Puasa Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Puasa Menumbuhkan Rasa Percaya Diri
Puasa tentunya banyak sekali manfaatnya bagi jiwa dan raga. Beberapa manfaat puasa ada yang dibuat-buat seperti cocoklogi atau juga rasionalisasi subyektif dari pengalaman pribadi si penutur. Apapun itu semakin banyak manfaat puasa yang diperkuat dengan hasil-hasil penelitian. Sementara itu bagi penganut Agama Islam, puasa adalah soal iman. Bagi umat Islam, puasa merupakan kewajiban agama yang harus dikerjakan, menjalankannya didasari oleh keyakinan menjalankan perintah Tuhan yang tertuang dalam kitab suci al-Quran dan ditujukan kepada mereka yang beriman (ya ayyuha alladziina aamanuu). Selesai sudah, tidak ada lagi pembahasan jika menyangkut iman. Sebagai manusia, tentunya kita selalu mencari manfaat dari segala yang kita lakukan, termasuk manfaat dari apa-apa yang kita lakukan karena kewajiban, dalam hal ini puasa. Salah satu manfaat puasa yang ingin saya garis bawahi saat ini adalah manfaat puasa dalam menumbuhkan rasa percaya diri. Mengalahkan rasa lapar dan dahaga serta larangan lainnya tentu saja bukan perkara mudah. Apabila ujian tersebut dapat diselesaikan dengan baik selama satu bulan penuh, maka pastinya hal itu akan membuat kita semakin yakin bahwa ada kekuatan di dalam diri yang dapat melepaskan kita dari rantai keinginan-keinginan yang berlebih dari sekadar memenuhi kebutuhan.

Rasa percaya diri yang mantap akan menjadikan seseorang mampu menghadapi rasa takut dan menggantinya dengan keberanian untuk menghadapi tantangan yang ada di depan mata. Itulah manfaat percaya diri yang akan didapatkan.
Rasa percaya diri ini yang diharapkan dapat memperkuat karakter dan sikap kita menghadapi tantangan kehidupan selanjutnya. Sikap mental percaya diri inilah yang membuat seseorang dapat lebih elegan berinteraksi dengan risiko. Mungkin ini bentuk paling sederhana dari manajemen risiko :) Risiko adalah fenomena yang harus dilalui sebagaimana fenomena-fenomena alam lainnya. Mereka menyadari bahwa risiko dapat diatur sedemikian rupa dengan kemampuan yang mereka miliki sehingga risiko tersebut akhirnya menjadi sesuatu yang tidak menakutkan. Dalam pikiran orang yang memiliki sikap mental percaya diri, risiko telah dijinakkan dan dibagi-bagi menjadi sub-sub risiko sehingga dampak negatif dari resiko tersebut bisa diantisipasi dan lebih bisa diprediksi. Rasa takut tidak akan pernah menguasai jiwa seseorang yang memiliki sikap mental percaya diri. Takut bagi mereka hanyalah kondisi pikiran yang lebih menginginkan untuk terus berada pada kondisi zona nyaman. Mereka yang memiliki sikap mental percaya diri mampu mengolah rasa takut yang biasanya lebih mengarah ke hal negatif menjadi hal yang positif. Mereka mampu menghilangkan takut yang mengarah ke hal negatif dan hanya menyisakan takut yang mengarah ke hal positif saja.
Puasa Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Dari sekian manfaat rasa percaya diri, yang menurut saya paling penting adalah pencapaian harga diri (self-esteem). Harga diri di sini adalah penilaian diri pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya. Dapat diartikan bahwa harga diri menggambarkan sejauh mana seseorang menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga dan kompeten

Memahami konsep harga diri ini penting untuk bisa menghargai diri sendiri yang selaras dengan sikap menghargai orang lain. Jangan harap kita bisa menghargai orang lain kalau kita tidak bisa menghargai kita sendiri.

Saya percaya orang yang percaya diri dan memiliki harga diri yang benar tidak akan mudah terombang-ambing menentukan sikap sehingga akan terjaga dari hal yang akan merendahkan dirinya dan orang lain. Hal ini paling mudah dilihat dari cara orang tersebut menerima pendapat orang lain.
Sebagaimana ia mengungkapkan pendapatnya tanpa merasa perlu merendahkan orang lain, ia pun akan menerima pendapat-pendapat orang lain dengan lebih obyektif.
Sebaliknya, orang yang kurang percaya diri, yang tidak menghargai dirinya sendiri akan rentan menerima perbedaan pendapat. Kebutuhannya akan rasa aman membuatnya membangun benteng yang tebal, tidak ada keterbukaan dan cenderung mencari aman dengan sikap defensif dan selalu siap untuk menyerang apapun yang ia rasa mengganggu.

Kalau demikian, bagaimana mau menghargai?, untuk berpendapat pun ia takut, ia dengan sadar menyerahkan wewenang untuk berpendapat kepada orang lain sehingga pendapatnya itu yang akan kita perjuangkan tanpa merasa bertanggungjawab atas pemikiran yang menjadi dasar pendapat itu.

Jika hal yang demikian itu terjadi pada diri kita, mungkin kelak kita akan terlalu rendah diri untuk berpikir dan menyatakan hasil pemikiran kita menjadi sebuah pendapat untuk disampaikan kepada orang lain. 

Terlepas benar atau salah, keberanian orang menyatakan pendapatnya patut dihargai, jika kita membenci orang lain karena memiliki keberanian itu, maka cukup bagi kita mengerti bahwa ada penyakit kronis dalam hati yang seharusnya menjadi perhatian untuk disembuhkan daripada sibuk menghukum orang lain.

Atau lebih parah lagi, mungkin kita akan membenci orang yang berani mengemukakan pendapatnya, terlebih jika pendapat itu salah maka seakan kita punya hak untuk menyerang dan menghukum orang lain karena berani mengungkapkan pendapatnya.

