Bunga Dinding


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Hehe. #RabuDIY kali ini akan membahas tentang bunga hiasan dinding. Saya sering melihat bunga hiasan dinding atau bunga dinding ini di rumah orang-orang; keluarga, tetangga, teman. Bunganya menempel pada rangka dan biasanya sepasang. Rangka bunga dinding ini ada yang berbahan kayu tetapi kebanyakan berbahan plastik, sama seperti bahan bunga itu sendiri. Ya, plastik memang ada di mana-mana.

Baca Juga: Baskets

Suatu kali, saat sedang menganyam keranjang-keranjang pesanan, saya dikirimi gambar oleh Mila Wolo. Gambar itu adalah gambar bunga hiasan dinding dengan rangka terbuat dari kayu. Dia bertanya apakah saya bisa membikinnya? Saya menyanggupi tapi dengan satu syarat: tidak sama persis dengan gambar yang dia kirimkan. Gambar itu kira-kira seperti di bawah ini yang saya ambil dari Ali Express:


Awalnya saya memikirkan kayu sebagai bahan rangkanya karena besi tidak lah mungkin. Tapi demi memperoleh kayu-kayu itu saya harus pergi ke bengkel kayu untuk meminta atau membeli kayu-kayu bekas berukuran panjang dua puluh sampai tiga puluh senti meter dengan lebar sekitar lima senti meter. Putar otak ke kanan ke kiri, dibantu dinosaurus yang jungkir balik sampai giginya rontok, nonton ragam video tentang proyek-proyek DIY di Youtube, maka ... TRING! Muncul ide itu. 

Mari simak ... bagaimana membikin si bunga dinding ini.

Peralatan


1. Gunting.
2. Cutter.
3. Lem PVA (Webber).
4. Lem tembak (hot glue).
5. Mistar.
6. Alas kaca/keramik supaya mejanya tidak terluka.

Bahan-Bahan


Bahan-bahan untuk membikin bunga hiasan dinding ini sebagian besar merupakan barang bekas (yuk didaur ulang).

1. Botol plastik bekas air mineral.
2. Kardus.
3. Pipa kertas.
4. Cat.
5. Benang kasur.
6. Kertas HVS.

Cara Membuat


Potong botol plastik bekas air mineral dengan keutamaan bagian bawah/pantat botolnya. Ikuti bentuk bintang pada bagian itu, dan gunakan gunting untuk membentuk kelopak bunga. Ini hal yang mudah, menurut saya, hehehe. Penampakannya seperti pada gambar di bawah ini:


Jumlah bunganya tergantung kebutuhan. Silahkan dibikin sebanyak-banyaknya karena siapa tahu kalian bakal bikin banyak. Setelah selesai dengan membentuk bunga-bunga ini, langkah berikutnya adalah memberi warna. Saya menggunakan cat minyak/kayu warna merah dan pink:


Pada foto di atas, belum saya beri warna pink pada bagian garis/bintangnya. Biarkan cat mengering. Karena bahannya plastik, jelas tidak bisa menggunakan kipas angin, jadi dikeringkan secara alami dan lebih bagus lagi jika di bawah sinar matahari.

Baca Juga: Monotuteh

Urusan bunga beres, mari bikin rangkanya. Sayang waktu itu saya tidak memotret proses membikin rangka. Yang jelas saya membikin rangka berbahan karton bekas kardus yang dipotong sama ukuran. Karena karton bakal kardus yang saya gunakan itu tipis, maka dipertebal dengan menyatukan dua sampai tiga buah. Lalu dibungkus kertas HVS. Bakal 'kayu tipuan' ini di-cat cokelat, sesuai warna kayu dalam bayangan saya. Apabila cat kayu telah mengering, maka dapat dibentuk rangkanya.

Langkah terakhir adalah menempelkan bunga-bunga plastik ke rangka kayu menggunakan lem tembak. Penampakan hasil akhirnya seperti gambar berikut ini:


Gambar di atas sudah saya beri nomor:
1. Bunga plastik.
2. Rangka kayu tipuan :p.
3. Pemanis.
4. Tali.

Pemanis ini terbuat dari pipa kertas yang digulung, di-cat, dan ditempelkan. Awalnya saya tidak memikirkan soal ini, tapi dalam perjalanan pengerjaan, muncul ide-ide baru. Hehe.

Bunga dinding ini tidak saja dapat kita buat menggunakan botol plastik bekas tetapi juga berbagai bahan yang ada di rumah sesuai keinginan. Misalnya, bunga plastik dapat diganti dengan gulungan koran yang ditumpang-tinding dari besar ke kecil (bisa dua, bisa tiga, jangan lebih nanti terlalu berat). Bisa juga bunga-bunga dari koran yang membikinnya sangat mudah!

