Arsip Kategori: #SabtuReview

Makna Kehidupan di Tengah Pandemi oleh Agustinus Tetiro

 


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi oleh Agustinus Tetiro. Membaca buku masih menjadi kebiasaan, budaya, yang sulit lepas dari diri saya pribadi. Di tengah terjangan video-video Youtube, buku masih punya porsi besar dalam kuadran hidup saya yang penuh warna ini. Meskipun gemar menulis cerita cinta tapi sejujurnya saya bukan penggemar buku dengan cerita cinta awut-awutan. Dari buku-buku fiksi saya menggilai keruwetan Deception Point karya Dan Brown, atau hasil khayalan tingkat tingginya J. K. Rowling dalam Harry Potter. Dari buku-buku non-fiksi saya terhipnotis pada kisah nyata penuh perjuangan dalam Between a Rock and a Hard Place yang ditulis oleh petualang bernama Aron Ralston. Sedangkan buku-buku non-fiksi lainnya berjenis self improvement, tentu kalian tahu tentang Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat oleh Mark Manson atau The Secret of Ikigai yang ditulis Irukawa Elisa.


Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca


Baru-baru ini seorang teman Facebook bernama Gusti Adi Tetiro meluncurkan sebuah buku berjudul Makna Kehidupan di Tengah Pandemi dengan tagline Meditasi Bersama Viktor Emil Frankl. Kalian pasti tahu apa yang berkecamuk di dalam pikiran saya kan? Haha. Saya harus membaca buku yang satu ini! Alhamdulillah, Rabu kemarin buku ini tiba di tangan saya melalui kakak ipar Om Gusti. Anyhoo, saya memanggilnya dengan embel-embel 'Om', bukan karena kami berhubungan darah, bukan karena dia menikah dengan Tante saya, tetapi panggilan 'Om' merupakan suatu bentuk penghormatan yang membumi dalam prinsip hidup saya meskipun yang bersangkutan mungkin jauh lebih muda usianya. Sesederhana itu.


So, let's talk about the book.


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi ditulis oleh Agustinus Tetiro a.k.a. Gusti Adi Tetiro (Facebookers lebih mengenalnya dengan nama ini). Dengan jumlah halaman 103, buku ini diterbitkan oleh Penerbit Ikan Paus. Menarik. Penerbit Ikan Paus beralamat di Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan memperkenalkan perjalanan panjang cikal bakal buku ini disusun, pembaca jadi tahu seperti apa lingkungan pergaulan si Penulis. Menurut saya Om Gusti termasuk dalam kelompok logophile yang super filosofis. Well, buku ini dijual dengan harga Rp 70.000.


Viktor Emil Frankl dan Logoterapi 


Seperti tagline-nya, pada awal buku ini pembaca diperkenalkan dengan seorang neurolog dan psikiater bernama Viktor Emil Frankl yang juga merupakan korban Holocaust. Dia adalah pendiri Logoterapi dan Analisis Eksistensial dalam psikoterapi. Buku yang ditulis olehnya berjudul Man's Search for Meaning yang memuat pengalamannya saat menjadi tahanan kamp konsentrasi di mana dia menguraikan metode psikoterapinya dalam upaya mencari makna dalam segala bentuk keberadaan, bahkan yang paling kelam sekalipun. Kita harus tetap hidup! Berapa banyak orang di dunia semacam Viktor Emil Frankl? Holocaust itu tragedi kemanusiaan paling brutal dan dia berupaya untuk bertahan dengan cara 'mencari makna hidupnya sendiri'. It's a wow. Singkatnya Logoterapi memadukan atau mendampingkan antara fisik, psikis, dan spiritual seorang manusia.


Menurut Om Gusti (2020, 38), Logoterapi mempunyai beberapa sifat khas. Pertama, logoterapi menekankan pentingnya kehendak untuk bermakna. Kedua, logoterapi menuntut kesadaran dalam penemuan makna hidup manusia. Ketiga, dalam kaitannya dengan waktu, logoterapi melihat masa lampau secara kreatif sebagai bahan pembelajaran yang inspiratif dan tidak pernah sebagai bayangan yang membelenggu. Masa sekarang dan masa depan adalah titik tolak dan tujuan logoterapi. Harapan di masa depan mesti menarik orang untuk mengisi hidup semakin baik dari demi hari. 


Kalimat Kunci


Saya membaca Makna Kehidupan di Tengah Pandemi dengan sangat antusias. Tentu tidak mungkin semua isi buku saya kutip di sini. Hahaha. Tapi sepanjang membaca buku ini saya menemukan kalimat kunci yang pasti akan membikin kalian tertarik ingin membacanya juga.


Hanya orang yang mempunyai pikiran positif bahwa hidupnya bermaknalah yang mau mengikuti protokol kesehatan. (Agustinus Tetiro, 2020:82).


We can't argue with that. Di tengah pandemi Covid-19 yang membabi-buta ini, Om Gusti mengajak kita untuk berpikir tentang makna. Makna hidup setiap orang tentu berbeda. Tapi setiap orang tentu ingin tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19, dan kalau beruntung bisa menerobosnya dan menggapai segala cita-cita dan harapan. Badai ini begitu besar. Seperti kalimat kunci di atas, hanya orang yang mempunyai pikiran positif bahwa hidupnya bermaknalah yang mau mengikuti protokol kesehatan. Bukan, mereka bukan orang-orang yang takut mati karena kematian itu selalu mengejar umat manusia. Ini menjadi kalimat kunci saya dari buku Makna Kehidupan di Tengah Pandemi.


Jadi, di tengah pandemi Covid-19 maukah kita menyia-nyiakan hidup kita dengan meninggalkan protokol kesehatan? Masihkah kita mengata-ngatai orang yang patuh pada protokol kesehatan dengan istilah si takut mati? Masihkah kita bilang orang-orang yang patuh pada protokol kesehatan adalah orang-orang yang menderita sampai-sampai tidak lagi menikmati hidupnya? Haha. Kita keliru! 


Mungkin kalian pun bakal bertanya, memangnya ada makna dalam penderitaan? 


Pada saat penderitaan itulah seseorang sebenarnya diberi kesempatan (terakhir) untuk mengaktualisir nilai tertinggi dan mengisi makna terdalam dari eksistensinya, yaitu makna kehidupan yang ditemukan melalui penderitaan seperti Covid-19. (Agustinus Tetiro, 2020:89).


Kalau Viktor Emil Frankl bukan orang yang kemudian menemukan makna hidup di tengah ganasnya Holocaust, maka dia tidak akan melahirkan logoterapi. Jika kita bukan orang yang bisa bertahan dalam pandemi Covid-19 (dengan memperketat protokol kesehatan yang sesederhana itu), maka kelak kita tidak akan punya cerita, kelak kita tidak akan bermakna, kelak kita hanya dikenal sebagai orang-orang pasrah yang miskin harapan dan cinta.



Baca Juga: Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar


Akhirnya saya harus berterima kasih pada Om Gusti yang telah menulis buku ini. Sangat membuka wawasan dan salah satu self improvement yang penting untuk kita semua. Saya juga harus berterima kasih kepada Kakak Irma Pello yang telah memediasi (hayaaaaah, bahasanya, Teh) sehingga buku ini bisa tiba di tangan saya. Bagi kalian yang belum membaca buku ini, mari dibaca. Saya jamin, kalian pasti suka dengan buku ini. 


Selamat menikmati akhir pekan, kawan.


Cheers.

Cara Cerdas Refly Harun Membahas Sesuatu Bikin Kagum



Cara Cerdas Refly Harun Membahas Sesuatu Bikin Kagum. 26 Oktober 2019 lalu saat Refly Harun datang ke Kota Ende, khususnya menerima undangan Universitas Flores (Uniflor) untuk memberikan kuliah umum bertajuk Membangun Potensi Diri sebagai Mediator Budaya: Mengawal Ideologi, Melawan Radikalisme saya tidak sempat meliputnya. Iya, pada hari yang sama saya mendokumentasikan pernikahan sahabat baik, Mila Wolo dan Aram Ismail. Dalam hati saya berkata, pernikahan sahabat saya merupakan momen terpenting dalam hidupnya, mendengarkan kuliah umum Refly Harun, insha Allah, dapat saya lakukan di lain waktu. Siapa sangka kemudian saya menemukan channel Youtube milik Refly Harun. Channel ini ibarat oase yang memuaskan banyak orang, I guess, tentang banyak hal yang berkaitan dengan Indonesia, dalam perspektif hukum. 


Baca Juga: Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi


Pada akhirnya saya dapat menjadi 'peserta kuliah umum' dengan pemateri tunggal Refly Harun, Pakar Tata Negara. Hehe. Di mana di setiap videonya ia tampil mengenakan kaos dengan kerah a la preman zaman dulu, selalu dinaikkan. Barangkali ini bakal jadi gaya memakai kaos (berkerah) yang bakal ditiru banyak lelaki *ngikik*. But I like his style.


Deskripsi pada channel Refly Harun super unik. Saya kopas langsung:


Di Channel ini, Anda akan di-RAYU, DICECAR, di-TiPU, di-BAPERIN, dan di-UBER di JALUR khusus. Karena channel ini adalah channel yang MENGANCAM, MEMERAS, dan MEMBENCI. 


#RAYU - Refly Answers You Understand

#DICECAR - Dialog Cerdas Cara Refly

#TiPU - Tiga Pertanyaan Utama 

#BAPERIN - Bahan Perbincangan Hari Ini

#UBER - Ulas Berita

#JALUR - Jalan Lurus 


MENGANCAM = MEmbahas PerbincaNGAN maCAM-macam

MEMERAS = MEMberi Edukasi secaRA bernaS

MEMBENCI = MEMBangkitkan Energi daN CInta


Cadas!


Refly Harun selalu membahas isu-isu terkini di negara ini. Secara obyektif. Ingat, obyektif memang menyakitkan bagi sebagian orang, tapi saya sendiri juga lebih suka segala sesuatu yang dipandang secara obyektif. Ada keberimbangan dalam obyektifitas. Kadang ia membahas berita, membahas artikel opini, atau membahas buku. Tapi yang jelas, tidak jauh-jauh dari isu terkini di negara ini. Seperti salah satu video yang membahas tentang artikel opini yang ditulis oleh Ubedilah Badrun seorang Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di kolom opini Tempo.Com. Judulnya: 75 Tahun Indonesia Maju, Anak Maju Menantu Maju. Karenanya, 75 tahun Indonesia merdeka, yang merdeka itu dinasti politik. Menarik! Menarik! Menarik! Tapi blog saya tidak pernah membahas politik, haha, jadi yaaaa ...


Ada satu video yang juga sangat menarik minat saya yaitu tentang sebuah buku yang diberitakan di CNN. Buku itu ditulis oleh seorang peneliti asal Lowy Institute bernama Benjamin "Ben" Bland. Di buku itu Presiden Jokowi dikritik habis-habisan oleh Ben. Buku itu akan dirilis 1 September 2020 mendatang. Menurut Refly Harun ada empat kata kunci yang cukup jelas terpapar di sini yaitu terburuk, aneh, otoriter, dan kacau. Sayangnya di pemerintahan terakhir-terakhir ini, rasanya situasi demokrasi kita sangat mencekam dengan ancaman undang-undang ITE misalnya, dengan ancaman dari pintu belakang, misalnya remove from the office. Jadi, kita tidak siap berbeda pendapat.


