Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang


Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang. Sabtu, 4 Januari 2020, saya dan teman-teman Rumah'97 melaksanakan niat yang sudah lama tertunda yaitu reuni. Sayangnya, dari puluhan teman yang ada di WAG alumni itu, hanya lima orang yang bisa ikutan. Saya, Hilda yang pada tanggal 6 Januari 2020 sudah kembali ke Depok, Yusti si pemilik Kafe Hola, Ryan, dan Abah Yudin. Teman-teman lain sudah kembali beraktivitas sehingga mereka belum bisa bergabung. Tidak masalah. Tujuan kami hari itu adalah Dapur Jadul (baru) yang terletak di daerah Nangaba. Menurut Kakak Nona Eka, pemiliknya, itu disebut River Beach. Dulunya, Dapur Jadul terletak di Pantai Raba, sekitar 300 meter ke arah Barat dari lokasi baru.


Apa yang paling saya sukai dari Dapur Jadul? Desainnya yang luar biasa memikat dan menghibur mata. Begitu banyak spot instagenic dipasang di sana. Selain itu, ragam asesoris warna-warni juga membikin pengunjung terpesona. Nampaknya kreativitas tanpa batas memang bermain-main di tempat ini. Salut to the max. Oh ya, waktu kami pergi ke sana, masih banyak tukang bangunan sedang bekerja. Dapur Jadul di lokasi baru ini memang belum sepenuhnya jadi. Tapi itu tidak menyurutkan niat masyarakat untuk menikmati hari besama teman, keluarga, atau kekasih *perasaan teriris-iris menulis kekasih, hahaha*. Buktinya, Dapur Jadul masih ramai dikunjungi masyarakat: tua dan muda, meskipun pembangunan masih sedang berjalan.

Saat pergi ke sana bareng teman-teman Rumah'97 itulah saya memotret begitu banyak asesoris/pajangan di Dapur Jadul. Pernak-pernik, boneka, brojong bulat (semacam tiang bulat) dengan batu yang unik, botol-botol kaca, hingga wadah berisi beras warna-warni. A-ha! Saya ingat, dulu pernah pengen bikin beras warna-warni ini tetapi batal. Ini dia penampakan pajangan beras warna-warni dari Dapur Jadul.



Bagaimana kalau saya coba membikinnya? Bukankah saya sendiri juga punya kulit kerang dan siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Pulau Lembata?

Kali ini tidak boleh batal! Mari berkreasi!

Bahan dan Alat:
1. Beras. 
2. Pewarna.
3. Air untuk larutan pewarna.
4. Wadah untuk beras warna.
5. Kulit kerang/siput.

Pertama:
Jumlah beras tergantung keinginan/kebutuhan kalian. Bisa segenggam, bisa sekilo. Karena pewarna yang ada di rumah tinggal tiga warna: oranye, kuning, hijau, saya memisahkan beras ke dalam tiga wadah ukuran kecil. Bisa dilihat pada gambar di bawah:


Kedua:
Setiap wadah beras diisi air secukupnya untuk merendam atau mencampurnya dengan pewarna. Beri pewarna secukupnya pada masing-masing wadah beras yang telah diisi air, diaduk perlahan agar semua beras tercampur rata dengan pewarna. Silahkan lihat gambarnya:


Ketiga:
INGAT! JANGAN TERLALU LAMA! Sekitar tiga menit, saring airnya, dan beras yang sudah berubah warna itu disisihkan atau dikeringkan. Proses pengeringan bisa dengan cara alami yaitu dijemur di bawah sinar matahari. Bisa didiamkan saja semalam. Bisa juga dihadapkan di kipas angin. Dan saya menggunakan cara ketiga yaitu dihadapkan di kipas angin. Hehe. Tidak sabaran sih.


Keempat:
TRADA ... sudah jadi. Pokoknya kalau beras berwarna itu sudah kering, ya sudah jadi.


Bagaimana menjadikannya pajangan? Bisa berasnya dipisah, bisa digabungkan seperti pajangan beras berwarna yang saya lihat di Dapur Jadul. Seperti gambar berikut ini.


Maka saya bikin seperti ini:



Beras berwarna bisa diaplikasikan sendiri, bisa juga diberi pajangan tambahan. Seperti yang sudah saya tulis di atas, kebetulan saya juga punya kulit kerang dan siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Pulau Lembata. Ukurannya tidak besar, tapi lumayan kalau dibikin pajangan bersanding dengan beras berwarna. Oh ya, ini penampakan semula kulit kerang dan siput-siput itu. Terpaksa satu stoples kaca dikorbankan. Hahaha.





Selesai! Gelas piala berisi beras berwarna dan kerang serta siput itu kini telah menjadi pajangan cantik di meja-meja ruang tamu. Cantik kan? Cantik doooong, seperti yang bikin. Hehe.

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Bagaimana menurut kalian? Mudah sekali membikin pajangan cantik berbahan beras dan kulit kerang serta siput ini. Saya membikinnya hanya dalam waktu semalam. Tidak sampai sehari semalam! Tentu, untuk mengeringkan beras yang direndam air warna itu membutuhkan ketekunan dan keseriusan kipas angin *ngikik*. Sebenarnya, selain gelas piala, bisa juga beras berwarna ini diisi dalam wadah berupa bohlam lampu bekas. Tetapi zaman sekarang susah mencari bohlam lampu bekas, karena rata-rata lampu rumah itu umumnya sekarang berbentuk jari dan/atau spiral. Semoga nanti bisa menemukan bohlam lampu, terkhusus yang bening itu.

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang gemar berkreasi. Sampai jumpa minggu depan!

#RabuDIY



Cheers.

Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri


Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri. Masa kecil saya, kalau boleh mengklaim sendiri, merupakan masa kecil paling bahagia. Karena apa? Karena masa itu hanya ada telepon kabel, belum ada telepon genggam. Saya lebih banyak membaca buku dan bermain permainan tradisional bersama teman-teman dan kakak-kakak sepupu. Banyak permainan yang kami ciptakan sendiri. Betul sekali kalau orang bilang: keterbatasan mampu membikin manusia menjadi lebih kreatif. Bayangkan saja, bungkus bekas permen sugus adalah barang berharga yang bisa dijadikan duit mainan, dikumpulkan di dalam kotak mini, dan dibanggakan ke semua orang. 

