Pariwisata Nusantara


Sudah lama saya tidak me-review buku di #SabtuReview. Buku terakhir yang saya baca berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson dan sudah saya review di pos berjudul Bodo Amat. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari buku bersampul oranye itu. Sementara buku yang selalu berada di dalam tas, yang bisa saya baca kapan saja, berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer juga sudah saya review di pos berjudul The Book of Origins. Tentu, pengetahuan tentang segala sesuatu paling pertama di dunia ini kian bertambah. Saya pikir, sekarang saatnya me-review satu buku menarik terutama bagi kalian para traveler atau siapapun yang berencana keliling Indonesia. 

Baca Juga: Are They Dead?

Menulis tentang buku yang satu ini membikin saya teringat seorang sahabat traveler perempuan bernama Ika Soewadji. Kalau kalian belum mengenal Ika Soewadji, silahkan kenalan dulu melalui akun IG-nya:


Memangnya, apa hubungan antara buku yang bakal saya review dengan Ika? Karena buku tersebut adalah pemberian Ika berikut satu paket buku lainnya tentang Indonesia. Sama seperti buku Travel Writer yang juga diberikan oleh Ika. Meskipun tidak berhubungan darah tapi kami adalah kaka-ade, saudara, yang dipertemukan oleh dunia blog dan traveling. Percayalah, mengenal Ika merupakan salah satu anugerah terbaik dari Allah SWT untuk saya.

Jadi, mari kita kenalan dengan buku yang satu ini.

Tentang Informasi Pariwisata Nusantara


Informasi Pariwisata Nusantara, sebuah buku bersampul cokelat dengan aksen wayang kulit di depannya, diterbitkan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia bekerjasama dengan Garuda Indonesia, dan ASEAN (Southeast Asia). Pada sampul belakang jelas-jelas tertulis: tidak untuk diperjualbelikan. Ya Alhamdulillah saya bisa mendapatkannya dari Ika. Mungkin waktu itu Ika mengikuti kegiatan yang digelar kementrian, secara dia kan travel blogger kesohor, dan mendapatkan paket buku-buku gratis dari acara itu, kemudian dikirimkan pada saya.

Buku ini tidak punya kata pengantar atau sekapur sirih. Dibuka dengan halaman Peta Kepulauan Indonesia dan halaman Sekilas Sejarah Pariwisata Indonesia. Sudah, itu saja. Selanjutnya 'petualangan' dimulai dari Sumatera hingga Papua.

Isi Informasi Pariwisata Nusantara


Namanya juga buku tentang pariwisata, isinya ya pasti tentang atraksi pariwisata dari seluruh Indonesia yang dimulai dari Sumatera sampai Papua. Ada pengaturan sub pada setiap provinsi dan daerah istimewanya. Sub-sub itu antara lain Profil singkat provinsi dan/atau daerah istimewa yang bersangkutan, Wisata Alam, Wisata Pantai, Wisata Gunung, Wisata Petualangan, Wisata Sejarah, Wisata Budaya, Wisata Museum, Wisata Kerajinan, Wisata Taman Nasional, hingga informasi penting seperti Transportasi, Akomodasi, Travel Agent, dan informasi alamat kantor dinas yang berkaitan dari provinsi dimaksud.

Paket komplit!

Jadi, kalau saya bilang sudah tahu banyak tentang Yogyakarta, belum tentu juga haha. Saya baru tahu soal Upacara Cing-Cing Goling dari buku ini.

Pada ritual ini, ratusan ayam panggang, lauk pauk dan nasi dibagikan kepada para pengunjung serta masyarakat di dekat bendungan. Selain itu juga ditampilkan cerita rakyat yang disajikan dalam bentuk fragmen. Upacara ini dilakukan sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen.
Lokasi:
Digelar di Dusun Gedangan, Desa Gedangang, Kec. Karangmojo, Kab. Gunungkidul. Bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor ke lokasi. (Informasi Pariwisata Nusantara,tt, 201).

Sebagai Orang NTT, tentu saya suka membaca bagian Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ternyata, banyak sekali atraksi wisata yang juga baru saya ketahui setelah membaca buku Informasi Pariwisata Nusantara ini.


Yang membikin buku ini lebih menarik, selain informasi lengkap tentang Indonesia ada di dalamnya, adalah foto-foto yang melengkapi setiap artikel/informasi singkatnya. Foto-foto itu begitu memukau, penuh warna alam yang cerah dan indah, yang membikin para pembaca tertarik untuk menyiapkan waktu keliling Indonesia. Duuuuh niat keliling Indonesia tertunda melulu *halaaaah, ditabok dinosaurus*.

Kritik


Baru kali ini saya mengkritik buku hahaha. Eh, atau sudah pernah ya? Pokoknya begini ... untuk buku sebagus ini sayang sekali apabila diterbitkan terbatas dan tidak untuk diperjualbelikan. Tidak hanya para traveler, kita sebagai Orang Indonesia tentu tergila-gila dengan buku semacam ini. Banyak informasi yang mungkin baru kita tahu, yang bisa jadi magnet penarik jiwa untuk pergi ke sana, baik diri kita sendiri maupun wisatawan mancanegara (apagila diterbitkan dalam bahasa Inggris pula). Semua orang pasti tahu Raja Ampat di Papua Barat sana, tapi belum semua orang tahu tentang Pantai Pulau Jefman dan Pantai Pulau Rumberfon yang indah itu, misalnya.


Demikian tentang buku Informasi Pariwisata Nusantara yang sayangnya tidak dijual bebas di toko buku. Beruntunglah saya bisa mendapatkannya sebuah, hehe. Bagaimana dengan kalian, kawan? Yang belum pernah membacanya maupun yang sudah pernah membacanya, apa tanggapan kalian tentang buku keren ini? Bagi tahu yuk di komen!

Baca Juga: The Kings

Selamat dua minggu puasa :*



Cheers.

Are They Dead?

Gambar diambil dari: FanPop.

Siapa di sini pecinta serial kriminal? Wah yang unjuk jari cuma saya. Haha. Hyess, saya pecinta serial kriminal yang dulu waktu masih nonton tevelisi sering banget pantengin di Fox, Fox Crime, Star World, FX, AXN, dan lain sebagainya. Sebut saja NCIS, fransaisnya CSI, The Mentalist, Criminal Mind, Law and Order, dan kawan-kawan sejenis. Tidak heran saya memang sejak lama suka sama serial kriminal. Mulai dari yang ending-nya tidak jelas macam Twin Peaks (ada sih dilanjutkan tapi macamnya membingungkan), sampai Hunter dan Remington Steele. Ada sensasi yang sulit dijelaskan setiap kali menonton serial-serial kriminal yang memang rata-rata dibumbui adegan konyol atau lelucon segar.

Baca Juga: The Kings

Salah satu serial kriminal lama yang bakal saya tulis hari ini, saya juga pernah menulis The Mentalist, berjudul Castle. Menonton Castle dari Season 1 sampai Season 4 kalau tidak salah, pokoknya sampai saat Castle menghilang di hari pernikahan, kemudian berhenti lama saat tidak menonton televisi. Karena sudah lama tidak menonton televisi, saya tentu tidak tahu akhir kisah mereka, yaaa terimakasih internet akhirnya saya bisa tuntas menonton serial unik yang satu ini sekaligus diliputi tanda tanya besar.

Are they dead!?

Ahhh sedih sekali dan kecewa sebesar GBK ketika menonton episode terakhir itu.

Castle


Castle bercerita tentang seorang laki-laki penulis buku fiksi kelas misteri-kriminal bernama Richard Castle (diperankan oleh Nathan Fillion) yang kemudian menjadi konsultan NYPD untuk membantu pihak kepolisian menganalisa dan memecahkan kasus ini itu. Rata-rata kasus pembunuhan. Tentu di kelompok ini Castle membantu Detektif Kate Beckett (diperankan oleh Stana Katic) yang bekerja bersama dua polisi lainnya yaitu Detektif Javier Esposito (diperankan oleh Jon Huertas) dan Detektif Kevin Ryan (diperankan oleh Seamus Dever). Kedua detektif ini termasuk bumbu kocak dalam serial Castle. Oh ya, ada pula dr. Lanie Parish (diperankan oleh Tamala Jones), Alexis Castle - anak perempuannya Castle (diperankan oleh Molly C. Quinn), Martha Rodgers - mamanya Castle (diperankan oleh Susan Sullivan). Urusan bosnya Beckett ini ganti-ganti sih di beberapa season.

