#PDL Suatu Waktu Ketika Pergi Ke Ranca Upas di Jawa Barat


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Wikipedia menginformasikan: Ranca Upas atau Kampung Cai Ranca Upas adalah salah satu bumi perkemahan di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Terletak di Jalan Raya Ciwidey Patenggang KM. 11, Alam Endah, Ciwidey Kabupaten Bandung, dengan jarak sekitar 50 km dari pusat Kota Bandung. Memiliki luas area sekitar 215 Hektar, berada pada 1700 meter di atas permukaan laut, dengan suhu udara sekitar 17 °C - 20 °C. Sekitar area, oleh hutan lindung dengan beragam flora seperti Pohon Huru, Hamirug, Jamuju, Kihujan, Kitambang, Kurai, Pasang dan Puspa. Sedangkan fauna terdiri dari beragam jenis burung, serta beberapa satwa jinak lainnya.

Dan saya pernah pergi ke Ranca Upas. Dan, melihat foto di atas, saya pernah sebulat itu. Hahaha. Itu foto tahun 2010 saat menjadi salah seorang Petualang dari Ajang (Kompetisi) Aku Cinta Indonesia dari Detik.

#PDL
#Jum'at



Cheers.

#PDL Pernah Menikmati Masa Indah Bersama Walkman


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Pernah Menikmati Masa Indah Bersama Walkman. Saya sedang di rumah saja, dan suasana sedang hujan. Hujan kadang membawa saya pada memori masa lalu. Jadi ingat dulu sering sumbatin lobang hidung pakai tisu, sering banget nongkrong dan ngopi di kafe, sering sakit kepala kalau melihat Pohon Tua berantakan, sering jalan ke luar daerah tanpa perencanaan, sering melakukan hal-hal gila. Eh, sekarang sih masih sering melakukan hal-hal gila meskipun frekuensinya berkurang drastis. Maklum, sudah uzur. Haha.

Baca Juga: #PDL Komputer Pentium II Andalan yang Dimuseumkan

Dan hari ini saya terbawa pada masa SMP dulu saat pertama kali berkenalan dengan sebuah benda bernama Walkman. Anak-anak zaman sekarang belum tentu tahu soal walkman ini. Haha. Alhamdulillah saya pernah menikmati masa indah bersamanya.

Menurut Wikipedia, Walkman adalah pemutar audio kaset sebagai pemutar audio dan video portabel. Walkman mengubah kebiasaan mendengarkan musik, sehingga seseorang dapat mendengarkan musik di mana saja. Walkman dirilis pada tahun 1979 dengan nama Walkman di Jepang, dan disebut Soundabout di negara seperti Amerika Serikat, Freestyle di Swedia dan Stowaway di Inggris Raya. Peralatan ini dibuat pada tahun 1978 oleh enjiner audio Nobutoshi Kihara untuk mantan ketua Sony Akio Morita, yang ingin mendengarkan musik ketika perjalanan dengan pesawat terbang. Morita tidak menyukai nama "Walkman" dan meminta untuk mengantinya, tetapi dibatalkan ketika pelaksana yuniornya telah memulai penjualannya dengan nama Walkman, sehingga akan mahal ketika diganti.

Mengapa disebut Walkman, mungkin karena orang-orang yang sedang berjalan tetap dapat mendengarkan musik kegemaran mereka. Haha. Asli, itu cuma terjemahan lurus, menurut saya. Yang jelas saya punya Walkman pertama bermerek Sanyo, bukan Sony. Mendengarkan Walkman ini pun harus pakai headset. Kemudian saya dibelikan Walkman yang bisa didengarkan tanpa harus menggunakan headset. Masa SMP saya begitu indah. Hehe. Kaset pita di rumah kami itu diletakkan dalam peti kayu super besar dan kebanyakan memuat musisi kegemaran (alm.) Kakak Toto Pharmantara seperti Iwan Fals, Doel Sumbang, Koes Plus, Fariz RM, Def Lepard, dan lain sebagainya. Setelah itu, saya mulai membeli sendiri kaset pita penyanyi favorit seperti, Trio Libels, Cool Colours, Oppie Andaresta, Java Jive, Slank, Imanez, sampai kompilasi kayak Pesta Rap.

