The Nun



Indra:
Encim, sudah nonton tenun?

Saya:
Hah? Tenun apa? Tenun ikat?

Thika:
*bekap mulut, ngikik*

Sepersekian detik saya tersadar bahwa sedang dikerjain kakak-beradik itu. Ebusyet, kualat tahuuuu ngerjain Presiden Negara Kuning. Huh. Dengan kekuatan meteor saya kutuk kalian jadi penduduk Negara Kuning yang senantiasa bahagia!

Ini nih tenun:



Baca Juga: Blogger Perempuan

The Nun. Mungkin kalian sudah menonton filem horor yang satu itu. Saya ... saya juga sudah sih ... tapi terlambat. Kalian kan tahu bahwa di Kota Ende tidak berdiri satu pun bioskop setelah Bioskop Flores ditutup pada akhir 90-an. Yang ada sekarang Bi Oskop, penjual kacang goreng sepuluh rebuan di trotoar Lapangan Pancasila. Ngarang, namanya bukan Oskop, haha. Atau Bibi cantik pemilik kios di depan jalan Kampus II Universitas Flores. Atau bi-dadari pemilik blog yang sedang kalian baca ini. Dududu.

Nonton The Nun, malam Jum'at, kebayang horornya kayak apa. Bahkan saya minta si Thika menemani. Dibalas dengan anggukan tidak ikhlas. Thika memang temani saya nonton The Nun ... dari ruang tamu. Dia sibuk bermain Mobile Legend. NggaE Dewa, kelakuan keponakan saya kenapa begini ...

Bagaimana soal The Nun?

Tulak vs Valak.

THE NUN


Dari Wikipedia, The Nun adalah sebuah filem horor supernatural gotik Amerika yang disutradarai oleh Corin Hardy dan ditulis oleh Gary Dauberman, dari sebuah cerita oleh Dauberman dan James Wan. Filem ini dirilis di Amerika Serikat pada tanggal 7 September 2018 oleh Warner Bros Pictures. 

The Nun merupakan prekuel dari The Conjuring 2 yang telah lebih dulu menampilkan Valak dalam balutan pakaian suster (nun). 

Bagi saya, nun selalu mengingatkan saya pada abjad Arab. Hehe. 

ALUR: KRONOLOGIS DAN FLASHBACK


The Nun dimulai dengan adegan dua biarawati yang hidup di Carta Monastery yang diserang kekuatan dari entitas yang (awalnya) tidak terlihat. Biarawati terakhir, Suster Victoria, melarikan diri dari setan yang berwujud biarawati. Suster Victoria lantas menggantung dirinya sendiri. Tubuhnya yang sudah mati akibat meloncat dari lantai atas bangunan sambil mengikat leher dengan tali kemudian ditemukan oleh Frenchie. Frenchie ini warga desa terdekat yang bertugas mengantarkan persediaan untuk para biarawati di situ beberapa bulan sekali.

Vatikan mengutus Pastor Burke dan Suster Irene, yang saat itu belum mengambil sumpahnya, pergi ke Rumania untuk menyelidiki situasi tersebut. Frenchie menunjuk ruangan tempat dia meninggalkan jasad Suster Victoria tapi ada yang aneh karena pada saat ditinggalkan posisi tubuhnya adalah tidur, bukan dalam posisi duduk. Siapakah yang mengubah posisi Suster Victoria? Profesor Snape ... mungkin.


Dari jasad suster ini mereka menyelamatkan sebuah kunci.

Beranjak ke biara, di sana mereka bertemu seorang suster kepala atau disebut Abdis yang berselubung kain hitam. Sumpah, pada bagian ini saya terus melotot ke kursi/singgasana tersebut karena lihai sekali mereka membikin scene ini sehingga memberi kesan Suster Irene memang bisa melihat makhluk halus. Ya, dan memang dia bisa, tapi tidak dengan cara itu penonton dikasihtahu sebenarnya. Sangat terselubung. Ini scene hebat. Lanjut, Pastor Burke dan Suster Irene disuruh menginap terlebih dahulu di rumah inap dalam lingkungan biara dan keesokan hari baru boleh mewanwacarai para penghuni biara. Frenchie pun pulang, tapi dalam perjalanan pulang dia diserang setan. Hiiiy!

Baca Juga: Kisah Bulan Madu yang Tidak Biasa

Malam yang sama, Pastor Burke juga bercerita pada Suster Irene tentang ritus pengusiran setan yang pernah dilakukannya pada seorang anak kecil bernama Daniel. Tapi gagal. Di sinilah saya tulis flashback setelah sebelumnya kronologis. Saat tidur malam itu Pastor Burke juga diserang setan, lantas dikubur hidup-hidup. Untungnya dia diselamatkan oleh Suster Irene. Padahal awalnya saya pikir Suster Irene lah yang lemah. Ternyata saya sa-lah.

Keesokan harinya Pastor Burke dan Suster Irene kembali ke biara namun hanya si suster saja yang boleh masuk. Dia bertemu biarawati lainnya, dan mempelajari bahwa mereka terus berdoa, bertukar posisi berdoa, agar terlindung dari roh/setan jahat dari neraka. Suster Oana mengungkapkan kepada Suster Irene sejarah biara tersebut. Ternyata biara itu adalah kastil yang dibuat oleh bangsawan yang terobsesi dengan ilmu gaib. Bangsawan itu memanggil entitas jahat tersebut melalui celah katakombe, namun dibunuh oleh seorang Ksatria Kristen, yang lantas menutup celah tersebut dengan sebah artefak yang berisi Darah Yesus Kristus. Pengeboman selama perang dunia kedua membuat celah kembali terbuka, membebaskan entitas tersebut. Pastor Burke mengidentifikasi entitas itu sebagai Valak dari sebuah buku yang dia baca. Pastor Burke menemukan bahwa sang Abdis ternyata telah lama meninggal.

Hal yang sama juga dialami oleh Suster Irene ketika dia berdoa di gereja, sesuai apa yang dilakukan suster-suster yang lain. Ternyata, semua suster yang ditemuinya itu sudah lama meninggal, karena suster terakhir dari biara itu adalah Suster Victoria! 


Usaha mereka untuk mengembalikan Valak ke neraka pun berhasil. Mereka berhasil mengambil artefak, melalui perjuangan demi perjuangan, hingga Suster Irene berhasil memuncratkan darah Yesus ke wajah Valak. Akhirnya katakombe kembali tertutup dan tersegel. Suster Victoria dikuburkan dengan ritus yang pantas, karena dia bukan bunuh diri melainkan mengorbankan diri. It's not a suicide. It's a sacrifice. Mereka pun pulang. Namun dalam perjalanan pulang diketahui bahwa lambang salib terbalik terlihat di tubuh Frenchie.

Dua puluh tahun kemudian di sebuah seminar universitas, Carolyn Perron melihat Ed dan Lorraine Warren menyajikan cuplikan dari upaya mereka untuk mengusir Maurice yang dirasuki. Maurice meraih Lorraine, memberikan penglihatan tentang Ed yang sekarat, yang memulai penyelidikan Warrens tentang rumah tangga Perron yang menghantui, serta pertemuan mereka dengan Valak.

TINGKAT KESERAMAN


Apabila sepuluh adalah tingkat keseraman paling top dari filem ini, maka saya memberinya angka empat saja. Bagi saya The Nun seperti sebuah pengulangan dari filem sebelumnya yaitu The Conjuring 2. Bahkan The Conjuring 2 lebih seram. Maafkan saya, ya, wahai para penggemar The Nun. Sumpah, saya yang awalnya sudah ngeri duluan kemudian berubah datar setelah filem ini berjalan hingga berakhir. Tentu apa yang saya alami tidak sama dengan yang kalian alami hehehe.

Apakah ini disebabkan semua keseraman Valak sudah dituangkan dalam The Conjuring 2? Entahlah. Yang jelas, menonton The Conjuring 2 membikin saya ketar-ketir setiap kali melihat lemari.

YANG PERLU DICATAT


1. Selipan Konyol

Saat Pastor Burke dan Suster Irene meminta bantuan Frenchie, mereka sudah percaya diri bakal pergi ke biara menggunakan truk dan meletakkan koper mereka di truk tersebut. Ternyata, setelah truknya jalan, Frenchie menunjuk kereta kuda yang menjadi tumpangan mereka. Haha. Tapi, cukup aneh juga sih karena jalan yang mereka tempuh sebenarnya bisa dilalui oleh sebuah truk?

2. Informasi yang Terlambat(?)

Biara itu sudah diserang oleh entitas jahat yaitu Valak, satu per satu biarawati meninggal dunia. Tidak ada kah satu atau dua biarawati yang diutus untuk menyampaikan kabar ini kepada pihak yang lebih tinggi seperti ke Vatikan, misalnya? 

