Don’t Breathe

Gambar diambil dari Wikipedia.


Mengapa Hooq masih menyegel Don't Breathe? Pertanyaan ini terus bergema di kepala saya serta dalam kehidupan sehari-hari dinosaurus sejak keinginan menontonnya terhalang simbol gembok. Huhuhu. Sekitar dua tahun menggauli Hooq hingga sekarang menulis ini, filem itu masih saja TERGEMBOK, pemirsa! Padahal itu filem lama! Tidak tahukah kau, wahai Hooq, saya rela meninggalkan Viu demi dirimu?


Apa salah dan dosa saya ... hiks *timpuk dinosaurus pakai permen*

Baca Juga: Buku Saku: Ende

Kalau belum nonton, kenapa pula hari ini menulis tentang Don't Breathe? Karena ada trailer-nya alias promosinya. Jadi nih, Hooq tidak kejam-kejam amat, karena masih menyediakan trailer untuk para penikmat filemnya. Bagi kalian yang belum nonton Venom, jangan kuatir, sudah ada trailer-nya juga di Hooq. Haha. Gini hari nonton trailer doank, Teh ... dududu. Apa kata dunia.

Tapi tak apalah.

Behind Don't Breathe


Don't Breathe merupakan filem horror thriller Amerika yang dirilis tahun 2016 dan disutradarai oleh Fede Alvarez. Filem menegangkan ini diproduseri oleh Fede Alvarez, Sam Raimi, dan Robert Tapert. Naskah filem yang ditulis oleh Fede Alvarez dan Rodo Sayagues ini dibintangi oleh Jane Levy, Dylan Minnette, Daniel Zovatto, and Stephen Lang. Saya memang jarang mendengar atau membaca nama-nama itu tapi akting mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Karena belum tentu saya bisa berakting sebagus mereka.

About Don't Breathe


Don't Breathe bercerita tentang Rocky, Alex, dan Money (yess, thankyou Wikipedia) yang adalah penjahat di Detroit. Pekerjaan mereka membobol rumah-rumah yang diamankan oleh perusahaan keamanan ayah si Alex dan menjual barang-barang curian tersebut. Mereka kemudian mendengar kabar bahwa ada seorang veteran perang Pasukan Khusus Angkatan Darat AS yang tinggal di lingkungan Detroit yang terabaikan (semacam lingkungan perumahan yang tidak dihuni begitu) memiliki uang 300.000 Dollar di rumahnya. Uang itu diterima si veteran sebagai penyelesaian setelah seorang perempuan muda yang kaya bernama Cindy Roberts membunuh puterinya dalam kecelakaan mobil. Si veteran perang adalah seorang laki-laki buta karena ledakan selama perang.

Berpikir mencuri di rumah orang yang buta: pasti mudah. Tinggal masuk, mengambil uangnya, terus kabur. Ternyata tidak semudah itu, bahkan nyawa mereka menjadi taruhannya, karena si veteran ini 'melihat' segala sesuatunya melalui suara. Indera pendengarannya sangat terlatih. 


Bahaya!

Maksud hati mencuri uang 300.000 Dollar si Money justru duluan meregang nyawa. Keributan yang terdengar akibat upaya mereka bertiga masuk paksa ke rumah itu membikin si buta dari gua hantu bangun dan mencium aroma pembobolan. Siapapun yang masuk ke rumah itu tanpa permisi, sudah pasti tidak berniat baik bukan? Veteran perang yang buta itu ternyata punya kemampuan yang luar biasa; Rocky dan Alex kemudian harus menyelamatkan diri berhadapan dengan si jagoan yang bahkan dapat mendengar dengus nafas mereka dari jarak lumayan jauh.

Menonton trailer-nya saja sudah bikin saya menahan nafas saking menegangkannya filem ini.

Karena trailer tidak lengkap maka saya mencari referensi tentang filem ini di Wikipedia. Ternyata di ruang bawah tanah rumah itu tersekap perempuan yang secara tidak sengaja membunuh anak si veteran dalam kecelakaan. Ya, Cindy Roberts! Penemuan harta karun Cindy diketahui Rocky dan Alex saat mereka terjebak di ruangan bawah tanah.

Baca Juga: Ngelawak Bersama Mamatua

Saya berharap suatu saat nanti dapat menonton Don't Breathe (full movie). 

