Dari Kuliah Umum Sampai My Best Friend’s Wedding


Dari Kuliah Umum Sampai My Best Friend's Wedding. Minggu lalu saya dihubungi oleh Kakak Ida yang membantu Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang hendak mengundang blogger untuk acara Gotong Royong, Bakti Negeri +62 di Tanggerang. Dalam perkara ini, blogger dimaksud adalah saya sebagai blogger asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Semua ditanggung oleh panitia (transportasi, akomodasi, konsumsi). Kegiatannya dimulai 26 Oktober hingga 30 Oktober 2019. Dengan berat hati saya menolak. Sumpah! Berat bangettttt menolak undangan tersebut. Menolak karena tanggal 26 Oktober adalah tanggal keramat. Keramat pertama: kegiatan kuliah umum. Keramat kedua: pernikahan sahabat yang sudah saya anggap adik sendiri Mila Wolo dan Ismail Harun. Sumpah, lebih mengerikan dicakar Mila ketimbang dipeluk Abang. Eh, maksudnya ya begitu. Haha. Tolong bagian dipeluk Abang jangan dibahas, ya. Haha!

Baca Juga: Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba

Sebagai manusia penghuni semesta raya saya harus rela mengorbankan yang satu demi menunaikan yang lain. Tentu, saya sudah mengorbankan tidak pergi ke Tanggerang, meskipun penolakan itu seharusnya bukan pengorbanan tetapi keikhlasan. Tsaaaah. Hehe. Bagaimana dengan dua kegiatan lainnya? Mana yang saya pilih untuk dihadiri? Kalian pasti kepo kan? Baca donk sampai selesai.

Kuliah Umum Menyambut Panca Windu Uniflor


Sudah saya ceritakan sebelumnya pada pos berjudul 5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor bahwa dalam rangka menyambut usia panca windu, Universitas Flores (Uniflor) bakal menggelar begitu banyak kegiatan, salah satunya kuliah umum dan/atau seminar yang cakupannya lokal, nasional, hingga internasional (internasional, masih dalam wacana). Panca windu, dan tahun emas nanti, memang merupakan momen spesial yang ditunggu-tunggu. Meskipun panca windu baru akan terjadi pada Juli 2020 namun persiapannya sudah dimulai sejak tiga tahun lalu. What!? Tiga tahun lalu? Ya, kepanitiaan ini sudah dibentuk tiga tahun lalu, kemudian mandek, kemudian bulan lalu kembali disetrum dan lantas setiap koordinator menyusun begitu banyak rencana kegiatan. Hebatnya, Panitia Panca Windu Uniflor bakal di-launching pada tanggal 1 November 2019 bertepatan dengan launching event tahunan Ema Gadi Djou Memorial Cup. Bapak Ema Gadi Djou adalah our founding father. Launching-nya pun dirancang supa amazing! Nantikan ceritanya, ya. 

Credits: Edwin Firmansyah.

Kuliah umum merupakan salah satu kegiatan awal, pre-event, Panca Windu Uniflor. Kuliah umum tersebut bertema: Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya "Mengawal Ideologi, Melawan Radikalisme" Pancasila dari Ende untuk Nusantara. Tema yang menarik. Tapi yang lebih menarik adalah Pemateri Utama yaitu Bapak Dr. Refly Harun, S.H., M.H., I.L.M. yang dikenal sebagai Pakar Hukum Tata Negara, Pemateri Pendamping yaitu Ibu Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. yang adalah dosen Fakultas Hukum Uniflor, serta Moderator kece yaitu Gusti Adi Tetiro yang dikenal sebagai novelis dan jurnalis BeritaSatuTV.