Coba bayangkan:

1. Suasana hujan.
2. Ngemil es puter + alpukat.
3. Pisang mentah digoreng.
4. Dengerin Walkman.
5. Baca Wiro Sableng.

Surganya anak SMP waktu itu!

Baca Juga: #PDL Merawat Bumi Merupakan Bagian dari Merawat Akal

Zaman Walkman kemudian memudar dengan adanya Discman. Pelan-pelan kaset pita sudah tidak ditemukan lagi di toko kaset, berganti CD dan VCD. Padahal saya paling senang sama sampul kaset pita karena pasti memuat semua lirik lagu dalam album tersebut! zaman CD, kemudian VCD, kemudian DVD, menyebabkan pembajakan terjadi tanpa ampun dan menyebabkan begitu banyak musisi merugi. Tapi, yang namanya zaman ... semakin canggih ... ya begitu itu.

Tapi yang jelas, saya pernah menikmati masa indah bersama Walkman. Bagaimana dengan kalian? Komen di bawah. Hehe.

#PDL
#Jum'at



Cheers.

#PDL Pernah Menikmati Masa Indah Bersama Walkman


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Pernah Menikmati Masa Indah Bersama Walkman. Saya sedang di rumah saja, dan suasana sedang hujan. Hujan kadang membawa saya pada memori masa lalu. Jadi ingat dulu sering sumbatin lobang hidung pakai tisu, sering banget nongkrong dan ngopi di kafe, sering sakit kepala kalau melihat Pohon Tua berantakan, sering jalan ke luar daerah tanpa perencanaan, sering melakukan hal-hal gila. Eh, sekarang sih masih sering melakukan hal-hal gila meskipun frekuensinya berkurang drastis. Maklum, sudah uzur. Haha.

Baca Juga: #PDL Komputer Pentium II Andalan yang Dimuseumkan

Dan hari ini saya terbawa pada masa SMP dulu saat pertama kali berkenalan dengan sebuah benda bernama Walkman. Anak-anak zaman sekarang belum tentu tahu soal walkman ini. Haha. Alhamdulillah saya pernah menikmati masa indah bersamanya.

Menurut Wikipedia, Walkman adalah pemutar audio kaset sebagai pemutar audio dan video portabel. Walkman mengubah kebiasaan mendengarkan musik, sehingga seseorang dapat mendengarkan musik di mana saja. Walkman dirilis pada tahun 1979 dengan nama Walkman di Jepang, dan disebut Soundabout di negara seperti Amerika Serikat, Freestyle di Swedia dan Stowaway di Inggris Raya. Peralatan ini dibuat pada tahun 1978 oleh enjiner audio Nobutoshi Kihara untuk mantan ketua Sony Akio Morita, yang ingin mendengarkan musik ketika perjalanan dengan pesawat terbang. Morita tidak menyukai nama "Walkman" dan meminta untuk mengantinya, tetapi dibatalkan ketika pelaksana yuniornya telah memulai penjualannya dengan nama Walkman, sehingga akan mahal ketika diganti.

Mengapa disebut Walkman, mungkin karena orang-orang yang sedang berjalan tetap dapat mendengarkan musik kegemaran mereka. Haha. Asli, itu cuma terjemahan lurus, menurut saya. Yang jelas saya punya Walkman pertama bermerek Sanyo, bukan Sony. Mendengarkan Walkman ini pun harus pakai headset. Kemudian saya dibelikan Walkman yang bisa didengarkan tanpa harus menggunakan headset. Masa SMP saya begitu indah. Hehe. Kaset pita di rumah kami itu diletakkan dalam peti kayu super besar dan kebanyakan memuat musisi kegemaran (alm.) Kakak Toto Pharmantara seperti Iwan Fals, Doel Sumbang, Koes Plus, Fariz RM, Def Lepard, dan lain sebagainya. Setelah itu, saya mulai membeli sendiri kaset pita penyanyi favorit seperti, Trio Libels, Cool Colours, Oppie Andaresta, Java Jive, Slank, Imanez, sampai kompilasi kayak Pesta Rap.

Coba bayangkan:

1. Suasana hujan.
2. Ngemil es puter + alpukat.
3. Pisang mentah digoreng.
4. Dengerin Walkman.
5. Baca Wiro Sableng.

Surganya anak SMP waktu itu!

