Mengintip Rahasia Bahagia dan Umur Panjang dari Ikigai


Mengintip Rahasia Bahagia dan Umur Panjang dari Ikigai. Membaca judul, kalian pasti bertanya-tanya, memang ada sekolah yang mengajarkan hal itu? Ada donk. Semua tingkatan sekolah di Indonesia mengajarkan hal itu, terutama sekolah dasar, melalui cara-cara halus yang tidak disadari oleh para murid. Di sekolah, murid diajarkan untuk menghormati guru dan menyayangi teman, saling menghargai, tidak menghina apalagi melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain, tidak mencuri, tidak berbohong, selalu bersyukur dan lain sebagainya. Murid sedapat mungkin punya simpati dan empati dan digembleng agar memiliki karakter yang baik. Tapi sekolah secara harafiah bukan satu-satunya tempat kita belajar. Buku juga merupakan sekolah. Ya, bagi saya buku juga merupakan sekolah yang mengajarkan pembacanya banyak perkara. Siapa pun yang tidak membaca buku pasti merugi. Kalau ada yang membantah, artinya dia memang jenius sejak lahir. Begitu berusia lima jam, sudah pandai bicara menggunakan lima bahasa di dunia, hafal sejarah Hagia Sohpia, serta tahu seluk-beluk kalkulus. 

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Salah satu buku bertema self improvement yang pernah saya baca berjudul The Secret of Ikigai: Rahasia Menemukan Kebahagiaan dan Umur Panjang Ala Orang Jepang. Duh, menulis Jepang, saya punya cita-cita menghabiskan masa tua di Jepang loh. Haha. Jepang itu negara yang sangat menarik. Bukan hanya karena anime-nya, atau bunga sakura, tetapi juga gaya hidup masyarakatnya, makanannya, sampai penemuan-penemuannya yang bikin saya ternganga. Siapa sih yang tidak tahu gaya hidup minimalis Orang Jepang? Kalian pasti tahu futon, perangkat tidurnya Orang Jepang. Agung Riantiarno menulis sebagai berikut: Futon dalam satu set nya biasanya terdiri dari Shikibuton (matras) yang biasanya hanya sedikit lebih tebal dari Bed Cover, Shiitsu (seprai kasur), Kakebuton (selimut tebal), Houfu (sarung dari selimut), Makura (Bantal) dan Makura Kaba (sarung bantal). Kalau Orang Indonesia maunya kasur pegas king size! Hahaha.

Kita tinggalkan futon, mari bahas The Secret of Ikigai!

The Secret of Ikigai


The Secret of Ikigai ditulis oleh Irukawa Elisa. Buku setebal 224 halaman ini diterbitkan oleh Araska (Publisher) dengan tema/kategori self improvement. Ada lima bab, di luar kata pengantar hingga epilog, yang membawa pembaca pada semesta 'sadar dan kenal diri sendiri'. Hal semacam ini memang familiar karena buku-buku self improvement lain juga mengajarkan hal yang sama. Tapi jelas, The Secret of Ikigai yang bersampul putih dengan bunga sakura ini menjelaskan dari sudut pandang berbeda, bernuansa kehidupan Orang Jepang.

Aliran Lima Bab


Ini menarik, The Secret of Ikigai ditulis dalam bab-bab yang mengalir seperti air. Sangat runut alias tidak melompat-lompat. Seperti proses manusia: lahir - belajar berjalan - bertumbuh - menikah - menjadi orangtua - dan seterusnya. Lihat Bab 1 yang berjudul Tujuan Hidup Tidak Jelas? Kuasai 4 Konsep Filosofi Ikigai. Ini pertanyaan umum, dan memang secara umum banyak orang yang bertanya pada diri sendiri, mau di bawa ke mana hidup saya ini? Menyerah, atau belajar dan berjuang? 4 Konsep Filosofi Ikigai itu adalah

1. Apa yang kamu sukai?
2. Apa yang dibutuhkan dunia?
3. Apa timbal balik untuk Anda?
4. Apa kemampuan Anda?

Kalau pembaca bisa menjawab empat pertanyaan di atas ... luar biasa. Passion menjadi paid for.

Masih dari Bab 1 pula pembaca diajarkan membongkar 4 elemen Ikigai yaitu: Mission, Vocation, Profession, dan Passion.

Orang yang hidup memiliki passion akan hidup lebih bahagia dan memiliki usia yang lebih awet muda, seperti orang penduduk Jepang. Seperti yang kita tahu bahwa Jepang termasuk negara maju yang memiliki jam kerja yang luar biasa padat. Dengan kepadatan kerja yang luar biasa, mereka memiliki angka kematian yang kecil. Dari hasil penelitian, hal ini karena mereka mampu menemukan Ikigai mereka di tengah kesibukan yang memicu stress. Indonesia yang masih memiliki jam kerja yang cukup, harusnya lebih mudah menemukan Ikigai. (Irukawa Elisa, 2019:40).

Pada Bab 2: Lesu Menjalani Hidup? Bongkar Pembangkit Semangat Hidupmu. Poros Bab 2 ini ada pada bagaimana kita menemukan tujuan hidup, membangun emosi positif, menghindari prasangka, dan menyadari identitas diri yang sebenarnya. 

Pada prinsipnya adalah, mengetahui kesenangan, ketidaksenangan, karakter dan pribadi diri sendiri. Karena hal inilah yang akan menjadi modal utama, sekaligus sebagai pengantar untuk menuju kesuksesan. (Irukawa Elisa, 2019:60).

Bab 3: Fokus pada Hal yang Kamu Cintai. Ini mengingatkan saya pada buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Iya, kita seringkali terganggu dengan perkara-perkara kecil, seperti omongan orang dan bisik-bisik tetangga, sehingga tergeser dari fokus (apa yang kita cintai). Misalnya, kemampuan kita adalah mendaur ulang sampah, tetapi kuatir sama omongan orang "Sarjana kok daur ulang sampah!" pada akhirnya kita bergeser dari apa yang kita cintai (mencintai hobi, kesenangan, apa yang dilakukan). Pada Bab 3 ada sub berjudul: Menikmati Air Mengalir. Ini bagus, dalam pandangan saya, apa yang tidak bisa diubah oleh manusia, artinya harus dinikmati, sepahit apa pun itu. 

