Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya


Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya. Hai kalian bos-bos pembaca blog! Di rumah saja akibat penyebaran virus Corona di Indonesia memberi kesempatan pada kita untuk melakukan banyak kegiatan. Salah satunya: membaca buku. Coba kalian ingat-ingat lagi, sudah berapa banyak buku yang dibaca sepanjang tahun 2020 yang baru berjalan tiga bulan ini? Lima? Atau bahkan sudah enam belas buku? Tentu dua minggu dirumahkan bukan berarti saya semata-mata membaca buku. Banyak kegiatan lain yang juga dilakukan antara lain nge-blog dan membikin video: Blogging, BlogPacker, dan Podcastuteh untuk diunggah di Youtube. Yuhuuuuu. By the way, salah satu buku yang saya baca setelah buku berjudul The Secret of Ikigai adalah Bicara Itu Ada Seninya. Artinya, jangan suka nyablak! Haha.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Seperti apa sih buku berjudul Bicara Itu Ada Seninya?

Cekidot!

Bicara Itu Ada Seninya


Bicara Itu Ada Seninya ditulis oleh Oh Su Hyang. Oh Su Hyang adalah seorang dosen dan pakar telekomunikasi di Korea Selatan. Jadi, kalian jangan hanya tahu K-Pop, Drama Korea, atau Tuba Entertainment yang memproduksi Larva, tetapi juga harus tahu bahwa dari negara unik itu juga ada seorang pakar telekomunikasi. Diterjemahkan oleh Asti Ningsih, buku terbitan Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP) yang merupakan Kelompok Gramedia ini bersampul hitam dengan tulisan berhuruf besar berwarna putih. Tagline-nya: The Secret Habits to Master Your Art of Speaking (Rahasia Komunikasi yang Efektif)Sebanyak 238 kita akan diajarkan secara tidak langsung tentang seni berbicara. Tahukah kalian, ternyata storytelling merupakan plot yang kokoh?

Saya tertarik dengan narasi pada sambul belakang buku ini:

Ketika komunikasi menjadi hal yang penting untuk bersaing, pakar komunikasi Oh Su Hyang mengeluarkan buku yang sangat berarti. Selain berisi tentang pengalaman pengembangan diri, buku ini juga membahas tentang teknik komunikasi, persuasi, dan negosiasi.

Lalu bagaimana cara berbicara yang baik? Apakah berbicara dengan artikulasi yang jelas? Atau berbicara tanpa mengambil napas? Tidak! Sebuah ucapan yang bisa disebut baik adalah yang bisa menggetarkan hati. Ucapan seorang juara memililki daya tarik tersendiri. Ucapan pemandu acara memiliki kemampuan untuk menghidupkan suasana. Anda harus pandai berbicara untuk menunjukkan diri Anda kepada lawan bicara dalam kehidupan sosial. Orang yang berbicara dengan mahir akan menjadi lebih maju daripada yang lainnya. Untuk mencapai tujuan komunikasi, persuasi, dan negosiasi, Anda harus mengetahui metode komunikasi yang efisien.


Berisi bab-bab dengan bahasa yang ringan, pengalaman-pengalaman, ragam tips dan trik, saya pikir kalian wajib membaca buku yang satu ini.

Mengajarkan Tanpa Harus Menggurui


Saya sering menulis tentang para penulis yang mengajarkan banyak hal baik pada pembacanya tanpa terkesan menggurui. Tetapi sebenarnya kalau penulis itu memang menggurui ya tidak masalah sepanjang mereka punya kapabilitas untuk melakukannya. Di dalam Bicara Itu Ada Seninya, pembaca diajak untuk mengetahui alasan takut berbicara. Salah satunya karena trauma salah ucap. Saya sering mengalami salah ucap. Tapi untuk sampai pada tahap trauma, belum. Karena toh saya pribadi tidak mengalami kendalam saat berbicara di muka publik. Itu saya. Tapi pasti beda dengan orang lain yang bahkan untuk berdiri di muka publik saja bergetar seluruh tubuh. Intinya adalah harus membuang rasa takut tersebut. Itu yang diungkapkan oleh Oh Su Hyang.

Mengubah cara bicara, mengubah cara hidup, juga tertuang di dalam buku ini. Mengubah cara bicara tidak terjadi sekedip mata. Oh Su Hyang mengajarkan tentang latihan di balik panggung gelap, dengan contoh (alm.) Steve Jobs. Membaca bagian ini saya ingat diri sendiri. Jujur, saya seringkali berbicara dengan nada yang cukup tinggi, kecepatan cahaya, sehingga sering belepotan. Diimbuh suara yang cempreng. Oh lala, yang mendengar saya bicara pasti langsung sakit kepala. Tetapi setelah menjadi penyiar radio, saya harus bisa menjadi orang lain yang mendengarkan diri sendiri berbicara. Ah, ternyata memang benar, bicara itu ada seninya. Hahaha.

Perkara yang juga diajarkan Oh Su Hyang dalam Bicara Itu Ada Seninya adalah tentang Sepuluh Aturan Komunikasi:

1. Kata-kata yang tidak bisa diucapkan di "depan", jangan dikatakan di "belakang". Gunjingan sangatlah buruk.

2. Memonopoli pembicaraan akan memperbanyak musuh. Sedikit berbicara dan perbanyak mendengar. Semakin banyak mendengar akan semakin baik.

3.Semakin tinggi intonasi suara, makna dari ucapan akan semakin terdistorsi. Jangan menggebu-gebu. Suara yang rendah justru memiliki daya.

4. Berkata yang menyenangkan hati, buka sekadar enak didengar.

5. Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. Berbicara yang mudah dimengerti, bukan yang mudah diucapkan.

6. Berbicaralah dengan menutupi aib dan sering memuji.

7. Berbicara hal-hal yang menyenangkan, bukan yang menyebalkan.

8. Jangan hanya berkata dengan lidah, tetapi juga dengan mata dan ekspresi. Unsur non-verbal lebih kuat daripada unsur verbal.

9. Tiga puluh detik di bibir sama dengan tiga puluh tahun di hati. Sepatah kata yang kita ucapkan mungkin saja akan mengubah kehidupan seseorang.

10. Kita mengendalikan lidah, tapi ucapan yang keluar akan mengendalikan kita. Jangan berbicara sembarangan dan bertanggungjawablah terhadap apa yang sudah Anda ucapkan.


Sehingga, kalau kalian menyimpulkan buku ini tidak hanya menuangkan 'ilmu' berbicara di muka publik tetapi juga terhadap teman ... betul sekali. Tentunya masih banyak pelajaran lain yang bisa kalian ambil dari buku ini demi kelancaran komunikasi baik dengan orangtua, saudara, kawan, tetangga, kekasih, maupun musuh! Hehe.

Mengaplikasikannya Dalam Kehidupan Sehari-Hari


Beberapa teman-teman yang hendak mengikuti ujian skripsi sering bertanya pada saya, bagaimana bersikap di dalam ruang sidang skripsi. Saran saya pada mereka:

Pertama:
Harus menguasai penelitian yang sudah diubah dalam bentuk skripsi tersebut! Bagaimana bisa berbicara kalau materinya tidak dikuasai? Kuasai permasalahannya, kuasai undang-undang yang dipakai, kuasai pemecahan masalahnya.

Kedua:
Berbicara tanpa 'eee', tanpa 'anu'. Berbicaralah dengan tegas, lugas, tanpa keraguan sedikit pun, namun tidak berkesan sombong. Karena biarpun kalian menguasai 100% materi tetapi tidak didukung dengan kemampuan berbicara yang baik ... Wassalam. Oleh karena itu, harus berlatih berbicara dimulai dengan "Selamat pagi, nama saya Abcefg, NIM sekian, judul penelitian saya adalah Ini Itu Adalah Ini Itu".

Ketiga:
Menatap wajah dosen dengan tatapan pasti. Percaya diri.

Keempat:
Bawa selalu Tuhan dalam setiap perkataan.


Jadi, kawan, jangan pernah menganggap remeh para pewara alias master of ceremony. Apa pun acara kalian, tanpa pewara, bakal garing. Merekalah yang membawa acara kalian menjadi terarah dan meriah. Pewara bukan sekadar pewara, tetapi mereka harus menguasai pula inti acara yang dibawakan tersebut. Otak mereka harus menerima informasi-informasi baru, mengolahnya, untuk melengkapi pekerjaan membawa acara. Saya sering sedih kalau mendengar orang-orang berkata: apa eeee omong begitu saja bayar sampai jutaan. Kadang saya langsung membalas: mau yang murah? MC sendiri, jangan minta jasa MC kondang. Meskipun bukan pewara tapi saya sangat tahu persis betapa susahnya jadi pewara, terutama pewara perempuan yang selain mengandalkan otak dan seni berbicara, juga harus memerhatikan penampilan.

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua.

Selamat menikmati akhir minggu. Dan setidaknya saya cukup senang mendengar berita dari RRI Ende yang mengabarkan ODP di Ende dari 22 turun hingga 3. Dari 3 ODP, 2 sudah dirumahkan (karantina diri sendiri), 1 masih dirawat di ruang karantina RSUD Ende karena masih balita. Semoga badai ini lekas berlalu ...

#SabtuReview



Cheers.

Corona Membikin Saya Teringat Sama Filem-Filem Ini


Corona Membikin Saya Teringat Sama Filem-Filem Ini. Begitu lekas waktu berlalu, buka-tutup mata, eh sudah weekend. Dan sebagai pejuang liburan saya sangat menyayangkan tanggal merah yang jatuh pada hari minggu. Sedih maksimal. Pasti kalian juga berpikir begitu kaaaaan. Ayolah. Akui saja. Supaya saya tidak merasa sendiri. Haha. Semoga akhir minggu kalian menyenangkan. Kalau kalian belum punya rencana ke mana-mana alias akhir minggu di rumah saja karena himbauan social distancing, serta banyak lokasi yang di-lockdown, berkunjung ke blog ini adalah pilihan tepat *kedip-kedip*. Karena setiap Sabtu selalu ada hal-hal menarik yang saya tulis mulai dari buku, filem, musik, tokoh, video favorit di Youtube, hingga ... apa saja deh. 


Adalah hal yang perlu saya garisbawahi bahwa virus Corona yang oleh WHO dinamai Covid-19 memang telah memakan banyak korban. Kita doakan agar saudara-saudara kita yang terinfeksi dapat pulih dan semoga kita semua terhindar dari virus yang satu ini. Jangan lupa untuk selalu memakai masker dan mencuci tangan. Virus Corona ini membikin saya teringat pada filem-filem (juga serial) yang pernah ditonton. Bagaimana virus mampu menghancurkan dunia dalam filem, itu saya anggap tidak mungkin. Tetapi ketika Corona menyebar di seluruh dunia dan dinyatakan menjadi pandemi, saya was-was. Dus, teringat filem-filem tersebut.

Perlu saya jelaskan bahwa tulisan ini bukan berarti saya tidak punya simpati dan empati terhadap saudara-saudara yang telah terinfeksi dan/atau telah menjadi korban (nyawa melayang), tetapi menulis ini karena saya sadar bahwa apa yang terjadi di filem bisa saja terjadi di dunia nyata. Kalian pasti tahu kisah tragis Titanic. Si Penulis novel yaitu Morgan Robertson tidak pernah tahu bahwa kisah fiksi dalam novelnya yang berjudul The Wreck Of The Titan atau Futility benar terjadi empat belas tahun kemudian pada tragedi mengenaskan kapal Titanic. 

Mari mulai dari The Walking Dead. Serial terseru sepanjang sejarah. Buat pengagum Game of Thrones jangan marah, ya. Haha. The Walking Dead diangkat dari komik yang dibikin oleh Robert Kirkman. Rick Grimes yang diperankan oleh Andrew Lincoln merupakan tokoh sentral pengambil keputusan dalam serial ini. Rick Grimes muncul pada versi komik tahun 2003 dalam episode berjudul Issue #1, versi serial televisi tahun 2010 dalam episode Days Gone Bye, dan dalam Fear the Walking Dead tahun 2018 episode What's Your Story?. Rick Grimes kemudian dinyatakan mati pada versi serialnya dalam episode berjudul What Comes After di tahun 2018. Dirilis oleh Looper, dikatakan bahwa Melalui 193 edisi komik asli dan tidak kurang dari tiga seri televisi yang dibuat di dunia pasca-apokaliptik oleh Robert Kirkman, para penyintas tidak benar-benar tahu apa yang menyebabkan orang-orang menjadi zombie. Mereka hanya tahu bahwa penyebarannya adalah melalui gigitan. Kau tergigit. Kau jadi zombie. Bahkan kemudian sumber maut bukan saja zombie melainkan sesama manusia alias sesama penyintas. Di Twitter (via ComicBook.com), Kirkman mengonfirmasi bahwa itu adalah alien. Itu adalah spora luar angkasa. Sampai season berapa baru kalian tahu bahwa penyebab kehancuran dunia itu adalah spora luar angkasa? Sesaat setelah dirilis Kirkman atau jauh setelahnya ... seperti saya?

