Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik?


Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik? Jum'at, 8 September 2019, Panitia Panca Windu Universitas Flores (Uniflor) kembali menggelar kegiatan menjelang hari baik di tahun 2020 nanti. Bakti sosial yang turut mendukung program Jum’at Bersih oleh Pemerintah Kabupaten Ende tersebut dilaksanakan di empat kelurahan pada wilayah Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, yaitu Kelurahan Potulando, Kelurahan Kelimutu, Kelurahan Paupire, dan Kelurahan Onekore. Sejumlah dua ribu peserta bakti sosial yang dibagi lima ratus peserta per kelurahan diperkuat oleh dosen, karyawan, mahasiswa, perwakilan komunitas, dan masyarakat setempat. Untuk itulah saya harus bangun sedini mungkin sehingga gayung kamar mandi pun mengerut kening dan bertanya: benarkah kau bangun jam segini? Hehe.

Baca Juga: Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya

Seremoni pembukaan kegiatan tersebut dilaksanakan di Perempatan Wolowona (sisi Timur) pada pukul 07.00 Wita, dihadiri oleh Bupati Ende Drs. Djafar Achmad, Sekretaris Daerah Kabupaten Ende Dr. dr. Agustinus G. Ngasu, Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. beserta jajaran Wakil Rektor, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt., Ketua Panitia Panca Windu Uniflor Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum., Dekan se-lingkup Uniflor, Unsur Forkompinda, perwakilan ASN, POLRI dari Polres Ende, serta tamu undangan. Pada lokasi seremoni pembukaan juga dipajang beraneka rembi (tas/keranjang anyaman) yang diperkenalkan selain sebagai hasil karya kerajinan tangan juga sebagai wadah belanjaan yang harus mampu menggantikan tas belanjaan plastik atau tas kresek alias kalau diubek-ubek tas plastik ini menimbulkan suara: kresek.

Bapak Bupati Kabupaten Ende, Bapak Djafar, membeli tikar anyaman dan sebuah rembi mini, usai seremoni pembukaan.

Bapak Bupati Kabupaten Ende, Bapak Djafar, memakai rembi mini.

Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Rektor Uniflor dan Bupati Ende, dilanjutkan dengan penekanan tombol sirine sebagai tanda launching. Tema yang diangkat adalah Go Clean: Reduce, Reuse, Recycle, Re-Design, Re-Imagine.

Apa itu rembi? Dan mengapa benda ini dipercaya mampu menggantikan peran tas belanjaan plastik?

Marilah ... dibaca.

Rembi


Rembi merupakan nama dari wadah anyaman berbahan alami yang merujuk pada tas/keranjang. Abang Oir Rodja pernah menulis tentang Seni Anyam Ende Lio yang khusus membahas ... ya membahas seni anyaman Ende Lio donk. Hehe. Rembi merupakan salah satu dari seni anyaman tersebut. Bahan-bahan yang dipakai untuk membikin rembi dari yang saya lihat pada Jum'at kemarin itu antara lain daun lontar dan bilah bambu tipis (khusus untuk keranjag berukuran raksasa). Tapi dari blog Abang Oir saya membaca nama bahan lain yaitu kulit bambu muda, wunu re’a/daun pandan hutan; wunu koli/daun lontar; kulit bhoka ino; ngidho; ua; taga; tali eko



Selain rembi, seni anyaman ini banyak jenisnya dan yang saya tahu sejak dulu itu bernama wati sebagai wadah yang sering dipakai para ine/mama menyimpan sirih, pinang, dan lain-lain keperluan. Bahkan saya punya donk sejenis wati, tapi tanpa tutupan, buat menyimpan barang-barang kecil. Jenis lainnya yang saya baca dari blog Abang Oir antara lain mbola-mbola, kadhengga, kidhe, kadho, kopa, mboka wati, lepo, kiko, raga, wuwu, ola bau, kata, dan lain sebagainya. Saya pernah tahu kidhe ini, ketika kidhe menjadi salah satu tema yang diangkat dalam Lomba Mural Triwarna Soccer Festival awal tahun 2019. 

Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Pastik?


Ini pertanyaan penting karena punya tujuan majemuk. Pertama: rembi akan mengurangi sampah plastik di negeri ini. Kedua: rembi akan mendongkrak perekonomian masyarakat khususnya para pengrajin. Ketiga: rembi menjadi salah satu ikon (wisata) budaya yang diburu oleh wisatawan selain tenun ikat yang kesohor hingga penjuru dunia. Tapi, kembali ke pertanyaan awal tadi: mampukah?

Orang pesimis pasti akan bilang: tidak! Tapi orang optimis pasti akan bilang: ya, mampu!

Rembi Mengurangi Sampah Plastik


Jujur saja, sebelum kegiatan baksos dengan salah satu agenda mengangkat rembi sebagai tas/keranjang belanjaan pengganti tas belanjaan plastik, awal September 2019 saya sudah mendengar terlebih dahulu dari Bapak Bupati Nagekeo, Bapak Don, tentang kearifan lokal yaitu penggunaan tas anyaman alih-alih menggunakan tas plastik sebagai media untuk membawa barang belanjaan. Rembi, jika betul dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Ende khususnya para mama saat berbelanja di pasar, niscaya mampu mengurangi sampah plastik. Lagi pula rembi dibikin untuk dua jenis belanjaan. Ada rembi khusus belanjaan basah seperti ikan dan/atau daging, hingga sayuran. Ada rembi khusus belanjaan kering seperti aneka bumbu dapur. Tapi, tentunya para mama lebih suka membeli rembi khusus belanjaan basah karena bisa disatukan dengan belanjaan kering: bawang, cabai, lengkuas, merica, yang umumnya dibungkus ... plastik. Hiks.


Lagi, jujur saja, sebelum kegiatan baksos dengan salah satu agenda mengangkat rembi sebagai tas/keranjang belanjaan pengganti tas belanjaan plastik, menurut pengamatan saya, sudah banyak mama yang menggunakan keranjang plastik reuse yang kuat dan tahan banting sekaligus mengurangi pemborosan membeli tas belanjaan plastik. Artinya tas belanjaan plastik tidak terlalu banyak digunakan di pasar-pasar tradisional bukan? Lantas di mana? Di supermarket! Oleh karena itu, kampanye menggunakan rembi ini harus dilakukan di semua lapisan perbelanjaan baik yang tradisional maupun yang moderen. Suatu saat, pasti ada yang ke supermarket membawa rembi, dititip di tempat penitipan barang, kemudian saat selesai belanja semua belanjaan akan dimasukkan ke rembi alih-alih tas belanjaan plastik berlogo supermaret tersebut.

Salah seorang mama, baru pulang berbelanja dari Pasar Wolowona, melintas di lokasi seremoni pembukaan, menenteng keranjang belanjaan plastik.

Bisa?

Bisa donk. Saya sudah melakukannya. Bukan rembi, melainkan backpack. Kecuali belanjanya untuk keperluan satu bulan, itu memang butuh kardus. Haha.

Yang perlu diingat adalah, tas belanjaan plastik bukan satu-satunya penghasil sampah plastik di semesta raya. Masih ada botol dan gelas bekas minuman. Itu yang paling nyata terlihat saat hujan turun dan aliran air menghantar sampah hingga ke tepi pantai. Bagaimana untuk mengatasinya? Bawalah tumbler atau botol air minum sendiri dari rumah alih-alih membeli air minum kemasan. Selain keren sekaligus berhemat.

Rembi Mendongkrak Perekonomian


Keterkaitan ini jelas tidak bisa dibantah. Umumnya rembi dibikin oleh pengrajin yang tergabung dalam kelompok tertentu. Jum'at kemarin, rembi-rembi yang dipajang merupakan hasil kerajinan tangan dari Kelompok Karya Ibu. Kelompok ini juga sudah digandeng Dinas Koperasi Kabupaten Ende.


Apabila rembi betul mampu mengganti tas belanjaan plastik, otomatis perekonomian para pengrajin pun terdongkrak. Ini akan sangat bagus! Meskipun untuk mewujudkannya, memang, dibutuhkan kesadaran awal yaitu penggunaan plastik harus dikurangi meskipun plastik memang jauh lebih praktis.

Rembi Sebagai Ikon (Wisata) Budaya


Dari hasil status saya tentang rembi di Facebook, ada teman-teman yang bertanya tentang rembi, pengen punya juga. Soalnya kan selain disediakan rembi untuk belanjaan di pasar, ada pula rembi dengan model kekinian yang imut dan lucu bikin gemas siapapun yang melihatnya. Seperti yang dipakai Bapak Bupati Kabupaten Ende. Saya punya satu rembi yang dikasih sama pengungsi korban erupsi Gunung Rokatenda dari Pulau Palu'e.

Rembi hadiah dari pengungsi. Hehe.

Kalau yang ini wadah anyaman dari Pulau Sumba.

Rembi niscaya mampu menjadi ikon (wisata) budaya dari Kabupaten Ende karena siapa sih yang tidak mau punya oleh-oleh khas suatu daerah berharga murah, dapat dimanfaatkan sehari-hari, dan membikin pemakainya terlihat beda dan bergaya? Semua orang juga pasti mau! Termasuk saya. Sayangnya Jum'at kemarin saya tidak sempat membeli rembi karena sudah terlalu banyak orang berkerumun ingin membeli juga, dan saya toh sudah punya rembi sendiri hadiah dari pengungsi. Hehe. Oh ya, harga rembi bervariasi sesuai ukuran, model, dan tingkat kesulitan modifikasinya. Dipatok mulai dari Rp 50K hingga ratusan ribu.

⇜⇝

Baca Juga: Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba

Menjawab pertanyaan besar di tulisan ini, mampukah rembi menggantikan peran tas belanjaan plastik? Insha Allah mampu. Asalkan ada kesadaran dari kita semua, ada daya juang dari kita semua, untuk bersama-sama bertekad mengurangi sampah plastik yang secara masif sudah semakin menghancurkan bumi kita. 

Bagaimana menurut kalian, kawan?

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya


Parade Akbar Ini Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya. Jum'at, mengawali Bulan November 2019, Universitas Flores (Uniflor) menggelar kegiatan launching Panitia Panca Windu Uniflor 2020 yang bertepatan dengan pembukaan turnamen sepak bola Ema Gadi Djou Memorial CUP (EGDMC) 2019. Rangkaian kegiatan Panca Windu Uniflor dibuka dengan Parade Budaya yang diselenggarakan besar-besaran dengan rute dimulai dari Kilometer 0 di Jalan Soekarno dan berakhir di Stadion Marilonga lokasi opening ceremony dan laga EGDMC dilaksanakan. Parade Budaya tersebut merupakan salah satu bukti dari visi dan/atau Uniflor menunjukkan dirinya sebagai mediator budaya. 

Baca Juga: Dari Kuliah Umum Sampai My Best Friend's Wedding

Seperti apa kemeriahannya? Cekidot!

16 Program Studi Menampilkan Yang Terbaik


Sesuai dengan namanya, Parade Budaya, maka enam belas program studi (prodi) yang ada di Uniflor telah berupaya menampilkan yang terbaik. Oleh panitia, setiap prodi diatur/dibagi berdasarkan etnis dan/atau kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pembagian ini tidak main-main, setiap prodi wajib menghiasi kendaraan yang rata-rata adalah pick up dengan ikon dari etnis yang sudah dibagi tersebut. Ada prodi yang mendapat jatah miniatur Gedung Rektorat Uniflor, ada pula yang mendapat jatah etnis dari seluruh Nusantara alias bukan dari etnis tertentu di Provinsi NTT. Selain pembagian jatah etnis, setiap prodi juga wajib mengikutsertakan mahasiswa/i sejumlah tujuh puluh lima, dosen, dan pegawai. Sebagian peserta mengenakan pakaian daerah dari etnis yang telah dijatahkan tersebut, sebagian lagi mengenakan kaos berwarna kuning.


Yaaaa sebagai Presiden Negara Kuning, saya akui bahwa tanggal 1 November 2019 menjadi moment pertama Hari Raya Kuningers. Hari Kemerdekaannya jatuh pada tanggal 12 Oktober. Haha.


Sungguh meriah Parade Budaya itu. Lihat saja, Prodi Ilmu Hukum dari Fakultas Hukum menampilkan ikon Kabupaten Manggarai Barat yaitu hewan komodo:

Komodonya yang di atas pick up, ya. Jangan salah fokus. Hahaha.

Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menampilkan ikon ikan paus dari Kabupaten Pulau Lembata:


Prodi Sastra Inggris dari Fakultas Bahasa dan Sastra menampilkan kuda dari Pulau Sumba:


Prodi Pendidikan Biologi dari FKIP menampilkan gading yang merupakan ikon dari Kabupaten Flores Timur dan tentu saja ada jagung titi yang saya embat juga:


Prodi lainnya seperti Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menampilkan Tarian Caci dari Kabupaten Manggarai, Prodi Agroteknologi selain menghias kendaraannya dengan berbagai hasil bumi pun menampilkan tarian modifikasi proses tanam pagi hingga panen, Prodi Teknik Arsitektur menampilkan miniatur Gedung Rektorat Uniflor, Prodi Teknik Sipil menampilkan topi Ti'i Langga khas dari Pulau Rote, dan lain sebagainya.