Baca Juga: Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya


Saya tentu tidak akan menceritakan satu per satu video yang telah tayang di channel kece Refly Harun tersebut. Kalian silahkan nonton sendiri. Hehe.


Well, 75 tahun Indonesia merdeka. Doa saya tetap cuma satu: Covid-19 segera berlalu! Supaya kita bisa jalan-jalan lagi mengeksplor Pulau Flores. Ha ha ha. Itu poinnya. Semoga akhir minggu kalian menyenangkan, kawan.



Cheers.

Menambah Wawasan Bersama Building A Ship While Sailing


Menambah Wawasan Bersama Building A Ship While Sailing. Salah satu buku yang saya baca saat work from home demi menjalankan #DiRumahSaja berjudul Building A Ship While Sailing. Sebuah buku yang dibagikan langsung oleh penulisnya usai kegiatan seminar sekaligus peluncuran buku tersebut di Auditorium H. J. Gadi Djou tanggal 25 Agustus 2017. Sudah lama diluncurkan kenapa baru dibaca sekarang? Karena saya baru saja memperolehnya dari Kakak Shinta Degor. Haha. Dan lumayan juga buku ini dibaca di masa pandemi Covid-19, mengisi waktu, sembari nge-blog dan berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Dan yang namanya buku, tentu selalu baik untuk dibaca, selama buku itu memang merupakan buku yang bermanfaat.

Baca Juga: Menonton Ulang Suami-Suami Yang Masih Takut Sama Isteri

Bagi kalian yang penasaran, marilah kita kenalan sama buku ini.

Building A Ship While Sailing


Building A Ship While Sailing ditulis oleh S. D. Darmono, Chairman Jababeka Group. Buku bersampul hitam dengan foto sang penulis ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Sebanyak 222 halaman kita tidak saja disuguhi bermacam teori tetapi juga quote menarik, serta foto-foto. Menurut S. D. Darmono, judul buku ini diinspirasi oleh Prof. Dr. Emil Salim beberapa tahun lalu ketika meresmikan Botanical Garden yang dibangun Jababeka di Cikarang, Bekasi. Sambil bergurau Prof. Dr. Emil Salim mengatakan, kita ini membangun negeri seperti membangun kapal sambil berlayar.

Pengantar buku ditulis oleh Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Ketua Tidar Heritage Foundation (THF). Menurut beliau:

Setelah membaca buku ini, kita akan semakin mengenal kesungguhan dan kedalaman berpikir Mas Darmono untuk mengabdikan diri kepada bangsanya. (Hidayat dalam Darmono, 2017:xvii).

Terhitung 10 Bab tersaji dalam Building A Ship While Sailing. Dan saya memaknainya sebagai pelajaran tentang sejarah membangun negeri dari banyak aspek. Perjuangan tidak akan pernah berhenti.

Bergerak Maju Tanpa Melupakan Sejarah


Pada bab-bab awal Building A Ship While Sailing pembaca diajak menelusuri sejarah bangsa ini. Mulai dari Indonesia di zaman purba, nusantara di era Mahapahit, kemudian Indonesia dan kesultanan, hingga meluruskan pandangan tentang pribumi. Membaca tentang keteladanan tokoh bangsa membikin jiwa patriot dalam diri saya memberontak pula. Apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia? Hiks. Tahunya cuma berkoar-koar di media sosial, mengeluh tentang hal-hal yang tidak penting. Sedangkan Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, hingga John Lie Tjeng Tjoan, alias Jahja Daniel Dharma; satu-satunya milisi Indonesia keturunan Tionghoa yang meraih pangkat Laksamana Muda dan diberikan gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia.

Mengapa sejarah dan tokoh-tokoh besar bangsa diulas di dalam Building A Ship While Sailing? Karena tidak ada yang namanya depan tanpa belakang. Tidak ada yang namanya masa depan tanpa sejarah. Seperti ... apakah itu masih disebut putih bila tidak ada hitam? Kira-kira seperti itulah. Pembaca diajak untuk memahami tentang pembangunan bangsa ini sejak awal mula, simpang-siurnya kondisi pada zaman perjuangan dulu, hingga perjuangan tak kenal ampun para tokoh besar bangsa ketika Indonesia diproklamirkan merdeka, bagaimana Indonesia harus bergaul dan bergaung di dunia/global, bagaimana sebuah kapal yang belum sempurna harus mengarungi lautan yang ganas. Ya, bagaimana kemudian kapal ini terus bertahan di lautan ganas tersebut.

Wisata budaya merupakan poin yang paling saya soroti dari Building A Ship While Sailing. Ulasannya lengkap dan luas. Menurut Darmono, pariwisata merupakan salah satu sektor utama yang harus mulai dikembangkan dan dikelola dengan sangat serius untuk meningkatkan pendapatan regional dan nasional di Indonesia. Ada beberapa alasan mendasar kenapa pariwisata harus ditempatkan sebagai salah satu sektor penting pembangunan ekonomi. Alasan yang pertama tidak terlepas dari perubahan dunia. Dunia tengah memasuki gelombang revolusi ketiga setelah dua revolusi sebelumnya, yakni revolusi politik dan revolusi industri. Revolusi ketiga ini berlangsung pada wilayah teknologi komunikasi-informasi dan transportasi. Situasi ini memberikan pengaruh yang sangat besar pada dunia pariwisata.

Sangat setuju!

Memulai Tidak Menunggu Sempurna


Ini garis besar yang saya tangkap setelah membaca Building A Ship While Sailing. Bagaimana kita memulai tanpa menunggu sempurna. Saya contohkan diri sendiri yang dulu ketika hendak berhijab selalu punya pernyataan: kumpulkan pakaian lengan panjang dan aneka hijab dulu, baru berhijab. Sampai kapan? Entah. Oleh karena itu pada suatu pagi saya menyingkirkan pernyataan sinting itu dan mulai berhijab. Hijrah yang terasa begitu menyenangkan karena justru setelah dilakukan, justru berjalan dengan mulus. Kendalanya ada ... kalau jilbab yang hendak saya pakai ternyata masih basah. Hahaha.


Baca Juga: Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan

Bagaimana, kawan? Tertarik untuk membaca buku Building A Ship While Sailing juga? Silahkan. Saya jamin kalian tidak akan menyesal. Wawasan pasti bertambah. Apa yang saya tulis cuma sebagian kecil dari nilai-nilai yang diperoleh usai membacanya. Berjuanglah, blended dengan kondisi sekarang, dan naikkan layar meskipun kapal kalian belum sempurna terbentuk. Percayalah, banyak pelajaran yang bisa kita peroleh selama perjalanan ini dan pengalaman itu dapat menjadi penyempurna perjalanan.

Semoga bermanfaat.

#SabtuReview



Cheers.

Menonton Ulang Suami-Suami Yang Masih Takut Sama Isteri

Credits: Logos Fandom.

Menonton Ulang Suami-Suami Yang Masih Takut Sama Isteri. Covid-19, oh Covid-19. Kau menjadikan kami mempunyai lebih banyak waktu di rumah saja. Kegiatan yang dilakukan juga banyak; membaca lebih banyak buku dan artikel, lebih lama dan lebih sering mengobrol dengan orang se-Pohon Tua tentang berbagai isu dan rencana-rencana menjelang Hari Raya Idul Fitri, menanam lebih banyak bibit tanaman untuk dapur serta tanaman yang menghasilkan bunga, membikin kue yang kebanyakan gagal, sampai berkreasi ini itu. Semuanya dilakukan setelah pekerjaan kantor selesai! Iya, pekerjaan kantor yang juga dilakukan di rumah dan dari rumah. Malam hari, lebih banyak video yang ditonton mulai dari Upin Ipin, Larva, tiny house, gardening, Nessie Judge, Yuvi Phan, That Chapter, hingga ... Suami-Suami Takut Isteri.

Baca Juga: Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan

Kalian tentu masih ingat sinetron serial Suami-Suami Takut Isteri bukan? Situasi komedi (Sitkom) yang bikin kita ngakak di tahun-tahun lampau. Ceritanya tentang suatu kompleks yang dihuni oleh beberapa keluarga dan dipimpin oleh Pak RT. Rata-rata bapak-bapak kompleks digambarkan ganjen kalau melihat makhluk 'halus mulus'. Dan makhluk 'halus mulus' itu bernama Pretty. Kasihan sih Pretty selalu menjadi korban cercaan ibu-ibu kompleks, padahal dia adalah korban keganasan bapak-bapak kompleks. Kalau urusannya sama Pretty dan/atau perempuan cantik bohay lainnya, ketakutan bapak-bapak kompleks pada isteri mereka hilang seketika. Haha. Kocak sekali lah ceritanya.

Bersumber dari Wikipedia, Suami-Suami Takut Istri adalah komedi situasi nasional 2007-2010 yang ditayangkan di Trans TV setiap Senin hingga Jumat pukul 18.00 sampai 19.00 WIB selama 1 jam 1 episode mulai tayang sejak Senin, 15 Oktober 2007 sampai dengan episode terakhir hingga tamat ditutup Jumat, 2 April 2010 dengan jumlah 649 episode dan NET. (melalui NET. Classic) menyiarkan kembali sejak Rabu, 5 Juni 2019 sampai dengan episode terakhir hingga tamat ditutup Agustus 2019 setiap hari pukul 16.00 sampai 18.00 WIB selama 2 jam 2 episode yang ditayangkan jumlah 649 episode. Serial ini digarap oleh rumah produksi Multivision Plus di bawah arahan sutradara Sofyan De Surza.

Komsit ini mengangkat fenomena suami-suami yang tinggal di suatu area perumahan. Mereka semua memiliki kesamaan yaitu berada di bawah dominasi istri-istri mereka. Perasaan "senasib sepenanggungan" ini tumbuh makin kuat, sehingga mereka membentuk aliansi tidak resmi bagi suami-suami yang takut istri ini. Mereka saling mendukung dan mencela, saling menguatkan agar tidak lagi mau ditindas, walaupun sering kali sang pemberi nasihat justru masih takut istri juga. Para istri di kompleks perumahan tersebut juga membentuk perkumpulan yang sama. Mereka saling memberi dukungan agar tidak kehilangan kendali atas suami-suami mereka. Konflik antara kelompok suami dan kelompok istri semakin diperuncing dengan hadirnya seorang wanita cantik, Pretty, yang tinggal di kompleks perumahan mereka.

Mulai Rabu, 5 Juni 2019, serial ini kembali ditayangkan di NET. (melalui NET. Classic) setiap hari pukul 16.00 hingga 18.00 WIB selama 2 jam 2 episode.

Itu informasi terkini dari Wikipedia. 