Menonton trailer Don't Breathe membikin saya teringat pada A Quite Place yang saya tulis: ribut berarti mati. Saya pikir filem-filem setipe ini jauh lebih menakutkan ketimbang filem yang secara terang-benderang menampilkan wajah setan dan sebangsanya. Kalau kalian pernah menonton filem berjudul Exorcism of Emily Rose, kalian pasti merasakan tensi yang sama dengan Don't Breathe dan A Quite Place. Tidak perlu si setan ikut masuk dalam frame haha.

Bagi kalian yang pernah menonton Don't Breathe atau bahkan pernah mengulasnya, bagi tahu donk di komen :) siapa tahu pengalaman menonton kita berbeda ... yaaaa secara saya baru nonton trailer-nya saja.

Selamat berakhir pekan, kawan :)



Cheers.

Buku Saku: Ende



Saya menyebutnya buku saku Ende. Sebuah buku mini berisi informasi tentang atraksi wisata di Kabupaten Ende serta budaya dan masyarakatnya. Buku ini diberikan oleh teman siaran Iwan Aditya yang bekerja di Swisscontact. Jadi kangen sama Iwan. Teringat masa-masa siaran dulu, terutama saat bibir dan otak Iwan jarang kompak, sampai-sampai saya dan Yoyok bilang begini, "Wan, orang itu yang typo jari, bukan bibir."

Haha!

Baca Juga: Corn Island

Flores Pocket Book for Tour Guides ENDE (FPBFTG ENDE). Demikian yang tertulis di sampul mukanya dengan gambar latar salah satu danau dari Danau Kelimutu dan dua orang wisatawan. Buku ini diterbitkan oleh DMO Flores dan didukung oleh HPI DPC Kabupaten Ende & Swisscontact WISATA (Copy Right) DMO Flores. Beberapa logo terpeta di buku ini diantaranya Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Wonderful Indonesia, Swisscontact, dan HPI. Anyhoo, sebelum lanjut, sekadar informasi saja bahwa Danau Kelimutu kini telah berubah warna lagi. Sayang saya belum sempat ke sana untuk sekadar ... selfie(?) haha.

Ada dua informasi utama di dalam FPBFTG ENDE. Yang pertama informasi tentang Pulau Flores. Yang kedua informasi tentang Ende.

Meskipun kecil namun FPBFTG ENDE sarat informasi. Informasi tentang Pulau Flores tidak saja memuat Letak dan Kondisi Geografis, Iklim, Flora dan Fauna, Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan, hingga kabupaten-kabupaten di Pulau Flores saja. Menggali lebih dalam, terdapat penjelasan tentang Sirih Pinang atau disebut Chewing Betel Nut

Wanita tua Flores biasanya mempersiapkan sirih saat mengobrol dengan teman-temannya. Kebiasaan ini sudah dikenal selama 2000 tahun, dan juga dikenal di bagian lain di Asia Tenggara seperti di Malaysia, Myanmar, India, Vietnam, Bhutan, Thailand, Papua Nugini dan Afrika Timur. Hal ini terutama terlihat di daerah pedesaan. Tiga bahan dasarnya antara lain sirih (Piper Betel Linn), dimana orang menggunakan buah dan daunnya, pinang (Areca Catechu Linn) dan kapur yang didapat dari batu kapur, kerang atau karang. Kapur juga dapat membuat gigi menjadi merah dan jika seseorang terlalu banyak menggunakannya, ini akan berakibat buruk pada gigi.

Bagi yang tidak terbiasa, jangan dipaksakan. Saya pernah mencoba sekali untuk mengunyah sirih ini, tetapi tidak kuat dan mabok *senyum nista*. Gara-gara mabok menyirih itu saya tidak berani mengulang percobaan itu. Mungkin suatu saat kalau sudah siap mabok lagi.

Bagaimana dengan informasi tentang Ende?

Diisi dengan lima poin penting yaitu:

1. About Ende.
2. Tourist Attraction.
3. Culture in Ende.
4. Useful Phrase.
5. Peta Flores dan Ende.

Kalau tentang atraksi wisatanya saya pikir kalian juga sudah tahu. Beberapa bisa dibaca di Blog Travel saya yang satu ini. Diantaranya Danau Kelimutu, Kampung Adat Wologai, Kampung Adat Nggela, Air Panas Liasembe, Air Terjun Murundao, Mata Air Panas Ae Oka Detusoko, Pantai Penggajawa, Pantai Enabhara, dan lain sebagainya. Di FPBFTG ENDE tidak tercantum atraksi wisata buatan.

