Tempat Alat Tulis


Rabu lagi. #RabuDIY lagi. Sebelumnya, ingin bertanya tentang puasanya kawan-kawan yang menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan ini. Semoga puasanya lancar ya, ingat, tanggal 30 Mei itu ASN sudah liburan. Artinya, yang swasta seperti saya bisa mengikuti hahaha. Artinya lagi, puasanya harus lebih semangat karena sudah menjelang akhir. Tapi sayang, liburannya nanggung. Loh, kok nanggung? Betul-betul tidak tahu bersyukur! Bukan, kawan. Begini ... liburan dimulai tanggal 30 Mei kan, mau traveling ke mana, toh Lebarannya tanggal 5 Juni (Insha Allah), ditambah beberapa hari lagi libur, terus kembali bekerja. Nanggung kan? Yang nanggung ini sebaiknya disiasati dengan ber-DIY-ria saja. Haha.

Baca Juga: Sofa Drum

Baiklah, hari ini saya mau mengajak kalian semua membikin tempat alat tulis. Sederhana. Dan mudah dibikin. Awalnya membikin tempat alat tulis ini ya tidak sengaja. Karena apa? Karena saya orang yang sebentar bisa fokus, sebentar pikiran terbagi. Bayangkan saja, lagi asyik-asyiknya menganyam keranjang berbahan koran bekas, mendadak berhenti dan membikin tempat alat tulis. Kan asyem itu.

Pos kali ini juga tidak panjang-panjang. Saya tahu kalian bosan :p secara pun foto-fotonya tidak lengkap. Hanya satu foto saja yang bisa kalian lihat di awal pos.

Bahan dan Alat:


1. Botol plastik bekas.
2. Kain (apa saja untuk membungkusnya).
3. Jarum dan benang (warna senada kain).
4. Zipper / kancing tarik.
5. Gunting.
6. Pisau cutter.
7. Lem tembak / hot glue.

Cara Membikin:


Pertama:
Botol plastik dipotong 3/4 bagian kepala (dekat tutupnya) bisa dilihat gambar yang sudah jadi di awal pos. 

Kedua:
Pasangi zipper mengelilingi. Jadi, zipper-nya duluan baru kainnya. Kalau zipper kepanjangan, bisa dipotong/gunting saja sesuai lingkar botolnya.

Ketiga:
Lilit kainnya mengelilingi botol (lihat gambar di awal pos). Untuk merapikan kain pada tutupan tempat alat tulis, gunakan kembali tutupan botolnya. Untuk merapikan kain pada badan alat tulis (bagian pantat botol) pakai lem tembak atau hot glue saja.

TRADA!

Jadi deh. Semudah itu ... memang.

Pertanyaannya adalah apakah bisa dipakai? Ya bisa, donk. Saya memakainya beberapa kali sampai kemudian diminta teman. Dikasih? Ya kan saya baik hati ... dikasih saja hehe. Bikinnya mudah begini. Kalau kalian mau mencobanya, silahkan. Bisa juga dililit/bungkus kain, bisa juga ditempeli stiker atau kancing! Iya, kancing baju itu banyak manfaatnya kalau dalam dunia DIY bahkan bisa bikin gantungan kunci. Soal gantungan kunci kancing ini nanti saya pos lah. Tapi ada juga yang membikin hiasan dinding berbentuk pohon dan gajah menggunakan kancing. Tidak percaya? Coba cari di internet hehe.

Baca Juga: Stoples Kertas

Bagaimana ... mau mencobanya? Bagi tahu yuk di komen!



Cheers.

Sofa Drum


Hola! Sudah #RabuDIY lagi nih. Harinya kita berkreasi sebebas-bebasnya. Hari ini tidak banyak yang bisa saya tulis karena memang yang bakal ditampilkan bukan hasil kreasi tangan saya sendiri. Tapi saya yakin setelah melihat foto-fotonya kalian yang juga tergila-gila sama dunia DIY, craft, dan lifehack, percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin *dilirik malas sama dinosaurus*. Soalnya barang DIY yang satu ini memang sulit untuk dibikin sendiri. Setidaknya kalaupun mau bikin sendiri tetap membutuhkan tenaga ahli dari bengkel. Kecualiiiii kita punya perkakasnya dan sudah terbiasa menggunakan perkakas itu. Misalnya pemotong besi.

Baca Juga: Stoples Kertas

Ini dia DIY yang dulu bikin saya gila sampai-sampai semua orang kalau ngelihat drum pasti difoto dan dikirim ke saya hahaha.

Alkisah suatu hari saya harus pergi ke Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) - FKIP - Universitas Flores (Uniflor). Kenapa saya pergi ke sana? Karena akan ada visitasi dari tim asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Kamera ready. Mari berangkat! Sekitar satu menit mengendarai sepeda motor dari parkiran Gedung Rektorat ke parkiran FKIP, hehe. Begitu tiba di ruang tamu PGSD saya terbeliak. 

Really!???

Tidak mungkiiiinnn!!!!

Jadi saya bukan orang pertama yang bakal membikinnya!????

TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!

Ini dia penampakannya:




Sofa berbahan drum itu nongkrong dengan manisnya di ruang tamu PGSD. Manapula pilihan warnanya bikin saya pengen mengangkut sofa ini pulang ke rumah: kuning (dan hitam). Amboi, begitu melihatnya, setelah syok, langsung minta teman-teman buat fotoin, haha. Untunglah mereka juga tahu kalau selama ini saya memang tergila-gila sama dunia DIY dan sering menulis status Facebook berikut foto tentang sofa drum ini.

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Bagaimana, kawan? Kalian suka juga kan sofa drum? Atauuuu jangan-jangan di rumah kalian sudah ada pula sofa drum ini? Bagi tahu donk di komen *kedip*.



Cheers.

Stoples Kertas


Halo semuanya! Masih semangat? Insha Allah masih dan akan terus semangat di hari ketiga puasa. Insha Allah puasanya lancar jaya, pun taraweh, tadaruz, infaq, sedekah, hingga zakat. Kalaupun ada godaan selama menjalani puasa, bisa ditepis shaaatt sheeettt shooottt, dengan cara istighfar. Itu kata Mamatua, hahaha. Kalau saya sih kadang pelototin si godaan sambil bilang, "Kau jahat!" Sebagai manusia fana yang fanga, apa lagi sih yang bisa saya lakukan selain mendoakan diri saya sendiri dan kalian semua yang menjalankan puasa, agar puasanya lancar, ikhlas, dan pahala ... eh ... kalau pahala biarkan itu urusan Allah SWT. 

