjang untuk mengenal blog - membikin blog - mengelola dashboard, sehingga proses penyampaian materi jauh lebih pelan, santai, dan lebih sabar menunggu proses. Tidak perlu terburu-buru. Diselingi dengan jokes ringan supaya peserta tidak bosan. Beberapa peserta saya panggil ke depan, temani saya di depan, menggunakan jaringan hotspot pribadi saya haha. Internet yang disediakan sudah sangat mumpuni, memang, tapi dipakai oleh terlalu banyak gawai.


Seperti biasa saya selalu menampilkan blogger yang kini lebih dikenal sebagai komika; Raditya Dika. Apa kesamaan saya dan Raditya Dika? Sama-sama blogger; kemudian Raditya Dika menjadi komika dan saya menjadi karatan. Haha. Pembukaan seperti itu memang disengaja untuk syok terapi bagi peserta. Dilanjutkan dengan pengenalan blog; apa itu blog, blog ber-niche dan blog gado-gado serta contohnya, blog gratisan dan blog berbayar beserta contohnya, sampai ragam platform blog yang dikenal luas dan dimanfaatkan oleh penghuni Planet Bumi. Dan ya, saya memberikan pelatihan membikin blog di Blogger. Platform untuk semua blog saya.

Tidak semua peserta membawa laptop tapi semua membawa gawai sehingga ada peserta yang membikin blog menggunakan laptop dan ada yang menggunakan gawai. Antusias belajar peserta sungguh luar biasa. Setelah blog dibikin, tugas peserta adalah mengisinya dengan satu pos tentang pelatihan blog bersangkutan. Saya memberi mereka waktu dua puluh menit mengingat sebagian besar peserta menggunakan gawai sehingga kecepatan menulis pasti tidak secepat menggunakan laptop. Dua puluh menit cukup lah menurut saya.


Yang tidak saya sangka kegiatan pelatihan blog itu dihadiri oleh Bapak Drs. Yohanes Sehandi, M.Si. Atasan saya dulu di UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Beliau yang mengajarkan saya cara membikin berita baik berita panjang, feature, hingga flash news. Dan saya adalah orang yang mengajarkan beliau blog. Tidak disangka blog beliau masih terkelola dengan baik hingga sekarang dengan pembaca yang sangat banyak! Tulisan-tulisannya itu memang 'berat' tapi banyak pengunjung setianya. Yang paling saya ingat dari Pak Yan setelah beliau nge-blog adalah beliau selalu berkata bahwa blog adalah koran pribadi dan tempat menyimpan data-data tulisan (draf) sehingga tidak perlu kuatir kalau flashdisk-nya eror lagi. Mantap sekali Pak Yan ini kan ya. 



Setelah pos pertama para peserta dipublikasikan, tugas peserta adalah mengirimkan tautan blog ke nomor WA saya. Gunanya adalah saya bisa mencatat tautan blog mereka tersebut sekaligus menawarkan Kelas Blogging Tuteh untuk pelajaran lanjutan apabila mereka berminat. Alhamdulillah semakin banyak mahasiswa yang tahu blog dan antusias sekali bertanya, karena saya tanamkan pada mereka, bahwa modal untuk menulis sudah ada secara mereka adalah anak sastra! Jadi, mereka bisa mengisi blog dengan puisi, kritik cerpen/novel, dan lain sebagainya. Saya bilang: menulis adalah kekuatan terbesar mahasiswa PBSI, manfaatkan itu dengan sebaik-baiknya melalui blog.

Bagi kalian, mungkin blog bukanlah sesuatu yang baru lagi, tapi bagi sebagian orang lainnya, blog merupakan sesuatu yang benar-benar baru. Mereka bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa informasi yang dibaca di internet itu bersumber dari sebuah blog personal, dan mereka mungkin tidak pernah tahu bahwa mereka bisa menjadi si pemberi informasi pula. Tentu, melalui blog personal pula.

Selingan Oleh SUC Endenesia


Inilah yang sejak dulu ingin saya lakukan. Kegiatan mahasiswa, santai dan menyenangkan, pun ada hiburannya. Hiburan musik sudah biasa tapi hiburan stand up comedy itu baru pertama kali terjadi di Uniflor. Atas kerja sama dengan SUC Endenesia ada lima komika yang tampil pukul 11.30 Wita. Mereka adalah Udo, Sultan, Tulen, Adara, dan Willy. Hendra, karena masih ada kuliah, akhirnya hanya bisa menonton dari bagian belakang aula. 


Menariknya, dua komika adalah jebolan Prodi PBSI Uniflor yaitu Sultan dan Willy. Tentu ini membikin peserta pelatihan blog semakin riuh bertepuk tangan. Ada kebanggaan doooonk. Riuh sekali pokoknya. Awalnya ada ketakutan dalam diri saya ... apakah nanti para peserta ini tertawa dengan stand up comedy dari komika SUC Endenesia? Terus terang, ini adalah penjajalan kami terhadap penonton di luar penonton tetap di Miau Miau Cafe. Ternyata kekuatiran saya tersapu ... Pak Yan saja sampai tertawa sambil geleng-geleng kepala.

Nantikan semua videonya di Youtube ya :)


Bagi saya, menjadi pemateri blog merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan. Kapan pun saya diminta, dan jika waktunya tepat, mari yuk! 

Terimakasih kepada Bapak Kaprodi PBSI Dr. Yosep Demon, M.Hum. yang telah meminta saya menjadi mentor untuk pelatihan blog kepada para mahasiswa PBSI Semester 2 dan Semester 4. Terimakasih Ibu Sekpro PBSI dan Ibu Sherly yang telah menghubungi saya untuk inisiasi awal, menentukan tempat, hingga estimasi waktu. Sehingga akhirnya kegiatan ini terlaksana dengan baik. Pun terima kasih kepada SUC Endenesia yang telah menghibur kami semua hari itu. Dan tentu saja, terima kasih kepada semua peserta pelatihan blog yang dengan setia menunggu sejak pukul 07.00 Wita hingga kegiatan berakhir pukul 12.30 Wita. Love you all!

Baca Juga: Pola Timbal Balik

Semoga bermanfaat!



Cheers.

PBSI Belajar Nge-blog


Sabtu, tepatnya tanggal 18 Mei 2019, saya terjaga setelah berdamai dengan hasrat untuk terus menggumuli ranjang. Pukul 07.30 Wita saya baru selesai mandi, untungnya tidak lupa menggosok gigi, sedangkan puluhan mahasiswa sudah menunggu sejak pukul 07.00 Wita di Aula Lantai III Gedung Rektorat Universitas Flores (Uniflor). Buru-buru selesaikan dandanan *halaaah* maksudnya bergegas memakai jilbab dan sepatu. Lantas Onci membantu saya menyiapkan laptop, charger, mouse, serta mengeluarkan sepeda motor ke teras. Berangkat! Tentu sambil berdoa agar saya masih bisa menjaga keseimbangan mengingat waktu tidur yang kurang. Hanya dua jam. Payahnya saya lupa gawai di sofa ruang tamu. Ya harus kembali mengambilnya karena sayur tanpa garam itu biasa tapi hidup tanpa gawai seharian itu luar biasa ha ha ha.

Baca Juga: SUC Endenesia #1

Puluhan mahasiswa yang sudah menunggu di Aula Lantai III Gedung Rektorat Uniflor dengan mengenakan jas almamater biru itu seakan menampakkan wajah lega setelah melihat kedatangan saya, pun Ibu Sherly dan Ibu Sekretaris Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Maaf, itu kata pertama saya saat membuka kegiatan, karena bukan kesengajaan saya terlambat hampir satu jam dari kesepakatan. 

Ya, Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 18 Mei 2019, saya diminta untuk memberikan pelatihan blog kepada mahasiswa Prodi PBSI - FKIP - Uniflor. Sebelumnya, Sabtu 4 Mei 2019, saya diminta menjadi pemateri blog oleh Fakultas Teknologi Informasi (FTI) kepada mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah (dan Prodi Pendidikan Fisika) yang ceritanya bisa dibaca di pos berjudul Pemateri Blog. Karena target atau pesertanya masih dari lini mahasiswa, saya tidak perlu membikin lagi materi baru, cukup dengan materi yang sudah dipakai Sabtu 4 Mei 2019 itu. Kalau dengan Prodi PBSI saya diminta langsung oleh pihak prodi (personal), maka dengan Prodi Pendidikan Sejarah saya diminta melalui FTI atas kerja sama antara Prodi Pendidikan Sejarah dengan FTI (saya bagian dari FTI).

Blogging is Fun and Easy


Masih materi yang sama: Blogging is Fun and Easy. Blogging memang fun and easy, termasuk gaya menyampaikan materi tersebut, harus fun and easy. Alhamdulillah waktu yang diberikan itu empat jam, waktu yang cukup panjang untuk mengenal blog - membikin blog - mengelola dashboard, sehingga proses penyampaian materi jauh lebih pelan, santai, dan lebih sabar menunggu proses. Tidak perlu terburu-buru. Diselingi dengan jokes ringan supaya peserta tidak bosan. Beberapa peserta saya panggil ke depan, temani saya di depan, menggunakan jaringan hotspot pribadi saya haha. Internet yang disediakan sudah sangat mumpuni, memang, tapi dipakai oleh terlalu banyak gawai.


Seperti biasa saya selalu menampilkan blogger yang kini lebih dikenal sebagai komika; Raditya Dika. Apa kesamaan saya dan Raditya Dika? Sama-sama blogger; kemudian Raditya Dika menjadi komika dan saya menjadi karatan. Haha. Pembukaan seperti itu memang disengaja untuk syok terapi bagi peserta. Dilanjutkan dengan pengenalan blog; apa itu blog, blog ber-niche dan blog gado-gado serta contohnya, blog gratisan dan blog berbayar beserta contohnya, sampai ragam platform blog yang dikenal luas dan dimanfaatkan oleh penghuni Planet Bumi. Dan ya, saya memberikan pelatihan membikin blog di Blogger. Platform untuk semua blog saya.