Hadir dalam kegiatan kuliah umum yang dilaksanakan di Auditorium H. J. Gadi Djou di Kampus I Uniflor tersebut Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A., Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt., Wakil Rektor dan Dekan se-lingkup Uniflor, Pasi Pers Kodim 1602/Ende Lettu Inf. Ilham Amir, Camat Ende Utara Kapitan Lingga, Pastor Rekanan Paroki St. Yosef Onekore/Pastor Kampus Ministry RP. John Ballan, SVD., Ketua FKUB Rd. Sipri Sadipun bersama anggota FKUB Kabupaten Ende, para dosen dan karyawan Uniflor, para guru di wilayah Kabupaten Ende, mahasiswa dan pelajar dalam Kota Ende. Jumlah peserta yang hadir diperkirakan 2.500 orang. Bisa saya bayangkan betapa penuhnya auditorium kebanggaan kami itu.

Credits: Edwin Firmansyah.

Dalam sambutannya Rektor Uniflor mengatakan bahwa Kota Ende terletak di tengah Pulau Flores dengan cuaca yang sejuk, masyarakatnya secara sosiologis kondisinya sangat manis. Kota Ende semacam menjadi pertemuan budaya sedaratan Flores dan sampai saat ini tidak ada gejolak seperti yang terjadi di tempat lain. Di Kota Ende Pancasila dikandung. Konsep awalnya Pancasila ada di Kota Ende. Mungkin Bung Karno melihat betapa manisnya Orang Ende. Semoga Pancasila tetap menjadi dasar penyejuk semua Agama, RAS, dan Budaya di Indonesia, dan ini menjadi harapan besar Orang Ende. Lebih lanjut Rektor Uniflor mengatakan, "Pada momen panca windu kami ingin membulatkan tekad untuk mengawal Pancasila yang dikandung di Kota Ende ini. Maka kami mengundang Pak Refly Harun untuk memberi pemahaman kepada kami agar kejadian dan gejolak tidak menggerus nilai Pancasila yang dikandung di Ende ini karena dia adalah mutiara indah yang dikandung di Ende dan dipersembahkan untuk mempersatukan Nusantara."

Kegiatan kuliah umum sebagai pre-event panca windu Uniflor sungguh luar biasa!

Credits: Edwin Firmansyah.

Pertanyaannya: bagaimana saya yang memutuskan untuk menghadiri pernikahan sahabat baik saya tahu tentang kuliah umum ini, termasuk sambutan Rektor Uniflor? Jawabnya hanya satu: jaringan. Haha. Pokoknya jaringan mempermudah segalanya. Terima kasih Om Edwin. Selain itu, untuk kepentingan publikasi Uniflor sudah ada Kakak Rossa yang berbaik hati memberi ijin saya mendokumentasikan pernikahan Mila dan Aram, dan meliput sendirian di auditorium. Sungguh, saya dikelilingi oleh orang-orang sangat baik.

Yuk ah ... tepuk tangan yang meriah.

My Best Friend's Wedding


Mila adalah sahabat yang sudah saya anggap adek sendiri, kami mulai menjalin persahabatan sejak tahun 2011. Pernikahannya dengan Aram merupakan momen terbaik tahun ini yang saya tunggu-tunggu. Sudah dimulai dengan mengatur proses foto pre-wedding, hingga membikin video undangan online. Yang jelas, demi kepentingan Mila, malam sebelumnya Cahyadi sudah membantu mendokumentasikan Malam Deba, sedangkan Thika Pharmantara menghias tangannya dengan hena. Pada hari pernikahan pun saya siap bangun lebih awal, karena biasanya iler sudah banjir baru bangun, demi bisa mendokumentasikan proses ijab-kabul, soalnya Cahyadi harus mengikuti kegiatan lain bersama Ethical.



