Menghargai Perbedaan dalam The Help

Diambil dari sini.

Sudah Sabtu lagi. Saatnya me-review. Semoga filem yang saya review ini bisa jadi referensi bagi kalian mengisi weekend. Bagi yang sedang berkebun, jangan lupa manfaatkan weekend untuk merawat tanamannya. Ngomong sama diri sendiri. Filem ini bukan filem baru, tentu saja, yang dirilis tahun 2011 silam. 

Baca Juga :

Dari judul dan gambar pada awal pos kalian pasti sudah tahu filem apakah gerangan? Yess, filem ini berjudul The Help. Diangkat dari novel yang ditulis oleh Kathryn Stockett, The Help adalah filem drama sejarah Amerika Serikat yang disutradarai oleh Tate Taylor dan diproduseri oleh Chris Columbus, Michael Barnathan dan Brunson Green (jadi ingat dokter Green di ER haha). Wikipedia menjelaskan: The Help dibintangi oleh Viola Davis, Emma Stone, Octavia Spencer, Jessica Chastain, Bryce Dallas Howard dan Allison Janney.

Apakah yang akan kalian lakukan ketika melihat ketidakadilan terjadi di depan mata? Ketidakadilan itu seperti; penindasan dan kesewenang-wenangan (a la Iwan Fals) serta pelanggaran HAM.

Apakah kalian akan diam saja?
Apakah kalian akan berontak?
Atau ... apakah kalian akan berontak melalui cara paling elegan yaitu melalui tulisan?

The Help, dengan seting tahun 1963, bercerita tentang kebrutalan para majikan terhadap asisten rumah tangga mereka yang didominasi oleh orang Afrika. Para majikan ini adalah Hilly Holbrook (Bryce Dallas Howard) si pemimpin kelompok sosialita dengan ibu Mrs. Walters (Sissy Spacek), ada juga Elizabeth Leefolt (Ahna O'Reilly), dan tentu saja si tokoh penulis Eugenia "Skeeter" Phelan (Emma Stone). Skeeter selalu merasa tidak nyaman berada di dekat teman-temannya dalam pertemuan-pertemua sosialita mereka karena Elizabeth apalagi si Hilly selalu bersikap rasis terhadap para asisten rumah tangga.

Rasisnya itu diantaranya adalah tidak memperbolehkan asisten rumah tangga memakai kamar mandi yang sama dengan kamar mandi mereka, apalagi sampai memakai kamar mandi tamu. Padahal kan kita tahu bahwa nature calling itu tidak dapat ditahan. Lagipula semua kamar mandi berfungsi sama kan? Tidak peduli siapa pun yang menggunakannya asalkan selalu dibersihkan setelah dipakai.

Adalah Aibileen Clark (Viola Davis) seorang pelayan Afrika-Amerika yang bekerja pada Elizabeth, serta temannya yang bernama Minny Jackson (Octavia Spencer) yang bekerja pada Hilly. Aibileen sangat dekat dengan anak Elizabeth yang berama Mae Mobley sedangkan Minny sangat terkenal dengan pie buatannya yang lezat pada setiap pertemuan para sosialita itu.

Suatu kali, badai mengerikan terjadi dan Minny menolak untuk pergi keluar menggunakan toilet bantuan. Nature calling sudah tidak dapat ditahan, maka dia memakai toilet tamu. Oleh karena itu Hilly memecat Minny, yang kemudian digantikan oleh Yule May (Aunjanue Ellis). Minny kemudian bekerja di rumah Celia (Jessica Chastain), isteri Johnny Foote (Mike Vogel). Johnny adalah mantan kekasih Hilly. Celia ini punya masalah tidak percaya diri atau apalah gara-gara keguguran dan merasa Johnny tidak mencintainya sepenuh hati. Masalah-masalah rumah tangga semacam itulah. Tapi Minny yang polos dan baik hati mampu menjadi 'teman' Celia yang selalu mendengarkan keluh kesahnya.

Melihat betapa rasisnya teman-temannya, Skeeter yang punya kemarahan terhadap ibunya karena dulu pernah memecat Constantine tanpa alasan yang jelas, mulai mendekati Aibileen untuk menjadi narasumber bukunya. Tidak hanya Aibileen, mereka juga mengajak para asisten dan pekerja lainnya untuk berbagi cerita atas sikap para majikan yang semena-mena itu. Pertemuan rahasia di rumah Aibileen yang awalnya hanya dua orang, kemudian berkembang menjadi belasan orang. Perasaan Skeeter semacam terkoyak mendengar cerita mereka. Manapula Yule kemudian dituduh mencuri cincin milik Hilly.

Murka Minny pada Hilly terbalaskan melalui sepiring pie. Dengan wajah manis yang dibuat-buat Minny mengantar pie itu untuk Hilly yang langsung dicoba di depan rumah. Lantas, Hilly bertanya, "Apa ini?" karena rasanya tidak seperti pie yang biasa dibikin Minny, dan Minny menjawab, "My shit." Kira-kira seperti itu lah. Hahaha. Minny ... kau awesome! Dan cerita itu terangkum di dalam buku yang ditulis Skeeter yang berjudul The Help.

The Help laku keras dan semua orang terbahak-bahak setiap kali membaca kisah pie-shit itu. Dengan diam-diam, hasil penjualan The Help diberikan Skeeter pada para narasumbernya termasuk Aibileen dan Minny. 

Kemudian The Help sampai di tangan Hilly. Awalnya dia biasa-biasa saja dengan buku itu sampai kemudian tiba pada kisah pie-shit. Maka histerislah Hilly. Sumpah, sampai adegan ini saya tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Pembalasan Minny sangat manis, semanis pie-shit, eh se-shit pie-shit."

Kalau kalian ingin tahu selengkapnya, silahkan nonton sendiri filem The Help. Ada kok di Hooq. Saya sendiri juga nonton di Hooq.

Apa yang saya peroleh setelah menonton The Help?

Selain "Pembalasan Minny sangat manis, semanis pie-shit, eh se-shit pie-shit." itu? Cekidot.

Bahwa, Hak Asasi Manusia merupakan hak terhakiki yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun termasuk majikan sendiri. Jangankan majikan yang membayar upah karena suatu pekerjaan, Presiden pun tidak boleh melanggar HAM ini. Salah satu cara menjaga HAM orang lain adalah dengan tidak berpikiran dan bersikap rasis seperti yang dilakukan, paling ekstrim, oleh Hilly. Perbedaan warna kulit bukan alasan untuk bersikap seperti itu.

Bahwa, tidak semua orang di dalam satu kelompok punya pemikiran yang sama. Seperti Skeeter yang berbeda dari Elizabeth dan Hilly, misalnya. Dia sangat-sangat tidak suka sikap, terutama, Hilly yang sangat merendahkan dan penuh penghinaan terhadap para asisten rumah tangga. Sama juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Nurani, pada akhirnya, selalu menang. Janganlah kita menyamakan orang hanya karena mereka berasal dari kelompok yang sama ... siapa tahu mereka sebenarnya 'berbeda'.

Bahwa, menulis merupakan cara paling elegan untuk segala hal; berbagi cerita positif, mengungkap kebobrokan, menintakan sejarah. Agar kita tidak lupa pada kejadian masa lampau yang bisa jadi pelajaran untuk kehidupan masa sekarang. Kira-kira seperti itu menurut saya.

Bagaimana dengan kalian? Apabila sudah pernah menontonnya, apa pendapat kalian tentang filem The Help? Yang jelas, teruslah menulis. Kita bisa tahu tentang The Help dari sebuah buku yang DITULIS. Teruslah menulis.

Happy weekend!



Cheers.

Flores: Adventure Trails



Banyak buku yang bercerita tentang Indonesia dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, dari adat ke bahasa, dari budaya ke pakaian, dari gunung ke pantai, dari rumah adat ke kearifan lokal. Saya punya salah satu buku semacam itu, dikasih sama Ika Soewadji, dan masih sering saya baca sampai sekarang. Banyak juga buku yang bercerita panjang lebar tentang Pulau Flores (Flores overland). Saya sendiri pernah menulis materi siaran program Backpacker, pada tahun 2017, awal tentang Flores Overland. Biasanya orang menulis Flores Overland itu dari Barat ke arah Timur, tapi materi saya itu dari Timur ke arah Barat. Qiqiqiq. Sesekali kita membaliknya kan boleh-boleh saja.