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Kreatifitas masa kecil sebenarnya tidak selamanya karena keterbatasan. Waktu itu kami juga ingin bisa membikin sesuatu yang bisa dipamerkan pada orang lain, terutama orang dewasa. Selain bermain masak-betulan, di mana saya pernah mencuci beras sampai sepuluh kali sehingga rasa nasinya hancur-lebur, kami juga membikin sendiri gelang berbahan benang wol.

Melihat kakak sepupu membikin satu gelang berbahan benang wol, saya pun tak mau kalah. Bahannya cuma benang wol aneka warna saja! Karena benang wol nanti bakal dipintal (tiga utas) maka diperlukan tiga warna berbeda agar gelangnya nanti terlihat cantik. Benang wol yang dijual di Kota Ende kebanyakan benang wol untuk kerajinan tangan kristik, sehingga kami harus mendobel setiap warna. Satu warna bisa tiga sampai lima utas benang. Supaya apa? Supaya gelangnya lebih besar.


Membikin gelang berbahan benang wol ini super mudah (dan murah). Setelah akhir 2017 saya membikinnya untuk Jeki, Meli, Nabil, dan Cika, akhir tahun 2019 saya membikinnya lagi untuk Thika. Busyet, ponakan saya yang satu itu juga pengen pakai gelang berbahan benang wol. Haha.


Setelah menentukan berapa utas benang per warna, semua utas kemudian diikat bagian ujungnya, lalu dipintal (dicacing tiga). Supaya mantap, minta seseorang untuk menahan bagian ujung, atau bisa juga ditahan menggunakan pemberat (buku, seterika, atau jembatan). Setelah dipintal dan dirasa cukup, ukur terlebih dahulu lingkar gelang dengan tangan orang yang hendak memakainya. Kalau sudah pas, ikat lagi ujung satunya. Trada ... jadi deh. 

Baca Juga: Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca

Berbahan murah, mudah dibikin. Tunggu apa lagi? Bikin yuk gelang benang wol ini sebagai 'ikatan' di dalam keluarga. Meskipun tidak bisa dipakai terus-terusan, tetapi misalnya saat sedang traveling bareng keluarga, semua anggota keluarga memakai gelang ini, pasti seru dan membikin keluarga kalian menjadi pusat perhatian.

Selamat mencoba!

Semoga bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing


Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing. Do it yourself a.k.a. DIY selalu mampu membikin saya berdecak kagum. Hebatnya, itu berefek domino. Decak kagum itu berujung pada aksi membikin sendiri juga. Iya dooong. Prinsip saya, kalau orang lain bisa melakukannya, saya juga harus bisa. Kalau ternyata setelah dicoba berkali-kali gagal, artinya saya harus berhenti mencoba membikinnya. Selama ini gagalnya cuma sekali dua, selebihnya alhamdulillah sukses. Benar, hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Kecuali usahanya setengah-setengah. Haha.

Baca Juga: Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK

Salah satu benda yang acap dipakai untuk berkreasi adalah kancing (baju). Saya melihat di internet, kancing baju dipakai untuk membikin lukisan (dahan dan ranting pohon), ada juga yang berbentuk hewan (gajah), dan lain sebagainya. Ndilalah, saya justru lebih terinspirasi ketika melihat gantungan kunci ruangannya Kakak Shinta Degor di kantor. Maka, dengan semangat 45 pergilah saya membeli aneka kancing baju di toko. Seharusnya kancing yang dipakai merupakan kancing dari baju-baju atau kemeja lama yang sudah tidak dipakai. Tetapi menurut saya tidak ada salahnya membeli saja kancingnya ketimbang menunggu baju-baju atau kemeja tersebut afkir.

Ayo siapkan!

1. Kancing baju.
2. Benang.
3. Ring gantungan kunci (kalau ada).

Caranya? Mudah. Cukup satukan kancing seperti pada gambar di bawah ini, dan jadi.


Unik dan keren kan? Iya dooong, bikin sendiri ini. Barang itu, sekalipun murah, pasti bagus asalkan dibikin sendiri. Haha.

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Untuk berkreasi tidak perlu terlalu pusing memikirkan ini dan itu. Yang penting ada ide, ada kemauan, pasti ada jalan. Kalau ide hanya sekadar berputar saja di kepala, barang impian tidak bakal jadi sampai kiamat. Ide itu sama seperti niat. Kalau tidak dijalankan ya percuma. Saya yakin kalian juga bisa bikin, mudah ini kok. Siapa tahu kalian bisa membikin tidak hanya gantungan kunci super sederhana, tapi bisa juga bikin gelang, anting, kalung, atau hiasan dinding! Ayo berkreasi sepuas-puasnya.

#RabuDIY



Cheers.

Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK


Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK. Menulis VK rasanya seperti menulis CK, atau LV. Perasaan itu tidak salah, karena VK merupakan salah seorang artist yang sudah lama malang-melintang di dunia sketsa. VK, Violin Kerong. Saya pernah menulisnya di pos berjudul Violin Kerong Seorang Pelukis Sketsa Wajah Terbaik. Silahkan dibaca. Menulis VK sebagai pelukis sketsa terbaik bukan karena dia pernah mensketsa wajah saya gratis, haha, tapi karena ketika mendengar ceritanya berproses menghasilkan suatu sketsa, itu luar biasa. Hei ... ternyata bukan hanya make up artist saja yang membutuhkan beragam kuas, seorang sketch artist pun demikian adanya. Bahkan pelukis sketsa mempunya lebih banyak pensil alis ketimbang make up artist.