Adalah air mata haru ketika melihat Bapa Anwar Wolo menikahkan puteri semata wayangnya dengan lelaki pilihan. Mata saya berkaca-kaca melihatnya. Bapa dan Mama, tunai sudah tugas kalian untuk Mila. Kalian adalah orangtua saya juga, yang selalu bisa membikin saya lebih bersemangat menjalani hidup, hanya dengan melihat perilaku kalian yang mulia. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan berkatNya untuk Bapa dan Mama. Semoga panggilan ke Tanah Suci kelak dapat terwujud. Amin ... Amin ... Amin. Jangan lupa, sebut nama saya kalau ke Tanah Suci Mekah, ya. Haha. Siapa tahu menyusul. Menyusuk ke Tanah Suci, bukan menyusul Mila dan Aram melenggang ke pelaminan. Eh tapi kalau itu juga didoakan ... Amin!




Saya dan keluarga Wolo memang tidak berhubungan darah. Kami hanya didekatkan oleh persahabatan saya dan Mila, yang kemudian persahabatan saya dan Deni. Tapi bagi saya, persahabatan dapat berujung pada persaudaraan apabila kita mampu membawanya pada tahap itu. Persahabatan juga dapat berujung pada permusuhan apabila kita membawanya pada tahap itu. Intinya adalah, semua sahabat saya adalah saudara. Karena, saudara tidak musti di tubuh mengalir darah yang sama.

Baca Juga: Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru

Well, untuk Mila dan Aram ... selamat yaaaaa.

⇜⇝

Meskipun saya belum memperoleh materi dari Pak Refly secara keseluruhan, tetapi saya yakin nanti bisa memperolehnya dari Kakak Rossa, atau dari Ibu Emmi. Materinya pasti bagus sekali: tentang menjaga Pancasila yang sangat kita cintai. Tapi yang jelas, Sabtu kemarin itu saya sangat puas dengan apa yang sudah saya pilih dan lakukan. Karena, sekali lagi, saya harus bisa mengorbankan yang satu untuk dapat menunaikan yang lain.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Buku Pelulu



Di Kabupaten Ende hidup dua suku besar yaitu Suku Ende dan Suku Lio. Suku Ende umumnya bermukim di daerah pesisir. Kedatangan para pelaut dari daerah luar ke daerah pesisir Ende menyebabkan terjadinya akulturasi budaya (serta agama). Sama halnya dengan Suku Lio yang umumnya bermukim di daerah pegunungan. Akulturasi terjadi dengan kebudayaan (serta agama) yang dibawa oleh Pastor-Pastor asal Portugis dari Flores bagian Timur (Kota Larantuka).

Baca Juga: Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Dari pihak (alm.) Bapa, mbah putri saya yaitu Mbah Suma berasal dari Pamekasan - Madura, sedangkan kakek saya yaitu Kakek Pua Ndawa saya berasal dari Pulau Ende. Karena kami penganut patrillineal, otomatis kami sekeluarga Pharmantara merupakan Suku Ende yang berakar kuat dari Pulau Ende. Penting untuk diketahui: Pulau Ende bukan Pulau Flores. Pulau Ende merupakan satu kecamatan yang terletak di depan Pantai Ende.


Hal apa yang paling asyik dibahas dari Suku Ende? Banyak! Salah satunya adalah tentang pernikahannya. Minggu, 16 Desember 2018, kami sekeluarga baru saja melewati satu tahap menuju pernikahan keponakan saya yang bernama Angga dengan perempuan bernama Titin. Oleh karena itu saya ingin sekali bercerita tentang buku pelulu.

Di dalam adat masyarakat Suku Ende, baik pacaran maupun ta'aruf harus melewati tahap yang sama. Karena Angga dan Titin ini berta'aruf, maka tahapan yang telah dilewati adalah temba zaza, nai ono, dan buku pelulu.

Temba Zaza


Temba zaza atau timba rasa adalah proses ketika perwakilan pihak laki-laki mendatangi rumah perempuan untuk menyampaikan maksud. Maksud si anak laki-laki untuk menjadikan si anak perempuan sebagai istri. Apabila si anak perempuan serta keluarganya setuju, maka akan dilanjutkan dengan tahap selanjutnya yaitu nai ono dan buku pelulu.

