Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat



Kalian pasti tahu matrix glitch, tapi apakah kalian mempercayainya? Dari yang saya baca tentang matrix glitch ini, sederhananya, matrix glitch adalah kondisi terhubungnya benang merah dengan cara tidak terduga atau tanpa disadari. Contohnya saat kalian pergi ke suatu acara, ada enam perempuan memakai gaun yang sama, dan keenamnya tidak pernah janjian untuk memakai gaun yang sama (warna, corak, model). Bisa jadi enam perempuan itu sahabatan, bisa juga mereka bahkan tidak saling kenal. Itu matrix glitch.

Baca Juga: The Mentalist

Matrix glitch juga bisa diistilahkan pada suatu keadaan kebetulan yang menyambung atau menghubungkan beberapa hal sekaligus. Dan, baru-baru ini saya mengalami matrix glitch.

The Story Behind The Book


29 Januari 2019 saya mengepos di Facebook sebuah buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Foto buku ini dikirim oleh Stanis More, yang waktu ke Jakarta cuma sempat memotret si buku dan menunggu konfirmasi saya apakah mau atau tidak sementara saya sendiri KETIDURAN sehingga tidak membalas pesan WA si Stanis, dan akhirnya Stanis pulang ke Ende tanpa membawa si buku. Huhuhu. Okay, saya mengeposnya di Facebook ditambah tulisan yang hampir sama dengan yang kalian baca barusan. Ini dia penampakan bukunya: 


Yang tidak saya sangka adalah, sahabat saya Ferdinandus Setu, sahabat masa SMP saya yang saat ini menjabat Plt. Kepala Biro Humas Kementrian Komunikasi dan Informasi RI, menyambar alias langsung mengomentari status Facebook tersebut. Anyhoo, iya, wajahnya sering wara-wiri di televisi untuk diwawancarai terkait isu-isu tentang hoax dan lain sebagainya.



Haha. Betul, kawan! Saya menunggunya di bandara, dan kisah matrix glitch kami ternyata panjang. Luar biasa ...


Ini matrix glitch banget, karena saya dan Pak Advent sama-sama menjadi anggota panitia Tim Promosi Uniflor 2019!

About The Book


Saya belum tamat membacanya. 

GUBRAK!!!!

Tapi jangan kuatir, saya bisa kok menulis sedikit ulasan tentang buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karena sudah membaca puluhan halaman-halaman pertama. Lumayan, sambil mengisi waktu di kantor kalau lagi menunggu anggota meeting lainnya, dan menyeruput kopi susu, hehe. Sungguh, saya suka sekali kata 'bodo amat' untuk dipakai pada situasi tertentu, hihi. Maafkan. 

Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, dengan tagline Pendekatan Yang Waras Demi Menjalani Hidup Yang Baik, yang ditulis oleh Mark Manson. Berwarna oranye, kenapa bukan kuning ya, dengan tulisan besar-besar berwarna hitam. Banyak kalimat menarik dan quotes yang patut digarisbawahi di dalam buku ini, yang bahkan sudah digarisbawahi oleh si pemilik pertama yaitu Ferdin. Salah satunya adalah yang tertera pada halaman 19 Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan.

Pada rangkaian awal paragraf demi paragraf buku ini saya jadi paham bahwa kadang kita selalu meributkan hal-hal sepele yang menyita waktu dan tenaga padahal hal-hal itu sebenarnya bisa saja kita maafkan. Halaman 21 menegaskannya: Jadi menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan Anda, mungkin menjadi cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga Anda. Karena jika Anda tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian Anda akan tercurah untuk hal-hal yang tanpa makna.

Baca Juga: Buku Saku: Ende

Mark Manson 'mengajarkan' kita untuk tidak menjadi pribadi yang lebih baik melainkan menjadi pribadi yang 'tahu tentang diri sendiri' dan mengenyampingkan apa-apa yang sebenarnya tidak penting dalam hidup kita. Coba pikirkan lagi, kesulitan terbesar di atas kesulitan yang kita pikir sudah cukup sulit.

Tentu saya harus membacanya sampai selesai untuk bisa menulis lanjutan review dari buku ini. Tapi tidak sekarang ... karena Senin nanti saya harus berangkat ke kabupaten tentangga untuk melaksanakan tugas kantor haha. Cihuy! Bakal banyak cerita kelak :D

Selamat berakhir pekan, kawan.


Cheers.

The Mentalist



Kalau kalian membaca pos tentang 5 Keseruan Tinggal di Motorhome, sedikit tidaknya sudah tahu tentang serial televisi yang satu ini. Sudah lama saya menonton The Mentalist, waktu itu masih menonton televisi yang kisahnya bisa kalian baca di pos tentang 5 Manfaat Tidak Menonton Televisi, di channel Fox atau Fox Crime. Saya lupa channel-nya karena sudah lama sekali. Saya memang tergila-gila pada serial-serial kriminal seperti Castle, Law & Order, Law & Order: Criminal Intent, Law & Order: Special Victims Unit, Criminal Minds, CSI dan fransaisnya, NCIS, Quantico, Sherlock, Hawaii Five-O, dan lain sebagainya. Jauh sebelum itu pun TVRI sudah bikin saya terpesona pada serial kriminal seperti Hunter, Remington Steele, dan yang paling fenomenal Twin Peaks.

Baca Juga: Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan

Gara-gara Hooq, saya kembali menonton The Mentalist secara semua season (dulu saya menulis session loh) lengkap tersaji. Senangnya hatiku hilang panas demamku karena bisa melanjutkan kisah si Patrick Jane dalam membantu para agen California Bureau of Investigation (CBI) yang berpusat di Sacramento. Bagi kalian yang belum pernah menonton The Mentalist dan memang ingin mencari hiburan serial kriminal, silahkan tonton dan rasakan sensasi yang berbeda dari serial kriminal lainnya.

Mari mengulas The Mentalist.

The Mentalist


The Mentalist merupakan serial kriminal yang menceritakan tentang tugas para agen di CBI yang kantor pusatnya di Sacramento dalam memecahkan kasus-kasus pembunuhan. Dalam menjalankan tugas, satuan agen (karena di CBI ini banyak satuan agen) yang dipimpin oleh Teresa Lisbon dibantu oleh Patrick Jane, seorang lelaki yang mengalami trauma berat karena isteri dan anaknya dibunuh secara brutal dan lantas terobsesi pada si pembunuh berantai bernama Red John tersebut.

Tokoh The Mentalist


The Mentalist diperankan oleh banyak aktor dan aktris karena kadang terjadi pergantian tokoh tertentu dan/atau karena si tokoh meninggal dunia. Tapi di sini saya hanya akan membahas tentang tokoh-tokoh sentral-nya saja. Dan seterusnya saya akan menulis nama family mereka.

Semua gambar tokoh ini diambil dari Wikipedia.


1. Teresa Lisbon

Teresa Lisbon merupakan agen sekaligus kepala satuan agennya. Karakter ini diperankan oleh Robin Tunney. Sebagai kepala satuan dia harus bisa bersikap adil pada semua agen-agennya termasuk pada konsultan yaitu Jane. Tantangan terberat Lisbon adalah bagaimana bisa 'mendisiplinkan' Jane yang kadang bikin para atasan kesal to the max.

2. Kimball Cho

Karakter Kimball Cho diperankan oleh mantan pacar saya Tim Kang. Waktu Cho punya pasangan yaitu inforwoman-nya sendiri yang syukurnya kemudian mereka putus, saya sampai tidak bisa tidur karena cemburu. Haha. Dia termasuk agen yang sedikit bicara, banyak kerja. Jangan pernah menanyakan pendapatnya karena dia punya jawaban favorit: ya atau tidak.

3. Wayne Rigsby

Meskipun sudah tahu Cho bakal jawab seperlunya saja, Rigsby paling doyan curhat sama sohibnya ini, terutama soal hubungan asmaranya baik dengan Van Pelt maupun dengan ibu dari puteranya Sarah Harrigan. Oh ya, Rigsby punya anak memang dari Harrigan, tapi kemudian dia justru menikahi Van Pelt, perempuan yang sangat dicintainya sejak pertama bertemu di CBI. Rigsby diperankan oleh Owain Yeoman.

4. Grace Van Pelt

Tinggi, cantik, pintar, kerjaannya selain di lapangan juga di bidang komputer dan jaringan. Gara-gara aturan lama yaitu sesama agen dilarang saling mendahului, eh sesama agen dilarang punya hubungan asmara, Van Pelt dan Rigsby pun putus. Gara-gara itu, Van Pelt pacaran sama agen FBI bernama Craig O'Laughlin yang ternyata kaki-tangannya Red John.

