Arsip Kategori: #RabuDIY

Bikin Sendiri Masker Kopi Campur Susu Agar Wajah Cerah

 


Bikin Sendiri Masker Kopi Campur Susu Agar Wajah Cerah. Byuuuuuuh! Tuteh menulis soal kecantikan? Apa tidak salah? Ha ha ha. Saat hendak menulis ini pun saya harus berdebat dengan diri sendiri dan tertawa terbahak-bahak. Tapi arguing with myself itu menghasilkan tulisan ini. 


Me: Are you sure?


The Other Me: you only write other people's experiences! And, it's not a crime.


Me: Okay ... well ...


The Other Me: Go go go!


Baca Juga: Kita Bikin Yuk Campuran Tanah Untuk Menanam Bunga


Kalian tentu sudah tahu Melly. Bagi yang belum tahu, Melly adalah anak sulungnya Mama Len. Saat ini Melly duduk di bangku SMP. Lalu, siapa Mama Len? Mama Len adalah asisten kedua Mamatua. Kemudian saya meminta Melly untuk tinggal bersama kami meskipun rumahnya hanya berjarak lima langkah dari Pohon Tua (nama rumah kami). Jadilah setiap hari saya bergaul dengan perempuan ayu bernama Thika Pharmantara, dan ABG bernama Melly. Haha. Melihat tingkah laku mereka sehari-hari, jujur, merupakan hiburan tersendiri bagi saya. Bagaimana mereka kompak mengoleksi bermacam-macam produk kecantikan, bagaimana mereka saling mendukung soal masker, bagaimana mereka berpenampilan saat keluar rumah.


Thika: Ncim, sudah pas belum pakaiannya?


Melly: Hmmmm.


Bergaul dengan Thika, ditambah usianya yang ABG, membikin Melly semakin serius memperhatikan penampilannya. Sudah hampir dua bulan belakangan saya melihatnya selalu memakai masker berwarna hitam keabu-abuan, bukan Naturgo yang kalau diaplikasikan di wajah menjadi hitam mengkilap. Saya lantas bertanya pada Melly.


Me: Apa itu, Mel?


Melly: Masker, Ncim.


Me: Ya, tahulah itu masker. Tapi masker apa?


Melly: Kopi susu.


Saya tertegun. Bukan, bukan karena anak-anak ini sangat memperhatikan penampilan yang dimulai dari wajah, tetapi karena konon masker ini dapat MEMUTIHKAN kulit wajah. Saya tertegun dan perasaan saya memberontak. Bagi saya, warna kulit bukanlah sesuatu yang harus diubah. Misalnya kalau memang berkulit hitam, janganlah diubah ke putih. Kalau berkulit putih, janganlah diubah ke hitam. Saya akan sangat marah jika ada orang yang membenci kulitnya yang hitam dan rambutnya yang keriting. Apa yang salah dengan semua ciptaan Tuhan itu? Kulit hitam adalah anugerah. Rambut keriting adalah anugerah. Jangan pernah mengidentikkan kecantikan dengan kulit putih dan rambut yang lurus. Karena cantik itu bukan fisik. Cantik itu dari hati. Pada Melly saya mulai 'ceramah' soal ini. Saya katakan bahwa masker kopi susu itu fungsinya untuk membersihkan kulit wajah, agar wajah menjadi lebih cerah. Bukan berarti kulit wajah mendadak jadi putih! Melly mengangguk, tersenyum, ngakak, lantas kabuuuuuur.


Tapi ... perubahan itu memang nyata terlihat. Bukan, bukan kulit wajah Melly menjadi putih, tetapi kulit wajahnya menjadi lebih cerah. Wah, ABG yang satu ini telaten sekali. Saya mengakuinya. Dia mengangguk, tersenyum, ngakak, lantas kabuuuuuuur. Haha. Jadi, bagaimana membikin sendiri masker kopi campur susu agar wajah cerah? Caranya sangat mudah. Cukup campurkan bubuk kopi dan bubuk susu (Dancow), tambah sedikit air, aduk-aduk hingga menjadi pasta, lantas diaplikasikan pada wajah yang sudah dicuci bersih. Diamkan selama beberapa jam, lantas wajah dicuci dengan air bersih. Yang perlu diingat adalah harus rutin dilakukan. Kalau hanya dilakukan satu kali dan berharap memperoleh hasil, silahkan main sulap saja. Hehe.


Baca Juga: Mangkuk Serbaguna Berbahan Celana Jin Bekas


Jadi, apa pelajaran yang kita petik hari ini? Pertama: harus bangga pada diri sendiri, pada semua yang diberikan Tuhan pada diri kita. Kedua: menerapkan apapun untuk memperoleh hasil yang maksimal tidak dapat dilakukan dalam sekejap mata, karena butuh proses untuk melakukannya. Ketiga: jangan percaya iklan, karena standar kecantikan itu bukan berkulit putih dan berambut lurus, tetapi kecantikan itu sejatinya datang dari hati. Keempat: bahagianya saya karena sehari-hari bergaul dengan si ayu Thika dan ABG Melly. Hidup menjadi sangat berwarna!



Cheers.

Kerajinan-Kerajinan Tangan Pada Level yang Lebih Tinggi


Kerajinan-Kerajinan Tangan Pada Level yang Lebih Tinggi. I know, I know, I know. Please don't judge me. Begitu lama tidak upldate BlogPakcer. Lebih lama lagi tidak update I am BlogPacker. Kenyataannya, meskipun berusaha mengatur waktu tapi ada saja perkara-perkara yang membikin saya tidak dapat memperbarui konten blog. Tapi itu tidak membikin saya lantas berhenti. Hahaha *ketawa mengejek* mana bisa saya berhenti nge-blog! Pekerjaan harus diutamakan. Hobby harus dijalankan. Kamu harus dikesampingkan. Begitulah. Bagi kalian, bos-bos pembaca blog ini, saya ucapkan terima kasih. Dan bagi kalian yang baru datang ke blog ini, welcome. Biasanya saya menulis blog Senin sampai Sabtu dengan beragam tema. 


#RabuDIY kali ini saya akan membahas kerajinan-kerajinan tangan, atau produk-produk Do It Yourself (DIY), yang boleh dibilang ber-level tinggi. 

Setiap orang tentu senang jika bisa menghasilkan sesuatu. Mulai dari menghasilkan gaji bulanan, menghasilkan kehidupan yang baik bagi diri sendiri maupun orang lain, hingga menghasilkan barang-barang yang bisa dipakai sendiri dan bisa dijual dan/atau dipakai orang lain. So do I. Menghasilkan barang baru dari barang bekas, membikin ini itu, sudah saya lakoni sejak lama. Ada yang dipakai sendiri, ada yang diberikan gratis ke teman, ada pula yang dijual. Keuntungannya jangan ditanya. Kalau tekun, kalau rajin promosi, kalau pandai menjaga lingkungan pergaulan, niscaya keuntungannya sangat banyak (bahkan tidak terduga). Tetapi selama ini saya hanya menghasilkan produk DIY yang level-nya masih di bawah alias standar saja. Menurut saya pribadi. Ya biasa saja sih membikin keranjang berbahan koran bekas, membikin tas berbahan celana jin bekas, atau membikin lilin berbentuk telur.

