#PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu. Mengarungi Pulau Flores memang butuh ketangguhan, terutama jika kalian adalah perempuan yang mengendarai sepeda motor, bukan mobil mewah ber-AC. Infrastruktur jalan Trans Flores memang sudah sangat baik. Tetapi, topografi Pulau Flores yang didominasi perbukitan, menyebabkan Trans Flores harus sering diperhatikan kondisinya. Saat musim hujan tiba, longsor (batu dan tanah) bisa saja terjadi, memenuhi sebagian badan jalan. Hujan juga bisa mengakibatkan putusnya jalan akibat aliran air super deras memangkas badan jalan. Kecuali jika sedang ada proyek pelebaran jalan, di luar musim hujan, kondisi Trans Flores baik-baik saja alias sangat sehat. Haha.

Baca Juga: #PDL Mengumpulkan Si Kuning

#PDL kali ini adalah tentang dua kondisi yang harus kalian ketahui. Penting? Tidak juga sih, haha. Pernah, saya pernah melakukan dan mengalaminya. 

Gantung Sepatu


Dalam perjalanan ke arah Utara, ke daerah Maurole di awal tahun kemarin saat mempromosikan Universitas Flores ke seluruh SMA se-Pulau Flores dan sekitarnya, musim hujan menyebabkan jalur yang satu ini 'putus'. Putus bukan berarti sama sekali tidak bisa dilewati, melainkan aliran air memangkas badan jalan sehingga pengendara harus lebih berhati-hati. Biasanya saya selalu membawa sepatu karet petani kalau sedang musim hujan, tapi hari itu saya lupa! Walhasil, harus rela sepatu dan kaki celana kuyup. Maunya sih tidak usah menurunkan kaki, tetapi batu-batu di dasar aliran air ini cukup besar sehingga pilihannya hanya dua: turunkan kaki atau jatuh.


Ada dua kondisi jalan yang mirip seperti foto di atas, yang satunya tidak seberapa dalam. Oh ya, yang memotret saya adalah Kakak Shinta Degor yang waktu itu seperjalanan sama saya ke wilayah Utara.

Gara-gara sepatu kanvas itu basah, saat tiba di Maurole saya terpaksa membeli sandal. Sungguh, memakai sepatu basah itu tidak enak sekali rasanya di kaki. Setelah mencuci kaki menggunakan air minum kemasan, saya memang sombong hahaha, baru sepatu diikat di sepeda motor dan kami pergi mencari warung untuk makan siang. 



Selang beberapa bulan, lagi-lagi saya harus menggantung sepatu, hanya karena salah perkiraan. Iya, saya berpikir aliran itu sudah lenyap, ternyata masih ada. Terpaksa sepatu saya jemur di atap dagangan bensinnya penduduk Desa Tana Li, hingga kering!


Dalam perjalanan pulang, waktu itu bareng Thika Pharmantara, kami membeli dua kresek merah buat membungkus kaki saya. Alhamdulillah sepatu tetap kering, setelah dijemur itu, sampai kami tiba kembali di Kota Ende.

Terjebak Debu


Kayaknya keren banget begitu menulis 'terjebak debu' haha. Musim kemarau seperti akhir-akhir ini, dimana mendung hanyalah screensaver yang tidak boleh terlalu dipercaya bakal turun hujan, para pejalan seperti saya harus menyiapkan ekstra masker. Sebagai pengendara sepeda motor, masker merupakan barang wajib pakai/bawa. Sesekali dibuka kalau udara sudah terlihat/terasa bersih. Tapi jika ada proyek pelebaran jalan, jangan sampai masker dilepas dari wajah (hidung dan mulut).




Awas nyasar! Karena pada jalur darurat Mbay - Riung yang maha luas ini, nampak begitu banyak jalur alternatif yang dipilih pengendara sepeda motor agar tidak makan debu dari kendaraan yang melaju di depannya. Kalian tahu? Roda sepeda motor saya sampai tertanam nyaris setengah akibat tebalnya tanah/pasir.

⇜⇝

Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Trans Flores merupakan jalur yang asyik dilintasi. Karena saya pengendara sepeda motor, jelas menurut saya Trans Flores merupakan jalur yang asyik dilintasi oleh para pengendara sepeda motor. Kalau pengendara mobil, ya terserah, karena saya tidak suka naik mobil. Alasannya cuma satu: kalau naik mobil di Trans Flores usus saya bisa keluar dari lobang hidung. Iya, jalannya yang berkelok-kelok itu sangat memelintir isi perut! Haha.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Adakah yang pernah mengarungi Pulau Flores? Yuk bagi tahu di komen!




Cheers.

5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur


5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak saja kaya akan suku, tetapi juga kaya akan bahasa, adat istiadat, serta budaya. Salah satu hasil kebudayaan masyarakat Provinsi NTT adalah tenun ikat. Tenun ikat dari NTT dibikin secara manual oleh tangan-tangan bersahaja para penenun, dibumbu cinta kasih, dan melalui proses panjang yang memakan waktu hingga berbulan-bulan. Alat menenunnya pun masih menggunakan alat tenun tradisional. Selain menggunakan pewarna buatan pada tenun ikat, para penenun juga masih mempertahankan pewarna alami seperti akar mengkudu dan daun taru(m). Khusus di Kabupaten Ende, tenun ikat yang masih menggunakan pewarna alami ini terutama pada tenun ikat berjenis Kembo. Tidak heran harga Kembo sangat mahal. Bisa mencapai jutaan Rupiah.

Baca Juga: 5 Perkara yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan

Sebagai masyarakat Kabupaten Ende, Pulau Flores, tentu saya wajib memiliki tenun ikat, yang masih dalam bentuk lembaran maupun sudah menjadi sarung, untuk dipakai ke acara-acara tertentu, acara keluarga maupun acara kantor. Setidaknya satu perempuan Kabupaten Ende, baik Suku Ende maupun Suku Lio, harus punya satu sarung tenun ikat jenis manapun. Kebanyakan, perempuan Kabupaten Ende mempunyai dua sarung tenun ikat dan salah satunya pasti berjenis Kembo.

Sejak satu bulan lalu Universitas Flores (Uniflor) memberlakukan tata tertib berpakaian baru. Sebagai karyawati yang patuh *uhuk*, tentu saya harus mengikuti peraturan tersebut. Saya jadi gemar mencari tahu tenun ikat selain dari Kabupaten Ende. Peraturan berpakaian itu adalah setiap Hari Selasa memakai kemeja putih dan sarung tenun ikat khas Kabupaten Ende, setiap Hari Kamis memakai kemeja rapi dan kain dari daerah manapun di Nusantara. Tidak masalah, karena setelah membongkar lemari, saya punya beberapa tenun ikat Kabupaten Ende (berbagai jenis) juga tenun ikat dari kabupaten lain di Provinsi NTT. Tidak hanya itu, saya juga punya kain batik hadiah dari teman-teman: batik Bali, batik Madura, batik Jawa.

Menulis LIMA pada judul pos ini tentu bukan berarti di Provinsi NTT cuma ada lima jenis tenun ikat. Jangankan satu provinsi, satu kabupaten saja tidak bisa diwakili dengan lima jenis tenun ikat saja. Tapi, lima merupakan angka Kamis di blog ini, sehingga kali ini saya ingin menulis tentang lima jenis tenun ikat yang sudah berhasil saya kumpulkan. Hehe. Sombong sedikit tak masalah kan ya.

Marilah kita cek.

1. Sarung Mangga


Nama tenun ikatnya adalah Mangga, kalau sudah dijahit sarung, ya jadinya sarung Mangga. Sarung Mangga identik dengan warna hitam dipadu corak putih dan merah. Coraknya kecil-kecil dengan ikatan yang rapi. 