Para pemeran Suami-Suami Takut Isteri bisa dibilang semuanya tokoh sentral. Tidak ada yang memegang peranan paling banyak. Sama rata lah. Para pemerannya adalah Otis Pamutih sebagai Sarmili/Pak RT, Aty Fathiyah sebagai Sarmilla, Marissa Saputra sebagai Sarmilila/Lila, Irfan Penyok sebagai Karyo, Putty Noor sebagai Sheilla, Amel Carla sebagai Carla, Asri Welas sebagai Welas, Sumaisy Djaitov Yanda sebagai Tigor, Adi Irwandy sebagai Gerry, Ozzol Ramdan sebagai Uda Faisal, Melvy Noviza sebagai Deswita, Desi Novitasari sebagai Pretty, Epy Kusnandar sebagai Dadang, Ki Daus sebagai Ki Daus, Karina Ranau sebagai Euis, Claudia Andhara sebagai Dindit, Denzel Flavio sebagai Dodot, Puadin Redi sebagai Jimmy, Rajwa Gilbram Ridha Rahardja sebagai Ibam, Novitasari Anggraeni sebagai Sumi, Yeni Mutrofin sebagai Memey, Fikram sebagai Daus Hardi Fadhillah sebagai Johnathan/Abdullah.

Bagi saya pribadi Suami-Suami Takut Isteri mewakili Indonesia, menggambarkan sifat-sifat dan sikap manusia, gaya hidup, hingga dunia anak-anak. Hanya saja karena ceritanya berporos pada keganjenan bapak-bapak kompleks, saya pikir sitkom ini janganlah ditonton oleh anak-anak. 

Suami-Suami Takut Isteri mewakili Indonesia karena di dalamnya ada beberapa suku. Pak RT sekeluarga pastinya dari Betawi dengan dialek mereka yang khas. Uda Faisal dan Deswita, pasangan suami isteri yang berasal dari Sumatera Barat. Karyo berasal dari Jawa sedangkan Sheilla ... hmmm ... dari Jakarta sih nampaknya. Welas berasal dari Jawa juga, sedangkan Tigor dari Batak. Sekuriti semacam Dadang itu dari dialeknya tentu berasal dari Sunda. Kelihatan juga sih dari namanya: Dadang. Setidaknya banyak daerah di Indonesia yang terwakilkan di dalam sitkom yang satu ini.

Suami-Suami Takut Isteri menggambarkan sifat-sifat dan sikap manusia. Ya kita tentu tahu bahwa di dalam kompleks itu ada pasangan paling pelit sedunia yaitu Uda Faisal dan Deswita. Saking pelitnya, saya pengen ngelemparin mereka sama bantal hahaha. Ada sosok yang kalau lihat makanan paling tidak tahan, siapa lagi kalau bukan Sarmilla alias Ibu RT. Sheila adalah artis yang penampilannya fashionable. Bertolak belakang sama Sheilla, Welas ini ibu rumah tangga sejati dengan penampilan sehari-hari yang ... begitu-begitu saja tetapi kekuatan melempar sendal di kakinya Welas ini bikin Tigor ketakutan setengah mampus. Pretty, selalu menjadi korban dari kedua pihak baik ibu-ibu kompleks maupun bapak-bapak kompleks. Sedangkan secara umum bapak-bapak kompleks digambarkan ganjen to the max.

Suami-Suami Takut Isteri juga menggambarkan kehidupan dan/atau dunia anak-anak meskipun tidak memakan porsi yang banyak. Tetapi saya malas sekali membahas dunia anak-anak di dalam sitkom ini karena ... ya gitu deh.

Yang jelas pada sitkom Suami-Suami Takut Isteri ada banyak pelajaran yang bisa dipetik kecuali pengulangan ganjennya bapak-bapak kompleks sama Pretty dan/atau perempuan cantik bohay lainnya (ada bintang tamunya juga). Dalam episode Bu RT mengusir Pak RT, misalnya. Ketika Pak RT menginap di pos ronda, ada pelajaran paling berharga di situ; jangan membuang sepiring nasi yang sudah tersaji. Niat selingkuhnya Pak RT akhirnya batal. Duuuuh bapak tua yang satu ini bikin keki kalau melihat kelakuannya. Hahaha. Secara Pak RT akhirnya menyesal. Tuuuuh, jangan pernah menyia-nyiakan apa yang sudah kalian dapatkan wahai bapak-bapak ... terutama isteri dan keluarga yang baik. Nanti kalian bakal rugi sendiri.

Baca Juga: Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya

Menonton ulang Suami-Suami Takut Isteri masih menghadirkan tawa yang sama. Meskipun tidak setiap malam tetapi saya masih menonton satu dua episodenya sebagai pengantar tidur. Tetapi toh masih juga saya harus menonton Upin Ipin dan Larva. Hehe. Yang masih saya cari adalah Kejar Tayang. Sepertinya minim sekali sitkom yang satu itu ... semoga ada yang mau mengunggahnya ke Youtube. 

Bagaimana dengan kalian, kawan? Siapa tahu setelah membaca ini kalian langsung mencari sitkom Suami-Suami Takut Isteri di Youtube.

Semoga bermanfaat!

#SabtuReview



Cheers.

Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan


Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan. Hola! Kalian masih #DiRumahSaja? Sama dong. Sudah melakukan apa saja saat #DiRumahSaja? Kalau saya sih ... banyak! Mulai dari work from home di mana membikin berita, membikin video testimoni mahasiswa, hingga promosi kampus dilakukan tanpa harus mandi terlebih dahulu. Haha. Pssstttt, work from home bisa menghemat parfum! Selain itu, berkebun mini menjadi salah satu kegiatan harian yang menyenangkan. Sembari menunggu tanaman lain bertumbuh-kembang dan dapat dipanen, kemarin kami sudah memanen sayur kanggung, dimasak bersama tauge bikinan sendiri. Tauge itu dibikin oleh Melly yang super excited sama urusan kebun ha ha ha. Sebagai anak dacin, dia menunjukkan keseriusannya pada perkembangan dan pertumbuhan setiap tanaman.

Baca Juga: The Mentalist

Hari ini di #SabtuReview, setelah mengurus kebun, saya memutuskan untuk menulis tentang tiga filem kece yang wajib kalian nonton, terutama bagi kalian yang menggilai filem horor dan thriller. Tiga filem ini tidak melulu menampilkan penampakan hantu, setan, demit, dan sebangsanya. Iya, tiga filem ini membuktikan bahwa takut tidak butuh itu semua. Tidak percaya? Marilah disimak!

1. Don't Breathe


Hyess! Ini filem yang pernah membikin saya penasaran tingkat tinggi. Mengapa Hooq masih menggembok atau menyegel filem ini pada tahun 2019? Sedangkan filem-filem yang lebih baru sudah bisa ditonton tanpa permisi alias tidak perlu membayar sewa terlebih dulu. Jawabannya mudah. Ini filem bagus dan layak dipertahankan penggembokan atau penyegelannya. Don't Breathe merupakan filem horor thriller Amerika yang dirilis tahun 2016 dan disutradarai oleh Fede Alvarez. Filem menegangkan ini diproduseri oleh Fede Alvarez, Sam Raimi, dan Robert Tapert. Naskah filem yang ditulis oleh Fede Alvarez dan Rodo Sayagues ini dibintangi oleh Jane Levy (sebagai Rocky), Dylan Minnette (Alex), Daniel Zovatto (Money), dan Stephen Lang (sebagai Norman Nordstrom atau si veteran perang yang buta kedua matanya). Saya memang jarang mendengar atau membaca nama-nama itu tapi akting mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Karena belum tentu saya bisa berakting sebagus mereka. Haha.

Don't Breathe bercerita tentang Rocky, Alex, dan Money (yess, thankyou Wikipedia) yang adalah penjahat di Detroit. Pekerjaan mereka membobol rumah-rumah yang diamankan oleh perusahaan keamanan ayah si Alex dan menjual barang-barang curian tersebut. Mereka kemudian mendengar kabar bahwa ada seorang veteran perang Pasukan Khusus Angkatan Darat AS yang tinggal di lingkungan Detroit yang terabaikan (semacam lingkungan perumahan yang tidak dihuni begitu) memiliki uang 300.000 Dollar di rumahnya. Uang itu diterima si veteran sebagai penyelesaian setelah seorang perempuan muda kaya bernama Cindy Roberts yang secara tidak sengaja membunuh puterinya dalam kecelakaan mobil. Si veteran perang adalah seorang laki-laki buta karena ledakan selama perang. Ya, dialah Norman Nordstrom.

Berpikir mencuri di rumah orang yang buta: pasti mudah. Tinggal masuk, mengambil uangnya, terus kabur. Ternyata tidak semudah itu, bahkan nyawa mereka menjadi taruhannya, karena Norman Nordstrom ini 'melihat' segala sesuatunya melalui suara. Indera pendengarannya sangat terlatih. Maksud hati mencuri uang 300.000 Dollar, si Money justru duluan meregang nyawa. Keributan yang terdengar akibat upaya mereka bertiga masuk paksa ke rumah itu membikin Norman Nordstrom terbangun dan mencium aroma pembobolan. Siapapun yang masuk ke rumah itu tanpa permisi, sudah pasti tidak berniat baik bukan? Veteran perang yang buta itu ternyata punya kemampuan yang luar biasa; Rocky dan Alex kemudian harus menyelamatkan diri berhadapan dengan si jagoan yang bahkan dapat mendengar dengus nafas mereka dari jarak lumayan jauh.

Yang tidak disangka-sangka adalah ternyata di ruang bawah tanah rumah itu tersekap perempuan yang secara tidak sengaja membunuh anaknya Norman Nordstrom dalam kecelakaan. Ya, Cindy Roberts! Penemuan harta karun Cindy diketahui Rocky dan Alex saat mereka terjebak di ruangan bawah tanah.

Hiyyyy! Ngeri!

Menurut berita di CNN ini, Don't Breathe sedang dibikin sekuelnya. A-ha! Tidak sabar!

2. A Quiet Place


Jika Don't Breathe dirilis tahun 2016, maka dua tahun kemudian yaitu pada tahun 2018 A Quiet Place dirilis. A Quiet Place adalah filem drama fiksi ilmiah horor Amerika Serikat yang dirilis 3 April 2018 (Indonesia). Filem ini diperankan oleh Emily Blunt, John Krasinski, Millicent Simmonds, dan Noah Jupe. Emily Blunt yang pernah berperan dalam The Girl on the Train dan The Devil Wears Prada ini merupakan isteri dari John Krasinski, baik di dalam A Quiet Place maupun di dalam kehidupan nyata. Asyik ya suami-isteri main filem bareng. Skenarionya ditulis sendiri oleh John Krasinski bersama dan berdasarkan cerita oleh Bryan Woods dan Scott Beck.

Para kritikus mengatakan bahwa ini filem yang cerdas yang sangat mengerikan dan menakutkan.

Alkisah keluarga Abbott selamat dari invasi alien di bumi. Lee Abbott (John Krasinski) dan Evelyn Abbott (Emily Blunt) hidup bersama tiga orang anak yaitu Regan Abbott (Milicent Simmonds), Marcus Abbott (Noah Jupe), dan Beau Abbott (Cade Woodward). Sejak awal berjalan sudah digambarkan kondisi Evelyn yang sedang hamil tua.

