5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur


5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak saja kaya akan suku, tetapi juga kaya akan bahasa, adat istiadat, serta budaya. Salah satu hasil kebudayaan masyarakat Provinsi NTT adalah tenun ikat. Tenun ikat dari NTT dibikin secara manual oleh tangan-tangan bersahaja para penenun, dibumbu cinta kasih, dan melalui proses panjang yang memakan waktu hingga berbulan-bulan. Alat menenunnya pun masih menggunakan alat tenun tradisional. Selain menggunakan pewarna buatan pada tenun ikat, para penenun juga masih mempertahankan pewarna alami seperti akar mengkudu dan daun taru(m). Khusus di Kabupaten Ende, tenun ikat yang masih menggunakan pewarna alami ini terutama pada tenun ikat berjenis Kembo. Tidak heran harga Kembo sangat mahal. Bisa mencapai jutaan Rupiah.

Baca Juga: 5 Perkara yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan

Sebagai masyarakat Kabupaten Ende, Pulau Flores, tentu saya wajib memiliki tenun ikat, yang masih dalam bentuk lembaran maupun sudah menjadi sarung, untuk dipakai ke acara-acara tertentu, acara keluarga maupun acara kantor. Setidaknya satu perempuan Kabupaten Ende, baik Suku Ende maupun Suku Lio, harus punya satu sarung tenun ikat jenis manapun. Kebanyakan, perempuan Kabupaten Ende mempunyai dua sarung tenun ikat dan salah satunya pasti berjenis Kembo.

Sejak satu bulan lalu Universitas Flores (Uniflor) memberlakukan tata tertib berpakaian baru. Sebagai karyawati yang patuh *uhuk*, tentu saya harus mengikuti peraturan tersebut. Saya jadi gemar mencari tahu tenun ikat selain dari Kabupaten Ende. Peraturan berpakaian itu adalah setiap Hari Selasa memakai kemeja putih dan sarung tenun ikat khas Kabupaten Ende, setiap Hari Kamis memakai kemeja rapi dan kain dari daerah manapun di Nusantara. Tidak masalah, karena setelah membongkar lemari, saya punya beberapa tenun ikat Kabupaten Ende (berbagai jenis) juga tenun ikat dari kabupaten lain di Provinsi NTT. Tidak hanya itu, saya juga punya kain batik hadiah dari teman-teman: batik Bali, batik Madura, batik Jawa.

Menulis LIMA pada judul pos ini tentu bukan berarti di Provinsi NTT cuma ada lima jenis tenun ikat. Jangankan satu provinsi, satu kabupaten saja tidak bisa diwakili dengan lima jenis tenun ikat saja. Tapi, lima merupakan angka Kamis di blog ini, sehingga kali ini saya ingin menulis tentang lima jenis tenun ikat yang sudah berhasil saya kumpulkan. Hehe. Sombong sedikit tak masalah kan ya.

Marilah kita cek.

1. Sarung Mangga


Nama tenun ikatnya adalah Mangga, kalau sudah dijahit sarung, ya jadinya sarung Mangga. Sarung Mangga identik dengan warna hitam dipadu corak putih dan merah. Coraknya kecil-kecil dengan ikatan yang rapi. 


Harga sarung Mangga berkisar Rp 500K s.d. Rp 700K. Tidak semahal sarung Kembo. Sudah saya tulis di atas, Kembo itu mahal karena pewarnanya pewarna alami serta proses membikinnya yang super lama. Bisa mencapai enam bulanan. Makanya, memakai Kembo itu selalu membikin perempuan merasa jauh lebih bangga. Hehe. Mahal coy. Beda dengan perempuan Suku Ende yang umumnya memakai sarung Kembo dan/atau sarung yang katanya: tidak bernama, perempuan Suku Lio lebih banyak pilihan jenis sarungnya seperti sarung Kelimara, sarung Jara (ada cora kuda),  sarung Lepa, sarung Pundi, sarung Luka, dan lain-lainnya.

Untuk mengumpulkan semua jenis sarung dari Kabupaten Ende saja saya harus menunggu uangnya terkumpul, haha.