Baca Juga : 5 Cozy Songs

Tentang si Buku

Buku yang saya bahas hari ini berjudul Flores: Adventure Trails. Buku ini ditulis (sekaligus sebagai koordinator penulis) oleh Meret L. Signer. Kontributor atau penulis lain diantaranya Heinz von Holzen, Rofinus Ndau, Unipala Maumere, idGuides. Publisher Flores: Adventure Trails adalah Swisscontact dan didukung oleh SECO (Swiss State Secretariat for Economic Affairs). Tahun terbit 2012. Wow banget, saya terkejut ketika membaca nama Unipala Maumere. Itu MAPALA-nya Universitas Nusa Nipa (Unipa). Oh ya, selain sambutan dari Bapak Sapta Nirwandar, juga ada sambutan Jurg Schneider dari SECO. Flores: Adventure Trails berbahasa Inggris tapi untuk ukuran saya yang bahasa Inggrisnya pas-pasan bisa yess atau no sudah bersyukur, isinya cukup mudah dipahami/dimengerti. 


Bagaimana dengan isinya?

Isinya dimulai dari perkenalan tentang Pulau Flores. Perkenalan yang sangat lengkap, menurut saya, karena memuat tentang kondisi geografis, iklim, Flores sebagai bagian dari ring of fire, flora dan fauna, kehidupan laut, zaman sebelum dan sesudah kolonial, manusia dan adat budayanya. Traveling directory sub bahasan berikutnya adalah tentang how to get there? (pesawat dan kapal laut) termasuk informasi kantor-kantor layanan tiket, akomodasi, tempat makan, komunikasi/alat komunikasi, keuangan, isu kesehatan, sampai etika.

Woman travellers:
Even thought Flores is predominantly Christian, woman dressing modestly is a cultural thing in Indonesia, rather than a religious one. Wear t-shirts that cover your shoulders and don't reveal too much of your legs. Wearing a bikini is fine at the beaches of Labuan Bajo and in designated hotel areas in other parts of Flores. Everywhere else, put on a t-shirt and shorts for swimming. (Meret L. Signer, 2012:23).


Sub berikutnya adalah persiapan yang harus dilakukan sebelum ke Flores. Menariknya adalah, dijelaskan tentang skala kesulitan trek, level kebugaran, barang bawaan dasar or basic check list sampai how to minimize your impact. Komplit kan ya. Basic check list ini umum saja seperti yang sering kita lakukan/bawa seperti kaca mata, head lamp, sun-block, first aid kit, kompas, pisau lipat, hingga tas plastik untuk menyimpan pakaian kotor dan/atau sampah. Puhlease, ke mana pun pergi jangan pernah membuang sampah sembarangan.


Setelah itu, pembaca memasuki inti sari buku ini. Yay! Dimulai dari  Labuan Bajo: Pulau Rinca, Pulau Komodo, Gunung Mbeliling, teruuuuus ke Timur sampai ketemu Gunung Kelimutu di Ende, Maumere dengan pantai-pantai dan Gunung Egon-nya, sampai Larantuka. Informasinya tidak sekadar ini looooh Gunung Mbeliling itu, tapi juga memuat tinggi gunung, luas daratan, flora dan faunanya, sampai tentang masyarakat tradisionalnya. 


Salah satu sub yang saya sukai adalah kisah tentang Rudolf von Reding:

In 1974, the elderly Count Rudolf von Reding from Biberegg, Switzerland, disappeared on the island of Komodo. For some unknown reason he got seperated from his group. When they realized he was missing, they immediately returned to the point where had last seen him - but they were too late. All they could find was the Count's backpack, camera, sunglasses, and stains of blood on the ground. Komodo dragons eat their prey whole, and von Reding's body was never found. Although it could neve be confirmed with 100% certainty, he was believed to have been eaten.

Sedih ya ... *ambil tissu*

Jadi ingat waktu ke Pulau Rinca, dimana salah seorang teman pejalan kami sedang datang bulan, dan si komodo berjalan ke arah teman tersebut. Horor-horor bergembira gimana gitu rasanya diikuti komodo, hehe.


Setelah Baca

Saya bahagia karena jadi banyak tahu tentang pulau sendiri. Sebagai pelahap buku, sekaligus blogger yang gemar menulis tentang perjalanan ke mana pun saya pergi, buku ini menjadi semacam panduan untuk menulis. Menulis tempat wisata itu tidak sekadar menggambarkan betapa indahnya; betapa menawannya; betapa mempesonanya, tetapi harus bisa lebih detail yaitu tentang letak lokasinya, jaraknya, transportasi dan akomodasi kalau bisa bisa dengan harganya, budaya masyarakat setempat (seperti harus memperhatikan etika berpakaian dan berbicara), hingga tingkat kesulitan perjalanan untuk mencapai lokasi tersebut. Sub buku juga penting untuk memilah atau mengklasifikasi tulisan agar tidak terkesan campur-aduk.

Saya sedang belajar untuk menulis seperti itu. Belajar terus tanpa henti. Istirahat sih boleh, berhenti jangan :)

Flores: Adventure Trails adalah buku yang super informatif meskipun tidak selengkap buku yang diterbitkan oleh Lonely Planet zaman dulu itu. Bahkan juga diceritakan tentang gempa yang pernah melanda Flores terutama Maumere dan Ende. Jika kalian punya waktu luang, jangan lupa untuk membacanya. Di mana bisa diperoleh, cobalah cari di toko buku terdekat, jika tidak, maka ini edisi terbatas yang dipublis oleh Swisscontact (yang selalu konsen dengan isu wisata).

Semoga bermanfaat, enjoy your weekend!


Cheers.

5 Cozy Songs


Setiap orang pasti punya lagu favorit, lagu kegemaran, lagu kebangsaan, lagu kebesaran, dengan frekuensi dengar tinggi. Sama juga dengan saya kan saya masih orang/manusia juga. Jenis lagu apa yang saya sukai? Semua. Dangdut juga? Tentu saja! Apalagi Mendadak Dangdut-nya Titi Kamal. Heiiii saya masih mendengarkan lagu itu sampai sekarang. Qiqiqiqi. Bagi saya musik/lagu harus diapresiasi sama. Karena, bukan hal mudah untuk bisa menciptakan lagu, bahkan satu lagu pun. Dan saya baru bisa menciptakan belasan lagu baik bersama Cendaga Band, bersama Notes (Noel & Tuteh SideProject), maupun sendirian (dengan kunci C, D, F, G, dan lainnya yang saya hafal minus B dan Bm haha). Mood bikin lagu sedang mengembara, jadi belum produktif ke urusan lagu.


Kembali pada lagu favorit. Saya boleh mengatakan lima lagu yang bakal diulas ini merupakan lagu favorit. Lima lagu ini sangat-sangat nyaman didengar terutama saat malam sebelum eru (tidur dalam bahasa Ende). Setiap kali mendengar lagu-lagu ini rasanya seperti sedang berada di kafe, membaca Peyempuan 2, sambil menikmati sepiring mix sampler, secangkir mochacinno. O-le! Sayangnya jarang sekali saya membaca saat sedang di kafe, adanya malah mengobrol juga tertawa bareng keluarga atau teman, foto-foto, dan kadang-kadang diskusi serius. Haha.

Saya jamin, kalian juga bakal setuju sama lima lagu yang saya rekomendasikan sebagai cozy songs. Wajib dengarkan berulang-ulang sih tidak, tapi mencoba mendengarkannya itu wajib! Siapa tahu bakal masuk dalam list music player kalian.

Mari kita simak ...

