Mengenal Keindahan Labuhan Bajo dan Pulau Komodo Dalam Film Labuhan Hati


Siapa yang tak mengenal Labuhan Bajo atau Pulau Komodo? Hampir semua orang mengenalnya sebagai sebuah surga. Pantai berpasir pink, kerang-kerang dan bintang laut, keindahan bawah laut yang kayak dengan spesies yang beraneka ragam, puncak bukit yang mampu menghipnotis seseorang dengan pemandangan luar biasa diatas sana. Hampir semua khayalan ini nampak sangat nyata di Film Labuhan Hati.

Sang pemimpi terus mendamba, agar suatu saat keinginan Pulau Komodo dapat terwujud. Begitulah imipian kecil saya menjelajahi Pulau Komodo dan Labuahn Bajo ini terus mengelora saat mendapat undangan nonton bareng Film Labuhan Hati. Memang terkesan norak, Labuhan Bajo aja belum pernah? Ya, dari mimpi kecil ini, saya yakin akan terwujud suatu saat. Amin.

Sebelum menonton filmnya, lebih baik mengetahui secara jelas Sinopsis dan Review yang saya buat dalam beberapa ratus kata ke depan. Meski saya memiliki analisis sendiri, namun bisa jadi review orang lain sangat berseberangan dengan tulisan saya ini, so ini hal wajar karena taste atau selera pribadi akan cenderung disesuaikan kesukaan saya. 

Trailer Film Labuhan Hati 

Sebelum menyelam review terlebih dalam lagi, ada baiknya membuka mata dengan trailer film. Secara kualitas gambar, film ini tak akan diragukan lagi. So, enjoy watching ya. 


Sinopsis Film Labuhan Hati 

Perempuan bernama Maria itu tengah melesat ke dalam laut. Sosok berusia 27 tahun itu tak sekedar berenang atau menyelam, namun ia tengah menari indah dengan deburan ombak sebagai panggungnya.
Maria sang gadis pesisir Sulawesi Utara itu telah bekerja di resort di Pulau Sebayur, sebagai tour guide bagi turis yang datang ke Pulau Komodo.
Sejak ditinggalkan oleh kekasihnya dua tahun silam, Maria selalu menimpakan kepergian kekasihnya tersebut pada tubuhnya. Menurutnya, hal itulah yang menjadi penyebab kekasihnya berselingkuh dan meninggalkannya.
Adapula Bia (40 tahun), seorang wanita sekaligus ibu dari satu anak perempuan. Datang dengan segala kemewahan yang ada padanya, mulai dari koper mahal jinjingannya hingga beragam baju-baju perancang papan atas yang mengisi kopernya, nyatanya tak mampu memenuhi relung hati Bia.
Puluhan buku self development yang turut dibawanya pun sekedar tentengan tanpa makna. Sebab, relung hati Bia semata-mata hanya dipenuhi kerinduan yang teramat membuncah akan dunia menyelam. Rasanya sudah bertahun-tahun sejak melahirkan anak pertamanya, dengan segala rutinitas kegiatannya   laut jadi satu hal yang jauh dari agendanya.
Kemudian, ada pula Indi. Perempuan usia 35 tahun yang punya tunangan seorang pria yang memaknai cinta sama dengan komitmen. Itu sebab, bagi Indi laut di Pulau Komodo adalah titik surganya sebelum kembali pada realita untuk siap menjalankan apa yang jadi prinsip calon suaminya : cinta berarti komitmen.
Dan Labuhan Bajo, menjadi titik awal  pertemuan tiga perempuan dengan latar belakang yang berbeda tersebut, yakni Bia, Indi dan Maria.
Ketiganya menghabiskan waktu 7 hari, 6 malam living on boat bersama seorang instruktur diving bernama Mahesa.
Sang pria berusia 35 tahun itu begitu menguasai tiap sudut kepulauan Komodo. Mahesa ditugaskan ikut ke atas kapal bersama ketiga perempuan tersebut, sebab Indi dan Bia butuh pendampingan untuk menyelam.
Tak dinyana, dalam, waktu singkat, hubungan ketiga perempuan itu meningkat dari pertemanan hingga persahabatan.
Hingga akhirnya, ketiga perempuan tersebut saling berperang dingin demi merebut hati Mahesa.
Lantas, akankah perjalanan ‘pelarian diri dari segala rutinitas’ ini justru membantu menyelesaikan masalah mereka? Atau justru kehadiran Mahesa makin memperparah keadaan ketiganya?