Jika kalian menganggap zombie yang ditemui dalam The Walking Dead sangat menakutkan, maka kalian akan terkejut ketika menonton World War Z yang diperankan oleh kekasih saya Brad Pitt. Zombie di filem ini jauh lebih agresif dan hitungan terjangkit virusnya dan proses menjadi zombie pun sangat lekas! Tolong koreksi di papan komentar kalau saya salah, dikabarkan virus di dalam World War Z merupakan virus/wabah rabies. World War Z diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Max Brooks. Ada hal yang unik dari filem ini. Kalau filem lain menceritakan bagaimana manusia berusaha meneliti dan/atau mencaritahu vaksin pembunuh virus, maka dalam World War Z justru virus harus harus disuntikkan pada tubuh manusia sehat agar tidak terdeteksi sebagai 'daging segar' oleh zombie. Mau tidak mau harus begitu. Hal itu ditemukan Gerry Lane, yang diperankan Brad Pitt, saat melihat gerombolan zombie melewati begitu saja manusia yang terlihat normal alias bukan zombie. How? Why? Dan jawabannya ternyata manusia itu ... sakit.

Robert Neville yang diperankan oleh Will Smith menjadi penyintas dalam filem I am Legend. Filem ini benar-benar menjadi legenda dan membikin semua orang bersenandung lagu Three Little Birds dari seorang legenda dunia musik bernama Bob Marley. Saya pernah menulisnya, bersama filem lain dalam pos berjudul 5 Filem Zombie Favorit. Dalam I am Legend, virus penyebab kehancuran dunia bersumber dari obat penyembuh kanker. Manusia yang terinfeksi virus ini disebut Darkseeker karena mereka hanya takut terhadap cahaya baik itu cahaya matahari dan cahaya lampu berkekuatan besar. Dan perubahan yang terjadi tidak membuat mereka terlihat seperti zombie tetapi menjadi makhluk haus darah yang berkulit super pucat, botak (semuanya rontok kali ya), dan punya menu favorit: daging. Jika zombie umumnya boleh dibilang agak bego o'on begitu, Darkseeker ini cerdas dan mampu membaui keberadaan daging segar. Oleh karena itu Robert selalu pulang ke tempat persembunyiannya lebih dini sebelum matahari terbenam.

Kalau The Walking Dead diangkat dari komik, World War Z diangkat dari novel, maka filem yang satu ini diangkat dari game. Judulnya Resident Evil. Inilah filem dengan ending tak terduga. Saya menontonnya sejak masih dalam bentuk permainan Play Station, dimainkan sama Indra Pharmantara. Kemudian mulailah permainan ini di-filem-kan. Mila Jovovich (konsisten sekali) berperan sebagai pemeran utamanya, Alice. Cerita dengan alur cukup ribet ini bakal memuaskan kalian para pecinta zombie. Saran saya, nontonlah semua seri Resident Evil mulai dari Resident Evil hingga Resident Evil The Final Chapter. Lantas, apa virus yang menyebabkan kehancuran dunia itu? Menurut situs Resident Evil CAPCOM, virus ini adalah versi t-virus. Virus mempercepat metabolisme inang, memberikan kekuatan, kecepatan, dan kemampuan regeneratif yang tinggi.

Dalam filem 28 Days Later, virus yang menyerang berasal dari eksperimen ilmiah beberapa ekor simpanse dan zombie-nya bisa mati dalam jangka waktu 28 hari. Virus kemarahan. Seperti The Walking Dead, tokoh utamanya Jim yang diperankan oleh Cillian Murphy juga tersadar dari koma, melihat situasi kota yang sepi, dan kemudian tahu bahwa dia tidak sesepi itu karena ada zombie di sana. Virusnya bernama Rage, penyakit fiksi dalam film ini dan dalam filem 28 Weeks Later. Ini adalah virus ganas yang ditularkan melalui darah yang mengirimkan inangnya ke dalam kemarahan yang sangat tidak terkendali.

Masih banyak filem bertema virus dan kehancuran dunia oleh virus tersebut. Seperti The Warm Bodies, yang lebih 'lembut' karena zombie-nya dapat 'kembali' seperti manusia. Ada juga filem Virus, based on true story in India, dengan virus bernama nipah. Jangan lupa filem Train to Bussan pun menceritakan hal yang mirip. Zombie is the best. Hahahaha. Tapi tentu, jika dikaitkan dengan virus Corona maka filem berjudul Contagion menjadi juaranya. Filem ini menceritakan tentang Beth Emhoff yang diperankan oleh Gwyneth Paltrow yang baru pulang dari Hongkong ke Amerika Serikat. Balik ke Amerika dia terserang flu dan ternyata flu itu diakibatkan oleh virus mematikan campuran genetik virus kelelawar dan babi. Ngeri sekali ya. Lebih ngeri karena vaksinnya dibikin dalam jumlah terbatas alias tidak semua orang bisa mendapatkannya. Konon, menurut cerita teman-teman, filem Contagion ini kembali diburu. Banyak yang penasaran!

Baca Juga: Marilah Kita Merinding Disko Bersama Diary Misteri Sara

Filem-filem di atas hanyalah sebagian kecil dari filem-filem bertema virus dan akibatnya pada dunia ini. Masih banyak filem lainnya, dan kalau kalian punya rekomendasinya bisa tulis di komen. Kita tidak pernah menyangka filem-filem itu, baik fiksi maupun diangkat dari kisah nyata, bisa saja terjadi. Dulu orang-orang bikin filem futuristik, sekarang hampir semuanya kita raih alias kita jalani dalam kehidupan sehari-hari. Terkait dengan virus Corona, lagi-lagi yang bisa kita lakukan adalah social distancing, jaga jarak satu meter dari orang lain, ingat memakai masker, mencuci tangan sebelum menyentuh mata, hidung, dan mulut, serta minum vitamin. Daya tahan tubuh juga harus baik ya, gengs.

Selamat berakhir minggu!



Cheers.

Mengintip Rahasia Bahagia dan Umur Panjang dari Ikigai


Mengintip Rahasia Bahagia dan Umur Panjang dari Ikigai. Membaca judul, kalian pasti bertanya-tanya, memang ada sekolah yang mengajarkan hal itu? Ada donk. Semua tingkatan sekolah di Indonesia mengajarkan hal itu, terutama sekolah dasar, melalui cara-cara halus yang tidak disadari oleh para murid. Di sekolah, murid diajarkan untuk menghormati guru dan menyayangi teman, saling menghargai, tidak menghina apalagi melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain, tidak mencuri, tidak berbohong, selalu bersyukur dan lain sebagainya. Murid sedapat mungkin punya simpati dan empati dan digembleng agar memiliki karakter yang baik. Tapi sekolah secara harafiah bukan satu-satunya tempat kita belajar. Buku juga merupakan sekolah. Ya, bagi saya buku juga merupakan sekolah yang mengajarkan pembacanya banyak perkara. Siapa pun yang tidak membaca buku pasti merugi. Kalau ada yang membantah, artinya dia memang jenius sejak lahir. Begitu berusia lima jam, sudah pandai bicara menggunakan lima bahasa di dunia, hafal sejarah Hagia Sohpia, serta tahu seluk-beluk kalkulus. 

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Salah satu buku bertema self improvement yang pernah saya baca berjudul The Secret of Ikigai: Rahasia Menemukan Kebahagiaan dan Umur Panjang Ala Orang Jepang. Duh, menulis Jepang, saya punya cita-cita menghabiskan masa tua di Jepang loh. Haha. Jepang itu negara yang sangat menarik. Bukan hanya karena anime-nya, atau bunga sakura, tetapi juga gaya hidup masyarakatnya, makanannya, sampai penemuan-penemuannya yang bikin saya ternganga. Siapa sih yang tidak tahu gaya hidup minimalis Orang Jepang? Kalian pasti tahu futon, perangkat tidurnya Orang Jepang. Agung Riantiarno menulis sebagai berikut: Futon dalam satu set nya biasanya terdiri dari Shikibuton (matras) yang biasanya hanya sedikit lebih tebal dari Bed Cover, Shiitsu (seprai kasur), Kakebuton (selimut tebal), Houfu (sarung dari selimut), Makura (Bantal) dan Makura Kaba (sarung bantal). Kalau Orang Indonesia maunya kasur pegas king size! Hahaha.

Kita tinggalkan futon, mari bahas The Secret of Ikigai!

The Secret of Ikigai


The Secret of Ikigai ditulis oleh Irukawa Elisa. Buku setebal 224 halaman ini diterbitkan oleh Araska (Publisher) dengan tema/kategori self improvement. Ada lima bab, di luar kata pengantar hingga epilog, yang membawa pembaca pada semesta 'sadar dan kenal diri sendiri'. Hal semacam ini memang familiar karena buku-buku self improvement lain juga mengajarkan hal yang sama. Tapi jelas, The Secret of Ikigai yang bersampul putih dengan bunga sakura ini menjelaskan dari sudut pandang berbeda, bernuansa kehidupan Orang Jepang.

Aliran Lima Bab


Ini menarik, The Secret of Ikigai ditulis dalam bab-bab yang mengalir seperti air. Sangat runut alias tidak melompat-lompat. Seperti proses manusia: lahir - belajar berjalan - bertumbuh - menikah - menjadi orangtua - dan seterusnya. Lihat Bab 1 yang berjudul Tujuan Hidup Tidak Jelas? Kuasai 4 Konsep Filosofi Ikigai. Ini pertanyaan umum, dan memang secara umum banyak orang yang bertanya pada diri sendiri, mau di bawa ke mana hidup saya ini? Menyerah, atau belajar dan berjuang? 4 Konsep Filosofi Ikigai itu adalah

1. Apa yang kamu sukai?
2. Apa yang dibutuhkan dunia?
3. Apa timbal balik untuk Anda?
4. Apa kemampuan Anda?

Kalau pembaca bisa menjawab empat pertanyaan di atas ... luar biasa. Passion menjadi paid for.

Masih dari Bab 1 pula pembaca diajarkan membongkar 4 elemen Ikigai yaitu: Mission, Vocation, Profession, dan Passion.

Orang yang hidup memiliki passion akan hidup lebih bahagia dan memiliki usia yang lebih awet muda, seperti orang penduduk Jepang. Seperti yang kita tahu bahwa Jepang termasuk negara maju yang memiliki jam kerja yang luar biasa padat. Dengan kepadatan kerja yang luar biasa, mereka memiliki angka kematian yang kecil. Dari hasil penelitian, hal ini karena mereka mampu menemukan Ikigai mereka di tengah kesibukan yang memicu stress. Indonesia yang masih memiliki jam kerja yang cukup, harusnya lebih mudah menemukan Ikigai. (Irukawa Elisa, 2019:40).

Pada Bab 2: Lesu Menjalani Hidup? Bongkar Pembangkit Semangat Hidupmu. Poros Bab 2 ini ada pada bagaimana kita menemukan tujuan hidup, membangun emosi positif, menghindari prasangka, dan menyadari identitas diri yang sebenarnya. 

Pada prinsipnya adalah, mengetahui kesenangan, ketidaksenangan, karakter dan pribadi diri sendiri. Karena hal inilah yang akan menjadi modal utama, sekaligus sebagai pengantar untuk menuju kesuksesan. (Irukawa Elisa, 2019:60).

Bab 3: Fokus pada Hal yang Kamu Cintai. Ini mengingatkan saya pada buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Iya, kita seringkali terganggu dengan perkara-perkara kecil, seperti omongan orang dan bisik-bisik tetangga, sehingga tergeser dari fokus (apa yang kita cintai). Misalnya, kemampuan kita adalah mendaur ulang sampah, tetapi kuatir sama omongan orang "Sarjana kok daur ulang sampah!" pada akhirnya kita bergeser dari apa yang kita cintai (mencintai hobi, kesenangan, apa yang dilakukan). Pada Bab 3 ada sub berjudul: Menikmati Air Mengalir. Ini bagus, dalam pandangan saya, apa yang tidak bisa diubah oleh manusia, artinya harus dinikmati, sepahit apa pun itu. 

