#PDL Kubur Batu di Lamboya



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Menulis ini karena saat ini saya kembali tergabung dalam Panitia Tim Promisi Uniflor (Uniflor: Universitas Flores). Sebuah tim yang dibentuk dan diberikan SK khusus. Bisa bertindak khusus? Tergantung kebutuhan. Hahaha.

Baca Juga: Bikin Video Lip Sync

Apa Itu Tim Promosi Uniflor?


Bukankah Uniflor sudah punya website sendiri dan aneka akun media sosial? Kenapa harus ada tim khusus ini? Karena tim khusus ini lebih 'mengjangkau' masyarakat. Karena, tidak semua murid SMA dan orangtua yang menggunakan internet dan media sosial. Karena, kalaupun mereka menggunakan internet dan media sosial, belum tentu ragam e-poster yang dibagikan itu terlihat dan terbaca oleh mereka. Karena, seperti kata saya waktu masih kerja di radio, iklan adlip lebih pamungkas dari iklan rekaman.


Foto di atas adalah foto-foto ketika saya melakukan promosi Uniflor di Pulau Sumba tepatnya di Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Sumba Tengah.

Siapa-Siapa Saja?


Ada dosen. Ada karyawan, atau di Uniflor lebih sering disebut pegawai. Istilah lainnya, ada tenaga pendidik dan ada tenaga kependidikan. Mereka-mereka yang dilihat mampu berbicara di muka publik dengan magnet yang lumayan kuat untuk menarik minat murid SMA khususnya yang duduk di kelas tiga. Tapi umumnya dosen dan pegawai Uniflor itu pasti mampu berbicara di muka publik karena setiap hari selalu berhadapan dengan (ribuan) mahasiswa.


Foto di atas bukan saya sedang menari loh hahaha. Tapi sedang menjelaskan tentang Uniflor kepada audiens. Cie. Dan cara pertama yang saya pakai adalah menanyakan apakah mereka kenal Rapper Family Clan sebuah grup rap dari Ende? Saya masih ingat betul waktu itu komunikasi langsung berjalan lancar gara-gara banyak dari mereka yang mengidolakan Rapper Family Clan. 

Ke Mana Saja?


Ini yang menarik. Tim Promosi Uniflor dikirimkan ke titik-titik di Pulau Flores. Kami menyebutnya Barat, Timur, Kota, Utara. Hanya pada tahun 2015 saja tim promosi ini menjelajah Pulau Sumba. Saya selalu suka bilang: nantikan kami di sekolah kalian ya!

Apa Kaitannya Sama Pos Ini?


Tahun 2015, seperti yang sudah kalian tahu dari cerita dan tulisan di atas, saya dan lima dosen lainnya (kelimanya laki-laki, jadi saya perempuan seorang dan pegawai seorang haha) berangkat ke Pulau Sumba untuk promosi Universitas Flores. Kami terbagi dalam tiga tim yaitu Tim Sumba Barat Daya, Tim Sumba Barat, dan Tim Sumba Timur. Dua tim pertama kemudian bergabung menuju Sumba Tengah untuk promosi kampus, lantas ke Sumba Timur untuk bersatupadu dengan tim lainnya dan menunggu waktu pulang ke Ende.

Saat berada di Pulau Sumba itu, kami sangat beruntung, karena sempat menyaksikan Pasola yang dilaksanakan di dua kabupaten yaitu di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kabupaten Sumba Barat. Ini fotonya waktu saya menyaksikan Pasola di Lamboya - Sumba Barat:


Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Sehari sebelum Pasola (saat Pasola merupakan hari libur untuk kabupaten yang menyelenggarakannya) saya dan Pak As mengunjungi SMA di Lamboya. Dari SMA itu kami mampir ke bukit tempat kubur-kubur batu berdiri. Di Pulau Sumba, kubur batu dapat juga ditemui di daerah kota. Salah satunya seperti yang kalian lihat pada awal pos. Pemandangan di Lapangan Lamboya (tempat Pasola berlangsung) sungguh luar biasa. 


Lamboya yang cantik, denga jalan tanah/pasir putih (saya lupa menanyakan), dan hamparan bukit menghijau ... jadi mirip bukit-bukit di filem Teletubbies.



Dua foto di atas adalah foto bukit tempat kubur-kubur batu berdiri. Salah satunya yang ada sayanya donk hehe. Waktu mau difoto sambil saya memegangi kubur tersebut, dalam hati saya berkata: kakek, bapak, ibu, nenek, siapapun penghuni kubur ini, saya ijin buat foto, permisi ... Nah, setelah difoto saya masih melihat-lihat kubur batu lainnya dan mata saya menumbuk kubur batu yang tutupannya membuka. Astaga! Ini dia penampakannya:


Ada kain warna merah di situ. Yang lainnya bebatuan kecil, ada tulang juga kalau tidak salah sih hehe. Saya langsung berdiam diri dan berdoa untuk keselamatan mereka-mereka yang ada di dalam kubur-kubur batu di Bukit Lamboya. Karena tugas kita yang masih hidup adalah mendoakan mereka yang telah lebih dulu berpulang, tidak peduli apa agamanya, hehe. Menurut saya, kalau kalian tidak setuju, tidak masalah. Sayangnya waktu itu tidak ada penduduk lokal yang bisa saya tanya-tanya perihal kubur batu. Tidak masalah. Itu pertanda saya harus kembali ke sana untuk melakukannya *maunya!*.

Pernah, saya pernah begitu ... bagaimana dengan kalian?

Oia, jangan lupa bagi adik-adik yang duduk di bangku kelas 3 SMA, khusus area Pulau Flores dan sekitarnya, kuliah di Uniflor yuk! Kali ini saya kembali menjadi panitia Tim Promosi Uniflor yang bertugas di Kabupaten Ende, dan membantu area Mbay dan Mataloko.



Baca Juga: #PDL Piknik Setiap Minggu

Maaf, promosi di blog juga :D



Cheers.

#PDL Bikin Video Lip Sync



Pada zaman masih SMP, waktu itu dinosaurus lagi senang-senangnya main pasir di Pantai Ende, saya doyan banget sama Mili Vanili. Meskipun kemudian terkuak skandal mereka ternyata melakukan lip sync tapi saya tetap gemar mendengarkan lagu-lagu mereka kayak Blame It On The Rain (dinosaurus pun menyambar: yeaaah yeaaah), Girl I'm Gonna Miss You, sampai Girl You Know It's True. Saya bahkan mencatat biografi mereka dari majalah ke sebuah buku. Kurang kerjaan. Ember ... hehe. Nanti akan ada cerita tentang angkot di Kota Ende yang kayak mobil pribadi dan punya soundsystem awesome yangmana salah satu angkot itu paling rajin memperdengarkan lagu-lagu Mili Vanili.

Baca Juga: #PDL Piknik Setiap Minggu

Selain Mili Vanili, prestasi saya saat SMP adalah menerima surat balasan dari Java Jive dan Pulau Biru Production - Oppie Andaresta. Yay! Walkman saya zaman SMP itu kalau bisa protes pasti sudah protes keras gara-gara setiap hari keseringan memutar lagu-lagunya Oppie Andaresta, Mili Vanili, Iwan Fals, sampai kaset kompilasi lagu-lagunya Def Leppard, Bon Jovi, Nirvana, Scorpion, dan setanah-airnya. Kaset terakhir miliknya (alm.) Kakak Toto Pharmantara. Oh ya, walkman-nya ganti dua kali gara-gara ... mungkin gara-gara terlalu sering dipakai haha.