3. Salib Terbalik

Lambang salib terbalik yang ada pada tubuh Frenchie pada akhir film ... bertujuan untuk apa ya? Ada yang tahu?

Menonton The Nun berakhir dengan biasa saja. Saya tidak sampai melihat terus ke arah lemari sebelum tidur. Saya juga tidak melihat ke sudut kamar mandi saat berada di ... di kamar mandi. Tidak ada ketakutan total seperti yang saya alami ketika menonton The Conjuring 2, atau saat saya menonton A Quiet Place, misalnya. Tapi yang jelas filem The Nun sukses di pasaran. Modal sekitar 22 Juta Dollar, pendapatan kotor yang tersaji di Wikipedia 309,2 Juta Dollar. Untung berlipat!

Demikianlah review kali ini ...

Oia, untuk perempuan terhebat, selamat tujuh dua kali. I love you, Mom.

Selamat berakhir pekan!



Cheers.

Blogger Perempuan


#SabtuReview, artinya pada Sabtu selalu hadir pos soal filem, buku, maupun lagu. Kalian pasti sudah terpingkal-pingkal membaca tentang Tikil, jadi ikut deg-degan membaca tentang A Quiet Place, atau terbuai dengerin lagunya Kings of Convenience. Tapi hari ini, spesial beud, saya ingin menulis tentang sesuatu di luar filem, buku, dan lagu. Ini tentang sebuah komunitas perempuan yang kece badai. Komunitas yang baru saya ikuti, menjadi member, tapi langsung bikin saya punya banyak teman. As simple as that. Begitu cepat blog ini dikunjungi pula oleh member komunitas lainnya! Jadi terharu *peluk monitor, terus kesetrum dan berubah jadi lebih cantik*.

Baca Juga : Lagu-Lagu Ini Punya Kembaran

Nama komunitas ini adalah Blogger Perempuan. Jaringan Blogger Perempuan Terbesar di Indonesia. Salah satu komunitas blogger khusus perempuan yang saya ikuti. Lebih jelasnya, silahkan baca kutipan di bawah ini: 

Blogger Perempuan Network adalah tempat yang nyaman bagi blogger wanita Indonesia untuk belajar, berbagi, dan menginspirasi satu sama lain melalui konten. Sejak 2015, komunitas kami telah berkembang pesat dan menjadi komunitas blogger wanita terbesar di Indonesia. Kami menciptakan platform di mana blogger wanita dapat berbagi konten mereka dengan niche tertentu, mengirimkan blog mereka di direktori, dan bergaul dengan orang lain. Kami juga mendukung aktivitas digital komunitas dengan melakukan acara offline dan online dengan pengetahuan tentang blogging.

Gabung sama Blogger Perempuan gara-gara blogwalking ke blog-nya ... saya lupa *dilempar batako*. Yang jelas, saat itu juga saya meluncur ke situs Blogger Perempuan, mendaftar, memenuhi persyaratan seperti memasang banner Blogger Perempuan di blog ini dan follow akun media sosialnya, menunggu proses diterima, dan voila ... jadilah saya member Blogger Perempuan termuda dan tercantik. Beberapa hari kemudian, trafik blog saya semakin meningkat. Yang saya ingat, blog pertama dari member Blogger Perempuan yang saya kunjungi itu blog milik Kakak Uphiet Kamila yang waktu itu masih pakai Blogspot belum domain sendiri.

Apa saja keuntungan menjadi member Blogger Perempuan? Banyak! Diantaranya: punya banyak teman yang artinya network kita semakin luas, setiap pos blog boleh di-publish di situs Komunitas Blogger Perempuan yang artinya Blogger Perempuan secara tidak langsung turut mempromosikan blog kita - gratis, diperbolehkan untuk berkontribusi dengan cara menulis artikel untuk Blogger Perempuan, dan mengikuti ragam lomba dan/atau kompetisi dan/atau kesempatan me-review produk ini itu yang pasti selalu diinformasikan di sana yang artinya kesempatan untuk mengisi pundi-pundi Rupiah terbuka lebar. Satu lagi nih, kalian boleh mengunduh dan memanfaatkan Freebie.

Bagi saya, mengikuti atau menjadi member komunitas blogger tidak pernah merugi.

Baru-baru ini Blogger Perempuan menantang member-nya melalui BPN 30 Days Blog Challenge. Member ditantang untuk ngepos konten blog tanpa jeda selama tiga puluh hari dimulai 20 November 2018 sampai 20 Desember 2018.


Bagi blogger yang tidak terbiasa nge-blog setiap hari pasti sulit memikirkan ide konten blog kan. Tapi jangan kuatir! BPN 30 Days Blog Challenge sudah menyediakan tema untuk setiap harinya. Adalah Ewafebri, member keren yang blog-nya punya ciri khas ilustrasi yang dia bikin sendiri, telah membikin jadwal atau daftar tersebut sebagai berikut:


Membaca task tantangan selama tiga puluh hari di atas, ada perasaan meletup-letup dalam diri saya. Tapi sayang, saya tidak mengikuti BPN 30 Days Blog Challenge tersebut. Padahal asyik sekali kan hahaha. Melalui tantangan ini, selain untuk membantu target trafik, secara tidak langsung Blogger Perempuan membantu blogger yang, katanya, sering kehabisan ide untuk menulis konten blog. Lihat saja tiga puluh tema tantangan menulis di atas; mulai dari kenapa menulis blog, tema blog yang disukai, 5 fakta soal diri sendiri, hal yang disesali saat ini, sampai target blogging tahun 2019.

Baca Juga : Flores, Adventure Trails

Kalau dilihat, saya sudah menulis hampir sebagian tema di atas karena saya memang menantang diri sendiri untuk meng-update konten blog setiap hari. Hampir, jadi belum semua tema. Kalau kemarin-kemarin setiap Hari Minggu selalu ada Triplet, novel itu, karena sudah selesai jadi slot hari Minggu dikosongkan saja. Haha. Lagi pula Hari Minggu kita nikmati saja libur mingguan itu. 

Kalau Blogger Perempuan punya tiga puluh tema untuk BPN 30 Days Blog Challenge ini, maka saya sendiri juga punya tema untuk blog ini dari Senin sampai Sabtu. Alhamdulillah sampai sekarang saya masih bisa menjawab tantangan diri sendiri itu. #SeninCerita, #SelasaTekno, #RabuLima (Kesehatan), #KamisLima (Macam-macam), #PDL pada Jum'at tentang hal-hal remeh yang pernah dilakukan, dan #SabtuReview. See? Jadi tidak ada lagi alasan saya kehabisan ide menulis blog karena selalu ada hal yang bisa ditulis setiap harinya. Sudah cukup hiatus zaman dulu, sudah cukup malas-malasan, saatnya lebih giat menggali potensi diri karena dengan rajin menulis lama-kelamaan tulisan kita niscaya lebih bagus. Kalau saya sih tulisannya semakin hancur haha.

Seandainya blog saya suatu saat nanti tidak ter-update, itu bukan karena kehabisan ide, melainkan karena (1) Malas dan (2) Belum punya waktu untuk menuangkan pikiran-pikiran un-jenius ke blog.

Membaca tulisan teman-teman yang sudah mengikuti BPN 30 Days Blog Challenge ini, seperti Ewafebri, Ajengveran, atau Dinilint, begitu banyak ide menulis ter-big-bang di kepala saya. Ide-ide itu antara lain tentang: nama blog, blogger perempuan favorit (bagian 1, bagian 2, dan seterusnya), blogger unik, tempat makan favorit, dan lain sebagainya. Luar biasa, secara tidak langsung Blogger Perempuan telah menyiram avtur bergalon-galon pada saya. Dan saya patut berterima kasih pada Uphiet Kamila juga nih, soalnya dalam pos blog salah satu tantangan dari Blogger Perempuan, saya ditulis sebagai salah satu travel blogger perempuan favorit di sana haha. Horeeee!

Terima kasih Blogger Perempuan.

Kalian yang membaca pos ini, terkhusus perempuan, tunggu apa lagi? Jangan tunggu dinosaurus bangkit. Gabung yuk sama Blogger Perempuan dan rasakan manfaatnya yang luar biasa. 



Cheers.

Lagu-Lagu Ini Punya Kembaran


Waktu masih siaran di Radio Gomezone FM saya pernah membawakan program tentang lagu-lagu Indonesia yang dicurigai memplagiat lagu-lagu mancanegara. Ingat, ada kata dicurigai. Jadi bukan berarti saya langsung menuding lagu-lagu tersebut memplagiat karena toh saya sendiri tidak punya ilmu yang mumpuni untuk menuduh musisi A memplagiat karya/lagu musisi B, C, dan D. Tapi sebagai penikmat musik masa kini yang trendi dan bergaya bersama dinosaurus, saya tahu kemiripan antara lagu dari musisi A dengan musisi B, C, dan D. Hanya saja, pekerjaan yang berhubungan dengan mendengarkan lagu setiap hari selama berjam-jam itu membikin saya senyum-senyum sendiri ketika kuping mulai menangkap kemiripan antara lagu yang satu dengan lagu lainnya.