Mari mulai dari keluarga Abbott. John, seorang ayah yang sangat dapat diandalkan dan bertanggungjawab pada keluarga, punya ruang kerja bawah tanah tempat monitor-monitor dan radio-radio disimpan. Mencari tahu segala sesuatu tentang invasi alien ini serta kekuatan dan (belum diketahui) kelemahannya. Dia juga membikin alat bantu dengar untuk puterinya yang bernama Regan. Evelyn, seorang ibu yang juga sangat bertanggungjawab pada keluarganya, yang bekerja sangat tenang dalam senyap, dan sedang hamil tua. Regan, puteri satu-satunya usia sekitar 14 (empat belas) tahun yang tuna rungu. Marcus, adik si Regan, usia sekitar 8 (delapan) tahun. Dan Beau yang masih berusia sekitar 5 (lima) tahun.

Cerita bermula ketika keluarga Abbott berada di suatu pusat perbelanjaan yang terlantar. Mereka mencari barang-barang yang bisa digunakan untuk kelangsungan hidup. John mencari barang-barang yang salah satunya untuk membikin alat bantu dengar untuk Regan. Di pusat perbelanjaan itu Beau tertarik dengan pesawat mainan. John menjelaskan pada Beau bahwa mainan itu berbahaya dan baterainya kemudian dilepas. Saat hendak pulang ke rumah, Regan mengambil pesawat mainan dan baterainya, menyerahkan kepada Beau. Dalam perjalanan pulang, saat sedang berjalan di atas pasir yang ditabur sebagai poros jalan mereka di luar rumah itu, Beau membunyikan pesawat mainannya.

Ya, sampai di sini, tamatlah riwayat Beau diserang alien.

Life must go on. 

Sampai suatu hari John pergi memancing bersama Marcus, Regan ngambek karena tidak diijinkan ikut lantas kabur dari rumah menuju jembatan tempat Beau diserang alien, dan tinggal si Evelyn sendiri. Ya, saat seperti itulah Evelyn mengalami kontraksi dan air ketubannya pecah. Yang bikin parah adalah Evelyn tidak sengaja menginjak paku yang terangkat gara-gara tersangkut buntelan kain pakaian yang hendak dibawa Evelyn ke luar ruang bawah tanah. Jeritannya meski tidak terlalu kuat, merupakan 'undangan' untuk para alien.

Dan ... ribut berarti mati.

Selama 90 (sembilan puluh) menit ketegangan benar-benar tersaji sempurna di dalam A Quiet Place. Bagaimana Evelyn berjuang melahirkan sendiri di bak mandi, bagaimana Marcus harus melakukan plan B yaitu menyalakan petasan sebagai pengalihan terhadap alien yang sedang berada di dalam rumah, bagaimana Regan sama sekali have no idea bahwa alat bantu dengarnya itu merupakan senjata ampuh melawan alien, bagaimana John yang sangat diandalkan itu kemudian mati, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana yang lain. Kalian yang belum nonton, harus nonton. Hehehe.

3. Exorcism of Emily Rose


Inilah pertempuran antara ilmu pengetahuan dan agama; dari sudut pandang mana orang melihat seseorang yang kerasukan dan/atau bertingkah aneh. The Exorcism of Emily Rose adalah sebuah film horor supranatural Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 2005. Filem ini digarap oleh Scott Derrickson dengan pemeran Laura Linney (sebagai Erin Christine Bruner), Tom Wilkinson sebagai (Padri Richard Moore), Campbell Scott (sebagai Ethan Thomas), dan tentu saja Jennifer Carpenter (sebagai Emily Rose). The Exorcism of Emily Rose diangkat dari kisah nyata seorang perempuan asal Jerman Barat yang bernama Anneliese Michel. Anneliese Michel lahir di Leiblfing, Bavaria, Jerman barat pada 12 september 1952. Ketika lulus SMA di pindah ke kota untuk kuliah dan menetap di (semacam) asrama.

Meskipun The Exorcism of Emily Rose diadaptasi dari kisah nyata kehidupan Anneliese Michel namun pada versi filem tentu tidak sepanjang kisah aslinya. Dan saya menulis berdasarkan filem yang sudah saya tonton berkali-kali itu. Tentu pada versi filem ada hal-hal yang tidak ikut masuk ke dalam frame karena perhitungan durasi.

Fast forward, Emily Rose lulus SMA dengan hasil yang memuaskan, dia sangat bahagia dan terlihat sangat sehat. Dia kemudian mulai kuliah dan tidur di (semacam) asrama. Di situlah dia mulai mengalami gangguan. Sedangkan pada kisah aslinya, Anneliese Michel dikatakan mulai menjauhi benda-benda religi (agama Katolik) dan dukun yang melihatnya mengakui bahwa Anneliese Michel memang kerasukan roh jahat. Atas permintaan keluarga kepada petinggi agama Katolik, maka Emily Rose dipertemukan dengan dua Pater (Padri) yang salah satunya bernama Richard Moore. Pater Moore mulai melakukan pengusiran setan terhadap Emily Rose. Selain itu Emily Rose juga ditangani secara medis. Para dokter mengklaim bahwa Emily Rose mengidap epilepsi. Dia juga dikatakan mengalami gangguan jiwa. Dan penanganan medis jangka panjang menggunakan obat anti-psikotik ternyata ... tidak berhasil.

Kepada Pater Moore, Emily Rose mengaku dia dirasuki oleh Judas Iscariot, Adolf Hitler, Nero, Cain, Fleischmann, hingga yang paling kuat yaitu Lucifer. Proses pengusiran setan dilakukan selama sepuluh bulan, sebanyak 67 kali. Di dalam filem, pengusiran setan terakhir itu yang paling parah karena Pater Moore dan kawannya harus berhadapan dengan Lucifer. Kandang kuda menjadi tempat terakhir di mana pengusiran setan dilakukan, menggambarkan kengerian demi kengerian saat Emily Rose berbicara dengan bahasa-bahasa lain, ular-ular bermunculan, dan lain sebagainya, tanpa menunjukkan batang hidung setan atau roh jahat itu sendiri. Ugh ... bergidik sekali saya meskipun sudah menontonnya berkali-kali.


Bisa membayangkan kengeriannya?

Hiiiiiy!

Don't Breathe, A Quiet Place, dan The Exorcism of Emily Rose adalah tiga filem yang membangun tensi menegangkan tanpa harus menunjukkan penampakan setan itu sendiri. Tidak ada pocong dan tante kunti (hahaha), tidak ada genderuwo, tidak ada sosok menakutkan bergigi taring berdarah, tidak ada pula badut lucu tetapi pembunuh berdarah dingin. Total, ketiga filem itu, hanya pada A Quiet Place saja kita bisa melihat satu atau dua kali penampakan alien ... tapi itu alien, bukan setan. Filem seperti ini yang saya sebut dengan kengerian tersembunyi itu jauh lebih mengerikan.

Baca Juga: Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi

Semoga tiga filem di atas, meskipun bukan filem terbaru, dapat menjadi rekomendasi filem untuk kalian tonton saat berada di rumah sebagai upaya untuk memutus penyebaran Covid-19. Siapa tahu setelah menontonnya, kalian bakal menulis sendiri review-nya. Saya pribadi kalau ditanya apakah masih ingin menonton ketiga filem itu, ya jelas! Filem bagus harus ditonton berulang-ulang. Hahaha. Apalagi di Kota Ende belum ada bioskop kan *tertunduk lesu*. Tapi yang pasti, kalau kalian mengalami kengerian atau ketakutan, jangan pernah salahkan saya!

#SabtuReview



Cheers.






The Passion of the Christ Filem Lama Yang Masih Menggetarkan

Credits: Wikipedia.

The Passion of the Christ Filem Lama Yang Masih Menggetarkan. Meskipun beragama Islam, saya tidak pernah membeda-bedakan karya seni baik musik maupun filem. Bagi saya karya seni adalah baik untuk dinikmati. Lahir dan besar di lingkungan mayoritas beragama Katolik justru membikin khasanah berpikir menjadi kaya. Karena di sini, toleransi antar umat beragamanya sangat tinggi. Tahun 2008 saat sedang berada di Jakarta, dan untuk pertama kalinya saya menonton sebuah filem berjudul The Passion of the Christ. Waktu itu filem ini ditayangkan di televisi pada Hari Jum'at yang oleh Umat Nasrani dikenang sebagai Jum'at Agung. Di rumah Kak Yon Wangu Wesio kami beramai-ramai menonton filem ini. Sumpah, saya sampai menangis meskipun sudah sering mendengar cerita dan pernah menonton filem tentang penyiksaan dan penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus hingga akhirnya beliau wafat.

Baca Juga: Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi

The Passion of the Christ seperti menggambarkan secara nyata apa yang ada di benak saya tentang kejadian masa itu (dari apa yang saya dengar, bukan dari filem sebelumnya yang pernah saya tonton). Segalanya dipersiapkan dengan baik hingga filem ini sulit dilupakan setiap kali menjelang Hari Raya Paskah. Tidak heran jika filem ini kemudian mendapat tiga nominasi di Academy Awards ke-77.

Seperti apa filem ini?

Marilah kita cari tahu.

The Passion of the Christ


Bersumber dari Wikipedia, The Passion of the Christ merupakan filem drama epik buatan Amerika Serikat. Filem ini disutradarai oleh Mel Gibson. Lelaki ini memang hebat. The Patriot yang diproduksi tahun 2000 saja masih saya ingat sampai saat ini. The Passion of the Christ dibintangi oleh Jim Caviezel yang berperan sebagai Yesus Kristus. Menggambarkan penderitaan Yesus Kristus yang utamanya berdasarkan pada Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Filem ini juga mengacu pada praktik keimanan seperti Jum'at Dukacita beserta karya tulis devosional yang lain, contohnya penampakan-penampakan terkenal Maria yang dikaitkan dengan Beata Anna Katharina Emmerick.

The Passion of the Christ secara khusus menceritakan dua belas jam terakhir kehidupan Yesus di dunia, dimulai dengan Penderitaan di Taman Getsemani, insomnia dan kedukaan Santa Perawan Maria, serta berakhir dengan suatu penggambaran singkat kebangkitan Yesus. Kilas balik sosok Yesus sebagai seorang anak kecil dan sebagai seorang pemuda dengan Maria ibu-Nya, memberikan Khotbah di Bukit, mengajar Kedua Belas Rasul, dan saat Perjamuan Terakhir, merupakan beberapa penggambaran yang paling penting. Pengambilan gambar filem ini dilakukan di Italia, semua percakapan menggunakan bahasa Aram, Ibrani vernakular, dan Latin, beserta dengan sub judul.

