Arsip Kategori: Piknik

Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19


Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19. Halo semua! Sudah lama, lama, lama sekali kalian tidak bertemu tulisan baru di blog ini. So sorry, keasyikan sama Horeday jadi lupa ngasih semacam notifikasi pada kalian. Hehe. Yang jelas, saya ingin mengucapkan Selamat Merayakan Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakannya, meskipun sudah lewat jauh, dan semoga puasanya pada Bulan Ramadan kemarin betul-betul membersihkan hati dan pikiran saya, kalian, mereka. Insha Allah. Amin.


Baca Juga: Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Sebenarnya sejak tahun lalu saya sudah berencana untuk close house (lawannya open house kan ya, haha). Rencananya Idul Fitri tahun 2020 ini saya bakal mengajak semua penghuni Pohon Tua termasuk Mamasia dan Mamalen untuk pelesir ke Riung. Kalau Riung terlalu jauh, menginap di hotel di Kota Ende pun boleh lah. Intinya kami tidak membikin kue, tidak memasak masakan khas Idul Fitri, serta tidak menerima tamu. Ndilalah, Covid-19 mewujudkan rencana itu *ngakak*. Kami memang tidak ke mana-mana alias #DiRumahSaja sekaligus tidak menerima tamu. Apakah dengan demikian pengeluaran terpangkas? Terpangkas sedikit, karena kami tetap membikin kudapan dan memasak meskipun jumlahnya sangat sedikit. Sesuai jumlah penghuni Pohon Tua dan anggota keluarga besar Pharmantara dan Abdullah Achmad (the only one kakak ipar laki-laki).


Hari kedua Idul Fitri saya pergi (untuk kedua kali) bersilaturahmi ke rumah Abang Nanu Pharmantara bersama Kakak Nani Pharmantara dan suaminya Ka'e Dul. Dari situ tercetus ide untuk piknik keesokan harinya. Selasa! Amboiiii rencana mendadak ini ... apakah terlaksana? Jelas! Melalui WAG Encim and The Gank, semua orang kebagian bekal bawaan. Piknik kali ini agak berbeda karena kami juga membawa tenda. Oh ya, bagi kalian yang penasaran dengan keseruan piknik Encim and The Gank ini, silahkan  nonton video berikut:


Sudah nonton videonya? 

Seru kan?


Nah, pasti ada yang bertanya mengapa kami 'berani-beraninya' piknik di tengah pandemi Covid-19 ini? Pasti kalian betul-betul emosi dengan keluarga kami kan? Hehe. Tidak apa-apa, setiap orang berhak untuk marah pada masa seperti sekarang ini. Inilah yang saya tulis pada deskripsi video tersebut:

Setelah sekian lama akhirnya keluarga besar kami, Keluarga Pharmantara dan Keluarga Abdullah Achmad, memutuskan untuk piknik. Kali ini pikniknya di Kali Nangaba. Meskipun piknik, kami tetap berusaha menjaga protokol kesehatan ya, gengs. Jangan marah atau menyalahkan keluarga kami karena piknik di tengah pandemi Covid-19. Yang perlu diketahui adalah bahwa Kali Nangaba itu panjaaaaang, dan area kering di sekitarnya sangat luas, sehingga jarak antara keluarga kami dengan orang lain lebih dari 10 meter. Tentu kami juga tidak ingin hal-hal buruk menimpa ... Insha Allah. Amin.

Tentu kami semua mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan. Semua kendaraan yang dipakai baik sepeda motor maupun mobil disemprot dengan disinfektan terlebih dahulu. Semua orang, sebelum berangkat, wajib mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan wajib memakai masker. Di Kali Nangaba (kami jarang menyebut sungai), jarak antara rombongan kami dengan orang-orang lainnya lebih dari sepuluh meter, bahkan lebiiiiiih lagi. Setiap orang tentu tidak mau terinfeksi Covid-19 bukan? 


