Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android


Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android. Sering lihat teman punya lebih dari satu akun Facebook. Alasan yang pertama: karena quota perteman sudah penuh, alasan yang kedua: lupa username dan password sehingga perlu bikin akun baru, alasan yang ketiga: akun diretas. Saya hanya punya satu akun Facebook, the one and only, dan belum kepikiran untuk membikin akun tambahan. Tetapi saya mengelola banyak akun Facebook dari akun utama tersebut khususnya akun grup dan fanpage khususnya yang berkaitan dengan kampus. Sama juga dengan Twitter, saya mengelola lebih dari satu akun di luar akun pribadi alias akun utama, karena berbagai sebab antara lain komunitas dan kampus. Tapi khusus Instagram (IG) saya benar-benar hanya mengelola satu akun pribadi! Tidak ada akun lain yang saya kelola.

Baca Juga: Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru

Adalah satu kemudahan ketika kita mendaftar satu akun, khususnya media sosial, tetapi bisa mengelola akun lainnya yang ditambahkan. Sehingga untuk berpindah akun tidak perlu melakukan log out dan log in yang tentunya rempong sekali, tetapi cukup klik akun mana yang ingin diaktifkan/dipakai untuk pos sesuatu. Sangat mudah terutama untuk para pengguna Android.

Seperti yang sudah saya tulis, berbeda dengan Facebook dan Twitter yang mana saya mengelola banyak akun tanpa harus log out dan log in kembali, menambah akun di IG adalah perkara yang benar-benar baru bagi saya karena mengepos di IG pun tidak serajin mengepos di Facebook dan Twitter. Orang lain tentu sudah tahu tentang perkara yang satu ini karena ada pengguna yang ingin memisahkan antara akun Instagram (IG) pribadi dengan akun IG khusus bisnis. Sedangkan saya harus belajar dan mencari tahu sana sini agar bisa melakukannya.

Apa pasal sampai saya ngotot menambahkan akun IG? Cekidot.

Bertemu Abhi Ray


Sudah saya bilang kalau saya jarang mengepos di IG, otomatis jarang pula memerhatikan DM-nya. Sampai kemudian Kakak Rohyati Sofyan mengajak ikutan Indonesia Saling Follow di IG. Baru saya ngeh ternyata ada banyak DM dari teman-teman dan salah satunya dari Abhi Ray. Abhi Ray adalah sahabat blog sejak zaman dulu kala, sekitar tahun 2003 atau 2004-an yang dikenal sebagai salah seorang founder Segelas Air Putih. Segelas Air Putih awalnya melalui sebuah mailing-list, tempat berbagi cerita inspiratif yang membangun dan memotivasi, kemudian pakai .org, dan sangat membantu saya dalam mengelola program radio yang berhubungan dengan kisah-kisah inspirasi. Tentu, membaca kisah-kisah inspirasi di Radio Gomezone waktu itu atas ijin Abhi Ray dan kawan-kawan juga.

DM Abhi Ray itu bertanya tentang nomor WA. Selanjutnya kami mengobrol lewat WA. Inilah yang membikin saya terharu. Saya baru sekali bertemu Abhi Ray saat ke Jakarta dulu, tahu persis orangnya super baik. Sifatnya yang menginspirasi dan memotivasi tidak bisa hilang, pun saat kami mengobrol via WA. Abhi Ray menyarankan saya untuk membikin akun IG yang berkaitan dengan informasi wisata dan/atau suatu daerah. Beliau bahkan menyarankan nama-nama akunnya. Awalnya saya berkata pada beliau bahwa untuk perkara-perkara informasi berkaitan dengan wisata atau daerah itu sudah tersedia di I am Blocpacker, blog travel milik saya. Tapi kata Abhi Ray, zaman berubah, blog mungkin masih tapi IG lebih.

Ide tentang IG ini menarik juga. Maka malam itu saya mencoba mencari tahu caranya menambah akun baru di IG. Karena, oh yaaaa saya tidak tahu. Uh lala syekali kan. Hehe. Ternyata caranya sangat mudah, hampir sama dengan menambah akun di Twitter.

Dua Akun IG Dalam Satu Aplikasi


Caranya ternyata lumayan mudah. Berdasarkan pengalaman saya, pakailah nomor telepon genggam yang dipasang di perangkat smartphone, lagi pula e-mail saya sudah dipakai untuk mendaftar akun IG pertama kali dulu. Setelah nomor teleponnya ready, mari mendaftar. Pertama-tama tentu harus membuka aplikasi IG terlebih dahulu *ngikik*.


Klik beranda / akun IG kita di pojok kanan bawah samping kanannya ikon hati. Kalau sudah di beranda akun kita, lihat pojok kanan atas, itu nama akunnya @tutehpharmantara. Lihat yang saya lingkari merah? Klik di situ.


Maka akan terbuka halaman seperti pada gambar di atas. Lihat, ada tulisan Tambahkan Akun seperti yang saya lingkari merah di atas. Itu saya screenshoot dalam posisi sudah mendaftar/menambah akun @info_flores (sudah daftar ini ceritanya). Klik tambah akun, maka pengguna akan diantar pada halaman pendaftaran awal, seperti kita mendaftar pertama kali. Ikuti langkah-langkahnya sampai selesai. Dan, akhirnya akun @info_flores pun sudah jadi. Saya tidak menampilkan screenshoot langkah-langkahnya di sini hahaha. Soalnya akunnya sudah jadi dan tidak kepikiran untuk membikin lagi. Pokoknya tidak susah dan tidak rempong kok menambah akun di IG ini.


Akun @info_flores baru ada satu pos, dengan delapan pengikut. Jangan lupa untuk ikuti ya, pasti bakal diikuti balik!

Ternyata semudah itu menambah akun pada satu aplikasi IG di Android.

Baca Juga: Teknik, Koreo, dan Seni Pada Sesi Foto Prewedding

Saat ini saya sedang mengumpulkan materi untuk akun IG: @info_flores. Materinya juga ada yang diusulkan oleh Abhi Ray, dan memang saya punya banyak sekali materi untuk akun tersebut. Bisa diambil dari blog travel, bisa juga mengubek foto-foto yang masih tersimpan rapi di Google Photos, tinggal ditambah satu dua caption (paragraf) sebagai keterangan. Manapula saya bakal kembali keliling Pulau Flores sehingga bisa sekalian menambah isi @info_flores. Yang jelas foto-foto dan video (kalau mau video) bakal saya kasih tanda air dulu hehehe.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Berapa akun yang kalian punya di IG? Bagaimana dengan mengelolanya, susah atau mudah? Karena, konsisten merupakan hal yang cukup sulit untuk dijalani oleh saya dan/atau kalian.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Teknik, Koreo, dan Seni Pada Sesi Foto Prewedding


Teknik, Koreo, dan Seni Pada Sesi Foto Preweding. Sudah lama sahabat yang sudah saya anggap adik sendiri, Mila Wolo, meminta bantuan untuk foto prewedding. Prewedding-nya Mila dan kekasihnya yaitu Aram Ismail, bukan saya. Kita sepemahaman dulu dalam hal ini. Hahaha. Adalah sesuatu yang sulit menyatukan waktu begitu banyak orang. Menyatukan waktu Mila dan Aram saja harus mundur dari minggu ke minggu. Maklum, Mila menetap dan bekerja di Kota Ende, Aram yang asli Ende menetap dan bekerja di Kecamatan Pulau Ende. Mereka dipisahkan air garam. Hehe. Sedangkan kami yang membantu terwujudnya sesi foto prewedding itu juga punya aktivitas dan kesibukan sendiri.

