Sedikit Catatan Tentang PUASA

Sedikit Catatan Tentang PUASA
Menurut beberapa sumber, kata puasa dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Pali dan Sansekerta yaitu Upawasa (Upavasa) atau Uposatha (Upavasatha). Upawasa atau  terdiri dari 2 kata, yaitu Upa dan Wasa (Vasa). Upa artinya dekat atau mendekat dan Wasa (Vasa) artinya Tuhan atau Yang Maha Kuasa. Jadi puasa atau Upawasa dalam pengertian bahasa bermakna mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Saudara-saudara kita yang memeluk agama Hindu masih menyebut puasa dengan upawasa hingga saat ini. Ok, sedikit saya bahas tentang upawasa dalam agama Hindu berdasarkan beberapa referensi. Kalau ada yang salah mohon dikoreksi :)

Dalam pemahaman pemeluk Hindu, upawasa bukan sekadar menahan rasa haus dan lapar, tidak hanya untuk merasakan miskin dan kelaparan, menurut yang saya baca juga bukan untuk mencari pahala dan janji surga. Tujuan utama upawasa adalah untuk mengendalikan nafsu indrawi, mengendalikan keinginan dan kebutuhan fisik. Panca indra harus berada di bawah kesempurnaan pikiran, dan pikiran berada di bawah kesadaran budi. Jika Panca indra terkendali dan pikiran terkendali maka hal itu dipercaya akan dekat dengan kesucian, mendekat dengan Tuhan.

Jika dalam Islam mengenal puasa sunah seperti puasa Senin Kamis dll, demikian pula dalam kepercayaan Hindu, upawasa juga ada yang tidak bersifat wajib. Menurut yang saya baca, upawasa yang tidak wajib ini diserahkan kepada masing-masing individu apakah akan ia lakukan pada siang hari saja ataukah sehari penuh.

Sedikit Catatan Tentang PUASA
Sedikit obrolan saya dengan teman mengenai puasa

Jika saat bulan Ramadan ini ada saudara-saudara kita umat Hindu ada juga yang berpuasa, kemungkinan besar mereka sedang melakukan upawasa bebas tidak wajib seperti yang disebut di atas. Mereka akan memulai upawasa sejak fajar sama seperti kita kaum muslimin, namun bisa jadi upawasa mereka hingga fajar keesokan harinya, karena menurut kepercayaan Hindu pergantian hari adalah fajar, namun bisa juga mereka melakukan ibadah upawasa setengah hari saja dan berbuka pada saat senja.

Jika ada teman yang menganut agama Hindu tanyalah mereka soal upawasa, mereka seringkali melakukannya. Begitu juga dengan teman Kristiani, mereka juga kerap melakukan puasa, mulai dari puasa 8 jam, 1 hari, 1 hari 1 malam, 3 hari puasa total dan seterusnya, ada yang tidak berpantang dengan air putih, ada pula yang tidak makan dan minum. Tujuan puasa bagi kristiani mungkin dapat dijelaskan dalam potongan ayat "... kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa." Imamat 16:29.

Agama Buddha juga mengenal puasa, mereka menyebutnya Uposatha (Upavasatha). Rangkaian pelaksanaan ibadah uposatha dimulai pada pagi hari dengan berniat akan melatih diri dengan menjalankan praktik atthasila (delapan sila) baik dalam bimbingan seorang bhiksu atau tidak. Sebelum memasuki tengah hari (jam 12 siang) masih diperbolehkan untuk makan dan minum, kemudian mulai tidak makan dan minum sejak dari jam 12 siang sampai fajar di esok harinya.

Puasa Ramadan dalam pandangan Islam sebagaimana dipahami adalah sebuah kewajiban kecuali bagi yang sakit, sedang berpergian jauh dan suci dari nifas dan haid (bagi perempuan). Di balik kewajiban ini tentu banyak hal yang patut kita pelajari, baik dari Al Quran dan hadis-hadis untuk dapat lebih memahami apa tujuan puasa. Sedikit tentang tujuan puasa sependek yang saya pahami pernah saya catat di postingan di bawah ini berjudul: Lapar mengajarmu rendah hati selalu.

Baca juga: Lapar mengajarmu rendah hati selalu 

Dari catatan ini kita sama-sama pahami bahwa puasa bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Lebih jauh lagi merunut asal muasal agama-agama yang dianutnya maka baik agama-agama dari timur dan barat mengenal puasa sebagai salah satu syariat atau ajarannya. Meski berbeda dalam pelaksanaannya, jika diselidiki lebih jauh tujuannya tidak jauh berbeda, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. []

“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung”. [HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu].

