Arsip Kategori: Proses Kreatif

Kita Bikin Yuk Campuran Tanah Untuk Menanam Bunga


Kita Bikin Yuk Campuran Tanah Untuk Menanam Bunga. Halo kalian semua pecinta Do It Yourself (DIY). Izinkan saya bertanya: apa saja produk DIY yang kalian hasilkan selama work from home? Pasti banyak kan ya. Saya hanya bisa menghasilkan beberapa seperti mangkuk berbahan koran (dan balon) dan pipa-pipa koran bakal keranjang anyaman. Selama work from home hingga new normal, selain pekerjaan kantor, saya lebih banyak menghabiskan waktu di beranda belakang Pohon Tua. Ngapain, Teh? Ngintip tetangga? Haha. Berkebun mini doooong! Fyi, berkebun mini bukan pertama kali saya lakukan karena sudah pernah melakukannya tetapi sempat mandek. Jujur, kembali berkebun mini gara-gara pandemi Covid-19 di mana saya butuh mengajarkan kepada penghuni Pohon Tua tentang ketahanan pangan. Ketahanan pangan itu perlu dipikirkan, terutama oleh orang-orang seperti saya yang terus membayangkan suasana The Walking Dead yang mencekam *ngakak guling-guling*.

Baca Juga: Ternyata Mudah Membikin Mangkuk Berbahan Koran

Tanaman apa saja yang ada di kebun mini? I started with vegetables. Kangkung, sawi, kailan, cabe, terung, tomat, bengkoang, bawang merah dan bawang putih, mentimun, ubi tatas, daun kemangi, hingga kacang tanah dan kentang yang dikasih sama Cahyadi dari Kebun Bibit Elok. Lalu, saya mulai melirik bunga, khususnya bunga Pukul Sembilan atau Moss Rosse atau Krokot. Pertama saya mendapatkan krokot berjenis Portulaca Oleracea dari Om Agus yang mengurus taman di Universitas Flores (Uniflor). Yang kedua, alhamdulillah si Cahyadi membawa satu pollybag Krokot berjenis Portulaca Grandiflora. Portulaca Oleracea dari Om Agus itu berbunga kuning dengan sedikit helai bunga. Sedangkan Portulaca Grandiflora dari Cahyadi itu ada yang kuning dan merah dengan lebih banyak helai bunga. Kalian bisa melihat perbedaan kedua Krokot tersebut pada gambar di bawah ini:

Portulaca Oleracea.

Portulaca Grandiflora.

Gara-gara bunga-bunga yang bermekaran itu, saya lantas mulai me-replant Krokot. Ternyata sangat mudah. Patah dan tanam saja! Dalam hal perawatan, Krokot termasuk sangat mudah. Dia tidak manja seperti bunga-bunga lainnya.

Ini dia yang sudah di-replant! Ini cuma sebagian, sekarang sudah bertambah banyak.

Ketika beranda belakang Pohon Tua juga dilengkapi dengan bunga ... jadi cantik. Oke, mari kita mulai dengan bebungaan lain. Proses panjang pun dimulai dengan pertama-tama membeli pot bunga yang sedang hits itu, mencampur tanah dengan bokasi, dan menanam bunga hasil rampokan. Haha. Yang sangat saya syukuri adalah tetangga atas Pohon Tua (kompleks kami kan merupakan tanjakan) yaitu Ma Evi Betu selalu berbagi bunga dengan saya. Katanya, dia senang melihat beranda belakang yang kini ramai tanaman baik sayuran maupun bunga. Ma Evi Betu bahkan memberikan saya anakan bunga Cucak Rowo! Yuhuuuu. Kalian bisa melihatnya pada gambar berikut:




Namun, merawat bunga tidak sama dengan merawat sayuran. Sayuran sekelas sawi dan kangkung, misalnya, hanya butuh penyiraman secara rutin untuk tetap segar dan tumbuh dengan baik sampai kemudian dipanen. Bunga-bunga yang saya tanam itu mulai menunjukkan kejenuhan mereka. Ada yang daunnya menguning dan kering, ada yang tidak besar-besar alias kerdil, ada pula yang mati. Hiks. Cucak Rowo ukuran besar dari Ma Evi Betul pun tamat riwayatnya, tetapi yang kecil masih bertahan hidup. Saya bertanya-tanya dalam hati. What's wrong? Tanahnya sudah dicampur bokasi pun. Proses penyiraman juga rutin. Bahkan mereka dijemur juga di matahari pagi lantas dimasukkan kembali. Masa mereka tidak sesubur sayuran?

