5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur


5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak saja kaya akan suku, tetapi juga kaya akan bahasa, adat istiadat, serta budaya. Salah satu hasil kebudayaan masyarakat Provinsi NTT adalah tenun ikat. Tenun ikat dari NTT dibikin secara manual oleh tangan-tangan bersahaja para penenun, dibumbu cinta kasih, dan melalui proses panjang yang memakan waktu hingga berbulan-bulan. Alat menenunnya pun masih menggunakan alat tenun tradisional. Selain menggunakan pewarna buatan pada tenun ikat, para penenun juga masih mempertahankan pewarna alami seperti akar mengkudu dan daun taru(m). Khusus di Kabupaten Ende, tenun ikat yang masih menggunakan pewarna alami ini terutama pada tenun ikat berjenis Kembo. Tidak heran harga Kembo sangat mahal. Bisa mencapai jutaan Rupiah.

Baca Juga: 5 Perkara yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan

Sebagai masyarakat Kabupaten Ende, Pulau Flores, tentu saya wajib memiliki tenun ikat, yang masih dalam bentuk lembaran maupun sudah menjadi sarung, untuk dipakai ke acara-acara tertentu, acara keluarga maupun acara kantor. Setidaknya satu perempuan Kabupaten Ende, baik Suku Ende maupun Suku Lio, harus punya satu sarung tenun ikat jenis manapun. Kebanyakan, perempuan Kabupaten Ende mempunyai dua sarung tenun ikat dan salah satunya pasti berjenis Kembo.

Sejak satu bulan lalu Universitas Flores (Uniflor) memberlakukan tata tertib berpakaian baru. Sebagai karyawati yang patuh *uhuk*, tentu saya harus mengikuti peraturan tersebut. Saya jadi gemar mencari tahu tenun ikat selain dari Kabupaten Ende. Peraturan berpakaian itu adalah setiap Hari Selasa memakai kemeja putih dan sarung tenun ikat khas Kabupaten Ende, setiap Hari Kamis memakai kemeja rapi dan kain dari daerah manapun di Nusantara. Tidak masalah, karena setelah membongkar lemari, saya punya beberapa tenun ikat Kabupaten Ende (berbagai jenis) juga tenun ikat dari kabupaten lain di Provinsi NTT. Tidak hanya itu, saya juga punya kain batik hadiah dari teman-teman: batik Bali, batik Madura, batik Jawa.

Menulis LIMA pada judul pos ini tentu bukan berarti di Provinsi NTT cuma ada lima jenis tenun ikat. Jangankan satu provinsi, satu kabupaten saja tidak bisa diwakili dengan lima jenis tenun ikat saja. Tapi, lima merupakan angka Kamis di blog ini, sehingga kali ini saya ingin menulis tentang lima jenis tenun ikat yang sudah berhasil saya kumpulkan. Hehe. Sombong sedikit tak masalah kan ya.

Marilah kita cek.

1. Sarung Mangga


Nama tenun ikatnya adalah Mangga, kalau sudah dijahit sarung, ya jadinya sarung Mangga. Sarung Mangga identik dengan warna hitam dipadu corak putih dan merah. Coraknya kecil-kecil dengan ikatan yang rapi. 


Harga sarung Mangga berkisar Rp 500K s.d. Rp 700K. Tidak semahal sarung Kembo. Sudah saya tulis di atas, Kembo itu mahal karena pewarnanya pewarna alami serta proses membikinnya yang super lama. Bisa mencapai enam bulanan. Makanya, memakai Kembo itu selalu membikin perempuan merasa jauh lebih bangga. Hehe. Mahal coy. Beda dengan perempuan Suku Ende yang umumnya memakai sarung Kembo dan/atau sarung yang katanya: tidak bernama, perempuan Suku Lio lebih banyak pilihan jenis sarungnya seperti sarung Kelimara, sarung Jara (ada cora kuda),  sarung Lepa, sarung Pundi, sarung Luka, dan lain-lainnya.

Untuk mengumpulkan semua jenis sarung dari Kabupaten Ende saja saya harus menunggu uangnya terkumpul, haha.