Tidak semua peserta membawa laptop tapi semua membawa gawai sehingga ada peserta yang membikin blog menggunakan laptop dan ada yang menggunakan gawai. Antusias belajar peserta sungguh luar biasa. Setelah blog dibikin, tugas peserta adalah mengisinya dengan satu pos tentang pelatihan blog bersangkutan. Saya memberi mereka waktu dua puluh menit mengingat sebagian besar peserta menggunakan gawai sehingga kecepatan menulis pasti tidak secepat menggunakan laptop. Dua puluh menit cukup lah menurut saya.


Yang tidak saya sangka kegiatan pelatihan blog itu dihadiri oleh Bapak Drs. Yohanes Sehandi, M.Si. Atasan saya dulu di UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Beliau yang mengajarkan saya cara membikin berita baik berita panjang, feature, hingga flash news. Dan saya adalah orang yang mengajarkan beliau blog. Tidak disangka blog beliau masih terkelola dengan baik hingga sekarang dengan pembaca yang sangat banyak! Tulisan-tulisannya itu memang 'berat' tapi banyak pengunjung setianya. Yang paling saya ingat dari Pak Yan setelah beliau nge-blog adalah beliau selalu berkata bahwa blog adalah koran pribadi dan tempat menyimpan data-data tulisan (draf) sehingga tidak perlu kuatir kalau flashdisk-nya eror lagi. Mantap sekali Pak Yan ini kan ya. 



Setelah pos pertama para peserta dipublikasikan, tugas peserta adalah mengirimkan tautan blog ke nomor WA saya. Gunanya adalah saya bisa mencatat tautan blog mereka tersebut sekaligus menawarkan Kelas Blogging Tuteh untuk pelajaran lanjutan apabila mereka berminat. Alhamdulillah semakin banyak mahasiswa yang tahu blog dan antusias sekali bertanya, karena saya tanamkan pada mereka, bahwa modal untuk menulis sudah ada secara mereka adalah anak sastra! Jadi, mereka bisa mengisi blog dengan puisi, kritik cerpen/novel, dan lain sebagainya. Saya bilang: menulis adalah kekuatan terbesar mahasiswa PBSI, manfaatkan itu dengan sebaik-baiknya melalui blog.

Bagi kalian, mungkin blog bukanlah sesuatu yang baru lagi, tapi bagi sebagian orang lainnya, blog merupakan sesuatu yang benar-benar baru. Mereka bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa informasi yang dibaca di internet itu bersumber dari sebuah blog personal, dan mereka mungkin tidak pernah tahu bahwa mereka bisa menjadi si pemberi informasi pula. Tentu, melalui blog personal pula.

Selingan Oleh SUC Endenesia


Inilah yang sejak dulu ingin saya lakukan. Kegiatan mahasiswa, santai dan menyenangkan, pun ada hiburannya. Hiburan musik sudah biasa tapi hiburan stand up comedy itu baru pertama kali terjadi di Uniflor. Atas kerja sama dengan SUC Endenesia ada lima komika yang tampil pukul 11.30 Wita. Mereka adalah Udo, Sultan, Tulen, Adara, dan Willy. Hendra, karena masih ada kuliah, akhirnya hanya bisa menonton dari bagian belakang aula. 


Menariknya, dua komika adalah jebolan Prodi PBSI Uniflor yaitu Sultan dan Willy. Tentu ini membikin peserta pelatihan blog semakin riuh bertepuk tangan. Ada kebanggaan doooonk. Riuh sekali pokoknya. Awalnya ada ketakutan dalam diri saya ... apakah nanti para peserta ini tertawa dengan stand up comedy dari komika SUC Endenesia? Terus terang, ini adalah penjajalan kami terhadap penonton di luar penonton tetap di Miau Miau Cafe. Ternyata kekuatiran saya tersapu ... Pak Yan saja sampai tertawa sambil geleng-geleng kepala.

Nantikan semua videonya di Youtube ya :)


Bagi saya, menjadi pemateri blog merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan. Kapan pun saya diminta, dan jika waktunya tepat, mari yuk! 

Terimakasih kepada Bapak Kaprodi PBSI Dr. Yosep Demon, M.Hum. yang telah meminta saya menjadi mentor untuk pelatihan blog kepada para mahasiswa PBSI Semester 2 dan Semester 4. Terimakasih Ibu Sekpro PBSI dan Ibu Sherly yang telah menghubungi saya untuk inisiasi awal, menentukan tempat, hingga estimasi waktu. Sehingga akhirnya kegiatan ini terlaksana dengan baik. Pun terima kasih kepada SUC Endenesia yang telah menghibur kami semua hari itu. Dan tentu saja, terima kasih kepada semua peserta pelatihan blog yang dengan setia menunggu sejak pukul 07.00 Wita hingga kegiatan berakhir pukul 12.30 Wita. Love you all!

Baca Juga: Pola Timbal Balik

Semoga bermanfaat!



Cheers.

Encim and The Gank


Sudah tahu kan kalau saya dipanggil Encim oleh para keponakan yang lucu, imut, iseng, konyol, jadi pengen jambak satu-satu itu? Panggilan Encim ini kemudian tersebar ke mana-mana sehingga rata-rata saya dipanggil Encim alih-alih dipanggil Alanis Morissette Tuteh. Bahkan cucu-cucu pun memanggil saya dengan Oma Encim. Okay, stop it! Sounds very old I am! Dan karena saya adalah Presiden Negara Kuning dengan wilayah tak terbatas, sombong sedikit, maka jadilah sebuah kelompok bernama Encim and The Gank. Bukan nama grup musik, bukan nama girlband, bukan nama pemenang Nobel. Hanya nama sebuah kelompok kecil dari keluarga besar kami: Pharmantara yang bergabung dengan marga keluarga lain, kakak ipar saya, dari kawin-mawin.

Baca Juga: SUC Endenesia #1

Sebuah WAG kemudian dibikin dengan nama Encim and The Gank. Isinya tidak hanya saya dan para keponakan, tetapi juga Kakak Nani Pharmantara. Haha. Ini kakak perempuan saya satu-satunya kenapa pula nongol di WAG. Menariknya Encim and The Gank selalu kompak dan selalu punya ide-ide cemerlang dan rencana-rencana besar meskipun bermodal minim. Dan betapa bahagianya saya berada di tengah-tengah mereka, demikian pula yang mereka rasakan, karena kebahagiaan tidak diciptakan oleh orang lain tetapi oleh kita sendiri. Kalau kalian berteman dengan saya di WA, kalian pasti sering melihat tulisan atau foto atau video yang saya jadikan status WA. Banyakan sih tentang mereka; gank gila ini.

Encim and The Gank zaman dulu. Haha.

Sebelum Bulan Ramadhan ada saja pesan di WAG tentang piknik, piknik, dan piknik. Iya, kami semua memang ingin mengulang, seperti masa-masa dulu, piknik di pantai, piknik di kali, atau sekadar jalan-jalan ke luar kota menikmati jagung rebus. Karena, dalam seminggu pun belum tentu kami semua bertemu! Amboiiii padahal Ende sekecil ini. Maklum, semua keponakan saya punya kesibukan/pekerjaan sehingga kalau ada rencana kumpul-kumpul atau piknik begitu pasti ditanggapi dengan super antusias. Kiki, keponakan saya yang berprofesi sebagai bidan selalu meminta rencana dilempar sejak jauh hari agar dia bisa mengatur jadwal dinas.

Cieeeee segitunya demi keriuhan Encim and The Gank.

Piknik Saat Badai


Beberapa kali Encim and The Gank piknik tapi yang paling heboh itu piknik yang satu ini. Saya sudah mengunggah videonya di Youtube tentang piknik gila bin konyol ini. Tapi rencananya bakal saya hapus dulu dan disunting ulang karena ternyata musik yang saya pakai itu punya hak cipta. Ah, kenapa pula mereka menyebarkan musik-musik itu di internet!? Hihihi. Jadi bakal saya ganti musiknya dengan musik yang disediakan gratis oleh Youtube. Horeeeeee.

Sebelumnya, piknik di Pantai Aebai juga, dalam kondisi cuaca normal.

Nah, piknik ini memang ajaib. Keluarga kami punya aturan kalau sudah niat harus diwujudnyatakan. Seperti piknik di Pantai Aebai seminggu sebelum Bulan Ramadhan itu. Kami tahu langit mendung. Kami tahu langit bahkan sudah memainkan intro manis melalui rintik-rintik. Kami tahu angin kencang bertiup tak pakai perasaan serta ombak bergulung cukup hebat menimbulkan bunyi riuh tak terkira. Tapi niat harus terlaksana. Kloter pertama berangkat ke Pantai Aebai, lokasi yang sama dengan pertimbangan banyak yang jualan tempurung bekal membakar ayam dan ikan, dengan perasaan tak menentu dan banyak membaca doa agar langit kembali cerah.

Kloter kedua tiba dengan membawa terpal. Terpal yang ... sobek. Ha ha ha ha ha ... koplak. Beruntunglah terpal berhasil didirikan atas bantuan Kakak Ipar saya Kae Dul dan calon mantunya Solihin. Tentu dibantu oleh anggota gank yang tidak banyak memberi bantuan hehe. Tempurung berhasil dibakar demi mematangkan ayam dan ikan. Hore!

Di bawah lindungan terpal sobek. Haha.

