#PDL Kebiasaan Menggigit Kuku yang Ternyata Bahaya


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Kuku-kuku di dinding
Diam-diam me ra yap
Datang seekor nyamuk
Hap! Eh meleset ...

Karena ternyata si kuku tidak punya lidah seperti si cicak dan tetangga jauhnya cicak yaitu si dinosaurus, jadi waktu di-HAP! Me-le-set saudara-saudara. Yang sabar ya.

Baca Juga: #PDL Ngopi Tjakep

Kelas Blogging Online telah memasuki kelas ketiga dengan materi yang sudah dipelajari dan dipraktekkan. Materi tersebut antara lain Membikin Blog di Blogger, Mengenal Dashboard dan Fungsi Panel Masing-Masing, hingga Niche Blog. Adalah kebanggaan ketika peserta kelas sudah membikin blog di Blogger dan mulai memperbaiki blog mereka hingga mengenal meta data. Lalu apa hubungan antara Kelas Blogging Online dengan kuku yang gagal meng-HAP seekor nyamuk di atas? 

Sari Kuku Dinosaurus
*mengedip dari balik kaca mata hitam*

Sari kuku dinosaurus ini menjadi viral di Kelas Blogging Online gara-gara saya membikin contoh tentang permalink atau tautan permanen. Bagaimana link sebuah pos itu dapat diubah sehingga tidak mengikuti judul yang terlalu panjang. Blogger memang melakukan itu!


Gara-gara itu, saya usil mencari-cari di Google, adakah orang lain yang juga pernah menulis iseng, buat lucu-lucuan, tentang sari kuku dinosaurus? Ternyata tidak ada. Saya malah terdampar di situs Qupas yang membahas tentang bahaya menggigit kuku! Are you sure??? Bukankah menggigit kuku itu suatu perbuatan yang menyenangkan, apalagi kalau sebelum digigit, kukunya dicelupin ke Nuttela terlebih dahulu? Haha. Sepanjang yang saya tahu, menggigit kuku bakal bikin kuku menjadi rusak karena gigi kita tidak setajam gunting-kuku. Tapi ternyata bahaya kebiasaan ini bagi kesehatan lebih menakutkan dari penampakan fisik kuku yang rusak akibat digigit. Qupas ini memang cocok sama namanya. Banyak hal yang dikupas tuntas di situs itu.

*garuk-garuk kepala dinosaurus*

 Adiknya dinosaurus; si komodo, nyempil. Haha.

Ceritanya, sebagai manusia yang tak luput dari dosa, gigi saya ada yang berlubang. Salah satu lubangnya itu nyempil diantara gigi. Apabila ada makanan yang terselip, sementara tidak ada tusuk gigi, saya bakal pakai kuku jari kelingking untuk diselipkan di situ agar sisa makanannya terdesak keluar. Paling ekstrim saya pernah pakai kuku ibu jari. Parahnya, saya bersihkan pula sisa makanan yang menempel di kuku dengan gigi! Kan jorok itu. Ember ... tapi saya pernah melakukannya. Bukan pernah ... tapi sering!

Dan ini ... errr ... kuku tangan ya. Bukan kuku kaki. Kuku kaki? Sabar dulu, posisi otak saya bergeser sekian inci nih gara-gara membayangkan menggigit kuku kaki.



Jadi, apa saja bahaya menggigit kuku; termasuk bahaya mengganti tusuk gigi dengan kuku? Dari situs Qupas, ini dia bahaya menggigit kuku.

Cekidot!

1. Menyebabkan Bau Mulut


Kenapa menggigit kuku bisa bikin bau mulut? Ternyata hal itu disebabkan serpihan kuku akan menempel pada rahang dan rongga-rongga gigi. Kemudian bercampur dengan air liur serta materi lainnya sehingga menyebabkan bau mulut menjadi sedikit aneh. Siapapun pasti tidak ingin mulutnya bau kan.


Mana asyik, ketika sedang mengobrol sama si dia, mendadak si dia menutup hidungnya. Menyakitkan.

2. Meningkatkan Risiko Kerusakan Gigi


Jangan dibiasakan menggigit kuku, karena hal ini ternyata bisa merusak gigi. Karena, ketika ada serpihan kuku yang menempel pada gigi, maka tanpa disadari akan merusak bagian tubuh ini secara perlahan. Pada akhirnya lebih mudah bolong dan terasa nyeri. Sakit gigi jauh lebih sakit dari sakit hati. Salam, dari orang yang sering merasakan sakit gigi.

3. Mengganggu Pencernaan


Seperti diketahui, di dalam kuku menyimpan begitu banyak bakteri. Jadi ketika kamu memiliki kebiasaan menggigitnya, maka sama saja kamu mempersilakan bakteri itu untuk masuk ke dalam tubuh. Akibatnya, bakteri akan membuat organ cerna terganggu. Tidak ada satupun manusia yang mau organ pencernaannya terganggu kan?

4. Menyebabkan Iritasi Tenggorokan


Material dari kuku itu sifatnya keras dan tajam. Ketika tanpa sengaja serpihannya masuk ke dalam mulut dan tertelan, maka itu bisa menjadi sebuah kesalahan fatal.