Baca Juga: Taman DIY di SMPSK Kota Goa di Kecamatan Boawae

Suatu hari Viol, atau lebih sering disapa Cio, bertanya tempat atau lokasi yang bisa dipakai untuk memajang hasil sketsanya. Kalian mungkin bertanya, bukankah Viol bisa memajang semua hasil sketsa itu di rumahnya sendiri? Ada kisah yang belum kalian ketahui, tentang kebakaran yang menghanguskan rumahnya, termasuk galeri mini miliknya. Trauma itu pasti. Tapi alhamdulillah Viol bangkit dan terus berkarya menghasilkan sketsa-sketsa terbaik. Dan sketsa wajah saya adalah sketsa pertama yang dia bikin setelah bangkit. Kalau tidak salah sih begitu. Hahahah.

Back to that question. Maka saya menawarkan ruang tamu Pohon Tua sebagai galeri mininya. Banyak dinding yang masih kosong dan bisa dimanfaatkan untuk memajang hasil sketsa Viol. Why not kan? Maka pada suatu sore muncullah Viol membawa sketsa-sketsa yang kebanyakan masih subyek wajahnya sendiri. Saya meminta bantuan Eda Tuke, suaminya Mamasia, untuk memasang paku-paku lantas memajang sketsa-sketsa itu.


Terakhir, yang saya tahu, selain pesanan sketsa wajah Mamanya Ross, teman kantor, untuk ultah Mamanya itu, Viol membikin sketsa Harley Quinn. Margot Robbie. Hwah! Betapa senangnya saya melihat itu. Artinya, my baby love Joker juga harus ada donk. Aduhai, tidak sabar. Haha. Mungkin setelah Joker, bolehlah Viol mengsketsa Lucifer dari filem Constantine, si Peter Stomare! Gila lu, Teh.

Yang jelas saya bangga bisa mengenal seorang Viol yang penuh talenta. Oh ya, in case you didn't know, Viol merupakan dosen pada Prodi Arsitektur sehingga jelas nyeni kan ya dia. Dia juga dikenal sebagai penyanyi alto pada Spiritus Sanctus Choir yang kesohor itu. Viol juga dikenal sebagai orang yang begitu banyak menghasilkan kerajinan tangan. Lebih banyak dari saya! Bahkan, kerajinan tangannya itu kelasnya pro banget dibandingkan saya. Haha. Tempat tisu, aneka boneka gemesin (nanti saya ngepos soal boneka-boneka ini juga), bingkai, dan lain sebagainya. Bukan cuma Viol, kakaknya juga jago! Keluarga mereka memang keluarga nyeni.

Tadi di atas sudah tulis 'terakhir' ya haha, ya sudah ... semoga bermanfaat dan siapa tahu kalian mau disketsa juga. Per person 250K only.

#RabuDIY



Cheers.

Taman DIY di SMPSK Kota Goa di Kecamatan Boawae


Taman DIY di SMPSK Kota Goa di Kecamatan Boawae. Seperti yang sudah saya ceritakan pada pos Senin kemarin di #CeritaTuteh dan #SeninCerita, saya dikejutkan oleh banyak hal dari sebuah kecamatan di Kabupaten Nagekeo, yaitu Kecamatan Boawae. Mulai dari talenta di bidang tarik suara dan bidang seni lainnya oleh para murid SMP dan SMA, kafe ketje bernama R-Musth yang wajib kalian cobain menu-menunya, sampai sebuah Sekolah Menengah Pertama Swasta Katolik bernama Kota Goa. Ya, di SMPSK Kota Goa tempat kegiatan seminar dan workshop (knowledge service) dilaksanakan oleh Prodi Sastra Inggris pada Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Flores (Uniflor) dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat bertajuk English Week, kemudian saya menemukan kejutan lain yaitu taman dengan barang-barang Do It Yourself (DIY).

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

SMPSK Kota Goa terletak di Kilometer 1 Jalan Raya Boawae - Soa (baca: So'a). Bangunan sekolahnya memang sama dengan bangunan sekolah pada umumnya. Ada gedung-gedung, ruang perpustakaan, kamar mandi yang bersih, kantin, semacam pondok bersantai, hingga taman. Sekolah ini nyeni banget, menurut saya pribadi, karena hampir setiap dinding diberi mural dan/atau tulisan penyemangat, motivasi, dan inspirasi kepada para murid, dengan warna-warna ceria. Meskipun tidak bertanya langsung, tapi saya secara pribadi menganalisa bahwa sekolah ini adalah sekolah unggulan. Lihat saja, 7 November 2019 kemarin, mereka baru saja melaksanakan kegiatan Kota Goa Expo 2019 dengan mata acara pagelaran seni, pameran, dan bazaar.


Tjakep kan?

Analisa saya itu tidak saja karena melihat bangunan sekolah yang nyeni dan warna-warni saja, atau karena sekolah ini menerapkan full-day, tetapi perilaku murid-muridnya yang sangat santun terhadap tamu dan/atau orang yang lebih tua. Melihat saya mondar-mandir, terus ke kamar mandi, mereka menegur dengan sopan santun kelas tinggi, bahkan ada yang mencium tangan. Saya jadi ingat SMPK Frateran Ndao di Ende. Saya pernah menulis tentang sekolah itu dengan judul pos The Power of Cium Tangan. Silahkan dibaca juga. Perilaku murid yang baik, sopan santun, tidak terlepas dari sistem pendidikan yang diterapkan baik akademik maupun non-akademik yang termasuk di dalamnya tentang pendidikan karakter.

Yang menarik dari SMPSK Kota Goa, sesuai dengan tema pos hari ini, adalah konsep tamannya. Taman berada di area bangian tengah dikelilingi oleh gedung-gedung (termasuk kantin dan pondon santai atau serbaguna). Di tepi-tepi taman tumbuh pohon yang entah apa namanya, menaungi bangku-bangku taman di bawahnya. Di sekolah ini, taman dimanfaatkan pula oleh para guru untuk kegiatan belajar-mengajar outdoor alias di luar ruangan. Meskipun judulnya outdoor, tapi keseriusan murid menerima transferan ilmu pengetahuan dari guru hukumnya fardhu'ain!