Castle dimulai pada 9 Maret 2009 dan berakhir 16 Mei 2016. Akhir ini yang baru saya tonton tahun 2019 dan terkejut dengan ending-nya itu.

Garis Besar


Ada sembilan season yang penuh warna. Bagaimana setiap episodenya mengantar kita tidak saja pada bagaimana seorang penulis turut menganalisa kasus-kasus pihak kepolisian, tapi juga kehidupan keluarganya, dan tentu saja kehidupan asmaranya. Kalau mau ditarik garis besarnya adalah bahwa Castle, si penulis kharismatik itu, bekerjasama dengan NYPD, lalu jatuh cinta pada Beckett. Gayung bersambut, Beckett pun jatuh cinta pada si duda berputeri tunggal itu. Saya bilang sembilan season yang penuh warna itu tidak mengada-ada. Castle memang penuh warna, berbeda dari Law and Order, misalnya. Bumbu yang diimbuh di dalam Castle ini melekat di lidah sehingga sulit untuk diuraikan. Dan bumbu ini, keluarga dan asmara, sangat mendarah-daging.

Benang Merah


Pada Season 9 saya melihat adanya suatu hal yang nyaris sama dengan The Mentalist. Yaitu benang merah. Sepanjang musim ini selalu ada nama LokSat disebut-sebut. Dan Becket harus bekerja ekstra hati-hati dan ekstra waktu tambahan untuk bisa meringkus LokSat. Bagaimana, jadi ingat The Red John dari The Mentalist juga bukan? Tapi saya tidak bisa bilang yang satu meniru yang lain karena setiap serial punya ciri atau kekhasannya masing-masing. Kekhasan Criminal Mind misalnya ... siapa yang bisa membantah?

Ending Yang Mengecewakan


Mungkin karena di dalam benak saya harus selalu ada happy ending. Dan, sejak kecil pula sudah ditanamkan oleh Bapatua bahwa pemeran utama tidak mungkin dibikin mati dalam sebuah filem, sehingga sulit menerima kenyataan bahwa di episode final Season 9, Castle dan Beckett mati, meninggal, wafat. Jadi ingat Buried kan ya. Hahaha. Saya jadi kesal dengan si final ini. Kenapa kedua pemeran utamanya harus dibikin mati? Bukankah masih banyak skenario lainnya kalau memang benar informasi yang saya baca itu ...

Baca Juga: Double Ending

Konon, menurut informasi yang saya baca, Stana Katic mengundurkan diri dari 'jabatannya' sebagai Detektif Beckett. Tapi kan tidak perlu sesadis begitu akhir serial Castle. The Mentalist saja, dengan benang merah dari Season 1 sampai Season 7 yang aduhai bikin jantung deg-degan, punya akhir yang bahagia. Kenapa Castle tidak? Setidaknya yang saya tonton di akhir, Castle dan Beckett meninggal di rumah mereka setelah ditembak oleh antek-anteknya LokSat. Padahal, mereka baru saja bernafas lega dan saya pikir bakal memulai kehidupan baru, lagi, setelah pasang-surut kehidupan rumah tangga mereka yang bercampur-baur dengan urusan pekerjaan Beckett.

Ending Castle memang sangat mengecewakan. Setelah delapan season ditambah beberapa episode yang bikin perasaan tak menentu di Season 9, mereka mati. Bahkan mereka tidak punya kesempatan untuk bicara dari hati ke hati tentang permasalahan yang selama ini menghantam kehidupan mereka. Sumpah! Itu bikin syok. Tega sekali. Sungguh tak berperikemanusiaan, tidak mempertimbangkan perasaan penggemarnya. Dalam The Walking Dead saja, tokoh Daryl tetap dipertahankan padahal dia sama sekali tidak ada di versi komik!

Ck ck ck ...

Gara-gara itu saya jadi pengen tahu tentang serial-serial lainnya. Oh ya, jangan sebut How I Met Your Mother, haha! The Mentalist sudah jelas ending-nya kayak apa. Pengen tahu tentang Criminal Mind dan NCIS. Setidaknya jangan sampai setega Castle yang mengecewakan itu. Ternyata ... sudah lama benar saya kehilangan 'kontak' dengan serial-serial favorit. Apa kabarnya Royal Pain? Apa kabarnya Game of Thrones yang masih terus berlanjut ini? *garuk-garuk kepala* jadi gemas. Pokoknya jangan sampai seperti Castle deh. Seolah tidak ada skenario lain yang bisa dipilih yang cukup menggembirakan penggemar lah.

Stana Katic boleh-boleh saja resign tapi kan sebelum resign, di final, bisa diubah skenarionya yaitu mereka menikah ... baru the end.


Ya sudahlah. Orang Ende bilang: mo apa laeeee hah?

Yang jelas, bagi kalian yang penasaran sama Castle silahkan menonton dari Season 1 sampai Season 9 dan rasakan betapa berwarnanya serial yang satu ini serta kecapi bumbu-bumbunya! Saya jamin, kalian pasti bakal suka dan sangat terhibur, kalau bisa ngakak ngikik, sambil mengasah kemampuan menganalisa memecahkan kasus. Kalian sendiri, kalau punya serial kriminal favorit, bagi tahu doooonk. Siapa tahu tontonan kita sama. Ya kan ... bisa berbagi pendapat *tsah*. Siapa tahu juga kalian punya informasi lain tentang serial Castle ini. Itu bakal sangat membantu dan menghibur saya seandainya ada ending lain *maunya*.

Baca Juga: Pembalasan Laut

Happy weekend!



Cheers.

Pita’s Life


Suatu malam di minggu ini, saat DMBC (Datang Makan Baku Cap) sedang ngumpul di ruang tamu rumah saya, salah satu topik yang dibahas adalah tentang betapa sabarnya Deddy Corbuzier menghadapi seorang penyanyi dangdut yang diduga serta dituduh transgender. Kalau saya jadi Deddy, mungkin kesabaran saya sudah wassalam dan jadinya malah perang berkepanjangan macam Perang Teluk zaman dahulu. Tapi Deddy Corbuzier sungguh gentle meskipun emosinya sudah terpicu begitu rupa. Kendali dirinya bagus. Haha.

Baca Juga: Searching

Untungnya topik itu segera berakhir. Yaaa topik DMBC kan selalu meloncat-loncat kayak kanguru dan pocong. Etchon lantas menyeletuk tentang Pita's Life. Saya pikir Lupita Nyong'o. Ternyata bukan! Hari-hari berikut, ya kemarin-kemarin, hampir setiap siang saya menonton video-video Pita di Youtube dan sangat terhibur karenanya. Kalau saya boleh bilang, Pita adalah vlogger dengan konten unik karena begitu apa adanya. Dia punya dialeg tidak berubah. Pun kalau bicara bahasa Inggris sangat fasih dan enak didengar. Amboi. 

Tentang Pita


Sejak kecil Pita sudah tertarik dengan bahasa Inggris karena Bapaknya adalah seorang Pendeta yang sering membawa bocah-bocah bule ke rumah. Sambil bermain dengan bocah bule itu, sambil belajar bahasa Inggris. Ketertarikannya pun semakin menjadi saat menonton filem Titanic dan terpesona sama lagu My Heart Will Go On yang dinyanyikan oleh Celine Dion. 

Tahun 2011 Pita kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing di Manado. Dosennya memberi tugas untuk hunting bule dengan tujuan bisa langsung bicara dan berinteraksi dengan bule-bule itu. Sebagai bukti hunting, harus ada tanda tangan supaya dosen percaya. Selain tanda tangan, kontak yang diberikan berupa e-mail pun boleh. Adalah teman Pita, Medi, yang kemudian menyarankan sebuah situs pada Pita. Apabila ingin lebih fasih belajar bahasa Inggris melalui percakapan langsung dengan bule, bisa kok dilakukan melalui situs tersebut. Nama situsnya Asian Dating. Di situs itulah Pita bertemu Travis. Dan mereka pun pacaran.

