Arsip Kategori: Resensi

Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan


Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan. Hola! Kalian masih #DiRumahSaja? Sama dong. Sudah melakukan apa saja saat #DiRumahSaja? Kalau saya sih ... banyak! Mulai dari work from home di mana membikin berita, membikin video testimoni mahasiswa, hingga promosi kampus dilakukan tanpa harus mandi terlebih dahulu. Haha. Pssstttt, work from home bisa menghemat parfum! Selain itu, berkebun mini menjadi salah satu kegiatan harian yang menyenangkan. Sembari menunggu tanaman lain bertumbuh-kembang dan dapat dipanen, kemarin kami sudah memanen sayur kanggung, dimasak bersama tauge bikinan sendiri. Tauge itu dibikin oleh Melly yang super excited sama urusan kebun ha ha ha. Sebagai anak dacin, dia menunjukkan keseriusannya pada perkembangan dan pertumbuhan setiap tanaman.

Baca Juga: The Mentalist

Hari ini di #SabtuReview, setelah mengurus kebun, saya memutuskan untuk menulis tentang tiga filem kece yang wajib kalian nonton, terutama bagi kalian yang menggilai filem horor dan thriller. Tiga filem ini tidak melulu menampilkan penampakan hantu, setan, demit, dan sebangsanya. Iya, tiga filem ini membuktikan bahwa takut tidak butuh itu semua. Tidak percaya? Marilah disimak!

1. Don't Breathe


Hyess! Ini filem yang pernah membikin saya penasaran tingkat tinggi. Mengapa Hooq masih menggembok atau menyegel filem ini pada tahun 2019? Sedangkan filem-filem yang lebih baru sudah bisa ditonton tanpa permisi alias tidak perlu membayar sewa terlebih dulu. Jawabannya mudah. Ini filem bagus dan layak dipertahankan penggembokan atau penyegelannya. Don't Breathe merupakan filem horor thriller Amerika yang dirilis tahun 2016 dan disutradarai oleh Fede Alvarez. Filem menegangkan ini diproduseri oleh Fede Alvarez, Sam Raimi, dan Robert Tapert. Naskah filem yang ditulis oleh Fede Alvarez dan Rodo Sayagues ini dibintangi oleh Jane Levy (sebagai Rocky), Dylan Minnette (Alex), Daniel Zovatto (Money), dan Stephen Lang (sebagai Norman Nordstrom atau si veteran perang yang buta kedua matanya). Saya memang jarang mendengar atau membaca nama-nama itu tapi akting mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Karena belum tentu saya bisa berakting sebagus mereka. Haha.

Don't Breathe bercerita tentang Rocky, Alex, dan Money (yess, thankyou Wikipedia) yang adalah penjahat di Detroit. Pekerjaan mereka membobol rumah-rumah yang diamankan oleh perusahaan keamanan ayah si Alex dan menjual barang-barang curian tersebut. Mereka kemudian mendengar kabar bahwa ada seorang veteran perang Pasukan Khusus Angkatan Darat AS yang tinggal di lingkungan Detroit yang terabaikan (semacam lingkungan perumahan yang tidak dihuni begitu) memiliki uang 300.000 Dollar di rumahnya. Uang itu diterima si veteran sebagai penyelesaian setelah seorang perempuan muda kaya bernama Cindy Roberts yang secara tidak sengaja membunuh puterinya dalam kecelakaan mobil. Si veteran perang adalah seorang laki-laki buta karena ledakan selama perang. Ya, dialah Norman Nordstrom.

Berpikir mencuri di rumah orang yang buta: pasti mudah. Tinggal masuk, mengambil uangnya, terus kabur. Ternyata tidak semudah itu, bahkan nyawa mereka menjadi taruhannya, karena Norman Nordstrom ini 'melihat' segala sesuatunya melalui suara. Indera pendengarannya sangat terlatih. Maksud hati mencuri uang 300.000 Dollar, si Money justru duluan meregang nyawa. Keributan yang terdengar akibat upaya mereka bertiga masuk paksa ke rumah itu membikin Norman Nordstrom terbangun dan mencium aroma pembobolan. Siapapun yang masuk ke rumah itu tanpa permisi, sudah pasti tidak berniat baik bukan? Veteran perang yang buta itu ternyata punya kemampuan yang luar biasa; Rocky dan Alex kemudian harus menyelamatkan diri berhadapan dengan si jagoan yang bahkan dapat mendengar dengus nafas mereka dari jarak lumayan jauh.