The Passion of the Christ telah menjadi kontroversi dan mendapat berbagai ulasan beragam hingga yang positif, dengan beberapa kritikus mengklaim bahwa kekerasan ekstrem dalam filem ini "mengaburkan pesannya". Filem ini mengalami kesuksesan besar, memperoleh pendapatan kotor sebesar $612 juta selama penayangannya di bioskop. The Passion of the Christ menjadi filem keagamaan dengan pendapatan kotor tertinggi dan filem bukan berbahasa Inggris dengan pendapatan kotor tertinggi sepanjang sejarah. Filem ini juga mendapat tiga nominasi di Academy Awards ke-77.

Menurut Mel Gibson, sumber bahan utama untuk The Passion of the Christ adalah kisah sengsara Kristus dalam keempat Injil kanonik. Filem ini mencakup peristiwa pengadilan Yesus di istana Herodes, yang hanya ditemukan dalam Injil Lukas. Banyak perkataan Yesus dalam filem ini yang tidak bersumber langsung pada Injil dan merupakan bagian dari suatu narasi Kristen yang lebih luas. Filem ini juga bersumber dari bagian Perjanjian Baru yang lain. Kalimat yang diucapkan oleh Yesus dalam filem ini, "Aku menjadikan segala sesuatu baru," dapat ditemukan dalam Kitab Wahyu.

Masih Menggetarkan


Meskipun filem lama, tapi The Passion of the Christ masih menggetarkan siapa pun yang pernah dan sedang menontonnya. Kenapa? Karena segala sesuatunya dipersiapkan dengan baik oleh Mel Gibson dan penulis lainnya bernama Benedict Fitzgerald. Sebelum menulis apalagi memproduksi filem ini, mereka membaca banyak laporan mengenai Kisah Sengsara Kristus sebagai inspirasi, termasuk tulisan-tulisan devosional dari para mistikus Katolik Roma. Salah satu sumber utama yaitu Dukacita Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus yang berisi visiun-visiun (penglihatan) dari stigmatis bernama Anna Katharina Emmerick (1774–1824) yang adalah seorang biarawati Jerman, sebagaimana ditulis oleh penyair bernama Clemens Brentano. Pembacaan dengan cermat atas buku Emmerick tersebut menunjukkan tingkat ketergantungan yang tinggi filem ini padanya.

Saya tidak bisa menggambarkan seperti apa filem ini sehingga masih menggetarkan siapapun yang pernah dan sedang menontonnya. Yang jelas filem ini begitu dahsyat dan luar biasa bagi saya. Karya seni yang gemilang dari Mel Gibson dan kawan-kawan. Bagaimana mereka mempersiapkan set lokasi pada waktu itu, pakaian yang dikenakan pada waktu itu, sandalnya (bahkan Yudas tidak memakai alas kaki saat mengkhianati Yesus Kristus / menerima uang), musik latarnya, dan lain sebagainya. Menggetarkan sekali saat terakhir Yesus Kristus disalib. 


Baca Juga: Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya

Yang jelas, menonton filem The Passion of the Christ ini tetap bisa dipahami meskipun tidak ada terjemahan. Soalnya bahasa yang digunakan bukan bahasa Inggris. Bagi kalian, terutama teman-teman yang beragama Katolik yang belum menonton filem ini, ayo nonton. Ini karya jenius. Karya seni yang luar biasa. Filem ini, menurut saya, bahkan masih akan terus ditonton hingga puluhan tahun lagi!

#SabtuReview



Cheers.

Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi

Credits: Maluku Post.

Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi. Menulis cerpen dan puisi sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar tidak semerta-merta membikin saya terbaptis menjadi sastrawan. Perlu saya akui, bergelut dengan dunia tulis-menulis berbeda dengan bergumul dalam dunia sastra. Pisau adalah pisau. Tapi pisau bisa berbeda fungsi di tangan seorang koki, dan di tangan seorang pembunuh. Kata-kata itu sama. Tapi makna bisa berbeda. Penulis merangkai kata menjadi suatu cerita. Sastrawan merangkai kata menjadi suatu seni bercerita. Dan, dalam dunia sastra kita tahu begitu banyak penyair. Chairil Anwar, Taufiq Ismail, W.S. RendraSapardi Djoko DamonoWidji Thukul, hingga Bara Patty Radja yang berasal dari Pulau Adonara di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penyair adalah sastrawan hebat yang cerdas memilih diksi, merangkainya melalui kalimat-kalimat pendek namun padat dan syarat makna.

Baca Juga: Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya

Suatu kali, tanpa sengaja, saya melihat video berjudul Tak Harus Sedarah Untuk Menjadi Saudara. Seorang laki-laki muda berdiri di panggung, membaca puisi tersebut, dan saya ternganga sampai video mencapai detik paling akhir. Puisi yang dia bacakan tidak menggunakan Bahasa Indonesia baku melainkan bahasa Indonesia yang telah di-Maluku-kan serta dialeg khas yang kita tahu itu dari Provinsi Maluku. Kalian bingung? Ambil contoh dua kalimat berikut ini:

Bahasa Indonesia:
Darah kami adalah darah Indonesia
Kami bersatu untuk bisa merdeka
Tidak memandang suku atau agama

Bahasa Indonesia yang di-Ende-kan:
Kami pung darah ni darah Indonesia
Kami bersatu untuk bisa merdeka
Ti lihat suku atau agama

Sampai di sini kalian paham kan?

Apalah-apalah istilahnya, yang jelas hari itu dunia saya berubah. Laki-laki muda itu bernama Eko Poceratu. Sesaat setelah video Tak Harus Sedarah Untuk Menjadi Saudara saya jadikan status WhatsApp (WA), seorang adik bernama Tessa Ngga'a mengirimkan lebih banyak video puisi-puisi Eko Poceratu. Alamak, betapa beruntungnya saya! Ternyata saya tidak sendiri. Hahaha. Pada akhirnya saya memburu Eko, oalah bahasanya, hingga ke Youtube. Langsung subscribe, hidupkan lonceng notifikasi, like, share, dan bahagia setiap kali melihat notifikasi video puisi barunya diunggah. 

Eko Poceratu


Makassar Writers menulis sebagai berikut: Lahir di Tihulale, 2 Mei 1992. Sejak lulus SD sudah sudah tertarik dengan dunia sastra ketika membaca puisi W.S. Rendra di perpustakaan sekolah. Mulai merantau ke Ambon setelah lulus SD. Di bangku SMP mulai tekun menulis puisi dan cerpen untuk uang jajan dan tabungan. Kecintaan untuk menulis terbawa sampai kuliah. Sejak saat itu bersama kawan-kawan mendirikan Bengkel Sastra Batu Karang. Sekarang telah mendirikan Bengkel Sastra Kintal Sapanggal dan melakukan berbagai kegiatan sastra bersama remaja dan pemuda. Mendirikan taman baca dan mengadakan beberapa kelas untuk anak-anak sekolah. Selain itu, ikut bergabung dengan Bengkel Sastra Maluku, ibu dari komunitas sastra di Maluku yang telah melakukan kegiatan bersama seperti Konspirasi Puisi Jilid 1-3 (Konspirasi puisi mengangkat isu-isu terpanas di Maluku). Bersama Marthen Reasoa (Penyair) mengadakan Ranjang Puisi yang membahas puisi-puisi ranjang dengan tujuan mengurangi tindakan pelecehan dan pemerkosaan yang marak terjadi di Ambon, terkhusus kepada remaja dan pemuda.

Sedangkan dari blog Eko sendiri, tertera informasi sebagai berikut: Eko Saputra Poceratu, lahir di Tihulale, 2 Mei 1992. Ayah bernama Yohanes Poceratu dan ibu bernama Maria Pariama. Pernah tergabung dalam beberapa antologi bersama seperti, Antologi Puisi Biarkan Katong Bakalae (2013), Pemberontakan Dari Timur (2014), Antologi Mata Aru, Antologi Kita Dijajah Lagi (2017), Rasa Sejati (2018), Antologi Puisi Banjar Baru’s Rainy Day Literary Festival (2017-2018). Merupakan penulis Emerging di Makassar International Writer’s Festival di Fort Rotterdam (2018) dan salah satu penulis dalam Festival Sastra dan Rupa Kristiani di Jakarta (2018). Sampai saat ini telah menerbitkan sebuah novel romansa, Pelangi Biru (2013), Cerpen Di Jalan-Jalan yang Kita Curi (2014) dan telah menerbitkan Kumpulan Puisi Hari Minggu Ramai Sekali (2019).

Dari dua informasi di atas dapat saya simpulkan bahwa darah penyair tidak mengalir di setiap tubuh manusia. Darah itu harus punya aroma bakat, terkontaminasi, terus terasah dan dipoles hingga menghasilkan nada sendiri, diimbuh sesuatu yang saya sebut kecerdasan berpuisi. 

Ciri Khas yang Mendunia


Maluku Post menulis sebagai berikut: Penyair asal Maluku Eko Saputra Poceratu mendapat kesempatan residensi sebulan di Leiden, Negeri Belanda. Demikian pengumuman Komite Buku Nasional dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Situs www.Islandofimagination.id menyiarkan Pengumuman Penerima Residensi Penulis Indonesia 2019, persis pada HUT ke-74 RI, Sabtu (17/8).  Eko tidak sendiri.  Dia lolos bersama 33 penulis Indonesia lainnya, yang bakal menjalani masa residensi di berbagai kota dan negara di dalam dan luar negeri. Menurut situs tersebut, program residensi penulis Indonesia dilaksanakan pertama kali tahun 2016. Pada tahun 2019 ini, Tim Seleksi dari  Komite Buku Nasional dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyeleksi 437 aplikasi yang masuk. Tim memilih 34 nama yang akan mengikuti program residensi selama 1-3 bulan, antara Oktober-Desember 2019.

Berikutnya, kalau saya salah silahkan koreksi melalui komen di bawah untuk koreksi, saat berada di Belanda itu Eko tampil di De Balie, Amsterdam. De Balie adalah teater dan pusat politik, budaya dan media, dengan kafe-restoran di Kleine-Gartmanplantsoen 10, di Leidseplein di Amsterdam, Belanda. Itu kata Wikipedia. Hahaha. Ada dua puisi yang saya nonton videonya saat Eko tampil di De Balie yaitu Tak Harus Sedarah Untuk Menjadi Saudara dan Mana Ale Pung Maluku?. Dua puisi tersebut dibawakan full ciri khas Eko. Sangat berkarakter. Santai tapi menikam, kekuatan diksi, rima yang tepat, majas yang memukau, hingga dialeg Maluku yang kental. Kawan, ciri khas itu bakal langsung tertancap dalam jiwa semua orang yang menonton. Setidaknya itu yang terjadi pada saya.

Mari kita simak Tak Harus Sedarah Untuk Menjadi Saudara berikut ini:

Su paleng lama orang-orang di negara ini
Permasalahkan perbedaan itu deng ini
Mayoritas mau tekan minoritas
Popularitas jadi politik di atas kartas

Apa katong harus seagama, baru bisa dibilang sesama
Apa katong musti sedarah, baru bisa dibilang saudara
Apa katong harus sekandung, baru bisa dibilang gandong
Apa katong musti sesuku, baru bisa dibilang satu tungku
Apa katong musti seiman, baru bisa saling cinta
Apa katong musti seajaran, untuk saling mengerti perasaan

Kalo baku sayang sedangkal itu
Bagaimana kasih bisa menyatu?