Demikianlah puasa menjadi sebentuk terapi untuk menyembuhkan penyakit kronis dalam hati yang berawal dari tidak adanya rasa percaya diri, berkembang menjadi rasa rendah diri, tidak menghargai diri sendiri dan seterusnya. Kurang tersiksa apalagi jika itu kita alami? Hidup serasa beban berat yang menjadi neraka dunia. 

Parahnya lagi kita tidak bisa membuka diri untuk mencari pertolongan karena kita sulit untuk menghargai orang lain. Hidup menjadi tidak bermanfaat atau bahkan menjadi ancaman bagi orang lain. Naudzubillahimindzalik.

Salam


Kebahagiaan Orang Puasa

Kebahagiaan Orang Puasa

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika saat berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.” (muttafaq ‘alaihi)

Demikian sebuah hadis yang disampaikan oleh Ust Toha setelah pembacaan Surah Yasin bersama yang saya tidak sempat ikuti. Karena saya baru bergabung setelah acara yasinan selesai, sekitar pukul 9.00 malam di majlis Rumah Cerdas atau Majlis Taklim Al-Mubarok di Kp. Blendung Desa Kedung Pengawas Kec. Babelan tadi malam.

Jadi menurut hadis tersebut ada dua kebahagiaan yang didapat oleh orang-orang yang berpuasa, pertama kebahagiaan ketika saat berbuka, dan kedua kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.

1. Kebahagiaan saat berbuka puasa

Kebahagiaan waktu berbuka puasa adalah waktu di mana ujian telah selesai, larangan telah dicabut dan perintah telah dilaksanakan. Kebahagiaan yang lahir karena diberikan kemampuan untuk menundukkan hawa nafsu di bawah niat beribadah menjalankan syariat-Nya.

Kebahagiaan saat berbuka puasa adalah rasa bahagia yang lahir karena telah lulus godaan untuk memenuhi keinginan dan menunda pemenuhan kebutuhan yang secukupnya. Bahagia yang lahir karena telah memahami bahwa kebahagiaan semu yang selalu menggoda dan menyambut saat kita berhasil memenuhi keinginan-keinginan nafsu hanya mengantar kita pada pusaran keinginan lain yang tidak akan pernah habis menyeret jiwa manusia pada budaya konsumtif yang tidak akan pernah selesai dan akan terus menyiksa untuk dipenuhi. 

Dengan berpuasa kita diingatkan kembali akan makna kata "cukup" sehingga kita dapat lebih fokus mengemban amanah kita yang sebenarnya dan menggapai kebahagiaan yang sesungguhnya. 

Kebahagiaan saat berbuka puasa juga bisa dimaksudkan sebagai kebahagian jasmaniah karena larangan-larangan pemenuhan kebutuhan jasmani telah selesai. 

Setelah berhasil melewati ujian saat puasa, idealnya pelajaran saat berpuasa tersebut masih membekas dalam diri sehingga setelah saat berbuka kita tidak lantas berfoya-foya memenuhi semua keinginan seakan membalas dendam setelah seharian nafsu terbelenggu. Jika demikian, maka kita telah kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya telah kita capai saat berbuka puasa.

2. Kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya

Kalau kebahagiaan saat berbuka puasa adalah kebahagian jasmani maka kebahagiaan kedua orang berpuasa adalah kebahagiaan rohani yaitu ketika bertemu dengan Rabb-nya. 

Soal ini saya tidak bisa menjelaskan lebih banyak karena keterbatasan dan masih sangat awam mengenai hal ini. 

Mohon maaf, dalam bahasan ini saya lebih memilih mendengarkan sebanyak-banyaknya dan belum berani beropini apa-apa. Ini sudah membahas Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah, dalam soal ini saya masih awam dan masih belajar.

***

Potongan hadis yang tercatat dalam Shahih Bukhari (7492) dan Muslim (1151) juga diriwayatkan oleh Imam Nasa'i  dan lain-lain ini pada intinya menjelaskan bahwa “Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan; yaitu kebahagiaan jasmani dan kebahagiaan rohani". 

Tugas kitalah menggapai kebahagiaan itu dan jangan sampai puasa hanya menghasilkan haus dan lapar saja dan tidak ada kebahagiaan yang didapat.

Semoga dengan hadis tersebut puasa tidak lagi menjadi beban yang membuat kita terbebani, karena kebahagiaan dunia akhirat, kebahagiaan jasmani rohani yang dicari oleh semua orang sedang menanti kita.

Salam :) 
Jumat, 10 Mei 2019
5 Ramadhan 1440 Hijriyah


Puasa Sebagai Vaksinasi Virus Akal Budi

selamat menunaikan ibadah puasa ramadan
Dalam buku Virus of the Mind atau "Virus Akal Budi", Richard Brodie berhasil meyakinkan bahwa banyak manusia yang sudah terjangkiti "Virus Akal Budi".  Untuk memahami Virus Akal Budi ini sendiri sebaiknya kita membaca buku tersebut agar pemahaman kita lebih baik, saya hanya akan menggambarkan sedikit gejala-gejalanya saja.

Richard Brodie menjelaskan bahwa Virus Akal Budi inilah yang telah membelokkan usaha manusia meraih kebahagian sehingga kehidupan menjadi tegang, sedih, bosan dan hampa, serta menggerogoti kebermaknaan hidup.

Manusia modern kini memperjuangkan hidupnya tidak lagi peduli dengan norma dan agama. Perbuatan baik sudah tidak popular, karena tidak efektif untuk kesuksesannya. Krisis moral yang hampir merambah seluruh lini kehidupan diakibatkan oleh virus akal budi yang bisa mengendalikan cara berpikir dan bertindak dengan cara-cara yang bisa menghancurkan kehidupan.

