Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Foto bersama Bupati Nagekeo Bapak Don, dan Dosen Pendamping Lapangan (DPL).


Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe. Jum'at, 6 September 2019, saya kembali memacu Onif Harem ke arah Barat Pulau Flores. Tujuan saya apalagi kalau bukan Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Alhamdulillah, cuaca sudah tidak seberapa dingin, dan pagi itu meskipun masih mampir di Aigela untuk menikmati jagung pulut rebus sekalian melemaskan otot kaki, haha, saya (ditemani Thika Pharmantara) tiba di lokasi lebih mula dari waktu kegiatan.

Baca Juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Memangnya, ada apa lagi di Desa Ngegedhawe? Kalau kalian sering membaca blog ini, pasti tahu bahwa saya ini si tukang liputnya UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Tujuan saya ke sana adalah meliput kegiatan peresmian rumah baca yang dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Ngegedhawe.

Rumah Baca Sao Moko Modhe


Saat tiba di dusun terluar dari Desa Ngegedhawe, mata saya menangkap sebuah rumah mini, nampak baru, dengan hiasan warna-warni, terletak di tanah lapang luas. Saya pastikan itu adalah rumah baca dimaksud setelah melihat mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang mengenakan kaos biru khas mereka. Perlu diketahui Rumah Baca Sao Moko Modhe dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Ngegedhawe atas proposal yang menerima dana  hibah Kemeristekdikti tahun 2019 (ada tiga proposal, tiga desa lokasi pengabdian, yang lolos mendapat dana hibah tersebut).


Menurut informasi yang saya peroleh tanah tempat dibangunnya rumah baca ini merupakan tanah lapang milik Pemerintah Desa Ngegedhawe. Boleh dikatakan ini merupakan tanah lapang serba guna tempat masyarakat desa melakukan aktivitas bersama selain di kantor desa mereka sendiri. Di tanah lapang ini sebelumnya sudah ada aula-tanpa-dinding dan lapangan voli. Sekarang sudah ditambah dengan rumah baca dan rencananya bakal dibangun lapangan futsal. Menurut saya pribadi, tanah lapang ini bakal jadi pusat kreativitas masyarakat Desa Ngegedhawe. Kenapa? Nanti akan saya jelaskan di bawah, hehe.


Saya tidak sempat menanyakan ukuran rumah baca, tapi kalau dilihat, ukurannya sekitar 4 x 8 meter. Kalau salah, maafkan. Dibagi sepertiga untuk ruangan tempat menyimpan rak buku serta buku-buku yang sementara sudah disiapkan oleh mahasiswa dan DPL. Sedangkan sisanya merupakan teras berdinding setengah yang dihiasi gantungan cantik hasil Do It Yourself (DIY) berbahan gelas plastik. Halamannya juga cukup luas, ditanami tanaman ini itu, serta dibangun sekitar empat permainan anak-anak yang juga hasil DIY. Jangan lupa, pagar dan gerbangnya juga keren. Kreatif!

Kembali ke dalam ruangan, selain rak buku dan buku-buku, juga nampak hiasan hasil DIY mahasiswa. Masih minim, tapi sudah sangat membantu masyarakat Desa Ngegedhawe khususnya anak-anak usia TK dan SD, serta orangtua. Orangtua? Iya, di sana ada juga buku-buku edukasi khusus misalnya untuk pertanian, spiritual, dan lain sebagainya.


Sementara itu yang juga sangat menarik perhatian saya adalah jalan masuk dari gerbang menuju rumah baca yang dibikin semacam setapak mini menggunakan bata merah. Lihat gambar di bawah ini:


Pada akhirnya saya bertemu tiga DPL yaitu Pak Gusty, Pak Usbat, dan Ibu Helen. Dari Pak Gusty saya mendapat informasi tentang arti dari moko modhe. Menurut Pak Gusty moko modhe berarti teman baik. Sehingga jika digabung dengan rumah baca maka Rumah Baca Sao Moko Modhe merupakan teman baik semua orang, siapapun, yang ingin lebih tahu tentang banyak hal, ingin lebih tahu tentang dunia, lewat aktivitas membaca buku. Ya, buku pun merupakan teman baik kita semua. Tidak pernah berkhianat si buku itu! Hehe.

Diresmikan Oleh Bupati (Keren) Bapak Don


Bupati Nagekeo, Bapak Johanes Don Bosco Do, yang juga seorang dokter, datang meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe. Gayanya santai dan gaul. Makanya saya menyebut beliau keren. Keren sekali malahan. Saya sering melihat bupati dikawal serta ditemani belasan bahkan puluhan orang yang sibuk ini itu sehingga terkesan masyarakat heh jauh-jauh sana jangan terlalu dekat! Tapi ini ... kok sepi? Aaah ternyata menurut teman-teman yang tinggal di Kota Mbay, Bapak Don memang tidak terlalu suka kawalan berlapis hahaha. Makanya suasana waktu itu sangat bersahabat. Bapak Don seperti kawan lama yang sowan begitu.