Baca Juga : Bermain Diksi dalam Kondensat

Menariknya, dari situs Okezone, pengamat musik Deny Syakrie berkata bahwa aturan delapan bar itu lama dan masih kontroversial sampai sekarang. Menurut Deny, kalau ada musisi yang menggunakan dua bar saja dari lagu orang lain tapi dimainkan secara berulang-ulang dan mirip ya itu sudah bisa dibilang menjiplak. Atau memplagiat. Tapi berdasarkan informasi dari situs ini, James F. Sundah mengatakan bahwa sebuah lagu dikatakan memplagiat tidak berpatok dari delapan bar saja, karena banyak lagu yang akhirnya memplagiat sebanyak tujuh bar untuk menghindari delapan bar tadi. Salah satu hal yang penting dan disebut substantial part adalah bagian terpenting dalam musik yang pernah dikenal orang. Jadi, hati-hati ya. Setiap lagu punya ciri, jangan sampai kalian membikin lagu yang intronya mirip Tokyo Drift mili Teriyaki Boyz. Meskipun hanya tujuh bar, kalian sudah bisa dikatakan memplagiat. Karena intro Tokyo Drift itu sesuatu yang sulit dilupakan orang.

Lantas, apa itu bar?

Dari situs ini dan juga bisa kalian cari di situs lainnya, bar adalah frase musik dalam lagu yang terdiri dari beberapa beat. Satu bar pada lagu komersial umumnya memiliki empat beat sehingga terdiri dari empat ketukan. Bagian-bagian lagu seperti verse dan chorus, biasanya diukur menggunakan bar yang umumnya selama delapan sampai enam belas bar. Untuk lebih jelas lagi, silahkan tanyakan pada teman kalian yang musisi atau sering bermusik.

Baca Juga : Ribut Berarti Mati dalam A Quiet Place

So ...

Jauh sebelum orang-orang sadar, eh gaya banget saya menulis ini hahaha, saya sudah tahu lagu Pacarku oleh Puput Melati itu memplagiat Hotel California milik Eagle. Wah, langsung menuduh? Iya, kalian bisa dengarkan sendiri. Itu bukan lagi delapan bar tapi keseluruhan lagu termasuk bagian terpenting yang pernah dikenal orang. Dududud. Tapi hanya lagu itu yang saya tulis memplagiat, lagu lainnya berikut ini saya tulis kembaran, karena saya tidak punya kapasitas untuk menulis mereka memplagiat.

Yang mengejutkan saya ketika mulai meriset lagu-lagu Indonesia yang punya kemiripan signifikan dari lagu-lagu mancanegara dan/atau lagu lain, juga diskusi bersama teman-teman radio, adalah D'Massive. Sebagian besar lagu-lagu mereka mempunyai kemiripan yang sulit dielakkan dari lagu-lagu yang sudah duluan ada. Diantaranya adalah Cinta Ini Membunuhku dengan I Don't Love You milik My Chemical Romance, Diam Tanpa Kata dengan Awakening milik Switchfoot, Dilema dengan Soldier's Poem milik Muse, sampai Tak Pernah Rela dengan Is It Any Wonder milik Keane. 

Tidak hanya D'Massive, Hello Band juga punya beberapa lagu yang kembaran sama lagu lainnya. Pejuang Cinta misalnya, begitu kembarnya sama Makes Me Wonder milik Maroon 5. Kalian pernah dengar lagu Never Be The Same Again yang dinyanyikan Mel C (from Spice Girls)? Kalau belum, coba didengarkan kemudian lanjutkan dengan lagu berjudul Bunga milik Bondan feat Fade2Black. Atau dengarkanlah lagu milik Grabielle yang berjudul Rise, lalu dengarkan lagu Kau Cantik Hari ini milik Lobow. Anyhoo saya suka banget sama Rise yang dinyanyikan Gabrielle ini, pesannya dalam.

Vierratale yang dulunya bernama Vierra saja, punya satu lagu yang kembaran banget sama lagu Rooftops milik Lostprophets. Lagu itu berjudul Dengarkan Curhatku. Yuhuuu itu single mereka yang dulu suka banget saya dengarkan meskipun kata teman-teman tidak cocok sama usia. Epen lah hahaha.

Tapi di luar dari itu semua, menurut saya, kemiripan itu (apalagi memplagiat) kadang tidak bisa dihindari karena yang namanya solmisasi ya hanya itu: do re mi fa sol la si (do). Kunci pun yang itu saja seperti D, G, C, F, dan seterusnya yang membentuk akord. Kalau nada dasarnya diubah, kata orang Ende: main dari mana? Dari D atau dari C?, maka akordnya pun berubah. Ya begitu-begitu saja. Kemiripan sulit dielakkan.

Baca Juga : TIKIL, Kami Antar Kami Nyasar

Sebagai orang yang juga suka membikin lagu, karena urusan penciptaan adalah milik Allah SWT, kesulitan agar lagunya tidak diolok memplagiat juga terjadi. Sekitar dua puluh lagu sudah dibikin baik sendiri, bersama Cendaga Band, maupun bersama Notes (Noel Fernandez & Tuteh Pharmantara Side Project). Paling enak bikin lagu bareng Noel, dia punya banyak referensi, mulai dari Jimi Hendrix, Nirvana, The Beatles, dan lain sebagainya. Soalnya dia juga gemar banget dengerin musik berjam-jam. 

Para musisi juga lebih kreatif. Semakin ke sini kalian pasti pernah dan/atau sering dengerin lagu-lagu yang dicover atau dibikin ulang musiknya. Salah satunya adalah lagu bergaya vintage. Apa sih itu? Nanti doooonk kita bahas di lain kesempatan. Hehehe.

Bagaimana, kawan? Pernah dengar lagu yang mirip atau terdengar tidak asing di telinga? Bagi tahu donk di komen :)

Happy weekend.


Cheers.

Bermain Diksi dalam Kondensat


Siapa yang suka menulis puisi? Banyak blogger yang suka menulis puisi. Misalnya Mas Doddy Purwanto atau Muhaimin Azzet. Teman Blogfam saya bernama Yaya juga suka banget bikin puisi yang dipos di blog atau akun Facebook-nya. Ah, Yaya memang sangat ngetop lewat puisi-puisinya. Saya sendiri suka menulis puisi yang dipos di blog khusus puisi. Huatsihhh! Tapi sekarang sudah jarang menulis puisi, entah kenapa, puisi-puisi itu hanya bermain di benak saja tanpa sempat dituangkan di lembar putih iniiiii. Salah satu puisi yang paling saya suka, puisi saya tentunya, berjudul Ang.

Baca Juga : Ribut Berarti Mati dalam A Quiet Place


Berima; ang. Selama tak ada yang larang. Mari bersulang. Hentikang. Eh. Hentikan. Sudah selesai puisinya. Tidak selamanya saya menulis puisi berima. Kadang saya menulis puisi yang sama sekali jauh dari rima. Biasa saja. Mungkin yang baca tersenyum sinis. Biarlah. I just want to write it. Berpuisi itu memang luar biasa. Betapa hebatnya kumpulan huruf yang minim itu dapat menyampaikan pesan si penulis puisi. Beda sama lukisan yang begitu kaya apalagi novel; meskipun kadang tidak mudah menginterpretasikan lukisan dan novel.


Suatu kali, teman Blogfam saya bernama Sigit Jaya Herlambang meminta bantuan untuk mengendors buku baru terbit. Bukunya. Bagi saya, selama bisa membantu sesuai permintaan, kenapa tidak? Tapi sebelumnya, mari kenal dulu sama Sigit. Ini yang tertuang dalam halaman profil buku tersebut:

Sigit Jaya Herlambang adalah pria kelahiran Jakarta, 23 September 1987. Ia memiliki ketertarikan di dunia eksperimen fisika, tulis-menulis, dan musik. Untuk yang berminat berkolaborasi di ketiga hal tersebut, hubungi sigit.jaya.herlambang@gmail.com. Sejumlah karya di tiga bidang tersebut juga dapat dilihat di website pribadinya sigitjayaherlambang.com. 

Sayang website-nya sudah tidak bisa diakses.

Baca Juga : TIKIL, Kami Antar Kami Nyasar

Buku karya Sigit tersebut adalah buku kumpulan puisi berjudul KONDENSAT. Karena saya mau mengendors, maka Kondensat lantas dikirimkan pada saya. Jujur, membaca puisi-puisi di dalam Kondensat bikin terbuai. Seperti sedang main ayunan, lalu terlempar ke atas kasur bulu, menikmati surga dunia lewat kata. Terbuainya saya pada puisi-puisi Sigit tertuang dalam endors pada sampul belakang (versi pendek) buku tersebut:


Puisi-puisi dalam Kondensat menyulik saya dari alam nyata lalu menempatkan saya pada dataran tertinggi Hutan Puisi.