Saya berharap kalian juga demikian ... masih bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga di tengah pandemi Covid-19. Amin.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Horeday #5: Piknik Encim and The Gank di Pantai Aeba’i


Hari kedua Idul Fitri masih diiringi lagu-lagu sendu dari email gigi yang rusak hingga ke pusat syarafnya (kata dokter Bambang setelah saya pergi ke tempat prakteknya di samping Apotik Gatsu). Kataflam serbuk yang dicampur air itu hanya mampu bertahan sekitar enam hingga tujuh jam. Setelah itu pilihan hanya dua: berusaha tidur dengan gigi yang konser non-stop atau kembali makan dan menegak pain killer itu lagi. Sumpah, apabila kalian mengalami sakit gigi, segeralah ke dokter dan mengobatinya. Waktu itu tempat-tempat praktek dokter gigi masih pada libur sehingga saya harus menunggu. Sangat menyiksa dan membosankan karena Idul Fitri tahun ini pun saya memilih untuk berdiam diri di rumah, tidak ke rumah teman-teman, apalagi traveling.

Hari kedua Idul Fitri. Duduk di sofa setelah makan bubur dan menegak Kataflam berharap keajaiban datang. Saya juga sedang menunggu pesan WA dari Stanis karena hari kedua Idul Fitri kita punya jadwal mengantar Harry dan Rojer ke pangkalan mobil travel. Mereka hendak bertolak ke Kota Bajawa. Tepatnya, kembali ke Manulalu, penginapan kece milik Jane Kambey dan suaminya yang letaknya berdekatan dengan Kampung Adat Bena. Lantas, mendadak pesan masuk di WAG Encim and The Gank. Ajakan piknik dari Kakak Nani Pharmantara! Ikan bakal dibakar sudah tersedia. Hwah. Saya tidak bisa menolak kalau piknik. Ajakan berubah menjadi ajakan. Saya lantas mengajak Stanis, Harry, dan Rojer untuk piknik bersama sambil, nanti, mencari mobil travel arah Kota Bajawa.

Tim Pemakaran. Hahaha.

Segera, Thika dan Enu meracik sambal, menyiapkan kotak-kotak berisi kudapan, dan mengeluarkan beberapa botol Coca Cola dari kulkas. Tak lupa baliho bekas bakal alas duduk. Pick up milik pacarnya Kiki, Solihin, tiba. Barang-barang dimuat duluan. Kloter pertama berangkat duluan ke Pantai Aeba'i. Dua puluh menit kemudian Thika dan Enu berangkat. Hampir satu jam kemudian baru lah saya berangkat setelah dijemput Stanis, Harry, dan Rojer. Saya sampaikan pada Harry bahwa 6 Juni merupakan hari ulangtahunnya Indah Abdullah yang saat ini masih duduk di bangku SMA (SMAK Syuradikara).

Feliz Cumpleaños


Maaf kalau salah. Intinya ya happy birthday. Begitu kami berempat tiba di pantai yang sudah ramai itu, termasuk Ka'e Dul dan Solihin yang sedang bakar ikan, langsung saja kami menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk Indah. Hwah, Rojer dan Harry lantas lanjut menyanyikannya dalam bahasa Spanyol. O-le! Haha. Betapa senangnya Indah. Kapan lagi coba ... untung dia video-kan, kalau tidak ... bisa-bisa dia minta Harry dan Rojer mengulangnya itu *ngakak tebanting*.

Cieee yang ultah (pegang piring) happy tuh!

Selamat ulang tahun ya, Indah. Semoga cita-citanya menyusul Kak Ical (jadi Polwan, bukan Polki, haha) tercapai, Amin. Yang penting latihan fisiknya pelan-pelan dari sekarang *petuah nih*.

Lepet dan Ikan Bakar


Menu utama piknik kali ini adalah ikan bakar. Teman menu utama ada beberapa sih seperti lepet (semacam ketupat), nasi, dan pisang bakar. Ada juga ubi bakar tetapi si ubi datangnya setelah Harry dan Rojer bertolak ke Kota Bajawa. Mungkin pisang bakar dan ikan bakar merupakan perpaduan yang baru pertama kali dirasakan Harry dan Rojer. Mungkin. Namanya juga bergabung dengan keluarga kocak, ya harus siap-siap kocak juga, termasuk lidah. Hehe.