Pada beberapa titik penilaian yel-yel, yang dilombakan, beberapa prodi menampilkan atraksi tarian. Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menampilkan Tarian Caci di titik penilaian puncak Jalan Sudirman:


Prodi Agroteknologi, seperti yang sudah saya tulis di atas menampilkan tarian modifikasi:


Dan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan tarian berburu paus. Khusus tarian berburu paus ini, juga dijelaskan dengan bahasa adat dan bahasa Indonesia bahwa paus yang diburu itu ada klasifikasinya. Paus yang tidak boleh diburu antara lain paus biru dan paus yang sedang mengandung.

Saya lihat, apa yang sudah dilakukan oleh setiap prodi ini memang sungguh luar biasa. Bagi saya pribadi. Artinya, tidak ada yang main-main atau tidak ada yang ala kadarnya di Uniflor. Semua bertanggungjawab untuk bisa memberikan terbaik dan maksimal.


Belajar dari itu.

Percayalah, seperti nasihat Bapa Asmady: segala sesuatu yang setengah-setengah tidak akan membawa hasil kecuali karena keajaiban saja. Segala sesuatu yang dilakoni sungguh, membawa hasil yang supa amazing. Seperti kegiatan kemarin. Supa amazing.

Opening Ceremony Dengan 1.750 Penari


Pukul 18.30 Wita, kegiatan opening ceremony dimulai di Stadion Marilonga. Stadion kebanggaan kami Orang Ende. Berawal dari parade enam belas prodi beserta tim/klub yang ikut berlaga di turnamen EGDMC 2019 dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang bendera-bendera dijaga oleh Resimen Mahasiswa (Menwa) Uniflor. Dilanjutkan dengan masuknya empa kain raksasa sebagai simbol empat penujur mata angin dan Tarian Caci. Usai Tarian Caci, dilanjutkan dengan tarian oleh 1.750 penari yang adalah mahasiswa/i Uniflor.

Credits: Youtube Komik Ende.

Credits: Youtube Komik Ende.

Para penari ini sungguh luar biasa. Mereka memakai pakaian daerah dan selendang/sarung tenun ikat diaplikasikan untuk ragam. Mereka dipimpin langsung oleh koreografer kondang Kabupaten Ende, yang telah berkiprah sampai tingkat internasional Rikyn Radja. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia Panca Windu Uniflor 2020 dan penekanan bel oleh Bupati Ende Bapak Djafar Ahmad.

Saya sangat menyukai laporan panitia oleh Mama Emi Gadi Djou tersebut. Cekidot!

Latar belakang kegiatan ini adalah Pancasila yang perlu dipahami sebagai kesadaran kolektif bangsa dan ungkapan tentang nasionalisme. Untuk itu diperlukan perubahan mindset serta moral bangsa dalam memahami nilai-nilai budaya yang gayut dengan perkembangan. Hal ini selayaknya dapat dipahami sebagai jati diri bangsa untuk mengisi rumah kita di dalam kerangka Negara Kesatuan yang berdaulat, sejahtera, dan berkeadilan sosial. 

Dalam kaitan tersebut, kiranya perlu dilakukan kajian dari beberapa poin yaitu (1) Beragam budaya bangsa Indonesia harus dikenalkan kembali sebagai jati diri bangsa. (2) Pendidikan bangsa perlu diingatkan sebagai hakekat tujuan dari semangat Pancasila yakni mencerdaskan kehidupan bangsa untuk meningkatkan daya saing bangsa dan terwujudnya kesejahteraan bangsa tanpa melupakan kebudayaan yang dimiliki. (3) Peran serta Universitas Flores, masyarakat Kabupaten Ende, dan masyarakat pada umumnya serta para alumni sebagai kaum intelektual di dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan melestarikan budaya.

Untuk itulah dalam perayaan menyambut Panca Windu Uniflor diusung tema Rumah Kita Universitas Flores Membangun Kaum Intelektual Dalam Semangat Pancasila Merajut Persaudaraan Sebagai Mediator Budaya. 

Tujuan kegiatan ini antara lain (1) Mendapatkan berbagai konsep strategis yang berkaitan dengan pemaknaan kembali semangat Pancasila dan budaya dalam menjawab tantangan globalisasi para kaum intelektual. (2) Mempromosikan Uniflor. (3) Memupuk semangat kebersamaan di kalangan civitas akademika, alumni, masyarakat luas, dalam mempertahankan dan meningkatkan peran Uniflor sebagai mediator budaya. (4) Mendukung dan mengembangkan bakat dan kreativitas para kaum intelektual di wilayah Nusa Tenggara Timur.

*tepuk tangan paling meriah*

⇜⇝

Panitia Panca Windu Uniflor 2020 sudah di-launching. Selanjutnya, tugas berat menanti. Panca windu memang terjadi 19 Juli 2020 tetapi rangkaian kegiatannya sudah dimulai dari sekarang. Bahkan pre-event sebelum launching panitia tersebut.

Dalam menyambut Panca Windu Uniflor pada tanggal 19 Juli 2020 nanti telah terlaksana beberapa kegiatan serta agenda kegiatan antara lain (1) Kuliah Umum bersama Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, S.H., M.H., LLM. dengan moderator Agus Adi Tetiro dengan tema Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya Mengawal Ideologi Melawan Radikalisme, Pancasila Dari Ende Untuk Nusantara telah diselenggarakan pada Sabtu (26/10/2019) di Auditorium H. J. Gadi Djou. (2) Misa, Shalat Jum'at, dan ziarah, dalam rangka launching Panca Windu Uniflor, Parade Budaya, opening ceremony, dan kegiatan olah raga EGDMC 2019 yang diselenggarakan pada Jum'at (1/11/2019).

Baca Juga: Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp

Kerangka besar kegiatan menyambut Panca Windu Uniflor dibagi dalam empat pilar kegiatan yaitu Kerohanian, Pelanaran ilmiah, Olahraga dan Seni, dan Sosial Kemasyarakatan. Empat pilar kegiatan dengan sub-sub kegiatan tersebut telah dimulai sejak Oktober 2019 dan akan berakhir dengan Misa pada tanggal 19 Juli 2020.

Uh wow sekali kan?

Doakan semua rangkaian kegiatan kami sejak 2019 hingga 2020 dapat terlaksana dengan baik ya, kawan!

Satukan langkah, bulatkan tekad, menuju Uniflor bermutu.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Dari Kuliah Umum Sampai My Best Friend’s Wedding


Dari Kuliah Umum Sampai My Best Friend's Wedding. Minggu lalu saya dihubungi oleh Kakak Ida yang membantu Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang hendak mengundang blogger untuk acara Gotong Royong, Bakti Negeri +62 di Tanggerang. Dalam perkara ini, blogger dimaksud adalah saya sebagai blogger asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Semua ditanggung oleh panitia (transportasi, akomodasi, konsumsi). Kegiatannya dimulai 26 Oktober hingga 30 Oktober 2019. Dengan berat hati saya menolak. Sumpah! Berat bangettttt menolak undangan tersebut. Menolak karena tanggal 26 Oktober adalah tanggal keramat. Keramat pertama: kegiatan kuliah umum. Keramat kedua: pernikahan sahabat yang sudah saya anggap adik sendiri Mila Wolo dan Ismail Harun. Sumpah, lebih mengerikan dicakar Mila ketimbang dipeluk Abang. Eh, maksudnya ya begitu. Haha. Tolong bagian dipeluk Abang jangan dibahas, ya. Haha!

Baca Juga: Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba

Sebagai manusia penghuni semesta raya saya harus rela mengorbankan yang satu demi menunaikan yang lain. Tentu, saya sudah mengorbankan tidak pergi ke Tanggerang, meskipun penolakan itu seharusnya bukan pengorbanan tetapi keikhlasan. Tsaaaah. Hehe. Bagaimana dengan dua kegiatan lainnya? Mana yang saya pilih untuk dihadiri? Kalian pasti kepo kan? Baca donk sampai selesai.

Kuliah Umum Menyambut Panca Windu Uniflor


Sudah saya ceritakan sebelumnya pada pos berjudul 5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor bahwa dalam rangka menyambut usia panca windu, Universitas Flores (Uniflor) bakal menggelar begitu banyak kegiatan, salah satunya kuliah umum dan/atau seminar yang cakupannya lokal, nasional, hingga internasional (internasional, masih dalam wacana). Panca windu, dan tahun emas nanti, memang merupakan momen spesial yang ditunggu-tunggu. Meskipun panca windu baru akan terjadi pada Juli 2020 namun persiapannya sudah dimulai sejak tiga tahun lalu. What!? Tiga tahun lalu? Ya, kepanitiaan ini sudah dibentuk tiga tahun lalu, kemudian mandek, kemudian bulan lalu kembali disetrum dan lantas setiap koordinator menyusun begitu banyak rencana kegiatan. Hebatnya, Panitia Panca Windu Uniflor bakal di-launching pada tanggal 1 November 2019 bertepatan dengan launching event tahunan Ema Gadi Djou Memorial Cup. Bapak Ema Gadi Djou adalah our founding father. Launching-nya pun dirancang supa amazing! Nantikan ceritanya, ya. 

Credits: Edwin Firmansyah.

Kuliah umum merupakan salah satu kegiatan awal, pre-event, Panca Windu Uniflor. Kuliah umum tersebut bertema: Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya "Mengawal Ideologi, Melawan Radikalisme" Pancasila dari Ende untuk Nusantara. Tema yang menarik. Tapi yang lebih menarik adalah Pemateri Utama yaitu Bapak Dr. Refly Harun, S.H., M.H., I.L.M. yang dikenal sebagai Pakar Hukum Tata Negara, Pemateri Pendamping yaitu Ibu Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. yang adalah dosen Fakultas Hukum Uniflor, serta Moderator kece yaitu Gusti Adi Tetiro yang dikenal sebagai novelis dan jurnalis BeritaSatuTV.

Hadir dalam kegiatan kuliah umum yang dilaksanakan di Auditorium H. J. Gadi Djou di Kampus I Uniflor tersebut Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A., Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt., Wakil Rektor dan Dekan se-lingkup Uniflor, Pasi Pers Kodim 1602/Ende Lettu Inf. Ilham Amir, Camat Ende Utara Kapitan Lingga, Pastor Rekanan Paroki St. Yosef Onekore/Pastor Kampus Ministry RP. John Ballan, SVD., Ketua FKUB Rd. Sipri Sadipun bersama anggota FKUB Kabupaten Ende, para dosen dan karyawan Uniflor, para guru di wilayah Kabupaten Ende, mahasiswa dan pelajar dalam Kota Ende. Jumlah peserta yang hadir diperkirakan 2.500 orang. Bisa saya bayangkan betapa penuhnya auditorium kebanggaan kami itu.

Credits: Edwin Firmansyah.

Dalam sambutannya Rektor Uniflor mengatakan bahwa Kota Ende terletak di tengah Pulau Flores dengan cuaca yang sejuk, masyarakatnya secara sosiologis kondisinya sangat manis. Kota Ende semacam menjadi pertemuan budaya sedaratan Flores dan sampai saat ini tidak ada gejolak seperti yang terjadi di tempat lain. Di Kota Ende Pancasila dikandung. Konsep awalnya Pancasila ada di Kota Ende. Mungkin Bung Karno melihat betapa manisnya Orang Ende. Semoga Pancasila tetap menjadi dasar penyejuk semua Agama, RAS, dan Budaya di Indonesia, dan ini menjadi harapan besar Orang Ende. Lebih lanjut Rektor Uniflor mengatakan, "Pada momen panca windu kami ingin membulatkan tekad untuk mengawal Pancasila yang dikandung di Kota Ende ini. Maka kami mengundang Pak Refly Harun untuk memberi pemahaman kepada kami agar kejadian dan gejolak tidak menggerus nilai Pancasila yang dikandung di Ende ini karena dia adalah mutiara indah yang dikandung di Ende dan dipersembahkan untuk mempersatukan Nusantara."

Kegiatan kuliah umum sebagai pre-event panca windu Uniflor sungguh luar biasa!

Credits: Edwin Firmansyah.

Pertanyaannya: bagaimana saya yang memutuskan untuk menghadiri pernikahan sahabat baik saya tahu tentang kuliah umum ini, termasuk sambutan Rektor Uniflor? Jawabnya hanya satu: jaringan. Haha. Pokoknya jaringan mempermudah segalanya. Terima kasih Om Edwin. Selain itu, untuk kepentingan publikasi Uniflor sudah ada Kakak Rossa yang berbaik hati memberi ijin saya mendokumentasikan pernikahan Mila dan Aram, dan meliput sendirian di auditorium. Sungguh, saya dikelilingi oleh orang-orang sangat baik.

Yuk ah ... tepuk tangan yang meriah.

My Best Friend's Wedding


Mila adalah sahabat yang sudah saya anggap adek sendiri, kami mulai menjalin persahabatan sejak tahun 2011. Pernikahannya dengan Aram merupakan momen terbaik tahun ini yang saya tunggu-tunggu. Sudah dimulai dengan mengatur proses foto pre-wedding, hingga membikin video undangan online. Yang jelas, demi kepentingan Mila, malam sebelumnya Cahyadi sudah membantu mendokumentasikan Malam Deba, sedangkan Thika Pharmantara menghias tangannya dengan hena. Pada hari pernikahan pun saya siap bangun lebih awal, karena biasanya iler sudah banjir baru bangun, demi bisa mendokumentasikan proses ijab-kabul, soalnya Cahyadi harus mengikuti kegiatan lain bersama Ethical.