Itu fakta. 

Kondensat yang diterbitkan melalui Indie Book Corner memuat puluhan puisi karya Sigit. Cara dia bercerita tentang isu sosial, politik, cinta, orangtua, alam, adalah seksi. Karena dia sungguh lihai bermain-main dengan diksi. Puisi-puisi itu antara lain Ramadhan Plastik, Orchard Ballads, Khuldi, tuhan dengan huruf kecil, Sasadara, Eksilan, Gnostik, hingga Nisbi. Dari judul saja Sigit sudah bikin geregetan.

Salah satu puisi di dalam Kondensat berjudul Caka. Berikut kutipannya:

Aku tertunduk lesu
Langit bermesiu
Tawa renyah kami
Meletus pada ratusan juta kembang api

Atau puisi berjudul Tuhan.

Tuhan

Malaikat bilang Engkau tamasya
Entah kemana
Bawa lalat sekeranjang
Dan susu seperawan
Dan aku sendiri saja
Hinggap dari anyir ke anyir
Mengais Engkau di gundukan

*termenung*

Lalat sekeranjang.
Susu seperawan.

Terima kasih Sigit, untuk puisi-puisi yang gemilang dalam Kondensat, yang masih terus sering saya baca meskipun telah lama waktu berselang. 

Baca Juga : Girls Like You

Bagaimana dengan kalian? Suka kah kalian menulis puisi? Suka kah kalian membaca puisi? Dan puisi apa yang paling kalian suka? Tidak perlu harus dari sastrawan ternama. Mungkin, siapa tahu, puisi dari seseorang justru sangat bermakna bagi kalian. Seperti puisi Kakak Pacar yang satu ini:

Saya akan selingkuh jika ...
Allah SWT menciptakan kau lebih dari satu.

*gubrak!*
Kutip dari mana itu hahaha.


Happy weekend!


Cheers.

Ribut Berarti Mati dalam A Quiet Place


Beberapa bulan terakhir saya menonton trailer filem-filem diantaranya Wiro Sableng, Deadpool 2, dan A Quiet Place. Rencana menonton Wiro Sableng dan Miles 22 saat tayang perdana di bioskop di Kota Kupang batal, karena penundaan kegiatan wisuda dan rasa was-was berlebihan, kuatir cuti yang terlalu dini bakal bikin saya lupa waktu. Jujur, saya tidak mau kehilangan momen wisuda. Kalian tahu kan, Kupang dan Ende dipisah lautan dan fosil-fosil dinosaurus. Kalau memang hendak ke Kupang, jangan nanggung lah. Lagi pula, secara garis besar saya sudah tahu tentang Wiro Sableng dari novelnya serta serialnya yang dulu tayang di RCTI yang diperankan oleh Kenken. Sama halnya dengan Dealpool 2. Saya sudah menonton Deadpool sehingga di dalam benak saya filem yang kedua ini tidak jauh dari berantem, luka dan darah, tembakan, serta umpatan lelaki kesayangan saya Ryan 'Wade' Reynolds. Tapi A Quiet Place betul-betul misteri. Menonton trailer-nya saja jelas tidak memberikan gambaran utuh.


Dua hari yang lalu, jangan tanya dari mana dan bagaimana, saya berkesempatan menonton A Quiet Place. Yay, akhirnya! 

A Quiet Place adalah filem drama fiksi ilmiah horor Amerika Serikat yang dirilis 3 April 2018 (Indonesia). Filem ini diperankan oleh Emily Blunt, John Krasinski, Millicent Simmonds, dan Noah Jupe. Emily Blunt yang pernah berperan dalam The Girl on the Train dan The Devil Wears Prada ini merupakan isteri dari John Krasinski, baik di dalam A Quiet Place maupun di dalam kehidupan nyata. Asyik ya suami-isteri main filem bareng. Qiqiqiq ;) Skenarionya ditulis sendiri oleh John Krasinski bersama dan berdasarkan cerita oleh Bryan Woods dan Scott Beck.

Para kritikus mengatakan bahwa ini filem yang cerdas yang sangat mengerikan dan menakutkan.

Tapi kalau Wikipedia menulis horor, saya kurang setuju. A Quiet Place lebih tepat disebut filem bertema thriller.

Alkisah keluarga Abbott selamat dari invasi alien di bumi. Lee Abbott (John Krasinski) dan Evelyn Abbott (Emily Blunt) hidup bersama tiga orang anak yaitu Regan Abbott (Milicent Simmonds), Marcus Abbott (Noah Jupe), dan Beau Abbott (Cade Woodward). Sejak awal berjalan sudah digambarkan kondisi Evelyn yang sedang hamil tua. Di sini lah Ocha mulai memprotes.

Ocha: Sudah tahu kondisi tidak memungkinkan, masih juga bikin anak eeee bapa mama!

Saya: Bikin sudah lama macamnya itu, sebelum alien-nya datang. Ini aja sudah hari ke delapan puluh sembilan.

Ocha: Oleeee nana! Nanti melahirkan bagaimana!? Mana bisa bayi diam kah, Encim. Eaaa eaaa eaaa.

Kita tinggalkan Ocha dengan aneka pikirannya tentang kondisi kehamilan dan bagaimana Evelyn melahirkan.

Baca Juga : Girls Like You

Mari mulai dari keluarga Abbott. John, seorang ayah yang sangat dapat diandalkan dan bertanggungjawab pada keluarga, punya ruang kerja bawah tanah tempat monitor-monitor dan radio-radio disimpan. Mencari tahu segala sesuatu tentang invasi alien ini serta kekuatan dan (belum diketahui) kelemahannya. Dia juga membikin alat bantu dengar untuk puterinya yang bernama Regan. Evelyn, seorang ibu yang juga sangat bertanggungjawab pada keluarganya, yang bekerja sangat tenang dalam senyap, dan sedang hamil tua. Regan, puteri satu-satunya usia sekitar 14 (empat belas) tahun yang tuna rungu. Marcus, adik si Regan, usia sekitar 8 (delapan) tahun. Dan Beau yang masih berusia sekitar 5 (lima) tahun.

Cerita bermula ketika keluarga Abbott berada di suatu pusat perbelanjaan yang terlantar. Mereka mencari barang-barang yang bisa digunakan untuk kelangsungan hidup. John mencari barang-barang yang salah satunya untuk membikin alat bantu dengar untuk Regan. Di pusat perbelanjaan itu Beau tertarik dengan pesawat mainan. John menjelaskan pada Beau bahwa mainan itu berbahaya dan baterainya kemudian dilepas. Saat hendak pulang ke rumah, Regan mengambil pesawat mainan dan baterainya, menyerahkan kepada Beau. Dalam perjalanan pulang, saat sedang berjalan di atas pasir yang ditabur sebagai poros jalan mereka di luar rumah itu, Beau membunyikan pesawat mainannya. 

Ya, sampai di sini, tamatlah riwayat Beau diserang alien.

Life must go on

Sampai suatu hari John pergi memancing bersama Marcus, Regan ngambek karena tidak diijinkan ikut lantas kabur dari rumah menuju jembatan tempat Beau diserang alien, dan tinggal si Evelyn sendiri. Ya, saat seperti itulah Evelyn mengalami kontraksi dan air ketubannya pecah. Yang bikin parah adalah Evelyn tidak sengaja menginjak paku yang terangkat gara-gara tersangkut buntelan kain pakaian yang hendak dibawa Evelyn ke luar ruang bawah tanah. Jeritannya meski tidak terlalu kuat, merupakan 'undangan' untuk para alien.

Dan ... ribut berarti mati.

Selama 90 (sembilan puluh) menit ketegangan benar-benar tersaji sempurna di dalam A Quiet Place. Bagaimana Evelyn berjuang melahirkan sendiri di bak mandi, bagaimana Marcus harus melakukan plan B yaitu menyalakan petasan sebagai pengalihan terhadap alien yang sedang berada di dalam rumah, bagaimana Regan sama sekali have no idea bahwa alat bantu dengarnya itu merupakan senjata ampuh melawan alien, bagaimana John yang sangat diandalkan itu kemudian mati, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana yang lain. Kalian yang belum nonton, harus nonton. Hehehe.


A Quiet Place, menurut saya, merupakan filem sederhana dengan kekuatan yang tidak boleh dipandang remeh.

Dua Makna

Makna pertama:
Pada awal filem, penonton - terutama penonton yang murni belum pernah tahu trailer-nya, bakal menyangka kata quiet pada judul filem ini merujuk pada Regan. Tuna rungu. Hal ini diperkuat dengan adegan bahasa isyarat oleh keluarga Abbott. 