Kembali ke taman. 

Saya tidak menulis panjang lebar pos hari ini. Cukuplah kalian melihat foto-foto berikut ini:



Taman ini digunakan untuk belajar outdoor juga oleh penghuni sekolah:


Andaikan bisa, saya mau lah kembali ke masa SMP dan bersekolah di sini. Hahaha. Eh tapi SMP saya dulu di SMP Negeri 2 Ende termasuk sekolah unggul loh.

Baiklah, demikian pos hari ini, semoga bermanfaat. Siapa tahu kalian juga pengen bikin taman dengan bangku serta angsa-angsa putih bermaterial ban bekas? Siapa tahu kan?

#RabuDIY



Cheers.

Upin Ipin Adalah Serial Kartun Dengan Produk DIY Terbanyak


Upin Ipin Adalah Serial Kartun Dengan Produk DIY Terbanyak. Kalian pasti sering menonton Upin Ipin. Serial yang diproduksi oleh Les' Copaque di Malaysia. Upin Ipin adalah filem kartun yang dibikin oleh Mohd. Nizam Abdul Razak, Mohd Safwan Abdul Karim, dan Usamah Zaid. Mereka bertiga adalah pemilik rumah produksi Les' Copaque *tunjuk atas* setelah bertemu dengan mantan pedagang minyak dan gas yaitu H. Burhanuddin Radzi dan isterinya yang bernama Hj. Ainon Ariff. Serial ini dirilis pada 14 September 2007 di Malaysia dan disiarkan di TV9. Upin Ipin sudah ditayangkan di tiga negara yaitu Malaysia, Indonesia, dan Turki. Mungkin negara lainnya juga? Kasih tahu di komen kalau ada informasi baru.

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Apabila kalian sering menonton Upin Ipin, jeli, dan punya hasrat di dunia DIY, tentu akan sangat mudah menemukan produk-produk DIY dalam serial tersebut.

Apa?

Jadi hari ini tidak ada tutorial atau apa pun itu?

Ya, hari ini marilah kita tengok produk DIY yang saya maksudkan.

1. Pot Kaktus Untuk Mei Mei


Pada episode berjudul Untuk Prestasi merupakan episode ngiklan tentang produk susu SGM. Episode ini dibagi menjadi tiga bahagian. Pada bahagian dua kalian akan melihat adegan dimana Upin dan Ipin bertemu Mei Mei yang begitu ceria membawa pot berisi kaktus cantik. Kemudian muncul si Mail yang sedang bersepeda dengan kecepatan super tinggi. Ternyata Mail lagi balapan sama Ehsan (yang membonceng Fizi). Melihat itu Upin, Ipin, dan Mei Mei kocar-kacir menyelamatkan diri. Mereka memang tidak tertabrak sepeda Mail tapi Mei Mei tersandung batu, terjatuh, pot kaktus melayang ke udara, dan pecah.

Ngambek? Jelas! Nangis lah si Mei Mei. Tapi Upin Ipin yang saat itu sedang menyedot susu SGM kotak pun punya ide. Mereka beramai-ramai balik ke rumah. Saat itulah saya tersenyum senang. Upin Ipin kemudian membikin pot untuk kaktus milik Mei Mei dari kotak kemasan susu kotak tersebut. Betapa senangnya Mei Mei. Selain itu mereka juga membikin tempat alat tulis dan lain sebagainya. Tentu korban utama adalah cat minyak milik Kak Ross. Hehe.

2. Sepeda Gandeng


Kasihan juga menonton Upin Ipin karena mereka seringnya tidak bisa seperi teman-temannya. Seperti episode Basikal Baru. Mereka hanya bisa lari-larian menemani teman-teman yang mengayuh sepeda. Sampai kemudian Tuk Dalang ber-DIY-ria dengan menggabungkan dua sepeda bekas miliknya yang sudah super puruk menjadi sepeda gandeng. TDR 3000. Tuk Dalang Ranggi 3000. Haha, jadi ingat sapu terbangnya Harry Potter.

3. Roda Roda


Di Kabupaten Ende, anak-anak dulu sering banget main ban bekas yang dilajukan menggunakan sepotong kayu. Selain itu juga ada tutupan ember plastik yang dikasih kayu sebagai kemudinya. Apa nama mainan ini? Roda-roda? Atau dorong roda? Ah, entahlah. Yang jelas pada beberapa episode nampak Upin Ipin memainkan roda-roda ini, yang terbuat dari tutupan ember plastik ukuran sedang dipasangi kayu. Roda-roda ini pernah dipinjam Jarjit, tapi karena anak itu memang begitu itu, dia kesandung batu sehingga mainan itu pun rusak. Roda-roda ini jelas tidak dibeli di toko melainkan dibikin sendiri alias hasil DIY.

4. Layang-Layang


Ah suka sekali saya menonon episode ini. Seperti sedang mengalami sendiri. Siapa sih yang tidak tahu layang-layang? Bahkan urusan percintaan pun sering pakai istilah layang-layang. Jangan jadikan adinda layangan duhai kakanda, tarik ulur tanpa memikirkan perasaan adinda. Haha. Lagi-lagi TDR 3000 eh, lagi-lagi Tuk Dalang menjadi si pembikin layang-layang. Banyak macamnya pun. Ada yang sederhana seperti yang sering dibikin juga sama anak-anak kompleks sini, bermodalkan plastik, lidi, benang, dan benang gelas untuk mengudarakan si layang-layang. Sumpah, ngeri juga melihat mereka membikin benang gelas dengan tujuan memutuskan benang layang-layang lawan.

Layang-layang yang dibikin sama Tuk Dalang itu bagus-bagus, bahkan menginspirasi.