Yang tidak disangka-sangka adalah ternyata di ruang bawah tanah rumah itu tersekap perempuan yang secara tidak sengaja membunuh anaknya Norman Nordstrom dalam kecelakaan. Ya, Cindy Roberts! Penemuan harta karun Cindy diketahui Rocky dan Alex saat mereka terjebak di ruangan bawah tanah.

Hiyyyy! Ngeri!

Menurut berita di CNN ini, Don't Breathe sedang dibikin sekuelnya. A-ha! Tidak sabar!

2. A Quiet Place


Jika Don't Breathe dirilis tahun 2016, maka dua tahun kemudian yaitu pada tahun 2018 A Quiet Place dirilis. A Quiet Place adalah filem drama fiksi ilmiah horor Amerika Serikat yang dirilis 3 April 2018 (Indonesia). Filem ini diperankan oleh Emily Blunt, John Krasinski, Millicent Simmonds, dan Noah Jupe. Emily Blunt yang pernah berperan dalam The Girl on the Train dan The Devil Wears Prada ini merupakan isteri dari John Krasinski, baik di dalam A Quiet Place maupun di dalam kehidupan nyata. Asyik ya suami-isteri main filem bareng. Skenarionya ditulis sendiri oleh John Krasinski bersama dan berdasarkan cerita oleh Bryan Woods dan Scott Beck.

Para kritikus mengatakan bahwa ini filem yang cerdas yang sangat mengerikan dan menakutkan.

Alkisah keluarga Abbott selamat dari invasi alien di bumi. Lee Abbott (John Krasinski) dan Evelyn Abbott (Emily Blunt) hidup bersama tiga orang anak yaitu Regan Abbott (Milicent Simmonds), Marcus Abbott (Noah Jupe), dan Beau Abbott (Cade Woodward). Sejak awal berjalan sudah digambarkan kondisi Evelyn yang sedang hamil tua.

Mari mulai dari keluarga Abbott. John, seorang ayah yang sangat dapat diandalkan dan bertanggungjawab pada keluarga, punya ruang kerja bawah tanah tempat monitor-monitor dan radio-radio disimpan. Mencari tahu segala sesuatu tentang invasi alien ini serta kekuatan dan (belum diketahui) kelemahannya. Dia juga membikin alat bantu dengar untuk puterinya yang bernama Regan. Evelyn, seorang ibu yang juga sangat bertanggungjawab pada keluarganya, yang bekerja sangat tenang dalam senyap, dan sedang hamil tua. Regan, puteri satu-satunya usia sekitar 14 (empat belas) tahun yang tuna rungu. Marcus, adik si Regan, usia sekitar 8 (delapan) tahun. Dan Beau yang masih berusia sekitar 5 (lima) tahun.

Cerita bermula ketika keluarga Abbott berada di suatu pusat perbelanjaan yang terlantar. Mereka mencari barang-barang yang bisa digunakan untuk kelangsungan hidup. John mencari barang-barang yang salah satunya untuk membikin alat bantu dengar untuk Regan. Di pusat perbelanjaan itu Beau tertarik dengan pesawat mainan. John menjelaskan pada Beau bahwa mainan itu berbahaya dan baterainya kemudian dilepas. Saat hendak pulang ke rumah, Regan mengambil pesawat mainan dan baterainya, menyerahkan kepada Beau. Dalam perjalanan pulang, saat sedang berjalan di atas pasir yang ditabur sebagai poros jalan mereka di luar rumah itu, Beau membunyikan pesawat mainannya.

Ya, sampai di sini, tamatlah riwayat Beau diserang alien.

Life must go on. 

Sampai suatu hari John pergi memancing bersama Marcus, Regan ngambek karena tidak diijinkan ikut lantas kabur dari rumah menuju jembatan tempat Beau diserang alien, dan tinggal si Evelyn sendiri. Ya, saat seperti itulah Evelyn mengalami kontraksi dan air ketubannya pecah. Yang bikin parah adalah Evelyn tidak sengaja menginjak paku yang terangkat gara-gara tersangkut buntelan kain pakaian yang hendak dibawa Evelyn ke luar ruang bawah tanah. Jeritannya meski tidak terlalu kuat, merupakan 'undangan' untuk para alien.

