Dinner Mewah dan Sunset Indah Di North Borneo Cruises, Sabah


Makan malam biasanya di warteg atau tukang bakso keliling di depan kosan. Tidak pernah melebihi mewahnya itu, kecuali kalau di undang ke hotel atau dinner bersama petinggi dari perusahaan, namun tidak pernah terbayangkan untuk Dinner di Cruises yang mewah dan penuh dengan hiburan. 

Pagi hari, sesuai dengan jadwal kami mengunjungi Pasar Nabalu, Cattle Farm dan Kinabalu Park yang berjarak kurang dari satu jam dari Kota Kinabalu, Ibukota Sabah. Keceriaan pagi dan siang hari rupanya berlanjut ke sore harinya. Semangat masih membara karena kami akan melihat sunset sekaligus menikmati Dinner di kapal pesiar mewah seharga kurang lebih 800 ribu jika di kurskan ke Rupiah (RM 235). Tentu saja makan malam ini akan sangat menarik karena saya baru pertama kali Dinner di Cruises. Kalau Dinner di hotel sudah pasti pernah, namun tentu saja sensasinya akan sangat berbeda.

Tidaklah cukup dengan berdiam saja ketika kami sampai lebih cepat dari yang diperkirakan. Ada-ada saja tingkah yang dilakukan oleh kesepuluh teman saya. Ada yang mengambil foto, ada yang bersantai, ada yang berjoget dan ada yang merekam kehebohan kami berjoget. Musik yang entah dari mana sumbernya membuat kami bergoyang tanpa disadari, apalagi musiknya sangat familiar dan up beat. 

Dimulai dengan Kak Irene dan saya, kemudian mereka beramai-ramai mengikuti kami berdua. Malu, tentu saja kami mengubur dalam kata-kata itu. Malahan ada bule yang mengambil video ata kehebohan kami di bibir pantai dan dermaga, tempat bersadar kapal pesiar kami. Kami tak berhenti pada satu lagu saja, bahkan kami bergoyang sampai berganti genre dari up beat ke mellow. Semuanya kami babat dengan keriaan. Setelah selesai, rupanya pak Jun, guide kami, belum memanggil untuk masuk. Kami pun pindah lokasi beberapa meter untuk kembali berjoget bersama. 


Hanya Multi dan Mba Levi yang malu-malu dan tidak bergabung dengan kami. Jadilah 9 orang yang tidak tahu malu ini merekam semua kehebohan dan tarian tak bergaya apapun di dalam kamera saya. Setelah memutar ulang pun, saya masih tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. Next, akan saya upload keseruan joget ini di youtube channel saya di www.youtube.com/user/salmanbiroe

Sebelum pak Jun memanggil, tak lupa kami berfoto-foto di bawah temaran sinar matahari yang kian merudep karena memang sudah sore. Rupanya awan tebal masih mewarnai sore ini, bahkan ketika saya berfoto pun awan itu masih menghias dan membentuk foto yang eksotis karan awan dan matahari saling menutupi satu sama lain.

Pak Jun memanggil kami, sementara kami sudah setengah siap tinggal membawa tas-tas yang kami bawa. Dinner kali ini memang semi formal, namun pakaian yang saya kenakan hanya kaos dan jeans dengan sepatu kesukaan berwarna biru. Setelah dilihat memang Dinner kali ini tak seformal yang dirasakan, hanya saja memang kesan mewah yang menjadikan permasalahan pakaian pun serasa harus mengikutinya. Namun, yang lain pun ada yang sangat formal dan berpakaian seperti saya. Jadi, saya tidak salah kostum kali ini.


Kami memasuki pintu yang dijaga beberapa petugas. Sebelum masuk, tangan kami digelangkan tanda masuk berwarna ungu seperti tanda masuk ke Dufan atau wahana permainan. Langkah saya bergerak menuju ke sebuah kapal pesiar berwarna putih. Dari luar tampak tidak ada yang istimewa, namun setelah saya masuk, rasanya berada di Surga karena disambut banyak orang. Selain itu, makanan sudah rapi dan tersedia untuk kami semua. Tak lama setelah duduk, kami pun mengintari meja saji yang berada di tengah. 