5. Patrick Jane

Ini dia tokoh paling menyebalkan sekaligus paling brilian. Jane adalah cenayang-palsu yang mencari uang lewat acara-acara tentang cenayang, padahal sesungguhnya dia hanya menggunakan kesempatan, momen, dan ketelitian dalam memerhatikan sesuatu. Menjadi masalah ketika di televisi dia semacam menantang Red John, si pembunuh berantai. Pulang ke rumah, isteri dan anak Jane tewas dibunuh oleh Red John. Bagaimana dia tahu? Karena di dinding kamar itu ada wajah senyum yang digambar menggunakan darah. Ciri khas Red John. Van Pelt diperankan oleh Amanda Righetti.

Garis Besar


Ada tujuh season The Mentalist. Pada masing-masing season, setiap episodenya menampilkan kasus demi kasus pembunuhan. Sebagai pengenalan, pada season pertama, kasus pembunuhan isteri dan anak Jane (oleh Red John) menyebabkan lelaki itu menghilang selama setahun, lantas mendadak muncul di kantor CBI untuk menanyakan proses penyelidikannya. Karena mengganggu, dengan penampilan awut-awutan dan selalu bertanya, Lisbon diminta untuk 'mengurusi' Jane. Jane pun diajak menuju lokasi pembunuhan yang sedang ditangani. Kasus ini, boleh dibilang kasus pertama Jane, dipecahkan dengan sangat mudah oleh Jane. Caranya melihat posisi korban, mencium aroma, mempelajari pakaian dan asesoris korban, sampai menyusun skenario kejadian, sungguh di luar pola kerja para agen.

Jane kemudian menerima kotak berkas kasus Red John atas kematian isteri dan anaknya, diberi sebuah meja menghadap jendela besar, untuk membaca berkas-berkasnya. Sampai gedung CBI kemudian direnovasi, area itu kemudian menjadi ruang kantor khusus untuk Jane dengan ciri khas jendela besarnya itu.

Ya, betul ... Jane lantas menjadi konsultan CBI. 

Meskipun setiap episode dari masing-masing season menampilkan begitu banyak kasus pembunuhan, namun Jane tidak pernah lupa pada berkas-berkas Red John tersebut. Inilah hebatnya The Mentalist, ada benang merah yang menghubungkan season satu sampai tujuh. Siapa Red John? Sudah terungkap di season enam. 

Benang Merah


Red John adalah benang merah The Mentalist. Red John; seorang pembunuh berantai yang selalu selangkah di depan Jane, punya sumber daya tidak terbatas, dan punya kaki-tangan yang loyal. Kaki-tangannya yang terakhir yang paling saya ingat adalah Lorelei Martins, yang sempat dekat dengan Jane, namun kemudian dibunuh juga oleh Red John dengan meninggalkan trade mark-nya yaitu senyum berdarah.

Membongkar kedok Red John sama dengan membongkar sindikat (wuih) penegak hukum korup di California; yang anggotanya mulai dari sherrif di desa sampai anggota CBI, FBI, jaksa, hakim, dan sebagainya. Red John sendiri ternyata seorang (semacam) sherrif yang sudah lama dicurigai baik oleh Lisbon maupun oleh Jane. Tapi mereka sering terkecoh. Hanya saja saya masih kurang sreg tentang penentuan tokoh yang ternyata adalah Red John ini, dan saya kurang suka titik tamatnya Red John. Selebihnya ... Ini serial cerdas.

Baca Juga: Don't Breathe

Seru ya menulis tentang The Mentalist. Setelah sekian lama hahaha. Saya pikir kalau kalian mau menontonnya, bagi yang belum menonton, itu bagus haha. Kita bisa diskusi bersama hehe.

Selamat berakhir pekan, kawan.


Cheers.

Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan


Saya tidak bisa mengingat sejak kapan kami sahabatan. Sudah lama saling kenal, just say hi, kemudian mulai dekat dan bersahabat. Suka, duka, haha, hihi, kadang di kafe, seringnya di Pohon Tua. Bagi saya dia adalah perempuan hebat, penyiar kece, MC kesohor, isteri dan ibu yang luar biasa. Dan ketika Natal 2018 kemarin dia mendapat kesempatan merayakan Hari Raya Natal di Vatikan, bahkan diberi kesempatan mencium tangan Sri Paus, saya hanya bisa bilang: bangga saya sama kau, Des.

Baca Juga: Don't Breathe

Saya lalu berpikir, ini berita luar biasa, sayang jika tidak diviralkan. Saya lantas menulis di Facebook sebagai berikut:


Natalia Desiyanti merupakan salah seorang jurnalis Radio Republik Indonesia (RRI) asal Kabupaten Ende. Selain suaranya dikenal lewat udara dalam frekuensi siar Pro 1 RRI Ende, Natalia Desiyanti yang sehari-hari disapa Desy, juga dikenal sebagai MC kesohor Kabupaten Ende dengan jam terbang tinggi. Perayaan Hari Raya Natal, 25 Desember 2018, merupakan momen berharga yang tidak akan terlupakan oleh wanita yang bersuamikan Jerro Larantukan dengan putera-puteri Dimitri, Queenza, dan Gavriel. Desy merupakan satu-satunya jurnalis RRI yang lolos seleksi reporter yang diselenggarakan oleh RRI dan berkesempatan meliput perayaan Hari Raya Natal di Vatikan. Ini adalah mimpi semua Umat Katolik untuk bisa merayakan Hari Raya Natal langsung di pusat Gereja Katolik seluruh dunia.


Prestasi yang diraih Desy sebagai satu-satunya yang terpilih dari seleksi ribuan angkasawan dan angkasawati seluruh Indonesia ini masih menghadirkan rasa tidak percaya dalam hatinya. Ia yakin berkat Tuhan yang berlimpah serta potensi diri telah mengantarnya pada pengalaman rohani ini. Bukan cerita baru lagi jika masyarakat Indonesia Timur sering dipandang (serta, kadang memandang diri sendiri) sebelah mata. Kalah sebelum bertempur bukan sifatnya, sehingga Desy optimis dapat bersaing dan berkiprah di kancah nasional dan internasional. Ia melawan pesimisme dari lingkungan sekitar dengan karya dan prestasi yang bertahap dibangun dari fondasi hingga puncak. Oleh karena itu, kesempatan emas yang merupakan kepercayaan lembaga tempatnya berkarya harus dijalani dengan penuh tanggung jawab, sekaligus sebagai pembuktian bahwa potensi Indonesia Timur mampu berkiprah di tingkat Internasional.

Rentang waktu 1 minggu bertugas di Vatikan, Desy tinggal di Rumah SVD bersama para Imam SVD. Di Rumah SVD itu selain bersama para tamu wisatawan rohani lainnya dari beberapa negara di dunia, juga bersama Orang Indonesia Pertama Asal NTT, yang menjadi superior general ke 12 serikat sabda allah (SVD) Pater Paul Budi Kleden, SVD, Pater Markus Solo Kewuta yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Relasi Lintas Agama Asia Pasifik di Vatikan, dan beberapa pastor asal NTT lainnya. Selama menjalankan tugas jurnalistik pun, Desy didampingi Romo Leo Mali, yang juga berasal dari NTT yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan Doktor nya di Roma Italia. Hal inilah yang membuatnya semakin bangga menjadi Orang NTT sekaligus menjadi motivasi bagi Orang NTT lainnya untuk melakukan karya terbaik di bidangnya masing-masing.


Selama berada di Italia, Desy mengaku mengalami kendala antara lain penyesuaian suhu karena di Italia sedang musim dingin, penyesuaian menu makanan Italia, serta perbedaan waktu (7 jam) antara Italia dan Indonesia dimana waktu bekerja di Italia biasanya menjadi waktu istirahatnya di Indonesia, demikian pula sebaliknya waktu istirahat di Italia biasanya menjadi waktu bekerjanya di Indonesia. Namun kendala-kendala kecil itu lekas teratasi pada hari kedua tugasnya di sana.

Kembali ke Indonesia, ke Kota Ende, Desy dengan senang hati bercerita tentang pengalamannya bertugas di Vatikan kepada siapapun yang bertanya. Baginya, bercerita pengalaman bertemu orang-orang hebat asal NTT, mewawancarai Duta Besar RI untuk Tahkta Suci Vatikan, singgah ke tempat-tempat bersejarah di Roma dan di Vatikan, mengelilingi Basilika St. Petrus, dan menjadi satu-satunya jurnalis Indonesia yang diberi kesempatan beraudiensi dengan Sri Paus, merupakan kebanggaan serta dapat menjadi motivasi bagi siapapun untuk terus berusaha dan menjejakkan prestasi.