Bab 4: Menggali Kemampuan Tersembunyi. Iya sih, banyak orang tidak sadar bahwa mereka punya potensi. Ada potensi/bakat/kemampuan yang langsung menunjukkan diri, tapi ada pula yang bersembunyi menunggu pencarinya/penggalinya. Di sini kita belajar bahwa kreativitas tidak dimiliki oleh orang tertentu saja. 

Pertanyaannya adalah bagaimana membangun kreativitas yang mampu melahirkan inovasi? Memang tidaklah mudah, perlu yang namanya latihan, dan berpikir kritis. Tidak sekedar itu, tetapi juga peka terhadap banyak hal. Karena dengan peka terhadap banyak hal-hal kecil di sekeliling akan mengasah kreativitas dan memantik inovasi lahir. (Irukawa Elisa, 2019:108).

Bab 5: Apa Timbal Balik Ikigai? Tentu panjang umur dan bahagia merupakan timbal balik pertama yang bakal diperoleh. Berikutnya menyusul: produktif, menjadi pribadi yang lebih disiplin, menciptakan manusia berkualitas, kreatif dan inovatif, menjadi agen perubahan, memiliki kemampuan self driving, dan rasionalis.

Seseorang yang memiliki visi dan misi yang jelas, disertai dengan semangat mewujudkan. Maka secara otomatis sistem syaraf otak akan bekerja untuk berfikir rasional. Jadi secara otomatis sistem syaraf otak saling terkoneksi untuk melihat peluang di setiap celah yang ada. Orang yang memiliki pemikiran rasional, memiliki pemikiran lebih kritis setiap melihat peluang dan objek yang ada. (Irukawa Elisa, 2019:216).

Tentu, masih banyak detail-detail menarik yang bisa kalian temukan di dalam buku ini, ditulis/dikupas tuntas satu per satu oleh Penulisnya. Jangan salahkan saya jika saat kalian membaca, kepala bakal mengangguk-angguk setuju seratus persen. Hehe. 

Kita dan Ikigai


Menurut Wikipedia, Ikigai adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Kata itu secara harfiah meliputi iki, yang berarti kehidupan dan gai, yang berarti nilai. Ikigai kadang diekspresikan sebagai “alasan untuk bangun di pagi hari”. Ikigai-lah yang memberikan motivasi berkelanjutan untuk menjalani hidup, atau bisa juga dibilang bahwa ikigai-lah yang memberikan gairah hidup yang membuat semangat dalam menyambut kedatangan setiap hari baru. Irukawa Elisa menulis bahwa Ikigai di Jepang sudah akrab, dan menjadi gaya hidup mereka. Sebenarnya di Indonesia secara tidak langsung sebenarnya juga telah mempraktekkan Ikigai. Perbedaannya Ikigai di Jepang dan di Indonesia hanya pada sebutannya. Di Indonesia, tidak ada nama sebutan khusus terkait tujuan hidup. Namun, sebenarnya Orang Indonesia sudah memiliki tujuan hidup dan sudah menemukan sumber kebahagiaan.

Kalian pasti terkejut. Hehe.

Menurut Irukawa Elisa, di Indonesia khususnya kaum Muslim, kata yang lebih tepat bukan Ikigai, namun dapat disederhanakan dengan ikhlas dan bersyukur menjalani hidup. Bersyukur menjalani hidup dapat saya bilang mudah dilakukan oleh siapa saja. Tetapi ikhlas, itu perkara lain. Byuuuuh. Susahnya ikhlas itu pasti kalian juga sudah merasakan hahaha. Tapi kita harus berupaya untuk bisa ikhlas dalam setiap sendi kehidupan ini.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Akhirnya selesai juga saya me-review buku ini setelah lama dibaca. Salah satu buku self improvement yang juga saya rekomendasikan pada kalian. Kalau kalian juga punya rekomendasi buku-buku self improvement lain, silahkan komen di bawah, siapa tahu bakal saya beli, baca dan review. Semoga bermanfat bagi kalian semua. Mulailah belajar mengenali diri sendiri, menggali kemampuan diri, memanfaatkan potensi diri, bodo amat sama perkara-perkara kecil yang tidak penting, serta jangan lupa bersyukur dan berusaha ikhlas!

#SabtuReview



Cheers.

5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca


5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca. Membaca buku merupakan kegiatan yang masih saya lakukan di sela-sela aktivitas lainnya seperti bekerja di kantor, nge-blog, membikin konten Youtube, berkomunitas, melancong, dan lain sebagainya. Buku, I mean the real book not e-book, masih dan akan terus menjadi bagian hidup saya. Memburu buku memang sudah saya hentikan; terakhir memburu buku Harry Potter and Deathly Hallows di Jakarta, bahkan buku itu belum diletakkan di rak Gramedia Salemba, haha. Tapi membeli buku masih terus saya lakukan. Kalian tahu bedanya kan. Memburu, artinya saya bisa berupaya sekeras mungkin untuk mendapatkan buku-buku baru dari penulis favorit. Membeli, artinya saya membeli buku yang menurut saya perlu dibeli. Dan akhir-akhir ini saya lebih sering membeli buku bertema self improvement.

Baca Juga: 5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu

Apa sih self improvement itu?

Secara harafiah self improvement berarti perbaikan diri dan/atau memperbaiki diri. Lebih dalam, self improvement adalah tentang bagaimana kita mengenali diri sendiri baik kebiasaan baik, kebiasaan buruk, maupun potensi tersembunyi; untuk diperbaiki, dikelola, dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya demi peningkatan kualitas hidup. Self improvement berkaitan dengan personal development. Personal development atau pengembangan pribadi mencakup kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan identitas, mengembangkan bakat dan potensi, membangun sumber daya manusia dan memfasilitasi kemampuan kerja, meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi pada perwujudan impian dan aspirasi.

Dalam salah satu video SCURD, Raditya Dika mengatakan bahwa dirinya kini menerapkan pola hidup minimalis. Teringat salah satu buku yang pernah saya baca berjudul Seni Hidup Minimalis. Buku itu mengajarkan pembacanya untuk lebih cerdas memilih dan memilah serta harus bisa tega membuang semua 'sampah' dari hidupnya. Apalah kita ini, yang bahkan punya lebih dari sepuluh tas, lebih dari sepuluh sepatu, lebih dari sepuluh botol parfum, dan merasa masih kurang? Byuuuuh! Mungkin itu memang sifat dasar manusia. Selalu merasa kurang. Telepon genggam saja harus dua. Haha. 