Adalah air mata haru ketika melihat Bapa Anwar Wolo menikahkan puteri semata wayangnya dengan lelaki pilihan. Mata saya berkaca-kaca melihatnya. Bapa dan Mama, tunai sudah tugas kalian untuk Mila. Kalian adalah orangtua saya juga, yang selalu bisa membikin saya lebih bersemangat menjalani hidup, hanya dengan melihat perilaku kalian yang mulia. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan berkatNya untuk Bapa dan Mama. Semoga panggilan ke Tanah Suci kelak dapat terwujud. Amin ... Amin ... Amin. Jangan lupa, sebut nama saya kalau ke Tanah Suci Mekah, ya. Haha. Siapa tahu menyusul. Menyusuk ke Tanah Suci, bukan menyusul Mila dan Aram melenggang ke pelaminan. Eh tapi kalau itu juga didoakan ... Amin!




Saya dan keluarga Wolo memang tidak berhubungan darah. Kami hanya didekatkan oleh persahabatan saya dan Mila, yang kemudian persahabatan saya dan Deni. Tapi bagi saya, persahabatan dapat berujung pada persaudaraan apabila kita mampu membawanya pada tahap itu. Persahabatan juga dapat berujung pada permusuhan apabila kita membawanya pada tahap itu. Intinya adalah, semua sahabat saya adalah saudara. Karena, saudara tidak musti di tubuh mengalir darah yang sama.

Baca Juga: Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru

Well, untuk Mila dan Aram ... selamat yaaaaa.

⇜⇝

Meskipun saya belum memperoleh materi dari Pak Refly secara keseluruhan, tetapi saya yakin nanti bisa memperolehnya dari Kakak Rossa, atau dari Ibu Emmi. Materinya pasti bagus sekali: tentang menjaga Pancasila yang sangat kita cintai. Tapi yang jelas, Sabtu kemarin itu saya sangat puas dengan apa yang sudah saya pilih dan lakukan. Karena, sekali lagi, saya harus bisa mengorbankan yang satu untuk dapat menunaikan yang lain.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba


Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba. Alhadulillah, dua jadwal yang baru direncanakan menjelang akhir tahun, jadwal serba mendadak dangdut, telah tunai. Yang pertama adalah menghadiri Festival Literasi Nagekeo 2019 pada 28 September 2019 di Lapangan Berdikari Kota Mbay. Yang kedua adalah menghadiri Festival Daging Domba 2019 pada 19 Oktober 2019 di Bukit Weworowet. Kedua festival keren itu diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Bagaimana caranya kabupaten muda ini mampu menyelenggarakan dua event besar dalam tempo yang berdempetan, itu menjadi rahasia yang harus dicaritahu, sekaligus merupakan motivasi bagi kabupaten lainnya yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Yang jelas, dua event itu telah mendongkrak dunia literasi, budaya, serta pariwisata di Kabupaten Nagekeo.

Adalah jauh jarak antara Kota Ende sebagai Ibu Kota Kabupaten Ende, tempat saya tinggal, dengan Kota Mbay sebagai Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Biasanya saya selalu mampir mengaso sebentar di percabangan Aigela, menikmati jagung rebus dan segelas kopi, yang dijual di lapak-lapak oleh penduduk setempat, baru kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kota Mbay.


Bagi kalian yang bermukim di kota besar, jarak 90-an kilometer tidak menjadi persoalan, karena akses jalan raya yang luar biasa di kota besar sering membikin kami yang tinggal di Pulau Flores terpesona sekaligus iri. Jalanan lebar, lurus, mulus, trafic light di mana-mana, merupakan makanan kalian sehari-hari. Bukan persoalan mudah, memang, menghubungkan setiap kabupaten di Pulau Flores. Topografinya yang ekstrim membikin jalan penghubung antar kabupaten juga ekstrim. Meskipun demikian, saya bersyukur karena untuk menghubungkan setiap kabupaten di Pulau Flores, sudah ada mediatornya.

Mediator Itu Bernama Trans Flores


Trans Flores merupakan mediator/penghubung setiap kabupaten yang ada di Pulau Flores dari ujung Barat ke ujung Timur. Topografi Pulau Flores itu berbukit-bukit (ekstrim menurut sebagian orang), disertai jurang baik jurang dengan sungai atau batu karang dan ombak menunggu di bawah sana, membikin Trans Flores otomatis menjadi ekstrim. Bayangkan saja, selain jalanan itu mengitari bukit, ribuan kelokan, dan naik turun, pun ada bukit yang dibelah demi keberlanjutan Trans Flores ini.

Salah satu titik favorit, arah Barat dari Kota Ende, sebelum Kecamatan Nangapanda. Sisi perbukitannya nampak bak lukisan abstrak.

Trans Flores sudah ada sejak zaman dulu-dulu, dan terus diperbaiki demi kelancaran lini transportasi antar kabupaten. Bahkan, sampai saat ini pun Trans Flores masih terus diperbaiki, antara lain perbaikan titik-titik berlubang hingga pelebaran jalan. Apabila terjadi pengerjaan proyek pelebaran jalan maka para pengguna Trans Flores harus mempersiapkan diri dengan sangat baik, terutama para pengendara sepeda motor. Seperti saya. Hehe. Karena, proyek pelebaran jalan selalu berkaitan dengan pengerukan bukit, dan kombinasi keduanya pasti menimbulkan debu setiap ada kendaraan yang melintasi. Jangan pernah lupakan masker!


Proyek perbaikan dan/atau pelebaran jalan memang bakal membikin perjalanan lintas Pulau Flores menjadi sedikit terganggu karena harus saling mengalah saat melintasi jalan sempit terutama di kelokan yang sebagian badan jalan dikuasai material, serta debu yang berterbangan. Tapi jangan kuatir. Saya sudah pernah mengalaminya ratusan ribu kali. Proyek perbaikan dan/atau pengerjaan jalan ini tidak memakan waktu terlalu lama. Paling-paling tiga bulan ke depan, kalau ke luar kota lagi, kondisinya sudah semakin bagus. Bukankah perbaikan dan pelebaran jalan ini dilakukan demi kelancaran transportasi antar kabupaten? Jadi, mari kita rayakan!

Karena saya tinggal di Kota Ende, perjalanan ke arah Barat dan ke arah Timur Pulau Flores selalu memberi kesan tersendiri. Arah Barat, identik dengan tebing, hutan, jurang, dan laut, selalu menyuguhkan pemandangan seperti ini:




Sedangkan arah Timur yang identik dengan tebing, hutan, jurang, dan sungai, juga tak kalah, selalu punya pemandangan seperti ini:



Kondisi jalan yang baik antar kabupaten, suguhan pemandangan supa amazing sepanjang perjalanan, hingga menawannya keramahan masyarakat Pulau Flores, membikin wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara kini lebih suka mengendarai sendiri kendaraan sewaan terutama sepeda motor matic. Bila dulu sering bertemu mobil rental/travel atau bis pariwisata dipenuhi wisatawan mancanegara, maka sekarang saya lebih sering bertemu wisatawan mancanegara mengendarai sepeda motor matic. Ada yang sendiri, ada yang berkelompok. Sayangnya, dalam perjalanan menuju Kabupaten Nagekeo minggu kemarin, saya lupa memotret rombongan sepeda motor matic yang dikendarai oleh sekelompok wisatawan mancanegara.

Urusan sewa-menyewa sepeda motor matic ini sudah saya ketahui sejak lama. Sejak saya pergi ke Kota Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat, tahun 2014. Waktu itu dari Kota Labuan Bajo menuju Air Terjun Cunca Wulang, kami juga menyewa sepeda motor matic. Pun waktu sahabat saya Yunaidi Joepoet pergi ke Kabupaten Ngada mengabarkan dirinya menyewa sepeda motor matic. Jangan kuatir, sepeda motornya pasti halal: STNK pasti diberikan oleh pemilik penyewaan, plus dua helem standar nasional.

Menurut saya pribadi, apa yang terjadi di Pulau Flores, di lini transportasi yang turut mendongkrak dunia wisatanya, merupakan pencapaian yang luar biasa oleh Kementrian Perhubungan Republik Indonesia. Dirilis di sini, dikatakan bahwa Program Indonesia Sentris yang dicanangkan pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla telah membuka akses keterisolasian serta dapat meningkatkan perekonomian suatu daerah. Dalam kurun waktu lima tahun belakangan dilakukan pembangunan infrastruktur transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris untuk membuka keterisolasian yaitu dengan memberikan dukungan aksesibilitas terhadap daerah 3TP (Terluar, Terdepan, Tertinggal, dan Perbatasan).

Jadi kalau ditanya apa kaitan antara lini transportasi, lini pariwisata, dan lini ekonomi, siapapun pasti bisa menjawabnya. Lini transportasi jelas mendukung lini pariwisata yang berimbas pada lini ekonomi. Karena Trans Flores pula saya rajin wara-wiri se-Flores dan terakhir terdampar di kaki Bukit Weworowet mengikuti kegiatan Festival Daging Domba.

Festival Daging Domba


Awalnya saya menyangka Festival Daging Domba baru akan dilaksanakan Bulan November, sudah siapkan waktu cuti pun, tetapi saya salah. Festival Daging Domba dibuka dengan resmi oleh Bupati Nagekeo Bapak Don Bosco Do pada Senin, 15 Oktober 2019. Kabarnya baru saya tahu hari Rabu saat sedang mengobrol tentang sampah bersama Abang Umar Hamdan dan Cahyadi. Uh wow, saya harus ke sana! Itu adalah jadwal yang harus ditunaikan. Karena saya punya kewajiban pekerjaan utama, sehingga baru bisa berangkat ke Kota Mbay pada Sabtu, sepulang kerja.

Sebenarnya, Festival Daging Domba ini sudah dimulai pre-event-nya justru sebelum Festival Literasi Nagekeo 2019 diselenggarakan. Sudah dibuka restoran daging domba di sekitar Bukit Weworowet oleh masyarakat/pemuda dari Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Setelah selesai Festival Literasi Nagekeo 2019, barulah Festival Daging Domba benar-benar dimulai.

 Dalam perjalanan memasuki Kota Mbay, bertemu papan aturan ini. Wah, ini bagus sekali!

Sabtu, 19 Oktober 2019, berangkatlah saya ke Kota Mbay bersama Deni Wolo. Kami mengendarai sepeda motor masing-masing. Mampir sebentar di Aigela untuk istirahat, perjalanan dilanjutkan, dan tiba di Kota Mbay sekitar pukul 15.30 Wita. Mampir lagi di rumah Novi, blogger dan aktivis muda Kota Mbay, barulah kami ngegas menuju Towak. Towak? Iya, Towak. Towak merupakan sebuah wilayah di Kabupaten Nagekeo yang letaknya berada di jalan Trans Flores; Mbay - Riung. Untuk diketahui, Riung yang terkenal dengan Taman Laut 17 Pulau Riung itu, berada di wilayah Kabupaten Ngada bukan Kabupaten Nagekeo. Di Towak ada keponakan saya, Iwan, yang isterinya, Reni, bekerja di Pustu Towak sebagai bidan, serta dua cucu saya Andika dan Rayhan. Karena jembatan utama Trans Mbay - Riung sedang diperbaiki, kami harus melewati jalur darurat yang berdebu ini, haha.


Tiba di Towak, istirahat sebentar sambil mengobrol, saya dan Deni lantas pamit duluan pada Reni untuk bisa menangkap momen sunset di Bukit Weworowet. Bukit yang bentuknya unik dan menjadi lokasi Festival Daging Domba tersebut. Jarak antara Towak dan Bukit Weworowet sekitar 10 sampai 15 menit perjalanan saja.

Bukit Weworowet senja itu.

Sunset dari balik bukit yang berhadapan dengan Bukit Weworowet.

Kami lantas mencoba memesan sate domba, seporsi saja dulu, karena toh saya dan Deni belum terbiasa dengan daging domba. Resto ini terletak di samping panggung utama, sedangkan jejeran resto lainnya menghadap panggung utama. Selain daging domba, juga dijual jagung rebus, dan gorengan. Sayangnya sore itu jagung dan gorengan belum ada. Dalam bahasa Nagekeo, daging domba disebut nake lebu atau nakeng lebu.



Karena masih sore, suasana belum ramai. Itu yang membikin saya dan Deni merasakan sensasi ketenangan dan kenyamanan yang luar biasa. Menikati sate domba sambil menonton Bukit Weworowet yang tegak diam begitu, wuih, surga. Sampai-sampai Deni bilang: kalau saja bukit ini dekat Ende, setiap sore ke sini saja. Kami bertahan hingga matahari benar-benar menghilang. Akhirnya saya mengirim pesan WA pada Reni untuk menyusul ke lokasi ini. Ketimbang saya dan Deni harus pulang ke Towak, terus kembali lagi ke Bukit Weworowet. Malam itu kami makan malam dengan menu nasi (beras) merah, sate dan soto daging domba, serta ada gorengan pesanan yang dibawa Iwan dan Kota Mbay. Saya dan Deni memang memutuskan untuk tidak lagi menikmati daging domba karena punya alasan sendiri-sendiri haha.



Malam itu, selain menikmati daging domba, kami juga menonton pertunjukan seni oleh murid SD, SMP, dan SMA yang ada di Desa Nggolonio.