2. Tenun Ikat Sikku


Kalau kalian beranggapan tenun ikat asal Pulau Sumba itu hanya seperti yang diperdebatkan dengan tenun ikat Troso - Jepara, kalian salah. Pulau Sumba terbagi atas empat kabupaten yaitu Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat, dan Kabupaten Sumba Barat Daya. Setiap kabupaten punya jenis tenun ikatnya masing-masing. Yang berbentuk fauna itu umumnya dari Kabupaten Sumba Timur. Sedangkan yang satu ini berasal dari Kabupaten Sumba Barat, saya beli waktu mempromosikan Uniflor beberapa tahun lalu:


Namanya Sikku. Berasal dari Kabupaten Sumba Barat di Pulau Sumba. Informasi tentang Sikku ini saya peroleh dari sahabat saya yang asli sana dan menetap di sana, Marten Bira. Saya punya dua tenun Sikku ini, satunya sudah dibikinkan gaun saat wisuda tahun 2018 lalu. Hehe. Yang satu ini masih saya pertahankan karena memang pengen memakainya dalam bentuk lembaran begini alias tidak perlu dijahitkan baju. Tahun 2015 saya membelinya seharga ... lupa ... sekitar Rp 300K sampai Rp 400K.

3. Sarung Kewatek 


Dari deskripsi yang saya peroleh dari berbagai sumber, maka sarung yang gambarnya di bawah ini bernama Kewatek, berasal dari Pulau Adonara. Kebetulan ada teman yang menjualnya dengan harga murah, langsung angkut, hanya Rp 400K. 


Satu-satunya yang tersisa alias sudah tidak ada pilihan lagi hahaha. Kenapa saya ngotot harus memilikinya? Karena ... kapan lagi? Pertama: masih bisa saya pakai setiap Hari Kamis sesuai aturan berpakaian di kantor. Kedua: koleksi. Perlahan-lahan. Saya masih pengen punya tenun ikat dari wilayah lain di Pulau Flores dan sekitarnya.

4. Hoba Nage


Tentang Hoba Nage dan bagaimana cara saya memburunya, itu perkara yang berkaitan dengan tema wisuda Uniflor 2019. Kalian bisa membaca ulasannya pada pos berjudul: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo


Umumnya Hoba Nage dipakai oleh kaum perempuan dari Kabupaten Nagekeo. Sedangkan untuk laki-lakinya memakai Ragi Woi. Tapi di Kota Mbay, perempuan juga menggunakan Ragi Woi, tidak hanya laki-laki.

5. Ragi Woi


Ini dia si Ragi Woi. Saya mendapatkannya dari keponakan setelah mereka menikah. Iwan (keponakan saya) menikah dengan Reni (asal Danga, Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo).


Kuningnya itu yang sangat khas, dan rasa-rasanya sangat cocok dipakai oleh Presiden Negara Kuning (sayaaaaa hahaha).

⇜⇝

Mempunyai lima jenis tenun ikat pada daftar di atas saja sudah membikin saya senang bukan kepalang. Akhirnya punya Kewatek! Akhirnya punya Hoba Nage! Meskipun memilikinya tidak pada satu masa bersamaan, tapi yang jelas sebagai masyarakat Provinsi NTT saya boleh berbangga pada orang luar. Pun, setidaknya saya masih bisa menjelaskan pada orang luar tentang asal daerah tenun ikat bersangkutan, nama/jenisnya, serta dipakai oleh laki-laki atau perempuan(?). Kan malu kalau ditanya sama orang luar, eeeeh tidak mampu menjawabnya, padahal informasinya bisa diperoleh dari mana saja, terutama dari penduduk/orang yang memang tahu benar.

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo

Apakah saya masih mau mengumpulkan tenun ikat dari daerah lain di Pulau Flores dan/atau Provinsi NTT? Oh, tentu! Saya harus punya sarung/tenun ikat dari Kabupaten Manggarai (Kabupaten Manggarai Barat atau Kabupaten Manggarai Timur, mana-mana suka), Kabupaten Sikka, Kabupaten Pulau Lembata, bahkan dari Pulau Sabu. Dulu, saya punya selendang/syal asal Pulau Sabu tapi sudah saya berikan ke teman. Nanti cari lagi. Hehe.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi saya, mengumpulkan tenun ikat aneka jenis dari berbagai daerah merupakan perbuatan kecil demi melestarikan budaya dan membantu para penenun. Cuma perbuatan kecil, tapi kalau dilakukan oleh banyak orang, akan menjadi perbuatan besar. Bukan demikian? Demikian ... hehe.

#KamisLima



Cheers.