Terus terang saya tak cukup lapar sore itu, karena sempat makan banyak dengan komposisi yang cukup mengenyangkan. Namun, untuk sekedar mengisi perut, saya mengambil makanan yang ringan-ringan saja seperti sayuran dan mie serta buah. Tidak ada nasi ataupun daging yang biasa selalu lahap saya makan. Saya sebetulnya sedang menghindari nasi, karena sudah lama mengidamkan berat badan dibawah 100 kg (Mohon untuk percaya saja dengan pernyataan saya ini), hahaha.

Lagu-lagu dari pengeras suara menghanyutkan suasana karena beberapa lagu memang sangat romantis. Dua sejoli atau suami istri pasti akan terhanyut dan menikmati makan malam yang mewah ini. Lagu romantis memang everlasting, apalagi rata-rata yang datang sudah berusia 20 tahun ke atas, jadi telah tahu lagu-lagu dari tahun 1990-an. Seperti lagu my valentine atau lagu Titanic yang sangat fenomenal pada tahun 1997. 

Sementara lagu terus berputar dan menikmati makanan, dari luar pun sunset memanggil kami dengan penuh kehangatan. Saya dan kawan-kawan pun akhirnya menuju ke atas kapal. Dan, ternyata sunset yang kami tunggu-tunggu pun muncul dengan sangat jelas meski agak tertutup oleh awan, namun masih tetap terlihat dengan jelas.


Setelah naik keatas kapal, saatnya kini bergaya ala-ala foto model. Kami tak menyia-yiakan kesempatan untuk berfoto dengan latar lautan di atas kapal. Hasilnya memang sungguh mengagumkan karena benar-benar terlihat seperti foto model. Foto diatas adalah salah satu yang bisa saya banggakan. 

Setelah puas dengan berfoto-foto, kami pun mengikuti live music yang berada dibawah. Suara live muc bisa terdengar sampai dek kapal yang paling atas, sehingga kami masih bisa bernyanyi-nyanyi dan berjoget bersama. Seperti biasa, kalau ada satu yang mengawali maka selanjutnya akan ada orang yang mengikuti jogetan ini. Kak Irene yang biasanya mengawalinya kali ini berjoget bersama dengan lagu-lagu dari live music.Dan, inilah keseruan kami pada sore itu. Walaupun banyak sekali yang melihat kearah kami, tapi kami tetap berjoget bersama dan tidak menghiraukan apapun disekliling kami. We have fun.


Setelah kami berada diatas cukup lama, kemudian kami masuk kembali karena sunset sudah breganti malam dan Dinner masih kami lanjutkan. Di dalam, live music sepertinya mampu menyihir kam dengan lagu-lagu yang danceable sehingga kami pun tetap berdiri dan mengikuti irama setiap lagu. Seperti layaknya pemadu sorak, kami berjingkrak-jingkrak setiap ada lagu yang menarik. Selain kami, terdapat Pak Joshua dan Bu Nur dari Air Asia, sayang sekali Pak Bobby dari Sabah Tourism Board tidak dapat hadir karena ada event yang harus dihadiri.

Indra menyanyikan dua buah lagu. Tentu saja semua orang terpana melihat pancaran aura sang MC dan Penyanyi yang sering menghibur masyarakat di Lampung ini. Setelah penampilan selesai, lagu Gangnam Style pun menghipnotis kami dan membuat kami harus tampil di depan para tamu lain. Jadilah pertunjukan ini milik kami, Blogger Indonesia yang menjelajah Sabah beberapa hari ini. 

Keseruan kami belum berakhir karena ada sebuah lagu berjudul Sayang Kinabalu yang dinyanyiakan oleh penyanyi dati North Borneo Cruises sebagai penutupnya. Semua tamu pun diajak untuk berjoget bersama sebagai penutup keriaan malam itu. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan menikmati dinner mewah dan sunset indah di North Borneo Cruises, Sabah.

Serunya Rafting Berlatar Pemandangan Gunung Kinabalu, Sabah


Belud, seperti nama binatang yang ada di Indonesia, tapi sebetulnya nama itu juga merupakan salah satu kota di Sabah, Malaysia. Butuh sekitar satu jam lebih dari Kota Kinabalu untuk menjelajah kota ini. Kesan pertama ketika sampai di tengah kotanya adalah kota kecil dengan kesan klasik namun sangat bersih dan nyaman. Belud mengingatkan Jakarta pada tahun 1990-an dengan pasar dan toko-toko klasik, yang membedakan adalah terdapat huruf kanji atau aksara mandarin, etnis Tionghoa. 