Yang menyenangkan hati adalah bunga hiasan dinding pesanan Mila ini masih tergantung manis di dinding ruang tamu rumahnya. Melihat bunga itu, ada kepuasan terhakiki. Hasil karya kita, meskipun dia memang membayar, dihargai dengan terus dipakai. Tak hanya bunga dinding itu saja, masih banyak barang hasil daur ulang yang saya bikin yang masih dipakai oleh teman-teman. 

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Bagaimana, kawan? Menarik bukan? Saya yang tidak seberapa telaten ini bisa membikinnya, saya jamin kalian juga pasti bisa membikinnya. 


Cheers.

Baskets


#RabuDIY hari ini saya mau menulis tutorial sederhana membikin basket atau keranjang berbahan barang bekas. Saya sudah sering membikinnya baik yang kotak/persegi, bundar, maupun ulir. Dan ternyata setelah fakum hampir dua tahun, saya masih belum kehilangan keahlian untuk membikinnya. Ha ha ha sumpah, menulis keahlian serasa make up artist yang bisa 'menyulap' wajah begitu.

Baca Juga: Be Art

Lantas apa saja bahan-bahannya dan bagaimana cara pembuatannya? Mari kita simak.

Bahan-Bahan dan Alat:


1. Koran/kertas yang tidak dipakai lagi.
2. Lem PVAC (saya pakai Webber).
3. Lidi/sejenisnya untuk menggulung kertas.
4. Karton dari kardus bekas.
5. Cat (bila diperlukan).
6. Gunting.
7. Cutter.

Cara Membikin:


Pertama-tama membikin pipa kertas. Silahkan, koran/kertas dipotong; dibagi dua memanjang. Sayangnya untuk proses ini saya tidak sempat memotretnya, tapi kalian pasti menangkap maksudnya kan hehe. Mana yang lebih baik, kertas koran atau kertas HVS? Sama baiknya. Hanya saja kalau koran, hasil pipanya lebih panjang sehingga saat dipakai menganyam lebih asyik. Setelah dipotong, silahkan digulung menjadi pipa menggunakan lidi/sejenisnya. Hasilnya seperti gambar di bawah ini:


Bikin sebanyak-banyaknya! Supaya proses menganyam tidak terhambat pipa kertas yang habis. Saya dulu menyiapkan sampai berkaleng-kaleng pipa kertas. Tentu, dibantu Indra hehe.

Berikutnya, siapkan karton dari kardus bekas, dibikin dua berukuran sama. Besarny keranjang akan bergantung dari besarkan karton yang disiapkan oleh kita. Kenapa harus dua? Karena keduanya bakal mengapit tiang pipa kertas bakal anyaman nanti. Hasilnya seperti gambar di bawah ini:


Berapa jumlah tiang pipa? Harus ganjil. Tapi kenapa di atas gambar kok genap? Salah satunya merupakan tiang pipa untuk memulai anyaman, makanya letaknya berdekatan sama tiang satunya lagi:


Setelah itu ditindih pakai buku-buku atau alat berat juga boleh hahaha. Supaya apa? Supaya lem-nya menempel sempurna.


Biarkan semalaman sampai kering betul, atau pokoknya dirasa sudah cukup kering/kuat, maka penampakannya seperti gambar berikut ini:



Silahkan dianyam.


Ini dia hasilnya. Kaliah bisa melihat, besarnya keranjang tergantung pada lebar/besarnya karton dari kardus. Pada gambar di atas, ada yang sudah saya cat, ada yang belum saya cat, agar orang-orang tahu bahwa keranjang tersebut murni terbuat dari koran/kertas bekas.

Baca Juga: Monotuteh

Mudah bukan? Kalau saya yang kurang telaten ini bisa membikinnya, saya jamin kalian juga pasti bisa. Cukup kemauan dan mulai dari sekarang. 

Bisnis Receh yang Lumayan


Kalau kalian sedang berpikir tentang suatu bisnis, bisnis daur ulang ini merupakan bisnis receh yang lumayan. Lumayan buat penuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya dalam sebulan saya bisa menghasilkan 1,5Juta. Kan lumayan bisa buat beli listrik dan keperluan lainnya huehehe. Satu keranjang ukuran sedang saya hargai 25K saja. Ukuran kecil tergantung, ada yang 10K ada yang 15K. Kalau tempat tissu, harganya bisa 35K atau lebih tergantung permintaan.