Menurut Iwan dan Reni, beberapa malam sebelumnya justru paling ramai wisatawan mancanegara di festival ini. Mereka bahkan memesan begitu banyak sate daging domba! Sampai-sampai para pengelola resto kewalahan. Hehe. Wisatawan itu kebanyakan datang dari Riung. Ya jelas, jalan Trans Flores Mbay - Riung kan mulus begitu, mana jaraknya dekat pula. Rugilah kalau sehabis snorkling di perairan Riung yang mempesona, terus tidak menikmati daging domba.

Yang tertangkap pandangan mata saya malam itu adalah Festival Daging Domba merupakan kegiatan yang sangat positif, karena selain memperkenalkan domba sebagai salah satu kuliner khas dari Kabupaten Nagekeo, kegiatan ini membuka ruang kepada masyarakat untuk memperoleh penghasilan tambahan, juga memberikan hiburan kepada masyarakat Desa Nggolonio dan sekitarnya pada khususnya, dan wisatawan pada umumnya. Kaum muda, khususnya anak sekolah, pun diberi ruang melalui panggung seni. Di sepanjang jalan saya juga melihat begitu banyak sepeda motor diparkir berjejer dan anak-anak muda sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Kata Iwan: sinyal terkuat adalah di kaki Bukit Weworowet sehingga siapapun yang ingin komunikasi digitalnya lancar, harus ke sini. Oh la la.

Sekitar pukul 22.00 Wita kami pun pulang kembali ke Towak dan mengobrol hingga pukul 03.00 Wita.

Ikan Bakar yang Dua Kali Gagal Disuguhkan


Dan ikan bakar itu baru disuguhkan pada waktu makan ketiga. Sebenarnya Reni sudah menyiapkan ikan untuk dibakar sebagai lauk makan malam kami pada Sabtu (malam Minggu). Tetapi karena malam itu kami sudah makan malam dengan menu sate dan soto daging domba di Festival Daging Domba, maka ikan ini kemudian dibakar pagi hari sebagai bekal sarapan. Sayangnya Deni Wolo masih pulas dan tak enak pula jika sarapan sendirian. Pada akhirnya ikan bakar yang dua kali gagal disuguhkan ini, sukses pada suguhan (waktu makan) ketiga yaitu makan siang di Hari Minggu! Amboiiii. Hehe.



Usai makan siang, berisirahat sebentar, saya dan Deni pun pamit pulang kembali ke Kota Ende. Karena, Senin telah menunggu dan kami harus bekerja! Kembali ke Kota Ende, kembali melewati jalur darurat ini:


Saya yakin, kunjungan berikutnya ke Kabupaten Nagekeo, sudah boleh melintasi jembatan yang menghubungkan Kota Mbay dengan Riung. Dan jalur darurat ini pasti sudah ditata sesuai peruntukkan utamanya yaitu sebagai lahan persawahan masyarakat. Semoga.

⇜⇝

Pada akhirnya, sebagai Orang Ende - Orang Flores, saya harus mengakui banyak perkara yang telah terjadi di pulau kami ini. Yang pertama: infrastruktur (sarana dan prasarana transportasi) yang semakin ke sini semakin membaik telah menolong saya dalam bekerja dan traveling keliling Pulau Flores. Ya, pekerjaan saya itu salah satunya ya keliling Pulau Flores. Yang kedua: infrastruktur (sarana dan prasarana transportasi) telah mendukung dan mendongkrak lini pariwisata. Karena, apalah artinya sebuah tempat wisata jika untuk menjangkaunya sulit sekali? Yang ketiga: dengan terdongkraknya lini pariwisata, tentu lini ekonomi rakyat lebih terbantu. Saya pikir, dengan membaca pos ini utuh dari awal sampai akhir, kalian pasti memahaminya.

Sampai jumpa di festival-festival berikutnya!




Cheers.

Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru


Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru. Sebenarnya untuk topik yang sama, plagiat, saya sudah menulis cukup panjang, tapi tulisan itu saya gantikan dengan tulisan yang ini. Tulisan yang lebih lembut dan halus seperti saya *dinosaurus muntah hijau*. Jelasnya kita semua; saya, kalian, mereka, pasti sama-sama darah mendidih berhadapan dengan plagiator yang melakukan plagiarisme terhadap karya, utuh maupun sebagian, seakan-akan yang terlihat itu adalah karya si plagiator sendiri. Di zaman internet, zaman digital, karya seperti tulisan, foto, lagu, dan video, menjadi mainan dan bulan-bulanan plagiator. Apabila orang bilang mudahnya jempol memencet tombol share, maka plagiator tulisan sangat mudah melakukan kopi-tempel.

Baca Juga: Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp

Bila-bila seseorang disebut plagiator? Bila dia mengkopi-tempel, dalam pokok perkara ini adalah tulisan, tanpa menyamtumkan sumber tulisan dan/atau credits. Agar kalian paham, saya mencoba menulis pos ini menggunakan metode proposal skripsi. Haha *dinosaurus julid*.

Latar Belakang Masalah


Adalah tulisan saya di blog travel yang berjudul Lawo Lambu | Zawo Zambu dikopi-tempel oleh salah seorang Facebooker. Hal itu saya ketahui dari bisik-bisik seorang kawan. Membaca tulisan Facebooker tersebut, baru paragraf pertama, langsung sudah tahu itu tulisan saya. Membaca sampai pertengahan, saya kaget karena tulisan yang selalu melekat pada pos blog seperti 'Keluarga Pharmantara', 'Mamatua', dan 'Mamasia', sama sekali tidak dihapus oleh yang bersangkutan. Tetapi, sampai akhir tulisan tersebut saya tidak menemukan sumber tulisan dan/atau credits. Dalam hati saya berkata: kena juga tulisan saya diplagiat utuh. Oleh karena itu, screenshoot pos Facebooker tersebut saya jadikan pula pos Facebook. Pos Facebook saya itu menuai banyak komentar, tentu saja, karena plagiarisme ada hukum yang mengaturnya. Itu terjadi pada Rabu, 16 Oktober 2019.

Rumusan Masalah


Agar pembahasan nanti tidak terlalu melebar, meskipun kebiasaan saya suka melebar sana sini, mari rumuskan dulu permasalahannya.

1. Mengapa tulisan saya dikopi-tempel?
2. Mengapa plagiarisme masih terjadi di tengah maraknya kampanye literasi digital?

Pembahasan


Saya membangun/membikin banyak blog, di banyak platform, dan jumlahnya puluhan. Ada dua blog yang betul-betul dikelola dengan sangat baik yaitu BlogPacker yang diisi dengan tulisan tema harian, dan I am BlogPacker yang merupakan blog travel dengan isi tentang perjalanan hingga ragam wisata termasuk tulisan berjudul Lawo Lambu | Zawo Zambu yang dikopi-tempel itu. Dari pengakuan, juga komentar yang tertoreh, tulisan saya dikopi-tempel karena yang bersangkutan menyukai tema yang diangakat yaitu tentang (wisata) budaya: pakaian tradisional perempuan Kabupaten Ende. Sayangnya, yang bersangkutan sama sekali tidak paham bahwa apa yang sudah dilakukannya merupakan salah satu bentuk plagiarisme (terparah).

Kesimpulan sementara: sebenarnya orang yang mengkopi-tempel tulisan saya tanpa menyantumkan sumber tulisan dan/atau credits tersebut bertujuan baik, karena suka pada tulisan tersebut, lantas membaginya di laman Facebooknya, agar lebih banyak orang tahu tentang pakaian adat/tradisional perempuan Kabupaten Ende. Akan tetapi, dia tidak sadar, bahwa apa yang diperbuatnya itu hanya berdampak nol koma sekian persen. Marilah kita lihat pada penjelasan-penjelasan berikut!

Pertama: Tulisan itu sudah saya pos di blog travel sejak tahun 2018, dengan pembaca sampai saat ini sebanyak 1136 orang. Semua entri pada blog tersebut, berdasarkan statistik penayangan menurut negara, terbanyk dibaca oleh orang-orang yang berada di Indonesia, dilanjutkan dengan Amerika Serikat, dan seterusnya, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:


Dengan statistik penayangan menurut peramban dan menurut sistem operasi seperti pada gambar di bawah ini:


Sedangkan pos terpopuler atau paling banyak dibaca dari blog travel saya itu seperti yang dijelaskan pada gambar di bawah ini:



Kedua: Dengan yang bersangkutan mengkopi-tempel/memplagiat tulisan saya tersebut ke laman Facebooknya, tanpa menyantumkan sumber dan/atau credits, jelas tidak membawa dampak dan/atau perubahan apapun pada blog travel, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:


Kalian lihat, baik URL Perujuk maupun Situs Perujuk masih dipegang kuat oleh Google. Bahkan pada URL Perujuk, Facebook menempati posisi nomor lima.

Ketiga: Setiap tulisan di blog, pasti ada tombol share/berbagi. Tombol ini ada di mana-mana! Lihat ikon berbagi yang saya lingkari warna merah pada dua gambar di bawah ini:



Penjelasan di atas bermaksud agar semua orang tahu dari mana para pengunjung dan/atau pembaca blog-nya datang. Salah seorang komentator status yang bersangkutan, pada status permohonan maaf, malah berkata: sudah untung blog itu diperkenalkan (melalui tulisan yang diplagiat itu). Salah! Blog saya tidak perlu diperkenalkan dengan cara tulisan saya diplagiat. Dan, pun di tulisan tersebut tidak merujuk pada blog travel saya sama sekali.

Sampai di sini, saya anggap kita semua sudah sepemahaman ya. Marilah kita lanjut.

Mengapa tulisan saya bisa dikopi-tempel? Karena saya tidak melindungi blog dan/atau tulisan dari perbuatan kopi-tempel dengan skrip tertentu. Pertanyaan lanjutan, kenapa saya tidak melindungi blog dan/atau tulisan dari perbuatan kopi-tempel? Karena saya percaya semua tulisan pada kedua blog pasti bermanfaat bagi orang lain yang membacanya, setidaknya menghibur. Saya pernah menulis paragraf berikut ini pada novel Tripelts:

Salah satu nasihat Ali Bin Abi Thalib—termasuk dalam golongan pertama pemeluk Islam, saudara sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yangmana dia menikahi Fatimah az-Zahra—berbunyi: “Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil dari pada seorang bakhil.” Penjelasan paling hakiki nasihat laki-laki yang pernah menjabat sebagai Khalifah pada tahun 656 – 661 tersebut tercantum di dalam Surat Ali ‘Imran 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ilmu dan informasi termasuk harta kekayaan. Jangan sampai kita menjadi orang yang bakhil. Tapi ingat, jangan sampai pula kita menjadi orang yang alpa dari mana ilmu dan informasi itu kita peroleh. Oleh karena itu, jika ada yang mengkopi-tempel tulisan saya, tidak masalah, selama menyantumkan sumber tulisan dan/atau credits. Karena, saat saya menulis di blog atau di mana pun, apabila ada sumber yang diperoleh dari orang lain atau situs lain, tetap harus menulis credits. Termasuk foto-foto unik yang sering pula saya pos di Facebook.

Sebenarnya, untuk mengantisipasi plagiarisme sudah ada hukum yang mengaturnya seperti Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta), serta Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Melihat perbuatan plagarisme terjadi di ranah digital/elektronik, maka peraturan yang paling tepat dipakai adalah UU ITE. Pos blog adalah dokumen elektronik yang sah sesuai muatan Pasal 5 ayat (1) UU ITE yaitu: Bahwa keberadaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik mengikat dan diakui sebagai alat bukti yang sah untuk memberikan kepastian hukum terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektronik dan Transaksi Elektronik, terutama dalam pembuktian dan hal yang berkaitan dengan perbuatan hukum yang dilakukan melalui Sistem Elektronik.

Tapi hari ini saya tidak membahas tentang hukum. Haha. Bisa lebih panjang nanti pos blog ini.

Mari lanjutkan pembahasan pada pertanyaan mengapa plagiarisme masih terjadi di tengah maraknya kampanye literasi digital. Ini menarik. Karena bersama #EndeBisa, kami terjun ke sekolah-sekolah dan salah satu poinnya adalah mengkampanyekan literasi digital dengan materi yang dikeluarkan oleh Internetsehat (ICT Watch). Tulisan saya yang diplagiat itu dilakukan oleh anak sekolah. Mungkin ini terjadi karena belum semua sekolah menerima informasi ini. Karena di dalam literasi digital saya juga dengan tegas menyampaikan tentang plagiarisme sebagai perbuatan yang melanggar hukum, antara lain mengambil foto orang lain dan mengaku itu fotonya, juga mengambil tulisan orang lain dan mengaku itu tulisannya. 

Nampaknya literasi digital harus lebih gencar dikampanyekan. Tidak hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga di komunitas, kumpulan remaja dan ibu-ibu, pokoknya di berbagai lini, agar terhindar dari yang namanya plagiarisme.

Pada pembahasan ini saya juga ingin menulis tentang teman-teman dari Facebooker yang melakukan plagiarisme tersebut. Sebagai teman, tidak peduli unsur apapun termasuk kedekatan, sudah selayaknya kita harus menegur apabila memang perbuatannya keliru. Dengan membela, apalagi memprovokasi, justru akan memperparah permasalahan yang seharusnya sudah selesai. Sayang sekali.

Kesimpulan dan Saran


Tulisan saya diplagiat, kemudian saya mengepos screenshoot posnya di Facebook, lantas menuai banyak komentar. Yang bersangkutan kemudian meminta maaf, juga di ruang publik. Saya maafkan dengan permohonan maaf pula. Siapalah saya ini, hanya penghuni semesta yang juga tidak lepas dari yang namanya tergelincir dan berbuat keliru.