Sejauh mata memandang dari dalam Bas Pesiar (Bus Pariwisata), hanya sedikit saja masyarakat yang lalu lalang. Dan setiap pinggir jalan, tidak terlihat tumpukan sampah ataupun pedagang yang menjajakan dagangannya seperti di Indonesia. Itulah perbedaan yang sangat mendasar tentang membuang sampah di manapun.

Duo Desah kembali menghibur kami dengan suara nyanyian ala mereka. Entah kapan Duo Desah ini di resmikan, namun kehadiran Indra dan Teguh mampu menghapus keletihan kami di beberapa hari perjalanan kemanapun. Sampai-sampai Pak Bobby (Sabah Tourism Board) dan Pak Joshua (Air Asia), pun merasa terhibur dengan kelucuannya. Sebetulnya lagu yang dibawakan adalah lagu biasa, hanya saja terdapat sentuhan desahan yang tak dimiliki oleh penyanyi papan atas manapun.

Inilah Pemandangan Kinabalu yang Legendaris
Kami ke Belud bukan menepi atau mencari kedamaian, kami datang untuk bersenang-senang dan melakukan olahraga air yang sangat saya gemari selain berenang tentunya. Namun, rafting jauh menyenangkan dibandingkan dengan hanya sekedar berenang saja, inilah yang dinamakan memacu adrenaline. Rafting bagi saya bukan hal yang baru, saya mulai mengenalnya beberapa tahun silam. Pada outbound kantor lama, saya sering diajak untuk mencoba rafting, dan Alhamdulillah ketagihan, hehehe.

Bagi Indra dan Kak Irene, rafting merupakan hal baru. Wah, untuk pertama kali rafting saja harus jauh-jauh ke Sabah ya. Sebenarnya saya tidak percaya, tapi karena Indra menceritakan dengan sangat meyakinkan, jadi saya mengangguk-angguk saja, tanda percaya. Lain hal dengan Kak Irene, ia tak pernah sekalipun mencoba rafting karena tidak pernah diberi kesempatan. So, inilah rafting pertama mereka berdua. Dan, tak disangka-sangka, inilah Rafting paling berkesan karena sesuatu hal terjadi. Saya harus berhenti dulu untuk menahan gejolak antara rasa jengkel dan tertawa yang beradu dalam diri saya.

Tak terasa bus kami berhenti pada sebuah pinggiran sungai. Setelah pintu dibuka barisan depan dan kedua langsung turun tanpa menunggu aba-aba. Sementara yang lain terlihat melepaskan celana dan kaos serta berganti dengan baju untuk rafting. Saya yang berada di bangku paling belakang harus menunggu beberapa waktu, dan yes akhirnya saya bisa berjalan menuju tempat ganti. Saya terpaksa melepas jeans panjang dan baju yang masih bersih dengan baju dan celana pendek. And, I am ready to rafting in Kelud.

Sebelum rafting, seperti biasa harus dibrief terlebih dahulu apa yang harus dilakukan seperti pakaian pengaman, dayung dan pengaman kepala atau helm. Sebelum itu pula kami dijelaksan instruksi apa saja yang harus dilakukan dalam berbagai situasi. Dan, jangan sampai lupa semuanya karena akan fatal jadinya. Trust me, it is important while you in the river.

Forward adalah kata yang akan sering di dengar karena berarti kita akan harus mengayuhkan dayung ke depan secepat mungkin untuk maju dan melawan arus. Sedangkan sebaliknya, maka mengayuhlah ke belakang dan mengahalau arus.


Saya sebetulnya kurang memperhatikan seluruh penjelasan karena saya sibuk merekam dan mengambil gambar setiap momennya. Entah apa momennya yang penting dapat membuat dokumentasi saya lengkap terutama video. Dan, yang lain saya dengan meyakinkan mengangguk-angguk sebagai tanda bahwa mereka mengerti yang di jelaskan. Saya benar-benar tenang. 

Setelah semua penjelasan yang panjang dan dengan peragaan yang cukup jelas, akhirnya kami akan memulai rafting hari itu. Waktu menunjukan pukul 4 sore lebih, sedangkan saya tidak tahu berapa lama yang dibutuhkan sampai ke finish nantinya. Saya pasarh saja.

"Ayo kita berempat saja yuk."

