#PDL Pernah Punya Asisten Gila Seperti Ocha dan Thika

#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***


#PDL Pernah Punya Asisten Gila Seperti Ocha dan Thika. Tahun 2018, saya diminta oleh Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra, Pak Roni Wolo, untuk memotret beliau bersama calon isterinya (sekarang sudah jadi isteri donk) alias foto prewed. Demi memuluskan aksi foto prewed itu, saya mengajak Ocha dan Thika Pharmantara menjadi asisten, buat bantuin ngangkut barang. Tidak disangka, saya melihat pemandangan ini. Ampun, Ocha, itu sisir nangkring manis di rambut. Haha. Ini namanya asisten setulus hati sepenuh jiwa.

Baca Juga: Ngumpulin Foto Kaki Sendiri Entah Mau Ngapain

#PDL



Cheers.

#PDL Ngumpulin Foto Kaki Sendiri Entah Mau Ngapain


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Ngumpulin Foto Kaki Sendiri Entah Mau Ngapain. Haha. Judulnya begitu banget ya. Saya memang paling suka memotret apa saja yang menurut saya perlu dipotret. Hasilnya tidak perlu harus selalu sesuai dengan pandangan mata para fotografer profesional, yang penting motret! Dan kaki merupakan salah satu obyek penderita yang paling sering saya potret. Tidak percaya? Inilah kaki-kaki saya *digampar dinosaurus pakai besi*.

Baca Juga: #PDL Wreath Buat Kado Natal














Ternyata ... foto-foto kaki ini bisa dijadikan satu pos #PDL loh. Haha. Dan itu baru sebagian fotonya, masih banyak yang lain, tapi kalau semua nekad dipos sekarang bisa diamuk warga lah sayanya. Oleh karena itu, segitu dulu ya *sangat tidak penting*. Setiap foto kaki punya cerita ... sebenarnya.

Baca Juga: #PDL Mengumpulkan Si Kuning

Pernah, saya pernah melakukannya, dan masih terjadi sampai sekarang memotret kaki/sepatu sendiri. Kebiasaan yang bikin orang lain keki.

Bagaimana dengan kalian, kawan?



Cheers.

#PDL Iseng Memotret Akim Tapi Hasilnya Bikin Senyum


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

⇜⇝

Akim adalah sahabat baik masa kuliah yang kemudian menjadi adek karena tidak mungkin dia menjadi kakak. Banyakan umur saya dari dia! Hehe.

Suatu sore yang iseng, karena iseng adalah nama tengah kami, sambil menunggu dosen yang belum datang juga, kami bermain-main di balkon lantai tiga Gedung Rektorat. Iya, pemandangan dari balkon ini luar biasa lah. Bisa melihat lanskap Kota Ende, bahkan kalau beruntung bisa melihat pesawat touch down dan take off. Sore itu, ketimbang saya melihat Akim memotret sana sini, saya suruh saja dia jadi model. Hasilnya ... bisa kalian lihat pada gambar di awal pos. Saya senyum ... senang. Bagus sih menurut saya meskipun tidak pakai kamera DSLR.

Tjakep kan?



Cheers.

Bobo Manja


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Kali ini #PDL-nya bukan oleh saya tapi oleh para krucil yang saban hari main di rumah. Duileh, kalau tidak dibatasi, semakin hari semakin banyak saja jumlah krucil itu ha ha ha. Kata Mamatua: anak-anak adalah malaikat. Saya pernah balas: tapi kok yang nongol ini iblis semua? Becandaaaa. Anak-anak adalah malaikat, memang. Malaikat pencabut kesabaran.

Dan pernah, krucil bobo di rumah, tapi bukan di dalam rumah. Entah mengapa sepertinya teras rumah saya, Pohon Tua, yang luas itu paling asyik dijadikan tempat bobo manja. Suatu pagi saat buka pintu rumah, pemandangan seperti di awal pos lah yang terlihat. Ampuuuun! Apa tidak kedinginan ya, mereka? Hahaha. Ada-ada saja. Langsung saya bangunkan mereka dan menitahkan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Pernah, para krucil pernah bobo manja di teras rumah. Dinginnya malam tidak menjadi masalah bagi mereka ... yang penting perasaan nyaman kali ya. Mungkin pula mereka kuatir sudah terlalu malam untuk pulang ke rumah.

Duh ...



Cheers.