Virus akal budi bekerja secara diam-diam namun cepat dan sigap, dengan menguasai sedikit demi sedikit akal budi kita dan menarik kita ke berbagai arah yang tak tertentu, virus akal budi mengalihkan perhatian kita dari apa yang sangat penting dalam hidup kita kepada hal-hal yang bersifat instingtif, kemudian membuat kita putus asa karena serbuan budaya konsumtif yang tiada akhir, hingga akhirnya kita tersesat dan putus asa.
Inti dari virus akal budi adalah membuat manusia dengan segala dayanya mengejar secara naluriah tiga hal paling primitif dalam dirinya: Bahaya, makanan dan sex. 
3 kebutuhan dasar (rasa aman, makanan dan sex) ini jika kita hubungkan dengan teori kebutuhan Abraham Maslow adalah merupakan kebutuhan paling dasar atau masuk dalam kategori kebutuhan Fisiologis, rasa aman dan kebutuhan cinta dan kasih sayang.

Abraham Maslow adalah pelopor psikologi humanistik. Ia menjadi terkenal berkat teori hierarki kebutuhan manusia yang sering disebut teori piramida Maslow atau teori hierarki kebutuhan.

Maslow menggunakan piramida untuk memvisualisasikan gagasannya mengenai teori hierarki kebutuhan. Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hierarki, mulai dari yang paling rendah, sampai yang paling tinggi.

Teori Hierarki Kebutuhan yang dimaksud oleh Maslow tersebut, adalah:
  1. Kebutuhan fisiologi/dasar
  2. Kebutuhan akan rasa aman
  3. Kebutuhan cinta dan kasih sayang
  4. Kebutuhan untuk dihargai
  5. Kebutuhan aktualisasi diri

Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow
Virus akal budi akan terus menyibukkan manusia dengan kebutuhan dasarnya sehingga manusia akan gagal naik kelas karena sibuk memenuhi kebutuhan fisiologis berupa Bahaya, makanan dan sex. 

Solusi yang ditawarkan dalam buku Virus akal budi dibahas pada halaman 293. Richard Brodie menawarkan solusi 2P (programming dan purpose), yang secara singkat saya simpulkan dengan memprogram diri sendiri berdasarkan tujuan hidup (purpose) yang merupakan prioritas tertinggi.

Virus Akal Budi dan Puasa

Solusi 2P (programming dan purpose) dari Brodie ditawarkan untuk menyembuhkan kita dan vaksinasi dari virus akal budi ini dapat disederhanakan dengan menetapkan tujuan lalu menciptakan program untuk mencapai tujuan itu.

Syukurlah, kita semua kenal dengan yang namanya puasa. Semua agama dan ajaran religius mengenal laku puasa yang bermaksud melatih diri mengendalikan hawa nafsu. Dalam hal ini puasa adalah sebuah program yang sudah dirancang sedemikian rupa untuk menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu badaniah.

Tidak ada satupun program yang dibuat tanpa tujuan, begitu pula puasa. Puasa dengan segala bentuknya memiliki tujuan jangka pendek, menengah dan panjang. Tujuan-tujuan puasa tersebut membutuhkan niat yang kuat agar dapat dilaksanakan dengan baik. 

Disiplin diri saat puasa pada gilirannya adalah bentuk perwujudan kuatnya niat dan pemahaman skala prioritas yang dalam. Segala ujian dan godaan dapat dilewati karena dapat dipenuhi setelah tujuan utama tercapai. Ujian dan godaan itu juga kebutuhan dan masuk dalam skala prioritas tapi kebutuhan itu berada di bawah sehingga dapat menunggu untuk dipenuhi.

Bahaya dari virus akal budi adalah virus akal budi mengalihkan perhatian kita dari apa yang sangat penting dalam hidup kita kepada hal-hal yang bersifat instingtif, kemudian membuat kita putus asa karena serbuan budaya konsumtif yang tiada akhir, hingga akhirnya kita tersesat dan putus asa. Oleh karenanya kita sangat butuh mereview kembali skala prioritas hidup dan membuat program hidup kita atau kalau perlu instal ulang "Operating System" hidup kita agar terbebas dari gangguan virus akal budi ini.

Hal-hal bersifat instingtif dalam manajemen waktu mungkin masuk ke dalam kuadran 1 jika kita terus saja sibuk memenuhi kebutuhan yang penting dan mendesak. 

Dalam hal manajemen waktu, maka puasa ibarat rem yang menahan laju kita dalam upaya tergesa memenuhi semua kebutuhan itu. Kita berdisiplin menahan kebutuhan mendesak itu dan meletakkannya dalam kuadran 2 yang penting tapi tidak mendesak, lalu kita dorong lagi masuk ke kuadran 3 yang kurang penting dan tidak mendesak, begitu seterusnya sambil memikirkan apa yang benar-benar penting dan menjadi tujuan hidup kita yang sebenarnya.

Masalah kuadran dan penomoran ada juga yang sedikit berbeda seperti gambar di bawah ini, selama kita paham apa maksudnya, istilah kuadran 2, 3 dan 4 hanya perbedaan letak dan nomor, maksudnya yah sama.
kuadran manajemen waktu penting dan mendesak
Demikian salah satu manfaat puasa menurut saya. Puasa bisa berfungsi sebagai vaksinasi, imunisasi serangan virus akal budi yang sudah sangat parah menjangkiti manusia modern.

Bacaan lain mengenai puasa:

Salam.

7 Mei 2019 / 2 Ramadhan 1440 H


Jangankan Makan Siang Gratis, Umroh Gratis Juga Ada

Ibadah Umroh dan Haji di Mekah

Belum lama ini saat sedang ngopi santai seorang teman bercerita tentang tetangganya yang berprofesi sebagai guru ngaji kampung mendapatkan rezeki berangkat umroh gratis tanpa dia tahu siapa yang telah membayar semua biayanya.

