Ketika Keberadaanmu Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri

Gambar diambil dari: Wikipedia.

Ketika Keberadaanmu Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri. Kalimat itu belum selesai. Kelanjutannya terungkap tidak melalui satu dua kata melainkan satu pos utuh! Penasaran kan? Makanya, dibaca sampai selesai #SabtuReview kali ini, ya! Hehe.

Baca Juga: Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island

#SabtuReview kali ini masih datang dari lini filem. Buku, mana buku? Ada memang buku yang saya baca demi beberapa urusan pekerjaan tapi bukunya berjudul Tindak Pidana Terhadap Kehormatan Pengertian dan Penerapannya, Pidana Penghinaan adalah Pembatasan Kemerdekaan Berpendapat yang Inkonstitusional, Tindak Pidana Pers (Penyerangan Terhadap Kepentingan Hukum yang Dilindungi dengan Mempublikasikan Tulisan), dan Kamus Hukum. Kalian pasti bakal ngelempari saya pakai bakiak kalau sampai me-review buku-buku tersebut. Haha. Kecuali ada yang me-request khusus, Insha Allah saya review *ngikik*.

Jadi, filem apa yang saya bahas? Yuk simak!

Missing Link


Missing Link, dirilis tahun 2019 tepatnya bulan April, merupakan filem jenis animasi stop-motion yang ditulis dan disutradarai oleh Chris Butler dan diproduseri oleh Laika bekerja sama dengan Annapurna Pictures. Pengisi suaranya antara lain Hugh Jackman, Zoe Saldana, Emma Thompson, Stephen Fry, David Walliams, Timothy Olyphant, Matt Lucas, Amrita Acharia, dan Zach Alifianakis. Ya, itu yang tertulis di Wikipedia.

Setelah dirilis, filem ini mendapat banyak tanggapan positif dari para kritikus yang memuji tentang set filem yang dibuat dengan indah dan suasana yang menyenangkan dan santai.

The Missing Link


Filem ini dibuka dengan adegan pencari makhluk mitos bernama Sir Lionel Frost sedang berada di atas sampan bersama asistennya yaitu Mr. Lint untuk menemukan dan mengabadikan monster monster sejenis loch ness. Dan mereka gagal. Kamera yang telah memotret si mosnter hancur bersama sampan yang berkeping-keping di laut, dihancurkan oleh si monster. Mr. Lint mengundurkan diri sebagai asisten Sir Lionel Frost karena tidak ingin hidupnya berakhir terlalu cepat. Pada saat itulah Sir Lionel Frost membaca surat dari seseorang yang mengabarkan tentang keberadaan makhluk yang disebut Sasquatch.

Demi bisa bergabung dengan komunitas orang-orang hebat yang dipimpin oleh Lord Piggot-Dunceby, Sir Lionel Frost akan membuktikan bahwa Sasquatch ini betul ada. Dan dia memulai perjalanannya untuk mencari si makhluk mitos.

Awalnya saya berpikir pencarian si makhluk ini yang bakal lama ... ternyata. Cepat saja perjalanan Sir Lionel Frost ke Pasific Northwest, menemukan Sasquatch di hutan, terkejut karena Sasquatch ini ternyata bisa bicara! Tidak hanya itu, Sasquatch juga yang mengirimkan surat itu kepada Sir Lionel Frost. Kemudian Sasquatch diberi nama Link, senada sama nama asisten lamanya Sir Lionel Frost yang bernama Lint.

Dari cerita Link, bisa disimpulkan dia adalah the real missing link dari kerabat jauhnya yang hidup di Himalaya. Kerabat jauh si Link ini adalah yeti, makhluk mitos yang dikejar banyak orang juga. Sayangnya Sir Lionel Frost tidak tahu bahwa untuk menghalangi maksud dan tujuannya, Lord Piggot-Dunceby menyewa pembunuh bayaran yaitu Stenk. Sadis ya haha. Setuju membantu Link, perjalanan pun dimulai dengan pertama-tama mencuri peta lokasi Shangri-La di kediaman Adelina Fortnight yang adalah mantan pacarnya Sir Lionel Frost. Ndilalah Adelina pun ikut dalam perjalanan ke Himalaya.

Perjuangan demi perjuangan menghindari Stenk, hubungan Frost - Link yang kemudian menjadi lebih baik setelah diintervensi Adelina, serta sulitnya medan yang ditempuh, membawa mereka ke lembah Shangri-La. Mereka memang menemukan Kuil Yeti yang terhubung dengan dataran di sebelahnya melalui jembatan es. Link alias Susan (iya dia memilih nama ini dalam obrolan bersama Sir Lionel Frost di kapan) sangat bahagia. Tapi ...

Link, Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri


Ratu dengan wajah bengis itu ternyata menolak keberadaan Link dan menjebloskan mereka bertiga ke penjara bawah tanah. Sementara itu ketika mereka berhasil meloloskan diri, malah terjebak di tengah jembatan karena di hadapan mereka telah menunggu Lord Piggot-Dunceby beserta asistennya dan Stenk. Nyawa jadi taruhan. Tapi pada akhirnya jembatan rubuh, Lord Piggot-Dunceby jatuh bersama runtuhan jembatan, Stenk berusaha menyelamatkan diri tetapi tetap saja menyusul Lord Piggot-Dunceby. Sir Lionel Frost, Link, dan Adelina pun selamat.

Keluarga Bukan Hanya Darah


Filem ini mengajarkan pada saya banyak hal. Salah satunya adalah keluarga bukan hanya darah. Buktinya, si Sasquatch yaitu Link yang masih kerabatnya yeti saja ditolak oleh Ratu Yeti. Padahal mereka masih satu lingkaran! Sedangkan Sir Lionel Frost dan Adelina yang tidak punya hubungan apa-apa dengan Link kemudian menjadi 'keluarga'nya si tautan yang hilang ini. Menulis ini saya jadi ingat meme yang sering muncul di time line Facebook: Kalau kau miskin, kau dijauhi - Kalau kau kaya, kau punya banyak saudara. Alias, banyak yang bakal mengakuimu sebagai saudara. Haha. Masa iya? Iya juga kali ya. Dan percaya tidak percaya hal-hal semacam ini terjadi pula dalam kehidupan kita dan/atau orang-orang di sekitar kita.

Saya tidak saja punya banyak teman tapi juga punya banyak saudara karena teman-teman adalah saudara. Apakah mereka harus kaya raya baru diakui sebagai saudara? Tidak lah. Cuma orang-orang lemah saja yang begitu. Haha. Siapapun kalian, kalau berteman dengan saya, ya sudah saya anggap saudara sendiri. Susah senang kita bersama.

Pelajaran lain yang saya petik dari filem Missing Link adalah tentang perjuangan. Hasil tidak pernah mengkhianati perjuangan. Dalam filem ini, Link memang tidak berhasil berkumpul dan tinggal bersama kerabat jauhnya itu, tetapi dia akhirnya hidup bebas dan bahagia bersama Sir Lionel Frost dalam petualangan-petualangan mereka mencari makhluk mitos. Itulah hasil yang dicapai: bebas dan bahagia.

Membikin Missing Link


Baru-baru ini saya menonton di Youtube tentang proses membikin filem animasi stop-motion yang ternyata asyik sekali! Lebih asyik lagi, video dari channel-nya Insider itu mengulik proses membikin filem Missing Link!



Aaaah ternyata begitu toh proses bikin animasi stop-motion.

⇜⇝

Bagaimana, kawan? Seru kan? Membaca review-nya seru. Menonton proses membikin animasi stop-motion juga seru. Melihat setiap divisi dengan pekerjaan kreatifnya masing-masing itu membikin saya lupa waktu. Nontonnya pun berulang-ulang. Bagaimana mereka mengubah set demi set itu, pergerakannya, pengisian suara (dubbing), sampai membikin banyak wajah dengan ekspresi berbeda, sungguh luar biasa. Kita bisa menyaksikan hasil akhirnya dalam filem Missing Link.

Baca Juga: The Willis Clan

Missing Link mungkin bakal mengingatkan kalian pada Shaun The Ship. Hehe. Yang jelas, selamat menikmati weekend.



