#PDL Pernah Menulis Begitu Banyak Puisi di Blog Puisi


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Pernah Menulis Begitu Banyak Puisi di Blog Puisi. Saking alay-nya sampai-sampai saya begitu malu mengakui blog yang satu ini, hahaha.

http://puisituteh.blogspot.com


Baru hendak saya sentuh lagi meskipun tidak bisa intens seperti blog lainnya. Template-nya kembali ke template klasik punya Blogger, itu pun masih harus saya utak-atik tata letaknya. Entah kenapa hari ini saya malah fokus pada blog puisi. Mungkin karena tadi saya mendadak menulis puisi ala ala Eko Poceratu yang inspiratif itu! Sumpaaaaah, Eko, aku padamu!

Oh ya, ini puisi terbaru saya:

Cinta Bukan Untuk Main-Main

Kemarin ja'o baca de pung status WA
"Tidak Pernah Dihargai"
Ja'o langsung tertawa
Karena, kapan de pernah menghargai?

Ja'o pukul mundur ke Bulan September
Waktu de datang bawa rayuan seember
Belum apa-apa de su umbar
Cinta, de koar-koar

De belum tahu ja'o tapi su bilang cinta
Ja'o belum tahu de tapi layani de pung cinta
De sadar de pung cinta itu palsu
Dan, ja'o tahu

De pung irama macam orang menari gawi
Ada hentakan ke bumi, ada tarikan kaki kembali
De muncul, de hilang, macam orang belajar berenang
Ja'o tahu, tir lama de pasti menghilang

Ja'o pukul mundur ke Bulan November
Waktu de 'telanjangi' de pung ego
Aduh sayang e, de macam anak kober
De pikir de su paling jago

He, ja'o kastau e ...
Ko bukan apa-apa
Duduk diam di situ e ...
Belajar jadi manusia

Karena, cuma manusia yang bikin cinta bukan untuk main-main.

Aiah ...



Cheers.

#PDL Menikmati Instagenic-nya Restoran Pari Koro di Ende


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

Menikmati Instagenic-nya Restoran Pari Koro di Ende. Restoran yang satu ini sudah lama dibuka di Kota Ende, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sudah lama pula saya pergi ke sana untuk menikmati ... I Just forgot what I ate at that time. Kalau tidak salah ayam bakar lalapan atau ayam goreng lalapan. Minumnya jus alpukat. Pos hari ini bermula dari keisengan saya mengecek foto-foto lama, karena memang pengen ngepos sesuai tema di Jum'at ini yaitu #PDL, dan setelah dipikir cukup lama serta mengecek ternyata saya belum pernah menulis tentang Restoran Pari Koro.

Baca Juga: #PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu

But I don't wanna write all the thing about that restaurant. Jadi ini sama sekali bukan review resto. Ini hanya tentang foto-foto yang pernah saya jepret (dan dijepret teman) saat kami ke sana.

Let's go.

Pari Koro paling dikenal dengan kursi unik di bagian depannya, seperti yang kalian lihat pada foto di awal pos, tapi karen kepotong saya pos lagi:


Hyess, kursi itu menjadi semacam ikonnya Pari Koro. Saya bukan satu-satunya pengunjung yang pernah foto di kursi itu hehe.


Jelasnya saya, dan teman-teman memang menikmati instagenic-nya Pari Koro. Mulai dari desain interiornya, penataannya, jenis barang yang dipakai, menu yang ditulis menggunakan papan hitam, hingga ornamen di atas meja.



Ada satu hal menarik dari Restoran Pari Koro yaitu mushola-nya! Ini unik, karena tidak semua tempat makan di Kota Ende menyediakan mushola.


Kenapa ketersediaan mushola ini saya tulis unik? Karena pemilik Restoran Pari Koro beragama Katolik tetapi mereka sangat memahami kebutuhan saudara-saudara mereka yang Muslim dengan menyiapkan mushola. Lagi pula, konsep salah satu ruang di restoran ini adalah sebagai tempat meeting. Setidaknya banyak yang pernah meeting di situ. Pengunjung Muslim tidak perlu mencari masjid atau pulang ke rumah untuk menunaikan shalat kan?