Bagaimana, tertarik juga? Hyuk coba bikin!



Cheers.

Be Art


Bego Ga'i Night merupakan konsep: duduk-duduk sambil mengobrol. Tentu mengobrol ditemani minuman seperti kopi dan teh, serta kudapan seperti lemet atau onde yang terbuat dari ubi/singkong. Itulah konsep dari Pameran Triwarna Soccer Festival yang sudah berlangsung sejak tanggal 27 Februari 2019 kemarin bertepatan dengan launching atribut Triwarna Soccer Festival. Pada pameran ini tenda-tenda besi khas pameran berdiri di depan pagar tembok Stadion Marilonga, menghadirkan hasil karya UKM dan Komunitas. Jadi di Bego Ga'i Night, masyarakat tidak hanya dapat melihat barang-barang yang dipamerkan oleh komunitas, termasuk ada Komunitas Fotografi, tapi juga dapat membeli ragam minuman dan makanan yang rasanya aduhai menggiling lidah.

Baca Juga: Monotuteh

Salah satu komunitas yang mengisi tenda pameran adalah Komunitas Be Art. Nur Ali atau Al adalah salah seorang mahasiswa Prodi Arsitek Universitas Flores yang turut mengisi tenda Be Art ini. Sudah lama Al dikenal sebagai pembuat gelang berbahan tenun ikat. Salah satu penampakannya, yang dipesan khusus oleh Violin Kerong, seperti pada gambar berikut ini:


Penjelasan gambar di atas:

1. Sukun goreng itu, sukunnya dibawa sama Bapa Sam alias Kakak Pacar.
2. Sambalnya itu Koro Degelai dari RMC Detusoko.
3. Nah, yang dikasih panah itu gelangnya.

Hahaha ... dan gelang itu menjadi milik saya.

Be Art


Be Art ini sebenarnya merupakan komunitas yang terdiri dari banyak orang. Ada Violin Kerong, ada Nur Ali, ada saya. Violin, karena musibah kebakaran rumahnya, otomatis tidak bisa mengisi tenda Be Art. Semua hasil kerajinan tangannya dan sketsa hasil goresan tangannya hangus terbakar, termasuk sketsa wajah saya yang rencananya juga bakal dipajang di tenda Be Art. Karya-karya Violin, saya ambil dari Facebook, dapat dilihat di bawah ini:



Lalu ada Al. Al ini mahasiswanya Violin (Kaprodi Arsitektur). Karya-karyanya sangat banyak. Salah satunya bisa dilihat pada awal pos; tas bambu yang saya pakai itu. Karya-karyanya yang lain ada agenda dengan sampul terbuat dari kayu, lampu dinding, tas botol, hingga aneka gelang:




Pada malam pertama pameran saja, Al telah menjual puluhan gelang tenun ikat, ditambah yang dipesan oleh pengunjung. Anak ini memang luar biasa. Pada akhirnya dia memberikan saya sebuah buku tentang pengelolaan sampah desa. Masih saya baca beberapa lembar hehe. Nanti bakal saya ulas buku dari Rumah Intaran Bali ini.

Bagaimana dengan saya sendiri? Iya, saya juga mengisi, sekadar untuk memenuhi quota, karena saya toh sudah lama libur ber-DIY. Jadi, hasil DIY yang saya sertakan itu sebenarnya yang tersisa dari pesanan kemarin-kemarin tapi belum saya kasih ke orangnya. Sayang ya, padahal banyak yang tertarik dengan keranjang berbahan koran itu. Sampai ada yang tidak percaya bahannya koran. Makanya saya sertakan juga keranjang yang belum di-cat.


Cuma segitu, yang lainnya kan sudah diambil sama yang memesan hehehe. Beberapa hari ini saya sudah kembali membikin keranjang, tempat pinsil, dan kreasi dari semen. Cuma ya itu ... waktunya tidak bisa saya paksakan harus jadi dalam waktu dekat, karena pekerjaan utama dan pekerjaan menjadi panitia ini juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Tapi yang jelas, banyak yang bertanya-tanya tentang keranjang-keranjang ini. Padahal saya tidak khusus membikin keranjang saja. Kalian pasti sudah tahu, tempat tisu adalah mega proyek hahaha.

