Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i


Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i. Sebenarnya saya membutuhkan kamera baru yang legit untuk keperluan pekerjaan. Tetapi, setelah dipikir-pikir, banyak telepon genggam dilengkapi dengan kamera yang mumpuni. Pekerjaan saya itu mobile, liputan ke sana sini, dan sejak lama saya memang lebih suka memakai kamera Xiaomi Redmi 5 Plus ketimbang Canon Eos600D untuk urusan pekerjaan ini. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memiliki sebuah telepon genggam yang sudah lama bikin mupeng. Meskipun kata orang-orang hasil fotonya tidak realistis karena tone warna sepertinya ditingkatkan, tapi saya suka karena bukankah saya sendiri juga acap meningkatkan tone warna foto? Selain itu, konon telepon genggam yang satu ini punya mode wide, dan juga asyik banget kalau dipakai foto malam hari.

Baca Juga: Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor

Eng ing eng ...

Namanya Realme 5i. Versi ekonomis dari Realme 5. Hehe.

Seperti apa sih Realme 5i ini? Sudah banyak artikel yang mengulas tentang Realme 5i. Saya bahkan sudah menonton ulasannya oleh David pada channel Gadgetin. Rencananya sih kemarin pengen bikin video unboxing tapi saya tidak berbakat. Hahahaha. Meskipun tidak bikin videonya, tapi mari kita unboxing Realme 5i.

Unboxing Realme 5i


Kotak Realme 5i berwarna kuning! Sebagai Presiden Negara Kuning, saya bangga. Haha. Di bagian depan seperti biasa ada tulisan 5i dan Realme. Di bagian belakang kotak ada keterangan: Massive Battery 5.000mAh, Ultra-Wide Quad Camera, Snapdragon 665 AIE, sama 6,5" (16,5cm) Mini-drop Display.


Waktu unboxing di dalam kotak tersebut terdapat: 1 telepon genggam Realme 5i, adaptor dan kabel (charger), kotak berisi kunci slot dan petunjuk pemakaian. Slot kartu bisa mengisi dua kartu nano dan satu kartu memori. Bagian belakang telepon genggam ini terdapat satu finger print, satu flash, dan empat kamera. Satu kamera lagi di bagian depan. Empat kamera di belakang itu terdiri dari: 12 MP kamera utama, 8 MP Wide, 2 MP Portrait, dan 2 MP makro. Sementara itu untuk fasilitas aplikasi kamera ini ada macam-macam: Video, Foto, Potret, terus ada pilihan foto Bentang Malam, Pano, Mode Pakar, Selang Waktu, Slo-Mo, dan Ultra Macro. Mode Wide sampai Penguat Kroma ada pada bagian atas layarnya.

Hasil Foto


Dan berikut hasil fotonya. Ini hasil foto kamera utama:


Yang ini hasil foto portrait (bokehnya itu):


Wide? Iya, ini hasil kamera wide-nya:


Dan yang berikut-berikut ini saya lupa mode apa hahaha.




Sementara saya belum mencoba foto di malam hari, di luar rumah, nanti deh bakal saya coba hehehe. Anyhoo, foto-foto di atas difoto tanpa harus mengatur ini itu dulu, jadi saya belum tahu seberapa bagusnya lagi hasil foto dan video dari Realme 5i.


Saya tidak membahas terlalu panjang tentang Realme 5i ini. Intinya telepon genggam ini asyik banget diajak foto dan merekam video. Hasilnya jauh lebih oke dari telepon genggam sebelumnya yaitu Xiaomi Redmi 5 Plus. Bagaimana jika dibandingkan dengan Redmi Note 8? Aaaaa, kata David, beda paling mendasar adalah pada kamera utama karena hasil kamera utama Redmi Note 8 punya resolusi 48 MP untuk kamera utama. Tapi hasilnya juga tidak berbeda jauh. Beda paling utama adalah warna hahaha. Seperti yang saya bilang, tone warna dari Realme 5i rada lebih tinggi dari tone sebenarnya.

Baca Juga: Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Menurut saya, untuk ukuran kantong missqueen seperti saya, ditambah kebutuhan untuk pekerjaan dan hobi, saya pikir Realme 5i sudah bagus sekali. Bagaimana menurut kalian? Komen di bawah. Hehe.

#SelasaTekno



Cheers.

Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor

Credit: Pak Yulius.

Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor. Saya pernah menulis tentang teknologi pertanian pada pos berjudul Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru. Bagaimana Petrogenol yang bahenol memikat lalat jantan dengan daya tarik seksualitasnya yang palsu, itu pengetahuan baru bagi saya pribadi. Sebagai institusi pendidikan tinggi, berbagai pengetahuan dan informasi bertebaran di Universitas Flores (Uniflor). Sebagai pegawai yang bertugas mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan-kegiatan di Uniflor, jelas saya adalah makhluk Tuhan paling beruntung. Otak saya betul-betul berfungsi sebagai spons yang menyerap semuanya dengan gilang-gemilang. Haha. Setiap hari saya belajar hal baru.

Baca Juga: Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Rabu kemarin, 18 Maret 2020, saat hendak pulang kantor saya mampir di Kantor Kemahasiswaan Uniflor. Tujuan saya hanya satu, stoples berisi kudapan kuping gajah di atas meja! Hahaha. Sumpah, mata ini sangat cepat kalau melihat makanan. Belum sampai tangan saya masuk ke dalam stoples, Pak Yulius yang sedang berada di situ berkata: Kak Tuteh tangannya dibersihkan dulu pakai ini. Melihat botol mini khas hand sanitizer tanpa merek/label itu saya membalas bahwa saya pun membawa hand sanitizer sendiri. Tapi oh la laaaaa itu hand sanitizer yang dibikin sendiri! Uh wow sekali. Mulailah saya bertanya-tanya pada Pak Yulius.