Cheers.

Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island


Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island. Ini adalah salah satu draf pos blog yang sangat lama tidak dipublikasikan. Sepertinya saya lupa. Haha. Tidak ada satupun tulisan draf ini yang saya perbaiki. Alkisah, saya menonton Shutter Island sebelum menonton Searching, tapi kemudian saya memutuskan untuk terlebih dahulu me-review dan mempublikasikan Searching. So ... here we go ... a very late post!

A Very Late Post


Selamat Sabtu. Setelah minggu kemarin nafas ngos-ngosan dengan menonton Searching, hari ini #SabtuReview kembali membahas tentang filem. Jangan pernah berharap kalian akan menemukan review filem teranyar di sini, hehe. Maklum, di Kota Ende masih belum dibangun bioskop baru. Baru? Memangnya dulu pernah ada bioskop? Ada donk, meskipun bukan sekelas 21 atau XXI, dan banyakan filem-filemnya Roma Irama dan Warkop DKI pada zaman itu, tapi yang jelas di kota kecil ini pernah berdiri sebuah bioskop.

Baca Juga: Nostalgia Alanis

Seharusnya minggu lalu filem ini sudah di-review, but you know if it's too late, that the missing girl could be dead. Shutter Island bisa menunggu. Haha. Gaya banget menulis ini. Seolah-olah diri saya adalah Detektif Rosemary Vick. Let's talk about Shutter Island.

About Shutter Island


Shutter Island diperankan oleh empat pemeran utama. Leonardo Di Caprio (sebagai Edward "Teddy" Daniels), Mark Ruffalo (sebagai Chuck Aule), Ben Kingsley (sebagai dr John Cawley), dan Michelle Williams (sebagai Dolores Chanal). Filem yang dirilis tahun 2010 ini masuk dalam kategori neo-noir psychological thriller yang disutradarai oleh Martin Scrosese dan ditulis oleh Laeta Kalogridis berdasarkan novel Dennis Lehane yang terbit tahun 2003. Ya, tentu itu kata Wikipedia. Yang bukan kata Wikipedia adalah filem ini sukses membikin saya merasa gatal yang luar biasa karena warisan tanda tanya setelah melahapnya. Ini filem 'berat', menurut saya.

Overview


Shutter Island dibuka dengan adegan perjalanan laut Edward Daniels alias Teddy, seorang U.S. Marshals, dengan teman kerjanya yaitu Chuck Aule. Mereka dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Ashecliffe, khusus merawat orang-orang sakit jiwa, di Shutter Island. Mereka akan menginvestigasi hilangnya seorang pasien bernama Rachel Solando yang telah menenggelamkan tiga anaknya. Petunjuk dari kamar rawat Rachel hanya sebuah kertas bertulis: The Law of 4: Who is 67? Dan investigasi pun berlanjut.

Dalam perjalanan investigasi yang penuh teka-teki itu, serta kilasan mimpi Teddy tentang isterinya,  dan betapa gemasnya penonton karena berpikir Teddy dan Chuck bakal terjebak di pulau itu dan pasti dibunuh oleh para dokter yang kuatir kedok mereka terbongkar, karena sedang badai (tidak ada kapal yang beroperasi), penonton kemudian diberitahu bahwa sebenarnya Teddy adalah pasien Ashecliffe yang bernama Andrew Laedis. Chuck, teman kerjanya, ternyata dokter yang selama ini menanganinya yaitu dokter Sheehan. Twist plot.

Di awal, plot berjalan dan penonton mempercayai bahwa Teddy dan Chuck beneran U.S. Marshals, dan mereka benar sedang menginvestigasi hilangnya Rachel Solando. Namun, twist membikin penonton ternganga bahwa Teddy adalah Andrew sedangkan Chuck adalah dokter Sheehan. Andrew mengalami skizofrenia. Andrew dibiarkan bermain dalam khayalannya sendiri, bahwa dirinya bernama Teddy dan seorang U.S. Marshals, dan berulang kali percobaan ini dilakukan untuk tahu sampai di mana batasan penyakit itu. Apakah Andrew akan di-lobotomy doleh dokter Cawley atau tidak.

Siapa Sebenarnya Dia?


Teddy atau Andrew? Sebagian orang percaya dia adalah Teddy yang memang tidak dapat sembuh. Tapi sebagian lagi percaya dia adalah Andrew yang memilih untuk di-lobotomy ketimbang harus hidup bersama kenangan buruk keluarganya. Ya, isteri Andrew yaitu Dolores, mengalami gangguan kejiwaan. Faktanya, Dolores menenggelamkan tiga anak mereka di sungai di belakang rumah. Andrew memilih untuk mengakhiri nyawa Dolores. Trauma itu yang membikinnya 'sakit'.

Di akhir cerita, setelah para dokter merasa upaya yang terus-terusan dilakukan terhadap Andrew tidak berhasil, justru dokter Sheehan merasa ada yang aneh dengan ucapan Andrew. "Mana yang lebih buruk? Hidup sebagai monster, atau mati sebagai manusia (yang baik)?". Lantas pergi ke arah dokter Cawley yang telah menunggunya. Dokter Sheehan bingung, lantas memanggilnya dengan "Teddy?".

Hidup Adalah Anugerah


Menulis sub judul ini bikin merinding. Hidup adalah anugerah Tuhan pada kita, umat manusia, tetapi melanjutkan hidup atau tidak, adalah pilihan ... karena itu banyak orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Mengakhiri di sini tidak selamanya mati, melainkan menjadi seperti Teddy atau si Andrew di atas. Dari pada dibayang-bayangi masa lalu ... lebih baik lobotomy.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Begitulah ...

Bagi kalian yang sudah menonton filem ini, minta tanggapannya donk, saya memang sudah membaca banyak tanggapan orang tentang filem ini, tetapi masih saja belum puas hahaha. Saya masih terbawa pada naluri saya yang mengatakan bahwa dia adalah Andrew.



Cheers.

Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island


Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island. Ini adalah salah satu draf pos blog yang sangat lama tidak dipublikasikan. Sepertinya saya lupa. Haha. Tidak ada satupun tulisan draf ini yang saya perbaiki. Alkisah, saya menonton Shutter Island sebelum menonton Searching, tapi kemudian saya memutuskan untuk terlebih dahulu me-review dan mempublikasikan Searching. So ... here we go ... a very late post!

A Very Late Post


Selamat Sabtu. Setelah minggu kemarin nafas ngos-ngosan dengan menonton Searching, hari ini #SabtuReview kembali membahas tentang filem. Jangan pernah berharap kalian akan menemukan review filem teranyar di sini, hehe. Maklum, di Kota Ende masih belum dibangun bioskop baru. Baru? Memangnya dulu pernah ada bioskop? Ada donk, meskipun bukan sekelas 21 atau XXI, dan banyakan filem-filemnya Roma Irama dan Warkop DKI pada zaman itu, tapi yang jelas di kota kecil ini pernah berdiri sebuah bioskop.

Baca Juga: Nostalgia Alanis

Seharusnya minggu lalu filem ini sudah di-review, but you know if it's too late, that the missing girl could be dead. Shutter Island bisa menunggu. Haha. Gaya banget menulis ini. Seolah-olah diri saya adalah Detektif Rosemary Vick. Let's talk about Shutter Island.

About Shutter Island


Shutter Island diperankan oleh empat pemeran utama. Leonardo Di Caprio (sebagai Edward "Teddy" Daniels), Mark Ruffalo (sebagai Chuck Aule), Ben Kingsley (sebagai dr John Cawley), dan Michelle Williams (sebagai Dolores Chanal). Filem yang dirilis tahun 2010 ini masuk dalam kategori neo-noir psychological thriller yang disutradarai oleh Martin Scrosese dan ditulis oleh Laeta Kalogridis berdasarkan novel Dennis Lehane yang terbit tahun 2003. Ya, tentu itu kata Wikipedia. Yang bukan kata Wikipedia adalah filem ini sukses membikin saya merasa gatal yang luar biasa karena warisan tanda tanya setelah melahapnya. Ini filem 'berat', menurut saya.