Nai Ono


Nai ono atau masuk minta merupakan proses lamaran. Lamaran di sini, berdasarkan apa yang saya ikuti hari Minggu kemarin, dilakukan oleh kaum perempuan dari kedua belah pihak. Tentu saja kaum perempuan (sanak keluarga) dari pihak perempuan yang menunggu di rumah si perempuan. Biasanya nai ono dibarengi dengan buku pelulu.

Buku Pelulu


Buku pelulu (sekatu uwi jawa) merupakan proses pihak laki-laki yang diwakili oleh kaum perempuan mengantarkan barang-barang berupa cincin, dulang utama (kemarin kami mengisi dulang utama dengan nasi tumpeng serta lauk-pauknya), uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu, hingga aneka kue-kue dan buah (yang disumbangkan oleh keluarga pihak laki-laki ini). Selain uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu, Abang Nanu dan Mbak Wati juga memberikan sejumlah hadiah lain kepada Titin seperti sarung, baju, daleman, alas kaki, dan lain sebagainya. Dua pick up penuh dan bertumpuk dengan aneka barang hantaran.



Juru bicara saat buku pelulu adalah perempuan yang dituakan. Kemarin kami mendaulat Bibi Hawa sebagai jubir. Yang dibicarakan oleh jubir kami kepada jubir pihak perempuan adalah sebagai berikut:

  • Jangka panjang atau jangka pendek. Maksudnya adalah jarak setelah buku pelulu ke waktu pernikahan itu lama atau cepat. Kemarin kami mengutarakan maksud: jangka pendek.
  • Isi kumba isi ae nio yang disepakati bersama.
  • Dan tidak perlu adanya bhaze duza atau balik dulang. Maksudnya pihak perempuan tidak perlu mengembalikan dulang, piring, dan lain sebagainya yang menjadi wadah ragam hantaran saat nai ono dan buku pelulu itu. Meskipun adatnya biasanya ada bhaze duza tapi pihak kami berpikir kalau bhaze duza akan terlihat seperti bolak-balik saja hantaran lamaran tersebut haha. Dan disepakati pula oleh pihak perempuan, namun pihak perempuan tetap akan datang ke rumah pihak laki-laki.


Setelah itu?

Kami pun pulang dan foto-foto hahaha.

Sebagian kecil squad Pua Ndawa, Pua Djombu, dan kawin-mawinnya haha. Eh, yang ini mah yang masih muda-muda, yang tidak muda lagi enggan bergabung LOL.


Proses yang akan ditempuh dalam beberapa bulan ke depan (karena jangka pendek nih) adalah mendi belanja atau biasa disebut dengan antar belanja atau antar belis. Meskipun mendi belanja ini belum dilakukan tapi kami sekeluarga sudah melakukan rembug kecil-kecilan tentang apa saja yang akan diantarkan kepada pihak perempuan nanti seperti perlengkapan kamar, baju pengantin (yang sebenarnya sudah ditanggung oleh pihak om dari si perempuan yang disebut isi kumba isi ae nio tadi), perlengkapan lainnya, uang-uang (pihak perempuan kemarin tidak mau menerima uang air susu ibu), sapi, mahar, hingga hadiah lainnya.

Masih ada beberapa tahap yang perlu dilewati sebelum tiba pada hari H, tapi tidak saya ceritakan sekarang hehe.

Baca Juga: Pejuang Ekonomi di EGDMC

Yang juga keren dari acara-acara adat dan budaya ini adalah sodho sambu-nya atau undang-mengundangnya. Di Suku Ende apabila ada hajatan seperti nai ono dan buku pelulu, atau juga hajatan seperti khitanan dan do'a, sebelumnya kami mengundang keluarga dan tetangga (untuk nai ono dan buku pelulu khususnya perempuan) untuk turut hadir. Karena keluarga kami ini banyak, maka sodho sambu dilakukan oleh empat perempuan yaitu saya, Aida, Kak Nani Pharmantara, dan Ida. Saya dan Aida bertugas sodho sambu keluarga dari pihak Mamatua. Kak Nani dan Ida bertugas sodho sambu keluarga dari pihak (alm) Bapa.