Ceritanya, hari itu pada mata kuliah Fisika Lingkungan di Prodi Pendidikan Fisika pada FKIP Uniflor, Pak Yulius bersama mahasiswa semester 6 praktek membikin hand sanitizer dan disinfektan. Bahan-bahan hand sanitizer adalah alkohol, lidah buaya (isi atau jel bagian dalamnya), dan essential oil. Kalau disinfektan tidak saya tanya lebih lanjut. Ketiga bahan hand sanitizer itu punya takaran khusus untuk menghasilkan hand sanitizer yang kuat, sekitar 80% mampu menghambat berkembangbiaknya dan/atau membunuh mikroorganisme seperti virus dan bakteri yang menempel pada tubuh manusia dan benda mati. Hand sanitizer merupakan antiseptik yang diaplikasikan pada tubuh manusia terutama tangan. Sedangkan disinfektan diaplikasikan pada benda mati seperti meja, pegangan pintu, komputer, wastafel, dan lain sebagainya.

Menurut Pak Yulius, membuat hand sanitizer dan disinfektan dilakukan mengingat virus Corona yang oleh WHO diresmikan dengan nama Covid-19 merupakan virus dengan penyebaran yang cukup mudah yaitu melalui kontak fisik, serta berkaitan dengan lingkungan karena keberadaan virus Corona mengganggu idealnya lingkungan di mana manusia hidup, sehingga berbagai antisipasi harus dilakukan. Selain itu, hal ini dilakukan untuk menanggulangi kelangkaan hand sanitizer dan disinfektan di pasaran. Saat ini Pak Yulius bersama mahasiswa Semester 6 Prodi Pendidikan Fisika baru membuat prototype dan tidak menutup kemungkinan untuk memproduksinya secara massal.

Kalian bisa membaca pos kemarin berjudul Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing untuk informasi lengkapnya.

Baca Juga: Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir

Kenapa perihal ini masuk di #SelasaTekno? Karena ini berhubungan dengan penelitian. Teknologi tepat guna. Menurut Pak Yulius, hand sanitizer dan disinfektan yang dibikin ini merupakan sebuah penelitian karena meskipun sudah banyak yang melakukannya, tapi menggunakan bahan yang berbeda, dengan tempat atau lokasi yang berbeda, serta perhitungan secara sains. Turunan perhitungan itu yang kemudian ditakar a la rumahan menggunakan gelas. Sumpah ya, penjelasan demi penjelasan di white board oleh Pak Yulius itu bikin kepala saya langsung oleng hahaha. Sangat ilmiah ... huhu. Berbahagialah kalian yang kuliah di Prodi Pendidikan Fisika.

Ya sudah deh, semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua.

#SelasaTekno



Cheers.

Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor

Credit: Pak Yulius.

Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor. Saya pernah menulis tentang teknologi pertanian pada pos berjudul Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru. Bagaimana Petrogenol yang bahenol memikat lalat jantan dengan daya tarik seksualitasnya yang palsu, itu pengetahuan baru bagi saya pribadi. Sebagai institusi pendidikan tinggi, berbagai pengetahuan dan informasi bertebaran di Universitas Flores (Uniflor). Sebagai pegawai yang bertugas mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan-kegiatan di Uniflor, jelas saya adalah makhluk Tuhan paling beruntung. Otak saya betul-betul berfungsi sebagai spons yang menyerap semuanya dengan gilang-gemilang. Haha. Setiap hari saya belajar hal baru.

Baca Juga: Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Rabu kemarin, 18 Maret 2020, saat hendak pulang kantor saya mampir di Kantor Kemahasiswaan Uniflor. Tujuan saya hanya satu, stoples berisi kudapan kuping gajah di atas meja! Hahaha. Sumpah, mata ini sangat cepat kalau melihat makanan. Belum sampai tangan saya masuk ke dalam stoples, Pak Yulius yang sedang berada di situ berkata: Kak Tuteh tangannya dibersihkan dulu pakai ini. Melihat botol mini khas hand sanitizer tanpa merek/label itu saya membalas bahwa saya pun membawa hand sanitizer sendiri. Tapi oh la laaaaa itu hand sanitizer yang dibikin sendiri! Uh wow sekali. Mulailah saya bertanya-tanya pada Pak Yulius.

Ceritanya, hari itu pada mata kuliah Fisika Lingkungan di Prodi Pendidikan Fisika pada FKIP Uniflor, Pak Yulius bersama mahasiswa semester 6 praktek membikin hand sanitizer dan disinfektan. Bahan-bahan hand sanitizer adalah alkohol, lidah buaya (isi atau jel bagian dalamnya), dan essential oil. Kalau disinfektan tidak saya tanya lebih lanjut. Ketiga bahan hand sanitizer itu punya takaran khusus untuk menghasilkan hand sanitizer yang kuat, sekitar 80% mampu menghambat berkembangbiaknya dan/atau membunuh mikroorganisme seperti virus dan bakteri yang menempel pada tubuh manusia dan benda mati. Hand sanitizer merupakan antiseptik yang diaplikasikan pada tubuh manusia terutama tangan. Sedangkan disinfektan diaplikasikan pada benda mati seperti meja, pegangan pintu, komputer, wastafel, dan lain sebagainya.

Menurut Pak Yulius, membuat hand sanitizer dan disinfektan dilakukan mengingat virus Corona yang oleh WHO diresmikan dengan nama Covid-19 merupakan virus dengan penyebaran yang cukup mudah yaitu melalui kontak fisik, serta berkaitan dengan lingkungan karena keberadaan virus Corona mengganggu idealnya lingkungan di mana manusia hidup, sehingga berbagai antisipasi harus dilakukan. Selain itu, hal ini dilakukan untuk menanggulangi kelangkaan hand sanitizer dan disinfektan di pasaran. Saat ini Pak Yulius bersama mahasiswa Semester 6 Prodi Pendidikan Fisika baru membuat prototype dan tidak menutup kemungkinan untuk memproduksinya secara massal.

