Begini Cara Mengambil Foto/Video Status WA Teman Kita


Begini Cara Mengambil Foto/Video Status WA Teman Kita. WhatsApp (WA) merupakan salah satu aplikasi chat (mengobrol) yang paling saya andalkan saat ini baik untuk pekerjaan, berkomunitas, berteman, maupun pedekate. Berapa kali dalam sehari kita membuka aplikasi WhatsApp (WA)? Pasti sering! Saya pribadi tidak dapat menghitungnya. Karena, WA tidak saja dimanfaatkan untuk sekadar mengobrol melalui pesan teks tetapi juga dimanfaatkan untuk panggilan telepon dan video call. Bahkan, nomor regular saya khusus telepon dan SMS nyaris tidak berfungsi kecuali untuk mengisi paket data internet. Kebutuhan internet di luar rumah tentu saya tidak bisa mengandalkan We Land Before Time, nama jaringan Wi-Fi di rumah kami. Haha. Untuk keperluan sebulan, saya tetap mengisi paket data internet antara 50K sampai 100K.


Salah satu kegiatan yang paling sering saya lakukan ketika membuka WA adalah melihat status teman-teman: tulisan, foto, dan video. Tulisan dan foto tidak seberapa menarik perhatian saya karena biasa-biasa saja. Tetapi video, terutama video lucu, selalu membikin saya gemas pengen memasangnya juga di status WA. Video berdurasi 30 detik, sesuai kapasitas muatan status video di status WA, mampu membikin banyak orang tertawa. Bukankah itu baik? Hidup sudah susah, mari tertawa. Tertawa memang tidak mampu melunasi semua hutang, namun tertawa mampu menghibur perasaan bahwa hutang bisa dilupakan sejenak.

Cerita sedikit ... boleh?

Adalah Muksin, salah seorang teman WA, yang sering memasang video-video lucu di statusnya. Dan tentu, video-video itu membikin saya gemas. Pengen juga. Sekali dua saya meminta padanya. Iya, dia mengirimkan. Tetapi karena dia juga sibuk, tidak semua permintaan saya terpenuhi. Ya iyalah, siapa elu, Teh? Presiden? Kadang-kadang saya memburu video yang sama di Youtube, tapi tidak semua video lucu apalagi video lucu/kocak khas dari berbagai daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur diunggah ke Youtube oleh pemilik aslinya. Gigit jari.

Adalah saya, sebagai makhluk Tuhan yang paling seksi orang awam, benar-benar tidak tahu atau tidak pernah mau mencari tahu berbagai hal tentang WA. Sampai akhir November 2019 saya masih berusaha segera memencet tombol 'balas' dari status WA yang dilihat agar tidak lekas hilang. Yang baru saya tahu, kemudian, adalah bahwa status WA yang sudah kita lihat dari list status teman-teman, masih tetap bisa dilihat tetapi letaknya berpindah ke urutan paling bawah. Jadi, status itu tidak hilang sampai batas yang ditetapkan WA yaitu 24 jam. Koplak kan? Sayanya yang koplak. Tapi saya tidak malu, karena rasa-rasanya bukan hanya saja yang begini. Hihi *membela diri*.

Lantas, bagaimana caranya sehingga saya tahu cara mengambil foto/video status WA tanpa harus meminta pada yang memasangnya (di status mereka)?

Begini ...

Ehem ... *berdehem manja*.

Saya selalu punya kebiasaan membersihkan telepon genggam pakai deterjen, Xiaomi Redmi 5 Plus, agar media penyimpanan bisa lebih lega setiap kali saya hendak beraktivitas di luar rumah. Pertama: menghapus semua foto dan video di galeri yang sudah di-backup oleh Google Photos. Kedua: membersihkan segala sesuatunya menggunakan aplikasi Keamanan (pembersih, pindai virus, menghapus sampah, hingga meningkatkan kerja telepon genggam). Ketiga: mengintip File Manager untuk menghapus apa saja yang tidak penting diantaranya foto yang sudah terkirim ke teman (WA) hingga thumbnail. Dan ternyata, semua foto dan video status WA teman yang pernah saya lihat itu tersangkut di File Manager! Dan saya ... bisa menggunakannya, terutama video, untuk dipasang di status WA.

Kalau kalian bingung, coba lihat gambar-gambar berikut. Dengan catatan, ini adalah screen shoot dari telepon genggam saya sendiri, Xiaomi Redmi 5 Plus.

1. Buka File Manager


2. Pilih Mode Daftar/List


3. Pilih Folder WhatsApp


4. Pilih Media


5. Pilih Statuses


6. Daftar Status WA Milik Teman Yang Sudah Kita Lihat!


7. Contoh Saya Pilih Status Teman Yang Ini


8. Bagikan ke WA


10. Trada ...


Yang saya contohkan di atas adalah status berupa foto. Tapi cara yang sama berlaku juga untuk video. Pokoknya, untuk semua status WA teman yang sudah kita lihat, tersangkut di File Manager, menunggu untuk dibersihkan. Dengan cara ini, saya tidak perlu lagi menganggu aktivitas teman-teman dengan rengekan: minta videonya, boleh? Hehe.


Bagaimana dengan kalian kawan? Apakah kalian seawam saya, atau kalian justru sudah lebih dulu tahu, bagi tahu di komen. Bagi saya, berbagi itu tidak ada ruginya. Terutama tentang hal-hal yang sebelumnya tidak saya ketahui, kemudian saya tahu, rasanya gimanaaa begitu. Hehe. Dan ya, pada akhirnya saya tidak perlu merepotkan para pemilik status dengan rengekan meminta video mereka. Saya sudah tahu caranya *melet*.

#SelasaTekno



Cheers.

Add Watermark Aplikasi Andalan Para Tukang Pamer Foto


Add Watermark Aplikasi Andalan Para Tukang Pamer Foto. Saya pernah membaca status seorang teman di Facebook, Mbak Yeyen, pemilik Kedai Nagih. Mbak Yeyen jengah sama ulah pedagang makanan lain yang menggunakan foto-foto makanan dagangan Kedai Nagih yang dipos di media sosial Facebook. Zaman sekarang masih ada orang yang mengambil foto makanan/dagangan orang lain dan mengakui foto itu sebagai miliknya. Iya, masih ada. Padahal, meskipun fotonya sama, rasa makanannya kan beda. Pada Mbak Yeyen, saya menyarankan untuk memasang watermark alias tanda air pada setiap foto makanannya. Karena bagi saya, seburuk apapun sebuah foto, kita wajib menyertakan tanda air di dalamnya untuk menghindari penyalahgunaan foto tersebut oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Baca Juga: Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog

Masalah foto yang diambil seenak udel di media sosial ini memang menjadi polemik tersendiri. Pihak yang mengambil dengan tanpa rasa bersalah berdalih: foto itu dipajang di media sosial, tanpa dikasih tanda air, artinya milik umum! Tapi, hei, di mana tanggung jawab moralnya? Masa iya kita mau menjadi pencuri foto? Tidak ada seorangpun yang mau disebut sebagai pencuri kan? 

Tapi, bukankah tanda air juga bisa dihapus? Tentu bisa. Ada banyak aplikasi penghapus tanda air. Sebut saja Remove Unwanted Object dari BG.Studio, Watermark Manager oleh Arsal Nazir, dan Unwanted Object Remover: Touch Retouch 2019 dari Flip Soft. Menurut pendapat saya pribadi, hanya orang-orang serius yang ingin menghapus tanda air dari sebuah foto dan/atau video. Rata-rata pengguna media sosial, termasuk yang awam teknologi, tentu malas mencari tahu dan melakukan proses penyuntingan. Sehingga, untuk kelas media sosial seperti Facebook, sedikit tidaknya tanda air akan sangat menolong para tukang pamer foto agar fotonya tidak dicuri seenak dengkul.

Adalah David Mossar, Ketua Exotic NTT Community, yang memperkenalkan saya pada sebuah aplikasi tanda air Android bernama Add Watermark. Sebelumnya saya hanya menggunakan tanda air dengan menambahkan tulisan http://tuteh.web.id saja pada setiap foto. Kayaknya boleh juga aplikasi Add Watermark ini. Langsung saya unduh dan pasang di telepon genggam. Xiaomi Redmi 5 Plus yang legit itu. Setelah unduh dan pasang, mari kita cek bagaimana cara menggunakan Add Watermark.

1. Buka Aplikasi Add Watermark


2. Tampilan Add Watermark


Pada tampilan Add Watermark ini kalian bisa memilih apply on images, apply on video, create watermark, dan your creation. Bagi yang baru mau bikin tanda air bisa terlebih dahulu memilih create watermark. Silahkan bikin tanda air kalian sendiri baik dari template yang sudah ada atau dikreasikan macam-macam suka.

3. Pilih Gambar


Di sini saya mencontohkan menambahkan tanda air pada foto, bukan video. Panah kuning pertama adalah foto pilihan, panah kuning kedua adalah notifikasi bahwa sudah ada foto yang dipilih).