Buku Lagu


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Sejak masih SD saya sudah suka mengoleksi buku lagu yang dibeli di tempat orang menjual Teka-Teki Silang. Ukurannya sedikit lebih kecil dari buku TTS dan rada tipis karena paling memuat sepuluh lirik lagu. Buku-buku itu sebagai pendukung apabila menonton acara Album Minggu Kita di TVRI. Jujur, Album Minggu Ini merupakan salah satu acara favorit zaman doeloe! Saya mengenal Slank itu bukan dari RCTI atau ANTV melainkan dari TVRI. Ketahuan kan usia saya berapa ... 27. Haha. Amboiii saya jadi ingat lagu favorit saya zaman duluuuuu judulnya Kau Tercipta Dari Tulang Rusukku, dinyanyikan sama Muchlas Adi Putra dan Maya Angela. 


Untunglah ada yang mengunggah video musiknya di Youtube ... LOL!

Baca Juga: Belajar Ngelawak

Kebiasaan mengoleksi buku yang dibeli di tempat orang jualan TTS sempat tamat setelah mulai kenal MTV dimana tidak ada buku lagu dengan lirik lagu-lagu yang disuguhi MTV. Tetapi sebagai gantinya saya menulis sendiri  lirik-lirik lagu tersebut. Bayangkan, di zaman itu belum ada internet, bagaimana caranya bisa tahu lirik lagunya Alanis Morissette? Saya punya kertas buraman, minta di Bapa, terus mencatat satu per satu bait. Kalau belum selesai hari ini, besok lihat video musik yang sama, baru dilanjutkan ke bait berikutnya. Sampai selesai dan dipindah ke buku lagu bikinan sendiri. Jelaaasssss banyak vocab yang salah. Yang penting bisa nyanyikan lagu favorit lah, sudah cukup. Urusan lirik benar atau salah biar saya dan pencipta lagu yang tahu ha ha ha.

Setelah saya mengenal dunia ini *tsah* saya mulai suka membikin lagu sendiri. Modalnya cuma kunci yang itu-itu saja di gitar andalan. Kunci G, C, D, F, Am, E, Em, Fm, Dm, tanpa kunci B. Lagu pertama yang saya bikin itu untuk Cendaga Band, dimana saya menjadi vokalisnya, berjudul Jangan Paksa Aku. Terima kasih untuk diri saya yang sempat mengunggah video hancur-hancuran tentang profil Cendaga Band di Youtube!!!!! Silahkan dengarkan lagunya di video berikut ini:


Kalau mau ngetawain juga boleh. Tidak akan saya tersinggung. Karena waktu itu proses rekamannya live di studio Cendaga Band, tanpa polesan ini itu, dan suara saya mentahnya ampun-ampunan. Ya, ini lagu pertama yang saya bikin, kemudian teman-teman Cendaga Band membantu membikin musiknya, sehingga bisa kalian dengarkan. Semoga gendang telinga kalian tidak bocor ya gara-gara mendengar suara saya ... LOL! Bersama Cendaga Band saya punya buku lagu yang jadi song bank-nya band ini. Selain memuat lirik lagu dan kuncinya, saya juga mencatat kunci-kunci gitar yang diajarkan oleh Alimin.


Lepas dari Cendaga Band yang pernah beberapa kali konser itu, karena kesibukan masing-masing personilnya, saya dan Noel pun akhirnya membentuk Notes. Notes itu Noel and Tuteh Saja, tapi kemudian menjadi Noel and Tuteh SideProject. Mungkin karena waktu itu saya tidak bisa berhenti membikin lagu, dan Noel juga tidak bisa berhenti bermusik begitu saja, sehingga kami memutuskan untuk tetap sering ngumpul di rumah saya atau di rumah dia untuk bermusik. Kadang kami hanya gitaran dan nyanyi-nyanyi saja, kadang kami menggarap serius lagu yang sudah saya bikin atau dia bikin. Pokoknya waktu itu kamar saya penuh sama gitar listrik *ngakak*.

Oleh karena itu saya tidak bisa berhenti dengan yang namanya buku lagu. Titik. 

Bagaimana dengan sekarang? 

Buku lagu sih masih ada tapi tidak perlu di-update lirik-lirik lagunya karena sudah ada internet. Begitu butuh tinggal buka Google Chrome. Betul-betul yaaa zaman berubah sangat jauh. Paperless banget sih tidak, tapi kemudahannya itu yang jelas terasa. 