Saya melihat begitu banyak produk kerajinan tangan atau produk DIY pada level yang lebih tinggi. Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Flores (Uniflor) menghasilkan produk berbahan bambu, kayu, kertas, kerang, yang kesemuanya terlihat sangat profesional. Mahasiswa Pendidikan Ekonomi membikin bangku (bench) yang juga terlihat profesional, tidak kalah dengan hasil bikinan orang bengkel. Apakah barang-barang tersebut dijual? Iya, dijual. Harganya sepadan dengan produk. Siapapun yang membeli pasti puas.



Artinya, keseriusan terhadap apapun akan membawa kita pada level yang lebih tinggi. Coba bayangkan, seorang baker bakal bikin roti yang bantet kalau tidak serius. Tapi, ada baker lain yang bisa membikin roti yang boleh disebut sebagai maha karya.

Level yang lebih tinggi ini dapat kalian lihat pada produk-produk DIY-nya Thomas Dambo. Aktivis seniman daur ulang yang satu ini benar-benar membikin saya kagum! Dia adalah sebagai seniman yang berasal dan tinggal di Copenhagen, Denmark. Bersama dua orang teman/kru, dia membikin proyek yang indah dan menyenangkan terbuat dari sampah atau barang daur ulang. Barang-barang ini mereka temukan di sekitar kota: tempat pembuangan sampah umum atau tempat sampah pinggir jalan. Mengumpulkan sampah pun unik: pakai gerobak besi dengan boks kayu yang dipasang ke sepeda. Thomas Dambo tidak pakai mobil meskipun pasti bisa membelinya dengan mudah. Mengantar barang daur ulang pesanan pun dilakukan memakai gerobak, kadang ditarik kalau barangnya terlalu besar. Hwah. Ausam lah.

Dengan melakukan ini Thomas Dambo berharap dapat menginspirasi orang untuk bersenang-senang dan menganggap sampah sebagai sumber daya. Untuk itu dia punya bengkel kerja yang super besar dan halaman luas tempat dia bisa memamerkan pula hasil karya lainnya.

Semua foto berikut ini berasal dari situs Thomas Dambo.





Jadi, apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan pada kalian hari ini?

Jangan pandang remeh dunia DIY, dunia daur ulang, dunia kerajinan tangan, dunia life hack! Karena, dari dunia itu (kayak dunia lain, haha) kalian dapat menemukan kesenangan, kepuasan, hingga ketenangan batin. Lebih dari itu, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, digeluti dengan kental, maka akan menghasilkan lebih banyak lagi keuntungan. Pada level biasa saja, level bawah seperti saya, keuntungan yang diraup berlipat ganda. Apalagi level di atasnya. Dan perlu diingat, ketika ada orang lain yang bisa menghasilkan sesuatu yang lebih tinggi dari kita, jangan pernah meracuni diri dengan dengki atau iri hati, jadikan itu sebagai motivasi. Jika dia bisa lebih tinggi, artinya dia punya usaha yang lebih dari kita. Betul? Betul doooong.

Sekian saja untuk hari ini di mana awalnya saya pengen membahas tentang tampilan dashboard Blogger yang baru (baru bagi saya) tapi nanti lah baru dibahas.

#RabuDIY



Cheers.

Kita Bikin Yuk Campuran Tanah Untuk Menanam Bunga


Kita Bikin Yuk Campuran Tanah Untuk Menanam Bunga. Halo kalian semua pecinta Do It Yourself (DIY). Izinkan saya bertanya: apa saja produk DIY yang kalian hasilkan selama work from home? Pasti banyak kan ya. Saya hanya bisa menghasilkan beberapa seperti mangkuk berbahan koran (dan balon) dan pipa-pipa koran bakal keranjang anyaman. Selama work from home hingga new normal, selain pekerjaan kantor, saya lebih banyak menghabiskan waktu di beranda belakang Pohon Tua. Ngapain, Teh? Ngintip tetangga? Haha. Berkebun mini doooong! Fyi, berkebun mini bukan pertama kali saya lakukan karena sudah pernah melakukannya tetapi sempat mandek. Jujur, kembali berkebun mini gara-gara pandemi Covid-19 di mana saya butuh mengajarkan kepada penghuni Pohon Tua tentang ketahanan pangan. Ketahanan pangan itu perlu dipikirkan, terutama oleh orang-orang seperti saya yang terus membayangkan suasana The Walking Dead yang mencekam *ngakak guling-guling*.

Baca Juga: Ternyata Mudah Membikin Mangkuk Berbahan Koran

Tanaman apa saja yang ada di kebun mini? I started with vegetables. Kangkung, sawi, kailan, cabe, terung, tomat, bengkoang, bawang merah dan bawang putih, mentimun, ubi tatas, daun kemangi, hingga kacang tanah dan kentang yang dikasih sama Cahyadi dari Kebun Bibit Elok. Lalu, saya mulai melirik bunga, khususnya bunga Pukul Sembilan atau Moss Rosse atau Krokot. Pertama saya mendapatkan krokot berjenis Portulaca Oleracea dari Om Agus yang mengurus taman di Universitas Flores (Uniflor). Yang kedua, alhamdulillah si Cahyadi membawa satu pollybag Krokot berjenis Portulaca Grandiflora. Portulaca Oleracea dari Om Agus itu berbunga kuning dengan sedikit helai bunga. Sedangkan Portulaca Grandiflora dari Cahyadi itu ada yang kuning dan merah dengan lebih banyak helai bunga. Kalian bisa melihat perbedaan kedua Krokot tersebut pada gambar di bawah ini:

Portulaca Oleracea.

Portulaca Grandiflora.

Gara-gara bunga-bunga yang bermekaran itu, saya lantas mulai me-replant Krokot. Ternyata sangat mudah. Patah dan tanam saja! Dalam hal perawatan, Krokot termasuk sangat mudah. Dia tidak manja seperti bunga-bunga lainnya.

Ini dia yang sudah di-replant! Ini cuma sebagian, sekarang sudah bertambah banyak.