4. Pilih Tanda Air


Pada menu ini, kalian masih diberi pilihan untuk membikin tanda air, atau memilihnya dari galeri. Karena saya sudah membikin beberapa, saya bisa langsung pilih seperti panah paling bawah yang ditunjukkan oleh gambar di atas.


5. Done!


6. Simpan


7. Mudah


Ah, selesai. Tidak pakai acara ribet. Makanya saya menulis judul, aplikasi andalan para tukang pamer foto karena prosesnya sangat cepat.

Baca Juga: Warna-Warni Text Background Color Ciri Khas Pos Blog

Selain Add Watermark, ada banyak pilihan mudah memberi tanda air. Seperti yang sudah saya tulis di atas paling mudah tinggal menambahkan tulisan pada foto tersebut. Tetapi, Add Watermark memberikan banyak pilihan baik jenis huruf, template logo, warna, dan lain sebagainya, sehingga para pengguna Add Watermark lebih leluasa berkreasi sepuas-puasnya. Sekali lagi, jangan pernah meremehkan sebuah foto dan/atau video, seburuk apapun, karena itu adalah hasil jepretan kalian, kawan. Sama seperti saya. Bahkan foto kakipun tidak mau saya biarkan lolos kecuali saya memang memilih membiarkan sebuah foto tanpa tanda air, dan membiarkan orang lain menggunakannya.

Tetapi, tanggung jawab moral saya pribadi juga berlaku di sini. Apabila ada foto milik orang lain yang menurut saya unik, tidak mungkin saya mengeposnya tanpa menyertakan kredit/sumber. Salah satunya foto-foto unik dari situs Brightside. Tidak ada seorangpun yang mau disebut pencuri, termasuk saya.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Aplikasi Super Keren Untuk Para Pejalan Itu Bernama Relive


Aplikasi Super Keren Untuk Para Pejalan Itu Bernama Relive. Relive, apa itu? Saya juga tidak bakal tahu Relive kalau tidak dikasih tahu sama seorang teman. Namanya Hari. Kami berkenalan lewat WA saat dia hendak datang ke Kota Ende. Iya, dia berdomisili di Bandung. Tahu nomor WA saya mungkin dari informasi profil di blog. Kalian juga bisa mengintip nomor WA ini di akhir semua pos pada blog ini. Apa urusan Hari di Kota Ende, saya tidak tahu. Yang jelas saya mengajaknya menikmati sup iga di Warung Damai sebelum keesokan harinya dia dan temannya bersepeda ke Kampung Kolibari, ditemani Bapak Heri Sutaban (Bhabinkamtibmas) yang punya hobi gowes. Saya sendiri sudah lamaaaa sekali tidak gowes. Sepeda di rumah pun ban-nya kempes berabad-abad.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Dari perjalanan ke Kampung Kolibari, dan puncak Kezimara, Hari mengirimkan video perjalanan kepada saya. Videonya sederhana: garis yang mengikuti (titik-titik) GPS disertai foto dari titik berangkat, sepanjang perjalanan (bebas mau berapa kali berhenti untuk mengambil foto), hingga tiba di lokasi tujuan. Langsung donk saya iri. Hari bilang video itu dibikin menggunakan aplikasi Relive. Saya langsung mencobanya! Eh, diunduh terlebih dahulu di PlayStore.

Relive


Mari kenalan lebih dekat dengan Relive. Relive merupakan aplikasi perekam aktivitas yang diproduksi oleh Relive B.V. Aplikasi ini pasti mengingatkan kalian pada aplikasi lain seperti Strava yang juga bisa diunduh di PlayStore. Relive ada yang gratisan, ada yang berbayar (untuk fitur-fitur tambahan). Kalian pasti tahu selalu ada keterbatasan pada lini gratisan. Dan saya, yang tampangnya gratisan ini, selalu memilih untuk tetap pada lini gratisan ketimbang membayar. Haha. Di Relive kita bisa merekam ragam aktivitas seperti berlari, berjalan, bersepeda, bahkan bersepeda motor! Rekaman perjalanan itu dapat diselingi dengan foto pada check point pilihan kita. Keluarannya Relive adalah video yang dapat disimpan atau dibagi ke berbagai media sosial.

Menarik bukan?

Cara Kerja Relive


Ini yang penting. Sebagai pengguna baru Relive saya perlu mengalami berkali-kali kegagalan dalam bercinta baru kemudian sukses. Pertama-tama kalian harus mengunduh terlebih dahulu aplikasi Relive di PlayStore. Logonya berwarna kuning, ya! Catet! Kuning! Terima kasih, Relive, sebagai Presiden Negara Kuning saya merasa sangat diapresiasi.


Halaaah. Hehe. Setelah diunduh, langsung pasang di telepon genggam. Jangan lupakan foto profil supaya lebih ketje.


Cara menggunakan Relive cukup mudah. Setelah Relive terpasang di telepon genggam, sudah pula memajang foto profil (ini sih tergantung kalian mau langsung memajang atau nanti-nanti), untuk memulai sebuah video perjalanan, cukup pencet tombol seperti pada gambar berikut:


Kalian akan diantar diantar ke halaman berikut ini:


Yang saya beri panah warna merah itu, silahkan diklik, karena itu berisi daftar aneka kegiatan/aktivitas yang hendak kalian rekam.


Saya memilih bersepeda motor karena memang aktivitas yang hendak saya rekam adalah perjalanan menggunakan sepeda motor dari Kota Ende ke Bukit Marsel / Watu Zaja.


Silahkan klik mulai. Asyiknya, perjalanan itu bisa dijeda setiap kali kita berhenti di titik-titik tertentu (mana-mana suka), dan bisa diselipi dengan foto pada titik perhentian tersebut.


Kalau perjalanan masih dilanjutkan, silahkan lanjutkan, kalau sudah tiba, silahkan klik selesai. Dan trada ... video Relive kalian sudah jadi.


Hasil videonya, bisa dibagikan di berbagai media sosial, seperti pada gambar di atas, bisa juga disimpan saja dulu di telepon genggam untuk nanti dipublikasikan.

Well done.

Sebagai pengguna baru Relive, saya merasa cukup puas karena aplikasi ini sangat mudah digunakan selama ada jaringan internet sepanjang perjalanan kita, karena untuk membikin video ini, Relive pun mengandalkan GPS yang harus dinyalakan. Iya, biar Relive tahu lokasi kita memulai perjalanan, titik-titik berhenti, hingga lokasi tujuan. Kalian juga bisa mengimpor aktivitas sebelumnya yang sudah disimpan di aplikasi tracker (formatnya .fix, .gpx, atau .tcx) ke Relive.

Baca Juga: Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial

Jujur, saya jadi tergila-gila pada Relive. Namun, waktu cuti yang lebih banyak di rumah saja menyebabkan saya tidak bisa sering-sering menggunakan aplikasi super keren untuk para pejalan ini. Semoga, nanti akan lebih banyak perjalanan yang bisa saya rekam bersama Relive dan membaginya dengan kalian semua.

Bagaimana? Mau mencoba Relive? Pasang sekarang di telepon genggam kalian!

#SelasaTekno



Cheers.

Warna-Warni Text Background Color Ciri Khas Pos Blog


Warna-Warni Text Background Color Ciri Khas Pos Blog. Bagi kalian yang nge-blog, setiap hari berhadapan dengan dashboard, pasti selalu ada keinginan untuk mengutak-atik dashboard dengan tujuan agar tampilan blog menjadi lebih baik/menarik. Sama. Saya juga begitu. Awal nge-blog menggunakan platform Blogger, tahun 2002/2003, saya tidak seberapa peduli dengan tombol-tombol yang mejeng di bawah bagian judul dan/atau di atas bagian isi. Saya juga tidak terlalu memusingkan gaya bahasa. Yang penting menulis dan ngepos. Selesai. Makanya, kalau saya membaca kembali pos blog zaman prasejarah itu, jadi ketawa sendiri, betapa buruk tampilan tulisan dan supa alay! Yakin, banyak pembaca yang kurang paham dengan tulisan-tulisan zaman prasejarah tersebut. Itu pun kalau ada yang baca. Haha.


Tetapi, lama-kelamaan, keinginan untuk mengutak-atik dengan tujuan agar tampilan blog menjadi lebih baik/menarik itu muncul. Gaya bahasa dan tata cara penulisan juga diperbaiki. Betul orang bilang: pengalaman mengajarkan segala hal dengan tujuan agar kita menjadi lebih baik, meskipun kita tidak perlu menjadi menarik. Lihat saja gaya tulisan. Awalnya kacau-balau, sekarang bolehlah dibilang jauh lebih baik. Awalnya menulis sama dengan bicara, belepotan, bahkan tanpa aturan, semakin ke sini semakin tertata. Perubahan-perubahan yang terjadi pada blog saya selama dua tahun terakhir antara lain:

1. Menambahkan judul pada paragraf pertama.
2. Memiringkan kata dan/atau kalimat yang menggunakan bahasa asing dan bahasa daerah.
3. Membikin sub judul.
4. Membikin list (kadang-kadang).
5. Memberi nama pada setiap foto milik sendiri.
6. Membikin (semacam) logo blog.
7. Menambah text background color.
8. Membikin deskripsi penelusuran.
9. Menebalkan kata/kalimat tertentu.