Harga sarung Mangga berkisar Rp 500K s.d. Rp 700K. Tidak semahal sarung Kembo. Sudah saya tulis di atas, Kembo itu mahal karena pewarnanya pewarna alami serta proses membikinnya yang super lama. Bisa mencapai enam bulanan. Makanya, memakai Kembo itu selalu membikin perempuan merasa jauh lebih bangga. Hehe. Mahal coy. Beda dengan perempuan Suku Ende yang umumnya memakai sarung Kembo dan/atau sarung yang katanya: tidak bernama, perempuan Suku Lio lebih banyak pilihan jenis sarungnya seperti sarung Kelimara, sarung Jara (ada cora kuda),  sarung Lepa, sarung Pundi, sarung Luka, dan lain-lainnya.

Untuk mengumpulkan semua jenis sarung dari Kabupaten Ende saja saya harus menunggu uangnya terkumpul, haha.

2. Tenun Ikat Sikku


Kalau kalian beranggapan tenun ikat asal Pulau Sumba itu hanya seperti yang diperdebatkan dengan tenun ikat Troso - Jepara, kalian salah. Pulau Sumba terbagi atas empat kabupaten yaitu Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat, dan Kabupaten Sumba Barat Daya. Setiap kabupaten punya jenis tenun ikatnya masing-masing. Yang berbentuk fauna itu umumnya dari Kabupaten Sumba Timur. Sedangkan yang satu ini berasal dari Kabupaten Sumba Barat, saya beli waktu mempromosikan Uniflor beberapa tahun lalu:


Namanya Sikku. Berasal dari Kabupaten Sumba Barat di Pulau Sumba. Informasi tentang Sikku ini saya peroleh dari sahabat saya yang asli sana dan menetap di sana, Marten Bira. Saya punya dua tenun Sikku ini, satunya sudah dibikinkan gaun saat wisuda tahun 2018 lalu. Hehe. Yang satu ini masih saya pertahankan karena memang pengen memakainya dalam bentuk lembaran begini alias tidak perlu dijahitkan baju. Tahun 2015 saya membelinya seharga ... lupa ... sekitar Rp 300K sampai Rp 400K.

3. Sarung Kewatek 


Dari deskripsi yang saya peroleh dari berbagai sumber, maka sarung yang gambarnya di bawah ini bernama Kewatek, berasal dari Pulau Adonara. Kebetulan ada teman yang menjualnya dengan harga murah, langsung angkut, hanya Rp 400K. 


Satu-satunya yang tersisa alias sudah tidak ada pilihan lagi hahaha. Kenapa saya ngotot harus memilikinya? Karena ... kapan lagi? Pertama: masih bisa saya pakai setiap Hari Kamis sesuai aturan berpakaian di kantor. Kedua: koleksi. Perlahan-lahan. Saya masih pengen punya tenun ikat dari wilayah lain di Pulau Flores dan sekitarnya.

4. Hoba Nage


Tentang Hoba Nage dan bagaimana cara saya memburunya, itu perkara yang berkaitan dengan tema wisuda Uniflor 2019. Kalian bisa membaca ulasannya pada pos berjudul: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo


Umumnya Hoba Nage dipakai oleh kaum perempuan dari Kabupaten Nagekeo. Sedangkan untuk laki-lakinya memakai Ragi Woi. Tapi di Kota Mbay, perempuan juga menggunakan Ragi Woi, tidak hanya laki-laki.

5. Ragi Woi


Ini dia si Ragi Woi. Saya mendapatkannya dari keponakan setelah mereka menikah. Iwan (keponakan saya) menikah dengan Reni (asal Danga, Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo).


Kuningnya itu yang sangat khas, dan rasa-rasanya sangat cocok dipakai oleh Presiden Negara Kuning (sayaaaaa hahaha).

⇜⇝

Mempunyai lima jenis tenun ikat pada daftar di atas saja sudah membikin saya senang bukan kepalang. Akhirnya punya Kewatek! Akhirnya punya Hoba Nage! Meskipun memilikinya tidak pada satu masa bersamaan, tapi yang jelas sebagai masyarakat Provinsi NTT saya boleh berbangga pada orang luar. Pun, setidaknya saya masih bisa menjelaskan pada orang luar tentang asal daerah tenun ikat bersangkutan, nama/jenisnya, serta dipakai oleh laki-laki atau perempuan(?). Kan malu kalau ditanya sama orang luar, eeeeh tidak mampu menjawabnya, padahal informasinya bisa diperoleh dari mana saja, terutama dari penduduk/orang yang memang tahu benar.

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo

Apakah saya masih mau mengumpulkan tenun ikat dari daerah lain di Pulau Flores dan/atau Provinsi NTT? Oh, tentu! Saya harus punya sarung/tenun ikat dari Kabupaten Manggarai (Kabupaten Manggarai Barat atau Kabupaten Manggarai Timur, mana-mana suka), Kabupaten Sikka, Kabupaten Pulau Lembata, bahkan dari Pulau Sabu. Dulu, saya punya selendang/syal asal Pulau Sabu tapi sudah saya berikan ke teman. Nanti cari lagi. Hehe.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi saya, mengumpulkan tenun ikat aneka jenis dari berbagai daerah merupakan perbuatan kecil demi melestarikan budaya dan membantu para penenun. Cuma perbuatan kecil, tapi kalau dilakukan oleh banyak orang, akan menjadi perbuatan besar. Bukan demikian? Demikian ... hehe.

#KamisLima



Cheers.

Jaga Waka Nua


Event keren Triwarna Soccer Festival (TSF) 2019 telah berakhir 1 April kemarin. Meskipun demikian, gaungnya masih terdengar sampai hari ini. Masih banyak orang membicarakannya. Mulai dari kemenangan Ende Selatan FC (Kelurahan Ende Selatan), pagar tembok yang kini dipenuhi karya seni mural, keuntungan yang diraup khususnya oleh para pedagang asongan yang wara-wiri di dalam Stadion Marilonga, hingga UMKM dan komunitas yang diberi ruang stand/tenda pameran oleh panitia. Sungguh TSF dengan agenda utama laga sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati ini terpatri di lubuk hati masyarakat Kabupaten Ende, dan menjadi semacam pengantar acara Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Ende (kemenangan petahana) pada tanggal 7 April 2019.

Selamat, Bapak Marsel Petu (Bupati) dan Bapak Djafar Ahmad (Wakil Bupati). Selamat melanjutkan pekerjaan yang telah Bapak berdua mulai dan terus melakukan perubahan positif pada Kabupaten Ende. Kami bangga.

Baca Juga: Fair Play Flag

TSF yang telah menggeliatkan berbagai lini khususnya perekonomian di Kabupaten Ende, bisa kalian baca pada pos TSF 'Story, punya satu jargon keren yaitu Jaga Waka Nua. Jargon ini melekat pada kaos panitia, pada baliho-baliho, pun pada banyak bendera supporter. Ya, kami harus jaga waka nua! Jadi, tidak heran jika mendadak mendengar ada yang nyeletuk: ideeee ma'e pemata, jaga waka nua hekow (duh, jangan berantem, jaga martabat kampung kita).

Jaga Waka Nua


Jaga waka nua merupakan jargon paling tepat pilihan panitia/penyelenggara. Saya salut sama yang menetapkan jargon ini, hahaha. Dan bagi saya, jaga waka nua ini punya banyak makna, kalau diresapi dalam-dalam. Secara etimologi, jaga waka nua yang terdiri dari tiga suku kata berarti menjaga martabat kampung.


Jaga = menjaga.
Waka = martabat/harga diri.
Nua = kampung.

Martabat/harga diri yang seperti apa yang harus dijaga? Itu yang akan saya jelaskan pada pos ini. Tentu dari sudut pandang saya pribadi. Dan sudut pandang dinosaurus juga. Apabila kalian Orang Ende, membaca pos ini, dan merasa tidak setuju dengan pos ini, silahkan tulis sendiri pendapat kalian tentang jaga waka nua, dan bagi tautan blog-nya pada saya. Tentu bakal saya baca. Berbagi pendapat tidak pernah merugi bukan?