Sebab, kuku bisa membuat luka pada tenggorokan hingga akhirnya terjadi iritasi.

5. Menyebabkan Berbagai Penyakit


Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kuku mengandung begitu banyak bakteri sehingga jika masuk ke dalam tubuh maka bakteri tersebut akan menyebar. Akibatnya, risiko terkena penyakit pun semakin besar.

6. Bentuk Kuku Menjadi Tak Karuan


Perlu diketahui juga, kebiasaan mengigit kuku juga berdampak pada bentuknya. Karena, seperti yang sudah saya tulis di atas, gigi kita bukanlah gunting kuku yang memang dibikin khusus untuk merapikan kuku.




Jangan lagi menggigit kuku atau memasukkan kuku ke dalam mulut seenak hati karena sangat berbahaya bagi kesehatan.

Termasuk saya, menjadikan kuku sebagai pengganti tusuk gigi. Awwww. Ngeri membayangkan saat menyelipkan kuku diantara gigi kemudian ada yang tertinggal di sana seperti bakteri dan/atau serpihan kuku itu sendiri. Sumpah, sebelumnya saya tidak pernah membayangkan bakal nemu artikel tentang bahaya menggigit kuku ini di Qupas, dan tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaan buruk saya itu bisa berakibat fatal. Semua gara-gara sari kuku dinosaurus haha.

Baca Juga: #PDL Pondok Batu Biru Penggajawa

*tertunduk lesu*

Pernah, saya pernah begitu ... bagaimana dengan kalian? Pernahkah kalian mengganti tusuk gigi dengan kuku? Pernahkah kalian menggigit kuku dinosaurus sendiri? Kalau pernah ... berhenti dari sekarang! Dan, jangan lupa bagi tahu di papan komentar.

Semoga bermanfaat.


Cheers.

#PDL Menjadi Hakim Anggota

Coba tebak saya yang mana? Hehe.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Peradilan Semu mungkin terdengar asing di kuping teman-teman mahasiswa/i fakultas lain. Sama juga, PPL bagi mahasiswa/i FKIP pasti asing pula di kuping mahasiwa/i Hukum. Tapi bagi anak hukum, Peradilan Semu sudah mulai bergaung sejak semester awal. Bagaimana tidak? Mahasiswa/i baru mau tidak mau pasti melihat kakak-kakak semesternya berlatih di ruangan khusus berdinding hijau yang disebut Ruang Sidang Peradilan Semu dengan ekspresi wajah tokoh pengacara yang menggebu-gebu kayak pengen terkam dinosaurus. Sayangnya, ruangan tersebut terlalu sempit sehingga Peradilan Semu di kampus kami lebih sering digelar di Aula Fakultas Hukum (Universitas Flores). Yang penting tetap di aula sendiri kan hehe.

Baca Juga : #PDL Blog Travel

Peradilan Semu merupakan salah satu mata kuliah wajib pada Fakultas Hukum yang harus dipenuhi sebagai syarat sebelum mengajukan proposal penelitian (dan skripsi). Tahun lalu, saya dan teman-teman sungguh merasakan letihnya mengumpulkan anggota seangkatan dalam WAG, memilih kasus, menyusun peradilan, makan-makan, latihan, makan-makan lagi, latihan lagi, makan-makan terus, hingga pagelaran. Kok banyak makan-makannya? Semua kerja keras itu terbayarkan. Bukan karena nilainya bagus banget tapi karena proses menuju semakin mengeratkan kami. Arti kebersamaan itu tidak bisa dibayarkan dengan Dollar. Tapi kalau Rupiah, boleh lah *dikeplak sepatu*

Mengumpulkan para pemeran hahaha :D


Kasus yang kami pilih pada tahun 2017 kemarin adalah kasus tentang penganiayaan yang berakibat pada matinya orang. Matinya orang!? Heloooow are you sure? Tidak bisa pakai bahasa yang lebih sopan misalnya meninggalnya manusia? No no no. Kalau ada yang kuliah hukum pasti bakal cekikikan membaca ini. Sama seperti matinya orang, di dalam 'kamus' hukum pun tidak dikenal istilah pernikahan. Kata yang dipakai adalah perkawinan. Jadi, saya hanya bisa senyum-senyum kalau ada teman yang bilang: nikah dulu baru kawin. Karena bagi kami: kawin adalah segala-galanya seperti Perkawinan Beda Agama, Perkawinan Campur (antara WNI dengan WNA), Perkawinan di Bawah Tangan, dan seterusnya.

Sebenarnya kami ingin mengangkat kasus Jessica-Mirna tetapi karena menyusunnya betul-betul luar biasa sulit, sesulit proses aseli pengumpulan bukti hingga tidak adanya pengakuan dari terduga yang kemudian menjadi terpidana, akhirnya kami mengubah kasus.

Kembali pada penganiayaan yang berakibat pada matinya orang ...

Kasus ini, murni disusun sendiri alias bukan menjiplak karya Peradilan Semu sebelumnya, adalah tentang suami yang menganiaya isterinya sampai meninggal dunia. Pada saat rembug tentang kasus ini kami saling silang pendapat tentang pasal apa yang mau dipakai untuk menjerat si suami. Akhirnya dipakai dua pasal untuk mendakwa.