Beruntung foto walkman terakhir ini masih tersimpan, berkat membongkar komputer Pentium II itu:


Kembali ke #PDL ...

Sebenarnya apa sih lip sync itu?

Sederhananya lip sync adalah lip dan sync *digampar masyarakat sekota*. Lip sync adalah sinkronisasi bibir singkatan dari lip synchronisation. Jadi, bukan cuma Android saja yang perlu sinkronisasi supaya tidak sembarangan ngomong dan menyebar hoax tapi bibir juga. Lip sync adalah sikap seseorang seolah benar-benar bernyanyi dengan menggerakkan bibirnya dibarengi lagu yang diputar melalui kaset atau media lain.

Menurut analisa dinosaurus, lip sync ada dua tipe:

Yang Pertama:
Lip sync lagu sendiri yang umumnya dilakukan di video klip dan di panggung (live). Skandal Mili Vanili ini terjadi di panggung, karena tidak mungkin lip sync di video klip dijadikan skandal *ngikik* Selain Mili Vanili, kalian pasti tahu penyanyi lain yang melakukan itu, terutama saat bernyanyi di panggung tidak ada urat leher yang terlihat. Sulit kan ... apalagi kalau penyanyinya berhijab macam saya. Haha.

Yang kedua:
Lip sync lagu milik orang lain cuma karena suka sama lagunya tapi belum bisa menyanyikannya. Kalau bisa menyanyikannya diistilahkan dengan cover. Bicara soal cover song, kalian harus nonton video lagu-lagu yang di-cover sama Ajeng Veran di Youtube! She's so multi-talented!

Yang mau saya ceritakan sekarang adalah tipe kedua, yaitu lip sync karena suka sama lagunya. Lagunya siapa? Lagunya Meghan Trainor yang super seksi itu. Seksi bodinya, seksi suaranya. Haha. Kami kembaran sih, jangan dulu protes, kembaran dalam mimpi maksud saya. Suara Meghan Trainor ini ibarat bumbu penyedap rasa universal, anggap saja ada lah bumbu penyedap rasa universal untuk semua jenis makanan dari gulai hingga cakes, dicampur apa saja pasti enak, kecuali dicampur ke campuran semen dan tanah bakal batako. Dan lagu Meghan Trainor yang paling saya suka berjudul Better When I'm Dancin'.

Maka pada hari itu, suatu sore yang menggairahkan, saya memutuskan untuk membikin video lip sync Better When I'm Dancin', sebuah lagu yang luar biasa memotivasi. Yang perlu saya siapkan adalah sebagai berikut:

1. Latar video.
2. Wardrobe.
3. Kamera.
4. Bedak dan gincu.

Aaawwwwww bedak dan gincu!


Latar belakang video ini adalah lemari pakaian yang ditutupi dengan kain motif ... motif apa ya itu ... kayak macan atau cheetah begitu. Ini kain dikasih sama Dessy, dikasih sebagai hadiah saat saya mulai berhijab (semacam pashmina). Wardrobe, gaya banget menulis ini, hanya dua baju dan dua pashmina. Kamera, saya memilik memakai Canon EOS 600D. Bedan dan gincu ... errr ... hasil menambang koleksi lama dan waktu itu berdoa belum kadaluarsa bedan dan gincunya.

Baca Juga: Sheena dan Bananaque

Kamar saya yang sempit karena kebanyakan lemari itu menjadi lebih sempit karena tripod harus berdiri sempurna. Semua sudah siap. Hidupkan kameranya, diatur dulu, mainkan lagunya, mulai bernyanyi (harus mengeluarkan suara juga meskipun belum sepenuhnya hafal lirik - jadi sambil lihat di laptop). Daaaan saya lupa mengunci pintu sehingga saat sedang beraksi mendadak pintu terkuak dan Kakak Pacar nongol ... dia melongo ... dan berpikir apakah saya tadi saya diajak dinosaurus makan sate binen?

Ndilalah, Kakak Pacar malah mendukung hahaha. Dia memutuskan untuk memegang telepon genggam, lebih dekat ke kamera, agar saya bisa membaca liriknya. 

Dan saya memang sengaja menulis LIPSING bukan LIP SYNC karena ... karena pengen saja haha.


Kalian belum nonton? Rugi dooonk. Sini nonton di Youtube:


Waktu selesai di-render, saya cuma bisa terbahak-bahak sepanjang menontonnya, dan dilirik saja sama Kakak Pacar. Mungkin dalam hati dia bilang: kenapa yaaaa saya bisa jadian sama perempuan ini? Tanggung derita ...


Pernah, saya pernah begitu, membikin video cuma karena suka sama lagunya. Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu donk di papan komentar. Siapa tahu kita bisa saling subscribe di Youtube. Yuuuk.



Cheers.

#PDL Piknik Setiap Minggu



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Tahun 2013 merupakan tahun tersibuk bagi saya karena setiap hari Minggu saya harus, wajib, pergi piknik. Lokasi piknik adalah desa-desa yang berada di Kecamatan Maurole tempat tenda-tenda pengungsi berdiri. Mereka adalah pengungsi dari Pulau Palu'e, sebuah pulau sekaligus gunung berapi aktif bernama Rokatenda. Meskipun secara administratif Pulau Palu'e merupakan bagian dari Kabupaten Sikka namun letak geografisnya lebih dekat dengan Kabupaten Ende; tepat di depan pantai Kecamatan Maurole.

Baca Juga: #PDL Sheena dan Bananaque

Menggalang bantuan dan mengantarkannya langsung ke lokasi pengungsian memang bukan perkara mudah namun semua dilakoni dengan riang-gembira bersama Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT). Setiap Minggu pagi membelah jalanan trans-Flores ke arah Timur lalu ke Utara, pergi-pulang sejumlah 180 sampai 200-an kilometer (terutaman ketika kami menemukan desa terjauh yaitu Desa Aewora), kehujanan sepanjang jalan, menabrak-melindas ular yang menyeberang, hingga malam-malam pukul 22.00 Wita baru kembali dari Kecamatan Maurole dengan kondisi jalan luar biasa horor, karena harus selesaikan pendataan pengungsi tambahan, semua merupakan berkah ... bagi saya. Setidaknya saya tidak nganga di depan laptop hanya bermain game saja atau ketiduran di depan televisi (waktu itu masih nonton televisi) haha.

Rasti adalah anak pengungsi favorit saya. Pertama kali bertemu kondisinya kayak baru keluar dari lumpur. Saya bilang pada Rasti dan anak-anak pengungsi lain yang ada di Desa Aewora itu: Minggu depan Ibu datang, sudah harus mandi bersih, sudah pulang dari Gereja ya! Berikut-berikutnya setiap Minggu dia sudah mandi bersih dan menunggu kami datang ... ada sekotak Ultramilk yang diharapkannya. Busyeeettt ingat masa itu jadi berkaca-kaca mata saya hahaha. Lebih sedih lagi ketika suatu kali datang SMS ke telepon genggam jadul saya dengan isi: IBU, KAMI BERAS HABIS.