Terakhir, Desy berharap semoga pengalamannya dapat menjadi daya ungkit kepercayaan diri bagi sesama, bahwa tidak ada yang tidak mungkin , jika kita berusaha sungguh dalam nama Tuhan.

***

Ketika saya menulis ini, apalagi mengaku bahwa Desy adalah salah seorang sahabat saya, mungkin banyak yang mencibir.


Namun, sebagai seorang sahabat, apalah yang bisa saya lakukan selain menulis ini. Apabila Indonesia punya Good News From Indonesia, kenapa kita tidak punya Good News From Ende? Kabar baik harus diviralkan karena sesungguhnya saya bosan pada tsunami kebohongan yang menghantam negara ini.

Salam.


Pos/status di Facebook tersebut disukai 600-an Facebooker, dan masih terus bertamah. Tentu pos di Facebook tidak bisa menyelipkan foto seperti yang saya edit pada pos di blog ini. Di Facebook, pos tersebut hanya sebagai keterangan dari beberapa foto yang juga saya unggah.

Baca Juga: Sastra Indonesia di NTT dalam Kritik dan Esay

Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya bangga padanya. Bersahabat dengannya menambah aura positif dalam hidup saya. Kami saling berbagi informasi, berbagi kesenangan, dan berbagi rejeki hahaha. 


Betul, seperti yang Dessy katakan sendiri bahwa perjalanannya ke Vatikan ini dapat menjadi daya ungkit bagi kita semua. Prestasi setiap orang beda-beda, tujuan tertinggi Insha Allah semua ingin meraihnya, yang perlu dilakukan adalah tetap optimis, tetap berusaha, dan tentu saja tetap berdo'a memohon ridho-Nya. 

Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua :)



Cheers.

Don’t Breathe

Gambar diambil dari Wikipedia.


Mengapa Hooq masih menyegel Don't Breathe? Pertanyaan ini terus bergema di kepala saya serta dalam kehidupan sehari-hari dinosaurus sejak keinginan menontonnya terhalang simbol gembok. Huhuhu. Sekitar dua tahun menggauli Hooq hingga sekarang menulis ini, filem itu masih saja TERGEMBOK, pemirsa! Padahal itu filem lama! Tidak tahukah kau, wahai Hooq, saya rela meninggalkan Viu demi dirimu?


Apa salah dan dosa saya ... hiks *timpuk dinosaurus pakai permen*

Baca Juga: Buku Saku: Ende

Kalau belum nonton, kenapa pula hari ini menulis tentang Don't Breathe? Karena ada trailer-nya alias promosinya. Jadi nih, Hooq tidak kejam-kejam amat, karena masih menyediakan trailer untuk para penikmat filemnya. Bagi kalian yang belum nonton Venom, jangan kuatir, sudah ada trailer-nya juga di Hooq. Haha. Gini hari nonton trailer doank, Teh ... dududu. Apa kata dunia.

Tapi tak apalah.

Behind Don't Breathe


Don't Breathe merupakan filem horror thriller Amerika yang dirilis tahun 2016 dan disutradarai oleh Fede Alvarez. Filem menegangkan ini diproduseri oleh Fede Alvarez, Sam Raimi, dan Robert Tapert. Naskah filem yang ditulis oleh Fede Alvarez dan Rodo Sayagues ini dibintangi oleh Jane Levy, Dylan Minnette, Daniel Zovatto, and Stephen Lang. Saya memang jarang mendengar atau membaca nama-nama itu tapi akting mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Karena belum tentu saya bisa berakting sebagus mereka.

About Don't Breathe


Don't Breathe bercerita tentang Rocky, Alex, dan Money (yess, thankyou Wikipedia) yang adalah penjahat di Detroit. Pekerjaan mereka membobol rumah-rumah yang diamankan oleh perusahaan keamanan ayah si Alex dan menjual barang-barang curian tersebut. Mereka kemudian mendengar kabar bahwa ada seorang veteran perang Pasukan Khusus Angkatan Darat AS yang tinggal di lingkungan Detroit yang terabaikan (semacam lingkungan perumahan yang tidak dihuni begitu) memiliki uang 300.000 Dollar di rumahnya. Uang itu diterima si veteran sebagai penyelesaian setelah seorang perempuan muda yang kaya bernama Cindy Roberts membunuh puterinya dalam kecelakaan mobil. Si veteran perang adalah seorang laki-laki buta karena ledakan selama perang.

Berpikir mencuri di rumah orang yang buta: pasti mudah. Tinggal masuk, mengambil uangnya, terus kabur. Ternyata tidak semudah itu, bahkan nyawa mereka menjadi taruhannya, karena si veteran ini 'melihat' segala sesuatunya melalui suara. Indera pendengarannya sangat terlatih. 


Bahaya!

Maksud hati mencuri uang 300.000 Dollar si Money justru duluan meregang nyawa. Keributan yang terdengar akibat upaya mereka bertiga masuk paksa ke rumah itu membikin si buta dari gua hantu bangun dan mencium aroma pembobolan. Siapapun yang masuk ke rumah itu tanpa permisi, sudah pasti tidak berniat baik bukan? Veteran perang yang buta itu ternyata punya kemampuan yang luar biasa; Rocky dan Alex kemudian harus menyelamatkan diri berhadapan dengan si jagoan yang bahkan dapat mendengar dengus nafas mereka dari jarak lumayan jauh.

Menonton trailer-nya saja sudah bikin saya menahan nafas saking menegangkannya filem ini.

Karena trailer tidak lengkap maka saya mencari referensi tentang filem ini di Wikipedia. Ternyata di ruang bawah tanah rumah itu tersekap perempuan yang secara tidak sengaja membunuh anak si veteran dalam kecelakaan. Ya, Cindy Roberts! Penemuan harta karun Cindy diketahui Rocky dan Alex saat mereka terjebak di ruangan bawah tanah.

Baca Juga: Ngelawak Bersama Mamatua

Saya berharap suatu saat nanti dapat menonton Don't Breathe (full movie). 

Menonton trailer Don't Breathe membikin saya teringat pada A Quite Place yang saya tulis: ribut berarti mati. Saya pikir filem-filem setipe ini jauh lebih menakutkan ketimbang filem yang secara terang-benderang menampilkan wajah setan dan sebangsanya. Kalau kalian pernah menonton filem berjudul Exorcism of Emily Rose, kalian pasti merasakan tensi yang sama dengan Don't Breathe dan A Quite Place. Tidak perlu si setan ikut masuk dalam frame haha.

Bagi kalian yang pernah menonton Don't Breathe atau bahkan pernah mengulasnya, bagi tahu donk di komen :) siapa tahu pengalaman menonton kita berbeda ... yaaaa secara saya baru nonton trailer-nya saja.

Selamat berakhir pekan, kawan :)



Cheers.

Buku Saku: Ende



Saya menyebutnya buku saku Ende. Sebuah buku mini berisi informasi tentang atraksi wisata di Kabupaten Ende serta budaya dan masyarakatnya. Buku ini diberikan oleh teman siaran Iwan Aditya yang bekerja di Swisscontact. Jadi kangen sama Iwan. Teringat masa-masa siaran dulu, terutama saat bibir dan otak Iwan jarang kompak, sampai-sampai saya dan Yoyok bilang begini, "Wan, orang itu yang typo jari, bukan bibir."

Haha!

Baca Juga: Corn Island

Flores Pocket Book for Tour Guides ENDE (FPBFTG ENDE). Demikian yang tertulis di sampul mukanya dengan gambar latar salah satu danau dari Danau Kelimutu dan dua orang wisatawan. Buku ini diterbitkan oleh DMO Flores dan didukung oleh HPI DPC Kabupaten Ende & Swisscontact WISATA (Copy Right) DMO Flores. Beberapa logo terpeta di buku ini diantaranya Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Wonderful Indonesia, Swisscontact, dan HPI. Anyhoo, sebelum lanjut, sekadar informasi saja bahwa Danau Kelimutu kini telah berubah warna lagi. Sayang saya belum sempat ke sana untuk sekadar ... selfie(?) haha.

Ada dua informasi utama di dalam FPBFTG ENDE. Yang pertama informasi tentang Pulau Flores. Yang kedua informasi tentang Ende.