5. Perahu Kertas


Apa yang kita lakukan apabila tidak bisa membeli suatu benda? Ya bikin sendiri lah. Tapi, kadang, suatu benda itu memang tidak dijual di mana pun sehingga untuk memainkannya harus bikin sendiri terlebih dahulu. Salah satunya yang saya temui di Upin Ipin adalah perahu kertas. Hebatnya yang membikin Upin Ipin, mainan sesederhana pun dibikin jadi luar biasa melalui daya imajinasi tokoh di dalam Upin Ipin. Tontonlah, kalian pasti akan tahu.

⇜⇝

Baca Juga: Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah

Kalian pasti tidak menyangka bukan bahwa pos hari ini melirik tentang produk DIY yang terlihat saat menonton Upin Ipin. Itu belum semua loh. Masih ada lagi seperti papan yang dipakai sebagai penggantti raket saat bermain bulu tangkis. Itu kan kami bangeeeettt dulu waktu masih ana lo'o (anak kecil) haha. Papan pengganti raket, potongan tongkol jagung ditusuk bulu ayam (dicabut dari ayamnya Nene Sisi dulu) pengganti kok (shuttlecock). Bahagia itu memang sederhana Hehe.

Bagaimana menurut kalian, kawan?



Cheers.

Upin Ipin Adalah Serial Kartun Dengan Produk DIY Terbanyak


Upin Ipin Adalah Serial Kartun Dengan Produk DIY Terbanyak. Kalian pasti sering menonton Upin Ipin. Serial yang diproduksi oleh Les' Copaque di Malaysia. Upin Ipin adalah filem kartun yang dibikin oleh Mohd. Nizam Abdul Razak, Mohd Safwan Abdul Karim, dan Usamah Zaid. Mereka bertiga adalah pemilik rumah produksi Les' Copaque *tunjuk atas* setelah bertemu dengan mantan pedagang minyak dan gas yaitu H. Burhanuddin Radzi dan isterinya yang bernama Hj. Ainon Ariff. Serial ini dirilis pada 14 September 2007 di Malaysia dan disiarkan di TV9. Upin Ipin sudah ditayangkan di tiga negara yaitu Malaysia, Indonesia, dan Turki. Mungkin negara lainnya juga? Kasih tahu di komen kalau ada informasi baru.

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Apabila kalian sering menonton Upin Ipin, jeli, dan punya hasrat di dunia DIY, tentu akan sangat mudah menemukan produk-produk DIY dalam serial tersebut.

Apa?

Jadi hari ini tidak ada tutorial atau apa pun itu?

Ya, hari ini marilah kita tengok produk DIY yang saya maksudkan.

1. Pot Kaktus Untuk Mei Mei


Pada episode berjudul Untuk Prestasi merupakan episode ngiklan tentang produk susu SGM. Episode ini dibagi menjadi tiga bahagian. Pada bahagian dua kalian akan melihat adegan dimana Upin dan Ipin bertemu Mei Mei yang begitu ceria membawa pot berisi kaktus cantik. Kemudian muncul si Mail yang sedang bersepeda dengan kecepatan super tinggi. Ternyata Mail lagi balapan sama Ehsan (yang membonceng Fizi). Melihat itu Upin, Ipin, dan Mei Mei kocar-kacir menyelamatkan diri. Mereka memang tidak tertabrak sepeda Mail tapi Mei Mei tersandung batu, terjatuh, pot kaktus melayang ke udara, dan pecah.

Ngambek? Jelas! Nangis lah si Mei Mei. Tapi Upin Ipin yang saat itu sedang menyedot susu SGM kotak pun punya ide. Mereka beramai-ramai balik ke rumah. Saat itulah saya tersenyum senang. Upin Ipin kemudian membikin pot untuk kaktus milik Mei Mei dari kotak kemasan susu kotak tersebut. Betapa senangnya Mei Mei. Selain itu mereka juga membikin tempat alat tulis dan lain sebagainya. Tentu korban utama adalah cat minyak milik Kak Ross. Hehe.

2. Sepeda Gandeng


Kasihan juga menonton Upin Ipin karena mereka seringnya tidak bisa seperi teman-temannya. Seperti episode Basikal Baru. Mereka hanya bisa lari-larian menemani teman-teman yang mengayuh sepeda. Sampai kemudian Tuk Dalang ber-DIY-ria dengan menggabungkan dua sepeda bekas miliknya yang sudah super puruk menjadi sepeda gandeng. TDR 3000. Tuk Dalang Ranggi 3000. Haha, jadi ingat sapu terbangnya Harry Potter.

3. Roda Roda


Di Kabupaten Ende, anak-anak dulu sering banget main ban bekas yang dilajukan menggunakan sepotong kayu. Selain itu juga ada tutupan ember plastik yang dikasih kayu sebagai kemudinya. Apa nama mainan ini? Roda-roda? Atau dorong roda? Ah, entahlah. Yang jelas pada beberapa episode nampak Upin Ipin memainkan roda-roda ini, yang terbuat dari tutupan ember plastik ukuran sedang dipasangi kayu. Roda-roda ini pernah dipinjam Jarjit, tapi karena anak itu memang begitu itu, dia kesandung batu sehingga mainan itu pun rusak. Roda-roda ini jelas tidak dibeli di toko melainkan dibikin sendiri alias hasil DIY.

4. Layang-Layang


Ah suka sekali saya menonon episode ini. Seperti sedang mengalami sendiri. Siapa sih yang tidak tahu layang-layang? Bahkan urusan percintaan pun sering pakai istilah layang-layang. Jangan jadikan adinda layangan duhai kakanda, tarik ulur tanpa memikirkan perasaan adinda. Haha. Lagi-lagi TDR 3000 eh, lagi-lagi Tuk Dalang menjadi si pembikin layang-layang. Banyak macamnya pun. Ada yang sederhana seperti yang sering dibikin juga sama anak-anak kompleks sini, bermodalkan plastik, lidi, benang, dan benang gelas untuk mengudarakan si layang-layang. Sumpah, ngeri juga melihat mereka membikin benang gelas dengan tujuan memutuskan benang layang-layang lawan.

Layang-layang yang dibikin sama Tuk Dalang itu bagus-bagus, bahkan menginspirasi.