Makna kedua:
Setelah adegan di jembatan tempat alien menyerang Beau, penonton ngeh bahwa quiet di sini merujuk pada: kau ribut, kau mati.

Konstruksi Sempurna

Kalau A Quiet Place merupakan serial maka saya bakal menulis: episode pilot terbaik. Tapi sekarang ijinkan saya memakai kalimat: konstruksi sempurna. Filem ini dibangun perlahan dengan sempurna. Agar cerita ini menjadi utuh dalam benak penonton, harus menonton sampai selesai. 

Versi Lain Alien 

Bahwa selama ini kalau menonton filem bertema alien kita menyaksikan adegan kejar-kejaran, baku tembak, ribut banget, dan darah hijau meleleh di sana sini. Menonton A Quiet Place, penonton dijauhkan dari semua itu. Alien yang ini tidak punya mata. Dia mengetahui keberadaan manusia lewat suara (kebisingan). 

Akhir Dari Dua Makna

Pada akhirnya, setelah membaca poin dua makna di atas, penonton bakal tahu bahwa musuh terbesar alien di dalam filem ini adalah frekuensi tinggi dari alat bantu dengar yang baru milik Regan, yang dibikin oleh John. Karena kelemahan alien itu adalah frekuensi tinggi baik oleh alat bantu dengar, dari radio, maupun dari televisi. Kalau mendengar itu, pelindung kepala mereka membuka, dan silahkan ditembak. Dor. Wafat.

Tapi setiap filem pasti punya kelemahan kan. Kelemahan atau kekurangan ini yang bakal muncul di benak penonton. Misalnya Ocha yang berkomentar soal kehamilan Evelyn tapi sudah saya jawab. Tapi bukan berarti saya sendiri tidak punya pertanyaan, meskipun saya memuji filem ini.

Kalau api di atas silo lainnya menyala, setelah John menyalakan api di atas silo-nya sendiri, bukankah berarti ada penduduk lain di sekitar yang juga selamat?

Dari mana listrik datang? Generator? Bukankah generator itu juga cukup ribut untuk memancing alien?

Saat memancing, bukankah jelas suara aliran air sungai dapat melindungi suara John dan Marcus? Kenapa ... kenapa mereka tidak pindah saja ke pinggir sungai? Lagi pula sumber makanan juga bisa diperoleh di sungai seperti ikan, misalnya.

Dan pertanyaan terakhir: kenapa John harus mati? Dia cerdas bukan? Kalau John hidup, enak banget ini bisa dilanjutkan dengan A Quiet Place 2.

Mungkin kalau penduduk yang selamat pada bersatu, malah jadi kayak The Walking Dead, hahaha. 


Yah demikianlah A Quiet Place yang sudah kalian tonton April lalu tapi baru bisa saya tonton sekarang. Yang penting rasa penasaran saya sudah selesai setelah menonton filem ini. Pssst, jangan ribut-ribut, awas disambar alien. Qiqiqiq.

Happy Weekend!


Cheers.

TIKIL: Kami Antar, Kami Nyasar


Kalian pasti tidak asing dengan TIKI; Titipan Kilat. Kalian juga pasti tidak asing dengan perusahaan jasa pengiriman barang serupa seperti JNE, KGP, hingga Lion Parcel. Meskipun biaya pengiriman barangnya tergolong cukup mahal (dihitung per kilogram) tapi jasa pengiriman barang swasta ini cukup ramai. Apalagi ditambah pengirim dan penerima barang dapat mengecek sendiri, secara online, status barang kiriman tersebut. Apakah masih menunggu di bandara kota asal pengiriman, apakah sudah sampai di kota singgahan, apakah sudah sampai di kota tujuan, dan lain sebagainya. Biasanya kalau sudah sampai di kota tujuan dan belum diantar ke rumah, barang tersebut belum dibongkar alias belum siap antar. Waktu menunggu pun paling hanya sehari.

Baca Juga : 

Tapi apakah kalian pernah mendengar TIKIL? Perusahaan jasa pengiriman barang dengan jargon: kami antar, kami nyasar

Memang ada?

Ada! TIKIL ini berbentuk buku setebal 203 halaman.

Iwok Abqary

Adalah teman Blogfam yang saya dan semua anggota Blogfam memanggilnya dengan Kang Iwok. Ya, kalau kalian mengeklik tautan blog-nya, memang jarang di-update, mungkin karena sibuk menulis. Soalnya beliau ini produktif sekali sama urusan menulis dan menerbitkan buku. Kang Iwok adalah pemilik perusahaan TIKIL penulis buku berjudul TIKIL itu. Selain TIKIL, ratusan buku lainnya pernah ditulis oleh Kang Iwok. Diantaranya Duo Tulalit dengan jargon Jalan-Jalan Nyasar, Dog's Love, Gokil Dad (saya diberi kaos Gokil Dad sama Kang Iwok loh), hingga Pengabdi Cilok. Kang Iwok ini jagoannya buku komedi! Saya jamin kalian bakal sangat terhibur dan terpingkal-pingkal kalau membaca karya-karyanya yang diterbitkan oleh diantaranya Gagas Media dan Gramedia.

Bertemu dengan Kang Iwok saat saya pergi ke Tasikmalaya pada tahun 2010. Malam itu, kami nongkrong di sebuah resto waralaba, mengobrol banyak perkara, padahal baru pertama kali itu bertemu. Mungkin karena kami sudah lama haha hihi dan merusuh bareng di Blogfam. Malam itu Kang Iwok berbaik hati mengantar saya dan Acie pergi membeli beberapa keperluan di toko maret-maret yang entah saya lupa namanya. Tahun 2011 kami kembali bertemu dalam perhelatan Asean Blogger di Bali. Tentu, masih dengan haha hihi yang menyenangkan.

Bagi saya, Kang Iwok adalah sosok penulis inspirasi yang baik hati dan sangat cerdas dengan ide-ide briliannya. Selain menulis, Kang Iwok juga gemar menanam bunga dan memelihara kucing! Mulia sekali hatimu, Kang. Hahaha.

TIKIL

TIKIL adalah buku yang ditulis oleh lelaki yang saya tulis di atas, hehe. Diterbitkan oleh Gagas Media, buku ini dibuka dengan sub: Bos Baru. Bos baru, Pak Pri, pada perusahaan jasa pengiriman barang ini ternyata punya hobi memasak yang pada awalnya hasil masakan ini bakal bikin orang satu kantor sakit perut! Tapi dari semua karakter di dalam TIKIL, yang paling nancap di benak saya hingga saat ini adalah Kusmin. Salah seorang tukang bersih-bersih yang punya pekerjaan sampingan di damkar.

Kusmin paling doyan membanggakan piagam penghargaannya.


PIAGAM PENGHARGAAN
Denga ini penghargaan diberikan kepada:
KUSMIN BIN SARMIN
Atas jasa-jasanya sebagai sukarelawan yang sudah
mau membantu menyelamatkan
tanpa memedulikan keselamatan dirinya pada
saat terjadi kebakaran
di rumah Bapak Dadang, Kampung Mancogeh,
Tasikmalaya, 17 Agustus 2005
Pada saat itu, Kusmin sedang mengikuti lomba
panjat pinang acara Agustusan.
Dari atas pinang yang dipanjatnya
dengan susah payah,
dia melihat api yang mulai berkobar
dari rumah Bapak Dadang.
Kalo saja Kusmin tidak berteriak-teriak
dan mengabarkan berita kebakaran itu
kepada seluruh warga, sudah dipastikan
rumah Bapak Dadang tidak bisa diselamatkan.
Tanpa memedulikan hadiah yang bergelantungan
Kusmin memilih untuk memerosotkan diri
dari batang pinang dan lari menelepon
Dinas Dam-Kar (Pemadam Kebakaran).
Rumah Bapak Dadang pun akhirnya terselamatkan
Sehubungan dengan hal tersebut,
Kami memberikan penghargaan ini
dan mengangkat Sdr. Kusmin
sebagai Tenaga Sukarela Dinas
Dam-Kar.

A.n. Dinas Pemadam Kebakaran Tasikmalaya
Dadang Herdiana
Kepala
(sekaligus korban kebakaran pada kejadian tersebut)


Piagam penghargaan terkoplak dan sukses membikin saya terbahak-bahak, bahkan saat membacanya berkali-kali. Lucunya masih sama. Belum lagi kisah Lilis dan Bowo; Lilis pernah menyangka Bowo sebagai Adji Massaid. Itu bikin Bowo lebih sering mematut diri di depan cermin, qiqiqiq. 