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Kembali lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi. Saya pikir, mengisi waktu puasa dengan berkreasi itu bagus juga, biar pikiran tidak melulu ke Adzan Maghrib yang masih jauh itu. Ayo kawan, segera cek gudang atau bagian atas lemari atau kolong tempat tidur, siapa tahu masih ada simpanan majalah dan koran lama yang sudah tidak terpakai. Karena hari ini saya bakal mengajak kalian membikin sendiri stoples kertas. Memang bisa gitu kertas menjadi bahan membikin stoples? Bisa. Percaya deh.

Stoples kertas ini termasuk barang DIY yang paling mudah dibikin karena tidak membutuhkan keterampilan menganyam. Terus, apa yang dibutuhkan? Keterampilan dasar yaitu memelintir kertas menjadi pipa kertas. Yaaa meskipun membikin pipa kertas ini juga tidak mudah. Tapi kalau sudah sekali dua jadi dibikin, seterusnya bakal lebih mudah. 

Oke, mari kita mulai.

Bahan dan Alat


Bahan:
1. Kertas majalah/koran.
2. Lem (PVA) atau hot glue.
3. Cat untuk menguatkan dan mempermanis.


Alat:
1. Gunting dan/atau,
2. Pisau cutter.
3. Lidi/besi seukuran lidi.

Cara Membikin


Pertama:
Karena saya menggunakan kertas HVS yang sudah tidak berfaedah lagi, jadi kertasnya saya bagi dua seperti berikut ini. Sama juga dengan kertas bekas majalah karena ukuran kertas majalah sama lah dengan kertas HVS. Tapi kalau koran, setiap lembarnya bisa dibagi tiga atau dibagi empat. Beda hasilnya hanya pada ukuran pipa kertas. Kalau pakai koran ukurannya jauh lebih panjang.


Kedua:
Kertas yang telah dibagi dua tadi kemudian dipelintir menggunakan bantuan lidi untuk membentuk pipa kertas.




Ketiga:
Pipa kertas yang sudah jadi tadi kemudian dipipihkan pakai jari. Kalau dipipihkan dengan cara ditindih dinosaurus juga boleh. Hahaha.

Baca Juga: Tempat Surat


Keempat:
Kalau sudah dipipihkan, mulai saatnya menggulung si pipa kertas penyet tadi membentuk lingkaran seperti gambar berikut ini ...


Berapa banyak pipa kertas yang mau dipakai untuk gulungan ini? Tergantung berapa besar stoples kertas yang kalian inginkan. Tinggal memberi lem pada ujung dan ujung pipa kertas, lanjutkan menggulung hehe. Gulungan ini merupakan stoples yang belum jadi. Karena, untuk membentuk stoplesnya tinggal ditekan/tekuk seperti gambar berikut ini:



Itu cuma contoh hehehe. Aslinya saya membikin stoples kertas yang besar, baik wadah maupun tutupannya. Gambarnya bisa kalian lihat di awal pos, atau yang berikut ini:


Jadi, setelah gulungan kertas itu berdiameter kira-kita limabelas sentimeter, baru saya tekuk. Setelah ditekuk, jangan langsung dicat, tapi dibalur lem PVA terlebih dahulu baik luar maupun dalam. Setelah itu barulah di-cat. Proses yang sama juga berlaku untuk bagian tutupannya. Hanya saja, untuk membedakan, bagian tutupan dikasih tangkai berupa gulungan pipa kertas berukuran mini. Bisa dilihat pada gambar di atas.

Stoples kertas berwarna biru pada awal pos itu pesanan Enchyz, sedangkan yang warna kuning pesanan Sony. Stoples ini bisa diisi permen atau kukis yang berwadah, saya kuatir kalau langsung diisi kukis karena cat yang saya pakai waktu itu cat minyak buat kayu hahaha. Unik kan ya, stoples kertas menghiasi meja ruang tamu kita. Bisa dibikin sendiri dan ukurannya pun bisa di-custom. Perilah stoples kertas ini, saya juga bikin yang versi mini buat mengisi koin:


Stoples kertas koin ini kemudian diminta teman, dan saya kasih karena saya baik hati hahaha, dan masih dipakai sampai sekarang. Alhamdulillah. Kayaknya saya bakal bikin lagi stoples kertas ini selain menjalankan stone project. Insha Allah. Mengisi waktu puasa kan. Karena di kampus pun sudah keluar surat edaran bagi yang Muslim jam kerja selama Bulan Ramadhan dimulai pukul 08.00 s.d. 12.00 Wita saja. Waktu luangnya banyak!

Bagaimana, kawan, terinspirasi kan? Bikin yuk! Karena ... dari semua hasil proyek DIY yang saya pos di blog ini, stoples kertas yang paling mudah dibikin. 

Baca Juga: Coin Storage

Selamat berkreasi!

Salam DIY!



Cheers.

Ruang Tamu DIY


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY, saatnya kita berkreasi, saatnya kita ber ... ber ... kre ... a ... si. Hehe. Oh ya, sebelumnya saya harus mengucapkan Selamat Hari Buruh untuk kalian semua. Liburan sehari main ke mana? Main ke blog saya saja. Silahkan cari tema yang kalian sukai di sini. Mulai dari cerita ringan dan opini, teknologi, DIY, rangkuman lima, PDL, sampai review. Bahkan pernah ada tema kesehatan. Komplit kan? Sedangkan kisah perjalanan saya bisa dibaca di blog travel yang satu ini. Urusan tema harian pos blog ini, saya lupa tautan blog-nya apa, yang jelas saya pernah membaca bahwa blogger tersebut ingin blog-nya seperti perpustakaan. Sedangkan saya sendiri menginginkan blog ini seperti sebuah majalah. Mimpi saya memang ketinggian. Biarin *jitak dinosaurus*.