Dua poin yang paling menarik minat saya dari lima poin di atas adalah tentang Culture in Ende dan Peta. Pada sub Budaya di Ende saya menggarisbawahi dua kalimat yang digunakan oleh Suku Lio (suku lainnya bernama Suku Ende) untuk kebesaran dan keagungan Tuhan:

Du'a Gheta Lulu Wula, Kai Eo Mbe'o Mera Gheta Longgo Leja.
(Tuhan di balik bulan, Dialah yang menatap di balik matahari).

dan

Ngga'e Ghale Wena Tana, Kai Eo Bewa Sa Ela Meta.
(Tuhan adalah penguasa bumi, Dialah pencipta alam semesta).

Baca Juga: Ngelawak Bersama Mamatua

Sedangkan pada sub Seni Bahasa, saya sangat tertarik dengan ulasan-ulasan tentang Sara Waga, Sua seru, Bhea, Sodha, Sua Sasa. Selama ini saya hanya pernah mendengar orang-orang ber-sodha dan sua sasa saja (lisan). Tidak menyangka bahwa puisi dalam bahasa Lio disebut sara waga dan sua seru itu. Mungkin kalian bakal bilang, masa iya Orang Ende tapi tidak paham betul tentang seni bahasa dari Suku Lio? Maklum, saya kan Suku Ende campuran ha ha ha. Bahasa Ende saja masih harus terus saya pelajari ... soalnya sejak lahir sampai sebesar dinosaurus komunikasi di dalam rumah selalu menggunakan Bahasa Indonesia.

Menurut saya, buku FPBFTG ENDE boleh dimilliki oleh siapa pun yang hendak berkunjung ke Pulau Flores dan Kabupaten Ende karena di dalamnya memuat hampir semua informasi yang dibutuhkan oleh para wisatawan. Saya pikir itu cukup, karena informasi tambahan bisa ditanyakan langsung ke agen perjalanan yang dipakai, teman yang tinggal di Pulau Flores dan Kabupaten Ende, atau penduduk setempat. Ingat, malu bertanya sesat di jalan, malu menjawab sesatkan orang lain.

Di mana bisa membeli FPBFTG ENDE? Entahlah. Saya memperolehnya dari Iwan. Saya tidak tahu apakah buku ini dijual bebas di toko buku atau tidak. Secara toko buku Gramedia juga jauh dari Kota Ende ... haha ... jadi silahkan coba cari sendiri kalau sempat main ke toko buku.

Baca Juga: Travel Writer

Demikian ... semoga bermanfaat.

Oia, dan karena liburan telah usai, tidak ada kalimat yang lebih indah selain: selamat kembali ke belantara rutinitas, kawan!



Cheers.

Corn Island

Gambar diambil dari Wikipedia.


like to laugh. So much. Also, I like to make other people laugh. Often I laugh at myself. Come on, laughing at yourself is not a sin. It's a remedy! And for this laugh stuff (Oh, stuff!?) I have partners.

Baca Juga: Ngelawak Bersama Mamatua

Adalah Martozzo Hann, Kiki Albar, dan Kakak Pacar, yang menjadi teman saya terbahak-bahak. Kami sering menertawai suatu peristiwa lucu berulang-ulang, bahkan hal-hal yang menurut orang lain sepele atau tidak lucu kemudian menjadi sesuatu yang super lucu untuk kami tertawai bersama. Tapi bukan berarti kami menghina orang lain loh, tidak sama sekali, kami takut kena tulah. Dinosaurus saja takut kena tulah, tentu kami juga.

Suatu malam kami berkumpul di ruang tamu sambil mengobrol ngalor-ngidul. Kebanyakan sih topiknya tentang proyek tukang syuting. Iya, saya sering mengajak mereka bergabung, apalagi untuk proyek video yang membutuhkan banyak sudut pandang (wide, medium, close up, details, dan lain sebagainya). Biasanya untuk video dokumenter tertentu kami memakai lima sampai enam kamera dan empat tripod.

Malam itu kami menertawai sebuah filem berjudul Duyung Melayu. Sebuah filem fantasi asal Malaysia yang kocak parah. Kami mengingat adegan-adegan lucu antara Jimmy, Berug, dan tentu saja terus-terusan berkata: ASPALELA BINTI PAGEEEEEEK!

Hihi.

Lalu Martozzo bertanya, "Encim sudah nonton Corn Island? Ini filem paling baguuuus!" Sebenarnya saya sudah merasa ada yang aneh ketika mendadak roman wajah Kiki menjadi a-ha-korban-baru. Karena saya penasaran, "Mana? Kopi rooo!"

Singkatnya, malam itu juga setelah mereka pulang, saya menonton Corn Island. Amunisi semacam Chitato dan kopi susu sudah tersedia manis di samping laptop.

