#PDL Default Perusuh Pengamen

Surat Cinta, lagu andalan.


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***

Pernahkah kalian bertemu orang yang suaranya pas-pasan cenderung sesak, tapi doyan bernyanyi sampai pernah rebutan mikropon sama teman karaoke? Pernahkah kalian bertemu orang yang suaranya pas-pasan tapi selalu ngotot pengen nimbrung sama para pengamen sampai si pengamen berakhir dengan menangis di pojokan mengelus dada? Belum pernah? Kalau begitu ... selamat, kalian sedang membaca tulisan orang itu. Ha ha ha. 

Baca Juga: 

Urusan doyan bernyanyi ini bukan bakat, tapi lebih pada pengasahan dari tahun ke tahun sejak saya masih kecil. 

Orangtua saya itu pendidik baik pendidikan melalui jalur sekolah maupun Pendidikan Luar Sekolah Oleh Masyarakat (Diklusemas) sekaligus seniman. Rumah saya ibarat pusat aktifitas segala urusan yang berkaitan dengan seni.  Setelah pulang sekolah, setiap sore kalau tidak ada jadwal pengajian, Mamatua mengajari kelompok ibu-ibu dari lingkungan sekolahnya berkreasi: menjahit, memasak, mengetik (kalau mengetik dibantu (alm.) Bapa). Setelah seharian mengurusi tempat kursus, Bapa masih berurusan dengan Kelompok Orang Jawa di Ende, yang sering diisi dengan berlatih gamelan di rumah.

Habis upacara di kampus ada kegiatan seni, merusuh dulu aaaah hahaha.

Saat (alm.) Bapa membeli seperangkat alat band (Menamainya Jemiri Band), tidak terhitung berapa banyak orang masuk-keluar rumah dan menjadikan rumah kami sebagai basecamp. Kamar kakak laki-laki saya, (alm.) Kakak Toto dan Babe Didi Pharmantara (waktu itu Abang Nanu kuliah di Surabaya), sudah menjadi kamar orang-orang yang masuk-keluar itu. Urusan makan jangan ditanya, bagi keluarga kami kalian adalah keluarga ketika secangkir kopi sudah tersaji. Dan kalau kalian tidak makan-minum di rumah kami, tersinggung lah kami. Itu pasti. Malam Minggu adalah puncak keramaian di rumah kami; ada yang latihan band, ada yang main karambol, ada yang main tenis meja (mejanya diletakkan di halaman dan alm. Bapa menarik lampu hingga ke halaman supaya benderang), ada yang nongkrong saja sambil haha hihi. 

Saat ini rumah saya juga jadi basecamp banyak teman haha. Kalau tidak percaya, tanya saja sama Om Bisot.

Lantas, apakah kesenangan saya bernyanyi ini ada kaitannya sama gamelan dan Jemiri Band? Tidak ada. Karena usia saya terpaut sangat jauh dengan Babe Didi (sebelas tahun) maka saya dianggap anak kecil yang tidak boleh merusuh di sekitar ruangan band. Ih ... padahal kan saya ingin merusuh. Gemas sekali melihat (alm.) Kakak Toto Pharmantara menabuh drum, atau Abang Nanu Pharmantara bermain gitar. Hiks.

Karena orangtua saya itu perfomer di panggung sejak jaman dulu kala, maka saya dididik untuk berani tampil di panggung; mulai dari panggung 17-an tingkat RT sampai akhirnya manggung sebagai vokalis Cendaga Band di Lapangan Pancasila (2005). Awalnya saya tampil untuk membawakan puisi atau bernyanyi (dengan suara pas-pasan) diiringi Bapa (bermain orgen mini):
Bernyanyi diiringi permainan orgen mini oleh cinta pertama saya. Hehe. Muach.

Lama-kelamaan mulai ikut berbagai lomba karaoke hingga berbagai pertunjukan. Kata Mamatua; anggap saja penonton tidak ada (supaya tidak demam panggung) tapiiii tetap saja kadang tangan gemetar hahaha. Oia, sejak dulu saya tidak pandai bermain gitar; hanya mampu kunci A, Am, C, D, Dm, F, G, sedangkan kunci B saya menyerah total. Entah apa yang salah dengan jari saya ini. Hiks.

Itu sekadar prolog dari mana saya yang bersuara pas-pasan ini selalu ngotot ingin bernyanyi.

Lanjut ...

Pada akhirnya saya menjadi perusuh pengamen. Setiap kali ada yang mengamen dan saya rasa suaranya kurang pas (padahal suara saya ini sumbang minta ampun!) saya bakal bilang, "Sini saya yang nyanyiiiii!" dan terjadilah kekacauan *senyum manis*.

Pernah suatu kali para peserta Blogger Nusantara 2012 di Makassar diajak dokter Rara jalan-jalan. Pergilah kami ke Pantai Losari. Saya suka dermaga apung yang terbuat dari susunan bahan plastik (terlihat seperti paving block tapi terbuat dari plastik dan mengapung). Lalu datanglah seorang bocah perempuan mengamen di depan kami. Tidak menunggu lama, naluri merusuh saya kambuh. Saya meminta ukulele-nya dan menggantikannya bernyanyi (waktu itu I'm Yours milik Jason Mraz). Anak-anak pada ketawa. Thanks Rara sudah mengabadikannya:

Si anak pengamen.

Si anak pengamen malu dan kesal setelah saya merusuh. Videonya ada sih, direkam sama Rara, tapi harus dicari lagi hahaha.

Sebelumnya, tahun 2011 usai perhelatan ABC di Museum Pasifika - Bali, om Bisot mengajak kami makan malam di Pantai Jimbaran. Nah, datanglah kelompok pengamen yang profesional. Saya sebut profesional karena harmonisasi beberapa alat musik yang mereka mainkan sangat keren! Naluri merusuh saya kambuh seketika. Dan saya meminta mereka memainkan lagu Just The Way You Are (yang waktu itu dipopulerkan oleh Bruno Mars). 

Waktu itu sempat difoto sama Bang Agus Lahitan si pemilik Rumah Karawo, tapi entah tersimpan di mana foto saya pas lagi nyanyi diiringi para pemain musiknya :D Adanya foto ini saja; foto barengggg.

Kalau ada acara-acara baik di kampus maupun di luar kampus, sudah dapat dipastikan saya pasti merusuh dengan suara sumbang over dosis. Herannya saya masih juga dipanggil menyanyi oleh MC. Pernah nih, dalam acara pembubaran panitia El Tari Memorial Cup 2017 sekaligus evaluasi, saya menyanyi bersama Mam Poppy dan Rudi. Gila, lagu Surat Cinta bisa nyasar ke Logika, sampai yang nonton ngakak guling-guling.

Di mana, logika, hatikyuuuu
Jatuh cinta kepadanyaaaaa
Tetapi tertanya, asmaraaaa
Tak kenal dengan logikaaaa

Hari ini kugembiraaaaa
Melangkah di udaraaaa

*dan suara musik yang mengiri tetap lanjut tapi Mam Poppy dan Rudi menatap saya: siapa ini, kami tidak kenal dia!*

Pernah, saya pernah begitu ... merusuhi para pengamen hanya karena doyan bernyanyi dan ngotot! :D

Bagaimana dengan kalian?


Cheers.