Indra merangkul saya, mba Evi dan Kak Irene. Dan dengan ini terbentuklah, kwartet rafting untuk beberapa waktu kedepan. Saya dengan senyum puas mengatakan inilah Dream Team. Kami memiliki penyanyi, vlogger, pemilik Go Pro dan Pengayuh dengan tenaga kuat seperti saya, hahaha. Dengan dalih merekam semua aktivitas rafting ini, malah menjadikan boomerang nantinya. 

Dengan alat dayung, kami sudah siap dan naik ke boat. Sebetulnya kami dibantu dengan 3 orang penjaga kami yang berada di belakang Mba Evi dan Kak Irene. Dua orang bule dan satu orang Malaysia. Saya tambah makin lega dengan komposisi ini. Sementara boat lainnya diisi oleh tim Cewek dan Cowok, sementara kami Mix. 

Mulanya bule berteriak semangat dan mengatakan "Forward" yang merupakan tanda kami harus maju ke depan. Dan, inilah pertaruhan antara drama dan lawak dimulai.   


Sungai ini merupakan salah satu tempat tercantik dengan pemandangan Gunung Kinbalu yang anggun disepanjang jalur rafting. Seperti layaknya film Cowboy dengan sungai yang landai dan hutan-hutan seperti pinus dan pohon lain yang menyebar rata hampir disetiap jalur rafting membuat saya menikmatinya.

Mulanya kapal boat berpenumpang 7 orang itu tak mengalami gangguan, namun ketika memasuki arus yang seikit deras, Indra terhempas. Sementara dayung yang kami pakai ada satu yang terlepas. Si Bule berusaha menolong kami dengan ocehan yang tiada henti tanpa saya dan lainnya mengerti. Indra berhasil naik ke boat. Drama babak pertama dimulai. Bule yang tadinya kalem berubah sedikit tempramen. Setiap perintah yang ia tunjukan kepada saya dan 3 orang lainnya di keraskan dengan volume yang tak biasa.

Saya terus terang kaget dengan perubahan volume suaranya. Sementara boat lain terlihat begitu bersemangat dan menikmati setiap kayuhan, tidak demikan dengan kami, bagai daun kecil diatas sungai, kami siap untuk hanyut dan tenggelam. Padahal kayuhan saya sudah benar dan sekuat tenaga, namun tak berdampak apapun juga. What should I do?

Saya dan Indra saling pandang, dan kami tertawa. Dan diarus berikutnya, saya, Indra dan Mba Evi bukannya mengayuh, kami membentuk satu formasi saling berpelukan seperti teletubis di depan. Saya kembali tertawa. Sementara Bule sudah menyerah dan memelankan suaranya. Seperti tidak ada gairah dalam boat yang kami tumpangi.

Entah berapa kilometer lagi kami harus tempuh untuk sampai di finish. Seperti sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk mengayuhkan alat dayung ini. Dan, air semakin deras, arus pun kembali mengombang-ambing boat. Saya sudah pasrah, sementara suara bule sudah memerintahkan apapun yang bisa diperintah.

Boat kami akhirnya terhempas dan terbalik. Bule tetap meracau dengan kata-kata yang kami tidak ketahui lagi. Yang ada dalam pikiran saya adalah meyelamatkan diri sendiri dan boat. Alhamdulillah, boat dan seluruh penumpang tidak mengalami apapun.


Mba Evi sempat berfikir untuk menyelamatkan Indra terlebih dahulu dan membiarkan saja Go Pronya, namun Mba Evi merekam semua kejadian yang melanda kami. Hahaha, kami sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Sebagai hiburan, Indra sempat bermain Drama dengan berperan sebagai Jack, sementara saya harus berperan sebagai Rose dalam Film Titanic.

"I Told you Rose to go to school, Rose. Because you stupid, Rose."

Saya, Mba Evi dan Kak Irene sontak saja tertawa mendengar perkataan Indra yang spontan itu. Tak hanya sampai disini saja, Indra kemudian bernyanyi lagu Contry Road yang sama sekali tidak saya ketahui. Untungnya, si Bule tahu lagu ini dan bernyanyi bersama-sama dengan kami. Jadilah boat kami dipenuhi nyanyian dan bercandaan yang melepaskan ketegangan diantara kami.

Baru setelah kami berhenti di Finish, belakangan kami tahu bahwa cewek bule yang bersama kami di boat bernama Rose juga, hahaha, saya dan Indra sontak saja tertawa.

Iniliah keseruan kami menikmati rafting berlatar Gunung Kinabalu di Kota Belud, Sabah. Sampai jumpa di putalangan selanjutnya.