Fenomena seperti ini mungkin bukan hal yang aneh atau ajaib bagi sebagian orang, tapi bagi sang guru ngaji yang berekonomi pas-pasan tersebut, berangkat umroh gratis adalah sama dengan mendapatkan rezeki super nomplok yang tak terduga.

Namun teman tersebut juga menceritakan tentang bagaimana sang guru ngaji sederhana tersebut sempat kerepotan mengenai biaya untuk mengadakan acara sebelum keberangkatannya. Acara itu biasa disebut "walimatussafar", ada juga yang menyebutnya "walimah safar" atau "ratiban" saja, sebuah acara yang digelar saat orang akan berangkat haji dan umroh.

Acara walimatussafar ini menurut beberapa teman adalah semacam acara pamitan sebelum keberangkatan umroh/haji yang digelar si pemangku hajat.

Tapi menurut pandangan saya sebagai orang awam, kalau kita berpamitan yah seharusnya kita yang mendatangi orang-orang yang kita hormati untuk memohon pamit dan doanya sebelum berangkat, bukan mereka yang kita datangkan. Jadi kalau dalam pemikiran saya yah kurang pas kalau dikatakan sebagai pamitan :)

Dalam acara walimatussafar tersebut para undangan datang dan mendoakan keselamatan si pemilik acara, baik dalam perjalanan berangkat dan pulangnya. Nah kalau demikian saya paham. Sebuah tradisi yang baik-baik saja saya rasa.

Soal walimatussafar ini saya hanya berani menyatakan itu adalah sebuah tradisi dan memang tidak termasuk dalam sunah atau rukun haji dan umroh kan?.

Sebuah tradisi yang jika tidak memberatkan silahkan dilakukan, jika pun tidak dilaksanakan yah berpulang ke yang bersangkutan.

Soal dalil-dalil sholat sunah sebelum safar dan apa yang dilakukan nabi dan para sahabatnya sepulang bepergian jauh, sepertinya para ustad yang lebih paham daripada saya, jadi saya hanya memandang dari perasaan dan pemikiran awam saja,... sotoylogi detected.

guru ngaji kampung berangkat umroh gratis

Soal hadiah umroh gratis yang tidak diketahui siapa yang memberi ini keren loh. Itu sebuah cara halus untuk menjaga nama baik si penerima, untuk tetap memuliakan harga diri si penerima. Ini salah satu jurus tingkat tinggi, memberi tanpa membuat yang menerima pemberiannya merasa berhutang budi atau sejenisnya.

Bayangkan kalau guru ngaji tersebut tahu siapa yang membiayainya umroh. Walaupun si pemberi benar-benar ikhlas, tapi secara manusiawi sangat wajar kalau yang menerima pemberian akan sangat berterima kasih kepada yang memberi dan akan melakukan balas budi

Dari sisi pemberi, ia hanya ingin memberi secara ikhlas, sudah selesai. Ia tidak mau ada perubahan pandangan, perasaan dari pihak penerima. Bagi si pemberi, cukup Allah SWT yang tahu karena ia percaya bahwa sebaik-baiknya balasan adalah keridhoan Allah SWT.

Membuka identitas si pemberi juga saya kira kurang bijak, itu juga kayaknya akan mengurangi nilai pemberian karena akan menimbulkan risiko pergunjingan dan ghibah yang tertuju kepada si pemberi dan si penerima.

Coba deh cek ayat ini: 
"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu, menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)

Orang yang menampakkan sedekahnya itu baik sekali, karena dapat memberi contoh atau teladan yang baik dan pendidikan karakter bagi pihak yang terlibat. Bagi si pemberi akan menjadi ujian keikhlasan sedekahnya, bagi penerima akan terjalin hubungan silaturahim dan kelapangan hati menerima sedekah. Bagi yang mengetahui dapat menggugah keinginan untuk meneladani. Namun bersedekah secara rahasia ternyata lebih baik bagi si pemberi, bukan saya yang bilang begitu, Al-Quran yang menyatakan demikian.

Ayat tersebut mungkin juga tidak cocok, karena mungkin saja umroh untuk guru mengaji tersebut adalah hadiah bukan sedekah. Buat teman-teman yang mengerti perbedaan sedekah dan hadiah juga pasti paham mengapa nabi tidak ikut memakan roti sedekah tapi ikut makan dengan sahabatnya saat beliau tahu roti tersebut adalah hadiah.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan yang berlipat ganda kepada mereka yang telah memberangkatkan umroh sang guru ngaji sederhana tetangga teman saya itu. Dan untuk kita, semoga selalu ada hikmah pelajaran pada setiap kejadian jika saja kita mau menelitinya lebih jauh. 

Semoga kejadian ini menyadarkan kita bahwa ungkapan "tidak ada makan siang gratis" yang semakin sering didengar itu sebenarnya bukan berasal dari negeri ini, karena kalau di negeri ini, "jangankan makan siang, umroh gratis saja ada kok".

Wassalam.


Numpang Ngopi di Acara Kirab Agung Pusaka Tarumanagara

Numpang Ngopi di Acara Kirab Agung Pusaka Tarumanagara
Seumur hidup, baru kali ini saya menghadiri acara budaya yang lebih dikenal dengan istilah "Malam 1 Suro". Kepada ketua panitia yang mengundang saya sudah menyampaikan sebelumnya kemungkinan saya tidak bisa hadir karena dilaksanakan pada hari kerja, yaitu Senin 10 September 2018. Soal lokasi acara di kawasan wisata Rumah Joglo Puri Wedari Mutiara Gading City, Desa Babelan Kota, Kec Babelan Kab Bekasi ini tidak masalah karena tidak terlalu jauh dari rumah saya. 