Primair:
Pasal 44 ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Subsidair:
Pasal 351 ayat (3) KUHP.

Baca Juga : #PDL I Can Sleep Everywhere

Selain itu kami juga harus memikirkan jumlah anggota dan jumlah tokoh: hakim, jaksa, pengacara, terdakwa, saksi, petugas, Pastor dan Ustadz (untuk sumpah), dan lain sebagainya. Termasuk harus betul-betul memikirkan tentang barang bukti yang akan dipakai.

Makan, makan lagi, lagi-lagi makan.


Proses penyusunan berkas/naskah persidangan membutuhkan waktu yang cukup lama. Semua dilakukan di rumah saya yang kebetulan ruang tamunya lapang. Jadi, kami memasang proyektor yang ditembak ke dinding rumah. Beberapa orang bertugas, tentunya kecepatan mengetik harus setara cahaya, untuk mengetik naskah yang disusun bersama itu. Bayangkan, kami menyusun sepuluh persidangan yang dimulai dari sidang pembacaan dakwaan sampai putusan. Contohnya bisa dilihat seperti pada gambar berikut ini:



Beruntungnya karena seangkatan berasal dari bermacam profesi, jadi banyak ide yang terus berkembang dan bergolak seiring penyusunan naskah Peradilan Semu tersebut. Misalnya John Djenlau yang bekerja di Pengadilan Negeri Ende. Jelas dia bisa memberikan masukan demi kebaikan si naskah. Teman-teman polisi seperti Irmina, Egos, Moat, Benny, dan lain-lain juga sangat membantu terutama tentang pemeriksaan di kantor polisi (pra naskah). Angkatan kami memang paling lengkap hahaha. Ada Edwin Firmansyah dari TNI AD, ada Effie Rere yang bekerja di Kantor Pertanahan, dan lain ragam profesi termasuk yang belum bekerja karena setelah lulus SMA langsung kuliah.

Pada serius menyusun naskah.


Setelah naskah selesai disusun, naskah diserahkan kepada dosen pembimbing Peradilan Semu. Lantas mulailah latihan di ruang hijau itu. Eits, tapi jangan salah, kami juga latihan sendiri di rumah saya, di luar jadwal latihan di kampus yang dikeluarkan oleh dosen hehehe. Soalnya kami sangat bersemangat dan ingin Peradilan Semu ini sukses! Lebih sukses dari angkatan kemarin-kemarin. Karena ruang tamu rumah saya, lagi-lagi, lapang, jadi sangat cukup membantu proses latihan Peradilan Semu.

Baca Juga : #PDL Makam Sunan Gunung Jati

Tatapan mata hakim ... sadis hahaha.


Awalnya bukan saya yang menjadi hakim. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya saya menjadi Hakim Anggota II. Ciyusss? Padahal saya pengen jadi orang di luar persidangan supaya bisa ngerekam video dan foto-foto. Untunglah ada Martozzo Hann si fotografer yang turut membantu mengabadikan Peradilan Semu itu. Menjadi hakim itu paling mudah karena ... errr ... kasih tahu tidak yaaa hehe. Karena hakim bisa membuka-buka berkas di atas meja jadi tidak seberapa harus menghafal dialog demi dialog. Mana pula berkasnya ketutup sama papan keterangan yang gede itu *ngikik*.

Memerankan hakim memang menyenangkan. Tapi memakai jubah hakim merupakan sesuatu yang lain. Ada perasaan bangga gimanaaa gitu qiqiqi. Lebih bangga lagi karena semua dosen hadir dan benar-benar menyimak proses persidangan dari awal sampai akhir. Luar biasa. Tidak akan pernah terlupakan! Karena kami rajin berlatih, Peradilan Semu tahun 2017 itu betul-betul terlihat sangat alami. Dialog-dialog antara hakim, jaksa, pengacara, terdakwa, saksi, berjalan dengan lancar tanpa kendala. Bahasanya pun bukan bahasa sinetron karena kami memang sudah berjanji untuk harus bisa berimprovisasi dengan bahasa sehari-hari yang lebih lugas alias tidak terlalu terpaku pada naskah yang ada, tapi tidak terkesan terlalu santai di dalam ruang sidang.

Keberatan, Yang Mulia!!!!

Sialnya ... sampai sekarang saya belum mengedit video Peradilan Semu itu. Dududu, untung belum ada yang menagih.

Foto Peradilan Semu kami, masuk di bookleat baru Universitas Flores. Yuhuuuu!