Bagi kalian yang datang ke Ende, jangan lupa untuk mampir ke Restoran Pari Koro yang terletak di Jalan El Tari. Saya pribadi sangat menikmati suasananya, pun makanan dan minumannya.

#PDL



Cheers.

#PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu. Saya (dan kru, tentu saja) pernah berkesempatan meliput dan/atau dipercayakan membikin video dokumenter tentang Paroki Siaga. Sebelumnya proyek itu bernama Desa Siaga, tapi oleh si pemberi proyek kemudian diubah menjadi Paroki Siaga. Untuk kepentingan video tersebut saya harus pergi ke Laja di Kabupaten Ngada untuk bertemu Romo Sil Betu karena beliau lah yang menangani langsung Paroki Siaga ini. Tentang Paroki Siaga, bisa kalian baca pada pos berjudul #PDL Laja dan Toleransi.

Intinya adalah sore itu saat sudah selesai mengumpulkan materi, kami hendak pamit pulang, namun ditahan oleh Romo Sil Betu yang baik hati itu. Apa yang dikatakan Romo kira-kira begini: Kami sudah memasak nasi bambu untuk tamu, bagi kami Orang Ngada, kalau sudah disiapkan nasi bambu, tamu wajib makan terlebih dahulu. Artinya, tamu sudah dianggap sebagai saudara atau keluarga kami. Perasaan saya langsung haru ... sungguh luar biasa. Akhirnya kami harus makan terlebih dahulu baru kemudia diijinkan pulang. Hehe.

Semua Orang Flores, dari kabupaten manapun, punya budaya dan kebaikan hati yang luar biasa. Hubungan keluarga tidak saja harus dari darah yang mengalir, tetapi juga dari kebiasaan, adat, dan budaya. Nasi bambu adalah suguhan kekeluargaan yang pantang ditolak oleh tamu. Saya jadi ingat dengan kopi. Bagi kami, Orang Ende, apabila kalian sudah disuguhi segelas kopi ... kalian adalah keluarga kami. Nilai-nilai semacam ini harus terus tertanam dan harus dilestarikan ... harus terus ada dalam tubuh masyarakat (masyarakat manapun).

Kalian setuju?

#PDL
#PernahDiLakukan



Cheers.

#PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu. Mengarungi Pulau Flores memang butuh ketangguhan, terutama jika kalian adalah perempuan yang mengendarai sepeda motor, bukan mobil mewah ber-AC. Infrastruktur jalan Trans Flores memang sudah sangat baik. Tetapi, topografi Pulau Flores yang didominasi perbukitan, menyebabkan Trans Flores harus sering diperhatikan kondisinya. Saat musim hujan tiba, longsor (batu dan tanah) bisa saja terjadi, memenuhi sebagian badan jalan. Hujan juga bisa mengakibatkan putusnya jalan akibat aliran air super deras memangkas badan jalan. Kecuali jika sedang ada proyek pelebaran jalan, di luar musim hujan, kondisi Trans Flores baik-baik saja alias sangat sehat. Haha.

Baca Juga: #PDL Mengumpulkan Si Kuning

#PDL kali ini adalah tentang dua kondisi yang harus kalian ketahui. Penting? Tidak juga sih, haha. Pernah, saya pernah melakukan dan mengalaminya. 

Gantung Sepatu


Dalam perjalanan ke arah Utara, ke daerah Maurole di awal tahun kemarin saat mempromosikan Universitas Flores ke seluruh SMA se-Pulau Flores dan sekitarnya, musim hujan menyebabkan jalur yang satu ini 'putus'. Putus bukan berarti sama sekali tidak bisa dilewati, melainkan aliran air memangkas badan jalan sehingga pengendara harus lebih berhati-hati. Biasanya saya selalu membawa sepatu karet petani kalau sedang musim hujan, tapi hari itu saya lupa! Walhasil, harus rela sepatu dan kaki celana kuyup. Maunya sih tidak usah menurunkan kaki, tetapi batu-batu di dasar aliran air ini cukup besar sehingga pilihannya hanya dua: turunkan kaki atau jatuh.