Membaca buku-buku bertema self improvement memang memberi pengaruh yang cukup besar bagi hidup saya. Entah dengan kalian. Dan kali ini saya akan merekomendasikan lima buku self improvement. Wajib kalian baca! Tapi kalau kalian tidak suka membacanya ... tidak apa-apa. Tergantung kesenangan dan kebiasaan saja.

Yuk tengok lima buku itu.

1. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat


Buku ini ditulis oleh Mark Manson. Seorang blogger. Dia mengingatkan kita pada Raditya Dika, pada Kerani dari ChaosAtWork (My Stupid Boss), pada Trinity. Tulisan-tulisannya di blog didominasi dengan aneka tips dan/atau motivasi menarik tentang menjalani hidup, tanpa terkesan menggurui, dan menulisnya dari sudut pandang berbeda. Salah satu hal menarik dari buku ini adalah penjelasan tentang tetap positif. Bukankah kita sering sekali memotivasi diri sendiri untuk tetap positif? Mark Manson menulis bahwa pengingkaran terhadap emosi negatif menuntut kita untuk mengalami emosi negatif yang lebih dalam dan berkepanjang, serta disfungsi emosional. Terus menerus bersikap positif justru merupakan salah satu bentuk pengelakan terhadap masalah, dan bukan cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Contoh yang dilampirkan Mark Manson adalah bahwa ketika kita marah pada seseorang, itu alami karena kemarahan adalah bagian dari kehidupan. Tapi ketika kita memilih untuk tidak memukul seseorang karena marah itu adalah pilihan tepat karena marah adalah alami dan memukul adalah perkara lain yang menimbulkan perkara yang lebih besar.

Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif (Mark Manson, 2018:10).

Cobalah baca buku ini. Dan saya yakin kalian pasti suka.

Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan (Mark Manson, 2018:19).

2. Mendaki Tangga yang Salah 


Buku ini ditulis oleh Eric Barker dan diterbitkan oleh P.T. Gramedia Pustama Utama pada tahun 2019. Sebanyak 360 halaman mengajarkan pembacanya tentang banyak hal untuk lebih mengenali diri sendiri. Istilahnya: mau jadi apa kita kelak? Kenali diri sendiri! Dan, ah ya, saya tidak bisa untuk melewatkan yang satu ini: buku Mendaki Tangga Yang Salah diberikan oleh Ibu Rosalin Togo atau lebih dikenal dengan panggilan Mami Ocha yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Kota Surabaya. Terima kasih, Mami ... Pahlawan Intelektual saya! Hehe.

Eric Barker tidak berusaha menggurui. Dia lebih condong pada memberikan contoh perilaku, kesuksesan orang-orang besar dunia, hingga beragam teori, serta penelitian dan hasil penelitian para profesor dan/atau para pakar. Garis besar, benang merah, Mendaki Tangga Yang Salah adalah kenali diri sendiri. Kalau kita tidak sependapat, biarkanlah ketidaksependapatan itu menjadi nilai demokrasi dalam me-review buku. Haha. Apabila manusia mengenali diri sendiri maka dia akan tahu tangga mana yang harus dinaiki. Bukan begitu poinnya? Bayangkan saja jika kita tahu, tidak pandai, atau tidak berbakat membikin sketsa tetapi terus-terusan memaksakan diri hingga akhir hayat. Apa yang kita capai? Nothing.

Bab 1 Mendaki Tangga Yang Salah memoroskan kalimat judul Jika Ingin Sukses, Haruskah Kita Bermain Aman dan Melakukan Apa Yang Diperintahkan Kepada Kita

3. Mission Ini Possible


Misbahul Huda adalah penulis buku ini. Buku Mission Ini Possible dengan pengantar dari Dahlan Iskan ini sangat menarik di setiap lembarnya. Isinya merupakan pengalaman membangun dari si penulis; motivasi yang luar biasa. Saya mencintai buku-buku Ajahn Brahm tapi saya juga mencintai buku yang ditulis oleh Misbahul Huda ini. Bahkan pada halaman awal saya sudah terpesona:

Jika anda tidak berubah, anda akan punah. Kalimat yang sama pernah saya dengarkan saat sosialisasi oleh Telkomsel di Fakultas Ekonomi - Universitas Flores. Betul juga. Apalah kita ini jika terlalu idealis dengan dunia yang dulu. Menerima perubahan dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif jauh lebih baik ketimbang membuang enerji untuk menolak perubahan yang terjadi. Setidaknya tidak perlu menolak, duduk diam-diam dan tenang-tenang saja lah ... menanti menjadi punah. Hehehe.

Ingat:
Satu-satunya bagian dari kita yang tak berubah adalah menjadi.

Buku ini sangat saya rekomendasikan kepada kalian semua. Isinya bagus. Ditulis dengan bahasa yang sangat mudah dipahami dan kadang-kadang menggunakan istilah-istilah bahasa Jawa. Kutipan-kutipan kalimat bijak yang diselipkan, selain sesuai dengan sub buku, juga sangat memotivasi pembacanya. Kadang, ketika ada orang yang tidak mau berubah, hanya dengan membaca sebuah buku niscaya dia akan berubah. Percayalah. Pendorong itu bukan hanya orangtua, pacar, suami/isteri, sahabat, tapi juga sebuah buku.

4. The Secret of Ikigai


Buku ini sudah saya baca tapi belum pernah menulis review-nya di blog ini. Buku dengan tagline: Rahasia Menemukan Kebahagiaan dan Umur Panjang Ala Orang Jepang ditulis boleh Irukawa Elisa. Setiap bab buku ini mengajarkan hal-hal yang familiar karena memang itu yang kita jalani sehari-hari. Salah satunya adalah menghindari prasangka. Kawan, susah sekali ... karena prasangka itu bagian dari hidup kita setiap harinya. Haha.