Yang betul-betul belum bisa saya bikin alias selalu lupa membikinnya adalah tautan permanen. Kalau tulisan sudah dipos, bakal susah mengubah tautan permanennya. Jadi, tautan pos blog tetap mengikuti judul. Kalau judul kepanjangan, ya ... dipangkas otomatis sama sistem.

Salah satu perubahan pada list di atas adalah menambah text background color.

Mungkin bukan hanya saya. Banyak blogger yang memanfaatkan text background color ini. Awalnya saya memakai text background color hanya sebagai penanda tautan yang disertakan di dalam pos. Untuk menekankan kepada pembaca bahwa ada tautan yang bisa mereka klik bila ingin memperoleh informasi lebih dan/atau tautan rujukan. Warna tautan rujukan itu selalu KUNING. Tidak usah dijelaskan lagi ya kenapa warnanya kuning. Hehe. Saya pikir ini penting dilakukan karena tampilan tautan pada pos blog ini abu-abu. Tidak semua orang paham tentang tautan yang disertakan di dalam pos blog, oleh karena itu, text background color berwarna kuning cukup membantu dan memuaskan rasa penasaran para pembaca *dikeplak dinosaurus*.

Tapi, text background color khusus tautan itu bukan clickbait! Paham? Hehe.

Text background color kemudian menjadi ciri khas pos blog ini. Nama kota, nama kabupaten, nama provinsi, kadang nama orang, sesuatu yang harus dipahami oleh pembaca pasti saya beri text background color. Dan rata-rata terjadi pada paragraf pertama. Untuk pengulangan, tidak lagi saya beri text background color agar pembaca tidak mendadak dangdut pusing. Ciri khas pos blog dengan text background color kemudian melekat pada blog (saya) ini.

Menurut Susan Gunelius, (mantan) penulis Lifewire yang fokus menulis soal dunia blogging, pada artikel tentang Psikologi Warna, psikologi warna memberitahu bahwa warna memiliki makna. Dengan kata lain, warna secara tidak sadar memunculkan perasaan dan pikiran ketika orang melihatnya. Menurut Susan, psikologi warna dapat memengaruhi cara orang berpikir dan merasakan tentang blog atau situs web. Setiap warna mempunyai makna berbeda dan mempunyai aura tersendiri untuk menarik dan/atau mempertahankan pengunjung blog kita. Susan menulis: hal terakhir yang ingin Anda lakukan adalah kehilangan pengunjung karena efek bawah sadar warna dalam blog Anda.

Ugh. Serem. Hehe.

Pada pos ini saya hanya mengambil dua warna yang ditulis oleh Susan. Pertama warna putih, kedua warna kuning. Apa pasal? Karena putih merupakan warna utama blog ini, dan sebagai Presiden Negara Kuning, kalian pasti paham *kedip-kedip*.

Putih
Ada alasan mengapa produk pembersih seringkali berwarna putih atau dikemas dalam wadah putih. Psikolog warna melaporkan bahwa putih adalah simbol kemurnian dan kebersihan. Putih menarik perhatian orang dan bekerja dengan baik sebagai warna latar belakang dengan teks gelap di blog dan desain web.

Kuning
Ketika Anda membutuhkan warna untuk mengomunikasikan kepositifan dan kehangatan, kuning adalah pilihan yang sempurna. Ini juga telah ditemukan dalam penelitian untuk menjadi warna pertama yang dilihat orang. Kuning adalah pilihan yang sempurna untuk menarik perhatian ke bagian terpenting dari blog atau situs web Anda.

Baca Juga: Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial

Kemurnian dan kebersihan yang dipadu dengan kepositifan dan kehangatan merupakan pasangan yang cocok. I guess. Tapi itu bukan berarti kalian yang memakai warna lain untuk tampilan blog maupun text background color itu tidak baik. Ini hanya masalah kebiasaan, masalah selera. Semua warna itu baik. Karena warna membikin hidup manusia menjadi lebih ausam. Kaitannya dengan pos blog, warna membikin pos blog terlihat lebih menarik. Setidaknya itu menurut saya. Bagaimana menurut kalian? Silahkan komen.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial


Edmodo Salah Satu E-Learning Yang Mirip Media Sosial. Mungkin saya salah menulis judul? Mungkinkah Edmodo memang berbasis media sosial seperti Facebook? Entah. Yang jelas hari ini saya bakal bercerita tentang aplikasi/layanan yang satu ini. Semua bermula saat saya meliput kegiatan knowledge service yang merupakan salah satu mata acara dari kegiatan English Week oleh Prodi Sastra Inggris pada Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Flores (Uniflor) di Kelurahan Natanage, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Secara umum saya sudah bercerita tentang kegiatan tersebut dan bisa kalian baca pada pos berjudul: Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae.

Baca Juga: Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog

Lalu, apa itu Edmodo dan mengapa Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra yaitu Bapak Marianus Roni, S.S., M.App.Ling. menyampaikan materi tentang Edmodo? Untuk itu kita harus mulai dengan e-learning.

E-Learning, Perlukah?


E-learning, menurut saya, merupakan terobosan dalam dunia pendidikan dimana jarak dan waktu dapat diakali oleh para pendidik terhadap peserta didik. Waktu masih Sekolah Dasar di SDI Ende 11, Kakak Toto Pharmantara (alm.) pernah berkata bahwa di masa depan saya tidak membutuhkan buku untuk mencatat pelajaran. Semua bisa dicatat di komputer menggunakan Lotus 123. Waktu itu memang belum ada MS Office dengan aplikasi pengolah kata semacam Word. Itu bagus! Menurut saya waktu itu, karena bakal mengurangi penggunaan kertas alias paperless. Artinya, pohon-pohon di hutan tidak terus-menerus menjadi obyek penderita. Masa demi masa, kemudian, setelah adanya internet, dunia mengenal e-learning ini.

Dalam pemahaman saya, e-learning artinya belajar secara elektronik. E adalah electronic atau elektronik, learning artinya (sedang) belajar. Apabila e-mail diterjemahkan sebagai surat elektronik (surel) maka e-learning dapat diterjemahkan sebagai berel (belajar elektronik). Itu menurut saya pribadi. Haha. Dalam pengertian yang lebih luas e-learning berarti belajar menggunakan media elektronik yang terhubung dengan internet. Artinya harus ada perangkatnya seperti laptop, komputer/desktop, atau telepon genggam. Dan harus ada koneksi internetnya. Tanpa internet e-learning tidak mungkin terjadi karena konsep dasar e-learning adalah belajar online.

Aplikasi pertama e-learning yang saya tahu itu bernama Google Classroom. Mengetahuinya dari kegiatan tentang belajar online dan bikin blog serta vlog oleh Fakultas Teknologi Informasi Uniflor kepada Prodi Sejarah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uniflor. Ternyata beberapa dosen Uniflor seperti Bapak Deni Wolo pun juga sudah menggunakan Google Classroom apabila beliau sedang bertugas di luar kota sementara ada mata kuliah yang harus dipenuhi. Lalu saya mendengar aplikasi Moodle. Saya tahu tentang Edmodo dari kegiatan knowledge service dari kegiatan English Week itu. Lucunya, paling akhir saya baru tahu soal SPADA yang dikeluarkan oleh Belmawa Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Haha.

Perlukah e-learning? Berdasarkan SPADA dan peraturan yang menjadi dasar hukumnya, maka e-learning yang disebut juga hybrid learning itu perlu. Melalui SPADA terjadi sistem dan/atau pemerataan pembelajaran secara nasional. Maksudnya dosen tidak saja mengajar mahasiswa pada perguruan tinggi/universitasnya saja tetapi juga mengajar mahasiswa dari perguruan tinggi/universitas lain dari seluruh Indonesia melalui materi kuliah yang diunggah di SPADA. Mengenai SPADA kalian bisa mencari tahu lebih lengkap di situs milik Belmawa Kemenristekdikti.

Well, apa dan bagaimana Edmodo itu?

Edmodo


Dari situs Edmodo dan Wikipedia saya menemukan banyak informasi. Edmodo adalah perusahaan teknologi pendidikan yang menawarkan alat komunikasi, kolaborasi, dan pembinaan untuk guru dan sekolah K-12. Jaringan Edmodo memungkinkan guru untuk berbagi konten, mendistribusikan kuis, tugas, dan mengelola komunitas dengan siswa, kolega, dan orangtua. Pada tahun 2013 Edmodo dimasukkan ke dalam daftar "Aplikasi Teratas Untuk Guru" oleh PC Magazine. Di tahun yang sama Edmodo mengakuisisi startup Root-1 dalam upaya untuk menjadi toko aplikasi untuk pendidikan. Vibhu Mittal, Co-founder dan CEL Root-1 menjadi CEO Edmodo pada tahun berikutnya.