Sumpah, menulis ini saya jadi kangen sama Rasti! Sudah hampir lima tahun, apa kabarnya dia ya sekarang. Jadi pengen pergi ke sana lagi, dari desa ke desa ...


Saya dan komunitas kami berhenti pergi ke Kecamatan Maurole setelah semua dana bantuan diserahkan. Setiap hari Minggu kami menyewa satu pick up untuk mengangkut paket-paket sembako dan kebutuhan wanita yang sudah di-packing dalam kresek sejumlah kepala keluarga yang terdata dengan sangat lengkap.

Jadi, kalau mau dirunut, pertama kali terjadi letusan Gunung Rokatenda itu, kami hanya mengumpulkan dana sejumlah Rp 1.750.000 saja. Kami belikan apa saja yang sekiranya dibutuhkan terutama sembako. Setelah itu, pergerakan ini meluas menjadi #1MugBerasUntukRokatenda. Ini gagasan saya gara-gara kesal melihat orang beraksi seribu lilin (di Monas) untuk korban anak NTT yang tewas dalam suatu peristiwa di Jogjakarta. Bukannya saya tidak peduli pada nyawa manusia, tapi yang sudah meninggal alangkah baiknya didoakan, yang masih hidup alangkah baiknya diperhatikan kebutuhannya bukan? Sambil tiduran siang saya tidak menyangkan hashtag itu kemudian viral se-Indonesia bahkan hingga ke mahasiswa asal NTT di Australia yang mengumpulkan bantuan hingga 60juta.

Berikutnya, hanya melalui media sosial saja bantuan yang terkumpul mencapai ratusan juta. Kami memutuskan untuk tidak memberikan sumbangan berupa uang, melainkan kebutuhan dasar dan kebutuhan lanjutan dari para pengungsi. Cara pertama adalah mendata setiap desa ada berapa kepala keluarga, berapa perempuan, berapa anak-anak, dan berapa manula. Setelah itu setiap malam minggu kami bergelut dengan beras, minyak, gula, sampai keperluan kebersihan dan pembalut! Rumah saya jadi beraroma deterjen. Hahhaha. Sumpah! Setiap dos sudah berisi tas kresek yang berisi beras sejumlah kepala keluarga, di luar dos ditulis Desa Niranusa sampai Desa Aewora.

Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Selain itu, kami juga menyumbang kebutuhan lain seperti:

1. Benang bakal tenun ikat.
2. Bibit sayur dan cabe.
3. Bahan membuat pukat (untuk melaut).
4. Pakaian (bekas).
5. Kompor, penggorengan, panci, tikar, hingga ceret dan selimut.

Dan tentu saja, untuk stress healing kami punya Oskar Kappa yang adalah pengasuh Sekami Gereja Kathedral Ende, yang punya segala cara untuk menghibur anak-anak pengungsi dengan beragam permainan edukatif. Jadwal saya berubah hampir selama setahun: setiap Jum'at atau Sabtu pagi ke toko grosir milik sahabat saya Peny Kamadjaja untuk membeli semua kebutuhan, dan setiap malam Minggu bergulat dengan pengepakan.


Masih banyak kisah tentang para pengungsi yang ingin saya ceritakan tetapi tentu tidak cukup satu pos saja. Saya sedih, kawan. Sangat sedih. Sampai kemudian kisah ini diterima sebagai salah satu kisah inspiratif untuk Linamassa 3, saya tahu bahwa kita semua dapat melakukan perubahan yang baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Tidak perlu harus menadah tangan ke pemerintah, tapi secara mandiri melalui sebuah komunitas blogger pun bisa. Kami bisa, kenapa kalian tidak bisa? Harus bisa juga dooonk *ditimpuk*. Tapi setiap orang pasti punya caranya masing-masing. Komunitas kami selalu punya slogan: lewat langkah kecil yang kita bisa lakukan.

Yang paling tidak terlupakan sampai menulis ini pun saya menangis (hari itu pun demikian sepanjang jalan saya menangis) adalah setiap kali selesai membagikan bantuan dan kami hendak pamit, mereka menatap kami terharu dan berkata: Semoga Tuhan selalu melimpahkan kebaikan untuk kalian semua, selalu hati-hati di jalan karena perjalanannya jauh, semoga kita bisa ketemu lagi. Saya dan salah seorang anggota Komunitas Blogger NTT yang saya bonceng waktu itu menangis sepanjang jalan sampai kami tiba di sebuah rumah makan langganan untuk mengisi perut yang keroncongan.

Oia, selain mengantar bantuan, kami juga mendekati SMA di Kecamatan Maurole untuk seminar tentang blog dan internet.


Pernah, saya pernah melakukannya, piknik setiap hari Minggu di lokasi pengungsian, menanti segelas kopi yang ditawarkan oleh Mama Muna si koordinator pengungsi, dan menolak ikan dari pengungsi karena mereka lebih membutuhkan.

Baca Juga: #PDL Menulis Tentang Toleransi

Akan ke sana lagi ... apa kabar Rasti?



Cheers.

#PDL Sheena dan Bananaque

Senyum yang sama, jangan-jangan kami kembar yang lahir beda tempat. Dia di Denmark, saya di Ende. Haluuuuu ... haha.



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

15 Oktober 2014 saya di-mention oleh beberapa akun di Twitter antara lain akun @DuaRansel dan akun @LostPacker. Ceritanya Kakak @DuaRansel punya seorang teman traveler bernama Sheena, wisatawan asal Denmark, yang semacam terdampar di Kota Ende karena bis yang seharusnya dia tumpangi menuju Kota Bajawa telah berangkat meninggalkannya di Terminal Ndao (terminal Barat dari Kota Ende). Bang Tekno si pemilik akun @LostPacker merekomendasikan nama saya kepada @DuaRansel. Kebetulan waktu itu saya juga sedang lowong, jadi gayung pun bersambut.


Baca Juga: #PDL Mimpi yang Terwujud

Akhirnya saya dan Sheena terhubung melalui jalur telepon dan pesan singkat. Saya menjelaskan padanya bahwa saya akan menjemput menggunakan motor matic dan kondisi Pohon Tua (rumah saya) tidak seperti kondisi rumahnya di Denmark sana jadi mohon dimaklumi. Bagi Sheena semua itu no problem dia justru berterimakasih karena saya mau menyediakan Pohon Tua sebagai tempatnya bermalam. Pohon Tua memang bukan istana, kondisinya pun biasa-biasa saja, dengan kamar terbatas sehingga kalau ada tamu saya yang tidur di ruang tamu haha, tapi Pohon Tua telah lama menjadi tempat menginap para traveler yang berkunjung ke Ende. Selama mereka menerima kondisi Pohon Tua, ayo saja lah.

Sheena: Mahasiswi asal Denmark yang Santun


Saya menjemput Sheena di Terminal Ndao. Dia tidak seorang diri melainkan ada satu dua supir mobil mobil travel yang menawarkannya paket transportasi ke Kota Bajawa. Tapi Sheena sudah bertekat untuk bermalam di Kota Ende, tepatnya di rumah saya. Saya maklumi kalau ada satu dua supir yang betah mengobrol dengannya, menawarkan paket transportasi ini itu, karena Sheena ini good looking banget! Ditambah dia sendirian. Tapi jangan kuatir, Orang Ende sopan dan ramah kok, kalau mereka suka mengobrol berlama-lama dengan Sheena anggap saja sekalian menyegarkan mata hahaha.