Dua hari yang lalu saat saya sedang menikmati kopi susu di beranda belakang rumah sambil dihibur pemandangan tanaman-tanaman cantik itu, Ma Evi Betu berdiri di pagar pembatas lantas bilang pada saya: Nona, itu bunga-bunganya tidak subur, ya. Coba Nona campur tanah dalam pot itu dengan serbuk kayu sehingga dia menjadi lebih ringan. Bisa jadi tanahnya terlalu padat jadi akarnya kesulitan bergerak. Saya mengakui pada Ma Evi Betu: Iya nih, Ma Evi, bunga-bunga tidak seperti sayuran yang tumbuh subur. Saya akan coba membongkar tanah di pot dan mencampurnya dengan serbuk kayu. Tidak menunggu lama, saya meminta Yoye untuk pergi membeli serbuk kayu di bengkel kayu. Satu tas kresek merah seharga Rp 15.000 tetapi Yoye mengaku dia menawar sehingga harganya Rp 10.000 saja. Oh wow. Haha. Anak ini boleh juga.

Serbuk kayu.

Akhirnya pada Minggu petang saya, Thika, dan Melly mulai membongkar tanah dari pot-pot bunga yang ada. Tanahnya diayak terlebih dahulu, lantas dicampur dengan serbuk kayu. Takarannya 1:1. Satu tanah, satu serbuk kayu. Betul juga, tanah campuran itu menjadi lebih ringan. Setelah itu, bunganya ditanam kembali dalam pot tapi dengan tanah campuran serbuk kayu! Sambil melakukan itu, saya bilang pada bebungaan: tumbuh subur ya, kalian punya rumah baru yang lebih ramah.


Ternyata membikin campuran tanah untuk menanam bunga cukup mudah.

Bahan-bahan:
1. Tanah.
2. Bokasi.
3. Serbuk kayu.
4. Air.

Alat:
1. Sendok semen/sekop kecil.
2. Sendok gembur.

Pertama-tama tanah diayak agar batu-batunya terpisah. Kemudian tanah yang sudah diayak itu dicampur bokasi dengan takaran 2 (dua) tanah berbanding 1 (satu) bokasi. Hasil campuran tanah dan bokasi kemudian dicampur lagi dengan serbuk kayu dengan takaran 1 (satu) tanah campuran bokasi berbanding 1 (satu) serbuk kayu. Setelah itu, silahkan menanam bunga kalian. 

Saya yakin, kalian pasti bertanya-tanya, bukankah salah satu bahan bokasi adalah serbuk kayu? Memang benar. Tetapi untuk lebih meringankan tanah saya mengikuti anjuran Ma Evi Betu yaitu mencampurnya lagi dengan serbuk kayu. Kalau dipikir-pikir, benar juga, bahwa tanah yang terlalu keras bakal menyulitkan akar untuk bergerak. Tapi tentu orang-orang yang expert di bidang pertanian lebih tahu tentang hal ini. Bagi tahu doooong. Hehe. Saya sih hanya mengikuti anjuran yang menurut saya dapat dibenarkan.

Bagaimana dengan hasilnya? Belum tahu. Kan baru dilakukan hari Minggu kemarin. Kita lihat lah nanti bakal tumbuh subur atau tidak bebungaan itu. Sementara saya sendiri masih harus membeli pot baru bakal media tanam daun mint. 


Betapa cantiknya daun mint yang ditanam di pot mini seperti gambar di atas. Sungguh amboi kalau diletakkan di meja makan atau meja ruang tamu atau meja kerja. Aroma mint-nya segar sekali. Bisa jadi pengganti pengharum ruangan.