Bilah Pemerintah


Dari pandangan mata saya pribadi, Kabupaten Ende merupakan kabupaten yang identik dengan turnamen sepak bola. Sebut saja, Universitas Flores (Uniflor) punya Ema Gadi Djou Memorial Cup (EGDMC), lantas ada pula Muthmainah Cup, dan turnamen lainnya antara lain Suratin Cup. Tahun 2017, Kabupaten Ende boleh berbangga dengan menjadi tuan rumah dari turnamen besar bernama El Tari Memorial Cup 2017 (ETMC) yang melibatkan semua kabupaten se-Provinsi Nusa Tenggara Timur. Standar Kabupaten Ende dalam ETMC 2017 sungguh luar biasa; penjemputan setiap kontingen dengan tari-tarian dan bahasa adat, launching atribut yaitu Burung Gerugiwa dan bola raksasa dengan perhentian yang melibatkan adat-istiadat, pertandingan di Stadion Marilonga yang berumput hijau - bahkan dapat dilakukan malam hari, hingga live streaming! Standar itu, dalam skala Provinsi Nusa Tenggara Timur, sangat tinggi.

Waka nua kami saat ETMC 2017 benar-benar terangkat dan terjaga dengan sangat spektakuler. Bukannya melebih-lebihkan, namun memang demikian adanya.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

TSF 2019 harus mampu menandingi, atau harus melebihi, standar yang tercipta dari ETMC 2017 tersebut. Meskipun tanpa penjemputan kontingen setiap kecamatan dikarenakan ini adalah turnamen 'antar saudara kandung', namun kemeriahan dan pernak-pernik TSF 2019 mampu melebihi ETMC 2017. Kami harus menjaga waka nua ini. Jangan sampai malu-maluin bangsa dan negara haha. Oleh karena itu launching atribut TSF 2019 dilakukan sama persis pada saat ETMC 2017, yang dimulai dari Lapangan Perse (Kecamatan Ende Utara), diterusan dengan jalur yang telah diatur berikut perhentian setiap kecamatannya hingga berakhir di Stadion Marilonga. Sambutan dalam suasasa (bahasa adat) pun luar biasa.

Selain ajang sepak bola, TSF juga punya dua mata acara lain yaitu Lomba Mural dan Pameran dengan tema Bego Ga'i Night. Jujur, festival semacam ini memang hal yang baru bagi masyarakat Kabupaten Ende namun sekaligus merupakan sesuatu yang juga ditunggu-tunggu. Karena, kata orang, kami Orang Ende ini haus hiburan. Hahaha.

Jaga waka nua juga diwujudkan dalam bentuk kepanitiaan yang solid dan mampu bekerja dengan sangat baik sehingga tidak memalukan apa lagi sampai membanting harkat dan martabat. Maklum, saya melihat kebanyakan anggota panitia adalah orang-orang yang tahan banting dan pernah bekerja pada kepanitaan turnamen sepak bola juga. Jadi, urusan-urusan yang berhubungan dengan TSF 2019 ini bukan hal yang baru yang bikin kaget.

Bilah Pemain


Jaga waka nua tidak saja bermakna pada bilah pemerintah seperti yang tertulis di atas, tetapi juga bermakna untuk para pemain sepak bola dari setiap klub (kecamatan). Artinya ... my game is fair play! Iya, itu kesimpulan besarnya. Para pemain harus menjaga waka nua-nya melalui permainan-permainan yang ciamik alias tidak membikin malu. Kalah tidak mengapa, asal jangan sampai kalah total tanpa perlawanan yang imbang. 

Sekali dua memang terjadi ketegangan di tengah lapangan, hal-hal semacam itu acap tidak dapat dihindari, tetapi dapat diatasi oleh perangkat pertandingan. Kami yang berada di luar lapangan tidak punya kuasa kan hahaha. Pokoknya, para pesepakbola dari setiap klub pada TSF 2019 ini betul-betul jaga waka nua. Bayangkan jika pertandingan harus diperpanjang waktunya dan masih seri, sehingga harus dilakukan adu pinalti yang cukup panjang karena seri pula, sungguh terlalu. Hahaha. Saya yang akhirnya ikut menonton pun deg-degan.

Bilah Masyarakat


Dari bilah masyarakat, jaga waka nua berarti setiap orang harus mampu menjaga martabat/harga diri kampungnya. Kampung di sini berarti kecamatan asal maupun kecamatan domisili. Masyarakat yang dilingkupkan menjadi penonton dan supporter harus mampu bersikap kooperatif terhadap jalannya pertandingan dan hasilnya. Jangan sampai terjadi antara 'saudara kandung' saling kelahi haha. Jadi, sejauh saya menjadi panitia TSF 2019, tidak terjadi perkelahian yang berarti. Maksudnya, satu kali perkelahian terjadi di luar Stadion Marilonga hanya karena salah ucap dan ketersinggungan. Itu pun langsung diamankan oleh para aparat.

Secara umum, event Triwarna Soccer Festival menuai kritikan positif dari banyak orang, baik masyarakat Kabupaten Ende sendiri maupun yang dari luar.


Demikianlah tentang jaga waka nua yang selalu digaungkan saat event Triwarna Soccer Festival. Sebuah jargon dengan spirit dan makna yang sangat dalam. Dengan menjaga waka nua, maka kita niscaya mampu mewujudkan jargon Kabupaten Ende yaitu Ende Sare Lio Pawe. Dan saya pikir, kita semua sebaiknya menjadi orang yang bisa menjaga waka. Setuju? Yang setuju lekas komeeeen haha.

Baca Juga: Manis Akustik

Semangat Senin, kawan.


Cheers.

Timur Punya Cerita


Halo hola! Tidak terasa sudah tiga hari saya tidak nge-blog. Tidak menulis cerita. Tidak memperbarui konten blog. Pun lebih lama lagi; saya jarang blogwalking dan merusuh di blog kawan blogger sekalian. Sakau? Sedikit. Tapi lelah ini telah lebih dulu merenggut kesadaran sehingga perjalanan ke dunia mimpi menjadi begitu mulus tanpa jerawat. Saya bahkan tidak diijinkan untuk protes. Perjalanan ini, sesungguhnya, telah mengajarkan saya dan dinosaurus rasa rindu pada bantal dan guling. Haha. Maka hari ini, setelah 680an kilometer berkendara bersama Onif Harem, saya punya kesempatan yang begitu banyak untuk menulis, menulis, dan menulis.

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Peringatan: pos ini akan sangat panjang tapi penuh cerita menarik terutama #JalanJalanKerja memberikan saya kesempatan untuk mencapai beberapa lokasi wisata.

Mari kita mulai cerita panjang ini.

Menyisir Timur Pulau Flores dari Kota Ende Menuju Kota Maumere


Senin, 18 Februari 2019. Sepagi itu, pukul 04.00 Wita saya dan Thika sudah bersiap. Rencananya kami, tim sepeda motor, berangkat pukul 05.00 Wita dari Kota Ende menuju Ibu Kota Kabupaten Sikka yaitu Kota Maumere. Malam sebelumnya tim bis Uniflor sudah duluan berangkat. Tim motor ini terdiri dari: Pak Anno Kean, Pak Us Bate, Ibu Violin Kerong, Cesar Sarto, Rolland, dan saya yang ditemani Thika. Meskipun saya memanggil mereka dengan embel-embel 'Pak' dan 'Ibu' tapi sebenarnya usia mereka masih muda. Ndilalah kami malah baru ngegas pukul 05.45 Wita karena masih menunggu Pak Us yang pada WAG menulis otw tapi baru tiba  di check point satu jam setelahnya. Haha.

Sepagi itu speedometer masih bergerak normal antara 60km/jam sampai 80km/jam. Saya tahu, tiga sepeda motor yang dikendarai para lelaki itu memang sengaja menahan gas agar sepeda motor yang dikendarai dua perempuan (saya dan Viol) bisa seirama dengan mereka. Tiba di Kecamatan Wolowaru sekitar pukul 07.30 Wita kami beristirahat sejenak untuk ngopi-ngopi di sebuah warkop yang pemiliknya ramah sekali. Tidak marah meskipun kami ributnya bukan main. 