Sumber Sinopsis : postfilm.com

Review 

Sumber Foto Disini 
Setelah menonton filmnya, saya terkesan dengan footage per footage yang luar biasa memukau mata saya. Dengan teknologi yang bagus, gambar film sangat detail dan tergambar dengan indah. Jadi sepanjangan pemutaran film, yang terucap dari mulut saya adalah waah, wow, keren dan kata-kata pujian lainnya.

Lola Amaria berhasil mengantarkan penonton masuk kedalam film melalui gambar, namun dari segi cerita, alur dibangun dengan sangat lambat. Apakah ini ciri khas Lola dalam setiap filmnya? Sepertinya inilah ciri khas yang melekat. Seperti novel, bagian per bagian sangat detail namun bumbu-bumbu kejutan sayang tak segera muncul sehingga pada bagian akhir justru tidak memuncak atau klimaks. Sungguh sayang, alur sangat runtut tanpa ada random atau flashback yang semakin menguatkan kekuatan cerita.

Dari segi Casting, Nadine, Kelly, Ully dan Ramon cocok memaikan peran masing-masing. Dan dari segi background, mereka telah memiliki jam terbang traveling dan diving yang tinggi, jadi tidak ada keraguan. 

Unsur humor sebetulnya terjadi dalam beberapa part, sebetulnya penonton membutuhkan tambahan unsur komedi, namun lagi-lagi genre drama sangat dominan sehingga akan membuat film menjadi tak fokus.

Selain alur cerita, film sangatlah bagus. apalagi OST yang berrjudul Butiran angin. Penasaran dengan OST? Ini dia dibagian Original Soundtrack. 

Overall, film ini sangat disarankan untuk traveler dan diver yang sangat menyukai petualangan di alam bebas seperti Labuhan Bajo dan Komodo. 

Original Soundtrack 

OST Labuhan Hati ini berjudul Butiran Angin dari Mondo Gascaro. Menurut saya, lagu ini adalah bagian yang tak terpisah, lagu ini seperti ruh dan sangat menyatu dengan film Labuhan Hati. 



Rooftop Garden Sensation Di Greenhost Boutique Hotel Yogyakarta


Langit itu terlukis jelas awan putih berarak memanjakan mata yang memandang saat matahari begitu terang bersinar. Saya memperhatikan sekeliling lantai paling atas itu dengan seksama. Angin turut hadir dan membelai-belai tubuh saya yang tak terasa sudah dibanjiri keringat. Cuaca seperti inilah yang memanjakan saya untuk bermain bebas di rooftop. Tanaman yang umumnya sayuran ini tumbuh di selang-selang putih membuat mata saya kembali bersinar. Inilah senasinya memiliki kebun walau tak sebesar yang dibayangkan, namun jika berada di Jakarta, kebun kecil ini bisa saya sebut sebagai "Paradise".

Selang-selang putih itulah yang memberikan kehidupan pada tanaman. Sistem pemberian air ini dikenal sebagai Hidroponik yang sangat ramah lingkungan. Bukan tidak mungkin, dalam beberapa tahun mendatang, sistem tanam ini akan booming dan menjadi primadona di Jakarta. Selain alasan lahan yang terbatas, efektivitas dan keparktisan adalah poin utama melaksanakan hidroponik. 