Baca Juga: Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat 

Bebungaan di beranda belakang Pohon Tua memang belum sebanyak bebungaan di rumah kalian. Potnya pun masih pot ukuran sedang, belum pot berukuran besar karena batang/tanaman bunganya pun masih ana lo'o alias masih kecil-kecil. Namanya juga usaha, butuh proses yang panjang untuk mewujudkannya. Lagi pula, saya tidak bisa terlalu fokus pada bebungaan saja. Kembali lagi pada ketahanan pangan seperti yang saya singgung pada awal pos ini. Memangnya berhasil, Teh? Alhamdulillah berhasil. Sejak mulai panen, Thika sudah jarang membeli sayur setiap kali ke pasar karena kami tinggal mengambilnya dari kebun mini baik sawi maupun kangkung. Kalau terung memang agak lama sih berbunga dan berbuah. Yang membikin saya senang, tomat mulai berbuah sedangkan tomat cherry mulai berbunga. Nanti pasti bakal saya tunjukkan pada kalian.

Semoga pos ini bermanfaat! 

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello


Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello. Sekitar tahun 2017 s.d. pertengahan 2018 saya masih tekun memproduksi barang-barang daur ulang seperti desk-organizer, hiasan dinding, mangkuk, keranjang, tas, pot bunga, tempat tisu, sampai gantungan kunci. Karena judulnya daur ulang tentu saja bahan-bahannya merupakan sampah seperti koran, majalah, kardus/karton, botol plastik, kaleng susu, gelas plastik dan gelas kertas, celana jin, kotak bekas minuman, hingga sedotan. Tetapi untuk memproduksi barang-barang berkonsep #DIY (bikin sendiri) saya tidak melulu menggunakan barang bekas. Semen, misalnya. Untuk membikin pot bunga unik berbahan semen, saya tentu harus membeli semen sekitar satu sampai dua kilogram. Sementara itu untuk mewarnai keranjang anyaman berbahan pipa koran/kertas dan kardus, saya harus membeli cat minyak berkaleng-kaleng sesuai jumlah warna yang dibutuhkan.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Kembali ke masa-masa produktif, saya sampai harus mencatat semua pesanan orang-orang berdasarkan timeline agar pekerjaan berdasarkan hobi tersebut tidak serampangan. Maksudnya, saya harus betul-betul bisa menepati janji waktu pengerjaan yang ditetapkan yaitu tiga sampai tujuh hari per barang. Awalnya tempat tisu baru bisa benar-benar selesai pengerjaannya sekitar tiga hari per tempat tisu. Tapi dengan semakin lihainya tangan dan jemari, sehari saya bisa memproduksi sampai lima tempat tisu. Sama halnya dengan keranjang. Awalnya bisa sampai lima hari per keranjang berukuran sedang. Lama-kelamaan sehari bisa dapat empat keranjang, bahkan sudah selesai dicat sempurna (hanya tinggal menunggu cat-nya kering).

Entah apa yang merasuki orang-orang sampai begitu sukanya mereka sama barang-barang daur ulang yang saya produksi. Bahkan ada yang memesan lebih dari satu barang. Mungkin karena barang daur ulang merupakan barang unik yang tidak dijual di toko-toko; termasuk permintaan warna dan karakter yang digunakan. Mungkin karena mereka sudah bosan dengan tempat tisu plastik yang modelnya itu-itu saja. Mungkin mereka memang ingin menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dengan memesan barang daur ulang. Ada banyak kemungkinan. Yang jelas, hanya dari memproduksi barang daur ulang saya bisa menghasilkan jutaan Rupiah. Memanfaatkan koneksi/pertemanan untuk promosi merupakan salah satu jalan paling ampuh.

Percayalah ... saya sudah melakoninya dan menikmati hasilnya.

Suatu saat keponakan saya, Indri, memesan rak kue susun tiga bakal tempat cupcakes. Jangka waktu yang diberikan adalah satu minggu dengan biaya yang cukup fantastis sih, sesuai dengan harga barang yang sama yang dipesannya di toko online. Sampai dia memesan pada saya adalah karena barang pesanannya itu baru tiba setelah tanggal keramat/ulangtahun si pemesan cupcakes ulang tahun. Awalnya saya ragu, tapi kemudian tawaran itu saya terima juga.