7 Ramadan 1439 H
23 Mei 2018


Keutamaan Sahur, Walaupun Hanya Dengan Seteguk Air Putih

Keutamaan Sahur, Walaupun Hanya Dengan Seteguk Air Putih

“Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun hanya minum seteguk air...” (HR. Ahmad dan dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 3683).

Hadis di atas sudah cukup menjelaskan betapa Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan sahur. Ya, walaupun hanya dengan seteguk air, terpenuhi sudah syarat minimal bagi kita untuk melaksanakan sunah sahur sebelum puasa. 

Kita tak pernah tahu berapa banyak orang yang memang hanya sahur dengan seteguk air. Entah karena kefakiran hingga hanya seteguk air yang ia miliki, atau hanya segelas air yang ia butuhkan untuk memenuhi anjuran sunah dari Nabi yang ia cintai, ia tidak punya kebutuhan dan alasan lain dari sahur kecuali memenuhi anjuran dari Nabi Muhammad SAW.

Teman saya pernah bilang, bangun sahur itu juga berarti sebagai penguat niat berpuasa Ramadan. Bagi yang belum sempat niat berpuasa sebelumnya maka saat sahur itulah kesempatan dia untuk menyatakan niatnya serta memantapkannya. Karena menurutnya tidak sah puasa Ramadan jika tidak diniatkan pada malam hari sebelum puasa.

Dari 4 imam mazhab, hanya Mazhab Hanafiyah yang menyatakan tetap sah puasa Ramadan seseorang jika niatnya diucapkan walau setelah matahari terbit, tapi maksimal sebelum zuhur (tergelincirnya matahari) selama ia belum melakukan  hal-hal  yang  membatalkan puasa. 

Selain itu, Mazhab Syafi'i, sebagai mazhab utama yang dijadikan rujukan bagi kebanyakan warga Indonesia juga menetapkan bahwa niat puasa sebulan penuh hanya berlaku untuk puasa hari pertama, seseorang harus meniatkan kembali setiap malamnya sebagai salah satu syarat sahnya puasa.

Nah, jika malam hari setelah berbuka atau tarawih belum meniatkan puasa, untuk amannya bisa dilakukan saat sahur. Mengingat kedudukan penting dari sebuah niat dalam ibadah, maka mungkin ini pula yang membuat kegiatan sahur menjadi begitu dianjurkan.

Kalau dari sudut pandang ilmu kesehatan, soal sahur dengan seteguk air putih ada khasiatnya atau tidak saya belum tau. Mungkin teman-teman yang paham ilmu gizi dan kedokteran nanti yang akan jelaskan :)  Intinya sih secara awam, makan sahur pastinya berguna untuk memberikan energi yang cukup bagi tubuh saat menunaikan ibadah puasa Ramadan pada siang harinya. 

Air jelas merupakan salah satu elemen yang sangat penting bagi tubuh manusia. Air berperan besar dalam menjaga semua fungsi di dalam tubuh agar tetap berjalan dengan semestinya. Karenanya untuk mencegah dehidrasi tubuh saat puasa saya kira sahur minimal seteguk air putih adalah anjuran atau sunah yang sangat baik untuk dilaksanakan.

Wallahu a’lam bish-shawabi
3 Ramadan 1439 H
Sabtu 19 Mei 2018






Bahas Santai Soal Istilah Ifthor dan Takjil

Bahas Santai Soal Istilah Ifthor dan Takjil

Istilah ifthor atau ifthar dan takjil atau ta'jil sudah terasa umum di telinga, padahal seingat saya sekitar akhir 90an zaman saya SMA istilah ini belum pernah saya dengar. Dari pemahaman umum yang saya tangkap makna ifthor dan takjil ini ada yang menganggapnya sama, ada yang menjelaskan bahwa keduanya berbeda makna tapi berhubungan.
Nah bagaimana sih sebenarnya makna istilah ifthor dan takjil ini? Saya hanya membatasi pembahasan ini hanya soal makna dan artinya dari segi bahasa saja yah bukan soal lainnya.

Ifthor / Ifthar


Mari sejenak perhatikan salah satu varian doa berbuka puasa yang cukup populer ini: "Allahumma laka shumtu,... wa ‘ala rizqika AFTHORTU" ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa ...dan dengan rezeki-Mu aku BERBUKA.