Baca Juga: Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik

Pada akhirnya kesepakatan itu tiba. Sabtu, 21 September 2019, kami melakukannya. Sesi foto prewedding, bukan melakukan yang lain. Siapa-siapa yang terlibat dalam kegiatan ini selain saya?


1. Anto Ngga'a.
2. Kiki Abdullah.
3. Thika Pharmantara.
4. Solihin.

Sebenarnya ada seorang lagi yang saya ajak tapi dianya tidak bisa. Atau tidak mau? Ah, entahlah. Pokoknya dia tidak ikut. Eh? Kok jadi ngotot menulis si dia ini? Ah, sudahlah. Saya dan Anto Ngga'a harus minta ijin di kantor, keponakan saya Kiki pun harus mengurus tiga ibu hamil terlebih dahulu di puskesmas, Solihin (calon suaminya Kiki) sedang free time, Thika sedang tidak kuliah. Mari berangkat! Ada beberapa lokasi yang disepakati, termasuk dengan wardrobe yang sudah saya susun dan sebarkan ke para anggota huru-hara ini.

Lokasi Andalan yang Tutup


Merupakan kebanggaan kami, Orang Ende, bisa foto prewedding mengenakan pakaian adat dan difoto di rumah adat (manapun). Pukul 10.30 Wita sepakat berkumpul di depan Museum Tenun Ikat yang berbentuk rumah adat/panggung itu. Ndilalah area Taman Renungan Bung Karno (yang bertetangga dengan) dan Museum Tenun Ikat ditutup total. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan masuk. Siapalah kami, rakyat jelata yang cuma sedang mencari lokasi foto prewedding. Lokasi andalan yang tutup ini mengantar kami ke Pantai Mbu'u. Sebuah pantai dalam perjalanan menuju Wolotopo. Cuuuuum!

Matahari Tengah Kepala


Sangat sulit bagi Anto mencari spot dan titik bidik terbaik. Pukul 11.00 seharusnya sudah mulai sesi foto, tetapi Kiki dan Solihin malah baru tiba di Pantai Mbu'u. Dan, Kiki tidak mau kedatangannya sia-sia. Dia harus merias si Mila terlebih dahulu. Pokokny! Apalah daya ... kami pun menunggu dengan tabah ... sambil meminta Thika menulis papan ini. Oh ya, papan mini ini saya pesan di Melky, mahasiswa yang KKN-PPM di Desa Ngegedhawe. Sebenarnya papan tulis (hitam) tapi dia sudah terlanjur membikin warna cokelat. Hajar saja.


Setelah menunggu sekitar setengah abad, Mila pun sudah selesai dirias. Mari kita memulai! Dan Anto semakin pusing kepala karena matahari sudah berada di tengah kepala alias sulit mendapatkan titik untuk membidik karena kami juga tidak membawa reflektor. Aslinya sih memang tidak punya reflektor, tapi kan kami bisa meminjam pada teman-teman fotografer. Ya sudahlah, semangat tidak boleh kendor. Mari kita abadikan!



Dari lokasi Pantai Mbu'u kami meluncur ke bakal kafe yang masih sedang dipersiapkan untuk dibuka. Lokasinya tidak jauh-jauh dari Pantai Mbu'u. Untungnya diijinkan untuk foto-foto di sana sama pemiliknya, cus kami menambal perut dengan menu-menu yang disiapkan sama yang punya gawe. Hahaha. Sambil makan, gantian mengarahkan gaya / koreo untuk Aram dan Mila. Gantian sama si Kiki.

Gedung Imaculata dan Pohon Tua


Gedung Imaculata, gedung bersejarah tempat Bung Karno mementaskan tonil-tonilnya, merupakan lokasi berikutnya. Lokasinya hanya lima langkah dari Pohon Tua (rumah saya). Tapi hari itu kami tidak mampir ke Pohon Tua terlebih dahulu melainkan langsung ke gedung tersebut. Dulu saya memang termasuk orang yang tidak setuju Gedung Imaculata dipugar 100% sampai kehilangan bentuk aslinya. Aaaah, siapalah saya. Haha. Yang penting sekarang bisa dinikmati oleh siapa saja.

Dan yang punya gawe malah sakit perut! Menunggulah kami *ngikik*.


Untuk sesi foto di Gedung Imaculata, make up harus diganti sama yang lebih tebal hahaha. Kiki kembali beraksi dan kami yang lain menunggu dengan sabar dan tabah. Huhuhu. Kasihan Anto belum makan ini, pikiran saya, tapi anaknya memang tidak rewel jadi santai saja. Kalau kata lagu, kasih sloooooow.


Lepas dari Gedung Imaculata barulah kami pulang ke Pohon Tua, sekalian makan siang, istirahat, untuk sesi berikutnya.


Lelah? Pasti. Sejak pukul 10.00 Wita hingga menjelang maghrib. Makanya foto di atas itu bukan di dalam ruangan sebenarnya melainkan di teras rumah saya haha.

Tekni, Koreo, dan Seni


Ini yang mau saya bahas di pos hari ini. Saya pernah memang foto prewedding orang lain. Tapi waktu itu fotonya tidak dengan pasukan lengkap dan harus menggunakan metode tertentu *tsah*. Manapula masih susah untuk mengkoreo (bahasanyaaaaa) yang punya gawe. Pada sesi foto yang ini, saya belajar banyak teknik, koreo, dan seni sebuah sesi foto prewedding. Lagi pula saya kan bukan fotografer. Apalaaaah saya ini.


Terbiasa mengabadikan momen pernikahan, misalnya, bukan berarti langsung bisa untuk melakukannya saat sesi foto prewedding. Teknik yang saya pelajari dari Anto sangat banyak: pencahayaan, komposisi ini itu, sampai ratio dan sudut pengambilan.

Dari teknik, kita bergeser ke koreo dan seni. Keduanya melekat erat. Mengarahkan calon pengantin dalam sesi foto prewedding tidak semudah saat membidik akad nikah, misalnya. Sesi foto prewedding membutuhkan sedikit drama pengarahan. Mungkin ada yang bakal bilang mudah saja, kan tinggal lihat di internet, lalu dicontohkan. Tidak semudah itu. Kita harus memperhatikan kondisi si calon pengantin juga. Apakah mereka siap untuk koreo ini itu? Kalau mereka siap, hajar saja, kalau tidak ... ya terpaksa diganti.