Singkat kata tibalah kami di rumah. Setelah kenalan sama Mamatua dan Mamasia, Sheena malah betah mengobrol bersama dua anggota International Congklak Tournament itu meskipun Mamatua kebanyakan bilang yess dan no sedangkan Mamasia hanya melongo dengan wajah ngomong-apa-sih-mereka. Kesempatan itu saya manfaatkan dengan meminta ijin Sheena untuk Shalat Ashar terlebih dahulu sebelum dia bebersih dan istirahat.

Tapi Sheena memilih untuk tidak beristirahat. Kami mengobrol tentang rencana sore itu serta mencari kontak supir bis rute Kota Bajawa. Satu hal yang membikin saya mengangkat jempol adalah ketika Sheena berkata bahwa dia perlu membeli celana jin satuuu saja karena celana yang dibawanya itu celana pendek dan/atau legging. Masalahnya perjalanan selanjutnya akan mengantar dirinya ke Provinsi Nusa Tenggara Timur dan menurutnya mayoritas masyarakat di sana itu Muslim sehingga sangat tidak sopan jika dia memakai celana pendek. Saya sampai mengorek kuping kuatir salah dengar. Hahaha. Saya menjelaskan bahwa di Kota Ende pun demikian adanya; bagian pesisir pantai dihuni oleh mayoritas kaum Muslim. 

Ketika remaja kita berlomba-lomba memakai celana umpan (celana super pendek atau hot pants), kadang tidak kenal situasi dan kondisi, Sheena malah berpikir sebaliknya.

Sore itu kami pergi ke toko pakaian membeli satu celana jin untuknya. Sheena mengucapkan banyak terima kasih hahaha padahal kan dia yang bayar sendiri. Lalu saya mengajaknya ke Kampus III Uniflor, tepatnya di puncak Gedung Rektorat, untuk melihat lanskap Kota Ende dari ketinggian. Betapa senangnya Sheena. Tawaran menikmati sunset di Pantai Ende pun di-iya-kan dengan lekas. Setidaknya dia tidak hanya ngetem di dalam rumah kan. Di Pantai Ria kami ditraktir oleh teman-teman yang lagi nongkrong pula di sana: pisang goreng + sambal dan teh. 


Malam hari kami sudah tiba di rumah dan Mamatua mulai ribut karena berpikir saya belum mengajak Sheena makan malam. Kata Mamatua, "Tuan rumah itu harusnya ajak tamunya makan, jangan sampai tamunya kelaparan!" Duh Mamatua ini hahaha. Maka kami pun makan malam bersama dan meneruskan upaya mencari bis untuk Sheena agar besok pagi-pagi sekali dia bisa berangkat ke Kota Bajawa. Untunglah supir bis kemudian bisa dihubungi. Urusan bis pun beres. Dipastikan Sheena bakal dijemput di rumah saya. Tapi saya lantas teringat ini bule sarapan apa besok pagi. Saya menawarkan roti seribuan untuk sarapannya dan dia mengangguk cepat sambil bilang terima kasih. Mungkin kata ucapan terima kasih sudah mendarah daging jadi sedikit-sedikti dia pasti bilang terima kasih. Kenapa roti seribuan? Karena malam sudah larut dan tetangga saya hanya menjual roti yang seribuan itu hahaha. Roti saya beli Rp 10.000. Karena Sheena tidak minum kopi maka saya tawarkan saja teh panas.

Sebelum tidur malam itu kami bercerita banyak hal. Sheena adalah mahasiswi di Denmark yang juga punya keluarga di Filipina. Dia bercerita tentang kehidupan keluarganya di Filipina serta olahan pisang yang sering dibuat di sana; gara-gara sorenya makan pisang goreng. 

Bananaque


Bananaque, menurut penjelasan Sheena merupakan panganan asal Filipina dengan proses pembuatan yang super gampang. Pisang dikupas, lantas digeprek, dan dibakar/panggang. Untuk memakannya tergantung selera. Bisa kosongan, bisa disiram madu, bisa disiram cokelat dan keju, mana-mana suka. Saya bilang pada Sheena kalau pisang olahan seperti itu mirip sama panganan pisang Epe khas Makassar (CMIIW). Karena saya pernah membikinnya juga bersama Pedro, teman asal sana. Yang enak itu kuah pisang Epe-nya. Wuih gurih-gurih gimana gitu.

Baca Juga: #PDL Menulis Tentang Toleransi

Saya pernah bikin bananaque, kemudian, dan menyiramnya dengan susu cokelat. Rasanya? Ya tetap rasa pisang dooonk, mana mungkin berubah jadi rasa yang pernah ada. Haha.

Always Connected


Keesokan pagi, pukul 06.30 Wita, setelah sarapan bis pun datang menjemput. Dadagh Sheena, sampai ketemu di lain waktu. Kami masih terus berhubungan lewat pesan singkat sampai dia tiba di Kota Bajawa dan lantas melanjutkan perjalanan terus ke arah Barat Indonesia, hingga dia pulang ke negaranya. Sampai sekarang kami masih terhubung lewat media sosial Facebook hahaha. 

Yang lucu, di Ende tepatnya di daerah Ndona ada sebuah desa bernama Koponio. Oleh teman-teman yang berasal dari Koponio, nama itu diganti dengan Copenhagen. Suatu saat teman saya, Mila Wolo, membuat status sedang berada di Copenhagen bersama Tuteh Pharmantara. Secepat kilat Sheena mengirim inbox pada saya, mengira saya betul sedang berada di Copenhagen, dan dia bakal menjemput ... saya ngakak sejadi-jadinya. Untunglah Sheena ini mudah memahami penjelasan saya yang kebanyakan muter sana sini (ngomong bahasa Inggris memang tidak mudah haha). Saking muternya, urat mata nongol satu satu.


Pernah, saya pernah melakukan itu, menjemput seorang traveler mancanegara dan mengajaknya menginap di rumah kami. Efeknya untuk Mamatua adalah kalau ada teman saya yang datang ke rumah mendadak Mamatua (tak ada angin tak ada hujan) bertanya, "Non eee, kau pu teman yang dari Denmark nama Sheena tu apa kabar e dia sekarang?" Huhuhu demi kai fonga ozo imu ja'o ne Ende mbe'o, ja'o zatu ozo imu mai Denmark mogha. Hahaha. 

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernahkah kalian mengalami hal serupa? Bagi tahu yuk di komen.



Cheers.

#PDL Mimpi Yang Terwujud

Foto diambil dari Tokopedia.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Siapa tidak kenal Ivan Nestorman? Rasa-rasanya semua masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pasti tahu sosok lelaki berciri khas panggung rambut gimbal ini. Sejak lagu Mogi dirilis oleh lelaki keren ini, hingga dipopulerkan lagi oleh Mario Klau, saya sudah jatuh cinta ... padanya. Auranya begitu mempesona. Suaranya ... apalagi!