Kalian bisa membaca pos kemarin berjudul Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing untuk informasi lengkapnya.

Baca Juga: Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir

Kenapa perihal ini masuk di #SelasaTekno? Karena ini berhubungan dengan penelitian. Teknologi tepat guna. Menurut Pak Yulius, hand sanitizer dan disinfektan yang dibikin ini merupakan sebuah penelitian karena meskipun sudah banyak yang melakukannya, tapi menggunakan bahan yang berbeda, dengan tempat atau lokasi yang berbeda, serta perhitungan secara sains. Turunan perhitungan itu yang kemudian ditakar a la rumahan menggunakan gelas. Sumpah ya, penjelasan demi penjelasan di white board oleh Pak Yulius itu bikin kepala saya langsung oleng hahaha. Sangat ilmiah ... huhu. Berbahagialah kalian yang kuliah di Prodi Pendidikan Fisika.

Ya sudah deh, semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua.

#SelasaTekno



Cheers.

Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Credit: Tokopedia.

Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian. Menulis tentang microphone jepit atau lebih sering dikenal dengan nama clip on bikin mupeng to the max. Karena saya sendiri memang tidak punya clip on. Dulu pernah pengen beli, tapi setelah dipikir-pikir memang belum sangat membutuhkannya. Kalian pasti setuju bahwa hidup itu berat, haha, kebutuhan hidup tidak sedikit, oleh karena itu harus pandai-pandai menahan diri. Salah satunya ya itu, menahan diri untuk tidak membeli clip on. Sekali dua syuting dokumenter yang butuh settingan saya mengakalinya dengan menggunakan microhpone standar. Microphone itu disembunyikan di balik laptop dan kabelnya disusup di balik taplak meja. Kalau ingat itu, duhaaaiiii jadi ngakak.

Baca Juga: Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir

Device perekam video memang dilengkapi dengan micrhopone bawaan. Namun microphone bawaan tersebut punya keterbatasan dalam hal menjangkau audio jarak jauh. Oleh karena itu orang-orang menggunakan clip on. Tetapi bagaimana jika tidak punya clip on sedangkan jarak kamera dengan sumber audio cukup jauh? Untuk aplikasi sunting Sony Movie Studio Platinum, atau aplikasi lainnya, audio bisa diakali dengan mem-boost-nya melalui track compressor. Namun otomatis natural sound di sekitarnya, yang rata-rata tidak penting, juga ikut jadi besar. Beda kalau proses syuting atau taping dilakukan di dalam studio kedap suara.



Lantas, bagaimana mengakalinya, Teh?

Waktu saya mengikuti rekam jejak Oe Din membikin konten video Ngobrol-Ngobrol Santai, dia menggunakan telepon genggam! Oke, mungkin kalian bertanya-tanya, bagaimana bisa? Bagaimana menyatukannya? Dan lain-lain pertanyaan. Tapi bagi tukang syuting, pasti paham betul bagaimana melakukannya, memprosesnya, hingga selesai. Proses ini dilakukan apabila kalian merasa bahwa sumber audio terlalu jauh dari letak kamera terkhusus kamera sedang merekam video dengan wide shoot atau full shoot

1. Posisikan kamera.
2. Posisikan subyek sebagai sumber audio.
3. Letakkan telepon genggam di dekat sumber audio.
4. Siapkan perekam suara di telepon genggam.
5. Rekam bersama-sama kamera dan perekam suara di telepon genggam.

Setelah proses syuting selesai, giliran menyuntingnya yang cukup ribet, hahaha, karena dibutuhkan lebih dari satu audio track. Itu pun kalau hanya menggunakan satu kamera. Jadi, satu video jika ditambahkan ke aplikasi sunting akan menghasilkan satu video track dan satu audio track. Kalau menggunakan empat kamera? Coba hitung sendiri! Saya pernah menyunting video yang menggunakan lima kamera dan itu bikin hidup jadi galau. Hahaha. Lihat gambar di bawah contoh satu video, perhatikan panahnya:


Audio itu adalah audio bawaan dari video yang bersangkutan (panah yang bawah). Penguatan audio yang direkam menggunakan telepon genggam ditambahkan di bagian bawah audio bawaan tersebut. Lihat gambar di bawah:


Panah tersebut menunjukkan audio hasil rekaman menggunakan telepon genggam. Saatnya mensinkronkan dan/atau menyesuaikan. Gunakan headset agar lebih teliti mendengarkan audio bawaan dari video, dan audio dari perekam suara di telepon genggam. Kalau videonya hanya satu, kira-kira seperti gambar di atas lah jadinya. Tapi kalau videonya lebih dari satu dan/atau menggunakan lebih dari satu kamera untuk video yang sama (beda sudut pengambilan)? 

Pertama-tama, tambahkan dulu video wide shoot atau full shoot di mana video itu adalah video itu semacam metronome-nya. Lalu tambahkan lagi video dari kamera lain. Sesuaikan terlebih dahulu audio-audio. Baru kalian boleh memotong/cut, khusus video ke-dua atau ke-tiga, mana yang dipakai, mana yang dibuang, mana yang dipakai untuk cut-to-cut. Setelah semua sudah oke, tambahkan audio dari perekam suara di telepon genggam. Sesuaikan. Selesai. Mudah bukan? Iya, mudah bagi yang sudah terbiasa menyunting video, tapi bagi awam bakal sangat sulit dilakukan. Sebenarnya semua tergantung faktor kebiasaan saja. Bisa karena biasa. Betul begitu? Begitu betul!

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang tidak punya clip-on, seperti saya, hahah. 

#SelasaTekno



Cheers.

Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir


Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir. Masker sudah menjadi salah satu kebutuhan umat manusia dalam beraktivitas sehari-hari. Dulu, saya hanya tahu praktisi medis adalah orang-orang yang sangat membutuhkan masker karena setiap hari mereka berhadapan dengan segala macam virus dan bakteri baik dari lingkungan sekitar maupun dari orang-orang sakit yang ditangani, karena mereka harus dalam kondisi clean a.k.a. higienis ketika sedang menangani orang-orang sakit. Demikian pula sebaliknya, agar orang sakit tidak menerima hal-hal baru dari praktisi medis yang menangani mereka (salah satunya melalui mulut). Sejak mulai rajin jalan ke sana sini, saya juga membutuhkan masker. Bedanya, saya tidak mau memakai masker yang biasa dibeli di apotik. Saya memakai masker kain yang dibeli online, bahkan kemudian saya memanfaatkan seledang dan alas jilbab. Hehe. Yang penting nyaman.

Baca Juga: I Really Need a Screen Recorder for My Blogging Videos

Terakhir membaca dan menonton berita, kebutuhan masyarakat Indonesia akan masker meningkat tajam, karena virus bernama Corona. Berjaga-jaga itu perlu. Mencegah lebih baik dari mengobati. Itu benar, gengs. Jangan dibantah lagi. Mencegah memang jauh lebih baik karena setidaknya kita sudah berupaya melakukan sesuatu untuk melindungi diri. Tapi, kalau kalian membaca ini karena ingin tahu lebih banyak tentang Corona, saya mohon maaf, bukan kapasitas saya untuk menulisnya. Kalian bisa bertanya kepada yang lebih ahli seperti dokter, perawat, bidan atau mantri. Atau, rajin-rajinlah membaca berbagai rilis dari praktisi medis maupun dari Pemerintah Indonesia. Saat ini saya hanya ingin menulis tentang sebuah masker keren bernama AusAir.

Penasaran kan?

Sama. Saya juga penasaran waktu pertama kali melihatnya di YankoDesign

Marilah dibaca ... di Yanko Design artikel tentang AusAir ditulis oleh Sarang Sheth.

AusAir


Artikel berjudul AUSAIR’S BOTANICAL FACE-MASKS HELP EFFECTIVELY FILTER SMOKE AS WELL AS TRAP VIRUSES langsung menyita perhatian saya. Masker-wajah botanik AusAir membantu menyaring dengan sangat efektif asap sebaik jebakan virus. AusAir dirancang selama tiga tahun terakhir bersama dengan University of Sydney oleh kakak-adik Isaac dan Elias Honor dan teman mereka Jack Graham. AusAir, nama untuk masker wajah yang dipersiapkan untuk global di mana masker akan menjadi seperti sun-block yang dipakai orang-orang sebelum keluar rumah. Yang membuat AusAir layak diperhatikan adalah pendekatannya yang bernuansa topeng, mengingat berbagai faktor eksternal dan berbasis pengguna. Sebagai bagian dari dunia yang berjuang dengan penurunan kualitas udara, bahaya lingkungan, dan bahkan merebaknya penyakit, AusAir melibatkan sesuatu yang efektif, dapat digunakan kembali, dan yang paling penting fashion-friendly.

Masker wajah AusAir merupakan bagian dari pasar yang muncul untuk masker konsumen 'premium'. Tidak seperti topeng kain-jala dasar yang dikenakan oleh pekerja pabrik atau yang sekali pakai yang dikenakan oleh dokter, AusAir melakukan pendekatan dengan mengatasi kebutuhan konsumen sehari-hari. Setiap topeng dilengkapi dengan desain 3D yang memungkinkan pernapasan yang mudah dan tanpa kabut. Daerah hidung dilengkapi dengan busa memori, dan diperkuat dengan klip hidung aluminium tersembunyi untuk memastikan keamanan, sementara kain topeng dilengkapi dengan beberapa lapisan (termasuk lapisan filter botani opsional) untuk memastikan pemakai memiliki aroma bebas dan bersih untuk bernafas. Hyuuuum.

Harganya dipatok; $37 $62 (diskon 40%). 

AusAir: Masker Anti-Polusi dan Penyaringan Viral dengan Botani


AusAir adalah masker yang dirancang, diresapi secara botani, sangat bernapas dan dapat digunakan kembali yang menghalangi lebih dari 97% PM2.5 dan mencegah penyebaran infeksi.

Masker Filtrasi AusAir Memberi Perlindungan


Perlindungan terhadap polusi udara termasuk PM2.5. AusAir menyaring lebih dari 97% dari polusi udara kecil (PM2.5), filter mereka efektif antara 2-4 minggu, tergantung pada penggunaan.

Perlindungan terhadap Virus. Masker AusAir telah diuji dengan virus yang berada dalam kisaran 0,1 hingga 0,5 mikron dan mampu memblokir 97% virus di udara yang direplikasi.

Perlindungan terhadap Bau & Uap Organik. Lapisan karbon tambahan menambahkan filtrasi tambahan terhadap uap dan bau organik yang tidak disukai.

Perlindungan terhadap Bush Fire Smoke. Filternya efektif mencegah partikel halus dari kebakaran semak dan membatasi penghirupan partikel asap dan debu.


Lebih lengkap tentang AusAir dapat kalian baca pada situsnya. Pertanyaannya sekarang, apakah kita harus memiliki AusAir? Melihat perlindungan yang diberikan oleh masker ini, tentu kita membutuhkannya. Apalah arti $37 hingga $62 untuk perlindungan diri? Tetapi harga segitu memang tergolong mahal untuk kantong saya yang missqueen ini. Empat ratus sampai delapan ratusan ribu bisa dipergunakan untuk membeli lauk-pauk semingguan dan dimakan orang serumah. Haha. Kesimpulannya, tergantung pada kebutuhan masing-masing dan kesediaan dompet agar kita bisa memilikinya. Karena, bisa dipakai ulang pun ada masa kadaluarsanya.

Rempong juga kan yaaaaa ...