Di situ seninya. Lebih seni lagi kalau calon pengantinnya usil macam Aram, sering mencolek Mila, terus ngakak, terus diulang lagi. Begitu seterusnya.

Baca Juga: Jangan Hanya Tahu 2D Karena Animasi Itu Banyak Jenisnya

Ternyata, dari sebuah sesi foto prewedding saya belajar banyak hal. Komponen-komponen yang harus disiapkan sebelum sesi foto itu pun banyak: ragam properti pendukung, wardrobe, make up, lokasi, tukang bidik dengan skill mumpuni dan pandai membaca situasi, dan tentu yang punya gawe. Tanpa kehadiran si calon pengantin, apalah artinya sesi foto prewedding ini. Hahaha.

Bagaimana dengan kalian, pernahkah memotret prewedding teman juga? Bagi tahu yuk di komen.

#SelasaTekno



Cheers.

Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik


Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik. Saya pernah menulis pos berjudul 1 Video, 3 Aplikasi. Tentang bagaimana cara saya menyunting video menggunakan Sony Movie  Studio Platinum sebagai rumah utama, tetapi masih menggunakan aplikasi lain sebagai pembantu. Aplikasi lainnya itu adalah Photoscape dan Proshow Producer (saya menulisnya Proshow saja). Photoscape untuk menyunting gambar, apabila video yang dikerjakan menyisipkan gambar, soalnya saya tidak fasih dengan Photoshop. Sedangkan Proshow untuk menyatukan gambar menjadi video, dengan template layer yang keren, banyak efek, serta banyak pilihan transisi. Tidak mudah memang untuk menghasilkan video yang, menurut saya, baik.

Baca Juga: Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone

Hari ini saya mau kembali mengingatkan kalian tentang Proshow. Kenapa? Karena, jarang saya mendengar orang bercerita tentang Proshow, padahal aplikasi yang satu ini cukup bagus dipakai apabila hendak membikin video slide gambar/foto. Proshow sering saya pakai apabila ada teman meminta bantuan membikin video slide foto-foto prewedding untuk ditampilkan saat acara resepsi.

Jadi, apa itu Proshow? Cekidot.

Proshow


Proshow (Producer) merupakan salah satu produksi Photodex. Antarmukanya rata-rata sama dengan aplikasi sunting foto/video pada umumnya. Sepanjang saya memakai Proshow, belum menemukan tingkat kerumitan yang terlalu tinggi, karena aplikasi ini dibikin untuk memudahkan penggunanya membikin video slide. Selain itu, pengguna juga bisa menambahkan musik/sound untuk memperindah video yang dibikin. 


Saya mengenal Proshow dari seorang teman yang sudah saya anggap adik sendiri, Akim Yuven. Dia bahkan menunjukkan pada saya video-video yang sudah pernah dibikin menggunakan Proshow. Tertarik, saya memasang Proshow di laptop, dan mulai menggunakannya sampai dengan saat ini.

Mengulik Cara Kerja Proshow


Saat membuka Proshow, biasanya pengguna akan disuruh menambah gambar - musik - template terlebih dahulu, tapi semua itu bisa dibatalkan dan akan nampak antarmuka seperti gambar berikut ini:


Ada empat kotak dialog utama pada antarmukanya. Bagian folder gambar/video, bagian isi folder (di bawahnya folder), bagian tampilan (di sampingnya folder), dan paling bawah time line-nya yaitu time line gambar/video dan musik. Pada gambar di atas saya mengeklik folder Geng Pharmantara, dengan foto-foto kegiatannya keluarga kami, salah satu yang saya klik adalah keponakan: Rama - Indri - Syiva. Bisa dilihat di atas ya. Cukup jelas.


Lingkar merah adalah foto yang hendak dibikin slide, di atas ada empat foto, sedangkan lingkar kuning adalah transisi. Apabila pengguna hendak menyunting foto agar terlihat bergerak dengan berbagai slide keren, cukup klik dua kali pada foto dimaksud, maka akan terbuka kotak dialog pilihan gaya slide yang begitu banyak.


Di sinilah pengguna bekerja. Ada pilihan slide, layers, effects, caption, dan sounds. Silahkan pilih slide pada bagian kiri, dan silahkan disunting pada bagian kanan. Hebatnya, pilihan slide ini beragam, karena ada slide dengan satu layer, dua layer, bahkan sembilan layer. Sehingga pengguna bisa membikin satu slide dengan banyak foto, atau satu slide dengan satu foto. Pengaturan lainnya adalah efek bergeraknya (hitungan x - y panning, dan lain sebagainya).



Apabila pengguna mengeklik transisi, lingkar kuning seperti gambar sebelumnya di atas, maka akan keluar kotak dialog transisi. Proshow kaya akan transisi, beda jauh sama Sony Movie Studio Platinum yang terbatas transisinya sehingga harus memakai transisi pihak lain. Kelompok transisi bisa kalian lihat pada gambar di atas, ada blocks, patterns, themed, wipes, dan lain-lain. Inilah yang membikin saya menyukai Proshow. Transisinya kaya raya!

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Foto sudah oke, transisi oke, sampai pada musik pun oke (saya jarang pakai musik di sini), maka pengguna tinggal menyimpan hasil suntingannya. 




Create output, dan pilih video file. Silahkan disimpan. Selesai. Jangan kuatir dengan kualitas. Sudah HD kok. Hehe. Meskipun sekarang zamannya 4K tapi HD masih jadi pilihan.

'Rumah Besar' Sunting Video


Rumah besar sunting video saya adalah Sony Movie Studio Platinum. Saya memakai yang versi 13. Jadi, biasanya saya menyiapkan dulu elemen-elemen pembantu yang sudah dikerjakan di Proshow dan di Photoscape, lantas menyatukan semuanya di Sony Movie Studio Platinum. 


Gambar di atas, adalah gambar time line kerjaan sunting video di Sony Movie Studio Platinum 13. Bisalah kalian bayangkan betapa pusingnya otak saya menyatukan semua keperluan sebuah video. Berbeda dengan video dokumenter yang keseluruhannya terdiri atas video/gambar bergerak. Kalau foto, itu kita harus bisa menyesuaikan frame, menyesuaikan warna dan kecerahan, hingga durasi foto itu sendiri. Yang biasa sunting video pasti tahulah. Hehe.

Makanya, kalau biaya videografer agak mahal itu bukan saja karena kamera yang dipakai mahal, tetapi biaya menyunting yang mahal. Kalian bisalah tahu tentang ongkos listrik, ongkos kopi, ongkos cemilan (ini utama hahaha), sampai ongkos obat sakit pinggang kalau terlalu lama duduk di kursi pelototin layar laptop. Sampai sekarang saya masih mengandalkan Acer, belum punya rencana membeli komputer, rakitan, khusus untuk keperluan bekerja sunting video.