Singkat kata singkat cerita, Travis datang ke Indonesia untuk bertemu Pita, dengan sebelumnya mengirimkan baju agar dipakai Pita saat menjemput Travis di bandara. Selanjutnya Pita diminta berlibur ke Amerika dengan drama visa yang luar biasa bikin kesal. Daaaan mereka menikah. Dua anak mereka adalah Zachary dan Rachel. 

Kenapa Video Pita Menarik?


Ya, memangnya ada apa dengan video-video Pita sehingga saya sampai meluang waktu menulis ini? Boleh dibilang ini adalah respon positif saya terhadap perempuan Indonesia yang tidak kehilangan jati diri meskipun sudah memperoleh green card dan menetap di Amerika. Dialeg Maluku-nya begitu kental ketika dia berbicara baik Bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Pun banyak sekali istilah-istilah Maluku/Manado yang terucap. Perempuan ini benar-benar bikin ngakak. Manapula dia suka sekali menertawai dirinya sendiri.

Vlog Pita sangat apa adanya. Saat bangun tidur, make up, memasak, jalan-jalan, menjemput anak, nongkrong di tempat makan bareng keluarga, hang out bareng mertua, bahkan saat harus temani Travis ke kantor/pangkalan (waktu Travis naik jabatan atau apalah itu wuih keren sekali). Cara dia berbicara itu sungguh roto (istilah Orang Ende untuk orang yang bicaranya lancar jaya tanpa titik koma) terutama kalau sedang bicara dalam Bahasa Indonesia. Dia tidak malu mengakui kekurangannya, tapi pun tidak merasa kehidupannya lebih baik dari orang lain.

Baca Juga: The Willis Clan

Pada salah satu vlog, saya terpingkal-pingkal waktu Pita nyerocos tentang perempuan Indonesia yang menikah dengan bule. Belajar masak dari sekarang karena tidak ada orang jual nasi goreng dan gorengan lainnya di sana kapanpun kalian ingin. Harus bisa masak sendiri. Uh she uuuup!

Yang juga membikin saya suka berlama-lama menonton vlog si Pita adalah informasi-informasi baru. Perlu dicatat, menonton vlog Pita juga memperluas wawasan. Apanya yang memperluas wawasan? Melihat video perempuan Indonesia yang menikahi bule dan tinggal di Amerika itu memperluas wawasan, are you sure? Ya, saya yakin. Layaknya blogwalking dan membaca blog kalian semua, itulah yang saya peroleh saat menonton video Pita. Diantaranya adalah tentang toko baju bekas di Amerika, tutorial make up, serta cara Pita mendidik dan merawat kedua anaknya dengan berani bilang, "No!" pada permintaan si anak. Saya lihat, Pita sangat tegas pada anak-anaknya, punya aturan yang diterapkan dengan sangat 'halus' tapi super 'tegas'.

Jadi, Ingin Menjadi Seperti Pita Juga?


Siapa yang tidak ingin? Subscriber banyak, iklan pun wara-wiri di vlog-nya. Tapi menjadi vlogger tidak semudah itu. Konten harus yang berkualitas, setidaknya menurut saya, dan mengundang ke-kepo-an orang lain terhadap konten kita. Pita berhasil membangunnya, karena ... siapa sih yang tidak ingin tahu tentang kehidupan di Amerika? Disajikan dengan cara yang sangat Indonesia pula. Jujur, saya tidak bisa menghasilkan konten berkualitas seperti konten berkualitas milik Ewafebri misalnya hahaha. Jadi, ingin menjadi seperti Pita boleh-boleh saja, tapi harus siapkan konten unik yang kita yakin bakal diburu banyak orang.

Ah ... apalah saya yang bicara konten video Youtube ... subscriber saja masih bisa dihitung dengan jari. Sudahlah ...


Semoga akhir minggu kalian menyenangkan ya ... kalau bosan, nonton saja Pita's Life. Sudah pasti kalian bakal terhibur, ngakak sendiri, sekaligus menambah wawasan.

Baca Juga: Bodo Amat

Yuk ah ...



Cheers.

Searching


Sebenarnya saya sudah sangat ingin menulis tentang Shutter Island, sebuah filem thriller yang diperankan oleh Leonardo Di Caprio, Mark Ruffalo, dan Ben Kingsley. Rasa gatal untuk menulisnya sampai tidak tertahankan dan meninggalkan ruam ganas. Namun, setelah menonton Searching, yang menurut saya juga sebuah filem thriller, saya pikir Shutter Island bisa menunggu dan kembali masuk dalam bucket list's review. Sementara Searching tidak bisa menunggu. Karena, jika terlambat, the missing girl could be dead.

Baca Juga: Nostalgia Alanis

Menggaruk demi memuaskan rasa gatal akan Shutter Island ... nanti. Sekarang mari kita simak seperti apa rupa Searching ini.

About Searching 


Searching adalah filem (drama) thriller yang diperankan oleh tiga pemeran utama yaitu John Cho sebagai David Kim, Michelle La sebagai Margot Kim, dan Debra Messing sebagai detektif Rosemary Vick. Filem yang dirilis komersil pada Agustus 2018 ini disutradarai oleh Aneesh Chaganty. Konon, filem ber-budget 1 Juta Dollar ini meraup keuntungan berlipat ganda yaitu 75,5 Juta Dollar. It's a wow! Keadaan itu yang menjadikan Searching salah satu box office yang patut diperhitungkan pada tahun 2018. Sekadar informasi bahwa sebuah filem dikatakan box office apabila keuntungan yang diraup melebihi biaya produksi.

Overview


Semoga ini tidak dianggap spoiler hahaha. 

Kisah Searching dibangun dari kehidupan rumah tangga David Kim, saat isterinya yaitu Pam masih hidup, bersama puteri mereka yang bernama Margot. Hampir semua momen kehidupan keluarga David Kim disimpan dalam bentuk foto dan video. Mulai dari saat Margot mulai duduk di bangku sekolah dari tahun ke tahun, Margot mulai mengenal alat musik piano dan membantu Pam memasak, saat David memperkenalkan Pokemon pada Margot, hingga Pam terserang kanker dan dirawat di rumah sakit dan meninggal dunia. Kesemuanya itu disimpan di sebuah komputer jadul yang masih memakai Widows XP. Ya, siapa pun yang pernah memakai Windows XP pasti kenal betul background dan bentuknya. Mulai dari user komputer itu hanya David seorang, hingga ditambah dua user lainnya yaitu Pam dan Margot. 



Setelah Pam meninggal, praktis David hanya tinggal bersama Kim, sesekali mengontak saudaranya yang bernama Peter Kim (diperankan oleh Joseph Lee). Kronologisnya adalah Margot telah masuk SMA dan masih kursus piano, life must go on, sementara David yang berusaha menjadi ayah yang baik bagi Margot masih 'hidup' bersama kenangannya tentang Pam melalui foto dan video keluarga mereka.

Suatu hari, selepas menghubungi Margot melalui FaceTime saat Margot sedang belajar kelompok di rumah salah seorang temannya, mengingatkan Margot akan sampah yang belum dibuang, David kehilangan kontak dengan Margot. Dia bingung, ke mana kah anaknya itu? Semua pesan chat tidak dibalas. Dihubungi di FaceTime pun tidak diterima. Nalurinya mengatakan ada yang salah, tapi dia masih menahan diri untuk tidak melaporkan pada pihak yang berwajib. Sampai 24 jam kemudian, David pun melaporkan kepada pihak kepolisian San Jose, California, tentang orang hilang. Dia kemudian menerima telepon dari seorang perempuan yaitu detektif Rosemary Vick. Si detektif meminta semua data Margot pada David demi menemukan puteri semata wayang David-Pam itu.


Siapa sangka ... jawabannya justru ada pada MacBook milik Margot yang ditinggal di rumah.

