Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19


Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19. Halo semua! Sudah lama, lama, lama sekali kalian tidak bertemu tulisan baru di blog ini. So sorry, keasyikan sama Horeday jadi lupa ngasih semacam notifikasi pada kalian. Hehe. Yang jelas, saya ingin mengucapkan Selamat Merayakan Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakannya, meskipun sudah lewat jauh, dan semoga puasanya pada Bulan Ramadan kemarin betul-betul membersihkan hati dan pikiran saya, kalian, mereka. Insha Allah. Amin.


Baca Juga: Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Sebenarnya sejak tahun lalu saya sudah berencana untuk close house (lawannya open house kan ya, haha). Rencananya Idul Fitri tahun 2020 ini saya bakal mengajak semua penghuni Pohon Tua termasuk Mamasia dan Mamalen untuk pelesir ke Riung. Kalau Riung terlalu jauh, menginap di hotel di Kota Ende pun boleh lah. Intinya kami tidak membikin kue, tidak memasak masakan khas Idul Fitri, serta tidak menerima tamu. Ndilalah, Covid-19 mewujudkan rencana itu *ngakak*. Kami memang tidak ke mana-mana alias #DiRumahSaja sekaligus tidak menerima tamu. Apakah dengan demikian pengeluaran terpangkas? Terpangkas sedikit, karena kami tetap membikin kudapan dan memasak meskipun jumlahnya sangat sedikit. Sesuai jumlah penghuni Pohon Tua dan anggota keluarga besar Pharmantara dan Abdullah Achmad (the only one kakak ipar laki-laki).


Hari kedua Idul Fitri saya pergi (untuk kedua kali) bersilaturahmi ke rumah Abang Nanu Pharmantara bersama Kakak Nani Pharmantara dan suaminya Ka'e Dul. Dari situ tercetus ide untuk piknik keesokan harinya. Selasa! Amboiiii rencana mendadak ini ... apakah terlaksana? Jelas! Melalui WAG Encim and The Gank, semua orang kebagian bekal bawaan. Piknik kali ini agak berbeda karena kami juga membawa tenda. Oh ya, bagi kalian yang penasaran dengan keseruan piknik Encim and The Gank ini, silahkan  nonton video berikut:


Sudah nonton videonya? 

Seru kan?


Nah, pasti ada yang bertanya mengapa kami 'berani-beraninya' piknik di tengah pandemi Covid-19 ini? Pasti kalian betul-betul emosi dengan keluarga kami kan? Hehe. Tidak apa-apa, setiap orang berhak untuk marah pada masa seperti sekarang ini. Inilah yang saya tulis pada deskripsi video tersebut:

Setelah sekian lama akhirnya keluarga besar kami, Keluarga Pharmantara dan Keluarga Abdullah Achmad, memutuskan untuk piknik. Kali ini pikniknya di Kali Nangaba. Meskipun piknik, kami tetap berusaha menjaga protokol kesehatan ya, gengs. Jangan marah atau menyalahkan keluarga kami karena piknik di tengah pandemi Covid-19. Yang perlu diketahui adalah bahwa Kali Nangaba itu panjaaaaang, dan area kering di sekitarnya sangat luas, sehingga jarak antara keluarga kami dengan orang lain lebih dari 10 meter. Tentu kami juga tidak ingin hal-hal buruk menimpa ... Insha Allah. Amin.

Tentu kami semua mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan. Semua kendaraan yang dipakai baik sepeda motor maupun mobil disemprot dengan disinfektan terlebih dahulu. Semua orang, sebelum berangkat, wajib mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan wajib memakai masker. Di Kali Nangaba (kami jarang menyebut sungai), jarak antara rombongan kami dengan orang-orang lainnya lebih dari sepuluh meter, bahkan lebiiiiiih lagi. Setiap orang tentu tidak mau terinfeksi Covid-19 bukan? 


Saya berharap kalian juga demikian ... masih bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga di tengah pandemi Covid-19. Amin.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19


Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19. Halo semua! Sudah lama, lama, lama sekali kalian tidak bertemu tulisan baru di blog ini. So sorry, keasyikan sama Horeday jadi lupa ngasih semacam notifikasi pada kalian. Hehe. Yang jelas, saya ingin mengucapkan Selamat Merayakan Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakannya, meskipun sudah lewat jauh, dan semoga puasanya pada Bulan Ramadan kemarin betul-betul membersihkan hati dan pikiran saya, kalian, mereka. Insha Allah. Amin.


Baca Juga: Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Sebenarnya sejak tahun lalu saya sudah berencana untuk close house (lawannya open house kan ya, haha). Rencananya Idul Fitri tahun 2020 ini saya bakal mengajak semua penghuni Pohon Tua termasuk Mamasia dan Mamalen untuk pelesir ke Riung. Kalau Riung terlalu jauh, menginap di hotel di Kota Ende pun boleh lah. Intinya kami tidak membikin kue, tidak memasak masakan khas Idul Fitri, serta tidak menerima tamu. Ndilalah, Covid-19 mewujudkan rencana itu *ngakak*. Kami memang tidak ke mana-mana alias #DiRumahSaja sekaligus tidak menerima tamu. Apakah dengan demikian pengeluaran terpangkas? Terpangkas sedikit, karena kami tetap membikin kudapan dan memasak meskipun jumlahnya sangat sedikit. Sesuai jumlah penghuni Pohon Tua dan anggota keluarga besar Pharmantara dan Abdullah Achmad (the only one kakak ipar laki-laki).


Hari kedua Idul Fitri saya pergi (untuk kedua kali) bersilaturahmi ke rumah Abang Nanu Pharmantara bersama Kakak Nani Pharmantara dan suaminya Ka'e Dul. Dari situ tercetus ide untuk piknik keesokan harinya. Selasa! Amboiiii rencana mendadak ini ... apakah terlaksana? Jelas! Melalui WAG Encim and The Gank, semua orang kebagian bekal bawaan. Piknik kali ini agak berbeda karena kami juga membawa tenda. Oh ya, bagi kalian yang penasaran dengan keseruan piknik Encim and The Gank ini, silahkan  nonton video berikut:


Sudah nonton videonya? 

Seru kan?


Nah, pasti ada yang bertanya mengapa kami 'berani-beraninya' piknik di tengah pandemi Covid-19 ini? Pasti kalian betul-betul emosi dengan keluarga kami kan? Hehe. Tidak apa-apa, setiap orang berhak untuk marah pada masa seperti sekarang ini. Inilah yang saya tulis pada deskripsi video tersebut:

Setelah sekian lama akhirnya keluarga besar kami, Keluarga Pharmantara dan Keluarga Abdullah Achmad, memutuskan untuk piknik. Kali ini pikniknya di Kali Nangaba. Meskipun piknik, kami tetap berusaha menjaga protokol kesehatan ya, gengs. Jangan marah atau menyalahkan keluarga kami karena piknik di tengah pandemi Covid-19. Yang perlu diketahui adalah bahwa Kali Nangaba itu panjaaaaang, dan area kering di sekitarnya sangat luas, sehingga jarak antara keluarga kami dengan orang lain lebih dari 10 meter. Tentu kami juga tidak ingin hal-hal buruk menimpa ... Insha Allah. Amin.

Tentu kami semua mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan. Semua kendaraan yang dipakai baik sepeda motor maupun mobil disemprot dengan disinfektan terlebih dahulu. Semua orang, sebelum berangkat, wajib mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan wajib memakai masker. Di Kali Nangaba (kami jarang menyebut sungai), jarak antara rombongan kami dengan orang-orang lainnya lebih dari sepuluh meter, bahkan lebiiiiiih lagi. Setiap orang tentu tidak mau terinfeksi Covid-19 bukan? 