Baca Juga: #PDL Merawat Bumi Merupakan Bagian dari Merawat Akal

Zaman Walkman kemudian memudar dengan adanya Discman. Pelan-pelan kaset pita sudah tidak ditemukan lagi di toko kaset, berganti CD dan VCD. Padahal saya paling senang sama sampul kaset pita karena pasti memuat semua lirik lagu dalam album tersebut! zaman CD, kemudian VCD, kemudian DVD, menyebabkan pembajakan terjadi tanpa ampun dan menyebabkan begitu banyak musisi merugi. Tapi, yang namanya zaman ... semakin canggih ... ya begitu itu.

Tapi yang jelas, saya pernah menikmati masa indah bersama Walkman. Bagaimana dengan kalian? Komen di bawah. Hehe.

#PDL
#Jum'at



Cheers.

#PDL Komputer Pentium II Andalan yang Dimuseumkan


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Komputer Pentium II Andalan yang Dimuseumkan. Zaman sekarang yang namanya desktop komputer masih menjadi primadona. Keberadaan laptop dan notebook belum sepenuhnya dapat menggeser desktop komputer. Di ruang kantor saya misalnya, setiap pegawai masing-masing dibekali satu desktop komputer. Di warnet-warnet misalnya, belum saya temui warnet yang menyediakan laptop. Tetap saja si desktop komputer menguasai arena. Bahkan di tempat usaha kakak saya Abang Nanu Pharmantara, C.V. Unit Print, meskipun tersedia laptop tapi urusan mendesain ini itu tetap saja mereka memakai desktop komputer. Oleh karena itu saya jadi ingat sama satu desktop komputer andalan yang dulu selalu menemani keseharian saya bekerja dan bersenang-senang, seringnya sih bermain game. Hehe. 

Baca Juga: #PDL Merawat Bumi Merupakan Bagian dari Merawat Akal

Ini bukan komputer pertama saya. Tapi yang jelas komputer ini kemudian diberikan oleh Kakak Toto Pharmantara (alm.) untuk mendukung kegiatan saya dalam dunia pekerjaan dan dunia kreatif. Saya tidak bisa mengingat spesifikasi lengkapnya selain Pentium II. Zaman itu, punya komputer Pentium II sudah hebat bukan main. Haha haha haha. Makanya si komputer selalu saya jaga dengan sebaik-baiknya. Bisa sakau saya kalau dia ngambek.

Pentium II ini kemudian tidak saja menjadi pusat tata surya pekerjaan saya, bermain game, atau menulis fiksi, tetapi kemudian menjadi andalan membikin musik-musik pertama Notes (Noel and Tuteh SideProject). Bersama sahabat bermusik paling setia, Noel Fernandez, kami membikin musik menggunakan Fruity Loop Studio a.k.a. FL Studio. Pertama-tama tentu harus ada lagunya terlebih dahulu. Proses kami mencipta lagu sangat sederhana. Bersenandung, bikin lirik awal, mencari kunci gitarnya. Setelah itu kami coba memainkan lagu tersebut sambil direkam sama alat perekam. Hasil dari alat perekam merupakan modal awal untuk membikin lagu di FL Studio.

Caranya?

Mudah.

Buka aplikasi FL Studio, mulai membikin loop drum terlebih dahulu. Teknisnya tidak saya jelaskan di sini ya. Yang jelas dengan membikin loop drum artinya kita mengisi drum untuk satu lagu utuh mulai dari kickdrum, sidekick, snare 2, snare 3 dan lain sebagainya. Setelah itu barulah gitar bass mengisinya (beda-beda track ya ini). Dilanjutkan dengan rythm dan melodi. Gila, saat itu untuk pertama kali kami mengenal FL Studio, belajar keras menguasainya, hingga terciptalah lagu-lagu Notes. Oh ya, tentu aksi terakhir adalah vokal. Dan kamar saya pada masa itu dipenuhi dengan gitar-gitar: gitar bass, dua gitar listrik, dan gitar akustik.

Seru. Tapi serunya justru pada saat kami kesetrum. Hahaha.

Jadi, komputer Pentium II itu sudah dimuseumkan dengan sebelumnya dibantu Alimin beberapa file dikopi. Alhamdulillah masih ada file yang bisa diselamatkan. Buat nostalgia. Foto, video, bahkan musik-musik awal Notes masih bisa diselamatkan. Horeeeee. Hehe.