Baru-baru ini saya dihubungi Noel dan kami berencana untuk membikin ulang lagu-lagu Notes di album pertama. Artinya saya perlu siapkan lagi suara *tes tes*. Dan, kami juga berencana membikin ulang semua video musiknya. Bayangkan saja zaman itu bikin video musik pakai fasilitas video dari kamera pocket, dengan aplikasi sunting video yang uh wow bikin gelagapan. Makanya karena sekarang semua sudah serba mudah, kami mau mencoba lagi. Doakan yaaaaa semoga proyek ini bisa terlaksana setidaknya setelah Idul Fitri.

Baca Juga: Hijrah

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernah tergila-gila sama lagu-lagu dan mengoleksi buku lagu? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

Belajar Ngelawak


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Sabtu lalu baru lewat Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1 yang digelar di Miau Miau Cafe Ende. Senang sekali video-videonya sudah tayang di Youtube, untuk sementara masih di akun/channel pribadi saya, dan menerima begitu banyak kritikan. Saya akui memang memancing tawa penonton itu jauh lebih sulit dari pada memancing ikan. Mohon maklum, semua peserta merupakan orang-orang yang benar-benar baru terjun/belajar di dunia stand up comedy dan baru pertama kali melakukannya di panggung bersamaan dengan pertama kalinya kegiatan ini digelar di kota kecil Ende.

Baca Juga: Hijrah

Gara-gara itu saya jadi ingat bahwa dulu saya pernah belajar ngelawak. Ngelawaknya di depan para keponakan. Herannya ... mereka terpingkal-pingkal mendengar lawakan yang sebenarnya jayus bin garing itu. Analisa saya, mungkin karena mereka takut sama si Encim galak, atau mereka menghargai Encim yang sudah berpayah-payah ngelawak di depan mereka. Pokoknya setiap kali saya bercerita tentang yang lucu dan konyol di hadapan mereka, riuuuuuh banget mereka terbahak. Ini, kalau saya ikutan lomba SUC Endenesia, sudah punya penonton dasar kan ya ha ha ha *ngakak guling-guling*.


Belajar ngelawak itu sebenarnya karena kebutuhan pekerjaan. Kalian yang sudah lama main ke sini pasti tahu kalau dulunya saya pernah menjadi penyiar Radio Gomezone FM yang kemudian berubah menjadi radio daring bernama Radio Gomezone Flores (waktu itu didengarkan melalui Nobex Radio) setelah mati suri selama sembilan tahun. Waktu masih zamannya Radio Gomezone FM dan dijuluki Ibu Peri oleh para Gomezoner (julukan untuk pendengar) saya memegang banyak program salah satunya program tentang kisah-kisah konyol begitu. Saya lupa nama programnya apa. Kalau tidak salah Ngakak Bareng Gomezone FM. Kalau salah ... maafkeun.

Belajar ngelawak itu pun, kalau di radio, harus membaca situasi. Misalnya Gomezoner mengirimkan pesan lucu yang menjebak, bagaimana otak kita bekerja cepat untuk membalik jebakan itu kepada si  pengirim pesan. Nah, itu punch-nya haha. Sudah sering mereka terjebak oleh jebakan sendiri dan pada akhirnya menyerah mengirimkan pesan lawakan jebakan. Misalnya jebakan pesan itu: nah monyetnya yang lagi baca sms ini, saya balik menjadi monyetnya yang mengirimkan sms ini.

Sesungguhnya, siapa pun bisa belajar ngelawak, dan dimulai dari blog. Raditya Dika memulainya dari blog. Kerani si pemilik My Stupid Boss pun demikian. Saya sendiri punya buku kompilasi kisah kocak yang berkiblat dari kisah kehidupan sehari-hari.


Sampai sekarang pun saya masih belajar ngelawak. Menulis banyak kisah konyol bukan berarti dengan begitu saja langsung bisa berbicara di panggung stand up comedy misalnya. Amboi, masih banyak yang harus saya pelajari, karena, lagi, memancing tawa penonton tidak semudah memancing ikan. Insha Allah suatu saat nanti saya punya keberanian untuk berdiri di panggung mini SUC Endenesia untuk ber-stand up comedy. Doakan ya!