Baca Juga: Shapire OFX

Jadi itulah cara kerja Proshow yang masih asyik dipakai sampai sekarang. Tidak semua saya jelaskan, tidak sampai detail, karena feel dan sense itu harus dari penggunanya sendiri. Percayalah, ketika kalian sudah menggunakan suatu aplikasi sunting video, kalian bakal punya feel dan sense sendiri ketika proses kreatif berjalan. Semua itu sudah saya rasakan dan alami. Sayangnya, saya bukan Youtuber yang super aktif. Saya tidak pernah serius menjadi Youtuber, kalau untuk senang-senang, bolehlah. Haha.

Bagaimana dengan kalian? Pernahkah memakai Proshow?

#SelasaTekno



Cheers.

Jangan Hanya Tahu 2D Karena Animasi Itu Banyak Jenisnya

Gambar diambil dari Merdeka.

Jangan Hanya Tahu 2D Karena Animasi Itu Banyak Jenisnya. Dalam pikiran anak-anak, yang dikenal hanya satu kata: kartun. Selesai. Karena animasi yang mereka sebut kartun alias animasi 2D itu memang paling banyak diproduksi dan rata-rata ngetop sampai ke mancaplanet. Bahkan di tengah animasi stop motion yang beredar pun animasi 2D masih digemari. Tidak percaya? Doraemon,  Oggy and The Cockroaches, Crayon Shin-chan, Chibi Maruko-chan, Sailor Moon, The Power Puff Girls, One Piece, Sponge Bob, Avatar: The Legend of Aang, Dora The Explorer, Astro Boy, Upin Ipin, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya tulis satuper satu. 

Baca Juga: Teknologi Sederhana Alat Pemeras A-la Masyarakat Ende

Animasi 2D, meskipun banyak animasi 3D bahkan animasi stop motion, masih bisa merebut perhatian para penikmatnya. Oleh karena itu pada hari ini saya khusus menulis tiga jenis animasi yaitu 2D, 3D, dan stop motion. Mau tahu? Yuk dibaca sampai selesai.

Animasi 2D


Pada paragraf pembuka di atas tentu kalian sudah tahu contoh-contoh animasi 2 Dimensi alias 2D itu. Yang paling sering saya tonton ya Upin Ipin! Dahulu kala, saya pernah bertanya pada Bapa (alm.) tentang filem kartun alias animasi ini. Kata Bapa, pembuatan filem kartun jauh lebih sulit karena kartun terdiri dari begitu banyak gambar yang kemudian disatukan sehingga menjadi gambar bergerak. Para pembuatnya harus menggambar satu per satu gerakan tersebut sebelum dijadikan satu. Lantas Bapa mencontohkannya dengan buku. Sekarang saya tahu kalau buku itu bernama flipbook. Itu penjelasan dari Bapa, waktu saya masih kecil, saat belum ada internet seperti sekarang ini. Kan sekarang tinggal mencari di mesin pencari, pasti dapat informasinya. Haha.

Bersumber dari Wikipedia, filem animasi atau animasi merupakan hasil pengolahan gambar tangan sehingga menjadi gambar bergerak. Membikin animasi 2D ada yang konvensional ada yang digital. Yang konvensional, masih menurut Wikipedia, menggunakan teknik celluloid (kadang disebut cell saja). Ini merupakan teknik mendasar dalam pembuatan filem animasi klasik, sebut saja Tom & Jerry. Setelah gambar menjadi sebuah rangkaian gerakan maka gambar tersebut akan ditransfer ke atas lembaran transparan (plastik) yang tembus pandang. Pewarnaan dilakukan. Lalu filem akan direkam dengan kamera khusus, yaitu multiplane camera di dalam ruangan yang serba hitam.

Gambar diambil dari: Imdb.

Obyek utama yang mengeksploitasi gerak dibuat terpisah dengan latar belakang dan latar depan yang statis alias tidak bergerak. Dengan demikian latar belakang dan latar depan dibikin hanya satu kali saja untuk menyiasati pembuatan gambar yang terlalu banyak. Kalau kalian menonton Oggy and The Cockroaches, jelas ya ruang makan Oggy ya begitu saja, tidak ada yang bergerak dari latar belakang dan latar depannya, cuma fokus pada Oggy dan tiga kecoak serta teman-teman lainnya. Itu, dua dimensi. 2D bisa menjadi 3D kalau memang bikin khusus untuk ditonton menggunakan kacamata 3D. Hayooo siapa yang dulu punya kacamatan 3D?

Animasi 3D


Setelah animasi 2D yang bisa dibikin secara konvensional dan digital (tentu lebih mudah), maka berikutnya muncul animasi 3 dimensi alias 3D. Kalau 2D terkesan datar maka 3D itu lebih dalam karena ada ilusi persepsi kedalamannya. Sehingga animasi 3D membikin filem tersebut nampak lebih nyata dari 2D. Menurut Wikipedia, animasi 3D atau disebut filem S3D (3D stereoscopic) adalah filem yang meningkatkan ilusi persepsi kedalaman.

Gambar diambil dari: Amazon.

Makanya kalau menonton animasi 3D rasanya lebih gimanaaaa gitu dari animasi 2D. Contoh animasi 3D ini banyak sekali dan rata-rata bukan serial televisi melainkan filem bioskop dan/atau berdurasi panjang. Ada contohnya, Teh? Ada doooonk. Tahun 1995 kita sudah menonton Toy Story. Hanya Toy Story? Ya tidak dooonk. UP, Wall-E, How to Train Your Dragon, Ice Age, The Incredibles, Monster Inc., The Lego Movie, Moana, Frozen, Finding Nemo, sampai yang kuning-kuning dari Negara Kuning - haha - apalagi kalau bukan Minnion dan Despicable Me.

Animasi Stop Motion


Ini dia yang proses membikinnya banyak beredar melalui video-video di Youtube. Menurut Wikipedia, gerak henti atau stop motion adalah sebuah teknik animasi untuk membuat obyek yang dimanipulasi secara fisik agar terlihat bergerak dengan sendirinya. Obyek tersebut digerakkan sedikit demi sedikit di setiap frame yang akan difoto. Boneka dengan sendi yang dapat digerakkan atau figur tanah liat sering digunakan dalam stop motion karena alasan kemudahan meletakkannya kembali. Animasi stop motion menggunakan tanah liat makanya disebut juga dengan clay mation.

Gambar diambil dari: Imdb.

Contoh animasi stop motion yang paling ngetop tentu Shaun The Sheep. Contoh lainnya yang paling baru, pernah saya ulas di #SabtuReview berjudul Missing Link.

⇜⇝

Seru juga mengenal jenis-jenis animasi meskipun yang saya bahas hanya tiga jenis. Soalnya ketiga jenis itu yang paling kentara perbedaannya: 2D, 3D, dan stop motion. Tapi jangan salah, kekuatan filem animasi tidak saja pada gambar-gambar atau boneka tetapi juga pada cerita yang disusun. Tentu, banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari penontonnya usai menonton animasi. Monster Inc. misalnya, mengajarkan kita bahwa kekuatan tidak saja bersumber dari jerit tangis anak manusia tetapi juga dari gelak tawanya. Artinya, selama masih ada nilai positif yang bisa kita ambil, kenapa harus dipusingkan dengan yang negatif?