Komunitas Lain


Banyak komunitas yang mengisi tenda pameran Bego Ga'i Night. Tapi ada dua yang betul-betul saya sukai yaitu RMC Detusoko dengan Lepa Lio-nya, dan Komunitas Kopi Sokoria yang dipimpin oleh Ferdianus Rega. Salah seorang putera daerah yang kembali ke desa untuk mengangkat kopi daerahnya agar dikenal khalayak. Ada dua desa yang saat ini memasok kopi untuk komunitas ini yaitu Desa Sokoria dan Desa Demulaka. Ke depannya mereka bakal mengajak lebih banyak desa untuk bergabung.


Inilah cara kami menumbuk kopi sebelum mesin penggiling kopi masuk ke Kabupaten Ende. Pakai lesung kayu dan alu. Menumbuk kopi jangan sampai sehalus saat menggiling pakai mesin. Karena di situ letak seninya ... cieee ... hahaha. Proses seduhnya masih memakai V60.



Kopinya arabika. Yang robusta habis stok. Okay. Rasanya enak, menurut saya, ada sedikit citarasa brown sugar begitu. Menurut saya, lagi, semua yang ada di komunitas ini dikemas dengan sangat profesional. Sayangnya mereka tidak buka kafe di Kota Ende. Mungkin mereka buka kafe di Sokoria? Semoga. Supaya saya bisa mainnya agak jauh begitu kalau pengen ngopi hehehe. Abang Ferdianus Rega ini juga sangat ramah dan komunikatif. Saat mengobrol bersamanya, saya tahu inilah orang yang akan membangun desanya dan desa-desa sekitar, yang mengenal betul keunggulan desanya, dan mengangkatnya, termasuk remaja-remajanya. Dia luar biasa. Sama seperti pendapat saya tentang Nando Watu dengan RMC Detusokonya. 

Kalau di Lepa Lio, dari RMC Detusoko, ada juga proses menggiling kopi hingga pembuatannya. Selain itu berbagai olahan seperti sorgum, kacang, nanas kering, aneka kopi, hingga Koro Degelai pun tersedia di tenda pameran mereka. Jadi, kira-kira samalah dengan Komunitas Kopi Sokoria ini, bahwa ada edukasi ke pengunjung tentang kopi, jenis-jenis, cita rasa, pengolahan, sampai penyajian kepada pengunjung. Kan tumben di Kota Ende ada sedotan a la kopi Starbucks begitu. Katrok ya saya hihihi.


Kalau kalian sedang berada di Kota Ende, jangan lupa untuk mampir di Stadion Marilonga. Karena, selain ajang sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati, juga ada Bego Ga'i Night, dan Lomba Mural. Oh ya, Lomba Mural hari kedua ini beberapa bidang/peserta sudah nampak hasilnya meskipun masih gambaran umum belum sampai pada pendetailan. Insha Allah besok saya bakal hadirkan lima peserta Lomba Mural yang hasilnya sudah mulai terlihat. I promise.



Cheers.

Monotuteh


Kalian pernah main monopoli? Kalaupun tidak pernah main monopoli, saya jamin kalian pasti pernah mendengar tentang permainan ini kan? Ya, monopoli merupakan salah satu permainan papan seperti catur, halma, ludo, tapi tentu semua dengan aturannya masing-masing. Permainan yang bisa memakan waktu berjam-jam serta bikin lupa waktu ini terdiri atas kotak-kotak yang mengelilingi bagian tengahnya. Pada bagian tengah ada dua kotak yaitu Kesempatan dan Dana Umum. Sedangkan kotak yang mengelilinginya terdiri atas nama negara serta properti lain seperti bandara, listrik, air. Ada pula penjara. Jangan lupa, setiap permainan monopoli juga dilengkapi dengan uang mainan, dadu, hingga bidak berbentuk rumah, dan lain sebagainya.

Baca Juga: 5 Manfaat Klorofil

Kenapa mendadak saya menulis soal monopoli? Karena berkaitan dengan #RabuDIY yang merupakan tema baru di blog ini menggantikan #RabuLima yang sering mengulas tentang dunia obat herbal, kesehatan, dan olahraga. Uih ... hahaha. Ohlala banget ya.

Monopoli dan Krucil


Sejak dulu memang sudah suka main monopoli. Kembali main monopoli itu sekitar tahun 2017. Dari pada para krucil alias anak tetangga, mondar-mandir tidak jelas setelah belajar bareng Mamatua, mending saya ajak mereka main monopoli. Hyess, tentu ada si Meli yang sekarang sudah mulai genit hahaha, ada si Yoye yang kalau difoto susah senyum, ada si Nabil yang kudu disuruh mandi dulu sebelum bergabung di meja panjang tempat kami bermain, serta krucil lainnya sebagai pelengkap penderitaan. Sudah tahu kan ya kalau rumah saya memang jadi semacam 'panti asuhan' karena krucils ini paling doyan belajar dan main di rumah, sampai tiduran di terasnya yang luas dan sejuk itu.