Baca Juga: #PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu 

Meskipun sudah dimuseumkan, tapi secara pribadi saya harus mengucapkan terima kasih tak terhingga pada si Pentium II yang telah sangat membantu hidup saya di zaman megalitikum. Tanpanya, belum tentu saya bisa mencapai banyak hal pada masa sekarang ini. Melupakan si Pentium II artinya saya tergolong orang yang tidak tahu berterimakasih. Saya percaya, kalian semua juga punya kisah dengan barang-barang jadul yang sekarang dipandang sebelah mata tetapi dulu telah memberikan sumbangsih berharga dalam hidup.

Dan ya, pernah, saya pernah punya si Pentium II kesayangan. Bagaimana dengan kalian?

#PDL



Cheers.

#PDL Merawat Bumi Merupakan Bagian dari Merawat Akal


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Merawat Bumi Merupakan Bagian dari Merawat Akal. Saya bukan orang yang paling rajin berhubungan dengan tanaman/tumbuhan, tapi termasuk orang yang suka banget sama tanaman/tumbuhan. Meskipun, untuk tanaman sekelas bunga mawar, tidak telaten merawatnya. Hahaha. Eits, jangan salah, puluhan pot daun sop, cabe, dan tomat, pernah menjadi bagian hidup saya dan tetangga. Alhamdulillah, apa yang saya lakukan serta hasilnya dapat bermanfaat tidak bagi saya dan keluarga tetapi juga orang lain. Ingat nasihat Ali bin Abhi Thalib. Inti dari nasihat beliau adalah berbagi harta kekayaan. Daun sop juga termasuk harta kekayaan, ilmu pun demikian, itu pendapat pribadi saya. Hehe.

Baca Juga: #PDL BAT Dan Kelas-Kelas Blogging Yang Mereka Bangun

So, hari ini, pos singkat soal #PDL, saya cuma mau bercerita bahwa dulu di masa awal Flores Pecinta Alam (FLOPALA), Mapala-nya Universitas Flores (Uniflor), sering banget ikut kegiatan penghijauan. Ada yang kerja sama bareng Taman Nasional Kelimutu, ada pula atas inisiatif FLOPALA sendiri. Salah satunya adalah menanam anakan pohon di area belakang Kampus III Uniflor. Waktu itu hujan, tapi kami tetap menjalankan niat. Fotonya bisa kalian lihat di awal pos. Satu-satunya foto yang masih tersimpan di laptop.

Menanam pohon/tanaman/tumbuhan merupakan salah satu perbuatan merawat bumi. Siapa pun bisa merawat bumi misalnya dengan memperbanyak tanaman/tumbuhan, tidak membuang sampah di sembarang tempat, termasuk mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang saya tulis memang terlihat sepele, tapi percayalah, kalau dilakukan oleh seperempat saja penduduk bumi, luar biasa hasilnya. Kita tentu sudah jengah dengan segala macam kejadian pembakaran hutan, pencurian kayu/pohon, sampai biota laut yang mati terlilit sampah plastik. Sudah seharusnya kita semua berkewajiban merawat bumi, sebagai bagian dari merawat akal.

Apa kolerasi merawat bumi dengan merawat akal?

Sebagai satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang dilengkapi dengan akal, sudah seharusnya manusia mampu menggunakan akalnya, perasaannya, dengan sebaik-baiknya. Tidak ada seorang pun yang akalnya 'jalan' mau membuang kasur bekas di got ketika hujan deras datang. Jika akalnya 'jalan' dia lebih memilih mendaur ulang kasur bekas itu, atau meletakkannya di pinggir jalan pada hari truk sampah datang mengangkut. Semua orang tentu tidak ingin bumi kehilangan paru-parunya. Meskipun tidak bisa menciptakan paru-paru utama, paru-paru kecil di rumah pun dapat menolong bumi yang semakin menua. Percayalah, ketika kita mulai merawat bumi, kita juga merawat akal.

