Arsip Kategori: Pohon Tua

Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua


Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Salah satu cara memutus rantai penyebaran Covid-19 bagi para pekerja kantoran adalah work from home. Sedapat mungkin pekerjaan dilakukan di rumah dan dari rumah. Namun, apabila terpaksa harus keluar rumah, maka harus dilakukan dengan mematuhi protokol perlindungan diri, yang dilakukan juga demi perlindungan orang lain, yaitu dengan memakai masker, menjaga jarak, dan tidak boleh menyentuh wajah sebelum mencuci tangan minimal dua puluh detik dan/atau membasuh tangan dengan hand sanitizer. Protokol perlindungan diri ini insha Allah selalu kami lakukan, termasuk untuk siapa saja yang masuk ke dalam Pohon Tua, rumah kami, mereka wajib membersihkan tangan dengan sabun atau hand sanitizer.


Kembali lagi pada work from home. Apakah asyik? Ya, asyik! Tidak perlu harus mandi terlebih dulu, bisa dilakukan dengan mengenakan pakaian rumah, dan seringnya dilakukan di kamar karena laptop (dan meja kerja) berada di kamar. Asyik lainnya adalah bisa mengisi waktu kosong karena durasi pekerjaan tidak memakan waktu sampai delapan jam sehari seperti kehadiran kita di kantor pada hari-hari normal. Waktu kosong itu saya manfaatkan dengan melakukan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah berkebun (mini) di beranda belakang Pohon Tua. Kenapa saya sebut beranda, bukan halaman? Karena halaman Pohon Tua itu letaknya di samping-belakang, berdekatan dengan jalan, sedangkan bagian belakang Pohon Tua itu betul-betul seperti beranda di mana ada bekas dapur anak kos zaman dulu, bak penampung air, hingga tempat menjemur pakaian yang tanahnya dilapisi semen. Tanah yang tersisa hanya sekitar 1 x 1 meter saja (yang tidak dilapisi semen), serta di bagian pojok/sudut atas.


Berkebun bukan baru pertama kali ini saya lakukan. Dulu juga sudah saya lakukan dan telah membuahkan hasil yang dinikmati oleh banyak orang. Tanaman daun sop sudah dibagi-bagi kepada siapa pun yang memintanya, cabe sudah dinikmati hampir setiap hari, cocor bebek dan daun mengkudu diminta sama yang membutuhkan untuk obat, dan lidah buaya telah saya pergunakan untuk dikonsumsi sebagai penurun kadar gula dalam darah. Selain itu lidah buaya saya oleskan pada bekas-bekas luka yang menghitam. Haha. Gini hareeee masih ada bekas luka, main di parit lu, Teh? Sayangnya waktu itu tomat tidak bisa dinikmati karena hama dari Negara Api menyerang. Sayur sawi yang mulai mekar hancur ... entah akibat perbuatan siapa. Dududud.




Tahun 2020 saya kembali membakar semangat. Hahahaha.

Berawal dari suatu hari saat saya kembali menyalakan api asmara ingin bercengkerama dengan aneka tanaman. Maka saya mengisi lima polybag dengan tanah setelah meminta bibit tanaman pada Cahyadi. Tanahnya diambil dari samping-belakang Pohon Tua. Cahyadi datang membawa bibit-bibit untuk ditanam antara lain terong, cabe, dan sawi. Tetapi dua minggu berlalu, tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan dari polybag tersebut. Miris. Artinya tanah itu tidak mampu menopang pertumbuhan bibit. Apa yang tidak saya ketahui adalah bahwa pada hari itu juga, selain menanam bibit terong, cabe, dan sawi, diam-diam Cahyadi pergi ke beranda belakang Pohon Tua untuk menanam sorgum dan marungge (kelor) pada sekitar 1 x 1 meter tanah sisa itu. Inilah sumber segala sumber kegilaan saya ... kemudian. Sorgum dan marungge tumbuh menjulang tanpa kami sadari! Amboiiiiii.


Bibit terong, cabe, dan sawi itu memang tidak tumbuh. Tapi saya tidak menyerah. Saya harus bisa menumbuhkan tanaman di tahun ini! Tahun pandemi Covid-19! Melihat itu, Cahyadi (mungkin) merasa kasihan, maka dia membawakan saya tujuh polybag kecil anakan tanaman. Dua anakan terong, satu anakan cabe, dan empat anakan marungge. Duh, tujuh polybag itu saya sayang-sayang seperti pacar sendiri.