Ada dua kondisi jalan yang mirip seperti foto di atas, yang satunya tidak seberapa dalam. Oh ya, yang memotret saya adalah Kakak Shinta Degor yang waktu itu seperjalanan sama saya ke wilayah Utara.

Gara-gara sepatu kanvas itu basah, saat tiba di Maurole saya terpaksa membeli sandal. Sungguh, memakai sepatu basah itu tidak enak sekali rasanya di kaki. Setelah mencuci kaki menggunakan air minum kemasan, saya memang sombong hahaha, baru sepatu diikat di sepeda motor dan kami pergi mencari warung untuk makan siang. 



Selang beberapa bulan, lagi-lagi saya harus menggantung sepatu, hanya karena salah perkiraan. Iya, saya berpikir aliran itu sudah lenyap, ternyata masih ada. Terpaksa sepatu saya jemur di atap dagangan bensinnya penduduk Desa Tana Li, hingga kering!


Dalam perjalanan pulang, waktu itu bareng Thika Pharmantara, kami membeli dua kresek merah buat membungkus kaki saya. Alhamdulillah sepatu tetap kering, setelah dijemur itu, sampai kami tiba kembali di Kota Ende.

Terjebak Debu


Kayaknya keren banget begitu menulis 'terjebak debu' haha. Musim kemarau seperti akhir-akhir ini, dimana mendung hanyalah screensaver yang tidak boleh terlalu dipercaya bakal turun hujan, para pejalan seperti saya harus menyiapkan ekstra masker. Sebagai pengendara sepeda motor, masker merupakan barang wajib pakai/bawa. Sesekali dibuka kalau udara sudah terlihat/terasa bersih. Tapi jika ada proyek pelebaran jalan, jangan sampai masker dilepas dari wajah (hidung dan mulut).




Awas nyasar! Karena pada jalur darurat Mbay - Riung yang maha luas ini, nampak begitu banyak jalur alternatif yang dipilih pengendara sepeda motor agar tidak makan debu dari kendaraan yang melaju di depannya. Kalian tahu? Roda sepeda motor saya sampai tertanam nyaris setengah akibat tebalnya tanah/pasir.

⇜⇝

Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Trans Flores merupakan jalur yang asyik dilintasi. Karena saya pengendara sepeda motor, jelas menurut saya Trans Flores merupakan jalur yang asyik dilintasi oleh para pengendara sepeda motor. Kalau pengendara mobil, ya terserah, karena saya tidak suka naik mobil. Alasannya cuma satu: kalau naik mobil di Trans Flores usus saya bisa keluar dari lobang hidung. Iya, jalannya yang berkelok-kelok itu sangat memelintir isi perut! Haha.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Adakah yang pernah mengarungi Pulau Flores? Yuk bagi tahu di komen!




Cheers.

#PDL Pernah Punya Asisten Gila Seperti Ocha dan Thika

#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***


#PDL Pernah Punya Asisten Gila Seperti Ocha dan Thika. Tahun 2018, saya diminta oleh Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra, Pak Roni Wolo, untuk memotret beliau bersama calon isterinya (sekarang sudah jadi isteri donk) alias foto prewed. Demi memuluskan aksi foto prewed itu, saya mengajak Ocha dan Thika Pharmantara menjadi asisten, buat bantuin ngangkut barang. Tidak disangka, saya melihat pemandangan ini. Ampun, Ocha, itu sisir nangkring manis di rambut. Haha. Ini namanya asisten setulus hati sepenuh jiwa.

Baca Juga: Ngumpulin Foto Kaki Sendiri Entah Mau Ngapain

#PDL



Cheers.

#PDL Ngumpulin Foto Kaki Sendiri Entah Mau Ngapain


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Ngumpulin Foto Kaki Sendiri Entah Mau Ngapain. Haha. Judulnya begitu banget ya. Saya memang paling suka memotret apa saja yang menurut saya perlu dipotret. Hasilnya tidak perlu harus selalu sesuai dengan pandangan mata para fotografer profesional, yang penting motret! Dan kaki merupakan salah satu obyek penderita yang paling sering saya potret. Tidak percaya? Inilah kaki-kaki saya *digampar dinosaurus pakai besi*.