Tidak mudah menghindari prasangka dalam kehidupan bersosial. Sebagai manusia dalam keseharian, hampir setiap hari kita membangun prasangka tanpa kita sadari. Mulai dari prasangka positif maupun negatif. Prasangka ini pulalah yang menimbulkan penilaian like-dislike terhadap orang lain. Satu orang dengan orang yang lain pun akan memiliki penilaian yang berbeda, tergantung dari emosi (suasana hati) orang tersebut pada waktu itu. (Irukawa Elisa, 2019:47).

Seperti yang tertulis pada sampul belakangnya: Buku ini adalah buku yang tepat untuk Anda baca. Di sinilah Anda akan mengetahui ilmu Ikigai. Ikigai akan membantu Anda akan menemukan tujuan hidup Anda dan kebahagiaan hidup Anda. Ikigai mengajarkan cara hidup lebih mandiri, bermanfaat untuk diri sendiri dan juga untuk lingkungan. Inilah Ikigai, rahasia hidup bahagia, panjang umur dan penuh makna.

5. Berjalan di Atas Cahaya


Di luar dari perilaku atau omongannya yang disiarkan di berita, saya menyukai cara menulis Hanum Salsabiela Rais dalam buku Berjalan di Atas Cahaya; Kisah 99 Cahaya di Langit Eropa. Berjalan di Atas Cahaya merupakan buku catatan perjalanan Hanum Salsabiela Rais bersama tim ketika sedang bekerja alias melakukan peliputan untuk program Ramadhan sebuah stasiun teve swasta Indonesia. Lokasi liputannya adalah Eropa, sasaran liputannya adalah kaum Muslim yang hidup di benua itu beserta segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan berhijab (yang pasti mereka tahu hijab = Muslim). Kaum Muslimnya pun bukan semata-mata yang lahir dan besar di Eropa melainkan juga Orang Indonesia! Seperti Bunda Ikoy … misalnya. Hmm. Nampaknya stigma Muslim = teroris masih saja menghantui mereka meskipun teknologi yang mereka gunakan milyaran persen di atas teknologi manusia gua.

Berjalan di Atas Cahaya melibatkan dua kontributor lain yaitu Tutie Amaliah dan Wardatul Ula meskipun Hanum masih mendominasi dengan kisah-kisah ajaibnya. Saya jamin kalian akan sangat kaya pengetahuan setelah membaca Berjalan di Atas Cahaya. Salah satu yang paling saya gemari adalah Fenomena Gajah Terbang. Bagaimana kita, manusia yang berdosa ini, paling sering terkena sindrom fenomena gajah terbang. Meskipun kita tahu tidak ada gajah yang bisa terbang tapi begitu dengar kalimat, “lihat, gajah terbang!” pasti kepala langsung mendongak ke langit. Hehe. Artinya, janganlah langsung berpendapat pada sesuatu berdasarkan pendapat orang lain. Ah, keren sekali deh.

Kisah lain yang juga tak kalah seru adalah tentang Nur Dann. Si cantik ini berdakwah dengan cara nge-rap! Yoo-hoo. Karena Hanum juga melampirkan foto si Nur Dann, saya ternganga. Amboy, cantik sekali lah dia. Kisah lainnya adalah tentang Bunda Ikoy; Orang Indonesia yang sukses bekerja di perusahaan jam kelas dunia. Ya, mereka berjuang untuk bekerja dan hidup baik di tanah sekuler tersebut tanpa harus melepaskan hijab sebagai jati diri ke-Islam-annya. Taruhannya adalah iman. Sanggupkah kita menjaga iman ini tetap seperti yang kita inginkan?


Lima buku di atas betul-betul membikin otak saya seakan dibelah, pecah, membuka, untuk menampung lebih banyak hal-hal positif. Apakah dengan membaca buku-buku itu membawa perubahan dalam hidup saya? Ya, tentu. Lebih pandai memilah dan memilih, itu salah satunya. Tapi bukan berarti saya terbebas dari segala hal manusiawi lainnya. Tidak dooong. Namanya juga manusia, kesalahan masih tetap terjadi/ada. Kalau hanya karena membaca buku-buku self improvement saya kemudian tidak melakukan satu pun kesalahan, itu luar biasa hahaha. Tapi yang jelas, ada perubahan baik dalam hidup saya.

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Semoga kalian juga punya kesempatan membaca buku-buku di atas. Amin. Tidak harus sekarang. Kapan saja kalian punya waktu/kesempatan. Karena, membaca tidak akan pernah membikin kita merugi.

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar


Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar. Pada pos Sabtu berjudul Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa saya sudah berjanji untuk menyelesaikan proses membaca buku-buku itu. Belum semuanya tuntas terbaca, pasal pekerjaan bertubi-tubi tidak dapat ditunda, datang lagi satu buku berjudul Filosofi Teras. Demi tekad menuntaskan tiga buku self improvement, para nutrisi otak dan makanan jiwa, saya tidak berani menyobek plastik pelindung Filosofi Teras meskipun hasrat terus meronta. Buka! Ayo, buka! Saya harus patuh pada komitmen sendiri. Alhamdulillah, salah satu buku self improvement itu selesai dibaca, then. Meskipun tulisan tentang Firebender sudah siap dipublis lebih dahulu, saya justru mempublis salah satu buku itu terlebih dahulu. Hari ini.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Tiga buku self improvement itu berjudul: 

1. Mendaki Tangga Yang Salah.
2. Bicara Itu Ada Seninya.
3. Seni Hidup Minimalis.

Saya memulai dari Seni Hidup Minimalis, tetapi justru menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah. Seni Hidup Minimalis lantas dipinjam teman. Mendaki Tangga Yang Salah merupakan buku yang membikin saya tidak bisa berhenti sejak halaman pertama. Berbeda dari buku self improvement lainnya, buku ini tidak menggurui secara langsung, tetapi mendidik secara tidak langsung melalui kisah-kisah inspiratif lainnya hingga beragam teori, penelitian dan hasil penelitian tersebut. Bahkan banyak hal-hal konyol pula di dalamnya.