Mari nonton!

Sunyi.

Su-nyi.

Se-nyap.

Sejak awal sampai akhir SENYAP. Jadi, sebelum ada A Quiet Place, sudah duluan ada Corn Island. Martozzo dan Kiki mengirim pesan ha ha ha. Sialan, kena kerjain ini sayanya.

Tapi, sebenarnya Corn Island merupakan filem bermakna dalam. Buktinya filem yang dirilis di Festival Film Internasional Karlovy Vary ke-49 pada Juli 2014 ini memenangkan Crystal Globe serta the Award of Ecumenical Jury. Corn Island juga dipilih sebagai filem dari Georgia untuk dipertimbangkan sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik dalam Penghargaan Academy Awards ke-87.

Baca Juga: TIKIL, Kami Antar Kami Nyasar

Corn Island bermula dengan adegan seorang pria tua yang menemukan pulau kecil tak berpenghuni dan tak berempu. Pulau ini muncul di tengah danau setelah banjir. Pria tua yang diperankan oleh Ilyas Salman itu kemudian mulai menanami biji jagung di pulau tersebut. Setelah membangun gubuk kecil di tengah pulau yang mulai ditumbuhi jagung, pria tua itu mengajak cucunya untuk tinggal bersamanya. Untuk datang dan pergi mereka menggunakan sebuah sampan kecil. Mereka adalah etnis Abkhazia dan bertukar anggukan dengan melewati tentara Georgia.

Saat jagung-jagung mulai dewasa (uhuy) datang seorang prajurit yang terluka. Si pria tua menyelamatkan dan melindungi si prajurit dari kejaran prajurit lain. Sampai kemudian si prajurit sembuh dan meninggalkan mereka. Terakhir, ketika panen jagung dimulai, musim hujan datang dan menyebabkan banjir parah yang sewaktu-waktu dapat menenggelamkan pulau tersebut. Pria tua itu menyelamatkan cucunya dengan sesampan penuh jagung. Sedangkan dirinya sendiri ... hanyut terbawa banjir. Ya, tamat riwayatnya di filem itu.

That's all.

Filem tanpa percakapan ini, kalau pun ada percakapan hanya terjadi sekali dua, yang membikin Martozzo dan Kiki terbahak-bahak. Kata Martozzo begini, "Filem apa iii, lihat pulau, tanam jagung, pas panen dia mati."

Sampai Corn Island ternyata menyabet penghargaan pun saya pikir mungkin karena makna-makna lain dari filem ini. Makna itu antara lain:

1. Cinta


Cinta yang indah dari seorang kakek kepada cucunya. Cinta itu yang membikin si kakek melindungi si cucu yang yatim-piatu, memberinya makan, mengajarinya tentang jagung, dan lain sebagainya.

2. Prinsip


Ketika pria tua di dalam Corn Island berprinsip untuk melindungi si prajurit, dia akan melindunginya meskipun nyawa sendiri menjadi taruhannya (jika ketahuan para prajurit yang mengejar).

3. Sacrifice


Pengorbanan. Ini luar biasa. Pria tua ini berkorban asalkan cucunya selamat dari banjir. Saya jadi ingat pengorbanan Constantine yang dianggap bunuh diri lagi oleh Lucifer dalam filem Constantine. Pengorbanan itu sesuatu yang langka.

Baca Juga: The Nun

Bagi kalian yang belum menonton filem ini, cobalah menontonnya. Bagi kalian yang sudah menonton filem ini, bagi tahu donk makna lain yang kalian tangkap dari filem senyap ini. Siapa tahu pendapat kita berbeda.

Liburan masih panjang ... mari berdoa agar mendung segera pergi agar rencana jalan-jalan dapat terwujud hehe.



Cheers.

Ngelawak Bersama Mamatua

My Captain Congklak.


Sejak Mamatua pensiun pada tahun 2000, lantas terserang gejala stroke pada Mei 2009, suasana di rumah kami yang bernama Pohon Tua menjadi jauh lebih ramai oleh celetukan kocak dan tawa. Mamatua, yang kadang saya panggil Amak, selalu punya cara untuk menggoda siapapun yang datang ke rumah kami. Tapi sesungguhnya 'musuh' utama Mamatua adalah sang asisten setia dengan jam kerja Ten 2 Five yang kami panggil Mamasia (dulu kami memanggilnya Tantasia) ... lawan abadi Mamatua dalam Internasional Congklak Tournament. Lawan abadi ini tak tergantikan meskipun kini di rumah tak hanya saya dan Mamatua saja, tetapi sudah ada Indra Pharmantara dan Thika Pharmantara.