Pada tahun 2014, Edmodo meluncurkan Snapshot, seperangkat alat penilaian untuk mengukur kemajuan siswa pada standar pendidikan. Edtech digest memberikan penghargaan untuk Edmodo Snapshot dalam Cool Tool Award sebagai Solusi Penilaian Terbaik. Perusahaan ini telah bermitra dengan dua penerbit besar di Inggris, Oxford University Press dan Cambridge University Press untuk menyediakan akses ke konten pendidikan di Edmodo Platform dan membawa Edmodo Snapshot ke Inggris.

Edmodo sendiri didirikan oleh Nic Borg dan Jeff O'Hara pada tahun 2008. Dan saya baru mengetahuinya pada tahun 2019. Pernah dengar, tapi tidak terlalu menanggapinya secara serius. Edmodo didukung oleh Index Ventures, Benchmark, Greylock Partners, Learn Capital, New Enterprise Associates, Union Square Ventures, Glynn Capital Management, Tenaya Capital, SingTel Innov8, dan KDDI. Pada Agustus 2016 Edmodo diklaim memiliki lebih dari 66.900.000 pengguna di seluruh dunia. It's a wow kan? Dan pada bulan Maret 2015, Noodle menyebut Edmodo sebagai salah satu dari "32 Alat Pendidikan Daring Paling Inovatif".

Oke, itu semua informasi yang berhasil saya kumpulkan/rangkum dari dua situs yaitu situs milik Edmodo sendiri dan dari Wikipedia.

Pada kegiatan knowledge service di English Week, Pak Roni menampilkan Edmodo melalui tayangan infocus. Pada layar itu jelas sekali saya melihat Edmodo yang mirip dengan tampilan Facebook. Makanya saya menulis judul seperti di atas, karena tampilannya yang mirip media sosial. Tapi, media sosial yang satu ini bersifat privat. Interaksi dalam sebuah status hanya terjadi antara pendidik dengan peserta didik yang telah terkoneksi.

Pada kesempatan itu Pak Roni tidak saja menyampaikan materi tentang Edmodo tetapi peserta langsung mempraktekkannya juga. Peserta yang terdiri dari perwakilan guru-guru dari SMP dan SMA di Kecamatan Boawae memasang aplikasi Edmodo pada telepon genggam mereka sedangkan mater dari Pak Roni terpampang jelas di layar infocus, dimana Pak Roni menggunakan Edmodo versi desktop. Belajar menggunakan Edmodo asyik juga. Pak Roni memberikan tugas atau pertanyaan dan peserta yang sudah terkoneksi dengan akunnya kemudian mengirimkan jawaban. Akan terlihat peserta yang sudah terkoneksi dalam 'kelas' Pak Roni tapi tidak mengerjakan tugas. Hwah, transparan sekali kan? Bahkan, Pak Roni dapat memberikan nilai dan komentar dari tugas yang dikerjakan/dijawab tersebut.

Jadi jelas, Edmodo telah menjadi sebuah 'ruang kelas' tempat pendidik dan peserta didik berinteraksi.

Kemudian, ada pertanyaan yang butuh jawaban langsung. Entah dengan guru, tetapi setiap dosen diwajibkan untuk mengisi daftar hadir peserta didik (mahasiswa) dalam BAD. BAD biasanya dicetak oleh prodi kemudian setelah diisi dikembalikan ke prodi. Bagaimana jika proses belajar mengajar terjadi di Edmodo?

Absensi / BAD


Ketika saya mewawancarai Dekan Fakultas Teknologi Informasi Bapak Ferdinandus Lidang Witi, S.E., M.Kom. tentang SPADA yang disosialisasikan pada dosen-dosen Uniflor, beliau mengatakan bahwa BAD dari sistem belajar atau kelas online dapat dilakukan dengan screenshoot. Dapat dicetak dan diserahkan kepada pihak prodi.

Ah, I see.

Dunia sudah semakin canggih, kenapa harus mempersulit segala sesuatunya? Kalian setuju? Komen di bawah. Hehe.

⇜⇝

Apa yang bisa saya simpulkan dari pos hari ini? Paling pertama: bahwa Kakak Toto (alm.) benar. Paperless memang telah terjadi meskipun belum pada semua lini kehidupan manusia. Kedua: bahwa e-learning merupakan sistem belajar yang baik diterapkan di sekolah maupun universitas; tidak saja karena dosen yang bersangkutan sedang berhalangan untuk hadir di kelas tetapi merupakan salah satu wujud nyata dari Industri 4.0. dimana peserta didik pun harus mampu mengenal tentang sistem pembelajaran seperti ini. Mahasiswa tidak boleh mengenal internet dengan Facebook saja sebagai tujuan utama *setelah menulis ini, dijumroh mahasiswa, hahahah*. Ketiga: dari sisi kepraktisan jelas e-learning itu se-su-a-tu.

Baca Juga: Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android

Tetapi, meskipun saya setuju dengan e-learning, dengan Edmodo misalnya, tetap saja tatap muka itu penting. Saya memang bukan guru apalagi dosen, saya hanyalah seorang manusia yang terlahir dari dua orang guru-besar-pribadi dan bergaul di tengah para pendidik (dosen). Tetapi, ijinkan saya menulis bahwa belajar konvensional, tatap muka di dalam kelas, merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan karena berhubungan dengan psikologi. Peserta didik datang dari ragam latar belakang. Pendidik perlu untuk tahu tentang psikologi peserta didik agar tahu bagaimana melakukan pendekatan (persuasif) bila terjadi sesuatu. Misalnya peserta didik mendadak malas belajar, jarang masuk kelas, atau peserta didik mungkin sedang depresi. Pendidik punya tugas besar, selain mengajar ilmu akademik, untuk memahami kondisi psikis peserta didik agar mampu menciptakan peserta didik yang berkarakter (baik).

Dan untuk mengenal peserta didik lebih dekat, Edmodo tidak bisa menjadi medianya. Ruang kelas lah medianya. Kalau kalian tidak setuju, komen di bawah, heheeh, tapi yang sopan ya!

Terakhir, semoga pos ini bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog


Mereka Belajar Mengelola Sebuah Blog dan Membikin Vlog. Bulan lalu saya bertemu dengan Pak Stephen, dosen Prodi Pendidikan Ekonomi (PDU) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Uniflor). Pak Stephen bertanya apakah saya bisa memberikan pelatihan blog kepada mahasiswa/i PDU. Tentu! Kenapa tidak? Terakhir saya mengajarkan tentang blog pada mahasiswa/i Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pada pertemuan berikutnya, Pak Stephen menjelaskan bahwa mahasiswa/i PDU rata-rata sudah mempunyai blog tetapi belum pada tahap mengelola dengan baik. Selain itu, Pak Stephen juga meminta agar mereka bisa diajarkan membikin vlog. Setidaknya dasar-dasarnya. Saya menyetujuinya.

Baca Juga: Ini Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional

Maka kemudian saya membikin materi baru berjudul How to Manage Blog and Make Vlog. Masih mengambil beberapa poin dari materi lama berjudul Blogging is Fun and Easy. Materi baru tersebut memang cukup panjang karena memuat dua hal yaitu blog dan vlog, tetapi alhamdulillah tepat waktu sebelum hari H. Pada Pak Stephen juga saya meminta agar semua peserta sudah memasang aplikasi Filmorago di smartphone masing-masing. Oh ya, untuk keperluan kegiatan ini, PDU sendiri mempunyai jaringan wifi yang bisa diakses oleh para peserta baik menggunakan laptop maupun smartphone.

Peserta Yang Antusias


Mahasiswa/i PDU sejumlah tujuh puluhan dan dibagi dalam dua kelas. Kelas pertama mengikuti kegiatan pada Senin 18 November 2019 sedangkan kelas kedua pada Selasa 19 November 2019. Kelas pertama tentu harus mengikuti seremoni pembukaan terlebih dahulu dihadiri pula oleh Kaprodi PDU yaitu Pak Saiful, selain Pak Stephen. Usai seremoni pembukaan, kegiatan langsung dimulai dengan: bagaimana mengelola blog atau how to manage blog.


Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa rata-rata peserta sudah mempunyai blog dan blog tersebut didaftarkan pada platform Blogger dengan keluaran induk-semang Blogspot. Jadi, saya langsung pada flashback singkat tentang apa itu blog, kenapa orang nge-blog, apa keuntungan nge-blog, kenapa pakai Blogger alih-alih Wordpress, dan contoh blogger seperti Raditya Dika yang kini lebih dikenal sebagai sekorang Komika. Sayangnya saya lupa mencontohkan Mark Manson, seorang blogger yang menulis buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Setelah itu barulah dimulai dengan cara mengelola blog: mengenal panel-panel pada dashboard sebagai inti blog. Panel-panel itu antara lain postingan, statistik, tema, halaman, hingga pengaturan.