1. Homesick by Kings of Convenience

Kings of Convenience adalah duo folk-pop indie dari Bergen, Norwegia. Duo ini beranggotakan Erlen Øye dan Eirik Glambek Bøe. Musik mereka; melodi gitar yang rumit dan halus, serta suara mereka sangat lembut dan menenangkan. Ini yang membuat saya jatuh cinta pada Kings of Convenience saat pertama kali diperkenalkan oleh Ilham. Tidak banyak musisi dunia yang mirip-mirip Kings of Convenience. Kita harus menggali lebih dalam pada masing-masing negara karena mungkin mereka tidak sepopuler Sia, Beyonce, atau Cardi B. Tapi percayalah, mereka termasuk musisi yang sulit hengkang dari hati penggemarnya.


Homesick merupakan salah satu lagu mereka yang sangat saya cintai. Dibuka dengan melodi yang lembut serta menyusul suara mereka yang tak kalah lembutnya! Awwww. Kalau kalian termasuk anak rantau, bisa paber keras kalau dengar lagu ini.


2. Out of My Head by Fastball

Kalau Out of My Head punya mulut, mungkin dia sudah bilang ke saya, "Kau tidak bosan kah, Teh?" haha. Tentu tidak. Siapa yang bisa bosan mendengarkan lagu milik Fastball ini? Fastball sendiri merupakan band rock asal Austin, Texas, Amerika yang dibentuk pada tahun 1995. Beranggotakan Tony Scalzo, Miles Zuniga, dan Joey Shuffield, awalnya nama mereka Magneto U.S.A. tapi berganti setelah tanda tangan kontrak dengan Hollywood Records.


Meskipun single pertama mereka adalah The Way, tapi saya menyukai Out of My Head yang merupakan single ketiga. Dulu banget kalau siaran Segelas Air Putih saya pasti memperdengarkan lagu ini juga, haha.

3. What Am I To You? by Norah Jones

Oh yess! Siapa sih yang tidak jatuh cinta pada perempuan cantik yang satu ini? Rata-rata semua lagunya selalu bikin terbuaiiii. Norah Jones adalah seorang penyanyi, penulis lagu, dan pianis Amerika. Dari semua prestasinya, tidak heran jika Billboard menobatkan si cantik ini sebagai penyanyi jazz top pada dekade 2000 - 2009. Lama juga ya. Kalau saya dinobatkan sebagai penyanyi gagal sepanjang masa.



Salah satu lagunya yang menjadi pilihan saya adalah What Am I To You? Meskipun, saya juga suka mendengarkan Come Away With Me dan Sunrise. Top lah pokoknya kalau dengar suara si Norah Jones. Sampai-sampai saya pernah ngetwit begini: Dear Norah Jones, may I hack your voice?



4. Who You Love by John Mayer & Katy Perry
  
Sudah pernah dengarkan lagu ini? Sudah pastinya ya. Kalau belum, siapa sih yang tidak suka? Katy Perry (John Mayer akan dibahas pada poin 5) merupakan penyanyi yang luar biasa apalagi pada lagu Firework; sangat memotivasi dan menginspirasi. Katy dikenal sebagai penyanyi Amerika dan penulis lagu. Lagu-lagunya banyak yang ngehits sejagad.


Bersama John Mayer, Katy menyanyikan lagu berjudul Who You Love. Dan saya mencintai lagu ini setiap melodinya. Kalian harus dengarkan juga :)

5. Waiting On The World To Change by John Mayer

Awwwww. John Mayer! Ye ye ye. Selain sebagai produser rekaman dan penulis lagu, John Mayer lebih dikenal sebagai penyanyi Amerika yang mendulang kesuksesan di setiap lagu-lagunya. Pada tahun 2005, dia pindah dari musik akustik yang dikenal sebagai jenis musik pada awal karirnya, dan mulai bermusik dalam ranah blues dan rock yang dulu mempengaruhinya (sebagai musisi).


Waiting On The World To Change merupakan lagu yang paling saya sukai sekaligus paling sulit saya mainkan kunci gitarnya, haha.  Percayalah, kalian akan sangat menyukai lagu yang satu ini. Liriknya itu penuh perdamaian perdamaiaaan *malah kasidahan*.


Saat menulis ini saya sedang mendengarkan lagu-lagu terebut di atas. Meskipun nulisnya di kamar, tapi rasanya sedang berada di kafe, ditemani secangkir kopi susu racikan Mamasia ... sadap!

Setiap orang punya lagu favoritnya masing-masing. Kita tidak dapat menilai, ah si dia seleranya jelek, hanya karena selera orang itu berbeda dari kita. Karena, yang namanya seni itu relatif, dinilai sejauh perspektif orang yang menikmatinya. Tidak baku! Jadi, jangan pernah ragu untuk membeberkan pada orang lain apa saja yang menjadi favorit kita. Justru apa yang menjadi favorit orang lain dapat menjadi inspirasi untuk kita (baca: saya) dengan mencobanya juga ...

Baiklah kengkawan semua, selamat menikmati akhir pekan dan jangan lupa berkebun :p


Cheers.

Rasulullah is my Doctor


Suka menulis tentang tanaman herbal mengantar saya pada pencarian sebuah buku yang ditulis oleh (alm.) Profesor Hembing Wijayakusuma. Lemari buku saya memang tidak serapi lemari buku kalian, bahkan lemari buku ini terpaksa dijadikan satu dengan lemari pakaian setelah lemari buku utama sudah sesak, haha. Iya, saya memang harus mencari rak buku atau lemari buku, lagi, untuk merapikan buku-buku yang menumpuk ini. Pencarian buku yang ditulis oleh sang profesor gagal, entah di mana buku itu, saya justru menemukan buku yang lain.


Buku yang lain itu berjudul Rasulullah is my Doctor, ditulis oleh Jerry D. Gray. Jerry adalah mualaf asal Amerika. Saya tidak menulis soal pilihan hidupnya, atau isi tentang industri kesehatan, saya menulis soal bukunya saja. Saya bukan pakar soalnya ha ha ha. Mari kita simak saja isi buku yang sangat bermanfaat ini.

Rasulullah is my Doctor memuat pengobatan yang disarankan oleh Nabi Muhammad SAW. Pada sampul buku kalian akan menemukan kutipan yang sangat menyentuh:

Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga menurunkan obatnya ~ HR Bukhari.

Isi buku ini sebenarnya sederhana, tentang apa saja yang dapat digunakan manusia untuk menyembuhkan penyakitnya. Segalanya telah disediakan oleh Allah SWT melalui alam ini. Kecuali, ada satu pengobatan yang memang khusus di dalam Islam yaitu ruqyah. Tiga tema besar yang diangkat adalah Kedokteran Nabi, Ramuan Alami, dan yang terakhir Berbahaya Bagi Kesehatan Anda. Membaca ulang buku ini menghadirkan kebahagiaan tak terkira bagi saya ... seorang pecinta tanaman herbal. Qiqiqi.

Baca Juga : Still Love: To Love Somebody

Selain ruqyah yang pasti diketahui oleh semua Umat Muslim, pengobatan herbal yang disarankan di sini adalah melalui: madu, jintan hitam, bawang merah dan bawang putih, jahe, garam, buah-buahan seperti jambu biji - kiwi - lemon - pepaya - jeruk - mangga (mangga yang konon bagus untuk stamina itu-yang-tidak-saya-tulis-di-sini :p), kayu manis, cengkeh, cabai merah, singkong, bahkan lidah buaya. Lidah buaya! Yuhuuuu. Tidak disangka ternyata lidah buaya yang pernah saya tulis itu juga tertulis di sini.

Bawang putih misalnya, bawang putih telah terbukti efektif dalam mengendalikan beberapa infeksi sekunder yang berhubungan dengan AIDS dan menurut Duke, "dapat menangkal penyebaran HIV I dalam tubuh". Saran bagi penderita HIV positif, memakan 3-5 siung bawang putih setiap hari datang dari direktur Immune Enhancement Project of Portland, Oregon, Amerika Serikat (Jerry D. Gray, 2010:183). Selain itu, bagi yang keracunan darah atau gigitan serangga, rendam bagian luka dengan air bawang putih dan juga konsumsi bawang putih (Jerry D. Gray, 2010:183).