Apa beta harus Jakarta, baru bisa dibilang Indonesia
Apa beta harus makan nasi, baru bisa disebut NKRI

Kalo keadilan seperti itu
Bagaimana perasaan bisa menyatu

Apa katong harus makan sawi, untuk jadi manusiawi
Apa katong musti satu RAS, untuk jadi manusia waras

Kalo kemanusiaan sedangkal itu
Dan kebinatangan sedalam laut,
Bagaimana cinta akan terselami

Apa beta harus lahir di Barat, untuk bisa adil di Timur
Apa beta musti blajar di Ibukota, baru di desa dapa jatah
Apa beta harus berpolitik, baru distrik dapa listrik
Apa beta harus punya investasi, baru dianggap punya kontribusi
Apa beta musti punya tambang, Baru dibilang bisa menyumbang
Apa beta musti punya emas, baru bisa jadi anak mas
Apa beta musti punya gas abadi, baru bisa dapat subsidi
Apa katong musti makan raskin, baru dibilang orang miskin

Kalo kehidupan sesempit itu
Lapang dada seng cukup
Tampung dalapang huruf:
S
E
N
G
S
A
R
A

SENGSARA.

*berdiri*
*tepuk tangan paling meriah*
*lempar bunga ke panggung*

Channel Youtube


Saya yakin kalian yang belum tahu Eko bakal sama ternganganya dengan saya. Haha. Jangan kuatir, kalian tentu bisa menonton dan mendengar suara Eko melalui video-video yang diunggah di channel Youtube-nya. Silahkan di-klik. Video terbarunya bikin perasaan jadi bemana begitu ... Cinta Perlu Pengakuan:



Hai lelaki di luar sana, cinta perlu pengakuan, jangan pakai kode-kode lagi, ya. Hahaha. Kalau cinta, akui. Jangan sembunyi. Huhuhu. Eko eee, entah kalimat apa lagi yang bisa saya sampaikan. Saya betul-betul kagum. Anyhoo, jangan lupa untuk subscribe dan turn on notifikasinya. Supaya kalian tidak melewatkan video baru yang diunggah Eko. Dia memang menggunggah video secara rutin. Mendengar suaranya ibarat menutrisi jiwa.


Saya perlu menulis epilog ini. Indonesia memang selalu terpusat di Jakarta dan/atau Pulau Bali. Tidak heran. Jakarta adalah Ibu Kota Negara. Pulau Bali adalah ikon pariwisata Indonesia. Yang hebat-hebat identik dengan Baratnya Indonesia. Ketika yang hebat itu datang dari Timur, murni lahir dan besar di Timur, ada kebanggaan dalam diri saya. Mungkin kalian orang dari Timurnya Indonesia juga sama bangganya. Perjuangan orang-orang dari Timur kini tidak sesulit dulu. Dulu, ada banyak pulau yang harus dilewati untuk bisa dikenal khalayak. Tapi sekarang, untung ada internet, kita tidak butuh beli tiket pesawat mahal-mahal untuk memperkenalkan karya kita pada khalayak melalui Jakarta. Musisi bisa langsung mengunggah karyanya di Youtube, Penyair pun demikian, bahkan konten-konten tentang indahnya Indonesia bagian Timur ini sudah bertebaran di Youtube dan dibikin sendiri oleh orang dari Timurnya Indonesia. Iya, internet memangkas birokrasi. Haha.

Baca Juga: Geser Dikit Halaman Hatimu dari Bara Patty Radja

Semoga pos hari ini cukup membahagiakan kalian. Sama seperti saya yang menulisnya dengan buncahan bahagia. Dan, mari angkat topi untuk Eko Poceratu, Nyong Maluku yang mendunia lewat puisi.

#SabtuReview



Cheers.

Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya


Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya. Hai kalian bos-bos pembaca blog! Di rumah saja akibat penyebaran virus Corona di Indonesia memberi kesempatan pada kita untuk melakukan banyak kegiatan. Salah satunya: membaca buku. Coba kalian ingat-ingat lagi, sudah berapa banyak buku yang dibaca sepanjang tahun 2020 yang baru berjalan tiga bulan ini? Lima? Atau bahkan sudah enam belas buku? Tentu dua minggu dirumahkan bukan berarti saya semata-mata membaca buku. Banyak kegiatan lain yang juga dilakukan antara lain nge-blog dan membikin video: Blogging, BlogPacker, dan Podcastuteh untuk diunggah di Youtube. Yuhuuuuu. By the way, salah satu buku yang saya baca setelah buku berjudul The Secret of Ikigai adalah Bicara Itu Ada Seninya. Artinya, jangan suka nyablak! Haha.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Seperti apa sih buku berjudul Bicara Itu Ada Seninya?

Cekidot!

Bicara Itu Ada Seninya


Bicara Itu Ada Seninya ditulis oleh Oh Su Hyang. Oh Su Hyang adalah seorang dosen dan pakar telekomunikasi di Korea Selatan. Jadi, kalian jangan hanya tahu K-Pop, Drama Korea, atau Tuba Entertainment yang memproduksi Larva, tetapi juga harus tahu bahwa dari negara unik itu juga ada seorang pakar telekomunikasi. Diterjemahkan oleh Asti Ningsih, buku terbitan Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP) yang merupakan Kelompok Gramedia ini bersampul hitam dengan tulisan berhuruf besar berwarna putih. Tagline-nya: The Secret Habits to Master Your Art of Speaking (Rahasia Komunikasi yang Efektif)Sebanyak 238 kita akan diajarkan secara tidak langsung tentang seni berbicara. Tahukah kalian, ternyata storytelling merupakan plot yang kokoh?

Saya tertarik dengan narasi pada sambul belakang buku ini:

Ketika komunikasi menjadi hal yang penting untuk bersaing, pakar komunikasi Oh Su Hyang mengeluarkan buku yang sangat berarti. Selain berisi tentang pengalaman pengembangan diri, buku ini juga membahas tentang teknik komunikasi, persuasi, dan negosiasi.

Lalu bagaimana cara berbicara yang baik? Apakah berbicara dengan artikulasi yang jelas? Atau berbicara tanpa mengambil napas? Tidak! Sebuah ucapan yang bisa disebut baik adalah yang bisa menggetarkan hati. Ucapan seorang juara memililki daya tarik tersendiri. Ucapan pemandu acara memiliki kemampuan untuk menghidupkan suasana. Anda harus pandai berbicara untuk menunjukkan diri Anda kepada lawan bicara dalam kehidupan sosial. Orang yang berbicara dengan mahir akan menjadi lebih maju daripada yang lainnya. Untuk mencapai tujuan komunikasi, persuasi, dan negosiasi, Anda harus mengetahui metode komunikasi yang efisien.


Berisi bab-bab dengan bahasa yang ringan, pengalaman-pengalaman, ragam tips dan trik, saya pikir kalian wajib membaca buku yang satu ini.

Mengajarkan Tanpa Harus Menggurui


Saya sering menulis tentang para penulis yang mengajarkan banyak hal baik pada pembacanya tanpa terkesan menggurui. Tetapi sebenarnya kalau penulis itu memang menggurui ya tidak masalah sepanjang mereka punya kapabilitas untuk melakukannya. Di dalam Bicara Itu Ada Seninya, pembaca diajak untuk mengetahui alasan takut berbicara. Salah satunya karena trauma salah ucap. Saya sering mengalami salah ucap. Tapi untuk sampai pada tahap trauma, belum. Karena toh saya pribadi tidak mengalami kendalam saat berbicara di muka publik. Itu saya. Tapi pasti beda dengan orang lain yang bahkan untuk berdiri di muka publik saja bergetar seluruh tubuh. Intinya adalah harus membuang rasa takut tersebut. Itu yang diungkapkan oleh Oh Su Hyang.

Mengubah cara bicara, mengubah cara hidup, juga tertuang di dalam buku ini. Mengubah cara bicara tidak terjadi sekedip mata. Oh Su Hyang mengajarkan tentang latihan di balik panggung gelap, dengan contoh (alm.) Steve Jobs. Membaca bagian ini saya ingat diri sendiri. Jujur, saya seringkali berbicara dengan nada yang cukup tinggi, kecepatan cahaya, sehingga sering belepotan. Diimbuh suara yang cempreng. Oh lala, yang mendengar saya bicara pasti langsung sakit kepala. Tetapi setelah menjadi penyiar radio, saya harus bisa menjadi orang lain yang mendengarkan diri sendiri berbicara. Ah, ternyata memang benar, bicara itu ada seninya. Hahaha.

Perkara yang juga diajarkan Oh Su Hyang dalam Bicara Itu Ada Seninya adalah tentang Sepuluh Aturan Komunikasi:

1. Kata-kata yang tidak bisa diucapkan di "depan", jangan dikatakan di "belakang". Gunjingan sangatlah buruk.

2. Memonopoli pembicaraan akan memperbanyak musuh. Sedikit berbicara dan perbanyak mendengar. Semakin banyak mendengar akan semakin baik.

3.Semakin tinggi intonasi suara, makna dari ucapan akan semakin terdistorsi. Jangan menggebu-gebu. Suara yang rendah justru memiliki daya.

4. Berkata yang menyenangkan hati, buka sekadar enak didengar.

5. Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. Berbicara yang mudah dimengerti, bukan yang mudah diucapkan.

6. Berbicaralah dengan menutupi aib dan sering memuji.

7. Berbicara hal-hal yang menyenangkan, bukan yang menyebalkan.

8. Jangan hanya berkata dengan lidah, tetapi juga dengan mata dan ekspresi. Unsur non-verbal lebih kuat daripada unsur verbal.

9. Tiga puluh detik di bibir sama dengan tiga puluh tahun di hati. Sepatah kata yang kita ucapkan mungkin saja akan mengubah kehidupan seseorang.

10. Kita mengendalikan lidah, tapi ucapan yang keluar akan mengendalikan kita. Jangan berbicara sembarangan dan bertanggungjawablah terhadap apa yang sudah Anda ucapkan.


Sehingga, kalau kalian menyimpulkan buku ini tidak hanya menuangkan 'ilmu' berbicara di muka publik tetapi juga terhadap teman ... betul sekali. Tentunya masih banyak pelajaran lain yang bisa kalian ambil dari buku ini demi kelancaran komunikasi baik dengan orangtua, saudara, kawan, tetangga, kekasih, maupun musuh! Hehe.

Mengaplikasikannya Dalam Kehidupan Sehari-Hari


Beberapa teman-teman yang hendak mengikuti ujian skripsi sering bertanya pada saya, bagaimana bersikap di dalam ruang sidang skripsi. Saran saya pada mereka:

Pertama:
Harus menguasai penelitian yang sudah diubah dalam bentuk skripsi tersebut! Bagaimana bisa berbicara kalau materinya tidak dikuasai? Kuasai permasalahannya, kuasai undang-undang yang dipakai, kuasai pemecahan masalahnya.