Jarak dari Kota Ende ke Kecamatan Wolowaru adalah 65 kilometer. Betul, menuju Kecamatan Wolowaru kami melewati Kecamatan Detusoko.

Kelokan Antara Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Watuneso yang Bikin Mabuk



Inilah titik perjalanan paling membosankan; Kecamatan Wolowaru - Kecamatan Watuneso yang berjarak 28,1 kilometer. Membelah hutan, sekali dua bertemu rumah penduduk, dan kelokan (kadang kelokan kanan-kiri itu tidak ada jedanya sama sekali) tiada akhir. Viol memimpin di depan. Kepemimpinan Viol dalam iring-iringan ini membikin para lelaki sadar bahwa tidak ada gunanya mereka menahan gas dan speedometer. Haha. Tapi kelokan jelas membikin saya pusing bukan main dan percaya bahwa menjadi seorang Valentino Rossi itu tidak mudah. Tiba di SMA pertama dalam perjalanan menyisir ini, saya dan Viol saling mengeluh pusing. Thika? Aduhai keponakan paling setia itu cuma bisa menelan lidah getir.


Sekolah pertama yang kami kunjungi, yang merupakan bagian tugas saya dan Viol adalah SMA Karitas Watuneso. Sayangnya kami tidak dapat bersosialisasi karena murid-murid sedang punya kegiatan. Hiks. Menitip pamflet setelah bertemu kepala sekolah kami pun pamit.


Setelah pamit, tim sepeda motor berpencar. Pak Anno dan Pak Us melanjutkan perjalanan ke kecamatan lain di Kabupaten Sikka, kami yang tersisa menuju Kecamatan Paga.

Kecamatan Paga dan Pantainya


Kecamatan Watuneso dan Kecamatan Paga adalah dua kecamatan yang membatasi wilayah Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka. Jaraknya hanya 14,6 kilometer. 


Di Kecamatan Paga, tim sepeda motor berpencar lagi. Cesar dan Rollan segera meluncur menuju sebuah SMK di Kecamatan Lela. Di Paga, saya dan Viol berhenti untuk mengunjungi SMA Alvarez Paga yang dipimpin oleh seorang Romo. Kami diberi kesempatan untuk melakukan sosialisasi di salah satu kelas dalam jeda tryout sesi satu. 


Kecamatan Paga terkenal akan garis pantainya yang memukau, berpasir putih, mempunyai pemecah ombak, serta dari kejauhan nampak ombak bergelung meskipun bukan ombak besar untuk surfing itu. Di tepi pantai juga terdapat saung dan bale-bale untuk beristirahat. Memesan kopi? Silahkan. Fotonya nanti dalam perjalanan pulang hehe.

Mencari SMA Negeri Nita


SMA Negeri Nita tidak terletak di jalan trans Pulau Flores sehingga saya dan Viol harus bertanya sana-sini terlebih dahulu. Tapi ... a-ha! Kembali Thika memainkan Google Map. Ketemu! Di SMA Negeri Nita kami diijinkan melakukan sosialisasi kepada murid-murid. Rasanya senang sekali ketika mereka sangat menghargai perjalanan jauh kami dari Kabupaten Ende hahaha.



Ke mana setelah SMA Negeri Nita? Kami meluncur ke Kota Maumere sebagai Ibu Kota Kabupaten Sikka. Masih ada tiga sekolah tujuan kami yaitu MAS Muhammadiyah, SMKN 2 Maumere, dan SMA Negeri Magepanda.

Ikan Hiu dan I Love You


Inilah sekolah yang pemandangan lautnya saya pos Senin kemarin; Laut Belakang Sekolah. MAS Muhammadiyah terletak di wilayah Nangahure (arah Utara) dari Kabupaten Sikka. Sayangnya kami tidak dapat melakukan sosialisasi di sekolah ini karena murid-murid sedang bersiap untuk Shalat Duhur. Yang lucunya, Thika malah digoda oleh seorang murid laki-laki yang dengan nekatnya datang ke ruang guru dan berkata: 

Assalamu'alaikum, Kakak. Ikan hiu (ada lanjutannya tapi tidak kedengaran jelas), I love you!

Saya dan Viol menahan ngakak. Tuhaaaaan. Thika oh Thika, masih dianggap anak SMP atau SMA saja dirimu itu. Padahal sudah tahun kedua kuliah hahaha. Gara-gara itu, akhirnya kami memanggil Thika dengan julukan IKAN HIU.



Sungguh kalau saya diijinkan sekolah lagi, saya mau sekali sekolah di MAS Muhammadiyah ini, biar tiap hari sepulang sekolah bisa nyebur dan bergabung dengan para nelayan.

Alumni Uniflor Ada Di Mana-Mana


Sebenarnya kami sudah ingin menyerah dan pergi ke hotel tempat semua anggota tim menginap di Hotel El Tari Indah. Tapi kok sayang, karena letak SMKN 2 Maumere ini sudah cukup dekat dari MAS Muhammadiyah, lebih ke arah Utara. Maka kami pun tiba di sekolah yang ternyata sekolah pelayaran ini. Meskipun tidak sempat memberikan sosialisasi, hanya menyerahkan surat dan pamflet, tapi kami beruntung bertemu alumni Uniflor yang mengajar di sana.


Sebenarnya bukan hanya di sekolah ini terdapat alumni Uniflor yang mengabdi sebagai guru, hampir di semua sekolah yang dikunjungi juga ada alumni Uniflor, hanya saja tidak bisa bertemu karena mereka sedang mengajar sedangkan kami terburu waktu.

Bertemu Ocepp Rewell


Dari SMKN 2 Maumere kami memutuskan untuk pergi ke Hotel El Tari Indah yang terletak di Jalan El Tari Kota Maumere. Hotel ini terletak tepat di pinggir jalan. Di bagian depannya terdapat restoran mini yang juga dimiliki oleh si pemiliki hotel.


Usai makan siang, soto ayam kampung, saya memutuskan untuk segera check in dan beristirahat. Saya ngorok, Viol ke rumah saudaranya, Thika pergi jalan-jalan bersama keponakan lain bernama Vil yang memang tinggal di Kota Maumere bersama orangtuanya. Sebenarnya ada banyak orang yang ingin saya temui di Kota Maumere baik sahabat maupun keluarga. Tapi ... sumpah, tubuh saya butuh dicas utuh haha. Senangnya adalah si Ocha alias Ocepp Rewell berjanji akan datang ke hotel. Hore!


Ocha datang ke hotel tak lama setelah Thika pulang dari mengunjungi rumah-rumah keluarga termasuk ke Kantor Telkom untuk bertemu keluarga yang bekerja di sana. Dari Tanta Ella (mamanya Vil) Thika membawa cumi, ikan, sambal, dan peyek kacang. Ocha membawa burger, sukun goreng, dan martabak manis. Oalaaaah ... diet saya hancur sehancur-hancurnya pada hari itu. Mengobrol bersama Ocha menuntaskan rindu pada bawelnya dia hahaha. Kami masih haha-hihi sampai selepas maghrib, saatnya kami harus ke Tobuk Gramedia untuk bisnis Triwarna Soccer Festival terutama bagian pameran dan membeli buku pesanan Meli.

MoF Art Gallery (and Cafe)


Urusan bisnis di Tobuk Gramedia Maumere, dengan supervisor-nya karena manajer sedang tidak di tempat, belanja-belenji termasuk membeli agenda cover kuning bekal lanjutan T-Journal, kami merapat ke MoF Art Gallery (and Cafe) yang terletak di Pasar Senja.




Usai makan malam, kembali ke hotel, dan saya pun tidur. Tidur kesorean, karena toh Ocha dan Thika masih kembali ke Tobuk Gramedia untuk membeli novel dan Viol masih kembali ke rumah saudaranya. Pokoknya saya butuh tidur!