Kisah TIKIL adalah bagaimana perusahaan yang di ambang bangkrut ini dapat kembali bangkit. Bagaimana cara bangkitnya itu yang membikin pembaca terpingkal-pingkal sampai lupa tanggal lahir. Empat karyawannya rada-rada begitu. Lilis, resepsionis, yang mengidolakan Adjie Massaid. Ada Dasep, kurir yang selalu sial dan menabrak sana-sini. Mang Dirman, kurir lainnya yang sayang banget sama sepeda bututnya (nganter barang pakai sepeda!? :p). Dan si OB penerima piagam penghargaan, Kusmin, yang yah begitulah dirinya.

Ini memang buku lama dengan cetakan pertama tahun 2008. Tapi buku ini jangan sampai lolos dari kehidupan kalian. Rugi bandar hehehe. Wajib baca. Karena, selain kisah konyol tentang sebuah perusahaan jasa pengiriman barang yang hampir bangkrut beserta bos dan karyawan yang rada-rada sinting, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari buku komedi ini. Salah satunya adalah lakukan sesuatu yang benar-benar kalian minati. Seperti Pak Pri, contohnya, yang pada akhirnya membuka Pri's Bakery. Pelajaran lainnya ... silahkan baca sendiri bukunya. Qiqiqiq.

Happy weekend!


Cheers.

Kutukan Bapak Rumah Tangga Di Film 3 Dara 2


Suami adalah kepala rumah tangga yang biasanya memiliki kewibawaan di depan istri dan anak-anaknya. Biasanya Suami akan selalu menjadi pengambil keputusan pada saat adalah permasalahan yang melanda di keluarga. Namanya juga kepala rumah tangga maka akan dengan bijaksana memutuskan masalah. Namun, apa jadinya jika kepala rumah tangga justru menjadi sebab harta benda lenyap dan tak berapa lama kemudian jatuh miskin ketika usahanya ditipu oleh seseorang yang mengaku sebagai pemain bisnis yang handal? 

Monty Tiwa selalu menghadirkan kelucuan dalam beberapa film yang disutradarainya. Tora Sudiro, Tata dan Adipati Dolken menambah banyak kelucuan yang terjadi pada ketiga orang bersahabat karena terjalin dalam suatu bisnis yang awalnya sangat menjanjikan. Akting Tora memang sangat tidak diragukan, namun Adipati Dolken yang biasanya bermain dalam genre romantis ini mampu beradaptasi dengan banyak kelucuan yang dibuatnya. Sementara Tata memang sangat ahli sebagai bahan bully atau obyek penderita yang mampu mengoreng seluruh cerita menjadi sangat menarik. 

Sebelum kita menikmati sinopsi ceritanya, ada baiknya menonton dulu trailer film dari MNC Pictures ini.



Sedangkan sinopsis filmnya adalah sebagai berikut :

Film 3 Dara 2 bercerita tentang sebuah keluarga kecil dari Grace (Ovi Dian) dan Jay (Adipati Dolken) yang sudah menginjak usia tiga tahun pernikahannya. Sementara itu ada juga dua pasangan lainnya yang juga sudah mempunyai hubungan romantis dan harmonis dengan keluarganya masing-masing. Aniek (Fanny Fabriana) dan Affandy (Tora Sudiro) telah menikah serta sedang asyik dalam menggeluti bisnis online. Ada juga Kasih (Rania Putri) dan Richard (Tanta Ginting) yang sudah mendapatkan sebuah restu untuk menuju ke jenjang pernikahan.

Disisi lain ada sebuah kejadian atau kutukan yang menimpa Affandy, Richard dan Jay. Kutukan tersebut menimpa ke tiga cowok tersebut lantaran menganggap remeh perkerjaan rumah tangga yang biasanya sering istri mereka lakukan. Hal yang anggap sepele oleh ketiga cowok tersebut malah membuat mereka bangkrut. Akhirnya Jay, Affandy dan Richard memutuskan untuk tinggal di rumah Eyang Putri (Cut Mini), ibu Aniek.


Setelah menonton film ini, simpulan saya adalah film ini sangatlah menghibur dengan bumbu komedi namun berbalut romantisme dalam arti sebenarnya. Jika kita disuguhkan dengan romantisme anak remaja yang terkesan gombal, film sangat realistis dalam hal romantisme. Cinta itu bukan hanya rayuan gombal, cinta itu dibuktikan dengan kata-kata dan perbuatan. Jika cinta, maka suami pun harus rela menanggalkan semua kewibawaannya untuk kemudian menjadi bapak rumah tangga yang mengurus segala kebutuhan rumah mulaai dari nyuci, ngepel, masak dan mengurus anak. Sementara istri-istri mengantikan peran suaminya dan bekerja sampai malam demi mencukupi segala cicilan hutang yang didapatkan akibat berhutang kepada perusahaan lainnya. 


Konflik dan kekonyolan mampu menyulap film ini menjadi komendi yang menyenangkan. Tidak banyak film komedi Indonesia yang mampu membuat tertawa terpingkal-pingkal di tengah maraknya film horor yang merajalela belakangan ini. 

Saya terus terang sangat takut dengan film horor, namun biasanya karena ajakan dari teman, maka saya hanya mampu untuk menutupi muka selama film itu diputar. Film ini pun demikian, terdapat bumbu-bumbu seperti horor, misteri dan lainnya yang secara tidak langsung membuat penonton tidak bosan. 


4 bintang adalah nilai yang pas buat film ini dari 5 bintang. Memang ada beberapa kekuarangan seperti plot yang mudah ditebak dan alur yang begitu cepat sedangkan penonton ingin menikmati film lebih lama. Cast dan latar tempat menurut saya sudah pas, namun alangkah lebih baik lagi bila diperhatikan antara puncak, Bandung dan Jakarta yang kadang-kadang masih bisa bisa tertukar settingnya. 

Cast Film 3 Dara 2

Sutradara         :  Monty Tiwa
Penulis         :  Nataya Bagya
Bintang Film :  Tora Sudiro, Adipati Dolken, Tanta Ginting
Produksi         :  MNC Pictures

Girls Like You

Gambar diambil dari sini.

Maroon 5. Siapa tidak kenal mereka? Meskipun Harder to Breathe merupakan lagu pertama yang dikenal pendengar, tapi This Love dan She Will Be Loved yang paling bergaung pada tahun 2004 hingga saat ini. This Love itu ngehits banget! Sampai-sampai setiap program request di Radio Gomezone penuh sama permintaan lagu ini. Tapi untungnya teman-teman Cendaga Band waktu itu tidak meminta saya menyanyikan lagu-lagu Maroon 5. Kami bertahan dengan lagu-lagu milik Save Ferris salah satunya Come On Eileen. Busyet Come On Eileen itu sulitnya minta ampun tauk! Atau lagunya 4 Non-Blondes yang berjudul What's Up, Sleeping in my Car-nya Roxette, atau Bring Me to Life-nya Evanescence.


Back to Maroon 5 ...

Maroon 5 adalah band beraliran pop-rock yang dibentuk di California, Amerika Serikat. Written in Wikipedia. Cikal bakal Maroon 5 bernama Kara's Flowers yang dibentuk tahun 1997 saat mereka masih SMA. Anggota Kara's Flowers adalah Adam Levine, Mickey Madden, Jesse Carmichael dan Ryan Dusick. Tahun itu juga mereka menandatangani kontrak dengan Reprise Record dan meluncurkan album The Fourth World. Kerja sama dengan Reprise Record putus karena mereka lanjut kuliah. Kuliah itu berat, bermusiknya delay dulu. Tahun 2001 mereka kembali bersatu dengan tambahan James Valentine dan band ini kemudian berganti nama menjadi Maroon 5. Kenapa bukan Pink 5? Karena sudah ada Pink dan Pink Floyd.

Gambar diambil dari sini.

Video klip Maroon 5 yang paling saya sukai, sebelum Mei 2018, adalah video klip dari lagu Sugar. Kalian pasti tahu betapa kecenya video klip itu :) Kepikiran kan seandainya saat menikah nanti, tahu-tahu Maroon 5 muncul di panggung sambil nyanyikan Sugar untuk orang-orang yang sedang berbahagia? Hihihi. Kalau bukan Maroon 5, Don Philip dengan Sugar-nya pun boleh lah. Cihuy! Ngayal terooos.

Tanggal 30 Mei 2018 Maroon 5 merilis Girls Like You yang sampai sekarang belum berhasil saya nyanyikan apalagi bagian rap-nya *diketawain Thika dan Ocha*. Mengintip Wikipedia, Girls Like You adalah lagu dari album studio keenam Red Pill Blues (2017). Versi remix yang menampilkan rapper Amerika Cardi B dirilis oleh 222 dan Interscope Records sebagai singel ketiga album ini pada 30 Mei 2018. Versi ini ditulis oleh Adam Levine, Cirkut, Cardi B, Starrah, Jason Evigan, dan Gian Stone dan diproduksi oleh Cirkut dan Evigan. Singel ini telah mencapai nomor satu di tangga lagu Billboard Hot 100 AS, menjadikannya sebagai chart-topper ketiga Maroon 5 dan Cardi B, yang memperpanjang rekor Cardi untuk sebagian besar di antara rapper perempuan. Girls Like You juga mencapai nomor satu di sebelas negara lain, termasuk Kanada, Prancis, dan Selandia Baru.