Bab 4: Menggali Kemampuan Tersembunyi. Iya sih, banyak orang tidak sadar bahwa mereka punya potensi. Ada potensi/bakat/kemampuan yang langsung menunjukkan diri, tapi ada pula yang bersembunyi menunggu pencarinya/penggalinya. Di sini kita belajar bahwa kreativitas tidak dimiliki oleh orang tertentu saja. 

Pertanyaannya adalah bagaimana membangun kreativitas yang mampu melahirkan inovasi? Memang tidaklah mudah, perlu yang namanya latihan, dan berpikir kritis. Tidak sekedar itu, tetapi juga peka terhadap banyak hal. Karena dengan peka terhadap banyak hal-hal kecil di sekeliling akan mengasah kreativitas dan memantik inovasi lahir. (Irukawa Elisa, 2019:108).

Bab 5: Apa Timbal Balik Ikigai? Tentu panjang umur dan bahagia merupakan timbal balik pertama yang bakal diperoleh. Berikutnya menyusul: produktif, menjadi pribadi yang lebih disiplin, menciptakan manusia berkualitas, kreatif dan inovatif, menjadi agen perubahan, memiliki kemampuan self driving, dan rasionalis.

Seseorang yang memiliki visi dan misi yang jelas, disertai dengan semangat mewujudkan. Maka secara otomatis sistem syaraf otak akan bekerja untuk berfikir rasional. Jadi secara otomatis sistem syaraf otak saling terkoneksi untuk melihat peluang di setiap celah yang ada. Orang yang memiliki pemikiran rasional, memiliki pemikiran lebih kritis setiap melihat peluang dan objek yang ada. (Irukawa Elisa, 2019:216).

Tentu, masih banyak detail-detail menarik yang bisa kalian temukan di dalam buku ini, ditulis/dikupas tuntas satu per satu oleh Penulisnya. Jangan salahkan saya jika saat kalian membaca, kepala bakal mengangguk-angguk setuju seratus persen. Hehe. 

Kita dan Ikigai


Menurut Wikipedia, Ikigai adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Kata itu secara harfiah meliputi iki, yang berarti kehidupan dan gai, yang berarti nilai. Ikigai kadang diekspresikan sebagai “alasan untuk bangun di pagi hari”. Ikigai-lah yang memberikan motivasi berkelanjutan untuk menjalani hidup, atau bisa juga dibilang bahwa ikigai-lah yang memberikan gairah hidup yang membuat semangat dalam menyambut kedatangan setiap hari baru. Irukawa Elisa menulis bahwa Ikigai di Jepang sudah akrab, dan menjadi gaya hidup mereka. Sebenarnya di Indonesia secara tidak langsung sebenarnya juga telah mempraktekkan Ikigai. Perbedaannya Ikigai di Jepang dan di Indonesia hanya pada sebutannya. Di Indonesia, tidak ada nama sebutan khusus terkait tujuan hidup. Namun, sebenarnya Orang Indonesia sudah memiliki tujuan hidup dan sudah menemukan sumber kebahagiaan.

Kalian pasti terkejut. Hehe.

Menurut Irukawa Elisa, di Indonesia khususnya kaum Muslim, kata yang lebih tepat bukan Ikigai, namun dapat disederhanakan dengan ikhlas dan bersyukur menjalani hidup. Bersyukur menjalani hidup dapat saya bilang mudah dilakukan oleh siapa saja. Tetapi ikhlas, itu perkara lain. Byuuuuh. Susahnya ikhlas itu pasti kalian juga sudah merasakan hahaha. Tapi kita harus berupaya untuk bisa ikhlas dalam setiap sendi kehidupan ini.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Akhirnya selesai juga saya me-review buku ini setelah lama dibaca. Salah satu buku self improvement yang juga saya rekomendasikan pada kalian. Kalau kalian juga punya rekomendasi buku-buku self improvement lain, silahkan komen di bawah, siapa tahu bakal saya beli, baca dan review. Semoga bermanfat bagi kalian semua. Mulailah belajar mengenali diri sendiri, menggali kemampuan diri, memanfaatkan potensi diri, bodo amat sama perkara-perkara kecil yang tidak penting, serta jangan lupa bersyukur dan berusaha ikhlas!

#SabtuReview



Cheers.

Marilah Kita Merinding Disko Bersama Diary Misteri Sara


Marilah Kita Merinding Disko Bersama Diary Misteri Sara. Siapa di sini yang penakut tapi doyan sama ke-horor-an terhakiki? Toss dulu, yuk. Artinya saya tidak sendiri. Sesuatu yang horor itu seperti magnet. Semakin horor, semakin bikin penasaran, meskipun semakin ketakutan setengah mampus! Kalian pasti pernah mengalami juga, setiap kali mengobrol bersama kawan-kawan, topik obrolan bakal memasuki Waktu Indonesia Bagian Horor ketika jarum jam berlari menuju tengah malam. Terus mendadak aroma pandan merasuk lobang hidung yang banyak bulunya itu. Byuuuuh! Saling lihat, telan ludah, terus salah seorang nyeletuk, "Si LL kabarnya ditangkap, ya?". Manuver yang lekas, sedikit mengurangi pompaan jantung. Dan sekadar rekomendasi bagi kalian, #SabtuReview, ya hari ini, bakal ngebahas tentang Diary Misteri Sara a.k.a. #DMS. Mau menu horor? Jangan nanggung! 

Baca Juga: Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana

#DMS merupakan nama yang dipakai oleh Demian Aditya dan isterinya Sara Wijayanto beserta kru untuk konten video reality show bertema horor. Horornya level dewa! Kalau Nex Carlos menjelajah tempat makan se-Indonesia, maka #DMS menjelajah tempat-tempat yang disinyalir selalu beraroma 'amis' antara lain gedung pabrik yang ditinggalkan, mall yang ditelantarkan seperti perasaan saya pada Orlando Bloom, rumah sakit yang berubah jadi rumah hantu, villa-villa, bahkan rumah beberapa seleb. Mereka tidak memakai kata menjelajah melainkan penelusuran. Bagi saya pribadi #DMS merupakan the real reality show-nya Indonesia. Hati Adek lelah, Bang, sama reality show tipu-tipu. Kalau kalian penasaran, marilah baca pos ini sampai selesai. Bagaimana kalau kalian tidak mau membacanya sampai selesai? Artinya kalian tidak akan pernah sampai pada kata: cheers yang menutup semua pos saya di blog ini. Hahaha. Serius amaaaat, Neng!

Kru #DMS


Di atas, sudah saya jelaskan gambaran umum tentang #DMS. Kalian perlu tahu bahwa selain Demian dan Sara yang saling memanggil Ip satu sama lain, kru #DMS yang lain patut dikenali. Jelas ya, Wisnu Hardana yang merupakan adik kandung Sara itu selalu mampu membikin jantung penonton perempuan berdegup lebih kencang. Bukan karena dia bisa melihat dan menggambar makhluk-makhluk astral, melainkan karena betapa cool-nya dia. Ya ampun, saya mauuuu lah dilamar sama lelaki super kalem begitu. Haha. Masalahnya, tidak ada lelaki super kalem yang mau melamar saya. Byuuuuh *gigit dinosaurus*. Wisnu selalu membawa buku skesta, entah sudah berapa jumlahnya, dan alat tulis. Bukan pinsil. Karena, dalam situasi seperti itu, tidak akan cukup waktunya untuk menggambar sketsa super rumit menggunakan pinsil seperti sketsanya Violin Kerong. Spidol atau ballpoint merupakan senjata andalan si kalem. Setelah gambar didapat, biasanya Sara akan 'membuka' jalur komunikasi. Nanti, kalau si makhluk sudah datang, ditunjuklah gambar itu sambil bertanya: ini kamu ya?

Saya suka kalau Fadi Iskandar juga ikut dalam penelusuran, meskipun tidak semua episode #DMS. Kenapa saya suka? Karena Fadi itu komunikatif, baik sama penonton maupun sama makhluk astralnya. Ada saja pertanyaan yang dia lontarkan. Maaf, kalau boleh tahu ini siapa? Nama kamu siapa? Kamu yang tadi lemparin kami, ya? Kamu kenapa ada di sini? Kamu dibunuh? Cerita donk sama Sara. Siapa yang membunuh kamu? Dulu kamu diperkosa? Kamu dijahatin sama suami kamu? Dan seterusnya. Fadi bakal memakai jawaban sebagai peluru pertanyaan berikutnya. Dan sangat cepat otaknya bekerja agar pertanyaan serta jawaban itu mengerucut dan bisa menyimpulkan sesuatu. Karena, makhluk astral bukan story teller. Mereka harus dipancing. Terutama yang cuma mengangguk dan menggeleng, bisa jadi karena ketakutan pada makhluk astral lainnya yang ada di situ. Kalaupun bicara, sepatah dua kata saja yang terucap.

Bayangkan ... makhluk astral saja takut pada sesama makhluk astral yang lebih berkuasa. Bagaimana dengan kita yang fana ini? Haha. Kita? Lu kali aja, Teh, yang jiwa penakutnya berkuasa!

Wisnu, Fadi, selalu ada di depan kamera bersama Sara, kadang-kadang Demian turut serta. Tetapi bukan berarti kru lainnya tidak pernah tampil. Kru #DMS itu banyak yang sensitif: bisa merasa dan bisa melihat. Oleh karena itu penonton pasti tahu si Aji, si Ryan, apalagi Pak Iwan. Pak Iwan ini semacam 'pengaman' #DMS. Ya harus lah. Mana kuat Sara sendirian kalau kondisi mendadak tidak terkendali, seperti dikepung poci dan tante K? Pak Iwan tidak pernah menunjukkan wajahnya. Penampakannya selalu memakai jaket, topi, dan masker yang menutup 80% wajahnya. Saya yakin, banyak Saradict yang penasaran level-20 Kripik Mak Icih sama wajah Pak Iwan. Haha. Eits, kalian sudah jadi Saradict belum? Kru-kru yang lain ada Rendy Virgiawan sebagai asisten pribadi Sara, Aji yang pegang kamera, Deden manajer produksi, Boy di lighting, Andika yang sunting video, dan lain sebagainya.

Tapi, kalau boleh saran nih, sebaiknya 'pengaman' seperti Pak Iwan harus ditambah. Buat jaga-jaga. Ngeri kan ya kalau di sini Sara ditarik kakinya, di sana Pak Iwan harus menangani Aji yang keganggu, sementara Ryan juga kesambar. Maaaaan, I can't imagine that!

Kamera, Lampu, Senter, dan Keberanian


Peralatan kru #DMS dari yang saya lihat biasanya ada tiga sampai empat kamera, lampu-lampu sorot, ada semacam alat frekuensi apaaa gitu (kurang paham saya lah), senter, dan keberanian. Kenapa keberanian juga ada di poin ini? Karena, tanpa keberanian, tidak akan ada #DMS yang setiap minggu kita tungguin episode barunya diunggah. Saya ngeri sendiri membayangkan andai lampu sorot mendadak mati dan semua senter tidak berfungsi! Eits, jangan takut, masih ada senter telepon genggam *ngakak guling-guling*.

Serius Amat!?


#DMS itu gokil. Kalian sudah nonton opening-nya yang baru? Haha. Jadi, #DMS ini tidak melulu menampilkan segala sesuatu yang horor saja. Waktu membuka episode #DMS saja, Saradict sudah ngakak sama gaya mereka. Ada saja celetukan dan tingkah Sara, Fadi, Demian, atau kru lain, yang bakal mencairkan suasana. Suatu kesempatan, saat mereka sedang penelusuran, mendadak Sara berlari ke suatu arah begitu, semua pada teriakin si Aji supaya mengejar 'mami'. Eh waktu sudah dekat, saat ditanya, Sara malah menjawab kira-kira begini: olah raga biar sehat. Haha. Gokiiiil.  