Proses Pembuatan Tenun Ikat


Karena pos ini (cukup) bermanfaat bagi siapapun yang ingin tahu tentang proses pembuatan tenun ikat, menurut saya sih bermanfaat, saya mengunggah tulisan yang sama di dua blog secara bersamaan, blog yang ini dan blog yang itu. Supaya adil, merata, dan makmur. Saya paling tidak enak perasaan loh kalau dibilang tidak adil sama blog sendiri, terutama jika dinosaurus mendukung aksi protes blog-blog itu *digampar*. 


Tenun ikat merupakan salah satu ciri khas Indonesia bagian Timur. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sendiri setiap daerahnya mempunyai kekhasan motif-nya masing-masing. Jadi, kalau kalian bilang, "Ini tenun ikat NTT loh!" maka pasti ada yang bertanya, "NTT wilayah mana?" Hehe. Saya jamin kalian tidak bisa mengoleksi semua jenis tenun ikat asal NTT, kecuali:

1. Kalian jutawan yang duitnya bikin dinosarus mupeng. 
2. Kalian membelinya bertahap.

Baru-baru ini saya mendapat kesempatan super istimewa karena diperbolehkan meliput dan mendokumentasikan kegiatan proses pembuatan tenun ikat. Lokasinya di Desa Gheogoma, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende. Hanya sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Ende. Kegiatan ini merupakan kegiatan dari PID Kecamatan Ende Utara; pemberdayaan masyarakat desa dengan menggali potensi desa, memberi pelatihan dan dana, mengembangkannya, hingga memasarkannya. Berkaitan dengan ini, kalian bisa membaca pos tentang 5 Keseruan Jadi Tukang Syuting.

Oia, sebelumnya kalian sudah harus tahu kalau di Kabupaten Ende tinggal dua suku besar yaitu Suku Ende dan Suku Lio, sehingga beberapa kata/istilah dalam proses ini memang berbeda dari bahasa dua suku tersebut.


Proses pembuatan tenun ikat di Desa Gheoghoma saat proses syuting kemarin diikuti oleh tiga kelompok yang telah dibentuk sejak tahun 2018 yaitu Kelompok Bunga Mawar dari Dusun Mau'munda, Kelompok Naganai dari Dusun Naganai, dan Kelompok Bunga Melati dari Dusun Nuarenggo.

Sekarang, mari kita simak satuper satu prosesnya:

1. Woe


Woe adalah proses menggulung benang sehingga berbentuk bola. Jadi, zaman dulu itu woe dilakukan dari bentuk kapas menjadi bentuk benang ke alat woe, lalu dari alat woe digulung lagi sehingga berbentuk gulungan benang (bola benang). Tapi sekarang, benang bakal tenun ikat ini dibeli di toko khusus yang menjualnya sehingga mempercepat proses awal ini. Bye bye pohon kapuk. Haha.


2. Meka


Setelah woe, proses berikutnya adalah meka. Meka merupakan proses mengurai gulungan benang ke alat meka seperti pada gambar berikut:



3. Go'a


Meskipun terlihat hampir sama dengan meka, go'a berbeda (merupakan proses selanjutnya) dan dilakukan di alat ndoa go'a. Proses ini bermaksud menentukan ukuran sarung tenun ikat nanti. Misalnya sarung Mangga milik saya yang dibikin oleh kakak ipar itu dibikin ukurannya lebih besar sesuai bodi dinosaurus hahaha. Ukuran normalnya sih tidak begitu.


4. Pete


Pete atau ikat/mengikat merupakan proses penentu motif yang diinginkan. Dari yang saya amati, pete terbagi atas dua. Yang pertama adalah proses memilah urat benang sehingga dikelompokkan dan diikat berdasarkan jumlah urat benang seperti pada gambar berikut:


Kemudian dilanjutkan dengan pete motif seperti pada gambar berikut:


Waktu saya tanya, motif apa yang dibuat, si Mama menjawab motif Labu. Dari hasil wawancara dengan perwakilan kelompok yaitu Gaudensia Titi, motif yang dihasilkan memang macam-macam, diantaranya motif Mangga, motif Nggaja, hingga motif yang dimodifikasi yaitu motif Burung Garuda seperti yang dipakai oleh Mama berikut ini:


Coba lihat lebih dekat/teliti, sarung yang dipakai oleh Mama ber-zambu (baju Ende) biru pencampur obat pewarna itu bermotif burung garuda. Keren ya.

Nah, nama daun yang dipakai untuk pete ini saya lupa hahaha. Sejenis daun kelapa tapi kata si Mama bukan daun kelapa.