Rombongan Explore Indonesia Jogja 2016 tak menunggu lama untuk mengabadikan rooftop. Mulai memotret tanaman dan lingkungan sekitar rooftop. Tiba-tiba secara tak sengaja, model dadakan berpose untuk kami. Jepret sana, jepret sini, kami seperti melakukan sesi foto dengan model profesional. Dan hasilnya memang mengagumkan, kami puas dan tertawa bersama melihat keseruan kami melakukan foto-foto di rooftop milik Greenhost Hotel. Tak heran hotel ini menjadi favorite tamu yang menginap karena konsep rooftopnya pun sangat keren.


Boutique Hotel Ramah Lingkungan 

Air sedikitpun sangat dimanfaatkan oleh Greenhost

Menyatu dengan alam dan mengerti lingkungan, Greenhost menyampaikan pesan ini melalui bangunan hotel yang sangat hijau. Atap bangunan dibiarkan menantang langit dan hanya kaca yang menghalanginya dari hujan. Sistem pengairan pun dibuat sangat efektif dan tidak ada satupun yang terbuang percuma dan akan berputar dan disaring kembali menjadi air yang bersih atau digunakan untuk keperluan tanaman dan flush toilet. 

Sedikit banyak, saya belajar untuk mengerti bahwa air yang kita gunakan harus dihemat demi menjaga lingkungan tetap seimbang. Selama ini, saya hanya memandang bahwa air adalah sumber daya yang tak terbatas, namun berkaca dengan belahan bumi lain yang mengalami kekeringan, inilah saatnya untuk lebih memahami pentingnya menghemat air di mana pun berada.


Selain sistem pengairan, konsep hotel sedikit berbeda, bisa dilihat dari perpaduan antara modern dan ramah lingkungan membuat hotel ini seperti rumah kebun. Konsep ini memang sangat cocok bagi wisatawan asing dan wisatawan dalam negeri yang kerap melakukan rutinitas dan berhadapan dengan gedung-gedung pencakar langit dan kemacetan. 

Prawirotaman, sebuah kawasan yang kerap disebut sebagai kampung turis adalah lokasi hotel ini berada. Grafiti menghias sepanjang jalan sebelum memasuki area hotel. Di ujung jalan, aktivitas pasar pun tak boleh dilewatkan begitu saja. Pedagang yang menjajakan dagangnya pun merupakan potret keseharian yang sangat instagramable. So, what are you waiting for? Segera ambil kamera dan jalan-jalanlah di sekeliling dan temukan gambar terbaikmu kemudian share. Sungguh menyenangkan melakukan aktivitas seru ini pada saat sore.


Meet The Room 


Ornamen kayu dan dinding tanpa dicat bagi saya adalah konsep kamar yang memukau. Hotel lain menciptakan kamar dengan cat atau wallpaper sehingga menambah kesan flat, namun Greenhost justru membiar tembok alamiah dan menyatu dengan konsep ramah lingkungan yang telah diusung sebelumnya. 

Kasur cukup lebar dengan selimut tebal dan disampingnya terpasang colokan listrik. Yup, untuk saya, colokan sudah menjadi nyawa kedua, apalagi kamera dan smartphone pun membutuhkan banyak colokan listrik untuk mengisi daya baterai setelah seharian telah digunakan. 



Kamar mandi sangat lengkap dengan perlengkapan mandi dan handuk. Sedangkan lemari pakaian pun tersedia dengan ukuran sedang dan cukup luas untuk menampung beberapa koper atau tas ransel ukuran besar. TV layar datar dengan berbagai channel luar dan dalam negeri siap menemani istirahat saya malam ini. Begitu pula dengan koneksi internet yang lumayan kencang dan membantu aktivitas online beberapa malam di hotel ini.

Tipe-tipe kamar terdiri dari Erick Room, Futura, Rempah 1, Rempah 2, Studio Kita 1-3 dengan arrange harga mulai dari 300 ribu  sampai 1 juta-an. 