Setelah melihat kembali undangannya, ternyata acara Kirab Agung Pusaka Tarumanagara diselenggarakan pada malam hari, dan hari Senin saya ambil cuti karena selain harpitnas, rasa-rasanya sakit pinggang saya belum sembuh benar. Sepertinya saya memang harus hadir, karena acara ini secara waktu dan tempat memungkinkan untuk didatangi, akhirnya bersama teman-teman dari Cinong Bekasi saya berangkat ke lokasi, selain menjaga silaturahim, kiranya mudah-mudahan akan ada hikmah yang dapat saya ambil dari acara ini.

Tadi malam saat berlangsungnya Kirab Agung Pusaka Tarumanagara di kawasan wisata Rumah Joglo Puri Wedari Mutiara Gading City salah seorang pembicara menyampaikan, malam 1 Suro itu bertepatan dengan 1 Muharram, diperingati sebagai peringatan hijrahnya Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa sejarah hijrah meninggalkan Mekah menuju Madinah ini banyak memiliki arti yang sudah digali oleh pendahulu kita, salah satunya hijrah menuju keselamatan. Doa-doa keselamatan dan syukur kemudian dibacakan dalam bahasa Arab, Indonesia dan Sunda. Semoga ke depan semua akan menjadi lebih baik dengan memasuki tahun 1440 H, 1952 Saka/Jawa, Pabaru Sunda 1955 Caka.

Sebelum ditutup dengan pemotongan tumpeng, acara diisi dengan pencucian benda-benda pusaka dengan air "Tirta Kencana" yang menurut panitia bersumber dari 7 sumber mata air se-nusantara. Saya baru paham, dalam pandangan budaya, keris ataupun benda pusaka itu adalah perlambang diri pribadi pemiliknya, karenanya pencucian keris dengan segala prosesi puasa, 7 sumber mata air hingga pencuciannya adalah perlambang membersihkan jiwa raga agar kembali bersih dan menjadi lebih baik dari waktu sebelumnya


Semangat yang diwariskan oleh para orang tua dalam memperingati peristiwa hijrah ataupun tahun baru ternyata lebih filosofis dari sekadar memasang petasan yang buang-buang uang. Sayangnya prosesi pencucian benda pusaka saat malam 1 Suro lebih diperkenalkan pada generasi sekarang sebagai hal yang mistis ataupun klenik. Saya kira ini menjadi "PR" buat para penggiat budaya untuk memperkenalkan dan mengemas acara seperti ini agar lebih menarik buat kalangan umum, setidaknya agar generasi sekarang dapat mengenal makna filofofis dan melestarikannya dalam kehidupan sesuai pemahamannya. 

Soal mistis dan klenik itu menurut saya tergantung pribadi masing-masing pelakunya, saya tidak paham soal itu dan tidak mau berkomentar mengenai itu... tapi secara umum, setidaknya saya jadi tahu kalau prosesi pencucian benda pusaka juga memiliki semangat yang baik dan makna yang lebih masuk akal (buat saya). 

Nuansa acara ini menurut saya pribadi lebih kental dengan unsur-unsur budaya Sunda, bukan hal yang aneh buat saya dan mungkin juga warga Bekasi pada umumnya. Bekasi secara keseluruhan selain masih termasuk wilayah Provinsi Jawa Barat, Bekasi secara kultural juga memang dipengaruhi dua budaya dominan yaitu Betawi dan Sunda. Sesuatu yang dengan indah menyatu di Bekasi dan tidak perlu dijadikan bahan perdebatan.
Sambut 1 Suro, Komunitas Budaya Bekasi Gelar Kirab Agung Pusaka Tarumanagara
Foto Bang Iwan Bonick
Semoga acara ini dan juga acara kebudayaan lainnya dapat terus dilaksanakan oleh semua pihak agar terus memperkaya wawasan kebudayaan dan dapat menarik bagi para generasi muda Bekasi khususnya. Soal Tarumanagara saya kira memang sudah seharusnya digali terus dan disosialisasikan 

Terima kasih kepada Padepokan Pusaka Parahyangan, ISPI Group, MGC, Karang Taruna Babelan Kota, dan seluruh pihak panitia penyelenggara yang saya tidak tahu sehingga tidak saya sebutkan.

Duduk bersila menikmati hidangan kopi, ubi dan kacang rebus serta suasana lokasi yang jauh dari keramaian membuat saya dapat lebih akrab dengan para hadirin lainnya. Sayang tidak bisa memotret lebih banyak karena terhalang tembok dan saya juga tidak mau menginjak rumput untuk sekadar mencari posisi yang bagus di belakang para fotografer dan wartawan yang sedang bekerja.

Soal letak Rumah Joglo Puri Wedari secara administrasi masuk ke dalam wilayah Desa Babelan Kota atau Desa Kedung Jaya Kecamatan Babelan atau Desa Setia Asih Kecamatan Tarumajaya saya  belum tahu pastinya karena memang letaknya yang berada di perbatasan Kecamatan Babelan dan Kecamatan Tarumajaya. Pada acara Kirab Agung Pusaka Tarumanagara ini hadir Sekretaris Desa Babelan Kota, Anggota Karang Taruna dan Destana Babelan Kota sehingga membuat saya berasumsi bahwa lokasi Rumah Joglo Puri Wedari ini masuk ke dalam wilayah administrasi Desa Babelan Kota. Kalau salah yah nanti saya perbaiki :)

Lebih dan kurangnya atas opini saya di atas mohon dimaafkan. Salam.