Terima kasih Xxxx Xxxx, sudah saya tulis di status sebelumnya, permintaan maaf saya sambut dengan permohonan maaf juga. Karena semua manusia harus bisa saling memaafkan. Kelebihan dan kekurangan itu terjadi pada setiap manusia. Oleh karena itu, setiap yang kurang sama-sama ditambal sulam, yang lebih disedekahkan (kalau bisa).

Saya anggap permasalahan sudah selesai. Dan semoga tidak ada komentar macam-macam dari siapapun juga yang menganggap remeh plagiarisme, karena ada hukum yang mengaturnya. Tidak masalah mengambil tulisan orang lain, tapi sertakan juga sumbernya, itu pasti sangat bisa diterima. Alangkah baiknya gunakan tombol share/berbagi yang ada pada setiap tulisan.

Mari belajar literasi digital, agar sama-sama paham.

Sekali lagi, terima kasih.

Baca Juga: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo

Dengan demikian, saya anggap permasalahan ini sudah selesai sejak Kamis, 17 Oktober 2019. Komentar-komentar dari teman-temannya yang membikin kisruh saya anggap sebagai perbuatan dari orang yang tidak tahu pokok permasalahan, dan sama sekali buta akan hukum plagiat di Indonesia, juga buta akan dunia per-blog-an sehingga tidak terlalu saya pusingkan. Meskipun saya menerima ancaman dari salah seorangnya, dan itu yang membikin adik, keponakan, dan teman-teman tidak bisa menerima ancaman tersebut, tapi tidak mengapa. Hehe. Semoga, dengan membaca ini, jadi sama-sama paham bahwa memplagiat itu tidak boleh dilakukan. Untung kalau si pemilik karya tidak tahu, kalau pemilik karyanya tahu? Berabe.

Alangkah baiknya menulis sendiri, ketimbang memplagiat tulisan orang lain, karena seperti apapun sebuah tulisan sepanjang itu tulisan sendiri, betapa bangganya. Jangan takut untuk menulis, sepanjang tidak melanggar norma, hukum, dan adat, tulislah!

Semoga bermanfaat bagi semua kalian yang membacanya, pun bagi saya yang menulisnya, karena setiap manusia pasti tergelincir dan berbuat keliru.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp


Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp. Sebenarnya Senin ini di #SeninCerita dan #CeritaTuteh ada banyak yang ingin saya tulis, gado-gado, campur-campur, tapi sebagian sudah saya tulis di blog travel dalam pos berjudul Konsep Pecinta Alam dan Traveling di Kafe Hola dan pos berjudul Pemburu Sunset: Pantai Ndao - Ende. Alhamdulillah. Tersisa beberapa cerita saja dan dua diantaranya tertuang dalam pos hari ini tentang kegiatan Wisuda Uniflor 2019 dan kegiatan Iya Boleh Camp yang diselenggarakan pada hari yang sama. Sabtu! Makanya Sabtu yang harusnya diisi dengan #SabtuReview absen dulu. Hehe. Satu cerita lagi tentang IG: @info_flores bakal saya pos pada #SelasaTekno.

Baca Juga: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo

Dua kegiatan dalam satu hari ... sibuk donk? Lumayan sibuk sih. Tapi menyenangkan karena pada akhirnya saya menetapkan tanggal 12 Oktober sebagai Hari Kemerdekaan Negara Kuning. Kepo kan? Makanya, dibaca sampai selesai *kedib*.

Bangun Lebih Pagi Demi Dirias


Cerita ini bermula dari Sabtu subuh di mana saya bangun lebih pagi untuk mandi dan bersiap-siap sambil menunggu keponakan saya Kiki Abdullah datang. Iya, dia yang merias wajah saya. Sepanjang saya bekerja di Uniflor, baru Sabtu kemarin saya mau dirias untuk kegiatan wisuda. Biasanya sih wajah polos lugu seperti hari-hari biasa. Hehe. Entah. Saya juga masih berpikir kenapa pada tahun 2019 saya mau dirias seperti itu sama Kiki. Riasannya sederhana/ringan sesuai permintaan saya tapi Kiki tidak mau melewatkan bulu mata dan softlens.


Gosh! Wajah saya yang berminyak sungguh keterlaluan. Haha. Maaf ya, Ki. Janji deh saya akan lebih rajin merawat wajah berminyak ini. Dududud.


Setelah saya dirias, giliran Thika, karena dia juga bakal tampil di Iya Boleh Camp, menemani Syiva gantiin Bundanya emoh tampil dalam Lomba Parade Pakaian Nusantara. Selesai dirias, dengan perasaan berbunga-bunga berangkatlah saya ke kampus yang ternyata sudah cukup ramai. 

Wisuda Uniflor 2019


Beberapa hari terakhir saya sudah sering menulis tentang kegiatan wisuda Uniflor 2019 yang diselenggarakan pada tanggal 12 Oktober. Sejumlah 769 Wisudawan-Wisudawati boleh berbangga, pun orangtua mereka. Tahun 2019 panitia menetapkan tema yaitu Kabupaten Nagekeo. Oleh karena itu mulai dekorasi panggung, aneka booth foto, sampai pakaian baik pakaian panitia maupun dosen dan karyawan Uniflor harus bertema Kabupaten Nagekeo. Khusus pakaian lebih tepatnya pakaian tradisional Kabupaten Nagekeo.


Pakaian tradisional Kabupaten Nagekeo dapat dibagi sebagai berikut:

1. Perempuan

Perempuan Kabupaten Nagekeo memakai kain tenun ikat bernama Hoba Nage yang warnanya didominasi merah, dan baju bernama Kodo berbahan beludru yang berwarna hitam dengan aksen bordiran kuning/emas berpadu bordiran merah. Kalau bukan beludru, kain hitam apa saja pun boleh sebagai bahan Kodo ini. Tetapi, untuk perempuan yang menetap di Kota Mbay, umumnya memakai tenun ikat bernama Ragi Woi dipadu atasan warna putih, hitam, atau kuning. Kadang juga memakai Ragi Woi dipadu Kodo.


Hoba Nage dan Kodo itu seperti yang dipakai oleh Kakak Ully Nggaa (kanan dari pembaca) yang memakai ikat kepala itu.

2. Lelaki

Lelaki Kabupaten Nagekeo memakai kemeja putih lengan panjang, tenun ikat Ragi Woi, dipadu selendang yang dilipat sedemikan rupa melingkar dada dan bahu.



Sabtu kemarin saya senang sekali karena nuansa kuning ada di mana-mana, meskipun banyak juga yang memakai Hoba Nage. Bahkan para penari perempuan penyambut Wisudawan dan Wisudawati memakai Ragi Woi yang dibikin persis rok, dan atasan Kodo. Ausam!




Betul-betul harinya Negara Kuning. Dan sebagai Presiden Negara Kuning saya sampai menitikkan air mata haru. Hehe.


Dan yang tidak boleh dilupakan, anak-anak Resimen Mahasiswa (Menwa) juga turut ambil bagian dalam pengamanan kegiatan wisuda kemarin. Keren kan? Uniflor itu lokasinya boleh di kampung, tapi segala sesuatunya tidak kalah dengan universitas lain di kota besar. Kami punya segalanya, sombong sedikit boleh kan, terutama ragam fasilitas ini itu terkait dunia akademik dan fasilitas pendukungnya.

Iya boleh Camp


Adalah Rikyn Radja, koreografer kondang itu, menghubungi saya untuk menjadi juri Lomba Mewarnai kegiatan Iya Boleh Camp yang diselenggarakan oleh Nestle Dancow. Mengutip dari yang ditulis Kakak Mey Patty di status Facebooknya, Iya Boleh Camp merupakan Parenting Event yang sudah diselenggarakan di 94 kota di seluruh Indonesia dan Sabtu tanggal 12 Oktober 2019 kemarin dilaksanakan di Kota Ende. Iya, Kota Ende adalah kota yang ke-95. Sebagai Orang Ende, tentu saya bangga kegiatan berskala nasional ini bisa digelar di Kota Ende. Anak-anak di kota kami membutuhkan kegiatan serupa untuk lebih mengasah bakat dan kreatifitas mereka.

Iya Boleh Camp menggelar tiga lomba yaitu:
1. Lomba Aksi Cilik yang diikuti 21 anak.
2. Lomba Parade Pakaian Nusantara yang diikuti 33 pasang (anak dan mama/pendamping).
3. Lomba Mewarnai yang diikuti oleh 276 anak.
Dari total 400-an pendaftar.


Awalnya saya memang hanya dihubungi untuk menjadi juri Lomba Mewarnai saja, tetapi saat TM ternyata saya dan Kakak Mey bersama-sama menjuri tiga lomba yang digelar tersebut. Baiklah. Yang paling menarik dari Iya Boleh Camp adalah dress code-nya adalah kuning! Oh My God! Saya berbunga-bunga. Hehe.

Makanya, Sabtu kemarin setelah hadir di kegiatan wisuda, bersama-sama Kakak Rosa mengurus ini itu yang berkaitan dengan seksi kepanitiaan kami, saya pun ijin pergi ke Graha Ristela yang terletak di Jalan El Tari, Ende. Ini gedung baru serbaguna yang cukup besar-memanjang dan sering dipakai untuk acara pernikahan dan/atau kegiatan ini itu. Tiba di Graha Ristela, untungnya masih dapat space parkir sepeda motor, saya langsung melenggang ke dalam ruangan mencari meja juri. Hehe. Ketemu Kakak Mey, duduk santai sedikit, acara akhirnya dimulai. Alhamdulillah.


Acara dimulai dengan penampilan drum band cilik dari TK Al Hikmah Ende, ada juga penampilan dari TK lainnya dan diteruskan dengan Lomba Aksi Cilik. Aksi Cilik ini maksudnya anak dan Mama tampil di panggung, bergoyang mengikuti lagu yang diudarakan, dan dinilai oleh juri. Apa saja yang dinilai? Ya kekompakan anak dan Mama, bounding mereka, sampai dengan kesesuaian antara gerak dan lagu. Anak-anak yang tampil dalam Lomba Aksi Cilik ini masih di bawah lima tahun, dan tentu tidak sulit untuk menentukan siapa yang juara. Karena, begitu banyak anak yang malu-malu bahkan seperti ketakutan di panggung, dan beberapa anak yang begitu lincah di panggung beraksi bersama Mamanya. Kita bisa melihat betapa pentingnya peran Mama di rumah ya hahaha.

Setelah Lomba Aksi Cilik, Lomba Parade Pakaian Nusantara pun dimulai. Tiga puluh tiga pasangan Mama-anak berlenggak-lenggok di atas panggung bak peragawati kawakan. Hehe. Apa saja yang dinilai? Pertama kesesuaian busana Mama-anak, teknik catwalk dan kekompakan di atas panggung, penguasaan panggung, hingga nilai modifikasi busananya. Meskipun banyak yang tampil Mama dan anak perempuan, tetapi ada juga Mama dan anak lelaki. Asyik lah. Manapula busana tradisionalnya keren-keren: dimodifikasi dengan sangat baik. Namun tidak bisa dipungkiri ada Mama yang seolah tampil cetar sendiri sedangkan anaknya celingak-celinguk, ada yang betul-betul kompak kayak anak kembar, ada yang mandek memeluk Mamanya di panggung. Haha.


Yang terakhir, Lomba Mewarnai. Waktu Lomba Mewarnai selama empat puluh lima menit memberi waktu kepada saya dan Kakak Mey untuk menilai dua lomba sebelumnya. Ndilalah, penilaian kami sama! Ini yang dinamakan juri sama-sama obyektif sehingga tidak sulit menentukan juara-juaranya. Bayangkan kalau ada juri yang subyektif lantas perdebatan menjadi terlalu alot. Bagi saya, lomba manapun, baik yang diikuti remaja maupun anak-anak, juri harus obyektif. Tidak boleh ada kata kasihan di dalam penilaian karena itu akan merusak reputasi hahaha. Tidak boleh bilang: kasihan si anak sudah berusaha. Juri harus menilai berdasarkan poin penilaian yang sudah ditetapkan. Itu saja.

Menilai kertas-kertas hasil mewarnai pun tidak seberapa sulit. Saya sudah sering menjuri lomba mewarnai, selalu diajak sama juri kondang Om Beny Laka, jadi tahu bagaimana menjuri lomba mewarnai bahkan yang diikuti oleh ratusan anak. Sabtu kemarin, empat juara Lomba Mewarnai memang menghasilkan gambar yang baik: pilihan warna, kesesuaian warna dengan tema, kerapian, garis batas, gaya arsir, hingga daya kreatif-nya. Penilaian itu saya pelajari dari Om Beny Laka, sang maestro. Jadi saya juga bisa menjelaskan kenapa si A juara satu, kenapa si B juara dua, dan seterusnya. Sayangnya kemarin tidak diberi kesempatan menjelaskan. Hehe. Tapi saya sudah siap pelurunya lah.

Mana saya tahu kalau yang juara Parade Pakaian Nusantara adalah sahabat saya Mei Ing dan anaknya yang bernama Rachel? Yang saya tahu cuma nomor tampilnya saja. Mana saya tahu kalau yang juara Lomba Mewarnai itu Andien, anaknya Ibu Nuraini? Ndilalah Andien adalah juara tiga lomba mewarnai sebelumnya yang tingkat kabupaten. Pokoknya saya jujur saja kalau dalam soal menilai. Hahahaha. Selamat kepada para juara, sampai ketemu di kegiatan berikutnya!