2. Tenun Ikat Sikku


Kalau kalian beranggapan tenun ikat asal Pulau Sumba itu hanya seperti yang diperdebatkan dengan tenun ikat Troso - Jepara, kalian salah. Pulau Sumba terbagi atas empat kabupaten yaitu Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat, dan Kabupaten Sumba Barat Daya. Setiap kabupaten punya jenis tenun ikatnya masing-masing. Yang berbentuk fauna itu umumnya dari Kabupaten Sumba Timur. Sedangkan yang satu ini berasal dari Kabupaten Sumba Barat, saya beli waktu mempromosikan Uniflor beberapa tahun lalu:


Namanya Sikku. Berasal dari Kabupaten Sumba Barat di Pulau Sumba. Informasi tentang Sikku ini saya peroleh dari sahabat saya yang asli sana dan menetap di sana, Marten Bira. Saya punya dua tenun Sikku ini, satunya sudah dibikinkan gaun saat wisuda tahun 2018 lalu. Hehe. Yang satu ini masih saya pertahankan karena memang pengen memakainya dalam bentuk lembaran begini alias tidak perlu dijahitkan baju. Tahun 2015 saya membelinya seharga ... lupa ... sekitar Rp 300K sampai Rp 400K.

3. Sarung Kewatek 


Dari deskripsi yang saya peroleh dari berbagai sumber, maka sarung yang gambarnya di bawah ini bernama Kewatek, berasal dari Pulau Adonara. Kebetulan ada teman yang menjualnya dengan harga murah, langsung angkut, hanya Rp 400K. 


Satu-satunya yang tersisa alias sudah tidak ada pilihan lagi hahaha. Kenapa saya ngotot harus memilikinya? Karena ... kapan lagi? Pertama: masih bisa saya pakai setiap Hari Kamis sesuai aturan berpakaian di kantor. Kedua: koleksi. Perlahan-lahan. Saya masih pengen punya tenun ikat dari wilayah lain di Pulau Flores dan sekitarnya.

4. Hoba Nage


Tentang Hoba Nage dan bagaimana cara saya memburunya, itu perkara yang berkaitan dengan tema wisuda Uniflor 2019. Kalian bisa membaca ulasannya pada pos berjudul: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo


Umumnya Hoba Nage dipakai oleh kaum perempuan dari Kabupaten Nagekeo. Sedangkan untuk laki-lakinya memakai Ragi Woi. Tapi di Kota Mbay, perempuan juga menggunakan Ragi Woi, tidak hanya laki-laki.

5. Ragi Woi


Ini dia si Ragi Woi. Saya mendapatkannya dari keponakan setelah mereka menikah. Iwan (keponakan saya) menikah dengan Reni (asal Danga, Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo).


Kuningnya itu yang sangat khas, dan rasa-rasanya sangat cocok dipakai oleh Presiden Negara Kuning (sayaaaaa hahaha).

⇜⇝

Mempunyai lima jenis tenun ikat pada daftar di atas saja sudah membikin saya senang bukan kepalang. Akhirnya punya Kewatek! Akhirnya punya Hoba Nage! Meskipun memilikinya tidak pada satu masa bersamaan, tapi yang jelas sebagai masyarakat Provinsi NTT saya boleh berbangga pada orang luar. Pun, setidaknya saya masih bisa menjelaskan pada orang luar tentang asal daerah tenun ikat bersangkutan, nama/jenisnya, serta dipakai oleh laki-laki atau perempuan(?). Kan malu kalau ditanya sama orang luar, eeeeh tidak mampu menjawabnya, padahal informasinya bisa diperoleh dari mana saja, terutama dari penduduk/orang yang memang tahu benar.

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo

Apakah saya masih mau mengumpulkan tenun ikat dari daerah lain di Pulau Flores dan/atau Provinsi NTT? Oh, tentu! Saya harus punya sarung/tenun ikat dari Kabupaten Manggarai (Kabupaten Manggarai Barat atau Kabupaten Manggarai Timur, mana-mana suka), Kabupaten Sikka, Kabupaten Pulau Lembata, bahkan dari Pulau Sabu. Dulu, saya punya selendang/syal asal Pulau Sabu tapi sudah saya berikan ke teman. Nanti cari lagi. Hehe.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi saya, mengumpulkan tenun ikat aneka jenis dari berbagai daerah merupakan perbuatan kecil demi melestarikan budaya dan membantu para penenun. Cuma perbuatan kecil, tapi kalau dilakukan oleh banyak orang, akan menjadi perbuatan besar. Bukan demikian? Demikian ... hehe.