Membikin rak kue susun tiga susah-susah gampang. Karena bikinnya sudah lama, dan saya tidak pernah memikirkan proses produksi, sehingga tidak banyak foto yang bisa dihasilkan dari barang yang satu itu. Yang jelas, kardus yang digunakan harus yang super tebal. Maka saya tidak meminta kardus bekas mi atau minuman gelas pada tetangga melainkan membeli kardus super besar dan super tebal di toko sembako. Untuk mengatasi kejadian salah bikin, saya membeli tiga kardus super tersebut. Lantas, kreativitas mulai didorong untuk lebih dan lebih ... ini pertama kali ... saya yakin gagal sudah pasti.

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Gagal? Memang. Haha. Tapi saya sudah menyiapkan bahan cadangan. Dengan sedikit sentuhan kreativitas, maka jadilah rak kue susun tersebut.


Penampakannya begitu itu ya. Jauh dari kata sempurna. Tapi itulah kemampuan saya *ngikik*. Alhamdulillah keponakan malah suka. Tanpa banyak basa-basi, karena waktu sudah sangat mepet, rak kue susun ini langsung diangkut ke rumahnya untuk diisi dengan cupcakes-cupcakes pesanan. Waktu melihat hasilnya setelah diletakkan cupcakes, kok malah bagus. Cupcakes-nya yang bagus, rak kue susunnya sih teteup begitu itu. Yang jelas itu pengalaman pertama dan terakhir membikin rak kue susun, sebelum akhirnya saya jeda memproduksi aneka barang DIY.

Bagaimana menurut ngana? Haha. Bagi tahu di papan komentar.

Semoga bermanfaat, atau setidaknya mampu memberi inspirasi pada kalian semua.

#RabuDIY



Cheers.

Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati


Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati. Saya, kalian, mereka, mungkin sering fokus pada hasil akhir namun melupakan proses menuju hasil. Belakangan, saya sering menulis proses ini dengan proses kreatif. Menulis tentang proses kreatif, saya jadi ingat tentang perjalanan. Betapa gila-gilaannya saya tancap gas setiap kali ke luar kota karena pengen segera tiba di kota tujuan. Bahkan sering terlambat ngerem dan masuk lubang. Suatu kali, saya dan Deni Wolo sama-sama berangkat ke Kota Mbay untuk menyaksikan Festival Kuliner Nakeng Lebu (daging domba) di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Deni tidak bisa tancap gas karena memang tidak mau dan tidak terbiasa. Mengikuti ritme perjalanan Deni, saya justru lebih menikmati perjalanan luar kota tersebut. Banyak yang bisa saya perhatikan, lebih detil, dan saya sadar bahwa menikmati perjalanan ya yang seperti ini.


Setiap hari saya melakukan dan/atau melewati proses kreatif seperti menulis konten blog, menyunting foto, membikin cover atau feature picture konten blog di Canva, sampai menulis novel. Kadang membikin produk #DIY. Dalam dunia pekerjaan pun demikian, karena untuk menghasilkan satu berita saya harus menulis berita, menggali fakta (agar faktual), hingga menyunting foto pelengkap berita. Dan ketika terjun dalam dunia Exotic NTT Community, saya sadar, proses kreatif itu lebih rajin terjadi baik dilakukan oleh saya maupun oleh teman-teman.


Suatu kali saya menyaksikan proses kreatif yang dilakukan oleh Oedin, videografer sekaligus tukang sunting video Exotic NTT Community. Waktu itu Oedin membikin konten untuk channel Youtube-nya. Kontennya berupa wawancara Oedin dengan salah seorang anggota Exotic NTT Community yang juga dikenal sebagai E.thical Young Entrepreneur Ende 2019 dan mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor). Namanya Natalia Mudamakin. Wawancara dan/atau proses kreatifnya dilakukan di ruang tamu Pohon Tua (rumah saya). Jujur, saya sangat menikmati proses kreatif itu berjalan terutama bagaimana cara Oedin menggali informasi dari narasumbernya. Jelas saya melihat, Oedin berusaha bisa memperoleh footage sebaik-baiknya untuk mempermudahkannya menyunting video tersebut.