Episode Terhoror


Nanti saya bakal bahas 5 Episode Terhoror #DMS pada pos terpisah di #KamisLima. Tapi ijinkan sekarang saya membocorkan episode-episode terhoror menurut saya. Silahkan buku kuduknya direbahkan dulu. Haha. Ayo bulu-bulu kuduk, rebahan manja, yuk. Sepanjang saya menonton #DMS, episode yang betul-betul membikin saya merinding itu episode Mall Terbengkalai [Part 1] yang bareng D'Masiv. Saat itu Sara ditarik oleh sosok besar kasat mata yang membuatnya terjatuh ke lantai dalam posisi tidur. Uih, serem! Ini makhluk astralnya kuat banget. Jadi ingat juga sama salah satu episode yang ada siluman ularnya: kaki Sara saling membelit begitu. Kalau saya ada di situ, sudah naik ke gendongan Pak Iwan! Kayaknya mall terbengkelai itu dihuni oleh makhluk-makhluk astral dengan kekuatan yang luar biasa. Bukan sekadar arwah tersesat saja.

Yang juga horor itu kalau Sara membuka jalur komunikasi, lantas kemasukan. Cara dia melihat dan bicara saat kemasukan itu benar-benar horor, sesuai dengan tingkah si makhluk astral. Kalian pasti sering melihat orang kesurupan sampai teriak-teriak atau bertingkah kasar banget. Beda sama Sara kalau dia kemasukan. Setiap kali Sara kemasukan saya selalu memerhatikan:

1. Cara dia melihat.
2. Cara dia tertawa.
3. Cara dia bicara dan bahasanya.
4. Urat di keningnya yang mendadak menonjol.
5. Cairan meleleh dari hidung dan mulut.

Suatu kali saya sampai memalingkan wajah dari layar telepon genggam saat melihat Sara tertawa lebar tapi tawa yang serem banget dan itu berlangsung cukup lama. Kru, tolong selalu sediakan tisu dan tisu basah doooonk, bergegas begitu, kasihan Sara pas sadar musti membersihkan cairan dari hidung dan mulutnya. Anyhoo, untuk poin nomor 3 di atas, ada kalanya saat kemasukan Sara/makhluk astral yang memasukinya tidak dapat berbicara atau berbicara sepatah dua kata saja. Ini keren, dan sangat masuk akal, karena tidak semua makhluk astral itu adalah arwah yang meninggal di atas tahun 2000. Bahkan ada makhluk astral yang memang aslinya dari sana alias iblis. Beda sama video kemasukan lain yang lancar berbicara Bahasa Indonesia. Kadang kala saat kemasukan Sara bicara bahasa Sunda atau bahasa-bahasa dari si makhluk astral tersebut. Kadang kala Sara hanya menggeram. Kadang kala meracau tidak jelas.

Kasihan banget melihat Sara menangis tersedu-sedu apabila kemasukan makhluk astral yang adalah arwah sesat yang menyesali perbuatannya dan/atau sedih atas apa yang menimpa dirinya. 

Penampakan


Kalau kalian menonton #DMS, kalian bakal tahu pasti bahwa #DMS tidak berusaha atau sengaja mencari-cari penampakan makhluk astral. Tetapi penampakan makhluk astral itu ada! Justru, dilihat oleh Saradict. Kru hanya memberitahu kalau ada bentrokan suara atau ada suara-suara dari alam lain terdengar. Dan saya sering mendengarnya: suaran perempuan tertawa, bahkan ada suara perempuan bilang "siniiiii". Perihal penampakan makhluk astral yang memang tidak pernah disampaikan oleh #DMS sendiri, dan justru dilihat oleh Saradict, saya juga melihatnya di video. Misalnya tante K berbaju merah di pohon, makhluk astral berbaju putih kotor lewat di jendela, sampai lemparan-lemparan benda. Caranya bisa lihat, Teh? Baca komentar Saradict, klik menit yang mereka maksudkan, mundurkan sepuluh sampai dua puluh detik, pelankan kecepatan video. Iiiiihhhh! Sereeeeeeem banget! Terima kasih, Saradict (lainnya) yang sudah membantu saya melihat penampakan.

Mendoakan


Terima kasih #DMS karena selalu mendoakan arwah-arwah sesat agar kembali ke jalannya. Ini sesuatu yang luar biasa, menurut saya. Karena mendoakan diri sendiri saja saya kadang alpa, apalagi mendoakan makhluk astral yang tidak ada hubungan darahnya dengan saya. Kalian orang-orang baik.


Baca Juga: Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen

Akhirnya, sampailah kita di penghujung pos ini. Haha. Sedikit lagi kalian bakal ketemu sama: cheers. Well, bagi saya pribadi #DMS layak diacungi jempol dan layak di-subscribe oleh sebanyak-banyaknya penonton/penikmat video-video Youtube. Konten #DMS bukan konten asal bikin, bukan konten asal jadi, bukan konten pemburu subscriber malahan. Mereka melakukannya karena renjana. Itu keren. Meskipun ada jadwal tertentu untuk tayang, misalnya setiap malam minggu, namun mereka tidak memaksakan diri. Keren lah. Banyak yal yang membikin #DMS beda sama tayangan serupa. Selain Wisnu (ditabok dinosaurus nih saya) dan sketsanya, pun itu real reality show, adalah mendoakan arwah-arwah tersesat.

Bagaimana, kawan, setelah membaca ini jadi penasaran sama #DMS? Jangan cuma memburu video mereka di Youtube doooonk. Subscribe juga! Karena mereka memang layak mendapat ratusan juta subscriber!

Selamat berakhir pekan.

Selamat menanti episode #DMS selanjutnya.

#SabtuReview



Cheers.

Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana

Credits: GQ.

Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana. Sudah lama tidak menonton aksi Daniel Craig, begitu melihat sosoknya dalam Knives Out, saya langsung bersorak gembira. Satu-satunya aksi Daniel Craig dalam James Bond yang saya nonton di bioskop hanyalah Skyfall. Waktu itu nontonnya di XXI Kota Kasablanka. Aksi lainnya saya nonton di laptop. Kangen sama sosok Daniel Craig yang kharismatik. Haha *dikeplak dinosaurus*. Kehadirannya dalam Knives Out sebagai Detektif Benoit Blanc berpikiran tajam sungguh tepat. Tidak bisa saya bayangkan jika yang berperan sebagai detektif Benoit Blanc adalah Tom Cruise. Tapi kalau Jack Sparrow, eh, Johnny Depp, boleh lah. Anyhoo, apabila ada dari kalian yang pernah atau sudah menonton Knives Out, pasti kalian setuju kalau filem ini memang bukan sekadar drama misteri sederhana.

Baca Juga: Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen

Overall, Knives Out ber-genre misteri/thriller dengan sedikit bumbu komedi, dirilis di Indonesia pada tanggal 10 Desember 2019. Filem berdurasi dua jam sepuluh menit ini disutradarai oleh Rian Johnson. Boleh dibilang Knives Out bertabur bintang. Selain Daniel Craig, kalian bisa melihat wajah-wajah lama antara lain Jamie Lee Curtis, Michael Shannon, Chris Evans, Don Johnson, Ana de Armas Toni Collette, Lakeith Stanfield, Katherine Langford, Jaeden Martell, dan Christopher Plummer. Ngelihat Jamie Lee Curtis, dalam hati saya cuma bisa bilang: orang ini awet muda. Haha. Segitunyaaaaaa.

Marilah kita cek seperti apa ketidaksederhanaan Knives Out.

1/4 Durasi Pertama


Di awal filem penonton disuguhkan kematian seorang lelaki, penulis novel misteri, bernama Harlan Thrombey (Christopher Plummer). Harlan ditemukan meninggal dunia oleh asisten rumah tangga bernama Fran (Edi Patterson) dalam posisi tidur di sofa ruang kerjanya. Berdasarkan posisi  dan kondisi saat ditemukan, diketahui bahwa Harlan bunuh diri dengan menyayat sendiri lehernya menggunakan pisau. Tetapi hal ini kemudian menjadi aneh karena malam sebelumnya Harlan dan keluarga besarnya (ibu, anak, menantu, cucu) baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Everything was looks so good. Adalah di luar nalar seorang yang bahagia memutuskan untuk bunuh diri. Mungkin ada, tapi secara umum dan logika, itu tidak masuk akal.

Maka, dua polisi setempat yaitu Letnan Detektif Elliot (Lakeith Stanfield) dan Trooper Wagner (Noah Segan) melakukan interogasi dan investigasi di kediaman Harlan, sekitar satu minggu setelah kematiannya. Kediamannya ini semacam kastil pribadi yang terletak di tengah hutan begitu. Orang kaya mah bebas mau rumahnya kayak apa dan letaknya di mana. Haha. Elliot dan Trooper dibantu oleh investigator profesional yaitu Detektif Benoit Blanc (Daniel Craig). Adalah suatu misteri ketika Benoit mengatakan bahwa kehadirannya di rumah itu karena dia disewa oleh seseorang. Artinya ada orang yang berpendapat bahwa kematian Harlan bukanlah bunuh diri melainkan dibunuh.

1/4 durasi pertama penonton disuguhkan dengan potongan-potongan investigasi antara Elliot, Trooper, dan Benoit, dengan anak-anak, menantu-menantu, cucu-cucu. Setiap orang yang diinvestigasi menceritakan alibi mereka masing-masing pada malam perayaan ulang tahun Harlan (a little flashback). Oleh karena itu saat investigasi itu penonton juga bakal tahu tentang ibu Harlan. Menurut saya, potongan-potongan investigasi ini merupakan cara sutradara untuk memperkenalkan dengan lugas semua tokoh di dalam Knives Out. Nama, status, pekerjaan, hingga ambisi masing-masing. Mari kita berkenalan dengan mereka.

Harlan Thrombey, sudah kalian ketahui, lelaki kaya raya yang meninggal konon karena bunuh diri. Linda Drysdale-Thrombey (Jamie Lee Curtis), anak Harlan yang digambarkan tegas serta punya rasa percaya diri yang kuat. Suami Linda bernama Richard Drysdale (Don Johnson). Anak Linda bernama Ransom Drysdale (Chris Evans) - hyup Captain America. Hehe. Walter "Walt" Thrombey (Michael Shannon) si anak 'gagal' yang beristerikan Donna (Riki Lindhome) dan punya seorang anak lelaki ABG bernama Jacob Thrombey (Jaeden Martell). Joni Thrombey (Toni Collette) adalah menantu Harlan dari anak Harlan yang bernama Neil Thrombey (tidak ada di dalam filem karena diceritakan sudah meninggal); tapi apakah dia masih boleh memakai marga Thrombey? Ah, sudahlah. Joni punya anak perempuan bernama Meg Thrombey (Katherine Langford). Great Nana Thrombey (K Callan) adalah ibu Harlan. Satu-satunya pemeran yang tidak punya hubungan darah dengan Harlan di dalam rumah itu adalah Fran dan Marta Cabrera (Ana de Armas) yang adalah perawat pribadi Harlan.

Kenapa poin ini saya beri judul 1/4 durasi pertama? Karena pada 1/4 durasi pertama penonton yang tidak sabar bakal langsung kecewa karena sudah ketahuan siapa yang menyebabkan Harlan meninggal dunia. Jadi, Harlan tidak bunuh diri? Hyess. Dia dibunuh. Pertanyaannya ... oleh siapa? Kalian akan merasakan ketegangan twist-plot ketika menontonnya dengan sungguh. Oleh karena itu Knives Out bukanlah sekadar filem drama misteri sederhana.

Plot yang Mengarahkan


Siapa pun yang menonton Knives Out pasti tahu bahwa sutradara memang sengaja mengarahkan segalanya pada Marta, si perawat pribadi, karena memang seperti itulah kisahnya. Marta salah menyuntik obat pada Harlan pada malam usai perayaan ulang tahun, dia tersadar tetapi terlambat menyelamatkan serta Harlan pun tidak mau diselamatkan. Harlan tahu dalam sepuluh menit dia bakal mati, lantas dia menyusun skenario agar Marta tidak dipenjarakan. Upaya penyelamatan Marta. Maklum, Harlan kan penulis novel misteri. Segalanya berjalan dengan mulus, bahwa Harlan bunuh diri, sampai satu minggu kemudian investigasi dilakukan. Marta harus berhadapan dengan Benoit yang berpikiran super tajam.

Nampaknya terlalu sederhana jika perkara ini beres begitu saja. Marta memang menyembunyikan rahasia obat yang disuntiknya itu, serta apa saja yang diperintahkan oleh Harlan agar dirinya tidak menjadi tersangka. Tetapi sosok misterius yang meminta Benoit ikut campur harus digali lebih dalam. Inilah hebatnya Rian Johnson mengaduk emosi penonton. Oh jadi si Fran. Eh? Bukan Fran? Loh ... kenapa jadinya begini?