Menulis ini, sambil membayangkan Peradilan Semu mulai dari penyusunan naskah hingga pagelaran, bikin kangen. Hehe. Meskipun ada yang lebih dulu diwisuda tahun lalu, dan sisanya tahun ini, tapi kekompakan kami tidak pernah luntur. Kami masih kongkow bareng di rumah saya sambil gitaran dan ngemil. Kami masih saling terhubung lewat WAG. Kami masih saling membantu satu sama lain. Kami adalah keluarga besar. Sampai-sampai ada adik angkatan yang mengatakan bahwa angkatan kami adalah angkatan paling luar biasa kompak sejak semester satu sampai wisuda. Mereka belum tahu saja bahwa komisaris angkatan kami itu tidak pernah diganti dari semester satu sampai wisuda! Iya, setiap kali saya minta diganti, semua pada protes. Kompensasinya kalau saya mengomel ini itu, mereka tidak boleh protes, hahaha.

Baca Juga : #PDL Pondok Batu Biru Penggajawa

Pernah, saya pernah merasakan menjadi Hakim Anggota II meskipun hanya di sebuah ruang sidang Peradilan Semu.

Bagaimana dengan kalian? Ada yang anak hukum? Bagi tahu donk kisah Peradilan Semu-nya hehe.

Life is good ... isn't it?



Cheers.

#PDL Ngojek Sepeda


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Hari itu, salah satu hari pada tahun 2013, saya janjian sama Ika Soewadji dan teman-teman Blogfam untuk pergi ke Kota Tua Jakarta. Teman-teman Blogfam yang baik hati itu ada Kakak Mas, Kakak Dahlia atau akrab disapa Kakak Day, dan Kakak Diaz. Check point di Terminal Busway Pancoran Timur. Sekitar pukul 08.00 WIB kami sudah berkumpul di situ untuk melanjutkan perjalanan menuju Kota Tua Jakarta. Karena, berkali-kali ke Jakarta tapi belum ke Kota Tua rasanya kok ada yang ganjal. Saya harus menuntaskan ngidam yang satu ini.

Baca Juga : #PDL Braket

Kota Tua Jakarta juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka). 

Perjalanan kami waktu tidak langsung ke Kota Tua Jakarta sih, masih mampir ke sebuah tempat, lalu dilanjutkan dengan mobil ke sana. Saat tiba di Kota Tua Jakarta, yang mengganjal itu kemudian lenyap. Here I am! Tempat yang selalu saya idam-idamkan setiap kali datang ke Jakarta. Mata saya menumbuk Museum Fatahillah. Sebuah meriam berdiri di sisi kiri bangunan museum. Meriam si Jagur. Dari Liputan6, dikatakan meriam seberat 3,5 ton itu, menurut Thomas B. Ataladjar, pengajar jurnalistik dan menulis di SMP dan SMK Plus Berkualitas Lengkong Mandiri, Kota Tanggerang Selatan, dibuat dari peleburan 16 meriam kecil lain. Karena itu, wajar bila si pembuat mengukir tulisan Ex Me Ipsa Renata Sum yang berarti, "Aku diciptakan dari diriku sendiri."

Dan saya diciptakan untuk bisa berfoto dengannya:


Pada meriam ini, bagian ujungnya, ada sebuah simbol yang kalau di Ende orang bilang; kurang ajar. Hehe. Sebuah tangan yang mengepal dengan ibu jari terselip diantara jari telunjuk dan jari tengah. Konon, jika perempuan menyentuh simbil meriam si Jagur, dan sedang berencana punya anak, bisa lekas hamil.

Sudah membuktikan, Teh?

Uh uh. Belum.

Adalah Kakak Diaz atau Kakak Dahlia, I can't remember it clearly, yang menyarankan kita untuk berkeliling menggunakan jasa ojek sepeda. It's weird. Sepeda? Are you sure? Yess, sir! Dari Museum Fatahillah kita berangkat ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Jujur saya memilih, very quick scan, tukang ojek paling muda, kira-kira kuat lah memompa kakinya dengan muatan seberat saya. BismillahTernyata naik ojek sepeda itu menyenangkan. Saya mengeluarkan kamera supaya bisa mengabadikan momen keren ini. Karena, saudara-saudara, di Ende tidak ada ojek sepeda. Bisa depresi tukang ojeknya! Tanjakan dan turunan adalah nama tengah kota kami.


Jelas, ada kekuatiran dalam hati saya, bagaimana jika betis tukang ojeknya tidak mau kompromi? Hehehe. 


Tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa, tukang ojek sepedanya disuruh menunggu. Kami hanya sempat foto-foto sebentar. Saya sendiri tidak bertanya pada beberapa nelayan yang ada di situ. Entahlah. Pemandangan pelabuhan ini bikin saya terkesima; so old, so antique. Asyiknya bisa foto sambil meloncat begini:


Saya penasaran, ke mana kah kaos dan sepatu itu sekarang? :D

Dari Pelabuhan Sunda Kelapa, kita pergi ke Museum Bahari, tentu ojek sepedanya setia menunggu hahaha. 


Terimakasih sudah memotret saya ... terngiang lagu Padamu Negeri. Sebenarnya banyak informasi yang saya gali dari Museum Bahari, dan sempat mencatat beberapa, tapi waktu itu belum sempat menulis secara terpisah. Nanti deh, dicari dulu serpihannya. Oia, setelah dari Museum Bahari kami ke Pecinan lantas pergi mencari makan.

Berakhirnya pengalaman saya bareng tukang ojek sepeda adalah saat kami tiba di sebuah rumah makan masakan Padang. Dadagh abang tukang ojek sepeda.