Jadi, setiap malam setelah belajar dimana mereka belajarnya pun di rumah saya, kami bermain monopoli. Biasanya sih anggota permainan ada saya, Thika, Indra, dan Mely-Yoye. Tapi seringnya saya, Thika, Meli dan Yoye karena Indra malas-malasan atau memilih memegang bank saja. Suasana ramai semacam itu selalu menyenangkan. Kalau jam makan malam, ya kami makan bareng. Kalau lauknya kurang ya si Meli kudu menggoreng telur atau tahu/tempe yang ada di kulkas. Pokoknya harus makan bersama. Kadang, bersama krucils ini kami menyelenggarakan tea-time a la orang Inggris lengkap bergaya minum teh dengan kelingking diangkat ... LOL!

Monotuteh


Suatu malam ide untuk membikin sendiri monopoli ini tercetus di benak saya. Oh iya, meja panjang yang saya sebut di atas itu memang merupakan meja kerja kedua saya yang khusus untuk membikin aneka kerajinan tangan dari bahan bekas. Meja kerja utama tetap di kamar haha. Nah, melihat karton-karton di meja panjang itu saya menyeletuk, "Meli! Yoye! Ambil mistar dan spidol! Kita bikin monopoli sendiri!"

Awalnya mereka protes karena kan mistar dan spidol ada di hadapan saya (ini meja kerja panjang memang lengkap sih hahaha). Dengan senyum gokil dan alis dinaik-naikkan saya mulai memotong karton menjadi persegi empat. Membuat titik-titik, menarik garis, dan membuat kotak-kotak mirip monopoli. Tapi tidak sama persis baik ukuran papan/karton maupun kotak-kotaknya, karena ini adalah MONOTUTEH!

Yang tidak berubah itu adalah Kesempatan, Dana Umum, dan Penjara. Yang lainnya berubah semua.

1. Nama Daerah
Ini saya tulis nama daerah di NTT meskipun banyakan daerah di Kabupaten Ende seperti Labuan Bajo, Moni, Wolowaru, Danau Kelimutu, dan lain sebagainya.

2. Lagu Wajib Nasional
Pada kotak ini, yang berhenti di sini wajib menyanyikan salah satu lagu wajib Nasional yang dihafalnya. Asyik sekaliiii hehehe.

Tentu ada Bandara H. Hasan Aroeboesman, PLN, PDAM Ende, dan lain sebagainya. Uangnya sih tetap uang monopoli asli, termasuk dadu dan bidak. Ribet kan bikin uang lagi, apalagi uang Negara Kuning *ngikik*

Belajar Bersama Monotuteh


Bermain monotuteh juga bisa sambil belajar. Krucils bertanya, mengapa biaya membeli Labuan Bajo jauh lebih mahal dari Kota Ende? Bahkan Moni pun demikian. Saya menjelaskan kepada mereka bahwa Labuan Bajo dan Moni adalah daerah wisata yang unggul. Tanah-tanah di sana semakin ke sini semakin mahal karena menjadi telah daerah pariwisata yang pertumbuhannya sangat pesat. Sehingga otomatis di monotuteh harga membeli Labuan Bajo jauh lebih mahal dari membeli Kota Ende, misalnya.

Lainnya, kami belajar lagu-lagu wajib Nasional. Jadi, siapapun yang jatuh di kota itu wajib menyanyikan lagu-lagu wajib Nasional. Kadang-kala mereka berpikir dulu agar tidak terjadi pengulangan lagu (yang sama). Kalau mereka bingung, tinggal saya kasih tahu lagu lainnya. Suatu kali Yoan, adik si Meli yang masih kecil itu, menyeletuk lagu Pelangi-Pelangi. Hahaha. Dasar ana lo o (anak kecil), belum bisa bedakan lagu anak-anak denga lagu wajib Nasional.


Monotuteh dapat juga kalian bikin tergantung kebutuhan, terutama yang di rumahnya banyak anak-anak. Berempat, bareng orangtua, sudah bisa memainkan permainan ini. Tentu namanya tidak harus monotuteh donk, tergantung nama kalian atau nama keluarga yang mau dipakai, mana-mana saja. Karena menurut saya permainan ini sangat bagus apabila papannya kita bikin sendiri, dimodifikasi dengan yang lebih mengedukasi.

Bagaimana? Mau mencoba juga?


Cheers.