Overview


Shutter Island dibuka dengan adegan perjalanan laut Edward Daniels alias Teddy, seorang U.S. Marshals, dengan teman kerjanya yaitu Chuck Aule. Mereka dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Ashecliffe, khusus merawat orang-orang sakit jiwa, di Shutter Island. Mereka akan menginvestigasi hilangnya seorang pasien bernama Rachel Solando yang telah menenggelamkan tiga anaknya. Petunjuk dari kamar rawat Rachel hanya sebuah kertas bertulis: The Law of 4: Who is 67? Dan investigasi pun berlanjut.

Dalam perjalanan investigasi yang penuh teka-teki itu, serta kilasan mimpi Teddy tentang isterinya,  dan betapa gemasnya penonton karena berpikir Teddy dan Chuck bakal terjebak di pulau itu dan pasti dibunuh oleh para dokter yang kuatir kedok mereka terbongkar, karena sedang badai (tidak ada kapal yang beroperasi), penonton kemudian diberitahu bahwa sebenarnya Teddy adalah pasien Ashecliffe yang bernama Andrew Laedis. Chuck, teman kerjanya, ternyata dokter yang selama ini menanganinya yaitu dokter Sheehan. Twist plot.

Di awal, plot berjalan dan penonton mempercayai bahwa Teddy dan Chuck beneran U.S. Marshals, dan mereka benar sedang menginvestigasi hilangnya Rachel Solando. Namun, twist membikin penonton ternganga bahwa Teddy adalah Andrew sedangkan Chuck adalah dokter Sheehan. Andrew mengalami skizofrenia. Andrew dibiarkan bermain dalam khayalannya sendiri, bahwa dirinya bernama Teddy dan seorang U.S. Marshals, dan berulang kali percobaan ini dilakukan untuk tahu sampai di mana batasan penyakit itu. Apakah Andrew akan di-lobotomy doleh dokter Cawley atau tidak.

Siapa Sebenarnya Dia?


Teddy atau Andrew? Sebagian orang percaya dia adalah Teddy yang memang tidak dapat sembuh. Tapi sebagian lagi percaya dia adalah Andrew yang memilih untuk di-lobotomy ketimbang harus hidup bersama kenangan buruk keluarganya. Ya, isteri Andrew yaitu Dolores, mengalami gangguan kejiwaan. Faktanya, Dolores menenggelamkan tiga anak mereka di sungai di belakang rumah. Andrew memilih untuk mengakhiri nyawa Dolores. Trauma itu yang membikinnya 'sakit'.

Di akhir cerita, setelah para dokter merasa upaya yang terus-terusan dilakukan terhadap Andrew tidak berhasil, justru dokter Sheehan merasa ada yang aneh dengan ucapan Andrew. "Mana yang lebih buruk? Hidup sebagai monster, atau mati sebagai manusia (yang baik)?". Lantas pergi ke arah dokter Cawley yang telah menunggunya. Dokter Sheehan bingung, lantas memanggilnya dengan "Teddy?".

Hidup Adalah Anugerah


Menulis sub judul ini bikin merinding. Hidup adalah anugerah Tuhan pada kita, umat manusia, tetapi melanjutkan hidup atau tidak, adalah pilihan ... karena itu banyak orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Mengakhiri di sini tidak selamanya mati, melainkan menjadi seperti Teddy atau si Andrew di atas. Dari pada dibayang-bayangi masa lalu ... lebih baik lobotomy.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Begitulah ...

Bagi kalian yang sudah menonton filem ini, minta tanggapannya donk, saya memang sudah membaca banyak tanggapan orang tentang filem ini, tetapi masih saja belum puas hahaha. Saya masih terbawa pada naluri saya yang mengatakan bahwa dia adalah Andrew.



Cheers.

Pariwisata Nusantara


Sudah lama saya tidak me-review buku di #SabtuReview. Buku terakhir yang saya baca berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson dan sudah saya review di pos berjudul Bodo Amat. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari buku bersampul oranye itu. Sementara buku yang selalu berada di dalam tas, yang bisa saya baca kapan saja, berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer juga sudah saya review di pos berjudul The Book of Origins. Tentu, pengetahuan tentang segala sesuatu paling pertama di dunia ini kian bertambah. Saya pikir, sekarang saatnya me-review satu buku menarik terutama bagi kalian para traveler atau siapapun yang berencana keliling Indonesia. 

Baca Juga: Are They Dead?

Menulis tentang buku yang satu ini membikin saya teringat seorang sahabat traveler perempuan bernama Ika Soewadji. Kalau kalian belum mengenal Ika Soewadji, silahkan kenalan dulu melalui akun IG-nya:


Memangnya, apa hubungan antara buku yang bakal saya review dengan Ika? Karena buku tersebut adalah pemberian Ika berikut satu paket buku lainnya tentang Indonesia. Sama seperti buku Travel Writer yang juga diberikan oleh Ika. Meskipun tidak berhubungan darah tapi kami adalah kaka-ade, saudara, yang dipertemukan oleh dunia blog dan traveling. Percayalah, mengenal Ika merupakan salah satu anugerah terbaik dari Allah SWT untuk saya.

Jadi, mari kita kenalan dengan buku yang satu ini.

Tentang Informasi Pariwisata Nusantara


Informasi Pariwisata Nusantara, sebuah buku bersampul cokelat dengan aksen wayang kulit di depannya, diterbitkan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia bekerjasama dengan Garuda Indonesia, dan ASEAN (Southeast Asia). Pada sampul belakang jelas-jelas tertulis: tidak untuk diperjualbelikan. Ya Alhamdulillah saya bisa mendapatkannya dari Ika. Mungkin waktu itu Ika mengikuti kegiatan yang digelar kementrian, secara dia kan travel blogger kesohor, dan mendapatkan paket buku-buku gratis dari acara itu, kemudian dikirimkan pada saya.

Buku ini tidak punya kata pengantar atau sekapur sirih. Dibuka dengan halaman Peta Kepulauan Indonesia dan halaman Sekilas Sejarah Pariwisata Indonesia. Sudah, itu saja. Selanjutnya 'petualangan' dimulai dari Sumatera hingga Papua.

Isi Informasi Pariwisata Nusantara


Namanya juga buku tentang pariwisata, isinya ya pasti tentang atraksi pariwisata dari seluruh Indonesia yang dimulai dari Sumatera sampai Papua. Ada pengaturan sub pada setiap provinsi dan daerah istimewanya. Sub-sub itu antara lain Profil singkat provinsi dan/atau daerah istimewa yang bersangkutan, Wisata Alam, Wisata Pantai, Wisata Gunung, Wisata Petualangan, Wisata Sejarah, Wisata Budaya, Wisata Museum, Wisata Kerajinan, Wisata Taman Nasional, hingga informasi penting seperti Transportasi, Akomodasi, Travel Agent, dan informasi alamat kantor dinas yang berkaitan dari provinsi dimaksud.

Paket komplit!

Jadi, kalau saya bilang sudah tahu banyak tentang Yogyakarta, belum tentu juga haha. Saya baru tahu soal Upacara Cing-Cing Goling dari buku ini.

Pada ritual ini, ratusan ayam panggang, lauk pauk dan nasi dibagikan kepada para pengunjung serta masyarakat di dekat bendungan. Selain itu juga ditampilkan cerita rakyat yang disajikan dalam bentuk fragmen. Upacara ini dilakukan sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen.
Lokasi:
Digelar di Dusun Gedangan, Desa Gedangang, Kec. Karangmojo, Kab. Gunungkidul. Bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor ke lokasi. (Informasi Pariwisata Nusantara,tt, 201).

Sebagai Orang NTT, tentu saya suka membaca bagian Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ternyata, banyak sekali atraksi wisata yang juga baru saya ketahui setelah membaca buku Informasi Pariwisata Nusantara ini.


Yang membikin buku ini lebih menarik, selain informasi lengkap tentang Indonesia ada di dalamnya, adalah foto-foto yang melengkapi setiap artikel/informasi singkatnya. Foto-foto itu begitu memukau, penuh warna alam yang cerah dan indah, yang membikin para pembaca tertarik untuk menyiapkan waktu keliling Indonesia. Duuuuh niat keliling Indonesia tertunda melulu *halaaaah, ditabok dinosaurus*.