#KamisLima



Cheers.

Buruh Migran


Jarang menulis tentang ragam kegiatan Universitas Flores (Uniflor) bukan berarti tidak pernah menulis tentang tempat saya menambang batu bara tersebut. Sekali dua menulis tentang Uniflor di blog pribadi ini. Seringnya, sesuai tupoksi pekerjaan, saya menulisnya untuk berita/informasi yang dipublikasikan di ragam media sosial dan website Uniflor. Kalau memilih untuk menulis kegiatan Uniflor di blog pribadi, maka blog ini sangat kaya konten, bisa menjadi tambang konten. Mungkin sehari bisa tiga atau empat tulisan berbeda yang dipos. Dan itu boros. Haha. Yeeee padahal pernah juga menulis dua pos dalam satu hari. Dan hari ini pun mengepos dua tulisan pula *dijitak*.

Baca Juga: Lomba SUC Endenesia

Belum lama berselang, tepatnya Kamis tanggal 2 Mei 2019 kemarin, Fakultas Hukum Uniflor bekerja sama dengan Perkumpulan Pengajar dan Praktisi Hukum Ketenagakerjaan (P3HKI) menggelar Konferensi Ke-3 P3HKI dengan Seminar Nasional bertema Perlindungan Hukum Bagi Buruh Migran Indonesia. Seminar tersebut menghadirkan empat pemateri utama yaitu: RD Eduardus Raja Para (LSM) dengan tema Gereja dalam Menyelamatkan Masalah Buruh Migran, Ketua P3HKI Dr. Asri Wijayanti, S.H., M.H., dengan tema Advokasi Serikat Pekerja/LSM Buruh dalam Sengketa Hubungan Industri, Ketua Migrant Care Centre Anis Hidayah dengan tema Pembangunan Standar Minimal Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Migran di Tingkat Nasional/Regional, dan Ketua KSPI Kalimantan Timur Kornelis Wiriyawan Gatu dengan tema Permasalahan Ketenagakerjaan di Perkebunan Kepala Sawit di Kaltim.

Foto bersama wartawan usai konferensi pers pada Rabu (1/5/2019).

Yay! Kembali bertemu dengan Ibu Anis dari Migrant Care Centre Indonesia. Memangnya dulu pernah bertemu? Iya, tahun 2013 saya bertemu beliau di kantor ICT Watch Indonesia / Internetsehat, saat berkecimpung dalam proyek filem dokumenter Linimassa 3. Kalian belum nonton videonya di Youtube? Nonton doooonk. Kalau kalian menonton Sexy Killers, maka isu tentang tambang batu bara ini juga diangkat dalam Linimassa 3, oleh Bang Yus asal Kalimantan. By the way, awalnya saya berpikir keras, kayaknya pernah bertemu Ibu Anis tapi di mana ya? Kemudian memberanikan diri bertanya dan beliau mengingatnya ... ternyata.

Dalam paparan materinya pada seminar tersebut, Ibu Anis bercerita tentang awal mula berkecimpung di dunia advokasi pekerja migran. 22 tahun sudah beliau mengurusi buruh migran ini, sejak tahun 1996, hingga Migrant Care Centre didirikan pada tahun 2004. Menurutnya diskusi terkait buruh migran yang diselenggarakan di Uniflor penting dilakukan, selain masih dalam kerangka Hari Buruh Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Mei, juga dikarenakan sampai saat ini Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menempati urutan pertama penyumbang korban trafficking di seluruh Indonesia. Moratorium yang diberlakukan di Provinsi NTT bukan solusi terbaik karena arus buruh migran tetap ada/terjadi dengan berbagai modus seperti umroh atau jalinan persahabatan.


Langkah jitu yang bisa dilakukan adalah mengubah undang-undang yang sudah ada terkait buruh migran, agar pasal-pasalnya mampu melindungi para buruh migran. Namun, kesulitannya adalah politik buruh migran (mafia migran) ini dipegang oleh perusahaan-perusahaan besar dengan tokoh-tokoh besar dibaliknya. Oh ... menulis ini saya merinding, sama merindingnya saat mendengar paparan Ibu Anis di Auditorium H. J. Gadi Djou. Well, terima kasih Ibu Anis, sudah menolak hadir kegiatan di Doha demi hadir di Uniflor.