Saya berharap kalian juga demikian ... masih bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga di tengah pandemi Covid-19. Amin.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Satu Minggu Yang Diam dan Senyap di Blog dan Youtube


Satu Minggu Yang Diam dan Senyap di Blog dan Youtube. Minggu kemarin saya sama sekali tidak menulis blog dan hanya satu kali mengunggah video di Youtube. Benar-benar satu minggu yang diam dan senyap. Tetapi tentu saya ada alasannya. Meskipun diam dan senyap di blog dan Youtube, dalam kehidupan nyata justru sebaliknya. Terlalu banyak hal yang dilakukan sehingga untuk menengok blog pun sulit. Fokus, fokus, fokus. Kalau fokus terpecah, maka hari ini saya belum tentu bisa menulis blog. Haha. Tapi tentu saya

Baca Juga: Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Di Kota Ende selain marak berita tentang satu orang yang dinyatakan positif Covid-19, warga juga dikejutkan dengan berita penyiraman air keras terhadap seorang perempuan bernama Adi Nona hingga meninggal dunia (karena cairan tersebut katanya memasuki jalan nafas). Berita ini sungguh membikin perasaan saya hancur. Bagaimana mungkin ada orang setega itu terhadap orang lainnya? Di bulan suci Ramadan pula! Dan yang lebih sadis adalah netizen yang kemudian memosting foto jenazah bersangkutan saat masih di IGD. Ini kan nganu ... pengen marah-marah jadinya.

Saya menulis begini di Facebook:

Arogansinya Netizen +62

Bulan Agustus 2017 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Flores (Uniflor) menggelar kegiatan bertajuk "Secangkir Kopi bersama Abang Frans Padak Demon". Abang Frans dari VoA Indonesia di Jakarta melempar quiz/pertanyaan. Kira-kira begini pertanyaannya: lebih mudah mana, pekerjaan wartawan zaman sekarang atau zaman dulu ketika belum ada internet? Saya sebagai orang yang menjawab dengan benar mendapat hadiah dompet VoA dan satu barang lagi yang saya lupa barang apa.

Jawaban saya waktu itu: lebih mudah pekerjaan wartawan zaman dulu karena saat sekarang wartawan bersaing dengan netizen yang selalu ingin lebih dulu menyiarkan segala sesuatunya tanpa memerhatikan akurasi data dan fakta.

Sejak mengenal Internetsehat (ICT Watch) dan kalimat "Jurnalis Warga" saya tahu bahwa netizen juga berhak untuk memosting apa pun, tetapi harus tetap memerhatikan kode etik online. Sayangnya arogansi netizen +62 jauh lebih besar menguasai besarnya bentuk otak di dalam tempurung kepala.

Pasal 4 PERATURAN DEWAN PERS Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 Tentang Pengesahan SURAT KEPUTUSAN DEWAN PERS Nomor: 03/SK-DP/III/2006 Tentang KODE ETIK JURNALISTIK SEBAGAI PERATURAN DEWAN PERS berbunyi sebagai berikut:

"Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul."

Penafsirannya adalah sebagai berikut:

"Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan."

Tidak mengenal belas kasihan merupakan wujud dari arogan. Arogan berarti sombong, congkak, pongah, serta mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa.

Wartawan tentu mematuhi aturan yang diberlakukan untuk mereka. Tapi netizen ...?

Netizen +62 itu arogan. Meskipun tidak semua. Kenapa arogan? Karena dengan penuh rasa percaya diri memosting foto jenazah/mayat di media sosial. Salah satu media sosial itu bernama Facebook. Karena apa mereka arogan? Karena ingin menjadi yang pertama menyiarkan berita dan foto tanpa menggunakan otak yang dilindungi tempurung kepala itu. Lebih sadis, foto jenazah yang diposting bukan keluarga mereka sendiri. Padahal, meskipun keluarga, sebaiknya menghindari melakukannya karena itu merupakan bentuk tidak punya rasa hormat terhadap jenazah.

Ini baru melihat dari peraturan Dewan Pers, belum lagi peraturan lain seperti Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Apakah memosting foto jenazah bisa terjerat hukum? Ya, bisa. Jangankan jenazah. Sebenarnya memosting foto orang lain tanpa izin yang bersangkutan pun bisa terjerat hukum. Pihak keluarga dari si jenazah bisa melakukan penuntutan terhadap netizen yang memosting foto korban yang bersangkutan. Bisa dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Siapa sih yang senang foto jenazah keluarganya diposting orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya? Keluarga bukan, pihak berwajib juga bukan, tapi berani melakukannya.

Netizen yang berani memosting foto jenazah di media sosial itu:

TIDAK PUNYA NURANI.

Sebenarnya saya mau menulis BUTA HUKUM tapi toh zaman sekarang setiap orang bisa mengakses segala macam peraturan yang ada. Jadi lebih tepatnya tidak punya nurani karena AROGAN.

Menjadi yang pertama itu baik, tapi menjadi yang pertama tanpa memikirkan hak orang lain untuk dihormati adalah bo ...

#LifeIsGood

Tahan-tahan emosi. Postingannya jauh lebih sopan. Hehe.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Saya harap netizen berhenti memosting foto jenazah dan/atau foto-foto bersifat sadis lainnya. Terutama foto jenazah, postinglah foto ketika beliau masih hidup dalam kondisi sehat dan penuh senyum. Biarkan semua orang mengenangnya dalam kondisi itu, bukan dalam kondisi yang buruk (setelah meninggal). Come on, kita orang-orang yang cerdas kan? I guess.

Semoga bermanfaat!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb. sedang membagi masker, tetap mengikuti protokol kesehatan yaitu menjaga jarak dan mencuci tangan usai kegiatan.

Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan. Sabtu kemarin saya meliput kegiatan yang dilakukan oleh Universitas Flores (Uniflor) dalam hal ini pihak Rektorat. Kegiatannya sangat keren yaitu membagi (ratusan) masker kepada masyarakat sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardikas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei, saya pikir kegiatan ini sangat tepat dengan kondisi sekarang di mana Covid-19 sedang merajalela. Membagi sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker merupakan salah satu upaya penting memutus penyebaran Covid-19.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Karena saya yang membikin beritanya, maka bolehlah saya mengkopi-tempel berita tersebut di sini. Cekidot.

PERINGATI HARDIKNAS UNIFLOR MEMBAGI RATUSAN MASKER KEPADA MASYARAKAT

Peringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei, Universitas Flores (Uniflor) membagi ratusan masker kepada masyarakat. Dalam sambutannya sebelum pembagian masker dimulai Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. mengatakan bahwa kegiatan ini menunjukkan Uniflor peduli dengan pendidikan yang mana suasana Hardiknas pada tahun ini masih belum kondusif akibat pandemi Covid-19. Oleh karena itu selain pembagian masker juga dilakukan edukasi kepada masyarakat yang menerima masker tersebut tentang betapa pentingnya memakai masker dalam situasi sekarang. Pada masa yang akan datang Uniflor akan mengupayakan pembagian masker dalam skala yang lebih besar yaitu dengan melibatkan setiap program studi.

Sekretaris Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. mengucapkan terima kasih kepada Uniflor atas kegiatan ini. Lebih lanjut Ana Maria mengungkapkan bahwa murid lebih takut kepada guru ketimbang orangtua, atas pemikiran ini mudah-mudahan dapat membuat masyarakat lebih peduli, karena Covid-19 sangat berbahaya dan paling utama selain mencuci tangan adalah harus menggunakan masker.

Pembagian masker dilakukan di persimpangan Jalan Wirajaya, Jalan Melati, Jalan Uniflor, dan Jalan Prof. Dr. W. Z. Yohanes. Kegiatan pembagian masker dihadiri dan dilakukan oleh Rektor Uniflor, Wakil Rektor Bidang Akademik Uniflor Ferdinandus Lidang Witi, S.E., M.Kom., Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Uniflor Falentina Lucia Banda, S.E., M.Sc., Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Uniflor Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb., Sekretaris Eksekutif Uniflor Yohanes Laka Suku, S.T., M.T., Sekretaris Yapertif, Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA) Uniflor Christina Gabriela, S.Sos., Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan Emilia Contessa Sero, A.Md., dan dibantu sebagian dosen dan karyawan Uniflor. Selain masker untuk orang dewasa juga dibagi masker untuk anak-anak.(2teh).