Baca Juga: Coin Storage

Rabu lalu saya sudah menulis tentang Tempat Surat berbahan majalah lama yang tidak terpakai. Alhamdulillah ternyata pos tersebut bermanfaat bagi yang membacanya. Seperti komentar dari Kakak Vika Hamidah si Ratu Tips dan Himawan Sant si Travel Blogger.


Hari ini saya ingin berbagi pengalaman dari kebiasaan mengubah gaya ruang tamu. Padahal, ruang tamu rumah saya itu mau dibikin bagaimana pun juga tetap tidak menarik. Lhaaa orang-orang kalau bertamu lebih suka duduk di ruang makan sekaligus ruang keluarga. Terutama saat Idul Fitri! Percumaaaa mempercantik ruang tamu. Tidak dilirik sama sekali. Cuma bilang: waaaa, yuk kita foto di sini! Terus ngeloyor ke belakang mencari Mamatua. Hiks.

Karena ruang tamu rumah saya itu cukup luas, agak sulit mencari artikel yang berkaitan dengan membenahi ruang tamu berukuran luas. Kebanyakan artikel memuat tips menata ruang tamu sempit minimalis bla bla bla shaaattt sheeettt. Oleh karena itu saya harus memutar otak bagaimana caranya mengubah gaya ruang tamu. Dan ada aturan di rumah saya: siapa pun yang memberikan ide, dia harus melaksanakan idenya tersebut. Makanya si Indra dan Thika paling malas kalau saya kasih tugas mencari ide tata letak ruang tamu. Wajah mereka kayak habis disiram air raksa. Pernah suatu kali Indra mengusulkan membikin bola-bola cokelat. Kalian tahu siapa yang membikinnya? Ya si Indra sendiri ha ha ha. Kapoooook.

Konon katanya: kesulitan membikin manusia menjadi lebih kreatif. Asal jangan sampai kesulitan duit lantas ngerampok. Haha. Kesulitan mencari artikel tentang penataan ruang tamu yang (cukup) luas membikin saya memutar otak dengan mengubah gaya ruang tamu sampai dengan menambahkan meja-kursi baru. Saya pernah membikin meja dan kursi berbahan kotak/keranjang kayu (palet) bekas buah. Belinya di penjual buah. Satu kotak/keranjang kayu diharga Rp 10K. Hasil DIY itu masih terpakai sampai sekarang.


Suatu hari, saat sedang duduk nganga, terlintas ide menata ruang tamu tapi a la DIY. Kebetulan yang manis, pada saat itu salah seorang teman saya ngepos soal meja-bangku baru di kafenya. Nama kafe itu adalah Violet Cafe dan pemiliknya bernama Gito. Tidak pikir lama-lama saya pun bertanya pada Gito di mana dia memesan meja-bangku itu. Kata Gito, meja-bangku itu dia pesan di bengkel kayu seharga Rp 750K. Hmmmm. Putar otak. Saya pun menghubungi Bapa Sam. Karena apa? Karena kakaknya Bapa Sam ini bisa membikin barang-barang dari kayu meskipun aslinya dia dikenal sebagai tukang bangunan andal. Bukan DIY donk? Yaaa memang bukan saya yang bikin sendiri, tapi konsepnya teteup dari saya ha ha ha.


Hanya dengan Rp 500K saya mendapatkan satu set meja-bangku, empat bangku kafe, dan dua gantungan baju. Semuanya berbahan kayu! Yipieeee. Empat bangku kafe itu bonus dari kayu berbentuk bundar bekas bolongan speaker hahaha. Mereka memang sedang merakit speaker sendiri. Sedangkan dua gantungan baju itu ya untuk menggantung baju-baju karena lemari-lemari sudah penuh dengan buku, buku, dan buku. Koplak kan? Yaaaah ... untuk keperluan gantungan baju ini, saya terpaksa membeli tambahan limabelas lusin hanger. Hiks.


Maka saya pun memulai menata ruang tamu. Ruang tamu itu dibagi dua. Bagian paling depan, tidak seberapa luas, dijadikan ruang tamu DIY. Setengahnya lagi, yang lebih luas, ya ruang tamu biasa dengan sofa-sofa yang sudah ada sejak zaman Imhotep belum jadi mumi. 


Ruang tamu DIY ini terdiri dari:

Baca Juga: Travel Booth

1. Rak kuning hadiah dari Flora Wodangange.
2. Satu set meja-bangku.
3. Satu set meja-bangku-kafe.

Perlu diketahui ...

Pertama:
Taplak mejanya adalah kain tenun ikat bakal sarung Mangga. Jadi ini memang jenis sarung Mangga, hanya saja masih dalam bentuk dua lembaran, belum dijahit dijadikan sarung.

Kedua: 
Satu set meja-bangku-kafe. Untuk mejanya berbahan ubin atau keramik lantai berukuran raksasa yang dikasih Mukhlis A. Mukhtar. Awalnya Mukhlis memberikan dua keramik lantai sebagai alas memotong kertas dan karton dalam dunia DIY saya. Saya memakai yang kecil untuk alas memotong kertas dan karton, sedangkan yang besar saya jadikan meja.

Ketiga:
Satu set meja-bangku-kafe. Untuk dasar mejanya saya gunakan bangku-bangku mini yang terbuat dari keranjang kayu bekas buah itu. Ini dia penampakannya:


Maka, jadilah ruang tamu DIY yang membikin teman-teman syuuuuka qiqiqi. Mereka jadi suka foto-foto di ruang tamu. Manapula rak kuning hadiah dari Flora Wodangange itu memuat banyak buku. Psssttt tapi saya hitung loh bukunya! Kalau hilang kan gawat juga ha ha ha. By the way, keranjang kayu bekas buah (seperti yang menyangga ubin keramik di atas) memang tidak banyak yang rapi, palet kayunya banyak miring. Ternyata sepupu saya punya banyak yang bagus palet kayunya. Nanti minta lagi ah. Minta? Iya, dulu kan pernah dia bawakan juga dan sekarang menjadi meja di ruang belakang hahaha.


Saat ini ruang tamu DIY ini tidak di bagian paling depan dari ruang tamu, melainkan bagian paling belakang dari ruang tamu dengan alasan dekat colokan. Karena teman-teman saya suka juga kerja di meja-bangku itu, dan pasti butuh colokan kalau baterai laptop-nya sekarat. Melihatnya, Mukhlis malah pernah menyarankan saya bikin kafe privat begitu. Mumpung ada Wi-Fi kan. Duh ... tidak ah. Biar saja. Yang mau datang bekerja di rumah, menggunakan internet, atau apalah, silahkan saja. Tidak ada yang melarang. Justru kami senang ada banyak orang di rumah.

