Manis Akustik


Boleh ngakak dulu?

Ha ha ha ...

Suatu malam di Stadion Marilonga, di sela-sela pertandingan sepak bola dari Triwarna Soccer Festival, kami berkumpul di ruangan media center. Di pojok ruangan yang juga dijadikan tempat penyimpanan segala barang yang berhubungan dengan event ini, berdiri gitar listrik bass, gitar listrik melodi, gitar akustik, dan sebuah gendang berdiri. Saya sendiri sering memainkan gitar akustik tersebut, melatih jari-jemari yang selalu kesulitan dengan kunci seperti F, B, dan Bm. Jangan tanya lah. Saya cuma bisa G, C, D, Dm, A, Am, E, Em *diketawain dinosaurus*.

Baca Juga: TSF 'Story

Kembali pada suatu malam di ruangan media center ...

Kebetulan malam itu si Tino Tiba, anggota Seksi Acara tetapi terkenal sebagai musisi keren Ende, duduk bersama saya. Kami menemani Rikyn Radja yang sedang makan malam. Kami sendiri sudah duluan makan. Kebetulan ada musisi ini, si Tino, saya memperdengarkan lagu 100 Times Better dari The Willis Clan. Harapannya dia bakal nemu chord termudah dari lagu itu. Eh ketemu! Jadilah saya menyanyikan lagu favorit itu sambil membayangkan bisa melakukan gerakan dance-nya, hihihi. Waktu saya nyanyikan lagu itu, Rikyn sudah selesai makan, lantas mendengungkan semacam back-vocal begitu. Seru lah.

Setelah 100 Times Better, kita nyanyiin Love Yourself dari Justin Bieber. Waaaah asyiknya. Sampai-sampai salah seorang anak pedagang asongan yang kebetulan meloi (mengintip) bertahan di meja tempat kami berkumpul. Dia sangat menikmati. Busyet, dek! Bayar sini! Haha. Kalau kalian membaca pos #PDL Default Perusuh Pengamen ini, kalian pasti tahu saya sangat suka bernyanyi meskipun suara pas-pasan nyaris sesak.

Rikyn kemudian me-request lagu Yesterday dari The Beatles. Ayok, siapa takut? Ndilalah, setelah satu kali menyanyikan Yesterday, ide-ide gila mulai bermunculan. Kami harus merekamnya. What? Saya cuma ngakak melihat Rikyn memindahkan gendang berdiri ke dekat kami. Saya semakin ngakak waktu Tino mengajak si anak pedagang asongan, sebut saja namanya Boy, memukul botol bekas UC1000 dengan batu. Koplak benar. Lebih koplak karena yang murni musisi hanyalah Tino sedangkan kami? No no no. Kehancuran terjadi saat Rikyn dengan bebasnya menepuk gendang sehingga Yesterday dari The Beatles itu terdengar seperti lagu melayu!

Ha ha ha ...

Ternyata, hasilnya asyik juga. Asyik untuk lucu-lucuan. Dan semakin lucu ketika Rikyn berkata: KEMBALI LAGI BERSAMA KAMI CABUL-CABULAN AKUSTIK.


Rikyyyyyn! Please, deh. Cabul semua donk kita. Walhasil, dengan spontanitas yang luar biasa, muncul nama MANIS AKUSTIK dari bibirnya. Terberkatilah saya bersahabat baik dengan orang-orang ini. Mereka luar biasa ... luar biasa bikin pengen jitak haha.

Ini dia hasilnya. BURAM. Ya, saudara-saudara, penerangan di ruangan itu sedang sangat manja. Sebenarnya ini lagu pertama, tapi yang pertama tidak direkam kan, hehehe.



Hasil yang buram itu memang saya sengaja tidak mempermanisnya (baca: gagal mempermanisnya) menggunakan tools pengeditan video di laptop. Saya hanya menyuntingnya menggunakan telepon genggam dengan aplikasi KineMaster gratisan. Saya pikir, mau apa lagi yang diubah? Toh kami hanya ingin bersenang-senang, hehe, tidak ada niat untuk membikin video terbaik dan terbagus sama sekali. Kalau mau bikin video terbaik dan terbagus mah, tidak bisa dadakan begini, kudu diniatin sungguh-sungguh.

Tak cukup satu lagu, kami kembali beraksi di lagu berikutnya. Gang Kelinci. Dan hasilnya pun masih, tentu saja, buram to the max


Tapi kami gembira melihat hasilnya seperti itu. Karena yang penting adalah melewatkan waktu bersama sahabat dengan melakukan hal-hal gila adalah intinya.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

Tidak ada obsesi apa pun dari Manis Akustik, sumpah menulis nama itu saya ngakak membahana, murni kami hanya ingin bersenang-senang di tengah kegiatan menjadi panitia TSF. Lagi pula, meskipun profesi kami berbeda-beda, kami punya kaki yang sama-sama tertanam di lini musik. Tino Tiba adalah musisi. Rikyn Radja adalah koreografer sekaligus anggota Spiritus Sanctus Choir. Saya? Aaaah saya cuma perusuh pengamen yang doyan nyanyi meskipun modal suara pas-pasan nyaris sesak. Yang penting senang-senangnya itu kan ya. Hehe.

Jangan lupa nonton video-video saya di Youtube ya, ingat subscribe, ingat like *halaaah*. Hahaha. Mohon maaf, tidak ada video yang bagus yang bisa saya tawarkan di akun Youtube saya *menunduk dalam*.



Cheers.

TSF ‘Story


Saya pernah menulis tentang para pejuang ekonomi di pos berjudul Pejuang Ekonomi di EGDMC. Tentang sebuah event olahraga tahunan oleh organisasi Dokar (dosen dan karyawan) Universitas Flores yaitu Ema Gadi Djou Memorial Cup yang secara tidak langsung telah turut membantu para pejuang ekonomi. Para pejuang ekonomi yang saya maksudkan di sini adalah para pedagang yang menjual minuman dan makanan seperti kopi, teh, brondong, jagung rebus, telur rebus, aneka jajanan, hingga nasi limaribuan. Membaca pos Facebook Iskandar Awang Usman tentang event Triwarna Soccer Festival (TSF) membikin saya menyegerakan menulis ini. Karena, saya memang sudah merencanakan untuk menulis tentang kisah lain dari Triwarna Soccer Festival dalam TSF's Story.