Baca Juga: In Case You Didn't Know There's Already an e-Court in Indonesia

Jadi, apa yang harus saya lakukan? Ya tetap harus selalu memakai masker setiap kali keluar rumah terutama ke luar kota. Karena debu masih menjadi sahabat pejalan terutama yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua. Tapi, secara umum yang harus kita lakukan adalah tetap menjalankan pola hidup bersih. Memakai masker, perlu. Mencuci tangan, lebih perlu lagi. Hal-hal ini mungkin terlihat sepele, tetapi sebenarnya itu dasar dari segalanya. Hehe.

Semoga bermanfaat! Siapa tahu kalian mau membeli AusAir ini.

#SelasaTekno



Cheers.

I Really Need a Screen Recorder for My Blogging Videos


I Really Need a Screen Recorder for My Blogging Videos. Hai! Siapa yang masih aktif nge-blog? Angkat tangan! Cukup angkat tangan, jangan angkat kaki, nanti kalian malah hengkang dari sini. Jangan doooonk. Baca dulu sampai selesai. Hehe. Boleh cerita sedikit? Boleh, ya. Bukan sekali dua teman-teman blogger bertanya tentang dunia blogging. Noviea Azizah, Ny Sargaling, James Bisara, Intan, dan lain-lain, sering bertanya ini itu terkait aktivitas blogging. Apa saja yang ditanyakan oleh mereka? Masih yang dasar-dasar saja, belum sampai advance level. Karena pengetahuan saya tentang blogging pun masih di tingkat dasar *ngakak guling-guling*. Gara-gara itu saya kepikiran untuk membikin video blogging! Siapa tahu bisa membantu lebih banyak blogger atau siapa pun yang baru mau belajar nge-blog.

Baca Juga: Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist

Awalnya saya berpikir untuk merekam kegiatan nge-blog menggunakan camcorder. Tapi pasti rempong. Karena saya harus menyesuaikan pencahayaan dan/atau pantulan cahaya dari laptop ke kamera, memantapkan posisi atau point of view agar videonya asyik ditonton, dan lain sebagainya. Belum lagi tangan saya yang kanga-ranga ini salah menyenggol tripod atau mug kopi susu di meja! Amboiiiii. Rempong memang. Karena, membikin video terutama yang pengen diunggah ke Youtube, memang susah. Tidak semudah membalik telapak tangan, gengs. 

Lantas saya ingat sama aplikasi Free Screen Video Recorder yang sudah lama terpasang di laptop. Tapi, aplikasi itu gratisan dan tanda airnya masih mejeng dengan riang gembira. Anyhoo, kenapa saya teringat sama aplikasi screen recorder? Karena dengan aplikasi itu proses membikin video tutorial blogging menjadi lebih mudah. Seperti yang saat ini saya lakukan. Kalian bisa menonton videonya di bawah:


Karena latar entri ini putih, maka tanda airnya tidak kelihatan.

Jadi semangat *senyum manis*.

Oleh karena itu saya pengen bisa memasang aplikasi screen recorder yang bagus. Kalau bisa tanpa tanda air. Tetapi kalau tanda airnya tidak mengganggu ya tidak apa-apa. Hahaha. Apakah kalian punya rekomendasi aplikasi dimaksud? Di internet tersebar banyak informasi, mulai dari Camtasia yang direkomendasikan oleh Oedin, DU Recorder, AZ Screen Recorder, Mobizen, Super Screen Recorder, dan lain sebagainya. I really need a screen recorder for my blogging videos, so saya meminta rekomendasi terbaik dari kalian. Boleh komen di bawah, boleh sampaikan via WA. 

Nah, hari ini saya bakal coba membikin video blogging pertama menggunakan Free Screen Recorder. Nanti bakal saya unggah ke Youtube dan silahkan berkomentar. Komentar apa pun, terutama yang memberikan solusi bakal saya terima dengan tangan terbuka. Hehe.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Apa yang saya harapkan dengan screen recorder ini? Banyak teman blogger, terutama yang sama-sama masih di tingkat dasar dengan saya, bisa memanfaatkannya. Dan tentunya channel Youtube saya tidak hanya berisi konten-konten saya bernyanyi dengan suara-setengah-nada itu. Hhahaha. Tetapi setidaknya ada konten yang bisa memberi manfaat untuk banyak orang.

#SelasaTekno



Cheers.

I Really Need a Screen Recorder for My Blogging Videos


I Really Need a Screen Recorder for My Blogging Videos. Hai! Siapa yang masih aktif nge-blog? Angkat tangan! Cukup angkat tangan, jangan angkat kaki, nanti kalian malah hengkang dari sini. Jangan doooonk. Baca dulu sampai selesai. Hehe. Boleh cerita sedikit? Boleh, ya. Bukan sekali dua teman-teman blogger bertanya tentang dunia blogging. Noviea Azizah, Ny Sargaling, James Bisara, Intan, dan lain-lain, sering bertanya ini itu terkait aktivitas blogging. Apa saja yang ditanyakan oleh mereka? Masih yang dasar-dasar saja, belum sampai advance level. Karena pengetahuan saya tentang blogging pun masih di tingkat dasar *ngakak guling-guling*. Gara-gara itu saya kepikiran untuk membikin video blogging! Siapa tahu bisa membantu lebih banyak blogger atau siapa pun yang baru mau belajar nge-blog.

Baca Juga: Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist

Awalnya saya berpikir untuk merekam kegiatan nge-blog menggunakan camcorder. Tapi pasti rempong. Karena saya harus menyesuaikan pencahayaan dan/atau pantulan cahaya dari laptop ke kamera, memantapkan posisi atau point of view agar videonya asyik ditonton, dan lain sebagainya. Belum lagi tangan saya yang kanga-ranga ini salah menyenggol tripod atau mug kopi susu di meja! Amboiiiii. Rempong memang. Karena, membikin video terutama yang pengen diunggah ke Youtube, memang susah. Tidak semudah membalik telapak tangan, gengs. 