Apabila kegiatannya mengharuskan laki-laki yang hadir maka yang bertugas sodho sambu adalah laki-laki. Tetapi karena nai ono dan buku pelulu dilakukan oleh perempuan, maka yang bertugas sodho sambu adalah perepuan.

Sodho sambu tidak bisa sembarang datang mengundang seperti: heeei, kami datang mau sampaikan nih bla bla bla. Ada syarat yang harus dipenuhi:

  • Mengenakan zawo zambu. Tapi kami boleh memakai atasan/baju lain, tidak perlu zambu.
  • Menggunakan bahasa Ende serta kata-kata khusus. Kata-kata khusus ini bisa bercampur bahasa Indonesia apabila kita tidak fasih benar.


Meskipun zawo yang saya pakai jatuh dua kali, hahaha, serta kehujanan, tapi saya menikmati kegiatan sodho sambu ini.

Sarung tenun ikat yang kami pakai itu disebut zawo. Zawo ini macam-macam jenisnya. Yang saya pakai berjenis mangga.


Saat datang ke rumah saudara, setelah kita dipersilahkan duduk, apabila tuan rumah tidak bertanya: "Miu mai zatu perlu apa nde?" (Kalian datang ada perlu apa nih?), maka kami yang harus minta pada mereka: "Miu are kami si." (Kalian tanya sudah tujuan kedatangan kami). Kalau kami sudah minta mereka bertanya, barulah mereka bertanya, dan tentu saja kami menjawab. Mana mungkin dinosaurus yang menjawab kan.

Undangan atau jawaban itu kira-kira seperti ini: "Kami mai sodho sambu mai Bapa Abang ne Mbak Wati, Hari Minggu jam empat zatu acara buku pelulu ko Angga. Ma'e kezo kue se-bha." (Kami datang menyampaikan pesan dari Bapa Abang dan Mbak Wati, Hari Minggu jam empat ada acara buku pelulu / lamarannya Angga. Jangan lupa bawa kue sepiring).

Encim dan keponakannya. Hahha.


Yang paling saya ingat ini adalah kue sepiring. Kalau kalian membaca tentang minu ae petu dari pos soal yang unik dari Ende, kalian bakal tahu bahwa adat yang melekat tidak memandang kaya atau miskin. Jadi, meskipun kakak perempuan saya, kakak ipar perempuan saya, sampai keponakan perempuan saya, punya usaha cake and bakery begitu, tapi yang namanya kue se-bha atau kue sepiring merupakan kewajiban yang tidak boleh tidak kami sampaikan. Unik ya hahaha.

Menurut saya hukum adat adalah hukum terkuat. Karena, meskipun tidak tertulis, masyarakat sangat patuh pada hukum adat ini, terutama masyarakat wilayah adat yang dalam Suku Ende disebut fai wazu ana azo. Hukum adat juga merupakan hukum yang paling fleksibel. Karena, hukum adat dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman, tanpa menanggalkan nilai-nilai dasar adatnya.

Fleksibelnya hukum adat ini menyebabkan kami boleh bertugas untuk sodho sambu mengenakan zawo saja dan kemeja. Fleksibelnya hukum adat ini menyebabkan kami boleh mencampur bahasa Ende dengan Bahasa Indonesia apabila tidak fasih betul bahasa Ende-nya. Fleksibelnya hukum adat ini menyebabkan keluarga kami boleh menolak bazhe duza dari pihak perempuan.

Baca Juga: Kita, Orang Indonesia

Alhamdulillah kegiatan nai ono dan buku pelulu kemarin berjalan dengan sangat lancar sehingga sebelum Adzan Maghrib pun sudah selesai.

Sampai jumpa di mendi belanja! Hehe.



Cheers.