Arsip Kategori: Perkawinan

Katanya Saat Wabah Covid-19 Urusan Pernikahan Lebih Lancar

Pada pernikahan Aram dan Mila.

Katanya Saat Wabah Covid-19 Urusan Pernikahan Lebih Lancar. Sejak himbauan jarak sosial yang kemudian menjadi jarak fisik diberlakukan, pesta pernikahan menjadi sorotan masyarakat. Ya, terhitung sejak jarak sosial diberlakukan, ada satu pesta pernikahan di Kota Ende digelar sangat meriah layaknya pesta pernikahan pada hari-hari normal. Ribuan orang berkumpul untuk merayakan pernikahan pasangan tersebut. Saya pikir, karena masih awal, tidak terlalu menjadi masalah, meskipun ada status Facebook satu dua orang yang menyayangkan pesta tersebut. Saya sendiri memposisikan diri sebagai si empu pesta. Rencana yang sudah disusun sejak tahun 2019 kemudian batal begitu saja kan ... sayang. Hehe. Untungnya waktu pesta tersebut berlangsung, dengan sangat meriah, Kabupaten Ende (bahkan mungkin Provinsi NTT) masih berstatus zona (sangat) hijau. Kalau sekarang sih saya belum tahu pasti ... setelah video viral pengakuan seorang lelaki tentang dirinya yang positif Covid-19 tapi tidak merasakan apa-apa di tubuhnya.

Baca Juga: Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati

Fast forward, langsung pada menikah di saat wabah Covid-19 yang katanya urusannya lebih lancar. Benarkah demikian? Dari begitu banyak status WA dan status Facebook, saya melihat satu dua tulisan tentang: nikah sudah sekarang, pangkas biaya pesta.

Wow. Hahaha.

Wajar saja ketika ada yang menulis seperti itu, terutama Orang Ende, karena memang demikian adanya. Dalam adat Suku Ende, perihal pesta ini sudah dimulai sejak Buku Pelulu ketika pihak calon pengantin laki-laki datang melamar calon pengantin perempuan. Aneka kudapan disiapkan oleh masing-masing pihak. Berdasarkan adat Suku Ende, sebelum pihak calon pengantin laki-laki datang ke rumah pihak calon pengantin perempuan, pihak calon pengantin laki-laki ini sudah menyiapkan aneka kudapan yang disuguhkan untuk keluarga dan tetangga yang datang. Keluarga dan tetangga ini nantinya bersama-sama keluarga inti berbondong-bondong pergi ke rumah pihak calon pengantin perempuan. Di rumah calon pengantin perempuan pun, keluarga dan tetangga yang menunggu kedatangan pihak pengantin laki-laki beserta keluarga dan tetangganya, juga disuguhi aneka kudapan. Bagi saya, meskipun skalanya kecil, ini pun disebut pesta. Defenisi pesta menurut saya pribadi adalah ketika di situ ada banyak orang, makanan, dan musik.

Itu baru Buku Pelulu-nya, belum lagi kegiatan menjelang pernikahan, serta drama-drama yang terjadi. Ugh, biaya itu pasti ada.

Pernikahan dan pesta ibarat dua sisi mata uang koin. Yang satu tidak bisa jalan sendiri tanpa yang lain. Kalau ada yang tidak sependapat dengan saya dan contoh Buku Pelulu di atas belum sepenuhnya dipahami, ini ada contoh lain. Dalam pernikahan agama Islam, misalnya, setelah ijab kabul alias Islamic marriage contract, tentu pihak keluarga tetap menyiapkan kudapan dan makanan usai ijab kabul kan? Itu namanya pesta juga, meskipun skalanya juga kecil, karena ijab kabul biasanya hanya dihadiri oleh orang-orang penting saja seperti Penghulu, Saksi, Orangtua, dan keluarga serta tetangga terdekat. Jadi, saya akan tetap menulis pernikahan dan pesta itu ibarat dua sisi mata uang koin. Sampai di sini kita sependapat dulu, ya. Jangan protes lagi. Hahaha *pemaksaan*.

Ketika ada yang menulis menikah di saat wabah Covid-19 memangkas biaya pesta dan urusan lebih lancar, saya pikir-pikir dulu. Bukaaaaan, bukan karena saya mau menikah, ha ha ha. Jadi begini ... menikah, dalam kondisi apa pun, tetap mengeluarkan biaya. Besar atau kecil biaya, tergantung, tetapi besar atau kecilnya biaya pun tidak seberapa jauh bedanya. Tetap ada biaya yang dikeluarkan. Biaya yang paling pasti adalah mengurus perijinan menikah. Mulai dari menyiapkan dokumen, menggandakan dokumen, pas foto, dan biaya lain-lainnya. Biaya berikutnya adalah pakaian. Kita boleh saja bersikap masa bodoh tetapi penghormatan dan penghargaan pada diri sendiri itu penting. Menikah, insha Allah, terjadi satu kali seumur hidup. Oleh karena itu, berilah penghormatan dan penghargaan pada diri sendiri dengan memakai pakaian yang baik; pakaian pengantin. Biaya berikutnya adalah kamar pengantin yang perlu dihias. Biaya berikutnya, ini penting, berhubungan dengan konsumsi. Mau paling sederhana pun, seperti hanya menyiapkan kopi - teh - kudapan, tetap ada biayanya. Tetap ada. 