It's About Technology


Searching benar-benar filem tentang teknologi masa kini yang sehari-hari bersentuhan dengan umat manusia, dengan kita. Filem ini 90% didominasi oleh layar komputer tempat David berinteraksi dengan Margot, Peter, detektif Vick, hingga orang-orang yang disangkakan punya kaitan dengan hilangnya Margot. Saat David membuka MacBook milik Margot pun, saya langsung teringat pada tata cara pemulihan password. Untungnya e-mail yang digunakan Margot untuk mengembalikan akunnya bila melupakan password adalah e-mail milik Pam. Tentunya David tahu persis password e-mail milik Pam itu.


Dari situ, David mulai mengeksplor isi MacBook tersebut. Memasuki akun-akun media sosial milik Margot seperti Facebook, Instagram, Tumblr, hingga layanan video YouCast. Saat David mencoba daring di YouCast, dia ditonton oleh sebuah akun yaitu fish_n_chips yang langsung luring seketika. Ternyata, semua video di YouCast dapat disimpan. Gara-gara itu David jadi tahu bahwa Margot pun menyimpan semua video YouCast-nya.


Sementara itu, di e-mail, David menerima tawaran dari MemorialOne, sebuah situs yang menawarkan untuk menyiarkan pemakaman dalam bentuk video dan foto dari orang yang meninggal tersebut. Setelah akhirnya orang yang mengaku telah membunuh Margot bunuh diri, David mengunggah semua video dan foto Margot ke YouCast.

Ah, filem ini benar-benar tentang teknologi hahaha.

So Many Suspect


Sejak awal Margot hilang, terlalu banyak tersangka yang memenuhi benak penonton. Mulai dari teman-teman Margot yang ternyata begitu itu, teman lelaki yang bikin David meradang, adik David si Peter yang saya curigai sengaja membunuh Margot karena kuatir 'hubungan asmara' mereka terbongkar dan ternyata oh nooooo, hingga Hannah alias fish_n_chips yang ternyata akun palsu. 

Twist Plot


Ini yang sungguh ausam dari Searching. Twist plot! Hadir di akhir cerita, twist plot Searching sungguh tak terduga. Lahir dari wajah Hannah si fish_n_chips di YouCast yang ternyata sama dengan wajah ambassador MemorialOne. Oh, ampun, sampai di sini saya berpikir Hannah lah yang membunuh Margot. Bersemangat, David menghubungi kepolisian untuk melapor temuannya pada detektif Vick. Ternyata detektif Vick hanyalah seorang volunteer yang mengajukan dirinya untuk turut menangani kasus hilangnya Margot.

Trada ...

Ah ... tidak semudah itu menebak, kawan. It's not just about detektif Vick.


Pada akhirnya saya harus angkat topi untuk Aneesh Chaganty dan Sev Ohanian yang menulis filem ini. Otak mereka canggih betul. Dan apabila kalian bingung menentukan akhir cerita ini hanya berdasarkan review ini, artinya saya berhasil membikin kalian bingung sebingung saya sendiri saat menontonnya haha. 

Bila kalian mencari filem yang bisa membikin akhir minggu menjadi rada gimanaaa gitu, tonton Searching sekarang juga!


Cheers.

Double Ending


Bagi para penikmat filem, menonton filem merupakan proses otak turut bekerja untuk terlebih dahulu menyelesaikan kisah dari filem yang ditonton. Menebak. Itu kata sederhananya. Selama kita belum menonton trailer dan membaca review-nya terlebih dahulu. Menonton Fight Club, misalnya, otak saya bekerja keras menebak akhir filem tersebut, yang kemudian ditampar twist ending yang bikin melongo. Atau, saat saya menonton The Sixth Sense, sama rasanya saat ditampar dari twist ending Fight Club. Ah, ya, sama dengan menit-menit pertama menonton Split.

Baca Juga: Relikui Kematian #2

Kadang-kadang kita bakal bilang: tuuuuh kaaaan benar kah tebakan saya, ketika tebakan kita sama dengan adegan berikutnya dan/atau akhir filem yang bersangkutan. Pernahkah tebakan kalian diamini oleh akhir sebuah filem? Saya pernah. Tapi seringnya gagal. Haha. Saat menonton Train to Bussan dan Ia am Legend, misalnya, tebakan saya tentang pemeran utama yang selalu selamat alias tidak mati ... salah total. Duh, stigma pemeran utama selalu selamat nampaknya memang harus dihapuskan dari otak saya.

Filem-filem twist ending memang harus diakui super keren. Angkat jempol. Benar-benar menguras otak saat menontonnya dan membikin melongo pada ending-nya.

Tapi ... bagaimana perasaan kita ketika tahu bahwa filem favorit kita ternyata double ending? Lantas muncul pertanyaan, kenapa filem yang ditonton sebelumnya (bioskop) berbeda ending dengan yang ditonton ulang lewat DVD? Atau, bagaimana bisa filem yang sama, yang disedot gratisan tapi beda waktu dan sumber penyedotan, kemudian berbeda ending?

Double Ending


Double ending di sini dimaksudkan untuk filem-filem yang ternyata punya alternatif lain sebagai penutup cerita. Pertama kali tahu soal ini dari sebuah perdebatan panjang bersama teman sekolah saya Penny Kamadjaja. Penny bercerita tentang akhir sebuah filem yang dia tonton di bioskop. Jelas saya membantah karena akhir dari filem yang sama, yang saya tonton di DVD, berbeda dari yang dia ceritakan. Perdebatan panjang tidak dapat dihindari. Kami nyaris menggunakan ilmu silat demi membela harga diri. 

Ternyata, kami sama-sama benar.

Memang Ada!


Double ending memang ada. Alternatif yang sengaja disediakan oleh pembuat filemnya. Alternatif ini umumnya hanya satu (jadi ada dua jenis ending saja) tapi kadang-kadang tiga. Kenapa ada double ending ini tidak terlepas dari penonton-responden. Semacam uji coba dari sebuah filem. Tanggapan responden inilah yang menjadi acuan apakah ending perlu diubah atau tidak. Asyik banget kalau begitu jadi responden ya haha.

Baca Juga: Survival Movies

Kali ini saya hanya akan membahas satu filem yang pernah saya tonton, yang punya double ending atau punya lebih dari satu alternatif ending. Filem itu berjudul I am Legend.

Mari kita cek.

I am Legend


Pertama menonton I am Legend yang diperankan oleh Will Smith ini jelas bukan di bioskop. Karena kalau kalian membaca pos Mereview Filem (dan Buku), sudah dijelaskan mengapa saya sering me-review filem lama. Pertama kali menonton I am Legend itu sekitar tahun 2009 atau 2011. Kemudian, tahun 2018 kemarin saya mengulas tentang filem-filem bertema zombie pada pos 5 Filem Zombie Favorit. I am Legend termasuk di dalamnya, meskipun musuh Robert Neville (Will Smith) tidak disebut zombie melainkan Darkseeker. Bedanya? Darkseeker ini makhluk yang cerdas sedangkan otak zombie itu sudah gagal total.

Pada pos itu kalian bakal membaca review saya tentang kematian Robert Neville di akhir cerita. 

Terakhir, Robert memang menemukan anti virusnya, tapi dia harus mati di dalam tempat persembunyiannya demi menyelamatkan seorang perempuan dan anak kecil yang dia percaya akan membawa anti virus itu ke tempat perlindungan.

Baru-baru ini saya menonton ulang I am Legend karena memang suka sama ceritanya. Dan pada akhir cerita saya dibikin melongo. Dalam hati saya berkata: lagi-lagi double ending. Dan teringat perdebatan panjang antara saya dan Penny pada masa lampau. Alternatif lain akhir kisah I am Legend adalah Robert Neville selamat alias tidak meninggal dunia dalam ledakan. Karena, dia mempelajari ternyata Darkseeker ini punya perasaan pula (dan tentu otaknya juga cerdas). Robert, si wanita, dan anak kecil itu pun selamat dan bersama-sama menuju tempat perlindungan.

Dari kedua ending tersebut, yang mana yang kalian suka?

Namun, sebenarnya responden tidak menyukai akhir yang bahagia, haha. Makanya dibikin akhir cerita Robert meninggal dunia.