Fasilitas Hotel 



Rooftop menjadi salah satu daya tarik Greenhost Hotel, namun fasilitas yang mendukungnya pun tak kalah. Sebut saja Souvenir Shop, Co-working space, Art Kitchen, Greenhost Creative Farming, Meeting Space, Tea Spa, Swimming Pool, Mezzanine Tea Shop, Attic Bar & Lounge, Parkir dan lain-lainnya. 

Fasilitas ini menunjang apapun keperluan saya selama menginap di Greenhost, apalagi konsep hotelnya sangat eco-friendly dan sangat disukai oleh wisatawan asing. Saya beberapa kali bertemu dengan bule-bule yang berseliweran di area lobi ataupun art kitchen. 



Terima kasih kepada airport.id yang telah menyelengarakan event Explore Indonesia Jogja 2016 bersama sponsor salah satunya adalah Greenhost Hotel ini.  

Informasi Greenhost Boutique Hotel Yogyakarta 

Alamat 
Jalan Prawirotaman II No. 629
Brontokusuman, Yogyakarta

Telepon 
+62274 389 777

Email 
info@greenhosthotel.com

Website 

Maps 


Shy Shy Cat (Malu-Malu Kucing) : Ketika Perjodohan dan Persahabatan Diuji



Saat menonton youtube, tak sengaja referensi video lain menunjukan saya kepada Shy Shy Cat. Rasa penasaran membuat saya menonton trailernya dari awal sampai habis. Dan hasilnya, saya menanti film ini rilis di bioskop. Bagai mendapat durian runtuh, seorang teman lama menghubungi saya dan menawarkan premier film ini. Tanpa basa-basi, saya langsung saja menerima undangan ini dengan senang hati, baru nerima undangan nonton film aja sudah senang apalagi nerima undangan nikah, eh, baper deh jadinya.

Silahkan bagi yang belum nonton trailer filmnya. 


Shy shy cat adalah terjemahan bebas dari Malu-malu kucing, terjemahan ini bukan dalam arti sebenarnya, namun lebih ke arah "terjemahan secara komedi" atau biasa dilakukan pada saat belajar bahasa Inggris di sekolah dulu. Maklum, setting tempat film adalah Sindang Barang, sebuah desa di Sukabumi yang semangat mempelajari bahasa Inggris. Wow, semangatnya itu loh yang patut diapresiasi. Keep going, Sindang Barang

Nirina Zubir dan Acha Septriasa, dua pemain ini pernah membintangi film yang sama yaitu Heart beberapa tahun silam. Bisa dikatakan film ini sebuah film reuni bagi keduanya. Hal ini membuat chemistry yang dibangun keduanya sangat natural dan tidak membutuhkan waktu untuk memahami karakter masing-masing. Di film ini, keduanya berperan sebagai sahabat yang saling membantu dalam suka dan duka. Pemeran lainnya adalah Fedi Nuril, Tika Bravani dan Titi Kamal. Fedi Nuril berperan sebagai sahabat masa kecil Nirina, sedangkan Tika bersama Acha menjadi sahabat masa kini. Titi Kamal merupakan teman main pada saat di kampung dahulu.

Sinopsis : Ketika Perjodohan dan Persahabatan Diuji 


Mira (Nirina Zubir) sudah sukses membangun karirnya di Jakarta. Di ulang tahunnya ke 30, sang Abah (Budi Dalton), seorang jawara kampung pemilik padepokan silat, menagih janji agar Mira pulang ke desa Sindang Barang, untuk dijodohkan dengan Otoy, teman masa kecilnya. Mira tidak mau pulang kampung karena merasa desanya tidak pernah maju-maju, apalagi dijodohkan dengan Otoy (Fedi Nuril), anak yang seingatnya menyebalkan. Untuk menyiasatinya, Mira dibantu oleh dua sahabat, yaitu Jessy (Acha Septriasa) dan Umi (Tika Bravani) berniat menggagalkan perjodohan itu.

Namun saat kembali ke desa Sindang Barang, Mira, Jessy dan Umi mendapati semua kondisi sudah berbeda, dan mereka dihadapkan dengan pilihan sulit yang menguji persahabatan mereka setelah melihat Otoy sekarang.