Baca Juga: Travel Writer

Kalian pasti kan bosan jika saya menulis tentang perjalanan panjang Mamatua saat menjadi guru di sebuah kampung berlumpur sehingga kalau pergi mengajar memakai sandal jepit. Kalian juga pasti bakal bosan membaca tentang perjuangan Mamatua meningkatkan intelejensia, bukan hanya anak didiknya, kaum ibu di sekitaran sekolah dengan mengajar mereka menjahit, memasak, dan mengetik (dibantu oleh alm. Bapa). Kalian pun pasti langsung menggulir tetikus kalau saya bercerita tentang betapa bangganya kami ketika Mamatua menjadi Guru Teladan saat zaman Presiden Soeharto.

Lagi pula semua tentang Mamatua, termasuk tentang bagaimana Mamatua membesarkan dan mendidik kami, tidak akan cukup diceritakan dalam satu pos blog saja.

Kalau begitu ... apa yang akan saya tulis?

Saya ingin menulis tentang suatu dokumen yang saya beri judul: Ngelawak Bersama Mamatua. Dokumen (Word) ini memuat semua status Facebook saya tentang Mamatua. Kenapa judulnya begitu? Karena memang begitu adanya isi dokumen ini.  Salah satunya tentang #QualityTime keluarga yang selalu diiringi dengan obrolan kocak. #QualityTime wif Mamatua merupakan hashtag yang selalu saya pakai setiap kali menulis status di Facebook. Saking kocaknya status-status ini, sampai-sampai banyak teman yang mengirim pesan meminta saya lebih banyak menulis tentang kejadian konyol di rumah kami. Haha.



Mengobrol bersama Mamatua saat #QualityTime itu ibarat kutu loncat. Topiknya tumpang-tindih. Seperti yang berikut ini:

Januari 2017

#QualityTime Wif Amak.

Semakin lama duduk mengobrol, maka semakin insomnia kami berdua. Sedikit lebih lama, mata saya memberat sedangkan Amak sudah sampek episode 110. Tambah lama lagi, cerita sudah sampai tahun 1960-an, masa awal Amak menjadi guru di Detukeli. Di sinilah seninya QT kami. Jika di Radio Gomezone saya adalah penyiar, maka di rumah saya adalah pendengar dengan Amak sebagai penyiar. Akhirnya saya tahu dari mana bakat ngobrol ngalor ngidul ini berakar *ngikik*.

"... Yang informasi teroris di Ende tuh omong kosong e ..."

Horor, Mak. Kan tadi barusan topiknya cokelat, mendadak teroris gini.

"... Ini celana dengan yang di atas kain sama kah? Kain Farah? Tidak e ... Hoahem ..."

See?

Betapa berwarna (kuning)nya hidup kami. Pengalihan topik tanpa jeda! Mau lawan sapu Amak? Kamu kalaaaah hahahaa.

#CintaAmak
#Pharmantara
#LifeIsGood

Catatan: sapu itu bahasa singkatnya Orang Ende. Sapu berarti saya punya. Dalam konteks kalimat di atas, sapu berarti saya punya Mama.



Mamatua paling tidak suka gelap. Tidak ada pengumuman giliran pemadaman listrik saja lilin dan korek api selalu ready stock, apalagi kalau ada pengumuman pemadaman listrik:

Agustus 2014

#QualityTime wif Mamatua sore ini. Karena saya pulang kerja sudah jam 4 sore, perut merintih lirih *kasihan naaa* akhirnya makan, ditemani Mamatua. Waktu kami lagi mengobrol, sambil saya makan, mendadak listrik padam. Sigap Mamatua dengan gaya pendekar moderen Ming Mata Empat dari serial Tiger Wong bilang begini:

"HEEETTTT! Kau mati sudah listrik! Saya sudah siap lilin dan korek api di depan mata ..."

Lantas Mamatua ketawa bahagia.
#UdahGituDoank

:D Saya kuatir Mamatua buka jurus 'Tasbih Menyabet Semesta'.


Mamasia, semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan padanya, merupakan musuh sekaligus korban paling empuk. Mamatua bahagian sekali kalau bisa resek sama Mamasia. Lagian ... Mamasia itu kadang-kadang eror juga ha ha ha.

7 juni 2016

#QualityTime

Saya: Tidak rasa e besok sudah puasa hari ketiga!

Mamatua: Wuik, masih lama juga. Kalau tiga hari lagi Lebaran, itu baru tidak rasa.