Ojek sepeda memang tidak sama dengan ojek sepeda motor. Pengalamannya seru apalagi saat sepeda melintasi lubang di jalanan atau saat tukang ojek sepedanya menghindari lubang dan/atau batu. Pegangan di belakang sadel kecil itu cukup membantu. Jangan banyak bergerak dan keliwat kuatir, apalagi sampai teriak ketakutan, karena itu bakal bikin tukang ojek sepedanya gugup. Dan, tentu, ojek sepeda, menurut saya, hanya akan laku di daerah wisata dan/atau wilayah kecil seperti pedesaan yang topografinya datar.

Pernah, saya pernah begitu ... ngojek sepeda di Kota Tua Jakarta. Bagaimana dengan kalian?



Cheers.

#PDL I Can Sleep Everywhere



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempat di luar Kota Ende, 'merusuhi' acara, termasuk perbuatan-perbuatan iseng bin jahil bin nekat.

***

Jum'at barokah. Jum'at, entrance weekend. Dan kalau sudah menulis weekend, pasti berhubungan sama hari pembebasan umat manusia dari rutinitas kerja rodi khususnya orang kantoran yang kudu bekerja dari Senin sampai Jum'at. Meskipun waktu kerja saya Senin sampai Sabtu tapi setiap Jum'at saya tetap bersenang-senang menunggu weekend soalnya Sabtu itu pekerjaan lebih longgar dari weekdays. Oke, prolognya cukup sekian. Biasanya saya bakal lama banget bermain-main di prolog.


Sebenarnya saya sudah berniat untuk tidak meng-update tulisan dalam dua hari ini karena:

1. Mempersiapkan wisuda (besok).
2. Panitia Ema Gadi Djou Memorial Cup 2018. Seperti biasa, anggota panitia Seksi Publikasi dan Dokumentasi.

Tetapi, karena suatu hal, saya tidak tahan untuk tidak bercerita. Jari-jari tangan saya gatalnya minta ampun!

Alkisah, Selasa malam saat pertandingan kedua yang mempertemukan Muthmainah FC dan IM Ertiga FC, saya diserang kantuk yang luar biasa saat sedang duduk di pinggir lapangan Stadion Marilonga bersama Anto Ngga'a. Padahal tidak alasan mendasar kenapa saya mendadak mengantuk begitu karena saya memang tidak biasa tidur siang. Meskipun pagi sampai sore saya bergulat dengan seabrek kegiatan pun tidak dapat membuat saya mengantuk kesorean. Tapi mungkin kegiatan Selasa kemarin rada padat ya, jadi saya sudah cukup lelah padahal baru pukul 20.00an Wita. Itu belum ditambah dengan JMKK.

Maka saya pun pamit pada Anto untuk masuk ke ruangan media center. Semua kursi penuh penumpang; wajah-wajah letih. Wah, mau duduk di mana ini. Eh, mata saya menumbuk seonggok karpet yang ditumpuk di dekat sudut ruangan. Duduk ah ... dari duduk menjadi rebah. Dari rebah menjadi ngorok. Hahaha. Sempat sih dengar Oston, si MC kondang, duduk di dekat saya bermain ML tapi terus saya hilang ke alam gelap. Lelap saja gitu, tanpa mimpi (ngarep mimpi ketemu Ryan Gosling). Thika Pharmantara yang temani cuma bisa melihat dari jauh ... pasrah punya Encim macam begini.


Ternyata aksi tidur itu diabadikan oleh Selfi dengan penuh semangat, lantas mengirimkannya via WA. Ebusyet, saya tidurnya cantik gini:


Kayak putri tidur hahaha.

Saya memang bisa tidur di mana saja. Yess, darling! I can sleep everywhere. Pernah, suatu kali kami serombongan pulang dari pernikahan sahabat kami di Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, jadi #KuliKamera gitu. Di tengah perjalanan saya mendadak ngantuk parah. Tanpa ba-bi-bu saya minta turun di daerah pantai. Tahukah kalian, ketika mata sudah dikuasai kantuk, hamparan pasir hitam itu terlihat seperti ranjang maha empuk? Lempar backpack ke pasir, jadi bantal, rebahan, dan hilang ke alam mimpi. Entah waktu itu mimpi apa, yang jelas saya tidur sampai dua jam lebih, meninggalkan Kakak Pacar, Akiem, dan Effie ternganga di alam nyata.

Pernah juga waktu saya dan Kakak Pacar #KuliKamera di Laja, saya diserang kantuk parah sepagi itu. Begitu tiba di Kecamatan Boawae, lihat masjid, langsung tepar di terasnya! Sampai Kakak Pacar dibangunin sama penjaga masjid, menyarankan saya tidur di dalam saja. Tidak apa-apa katanya. Tapi mana bisa saya bangun? Sudah enaaaak sekali tidurnya hihihi. Pernah juga waktu pulang dari Danau Kelimutu, sedang dibonceng Kakak Pacar, saya diserang kantuk. Sumpah, itu tidak tahan lagi kantuknya. Kakak Pacar meminta saya tidur di pundaknya. Memang tidak bagus, tapi lumayan semenit dua menit, tapi tidak sempurna kan. Tiba di rumah langsung tepar tidak pakai permisi lagi.