Mendaki Tangga Yang Salah


Sekilas, sampul buku ini mirip dengan Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Mirip, tapi tidak sama. Mendaki Tangga Yang Salah bersampul merah dengan tulisan besar warna hitam dan siluet/gambar tangga sederhana dan tagline(?) Barking Up The Wrong Tree. Correct me if I'm wrong. Atau tulisan di atas judul yang jadi tagline-nya? Oh ya, tulisan lain di atas judul itu adalah Sebagian Besar Hal yang anda Ketahui tentang Kesuksesan Adalah Salah Besar. Tulisan itu seperti bom yang meledak di dalam kepala orang-orang patuh seperti Chatur 'Silencer' Ramalingam (Omi Waidya) ketika tahu bahwa big boss-nya adalah Rancho (Aamir Khan) alias Phunsuk Wangdu. Dalam filem 3 Idiots kita tahu Chatur adalah si cerdas yang mengikuti sistem sekaligus penjilat yang selalu membenci Rancho saat masih kuliah.

Di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah pun kalian akan membaca kata 'penjilat' dalam lingkungan pekerjaan. Kita memang tidak bisa terlepas dari para penjilat, di manapun berada, termasuk di lingkungan pekerjaan. Mereka itu seperti makhluk astral. Tidak terlihat mata tetapi ada.


Well, buku ini ditulis oleh Eric Barker dan diterbitkan oleh P.T. Gramedia Pustama Utama pada tahun 2019. Sebanyak 360 halaman mengajarkan pembacanya tentang banyak hal untuk lebih mengenali diri sendiri. Istilahnya: mau jadi apa kita kelak? Kenali diri sendiri! Dan, ah ya, saya tidak bisa untuk melewatkan yang satu ini: buku Mendaki Tangga Yang Salah diberikan oleh Ibu Rosalin Togo atau lebih dikenal dengan panggilan Mami Ocha yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Kota Surabaya. Terima kasih, Mami ... Pahlawan Intelektual saya! Hehe.

Inspirasi Dalam Balutan Konyol


Eric Barker tidak berusaha menggurui, sudah saya tulis di atas, dia lebih condong pada memberikan contoh perilaku, kesuksesan orang-orang besar dunia, hingga beragam teori, serta penelitian dan hasil penelitian para profesor dan/atau para pakar. Garis besar, benang merah, Mendaki Tangga Yang Salah adalah kenali diri sendiri. Kalau kita tidak sependapat, biarkanlah ketidaksependapatan itu menjadi nilai demokrasi dalam me-review buku. Haha. Apabila manusia mengenali diri sendiri maka dia akan tahu tangga mana yang harus dinaiki. Bukan begitu poinnya? Bayangkan saja jika kita tahu, tidak pandai, atau tidak berbakat membikin sketsa tetapi terus-terusan memaksakan diri hingga akhir hayat. Apa yang kita capai? Nothing.

Sebanyak 6 bab disuguhkan oleh Mendaki Tangga Yang Salah. Setiap bab mempunyai keunikannya masing-masing tentang bagaimana cara orang-orang bisa sukses. Ambil contoh pada bab 1.

Bab 1 Mendaki Tangga Yang Salah memoroskan kalimat judul Jika Ingin Sukses, Haruskah Kita Bermain Aman dan Melakukan Apa Yang Diperintahkan Kepada Kita? Dalam ranah agama, ya harus donk. Hehe. Eric menulis tentang orang-orang tersaring dan orang-orang yang tidak tersaring. Orang-orang tersaring selalu mengikuti sistem, juara kelas atau setidaknya punya nilai akademis di atas rata-rata, dan kemudian masuk pada jaringan birokrasi atau bekerja mengikuti sistem yang ada, mungkin juga menjadi pemimpin. Orang-orang tidak tersaring cenderung eksentrik dan melakukan segalanya sekehendak hati, kadang pula dikenal bodoh, tapi mereka sangat terkenal di dunia ini. Eric Barker mengambil contoh William Churchill yang eksentrik dan selalu beranggapan Hitler sebagai ancaman. Dan paranoid Churchill dan sikapnya yang nyaris menghancurkan karirnya pada awal mula telah 'menyelamatkan' rakyat Inggris.

Kalau boleh saya tulis, pembangkang sangat tidak disukai dalam lingkungan kerja, tapi atasan yang bijak harus mampu merangkul si pembangkang dan memanfaatkan enerji berlimpahnya untuk kemajuan perusahaan. Pembangkang identik dengan orang-orang kreatif yang tidak puas pada sistem dan memandang sistem sebagai borgol kreativitas. Apabila kalian adalah atasan, janganlah mendepak para pembangkang begitu saja. Mungkin saja pembangkang itu berada pada unit yang salah sehingga dia merasa bosan dan terus-terusan membikin Anda emosi jiwa. Hehe.

Churchill memang telah menyelamatkan Inggris dari NAZI, tapi sikap eksentrik dan fanatisme Churchill tidak bisa diaplikasikan pada perkara-perkara lain bukan? Oleh karena itu Eric Barker tidak saja menulis tentang keberhasilan atau sisi positif segala sesuatu tetapi juga sisi negatifnya. Seperti sisi negatifnya manusia dengan gen SCN9A.

Semua orang tentu ingin menjadi seperti Ashlyn Blocker yang tidak pernah merasa nyeri. Ashlyn memiliki gen SCN9A dimana sinyal-sinyal nyeri tidak bisa mencapai otaknya. Super hero! Tentu. Siapa sih yang tidak mau seperti Ashlyn? Dane Inouye menulis bahwa pasien Congenital Insensitivity to Pain with Anhidrosis (CIPA) bisa dianggap Superman karena mereka tidak merasakan nyeri ragawi, tetapi ironisnya, apa yang memberi 'kekuatan super' kepada mereka juga merupakan kryptonite mereka. Pasti kalian bertanya: kok bisa? Ya bisa. Tidak merasakan nyeri dapat menghancurkan karena bayangkan saja kalau tulang kaki atau tulang tangannya patah tanpa dia rasakan dan kerusakan tulang itu kemudian merusak ke jaringan sehat lainnya? 

It's like ... BHOOOMMM!

Ternyata Ashlyn tidak baik-baik saja bukan?