Marta semakin tidak berdaya ketika ternyata Harlan mewariskan semua harta kepadanya. Dia semakin terseret arus permainan Ransom, cucu Harlan, yang sejak awal jarang dipertontonkan. Mempercayai Ransom adalah tindakan yang keliru, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan Marta. Hingga akhirnya, ketika Marta nyaris membocorkan obat yang salah disuntiknya pada Harlan di hadapan keluarga besar Thrombey, Benoit membatalkan niatnya tersebut. Menurut Benoit, ibarat donat, perkara ini tidak ada lubangnya. Dan di menit-menit terakhir dia menemukan lubang tersebut. Ya, Ransom adalah biang dari segalanya. Meskipun sejak lepas dari 1/4 durasi pertama penonton bertanya-tanya ... karena semua orang bisa jadi tersangka. Dan penonton harus menahan hafas pada 1/4 durasi terakhir. Seperti bermain gasing.

Mari, tepuk tangan yang meriah untuk Rian Johnson. Kenapa? Karena saya sampai tidak bisa menceritakan lebih banyak saking terlalu banyaknya detail di dalamnya. Termasuk identitas keluarga Marta yang masih menjadi imigran gelap. Byuuuuh.

Game of Thrones


Apakah saya saja yang memikirkannya atau kalian juga? Knives Out mengingatkan saya pada serial Game of Thrones. Mungkinkan Rian Johnson sengaja mengajak penonton bernalar dan menganalisa tentang perebutan kekuasaan yang dalam hal ini adalah kekayaan Harlan? Dari mana saya bisa mengambil kesimpulan seperti itu?

1. Kursi Berlatar Pisau-Pisau


Pada kursi tempat detektif melakukan interogasi, terdapat latar bulatan besar dengan pisau-pisau (buanyak!). Kalian tentu masih ingat dengan singgasana maut dari Game of Thrones bukan?

Credits: Deadline.

Lihat gambar di atas. Singgasana maut. Hehe.

2. Setiap Orang Punya Kepentingan


Ini sangat jelas terlihat sejak awal Knives Out dimulai. Linda tentu menginginkan harta Harlan. Walter menginginkan usaha penerbitan Harlan dan sayangnya pada malam perayaan ulang tahun Harlan justru memecat Walter. Joni melakukan penggelapan biaya sekolah Meg dan dia langsung dikonfrontir oleh Harlan. Richard harus berhati-hati karena Harlan mengetahui perselingkuhannya. Ransom juga termasuk orang yang terkejut ketika tahu Harlan mewariskan semua hartanya pada Marta. Dan lain sebagainya. Setiap orang punya kepentingan dan berusaha agar Harlan mau bermurah hati pada mereka. Sama juga, kita menemukannya di Game of Thrones. Semua orang ingin duduk di singgasana maut itu.

3. Game of Thrones Dalam Dua Jam Sepuluh Menit


Kalau boleh, saya menulisnya begitu. Berapa banyak intrik di dalam Game of Thrones? Kita mungkin harus meminjam jari tangan orang lain untuk menghitungnya. Berapa banyak season? Berapa panjang durasinya? Kalian hitung sendiri. Tetapi Game of Thrones menyingkat semuanya hanya dalam dua jam sepuluh menit. It's a wow.

Anyhoo ...

Anyhoo ...

Jangan emosi dulu. Saya tidak membandingkan Knives Out dengan Game of Thrones. Jadi, bagi pecinta Knives Out maupun Game of Thrones jangan marah-marah, ya. Haha.


Setelah menonton Knives Out sebanyak dua kali, baru saya bisa menulis review yang cukup panjang ini. Artinya saya sungguh niat. Haha. Sebagai penikmat filem, terutama filem misteri, Knives Out merupakan filem misteri terbaik yang pernah saya tonton, saking kuatnya! Apanya yang kuat? Plot, karakter, twist-plot yang masuk akal, dialog, dan lain sebagainya. Ibarat makanan, Knives Out berporsi besar, lambung penuh, tidak tersisa sedikit pun ruang untuk angin bertengger. Rian Johnson memainkan detail dengan sangat sempurna. Detail yang tidak saya duga pada 1/4 durasi awal filem ini. Sekali lagi, mari kita tepuk tangan untuk sang sutradara!

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Bagi kalian yang akhir minggunya di rumah saja, dan belum menonton Knives Out, silahkan dicari filemnya dan buktikan apa yang sudah saya tulis di sini. Tapi, apabila pendapat kita berbeda, jangan saling menghujat, ya. Silahkan sampaikan pendapat kalian tentang filem ini di blog sendiri, maupun di komentar di bawah. Yang jelas, saya jamin kalian tidak akan merasa rugi atau membuang-buang waktu dengan menonton Knives Out. Ini filem super bagus!

Have a great weekend, guys!

#SabtuReview



Cheers.

Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana

Credits: GQ.

Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana. Sudah lama tidak menonton aksi Daniel Craig, begitu melihat sosoknya dalam Knives Out, saya langsung bersorak gembira. Satu-satunya aksi Daniel Craig dalam James Bond yang saya nonton di bioskop hanyalah Skyfall. Waktu itu nontonnya di XXI Kota Kasablanka. Aksi lainnya saya nonton di laptop. Kangen sama sosok Daniel Craig yang kharismatik. Haha *dikeplak dinosaurus*. Kehadirannya dalam Knives Out sebagai Detektif Benoit Blanc berpikiran tajam sungguh tepat. Tidak bisa saya bayangkan jika yang berperan sebagai detektif Benoit Blanc adalah Tom Cruise. Tapi kalau Jack Sparrow, eh, Johnny Depp, boleh lah. Anyhoo, apabila ada dari kalian yang pernah atau sudah menonton Knives Out, pasti kalian setuju kalau filem ini memang bukan sekadar drama misteri sederhana.

Baca Juga: Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen

Overall, Knives Out ber-genre misteri/thriller dengan sedikit bumbu komedi, dirilis di Indonesia pada tanggal 10 Desember 2019. Filem berdurasi dua jam sepuluh menit ini disutradarai oleh Rian Johnson. Boleh dibilang Knives Out bertabur bintang. Selain Daniel Craig, kalian bisa melihat wajah-wajah lama antara lain Jamie Lee Curtis, Michael Shannon, Chris Evans, Don Johnson, Ana de Armas Toni Collette, Lakeith Stanfield, Katherine Langford, Jaeden Martell, dan Christopher Plummer. Ngelihat Jamie Lee Curtis, dalam hati saya cuma bisa bilang: orang ini awet muda. Haha. Segitunyaaaaaa.

Marilah kita cek seperti apa ketidaksederhanaan Knives Out.

1/4 Durasi Pertama


Di awal filem penonton disuguhkan kematian seorang lelaki, penulis novel misteri, bernama Harlan Thrombey (Christopher Plummer). Harlan ditemukan meninggal dunia oleh asisten rumah tangga bernama Fran (Edi Patterson) dalam posisi tidur di sofa ruang kerjanya. Berdasarkan posisi  dan kondisi saat ditemukan, diketahui bahwa Harlan bunuh diri dengan menyayat sendiri lehernya menggunakan pisau. Tetapi hal ini kemudian menjadi aneh karena malam sebelumnya Harlan dan keluarga besarnya (ibu, anak, menantu, cucu) baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Everything was looks so good. Adalah di luar nalar seorang yang bahagia memutuskan untuk bunuh diri. Mungkin ada, tapi secara umum dan logika, itu tidak masuk akal.

Maka, dua polisi setempat yaitu Letnan Detektif Elliot (Lakeith Stanfield) dan Trooper Wagner (Noah Segan) melakukan interogasi dan investigasi di kediaman Harlan, sekitar satu minggu setelah kematiannya. Kediamannya ini semacam kastil pribadi yang terletak di tengah hutan begitu. Orang kaya mah bebas mau rumahnya kayak apa dan letaknya di mana. Haha. Elliot dan Trooper dibantu oleh investigator profesional yaitu Detektif Benoit Blanc (Daniel Craig). Adalah suatu misteri ketika Benoit mengatakan bahwa kehadirannya di rumah itu karena dia disewa oleh seseorang. Artinya ada orang yang berpendapat bahwa kematian Harlan bukanlah bunuh diri melainkan dibunuh.

1/4 durasi pertama penonton disuguhkan dengan potongan-potongan investigasi antara Elliot, Trooper, dan Benoit, dengan anak-anak, menantu-menantu, cucu-cucu. Setiap orang yang diinvestigasi menceritakan alibi mereka masing-masing pada malam perayaan ulang tahun Harlan (a little flashback). Oleh karena itu saat investigasi itu penonton juga bakal tahu tentang ibu Harlan. Menurut saya, potongan-potongan investigasi ini merupakan cara sutradara untuk memperkenalkan dengan lugas semua tokoh di dalam Knives Out. Nama, status, pekerjaan, hingga ambisi masing-masing. Mari kita berkenalan dengan mereka.

Harlan Thrombey, sudah kalian ketahui, lelaki kaya raya yang meninggal konon karena bunuh diri. Linda Drysdale-Thrombey (Jamie Lee Curtis), anak Harlan yang digambarkan tegas serta punya rasa percaya diri yang kuat. Suami Linda bernama Richard Drysdale (Don Johnson). Anak Linda bernama Ransom Drysdale (Chris Evans) - hyup Captain America. Hehe. Walter "Walt" Thrombey (Michael Shannon) si anak 'gagal' yang beristerikan Donna (Riki Lindhome) dan punya seorang anak lelaki ABG bernama Jacob Thrombey (Jaeden Martell). Joni Thrombey (Toni Collette) adalah menantu Harlan dari anak Harlan yang bernama Neil Thrombey (tidak ada di dalam filem karena diceritakan sudah meninggal); tapi apakah dia masih boleh memakai marga Thrombey? Ah, sudahlah. Joni punya anak perempuan bernama Meg Thrombey (Katherine Langford). Great Nana Thrombey (K Callan) adalah ibu Harlan. Satu-satunya pemeran yang tidak punya hubungan darah dengan Harlan di dalam rumah itu adalah Fran dan Marta Cabrera (Ana de Armas) yang adalah perawat pribadi Harlan.

Kenapa poin ini saya beri judul 1/4 durasi pertama? Karena pada 1/4 durasi pertama penonton yang tidak sabar bakal langsung kecewa karena sudah ketahuan siapa yang menyebabkan Harlan meninggal dunia. Jadi, Harlan tidak bunuh diri? Hyess. Dia dibunuh. Pertanyaannya ... oleh siapa? Kalian akan merasakan ketegangan twist-plot ketika menontonnya dengan sungguh. Oleh karena itu Knives Out bukanlah sekadar filem drama misteri sederhana.

Plot yang Mengarahkan


Siapa pun yang menonton Knives Out pasti tahu bahwa sutradara memang sengaja mengarahkan segalanya pada Marta, si perawat pribadi, karena memang seperti itulah kisahnya. Marta salah menyuntik obat pada Harlan pada malam usai perayaan ulang tahun, dia tersadar tetapi terlambat menyelamatkan serta Harlan pun tidak mau diselamatkan. Harlan tahu dalam sepuluh menit dia bakal mati, lantas dia menyusun skenario agar Marta tidak dipenjarakan. Upaya penyelamatan Marta. Maklum, Harlan kan penulis novel misteri. Segalanya berjalan dengan mulus, bahwa Harlan bunuh diri, sampai satu minggu kemudian investigasi dilakukan. Marta harus berhadapan dengan Benoit yang berpikiran super tajam.

Nampaknya terlalu sederhana jika perkara ini beres begitu saja. Marta memang menyembunyikan rahasia obat yang disuntiknya itu, serta apa saja yang diperintahkan oleh Harlan agar dirinya tidak menjadi tersangka. Tetapi sosok misterius yang meminta Benoit ikut campur harus digali lebih dalam. Inilah hebatnya Rian Johnson mengaduk emosi penonton. Oh jadi si Fran. Eh? Bukan Fran? Loh ... kenapa jadinya begini?