Dan mereka sangat antusias untuk tahu lebih detail, tahu lebih banyak, tentang dashboard. Sesuatu di balik tampilan blog yang ciamik. Meskipun yang membawa laptop hanya segelintir peserta, tetapi yang menggunakan smartphone ini juga super antusias! Kalian, para blogger, tentu tahu bahwa nge-blog menggunakan laptop itu memang jauh lebih mudah dari menggunakan smartphone, setidaknya saya mengalami itu. Tetapi, pada kesempatan itu saya melihat peserta yang menggunakan smartphone ini matanya berbinar-binar, jemari lincah di atas layar smartphone, bahkan bertanya apabila ada yang tidak mereka pahami.

Sebagai pemateri, ada perasaan bangga melihatnya. Puas juga. Untuk dua kelas pada dua hari yang berbeda itu.

Melihat betapa antusiasnya peserta, saya menyarankan pada mereka, apabila ada pertanyaan yang ingin ditanyakan di luar waktu kegiatan, silahkan mengirimkan pesan WA. Karena Insha Allah saya selalu online dan pasti dibalas. Saya juga katakan pada mereka bahwa pernah membuka kelas-kelas blogging melalui WAG, serta mengajarkan blog secara personal pada beberapa orang melalui WA. Dan, apabila mereka kesulitan akses internet, mereka boleh datang ke rumah saya untuk menggunakan wifi gratis. Mereka tertawa, saya juga tertawa. Tapi itu serius. Seserius kami kemudian membikin grup/WAG bernama Kelas Blogging PDU.

Usai memperkenalkan cara mengelola blog melalui panel-panel yang ada di dashboard, saya melanjutkan materi selanjutnya yaitu membikin vlog. Di sinilah saya melihat antusiasme yang lebih lagi dan lagi dan lagi dari para peserta. Sebelumnya, semua smartphone peserta sudah saya minta untuk dipasangkan aplikasi Filmorago. Ini bukannya tanpa alasan. Saya jelaskan pada mereka, bahwa dari semua aplikasi sunting video di smartphone yang sudah pernah saya coba, Filmorago lebih friendly baik interface-nya maupun penggunaannya. Sore itu peserta langsung praktek menyiapkan vlog mentah. Ramailah ruang kelas itu! Haha. Masing-masing bergaya a la vlogger.


Video mentah itu kemudian disunting menggunakan Filmorago. Satu per satu langkah menggunakan Filmorago tampil di layar, mereka memerhatikan layar, lantas memerhatikan dan mengutak-atik smartphone. Kenalanlah mereka dengan Filmorago dan fitur-fiturnya seperti fitur tema, transisi, musik, audio tambahan, memotong durasi, memotong gambar, mengisi judul, dan lain sebagainya. Kemudian, tentu keluaran Filmorago seperti langsung mempublis di berbagai media sosial dan aplikasi mengobrol, hingga menyimpannya saja dulu di smartphone. Dan ketika selesai, tidak mereka sangka bahwa membikin vlog semudah itu! Hehe.

Content is King


Content is King, Konten Adalah Raja. Itu yang saya jelaskan pada mereka. Blog dan vlog sama-sama membutuhkan konten (raja). Hal ini yang harus mereka pahami. Sehingga dalam kegiatan itu saya menampilkan slide dengan tiga hal utama: Konten, Konsistensi, dan Promosi.


Apa yang diinginkan netizen ketika berkunjung ke blog atau melihat video kita di Youtube, misalnya? Tentu kontennya. Konten yang terus diperbarui akan menarik rasa penasaran mereka, apa yang ditampilkan kali ini? Konten yang terus diperbarui akan memuaskan rasa ingintahu mereka dan membuktikan bahwa kegiatan mereka mengunjungi blog dan vlog di channel Youtube kita tidak sia-sia. Mereka memperoleh informasi baru, hal baru, cerita baru. Konten ini berkaitan dengan konsistensi serta trafik pengunjung.

Mengapa konsistensi menampilkan konten dan trafik itu penting?

Iseng saya bilang pada mereka: kalau kalian ingin memperoleh uang dari blog dan vlog, perkuat kontennya dan tingkatkan trafiknya. Pengunjung akan berhenti mengunjungi blog dan channel vlog di Youtube apabila setiap kali berkunjung mereka hanya bertemu konten lama, konten yang itu-itu saja.

Para peserta mengangguk paham. Setidaknya mereka tahu bahwa untuk memperoleh penghasilan dari internet, melalui blog dan vlog, tidak dilakukan dengan sekejap atau sekedip mata. Ada perjuangan yang juga cukup berat yang harus dilakukan oleh mereka. Bukannya sombong, saya mencontohkan diri sendiri yang nge-blog sejak tahun 2002, mengalami begitu banyak perubahan dalam hal menulis atau konten blog. Dari yang alay bikin malu diri sendiri sampai yang menurut saya cukup baik dan mudah dipahami oleh banyak orang. Jadi jelas, waktu dan latihan merupakan proses yang tidak dapat diabaikan untuk blog, demikian pula vlog.


Tidak ada yang instan di dunia ini. Bahkan untuk membikin mi instan saja kita membutuhkan proses seduhan pada air panas.

⇜⇝

Apresiasi tertinggi setiap kali saya menyampaikan materi blog atau mengajar blog adalah bagaimana tanggapan mereka terhadap proses belajar itu sendiri.

Baca Juga: Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone

Ketika mereka bertanya tentang proses kegiatan itu pada peserta, mereka menjawab: sangat menyenangkan dan mereka paham. Itu apresiasi tertinggi. Menurut saya pribadi. Karena, apalah artinya bicara berjam-jam di depan peserta, mulut berbusa, kadang muncrat, tapi peserta sendiri tidak paham dengan apa yang saya sampaikan?

Pada kegiatan bersama PDU ini saya juga katakan bahwa dalam rangka Panca Windu Uniflor nanti di tahun 2020 bakal ada Lomba Blog, Lomba Vlog, dan Lomba Foto. Saya berharap para peserta mampu mengelola blog mereka, setidaknya, dan mengikuti lomba dimaksud. Mereka mengangguk (setuju kan hahaha) dan saya melihat wajah-wajah penuh harapan di sana. Tidak perlu memusingkan menang atau kalah, yang penting adalah partisipasi dan pengalaman yang diperoleh. Itu jauh lebih berharga!


Dari kegiatan bersama PDU itu pula, insha Allah akan ada kegiatan-kegiatan serupa lainnya, karena lomba-lomba dalam rangka Panca Windu Uniflor itu pesertanya adalah mahasiswa/i Uniflor. Mantap jaya. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Inilah Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional


Inilah Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional. Setiap tahun Hari Blogger Nasional dirayakan pada tanggal 27 Oktober. Tahun 2019 Hari Blogger Nasional jatuh pada Hari Minggu. Kalian tahu kan, Hari Minggu merupakan hari liburnya BlogPacker. Bertepatan dengan Hari Blogger Nasional pada hari Minggu kemarin saya malah pergi traveling ke lokasi wisata yang sudah lama bikin saya mupeng: Obyek Wisata Ae Sale Mengeruda atau lebih dikenal dengan nama Air Panas Soa (dibaca So'a) yang terletak di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada. Tapi itu bukan berarti saya melupakan hari keramat ini. Karena, setiba di rumah, saya justru langsung mengajari seorang adik mengenal dan membikin blog! Hebat kan saya *dikeplak dinosaurus*.

Baca Juga: Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android

Adalah Ny Sargaling, salah seorang lulusan Universitas Flores (Uniflor) yang baru diwisuda kemarin dan meraih IPK tertinggi dari Prodi Pendidikan Fisika. Tidak main-main 3,91 adalah IPKnya. Tetapi atas pertimbangan ini itu, maka Teresia Wali yang juga meraih IPK 3,91 lah yang maju sebagai lulusan terbaik, sedangkan Ny diberi kehormatan memberikan sambutan mewakili wisudawan/i.

Ny - Teresia - JLo, eh, saya.

Tanggal 22 Oktober 2019 kami terlibat obrolan awal melalui inbox Facebook. Itu karena saya rasanya gatal banget waktu melihat foto-foto yang dia pos di Facebook tentang event Tarian Caci di Kabupaten Manggarai sana. Sejak lama saya pengen bisa menghadiri event semacam itu tetapi selalu terkendala dengan waktu. Begitu ambil cuti, malah event-nya sudah lewat. Padahal bagus kan kalau ditulis di blog agar lebih banyak orang bisa membacanya. Kegatalan saya itu berlanjut sampai hari Minggu kemarin saat saya tiba di rumah setelah ratusan kilometer, pergi-pulang, antara Kota Ende dan Soa. Bukannya mandi dan istirahat, saya malah melanjutkan obrolan melalui inbox Facebook tersebut. Ny pun berhasil saya racuni! Haha. Obrolan kami lantas pindah dari inbox Facebook ke WA.