Baca Juga: #PDL Ini Bukan Cyber Crime

Beberapa kali Ivan Nestorman atau Om Ivan tampil di Ende, Adi Mbuyk dari Majesty Event Organizer sudah berjanji bakal mempertemukan kami supaya saya bisa punya satuuuu saja foto bareng Om Ivan. Ya, Adi dan EO-nya itu sering menampilkan artis-artis seperti baru-baru ini Type-X dan Zamrud. Tapi sayangnya setiap kali Om Ivan tampil di panggung-panggung besar di Ende, saya malah tidak pergi menonton, atau setidaknya menunggu di backstage. Tidak sama sekali. Huhuhu.


Yang lebih parah, Bapa Harry Ndb pernah mengabari saya kalau Om Ivan sedang makan siang di rumah beliau, sehingga apabila hendak foto-foto bareng Om Ivan, silahkan datang saja. Apakah saya datang? Tidak. Entah kenapa hari itu kaki ini beraaaat sekali melangkah ke rumah Bapa Harry.

Ini kan lucu. Saya yang mau, saya yang selalu punya alasan.

Dasar orang aneh!

Sampai kemudian perhelatan penutupan EGDMC mendatangkan Om Ivan untuk tampil di panggung ... saya seperti kesetrum haha. Dengan perasaan meletup-letup, saya membaca pesan WA dari Bapa Harry, yang menyuruh saya ke panggung (saat itu sedang latihan tertutup). Hyess! Akhirnya ... bisa juga berpose bareng penyanyi favorit saya yang satu ini.


Bonus: saya bisa berpose bareng Awi, penyanyi bersuara SUPER KETJEEEEE. Kalian harus dengar sendiri Awi bernyanyi. Dahsyat gilelu! Kagum banget pokoknya saya mah kalau dengerin Awi beraksi di panggung. 



Pernah, saya pernah begitu, ngotot pengen foto bareng penyanyi idola tapi malah selalu punya alasan. Ketika akhirnya mimpi itu terwujud ... ya asyik lah.

Baca Juga: #PDL Menulis Tentang Toleransi

Bagaimana dengan kalian?



Cheers.

#PDL Mimpi Yang Terwujud

Foto diambil dari Tokopedia.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Siapa tidak kenal Ivan Nestorman? Rasa-rasanya semua masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pasti tahu sosok lelaki berciri khas panggung rambut gimbal ini. Sejak lagu Mogi dirilis oleh lelaki keren ini, hingga dipopulerkan lagi oleh Mario Klau, saya sudah jatuh cinta ... padanya. Auranya begitu mempesona. Suaranya ... apalagi!

Baca Juga: #PDL Ini Bukan Cyber Crime

Beberapa kali Ivan Nestorman atau Om Ivan tampil di Ende, Adi Mbuyk dari Majesty Event Organizer sudah berjanji bakal mempertemukan kami supaya saya bisa punya satuuuu saja foto bareng Om Ivan. Ya, Adi dan EO-nya itu sering menampilkan artis-artis seperti baru-baru ini Type-X dan Zamrud. Tapi sayangnya setiap kali Om Ivan tampil di panggung-panggung besar di Ende, saya malah tidak pergi menonton, atau setidaknya menunggu di backstage. Tidak sama sekali. Huhuhu.


Yang lebih parah, Bapa Harry Ndb pernah mengabari saya kalau Om Ivan sedang makan siang di rumah beliau, sehingga apabila hendak foto-foto bareng Om Ivan, silahkan datang saja. Apakah saya datang? Tidak. Entah kenapa hari itu kaki ini beraaaat sekali melangkah ke rumah Bapa Harry.

Ini kan lucu. Saya yang mau, saya yang selalu punya alasan.

Dasar orang aneh!

Sampai kemudian perhelatan penutupan EGDMC mendatangkan Om Ivan untuk tampil di panggung ... saya seperti kesetrum haha. Dengan perasaan meletup-letup, saya membaca pesan WA dari Bapa Harry, yang menyuruh saya ke panggung (saat itu sedang latihan tertutup). Hyess! Akhirnya ... bisa juga berpose bareng penyanyi favorit saya yang satu ini.


Bonus: saya bisa berpose bareng Awi, penyanyi bersuara SUPER KETJEEEEE. Kalian harus dengar sendiri Awi bernyanyi. Dahsyat gilelu! Kagum banget pokoknya saya mah kalau dengerin Awi beraksi di panggung. 



Pernah, saya pernah begitu, ngotot pengen foto bareng penyanyi idola tapi malah selalu punya alasan. Ketika akhirnya mimpi itu terwujud ... ya asyik lah.

Baca Juga: #PDL Menulis Tentang Toleransi

Bagaimana dengan kalian?



Cheers.

#PDL Menulis Tentang Toleransi



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi dengan nilai toleransi antar umat beragama yang tinggi. Mungkin saat membaca ini jauh di dalam hati kalian berkata: bukan cuma di Provinsi NTT saja kaliiiikkkk. Berikanlah saya kesempatan untuk sombong banyak. Karena kalau sombong sedikit kan nanggung. Dan tentu saja, Kabupaten Ende pun boleh ditulis sebagai kabupaten kiblat toleransi. Pernah, saya pernah menulis artikel opini yang dimuat di Rubrik Suara Uniflor pada harian lokal Flores Pos. Foto artikel tersebut bisa kalian lihat pada gambar berikut ini:

Baca Juga: #PDL Wreath Buat Kado Natal


Artikel opini tersebut membikin telepon genggam saya kebanjiran pesan singkat dari para pembaca Flores Pos sedaratan Flores dan sekitarnya. Karena ini opini pribadi, saya hanya bisa bilang terima kasih kepada para pengirim SMS, dan mengajak mereka berdoa bersama agar kondisi yang baik ini terus terjaga selamanya. Di NTT kami hanya pusing kalau air PAM tidak mengalir, anak-anak tidak pergi ke sekolah dan nilai pelajaran mereka anjlok, hingga mendukung Gubernur NTT yaitu Bapak Viktor Laiskodat agar tidak ada lagi masyarakat NTT yang bekerja di luar negeri. Mari baku sayang.

Sebenarnya hari ini hanya ingin menulis itu. Hehe. 

Daaaan ...

Tadi saya sudah selesai menginstal Kandang Natal di ruangan UPT Publikasi dan Humas Uniflor yang bakal diikutkan lomba. Penilaiannya besok setelah jalan sehat dan senam bersama. Yang membikin saya senang adalah harapan jadi juara setelah Sabtu kami bakal libur panjang sampai tahun baru! Yuhuuuu. Belum apa-apa sudah mulai terima pesan WA dari teman-teman. Ada yang mengajak jalan-jalan ke arah Utara Pulau Flores, ada yang mengajak ke Mbay hari Minggu nanti, ada juga yang jauh-jauh hari sudah memesan saya (kayak barang lah saya ini) buat temani dia menginap di Manulalu; sebuah penginapan ketje yang berdekatan dengan Kampung Ada Bena.

Nantilah ... diatur waktunya.