Yang pasti, saya terpukau sama empat hasil mewarnai seperti pada foto di atas. Mereka jelas tidak juara, tapi mereka unik, karena berani berkhayal dan bermain dengan warna-warna di luar warna yang seharusnya. Bahkan salah satunya, kiri atas, betul-betul abstrak! Haha.

Hari Kemerdekaan Negara Kuning


Negara Kuning bentukan saya dengan saya sendiri sebagai Presidennya sudah lama berdiri sejak tahun 2013-an. Tapi belum pernah saya menentukan Hari Kemerdekaannya. Boleh lah ya, karena suatu negara boleh dipersiapkan terlebih dahulu. Macam Indonesia, negaranya sudah lama ada, tapi belum punya pemimpin karena masih terkapling dalam wilayah-wilayah kecil (kerajaan salah satunya), lalu dijajah, lalu merdeka pada 17 Agustus 1945.

Baca Juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Sama juga dengan Negara Kuning!

Jadi, kalau ada yang tanya kapan Negara Kuning merdeka? Jawabannya 12 Oktober 2019, enam tahun setelah dibentuk *ngakak guling-guling*.

Demikianlah, kawan, cerita hari ini dari kegiatan Sabtu kemarin. Semoga menghibur kalian yang membacanya ya.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo


Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo. Kabupaten Nagekeo. Lagi! Hehe. Rajin sekali menulis tentang Kabupaten Nagekeo! Ya mau bagaimana lagi. Saya memang sering ke Kabupaten Nagekeo, khususnya Ibu Kotanya yaitu Kota Mbay untuk beberapa urusan, baik urusan pribadi maupun urusan pekerjaan. Sehingga sayang sekali kalau tidak menulis tentang kabupaten tersebut terutama tempat wisata hingga ragam kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah sana. Terakhir, saya ke Kota Mbay untuk menyaksikan sendiri Festival Literasi Nagekeo 2019. Betul juga kata anak-anak sana: Nagekeo Gaga Ngeri!


Berkaitan dengan Universitas Flores a.k.a. Uniflor. Dalam Bulan Oktober tepatnya tanggal 12 nanti bakal ada kegiatan wisuda. Dan Uniflor memang selalu punya tema berbeda setiap tahunnya. Tema ini berkaitan dengan kabupaten yang ada di Pulau Flores dan sekitarnya. Mau tahu serunya? Yuk baca sampai selesai! Hehe.

Uniflor Sebagai Mediator Budaya


Uniflor, universitas pertama di Pulau Flores yang berdiri tahun 1980, punya visi besar yaitu Menjadi Universitas Unggul dan Terpercaya Sebagai Mediator Budaya. Kenapa mediator budaya? Menurut analisa saya pribadi, hal ini dikarenakan mahasiswa Uniflor berasal dari berbagai daerah di Pulau Flores dan sekitarnya, pun dari daerah lain di luar Pulau Flores. Uniflor harus bisa menyatukan mereka semua. Ini analisa pribadi ya, hehe. Karena sepanjang yang saya lihat, toleransi di Uniflor itu sangat tinggi. Toleransi ini tidak saja dari lini lintas agama: kalian bisa melihat Suster dan muslimah bercadar jalan bersamaan sambil berdiskusi, tapi juga lintas suku: kalian bisa melihat anak Manggarai berdebat ilmiah dengan anak asal Pulau Lembata.

Salah satu wujud Uniflor sebagai mediator budaya bisa dilihat pada saat kegiatan wisuda. Panitia wisuda akan dibentuk kira-kira satu bulan sebelumnya. Pada pertemuan pembentukan panitia itu, biasanya saya paling suka menunggu penyampaian soal tema. Setiap tahun Uniflor mengusung tema berbeda/kabupaten berbeda. Maka, pada wisuda tahun 2019 ini tema yang diusung adalah Kabupaten Nagekeo. Artinya, dekorasi dan panggung harus ada unsur Kabupaten Nagekeo. Pakaian panitianya harus pakaian adat Kabupaten Nagekeo. Sua sasa/penyambutan wisudawan di pintu masuk dan tarian pun harus tarian dari daerah Nagekeo. Sedangkan wisudawan, tidak pernah dipaksakan pakaian tradisional yang mau dipakai. Bebas. Lagi pula kan tertutup jubah. Hehe.

Pakaian Tradisional/Adat Kabupaten Nagekeo


Setelah tahu tentang tema kabupaten yang diusung, maka mulailah saya sibuk mencari informasi tentang pakaian tradisional Nagekeo. Setahu saya, Kabupaten Nagekeo hanya punya satu jenis/motif tenun ikat. Dan saya salah. Kedunguan tingkat tertinggi saya adalah itu. Hahaha. Saya pernah memakai sarung itu dalam suatu video klip seperti screen shoot di bawah ini:


Kain tenun ikat di atas biasa dipakai oleh Orang Mbay. Warna hitam dengan aksen warna kuning (hyess, my colour!).

Berdasarkan informasi dari Wikipedia, terima kasih Wikipedia, ada tiga jenis tenun ikat dari Kabupaten Nagekeo yaitu Hoba Nage, Ragi Woi, dan Dawo. Orang Keo Tengah menyebut ketiga jenis kain ini dengan Dawo Nangge, Duka Wo'i, dan Dawo Ende. Tapi tentu saya akan mengikut penamaan secara umum yaitu Hoba Nage, Ragi Woi, dan Dawo.

Seperti apa penampakannya? Mari kita lihat:

1. Hoba Nage


2. Ragi Woi


3. Dawo (Dawo Ende)


Terus, laki-lakinya biasa memakai apa? Biasanya laki-laki memakai kemeja putih dan Ragi Woi.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari teman-teman Orang Nagekeo, juga isteri keponakan yang asli Danga - Mbay - Nagekeo, ada dua jenis utama sarung tenun ikat yang sering dipakai oleh penduduk Kabupaten Nagekeo yaitu Hoba Nage dan Ragi Woi. Mereka menyebutnya tenun ikat Nage dan tenun ikat Mbay. Menurut sebagian orang Ragi Woi itu khusus dipakai oleh laki-laki sedangkan Hoba Nage khusus dipakai oleh perempuan. Tetapi di Kota Mbay, Ragi Woi dipakai oleh laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan. Sedangkan di daerah sekitar Kecamatan Boawae, laki-laki khusus memakai Ragi Woi dan perempuan khusus memakai Hoba Nage.

Makanya, saya sering melihat teman-teman perempuan dari Kota Mbay memakai Ragi Woi, dipadukan dengan atasan warna putih (tak selamanya warna hitam) seperti yang juga saya pakai pada foto di awal pos dan foto berikut ini:


Saya dan Deni Parera, penyanyi bersuara emas, sama-sama memakai Ragi Woi. Bagi masyarakat Kabupaten Nagekeo, itu bukan masalah. Bahkan menurut Abang yang aseli Orang Nagekeo khususnya Kecamatan Boawae, apa yang saya pakai itu sudah benar dan nanti kalau saat wisuda tinggal pakai begitu saja. Beres.

Tetapi sebenarnya atasan untuk perempuan itu seperti foto berikut ini:


Nama baju ini Kodo. Kodo ini dihiasi dengan bordiran tangan, bukan mesin loh! Keren dan sangat unik kan?

Berburu Hoba Nage


Dipikir-pikir, ketimbang menyewa lebih baik saya membeli saja Hoba Nage. Kata teman kerja, Mama Sedes, ada yang sedang jual murah dipatok tenun ikat Hoba Nage seharga Rp 550K saja. Tentu saja saya mau! Lagi pula ini bisa jadi inventaris, alias kalau nanti kembali dibutuhkan, sudah punya barangnya, tidak perlu pusing mencari. Hanya saja saya belum menerima tenun ikatnya, masih menerima fotonya saja hahaha. Nanti tenun ikat Hoba Nage dalam bentuk lembaran itu bakal saya jahitkan menjadi sarung.

Selain itu, saya juga bertanya-tanya pada teman yang bermukim di Kota Mbay yaitu Daniel Daki Disa. Nah padanya saya juga bisa meminta tolong untuk menyewakan Kodo dan Hoba Nage, dikirim ke Ende, kalau sudah selesai dipakai bisa dikembalikan. Doakan semoga tanggal 12 Oktober nanti saya sudah bisa memakai pakaian adat Kabupaten Nagekeo, ya!

⇜⇝

Pertanyaannya sekarang adalah kenapa saya sampai ngotot harus bisa memakai pakaian adat Kabupaten Nagekeo saat kegiatan wisuda nanti? Untuk menjawabnya, kita harus kembali pada Uniflor sebagai mediator budaya.

Kepanitiaan wisuda selalu terdiri atas dosen dan karyawan Uniflor. Dosen dan karyawan Uniflor datang dari berbagai daerah di Pulau Flores dan sekitarnya. Bisa kalian bayangkan, ketika tema wisuda jatuh pada Kabupaten Ende, semua dosen dan karyawan yang bukan Orang Ende harus berupaya untuk mencari dan memakai pakaian adat Kabupaten Ende. Khusus perempuan disebut Lawo Lambu / Zawo Zhambu. Khusus laki-laki memakai kemeja putih, destar (ikat kepala), dan sarung laki-laki bernama Ragi Mite.

Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Ketika tema jatuh pada kabupaten lain selain Kabupaten Ende, tentu kami harus menghormati dan menghargai keputusan tersebut dengan cara mengikuti ketentuan yang ditetapkan untuk panitia. Bagi saya pribadi ini adalah tantangan tersendiri: mencari pakaian tradisional/adat Kabupaten Nagekeo. Seandainya pun gagal membeli Hoba Nage, saya masih bisa memakai Ragi Woi dan atasan warna hitam (disesuaikan dengan Kodo). Lagi pula, adalah sesuatu yang sangat membahagiakan diri saya pribadi apabila bisa mengenakan pakaian tradisional/adat dari daerah lain di Pulau Flores. Sesuatu yang mengenyangkan sukma. Hehe.

Nantikan cerita dan foto-fotonya, ya!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay


Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay. Dua minggu yang lalu saya menerima pesan WA dari seseorang yang nomornya belum tersimpan di telepon genggam. Sumpah, mau bertanya: ini siapa(?) saya sungkan, kuatir dibilang sombong. Lagi pula profile picture-nya bukan foto diri melainkan gambar Bunda Maria yang kemudian diganti dengan gambar Yesus. So I have no idea who is he/she. Isi pesan WA itu adalah lampiran draf kegiatan Festival Literasi Nagekeo 2019. Sampai orang itu mengiriman revisi draf kegiatan dimaksud pun saya masih sungkan bertanya, lantas hanya bisa mengucapkan terima kasih serta janji bakal hadir pada malam Minggu.

Baca Juga: Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2)

Apa itu Festival Literasi Nagekeo 2019? Kenapa pula saya berjanji untuk hadir saat malam Minggu? Kalian kepo kah? Hahaha. Kalau kepo, hyuk dibaca sampai selesai!

Hari Literasi Internasional


Mari pukul mundur ke tahun 1965. Sumber Wikipedia menjelaskan bahwa Hari Literasi Internasional (International Literacy Day/ILD) atau Hari Aksara Internasional/Sedunia atau Hari Melek Huruf Internasional, yang diperingati setiap tanggal 8 September, merupakan hari yang diumumkan oleh UNESCO pada 17 November 1965 sebagai peringatan untuk menjaga pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas, dan masyarakat. Setiap tahun, UNESCO mengingatkan komunitas internasional untuk selalu dalam kegiatan belajar. Hari Melek Huruf Internasional ini diperingati oleh seluruh negara di dunia.

Nagekeo, Kabupaten Literasi.

Sedangkan dari Kompas, begini informasi yang saya peroleh: Melansir dari situs resmi UNESCO, tahun 2019 ini UNESCO akan memberikan penghargaan kepada program dan individu yang berjasa terkait literasi di seluruh dunia dalam tema "Literasi dan Multilinguaisme". Sejak tahun 1967, UNESCO telah memberikan rekognisi dan bantuan bagi lebih dari 490 proyek dan program di bidang literasi yang dijalankan baik oleh pemerintah, Organisasi Non-Pemerintah (LSM), maupun individu di seluruh dunia.

Tahun ini, UNESCO International Literacy Prizes terbagi menjadi dua jenis penghargaan yang akan diberikan kepada lima penerima, yakni: UNESCO King Sejong Literacy Prize, dimana penghargan ini diberikan untuk dua pemenang dengan program yang berfokus pada pengembangan dan pengunaan pendidikan dan pelatihan literasi bahasa ibu. UNESCO Confucius Prize for Literacy, penghargaan tersebut terbentuk pada 2005 atas dukungan Pemerintah Cina. Penghargaan ini diberikan kepada tiga pemenang dengan program yang mempromosikan literasi orang dewasa terutama yang berada di daerah pedesaan dan untuk remaja putus sekolah utamanya kaum perempuan Masing-masing pemenang akan mendapatkan medali, piagam penghargaan dan uang sejumlah 20.000 dolar Amerika Serikat.

Nge-blog merupakan salah satu cara berliterasi.