Kelurga kami memang gila. Orang itu kalau hujan-hujan memilih untuk santai di rumah, nge-blog, ngopi, ngemil, tidur-tiduran. Keluarga kami malah memilih untuk piknik dan niat membawa terpal. Ini kalau tidak gila ya ekstrim. Solihin, calonnya si Kiki, serta temannya Thika, turut menjadi korban kegilaan keluarga kami.

Buka Puasa Bersama


Sudah sejak April saya menulis rencana-rencana besar untuk Mei. Bisa dilihat pada halaman dari T-Journal berikut ini:


Ada sekitar empat Sabtu yang direncanakan untuk buka puasa dengan judul besar Bukber Pharmantara. Kebetulan kami bersaudara kandung ada empat jadi tepat. Alhamdulillah Sabtu kemarin sudah terlaksana buka puasa bersama di Pohon Tua (nama rumah Mamatua tempat saya tinggal haha). Next di rumah Abang Nanu Phamantara, Kakak Nani Pharmantara, dan Kakak Didi Pharmantara.


Foto di atas diambil saat sebagian anggota lain belum datang jadi belum lengkap dan belum ramai. Tapi tidak masalah, keriuhan tetap terjadi di Pohon Tua.

Baca Juga: Buruh Migran

Kenapa riuh? Yang pertama karena tipikal Orang Ende kalau bicara itu tidak bisa pelan dan volume harus kencang. Sehingga, ada istilah, dua orang Ende bertemu saja sudah ramai macam sekampung. Orang luar mungkin berpikir kami sedang kelahi nyatanya tidak. Memang demikianlah tipikal bicara Orang Ende. Yang kedua adalah karena darah Pharmantara umumnya memang begitu. Kalau ngomong kadang macam orang ngotot begitu padahal cuma cerita biasa ha ha ha. Makanya riuh itu pasti terjadi. Apa lagi kalau si Rara dan Syiva sudah kumpul ... ampun dijeeee.

Salah satu menu andalan kalau piknik.

Ah, bahagia. Kadang saya terkikik sendiri kalau mengingat ulah Encim and The Gank, dimana kakak-kakak saya turut terbawa arus, karena ada saja yang aneh dan konyol yang terjadi kalau kami sekeluarga besar sudah kumpul. Para keponakan saya ini kadang suka nyeletuk: besok-besok kalau Encim punya anak, bakal kita suruh-suruh, terus kalau nakal kita masukin ke kardus dan kirim ke negeri antah-berantah. Dudududuuuu ...


Beda dulu dan sekarang ... dulu para keponakan rata-rata masih kecil dan masih sekolah. Jadi kalau ngumpul topiknya pun tidak jauh dari kegiatan sekolah mereka dan satu dua urusan asmara. Sekarang kalau ngumpul topiknya bisa macam-macam asal Rara dan Syiva mainnya rada jauh dari tempat kita mengobrol. Banyak topik yang dibahas dan saya betul-betul menikmati proses curhat, tukar pendapat, dan saling menasihati bersama mereka. Dus rata-rata semua keponakan saya sudah bekerja jadi saya asyik saja kalau ditraktir sama mereka *muka polos*.

Time flies ...

Bagaimana dengan kalian, kawan? Buka puasa bareng keluarga pasti seru kan ya. Manapula keluarga besar. Semoga puasa saya, kalian, dan semua orang yang menjalankannya, lancar dan ikhlas demi hari kemenangan nanti.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Selamat melanjutkan puasa!



Cheers.

SUCEndenesia #1


Kenapa saya hitam seperti ini? Karena saya biar Orang Sabu tapi saya darahnya blasteran. Sombong sedikit, blasteran. Hasil kawin silang antara bunga desa cantik mempesona dari Pulau Raijua dengan seorang pejantan hitam keriting tidak tahu malu dari Nangaroro. Mungkin waktu saya punya bapa ketemu saya punya mama, ajak saya punya mama nikah tuh dengan satu tujuan supaya bisa merubah keturunan. Tapi sayang sekali di eskperimen pertamanya dia harus pasrah bahwa dia gagal karena hasilnya seperti ini. Tapi saya akui saya punya bapa itu orangnya semangat. Dia berjuang dalam segala hal, dia tidak pernah putus asa. Setelah saya, dia berjuang tiga kali lagi, eksperimen tiga kali lagi. Dan syukurlah akhirnya dia sadar bahwa dia tidak akan pernah bisa buat keturuanan yang baru. Tiga ke bawah itu tambah hancur ..."

Baca Juga: Buruh Migran

Itu sepenggal ocehan Hendra, Juara III Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1, yang diselenggarakan Sabtu 4 Mei 2019, berlokasi di Miau Miau Cafe - Ende. Ya, seperti yang sudah kalian baca di pos Lomba SUC Endenesia. Kegiatan yang berawal dari kelompok kecil; Udo Petuz, Andi Ginta, dan saya, akhirnya terlaksana. Dari sepuluh calon komika yang mendaftar, satu mengundurkan diri, setelah diganti lagi dengan pendaftar baru, dua lagi mengundurkan diri. Menjelang lomba, satu peserta tidak datang. Lomba berjalan dengan delapan peserta yang dengan penuh tekad dan semangat ingin menunjukkan kemampuan mereka memancing tawa para penonton. Bagi saya pribadi, lebih baik memancing ikan ketimbang memancing tawa penonton. Susahnya minta ampun. Makanya saya tidak ikut-ikutan melucu hahaha.

Peserta


Delapan peserta adalah King, Bocor, Fadil, Andara, Lino, Sultan, Tulen, Hendra. Mereka berdelapan, ada yang asli Orang Ende ada yang akarnya dari kabupaten tetangga, mempunyai karakteristik masing-masing dengan tema utama tentang Ende. Ya, banyak hal yang bisa digali dari Kabupaten Ende untuk dijadikan bahan stand up comedy. Para peserta itu, ada yang tanpa harus berusaha melucu namun pandai bermain diksi dan sudah bikin penonton terpingkal-pingkal. Ada berusaha melucu namun belum menemukan passion-nya. Tapi semuanya sangat kami hargai (kami: panitia, sesama peserta, penonton). Karena ... kami sedang sama-sama belajar dunia stand up comedy.

Menariknya, beberapa peserta tidak saja ber-stand up comedy tetapi juga menampilkan aksen dan impression. Seperti Bocor dan Fadil. Aksen, tentu aksen dari dua suku yang ada yaitu Suku Ende dan Suku Lio. Sedangkan impression macam-macam mulai dari suara derit pintu sampai terguling di lantai. Yang jelas, bagi saya pribadi, delapan peserta Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1 sungguh luar biasa. Mereka berani. Dan keberanian lah yang kelak akan mengantar manusia pada kesuksesan. Termasuk berani gagal. Hei, gagal adalah sumber kesuksesan. Percayalah.

Tema


Kami menentukan tema tentang Ende. Seperti yang sudah saya tulis di atas, banyak hal yang bisa digali dari Kabupaten Ende untuk dijadikan bahan ber-stand up comedy. Terbukti, para peserta membawa tema seperti jalanan berlubang di Kota Ende, dunia pendidikan, sampai dunia asmara. Huhuy! Jalanan berlubang ini memang paling banyak diangkat. Hehehe. Andaikan saya boleh membocorkan satu dua ide, tapi saya tidak sempat bertemu para peserta, banyak sekali yang bisa dijadikan bahan. Misalnya: Orang Ende itu kalau ada temannya sukses pasti bilang 'teman saya tuh!' tapi kalau orang yang sama gagal pasti bilang 'eeee siapa ya dia?'. Itu lelucon ... jangan baper.

Jawara


Dari delapan peserta, sejujurnya, memang mudah menentukan siapa yang menang. Karena, menurut saya pribadi, ada jarak yang agak jauh antara mereka meskipun sama-sama baru pertama kali ber-stand up comedy. Tapi saya dan Udo harus berembug cukup alot pula tentang tiga juara yang diumumkan usai lomba ini. Kami harus mempertimbangkan tema, set up hingga punch, dan lain sebagainya. Kami tidak bisa menilai dari tawa penonton saja. Karena, ada peserta yang leluconnya memang sudah akrab di suatu komunitas sehingga sudah pasti orang-orang dari komunitas tersebut terpingkal-pingkal sedangkan yang lain belum tentu. Selain itu, durasi juga cukup dipertimbangkan. Sepuluh menit adalah durasi yang ditetapkan. Artinya, bisa kurang sedikit atau lebih sedikit. Sedikit ... tidak boleh terlalu banyak.

Baca Juga:  Politik Itu Abu-Abu

Pada akhirnya saya dan Udo mengantongi tiga nama:
Juara I - Fadil.
Juara II - Sultan.
Juara III - Hendra.

Selamat kepada para juara. Jangan lupa setiap Jum'at malam kita ketemu di Miau Miau Cafe.

Terima Kasih


Lagi, saya tertampar dan malu. Seperti yang sudah saya tulis pada pos tentang lomba ini, saya tertampar dan malu karena Andi Ginta sebagai penyandang dana kegiatan ini bukanlah Orang Ende tetapi Orang Manggarai. Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Mendukung dengan berbagai cara agar kegiatan ini terselenggara; menjadi panitia, menjadi penonton, menjadi orang yang menyebarkan informasinya. Itu bentuk-bentuk dukungan yang bisa kita lakukan.

Terima kasih Andi Ginta untuk semuanya; dana kegiatan, ini itu, sampai makan malam panitia dan peserta! Uh wow sekali ya. Saya tidak menyangka dan semakin malu dibuatnya hahaha. Saya sampai terkejut saat selama rembug juri, Andi memberikan kompensasi pada penonton yang berani maju dan ber-stand up comedy di panggung ... instan. Ada? Adaaaa! Tiga pula! Hahaha. Kocak.