5. Perahu Kertas


Apa yang kita lakukan apabila tidak bisa membeli suatu benda? Ya bikin sendiri lah. Tapi, kadang, suatu benda itu memang tidak dijual di mana pun sehingga untuk memainkannya harus bikin sendiri terlebih dahulu. Salah satunya yang saya temui di Upin Ipin adalah perahu kertas. Hebatnya yang membikin Upin Ipin, mainan sesederhana pun dibikin jadi luar biasa melalui daya imajinasi tokoh di dalam Upin Ipin. Tontonlah, kalian pasti akan tahu.

⇜⇝

Baca Juga: Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah

Kalian pasti tidak menyangka bukan bahwa pos hari ini melirik tentang produk DIY yang terlihat saat menonton Upin Ipin. Itu belum semua loh. Masih ada lagi seperti papan yang dipakai sebagai penggantti raket saat bermain bulu tangkis. Itu kan kami bangeeeettt dulu waktu masih ana lo'o (anak kecil) haha. Papan pengganti raket, potongan tongkol jagung ditusuk bulu ayam (dicabut dari ayamnya Nene Sisi dulu) pengganti kok (shuttlecock). Bahagia itu memang sederhana Hehe.

Bagaimana menurut kalian, kawan?



Cheers.

Kegiatan Keren Uniflor Go Clean Let’s Reduce Reuse Recycle


Kegiatan Keren Uniflor Go Clean Let's Reduce Reuse Recycle. Panitia Panca Windu Uniflor 2020 sudah di-launching. Kemeriahannya bisa kalian baca pada pos berjudul Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya. Rangkaian kegiatan Panca Windu Uniflor pun sudah terlaksana mulai dari sebelum panitia di-launching. Telah terlaksana beberapa kegiatan pre-event yaitu (1) Kuliah Umum bersama Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, S.H., M.H., LLM. dengan moderator Agus Adi Tetiro dengan tema Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya Mengawal Ideologi Melawan Radikalisme, Pancasila Dari Ende Untuk Nusantara telah diselenggarakan pada Sabtu (26/10/2019) di Auditorium H. J. Gadi Djou. (2) Misa, Shalat Jum'at, dan ziarah, dalam rangka launching Panitia Panca Windu Uniflor, Parade Budaya, opening ceremony, dan kegiatan olah raga EGDMC 2019 yang diselenggarakan pada Jum'at (1/11/2019).

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Usai di-launching, kegiatan pertama yang akan dilakukan oleh panitia keren ini adalah bakti sosial. Bakti sosial dilaksanakan di Kecamatan Ende Tengah dengan empat titik/kelurahan yaitu Kelurahan Onekore, Kelurahan Paupire, Kelurahan Potulando, dan Kelurahan Kelimutu. Tema yang diusung adalah Go Clean, Let's Reduce Reuse Recycle. Saya mendengar masih ada penambahan untuk menjadi 5R: Reduce, Reuse, Recycle, Redesign, Reimage. Kegiatan tersebut bakal dilaksanakan pada Jum'at, 8 November 2019, bertepatan dengan program Pemerintah Daerah Ende yaitu Jum'at bersih.

Bakti sosial itu nanti tidak saja berwujud aksi bersih-bersih tetapi juga mengajak masyarakat untuk mengurangi, memakai ulang, dan mendaur ulang sampah terutama sampah plastik. Untuk mengurangi, panitia bekerja sama dengan Dinas Koperasi untuk memperkenalkan rembi, tas/keranjang anyaman khas Ende kepada khalayak. Rembi ini terdiri atas dua, rembi untuk belanjaan kering dan rembi untuk belanjaan basah. Rembi merupakan produk DIY yang dibikin oleh para pengrajin yang ada di Kabupaten Ende. Untuk memakai ulang, tentu barang plastik seperti tas plastik dapat dipakai ulang, terutama tas plastik yang disediakan oleh supermarket. Kita bisa membawa tas plastik sendiri apabila pergi ke supermarket untuk berbelanja. Untuk daur ulang, itu yang akan menjadi bagian saya kelak, sedang menyusun draf-nya, dalam seminar dan workshop.

Pertanyaannya sekarang, apa hubungan antara kegiatan pada Jum'at lusa dengan tema blog hari ini yaitu #RabuDIY?

Marilah saya jelaskan.

Dalam perkara 3R kita tahu satu kata yang jelas merujuk pada konsep DIY yaitu recycle. Recycle atau mendaur ulang artinya kita mengolah sampah menjadi suatu barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Misalnya mendaur ulang koran menjadi keranjang seperti yang sudah sering saya lakukan. Kebetulan dalam kepanitiaan saya diberikan kepercayaan untuk beberapa tugas dan salah satunya adalah edukasi sampah. Sudah saya konsepkan tentang edukasi sampah ini. Tidak hanya seminar tentang sampah tetapi juga workshop. Rencana saya, setiap peserta nanti wajib membawa sampah plastik yang nantik bakal langsung dipraktekkan untuk membikin barang daur ulang saat workshop

Saya pikir penjelasan di atas sudah cukup jelas, hahaha.

Yang pasti, untuk edukasi sampah ini nanti saya bakal menggandeng Komunitas ACIL yang sudah terbukti telah mengedukasi masyarakat tentang sampah serta pengelolaannya.

Bagaimana menurut kalian, kawan?

#RabuDIY



Cheers.

Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende


Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende. Senin kemarin, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91, saya berkesempatan meliput kegiatan keren yang diselenggarakan atas kerjasama Pemerintah Daerah Ende, E.thical, Rikolto, Universitas Flores (Uniflor), dan RRI Ende. Kegiatan dengan spirit Hari Sumpah Pemuda ini mengusung tema Dengan Semangat Sumpah Pemuda Kita Dorong Peran Orang Muda dalam Ekonomi Berkelanjutan dari Desa untuk Ende. Berlangsung di dua lokasi: Aula Lantai II Kantor Bupati Ende dan di halaman samping Kantor Bupati Ende, kegiatan ini menjadi momen memperkenalkan wirausahawan/i muda Ende dalam berinovasi: memikirkan tema, membangun brand, membikin prototype, hingga memamerkan dan memasarkan.