Review 


Titi Kamal Sedang Diwawancarai 
Otoy pernah berkata bahwa " Orang kota atau orang yang memiliki ilmu namun tidak memiliki pegangan agam yang kuat, sedangkan orang desa Sindang Barang memiliki tradisi agama yang kuat namun tidak memiliki ilmu yang tinggi ". Otoy merupakan pemuda desa dengan pendidikan tinggi di Mesir dan kembalilagi membangun desanya. Seperti kita ketahui, banyak pemuda desa yang hilang dan mencari nafkah di kota-kota besar seperti Jakarta, namun paradigma itu ingin dihilangkan dan diubah oleh Otoy.

Sungguh saya tersentuh dengan salah satu pesan moral ini, apalagi pemuda desa seyogyanya membangun desanya agar dapat bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. Bahkan di film ini, Sindang Barang memiliki WIFI super cepat dan english day pada hari tertentu. Hal ini ingin menunjukan secara tegas bahwa desa siap menerima orang kota atau luar negeri yang ingin berwisata dan menikmati alam dan perkebunan yang luas.


Untuk segi pemain, cast menempatkan aktor-aktor yang pas dengan karakternya. Sebut saja Acha Septriasa yang memerankan Jessy yang penuh dengan drama dan lebay. Soleh Solihun berhasil mengocok perut penonton dengan perannya yang ceplas-ceplos. Nirina Zubir dengan kekuatan acting berhasil menghidupkan karakter Mira dan Tika Bravani dengan karakter Umi yang mengalami depresi. Sedangkan pemeran lain seperti Ade Fitria Sechan, Dwi Sasono, Juwita Bahar, Adelia Rasya, Budi Dalton, Iszur Muchtar dan cast lainnya cukup tepat dan sangat menghibur.

Foto Bareng Sarah Sechan? Bukan ini Adiiknya Ade Sechan ehehehe
Humor yang disuguhkan sangat menghibur, namun lagi-lagi kendala bahasa masih terjadi, karena beberapa dialog dalam bahasa Sunda tidak diterjemahkan. Humor dibangun berdasarkan situasi dan bahasa memang harus dicerna terlebih dahulu sebelum tertawa. Kadang selera humor satu orang dengan yang lain berbeda, namun saya jamin, film ini menghadirkan humor secara universal dan dapat dinikmati oleh segala usia.

Sinematografi memiliki peranan penting dalam film ini. Kualitas dan pengambilan gambar alam dan seting tempat sangat bagus, namun untuk pengambilan gambar antar adegan zoom pemain masih terlihat tidak sesmooth yang dibayangkan. Sound pun memilki sedikit masalah dalam memotong adegan Mira yang sedang monolog atau sedang bekata dalam hati. Mungkin saya kurang paham secara teknis, namun menurut saya masih kurang rapi pada bagian ini saja, adegan lain sudah sangat sempurna.

Seting tempat yang mengangkat budaya sunda memiliki nilai yang tinggi. Film ini berani menampilkan budaya diwakili oleh pencak silat, seni kecapi dan bahasa sunda. Saya salut dengan tim produksi yang mengangkat kembali unsur budaya Indonesia melalui budaya Sunda. Applause untuk tim produksi. Salut banget.

Secara keseluruhan, film ini sangat layak ditonton bersama keluarga dan teman-teman atau bahkan pacar dan gebetan asal jangan bawa mantan aja ya nanti baper. Selamat menonton ya pada tanggal 3 November 2016 di bioskop kesayangan anda.