Terima kasih Udo Petuz untuk semuanya; membangun Stand Up Comedy Endenesia, inisiasi awal, sampai akhirnya kegiatan ini terselenggara.

Kalau saya bilang kita bertiga hebat. Tidak. KITA BERTIGA HEBAT SEKALI. Ha ha ha. Sombong sedikit kan boleh. Mungkin karena ditempa oleh pengalaman dari banyak komunitas, mengenal banyak karakter, berusaha untuk lebih bisa mengendalikan diri, dan punya jiwa kerja dan membangun, akhirnya lomba ini dapat terselenggara. Terselenggara dari sebuah kelompok kecil beranggotakan tiga orang. Dan kita siap untuk membesarkannya ... kita sudah punya tambahan anggota delapan orang. Semakin kuat, semakin baik, asal kekuatan itu dibarengi dengan cinta kasih. Ibarat ilmu ... ilmu tanpa guru bisa jadi sesat.

Kelanjutan dari Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1 adalah open mic setiap Jum'at malam di Miau Miau Cafe dan lomba per tiga bulan yang sudah kami canangkan untuk menggali lebih banyak potensi calon komika Kabupaten Ende dan sekitarnya. Selain itu, Andi Ginta sudah berbicara tentang lomba dari lini musik ... akustikan begitu. Uh wow sekali hehehe. Bagaimana dan seperti apa, nanti baru didiskusikan bersama. 


Demikian kawan cerita dari Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1. Untuk sementara video-videonya masih saya unggah ke akun Youtube saya. Sampai saat ini saya belum membikin akun Youtube khusus Stand Up Comedy Endenesia hehehe, nanti ya. Kalau mau menonton, silahkan. Sederhana. Mungkin ada yang bilang lucu, ada pula yang bilang tidak lucu. Tapi kami menerima semua kritik dengan tangan terbuka. Karena hanya orang sombong saja yang tidak menerima kritikan. Tapi, lagi, harus bisa membedakan antara kritikan dan hinaan ya hahaha soalnya kritik dan hinaan dibatasi selembar kertas super tipis.

Terima kasih untuk doa dan dukungannya. Demi Ende tercinta.

Life is good. It must be.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Selamat menjalankan ibadah puasa untuk saya dan kalian semua yang menjalankannya. Semoga puasa kita lancar.



Cheers.

Buruh Migran


Jarang menulis tentang ragam kegiatan Universitas Flores (Uniflor) bukan berarti tidak pernah menulis tentang tempat saya menambang batu bara tersebut. Sekali dua menulis tentang Uniflor di blog pribadi ini. Seringnya, sesuai tupoksi pekerjaan, saya menulisnya untuk berita/informasi yang dipublikasikan di ragam media sosial dan website Uniflor. Kalau memilih untuk menulis kegiatan Uniflor di blog pribadi, maka blog ini sangat kaya konten, bisa menjadi tambang konten. Mungkin sehari bisa tiga atau empat tulisan berbeda yang dipos. Dan itu boros. Haha. Yeeee padahal pernah juga menulis dua pos dalam satu hari. Dan hari ini pun mengepos dua tulisan pula *dijitak*.

Baca Juga: Lomba SUC Endenesia

Belum lama berselang, tepatnya Kamis tanggal 2 Mei 2019 kemarin, Fakultas Hukum Uniflor bekerja sama dengan Perkumpulan Pengajar dan Praktisi Hukum Ketenagakerjaan (P3HKI) menggelar Konferensi Ke-3 P3HKI dengan Seminar Nasional bertema Perlindungan Hukum Bagi Buruh Migran Indonesia. Seminar tersebut menghadirkan empat pemateri utama yaitu: RD Eduardus Raja Para (LSM) dengan tema Gereja dalam Menyelamatkan Masalah Buruh Migran, Ketua P3HKI Dr. Asri Wijayanti, S.H., M.H., dengan tema Advokasi Serikat Pekerja/LSM Buruh dalam Sengketa Hubungan Industri, Ketua Migrant Care Centre Anis Hidayah dengan tema Pembangunan Standar Minimal Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Migran di Tingkat Nasional/Regional, dan Ketua KSPI Kalimantan Timur Kornelis Wiriyawan Gatu dengan tema Permasalahan Ketenagakerjaan di Perkebunan Kepala Sawit di Kaltim.

Foto bersama wartawan usai konferensi pers pada Rabu (1/5/2019).

Yay! Kembali bertemu dengan Ibu Anis dari Migrant Care Centre Indonesia. Memangnya dulu pernah bertemu? Iya, tahun 2013 saya bertemu beliau di kantor ICT Watch Indonesia / Internetsehat, saat berkecimpung dalam proyek filem dokumenter Linimassa 3. Kalian belum nonton videonya di Youtube? Nonton doooonk. Kalau kalian menonton Sexy Killers, maka isu tentang tambang batu bara ini juga diangkat dalam Linimassa 3, oleh Bang Yus asal Kalimantan. By the way, awalnya saya berpikir keras, kayaknya pernah bertemu Ibu Anis tapi di mana ya? Kemudian memberanikan diri bertanya dan beliau mengingatnya ... ternyata.

Dalam paparan materinya pada seminar tersebut, Ibu Anis bercerita tentang awal mula berkecimpung di dunia advokasi pekerja migran. 22 tahun sudah beliau mengurusi buruh migran ini, sejak tahun 1996, hingga Migrant Care Centre didirikan pada tahun 2004. Menurutnya diskusi terkait buruh migran yang diselenggarakan di Uniflor penting dilakukan, selain masih dalam kerangka Hari Buruh Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Mei, juga dikarenakan sampai saat ini Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menempati urutan pertama penyumbang korban trafficking di seluruh Indonesia. Moratorium yang diberlakukan di Provinsi NTT bukan solusi terbaik karena arus buruh migran tetap ada/terjadi dengan berbagai modus seperti umroh atau jalinan persahabatan.


Langkah jitu yang bisa dilakukan adalah mengubah undang-undang yang sudah ada terkait buruh migran, agar pasal-pasalnya mampu melindungi para buruh migran. Namun, kesulitannya adalah politik buruh migran (mafia migran) ini dipegang oleh perusahaan-perusahaan besar dengan tokoh-tokoh besar dibaliknya. Oh ... menulis ini saya merinding, sama merindingnya saat mendengar paparan Ibu Anis di Auditorium H. J. Gadi Djou. Well, terima kasih Ibu Anis, sudah menolak hadir kegiatan di Doha demi hadir di Uniflor.

Kornelis Wiriyawan Gatu membeberkan fakta-fakta tentang buruh migran di kebun kelapa sawit. Ini menjadi permasalahan yang serius karena pernah terjadi buruh migran yang meninggal dimakamkan di perkebunan kelapa sawit tersebut. Saat fakta ini dibawa ke kancah internasional, peserta diskusi internasional itu murka sejadi-jadinya. Oleh karena itu Pak Kornelis yang berasal dari Kecamatan Watuneso - Ende ini ingin mengajak Uniflor bekerjasama untuk bisa sama-sama memecahkan begitu banyak permasalahan buruh migran ini. Mulai dari regulasi di semua tingkat (perdes, perda, UU), hingga penanganan langsung di lapangan.

Baca Juga: Politik Itu Abu-Abu

Saya pribadi setuju dengan apa yang disampaikan oleh Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A., tentang kondisi dulu dimana Malaysia sangat konsekuen/baik dengan kondisi buruh migran, berdasarkan pengalaman pribadi kakek beliau yang dijemput di Sabah bertahun-tahun lampau. Tapi semakin ke sini, permasalahan semakin kompleks, buruh migran 'gelap' salah satunya.


Migrasi merupakan kebutuhan manusia. Ini dilakukan dengan alasan ingin mendapat pekerjaan, kalau boleh, yang baik, agar mendapat upah yang baik/besar. Kenapa harus menjadi buruh migran? Karena mungkin mereka menyerah untuk mencari pekerjaan di daerah sendiri. Ini berarti banyak lini yang memang harus dibereskan/dibenahi.

Permasalahan buruh migran ini berada di dalam satu roda yang sama dengan permasalahan lain di Indonesia. Tidak selamanya buruh migran bekerja di luar negeri untuk meringankan masalah ekonomi saja. Banyak alasan: ekonomi keluarga, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya. Pendidikan dan kesehatan harus terdepan. Tapi, kalau pendidikan mahal, orangtua lebih suka anaknya ikut bekerja membantu perekonomian keluarga. Jika perekonomian keluarga semata-mata yang diutamakan, jelas pendidikan, kesehatan, bisa jadi kehidupan bersosial, menjadi terbelakang. Hal ini mirip dengan seminar tentang moke yang dilakukan Fakultas Hukum Uniflor di Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada. Salah seorang peserta bertanya: jika moke sebagai minuman keras lokal dilarang, bagaimana dengan sekolah kami? Orangtua kami menjadi petani moke salah satunya untuk menyekolahkan kami. Jadi, apa yang harus dilakukan?

Ketua P3HKI Ibu Asri mengatakan bahwa dalam pesawat yang membawanya ke Kupang, beliau duduk di samping seorang pemuda NTT yang bercerita tentang usahanya. Kurang jelas saya mendengar nama si  pemuda. Tapi yang jelas, hasil kebun-kebun itu dijual dari kantor ke kantor (tidak di-supply ke pasar moderen) dan mereka toh kewalahan dengan permintaan tomat misalnya. Kenapa hal ini tidak menjadi perhatian pemerintah setempat? Ibu Asri berencana akan membicarakan hal ini dengan Gubernur NTT, karena pemuda tersebut niscaya dapat menjadi contoh untuk menekan jumlah buruh migran asal Provinsi NTT.