Bermodal tujuh polybag dan semangat yang menggila, saya mengajak Thika Pharmantara dan Melly untuk membenahi beranda belakang. Rak pot bunga berbahan kayu yang berada di teras Pohon Tua dipindah ke beranda belakang, berdekatan dengan bak air yang sudah tidak terpakai itu. Polybag sudah disiapkan. Tanahnya? Saya pun meminta tanah pada Abang Umar Hamdan, pentolannya Anak Cinta Lingkungan (ACIL). Dapat satu karung! Horeeee. Abang Umar sampai terkekeh mendengar permintaan tanah (subur). Orang lain minta tanah berhektar-hektar, saya minta tanah sekarung buat tanaman. Ya mau bagaimana lagi? Semangat ada, bibit ada, lahan tidak ada. Tapi selama masih ada polybag dan tanah, mari lanjutkan.


Cahyadi datang membawa tas berkebunnya yang berisi: aneka bibit dan dua sendok semen. Sore yang hangat itu kami menanam bibit terong, bibit cabe, bibit tomat. Ketiganya kami beli bibitnya di Toko Sabatani (yang murah, per bungkus hanya 2K saja). Lantas, Cahyadi menanam bawang putih di dua  polybag, dan bibit bengkoang di tanah sisa sebelah sudut atas. Kemudian, kami membeli lagi bibit sawi, kali ini yang dalam kemasan pabrik, agak mahalan sih harganya. Dan ... tentu saja kembali mendapat hibah sekarung tanah dari Abang Umar Hamdan. Mari, lanjut menanam.

Baca Juga: Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah

Apa saja yang kami tanam? Bibit sawi, wortel, bawang merah, kentang, ubi tatas, hingga batang kangkung yang daunnya sudah dipakai memasak! Haha. Eits jangan salah ... tumbuh bagus loh kangkungnya. Saat saya menulis ini, bibit-bibit sudah tumbuh baik, dan saya sudah memindahkan terong pemberian Cahyadi ke wadah yang lebih besar karena si terong memang tumbuh besar!

 Terong dan cabe yang sudah dipindah ke polybag besar.

Terong dan cabe waktu masih di polybag kecil. 

Bengkoang yang mulai disentuh sinar matahari. 

Kangkungnya tumbuh, gengs. Padahal cuma dari batang sisa. 

Bibit sawi yang bermunculan ini bikin bahagia. 

Dan ini anakan terung dari bibit 2K, yang ternyata ... tumbuh.

Kalau yang dipanah itu, bawang putih.

Yang belum bisa saya foto karena memang belum nampak hasilnya. Hehe. Tapi, asli, saya bahagia melihat tanaman-tanaman ini tumbuh.

Berbekal pengalaman sebelum-sebelumnya, serta melihat cuaca (saat ini sering turun hujan), maka saya menerapkan pola yang berbeda untuk tanaman-tanaman yang masih mini ini. Setiap tanaman tentu membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis dan membuat makanan. Tanpa cahaya matahari, susah sekali tanaman bisa tumbuh. Sinar buatan dari cahaya lampu tidak akan sama dengan sinar matahari yang alami dan gratis. Haha. Tanaman juga membutuhkan air, tetapi kalau kebanyakan air, bisa rusak pula tanaman itu. Apalagi yang basi baby begitu! Jadi, polanya adalah setiap pagi semua polybag akan dikeluarkan dari bagian beratap agar mereka terpapar sinar matahari. Kecuali kangkung yang memang kami biarkan saja di rak kayu butut itu. Setiap sore, semua polybag bakal kami simpan kembali ke bagian beratap untuk menghindari hujan di malam hari. Pola ini akan terus dilakukan sampai semua tanaman besar dan cukup kuat untuk menahan air hujan.

Capek donk? Memang! Tapi di dunia ini tidak ada pekerjaan yang tidak membikin capek. Dan percayalah, capek itu nantinya akan dibalas dengan hasil yang insha Allah baik.

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Gara-gara kebun mini di beranda belakang Pohon Tua saya jadi punya aktivitas yang betul-betul baru dan rutin. Setiap pagi, bergantian dengan Thika dan Melly, memindahkan polybag agar tanaman terpapar sinar matahari. Setiap dua jam sekali saya kembali ke sana untuk memercik semua polybag dengan air. Sore hari, setelah disiram air, semua polybag dimasukkan lagi ke bagian beranda yang beratap. Ini aktivitas rutin yang menyenangkan karena setiap pagi selalu ada kejutan baru dari setiap tanaman. Ada yang tumbuh besar, ada pula yang mengintip malu-malu dari tanah. Sebagai 'orangtua' tentu saya senang (bahagia lebih tepatnya) melihat pertumbuhan mereka.