Bahkan, pihak Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Nagekeo tidak terlalu mempermasalahkan masyarakat yang ingin mengambil video dan foto. Semua punya hak yang sama, tidak ada yang bertindak: heh minggir! Hahaha. Saya takjub melihat Kabag Humas dan Protokol yang betul-betul menjalankan tugas beliau.



Dua foto di atas ... santai kan gaya Bapak Don?

Baca Juga: Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling

Dalam sambutannya, dengan sering menyelip istilah dan bahasa daerah Nagekeo, serta guyonan yang bikin masyarakat ngakak, Bapak Don menggunakan banyak analogi sederhana yang mudah dipahami. Selain menekankan bahwa rumah baca hanyalah pemicu sedangkan selanjutnya adalah tergeraknya hati masyarakat untuk memanfaatkan rumah baca tersebut, Bapak Don juga menyelip pesan tentang kearifan lokal yaitu penggunaan tas anyaman alih-alih menggunakan tas plastik sebagai media untuk membawa barang belanjaan.

Pesan lain yang disampaikan adalah tentang rumah tangga. Kalau membangun rumah tangga, atau setelah berumah tangga dan punya rumah, jangan mengutamakan membeli kasur pegas kalau fasilitas MCK serta bak air belum dibangun. Karena itu adalah dasar agar masyarakat hidup sejahtera.


Lagi, dari informasi yang saya dengar dari teman-teman yang tinggal di Kota Mbay seperti Noviea Azizah, Bapak Don kalau berkunjung ke desa itu tidak mau ada acara pengalungan selendang untuk penyambutan. Terus, masyarakat juga jangan sampai ada yang menyembelih hewan ternak untuk acara makan siang kegiatan kunjungan dimaksud. Makanya kemarin itu kami kudapannya sangat sederhana tapi kok bikin lidah ketagihan ya? Kopinya pun bikin Thika Pharmantara ketagihan. Haha. Ini dia kudapan kami saat acara diskusi santai:


Sungguh saya sangat beruntung dan bersyukur bisa bertemu langsung Bapak Don yang rendah hati dan ramah dengan semua orang. Terus bangun Nagekeo, Bapak! Saya sih ... hanya pengunjung yang sering menikmati keindahan Nagekeo dan bertugas menulisnya di blog. Hahaha.

Mengumpulkan Buku


Dari kegiatan di Rumah Baca Sao Moko Modhe tersebut di atas, resmi ya nulisnya hahaha, maka saya mengajak teman-teman semua untuk berpartisipasi dengan cara menyumbangkan buku untuk Rumah Baca Sao Moko Modhe. Bukunya tidak saja buku sekolah untuk anak usia TK dan SD tetapi juga buku cerita anak dan majalah untuk orangtua (apalagi kalau majalah Intisari begitu). Bisa dikumpulkan melalui saya, yang nanti bakal saya antar sendiri ke sana. Bisa juga diantarkan sendiri ke sana nanti bisa tanyakan kontak Sekdes Ngegedhawe pada saya. 


Sudah berapa buku yang terkumpul? Belum ada kalau di saya mah ... haha. Masih dalam tahap kampanye sana sini. Doakan semoga banyak buku yang bisa terkumpul ya! Amin!

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Salam literasi untuk kita semua.



Cheers.

Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe


Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe. Musim KKN 2019 sudah tiba. Artinya, saya yang biasanya bertugas sebagai Panitia KKN Seksi Publikasi dan Dokumentasi harus bersiap ke luar kota, ke daerah lokasi KKN, bahkan yang di luar Kabupaten Ende. Kali ini saya dan Anto Ngga'a dikoordinir oleh Kakak Rossa Budiarti, siap menjalankan tugas. Tahun lalu peserta KKN yang di luar daerah tidak diliput. Tapi tahun ini wajib diliput terutama tiga desa penerima dana hibah KKN-PPM dari Kemenristek Dikti. Keren kan? Untuk pertama kali proposal yang diajukan oleh P3KKN lolos!

Baca Juga: Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita

Ada tiga desa yang mendapat dana hibah PPM dan Kemenristek Dikti sesuai tiga proposal yang lolos diajukan oleh P3KKN. Tiga desa itu adalah Desa Nggedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Desa Anaraja di Kecamatan Nangapanda, Desa Wolofeo di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Sabtu kemarin, 27 Juli 2019, peserta KKN - PPM untuk Desa Ngegedhawe diberangkatkan.