Sebelumnya, Uniflor yaitu Prodi Akuntansi juga telah membagi masker kepada masyarakat terutama di daerah Pasar Wolowona, Pasar Mbongawani, dan Pasar Potulando. Sedangkan Prodi Pendidikan Fisika telah melakukan penelitian dan membikin hand sanitizer dan disinfektan serta dibagikan pula kepada masyarakat dan pihak Kelurahan Paupire tempat Uniflor berdomisili.

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Uniflor telah berupaya dan membuktikan kepeduliannya terhadap lingkungan yang sehat sebagai idealnya manusia tinggal. Tugas kita semua adalah mengikuti protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah antara lain mencuci tangan minimal dua puluh detik sebelum menyentuh wajah (mata, hidung, dan mulut), memakai masker, menjaga jarak, dan kalau bisa membersihkan rumah dan lingkungan dengan menyemprot cairan disinfektan. Disinfektan sangat mudah dibikin. Kakak Nani Pharmantara yang pada masa pensiunnya bersama suami membuka kios sembako juga menyediakan kran dan sabun untuk cuci tangan para pembeli serta menyemprot uang yang diserahkan menggunakan cairan disinfektan (lalu dijemur) hahaha.

Semoga bermanfaat.

Mari, saling menjaga!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb. sedang membagi masker, tetap mengikuti protokol kesehatan yaitu menjaga jarak dan mencuci tangan usai kegiatan.

Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan. Sabtu kemarin saya meliput kegiatan yang dilakukan oleh Universitas Flores (Uniflor) dalam hal ini pihak Rektorat. Kegiatannya sangat keren yaitu membagi (ratusan) masker kepada masyarakat sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardikas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei, saya pikir kegiatan ini sangat tepat dengan kondisi sekarang di mana Covid-19 sedang merajalela. Membagi sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker merupakan salah satu upaya penting memutus penyebaran Covid-19.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Karena saya yang membikin beritanya, maka bolehlah saya mengkopi-tempel berita tersebut di sini. Cekidot.

PERINGATI HARDIKNAS UNIFLOR MEMBAGI RATUSAN MASKER KEPADA MASYARAKAT

Peringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei, Universitas Flores (Uniflor) membagi ratusan masker kepada masyarakat. Dalam sambutannya sebelum pembagian masker dimulai Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. mengatakan bahwa kegiatan ini menunjukkan Uniflor peduli dengan pendidikan yang mana suasana Hardiknas pada tahun ini masih belum kondusif akibat pandemi Covid-19. Oleh karena itu selain pembagian masker juga dilakukan edukasi kepada masyarakat yang menerima masker tersebut tentang betapa pentingnya memakai masker dalam situasi sekarang. Pada masa yang akan datang Uniflor akan mengupayakan pembagian masker dalam skala yang lebih besar yaitu dengan melibatkan setiap program studi.

Sekretaris Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. mengucapkan terima kasih kepada Uniflor atas kegiatan ini. Lebih lanjut Ana Maria mengungkapkan bahwa murid lebih takut kepada guru ketimbang orangtua, atas pemikiran ini mudah-mudahan dapat membuat masyarakat lebih peduli, karena Covid-19 sangat berbahaya dan paling utama selain mencuci tangan adalah harus menggunakan masker.

Pembagian masker dilakukan di persimpangan Jalan Wirajaya, Jalan Melati, Jalan Uniflor, dan Jalan Prof. Dr. W. Z. Yohanes. Kegiatan pembagian masker dihadiri dan dilakukan oleh Rektor Uniflor, Wakil Rektor Bidang Akademik Uniflor Ferdinandus Lidang Witi, S.E., M.Kom., Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Uniflor Falentina Lucia Banda, S.E., M.Sc., Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Uniflor Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb., Sekretaris Eksekutif Uniflor Yohanes Laka Suku, S.T., M.T., Sekretaris Yapertif, Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA) Uniflor Christina Gabriela, S.Sos., Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan Emilia Contessa Sero, A.Md., dan dibantu sebagian dosen dan karyawan Uniflor. Selain masker untuk orang dewasa juga dibagi masker untuk anak-anak.(2teh).

Sebelumnya, Uniflor yaitu Prodi Akuntansi juga telah membagi masker kepada masyarakat terutama di daerah Pasar Wolowona, Pasar Mbongawani, dan Pasar Potulando. Sedangkan Prodi Pendidikan Fisika telah melakukan penelitian dan membikin hand sanitizer dan disinfektan serta dibagikan pula kepada masyarakat dan pihak Kelurahan Paupire tempat Uniflor berdomisili.

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Uniflor telah berupaya dan membuktikan kepeduliannya terhadap lingkungan yang sehat sebagai idealnya manusia tinggal. Tugas kita semua adalah mengikuti protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah antara lain mencuci tangan minimal dua puluh detik sebelum menyentuh wajah (mata, hidung, dan mulut), memakai masker, menjaga jarak, dan kalau bisa membersihkan rumah dan lingkungan dengan menyemprot cairan disinfektan. Disinfektan sangat mudah dibikin. Kakak Nani Pharmantara yang pada masa pensiunnya bersama suami membuka kios sembako juga menyediakan kran dan sabun untuk cuci tangan para pembeli serta menyemprot uang yang diserahkan menggunakan cairan disinfektan (lalu dijemur) hahaha.

Semoga bermanfaat.

Mari, saling menjaga!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy


Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy. Hola! Ketemu lagi di Hari Senin. Harinya saya bertugas alias piket di kantor. Iya, sejak minggu kemarin, saya kebagian piket di kantor setiap Senin dan Selasa, tetapi karena peraturan piket baru diberitahu pada Selasa dan saya membaca pesan itu Selasa siang, jadinya baru minggu ini saya memulai piket. Urusan piket ini sebenarnya sudah diberlakukan pada masa awal #DiRumahSaja di mana saya kebagian jaga kandang setiap Senin dan Rabu, tetapi sempat terhenti sejak keluarnya surat edaran kedua perpanjangan masa #DiRumahSaja, dan ketika surat edaran ketiga perpanjangan masa #DiRumahSaja kembali dikeluarkan, piket pun kembali diberlakukan. Senang? Tentu!

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Saya sudah pernah menulis bahwa selama berada di rumah (saja) banyak kegiatan yang telah dilakukan. Salah satunya adalah berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Nah, hari Minggu kemarin ada sesuatu yang bikin saya happy. Akhirnya saya memanen sorgum yang tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter itu! Sebagai orang yang belum akrab dengan sorgum, saya harus bertanya terlebih dulu pada Cahyadi tentang kondisi sorgum, apakah sudah boleh dipanen atau belum? Ternyata kata Cahyadi, sorgum itu sudah boleh dipanen. Ayolah! Eits, tapi sebelumnya, Minggu pagi sekitar jam sepuluh kami berangkat ke kebun sorgum milik Cahyadi di daerah Woloare untuk mengambil tanah sekarung. Tanah ini bakal saya tanami anakan ubi tatas yang sudah mulai bertunas dari beberapa ubi tatas yang saya tanam sekitar dua minggu lalu. Selain membawa tanah sekarung, saya juga membawa pulang satu polybag anakan cabe dan satu polybag anakan cabe rawit.

Cerita tentang kebun sorgum milik Cahyadi dan panen sorgum di beranda belakang Pohon Tua silahkan kalian nonton pada video berikut:



Sebenarnya, apa sih sorgum itu?