Jadi kita sepemahaman ya, bahwa Hari Literasi Internasional diperingati setiap tanggal 8 September. Kita juga harus sepemahaman bahwa, also from Wikipedia, bahwa Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. Sedangkan, menurut data dari Literasi Digital keluaran Internetsehat, secara umum yang dimaksud dengan literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten/informasi, dengan kecakapan kognitif maupun teknikal. 

Jadi, kalau bisa saya simpulkan, kegiatan literasi adalah kegiatan membaca, menggali informasi, mengelola/mengolah informasi, serta menyebarkan kembali informasi tersebut. Salah satunya dengan nge-blog. Salah duanya dengan mendongeng. Sala(h)tiga-nya di Pulau Jawa. Hehe.

Hari Literasi Nagekeo 2019


Kabupaten Nagekeo, dengan Ibu Kota bernama Kota Mbay, merupakan kabupaten yang sedang sangat getol membangun diantaranya membangun di ranah literasi. Bupati Nagekeo, Bapak Don, saat meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe berkata bahwa awalnya beliau kurang perhatian dengan urusan literasi ini, sampai kemudian beliau mengunjungi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Salemba - Jakarta, beliau menjadi sangat paham pentingnya literasi untuk pembangunan. Artinya, mencerdaskan masyarakat tidak hanya berkonsentrasi pada pendidikan akademik saja, tetapi harus diimbuh dengan berliterasi yang diperoleh/dilakukan di luar bangku sekolah/kuliah.

Oleh karena itu, kesimpulan saya, sampailah pada titik Kabupaten Nagekeo kemudian menggelar kegiatan akbar Festival Literasi Nagekeo 2019 selama empat hari, dimulai Jum'at (27 September 2019) sampai dengan Senin (30 September 2019. Dan saya, menyesuaikan dengan waktu kerja, baru bisa dan hanya bisa hadir pada malam Minggu (Sabtu, 28 September 2019).


Meskipun tiba di Kota Mbay pukul 12.00-an Wita, tapi saya baru bisa menuju Lapangan Berdikari, tempat kegiatan ini digelar, pukul 20.30 Wita. Alasannya karena masih menunggu keponakan saya, si Iwan. Tiba di depan Lapangan Berdikari, kendaraan baik roda empat maupun roda dua penuh di sisi kanan dan kiri jalan. Sementara itu dari panggung di dalam lapangan terdengar bunyi-bunyian dari alat musik tradisional, ada sekelompok penari sedang pentas. Bergegaslah kami berlima: saya, Iwan, Reni (isterinya Iwan), Andika dan Rayhan (anaknya mereka berdua).


Suasana di dalam Lapangan Berdikari mengingatkan saya pada Pameran Pembangunan yang dulu rajin banget dilaksanakan di Stadion Marilonga, Kota Ende. Itu, saat saya masih SD lah. Ada panggung hiburan/pentas seni sekaligus panggung perlombaan, ada stan-stan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Nagekeo juga stan dari kabupaten lainnya termasuk Kabupaten Ende, ada banyak pedagang mainan anak-anak dan balon hias, ada pula warung-warung dadakan dengan menu khusus daging domba, dan lain sebagainya. Pada stan-stan itu juga ada yang memamerkan sekaligus menjual tenun ikat khas Kabupaten Nagekeo baik lembaran besar maupun selendang mini/syal serta hasil kerajinan tangan lainnya.

Banyak Hal Menarik dan Tidak Terduga


Sangat tidak terduga karena saya bertemu mereka. Siapakah mereka?

Penggemar


Penggemar nih ye! Haha. Sampai disenyum-senyumin sama Iwan dan Reni. Kami memulai senang-senang malam itu dengan berkeliling stan yang ada di tepi Lapangan Berdikari. Saat kami tiba di stan Pariwisata Nagekeo, mendadak seorang ibu yang juga berdiri di situ meminta foto bareng saya.



Terima kasih, ibu, sudah mau foto bareng saya. Siapa pun ibu, saya tidak bermaksud apa-apa menulis penggemar, hanya bercanda. Hehe.

Mer Mola Neu


Ini keren. Tidak terduga, bisa bertemu Mer Mola Neu. Mer Mola Neu adalah young (woman) entrepreneur asal Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Provinsi NTT, dengan brand Sehelai & Renjana. Produknya banyak, antara lain tas berbahan tenun ikat, buku/notes dengan cover bergaya kedaerahan dari beberapa daerah di Pulau Flores, gantungan kunci, stiker, bahkan ada pula kripik. Stan mereka sangat menarik dengan baliho warna kuning bertulis Sehelai & Renjana. Tapi, dari semua produknya, saya paling demen sama buku/notes tersebut.


Sebagai Presiden Negara Kuning, sudah lama saya memesan buku / notes bersampul kuning dengan empat kosa kata bahasa daerah Nagekeo ini. Sudah dikirim ke Ende dan saya tinggal mengambil (dan bayar) di tempat drop. Tapi saya lupa alias kelupaan terus! Sampai-sampai saya memarahi diri sendiri yang terlalu sering lupa. Saat keliling stan di Festival Literasi Nagekeo 2019, bertemulah saya dengan stan milik anak muda kreatif ini. Meskipun Insha Allah saya akan kembali ke Kabupaten Nagekeo (Kota Mbay) untuk beberapa urusan, tapi saya tidak mau kehilangan kesempatan lagi untuk memiliki buku ini. Harus beli! Dibanderol Rp 40K sudah dapat tambahan satu gantungan kunci. Aye!

Tidak mungkin pula melewatkan kesempatan untuk berfoto bersamanya. Adalah kebanggaan bagi saya pribadi bisa bertemu dengan orang-orang muda hebat yang kreatif dan terus berkarya, menemukan inovasi-inovasi baru dengan menyertakan budaya dan kearifan lokal. Dari mereka pula budaya kita tetap lestari. Keren benar Mer dan Wilfrid ini. Tasnya juga keren, Mer *muka memelas, hahaha*.

Kalau kalian tanya, apa yang paling memuaskan saya sebagai si tukang jalan, jelas human interest-nya. Karena dari penduduk lokal kita pun BERLITERASI (membaca, mencari informasi, mengolah informasi, dan membagi informasi). Informasi yang kadang tidak terlampir di buku pariwisata paketan. Sama juga, kalau kalian membaca blog saya, seperti itulah informasi yang kalian dapat *sombong sikit sekalian promosi*. Jangan lupa kalian bertanya dengan nada sinis, emang penting saya ngegas dari Ende ke Mbay untuk bersileweran di Festival Literasi Nagekeo 2019? Tidak penting untuk kalian, tidak penting untuk saya. Tapi ... bermakna dan menambah khasanah hidup saya pribadi. Sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan Rupiah (kecuali Euro boleh lah) hahaha.

Abang Umar Hamdan dan Abang Iskandar Awang Usman


Waktu saya melihat pos Abang Umar Hamdan di Facebook bahwa dia sedang berada di lokasi Festival Literasi Nagekeo 2019, siang-siang begitu, pengen ngegas dari Towak ke Lapangan Berdikari, tapi masih pengen menikmati obrolan bersama keponakan. Janji ketemu malam saja sekalian.



Kami anak kembar yang kalau sedang berdiskusi macam orang sedang berantem. Sering pula kami bentrok. Tapi kami tidak pernah musuhan. Hahaha. Dewasa sekali dua orang ini kan? Oh ya, Abang Umar Hamdan bersama tim dari Anak Cinta Lingkungan (ACIL) tergabung dalam Forum Giat Literasi Kabupaten Ende (FGL). FGL digandeng oleh Perpusda Ende untuk bersama-sama mengisi stand mereka. Oleh karena itu tidak heran stan ini termasuk yang paling ramai terutama saat Kakak Ev dari Rumah Baca Sukacita berdongeng. Uh wow sekali. Sayang saya tidak sempat mengabadikan aksi Kakak Ev mendongeng.


Anak-anak adalah masa depan negeri ini. Sejak dini mereka sudah harus mengenal literasi itu seperti apa. Jauhkan mereka dari gadget, berikan kesempatan pada mereka menikmati dunia anak-anak yang sesungguhnya. Terima kasih teman-teman FGL Kabupaten Ende, terima kasih Perpusda Kabupaten Ende, kalian semua hebat dan bergaya!

Rossa


Di dalam WAG Alumni Smansa Ende, saya sempat bilang kalau ada teman yang sedang berada di Kota Mbay, ketemuan yuk di Lapangan Berdikari. Ndilalah saat sedang berkeliling saya dicolek seseorang. Haaaah???? Rossa!


Sahabat masa SMA. Tidak disangka ya, setelah haha hihi di WAG, malah ketemuan di Festival Literasi Nagekeo 2019.

Kegiatan Bermanfaat Yang Harus Berkelanjutan


Kita sering terbawa euforia pada suatu kegiatan, tapi kemudian kegiatan itu selesai. Tidak ada lanjutannya. Tapi saya berharap agar festival semacam ini harus terus berkelanjutan karena selama manusia berkembang biak, selama itu pula tunas-tunas muda manusia ada di muka bumi. Festival Literasi Nagekeo 2019 harus jadi entrance untuk kegiatan serupa di masa datang.

Kegiatan ini bermanfaat karena tidak saja berfokus pada dunia literasi itu sendiri tetapi banyak lini yang terlibat. Lihat saja, pada stan Kecamatan Boawae saya melihat ragam kerajinan tangan dipamerkan:



Kerajinan tangan ini salah satu dari kerajinan tangan jenis lain seperti tenun ikat, selendang, gantungan kunci tenun ikat, dan lain sebagainya. Selain itu, di dalam stan ini juga ada yang jualan minuman semacam kacang hijau dan es buah begitu.

Di atas saya sudah menulis bahwa ada para pedagang mainan anak-anak dan balon hias dan kuliner atau makanan lokal khas Kabupaten Nagekeo yang paling sering diburu yaitu daging domba. Dalam bahasa Nagekeo daging domba disebut nake lebu. Nake itu bahasa daerah untuk daging. Lebu ya domba. Ternyata sama juga dengan Orang Ende yang menyebut daging dengan nake.


Sayangnya, akibat trauma sama aroma daging domba beberapa saat lalu, saya tidak jadi makan malam di warung dadakan daging domba ini. Tapi tetaplah saya mau menyaksikan Festival Daging Domba pada Bulan November nanti!

⇜⇝

Jadi jelas, Festival Literasi Nagekeo 2019 telah mampu mengangkat dan mendukung banyak lini. Tidak hanya dunia literasi, tetapi juga menggeliatkan perekonomian masyarakat. Ada buku, ada dongeng, ada mewarnai, ada informasi tentang pengelolaan sampah dan hasilnya, ada hasil kerajinan tangan, ada yang jualan kopi Bajawa (dari Kabupaten Ngada), ada pula pedagang kaki lima, dan tentu saja warung dengan menu utama daging domba. Sekali lagi, kegiatan ini harus berkelanjutan.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

Malam itu kami menikmati makan malam di warung ayam lalapan, berdampingan sama tempat sablonnya Raiz Muhammad. Malam itu, saya juga tidak bertemu teman-teman lain seperti Novi Azizah dan Jane Wa'u (MC-nya). Tidak masalah. Yang jelas saya sudah menyaksikan sendiri Festival Literasi Nagekeo 2019. Saya sudah bersenang-senang dan menambah ilmu. Saya sudah bertemu banyak orang dan hal-hal yang tidak terduga. Saya sudah sayang kamu. Eh, saya sudah menambah khasanah untuk diri pribadi.

Sampai jumpa di festival-festival berikutnya!

Info:
Stan - berasal dari bahasa Inggris stand, tempat pamer/menjual barang.
Renjana - passion, hasrat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2)

Gambar diambil dari sini.

Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2). Sebelumnya, kalian harus baca terlebih dahulu pos Senin lalu yaitu Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 1). Supaya apa? Supaya tahu donk. Hehe. Padahal, siapa sih yang tidak tahu Upin Ipin? Semua orang pasti tahu. Senin ini, di tengah perasaan bahagia karena pagi-pagi sudah di-video call sama Salep Hitam yang justru tidak suka Upin Ipin, saya mau melanjutkan pos penting yang satu ini. Karena, sejak Senin kemarin kalian pasti bertanya-tanya mengapa saya menulis pos tentang Upin Ipin. Kalau tidak ada yang bertanya-tanya pun, tidak masalah, haha.

Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Pada pos lalu sudah banyak yang kalian tahu, mulai dari karakter sampai kebiasaan dan ciri khas yang melekat setiap karakter di dalam Upin Ipin. Tapi intinya ada pada pos hari ini. Mengapa semua anak Indonesia harus menonton Upin Ipin? Yuk ... cekidot.

Upin Ipin Mengajarkan Toleransi


Dari banyak poin penting yang saya catat dari Upin Ipin, inilah poin paling utama yang menginspirasi saya menulis pos tentang serial kartun asal Negeri Jiran. Toleransi. Toleransi yang seharusnya dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia.

Malaysia adalah Melayu. Meskipun bukan negara Islam tapi Malaysia identik dengan Islam. Bahkan, awal Upin Ipin dibikin pun demi untuk kepentingan Bulan Ramadhan, demi menanamkan semangat dan nilai-nilai positif Bulan Ramadhan kepada anak-anak. Hebatnya, pembikin Upin Ipin ini tidak idealis dengan ke-Islam-an saja. Penduduk Malaysia itu beragam. Bangsa Melayu menjadi bagian terbesar tetapi ada pula Ras Tionghoa Malaysia dan India Malaysia. Oleh karena itu ada karakter seperti Mei Mei dan Uncle Ah Tong yang tentunya kita tahu mereka sangat Cina. Ada pula Uncle Mutu dan keluarga Jarjit Singh yang sangat India.