5. Celup


Celup atau pencelupan atau pewarnaan dilakukan beberapa kali. Setelah benang tenun ikat di-pete, maka dilakukan pencelupan. Pada zaman dahulu bahan pewarna untuk pencelupan ini adalah bahan-bahan alami seperti akar mengkudu (kembo) dan daun taru tapi sekarang bahan-bahannya bisa dibeli di toko khusus yang menjualnya. Tapi jangan salah, beberapa penenun masih membikin tenun ikat dengan pewarna alami untuk menghasilkan sarung berjenis kembo yang super sekali dan harganya pun jutaan Rupiah.

Saat syuting kemarin, karena untuk kebutuhan video dokumenter saja, proses pencelupan dilakukan dua kali yaitu pertama pencelupan warna hitam:


Proses pencelupan pertama selalu warna hitam sebagai warna dasar. Campuran obat pencelupan warna hitam pertama harus pakai air panas. Apakah itu sebabnya para Mama ini memakai sarung tangan? Tidak juga. Mereka memakai sarung tangan selain karena panas juga agar tangan mereka tidak ikut berubah warna hahaha. Setelah pencelupan pertama untuk warna hitam ini, lagi-lagi mereka mencelup dengan warna hitam juga tapi campuran obatnya sudah pakai air dingin/biasa. Warna bakal tenun ikat ini dari oranye langsung berubah jadi hitam pekat (lebih hitam dari pencelupan hitam pertama).

Setelah itu dilakukan pencelupan warna kedua, warna yang diinginkan adalah merah:


Obat pewarnanya keren euy hehehe.

6. Mengurai


Setelah kering rangkaian benang yang dicelup, lantas dibuka ikatannya dan diurai seperti nampak pada gambar berikut ini:


Setelah diurai, lalu direntangkan untuk dipasang di alat tenun. Biasanya, menurut para Mama, dalam proses pencelupan setelahnya rangkaian benang diberi kanji agar kaku. Kenapa begitu? Supaya lebih mudah saat ditenun dooonk hehehe.


7. Senda


Senda artinya menenun. Selain bekal rangkaian benang yang sudah melalui tahap pencelupan dan penguraian di atas, juga menggunakan gulungan benang lain (berwarna hitam) yang diistilahkan dengan poke. Poke ini ya untuk menenun itu:


Kalian lihat Mama ber-zambu putih yang berhadapan wajah dengan si penenun? Dia sedang menggulung benang poke yang diletakkan di dalam semacam pipa paralon. Caranya dengan menggosok benang poke di betisnya (bisa muluuuuus tuh betis tak perlu dicukur hahaha) lalu digulung di kayu yang nanti diletakkan di dalam pipa itu. Poke atau lempar; maksudnya pipa dilempar diantara gugusan serat kain lalu ditenun, dipisah lagi serat kain berikutnya dalam satu gugusan lalu di-poke dan ditenun lagi. Sampai selesai. Bayangkan berapa banyak benang poke yang dipakai?


Nanti, agar lebih jelasnya, saya akan coba mempersingkat video proses pembuatan tenun ikat ini khusus di bagian senda dengan poke-nya itu.

Membikin tenun ikat tidak semudah yang dipikirkan orang lain, apalagi dengan cara tradisional seperti ini. Oleh karena itu saya sendiri sangat menyayangkan jika tenun ikat, karya jenius ini, kemudian dijual dengan harga murah.


Setelah selesai ditenun, kain tenun ikat dijahit berbentuk sarung. Saya sendiri punya tenun ikat motif Mangga yang masih bentuk lembaran alias belum dijahit menjadi sarung Mangga. Biasaaaa dikasih kakak ipar hahaha.

Akhirnya ... senang juga bisa menulis ini. Dulu pernah menulis tapi tidak selengkap sekarang. Senang sekali kan saya mendapat kesempatan emas meliput semua prosesnya dalam beberapa jam saja? Kalau hari biasa ... mana bisaaaaa. Kita harus menunggu. Misalnya satu penenun itu dia woe satu hari, terus meka dua hari, terus go'a berapa hari, celup berapa hari, lalu senda bisa tiga bulanan. Malah, kalau membikin sarung tenun ikat menggunakan pewarna alami, prosesnya bisa menahun.



Baca Juga: #EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende

Demikian pemirsa, saya akhiri dulu pos ini. Semoga kalian suka!



Cheers.