Baca Juga: #PDL Ngopi Tjakep

Oia, ini foto penampakan Kandang Natalnya:


Oh iya, saya juga ingin mengucapkan terimakasih kepada Dinas Pariwisata NTT dan Sekolah Musa yang telah memilih foto saya yang diikutkan dalam lomba foto menjadi salah satu foto favorit. Yuhuuuu hehehe. Berkah akhir tahun memang luar biasa ya, jeung qiqiqi. Hidup ini memang penuh misteri. Lomba Blog tentang pariwisata yang saya yakin bisa meraih juara malah tidak juara. Lomba foto yang saya tidak yakin bisa meraih juara satu pun, malah juara hahaha. Nikmat betul misteri ini :D

Baiklah, demikian saja ... selamat menyambut liburan semuanya. Apabila kalian ingin mengisi liburan dengan traveling, traveling lah ke blog saya ini haha.



Cheers.

#PDL Kebiasaan Menggigit Kuku yang Ternyata Bahaya


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Kuku-kuku di dinding
Diam-diam me ra yap
Datang seekor nyamuk
Hap! Eh meleset ...

Karena ternyata si kuku tidak punya lidah seperti si cicak dan tetangga jauhnya cicak yaitu si dinosaurus, jadi waktu di-HAP! Me-le-set saudara-saudara. Yang sabar ya.

Baca Juga: #PDL Ngopi Tjakep

Kelas Blogging Online telah memasuki kelas ketiga dengan materi yang sudah dipelajari dan dipraktekkan. Materi tersebut antara lain Membikin Blog di Blogger, Mengenal Dashboard dan Fungsi Panel Masing-Masing, hingga Niche Blog. Adalah kebanggaan ketika peserta kelas sudah membikin blog di Blogger dan mulai memperbaiki blog mereka hingga mengenal meta data. Lalu apa hubungan antara Kelas Blogging Online dengan kuku yang gagal meng-HAP seekor nyamuk di atas? 

Sari Kuku Dinosaurus
*mengedip dari balik kaca mata hitam*

Sari kuku dinosaurus ini menjadi viral di Kelas Blogging Online gara-gara saya membikin contoh tentang permalink atau tautan permanen. Bagaimana link sebuah pos itu dapat diubah sehingga tidak mengikuti judul yang terlalu panjang. Blogger memang melakukan itu!


Gara-gara itu, saya usil mencari-cari di Google, adakah orang lain yang juga pernah menulis iseng, buat lucu-lucuan, tentang sari kuku dinosaurus? Ternyata tidak ada. Saya malah terdampar di situs Qupas yang membahas tentang bahaya menggigit kuku! Are you sure??? Bukankah menggigit kuku itu suatu perbuatan yang menyenangkan, apalagi kalau sebelum digigit, kukunya dicelupin ke Nuttela terlebih dahulu? Haha. Sepanjang yang saya tahu, menggigit kuku bakal bikin kuku menjadi rusak karena gigi kita tidak setajam gunting-kuku. Tapi ternyata bahaya kebiasaan ini bagi kesehatan lebih menakutkan dari penampakan fisik kuku yang rusak akibat digigit. Qupas ini memang cocok sama namanya. Banyak hal yang dikupas tuntas di situs itu.

*garuk-garuk kepala dinosaurus*

 Adiknya dinosaurus; si komodo, nyempil. Haha.

Ceritanya, sebagai manusia yang tak luput dari dosa, gigi saya ada yang berlubang. Salah satu lubangnya itu nyempil diantara gigi. Apabila ada makanan yang terselip, sementara tidak ada tusuk gigi, saya bakal pakai kuku jari kelingking untuk diselipkan di situ agar sisa makanannya terdesak keluar. Paling ekstrim saya pernah pakai kuku ibu jari. Parahnya, saya bersihkan pula sisa makanan yang menempel di kuku dengan gigi! Kan jorok itu. Ember ... tapi saya pernah melakukannya. Bukan pernah ... tapi sering!

Dan ini ... errr ... kuku tangan ya. Bukan kuku kaki. Kuku kaki? Sabar dulu, posisi otak saya bergeser sekian inci nih gara-gara membayangkan menggigit kuku kaki.



Jadi, apa saja bahaya menggigit kuku; termasuk bahaya mengganti tusuk gigi dengan kuku? Dari situs Qupas, ini dia bahaya menggigit kuku.

Cekidot!

1. Menyebabkan Bau Mulut


Kenapa menggigit kuku bisa bikin bau mulut? Ternyata hal itu disebabkan serpihan kuku akan menempel pada rahang dan rongga-rongga gigi. Kemudian bercampur dengan air liur serta materi lainnya sehingga menyebabkan bau mulut menjadi sedikit aneh. Siapapun pasti tidak ingin mulutnya bau kan.


Mana asyik, ketika sedang mengobrol sama si dia, mendadak si dia menutup hidungnya. Menyakitkan.

2. Meningkatkan Risiko Kerusakan Gigi


Jangan dibiasakan menggigit kuku, karena hal ini ternyata bisa merusak gigi. Karena, ketika ada serpihan kuku yang menempel pada gigi, maka tanpa disadari akan merusak bagian tubuh ini secara perlahan. Pada akhirnya lebih mudah bolong dan terasa nyeri. Sakit gigi jauh lebih sakit dari sakit hati. Salam, dari orang yang sering merasakan sakit gigi.

3. Mengganggu Pencernaan


Seperti diketahui, di dalam kuku menyimpan begitu banyak bakteri. Jadi ketika kamu memiliki kebiasaan menggigitnya, maka sama saja kamu mempersilakan bakteri itu untuk masuk ke dalam tubuh. Akibatnya, bakteri akan membuat organ cerna terganggu. Tidak ada satupun manusia yang mau organ pencernaannya terganggu kan?

4. Menyebabkan Iritasi Tenggorokan


Material dari kuku itu sifatnya keras dan tajam. Ketika tanpa sengaja serpihannya masuk ke dalam mulut dan tertelan, maka itu bisa menjadi sebuah kesalahan fatal.

Sebab, kuku bisa membuat luka pada tenggorokan hingga akhirnya terjadi iritasi.

5. Menyebabkan Berbagai Penyakit


Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kuku mengandung begitu banyak bakteri sehingga jika masuk ke dalam tubuh maka bakteri tersebut akan menyebar. Akibatnya, risiko terkena penyakit pun semakin besar.

6. Bentuk Kuku Menjadi Tak Karuan


Perlu diketahui juga, kebiasaan mengigit kuku juga berdampak pada bentuknya. Karena, seperti yang sudah saya tulis di atas, gigi kita bukanlah gunting kuku yang memang dibikin khusus untuk merapikan kuku.




Jangan lagi menggigit kuku atau memasukkan kuku ke dalam mulut seenak hati karena sangat berbahaya bagi kesehatan.

Termasuk saya, menjadikan kuku sebagai pengganti tusuk gigi. Awwww. Ngeri membayangkan saat menyelipkan kuku diantara gigi kemudian ada yang tertinggal di sana seperti bakteri dan/atau serpihan kuku itu sendiri. Sumpah, sebelumnya saya tidak pernah membayangkan bakal nemu artikel tentang bahaya menggigit kuku ini di Qupas, dan tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaan buruk saya itu bisa berakibat fatal. Semua gara-gara sari kuku dinosaurus haha.