Dan ... ribut berarti mati.

Selama 90 (sembilan puluh) menit ketegangan benar-benar tersaji sempurna di dalam A Quiet Place. Bagaimana Evelyn berjuang melahirkan sendiri di bak mandi, bagaimana Marcus harus melakukan plan B yaitu menyalakan petasan sebagai pengalihan terhadap alien yang sedang berada di dalam rumah, bagaimana Regan sama sekali have no idea bahwa alat bantu dengarnya itu merupakan senjata ampuh melawan alien, bagaimana John yang sangat diandalkan itu kemudian mati, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana yang lain. Kalian yang belum nonton, harus nonton. Hehehe.

3. Exorcism of Emily Rose


Inilah pertempuran antara ilmu pengetahuan dan agama; dari sudut pandang mana orang melihat seseorang yang kerasukan dan/atau bertingkah aneh. The Exorcism of Emily Rose adalah sebuah film horor supranatural Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 2005. Filem ini digarap oleh Scott Derrickson dengan pemeran Laura Linney (sebagai Erin Christine Bruner), Tom Wilkinson sebagai (Padri Richard Moore), Campbell Scott (sebagai Ethan Thomas), dan tentu saja Jennifer Carpenter (sebagai Emily Rose). The Exorcism of Emily Rose diangkat dari kisah nyata seorang perempuan asal Jerman Barat yang bernama Anneliese Michel. Anneliese Michel lahir di Leiblfing, Bavaria, Jerman barat pada 12 september 1952. Ketika lulus SMA di pindah ke kota untuk kuliah dan menetap di (semacam) asrama.

Meskipun The Exorcism of Emily Rose diadaptasi dari kisah nyata kehidupan Anneliese Michel namun pada versi filem tentu tidak sepanjang kisah aslinya. Dan saya menulis berdasarkan filem yang sudah saya tonton berkali-kali itu. Tentu pada versi filem ada hal-hal yang tidak ikut masuk ke dalam frame karena perhitungan durasi.

Fast forward, Emily Rose lulus SMA dengan hasil yang memuaskan, dia sangat bahagia dan terlihat sangat sehat. Dia kemudian mulai kuliah dan tidur di (semacam) asrama. Di situlah dia mulai mengalami gangguan. Sedangkan pada kisah aslinya, Anneliese Michel dikatakan mulai menjauhi benda-benda religi (agama Katolik) dan dukun yang melihatnya mengakui bahwa Anneliese Michel memang kerasukan roh jahat. Atas permintaan keluarga kepada petinggi agama Katolik, maka Emily Rose dipertemukan dengan dua Pater (Padri) yang salah satunya bernama Richard Moore. Pater Moore mulai melakukan pengusiran setan terhadap Emily Rose. Selain itu Emily Rose juga ditangani secara medis. Para dokter mengklaim bahwa Emily Rose mengidap epilepsi. Dia juga dikatakan mengalami gangguan jiwa. Dan penanganan medis jangka panjang menggunakan obat anti-psikotik ternyata ... tidak berhasil.

Kepada Pater Moore, Emily Rose mengaku dia dirasuki oleh Judas Iscariot, Adolf Hitler, Nero, Cain, Fleischmann, hingga yang paling kuat yaitu Lucifer. Proses pengusiran setan dilakukan selama sepuluh bulan, sebanyak 67 kali. Di dalam filem, pengusiran setan terakhir itu yang paling parah karena Pater Moore dan kawannya harus berhadapan dengan Lucifer. Kandang kuda menjadi tempat terakhir di mana pengusiran setan dilakukan, menggambarkan kengerian demi kengerian saat Emily Rose berbicara dengan bahasa-bahasa lain, ular-ular bermunculan, dan lain sebagainya, tanpa menunjukkan batang hidung setan atau roh jahat itu sendiri. Ugh ... bergidik sekali saya meskipun sudah menontonnya berkali-kali.


Bisa membayangkan kengeriannya?

Hiiiiiy!

Don't Breathe, A Quiet Place, dan The Exorcism of Emily Rose adalah tiga filem yang membangun tensi menegangkan tanpa harus menunjukkan penampakan setan itu sendiri. Tidak ada pocong dan tante kunti (hahaha), tidak ada genderuwo, tidak ada sosok menakutkan bergigi taring berdarah, tidak ada pula badut lucu tetapi pembunuh berdarah dingin. Total, ketiga filem itu, hanya pada A Quiet Place saja kita bisa melihat satu atau dua kali penampakan alien ... tapi itu alien, bukan setan. Filem seperti ini yang saya sebut dengan kengerian tersembunyi itu jauh lebih mengerikan.