Baca Juga: Es Gula Moke

Kutipan pos FB Abang Iskandar adalah sebagai berikut:


Pendapat blogger yang satu ini saya acungi jempol. Kami sama-sama melihat TSF sebagai suatu momen yang menggairahkan dan menggeliatkan, salah satunya, dunia perekonomian masyarakat Kabupaten Ende. Saya ingat, hari pertama TSF, saya dan Abang Iskandar sama-sama berkelana di tenda-tenda pameran berburu bahan bekal pos blog. Kalian juga bisa membaca salah satunya pada pos berjudul Be Art ini.

Triwarna Soccer Festival


Kembali menyegarkan ingatan kalian bahwa TSF merupakan pesta masyarakat Kabupaten Ende yang menggelar tiga mata acara sekaligus yaitu:


1. Pertandingan sepak bola yang memperebutkan Bupati Cup.
2. Pameran dengan tema Bego Ga'i Night.
3. Lomba Mural.

Pertandingan sepak bola dan pameran masih berlangsung dan akan sama-sama berakhir pada tanggal 31 Maret 2019, sedangkan Lomba Mural sudah kelar sejak tanggal 11 Maret 2019 kemarin dengan hadiah yang akan diterima saat malam final pertandingan sepak bola. Tentang para pemenang Lomba Mural ini bisa kalian baca di pos 5 Jawara Mural

Betul seperti yang ditulis Abang Iskandar bahwa TSF benar-benar telah mampu menggerakkan semua sektor, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan, usaha kecil dan mikro, serta semua sektor jasa usaha lainnya yang mendapat imbasnya (positif). Kalian tentu bertanya-tanya, memangnya betul semua sektor itu tergerakkan hanya dari sebuah event TSF? Inilah yang akan saya bahas kali ini.

UMKM, Papa Lele, dan Pedagang Asongan


Pada dasarnya event pertandingan sepak bola apapun; baik Ema Gadi Djou Memorial Cup, El Tari Memorial Cup, Bupati Cup, Suratin Cup, dan lain-lainnya yang diselenggarakan di Stadion Marilonga membawa dampak positif kepada para pejuang ekonomi seperti para papa lele (pedagang kaki lima) dan pedagang asongan. Papa lele yang lapaknya berderet rapi di depan Stadion Marilonga merupakan pemandangan khas setiap kali event pertandingan sepak bola digelar. Pedagang asongan yang diijinkan memasuki Stadion Marilonga kala pertandingan berlangsung, atas ijin dan mendapat ID Card dari pantia, pun bukan hal yang baru. Umumnya mereka adalah masyarakat yang berdomisili di sekitar Stadion Marilonga yang mempunyai kios/warung juga di sekitar Stadion Marilonga lantas membuka lapak, dan/atau masyarakat yang dadakan berjualan karena melihat peluang mengumpulkan tambahan Rupiah.

Ini bukan brondong loh, tapi SORGUM! Dari Komunitas RMC Detusoko.

Pada event TSF, tidak hanya papa lele dan pedagang asongan saja yang terlihat di Stadion Marilonga. Dengan adanya Pameran bertema Bego Ga'i Night, panitia telah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para pelaku usaha baik usaha kecil maupun mikro untuk berpartisipasi, melalui pendaftaran secara gratis. Tenda-tenda pameran ini diisi oleh para pelaku usaha kecil dan mikro serta komunitas. Jadi, apabila kalian pergi ke Stadion Marilonga, di bagian depannya, parkiran, kalian akan melihat tenda-tenda pameran berderet rapi, berhadapan dengan lapak-lapak papa lele yang juga berderet rapi. Diantara mereka adalah area terbuka tempat arus manusia, pengunjung maupun penonton, hilir-mudik.

Tim Mural sedang ngopi di depan tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria.

Kalian bisa melihat pengunjung menikmati kopi dari tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria, pun juga bisa melihat pengunjung memesan kopi dari para pedagang papa lele. Kalian bisa melihat pengunjung memesan gorengan dari salah satu tenda pameran, pun juga bisa melihat pengunjung berdiri di depan lapak papa lele untuk membeli sebotol air mineral atau sebutir telur rebus. Kalian bisa melihat penonton pertandindang sepak bola yang membeli sekantong brondong di lapak papa lele, pun bisa melihat pedagang asongan yang tertawa bahagia karena sekali masuk ke dalam stadion dagangannya ludes dibeli para penonton.

Rejeki tidak akan tertukar. Itulah yang saya perhatikan selama TSF berlangsung.

Pengusaha Jasa


Ada banyak pengusaha jasa yang meraih keuntungan dari TSF; jasa transportasi, jasa sablon, jasa parkir, jasa ini itu. Semuanya memperoleh dampak (positif) dari satu event TSF.

Kita mulai dari pengusaha jasa transportasi. Kabupaten Ende merupakan kabupaten dengan kecamatan-kecamatan yang letaknya tidak hanya di dalam Ibu Kota yaitu Kota Ende saja, tetapi juga kecamatan-kecamatan di luar Ibu Kota. Logisnya, jangankan luar kota, yang di dalam kota saja butuh jasa transportasi untuk mencapai Stadion Marilonga. Jalan kaki sejauh lima sampai delapan kilometer memang bisa dilakukan, tapi begitu sampai di Stadion Marilonga, klub andalan kecamatan mereka sudah kelar bertanding. Haha. Bayangkan saja jarak dari Moni (Kecamatan Kelimutu) ke Kota Ende saja bisa membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam. Oleh karena itu transportasi merupakan jasa yang sangat dibutuhkan; ojek, angkot, mini bis, bis, sampai truk kayu yang dimodifikasi dengan bangku-bangku untuk penumpang manusia. 