Baca Juga: Teknologi Dasar yang Setidaknya Harus Dikuasai oleh Manusia

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno.



Cheers.

Teknologi Sederhana Alat Pemeras A-la Masyarakat Ende



Hola, jumpa lagi di #SelasaTekno. Harinya berbagi informasi tentang teknologi, baik teknologi paling sederhana dari peradaban umat manusia, hingga teknologi canggih yang sudah sangat membantu kehidupan umat manusia. Selasa kemarin saya menulis tentang teknologi dari lini pertanian hasil meliput kegiatan pembuatan pupuk dan pestisida oleh mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Dusun Detubapa, Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Termasuk, bagaimana cairan petrogenol yang bahenol, yang mampu memikat lalat jantan sehingga tujuan merusak buah-buahan di pohon gagal arah hahaha.

Baca Juga: 1 Video 3 Aplikasi

Hari ini, dari hasil liputan (kalau yang ini liputan proyek pribadi bukan kantor haha) kegiatan PID dua minggu lalu di Desa Watusipi, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende, saya terinspirasi untuk menulis tentang alat pemeras sederhana yang sering dipakai masyarakat. Oh ya, seperti biasa kalau ada proyek video seperti ini, maka videografernya sudah pasti Cahyadi, saya hanya bagian menyunting saja, agar tidak mengganggu pekerjaan utama. Tentang si alat pemeras, bukan baru pertama kali saya melihatnya, bahkan dulu waktu masih SD di SDI Ende 11, sering sekali menonton para ine (mama dalam bahasa Suku Ende) di kompleks sekolah memeras wa'ai ndota.

Seperti apa teknologi sederhana ini? Cekidot!

Alat Pemeras Sederhana


Saya sarankan kalian untuk membaca pos berjudul Wa'ai Ndota, Makanan Pokok Pengganti Nasi yang dipos di blog travel. Alat pemeras sederhana terdiri atas:

Dua kayu yang dipatok/tanam di tanah.
Dua kayu bakal penjepit.
Tali (lebih bagus tali karet).

Jarak dua kayu yang dipatok di tanah disesuaikan dengan panjang dua kayu yang bakal dipakai untuk menjepit. Jangan lupa, dua kayu untuk menjepit ini bagian salah satu ujungnya diikat dengan tali berbahan karet yang biasanya berasal dari binen atau ban dalam yang digunting agar menyerupai tali. Jadi modelnya seperti capit makanan.

Selain itu, bisa juga seperti pada gambar berikut ini:



Ada tonggak yang dipakai, terus satu kayu untuk memeras, dan satu kayu pendek dilapisi seng untuk menahan. Hasil perasan, pada gambar di atas adalah CCO alias minyak kelapa, ditampung di basko. Unik ya hehe.

Berbeda dari proses memeras wa'ai ndota yang menggunakan dua kayu sama panjang, bungkusan wa'ai ndota diletakkan di bagian dekat tali pengikat terus diduduki hingga airnya lebih banyak yang keluar karena bobot menekan saat memeras dengan tangan dan bobot tubuh itu beda. Kenapa air perasan wa'ai ndota disimpan juga di baskom? Karena air perasan ini bakal jadi makanan turunan lain yaitu alu ndene. Untuk lebih jelasnya, kalian wajib membaca pos berjudul Ini Dia Alu Ndene Yang Disebut Pizza Ende. Agar kita sepemahaman.

Baca Juga: Gate: Rak Serbaguna

Mungkin di tempat kalian sudah memakai alat pemeras super canggih untuk memeras ampas minyak (setelah kelapa parut digoreng) bakal minyak goreng atau memeras apapun yang perlu diperas, haha. Tapi di daerah kami, alat pemeras sederhana ini masih dipakai bahkan oleh kelompok ibu-ibu di desa yang bergerak di dunia usaha pembuatan/pengolahan minyak goreng. Dari teknologi sederhana, dapat membantu perekonomian keluarga mereka. 

Bagaimana dengan di daerah kalian, kawan?



Cheers.

Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru


Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru. Hal itu saya saksikan sendiri saat meliput kegiatan mahasiswa KKN-PPM di Dusun Detubapa, Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Sungguh menyenangkan menjadi tukang liput kampus, karena selain  tidak diam di ruangan dan bisa jalan-jalan ke luar kota, tambah ilmu itu berhukum fardhu'ain. Ya memang tambah ilmu lah, karena saya harus turut menyaksikan dan mendengarkan seluruh proses kegiatan, baik itu seminar/workshop hingga pelatihan ini itu, bahkan bisa memperoleh data yang disusun dalam bentuk slide maupun hardcopy, untuk bisa menulis berita yang bakal dipos di ragam media sosial dan website-nya Universitas Flores (Uniflor). Berita adalah tentang fakta yang harus berimbang. Bukan begitu?

Baca Juga: Terminal Stopkontak Ini Bisa Berotasi dan Mengecas HP

Sebelum melanjutkan tulisan ini, kalian boleh membaca pos Senin kemarin.

Baiklah.

Dari dua puluh mahasiswa, sejumlah lima belas peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Wolofeo berasal dari Progi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Uniflor. Sebagian lagi yaitu lima mahasiswa berasal dari tiga program studi di Fakultas Ekonomi. Program kerja mereka di Desa Wolofeo pun tidak jauh-jauh dari dunia para petani yang mengelola lahan seperti sawah, kebun kopi, kebun kakao, kebun sayur, kebun cabai, dan lain sebagainya. Bahkan di Dusun Detubapa terpeta satu kebun contoh milik pemerintah daerah. Keren kan? Lebih keren lagi adalah Fakultas Pertanian juga punya satu perkebunan contoh di daerah Lokoboko! Makanya kuliah di Uniflor saja. Haha.

Kenapa saya menulis teknologi pertanian itu sangat menarik dan seru? Karena mendengar penjelasan mahasiswa maupun penjelasan Ibu Yus sebagai Dosen Pendamping Lapangan (DPL) dalam menjawabi pertanyaan warga Dusun Detubapa sangat luar biasa. Ibarat sedang menonton filem favorit. Ada dua hal paling menarik dan seru bagi saya. Yang pertama: menekan angka hama pada buah kakao. Yang kedua: cara memerangkap lalat pengganggu tanaman.

Anyhoo, sudah tahu filem favorit saya sekarang?

UPIN IPIN!

Menekan Angka Hama pada Buah Kakao


Saya tidak tahu nama hamanya. Bisa lalat, bisa juga yang lain. Yang jelas seorang bapak warga Dusun Detubapa, dengan topi kupluknya yang khas karena berposisi miring, bertanya tentang buah kakaonya yang rusak. Rusak di sini, si buah masih terlihat hijau sebagian pada bagian tangkai, dan kuning sebagian. Kadang buah kakaonya terlihat matang/masak tetapi ternyata busuk di dalam. Gara-gara itu, produksi kakaonya menurun dari tahun ke tahun. 