Marta semakin tidak berdaya ketika ternyata Harlan mewariskan semua harta kepadanya. Dia semakin terseret arus permainan Ransom, cucu Harlan, yang sejak awal jarang dipertontonkan. Mempercayai Ransom adalah tindakan yang keliru, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan Marta. Hingga akhirnya, ketika Marta nyaris membocorkan obat yang salah disuntiknya pada Harlan di hadapan keluarga besar Thrombey, Benoit membatalkan niatnya tersebut. Menurut Benoit, ibarat donat, perkara ini tidak ada lubangnya. Dan di menit-menit terakhir dia menemukan lubang tersebut. Ya, Ransom adalah biang dari segalanya. Meskipun sejak lepas dari 1/4 durasi pertama penonton bertanya-tanya ... karena semua orang bisa jadi tersangka. Dan penonton harus menahan hafas pada 1/4 durasi terakhir. Seperti bermain gasing.

Mari, tepuk tangan yang meriah untuk Rian Johnson. Kenapa? Karena saya sampai tidak bisa menceritakan lebih banyak saking terlalu banyaknya detail di dalamnya. Termasuk identitas keluarga Marta yang masih menjadi imigran gelap. Byuuuuh.

Game of Thrones


Apakah saya saja yang memikirkannya atau kalian juga? Knives Out mengingatkan saya pada serial Game of Thrones. Mungkinkan Rian Johnson sengaja mengajak penonton bernalar dan menganalisa tentang perebutan kekuasaan yang dalam hal ini adalah kekayaan Harlan? Dari mana saya bisa mengambil kesimpulan seperti itu?

1. Kursi Berlatar Pisau-Pisau


Pada kursi tempat detektif melakukan interogasi, terdapat latar bulatan besar dengan pisau-pisau (buanyak!). Kalian tentu masih ingat dengan singgasana maut dari Game of Thrones bukan?

Credits: Deadline.

Lihat gambar di atas. Singgasana maut. Hehe.

2. Setiap Orang Punya Kepentingan


Ini sangat jelas terlihat sejak awal Knives Out dimulai. Linda tentu menginginkan harta Harlan. Walter menginginkan usaha penerbitan Harlan dan sayangnya pada malam perayaan ulang tahun Harlan justru memecat Walter. Joni melakukan penggelapan biaya sekolah Meg dan dia langsung dikonfrontir oleh Harlan. Richard harus berhati-hati karena Harlan mengetahui perselingkuhannya. Ransom juga termasuk orang yang terkejut ketika tahu Harlan mewariskan semua hartanya pada Marta. Dan lain sebagainya. Setiap orang punya kepentingan dan berusaha agar Harlan mau bermurah hati pada mereka. Sama juga, kita menemukannya di Game of Thrones. Semua orang ingin duduk di singgasana maut itu.

3. Game of Thrones Dalam Dua Jam Sepuluh Menit


Kalau boleh, saya menulisnya begitu. Berapa banyak intrik di dalam Game of Thrones? Kita mungkin harus meminjam jari tangan orang lain untuk menghitungnya. Berapa banyak season? Berapa panjang durasinya? Kalian hitung sendiri. Tetapi Game of Thrones menyingkat semuanya hanya dalam dua jam sepuluh menit. It's a wow.

Anyhoo ...

Anyhoo ...

Jangan emosi dulu. Saya tidak membandingkan Knives Out dengan Game of Thrones. Jadi, bagi pecinta Knives Out maupun Game of Thrones jangan marah-marah, ya. Haha.


Setelah menonton Knives Out sebanyak dua kali, baru saya bisa menulis review yang cukup panjang ini. Artinya saya sungguh niat. Haha. Sebagai penikmat filem, terutama filem misteri, Knives Out merupakan filem misteri terbaik yang pernah saya tonton, saking kuatnya! Apanya yang kuat? Plot, karakter, twist-plot yang masuk akal, dialog, dan lain sebagainya. Ibarat makanan, Knives Out berporsi besar, lambung penuh, tidak tersisa sedikit pun ruang untuk angin bertengger. Rian Johnson memainkan detail dengan sangat sempurna. Detail yang tidak saya duga pada 1/4 durasi awal filem ini. Sekali lagi, mari kita tepuk tangan untuk sang sutradara!

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Bagi kalian yang akhir minggunya di rumah saja, dan belum menonton Knives Out, silahkan dicari filemnya dan buktikan apa yang sudah saya tulis di sini. Tapi, apabila pendapat kita berbeda, jangan saling menghujat, ya. Silahkan sampaikan pendapat kalian tentang filem ini di blog sendiri, maupun di komentar di bawah. Yang jelas, saya jamin kalian tidak akan merasa rugi atau membuang-buang waktu dengan menonton Knives Out. Ini filem super bagus!

Have a great weekend, guys!

#SabtuReview



Cheers.

Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama "Has Fallen"


Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama "Has Fallen". Pertama tahu Gerard Butler dari sebuah filem berjudul Law Abiding Citizen. Filem itu betul-betul sedap, menurut saya, karena menghadirkan pembalasan dendam seorang laki-laki atas kematian isteri dan anaknya. Dia tidak hanya membalas dendam pada si penjahat tetapi juga pada para aparat penegak hukum yang telah bertindak tidak adil padanya. Hebatnya lagi dia membaca buku hukum, kalau di Indonesia setingkat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, termasuk semua amandemennya. Kalau itu masih belum hebat, dia hafal dan/atau mengingat semua isi buku hukum tersebut. Dalam dunia nyata, menghafal isi sebuah buku setingkat novel bukanlah perkara sulit. Tetapi jika buku itu adalah buku hukum, pasti sulit. 

Baca Juga: Kalau Kalian Pemberani Coba Nonton Nerorrist by Nessie

Terlepas dari Law Abiding Citizen nan sedap, Gerard Butler juga dikenal lewat filem-filem lain. Tiga diantaranya merupakan fransais dari Has Fallen atau Fallen.

Tahun 2013, sepanjang dua jam kita betul-betul larut dalam kisah Olympus Has Fallen. Gedung Putih yang dikodekan dengan nama Olympus, hancur berkeping-keping karena ulah kelompok teroris dari Korea Utara. Serangan bertubi-tubi datang dari darat dan udara, jutaan peluru ditembakkan, hampir tanpa jeda untuk memberi efek kejut yang luar biasa kepada penonton. Kalau penonton sampai menahan nafas dan ngos-ngosan, filemnya sukses. Haha. Anyhoo, Olympus Has Fallen menceritakan tentang Mike Banning (Gerard Butler) yang keluar dari Secret Service gara-gara merasa bersalah atas kematian Margaret Asher (Ashley Judd), isteri Presiden Amerika Serikat Benjamin Asher (Aaron Eckhart). Pada saat Gedung Putih diserang, Mike Banning terpaksa harus 'kembali' untuk menyelamatkan Benjamin Asher dari bunker tempat si Presiden disekap bersama pejabat-pejabat penting lainnya. Pengalaman menonton Olympus Has Fallen terulang saat menonton No Escape di tahun 2015, serangan tanpa jeda, menahan nafas, dan memaki.

Olympus Has Fallen tentu bakal bikin siapa saja mengingat filem White House Down. Selain ceritanya sama, dirilis pada tahun yang sama pula! Bedanya, White House Down punya Presiden berkulit hitam bernama James Sawyer (Jamie Foxx) yang diselamatin sama anggota baru Special Agent bernama John Cale (Channing Tatum), dan kehancuran Gedung Putih dikarenakan ulah 'orang dalam' yang justru adalah Kepala Special Agent yang hendak pensiun yaitu Martin Walker (James Wood). White House Down masih diisi lagi dengan kisah anak perempuan John Cale yaitu Emily Cale (Joey King) yang saat itu sedang mengikuti tur Gedung Putih. Yang jelas, karena tidak disekap, Presiden di dalam White House Down punya usaha untuk ikut menyelamatkan keadaan bersama John Cale.

Kembali ke Has Fallen.

Olympus Has Fallen meraup keuntungan berlipat ganda dan disebut sebagai filem box office karena biaya pembuatan filem hanya 70 Juta Dollar sedangkan keuntungannya mencapai 170,3 Juta Dollar. Fantastis. Itulah sebabnya saya selalu suka menonton filem-filem yang menjadi box office. Penasaran, pengen tahu sehebat apa jalan cerita, sutradara, dan para pemerannya sampai-sampai bisa menjadi box office. Oh ya, kalian sudah tahu kan alasan sebuah filem disebut filem box office? Sebuah filem disebut box office apabila keuntungan yang diraup berlipat ganda dari biaya pembuatan filemnya hanya beberapa hari saja.

Tiga tahun setelahnya, tepatnya tahun 2016, London Has Fallen dirilis. Awal menonton London Has Fallen pikir saya sih bakal biasa saja karena sudah punya pengalaman menahan nafas saat menonton Olympus Has Fallen. Ternyata saya salah. Karena apa? Karena kedahsyatan efek kejut yang disajikan pada setiap menitnya. Tembakan peluru, ledakan bom, kejar-kejaran di darat dan di udara, sampai meninggalnya tokoh yang tidak sentral tapi penting yaitu Direktur Secret Service Lynne Jacobs (Angela Bassett) saat helikopter yang mereka tumpangi untuk menyelamatkan diri jatuh ditembak. Kematian Perdana Menteri Inggris membikin semua pemimpin negara dunia datang melayat, setidaknya kita melihat beberapanya, meninggal karena bom di jembatan, ditembaki rudal di kapal pribadi, bom di puncak menara, dan lain sebagainya. London lumpuh dalam waktu tidak sampai satu jam. Semua aparat pengamanan disusupi teroris. Semua. Kalian bisa bayangkan kelumpuhan yang dialami? Uh wow sekali menurut saya.

Dan tentu saja, London Has Fallen lagi-lagi menjadi box office. Dengan biaya hanya 60 Juta Dollar (lebih sedikit dari Olympus Has Fallen), dan meraup keuntungan 205,8 Juta Dollar. 

Lagi-lagi tiga tahun setelahnya, yaitu tahun 2019, Angel Has Fallen dirilis. Apakah Angel Has Fallen mampu menjadi box office? Tentu saja. Biaya pembuatannya hanya 40 Juta Dollar dengan keuntungan 147,5 Juta Dollar. Bedanya di dalam Angel Has Fallen, Presidennya adalah Allan Trumbull (Morgan Freeman) yang pada dua filem sebelumnya menjadi juru bicara. Kalau boleh saya bilang sisi manusiawi seorang pahlawan lebih ditonjolkan di dalam filem ini. Mau tahu? Mari simak.

Mike Banning tidak kuasa melawan apalagi memerintah trauma fisik yang dideritanya untuk berhenti. Stop, saya masih pengen jadi pengawal presiden nih! Pada akhirnya seorang 'pahlawan' harus pensiun juga. Ini yang rasa-rasanya tidak saya temui dalam filem misi-tidak-mungkin yang 'pahlawan'nya selalu fine-fine saja. Haha. Mike Banning diposisikan lebih manusiawi: sebagai manusia dia juga merasakan trauma fisik yang luar biasa dan fokus yang mendadak nge-blur. Oleh karena itu dia memang ingin mengundurkan diri. Tetapi lagi-lagi negara api teroris menyerang. Dibuka dengan waktu bersantai Presiden di sebuah sungai: memancing. Serangan ini jauh lebih dahsyat karena menggunakan teknologi super canggih yaitu ribuan drone. Lepaskan drone-nya, cari mangsanya, tembak-mati. Sayangnya, Mike Banning harus menjadi korban. Dia justru menjadi tersangka utama yang dicurigai berniat membunuh Presiden Allan Trumbull. 

Benarkah? 

Tentu saja tidak. Ada bumbu persahabatan, kepentingan, dan pengkhianatan di dalam Angel Has Fallen. Ketiga bumbu itu yang menyebabkan Mike Banning menjadi buronan, harus pandai mencari tempat aman dari kejaran orang-orang, dan lain sebagainya usaha dia untuk mengembalikan nama baiknya. Jadi ingat waktu Tony Stark terdampar di sebuah kota. Hehe. Satu-satunya benang merah dari filem ini adalah Mike Banning harus bertemu Allan Trumbull saat si Presiden sudah siuman agar tahu jalan cerita yang sebenarnya. Bahwa bukan Mike Banning yang berniat membunuh si Presiden. Itu memang terjadi di akhir cerita. Saya bahkan harus memutar ulang beberapa kali untuk melihat muslihat ruangan jadi-jadian yang menyembunyikan Presiden Allan Trumbull di gedung sebelah rumah sakit itu. Deg-degan sekali.