Tahun ini, ruang tamunya mau diapakan? Sedang saya pikirkan. Oh ya, kalian juga belum tahu kan kalau di rumah saya juga ada sofa berbahan celana jin bekas? Jin saya menulisnya, bukan jeans hahaha. Nanti bakal saya bahas lah sofa itu. Yang jelas tahun ini saya pengen karya DIY kaktus berbahan batuan alam sudah bisa nongkrong di ruang tamu. Ya, itu stone project yang belum disentuh sama sekali hiks.


Bagaimana, kawan? Pernahkah kalian mengubah gaya ruang tamu dan mengisinya dengan barang-barang hasil DIY? Karena, selama ini saya bosan juga melihat ruang tamu dengan set-set sofa gede yang dibeli di toko. Sumpah, selain sofa yang kainnya diganti dengan celana jin bekas itu, saya juga masih pengen bikin tempat duduk berbahan ban bekas (ban mobil), tempat duduk berbahan keranjang minuman yang terbuat dari plastik itu, serta tempat duduk dari drum. Kesalnya adalah, saat saya sudah dikasih ban mobil bekas dari Abang Nanu Pharmantara dan saya lupa membawa pulang ... sudah diambil orang lain. Dududud.

Baca Juga: Bunga Dinding

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua, terutama Kakak-Kakak perempuan yang telah menikah. Siapa tahu jadi inspirasi untuk ruang tamu di rumahnya.



Cheers.

Tempat Surat


Ketika hendak menulis judul First #DIY, saya ingat my first #DIY yang dibikin di atas tahun 2000-an bukanlah ini, jadi batal. Judulnya berganti menjadi Tempat Surat. #RabuDIY kali ini, hari dimana kita berkreasi sepuas-puasnya, saya mau menulis tentang tempat surat yang dibikin sendiri berbahan majalah lama. Kalau di rumah kalian menumpuk majalah dan koran lama, jangan dibuang, siapa tahu selepas membaca pos ini, kalian mau mencobanya, dan bahkan menghasilkan satu barang yang tentunya bermanfaat.

Baca Juga: Monotuteh

Meskipun zaman sekarang interaksi antar umat manusia lebih banyak tercipta di dunia daring, salah satunya surat berganti e-mail, tapi tempat surat masih terpajang di meja-meja kerja. E-mail memang praktis dan cepat, tapi surat jauh lebih tertancap di hati. Eaaaa. Hehe. Selama stempel perusahaan masih ada di meja kerja, selama itu pula surat (konvensional) akan hidup menemani kehidupan umat manusia. SK Kepegawaian saya, seperti kenaikan pangkat dan berkala, disampaikan ke saya dalam bentuk surat, bukan e-mail.

Oke, jadi apa saja bahan, alat, dan bagaimana cara membikinnya?

Bahan dan Alat


1. Majalah lama.
2. Lem tembak (hot glue).
3. Lem PVA.
4. Cutter.
5. Gunting.

Cara Membikin


Pertama:
Bikinlah pipa kertas. Caranya, bagi dua halaman majalah lama, lantas digulung membentuk pipa kertas. Berapa banyak yang harus dibikin? Bikin sebanyak-banyaknya! Apa lagi kalau pas ada waktu luang, bikin banyak, simpan di kaleng dalam posisi berdiri, kapan pun dibutuhkan tinggal ambil.


Kedua:
Pipa kertas tadi digulung membentuk lingkaran. Besarnya lingkaran tergantung mal yang dipakai. Misalnya pinsil, tube, atau tutup botol plastik.


Ketiga:
Membentuk tempat surat. Besarnya tempat surat tergantung pada selera masing-masing. Berapa banyak lingkaran kertas yang mau dipakai? Kalau saya sih bikin yang kecil-kecil saja. Hasilnya seperti yang di bawah ini:


Lumayan buat menyimpan satu dua surat yang belum dibaca atau surat yang masih dibutuhkan, sebelum disimpan di map berkas.

Baca Juga: Enchyz's Desk Organizer

Awal membikin tempat surat seperti ini, lamanya minta ampun! Karena tangan belum terbiasa memelintir kertas majalah menjadi pipa kertas kan. Manapula masih mencari mol untuk memelintir ini: lidi atau alat tulis berbodi kecil. Tapi lama-kelamaan jari saya menjadi terbiasa dan dalam semalam bisa menghasilkan puluhan pipa kertas. Tidak sadar sih, sambil mengobrol sambil membikinnya. Untuk membentuk pipa kertas menjadi lingkaran pun tidak sulit. Cukup pakai lem PVA saja demi merekatkannya. Sedangkan membentuknya menjadi tempat surat, harus pakai lem tembak (hot glue) supaya rekatnya erat dan lebih cepat.

Bagaimana? Mudah bukan? Yuk bikin!



Cheers.

Enchyz’s Desk Organizer


Barang-barang kerajinan tangan (craft) yang dibikin sendiri (do it yourself a.k.a. DIY) memang membutuhkan kesabaran dan waktu. Setelah belajar dan sukses menguasai langkah-langkah membikin desk organizer aneka ukuran, serta menggunakan sampul dari halaman-halaman majalah lama dan katalog, saya mulai menerima pesanan desk organizer custom. Pemberi order menyampaikan keinginan dan kebutuhan mereka, saya berusaha memenuhinya. Mudah? Tidak juga. Tapi kalau dikerjakan dengan hati yang riang gembira, akhirnya justru ketagihan.

Baca Juga: Coin Storage

Enchyz Manteiro adalah salah seorang teman kantor yang kemudian memesan desk organizer dan tempat tisu. Custom. Dia menginginkan desk organizer yang cukup besar sehingga bisa menyimpan amplop dan kertas-format disposisi, serta barang-barang lainnya semacam gunting, stapler, dan alat tulis. Khusus untuk desk organizer dan tempat tisu ini harus satu tema yang sama dan didominasi warna merah dan hitam. Ya, dia penyuka warna merah.