Lantas saya ingat sama aplikasi Free Screen Video Recorder yang sudah lama terpasang di laptop. Tapi, aplikasi itu gratisan dan tanda airnya masih mejeng dengan riang gembira. Anyhoo, kenapa saya teringat sama aplikasi screen recorder? Karena dengan aplikasi itu proses membikin video tutorial blogging menjadi lebih mudah. Seperti yang saat ini saya lakukan. Kalian bisa menonton videonya di bawah:


Karena latar entri ini putih, maka tanda airnya tidak kelihatan.

Jadi semangat *senyum manis*.

Oleh karena itu saya pengen bisa memasang aplikasi screen recorder yang bagus. Kalau bisa tanpa tanda air. Tetapi kalau tanda airnya tidak mengganggu ya tidak apa-apa. Hahaha. Apakah kalian punya rekomendasi aplikasi dimaksud? Di internet tersebar banyak informasi, mulai dari Camtasia yang direkomendasikan oleh Oedin, DU Recorder, AZ Screen Recorder, Mobizen, Super Screen Recorder, dan lain sebagainya. I really need a screen recorder for my blogging videos, so saya meminta rekomendasi terbaik dari kalian. Boleh komen di bawah, boleh sampaikan via WA. 

Nah, hari ini saya bakal coba membikin video blogging pertama menggunakan Free Screen Recorder. Nanti bakal saya unggah ke Youtube dan silahkan berkomentar. Komentar apa pun, terutama yang memberikan solusi bakal saya terima dengan tangan terbuka. Hehe.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Apa yang saya harapkan dengan screen recorder ini? Banyak teman blogger, terutama yang sama-sama masih di tingkat dasar dengan saya, bisa memanfaatkannya. Dan tentunya channel Youtube saya tidak hanya berisi konten-konten saya bernyanyi dengan suara-setengah-nada itu. Hhahaha. Tetapi setidaknya ada konten yang bisa memberi manfaat untuk banyak orang.

#SelasaTekno



Cheers.

Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist


Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist. Menulis bullet journalist membikin perasaan saya hancur berkeping-keping. Pertama, sampai dengan saat ini saya masih belum bisa membikin bullet journal. Jelas, saya masih menyimpan rasa iri pada Mak Bowgel si Ewa Febri. Blogger super kreatif yang menciptakan banyak karakter ucul salah satunya bernama Bowgel. Tapi dia lebih dikenal sebagai bullet journalist Indonesia. Selain blog, channel Youtube-nya juga memuat banyak informasi tentang bullet journal. If you wannabe a bullet journalist, learn from her! Iya, karena dia dengan tabah sabar bakal ngasih tahu step by step. Apa pasal sampai saya belum bisa membikin bullet journal? Salah satunya karena buku khusus untuk itu tidak dijual di Ende. Ini memang alasan paling mengada-ada. Salah duanya karena saya tidak konsisten. Huhu.

Baca Juga: Mendesain Quote-Quote Menarik, Lucu, dan Unik di Canva

Saya tidak menulis dari sisi seorang bullet journalist, dikarenakan saya bukan seorang bullet journalist, tapi menulis dari sisi seorang yang punya Are Kune: buku catatan rencana harian. Buku itu T-Journal lah. Menulis T-Journal sudah saya lakukan sejak tahun-tahun kemarin, berganti-ganti buku, sampai kemudian mandek gara-gara sering kelupaan. Tuh kan ... pelupa. Tetapi pengalaman bersama Are Kune mengajarkan saya bahwa agar tulisan kita di buku menjadi lebih menarik tentu dibutuhkan begitu banyak alat tulis! Dan yaaaaa saya punya satu dompet khusus yang memuat alat-alat tulis tersebut. Sebut saja pinsil dan setip. aneka bolpoin, stabilo, sampai satu set spidol warna-warni. Uh wow sekali kan ... amunisi lumayan lengkap, malah sering mengabaikan Are Kune karena lupa.

Untuk seorang yang hanya menulis jurnal biasa saja punya amunisi seperti itu, bagaimana dengan bullet journalist? Tentu dibutuhkan lebih dari itu! Manapula Ewafebri itu kan juga menciptakan karakter-karakter uculnya sendiri. Sumpah saya iri sama bakatnya. Kalian bisa melihat sendiri di blog dan channel Youtube-nya, apa saja amunisi seorang bullet journalist itu. Sekarang saya mau melanjutkan tentang Pen Fan

It's funny.

Hyeeeep.

Gara-gara melihat-lihat di Yanko Design, jadi ingat bullet journal dan Ewafebri. Haha.

Dari situs Yanko Design dikatakan bahwa Pen Fan dikreasikan sebagai persilangan antara kartu pantone dan seperangkat/set alat tulis. Kalian tahu kartu pantone? Itu loh kartu warna yang mirip kipas. Makanya Pen Fan juga disebut menyerupai kipas a la Orang Jepang. Pen Fan merupakan spidol bertubuh pipih/tipis yang bagian ujungnya serupa ujungnya stabilo. Terdiri dari delapan warna berbeda yang bisa dipisah-pisah dan bisa disatukan seperti kipas mini. Nanti kalian bisa melihat pada gambar-gambar yang saya ambil dari Yanko Design di bawah. Pen Fan ini merupakan salah satu dari beberapa item yang dipilih sebagai Stationery Design to Kick Start Your Bullet Journaling Journey. Jadi bukan hanya Pen Fan, tetapi ada juga barang-barang lainnya untuk para bullet journalist.

Kenapa saya memilih menulis Pen Fan saja? Karena ini cukup unik dan dibutuhkan oleh hampir semua orang baik bullet journalist maupun cuma penulis diary seperti saya. Delapan warna yang dihadirkan oleh Pen Fan merupakan warna-warna yang cukup rajin dipakai oleh kita seperti merah, oranye, kuning, hijau, biru muda, biru tua, ungu tua, ungu muda. Apa ya nama yang tepat. Nanti deh kalau kalian melihat gambarnya, berikan komentar. Desain Pen Fan sangat unik. Meskipun kalian bukan tipe orang yang suka menulis atau mencoret-coret ini itu dengan spidol, tapi pasti pengen punya juga. Seperti saya. Pengen itu belum dikategorikan dosa. Haha. Tapi kalau pengen mencuri, ya jelas dosa.