Baca Juga: Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi

Semoga tiga filem di atas, meskipun bukan filem terbaru, dapat menjadi rekomendasi filem untuk kalian tonton saat berada di rumah sebagai upaya untuk memutus penyebaran Covid-19. Siapa tahu setelah menontonnya, kalian bakal menulis sendiri review-nya. Saya pribadi kalau ditanya apakah masih ingin menonton ketiga filem itu, ya jelas! Filem bagus harus ditonton berulang-ulang. Hahaha. Apalagi di Kota Ende belum ada bioskop kan *tertunduk lesu*. Tapi yang pasti, kalau kalian mengalami kengerian atau ketakutan, jangan pernah salahkan saya!

#SabtuReview



Cheers.






Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island


Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island. Ini adalah salah satu draf pos blog yang sangat lama tidak dipublikasikan. Sepertinya saya lupa. Haha. Tidak ada satupun tulisan draf ini yang saya perbaiki. Alkisah, saya menonton Shutter Island sebelum menonton Searching, tapi kemudian saya memutuskan untuk terlebih dahulu me-review dan mempublikasikan Searching. So ... here we go ... a very late post!

A Very Late Post


Selamat Sabtu. Setelah minggu kemarin nafas ngos-ngosan dengan menonton Searching, hari ini #SabtuReview kembali membahas tentang filem. Jangan pernah berharap kalian akan menemukan review filem teranyar di sini, hehe. Maklum, di Kota Ende masih belum dibangun bioskop baru. Baru? Memangnya dulu pernah ada bioskop? Ada donk, meskipun bukan sekelas 21 atau XXI, dan banyakan filem-filemnya Roma Irama dan Warkop DKI pada zaman itu, tapi yang jelas di kota kecil ini pernah berdiri sebuah bioskop.

Baca Juga: Nostalgia Alanis

Seharusnya minggu lalu filem ini sudah di-review, but you know if it's too late, that the missing girl could be dead. Shutter Island bisa menunggu. Haha. Gaya banget menulis ini. Seolah-olah diri saya adalah Detektif Rosemary Vick. Let's talk about Shutter Island.

About Shutter Island


Shutter Island diperankan oleh empat pemeran utama. Leonardo Di Caprio (sebagai Edward "Teddy" Daniels), Mark Ruffalo (sebagai Chuck Aule), Ben Kingsley (sebagai dr John Cawley), dan Michelle Williams (sebagai Dolores Chanal). Filem yang dirilis tahun 2010 ini masuk dalam kategori neo-noir psychological thriller yang disutradarai oleh Martin Scrosese dan ditulis oleh Laeta Kalogridis berdasarkan novel Dennis Lehane yang terbit tahun 2003. Ya, tentu itu kata Wikipedia. Yang bukan kata Wikipedia adalah filem ini sukses membikin saya merasa gatal yang luar biasa karena warisan tanda tanya setelah melahapnya. Ini filem 'berat', menurut saya.

Overview


Shutter Island dibuka dengan adegan perjalanan laut Edward Daniels alias Teddy, seorang U.S. Marshals, dengan teman kerjanya yaitu Chuck Aule. Mereka dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Ashecliffe, khusus merawat orang-orang sakit jiwa, di Shutter Island. Mereka akan menginvestigasi hilangnya seorang pasien bernama Rachel Solando yang telah menenggelamkan tiga anaknya. Petunjuk dari kamar rawat Rachel hanya sebuah kertas bertulis: The Law of 4: Who is 67? Dan investigasi pun berlanjut.

Dalam perjalanan investigasi yang penuh teka-teki itu, serta kilasan mimpi Teddy tentang isterinya,  dan betapa gemasnya penonton karena berpikir Teddy dan Chuck bakal terjebak di pulau itu dan pasti dibunuh oleh para dokter yang kuatir kedok mereka terbongkar, karena sedang badai (tidak ada kapal yang beroperasi), penonton kemudian diberitahu bahwa sebenarnya Teddy adalah pasien Ashecliffe yang bernama Andrew Laedis. Chuck, teman kerjanya, ternyata dokter yang selama ini menanganinya yaitu dokter Sheehan. Twist plot.