Enchyz's Desk Organizer


Putar otak. Saya mulai mengukur lebar kertas berukuran A4 karena kertas format disposisi itu berukuran setengah dari lembar A4. Biasanya. Dari ukuran dasar lebar A4 yang sekitar 8,5 sentimeter itu (saya genapkan menjadi 10 sentimeter, saya mulai membikin alas bakal desk organizer-nya. Otomatis panjang dan lebarnya harus menyesuaikan dengan kotak-kotak lain yang bakal mengisi desk organizer tersebut. Karena bikinnya sudah lama saya tidak bisa memotret langkah demi langkah, tapi saya pikir, dengan membaca cara membikin di bawah ini, kalian pasti sudah bisa membayangkannya ya.

Bahan:
1. Karton dari kardus.
2. Gulungan dalam bekas tisu-roll.
3. Kertas kado/sampul.
4. Cat warna merah, hitam, putih.
5. Lem PVA dan lem tembak (hot glue).

Alat:
1. Gunting.
2. Cutter.
3. Mistar.
4. Pistol hot glue.

Cara Membikin:
Pertama, bikin alas desk organizer menggunakan karton dari kardus bekas. Ukurannya, sekitar 18 sentimeter (karena sudah lama, dan waktu itu saya lebih sering memakai feeling ketimbang ukuran haha). Alas ini kemudian disampul kertas. Karena saya hendak mengecat alas ini, sehingga saya memakai kertas polos/HVS, bukan kertas koran. 

Kedua, cat alas tersebut dengan cat dasar warna merah, lantas digambar atau dicat tambahan warna hitam dan diberi titik-titik putih, terutama pada bagian pinggirnya.


Lihat pada panah dan lingkaran. Itu yang saya maksudkan dengan gambar seperti itu. Cuma setengah lingkaran warna hitam dan titik-titik putih. Kenapa harus di pinggir? Karena bagian tengahnya kan bakal diisi. Di pinggir supaya pasti terlihat mata hahaha.

Ketiga, bikin kotak-kotak bakal tempat penyimpanan: amplop, kertas format disposisi, alat tulis, dan barang-barang lainnya. Saya juga menggunakan gulungan dalam dari tisu roll atau tisu toilet. Kotak-kotak bakal penyimpanan ini tidak perlu ditutup salah satu sisinya, karena toh otomatis kalau ditempel di alas desk organizer dia bakal tertutup dengan sendirinya (bagian bawah). Jangan lupa ditutup sampul kertas kado/sampul yang sudah dipilih. Jadi temanya seiring sejalan dengan alasnya.

Keempat, rekatkan semua kotak penyimpanan pada alas desk organizer. Trada ... jadi deh.

Dan, adalah suatu kebanggaan setiap kali ke ruangannya Enchyz, saya masih melihat desk organizer ini berdiri gagah di meja kerjanya, berdampingan dengan tempat tisu.



Dua gambar di atas, merupakan penampakan desk organizer di meja kerja Enchyz. Senang sekali melihatnya haha. Isinya macam-macam, seperti yang kalian lihat pada gambar di atas, bantal stempel dan pelubang kertas, sayangnya, tidak bisa disimpan di desk organizer ini. Haha. Tapi tidak mengapa, yang penting bermanfaat.

Selain desk organizer, Enchyz juga memesan tempat tisu bertema sama. Penampakan tempat tisunya adalah sebagai berikut:


Cara membikinnya? Nah, saya belum pernah menulis #RabuDIY tentang membikin tempat tisu andalan ini kan ya. Jadi proses membikinnya bakal saya pos sendiri, dengan sedikit reka ulang haha. Sabarlah menanti.

Baca Juga: Travel Booth

Demikian #RabuDIY kali ini, semoga bermanfaat. Silahkan dicoba!



Cheers.

Coin Storage


Setiap hari saya, kalian, mereka, berurusan dengan uang; baik uang kertas maupun uang koin. Meskipun banyak yang lebih suka memakai kartu kredit dan/atau kartu debet, serta bertransaksi daring, namun tidak bisa dipungkiri umumnya kita selalu membawa uang kertas karena uang kertas itu ringan dan compact tersimpan di dalam dompet. Selain itu, rata-rata di Indonesia kita masih menggunakan transaksi manual alias belum semua masyarakat Indonesia, terutama para pedagang di pasar tradisional menggunakan jenis pembayaran daring. Uang kertas memang beda dengan uang koin. Ya iyalaaaah. Satu keping uang koin bukan masalah. Seratus keping uang koin ... bikin dinosaurus mendadak bisa berkotek.

Baca Juga: Travel Booth

Saya termasuk orang yang suka melihat dan menyimpan uang koin karena terinspirasi dari Paman Gober. Iya, saya punya banyak uang koin tersimpan di laci mini. Uang koin biasa didapat dari uang kembalian belanjaan. Untuk uang koin yang baru diterima, biasanya tercecer begitu saja di meja, lalu saya satukan di satu tempat, untuk kemudian disimpan di laci mini. Uang koin ini ada gunanya loh, terkhusus di akhir bulan buat beli kecap hahahaha.


Suatu hari, setelah menonton video #DIY di Youtube, saya mencoba membikin satu tempat penyimpanan (barang mini) yang gambarnya bisa kalian lihat pada awal pos.

Coin Storage


Tidak disangka barang yang saya bikin itu kemudian menjadi coin storage meskipun masih ditemani sama earphone. Sampai kemudian menjadi coin storage pun tidak sengaja. Ya karena itu tadi, uang kembalian belanja-belenji yang tercecer lantas tanpa sengaja dimasukin ke dalamnya, dan jadilah coin storage bikinan sendiri. Setelah dilihat-lihat, kok bagus ya punya coin storage seperti itu.

Bahan, Alat, dan Cara Membikin


Sayang ya, itu sudah lama saya bikin, dan waktu itu tidak terpikirkan untuk menjadikannya satu pos #RabuDIY, lha karena waktu itu kan saya sibuk ini itu, sehingga mengabaikan blog ini adalah konsekuensinya (bilang saja malas update blog, haha!). Jadi, maafkan jika tidak ada foto bahan dan proses membikinnya. Tapi saya yakin, dengan melihat foto di awal pos dan cara membikinnya, kalian pasti bisa.