Termasuk Indonesia juga doooonk, Wik ... Wikipedia.


Intro yang unik dari Girls Like You ini bakal pelan-pelan membangkitkan sel-sel mati dalam tubuh kita. Tapi justru, yang membikin lagu ini begitu ngehitsnya adalah video klipnya. Kalau kalian terpukau sama video klip Sugar, maka dapat dipastikan kalian akan lebih terpukau sama video klip Girls Like You. Video klip Girls Like You berkonsep sederhana namun dahsyat. Sederhana karena hanya ber-set ruangan dengan Adam sebagai 'pusat'nya. Dahsyat karena model video klip Girls Like you adalah dua puluh enam ... saya ulangi ... DUA PULUH ENAM perempuan hebat dunia. Oke waktu itu saya dihubungi untuk ikut ambil bagian tapi karena sibuk nge-blog jadi saya abaikan *dilempar microphone*.

Siapakah perempuan-perempuan hebat itu? Isteri Adam Levine, Behati Prinsloo, salah satunya yang muncul di akhir video klip. Jadi ingat Victoria Secret, hihi. Wajah-wajah lainnya yang pasti kalian kenal adalah Ellen Degeneres, Jennifer Lopez, Rita Ora, Gal Gadot, Mary J. Blige, Camila Cabello, dan lain sebagainya. Asyiknya lagi, kalian bisa melihat dua perempuan berhijab di dalam video klip tersebut yaitu Amani Al-Khatahtbeh dan Ilhan Omar. Kalau dulu saya tidak menolak waktu diajak bikin video klip ini, kalian akan melihat tiga perempuan berhijab. Hahaha. Amani dikenal sebagai penulis sekaligus editor pada Muslimgirl. Muslimgirl ini majalah online yang berbasis di Amerika Serikat. Ilhan adalah politisi keturunan Somalia - Amerika Serikat pertama yang terpilih sebagai anggota parlemen Amerika Serikat.

Lebih lengkapnya, simak video berikut ini :



Video klip Girls Like You yang menampilkan dua puluh enam perempuan hebat dari berbagai latar belakang dan profesi itu menyampaikan pesan: menyatukan kekuatan perempuan-perempuan hebat di dunia meskipun mereka berbeda-beda. Itu pelajaran yang bisa kita petik dari video klip ini. Perbedaan harusnya dapat menjadi kekuatan. Karena menurut saya; tangan yang bentuknya berbeda dari mata, kuping yang bentuknya berbeda dari lutut, atau jantung yang bentuknya berbeda dari ginjal, apabila disatukan akan menjadi manusia yang kuat. Apabila organ dan indera tubuh manusia yang berbeda itu dapat bersatu, kenapa manusia itu sendiri tidak? Perbedaan itu bahkan sudah ada, menurut saya loh ya, sejak manusia hendak dibentuk. Sperma harus bertemu sel telur. Sperma bertemu sperma tidak akan menghasilkan janin. Filosofi ini memang terbaca bodoh, tapi benar.

Sama juga seperti Indonesia. Dan ini tidak saya lanjutkan karena kalian pasti tahu maksud saya hahaha.


Girls Like You dengan video klip-nya yang ciamik itu tidak akan pernah bosan untuk ditonton. Silahkan tonton, bagi yang belum, dan rasakan sendiri sensasinya. Seperti semangat baru disuntikkan pada nadi kita. Percaya deh.

Semoga terhibur!

Happy weekend!



Cheers.

Menghargai Perbedaan dalam The Help

Diambil dari sini.

Sudah Sabtu lagi. Saatnya me-review. Semoga filem yang saya review ini bisa jadi referensi bagi kalian mengisi weekend. Bagi yang sedang berkebun, jangan lupa manfaatkan weekend untuk merawat tanamannya. Ngomong sama diri sendiri. Filem ini bukan filem baru, tentu saja, yang dirilis tahun 2011 silam. 

Baca Juga :

Dari judul dan gambar pada awal pos kalian pasti sudah tahu filem apakah gerangan? Yess, filem ini berjudul The Help. Diangkat dari novel yang ditulis oleh Kathryn Stockett, The Help adalah filem drama sejarah Amerika Serikat yang disutradarai oleh Tate Taylor dan diproduseri oleh Chris Columbus, Michael Barnathan dan Brunson Green (jadi ingat dokter Green di ER haha). Wikipedia menjelaskan: The Help dibintangi oleh Viola Davis, Emma Stone, Octavia Spencer, Jessica Chastain, Bryce Dallas Howard dan Allison Janney.

Apakah yang akan kalian lakukan ketika melihat ketidakadilan terjadi di depan mata? Ketidakadilan itu seperti; penindasan dan kesewenang-wenangan (a la Iwan Fals) serta pelanggaran HAM.

Apakah kalian akan diam saja?
Apakah kalian akan berontak?
Atau ... apakah kalian akan berontak melalui cara paling elegan yaitu melalui tulisan?

The Help, dengan seting tahun 1963, bercerita tentang kebrutalan para majikan terhadap asisten rumah tangga mereka yang didominasi oleh orang Afrika. Para majikan ini adalah Hilly Holbrook (Bryce Dallas Howard) si pemimpin kelompok sosialita dengan ibu Mrs. Walters (Sissy Spacek), ada juga Elizabeth Leefolt (Ahna O'Reilly), dan tentu saja si tokoh penulis Eugenia "Skeeter" Phelan (Emma Stone). Skeeter selalu merasa tidak nyaman berada di dekat teman-temannya dalam pertemuan-pertemua sosialita mereka karena Elizabeth apalagi si Hilly selalu bersikap rasis terhadap para asisten rumah tangga.

Rasisnya itu diantaranya adalah tidak memperbolehkan asisten rumah tangga memakai kamar mandi yang sama dengan kamar mandi mereka, apalagi sampai memakai kamar mandi tamu. Padahal kan kita tahu bahwa nature calling itu tidak dapat ditahan. Lagipula semua kamar mandi berfungsi sama kan? Tidak peduli siapa pun yang menggunakannya asalkan selalu dibersihkan setelah dipakai.

Adalah Aibileen Clark (Viola Davis) seorang pelayan Afrika-Amerika yang bekerja pada Elizabeth, serta temannya yang bernama Minny Jackson (Octavia Spencer) yang bekerja pada Hilly. Aibileen sangat dekat dengan anak Elizabeth yang berama Mae Mobley sedangkan Minny sangat terkenal dengan pie buatannya yang lezat pada setiap pertemuan para sosialita itu.

Suatu kali, badai mengerikan terjadi dan Minny menolak untuk pergi keluar menggunakan toilet bantuan. Nature calling sudah tidak dapat ditahan, maka dia memakai toilet tamu. Oleh karena itu Hilly memecat Minny, yang kemudian digantikan oleh Yule May (Aunjanue Ellis). Minny kemudian bekerja di rumah Celia (Jessica Chastain), isteri Johnny Foote (Mike Vogel). Johnny adalah mantan kekasih Hilly. Celia ini punya masalah tidak percaya diri atau apalah gara-gara keguguran dan merasa Johnny tidak mencintainya sepenuh hati. Masalah-masalah rumah tangga semacam itulah. Tapi Minny yang polos dan baik hati mampu menjadi 'teman' Celia yang selalu mendengarkan keluh kesahnya.

Melihat betapa rasisnya teman-temannya, Skeeter yang punya kemarahan terhadap ibunya karena dulu pernah memecat Constantine tanpa alasan yang jelas, mulai mendekati Aibileen untuk menjadi narasumber bukunya. Tidak hanya Aibileen, mereka juga mengajak para asisten dan pekerja lainnya untuk berbagi cerita atas sikap para majikan yang semena-mena itu. Pertemuan rahasia di rumah Aibileen yang awalnya hanya dua orang, kemudian berkembang menjadi belasan orang. Perasaan Skeeter semacam terkoyak mendengar cerita mereka. Manapula Yule kemudian dituduh mencuri cincin milik Hilly.

Murka Minny pada Hilly terbalaskan melalui sepiring pie. Dengan wajah manis yang dibuat-buat Minny mengantar pie itu untuk Hilly yang langsung dicoba di depan rumah. Lantas, Hilly bertanya, "Apa ini?" karena rasanya tidak seperti pie yang biasa dibikin Minny, dan Minny menjawab, "My shit." Kira-kira seperti itu lah. Hahaha. Minny ... kau awesome! Dan cerita itu terangkum di dalam buku yang ditulis Skeeter yang berjudul The Help.