Oia, maafkan akhir-akhir ini belum bisa blogwalking yang rajin, padahal pengen, pengen tahu kisah Kakak Rey itu kayak apa hari ini ... soalnya semakin banyak yang harus diperhatikan *tsah*. Salah satunya, Jum'at dan Sabtu depan saya bakal mengisi kelas blogging di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - FKIP - Uniflor. Mungkin bakal pakai materi yang kemarin dipakai waktu ngisi materi blogging di Program Studi Pendidikan Sejarah (dan Fisika). Mungkin. Nantilah baru dipikirkan. Yang jelas saya pengen jeda dari kelas blogging itu diisi sama teman-teman dari SUC Endenesia. Yipie!!!!

Baca Juga: Percobaan Gagal

Well, bagaimana dengan kalian, kawan? Pernah belajar ngelawak juga?



Cheers.

Hijrah


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Blogwalking itu memang bermanfaat. Yang tidak setuju, ya tidak apa-apa, silahkan tulis pos bantahan/balasan di blog sendiri. Haha. Salah satu manfaatnya, blogwalking secara tidak sadar justru menginspirasi dan memunculkan ide kepada kita untuk menulis. Selasa kemarin saya blogwalking ke blog milik Tia Widiastuti. Judul blog itu Mrs Dinastian. Salah satu pos bercerita tentang hijrah (bersama Bank Muamalat). Tring! Ide menulis pun nongol di kepala bersamaan dengan ide membeli helikopter. Ide menulis ini bukan soal bank-nya melainkan tentang hijrahnya.

Baca Juga: Percobaan Gagal

Suatu hari saya mendengar obrolan Mamatua dan (alm) Kakak Toto Pharmantara di tahun 2003 atau 2004 begitu. Sudah berkali-kali Kakak Toto menolak dipindah ke PT Telkom Maumere dengan alasan tidak mampu meninggalkan Mamatua tinggal sendiri bersama saya dan Indra, setelah Bapa meninggal dunia. Namun dirinya memang harus pindah karena jabatannya (naik pangkat) hanya ada di PT Telkom Maumere alias tidak ada di PT Telkom Ende. Waktu itu saya dengar Mamatua bilang begini: To, kau harus pindah, kau harus hijrah. Kalau tidak hijrah, kapan kau bisa maju?

Setelah membaca pos Kakak Tia, saya teringat tentang bagaimana saya hijrah dulu, dari tidak berhijab menjadi berhijab.

Ketika hampir semua anggota keluarga Pharmantara berhijab, yang perempuan bukan yang laki-laki, saya kemudian diajak berhijab pula. Siapa sih yang tidak ingin berhijab? Itu kan wajib bagi Muslimah. Mbak Wati, isterinya Abang Nanu Pharmantara, berkata: pakai jilbab sudah, Encim, jangan tunggu lama-lama. Biarpun sudah berhijab kau kan masih bisa jalan ke sana sini. Masih bisa beraktivitas seperti biasa. Sahabat saya Mila Wolo pun menyarankan hal serupa. Hijab bukan berarti saya mengekang diri berpetualang. Ah ... kalau ingat masa-masa itu jadi pengen tonjok diri sendiri.

Semua anjuran dan ajakan itu selalu bisa saya balas dengan jawaban:
1. Mau ngumpulin kaos lengan panjang dulu.
2. Mau ngumpulin manset dulu.
3. Mau ngumpulin jilbab aneka warna dulu.

Jawaban paling aneh sedunia. Tapi itulah yang keluar dari bibir saya. Semacam suatu pembelaan diri, padahal diri sendiri salah, ha ha ha. Tapi jangan salah, saya belajar banyak hal tentang dunia menutup aurat ini dari sebuah buku tulisan Ustadz Felix Siauw. Ya yang saya suka hanya bukunya saja hahah. Judulnya Yuk Berhijab! Buku yang dipenuhi ilustrasi berwarna ini sungguh menggugah. Saya betul-betul memahami isinya, sampai-sampai saya tidak pernah mau mengonde rambut, cukup diikat. Karena, kalau rambutnya kepanjangan, ya jilbabnya yang harus dipanjangin lagi.


Suatu pagi saat saya sedang bersiap-siap hendak ke kantor, dan bercermin, tumben memang bercermin, saya menatap wajah sendiri. Iya dooonk, kalau bercermin tapi yang ditatap wajahnya dinosaurus itu aneh kan. Saya berkata pada diri sendiri: ayo, berhijab sudah. Lalu saya pergi mengambil manset-kaos, alas jilbab, dan jilbab. Hari itu, saat sepeda motor saya memasuki area kampus, bapak-bapak sekuriti terheran-heran antara mau menegur atau tidak, lha saya tegur saja mereka semua hahaha. Seorang Tuteh yang badung, usil, iseng, suka ketawa tanpa belas kasih itu, berhijab! Kejadian langka.