Berikutnya kami akan coba menanam jahe, kunyit, dan kawan-kawan se-geng-nya.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Di rumah saja jadi punya banyak waktu kan? Ayo berkebun. Jangan bilang kalian tidak punya lahan. Berkebun tidak selamanya harus punya lahan. Selama masih ada polybag/wadah dan tanah yang bisa diminta (tanah subur), tentu kita bisa berkebun mini. Kalau saya yang lebih suka nge-game ini bisa ... kalian juga bisa. Kebun mini mungkin tidak bisa menghidupi kita setiap hari, tetapi suatu saat dia pasti akan menjadi kebanggaan. Iya, bangga ... ketika sayur yang ada di piring itu berasal dari kebun mini sendiri.

Semoga bermanfaat!

#RabuDIY



Cheers.

Sinyal Itu Sudah Ada Namun Awam Tak Pandai Membacanya


Sinyal Itu Sudah Ada Namun Awam Tak Pandai Membacanya. Suatu saat mendadak saya menulis pos berjudul Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita. Meskipun tujuan utama tulisan itu terpanah pada ranah asmara namun ternyata tulisan itu berbentur dengan semua ranah kehidupan umat manusia. Saya sendiri terkejut ketika paragraf pertama mulai tertera kata 'bunga'. Bunga yang dicuri berikut wadahnya, tapi kemudian diganti dengan bunga lainnya. Bagian akhir dari tulisan itu adalah tentang mencoba-ikhlas alih-alih menulis tentang keihlasan. Karena, ikhlas merupakan ilmu paling tinggi dan saya masih belum bisa disebut ikhlas. Mencoba iklhas itu mudah dilakukan. Percayalah. Jauh lebih mudah dari ikhlas.


Kembali pada persoalan sesuatu yang bukan milik kita, yang kesemuanya adalah milik Allah SWT, manusia bisa apa? Manusia hanyalah penghuni semesta raya, bagian kecil dari ciptaanNya, yang bahkan menembus galaksi lain pun masih sulit dilakukan, kecuali di dalam filem. Kadang-kadang jadi kangen alien, haha. Manusia bahkan kadang sulit membaca sinyal kehidupannya sendiri. Setelah kejadian baru ngeh bahwa oooh ternyata kejadian ini pertandanya itu. Kalian sering bilang begitu? Selamat, kalian tidak sendirian. Ada saya juga haha.

Kalau saya menceritakan sinyal yang satu ini, kalian pasti bakal bilang, ah cuma mengaitkan saja lu, Teh. Tapi kalau saya pikir-pikir, sinyal ini memang merupakan sesuatu yang harusnya bisa saya baca sejak September 2019 kemarin, hanya saja karena saya ini awam, mana bisa mengejawantahkannya. Beuuuugh bahasanya. Andai saya punya indera ke-enam macam Cecilia Theresiana atau Naomi, kan asyik.

Sinyal yang saya maksudkan ini berkaitan dengan tugas. Percayakah kalian bahwa setiap manusia yang mengembara di dunia ini diberikan tugasnya masing-masing oleh Allah SWT? Tugas setiap manusia itu ibarat DNA, tidak sama pada setiap manusia. Misalnya tugas Claudio Valentino Dandut, adik angkat saya itu, adalah menjadi musuh bebuyutan saya. Setiap hari kerjaan kami di WA itu berantem melulu, curhat melulu, bagi permen melulu (saya), minta di-download-in video melulu (saya), bangunin saya setiap Senin pukul 05.30 Wita (dia), dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain. Ada pula Mas Yoyok Purnomo, yang tugasnya adalah menelan kejengkelan demi kejengkelan gara-gara tingkah resek saya.

Sama juga, sebagai manusia saya juga diberikan tugas oleh Allah SWT. Kalian tahu konsep sebuah tugas kan? Melaksanakan tugas artinya meninggalkan hal-hal lain yang bakal mengganggu tugas itu. Saya percaya bahwa tugas saya di dunia saat ini adalah untuk menjaga Mama dan dua keponakan yang tinggal bersama kami di Pohon Tua. Tugas itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya apabila ingin mendapat nilai menuju-sempurna. Tugas itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Oleh karena itu, ijinkan saya membagi catatan ini. Catatan yang saya bikin dengan segenap jiwa (ini bahasanya kayak orang bakal pergi perang).

Catatan 8 Desember 2019

Tumpeng nasi kuning dengan potongan-potongan ayam bakar, telur, tahu tempe, jumputan urap, dan aneka topping yang mengitari tumpeng itu, sudah terbayang di depan mata saya sejak Bulan November 2019. Pun sudah terbayang pula betapa lebar tawanya kalau cake ulang tahun berbentuk Ka'bah atau Silverqueen itu muncul dengan lilin menyala minta ditiup. Ah, beliau juga pasti bakal memeluk hadiah daster (pakaian kesukaannya) sambil mengelus si daster dengan gembira. Tapi saya tahu, kebahagiaan terbesarnya adalah dikelilingi oleh anak, cucu, dan cece. Mana pula dua cecenya, si Rara dan Syiva, pasti berulah konyol memantik tawa sekeluarga besar.