Kritik


Baru kali ini saya mengkritik buku hahaha. Eh, atau sudah pernah ya? Pokoknya begini ... untuk buku sebagus ini sayang sekali apabila diterbitkan terbatas dan tidak untuk diperjualbelikan. Tidak hanya para traveler, kita sebagai Orang Indonesia tentu tergila-gila dengan buku semacam ini. Banyak informasi yang mungkin baru kita tahu, yang bisa jadi magnet penarik jiwa untuk pergi ke sana, baik diri kita sendiri maupun wisatawan mancanegara (apagila diterbitkan dalam bahasa Inggris pula). Semua orang pasti tahu Raja Ampat di Papua Barat sana, tapi belum semua orang tahu tentang Pantai Pulau Jefman dan Pantai Pulau Rumberfon yang indah itu, misalnya.


Demikian tentang buku Informasi Pariwisata Nusantara yang sayangnya tidak dijual bebas di toko buku. Beruntunglah saya bisa mendapatkannya sebuah, hehe. Bagaimana dengan kalian, kawan? Yang belum pernah membacanya maupun yang sudah pernah membacanya, apa tanggapan kalian tentang buku keren ini? Bagi tahu yuk di komen!

Baca Juga: The Kings

Selamat dua minggu puasa :*



Cheers.

Are They Dead?

Gambar diambil dari: FanPop.

Siapa di sini pecinta serial kriminal? Wah yang unjuk jari cuma saya. Haha. Hyess, saya pecinta serial kriminal yang dulu waktu masih nonton tevelisi sering banget pantengin di Fox, Fox Crime, Star World, FX, AXN, dan lain sebagainya. Sebut saja NCIS, fransaisnya CSI, The Mentalist, Criminal Mind, Law and Order, dan kawan-kawan sejenis. Tidak heran saya memang sejak lama suka sama serial kriminal. Mulai dari yang ending-nya tidak jelas macam Twin Peaks (ada sih dilanjutkan tapi macamnya membingungkan), sampai Hunter dan Remington Steele. Ada sensasi yang sulit dijelaskan setiap kali menonton serial-serial kriminal yang memang rata-rata dibumbui adegan konyol atau lelucon segar.

Baca Juga: The Kings

Salah satu serial kriminal lama yang bakal saya tulis hari ini, saya juga pernah menulis The Mentalist, berjudul Castle. Menonton Castle dari Season 1 sampai Season 4 kalau tidak salah, pokoknya sampai saat Castle menghilang di hari pernikahan, kemudian berhenti lama saat tidak menonton televisi. Karena sudah lama tidak menonton televisi, saya tentu tidak tahu akhir kisah mereka, yaaa terimakasih internet akhirnya saya bisa tuntas menonton serial unik yang satu ini sekaligus diliputi tanda tanya besar.

Are they dead!?

Ahhh sedih sekali dan kecewa sebesar GBK ketika menonton episode terakhir itu.

Castle


Castle bercerita tentang seorang laki-laki penulis buku fiksi kelas misteri-kriminal bernama Richard Castle (diperankan oleh Nathan Fillion) yang kemudian menjadi konsultan NYPD untuk membantu pihak kepolisian menganalisa dan memecahkan kasus ini itu. Rata-rata kasus pembunuhan. Tentu di kelompok ini Castle membantu Detektif Kate Beckett (diperankan oleh Stana Katic) yang bekerja bersama dua polisi lainnya yaitu Detektif Javier Esposito (diperankan oleh Jon Huertas) dan Detektif Kevin Ryan (diperankan oleh Seamus Dever). Kedua detektif ini termasuk bumbu kocak dalam serial Castle. Oh ya, ada pula dr. Lanie Parish (diperankan oleh Tamala Jones), Alexis Castle - anak perempuannya Castle (diperankan oleh Molly C. Quinn), Martha Rodgers - mamanya Castle (diperankan oleh Susan Sullivan). Urusan bosnya Beckett ini ganti-ganti sih di beberapa season.

Castle dimulai pada 9 Maret 2009 dan berakhir 16 Mei 2016. Akhir ini yang baru saya tonton tahun 2019 dan terkejut dengan ending-nya itu.

Garis Besar


Ada sembilan season yang penuh warna. Bagaimana setiap episodenya mengantar kita tidak saja pada bagaimana seorang penulis turut menganalisa kasus-kasus pihak kepolisian, tapi juga kehidupan keluarganya, dan tentu saja kehidupan asmaranya. Kalau mau ditarik garis besarnya adalah bahwa Castle, si penulis kharismatik itu, bekerjasama dengan NYPD, lalu jatuh cinta pada Beckett. Gayung bersambut, Beckett pun jatuh cinta pada si duda berputeri tunggal itu. Saya bilang sembilan season yang penuh warna itu tidak mengada-ada. Castle memang penuh warna, berbeda dari Law and Order, misalnya. Bumbu yang diimbuh di dalam Castle ini melekat di lidah sehingga sulit untuk diuraikan. Dan bumbu ini, keluarga dan asmara, sangat mendarah-daging.

Benang Merah


Pada Season 9 saya melihat adanya suatu hal yang nyaris sama dengan The Mentalist. Yaitu benang merah. Sepanjang musim ini selalu ada nama LokSat disebut-sebut. Dan Becket harus bekerja ekstra hati-hati dan ekstra waktu tambahan untuk bisa meringkus LokSat. Bagaimana, jadi ingat The Red John dari The Mentalist juga bukan? Tapi saya tidak bisa bilang yang satu meniru yang lain karena setiap serial punya ciri atau kekhasannya masing-masing. Kekhasan Criminal Mind misalnya ... siapa yang bisa membantah?

Ending Yang Mengecewakan


Mungkin karena di dalam benak saya harus selalu ada happy ending. Dan, sejak kecil pula sudah ditanamkan oleh Bapatua bahwa pemeran utama tidak mungkin dibikin mati dalam sebuah filem, sehingga sulit menerima kenyataan bahwa di episode final Season 9, Castle dan Beckett mati, meninggal, wafat. Jadi ingat Buried kan ya. Hahaha. Saya jadi kesal dengan si final ini. Kenapa kedua pemeran utamanya harus dibikin mati? Bukankah masih banyak skenario lainnya kalau memang benar informasi yang saya baca itu ...

Baca Juga: Double Ending

Konon, menurut informasi yang saya baca, Stana Katic mengundurkan diri dari 'jabatannya' sebagai Detektif Beckett. Tapi kan tidak perlu sesadis begitu akhir serial Castle. The Mentalist saja, dengan benang merah dari Season 1 sampai Season 7 yang aduhai bikin jantung deg-degan, punya akhir yang bahagia. Kenapa Castle tidak? Setidaknya yang saya tonton di akhir, Castle dan Beckett meninggal di rumah mereka setelah ditembak oleh antek-anteknya LokSat. Padahal, mereka baru saja bernafas lega dan saya pikir bakal memulai kehidupan baru, lagi, setelah pasang-surut kehidupan rumah tangga mereka yang bercampur-baur dengan urusan pekerjaan Beckett.

Ending Castle memang sangat mengecewakan. Setelah delapan season ditambah beberapa episode yang bikin perasaan tak menentu di Season 9, mereka mati. Bahkan mereka tidak punya kesempatan untuk bicara dari hati ke hati tentang permasalahan yang selama ini menghantam kehidupan mereka. Sumpah! Itu bikin syok. Tega sekali. Sungguh tak berperikemanusiaan, tidak mempertimbangkan perasaan penggemarnya. Dalam The Walking Dead saja, tokoh Daryl tetap dipertahankan padahal dia sama sekali tidak ada di versi komik!

Ck ck ck ...

Gara-gara itu saya jadi pengen tahu tentang serial-serial lainnya. Oh ya, jangan sebut How I Met Your Mother, haha! The Mentalist sudah jelas ending-nya kayak apa. Pengen tahu tentang Criminal Mind dan NCIS. Setidaknya jangan sampai setega Castle yang mengecewakan itu. Ternyata ... sudah lama benar saya kehilangan 'kontak' dengan serial-serial favorit. Apa kabarnya Royal Pain? Apa kabarnya Game of Thrones yang masih terus berlanjut ini? *garuk-garuk kepala* jadi gemas. Pokoknya jangan sampai seperti Castle deh. Seolah tidak ada skenario lain yang bisa dipilih yang cukup menggembirakan penggemar lah.