Kornelis Wiriyawan Gatu membeberkan fakta-fakta tentang buruh migran di kebun kelapa sawit. Ini menjadi permasalahan yang serius karena pernah terjadi buruh migran yang meninggal dimakamkan di perkebunan kelapa sawit tersebut. Saat fakta ini dibawa ke kancah internasional, peserta diskusi internasional itu murka sejadi-jadinya. Oleh karena itu Pak Kornelis yang berasal dari Kecamatan Watuneso - Ende ini ingin mengajak Uniflor bekerjasama untuk bisa sama-sama memecahkan begitu banyak permasalahan buruh migran ini. Mulai dari regulasi di semua tingkat (perdes, perda, UU), hingga penanganan langsung di lapangan.

Baca Juga: Politik Itu Abu-Abu

Saya pribadi setuju dengan apa yang disampaikan oleh Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A., tentang kondisi dulu dimana Malaysia sangat konsekuen/baik dengan kondisi buruh migran, berdasarkan pengalaman pribadi kakek beliau yang dijemput di Sabah bertahun-tahun lampau. Tapi semakin ke sini, permasalahan semakin kompleks, buruh migran 'gelap' salah satunya.


Migrasi merupakan kebutuhan manusia. Ini dilakukan dengan alasan ingin mendapat pekerjaan, kalau boleh, yang baik, agar mendapat upah yang baik/besar. Kenapa harus menjadi buruh migran? Karena mungkin mereka menyerah untuk mencari pekerjaan di daerah sendiri. Ini berarti banyak lini yang memang harus dibereskan/dibenahi.

Permasalahan buruh migran ini berada di dalam satu roda yang sama dengan permasalahan lain di Indonesia. Tidak selamanya buruh migran bekerja di luar negeri untuk meringankan masalah ekonomi saja. Banyak alasan: ekonomi keluarga, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya. Pendidikan dan kesehatan harus terdepan. Tapi, kalau pendidikan mahal, orangtua lebih suka anaknya ikut bekerja membantu perekonomian keluarga. Jika perekonomian keluarga semata-mata yang diutamakan, jelas pendidikan, kesehatan, bisa jadi kehidupan bersosial, menjadi terbelakang. Hal ini mirip dengan seminar tentang moke yang dilakukan Fakultas Hukum Uniflor di Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada. Salah seorang peserta bertanya: jika moke sebagai minuman keras lokal dilarang, bagaimana dengan sekolah kami? Orangtua kami menjadi petani moke salah satunya untuk menyekolahkan kami. Jadi, apa yang harus dilakukan?

Ketua P3HKI Ibu Asri mengatakan bahwa dalam pesawat yang membawanya ke Kupang, beliau duduk di samping seorang pemuda NTT yang bercerita tentang usahanya. Kurang jelas saya mendengar nama si  pemuda. Tapi yang jelas, hasil kebun-kebun itu dijual dari kantor ke kantor (tidak di-supply ke pasar moderen) dan mereka toh kewalahan dengan permintaan tomat misalnya. Kenapa hal ini tidak menjadi perhatian pemerintah setempat? Ibu Asri berencana akan membicarakan hal ini dengan Gubernur NTT, karena pemuda tersebut niscaya dapat menjadi contoh untuk menekan jumlah buruh migran asal Provinsi NTT.


Dalam skala Kabupaten Ende, kami punya Nando Watu asal Kecamatan Detusoko, yang mendirikan Remaja Mandiri Community (RMC) Detusoko. Kisah lengkapnya dapat kalian baca di pos Cerita Dari Lepa Lio Cafe. Kembali ke desa, membangun dari desa. Konsep RMC Detusoko telah memberdayakan masyarakat Kecamatan Detusoko untuk dapat menggali potensi daerah, mengelolanya, memanfaatkannya, dan mempromosikannya ke tingkat internasional. Mereka sudah melakukannya, mereka boleh saya bilang ... sukses. Nando Watu adalah contoh paling baik yang bisa saya lihat saat ini. Bayangkan jika pangan lokal dikelola, dikemas eksklusif, dipasarkan, oleh masyarakat lokal itu sendiri. Bayangkan jika semua daerah di Provinsi NTT banyak yang melakukan hal ini, maka angka buruh migran dapat ditekan. Karena, siapa sih yang ingin bekerja di luar negeri jika bisa menghasilkan Rupiah di daerah sendiri dan dekat dengan keluarga?