Meskipun kecil namun FPBFTG ENDE sarat informasi. Informasi tentang Pulau Flores tidak saja memuat Letak dan Kondisi Geografis, Iklim, Flora dan Fauna, Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan, hingga kabupaten-kabupaten di Pulau Flores saja. Menggali lebih dalam, terdapat penjelasan tentang Sirih Pinang atau disebut Chewing Betel Nut

Wanita tua Flores biasanya mempersiapkan sirih saat mengobrol dengan teman-temannya. Kebiasaan ini sudah dikenal selama 2000 tahun, dan juga dikenal di bagian lain di Asia Tenggara seperti di Malaysia, Myanmar, India, Vietnam, Bhutan, Thailand, Papua Nugini dan Afrika Timur. Hal ini terutama terlihat di daerah pedesaan. Tiga bahan dasarnya antara lain sirih (Piper Betel Linn), dimana orang menggunakan buah dan daunnya, pinang (Areca Catechu Linn) dan kapur yang didapat dari batu kapur, kerang atau karang. Kapur juga dapat membuat gigi menjadi merah dan jika seseorang terlalu banyak menggunakannya, ini akan berakibat buruk pada gigi.

Bagi yang tidak terbiasa, jangan dipaksakan. Saya pernah mencoba sekali untuk mengunyah sirih ini, tetapi tidak kuat dan mabok *senyum nista*. Gara-gara mabok menyirih itu saya tidak berani mengulang percobaan itu. Mungkin suatu saat kalau sudah siap mabok lagi.

Bagaimana dengan informasi tentang Ende?

Diisi dengan lima poin penting yaitu:

1. About Ende.
2. Tourist Attraction.
3. Culture in Ende.
4. Useful Phrase.
5. Peta Flores dan Ende.

Kalau tentang atraksi wisatanya saya pikir kalian juga sudah tahu. Beberapa bisa dibaca di Blog Travel saya yang satu ini. Diantaranya Danau Kelimutu, Kampung Adat Wologai, Kampung Adat Nggela, Air Panas Liasembe, Air Terjun Murundao, Mata Air Panas Ae Oka Detusoko, Pantai Penggajawa, Pantai Enabhara, dan lain sebagainya. Di FPBFTG ENDE tidak tercantum atraksi wisata buatan.

Dua poin yang paling menarik minat saya dari lima poin di atas adalah tentang Culture in Ende dan Peta. Pada sub Budaya di Ende saya menggarisbawahi dua kalimat yang digunakan oleh Suku Lio (suku lainnya bernama Suku Ende) untuk kebesaran dan keagungan Tuhan:

Du'a Gheta Lulu Wula, Kai Eo Mbe'o Mera Gheta Longgo Leja.
(Tuhan di balik bulan, Dialah yang menatap di balik matahari).

dan

Ngga'e Ghale Wena Tana, Kai Eo Bewa Sa Ela Meta.
(Tuhan adalah penguasa bumi, Dialah pencipta alam semesta).

Baca Juga: Ngelawak Bersama Mamatua

Sedangkan pada sub Seni Bahasa, saya sangat tertarik dengan ulasan-ulasan tentang Sara Waga, Sua seru, Bhea, Sodha, Sua Sasa. Selama ini saya hanya pernah mendengar orang-orang ber-sodha dan sua sasa saja (lisan). Tidak menyangka bahwa puisi dalam bahasa Lio disebut sara waga dan sua seru itu. Mungkin kalian bakal bilang, masa iya Orang Ende tapi tidak paham betul tentang seni bahasa dari Suku Lio? Maklum, saya kan Suku Ende campuran ha ha ha. Bahasa Ende saja masih harus terus saya pelajari ... soalnya sejak lahir sampai sebesar dinosaurus komunikasi di dalam rumah selalu menggunakan Bahasa Indonesia.

Menurut saya, buku FPBFTG ENDE boleh dimilliki oleh siapa pun yang hendak berkunjung ke Pulau Flores dan Kabupaten Ende karena di dalamnya memuat hampir semua informasi yang dibutuhkan oleh para wisatawan. Saya pikir itu cukup, karena informasi tambahan bisa ditanyakan langsung ke agen perjalanan yang dipakai, teman yang tinggal di Pulau Flores dan Kabupaten Ende, atau penduduk setempat. Ingat, malu bertanya sesat di jalan, malu menjawab sesatkan orang lain.

Di mana bisa membeli FPBFTG ENDE? Entahlah. Saya memperolehnya dari Iwan. Saya tidak tahu apakah buku ini dijual bebas di toko buku atau tidak. Secara toko buku Gramedia juga jauh dari Kota Ende ... haha ... jadi silahkan coba cari sendiri kalau sempat main ke toko buku.

Baca Juga: Travel Writer

Demikian ... semoga bermanfaat.

Oia, dan karena liburan telah usai, tidak ada kalimat yang lebih indah selain: selamat kembali ke belantara rutinitas, kawan!



Cheers.

The Nun



Indra:
Encim, sudah nonton tenun?

Saya:
Hah? Tenun apa? Tenun ikat?

Thika:
*bekap mulut, ngikik*

Sepersekian detik saya tersadar bahwa sedang dikerjain kakak-beradik itu. Ebusyet, kualat tahuuuu ngerjain Presiden Negara Kuning. Huh. Dengan kekuatan meteor saya kutuk kalian jadi penduduk Negara Kuning yang senantiasa bahagia!

Ini nih tenun:



Baca Juga: Blogger Perempuan

The Nun. Mungkin kalian sudah menonton filem horor yang satu itu. Saya ... saya juga sudah sih ... tapi terlambat. Kalian kan tahu bahwa di Kota Ende tidak berdiri satu pun bioskop setelah Bioskop Flores ditutup pada akhir 90-an. Yang ada sekarang Bi Oskop, penjual kacang goreng sepuluh rebuan di trotoar Lapangan Pancasila. Ngarang, namanya bukan Oskop, haha. Atau Bibi cantik pemilik kios di depan jalan Kampus II Universitas Flores. Atau bi-dadari pemilik blog yang sedang kalian baca ini. Dududu.

Nonton The Nun, malam Jum'at, kebayang horornya kayak apa. Bahkan saya minta si Thika menemani. Dibalas dengan anggukan tidak ikhlas. Thika memang temani saya nonton The Nun ... dari ruang tamu. Dia sibuk bermain Mobile Legend. NggaE Dewa, kelakuan keponakan saya kenapa begini ...

Bagaimana soal The Nun?

Tulak vs Valak.

THE NUN


Dari Wikipedia, The Nun adalah sebuah filem horor supernatural gotik Amerika yang disutradarai oleh Corin Hardy dan ditulis oleh Gary Dauberman, dari sebuah cerita oleh Dauberman dan James Wan. Filem ini dirilis di Amerika Serikat pada tanggal 7 September 2018 oleh Warner Bros Pictures. 

The Nun merupakan prekuel dari The Conjuring 2 yang telah lebih dulu menampilkan Valak dalam balutan pakaian suster (nun). 

Bagi saya, nun selalu mengingatkan saya pada abjad Arab. Hehe. 

ALUR: KRONOLOGIS DAN FLASHBACK


The Nun dimulai dengan adegan dua biarawati yang hidup di Carta Monastery yang diserang kekuatan dari entitas yang (awalnya) tidak terlihat. Biarawati terakhir, Suster Victoria, melarikan diri dari setan yang berwujud biarawati. Suster Victoria lantas menggantung dirinya sendiri. Tubuhnya yang sudah mati akibat meloncat dari lantai atas bangunan sambil mengikat leher dengan tali kemudian ditemukan oleh Frenchie. Frenchie ini warga desa terdekat yang bertugas mengantarkan persediaan untuk para biarawati di situ beberapa bulan sekali.

Vatikan mengutus Pastor Burke dan Suster Irene, yang saat itu belum mengambil sumpahnya, pergi ke Rumania untuk menyelidiki situasi tersebut. Frenchie menunjuk ruangan tempat dia meninggalkan jasad Suster Victoria tapi ada yang aneh karena pada saat ditinggalkan posisi tubuhnya adalah tidur, bukan dalam posisi duduk. Siapakah yang mengubah posisi Suster Victoria? Profesor Snape ... mungkin.


Dari jasad suster ini mereka menyelamatkan sebuah kunci.

Beranjak ke biara, di sana mereka bertemu seorang suster kepala atau disebut Abdis yang berselubung kain hitam. Sumpah, pada bagian ini saya terus melotot ke kursi/singgasana tersebut karena lihai sekali mereka membikin scene ini sehingga memberi kesan Suster Irene memang bisa melihat makhluk halus. Ya, dan memang dia bisa, tapi tidak dengan cara itu penonton dikasihtahu sebenarnya. Sangat terselubung. Ini scene hebat. Lanjut, Pastor Burke dan Suster Irene disuruh menginap terlebih dahulu di rumah inap dalam lingkungan biara dan keesokan hari baru boleh mewanwacarai para penghuni biara. Frenchie pun pulang, tapi dalam perjalanan pulang dia diserang setan. Hiiiy!