Kalian deg-degan juga? Kalau begitu toss. Kita sama. Haha.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Melihat fransais Has Fallen yang kerap dirilis setiap tiga tahun sekali, saya jadi bertanya-tanya apakah tahun 2022 bakal ada filem ke-empat? Indonesia Has Fallen, misalnya, dengan cerita Presiden Amerika Serikat berlibur ke Indonesia terus diserang teroris lagi, terus chaos. Lebih seru lagi kalau lokasi penyerangan itu adalah Kabupaten Ende saat si Presiden sedang mengunjungi Danau Kelimutu. Pasti legit. Andaaaaai. Haha. Berandai-andai kan boleh. Uih, itu saya yakin bakal jadi box office hanya dalam satu hari. Bioskop penuh. Terutama bioskop di Indonesia. Tapi yang jelas pemerannya harus tetap Gerard Butler, karena Has Fallen bakal jadi Has Falling kalau pemerannya diganti *ngakak guling-guling*.

Sudah ah.

Weekend ini ... selamat menikmati akhir pekan, ya. Kalau akhir pekan kalian hanya di rumah saja, cobalah menonton kembali tiga Has Fallen yang sudah saya bahas di atas. Kalau mau menonton ulang Law Abiding Citizen juga oke-oke aja *gaya Yuvi Phan* haha.

#SabtuReview



Cheers.

Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen


Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen. Pertama tahu Gerard Butler dari sebuah filem berjudul Law Abiding Citizen. Filem itu betul-betul sedap, menurut saya, karena menghadirkan pembalasan dendam seorang laki-laki atas kematian isteri dan anaknya. Dia tidak hanya membalas dendam pada si penjahat tetapi juga pada para aparat penegak hukum yang telah bertindak tidak adil padanya. Hebatnya lagi dia membaca buku hukum, kalau di Indonesia setingkat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, termasuk semua amandemennya. Kalau itu masih belum hebat, dia hafal dan/atau mengingat semua isi buku hukum tersebut. Dalam dunia nyata, menghafal isi sebuah buku setingkat novel bukanlah perkara sulit. Tetapi jika buku itu adalah buku hukum, pasti sulit. 

Baca Juga: Kalau Kalian Pemberani Coba Nonton Nerorrist by Nessie

Terlepas dari Law Abiding Citizen nan sedap, Gerard Butler juga dikenal lewat filem-filem lain. Tiga diantaranya merupakan fransais dari Has Fallen atau Fallen.

Tahun 2013, sepanjang dua jam kita betul-betul larut dalam kisah Olympus Has Fallen. Gedung Putih yang dikodekan dengan nama Olympus, hancur berkeping-keping karena ulah kelompok teroris dari Korea Utara. Serangan bertubi-tubi datang dari darat dan udara, jutaan peluru ditembakkan, hampir tanpa jeda untuk memberi efek kejut yang luar biasa kepada penonton. Kalau penonton sampai menahan nafas dan ngos-ngosan, filemnya sukses. Haha. Anyhoo, Olympus Has Fallen menceritakan tentang Mike Banning (Gerard Butler) yang keluar dari Secret Service gara-gara merasa bersalah atas kematian Margaret Asher (Ashley Judd), isteri Presiden Amerika Serikat Benjamin Asher (Aaron Eckhart). Pada saat Gedung Putih diserang, Mike Banning terpaksa harus 'kembali' untuk menyelamatkan Benjamin Asher dari bunker tempat si Presiden disekap bersama pejabat-pejabat penting lainnya. Pengalaman menonton Olympus Has Fallen terulang saat menonton No Escape di tahun 2015, serangan tanpa jeda, menahan nafas, dan memaki.

Olympus Has Fallen tentu bakal bikin siapa saja mengingat filem White House Down. Selain ceritanya sama, dirilis pada tahun yang sama pula! Bedanya, White House Down punya Presiden berkulit hitam bernama James Sawyer (Jamie Foxx) yang diselamatin sama anggota baru Special Agent bernama John Cale (Channing Tatum), dan kehancuran Gedung Putih dikarenakan ulah 'orang dalam' yang justru adalah Kepala Special Agent yang hendak pensiun yaitu Martin Walker (James Wood). White House Down masih diisi lagi dengan kisah anak perempuan John Cale yaitu Emily Cale (Joey King) yang saat itu sedang mengikuti tur Gedung Putih. Yang jelas, karena tidak disekap, Presiden di dalam White House Down punya usaha untuk ikut menyelamatkan keadaan bersama John Cale.

Kembali ke Has Fallen.

Olympus Has Fallen meraup keuntungan berlipat ganda dan disebut sebagai filem box office karena biaya pembuatan filem hanya 70 Juta Dollar sedangkan keuntungannya mencapai 170,3 Juta Dollar. Fantastis. Itulah sebabnya saya selalu suka menonton filem-filem yang menjadi box office. Penasaran, pengen tahu sehebat apa jalan cerita, sutradara, dan para pemerannya sampai-sampai bisa menjadi box office. Oh ya, kalian sudah tahu kan alasan sebuah filem disebut filem box office? Sebuah filem disebut box office apabila keuntungan yang diraup berlipat ganda dari biaya pembuatan filemnya hanya beberapa hari saja.

Tiga tahun setelahnya, tepatnya tahun 2016, London Has Fallen dirilis. Awal menonton London Has Fallen pikir saya sih bakal biasa saja karena sudah punya pengalaman menahan nafas saat menonton Olympus Has Fallen. Ternyata saya salah. Karena apa? Karena kedahsyatan efek kejut yang disajikan pada setiap menitnya. Tembakan peluru, ledakan bom, kejar-kejaran di darat dan di udara, sampai meninggalnya tokoh yang tidak sentral tapi penting yaitu Direktur Secret Service Lynne Jacobs (Angela Bassett) saat helikopter yang mereka tumpangi untuk menyelamatkan diri jatuh ditembak. Kematian Perdana Menteri Inggris membikin semua pemimpin negara dunia datang melayat, setidaknya kita melihat beberapanya, meninggal karena bom di jembatan, ditembaki rudal di kapal pribadi, bom di puncak menara, dan lain sebagainya. London lumpuh dalam waktu tidak sampai satu jam. Semua aparat pengamanan disusupi teroris. Semua. Kalian bisa bayangkan kelumpuhan yang dialami? Uh wow sekali menurut saya.

Dan tentu saja, London Has Fallen lagi-lagi menjadi box office. Dengan biaya hanya 60 Juta Dollar (lebih sedikit dari Olympus Has Fallen), dan meraup keuntungan 205,8 Juta Dollar. 

Lagi-lagi tiga tahun setelahnya, yaitu tahun 2019, Angel Has Fallen dirilis. Apakah Angel Has Fallen mampu menjadi box office? Tentu saja. Biaya pembuatannya hanya 40 Juta Dollar dengan keuntungan 147,5 Juta Dollar. Bedanya di dalam Angel Has Fallen, Presidennya adalah Allan Trumbull (Morgan Freeman) yang pada dua filem sebelumnya menjadi juru bicara. Kalau boleh saya bilang sisi manusiawi seorang pahlawan lebih ditonjolkan di dalam filem ini. Mau tahu? Mari simak.

Mike Banning tidak kuasa melawan apalagi memerintah trauma fisik yang dideritanya untuk berhenti. Stop, saya masih pengen jadi pengawal presiden nih! Pada akhirnya seorang 'pahlawan' harus pensiun juga. Ini yang rasa-rasanya tidak saya temui dalam filem misi-tidak-mungkin yang 'pahlawan'nya selalu fine-fine saja. Haha. Mike Banning diposisikan lebih manusiawi: sebagai manusia dia juga merasakan trauma fisik yang luar biasa dan fokus yang mendadak nge-blur. Oleh karena itu dia memang ingin mengundurkan diri. Tetapi lagi-lagi negara api teroris menyerang. Dibuka dengan waktu bersantai Presiden di sebuah sungai: memancing. Serangan ini jauh lebih dahsyat karena menggunakan teknologi super canggih yaitu ribuan drone. Lepaskan drone-nya, cari mangsanya, tembak-mati. Sayangnya, Mike Banning harus menjadi korban. Dia justru menjadi tersangka utama yang dicurigai berniat membunuh Presiden Allan Trumbull. 

Benarkah? 

Tentu saja tidak. Ada bumbu persahabatan, kepentingan, dan pengkhianatan di dalam Angel Has Fallen. Ketiga bumbu itu yang menyebabkan Mike Banning menjadi buronan, harus pandai mencari tempat aman dari kejaran orang-orang, dan lain sebagainya usaha dia untuk mengembalikan nama baiknya. Jadi ingat waktu Tony Stark terdampar di sebuah kota. Hehe. Satu-satunya benang merah dari filem ini adalah Mike Banning harus bertemu Allan Trumbull saat si Presiden sudah siuman agar tahu jalan cerita yang sebenarnya. Bahwa bukan Mike Banning yang berniat membunuh si Presiden. Itu memang terjadi di akhir cerita. Saya bahkan harus memutar ulang beberapa kali untuk melihat muslihat ruangan jadi-jadian yang menyembunyikan Presiden Allan Trumbull di gedung sebelah rumah sakit itu. Deg-degan sekali.

Kalian deg-degan juga? Kalau begitu toss. Kita sama. Haha.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Melihat fransais Has Fallen yang kerap dirilis setiap tiga tahun sekali, saya jadi bertanya-tanya apakah tahun 2022 bakal ada filem ke-empat? Indonesia Has Fallen, misalnya, dengan cerita Presiden Amerika Serikat berlibur ke Indonesia terus diserang teroris lagi, terus chaos. Lebih seru lagi kalau lokasi penyerangan itu adalah Kabupaten Ende saat si Presiden sedang mengunjungi Danau Kelimutu. Pasti legit. Andaaaaai. Haha. Berandai-andai kan boleh. Uih, itu saya yakin bakal jadi box office hanya dalam satu hari. Bioskop penuh. Terutama bioskop di Indonesia. Tapi yang jelas pemerannya harus tetap Gerard Butler, karena Has Fallen bakal jadi Has Falling kalau pemerannya diganti *ngakak guling-guling*.

Sudah ah.

Weekend ini ... selamat menikmati akhir pekan, ya. Kalau akhir pekan kalian hanya di rumah saja, cobalah menonton kembali tiga Has Fallen yang sudah saya bahas di atas. Kalau mau menonton ulang Law Abiding Citizen juga oke-oke aja *gaya Yuvi Phan* haha.

#SabtuReview



Cheers.

Kalau Kalian Pemberani Coba Nonton Nerorrist by Nessie


Kalau Kalian Pemberani Coba Nonton Nerorrist by Nessie. Hola! Sabtu lagi. Review lagi. Setiap Sabtu blog ini akan membahas banyak hal mulai dari buku, filem, musik, tokoh, kafe, makanan, dan lain sebagainya. Tidak semua yang saya tulis merupakan sesuatu yang baru. Bisa saja filem yang dibahas justru sudah booming sepuluh tahun lalu dan telah di-review banyak blogger. Namanya juga me-review (mengulas), sah-sah saja meskipun bukan sesuatu yang baru. Hehe. Bukan membela diri, tapi setidaknya sebagai penikmat karya, kita juga punya hak untuk memberikan komentar dan kritikan. Tetapi perlu diingat, mengkritik bukan berarti menghina. Karena sebagai orang yang juga punya karya, meskipun tidak banyak, saya juga siap menerima komentar dan kritikan.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Baru-baru ini Indonesia dan jagad per-Youtube-an dihebohkan dengan salah satu channel yang ditutup oleh Youtube. Hyup, Calon Sarjana. Berdasarkan berbagai berita yang saya baca, alasan Youtube menghapus channel tersebut adalah karena HaKI. Adalah channel JT yang sudah tiga kali melaporkan kepada Youtube bahwa video-video mereka ditiru oleh Calon Sarjana. Setelah mendapat tiga kali laporan copyright strike, maka Youtube bakal menutup/menghapus channel yang dilaporkan tersebut. Bayangkan, subscriber Calon Sarjana itu sudah mencapai 13 (tiga belas) juta! Terus channel-nya dihapus. Ini ibarat sedang mengunyah makanan favorit tapi dilarang menelan. Lepeeeeh sana! Kabarnya Calon Sarjana sudah meminta maaf dan kemudian mengganti salah satu channel dari dunianya para 'Calon' ini yaitu Calon Ilmuwan dengan Calon Sarjana.