Stana Katic boleh-boleh saja resign tapi kan sebelum resign, di final, bisa diubah skenarionya yaitu mereka menikah ... baru the end.


Ya sudahlah. Orang Ende bilang: mo apa laeeee hah?

Yang jelas, bagi kalian yang penasaran sama Castle silahkan menonton dari Season 1 sampai Season 9 dan rasakan betapa berwarnanya serial yang satu ini serta kecapi bumbu-bumbunya! Saya jamin, kalian pasti bakal suka dan sangat terhibur, kalau bisa ngakak ngikik, sambil mengasah kemampuan menganalisa memecahkan kasus. Kalian sendiri, kalau punya serial kriminal favorit, bagi tahu doooonk. Siapa tahu tontonan kita sama. Ya kan ... bisa berbagi pendapat *tsah*. Siapa tahu juga kalian punya informasi lain tentang serial Castle ini. Itu bakal sangat membantu dan menghibur saya seandainya ada ending lain *maunya*.

Baca Juga: Pembalasan Laut

Happy weekend!



Cheers.

Pita’s Life


Suatu malam di minggu ini, saat DMBC (Datang Makan Baku Cap) sedang ngumpul di ruang tamu rumah saya, salah satu topik yang dibahas adalah tentang betapa sabarnya Deddy Corbuzier menghadapi seorang penyanyi dangdut yang diduga serta dituduh transgender. Kalau saya jadi Deddy, mungkin kesabaran saya sudah wassalam dan jadinya malah perang berkepanjangan macam Perang Teluk zaman dahulu. Tapi Deddy Corbuzier sungguh gentle meskipun emosinya sudah terpicu begitu rupa. Kendali dirinya bagus. Haha.

Baca Juga: Searching

Untungnya topik itu segera berakhir. Yaaa topik DMBC kan selalu meloncat-loncat kayak kanguru dan pocong. Etchon lantas menyeletuk tentang Pita's Life. Saya pikir Lupita Nyong'o. Ternyata bukan! Hari-hari berikut, ya kemarin-kemarin, hampir setiap siang saya menonton video-video Pita di Youtube dan sangat terhibur karenanya. Kalau saya boleh bilang, Pita adalah vlogger dengan konten unik karena begitu apa adanya. Dia punya dialeg tidak berubah. Pun kalau bicara bahasa Inggris sangat fasih dan enak didengar. Amboi. 

Tentang Pita


Sejak kecil Pita sudah tertarik dengan bahasa Inggris karena Bapaknya adalah seorang Pendeta yang sering membawa bocah-bocah bule ke rumah. Sambil bermain dengan bocah bule itu, sambil belajar bahasa Inggris. Ketertarikannya pun semakin menjadi saat menonton filem Titanic dan terpesona sama lagu My Heart Will Go On yang dinyanyikan oleh Celine Dion. 

Tahun 2011 Pita kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing di Manado. Dosennya memberi tugas untuk hunting bule dengan tujuan bisa langsung bicara dan berinteraksi dengan bule-bule itu. Sebagai bukti hunting, harus ada tanda tangan supaya dosen percaya. Selain tanda tangan, kontak yang diberikan berupa e-mail pun boleh. Adalah teman Pita, Medi, yang kemudian menyarankan sebuah situs pada Pita. Apabila ingin lebih fasih belajar bahasa Inggris melalui percakapan langsung dengan bule, bisa kok dilakukan melalui situs tersebut. Nama situsnya Asian Dating. Di situs itulah Pita bertemu Travis. Dan mereka pun pacaran.

Singkat kata singkat cerita, Travis datang ke Indonesia untuk bertemu Pita, dengan sebelumnya mengirimkan baju agar dipakai Pita saat menjemput Travis di bandara. Selanjutnya Pita diminta berlibur ke Amerika dengan drama visa yang luar biasa bikin kesal. Daaaan mereka menikah. Dua anak mereka adalah Zachary dan Rachel. 

Kenapa Video Pita Menarik?


Ya, memangnya ada apa dengan video-video Pita sehingga saya sampai meluang waktu menulis ini? Boleh dibilang ini adalah respon positif saya terhadap perempuan Indonesia yang tidak kehilangan jati diri meskipun sudah memperoleh green card dan menetap di Amerika. Dialeg Maluku-nya begitu kental ketika dia berbicara baik Bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Pun banyak sekali istilah-istilah Maluku/Manado yang terucap. Perempuan ini benar-benar bikin ngakak. Manapula dia suka sekali menertawai dirinya sendiri.

Vlog Pita sangat apa adanya. Saat bangun tidur, make up, memasak, jalan-jalan, menjemput anak, nongkrong di tempat makan bareng keluarga, hang out bareng mertua, bahkan saat harus temani Travis ke kantor/pangkalan (waktu Travis naik jabatan atau apalah itu wuih keren sekali). Cara dia berbicara itu sungguh roto (istilah Orang Ende untuk orang yang bicaranya lancar jaya tanpa titik koma) terutama kalau sedang bicara dalam Bahasa Indonesia. Dia tidak malu mengakui kekurangannya, tapi pun tidak merasa kehidupannya lebih baik dari orang lain.

Baca Juga: The Willis Clan

Pada salah satu vlog, saya terpingkal-pingkal waktu Pita nyerocos tentang perempuan Indonesia yang menikah dengan bule. Belajar masak dari sekarang karena tidak ada orang jual nasi goreng dan gorengan lainnya di sana kapanpun kalian ingin. Harus bisa masak sendiri. Uh she uuuup!

Yang juga membikin saya suka berlama-lama menonton vlog si Pita adalah informasi-informasi baru. Perlu dicatat, menonton vlog Pita juga memperluas wawasan. Apanya yang memperluas wawasan? Melihat video perempuan Indonesia yang menikahi bule dan tinggal di Amerika itu memperluas wawasan, are you sure? Ya, saya yakin. Layaknya blogwalking dan membaca blog kalian semua, itulah yang saya peroleh saat menonton video Pita. Diantaranya adalah tentang toko baju bekas di Amerika, tutorial make up, serta cara Pita mendidik dan merawat kedua anaknya dengan berani bilang, "No!" pada permintaan si anak. Saya lihat, Pita sangat tegas pada anak-anaknya, punya aturan yang diterapkan dengan sangat 'halus' tapi super 'tegas'.

Jadi, Ingin Menjadi Seperti Pita Juga?


Siapa yang tidak ingin? Subscriber banyak, iklan pun wara-wiri di vlog-nya. Tapi menjadi vlogger tidak semudah itu. Konten harus yang berkualitas, setidaknya menurut saya, dan mengundang ke-kepo-an orang lain terhadap konten kita. Pita berhasil membangunnya, karena ... siapa sih yang tidak ingin tahu tentang kehidupan di Amerika? Disajikan dengan cara yang sangat Indonesia pula. Jujur, saya tidak bisa menghasilkan konten berkualitas seperti konten berkualitas milik Ewafebri misalnya hahaha. Jadi, ingin menjadi seperti Pita boleh-boleh saja, tapi harus siapkan konten unik yang kita yakin bakal diburu banyak orang.

Ah ... apalah saya yang bicara konten video Youtube ... subscriber saja masih bisa dihitung dengan jari. Sudahlah ...


Semoga akhir minggu kalian menyenangkan ya ... kalau bosan, nonton saja Pita's Life. Sudah pasti kalian bakal terhibur, ngakak sendiri, sekaligus menambah wawasan.

Baca Juga: Bodo Amat

Yuk ah ...



Cheers.

Searching


Sebenarnya saya sudah sangat ingin menulis tentang Shutter Island, sebuah filem thriller yang diperankan oleh Leonardo Di Caprio, Mark Ruffalo, dan Ben Kingsley. Rasa gatal untuk menulisnya sampai tidak tertahankan dan meninggalkan ruam ganas. Namun, setelah menonton Searching, yang menurut saya juga sebuah filem thriller, saya pikir Shutter Island bisa menunggu dan kembali masuk dalam bucket list's review. Sementara Searching tidak bisa menunggu. Karena, jika terlambat, the missing girl could be dead.