Baca Juga: Kisah Bulan Madu yang Tidak Biasa

Malam yang sama, Pastor Burke juga bercerita pada Suster Irene tentang ritus pengusiran setan yang pernah dilakukannya pada seorang anak kecil bernama Daniel. Tapi gagal. Di sinilah saya tulis flashback setelah sebelumnya kronologis. Saat tidur malam itu Pastor Burke juga diserang setan, lantas dikubur hidup-hidup. Untungnya dia diselamatkan oleh Suster Irene. Padahal awalnya saya pikir Suster Irene lah yang lemah. Ternyata saya sa-lah.

Keesokan harinya Pastor Burke dan Suster Irene kembali ke biara namun hanya si suster saja yang boleh masuk. Dia bertemu biarawati lainnya, dan mempelajari bahwa mereka terus berdoa, bertukar posisi berdoa, agar terlindung dari roh/setan jahat dari neraka. Suster Oana mengungkapkan kepada Suster Irene sejarah biara tersebut. Ternyata biara itu adalah kastil yang dibuat oleh bangsawan yang terobsesi dengan ilmu gaib. Bangsawan itu memanggil entitas jahat tersebut melalui celah katakombe, namun dibunuh oleh seorang Ksatria Kristen, yang lantas menutup celah tersebut dengan sebah artefak yang berisi Darah Yesus Kristus. Pengeboman selama perang dunia kedua membuat celah kembali terbuka, membebaskan entitas tersebut. Pastor Burke mengidentifikasi entitas itu sebagai Valak dari sebuah buku yang dia baca. Pastor Burke menemukan bahwa sang Abdis ternyata telah lama meninggal.

Hal yang sama juga dialami oleh Suster Irene ketika dia berdoa di gereja, sesuai apa yang dilakukan suster-suster yang lain. Ternyata, semua suster yang ditemuinya itu sudah lama meninggal, karena suster terakhir dari biara itu adalah Suster Victoria! 


Usaha mereka untuk mengembalikan Valak ke neraka pun berhasil. Mereka berhasil mengambil artefak, melalui perjuangan demi perjuangan, hingga Suster Irene berhasil memuncratkan darah Yesus ke wajah Valak. Akhirnya katakombe kembali tertutup dan tersegel. Suster Victoria dikuburkan dengan ritus yang pantas, karena dia bukan bunuh diri melainkan mengorbankan diri. It's not a suicide. It's a sacrifice. Mereka pun pulang. Namun dalam perjalanan pulang diketahui bahwa lambang salib terbalik terlihat di tubuh Frenchie.

Dua puluh tahun kemudian di sebuah seminar universitas, Carolyn Perron melihat Ed dan Lorraine Warren menyajikan cuplikan dari upaya mereka untuk mengusir Maurice yang dirasuki. Maurice meraih Lorraine, memberikan penglihatan tentang Ed yang sekarat, yang memulai penyelidikan Warrens tentang rumah tangga Perron yang menghantui, serta pertemuan mereka dengan Valak.

TINGKAT KESERAMAN


Apabila sepuluh adalah tingkat keseraman paling top dari filem ini, maka saya memberinya angka empat saja. Bagi saya The Nun seperti sebuah pengulangan dari filem sebelumnya yaitu The Conjuring 2. Bahkan The Conjuring 2 lebih seram. Maafkan saya, ya, wahai para penggemar The Nun. Sumpah, saya yang awalnya sudah ngeri duluan kemudian berubah datar setelah filem ini berjalan hingga berakhir. Tentu apa yang saya alami tidak sama dengan yang kalian alami hehehe.

Apakah ini disebabkan semua keseraman Valak sudah dituangkan dalam The Conjuring 2? Entahlah. Yang jelas, menonton The Conjuring 2 membikin saya ketar-ketir setiap kali melihat lemari.

YANG PERLU DICATAT


1. Selipan Konyol

Saat Pastor Burke dan Suster Irene meminta bantuan Frenchie, mereka sudah percaya diri bakal pergi ke biara menggunakan truk dan meletakkan koper mereka di truk tersebut. Ternyata, setelah truknya jalan, Frenchie menunjuk kereta kuda yang menjadi tumpangan mereka. Haha. Tapi, cukup aneh juga sih karena jalan yang mereka tempuh sebenarnya bisa dilalui oleh sebuah truk?

2. Informasi yang Terlambat(?)

Biara itu sudah diserang oleh entitas jahat yaitu Valak, satu per satu biarawati meninggal dunia. Tidak ada kah satu atau dua biarawati yang diutus untuk menyampaikan kabar ini kepada pihak yang lebih tinggi seperti ke Vatikan, misalnya? 

3. Salib Terbalik

Lambang salib terbalik yang ada pada tubuh Frenchie pada akhir film ... bertujuan untuk apa ya? Ada yang tahu?

Menonton The Nun berakhir dengan biasa saja. Saya tidak sampai melihat terus ke arah lemari sebelum tidur. Saya juga tidak melihat ke sudut kamar mandi saat berada di ... di kamar mandi. Tidak ada ketakutan total seperti yang saya alami ketika menonton The Conjuring 2, atau saat saya menonton A Quiet Place, misalnya. Tapi yang jelas filem The Nun sukses di pasaran. Modal sekitar 22 Juta Dollar, pendapatan kotor yang tersaji di Wikipedia 309,2 Juta Dollar. Untung berlipat!

Demikianlah review kali ini ...

Oia, untuk perempuan terhebat, selamat tujuh dua kali. I love you, Mom.

Selamat berakhir pekan!



Cheers.

Blogger Perempuan


#SabtuReview, artinya pada Sabtu selalu hadir pos soal filem, buku, maupun lagu. Kalian pasti sudah terpingkal-pingkal membaca tentang Tikil, jadi ikut deg-degan membaca tentang A Quiet Place, atau terbuai dengerin lagunya Kings of Convenience. Tapi hari ini, spesial beud, saya ingin menulis tentang sesuatu di luar filem, buku, dan lagu. Ini tentang sebuah komunitas perempuan yang kece badai. Komunitas yang baru saya ikuti, menjadi member, tapi langsung bikin saya punya banyak teman. As simple as that. Begitu cepat blog ini dikunjungi pula oleh member komunitas lainnya! Jadi terharu *peluk monitor, terus kesetrum dan berubah jadi lebih cantik*.

Baca Juga : Lagu-Lagu Ini Punya Kembaran

Nama komunitas ini adalah Blogger Perempuan. Jaringan Blogger Perempuan Terbesar di Indonesia. Salah satu komunitas blogger khusus perempuan yang saya ikuti. Lebih jelasnya, silahkan baca kutipan di bawah ini: 

Blogger Perempuan Network adalah tempat yang nyaman bagi blogger wanita Indonesia untuk belajar, berbagi, dan menginspirasi satu sama lain melalui konten. Sejak 2015, komunitas kami telah berkembang pesat dan menjadi komunitas blogger wanita terbesar di Indonesia. Kami menciptakan platform di mana blogger wanita dapat berbagi konten mereka dengan niche tertentu, mengirimkan blog mereka di direktori, dan bergaul dengan orang lain. Kami juga mendukung aktivitas digital komunitas dengan melakukan acara offline dan online dengan pengetahuan tentang blogging.

Gabung sama Blogger Perempuan gara-gara blogwalking ke blog-nya ... saya lupa *dilempar batako*. Yang jelas, saat itu juga saya meluncur ke situs Blogger Perempuan, mendaftar, memenuhi persyaratan seperti memasang banner Blogger Perempuan di blog ini dan follow akun media sosialnya, menunggu proses diterima, dan voila ... jadilah saya member Blogger Perempuan termuda dan tercantik. Beberapa hari kemudian, trafik blog saya semakin meningkat. Yang saya ingat, blog pertama dari member Blogger Perempuan yang saya kunjungi itu blog milik Kakak Uphiet Kamila yang waktu itu masih pakai Blogspot belum domain sendiri.

Apa saja keuntungan menjadi member Blogger Perempuan? Banyak! Diantaranya: punya banyak teman yang artinya network kita semakin luas, setiap pos blog boleh di-publish di situs Komunitas Blogger Perempuan yang artinya Blogger Perempuan secara tidak langsung turut mempromosikan blog kita - gratis, diperbolehkan untuk berkontribusi dengan cara menulis artikel untuk Blogger Perempuan, dan mengikuti ragam lomba dan/atau kompetisi dan/atau kesempatan me-review produk ini itu yang pasti selalu diinformasikan di sana yang artinya kesempatan untuk mengisi pundi-pundi Rupiah terbuka lebar. Satu lagi nih, kalian boleh mengunduh dan memanfaatkan Freebie.