Baca Juga: #PDL Wreath Buat Kado Natal














Ternyata ... foto-foto kaki ini bisa dijadikan satu pos #PDL loh. Haha. Dan itu baru sebagian fotonya, masih banyak yang lain, tapi kalau semua nekad dipos sekarang bisa diamuk warga lah sayanya. Oleh karena itu, segitu dulu ya *sangat tidak penting*. Setiap foto kaki punya cerita ... sebenarnya.

Baca Juga: #PDL Mengumpulkan Si Kuning

Pernah, saya pernah melakukannya, dan masih terjadi sampai sekarang memotret kaki/sepatu sendiri. Kebiasaan yang bikin orang lain keki.

Bagaimana dengan kalian, kawan?



Cheers.

#PDL Iseng Memotret Akim Tapi Hasilnya Bikin Senyum


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

⇜⇝

Akim adalah sahabat baik masa kuliah yang kemudian menjadi adek karena tidak mungkin dia menjadi kakak. Banyakan umur saya dari dia! Hehe.

Suatu sore yang iseng, karena iseng adalah nama tengah kami, sambil menunggu dosen yang belum datang juga, kami bermain-main di balkon lantai tiga Gedung Rektorat. Iya, pemandangan dari balkon ini luar biasa lah. Bisa melihat lanskap Kota Ende, bahkan kalau beruntung bisa melihat pesawat touch down dan take off. Sore itu, ketimbang saya melihat Akim memotret sana sini, saya suruh saja dia jadi model. Hasilnya ... bisa kalian lihat pada gambar di awal pos. Saya senyum ... senang. Bagus sih menurut saya meskipun tidak pakai kamera DSLR.

Tjakep kan?



Cheers.

Bobo Manja


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Kali ini #PDL-nya bukan oleh saya tapi oleh para krucil yang saban hari main di rumah. Duileh, kalau tidak dibatasi, semakin hari semakin banyak saja jumlah krucil itu ha ha ha. Kata Mamatua: anak-anak adalah malaikat. Saya pernah balas: tapi kok yang nongol ini iblis semua? Becandaaaa. Anak-anak adalah malaikat, memang. Malaikat pencabut kesabaran.

Dan pernah, krucil bobo di rumah, tapi bukan di dalam rumah. Entah mengapa sepertinya teras rumah saya, Pohon Tua, yang luas itu paling asyik dijadikan tempat bobo manja. Suatu pagi saat buka pintu rumah, pemandangan seperti di awal pos lah yang terlihat. Ampuuuun! Apa tidak kedinginan ya, mereka? Hahaha. Ada-ada saja. Langsung saya bangunkan mereka dan menitahkan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Pernah, para krucil pernah bobo manja di teras rumah. Dinginnya malam tidak menjadi masalah bagi mereka ... yang penting perasaan nyaman kali ya. Mungkin pula mereka kuatir sudah terlalu malam untuk pulang ke rumah.

Duh ...



Cheers.

Buku Lagu


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Sejak masih SD saya sudah suka mengoleksi buku lagu yang dibeli di tempat orang menjual Teka-Teki Silang. Ukurannya sedikit lebih kecil dari buku TTS dan rada tipis karena paling memuat sepuluh lirik lagu. Buku-buku itu sebagai pendukung apabila menonton acara Album Minggu Kita di TVRI. Jujur, Album Minggu Ini merupakan salah satu acara favorit zaman doeloe! Saya mengenal Slank itu bukan dari RCTI atau ANTV melainkan dari TVRI. Ketahuan kan usia saya berapa ... 27. Haha. Amboiii saya jadi ingat lagu favorit saya zaman duluuuuu judulnya Kau Tercipta Dari Tulang Rusukku, dinyanyikan sama Muchlas Adi Putra dan Maya Angela. 


Untunglah ada yang mengunggah video musiknya di Youtube ... LOL!