Baca Juga: Lomba Mural Lagi

Selain transportasi, pengusaha jasa lainnya adalah jasa sablon. Pengusaha jasa sablon ini sudah mulai bergerak bahkan sebelum TSF dimulai. Mereka menerima pesanan sablon kostum pemain, kostum suporter, kostum official, dan lain sebagainya. Coba kalian bayangkan, ada dua puluh satu kecamatan yang artinya ada dua puluh satu tim! Teman saya dari #EndeBisa yaitu Ampape Sablon bahkan sering mempos di FB tentang pesanan-pesanan kaos menjelang dan bahkan saat TSF berlangsung.

Bagaimana dengan jasa parkir? Panitia TSF memang menyediakan tempat parkir khusus yang dijaga oleh aparat Dishub, tetapi masih banyak pula masyarakat yang memilih parkir-cepat di seberang jalan, di depan rumah-rumah warga. Maka jasa parkir yang ini jelas menguntungkan warga meskipun tanpa karcis tapi tetap laris karena kemudahannya memarkir dan mengeluarkan sepeda motor. Saya salah seorang panitia yang pada suatu malam memilih jasa parkir warga ini.

Nah, kalau jasa yang berikut ini adalah jasa yang berkaitan dengan kreativitas. Al dari Be Art memang menjual gelang tenun ikat (barang) pada tenda pamerannya. Tapi jangan salah, Al juga menerima jasa membikin nama pada gelang tersebut. By request. Ini keren kan, jasa yang ditawarkan Al ini laris-manis. Banyak yang memesan, custom, gelang tenun ikat dibordir nama mereka atau nama pasangan mereka atau nama klub sepak bola favorit mereka.

Gelang tenun ikat dari Be Art.

Sayangnya, ada peluang usaha jasa yang terlewatkan oleh masyarakat. Hari-hari terakhir ini Kota Ende diguyur hujan (dan angin kencang). Saya belum melihat ada yang menawarkan jasa payung dan jas hujan. Hehe. Hujan dan angin kencang ini sering merobohkan beberapa tenda pameran, tetapi Seksi Perlengkapan dan Seksi Kelistrikan dengan sigap memperbaikinya. Tentu dibantu oleh anggota panitia lainnya.

Sektor Pertanian/Perkebunan dan Sektor Peternakan


Apakah sektor-sektor ini tergerakkan? Ya, kawan. Sangat. Sektor pertanian/perkebunan, misalnya, kalian bisa melihat para papa lele yang menjual buah-buahan seperti ata nona (lagi musim dan manisnya aduhai!) serta yang menjual kopi. Pada Komunitas RMC Detusoko kalian juga bisa melihat ragam hasil bumi yang dipamerkan dan dijual seperti sorgum dan olahannya, kripik ubi, nanas kering, hingga kacang-kacangan. Tapi, apabila kita mundur ke belakang, maka kita akan menemukan bahwa sektor-sektor ini jelas tergerakkan sejak semula jadi.

Kok bisa, Teh?

Pertama, kalian sudah tahu kan bahwa banyak pedagang papa lele yang berjualan nasi limaribuan, kacang hijau dan es buah dalan cup plastik (sedih ya, plastik lagi), hingga brondong. Mari kita lihat perhitungan ekonominya:


Itu baru satu pedagang papa lele yang saya tanyai. Belum yang lainnya; baik pedagang papa lele, pedagang asongan, maupun pengusaha kecil dan mikro. Perbedaan yang sangat signifikan antara hari biasa dan hari-hari TSF. Dari situ, kalian juga pasti bisa menghitung bahan baku yang dibutuhkan bukan? Mulai dari beras, sayur-mayur, ikan/daging, telur, jagung, kacang hijau, buah-buahan, kopi, gula, dan lain sebagainya. Meningkatnya permintaan 'pasar' dari event TSF sebagai konsumen, menyebabkan meningkat pula pembelanjaan yang dilakukan oleh produsen.

Ma Otu, salah seorang tetangga saya yang turut berjualan, dadakan, di depan Stadion Marilonga, mengaku TSF telah turut membantu perekonomian keluarganya. Berjualan pada event TSF terutama saat klub-klub dari luar kota berlaga, membikin nasi limaribuannya laris-manis terjual dalam sekali angkot menurunkan penumpang luar kota! Astaga! Oleh karena itu, untuk sementara ia memilih berjualan di depan Stadion Marilonga saat TSF dan berhenti membantu mengelola kantin di Kampus 3 Uniflor. Nah!

Memperkenalkan Komunitas


Di Kabupaten Ende ini banyak sekali komunitas. Ada komunitas yang sudah sangat dikenal, ada pula yang masih baru. Beberapa komunitas yang turut meramaikan tenda-tenda pameran TSF antara lain KaFE yaitu komunitas fotografer Ende, Komunitas Literasi Milenial FTI, Komunitas RMC Detusoko, Komunitas Kopi Sokoria, Komunitas Be Art, Komunitas Rumah Baca Suka Cita, dan lain sebagainya. Saya sendiri, misalnya, melalui TSF jadi tahu ada Komunitas Kopi Sokoria dan Komunitas Rumah Baca Suka Cita.






Awesome!

Sarana Bermain dan Belajar Para Bocah


TSF tidak saja menjadi daya tarik orang dewasa, para bocah pun demikian. Bukan, bukan saja para bocah yang merupakan anak-anak dari para pengisi tenda pameran maupun anak-anak papa lele dan pedagang asongan. Ini adalah para bocah pengunjung yang secara sengaja memang diajak orangtuanya untuk turut menikmati euforia TSF terkhusus di sebuah tenda pameran milik Komunitas Ruman Baca Suka Cita. Rumah Baca ini bahkan menempati dua tenda pameran; menyediakan buku-buku untuk dibaca di tempat oleh para bocah yang berkunjung, pun menyediakan kertas-kertas bergambar yang siap diwarnai.



Berbahagialah kalian, para bocah! Hehe. Kalian jadi punya sarana bermain dan belajar. Bahkan Rumah Baca Suka Cita juga menggelar perlombaan mewarnai dengan peserta yang sangat banyak. Meskipun pernah ditunda karena cuaca yang sangat buruk, perlombaan ini tetap digelar pun di tengah cuaca buruk, tetapi dipindah lokasinya ke Kantor PDAM yang terletak di samping Stadion Marilonga.