Baca Juga: #PDL Pondok Batu Biru Penggajawa

*tertunduk lesu*

Pernah, saya pernah begitu ... bagaimana dengan kalian? Pernahkah kalian mengganti tusuk gigi dengan kuku? Pernahkah kalian menggigit kuku dinosaurus sendiri? Kalau pernah ... berhenti dari sekarang! Dan, jangan lupa bagi tahu di papan komentar.

Semoga bermanfaat.


Cheers.

#PDL Menjadi Hakim Anggota

Coba tebak saya yang mana? Hehe.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Peradilan Semu mungkin terdengar asing di kuping teman-teman mahasiswa/i fakultas lain. Sama juga, PPL bagi mahasiswa/i FKIP pasti asing pula di kuping mahasiwa/i Hukum. Tapi bagi anak hukum, Peradilan Semu sudah mulai bergaung sejak semester awal. Bagaimana tidak? Mahasiswa/i baru mau tidak mau pasti melihat kakak-kakak semesternya berlatih di ruangan khusus berdinding hijau yang disebut Ruang Sidang Peradilan Semu dengan ekspresi wajah tokoh pengacara yang menggebu-gebu kayak pengen terkam dinosaurus. Sayangnya, ruangan tersebut terlalu sempit sehingga Peradilan Semu di kampus kami lebih sering digelar di Aula Fakultas Hukum (Universitas Flores). Yang penting tetap di aula sendiri kan hehe.

Baca Juga : #PDL Blog Travel

Peradilan Semu merupakan salah satu mata kuliah wajib pada Fakultas Hukum yang harus dipenuhi sebagai syarat sebelum mengajukan proposal penelitian (dan skripsi). Tahun lalu, saya dan teman-teman sungguh merasakan letihnya mengumpulkan anggota seangkatan dalam WAG, memilih kasus, menyusun peradilan, makan-makan, latihan, makan-makan lagi, latihan lagi, makan-makan terus, hingga pagelaran. Kok banyak makan-makannya? Semua kerja keras itu terbayarkan. Bukan karena nilainya bagus banget tapi karena proses menuju semakin mengeratkan kami. Arti kebersamaan itu tidak bisa dibayarkan dengan Dollar. Tapi kalau Rupiah, boleh lah *dikeplak sepatu*

Mengumpulkan para pemeran hahaha :D


Kasus yang kami pilih pada tahun 2017 kemarin adalah kasus tentang penganiayaan yang berakibat pada matinya orang. Matinya orang!? Heloooow are you sure? Tidak bisa pakai bahasa yang lebih sopan misalnya meninggalnya manusia? No no no. Kalau ada yang kuliah hukum pasti bakal cekikikan membaca ini. Sama seperti matinya orang, di dalam 'kamus' hukum pun tidak dikenal istilah pernikahan. Kata yang dipakai adalah perkawinan. Jadi, saya hanya bisa senyum-senyum kalau ada teman yang bilang: nikah dulu baru kawin. Karena bagi kami: kawin adalah segala-galanya seperti Perkawinan Beda Agama, Perkawinan Campur (antara WNI dengan WNA), Perkawinan di Bawah Tangan, dan seterusnya.

Sebenarnya kami ingin mengangkat kasus Jessica-Mirna tetapi karena menyusunnya betul-betul luar biasa sulit, sesulit proses aseli pengumpulan bukti hingga tidak adanya pengakuan dari terduga yang kemudian menjadi terpidana, akhirnya kami mengubah kasus.

Kembali pada penganiayaan yang berakibat pada matinya orang ...

Kasus ini, murni disusun sendiri alias bukan menjiplak karya Peradilan Semu sebelumnya, adalah tentang suami yang menganiaya isterinya sampai meninggal dunia. Pada saat rembug tentang kasus ini kami saling silang pendapat tentang pasal apa yang mau dipakai untuk menjerat si suami. Akhirnya dipakai dua pasal untuk mendakwa.

Primair:
Pasal 44 ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Subsidair:
Pasal 351 ayat (3) KUHP.

Baca Juga : #PDL I Can Sleep Everywhere

Selain itu kami juga harus memikirkan jumlah anggota dan jumlah tokoh: hakim, jaksa, pengacara, terdakwa, saksi, petugas, Pastor dan Ustadz (untuk sumpah), dan lain sebagainya. Termasuk harus betul-betul memikirkan tentang barang bukti yang akan dipakai.

Makan, makan lagi, lagi-lagi makan.


Proses penyusunan berkas/naskah persidangan membutuhkan waktu yang cukup lama. Semua dilakukan di rumah saya yang kebetulan ruang tamunya lapang. Jadi, kami memasang proyektor yang ditembak ke dinding rumah. Beberapa orang bertugas, tentunya kecepatan mengetik harus setara cahaya, untuk mengetik naskah yang disusun bersama itu. Bayangkan, kami menyusun sepuluh persidangan yang dimulai dari sidang pembacaan dakwaan sampai putusan. Contohnya bisa dilihat seperti pada gambar berikut ini:



Beruntungnya karena seangkatan berasal dari bermacam profesi, jadi banyak ide yang terus berkembang dan bergolak seiring penyusunan naskah Peradilan Semu tersebut. Misalnya John Djenlau yang bekerja di Pengadilan Negeri Ende. Jelas dia bisa memberikan masukan demi kebaikan si naskah. Teman-teman polisi seperti Irmina, Egos, Moat, Benny, dan lain-lain juga sangat membantu terutama tentang pemeriksaan di kantor polisi (pra naskah). Angkatan kami memang paling lengkap hahaha. Ada Edwin Firmansyah dari TNI AD, ada Effie Rere yang bekerja di Kantor Pertanahan, dan lain ragam profesi termasuk yang belum bekerja karena setelah lulus SMA langsung kuliah.

Pada serius menyusun naskah.


Setelah naskah selesai disusun, naskah diserahkan kepada dosen pembimbing Peradilan Semu. Lantas mulailah latihan di ruang hijau itu. Eits, tapi jangan salah, kami juga latihan sendiri di rumah saya, di luar jadwal latihan di kampus yang dikeluarkan oleh dosen hehehe. Soalnya kami sangat bersemangat dan ingin Peradilan Semu ini sukses! Lebih sukses dari angkatan kemarin-kemarin. Karena ruang tamu rumah saya, lagi-lagi, lapang, jadi sangat cukup membantu proses latihan Peradilan Semu.

Baca Juga : #PDL Makam Sunan Gunung Jati

Tatapan mata hakim ... sadis hahaha.


Awalnya bukan saya yang menjadi hakim. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya saya menjadi Hakim Anggota II. Ciyusss? Padahal saya pengen jadi orang di luar persidangan supaya bisa ngerekam video dan foto-foto. Untunglah ada Martozzo Hann si fotografer yang turut membantu mengabadikan Peradilan Semu itu. Menjadi hakim itu paling mudah karena ... errr ... kasih tahu tidak yaaa hehe. Karena hakim bisa membuka-buka berkas di atas meja jadi tidak seberapa harus menghafal dialog demi dialog. Mana pula berkasnya ketutup sama papan keterangan yang gede itu *ngikik*.