Menulis pos ini memang mudah karena saya bukan seseorang yang dirongrong kebutuhan hidup sementara tidak punya skill dan terpaksa harus menjadi buruh migran. Bagi mereka yang mengalaminya, menjadi buruh migran satu-satunya solusi, karena skill yang terbatas. Mungkin pula iming-iming kerja di luar negeri bergaji bukan Rupiah sehingga selalu menarik minat. Seperti yang sudah saya tulis di atas, permasalahan buruh migran ini berada di dalam satu roda yang sama dengan permasalahan lain di Indonesia. Terus berputar. Untuk mengatasinya, tidak bisa secara masive, tapi harus perlahan alias satuper satu.

Agen-agen perubahan, seperti Nando Watu misalnya, menyusup ke masyarakat, mengajak masyarakat berdiskusi tentang potensi daerahnya dan apa yang bisa dilakukan untuk menghasilkan Rupiah yang lebih banyak. Masyarakat diberikan pelatihan gratis atau berbiaya rendah untuk menambah/meningkatkan skill mereka. Di Ende, Deth Radja membuka kursus kecantikan. Ini kan menarik. Peserta kursus kelak dapat membuka salonnya sendiri dengan keahlian make up dan hair do. Ada pula Abang Umar Hamdan dari ACIL (Anak Pecinta Lingkungan) yang selain mengurusi masalah sampah, juga mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai ekonomis. Dan masih banyak agen perubahan lainnya yang sudah berjuang baik untuk diri sendiri maupun orang lain, hanya saja jarang terekspos sehingga tidak banyak yang tahu (kalau tahu kan bisa jadi inspirasi dan enggan menjadi buruh migran).

Regulagisi tentang buruh migran di berbagai tingkat harus disusun/diubah agar tidak merugikan buruh migran termasuk perlindungan hukumnya. 

Dan tentu upah pekerja harus diperhatikan ha ha ha ... 

Demikian secuil oleh-oleh dari kegiatan seminar nasional tersebut. Menurut kalian sendiri, apa yang harus dilakukan oleh kita semua untuk mengatasi permasalahan buruh migran ini? Silahkan berbagi ide di papan komentar.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Terima kasih ...



Cheers.

5 Momen Paskah


Hari Raya Paskah jatuh pada hari Minggu, 21 April 2019. Berbeda dari Hari Raya Natal, suasana menjelang Paskah atau Pra Paskah sudah dimulai empat puluh hari sebelumnya, yang pada setiap Jum'at dikenakan puasa dan ritus Jalan Salib. Pra Paskah merupakan persiapan sebelum Minggu Suci atau Pekan Suci. Minggu Suci dimulai dari hari Minggu, 14 April 2019, yang dinamai Minggu Palma. Ada yang menyebutnya Minggu Daun-Daun. Minggu Suci ini berlanjut pada (Rabu Trewa - di Kota Larantuka), Kamis Putih, Jum'at Agung, Sabtu Santo, dan Minggu Paskah. Tanpa membaca dari sumber manapun saya tahu persis tentang hal ini karena saya tinggal di lingkungan dimana keluarga kami adalah satu-satunya Muslim. Bahkan jarak Gereja Kathedral Ende hanya tiga menit berjalan kaki dari rumah saya.

Baca Juga: 5 Patterns

Paskah merupakan hari tentang bangkitnya Yesus Kristus setelah disalib pada Jum'at Agung. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Paskah dirayakan secara akbar di semua daerah, terutama di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur dengan Semana Santa. Para peziarah datang dari penjuru dunia. Ada yang seorangan, ada yang berkelompok. Saya pernah menyaksikan Semana Santa di Kota Larantuka, pada tahun 2011, bersama seorang sahabat petualang bernama Acie. Kisah perjalanan itu bisa dibaca di pos Long Journey.