Ketika beranda belakang Pohon Tua juga dilengkapi dengan bunga ... jadi cantik. Oke, mari kita mulai dengan bebungaan lain. Proses panjang pun dimulai dengan pertama-tama membeli pot bunga yang sedang hits itu, mencampur tanah dengan bokasi, dan menanam bunga hasil rampokan. Haha. Yang sangat saya syukuri adalah tetangga atas Pohon Tua (kompleks kami kan merupakan tanjakan) yaitu Ma Evi Betu selalu berbagi bunga dengan saya. Katanya, dia senang melihat beranda belakang yang kini ramai tanaman baik sayuran maupun bunga. Ma Evi Betu bahkan memberikan saya anakan bunga Cucak Rowo! Yuhuuuu. Kalian bisa melihatnya pada gambar berikut:




Namun, merawat bunga tidak sama dengan merawat sayuran. Sayuran sekelas sawi dan kangkung, misalnya, hanya butuh penyiraman secara rutin untuk tetap segar dan tumbuh dengan baik sampai kemudian dipanen. Bunga-bunga yang saya tanam itu mulai menunjukkan kejenuhan mereka. Ada yang daunnya menguning dan kering, ada yang tidak besar-besar alias kerdil, ada pula yang mati. Hiks. Cucak Rowo ukuran besar dari Ma Evi Betul pun tamat riwayatnya, tetapi yang kecil masih bertahan hidup. Saya bertanya-tanya dalam hati. What's wrong? Tanahnya sudah dicampur bokasi pun. Proses penyiraman juga rutin. Bahkan mereka dijemur juga di matahari pagi lantas dimasukkan kembali. Masa mereka tidak sesubur sayuran?

Dua hari yang lalu saat saya sedang menikmati kopi susu di beranda belakang rumah sambil dihibur pemandangan tanaman-tanaman cantik itu, Ma Evi Betu berdiri di pagar pembatas lantas bilang pada saya: Nona, itu bunga-bunganya tidak subur, ya. Coba Nona campur tanah dalam pot itu dengan serbuk kayu sehingga dia menjadi lebih ringan. Bisa jadi tanahnya terlalu padat jadi akarnya kesulitan bergerak. Saya mengakui pada Ma Evi Betu: Iya nih, Ma Evi, bunga-bunga tidak seperti sayuran yang tumbuh subur. Saya akan coba membongkar tanah di pot dan mencampurnya dengan serbuk kayu. Tidak menunggu lama, saya meminta Yoye untuk pergi membeli serbuk kayu di bengkel kayu. Satu tas kresek merah seharga Rp 15.000 tetapi Yoye mengaku dia menawar sehingga harganya Rp 10.000 saja. Oh wow. Haha. Anak ini boleh juga.

Serbuk kayu.

Akhirnya pada Minggu petang saya, Thika, dan Melly mulai membongkar tanah dari pot-pot bunga yang ada. Tanahnya diayak terlebih dahulu, lantas dicampur dengan serbuk kayu. Takarannya 1:1. Satu tanah, satu serbuk kayu. Betul juga, tanah campuran itu menjadi lebih ringan. Setelah itu, bunganya ditanam kembali dalam pot tapi dengan tanah campuran serbuk kayu! Sambil melakukan itu, saya bilang pada bebungaan: tumbuh subur ya, kalian punya rumah baru yang lebih ramah.


Ternyata membikin campuran tanah untuk menanam bunga cukup mudah.

Bahan-bahan:
1. Tanah.
2. Bokasi.
3. Serbuk kayu.
4. Air.

Alat:
1. Sendok semen/sekop kecil.
2. Sendok gembur.

Pertama-tama tanah diayak agar batu-batunya terpisah. Kemudian tanah yang sudah diayak itu dicampur bokasi dengan takaran 2 (dua) tanah berbanding 1 (satu) bokasi. Hasil campuran tanah dan bokasi kemudian dicampur lagi dengan serbuk kayu dengan takaran 1 (satu) tanah campuran bokasi berbanding 1 (satu) serbuk kayu. Setelah itu, silahkan menanam bunga kalian. 

Saya yakin, kalian pasti bertanya-tanya, bukankah salah satu bahan bokasi adalah serbuk kayu? Memang benar. Tetapi untuk lebih meringankan tanah saya mengikuti anjuran Ma Evi Betu yaitu mencampurnya lagi dengan serbuk kayu. Kalau dipikir-pikir, benar juga, bahwa tanah yang terlalu keras bakal menyulitkan akar untuk bergerak. Tapi tentu orang-orang yang expert di bidang pertanian lebih tahu tentang hal ini. Bagi tahu doooong. Hehe. Saya sih hanya mengikuti anjuran yang menurut saya dapat dibenarkan.

Bagaimana dengan hasilnya? Belum tahu. Kan baru dilakukan hari Minggu kemarin. Kita lihat lah nanti bakal tumbuh subur atau tidak bebungaan itu. Sementara saya sendiri masih harus membeli pot baru bakal media tanam daun mint. 


Betapa cantiknya daun mint yang ditanam di pot mini seperti gambar di atas. Sungguh amboi kalau diletakkan di meja makan atau meja ruang tamu atau meja kerja. Aroma mint-nya segar sekali. Bisa jadi pengganti pengharum ruangan.

Baca Juga: Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat 

Bebungaan di beranda belakang Pohon Tua memang belum sebanyak bebungaan di rumah kalian. Potnya pun masih pot ukuran sedang, belum pot berukuran besar karena batang/tanaman bunganya pun masih ana lo'o alias masih kecil-kecil. Namanya juga usaha, butuh proses yang panjang untuk mewujudkannya. Lagi pula, saya tidak bisa terlalu fokus pada bebungaan saja. Kembali lagi pada ketahanan pangan seperti yang saya singgung pada awal pos ini. Memangnya berhasil, Teh? Alhamdulillah berhasil. Sejak mulai panen, Thika sudah jarang membeli sayur setiap kali ke pasar karena kami tinggal mengambilnya dari kebun mini baik sawi maupun kangkung. Kalau terung memang agak lama sih berbunga dan berbuah. Yang membikin saya senang, tomat mulai berbuah sedangkan tomat cherry mulai berbunga. Nanti pasti bakal saya tunjukkan pada kalian.

Semoga pos ini bermanfaat! 

#RabuDIY



Cheers.

Ternyata Mudah Membikin Mangkuk Berbahan Koran


Ternyata Mudah Membikin Mangkuk Berbahan Koran. Hampir dua mingguan saya absen dari blog ini, dan itu menimbulkan kerinduan yang teramat sangat. Meskipun sudah berjanji pada diri sendiri untuk nge-blog setiap hari, tetapi ternyata ada masa-masa 'lumpuh'. Waktu yang Allah SWT berikan sehari dua puluh empat jam tidak cukup untuk memenuhi semuanya. Agar tidak depresi *hayah, gaya banget depresi* saya harus memerhatikan skala prioritas. Itu yang diajarkan oleh Bapa (alm.) dan Mamatua. Skala prioritas sangat membantu saya menyelesaikan semua pekerjaan, baik pekerjaan kantor maupun pekerjaan sampingan, dengan baik. Insha Allah. Setelah rentetan pekerjaan itu selesai, akhirnya saya bisa bernafas lega, dan mulai kembali membikin video untuk channel Youtube dan mulai menulis konten blog.