Menurut Wikipedia, Sorgum (Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara. Sorgum juga mengandung serat tidak larut air atau serat kasar dan serat pangan, masing-masing sebesar 6,5% - 7,9% dan 1,1% - 1,23%. Kandungan proteinpun seimbang dengan jagung sebesar 10,11% sedangkan jagung 11,02%. Begitu pula dengan kandungan patinya sebesar 80,42% sedangkan kandungan pada jagung 79,95%. Hanya saja, yang membuat tepung sorgum sedikit peminat adalah karena tidak adanya gluten seperti pada tepung terigu. Masyarakat indonesia sudah tenggelam dalam nikmatnya elasitisitas terigu, karena tingginya gluten, dan inilah yang membuat adonan mie, dan roti menjadi elastis.

Terlalu banyak makan dari bahan pangan ber-gluten tidaklah terlalu baik untuk kesehatan, karena dapat menyebabkan celiac desease. Ini merupakan salah satu titik tolak bahwa alternatif tepung yang sehat dapat dikonsumsi adalah tepung sorgum. Selain itu Sorgum dikenal memiliki manfaat yang lebih baik daripada tepung terigu karena gluten free serta memiliki angka glikemik index yang rendah sehingga turut mendukung tren gerakan konsumen gluten free diet seperti di negara-negara maju.

Ceritanya sampai Cahyadi berkebun sorgum dan merembet ke saya adalah pada suatu hari, saya lupa tahun berapa (2017, 2018, atau 2019?), Cahyadi mengantar tamu yang hendak pergi ke Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada apa di sana? Ada Mama Sorgum Indonesia yaitu Maria Loretha. Dari perjalanan itu Cahyadi membawakan saya kue sorgum dan butir-butir sorgum siap pakai. Dari situlah Cahyadi mulai kepikiran untuk ikut menanam sorgum, melihat manfaatnya yang sangat baik bagi kehidupan umat manusia. Pada tahun 2019 Cahyadi kembali pergi ke sana dan membawakan saya sebungkus bubuk sorgum; bubuk ini dapat dicampur air panas untuk diminum, boleh dicampur gula, boleh tidak dicampur gula, mana-mana suka.

Sampai sorgum kemudian tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter di beranda melakang Pohon Tua, silahkan baca pos berjudul Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Kalian akan tahu bahwa sorgum merupakan tanaman yang tidak sombong dan tidak repot untuk tumbuh. Dia bisa tumbuh di mana saja selama ada sinar matahari dan air. Saya sudah membuktikannya, saya sudah memanennya!







Setelah dipanen sorgum harus dijemur terlebih dahulu, kemudian digiling/ditumbuk untuk memisahkan isi dan kulit, baru deh diolah untuk dikonsumsi. Karena mesin penggiling sorgum tidak ada di Kota Ende (kabarnya ada di Kecamatan Detusoko, di tempatnya Nando Watu yang sudah terlebih dahulu menanam sorgum), kayaknya saya bakal menumbuknya menggunakan lesung kayu. Sama seperti menumbuk kopi yang sudah disangrai! Hehe. Kayaknya kegiatan menumbuk sorgum bakal seru dan bakal jadi pengalaman bagi kami serumah.


Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Bagaimana, kawan? Ternyata tidak sulit kan memperoleh bahan pangan pengganti nasi? Jujur, gara-gara Covid-19 pun saya kepikiran menanam bahan pangan yang bisa dimakan sebagai pengganti nasi. Bahan pangan itu antara lain ubi tatas dan kentang. Ubi tatas sudah selesai disemai; dari dua sampai tiga biji ubi tatas yang saya tanam, menghasilkan belasan anakan yang ditanam di polybag terpisah setiap anakannya. Mungkin yang paling sulit itu kentang, karena sudah dua kali percobaan ini masih belum membuahkan hasil, hanya saja kentang yang waktu tanamnya bersama-sama ubi tatas saya bongkar dari polybag dan ternyata ... muncul tunas-tunas keciiiil banget dari mata kentang. Makanya kentang itu langsung saya potong dan tanam dengan bagian tunas ngintip dari balik tanah. Semoga tumbuh juga. Setidaknya ubi tatas dan kentang bisa bikin kenyang. Ha ha ha.

Semoga bermanfaat!

Mari berkebun!

#SeninCerita
#Ceritatuteh



Cheers.

Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy


Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy. Hola! Ketemu lagi di Hari Senin. Harinya saya bertugas alias piket di kantor. Iya, sejak minggu kemarin, saya kebagian piket di kantor setiap Senin dan Selasa, tetapi karena peraturan piket baru diberitahu pada Selasa dan saya membaca pesan itu Selasa siang, jadinya baru minggu ini saya memulai piket. Urusan piket ini sebenarnya sudah diberlakukan pada masa awal #DiRumahSaja di mana saya kebagian jaga kandang setiap Senin dan Rabu, tetapi sempat terhenti sejak keluarnya surat edaran kedua perpanjangan masa #DiRumahSaja, dan ketika surat edaran ketiga perpanjangan masa #DiRumahSaja kembali dikeluarkan, piket pun kembali diberlakukan. Senang? Tentu!

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Saya sudah pernah menulis bahwa selama berada di rumah (saja) banyak kegiatan yang telah dilakukan. Salah satunya adalah berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Nah, hari Minggu kemarin ada sesuatu yang bikin saya happy. Akhirnya saya memanen sorgum yang tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter itu! Sebagai orang yang belum akrab dengan sorgum, saya harus bertanya terlebih dulu pada Cahyadi tentang kondisi sorgum, apakah sudah boleh dipanen atau belum? Ternyata kata Cahyadi, sorgum itu sudah boleh dipanen. Ayolah! Eits, tapi sebelumnya, Minggu pagi sekitar jam sepuluh kami berangkat ke kebun sorgum milik Cahyadi di daerah Woloare untuk mengambil tanah sekarung. Tanah ini bakal saya tanami anakan ubi tatas yang sudah mulai bertunas dari beberapa ubi tatas yang saya tanam sekitar dua minggu lalu. Selain membawa tanah sekarung, saya juga membawa pulang satu polybag anakan cabe dan satu polybag anakan cabe rawit.

Cerita tentang kebun sorgum milik Cahyadi dan panen sorgum di beranda belakang Pohon Tua silahkan kalian nonton pada video berikut:



Sebenarnya, apa sih sorgum itu?

Menurut Wikipedia, Sorgum (Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara. Sorgum juga mengandung serat tidak larut air atau serat kasar dan serat pangan, masing-masing sebesar 6,5% - 7,9% dan 1,1% - 1,23%. Kandungan proteinpun seimbang dengan jagung sebesar 10,11% sedangkan jagung 11,02%. Begitu pula dengan kandungan patinya sebesar 80,42% sedangkan kandungan pada jagung 79,95%. Hanya saja, yang membuat tepung sorgum sedikit peminat adalah karena tidak adanya gluten seperti pada tepung terigu. Masyarakat indonesia sudah tenggelam dalam nikmatnya elasitisitas terigu, karena tingginya gluten, dan inilah yang membuat adonan mie, dan roti menjadi elastis.

Terlalu banyak makan dari bahan pangan ber-gluten tidaklah terlalu baik untuk kesehatan, karena dapat menyebabkan celiac desease. Ini merupakan salah satu titik tolak bahwa alternatif tepung yang sehat dapat dikonsumsi adalah tepung sorgum. Selain itu Sorgum dikenal memiliki manfaat yang lebih baik daripada tepung terigu karena gluten free serta memiliki angka glikemik index yang rendah sehingga turut mendukung tren gerakan konsumen gluten free diet seperti di negara-negara maju.

Ceritanya sampai Cahyadi berkebun sorgum dan merembet ke saya adalah pada suatu hari, saya lupa tahun berapa (2017, 2018, atau 2019?), Cahyadi mengantar tamu yang hendak pergi ke Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada apa di sana? Ada Mama Sorgum Indonesia yaitu Maria Loretha. Dari perjalanan itu Cahyadi membawakan saya kue sorgum dan butir-butir sorgum siap pakai. Dari situlah Cahyadi mulai kepikiran untuk ikut menanam sorgum, melihat manfaatnya yang sangat baik bagi kehidupan umat manusia. Pada tahun 2019 Cahyadi kembali pergi ke sana dan membawakan saya sebungkus bubuk sorgum; bubuk ini dapat dicampur air panas untuk diminum, boleh dicampur gula, boleh tidak dicampur gula, mana-mana suka.