Dalam skala Kabupaten Ende, kami punya Nando Watu asal Kecamatan Detusoko, yang mendirikan Remaja Mandiri Community (RMC) Detusoko. Kisah lengkapnya dapat kalian baca di pos Cerita Dari Lepa Lio Cafe. Kembali ke desa, membangun dari desa. Konsep RMC Detusoko telah memberdayakan masyarakat Kecamatan Detusoko untuk dapat menggali potensi daerah, mengelolanya, memanfaatkannya, dan mempromosikannya ke tingkat internasional. Mereka sudah melakukannya, mereka boleh saya bilang ... sukses. Nando Watu adalah contoh paling baik yang bisa saya lihat saat ini. Bayangkan jika pangan lokal dikelola, dikemas eksklusif, dipasarkan, oleh masyarakat lokal itu sendiri. Bayangkan jika semua daerah di Provinsi NTT banyak yang melakukan hal ini, maka angka buruh migran dapat ditekan. Karena, siapa sih yang ingin bekerja di luar negeri jika bisa menghasilkan Rupiah di daerah sendiri dan dekat dengan keluarga?

Menulis pos ini memang mudah karena saya bukan seseorang yang dirongrong kebutuhan hidup sementara tidak punya skill dan terpaksa harus menjadi buruh migran. Bagi mereka yang mengalaminya, menjadi buruh migran satu-satunya solusi, karena skill yang terbatas. Mungkin pula iming-iming kerja di luar negeri bergaji bukan Rupiah sehingga selalu menarik minat. Seperti yang sudah saya tulis di atas, permasalahan buruh migran ini berada di dalam satu roda yang sama dengan permasalahan lain di Indonesia. Terus berputar. Untuk mengatasinya, tidak bisa secara masive, tapi harus perlahan alias satuper satu.

Agen-agen perubahan, seperti Nando Watu misalnya, menyusup ke masyarakat, mengajak masyarakat berdiskusi tentang potensi daerahnya dan apa yang bisa dilakukan untuk menghasilkan Rupiah yang lebih banyak. Masyarakat diberikan pelatihan gratis atau berbiaya rendah untuk menambah/meningkatkan skill mereka. Di Ende, Deth Radja membuka kursus kecantikan. Ini kan menarik. Peserta kursus kelak dapat membuka salonnya sendiri dengan keahlian make up dan hair do. Ada pula Abang Umar Hamdan dari ACIL (Anak Pecinta Lingkungan) yang selain mengurusi masalah sampah, juga mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai ekonomis. Dan masih banyak agen perubahan lainnya yang sudah berjuang baik untuk diri sendiri maupun orang lain, hanya saja jarang terekspos sehingga tidak banyak yang tahu (kalau tahu kan bisa jadi inspirasi dan enggan menjadi buruh migran).

Regulagisi tentang buruh migran di berbagai tingkat harus disusun/diubah agar tidak merugikan buruh migran termasuk perlindungan hukumnya. 

Dan tentu upah pekerja harus diperhatikan ha ha ha ... 

Demikian secuil oleh-oleh dari kegiatan seminar nasional tersebut. Menurut kalian sendiri, apa yang harus dilakukan oleh kita semua untuk mengatasi permasalahan buruh migran ini? Silahkan berbagi ide di papan komentar.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Terima kasih ...



Cheers.

Lomba SUC Endenesia


Stand up comedy (SUC) bukan hal baru di Indonesia. Mulai dari zamannya Ernest Prakasa, Panji Pragiwaksono, Raditya Dika, Abdur, Fico, sampai Ridwan Remin dan Dana. Saya selalu suka menonton SUC. Siapa sih yang tidak suka? Satu orang di panggung bisa bikin satu Indonesia tertawa itu luar biasa. Karena, satu orang di dunia politik bikin satu Indonesia berantem itu sudah biasa. Oleh karena itu, ketika tahu bahwa salah seorang pemuda Ende begitu pandai membikin joke-joke segar dengan muatan lokal, saya pikir itu luar biasa. 

Baca Juga: Politik Itu Abu-Abu

Sudah lama saya mengenal Udo, Facebook: Udo Jee Petruz, mahasiswa Prodi Sastra Inggris Universitas Flores. Minatnya pada dunia stand up comedy didukung bakat ngelucunya yang selalu bisa menghidupkan suasana. Saya dan Iwan Aditya pernah mengundang Udo sebagai bintang tamu dalam program Tuwan Show di Radio Gomezone Flores tahun 2016 dan suasana malam itu pecah sepecah-pecahnya. Saya memang sering melempar joke dan pasti tertawa setiap kali mengudara, tapi malam itu otot perut saya kram maksimal. Baik joke dari Udo, joke dari saya, maupun joke typo bibir ciri khas Iwan. Haha.

Beberapa kali Udo menghubungi saya dan mengutarakan rencananya untuk menggelar acara stand up night. Acara itu bakal menghadirkan para komika asal Kota Ende dan Kota Maumere. Belum tahu perkembangan tanggapan dari komika asal kota lainnya. Tapi tentu stand up night membutuhkan waktu, tenaga, juga dana, yang lumayan besar. Ya kan? Lagi pula stand up comedy merupakan sesuatu yang masih baru di Kota Ende. Bagaimana cara menarik perhatian sponsor, itu yang harus dipikirkan, karena rata-rata sponsor selalu tertarik dengan event musik yang massa-nya ugh wow.

Lalu, suatu hari di awal April 2019 saya dihubungi Udo. Dia meminta bertemu di Miau-Miau Cafe milik Andi Ginta. Oh ya, saya pernah mengajari blog kepada mahasiswa yang memilih lokasi di kafe ini karena akses internetnya kencang. Siang itu kami membicarakan tentang rencana membikin Lomba Stand Up Comedy Endenesia yang super sederhana karena dananya hanyalah modal pribadi Andi seorang. 

Modal Pribadi


Andi Ginta, yang selain memiliki Miau-Miau Cafe juga Hotel Satar Mese, menyediakan dana pribadi untuk menggelar lomba tahap awal ini. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukuplah untuk memulai sesuatu yang sudah seharusnya berjalan sejak lama. Saya pikir, kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kapaaaan dunia stand up comedy ini bergerak di kota kecil kami? Apakah cuma Udo saja yang tampil di acara-acara untuk open mic? Andi sendiri meminta lomba ini diselenggarakan setiap bulan atau setiap tiga bulan. Dia bakal tetap menanggung dananya meskipun kelak, kalau sukses, sudah ada sponsor.

Saya terkesiap.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Andi Ginta loh, darah asli yang mengalir di tubuhnya adalah Manggarai, tetapi dia mau berbuat untuk kota ini, Kota Ende. Itu kan seperti ditampar halus bolak-balik hahaha. I'm in! Saya setuju. Apa yang harus kami pikirkan? Dana (untuk hadiah) ada, lokasi gratis di Miau-Miau Cafe, soundsystem secukupnya, juri saya dan Udo, dokumentasi si Cahyadi sudah oke untuk merekamnya menggunakan kamera saya. Bukankah sudah siap tancap gas? Maka bermodal Canva saya pun membikin e-pamflet.


Bahkan, setelah e-pamflet ini beredar di media sosial, banyak juga mau terlibat. Misalnya Armando, sahabat saya yang adalah penyiar RRI bersedia menjadi MC, dan Kiss dan Ampape Sablon pun bertanya-tanya apakah dia bisa ikut berpartisipasi dengan menyumbangkan kaos, dan Habibie dari SUC Jogja (anak Ende yang kuliah di sana) pun bersedia berpartisipasi. Lhaaaa tidak disangka kan? Dari ide dan langkah kecil kemudian, Insha Allah, menjadi besar.

Quota Yang Terpenuhi


Kami optimis meskipun hadiahnya kecil. Kalau tidak optimis ... ya tidak jalan lah. Untuk kegiatan perdana ini, dibuka slot untuk sepuluh pendaftar pertama saja. Kalau masih ada yang mau mendaftar, kami simpan untuk kegiatan berikutnya (tiga bulan berikutnya). Tidak disangka, sejak dikeluarkan e-pamflet itu, menerima banyak inbox dan pesan WA, pada akhirnya pada Jum'at, 26 April 2019, quota-nya terpenuhi. What!? Are you kidding me?

SEPULUH PENDAFTAR!
7 LAKI-LAKI, 3 PEREMPUAN.

Mata saya berkaca-kaca. Terbukti para calon komika ini membutuhkan wadah, bukan hadiah. Dan Alhamdulillah wadah itu sudah terbentuk dan tinggal diisi saja.


Menjadi juri Lomba Stand Up Comedy Endenesia, kalau boleh disebut Episode 1, membikin saya belajar untuk melucu hahaha. Kalian bisa lihat video di Youtube saya, tentang hal-hal absurd. Tapi baru tiga video saja. Selain itu saya pun harus membekali diri dengan apa-apa yang berkaitan dengan dunia stand up comedy. Misalnya apa itu premis, punchline, blue material, timming, ripping, act-out, artikulasi, sampai mic-ing. Ya, bagaimana seorang komika mampu menampilkan komedi yang lucu bagi semua orang yang menontonnya. Mama eee sa pikir mudah ternyata uzu roooo.

Satu yang saya pinta dari kalian. Bukan suara, karena saya tidak nyaleg dan Pemilu sudah berakhir. Yang saya minta hanyalah doa dan dukungan agar kegiatan ini berjalan dengan baik dan lebih berkembang ke depannya.

Baca Juga: Fair Play Flag

Salam ngakak :p



Cheers.