Menurut Ibu Yus, buah kakao yang terserang hama ini memang sulit karena induk melepas telur pada lekukan kulit buah kakao, lantas telur itu menjadi ulat, dan ulat itu yang bakal menggerogoti kulit buah hingga ke dalam. Ternyata teknologi yang digunakan untuk menekan angka hama dimaksud sangat sederhana. Oleh karena itu apabila pohon kakao berbuah dan buahnya hendak matang, buah tersebut dibungkus dengan plastik gula dan diikat pada bagian tangkai sedangkan bagian bawahnya tidak perlu diikat. Mengapa bagian bawah tidak perlu diikat? Melihat dari pola terbangnya induk yang sudah pasti menukik (ke bawah ya haha).

Dengan membungkus buah kakao dengan plastik gula tersebut, otomatis saat si induk sedang menukik hendak menyerang Negara Api langsung menabrak plastik. Hehe. 

Mengenai plastiknya, kami menyebut plastik gula, bisa dibeli di toko dalam bentuk roll dan dipakai sesuai kebutuhan (ukuran panjangnya). Harganya relatif murah. Murah tapi bisa membantu petani menekan angka hama pada buah kakao. 

Daya Tarik Seksualitas Palsu Lalat Betina


Ini menarik sekali. Saya sampai senyum-senyum sendiri. 

Ketika tanaman diserang hama lalat, terutama buah, memang sangat menjengkelkan para petani karena berpengaruh pada hasil panen. Oleh karena itu ketika ada warga Dusun Detubapa yang bertanya perihal lalat ini, seorang mahasiswa dibantu Ibu Yus menjelaskan cara membikin perangkap lalat jantan yang teknologinya super sederhana. Yang dibutuhkan hanyalah botol plastik bekas, sejumput kapas, kawat untuk mengikat botol plastik di tonggak, serta sebuah cairan bernama Petrogenol

Saya menyebutnya Petrogenol yang bahenol karena mampu memikat lalat jantan dengan daya seksualitas palsunya!

Botol plastik diberi lubang dua buah pada badannya, lalu diisi sedikit air, dan sejumput kapas tadi disuntik sekian cc (ukuran pastinya saya lupa, yang jelas sedikit saja) dan diletakkan di dalam botol, kemudian botol diikat dengan kawat di tonggak, horisontal. Posisi horisontalnya sedikiiiiit miring. Petrogenol inilah daya seksualitas palsu yang bakal menarik lalat jantan yang hendak menyerang Negara Tanah buah. Saat hendak menyerang buah, mencium aroma si betina palsu, langsung berbalik arah ke botol plastik dan masuk perangkap.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Amboiiii. Begitu sederhananya teknologi membikin perangkap lalat yang bisa membantu petani agar hasil panennya tetap berlimpah.

⇜⇝

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernahkah kalian berurusan langsung dengan dunia para petani? Pernahkah kalian juga menyaksikan betapa menarik dan serunya teknologi (sederhana) pertanian itu? Bagi tahu donk di komen hehehe :)


#SelasaTekno



Cheers.

Terminal Stopkontak Ini Bisa Berotasi dan Mengecas HP


Terminal Stopkontak Ini Bisa Berotasi dan Mengecas HP. Bagaimana kalian menyebutnya? Saya biasa menyebutnya kabel roll atau terminal colokan. Seringnya sih kabel roll. Seperti apapun bentuknya; bundar, persegi, persegi panjang, nama yang benar adalah terminal stopkontak stop kontak antara kau dan aku hahaha. Terima kasih Andi Sadam untuk penjelasannya. Ingat, ya, namanya terminal stopkontak. Dan kali ini di #SelasaTekno mari bicara tentang terminal stopkontak canggih yang satu ini.

Baca Juga: Belajar di Luar Ruangan Bukan Masalah Dengan Nika Chair

Sebelumnya, perlu diketahui, semua foto/gambar di pos ini diambil dari YankoDesign. Jadi saya tidak perlu menjelaskan sumber gambar per gambar. Setuju? Setuju dooonk. Hehe.

Wall-Ti Tap Power Strip


Itu namanya. Wall-Ti Tap Power Strip. Benda canggih ini didesain oleh Eunsang Lee. Berbeda dari terminal stop kontak yang kita kenal dan/atau pakai sehari-hari, Wall-Ti Tap Power Strip lebih unik dan kece. Di mana letak keunikannya? 

Pertama, bentuknya persegi dengan lubang di bagian tengah seperti donat. Adakah donat segi empat? Ada donk, kakak ipar saya sering bikin donat segi empat, tentu dengan lubang di bagian tengahnya.  Hehe. Lihat gambar berikut:


Selain dapat diletakkan di meja, bisa juga digantung. Oleh karena itu, saya menyebutnya unik. 

Bagian dalam Wall-Ti Tap Power Strip, dapat berotasi sehingga memudahkan penggunanya. Misalkan kita sudah menghubungkan satu perangkat ke Wall-Ti Tap Power Strip, untuk menghubungkan steker lainnya tinggal diputar saja. Bayangkan kalau kita harus memasukkan steker ke bagian atas, seringnya sulit, diputar saja jadi tetap bisa dicolok pada bagian bawah (yang kosong, setelah diputar).

Mengisi Daya Baterai Tanpa Kabel


Ini penting. Barang seperti terminal stopkontak kalau hanya dipakai seperti fungsi utamanya saja kan biasa. Untuk apa membeli Wall-Ti Tap Power Strip kalau bisa membeli terminal stopkontak yang umum dijual di toko? Wall-Ti Tap Power Strip dapat mengecas atau mengisi daya telepon genggam, tanpa kabel. Untuk melakukannya, tinggal letakkan telepon genggam di bagian atasnya:



Whoaaaa ausam sekali!

Baca Juga: Tungku Kemping Mini yang Praktis dan Keren

Hanya saja saya belum mendapat infomasi lebih jelasnya tentang Wall-Ti Tap Power Strip ini, apakah sudah dijual bebas ataukah baru prototype. Atau, jangan-jangan ada dari kalian yang sudah punya barang ini di rumah? Hyuuuuu jadi iri hehe.

Bagaimana menurut kalian, kawan? Canggih dan keren kan?



Cheers.

Kerennya Prefab House Dengan Tiga Ruangan Berotasi


Kristen Dirksen memang luar biasa. Perempuan ini bekerja bersama suami, ditemani ketiga anaknya, menjangkau berbagai belahan dunia, untuk menunjukan pada para penonton channel-nya yaitu Kirsten Dirksen tentang banyak hal terutama rumah. Rumah mini, rumah unik, rumah bongkar-pasang, rumah mobil, rumah ramah lingkungan, rumah loteng, rumah setengah ukuran, dan lain sebagainya. Kalau diberi kesempatan bertemu perempuan berambut kriwil itu, saya bakal memeluknya erat-erat. Terima kasih sudah memberikan begitu banyak inspirasi untuk penghuni bumi, salah satunya saya. Haha.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Salah satu videonya tentang rumah mini dan unik adalah tentang Prefab House yang satu ini. Masih prototype dari pembangun/pengembang. Jadi asyik begitu ada lahan super luas dan di atasnya berdiri rumah berbagai model dan ukuran. Tapi kalau ditanya apakah saya mau tinggal di rumah seperti itu? Tidak. Alasannya nanti saya ceritakan di akhir pos, ya.