Salah satu orang hebat yang sangat menarik perhatian saya dari Mendaki Tangga Yang Salah adalah tentang pidato Steve Jobs. Inti pidatonya adalah apa yang ingin kita capai dalam hidup ini bisa dilakukan dengan memikirkan kematian. Apakah saat mati nanti kita ingin dikenang sebagai pecundang, pemenang, orang baik, atau tukang fitnah? Kita yang pilih. Apabila menginginkan kematian kita menjadi momen bertemunya banyak manusia hidup yang mengenang kebaikan, jasa, perbuatan kita selama hidup, maka jalanilah hidup yang seperti itu. Seperti yang kita inginkan yaitu dikenang orang (tentang kebaikan) saat kita mati. Saya terbahak-bahak membacanya. Logika yang luar biasa nancap dalam kepala.

Masih banyak hal lainnya yang perlu kalian ketahui dari Mendaki Tangga Yang Salah tetapi tentu saya tidak boleh menulis semuanya di pos ini. Ketahuilah, Churchill, Ashlyn, dan Steve Jobs hanyalah tiga contoh kecil dari contoh lain, kisah inspiratif lain, di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah. Contoh-contoh itu, kisah orang-orang di dalam buku itu, tidak saja mendidik pembacanya tetapi secara tidak langsung sekaligus menghibur. Kapan lagi kita tahu sejarah orang-orang hebat, atau kisah inspiratif orang-orang yang tidak pernah menyerah?

Kalau begitu ... apakah kita harus mendaki tangga yang benar?

Mendaki Tangga Yang Benar


Membaca buku Mendaki Tangga Yang Salah mengarahkan pikiran saya pada mendaki tangga yang benar tetapi tidak selamanya harus selalu tangga yang benar dari awal. Kita bisa berpindah tangga apabila tahu bahwa tangga pertama itu salah. Oleh karena itu sampul buku Mendaki Tangga Yang Salah disertai gambar/siluet dua tangga kayak tangga lapangannya karyawan PLN atau P.T. Telkom. Tangga dua kaki, tangga teleskopik, atau apapun namanya. Kalau bukan tangga yang kanan, berarti tangga yang kiri. Kira-kira seperti itulah yang ingin disampaikan Eric Barker. Jangan terus-terusan memaksakan diri pada sesuatu pekerjaan yang tidak akan membawa kita pada kesuksesan.


Saya mencerna tentang tangga yang benar ini.

Pertama, jangan sampai salah memilih tangga. Tetapi, apabila tangga itu salah, kita masih bisa bermanuver mengganti tangga yang lain. Ini berkaitan dengan bakat dan hasrat. Apakah ada yang mau selamanya berada dalam lingkaran setan yang membosankan? Tentu tidak. Kenali tangga yang sedang kalian, atau saya, naiki saat ini. Kalau tangganya sudah benar, berusahalah semaksimal mungkin mencurahkan segala daya upaya untuk menaiki tangga itu hingga puncak. Mencapai puncak, tidak harus menjadi penjilat, tetapi jadilah yang paling bersinar.

Kedua, kenali diri sendiri untuk mencapai sesuatu. Jangan sampai kita menjadi orang yang tidak mengenali siapa dan apa diri kita sendiri sehingga sulit untuk menentukan arah. Kalau kata Bapa saya, maju satu langkah mundur dua kali. Itu filosofinya sangat dalam. Dan saya sadari, filosofi itu mirip dengan apa yang disampaikan Eric Barker dalam Mendaki Tangga Yang Salah. Hal serupa juga pernah diaktakan oleh Esty Durahsanty dari Konsulat Jenderal AS di Talkshow Pameran Wirausaha Berkelanjutan oleh E.thical yaitu Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Orang-orang yang mendengarnya dan menangkapnya secara lurus akan menertawai. Maklumi saja, mereka tidak membiarkan logika bekerja.

Ketiga, bekerja keras itu wajib. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Bahkan seorang ahli matematika pun bekerja keras sepanjang hidupnya meskipun telah meraih begitu banyak penghargaan dan menghasilkan ahli matematika lainnya. Bekerja keras harus dibarengi dengan optimisme yang kuat. Perpaduan keduanya akan membikin kalian terkejut.

Satu pesan yang juga menarik dari Mendaki Tangga Yang Salah, untuk kita bisa mendaki tangga yang benar adalah tentang kemampuan mengelola. Mengelola sesuatu yang membosankan menjadi permainan yang menyenangkan. Mengelola sesuatu yang kita benci menjadi, tetap, permainan yang menyenangkan. Kita yang pilih, seperti yang dikatakan oleh Steve Jobs bukan? Dengan menjadikan segala sesuatu sebagai permainan yang menyenangkan kita akan membikin target dan berupaya memenuhi target dimaksud. Bukankah permainan adalah tentang target dan pencapaian (kemenangan)? Bukankah permainan dipenuhi tantangan yang membikin kita geregetan kalau tidak bisa melewatinya dengan gemilang? Cobain deh mengubah sesuatu yang menjengkelkan menjadi permainan (otak) yang menyenangkan.

⇜⇝

Alhamdulillah sudah menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah dan sudah berbagi dengan kalian. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Setelah Upin Ipin Yang Mengedukasi Terbitlah Larva

Saya yakin kita semua ingin mendaki tangga yang benar untuk mencapai tujuan (hidup). Tapi jangan pernah merasa menjadi orang yang kalah ketika kalian (atau saya) sadar bahwa ternyata kita sudah mendaki tangga yang salah. Gantilah segera tangga itu secepatnya setelah tersadar. Karena, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali? Yang setuju, komen di bawah. Hehe.

#SabtuReview



Cheers.

Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar


Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar. Pada pos Sabtu berjudul Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa saya sudah berjanji untuk menyelesaikan proses membaca buku-buku itu. Belum semuanya tuntas terbaca, pasal pekerjaan bertubi-tubi tidak dapat ditunda, datang lagi satu buku berjudul Filosofi Teras. Demi tekad menuntaskan tiga buku self improvement, para nutrisi otak dan makanan jiwa, saya tidak berani menyobek plastik pelindung Filosofi Teras meskipun hasrat terus meronta. Buka! Ayo, buka! Saya harus patuh pada komitmen sendiri. Alhamdulillah, salah satu buku self improvement itu selesai dibaca, then. Meskipun tulisan tentang Firebender sudah siap dipublis lebih dahulu, saya justru mempublis salah satu buku itu terlebih dahulu. Hari ini.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Tiga buku self improvement itu berjudul: 

1. Mendaki Tangga Yang Salah.
2. Bicara Itu Ada Seninya.
3. Seni Hidup Minimalis.

Saya memulai dari Seni Hidup Minimalis, tetapi justru menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah. Seni Hidup Minimalis lantas dipinjam teman. Mendaki Tangga Yang Salah merupakan buku yang membikin saya tidak bisa berhenti sejak halaman pertama. Berbeda dari buku self improvement lainnya, buku ini tidak menggurui secara langsung, tetapi mendidik secara tidak langsung melalui kisah-kisah inspiratif lainnya hingga beragam teori, penelitian dan hasil penelitian tersebut. Bahkan banyak hal-hal konyol pula di dalamnya.