Bahan dan Alat:
1. Dua botol plastik bekas air mineral.
2. Zipper.
3. Cutter.
4. Gunting.
5. Hot glue (and gun) / lem tembak.

Cara Membikin:
Pertama: potong kedua botol plastik bekas air mineral (bisa juga botol plastik bekas minuman bersoda, terutama yang bagian bawahnya bergelombang/berbunga) dengan tujuan menggunakan bagian bawah/pantat botolnya. Ukurannya bisa sama tinggi, bisa pula yang satu lebih tinggi dari yang lain (bawahan dan atasan). Waktu itu saya memotongnya sama tinggi. Oh ya, untuk ukuran botolnya sih bebas, tergantung kalian mau yang besar atau yang kecil.

Kedua: sesuaikan terlebih dahulu ukuran zipper, melingkari botol. Kalau kepanjangan yang tinggal dipotong. Kalau kependekan? Beli baru! Hehe.

Baca Juga: Bunga Dinding

Ketiga: rekatkan zipper menggunakan lem tembak. Selain menggunakan lem tembak, kalian juga bisa pakai alternatif lain yaitu menjahitnya. 

Keempat: JADI DEH.

Sangat mudah bukan? Tapi, apabila kalian ingin mempermanis coin storage tersebut, bisa kok dicat, atau ditempeli kain perca, bisa pula ditempeli pita atau mata boneka, mana-mana suka. Kalau saya sih, karena untuk dipakai sendiri ya polos-polos saja alias tembus pandang khas botol plastik air mineral. Kalau Mak Bowgel, Evvafebri, pasti bisa menempelnya dengan karakter Bowgel. Aaah iri benar saya sama kecerdasan dan kreativitasnya menciptakan tokoh imut begitu. Ciri khas!


Membikin barang DIY yang satu ini termasuk yang paling mudah dan paling cepat. Tidak perlu  membikin pipa kertas, tidak perlu menganyam, tidak perlu kesabaran, tidak juga harus ulet! Cukup ikuti langkah-langkah di atas, sudah pasti kalian bisa membikinnya juga. Yakin deh, pasti bisa. Lha saya yang tidak telaten saja bisa, kalian pasti bisa juga doooonk.

Khusus untuk satu (maaf cuma satu) blogger perempuan, siapa yang bisa membikinnya dengan cepat dan mengirimkan foto langkah-langkah membikinnya ke nomor WA saya, bakal saya kasih dompet koin yang satu ini (tapi warna/tenun ikatnya beda ya):


Silahkan bikin, DEADLINE pengiriman foto coin storage bikinan sendiri yang dikirim ke nomor WA saya adalah Kamis 4 April 2019. Kok mepet sekali waktunya? Ya karena kan bikinnya mudah haha *aduh, sandal siapa ini nyasar di kepala saya!?*. Saya menghitung dari siapa yang mengirimkan foto terlebih dahulu hari Kamis itu ya, karena kan cuma SATU dompet koin yang saya siapkan.  Jadi, saya pra minta maaf apabila nanti balasannya adalah: sudah dimenangkan oleh si Kakak Itu. Nomor WA saya: 085239014948.

Baca Juga: Baskets

Selamat ber-DIY-ria.
Selamat berkreasi!



Cheers.

Travel Booth


Booth atau stan merupakan lokasi yang paling saya cari setiap kali menghadiri pesta pernikahan. Karena apa, saudara-saudara? Karena kalau tidak sempat foto bareng pengantinnya, dan kuatir pengantinnya lupa saya memenuhi undangan pesta pernikahannya, hasil foto di stan itu menjadi bukti terhakiki yang tidak bisa dibantah. Alasan itu mungkin terkesan terlalu dibuat-buat, padahal sebenarnya itu memang alasan yang saya buat-buat karena belum menemukan alasan lainnya *tertawa bahagia bersama dinosaurus*.

Baca Juga: Bunga Dinding

Semakin ke sini, wedding organizer dan/atau bahkan si empu acara, semakin kreatif dalam perkara membikin stan foto ini. Stan foto yang biasanya berlatar baliho bergambar si pengantin serta sanak keluarganya itu kemudian berubah lebih ceria seperti foto si Thika dan Evran di bawah ini:


Pada akhirnya pesta pernikahan, sekarang, menjadi tempat yang asyik untuk berburu stan foto dan spot-spot yang instagramable. Tidak percaya? Foto di bawah ini contohnya:



Lalu apa hubungannya stan foto dengan pos #RabuDIY kali ini? Mari simak ...

Awal Mula


Iwan Aditya, partner siaran saya yang uh wow lidahnya suka typo itu, mendadak punya gagasan brilian untuk membikin stan foto di kantor Radio Gomezone FM. Kantor itu lebih tepatnya disebut studio dua sebagai studio kerja, sedangkan studio satu adalah studio siaran. Gagasan Iwan itu: Ncim, bagaimana kalau kita bikin booth foto dari hasil menggabung gambar-gambar tempat wisata? Mata saya meliriknya ... malas ... lantas bertanya: Bikinnya pakai apa? Iwan tertawa dan membalas: Encim kan suka sama proyek-proyek DIY begitu, pasti Encim mau lah, kita bikin dari kalender-kalender lama dari kantor saya. Banyak sekali, Ncim!

A-ha! DIY! Gayung bersambut.

Baca Juga: Baskets

Fyi: saya dan Iwan memang partner siaran di Radio Gomezone FM, waktu itu, tapi kami sendiri juga punya pekerjaan tetap. Saya di Universitas Flores sedangkan Iwan di SwissContact. Di Radio Gomezone FM kami memegang Creative Show yang mengudara Senin sampai Sabtu, setiap malam, dengan mata acara berbeda seperti Focus, Review, Backpacker, hingga Tuwan Show (Tuteh Iwan Saturday Night Show) yang kocaknya tidak ketulungan.


Kembali ke gagasan si Iwan, kami akhirnya memutuskan bahwa stan itu bakal ditempel tepat di belakang meja kerja saya di studio dua. Huraaayyyy. Dan keesokan malamnya, Iwan menenteng satu kresek besar berisi kalender-kalender meja (spiral), seragam, yang tidak sempat dibagikan ke orang-orang. Ada hikmahnya juga qiqiqiq.