Rumah Mini dan Unik


Rumah ini sangat kecil dan berbentuk unik. Dan perlu diketahui bahwa semua foto yang tampil di pos ini diambil dari video dimaksud. Ini dia penampakan rumah tersebut:


Terlihat sangat mini dan bisa diistilahkan seperti kotak sepatu. Hehe. Tapi uniknya karena rumah ini punya pintu depan hampir selebar rumah dengan bahan kaca. Ada satu lagi pintu masuk bagian belakang yang berbentuk oval. 

Ruang depan rumah ini adalah ruang tamu dan ruang keluarga. Jadi sebelah kanan (dilihat dari arah rumah, bukan dari arah kita) adalah area ruang tamu dan sebelah kiri adalah area ruang keluarga. Bedanya, di depan ruang tamu langsung terletak silinder sepanjang enam meter yang memuat tiga ruangan dan bisa berotasi. Sedangkan di depan ruang keluarga ada lorong ke pintu belakang dengan satu kamar mandi yang ada WC-nya.


Perancangnya bernama Luigi Colani dan pengembangnya adalah Hanse House. Seperti semua karya Colani (lahir pada tahun 1928, ia bekerja untuk perusahaan mobil dan pesawat terbang utama, serta NASA), prototipe rotorhome memiliki beberapa garis lurus dan sebaliknya penuh dengan kurva dan bentuk ergonomis. Pabrik prefab Jerman Hanse Haus membangun rumah pada tahun 2004 untuk menunjukkan kurangnya batasan dalam cetakan.

Silinder yang Berotasi


Ini inti dari rumah yang satu ini. Silinder sepanjang enam meter yang terletak tepat di depan ruang tamu, saling berhadapan, itu bisa berotasi dan memuat tiga ruangan berbeda fungsi di dalamnya. Unik kan? Untuk rotasi pun cuma menekan tombol berbeda warna (warna menunjukan ruangan) dan berputar 270 derajat setiap arah. Ada tiga ruangan dengan fungsi berbeda yaitu kamar tidur, dapur, dan kamar mandi (tanpa WC).

Tekan tombolnya dan tombol satu lagi di bawah.

Tradaaaa ... kamar mandi.

Kamar tidur.

Dapurnya kayak begini.

Saat sedang mendemonstrasikan silinder ini dimana suami Kirsten Dirksen sedang berada di kamar tidur, si pengembang bilang bisa sembunyikan pacar kalau suami mendadak pulang ke rumah. Dan saya ngakak. Tujuan yang sungguh tidaaaaaak bagus. Hahaha. Tapi boleh juga *digampar*.

Mau Tinggal di Rumah Seperti Ini?


Tidak! Saya tidak akan mau hahaha. Pertama, tidak etis untuk orang Indonesia kamar mandinya langsung menghadap ruang tamu dan nampak terbuka seperti itu (kaca). Itu ridikulus hehe, meskipun ada kamar mandi lainnya yang terpisah (yang ada WC-nya). Kedua, saya tidak bisa berada di dapur super bersih seperti itu, rasanya tidak tega, LOL! Ketiga, tidurnya jadi kayak gimanaaa ya. Pokoknya ogaaaah kalau disuruh tinggal di rumah seperti ini.

Baca Juga: Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone

Tapi rumah ini dapat menjawab kebutuhan orang-orang sana yang budayanya tidak seperti Orang Indonesia. Manapula lahan semakin menipis, rumah mini jadi pilihan, dan kalau unik itu bonus.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Mau tinggal di rumah seperti ini? Canggih sih teknologinya, kan sekarang #SelasaTekno, tapiiiii ... pikir-pikir dulu hahaha.




Cheers.

Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan


Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan. Hari ini saya masih disibukkan dengan peliputan kegiatan Pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Flores (Uniflor) yang pemberangkatan pertama bakal dilakukan tanggal 27 Juli 2019 dengan tujuan Kecamatan Aesesa di Kabupaten Nagekeo. Sibuk sih iya, tapi masih memberi ruang pada kami untuk bisa haha hihi bareng panitia lainnya. Oh ya, untuk kegiatan KKN ini, ada tiga orang yang ditugaskan menjadi tukang publikasi dan dokumentasi. Kakak Rossa Budiarti sebagai koordinator, dengan anggota saya dan Anto Ngga'a. Senangnya adalah kami dapat meliput ke tiga desa yang menerima dana PPM KKN dari Kemenristek Dikti. Dan itu artinya ... luar kota memanggil. Hahaha *dikeplak dinosaurus*.

Baca Juga: Tenda Pop Up Super Simpel Anti Air Itu Bernama Vitchelo

Hari ini juga saya melihat Anto menyunting video-video pendek dari kegiatan tersebut menggunakan telepon genggamnya. Kami memang ditugaskan juga untuk mengambil video-video pendek dari setiap kegiatan KKN. Aplikasi yang dipakai oleh Anto adalah Filmora. Mendegar tentang Filmora sudah sering, maupun membacanya di berbagai artikel, tapi saya belum pernah sekalipun mencobanya. Aplikasi sunting video yang ada di Android saya adalah KineMaster. Sementara itu kalau di laptop tetap pakai Sony Studio Platinum alias Vegas versi 13.

Tiba di rumah, saya langsung menginstal Filmora versi 3.1.4. di telepon genggam si Xiaomi Redmi 5 Plus. Kenapa harus menunggu tiba di rumah? Karena kan di rumah WiFi-nya lebih kencang ketimbang pakai paket data hahaha. Sekalian berhemat. Harga susu mahal, bung *LOL!*.


Tidak lama mengunduh Filmora di PlayStore. Tahu-tahu sudah siap dipasang. Ikuti petunjuknya, dan saya sudah bisa memakai aplikasi yang satu ini.

Mencoba Filmora


Antar Muka Filmora memang bersahabat. Ketika membukanya saya langsung dihadapkan pada dua pilihan utama yitu Buat Video Baru atau Proyek-Proyek yang Disimpan. Karena baru pertama kali, jadi saya pilih Buat Video Baru.



Saya diantar pada halaman di atas. Video-video saya tersimpan ke tiga folder memang; yang terkirim, dari kamera, dan dari WA. Saya pilih kamera, dan semua video yang direkam menggunkan kamera telepon genggam/Android pun terpampang nyata *halah* haha.