Bagi saya, mengikuti atau menjadi member komunitas blogger tidak pernah merugi.

Baru-baru ini Blogger Perempuan menantang member-nya melalui BPN 30 Days Blog Challenge. Member ditantang untuk ngepos konten blog tanpa jeda selama tiga puluh hari dimulai 20 November 2018 sampai 20 Desember 2018.


Bagi blogger yang tidak terbiasa nge-blog setiap hari pasti sulit memikirkan ide konten blog kan. Tapi jangan kuatir! BPN 30 Days Blog Challenge sudah menyediakan tema untuk setiap harinya. Adalah Ewafebri, member keren yang blog-nya punya ciri khas ilustrasi yang dia bikin sendiri, telah membikin jadwal atau daftar tersebut sebagai berikut:


Membaca task tantangan selama tiga puluh hari di atas, ada perasaan meletup-letup dalam diri saya. Tapi sayang, saya tidak mengikuti BPN 30 Days Blog Challenge tersebut. Padahal asyik sekali kan hahaha. Melalui tantangan ini, selain untuk membantu target trafik, secara tidak langsung Blogger Perempuan membantu blogger yang, katanya, sering kehabisan ide untuk menulis konten blog. Lihat saja tiga puluh tema tantangan menulis di atas; mulai dari kenapa menulis blog, tema blog yang disukai, 5 fakta soal diri sendiri, hal yang disesali saat ini, sampai target blogging tahun 2019.

Baca Juga : Flores, Adventure Trails

Kalau dilihat, saya sudah menulis hampir sebagian tema di atas karena saya memang menantang diri sendiri untuk meng-update konten blog setiap hari. Hampir, jadi belum semua tema. Kalau kemarin-kemarin setiap Hari Minggu selalu ada Triplet, novel itu, karena sudah selesai jadi slot hari Minggu dikosongkan saja. Haha. Lagi pula Hari Minggu kita nikmati saja libur mingguan itu. 

Kalau Blogger Perempuan punya tiga puluh tema untuk BPN 30 Days Blog Challenge ini, maka saya sendiri juga punya tema untuk blog ini dari Senin sampai Sabtu. Alhamdulillah sampai sekarang saya masih bisa menjawab tantangan diri sendiri itu. #SeninCerita, #SelasaTekno, #RabuLima (Kesehatan), #KamisLima (Macam-macam), #PDL pada Jum'at tentang hal-hal remeh yang pernah dilakukan, dan #SabtuReview. See? Jadi tidak ada lagi alasan saya kehabisan ide menulis blog karena selalu ada hal yang bisa ditulis setiap harinya. Sudah cukup hiatus zaman dulu, sudah cukup malas-malasan, saatnya lebih giat menggali potensi diri karena dengan rajin menulis lama-kelamaan tulisan kita niscaya lebih bagus. Kalau saya sih tulisannya semakin hancur haha.

Seandainya blog saya suatu saat nanti tidak ter-update, itu bukan karena kehabisan ide, melainkan karena (1) Malas dan (2) Belum punya waktu untuk menuangkan pikiran-pikiran un-jenius ke blog.

Membaca tulisan teman-teman yang sudah mengikuti BPN 30 Days Blog Challenge ini, seperti Ewafebri, Ajengveran, atau Dinilint, begitu banyak ide menulis ter-big-bang di kepala saya. Ide-ide itu antara lain tentang: nama blog, blogger perempuan favorit (bagian 1, bagian 2, dan seterusnya), blogger unik, tempat makan favorit, dan lain sebagainya. Luar biasa, secara tidak langsung Blogger Perempuan telah menyiram avtur bergalon-galon pada saya. Dan saya patut berterima kasih pada Uphiet Kamila juga nih, soalnya dalam pos blog salah satu tantangan dari Blogger Perempuan, saya ditulis sebagai salah satu travel blogger perempuan favorit di sana haha. Horeeee!

Terima kasih Blogger Perempuan.

Kalian yang membaca pos ini, terkhusus perempuan, tunggu apa lagi? Jangan tunggu dinosaurus bangkit. Gabung yuk sama Blogger Perempuan dan rasakan manfaatnya yang luar biasa. 



Cheers.

Lagu-Lagu Ini Punya Kembaran


Waktu masih siaran di Radio Gomezone FM saya pernah membawakan program tentang lagu-lagu Indonesia yang dicurigai memplagiat lagu-lagu mancanegara. Ingat, ada kata dicurigai. Jadi bukan berarti saya langsung menuding lagu-lagu tersebut memplagiat karena toh saya sendiri tidak punya ilmu yang mumpuni untuk menuduh musisi A memplagiat karya/lagu musisi B, C, dan D. Tapi sebagai penikmat musik masa kini yang trendi dan bergaya bersama dinosaurus, saya tahu kemiripan antara lagu dari musisi A dengan musisi B, C, dan D. Hanya saja, pekerjaan yang berhubungan dengan mendengarkan lagu setiap hari selama berjam-jam itu membikin saya senyum-senyum sendiri ketika kuping mulai menangkap kemiripan antara lagu yang satu dengan lagu lainnya.

Baca Juga : Bermain Diksi dalam Kondensat

Menariknya, dari situs Okezone, pengamat musik Deny Syakrie berkata bahwa aturan delapan bar itu lama dan masih kontroversial sampai sekarang. Menurut Deny, kalau ada musisi yang menggunakan dua bar saja dari lagu orang lain tapi dimainkan secara berulang-ulang dan mirip ya itu sudah bisa dibilang menjiplak. Atau memplagiat. Tapi berdasarkan informasi dari situs ini, James F. Sundah mengatakan bahwa sebuah lagu dikatakan memplagiat tidak berpatok dari delapan bar saja, karena banyak lagu yang akhirnya memplagiat sebanyak tujuh bar untuk menghindari delapan bar tadi. Salah satu hal yang penting dan disebut substantial part adalah bagian terpenting dalam musik yang pernah dikenal orang. Jadi, hati-hati ya. Setiap lagu punya ciri, jangan sampai kalian membikin lagu yang intronya mirip Tokyo Drift mili Teriyaki Boyz. Meskipun hanya tujuh bar, kalian sudah bisa dikatakan memplagiat. Karena intro Tokyo Drift itu sesuatu yang sulit dilupakan orang.

Lantas, apa itu bar?

Dari situs ini dan juga bisa kalian cari di situs lainnya, bar adalah frase musik dalam lagu yang terdiri dari beberapa beat. Satu bar pada lagu komersial umumnya memiliki empat beat sehingga terdiri dari empat ketukan. Bagian-bagian lagu seperti verse dan chorus, biasanya diukur menggunakan bar yang umumnya selama delapan sampai enam belas bar. Untuk lebih jelas lagi, silahkan tanyakan pada teman kalian yang musisi atau sering bermusik.

Baca Juga : Ribut Berarti Mati dalam A Quiet Place

So ...

Jauh sebelum orang-orang sadar, eh gaya banget saya menulis ini hahaha, saya sudah tahu lagu Pacarku oleh Puput Melati itu memplagiat Hotel California milik Eagle. Wah, langsung menuduh? Iya, kalian bisa dengarkan sendiri. Itu bukan lagi delapan bar tapi keseluruhan lagu termasuk bagian terpenting yang pernah dikenal orang. Dududud. Tapi hanya lagu itu yang saya tulis memplagiat, lagu lainnya berikut ini saya tulis kembaran, karena saya tidak punya kapasitas untuk menulis mereka memplagiat.

Yang mengejutkan saya ketika mulai meriset lagu-lagu Indonesia yang punya kemiripan signifikan dari lagu-lagu mancanegara dan/atau lagu lain, juga diskusi bersama teman-teman radio, adalah D'Massive. Sebagian besar lagu-lagu mereka mempunyai kemiripan yang sulit dielakkan dari lagu-lagu yang sudah duluan ada. Diantaranya adalah Cinta Ini Membunuhku dengan I Don't Love You milik My Chemical Romance, Diam Tanpa Kata dengan Awakening milik Switchfoot, Dilema dengan Soldier's Poem milik Muse, sampai Tak Pernah Rela dengan Is It Any Wonder milik Keane. 