Sedikit Catatan Tentang PUASA

Sedikit Catatan Tentang PUASA
Menurut beberapa sumber, kata puasa dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Pali dan Sansekerta yaitu Upawasa (Upavasa) atau Uposatha (Upavasatha). Upawasa atau  terdiri dari 2 kata, yaitu Upa dan Wasa (Vasa). Upa artinya dekat atau mendekat dan Wasa (Vasa) artinya Tuhan atau Yang Maha Kuasa. Jadi puasa atau Upawasa dalam pengertian bahasa bermakna mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Saudara-saudara kita yang memeluk agama Hindu masih menyebut puasa dengan upawasa hingga saat ini. Ok, sedikit saya bahas tentang upawasa dalam agama Hindu berdasarkan beberapa referensi. Kalau ada yang salah mohon dikoreksi :)

Dalam pemahaman pemeluk Hindu, upawasa bukan sekadar menahan rasa haus dan lapar, tidak hanya untuk merasakan miskin dan kelaparan, menurut yang saya baca juga bukan untuk mencari pahala dan janji surga. Tujuan utama upawasa adalah untuk mengendalikan nafsu indrawi, mengendalikan keinginan dan kebutuhan fisik. Panca indra harus berada di bawah kesempurnaan pikiran, dan pikiran berada di bawah kesadaran budi. Jika Panca indra terkendali dan pikiran terkendali maka hal itu dipercaya akan dekat dengan kesucian, mendekat dengan Tuhan.

Jika dalam Islam mengenal puasa sunah seperti puasa Senin Kamis dll, demikian pula dalam kepercayaan Hindu, upawasa juga ada yang tidak bersifat wajib. Menurut yang saya baca, upawasa yang tidak wajib ini diserahkan kepada masing-masing individu apakah akan ia lakukan pada siang hari saja ataukah sehari penuh.

Sedikit Catatan Tentang PUASA
Sedikit obrolan saya dengan teman mengenai puasa

Jika saat bulan Ramadan ini ada saudara-saudara kita umat Hindu ada juga yang berpuasa, kemungkinan besar mereka sedang melakukan upawasa bebas tidak wajib seperti yang disebut di atas. Mereka akan memulai upawasa sejak fajar sama seperti kita kaum muslimin, namun bisa jadi upawasa mereka hingga fajar keesokan harinya, karena menurut kepercayaan Hindu pergantian hari adalah fajar, namun bisa juga mereka melakukan ibadah upawasa setengah hari saja dan berbuka pada saat senja.

Jika ada teman yang menganut agama Hindu tanyalah mereka soal upawasa, mereka seringkali melakukannya. Begitu juga dengan teman Kristiani, mereka juga kerap melakukan puasa, mulai dari puasa 8 jam, 1 hari, 1 hari 1 malam, 3 hari puasa total dan seterusnya, ada yang tidak berpantang dengan air putih, ada pula yang tidak makan dan minum. Tujuan puasa bagi kristiani mungkin dapat dijelaskan dalam potongan ayat "... kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa." Imamat 16:29.

Agama Buddha juga mengenal puasa, mereka menyebutnya Uposatha (Upavasatha). Rangkaian pelaksanaan ibadah uposatha dimulai pada pagi hari dengan berniat akan melatih diri dengan menjalankan praktik atthasila (delapan sila) baik dalam bimbingan seorang bhiksu atau tidak. Sebelum memasuki tengah hari (jam 12 siang) masih diperbolehkan untuk makan dan minum, kemudian mulai tidak makan dan minum sejak dari jam 12 siang sampai fajar di esok harinya.

Puasa Ramadan dalam pandangan Islam sebagaimana dipahami adalah sebuah kewajiban kecuali bagi yang sakit, sedang berpergian jauh dan suci dari nifas dan haid (bagi perempuan). Di balik kewajiban ini tentu banyak hal yang patut kita pelajari, baik dari Al Quran dan hadis-hadis untuk dapat lebih memahami apa tujuan puasa. Sedikit tentang tujuan puasa sependek yang saya pahami pernah saya catat di postingan di bawah ini berjudul: Lapar mengajarmu rendah hati selalu.

Baca juga: Lapar mengajarmu rendah hati selalu 

Dari catatan ini kita sama-sama pahami bahwa puasa bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Lebih jauh lagi merunut asal muasal agama-agama yang dianutnya maka baik agama-agama dari timur dan barat mengenal puasa sebagai salah satu syariat atau ajarannya. Meski berbeda dalam pelaksanaannya, jika diselidiki lebih jauh tujuannya tidak jauh berbeda, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. []

“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung”. [HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu].

7 Ramadan 1439 H
23 Mei 2018


Keutamaan Sahur, Walaupun Hanya Dengan Seteguk Air Putih

Keutamaan Sahur, Walaupun Hanya Dengan Seteguk Air Putih

“Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun hanya minum seteguk air...” (HR. Ahmad dan dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 3683).

Hadis di atas sudah cukup menjelaskan betapa Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan sahur. Ya, walaupun hanya dengan seteguk air, terpenuhi sudah syarat minimal bagi kita untuk melaksanakan sunah sahur sebelum puasa. 

Kita tak pernah tahu berapa banyak orang yang memang hanya sahur dengan seteguk air. Entah karena kefakiran hingga hanya seteguk air yang ia miliki, atau hanya segelas air yang ia butuhkan untuk memenuhi anjuran sunah dari Nabi yang ia cintai, ia tidak punya kebutuhan dan alasan lain dari sahur kecuali memenuhi anjuran dari Nabi Muhammad SAW.

Teman saya pernah bilang, bangun sahur itu juga berarti sebagai penguat niat berpuasa Ramadan. Bagi yang belum sempat niat berpuasa sebelumnya maka saat sahur itulah kesempatan dia untuk menyatakan niatnya serta memantapkannya. Karena menurutnya tidak sah puasa Ramadan jika tidak diniatkan pada malam hari sebelum puasa.

Dari 4 imam mazhab, hanya Mazhab Hanafiyah yang menyatakan tetap sah puasa Ramadan seseorang jika niatnya diucapkan walau setelah matahari terbit, tapi maksimal sebelum zuhur (tergelincirnya matahari) selama ia belum melakukan  hal-hal  yang  membatalkan puasa. 