Biaya yang tidak dikeluarkan saat melangsungkan pernikahan saat wabah Covid-19 hanya biaya pesta (besar) dengan undangan ribuan orang. Pesta itu memang memakan cukup banyak biaya selain konsumsi. Mencetak undangan butuh biaya, juga perlu memikirkan biaya gedung dan dekorasi. Tapiiii ada kok orang yang melangsungkan pesta pernikahan usai ijab kabul (pagi hari), dilanjutkan dengan ramah-tamah sederhana, dan bubar menjelang Shalat Dzuhur. Biaya? Tetap ada! Haha.

Urusan memperlancar segalanya pun saya pikir tidak. Justru pada saat wabah Covid-19 urusan tidak lancar-lancar amat. Kita harus menjaga jarak, memakai masker, sering mencuci tangan ... hal-hal yang tidak sering kita lakukan pada hari-hari normal. Biasanya pergi ke studio foto untuk foto pas bakal buku nikah, langsung selonong ke ruang foto, sekarang harus cuci tangan dulu di depannya. Biasanya kumpul-kumpul malam Deba sebelum hari pernikahan, pasti dilarang lah, karena saat ini pihak berwajib sangat ketat dan selalu membubarkan kerumunan. Di kompleks perumahan saya pernah itu anak-anak muda yang sedang berkumpul dibubarkan oleh polisi yang patroli. Lari tunggang-langgang lah mereka.

Kesimpulannya apa, Teh?

Baca Juga: Mengurai Makna Karantina Diri Sendiri dan Liburan

Kesimpulannya adalah: kalau ada yang bilang saat wabah Covid-19 urusan pernikahan lebih lancar, itu keliru. Saya tidak bilang salah loh ya, tapi keliru. Urusan tidak mendadak menjadi lebih lancar. Biaya tidak mendadak jauh jatuhnya. Biaya tetap ada dan perbedaannya hanya pada urusan pesta, mau pesta kecil atau pesta besar. Itu saja sih. Hehe.

Bagaimana menurut kalian?

#KamisLegit



Cheers.

5 Steps To Marriage


Minggu, 24 Maret 2019, merupakan hari yang paling ditunggu oleh Keluarga Besar Pharmantara, Pua Ndawa, Bata, dan Pua Djombu. Hari itu merupakan hari perkawinan keponakan saya Angga dengan seorang perempuan cantik nan bersahaja bernama Titin. Keduanya tidak pacaran melainkan memilih melalui proses ta'aruf. Luar biasa ya ketika sepasang suami-isteri menikah, kemudian, setelah sebelumnya melalui proses ta'aruf. Tidak semua pasangan melakukan ta'aruf, memang, tergantung keinginan masing-masing.

Baca Juga: 5 Gaya Zawo Zambu

Seperti yang sudah sering saya tulis, bahwa di Kabupaten Ende hidup dua suku yaitu Suku Ende dan Suku Lio, tentu proses menuju pelaminan pun agak berbeda antara keduanya. Suku Ende, khususnya bagian pesisir pantai Kota Ende, terakulturasi dengan budaya Bugis atau Makassar dan Agama Islam. Kebanyakan Suku Lio terakulturasi dengan budaya Portugis (dari Flores Timur) dan Agama Katolik. Tahapan menuju perkawinan Suku Lio yang bergama Islam pun tidak sama persis dengan tahapan menuju perkawinan dari Suku Ende yang beragama Islam. Yang sama itu secara syariat Islam-nya. Secara adat/budaya masih ada perbedaannya.

Berdasarkan perkawinan kedua kakak saya, Kakak Nani Pharmantara dan Babe Didi Pharmantara, yang sama-sama menggunakan adat Suku Ende, pun baru-baru ini keponakan saya Angga yang menikahi Titin yang juga menggunakan adat perkawinan Suku Ende, saya bisa menyusun tentang 5 tahap menuju perkawinan. Cerita lain tentang perkawinan adat dari Suku Ende ini bisa kalian baca pada pos Pola Timbal Balik.

Baiklah, sesuai dengan judul, saat ini saya menulis tentang lima langkah yang wajib dilewati oleh calon pengantin sebelum Perkawinan. Untuk mempermudah penjelasan, si laki-laki saya tulis dengan nama Rojak, da si perempuan saya tulis dengan nama Rubiyah.