Welcome To Sabah, Borneo


Saya percaya pada kekuatan doa dan keinginan serta mimpi. Dan, salah satunya dengan mitos di Pontianak,  Kalimantan Barat. Barang siapa yang meneguk atau minum air sungai Kapuas,  maka dia akan kembali lagi ke Pontianak. Saya memegang teguh doa-doa dari masa lalu yang ingin agar Pontianak di kunjungi oleh pendatang yang memiliki niat mulia.

Percaya tidak percaya,  setelah 2014 terakhir ke Pontianak, akhirnya tahun ini saya kembali menjejakan kaki di Bumi Khatulistiwa. Dan,  perjalanan panjang menjelajah beberapa negeri di pulau Borneo pun harus di mulai di kota yang memiliki keberagaman yang telah dibukti bukan isapan jempol atau teks book semata.

Supadio Internatinal Airport membuka mata saya lebar-lebar ketika saya mendarat sekitar pukul 09.00. Dahulu,  Supadio sangat kecil dengan satu bangunan lawas,  kini sangat luas dan sudah menjadi International Airport. Bahkan,  Supadio lebih bagus dari Bandara Ahmad Yani di Pulau Jawa. Sungguh luar biasa perkembangan bandara ini, sehingga maskapai dari dalam maupun luar pun memperbanyak rute dari dan ke Pontianak,  salah satunya Air Asia yang memiliki rute Pontianak - Kuching -Kota Kinabalu.

Cerita dibalik ini adalah bagai mendapat durian runtuh,  saya berjodoh dengan Doni Prayudi dan Blogger dari berbagai daerah Kalimantan,  Sumatera dan Jawa. Saya dan teman-teman menjelajah Sabah selama beberapa hari yang tak terlupakan. What a lucky me. Saya juga tak menyangka karena proses seleksi dan pengumuman pun berlangsung dalam waktu beberapa bulan lalu. Namun,  memang kalau sudah rejeki tidak akan kemana-mana.


Saya dan Mba Evi berangkat dari Jakarta pagi itu berangkat bersama, sementara sang artis seantero Lampung harus naik beberapa jam setelah kami karena malam harinya harus ngamen terlebih dahulu. Andre yang berdomisili di Jakarta telah berada di Pontianak dari kemarin,  jadi saya dan mba Evi hanya menunggu Indra.

Karena boarding masih beberapa jam lagi,  kami berjalan sangat santai dan berhenti di tempat duduk yang telah disediakan di luar gedung terminal keberangkatan. Kami memilih bangku tersebut karena dekat dengan toilet dan charger station. Setengah jam kemudian,  satu per satu teman dari Kalimantan pun datang,  Ada Ero,  Dyah,  Teguh dan Multi. Tak lama kemudian Andre pun datang. Sementara Mba Levi telah berada di Pintu Keberangkatan. Sementara Dodon,  Kak Irene dan Indra masih dalam perjalanan masing-masing.


Tepat setelah kami masuk ke pintu keberangkatan,  Dodon,  Kak Irene dan Indra pun telah berada di Imigrasi. Artinya sebentar lagi kami akan lengkap bersebelas dan akan melakukan penerbangan ke Kuching sebelum melanjutkan perjalanan ke Kinabalu.

Mari kita memulai perjalanan yang menyenangkan dengan senyuman. Kinabalu , we coming to you. This is the truly Happiness. Kalau bisa di ungkapkan dengan kata-kata bisa dikasih judul "Petualangan 11 orang kocak di Kinabalu".


Pertama kali melihat masing-masing karakter memang tidak ada yang bocor atau melenceng dari garis-garis ketentuan, namun judgement saya haruslah salah,  tentunya makin hari kebocoran dan kekocakan pasti akan terjadi,  apalagi ada Raja Dangdut yang siap menghibur seantero jagat raya,  Dunia Indra. Kalau Indra, Mba Evi dan Andre,  saya pernah bertemu sebelumnya,  sehingga tahu karakter masing-masing. Nah,  sisa 7 orang inilah yang masih misterius adanya. Tapi yakinlah,  beberapa jam kemudian atau sehari berikutnya,  perjalanan ini akan sangat menyenangkan.

Berhubung pastinya penasaran dengan mereka dan saya maka saya akan perkenalkan satu per satu.