Politik Itu Abu-Abu


Pemilu serentak telah selesai dilaksanakan pada Rabu 17 April 2019. Pencoblosan tercepat adalah pencoblosan surat suara pertama, untuk calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, termasuk penghitungan suaranya. Karena kita tidak dipusingkan dengan begitu banyak pilihan. Hanya ada nol satu dan nol dua. Hanya ada kiri dan kanan. Beda dengan empat surat suara lainnya; begitu banyak foto, begitu banyak nama, begitu banyak pertimbangan. Dan, meskipun banyak lembaga telah merilis hasil quick count, tapi tetap kita harus menunggu, serta menghormati keputusan dan pengumuman resmi dari KPU. 

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Politik itu fifty shades of grey abu-abu. Semua orang pun tahu. Fulan pun harusnya demikian. Oleh karena itu, apabila Fulan bukanlah orang yang terjun berkuyup-kuyupan dalam politik, jagalah baik-baik jari (media sosial yang punya rekam jejak digital) dan lisan (perkataan). Karena, kadang Fulan tidak sadar, saat sedang hanyut ke hilir seturut arus politik dengan begitu bergairahnya, orang-orang yang awalnya bersama Fulan turut ke hilir, satuper satu kembali ke hulu. Bahkan, ada yang berbalik menertawai Fulan yang kebingungan di hilir. Kan asyeeeem itu. Qiqiqiq ;)

Tidak ada lawan dan kawan abadi dalam politik. Saya sering membaca tulisan ini. Siapa yang mencetusnya? Kancah perpolitikan itu sendiri. Prabowo mendukung Jokowi-BTP menuju DKI 1 dan DKI 2, kemudian pecah kongsi ketika Jokowi-Kalla maju sebagai paslon Presiden dan Wapres pada tahun 2014, karena saat itu pun Prabowo-Hatta pun maju sebagai paslon Presiden dan Wapres. Ngabalin berada di kubu siapa tahun 2014? Kemudian, Ngabalin bekerja di Kantor Kepala Staf Kepresidenan. Masih banyak contoh lain yang membuktikan bahwa tidak ada lawan dan kawan abadi dalam politik.

Sebagai warga negara, warga negara yang tidak kuyup terjun dalam dunia politik, tentu kita boleh-boleh saja menulis opini tentang para politikus bangsa ini. Si Ini kalau ngetwit tidak berpikir terlebih dahulu dan seringnya memprovokasi, Si Itu suka bikin statement yang merugikan kredibilitas politikus lain, Si Anu gemar pindah-pindah partai, dan lain sebagainya. Tapi haruslah disampaikan dengan bahasa yang sopan. Karena, apabila tidak sopan, apa bedanya kita dengan Si Itu yang ngetwit tidak berpikir terlebih dahulu dan seringnya memprovokasi? Yang harus diingat adalah, setelah musim terpanas politik ini berakhir, kita tetap bekerja di perusahaan yang sama dengan gaji yang sama (bisa jadi naik), dan Insha Allah punya teman yang sama (bahkan bertambah).

Politik itu abu-abu, tapi janganlah yang abu-abu ini memecahkan persaudaraan dan persahabatan. Politik itu abu-abu, tapi pilihan tidak. Maksudnya, karena bingung dengan abu-abu ini, jadi malah golput. Jangan donk he he he. Saya yakin kalian semua juga tidak mau berada di area abu-abu sehingga memutuskan untuk tidak memilih. Ya kan? Politik itu jangan keliwat pakai urat, nanti stroke.

Baca Juga: Fair Play Flag

Mari kembalikan media sosial dengan warna-warna cerah kehidupan ...



Cheers.

Jaga Waka Nua


Event keren Triwarna Soccer Festival (TSF) 2019 telah berakhir 1 April kemarin. Meskipun demikian, gaungnya masih terdengar sampai hari ini. Masih banyak orang membicarakannya. Mulai dari kemenangan Ende Selatan FC (Kelurahan Ende Selatan), pagar tembok yang kini dipenuhi karya seni mural, keuntungan yang diraup khususnya oleh para pedagang asongan yang wara-wiri di dalam Stadion Marilonga, hingga UMKM dan komunitas yang diberi ruang stand/tenda pameran oleh panitia. Sungguh TSF dengan agenda utama laga sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati ini terpatri di lubuk hati masyarakat Kabupaten Ende, dan menjadi semacam pengantar acara Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Ende (kemenangan petahana) pada tanggal 7 April 2019.

Selamat, Bapak Marsel Petu (Bupati) dan Bapak Djafar Ahmad (Wakil Bupati). Selamat melanjutkan pekerjaan yang telah Bapak berdua mulai dan terus melakukan perubahan positif pada Kabupaten Ende. Kami bangga.

Baca Juga: Fair Play Flag

TSF yang telah menggeliatkan berbagai lini khususnya perekonomian di Kabupaten Ende, bisa kalian baca pada pos TSF 'Story, punya satu jargon keren yaitu Jaga Waka Nua. Jargon ini melekat pada kaos panitia, pada baliho-baliho, pun pada banyak bendera supporter. Ya, kami harus jaga waka nua! Jadi, tidak heran jika mendadak mendengar ada yang nyeletuk: ideeee ma'e pemata, jaga waka nua hekow (duh, jangan berantem, jaga martabat kampung kita).

Jaga Waka Nua


Jaga waka nua merupakan jargon paling tepat pilihan panitia/penyelenggara. Saya salut sama yang menetapkan jargon ini, hahaha. Dan bagi saya, jaga waka nua ini punya banyak makna, kalau diresapi dalam-dalam. Secara etimologi, jaga waka nua yang terdiri dari tiga suku kata berarti menjaga martabat kampung.


Jaga = menjaga.
Waka = martabat/harga diri.
Nua = kampung.

Martabat/harga diri yang seperti apa yang harus dijaga? Itu yang akan saya jelaskan pada pos ini. Tentu dari sudut pandang saya pribadi. Dan sudut pandang dinosaurus juga. Apabila kalian Orang Ende, membaca pos ini, dan merasa tidak setuju dengan pos ini, silahkan tulis sendiri pendapat kalian tentang jaga waka nua, dan bagi tautan blog-nya pada saya. Tentu bakal saya baca. Berbagi pendapat tidak pernah merugi bukan?

Bilah Pemerintah


Dari pandangan mata saya pribadi, Kabupaten Ende merupakan kabupaten yang identik dengan turnamen sepak bola. Sebut saja, Universitas Flores (Uniflor) punya Ema Gadi Djou Memorial Cup (EGDMC), lantas ada pula Muthmainah Cup, dan turnamen lainnya antara lain Suratin Cup. Tahun 2017, Kabupaten Ende boleh berbangga dengan menjadi tuan rumah dari turnamen besar bernama El Tari Memorial Cup 2017 (ETMC) yang melibatkan semua kabupaten se-Provinsi Nusa Tenggara Timur. Standar Kabupaten Ende dalam ETMC 2017 sungguh luar biasa; penjemputan setiap kontingen dengan tari-tarian dan bahasa adat, launching atribut yaitu Burung Gerugiwa dan bola raksasa dengan perhentian yang melibatkan adat-istiadat, pertandingan di Stadion Marilonga yang berumput hijau - bahkan dapat dilakukan malam hari, hingga live streaming! Standar itu, dalam skala Provinsi Nusa Tenggara Timur, sangat tinggi.

Waka nua kami saat ETMC 2017 benar-benar terangkat dan terjaga dengan sangat spektakuler. Bukannya melebih-lebihkan, namun memang demikian adanya.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

TSF 2019 harus mampu menandingi, atau harus melebihi, standar yang tercipta dari ETMC 2017 tersebut. Meskipun tanpa penjemputan kontingen setiap kecamatan dikarenakan ini adalah turnamen 'antar saudara kandung', namun kemeriahan dan pernak-pernik TSF 2019 mampu melebihi ETMC 2017. Kami harus menjaga waka nua ini. Jangan sampai malu-maluin bangsa dan negara haha. Oleh karena itu launching atribut TSF 2019 dilakukan sama persis pada saat ETMC 2017, yang dimulai dari Lapangan Perse (Kecamatan Ende Utara), diterusan dengan jalur yang telah diatur berikut perhentian setiap kecamatannya hingga berakhir di Stadion Marilonga. Sambutan dalam suasasa (bahasa adat) pun luar biasa.

Selain ajang sepak bola, TSF juga punya dua mata acara lain yaitu Lomba Mural dan Pameran dengan tema Bego Ga'i Night. Jujur, festival semacam ini memang hal yang baru bagi masyarakat Kabupaten Ende namun sekaligus merupakan sesuatu yang juga ditunggu-tunggu. Karena, kata orang, kami Orang Ende ini haus hiburan. Hahaha.

Jaga waka nua juga diwujudkan dalam bentuk kepanitiaan yang solid dan mampu bekerja dengan sangat baik sehingga tidak memalukan apa lagi sampai membanting harkat dan martabat. Maklum, saya melihat kebanyakan anggota panitia adalah orang-orang yang tahan banting dan pernah bekerja pada kepanitaan turnamen sepak bola juga. Jadi, urusan-urusan yang berhubungan dengan TSF 2019 ini bukan hal yang baru yang bikin kaget.

Bilah Pemain


Jaga waka nua tidak saja bermakna pada bilah pemerintah seperti yang tertulis di atas, tetapi juga bermakna untuk para pemain sepak bola dari setiap klub (kecamatan). Artinya ... my game is fair play! Iya, itu kesimpulan besarnya. Para pemain harus menjaga waka nua-nya melalui permainan-permainan yang ciamik alias tidak membikin malu. Kalah tidak mengapa, asal jangan sampai kalah total tanpa perlawanan yang imbang. 