Baca Juga: Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel

Sebelumnya, sekitar satu bulan, telah diselenggarakan kegiatan Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan kerja sama E.thical, Ricolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pesertanya berjumlah (24) dua puluh empat orang. 8 (delapan) peserta berasal dari Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor), 5 (lima) peserta berasal dari Fakultas Pertanian Uniflor, sedangkan 11 (sebelas) peserta lainnya merupakan anak muda kreatif dan berdaya juang tinggi yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ende. Satu bulan kegiatan dengan berbagai bekal ilmu tersebut telah membentuk karakter wirausaha di dalam diri mereka. Sesuatu yang menurut saya supa amazing, apabila melihat output-nya.

Pasar E.thical


Hasil penggemblengan dua puluh empat peserta tersebut kemudian digelar pada Hari Sumpah Pemuda dengan tiga mata acara yaitu Presentasi Proposal, Pasar E.thical, dan Talkshow. Presentasi Proposal dilaksanakan di Aula Lantai II Kantor Bupati Ende, dimulai pukul 13.00 Wita, dimana masing-masing peserta diberi waktu sekitar tiga hingga lima menit untuk memperkenalkan brand dan produk mereka. Pukul 16.00 Wita, kegiatan dilanjutkan dengan Pasar E.thical dan Talkshow yang disiarkan secara langsung oleh RRI Ende.


Ethical Market Day atau Pasar Ethical merupakan pasar yang memamerkan hasil karya dua puluh empat peserta Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan dalam sembilan belas brand, yang sebelumnya telah memperoleh ilmu dan bekal untuk berwirausaha oleh tim dari Ethical yang bekerjasama dengan Rikolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pada pasar itu berdiri stan-stan tempat peserta memperkenalkan usaha dan/atau brand, memamerkan produk, serta menjual produk mereka. Setiap stan dilengkapi dengan profil singkat wirausahawan/i muda tersebut serta nama serta penjelasan produk yang diproduksi. Selain itu juga hadir stan dari Lepa Lio Cafe asal Remaja Mandiri Community Detusoko.



Natalia Mudamakin, salah seorang mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi, merupakan wirausahawati muda yang mendirikan brand Palapa Rasa dengan motivasi kuat untuk menyediakan tempat bagi anak muda Ende untuk bekerja dan berdaya. Palapa Rasa merupakan brand snack buah organik khas pertama di Kabupaten Ende yang mengangkat cita rasa kuliner khas Flores. Natalia Mudamakin dengan brand Palapa Rasa meraih Juara 3 Ethical Entrepreneur Ende.


Credits: David Mossar. 

Elok merupakan brand yang dibikin oleh alumni Uniflor dari Fakultas Bahasa dan Sastra yaitu Cahyadi, yang melihat potensi dari lahan tidur terlantar di pekarangan rumah tangga-rumah tangga di Kota Ende. Melalui Elok, Cahyadi berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat lokal dan lahan tidur secara optimal demi terciptanya kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan. Sebagai bahan makanan alternatif rendah gula, Elok yang berbahan sorgum merupakan pilihan alternatif yang terjangkau, dan merupakan pilihan tepat penderita diabetes dan bagi siapa saja yang mencari alternatif karbohidrat sehat. Cahyadi dengan brand Elok meraih Juara 2 Ethical Entrepreneur Ende.



Ine Lawo merupakan brand usaha yang dibentuk oleh Karolina Dua Oga dan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Maria Yasinta Mau Rema dengan motivasi untuk mencegah punahnya keterampilan menenun. Visi Ine Lawo adalah melihat regenerasi pengrajin tenun muda di Kabupaten Ende. Fashion tenun moderen yang membangkitkan kecintaan pada budaya Ende, Ine Lawo memanfaatkan kain sisa tenun menjadi busana moderen untuk membangkitkan kembali kecintaan pada tradisi dan budaya menenun. Karolina Dua Oga dan Maria Yasinta Mau Rema dengan brand Ine Lawo meraih Juara 1 Ethical Entrepreneur Ende.

Pasar Ethical dikunjungi oleh masyarakat umum Kabupaten Ende yang tertarik dengan inovasi yang dilakukan oleh para wirausahawan/i muda Ende tersebut, salah satunya yang baru saja membuka usaha kafe Sahabat Kopi. Selain Elok, Ine Lawo, dan Palapa Rasa, brand lainnya antara lain Tamiimah, FloCo., Frame Culture, Famous De Flores, Poly Deli, Pemuda Berdikari, Teka Uta, Oster, Plastic Reduce Initiative, Daur Ulang Kreatif, Rae Chili Flores, Ende Creative Millenials, Able, Ecodes, Ecocamp, dan Briona Flower.


Pada acara Talkshow yang dimoderatori oleh Kakak Rossa Domingga dengan narasumber dua diantaranya Nando Watu dan Karolus Naga, saya mendengar kalimat inspirasi yaitu 3C: Content, Colaborate, Community. Artinya seorang wirausahawan/i harus mampu menyiapkan kontennya sendiri, tapi harus mampu pula berkolaborasi dan berkomunitas. Kolaborasi sebagai daya dongkrak brand, komunitas agar brand lebih banyak dikenal (seperti efek domino). Bahkan diberikan pula contoh dari ranah Youtube oleh para Youtuber.


Sebelum Talkshow pun saya sudah paham betul bahwa berbisnis butuh 3C itu. Dan perkara 3C saya temukan pada salah satu brand baru yaitu FloCo. Dua anak muda ini yaitu Petronela Ina dan Diana Segu memilih brand bernama FloCo. sebagai brand cokelat batang organik pertama di Ende yang menggunakan 100% bahan alami. Diolah dari biji cokelat pilihan, FloCo. adalah pilihan oleh-oleh yang tepat untuk para wisatawan baik domestik maupun internasional. Tujuan mereka mendirikan FloCo. adalah memutus tengkulak dengan meningkatkan kesejahteraan petani kakao.