Baca Juga: Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat

Menjelang Lebaran kemarin saya mengajak Melly untuk membikin mangkuk koran. Mangkuk koran ini sudah lama saya ingin membikinnya tapi selalu terkendala ini itu. Akhirnya saya menitipkan Thika dan Melly untuk membeli lem sejenis Weber dan balon. Balon? Yakin? Iya, yakin. Karena memang itu bahan dasarnya. Bagi kalian yang mau membikinnya juga, karena sangat mudah, coba baca sampai selesai.

Apa yang perlu dipersiapkan?

Alat dan bahan:
1. Koran/kertas bekas.
2. Balon.
3. Lem Weber.

Cara membikin:
1. Gunting koran/kertas seukuran dua jari.
2. Tiup balon (besarnya sesuai keinginan).
3. Campurkan lem dengan air secukupnya.
4. Rendam potongan koran di lem, lalu tempelkan pada balon.
5. Jemur hingga kering.
6. Kempiskan balon.
7. Mangkuk koran sudah jadi.

Mudah bukan?

Saya tidak sempat memotret proses membikinnya. Melly pun demikian. Karena tangan kami berlumuran lem. Haha. Harus diingat: untuk memperoleh mangkuk koran yang tebal dan kuat, jangan pelit dengan lem dan harus tiga sampai empat lapis potongan koran. Bahkan ada yang sampai lima lapis untuk memperoleh hasil yang maksimal. Sedangkan untuk penampilan/estetika, mangkuk koran dapat dicat. Saya pribadi memilih untuk tidak mengecatnya agar bahan korannya tetap terlihat. Unik sekali.


Mangkuk koran bisa dipergunakan untuk berbagai keperluan antara lain tempat permen, tempat benang-benang dan jarum, tempat menyimpan segala sesuatu barang-barang mini agar tidak tercerai-berai. Dua mangkuk koran di atas merupakan percobaan pertama. Saya tidak menyangka percobaan pertama langsung sukses. Biasanya bakal gagal dulu. Haha. Alhamdulillah.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Saya selalu suka #RabuDIY. Tema ini tidak saja menjadi media saya berbagi tutorial dan hasil karya bikinan sendiri, tetapi juga sekaligus motivasi saya untuk tidak melupakan dunia DIY yang begitu saya gandrungi. Bahwa, begitu banyak barang bekas maupun barang baru yang bisa dikreasikan untuk menjadi barang lainnya yang punya nilai ekonomi lebih tinggi. Koran bekas mungkin tidak ada artinya bagi sebagian orang tapi bagi saya koran bekas sangat penting untuk dunia DIY. Balon pun demikian, mungkin sebagian orang hanya memanfaatkannya sebagai penghias dekorasi pesta ulang tahun, tapi ternyata balon punya banyak manfaat, termasuk pot dari semen! Nanti ya bakal saya bikin dan menulisnya untuk kalian.

Jadi, tunggu apa lagi? Ayo berkreasi sepuas-puasnya. Mumpung #DiRumahSaja. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#RabuDIY



Cheers.

Produk DIY Bertebaran di TK Uniflor dan Kober Yapertif


Produk DIY Bertebaran di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Kalau kalian membaca pos kemarin, Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online, tentu kalian tahu bahwa kemarin saya berkegiatan di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Sambil bekerja, mata saya memerhatikan ruang-ruang kelas yang ditata apik di mana ada pemilahan: area drama, area sains, area balok, dan lain sebagainya. Dinding-dinding ruang kelasnya dipenuhi gambar antara lain gambarnya murid-murid dan tulisan bergambar seperti pohon tema. Selain rak-rak berisi buku, juga ada kardus berisi aneka permainan edukatif dan meja tempat memajang aneka permainan dan hasil kerajinan tangan murid-murid. Bagi saya, tempat pendidikan anak ini sangat instagenic. Manapula tembok panjang (tembok taman bermain) di depan jejeran kelas dipenuhi lukisan tokoh-tokoh kartun.

Baca Juga: Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat

Menjadi guru TK dan guru Kober tentu harus kreatif. Senin kemarin waktu merekam footage bahan pembelajaran online-nya Ibu Gin (setelah merekam Ibu Efi), pada tema ajar rumah adat kan sudah ada rumah adat yang digambar (selain maket rumah adat), Ibu Efi berinisiatif mengumpulkan daun-daun kering bakal digunakan untuk ditempel bagian atap dan dindingnya, dan dipraktekkan oleh Ibu Gin. Ini kan super kreatif. Merangsang otak anak-anak untuk lebih kreatif, sekreatif guru mereka. Iya, saya kagum sekali pada mereka.

Kembali lagi pada tema hari ini #RabuDIY, maka ijinkan saya membagitahu kepada kalian bahwa di TK Uniflor dan Kober Yapertif bertebaran produk-produk DIY yang membikin saya berkata: wow! Saya harus menulis tentang ini.

Boneka Benang Wol


Benang wol dapat kita manfaatkan untuk berbagai kerajinan tangan. Saya pernah menulis Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri. Umumnya orang-orang tahu benang wol sebagai bahan dasar membikin kerajinan tangan kristik. Selain benang wol, menyulam kristik juga membutuhkan media yaitu kain kristik, gambar (ada buku gambar khusus kristik ini), dan sebagian orang membutuhkan pemidang. Selain kristik, benang wol dimanfaatkan untuk merajut: membikin topi, kaos kaki bayi, bahkan gelang anyaman (bukan gelang seperti yang saya bikin tetapi ini lebih rumit). Benang wol juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan lilitan botol-hias. Macam-macam manfaat benang wol ini.

Di TK Uniflor dan Kober Yapertif saya menemukan kerajinan tangan dari benang wol, tanpa repot membikinnya. Ini dia penampakannya:


Asli, saya terkejut. Ternyata bisa juga benang wol dibikin boneka tanpa harus repot ini itu. Tinggak menyatukan dua benang wol, dikasih dasi dari benang wol lainnya, dikasih mata dan hidung. Jadi deh. Sepertinya saya ingin mencoba membikinnya juga. Imut dan unik ... bikin gemaaaaas. Seru juga kalau untuk rambut dipakaikan benang wol warna hitam hehehe. Tunggu tanggal mainnya! Saat ini saya masih serius mengurus kebun mini di beranda belakang Pohon Tua dulu ya. Hehe.

Boneka Berbahan Karton/Kardus Bekas


Saat sedang merekam footage bahan pembelajaran online-nya Ibu Efi, Pak Beldis datang membawa boneka berbahan kardus bekas yang dipakaikan pakaian adat Ende yaitu lawo lambu/zawo zambu. Awalnya boneka ini tidak mempunyai wajah, hanya kepala begitu saja. Tetapi tak berapa lama Pak Beldis kembali datang dan menempel wajah pada bonekanya! Amboiiiii kreatifitas seorang guru jangan diuji. Ha ha ha. Cantik kan bonekanya?