Masih banyak filem-filem lain yang juga punya double ending. Dan mungkin kalian juga sudah menonton semua versi/alternatif ending-nya. Sebut saja filem The Butterfly Effect dan Titanic. Saya sih sudah menonton filem-filem lama tersebut, tapi belum menonton versi lain dari akhir filemnya jadi belum bisa menulisnya di sini. Kalau I am Legend sih jelas sudah saya tonton kedua versi ending-nya jadi bisa menulisnya.

Baca Juga: The Willis Clan

Well, selamat berakhir pekan, kawan. Silahkan cari ending alternatif dari filem favorit kalian!


Cheers.

The Willis Clan

Sumber: Wikipedia.

Sebagian orang yang pernah menonton ajang pencarian bakat terutama America's Got Talent musim sembilan pasti tahu mereka. Ya, mereka memang mencapai perempat final, dan akhirnya harus menyerah alias tersingkirkan. Tapi mereka adalah inspirasi terkuat saat itu, terkhusus inspirasi keluarga America, sehingga dibikinkan reality show yang tayang di TLC. Tahun 2015 dan 2016 merupakan kejayaan mereka pada stasiun teve TLC. Lantas mereka seakan menghilang ... ada apakah gerangan? Itu yang terus saya cari tahu dan akhirnya ... ketemu! Penemuan yang menyakitkan.

Baca Juga: Bodo Amat

The Willis Clan. Satu nama yang membikin saya teringat pada keluarga sendiri. Saat dulu Bapa (alm.) membeli perangkat band dan band keluarga kami diberi nama Jemiri Band. Jemiri itu singkatan dari Jodoh Mati Rejeki (adalah milik Allah SWT). Para pemain Jemiri Band ada Kakak Toto Pharmantara (alm) di drum, Abang Nanu Pharmantara di gitar, dan dibantu oleh teman-teman mereka lainnya. Saya sendiri tidak pernah diijinkan bernyanyi di Jemiri Band. Haha *diketawain dinosaurus*. Ya sudahlah.

Kembali pada The Willis Clan. Mari kita simak ...

The Willis Clan


Kakek Willis sangat berduka saat kehilangan enam anaknya dalam sebuah kecelakaan fatal. Kecelakaan ini menjadi berita nasional terkait politik di Illinois dimana banyak orang dipenjara karena skandal suap untuk pembuatan SIM. Kehilangan yang amat sangat dalam itu kemudian 'terbayarkan' dengan kelahiran cucu-cucu dari anak-anaknya. Salah satu anaknya bernama Toby yang menikahi Brenda saat usia masih sangat muda. Pada usia tigapuluh Toby mendapat uang sejumlah $100 sebagai ganti rugi atas meninggalnya enam saudara kandungnya dalam sebuah kecelakaan tersebut. Dengan uang itu Toby pensiun dini pada usia tigapuluh tahun dan dia mulai membesarkan anak-anak bersama Brenda.

Anak-anak Toby dan Brenda dididik dengan sangat ketat. Mereka sangat berbakat di dunia musik; bermain alat musik, bernyanyi, dan menari, bahkan menciptakan lagu. Mereka diberi nama The Willis Clan. The Willis Clan muncul di ajang pencarian bakat America's Got Talent musim sembilan pada tahun 2014. Melihat duabelas anak beda usia muncul di panggung bikin syok para juri. Terutama si bungsu Jada yang imutnya bikin Mel B gemas to the max. Melihat pertunjukkan mereka membikin para juri mengacung jempol. Mereka hebat!

Uniknya, semua nama anak-anaknya Toby dan Brenda ini berawalan huruf J. Mereka adalah Jessica, Jeremiah, Jennifer, Jeanette, Jackson, Jedidiah, Jasmine, Juliette, Jamie, Joy-Anna, Jaeger, dan Jada. Semuanya sangat good looking dengan tubuh proposional yang bikin saya iri. Hiks.

Their Music


Setelah mengikuti America's Got Talent, The Willis Clan wara-wiri di televisi dalam reality show bertajuk The Willis Family yang tayang di TLC. Selain itu mereka juga tampil dari satu panggung ke panggung lain. Musik mereka mengingatkan kita pada musik tradisional dari Irlandia. Sebagian lagu-lagu The Corrs juga punya ciri seperti ini. Ya, mereka masih berdarah Irlandia. Tidak salah jika mereka juga pandai menari Irish Dance, yang ditunjukkan dalam setiap penampilan/pertunjukan mereka di panggung. Musik mereka didukung dengan permainan ciamik ragam alat musik seperti gitar, biola, suling, akordion, cajoon, dan lain sebagainya.

I do love their music!

Phenomenal Song and Dance


Satu lagu The Willis Clan yang bisa saya dengarkan puluhan kali dalam sehari berjudul 100 Times Better. Lagu ini punya musik yang renyah dan lirik yang manis. 

Games up
It all went out the window, Baby
What can I say
I wouldn't want it any other way
Live and learn
And our love will last
Whatever I do
Is a hundred times better with you

Itu penggalan lirik 100 Times Better yang menjadi favorit saya belakangan ini hehe. Pokoknya suka banget sama lagu ini dan saya jamin kalian juga bisa suka.

Nah, menariknya, lagu ini selalu menjadi semacam lagu pamungkas yang mengiringi The Willis Clan menari. A very very very sweet dance! Saya sampai membikin status di Facebook, meminta Kakak Rikyn Radja mengajari saya menari seperti The Willis Clan. Haha. Sungguh, tidak tahu malu saya ini. Videonya bisa kalian lihat di bawah ini:



Keren kan?

Tragedi


Nama The Willis Clan lantas memudar setelah menggaung di seluruh dunia melalui reality show di TLC. Ayah dari duabelas anak itu, Toby Willis, ditangkap pada tahun 2016 atas tuduhan pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur yang dilakukannya pada tahun 2004. Dunia seperti runtuh. Ya, runtuh, karena anak-anak di bawah umur itu adalah anak-anak perempuannya sendiri. Merujuk pada tiga anak perempuan tertuanya yaitu Jessica, Jennifer, Jeanette. Sungguh, membaca berita itu, juga menonton videonya, bikin saya geregetan. Why father Toby? Bahkan setelah Jessica menikah, Toby suka mengucilkan suami Jessica apabila dianggapnya melanggar aturan keluarga. Ck ck ck. Sungguh otoriter. Ter-la-luuuu.

Pada tahun 2017 Toby mengaku atas empat tuduhan pemerkosaan anak. Dia menerima hukuman dua puluh lima tahun penjara dengan dua dakwaan, dan dua hukuman empat puluh tahun untuk dua dakwaan lainnya. Sedih. Tapi setimpal dengan perbuatannya, termasuk terhadap anak-anaknya sendiri. Ya kan? Derita Brenda pasti sangat berat; pengkhianatan terjadi dan dilakukan oleh orang yang sangat dia cintai.

Bangkit Lagi


Setiap orang pasti pernah jatuh, tapi belum tentu setiap orang yang jatuh itu dapat bangkit lagi dan bersinar. The Willis Clan sejak kecil diajarkan untuk saling menyayangi. Duabelas orang itu kalau tidak saling menyayangi bisa kacau dunia rumah tangga kan haha. Makanya The Willis Clan kemudian bangkit lagi, bersama Ibu mereka tentu saja, dan mengeluarkan single Speak My Mind. Mereka lantas merilis album pada September 2018. Silahkan cari dan dengarkan lagu-lagu mereka. Kalau kalian penasaran ... sih. Tapi bagi saya, 100 Times Better masih jadi favorit! Yuhuuuu!


The Willis Clan, di luar tingkah laku Toby, merupakan bukti pada kita semua bahwa keluarga merupakan tempat terbaik untuk pulih dari segala masalah. Tiga anak perempuan tertua Toby dan Brenda yang mengalami pelecehan seksual oleh Toby bangkit lagi dan tentu atas dukungan keluarga terutama Brenda dan tiga anak laki-laki tertuanya. Mereka berenam (enam anak tertua Toby dan Brenda) melaju terus di dunia musik sementara adik-adik mereka diharapkan untuk tidak terlalu tersorot setelah Toby tertangkap.