Baca Juga: Belajar Ngelawak

Kebiasaan mengoleksi buku yang dibeli di tempat orang jualan TTS sempat tamat setelah mulai kenal MTV dimana tidak ada buku lagu dengan lirik lagu-lagu yang disuguhi MTV. Tetapi sebagai gantinya saya menulis sendiri  lirik-lirik lagu tersebut. Bayangkan, di zaman itu belum ada internet, bagaimana caranya bisa tahu lirik lagunya Alanis Morissette? Saya punya kertas buraman, minta di Bapa, terus mencatat satu per satu bait. Kalau belum selesai hari ini, besok lihat video musik yang sama, baru dilanjutkan ke bait berikutnya. Sampai selesai dan dipindah ke buku lagu bikinan sendiri. Jelaaasssss banyak vocab yang salah. Yang penting bisa nyanyikan lagu favorit lah, sudah cukup. Urusan lirik benar atau salah biar saya dan pencipta lagu yang tahu ha ha ha.

Setelah saya mengenal dunia ini *tsah* saya mulai suka membikin lagu sendiri. Modalnya cuma kunci yang itu-itu saja di gitar andalan. Kunci G, C, D, F, Am, E, Em, Fm, Dm, tanpa kunci B. Lagu pertama yang saya bikin itu untuk Cendaga Band, dimana saya menjadi vokalisnya, berjudul Jangan Paksa Aku. Terima kasih untuk diri saya yang sempat mengunggah video hancur-hancuran tentang profil Cendaga Band di Youtube!!!!! Silahkan dengarkan lagunya di video berikut ini:


Kalau mau ngetawain juga boleh. Tidak akan saya tersinggung. Karena waktu itu proses rekamannya live di studio Cendaga Band, tanpa polesan ini itu, dan suara saya mentahnya ampun-ampunan. Ya, ini lagu pertama yang saya bikin, kemudian teman-teman Cendaga Band membantu membikin musiknya, sehingga bisa kalian dengarkan. Semoga gendang telinga kalian tidak bocor ya gara-gara mendengar suara saya ... LOL! Bersama Cendaga Band saya punya buku lagu yang jadi song bank-nya band ini. Selain memuat lirik lagu dan kuncinya, saya juga mencatat kunci-kunci gitar yang diajarkan oleh Alimin.


Lepas dari Cendaga Band yang pernah beberapa kali konser itu, karena kesibukan masing-masing personilnya, saya dan Noel pun akhirnya membentuk Notes. Notes itu Noel and Tuteh Saja, tapi kemudian menjadi Noel and Tuteh SideProject. Mungkin karena waktu itu saya tidak bisa berhenti membikin lagu, dan Noel juga tidak bisa berhenti bermusik begitu saja, sehingga kami memutuskan untuk tetap sering ngumpul di rumah saya atau di rumah dia untuk bermusik. Kadang kami hanya gitaran dan nyanyi-nyanyi saja, kadang kami menggarap serius lagu yang sudah saya bikin atau dia bikin. Pokoknya waktu itu kamar saya penuh sama gitar listrik *ngakak*.

Oleh karena itu saya tidak bisa berhenti dengan yang namanya buku lagu. Titik. 

Bagaimana dengan sekarang? 

Buku lagu sih masih ada tapi tidak perlu di-update lirik-lirik lagunya karena sudah ada internet. Begitu butuh tinggal buka Google Chrome. Betul-betul yaaa zaman berubah sangat jauh. Paperless banget sih tidak, tapi kemudahannya itu yang jelas terasa. 

Baru-baru ini saya dihubungi Noel dan kami berencana untuk membikin ulang lagu-lagu Notes di album pertama. Artinya saya perlu siapkan lagi suara *tes tes*. Dan, kami juga berencana membikin ulang semua video musiknya. Bayangkan saja zaman itu bikin video musik pakai fasilitas video dari kamera pocket, dengan aplikasi sunting video yang uh wow bikin gelagapan. Makanya karena sekarang semua sudah serba mudah, kami mau mencoba lagi. Doakan yaaaaa semoga proyek ini bisa terlaksana setidaknya setelah Idul Fitri.