Proses Pembuatan


Pertama-tama kami melepaskan setiap lembar kalender dari spiralnya. Proses ini dibantu oleh Irwan. Hyess, jangan bingung, yang satunya Iwan, yang satunya lagi Irwan (dia waktu itu cuti kuliah, kuliahnya di Makassar).


Selama beberapa hari, kemudian, meja kerja saya menjadi milik mereka berdua. Semangat keduanya bikin saya menitikkan air mata. Halaaaaah hehe. Oh iya, dibalik map holder warna biru itu berdiri desk-organizer hasil #DIY saya sendiri dan mangkuk berbahan jin. Tapi soal ini dibahas lain waktu.

Setelah semua lembar kalender dilepas, proses selanjutnya adalah menggunakan lantai sebagai media terbesar untuk menyusun potongan gambar/halaman kalender. Iwan bertugas menyusun agar tidak ada gambar yang sama berurutan baik vertikal maupun horizontal, sedangkan Irwan bertugas memotong isolasi bening. Tugas saya sih cuma wara-wiri, sana-sini, tidak jelas, haha. Pompom girl lah. Hasil kerja keras ini ternyata bikin saya bahagia maksimal.

Travel Booth


Stan foto itu menjadi tempat favorit setiap kali ada tamu yang datang ke studio dua. Kan asyik bisa foto dengan latar belakang sekeren itu.


Mungkin bagi kalian, stan foto macam begini tidak ada magnetnya sama sekali, alias kalian mungkin tidak tertarik. Tapi bagi saya, Iwan, Irwan, dan para pecinta #DIY, ini adalah hasil karya yang memuaskan jiwa-raga. Kami menamainya travel-booth. Kata Iwan: cocok sekali, Ncim, kita berdua kan bawakan acara Blogpacker.

Another Ideas


Menulis #RabuDIY kali ini membikin ide lain muncul di benak saya. Apalagi sudah menjelang Ramadhan (dan Hari Raya Idul Fitri, hahaha). Memang ada niat untuk mengecat ulang dinding rumah. Tapi sepertinya salah satu dinding bakal saya bikin stan seperti travel booth itu deh. Gambarnya apa saja? Masih saya pikirkan soal gambar ini. Apakah bertema keluarga Pharmantara, atau bertema dunia traveling saya ... kita lihat saja nanti. Karena ini baru ide, jangan menagih janji ya, hehe.


Bagaimana, kawan, jadi kepikiran untuk membikin stan foto juga di rumah? Stan foto itu tidak selamanya harus sama dengan yang kami bikin ... .eh ... dibikin Iwan dan Irwan. Bisa juga stan fotonya berupa foto keluarga ditambah tulisan: Welcome to Pohon Tua. Pohon Tua adalah nama rumah saya. Atau tulisan: Travel Journey ditambah foto Himawan (kalau dibikin sama Himawan). Kak Rey, Kak Rohyati, Kak Iied, atau Kak Lantana pun bisa membikinnya. Kalau si Evvafebri si Mak Bowgel pasti seru karena punya banyak karakter bikinan sendiri.

Baca Juga: Monotuteh

Ber-DIY-ria memang selalu menyenangkan. Tidak peduli hasilnya rapi atau berantakan, sepanjang itu hasil karya sendiri, pasti menyenangkan dan ... puas.

Yuuuuuk dicoba :)



Cheers.

Bunga Dinding


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Hehe. #RabuDIY kali ini akan membahas tentang bunga hiasan dinding. Saya sering melihat bunga hiasan dinding atau bunga dinding ini di rumah orang-orang; keluarga, tetangga, teman. Bunganya menempel pada rangka dan biasanya sepasang. Rangka bunga dinding ini ada yang berbahan kayu tetapi kebanyakan berbahan plastik, sama seperti bahan bunga itu sendiri. Ya, plastik memang ada di mana-mana.

Baca Juga: Baskets

Suatu kali, saat sedang menganyam keranjang-keranjang pesanan, saya dikirimi gambar oleh Mila Wolo. Gambar itu adalah gambar bunga hiasan dinding dengan rangka terbuat dari kayu. Dia bertanya apakah saya bisa membikinnya? Saya menyanggupi tapi dengan satu syarat: tidak sama persis dengan gambar yang dia kirimkan. Gambar itu kira-kira seperti di bawah ini yang saya ambil dari Ali Express:


Awalnya saya memikirkan kayu sebagai bahan rangkanya karena besi tidak lah mungkin. Tapi demi memperoleh kayu-kayu itu saya harus pergi ke bengkel kayu untuk meminta atau membeli kayu-kayu bekas berukuran panjang dua puluh sampai tiga puluh senti meter dengan lebar sekitar lima senti meter. Putar otak ke kanan ke kiri, dibantu dinosaurus yang jungkir balik sampai giginya rontok, nonton ragam video tentang proyek-proyek DIY di Youtube, maka ... TRING! Muncul ide itu. 

Mari simak ... bagaimana membikin si bunga dinding ini.

Peralatan


1. Gunting.
2. Cutter.
3. Lem PVA (Webber).
4. Lem tembak (hot glue).
5. Mistar.
6. Alas kaca/keramik supaya mejanya tidak terluka.

Bahan-Bahan


Bahan-bahan untuk membikin bunga hiasan dinding ini sebagian besar merupakan barang bekas (yuk didaur ulang).

1. Botol plastik bekas air mineral.
2. Kardus.
3. Pipa kertas.
4. Cat.
5. Benang kasur.
6. Kertas HVS.

Cara Membuat


Potong botol plastik bekas air mineral dengan keutamaan bagian bawah/pantat botolnya. Ikuti bentuk bintang pada bagian itu, dan gunakan gunting untuk membentuk kelopak bunga. Ini hal yang mudah, menurut saya, hehehe. Penampakannya seperti pada gambar di bawah ini:


Jumlah bunganya tergantung kebutuhan. Silahkan dibikin sebanyak-banyaknya karena siapa tahu kalian bakal bikin banyak. Setelah selesai dengan membentuk bunga-bunga ini, langkah berikutnya adalah memberi warna. Saya menggunakan cat minyak/kayu warna merah dan pink:


Pada foto di atas, belum saya beri warna pink pada bagian garis/bintangnya. Biarkan cat mengering. Karena bahannya plastik, jelas tidak bisa menggunakan kipas angin, jadi dikeringkan secara alami dan lebih bagus lagi jika di bawah sinar matahari.