Cast 

Producers : Starvision 
Director: Monty Tiwa
Writers: Adhitya Mulya, Monty Tiwa
Stars: Nirina Zubir, Fedi Nuril, Acha Septriasa, Tika Bravani, Titi Kamal, Izhur Muchtar, Soleh Solihun, Juwita Bahar, Adelia Rasya, Ade Fitria Sechan, Budi Dalton, Cecep Arif Rahman

Yuk Joged Bareng Nirina, Acha dan Tika 


Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD


Tahun ini, Hotel Grandzuri BSD City memasuki ulang tahun ke-empat beberapa bulan lalu. Hotel dengan letak strategis di BSD City dan dapat dijangkau dari Jakarta dan sekitarnya dalam beberapa menit ini patut berbangga, karena merupakan hotel pilihan saat berada di Serpong. Agustus ini, Hotel Grandzuri menyuguhkan sesuatu yang spesial bertajuk "Pesta Rakyat Tujuh Belasan, Kampoeng Tempo Doeloe". Sebuah pesta untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71.

Kampoeng Tempo Doeloe seakan mengingatkan kembali bahwa Indonesia memiliki kekayaan kuliner khas pada jaman dahulu yang kalah tenar dibandingankan jajanan instan yang banyak dijumpai di mini market atau supermarket. 71 Jajanan Pasar Tradisional dan Makanan Tradisional seperti Pecel, Soto, Banjar, gado-gado dan lainnya turut menyemarakan pesta ini. Selain Jajanan Pasar, pesta kali ini turut menghadirkan lomba tujuh belasan bersama seluruh karyawan dan staff Hotel Grandzuri. 

bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

Meriahnya Lomba Tujuh Belasan 

bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

Seluruh karyawan dan staff Hotel Grandzuri BSD berbaris rapi mengenakan kaos merah dan celana putih. Bagian depan barisan membawa papan bertuliskan lomba yang akan diikuti sore itu. Wajah sumringah dan penuh semangat seakan menyatakan bahwa kami siap memeriahkan lomba kali ini. Saya termasuk yang turut semangat menyaksikan mereka berlomba. Lombanya pun tak biasa. Sebut saja balon terhimpit, beauty and the beast, slowly bikers, futsal bercorong, kerupuk kuat, pukul balon dan water estafet.

Berkat bujukan pantia lomba, blogger pun ikut memeriahkan acara lomba termasuk saya. Kali ini saya berminat pada pukul balon yang berisi air dan beauty and the beast. Kalau pukul balon berisi air ini sudah biasa dilihat, tapi untuk lomba beauty and the beast baru kali ini saya mendengar atau melihat lomba ini. Penasaran dengan beauty and the beast? Saya juga.

Yang Unik Yang Dilombakan

bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

Perlombaan Tujuh Belasan ini selalu menarik untuk diikuti, apalagi biasanya lombanya sangat unik seperti panjat pinang, gebuk bantal, dan masih banyak lomba unik lainnya. Saya termasuk pecinta lomba unik, meskipun jarang ikutan setelah dewasa, namun saya menikmati saat yang berlomba menampilkan ekspresi unik, lucu atau bahkan konyol.

Lalu apa saja yang unik menurut saya? Ini dia beberapa lomba unik yang belum pernah saya lihat atau sudah pernah saya lihat namun sangat menghibur.

Futsal Bercorong


bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

Perlombaan ini layaknya futsal seperti yang biasa kita lihat, namun yang spesial peserta lomba harus mengunakan corong yang menutup sebagian penglihatan mereka. Lalu bagaimana keseruannya? Iya banyak sekali peserta yang meleset saat mengambil bola dan malah menendang lawan main bahkan kawan sendiri pun ditendang. Permainan hanya cukup beberapa menit dan bagi peserta yang dapat membobol jaring gawang merekalah pemenangnya.

Balon Terhimpit 


bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

Sebetulnya saya cukup penasaran dengan lomba satu ini. Apa sebenarnya yang harus dilakukan untuk memenangkan lomba ini? Meletuskan balon dengan jarum? Atau bagaiman? Ternyata dua orang akan berpasangan dan salah satunya duduk dikursi, sementara yang lain akan berlari dan menghimpitkan balon pasanganya sehingga meletus. Wow, menarik sekali lomba yang satu ini. Alhasil, saya dibuat terawa oleh perangai mereka yang unik.