Di awal, plot berjalan dan penonton mempercayai bahwa Teddy dan Chuck beneran U.S. Marshals, dan mereka benar sedang menginvestigasi hilangnya Rachel Solando. Namun, twist membikin penonton ternganga bahwa Teddy adalah Andrew sedangkan Chuck adalah dokter Sheehan. Andrew mengalami skizofrenia. Andrew dibiarkan bermain dalam khayalannya sendiri, bahwa dirinya bernama Teddy dan seorang U.S. Marshals, dan berulang kali percobaan ini dilakukan untuk tahu sampai di mana batasan penyakit itu. Apakah Andrew akan di-lobotomy doleh dokter Cawley atau tidak.

Siapa Sebenarnya Dia?


Teddy atau Andrew? Sebagian orang percaya dia adalah Teddy yang memang tidak dapat sembuh. Tapi sebagian lagi percaya dia adalah Andrew yang memilih untuk di-lobotomy ketimbang harus hidup bersama kenangan buruk keluarganya. Ya, isteri Andrew yaitu Dolores, mengalami gangguan kejiwaan. Faktanya, Dolores menenggelamkan tiga anak mereka di sungai di belakang rumah. Andrew memilih untuk mengakhiri nyawa Dolores. Trauma itu yang membikinnya 'sakit'.

Di akhir cerita, setelah para dokter merasa upaya yang terus-terusan dilakukan terhadap Andrew tidak berhasil, justru dokter Sheehan merasa ada yang aneh dengan ucapan Andrew. "Mana yang lebih buruk? Hidup sebagai monster, atau mati sebagai manusia (yang baik)?". Lantas pergi ke arah dokter Cawley yang telah menunggunya. Dokter Sheehan bingung, lantas memanggilnya dengan "Teddy?".

Hidup Adalah Anugerah


Menulis sub judul ini bikin merinding. Hidup adalah anugerah Tuhan pada kita, umat manusia, tetapi melanjutkan hidup atau tidak, adalah pilihan ... karena itu banyak orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Mengakhiri di sini tidak selamanya mati, melainkan menjadi seperti Teddy atau si Andrew di atas. Dari pada dibayang-bayangi masa lalu ... lebih baik lobotomy.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Begitulah ...

Bagi kalian yang sudah menonton filem ini, minta tanggapannya donk, saya memang sudah membaca banyak tanggapan orang tentang filem ini, tetapi masih saja belum puas hahaha. Saya masih terbawa pada naluri saya yang mengatakan bahwa dia adalah Andrew.



Cheers.

Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai



Menjadi penulis bukan perkara mengedip mata atau melempar Thika dan Ocha ke kolong tempat tidur. Butuh proses yaitu berlatih terus-menerus tanpa henti. Menjadi penulis memang tidak mudah, apalagi menjadi penulis yang 'nyastra' seperti penulis-penulis favorit kalian. Saya masih belajar menuju.

Baca Juga:

Hari ini saya mengajak kalian mengenal sebuah buku, sekaligus penulisnya, yang mengangkat nama-nama sastrawan di Provinsi NTT, yang berjudul: Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai. Kalau boleh saya bilang, ini adalah buku kedua setelah buku sebelumnya Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT. Siapakah yang telah begitu gigih menulis tentang sastrawan dari NTT ini?

Beliau adalah Drs. Yohanes Sehandi, M.Si. atau lebih akrab disapa Pak Yan. Nama Pak Yan bukanlah nama yang terkenal se-lingkup Universitas Flores. Sebagai dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Pak Yan terkenal dalam skala nasional terutama di dunia literasi. Sudah banyak tulisan beliau yang dibukukan, telah banyak pula artikel tentang sastra yang beliau pos di blog pribadinya. Bagi saya beliau adalah mentor dalam dunia tulis-menulis dan berita. Beliau langganan kegiatan-kegiatan sastra dan literasi baik di NTT maupun di luar NTT.

Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai diterbitkan pada tahun 2017. Pengantar buku ini adalah Maman S. Mahayana dengan pembuka yang super menarik:

Kritikus yang besar ialah kritikus yang berjiwa besar dan sudah bisa melepaskan diri dari nafsu dengki, iri hati, benci, dan ria dalam hubungan seorang terhadap seorang. Ada pula kritikus yang suara dasarnya: "Aku lebih tahu!" memukul, menerjang kiri-kanan lalu datang dengan: "Mestinya begini, begini, begini" dan ia menjadi badut apabila pembaca yang kritis dan teliti pula mendapatkan bahwa yang "begini, begini, begini" itu tidak tepat, kurang benar atau sama sekali tidak benar. (H. B. Jassin, Tifa Penyair dan Daerahnya, Jakarta: Gunung Agung, 1952, halaman 44-45).
[Yohanes Sehandi, 2017: vii]

Apabila kalian membaca daftar isi-nya, kalian akan tahu bahwa buku ini disusun dengan sangat terstruktur dan hati-hati agar pembaca mudah memahami 'apa' dan 'bagaimana' yang sebenarnya terjadi. Dimulai dari Bagian Pertama: Sastra Indonesia di NTT, Sejarah Sastra Indonesia di NTT, Kiprah dan Karya Sastrawan ~ NTT, hingga Perempuan NTT di Panggung Sastra. Pada Bagian Pertama ini, terkhusus judul terakhir, saya boleh sedikit sombong kan yaaaa ...


(Yohanes Sehandi, 2017 : 39)

(Yohanes Sehandi, 2017 : 40)


Disusul Bagian Kedua dengan tema umum Kritik dan Esai Sastra, serta Bagian Ketiga dengan tema umum Sastra NTT dalam Kritik dan Esai. Pada Bagian Ketiga ini muncul judul-judul seperti Menyelamatkan Tradisi Lisan Flores, 3 Juli Hari Sastra Indonesia, hingga G 30 S dan Pramoedya Ananta Toer.

Membaca buku Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai menjadikan saya tahu dunia sastra di NTT sejak awal hingga sekarang. Bahkan, membaca bagian tentang perempuan NTT di panggung sastra, saya terkenang akan semua buku-buku yang pernah memuat tulisan saya baik buku sendiri maupun antologi bersama penulis lain. Bagi saya ini adalah pencapaian yang luar biasa. Proses, proses, dan proses. Tidak ada yang instan di dunia ini.

Buku Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai dapat menjadi buku pilihan kalian di akhir pekan ini, apalagi bagi kalian para sastrawan NTT. Karena, meskipun kita tidak 'nyastra' dalam menulis tetapi setidaknya menulis dan hasil tulisan dibaca banyak orang merupakan pencapaian tersendiri. Itu menurut saya. Bagaimana menurut kalian?

Selamat menikmati akhir pekan, kawan.


Cheers.

RESENSI BUKU “ARUS DERAS” : SENARAI KISAH TENTANG MISTERI CINTA DAN HIDUP YANG TAK MUDAH

Judul Buku : Kumpulan Cerpen “Arus Deras” Karya : Agnes Majestika, Ana Mustamin, Kurnia Effendi, Kurniawan Junaedhie Jumlah halaman : 172 halaman Penerbit : Kosa Kata Kita, 2017 ISBN : 978-602-6447-16-6 KETIKA buku ini tiba di tangan saya dua bulan silam, rasa gembira membuncah di dada dan tak sabar untuk membacanya segera. Betapa tidak? Jajaran [...]

FILM “KARTINI” : TENTANG KEMERDEKAAN BERFIKIR & MELEPAS BELENGGU TRADISI

ila pekan lalu saya memenuhi janji anak sulung saya menonton film FF8 (sudah saya review filmnya disini), maka hari Minggu (23/4) siang, di bioskop yang sama, namun film yang berbeda, saya memenuhi janji putri bungsu saya Alya menonton film “Kartini” di Studio 3 Cinemaxx Theatre Orange County Cikarang. Film biopik karya sutradara Hanung Bramantyo bekerjasama [...]

THE FATE OF FURIOUS (FF8) : KEJUTAN MENEGANGKAN DAN SPEKTAKULER

Seru. Megah, Luar Biasa. Setidaknya 3 kata itulah yang mewakili perasaan saya seusai menonton film ini di Studio 5 Bioskop Cinemaxx Orange County, Sabtu sore (15/4) bersama putra sulung saya, Rizky. Ekspektasi awal saya untuk menonton film yang tak sekedar menghibur namun juga menyajikan aksi spektakuler yang memukau seakan terjawab sudah. Dibuka dengan adegan balapan [...]