Sumpah! Bibir saya sudah hampir bilang: bonekanya untuk saya saja, yaaaaa. Hehe. Bagus sekali ini kalau dijadikan pajangan di rumah. Kebayang kan kalau di ruang tamu ada rak kayu yang memajang boneka-boneka hasil karya sendiri alias hasil DIY. Bangga. Itu pasti. Manapula unik begitu. Sungguh, saya terpesona.


Masih banyak produk DIY lain di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Selain dua boneka di atas, saya juga melihat begitu banyak hiasan gantungan yang dibikin sendiri oleh guru-guru di sana yang mempercantik ruang kelas. Bahannya yang sederhana saja alias bisa juga dari barang daur ulang seperti sedotan dan gelas plastik yang digunting sedemikian rupa menjadi lebih cantik, lantas disatukan dengan benang dan dijadikan hiasan gantung. Saya juga melihat media pembelajaran seperti pasir, batu, dan air. Ini menarik. Selain mengenal benda alam, batu juga dimanfaatkan untuk belajar berhitung para murid.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Nah, bagian pasir, batu, dan air ini saya lupa nama areanya apa (kan ada area drama, area sains, area balok, dan lain sebagainya) tapi cantik sekali lantainya diletakkan aneka benda alam seperti itu. Nanti deh kalau ke sana lagi bakal saya foto hahaha. Maklum, memerhatikan sekeliling dilakukan sambil melaksanakan pekerjaan utama.

Bagaimana, kawan. Tertarik ingin membikin boneka seperti dua gambar di atas? Yuuuuk ... tidak pernah merugi mencoba hal-hal bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat


Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat. Hari berganti hari, ketemu lagi sama Hari Rabu. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Sudah banyak hal dari dunia Do It Yourself (DIY) yang dibahas setiap Rabu. Mulai dari desk organizer, lilin berbentuk telur, mangkuk berbahan celana jin bekas, kafe-kafe berkonsep DIY seperti Kafe Hola dan Kedai Kampung Endeisme, aktifis seni daur ulang bernama Thomas Dambo, tempat-tempat tisu dan keranjang anyaman berbahan koran bekas, bunga gantung berbahan pantat botol plastik bekas, aneka kerajinan tangan berbahan kancing, huruf timbul BlogPacker, tas berbahan celana jin bekas, tempat/dompet koin berbahan botol plastik dan zipper, membikin permainan Monotuteh yang edukatif, sampai tentang membikin sendiri kebun mini di beranda belakang Pohon Tua.

Baca Juga: Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua

Saya berharap semua pos tentang dunia DIY bermanfaat bagi teman-teman. Misalnya, setelah membacanya, teman-teman langsung kepikiran untuk segera membikinnya. Kan asyik. Barang bekas bisa jadi sangat bermanfaat dan mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi sehingga dapat dijual. Oh tentu, saya sudah membuktikannya. Kalau diceritakan lagi, bisa panjang banget pos hari ini. Kita lanjut saja ya.

Kali ini saya bakal menulis tentang tutup botol plastik. Rata-rata masyarakat membuang botol plastik beserta tutup botolnya. Iyalah, kata Fico SUCI 3 itu, botol dan tutup botol selalu bersama sampai kemudian dia membeli air minum, lantas memisahkan botol dan tutup botolnya. Hehe. Kocak memang materi itu. Anyhoo, sebenarnya tutup botol plastik ini dapat dimanfaatkan untuk membikin berbagai produk DIY menarik. Produk apa sih yang bisa dihasilkan dari tutup botol plastik? Kalau kalian menonton di Youtube, tutup botol dapat dimanfaatkan sebagai tatakan gelas, penjepit sumpit bagi yang susah menggunakan sumpit, dapat pula dijadikan gantungan kunci, atau barang-barang DIY lainnya. Tapi saya memanfaatkan tutup botol plastik sebagai tempat alat tulis.


Modelnya: Kakak Flora Wodangange hahaha, penyanyi bersuara kece. Waktu main ke rumah, ngelihat tempat alat tulis berbahan tutup botol yang saya bikin. Gemas ... hehe.

Apa saja alat dan bahan yang dibutuhkan, serta bagaimana cara membikinnya? Melihat gambar di atas saya pikir kalian pasti tahu lah cara membikinnya.

Bahan:
1. Tutup botol.
2. Hot glue (gun).

Alat:
1. Gun for hot glue.

Haha.

Cara membikin:
Pertama-tama cuci bersih tutup botol plastik dan keringkan. Kemudian, mulai susun dasarnya terlebih dahulu membentul bulatan/lingkaran. Untuk menyatukan tutup botol, gunakan hot glue. Setelah itu, mulai bangun ke atas pelan-pelan mengelilingi dasar atau alasnya tersebut. Ukur ketinggian menggunakan alat tulis. Maksudnya, jangan sampai terlalu tinggi karena ini bukan membikin tempat sampah *ngikik*. Kalau sudah selesai, maka tempat alat tulis berbahan tutup botol plastik ini dapat digunakan. Apakah boleh dicat atau dipiloks? Tergantung kemauan kalian. Mana-mana suka.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Bagaimana, kawan? Mudah bukan? Mulai sekarang, jangan pernah membuang botol plastik bekas. Karena apa? Karena kita bisa berkreasi sepuas-puasnya menggunakan botol plastik bekas ini. Botolnya bisa dimanfaatkan sebagai pot tanaman atau untuk menyemai bibit (saya melakukannya untuk bibit daun sop), sedangkan tutup botolnya dapat dimanfaatkan untuk aneka kerajinan tangan. Kalian coba deh mencari di Google, tentang sebuah rumah yang artistik karena seluruh dindingnya dilapisi sama tutup botol dengan gradasi warna yang cantik!

Semoga bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua


Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Salah satu cara memutus rantai penyebaran Covid-19 bagi para pekerja kantoran adalah work from home. Sedapat mungkin pekerjaan dilakukan di rumah dan dari rumah. Namun, apabila terpaksa harus keluar rumah, maka harus dilakukan dengan mematuhi protokol perlindungan diri, yang dilakukan juga demi perlindungan orang lain, yaitu dengan memakai masker, menjaga jarak, dan tidak boleh menyentuh wajah sebelum mencuci tangan minimal dua puluh detik dan/atau membasuh tangan dengan hand sanitizer. Protokol perlindungan diri ini insha Allah selalu kami lakukan, termasuk untuk siapa saja yang masuk ke dalam Pohon Tua, rumah kami, mereka wajib membersihkan tangan dengan sabun atau hand sanitizer.