Kedua:
Berbicara tanpa 'eee', tanpa 'anu'. Berbicaralah dengan tegas, lugas, tanpa keraguan sedikit pun, namun tidak berkesan sombong. Karena biarpun kalian menguasai 100% materi tetapi tidak didukung dengan kemampuan berbicara yang baik ... Wassalam. Oleh karena itu, harus berlatih berbicara dimulai dengan "Selamat pagi, nama saya Abcefg, NIM sekian, judul penelitian saya adalah Ini Itu Adalah Ini Itu".

Ketiga:
Menatap wajah dosen dengan tatapan pasti. Percaya diri.

Keempat:
Bawa selalu Tuhan dalam setiap perkataan.


Jadi, kawan, jangan pernah menganggap remeh para pewara alias master of ceremony. Apa pun acara kalian, tanpa pewara, bakal garing. Merekalah yang membawa acara kalian menjadi terarah dan meriah. Pewara bukan sekadar pewara, tetapi mereka harus menguasai pula inti acara yang dibawakan tersebut. Otak mereka harus menerima informasi-informasi baru, mengolahnya, untuk melengkapi pekerjaan membawa acara. Saya sering sedih kalau mendengar orang-orang berkata: apa eeee omong begitu saja bayar sampai jutaan. Kadang saya langsung membalas: mau yang murah? MC sendiri, jangan minta jasa MC kondang. Meskipun bukan pewara tapi saya sangat tahu persis betapa susahnya jadi pewara, terutama pewara perempuan yang selain mengandalkan otak dan seni berbicara, juga harus memerhatikan penampilan.

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua.

Selamat menikmati akhir minggu. Dan setidaknya saya cukup senang mendengar berita dari RRI Ende yang mengabarkan ODP di Ende dari 22 turun hingga 3. Dari 3 ODP, 2 sudah dirumahkan (karantina diri sendiri), 1 masih dirawat di ruang karantina RSUD Ende karena masih balita. Semoga badai ini lekas berlalu ...

#SabtuReview



Cheers.

Corona Membikin Saya Teringat Sama Filem-Filem Ini


Corona Membikin Saya Teringat Sama Filem-Filem Ini. Begitu lekas waktu berlalu, buka-tutup mata, eh sudah weekend. Dan sebagai pejuang liburan saya sangat menyayangkan tanggal merah yang jatuh pada hari minggu. Sedih maksimal. Pasti kalian juga berpikir begitu kaaaaan. Ayolah. Akui saja. Supaya saya tidak merasa sendiri. Haha. Semoga akhir minggu kalian menyenangkan. Kalau kalian belum punya rencana ke mana-mana alias akhir minggu di rumah saja karena himbauan social distancing, serta banyak lokasi yang di-lockdown, berkunjung ke blog ini adalah pilihan tepat *kedip-kedip*. Karena setiap Sabtu selalu ada hal-hal menarik yang saya tulis mulai dari buku, filem, musik, tokoh, video favorit di Youtube, hingga ... apa saja deh. 


Adalah hal yang perlu saya garisbawahi bahwa virus Corona yang oleh WHO dinamai Covid-19 memang telah memakan banyak korban. Kita doakan agar saudara-saudara kita yang terinfeksi dapat pulih dan semoga kita semua terhindar dari virus yang satu ini. Jangan lupa untuk selalu memakai masker dan mencuci tangan. Virus Corona ini membikin saya teringat pada filem-filem (juga serial) yang pernah ditonton. Bagaimana virus mampu menghancurkan dunia dalam filem, itu saya anggap tidak mungkin. Tetapi ketika Corona menyebar di seluruh dunia dan dinyatakan menjadi pandemi, saya was-was. Dus, teringat filem-filem tersebut.

Perlu saya jelaskan bahwa tulisan ini bukan berarti saya tidak punya simpati dan empati terhadap saudara-saudara yang telah terinfeksi dan/atau telah menjadi korban (nyawa melayang), tetapi menulis ini karena saya sadar bahwa apa yang terjadi di filem bisa saja terjadi di dunia nyata. Kalian pasti tahu kisah tragis Titanic. Si Penulis novel yaitu Morgan Robertson tidak pernah tahu bahwa kisah fiksi dalam novelnya yang berjudul The Wreck Of The Titan atau Futility benar terjadi empat belas tahun kemudian pada tragedi mengenaskan kapal Titanic. 

Mari mulai dari The Walking Dead. Serial terseru sepanjang sejarah. Buat pengagum Game of Thrones jangan marah, ya. Haha. The Walking Dead diangkat dari komik yang dibikin oleh Robert Kirkman. Rick Grimes yang diperankan oleh Andrew Lincoln merupakan tokoh sentral pengambil keputusan dalam serial ini. Rick Grimes muncul pada versi komik tahun 2003 dalam episode berjudul Issue #1, versi serial televisi tahun 2010 dalam episode Days Gone Bye, dan dalam Fear the Walking Dead tahun 2018 episode What's Your Story?. Rick Grimes kemudian dinyatakan mati pada versi serialnya dalam episode berjudul What Comes After di tahun 2018. Dirilis oleh Looper, dikatakan bahwa Melalui 193 edisi komik asli dan tidak kurang dari tiga seri televisi yang dibuat di dunia pasca-apokaliptik oleh Robert Kirkman, para penyintas tidak benar-benar tahu apa yang menyebabkan orang-orang menjadi zombie. Mereka hanya tahu bahwa penyebarannya adalah melalui gigitan. Kau tergigit. Kau jadi zombie. Bahkan kemudian sumber maut bukan saja zombie melainkan sesama manusia alias sesama penyintas. Di Twitter (via ComicBook.com), Kirkman mengonfirmasi bahwa itu adalah alien. Itu adalah spora luar angkasa. Sampai season berapa baru kalian tahu bahwa penyebab kehancuran dunia itu adalah spora luar angkasa? Sesaat setelah dirilis Kirkman atau jauh setelahnya ... seperti saya?

Jika kalian menganggap zombie yang ditemui dalam The Walking Dead sangat menakutkan, maka kalian akan terkejut ketika menonton World War Z yang diperankan oleh kekasih saya Brad Pitt. Zombie di filem ini jauh lebih agresif dan hitungan terjangkit virusnya dan proses menjadi zombie pun sangat lekas! Tolong koreksi di papan komentar kalau saya salah, dikabarkan virus di dalam World War Z merupakan virus/wabah rabies. World War Z diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Max Brooks. Ada hal yang unik dari filem ini. Kalau filem lain menceritakan bagaimana manusia berusaha meneliti dan/atau mencaritahu vaksin pembunuh virus, maka dalam World War Z justru virus harus harus disuntikkan pada tubuh manusia sehat agar tidak terdeteksi sebagai 'daging segar' oleh zombie. Mau tidak mau harus begitu. Hal itu ditemukan Gerry Lane, yang diperankan Brad Pitt, saat melihat gerombolan zombie melewati begitu saja manusia yang terlihat normal alias bukan zombie. How? Why? Dan jawabannya ternyata manusia itu ... sakit.

Robert Neville yang diperankan oleh Will Smith menjadi penyintas dalam filem I am Legend. Filem ini benar-benar menjadi legenda dan membikin semua orang bersenandung lagu Three Little Birds dari seorang legenda dunia musik bernama Bob Marley. Saya pernah menulisnya, bersama filem lain dalam pos berjudul 5 Filem Zombie Favorit. Dalam I am Legend, virus penyebab kehancuran dunia bersumber dari obat penyembuh kanker. Manusia yang terinfeksi virus ini disebut Darkseeker karena mereka hanya takut terhadap cahaya baik itu cahaya matahari dan cahaya lampu berkekuatan besar. Dan perubahan yang terjadi tidak membuat mereka terlihat seperti zombie tetapi menjadi makhluk haus darah yang berkulit super pucat, botak (semuanya rontok kali ya), dan punya menu favorit: daging. Jika zombie umumnya boleh dibilang agak bego o'on begitu, Darkseeker ini cerdas dan mampu membaui keberadaan daging segar. Oleh karena itu Robert selalu pulang ke tempat persembunyiannya lebih dini sebelum matahari terbenam.

Kalau The Walking Dead diangkat dari komik, World War Z diangkat dari novel, maka filem yang satu ini diangkat dari game. Judulnya Resident Evil. Inilah filem dengan ending tak terduga. Saya menontonnya sejak masih dalam bentuk permainan Play Station, dimainkan sama Indra Pharmantara. Kemudian mulailah permainan ini di-filem-kan. Mila Jovovich (konsisten sekali) berperan sebagai pemeran utamanya, Alice. Cerita dengan alur cukup ribet ini bakal memuaskan kalian para pecinta zombie. Saran saya, nontonlah semua seri Resident Evil mulai dari Resident Evil hingga Resident Evil The Final Chapter. Lantas, apa virus yang menyebabkan kehancuran dunia itu? Menurut situs Resident Evil CAPCOM, virus ini adalah versi t-virus. Virus mempercepat metabolisme inang, memberikan kekuatan, kecepatan, dan kemampuan regeneratif yang tinggi.

Dalam filem 28 Days Later, virus yang menyerang berasal dari eksperimen ilmiah beberapa ekor simpanse dan zombie-nya bisa mati dalam jangka waktu 28 hari. Virus kemarahan. Seperti The Walking Dead, tokoh utamanya Jim yang diperankan oleh Cillian Murphy juga tersadar dari koma, melihat situasi kota yang sepi, dan kemudian tahu bahwa dia tidak sesepi itu karena ada zombie di sana. Virusnya bernama Rage, penyakit fiksi dalam film ini dan dalam filem 28 Weeks Later. Ini adalah virus ganas yang ditularkan melalui darah yang mengirimkan inangnya ke dalam kemarahan yang sangat tidak terkendali.

Masih banyak filem bertema virus dan kehancuran dunia oleh virus tersebut. Seperti The Warm Bodies, yang lebih 'lembut' karena zombie-nya dapat 'kembali' seperti manusia. Ada juga filem Virus, based on true story in India, dengan virus bernama nipah. Jangan lupa filem Train to Bussan pun menceritakan hal yang mirip. Zombie is the best. Hahahaha. Tapi tentu, jika dikaitkan dengan virus Corona maka filem berjudul Contagion menjadi juaranya. Filem ini menceritakan tentang Beth Emhoff yang diperankan oleh Gwyneth Paltrow yang baru pulang dari Hongkong ke Amerika Serikat. Balik ke Amerika dia terserang flu dan ternyata flu itu diakibatkan oleh virus mematikan campuran genetik virus kelelawar dan babi. Ngeri sekali ya. Lebih ngeri karena vaksinnya dibikin dalam jumlah terbatas alias tidak semua orang bisa mendapatkannya. Konon, menurut cerita teman-teman, filem Contagion ini kembali diburu. Banyak yang penasaran!