Bagaimana? Bagus bukan isinya? Saran saya, beli dan baca, pasti tercerahkan.

Apakah dengan demikian saya tidak mau berhubungan dengan dokter atau obat-obatan (kimia)? Ah tidak lah. Di dalam keluarga saya, satu ponakan saya adalah apoteker, satunya lagi adalah bidan. Kalau sakit yang menimpa langsung parah pun kami harus langsung ke IGD RSUD Ende untuk mendapatkan pertolongan pertama. Tetapi untuk pencegahan dan pengobatan yang dapat menggunakan tanaman herbal ini. Kenapa tidak? Hehehe.

Segala sesuatu dalam hidup ini harus bersisian, menurut saya. Kita tidak dapat 'hidup sendiri', misalnya karena suka herbal lantas menutup diri dari obat resep dokter. Itu salah. Buktinya saya. Mengobati luka dengan lidah buaya, mengurangi kadar gula dalam darah dengan diet dan lidah buaya (Insha Allah bakal mengkonsumsinya), sedangkan saat flunya sudah tidak bisa diatasi dengan minyak Varash karena terlambat, saya meminum Trifed untuk mensegerakan flu ini lewat dari tubuh. Harus bersisian, harus seimbang.

Baca Juga : Sastra Indonesia dalam Kritik dan Esai

Seperti kata HR Bukhari di atas tadi: Tuhan menurunkan penyakit, juga obatnya :)

Bagaimana dengan kalian?

Yuk, share.


Cheers.

Spy dan Melissa McCharthy yang Menginspirasi


Sudah weekend lagi, artinya kembali pada kegiatan mengulas filem, buku, dan musik. Baca pos yang satu ini agar tahu bahwa kalau kalian mencari filem, buku, dan musik baru di blog ini, kalian akan menemukan kegagalan. Jadi, kalau tidak baru berarti filem, buku, dan musik di blog ini syarat makna? Tidak juga. Filem, buku, dan musik yang di-review merupakan pilihan atas suka-sukanya penulis sekaligus pemilik blog.

Sesederhana itu *ngikik*

Baca Juga:

Kali ini saya mengajak kalian menonton sebuah filem lama berjudul Spy yang dirilis di Indonesia pada 20 Mei 2015. Sudah lama juga saya tonton tapi baru di-review sekarang. Spy berkisah tentang agen-agen CIA terbaik bersama para analis mereka. Agen bekerja di lapangan, analis bekerja di ruang bawah tanah yang digambarkan jorok karena ada saja tikus piknik dan kelelawar terbang. 

Adalah Bradley Fine (Jude Law) seorang agen CIA ganteng dan sangat diandalkan. Dalam pekerjaannya, Bradley mempunyai 'mata dan telinga' yaitu agen CIA lain yang ditugaskan menjadi analis bernama Susan Cooper (Melissa McCharty). Suatu saat Bradley secara tidak sengaja membunuh penjual senjata yaitu Tihomir Boyanov (Raad Rawi) gara-gara bersin yang tidak dapat ditahan lagi. Ebusyet! Jadi ingat filem Inferno yang diangkat dari novel Dan Brown yang gara-gara dekuk burung tembakan si assasin meleset. 

Akibat kematian Tihomir, Bradley tidak sempat mengambil koper berisi bom nuklir yang diincar CIA karena suara tembakan memicu datangnya orang-orang Tihomir. Dari bukti yang ada, Bradley pun pergi ke rumah anaknya Tihomir Boyanov yang bernama Rayna Boyanov (Rose Byrne). Di sana lah kemudian Bradley 'digambarkan' dibunuh oleh Rayna. Kematian Bradley disaksikan oleh Susan (melalui kamera kontak lens yang dipakai Bradley). Kematian Bradley meninggalkan kesedihan yang mendalam. Susan kan jatuh cinta sama Fine. Susan hanya bisa mengenang Bradley melalui kalung mainan yang diberikan Bradley pada makan malam mereka sebelumnya.

Lantas, siapa yang akan meneruskan pekerjaan memburu koper bertuah itu setelah Bradley tewas? Adalah Rick Ford (Jason Statham), agen CIA bertemperamen emosional, pengen banget bisa menyelesaikan kasus ini. Alih-alih memilih agen lapangan, Susan lah yang dipilih untuk, bukan menyelesaikan, menjadi mata-mata dan menginformasikan semua temuan di lapangan pada analis lain bernama Nancy B. Artingstall (Miranda Hart). Dan kekocakan pun terus mewarnai filem ini sampai akhir.

Susan, dengan obsesi membalaskan dendam atas kematian Bradley yang dicintainya, kemudian keluar dari jalur. Dia tidak saja menjadi mata-mata tapi melibatkan dirinya di dalam kasus tersebut. Jelas dia melanggar aturan karena tugas utamanya hanya menjadi mata-mata dengan tampilan emak-emak beranak lima dan emak-emak gendut pecinta kucing. Haha. Perbuatan Susan ini membikin Nancy kelimpungan. 

Tapi pada akhirnya Susan berhasil menyelamatkan nyawa Rayna dan berhasil mengikuti Rayna untuk mengetahui perihal keberadaan koper bertuah, hingga orang-orang yang akan membeli koper bertuah tersebut. Terjadi begitu banyak aksi tembak-tembakan, kejar-kejaran, dan kocak-konyol, yang pasti bikin kalian ngakak. Belum lagi tingkah Aldo (Peter Serafinowicz) yang tergila-gila pada Susan. Belum lagi tingkah Nancy yang absurd. Belum lagi tingkah Ford yang terlalu percaya diri dan temperamental. Belum lagi pada akhirnya Susan tahu bahwa ternyata Bradley masih hidup dan memalsukan kematiannya demi menyelesaikan kasus tersebut.

A-ha!

Kalian bisa membaca sinopsis lengkapnya di sini.

Ada beberapa catatan setelah menonton filem ini, di luar kekocakannya.

1. Sepatu Susan Cooper

Dalam salah satu scene terjadi kejar-kejaran antara Susan Cooper dengan penembak salah seorang bodyguard Rayna yang setelah berhasil dikejar Susan, ketahuan ternyata agen CIA juga (yang kemudian dibunuh pula oleh penembak siluman - guess who? Yess, Bradley). Di scene itu, Susan memakai jas hitam dan sepatu heels. Tetapi pada aksi kejar-kejaran itu, salah satu scene menampilkan Susan bermanuver dengan motor matic, mengenakan sepatu flat.

Hal-hal semacam ini sering terjadi dalam filem-filem keluaran Hollywood sekalipun dan akan saya ulas di lain kesempatan. Misalnya pada satu scene si tokoh tidak memakai kalung tapi pada scene yang sama mendadak sudah ada kalung di leher si tokoh. Atau mendadak terjadi kebocoran the other cameraman muncul di scene.

2. Bawel Cerdas

Susan adalah agen yang cerdas dan punya nilai baik dalam ujian-ujian masuk menjadi agen CIA. Di dalam Spy, Susan adalah agen paling bawel yang pernah ada, yang menjadi lengkap dengan absurd-nya Nancy. Selalu ada saja yang dia komentari dan selalu bisa berkelit setiap hendak ketangkap basah, terutama ketangkap basah oleh Rayna. Celetukan-celetukannya pun cerdas dan selalu bikin ngakak.

3. Sahabat itu Saling Melengkapi

Kalian akan menangkap nilai persahabatan antara Susan dan Nancy. Susan yang cerdas harus tabah menghadapi Nancy yang absurd. Dan mereka saling melengkapi meskipun Nancy itu memang keterlaluan absurd-nya.

4. Jangan Menilai Orang dari Luarnya Saja

Yess! Don't judge a book by its cover. Jangan menilai Susan dari penampilan luarnya saja; gendut dan bekerja di dalam ruangan sebagai analis alias 'mata dan telinga' agen lapangan. Pada akhirnya lewat filem Spy kita kembali diajarkan tentang hal ini; bahwa Susan yang dianggap 'tidak mampu' membuktikan bahwa dirinya sangat mumpuni. Manapula bila bekerja dalam tim.