Baca Juga: #PDL Pernah Menulis Begitu Banyak Puisi di Blog Puisi

Semoga pos #PDL hari ini bermanfaat, ya. Setidaknya mulai sekarang kalian juga mulai menanam daun sop. Hahaha. Banyak perkara sederhana, yang dipandang sepele oleh orang lain, namun sebenarnya itu bermanfaat. Mumpung weekend, ayo berkebun!

#PDL
#Jum'at



Cheers.

#PDL BAT Dan Kelas-Kelas Blogging Yang Mereka Bangun


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL BAT Dan Kelas-Kelas Blogging Yang Mereka Bangun. Tepiiiii ... tepiiiii ... BAT(man) mau terbang! Whuuuzzzz. Hehe. Apa sih BAT itu? Eh, siapa sajakah BAT itu? BAT merupakan singkatan dari tiga nama yaitu Bisot, Anazkia, Tuteh. Kami bertiga adalah blogger yang awalnya bertemu di dunia maya, lantas berlanjut ke dunia fana. Sekarang, kami memang lebih sering bertemu di dunia maya karena jarak yang memisahkan sejak semula jadi. Hihi. Yaelah, menulis ini, kangen sama dua sesepuh itu semakin menjadi-jadi.


Adalah Kanaz (saya biasa memanggil Anazkia dengan Kanaz; Kak Anazkia) yang mengompori saya dan Om Bisot untuk mengajar blog. Lagi. Tapi ngajarnya beda, bukan langsung di depan audiens, seperti yang selama ini kami lakukan, melainkan melalui sebuah WAG (WhatsApp Group). Ajakan itu bersambut manis. Maka dibukalah sebuah kelas blogging bernama Kelas Blogging NTT. Peserta Kelas Blogging NTT adalah teman-teman dari seluruh Provinsi Nusa Tenggara Timur baik yang sudah punya blog maupun baru mau belajar/mengenal blog. Kelas ini ditujukan semula untuk teman-teman yang sama sekali tidak tahu tentang blog (from zero, Insha Allah, to hero), teman-teman yang sudah nge-blog tapi ingin tahu lebih dalam tentang seluk-beluk dunia per-blogger-an, dan teman-teman yang ingin berbagi pengalaman nge-blog. Bagi yang sudah nge-blog, mengikuti kelas sejak kelas pertama pasti membosankan. Bagaimana tidak bosan? Materi yang diberikan itu sudah mereka lakukan (kan sudah punya blog). Tapi di sini lah hebatnya Orang Indonesia. Toleransi harus dijunjung tinggi. Mereka bertahan mengikuti kelas dari minggu ke minggu tanpa protes.

Dari Kelas Blogging NTT, yang boleh dibilang sukses, berlanjut pada Kelas Blogging NTT Angkatan II. Karena semakin banyaknya permintaan teman-teman lain untuk mengikuti Kelas Blogging NTT maka kami memutuskan untuk memulai Angkatan II. Setelah melalui japri mereka menyetujui persyaratan untuk menjadi peserta Kelas Blogging NTT, termasuk waktu yaitu setiap Rabu malam, satuper satu peserta ditambahkan ke dalam WAG. Jumlahnya lumayan banyak: duabelas peserta. Itu pun satu pesertanya bakal ditambahkan kemudian karena kekhilafan saya. Iya, saya khilaf ... lupa menambahkannya, padahal dia adalah orang pertama yang daftar untuk Angkatan II. Haha. Untung orangnya tidak mengamuk.

Angkatan I - Senin - 21.00 Wita.
Angkatan II - Rabu - 21.00 Wita.

Lantas, apa saja kemajuan yang telah dicapai oleh para peserta Kelas Blogging NTT? Mari kita simak.

1. Membikin akun Gmail.
2. Membikin blog di Blogger.
3. Membuat tulisan/pos blog.
4. Mengenal dashboard.
5. Tata cara menggunggah foto/video.
6. Membuat halaman.
7. Mengelola komentar.
8. Mengelola side bar.
9. Menulis Kreatif (Blog).

Belum berhenti sampai di situ, lagi-lagi BAT beraksi membuka Kelas Blogging Online. Kelas Blogging Online, seperti namanya yang tidak ada embel-embel NTT, pesertanya berasal dari seluruh Indonesia. Tidak usah ditanya bagaimana serunya kelas tersebut. Rasanya selalu rindu menanti hari yang ditetapkan untuk kelas dimulai.