Sampai sorgum kemudian tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter di beranda melakang Pohon Tua, silahkan baca pos berjudul Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Kalian akan tahu bahwa sorgum merupakan tanaman yang tidak sombong dan tidak repot untuk tumbuh. Dia bisa tumbuh di mana saja selama ada sinar matahari dan air. Saya sudah membuktikannya, saya sudah memanennya!







Setelah dipanen sorgum harus dijemur terlebih dahulu, kemudian digiling/ditumbuk untuk memisahkan isi dan kulit, baru deh diolah untuk dikonsumsi. Karena mesin penggiling sorgum tidak ada di Kota Ende (kabarnya ada di Kecamatan Detusoko, di tempatnya Nando Watu yang sudah terlebih dahulu menanam sorgum), kayaknya saya bakal menumbuknya menggunakan lesung kayu. Sama seperti menumbuk kopi yang sudah disangrai! Hehe. Kayaknya kegiatan menumbuk sorgum bakal seru dan bakal jadi pengalaman bagi kami serumah.


Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Bagaimana, kawan? Ternyata tidak sulit kan memperoleh bahan pangan pengganti nasi? Jujur, gara-gara Covid-19 pun saya kepikiran menanam bahan pangan yang bisa dimakan sebagai pengganti nasi. Bahan pangan itu antara lain ubi tatas dan kentang. Ubi tatas sudah selesai disemai; dari dua sampai tiga biji ubi tatas yang saya tanam, menghasilkan belasan anakan yang ditanam di polybag terpisah setiap anakannya. Mungkin yang paling sulit itu kentang, karena sudah dua kali percobaan ini masih belum membuahkan hasil, hanya saja kentang yang waktu tanamnya bersama-sama ubi tatas saya bongkar dari polybag dan ternyata ... muncul tunas-tunas keciiiil banget dari mata kentang. Makanya kentang itu langsung saya potong dan tanam dengan bagian tunas ngintip dari balik tanah. Semoga tumbuh juga. Setidaknya ubi tatas dan kentang bisa bikin kenyang. Ha ha ha.

Semoga bermanfaat!

Mari berkebun!

#SeninCerita
#Ceritatuteh



Cheers.

Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online


Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online. Hola! Minggu kemarin merupakan minggu paling tidak produktif. Tapi bohong. Hehe. Tidak produktif di blog, tapi sangat produktif di belakang rumah, bercengkerama dengan tanah, polybag, bibit, tunas, dan anakan. Pagi ini, saya sangat gembira melihat bibit sawi yang bertumbuh, mengintip dari celah tanah, mencari sesuatu yang disebut sinar (matahari). Horeee! Kekuatiran saya, bahwa mereka bakal gagal tumbuh, pun sirna. Saya pernah menanam bibit sawi, pernah melihatnya bertumbuh hingga remaja, kemudian dihancurkan oleh ... entah ... manusia atau ayam. Jahat. Kali ini tidak boleh terjadi lagi pengrusakan itu, Ferguso! Haha. Oalah ... intro-nya kepanjangan. Mari lanjut dengan Kelas Blogging Online.

Baca Juga: Mengenang Pak De yang Humoris, Murah Hati, dan Merakyat

Tahun 2018 saya bersama Om Bisot dan Kanaz membuka kelas blogging. Cerita tentang kelas blogging tersebut bisa kalian baca pada pos berjudul: 5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT, Angkatan II Kelas Blogging NTT, 5 Kelas Blogging, 5 Peserta Favorit Kelas Blogging#PDL BAT Dan Kelas-Kelas Blogging Yang Mereka Bangun. Alasan membangun kelas blogging adalah agar teman-teman di luar sana yang belum punya blog bisa belajar membikin dan membangun blog, serta teman-teman yang sudah punya blog bisa belajar mengelola blog dengan baik. Kami bertiga murni hanya ingin berbagi informasi dan sedikit pengetahuan. Tidak sepeser pun bayaran dipungut. Iya, berdasarkan kesenangan saja. Kelas blogging tersebut berjalan di WhatsApp Group (WAG).

Tahun 2020, kami kembali membuka kelas blogging, tapi agak berbeda.


Berbeda apanya sih?

Pertama: Kami bekerja sama dengan Sekolah Relawan.
Kedua: Kali ini berbayar!


Setiap orang yang ingin menjadi peserta Kelas Blogging Online 2020, wajib membayar biaya pendaftaran sejumlah Rp 100.000. Biaya pendaftaran langsung dikirimkan pada rekening Sekolah Relawan, lantas mengirimkan bukti transfer pada nomor WA Kanaz, dan nanti akan di-add pada WAG Kelas Blogging Online 2020.


Biaya pendaftaran yang dikirimkan pada rekening Sekolah Relawan tersebut akan dimanfaatkan untuk membantu masyarakat terdampak Covid-19. Makanya kami menulis Belajar Blog Sambil Donasi. Kapan lagi? Ya sekarang lah.

Waktu (kembali) diajak Kanaz untuk membuka kelas blogging saya langsung semangat. Karena, setiap orang punya caranya masing-masing untuk membantu. Apalagi saat kondisi seperti sekarang di mana virus Corona a.k.a. Covid-19 merajai dunia. Kami yang work from home, tentu sangat senang bisa melakukan ini, di sela-sela pekerjaan yang juga tak kalah banyak. Ini ibarat oase di padang pasir. Kerinduan untuk bercengkerama dengan lebih banyak orang (baru) meskipun hanya melalui WAG. Doakan semoga banyak pesertanya. Karena, semakin banyak peserta, semakin banyak masyarakat terdampak Covid-19 yang bisa terbantu.

Insha Allah.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Mengenang Pak De yang Humoris, Murah Hati, dan Merakyat


Mengenang Pak De yang Humoris, Murah Hati, dan Merakyat. Apa yang akan dikenang setelah makhluk hidup pergi untuk selama-lamanya? Tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Saya mengenang (alm.) Bapa Asmady Pharmantara sebagai laki-laki paling merdeka di muka bumi. Pemikiran-pemikirannya sangat merdeka, dan kadang melawan arus, telah diturunkan pada saya. Orang bilang saya ini nyentrik. Itu warisan Bapa. Saya mengenang kucing kami Polar dan Ringenge sebagai dua makhluk hidup paling tangguh. Polar, meskipun satu kakinya dipukul orang hingga pincang, pernah pulang dalam kondisi mengenaskan serta bermandi lumpur, masih bertahan hidup bertahun-tahun kemudian. Ringenge, kucing yang saya temukan di depan Toko Nirmala dan nyaris ditabrak angkot hingga saya memarahi si supir angkot, pernah dimusuhi dengan sangat sengit oleh Polar pada awal kehadirannya di Pohon Tua, pada akhirnya tetap bertahan dan bahkan menjadi karib dengan si 'kakak'. Saya juga mengenang daun-daun sop hasil pembibitan pertama yang sukses. Pot-pot semai itu kemudian berpindah tangan karena diminta oleh orang-orang. Jika bermanfaat, maka pasti saya berbagi apa pun, termasuk daun sop.