Cekidot!

1. Ta'aruf dan/atau Pacaran


Tidak semua pasangan memilih proses ta'aruf. Tidak semua pasangan memilih proses pacaran. Mana-mana suka, kembali pada kemauan masing-masing. Kalau melihat dari sisi syariat, ya jelas ta'aruf, agar terhindar dari perbuatan dosa. Namun, tidak selamanya pula orang yang pacaran itu melakukan perbuatan dosa karena mampu menahan diri dari godaan iblis. Insha Allah. Perkara-perkara ini tidak bisa dipukul sama rata. Itu pendapat saya pribadi.

2. Temba Zaza


Temba zaza atau timbang rasa merupakan kunjungan awal utusan orangtua Rojak ke rumah Rubiyah setelah mengetahui bahwa Rojak dan Rubiyah telah ber-ta'aruf dan/atau pacaran, serta berniat serius menuju pelaminan. Menurut pengamatan saya, temba zaza merupakan langkah pengukuhan. Sehingga secara adat kalau dilihat dari hubungan pacaran (bukan ta'aruf), baik orangtua Rojak dan Rubiyah, keluarga, tetangga, hingga teman-teman, tidak perlu mempertanyakan lagi: siapakah gerangan laki-laki yang sering bersama Rubiyah. Atau, siapakah gerangan perempuan yang sering diajak jalan-jalan sama Rojak.

Saat temba zaza, utusan orangtua Rojak akan membawa kue-kue dan buah-buahan yang diletakkan di atas dulang. Setelah itu, bisa jadi keesokan harinya keluarga Rubiyah memulangkan dulang-dulang tersebut, tapi bukan dulang kosong, melainkan ada isinya pula. Bisa pula dulang-dulang tersebut tidak perlu dikembalikan oleh keluarga Rubiyah. Tapi proses ini belum disebut bhaze duza (balik dulang). Tapi pola timbal balik tetap ada.

Usai temba zaza, maka keluarga Rojak dan Rubiyah melakukan pertemuan untuk berembug dan menentukan bersama beberapa perkara seperti diantaranya: hari dan tanggal nai ono (masuk minta atau lamaran) beserta buku pelulu, apa-apa saja yang perlu dibawa pada hari itu, termasuk tentang uang isi kumba isi ae nio. Uang isi kumba isi ae nio ini nantinya diserahkan kepada paman-paman dari Rubiyah, yang akan dibalikin dalam bentuk barang. Untuk itu, silahkan baca lagi pos Pola Timbal Balik, ya.

3. Nai Ono dan Buku Pelulu


Nai ono (masuk minta atau lamaran) dan buku pelulu. Untuk lebih memahaminya kalian bisa membaca pos berjudul Buku Pelulu. Melamar Rubiyah, keluarga besar Rojak telah diundang secara lisan sebelumnya (sodho sambu) oleh perwakilan keluarga inti Rojak. Yang diucapkan dalam sodho sambu itu, dalam Bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut:

Kami mai sodho sambu mai Baba Ine ko Rojak, Hari Minggu jam empat kita wi nai ono fai ko Rojak ne'e acara buku pelulu. Mendhi ne'e kue se-bha(Kami datang menyampaikan pesan dari Bapak dan Mamanya Rojak. Hari Minggu jam empat kita bakal melamar perempuannya Rojak dan buku pelulu. Bawa sama kue sepiring ya).

Baca Juga: 5 Komoditas TSF

Lebih lengkapnya soal sodho sambu ini, bisa kalian baca pada pos Buku Pelulu.

Setelah semua keluarga berkumpul pada hari yang ditentukan, semua barang hantaran dinaikkan ke atas kendaraan, sedikit omongan dari pihak keluarga inti, maka berangkatlah keluarga Rojak menuju rumah Rubiyah. Di rumah Rubiyah pun tentu sudah menanti kaum keluarganya. Ramai? Pasti! Hehehe.

Apa saja yang diantarkan?
Mulai dari cincin, uang jajan dari calon mertua untuk Rubiyah, pakaian ini itu dan asesorisnya, sarung, hingga aneka kue yang sebelumnya sudah diantarkan oleh keluarga Rojak (dikumpulkan, sesuai omongan dari sodho sambu) sebelum pergi ke rumah Rubiyah.

Usai nai ono dan buku pelulu, selanjutnya adalah bhaze duza (balik dulang). Pihak Rubiyah bakal mengembalikan dulang-dulang yang diantar oleh pihak Rojak (bisa beberapa hari, biasanya satu minggu, setelah nai ono dan buku pelulu). Jumlah dulang yang dibalikin harus sama dengan yang diantarkan oleh pihak Rojak. Isinya sih boleh berbeda. Kalau sudah selesai tahap yang ini, maka selanjutnya adalah tahap mendhi belanja (belis) tadi. Tapi dalam adat Suku Ende dan Suku Lio, harus ada satu momen bernama minu ae petu (minum air panas).