Setelah kelas-kelas blogging di atas, saya masih membuka kelas blogging yang isinya mahasiswa Universitas Flores (Uniflor). Bisa ditebak, mahasiswa-mahasiswa tersebut sebelumnya telah mengikkuti pelatihan blog bersama saya.  Namanya Kelas Blogging Tuteh. Di situ ada mahasiswa dari berbagai program studi seperti Prodi Pendidikan Sejarah, Prodi Pendidikan Fisika, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, juga Prodi Pendidikan Ekonomi. Semuanya saya gabung jadi satu. Mereka boleh bertanya apa saja tentang dunia blog di WAG tersebut. Salah satu keinginan saya adalah agar mahasiswa lebih rajin menulis karena menulis merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat, terutama untuk mahasiswa itu sendiri.

Selain membuka kelas blogging, saya pribadi juga menerima pesan WA pribadi dari orang per orang yang meminta bantuan membikin dan/atau ketika mereka mengalami kendala saat mengelola blog. Saya suka melakukannya, dan tentu apa yang disukai pasti dilakukan dengan ikhlas.

Baca Juga: #PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu

Salah seorang peserta Kelas Blogging NTT, Noviea Azizah, pada akhirnya melesat ke angkasa. Aktivis muda asal Kabupaten Nagekeo itu kemudian mengikuti berbagai kegiatan para blogger di Pulau Jawa. Ini menarik dan menyenangkan, bahkan sangat menyenangkan bagi saya pribadi yang mengikuti perkembangannya sejak awal. Selamat ya, Nov, pada akhirnya semakin banyak teman blogger yang dikenal, semakin rajin nge-blog, semakin menjadi bermanfaat bagi siapapun. Karena, apalah lagi yang bisa kita lakukan di dunia ini selain bisa bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain? Tetap semangat!

Pernah, BAT pernah melakukan itu semua ... membuka dan membangun kelas-kelas blogging lewat WAG. Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu yuk di komen.

#PDL



Cheers.

#PDL Bertemu Pom Bensin yang Dijual di Kabupaten Nagekeo


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Bertemu Pom Bensin yang Dijual di Kabupaten Nagekeo. Sebelumnya saya ingin mengucapkan alhamdulillah karena pos bertema #PDL, Pernah DiLakukan, masih bertahan sampai hari ini, hari ketiga di tahun 2020. Memangnya ada tema yang berubah. Iya, ada. Tema #RabuLima berganti menjadi #RabuDIY. Tema #KamisLima memang tidak berganti sepenuhnya dengan #KamisLegit tetapi diselang-seling sekehendak hati. Haha. Yang pasti tema harian ini turut membantu saya menulis blog setiap hari, turut mewujudkan keinginan saya menjadikan blog sebagai majalah pribadi. Insha Allah tahun 2020 ini semangat nge-blog tetap menyala seperti tahun-tahun kemarin.

Baca Juga: #PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu

Banyak sudah kisah #PDL yang saya tulis. Hari ini saya mau bercerita tentang perjalanan di awal 2019 kemarin saat mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) ke SMA-SMA di Pulau Flores dan sekitarnya. 

Hari itu, bersama Thika, Cesar, dan Rolland, setelah mempromosikan Uniflor di tiga SMA dalam wilayah Kecamatan Aesesa, kami hendak memutar balik kembali ke Kota Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Tujuan kami hanya satu: rumah makan! Maklum, perut sudah mulai merintih sedih. Perjalanan kembali ke Kota Mbay ditingkahi dengan gerimis manis yang hampir saja membikin kami menyerah. Lantas pemandangan itu terlihat. Sebuah pom bensin yang terabaikan seperti perasaan yang terabaikan begitu menarik hati. Fotonya bisa kalian pada awal pos. Iya, pom bensin itu dijual. Entah sekarang, setahun kemudian, apakah sudah ada yang membelinya atau belum.

Thika, Cesar, dan Rolland cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah saya yang ngotot minta dipotret di depan pom bensin itu. Haha. Kapan lagi, coba? Foto itu, setelah diunggah ke media sosial, menuai komentar ini itu. Ada yang bilang: yang dijual itu yang sandaran kah? Hihi. Jelasnya saya bertanya-tanya kenapa sebuah pom bensin sampai dijual. Apakah karena merugi? Apakah karena proyeknya tidak berlanjut seperti pom bensin di Kabupaten Ende yang terletak di daerah Roworeke itu? Atau karena alasan lain? Padahal daerah tersebut cukup ramai dan jauh dari pom bensin yang ada di daerah Danga Kota Mbay. Entahlah.