Sekolah Di Negeri Dongeng


Selasa, 19 Februari 2019, masih satu sekolah yang harus saya dan Viol kunjungi yaitu SMA Negeri Magepanda. Perjalanan menuju Magepanda sekitar 34,4 kilometer (pergi-pulang 68 kilometer) dengan bertemu dua kali jalan putus yang tentu tidak akan bisa dilewati saat hujan. Untung ... cuaca cerah! Google Map membantu kami menemukan sekolah ini karena memang tidak terletak di pinggir jalan utama.


Inilah sekolah di negeri dongeng, terletak di kaki bukit-bukit hijau yang mirip Bukit Teletubbies. Saya juga mau ah sekolah lagi di SMA ini hahaha. Manapula Kepseknya ramah sekali, suka guyon, dan banyak bercerita ini itu. Kami juga bertemu alumni Uniflor yang sudah lamaaaaa sekali lulus, dan dua alumni lainnya yang lulus di atas tahun 2000.


Kata Kepsek, "Ibu ... kalau sekarang mendung, saya terpaksa ibu pulang ke Maumere karena kalau mulai hujan, saya jamin ibu terpaksa menginap di sini! Hahaha!"

Dan inilah kondisi salah satu ruas jalan yang putus (sangat dalam) sehingga kalau hujan, dialiri air yang meluap:


Harus hati-hati dan pelan-pelan jika tidak ingin mencium tanah kering berdebu serta bebatuannya. Tapi pemandangan jalan putus ini ibarat secuil halangan karena pemandangan sepanjang jalan dari Kota Maumere ke Magepanda itu ausam sekali! 





Menuju Kabupaten Flores Timur


Pulang dari SMA Negeri Magepanda kami kembali ke hotel untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan ke arah Timur (lagi) yaitu ke Kabupaten Flores Timur dengan jarak 128 kilometer. Ada banyak sekali SMA yang menanti kami di sana hahaha. Gayanya menulis ini.


Perjalanannya jauh. Memang. Kami lebih dulu berangkat dari tim bis. Sempat istirahat di Boru dan Puncak Konga di Titihena sebelum menuju Kota Larantuka sebagai Ibu Kota Kabupaten Flores Timur.




Pokoknya, nanti ya akan saya ulas satu-satu lebih detail. Pos ini secara garis besar saja ... garis besar yang lumayan panjang *senyum malu*.

Papi Mami di Puumbao


Sayangnya kami tidak berlama-lama di rumah Pak Anno di Waibalun karena Papi Mami sudah menunggu di Puumbao, di Kota Larantuka-nya. Saya, Viol, dan Thika memang tidak menginap di Hotel Lestari Larantuka karena memang ingin menginap di rumah Papi Nani Resi dan Mami Dete yang dulunya tinggal di Kota Ende. Kedua orangtua yang baik ini sudah menunggu kami dan menyiapkan makan malam. Tak lupa kopi! Yuhuuuu. Kisah tentang Papi Mami di lain pos ya.

Ini fotonya waktu mau pulang. Wajah si Mami sedih begitu karena rumahnya kembali sepi.

Malam itu, Cesar dan Rolland bergabung, kami mengobrol ramai di rumah Papi Mami yang sejuk dan nyaman itu. Papi mendengarkan dan terbahak-bahak mendengar celoteh kami. Mami lebih memilih duduk di teras sambil mengunyah sirih-pinang. Sepulang Cesar dan Rolland pun, kami masih mengobrol di teras sambil Mami memijit Viol dan Saya. Ikan Hiu? Eh, Thika? Ngorok!

3 SMA di Larantuka

Rabu, 20 Februari 2019, ada tiga SMA yang wajib kami kunjungi sementara tim bis menuju Tanjung Bunga. Cesar dan Rolland pun mendapat jatah tiga SMA. Okay, mari jalan! Setelah menegak kopi yang dibikin Mami, kami pun berangkat.

"Jalan bae-bae, Oa eeee. Jangan makan di luar, pulang makan di rumah!" pesan Mami.







Dan tentu saja kami pulang makan siang di rumah karena Mami sudah memasak ... ikan goreng segar yang manis dan sambalnya itu cihuy banget! Aduhai Papi Mami, kalian begitu luar biasa, hati kalian lapangnya luar biasa. Saya belajar banyak dari kalian. Sungguh ... saya pengen nangis. Terima kasih Papi Mami; kami datang, kami ribut, kami kotorkan rumah, kami pulang. Hehe.

Kembali ke Kota Maumere


Ya, setelah makan siang dan dibekali pula pisang goreng dan sambal maknyus a la Mami, kami pun pamit pulang ke Kota Maumere, pamitan sama tim bus dan sebagian tim motor yang masih menginap semalam di Waibalun, di rumah orangtuanya Pak Anno. Perjalanan siang itu mengantar kami tiba di daerah Kabupaten Sikka pada senja hari. Tentu, kami mampir sebentar di Boru untuk ngopi dan menikmati pisang goreng serta sambal maknyus itu.




Kaki saya sungguh lelah karena mengendarai Onif Harem yang matic, kaki jarang diluruskan.

Tiba di Kota Maumere sudah gelap. Kami langsung ke rumah kakaknya Viol. Saya sudah tidak bisa bergerak lagi. Langsung tepat setelah mandi dan keramas (aduh ini kepala guatalnya tak tahan hahaha). Sampai keesokan harinya, pagi-pagi hari, saya dan Thika pergi ke rumah Tanta Ella di daerah Misir Kota Maumere, yang disusul Cesar dan Rolland.

Keluarga Adalah Segalanya


Kamis, 21 Februari 2019, di rumah Tanta Ella kami disuguhi kopi dan tentu ditahan untuk makan terlebih dahulu sebelum ngegas ke Kota Ende.


Sungguh, keluarga adalah segalanya. Berhubungan darah atau tidak, mereka akan selalu menanti kedatangan keluarga lainnya dengan wajah berseri-seri dan kelapangan hati yang luar biasa. Mereka tidak akan rela keluarga lainnya terkena hujan apalagi lapar! Tidak akan pernah terjadi hal semacam itu. Mereka, bahkan, akan mengomelimu kalau tidak mampir. Sungguh ... keluarga adalah segalanya.

Terimakasih Tanta Ella, Bapatua, dan Vil. Terima kasih.

Ngopi di Paga dan Persawahan di Detusoko


Mari pulang kampung. Perjalanan pulang ini berformasi: saya, Thika, Cesar, Rolland, dan Rudi. Viol masih bertahan di Kota Maumere mengurusi pekerjaannya sehingga sepeda motornya dibawa pulang oleh Rudi. Dalam perjalanan pulang ini, mungkin karena setelah makan siang, saya didera kantuk yang luar biasa hebat. Akhirnya menyerah dan berhenti di saung pinggir jalan di Paga (dan pinggir pantai) untuk ngopi sejenak.


Anak pemilik saung, namanya Cici. Dia begitu cantik dan membikin saya harus memotretnya saat itu juga hehe. Sedangkan Thika memilih pergi ke pantai untuk foto-foto di sana. Nanti deh hasilnya saya pamerkan di lain pos. Kuatir kalian iri hahahah.

Setelah ngopi-ngopi di sini, kami terus ngegas ke Ende tanpa berhenti karena saya sudah sangat merindukan Mamatua. Satu kali berhenti di daerah Detusoko untuk memotret pemandangan ini:


Terima kasih Allah SWT atas alam yang indah ini.


Senin - Kamis. Perjalanan panjang ke arah Timur Pulau Flores di dua kabupaten. Lelah tapi menyenangkan. Saya selalu suka #JalanJalanKerja begini. Karena ketika urusan pekerjaan sudah selesai, bisa sekalian jalan-jalan kan hehe. Pos yang panjang ini pun belum sempurna. Masih banyak yang ingin saya ceritakan terpisah ... karena memang harus dipisah. Semoga mata kalian tidak eror setelah membaca pos yang panjang ini hahaha *cubit dinosaurus*.

Perjalanan setotal 680an kilometer. Done!

Well, selamat berakhir pekan, kawan! 



Cheers.