Baca Juga: Monotuteh

Urusan bunga beres, mari bikin rangkanya. Sayang waktu itu saya tidak memotret proses membikin rangka. Yang jelas saya membikin rangka berbahan karton bekas kardus yang dipotong sama ukuran. Karena karton bakal kardus yang saya gunakan itu tipis, maka dipertebal dengan menyatukan dua sampai tiga buah. Lalu dibungkus kertas HVS. Bakal 'kayu tipuan' ini di-cat cokelat, sesuai warna kayu dalam bayangan saya. Apabila cat kayu telah mengering, maka dapat dibentuk rangkanya.

Langkah terakhir adalah menempelkan bunga-bunga plastik ke rangka kayu menggunakan lem tembak. Penampakan hasil akhirnya seperti gambar berikut ini:


Gambar di atas sudah saya beri nomor:
1. Bunga plastik.
2. Rangka kayu tipuan :p.
3. Pemanis.
4. Tali.

Pemanis ini terbuat dari pipa kertas yang digulung, di-cat, dan ditempelkan. Awalnya saya tidak memikirkan soal ini, tapi dalam perjalanan pengerjaan, muncul ide-ide baru. Hehe.

Bunga dinding ini tidak saja dapat kita buat menggunakan botol plastik bekas tetapi juga berbagai bahan yang ada di rumah sesuai keinginan. Misalnya, bunga plastik dapat diganti dengan gulungan koran yang ditumpang-tinding dari besar ke kecil (bisa dua, bisa tiga, jangan lebih nanti terlalu berat). Bisa juga bunga-bunga dari koran yang membikinnya sangat mudah!

Yang menyenangkan hati adalah bunga hiasan dinding pesanan Mila ini masih tergantung manis di dinding ruang tamu rumahnya. Melihat bunga itu, ada kepuasan terhakiki. Hasil karya kita, meskipun dia memang membayar, dihargai dengan terus dipakai. Tak hanya bunga dinding itu saja, masih banyak barang hasil daur ulang yang saya bikin yang masih dipakai oleh teman-teman. 

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Bagaimana, kawan? Menarik bukan? Saya yang tidak seberapa telaten ini bisa membikinnya, saya jamin kalian juga pasti bisa membikinnya. 


Cheers.

Baskets


#RabuDIY hari ini saya mau menulis tutorial sederhana membikin basket atau keranjang berbahan barang bekas. Saya sudah sering membikinnya baik yang kotak/persegi, bundar, maupun ulir. Dan ternyata setelah fakum hampir dua tahun, saya masih belum kehilangan keahlian untuk membikinnya. Ha ha ha sumpah, menulis keahlian serasa make up artist yang bisa 'menyulap' wajah begitu.

Baca Juga: Be Art

Lantas apa saja bahan-bahannya dan bagaimana cara pembuatannya? Mari kita simak.

Bahan-Bahan dan Alat:


1. Koran/kertas yang tidak dipakai lagi.
2. Lem PVAC (saya pakai Webber).
3. Lidi/sejenisnya untuk menggulung kertas.
4. Karton dari kardus bekas.
5. Cat (bila diperlukan).
6. Gunting.
7. Cutter.

Cara Membikin:


Pertama-tama membikin pipa kertas. Silahkan, koran/kertas dipotong; dibagi dua memanjang. Sayangnya untuk proses ini saya tidak sempat memotretnya, tapi kalian pasti menangkap maksudnya kan hehe. Mana yang lebih baik, kertas koran atau kertas HVS? Sama baiknya. Hanya saja kalau koran, hasil pipanya lebih panjang sehingga saat dipakai menganyam lebih asyik. Setelah dipotong, silahkan digulung menjadi pipa menggunakan lidi/sejenisnya. Hasilnya seperti gambar di bawah ini:


Bikin sebanyak-banyaknya! Supaya proses menganyam tidak terhambat pipa kertas yang habis. Saya dulu menyiapkan sampai berkaleng-kaleng pipa kertas. Tentu, dibantu Indra hehe.

Berikutnya, siapkan karton dari kardus bekas, dibikin dua berukuran sama. Besarny keranjang akan bergantung dari besarkan karton yang disiapkan oleh kita. Kenapa harus dua? Karena keduanya bakal mengapit tiang pipa kertas bakal anyaman nanti. Hasilnya seperti gambar di bawah ini:


Berapa jumlah tiang pipa? Harus ganjil. Tapi kenapa di atas gambar kok genap? Salah satunya merupakan tiang pipa untuk memulai anyaman, makanya letaknya berdekatan sama tiang satunya lagi:


Setelah itu ditindih pakai buku-buku atau alat berat juga boleh hahaha. Supaya apa? Supaya lem-nya menempel sempurna.


Biarkan semalaman sampai kering betul, atau pokoknya dirasa sudah cukup kering/kuat, maka penampakannya seperti gambar berikut ini:



Silahkan dianyam.


Ini dia hasilnya. Kaliah bisa melihat, besarnya keranjang tergantung pada lebar/besarnya karton dari kardus. Pada gambar di atas, ada yang sudah saya cat, ada yang belum saya cat, agar orang-orang tahu bahwa keranjang tersebut murni terbuat dari koran/kertas bekas.

Baca Juga: Monotuteh

Mudah bukan? Kalau saya yang kurang telaten ini bisa membikinnya, saya jamin kalian juga pasti bisa. Cukup kemauan dan mulai dari sekarang. 

Bisnis Receh yang Lumayan


Kalau kalian sedang berpikir tentang suatu bisnis, bisnis daur ulang ini merupakan bisnis receh yang lumayan. Lumayan buat penuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya dalam sebulan saya bisa menghasilkan 1,5Juta. Kan lumayan bisa buat beli listrik dan keperluan lainnya huehehe. Satu keranjang ukuran sedang saya hargai 25K saja. Ukuran kecil tergantung, ada yang 10K ada yang 15K. Kalau tempat tissu, harganya bisa 35K atau lebih tergantung permintaan.

Bagaimana, tertarik juga? Hyuk coba bikin!



Cheers.