Selanjutnya, silahkan dipilih video mana yang mau disunting. Kira-kira sama seperti KineMaster, saya bisa memilih lebih dari satu video. Ini dia video yang saya pilih:


Setelah itu kita sudah bisa menyuntingnya. Mau ditambah musik, ditambah tema, atau dipotong sana-sini, semua tersedia. Menurut saya yang dasar-dasarnya penyuntingan video itu tersedia memang di Filmora. Sama kayak KineMaster. Asyiklah!



Kalau sudah oke sama penyuntingan, silahkan disimpan videonya. Boleh langsung disimpan atau diunggah ke berbagai media sosial seperti Instagram, Youtube, Vimeo, dan lain sebagainya; boleh juga disimpan di telepon genggam.


Selesai. Semudah itu. Dan tentu mengasyikan :)

Baca Juga: Sudah Saatnya Proses Belajar Mengajar Lebih Mudah

Bagi saya, Filmora merupaka pilihan yang boleh dijajal kemampuannya apabila kita memang perlu menyunting video di telepon genggam, pada saat itu juga, karena berbagai kebutuhan yang tentunya mendesak. Misalnya harus segera mempublikasikan suatu kegiatan. Tetapi kalau menyunting video panjang dan butuh lebih dari sekadar memakai tema dan musik yang disediakan oleh Filmora, tentunya saya harus tetap memakai laptop. Karena apa? Karena faktor kebiasaan saja. Hehe. Lebih leluasa lah untuk jari saya yang seukuran gajah ini.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Terutama yang sudah mencoba Filmora atau aplikasi sunting video lainnya? Bagi tahu pengalaman kalian di komen doooonk. 



Cheers.

Tenda Pop Up Super Simpel Anti Air Itu Bernama Vitchelo

Sumber: Top Ten Zone.


Tenda Pop Up Super Simpel Anti Air Vitchelo. Akhir-akhir ini saya sering jalan, ber-KakiKereta, di sekitar Pulau Flores. Sudah dimulai sejak Bulan Februari saat turut menjadi Tim Promosi Universitas Flores (Uniflor) ke tiga kabupaten yaitu Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Sikka, dan Kabupaten Flores Timur. Usai pekerjaan mempromosikan Uniflor, aksi jalan-jalan ini tidak berhenti begitu saja. Alasannya ada dua. Pertama: selalu diajak sama teman jalan Akiem, Effie, Thika, dan Enu. Kedua: ada saja lokasi wisata baru yang baru terekspos atau baru dibikin (atraksi wisata buatan). Kalau sudah begini, saya bisa apa?

Baca Juga: Sudah Saatnya Proses Belajar-Mengajar Lebih Mudah

Dalam perjalanan itu, sering sekali saya memikirkan tentang tenda, terutama waktu terakhir jalan ke Embung Boelanboong di Dusun Resetlemen. Sekitar Embung Boelanboong memang merupakan camping ground. Saya berpikir tentan tenda camping praktis yang mudah dipasang atau bahkan tanpa harus letih berjamaah alias bisa dipasang sendiri. Seperti biasa, saya kemudian mulai berburu informasi di Youtube tentang tenda camping selain menonton video tentang tiny house dan motor home. Masih? Ya masih, donk! Menonton video-video itu selalu membikin otak jauh lebih segar setelah seharian bekerja membajak sawah empat hektar.

Vitchelo


Saya pernah menulis tentang dua tenda camping keren. Yang pertama: Camping Trekking Outdoor Automatic Tent. Yang kedua: The Pause Pod. Keduanya sama-sama otomatis dan bagus, tetapi kalau The Pause Pod cuma khusus untuk satu orang dan lebih sering digunakan indoor saat istirahat siang di kantor karena memang ruang gerak di dalamnya sangat terbatas. Dari hasil menjelajah Youtube itu, saya lantas menemukan informasi dari akun Top Ten Zone di Youtube tentang beberapa tenda otomatis, pop up, yang super simpel! Salah satunya bernama Vitchelo. Penampakannya bisa kalian lihat di awal pos ini. 

Dari situ saya kemudian menemukan situs milik Vitchelo. Silahkan kunjungi situsnya untuk menemukan informasi lebih lengkap. Kalau dari situsnya, tenda ini bernama Vitchelo Easy Up Automatic Pop Up Tent. Vitchelo adalah sebuah perusahaan yang didirikan oleh James Lissaint. Banyak produk yang diproduksi oleh Vitchelo antara lain travel bag, headlamp, hingga dry backpack, tapi tenda ini bikin saya geregetan. Kalian juga?

Informasi: semua gambar berikutnya di pos ini diambil dari situs Vitchelo.

Kenapa sih saya tulis tenda pop up super simpel? Karena kalau melihat videonya, saya pasti bilang: buka, keluarkan, lempar, jadi. Coba lihat gambar berikut ini dengan alur terbalik nomor 9 menuju nomor 1:


As simple as that. Dalam kondisi belum dibuka/dipasang, Vitchelo tersimpan di dalam tas/kantong khusus dan berbentuk bundar. Besarnya tas/kantong penyimpanan ini sama dengan besarnya tas selempang yang sering saya pakai kalau sedang bosan memanggul backpack. Ya, kecil doooonk! Hihihihi. Melihatnya, saya langsung angkat jempol. Setelah tendanya dibuka alias berdiri di atas tanah, tugas kita hanyalah memasang hook-nya ke tenda dan ditanam di tanah. Tradaaaa ...


Tidak perlu memasang besi-besi penyangga? Tidak perlu! Semuanya sudah built-in. Siapa yang tidak ngiler cobaaaa. Mengenai spesifikasi dan fasilitas lain yang disiapkan oleh Vitchelo, silahkan lihat pada keterangan gambar-gambar berikut ini:




Sudah baca harganya? Sekitar Rp 800K. Kalau di Indonesia mungkin kisaran harganya sekitar Rp 1KK ke atas. Sudahkah dijual di Indonesia? I don't know. Coba kalian cari sendiri informasinya, terutama kalian yang gemar beraktivitas di luar ruangan.

⇜⇝

Bagi saya, tenda camping memang belum menjadi kebutuhan utama, ada orang-orang yang bisa meminjamkan atau menyewakan. Tetapi terpercik juga keinginan untuk mempunyai tenda camping sendiri yang ringan dengan penyimpanan yang praktis dan bisa dibawa kapan saja tanpa harus memikirkan space ini itu karena yang sejenis Vitchelo ini bisa disimpan di bagian depan Onif Harem, si motor matic, misalnya. Insha Allah pengen punya satu hahahaha *ditabok dinosaurus*.

Baca Juga: Tungku Kemping Mini yang Praktis dan Keren

Dua minggu terakhir #SelasaTekno diisi sama yang disebut dengan camping gear. Ya mau bagaimana lagi, saya suka sih hahaha. Sedang tergila-gila setiap hari menonton video-video DIY, lifehacks, tiny house, camping gear, dan sejenisnya.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Sudah punya tenda? Banyak kah? Kalau banyak, bagi saya satu donk tendanya. Haha.



Cheers.