Hello East, Nantikan Kedatangan Kami

Onif Harem; si tangguh yang setia. Haha.


Tidak terasa sudah lewat sepuluh hari Tim Promosi Uniflor 2019 bergerak dan bergerilya dari satu daerah ke daerah lainnya demi mempromosikan Uniflor agar lebih dikenal khalayak terutama murid Kelas XII SMA. Kloter pertama telah menjejakkan kaki di:


1. Kabupaten Nagekeo.
2. Kabupaten Ngada.
3. Kabupaten Manggarai Timur.
4. Kabupaten Manggarai.
5. Kabupaten Manggarai Barat.
6. Dalam Kota Ende.
7. Pulau Adonara (Kabupaten Flores Timur).
8. Pulau Solo (Kabupaten Flores Timur).

Tersisa beberapa titik yang harus diselesaikan antara lain:

1. Luar Kota Ende.
2. Kabupaten Sikka.
3. Kabupaten Flores Timur bagian kota (Larantuka).
4. Kabupaten (Pulau) Lembata.

Baca Juga: Di Nagekeo Hati Saya Tertambat

Jalan masih panjang. Tim Flores Bagian Barat dengan bis kece yang mereka sebut bis tayo itu, haha, akan membantu Tim Flores Bagian Timur. Tentu, termasuk saya. Tadi, kami melakukan meeting evaluasi termasuk perencanaan ke Timur. Timur tidak terlihat lurus-lurus saja karena kami harus membagi ke bagian Utara (Pantura, kesenangan saya) tempat beberapa SMA berdiri. Perjalanan ke Utara ini dilakukan sambil menunggu perjalanan ke Timur, minggu depan. Dan hyess, saya dan Kakak Sinta Degor sama-sama ditugaskan ke wilayah Detusoko, Ekoae, dan Maurole.

Mari kita lihat peta berikut ini:

Dari Kota Ende ke Kecamatan Maurole.

Dari Kota Ende ke Kota Maumere - Kabupaten Sikka.

Dari Kota Ende ke Kota Larantuka - Kabupaten Flores Timur.

Dari Kota Ende ke Kabupaten (Pulau) Lembata.

Khusus perjalanan dari Kota Ende ke Kabupaten (Pulau) Lembata, tidak ditempuh berdasarkan rute di dalam peta di atas melainkan via Kota Larantuka. Jadi, tim ini akan berhenti di beberapa titik, sama dengan rute ke Barat yang menginap di beberapa titik, dan melanjutkan perjalanan pada hari berikutnya. Seterusnya begitu sampai semua tugas terlaksana dan kembali ke Kota Ende.

Hello East


Perjalanan terakhir saya ke Flores bagian Timur ini adalah ... saya lupa. Sudah lama sekali. Kalau ke Timur masih wilayah Kabupaten Ende seperti Kecamatan Detusoko, Kecamatan Wolowaru, atau ke Sokoria buat makan kepiting kare sih terakhir di tahun 2017. Ke Kota Maumere, kalau tidak salah, terakhir tahun 2016 saat berburu buku-buku di Gramedia Maumere. Ke Kota Larantuka, kalau tidak salah, terakhir tahun 2011 saat mengantar teman traveler mengikuti prosesi Semana Santa (menjelang Hari Raya Paskah). Sudah pasti banyak yang berubah dari dua kota tersebut dan nampaknya 'kami akan bertemu' segera. Hehe.


Bagi saya, menjalankan tugas luar kantor seperti ini merupakan anugerah karena sekalian bisa jalan-jalan. Namanya: Jalan Jalan Kerja. Apabila pekerjaan pada titik/kota tertentu sudah selesai, saya bisa jalan-jalan. Kabupaten Sikka sendiri menawarkan begitu banyak destinasi wisata, khususnya pantai dan/atau laut, kepada wisatawan. Banyak resort yang berdiri seperti Sea World, Pantai Waiara, hingga Coconut Garden Beach Resort. Sedangkan di Kota Larantuka sendiri, meskipun kami datang bukan pada saat menjelang Hari Raya Paskah, banyak pantai-pantai keren yang juga sangat memikat hati. Ceritanya nanti ya, menyusul, kalau saya sempat ke pantai-pantai itu lagi.

Semangat!


Cheers.

Flores: Adventure Trails



Banyak buku yang bercerita tentang Indonesia dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, dari adat ke bahasa, dari budaya ke pakaian, dari gunung ke pantai, dari rumah adat ke kearifan lokal. Saya punya salah satu buku semacam itu, dikasih sama Ika Soewadji, dan masih sering saya baca sampai sekarang. Banyak juga buku yang bercerita panjang lebar tentang Pulau Flores (Flores overland). Saya sendiri pernah menulis materi siaran program Backpacker, pada tahun 2017, awal tentang Flores Overland. Biasanya orang menulis Flores Overland itu dari Barat ke arah Timur, tapi materi saya itu dari Timur ke arah Barat. Qiqiqiq. Sesekali kita membaliknya kan boleh-boleh saja.

Baca Juga : 5 Cozy Songs

Tentang si Buku

Buku yang saya bahas hari ini berjudul Flores: Adventure Trails. Buku ini ditulis (sekaligus sebagai koordinator penulis) oleh Meret L. Signer. Kontributor atau penulis lain diantaranya Heinz von Holzen, Rofinus Ndau, Unipala Maumere, idGuides. Publisher Flores: Adventure Trails adalah Swisscontact dan didukung oleh SECO (Swiss State Secretariat for Economic Affairs). Tahun terbit 2012. Wow banget, saya terkejut ketika membaca nama Unipala Maumere. Itu MAPALA-nya Universitas Nusa Nipa (Unipa). Oh ya, selain sambutan dari Bapak Sapta Nirwandar, juga ada sambutan Jurg Schneider dari SECO. Flores: Adventure Trails berbahasa Inggris tapi untuk ukuran saya yang bahasa Inggrisnya pas-pasan bisa yess atau no sudah bersyukur, isinya cukup mudah dipahami/dimengerti. 


Bagaimana dengan isinya?

Isinya dimulai dari perkenalan tentang Pulau Flores. Perkenalan yang sangat lengkap, menurut saya, karena memuat tentang kondisi geografis, iklim, Flores sebagai bagian dari ring of fire, flora dan fauna, kehidupan laut, zaman sebelum dan sesudah kolonial, manusia dan adat budayanya. Traveling directory sub bahasan berikutnya adalah tentang how to get there? (pesawat dan kapal laut) termasuk informasi kantor-kantor layanan tiket, akomodasi, tempat makan, komunikasi/alat komunikasi, keuangan, isu kesehatan, sampai etika.

Woman travellers:
Even thought Flores is predominantly Christian, woman dressing modestly is a cultural thing in Indonesia, rather than a religious one. Wear t-shirts that cover your shoulders and don't reveal too much of your legs. Wearing a bikini is fine at the beaches of Labuan Bajo and in designated hotel areas in other parts of Flores. Everywhere else, put on a t-shirt and shorts for swimming. (Meret L. Signer, 2012:23).


Sub berikutnya adalah persiapan yang harus dilakukan sebelum ke Flores. Menariknya adalah, dijelaskan tentang skala kesulitan trek, level kebugaran, barang bawaan dasar or basic check list sampai how to minimize your impact. Komplit kan ya. Basic check list ini umum saja seperti yang sering kita lakukan/bawa seperti kaca mata, head lamp, sun-block, first aid kit, kompas, pisau lipat, hingga tas plastik untuk menyimpan pakaian kotor dan/atau sampah. Puhlease, ke mana pun pergi jangan pernah membuang sampah sembarangan.


Setelah itu, pembaca memasuki inti sari buku ini. Yay! Dimulai dari  Labuan Bajo: Pulau Rinca, Pulau Komodo, Gunung Mbeliling, teruuuuus ke Timur sampai ketemu Gunung Kelimutu di Ende, Maumere dengan pantai-pantai dan Gunung Egon-nya, sampai Larantuka. Informasinya tidak sekadar ini looooh Gunung Mbeliling itu, tapi juga memuat tinggi gunung, luas daratan, flora dan faunanya, sampai tentang masyarakat tradisionalnya. 