Tanta Sia: Kalau sudah dua minggu puasa ... Aman sudah ... Sisa satu Minggu saja puasanya.

Saya & Mamatua: HAAAEEE Tanta Siaaaa, sisa dua minggu kah.

:p

Seru lah tiap hari begini mbikin sehat jiwa-raga.


Atau seperti yang satu ini:

Baca Juga: The Nun

18 April 2018

Amak, Mamatua kami yang tercinta itu, selalu bisa menimbulkan kelucuan dan kekonyolan di rumah kami yang berujung tawa terbahak-bahak. Dan sudah bukan kisah baru lagi jika Amak paling gemar menggoda Mamasia; bertanya yang aneh-aneh, bermain congklak tapi Mamasia diusahakan harus kalah terus (Amak senang ngeri lihat Mamasia pijit kepala pening karena kalah main congklak), dan sebagainya. Senang melihat semua itu. Bahagia dalam kesederhanaan yang pekat.

Salah satu hal yang paling sering bikin Amak tertawa, bahkan duduk-duduk sendiri tertawa kalau mengingatnya adalah soal pengucapan "Sabtu" dan "Limabelas" ala Mamasia. Pengucapan yang bahkan bikin Indra Pharmantara dan Thika Pharmantara juga ikutan ngakak mendengarnya. Kakak Niniek Melanie Bachtiar Sarimin dan Indri Pd Pharmantara sesekali harus dengar sendiri.

Suatu hari, Amak bilang ke saya, "Non, coba kau tanya Sia, ini hari, hari apa?"

Untuk apa, coba? Tapi saya pun bertanya dengan suara keras karena Mamasia ada di bagian belakang rumah. "Mamasia eeee ... ini hari, hari apa?"

Dengan garang Mamasia menjawab, "SEPTUUUU!"

Dan Amak terbahak-bahak. Kata Amak lagi, "Coba kau tanya tanggal berapa?"

"Tanggal berapa eeee Mamasia!????" tanya saya lagi.

Mamasia menjawab dengan luar biasa garang, "Tanggal LIMAMBLAS!"

Saya lihat Amak tertawa lebih dahsyat. Kuatir saya, bisa jatuh Amak dari kursi saking bahagianya tertawa bisa kerjain Mamasia. Lalu kata Amak, "Kalau Sabtu dia bilang Septu, kalau limabelas dia bilang limamblas. Ha ha ha ha..."

Jadi, sekarang setiap hari saya bertanya pada Mamasia, "Mamasia eee ini hari apa?"

Mamasia, "Malas jawab."

Kadang Mamasia sebelum menjawab sudah pikir lebih dulu, maka jawabnya "Sabtu" dan "Limabelas".

Kadang Mamasia keceplosan kalau saya tanya, "Mamasia, empatbelas tambah satu itu berapa e?"

Mamasia, "LIMAMBLAS."

Nah loh. Qiqiqiqiq  :D

Dan kalau bercerita sama Amak, masih juga keceplosan Septu dan Limamblas itu, yang bikin Amak ngakak dulu, baru ceritanya dilanjutkan.

Life is so that simple and funny. 

#LifeIsGood


Mamatua selalu punya korban, baik langsung maupun tidak langsung, salah satunya seperti pada kisah berikut ini:

8 juni 2018

Pharmantara sedang pakai bedak di kamarnya sambil dengar Mamatua mengobrol dengan Mamasia.

Mamatua: "Jadi ... Terus tu Sia ... Eh ... TADI SAYA CERITA APA E?" 

Thika: *bedak cemong sampai ubun-ubun*

Mamatua e, jangan dulu naik level pikunnya, katanya mau gendong cucu, kalau begini kan nanti bisa begini: "Rumi, kau mari sini." Trus Rumi (rencana nama anak gua geto) datang, "Kenapa Oma?". Mamatua lihat Rumi begini bingung-bingung, "Kau siapa!?"
*gedubraaaaakkkk*

Becanda yaaaa ini, karena #LifeIsGood 

Please fokus sama Mamatuanya, bukan Ruminya. Ha ha ha ...


Setiap orang pasti punya cerita lucu, konyol, kocak, bersama orangtua mereka. Karena sekarang Hari Ibu, setiap orang pasti punya cerita lucu, konyol, kocak, bersama Mama/Ibu/Bunda/Ine mereka. Hanya saja, banyak dari cerita-cerita itu tidak tersimpan dalam catatan. Kalau saya sih memilih menyimpannya di Facebook. Sekalian bisa menghibur teman-teman Facebook. Karena, saya kadang gagal menulis jika temanya haru-biru. 