Baca Juga: Suasana Kota Ende Setelah 14 Hari Saya Di Rumah Saja

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), siapa tidak mengenal Dr. Josef Alfonsius Gadi Djou, S.E., M.Si.? Putera/anak bungsu dari mendiang Opa Emma Gadi Djou, founding father-nya Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif), dan tentu saja Universitas Flores (Uniflor). Dr. Josef Alfonsius Gadi Djou, S.E., M.Si. lebih karib disapa Pak De. Pak De pernah menjabat sebagai Kepala Sekretariat Yapertif, dan dosen pada Fakultas Ekonomi Uniflor. Beliau juga politisi dari Partai Golkar, yang kemudian berbakti pada daerah ketika terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi NTT pada Pileg tahun lalu, dari daerah pemilihan NTT-5. Tapi kalau bicara soal berbakti pada daerah, saya pikir itu sudah dilakukan beliau sejak dulu. Di kampus, sebagian mahasiswa mengenalnya dengan sangat dekat sebagai pembina Resimen Mahasiswa Mahadana Universitas Flores. Baru-baru ini, tepatnya tanggal 25 Januari 2020 beliau terpilih sebagai Ketua Ikatan Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) Kabupaten Ende. Dari lini olahraga, pada tanggal 15 November 2018, Pak De dikukuhkan sebagai Ketua Asosiasi Futsal Kabupaten (AFK) Ende bertepatan dengan malam final dan penutupan Turnamen Futsal U-17 yang diselenggarakan oleh AFK Ende dengan memperebutkan piala Wakil Bupati Ende.

Sabtu dini hari saya menerima panggilan telepon dari Yusti Ambuwaru, dengan suara tercekat dia bertanya: Putih, apakah betul, Putih? Apanya? Apanya yang betul? Sekilas kuping saya mendengar: Pak De. Lantas panggilan terputus. Saya langsung memeriksa telepon genggam yang lama, yang jarang saya pakai kalau malam hari, dan ternyata ada begitu banyak pesan WhatsApp baik dari individu maupun di grup.


Pak De yang sangat kami cintai itu telah berpulang ke pangkuan Illahi pada Jum'at, 10 April 2020, sekitar pukul 23.20 Wita.

Syok.

Saya syok. Wajah Thika Pharmantara memucat saat kami sama-sama keluar dari kamar dan saling pandang, lantas berkata, "Bapa De."

Mau sekali saya tidak mempercayainya. Tapi kenyataan berbicara lain.

Pribadi yang humoris, murah hati, dan merakyat itu ... telah pergi.

Humoris, Murah Hati, dan Merakyat


Saya mengenal Pak De sebagai pribadi yang humoris, murah hati, dan merakyat. Bagi siapa pun yang mengenal beliau, pasti akan berpendapat sama. Kalau kalian tidak percaya, coba saja mengintip dinding Facebook Pak De. Kalian akan menemui begitu banyak cerita-cerita lucu dan konyol, menggunakan dialek kami, dialek Orang Ende. Kadang-kadang cerita lucu yang sama juga dilempar ke WAG Pegawai Yapertif-Uniflor.




Pribadi Pak De yang humoris tidak saja pada dinding Facebook. Keseharian juga seperti itulah beliau. Pada kesempatan semeja dengan beliau di kantin, pasti ada saja hal-hal lucu yang diceritakan, atau beliau terbahak-bahak mendengar cerita orang lain. Humoris sudah menjadi bagian dari diri beliau; lihat saja foto-foto beliau. Senyumnya itu pasti melekat dalam benak setiap orang yang pernah mengenalnya, dekat atau pun sambil lalu. Kadang saya merasa aneh jika melihat Pak De marah-marah, misalnya. Wajahnya yang memerah itu seperti bukan dirinya. Tapi biasanya Pak De tidak lama marah, tidak sampai hitungan hari, beberapa jam paling sudah seperti biasa lagi, menunjukkan wajah ramah bersahaja.

Bicara soal murah hatinya Pak De, pasti berkaitan dengan betapa merakyatnya beliau. Mentraktir adalah kebiasaan beliau terhadap siapa pun, termasuk saya. Kadang-kadang kalau melihat saya dan Mila, saat sedang makan di Warung Damai, beliau langsung bilang: tidak traktir. Hahaha. Kami cuma cekikikan mendengarnya karena ujung-ujungnya pasti ditraktir juga. Urusan murah hati ini berlaku untuk semua orang, seperti yang saya tulis, terhadap siapa pun, beliau tidak memandang 'siapa kau'. Dan bukan hanya soal makanan. Banyak saya mendengar cerita betapa murah hatinya beliau. Sampai-sampai dulu saya pernah berkata dalam hati: Pak De ini menabung amal untuk kemudian hari. Bantu orang tidak pandang bulu, tidak omong lagi, pokoknya bantu saja begitu. Lhaaa kita ... bantu orang saja pakai acara selfie. Padahal, tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu.

Kalau merakyat, jangan ditanya lagi. Pak De tidak memandang 'siapa kau' untuk beliau duduk bersama, mengobrol, bahkan menikmati makanan dan minuman yang kau suguhkan. Bagi saya, untuk skala seorang terpandang dan berasal dari keluarga sangat mampu, Pak De begitu merakyat. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Mempercayai Kemampuan Orang Lain


Sejak Pak De pulang ke Kota Ende, ke Uniflor, setelah meraih gelar Doktor pada tahun 2017, kami berada satu lantai yaitu di Lantai III Gedung Rektorat. Pak De waktu itu menjabat Kepala Pusat Studi Pariwisata Uniflor. Saat itu, saya keranjingan meminjam buku-buku yang tertata apik pada rak dalam ruangan kantor Pusat Studi Pariwisata Uniflor. Salah satu buku yang berdiri di rak tersebut merupakan disertasi Pak De yang berjudul Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Nasional Kelimutu Kabupaten Ende. Atas permintaan beliau, si pemilik disertasi, saya diminta membedah buku tersebut menjadi beberapa buku, sehingga pekerjaan saya sehari-hari adalah membaca disertasi tersebut baik dari bukunya maupun soft-file. Mendapat kesempatan membaca disertasi tersebut seakan menyuntik nutrisi lengkap ke dalam otak saya tentang konsep ekowisata dan Community Based Tourism (CBT) atau kita sebut pariwisata berbasis masyarakat. Analisis SEM yang digunakan di dalam penelitian ini termasuk mengukur keterlibatan masyarakat lokal dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pelestarian.

Silahkan baca tulisan lengkapnya di sini.

Dari disertasi tersebut saya jadi tahu konsep ekowisata dan CBT yang mengajak masyarakat untuk lebih berpartisipasi dalam dunia pariwisata. Puluhan literasi mendukung penelitian tersebut. Wawancara tidak saja dilakukan dengan pengelola (pemerintah) Taman Nasional Kelimutu tetapi juga dengan masyarakat desa penyangga Taman Nasional Kelimutu, dan wisatawan yang berkunjung ke sana (pandangan responden). Selain itu, penelitian ini juga mengutarakan tentang Taman Nasional Kelimutu itu sendiri seperti bentuk dan kondisi atraksi budaya masyarakat, atraksi alam, atraksi flora dan fauna, dan atraksi buatan. Salah satu bentuk atraksi buatan yang ada di Taman Nasional Kelimutu adalah Desa wisata, Arboretum, Insektarium, Herbarium, Agro-ecotourism, dan Rumah Pesanggrahan Belanda. Jujur, saya sendiri belum pernah ke Arboretum-nya, hehe. Nanti kalau ke Danau Kelimutu lagi, saya harus tiba di Arboretum ini.

Atraksi buatan ini mengingatkan saya pada salah satu seminar yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Pariwisata. Dalam Seminar Nasional bertema Melestarikan Budaya Lokal Sebagai Aset Pariwisata, dengan pemateri Dr. Bambang Suharto, M.M.Par. tersebut disinggung soal atraksi buatan ini. Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu Persada Agussetia Sitepu menceritakan tentang ledakan pengunjung saat hari libur tiba. Pak Bambang menyarankan dan menjelaskan tentang pembagian pengunjung agar tidak semua pengunjung secara serentak menuju Danau Kelimutu dan agar pengunjung tidak terlalu lama berada di Danau Kelimutu (untuk memberikan kesempatan pada pengunjung lainnya) dan menghabiskan lebih banyak waktu di lokasi atraksi buatan ini. Setidaknya yang saya tangkap dari omongan Pak Bambang adalah lokasi atraksi buatan harus dibuat ramah terhadap keluarga dan anak-anak, yang dilengkapi dengan rest area (meja kursi tempat duduk mengaso dan makan, permainan anak yang sederhana, kamar mandi, tempat ibadah, dan lain sebgainya) yang memadai, agar pengunjung betah.