Memerankan hakim memang menyenangkan. Tapi memakai jubah hakim merupakan sesuatu yang lain. Ada perasaan bangga gimanaaa gitu qiqiqi. Lebih bangga lagi karena semua dosen hadir dan benar-benar menyimak proses persidangan dari awal sampai akhir. Luar biasa. Tidak akan pernah terlupakan! Karena kami rajin berlatih, Peradilan Semu tahun 2017 itu betul-betul terlihat sangat alami. Dialog-dialog antara hakim, jaksa, pengacara, terdakwa, saksi, berjalan dengan lancar tanpa kendala. Bahasanya pun bukan bahasa sinetron karena kami memang sudah berjanji untuk harus bisa berimprovisasi dengan bahasa sehari-hari yang lebih lugas alias tidak terlalu terpaku pada naskah yang ada, tapi tidak terkesan terlalu santai di dalam ruang sidang.

Keberatan, Yang Mulia!!!!

Sialnya ... sampai sekarang saya belum mengedit video Peradilan Semu itu. Dududu, untung belum ada yang menagih.

Foto Peradilan Semu kami, masuk di bookleat baru Universitas Flores. Yuhuuuu!


Menulis ini, sambil membayangkan Peradilan Semu mulai dari penyusunan naskah hingga pagelaran, bikin kangen. Hehe. Meskipun ada yang lebih dulu diwisuda tahun lalu, dan sisanya tahun ini, tapi kekompakan kami tidak pernah luntur. Kami masih kongkow bareng di rumah saya sambil gitaran dan ngemil. Kami masih saling terhubung lewat WAG. Kami masih saling membantu satu sama lain. Kami adalah keluarga besar. Sampai-sampai ada adik angkatan yang mengatakan bahwa angkatan kami adalah angkatan paling luar biasa kompak sejak semester satu sampai wisuda. Mereka belum tahu saja bahwa komisaris angkatan kami itu tidak pernah diganti dari semester satu sampai wisuda! Iya, setiap kali saya minta diganti, semua pada protes. Kompensasinya kalau saya mengomel ini itu, mereka tidak boleh protes, hahaha.

Baca Juga : #PDL Pondok Batu Biru Penggajawa

Pernah, saya pernah merasakan menjadi Hakim Anggota II meskipun hanya di sebuah ruang sidang Peradilan Semu.

Bagaimana dengan kalian? Ada yang anak hukum? Bagi tahu donk kisah Peradilan Semu-nya hehe.

Life is good ... isn't it?



Cheers.

#PDL Ngojek Sepeda


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Hari itu, salah satu hari pada tahun 2013, saya janjian sama Ika Soewadji dan teman-teman Blogfam untuk pergi ke Kota Tua Jakarta. Teman-teman Blogfam yang baik hati itu ada Kakak Mas, Kakak Dahlia atau akrab disapa Kakak Day, dan Kakak Diaz. Check point di Terminal Busway Pancoran Timur. Sekitar pukul 08.00 WIB kami sudah berkumpul di situ untuk melanjutkan perjalanan menuju Kota Tua Jakarta. Karena, berkali-kali ke Jakarta tapi belum ke Kota Tua rasanya kok ada yang ganjal. Saya harus menuntaskan ngidam yang satu ini.

Baca Juga : #PDL Braket

Kota Tua Jakarta juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka). 

Perjalanan kami waktu tidak langsung ke Kota Tua Jakarta sih, masih mampir ke sebuah tempat, lalu dilanjutkan dengan mobil ke sana. Saat tiba di Kota Tua Jakarta, yang mengganjal itu kemudian lenyap. Here I am! Tempat yang selalu saya idam-idamkan setiap kali datang ke Jakarta. Mata saya menumbuk Museum Fatahillah. Sebuah meriam berdiri di sisi kiri bangunan museum. Meriam si Jagur. Dari Liputan6, dikatakan meriam seberat 3,5 ton itu, menurut Thomas B. Ataladjar, pengajar jurnalistik dan menulis di SMP dan SMK Plus Berkualitas Lengkong Mandiri, Kota Tanggerang Selatan, dibuat dari peleburan 16 meriam kecil lain. Karena itu, wajar bila si pembuat mengukir tulisan Ex Me Ipsa Renata Sum yang berarti, "Aku diciptakan dari diriku sendiri."

Dan saya diciptakan untuk bisa berfoto dengannya:


Pada meriam ini, bagian ujungnya, ada sebuah simbol yang kalau di Ende orang bilang; kurang ajar. Hehe. Sebuah tangan yang mengepal dengan ibu jari terselip diantara jari telunjuk dan jari tengah. Konon, jika perempuan menyentuh simbil meriam si Jagur, dan sedang berencana punya anak, bisa lekas hamil.

Sudah membuktikan, Teh?

Uh uh. Belum.

Adalah Kakak Diaz atau Kakak Dahlia, I can't remember it clearly, yang menyarankan kita untuk berkeliling menggunakan jasa ojek sepeda. It's weird. Sepeda? Are you sure? Yess, sir! Dari Museum Fatahillah kita berangkat ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Jujur saya memilih, very quick scan, tukang ojek paling muda, kira-kira kuat lah memompa kakinya dengan muatan seberat saya. BismillahTernyata naik ojek sepeda itu menyenangkan. Saya mengeluarkan kamera supaya bisa mengabadikan momen keren ini. Karena, saudara-saudara, di Ende tidak ada ojek sepeda. Bisa depresi tukang ojeknya! Tanjakan dan turunan adalah nama tengah kota kami.


Jelas, ada kekuatiran dalam hati saya, bagaimana jika betis tukang ojeknya tidak mau kompromi? Hehehe. 


Tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa, tukang ojek sepedanya disuruh menunggu. Kami hanya sempat foto-foto sebentar. Saya sendiri tidak bertanya pada beberapa nelayan yang ada di situ. Entahlah. Pemandangan pelabuhan ini bikin saya terkesima; so old, so antique. Asyiknya bisa foto sambil meloncat begini:


Saya penasaran, ke mana kah kaos dan sepatu itu sekarang? :D

Dari Pelabuhan Sunda Kelapa, kita pergi ke Museum Bahari, tentu ojek sepedanya setia menunggu hahaha. 


Terimakasih sudah memotret saya ... terngiang lagu Padamu Negeri. Sebenarnya banyak informasi yang saya gali dari Museum Bahari, dan sempat mencatat beberapa, tapi waktu itu belum sempat menulis secara terpisah. Nanti deh, dicari dulu serpihannya. Oia, setelah dari Museum Bahari kami ke Pecinan lantas pergi mencari makan.

Berakhirnya pengalaman saya bareng tukang ojek sepeda adalah saat kami tiba di sebuah rumah makan masakan Padang. Dadagh abang tukang ojek sepeda.

Ojek sepeda memang tidak sama dengan ojek sepeda motor. Pengalamannya seru apalagi saat sepeda melintasi lubang di jalanan atau saat tukang ojek sepedanya menghindari lubang dan/atau batu. Pegangan di belakang sadel kecil itu cukup membantu. Jangan banyak bergerak dan keliwat kuatir, apalagi sampai teriak ketakutan, karena itu bakal bikin tukang ojek sepedanya gugup. Dan, tentu, ojek sepeda, menurut saya, hanya akan laku di daerah wisata dan/atau wilayah kecil seperti pedesaan yang topografinya datar.

Pernah, saya pernah begitu ... ngojek sepeda di Kota Tua Jakarta. Bagaimana dengan kalian?



Cheers.