1. Doni Prayudi

Postur tubuh yang hampir mirip dengan saya ini membuat hobi makannya memang tak bisa dihindari,  apalagi blognya berisi tentang traveling dan makanan turut andil dalam membentuk postur seperti sekarang. Blognya dapat dijumpai di www.tukangjalanjajan.com

2. Evi Indrawanto

Siapa yang tak kenal dengan Mba Evi yang merupakan co founder Indonesia Corners. Hobinya jelas jalan-jalan baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebelum perjalanan ini,  saya bertemu dengan Mba Evi di Festival Krakatau di Lampung. Blognya dapat dijumpai di www.eviindrawanto.com.

3. Indra Pradya (Dunia Indra)

Kocak dan cair, itulah kesan yang pertama saat saya bertemu dengan Indra pada saat perjalanan ke Pulau Pisang, Lampung,  beberapa bulan lalu. Sangat aktif dalam berbagai bidang terutama pariwisata dan kebudayaan serta kepemudaan, bahkan diluar pekerjaan utamanya,  dia sering didaulat sebagai master ceremony (MC). Blognya dapat dijumpai di www.duniaindra.com.

4. Andre

Pertama kali bertemu pada saat di Bandung dalam sebuah acara bank. Kami mengexplore bandung sambil diberikan tantangan. Acara yang sangat menarik pada saat itu. Kedua kalinya pun kami bertemu di Bandung.

5. Aseanty Palevi

Dari namanya tersimpan kata Asean karena lahir di salah satu negaranya,  Indonesia. Mungkin dibalik nama tersebut tersimpan doa untuk selalu ingat dengan Asean dan menjelajahi setiap negaranya suatu saat. Mba Levi,  panggilan saya kepadanya,  seorang jurnalis dengan segenap ilmunya.

6. Irene

Bagi Kak Irene,  setiap momen merupakan hal yang harus di masukan kedalam channel youtubenya. Iya,  Kak Irene ini adalah youtuber yang sering merekam kejadian setiap hari dan pada saat traveling ke manapun, termasuk perjalanan 3 negara yaitu Indonesia,  Malaysia dan Brunai Darusaalam beberapa waktu yang lalu.

7. Dyah

Dare Pontianak atau Gadis Pontianak ini pengemar EXO dan Drama Korea. Jadi maklum kalau setiap melihat orang yang mirip Opa Korea,  dia tidak segan untuk berfoto bersama dan menirukan gaya-gaya khas Korea.

8. Ero

Design,  Video dan Foto. 3 hal ini yang tak lepas dari dirinya. Dalam setiap waktu,  kamera tidak lepas darinya. Bahkan momen-momen yang langka sekalipun dapat tertangkap olehnya. Video yang dibuatnya tak kalah indahnya, apalagi memang selama ini ia bergelut dengan pembuatan produksi wedding video sehingga sangat tahu angel mana yang sangat bagus.

9. Multi

Sesuai namanya,  Multi,  ia memiliki beberapa keahlian antara lain youtuber dan blogger. Video yang diunggah ke youtube tak jarang memiliki view lebih dari ribuan. Video yang diunggah sering mengambil sudut kota Singkawang sebagai kota asalnya.

10. Teguh

Fotogenik. Begitu kira-kira yang pertama kali saya lihat dalam dirinya. Dalam Instagram, parasnya sangat apik dan sangat menjiwai sebagai model. Namun kenyataanya sangat jauh berbeda,  ia tidak bisa diam dan selalu mengolah kata agar kami tidak lupa untuk tersenyum hari itu.


Sebagai bocoran,  kami memiliki waktu yang sangat panjang di Kota Kinabalu, Sabah. Tidak hanya darat saja, tapi kami akan menjelajahi lautnya karena disini terdapat Island Hoping seperti Manukan dan Sapi. Selain aktivitas laut seperti snorkling, kami juga melakukan Scuba Walk dan Coral Flyers Zipline. Sedangkan malamnya kami di ajak ke Mari-mari Cultural Village.


Besoknya, kami diajak ke Pasar Nabalu dengan view Gunung Kinabalu. Setelah itu kami ketemu dengan Sapi dan Kambing di cattle farm. Dan,  makan siang serta jalan-jalan di Kinabalu Park. Hari ketiga kami akan ke Medical Tourism di KJP Specialist dan Gleneagles.

Berikutnya kami mengunjungi Jesselton Medical Centre kemudian Rafting di Kota Belud dan Dinner di The Crab House. Besoknya kami diajak untuk makan siang di Imago Mall yang terkenal di KK,  Sabah.