Baca Juga: Pembalasan Laut

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernahkah kalian menonton The Willis Clan? Sukakah kalian dengan lagu-lagu mereka? Kalau saya sih hyess. Semua tentang mereka bakal selalu menjadi kesenangan saya.



Cheers.

Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat



Kalian pasti tahu matrix glitch, tapi apakah kalian mempercayainya? Dari yang saya baca tentang matrix glitch ini, sederhananya, matrix glitch adalah kondisi terhubungnya benang merah dengan cara tidak terduga atau tanpa disadari. Contohnya saat kalian pergi ke suatu acara, ada enam perempuan memakai gaun yang sama, dan keenamnya tidak pernah janjian untuk memakai gaun yang sama (warna, corak, model). Bisa jadi enam perempuan itu sahabatan, bisa juga mereka bahkan tidak saling kenal. Itu matrix glitch.

Baca Juga: The Mentalist

Matrix glitch juga bisa diistilahkan pada suatu keadaan kebetulan yang menyambung atau menghubungkan beberapa hal sekaligus. Dan, baru-baru ini saya mengalami matrix glitch.

The Story Behind The Book


29 Januari 2019 saya mengepos di Facebook sebuah buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Foto buku ini dikirim oleh Stanis More, yang waktu ke Jakarta cuma sempat memotret si buku dan menunggu konfirmasi saya apakah mau atau tidak sementara saya sendiri KETIDURAN sehingga tidak membalas pesan WA si Stanis, dan akhirnya Stanis pulang ke Ende tanpa membawa si buku. Huhuhu. Okay, saya mengeposnya di Facebook ditambah tulisan yang hampir sama dengan yang kalian baca barusan. Ini dia penampakan bukunya: 


Yang tidak saya sangka adalah, sahabat saya Ferdinandus Setu, sahabat masa SMP saya yang saat ini menjabat Plt. Kepala Biro Humas Kementrian Komunikasi dan Informasi RI, menyambar alias langsung mengomentari status Facebook tersebut. Anyhoo, iya, wajahnya sering wara-wiri di televisi untuk diwawancarai terkait isu-isu tentang hoax dan lain sebagainya.



Haha. Betul, kawan! Saya menunggunya di bandara, dan kisah matrix glitch kami ternyata panjang. Luar biasa ...


Ini matrix glitch banget, karena saya dan Pak Advent sama-sama menjadi anggota panitia Tim Promosi Uniflor 2019!

About The Book


Saya belum tamat membacanya. 

GUBRAK!!!!

Tapi jangan kuatir, saya bisa kok menulis sedikit ulasan tentang buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karena sudah membaca puluhan halaman-halaman pertama. Lumayan, sambil mengisi waktu di kantor kalau lagi menunggu anggota meeting lainnya, dan menyeruput kopi susu, hehe. Sungguh, saya suka sekali kata 'bodo amat' untuk dipakai pada situasi tertentu, hihi. Maafkan. 

Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, dengan tagline Pendekatan Yang Waras Demi Menjalani Hidup Yang Baik, yang ditulis oleh Mark Manson. Berwarna oranye, kenapa bukan kuning ya, dengan tulisan besar-besar berwarna hitam. Banyak kalimat menarik dan quotes yang patut digarisbawahi di dalam buku ini, yang bahkan sudah digarisbawahi oleh si pemilik pertama yaitu Ferdin. Salah satunya adalah yang tertera pada halaman 19 Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan.

Pada rangkaian awal paragraf demi paragraf buku ini saya jadi paham bahwa kadang kita selalu meributkan hal-hal sepele yang menyita waktu dan tenaga padahal hal-hal itu sebenarnya bisa saja kita maafkan. Halaman 21 menegaskannya: Jadi menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan Anda, mungkin menjadi cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga Anda. Karena jika Anda tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian Anda akan tercurah untuk hal-hal yang tanpa makna.

Baca Juga: Buku Saku: Ende

Mark Manson 'mengajarkan' kita untuk tidak menjadi pribadi yang lebih baik melainkan menjadi pribadi yang 'tahu tentang diri sendiri' dan mengenyampingkan apa-apa yang sebenarnya tidak penting dalam hidup kita. Coba pikirkan lagi, kesulitan terbesar di atas kesulitan yang kita pikir sudah cukup sulit.

Tentu saya harus membacanya sampai selesai untuk bisa menulis lanjutan review dari buku ini. Tapi tidak sekarang ... karena Senin nanti saya harus berangkat ke kabupaten tentangga untuk melaksanakan tugas kantor haha. Cihuy! Bakal banyak cerita kelak :D

Selamat berakhir pekan, kawan.


Cheers.

The Mentalist



Kalau kalian membaca pos tentang 5 Keseruan Tinggal di Motorhome, sedikit tidaknya sudah tahu tentang serial televisi yang satu ini. Sudah lama saya menonton The Mentalist, waktu itu masih menonton televisi yang kisahnya bisa kalian baca di pos tentang 5 Manfaat Tidak Menonton Televisi, di channel Fox atau Fox Crime. Saya lupa channel-nya karena sudah lama sekali. Saya memang tergila-gila pada serial-serial kriminal seperti Castle, Law & Order, Law & Order: Criminal Intent, Law & Order: Special Victims Unit, Criminal Minds, CSI dan fransaisnya, NCIS, Quantico, Sherlock, Hawaii Five-O, dan lain sebagainya. Jauh sebelum itu pun TVRI sudah bikin saya terpesona pada serial kriminal seperti Hunter, Remington Steele, dan yang paling fenomenal Twin Peaks.

Baca Juga: Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan

Gara-gara Hooq, saya kembali menonton The Mentalist secara semua season (dulu saya menulis session loh) lengkap tersaji. Senangnya hatiku hilang panas demamku karena bisa melanjutkan kisah si Patrick Jane dalam membantu para agen California Bureau of Investigation (CBI) yang berpusat di Sacramento. Bagi kalian yang belum pernah menonton The Mentalist dan memang ingin mencari hiburan serial kriminal, silahkan tonton dan rasakan sensasi yang berbeda dari serial kriminal lainnya.

Mari mengulas The Mentalist.

The Mentalist


The Mentalist merupakan serial kriminal yang menceritakan tentang tugas para agen di CBI yang kantor pusatnya di Sacramento dalam memecahkan kasus-kasus pembunuhan. Dalam menjalankan tugas, satuan agen (karena di CBI ini banyak satuan agen) yang dipimpin oleh Teresa Lisbon dibantu oleh Patrick Jane, seorang lelaki yang mengalami trauma berat karena isteri dan anaknya dibunuh secara brutal dan lantas terobsesi pada si pembunuh berantai bernama Red John tersebut.

Tokoh The Mentalist


The Mentalist diperankan oleh banyak aktor dan aktris karena kadang terjadi pergantian tokoh tertentu dan/atau karena si tokoh meninggal dunia. Tapi di sini saya hanya akan membahas tentang tokoh-tokoh sentral-nya saja. Dan seterusnya saya akan menulis nama family mereka.

Semua gambar tokoh ini diambil dari Wikipedia.


1. Teresa Lisbon

Teresa Lisbon merupakan agen sekaligus kepala satuan agennya. Karakter ini diperankan oleh Robin Tunney. Sebagai kepala satuan dia harus bisa bersikap adil pada semua agen-agennya termasuk pada konsultan yaitu Jane. Tantangan terberat Lisbon adalah bagaimana bisa 'mendisiplinkan' Jane yang kadang bikin para atasan kesal to the max.

2. Kimball Cho

Karakter Kimball Cho diperankan oleh mantan pacar saya Tim Kang. Waktu Cho punya pasangan yaitu inforwoman-nya sendiri yang syukurnya kemudian mereka putus, saya sampai tidak bisa tidur karena cemburu. Haha. Dia termasuk agen yang sedikit bicara, banyak kerja. Jangan pernah menanyakan pendapatnya karena dia punya jawaban favorit: ya atau tidak.