Salah satu sub yang saya sukai adalah kisah tentang Rudolf von Reding:

In 1974, the elderly Count Rudolf von Reding from Biberegg, Switzerland, disappeared on the island of Komodo. For some unknown reason he got seperated from his group. When they realized he was missing, they immediately returned to the point where had last seen him - but they were too late. All they could find was the Count's backpack, camera, sunglasses, and stains of blood on the ground. Komodo dragons eat their prey whole, and von Reding's body was never found. Although it could neve be confirmed with 100% certainty, he was believed to have been eaten.

Sedih ya ... *ambil tissu*

Jadi ingat waktu ke Pulau Rinca, dimana salah seorang teman pejalan kami sedang datang bulan, dan si komodo berjalan ke arah teman tersebut. Horor-horor bergembira gimana gitu rasanya diikuti komodo, hehe.


Setelah Baca

Saya bahagia karena jadi banyak tahu tentang pulau sendiri. Sebagai pelahap buku, sekaligus blogger yang gemar menulis tentang perjalanan ke mana pun saya pergi, buku ini menjadi semacam panduan untuk menulis. Menulis tempat wisata itu tidak sekadar menggambarkan betapa indahnya; betapa menawannya; betapa mempesonanya, tetapi harus bisa lebih detail yaitu tentang letak lokasinya, jaraknya, transportasi dan akomodasi kalau bisa bisa dengan harganya, budaya masyarakat setempat (seperti harus memperhatikan etika berpakaian dan berbicara), hingga tingkat kesulitan perjalanan untuk mencapai lokasi tersebut. Sub buku juga penting untuk memilah atau mengklasifikasi tulisan agar tidak terkesan campur-aduk.

Saya sedang belajar untuk menulis seperti itu. Belajar terus tanpa henti. Istirahat sih boleh, berhenti jangan :)

Flores: Adventure Trails adalah buku yang super informatif meskipun tidak selengkap buku yang diterbitkan oleh Lonely Planet zaman dulu itu. Bahkan juga diceritakan tentang gempa yang pernah melanda Flores terutama Maumere dan Ende. Jika kalian punya waktu luang, jangan lupa untuk membacanya. Di mana bisa diperoleh, cobalah cari di toko buku terdekat, jika tidak, maka ini edisi terbatas yang dipublis oleh Swisscontact (yang selalu konsen dengan isu wisata).

Semoga bermanfaat, enjoy your weekend!


Cheers.

5 Persiapan Menjadi Mahasiswa (Baru) di Uniflor


Mahasiswa/i semester akhir, khususnya mahasiswa/i Universitas Flores (Uniflor), yang telah selesai mengikuti ujian skripsi boleh bernafas lega. Saat ini mereka sedang mempersiapkan semua berkas untuk pendaftaran yudisium dikarenakan batas akhir pelaksanaan yudisium adalah tanggal 16 Agustus 2018 (CMIWW). Bahkan sebagian besar sudah selesai mendaftar yudisium di program studi masing-masing, tentu dengan melampirkan semua persyaratan yang disyaratkan. Salah satu syarat penting adalah surat keterangan dari prodi: abstrak yang sudah dites tingkat plagiatnya menggunakan software yang standartnya ditetapkan oleh Dikti (tidak lebih dari 50%). Abstrak yang sudah lolos tes plagiarisme ini yang akan diunggah.

Saya dan teman-teman Prodi Ilmu Hukum di Fakultas Hukum justru sedang mempersiapkan kegiatan yudisium yang akan dilaksanakan Insha Allah tanggal 10 Agustus 2018. 



Baca Juga:


Mahasiswa/i aktif mulai merasa bosan karena lamanya waktu liburan sejak akhir puasa, Hari Raya Idul Fitri, sampai sekarang. Mereka masih menunggu calon mahasiswa/i baru selesai mengikuti kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) sebelum tahun akademik baru dimulai. PKKMB di Uniflor akan dimulai sekitar tanggal belasan (kalau tidak salah 13 Agustus 2018) dengan ragam kegiatan yang telah dipersiapkan oleh panitia. Thika Pharmantara mulai uring-uringan karena keseringan ngorok sampai pipinya tembem. Hihihi.


Bagaimana dengan calon mahasiswa/i (baru)? Atau mereka-mereka yang disebut cama-cami (calon mahasiswa-calon mahasiswi)? Setelah mendaftar dan mengikuti ujian masuk Uniflor (Gelombang I dan Gelombang II) mereka wajib mengikuti kegiatan PKKMB untuk memperoleh sertifikat. Sertifikat PKKMB, atau masih disebut Sertifikat Ordik, menjadi salah satu syarat pendaftaran yudisium, kelak. Tanpanya, berkas kalian dianggap tidak lengkap. Jangan dianggap remeh, ya.

Melepas masa SMA dengan memasuki kehidupan kampus menghadirkan euforia tersendiri. Tapi memasuki kehidupan kampus bukan berarti kalian bisa full time senang-senang hahaha. Beberapa prodi membuat jadwal kuliah pagi pukul 07.00. PGSD di FKIP bahkan menerapkan kewajiban mengenakan seragam warna biru dan cokelat. Beberapa dosen punya aturan tersendiri diantaranya mahasiswi wajib mengenakan rok saat perkuliahan berjalan. Menjadi mahasiswa/i tidak sama dengan melepas semua kegiatan saat masih SMA. Justru kegiatan kalian bakal semakin padat merayap: kuliah - UKM - berbagai kegiatan prodi - berbagai lomba antar kampus - dan lain sebagainya.

Selamat datang di dunia mahasiswa/i Uniflor.

Jadi, apa yang perlu dipersiapkan oleh calon mahasiswa/i (baru) di Uniflor? Berdasarkan pengalaman banyak orang, ini dia rangkuman saya tentang 5 (lima) persiapan menjadi mahasiswa (baru) di Uniflor.



1. Siap Untuk Mengenal Lebih Banyak Orang

Uniflor adalah universitas pertama di Pulau Flores yang kini berusia 38 tahun. Seumuran ini, sudah banyak Sarjana yang ditetaskan. Nah, siapa saja kah yang mengenyam pendidikan di Uniflor?

Yang pertama:
Lulusan SMA/sederajat dari berbagai kabupaten baik kabupaten yang ada di Pulau Flores maupun yang di luar Pulau Flores. Bahkan banyak mahasiswa yang berasal dari Pulau Sumba, Pulau Timor, bahkan Papua.

Yang Kedua:
Bapak / Ibu / Kakak-Kakak pegawai kantoran, baik itu ASN, militer, maupun swasta. 

Karyawan/karyawati Uniflor mengikuti Upacara Senin.

Di Uniflor kalian akan berhadapan dengan ribuan orang (mahasiswa/i, dosen, karyawan, sekuriti, cleaning service, dan tetangga sekitar kampus) dengan karakter mereka masing-masing. Apabila saat SMA rata-rata teman kalian berasal dari suku dan/atau kabupaten yang sama, maka saat kuliah teman kalian akan datang dari banyak suku dan/atau kabupaten. Sama halnya dengan dosen, karyawan, sekuriti, cleaning service, hingga tetangga sekitar kampus seperti kios dan warung makan.

Siap mengenal lebih banyak orang salah satunya adalah singkirkan sifat kalian yang dulunya suka bikin meme soal dialek dan/atau cara hidup teman dari kabupaten sebelah. Lebih baik menghindarinya ketimbang nanti kena jotos karena yang bersangkutan merasa dihina (meskipun maksud kalian sekadar buat lucu-lucuan).