Baca Juga: The Pirates

Kalian bisa membaca pos serupa di blog milik Pak Martin di Kakavila tentang Kebohongan Ibuku adalah Cinta Paling Tulus yang Saya Rasakan. Atau tulisan Mang Lembu tentang Hari Ibu Apa yang Sudah Kita Berikan Untuk Ibu.

Akhirnya ...

Selamat Hari Ibu!

Selamat liburan!



Cheers.

Travel Writer


Trinity, nama kesohor dalam dunia travel writer. Karena dia juga punya blog, tidak salah juga kalau disebut travel blogger. Kalau orang bilang Trinity adalah traveler yang sudah kenyang asam garamnya dunia, maka saya bilang Trinity adalah traveler yang sudah kenyang dengan semua bumbu dapurnya. Sebut saja, jahe, pala, ketumbar, serai, daun bawang, dan sederet bumbu di rak. Tidak bisa dipungkiri saya juga ingin bisa seperti Trinity. Tapi tentu saja semua yang sudah dia raih tidak terjadi dalam semalam sim salabim. Dan saya masih bermain gundu dalam dunia mimpi untuk bisa menjadi seperti Trinity.

Baca Juga: The Nun

Menjadi travel writer ngeri-ngeri sedap. Ngeri kalau dikritik habis-habisan sama pembaca yang, misalnya, punya pengalaman di tempat yang sama. Sedap kalau pembaca menikmatinya. Lebih sedap lagi kalau dibukukan dan bukunya laku keras. Kalau kalian sama seperti saya yang juga ingin bisa seperti Trinity, ada sebuah buku keren yang bisa dibaca. Judulnya Travel Writer. Buku ini ditulis oleh seorang traveler kesohor lainnya bernama Yudasmoro.

Siapa Yudasmoro?


Yudasmoro: travel writer untuk Garuda Inflight, Jalan-Jalan, Aplaus the Lifestyle, serta Getaway.

Sayangnya situs Yudasmoro[Dot]Net tidak dapat diakses karena menampilkan huruf-huruf yang tidak saya kenal haha. Tapi dari blog lamanya di Wordpress serta dari biodata di buku Travel Writer, tertulis nama lengkapnya yaitu Raden Yudasmoro Minasiani. Dia tidak punya latar belakang jurnalistik sama sekali. Dia pernah menjadi manajer sebuah restoran cepat saji selama delapan tahun, lantas memutuskan untuk banting setir menjadi seorang freelance travel writer.

Perkenalannya pada dunia travel writing membawanya pada dunia jurnalistik yang dipelajarinya sendiri melalui buku-buku dan internet. Setelah menerbitkan novel pertamanya, Fast Food United pada tahun 2008, dia sibuk menulis artikel travel untuk beberapa media cetak.

Singkat kata singkat cerita, hari berganti hari, lantas Yudasmoro menetaskan buku ini. Travel Writer. Kalau kalian membaca paragraf di atas, maka kalian tahu bahwa dia mempelajari dunia jurnalistik melalui buku-buku dan internet. Luar biasa. Makanya tulisan-tulisan Yudasmoro selalu enak dibaca dan tidak bikin sakit mata. Yaaa kalau sakit mata coba dicek ke dokter siapa tahu ada dinosaurus bertamu di mata. Hehe.

Travel Writer


Buku Travel Writer diterbitkan oleh Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai. Buku setebal 203 halaman ini memuat banyak panduan untuk para travel writer. Seperti tagline di bawah judul:

Panduan menjalani profesi paling mengasyikkan: penulis merangkap fotografer yang bisa keliling dunia gratis, bahkan dibayar!

Menggoda iman sekali kan?

"THE WORLD IS A BOOK AND THOSE WHO DO NOT TRAVEL READ ONLY ONE PAGE" ~ St. Augustine.
(Yudasmoro, 2012:1)

Dalam pembukanya Yudasmoro menulis: Saya sendiri heran, kenapa ya, kok sekarang seolah-olah travel writer menjadi booming dan menjelma jadi sesuatu yang diidam-idamkan? Apa mungkin karena faktor "traveling"-nya? Beberapa situs di luar negeri bahkan sudah melegalisasi travel writer sebagai the best job in the world.