Melihat saya, Mila langsung kasih selamat, cekrek-cekrek, dan mengunggah ke Facebook. Sehingga saya tahu tanggal bersejarah itu: 10 JULI 2015 saat kami semua masih pakai BLACKBERRY!  Terima kasih Mila, karena pos itu saya akan selalu mengingat tanggal ini. Melihat pos Mila di Facebook, sahabat saya yang lain yaitu Dewi pun mengunggah foto yang sama disertai foto teman lainnya yang juga hijrah pada hari itu.

Pos Mila. 

Pos Dewi.

Hari bersejarah kan ya hahah.

Baca Juga: Dikunjungi Legolas

Berhijabnya saya itu ibarat ulang tahun begitu. Karena apa saudara-saudara!? Banyak yang memberikan ucapan selamat baik secara langsung maupun via SMS dan BBM. Dan yang membikin saya terharu adalah BANYAK YANG MEMBERIKAN HADIAH kepada saya. Mereka yang memberikan hadiah ini tidak pandang agamanya apa. ISLAM DAN KATOLIK SAMA RATA!

Mama Emmi Gadi Djou, jelas beliau beragama Katolik, menghadiahkan saya pashmina biru muda cantik. Waktu itu kita sedang buka puasa bersama Fakultas Hukum di rumah saya. Usai makan malam, beliau menyerahkan pashmina ini dengan ucapan: Nona Tuteh semoga suka pashminanya dan harus dipakai ya! Terharuuuuuuu!


Sahabat rasa saudara Yudith Ngga'a menghadiahkan saya satu set kemeja kuning plus pashmina kuning. Dan tentu dia beragama Katolik pula. Yudith memesan khusus kemeja dan pashmina ini secara daring. Hahaha.


Sahabat saya si Dessy yang pernah saya tulis di blog ini saat dia ke Roma, mewakili institusinya yaitu RRI, menghadiahkan saya pashmina tutul-tutul ini hahaha. Ya, dia pun beragama Katolik.


Dan masih banyak hadiah-hadiah lain, beneran kayak ulangtahun, dari teman-teman lain yang beragama Katolik seperti Stanis yang menghadiahkan saya dua gamis atau Kakak Chendy Sabeweo yang menghadiahkan saya jilbab kuning. Dari teman-teman beragama Islam pun banyak banget. Mila, jangan ditanya lagi hahaha. Kiki Arubone menghadiahkan pashmina kuning. Dan seterusnya, dan lain-lain, dan sebagainya. Itu belum dari keluarga Pharmantara sendiri. 

Apakah dengan berhijrah kemudian saya berubah? Tidak. Saya tetap menjalankan shalat, khatam mengaji (pengen bisa sepuluh kali setidaknya, sekarang baru dua kali), tetap badung dan isengin orang lain, tetap apa adanya, tetap menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Kadang berantem, karena berantem kan bumbu kehidupan hahahaha alias manajemen konflik. Tidak banyak yang berubah dari saya kecuali sering mengompori teman yang belum berhijab untuk berhijab juga dengan kalimat: it's like magic, terjadi begitu saja. Jawaban yang sama waktu sahabat saya sekaligus teman kantor Erna Haris menanyakan keajaiban saya kemudian hijrah. Tak lama, mungkin sebulanan, Erna kemudian berhijab. Bulan berikutnya, salah seorang dosen pun berhijab.

Saya tidak bilang dengan berhijab kemudian membikin orang lain juga berhijab. Tidak lah. Itu kan keputusan mereka sendiri. Mungkin mereka juga merasakan yang namanya magic. Ya, bagi saya yang badung ini berhijab itu seperti magic. Jentik jari. Terjadi. Thanooooos doooonk. Ha ha ha.

Berhijab tidak membikin aktivitas saya berubah. Masih jalan ke sana sini, masih suka cerita-ceriti sama teman-teman, masih suka makan, masih suka isengin Mamatua dan Mamasia, masih suka berkegiatan ini itu, dan seterusnya. 

Yang berubah adalah saya sisiran hanya setelah keramas saja ha ha ha.