Baca Juga: Nostalgia Alanis

Menggaruk demi memuaskan rasa gatal akan Shutter Island ... nanti. Sekarang mari kita simak seperti apa rupa Searching ini.

About Searching 


Searching adalah filem (drama) thriller yang diperankan oleh tiga pemeran utama yaitu John Cho sebagai David Kim, Michelle La sebagai Margot Kim, dan Debra Messing sebagai detektif Rosemary Vick. Filem yang dirilis komersil pada Agustus 2018 ini disutradarai oleh Aneesh Chaganty. Konon, filem ber-budget 1 Juta Dollar ini meraup keuntungan berlipat ganda yaitu 75,5 Juta Dollar. It's a wow! Keadaan itu yang menjadikan Searching salah satu box office yang patut diperhitungkan pada tahun 2018. Sekadar informasi bahwa sebuah filem dikatakan box office apabila keuntungan yang diraup melebihi biaya produksi.

Overview


Semoga ini tidak dianggap spoiler hahaha. 

Kisah Searching dibangun dari kehidupan rumah tangga David Kim, saat isterinya yaitu Pam masih hidup, bersama puteri mereka yang bernama Margot. Hampir semua momen kehidupan keluarga David Kim disimpan dalam bentuk foto dan video. Mulai dari saat Margot mulai duduk di bangku sekolah dari tahun ke tahun, Margot mulai mengenal alat musik piano dan membantu Pam memasak, saat David memperkenalkan Pokemon pada Margot, hingga Pam terserang kanker dan dirawat di rumah sakit dan meninggal dunia. Kesemuanya itu disimpan di sebuah komputer jadul yang masih memakai Widows XP. Ya, siapa pun yang pernah memakai Windows XP pasti kenal betul background dan bentuknya. Mulai dari user komputer itu hanya David seorang, hingga ditambah dua user lainnya yaitu Pam dan Margot. 



Setelah Pam meninggal, praktis David hanya tinggal bersama Kim, sesekali mengontak saudaranya yang bernama Peter Kim (diperankan oleh Joseph Lee). Kronologisnya adalah Margot telah masuk SMA dan masih kursus piano, life must go on, sementara David yang berusaha menjadi ayah yang baik bagi Margot masih 'hidup' bersama kenangannya tentang Pam melalui foto dan video keluarga mereka.

Suatu hari, selepas menghubungi Margot melalui FaceTime saat Margot sedang belajar kelompok di rumah salah seorang temannya, mengingatkan Margot akan sampah yang belum dibuang, David kehilangan kontak dengan Margot. Dia bingung, ke mana kah anaknya itu? Semua pesan chat tidak dibalas. Dihubungi di FaceTime pun tidak diterima. Nalurinya mengatakan ada yang salah, tapi dia masih menahan diri untuk tidak melaporkan pada pihak yang berwajib. Sampai 24 jam kemudian, David pun melaporkan kepada pihak kepolisian San Jose, California, tentang orang hilang. Dia kemudian menerima telepon dari seorang perempuan yaitu detektif Rosemary Vick. Si detektif meminta semua data Margot pada David demi menemukan puteri semata wayang David-Pam itu.


Siapa sangka ... jawabannya justru ada pada MacBook milik Margot yang ditinggal di rumah.

It's About Technology


Searching benar-benar filem tentang teknologi masa kini yang sehari-hari bersentuhan dengan umat manusia, dengan kita. Filem ini 90% didominasi oleh layar komputer tempat David berinteraksi dengan Margot, Peter, detektif Vick, hingga orang-orang yang disangkakan punya kaitan dengan hilangnya Margot. Saat David membuka MacBook milik Margot pun, saya langsung teringat pada tata cara pemulihan password. Untungnya e-mail yang digunakan Margot untuk mengembalikan akunnya bila melupakan password adalah e-mail milik Pam. Tentunya David tahu persis password e-mail milik Pam itu.


Dari situ, David mulai mengeksplor isi MacBook tersebut. Memasuki akun-akun media sosial milik Margot seperti Facebook, Instagram, Tumblr, hingga layanan video YouCast. Saat David mencoba daring di YouCast, dia ditonton oleh sebuah akun yaitu fish_n_chips yang langsung luring seketika. Ternyata, semua video di YouCast dapat disimpan. Gara-gara itu David jadi tahu bahwa Margot pun menyimpan semua video YouCast-nya.


Sementara itu, di e-mail, David menerima tawaran dari MemorialOne, sebuah situs yang menawarkan untuk menyiarkan pemakaman dalam bentuk video dan foto dari orang yang meninggal tersebut. Setelah akhirnya orang yang mengaku telah membunuh Margot bunuh diri, David mengunggah semua video dan foto Margot ke YouCast.

Ah, filem ini benar-benar tentang teknologi hahaha.

So Many Suspect


Sejak awal Margot hilang, terlalu banyak tersangka yang memenuhi benak penonton. Mulai dari teman-teman Margot yang ternyata begitu itu, teman lelaki yang bikin David meradang, adik David si Peter yang saya curigai sengaja membunuh Margot karena kuatir 'hubungan asmara' mereka terbongkar dan ternyata oh nooooo, hingga Hannah alias fish_n_chips yang ternyata akun palsu. 

Twist Plot


Ini yang sungguh ausam dari Searching. Twist plot! Hadir di akhir cerita, twist plot Searching sungguh tak terduga. Lahir dari wajah Hannah si fish_n_chips di YouCast yang ternyata sama dengan wajah ambassador MemorialOne. Oh, ampun, sampai di sini saya berpikir Hannah lah yang membunuh Margot. Bersemangat, David menghubungi kepolisian untuk melapor temuannya pada detektif Vick. Ternyata detektif Vick hanyalah seorang volunteer yang mengajukan dirinya untuk turut menangani kasus hilangnya Margot.

Trada ...

Ah ... tidak semudah itu menebak, kawan. It's not just about detektif Vick.


Pada akhirnya saya harus angkat topi untuk Aneesh Chaganty dan Sev Ohanian yang menulis filem ini. Otak mereka canggih betul. Dan apabila kalian bingung menentukan akhir cerita ini hanya berdasarkan review ini, artinya saya berhasil membikin kalian bingung sebingung saya sendiri saat menontonnya haha. 

Bila kalian mencari filem yang bisa membikin akhir minggu menjadi rada gimanaaa gitu, tonton Searching sekarang juga!


Cheers.

Double Ending


Bagi para penikmat filem, menonton filem merupakan proses otak turut bekerja untuk terlebih dahulu menyelesaikan kisah dari filem yang ditonton. Menebak. Itu kata sederhananya. Selama kita belum menonton trailer dan membaca review-nya terlebih dahulu. Menonton Fight Club, misalnya, otak saya bekerja keras menebak akhir filem tersebut, yang kemudian ditampar twist ending yang bikin melongo. Atau, saat saya menonton The Sixth Sense, sama rasanya saat ditampar dari twist ending Fight Club. Ah, ya, sama dengan menit-menit pertama menonton Split.

Baca Juga: Relikui Kematian #2

Kadang-kadang kita bakal bilang: tuuuuh kaaaan benar kah tebakan saya, ketika tebakan kita sama dengan adegan berikutnya dan/atau akhir filem yang bersangkutan. Pernahkah tebakan kalian diamini oleh akhir sebuah filem? Saya pernah. Tapi seringnya gagal. Haha. Saat menonton Train to Bussan dan Ia am Legend, misalnya, tebakan saya tentang pemeran utama yang selalu selamat alias tidak mati ... salah total. Duh, stigma pemeran utama selalu selamat nampaknya memang harus dihapuskan dari otak saya.

Filem-filem twist ending memang harus diakui super keren. Angkat jempol. Benar-benar menguras otak saat menontonnya dan membikin melongo pada ending-nya.