Sekali dua memang terjadi ketegangan di tengah lapangan, hal-hal semacam itu acap tidak dapat dihindari, tetapi dapat diatasi oleh perangkat pertandingan. Kami yang berada di luar lapangan tidak punya kuasa kan hahaha. Pokoknya, para pesepakbola dari setiap klub pada TSF 2019 ini betul-betul jaga waka nua. Bayangkan jika pertandingan harus diperpanjang waktunya dan masih seri, sehingga harus dilakukan adu pinalti yang cukup panjang karena seri pula, sungguh terlalu. Hahaha. Saya yang akhirnya ikut menonton pun deg-degan.

Bilah Masyarakat


Dari bilah masyarakat, jaga waka nua berarti setiap orang harus mampu menjaga martabat/harga diri kampungnya. Kampung di sini berarti kecamatan asal maupun kecamatan domisili. Masyarakat yang dilingkupkan menjadi penonton dan supporter harus mampu bersikap kooperatif terhadap jalannya pertandingan dan hasilnya. Jangan sampai terjadi antara 'saudara kandung' saling kelahi haha. Jadi, sejauh saya menjadi panitia TSF 2019, tidak terjadi perkelahian yang berarti. Maksudnya, satu kali perkelahian terjadi di luar Stadion Marilonga hanya karena salah ucap dan ketersinggungan. Itu pun langsung diamankan oleh para aparat.

Secara umum, event Triwarna Soccer Festival menuai kritikan positif dari banyak orang, baik masyarakat Kabupaten Ende sendiri maupun yang dari luar.


Demikianlah tentang jaga waka nua yang selalu digaungkan saat event Triwarna Soccer Festival. Sebuah jargon dengan spirit dan makna yang sangat dalam. Dengan menjaga waka nua, maka kita niscaya mampu mewujudkan jargon Kabupaten Ende yaitu Ende Sare Lio Pawe. Dan saya pikir, kita semua sebaiknya menjadi orang yang bisa menjaga waka. Setuju? Yang setuju lekas komeeeen haha.

Baca Juga: Manis Akustik

Semangat Senin, kawan.


Cheers.

Fair Play Flag


Meskipun sering menjadi bagian dari panitia ajang sepak bola di Kabupaten Ende, namun sejatinya saya bukan pecinta olah raga sepak bola. Makanya saya terpaksa menolak ajakan Mas Chandra dari bagian Publikasi dan Dokumentasi, misalnya dalam Triwarna Soccer Festival, untuk turut menjadi komentator dalam video live streaming yang tayang di Youtube. Apa itu offside? Aduh, saya tidak paham. Makanya saya sangat kagum pada kaum perempuan yang fasih sama dunia sepak bola ini, terutama bagaimana cara mereka berkomentar tentang klub-klub favorit mereka. Lha sejak dulu cuma nama Maradona saja yang terpatri di kepala gara-gara euforia zaman SD ha ha ha.


Pada ajang Triwarna Soccer Festival, setiap kali usai pertandingan terakhir, pasti dilaksanakan briefing. Yang dibahas saat briefing ini umumnya evaluasi kegiatan pada hari tersebut, permasalahan dan solusi, laporan keuangan, pemilihan empat orang petugas pemegang bendera fair play, dan ditutup dengan do'a. Jika ada yang berulangtahun biasanya akan diramaikan dengan aksi menyiram air haha. Kocak memang. Hiburan saat diri sudah letih maksimal.

Malam itu, saat briefing, ketua panitia membaca nama-nama yang direkomendasikan untuk membawa bendera fair play. Terkejut ketika nama yang disebutkan adalah nama perempuan, bukan laki-laki (pada umumnya). Shinta Degor, Yudith Ngga'a, Narti, Tuteh.

What!? Haha. Bakal seruuuuu.

Fair Play Flag


Fair Play Flag merupakan bendera warna kuning, oh hyess kuning, yang pada bendera tersebut tertulis My Game is Fair Play. Bendera kebanggaan itu tidak terlepas dari FIFA (Federation Internationale de Football Association). My Game is Fair Play secara terjemahan bebas dan singkat a la saya berarti: junjung tinggi sportifitas. Hehe. Sportifitas di sini tidak saja bagi para pemainnya saja, tapi juga manajer dan coach, serta supporter. Bagi kalian yang sangat memahami dunia sepak bola, rasanya apa yang saya tulis tentang ini masih sangat miskin. Tapi tidak mengapa, itu adalah pemahaman dangkal saya tentang fair play.

Empat Perempuan Cantik


Kembali pada empat perempuan anggota panitia Triwarna Soccer Festival, maka pada hari yang ditentukan, kami pun bertugas membawa bendera fair play bertulis My Game is Fair Play. Jangan lupa pakai rompinya ya hehe.




Keberadaan kami sebagai pembawa bendera My Game is Fair Play tentu bikin heboh. Karena, lazimnya yang membawa bendera ini adalah laki-laki. Hal ini memang baru pertama kali terjadi di Kota Ende dalam ajang-ajang pertandingn sepak bola, tapi pernah terjadi di daerah lain seperti berita dari BolaDotCom dengan judul 6 Mojang Cantik Pembawa Bendera Fair Play Laga Persib. Senang banget waktu baca berita itu, artinya kami berempat tidak sendiri. Sama-sama cantik. Hahaha.

Siapa sangka, kemudian, banyak teman-teman yang membikin status tentang kami berempat? Salah satunya si penggila bola Sherif Montana:

Terima kasih Sherif.

Dan banyak yang memotret serta mengirimkan fotonya via WA dan inbox pada saya. Ah, terima kasih. Kami memang bikin heboh.


Kalau ditanya, mau lagi? Ya jelas saya mau lagi membawa bendera kebanggaan tersebut. Unik sih. Saya kan memang paling suka jadi pusat perhatian *digampar warga berjamaah*.

Baca Juga: Manis Akustik



Itu dia cerita hari ini, dari serba-serbi Triwarna Soccer Festival, dan menjadi pembawa bendera My Game is Fair Play merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya dan teman-teman lainnya. Masih banyak serba-serbi lainnya, kisah lainnya, yang bakal saya pos tapi tidak hari ini. Nanti ya, satuper satu. Semoga pos ini bisa menyuntik lebih banyak semangat Senin pada kalian semua. Hehe.



Cheers.

Pola Timbal Balik


Menulis pos ini sudah saya rencanakan jauh-jauh hari dan berusaha menulisnya dengan cermat berdasarkan penelitian dan penelaahan yang cukup matang. Kalaupun ada kekurangan, saya pikir kekurangan itu tidak masif. Saya tertarik dengan suatu pola yang berlaku dalam masyarakat. Masyarakat yang saya maksudkan di sini adalah masyarakat dari dua suku besar yang ada di Kabupaten Ende yaitu Suku Ende dan Suku Lio. Pola itu saya sebut pola timbal-balik; khususnya dalam perkara perkawinan.

Baca Juga: Manis Akustik

Bukan rahasia lagi jika kami yang hidup di Kabupaten Ende sering mendengar kalimat: ndoe, minta belis besar macam jual anak saja! Ya, kalimat itu memang menyakitkan tapi sering terucap di forum-forum tidak resmi apabila orang-orang mulai membicarakan belis. Bahkan dari MerdekaDotCom pada artikel berjudul Tradisi Belis, Budaya 'Mencekik Leher' Warga NTT dijelaskan tentang gading sebagai belis wajib di Kabupaten Flores Timur. Tapi tentu, beda kabupaten, beda pula belis-nya. Misalnya Suku Ende dan Suku Lio pantang meminta gading sebagai belis, kalau emas sih yess. Tidak bisa disama-ratakan begitu saja. Sehingga saran saya, jika ingin menulis tentang belis, pelajari terlebih dahulu suku mana yang hendak ditulis atau diulas.

Karena, bahkan, ada keluarga Suku Ende dan Suku Lio yang tidak terlalu memusingkan belis. Yang penting kelayakan, kepatutan, dan syariat atau secara agamanya dijalankan dengan baik.


Oleh karena itu, mari baca pos ini sampai selesai dengan cermat agar tidak terjadi salah tafsir. Kalau salah tafsir kan repot! Ibarat salah informasi yang kemudian disebarkan lagi dan menjadi hoax. Bisa-bisa kami, perempuan Kabupaten Ende, tidak ada yang melamar gara-gara disebut belis-nya mahal selangit.

Perpaduan Agama dan Budaya


Perkawinan di Indonesia tidak terlepas dari dua lingkup utama yaitu agama dan budaya (yang ketiga adalah peran pemerintah dalam pencatatan sipil). Perpaduan agama dan budaya dalam perkawinan ini berbeda-beda di setiap wilayah di Indonesia. Jangankan Indonesia, di Kabupaten Ende pun demikian adanya, tergantung asal suku calon pengantin perempuannya. Suku Ende atau Suku Lio. Karena saya berasal dari Suku Ende, mengikuti garis keturunan almarhum Bapa (we are patrilineal), maka saya pasti tahu tentang perkawinan adat Suku Ende. Yang namanya adat memang berat, tapi yang perlu diingat adalah kompromi dan kesepakatan kedua belah pihak. Kalau sama-sama ingin menjalankan syariat dan agar si laki-laki dan perempuan tidak melakukan hal-hal di luar aturan, segerakan perkawinan mereka dengan adat yang disertakan tapi tidak memberatkan.

Suku Ende


Suku Ende, terutama berakar pada bagian pesisir pantai Selatan hingga Pulau Ende, terakulturasi dengan agama Islam dan budaya yang dibawa oleh para pedagang/pelaut dari Bugis dan Makassar (dulu kami menyebutnya Ujung Pandang). Sehingga jarang sekali saya mendengar kata belis dari Suku Ende, melainkan mendhi belanja. Akan tetapi kata belis memang sulit dilepaskan rekatannya dari perkawinan.