Kembali pada disertasi Pak De, akhirnya disertasi tersebut saya bedah menjadi dua buku berjudul:

1. Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Nasional Kelimutu.
2. Lebih Dekat Mengenal Taman Nasional Kelimutu.

Proses pembedahan selesai. Sudah saya jadikan dalam bentuk buku (template buku) sehingga enak dan/atau asyik ketika dibaca, dan sudah terbayangkan bentuk bukunya nanti seperti apa, oleh penyunting. Selanjutnya proses penyuntingan dilakukan oleh Bapak Alexander Gawen, seorang dosen dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Uniflor, yang dulunya merupakan Kepala UPT Publikasi dan Humas Uniflor, tempat saya bekerja. Dua buku itu sedang dalam proses hendak dicetak ... saya tidak tahu apakah akan diteruskan atau tidak. Kalau diteruskan untuk dicetak/diterbitkan, dua buku itu akan menjadi kenangan paling manis untuk saya, kalian, dan mereka.

Dari situ saya belajar. Kita harus mempercayai pula kemampuan orang lain, selain mempercayai kemampuan diri sendiri. Waktu saya diminta membedah buku itu, ada keragu-raguan dalam hati. Siapa saya? Apakah saya mampu? Tetapi setelah memulainya, saya percaya pada diri sendiri, bahwa saya mampu. Rupanya kepercayaan yang sama juga diberikan Pak De pada saya. Beliau percaya saya mampu, beliau percaya itu. Mungkin inilah yang disebut keajaiban dari rasa percaya. Sesuatu yang sama-sama kita percayai insha Allah dapat terwujud.

Terima kasih Pak De, sudah mengajarkan saya hal itu.


Menulis ini dengan air mata merebak tentu bukan sesuatu yang diharapkan oleh Pak De. Beliau pasti ingin semua orang berhenti menangis dan mengganti tangisan dengan doa. Tetapi sebagai manusia, adalah manusiawi jika air mata kadang-kadang merebak pada detik-detik tertentu, terutama saat menulis ini. 

Baca Juga: Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing

Pak De yang baik. Jalan bae-bae.


Pak De yang baik, saya akan selalu mengenangmu, senyummu itu.
Pak De yang baik, insha Allah saya akan selalu mendoakanmu.
Pak De yang baik, terima kasih telah mengajarkan banyak hal baik pada saya.
Pak De yang baik ... terima kasih. Terima kasih!

Dan semua orang yang mengenal Pak De, semua orang yang pernah karib dengan Pak De, semua orang yang hanya mengenalnya sambil lalu, mengenang Pak De dengan cara mereka masing-masing. Mari mendoakan beliau.

#SeninCerita



Cheers.

Mengenang Pak De yang Humoris, Murah Hati, dan Merakyat


Mengenang Pak De yang Humoris, Murah Hati, dan Merakyat. Apa yang akan dikenang setelah makhluk hidup pergi untuk selama-lamanya? Tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Saya mengenang (alm.) Bapa Asmady Pharmantara sebagai laki-laki paling merdeka di muka bumi. Pemikiran-pemikirannya sangat merdeka, dan kadang melawan arus, telah diturunkan pada saya. Orang bilang saya ini nyentrik. Itu warisan Bapa. Saya mengenang kucing kami Polar dan Ringenge sebagai dua makhluk hidup paling tangguh. Polar, meskipun satu kakinya dipukul orang hingga pincang, pernah pulang dalam kondisi mengenaskan serta bermandi lumpur, masih bertahan hidup bertahun-tahun kemudian. Ringenge, kucing yang saya temukan di depan Toko Nirmala dan nyaris ditabrak angkot hingga saya memarahi si supir angkot, pernah dimusuhi dengan sangat sengit oleh Polar pada awal kehadirannya di Pohon Tua, pada akhirnya tetap bertahan dan bahkan menjadi karib dengan si 'kakak'. Saya juga mengenang daun-daun sop hasil pembibitan pertama yang sukses. Pot-pot semai itu kemudian berpindah tangan karena diminta oleh orang-orang. Jika bermanfaat, maka pasti saya berbagi apa pun, termasuk daun sop.

Baca Juga: Suasana Kota Ende Setelah 14 Hari Saya Di Rumah Saja

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), siapa tidak mengenal Dr. Josef Alfonsius Gadi Djou, S.E., M.Si.? Putera/anak bungsu dari mendiang Opa Emma Gadi Djou, founding father-nya Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif), dan tentu saja Universitas Flores (Uniflor). Dr. Josef Alfonsius Gadi Djou, S.E., M.Si. lebih karib disapa Pak De. Pak De pernah menjabat sebagai Kepala Sekretariat Yapertif, dan dosen pada Fakultas Ekonomi Uniflor. Beliau juga politisi dari Partai Golkar, yang kemudian berbakti pada daerah ketika terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi NTT pada Pileg tahun lalu, dari daerah pemilihan NTT-5. Tapi kalau bicara soal berbakti pada daerah, saya pikir itu sudah dilakukan beliau sejak dulu. Di kampus, sebagian mahasiswa mengenalnya dengan sangat dekat sebagai pembina Resimen Mahasiswa Mahadana Universitas Flores. Baru-baru ini, tepatnya tanggal 25 Januari 2020 beliau terpilih sebagai Ketua Ikatan Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) Kabupaten Ende. Dari lini olahraga, pada tanggal 15 November 2018, Pak De dikukuhkan sebagai Ketua Asosiasi Futsal Kabupaten (AFK) Ende bertepatan dengan malam final dan penutupan Turnamen Futsal U-17 yang diselenggarakan oleh AFK Ende dengan memperebutkan piala Wakil Bupati Ende.

Sabtu dini hari saya menerima panggilan telepon dari Yusti Ambuwaru, dengan suara tercekat dia bertanya: Putih, apakah betul, Putih? Apanya? Apanya yang betul? Sekilas kuping saya mendengar: Pak De. Lantas panggilan terputus. Saya langsung memeriksa telepon genggam yang lama, yang jarang saya pakai kalau malam hari, dan ternyata ada begitu banyak pesan WhatsApp baik dari individu maupun di grup.


Pak De yang sangat kami cintai itu telah berpulang ke pangkuan Illahi pada Jum'at, 10 April 2020, sekitar pukul 23.20 Wita.

Syok.

Saya syok. Wajah Thika Pharmantara memucat saat kami sama-sama keluar dari kamar dan saling pandang, lantas berkata, "Bapa De."

Mau sekali saya tidak mempercayainya. Tapi kenyataan berbicara lain.

Pribadi yang humoris, murah hati, dan merakyat itu ... telah pergi.

Humoris, Murah Hati, dan Merakyat


Saya mengenal Pak De sebagai pribadi yang humoris, murah hati, dan merakyat. Bagi siapa pun yang mengenal beliau, pasti akan berpendapat sama. Kalau kalian tidak percaya, coba saja mengintip dinding Facebook Pak De. Kalian akan menemui begitu banyak cerita-cerita lucu dan konyol, menggunakan dialek kami, dialek Orang Ende. Kadang-kadang cerita lucu yang sama juga dilempar ke WAG Pegawai Yapertif-Uniflor.




Pribadi Pak De yang humoris tidak saja pada dinding Facebook. Keseharian juga seperti itulah beliau. Pada kesempatan semeja dengan beliau di kantin, pasti ada saja hal-hal lucu yang diceritakan, atau beliau terbahak-bahak mendengar cerita orang lain. Humoris sudah menjadi bagian dari diri beliau; lihat saja foto-foto beliau. Senyumnya itu pasti melekat dalam benak setiap orang yang pernah mengenalnya, dekat atau pun sambil lalu. Kadang saya merasa aneh jika melihat Pak De marah-marah, misalnya. Wajahnya yang memerah itu seperti bukan dirinya. Tapi biasanya Pak De tidak lama marah, tidak sampai hitungan hari, beberapa jam paling sudah seperti biasa lagi, menunjukkan wajah ramah bersahaja.