Entah dengan daerah lainnya, tapi kalau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, semua sekolah dan institusi libur sejak Kamis sebelum Jum'at Agung. Kemarin, liburnya sudah dimulai dari hari Rabu bertepatan dengan momen Pemilu. Libur, siapa yang tidak senang? Tapi, libur yang tidak sampai dua minggu itu membikin kami tidak mungkin pergi terlalu jauh sampai ke luar tata surya, kuatir masih belum tiba di rumah saat waktu liburan usai. Iya, liburnya hanya sampai tanggal 22 April 2019. Rekomendasi tempat menghabiskan waktu libur Paskah bisa dibaca di pos 5 Tempat Berlibur Paskah di Flores.

Hari ini saya mau berbagi cerita dengan kalian tentang 5 momen (menjelang dan saat) Paskah yang terjadi di Pulau Flores. Yuk baca ...

1. Latihan Paduan Suara


Sejak memasuki masa puasa menjelang Paskah, setiap Hari Jum'at dilaksanakan Jalan Salib, termasuk juga di kantor saya, diikuti oleh teman-teman yang merayakannya. Selain itu, hampir setiap malam saya mendengar tetangga kompleks yang tergabung dalam 'lingkungan' latihan paduan suara. Latihan paduan suara atau koor untuk Misa di Gereja.

Salah satu gereja yang ada di Kota Larantuka. Di dekat gereja ini, berseberangan jalan, berdiri Patung Mater Dolorosa (Bunda yang berduka).

Menariknya mendengar teman-teman dan/atau tetangga latihan koor adalah kita jadi tahu prosesnya. Dari mengenal sebuah lagu, proses, hingga betul-betul fasih menyanyikannya dalam harmonisasi paduan suara.

2. Going Back East


Kembali ke Timur, kembali ke Kota Larantuka, sebagai kota pusat perayaan akbar Paskah yaitu Semana Santa dilaksanakan. Momen perjalanan ke Kota Larantuka merupakan sesuatu yang menyenangkan. Jalan sendiri maupun bersama teman-teman, mana-mana suka. Tahun ini banyak teman saya yang berangkat ke Kota Larantuka.

Patung Mater Dolorosa di Taman Doa Mater Dolorosa.

Saya sih pengen ke sana lagi untuk menyaksikan kemeriahan dan khidmatnya Jum'at Agung di Kota Reinha itu, tapi sayang ... Februari kemarin kan saya baru saja ke Kota Larantuka. Hiks. Kasihan Onif Harem kalau diajak jalan jauh terus-terusan.

3. Mencium Jubah Tuan Ma


Di Kota Larantuka, tepatnya di Kapela Tuan Ma, tersimpan patung besar Bunda Maria yang disebut Tuan Ma. Setiap tahun, umat setempat dan peziarah, akan pergi ke Kapela Tuan Ma untuk mencium jubahnya. Ritus ini dilakukan pada Jum'at Agung (pagi hingga siang hari) sebelum Prosesi Laut. Usai prosesi laut, Tuan Ma akan diarak menuju Gereja Kathedral.

Ritual mengarak Patung Tuan Ma menuju Gereja Kathedral untuk persiapan malam Jum'at Agung (Jalan Salib).

 Prosesi Laut.

4. Tablo

Tablo adalah treatikal Jalan Salib yang dilakukan pada Jum'at Agung. Tidak semua gereja melaksanakan tablo, tapi setiap tahun pasti ada tablo. Melaksanakan Jalan Salib dengan betul-betul melakukan apa yang dulu dialami Yesus. Ada pemuda terpilih yang akan memikul Salib dan disiksa layaknya yang dialami dulu oleh Yesus. Inilah perayaan Jum'at Agung.

5. Minggu Paskah


Dari pengamatan saya, Minggu Paskah merupakan perayaan kemuliaan atas bangkitnya Yesus. Di setiap kota di Kabupaten Ende, tidak ada yang terlalu istimewa dari Minggu Paskah, karena keistimewaanya terutama pada Jum'at Agung tadi. Tapi teteup lah di setiap rumah pasti ada acara makan-makan sekeluarga.


Menulis ini, bukan berarti saya yang paling tahu tentang momen-momen (menjelang dan saat) Paskah. Teman-teman yang beragama Katolik tentu lebih tahu. Saya menulisnya dari sudut pandang awam yang menyaksikan sendiri keadaan di sekitar tentang momen-momen Paskah ini.

Baca Juga: 5 Steps to Marriage

Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.