Baca Juga: Arekune

Luar biasa. Menunduk hormat untuk para pengelola Rumah Baca Suka Cita dan panitia TSF Seksi Pameran.

Hiburan


Tidak bisa dipungkiri TSF adalah hiburan untuk masyarakat Ende. Karena pada malam minggu diselenggarakan panggung hiburan yang menghadirkan musisi-musisi lokal. Dua malam minggu yang lalu, panggung mini di depan Stadion Marilonga, menampilkan sekelompok musisi asal Moni (Kecamatan Kelimutu) yang membawakan lagu-lagu bernuansa reggae. A-yeee! Ramai sangat! Penonton yang usai menonton pertandingan sepak bola pun berjubel di depan panggung.

Bagi saya, hiburan lainnya adalah cuci mata hehehe. Senang sekali begitu melihat orang-orang hilir-mudik, kayak menonton fashion show. Ini memang pertandingan sepak bola, tapi penontonnya harus modis doooonk.

Yang Terlewatkan


Dari apa yang sudah saya ulas panjang-lebar di atas, kalian jadi paham bahwa apa yang dipos Abang Iskandar di FB-nya itu memang benar. TSF adalah pesta masyarakat Kabupaten Ende! Tapi, selain yang betul-betul tertangkap mata, hasil mengamati, serta wawancara, ada hal-hal yang terlewatkan. Masih, dari lini ekonomi. Yang pertama adalah supporter.


Suppoter cilik yang gembira karena tim andalannya menang.

Supporter tentu turut meningkatkan perekonomian dengan memesan kaos supporter kan. Tapi perlu kalian ketahui bahwa wajah dan, kadang, tubuh yang di-cat itu membikin para pemilik toko cat tersenyum senang hahaha. Belum lagi tenore (alat drumband) yang pasti disewa. Amboi ... betul-betul semua lini lah ini TSF membawa dampak positif.

Apresiasi


Saya, pribadi, sangat mengapresiasi Triwarna Soccer Festival. Hanya dari satu event, begitu banyak lini yang merasakan imbasnya, baik langsung maupun tidak langsung. Saya sangat mengapresiasi semua anggota panitia yang betul-betul memerhatikan masalah sampah. Sampah di dalam Stadion Marilonga maupun sampah di luar Stadion Marilonga. Seksi Perlengkapan sigap menyediakan karung-karung sampah yang setiap pagi langsung diangkut ke tempang pembuangan sampah. Sampah yang bisa dibakar, pasti langsung dibakar. Jika ada yang protes: ah, masa sih? Itu sampahnya setiap hari ada. Ya kan karena event ini masih berlangsung dan mungkin saat melintas di depan Stadion Marilonga pada saat panitia belum membersihkannya. Tapi percayalah, urusan sampah ini selalu dibahas setiap briefing malam usai pertandingan terakhir sebelum kami pulang.

Saya berharap event tahunan dengan menu utama pertandingan sepak bola ini bakal lebih baik dari tahun ke tahun, dengan menambahkan mata acara baru. Tak hanya Pameran dan Lomba Mural, dan hiburan, bisa pula ditambah dengan Lomba Fashion Show Tenun Ikat, atau lomba-lomba lainnya.

Baca Juga: Laut Belakang Sekolah

Demikianlah TSF's Story. Kisah yang luar biasa dari Triwarna Soccer Festival. Kami, masyarakat Ende bangga punya event sekeren ini. Karena ... Ende jadi lebih ramai! Hehe.

Semangat Senin, kawan, dan semoga hari-hari kalian menyenangkan.



Cheers.

Es Gula Moke


"Kakak Ibu Tuteh, mau minum kopi?" tawar Ferdianus Rega, founder Komunitas Sokoria Kopi, semalam, saat saya sedang duduk di mejanya mengecek T-Journal dan daftar peserta Lomba Mural di meja depan tenda pamerannya. Iya, ceritanya ini masih dari Triwarna Soccer Festival

"Sudah dua gelas kopi susu. Cukup kopi untuk hari ini. Kalau ada yang dingin, boleh," jawab saya sambil membayangkan sedikit informasi tentang Komunitas Sokoria Kopi pada pos tentang Be Art ini.

"Ada es gula moke," tawarnya dengan wajah ramah. "Gratis untuk Kakak Ibu."

"Boleh!"

Baca Juga: Arekune

Tampang gratisan saya langsung menyala begitu mendengar kata gratis. Hahaha. 

Apa Itu Moke?


Untuk tahu tentang moke, silahkan baca pos Aimere, Tak Hanya Moke atau pos Moke, Aimere. Tapi sekadar informasi, moke merupakan minuman keras tradisional khas Provinsi Nusa Tenggara Timur yang diolah dari nira pohon lontar. Moke juga disebut minuman yang menyehatkan, sebenarnya, apabila diminum secukupnya, terutama bila telah direndam dengan ginseng. Dari lini adat-istiadat, moke merupakan minuman wajib dari Suku Lio (menulis dari sudut Kabupaten Ende). Membangun rumah, upacara adat, pernikahan, dan lain sebagainya, moke selalu ada. Satu atau dua sloki itu wajar, berlebihan bakal bikin mabuk dan lupa diri.

Es Gula Moke


Secangkir es gula moke hadir di hadapan saya. Wah, harus segera saya coba. Yakin ini bukan kopi-moke yang pernah diminum teman. Bagaimana rasanya? Dingin ... haha. Ada rasa gula merah cair atau seperti rasa gula Sabu, dan sedikit sekali rasa moke-nya. Great! Ini minuman segar yang pasti dicari kalau siang hari. Betul, sangat cocok diminum siang hari saat tubuh sedang letih. Karena kandungan gula cair itu baik untuk tubuh, kata Mamatua.