Lain lagi cerita saat kami harus pergi ke beberapa tempat berbeda untuk syuting footage bekal video para Exoter (sebutan untuk anggota Exotic NTT Community).

Watu Zaja, Bukit Marsel


Di lokasi ini proses kreatif berlangsung meriah karena diikuti oleh lebih banyak Exoter. Saya, David, Oedin, Arand, Violin, dan Thika. Kami dibantu pula oleh Om Alan dari RCM. Proses kreatif berkaitan dengan kesabaran. Karena ada enam Exoter yang harus dibikin/syuting footage-nya masing-masing, tentu harus mengantri kan. Di sinilah saya menikmati proses kreatif itu. Sebagai videografer, Oedin mengarahkan satu per satu Exoter untuk bergaya sesuai renjananya masing-masing.


Saya, misalnya, footage-nya adalah membaca. Sebagai subyek, saya harus bisa lebih sabar bertahan pada satu aksi/gaya sampai Oedin benar-benar puas. Sumpah, suka sekali sama proses kreatif yang dilakukan oleh Exoter. Sungguh, saya banyak belajar untuk jauh lebih sadar dan memerhatikan detil yang sering terlewatkan. Contohnya, saya bisa lebih leluasa mengeksplor Watu Zaja ketika menunggu giliran disyuting.

Aigela: Check Point Tiga Kabupaten


Ini dia perjalanan gila-gilaan. Bayangkan saja, untuk dua footage Exoter kami harus pergi jauh-jauh ke Aigela sejarak sekitar 60 kilometer dari Kota Ende. Proses kreatif yang saya nikmati tidak saja ketika Oedin mengambil footage Yoyok dan Cahyadi. Lebih dari itu! Selain kehujanan, takut sama petir yang sahut-sahutan, saya disuguhi pemandangan seorang lelaki sedang melaksanakan shalat Dzuhur.



Subhanallah. Saya benar-benar jatuh cinta dengan lelaki di dalam foto. Sayangnya, karena hujan saya tidak sempat berkenalan dengannya, karena kami kemudian ngetem di lapak berbeda. Mungkin kalian bakal bertanya, memangnya saya berani berkenalan dengannya? Berani donk! Untuk lelaki seperti itu, saya pasti berani. Sekadar mengajaknya mengobrol, berteman, haha hihi, kenapa tidak? Di sini saya menjadi semakin percaya bahwa setiap perjalanan mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Alhamdulillah saya diberikan pemandangan indah begitu oleh Allah SWT.

Pelabuhan Ende, Samba, Simpang Lima


Proses yang satu ini juga sangat saya nikmati. Waktu itu kami terpisah di mana saya, Yoyok, Violin, dan Natalia pergi ke Pelabuhan Ende untuk syuting footage-nya Nata. Sedangkan Arand, Tri, dan Man, pergi ke Barai menjemput Oedin untuk kemudian bergabung dengan kami di pelabuhan. Jujur, sudah beberapa bulan saya tidak mengumpulkan footage, apalagi mengarahkan subyek video. Tapi saat Nata mulai menari, sesuai renjananya, saya jadi lebih bersemangat mengarahkannya. Setelah saya, gantian Yoyok yang merekam aksi-aksi Nata, sampai kemudian rombongan dari Barai tiba di Pelabuhan Ende.

⇜⇝

Jadi, jelas ... bagi kalian yang sering mengabaikan proses kreatif, coba deh mulai memerhatikannya. Bandingkan saat kalian tidak menikmatinya atau menganggapnya sebagai angin lalu, dengan saat kalian menikmatinya dengan sungguh.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Bakal banyak banyak yang kita perhatikan dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Bakal banyak yang kita pelajari dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Detil-detil yang sering terlewatkan, bakal menjadi suatu cerita tersendiri ketika kita menikmati proses kreatif. Ayo, berhenti terburu-buru, mari nikmati!

#KamisLegit



Cheers.