The Help laku keras dan semua orang terbahak-bahak setiap kali membaca kisah pie-shit itu. Dengan diam-diam, hasil penjualan The Help diberikan Skeeter pada para narasumbernya termasuk Aibileen dan Minny. 

Kemudian The Help sampai di tangan Hilly. Awalnya dia biasa-biasa saja dengan buku itu sampai kemudian tiba pada kisah pie-shit. Maka histerislah Hilly. Sumpah, sampai adegan ini saya tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Pembalasan Minny sangat manis, semanis pie-shit, eh se-shit pie-shit."

Kalau kalian ingin tahu selengkapnya, silahkan nonton sendiri filem The Help. Ada kok di Hooq. Saya sendiri juga nonton di Hooq.

Apa yang saya peroleh setelah menonton The Help?

Selain "Pembalasan Minny sangat manis, semanis pie-shit, eh se-shit pie-shit." itu? Cekidot.

Bahwa, Hak Asasi Manusia merupakan hak terhakiki yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun termasuk majikan sendiri. Jangankan majikan yang membayar upah karena suatu pekerjaan, Presiden pun tidak boleh melanggar HAM ini. Salah satu cara menjaga HAM orang lain adalah dengan tidak berpikiran dan bersikap rasis seperti yang dilakukan, paling ekstrim, oleh Hilly. Perbedaan warna kulit bukan alasan untuk bersikap seperti itu.

Bahwa, tidak semua orang di dalam satu kelompok punya pemikiran yang sama. Seperti Skeeter yang berbeda dari Elizabeth dan Hilly, misalnya. Dia sangat-sangat tidak suka sikap, terutama, Hilly yang sangat merendahkan dan penuh penghinaan terhadap para asisten rumah tangga. Sama juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Nurani, pada akhirnya, selalu menang. Janganlah kita menyamakan orang hanya karena mereka berasal dari kelompok yang sama ... siapa tahu mereka sebenarnya 'berbeda'.

Bahwa, menulis merupakan cara paling elegan untuk segala hal; berbagi cerita positif, mengungkap kebobrokan, menintakan sejarah. Agar kita tidak lupa pada kejadian masa lampau yang bisa jadi pelajaran untuk kehidupan masa sekarang. Kira-kira seperti itu menurut saya.

Bagaimana dengan kalian? Apabila sudah pernah menontonnya, apa pendapat kalian tentang filem The Help? Yang jelas, teruslah menulis. Kita bisa tahu tentang The Help dari sebuah buku yang DITULIS. Teruslah menulis.

Happy weekend!



Cheers.

Flores: Adventure Trails



Banyak buku yang bercerita tentang Indonesia dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, dari adat ke bahasa, dari budaya ke pakaian, dari gunung ke pantai, dari rumah adat ke kearifan lokal. Saya punya salah satu buku semacam itu, dikasih sama Ika Soewadji, dan masih sering saya baca sampai sekarang. Banyak juga buku yang bercerita panjang lebar tentang Pulau Flores (Flores overland). Saya sendiri pernah menulis materi siaran program Backpacker, pada tahun 2017, awal tentang Flores Overland. Biasanya orang menulis Flores Overland itu dari Barat ke arah Timur, tapi materi saya itu dari Timur ke arah Barat. Qiqiqiq. Sesekali kita membaliknya kan boleh-boleh saja.

Baca Juga : 5 Cozy Songs

Tentang si Buku

Buku yang saya bahas hari ini berjudul Flores: Adventure Trails. Buku ini ditulis (sekaligus sebagai koordinator penulis) oleh Meret L. Signer. Kontributor atau penulis lain diantaranya Heinz von Holzen, Rofinus Ndau, Unipala Maumere, idGuides. Publisher Flores: Adventure Trails adalah Swisscontact dan didukung oleh SECO (Swiss State Secretariat for Economic Affairs). Tahun terbit 2012. Wow banget, saya terkejut ketika membaca nama Unipala Maumere. Itu MAPALA-nya Universitas Nusa Nipa (Unipa). Oh ya, selain sambutan dari Bapak Sapta Nirwandar, juga ada sambutan Jurg Schneider dari SECO. Flores: Adventure Trails berbahasa Inggris tapi untuk ukuran saya yang bahasa Inggrisnya pas-pasan bisa yess atau no sudah bersyukur, isinya cukup mudah dipahami/dimengerti. 


Bagaimana dengan isinya?

Isinya dimulai dari perkenalan tentang Pulau Flores. Perkenalan yang sangat lengkap, menurut saya, karena memuat tentang kondisi geografis, iklim, Flores sebagai bagian dari ring of fire, flora dan fauna, kehidupan laut, zaman sebelum dan sesudah kolonial, manusia dan adat budayanya. Traveling directory sub bahasan berikutnya adalah tentang how to get there? (pesawat dan kapal laut) termasuk informasi kantor-kantor layanan tiket, akomodasi, tempat makan, komunikasi/alat komunikasi, keuangan, isu kesehatan, sampai etika.

Woman travellers:
Even thought Flores is predominantly Christian, woman dressing modestly is a cultural thing in Indonesia, rather than a religious one. Wear t-shirts that cover your shoulders and don't reveal too much of your legs. Wearing a bikini is fine at the beaches of Labuan Bajo and in designated hotel areas in other parts of Flores. Everywhere else, put on a t-shirt and shorts for swimming. (Meret L. Signer, 2012:23).


Sub berikutnya adalah persiapan yang harus dilakukan sebelum ke Flores. Menariknya adalah, dijelaskan tentang skala kesulitan trek, level kebugaran, barang bawaan dasar or basic check list sampai how to minimize your impact. Komplit kan ya. Basic check list ini umum saja seperti yang sering kita lakukan/bawa seperti kaca mata, head lamp, sun-block, first aid kit, kompas, pisau lipat, hingga tas plastik untuk menyimpan pakaian kotor dan/atau sampah. Puhlease, ke mana pun pergi jangan pernah membuang sampah sembarangan.


Setelah itu, pembaca memasuki inti sari buku ini. Yay! Dimulai dari  Labuan Bajo: Pulau Rinca, Pulau Komodo, Gunung Mbeliling, teruuuuus ke Timur sampai ketemu Gunung Kelimutu di Ende, Maumere dengan pantai-pantai dan Gunung Egon-nya, sampai Larantuka. Informasinya tidak sekadar ini looooh Gunung Mbeliling itu, tapi juga memuat tinggi gunung, luas daratan, flora dan faunanya, sampai tentang masyarakat tradisionalnya. 


Salah satu sub yang saya sukai adalah kisah tentang Rudolf von Reding:

In 1974, the elderly Count Rudolf von Reding from Biberegg, Switzerland, disappeared on the island of Komodo. For some unknown reason he got seperated from his group. When they realized he was missing, they immediately returned to the point where had last seen him - but they were too late. All they could find was the Count's backpack, camera, sunglasses, and stains of blood on the ground. Komodo dragons eat their prey whole, and von Reding's body was never found. Although it could neve be confirmed with 100% certainty, he was believed to have been eaten.

Sedih ya ... *ambil tissu*

Jadi ingat waktu ke Pulau Rinca, dimana salah seorang teman pejalan kami sedang datang bulan, dan si komodo berjalan ke arah teman tersebut. Horor-horor bergembira gimana gitu rasanya diikuti komodo, hehe.


Setelah Baca

Saya bahagia karena jadi banyak tahu tentang pulau sendiri. Sebagai pelahap buku, sekaligus blogger yang gemar menulis tentang perjalanan ke mana pun saya pergi, buku ini menjadi semacam panduan untuk menulis. Menulis tempat wisata itu tidak sekadar menggambarkan betapa indahnya; betapa menawannya; betapa mempesonanya, tetapi harus bisa lebih detail yaitu tentang letak lokasinya, jaraknya, transportasi dan akomodasi kalau bisa bisa dengan harganya, budaya masyarakat setempat (seperti harus memperhatikan etika berpakaian dan berbicara), hingga tingkat kesulitan perjalanan untuk mencapai lokasi tersebut. Sub buku juga penting untuk memilah atau mengklasifikasi tulisan agar tidak terkesan campur-aduk.

Saya sedang belajar untuk menulis seperti itu. Belajar terus tanpa henti. Istirahat sih boleh, berhenti jangan :)

Flores: Adventure Trails adalah buku yang super informatif meskipun tidak selengkap buku yang diterbitkan oleh Lonely Planet zaman dulu itu. Bahkan juga diceritakan tentang gempa yang pernah melanda Flores terutama Maumere dan Ende. Jika kalian punya waktu luang, jangan lupa untuk membacanya. Di mana bisa diperoleh, cobalah cari di toko buku terdekat, jika tidak, maka ini edisi terbatas yang dipublis oleh Swisscontact (yang selalu konsen dengan isu wisata).

Semoga bermanfaat, enjoy your weekend!


Cheers.