Kalau kalian belum tahu, gula Sabu merupakan gula khas yang diproduksi di Pulau Sabu. Bagaimana pembuatannya? Belum saya tahu pasti karena belum lengkap informasi tentang gula Sabu ini, harus bertanya lebih lanjut kepada teman-teman Orang Sabu. Semoga saya bisa menulis tentang gula Sabu ini ya, kawan. Karena gula Sabu yang diseduh dengan air panas itu dulu pernah menjadi minuman saya setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah.


By the way, saya menulis pos ini pagi buta setelah balik dari Stadion Marilonga. Jadi, saya belum bisa menulis keputusan siapakah pemenang Lomba Mural yang harusnya berakhir kemarin. Ya, atas pertimbangan dewan juri, pengumuman akan dilaksanakan Senin, 11 Maret 2019, pukul 14.00 Wita. Nantilah saya bakal pos tentang para pemenang Lomba Mural. Tapi, boleh donk saya foto duluan di salah satu bidang yang dilombakan:


Berlatar hasil mural salah seorang peserta bernama Anggi, bertema burung Gerugiwa. Gerugiwa merupakan burung khas yang ada di Taman Nasional Kelimutu. Dan, termasuk satwa yang dilindungi. Inilah burung kebanggaan kami.

Baca Juga: Laut Belakang Sekolah

Bagaimana dengan cerita kalian, kawan?



Cheers.

Lomba Mural Lagi

Hasil Mural yang dibikin oleh Christian Lamatokan saat Lomba Mural Tahun 2014 di dinding pagar Stadion Marilonga sebelum kemudian tahun 2017 Stadion Marilonga direnovasi total dan menghasilkan dinding baru yang bakal dilombakan lagi tahun 2019.


Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Itu kata Wikipedia. Bagi saya, mural adalah karya seni yang luar biasa mempesona. Tahun 2014 Dokar (Dosen dan Karyawan) Uniflor, sebuah organisasi intra kampus, pernah menyelenggarakan Lomba Mural yang pernah saya pos di Lomba Mural. Silahkan dibaca siapa tahu terpesona sama hasil muralnya hehe. Salah satu hasilnya saya kopas lagi dan bisa dilihat pada gambar di atas (awal pos).

Baca Juga: Arekune

Kenapa menampilkan gambar dari pos lama / kegiatan lama? Karena Lomba Mural Triwarna Soccer Festival 2019 baru dimulai hari ini, Senin 4 Maret 2019. Ya, betul, lomba ini merupakan salah satu mata acara dari rangkaian Triwarna Soccer Festival. Ada tiga acara besarnya yaitu pertandingan sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati, Pameran dengan tema Bego Ga'i Night, dan Lomba Mural. Nanti saya bakal mengulas tentang Bego Ga'i Night ini. Yang jelas, sangat menarik. Oia, selain ditempatkan di Seksi Lomba Mural, saya juga diperbantukan di bagian Publikasi dan Dokumentasi terkhusus untuk Bego Ga'i Night dan Lomba Mural.


Awal diumumkan, Lomba Mural ini menerima pro dan kontra. Sejauh yang saya ingat, kontranya cuma dari satu akun Facebook. Yang lainnya mendukung. Saya sadari yang namanya lomba semacam ini, terutama yang berkaitan dengan publik, pasti ada pro dan kontranya bukan? Justru yang kontra ini menjadi semacam peringatan bagi penyelenggara untuk tahu seberapa jauh pendapat masyarakat tentang lomba semacam ini.

Peserta


Peserta Lomba Mural tahun 2019 adalah 15 (limabelas) peserta yang terdiri atas kelompok atau tim. Satu tim maksimal 5 (lima) orang dengan minimal batas usia 17 (tujuhbelas) tahun. Mengapa ada batasan usia? Untuk mengurangi ketimpangan hasil lomba nanti. Itu maksudnya. Meskipun didominasi dari Kabupaten Ende, pesertanya tidak hanya berasal dari Kabupaten Ende. Ada pula dari Kabupaten Sikka seperti PMI Kabupaten Sikka. 

Jumlah peserta ini jelas tidak dapat menutup 23 (duapuluh tiga) bidang dinding/tembok yang ada di pagar Stadion Marilonga. Tapi jangan kuatir, Komunitas Mural bakal membantu meletakkan karya mereka di bidang-bidang kosong yang ada.

Juri


Ada dua juri yang bakal menilai hasil Lomba Mural ini. Yang pertama Om Benny Laka yang dikenal sebagai seniman Kabupaten Ende. Nama besar Benny Laka tidak perlu diragukan lagi, kawan. Beliau itu semacam the one and only seniman segala lini. Yang kedua Om Johanes Konk dari Komunitas Mural Ende. Yang satu ini juga jangan ditanya lagi karya-karya muralnya ada di mana-mana. Seharusnya ada tiga juri, satunya Violin Kerong dari pihak panitia sekaligus seniman sketsa Ende. Tetapi musibah yang baru-baru ini menimpa keluarganya (rumahnya terbakar) menyebabkan beberapa bagian tubuhnya juga ikut terbakar, menyebabkan ia harus istirahat total.

Tema


Tema Lomba Mural berasal dari panitia yang bakal di-lot bersamaan dengan pemilihan bidang. Ini yang repot karena kami kekurangan personil (Viol) sehingga harus maksimal menentukan tema. Dibantu oleh Om Benny Laka, akhirnya kami memilih tema-tema besar seperti: rumah adat, tarian daerah, hasil bumi dan hasil laut, simbol adat, alat musik, tokoh, barang adat, hingga asesoris tradisional yang biasa dipakai kaum perempuan. Tema-tema besar itu menghasilkan tema kecil yang terdiri atas 15 (limabelas) tema sesuai jumlah peserta antara lain: burung gerugiwa sebagai hewan khas Danau Kelimutu, feko dan lamba sebagai alat musik tradisional, perempuan menenun sebagai aktivitas harian, Marilonga sebagai tokoh pahlawan lokal, hingga Gawi Eko Wawi dan Wanda Pa'u sebagai tarian khas Ende-Lio.

Waktu Pelaksanaan


Menulis ini seperti menyusun laporan koordinator ya hahaha. Mural dilaksanakan selama 7 (tujuh) hari dari tanggal 4 Maret 2019 s.d. 10 Maret 2019. Selama tujuh hari itu peserta diberikan waktu pukul 14.00 s.d. 18.00 Wita. Waktu yang cukup, menurut saya, karena dulu toh lomba ini diselenggarakan selama dua hari saja.