Untung ... Kakak Pacar paham :D hihihi.

Kejadian saya ketiduran di sembarang tempat itu, yang paling parah, waktu saya ketiduran di gate dan ketinggalan pesawat dari Surabaya menuju Kupang. Tobat? Maunya tobat. Tapi kalau sudah mengantuk, harus tanggung segala resiko *angkat bahu*.

Pernah, saya pernah begitu. Because I can sleep everywhere. Pernahkah kalian begitu juga? Tidur di sembarang tempat saking tidak tahan kantuk? Bagi tahu donk di komen.


Satu saja doa saya hari ini: bisa tidur lebih cepat, besok tidak terlambat bangun supaya bisa menuju ke salonnya Deth Radja buat make up, dan hadir prosesi wisuda dengan wajah cerah ceria. Aaaaaawwww.

Doakan saya ya :)


Cheers.

#PDL Jalan Malam Keliling Kota

Simpang Lima Ende.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempat di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuatan iseng bin jahil bin nekat.

***

Saya ini orangnya tidak tentu. Kadang spontan, kadang penuh rencana. Ketika saya menjadi begitu spontan (halah, bahasanya) biasanya orang lain yang keki setengah mampus sampai ingin mengeluarkan isi otak saya. Tapi kalau sedang berencana dan orang lain melanggar rencana itu, suasana hati saya langsung memburuk penuh mendung hitam menggantung, tinggal tunggu petir dan guntur mengamuk. Jadi kalau ditanya saya ini tipe seperti apa ... bingung juga hahaha. Sulit mendeskripsikan diri sendiri. Yang jelas saya tidak suka makan orang, tidak suka lelaki, tidak suka tipu-tipu. Tipu itu ... apa ya ... sekali menipu nanti akan terus menipu. Itu menurut saya.


Omong-omong ... eh, nulis-nulis soal spontan dan penuh rencana ini, berkaitan dengan kegiatan jalan malam keliling kota yang seterusnya disebut JMKK (ini istilah dari sahabat saya si Sisi; namanya Sisi). Iya, pernah. Saya pernah jalan malam keliling kota. Demi apa, anak-anaaaak? Demi mengurangi kadar gula dalam darah. Soal bobot yang berkurang banyak, itu super bonus. Sebenarnya, ide awal JMKK ini datang dari Sisi. Tapi dia jalannya siang bolong. What? I can't! Pekerjaan tidak memungkinkan saya jalan siang bolong keliling kota yang kalau disingkat menjadi JSBKK. Soal singkatan ini, jangan pernah menyingkat nama saya karena jadinya PDIP.

Adalah Inggi alias Mei Ing, ya - dia lagi, yang menyarankan saya untuk JMKK. Syaratnya: setelah mandi dan Shalat Subuh Maghrib, JMKK, setelahnya tidak boleh mandi lagi thanks God, dan tidur. Apakah saya melakukannya? Belum. Saat Inggi menyarankan itu, saya masih uring-uringan dan lebih sering menghabiskan waktu di depan teve menonton serial ini itu yang tayang di Fox, AXN, StarWorld, NatGeo. Syukurlah sekarang teve telah tidak dinyalakan di rumah kami.

Lantas ...

Spontanitas itu pun datang ...


Tanpa persiapan, tanpa aba-aba, sore itu (yang saya ingat tahun 2012) saya mengajak asisten Mamatua yang lama yang dipanggil Mamasin (bukan Mamasia) JJMK! Belum selesai wajah melongo Mamasin, belum selesai otaknya mencerna ajakan JMKK yang sangat tiba-tiba itu, saya sudah menyeretnya menuju jalan raya. Tanpa sepatu. Mamasin meringis ingin menangis tapi karena saya mengajaknya mengobrol, sakit pada telapak kaki pun hilang atau dia pura-pura kakinya tidak sakit lagi. Waktu itu memang tidak pakai sepatu karena konon katanya bagusan tidak pakai sepatu.

Mural di Polres Ende. Ende Lio Sare Pawe.

JMKK bersama Mamasin waktu itu dilakukan kontinyu, setiap malam usai Shalat Maghrib, dengan rute yang berganti-ganti. Hari pertama rute-nya yang singkat-singkat saja. Hari berganti hari seolah waktu akaaan malah nyanyi lagunya sinetron Tersanjung haha. Hari-hari berikutnya rute kami menjadi lebih jauh. Yang biasanya hanya satu kilometer JMKK, menjadi enam kilometer. Pokoknya semakin banyak keringat yang keluar, semakin bahagia perasaan saya. Sebahagian kalian yang akhirnya dilamar :p

Apa efeknya?

Efek JMKK sangat luar biasa. 