Baca Juga: Blogger Perempuan

Tentu saja, the best job in the world. Jalan-jalan yang kadang dibayarin, menulis, eh dari hasil tulisan dapat bayaran pula. Kelihatannya mudah sekali kan. Jalan, menulis, kalau beruntung bisa menghasilkan uang. Tapi, sesuai dengan yang tertulis di dalam buku Travel Writer, jangan pernah lupakan tentang jurnalistik. Semua penulis, sama seperti blogger, punya DNA gaya menulisnya masing-masing. Seperti apa pun gaya menulisnya, jangan pernah lupakan jurnalistik. Seperti tulisan Yudasmoro: prinsip-prinsip jurnalistik yang membangun suatu travel writing itu sendiri.

Pada sub Destinasi 6, kalian akan membaca tentang Memulai Travel Writing. Prosesnya panjang loh. Bagaimana memulai penulisan, menentukan judul, bagian pembuka, gunakan EYD, kisah yang runut, sisipkan humor, membuat panduan, sampai terakhir mengirimkan artikel. Tidak hanya memberi panduannya, pada sub Destinasi 7, kalian akan membaca contoh-contoh artikel. Wah, kurang lengkap apa lagi buku ini?

Selain panduan menulis, Travel Writer juga dilengkapi dengan panduan fotografi, bahwa tidak perlu harus DSLR. Bahkan, dilengkapi dengan contoh foto-foto berwarna pada bagian tengah buku. Bagaimana sudut pengambilan, bagaimana foto bisa bercerita, dan lain sebagainya. Sedikit cerita, saya pernah dikoreksi oleh seorang teman yang katanya: pemandangannya bagus, coba kalau kamu tidak ada di situ, Teh, jadi orang bisa melihatnya secara keseluruhan. Nantilah foto yang ada kamunya. Dududu. Makanya sekarang saya suka memotret suatu obyek dengan dua versi, yang ada saya dan yang tidak ada saya di dalamnya. Haha. Win-win solution! Tapi itu versi saya loh ya, jangan langsung ditiru, karena setiap orang punya gayanya masing-masing.

Selain itu, pada sub Destinasi 8 tertera masalah-masalah yang dihadapi oleh seorang travel writer. Mulai dari alasan "Capek, Besok Sajalah!", "Diacuhkan Editor", "Honornya Kecil", "I Need to Relax!", "Aku vs Calo Terminal!", dan lain sebagainya.

Masih banyak isi Travel Writer yang akan sangat membantu para travel writer/blogger apabila memang ingin serius menjadi travel writer. Termasuk tentang sisipan humor, imajinasi, bahasa yang tidak kaku tapi tetap berprinsip pada jurnalistik, dan lain sebagainya.

Dari Saya


Sepanjang saya membaca buku ini, berulang kali, saya paham bahwa menulis perjalanan itu bukan sekadar menulis tentang rute sampai kuliner daerah tujuan. Tapi bagaimana kita bisa menulis dengan baik, tak perlu harus menulis dengan sangat benar menggunakan PUEBI. Saya, kalian, mereka, mungkin pernah menulis dengan cara yang tidak baik seperti:

Di dano kelimutu,,,ternyata sunrise elok loh.kapan kalian ke sana? ( dano kelimutu ).

Kalau saya membaca tulisan di atas, meskipun saya bukan penyunting pun, pasti bakal sakit mata. Koma tiga, kalimat baru tanpa spasi dan tanpa huruf besar di awal kata pertama, Danau Kelimutu yang ditulis dano kelimutu, belum lagi kalimat dalam kurung dengan tanda kurung yang dikasih spasi. Aduh, pusing eykeeeee. Kalau begitu, bagaimana tulisan yang baik?

Apabila kalian pergi ke Danau Kelimutu pada pukul 04.30 Wita, kalian dapat menunggu dan menikmat sunrise dari puncak Tugu Kelimutu. Warna emasnya memukau! Kapan kalian ke sana (Danau Kelimutu)?

Kira-kira seperti itu (di atas) tulisan yang baik. Tidak perlu harus paling benar sesuai PUEBI tetapi menulislah dengan baik. Karena di mana? adalah salah jika ditulis dimana?. Karena mengubah adalah salah jika ditulis merubah. Karena merapikan adalah salah jika ditulis merapihkan. Karena dimakan adalah salah jika ditulis di makan. Semua adalah hal-hal dasar kepenulisan yang seharusnya sudah diketahui oleh para penulis. Termasuk penulis perjalanan atau travel writer.

Baca Juga: Lagu-Lagu Ini Punya Kembaran

Demikian #SabtuReview kali ini. Tidak bermaksud menggurui. Apabila ada salah, mohon dimaafkan haha.

Semoga bermanfaat untuk saya, kalian, mereka, dan dinosaurus. Amin. Haha.


Cheers.