Literasi Desa


Program utama di Desa Ngegedhawe adalah Literasi Desa yaitu pembangunan rumah baca: pembangunan, stok buku, dan pengelolaan. Sudah sering peserta KKN membangun rumah tinggal bagi penduduk desa yang kondisi rumahnya tidak layak huni lagi. Tapi rumah baca? Ini perdana dan seperti kata Kepala LP2M Uniflor saat acara pelepasan duapuluh peserta KKN-PPM di Desa Ngegedhawe, ini adalah pilot project! Pilot project itu memang kudu hati-hati, terutama yang bakal dimonitoring oleh L2Dikti, maksudnya adalah kesuksesan merupakan goal yang tidak bisa ditawar-tawar dengan kata 'setidaknya'. Tentu saja, Tuhan adalah penentu utama. Hehe.



Sekretaris Desa Ngegedhawe dan Ketua BPD Desa Ngegedhawe menyambut baik program pembangunan rumah baca ini. Ketua BPD misalnya, menurutnya rumah baca akan berdampak sangat positif pada anak-anak dan masyarakat desa. Salah seorang Dosen Penamping Lapangan (DPL) yaitu Pak Gusty Dadi mengatakan bahwa meskipun zaman sekarang banyak informasi yang bisa dibaca melalui lini digital (internet di telepon genggam) namun membaca buku sebenarnya merupakan salah satu cara untuk memajukan sebuah peradaban. Saya suka sekali kalimat ini. 


Yang tidak saya duga adalah penyambutan yang luar biasa dari Sekdes dan jajarannya, semacam suatu harapan yang kemudian menjadi nyata. Baru saya tahu, tahun 2019 merupakan tahun kedua peserta KKN Uniflor ditempatkan di desa tersebut. Tentu, masih banyak harapan yang ingin diwujudkan oleh masyarakat Desa Ngegedhawe bersama peserta KKN yang ditempatkan di desa tersebut. Semoga.

Rumah Baca Harus Lebih Banyak Dibangun


Di Kota Ende, paling terakhir saya mengenal Rumah Baca Sukacita yang haru saja merayakan Hari Literasi Sukacita.


Saya diminta bercerita tentang dunia jurnalistik dan dunia blogger. Adalah kesenangan tersendiri jika bisa berbagi tentang kebiasaan-kebiasaan baik yaitu membaca dan menulis. Anak muda, sejak usia dini, memang harus ditanamkan nilai-nilai membaca dan menulis.

Rumah baca memang sudah seharusnya lebih banyak dibangun, sebagai tempat yang mengakomodir minat baca anak-anak bahkan orang dewasa. Apabila rumah baca memang ditujukan untuk suatu komunitas yang tidak memandang usia, maka tentu buku-buku yang disediakan pun harus beragam, untuk semua usia. Tetapi saya berpikir ada baiknya rumah baca dimulai dari kelas anak-anak terlebih dahulu, orang dewasa bisa menyusul. Karena anak-anak tidak saja membutuhkan buku tetapi juga bimbingan dari para pendamping atau kakak-kakak pengelola rumah baca.

Rumah baca dan pengelola adalah satu kesatuan. Bayangkan saja begini ... lima bocah balita dihadapkan pada sebuah granat. Apa yang akan mereka lakukan? Bisa saja diabaikan. Bisa saja salah seorang bocah balita menarik pemicu dan tamatlah riwayat orang-orang dalam radius ledakan. Tetapi, jika lima bocah balita itu dibimbing oleh orang dewasa yang waras dan bertanggungjawab, maka dia akan menjelaskan bahwa granat adalah benda yang harus dijauhi sejauh-jauhnya oleh anak-anak. Sama juga dengan buku. Pembimbing/pengelola merupakan mata angin yang akan mengarahkan dengan benar anak-anak tentang isi buku yang dibaca.

⇜⇝

Bagi saya pribadi, Literasi Desa merupakan program keren yang harus didukung oleh kita semua, tidak memandang orang tersebut merupakan bagian dari KKN-PPM Uniflor atau tidak. Karena literasi sangat dibutuhkan pada zaman sekarang ini, di tengah dunia digital yang serba praktis, di tengah dunia yangmana anak-anak lebih suka bermain tiktok ketimbang membaca dan menulis. Semoga harapan-harapan baik dapat terwujud. Amin.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup Dalam Tubuh Masyarakat

Bagaimana dengan di daerah kalian, kawan? Adakah rumah baca yang sungguh-sungguh dikelola? Bagi tahu yuk di ... di mana-mana hatiku senang ... hehe. Di komen, tentu saja!



Cheers.