Lomba Mural sudah dimulai tadi siang, dibuka dan ditandai dengan tanda besar oleh Ketua Panitia Triwarna Soccer Festival Bapak Lori Gadi Djou. Saya bagian pegang ember cat saja ya haha.


Dan meskipun diberi waktu tujuh hari tadi sudah ada yang nampak gambaran besarnya:


Kami berharap para peserta dapat semaksimal mungkin berkarya dan berkreatifitas di bidang-bidang yang ada sesuai dengan tema yang telah dipilih/ditentukan. Ini bakal jadi salah satu ikon Kota Ende dari pintu masuk bagian Timur. Semoga! Demi Kabupaten Ende tercinta.

Menang dan kalah adalah perkara biasa dari sebuah perlombaan. Bukan begitu?

Begitu ... Hehe.


Cheers.

Arekune


Ketika Tim Promosi Uniflor 2019 tiba di Kota Maumere, perasaan saya jadi berbunga sedap malam, karena siapa sih yang tidak senang berada di kota tempat Toko Buku Gramedia berdiri gagah? Pasti senang lah. Akhirnya niat untuk mencari dan membeli agenda bekal (lanjutan) T-Journal terlaksana, dan alat tulis warna-warni. Tinggal di Kota Maumere selama satu tahun pada tahun 2010, dan sering masuk-keluar Toko Buku Gramedia yang jaraknya sangat dekat dari rumah, sudah membikin benak saya dipenuhi rak-rak agenda di bagian dalam toko buku itu.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

T-Journal


Apaan sih T-Journal? Tuteh Journal. Sederhana. Sejak dulu saya memang sudah karib dengan diary bersampul gambar boneka. Kenapa sampul bergambar boneka? Ya karena di tokonya cuma jual yang sampul boneka sih. Belum ada yang bersampul dinosaurus atau Gunung Everest, misalnya. Melihat kegemaran saya menulis; puisi, curhatan ngalor-ngidul, dan bahkan bikin scrapbook sederhana berbahan buku tulis tebal bareng teman SMP (scrapbook itu memang milik berdua saya dan Ida Laila Enga), maka orangtua mulai membelikan saya agenda. Agendanya luar biasa dewasa hahaha. Gaya agenda orang kantoran begitu, dengan sampul kulit berwarna hitam, ada juga yang sampulnya berwarna merah.

Agenda dari zaman purbakala masih tersimpan rapi.

Agenda yang ini yang paling saya suka ... waktu itu.

Ketika memasuki dunia kerja, saya malah suka sama agenda-agenda sejenis itu hahaha, terus mulai memanfaatkan agenda itu bukan untuk sekadar menulis yang tidak penting meskipun curhat itu penting. Halaaah. Dimulai dengan  menulis tentang perencanaan tentang apa yang akan saya lakukan keesokan hari. Ya hal-hal penting begitu deh. Salah satu contoh halamannya di bawah ini:


Kalian bisa melihat ada tulisan Pelatihan Blog, ada pula tulisan Akber Ende, ada juga Fanga. Ada tanda silang dan tulisan NO!, ada tanda centang dan tulisan OK, ada pula tanda tanya. Itu penanda bahwa task belum terlaksana, sudah terlaksana, atau masih jadi tanda tanya. Dan tentu saja tulisan saya tidak mengikuti tanggal yang ditetapkan di dalam agenda. Kebiasaan. Sedangkan tulisan Partikel itu ... kalau tidak salah nih ya - kalau salah ya maafkan haha ... saat saya membeli novel Partikel karya Dee Lestari. Iya, saya tergila-gila sama tulisan-tulisannya.

Agenda-agenda itu menjadi benda kesayangan jika ingin bernostalgia. Karena hampir semua kegiatan, bagian super inti, saya tulis di situ, sedangkan cerita panjang-lebar lebih suka saya tulis di blog. Saya bukan Mamatua yang masih rajin menulis pengertian Al Baqarah dalam buku khusus. Dan, kemudian, saya mulai rajin membeli buku-buku cantik, unik, dengan cara khilaf. Jadi, maksud ke toko untuk membeli yang lain, eh pulangnya pasti bawa buku atau notes imut warna-warni, terutama kuning, yang enak dilihat dan sayang kalau diisi tulisan.

Sampai sekarang keponakan saya pun masih memberi kado buku yang lebih cocok untuk diary, tentu warna kuning, meskipun buku atau agenda atau diary lainnya masih menumpuk alias masih baru belum tersentuh. Dududud.

Gara-Gara Mak Bowgel


Adalah Mak Bowgel, Evvafebri, yang membikin semangat saya meletup-letup lewat tulisan tentang Bullet Journal di blog-nya. Terima kasih, Mak Bowgel, dirimu sangat menginspirasi. Meskipun tidak bisa membikin BuJo tapi saya yakin pasti bisa terus dan terus dan terus dengan jurnal-jurnal saya pribadi terkhusus tentang task on a next day. Makanya saya mulai merapikan yang tercecer, mencari agenda kosong tapi berakhir di sebuah binder, dan kemudian membeli sebuah agenda khusus di Toko Buku Gramedia.


Harga agenda kuning yang langsung melekat di hati ini murah saja, tapi saya suka sama warna kuningnya, jenis sampulnya yang separuh kulit, dan kertas dalamnya yang tidak licin sehingga asyik sekali proses tulis-menulisnya. Sebenarnya, hanya saya atau kalian juga sih, lebih suka menulis pada halaman kosong yang sisi lainnya sudah ada tulisan? Hehe.