Bicara soal murah hatinya Pak De, pasti berkaitan dengan betapa merakyatnya beliau. Mentraktir adalah kebiasaan beliau terhadap siapa pun, termasuk saya. Kadang-kadang kalau melihat saya dan Mila, saat sedang makan di Warung Damai, beliau langsung bilang: tidak traktir. Hahaha. Kami cuma cekikikan mendengarnya karena ujung-ujungnya pasti ditraktir juga. Urusan murah hati ini berlaku untuk semua orang, seperti yang saya tulis, terhadap siapa pun, beliau tidak memandang 'siapa kau'. Dan bukan hanya soal makanan. Banyak saya mendengar cerita betapa murah hatinya beliau. Sampai-sampai dulu saya pernah berkata dalam hati: Pak De ini menabung amal untuk kemudian hari. Bantu orang tidak pandang bulu, tidak omong lagi, pokoknya bantu saja begitu. Lhaaa kita ... bantu orang saja pakai acara selfie. Padahal, tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu.

Kalau merakyat, jangan ditanya lagi. Pak De tidak memandang 'siapa kau' untuk beliau duduk bersama, mengobrol, bahkan menikmati makanan dan minuman yang kau suguhkan. Bagi saya, untuk skala seorang terpandang dan berasal dari keluarga sangat mampu, Pak De begitu merakyat. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Mempercayai Kemampuan Orang Lain


Sejak Pak De pulang ke Kota Ende, ke Uniflor, setelah meraih gelar Doktor pada tahun 2017, kami berada satu lantai yaitu di Lantai III Gedung Rektorat. Pak De waktu itu menjabat Kepala Pusat Studi Pariwisata Uniflor. Saat itu, saya keranjingan meminjam buku-buku yang tertata apik pada rak dalam ruangan kantor Pusat Studi Pariwisata Uniflor. Salah satu buku yang berdiri di rak tersebut merupakan disertasi Pak De yang berjudul Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Nasional Kelimutu Kabupaten Ende. Atas permintaan beliau, si pemilik disertasi, saya diminta membedah buku tersebut menjadi beberapa buku, sehingga pekerjaan saya sehari-hari adalah membaca disertasi tersebut baik dari bukunya maupun soft-file. Mendapat kesempatan membaca disertasi tersebut seakan menyuntik nutrisi lengkap ke dalam otak saya tentang konsep ekowisata dan Community Based Tourism (CBT) atau kita sebut pariwisata berbasis masyarakat. Analisis SEM yang digunakan di dalam penelitian ini termasuk mengukur keterlibatan masyarakat lokal dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pelestarian.

Silahkan baca tulisan lengkapnya di sini.

Dari disertasi tersebut saya jadi tahu konsep ekowisata dan CBT yang mengajak masyarakat untuk lebih berpartisipasi dalam dunia pariwisata. Puluhan literasi mendukung penelitian tersebut. Wawancara tidak saja dilakukan dengan pengelola (pemerintah) Taman Nasional Kelimutu tetapi juga dengan masyarakat desa penyangga Taman Nasional Kelimutu, dan wisatawan yang berkunjung ke sana (pandangan responden). Selain itu, penelitian ini juga mengutarakan tentang Taman Nasional Kelimutu itu sendiri seperti bentuk dan kondisi atraksi budaya masyarakat, atraksi alam, atraksi flora dan fauna, dan atraksi buatan. Salah satu bentuk atraksi buatan yang ada di Taman Nasional Kelimutu adalah Desa wisata, Arboretum, Insektarium, Herbarium, Agro-ecotourism, dan Rumah Pesanggrahan Belanda. Jujur, saya sendiri belum pernah ke Arboretum-nya, hehe. Nanti kalau ke Danau Kelimutu lagi, saya harus tiba di Arboretum ini.

Atraksi buatan ini mengingatkan saya pada salah satu seminar yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Pariwisata. Dalam Seminar Nasional bertema Melestarikan Budaya Lokal Sebagai Aset Pariwisata, dengan pemateri Dr. Bambang Suharto, M.M.Par. tersebut disinggung soal atraksi buatan ini. Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu Persada Agussetia Sitepu menceritakan tentang ledakan pengunjung saat hari libur tiba. Pak Bambang menyarankan dan menjelaskan tentang pembagian pengunjung agar tidak semua pengunjung secara serentak menuju Danau Kelimutu dan agar pengunjung tidak terlalu lama berada di Danau Kelimutu (untuk memberikan kesempatan pada pengunjung lainnya) dan menghabiskan lebih banyak waktu di lokasi atraksi buatan ini. Setidaknya yang saya tangkap dari omongan Pak Bambang adalah lokasi atraksi buatan harus dibuat ramah terhadap keluarga dan anak-anak, yang dilengkapi dengan rest area (meja kursi tempat duduk mengaso dan makan, permainan anak yang sederhana, kamar mandi, tempat ibadah, dan lain sebgainya) yang memadai, agar pengunjung betah.

Kembali pada disertasi Pak De, akhirnya disertasi tersebut saya bedah menjadi dua buku berjudul:

1. Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Nasional Kelimutu.
2. Lebih Dekat Mengenal Taman Nasional Kelimutu.

Proses pembedahan selesai. Sudah saya jadikan dalam bentuk buku (template buku) sehingga enak dan/atau asyik ketika dibaca, dan sudah terbayangkan bentuk bukunya nanti seperti apa, oleh penyunting. Selanjutnya proses penyuntingan dilakukan oleh Bapak Alexander Gawen, seorang dosen dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Uniflor, yang dulunya merupakan Kepala UPT Publikasi dan Humas Uniflor, tempat saya bekerja. Dua buku itu sedang dalam proses hendak dicetak ... saya tidak tahu apakah akan diteruskan atau tidak. Kalau diteruskan untuk dicetak/diterbitkan, dua buku itu akan menjadi kenangan paling manis untuk saya, kalian, dan mereka.

Dari situ saya belajar. Kita harus mempercayai pula kemampuan orang lain, selain mempercayai kemampuan diri sendiri. Waktu saya diminta membedah buku itu, ada keragu-raguan dalam hati. Siapa saya? Apakah saya mampu? Tetapi setelah memulainya, saya percaya pada diri sendiri, bahwa saya mampu. Rupanya kepercayaan yang sama juga diberikan Pak De pada saya. Beliau percaya saya mampu, beliau percaya itu. Mungkin inilah yang disebut keajaiban dari rasa percaya. Sesuatu yang sama-sama kita percayai insha Allah dapat terwujud.

Terima kasih Pak De, sudah mengajarkan saya hal itu.


Menulis ini dengan air mata merebak tentu bukan sesuatu yang diharapkan oleh Pak De. Beliau pasti ingin semua orang berhenti menangis dan mengganti tangisan dengan doa. Tetapi sebagai manusia, adalah manusiawi jika air mata kadang-kadang merebak pada detik-detik tertentu, terutama saat menulis ini. 

Baca Juga: Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing

Pak De yang baik. Jalan bae-bae.


Pak De yang baik, saya akan selalu mengenangmu, senyummu itu.
Pak De yang baik, insha Allah saya akan selalu mendoakanmu.
Pak De yang baik, terima kasih telah mengajarkan banyak hal baik pada saya.
Pak De yang baik ... terima kasih. Terima kasih!

Dan semua orang yang mengenal Pak De, semua orang yang pernah karib dengan Pak De, semua orang yang hanya mengenalnya sambil lalu, mengenang Pak De dengan cara mereka masing-masing. Mari mendoakan beliau.

#SeninCerita



Cheers.