Kembali lagi pada work from home. Apakah asyik? Ya, asyik! Tidak perlu harus mandi terlebih dulu, bisa dilakukan dengan mengenakan pakaian rumah, dan seringnya dilakukan di kamar karena laptop (dan meja kerja) berada di kamar. Asyik lainnya adalah bisa mengisi waktu kosong karena durasi pekerjaan tidak memakan waktu sampai delapan jam sehari seperti kehadiran kita di kantor pada hari-hari normal. Waktu kosong itu saya manfaatkan dengan melakukan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah berkebun (mini) di beranda belakang Pohon Tua. Kenapa saya sebut beranda, bukan halaman? Karena halaman Pohon Tua itu letaknya di samping-belakang, berdekatan dengan jalan, sedangkan bagian belakang Pohon Tua itu betul-betul seperti beranda di mana ada bekas dapur anak kos zaman dulu, bak penampung air, hingga tempat menjemur pakaian yang tanahnya dilapisi semen. Tanah yang tersisa hanya sekitar 1 x 1 meter saja (yang tidak dilapisi semen), serta di bagian pojok/sudut atas.


Berkebun bukan baru pertama kali ini saya lakukan. Dulu juga sudah saya lakukan dan telah membuahkan hasil yang dinikmati oleh banyak orang. Tanaman daun sop sudah dibagi-bagi kepada siapa pun yang memintanya, cabe sudah dinikmati hampir setiap hari, cocor bebek dan daun mengkudu diminta sama yang membutuhkan untuk obat, dan lidah buaya telah saya pergunakan untuk dikonsumsi sebagai penurun kadar gula dalam darah. Selain itu lidah buaya saya oleskan pada bekas-bekas luka yang menghitam. Haha. Gini hareeee masih ada bekas luka, main di parit lu, Teh? Sayangnya waktu itu tomat tidak bisa dinikmati karena hama dari Negara Api menyerang. Sayur sawi yang mulai mekar hancur ... entah akibat perbuatan siapa. Dududud.




Tahun 2020 saya kembali membakar semangat. Hahahaha.

Berawal dari suatu hari saat saya kembali menyalakan api asmara ingin bercengkerama dengan aneka tanaman. Maka saya mengisi lima polybag dengan tanah setelah meminta bibit tanaman pada Cahyadi. Tanahnya diambil dari samping-belakang Pohon Tua. Cahyadi datang membawa bibit-bibit untuk ditanam antara lain terong, cabe, dan sawi. Tetapi dua minggu berlalu, tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan dari polybag tersebut. Miris. Artinya tanah itu tidak mampu menopang pertumbuhan bibit. Apa yang tidak saya ketahui adalah bahwa pada hari itu juga, selain menanam bibit terong, cabe, dan sawi, diam-diam Cahyadi pergi ke beranda belakang Pohon Tua untuk menanam sorgum dan marungge (kelor) pada sekitar 1 x 1 meter tanah sisa itu. Inilah sumber segala sumber kegilaan saya ... kemudian. Sorgum dan marungge tumbuh menjulang tanpa kami sadari! Amboiiiiii.


Bibit terong, cabe, dan sawi itu memang tidak tumbuh. Tapi saya tidak menyerah. Saya harus bisa menumbuhkan tanaman di tahun ini! Tahun pandemi Covid-19! Melihat itu, Cahyadi (mungkin) merasa kasihan, maka dia membawakan saya tujuh polybag kecil anakan tanaman. Dua anakan terong, satu anakan cabe, dan empat anakan marungge. Duh, tujuh polybag itu saya sayang-sayang seperti pacar sendiri.

Bermodal tujuh polybag dan semangat yang menggila, saya mengajak Thika Pharmantara dan Melly untuk membenahi beranda belakang. Rak pot bunga berbahan kayu yang berada di teras Pohon Tua dipindah ke beranda belakang, berdekatan dengan bak air yang sudah tidak terpakai itu. Polybag sudah disiapkan. Tanahnya? Saya pun meminta tanah pada Abang Umar Hamdan, pentolannya Anak Cinta Lingkungan (ACIL). Dapat satu karung! Horeeee. Abang Umar sampai terkekeh mendengar permintaan tanah (subur). Orang lain minta tanah berhektar-hektar, saya minta tanah sekarung buat tanaman. Ya mau bagaimana lagi? Semangat ada, bibit ada, lahan tidak ada. Tapi selama masih ada polybag dan tanah, mari lanjutkan.


Cahyadi datang membawa tas berkebunnya yang berisi: aneka bibit dan dua sendok semen. Sore yang hangat itu kami menanam bibit terong, bibit cabe, bibit tomat. Ketiganya kami beli bibitnya di Toko Sabatani (yang murah, per bungkus hanya 2K saja). Lantas, Cahyadi menanam bawang putih di dua  polybag, dan bibit bengkoang di tanah sisa sebelah sudut atas. Kemudian, kami membeli lagi bibit sawi, kali ini yang dalam kemasan pabrik, agak mahalan sih harganya. Dan ... tentu saja kembali mendapat hibah sekarung tanah dari Abang Umar Hamdan. Mari, lanjut menanam.

Baca Juga: Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah

Apa saja yang kami tanam? Bibit sawi, wortel, bawang merah, kentang, ubi tatas, hingga batang kangkung yang daunnya sudah dipakai memasak! Haha. Eits jangan salah ... tumbuh bagus loh kangkungnya. Saat saya menulis ini, bibit-bibit sudah tumbuh baik, dan saya sudah memindahkan terong pemberian Cahyadi ke wadah yang lebih besar karena si terong memang tumbuh besar!

 Terong dan cabe yang sudah dipindah ke polybag besar.

Terong dan cabe waktu masih di polybag kecil. 

Bengkoang yang mulai disentuh sinar matahari. 

Kangkungnya tumbuh, gengs. Padahal cuma dari batang sisa. 

Bibit sawi yang bermunculan ini bikin bahagia. 

Dan ini anakan terung dari bibit 2K, yang ternyata ... tumbuh.

Kalau yang dipanah itu, bawang putih.

Yang belum bisa saya foto karena memang belum nampak hasilnya. Hehe. Tapi, asli, saya bahagia melihat tanaman-tanaman ini tumbuh.

Berbekal pengalaman sebelum-sebelumnya, serta melihat cuaca (saat ini sering turun hujan), maka saya menerapkan pola yang berbeda untuk tanaman-tanaman yang masih mini ini. Setiap tanaman tentu membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis dan membuat makanan. Tanpa cahaya matahari, susah sekali tanaman bisa tumbuh. Sinar buatan dari cahaya lampu tidak akan sama dengan sinar matahari yang alami dan gratis. Haha. Tanaman juga membutuhkan air, tetapi kalau kebanyakan air, bisa rusak pula tanaman itu. Apalagi yang basi baby begitu! Jadi, polanya adalah setiap pagi semua polybag akan dikeluarkan dari bagian beratap agar mereka terpapar sinar matahari. Kecuali kangkung yang memang kami biarkan saja di rak kayu butut itu. Setiap sore, semua polybag bakal kami simpan kembali ke bagian beratap untuk menghindari hujan di malam hari. Pola ini akan terus dilakukan sampai semua tanaman besar dan cukup kuat untuk menahan air hujan.