Selain itu, Mazhab Syafi'i, sebagai mazhab utama yang dijadikan rujukan bagi kebanyakan warga Indonesia juga menetapkan bahwa niat puasa sebulan penuh hanya berlaku untuk puasa hari pertama, seseorang harus meniatkan kembali setiap malamnya sebagai salah satu syarat sahnya puasa.

Nah, jika malam hari setelah berbuka atau tarawih belum meniatkan puasa, untuk amannya bisa dilakukan saat sahur. Mengingat kedudukan penting dari sebuah niat dalam ibadah, maka mungkin ini pula yang membuat kegiatan sahur menjadi begitu dianjurkan.

Kalau dari sudut pandang ilmu kesehatan, soal sahur dengan seteguk air putih ada khasiatnya atau tidak saya belum tau. Mungkin teman-teman yang paham ilmu gizi dan kedokteran nanti yang akan jelaskan :)  Intinya sih secara awam, makan sahur pastinya berguna untuk memberikan energi yang cukup bagi tubuh saat menunaikan ibadah puasa Ramadan pada siang harinya. 

Air jelas merupakan salah satu elemen yang sangat penting bagi tubuh manusia. Air berperan besar dalam menjaga semua fungsi di dalam tubuh agar tetap berjalan dengan semestinya. Karenanya untuk mencegah dehidrasi tubuh saat puasa saya kira sahur minimal seteguk air putih adalah anjuran atau sunah yang sangat baik untuk dilaksanakan.

Wallahu a’lam bish-shawabi
3 Ramadan 1439 H
Sabtu 19 Mei 2018






Bahas Santai Soal Istilah Ifthor dan Takjil

Bahas Santai Soal Istilah Ifthor dan Takjil

Istilah ifthor atau ifthar dan takjil atau ta'jil sudah terasa umum di telinga, padahal seingat saya sekitar akhir 90an zaman saya SMA istilah ini belum pernah saya dengar. Dari pemahaman umum yang saya tangkap makna ifthor dan takjil ini ada yang menganggapnya sama, ada yang menjelaskan bahwa keduanya berbeda makna tapi berhubungan.
Nah bagaimana sih sebenarnya makna istilah ifthor dan takjil ini? Saya hanya membatasi pembahasan ini hanya soal makna dan artinya dari segi bahasa saja yah bukan soal lainnya.

Ifthor / Ifthar


Mari sejenak perhatikan salah satu varian doa berbuka puasa yang cukup populer ini: "Allahumma laka shumtu,... wa ‘ala rizqika AFTHORTU" ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa ...dan dengan rezeki-Mu aku BERBUKA.

Kata afthortu dalam doa di atas diterjemahkan sebagai "aku berbuka puasa", kata Afthor(tu) dan ifthor memiliki makna yang sama yaitu berbuka puasa dengan makan atau minum yang merupakan rezeki dari-Nya. Jadi ifthor itu kegiatan membatalkan puasa, dalam hal ini berbuka puasa. Jika ditelusuri lebih jauh kata afthor(tu) dan ifthor berasal dari kata yang sama dengan fitri dalam kata IdulFitri. (Saya sudah pernah bahas soal sila baca di Perbedaan Fitri dan Fitrah ).

Jadi arti kata atau istilah ifthor atau iftar atau ifthar itu adalah lebih dimaksudkan pada kegiatan berbuka seperti dalam doa berbuka puasa di atas, bukan istilah pengganti pada jenis makanan seperti pemahaman saya sebelum mencoba memahami lebih jauh istilah ini.

Untuk lebih mudahnya ada istilah yang juga sudah populer di kalangan teman-teman pengajian yang disebut "Ifthor jama'i".  Ifthor jama'i sama artinya dengan "berbuka puasa bersama" atau yang sering disingkat "bukber". Penggunaan kata ifthor di sini sudah tepat karena berarti "kegiatan berbuka puasa" di tambah kata "jamai" yang berarti "berjamaah atau bersama-sama" sehingga dapat memperjelas pemahaman kita akan makna kata ifthor dengan lebih mudah.

Buka Puasa Ramadan Bahas Santai Soal Istilah Ifthor dan Takjil
Buka Bersama KABASA Ramadhan 1435/2014


Takjil / Ta'jil

Kata takjil atau ta'jil ini agak lebih sulit bagi saya untuk menjelaskannya dengan mudah. Alhamdulillah kata Takjil atau Ta'jil sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata Takjil dalam KBBI dijelaskan sebagai sebuah kata kerja yang berarti mempercepat (dalam berbuka puasa) silakan cek di https://kbbi.web.id/takjil

Penjelasan KBBI ini juga sesuai dengan hadis masyhur tentang menyegerakan berbuka puasa yang di riwayatkan oleh beberapa ulama hadis seperti Bukhari, Muslim, Ad Darimi Hadis No 1637, Hadits Malik No.562 dst dengan redaksi yang kurang lebih sama: “Laa yazaalu an-naasu bikhairin maa ‘ajjaluu al-fithra”, yang artinya “Terus-menerus manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” Kata di akhir hadis itu berbunyi ‘ajjaluu al-fithra yang diartikan menyegerakan atau memprioritaskan berbuka puasa.

Kata ‘ajjaluu dalam hadis itu bermakna sama dengan takjil yang berarti menyegerakan, kata al-fithra sudah kita bahas sebelumnya bahwa maknanya sama dengan ifthor, ifthar yaitu berbuka puasa, semakna dengan maksud kata fitri/fithri dalam kata aidulfithri yang ditulis dalam Bahasa Indonesia menjadi IdulFitri.