Nilai toleransi yang diajarkan dalam serial Upin Ipin itu sederhana. Contohnya, saat ada anak-anak Muslim yang hendak batal puasa karena kelelahan bermain di lapangan, Mei Mei dengan gaya khasnya bakal bilang: tak boleh, nanti kamu punya Tuhan marah. Contoh lain saat Hari Raya Idul Fitri, teman-teman biasa diajak makan di rumah Upin Ipin. Ini pun berlaku ketika Mei Mei merayakan Tahun Baru Cina. Banyak penjelasan tentang kebiasaan dan kepercayaan Orang Cina. Upin Ipin dan teman-temannya pun tahu bahwa sapi merupakan hewan yang sangat suci bagi Orang India (Uncle Mutu dan keluarga Jarjit Singh). Jadi ingat Seppy. Hehe.

Ajaran tentang toleransi yang sederhana itu yang membikin saya menulis pos ini. Bagaimana dengan Indonesia yang punya begitu banyak suku serta banyak agama? Sudah seharusnya toleransi hidup lebih kental di negara kita bukan? Tapi kenapa tontonan tentang intoleran di televisi juga banyak datang dari negara kita? Sampai-sampai ada kaum ini lah, ada kaum itulah, ada kelompok inilah, ada kelompok itulah. Padahal, perbedaan yang tumbuh di Indonesia ini banyak, semakin banyak perbedaan seharusnya toleransi juga semakin tinggi.

Upin Ipin Mengajarkan Tentang Kebaikan


Toleransi dan kebaikan, tentu. Kebaikan ini datang dari semua karakter dalam Upin Ipin. Opah yang bijak, misalnya, selalu memberikan petuah berharga dalam setiap sendi kehidupan.Meskipun garang, Kak Ross sangat sayang pada adik-adiknya. Lihat saja Mail, segala sesuatu selalu diperhitungkan, tetapi dia tidak pelit ketika Upin dan Ipin membantunya berjualan ayam goreng di pasar. Tuk Dalang pun lebih lagi. Apabila musim rambutan, anak-anak boleh menikmati rambutan ... secara percuma. Belum lagi kebun duriannya. Tuk Dalang selalu saja bisa menraktir ABCD untuk Upin Ipin dan teman-teman. Belum lagi soal ajaran berkebun, memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayuran kebutuhan makan sehari-hari.

Tidak berhenti sampai di situ. Kebaikan hidup yang diajarkan di dalam Upin Ipin juga datang dari permainan. Meskipun anak-anak itu tidak menutup mata dari permainan canggih semacam mobil remote control, tapi justru yang paling sering terekspos adalah permainan tradisional anak-anak di Kampung Durian Runtuh! Ada layangan, ada petak umpet, ada gundu, ada pula saat mereka harus menggantikan kelompok rebana di suatu acara pernikahan.

Kebaikan lain yang juga tak kalah seru adalah pesan-pesan sponsor. Seperti minum susu bagus untuk kesehatan, masalah mata, imunisasi, hingga rasuah alias suap. Bagaimana KPK-nya Malaysia bekerja itu dijelaskan dengan sangat sederhana kepada anak-anak, serta macam-macam rasuah dimana rasuah tak hanya uang tapi juga dalam bentuk barang ... termasuk ayam goreng. Hahaha. Ini kan bagus! Pelajaran demi pelajaran, kebaikan demi kebaikan, terus ada dan tersaji dalam serial Upin Ipin. Serial yang menurut orang lain sepele, tapi menurut saya sangat berharga.

⇜⇝

Poin-poin penting yang bisa dipetik dari serial kartun Upin Ipin di atas saya tulis dengan sungguh-sungguh. Bukan supaya kalian juga menonton Upin Ipin, melainkan supaya kalian juga tahu bahwa pelajaran berharga bisa kita dapatkan dari mana saja, termasuk dari menonton serial kartun yang konon katanya khusus untuk anak-anak.

Baca juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Bagaimana dengan kalian?

Suka Upin Ipin juga?

Apa hikmah yang kalian petik dari serial kartu yang diproduksi Les' Copaque, Malaysia itu? Bagi tahu yuk di komen!

#SeninCerita



Cheers.

Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 1)

Sumber gambar: Les' Copaque

Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 1). Siapa tidak kenal Upin Ipin? Saya mulai menontonnya pada tahun 2007. Sosok fiksi dua bocah kembar itu sulit tersapu dari ingatan. Tak hanya Upin Ipin, benak kita tentu masih menyimpan sosok fiksi lainnya seperti Kak Ross yang garang tapi sebenarnya sangat sayang pada Upin Ipin, Opa (Mak Udah) yang bijak, Tuk (Datuk/Datok) Dalang yang kesohor di Kampung Durian Runtuh yang punya nama lengkap Isnin bin Khamis, Uncle Mutu dengan dagangan khas ABCD-nya, Saleh si penjahit nyentrik, dan masih banyak lagi! Bagi saya, Upin Ipin bukan sekadar filem/serial kartun biasa. Upin Ipin mengajarkan penontonnya banyak hal. Dan semua anak Indonesia memang harus menonton Upin Ipin.

Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Memangnya, apa sebab semua anak Indonesia harus menonton Upin Ipin? Banyak sebabnya! Yang jelas, berdampak positif. Mau tahu? Baca sampai selesai donk. Tapi ini baru bahagian 1, bahagian 2-nya minggu depan! Sabarlah menanti.

Mengenal Upin Ipin


Dari berbagai informasi yang saya kumpulkan di internet seperti Wikipedia, Kaskus, bahkan blog pribadi, Upin Ipin adalah filem kartun yang dibikin oleh Mohd. Nizam Abdul Razak, Mohd Safwan Abdul Karim, dan Usamah Zaid. Mereka bertiga adalah pemilik rumah produksi Les' Copaque setelah bertemu dengan mantan pedagang minyak dan gas yaitu H. Burhanuddin Radzi dan isterinya yang bernama Hj. Ainon Ariff.  Serial ini dirilis pada 14 September 2007 di Malaysia dan disiarkan di TV9. Upin Ipin sudah ditayangkan di tiga negara yaitu Malaysia, Indonesia, dan Turki.

Semula jadi Upin Ipin dibuat untuk Bulan Ramadhan 2007 karena bertujuan untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang pentingnya arti Ramadhan. Tetapi karena sambutan pasar yang baik, maka Upin Ipin diteruskan hingga akhirnya bermusim-musim serial kartun ini menghibur kita semua. Tidak saja anak-anak tetapi juga orang dewasa. Seperti saya. Hahaha. Upin Ipin bahkan tidak hanya serial kartun saja tetapi juga ada filemnya. Selain Geng Pengembaraan Bermula, filem terbaru yang bikin saya penasaran berjudul Keris Siamang Tunggal. Mereka tersedot ke dunia lain!

Selain memproduksi Upin dan Ipin Les' Copaque juga memproduksi serial Pada Zaman Dahulu, Puteri, dan Dadudido. Menonton Pada Zaman Dahulu itu membikin saya punya cita-cita baru yaitu jadi pendongeng haha.

Opening Song


Kekuatan Upin Ipin juga terletak pada opening song-nya. Ini yang bikin saya harus berdiri dan bergoyang a la kembar seiras ini. Haha.

Upin dan Ipin inilah dia
Kembar seiras itu biasa
Upin dan Ipin ragam aksinya
Kau disenangi siapa jua

Kami ini kawan-kawan
Sekampung sepermainan
Harmoninya kehidupan
Ikhlasnya persahabatan

Upin dan Ipin inilah dia
Kembar seiras itu biasa
Upin dan Ipin ragam aksinya
Kau disenangi siapa jua
Kau disenangi siapa jua
Upin dan Ipin selamanya

Betul betul betul. Hehe. Tapi itu versi pendeknya. Dan yang biasa mengisi opening song cuma bagian yang saya tebalkan saja. Opening song ini berjudul Gembira Bermain. Ciri khas serial kartun Upin Ipin bahkan sudah dimulai sejak opening song. Saya sudah bisa loh bergoyang a la Upin Ipin di opening song *dilempar batako sama dinosaurus*.

Karakter di Dalam Upin Ipin


Semua karakter di dalam Upin Ipin mempunyai karakter yang betul-betul khas. Tidak ada satupun yang sama. Sepertinya setiap karakter memang dipersiapkan dengan sangat matang, bahkan karakter sekelas Zul dan Idjat pun digambarkan dengan sangat jelas. Dzul suka membawa-bawa nama neneknya kalau sedang bercerita, sedangkan Idjat ini langganan pingsan. Meskipun kalian pasti sudah tahu karakter-karakter di dalam serial kartun Upin Ipin, ijinkan saya menulisnya kembali.

Upin Ipin


Upin dan Ipin, bocah kembar seiras ini berciri kepala plontos alias gundul dan bersuara sangat imut. Yang membedakan keduanya: Upin punya sejumput rambut menonjol di puncak kepalanya serta berkaos kuning dengan huruf U, sedangkan Ipin gundulnya sempurna serta berkaos biru dan tak lupa syal merah mirip Batman. Kalaupun keduanya memakai baju koko - sarung - kopiah khas hari raya, tetap saja Upin berwarna kuning, Ipin berwarna biru.

(H)ayam goreng memang sering terlontar di dalam serial ini tetapi itu paling sering diucapkan oleh Ipin. Tak lupa, Ipin punya ciri khas mengulang kata sampai tiga kali: betul, betul, betul! Seringnya sih betul, betul, betul. Pengulangan kata lainnya tergantung kalimat apa yang diucap oleh Upin.

Kak Ross


Nama lengkapnya Jeanne Roselia Fadhullah dan dipanggil Kak Ross. Kakak dari si kembar ini punya ciri khas: garang. Siapa yang berani melawan akak? No no no. Sehari-hari Kak Ross memakai kaos lengan panjang warna merah dan celana biru/ungu tua. Meskipun garang, Kak Ross sangat mencintai Opah dan Upin Ipin. Dia juga berprestasi. Selain prestasi di dunia akademik, Kak Ross juga membuat komik.

Opah


Namanya Mak Udah tapi biasa dipanggil Opah. Nenek yang mengasihi cucu-cucunya, dan bahkan pernah bekerja paruh waktu menyadap getah karet demi Upin Ipin bisa punya mobil mainan yang pakai remote itu. Opah terkenal bijak, meskipun kadang iseng juga, dan selalu memberikan petuah-petuah berharga untuk cucu-cucunya.

Tuk Dalang


Isnin bin Khamis (Senin bin Khamis). Haha. Paling lucu lah Tuk Dalang ini, apalagi kalau dia dikerjai sama bocah-bocah. Tuk Dalang ini punya pohon rambutan di depan rumah, kebun durian, serta memelihara ayam. Nah, salah satu ayamnya bernama Rembo. Suka mengoleksi sandal atau sepatu sebelah!

Karakter lainnya di dalam Upin Ipin tidak saya jelaskan semua, cukup mereka berempat. Tetapi karakter lain juga tak kalah penting dan punya ciri khas masing-masing!

Mail dengan dua singgit.
Ehsan dengan 'banguuuun', dan si intan payung.
Fizzi dengan ketiadaannya serta sering sial.
Jarjit dengan pantun dua tiga.
Mei Mei dengan saya suka saya suka!
Dzul dengan kata nenek saya.
Idjat yang doyang pingsan.
Nurul - Fathia - Devi yang jarang terekspos.
Susanti dengan kata asyiiiikkkk!
Cikgu Jasmine dan Cikgu Melati.
Uncle Mutu dengan ABCD-nya.
Uncle Ah Tong dengan dialek Cinanya kayak Mei Mei.
Abang Saleh yang kalau bersuara lelaki mah gahar.
Rembo, Apin, Opet, dan hewan lainnya.

Tentu masih ada karakter lain tapi ... nanti ya hahaha.

Si Katak Kuning


Setiap menonton Upin Ipin pasti ada si katak kuning yang sekilas lewat dengan kehidupannya di sekitar rumah si kembar. Katak kuning ini bukan sekadar karakter sambil lalu. Dia adalah katak yang berada pada logo Les' Copaque itu sendiri. 

⇜⇝

Saya dan kalian sudah tahu banyak tentang Upin Ipin. Serial kartun asal Malaysia yang diproduksi oleh Les' Copaque dan menjadi idola banyak orang, termasuk saya. Kenapa pula ada bahagian (bagian) 1 dan bahagian 2? Karena posnya bakal panjang sekali kalau dijadikan satu. Setidaknya, sebagai bekal pos Senin depan, kalian sudah tahu yang paling mendasar tentang Upin Ipin yaitu: Kampong Durian Runtuh, serta karakter dan ciri khas masing-masing. Inti pos ini bakal saya bahas Senin depan. Bocorannya: tentang toleransi antar umat beragama yang diajarkan dari sebuah serial kartun yang mungkin menurut orang lain tidak penting.

Baca Juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Setidaknya, menonton Upin Ipin masih sangat jauh lebih berfaedah ketimbang menonton sinetron Indonesia.

Sampai jumpa minggu depan di bahagian 2!



Cheers.