Tapi ... bagaimana perasaan kita ketika tahu bahwa filem favorit kita ternyata double ending? Lantas muncul pertanyaan, kenapa filem yang ditonton sebelumnya (bioskop) berbeda ending dengan yang ditonton ulang lewat DVD? Atau, bagaimana bisa filem yang sama, yang disedot gratisan tapi beda waktu dan sumber penyedotan, kemudian berbeda ending?

Double Ending


Double ending di sini dimaksudkan untuk filem-filem yang ternyata punya alternatif lain sebagai penutup cerita. Pertama kali tahu soal ini dari sebuah perdebatan panjang bersama teman sekolah saya Penny Kamadjaja. Penny bercerita tentang akhir sebuah filem yang dia tonton di bioskop. Jelas saya membantah karena akhir dari filem yang sama, yang saya tonton di DVD, berbeda dari yang dia ceritakan. Perdebatan panjang tidak dapat dihindari. Kami nyaris menggunakan ilmu silat demi membela harga diri. 

Ternyata, kami sama-sama benar.

Memang Ada!


Double ending memang ada. Alternatif yang sengaja disediakan oleh pembuat filemnya. Alternatif ini umumnya hanya satu (jadi ada dua jenis ending saja) tapi kadang-kadang tiga. Kenapa ada double ending ini tidak terlepas dari penonton-responden. Semacam uji coba dari sebuah filem. Tanggapan responden inilah yang menjadi acuan apakah ending perlu diubah atau tidak. Asyik banget kalau begitu jadi responden ya haha.

Baca Juga: Survival Movies

Kali ini saya hanya akan membahas satu filem yang pernah saya tonton, yang punya double ending atau punya lebih dari satu alternatif ending. Filem itu berjudul I am Legend.

Mari kita cek.

I am Legend


Pertama menonton I am Legend yang diperankan oleh Will Smith ini jelas bukan di bioskop. Karena kalau kalian membaca pos Mereview Filem (dan Buku), sudah dijelaskan mengapa saya sering me-review filem lama. Pertama kali menonton I am Legend itu sekitar tahun 2009 atau 2011. Kemudian, tahun 2018 kemarin saya mengulas tentang filem-filem bertema zombie pada pos 5 Filem Zombie Favorit. I am Legend termasuk di dalamnya, meskipun musuh Robert Neville (Will Smith) tidak disebut zombie melainkan Darkseeker. Bedanya? Darkseeker ini makhluk yang cerdas sedangkan otak zombie itu sudah gagal total.

Pada pos itu kalian bakal membaca review saya tentang kematian Robert Neville di akhir cerita. 

Terakhir, Robert memang menemukan anti virusnya, tapi dia harus mati di dalam tempat persembunyiannya demi menyelamatkan seorang perempuan dan anak kecil yang dia percaya akan membawa anti virus itu ke tempat perlindungan.

Baru-baru ini saya menonton ulang I am Legend karena memang suka sama ceritanya. Dan pada akhir cerita saya dibikin melongo. Dalam hati saya berkata: lagi-lagi double ending. Dan teringat perdebatan panjang antara saya dan Penny pada masa lampau. Alternatif lain akhir kisah I am Legend adalah Robert Neville selamat alias tidak meninggal dunia dalam ledakan. Karena, dia mempelajari ternyata Darkseeker ini punya perasaan pula (dan tentu otaknya juga cerdas). Robert, si wanita, dan anak kecil itu pun selamat dan bersama-sama menuju tempat perlindungan.

Dari kedua ending tersebut, yang mana yang kalian suka?

Namun, sebenarnya responden tidak menyukai akhir yang bahagia, haha. Makanya dibikin akhir cerita Robert meninggal dunia.

Masih banyak filem-filem lain yang juga punya double ending. Dan mungkin kalian juga sudah menonton semua versi/alternatif ending-nya. Sebut saja filem The Butterfly Effect dan Titanic. Saya sih sudah menonton filem-filem lama tersebut, tapi belum menonton versi lain dari akhir filemnya jadi belum bisa menulisnya di sini. Kalau I am Legend sih jelas sudah saya tonton kedua versi ending-nya jadi bisa menulisnya.

Baca Juga: The Willis Clan

Well, selamat berakhir pekan, kawan. Silahkan cari ending alternatif dari filem favorit kalian!


Cheers.

The Willis Clan

Sumber: Wikipedia.

Sebagian orang yang pernah menonton ajang pencarian bakat terutama America's Got Talent musim sembilan pasti tahu mereka. Ya, mereka memang mencapai perempat final, dan akhirnya harus menyerah alias tersingkirkan. Tapi mereka adalah inspirasi terkuat saat itu, terkhusus inspirasi keluarga America, sehingga dibikinkan reality show yang tayang di TLC. Tahun 2015 dan 2016 merupakan kejayaan mereka pada stasiun teve TLC. Lantas mereka seakan menghilang ... ada apakah gerangan? Itu yang terus saya cari tahu dan akhirnya ... ketemu! Penemuan yang menyakitkan.

Baca Juga: Bodo Amat

The Willis Clan. Satu nama yang membikin saya teringat pada keluarga sendiri. Saat dulu Bapa (alm.) membeli perangkat band dan band keluarga kami diberi nama Jemiri Band. Jemiri itu singkatan dari Jodoh Mati Rejeki (adalah milik Allah SWT). Para pemain Jemiri Band ada Kakak Toto Pharmantara (alm) di drum, Abang Nanu Pharmantara di gitar, dan dibantu oleh teman-teman mereka lainnya. Saya sendiri tidak pernah diijinkan bernyanyi di Jemiri Band. Haha *diketawain dinosaurus*. Ya sudahlah.

Kembali pada The Willis Clan. Mari kita simak ...

The Willis Clan


Kakek Willis sangat berduka saat kehilangan enam anaknya dalam sebuah kecelakaan fatal. Kecelakaan ini menjadi berita nasional terkait politik di Illinois dimana banyak orang dipenjara karena skandal suap untuk pembuatan SIM. Kehilangan yang amat sangat dalam itu kemudian 'terbayarkan' dengan kelahiran cucu-cucu dari anak-anaknya. Salah satu anaknya bernama Toby yang menikahi Brenda saat usia masih sangat muda. Pada usia tigapuluh Toby mendapat uang sejumlah $100 sebagai ganti rugi atas meninggalnya enam saudara kandungnya dalam sebuah kecelakaan tersebut. Dengan uang itu Toby pensiun dini pada usia tigapuluh tahun dan dia mulai membesarkan anak-anak bersama Brenda.

Anak-anak Toby dan Brenda dididik dengan sangat ketat. Mereka sangat berbakat di dunia musik; bermain alat musik, bernyanyi, dan menari, bahkan menciptakan lagu. Mereka diberi nama The Willis Clan. The Willis Clan muncul di ajang pencarian bakat America's Got Talent musim sembilan pada tahun 2014. Melihat duabelas anak beda usia muncul di panggung bikin syok para juri. Terutama si bungsu Jada yang imutnya bikin Mel B gemas to the max. Melihat pertunjukkan mereka membikin para juri mengacung jempol. Mereka hebat!

Uniknya, semua nama anak-anaknya Toby dan Brenda ini berawalan huruf J. Mereka adalah Jessica, Jeremiah, Jennifer, Jeanette, Jackson, Jedidiah, Jasmine, Juliette, Jamie, Joy-Anna, Jaeger, dan Jada. Semuanya sangat good looking dengan tubuh proposional yang bikin saya iri. Hiks.

Their Music


Setelah mengikuti America's Got Talent, The Willis Clan wara-wiri di televisi dalam reality show bertajuk The Willis Family yang tayang di TLC. Selain itu mereka juga tampil dari satu panggung ke panggung lain. Musik mereka mengingatkan kita pada musik tradisional dari Irlandia. Sebagian lagu-lagu The Corrs juga punya ciri seperti ini. Ya, mereka masih berdarah Irlandia. Tidak salah jika mereka juga pandai menari Irish Dance, yang ditunjukkan dalam setiap penampilan/pertunjukan mereka di panggung. Musik mereka didukung dengan permainan ciamik ragam alat musik seperti gitar, biola, suling, akordion, cajoon, dan lain sebagainya.

I do love their music!