Kenapa harus pindah ke WA? Karena saya lebih familiar dengan WA terkhusus untuk mengirim foto dan lain sebagainya. Ini hanya soal kebiasaan saja. Teknologi memang canggih kan.

Mengenal dan Membikin Blog


Bukan barang baru bagi saya memperkenalkan dan mengajar orang membikin blog melalui WA. Bersama Om Bisot dan Kak Anazkia, sudah banyak grup kelas blogging yang dibuka. Sebut saja Kelas Blogging NTT Angkatan I dan Angkatan II dan Kelas Blogging Online. Selain itu saya juga membuka Kelas Blogging Tuteh yang berisikan mahasiswa yang pernah mengikuti workshop blog dimana saya menjadi pematerinya. Tentu materi saya tetap berjudul Blogging is Fun and Easy. Alasan membuka kelas blogging di grup WA, bisa kalian baca pada pos berjudul 5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT.

Balik lagi ke Ny.

Ny sudah punya modal awal sebagai blogger yaitu suka menulis. Sayang banget kalau dia menulis di layanan catatan Facebook. Saya jelaskan padanya bahwa menulis di blog itu jauh lebih baik karena semua tulisan terarsip dengan sangat baik, kita bisa mencarinya kembali dengan memasukkan kata kunci di blog, dan tentu tautannya bisa dibagi ke berbagai media sosial sebagai aksi promosi blog. Maka melalui pesan WA kami berdua berusaha yang memberi pengajaran (saya) dan memahami pengajaran (Ny). Hanya dalam waktu sepuluh menit saya sudah memperkenalkan pada Ny tentang konsep awal blog, ragam platform blog, contoh blog gratisan dan berbayar, hingga kenapa membikin blog di platform Blogger.

Dua menit kemudian, Ny sudah mendaftarkan blog di Blogger menggunakan nama keluarganya yaitu Sargaling. Saya bilang padanya bahwa nama Sargaling itu unik, pasti langsung jadi begitu didaftarkan ke Blogger, dan ternyata benar adanya. Blog Ny sudah jadi tetapi belum ada isinya karena dia harus menulis pos (pertama) terlebih dahulu. Selamat nge-blog ya, Ny! Terus menulis dan berbagi ragam kisah, terutama tentang Kabupaten Manggarai, di blog. Saya yakin akan banyak pembaca karena tulisan tentang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT): adat, wisata, budaya, kehidupan beragama yang harmonis, jadi buruan para pembaca.

Sebenarnya selain Ny, ada Facebooker lain yang juga menghubungi saya lewat inbox Facebook dan sangat tertarik untuk punya blog juga. Namanya Salsabila Salsa. Saya sudah memberikan nomor WA sih, tinggal menunggu dia menghubungi. Dan Insha Allah akan hadir blog baru lagi di dunia ini. Dududud. Terbukti teknologi memang memudahkan banyak hal, termasuk memudahkan orang-orang yang ingin belajar blog.

Hari Blogger Nasional


Siapa sangka apa yang saya dan Ny lakukan, mengajar dan mempelajari, merupakan cara keren (saya akui itu keren, hahaha) untuk merayakan Hari Blogger Nasional. Ternyata, sepanjang saya nge-blog, hanya ada satu pos tentang Hari Blogger Nasional. Padahal sudah tujuh belas tahun lebih saya nge-blog. Ditambah dengan pos ini, jadi dua.

Sebenarnya, sebelum berangkat ke Soa saya sudah memikirkan apakah hari Minggu (malamnya) akan menulis tentang Hari Blogger Nasional atau tidak? Karena Minggu adalah hari libur nge-blog dan hari bershanthaaaiii. Namanya juga blogger, sebagai blogger saya kan harus bisa membikin sesuatu yang beda berhubungan dengan Hari Blogger Nasional ini. Apakah pos di blog, atau status di media sosial, dan lain sebagainya. Ndilalah, gara-gara Ny yang pengen belajar blog, akhirnya saya bisa merayakan Hari Blogger Nasional dengan sangat keren. 

Merayakan Hari Blogger Nasional dengan Mengajar Blog!

Baca Juga: Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik

Sebagai blogger, belum banyak yang bisa saya perbuat untuk Indonesia *tsah* tetapi melalui kampanye terselubung maupun terbuka di media sosial tentang manfaat blog yang luar biasa, alias supa amazing, saya berharap akan semakin banyak pula orang-orang khususnya masyarakat NTT yang membikin blog. Karena, ada begitu banyak perkara tentang Provinsi NTT yang dapat digali, diolah, ditulis, dan dibaca oleh orang lain. Blog merupakan salah media promosi wisata juga. Kalian harus percayai itu, dan Ny ... juga harus percaya itu.

Salam Hari Blogger Nasional!

#SelasaTekno



Cheers.

Inilah Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional


Inilah Cara Keren Saya Merayakan Hari Blogger Nasional. Setiap tahun Hari Blogger Nasional dirayakan pada tanggal 27 Oktober. Tahun 2019 Hari Blogger Nasional jatuh pada Hari Minggu. Kalian tahu kan, Hari Minggu merupakan hari liburnya BlogPacker. Bertepatan dengan Hari Blogger Nasional pada hari Minggu kemarin saya malah pergi traveling ke lokasi wisata yang sudah lama bikin saya mupeng: Obyek Wisata Ae Sale Mengeruda atau lebih dikenal dengan nama Air Panas Soa (dibaca So'a) yang terletak di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada. Tapi itu bukan berarti saya melupakan hari keramat ini. Karena, setiba di rumah, saya justru langsung mengajari seorang adik mengenal dan membikin blog! Hebat kan saya *dikeplak dinosaurus*.

Baca Juga: Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android

Adalah Ny Sargaling, salah seorang lulusan Universitas Flores (Uniflor) yang baru diwisuda kemarin dan meraih IPK tertinggi dari Prodi Pendidikan Fisika. Tidak main-main 3,91 adalah IPKnya. Tetapi atas pertimbangan ini itu, maka Teresia Wali yang juga meraih IPK 3,91 lah yang maju sebagai lulusan terbaik, sedangkan Ny diberi kehormatan memberikan sambutan mewakili wisudawan/i.

Ny - Teresia - JLo, eh, saya.

Tanggal 22 Oktober 2019 kami terlibat obrolan awal melalui inbox Facebook. Itu karena saya rasanya gatal banget waktu melihat foto-foto yang dia pos di Facebook tentang event Tarian Caci di Kabupaten Manggarai sana. Sejak lama saya pengen bisa menghadiri event semacam itu tetapi selalu terkendala dengan waktu. Begitu ambil cuti, malah event-nya sudah lewat. Padahal bagus kan kalau ditulis di blog agar lebih banyak orang bisa membacanya. Kegatalan saya itu berlanjut sampai hari Minggu kemarin saat saya tiba di rumah setelah ratusan kilometer, pergi-pulang, antara Kota Ende dan Soa. Bukannya mandi dan istirahat, saya malah melanjutkan obrolan melalui inbox Facebook tersebut. Ny pun berhasil saya racuni! Haha. Obrolan kami lantas pindah dari inbox Facebook ke WA.

Kenapa harus pindah ke WA? Karena saya lebih familiar dengan WA terkhusus untuk mengirim foto dan lain sebagainya. Ini hanya soal kebiasaan saja. Teknologi memang canggih kan.

Mengenal dan Membikin Blog


Bukan barang baru bagi saya memperkenalkan dan mengajar orang membikin blog melalui WA. Bersama Om Bisot dan Kak Anazkia, sudah banyak grup kelas blogging yang dibuka. Sebut saja Kelas Blogging NTT Angkatan I dan Angkatan II dan Kelas Blogging Online. Selain itu saya juga membuka Kelas Blogging Tuteh yang berisikan mahasiswa yang pernah mengikuti workshop blog dimana saya menjadi pematerinya. Tentu materi saya tetap berjudul Blogging is Fun and Easy. Alasan membuka kelas blogging di grup WA, bisa kalian baca pada pos berjudul 5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT.

Balik lagi ke Ny.

Ny sudah punya modal awal sebagai blogger yaitu suka menulis. Sayang banget kalau dia menulis di layanan catatan Facebook. Saya jelaskan padanya bahwa menulis di blog itu jauh lebih baik karena semua tulisan terarsip dengan sangat baik, kita bisa mencarinya kembali dengan memasukkan kata kunci di blog, dan tentu tautannya bisa dibagi ke berbagai media sosial sebagai aksi promosi blog. Maka melalui pesan WA kami berdua berusaha yang memberi pengajaran (saya) dan memahami pengajaran (Ny). Hanya dalam waktu sepuluh menit saya sudah memperkenalkan pada Ny tentang konsep awal blog, ragam platform blog, contoh blog gratisan dan berbayar, hingga kenapa membikin blog di platform Blogger.