Arekune


Apa sih Arekune ituuuuu? Saya harus kembali pada kebiasaan sejak zaman megalitikum. Kembali pada kebiasaan memberi julukan untuk manusia, dan memberi nama pada benda mati. Sahabat saya Yudin, dengan seenaknya saya panggil Abah. Atau Bang Indobrad yang saya panggil Babang. Atau Cici Mawar yang saya panggil Cungkring. Suka-suka saya lah selama julukan itu tidak bersifat menghina atau kurang ajar. Porsi terbanyak saya membaptis ada pada benda mati, termasuk agenda. Saya punya agenda bernama LeBlanc karena sedang tergila-gila sama Matt LeBlanc dari serial Friends. Agenda merah hadiah dari orangtua saya beri nama Narita karena saat itu sedang sangat suka sama Oshin. Fanga yang kalian lihat pada foto isi agenda di atas adalah nama laptop yang pernah digondol maling tapi masih kembali ke pangkuan. Nama laptop lainnya adalah Fungi.

Baca Juga: Hello East, Nantikan Kedatangan Kami

Urusan nama benda mati ini tidak akan selesai ... jadi mari kita lanjut soal Arekune.

Arekune sebenarnya terdiri dari dua suku kata dalam bahasa Ende yaitu are dan kune. Are berarti beras/nasi sedangkan kune berarti kuning. Arekune, saya menulisnya tidak terpisah, adalah nasi kuning. Arekune adalah nama T-Journal baru yang bukunya saya beli di Toko Buku Gramedia yang penampakannya bisa kalian lihat pada sub Gara-Gara Mak Bowgel di atas. Sebelumnya T-Journal mengisi sebuah binder bernama Yellow Academy. Kenapa memberinya nama Arekune? Karena suka saja. Kadang, tidak perlu alasan khusus untuk memberi nama pada benda mati hehehe.


Bagi saya, menulis jurnal itu penting, setidaknya membikin task untuk keesokan harinya sebagai panduan berkegiatan. Saya suka melakukannya. Suka membaca-baca lagi. Apalagi jika dilengkapi dengan overview pada satu halaman khusus di akhir bulan. Saya jadi tahu apa-apa saja yang telah dilakukan, apa saja yang telah dicapai, dan apa saja yang gagal (PR). T-Journal membantu merapikan hidup saya sendiri. Sebenarnya. Jadi saya membutuhkannya untuk diri saya sendiri. Apabila kalian juga ingin melakukannya ... silahkan. Tidak ada ruginya, hehehe.

Semangat Senin :)



Cheers.

Arekune


Ketika Tim Promosi Uniflor 2019 tiba di Kota Maumere, perasaan saya jadi berbunga sedap malam, karena siapa sih yang tidak senang berada di kota tempat Toko Buku Gramedia berdiri gagah? Pasti senang lah. Akhirnya niat untuk mencari dan membeli agenda bekal (lanjutan) T-Journal terlaksana, dan alat tulis warna-warni. Tinggal di Kota Maumere selama satu tahun pada tahun 2010, dan sering masuk-keluar Toko Buku Gramedia yang jaraknya sangat dekat dari rumah, sudah membikin benak saya dipenuhi rak-rak agenda di bagian dalam toko buku itu.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

T-Journal


Apaan sih T-Journal? Tuteh Journal. Sederhana. Sejak dulu saya memang sudah karib dengan diary bersampul gambar boneka. Kenapa sampul bergambar boneka? Ya karena di tokonya cuma jual yang sampul boneka sih. Belum ada yang bersampul dinosaurus atau Gunung Everest, misalnya. Melihat kegemaran saya menulis; puisi, curhatan ngalor-ngidul, dan bahkan bikin scrapbook sederhana berbahan buku tulis tebal bareng teman SMP (scrapbook itu memang milik berdua saya dan Ida Laila Enga), maka orangtua mulai membelikan saya agenda. Agendanya luar biasa dewasa hahaha. Gaya agenda orang kantoran begitu, dengan sampul kulit berwarna hitam, ada juga yang sampulnya berwarna merah.

Agenda dari zaman purbakala masih tersimpan rapi.

Agenda yang ini yang paling saya suka ... waktu itu.

Ketika memasuki dunia kerja, saya malah suka sama agenda-agenda sejenis itu hahaha, terus mulai memanfaatkan agenda itu bukan untuk sekadar menulis yang tidak penting meskipun curhat itu penting. Halaaah. Dimulai dengan  menulis tentang perencanaan tentang apa yang akan saya lakukan keesokan hari. Ya hal-hal penting begitu deh. Salah satu contoh halamannya di bawah ini:


Kalian bisa melihat ada tulisan Pelatihan Blog, ada pula tulisan Akber Ende, ada juga Fanga. Ada tanda silang dan tulisan NO!, ada tanda centang dan tulisan OK, ada pula tanda tanya. Itu penanda bahwa task belum terlaksana, sudah terlaksana, atau masih jadi tanda tanya. Dan tentu saja tulisan saya tidak mengikuti tanggal yang ditetapkan di dalam agenda. Kebiasaan. Sedangkan tulisan Partikel itu ... kalau tidak salah nih ya - kalau salah ya maafkan haha ... saat saya membeli novel Partikel karya Dee Lestari. Iya, saya tergila-gila sama tulisan-tulisannya.

Agenda-agenda itu menjadi benda kesayangan jika ingin bernostalgia. Karena hampir semua kegiatan, bagian super inti, saya tulis di situ, sedangkan cerita panjang-lebar lebih suka saya tulis di blog. Saya bukan Mamatua yang masih rajin menulis pengertian Al Baqarah dalam buku khusus. Dan, kemudian, saya mulai rajin membeli buku-buku cantik, unik, dengan cara khilaf. Jadi, maksud ke toko untuk membeli yang lain, eh pulangnya pasti bawa buku atau notes imut warna-warni, terutama kuning, yang enak dilihat dan sayang kalau diisi tulisan.

Sampai sekarang keponakan saya pun masih memberi kado buku yang lebih cocok untuk diary, tentu warna kuning, meskipun buku atau agenda atau diary lainnya masih menumpuk alias masih baru belum tersentuh. Dududud.