Berikutnya, mari simak Melissa McCharty yang menginspirasi.

Ini catatan pribadi saya tentang Melissa McCharty. Melalui Spy kalian bakal tahu orang-orang yang big size belum tentu lambat. Kalian pasti pernah mendengar julukan 'si gendut lincah' atau 'bocah lincah' yang ditujukan untuk para big size yang tidak kesulitan bergerak itu. Tahun 2015 Melissa McCharty memang masih terlihat sangat sangat sangat besar! Tapi di filem Spy kalian akan melihat betapa orang yang besar itu sangat sangat sangat lincah! Yang lincah tidak saja gerak-geriknya tetapi juga mulutnya. Hehe.

Dan pada tahun 2016 kalian akan terkejut mengetahui bawa si big size berhasil mengurangi berat badannya seperti yang terlihat pada gambar berikut:


Melissaaaa ... aaa ... ke mana kah lemak-lemak itu berada sekarang? You nailed it! Ini jelas sangat menginspirasi kan? Mungkin orang-orang berpikir kesuksesannya di dunia per-filem-an dengan tubuh super bongsor akan membuat dia bertahan dengan kondisi itu. Karena, big size adalah ciri khasnya. Tapi dia keluar dari ciri khas itu. Hehe. Yang saya harapkan untuk filem-filem berikut dia akan tetap menjadi tokoh filem bermulut lincah! 

Wah, lumayan panjang juga review hari ini. Semoga kalian yang belum menontonnya terhibur (apabila memutuskan untuk menonton), dan bagi yang sudah menonton, silahkan ditonton ulang!

Informasi yang saya peroleh, Melissa McCharty juga sudah memulai blog-nya sendiri.

Selamat berakhir minggu!


Cheers.

Still Love: To Love Somebody


Masih ada kaitannya sama pos kemarin soal merusuhi pengamen dengan suara pas-pasan cenderung fals tingkat dewa, hari ini saya ingin mengulas sebuah lagu sepanjang masa, yang selalu membuai kuping dan menentramkan jiwa. Mantep! Kata orang-orang. Sebenarnya tidak perlu bermain teka-teki silang karena sudah jelas terlihat dari judulnya: Still Love: To Love Somebody.

Baca Juga:

Kalian juga bisa membacanya di Wikipedia, Lagu ini, To Love Somebody, merupakan lagu yang ditulis oleh Barry dan Robin Gibb dan diproduseri oleh Robert Stigwood. To Love Somebody merupakan single kedua yang dirilis oleh Bee Gees dari debut album internasional mereka yang bertitel Bee Gees 1st pada tahun 1967. Pada tahun 2017 saat wawancara dengan Pers Morgan's Life Stories, Barry menyatakan bahwa dari semua lagu yang ditulisnya, dia akan memilih To Love Somebody. It has a clear, emotional message


To Love Somebody dinyanyikan ulang (cover) oleh penyanyi, yang paling pertama saya tahu, Michael Bolton. Bahkan, saya tahu lagu ini dari suara emasnya si Bolton dengan hidung memukau dan rambut kriwil itu. Maklum, jaman dulu belum tahu banyak referensi. Suara Bolton waktu menyanyikan To Love Somebody betul-betul mengaduk emosi. Sampai-sampai saya belajar kunci/chord lagu ini, menyanyikannya seakan-akan saya adalah Bolton yang sedang manggung dengan ribuan penonton. Ngayal aja terus, Teh!

And then, Kakak Pacar kasihan, lantas sering lah dia yang memainkan gitarnya dan mengiringi saya bernyanyi. Hwah, thankyouuuu


To Love Somebody menjadi semacam lagu wajib saya selain Surat Cinta dan Logika. Saya suka bernyanyi 'memainkan emosi suara' seperti itu (istilah pribadi saya ini sih). Waktu usai Peradilan Semu tahun lalu saya juga menyanyikan To Love Somebody tetapi dalam balutan irama reggae. Yess, baby, my soul rebelled.

Usai yudisium 16 Agustus 2018 yang lalu, Angkatan XXXIX Fakultas Hukum Uniflor ngumpul di rumah. Kami karaokean. Ada yang musiknya dari Youtube, ada pula yang diiringi Yoan Amaraya (orgen). Saya menyanyikan To Love Somebody dalam balutan iringan jazz yang cihuy. Emosi kami semua terbawa dalam lirik lagu yang mendadak bikin merinding. Haha. Sayang ... tidak sempat merekamnya. Sempat kami ulangi dua hari kemudian, tapi tidak sesahdu malam itu.


Beberapa hari yang lalu saya dan Ocha nongkrong di kamar sambil mendengarkan lagu-lagu dari Youtube. Dengan keyakinan penuh saya memperdengarkan To Love Somebody dari semua versi! Bee Gees, Michael Bolton, Michael Buble. Wah, yang versi si Buble ini awwwwww sekali.



Sudah nonton? Awesome kan ya?

To Love Somebody, lagu sepanjang masa yang bakal terus didengar orang-orang, anak-cucu kita ... hehe.

Lantas, kenapa mendadak saya menulis ini? Ya, #SabtuReview boleh lah diselingi dengan musik, setelah filem dan buku. Lagi pula, kalian mungkin setuju dengan saya, bahwa lagu-lagu sekarang rasanya kurang nancap di hati. Entah karena apa ... mungkin karena selera saja. Namanya juga selera, tidak bisa dipukul rata kan ya? Hehe. Misalnya, ketika orang-orang lebih suka mendengarkan Ariana Grande, saya masih suka mendengarkan The Corrs, Natalie Imbruglia, atau Kings of Convenience.

Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

There Is No Nanny Like Nanny Fran

Gambar diambil dari Google.

Terimakasih Hooq, sudah membikin saya ngakak tiap malam gara-gara menonton serial lama yang ngetop di era 90-an: The Nanny. Menonton The Nanny mengobati rindu pada serial era 90-an seperti Friends, Xena, Ally McBeal, Charmed, Baywatch, Dawson's Creek (yang ini saya sampai kejar themsong-nya harus sampai dapat!), The X-Files, Buffy The Vampire Slayer, Hercules, Melrose Place, dan lain sebagainya. Apa serial 90-an favorit kalian?

Baca Juga:

Serial lama sekelas The Nanny masih punya kekuatan yang luar biasa untuk menghibur penontonnya, ditambah dengan tokoh seorang kepala pelayan yang sarkasnya level dewa. He's a legend! Mari kenalan dulu dengan para tokoh The Nanny, agar saat kalian menonton serial ini nanti gara-gara penasaran, siapa tahu kan?, sudah ada gambar tentang mereka hehehe. Spoiler!

1. Fran Fine 

Ini dia si nanny yang bernama lengkap Fran Fine. Fran atau Miss Fine diperankan oleh Fran Drescher, seorang aktris Amerika yang super seksi. Miss Fine adalah Jewish-American (Orang Israel, beragama Yahudi, dan tinggal di Flushing - Queens - Amerika). Bapaknya yang bernama Morty tidak pernah diperlihatkan di dalam serial ini, sedangkan Ibunya yang bernama Sylvia dan neneknya yang bernama Yetta digambarkan sangat eksentrik dan hebring.  
Gambar diambil dari Google.

Awalnya Miss Fine bekerja di toko pernikahan milik pacarnya yang bernama Danny Imperialli. Tapi Miss Fine kemudian dipecat, alasannya adalah Danny memilih perempuan lain yang saya lupa namanya hahaha. Nama itu pernah muncul di satu dua episode The Nanny. Setelah dipecat, Miss Fine kemudian memilih untuk menjual kosmetik. Profesi baru mengantarkannya ke rumah seorang produser broadway ternama yakni Maxwell Sheffield. Di sini lah kisah si nanny bermula.
 
2. Maxwell Sheffield

Duda tiga anak, seorang produser broadway sukses, kharismatik, dan berasal dari Inggris. Dialah bosnya Miss Fine. Si orang kaya beraksen super british ini menyerahkan urusan ketiga anaknya kepada Miss Fine. Karakter Maxwell Sheffield diperankan oleh Charles Shaughnessy.