Yang menarik dari FloCo. justru pada kemasannya yaitu sejenis wati yang cantik dengan tutupan. Kemasan ini dibikin oleh keluarga mereka. Ini salah satu contoh kolaborasi yang baik. Satu produk, tapi ada dua keuntungan yang diperoleh oleh pembeli kelak (karena yang dipamerkan kemarin masih prototype). Saya bilang pada mereka, "Cokelat itu biasa, di mana-mana ada, dan mungkin orang juga bakal memburu cokelat ini sebagai oleh-oleh. Tapi kalau melihat dari sisi oleh-olehnya, tentu kemasannya ini yang diburu." Iya, konten mereka adalah cokelat, kolaborasi mereka dengan pihak lain adalah kemasannya. Komunitas? Mereka sudah tergabung dalam komunitas wirausahawan muda tersebut, bersama 22 peserta lainnya. Supa amazing!

Konsep DIY


Ini keutamaan yang mau dibahas. Ketika tidak ada sesuatu yang memuaskan keinginan, maka harus bisa membikinnya sendiri. Pasar E.thical mengenyangkan jiwa DIY (Do It Yourself) saya. Rata-rata hampir semuanya memang berkonsep DIY.

Elok dari Cahyadi menggunakan wati serta kantong serut untuk mengisi sorgum sebagai produk andalannya. Saya sangat menyukai kantong serut yang dijahit sendiri oleh Cahyadi, atau oleh Mamanya. Terlihat unik karena tali serutnya menggunakan bahan goni. Kemudian, Cahyadi memberikan saya satu kantong serut ini:


Ine Lawo, saya setuju mereka jawara, membikin produk DIY dari kain tenun sisa. Kalau boleh saya bilang: Ine Lawo itu 100% DIY. Kain tenun sisa ini bisa diminta di penjahit. Tapi bisa juga sih meyiapkan kain tenun khusus untuk dikreasikan ini itu. Kain tenun sisa tidak saja diaplikasikan pada pakaian, seperti celana jin sobek yang ditambal tenunan atau kemeja, tapi mereka juga membikin aneka asesoris seperti bandana, anting-anting, kalung, dan lain sebagainya. Seperti foto di bawah ini, salah satu hasil DIY-nya Ine Lawo:


Dari brand Daur Ulang Kreatif (atau Plastic Reduce Initiative, saya lupa) saya menemukan tas daur ulang seperti pada foto di bawah ini:


Bagaimana tali rafia dibikin tas seperti foto di atas, itu adalah ketekunan, keuletan, dan daya kreativitas yang luar biasa!

Masih banyak barang DIY yang saya temui kemarin di Pasar E.thical. Selain wati sebagai kemasan cokelat FloCo., ada pula tas-tas kertas DIY yang ditempeli brand/logo, yang pastinya dibikin sendiri sama para wirausahawan muda Ende tersebut. Selain itu, kalau kalian melihat foto di awal pos, itu dari Frame Culture! Dia membikin frame dan aneka asesoris yang biasa dipakai orang-orang buat menghasilkan foto yang instagenic. Frame-nya jelas dibalut kain tenun ikat.

⇜⇝

Dari semua yang ditulis di atas, saya jadi ingat sama diri sendiri, yang meraup keuntungan belipat ganda hanya dengan mendaur ulang sampah. Brand saya waktu itu Rumah Kreatif Tuteh. Aneka produk sudah saya bikin, baik karena pengen bikin, maupun karena dipesan sama pelanggan *duhaaaiii, pelanggan* hehe. Tapi karena tuntutan pekerjaan lain yang membutuhkan skala prioritas, karena saya juga punya pekerjaan utama, usaha itu tidak saya teruskan. Padahal keuntungannya supa amazing. Karena kegemaran ber-DIY-ria itulah maka setiap Rabu tema pos ini adalah DIY. Hehe.


Credits: Ihsan Dato.

Bagaimana, kawan? Suka kan sama pos kali ini? Menambah informasi sekaligus cuci mata sama foto-fotonya *kedib*, karena saya sendiri juga suka sama foto-foto yang cuma dijepret menggunakan telepon genggam tersebut. Salah satu foto memang saya minta pada David Mossar, karena saya lupa memotret stan-nya Cahyadi. Dan satu foto dijepret oleh Om Ihsan Dato.

Semoga para peserta dapat melanjutkan apa yang sudah mereka rintis pada Hari Sumpah Pemuda tersebut.

Mari kita dukung!

#RabuDIY



Cheers.

Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel


Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel. Pos hari ini di #RabuDIY cukup singkat padat dan jelas. Karena apa? Karena saya bukan saya yang membikinnya melainkan teman kerja. Jadi, saya cuma pengen ngasih tahu ke kalian bahwa dari kain flanel yang biasanya dipakai untuk mempercantik stoples dan/atau tempat tisu bisa juga langsung diaplikasikan untuk dijadikan dompet. Seperti pada foto di awal pos. 

Baca Juga: Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah

Kuning? Iyess! Waktu ditanya saya jelas meminta dompet berwarna kuning dengan nama saya tertera di salah satu sisinya. Yang membikin ini teman kerja tetapi lebih dikenal sebagai dosen FKIP, namanya Ibu Purnama. Orangnya super kreatif! Sama seperti Violin Kerong hehe. Selain membikin dompet alat tulis berbahan kain flanel, Ibu Pur juga membikin ragam dompet rajutan, yang bahannya tidak saja benang/tali tetapi juga plastik kresek. Ada beberapa dompet lain yang dibikin menggunakan plastik bekas bungkus Nescafe.

Uh wow! Kreatif sekali.

Terbukti mantan sampah tidak selamanya harus dibuang kan? Masih bisa digunakan kembali setelah didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh banyak orang. Saya, kalian, mereka.

Semoga menjadi inspirasi ...

#RabuDIY



Cheers.