Dua menit kemudian, Ny sudah mendaftarkan blog di Blogger menggunakan nama keluarganya yaitu Sargaling. Saya bilang padanya bahwa nama Sargaling itu unik, pasti langsung jadi begitu didaftarkan ke Blogger, dan ternyata benar adanya. Blog Ny sudah jadi tetapi belum ada isinya karena dia harus menulis pos (pertama) terlebih dahulu. Selamat nge-blog ya, Ny! Terus menulis dan berbagi ragam kisah, terutama tentang Kabupaten Manggarai, di blog. Saya yakin akan banyak pembaca karena tulisan tentang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT): adat, wisata, budaya, kehidupan beragama yang harmonis, jadi buruan para pembaca.

Sebenarnya selain Ny, ada Facebooker lain yang juga menghubungi saya lewat inbox Facebook dan sangat tertarik untuk punya blog juga. Namanya Salsabila Salsa. Saya sudah memberikan nomor WA sih, tinggal menunggu dia menghubungi. Dan Insha Allah akan hadir blog baru lagi di dunia ini. Dududud. Terbukti teknologi memang memudahkan banyak hal, termasuk memudahkan orang-orang yang ingin belajar blog.

Hari Blogger Nasional


Siapa sangka apa yang saya dan Ny lakukan, mengajar dan mempelajari, merupakan cara keren (saya akui itu keren, hahaha) untuk merayakan Hari Blogger Nasional. Ternyata, sepanjang saya nge-blog, hanya ada satu pos tentang Hari Blogger Nasional. Padahal sudah tujuh belas tahun lebih saya nge-blog. Ditambah dengan pos ini, jadi dua.

Sebenarnya, sebelum berangkat ke Soa saya sudah memikirkan apakah hari Minggu (malamnya) akan menulis tentang Hari Blogger Nasional atau tidak? Karena Minggu adalah hari libur nge-blog dan hari bershanthaaaiii. Namanya juga blogger, sebagai blogger saya kan harus bisa membikin sesuatu yang beda berhubungan dengan Hari Blogger Nasional ini. Apakah pos di blog, atau status di media sosial, dan lain sebagainya. Ndilalah, gara-gara Ny yang pengen belajar blog, akhirnya saya bisa merayakan Hari Blogger Nasional dengan sangat keren. 

Merayakan Hari Blogger Nasional dengan Mengajar Blog!

Baca Juga: Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik

Sebagai blogger, belum banyak yang bisa saya perbuat untuk Indonesia *tsah* tetapi melalui kampanye terselubung maupun terbuka di media sosial tentang manfaat blog yang luar biasa, alias supa amazing, saya berharap akan semakin banyak pula orang-orang khususnya masyarakat NTT yang membikin blog. Karena, ada begitu banyak perkara tentang Provinsi NTT yang dapat digali, diolah, ditulis, dan dibaca oleh orang lain. Blog merupakan salah media promosi wisata juga. Kalian harus percayai itu, dan Ny ... juga harus percaya itu.

Salam Hari Blogger Nasional!

#SelasaTekno



Cheers.

Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android


Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android. Sering lihat teman punya lebih dari satu akun Facebook. Alasan yang pertama: karena quota perteman sudah penuh, alasan yang kedua: lupa username dan password sehingga perlu bikin akun baru, alasan yang ketiga: akun diretas. Saya hanya punya satu akun Facebook, the one and only, dan belum kepikiran untuk membikin akun tambahan. Tetapi saya mengelola banyak akun Facebook dari akun utama tersebut khususnya akun grup dan fanpage khususnya yang berkaitan dengan kampus. Sama juga dengan Twitter, saya mengelola lebih dari satu akun di luar akun pribadi alias akun utama, karena berbagai sebab antara lain komunitas dan kampus. Tapi khusus Instagram (IG) saya benar-benar hanya mengelola satu akun pribadi! Tidak ada akun lain yang saya kelola.

Baca Juga: Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru

Adalah satu kemudahan ketika kita mendaftar satu akun, khususnya media sosial, tetapi bisa mengelola akun lainnya yang ditambahkan. Sehingga untuk berpindah akun tidak perlu melakukan log out dan log in yang tentunya rempong sekali, tetapi cukup klik akun mana yang ingin diaktifkan/dipakai untuk pos sesuatu. Sangat mudah terutama untuk para pengguna Android.

Seperti yang sudah saya tulis, berbeda dengan Facebook dan Twitter yang mana saya mengelola banyak akun tanpa harus log out dan log in kembali, menambah akun di IG adalah perkara yang benar-benar baru bagi saya karena mengepos di IG pun tidak serajin mengepos di Facebook dan Twitter. Orang lain tentu sudah tahu tentang perkara yang satu ini karena ada pengguna yang ingin memisahkan antara akun Instagram (IG) pribadi dengan akun IG khusus bisnis. Sedangkan saya harus belajar dan mencari tahu sana sini agar bisa melakukannya.

Apa pasal sampai saya ngotot menambahkan akun IG? Cekidot.

Bertemu Abhi Ray


Sudah saya bilang kalau saya jarang mengepos di IG, otomatis jarang pula memerhatikan DM-nya. Sampai kemudian Kakak Rohyati Sofyan mengajak ikutan Indonesia Saling Follow di IG. Baru saya ngeh ternyata ada banyak DM dari teman-teman dan salah satunya dari Abhi Ray. Abhi Ray adalah sahabat blog sejak zaman dulu kala, sekitar tahun 2003 atau 2004-an yang dikenal sebagai salah seorang founder Segelas Air Putih. Segelas Air Putih awalnya melalui sebuah mailing-list, tempat berbagi cerita inspiratif yang membangun dan memotivasi, kemudian pakai .org, dan sangat membantu saya dalam mengelola program radio yang berhubungan dengan kisah-kisah inspirasi. Tentu, membaca kisah-kisah inspirasi di Radio Gomezone waktu itu atas ijin Abhi Ray dan kawan-kawan juga.

DM Abhi Ray itu bertanya tentang nomor WA. Selanjutnya kami mengobrol lewat WA. Inilah yang membikin saya terharu. Saya baru sekali bertemu Abhi Ray saat ke Jakarta dulu, tahu persis orangnya super baik. Sifatnya yang menginspirasi dan memotivasi tidak bisa hilang, pun saat kami mengobrol via WA. Abhi Ray menyarankan saya untuk membikin akun IG yang berkaitan dengan informasi wisata dan/atau suatu daerah. Beliau bahkan menyarankan nama-nama akunnya. Awalnya saya berkata pada beliau bahwa untuk perkara-perkara informasi berkaitan dengan wisata atau daerah itu sudah tersedia di I am Blocpacker, blog travel milik saya. Tapi kata Abhi Ray, zaman berubah, blog mungkin masih tapi IG lebih.

Ide tentang IG ini menarik juga. Maka malam itu saya mencoba mencari tahu caranya menambah akun baru di IG. Karena, oh yaaaa saya tidak tahu. Uh lala syekali kan. Hehe. Ternyata caranya sangat mudah, hampir sama dengan menambah akun di Twitter.

Dua Akun IG Dalam Satu Aplikasi


Caranya ternyata lumayan mudah. Berdasarkan pengalaman saya, pakailah nomor telepon genggam yang dipasang di perangkat smartphone, lagi pula e-mail saya sudah dipakai untuk mendaftar akun IG pertama kali dulu. Setelah nomor teleponnya ready, mari mendaftar. Pertama-tama tentu harus membuka aplikasi IG terlebih dahulu *ngikik*.


Klik beranda / akun IG kita di pojok kanan bawah samping kanannya ikon hati. Kalau sudah di beranda akun kita, lihat pojok kanan atas, itu nama akunnya @tutehpharmantara. Lihat yang saya lingkari merah? Klik di situ.


Maka akan terbuka halaman seperti pada gambar di atas. Lihat, ada tulisan Tambahkan Akun seperti yang saya lingkari merah di atas. Itu saya screenshoot dalam posisi sudah mendaftar/menambah akun @info_flores (sudah daftar ini ceritanya). Klik tambah akun, maka pengguna akan diantar pada halaman pendaftaran awal, seperti kita mendaftar pertama kali. Ikuti langkah-langkahnya sampai selesai. Dan, akhirnya akun @info_flores pun sudah jadi. Saya tidak menampilkan screenshoot langkah-langkahnya di sini hahaha. Soalnya akunnya sudah jadi dan tidak kepikiran untuk membikin lagi. Pokoknya tidak susah dan tidak rempong kok menambah akun di IG ini.


Akun @info_flores baru ada satu pos, dengan delapan pengikut. Jangan lupa untuk ikuti ya, pasti bakal diikuti balik!

Ternyata semudah itu menambah akun pada satu aplikasi IG di Android.