Capek donk? Memang! Tapi di dunia ini tidak ada pekerjaan yang tidak membikin capek. Dan percayalah, capek itu nantinya akan dibalas dengan hasil yang insha Allah baik.

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Gara-gara kebun mini di beranda belakang Pohon Tua saya jadi punya aktivitas yang betul-betul baru dan rutin. Setiap pagi, bergantian dengan Thika dan Melly, memindahkan polybag agar tanaman terpapar sinar matahari. Setiap dua jam sekali saya kembali ke sana untuk memercik semua polybag dengan air. Sore hari, setelah disiram air, semua polybag dimasukkan lagi ke bagian beranda yang beratap. Ini aktivitas rutin yang menyenangkan karena setiap pagi selalu ada kejutan baru dari setiap tanaman. Ada yang tumbuh besar, ada pula yang mengintip malu-malu dari tanah. Sebagai 'orangtua' tentu saya senang (bahagia lebih tepatnya) melihat pertumbuhan mereka.

Berikutnya kami akan coba menanam jahe, kunyit, dan kawan-kawan se-geng-nya.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Di rumah saja jadi punya banyak waktu kan? Ayo berkebun. Jangan bilang kalian tidak punya lahan. Berkebun tidak selamanya harus punya lahan. Selama masih ada polybag/wadah dan tanah yang bisa diminta (tanah subur), tentu kita bisa berkebun mini. Kalau saya yang lebih suka nge-game ini bisa ... kalian juga bisa. Kebun mini mungkin tidak bisa menghidupi kita setiap hari, tetapi suatu saat dia pasti akan menjadi kebanggaan. Iya, bangga ... ketika sayur yang ada di piring itu berasal dari kebun mini sendiri.

Semoga bermanfaat!

#RabuDIY



Cheers.

Kalau Tahu 5-Minutes Crafts Harus Tahu TheSoul Publishing

Kalau Tahu 5-Minutes Crafts Harus Tahu TheSoul Publishing. Do It Yourself (DIY). Dunia DIY pasti berhubungan dengan dunia craft dan life hack. Craft adalah kerajinan tangan. Life hack adalah tips sederhana tapi jitu untuk mengatasi masalah dalam keseharian umat manusia. Contoh craft adalah menyulam, membatik, menenun, membikin hiasan dinding berbahan keping CD, membikin pot bunga berbahan botol plastik, membikin keset dari handuk bekas, membikin dompet berbahan bungkus plastik (minuman) sasetan, hingga membikin bunga dari tali rafia dan tas kresek. Contoh life hack adalah memanfaatkan kaleng bekas minuman untuk merontokkan bulir jagung dari tongkol jagungnya, menggunakan lipatan kertas untuk membuka tutup botol kaca, memanfaatkan daun pepaya untuk mengusir nyamuk, hingga membersihkan barang berkarat dengan cara merendamnya dalam cairan berkola.

Baca Juga: Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah

Saya, kalian, mereka, pasti setidaknya satu kali dalam hidup pernah menonton tentang dunia DIY yang berhubungan dengan craft dan life hack ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa 5-Minutes Crafts merupakan salah satu tayangan yang paling banyak mengulas tentang dunia DIY, craft, life hack. Kalau di-Indonesia-kan menjadi Kerajinan Tangan 5 Menit, meskipun untuk membikinnya membutuhkan waktu lebih dari lima menit. Saya mulai menonton video-video 5-Minutes Crafts dari media sosial Instagram, kemudian berlanjut ke Youtube. Awal mula mengetahui tentang 5-Minutes Crafts saat saya mulai terobsesi dengan dunia DIY. Waktu itu saya terus memperbarui pengetahuan tentang membikin sesuatu terutama berbahan barang bekas. Tak cukup sampai di situ, 5-Minutes Crafts kemudian punya sub-sub seperti Girly, Man, Kids, dan lain sebagainya.

Tapi tahukah kalian siapa dan/atau apa yang berada di balik tayangan-tayangan 5-Minutes Crafts? Sekarang ... saatnya kalian tahu.

TheSoul Publishing


5-Minutes Crafts tidak terlepas dari perusahaan bernama TheSoul Publishing. Penulisannya memang begitu, The dan Soul tidak dipisah. Dirilis dari situsnya, TheSoul Publishing adalah studio digital independen yang menghasilkan konten asli yang menyenangkan, informatif, dan menginspirasi audiens global. TheSoul Publishing merupakan salah satu perusahaan media online paling produktif dan populer di dunia dan menjangkau ratusan juta pengikut di Facebook dan pelanggan Youtube. Tim kreatif TheSoul Publishing berbasis global memberikan konten yang menarik untuk semua umur dalam delapan belas bahasa yang berbeda, didistribusikan melalui jaringan lintas platform yang digerakkan oleh media sosial.

Mulai dari hack yang praktis hingga proyek kerajinan yang cerdas, dari kiat kecantikan yang memusingkan hingga teka-teki yang memusingkan otak. Portofolio merek media TheSoul Publishing menekankan hal-hal positif, praktis, dan murni menghibur. Saluran TheSoul Publishing yang paling banyak ditonton adalah, tentu saja, 5-Minute Crafts. 5-Minute Crafts adalah merek dan/atau brand digital DIY nomor satu di dunia dan menempati peringkat di antara Top-5 dari semua Saluran YouTube. Makanya tidak salah saya menulis judul: Kalau Tahu 5-Minutes Crafts Harus Tahu TheSoul Publishing. Karena, 5-Minutes Crafts ini benar-benar jawara.

Selain 5-Minutes Crafts, TheSoul Publishing juga memproduksi konten/saluran lain seperti Bright Side, 7-Second Riddles, Actually Happened, 123 Go!, Avocado Couple, Frankenfood, Slick Slime Sam dam Doodland. Makanya tidak heran ketika melihat logo Bright Side, saya langsung teringat sama 5-Minutes Crafts ... bohlam! Dan sumpah, baru hari ini saya mengetahui koneksi antara keduanya. Mereka sama-sama diproduksi oleh TheSoul Publishing. Oalah ... hahaha.

Ide, Tim, dan Kerja Keras


Menonton video-video milik TheSoul Publishing di Youtube saya percaya bahwa di belakang layar ada banyak tim yang bekerja keras. Tim ini pasti dibagi berdasarkan salurannya masing-masing. Bahkan satu saluran, menurut saya, bisa terdiri dari banyak tim. Misalnya 5-Minutes Crafts yang terbagi dalam Girly, Man, Kids, pasti punya tim-nya masing-masing. Setiap tim pasti mempunyai orang-orang yang dijuluki tim kreatif. Ideas Team. Merekalah yang harus memutar otak untuk setiap kontennya, merekalah yang harus bekerja keras mewujudkan ide tersebut, merekalah yang harus pandai mengatur kanal kategori.