Mari makan!

Usai makan kami mengobrol tentang banyak hal. Didominasi tentang Kabupaten Ende. Salah satunya adalah tentang legenda cinta antara Gunung Ia, Gunung Meja, dan Gunung Wongge. Kenapa jadi bercerita tentang legenda itu, ya karena Harry bertanya tentang perbukitan di samping Gunung Meja (berpuncak datar). Itu Gunung Ia, masih aktif, dan menurut legenda, Ia adalah perempuan yang terus menangis karena leher kekasihnya yang bernama Meja ditebas oleh Wongge. Sayangnya dari Pantai Aeba'i tidak kelihatan Gunung Wonggenya.

"Jadi ... kepala Meja terpelanting ke arah Timur dan jadilah Pulau Koa, dan parang yang dipakai Wongge dibuang ke arah Barat dan jadilah Pulau Ende."

Wow kan.

Lumayanlah masih bisa cerita-cerita disela-sela gigi yang nyut-nyutan.

Acara selanjutnya ya foto-foto donk. Soalnya jarum jam terus bergerak dan saya kuatir Harry dan Rojer ketinggalan mobil travel.

Ini dia Harry Kawanda yang saya sebut sebagai traveler of the century. Soalnya kerjanya keliling dunia teruuuuus. Huhu jadi iri.

Ini dia Rojer, teman Harry asal Chile. Sampai jumpa, Roj!

Three of us.

Saya dan Thika mengantar Harry dan Rojer ke pangkalan mobil travel. Alhamdulillah, mobilnya siap berangkat karena tinggal menunggu dua penumpang lagi. Pas mantap kan. Dadagh Harry dan Rojer. Selamat bergabung bersama keluarga Pharmantara. Ditunggu kunjungan berikutnya di Kota Ende. Sekalian tinggal di sini juga boleh. Asalkan lidah kalian dapat terbiasa dengan nasi dan garam *LOL!*. Terima kasih, ya, sudah menjadi tamu spesial keluarga kami.

Terima kasih, Harry. Candid saat bibir mencong haha.

Piknik hari itu masih berlanjut hingga sore, dimana saya tertidur cukup nyenyak di pantai, dengan kepala beralas helem milik Angga. Saatnya pulang ke rumahnya Ka'e Dul dan Kakak Nani. Loh? Iya, soalnya mau dikasih ramuan buat berkumur untuk mengurangi ngilunya gigi ini. Haha. Dan lagu-lagu sendu dari email gigi kembali terdengar. Dudududu ...

⇜⇝

Bagaimana dengan kalian, kawan? Liburannya di rumah saja atau sempat piknik/wisata bareng keluarga? Bagi tahu yuk di papan komentar. Dan nantikan saya bertamu ke blog kalian hahaha. Siapkan kudapan dan air hangat buat minum obat!



Cheers.

#PDL Datang, Makan, Ngerujak, Pulang

Mei dan Ocha di Saung Adat Kolibari.


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***
  

Rabu, 22 Agustus 2018, umat Muslim memperingati Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Saya juga menyebutnya Hari Kemenangan Atas Percaya dan Bakti serta pengorbanan pada Allah SWT yang waktu itu dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim AS terhadap anaknya yaitu Nabi Ismail AS. Percaya dan bakti Nabi Ibrahim AS ini lah yang wajib kita contohi. Sebagai gantinya, domba diberikan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS. Selain itu, saya juga menyebutnya Hari Raya Haji. Selamat kepada Bapak, Ibu, Saudara/i, semuanya yang telah menjalankan ibadah Haji. Insha Allah suatu saat nanti saya menyusul.