Kata afthortu dalam doa di atas diterjemahkan sebagai "aku berbuka puasa", kata Afthor(tu) dan ifthor memiliki makna yang sama yaitu berbuka puasa dengan makan atau minum yang merupakan rezeki dari-Nya. Jadi ifthor itu kegiatan membatalkan puasa, dalam hal ini berbuka puasa. Jika ditelusuri lebih jauh kata afthor(tu) dan ifthor berasal dari kata yang sama dengan fitri dalam kata IdulFitri. (Saya sudah pernah bahas soal sila baca di Perbedaan Fitri dan Fitrah ).

Jadi arti kata atau istilah ifthor atau iftar atau ifthar itu adalah lebih dimaksudkan pada kegiatan berbuka seperti dalam doa berbuka puasa di atas, bukan istilah pengganti pada jenis makanan seperti pemahaman saya sebelum mencoba memahami lebih jauh istilah ini.

Untuk lebih mudahnya ada istilah yang juga sudah populer di kalangan teman-teman pengajian yang disebut "Ifthor jama'i".  Ifthor jama'i sama artinya dengan "berbuka puasa bersama" atau yang sering disingkat "bukber". Penggunaan kata ifthor di sini sudah tepat karena berarti "kegiatan berbuka puasa" di tambah kata "jamai" yang berarti "berjamaah atau bersama-sama" sehingga dapat memperjelas pemahaman kita akan makna kata ifthor dengan lebih mudah.

Buka Puasa Ramadan Bahas Santai Soal Istilah Ifthor dan Takjil
Buka Bersama KABASA Ramadhan 1435/2014


Takjil / Ta'jil

Kata takjil atau ta'jil ini agak lebih sulit bagi saya untuk menjelaskannya dengan mudah. Alhamdulillah kata Takjil atau Ta'jil sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata Takjil dalam KBBI dijelaskan sebagai sebuah kata kerja yang berarti mempercepat (dalam berbuka puasa) silakan cek di https://kbbi.web.id/takjil

Penjelasan KBBI ini juga sesuai dengan hadis masyhur tentang menyegerakan berbuka puasa yang di riwayatkan oleh beberapa ulama hadis seperti Bukhari, Muslim, Ad Darimi Hadis No 1637, Hadits Malik No.562 dst dengan redaksi yang kurang lebih sama: “Laa yazaalu an-naasu bikhairin maa ‘ajjaluu al-fithra”, yang artinya “Terus-menerus manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” Kata di akhir hadis itu berbunyi ‘ajjaluu al-fithra yang diartikan menyegerakan atau memprioritaskan berbuka puasa.

Kata ‘ajjaluu dalam hadis itu bermakna sama dengan takjil yang berarti menyegerakan, kata al-fithra sudah kita bahas sebelumnya bahwa maknanya sama dengan ifthor, ifthar yaitu berbuka puasa, semakna dengan maksud kata fitri/fithri dalam kata aidulfithri yang ditulis dalam Bahasa Indonesia menjadi IdulFitri.

Jadi sudah jelas yah? Makna dari kata Takjil adalah menyegerakan atau memprioritaskan sedangkan arti kata ifthor adalah berbuka puasa. Dua kata ini akan sering ditemui bergandengan dalam banyak hadis karena merupakan keutamaan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Arti Istilah Ifthor dan Takjil sesungguhnya

Apapun istilahnya selama kita paham maksudnya saya kira tridak ada masalah dalam komunikasi :)
Selamat berbuka puasa dan berbagi kebahagian dengan berbagi makanan untuk berbuka puasa.

Wallahu a’lam bish-shawabi
2 Ramadan 1439 H
18 Mei 2018

Soal Ziarah Atau Nyekar Sebelum Ramadan

Soal Nyekar alias Ziarah Sebelum Ramadan
Makam Kakek Nenek di Bila Ugi Sabbang Paru Wajo Sulsel
Kenapa para orang tua dahulu menganjurkan kita sebelum berpuasa untuk ziarah atau nyekar ke makam keluarga?

Sependek yang saya pahami, kegiatan ziarah sebelum memasuki bulan Ramadan itu bukan untuk mengistimewakan waktu berziarah, tapi adalah bagian tidak terpisahkan dari rangkaian persiapan menyambut ramadannya. Nabi Muhammad SAW tidak mengatur secara khusus kapan waktu ziarah. Karenanya kita bebas mengatur sesuai kebutuhan, misalnya hari sabtu berziarah maka hari minggunya dapat digunakan untuk bersilaturahim kepada kerabat yang masih hidup. Demikian menurut saya hikmah mengapa tidak ada pengaturan kapan waktu yang dianjurkan untuk berziarah.