Pen Fan dibikin oleh Arman Emami dari EMAMIDESIGN. Hebatnya lagi Pen Fan memenangkan Red Dot Design Concept Award for the year 2019. Tuh kan. Memang keren sih. 

Tidak perlu banyak cing-cong, silahkan ngiler sama gambar-gambar berikut ini.




Menggemaskan!
Yaaa siapa tahu Pen Fan sudah dijual di kota kalian, saya siap menerima kok seandainya kalian mau mengirimkannya ke Kota Ende. Haha. Maunyaaaa. Tapi benar loh ya, para bullet journalist pasti pengen punya Pen Fan. Bukan begitu, Mak Bowgel? Hehe.

Semoga bermanfaat, kawan.

#SelasaTekno



Cheers.

Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist


Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist. Menulis bullet journalist membikin perasaan saya hancur berkeping-keping. Pertama, sampai dengan saat ini saya masih belum bisa membikin bullet journal. Jelas, saya masih menyimpan rasa iri pada Mak Bowgel si Ewa Febri. Blogger super kreatif yang menciptakan banyak karakter ucul salah satunya bernama Bowgel. Tapi dia lebih dikenal sebagai bullet journalist Indonesia. Selain blog, channel Youtube-nya juga memuat banyak informasi tentang bullet journal. If you wannabe a bullet journalist, learn from her! Iya, karena dia dengan tabah sabar bakal ngasih tahu step by step. Apa pasal sampai saya belum bisa membikin bullet journal? Salah satunya karena buku khusus untuk itu tidak dijual di Ende. Ini memang alasan paling mengada-ada. Salah duanya karena saya tidak konsisten. Huhu.

Baca Juga: Mendesain Quote-Quote Menarik, Lucu, dan Unik di Canva

Saya tidak menulis dari sisi seorang bullet journalist, dikarenakan saya bukan seorang bullet journalist, tapi menulis dari sisi seorang yang punya Are Kune: buku catatan rencana harian. Buku itu T-Journal lah. Menulis T-Journal sudah saya lakukan sejak tahun-tahun kemarin, berganti-ganti buku, sampai kemudian mandek gara-gara sering kelupaan. Tuh kan ... pelupa. Tetapi pengalaman bersama Are Kune mengajarkan saya bahwa agar tulisan kita di buku menjadi lebih menarik tentu dibutuhkan begitu banyak alat tulis! Dan yaaaaa saya punya satu dompet khusus yang memuat alat-alat tulis tersebut. Sebut saja pinsil dan setip. aneka bolpoin, stabilo, sampai satu set spidol warna-warni. Uh wow sekali kan ... amunisi lumayan lengkap, malah sering mengabaikan Are Kune karena lupa.

Untuk seorang yang hanya menulis jurnal biasa saja punya amunisi seperti itu, bagaimana dengan bullet journalist? Tentu dibutuhkan lebih dari itu! Manapula Ewafebri itu kan juga menciptakan karakter-karakter uculnya sendiri. Sumpah saya iri sama bakatnya. Kalian bisa melihat sendiri di blog dan channel Youtube-nya, apa saja amunisi seorang bullet journalist itu. Sekarang saya mau melanjutkan tentang Pen Fan

It's funny.

Hyeeeep.

Gara-gara melihat-lihat di Yanko Design, jadi ingat bullet journal dan Ewafebri. Haha.

Dari situs Yanko Design dikatakan bahwa Pen Fan dikreasikan sebagai persilangan antara kartu pantone dan seperangkat/set alat tulis. Kalian tahu kartu pantone? Itu loh kartu warna yang mirip kipas. Makanya Pen Fan juga disebut menyerupai kipas a la Orang Jepang. Pen Fan merupakan spidol bertubuh pipih/tipis yang bagian ujungnya serupa ujungnya stabilo. Terdiri dari delapan warna berbeda yang bisa dipisah-pisah dan bisa disatukan seperti kipas mini. Nanti kalian bisa melihat pada gambar-gambar yang saya ambil dari Yanko Design di bawah. Pen Fan ini merupakan salah satu dari beberapa item yang dipilih sebagai Stationery Design to Kick Start Your Bullet Journaling Journey. Jadi bukan hanya Pen Fan, tetapi ada juga barang-barang lainnya untuk para bullet journalist.

Kenapa saya memilih menulis Pen Fan saja? Karena ini cukup unik dan dibutuhkan oleh hampir semua orang baik bullet journalist maupun cuma penulis diary seperti saya. Delapan warna yang dihadirkan oleh Pen Fan merupakan warna-warna yang cukup rajin dipakai oleh kita seperti merah, oranye, kuning, hijau, biru muda, biru tua, ungu tua, ungu muda. Apa ya nama yang tepat. Nanti deh kalau kalian melihat gambarnya, berikan komentar. Desain Pen Fan sangat unik. Meskipun kalian bukan tipe orang yang suka menulis atau mencoret-coret ini itu dengan spidol, tapi pasti pengen punya juga. Seperti saya. Pengen itu belum dikategorikan dosa. Haha. Tapi kalau pengen mencuri, ya jelas dosa.

Pen Fan dibikin oleh Arman Emami dari EMAMIDESIGN. Hebatnya lagi Pen Fan memenangkan Red Dot Design Concept Award for the year 2019. Tuh kan. Memang keren sih. 

Tidak perlu banyak cing-cong, silahkan ngiler sama gambar-gambar berikut ini.