Gambar diambil dari sini.

Kharismatik kan? Sangat kental sisi seorang duda yang sibuk bekerja demi anak-anaknya.

3. Niles si Kepala Pelayan

Peran Niles (Daniel Davis) selain sebagai butler atau kepala pelayan paling setia, adalah penyela dan pencela. Dia suka menyela omongan Mr. Sheffield sekaligus mencela partner kerja Mr. Sheffield yaitu Miss Babcock atau CC yang tergila-gila pada Mr. Sheffield. Dia gemar menguping yang membikin saya ingat sama tokoh tukang nguping dalam Triplet bernama Azul, hahaha.

Niles dan kemoceng andalan.

Niles juga digambarkan beraksen british dan SARKASnya level dewa! Sumpah, saya pernah terbahak-bahak gara-gara menonton obrolan Niles yang sarkas dan Mr. Sheffield yang menangkap sarkas itu dengan sangat polos. Kocak!


4. Maggie - Brighton - Grace

Tiga anak Mr. Sheffield adalah Margareth Sheffield-Brolin atau Maggie (Nicholle Tom). Seorang remaja yang digambarkan sangat membutuhkan sosok ibu untuk membimbingnnya melewati masa remaja dan memberikan masukan-masukan untuk penampilannya sampai urusan asmara! Pada musim pertama Maggie digambarkan sedang dalam tahap pencarian jati diri.


Brighton Milhouse Sheffield (diperankan oleh Benjamin Salisbury) atau B adalah anak kedua, putera semata wayang pewaris tahta, yang sedang memasuki dunia remaja dengan segala tingkah polahnya. 


Yang paling unik adalah si Grace Sheffield, anak ketiga. Bocah ini digambarkan 'aneh' karena pola pikirnya sangat dewasa. Seperti orang dewasa yang terperangkap di tubuh bocah. Dia satu-satunya yang harus rajin mengunjungi dokter untuk terapi, hehe (apalagi saat muncul teman imajinernya itu).

Si Madeline Zima yang cantik!

5. CC Babcock

Dialah tokoh partner kerja Mr. Sheffield yang paling bahagia kalau Miss Fine dirundung malang, sekaligus tokoh yang paling sering dikerjain sama Niles. CC, demikian nama panggilannya dalam The Nanny, diperankan oleh Lauren Lane.


Psssttt, CC demen banget sama Mr. Sheffield loh. Meskipun, kalian tahu lah, Mr. Sheffield hanya menganggapnya sebagai partner kerja yang patut diperhitungkan dan diandalkan.

6. Valerie Toriello

Sahabat baik Miss Fine, Val (diperankan oleh Rachel Chagall). Val, Sylvia, dan Yetta, berganti-ganti muncul dalam episode-episode The Nanny.


7. Sylvia Fine and Grandma Yetta

Mamanya Miss Fine ini diperankan oleh Renee Taylor. Nyentrik, hebring, absurd, dan lain sebagainya. 

Hebringnya Sylvia dan Miss Fine memang turunan dari Grandma Yetta seperti di bawah ini:

I love Grandma Yetta. Rest In Peace.

Mengenal tokoh-tokoh di dalam The Nanny saja kalian pasti sudah tertawa. Tokoh-tokoh yang memerankan karakter di atas rasanya sulit untuk digantikan.
Jadi bagaimana The Nanny sendiri? Ya, Miss Fine bekerja sebagai pengasuh anak, atau nanny, dalam keluarga Mr. Seffield. Keberadaannya membawa angin segar dan nafas baru di dalam rumah tangga tersebut. Penampilannya selalu fantastis dengan tubuh seksi, balutan pakaian yang nempel di tubuh seksinya itu, warna-warna baju yang selalu ngejreng, rambut mekar, suara sengau, serta gaya bicara yang ceplas-ceplos tapi logis. Logis adalah kata yang paling tepat menggambarkan seorang Fran Fine. Dia selalu punya cerita, dia selalu punya alasan, dia juga selalu berkencan dengan pria-pria tampan yang kadang membikin Mr. Sheffield cemburu-tapi-enggan-mengakui.

Keberadaan Miss Fine selain membawa perubahan di dalam rumah Mr. Sheffield serta perkembangan anak-anaknya yang baik (tapi kadang break the rules), juga menjadi ancaman bagi CC, karena partner kerja Mr. Sheffield itu sangat menginginkan Mr. Sheffield menjadi suaminya. Haha. Dan tingkah CC itu seringkali menjadi bahan ejekan Niles. Ya, dalam hal ini Niles suka jika Miss Fine kemudian jadian sama Mr. Sheffield. Niles suka banget menebar gosip terutama jika tensi asmara antara Mr. Sheffield dan Miss Fine muncul. CC bisa muntah darah mendengarnya. Haha!

Apakah mereka menikah?

Siapa!?

Mr. Sheffield dan Miss Fine ...

Kita tahu, kita para wanitaaaaah, bahwa di dunia ini ada laki-laki yang sulit menunjukkan perasaannya. Setelah terombang-ambing selama lima musim, pada musim ke-lima, Mr. Sheffield dan Miss Fine pun tunangan dan menikah. Yay! Pertunangan mereka mengirimkan CC ke rumah sakit gangguan mental. Bahkan setelah mereka menikah, CC selalu mencari cara untuk memisahkan mereka. Poor CC. Yang lucu itu di musi ke-empat, tatkala Mr. Sheffield berusaha menarik kembali ungkapan cintanya pada Miss Fine. Kocak ajegile.

Setelah menikah, Miss Fine ... eh Mrs. Sheffield melahirkan bayi kembar yaitu Jonah Samuel dan Eve Catherine Sheffield. Setelah kelahiran si kembar, keluarga itu kemudian pindah ke California dimana Maxwell kemudian menjadi produser sebuah TV Show di Los Angeles.

Keluarga kocak. Yang tua seperti Grandma Yetta, misalnya, sudah meninggal. Yang imut-imut sekarang tumbuh dewasa dan ... tua :D

There is no nanny like nanny Fran. Dia memukau dengan kecepatan berbicaranya yang logis.

Apa yang saya pelajari dari serial jadul ini? Banyak! Tentang rumah tangga, tentang perkembangan anak-anak, tentang asmara, tentang betapa sulitnya perasaan seorang duda (tsah), tentang sarkas yang perlu saya pelajari jika ingin menjadi seperti Niles, tentang keluarga yang selalu menjadi tempat kita kembali. Serial ini layak tonton ... bagi yang lima belas tahun ke atas. Meskipun tidak ada adegan ranjang tetapi adegan ciuman saya pikir tidak layak tonton bagi anak-anak di bawah lima belas tahun.

Sekadar catatan: Fran Drescher menikah dengan seorang laki-laki bernama Peter Marc Jacobson selama 21 (DUA PULUH SATU) tahun. Jacobson adalah rekan produser Drescher. Pada tahun 1999, Jacobson mengaku pada Drescher bahwa ia gay. Tidak ada yang salah dengan gay, itu hak-nya, tapi menikah dan menjalani kehidupan pernikahan seakan-akan  normal, itu masalah. Haha. Berdasarkan kehidupan pribadinya ini, Drescher kemudian membikin satu serial lagi berjudul Happily Divorced.


Gambar diambil dari sini.

Saat ini Drescher telah menikah dengan seorang dokter dari India; Shiva Ayyadurai.

Well ...

Bagaimana akhir minggu ini mau nonton The Nanny? Tonton sajaaaa! Kalian bakal terpingkal-pingkal.


Cheers.

Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai



Menjadi penulis bukan perkara mengedip mata atau melempar Thika dan Ocha ke kolong tempat tidur. Butuh proses yaitu berlatih terus-menerus tanpa henti. Menjadi penulis memang tidak mudah, apalagi menjadi penulis yang 'nyastra' seperti penulis-penulis favorit kalian. Saya masih belajar menuju.