2. Siap Untuk Selalu Rapi

Di Uniflor kalian harus mentaati peraturannya yaitu wajib mengenakan baju berkerah (kalau kaos harus kaos berkerah) dan wajib bersepatu. Kalau soal celana atau rok, mana-mana saja alias bebas. Kecuali aturan beberapa dosen yang mewajibkan mahasiswi mengenakan rok saat perkuliahan. Jangan sampai kalian ditahan oleh sekuriti di gerbang hanya karena mengenakan kaos oblong dan sandal. Semahal apapun harga sandal kalian, tidak akan mampu bersaing dengan sepatu seharga seratusan ribu. 

3. Siap Untuk Menghadapi Sistem KRS Online

Kalau kalian berasal dari daerah yang jarang menggunakan komputer, maka di Uniflor kalian harus siap berhubungan dengan komputer karena KRS dijadwalkan menggunakan sistem online. Setiap prodi menyiapkan komputer untuk kebutuhan yang satu ini. FKIP merupakan fakultas dengan komputer untuk KRS online terbanyak. Sama halnya juga pada saat kalian hendak memeriksa hasil studi atau KHS, silahkan gunakan komputer yang sama. Tapi karena namanya online, maka untuk menjadwal KRS atau sekadar mengecek KHS, kalian juga bisa menggunakan gadget (terlebih jika tidak ingin mengantri). Silahkan akses http://uniflor.ac.id. Username dan password dapat diminta di prodi masing-masing.

Diskusi a la anak Teknik.

Selain itu, di Uniflor, pada semester awal selalu ada mata kuliah komputer (Aplikasi I dan Aplikasi II). Perkuliahannya dilaksanakan di Laboratorium Komputer; tersedia 4 (empat) kelas yang full-ac, LCD, serta masing-masing kelas disediakan sekitar 40 (empat puluh)-an perangkat komputer.

Jangan dianggap remeh ya, Sertifikat Komputer ini merupakan salah satu syarat untuk mendaftar yudisium. 

4. Siap Untuk Menikmati Beragam Fasilitas

A-ha! Kuliah di Uniflor sama dengan siap menikmati beragam fasilitas yang disediakan. Ragam fasilitas tersebut adalah:

Yang Pertama:
Fasilitas tenaga pengajar/dosen yang semuanya Magister dan Doktor.

Yang Kedua:
Fasilitas ruang kelas yang moderen di mana tersedia puluhan kelas untuk ruang kuliah dan setiap kelas tersedia komputer + LCD.

Yang Ketiga:
Fasilitas pembayaran biaya kuliah dengan unit 2 (dua) bank yang terletak di dalam kampus yaitu Bank NTT dan BNI. Jadi kalian tidak perlu lelah pergi ke kantor pusatnya. Selain itu, di Kampus I tersedia ATM-Center untuk Bank NTT, BNI, dan BRI.

Yang Keempat:
Fasilitas untuk KRS Online.

Yang Kelima:
Beasiswa yang dapat diperoleh dengan memenuhi persyaratan yang ditentukan.

Yang Keenam:
Klinik gratis bagi mahasiswa/i Uniflor dengan dokter Lily Londa dan petugas medis (bidan dan perawat) yang mumpuni.

Yang Ketujuh:
Fasilitas perpustakaan. Perpustakaan utama terletak di Kampus I berdekatan dengan Auditorium H. J. Gadi Djou. Sedangkan setiap fakultas dan prodi mempunya perpustakaannya masing-masing. Buku bukan menjadi masalah karena lengkap! Tinggal mahasiswa/i-nya saja yang kudu rajin. Apalagi di perpustakaan sudah ada sistem komputer jadi tinggal mengetik judul bukunya saja.

Yang Kedelapan:
Fasilitas UKM. UKM ini banyak sekali, silahkan dipilih oleh mahasiswa/i masing-masing. UKM di bidang olahraga (voli, futsal, sepakbola, kempo), UKM choir (Eos Magneta) yang untuk menjadi anggotanya wajib mengikuti sejumlah tes, UKM Mapala yang bernama Flopala, UKM Resimen Mahasiswa (Menwa), dan lain sebagainya. Dulu ada UKM Marching Band tetapi untuk sementara dihentikan. 

Yang Kesembilan:
Free Wi-fi area. Bahkan di beberapa fakultas menyediakan free wi-fi untuk mahasiswa/i-nya selain secara umum titik free wi-fi yang tersebar di Kampus I, Kampus II, dan Kampus III.

Yang Kesepuluh:
Kantin dengan menu terrrr-oke dan murah meriah.

Yang Kesebelas:
Arena olah raga yang sesuai standart seperti lapangan futsal dan lapangan voli. Dulunya arena bulu tangkis terdapat di dalam Auditorium H. J. Gadi Djou, tetapi setelah direnovasi belum dibuat lagi arena untuk bulu tangkis ini.

Yang Keduabelas:
Percetakan dan tempat fokopi Uniflor yang terletak di Kampus I. Kalian tidak perlu kuatir jika ingin fotokopi atau ingin menjilid skripsi.

Yang ke ... aaaah banyak sekali fasilitasnya! Kalian tidak perlu bingung lah kalau kuliah di Uniflor bakal dapat segitu banyaknya fasilitas hahaha. Ini belum lagi fasilitas milik kampus seperti soundsystem; jika kalian ingin bikin acara di aula (setiap fakultas punya aulanya masing-masing), silahkan bersurat, dan pihak teknisi untuk soundsystem akan memasang perangkat soundsystem untuk mendukung kegiatan kalian. Atau ... kalian diwajibkan untuk mengikuti sejumlah kuliah umum/kuliah tamu.

5. Siap Mengembangkan Bakat

Setiap mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan bakat mereka. Paling umum adalah bakat memimpin. Dengan mengikuti ajang pemilihan ketua BEM baik itu BEM tingkat fakultas maupun BEM tingkat universitas, kalian akan menempa diri kalian menjadi pemimpin kelak. Selain itu bakat-bakat yang lain tidak diabaikan; oleh karena itu UKM disediakan bagi mahasiswa. Jenis UKM sudah saya tulis di atas. Salah satunya yaitu Eos Magneta Choir itu selalu tampil saat perhelatan wisuda. Ada pula mahasiswa yang sering didaulat menjadi MC saat kegiatan-kegiatan kampus. 

Universitas Flores, Mediator Budaya.

Memilih menjadi mahasiswa/i di Uniflor bagi kaum muda termasuk pilihan tepat, apalagi jika fakultas yang dicari adalah Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ekonomi, Fakultas Bahasa dan Sastra, serta Fakultas Teknologi Informasi. 

Menjadi mahasiswa/i Uniflor sama juga dengan menjadi mahasiswa/i di universitas lain di Pulau Timor, Pulau Bali, Pulau Sulawesi, Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera, Papua, maupun Pulau Jawa. Bedanya, kalau kalian anak NTT dan termasuk anak kos, jika kehabisan stok makanan bisa minta dikirimkan sama orangtua hehehe. Yang dari Pulau Sumba maupun Pulau Timor, pengiriman menggunakan kapal feri hanya belasan jam saja. Yang dari luar kota pengiriman bahan makanan hanya beberapa jam saja. Pengiriman uang? Ada ATM-Center di Kampus I. Urusan makan ini juga tidak sulit karena ada Warung Damai yang terkenal sebagai warung nomor wahid di area kampus dengan harga bersahabat sama kantong mahasiswa. Mau masak sendiri? Tidak perlu jauh-jauh ke pasar karena di sekitar kampus terdapat lapak-lapak mini yang menjual ragam sayur dan kebutuhan dapur. 

Jadi, itu dia 5 (lima) persiapan menjadi mahasiswa/i (baru) di Uniflor. Siap untuk mengenal lebih banyak orang (ribuan), siap untuk selalu rapi, siap untuk mengenal KRS Online, siap menerima ragam fasilitas, dan siap untuk mengembangkan bakat kalian. Tantangan menjadi mahasiswa memang cukup berat, tapi barang siapa yang mampu menghadapinya, dia akan tahu bahwa hasil tidak pernah mengkhianati usaha.

Selamat menjadi mahasiswa/i UNIFLOR.
Bagi kalian yang telah lolos ujian dan mengikuti PKKMB.



Cheers.