Kerupuk Kuat 

bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

"Bang, himpit terus bang krupuknya biar kita menang," ucap seorang wanita berkaos merah.

Sementara seorang pria berbaju rapi berwarna hitam menghimpit krupuk dengan lehernya agar krupuk dapat dimakan oleh pasangannya.

Begitulah suasana lomba krupuk kuat. Lomba makan krupuk berpasangan seperti ini rupanya menarik untuk dilihat. Selain harus dimaikan oleh pria dan wanita atau bisa berpasangan dengan jenis kelamin sama, ternyata kerjasama untuk menghabiskan krupuk sangat dibutuhkan. Pemenang ditentukan berdasarkan kekompakan dan bisa menghabiskan krupuk secara bersama-sama. Menarik bukan?

Beauty & The Beast 


bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

Bukan berarti yang ikut lomba ini harus seorang puteri cantik dan pangeran buruk rupa. Kali ini Beauty and the Beast membalikan fakta tersebut. Lomba ini membutuhkan keahlian mendadani seseorang dengan mata tertutup. What? Apa bisa mendandani seseorang dengan mata tertutup? Lomba ini telah membuktikannya, walau hasil dandanan membuat terpingkal-pingkal.

Saya salah seorang peserta, namun bukan saya yang didandani. Sayalah yang mendandani, Bowo, kawan blogger. Keahlian make-up saya diuji. Bukan saja karena harus rapi dan cantik (baca : Pria Cantik), namun harus menarik untuk dipandang mata. Jeng-jeng bukan membuat wajah Bowo menarik, tapi tambah hancur karena make-upnya tidak terlihat dan cenderung tak beraturan. Sementara, pemenangnya memang sangat cucok dan menor bagi seorang pria hahaha.

Kampoeng Tempo Doeloe Dengan 71 Jajanan Pasar 

bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

Jajanan Pasar menjadi makanan saya saat kecil. Pasar diperempatan jalan, saat pagi selalu menjual aneka jajanan yang mengoda selera. Sebut saja gempolan, bubur sumsum dan bubur candil (biji salak), ketiganya merupakan jajanan kesukaan saya. Gempolan berbentuk bulat berwarna merah kecokelatan dan putih, terbuat dari tepung terigu dan dicampur gula jawa. Sedaangkan untuk penyajiannya sangat nikmat dengan santan. Saya paling suka gempolan. Saat pulang kampung, hal pertama yang saya tanyakan adalah "Gempolannya Ada?".

Kampoeng Tempo Doeloe menghadirkan kembali jajanan pasar kehadapan saya. Tak hanya satu, dua atau 10 macam, namun 71 jajanan pasar dihadikan. Bagai menjelajah masa kecil, Kampoeng ini dapat menawar kerinduan akan kampung halaman nun jauh disana.

bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

Jajanan pasar yang disajikan sangat beragam dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Saya kenal dengan beberapa macam Jajanan seperti kue gulung, moaci, kue cucur, pastel, puteri ayu, dan masih banyak lainnya. Moaci menjadi salah satu favorite saya. Sebetulnya Moaci ini setahu saya berasal dari Jepang. Mungkin karena dahulu terdapat peninggalan Jepang, salah satunya jajanan ini.

Cara membuat moaci tergolong unik. Tepung beras ketan ditumbuk sehingga membentuk adonan yang lembut dan lengket dan kemudian dibentuk bulat. Setelah berbentuk bulat kemudian ditaburkan tepung sehingga tidak lengket. Moaci tersohor Indonesia berasal dari Sukabumi, namun kini Moaci lebih terkenal berasal dari Semarang.

bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

Sentuhan Sunda pun hadir dalam Kampoeng Tempo Doeloe melalui Nasi Tutug Oncom. Nasi Tutug Oncom ini berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Cara membuatnya pun tergolong spesial karena nasi akan dicampung dengan oncom goreng atau bakar. Tutug dalam bahasa Sunda berarti menumbuk dan proses inilah yang membuat Nasi ini terkenal dengan nama Tutug Oncom. Biasanya Nasi tersebut akan dihidangkan dengan lauk-lauk lain seperti sayur-sayuran, ayam, telur dan daging.