Baca Juga: Marilah Kita Merinding Disko Bersama Diary Misteri Sara

Filem-filem di atas hanyalah sebagian kecil dari filem-filem bertema virus dan akibatnya pada dunia ini. Masih banyak filem lainnya, dan kalau kalian punya rekomendasinya bisa tulis di komen. Kita tidak pernah menyangka filem-filem itu, baik fiksi maupun diangkat dari kisah nyata, bisa saja terjadi. Dulu orang-orang bikin filem futuristik, sekarang hampir semuanya kita raih alias kita jalani dalam kehidupan sehari-hari. Terkait dengan virus Corona, lagi-lagi yang bisa kita lakukan adalah social distancing, jaga jarak satu meter dari orang lain, ingat memakai masker, mencuci tangan sebelum menyentuh mata, hidung, dan mulut, serta minum vitamin. Daya tahan tubuh juga harus baik ya, gengs.

Selamat berakhir minggu!



Cheers.

Mengintip Rahasia Bahagia dan Umur Panjang dari Ikigai


Mengintip Rahasia Bahagia dan Umur Panjang dari Ikigai. Membaca judul, kalian pasti bertanya-tanya, memang ada sekolah yang mengajarkan hal itu? Ada donk. Semua tingkatan sekolah di Indonesia mengajarkan hal itu, terutama sekolah dasar, melalui cara-cara halus yang tidak disadari oleh para murid. Di sekolah, murid diajarkan untuk menghormati guru dan menyayangi teman, saling menghargai, tidak menghina apalagi melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain, tidak mencuri, tidak berbohong, selalu bersyukur dan lain sebagainya. Murid sedapat mungkin punya simpati dan empati dan digembleng agar memiliki karakter yang baik. Tapi sekolah secara harafiah bukan satu-satunya tempat kita belajar. Buku juga merupakan sekolah. Ya, bagi saya buku juga merupakan sekolah yang mengajarkan pembacanya banyak perkara. Siapa pun yang tidak membaca buku pasti merugi. Kalau ada yang membantah, artinya dia memang jenius sejak lahir. Begitu berusia lima jam, sudah pandai bicara menggunakan lima bahasa di dunia, hafal sejarah Hagia Sohpia, serta tahu seluk-beluk kalkulus. 

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Salah satu buku bertema self improvement yang pernah saya baca berjudul The Secret of Ikigai: Rahasia Menemukan Kebahagiaan dan Umur Panjang Ala Orang Jepang. Duh, menulis Jepang, saya punya cita-cita menghabiskan masa tua di Jepang loh. Haha. Jepang itu negara yang sangat menarik. Bukan hanya karena anime-nya, atau bunga sakura, tetapi juga gaya hidup masyarakatnya, makanannya, sampai penemuan-penemuannya yang bikin saya ternganga. Siapa sih yang tidak tahu gaya hidup minimalis Orang Jepang? Kalian pasti tahu futon, perangkat tidurnya Orang Jepang. Agung Riantiarno menulis sebagai berikut: Futon dalam satu set nya biasanya terdiri dari Shikibuton (matras) yang biasanya hanya sedikit lebih tebal dari Bed Cover, Shiitsu (seprai kasur), Kakebuton (selimut tebal), Houfu (sarung dari selimut), Makura (Bantal) dan Makura Kaba (sarung bantal). Kalau Orang Indonesia maunya kasur pegas king size! Hahaha.

Kita tinggalkan futon, mari bahas The Secret of Ikigai!

The Secret of Ikigai


The Secret of Ikigai ditulis oleh Irukawa Elisa. Buku setebal 224 halaman ini diterbitkan oleh Araska (Publisher) dengan tema/kategori self improvement. Ada lima bab, di luar kata pengantar hingga epilog, yang membawa pembaca pada semesta 'sadar dan kenal diri sendiri'. Hal semacam ini memang familiar karena buku-buku self improvement lain juga mengajarkan hal yang sama. Tapi jelas, The Secret of Ikigai yang bersampul putih dengan bunga sakura ini menjelaskan dari sudut pandang berbeda, bernuansa kehidupan Orang Jepang.

Aliran Lima Bab


Ini menarik, The Secret of Ikigai ditulis dalam bab-bab yang mengalir seperti air. Sangat runut alias tidak melompat-lompat. Seperti proses manusia: lahir - belajar berjalan - bertumbuh - menikah - menjadi orangtua - dan seterusnya. Lihat Bab 1 yang berjudul Tujuan Hidup Tidak Jelas? Kuasai 4 Konsep Filosofi Ikigai. Ini pertanyaan umum, dan memang secara umum banyak orang yang bertanya pada diri sendiri, mau di bawa ke mana hidup saya ini? Menyerah, atau belajar dan berjuang? 4 Konsep Filosofi Ikigai itu adalah

1. Apa yang kamu sukai?
2. Apa yang dibutuhkan dunia?
3. Apa timbal balik untuk Anda?
4. Apa kemampuan Anda?

Kalau pembaca bisa menjawab empat pertanyaan di atas ... luar biasa. Passion menjadi paid for.

Masih dari Bab 1 pula pembaca diajarkan membongkar 4 elemen Ikigai yaitu: Mission, Vocation, Profession, dan Passion.

Orang yang hidup memiliki passion akan hidup lebih bahagia dan memiliki usia yang lebih awet muda, seperti orang penduduk Jepang. Seperti yang kita tahu bahwa Jepang termasuk negara maju yang memiliki jam kerja yang luar biasa padat. Dengan kepadatan kerja yang luar biasa, mereka memiliki angka kematian yang kecil. Dari hasil penelitian, hal ini karena mereka mampu menemukan Ikigai mereka di tengah kesibukan yang memicu stress. Indonesia yang masih memiliki jam kerja yang cukup, harusnya lebih mudah menemukan Ikigai. (Irukawa Elisa, 2019:40).

Pada Bab 2: Lesu Menjalani Hidup? Bongkar Pembangkit Semangat Hidupmu. Poros Bab 2 ini ada pada bagaimana kita menemukan tujuan hidup, membangun emosi positif, menghindari prasangka, dan menyadari identitas diri yang sebenarnya. 

Pada prinsipnya adalah, mengetahui kesenangan, ketidaksenangan, karakter dan pribadi diri sendiri. Karena hal inilah yang akan menjadi modal utama, sekaligus sebagai pengantar untuk menuju kesuksesan. (Irukawa Elisa, 2019:60).

Bab 3: Fokus pada Hal yang Kamu Cintai. Ini mengingatkan saya pada buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Iya, kita seringkali terganggu dengan perkara-perkara kecil, seperti omongan orang dan bisik-bisik tetangga, sehingga tergeser dari fokus (apa yang kita cintai). Misalnya, kemampuan kita adalah mendaur ulang sampah, tetapi kuatir sama omongan orang "Sarjana kok daur ulang sampah!" pada akhirnya kita bergeser dari apa yang kita cintai (mencintai hobi, kesenangan, apa yang dilakukan). Pada Bab 3 ada sub berjudul: Menikmati Air Mengalir. Ini bagus, dalam pandangan saya, apa yang tidak bisa diubah oleh manusia, artinya harus dinikmati, sepahit apa pun itu. 

Bab 4: Menggali Kemampuan Tersembunyi. Iya sih, banyak orang tidak sadar bahwa mereka punya potensi. Ada potensi/bakat/kemampuan yang langsung menunjukkan diri, tapi ada pula yang bersembunyi menunggu pencarinya/penggalinya. Di sini kita belajar bahwa kreativitas tidak dimiliki oleh orang tertentu saja. 

Pertanyaannya adalah bagaimana membangun kreativitas yang mampu melahirkan inovasi? Memang tidaklah mudah, perlu yang namanya latihan, dan berpikir kritis. Tidak sekedar itu, tetapi juga peka terhadap banyak hal. Karena dengan peka terhadap banyak hal-hal kecil di sekeliling akan mengasah kreativitas dan memantik inovasi lahir. (Irukawa Elisa, 2019:108).

Bab 5: Apa Timbal Balik Ikigai? Tentu panjang umur dan bahagia merupakan timbal balik pertama yang bakal diperoleh. Berikutnya menyusul: produktif, menjadi pribadi yang lebih disiplin, menciptakan manusia berkualitas, kreatif dan inovatif, menjadi agen perubahan, memiliki kemampuan self driving, dan rasionalis.

Seseorang yang memiliki visi dan misi yang jelas, disertai dengan semangat mewujudkan. Maka secara otomatis sistem syaraf otak akan bekerja untuk berfikir rasional. Jadi secara otomatis sistem syaraf otak saling terkoneksi untuk melihat peluang di setiap celah yang ada. Orang yang memiliki pemikiran rasional, memiliki pemikiran lebih kritis setiap melihat peluang dan objek yang ada. (Irukawa Elisa, 2019:216).

Tentu, masih banyak detail-detail menarik yang bisa kalian temukan di dalam buku ini, ditulis/dikupas tuntas satu per satu oleh Penulisnya. Jangan salahkan saya jika saat kalian membaca, kepala bakal mengangguk-angguk setuju seratus persen. Hehe. 

Kita dan Ikigai


Menurut Wikipedia, Ikigai adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Kata itu secara harfiah meliputi iki, yang berarti kehidupan dan gai, yang berarti nilai. Ikigai kadang diekspresikan sebagai “alasan untuk bangun di pagi hari”. Ikigai-lah yang memberikan motivasi berkelanjutan untuk menjalani hidup, atau bisa juga dibilang bahwa ikigai-lah yang memberikan gairah hidup yang membuat semangat dalam menyambut kedatangan setiap hari baru. Irukawa Elisa menulis bahwa Ikigai di Jepang sudah akrab, dan menjadi gaya hidup mereka. Sebenarnya di Indonesia secara tidak langsung sebenarnya juga telah mempraktekkan Ikigai. Perbedaannya Ikigai di Jepang dan di Indonesia hanya pada sebutannya. Di Indonesia, tidak ada nama sebutan khusus terkait tujuan hidup. Namun, sebenarnya Orang Indonesia sudah memiliki tujuan hidup dan sudah menemukan sumber kebahagiaan.

Kalian pasti terkejut. Hehe.

Menurut Irukawa Elisa, di Indonesia khususnya kaum Muslim, kata yang lebih tepat bukan Ikigai, namun dapat disederhanakan dengan ikhlas dan bersyukur menjalani hidup. Bersyukur menjalani hidup dapat saya bilang mudah dilakukan oleh siapa saja. Tetapi ikhlas, itu perkara lain. Byuuuuh. Susahnya ikhlas itu pasti kalian juga sudah merasakan hahaha. Tapi kita harus berupaya untuk bisa ikhlas dalam setiap sendi kehidupan ini.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Akhirnya selesai juga saya me-review buku ini setelah lama dibaca. Salah satu buku self improvement yang juga saya rekomendasikan pada kalian. Kalau kalian juga punya rekomendasi buku-buku self improvement lain, silahkan komen di bawah, siapa tahu bakal saya beli, baca dan review. Semoga bermanfat bagi kalian semua. Mulailah belajar mengenali diri sendiri, menggali kemampuan diri, memanfaatkan potensi diri, bodo amat sama perkara-perkara kecil yang tidak penting, serta jangan lupa bersyukur dan berusaha ikhlas!

#SabtuReview



Cheers.