Tidak hanya D'Massive, Hello Band juga punya beberapa lagu yang kembaran sama lagu lainnya. Pejuang Cinta misalnya, begitu kembarnya sama Makes Me Wonder milik Maroon 5. Kalian pernah dengar lagu Never Be The Same Again yang dinyanyikan Mel C (from Spice Girls)? Kalau belum, coba didengarkan kemudian lanjutkan dengan lagu berjudul Bunga milik Bondan feat Fade2Black. Atau dengarkanlah lagu milik Grabielle yang berjudul Rise, lalu dengarkan lagu Kau Cantik Hari ini milik Lobow. Anyhoo saya suka banget sama Rise yang dinyanyikan Gabrielle ini, pesannya dalam.

Vierratale yang dulunya bernama Vierra saja, punya satu lagu yang kembaran banget sama lagu Rooftops milik Lostprophets. Lagu itu berjudul Dengarkan Curhatku. Yuhuuu itu single mereka yang dulu suka banget saya dengarkan meskipun kata teman-teman tidak cocok sama usia. Epen lah hahaha.

Tapi di luar dari itu semua, menurut saya, kemiripan itu (apalagi memplagiat) kadang tidak bisa dihindari karena yang namanya solmisasi ya hanya itu: do re mi fa sol la si (do). Kunci pun yang itu saja seperti D, G, C, F, dan seterusnya yang membentuk akord. Kalau nada dasarnya diubah, kata orang Ende: main dari mana? Dari D atau dari C?, maka akordnya pun berubah. Ya begitu-begitu saja. Kemiripan sulit dielakkan.

Baca Juga : TIKIL, Kami Antar Kami Nyasar

Sebagai orang yang juga suka membikin lagu, karena urusan penciptaan adalah milik Allah SWT, kesulitan agar lagunya tidak diolok memplagiat juga terjadi. Sekitar dua puluh lagu sudah dibikin baik sendiri, bersama Cendaga Band, maupun bersama Notes (Noel Fernandez & Tuteh Pharmantara Side Project). Paling enak bikin lagu bareng Noel, dia punya banyak referensi, mulai dari Jimi Hendrix, Nirvana, The Beatles, dan lain sebagainya. Soalnya dia juga gemar banget dengerin musik berjam-jam. 

Para musisi juga lebih kreatif. Semakin ke sini kalian pasti pernah dan/atau sering dengerin lagu-lagu yang dicover atau dibikin ulang musiknya. Salah satunya adalah lagu bergaya vintage. Apa sih itu? Nanti doooonk kita bahas di lain kesempatan. Hehehe.

Bagaimana, kawan? Pernah dengar lagu yang mirip atau terdengar tidak asing di telinga? Bagi tahu donk di komen :)

Happy weekend.


Cheers.

Bermain Diksi dalam Kondensat


Siapa yang suka menulis puisi? Banyak blogger yang suka menulis puisi. Misalnya Mas Doddy Purwanto atau Muhaimin Azzet. Teman Blogfam saya bernama Yaya juga suka banget bikin puisi yang dipos di blog atau akun Facebook-nya. Ah, Yaya memang sangat ngetop lewat puisi-puisinya. Saya sendiri suka menulis puisi yang dipos di blog khusus puisi. Huatsihhh! Tapi sekarang sudah jarang menulis puisi, entah kenapa, puisi-puisi itu hanya bermain di benak saja tanpa sempat dituangkan di lembar putih iniiiii. Salah satu puisi yang paling saya suka, puisi saya tentunya, berjudul Ang.

Baca Juga : Ribut Berarti Mati dalam A Quiet Place


Berima; ang. Selama tak ada yang larang. Mari bersulang. Hentikang. Eh. Hentikan. Sudah selesai puisinya. Tidak selamanya saya menulis puisi berima. Kadang saya menulis puisi yang sama sekali jauh dari rima. Biasa saja. Mungkin yang baca tersenyum sinis. Biarlah. I just want to write it. Berpuisi itu memang luar biasa. Betapa hebatnya kumpulan huruf yang minim itu dapat menyampaikan pesan si penulis puisi. Beda sama lukisan yang begitu kaya apalagi novel; meskipun kadang tidak mudah menginterpretasikan lukisan dan novel.


Suatu kali, teman Blogfam saya bernama Sigit Jaya Herlambang meminta bantuan untuk mengendors buku baru terbit. Bukunya. Bagi saya, selama bisa membantu sesuai permintaan, kenapa tidak? Tapi sebelumnya, mari kenal dulu sama Sigit. Ini yang tertuang dalam halaman profil buku tersebut:

Sigit Jaya Herlambang adalah pria kelahiran Jakarta, 23 September 1987. Ia memiliki ketertarikan di dunia eksperimen fisika, tulis-menulis, dan musik. Untuk yang berminat berkolaborasi di ketiga hal tersebut, hubungi sigit.jaya.herlambang@gmail.com. Sejumlah karya di tiga bidang tersebut juga dapat dilihat di website pribadinya sigitjayaherlambang.com. 

Sayang website-nya sudah tidak bisa diakses.

Baca Juga : TIKIL, Kami Antar Kami Nyasar

Buku karya Sigit tersebut adalah buku kumpulan puisi berjudul KONDENSAT. Karena saya mau mengendors, maka Kondensat lantas dikirimkan pada saya. Jujur, membaca puisi-puisi di dalam Kondensat bikin terbuai. Seperti sedang main ayunan, lalu terlempar ke atas kasur bulu, menikmati surga dunia lewat kata. Terbuainya saya pada puisi-puisi Sigit tertuang dalam endors pada sampul belakang (versi pendek) buku tersebut:


Puisi-puisi dalam Kondensat menyulik saya dari alam nyata lalu menempatkan saya pada dataran tertinggi Hutan Puisi.

Itu fakta. 

Kondensat yang diterbitkan melalui Indie Book Corner memuat puluhan puisi karya Sigit. Cara dia bercerita tentang isu sosial, politik, cinta, orangtua, alam, adalah seksi. Karena dia sungguh lihai bermain-main dengan diksi. Puisi-puisi itu antara lain Ramadhan Plastik, Orchard Ballads, Khuldi, tuhan dengan huruf kecil, Sasadara, Eksilan, Gnostik, hingga Nisbi. Dari judul saja Sigit sudah bikin geregetan.

Salah satu puisi di dalam Kondensat berjudul Caka. Berikut kutipannya:

Aku tertunduk lesu
Langit bermesiu
Tawa renyah kami
Meletus pada ratusan juta kembang api

Atau puisi berjudul Tuhan.

Tuhan

Malaikat bilang Engkau tamasya
Entah kemana
Bawa lalat sekeranjang
Dan susu seperawan
Dan aku sendiri saja
Hinggap dari anyir ke anyir
Mengais Engkau di gundukan

*termenung*

Lalat sekeranjang.
Susu seperawan.

Terima kasih Sigit, untuk puisi-puisi yang gemilang dalam Kondensat, yang masih terus sering saya baca meskipun telah lama waktu berselang. 

Baca Juga : Girls Like You

Bagaimana dengan kalian? Suka kah kalian menulis puisi? Suka kah kalian membaca puisi? Dan puisi apa yang paling kalian suka? Tidak perlu harus dari sastrawan ternama. Mungkin, siapa tahu, puisi dari seseorang justru sangat bermakna bagi kalian. Seperti puisi Kakak Pacar yang satu ini:

Saya akan selingkuh jika ...
Allah SWT menciptakan kau lebih dari satu.

*gubrak!*
Kutip dari mana itu hahaha.


Happy weekend!


Cheers.

Ribut Berarti Mati dalam A Quiet Place


Beberapa bulan terakhir saya menonton trailer filem-filem diantaranya Wiro Sableng, Deadpool 2, dan A Quiet Place. Rencana menonton Wiro Sableng dan Miles 22 saat tayang perdana di bioskop di Kota Kupang batal, karena penundaan kegiatan wisuda dan rasa was-was berlebihan, kuatir cuti yang terlalu dini bakal bikin saya lupa waktu. Jujur, saya tidak mau kehilangan momen wisuda. Kalian tahu kan, Kupang dan Ende dipisah lautan dan fosil-fosil dinosaurus. Kalau memang hendak ke Kupang, jangan nanggung lah. Lagi pula, secara garis besar saya sudah tahu tentang Wiro Sableng dari novelnya serta serialnya yang dulu tayang di RCTI yang diperankan oleh Kenken. Sama halnya dengan Dealpool 2. Saya sudah menonton Deadpool sehingga di dalam benak saya filem yang kedua ini tidak jauh dari berantem, luka dan darah, tembakan, serta umpatan lelaki kesayangan saya Ryan 'Wade' Reynolds. Tapi A Quiet Place betul-betul misteri. Menonton trailer-nya saja jelas tidak memberikan gambaran utuh.