Bahkan, saya pernah menulis status, butuh pacar sewaan sehari saja pada tanggal 8 Desember 2019 untuk menghindari pertanyaan 'itu' dari keluarga besar yang Insha Allah selalu kumpul di Pohon Tua (nama rumah kami) pada tanggal kelahiran beliau. Saya ingin 8 Desember 2019 menjadi momen terbaik kami semua.

Baru-baru ini saya menulis tentang Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita. Tulisan yang saya ingat, saat 30 November 2019 beliau kehilangan satu-satunya indera penglihatan, setelah indera penglihatan yang lain direnggut pada tahun 2016 silam. Tulisan yang baru saya sadari bahwa sudah sejauh itu saya paham konsep semesta. Kita tidak bisa mempertahankan apapun yang bukan milik kita. Karena semuanya adalah milik Allah SWT. Termasuk penglihatan.

30 November 2019 beliau kehilangan penglihatannya. Sedih, iya. Tapi kami sekeluarga harus bisa menerimanya. Saya pribadi memandang ini sebagai apa yang bukan hak milik. Pasrah? Tidak. Kami sekeluarga tentu berupaya demi beliau yang kami panggil Mama, Amak, Mamatua, Oma. Sekecil apapun kemungkinan pulih, manusia tidak boleh berhenti berikhtiar dan berdoa.

Beliau memang kehilangan penglihatannya. Namun, beliau dianugerahi begitu banyak mata: anak, cucu, cece. Bahkan orang-orang lainnya. Saya menulis: she can't see us. Tapi adek saya Tino menulis: she can't see you all with her eyes, but heart do. Demikian pula ... Beliau mampu merasakan 'mata' itu lewat sentuhan dan elusan pada pundaknya. Juga suara yang bergema saat berbicara.

Melangkahkan terus, Ma. Bahkan seratus ribu langkah lagi. Jangan pernah takut jatuh. Karena, Mama punya banyak mata yang menuntun. Karena, Mama punya banyak tangan yang menopang. Melangkahlah terus, Ma. Meskipun tidak akan sama persis dengan saat Mama melatih kami berjalan dulu, tapi kami akan selalu ada untuk Mama. Menuntun dan menopang. Dan, Allah SWT tentu akan selalu melindungi Mama.

Life is good.

Isn't it?

Baca Juga: Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae

Catatan di atas juga sudah saya pos di Facebook dan share di WAG keluarga. Keponakan saya Mbak In, dan sahabat rasa saudari saya si Mila Wolo, bahkan sudah lebih dulu mengeposnya di media sosial mereka. Ya, di Facebook. Mungkin banyak yang bakal bilang saya lebay. Tapi percayalah, menjauhnya sekian banyak prince-not-charming dalam waktu berdekatan, tsaaaaaah, saya anggap sebagai sinyal yang tidak mampu dibaca oleh saya sebagai awam. Saya percaya, tugas saya masihlah yang saat ini diberikan oleh Allah SWT dan itu merupakan anugerah. Jadi, itu tidak saya anggap sebagai tugas saja, melainkan sebagai anugerah.

Semoga kalian paham hahaha.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Bobo Manja


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Kali ini #PDL-nya bukan oleh saya tapi oleh para krucil yang saban hari main di rumah. Duileh, kalau tidak dibatasi, semakin hari semakin banyak saja jumlah krucil itu ha ha ha. Kata Mamatua: anak-anak adalah malaikat. Saya pernah balas: tapi kok yang nongol ini iblis semua? Becandaaaa. Anak-anak adalah malaikat, memang. Malaikat pencabut kesabaran.

Dan pernah, krucil bobo di rumah, tapi bukan di dalam rumah. Entah mengapa sepertinya teras rumah saya, Pohon Tua, yang luas itu paling asyik dijadikan tempat bobo manja. Suatu pagi saat buka pintu rumah, pemandangan seperti di awal pos lah yang terlihat. Ampuuuun! Apa tidak kedinginan ya, mereka? Hahaha. Ada-ada saja. Langsung saya bangunkan mereka dan menitahkan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Pernah, para krucil pernah bobo manja di teras rumah. Dinginnya malam tidak menjadi masalah bagi mereka ... yang penting perasaan nyaman kali ya. Mungkin pula mereka kuatir sudah terlalu malam untuk pulang ke rumah.

Duh ...



Cheers.