Baca Juga: Teknik, Koreo, dan Seni Pada Sesi Foto Prewedding

Saat ini saya sedang mengumpulkan materi untuk akun IG: @info_flores. Materinya juga ada yang diusulkan oleh Abhi Ray, dan memang saya punya banyak sekali materi untuk akun tersebut. Bisa diambil dari blog travel, bisa juga mengubek foto-foto yang masih tersimpan rapi di Google Photos, tinggal ditambah satu dua caption (paragraf) sebagai keterangan. Manapula saya bakal kembali keliling Pulau Flores sehingga bisa sekalian menambah isi @info_flores. Yang jelas foto-foto dan video (kalau mau video) bakal saya kasih tanda air dulu hehehe.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Berapa akun yang kalian punya di IG? Bagaimana dengan mengelolanya, susah atau mudah? Karena, konsisten merupakan hal yang cukup sulit untuk dijalani oleh saya dan/atau kalian.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Teknik, Koreo, dan Seni Pada Sesi Foto Prewedding


Teknik, Koreo, dan Seni Pada Sesi Foto Preweding. Sudah lama sahabat yang sudah saya anggap adik sendiri, Mila Wolo, meminta bantuan untuk foto prewedding. Prewedding-nya Mila dan kekasihnya yaitu Aram Ismail, bukan saya. Kita sepemahaman dulu dalam hal ini. Hahaha. Adalah sesuatu yang sulit menyatukan waktu begitu banyak orang. Menyatukan waktu Mila dan Aram saja harus mundur dari minggu ke minggu. Maklum, Mila menetap dan bekerja di Kota Ende, Aram yang asli Ende menetap dan bekerja di Kecamatan Pulau Ende. Mereka dipisahkan air garam. Hehe. Sedangkan kami yang membantu terwujudnya sesi foto prewedding itu juga punya aktivitas dan kesibukan sendiri.

Baca Juga: Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik

Pada akhirnya kesepakatan itu tiba. Sabtu, 21 September 2019, kami melakukannya. Sesi foto prewedding, bukan melakukan yang lain. Siapa-siapa yang terlibat dalam kegiatan ini selain saya?


1. Anto Ngga'a.
2. Kiki Abdullah.
3. Thika Pharmantara.
4. Solihin.

Sebenarnya ada seorang lagi yang saya ajak tapi dianya tidak bisa. Atau tidak mau? Ah, entahlah. Pokoknya dia tidak ikut. Eh? Kok jadi ngotot menulis si dia ini? Ah, sudahlah. Saya dan Anto Ngga'a harus minta ijin di kantor, keponakan saya Kiki pun harus mengurus tiga ibu hamil terlebih dahulu di puskesmas, Solihin (calon suaminya Kiki) sedang free time, Thika sedang tidak kuliah. Mari berangkat! Ada beberapa lokasi yang disepakati, termasuk dengan wardrobe yang sudah saya susun dan sebarkan ke para anggota huru-hara ini.

Lokasi Andalan yang Tutup


Merupakan kebanggaan kami, Orang Ende, bisa foto prewedding mengenakan pakaian adat dan difoto di rumah adat (manapun). Pukul 10.30 Wita sepakat berkumpul di depan Museum Tenun Ikat yang berbentuk rumah adat/panggung itu. Ndilalah area Taman Renungan Bung Karno (yang bertetangga dengan) dan Museum Tenun Ikat ditutup total. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan masuk. Siapalah kami, rakyat jelata yang cuma sedang mencari lokasi foto prewedding. Lokasi andalan yang tutup ini mengantar kami ke Pantai Mbu'u. Sebuah pantai dalam perjalanan menuju Wolotopo. Cuuuuum!

Matahari Tengah Kepala


Sangat sulit bagi Anto mencari spot dan titik bidik terbaik. Pukul 11.00 seharusnya sudah mulai sesi foto, tetapi Kiki dan Solihin malah baru tiba di Pantai Mbu'u. Dan, Kiki tidak mau kedatangannya sia-sia. Dia harus merias si Mila terlebih dahulu. Pokokny! Apalah daya ... kami pun menunggu dengan tabah ... sambil meminta Thika menulis papan ini. Oh ya, papan mini ini saya pesan di Melky, mahasiswa yang KKN-PPM di Desa Ngegedhawe. Sebenarnya papan tulis (hitam) tapi dia sudah terlanjur membikin warna cokelat. Hajar saja.


Setelah menunggu sekitar setengah abad, Mila pun sudah selesai dirias. Mari kita memulai! Dan Anto semakin pusing kepala karena matahari sudah berada di tengah kepala alias sulit mendapatkan titik untuk membidik karena kami juga tidak membawa reflektor. Aslinya sih memang tidak punya reflektor, tapi kan kami bisa meminjam pada teman-teman fotografer. Ya sudahlah, semangat tidak boleh kendor. Mari kita abadikan!



Dari lokasi Pantai Mbu'u kami meluncur ke bakal kafe yang masih sedang dipersiapkan untuk dibuka. Lokasinya tidak jauh-jauh dari Pantai Mbu'u. Untungnya diijinkan untuk foto-foto di sana sama pemiliknya, cus kami menambal perut dengan menu-menu yang disiapkan sama yang punya gawe. Hahaha. Sambil makan, gantian mengarahkan gaya / koreo untuk Aram dan Mila. Gantian sama si Kiki.

Gedung Imaculata dan Pohon Tua


Gedung Imaculata, gedung bersejarah tempat Bung Karno mementaskan tonil-tonilnya, merupakan lokasi berikutnya. Lokasinya hanya lima langkah dari Pohon Tua (rumah saya). Tapi hari itu kami tidak mampir ke Pohon Tua terlebih dahulu melainkan langsung ke gedung tersebut. Dulu saya memang termasuk orang yang tidak setuju Gedung Imaculata dipugar 100% sampai kehilangan bentuk aslinya. Aaaah, siapalah saya. Haha. Yang penting sekarang bisa dinikmati oleh siapa saja.

Dan yang punya gawe malah sakit perut! Menunggulah kami *ngikik*.


Untuk sesi foto di Gedung Imaculata, make up harus diganti sama yang lebih tebal hahaha. Kiki kembali beraksi dan kami yang lain menunggu dengan sabar dan tabah. Huhuhu. Kasihan Anto belum makan ini, pikiran saya, tapi anaknya memang tidak rewel jadi santai saja. Kalau kata lagu, kasih sloooooow.


Lepas dari Gedung Imaculata barulah kami pulang ke Pohon Tua, sekalian makan siang, istirahat, untuk sesi berikutnya.


Lelah? Pasti. Sejak pukul 10.00 Wita hingga menjelang maghrib. Makanya foto di atas itu bukan di dalam ruangan sebenarnya melainkan di teras rumah saya haha.

Tekni, Koreo, dan Seni


Ini yang mau saya bahas di pos hari ini. Saya pernah memang foto prewedding orang lain. Tapi waktu itu fotonya tidak dengan pasukan lengkap dan harus menggunakan metode tertentu *tsah*. Manapula masih susah untuk mengkoreo (bahasanyaaaaa) yang punya gawe. Pada sesi foto yang ini, saya belajar banyak teknik, koreo, dan seni sebuah sesi foto prewedding. Lagi pula saya kan bukan fotografer. Apalaaaah saya ini.


Terbiasa mengabadikan momen pernikahan, misalnya, bukan berarti langsung bisa untuk melakukannya saat sesi foto prewedding. Teknik yang saya pelajari dari Anto sangat banyak: pencahayaan, komposisi ini itu, sampai ratio dan sudut pengambilan.

Dari teknik, kita bergeser ke koreo dan seni. Keduanya melekat erat. Mengarahkan calon pengantin dalam sesi foto prewedding tidak semudah saat membidik akad nikah, misalnya. Sesi foto prewedding membutuhkan sedikit drama pengarahan. Mungkin ada yang bakal bilang mudah saja, kan tinggal lihat di internet, lalu dicontohkan. Tidak semudah itu. Kita harus memperhatikan kondisi si calon pengantin juga. Apakah mereka siap untuk koreo ini itu? Kalau mereka siap, hajar saja, kalau tidak ... ya terpaksa diganti.

Di situ seninya. Lebih seni lagi kalau calon pengantinnya usil macam Aram, sering mencolek Mila, terus ngakak, terus diulang lagi. Begitu seterusnya.

Baca Juga: Jangan Hanya Tahu 2D Karena Animasi Itu Banyak Jenisnya

Ternyata, dari sebuah sesi foto prewedding saya belajar banyak hal. Komponen-komponen yang harus disiapkan sebelum sesi foto itu pun banyak: ragam properti pendukung, wardrobe, make up, lokasi, tukang bidik dengan skill mumpuni dan pandai membaca situasi, dan tentu yang punya gawe. Tanpa kehadiran si calon pengantin, apalah artinya sesi foto prewedding ini. Hahaha.

Bagaimana dengan kalian, pernahkah memotret prewedding teman juga? Bagi tahu yuk di komen.

#SelasaTekno



Cheers.