Baca Juga: Hijrah

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernah tergila-gila sama lagu-lagu dan mengoleksi buku lagu? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

Belajar Ngelawak


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Sabtu lalu baru lewat Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1 yang digelar di Miau Miau Cafe Ende. Senang sekali video-videonya sudah tayang di Youtube, untuk sementara masih di akun/channel pribadi saya, dan menerima begitu banyak kritikan. Saya akui memang memancing tawa penonton itu jauh lebih sulit dari pada memancing ikan. Mohon maklum, semua peserta merupakan orang-orang yang benar-benar baru terjun/belajar di dunia stand up comedy dan baru pertama kali melakukannya di panggung bersamaan dengan pertama kalinya kegiatan ini digelar di kota kecil Ende.

Baca Juga: Hijrah

Gara-gara itu saya jadi ingat bahwa dulu saya pernah belajar ngelawak. Ngelawaknya di depan para keponakan. Herannya ... mereka terpingkal-pingkal mendengar lawakan yang sebenarnya jayus bin garing itu. Analisa saya, mungkin karena mereka takut sama si Encim galak, atau mereka menghargai Encim yang sudah berpayah-payah ngelawak di depan mereka. Pokoknya setiap kali saya bercerita tentang yang lucu dan konyol di hadapan mereka, riuuuuuh banget mereka terbahak. Ini, kalau saya ikutan lomba SUC Endenesia, sudah punya penonton dasar kan ya ha ha ha *ngakak guling-guling*.


Belajar ngelawak itu sebenarnya karena kebutuhan pekerjaan. Kalian yang sudah lama main ke sini pasti tahu kalau dulunya saya pernah menjadi penyiar Radio Gomezone FM yang kemudian berubah menjadi radio daring bernama Radio Gomezone Flores (waktu itu didengarkan melalui Nobex Radio) setelah mati suri selama sembilan tahun. Waktu masih zamannya Radio Gomezone FM dan dijuluki Ibu Peri oleh para Gomezoner (julukan untuk pendengar) saya memegang banyak program salah satunya program tentang kisah-kisah konyol begitu. Saya lupa nama programnya apa. Kalau tidak salah Ngakak Bareng Gomezone FM. Kalau salah ... maafkeun.

Belajar ngelawak itu pun, kalau di radio, harus membaca situasi. Misalnya Gomezoner mengirimkan pesan lucu yang menjebak, bagaimana otak kita bekerja cepat untuk membalik jebakan itu kepada si  pengirim pesan. Nah, itu punch-nya haha. Sudah sering mereka terjebak oleh jebakan sendiri dan pada akhirnya menyerah mengirimkan pesan lawakan jebakan. Misalnya jebakan pesan itu: nah monyetnya yang lagi baca sms ini, saya balik menjadi monyetnya yang mengirimkan sms ini.

Sesungguhnya, siapa pun bisa belajar ngelawak, dan dimulai dari blog. Raditya Dika memulainya dari blog. Kerani si pemilik My Stupid Boss pun demikian. Saya sendiri punya buku kompilasi kisah kocak yang berkiblat dari kisah kehidupan sehari-hari.


Sampai sekarang pun saya masih belajar ngelawak. Menulis banyak kisah konyol bukan berarti dengan begitu saja langsung bisa berbicara di panggung stand up comedy misalnya. Amboi, masih banyak yang harus saya pelajari, karena, lagi, memancing tawa penonton tidak semudah memancing ikan. Insha Allah suatu saat nanti saya punya keberanian untuk berdiri di panggung mini SUC Endenesia untuk ber-stand up comedy. Doakan ya!

Oia, maafkan akhir-akhir ini belum bisa blogwalking yang rajin, padahal pengen, pengen tahu kisah Kakak Rey itu kayak apa hari ini ... soalnya semakin banyak yang harus diperhatikan *tsah*. Salah satunya, Jum'at dan Sabtu depan saya bakal mengisi kelas blogging di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - FKIP - Uniflor. Mungkin bakal pakai materi yang kemarin dipakai waktu ngisi materi blogging di Program Studi Pendidikan Sejarah (dan Fisika). Mungkin. Nantilah baru dipikirkan. Yang jelas saya pengen jeda dari kelas blogging itu diisi sama teman-teman dari SUC Endenesia. Yipie!!!!

Baca Juga: Percobaan Gagal

Well, bagaimana dengan kalian, kawan? Pernah belajar ngelawak juga?



Cheers.