Mendaki Tangga Yang Salah


Sekilas, sampul buku ini mirip dengan Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Mirip, tapi tidak sama. Mendaki Tangga Yang Salah bersampul merah dengan tulisan besar warna hitam dan siluet/gambar tangga sederhana dan tagline(?) Barking Up The Wrong Tree. Correct me if I'm wrong. Atau tulisan di atas judul yang jadi tagline-nya? Oh ya, tulisan lain di atas judul itu adalah Sebagian Besar Hal yang anda Ketahui tentang Kesuksesan Adalah Salah Besar. Tulisan itu seperti bom yang meledak di dalam kepala orang-orang patuh seperti Chatur 'Silencer' Ramalingam (Omi Waidya) ketika tahu bahwa big boss-nya adalah Rancho (Aamir Khan) alias Phunsuk Wangdu. Dalam filem 3 Idiots kita tahu Chatur adalah si cerdas yang mengikuti sistem sekaligus penjilat yang selalu membenci Rancho saat masih kuliah.

Di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah pun kalian akan membaca kata 'penjilat' dalam lingkungan pekerjaan. Kita memang tidak bisa terlepas dari para penjilat, di manapun berada, termasuk di lingkungan pekerjaan. Mereka itu seperti makhluk astral. Tidak terlihat mata tetapi ada.


Well, buku ini ditulis oleh Eric Barker dan diterbitkan oleh P.T. Gramedia Pustama Utama pada tahun 2019. Sebanyak 360 halaman mengajarkan pembacanya tentang banyak hal untuk lebih mengenali diri sendiri. Istilahnya: mau jadi apa kita kelak? Kenali diri sendiri! Dan, ah ya, saya tidak bisa untuk melewatkan yang satu ini: buku Mendaki Tangga Yang Salah diberikan oleh Ibu Rosalin Togo atau lebih dikenal dengan panggilan Mami Ocha yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Kota Surabaya. Terima kasih, Mami ... Pahlawan Intelektual saya! Hehe.

Inspirasi Dalam Balutan Konyol


Eric Barker tidak berusaha menggurui, sudah saya tulis di atas, dia lebih condong pada memberikan contoh perilaku, kesuksesan orang-orang besar dunia, hingga beragam teori, serta penelitian dan hasil penelitian para profesor dan/atau para pakar. Garis besar, benang merah, Mendaki Tangga Yang Salah adalah kenali diri sendiri. Kalau kita tidak sependapat, biarkanlah ketidaksependapatan itu menjadi nilai demokrasi dalam me-review buku. Haha. Apabila manusia mengenali diri sendiri maka dia akan tahu tangga mana yang harus dinaiki. Bukan begitu poinnya? Bayangkan saja jika kita tahu, tidak pandai, atau tidak berbakat membikin sketsa tetapi terus-terusan memaksakan diri hingga akhir hayat. Apa yang kita capai? Nothing.

Sebanyak 6 bab disuguhkan oleh Mendaki Tangga Yang Salah. Setiap bab mempunyai keunikannya masing-masing tentang bagaimana cara orang-orang bisa sukses. Ambil contoh pada bab 1.

Bab 1 Mendaki Tangga Yang Salah memoroskan kalimat judul Jika Ingin Sukses, Haruskah Kita Bermain Aman dan Melakukan Apa Yang Diperintahkan Kepada Kita? Dalam ranah agama, ya harus donk. Hehe. Eric menulis tentang orang-orang tersaring dan orang-orang yang tidak tersaring. Orang-orang tersaring selalu mengikuti sistem, juara kelas atau setidaknya punya nilai akademis di atas rata-rata, dan kemudian masuk pada jaringan birokrasi atau bekerja mengikuti sistem yang ada, mungkin juga menjadi pemimpin. Orang-orang tidak tersaring cenderung eksentrik dan melakukan segalanya sekehendak hati, kadang pula dikenal bodoh, tapi mereka sangat terkenal di dunia ini. Eric Barker mengambil contoh William Churchill yang eksentrik dan selalu beranggapan Hitler sebagai ancaman. Dan paranoid Churchill dan sikapnya yang nyaris menghancurkan karirnya pada awal mula telah 'menyelamatkan' rakyat Inggris.

Kalau boleh saya tulis, pembangkang sangat tidak disukai dalam lingkungan kerja, tapi atasan yang bijak harus mampu merangkul si pembangkang dan memanfaatkan enerji berlimpahnya untuk kemajuan perusahaan. Pembangkang identik dengan orang-orang kreatif yang tidak puas pada sistem dan memandang sistem sebagai borgol kreativitas. Apabila kalian adalah atasan, janganlah mendepak para pembangkang begitu saja. Mungkin saja pembangkang itu berada pada unit yang salah sehingga dia merasa bosan dan terus-terusan membikin Anda emosi jiwa. Hehe.

Churchill memang telah menyelamatkan Inggris dari NAZI, tapi sikap eksentrik dan fanatisme Churchill tidak bisa diaplikasikan pada perkara-perkara lain bukan? Oleh karena itu Eric Barker tidak saja menulis tentang keberhasilan atau sisi positif segala sesuatu tetapi juga sisi negatifnya. Seperti sisi negatifnya manusia dengan gen SCN9A.