Banyak channel setipe Calon Sarjana yang ritmenya sama yaitu mengambil video sana-sini, digabungin, disunting, dikasih suara/narator, ditambah sedikit animasi, terus diunggah ke Youtube. Saya pikir kalian juga tentu tahu channel-channel tersebut. Meskipun kita jelas menerima informasi (baru) dari video mereka, tapi pihak lain yang merasa dirugikan tentu tidak terima. Oleh karena itu saya justru lebih suka sama channel-channel yang bekerja keras melakukan riset, menyusun kontennya, dan pemiliknya berbicara langsung di depan kamera. Seperti Nessie Judge, Yuvi Phan, dan Detektif Aldo. Atau seperti Deddy Corbuzier, Raditya Dika, dan Anji dalam Dunia Manji.

Salah satunya yang bakal saya ulas hari ini adalah Nessie Judge.

Nessie Judge


Beberapa informasi yang saya peroleh dari Wikipedia menyebutkan bahwa Nessie Judge punya nama lengkap Nasreen Anisputri Judge. Dia lahir di Solo, 30 Oktober 1993. Nessie dikenal sebagai konten kreator dan social media influencer berketurunan Pakistan-Belanda-Tionghoa. Urusan isi kepala, jelas dia cerdas banget, bahkan bahasa Inggris-nya itu bikin iri. Hyup, Nessie merupakan lulusan Fakultas Bisnis dengan gelar Bachelor of Business Administration (BBA) di IPMI International Business School angkatan 2012, dan lulus dengan predikat Magna cum laude pada tahun 2016. Yeaaayyyy *tepuk tangan a la Nessie*.

Sebelum lanjut, apa sih yang membikin saya begitu menyukai Nessie?

1. Wajahnya cantik. Haha.
2. Percaya diri saat bicara di depan kamera.
3. Smart dan bahasa Inggris-nya wow.
4. Apa adanya.
5. Eyeliner!
6. Set untuk taping yang menawan.

Cara Nessie berbicara di depan kamera juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para bos-bos-nya dia. Iya, dia memanggil penontonnya dengan bos. Hebatnya, di setiap video Nessie selalu ada kontak/interaksi antara Nessie dengan siapa pun yang menonton. Komen di bawah merupakan salah satu kalimat pamungkas yang saya suka. Dan tentu saja Nessie dan tim-nya akan membaca semua komentar yang bertaburan. Ada video-video khusus yang membahas komentar-komentar (dari salah satu video, misalnya) tersebut. Salah satu yang pernah saya nonton adalah tentang kopi bersianida yang menewaskan Wayan Mirna Salihin. Seru lah ya ketika Nessie dan Rutfy (kalau tidak salah nama temannya/tim-nya) membacakan komentar/pendapat orang-orang tentang kasus tersebut.

Nerorrist


Dari video yang biasa-biasa saja, misalnya bercerita ini itu, Nessie kemudian membikin konten dengn tema khusus yang bernama Nerorrist. Nerorrist merupakan video-video bertema horor yang dikemas super menarik oleh Nessie dan tim-nya. Kadang tema Nerorrist ditentukan sendiri oleh Nessie, kadang tema Nerorrist diambil dari usulan para penonton/subscriber-nya. Nerorrist memuaskan keinginan banyak orang tentang hal-hal yang masih menjadi misteri, masih menjadi pertanyaan, masih membikin penasaran. Tentu yang horor atau yang sifatnya neror begitu. Misalnya tentang teori-teori konspirasi dunia. Dari menonton begitu banyak video Nerorrist saya bisa mengambil alur pola kerja Nessie dan tim.

1. Menentukan tema.
2. Melakukan riset mendalam.
3. Menyusun naskah/narasi.
4. Taping.
5. Sunting.
6. Unggah.

Mari ambil contoh video berjudul REKAMAN telefon 911 TERAKHIR sebelum MAUT. Banyak penontonnya yang me-request tentang rekaman 911 ini. Jadi, setelah temanya ditentukan, Nessie dan tim bakal melakukan riset, mencari tahu, menggali lebih dalam, tentang rekaman telepon 911 terakhir sebelum maut. Bayangkan saja, bagaimana perasaan operator 911 berbicara dengan orang sebelum orang tersebut meninggal (entah karena dibunuh atau apalah). Materi sambungan telepon 911 terakhir sebelum maut tentu saja ada banyak! Tetapi Nessie dan tim akan memilih yang paling serem. Tebakan saya, mereka pasti bakal terlibat dalam diskusi yang super alot. Setelah itu disusun, dibikin naskah/narasi, dan dilakukanlah taping alias rekaman.

Video Nerorrist itu sudah serem, tetapi lebih serem karena adanya backsound samar yang horor banget. Perlu dicatat, backsound-nya sungguh samar sehingga penonton tidak merasa terganggu sama sekali. Ditambah lagi dengan cara/gaya Nessie berbicara di depan kamera. Gimana ya ... cara Nessie berbicara itu betul-betul diatur sedemikian rupa sehingga sangat mendukung tema Nerrorist. Kalian tidak percaya? Nonton saja sendiri. Hahaha. Jangan sampai kalian seperti saya yang sampai tidak bisa tidur gara-gara menonton video tentang chat-chat terseram. Uh wow. Sampai pas lagi tidur mendadak ngelihat ke pintu kamar mandi kuatir ada makhluk astral berdiri di situ. Hahaha.

Sebagai makhluk Tuhan yang cukup aneh, saya begitu penasaran sama teori-teori konspirasi. Baik teori konspirasi tentang Atlantis, Segitiga Bermuda, hingga Iluminati. Masa lalu saya diisi dengan rasa penasaran tingkat tinggi pada hal-hal tersebut. Kalau kalian juga sama seperti saya, jangan kuatir, Nessie sudah membahas sebagian besar dari teori-teori tersebut. Dan namanya teori, yang dikumpulkan dari berbagai sumber, belum tentu ada satu pun yang benar. Tetapi meskipun belum tentu ada yang benar, cukup masuk akal lah teori tersebut. Termasuk teori tentang kejadian 9/11 saat gedung kembar itu ditabrak pesawat (atau dibom dari bawah/dalam gedung?).

Serem.


Gara-gara Nessie, saya jadi pengen bikin video tentang BlogPacker, tentang perjalanan-perjalanan di Pulau Flores. Tapi karena saya ini termasuk orang yang malas menyunting video, rencana tersebut batal melulu. Nah, ini menjadi catatan penting bagi saya, kalian, mereka, siapa pun yang mau menjadi Youtuber seperti Nessie. Singkirkan rasa malas. Bayangkan saja, Nessie dan tim membikin video yang diunggah setiap minggu! Membayangkan bagaimana mereka menentukan tema, riset, taping, sunting, saja sudah bikin kepala saya pusing tujuh keliling. Saya sendiri memang berkecimpung dengan dunia video, makanya saya tahu betapa ribetnya menghasilkan satu konten video, apalagi yang melalui proses taping begitu. Manapula set untuk taping-nya itu menawan banget. Kadang di sofa, kadang di ruang kerja, tapi ditata artistik.

Baca Juga: Kedai Bunga Yang Unik dalam Berjalan di Atas Cahaya

Bagaimana, kawan? Apakah tulisan ini menarik minat kalian untuk segera meluncur ke channel-nya Nessie Judge? Kalau iya, artinya saya sukses meracuni kalian. Ha ha! Karena, menjomblo itu sudah biasa, saya tidak mau sendirian merasa serem gara-gara Nerorrist. Kalian juga doooonk *dikeplak dinosaurus*.

Semoga akhir minggu kalian menyenangkan!

#SabtuReview



Cheers.

Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata


Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata. Saya terpesona pada lagu-lagu ciptaannya. Liriknya sederhana tetapi setiap kata digandeng dengan kata yang tepat sehingga menghasilkan kalimat yang membikin kita senyum-senyum sendiri terus bilang, "Benar banget!". Kalian tentu hafal lirik lagu Celengan Rindu bukan? Atau yang paling baru, yang jadi soundtrack-nya Imperfect: Karir, Cinta, & Timbangan yang berjudul Pelukku Untuk Pelikmu. Sumpah, saat mendengarkan lagu ini perasaan saya jadi nyaman. Tsaaah. Haha. Betul! Apalagi pas ketemu lirik: Jangan pernah kau merasa sendiri, tengoklah aku yang tak pernah pergi, bagiku engkau tetap yang terbaik, entah beratmu turun atau naik. O-le!
Kemarin saya diberipinjam sebuah buku berjudul Garis Waktu dengan tagline: Sebuah Perjalanan Menghapus Luka. Betul, buku ini ditulis oleh Fiersa Besari. Buku ini dipinjamkan oleh teman kerja Ibu Happy Diana. Ya, kami memang sering saling meminjamkan buku. Jadi, ada semacam suatu penghematan di sini tanpa harus kehilangan kesempatan membaca buku-buku kece. Haha. Kalian harus maklum, di Kota Ende belum ada toko buku sekaliber Gramedia atau Gunung Agung dan lain sebagainya. Untuk buku-buku populer kami harus memasoknya dari luar jika ingin segera membacanya.

Garis Waktu bukan buku berat seperti salah satu buku Supernova: Gelombang. Tapi buku ini justru langsung melekat karena bukan hanya isinya tetapi quote-quote-nya! Jujur, saya belum khatam membaca Garis Waktu tapi sudah khatam membaca quote-quote-nya. Tapi saya sudah tidak tahan untuk menulis tentang buku ini untuk #SabtuReview karena hampir sepuluh hari saya tidak menulis konten bekal pos blog ini. Ke mana kah saya? Ke hatimu. Hahaha. Maklum, begitu banyak pekerjaan yang membutuhkan waktu dan konsentrasi penuh, dan penelitian yang sungguh, sehingga untuk melihat berapa banyak pembaca dalam sehari pun saya tidak melakukannya. Ditambah begitu banyak pula persiapan yang harus dilakukan untuk pelantikan Rektor Uniflor tanggal 30 Januari 2020 kemarin.

Mari berbicara tentang Garis Waktu.

Buku ini bersampul putih dengan sedikit gambar terkesan simple. Diterbitkan oleh Media Kata, buku setebal 211 halaman ini berisi perjalanan cerita yang dikemas apik. Setiap cerita tidak akan membikin kalian terlalu lama terbuai karena pendek saja. Tetapi jangan salah, justru karena kemasannya seperti itu justru membikin penasaran dan pengen baca lagi. Iya, itu yang terjadi ketika saya membaca cerita berjudul Dimensi Tentangmu (Pada aebuah garis waktu), Perjumpaan yang Sederhana (April, tahun pertama), Sesuatu yang Tumbuh Diam-diam (Mei, tahun pertama), dan Untukmu yang Berjubah Api (Mei, tahun pertama). Baru empat. Hehe. Sudah dibaca ulang dua kali setiap cerita. Dan kemudian saya terpesona dengan quote-quote-nya.

Setiap cerita di dalam Garis Waktu diakhiri dengan quote menarik. Sekali lagi, kata-katanya sederhana, tapi perkawinan kata-kata itu yang bakal membikin kita termangu saking kagumnya sama Fiersa Besari. Seterusnya saya membaca semua quote yang ada sedangkan ceritanya belum semua. Makanya saya tulis di atas, belum khatam. Salah satu quote bahkan saya pakai untuk status WA dan Facebook:

Seseorang yang tepat tak selalu datang tepat waktu.
Kadang ia datang setelah kau lelah disakiti oleh seseorang yang tidak tahu cara menghargaimu.

Asyik. Hehe.

Itu baru salah satu quote. Yang lainnya ... silahkan kalian baca sendiri Garis Waktu, ya! Tidak etis kalau semuanya saya tulis di sini. Yang jelas, ini memang merupakan sebuah perjalanan menghapus luka oleh seorang Fiersa Besari yang ternyata anak sastra. Iri saya padanya. Hiks. Dia begitu lihai mengawinkan kata.

Baca Juga: Inilah Akibat Paling Fatal Dari Perkara Yang Dianggap Remeh

Saat ini saya masih terus membaca Garis Waktu di sela-sela memikirkan kamu *plaaaaak*. Masih larut menikmati lihainya seorang Fiersa Besari bercanda dengan kata. Dan semoga lekas selesai membacanya karena Filosofi Teras juga sedang menunggu untuk dilanjutkan.

Selamat menikmati akhir minggu, kawan!

#SabtuReview



Cheers.