Tujuan dari ziarah utamanya adalah untuk mengingatkan kita bahwa dunia ini hanya sementara, segalanya akan ditinggalkan pada waktunya. Tegasnya "untuk mengingatkan pada akhirat" seperti dijelaskan dalam sebuah hadis tentang tujuan dari ziarah kubur. 

Ziarah itu selain bisa kapan saja dilakukan juga dapat dilakukan ke makam siapa saja,  namun jika dilakukan kepada makam keluarga atau orang-orang yang kita kenal saat hidupnya diharap akan dapat mengingatkan kita bagaimana saat almarhum hidup dan bagaimana saat ini, setelah akhirnya dikuburkan. Dengan begitu pelajaran yang kita dapatkan akan lebih mengenai sasaran. 

Sebagian orang tua juga menjelaskan tujuan berziarah juga untuk memohon maaf atas kesalahan-kesalahan kita dan mendoakan ahli kubur. Idealnya, sebelum memasuki bulan puasa kita disarankan untuk saling berma'afan, baik kepada keluarga yg masih hidup ataupun yang sudah tiada. Jika kepada yang masih hidup kita dapat saling meminta ma'af atau berma'af-ma'afan, namun jika kerabat tersebut sudah meninggal, menurut saya kita hanya bisa mengakui kesalahan-kesalahan kita dan mengikhlaskan segala apa yang telah terjadi antara kita dengan almarhum.

Berziarah seperti itu sebelum puasa, selain bertujuan membersihkan kuburan, mencabuti rumput liar dll,  idealnya diharapkan juga dapat membersihkan dan meluruskan niat kita sebelum benar-benar memasuki bulan Ramadan. Amiin.
Soal Nyekar alias Ziarah Sebelum Ramadan
Makam Kakek Nenek di Bila Ugi Sabbang Paru Wajo Sulsel
Soal istilah nyekar sendiri katanya berasal dari kata Bahasa Jawa "Sekar" yang berarti bunga. Tradisi nyekar ini dari kebiasaan menabur bunga (jenis bunga yang biasa digunakan kanthil, kenanga, dan mawar atau melati) ke kuburan kerabat yang didatangi. Tradisi ini terkait dengan tradisi dan budaya masyarakat yang tujuannya adalah semacam penghormatan dengan memberikan bunga dan agar ada aroma wewangian  untuk mengisi suasana. Soal tradisi ini saya kurang paham, selama tradisi ini tidak dimaknai macam-macam dan bermanfaat saya kira boleh-boleh saja dilakukan.

Mengenai adab saat berziarah sudah banyak yang mengulasnya, saya hanya sedikit mengulangnya agar saya sendiri ingat kembali. Antara lain:

Niat yang benar: Semua hadits tentang ziarah kubur menjelaskan hikmah dari ziarah kubur, yakni untuk mengambil pelajaran seperti di dalam hadits Ibnu Mas’ud : “Karena di dalam ziarah terdapat pelajaran dan peringatan terhadap akhirat dan membuat zuhud terhadap dunia”.

Untuk itu, berziarah kubur idealnya membuat kita dapat mengambil pelajaran bahwa terbatasnya usia atau umur manusia dan saat dikuburkan tidak ada harta ataupun apa yang dimiliki di dunia ini yang dibawa ke dalam kubur. Semuanya akan kembali sebagaimana terlahir tidak membawa apa-pun. Jasad terurai dan ruh akan dimintai pertanggungjawaban. Segala amalan ibadah sudah terputus kecuali 3 hal yang masih dapat terus mengalirkan pahala.

Mengucapkan salam dan doa sebagaimana diajarkan: “Salam keselamatan pada kalian para ahli kubur kaum mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang mendahului kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian, kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian”. [HR. Muslim 2301].

Tidak menginjak atau duduk-duduk di atas kuburan: “Sungguh, sekiranya salah seorang diantara kalian duduk di atas bara api hingga membakar pakaiannya lalu sampai ke kulitnya, adalah lebih baik baginya daripada ia duduk di atas kuburan.” [HR. Abu Dawud nomor 2809 dan dishahihkan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani dalam shahih Abu Dawud].

Wallahu a’lam bish-shawabi
1 Ramadhan 1439 H (2018)