Semua orang tentu ingin menjadi seperti Ashlyn Blocker yang tidak pernah merasa nyeri. Ashlyn memiliki gen SCN9A dimana sinyal-sinyal nyeri tidak bisa mencapai otaknya. Super hero! Tentu. Siapa sih yang tidak mau seperti Ashlyn? Dane Inouye menulis bahwa pasien Congenital Insensitivity to Pain with Anhidrosis (CIPA) bisa dianggap Superman karena mereka tidak merasakan nyeri ragawi, tetapi ironisnya, apa yang memberi 'kekuatan super' kepada mereka juga merupakan kryptonite mereka. Pasti kalian bertanya: kok bisa? Ya bisa. Tidak merasakan nyeri dapat menghancurkan karena bayangkan saja kalau tulang kaki atau tulang tangannya patah tanpa dia rasakan dan kerusakan tulang itu kemudian merusak ke jaringan sehat lainnya? 

It's like ... BHOOOMMM!

Ternyata Ashlyn tidak baik-baik saja bukan?

Salah satu orang hebat yang sangat menarik perhatian saya dari Mendaki Tangga Yang Salah adalah tentang pidato Steve Jobs. Inti pidatonya adalah apa yang ingin kita capai dalam hidup ini bisa dilakukan dengan memikirkan kematian. Apakah saat mati nanti kita ingin dikenang sebagai pecundang, pemenang, orang baik, atau tukang fitnah? Kita yang pilih. Apabila menginginkan kematian kita menjadi momen bertemunya banyak manusia hidup yang mengenang kebaikan, jasa, perbuatan kita selama hidup, maka jalanilah hidup yang seperti itu. Seperti yang kita inginkan yaitu dikenang orang (tentang kebaikan) saat kita mati. Saya terbahak-bahak membacanya. Logika yang luar biasa nancap dalam kepala.

Masih banyak hal lainnya yang perlu kalian ketahui dari Mendaki Tangga Yang Salah tetapi tentu saya tidak boleh menulis semuanya di pos ini. Ketahuilah, Churchill, Ashlyn, dan Steve Jobs hanyalah tiga contoh kecil dari contoh lain, kisah inspiratif lain, di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah. Contoh-contoh itu, kisah orang-orang di dalam buku itu, tidak saja mendidik pembacanya tetapi secara tidak langsung sekaligus menghibur. Kapan lagi kita tahu sejarah orang-orang hebat, atau kisah inspiratif orang-orang yang tidak pernah menyerah?

Kalau begitu ... apakah kita harus mendaki tangga yang benar?

Mendaki Tangga Yang Benar


Membaca buku Mendaki Tangga Yang Salah mengarahkan pikiran saya pada mendaki tangga yang benar tetapi tidak selamanya harus selalu tangga yang benar dari awal. Kita bisa berpindah tangga apabila tahu bahwa tangga pertama itu salah. Oleh karena itu sampul buku Mendaki Tangga Yang Salah disertai gambar/siluet dua tangga kayak tangga lapangannya karyawan PLN atau P.T. Telkom. Tangga dua kaki, tangga teleskopik, atau apapun namanya. Kalau bukan tangga yang kanan, berarti tangga yang kiri. Kira-kira seperti itulah yang ingin disampaikan Eric Barker. Jangan terus-terusan memaksakan diri pada sesuatu pekerjaan yang tidak akan membawa kita pada kesuksesan.


Saya mencerna tentang tangga yang benar ini.

Pertama, jangan sampai salah memilih tangga. Tetapi, apabila tangga itu salah, kita masih bisa bermanuver mengganti tangga yang lain. Ini berkaitan dengan bakat dan hasrat. Apakah ada yang mau selamanya berada dalam lingkaran setan yang membosankan? Tentu tidak. Kenali tangga yang sedang kalian, atau saya, naiki saat ini. Kalau tangganya sudah benar, berusahalah semaksimal mungkin mencurahkan segala daya upaya untuk menaiki tangga itu hingga puncak. Mencapai puncak, tidak harus menjadi penjilat, tetapi jadilah yang paling bersinar.

Kedua, kenali diri sendiri untuk mencapai sesuatu. Jangan sampai kita menjadi orang yang tidak mengenali siapa dan apa diri kita sendiri sehingga sulit untuk menentukan arah. Kalau kata Bapa saya, maju satu langkah mundur dua kali. Itu filosofinya sangat dalam. Dan saya sadari, filosofi itu mirip dengan apa yang disampaikan Eric Barker dalam Mendaki Tangga Yang Salah. Hal serupa juga pernah diaktakan oleh Esty Durahsanty dari Konsulat Jenderal AS di Talkshow Pameran Wirausaha Berkelanjutan oleh E.thical yaitu Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Orang-orang yang mendengarnya dan menangkapnya secara lurus akan menertawai. Maklumi saja, mereka tidak membiarkan logika bekerja.

Ketiga, bekerja keras itu wajib. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Bahkan seorang ahli matematika pun bekerja keras sepanjang hidupnya meskipun telah meraih begitu banyak penghargaan dan menghasilkan ahli matematika lainnya. Bekerja keras harus dibarengi dengan optimisme yang kuat. Perpaduan keduanya akan membikin kalian terkejut.

Satu pesan yang juga menarik dari Mendaki Tangga Yang Salah, untuk kita bisa mendaki tangga yang benar adalah tentang kemampuan mengelola. Mengelola sesuatu yang membosankan menjadi permainan yang menyenangkan. Mengelola sesuatu yang kita benci menjadi, tetap, permainan yang menyenangkan. Kita yang pilih, seperti yang dikatakan oleh Steve Jobs bukan? Dengan menjadikan segala sesuatu sebagai permainan yang menyenangkan kita akan membikin target dan berupaya memenuhi target dimaksud. Bukankah permainan adalah tentang target dan pencapaian (kemenangan)? Bukankah permainan dipenuhi tantangan yang membikin kita geregetan kalau tidak bisa melewatinya dengan gemilang? Cobain deh mengubah sesuatu yang menjengkelkan menjadi permainan (otak) yang menyenangkan.

⇜⇝

Alhamdulillah sudah menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah dan sudah berbagi dengan kalian. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Setelah Upin Ipin Yang Mengedukasi Terbitlah Larva

Saya yakin kita semua ingin mendaki tangga yang benar untuk mencapai tujuan (hidup). Tapi jangan pernah merasa menjadi orang yang kalah ketika kalian (atau saya) sadar bahwa ternyata kita sudah mendaki tangga yang salah. Gantilah segera tangga itu secepatnya setelah tersadar. Karena, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali? Yang setuju, komen di bawah. Hehe.

#SabtuReview



Cheers.