Signature Menu : Nasi Goreng Ugal-ugalan dan Sop Buntut Balado

bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

Pernah merasakan Nasi Goreng dengan sambal pedas luar biasa? Seperti Maicih yang memiliki level kepedasan, Nasi Goreng Hotel Grandzuri BSD pun demikian. Nasi Goreng ini memiliki 5 level dimulai dari level  Mangstaph, Enak Gila, Nampar, Nampol dan Ugal-Ugalan.

Mulanya saya mencoba dari Mangstaph. Level ini menyajikan pedas yang biasa seperti nasi goreng dengan tambahan satu atau dua sendok cabai. Kemudian rasa ingin tahu membuat saya mencicipi Nasi Goreng Enak Gila. Kali ini lidah saya seperti ditusuk-tusuk oleh jarum karena pedasnya. Tidak berhenti sampai disitu, saya ingin menguji ketahanan pedas saya dengan mencoba level berikutnya. Sepertinya Level Nampar akan menjadi sesuatu yang menampar-nampar lidah saya. Benar saja, satu sendok nasi goreng membuat mata saya merem melek dan menahan pedasnya. Segera saja saya minum air untuk meredam pedas itu.

bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

Menu berikutnya adalah Sop Buntut Sambal Balado ala Chef Yan Hari. Berbeda dengan Nasi Goreng yang sangat pedas, sambal balado yang tersaji bersama Sop Buntut tidak terlalu pedas dan terasa pas. Kuah sop yang bening dipadu dengan daging buntut yang lembut membuat sajian ini paling saya favoritekan.

Dua menu ini merupakan Signature Menu yang dapat dipesan setiap saat oleh tamu Hotel Grandzuri BSD. Sedangkan Jajanan Pasar hanya akan dijumpai beberapa macam saja setelah HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menikmati Staycation Dengan Bermain Air

bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

Setelah kenyang dengan sajian Jajanan Pasar dan Signature Menu, saya dan beberapa media dan blogger mendapatkan kesempatan untuk Staycation. Seperti yang diketahui, Grandzuri memiliki fasilitas lengkap seperti fitness/gym center, swimping pool, parkir luas, penjemputan dan beragam fasilitas lainnya.

Kamar yang saya tempati pun lumayan luas dengan fasilitas kamar cukup lengkap. Urusan kamar mandi pun sangat diperhatikan, jadi kalau tidak bawa perlengkapan mandi, Hotel ini telah menyediakannya mulai dari pasta gigi, sikat gigi, sabun, shampoo dan perlengkapan lain.

bluepackerid.com - Pesta Tujuh Belasan Kampoeng Tempo Doeloe Di Hotel Grandzuri BSD City

Desain kamar memang sangat nyaman untuk istirahat, apalagi terdapat sentuhan artistik sebuah lukisan menambah suasana nyaman seperti dirumah sendiri. It feels like home for me.

Keesokan harinya, untuk mengisi hari, saya dan beberapa kawan blogger pun menikmati hari dengan berenang bersama. Suasana kolam pun sangat ramai hari itu, banyak anak-anak kecil yang turut bermain bersama saya dan kawan-kawan lain.

Hotel Grandzuri BSD selalu menawarkan kemeriahan yang berbeda tiap bulannya, untuk bulan depan pasti temanya akan berbeda dan akan menyajikan kejutan yang berbeda bagi tamunya. We'll see you soon.

Informasi Grand Zuri BSD

Alamat 
Jalan Pahlawan Seribu Kavling Ocean Walk
Blok CBD Lot. 6, BSD City, Serpong
Tangerang Selatan, Banten

Email 
reservation.bsd@grandzuri.com

Telepon
+6221 2940 4955

Website 
http://grandzuri.com/bsdcity

Maps