Efek pertama adalah mengantuk. Setiap kali kadar gula dalam darah meningkat atau berkurang, beberapa penderita diabetes merasa sangat mengantuk + sekali. Parahnya kantuk ini menyerang kapan pun dia mau. Pernah saat sedang mengendarai Oim Hitup (my matic) dari luar kota menuju Kota Ende, saya nyaris keluar dari badan jalan. Tuhan, tolong ... kalian tahu kan kondisi jalan antar kabupaten di Pulau Flores? Kanan jurang, kiri tebing. Kanan tebing, kiri sawahnya orang. Alhamdulillah setelah berhenti sejenak, loncat-loncat, membayangkan wajah Ryan Gosling, saya bisa melanjutkan perjalanan dan tiba di rumah dengan selamat.


Enam bulan JMKK kontinyu, dengan sesekali absen, efek yang lebih kentara di mata orang lain adalah bobot. Haaa? Suara ndenga/sengau antara tidak percaya tapi senang banget sama penilaian orang.

Are you sure?

Really?

Iyess. Bobot saya berkurang ternyata dan itu saya sadari ketika berusaha memerhatikan pakaian di tubuh. Oh, iya agak longgar di sana, di sana, dan di sana. Lemak pipi pada ke mana ya? Artinya, JMKK benar-benar menyukseskan saya mengurangi kadar gula dalam darah. Bonus: bobot berkurang banyak!

Bunga di halaman orang haha.

Lanjutannya ini berhubungan dengan manusia sebagai makhluk lemah ciptaan Tuhan. Sebagai manusia lemah iman, yang suka lekas puas sama hasil, saya kemudian berhenti JMKK. Efeknya? Kadar gula dalam darah kembali naik gara-gara sedikit keringat yang dikeluarkan sejak berhenti JMKK itu. Payah lu Teh. Tentu, ketika kadar gula meningkat saya jadi sering mengantuk juga hahaha. Tapi kengerian sebenarnya bukan pada kadar gula dalam darah, melainkan neuropathy yang kemudian menyerang kedua kaki saya. Awalnya hanya satu jari yaitu jari manis di kaki kiri, akhirnya merambat ke seluruh kaki.

Dan saya masih menertawai betapa bodohnya saya berhenti JMKK waktu itu. Saya tertawa karena untung kaki saya yang mati rasa dan menjadi menjengkelkan kala tidur malam. Bagaimana kalau perasaan saya yang mati rasa?

Bueh.

Setelah itu saya masih saja dengan kebiasaan buruk yakni jarang olahraga. Sering melewatkan jalan sehat mingguan bersama teman-teman kantor. Sering melewatkan ajakan olahraga dari teman-teman lain. Hingga saya mulai diet DEBM pada tahun 2018 kemarin, yang menyebabkan kadar gula dalam darah saya kembali berhasil dirosotkan (APA PULA BAHASA INI) dari 400-an menjadi 50-an. Dan itu tidak boleh. Maka saya kembali mengkonsumsi karbo meski tidak banyak. Efeknya juga ke bobot tubuh. Itu pasti.


Pikir punya pikir, kalau DEBM utuh kadar gula dalam darah saya merosot terlalu jauh, sedangkan saya kembali mengkonsumsi sedikit karbo ... maka saya harus punya solusi lain.

A-ha!

*tring!*

JMKK!

Again.

Spontanitas JMKK kali ini melibatkan Ocha yang mana dia juga senang karena ingin membesarkan betis. Itu katanya Ochaaaa, bukan kata saya hehe. Sudah semingguan JMKK dan efeknya terasa sekali di kaki.

Kalau dulu JMKKnya hanya sambil mengobrol dengan Mamasin, maka sekarang JMKKnya sambil foto sana sini terutama kalau melihat tanaman di rumah orang. Gemas-gemas bergembira lah kita. Beberapa foto JJMK bisa kalian lihat sepanjang membaca pos ini.

Bagaimana dengan kalian? Pernah JMKK juga?


Cheers.

#PDL Pondok Batu Biru Penggajawa

Thika Pharmantara in action di Pondok Batu Biru.

Pulau Flores yang membentang dari Labuan Bajo (Barat) sampai ke Larantuka (Timur) punya titik tengah. Titik tengah Pulau Flores terletak di Kabupaten Ende tepatnya di KM 17 arah Timur Kota Ende, di pinggir jalan raya antar kabupaten se-Pulau-Flores. Titik tengah Pulau Flores ini ditandai dengan sebuah batu mirip menhir bernama Watu Gamba yang oleh penduduk setempat digambarkan sebagai seorang perempuan. Kembaran batu ini bernama Rera Nganggo yang digambarkan sebagai seorang laki-laki. Pada Watu Gamba menempel sebuah prasasti bertulis: Floresweg Geopend. Dapat dilihat pada foto si Regina, adik sepupu saya, di bawah ini:
 
Regina, adik sepupu saya yang menetap di Kota Maumere.