Phenomenal Song and Dance


Satu lagu The Willis Clan yang bisa saya dengarkan puluhan kali dalam sehari berjudul 100 Times Better. Lagu ini punya musik yang renyah dan lirik yang manis. 

Games up
It all went out the window, Baby
What can I say
I wouldn't want it any other way
Live and learn
And our love will last
Whatever I do
Is a hundred times better with you

Itu penggalan lirik 100 Times Better yang menjadi favorit saya belakangan ini hehe. Pokoknya suka banget sama lagu ini dan saya jamin kalian juga bisa suka.

Nah, menariknya, lagu ini selalu menjadi semacam lagu pamungkas yang mengiringi The Willis Clan menari. A very very very sweet dance! Saya sampai membikin status di Facebook, meminta Kakak Rikyn Radja mengajari saya menari seperti The Willis Clan. Haha. Sungguh, tidak tahu malu saya ini. Videonya bisa kalian lihat di bawah ini:



Keren kan?

Tragedi


Nama The Willis Clan lantas memudar setelah menggaung di seluruh dunia melalui reality show di TLC. Ayah dari duabelas anak itu, Toby Willis, ditangkap pada tahun 2016 atas tuduhan pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur yang dilakukannya pada tahun 2004. Dunia seperti runtuh. Ya, runtuh, karena anak-anak di bawah umur itu adalah anak-anak perempuannya sendiri. Merujuk pada tiga anak perempuan tertuanya yaitu Jessica, Jennifer, Jeanette. Sungguh, membaca berita itu, juga menonton videonya, bikin saya geregetan. Why father Toby? Bahkan setelah Jessica menikah, Toby suka mengucilkan suami Jessica apabila dianggapnya melanggar aturan keluarga. Ck ck ck. Sungguh otoriter. Ter-la-luuuu.

Pada tahun 2017 Toby mengaku atas empat tuduhan pemerkosaan anak. Dia menerima hukuman dua puluh lima tahun penjara dengan dua dakwaan, dan dua hukuman empat puluh tahun untuk dua dakwaan lainnya. Sedih. Tapi setimpal dengan perbuatannya, termasuk terhadap anak-anaknya sendiri. Ya kan? Derita Brenda pasti sangat berat; pengkhianatan terjadi dan dilakukan oleh orang yang sangat dia cintai.

Bangkit Lagi


Setiap orang pasti pernah jatuh, tapi belum tentu setiap orang yang jatuh itu dapat bangkit lagi dan bersinar. The Willis Clan sejak kecil diajarkan untuk saling menyayangi. Duabelas orang itu kalau tidak saling menyayangi bisa kacau dunia rumah tangga kan haha. Makanya The Willis Clan kemudian bangkit lagi, bersama Ibu mereka tentu saja, dan mengeluarkan single Speak My Mind. Mereka lantas merilis album pada September 2018. Silahkan cari dan dengarkan lagu-lagu mereka. Kalau kalian penasaran ... sih. Tapi bagi saya, 100 Times Better masih jadi favorit! Yuhuuuu!


The Willis Clan, di luar tingkah laku Toby, merupakan bukti pada kita semua bahwa keluarga merupakan tempat terbaik untuk pulih dari segala masalah. Tiga anak perempuan tertua Toby dan Brenda yang mengalami pelecehan seksual oleh Toby bangkit lagi dan tentu atas dukungan keluarga terutama Brenda dan tiga anak laki-laki tertuanya. Mereka berenam (enam anak tertua Toby dan Brenda) melaju terus di dunia musik sementara adik-adik mereka diharapkan untuk tidak terlalu tersorot setelah Toby tertangkap.

Baca Juga: Pembalasan Laut

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernahkah kalian menonton The Willis Clan? Sukakah kalian dengan lagu-lagu mereka? Kalau saya sih hyess. Semua tentang mereka bakal selalu menjadi kesenangan saya.



Cheers.

Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat



Kalian pasti tahu matrix glitch, tapi apakah kalian mempercayainya? Dari yang saya baca tentang matrix glitch ini, sederhananya, matrix glitch adalah kondisi terhubungnya benang merah dengan cara tidak terduga atau tanpa disadari. Contohnya saat kalian pergi ke suatu acara, ada enam perempuan memakai gaun yang sama, dan keenamnya tidak pernah janjian untuk memakai gaun yang sama (warna, corak, model). Bisa jadi enam perempuan itu sahabatan, bisa juga mereka bahkan tidak saling kenal. Itu matrix glitch.

Baca Juga: The Mentalist

Matrix glitch juga bisa diistilahkan pada suatu keadaan kebetulan yang menyambung atau menghubungkan beberapa hal sekaligus. Dan, baru-baru ini saya mengalami matrix glitch.

The Story Behind The Book


29 Januari 2019 saya mengepos di Facebook sebuah buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Foto buku ini dikirim oleh Stanis More, yang waktu ke Jakarta cuma sempat memotret si buku dan menunggu konfirmasi saya apakah mau atau tidak sementara saya sendiri KETIDURAN sehingga tidak membalas pesan WA si Stanis, dan akhirnya Stanis pulang ke Ende tanpa membawa si buku. Huhuhu. Okay, saya mengeposnya di Facebook ditambah tulisan yang hampir sama dengan yang kalian baca barusan. Ini dia penampakan bukunya: 


Yang tidak saya sangka adalah, sahabat saya Ferdinandus Setu, sahabat masa SMP saya yang saat ini menjabat Plt. Kepala Biro Humas Kementrian Komunikasi dan Informasi RI, menyambar alias langsung mengomentari status Facebook tersebut. Anyhoo, iya, wajahnya sering wara-wiri di televisi untuk diwawancarai terkait isu-isu tentang hoax dan lain sebagainya.



Haha. Betul, kawan! Saya menunggunya di bandara, dan kisah matrix glitch kami ternyata panjang. Luar biasa ...


Ini matrix glitch banget, karena saya dan Pak Advent sama-sama menjadi anggota panitia Tim Promosi Uniflor 2019!

About The Book


Saya belum tamat membacanya. 

GUBRAK!!!!

Tapi jangan kuatir, saya bisa kok menulis sedikit ulasan tentang buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karena sudah membaca puluhan halaman-halaman pertama. Lumayan, sambil mengisi waktu di kantor kalau lagi menunggu anggota meeting lainnya, dan menyeruput kopi susu, hehe. Sungguh, saya suka sekali kata 'bodo amat' untuk dipakai pada situasi tertentu, hihi. Maafkan. 

Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, dengan tagline Pendekatan Yang Waras Demi Menjalani Hidup Yang Baik, yang ditulis oleh Mark Manson. Berwarna oranye, kenapa bukan kuning ya, dengan tulisan besar-besar berwarna hitam. Banyak kalimat menarik dan quotes yang patut digarisbawahi di dalam buku ini, yang bahkan sudah digarisbawahi oleh si pemilik pertama yaitu Ferdin. Salah satunya adalah yang tertera pada halaman 19 Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan.

Pada rangkaian awal paragraf demi paragraf buku ini saya jadi paham bahwa kadang kita selalu meributkan hal-hal sepele yang menyita waktu dan tenaga padahal hal-hal itu sebenarnya bisa saja kita maafkan. Halaman 21 menegaskannya: Jadi menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan Anda, mungkin menjadi cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga Anda. Karena jika Anda tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian Anda akan tercurah untuk hal-hal yang tanpa makna.

Baca Juga: Buku Saku: Ende

Mark Manson 'mengajarkan' kita untuk tidak menjadi pribadi yang lebih baik melainkan menjadi pribadi yang 'tahu tentang diri sendiri' dan mengenyampingkan apa-apa yang sebenarnya tidak penting dalam hidup kita. Coba pikirkan lagi, kesulitan terbesar di atas kesulitan yang kita pikir sudah cukup sulit.

Tentu saya harus membacanya sampai selesai untuk bisa menulis lanjutan review dari buku ini. Tapi tidak sekarang ... karena Senin nanti saya harus berangkat ke kabupaten tentangga untuk melaksanakan tugas kantor haha. Cihuy! Bakal banyak cerita kelak :D

Selamat berakhir pekan, kawan.


Cheers.