3. Wayne Rigsby

Meskipun sudah tahu Cho bakal jawab seperlunya saja, Rigsby paling doyan curhat sama sohibnya ini, terutama soal hubungan asmaranya baik dengan Van Pelt maupun dengan ibu dari puteranya Sarah Harrigan. Oh ya, Rigsby punya anak memang dari Harrigan, tapi kemudian dia justru menikahi Van Pelt, perempuan yang sangat dicintainya sejak pertama bertemu di CBI. Rigsby diperankan oleh Owain Yeoman.

4. Grace Van Pelt

Tinggi, cantik, pintar, kerjaannya selain di lapangan juga di bidang komputer dan jaringan. Gara-gara aturan lama yaitu sesama agen dilarang saling mendahului, eh sesama agen dilarang punya hubungan asmara, Van Pelt dan Rigsby pun putus. Gara-gara itu, Van Pelt pacaran sama agen FBI bernama Craig O'Laughlin yang ternyata kaki-tangannya Red John.

5. Patrick Jane

Ini dia tokoh paling menyebalkan sekaligus paling brilian. Jane adalah cenayang-palsu yang mencari uang lewat acara-acara tentang cenayang, padahal sesungguhnya dia hanya menggunakan kesempatan, momen, dan ketelitian dalam memerhatikan sesuatu. Menjadi masalah ketika di televisi dia semacam menantang Red John, si pembunuh berantai. Pulang ke rumah, isteri dan anak Jane tewas dibunuh oleh Red John. Bagaimana dia tahu? Karena di dinding kamar itu ada wajah senyum yang digambar menggunakan darah. Ciri khas Red John. Van Pelt diperankan oleh Amanda Righetti.

Garis Besar


Ada tujuh season The Mentalist. Pada masing-masing season, setiap episodenya menampilkan kasus demi kasus pembunuhan. Sebagai pengenalan, pada season pertama, kasus pembunuhan isteri dan anak Jane (oleh Red John) menyebabkan lelaki itu menghilang selama setahun, lantas mendadak muncul di kantor CBI untuk menanyakan proses penyelidikannya. Karena mengganggu, dengan penampilan awut-awutan dan selalu bertanya, Lisbon diminta untuk 'mengurusi' Jane. Jane pun diajak menuju lokasi pembunuhan yang sedang ditangani. Kasus ini, boleh dibilang kasus pertama Jane, dipecahkan dengan sangat mudah oleh Jane. Caranya melihat posisi korban, mencium aroma, mempelajari pakaian dan asesoris korban, sampai menyusun skenario kejadian, sungguh di luar pola kerja para agen.

Jane kemudian menerima kotak berkas kasus Red John atas kematian isteri dan anaknya, diberi sebuah meja menghadap jendela besar, untuk membaca berkas-berkasnya. Sampai gedung CBI kemudian direnovasi, area itu kemudian menjadi ruang kantor khusus untuk Jane dengan ciri khas jendela besarnya itu.

Ya, betul ... Jane lantas menjadi konsultan CBI. 

Meskipun setiap episode dari masing-masing season menampilkan begitu banyak kasus pembunuhan, namun Jane tidak pernah lupa pada berkas-berkas Red John tersebut. Inilah hebatnya The Mentalist, ada benang merah yang menghubungkan season satu sampai tujuh. Siapa Red John? Sudah terungkap di season enam. 

Benang Merah


Red John adalah benang merah The Mentalist. Red John; seorang pembunuh berantai yang selalu selangkah di depan Jane, punya sumber daya tidak terbatas, dan punya kaki-tangan yang loyal. Kaki-tangannya yang terakhir yang paling saya ingat adalah Lorelei Martins, yang sempat dekat dengan Jane, namun kemudian dibunuh juga oleh Red John dengan meninggalkan trade mark-nya yaitu senyum berdarah.

Membongkar kedok Red John sama dengan membongkar sindikat (wuih) penegak hukum korup di California; yang anggotanya mulai dari sherrif di desa sampai anggota CBI, FBI, jaksa, hakim, dan sebagainya. Red John sendiri ternyata seorang (semacam) sherrif yang sudah lama dicurigai baik oleh Lisbon maupun oleh Jane. Tapi mereka sering terkecoh. Hanya saja saya masih kurang sreg tentang penentuan tokoh yang ternyata adalah Red John ini, dan saya kurang suka titik tamatnya Red John. Selebihnya ... Ini serial cerdas.

Baca Juga: Don't Breathe

Seru ya menulis tentang The Mentalist. Setelah sekian lama hahaha. Saya pikir kalau kalian mau menontonnya, bagi yang belum menonton, itu bagus haha. Kita bisa diskusi bersama hehe.

Selamat berakhir pekan, kawan.


Cheers.

Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan


Saya tidak bisa mengingat sejak kapan kami sahabatan. Sudah lama saling kenal, just say hi, kemudian mulai dekat dan bersahabat. Suka, duka, haha, hihi, kadang di kafe, seringnya di Pohon Tua. Bagi saya dia adalah perempuan hebat, penyiar kece, MC kesohor, isteri dan ibu yang luar biasa. Dan ketika Natal 2018 kemarin dia mendapat kesempatan merayakan Hari Raya Natal di Vatikan, bahkan diberi kesempatan mencium tangan Sri Paus, saya hanya bisa bilang: bangga saya sama kau, Des.

Baca Juga: Don't Breathe

Saya lalu berpikir, ini berita luar biasa, sayang jika tidak diviralkan. Saya lantas menulis di Facebook sebagai berikut:


Natalia Desiyanti merupakan salah seorang jurnalis Radio Republik Indonesia (RRI) asal Kabupaten Ende. Selain suaranya dikenal lewat udara dalam frekuensi siar Pro 1 RRI Ende, Natalia Desiyanti yang sehari-hari disapa Desy, juga dikenal sebagai MC kesohor Kabupaten Ende dengan jam terbang tinggi. Perayaan Hari Raya Natal, 25 Desember 2018, merupakan momen berharga yang tidak akan terlupakan oleh wanita yang bersuamikan Jerro Larantukan dengan putera-puteri Dimitri, Queenza, dan Gavriel. Desy merupakan satu-satunya jurnalis RRI yang lolos seleksi reporter yang diselenggarakan oleh RRI dan berkesempatan meliput perayaan Hari Raya Natal di Vatikan. Ini adalah mimpi semua Umat Katolik untuk bisa merayakan Hari Raya Natal langsung di pusat Gereja Katolik seluruh dunia.


Prestasi yang diraih Desy sebagai satu-satunya yang terpilih dari seleksi ribuan angkasawan dan angkasawati seluruh Indonesia ini masih menghadirkan rasa tidak percaya dalam hatinya. Ia yakin berkat Tuhan yang berlimpah serta potensi diri telah mengantarnya pada pengalaman rohani ini. Bukan cerita baru lagi jika masyarakat Indonesia Timur sering dipandang (serta, kadang memandang diri sendiri) sebelah mata. Kalah sebelum bertempur bukan sifatnya, sehingga Desy optimis dapat bersaing dan berkiprah di kancah nasional dan internasional. Ia melawan pesimisme dari lingkungan sekitar dengan karya dan prestasi yang bertahap dibangun dari fondasi hingga puncak. Oleh karena itu, kesempatan emas yang merupakan kepercayaan lembaga tempatnya berkarya harus dijalani dengan penuh tanggung jawab, sekaligus sebagai pembuktian bahwa potensi Indonesia Timur mampu berkiprah di tingkat Internasional.

Rentang waktu 1 minggu bertugas di Vatikan, Desy tinggal di Rumah SVD bersama para Imam SVD. Di Rumah SVD itu selain bersama para tamu wisatawan rohani lainnya dari beberapa negara di dunia, juga bersama Orang Indonesia Pertama Asal NTT, yang menjadi superior general ke 12 serikat sabda allah (SVD) Pater Paul Budi Kleden, SVD, Pater Markus Solo Kewuta yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Relasi Lintas Agama Asia Pasifik di Vatikan, dan beberapa pastor asal NTT lainnya. Selama menjalankan tugas jurnalistik pun, Desy didampingi Romo Leo Mali, yang juga berasal dari NTT yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan Doktor nya di Roma Italia. Hal inilah yang membuatnya semakin bangga menjadi Orang NTT sekaligus menjadi motivasi bagi Orang NTT lainnya untuk melakukan karya terbaik di bidangnya masing-masing.