Baca Juga:

Lahir dan besar di Kota Ende, Ibu Kota Kabupaten Ende, membikin saya mudah mengeksplor tempat-tempat wisata yang ada di kabupaten tetangga seperti Taman Laut 17 Pulau Riung dan Kampung Adat Bena di Kabupaten Ngada, hamparan sabana di Kabupaten Nagekeo, pantai-pantai pasir putih di Kabupaten Sikka, mengikuti Semana Santa di Kabupaten Flores Timur, ke Pulau Rinca bertemu sahabat lama si komodo di Kabupaten Manggarai Barat, sampai keliling Pulau Adonara. Tapi, lahir dan besar di Kota Ende bukan jaminan saya sudah mengeksplor semua tempat wisata di Kabupaten Ende meskipun sebagian besarnya sudah saya jejaki seperti:

1. Danau Kelimutu.
2. Mata Air Ae Oka - Detusoko.
3. Pantai Anabhara (pasir putih).
4. Hutan Wisata Kebesani.
5. Pantai Batu Hijau Penggajawa.
6. Kampung Rumah Adat Wologai.
7. Pantai Mauwaru - Arubara.
8. Mendaki Gunung Meja dan Gunung Kengo.
9. Air Terjun Murundao - Moni.
10. Kolibari (bukit pandang) dan Kezimara.

Sepuluh dulu ya, nanti kalian ngiler hahaha. Sepuluh itu pun belum termasuk pantai-pantai di dalam Kota Ende sendiri, Situs Bung Karno, Taman Renungan Bung Karno, Gedung Imaculata, sampai Desa Adat dengan rumah adatnya di Wolotopo.

Yang menarik dari tempat wisata adalah tumbuh subur wisata buatan yang memadukan wisata alam dan kuliner. Salah satunya terletak di Pantai Penggajawa (arah Barat Kota Ende). Tempat ini bernama Pondok Batu Biru - Penggajawa. Kalau ada yang belum tahu, Penggajawa adalah nama desa dan nama pantai, tentu di pinggir laut / pantai tempat batu-batu berwarna hijau, biru, dan lainnya, berserak. Oleh para petani batu, batu-batu ini dikumpulkan dan diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan warna. Batu-batu Penggajawa sudah sampai diekspor ke luar negeri diantaranya ke Eropa.

Salah seorang petani batu.

Batu-batunya unik!

Pondok Batu Biru berkonsep saung pinggir laut/pantai yang dibangun berbagai ukuran (untuk kelompok kecil dan/atau keluarga besar). Pemandangan utamanya jelas laut selatan Pulau Flores, bebatuan Pantai Penggajawa, dan Gunung Meja di arah Timurnya. Pengelola tempat ini tidak saja membangun tempat makan yang bagus tetapi juga spot-spot yang instagramable yang jadi buruan pengunjung, ruang shalat, kamar mandi yang selalu bersih dan stok air bersih yang tidak terbatas, serta menu-menu yang menggigit lidah.

Tangga menuju ayunan pinggir laut.

Ayunan sederhana tapi jadi salah satu magnet terpopuler. 

Ocha dan Stanis.

Setiap kali ke Pondok Batu Biru saya selalu diserang kantuk. Bagaimana tidak? Suasannya yang cozy benar-benar bikin pengen tidurrrrrr. Manapula makanan dan minuman yang dipesan sedang dipersiapkan, jadi sambil ngobrol - sambil tidur-tidur ayam, hehe.

Ini waktu perginya bareng Abah Yudin dan Ryan.

Karena ini pos tentang PDL (Pernah DiLakukan) jadi saya mau cerita bahwa saya sering pergi ke tempat makan Pondok Batu Biru ini baik sama teman-teman DMBC maupun sama teman-teman lainnya atau sama keluarga besar Pharmantara. Saya pernah pergi ke Pondok Batu Biru buat sesi foto-foto. Waktu itu berdua sama si Ocha saya pengen fotoin barang dagangan dengan lokasi berbeda. Si Ocha jadi modelnya *tsaaah*. Maka pergilah kami ke sana, eh si Stanis juga ikut. 
 
Sebelum foto-foto, kita pesan makanannya terlebih dahulu; ikan bakar, ikan kuah asam, tumis kangkung, dan es kelapa.


Ocha dan lembaran Sarung Mangga.

Ocha dan selendang tenun ikat.

Pas banget, usai foto-foto, makanannya pun disajikan di salah satu saung terbesar pilihan kami. Hanya bertiga dan memilih saung terbesar ukuran keluarga besar itu bikin keki, pastinya, hahaha. Makan sambil ngobrol, kuping dibuai debur ombak di pantai, mengasyikkan sekali. Kalau ada yang kurang, kita bakal minta tambah ke pelayannya, "Tambah seporsi ikan bakar donk!" dan lain sebagainya. Selesai makan tidak perlu ke kamar mandi, karena di sekitar saung tersedia tempat mencuci tangan lengkap dengan sabun dan kain lap tangannya.

Pernah, saya pernah begitu, pergi ke tempat wisata untuk foto-foto barang dagangan sambil menikmati wisata alam dan wisata kuliner sekaligus! Kata pepatah: sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Why not?

Sudah beberapa bulan ini tidak ke Pondok Batu Biru, nanti mau ke sana lagi ah :) Kalau kalian sempat ke Ende, coba mampir ke Pondok Batu Biru dan buktikan apa yang sudah saya ceritakan kali ini, tapi awas ketiduran sampai malam! Hahaha. Suasananya bikin ngantuk!



Cheers.