Menggemaskan!
Yaaa siapa tahu Pen Fan sudah dijual di kota kalian, saya siap menerima kok seandainya kalian mau mengirimkannya ke Kota Ende. Haha. Maunyaaaa. Tapi benar loh ya, para bullet journalist pasti pengen punya Pen Fan. Bukan begitu, Mak Bowgel? Hehe.

Semoga bermanfaat, kawan.

#SelasaTekno



Cheers.

Mendesain Quote-Quote Menarik, Lucu, dan Unik di Canva


Mendesain Quote-Quote Menarik, Lucu, dan Unik di Canva. Semua pos blog saya terutama beberapa tahun terakhir selalu dilengkapi gambar/foto sebagai pelengkap atau pendukung. Minimal satu gambar sebagai cover. Karena cover, selalu diletakkan paling atas. Tidak semuanya foto diri saya sendiri atau foto hasil jepretan. Ada gambar/foto milik orang lain; tentu saja harus dilengkapi dengan sumbernya karena saya bukan plagiator atau orang yang suka mengaku-ngaku hasil karya orang lain sebagai karya sendiri. Ada juga gambar yang saya desain di sebuah layanan gratisan online bernama Canva. Kalau kalian penasaran, coba baca pos berjudul 5 Keistimewaan Canva. Canva memang sangat istimewa. Bagi saya pribadi, Canva itu ibarat dewa penolong.

Baca Juga: In Case You Didn't Know There's Already an e-Court in Indonesia

Canva menyediakan begitu banyak desain yang bisa langsung kita pakai. Manfaatkan talenta menyunting kalian. Haha. Apa saja yang bisa kalian desain di Canva? Banyak! Infographic, card, poster, travel Instagram post, Pinterest pin, Facebook cover, photo book, logo, resume, brochure, invitation, newsletter, dan lain sebagainya. Semuanya ada. Lengkap. Komplit. Kalian tinggal pilih mau mendesain apa, terus tinggal pilih template yang disediakan, dab sunting. It's fun and easy. Tapi bagaimana dengan penyimpanannya atau output-nya? Karena saya memakai yang gratisan, harus bisa memutar otak lebih sering *nyengir*. Psssttt ... itu rahasia. Haha.

Hampir setiap hari saya bermain-main di Canva. Melihat desain ini itu. Desain-desain yang disedaiakan di sana memang menarik! Salah satunya bisa kalian lihat di awal pos/cover.


Ceritanya, meskipun tidak setiap hari, selalu ada saja ide bermain dengan kata-kata, ide menyambung kata-kata sehingga menjadi quote. Biasanya ini muncul dari obrolan sehari-hari dengan teman-teman, atau karena keseringan mengkhayal. Quote-nya tidak lucu melulu. Kebanyakan malah aneh. Serunya, ketika saya menggunakan Canva untuk mendesai quote tersebut, sedang pilih-pilih desain unik, justru saya terpikat pada desain lainnya. Itu seru, karena desain lainnya itu yang justru menghasilkan quote baru! Kalian paham maksud saya kan? Misalnya saya pengen desain quote dengan desain A, eh ketika melihat desain B justru muncul quote baru. Yang awalnya cuma ingin mendesain satu quote di Canva, jadinya Canva turut menyumbang ide. Hehe. Kocak.

Misalnya seperti desain berikut ini, saya tidak menyangkan bakal menemukannya di Canva. Melihatnya, otak saya langsung bekerja membikin quote baru:


Terpikat sama desain tangan memegang mug kopi (kopi atau cokelat ya itu?). Terus kepikiran untuk memakainya. Jadi deh kalimat itu: Melihatmu, memantik birahiku. Mengecupmu di ujung bibir hanyalah awal. Tancapan efekmu di labirin otak adalah akhir yang tak terganti apapun. Waktu gambar ini saya pasang di status WA, banyak yang mengirim pesan protes, karena menurut mereka kalimat yang digunakan itu terlalu vulgar. Aaaah, masa iya? Menurut kalian apakah kalimatnya vulgar? Bagi tahu di komen.


Meskipun Canva menyediakan segalanya dalam ranah desain ini, kalian harus ingat bahwa kekuatannya tidak saja pada desainnya tetapi quote itu sendiri. Boleh dibilang quote itu adalah modal awalnya sendiri. Selebihnya terserah situasi dan kondisi (bisa jadi quote muncul saat melihat desainnya).

Pertanyaannya sekarang adalah apakah harus quote milik kita sendiri? Tidak juga sih. saya pernah mendesain di Canva quote dari Robert Gabriel Mugabe seperti yang berikut ini:


Ada juga quote-nya milik teman. Salah seorang pahlawan intelektual saya, namanya Rosalin Togo tapi saya memanggilnya Mami Ocha, yang selalu mengirimkan buku-buku self improvement ke Kota Ende. Iya, saat ini dia masih mengenyam pendidikan S2 di Kota Surabaya. Kami acap berdiskusi ringan tentang ini itu, dan saya suka berdiskusi dengannya, karena dia adalah perempuan cerdas dan tangguh. Pemikiran-pemikirannya jenius. Dan dalam obrolan kami melalui WA dia sering menyeletuk atau menulis quote-quote unik dan lucu. Saya lantas mendesainnya di Canva.




Asyik kan?

Baca juga: Begini Cara Mengambil Foto/Video Status WA Teman Kita

Canva memang jitu! Layanan online yang satu itu menjawab semua hal yang kita butuhkan terutama dunia desain. Modal dasar sudah ada, hanya tambahan sedikit percikan kreativitas maka jadilah quote-quote menarik, lucu, dan unik. Saya yakin kalian sendiri juga punya banyak quote kan? Ayo kreasikan di Canva, biarkan Canva membantu kalian mendesain quote tersebut agar terlihat lebih menarik. Sekalian, bisa dijadikan status baik status WA, status Facebook, maupun pos di IG. Berbagi tidak pernah merugi.

Semoga pos ini bermanfaat :)

#SelasaTekno



Cheers.