Setelah foto di depan pom bensin yang dijual itu, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Mbay. Iya, masih rumah makan menjadi tujuan utama. Sepanjang jalan disuguhi pemandangan persawahan hijau sungguh anugerah terindah. Tapi, pemandangan persawahan hijau jelas tidak mampu menambal perut yang rintihannya semakin menjadi.


Di depan Pasar Mbay bertemulah kami dengan Rumah Makan Mini Indah. Rumah makan ini a la masakan Padang begitu.


Alhamdulillah, sebagai pembuka segelas es teh manis cukup memuaskan dahaga dan lelah seharian perjalanan dari Kota Ende ke Kota Mbay yang dilanjutkan dengan promosi Uniflor ke SMA-SMA. Makan beratnya? Ada dooong. Haha. Ayam goreng, karena saya pecinta Upin Ipin, tentu menjadi rebutan cacing-cacing perut yang sebelumnya khidmat konser lagu-lagunya Linkin Park.

Baca Juga: #PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu

Pernah, saya pernah begitu. Memanfaatkan momen perjalanan dengan sebaik-baiknya. Salah satunya dengan jeli memerhatikan keadaan sekitar dalam perjalanan itu, agar tidak kehilangan kesempatan mengabadikan segala sesuatu yang unik, aneh, ajaib, yang mungkin terlewatkan oleh orang lain. Atau, orang lain tidak berselera memotret sebuah pom bensin yang dijual karena menurut mereka tidak ada faedah. Tapi bagi saya, semua pasti berfaedah. Buktinya, foto itu menjadi bekal pos #PDL hari ini. Dan, kalian jadi tahu ceritanya.

Bagaimana dengan kalian? Pernah begitu juga? Bagi tahu yuk di komen!

#PDL



Cheers.

#PDL Pernah Menulis Begitu Banyak Puisi di Blog Puisi


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Pernah Menulis Begitu Banyak Puisi di Blog Puisi. Saking alay-nya sampai-sampai saya begitu malu mengakui blog yang satu ini, hahaha.

http://puisituteh.blogspot.com


Baru hendak saya sentuh lagi meskipun tidak bisa intens seperti blog lainnya. Template-nya kembali ke template klasik punya Blogger, itu pun masih harus saya utak-atik tata letaknya. Entah kenapa hari ini saya malah fokus pada blog puisi. Mungkin karena tadi saya mendadak menulis puisi ala ala Eko Poceratu yang inspiratif itu! Sumpaaaaah, Eko, aku padamu!

Oh ya, ini puisi terbaru saya:

Cinta Bukan Untuk Main-Main

Kemarin ja'o baca de pung status WA
"Tidak Pernah Dihargai"
Ja'o langsung tertawa
Karena, kapan de pernah menghargai?

Ja'o pukul mundur ke Bulan September
Waktu de datang bawa rayuan seember
Belum apa-apa de su umbar
Cinta, de koar-koar

De belum tahu ja'o tapi su bilang cinta
Ja'o belum tahu de tapi layani de pung cinta
De sadar de pung cinta itu palsu
Dan, ja'o tahu

De pung irama macam orang menari gawi
Ada hentakan ke bumi, ada tarikan kaki kembali
De muncul, de hilang, macam orang belajar berenang
Ja'o tahu, tir lama de pasti menghilang

Ja'o pukul mundur ke Bulan November
Waktu de 'telanjangi' de pung ego
Aduh sayang e, de macam anak kober
De pikir de su paling jago

He, ja'o kastau e ...
Ko bukan apa-apa
Duduk diam di situ e ...
Belajar jadi manusia

Karena, cuma manusia yang bikin cinta bukan untuk main-main.

Aiah ...



Cheers.