Dua hari yang lalu, jangan tanya dari mana dan bagaimana, saya berkesempatan menonton A Quiet Place. Yay, akhirnya! 

A Quiet Place adalah filem drama fiksi ilmiah horor Amerika Serikat yang dirilis 3 April 2018 (Indonesia). Filem ini diperankan oleh Emily Blunt, John Krasinski, Millicent Simmonds, dan Noah Jupe. Emily Blunt yang pernah berperan dalam The Girl on the Train dan The Devil Wears Prada ini merupakan isteri dari John Krasinski, baik di dalam A Quiet Place maupun di dalam kehidupan nyata. Asyik ya suami-isteri main filem bareng. Qiqiqiq ;) Skenarionya ditulis sendiri oleh John Krasinski bersama dan berdasarkan cerita oleh Bryan Woods dan Scott Beck.

Para kritikus mengatakan bahwa ini filem yang cerdas yang sangat mengerikan dan menakutkan.

Tapi kalau Wikipedia menulis horor, saya kurang setuju. A Quiet Place lebih tepat disebut filem bertema thriller.

Alkisah keluarga Abbott selamat dari invasi alien di bumi. Lee Abbott (John Krasinski) dan Evelyn Abbott (Emily Blunt) hidup bersama tiga orang anak yaitu Regan Abbott (Milicent Simmonds), Marcus Abbott (Noah Jupe), dan Beau Abbott (Cade Woodward). Sejak awal berjalan sudah digambarkan kondisi Evelyn yang sedang hamil tua. Di sini lah Ocha mulai memprotes.

Ocha: Sudah tahu kondisi tidak memungkinkan, masih juga bikin anak eeee bapa mama!

Saya: Bikin sudah lama macamnya itu, sebelum alien-nya datang. Ini aja sudah hari ke delapan puluh sembilan.

Ocha: Oleeee nana! Nanti melahirkan bagaimana!? Mana bisa bayi diam kah, Encim. Eaaa eaaa eaaa.

Kita tinggalkan Ocha dengan aneka pikirannya tentang kondisi kehamilan dan bagaimana Evelyn melahirkan.

Baca Juga : Girls Like You

Mari mulai dari keluarga Abbott. John, seorang ayah yang sangat dapat diandalkan dan bertanggungjawab pada keluarga, punya ruang kerja bawah tanah tempat monitor-monitor dan radio-radio disimpan. Mencari tahu segala sesuatu tentang invasi alien ini serta kekuatan dan (belum diketahui) kelemahannya. Dia juga membikin alat bantu dengar untuk puterinya yang bernama Regan. Evelyn, seorang ibu yang juga sangat bertanggungjawab pada keluarganya, yang bekerja sangat tenang dalam senyap, dan sedang hamil tua. Regan, puteri satu-satunya usia sekitar 14 (empat belas) tahun yang tuna rungu. Marcus, adik si Regan, usia sekitar 8 (delapan) tahun. Dan Beau yang masih berusia sekitar 5 (lima) tahun.

Cerita bermula ketika keluarga Abbott berada di suatu pusat perbelanjaan yang terlantar. Mereka mencari barang-barang yang bisa digunakan untuk kelangsungan hidup. John mencari barang-barang yang salah satunya untuk membikin alat bantu dengar untuk Regan. Di pusat perbelanjaan itu Beau tertarik dengan pesawat mainan. John menjelaskan pada Beau bahwa mainan itu berbahaya dan baterainya kemudian dilepas. Saat hendak pulang ke rumah, Regan mengambil pesawat mainan dan baterainya, menyerahkan kepada Beau. Dalam perjalanan pulang, saat sedang berjalan di atas pasir yang ditabur sebagai poros jalan mereka di luar rumah itu, Beau membunyikan pesawat mainannya. 

Ya, sampai di sini, tamatlah riwayat Beau diserang alien.

Life must go on

Sampai suatu hari John pergi memancing bersama Marcus, Regan ngambek karena tidak diijinkan ikut lantas kabur dari rumah menuju jembatan tempat Beau diserang alien, dan tinggal si Evelyn sendiri. Ya, saat seperti itulah Evelyn mengalami kontraksi dan air ketubannya pecah. Yang bikin parah adalah Evelyn tidak sengaja menginjak paku yang terangkat gara-gara tersangkut buntelan kain pakaian yang hendak dibawa Evelyn ke luar ruang bawah tanah. Jeritannya meski tidak terlalu kuat, merupakan 'undangan' untuk para alien.

Dan ... ribut berarti mati.

Selama 90 (sembilan puluh) menit ketegangan benar-benar tersaji sempurna di dalam A Quiet Place. Bagaimana Evelyn berjuang melahirkan sendiri di bak mandi, bagaimana Marcus harus melakukan plan B yaitu menyalakan petasan sebagai pengalihan terhadap alien yang sedang berada di dalam rumah, bagaimana Regan sama sekali have no idea bahwa alat bantu dengarnya itu merupakan senjata ampuh melawan alien, bagaimana John yang sangat diandalkan itu kemudian mati, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana yang lain. Kalian yang belum nonton, harus nonton. Hehehe.


A Quiet Place, menurut saya, merupakan filem sederhana dengan kekuatan yang tidak boleh dipandang remeh.

Dua Makna

Makna pertama:
Pada awal filem, penonton - terutama penonton yang murni belum pernah tahu trailer-nya, bakal menyangka kata quiet pada judul filem ini merujuk pada Regan. Tuna rungu. Hal ini diperkuat dengan adegan bahasa isyarat oleh keluarga Abbott. 

Makna kedua:
Setelah adegan di jembatan tempat alien menyerang Beau, penonton ngeh bahwa quiet di sini merujuk pada: kau ribut, kau mati.

Konstruksi Sempurna

Kalau A Quiet Place merupakan serial maka saya bakal menulis: episode pilot terbaik. Tapi sekarang ijinkan saya memakai kalimat: konstruksi sempurna. Filem ini dibangun perlahan dengan sempurna. Agar cerita ini menjadi utuh dalam benak penonton, harus menonton sampai selesai. 

Versi Lain Alien 

Bahwa selama ini kalau menonton filem bertema alien kita menyaksikan adegan kejar-kejaran, baku tembak, ribut banget, dan darah hijau meleleh di sana sini. Menonton A Quiet Place, penonton dijauhkan dari semua itu. Alien yang ini tidak punya mata. Dia mengetahui keberadaan manusia lewat suara (kebisingan). 

Akhir Dari Dua Makna

Pada akhirnya, setelah membaca poin dua makna di atas, penonton bakal tahu bahwa musuh terbesar alien di dalam filem ini adalah frekuensi tinggi dari alat bantu dengar yang baru milik Regan, yang dibikin oleh John. Karena kelemahan alien itu adalah frekuensi tinggi baik oleh alat bantu dengar, dari radio, maupun dari televisi. Kalau mendengar itu, pelindung kepala mereka membuka, dan silahkan ditembak. Dor. Wafat.

Tapi setiap filem pasti punya kelemahan kan. Kelemahan atau kekurangan ini yang bakal muncul di benak penonton. Misalnya Ocha yang berkomentar soal kehamilan Evelyn tapi sudah saya jawab. Tapi bukan berarti saya sendiri tidak punya pertanyaan, meskipun saya memuji filem ini.

Kalau api di atas silo lainnya menyala, setelah John menyalakan api di atas silo-nya sendiri, bukankah berarti ada penduduk lain di sekitar yang juga selamat?

Dari mana listrik datang? Generator? Bukankah generator itu juga cukup ribut untuk memancing alien?

Saat memancing, bukankah jelas suara aliran air sungai dapat melindungi suara John dan Marcus? Kenapa ... kenapa mereka tidak pindah saja ke pinggir sungai? Lagi pula sumber makanan juga bisa diperoleh di sungai seperti ikan, misalnya.

Dan pertanyaan terakhir: kenapa John harus mati? Dia cerdas bukan? Kalau John hidup, enak banget ini bisa dilanjutkan dengan A Quiet Place 2.

Mungkin kalau penduduk yang selamat pada bersatu, malah jadi kayak The Walking Dead, hahaha. 


Yah demikianlah A Quiet Place yang sudah kalian tonton April lalu tapi baru bisa saya tonton sekarang. Yang penting rasa penasaran saya sudah selesai setelah menonton filem ini. Pssst, jangan ribut-ribut, awas disambar alien. Qiqiqiq.

Happy Weekend!


Cheers.