Baca Juga: #PDL Pondok Batu Biru Penggajawa

Pernah, saya pernah melakukannya, berhijab sejentik jari dan Alhamdulillah masih istiqomah. Bagaimana dengan kalian, kawan? Jujur saya tidak tanya ke Kang Nata dan Kuanyu hahaha ... kocak ... saya bertanya pada teman-teman blogger perempuan. Adakah kisah unik saat kalian kemudian memutuskan berhijab? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

Percobaan Gagal


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Masih berhubungan dengan DIY tapi saya tidak menulisnya di #RabuDIY melainkan dalam #PDL.

Ketika saya melihat aneka video di Youtube tentang proyek-proyek DIY, terkhusus tentang memanfaatkan jin dari dalam botol bekas atau jin yang tidak terpakai lagi, salah satu karya yang menarik perhatian adalah mangkuk. Bagaimana mereka, dengan lihainya, membikin mangkuk berbahan jin. How can? Karena antusias, malam itu juga saya mencoba membikinnya. Ah, mudah. Cuma menyatukan potongan-potongan jin pada mangkuk yang diolesi lem PVA.

Baca Juga: Kubur Batu di Lamboya

Ternyata ... oh lala. Hasilnya sungguh buruk. Gambar hasil yang buruk itu bisa kalian lihat di awal pos. Tapi saya tidak menyerah. Mari mencobanya lagi. Dan ... gagal lagi.

Akhirnya, pada percobaan yang ke-sekian, saya berhasil membikin mangkuk jin tapi sedikit mengubah tata caranya. Tidak seratus persen sesuai dengan yang ditonton di Youtube. Oh, ternyata kegagalan bukan berarti sama sekali tidak bisa membikinnya, melainkan pelajaran untuk berusaha dan kreatif. Benar kan? Pengalaman yang sama juga saya alami saat menulis baik fiksi maupun non-fiksi. Percobaan itu selalu terpeta pada paragraf pertama.


Percobaan yang gagal adalah pelajaran paling berharga. 

Oh iya, bagaimana dengan hasil mangkuk jin itu? Eitsss sabar dulu. Tidak sekarang. Bakal saya pos di #RabuDIY! Hehe.

Baca Juga: Foto Kreatif #1

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernah mencoba dan gagal, tapi tidak menyerah? Never give up, dibalik percobaan yang gagal, ada kesuksesan yang menanti.



Cheers.

Dikunjungi Legolas


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Saya sudah pernah cerita bahwa rumah saya, si Pohon Tua, merupakan tempat yang cukup ramai di Planet Bumi dikarenakan para krucil tetangga. Ramainya bisa jadi karena mereka datang belajar bersama Mamatua. Ramainya bisa jadi karena dulu pun di rumah saya ada tempat penyewaan Play Station alias PS. Kasus kehilangan flashdisk game PS bukan barang baru tapi toh biarkan saja, namanya juga anak-anak. Kadang keinginan yang super untuk memiliki membikin mereka terpaksa mencabut flashdisk, dan dibayang-bayangi sedikit rasa berdosa.

Baca Juga: Nokia 5300

Berkaitan dengan pos ini, saya pikir aksi cepat memotret yang menjadi kebiasaan saya selama ini ternyata ada manfaatnya juga pos serupa #PDL. Karena, pada suatu hari saat sedang duduk nganga di rumah menyaksikan tingkah krucil yang sedang bermain PS, tahu-tahu datang anak ini, berdiri menghalangi pandangan saya. Busyet!

SAYA DIKUNJUNGI LEGOLAS!


Siap mencabut anak panah dan memanah mobil-mobil di dalam game PS. Haha. Sumpah, ini salah satu foto terbaik krucil yang pernah main di rumah saya. Tinggal cek kupingnya mirip kuping para elf atau tidak *ngikik*. 

Pernah, saya pernah begitu, langsung potret ketika melihat hal-hal seunik ini. Bagaimana dengan kalian?



Cheers.

Nokia 5300


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Hola! Singkat dan ringan saja. Saya pernah memakai HP jadul yang satu ini. Nokia 5300. Dan tadi, waktu membongkar map-map demi mencari KTP Mamatua yang entah ada di mana, eh ketemu CD program Nokia 5300! Busyet hahaha. Zaman sekarang sih tidak perlu lagi yang namanya CD program/software kan ya. Dan saya masih menyimpannya. Haha.



Cheers.