Baca Juga:

Hari ini saya mengajak kalian mengenal sebuah buku, sekaligus penulisnya, yang mengangkat nama-nama sastrawan di Provinsi NTT, yang berjudul: Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai. Kalau boleh saya bilang, ini adalah buku kedua setelah buku sebelumnya Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT. Siapakah yang telah begitu gigih menulis tentang sastrawan dari NTT ini?

Beliau adalah Drs. Yohanes Sehandi, M.Si. atau lebih akrab disapa Pak Yan. Nama Pak Yan bukanlah nama yang terkenal se-lingkup Universitas Flores. Sebagai dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Pak Yan terkenal dalam skala nasional terutama di dunia literasi. Sudah banyak tulisan beliau yang dibukukan, telah banyak pula artikel tentang sastra yang beliau pos di blog pribadinya. Bagi saya beliau adalah mentor dalam dunia tulis-menulis dan berita. Beliau langganan kegiatan-kegiatan sastra dan literasi baik di NTT maupun di luar NTT.

Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai diterbitkan pada tahun 2017. Pengantar buku ini adalah Maman S. Mahayana dengan pembuka yang super menarik:

Kritikus yang besar ialah kritikus yang berjiwa besar dan sudah bisa melepaskan diri dari nafsu dengki, iri hati, benci, dan ria dalam hubungan seorang terhadap seorang. Ada pula kritikus yang suara dasarnya: "Aku lebih tahu!" memukul, menerjang kiri-kanan lalu datang dengan: "Mestinya begini, begini, begini" dan ia menjadi badut apabila pembaca yang kritis dan teliti pula mendapatkan bahwa yang "begini, begini, begini" itu tidak tepat, kurang benar atau sama sekali tidak benar. (H. B. Jassin, Tifa Penyair dan Daerahnya, Jakarta: Gunung Agung, 1952, halaman 44-45).
[Yohanes Sehandi, 2017: vii]

Apabila kalian membaca daftar isi-nya, kalian akan tahu bahwa buku ini disusun dengan sangat terstruktur dan hati-hati agar pembaca mudah memahami 'apa' dan 'bagaimana' yang sebenarnya terjadi. Dimulai dari Bagian Pertama: Sastra Indonesia di NTT, Sejarah Sastra Indonesia di NTT, Kiprah dan Karya Sastrawan ~ NTT, hingga Perempuan NTT di Panggung Sastra. Pada Bagian Pertama ini, terkhusus judul terakhir, saya boleh sedikit sombong kan yaaaa ...


(Yohanes Sehandi, 2017 : 39)

(Yohanes Sehandi, 2017 : 40)


Disusul Bagian Kedua dengan tema umum Kritik dan Esai Sastra, serta Bagian Ketiga dengan tema umum Sastra NTT dalam Kritik dan Esai. Pada Bagian Ketiga ini muncul judul-judul seperti Menyelamatkan Tradisi Lisan Flores, 3 Juli Hari Sastra Indonesia, hingga G 30 S dan Pramoedya Ananta Toer.

Membaca buku Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai menjadikan saya tahu dunia sastra di NTT sejak awal hingga sekarang. Bahkan, membaca bagian tentang perempuan NTT di panggung sastra, saya terkenang akan semua buku-buku yang pernah memuat tulisan saya baik buku sendiri maupun antologi bersama penulis lain. Bagi saya ini adalah pencapaian yang luar biasa. Proses, proses, dan proses. Tidak ada yang instan di dunia ini.

Buku Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai dapat menjadi buku pilihan kalian di akhir pekan ini, apalagi bagi kalian para sastrawan NTT. Karena, meskipun kita tidak 'nyastra' dalam menulis tetapi setidaknya menulis dan hasil tulisan dibaca banyak orang merupakan pencapaian tersendiri. Itu menurut saya. Bagaimana menurut kalian?

Selamat menikmati akhir pekan, kawan.


Cheers.

Filem-Filem Bertema Pendidikan


Serius, saat menulis judul pos ini, saya sama sekali tidak ingin kalian berpikir tentang sinetron-sinetron Indonesia (tidak semua, memang - mungkin) yang bertema pendidikan dengan anak sekolah berpakaian kurang pantas seperti rok di atas lutut dan wajah menor kayak Anabelle versi filem. Atau anak sekolah yang di pikirannya cuma urusan cinta dan perebutan mahkota puteri dari pangeran sekolah. Filem-filem bertema pendidikan di sini tentu kualitasnya jauh di atas dari sinetron-sinetron picisan di teve. 

Tunggu dulu ... ada yang marah kalau saya menulis itu sinetron picisan? Ha ha ha.

Baca Juga:
Perang Urat Syaraf Antar Lelaki dalam The Daughter 
Jeff Dunham dan Puppet-nya 
Sisi Lain Dunia Gulat dalam Dangal

Kenapa saya menulis tentang filem-filem bertema pendidikan? Karena ... ehem ... baru selesai diyudisium ini, jadi masih hangat-hangatnya *tsaaah*

Menulis tentang filem-filem bertema pendidikan, yang paling pertama terlintas di benak saya adalah Laskar Pelangi. Filem bertema pendidikan yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata. Laskar Pelangi ini mengingatkan saya pada Universitas Flores; meskipun jauh dari Ibu Kota Republik Indonesia tetapi punya 'kekuatan' yang luar biasa. Bahwa tidak selamanya yang berada di kampung itu bakal kalah sama yang berada di kota. Bahwa tidak selamanya anak kampung itu kampungan. Am I right?

Setelah Laskar Pelangi, otak saya menuju ke sebuah filem berjudul 3 Idiots. Filem India yang satu ini punya kekuatan luar biasa pada tiga 'idiot'nya. Kalau Laskar Pelangi menyorot bocah SD maka 3 Idiots menyorot kehidupan kampus mahasiswa dan tentu kehidupan di asrama mereka. 3 Idiots adalah filem cerdas yang sangat layak tonton! Saya jamin kalian tidak bakal menyesal meskipun itu filem lama.

Ada satu filem (kita menyebutnya filem Barat, right?) berjudul Freedom Writers. Ini filem sampai membikin saya merinding saking kerennya. Sedikit bocoran, ini filem lama tentang seorang guru yang berhadapan dengan para murid beda RAS. Mereka membawa-bawa perkelahian antar geng di luaran sampai ke dalam kelas. Bagaimana seorang guru perempun berusaha mengajarkan kepada anak-anak itu bahwa pendidikan sangat penting dan hentikan permusuhan adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Menurut saya.

Beralih ke Thailand, sebuah filem Teacher's Diary juga layak ditonton berkaitan dengan filem bertema pendidikan. Tidak saja bercerita tentang perjuangan guru dan murid di sekolah apung di 'ujung dunia' Thailand sana, tapi juga tentang kisah cinta yang begitu kuat oleh seorang guru laki-laki terhadap guru perempuan hanya karena membaca buku harian si guru perempuan. Kalau belum nonton, saya rekomendasikan kalian untuk menontonnya karena visualnya sangat memukau.

Dan terakhir (dari saya) kembali ke Indonesia. Sebuah filem yang berlatar Papua yang berjudul Denias (Senandung di Atas Awan). Filem ini bercerita tentang seorang bocah laki-laki bernama Denias yang berusaha agar dia memperoleh pendidikan yang layak. Gosh ... agak gemas ketika melihat anak kota menyia-nyiakan kesempatan belajar sedangkan anak seperti Denias berusaha agar bisa memperoleh pendidikan yang layak. 

Filem-filem yang saya sebutkan di atas tentu hanya seiprit dari begitu banyaknya filem bertema pendidikan (dan berkualitas) baik dari Indonesia maupun dari negara lainnya. Bagaimana dengan kalian? Filem bertema pendidikan apa yang sudah kalian tonton?


Cheers.

Perang Urat Syaraf Antar Lelaki dalam The Daughter

Gambar diambil dari sini.

Lebih baik menerima kenyataan yang pahit ketimbang tertawa dalam manisnya kebohongan.