Jadi sudah jelas yah? Makna dari kata Takjil adalah menyegerakan atau memprioritaskan sedangkan arti kata ifthor adalah berbuka puasa. Dua kata ini akan sering ditemui bergandengan dalam banyak hadis karena merupakan keutamaan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Arti Istilah Ifthor dan Takjil sesungguhnya

Apapun istilahnya selama kita paham maksudnya saya kira tridak ada masalah dalam komunikasi :)
Selamat berbuka puasa dan berbagi kebahagian dengan berbagi makanan untuk berbuka puasa.

Wallahu a’lam bish-shawabi
2 Ramadan 1439 H
18 Mei 2018

Soal Ziarah Atau Nyekar Sebelum Ramadan

Soal Nyekar alias Ziarah Sebelum Ramadan
Makam Kakek Nenek di Bila Ugi Sabbang Paru Wajo Sulsel
Kenapa para orang tua dahulu menganjurkan kita sebelum berpuasa untuk ziarah atau nyekar ke makam keluarga?

Sependek yang saya pahami, kegiatan ziarah sebelum memasuki bulan Ramadan itu bukan untuk mengistimewakan waktu berziarah, tapi adalah bagian tidak terpisahkan dari rangkaian persiapan menyambut ramadannya. Nabi Muhammad SAW tidak mengatur secara khusus kapan waktu ziarah. Karenanya kita bebas mengatur sesuai kebutuhan, misalnya hari sabtu berziarah maka hari minggunya dapat digunakan untuk bersilaturahim kepada kerabat yang masih hidup. Demikian menurut saya hikmah mengapa tidak ada pengaturan kapan waktu yang dianjurkan untuk berziarah.

Tujuan dari ziarah utamanya adalah untuk mengingatkan kita bahwa dunia ini hanya sementara, segalanya akan ditinggalkan pada waktunya. Tegasnya "untuk mengingatkan pada akhirat" seperti dijelaskan dalam sebuah hadis tentang tujuan dari ziarah kubur. 

Ziarah itu selain bisa kapan saja dilakukan juga dapat dilakukan ke makam siapa saja,  namun jika dilakukan kepada makam keluarga atau orang-orang yang kita kenal saat hidupnya diharap akan dapat mengingatkan kita bagaimana saat almarhum hidup dan bagaimana saat ini, setelah akhirnya dikuburkan. Dengan begitu pelajaran yang kita dapatkan akan lebih mengenai sasaran. 

Sebagian orang tua juga menjelaskan tujuan berziarah juga untuk memohon maaf atas kesalahan-kesalahan kita dan mendoakan ahli kubur. Idealnya, sebelum memasuki bulan puasa kita disarankan untuk saling berma'afan, baik kepada keluarga yg masih hidup ataupun yang sudah tiada. Jika kepada yang masih hidup kita dapat saling meminta ma'af atau berma'af-ma'afan, namun jika kerabat tersebut sudah meninggal, menurut saya kita hanya bisa mengakui kesalahan-kesalahan kita dan mengikhlaskan segala apa yang telah terjadi antara kita dengan almarhum.

Berziarah seperti itu sebelum puasa, selain bertujuan membersihkan kuburan, mencabuti rumput liar dll,  idealnya diharapkan juga dapat membersihkan dan meluruskan niat kita sebelum benar-benar memasuki bulan Ramadan. Amiin.
Soal Nyekar alias Ziarah Sebelum Ramadan
Makam Kakek Nenek di Bila Ugi Sabbang Paru Wajo Sulsel
Soal istilah nyekar sendiri katanya berasal dari kata Bahasa Jawa "Sekar" yang berarti bunga. Tradisi nyekar ini dari kebiasaan menabur bunga (jenis bunga yang biasa digunakan kanthil, kenanga, dan mawar atau melati) ke kuburan kerabat yang didatangi. Tradisi ini terkait dengan tradisi dan budaya masyarakat yang tujuannya adalah semacam penghormatan dengan memberikan bunga dan agar ada aroma wewangian  untuk mengisi suasana. Soal tradisi ini saya kurang paham, selama tradisi ini tidak dimaknai macam-macam dan bermanfaat saya kira boleh-boleh saja dilakukan.

Mengenai adab saat berziarah sudah banyak yang mengulasnya, saya hanya sedikit mengulangnya agar saya sendiri ingat kembali. Antara lain:

Niat yang benar: Semua hadits tentang ziarah kubur menjelaskan hikmah dari ziarah kubur, yakni untuk mengambil pelajaran seperti di dalam hadits Ibnu Mas’ud : “Karena di dalam ziarah terdapat pelajaran dan peringatan terhadap akhirat dan membuat zuhud terhadap dunia”.

Untuk itu, berziarah kubur idealnya membuat kita dapat mengambil pelajaran bahwa terbatasnya usia atau umur manusia dan saat dikuburkan tidak ada harta ataupun apa yang dimiliki di dunia ini yang dibawa ke dalam kubur. Semuanya akan kembali sebagaimana terlahir tidak membawa apa-pun. Jasad terurai dan ruh akan dimintai pertanggungjawaban. Segala amalan ibadah sudah terputus kecuali 3 hal yang masih dapat terus mengalirkan pahala.

Mengucapkan salam dan doa sebagaimana diajarkan: “Salam keselamatan pada kalian para ahli kubur kaum mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang mendahului kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian, kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian”. [HR. Muslim 2301].

Tidak menginjak atau duduk-duduk di atas kuburan: “Sungguh, sekiranya salah seorang diantara kalian duduk di atas bara api hingga membakar pakaiannya lalu sampai ke kulitnya, adalah lebih baik baginya daripada ia duduk di atas kuburan.” [HR. Abu Dawud nomor 2809 dan dishahihkan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani dalam shahih Abu Dawud].

Wallahu a’lam bish-shawabi
1 Ramadhan 1439 H (2018)