Gara-Gara Mak Bowgel


Adalah Mak Bowgel, Evvafebri, yang membikin semangat saya meletup-letup lewat tulisan tentang Bullet Journal di blog-nya. Terima kasih, Mak Bowgel, dirimu sangat menginspirasi. Meskipun tidak bisa membikin BuJo tapi saya yakin pasti bisa terus dan terus dan terus dengan jurnal-jurnal saya pribadi terkhusus tentang task on a next day. Makanya saya mulai merapikan yang tercecer, mencari agenda kosong tapi berakhir di sebuah binder, dan kemudian membeli sebuah agenda khusus di Toko Buku Gramedia.


Harga agenda kuning yang langsung melekat di hati ini murah saja, tapi saya suka sama warna kuningnya, jenis sampulnya yang separuh kulit, dan kertas dalamnya yang tidak licin sehingga asyik sekali proses tulis-menulisnya. Sebenarnya, hanya saya atau kalian juga sih, lebih suka menulis pada halaman kosong yang sisi lainnya sudah ada tulisan? Hehe.

Arekune


Apa sih Arekune ituuuuu? Saya harus kembali pada kebiasaan sejak zaman megalitikum. Kembali pada kebiasaan memberi julukan untuk manusia, dan memberi nama pada benda mati. Sahabat saya Yudin, dengan seenaknya saya panggil Abah. Atau Bang Indobrad yang saya panggil Babang. Atau Cici Mawar yang saya panggil Cungkring. Suka-suka saya lah selama julukan itu tidak bersifat menghina atau kurang ajar. Porsi terbanyak saya membaptis ada pada benda mati, termasuk agenda. Saya punya agenda bernama LeBlanc karena sedang tergila-gila sama Matt LeBlanc dari serial Friends. Agenda merah hadiah dari orangtua saya beri nama Narita karena saat itu sedang sangat suka sama Oshin. Fanga yang kalian lihat pada foto isi agenda di atas adalah nama laptop yang pernah digondol maling tapi masih kembali ke pangkuan. Nama laptop lainnya adalah Fungi.

Baca Juga: Hello East, Nantikan Kedatangan Kami

Urusan nama benda mati ini tidak akan selesai ... jadi mari kita lanjut soal Arekune.

Arekune sebenarnya terdiri dari dua suku kata dalam bahasa Ende yaitu are dan kune. Are berarti beras/nasi sedangkan kune berarti kuning. Arekune, saya menulisnya tidak terpisah, adalah nasi kuning. Arekune adalah nama T-Journal baru yang bukunya saya beli di Toko Buku Gramedia yang penampakannya bisa kalian lihat pada sub Gara-Gara Mak Bowgel di atas. Sebelumnya T-Journal mengisi sebuah binder bernama Yellow Academy. Kenapa memberinya nama Arekune? Karena suka saja. Kadang, tidak perlu alasan khusus untuk memberi nama pada benda mati hehehe.


Bagi saya, menulis jurnal itu penting, setidaknya membikin task untuk keesokan harinya sebagai panduan berkegiatan. Saya suka melakukannya. Suka membaca-baca lagi. Apalagi jika dilengkapi dengan overview pada satu halaman khusus di akhir bulan. Saya jadi tahu apa-apa saja yang telah dilakukan, apa saja yang telah dicapai, dan apa saja yang gagal (PR). T-Journal membantu merapikan hidup saya sendiri. Sebenarnya. Jadi saya membutuhkannya untuk diri saya sendiri. Apabila kalian juga ingin melakukannya ... silahkan. Tidak ada ruginya, hehehe.

Semangat Senin :)



Cheers.

Uniflor Goes to School


Menjadi anggota Tim Promosi Universitas Flores (Uniflor) bukan sesuatu yang baru bagi saya dan dinosaurus. Selain mempromosikan Uniflor melalui tim khusus yang dibentuk setiap awal tahun dimana pada tahun 2015 saya ditugaskan mempromosikan Uniflor ke Pulau Sumba, tugas utama saya memang untuk mempublikasikan semua kegiatan Uniflor kepala khalayak karena saya bertugas di UPT Publikasi dan Humas Uniflor misalnya melalui koran lokal melalui rubrik kerja sama, saya juga menjadi admin dari beberapa akun media sosial, dan bersama Kakak Rossa Budiarti kami menjadi penulis berita di website Uniflor. Pekerjaan mempublikasikan sesuatu memang sudah mendarah-daging dan sulit dipisahkan. Haha.

Baca Juga: Mamatua Project

Surat tugas dan SK sudah dikeluarkan dengan jangka waktu tugas 31 Januari 2019 s.d. 20 Februari 2019. Jangan dipikir itu waktu yang lama karena melihat daftar sekolah, misalnya yang di Kabupaten Ende saja, sudah membikin nafas ngos-ngosan. Lebay but almost true haha. Sabtu kemarin, untuk mengisi kekosongan kegiatan meskipun aslinya daftar recana di T-Journal lumayan padat, usai kegatan Millenial Road Safety di Jalan El Tari, saya memutuskan untuk mengantar surat ke beberapa sekolah. Lumayan jika bisa memasuki dua tiga sekolah. Pak Yance, Ketua Panitia Tim Promosi Uniflor 2019, lantas menyarankan saya dan beberapa teman yang ikut untuk memakai bis Tim Promosi Uniflor saja. Kebetulan bis tersebut baru saja memasuki area kampus saat kami berdiskusi di kantin Kampus III. Wah! Boleh tuh! Perdana! Karena kan bis tersebut digunakan hari ini, Senin 4 Februari 2019, untuk mengantar Tim Promosi Uniflor ke kabupaten lain (arah Barat).

Pak Yance, saya, Ibu Neneng, Ibu Happy, Ibu Shinta.

Ngomong-ngomong, eh, nulis-nulis, penampakan bis ini mirip motorhome ya. Duh, seru sekali membayangkan bis itu beneran motorhome.


Sabtu memang cenderung identik dengan sekolah yang jauh lebih santai. Manapula beberapa sekolah menerapkan lima hari sekolah. Tapi lumayanlah kami masih sempat bertemu beberapa guru dan menyampaikan maksud kunjungan. Rata-rata murid kelas 3 SMA sedang sangat pada kegiatan menjelang UN. Beruntung kami diberi kesempatan untuk mempromosikan Uniflor, bukan pada hari itu juga, melalui janji.