#PDL Menikmati Instagenic-nya Restoran Pari Koro di Ende


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

Menikmati Instagenic-nya Restoran Pari Koro di Ende. Restoran yang satu ini sudah lama dibuka di Kota Ende, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sudah lama pula saya pergi ke sana untuk menikmati ... I Just forgot what I ate at that time. Kalau tidak salah ayam bakar lalapan atau ayam goreng lalapan. Minumnya jus alpukat. Pos hari ini bermula dari keisengan saya mengecek foto-foto lama, karena memang pengen ngepos sesuai tema di Jum'at ini yaitu #PDL, dan setelah dipikir cukup lama serta mengecek ternyata saya belum pernah menulis tentang Restoran Pari Koro.

Baca Juga: #PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu

But I don't wanna write all the thing about that restaurant. Jadi ini sama sekali bukan review resto. Ini hanya tentang foto-foto yang pernah saya jepret (dan dijepret teman) saat kami ke sana.

Let's go.

Pari Koro paling dikenal dengan kursi unik di bagian depannya, seperti yang kalian lihat pada foto di awal pos, tapi karen kepotong saya pos lagi:


Hyess, kursi itu menjadi semacam ikonnya Pari Koro. Saya bukan satu-satunya pengunjung yang pernah foto di kursi itu hehe.


Jelasnya saya, dan teman-teman memang menikmati instagenic-nya Pari Koro. Mulai dari desain interiornya, penataannya, jenis barang yang dipakai, menu yang ditulis menggunakan papan hitam, hingga ornamen di atas meja.



Ada satu hal menarik dari Restoran Pari Koro yaitu mushola-nya! Ini unik, karena tidak semua tempat makan di Kota Ende menyediakan mushola.


Kenapa ketersediaan mushola ini saya tulis unik? Karena pemilik Restoran Pari Koro beragama Katolik tetapi mereka sangat memahami kebutuhan saudara-saudara mereka yang Muslim dengan menyiapkan mushola. Lagi pula, konsep salah satu ruang di restoran ini adalah sebagai tempat meeting. Setidaknya banyak yang pernah meeting di situ. Pengunjung Muslim tidak perlu mencari masjid atau pulang ke rumah untuk menunaikan shalat kan?

Bagi kalian yang datang ke Ende, jangan lupa untuk mampir ke Restoran Pari Koro yang terletak di Jalan El Tari. Saya pribadi sangat menikmati suasananya, pun makanan dan minumannya.

#PDL



Cheers.

#PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu. Saya (dan kru, tentu saja) pernah berkesempatan meliput dan/atau dipercayakan membikin video dokumenter tentang Paroki Siaga. Sebelumnya proyek itu bernama Desa Siaga, tapi oleh si pemberi proyek kemudian diubah menjadi Paroki Siaga. Untuk kepentingan video tersebut saya harus pergi ke Laja di Kabupaten Ngada untuk bertemu Romo Sil Betu karena beliau lah yang menangani langsung Paroki Siaga ini. Tentang Paroki Siaga, bisa kalian baca pada pos berjudul #PDL Laja dan Toleransi.

Intinya adalah sore itu saat sudah selesai mengumpulkan materi, kami hendak pamit pulang, namun ditahan oleh Romo Sil Betu yang baik hati itu. Apa yang dikatakan Romo kira-kira begini: Kami sudah memasak nasi bambu untuk tamu, bagi kami Orang Ngada, kalau sudah disiapkan nasi bambu, tamu wajib makan terlebih dahulu. Artinya, tamu sudah dianggap sebagai saudara atau keluarga kami. Perasaan saya langsung haru ... sungguh luar biasa. Akhirnya kami harus makan terlebih dahulu baru kemudia diijinkan pulang. Hehe.

Semua Orang Flores, dari kabupaten manapun, punya budaya dan kebaikan hati yang luar biasa. Hubungan keluarga tidak saja harus dari darah yang mengalir, tetapi juga dari kebiasaan, adat, dan budaya. Nasi bambu adalah suguhan kekeluargaan yang pantang ditolak oleh tamu. Saya jadi ingat dengan kopi. Bagi kami, Orang Ende, apabila kalian sudah disuguhi segelas kopi ... kalian adalah keluarga kami. Nilai-nilai semacam ini harus terus tertanam dan harus dilestarikan ... harus terus ada dalam tubuh masyarakat (masyarakat manapun).

Kalian setuju?

#PDL
#PernahDiLakukan



Cheers.