Kanal kategori?

Iya, itu bahasa yang saya gunakan.

Karena, dari setiap video 5-Minutes Crafts yang saya nonton, ada beberapa video yang sama, yang pernah tayang pada video lainnya. Kanal kategori ini penting sehingga mereka cukup membikin satu dua video baru untuk kategori yang sama, dan bisa menambahkan video-video yang sudah ada, asal kategorinya sama. Tapi bukan berarti mereka asal comot, ada kerja keras di situ. Memilah video, menyambungnya, menyunting ini itu, bukan perkara mudah, terutama untuk video berdurasi sampai puluhan menit.


Betapa beruntungnya saya, kalian, mereka, karena tahu tentang 5-Minutes Crafts dan saluran lain milik TheSoul Publishing. Apa saja yang sudah saya pelajari dari 5-Minutes Crafts? Hwah, banyak sekali, gengs. Menjadikan BH sebagai masker, membikin tas berbahan keping CD, membikin kursi/bangku dari rak telur, membikin makanan raksasa, nge-prank teman dengan makanan palsu, bagaimana caranya agar kemping jadi lebih menyenangkan, betapa menyenangkannya berkebun itu, memanfaatkan lem bakar untuk berbagai keperluan hidup, hingga menggunakan sendok untuk menggambar alis mata. Haha. Macam-macam ide kreatif mereka. Ada yang bisa kita tiru, ada yang tidak. Tergantung tingkat kesulitan masing-masing.

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernahkan kalian membikin apa-apa yang kalian nonton dari 5 Minutes Crafts? Yang jelas, segala sesuatu yang beraroma DIY selalu menarik perhatian saya. Kami pernah membakar ayam di api unggun menggunakan aluminium foil. Haha. Gara-gara 5-Minutes Crafts itu! Ya ya ya sudah dulu ... nanti tidak selesai-selesai ceritanya. Yang jelas, hari ini kita semua tahu sesuatu di balik nama besar 5-Minutes Crafts. Mari ... ber-DIY-ria!

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah


Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah. Setiap menjelang Hari Raya Paskah, ada teman-teman yang menjual lilin Paskah dalam kemasan gelas mini di mana bagian luar gelas dicetak tulisan Paskah begitu. Sudah lama saya juga pengen bikin lilin semacam itu tapi bentuknya beda. Berbentuk telur! Kita semua tentu tahu bahwa Paskah identik dengan telur. Easter Egg. Keinginan yang lama terpendam itu baru bisa dilaksanakan Selasa kemarin. Maklum #DiRumahSaja harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Banyak yang mengeluh di rumah saja bikin mati gaya. Ah, siapa bilang? Hehe. Bagi saya, di rumah saja berarti bisa melakukan banyak hal, termasuk membenahi belakang rumah bekal berkebun! 

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Tapi hari ini saya belum bercerita tentang belakang rumah yang proyek DIY-nya sudah sudah dimulai itu. Hari ini saya akan menghadirkan cara membikin lilin berbentuk telur yang sebenarnya sangat mudah. Mari tengok bahan-bahannya:

1. Lilin.
2. Cangkang telur.
3. Crayon jika ingin lilinnya berwarna.
4. Suntikan (bekas tinta printer).

Untuk proses membikinnya, bisa kalian tengok pada video di bawah ini:


Selalu ada cerita menarik dari pengalaman pertama. Sama juga, kemarin itu untuk percobaan pertama, saya rasa cukup sukses menghasilkan lilin-lilin berbentuk telur. Kemarin itu bikinnya memang belum pakai crayon (untuk warna). Kami malah mencoba memakai pewarna makanan! Haha. Mana bisa. Yang ada di pewarna lari ke tempat lain si lilin lari ke tempat lain. Mereka tidak bisa kawin *ngakak*.

Bagaimana ... jika kalian masih #DiRumahSaja, yuk dicoba.

#RabuDIY



Cheers.

Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan


Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan. Pada akhirnya, setelah mahasiswa Uniflor dirumahkan, giliran dosen dan karyawan Uniflor dirumahkan. Dirumahkan tidak sama dengan liburan. Artinya, mahasiswa tetap belajar, dosen tetap mengajar, dan karyawan tetap bekerja. Tapi semua dilakukan dari rumah. Study from home. Work from home. Kurangi aktivitas di luar rumah.


Apabila ada pekerjaan yang wajib dikerjakan oleh dosen dan karyawan antara tanggal 23 Maret 2020 sampai 4 April 2020, bersifat mendesak dan atas perintah atasan, maka dosen dan karyawan Uniflor harus mengikuti perintah pekerjaan tersebut. Sesuai dengan situasi yang terjadi, di rumah saja, salah satunya, bisa lebih cepat memutus rantai penyebaran virus Corona.


Dua minggu di rumah saja, bukan liburan, tentu bisa menimbulkan kebosanan. Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan selama masa 'karantina diri sendiri' ini. Berkebun di kebun mini merupakan salah satunya. Yang paling asyik tentu menonton drama Korea, filem-filem terkini, serta membaca buku. Siapa tahu ada buku di lemari buku kalian yang pembungkus plastiknya masih utuh. Perlu dibuka! Bacalah! Mengisi waktu luang ini. Ada pula pekerjaan lain yang bisa dilakukan seperti membersihkan kulkas, membersihkan kamar mandi, menata ulang kamar, menata ulang ruang tamu, dan lain sebagainya. Eits, bagi pecinta kerajinan tangan, tentu di rumah saja memberi begitu banyak waktu untuk berkreasi sepuas-puasnya.

Karena banyak bahan baku kerajinan tangan yang tertinggal di kantor seperti koran dan kardus, tentu saya belum bisa membikin tutorial baru membikin desk organizer atau keranjang koran. Makanya hari ini saya hanya ingin berbagi foto tiga desk organizer mini yang benar-benar menggemaskan dan saya tidak tahu di mana kah mereka sekarang. Haha. Sudah diberikan kepada orang lain hanya saja saya lupa kepada siapa. Semoga bermanfaat bagi mereka yang menerimanya.

Ada tiga desk organizer mini yang saya bikin disela-sela membikin barang lainnya. Ini dia penampakannya:




Mini memang, tapi punya kekuatan yang cukup untuk menampung barang-barang modal kerja. Seperti yang kalian lihat di atas.

Baca Juga: Monotuteh

Mumpung di rumah saja, kalian juga bisa coba membikinnya karena bahan-bahannya tidak perlu banyak banget:

1. Kotak susu atau gulungan tisu.
2. Kardus untuk alas.
3. Pembungkus (kertas majalah juga boleh).

Silahkan berkreasi sepuas-puasnya, gengs!

#RabuDIY



Cheers.