Minu ae petu dilakukan oleh pihak yang hendak menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Untuk keperluan pernikahan, minu ae petu hanya dilakukan oleh pihak calon pengantin laki-laki; mengundang kaum kerabat, tetangga, teman-teman, untuk duduk menikmati air panas dan tentu menyumbang sejumlah uang (yang dimasukkan ke dalam amplop) kepada tuan rumah. Menyumbang sejumlah uang ini bukan tujuan utama minu ae petu tapi kebersamaan merangkul kaum kerabat untuk suatu perayaanlah yang utama. Minu ae petu pun bukan berarti tamu yang datang hanya disuguhi air panas, melainkan teh, kopi, kudapan, hingga makan besar. Sekaya-kayanya orang Ende, pantang melewati minu ae petu, karena bakal dianggap melanggar adat dan kebiasaan masyarakat.

4. Mendhi Belanja / Antar Belis


Mendhi belanja, juga disebut dengan mengantar belis, dilakukan atas kesepakatan dari oleh kedua belah pihak. Pada zaman dahulu, mendhi belanja dipenuhi drama dimana kurir dari pihak Rojak harus bolak-balik antara rumah Rojak dan rumah Rubiyah karena uang belanja dan lain sebagainya yang masih dianggap kurang oleh pihak keluarga Rubiyah. Bolak-balik si kurir ini bisa memakan waktu berjam-jam.

Zaman sekarang, biasanya masing-masing orangtua sudah punya pembicaraan di balik layar, sehingga urusan kurir ini menjadi drama yang diatur. Mari kita simak:

DRAMA KURIR DALAM MENDHI BELANJA

Kurir: laki-laki utusan orangtua Rojak.
Contoh kesepakatan kedua belah pihak (Rojak dan Rubiyah):
- Uang belanja Rp 50.000.000
- Uang RT/RW Rp 750.000 
- Uang RT/RW dan Masjid Rp 1.000.000 
- Uang Isi Kumba Rp 6.000.000
- Uang Isi Ae Nio Rp 3.000.000
- Uang Air Susu Ibu, ditiadakan
- Seekor sapi
- Perlengkapan kamar pengantin komplit
- Perlengkapan untuk pengantin perempuan
- Dan lain sebagainya

Pada hari yang telah disepakati, keluarga Rubiyah telah menunggu kedatangan kurir terlebih dahulu ke rumah mereka. Lantas saat kurir datang, kurir bakal bilang bahwa yang disiapkan oleh keluarga Rojak adalah uang belanja sebesar Rp 30.000.000 dan uang-uang lain yang juga jumlahnya dikurangi dari kesepakatan di balik layar itu (namanya juga DRAMA!). Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang (satu blok dari rumah Rubiyah) lantas balik lagi dan menyampaikan uang belanja sebesar Rp 45.000.000 dan uang-uang lain yang jumlahnya dinaikkan sedikit. Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang, lagi, dan kembali ke rumah Rubiyah. Biasanya sampai tiga kali. Ketika mencapai Rp 50.000.000 beserta angka lain yang sudah disepakati di balik layar, maka keluarga Rubiyah setuju. Setelah itu barulah kurirnya pulang beneran dan proses mendhi belanja dilakukan.

Drama kurir ini paling saya sukai karena unik sekali. Bayangkan kalau zaman dahulu, drama dalam tanda kutip dimana si kurir beneran harus bolak-balik ke rumah Rojak ... fiuh. Asyik juga kalau menulis tentang drama ini di pos tersendiri hehe.

5. Tu Ata Nika / Jeju


Tu Ata Nika oleh keluarga Rojak juga disebut jeju. Jadi, setelah sodho sambu, keluarga Rojak bakal berkumpul di rumah di rumah Rojak satu jam sebelum ijab kabul di lokasi yang ditentukan (bisa di masjid, bisa di rumah Rubiyah). Lantas mereka beriringan ke lokasi ijab kabul. Biasanya satu pick up bakal diisi para pemain feko genda atau rebana juga boleh. Bunyi-bunyian khas menuju pelaminan begitu deh hehehe.


Demikianlah lima tahapan menuju pelaminan yang dilakukan baik oleh pihak Rojak. Di pihak Rubiyah sendiri bakal ada tradisi lain sebelum perkawinan keesokan hari seperti mandi kembang dan tandi kelambu. Tapi itu tidak saya hitungkan sebagai tahap menuju perkawinan melainkan sebagai adat khusus untuk pihak Rubiyah sebagai calon pengantin perempuan.

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Bagaimana dengan tahapan-tahapan menuju perkawinan di daerah kalian, kawan? Feel free to write your mind on comment.


Cheers.