Kalimat itu yang terlintas di benak saya ketika selesai menonton filem berjudul The Daughter. Apa yang terlintas di benak saya tentu berbeda dengan yang terlintas di benak penonton lain, karena secara garis besar mungkin penonton lain akan berkata, "Biarkan rahasia kelam masa lalu terkubur bersama kebahagiaan hidup yang sedang dikecap." Mungkin, bukan pasti, kalau kalian punya pendapat sendiri, silahkan nonton dan tulislah review filem ini.

Baca Juga:

Filem The Daughter yang dikerjakan ulang dari karya Henrik Ibsen berjudul The Wild Duck diperankan oleh Geoffrey Rush sebagai Henry (kalau tidak kenal Rush pasti kenal Hector Barbossa dalam Pirates of the Caribbean yang meninggal pada sekuel Dead Man Tell No Tales), Sam Neil sebagai Walter, Ewen Leslie sebagai Oliver, Paul Schneider sebagai Christian, Odessa Young sebagai Hedvig, Wilson More sebagai Adam, Miranda Otto sebagai Charlotte (kalau tidak kenal Otto pasti tau Eowyn dalam The Lord of the Rings), Anna Torv sebagai Anna.

Cerita The Daughter bermula ketika Christian pulang ke desanya karena hendak menghadiri pernikahan antara ayahnya yaitu Henry dengan (mantan) pembantu si ayah yang bernama Anna. Ada satu hal yang perlu diketahui di sini bahwa ibu si Christian telah meninggal dunia dan Christian menyalahkan ulah Henry atas kematian ibunya karena Christian menganggap Henry itu playboy alias suka main mata sama pembantu mereka. Itu yang menyebabkan hubungan ayah-anak ini tidak harmonis. Manapula Christian punya masalah rumah tangganya sendiri.

Saat pulang ke desa itu, di mini market, Christian bertemu dengan Oliver dan istrinya yang bernama Charlotte. Euforia Oliver bertemu kawan lama berakhir pada makan malam di rumah Oliver bersama keluarganya termasuk ayah Oliver yang bernama Walter. Dari pertemuan itu Christian kagum pada kehidupan Oliver yang sudah punya anak gadis bernama Hedvig.

Dari awal filem sudah dibangun betapa dekatnya hubungan ayah-anak antara Oliver dengan Hedvig sehingga emosi penonton ikut larut di dalamnya. Betapa sayangnya Oliver pada puteri semata wayangnya itu dan betapa bahagianya keluarga kecil mereka (bersama Walter yang memilih tinggal di sebuah van tua di dekat rumah Oliver). Alur berikutnya campur-aduk antara kehidupan remaja si Hedvig dengan teman cowoknya yang bernama Adam, dunia sekolah Hedvig, dan pekarangan tempat Walter merawat hewan-hewan sekarat yangmana Hedvig juga turut ambil bagian merawat hewan-hewan tersebut. Di dalam penangkaran sederhana itu Walter juga menyimpan senapan berburunya.

Singkat kata singkat cerita (kayak lagunya Bang Jamal Mirdad), Christian jadi sering bertemu Oliver dan keluarganya, dan malah mereka pergi piknik bareng. Gara-gara piknik bareng ini lah cerita tentang Henry bergaung keras sampai pada perempuan yang pernah bekerja padanya. Dan salah satu perempuan itu adalah Charlotte. Christian terkesiap karena selama ini tidak mengetahui tentang Charlotte. Dia mulai mengorek informasi ini. Charlotte merasa tidak nyaman atas kehadiran Christian, manapula Christian menawarkan untuk mengantar Oliver wawancara kerja.

Hasil korek-mengorek informasi ini, Christian mengetahui bahwa Charlotte pernah menjalin asmara dengan Henry saat bekerja di rumah Henry. Christian juga tahu bahwa Hedvig bukanlah anak Oliver, melainkan anak si Henry.

DHUAAARRRR!

Sehari sebelum pernikahan Henry dan Anna, Christian dan Oliver pergi ke luar kota. Keesokan harinya uring-uringan dia menghadiri pernikahan Henry dan Anna, manapula sang istri mengabarkan tidak bisa hadir dan lebih memilih laki-laki lain (istri si Christian tidak tahan sama sikap Christian begituuu). Pikiran Christian jadi kacau. Dia kesal sama Henry; lebih kesal lagi sama Charlotte yang menyimpan rahasia kelam ini begitu lama. Dia berpikir bagaimana bisa Charlotte hidup bahagia bersama Oliver dan Hedvig sementara si Hedvig adalah anaknya Henry?

Pesta pernikahan Henry dan Anna menjadi malapetaka untuk Charlotte karena Christian menceritakan semuanya pada Oliver. Oliver marah, tidak terima, merasa dilecehkan, dan akhirnya pergi. Padahal Charlotte berkata bahwa itu masa lalunya dan pada saat itu dia memang mencintai Henry. Oliver tetap tidak terima dan memilih untuk menginap di motel ketimbang pulang ke rumah. Sebagai ayah, Walter hanya berusaha agar Oliver menyadari bahwa masa lalu tidak bisa terulang tapi bagaimana kita bisa memperbaikinya agar masa depan menjadi lebih baik.

Hedvig, yang mengejar Oliver ke motel justru bertemu Christian. Mau tidak mau Christian menceritakan pada Hedvig rahasia itu. Hedvig syok. Mati-matian dia mencari Oliver. Bertemu Oliver di mini market, sikap Oliver yang menolaknya membuat Hedvig marah besar dan depresi. Hedvig pulang ke rumahnya, pergi mengambil senapan milik Walter, pergi ke gedung tua tempat dia dan Adam sering bermain di situ, lantas ...

DHUAAARRRR!

Walter lah orang pertama yang mendengar suara tembakan itu. Berusaha menyelamatkan nyawa si cucu, Walter berlari kencang ke gedung tua. Dan akhirnya Oliver menyadari perbuatannya. Dia hanya bisa menangis mengingat penolakannya pada Hedvig. Sangat sangat menyesal.

Singkat. Padat. Jelas. Demikian kira-kira alur ceritanya.

Saya memilih judul pos Perang Urat Syaraf Antar Lelaki dalam The Daughter. Saya pikir ini judul yang pas karena di dalam filem ini para lelaki benar-benar perang urat syaraf antara Henry dengan Christian, antara Henry dengan Walter, antara Christian dengan Oliver, antara Oliver dengan Henry. Semacam lingkaran setan para lelaki dengan titik pusat seorang gadis remaja bernama Hedvig. Charlotte? Tidak, bukan dia pusat perang urat syaraf ini, hehe.

Siapa yang paling tertekan di dalam filem ini? Christian. Itu jawab saya. Dia harus menerima kenyataan bahwa anak sahabat baiknya itu ternyata adiknya sendiri (beda ibu). Itu pahiiit hit hittttt.

Bagaimana dengan moral of the story-nya?

Bagi saya, moral of the story filem ini adalah Lebih baik menerima kenyataan yang pahit ketimbang tertawa dalam manisnya kebohongan. Hedvig telah memberikan pelajaran pada Oliver bahwa kenyataan dirinya anak si Henry adalah pahit, tapi dia lebih memilih Oliver sebagai ayahnya. Dari situ Oliver belajar bahwa kenyataan yang pahit ini jauh lebih baik ketimbang tertawa dalam manisnya kebohongan yang ditutup rapat oleh Charlotte. Pada akhirnya semua rahasia akan terbongkar dan harus diakui kisah pendek Walter dengan ibunya Oliver yang diceritakan di motel menjadi semacam remedy.

Hei, look! Other people also have their deepest secret and experience the same thing. 

The Daughter memang bukan filem yang penuh adegan baku-tembak atau adegan bekelai (bakulahi). Tapi filem ini cukup melibatkan emosi penonton terutama kekesalan pada sikap Christian. Hanya saja di sisi lain, Christian juga benar. Kan tidak lucu kalau Christian kemudian jatuh cinta pada Hedvig dan menunggu Hedvig dewasa untuk menikahinya. Itu namanya perkawinan sedarah. Haha.

Semoga weekend kalian menyenangkan ...


Cheers.