Selama berada di Italia, Desy mengaku mengalami kendala antara lain penyesuaian suhu karena di Italia sedang musim dingin, penyesuaian menu makanan Italia, serta perbedaan waktu (7 jam) antara Italia dan Indonesia dimana waktu bekerja di Italia biasanya menjadi waktu istirahatnya di Indonesia, demikian pula sebaliknya waktu istirahat di Italia biasanya menjadi waktu bekerjanya di Indonesia. Namun kendala-kendala kecil itu lekas teratasi pada hari kedua tugasnya di sana.

Kembali ke Indonesia, ke Kota Ende, Desy dengan senang hati bercerita tentang pengalamannya bertugas di Vatikan kepada siapapun yang bertanya. Baginya, bercerita pengalaman bertemu orang-orang hebat asal NTT, mewawancarai Duta Besar RI untuk Tahkta Suci Vatikan, singgah ke tempat-tempat bersejarah di Roma dan di Vatikan, mengelilingi Basilika St. Petrus, dan menjadi satu-satunya jurnalis Indonesia yang diberi kesempatan beraudiensi dengan Sri Paus, merupakan kebanggaan serta dapat menjadi motivasi bagi siapapun untuk terus berusaha dan menjejakkan prestasi.

Terakhir, Desy berharap semoga pengalamannya dapat menjadi daya ungkit kepercayaan diri bagi sesama, bahwa tidak ada yang tidak mungkin , jika kita berusaha sungguh dalam nama Tuhan.

***

Ketika saya menulis ini, apalagi mengaku bahwa Desy adalah salah seorang sahabat saya, mungkin banyak yang mencibir.


Namun, sebagai seorang sahabat, apalah yang bisa saya lakukan selain menulis ini. Apabila Indonesia punya Good News From Indonesia, kenapa kita tidak punya Good News From Ende? Kabar baik harus diviralkan karena sesungguhnya saya bosan pada tsunami kebohongan yang menghantam negara ini.

Salam.


Pos/status di Facebook tersebut disukai 600-an Facebooker, dan masih terus bertamah. Tentu pos di Facebook tidak bisa menyelipkan foto seperti yang saya edit pada pos di blog ini. Di Facebook, pos tersebut hanya sebagai keterangan dari beberapa foto yang juga saya unggah.

Baca Juga: Sastra Indonesia di NTT dalam Kritik dan Esay

Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya bangga padanya. Bersahabat dengannya menambah aura positif dalam hidup saya. Kami saling berbagi informasi, berbagi kesenangan, dan berbagi rejeki hahaha. 


Betul, seperti yang Dessy katakan sendiri bahwa perjalanannya ke Vatikan ini dapat menjadi daya ungkit bagi kita semua. Prestasi setiap orang beda-beda, tujuan tertinggi Insha Allah semua ingin meraihnya, yang perlu dilakukan adalah tetap optimis, tetap berusaha, dan tentu saja tetap berdo'a memohon ridho-Nya. 

Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua :)



Cheers.

Don’t Breathe

Gambar diambil dari Wikipedia.


Mengapa Hooq masih menyegel Don't Breathe? Pertanyaan ini terus bergema di kepala saya serta dalam kehidupan sehari-hari dinosaurus sejak keinginan menontonnya terhalang simbol gembok. Huhuhu. Sekitar dua tahun menggauli Hooq hingga sekarang menulis ini, filem itu masih saja TERGEMBOK, pemirsa! Padahal itu filem lama! Tidak tahukah kau, wahai Hooq, saya rela meninggalkan Viu demi dirimu?


Apa salah dan dosa saya ... hiks *timpuk dinosaurus pakai permen*

Baca Juga: Buku Saku: Ende

Kalau belum nonton, kenapa pula hari ini menulis tentang Don't Breathe? Karena ada trailer-nya alias promosinya. Jadi nih, Hooq tidak kejam-kejam amat, karena masih menyediakan trailer untuk para penikmat filemnya. Bagi kalian yang belum nonton Venom, jangan kuatir, sudah ada trailer-nya juga di Hooq. Haha. Gini hari nonton trailer doank, Teh ... dududu. Apa kata dunia.

Tapi tak apalah.

Behind Don't Breathe


Don't Breathe merupakan filem horror thriller Amerika yang dirilis tahun 2016 dan disutradarai oleh Fede Alvarez. Filem menegangkan ini diproduseri oleh Fede Alvarez, Sam Raimi, dan Robert Tapert. Naskah filem yang ditulis oleh Fede Alvarez dan Rodo Sayagues ini dibintangi oleh Jane Levy, Dylan Minnette, Daniel Zovatto, and Stephen Lang. Saya memang jarang mendengar atau membaca nama-nama itu tapi akting mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Karena belum tentu saya bisa berakting sebagus mereka.

About Don't Breathe


Don't Breathe bercerita tentang Rocky, Alex, dan Money (yess, thankyou Wikipedia) yang adalah penjahat di Detroit. Pekerjaan mereka membobol rumah-rumah yang diamankan oleh perusahaan keamanan ayah si Alex dan menjual barang-barang curian tersebut. Mereka kemudian mendengar kabar bahwa ada seorang veteran perang Pasukan Khusus Angkatan Darat AS yang tinggal di lingkungan Detroit yang terabaikan (semacam lingkungan perumahan yang tidak dihuni begitu) memiliki uang 300.000 Dollar di rumahnya. Uang itu diterima si veteran sebagai penyelesaian setelah seorang perempuan muda yang kaya bernama Cindy Roberts membunuh puterinya dalam kecelakaan mobil. Si veteran perang adalah seorang laki-laki buta karena ledakan selama perang.

Berpikir mencuri di rumah orang yang buta: pasti mudah. Tinggal masuk, mengambil uangnya, terus kabur. Ternyata tidak semudah itu, bahkan nyawa mereka menjadi taruhannya, karena si veteran ini 'melihat' segala sesuatunya melalui suara. Indera pendengarannya sangat terlatih. 


Bahaya!

Maksud hati mencuri uang 300.000 Dollar si Money justru duluan meregang nyawa. Keributan yang terdengar akibat upaya mereka bertiga masuk paksa ke rumah itu membikin si buta dari gua hantu bangun dan mencium aroma pembobolan. Siapapun yang masuk ke rumah itu tanpa permisi, sudah pasti tidak berniat baik bukan? Veteran perang yang buta itu ternyata punya kemampuan yang luar biasa; Rocky dan Alex kemudian harus menyelamatkan diri berhadapan dengan si jagoan yang bahkan dapat mendengar dengus nafas mereka dari jarak lumayan jauh.

Menonton trailer-nya saja sudah bikin saya menahan nafas saking menegangkannya filem ini.

Karena trailer tidak lengkap maka saya mencari referensi tentang filem ini di Wikipedia. Ternyata di ruang bawah tanah rumah itu tersekap perempuan yang secara tidak sengaja membunuh anak si veteran dalam kecelakaan. Ya, Cindy Roberts! Penemuan harta karun Cindy diketahui Rocky dan Alex saat mereka terjebak di ruangan bawah tanah.

Baca Juga: Ngelawak Bersama Mamatua

Saya berharap suatu saat nanti dapat menonton Don't Breathe (full movie). 

Menonton trailer Don't Breathe membikin saya teringat pada A Quite Place yang saya tulis: ribut berarti mati. Saya pikir filem-filem setipe ini jauh lebih menakutkan ketimbang filem yang secara terang-benderang menampilkan wajah setan dan sebangsanya. Kalau kalian pernah menonton filem berjudul Exorcism of Emily Rose, kalian pasti merasakan tensi yang sama dengan Don't Breathe dan A Quite Place. Tidak perlu si setan ikut masuk dalam frame haha.

Bagi kalian yang pernah menonton Don't Breathe atau bahkan pernah mengulasnya, bagi tahu donk di komen :) siapa tahu pengalaman menonton kita berbeda ... yaaaa secara saya baru nonton trailer-nya saja.

Selamat berakhir pekan, kawan :)



Cheers.