Pola Timbal Balik dalam Adat Perkawinan Suku Ende


Menurut analisa saya, tidak seratus persen benar bila orang-orang berkata: belis sama dengan menjual anak perempuan kepada laki-laki yang meminangnya. Karena, berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi terhadap urusan perkawinan ini, saya paham betul bahwa selalu ada pola timbal balik dari semua tahap menuju perkawinan. Paling akhir, saya mengamati dan mempelajari pola timbal balik dari perkawinan keponakan laki-laki yaitu Angga dengan seorang perempuan bernama Titin, dari Suku Ende. Keduanya tidak pacaran melainkan memilih melewati/melalui proses ta'aruf

1. Timbal Balik Saat Nai Ono dan Buku Pelulu

Awal mula dari perkawinan Angga dan Titin adalah ta'aruf yang dilanjutkan dengan kunjungan awal keluarga laki-laki ke rumah keluarga perempuan yang disebut temba rasa. Tahap berikut adalah nai ono dan buku peluluNai ono merupakan kegiatan maso minta (masuk minta) atau lamaran. Kegiatan nai ono ini biasanya dibarengi dengan buku pelulu. Buku pelulu (sekatu uwi jawa) juga disebut mendi bha raka merupakan proses pihak laki-laki yang diwakili mayoritas oleh kaum perempuan mengantarkan barang-barang berupa cincin, dulang utama (waktu itu kami mengisi dulang utama dengan nasi tumpeng serta lauk-pauknya), uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu perempuan itu, hingga aneka kue-kue dan buah (yang disumbangkan oleh keluarga pihak laki-laki ini saat berkumpul). Pada buku pelulu Angga dan Titin, selain uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu, kakak saya Abang Nanu dan ipar saya Mbak Wati, juga memberikan sejumlah hadiah lain kepada Titin seperti sarung, baju, daleman, alas kaki, dan lain sebagainya. Dua pick up penuh dan bertumpuk dengan aneka barang hantaran buku pelulu.

Sebagian hantaran saat buku pelulu, Desember 2018. 

Si cantik, yang dibikin sama Mbak In, kakaknya Angga. 

Kakak Nani, memasang cincin hadiah dari Abang Nanu dan Mbak Wati untuk Titin. 

Sebagian kecil cucu Pua Ndawa dan Pua Djombu.

Lalu di mana pola timbal baliknya?

Dalam adat Suku Ende perkara perkawinan ini, setelah pihak keluarga calon pengantin laki-laki mengantarkan buku pelulu seperti yang sudah saya tulis di atas, maka keluarga calon pengantin perempuan akan melakukan bazhe duza/dhuza atau balik dulang atau mengembalikan dulang-dulang yang diantar sebelumnya oleh pihak keluarga laki-laki, tentu bukan dulang kosong tetapi harus ada isinya. Bazhe duza biasanya dilakukan beberapa hari setelah buku pelulu sesuai kesepakatan kedua belah pihak, agar pihak keluarga calon pengantin laki-laki juga bersiap-siap menjamu tamu. Dalam bazhe duza, jumlah dulang yang dibalikin harus sama dengan yang diantar. Isi dulangnya boleh berbeda dari yang diantar oleh pihak keluarga calon pengantin laki-laki, boleh sama, dan umumnya terdiri atas aneka kue dan buah-buahan. Inilah pola timbal balik yang saya maksudkan.

Baca Juga: Es Gula Moke

Jadi, pihak keluarga calon pengantin perempuan tidak semata-mata menerima seratus persen hantaran dari pihak keluarga calon pengantin laki-laki. Ada timbal baliknya. Pola timbal balik ini masih ada sampai pada saat setelah perkawinan berlangsung.

2. Mendhi Belanja, Bukan Belis

Meskipun namanya mendhi belanja atau mengantar uang belanja, bukan belis, namun tetap saja masyarakat Suku Ende menyebutnya belis. Karena, apa-apa yang diantar saat mendhi belanja ini umumnya sama dengan hantaran belis. Apa saja kah yang diantar saat mendhi belanja? Ini dia, antara lain:

a. Uang belanja.
b. Uang pemuda/lingkup RT.
c. Uang air susu ibu (kemarin ditolak oleh Mamanya Titin).
d. Seekor sapi.
e. Barang-barang kebutuhan perempuan.
f. Uang isi kumba isi ae nio untuk paman-paman si calon pengantin perempuan.

Totalannya bisa mencapai 100Juta, bahkan lebih. Uang belanja ya uang bumbu dan keperluan acara perkawinan nanti, uang pemuda ya untuk pemuda-pemudi setempat lingkungan si calon pengantin perempuan, uang air susu ibu semakin ke sini telah sering ditolak oleh para ibu, sapi untuk keperluan konsumsi acara perkawinan, barang-barang kebutuhan perempuan dari A sampai Z, isi kumba isi ae nio

3. Isi Kumba Isi Ae Nio

Menarik sekali membahas ini. Karena pola timbal balik juga terjadi di sini. Pihak keluarga calon pengantin laki-laki memang juga mengantar sejumlah uang untuk isi kumba isi ae nio saat mendhi belanja, tapi jangan salah, sebenarnya itu bakal dibalikin, kadang jauh lebih besar jumlahnya, oleh para Ka'e Embu. Ka'e embu adalah om/paman dari pengantin perempuan baik dari pihak Bapak maupun pihak Ibu. Jadi, setelah perkawinan berlangsung, pihak ka'e embu ini wajib mengantarkan isi kumba isi ae nio ke rumah pengantin laki-laki. Isi kumba ditanggung oleh paman dari pihak Ibu sedangkan isi ae nio ditanggung oleh paman dari pihak Bapak si pengantin perempuan.

Isi kumba biasanya berupa perlengkapan untuk pengantin perempuan, sedangkan isi ae nio berupa perlengkapan untuk pengantin laki-laki. 

SAH!

Sebagian kecil cucu Pua Ndawa dan Pua Djombu.

Kemarin, saat setelah pernikahan Angga dan Titin, ada tiga koper (karena zaman sekarang susah mencari gentong jadi memakai koper gedeeee) yang diantar oleh pihak pengantin perempuan. Satu koper lagi untuk siapa? Untuk saudari dari Bapaknya pengantin laki-laki. Ya, dalam hal ini Kakak Nani Pharmantara yang sebelum mendhi belanja sudah mengantarkan lebih dulu jatahnya yaitu seekor sapi kepada Abang Nanu Pharmantara. Seharusnya, sebagai adik dari Abang Nanu saya juga wajib mengantar eko (ekor, hewan) tetapi karena saya belum menikah dibolehkan untuk alpa hahaha.

See ...? Semuanya memakai pola timbal-balik.

Sehingga kalau ada yang menyamaratakan belis itu mencekik dan bikin bangkrut pihak laki-laki, menurut hemat saya ... tidak ah.

Soal pola timbal balik ini masih banyak loh dalam adat Suku Ende maupun Suku Lio, seperti weta ane itu hantaranya apa, dan kalau dibalik itu apa saja barangnya, dan lain sebagainya. Nanti saya ulas ya.

Ada Bedanya


Perbedaan ini bukan dari urusan suku saja, tetapi juga dari urusan kesepakatan kedua belah pihak. Oleh karena itu kalian masih bisa membaca tulisan tentang belis yang bikin pihak laki-laki kalang-kabut memenuhinya, tapi kalian juga bisa membaca tulisan saya tentang belis/mendhi belanja yang masih terhitung masuk akal. 

Makhluk Sosial dan Keluarga


Saya selalu bilang, jika kawin nanti (apabila diijinkan oleh Allah SWT), cukup di KUA dan makan keluarga, kemudian bubar. Apa yang saya sampaikan itu ditentang oleh keluarga dan bahkan teman-teman. Saya bilang: terlalu banyak uang dihambur-hamburkan, nanti. Mereka bilang: kalau menikah (mereka tidak pakai kata kawin karena mereka bukan orang Hukum, halah, hahaha) nanti yang memikirkan ini itu bukan kau, tapi keluarga, termasuk kami!

Ah, manusia adalah makhluk sosial yang mau tidak mau memang harus hidup bersama manusia lainnya dalam suka dan duka. 

 Rempongnya memakai sarung tenun ikat, hahaha.

Ihiiirrr ... 

Abang Nanu, Kakak Nani, Angga dan Titin, saya, Babe Didi.

Kalau kalian membaca pos 5 Yang Unik Dari Ende (Bagian 2), kalian pasti tahu soal minu ae petu. Pahami soal minu ae petu, kalian akan paham bagaimana cara pemenuhan belis atau keperluan mendhi belanja, selain dari tabungan pribadi. Karena kita, manusia, adalah makhluk sosial dan mempunyai keluarga yang tidak akan tinggal diam dalam urusan-urusan besar keluarga lainnya. Mau bilang: tidak perlu? Maka kita bakal melanggar adat-istiadat! Hahaha. Sumpah, meskipun hidup di zaman moderen dan di kota, saya tidak mau disebut melanggar atau meninggalkan adat. Karena saya, berakar dari dua adat yaitu adat Suku Ende (Bapa) dan adat Suku Lio (Mamatua).


Demikianlah pola timbal balik, pos yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, tapi tentu harus melengkapi data sebelum berani mempublikasikannya. Intinya adalah belis/mendhi belanja itu adalah adat yang wajib dipenuhi, tetapi tidak boleh memberatkan, agar perkawinan dapat disegerakan. Oleh karena itu kesepakatan kedua belah pihak sangat diperlukan untuk mencapai mufakat sebelum hari perkawinan tiba. 

Baca Juga: Arekune

Bagaimana dengan daerah kalian, kawan? Yuk, share ...



Cheers.