Baca Juga:

Sebenarnya hari libur Rabu kemarin itu saya tidak punya rencana ke mana-mana meskipun sudah diajak Kakak Pacar untuk makan siang di rumahnya. Permasalahan timbul setelah teman si Ocha yang bernama Mei datang ke rumah. Nampaknya mereka desperate karena dalam beberapa minggu belum pernah ke luar rumah untuk sekadar menikmati keindahan alam yang menakjubkan. Walhasil saya meminta Ocha menghubungi Akiem dan Effie; pasangan paling sering cek-cok se-dunia-kami. 

Pukul 14.00 Wita tiga motor matic berangkat menuju Kolibari. Mei memboceng Ocha, Akiem tentu dengan Effie, saya dan Thika. Sebelumnya saya sudah meminta Ocha menghubungi Kakak Pacar bahwa tawaran makan siang diterima dengan senang hati sekaligus membawa pasukan, hahaha.



Adalah sungkan yang tiada terkira ketika kami datang, kopi dan teh disuguhkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Inilah salah satu keistimewaan di Kolibari *tsah*. Lantas, tidak berapa lama, Kakak Pacar mengajak kami makan. Katanya, "Sudah dimasakin sama Kak Fitria tuh, sana gih kalian makan dulu sebelum dingin!" Hah? Jadi, mereka memasak hanya untuk kami berenam? Maluuuu *tutup muka tapi ngintip*



Makan siang yang kesorean itu disuguhi nasi merah dan aneka menu daging kambing. Ada semur, ada soto. Yang awalnya malu-malu, eh jadi kalap hahaha. Manapula dari rumah kakak ipar yang satu, mendadak kami mendapat kiriman sepiring semur lagi. Hah? Yang makan hanya enam orang tapi menunya untuk limabelas orang. Hehe. Pas lagi makan begitu, muncul makhluk bernama ngengat, berwarna kuning, hinggap di jari manis saya dan tak mau pergi.




Katanya sih itu pertanda. Pertanda apa saya tidak tahu. Mungkin pertanda bahwa ngengat juga butuh tempat untuk ngetem :D qiqiqiqi. Awalnya saya sudah pos di FB bahwa ini kupu-kupu, tapi Cahyadi mengoreksinya bahwa ini ngengat. Karena, sayap kupu-kupu akan terkatup apabila sedang hinggap/ngetem begitu.

Dan benar kata orang, membawa anak gadis itu adaaa saja ide dan kemauannya. Si Thika mengajak rujakan. Pepaya dan mangga pun langsung didatangkan dari kebun terdekat. Bahkan untuk cabe pun, di depan rumah kakak ipar ada pohon cabe lumayan gede:




Pengen angkut ini pohon cabe pulang ke rumah. Sore itu bermodal kacang, cabe, garam, dan gula sabu (gula kental asal Pulau Sabu), pepaya dan mangga dari kebun, maka jadilah rujaaaaak.




Habis ngerujak, eh si Kakak Pacar nawarin kelapa muda. Busyet dah. Anak-anak pada mau, tapi kelapanya masih dipetik sama si Arifin (adik si Arifin ini namanya Arif hahah), makanya mereka pada ngerusuh sama bocah setempat. Si Ocha main sepeda salah satu bocah. Thika, Mei, dan Effie malah main bulu tangkis. Sampai kemudian si Mei mengusulkan untuk mendaki ke bukit sebelah ke puncak Kezimara. Waaaa saya menyerah! Hiihi. Walhasil yang naik ke Kezimara cuma si Mei dan Ocha, Thika lanjut main bulu tangkis, saya dan Effie tidur, setelah saya menghabiskan satu kelapa muda nan segar.

Sekitar pukul 18.30 Wita kami pun pamit pulang. Ocha membawa oleh-oleh kelapa muda :D hehehe.

Pernah, saya pernah begitu, pergi ke rumah Kakak Pacar cuma untuk makan, ngerujak, pulang. Senang-senang di rumah orang belum ada hukum yang melarang. Boleh-boleh saja, sah-sah saja. Bagaimana dengan kalian?


Cheers.